Cari Ebook

[PDF] Aqidah Mama Ghufron dalam Sorotan Syariat - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah menyempurnakan agama Islam bagi hamba-hamba-Nya dan telah meridhoi Islam sebagai jalan hidup yang lurus.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh , penutup para Nabi, yang telah menyampaikan risalah dengan terang benderang tanpa ada satu pun kebaikan melainkan telah ia tunjukkan, dan tidak ada satu pun keburukan melainkan telah ia peringatkan agar ummat ini terhindar darinya. Demikian pula salam keselamatan bagi para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum yang telah menjaga kemurnian agama ini dengan penuh amanah, serta para Tabi’in dan ulama Salaf yang senantiasa meniti jejak mereka hingga hari Qiyamah nanti.

Amma ba’du:

Sesungguhnya perkara yang paling agung dalam kehidupan seorang Muslim adalah Aqidah yang lurus. Aqidah merupakan pondasi utama yang menentukan diterima atau tidaknya amal ibadah di sisi Alloh . Tanpa Aqidah yang benar, segala amal perbuatan manusia akan sia-sia bagaikan debu yang beterbangan. Oleh karena itu, menjaga kemurnian Aqidah dari noda syirik, bid’ah, dan khurofat adalah kewajiban yang bersifat sangat mendesak bagi setiap individu Muslim maupun para ulama sebagai penjaga benteng Syariat.

Di era kemajuan teknologi informasi saat ini, tantangan terhadap Aqidah ummat semakin kompleks. Munculnya berbagai media sosial telah menjadi sarana yang sangat cepat dalam menyebarkan pemikiran dan ajaran-ajaran baru. Sayangnya, tidak semua konten yang berlabel agama di dunia maya membawa kebenaran. Sebaliknya, banyak bermunculan sosok yang dianggap sebagai tokoh agama namun menyampaikan klaim-klaim yang menyelisihi prinsip dasar Islam. Fenomena ini jika dibiarkan tanpa adanya penimbangan ilmiyyah yang jujur, akan menjerumuskan ummat ke dalam kesesatan yang nyata.

Salah satu fenomena yang menyita perhatian publik belakangan ini adalah kemunculan sosok yang dikenal dengan sebutan Mama Ghufron. Melalui potongan-potongan video yang tersebar luas, sosok ini menampilkan berbagai ucapan dan tindakan yang sangat asing bagi telinga para penuntut ilmu syar’i. Klaim mengenai kemampuan berkomunikasi dengan makhluk ghoib, penggunaan bahasa yang disebut sebagai bahasa Syuryani, hingga pernyataan-pernyataan mengenai alam Akhiroh telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Hal ini menuntut adanya sebuah kajian mendalam yang menimbang setiap fakta tersebut dengan timbangan Syariat yang adil.

Buku ini disusun sebagai bentuk tanggung jawab ilmiyyah untuk menyoroti fenomena tersebut. Penulis berusaha membedah setiap klaim dan fakta yang ada menggunakan dua pilar utama, yaitu Naql (dalil dari Al-Qur’an dan Hadits) serta Aql (logika sehat). Selain itu, penulis juga memaparkan bahaya yang timbul dari penyebaran ajaran tersebut terhadap tatanan kehidupan beragama. Semoga buku ini menjadi pelita bagi mereka yang mencari kebenaran dan menjadi benteng bagi Aqidah Islamiyah dari setiap upaya perusakan, baik yang disengaja maupun yang lahir dari kebodohan.

 

Bab 1: Rekam Jejak Mama Ghufron di Media Sosial

1.1 Latar Belakang Munculnya Sosok Mama Ghufron

Mengenal latar belakang seorang tokoh merupakan langkah awal yang sangat penting dalam melakukan studi kritis terhadap pemikirannya. Sosok yang lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan nama Mama Ghufron atau Abuya Mama Ghufron ini memiliki nama asli Iyus Sugiman. Ia lahir di Cibadak, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 25 Desember 1963. Penambahan gelar Al-Bantani di belakang namanya diklaim berkaitan dengan masa pendidikannya di wilayah Banten, di mana ia menimba ilmu kepada para kyai di sana.

Dalam sejarah perjalanannya, Iyus Sugiman mengaku pernah menempuh pendidikan di berbagai pesantren tradisional di Jawa Barat dan Banten. Guru utamanya disebut-sebut adalah KH. Hasan Amin, yang juga dikenal dengan sebutan Abuya Mama Armin, seorang tokoh yang cukup berpengaruh di lingkungan Banten. Dari sinilah gelar Mama yang merupakan sebutan kehormatan bagi tokoh agama di daerah Sunda mulai melekat pada dirinya. Selain itu, ia juga mengklaim telah menerima ijazah tarekat tertentu dan pernah menjalani berbagai macam laku prihatin atau kholwat dalam jangka waktu yang lama.

Pada 9 Januari 1999, ia mendirikan sebuah institusi pendidikan yang diberi nama Pondok Pesantren UNIQ Nusantara. Pesantren ini berpusat di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Seiring berjalannya waktu, lembaga ini berkembang dan memiliki beberapa cabang di wilayah lain. Pada awalnya, kegiatan di pesantren ini tampak seperti aktivitas keagamaan pada umumnya. Namun, seiring dengan masifnya penggunaan internet, mulailah tersebar konten-konten ceramah dari sosok Mama Ghufron yang berisi klaim-klaim luar biasa yang kemudian memicu perdebatan sengit di ruang publik digital.

1.2 Analisis Konten Viral dan Respon Masyarakat Luas

Fenomena Mama Ghufron mencapai puncaknya ketika potongan-potongan video ceramahnya menjadi viral di berbagai platform media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Konten yang diunggah sering kali menampilkan klaim-klaim yang tidak lazim dalam tradisi keilmuan Islam yang mapan. Beberapa di antaranya yang paling menyita perhatian adalah klaim kemampuan berbicara dengan berbagai makhluk selain manusia. Dalam salah satu video yang beredar, ia menunjukkan apa yang disebutnya sebagai bahasa semut, bahasa jin, hingga bahasa Malaikat.

Selain itu, penggunaan istilah bahasa Syuryani menjadi ciri khas dalam hampir setiap penyampaiannya. Ia sering kali merangkai kata-kata yang sulit dipahami oleh pendengar awam maupun ahli bahasa, lalu mengklaimnya sebagai bahasa kuno atau bahasa langit. Klaim ini bahkan diperkuat dengan pernyataan bahwa ia telah menulis hingga 500 kitab menggunakan bahasa tersebut. Video lain yang tidak kalah kontroversial adalah saat ia mengaku bisa melakukan komunikasi langsung melalui sambungan video (video call) dengan Malaikat Maut.

Respon masyarakat terhadap fenomena ini sangat beragam. Sebagian pengikut setianya menganggap hal tersebut sebagai bentuk karomah atau kelebihan yang diberikan Alloh kepada seorang wali. Namun, mayoritas masyarakat luas, termasuk para aktivis dakwah dan pengguna media sosial, menanggapinya dengan sikap kritis, skeptis, bahkan menjadikannya sebagai bahan olok-olok karena dianggap tidak masuk akal. Di sisi lain, para ulama dan organisasi keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) mulai memberikan perhatian serius. MUI di berbagai daerah melakukan pengkajian terhadap materi ceramah tersebut karena terdapat indikasi kuat adanya penyimpangan dari rukun Islam dan rukun Iman.

1.3 Metodologi Penimbangan Aqidah Berdasarkan Dalil Naql dan Aql

Dalam menyikapi klaim-klaim yang dibawa oleh Mama Ghufron, diperlukan sebuah metodologi yang kokoh agar penilaian yang diberikan tidak bersifat subjektif atau sekadar mengikuti emosi. Metodologi yang digunakan dalam buku ini bersandar pada 2 instrumen utama yang telah diakui dalam tradisi ilmiyyah Islam, yaitu Naql dan Aql.

Pertama adalah Naql, yang merujuk pada dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang shohih sesuai dengan pemahaman para Shohabat dan ulama Salaf. Setiap klaim Mama Ghufron tentang alam ghoib harus dikembalikan kepada wahyu. Alloh berfirman:

﴿قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ﴾

“Katakanlah (wahai Nabi): ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib, kecuali Alloh.” (QS. An-Naml: 65)

Ayat ini merupakan pondasi dalam menimbang klaim siapa pun yang mengaku mengetahui perkara ghoib tanpa sandaran wahyu. Demikian pula setiap ucapan yang mengatasnamakan agama harus memiliki dasar dari Hadits Nabi . Jika sebuah ajaran baru muncul tanpa adanya contoh dari generasi terbaik ummat ini, maka ia tertolak. Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Kedua adalah Aql, yaitu penggunaan akal sehat yang dibimbing oleh Syariat. Agama Islam adalah agama yang masuk akal dan tidak bertentangan dengan fitroh manusia. Akal digunakan untuk melihat konsistensi antara ucapan dan realita, serta menguji kebenaran klaim melalui bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, klaim penggunaan bahasa Syuryani dapat diuji secara filologi dan sejarah. Jika bahasa yang diucapkan tidak memiliki struktur linguistik yang benar dan hanya berupa bunyi-bunyi acak, maka akal sehat akan menyimpulkan bahwa hal tersebut hanyalah sebuah pengelabuan.

Selain itu, penimbangan juga dilakukan dengan melihat dampak atau bahaya (dhoror) yang ditimbulkan. Jika suatu ajaran menyebabkan ummat semakin menjauh dari ilmu syar’i yang benar, menciptakan kultus individu yang berlebihan, atau merusak tata cara ibadah yang telah ditetapkan, maka secara otomatis ajaran tersebut harus diperingatkan bahayanya. Dengan metodologi inilah, setiap bab dalam buku ini akan membedah satu persatu fenomena Mama Ghufron agar ummat mendapatkan kejelasan yang sejati.

 

Bab 2: Tinjauan Syar’i Terhadap Klaim Bahasa Syuryani

2.1 Hakikat Bahasa Syuryani dalam Literatur Islam dan Realita Lisan Mama Ghufron

Bahasa Syuryani secara historis dan ilmiyyah adalah salah satu cabang dari rumpun bahasa Semit yang pernah digunakan secara luas di wilayah Syam (Suriah, Libanon, Yordania, dan Palestina) oleh kaum Nasroni pada masa lampau. Dalam literatur Islam, para ulama menyebutkan bahwa beberapa kitab terdahulu diturunkan dalam bahasa ini. Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan dalam karya sejarahnya bahwa bahasa Syuryani merupakan bahasa yang sangat kuno, bahkan sebagian riwayat menyebutkan ia adalah bahasa yang digunakan oleh Nabi Adam ‘alaihissalam sebelum terjadi keragaman bahasa di muka bumi.

Oleh karena itu, bahasa Syuryani memiliki struktur tata bahasa (nahwu), kosakata (mufrodat), dan sistem bunyi yang jelas sebagaimana bahasa Arob maupun bahasa Ibrani.

Namun, apabila kita melihat fakta yang ditampilkan oleh Mama Ghufron di media sosial, terdapat perbedaan yang sangat mencolok dan tidak dapat dipertemukan secara ilmiyyah. Bunyi-bunyi yang diucapkan olehnya, yang diklaim sebagai bahasa Syuryani, tidak memiliki struktur linguistik yang dikenal dalam ilmu bahasa mana pun. Suara-suara tersebut cenderung berupa pengulangan suku kata yang acak dan tidak beraturan. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar dari sisi amanah ilmiyyah. Mengklaim sebuah bunyi acak sebagai bahasa kuno tanpa sandaran kaidah yang jelas adalah sebuah bentuk pengelabuan terhadap publik. Secara Aql, jika seseorang mengaku menguasai sebuah bahasa, ia harus mampu menjelaskan kaidah dasarnya serta mampu menerjemahkannya secara konsisten, bukan sekadar mengeluarkan bunyi yang berubah-ubah setiap saat.

Pemanfaatan istilah Syuryani oleh Mama Ghufron nampaknya bertujuan untuk membangun kesan bahwa ia memiliki kelebihan atau kekeramatan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Padahal, keunggulan seseorang tidak diukur dari kemampuan berbicara bahasa asing yang aneh dan dusta, melainkan dari ketaqwaannya kepada Alloh dan kesesuaian amalannya dengan Sunnah Rosululloh . Tindakan mencampuradukkan istilah agama yang sakral dengan bunyi-bunyi yang tidak berdasar dapat dikategorikan sebagai tindakan meremehkan ilmu dan menyesatkan pemahaman ummat terhadap sejarah agama.

2.2 Analisis Klaim Komunikasi dengan Malaikat, Syaithon, dan Hewan

Salah satu klaim yang paling kontroversial dari Mama Ghufron adalah pengakuan bahwa ia mampu berkomunikasi dengan berbagai makhluk ghoib maupun hewan. Ia sering kali memeragakan gerakan dan suara yang diklaim sebagai bahasa semut, bahasa jin, hingga bahasa para Malaikat. Klaim ini secara tegas bertentangan dengan prinsip-prinsip Aqidah yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dalam Syariat Islam, kemampuan berbicara dengan hewan secara khusus diberikan oleh Alloh sebagai mukjizat kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Alloh berfirman menceritakan ucapan Nabi Sulaiman:

﴿وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِن كُلِّ شَيْءٍ ۖ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ﴾

“Dan dia (Sulaiman) berkata: ‘Wahai manusia, kami telah diajarkan bahasa burung dan kami telah diberikan segala sesuatu (untuk memperkuat kekuasaan kami). Sesungguhnya ini benar-benar karunia yang nyata.’” (QS. An-Naml: 16)

Mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa yang Alloh berikan hanya kepada para Nabi untuk membuktikan kebenaran risalah mereka. Setelah kenabian berakhir dengan wafatnya Rosululloh , maka klaim-klaim serupa yang dilakukan oleh orang biasa harus ditimbang dengan sangat hati-hati. Terkait komunikasi dengan Malaikat, para ulama menegaskan bahwa Malaikat hanya turun membawa wahyu kepada para Nabi. Adapun bagi manusia biasa, komunikasi tersebut tidak mungkin terjadi dalam bentuk percakapan langsung yang bisa dipertontonkan di hadapan publik atau direkam melalui alat komunikasi elektronik.

Klaim berkomunikasi dengan jin atau Syaithon juga merupakan perkara yang sangat berbahaya. Meskipun keberadaan jin adalah nyata, namun Islam melarang manusia untuk menjadikan jin sebagai sarana dalam urusan agama atau mencari ketenaran dengannya. Seringkali, klaim kemampuan berinteraksi dengan jin tanpa dasar Syariat yang benar justru menjadi pintu masuk bagi kesyirikan dan fitnah. Secara Aql, apa yang ditunjukkan oleh Mama Ghufron berupa gerakan-gerakan aneh yang diklaim sebagai bahasa ghoib tidak memiliki pembuktian yang empiris. Hal tersebut lebih cenderung pada bentuk akrobat lisan yang bertujuan untuk memukau audiens yang kurang mendalami ilmu agama.

2.3 Bahaya Pengelabuan Ummat Melalui Istilah Ghoib yang Tidak Berdasar

Penggunaan istilah-istilah ghoib secara serampangan memiliki dampak yang sangat buruk bagi Aqidah masyarakat awam. Perkara ghoib adalah hak mutlak Alloh , dan manusia hanya mengetahuinya sebatas apa yang diberitakan melalui wahyu. Ketika seseorang dengan mudahnya mengklaim memiliki akses khusus ke alam ghoib, hal ini dapat merusak tatanan logika beragama yang sehat. Ummat akan terjebak pada kultus individu, di mana ucapan sang tokoh dianggap sebagai kebenaran mutlak meskipun menyelisihi akal sehat dan dalil Naql.

Bahaya terbesar dari pengelabuan ini adalah munculnya sikap meremehkan Syariat. Masyarakat mungkin akan lebih tertarik mengejar keanehan-keanehan (khurofat) daripada mempelajari ilmu fardhu ‘ain seperti tata cara Sholat yang benar atau rukun-rukun Iman. Selain itu, fenomena ini dapat dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk mencitrakan bahwa ajaran Islam penuh dengan takhayul dan tidak logis. Oleh karena itu, membongkar kepalsuan klaim-klaim ghoib ini adalah bagian dari Jihad ilmiyyah untuk menjaga kehormatan agama dan memastikan bahwa ummat tetap berdiri di atas landasan ilmu yang shohih.

 

Bab 3: Penyimpangan Aqidah dalam Klaim Interaksi dengan Alam Akhiroh

3.1 Menimbang Klaim Penjagaan Gerbang Surga dan Neraka

Interaksi manusia dengan alam Akhiroh, termasuk Surga dan Neraka, sepenuhnya berada dalam domain ghoib yang hanya bisa diketahui melalui khobar shodiq (berita yang benar) dari Al-Qur’an dan Hadits. Mama Ghufron dalam beberapa pernyataannya memberikan kesan bahwa ia memiliki otoritas atau kedekatan khusus dengan penjagaan alam tersebut. Ada klaim yang menyebutkan ia seolah-olah memiliki akses untuk mengetahui siapa yang masuk atau keluar, bahkan hingga klaim melakukan sambungan jarak jauh dengan penjaga alam ghoib.

Secara Aqidah, penjaga Surga dan Neraka adalah para Malaikat yang telah ditunjuk oleh Alloh , seperti Malaikat Ridwan (penjaga Surga versi Isroiliyyat) dan Malaikat Malik (penjaga Neraka). Tugas mereka telah ditetapkan dan mereka adalah makhluk yang sangat patuh kepada Alloh . Tidak ada satu pun dalil yang menyatakan bahwa manusia di dunia, meskipun ia seorang wali, memiliki wewenang untuk mencampuri urusan penjagaan gerbang tersebut atau berkomunikasi dengannya secara terbuka untuk kepentingan konten media sosial. Klaim semacam ini mengandung unsur kesombongan yang luar biasa dan melampaui batas sebagai seorang hamba. Alloh berfirman mengenai sifat para Malaikat:

﴿لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾

“Mereka tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Mengklaim adanya interaksi personal dengan penjaga Akhiroh adalah sebuah kedustaan yang nyata terhadap Syariat. Hal ini dapat menggiring masyarakat pada keyakinan yang salah bahwa kunci keselamatan di Akhiroh berada di tangan seorang tokoh manusia, bukan pada rohmat Alloh dan amal sholih masing-masing individu. Ini adalah bibit-bibit kesyirikan yang harus segera dipangkas.

3.2 Kedustaan Atas Nama Rosululloh dan Para Wali dalam Mimpi atau Terjaga

Fenomena Mama Ghufron juga sering diwarnai dengan klaim bertemu dengan Rosululloh atau para ulama besar yang sudah wafat, baik dalam keadaan tidur (mimpi) maupun terjaga (yaqozhoh). Meskipun bertemu Nabi dalam mimpi adalah sebuah kemungkinan bagi orang-orang sholih, namun klaim tersebut tidak boleh dijadikan sebagai dasar untuk membuat syariat baru atau mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyelisihi prinsip agama yang sudah mapan.

Yang lebih parah adalah klaim pertemuan dalam keadaan terjaga untuk menerima instruksi-instruksi tertentu yang aneh. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa setelah wafatnya Rosululloh , tidak ada lagi pertemuan fisik secara terjaga yang menghasilkan syariat atau berita ghoib baru. Mengaku-ngaku bertemu Nabi kemudian menyampaikan hal-hal yang tidak masuk akal atau menyimpang dari Sunnah adalah bentuk kedustaan yang sangat besar dosanya. Nabi bersabda dengan tegas:

«مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya ia mengambil tempat duduknya di dalam Naar (neraka).” (HR. Al-Bukhori no. 1291 dan Muslim no. 4)

Setiap klaim pertemuan dengan tokoh suci harus diuji: apakah membawa pesan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits? Jika klaim tersebut justru disertai dengan bahasa-bahasa aneh yang tidak dipahami dan tindakan yang tidak dicontohkan oleh Salafush Sholih, maka dapat dipastikan bahwa hal tersebut adalah tipu daya syaithon atau sekadar karangan belaka untuk mencari pengaruh di hadapan manusia.

3.3 Tinjauan Tentang Maqom Manusia di Hadapan Alloh dan Batasan Perkara Ghoib

Seorang hamba, setinggi apa pun kedudukannya di sisi manusia, tetaplah seorang hamba yang tidak memiliki kendali sedikit pun atas kerajaan Alloh . Maqom (kedudukan) seorang Muslim yang sesungguhnya adalah dengan menunjukkan kefakiran dan ketundukannya di hadapan Robb semesta alam. Setiap upaya untuk memposisikan diri sebagai perantara ghoib yang memiliki kemampuan luar biasa di luar batasan syariat adalah sebuah penyimpangan dari hakekat penghambaan (‘ubudiyyah).

Islam telah menetapkan batasan yang jelas mengenai perkara ghoib. Batasan ini bertujuan agar manusia tidak tersesat dalam khayalan dan tidak mudah ditipu oleh para pendusta yang berbaju agama. Pengetahuan tentang Akhiroh, Surga, Neraka, dan Malaikat adalah perkara yang kita imani berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan pengalaman pribadi seseorang yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Secara Aql, jika seseorang benar-benar memiliki maqom yang tinggi di sisi Alloh , maka ia akan menjadi orang yang paling takut untuk berbicara tanpa ilmu dan paling menjauh dari kemasyhuran yang penuh dengan kepalsuan.

Menjaga jarak dari klaim-klaim tanpa dasar mengenai alam Akhiroh adalah bagian dari menjaga kewarasan iman. Ummat harus didorong untuk kembali kepada Kitabulloh dan Sunnah serta penjelasan para ulama yang mumpuni dalam memahami batasan-batasan ini, sehingga Aqidah Islam tetap murni dan tidak tercampur dengan dongeng-dongeng yang merusak jiwa.

 

Bab 4: Perusakan Syari’at pada Praktek Ibadah

4.1 Fenomena Perubahan Lafazh Ibadah dan Sholat dalam Berbagai Bahasa

Ibadah dalam Islam memiliki sifat tauqifiyyah, artinya tata cara, waktu, dan lafazhnya telah ditetapkan secara baku oleh Alloh dan Rosul-Nya . Manusia tidak diperkenankan melakukan improvisasi atau perubahan berdasarkan selera pribadi. Salah satu penyimpangan yang sangat nyata dari sosok Mama Ghufron adalah klaim bahwa ibadah, termasuk Sholat, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai bahasa yang tidak dipahami dasarnya, atau mencampuradukkan bahasa Arob dengan bunyi-bunyi yang diklaim sebagai bahasa ghoib.

Dalam sebuah video yang tersebar, tampak ia melakukan gerakan serupa Sholat namun dengan bacaan yang menyimpang jauh dari tuntunan. Tindakan ini merupakan pelanggaran berat terhadap perintah Rosululloh . Ia bersabda:

«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 631)

Syarat sahnya Sholat, khususnya dalam pembacaan Al-Fatihah dan dzikir-dzikir rukun lainnya, wajib menggunakan bahasa Arob bagi yang mampu. Mengganti lafazh-lafazh Sholat dengan bahasa lain, apalagi dengan bunyi-bunyi acak yang diklaim sebagai bahasa Syuryani, secara otomatis membatalkan Sholat tersebut dan merupakan bentuk penghinaan terhadap Syariat. Secara Aql, jika setiap orang diperbolehkan mengubah bahasa ibadah sesuai keinginannya, maka kesatuan ummat dalam ibadah akan hancur dan agama ini akan berubah menjadi permainan belaka. Para ulama seperti Imam Asy-Syafi’i (204 H) dalam kitab Al-Umm telah menegaskan kewajiban membaca Al-Fatihah dengan bahasa Arob yang benar dalam Sholat.

4.2 Dzikir-Dzikir Bid’ah yang Menyelisihi Tuntunan Hadits Shohih

Dzikir merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh . Namun, dzikir yang diterima adalah dzikir yang memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan Nabi ). Fenomena yang muncul di lingkungan Mama Ghufron adalah penggunaan dzikir-dzikir dengan susunan kata yang ganjil, teriakan-teriakan yang tidak berdasar, serta penggunaan ritme yang lebih menyerupai pertunjukan daripada ibadah yang khusyuk.

Banyak dari lafazh dzikir yang diajarkan oleh ia mengandung unsur pengagungan terhadap diri sendiri atau klaim-klaim hubungan khusus dengan alam ghoib yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi maupun para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum. Setiap Bid’ah dalam urusan agama adalah kesesatan. Alloh berfirman:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian ni’mat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)

Ayat ini merupakan dalil bahwa agama ini telah sempurna. Menambah-nambah cara dzikir dengan tata cara yang aneh menunjukkan seolah-olah Syariat ini belum sempurna sehingga perlu ditambah dengan “penemuan” baru dari sosok tertentu. Secara Aql, dzikir yang benar seharusnya membawa ketenangan jiwa dan ketaqwaan, bukan justru menimbulkan kebingungan dan suasana mistis yang tidak berdasar pada ilmu. Ibnu Mas’ud (32 H) pernah menegur sekelompok orang yang berdzikir dengan cara baru yang tidak dicontohkan Nabi , seraya berkata bahwa mereka telah membuka pintu kesesatan.

4.3 Dampak Pengabaian Kaidah Ilmu Alat dalam Memahami Agama

Penyimpangan dalam ibadah dan dzikir yang dilakukan oleh Mama Ghufron berakar dari pengabaian terhadap ilmu alat, terutama Nahwu (tata bahasa), Shorof (perubahan kata), dan Balaghoh (sastra Arob). Dalam tradisi pesantren yang amanah, pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits harus didahului dengan penguasaan bahasa Arob yang mumpuni. Tanpa ilmu alat, seseorang akan dengan mudah salah dalam memahami nash (teks) agama atau bahkan berani mengarang istilah-istilah sendiri yang diklaim sebagai bahasa suci.

Klaim memiliki 500 kitab dalam bahasa Syuryani tanpa bisa menunjukkan kaidah bahasa tersebut secara konsisten adalah bukti nyata pengabaian ilmu alat dan sifat Dajjal (pendusta). Hal ini berdampak luas bagi pengikutnya yang awam, karena mereka diajarkan untuk meninggalkan nalar ilmiyyah dan beralih kepada taklid buta (mengikuti tanpa dalil). Dampaknya, standar kebenaran bukan lagi Al-Qur’an dan Hadits, melainkan ucapan sang tokoh. Inilah yang menghancurkan pondasi pendidikan Islam yang selama ini dibangun di atas ilmu dan hujah (argumentasi).

 

Bab 5: Antara Ma’unah, Istidroj, dan Sya’badzah

5.1 Definisi Karomah Menurut Pemahaman Salafush Sholih

Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Karomah adalah perkara luar biasa yang Alloh berikan kepada hamba-Nya yang bertaqwa (Wali) yang tidak mengaku sebagai Nabi. Namun, Karomah bukanlah tujuan utama dan bukan pula alat untuk pamer atau mencari popularitas. Imam Al-Lalika’i (418 H) dalam kitab Syarh Ushul I’tiqod Ahlussunnah memaparkan banyak contoh Karomah para Shohabat dan Tabi’in yang semuanya berujung pada semakin kuatnya iman dan ketaatan mereka.

Poin penting yang ditekankan oleh para ulama, termasuk Ibnu Taimiyah (728 H), adalah bahwa Karomah sejati selalu beriringan dengan Istiqomah (teguh di atas Syariat). Jika ada seseorang yang bisa melakukan hal luar biasa namun ia meninggalkan Sholat, melakukan bid’ah, atau ucapannya menyelisihi Al-Qur’an, maka hal tersebut dipastikan bukan Karomah dari Alloh . Syariat adalah timbangan utama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) menyatakan bahwa jika kalian melihat seseorang terbang di udara atau berjalan di atas air namun ia menyelisihi perintah dan larangan agama, maka ketahuilah ia adalah pengikut syaithon.

5.2 Ciri-Ciri Istidroj dan Tipu Daya Syaithon pada Orang yang Zholim

Sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang yang terus menerus berada dalam kemaksiatan atau kesesatan disebut dengan istidroj. Alloh memberikan kelonggaran dan kenikmatan semu agar orang tersebut semakin jauh tersesat hingga datangnya adzab. Alloh berfirman:

﴿سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Nanti akan Kami biarkan mereka secara bertahap menuju kebinasaan (dengan cara yang tidak mereka sadari) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’rof: 182)

Fenomena Mama Ghufron yang memamerkan kemampuan aneh di media sosial memiliki ciri-ciri istidroj jika ditinjau dari banyaknya ucapan ia yang meremehkan prinsip agama. Syaithon seringkali membantu manusia yang melakukan penyimpangan untuk memperkuat posisi mereka di mata orang awam agar semakin banyak manusia yang tertipu. Kekuatan yang bersumber dari bantuan jin atau syaithon biasanya disertai dengan syarat-syarat yang melanggar Syariat, seperti mengucapkan mantra-mantra yang tidak dipahami maknanya atau melakukan ritual Bid’ah.

5.3 Analisis Akal Sehat Terhadap Keanehan-Keanehan yang Dipertontonkan

Secara Aql, banyak dari keanehan yang dipertontonkan oleh Mama Ghufron, seperti klaim menelepon Malaikat atau berbicara dengan video call ke alam ghoib, merupakan bentuk Sya’badzah (trik atau tipuan mata/logika). Di era digital saat ini, manipulasi suara, editan video, atau sekadar akting lisan sangat mudah dilakukan untuk menipu masyarakat yang kurang kritis. Akal sehat tidak mungkin menerima bahwa Malaikat—yang merupakan makhluk mulia dan ghoib—bisa diakses melalui perangkat buatan manusia untuk sekadar dijadikan konten pamer.

Penimbangan akal juga melihat pada hasil dari keanehan tersebut. Karomah para Wali terdahulu selalu membawa manfaat bagi dakwah Islam dan ketundukan kepada Alloh . Sebaliknya, keanehan yang ditampilkan Mama Ghufron justru menimbulkan fitnah (kekacauan), perpecahan, dan menjadi bahan tertawaan yang merendahkan martabat pemuka agama Islam di mata dunia. Oleh karena itu, secara ilmiyyah, fenomena ini tidak dapat dikategorikan sebagai Karomah, melainkan antara tipuan teknis atau gangguan syaithon yang disebut istidroj untuk menyesatkan ummat dari jalan yang lurus.

 

Bab 6: Bahaya Pemikiran Mama Ghufron Terhadap Keutuhan Aqidah Ummat

6.1 Kerusakan Logika Beragama dan Munculnya Kultus Individu yang Berlebihan

Salah satu dampak paling merusak dari fenomena ini adalah rusaknya pola pikir sistematis dalam beragama. Ketika masyarakat mulai membenarkan klaim-klaim tanpa dasar hanya karena sosok pelakunya dianggap sakti, maka standar kebenaran ilmiyyah akan runtuh. Hal ini memicu munculnya kultus individu, di mana sosok Mama Ghufron diposisikan sebagai figur yang tidak mungkin salah (ma’shum) oleh para pengikutnya. Kultus individu adalah pintu gerbang menuju kesyirikan, karena kecintaan dan ketaatan kepada manusia telah menyamai atau bahkan melebihi ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya .

Dalam sejarah Islam, kehancuran ummat sering kali dimulai dari sikap berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap orang sholih atau orang yang dianggap sholih. Rosululloh telah memperingatkan hal ini:

«إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ»

“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur disebabkan sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (HSR. An-Nasa’i no. 3057 dan Ibnu Majah no. 3029)

Secara Aql, kultus individu menghilangkan daya kritis ummat. Pengikut tidak lagi melihat apa yang dikatakan (konten), melainkan siapa yang mengatakan. Hal ini sangat berbahaya karena jika sang tokoh menyimpang, maka ribuan pengikutnya akan ikut terjun ke dalam lubang kesesatan tanpa merasa bersalah.

6.2 Ancaman Terhadap Kemurnian Tauhid dan Tegaknya Sunnah

Pemikiran dan praktek yang disebarkan oleh Mama Ghufron merupakan ancaman serius bagi kemurnian Tauhid. Klaim-klaim tentang kemampuan ghoib yang tidak berdasar dapat mengarahkan orang untuk bergantung kepada selain Alloh . Selain itu, maraknya praktek bid’ah dalam ibadah dan dzikir yang ia ajarkan secara perlahan akan memadamkan cahaya Sunnah di tengah masyarakat. Ketika bid’ah dihidupkan, maka satu Sunnah akan mati.

Tauhid menuntut pemurnian ibadah hanya kepada Alloh dengan cara yang diridhoi-Nya. Jika ummat disibukkan dengan mencari “karomah” palsu dan bahasa-bahasa ghoib hasil rekayasa, maka mereka akan abai terhadap kewajiban mempelajari Tauhid yang benar. Akibatnya, benteng pertahanan ummat terhadap syirik dan khurofat menjadi rapuh. Secara Naql, menjaga Sunnah adalah harga mati bagi setiap Muslim yang menginginkan keselamatan di Akhiroh. Mengabaikan Sunnah demi mengikuti fenomena viral adalah kerugian yang sangat besar.

6.3 Urgensi Menuntut Ilmu Syar’i dari Sumber yang Amanah dan Terpercaya

Fenomena Mama Ghufron menjadi pengingat keras bagi seluruh ummat Islam akan pentingnya kembali kepada Tholabul Ilmi (menuntut ilmu) yang benar. Ilmu agama tidak boleh diambil dari sembarang orang, apalagi hanya berdasarkan kepopuleran di media sosial atau keanehan fisik semata. Muhammad bin Sirin (110 H) pernah berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqoddimah Shohih Muslim)

Urgensi menuntut ilmu dari para ulama yang dikenal kelurusan Aqidahnya dan amanah dalam menyampaikan Syariat adalah kunci agar tidak mudah terombang-ambing oleh syubhat. Ummat harus didorong untuk belajar Kitabulloh dan Sunnah melalui bimbingan ulama yang meniti jalan Salafush Sholih. Hanya dengan ilmu yang shohih, ummat dapat membedakan mana emas dan mana loyang, mana Karomah dan mana istidroj, serta mana da’wah yang benar dan mana penyesatan yang berbaju agama. Pengetahuan terhadap prinsip dasar Islam akan menjadi perisai yang kokoh bagi setiap Muslim dalam menghadapi berbagai fitnah yang muncul di kemudian hari.

 

Penutup

Sebagai akhir dari pembahasan ini, penting bagi kita untuk menyadari bahwa fitnah di akhir zaman akan terus bermunculan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui sosok-sosok yang mengklaim diri memiliki keistimewaan ghoib namun tindakannya melukai kesucian Syariat. Fenomena Mama Ghufron hanyalah salah satu dari sekian banyak ujian bagi Aqidah ummat di era digital. Penimbangan yang telah dilakukan melalui dalil Naql, analisis Aql, serta pemaparan dhoror (bahaya) yang ditimbulkan menunjukkan secara jelas adanya penyimpangan yang nyata dalam ajaran dan klaim yang disampaikan oleh ia.

Kembali kepada kemurnian ajaran Islam yang dibawa oleh Rosululloh dan diamalkan oleh para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum adalah satu-satunya jalan keselamatan. Kita tidak membutuhkan bahasa baru untuk berkomunikasi dengan Robb kita, karena Dia telah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arob yang jelas. Kita tidak perlu mencari-cari cara dzikir yang aneh, karena Rosululloh telah mengajarkan dzikir yang paling sempurna. Kita pun tidak perlu silau dengan keanehan yang dipamerkan, karena kemuliaan seorang Muslim terletak pada ketaatannya kepada aturan Alloh secara lahir dan batin.

Semoga tulisan ini dapat memberikan pencerahan dan menjadi hujah bagi siapa saja yang ingin menjaga kesucian Aqidahnya.

Kita memohon kepada Alloh agar senantiasa memberikan hidayah, ketetapan hati di atas Tauhid, dan melindungi kita semua dari segala bentuk penyesatan.

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam. Aamiin.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url