Cari Ebook

[PDF] Aqidah 4 Imam Madzhab - Abu Hanifah, Malik, Syafii, Ahmad - Dr. Muhammad Al-Khomis

 


Muqoddimah

Sesungguhnya segala puji bagi Alloh, kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon petunjuk-Nya, serta memohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya (dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya), dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai Muslim (yang berserah diri kepada-Nya).” (QS. Ali ‘Imron: 102)

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾

“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu (yaitu Adam), dan darinya Alloh menciptakan istrinya (yaitu Hawa), dan dari keduanya Alloh memperkembang-biakkan laki-laki yang banyak dan perempuan. Dan bertaqwalah kepada Alloh yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrohim. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa: 1)

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Alloh dan ucapkanlah perkataan yang benar dan tepat, niscaya Alloh memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Selanjutnya,

Aku telah melakukan penelitian luas untuk meraih gelar Doktor dalam bidang pokok-pokok agama menurut Imam Abu Hanifah rohimahulloh (150 H).

Dalam pendahuluan tersebut, aku telah mencantumkan ringkasan aqidah 3 Imam lainnya yaitu Malik bin Anas (179 H), Asy-Syafii (204 H), dan Ahmad bin Hanbal (241 H).

Sebagian tokoh yang mulia telah memintaku untuk menyendirikan pembahasan aqidah ketiga Imam ini. Untuk menyempurnakan penyebutan aqidah 4 Imam, aku memandang perlu untuk menggabungkan apa yang telah aku sebutkan dalam pendahuluan risalah penelitianku dengan ringkasan dari apa yang telah aku paparkan secara luas tentang aqidah Imam Abu Hanifah rohimahulloh (150 H) dalam masalah Tauhid, takdir, Iman, para Shohabat, dan sikap beliau terhadap ilmu kalam (teologi dialektika).

Aku memohon kepada Alloh agar amal ini murni mengharap wajah-Nya yang mulia, dan semoga Dia memberikan taufiq kepada kita semua menuju petunjuk Kitab-Nya serta berjalan di atas Sunnah Rosul-Nya . Dan hanya Alloh-lah tujuan kami, Dia cukup bagi kami dan sebaik-baik pelindung.

Doa terakhir kami adalah segala puji bagi Alloh Robb semesta alam.

Muhammad Al-Khomis

 

Bab 1: Kesatuan Aqidah 4 Imam Kecuali Bab Iman

Aqidah 4 Imam —Abu Hanifah (150 H), Malik (179 H), Asy-Syafii (204 H), dan Ahmad (241 H) rohimahumulloh— adalah apa yang diucapkan oleh Al-Kitab dan Sunnah serta apa yang dipegang oleh para Shohabat dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik. Tidak ada perselisihan di antara para Imam ini —segala puji bagi Alloh— dalam pokok-pokok agama, bahkan mereka sepakat untuk beriman kepada sifat-sifat Robb dan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamulloh bukan makhluk, serta bahwa Iman harus mencakup pembenaran hati dan lisan. Bahkan mereka dahulu mengingkari ahli kalam dari kalangan Jahmiyyah dan selain mereka dari orang-orang yang terpengaruh oleh filsafat Yunani dan madzhab-madzhab kalam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) berkata:

«...وَلَكِنْ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ بِعِبَادِهِ أَنَّ الْأَئِمَّةَ الَّذِينَ لَهُمْ فِي الْأُمَّةِ لِسَانُ صِدْقٍ كَالْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَغَيْرِهِمْ... كَانُوا يُنْكِرُونَ عَلَى أَهْلِ الْكَلَامِ مِنَ الْجَهْمِيَّةِ قَوْلَهُمْ فِي الْقُرْآنِ وَالْإِيمَانِ وَصِفَاتِ الرَّبِّ، وَكَانُوا مُتَّفِقِينَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ السَّلَفُ مِنْ أَنَّ اللَّهَ يُرَى فِي الْآخِرَةِ وَأَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَأَنَّ الْإِيمَانَ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ تَصْدِيقِ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ...»

“...Akan tetapi, termasuk dari rohmat Alloh kepada para hamba-Nya adalah bahwa para Imam yang memiliki sebutan yang baik di tengah umat, seperti 4 Imam dan selain mereka... mereka mengingkari ahli kalam dari kalangan Jahmiyyah atas ucapan mereka tentang Al-Qur’an, Iman, dan sifat-sifat Robb. Mereka sepakat atas apa yang dipegang oleh para Salaf bahwa Alloh akan dilihat di Akhiroh, bahwa Al-Qur’an adalah Kalamulloh bukan makhluk, dan bahwa Iman harus mencakup pembenaran hati dan lisan...” (Kitab Al-Iman hal. 350, 351, Daruth Thiba’ah Al-Muhammadiyyah, Ta’liq Muhammad Al-Harros)

Beliau juga berkata:

«إِنَّ الْأَئِمَّةَ الْمَشْهُورِينَ كُلَّهُمْ يُثْبِتُونَ الصِّفَاتِ لِلَّهِ تَعَالَى وَيَقُولُونَ: إِنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُ اللَّهِ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ وَيَقُولُونَ: إِنَّ اللَّهَ يُرَى فِي الْآخِرَةِ، هَذَا مَذْهَبُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ وَغَيْرِهِمْ وَهَذَا مَذْهَبُ الْأَئِمَّةِ الْمَتْبُوعِينَ مِثْلَ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَالثَّوْرِيِّ وَاللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ، وَالْأَوْزَاعِيِّ، وَأَبِي حَنِيفَةَ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ...»

“Sesungguhnya para Imam yang masyhur semuanya menetapkan sifat-sifat bagi Alloh Ta’ala dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya Al-Qur’an adalah Kalamulloh bukan makhluk,’ dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya Alloh akan dilihat di Akhiroh.’ Ini adalah madzhab para Shohabat dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan Ahlul Bait dan selain mereka, dan ini adalah madzhab para Imam yang diikuti seperti Malik bin Anas (179 H), Ats-Tsauri (161 H), Al-Laits bin Sa’ad (175 H), Al-Auza’i (157 H), Abu Hanifah (150 H), Asy-Syafii (204 H), dan Ahmad (241 H)...” (Minhajus Sunnah 2/106)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) pernah ditanya tentang aqidah Asy-Syafii (204 H), maka beliau menjawab dengan ucapannya:

«اعْتِقَادُ الشَّافِعِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - وَاعْتِقَادُ سَلَفِ الْأُمَّةِ كَمَالِكٍ وَالثَّوْرِيِّ وَالْأَوْزَاعِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَإِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْه هُوَ اعْتِقَادُ الْمَشَايِخِ الْمُقْتَدَى بِهِمْ كَالْفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ وَأَبِي سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيِّ وَسَهْلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ التُّسْتَرِيِّ وَغَيْرِهِمْ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةِ وَأَمْثَالِهِمْ نِزَاعٌ فِي أُصُولِ الدِّينِ. وَكَذَلِكَ أَبُو حَنِيفَةَ - رَحِمَهُ اللَّهُ - فَإِنَّ الِاعْتِقَادَ الثَّابِتَ عَنْهُ فِي التَّوْحِيدِ وَالْقَدَرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مُوَافِقٌ لِاعْتِقَادِ هَؤُلَاءِ، وَاعْتِقَادُ هَؤُلَاءِ هُوَ مَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَهُوَ مَا نَطَقَ بِهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ»

“Aqidah Asy-Syafii rodhiyallohu ‘anhu dan aqidah Salaf umat ini seperti Malik (179 H), Ats-Tsauri (161 H), Al-Auza’i (157 H), Ibnul Mubarok (181 H), Ahmad bin Hanbal (241 H), dan Ishaq bin Rahuyah (238 H) adalah aqidah para Masyaikh yang menjadi teladan seperti Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H), Abu Sulaiman Ad-Daroni (215 H), Sahl bin Abdillah At-Tustari (283 H), dan selain mereka. Karena sesungguhnya tidak ada perselisihan di antara para Imam tersebut dan yang semisal mereka dalam pokok-pokok agama. Begitu pula Abu Hanifah rohimahulloh (150 H), sesungguhnya aqidah yang tsabit darinya dalam masalah Tauhid, takdir, dan semisalnya adalah sesuai dengan aqidah mereka. Dan aqidah mereka adalah apa yang dipegang oleh para Shohabat dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, dan itulah yang diucapkan oleh Al-Kitab dan Sunnah.” (Majmu’ Al-Fatawa 5/256)

Inilah yang dipilih oleh Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khon (1307 H) di mana beliau berkata:

«فَمَذْهَبُنَا مَذْهَبُ السَّلَفِ إِثْبَاتٌ بِلَا تَشْبِيهٍ وَتَنْزِيهٌ بِلَا تَعْطِيلٍ وَهُوَ مَذْهَبُ أَئِمَّةِ الْإِسْلَامِ كَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَالثَّوْرِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَالْإِمَامِ أَحْمَدَ... وَغَيْرِهِمْ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةِ نِزَاعٌ فِي أُصُولِ الدِّينِ وَكَذَلِكَ أَبُو حَنِيفَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - فَإِنَّ الِاعْتِقَادَ الثَّابِتَ عَنْهُ مُوَافِقٌ لِاعْتِقَادِ هَؤُلَاءِ وَهُوَ الَّذِي نَطَقَ بِهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ...»

“Maka madzhab kami adalah madzhab Salaf, yaitu menetapkan tanpa menyerupakan dan menyucikan tanpa meniadakan. Itulah madzhab para Imam Islam seperti Malik (179 H), Asy-Syafii (204 H), Ats-Tsauri (161 H), Ibnul Mubarok (181 H), dan Imam Ahmad (241 H)... dan selain mereka. Karena sesungguhnya tidak ada perselisihan di antara para Imam tersebut dalam pokok-pokok agama. Begitu pula Abu Hanifah rodhiyallohu ‘anhu (150 H), sesungguhnya aqidah yang tsabit darinya sesuai dengan aqidah mereka, dan itulah yang diucapkan oleh Al-Kitab dan Sunnah...” (Qothfuts Tsamar hal. 47, 48)

Inilah sekelompok ucapan dari para Imam 4 yang diikuti yaitu Abu Hanifah (150 H), Malik (179 H), Asy-Syafii (204 H), dan Ahmad (241 H) mengenai apa yang mereka yakini dalam masalah pokok-pokok agama disertai penjelasan sikap mereka terhadap ilmu kalam.

 

Bab 2: Aqidah Imam Abu Hanifah (150 H)

2.1 Tauhid

2.1.1: Mentauhidkan Alloh, Penjelasan Tawassul Syar’i, dan Pembatalan Tawassul Bid’ah

(1) Abu Hanifah berkata:

«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ إِلَّا بِهِ وَالدُّعَاءُ الْمَأْذُونُ فِيهِ الْمَأْمُورُ بِهِ مَا اسْتُفِيدَ مِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾»

“Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk berdoa kepada Alloh kecuali dengan-Nya, dan doa yang diizinkan serta diperintahkan adalah apa yang diambil manfaatnya dari firman Alloh Ta’ala: ‘Hanya milik Alloh asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’” (QS. Al-A’rof: 180) (Ad-Durr al-Mukhtar bersama Hasyiyah Rodd al-Muhtar 6/396-397)

(2) Abu Hanifah berkata:

«يُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ الدَّاعِي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ فُلَانٍ أَوْ بِحَقِّ أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَبِحَقِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ وَالْمَشْعَرِ الْحَرَامِ»

“Dibenci bagi orang yang berdoa untuk mengucapkan: ‘Aku memohon kepada-Mu dengan hak si fulan’ atau ‘dengan hak para Nabi-Mu dan Rosul-Mu’ atau ‘dengan hak Baitul Harom dan Masy’aril Harom.’” (Syarh al-Aqidah ath-Thohawiyyah hal. 234, Ithaf as-Sadah al-Muttaqin 2/285, dan Syarh al-Fiqh al-Akbar karya al-Qori hal. 198)

(3) Abu Hanifah berkata:

«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ إِلَّا بِهِ وَأَكْرَهُ أَنْ يَقُولَ بِمَعَاقِدِ الْعِزِّ مِنْ عَرْشِكَ، أَوْ بِحَقِّ خَلْقِكَ»

“Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk berdoa kepada Alloh kecuali dengan-Nya, dan aku membenci ucapan: ‘Dengan kemuliaan singgasana-Mu (ma’aqidul ‘izz min ‘arsyik)’, atau ‘dengan hak makhluk-Mu.’” (At-Tawassul wa al-Wasilah hal. 82, Syarh al-Fiqh al-Akbar hal. 198).

Imam Abu Hanifah dan Muhammad bin al-Hasan membenci seseorang mengucapkan dalam doanya: ‘Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan singgasana-Mu’ karena tidak adanya dalil yang mengizinkannya. Adapun Abu Yusuf, beliau membolehkannya karena bersandar pada teks dari Sunnah bahwa Nabi pernah berdoa:

«اللهم إني أسألك بمعاقد العزّ من عرشك ومنتهى الرحمة من كتابك»

‘Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan singgasana-Mu dan puncak rohmat dari Kitab-Mu.’.. Hadits ini dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam Kitab ad-Da’awat al-Kabiroh sebagaimana dalam al-Binayah 9/382 dan Nasb ar-Royah 4/272. Di dalam sanadnya terdapat tiga perkara yang mencacatkan:

1) Dawud bin Abi Ashim tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud.

2) Abdul Malik bin Juroij adalah mudallis dan melakukan irsal.

3) Umar bin Harun dituduh berdusta.

Oleh karena itu, Ibnu al-Jauzi berkata sebagaimana dalam al-Binayah 9/382: “Ini adalah hadits palsu tanpa keraguan dan sanadnya hancur sebagaimana yang engkau lihat.” Lihat Tahdzib at-Tahdzib (3/189, 6/405, 7/501) dan Taqrib at-Tahdzib (1/520).

2.1.2 Menetapkan Sifat dan Bantahan terhadap Jahmiyyah

(4) Beliau berkata:

«لَا يُوصَفُ اللَّهُ تَعَالَى بِصِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ، وَغَضَبُهُ وَرِضَاهُ صِفَتَانِ مِنْ صِفَاتِهِ بِلَا كَيْفٍ، وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَهُوَ يَغْضَبُ وَيَرْضَى وَلَا يُقَالُ: غَضَبُهُ عُقُوبَتُهُ وَرِضَاهُ ثَوَابُهُ، وَنَصِفُهُ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ أَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، حَيٌّ قَادِرٌ سَمِيعٌ بَصِيرٌ عَالِمٌ، يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ لَيْسَتْ كَأَيْدِي خَلْقِهِ وَوَجْهُهُ لَيْسَ كَوُجُوهِ خَلْقِهِ»

“Alloh Ta’ala tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk. Murka-Nya dan ridho-Nya adalah dua sifat dari sifat-sifat-Nya tanpa kaifiyah (tata cara). Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dia murka dan ridho, serta tidak dikatakan bahwa murka-Nya adalah hukuman-Nya dan ridho-Nya adalah pahala-Nya. Kita mensifati-Nya sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri: Esa, tempat bergantung, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dia Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui. Tangan Alloh di atas tangan-tangan mereka, tidaklah seperti tangan makhluk-Nya, dan wajah-Nya tidaklah seperti wajah makhluk-Nya.” (Al-Fiqh al-Absath hal. 56)

(5) Beliau berkata:

«وَلَهُ يَدٌ وَوَجْهٌ وَنَفْسٌ، كَمَا ذَكَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ، فَمَا ذَكَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ مِنْ ذِكْرِ الْوَجْهِ وَالْيَدِ وَالنَّفْسِ، فَهُوَ لَهُ صِفَاتٌ بِلَا كَيْفٍ وَلَا يُقَالُ إِنَّ يَدَهُ قُدْرَتُهُ أَوْ نِعْمَتُهُ، لِأَنَّ فِيهِ إِبْطَالَ الصِّفَةِ وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الْقَدَرِ وَالِاعْتِزَالِ»

“Dia memiliki tangan, wajah, dan jiwa sebagaimana yang Alloh Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an. Maka apa yang Alloh Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an berupa penyebutan wajah, tangan, dan jiwa, maka itu adalah sifat-sifat bagi-Nya tanpa kaifiyah. Dan tidak dikatakan bahwa tangan-Nya adalah kekuasaan-Nya atau nikmat-Nya, karena di dalamnya terdapat pembatalan (peniadaan) sifat, dan itu adalah pendapat golongan Qodariyyah dan Mu’tazilah.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

(6) Beliau berkata:

«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَنْطِقَ فِي ذَاتِ اللَّهِ بِشَيْءٍ بَلْ يَصِفُهُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ وَلَا يَقُولُ فِيهِ بِرَأْيِهِ شَيْئًا تَبَارَكَ اللَّهُ وَتَعَالَى رَبُّ الْعَالَمِينَ»

“Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk mengucapkan sesuatu tentang dzat Alloh, akan tetapi hendaknya ia mensifati-Nya dengan apa yang Dia sifati diri-Nya sendiri, dan janganlah ia mengatakan tentang-Nya sesuatu berdasarkan pendapatnya sendiri. Maha Berkah Alloh dan Maha Tinggi Robb semesta alam.” (Syarh al-Aqidah ath-Thohawiyyah 2/427 tahqiq Dr. At-Turki, Jala’ al-‘Ainain hal. 368).

(7) Ketika beliau ditanya tentang turunnya Alloh (an-Nuzul al-Ilahi), beliau berkata:

«يَنْزِلُ بِلَا كَيْفٍ»

“Dia turun tanpa kaifiyah.” (Aqidah as-Salaf Ashabul Hadits hal. 42 cet. Dar as-Salafiyyah, al-Asma’ wa ash-Shifat karya al-Baihaqi hal. 456, Syarh al-Aqidah ath-Thohawiyyah hal. 245 takhrij al-Albani, Syarh al-Fiqh al-Akbar karya al-Qori hal. 60)

(8) Abu Hanifah berkata:

«وَاللَّهُ تَعَالَى يُدْعَى مِنْ أَعْلَى لَا مِنْ أَسْفَلَ لِأَنَّ الْأَسْفَلَ لَيْسَ مِنْ وَصْفِ الرُّبُوبِيَّةِ وَالْأُلُوهِيَّةِ فِي شَيْءٍ»

“Dan Alloh Ta’ala dimohonkan dari arah atas, bukan dari bawah, karena arah bawah tidaklah termasuk dari sifat kerububiyahan dan keilahan sedikit pun.” (Al-Fiqh al-Absath hal. 51)

(9) Beliau berkata:

«وَهُوَ يَغْضَبُ وَيَرْضَى وَلَا يُقَالُ غَضَبُهُ عُقُوبَتُهُ وَرِضَاهُ ثَوَابُهُ»

“Dia murka dan ridho, serta tidak dikatakan bahwa murka-Nya adalah hukuman-Nya dan ridho-Nya adalah pahala-Nya.” (Al-Fiqh al-Absath hal. 56).

(10) Beliau berkata:

«وَلَا يُشْبِهُ شَيْئًا مِنَ الْأَشْيَاءِ مِنْ خَلْقِهِ وَلَا يُشْبِهُهُ مِنْ خَلْقِهِ لَمْ يَزَلْ وَلَا يَزَالُ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ»

“Dia tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya, dan tidak ada yang menyerupai-Nya dari makhluk-Nya. Dia senantiasa dan akan tetap ada dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 301)

(11) Beliau berkata:

«وَصِفَاتُهُ بِخِلَافِ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ يَعْلَمُ لَا كَعِلْمِنَا، وَيَقْدِرُ لَا كَقُدْرَتِنَا، وَيَرَى لَا كَرُؤْيَتِنَا، وَيَسْمَعُ لَا كَسَمْعِنَا، وَيَتَكَلَّمُ لَا كَكَلَامِنَا»

“Dan sifat-sifat-Nya berbeda dengan sifat-sifat makhluk. Dia mengetahui tidak seperti pengetahuan kita, Dia berkuasa tidak seperti kekuasaan kita, Dia melihat tidak seperti penglihatan kita, Dia mendengar tidak seperti pendengaran kita, dan Dia berfirman tidak seperti ucapan kita.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

(12) Beliau berkata:

«لَا يُوصَفُ اللَّهُ تَعَالَى بِصِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ»

“Alloh Ta’ala tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk.” (Al-Fiqh al-Absath hal. 56)

(13) Beliau berkata:

«وَمَنْ وَصَفَ اللَّهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِي الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَ»

“Barangsiapa mensifati Alloh dengan suatu makna dari makna-makna manusia, maka sungguh ia telah kafir.” (Al-Aqidah ath-Thohawiyyah dengan ta’liq al-Albani hal. 25)

(14) Beliau berkata:

«وَصِفَاتُهُ الذَّاتِيَّةُ وَالْفِعْلِيَّةُ، أَمَّا الذَّاتِيَّةُ فَالْحَيَاةُ وَالْقُدْرَةُ وَالْعِلْمُ وَالْكَلَامُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْإِرَادَةُ، وَأَمَّا الْفِعْلِيَّةُ فَالتَّخْلِيقُ وَالتَّرْزِيقُ وَالْإِنْشَاءُ وَالْإِبْدَاعُ وَالصُّنْعُ وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ صِفَاتِ الْفِعْلِ لَمْ يَزَلْ وَلَا يَزَالُ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ»

“Dan sifat-sifat-Nya ada yang dzatiyyah dan ada yang fi’liyyah. Adapun yang dzatiyyah adalah hidup, kuasa, ilmu, kalam (berfirman), mendengar, melihat, dan berkehendak. Adapun yang fi’liyyah adalah menciptakan, memberi rizki, mewujudkan, mengadakan, membuat, dan selain itu dari sifat-sifat perbuatan. Dia senantiasa dan akan tetap ada dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.” (Al-Fiqh al-Akbar 301)

(15) Beliau berkata:

«وَلَمْ يَزَلْ فَاعِلًا بِفِعْلِهِ وَالْفِعْلُ صِفَةٌ فِي الْأَزَلِ وَالْفَاعِلُ هُوَ اللَّهُ تَعَالَى وَالْفِعْلُ صِفَةٌ فِي الْأَزَلِ وَالْمَفْعُولُ مَخْلُوقٌ وَفِعْلُ اللَّهِ تَعَالَى غَيْرُ مَخْلُوقٍ»

“Dia senantiasa berbuat dengan perbuatan-Nya, dan perbuatan itu adalah sifat semenjak zaman azali. Pelakunya adalah Alloh Ta’ala dan perbuatan adalah sifat semenjak zaman azali, sedangkan yang dikenai perbuatan (objek) adalah makhluk, dan perbuatan Alloh Ta’ala itu bukan makhluk.” (Al-Fiqh al-Akbar 301)

(16) Beliau berkata:

«مَنْ قَالَ لَا أَعْرِفُ رَبِّي فِي السَّمَاءِ أَمْ فِي الْأَرْضِ فَقَدْ كَفَرَ، وَكَذَا مَنْ قَالَ إِنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ وَلَا أَدْرِي الْعَرْشَ أَفِي السَّمَاءِ أَمْ فِي الْأَرْضِ»

“Barangsiapa berkata: ‘Aku tidak tahu apakah Robb-ku berada di atas atau di bumi’, maka sungguh ia telah kafir. Begitu pula barangsiapa yang berkata: ‘Dia berada di atas singgasana (Arsy), namun aku tidak tahu apakah singgasana itu di atas atau di bumi.’” (Al-Fiqh al-Absath hal. 46; teks serupa dinukil oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qoyyim, adz-Dzahabi, Ibnu Qudamah, dan Ibnu Abil ‘Izz)

(17) Beliau berkata kepada seorang wanita yang bertanya kepadanya di mana Tuhan yang engkau sembah:

«إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي السَّمَاءِ دُونَ الْأَرْضِ»، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: أَرَأَيْتَ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَهُوَ مَعَكُمْ﴾ [الحديد: 4] قَالَ: «هُوَ كَمَا تَكْتُبُ لِلرَّجُلِ إِنِّي مَعَكَ وَأَنْتَ غَائِبٌ عَنْهُ»

“Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala berada di langit, bukan di bumi.” Lalu seorang laki-laki bertanya kepada beliau: “Bagaimana pendapatmu tentang firman Alloh Ta’ala: {Dan Dia bersama kalian}?” Beliau menjawab: “Itu seperti ketika engkau menulis kepada seseorang: ‘Sesungguhnya aku bersamamu,’ padahal engkau tidak hadir di sisinya (ghoib).’” (Al-Asma’ wa ash-Shifat hal. 429)

(18) Beliau juga berkata:

«يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ لَيْسَتْ كَأَيْدِي خَلْقِهِ»

“Tangan Alloh di atas tangan-tangan mereka, tidaklah seperti tangan makhluk-Nya.” (Al-Fiqh al-Absath hal. 56)

(19) Beliau berkata:

«إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي السَّمَاءِ دُونَ الْأَرْضِ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: أَرَأَيْتَ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَهُوَ مَعَكُمْ﴾ [الحديد: 4]، قَالَ: هُوَ كَمَا تَكْتُبُ لِرَجُلٍ إِنِّي مَعَكَ وَأَنْتَ غَائِبٌ عَنْهُ»

“Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit, bukan di bumi.” Lalu seorang laki-laki bertanya kepada beliau: “Bagaimana pendapatmu tentang firman Alloh Ta’ala: {Dan Dia bersama kalian}?” Beliau menjawab: “Itu seperti ketika engkau menulis kepada seseorang: ‘Sesungguhnya aku bersamamu, padahal engkau tidak hadir di sisinya (ghoib).’” (Al-Asma’ wa ash-Shifat 2/170)

(20) Beliau berkata:

«قَدْ كَانَ مُتَكَلِّمًا وَلَمْ يَكُنْ كَلَّمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ»

“Dia senantiasa bersifat Kalam (berfirman) meskipun Dia belum berbicara kepada Musa alaihis salam.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

(21) Beliau berkata:

«وَمُتَكَلِّمًا بِكَلَامِهِ وَالْكَلَامُ صِفَةٌ فِي الْأَزَلِ»

“Dia berfirman dengan Kalam-Nya, dan Kalam itu adalah sifat semenjak zaman azali.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 301)

(22) Beliau berkata:

«وَيَتَكَلَّمُ لَا كَكَلَامِنَا»

“Dan Dia berfirman tidak seperti ucapan kita.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

(23) Beliau berkata:

«وَسَمِعَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَلَامَ اللَّهِ تَعَالَى كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا﴾ [النساء: 164]، وَقَدْ كَانَ اللَّهُ تَعَالَى مُتَكَلِّمًا وَلَمْ يَكُنْ كَلَّمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ»

“Musa alaihis salam telah mendengar kalam Alloh Ta’ala sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman: ‘Dan Alloh telah berfirman kepada Musa dengan firman yang sungguh.’ Dan Alloh Ta’ala senantiasa bersifat Kalam meskipun Dia belum berbicara kepada Musa alaihis salam.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

(24) Beliau berkata:

«وَالْقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ فِي الْمَصَاحِفِ مَكْتُوبٌ وَفِي الْقُلُوبِ مَحْفُوظٌ، وَعَلَى الْأَلْسُنِ مَقْرُوءٌ، وَعَلَى النَّبِيِّ ﷺ أُنْزِلَ»

“Al-Qur’an adalah kalam Alloh, tertulis di mushaf-mushaf, terjaga di dalam hati, dibaca oleh lisan, dan diturunkan kepada Nabi .” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 301)

(25) Beliau berkata:

«وَالْقُرْآنُ غَيْرُ مَخْلُوقٍ»

“Al-Qur’an itu bukan makhluk.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 301)

2.2 Takdir

(1) Datang seorang laki-laki kepada Imam Abu Hanifah untuk mendebat beliau tentang takdir, maka beliau berkata kepadanya:

«أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ النَّاظِرَ فِي الْقَدَرِ كَالنَّاظِرِ فِي عَيْنَيِ الشَّمْسِ كُلَّمَا ازْدَادَ نَظَرًا ازْدَادَ تَحَيُّرًا»

“Tidakkah engkau tahu bahwa orang yang memikirkan takdir itu seperti orang yang menatap langsung ke arah matahari. Semakin banyak ia menatap, semakin bertambah pula kebingungannya.” (Qola’id ‘Uqud al-‘Iqyan q-77-b)

(2) Imam Abu Hanifah berkata:

«وَكَانَ اللَّهُ تَعَالَى عَالِمًا فِي الْأَزَلِ بِالْأَشْيَاءِ قَبْلَ كَوْنِهَا»

“Dan Alloh Ta’ala telah mengetahui segala sesuatu semenjak zaman azali sebelum keberadaannya.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302, 303)

(3) Beliau berkata:

«يَعْلَمُ اللَّهُ تَعَالَى الْمَعْدُومَ فِي حَالَةِ عَدَمِهِ مَعْدُومًا وَيَعْلَمُ أَنَّهُ كَيْفَ يَكُونُ إِذَا أَوْجَدَهُ، وَيَعْلَمُ اللَّهُ تَعَالَى الْمَوْجُودَ فِي حَالِ وُجُودِهِ مَوْجُودًا وَيَعْلَمُ كَيْفَ يَكُونُ فَنَاؤُهُ»

“Alloh Ta’ala mengetahui sesuatu yang tidak ada (ma’dum) pada saat ketiadaannya sebagai sesuatu yang tidak ada, dan Dia mengetahui bagaimana jadinya jika Dia mewujudkannya. Dan Alloh Ta’ala mengetahui sesuatu yang ada (maujud) pada saat keberadaannya sebagai sesuatu yang ada, dan Dia mengetahui bagaimana jadinya nanti ketika ia binasa.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302, 303)

(4) Imam Abu Hanifah berkata:

«وَقَدَرُهُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ»

“Dan ketentuannya (takdirnya) ada di dalam Lauhul Mahfuzh.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

(5) Beliau berkata:

«وَنُقِرُّ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ بِالْقَلَمِ أَنْ يَكْتُبَ فَقَالَ الْقَلَمُ: مَاذَا أَكْتُبُ يَا رَبِّ؟ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: اكْتُبْ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ * وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ﴾ [القمر: 52 - 53]»

“Dan kita mengikrarkan bahwa Alloh Ta’ala memerintahkan Pena (Al-Qolam) untuk menulis. Pena bertanya: ‘Apa yang harus aku tulis, wahai Robb-ku?’ Alloh Ta’ala berfirman: ‘Tulislah apa yang akan terjadi sampai hari Kiamat’, berdasarkan firman-Nya Ta’ala: ‘Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan amalan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.’” (Al-Washiyyah beserta syarahnya hal. 21)

(6) Imam Abu Hanifah berkata:

«وَلَا يَكُونُ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ شَيْءٌ إِلَّا بِمَشِيئَتِهِ»

“Dan tidak terjadi sesuatu pun di dunia maupun di Akhirat melainkan dengan kehendak-Nya.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

(7) Imam Abu Hanifah berkata:

«خَلَقَ اللَّهُ الْأَشْيَاءَ لَا مِنْ شَيْءٍ»

“Alloh menciptakan segala sesuatu tidak dari sesuatu.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

(8) Beliau berkata:

«وَكَانَ اللَّهُ تَعَالَى خَالِقًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ»

“Dan Alloh Ta’ala telah menjadi Sang Pencipta sebelum Dia menciptakan.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 304)

(9) Beliau berkata:

«نُقِرُّ بِأَنَّ الْعَبْدَ مَعَ أَعْمَالِهِ وَإِقْرَارِهِ وَمَعْرِفَتِهِ مَخْلُوقٌ، فَلَمَّا كَانَ الْفَاعِلُ مَخْلُوقًا فَأَفْعَالُهُ أَوْلَى أَنْ تَكُونَ مَخْلُوقَةً»

“Kita mengikrarkan bahwa hamba itu bersama amal perbuatannya, pengakuannya, dan pengetahuannya adalah makhluk. Maka tatkala pelakunya adalah makhluk, maka perbuatan-perbuatannya lebih utama untuk menjadi makhluk.” (Al-Washiyyah beserta syarahnya hal. 14)

(10) Beliau berkata:

«جَمِيعُ أَفْعَالِ الْعِبَادِ مِنَ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ كَسْبُهُمْ وَاللَّهُ تَعَالَى خَالِقُهَا وَهِيَ كُلُّهَا بِمَشِيئَتِهِ وَعِلْمِهِ وَقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ»

“Seluruh perbuatan hamba, baik berupa gerakan maupun diam, adalah usaha (kasab) mereka, sedangkan Alloh Ta’ala adalah penciptanya. Semuanya terjadi dengan kehendak, pengetahuan, qodho, dan takdir-Nya.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 303)

(11) Imam Abu Hanifah berkata:

«وَجَمِيعُ أَفْعَالِ الْعِبَادِ مِنَ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ كَسْبُهُمْ عَلَى الْحَقِيقَةِ وَاللَّهُ تَعَالَى خَلَقَهَا وَهِيَ كُلُّهَا بِمَشِيئَتِهِ وَعِلْمِهِ وَقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَالطَّاعَاتُ كُلُّهَا كَانَتْ وَاجِبَةً بِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَبِمَحَبَّتِهِ وَبِرِضَاهُ وَعِلْمِهِ وَمَشِيئَتِهِ وَقَضَائِهِ وَتَقْدِيرِهِ، وَالْمَعَاصِي كُلُّهَا بِعِلْمِهِ وَقَضَائِهِ وَتَقْدِيرِهِ وَمَشِيئَتِهِ لَا بِمَحَبَّتِهِ وَلَا بِرِضَائِهِ وَلَا بِأَمْرِهِ»

“Dan seluruh perbuatan hamba, baik berupa gerakan maupun diam, adalah usaha mereka secara hakiki, sedangkan Alloh Ta’ala yang menciptakannya. Semuanya terjadi dengan kehendak, pengetahuan, qodho, dan takdir-Nya. Seluruh ketaatan menjadi wajib dengan perintah Alloh Ta’ala, kecintaan-Nya, keridhoan-Nya, pengetahuan-Nya, kehendak-Nya, qodho-Nya, dan ketentuan-Nya. Sedangkan seluruh kemaksiatan terjadi dengan pengetahuan-Nya, qodho-Nya, ketentuan-Nya, dan kehendak-Nya, namun bukan dengan kecintaan-Nya, bukan dengan keridhoan-Nya, dan bukan pula dengan perintah-Nya.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 303)

(12) Beliau berkata:

«خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى الْخَلْقَ سَلِيمًا مِنَ الْكُفْرِ وَالْإِيمَانِ ثُمَّ خَاطَبَهُمْ وَأَمَرَهُمْ وَنَهَاهُمْ، فَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ بِفِعْلِهِ وَإِقْرَارِهِ وَجُحُودِهِ الْحَقَّ بِخِذْلَانِ اللَّهِ تَعَالَى إِيَّاهُ، وَآَمَنَ مَنْ آَمَنَ بِفِعْلِهِ وَإِقْرَارِهِ وَتَصْدِيقِهِ بِتَوْفِيقِ اللَّهِ تَعَالَى وَنُصْرَتِهِ لَهُ»

“Alloh Ta’ala menciptakan makhluk dalam keadaan selamat dari kekafiran dan keimanan (maksudnya: Alloh menciptakan makhluk di atas fitroh Islam), kemudian Dia menyeru mereka, memerintahkan mereka, dan melarang mereka. Maka barangsiapa yang kafir, ia kafir dengan perbuatannya, pengingkarannya, dan penolakannya terhadap kebenaran karena ditinggalkan oleh Alloh Ta’ala. Dan barangsiapa yang beriman, ia beriman dengan perbuatannya, pengakuannya, dan pembenarannya berkat taufiq Alloh Ta’ala dan pertolongan-Nya baginya.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302-303)

(13) Beliau berkata:

«وَأَخْرَجَ ذُرِّيَّةَ آدَمَ مِنْ صُلْبِهِ عَلَى صُوَرِ الذَّرِّ، فَجَعَلَهُمْ عُقَلَاءَ فَخَاطَبَهُمْ وَأَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ وَنَهَاهُمْ عَنِ الْكُفْرِ، فَأَقَرُّوا لَهُ بِالرُّبُوبِيَّةِ فَكَانَ ذَلِكَ مِنْهَا إِيمَانًا فَهُمْ يُولَدُونَ عَلَى تِلْكَ الْفِطْرَةِ، وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَقَدْ بَدَّلَ وَغَيَّرَ، وَمَنْ آَمَنَ وَصَدَّقَ فَقَدْ ثَبَتَ عَلَيْهِ وَدَاوَمَ»

“Dia mengeluarkan keturunan Adam dari tulang rusuknya dalam bentuk partikel-partikel kecil (dzarr), lalu menjadikan mereka berakal. Kemudian Dia menyeru mereka, memerintahkan mereka untuk beriman, dan melarang mereka dari kekafiran. Mereka pun mengakui kerububiyahan-Nya, dan itu adalah keimanan dari mereka. Maka mereka dilahirkan di atas fitroh tersebut. Barangsiapa yang kafir setelah itu, sungguh ia telah mengganti dan merubahnya. Dan barangsiapa yang beriman serta membenarkan, maka ia telah tetap dan terus-menerus di atasnya.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

(14) Beliau berkata:

«وَهُوَ الَّذِي قَدَّرَ الْأَشْيَارَ وَقَضَاهَا وَلَا يَكُونُ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ شَيْءٌ إِلَّا بِمَشِيئَتِهِ وَعِلْمِهِ وَقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَكَتَبَهُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ»

“Dialah yang menentukan segala sesuatu dan menetapkannya. Tidak terjadi sesuatu pun di dunia maupun di Akhirat melainkan dengan kehendak, pengetahuan, qodho, dan takdir-Nya, serta Dia telah menulisnya di dalam Lauhul Mahfuzh.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 302)

(15) Beliau berkata:

«لَمْ يُجْبِرْ أَحَدًا مِنْ خَلْقِهِ عَلَى الْكُفْرِ وَلَا عَلَى الْإِيمَانِ، وَلَكِنْ خَلَقَهُمْ أَشْخَاصًا وَالْإِيمَانُ وَالْكُفْرُ فِعْلُ الْعِبَادِ، وَيَعْلَمُ تَعَالَى مَنْ يَكْفُرُ فِي حَالِ كُفْرِهِ كَافِرًا، فَإِذَا آَمَنَ بَعْدَ ذَلِكَ فَإِذَا عَلِمَهُ مُؤْمِنًا أَحَبَّهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَغَيَّرَ عِلْمُهُ»

“Dia tidak memaksa seorang pun dari makhluk-Nya untuk kafir maupun untuk beriman, akan tetapi Dia menciptakan mereka sebagai pribadi-pribadi, sedangkan iman dan kufur adalah perbuatan para hamba. Alloh Ta’ala mengetahui siapa yang kafir saat ia berada dalam kekafirannya sebagai orang kafir. Jika ia beriman setelah itu, tatkala Dia mengetahuinya sebagai seorang Mu’min, Dia mencintainya tanpa berubah pengetahuan-Nya.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 303)

2.3 Iman

(1) Beliau berkata:

«وَالْإِيمَانُ هُوَ الْإِقْرَارُ وَالتَّصْدِيقُ»

“Dan Iman itu adalah pengakuan (iqror) dan pembenaran (tashdiq).” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 304)

(2) Beliau berkata:

«الْإِيمَانُ إِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ وَتَصْدِيقٌ بِالْجَنَانِ وَالْإِقْرَارُ وَحْدَهُ لَا يَكُونُ إِيمَانًا»

“Iman adalah pengakuan dengan lisan dan pembenaran dengan hati, sedangkan pengakuan saja tidaklah menjadi keimanan.” (Kitab al-Washiyyah beserta syarahnya hal. 2)

(At-Thahawi menukil hal ini dari Abu Hanifah dan kedua sahabatnya dalam Syarah ath-Thohawiyyah hal. 360)

(3) Abu Hanifah berkata:

«وَالْإِيمَانُ لَا يَزِيدُ وَلَا يَنْقُصُ»

“Dan Iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang.” (Kitab al-Washiyyah beserta syarahnya hal. 3)

Penulis katakan beliau tentang tidak adanya pertambahan dan pengurangan iman, serta bahwa amal berada di luar hakikat iman, adalah pembeda antara aqidah beliau dengan aqidah seluruh Imam Islam lainnya: Malik, Syafii, Ahmad, Ishaq, Al-Bukhori, dan selainnya. Kebenaran ada bersama mereka (yang menyatakan iman bertambah dan berkurang).

Pendapat Abu Hanifah ini menyelisihi kebenaran. Ia mendapatkan pahala di antara dua keadaan (benar = 2 pahala, salah = pahala, karena mujtahid). Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Abil ‘Izz mengisyaratkan bahwa Abu Hanifah mungkin telah rujuk dari pendapat ini. (At-Tamhid, 9/247, Syarh Thohawiyyah, hal. 395)

2.4 Para Sahabat

(1) Imam Abu Hanifah berkata:

«وَلَا نَذْكُرُ أَحَدًا مِنْ صَحَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ إِلَّا بِخَيْرٍ»

“Dan kami tidak menyebut seorang pun dari sahabat Rosululloh kecuali dengan kebaikan.” (Al-Fiqh al-Akbar hal. 304)

(2) Beliau berkata:

«وَلَا نَتَبَرَّأُ مِنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَلَا نُوَالِي أَحَدًا دُونَ أَحَدٍ»

“Dan kami tidak berlepas diri dari seorang pun dari sahabat Rosululloh , dan kami tidak memberikan loyalitas kepada sebagian saja tanpa yang lainnya.” (Al-Fiqh al-Absath hal. 40)

(3) Beliau berkata:

«مَقَامُ أَحَدِهِمْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، سَاعَةً وَاحِدَةً خَيْرٌ مِنْ عَمَلِ أَحَدِنَا جَمِيعَ عُمْرِهِ وَإِنْ طَالَ»

“Kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rosululloh selama sesaat saja lebih baik daripada amal salah seorang dari kita sepanjang umurnya meskipun usianya panjang.” (Manaqib Abi Hanifah hal. 76)

(4) Beliau berkata:

«وَنُقِرُّ بِأَنَّ أَفْضَلَ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ: أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ ثُمَّ عَلِيٌّ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ»

“Dan kita mengikrarkan bahwa orang yang paling utama di umat ini setelah Nabi kita Muhammad adalah: Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali, ridwanullahi ‘alaihim ajma’in.” (Al-Washiyyah hal. 14)

(5) Beliau berkata:

«أَفْضَلُ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ، ثُمَّ نَكُفُّ عَنْ جَمِيعِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، إِلَّا بِذِكْرٍ جَمِيلٍ»

“Manusia yang paling utama setelah Rosululloh adalah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, kemudian kami menahan diri dari seluruh sahabat Rosululloh kecuali dengan penyebutan yang baik.” (An-Nur al-Lami’ q-119-b)

2.5 Ilmu Kalam dan Perdebatan dalam Agama

(1) Imam Abu Hanifah berkata:

«أَصْحَابُ الْأَهْوَاءِ فِي الْبَصْرَةِ كَثِيرٌ، وَدَخَلْتُهَا عِشْرِينَ مَرَّةً وَنَيِّفًا وَرُبَّمَا أَقَمْتُ بِهَا سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ ظَانًّا أَنَّ عِلْمَ الْكَلَامِ أَجَلُّ الْعُلُومِ»

“Pengikut hawa nafsu di Bashroh sangatlah banyak. Aku telah memasukinya lebih dari dua puluh kali, terkadang aku menetap di sana selama setahun atau lebih atau kurang, karena menyangka bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang paling mulia.” (Manaqib Abi Hanifah hal. 137)

(2) Beliau bercerita bahwa dahulu beliau mendalami ilmu kalam hingga menjadi rujukan, namun kemudian tersadar akan kekurangannya dalam ilmu fiqih saat seorang wanita bertanya tentang masalah talak budak yang sesuai Sunnah. Hammad bin Abi Sulaiman kemudian memberinya jawaban yang tepat. Maka beliau berkata:

«لَا حَاجَةَ لِي فِي الْكَلَامِ وَأَخَذْتُ نَعْلِي فَجَلَسْتُ إِلَى حَمَّادٍ»

“Aku tidak butuh lagi pada ilmu kalam, lalu aku mengambil sandalku dan duduk belajar kepada Hammad.” (Tarikh Baghdad 13/333 dengan tarjamah makna)

(3) Beliau berkata:

«لَعَنَ اللَّهُ عَمْرَو بْنَ عُبَيْدٍ فَإِنَّهُ فَتَحَ لِلنَّاسِ الطَّرِيقَ إِلَى الْكَلَامِ فِيمَا لَا يَنْفَعُهُمْ فِيهِ الْكَلَامُ»

“Semoga Alloh melaknat ‘Amr bin ‘Ubaid, karena sesungguhnya dialah yang membuka jalan bagi manusia menuju ilmu kalam dalam perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka.” (Dzamm al-Kalam hal. 28-31)

Beliau ditanya orang tentang perbincangan manusia tentang a’rodh dan ajsam lalu menjawab:

«مَقَالَاتُ الْفَلَاسِفَةِ، عَلَيْكَ بِالْأَثَرِ وَطَرِيقِ السَّلَفِ، وَإِيَّاكَ وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ فَإِنَّهَا بِدْعَةٌ»

“Itu adalah perkataan kaum filosof. Hendaknya engkau berpegang pada riwayat dan jalan para Salaf, serta waspadalah terhadap setiap perkara baru yang diada-adakan, karena itu adalah bid’ah.” (Dzamm al-Kalam 194/b)

(4) Hammad bin Abu Hanifah berkata: “Suatu hari ayahku -rohimahulloh- menemuiku, sementara di sisiku ada sekelompok ahli kalam (pendebat masalah teologi) dan kami sedang saling berdebat tentang suatu bab, suara kami pun meninggi. Ketika aku mendengar suaranya di dalam rumah, aku keluar menemuinya, lalu dia bertanya kepadaku: ‘Wahai Hammad, siapa yang ada di sisimu?’ Aku menjawab: ‘Fulan, Fulan, dan Fulan,’ aku menyebutkan nama-nama orang yang ada bersamaku. Dia bertanya lagi: ‘Sedang membahas apa kalian?’ Aku menjawab: ‘Dalam bab ini dan itu.’ Maka dia berkata kepadaku: ‘Wahai Hammad, tinggalkanlah ilmu kalam.’”

Hammad berkata: “Aku tidak mengenal ayahku sebagai orang yang plin-plan (tidak konsisten) atau termasuk orang yang memerintahkan sesuatu lalu melarangnya. Maka aku bertanya kepadanya: “Wahai ayahku, bukankah engkau dulu yang memerintahkanku untuk mempelajarinya?” Beliau menjawab: “Benar wahai anakku, namun hari ini aku melarangmu.” Aku bertanya: “Mengapa demikian?” Beliau menjawab: “Wahai anakku, sesungguhnya mereka yang berselisih dalam bab-bab ilmu kalam yang kamu lihat itu, dulunya berada di atas satu perkataan dan satu agama, sampai syaithon merusak hubungan di antara mereka, lalu melemparkan permusuhan dan perselisihan di antara mereka sehingga mereka pun saling terpecah belah.” (Manaqib Abu Hanifah lil Makki, hal. 183-184)

(5) Beliau berkata kepada Abu Yusuf:

«إِيَّاكَ أَنْ تُكَلِّمَ الْعَامَّةَ فِي أُصُولِ الدِّينِ مِنَ الْكَلَامِ فَإِنَّهُمْ قَوْمٌ يُقَلِّدُونَكَ فَيَشْتَغِلُونَ بِذَلِكَ»

“Janganlah sekali-kali engkau berbicara kepada orang awam tentang pokok-pokok agama dari ilmu kalam, karena mereka adalah kaum yang akan mengekor kepadamu lalu menyibukkan diri dengan hal tersebut.” (Manaqib Abi Hanifah hal. 373)

Inilah sekelompok dari perkataan beliau rohimahulloh mengenai apa yang beliau yakini dalam masalah pokok-pokok agama serta sikap beliau terhadap ilmu kalam.

 

Bab 3: Aqidah Imam Malik bin Anas (179 H)

3.1 Tauhid

(1) Al-Harowi (481 H) mengeluarkan dari Asy-Syafii (204 H) ia berkata: Malik (179 H) ditanya tentang kalam dan Tauhid, lalu Malik berkata:

«مُحَالٌ أَنْ يُظَنَّ بِالنَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهُ عَلَّمَ أُمَّتَهُ الِاسْتِنْجَاءَ وَلَمْ يُعَلِّمْهُمُ التَّوْحِيدَ، وَالتَّوْحِيدُ مَا قَالَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) فَمَا عَصَمَ بِهِ الْمَالَ وَالدَّمَ حَقِيقَةُ التَّوْحِيدِ»

“Mustahil jika disangka terhadap Nabi bahwa beliau mengajarkan istinja’ kepada umatnya namun tidak mengajarkan Tauhid kepada mereka. Dan Tauhid adalah apa yang disabdakan oleh Nabi : ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaha illalloh.’ Maka apa yang dengannya harta dan darah terjaga itulah hakikat Tauhid.” (HR. Al-Bukhori no. 1399, Muslim no. 32, An-Nasa’i no. 2443, dari jalan Ubaidulloh bin Utbah dari Abu Huroiroh; dan Abu Dawud no. 2640 dari jalan Abu Sholih dari Abu Huroiroh; serta Dzamm al-Kalam hal. 210)

(2) Ad-Daruquthni (385 H) mengeluarkan dari Al-Walid bin Muslim (194 H) ia berkata: Aku bertanya kepada Malik (179 H), Ats-Tsauri (161 H), Al-Auza’i (157 H), dan Al-Laits bin Sa’ad (175 H) tentang berita-berita (Hadits) dalam sifat-sifat Alloh, maka mereka berkata:

«أَمِرُّوهَا كَمَا جَاءَتْ»

“Biarkanlah ia (sifat-sifat Alloh) sebagaimana datangnya.” (Ash-Shifat hal. 75, Asy-Syari’ah hal. 314, Al-I’tiqod hal. 118, dan At-Tamhid 7/149)

(3) Ibnu Abdil Barr (463 H) berkata: Malik (179 H) ditanya, apakah Alloh dilihat pada hari Qiyamah?

Maka beliau menjawab: Ya, Alloh Azza wa Jalla berfirman:

﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ  إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾

“Wajah-wajah orang-orang yang berbahagia pada hari itu berseri-seri lagi bercahaya, hanya kepada Robb-nya lah mereka melihat (dengan mata mereka).” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Dan Alloh berfirman kepada kaum yang lain:

﴿كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ﴾

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya orang-orang kafir itu pada hari Kiamat benar-benar terhalang dari melihat Robb mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15) (At-Tamhid 2/42)

Al-Qodhi ‘Iyadh (544 H) dalam Tartibul Madarik menukilkan dari Ibnu Nafi’ (206 H) dan Ashhab (204 H), keduanya berkata: Salah satu dari mereka menambahi dari yang lain: Wahai Abu Abdillah:

﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ  إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾

“Apakah mereka melihat kepada Alloh?”

Beliau menjawab:

«نَعَمْ بِأَعْيُنِهِمْ هَاتَيْنِ»

“Benar, dengan kedua mata mereka ini..”

Lalu aku berkata kepadanya: “Sesungguhnya ada suatu kaum yang berkata bahwa tidaklah melihat kepada Alloh, karena makna naazhiroh adalah menunggu pahala.” Beliau menjawab: “Mereka telah berdusta, bahkan benar-benar melihat kepada Alloh. Tidakkah engkau mendengar perkataan Musa alaihis salam:

﴿رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ﴾

“Wahai Robb-ku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’rof: 143)

Apakah menurutmu Musa meminta hal yang mustahil kepada Robb-nya? Lalu Alloh berfirman:

﴿لَنْ تَرَانِي﴾

“Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku (di dunia).” (QS. Al-A’rof: 143)

Yaitu di dunia karena ia adalah negeri kefanaan, dan apa yang fana tidak sanggup melihat apa yang kekal. Namun jika mereka telah sampai di negeri keabadian (Akhiroh), maka mereka akan melihat dengan apa yang kekal kepada Dzat yang Maha Kekal. Dan Alloh berfirman:

﴿كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ﴾.

(Tartibul Madarik 2/44-45)

(4) Abu Nu’aim (430 H) mengeluarkan dari Ja’far bin Abdillah ia berkata: Kami berada di sisi Malik bin Anas (179 H), lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: “Wahai Abu Abdillah, Ar-Rohman di atas Arsy beristiwa (bersemayam), bagaimanakah istiwanya?”

Maka Malik tidak pernah merasa sangat marah terhadap sesuatu sebagaimana kemarahannya terhadap pertanyaan itu. Beliau menunduk ke bumi dan mulai menghentak-hentakkan kayu yang ada di tangannya sampai keringat membasahinya. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, membuang kayu itu, dan berkata:

«الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالِاسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَأَظُنُّكَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ»

Kaifiyah (tata caranya) tidak dapat dinalar, sedangkan istiwa (bersemayam) itu tidaklah asing (diketahui maknanya dalam bahasa), beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentang (kaifiyah) adalah bid’ah. Dan aku menduga bahwa engkau adalah pengikut bid’ah..”

Lalu beliau memerintahkan agar orang itu dikeluarkan. (Hilyatul Auliya’ 6/325-326, Aqidah as-Salaf hal. 17-18, At-Tamhid 7/151, Al-Asma’ wa ash-Shifat hal. 408; Ibnu Hajar (852 H) berkata dalam Al-Fath 13/406: Sanadnya jayyid, dan dishohihkan oleh Adz-Dzahabi (748 H) dalam Al-‘Uluw hal. 103)

(5) Abu Nu’aim (430 H) mengeluarkan dari Yahya bin Ar-Robi’ ia berkata: Aku berada di sisi Malik bin Anas (179 H), lalu masuk seorang laki-laki dan bertanya: “Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang orang yang berkata bahwa Al-Qur’an itu makhluk?”

Malik menjawab:

«زِنْدِيقٌ فَاقْتُلُوهُ»

“Zindiq (orang munafiq yang menyembunyikan kekufuran), maka bunuhlah dia!”

Lalu orang itu berkata: “Wahai Abu Abdillah, aku hanyalah menceritakan ucapan yang aku dengar.” Beliau menjawab: “Aku tidak mendengarnya dari seorang pun, melainkan aku mendengarnya darimu.” Dan beliau menganggap besar (mungkar) ucapan tersebut. (Hilyatul Auliya’ 6/325, Syarh Ushul I’tiqod 1/249, dan Tartibul Madarik 2/44)

(6) Ibnu Abdil Barr (463 H) mengeluarkan dari Abdulloh bin Nafi’ (206 H) ia berkata: Malik bin Anas (179 H) dahulu berkata: “Barangsiapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia harus dipukul dengan keras dan dipenjara sampai ia bertaubat.” (Al-Intiqo’ hal. 35)

(7) Abu Dawud (275 H) mengeluarkan dari Abdulloh bin Nafi’ (206 H) ia berkata: Malik (179 H) berkata:

«اللَّهُ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ»

“Alloh berada di langit, sedangkan ilmu-Nya ada di setiap tempat.” (Masa’il Al-Imam Ahmad hal. 263, As-Sunnah hal. 11, dan At-Tamhid 7/138)

3.2 Takdir

(1) Abu Nu’aim (430 H) mengeluarkan dari Ibnu Wahb (197 H) ia berkata: Aku mendengar Malik (179 H) berkata kepada seorang laki-laki: “Apakah kemarin engkau bertanya kepadaku tentang takdir?”

Orang itu menjawab: “Ya.” Beliau berkata: Sesungguhnya Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَلَوْ شِئْنَا لَآَتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ﴾

“Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa hidayahnya (untuk beriman), akan tetapi telah tetap perkataan dari-Ku: ‘Pasti akan Aku penuhi Naar Jahannam dengan jin dan manusia bersama-sama.’” (QS. As-Sajdah: 13)

Maka apa yang telah Alloh Ta’ala firmankan pasti akan terjadi.” (Hilyatul Auliya’ 6/326)

(2) Al-Qodhi ‘Iyadh (544 H) berkata: Imam Malik (179 H) ditanya tentang Qodariyyah: “Siapakah mereka?” Beliau menjawab: “Orang yang berkata bahwa Alloh tidak menciptakan kemaksiatan.” Beliau juga ditanya tentang Qodariyyah, beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berkata bahwa kemampuan (untuk berbuat) ada pada diri mereka sendiri; jika mereka mau maka mereka taat, dan jika mereka mau maka mereka bermaksiat.” (Tartibul Madarik 2/48, dan Syarh Ushul I’tiqod 2/701)

(3) Ibnu Abi ‘Ashim (287 H) mengeluarkan dari Sa’id bin Abdul Jabbar ia berkata: Aku mendengar Malik bin Anas (179 H) berkata:

«رَأْيِي فِيهِمْ أَنْ يُسْتَتَابُوا فَإِنْ تَابُوا وَإِلَّا قُتِلُوا»

“Pendapatku tentang mereka (kaum Qodariyyah) adalah diminta bertaubat, jika mereka bertaubat (maka diterima), jika tidak maka dibunuh.” (As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim 1/87-88, dan Hilyatul Auliya’ 6/326)

(4) Ibnu Abdil Barr (463 H) berkata: Malik (179 H) berkata: “Aku tidak melihat seorang pun dari pengikut paham Qodariyyah melainkan mereka adalah orang-orang yang picik akalnya, gegabah, dan ringan timbangannya.” (Al-Intiqo’ hal. 34)

(5) Ibnu Abi ‘Ashim (287 H) mengeluarkan dari Marwan bin Muhammad Ath-Thothori ia berkata: Aku mendengar Malik bin Anas (179 H) ditanya tentang menikahkan orang Qodari? Maka beliau membaca ayat:

﴿وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ﴾

“Dan sungguh, seorang hamba sahaya yang Mu’min lebih baik daripada laki-laki musyrik.” (QS. Al-Baqoroh: 221) (As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim 1/88, dan Hilyatul Auliya’ 6/326)

(6) Al-Qodhi ‘Iyadh (544 H) berkata: Malik (179 H) berkata: “Tidak boleh diterima persaksian orang Qodari yang menyeru kepada bid’ahnya, tidak pula orang Khowarij dan Rofidhoh.” (Tartibul Madarik 2/47)

(7) Al-Qodhi ‘Iyadh (544 H) berkata: Malik (179 H) ditanya tentang pengikut paham takdir, apakah aku harus berhenti berbicara dengan mereka? Beliau menjawab: “Ya, jika ia adalah orang yang tahu benar akan kesesatannya tersebut.”

Dalam riwayat lain beliau berkata: “Janganlah sholat di belakang mereka, jangan mengambil Hadits dari mereka, dan jika kalian menjumpai mereka di daerah perbatasan perang maka keluarkanlah mereka darinya.” (Tartibul Madarik 2/47)

3.3 Iman

(1) Ibnu Abdil Barr (463 H) mengeluarkan dari Abdurrozzaq bin Hammam (211 H) ia berkata: Aku mendengar Ibnu Juroij (150 H), Sufyan Ats-Tsauri (161 H), Ma’mar bin Rosyid (153 H), Sufyan bin ‘Uyainah (198 H), dan Malik bin Anas (179 H) berkata:

«الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ»

“Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.” (Al-Intiqo’ hal. 34)

(2) Abu Nu’aim (430 H) mengeluarkan dari Abdulloh bin Nafi’ (206 H) ia berkata: Malik bin Anas (179 H) dahulu berkata: “Iman adalah perkataan dan perbuatan.” (Hilyatul Auliya’ 6/327)

(3) Ibnu Abdil Barr (463 H) mengeluarkan dari Ashhab bin Abdul Aziz (204 H) ia berkata: Malik (179 H) berkata: Dahulu manusia sholat menghadap Baitul Maqdis selama 16 bulan, kemudian mereka diperintah menghadap Baitul Harom, lalu Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ﴾

“Dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan iman kalian (maksudnya sholat kalian ke arah Baitul Maqdis).” (QS. Al-Baqoroh: 143)

Malik berkata: “Dan sungguh aku menyebutkan hal ini untuk membantah ucapan kaum Murji’ah yang mengatakan bahwa sholat itu bukan bagian dari Iman.” (Al-Intiqo’ hal. 34)

3.4 Para Shohabat

(1) Abu Nu’aim (430 H) mengeluarkan dari Abdulloh al-Anbari (228 H) ia berkata: Malik bin Anas (179 H) berkata: “Barangsiapa yang merendahkan salah seorang dari Shohabat Rosululloh atau ada kedengkian di dalam hatinya terhadap mereka, maka ia tidak memiliki hak dalam harta fai’ kaum Muslimin.”

Kemudian beliau membaca firman Alloh Ta’ala:

﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا﴾

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Wahai Robb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami kepada orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Hasyr: 10)

Maka barangsiapa yang merendahkan mereka atau ada kedengkian di hatinya terhadap mereka, maka ia tidak memiliki hak dalam harta fai.” (Hilyatul Auliya’ 6/327)

(2) Abu Nu’aim (430 H) mengeluarkan dari seorang laki-laki keturunan Az-Zubair (236 H) ia berkata: Kami berada di sisi Malik, lalu mereka menyebutkan tentang seorang laki-laki yang merendahkan para Shohabat Rosululloh , maka Malik membaca ayat ini:

﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ - حتى بلغ - يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ﴾

“Muhammad adalah utusan Alloh dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir... (keadaan mereka) membuat para penanam merasa kagum agar Alloh menjadikan orang-orang kafir itu merasa jengkel dengan mereka.” (QS. Al-Fath: 29)

Malik berkata: “Barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kemarahan terhadap salah seorang Shohabat Rosululloh , maka sungguh ayat ini telah mengenainya.” (Hilyatul Auliya’ 6/327)

(3) Al-Qodhi ‘Iyadh (544 H) menukil dari Ashhab bin Abdul Aziz (204 H) ia berkata: Kami berada di sisi Malik ketika seorang laki-laki dari kalangan ‘Alawiyyin berdiri di hadapannya. Ia memanggil: “Wahai Abu Abdillah.” Maka Malik memperhatikannya, dan biasanya beliau tidaklah menjawab panggilan lebih dari sekadar menengokkan kepalanya. Lalu orang Tholibi (keturunan Abu Tholib) itu berkata: “Aku ingin menjadikanmu sebagai hujjah (argumen) antaraku dengan Alloh, jika aku menghadap-Nya kelak dan Dia bertanya kepadaku, maka aku akan berkata: Malik telah mengatakannya kepadaku.”

Malik berkata kepadanya: “Katakanlah.”

Orang itu bertanya: “Siapakah manusia terbaik setelah Rosululloh ?”

Beliau menjawab: “Abu Bakr.” Orang ‘Alawi itu bertanya lagi: “Lalu siapa?” Malik menjawab: “Kemudian Umar.” Orang ‘Alawi itu bertanya lagi: “Lalu siapa?”

Beliau menjawab: “Kholifah yang dibunuh secara zholim, yaitu Utsman.” Orang ‘Alawi itu berkata: “Demi Alloh, aku tidak akan pernah duduk majelis bersamamu lagi.”

Malik berkata kepadanya: “Maka pilihan ada padamu.” (Tartibul Madarik 2/44-45)

3.5 Ilmu Kalam dan Perdebatan dalam Agama

(1) Ibnu Abdil Barr (463 H) mengeluarkan dari Mus’ab bin Abdillah az-Zubairi (236 H) ia berkata: Malik bin Anas (179 H) dahulu berkata: “Aku membenci pembicaraan dalam urusan agama (dengan ilmu kalam).

Dan penduduk negeri kami (Madinah) senantiasa membencinya dan melarangnya, seperti membicarakan pendapat Jahm, takdir, dan segala yang menyerupainya. Dan tidaklah disukai pembicaraan itu melainkan dalam hal yang di bawahnya terdapat amal perbuatan. Adapun pembicaraan tentang agama Alloh dan tentang Alloh Azza wa Jalla, maka diam lebih aku sukai karena aku melihat penduduk negeri kami melarang pembicaraan dalam agama kecuali dalam hal yang di bawahnya terdapat amal perbuatan.” (Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi hal. 415)

(2) Abu Nu’aim (430 H) mengeluarkan dari Abdulloh bin Nafi’ (206 H) ia berkata: Aku mendengar Malik (179 H) berkata: Seandainya seseorang melakukan seluruh dosa besar setelah ia tidak menyekutukan Alloh, kemudian ia menjauhkan diri dari hawa nafsu (paham sesat) dan bid’ah-bid’ah ini -beliau menyebutkan suatu perkataan- niscaya ia masuk Jannah.” (Hilyatul Auliya’ 6/325)

(3) Al-Harowi (481 H) mengeluarkan dari Ishaq bin ‘Isa (214 H) ia berkata: Malik (179 H) berkata:

«مَنْ طَلَبَ الدِّينَ بِالْكَلَامِ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ طَلَبَ الْمَالَ بِالْكِيمْيَاءِ أَفْلَسَ، وَمَنْ طَلَبَ غَرِيبَ الْحَدِيثِ كَذَبَ»

“Barangsiapa mencari agama dengan ilmu kalam maka ia akan menjadi zindiq, barangsiapa mencari harta dengan kimia maka ia akan bangkrut, dan barangsiapa mencari hadits-hadits ghorib (aneh) maka ia akan berdusta.” (Dzamm al-Kalam hal. 173-a)

(4) Al-Khothib al-Baghdadi (463 H) mengeluarkan dari Ishaq bin ‘Isa (214 H) ia berkata: Aku mendengar Malik bin Anas (179 H) mencela perdebatan dalam agama dan berkata: “Setiap kali datang kepada kami seorang laki-laki yang lebih pandai berdebat dari laki-laki yang lain, ia ingin agar kami menolak apa yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi .” (Syaraf Ash-habil Hadits hal. 5)

(5) Al-Harowi (481 H) mengeluarkan dari Abdurrohman bin Mahdi (198 H) ia berkata: Aku menemui Malik (179 H) dan di sisinya ada seorang laki-laki yang bertanya kepadanya, lalu Malik berkata: “Barangkali engkau termasuk pengikut ‘Amr bin ‘Ubaid. Semoga Alloh melaknat ‘Amr bin ‘Ubaid karena dialah yang mengada-adakan bid’ah ilmu kalam ini. Seandainya ilmu kalam itu adalah ilmu, niscaya para Shohabat dan Tabi’in telah membicarakannya sebagaimana mereka membicarakan hukum-hukum dan syariat.” (Dzamm al-Kalam hal. 173-b)

(6) Al-Harowi (481 H) mengeluarkan dari Ashhab bin Abdul Aziz (204 H) ia berkata: Aku mendengar Malik (179 H) berkata: “Waspadalah kalian terhadap bid’ah.” Ditanyakan: “Wahai Abu Abdillah, apakah bid’ah itu?”

Beliau menjawab:

«أَهْلُ الْبِدَعِ الَّذِينَ يَتَكَلَّمُونَ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ وَكَلَامِهِ وَعِلْمِهِ وَقُدْرَتِهِ وَلَا يَسْكُتُونَ عَمَّا سَكَتَ عَنْهُ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ»

“Ahli bid’ah adalah mereka yang membicarakan nama-nama Alloh, sifat-sifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya, dan takdir-Nya, serta mereka tidak diam terhadap apa yang para Shohabat dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik itu diam darinya.” (Dzamm al-Kalam hal. 173-a)

(7) Abu Nu’aim (430 H) mengeluarkan dari Asy-Syafii (204 H) ia berkata: Malik bin Anas (179 H) apabila didatangi oleh sebagian pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah), beliau berkata:

«أَمَا إِنِّي عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَدِينِي، وَأَمَّا أَنْتَ فَشَاكٌّ فَاذْهَبْ إِلَى شَاكٍّ فَخَاصَمْهُ»

“Adapun aku, aku berada di atas keterangan yang nyata dari Robb-ku dan agamaku. Sedangkan engkau adalah orang yang ragu-ragu, maka pergilah kepada orang yang ragu sepertimu lalu berdebatlah dengannya.” (Hilyatul Auliya’ 6/324)

(8) Ibnu Abdil Barr (463 H) meriwayatkan dari Muhammad bin Ahmad bin Khuwaiz Mindad al-Mishri al-Maliki, ia berkata dalam kitab Al-Ijarot dari kitabnya Al-Khilaf: Malik (179 H) berkata: “Tidak boleh menyewa jasa untuk menyalin atau mengajarkan kitab-kitab hawa nafsu, bid’ah, dan astrologi.” Beliau menyebutkan beberapa kitab kemudian berkata: “Dan kitab-kitab ahli hawa nafsu serta bid’ah menurut teman-teman kami (ulama Madinah) adalah kitab-kitab ahli kalam dari kalangan Mu’tazilah dan selain mereka, dan akad sewa tersebut dibatalkan karenanya.” (Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlihi hal. 416-417)

Demikianlah sekilas mengenai sikap Imam Malik (179 H) serta perkataan-perkataannya dalam masalah Tauhid, Shohabat, Iman, ilmu kalam, dan selainnya.

 

Bab 4: Aqidah Imam Asy-Syafii (204 H)

4.1 Tauhid

(1) Al-Baihaqi (458 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H) ia berkata: Asy-Syafii (204 H) berkata: Barangsiapa yang bersumpah dengan nama Alloh atau dengan salah satu nama dari nama-nama-Nya lalu ia melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kafaroh (tebusan). Dan barangsiapa bersumpah dengan sesuatu selain Alloh, seperti ucapan seseorang: Demi Ka’bah, demi ayahku, atau demi ini dan itu, lalu ia melanggar sumpahnya, maka tidak ada kafaroh baginya. Semisal itu adalah ucapannya: Demi umurku... tidak ada kafaroh baginya. Dan bersumpah dengan selain Alloh adalah makruh dan dilarang berdasarkan sabda Rosululloh :

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ نَهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ أَوْ لِيَسْكُتْ»

“Sesungguhnya Alloh melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian. Barangsiapa yang bersumpah, hendaklah ia bersumpah dengan nama Alloh atau lebih baik diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6108 dan Muslim no. 1646)

Asy-Syafii (204 H) memberikan alasan untuk hal tersebut bahwa nama-nama Alloh bukanlah makhluk. Maka barangsiapa bersumpah dengan nama Alloh lalu melanggarnya, ia wajib membayar kafaroh. (Adab Asy-Syafii hal. 193, Hilyatul Auliya’ 9/112, As-Sunan al-Kubro 10/28, Al-Asma’ wash Shifat hal. 255, Syarhus Sunnah 1/188, Al-‘Uluw hal. 121)

(2) Ibnul Qoyyim (751 H) menyebutkan dalam Ijtima’ul Juyusy dari Asy-Syafii (204 H) bahwa beliau berkata:

«القَوْلُ فِي السُنَّةِ الَّتِي أَنَا عَلَيْهَا وَرَأَيْتُ أَصْحَابَنَا عَلَيْهَا أَهْلَ الحَدِيثِ الَّذِينَ رَأَيْتُهُمْ وَأَخَذْتُ عَنْهُمْ مِثْلَ سُفْيَانَ وَمَالِكٍ وَغَيْرِهِمَا الإِقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى عَلَى عَرْشِهِ فِي سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ»

“Perkataan dalam Sunnah yang aku pegang dan aku melihat para ahli Hadits berada di atasnya dari orang-orang yang aku temui dan aku mengambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan (198 H) dan Malik (179 H) serta selain keduanya, adalah mengikrarkan persaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah Rosululloh , dan bahwa Alloh berada di atas Arsy-Nya di langit-Nya, Dia mendekat kepada makhluk-Nya sesuai kehendak-Nya, dan Alloh turun ke langit dunia sesuai kehendak-Nya.” (Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyyah hal. 165, Itsbatu Shifatul ‘Uluw hal. 124, Majmu’ al-Fatawa 4/181, Al-‘Uluw hal. 120)

(3) Adz-Dzahabi (748 H) menyebutkan dari Al-Muzani (264 H) ia berkata: Aku berkata: Jika ada seseorang yang mampu mengeluarkan apa yang ada dalam hatiku dan apa yang terlintas dalam pikiranku mengenai urusan Tauhid, maka dialah Asy-Syafii (204 H)

Maka aku mendatangi beliau saat beliau berada di sebuah Masjid di Mesir. Ketika aku berlutut di hadapan beliau, aku berkata: “Terlintas dalam hatiku suatu masalah tentang Tauhid, dan aku tahu bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki ilmu seperti ilmumu, maka apa pendapatmu?”

Maka beliau marah lalu berkata:

«أَتَدْرِي أَيْنَ أَنْتَ؟»

“Apakah engkau tahu di mana engkau berada?”

Aku menjawab: “Ya.” Beliau berkata: “Inilah tempat di mana Alloh menenggelamkan Fir’aun. Sampaikah kepadamu bahwa Rosululloh memerintahkan untuk menanyakan hal itu?”

Aku menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya:

«هَلْ تَكَلَّمَ فِيهِ الصَّحَابَةُ؟»

“Apakah para Shohabat membicarakannya?”

Aku menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya: “Apakah engkau tahu berapa jumlah bintang di langit?”

Aku menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya: “Suatu planet darinya, apakah engkau tahu jenisnya, waktu terbitnya, waktu terbenamnya, dan dari apa ia diciptakan?”

Aku menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya: “Sesuatu yang engkau lihat dengan matamu sendiri dari kalangan makhluk saja engkau tidak mengetahuinya, lalu engkau berani berbicara tentang ilmu penciptanya?”

Kemudian beliau menanyakanku tentang suatu masalah dalam wudhu lalu aku salah menjawabnya. Beliau pun mencabangkan masalah tersebut menjadi 4 sisi namun aku tidak benar menjawab satu pun darinya. Lalu beliau berkata: “Sesuatu yang engkau butuhkan 5 kali dalam sehari saja engkau tinggalkan ilmunya, dan engkau memaksakan diri mempelajari ilmu Sang Pencipta. Jika terlintas hal itu dalam hatimu, maka kembalilah kepada firman Alloh:

﴿وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ  إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾

“Dan Robb kalian adalah Robb yang Maha Esa; tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi...” (QS. Al-Baqoroh: 163-164)

Maka jadikanlah makhluk sebagai dalil untuk mengenal Sang Pencipta, dan janganlah memaksakan diri atas apa yang tidak dicapai oleh akalmu.” (Siyar A’lamun Nubala’ 10/31)

(4) Ibnu Abdil Barr (463 H) mengeluarkan dari Yunus bin Abdul A’la (264 H) ia berkata: Aku mendengar Asy-Syafii (204 H) berkata:

«إِذَا سَمِعْتَ الرَّجُلَ يَقُولُ الِاسْمُ غَيْرُ المُسَمَّى أَوِ الشَّيْءُ غَيْرُ الشَّيْءِ فَاشْهَدْ عَلَيْهِ بِالزَّنْدَقَةِ»

“Jika engkau mendengar seseorang berkata bahwa Nama (Al-Ism) bukanlah yang dinamai (Al-Musamma) atau Sesuatu bukanlah sesuatu itu sendiri, maka persaksikanlah atasnya bahwa ia adalah zindiq (orang yang menyembunyikan kekufuran).” (Al-Intiqo’ hal. 79, Majmu’ al-Fatawa 6/187)

(5) Asy-Syafii (204 H) berkata dalam kitabnya Ar-Risalah:

«وَالحَمْدُ للهِ... الَّذِي هُوَ كَمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ»

“Dan segala puji bagi Alloh... yang mana Dia sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri dan melampaui apa yang disifati oleh makhluk-Nya.” (Ar-Risalah hal. 7-8)

(6) Adz-Dzahabi (748 H) menyebutkan dalam As-Siyar dari Asy-Syafii (204 H) bahwa beliau berkata:

«نُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ الَّتِي جَاءَ بِهَا القُرْآنُ وَوَرَدَتْ بِهَا السُّنَّةُ وَنَنْفِي التَّشْبِيهَ عَنْهُ كَمَا نَفَى عَنْ نَفْسِهِ فَقَالَ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾»

“Kami menetapkan sifat-sifat ini yang dibawa oleh Al-Qur’an dan datang dari Sunnah, serta kami meniadakan penyerupaan (tasybih) dari-Nya sebagaimana Dia meniadakannya dari diri-Nya sendiri, lalu Dia berfirman: ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.’” (QS. Asy-Syuro: 11). (Siyar A’lamun Nubala’ 20/341)

(7) Ibnu Abdil Barr (463 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H) ia berkata: Aku mendengar Asy-Syafii (204 H) berkata tentang firman Alloh:

﴿كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ﴾

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari melihat Robb mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15)

Alloh memberitahu kita dengan hal itu bahwa di sana ada kaum yang tidak terhalang untuk melihat-Nya, mereka melihat kepada-Nya tanpa kesulitan dalam melihat-Nya.” (Al-Intiqo’ hal. 79)

(8) Al-Lalika’i (418 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H) ia berkata: Aku hadir saat Muhammad bin Idris Asy-Syafii (204 H) didatangi sepucuk surat dari daerah Shoid yang isinya: Apa pendapatmu tentang firman Alloh

﴿كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ﴾

Asy-Syafii (204 H) berkata:

«فَلَمَّا حُجِبُوا هَؤُلَاءِ فِي السَّخَطِ كَانَ هَذَا دَلِيلاً عَلَى أَنَّهُمْ يَرَوْنَهُ فِي الرِّضَا»

“Tatkala mereka terhalang dalam keadaan Alloh murka, maka ini adalah dalil bahwa mereka (orang beriman) akan melihat-Nya dalam keadaan Alloh ridho.”

Ar-Robi’ berkata: Aku bertanya: “Wahai Abu Abdillah, apakah engkau berpendapat demikian?” Beliau menjawab:

«نَعَمْ بِهِ أَدِينُ اللهَ»

“Ya, dengannya aku beragama kepada Alloh.” (Syarh Ushul I’tiqod 2/506)

(9) Ibnu Abdil Barr (463 H) mengeluarkan dari Al-Jarudi (220 H) ia berkata: Disebutkan di sisi Asy-Syafii (204 H) tentang Ibrohim bin Ismail bin ‘Ulayyah, maka beliau berkata: Aku menyelisihi dia dalam segala hal, bahkan dalam ucapan Laa ilaha illalloh aku tidak mengucapkannya sebagaimana dia mengucapkannya.

Aku berkata:

«أَنَا أَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الَّذِي كَلَّمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ تَكْلِيمًا مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ وَذَلِكَ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الَّذِي خَلَقَ كَلَامًا أَسْمَعَهُ مُوسَى مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ»

“Aku berkata: Laa ilaha illalloh, Dzat yang telah berfirman kepada Musa alaihis salam dengan firman yang sungguh dari balik hijab. Sedangkan dia berkata: Laa ilaha illalloh, Dzat yang menciptakan kalam lalu didengarkan kepada Musa dari balik hijab.” (Al-Intiqo’ hal. 79, Lisanul Mizan 1/35)

(10) Al-Lalika’i (418 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H), Asy-Syafii (204 H) berkata:

«مَنْ قَالَ القُرْآنُ مَخْلُوقٌ فَهُوَ كَافِرٌ»

“Barangsiapa berkata Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir.” (Syarh Ushul I’tiqod 1/252)

(11) Al-Baihaqi (458 H) mengeluarkan dari Abu Muhammad Az-Zubairi ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Asy-Syafii (204 H): “Beritahukanlah kepadaku tentang Al-Qur’an, apakah ia pencipta?”

Asy-Syafii (204 H) menjawab:” Allohumma tidak.” Orang itu bertanya: “Apakah ia makhluk?” Asy-Syafii menjawab: “Allohumma tidak.” Orang itu bertanya: “Apakah ia bukan makhluk?” Asy-Syafii menjawab: “Allohumma ya.”

Orang itu bertanya: “Apa dalil bahwa ia bukan makhluk?” Maka Asy-Syafii mengangkat kepalanya dan berkata: “Apakah engkau mengakui bahwa Al-Qur’an adalah Kalamulloh?” Ia menjawab: “Ya.”

Asy-Syafii berkata: “Engkau telah mendahului dengan kalimat ini. Alloh berfirman:

﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللهِ﴾

“Dan jika seseorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Kalamulloh.” (QS. At-Taubah: 6)

﴿وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا﴾

“Dan Alloh telah berfirman kepada Musa dengan firman yang sungguh.” (QS. An-Nisa: 164)

Asy-Syafii (204 H) bertanya: “Maka apakah engkau mengakui bahwa Alloh telah ada dan kalam-Nya telah ada? Ataukah Alloh telah ada namun kalam-Nya belum ada?”

Laki-laki itu menjawab: “Bahkan Alloh telah ada dan kalam-Nya telah ada.” Asy-Syafii tersenyum lalu berkata: “Wahai penduduk Kufah, sungguh kalian mendatangi aku dengan ucapan yang sangat besar. Jika kalian mengakui bahwa Alloh telah ada sebelum segala sesuatu ada dan kalam-Nya telah ada, maka dari mana datangnya ucapan kalian bahwa kalam adalah Alloh, atau selain Alloh, atau bukan Alloh, atau di bawah Alloh?”

Maka laki-laki itu diam dan keluar. (Manaqib Asy-Syafii 1/407-408)

(12) Dalam bagian I’tiqod yang dinisbatkan kepada Asy-Syafii (204 H) terdapat nash bahwa beliau berkata: Bagi Alloh Nama-Nama dan Sifat-Sifat yang datang di dalam Kitab-Nya dan dikabarkan oleh Nabi-Nya kepada umatnya.

Tidaklah lapang bagi seorang pun dari makhluk Alloh yang telah tegak hujjah baginya bahwa Al-Qur’an telah turun dengannya dan shohih baginya ucapan Nabi untuk menyelisihinya. Jika ia menyelisihi hal tersebut setelah tegaknya hujjah atasnya, maka ia kafir kepada Alloh. Adapun sebelum tegaknya hujjah atasnya dari sisi berita, maka ia dimaafkan dengan sebab ketidaktahuan, karena ilmu tentang hal itu tidaklah dicapai oleh akal maupun pikiran.

Kabar dari Alloh bahwa Dia Maha Mendengar, dan bahwa Dia memiliki dua Tangan berdasarkan firman-Nya

﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾

“Bahkan kedua Tangan-Nya terbentang.” (QS. Al-Ma’idah: 64).

Dan bahwa Dia memiliki Tangan Kanan berdasarkan firman-Nya:

﴿وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾

 

“Dan langit-langit digulung dengan Tangan Kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67).

Dan bahwa Dia memiliki Wajah berdasarkan firman-Nya:

﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾

“Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya.” (QS. Al-Qoshosh: 88).

Dan firman-Nya:

﴿وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾

“Dan tetap kekal Wajah Robb-mu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rohman: 27)

Dan bahwa Dia memiliki Kaki berdasarkan sabda Nabi :

«حَتَّى يَضَعَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا قَدَمَهُ»

“Sampai Robb meletakkan Kaki-Nya di dalamnya (Jahannam).” (HR. Al-Bukhori no. 4848 dan Muslim no. 2848)

Dan berdasarkan sabda Nabi tentang orang yang terbunuh di jalan Alloh bahwa ia:

«لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ يَضْحَكُ إِلَيْهِ»

“Menemui Alloh dalam keadaan Alloh tertawa kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 2826 dan Muslim no. 1890)

Dan bahwa Dia turun setiap malam ke langit dunia.

Serta Dia tidaklah buta sebelah berdasarkan sabda Nabi :

«إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ»

“Sesungguhnya ia (Dajjal) buta sebelah sedangkan Robb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Al-Bukhori no. 7131 dan Muslim no. 2933)

Dan bahwa orang-orang Mu’min akan melihat Robb mereka pada hari Qiyamah dengan mata kepala mereka sebagaimana mereka melihat bulan pada malam purnama.

Dan bahwa Dia memiliki Jari berdasarkan sabda Nabi :

«مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا هُوَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Tidak ada satu hati pun melainkan ia berada di antara dua Jari dari Jari-Jari Ar-Rohman.” (HR. Ahmad 4/182 dan Ibnu Majah no. 199)

Sesungguhnya makna-makna ini yang Alloh mensifati diri-Nya dengannya dan Rosul-Nya mensifati-Nya dengannya, tidaklah dicapai hakikatnya dengan pikiran. Kami menetapkan sifat-sifat ini dan meniadakan penyerupaan sebagaimana Dia meniadakan hal itu dari diri-Nya sendiri:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

(Ijtima’ul Juyusy hal. 165, Thobaqotul Hanabilah 1/382, Siyar A’lamun Nubala’ 10/79)

4.2 Takdir

(1) Al-Baihaqi (458 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H) ia berkata: Asy-Syafii (204 H) ditanya tentang takdir lalu beliau membacakan:

«مَا شِئْتَ كَانَ وَإِنْ لَمْ أَشَأْ... وَمَا شِئْتُ إِنْ لَمْ تَشَأْ لَمْ يَكُنْ»

«خَلَقْتَ العِبَادَ عَلَى مَا عَلِمْتَ... فَفِي العِلْمِ يَجْرِي الفَتَى وَالمُسِنُّ»

«عَلَى ذَا مَنَنْتَ وَهَذَا خَذَلْتَ... وَهَذَا أَعَنْتَ وَذَا لَمْ تُعِنْ»

«فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَمِنْهُمْ سَعِيدٌ... وَمِنْهُمْ قَبِيحٌ وَمِنْهُمْ حَسَنٌ»

“Apa yang Engkau kehendaki terjadi meskipun aku tidak menghendakinya... Dan apa yang aku kehendaki jika Engkau tidak menghendaki maka ia tidak akan terjadi.”

“Engkau ciptakan para hamba di atas apa yang Engkau ketahui... Maka dalam ilmu-Mu lah pemuda dan orang tua berjalan.”

“Kepada ini Engkau beri nikmat dan kepada itu Engkau hinakan... Kepada ini Engkau tolong dan kepada itu tidak Engkau tolong.”

“Maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang bahagia... Di antara mereka ada yang buruk dan ada yang baik.” (Manaqib Asy-Syafii 1/412, Syarh Ushul I’tiqod 2/702)

(2) Al-Baihaqi (458 H) menyebutkan dalam Manaqib Asy-Syafii bahwa Asy-Syafii (204 H) berkata:

«إِنَّ مَشِيئَةَ العِبَادَةِ هِيَ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَلَا يَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ رَبُّ العَالَمِينَ، فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَخْلُقُوا أَعْمَالَهُمْ وَهِيَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ تَعَالَى أَفْعَالُ العِبَادِ وَإِنَّ القَدَرَ خَيْرَهُ وَشَرَّهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Sesungguhnya kehendak para hamba itu kembali kepada Alloh, dan mereka tidaklah berkehendak melainkan apa yang dikehendaki oleh Alloh Robb semesta alam. Manusia tidaklah menciptakan amal perbuatan mereka, bahkan amal perbuatan para hamba adalah makhluk dari makhluk-makhluk Alloh. Takdir, yang baik maupun buruk, berasal dari Alloh. Adzab kubur adalah benar, pertanyaan bagi penghuni kubur adalah benar, hari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, Jannah dan Naar adalah benar, dan selain itu dari apa yang datang dalam Sunnah-Sunnah.” (Manaqib Asy-Syafii 1/415)

(3) Al-Lalika’i (418 H) mengeluarkan dari Al-Muzani (264 H) ia berkata: Asy-Syafii (204 H) berkata:

«تَدْرِي مَا القَدَرِيُّ؟ الَّذِي يَقُولُ إِنَّ اللهَ لَمْ يَخْلُقِ الشَّيْءَ حَتَّى عَمِلَ بِهِ»

“Tahukah engkau siapakah kaum Qodariyyah? Yaitu orang yang berkata bahwa Alloh tidak menciptakan sesuatu sampai ia dikerjakan.” (Syarh Ushul I’tiqod 2/701)

(4) Al-Baihaqi (458 H) menyebutkan dari Asy-Syafii (204 H) di mana beliau berkata:

«القَدَرِيَّةُ الَّذِينَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هُمْ مَجُوسُ هَذِهِ الأُمَّةِ) الَّذِينَ يَقُولُونَ إِنَّ اللهَ لَا يَعْلَمُ المَعَاصِيَ حَتَّى تَكُونَ»

“Kaum Qodariyyah yang Rosululloh bersabda tentang mereka: ‘Mereka adalah Majusi umat ini’, adalah mereka yang berkata bahwa Alloh tidak mengetahui kemaksiatan-kemaksiatan sampai ia terjadi.” (Manaqib Asy-Syafii 1/413)

(5) Al-Baihaqi (458 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H) dari Asy-Syafii (204 H) bahwa beliau dahulu membenci sholat di belakang pengikut paham Qodari. (Manaqib Asy-Syafii 1/413)

4.3 Iman

(1) Ibnu Abdil Barr (463 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ (270 H) ia berkata: Aku mendengar Asy-Syafii (204 H) berkata:

«الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَاعْتِقَادٌ بِالقَلْبِ، أَلَا تَرَى قَوْلَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ﴾ يَعْنِي صَلَاتَكُمْ إِلَى بَيْتِ المَقْدِسِ فَسَمَّى الصَّلَاةَ إِيمَانًا وَهِيَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَعَقْدٌ»

“Iman adalah perkataan, perbuatan, dan keyakinan dengan hati. Tidakkah engkau melihat firman Alloh

﴿وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ﴾

Alloh tidak akan menyia-nyiakan imanmu.’ (QS. Al-Baqoroh: 143)

Yaitu sholat kalian ke arah Baitul Maqdis, maka Alloh menamakan Sholat sebagai Iman, sedangkan Sholat adalah perkataan, perbuatan, dan keyakinan.” (Al-Intiqo’ hal. 81)

(2) Al-Baihaqi (458 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H) ia berkata: Aku mendengar Asy-Syafii (204 H) berkata:

«الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ»

“Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.” (Manaqib Asy-Syafii 1/387)

(3) Al-Baihaqi (458 H) mengeluarkan dari Abu Muhammad Az-Zubairi ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Asy-Syafii (204 H): “Amal apakah yang paling utama di sisi Alloh?” Asy-Syafii menjawab:

«الإِيمَانُ بِاللهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، أَعْلَى الأَعْمَالِ دَرَجَةً، وَأَشْرَفُهَا مَنْزِلَةً، وَأَسْنَاهَا حَظًّا»

“Beriman kepada Alloh yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, itulah amal yang paling tinggi derajatnya, paling mulia kedudukannya, dan paling agung bagiannya.”

Orang itu bertanya: “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman, apakah ia perkataan dan perbuatan?” Asy-Syafii menjawab:

«الإِيمَانُ عَمَلٌ للهِ وَالقَوْلُ بَعْضُ ذَلِكَ العَمَلِ»

“Iman adalah perbuatan karena Alloh, sedangkan perkataan adalah bagian dari perbuatan tersebut.”

Asy-Syafii berkata: “Sesungguhnya Iman itu ada yang sempurna, ada yang kurang, dan ada yang bertambah. Alloh mewajibkan Iman atas anggota-anggota tubuh anak Adam. Di antaranya adalah hatinya yang merupakan pemimpin badannya.

Kewajiban atas hati adalah: pengakuan, ma’rifah, keyakinan, ridho, dan berserah diri bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Alloh semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah amalan hati:

﴿إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ﴾

“Kecuali orang yang dipaksa padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.” (QS. An-Nahl: 106)

Kewajiban atas lisan: ucapan dan pengungkapan dari apa yang diakui oleh hati:

﴿قُولُوا آَمَنَّا بِاللهِ﴾

“Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Alloh.’” (QS. Al-Baqoroh: 136)

Alloh mewajibkan atas pendengaran: untuk membersihkan diri dari mendengarkan apa yang Alloh haromkan:

﴿فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ﴾

“Maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.” (QS. An-Nisa: 140)

Alloh mewajibkan atas kedua mata: untuk menundukkannya dari apa yang Alloh larang:

﴿قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ﴾

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya.’” (QS. An-Nur: 30)

Alloh mewajibkan atas kedua tangan: untuk melakukan apa yang Alloh perintahkan berupa sedekah, silaturrohim, dan Jihad:

﴿فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ﴾

“Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku.” (QS. Al-Ma’idah: 6)

Alloh mewajibkan atas kedua kaki: agar tidak berjalan kepada apa yang Alloh haromkan:

﴿وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا﴾

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong.” (QS. Al-Isro: 37)

Alloh mewajibkan atas wajah: bersujud kepada Alloh:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu.” (QS. Al-Hajj: 77)

Alloh menamakan Sholat sebagai Iman:

﴿وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ﴾

“Dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan imanmu (sholatmu).” (QS. Al-Baqoroh: 143)

Jika Iman ini seluruhnya satu derajat saja niscaya tidak ada keutamaan antara satu dengan yang lain. Akan tetapi dengan sempurnanya Iman, orang-orang Mu’min masuk Jannah.” (Manaqib Asy-Syafii 1/387-393 dengan tarjamah ringkas)

4.4 Para Shohabat

(1) Al-Baihaqi (458 H) menyebutkan dari Asy-Syafii (204 H) bahwa beliau berkata: “Alloh telah memuji para Shohabat Rosululloh di dalam Al-Qur’an. Merekalah yang menyampaikan kepada kami Sunnah-Sunnah Rosululloh . Mereka berada di atas kami dalam setiap ilmu, ijtihad, kewaro’an, dan akal. Pendapat mereka bagi kami lebih terpuji daripada pendapat kami untuk diri kami sendiri.” (Manaqib Asy-Syafii 1/442 dengan ringkas)

(2) Al-Baihaqi (458 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H) ia berkata: “Aku mendengar Asy-Syafii (204 H) berkata dalam masalah keutamaan: Abu Bakr, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali.” (Manaqib Asy-Syafii 1/432)

(3) Al-Baihaqi (458 H) mengeluarkan dari Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakam (262 H) ia berkata: Aku mendengar Asy-Syafii (204 H) berkata:

«أَفْضَلُ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ ثُمَّ عَلِيٌّ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ -»

“Manusia yang paling utama setelah Rosululloh adalah Abu Bakr, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali rodhiyallohu ‘anhum.” (Manaqib Asy-Syafii 1/433)

(4) Al-Harowi (481 H) mengeluarkan dari Yusuf bin Yahya Al-Buwaithi (231 H) ia berkata: Aku bertanya kepada Asy-Syafii (204 H): “Apakah aku boleh Sholat di belakang orang Rofidhoh?”

Beliau menjawab:

«لَا تُصَلِّ خَلْفَ الرَّافِضِيِّ وَلَا القَدَرِيِّ وَلَا المُرْجِئِ»

“Janganlah engkau Sholat di belakang orang Rofidhoh, tidak pula orang Qodari, dan tidak pula orang Murji’ah.”

Aku berkata: “Sifati mereka untuk kami.” Beliau menjawab:

«مَنْ قَالَ: الإِيمَانُ قَوْلٌ فَهُوَ مُرْجِئٌ، وَمَنْ قَالَ: إِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَيْسَا بِإِمَامَيْنِ فَهُوَ رَافِضِيٌّ، وَمَنْ جَعَلَ المَشِيئَةَ إِلَى نَفْسِهِ فَهُوَ قَدَرِيٌّ»

“Barangsiapa yang berkata: Iman hanyalah perkataan, maka ia Murji’ah. Barangsiapa yang berkata: Sesungguhnya Abu Bakr dan Umar bukanlah Imam, maka ia Rofidhoh. Dan barangsiapa yang menjadikan kehendak itu pada dirinya sendiri, maka ia Qodari.” (Dzamm al-Kalam hal. 215, Siyar A’lamun Nubala’ 10/31)

4.5 Ilmu Kalam dan Perdebatan dalam Agama

(1) Al-Harowi (481 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H) ia berkata: Aku mendengar Asy-Syafii (204 H) berkata:

«لَوْ أَنَّ رَجُلاً أَوْصَى بِكُتُبِهِ مِنَ العِلْمِ لِآخَرَ، وَكَانَ فِيهَا كُتُبُ الكَلَامِ، لَمْ تَدْخُلْ فِي الوَصِيَّةِ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ العِلْمِ»

“Seandainya seseorang berwasiat dengan kitab-kitab ilmunya kepada orang lain, dan di dalamnya terdapat kitab-kitab ilmu kalam, maka kitab-kitab itu tidak termasuk dalam wasiat karena ilmu kalam bukanlah ilmu.” (Dzamm al-Kalam hal. 213, Siyar A’lamun Nubala’ 10/30)

(2) Al-Harowi (481 H) mengeluarkan dari Al-Hasan Az-Za’faroni (249 H) ia berkata: Aku mendengar Asy-Syafii (204 H) berkata:

«مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا فِي الكَلَامِ إِلَّا مَرَّةً وَأَنَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ ذَلِكَ»

“Aku tidak pernah mendebat seorang pun dalam ilmu kalam kecuali satu kali saja, dan aku memohon ampun kepada Alloh dari hal itu.” (Dzamm al-Kalam hal. 213, Siyar A’lamun Nubala’ 10/30)

(3) Al-Harowi (481 H) mengeluarkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H) ia berkata: Asy-Syafii (204 H) berkata:

«لَيْسَ الكَلَامُ مِنْ شَأْنِي، وَلَا أُحِبُّ أَنْ يُنْسَبَ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْءٌ»

“Ilmu kalam bukanlah urusanku, dan aku tidak suka jika dinisbatkan kepadaku sesuatu pun darinya.” (Dzamm al-Kalam hal. 215)

(4) Ibnu Baththoh (387 H) mengeluarkan dari Abu Tsaur (240 H) ia berkata: Asy-Syafii (204 H) berkata kepadaku:

«مَا رَأَيْتُ أَحَدًا ارْتَدَى شَيْئًا مِنَ الكَلَامِ فَأَفْلَحَ»

“Aku tidak melihat seorang pun yang mengenakan pakaian ilmu kalam lalu ia beruntung.” (Al-Ibanah al-Kubro hal. 535)

(5) Al-Harowi (481 H) mengeluarkan dari Yunus bin Abdul A’la (264 H) ia berkata: Asy-Syafii (204 H) berkata:

«لَأَنْ يَبْتَلِيَ اللهُ المَرْءَ بِمَا نَهَى اللهُ عَنْهُ خَلَا الشِّرْكَ بِاللهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَبْتَلِيَهُ بِالكَلَامِ»

“Seandainya Alloh menguji seseorang dengan apa yang Alloh larang selain kesyirikan, itu lebih baik baginya daripada Alloh mengujinya dengan ilmu kalam.” (Manaqib Asy-Syafii hal. 182)

Inilah perkataan-perkataan Imam Asy-Syafii rohimahulloh (204 H) dalam masalah-masalah pokok agama, dan inilah sikap beliau terhadap ilmu kalam.

 

Bab 5: Aqidah Imam Ahmad bin Hanbal (241 H)

5.1 Tauhid

(1) Terdapat dalam Thobaqotul Hanabilah (Ibnu Abi Ya’la (526 H)): Sesungguhnya Imam Ahmad (241 H) ditanya tentang tawakkul, lalu beliau berkata:

«قَطْعُ الِاسْتِشْرَاقِ بِالْإِيَاسِ مِنَ الْخَلْقِ»

“Memutus ketamakan dengan cara berputus asa dari makhluk.” (Thobaqotul Hanabilah, 1/416)

(2) Disebutkan dalam kitab Al-Mihnah karya Hanbal (273 H) bahwa Imam Ahmad (241 H) berkata:

«لَمْ يَزَلِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مُتَكَلِّمًا وَالْقُرْآنُ كَلَامُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ غَيْرُ مَخْلُوقٍ وَعَلَى كُلِّ جِهَةٍ، وَلَا يُوصَفُ اللهُ بِشَيْءٍ أَكْثَرَ مِمَّا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ عَزَّ وَجَلَّ»

“Alloh ‘Azza wa Jalla senantiasa berbicara, dan Al-Qur’an adalah Kalamulloh ‘Azza wa Jalla, bukan makhluk dari segala sisi, dan Alloh tidak disifati dengan sesuatu pun yang melebihi apa yang Dia sifati untuk diri-Nya sendiri ‘Azza wa Jalla.” (Kitabul Mihnah, hal. 68)

(3) Ibnu Abi Ya’la (526 H) meriwayatkan dari Abu Bakr Al-Marwazi (275 H) yang berkata: “Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal (241 H) tentang Hadits-Hadits yang ditolak oleh kaum Jahmiyyah dalam masalah sifat-sifat Alloh, Ru’yah, Isro’, dan kisah ‘Arsy, maka beliau menshohihkannya dan berkata:

«تَلَقَّتْهَا الْأُمَّةُ بِالْقَبُولِ وَتُمَرُّ الْأَخْبَارُ كَمَا جَاءَتْ»

‘Umat telah menerimanya dengan penuh penerimaan dan kabar-kabar tersebut dijalankan sebagaimana adanya.’“ (Thobaqotul Hanabilah, 1/65)

(4) Abdulloh bin Ahmad (290 H) berkata dalam Kitab As-Sunnah bahwa Imam Ahmad (241 H) berkata:

«مَنْ زَعَمَ أَنَّ اللهَ لَا يَتَكَلَّمُ فَهُوَ كَافِرٌ إِلَّا أَنَّنَا نَرْوِي هَذِهِ الْأَحَادِيثُ كَمَا جَاءَتْ»

“Barangsiapa menyangka bahwa Alloh tidak berbicara maka dia kafir, namun kita tetap meriwayatkan Hadits-Hadits ini sebagaimana adanya.” (As-Sunnah, hal. 71, cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyyah)

(5) Al-Lalika’i (418 H) meriwayatkan dari Hanbal bin Ishaq (273 H) —dia adalah sepupu Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), Al-Khothib (463 H) berkata tentangnya: tsiqoh tsabat, wafat tahun 273 H— bahwa dia bertanya kepada Imam Ahmad (241 H) tentang Ru’yah, lalu beliau berkata:

«أَحَادِيثُ صِحَاحٌ نُؤْمِنُ بِهَا وَنُقِرُّ، وَكُلُّ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، بِأَسَانِيدَ جَيِّدَةٍ نُؤْمِنُ بِهِ وَنُقِرُّ»

“Hadits-Hadits shohih yang kami imani dan kami tetapkan, dan setiap apa yang diriwayatkan dari Nabi dengan sanad-sanad yang baik, kami imani dan kami tetapkan.” (Syarh I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 2/507)

(6) Ibnu Jauzi (597 H) dalam kitab Al-Manaqib mencantumkan tulisan Imam Ahmad (241 H) untuk Musaddad (228 H) yang di dalamnya beliau berkata:

«صِفُوا اللهَ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ، وَانْفُوا عَنِ اللهِ مَا نَفَاهُ عَنْ نَفْسِهِ...»

“Sifatilah Alloh dengan apa yang Dia sifati untuk diri-Nya sendiri, dan nafikanlah dari Alloh apa yang Dia nafikan dari diri-Nya sendiri...” (Manaqibul Imam Ahmad, hal. 221)

(7) Terdapat dalam kitab Ar-Rod ‘ala Al-Jahmiyyah karya Imam Ahmad (241 H), beliau berkata:

«وَزَعَمَ - جَهْمُ بْنُ صَفْوَانَ - أَنَّ مَنْ وَصَفَ اللهَ بِشَيْءٍ مِمَّا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ أَوْ حَدَّثَ عَنْ رَسُولِهِ كَانَ كَافِرًا وَكَانَ مِنَ الْمُشَبِّهَةِ»

“Dan Jahm bin Sofwan (128 H) menyangka bahwa barangsiapa menyifati Alloh dengan sesuatu dari apa yang Dia sifati untuk diri-Nya sendiri dalam Kitab-Nya atau yang diceritakan dari Rosul-Nya, maka dia kafir dan termasuk golongan Musyabbihah.” (Ar-Rod ‘ala Al-Jahmiyyah, hal. 104)

(8) Ibnu Taimiyyah (728 H) dalam kitab Ad-Dar’u menukil perkataan Imam Ahmad (241 H) yang berkata:

«نَحْنُ نُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ عَلَى الْعَرْشِ كَيْفَ شَاءَ وَكَمَا شَاءَ بِلَا حَدٍّ وَلَا صِفَةٍ يَبْلُغُهَا وَاصِفٌ أَوْ يَحُدُّهُ أَحَدٌ، فَصِفَاتُ اللهِ مِنْهُ وَلَهُ وَهُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ لَا تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ»

“Kami beriman bahwa Alloh berada di atas ‘Arsy sesuai kehendak-Nya dan sebagaimana kehendak-Nya tanpa batasan dan tanpa sifat yang bisa dicapai oleh orang yang menyifati atau dibatasi oleh siapapun, maka sifat-sifat Alloh berasal dari-Nya dan milik-Nya, dan Dia sebagaimana Dia menyifati diri-Nya sendiri, Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.” (Dar’u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql, 2/30)

(9) Ibnu Ya’la (526 H) meriwayatkan dari Imam Ahmad (241 H) bahwa beliau berkata:

«مَنْ زَعَمَ أَنَّ اللهَ لَا يُرَى فِي الْآخِرَةِ فَهُوَ كَافِرٌ مُكَذِّبٌ بِالْقُرْآنِ»

“Barangsiapa menyangka bahwa Alloh tidak akan dilihat di Akhiroh maka dia kafir dan telah mendustakan Al-Qur’an.” (Thobaqotul Hanabilah, 1/59, 145)

(10) Ibnu Abi Ya’la (526 H) meriwayatkan dari Abdulloh bin Ahmad (290 H) yang berkata:

Aku bertanya kepada ayahku tentang suatu kaum yang mengatakan bahwa saat Alloh berbicara kepada Musa, Dia tidak berbicara dengan suara, maka ayahku berkata:

«تَكَلَّمَ اللهُ بِصَوْتٍ وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ نَرْوِيهَا كَمَا جَاءَتْ»

“Alloh berbicara dengan suara, dan Hadits-Hadits ini kami riwayatkan sebagaimana adanya.” (Thobaqotul Hanabilah, 1/185)

(11) Al-Lalika’i (418 H) meriwayatkan dari ‘Abdus bin Malik Al-Aththor yang berkata:

Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (241 H) berkata:

«وَالْقُرْآنُ كَلَامُ اللهِ وَلَيْسَ بِمَخْلُوقٍ وَلَا تَضْعُفْ أَنْ تَقُولَ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ فَإِنَّ كَلَامَ اللهِ مِنْهُ وَلَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ مَخْلُوقٌ»

“Al-Qur’an adalah Kalamulloh dan bukan makhluk, dan janganlah engkau merasa lemah untuk mengatakan bukan makhluk, karena sesungguhnya Kalamulloh itu berasal dari-Nya dan tidak ada sesuatu pun dari-Nya yang merupakan makhluk.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 1/157)

5.2 Qodar

(1) Ibnu Jauzi (597 H) dalam Al-Manaqib mencantumkan surat Imam Ahmad (241 H) kepada Musaddad (228 H) yang di dalamnya tertulis bahwa beliau berkata:

«وَيُؤْمَنُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ وَحُلْوِهِ وَمُرِّهِ مِنَ اللهِ»

“Dan beriman kepada Qodar, baik yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit, semuanya berasal dari Alloh.” (Manaqibul Imam Ahmad, hal. 169, 172, cetakan Darul Afaq Al-Jadidah)

(2) Al-Khollal (311 H) meriwayatkan dari Abu Bakr Al-Marwazi (275 H) yang berkata: Abu Abdillah (241 H) ditanya:

“Apakah kebaikan dan keburukan ditakdirkan atas para hamba?” Lalu ditanyakan pula kepadanya:

“Apakah Alloh menciptakan kebaikan dan keburukan?” Beliau berkata:

«نَعَمْ، اللهُ قَدَّرَهُ»

“Ya, Alloh telah mentakdirkannya.” (As-Sunnah karya Al-Khollal, hal. 85)

(3) Disebutkan dalam kitab As-Sunnah karya Imam Ahmad (241 H), beliau berkata:

«وَالْقَدَرُ خَيْرُهُ وَشَرُّهُ وَقَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ، وَظَاهِرُهُ وَبَاطِنُهُ، وَحُلْوُهُ وَمُرُّهُ، وَمَحْبُوبُهُ وَمَكْرُوهُهُ، وَحَسَنُهُ وَسَيِّئُهُ، وَأَوَّلُهُ وَآخِرُهُ مِنَ اللهِ قَضَاءٌ قَضَاهُ عَلَى عِبَادِهِ وَقَدَرٌ قَدَّرَهُ، وَلَا يَعْدُو وَاحِدٌ مِنْهُمْ مَشِيئَةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يُجَاوِزُ قَضَاءَهُ»

“Dan Qodar, baik yang baik maupun yang buruk, yang sedikit maupun yang banyak, yang lahir maupun yang batin, yang manis maupun yang pahit, yang disukai maupun yang dibenci, yang bagus maupun yang buruk, yang awal maupun yang akhir, semuanya berasal dari Alloh sebagai ketetapan (qodho’) yang Dia tetapkan atas hamba-hamba-Nya dan takdir yang Dia tentukan, tidak ada seorang pun dari mereka yang keluar dari Masyiah Alloh ‘Azza wa Jalla dan tidak pula melampaui ketetapan-Nya.” (As-Sunnah, hal. 68)

(4) Al-Khollal (311 H) meriwayatkan dari Muhammad bin Abi Harun dari Abul Harits yang berkata:

Aku mendengar Abu Abdillah (241 H) berkata:

«فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ قَدَّرَ الطَّاعَةَ وَالْمَعَاصِيَ، وَقَدَّرَ الْخَيْرَ وَالشَّرَّ، وَمَنْ كُتِبَ سَعِيدًا فَهُوَ سَعِيدٌ، وَمَنْ كُتِبَ شَقِيًّا فَهُوَ شَقِي»

“Maka Alloh ‘Azza wa Jalla telah mentakdirkan ketaatan dan kemaksiatan, serta mentakdirkan kebaikan dan keburukan, dan barangsiapa yang ditulis sebagai orang bahagia maka dia bahagia, dan barangsiapa yang ditulis sebagai orang sengsara maka dia sengsara.” (As-Sunnah karya Al-Khollal, hal. 85)

(5) Abdulloh bin Ahmad (290 H) berkata:

Aku mendengar ayahku ditanya oleh ‘Ali bin Jahm tentang orang yang berpendapat dengan paham Qodariyyah apakah dia kafir? Beliau berkata:

«إِذَا جَحَدَ الْعِلْمَ إِذَا قَالَ: إِنَّ اللهَ لَمْ يَكُنْ عَالِمًا حَتَّى خَلَقَ عِلْمًا فَعَلَمَ فَجَحَدَ عِلْمَ اللهِ فَهُوَ كَافِرٌ»

“Apabila dia mengingkari ilmu, yaitu apabila dia berkata: ‘Sesungguhnya Alloh belum mengetahui hingga Dia menciptakan ilmu lalu Dia baru mengetahui’, maka jika dia mengingkari ilmu Alloh, dia kafir.” (As-Sunnah karya Abdulloh bin Ahmad, hal. 119)

(6) Abdulloh bin Ahmad (290 H) berkata:

Aku bertanya kepada ayahku (241 H) di lain kesempatan tentang Sholat di belakang orang Qodariyyah, maka beliau berkata:

«إِنْ كَانَ يُخَاصِمُ فِيهِ وَيَدْعُو إِلَيْهِ فَلَا تُصَلِّ خَلْفَهُ»

“Jika dia berdebat tentangnya dan menyeru kepadanya, maka janganlah engkau Sholat di belakangnya.” (As-Sunnah, 1/384)

5.3 Iman

(1) Ibnu Abi Ya’la (526 H) meriwayatkan dari Imam Ahmad (241 H) bahwa beliau berkata:

«مِنْ أَفْضَلِ خِصَالِ الْإِيمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ»

“Di antara perangai Iman yang paling utama adalah cinta karena Alloh dan benci karena Alloh.” (Thobaqotul Hanabilah, 2/275)

(2) Ibnu Jauzi (597 H) meriwayatkan dari Imam Ahmad (241 H) bahwa beliau berkata:

«الْإِيمَانُ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ كَمَا جَاءَ فِي الْخَبَرِ: (أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا)...»

“Iman itu bertambah dan berkurang sebagaimana disebutkan dalam Hadits:

«أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا»

‘Orang Mu’min yang paling sempurna Imannya adalah yang paling baik akhlaknya..’..” (Manaqibul Imam Ahmad, hal. 173; Al-Musnad 2/250)

(3) Al-Khollal (311 H) meriwayatkan dari Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats (275 H) yang berkata: Sesungguhnya Abu Abdillah (241 H) berkata:

«الصَّلَاةُ وَالزَّكَاةُ وَالْحَجُّ وَالْبِرُّ مِنَ الْإِيمَانِ وَالْمَعَاصِي تَنْقُصُ الْإِيمَانَ»

“Sholat, Zakat, Haji, dan perbuatan baik adalah bagian dari Iman, dan kemaksiatan-kemaksiatan itu mengurangi Iman.” (As-Sunnah karya Al-Khollal, hal. 96)

(4) Abdulloh bin Ahmad (290 H) bertanya kepada ayahnya (241 H) tentang seseorang yang mengatakan Iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang namun tidak melakukan istitsna’, apakah dia seorang Murji’? Beliau berkata:

«أَرْجُو أَلَّا يَكُونَ مُرْجِئًا»

سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: «الْحُجَّةُ عَلَى مَا لَا يَسْتَثْنِي قَوْلُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، لِأَهْلِ الْقُبُورِ: (وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ)...»

“Aku berharap dia bukan seorang Murji. Aku mendengar ayahku berkata:

“Hujjah bagi orang yang tidak melakukan istitsna’ adalah sabda Rosululloh kepada penghuni kubur:

«وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ»

‘Dan sesungguhnya kami, In Syaa Alloh, akan menyusul kalian..’..” (As-Sunnah karya Abdulloh bin Ahmad, 1/307. Hadits dikeluarkan oleh Muslim (261 H) no. 974)

(5) Abdulloh bin Ahmad (290 H) berkata: Aku mendengar ayahku (241 H) ditanya tentang irja’, lalu beliau berkata:

«نَحْنُ نَقُولُ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ، إِذَا زَنَى وَشَرِبَ الْخَمْرَ نَقَصَ إِيمَانُهُ»

“Kami mengatakan: Iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, apabila dia berzina dan meminum khomr maka berkuranglah Imannya.” (As-Sunnah karya Abdulloh bin Ahmad, 1/307)

5.4 Para Shohabat

(1) Terdapat dalam kitab As-Sunnah karya Imam Ahmad (241 H) bahwa beliau berkata:

«وَمِنَ السُّنَّةِ ذِكْرُ مَحَاسِنِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، كُلِّهِمْ أَجْمَعِينَ، وَالْكَفُّ عَنْ ذِكْرِ مَسَاوِئِهِمْ وَالْخِلَافِ الَّذِي شَجَرَ بَيْنَهُمْ، فَمَنْ سَبَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، أَوْ أَحَدًا مِنْهُمْ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ، رَافِضِيٌّ خَبِيثٌ، مُجْلِفٌ، لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ صَرْفًا، وَلَا عَدْلًا، بَلْ حُبُّهُمْ سُنَّةٌ، وَالدُّعَاءُ لَهُمْ قُرْبَةٌ، وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ وَسِيلَةٌ، وَالْأَخْذُ بِآثَارِهِمْ فَضِيلَةٌ»

“Dan termasuk Sunnah (Aqidah) adalah menyebutkan kebaikan-kebaikan para Shohabat Rosululloh semuanya tanpa terkecuali, serta menahan diri dari menyebutkan keburukan-keburukan mereka dan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Maka barangsiapa mencela para Shohabat Rosululloh atau salah satu dari mereka, maka dia adalah ahli bid’ah, Rofidhi yang buruk, kasar, yang Alloh tidak akan menerima darinya amal wajib maupun sunnah. Bahkan mencintai mereka adalah Sunnah, mendoakan mereka adalah pendekatan diri kepada Alloh, meneladani mereka adalah sarana, dan mengambil jejak mereka adalah keutamaan.” (As-Sunnah karya Imam Ahmad, hal. 77)

Beliau juga berkata:

«ثُمَّ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، بَعْدَ الْأَرْبَعَةِ خَيْرُ النَّاسِ، وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَذْكُرَ شَيْئًا مِنْ مَسَاوِئِهِمْ وَلَا يَطْعَنُ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ بِعَيْبٍ وَلَا بِنَقْصٍ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ وَجَبَ عَلَى السُّلْطَانِ تَأْدِيبُهُ وَعُقُوبَتُهُ، لَيْسَ لَهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُ»

“Kemudian para Shohabat Rosululloh setelah berempat adalah sebaik-baik manusia, dan tidak boleh bagi siapapun untuk menyebutkan sesuatu dari keburukan mereka, tidak pula mencela salah satu dari mereka dengan aib maupun kekurangan. Barangsiapa melakukan hal itu maka wajib bagi penguasa untuk menghukumnya, serta tidak boleh baginya untuk memaafkannya.” (As-Sunnah karya Imam Ahmad, hal. 78)

(2) Ibnu Jauzi (597 H) menukil risalah Imam Ahmad (241 H) kepada Musaddad (228 H) yang di dalamnya beliau berkata:

«وَأَنْ تَشْهَدَ لِلْعَشَرَةِ أَنَّهُمْ فِي الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَطَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَسَعْدٌ وَسَعِيدٌ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَمَنْ شَهِدَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ، شَهِدْنَا لَهُ بِالْجَنَّةِ»

“Dan engkau bersaksi untuk sepuluh orang bahwa mereka berada di Jannah: Abu Bakr (13 H), ‘Umar (23 H), ‘Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), Tholhah (36 H), Az-Zubair (36 H), Sa’ad (55 H), Sa’id (51 H), Abdurrohman bin ‘Auf (32 H), dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarroh (18 H). Dan barangsiapa yang telah dipersaksikan oleh Nabi masuk Jannah, maka kami mempersaksikannya dengan Jannah.” (Manaqibul Imam Ahmad, hal. 170)

(3) Abdulloh bin Ahmad (290 H) bertanya kepada ayahnya (241 H) tentang para pemimpin, lalu beliau berkata:

«أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ ثُمَّ عَلِيٌّ»

“Abu Bakr (13 H), kemudian ‘Umar (23 H), kemudian ‘Utsman (35 H), kemudian ‘Ali (40 H).” (As-Sunnah, hal. 235)

(4) Abdulloh bin Ahmad (290 H) bertanya kepada ayahnya (241 H) tentang kaum yang mengatakan bahwa ‘Ali bukan seorang kholifah, beliau berkata:

«هَذَا قَوْلُ سَوْءٍ رَدِيٍّ»

“Ini adalah perkataan yang buruk lagi rendah.” (As-Sunnah, hal. 235)

(5) Ibnu Jauzi (597 H) meriwayatkan dari Imam Ahmad (241 H) bahwa beliau berkata:

«مَنْ لَمْ يُثْبِتِ الْخِلَافَةَ لِعَلِيٍّ فَهُوَ أَضَلُّ مِنْ حِمَارِ أَهْلِهِ»

“Barangsiapa tidak menetapkan khilafah untuk ‘Ali, maka dia lebih sesat daripada keledai milik keluarganya.” (Manaqibul Imam Ahmad, hal. 163)

(6) Ibnu Abi Ya’la (526 H) meriwayatkan dari Imam Ahmad (241 H) bahwa beliau berkata:

«مَنْ لَمْ يُرَبِّعْ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ الْخِلَافَةَ فَلَا تُكَلِّمُوهُ، وَلَا تُنَاكِحُوهُ»

“Barangsiapa yang tidak memposisikan ‘Ali bin Abi Tholib pada urutan keempat dalam khilafah, maka janganlah kalian mengajaknya bicara dan janganlah kalian menikah dengannya.” (Thobaqotul Hanabilah, 1/45)

5.5 Kalam dan Perdebatan dalam Agama

(1) Ibnu Batthoh (387 H) meriwayatkan dari Abu Bakr Al-Marwazi (275 H) yang berkata:

Aku mendengar Abu Abdillah (241 H) berkata:

«مَنْ تَعَاطَى الْكَلَامَ لَمْ يُفْلِحْ، وَمَنْ تَعَاطَى الْكَلَامَ لَمْ يَخْلُ أَنْ يَتَجَهَّمَ»

“Barangsiapa yang menceburkan diri dalam ilmu kalam maka dia tidak akan beruntung, dan barangsiapa yang menceburkan diri dalam ilmu kalam maka hampir pasti dia akan menjadi pengikut paham Jahmiyyah.” (Al-Ibanah, 2/538)

(2) Ibnu Abdil Barr (463 H) menyebutkan dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi dari Imam Ahmad (241 H) bahwa beliau berkata:

«إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ صَاحِبُ كَلَامٍ أَبَدًا وَلَا تَكَادُ تَرَى أَحَدًا نَظَرَ فِي الْكَلَامِ إِلَّا وَفِي قَلْبِهِ دَغَلٌ»

“Sesungguhnya pemilik ilmu kalam itu tidak akan pernah beruntung selamanya, dan hampir tidak engkau dapati seseorang yang mendalami ilmu kalam melainkan di dalam hatinya terdapat penyimpangan.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, 2/95)

(3) Al-Harowi (481 H) meriwayatkan dari Abdulloh bin Ahmad (290 H) bahwa ayahnya menulis surat kepada ‘Ubaidulloh bin Yahya bin Khoqon (263 H), di dalamnya beliau berkata:

«لَسْتُ بِصَاحِبِ كَلَامٍ، وَلَا أَرَى الْكَلَامَ فِي شَيْءٍ مِنْ هَذَا، إِلَّا مَا كَانَ فِي كِتَابِ اللهِ أَوْ فِي حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَأَمَّا غَيْرُ ذَلِكَ فَإِنَّ الْكَلَامَ فِيهِ غَيْرُ مَحْمُودٍ»

“Aku bukanlah pemilik ilmu kalam, dan aku tidak berpendapat adanya pembicaraan dalam hal ini sedikit pun, kecuali wahyu yang terdapat dalam Kitabulloh atau dalam Hadits Rosululloh , adapun selain itu maka pembicaraan di dalamnya tidaklah terpuji.” (Dzammul Kalam, hal. 216-b)

(4) Ibnu Jauzi (597 H) meriwayatkan dari Musa bin Abdulloh Ath-Thorsusi yang berkata:

Aku mendengar Ahmad bin Hanbal (241 H) berkata:

«لَا تُجَالِسُوا أَهْلَ الْكَلَامِ وَإِنْ ذَبُّوا عَنِ السُّنَّةِ»

“Janganlah kalian duduk bermajelis dengan para ahli kalam meskipun mereka sedang membela Sunnah.” (Manaqibul Imam Ahmad, hal. 205)

(5) Ibnu Batthoh (387 H) meriwayatkan dari Abul Harits Ash-Shoyigh yang berkata:

«مَنْ أَحَبَّ الْكَلَامَ لَمْ يَخْرُجْ مِنْ قَلْبِهِ، وَلَا تَرَى صَاحِبَ كَلَامٍ يُفْلِحُ»

“Barangsiapa mencintai ilmu kalam maka ia tidak akan keluar dari hatinya, dan engkau tidak akan melihat pemilik ilmu kalam itu beruntung.” (Al-Ibanah, 2/539)

(6) Ibnu Batthoh (387 H) meriwayatkan dari ‘Ubaidulloh bin Hanbal bahwa ayahnya mendengar Abu Abdillah (241 H) berkata:

«عَلَيْكُمْ بِالسُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ وَيَنْفَعُكُمُ اللهُ بِهِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْخَوْضَ وَالْجِدَالِ وَالْمِرَاءَ فَإِنَّهُ لَا يُفْلِحُ مَنْ أَحَبَّ الْكَلَامَ، وَكُلُّ مَنْ أَحْدَثَ كَلَامًا لَمْ يَكُنْ آخِرُ أَمْرِهِ إِلَّا إِلَى بِدْعَةٍ، لِأَنَّ الْكَلَامَ لَا يَدْعُو إِلَى خَيْرٍ، وَلَا أُحِبُّ الْكَلَامَ وَلَا الْخَوْضَ وَلَا الْجِدَالَ، وَعَلَيْكُمْ بِالسُّنَنِ وَالْآثَارِ وَالْفِقْهِ الَّذِي تَنْتَفِعُونَ بِهِ، وَدَعُوا الْجِدَالَ وَكَلَامَ أَهْلِ الزَّيْغِ وَالْمِرَاءِ، أَدْرَكْنَا النَّاسَ وَلَا يَعْرِفُونَ هَذَا، وَيُجَانِبُونَ أَهْلَ الْكَلَامِ، وَعَاقِبَةُ الْكَلَامِ لَا تَئُولُ إِلَى خَيْرٍ، أَعَاذَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفِتَنِ وَسَلَّمَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ كُلِّ هَلَكَةٍ»

“Hendaknya kalian berpegang teguh pada Sunnah dan Hadits, niscaya Alloh akan memberi kalian manfaat dengannya. Jauhilah oleh kalian pembicaraan yang mendalam, perdebatan, dan adu argumen, karena sesungguhnya tidak akan beruntung orang yang mencintai ilmu kalam. Setiap orang yang mengada-adakan ilmu kalam maka akhir urusannya tidak lain melainkan menuju bid’ah, karena ilmu kalam tidak mengajak kepada kebaikan. Aku tidak menyukai ilmu kalam, perdebatan, maupun adu argumen. Hendaknya kalian berpegang pada Sunnah-Sunnah, Atsar-Atsar, serta Fiqih yang kalian dapat mengambil manfaat darinya, dan tinggalkanlah perdebatan serta ucapan para ahli penyimpangan. Kami mendapati orang-orang terdahulu tidaklah mengenal hal ini, dan mereka menjauhi para ahli kalam. Akibat dari ilmu kalam tidak akan berujung pada kebaikan. Semoga Alloh melindungi kami dan kalian dari fitnah serta menyelamatkan kami dan kalian dari segala kebinasaan.” (Al-Ibanah, 2/539)

(7) Ibnu Batthoh (387 H) meriwayatkan dalam Al-Ibanah dari Imam Ahmad (241 H) bahwa beliau berkata:

«إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُحِبُّ الْكَلَامَ فَاحْذَرْهُ»

“Apabila engkau melihat seseorang mencintai ilmu kalam maka waspadalah terhadapnya.” (Al-Ibanah, 2/540)

 

Penutup

Tampak jelas bagi kita dari penjelasan sebelumnya adanya kesesuaian antara perkataan para Imam yang empat serta kesepakatan mereka karena Aqidah mereka adalah satu, kecuali dalam masalah Iman yang Imam Abu Hanifah (150 H) bersendiri di dalamnya. Meski demikian, ada pendapat bahwa beliau telah kembali darinya. Aqidah inilah yang pantas untuk menyatukan kaum Muslimin di atas kalimat yang sama dan menjaga mereka dari perpecahan dalam agama, karena ia bersumber dari Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya . Sedikit sekali orang yang memahami Aqidah para Imam ini dengan sebenar-benarnya pemahaman, karena telah tersebar anggapan bahwa mereka adalah orang-orang yang mufawwidhun yang tidak mengetahui dari teks wahyu kecuali sekadar membacanya saja, seolah-olah Alloh menurunkan wahyu hanya sebagai kesia-siaan.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah agar mereka merenungkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang memiliki akal sehat mengambil pelajaran.” (QS. Shod: 29)

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ * نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ  عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ  بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ﴾

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Robb semesta alam. Ia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arob yang jelas.” (QS. Asy-Syu’aro’: 192-195)

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴾

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arob agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)

Alloh Ta’ala menurunkan Al-Kitab agar ayat-ayatnya direnungkan dan dijadikan pelajaran. Dia mengabarkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arob yang jelas agar manusia memahami maknanya. Jika Alloh menurunkannya agar ayat-ayatnya direnungkan dengan bahasa Arob yang jelas, maka konsekuensinya maknanya dapat diketahui oleh mereka yang Al-Qur’an diturunkan kepadanya sesuai dengan tuntutan bahasa tersebut. Seandainya maknanya tidak mungkin diketahui, niscaya penurunannya adalah kesia-siaan karena tidak ada manfaat dari kata-kata yang diturunkan kepada suatu kaum namun bagi mereka kedudukannya hanyalah seperti huruf-huruf terbengkalai tanpa makna.

Anggapan tersebut merupakan tindak kriminal terhadap Aqidah para Shohabat, Tabi’in, dan para Imam setelah mereka, serta merupakan tuduhan kepada mereka dengan sesuatu yang mereka berlepas diri darinya. Mereka mengetahui makna-makna teks wahyu dan memahaminya karena kedekatan mereka dengan masa kenabian. Bahkan mereka adalah manusia yang paling berhak akan hal itu dan mereka beribadah kepada Alloh dengan ibadah yang mereka pahami dari penunjukan Al-Kitab dan Sunnah. Jika mereka memahami jalan yang menghubungkan kepada Sembahan mereka, maka bagaimana mungkin mereka tidak mengenal Robb mereka dengan sifat-sifat kesempurnaan dan tidak memahami makna-makna teks yang dengannya Alloh memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya?

Kesimpulannya, Aqidah para Imam yang empat ini adalah Aqidah yang shohih yang datang dalam Al-Kitab dan Sunnah dari sumber yang murni tanpa dicampuri noda takwil, ta’thil, tasybih, maupun tamtsil. Orang yang melakukan ta’thil dan tasybih tidaklah memahami sifat-sifat Ilahiyyah melainkan apa yang layak bagi makhluk saja, dan ini menyelisihi fitroh manusia bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Alloh, baik pada Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya.

Aku memohon kepada Alloh agar risalah ini bermanfaat bagi kaum Muslimin dan menyatukan mereka di atas Aqidah yang satu serta jalan yang satu, yaitu Aqidah Al-Kitab dan Sunnah serta petunjuk Nabi Muhammad . Alloh adalah sebaik-baik penolong dan Dialah yang mencukupi kami.

Akhir doa kami adalah segala puji bagi Alloh Robb semesta alam. Semoga Sholawat Alloh tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

 

Referensi

Adab Al-Syafi’i wa Manaqibuhu karya Ibnu Abi Hatim (327 H), tahqiq Abdul Ghoni Abdul Kholiq, cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut.

Al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah karya Abul Hasan Al-Asy’ari (324 H), Dr. Fauqiyyah Husain, cetakan pertama tahun 1397 H, Darul Anshor, Kairo.

Al-Binayah fi Syarhil Hidayah karya Abu Muhammad Mahmud Al-‘Aini (855 H), cetakan Darul Fikr Al-Adabi, tahun 1401 H, Beirut.

Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyyah karya Ibnu Qoyyim (751 H), cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cetakan lain Al-Farozdaq Riyadh.

Al-Asma’ wash Shifat karya Al-Baihaqi (458 H), cetakan Dar Ihya’it Turots Al-Arobi.

Al-I’tiqod wal Hidayah ila Sabilir Rosyad karya Al-Baihaqi (458 H), tahqiq Ahmad ‘Ashim Al-Katib, cetakan Darul Afaq Al-Jadidah, Beirut 1401 H.

Ithafus Sadatil Muttaqin karya Az-Zabidi (1205 H), cetakan Darul Fikr Beirut.

Al-Intiqo’ fi Fadho’ilits Tsalatsatil Fuqoha’ karya Ibnu Abdil Barr (463 H), cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyyah Beirut.

Al-Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H), cetakan Daruth Thiba’ah Al-Muhammadiyyah, tahqiq Muhammad Al-Harros.

At-Tamhid lima fil Muwaththo’ minal Ma’ani wal Asanid karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr (463 H), tahqiq Mushthofa Al-‘Alawi dan lainnya, kementerian wakaf Islam, Kerajaan Maroko.

At-Tawassul wal Wasilah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H), tahqiq Robi’ bin Hadi, cetakan Maktabah Linah di Mesir, cetakan lain Darul Kitab Al-‘Arobi, tahqiq ‘Imaduddin Haidar 1405 H.

As-Sunnah karya Abdulloh bin Ahmad (290 H), tahqiq Dr. Muhammad bin Sa’id Al-Qohthoni, cetakan Dar Ibnu Qoyyim, Dammam 1406 H, cetakan lain tahqiq Abu Hajar Muhammad Basyuni Zaghlul, cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyyah Beirut 1405 H.

As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim (287 H), cetakan Al-Maktab Al-Islami, Beirut, cetakan pertama.

As-Sunan Al-Kubro karya Imam Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqi (458 H), cetakan Darul Fikr Beirut.

Al-Mausu’ah Al-Arobiyyah Al-Muyassaroh, cetakan Dar Nahdhoh Lubnan lil Thiba’ah wan Nasyr, Beirut.

Ar-Risalah karya Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H), tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, cetakan Al-Halabi.

Ad-Durrul Mukhtar ma’a Hasyiyah Roddil Muhtar karya Muhammad Amin yang dikenal dengan Ibnu ‘Abidin (1252 H), cetakan Al-Babi Al-Halabi.

Ar-Rod ‘ala Al-Jahmiyyah waz Zanadiqoh karya Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), tahqiq Dr. Abdurrohman ‘Umairoh, cetakan kedua 1402 H.

Tarikh Baghdad karya Al-Khothib Al-Baghdadi (463 H), cetakan Darul Kitab Al-‘Arobi Beirut Lebanon, cetakan lain Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Darul Liwa’ Riyadh.

Taqribut Tahdzib karya Ibnu Hajar (852 H), cetakan Darul Ma’rifah Beirut Lebanon 1395 H.

Tahdzibul Asma’ wal Lughot karya An-Nawawi (676 H), cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyyah Beirut.

Tarikhul Ilhad fil Islam karya Abdurrohman Badawi, Maktabah An-Nahdhoh, Kairo.

Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik karya Al-Qodhi ‘Iyadh (544 H), cetakan kementerian wakaf Maroko, cetakan lain Maktabah Al-Hayah Beirut.

Tadzkirotul Huffazh karya Adz-Dzahabi (748 H), cetakan Dar Ihya’it Turots Al-’Arobi, Beirut Lebanon.

Tahdzibut Tahdzib karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani (852 H), cetakan Da’irotul Ma’arif An-Nizhomiyyah di Hyderabad India.

Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr (463 H), cetakan Darul Kutub Al-Islamiyyah, cetakan kedua, cetakan lain Al-Maktabah Al-Ilmiyyah di Madinah Al-Munawwaroh.

Hilyatul Auliya’ wa Thobaqotul Ashfiya’ karya Al-Hafizh Abu Nu’aim Ahmad bin Abdulloh Al-Ashbahani (430 H), cetakan Darul Kitab Al-’Arobi Beirut Lebanon tahun 1387 H.

Dar’u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql, tahqiq Muhammad Rosyad Salim, cetakan Universitas Al-Imam Muhammad bin Su’ud, cetakan pertama 1402 H.

Dzammul ‘Ilaj karya Al-Harowi (481 H), manuskrip.

Sunan Abi Dawud karya Imam Al-Hafizh Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats Al-Sijistani (275 H), cetakan Darul Hadits Suriah.

Sunan An-Nasa’i karya Imam Ahmad bin ‘Ali bin Syu’aib An-Nasa’i (303 H), cetakan Darul Basya’ir Beirut 1406 H.

Sunan At-Tirmidzi karya Imam Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi (279 H), percetakan Mushthofa Al-Babi Al-Halabi dan anak-anaknya di Mesir, cetakan kedua tahun 1398 H.

Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz-Dzahabi (748 H), tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth dan lainnya, cetakan Yayasan Ar-Risalah tahun 1402 H.

Syadzarotudz Dzahab fi Akhbari man Dzahab karya Abdul Hayy bin ‘Imad Al-Hanbali (1089 H), cetakan Darus Sirah Beirut.

Syarhul Fiqhil Akbar karya Al-Qori (1014 H), cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyyah.

Syarhul Washiyyah karya Mulla Hasan bin Iskandar, cetakan Da’irotul Ma’arif Al-Utsmaniyyah India.

Syarhus Sunnah karya Imam Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud Al-Farro’ Al-Baghpwi (516 H), ditahqiq dan ditakhrij Hadits-Haditsnya oleh Syu’aib Al-Arna’uth, Al-Maktab Al-Islami cetakan pertama 1390 H.

Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Abu Qosim Hibatulloh bin Al-Husain Ath-Thobari Al-Lalika’i (418 H), tahqiq Dr. Ahmad Sa’ad Hamdan, Dar Thoibah lin Nasyr wat Tauzi’ Riyadh.

Syarof Ash-habil Hadits karya Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit Al-Khothib Al-Baghdadi (463 H), tahqiq Muhammad Sa’id Al-Khothib Oghli, cetakan Dar Ihya’is Sunnah An-Nabawiyyah.

Syarhul ‘Aqidah Ath-Thohawiyyah karya ‘Ali bin Abil ‘Izz Al-Hanafi (792 H), cetakan Darul Bayan, cetakan lain dengan ta’liq Al-Albani, Al-Maktab Al-Islami Beirut.

Asy-Syari’ah karya Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri (360 H), tahqiq Muhammad Hamid Al-Fiqi, cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyyah Beirut, cetakan pertama 1403 H.

Shohih Al-Bukhory karya Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhory (256 H), bersama Fathul Bari, nomor-nomor kitab, bab, dan Haditsnya oleh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, diterbitkan oleh Muhibbuddin Al-Khothib, Al-Maktabah As-Salafiyyah.

Shohih Muslim karya Imam Abul Hasan Muhammad bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi (261 H), dipublikasikan oleh pimpinan administrasi riset ilmiah dan fatwa di Riyadh tahun 1400 H.

Shifatul ‘Uluw karya Ibnu Qudamah (620 H), cetakan Maktabah Al-’Ulum wal Hikam Madinah Al-Munawwaroh, cetakan lain dengan tahqiq Badr Al-Badr Kuwait.

Thobaqotul Hanabilah karya Al-Qodhi Abu Husain Muhammad bin Abi Ya’la (526 H), cetakan Darul Ma’rifah Beirut.

Thobaqotul Fuqoha’ karya Abu Ishaq Asy-Syirozi Asy-Syafi’i (476 H), cetakan Darur Ro’id Al-’Arobi Beirut, cetakan kedua 1401 H.

‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits karya Abu ‘Utsman Isma’il Ash-Shobuni (449 H), cetakan dalam kumpulan risalah Al-Minbariyyah, cetakan lain dengan tahqiq Badr Al-Badr, Ad-Dar As-Salafiyyah Kuwait.

Al-Uluw karya Adz-Dzahabi (748 H), cetakan Al-Maktabah As-Salafiyyah Madinah, tahun 1388 H.

Al-Fiqhul Akbar ma’a Syarhihi lil Qori (1014 H), cetakan Da’irotul Kutub Al-Ilmiyyah.

Al-Fiqhul Absath, tahqiq Muhammad Zahid Al-Kautsari, cetakan percetakan Al-Anwar Kairo.

Qothfuts Tsamar fi Bayani ‘Aqidati Ahlil Atsar, Muhammad Siddiq Khon (1307 H), tahqiq Dr. ‘Ashim bin Muhammad Al-Qoryuti, cetakan perusahaan Syarqul Ausath, Amman - Yordania.

Qola’idu ‘Uqudil ‘Iqyan karya Abu Qosim Abdul ‘Alim bin ‘Utsman Al-Yamani, manuskrip di perpustakaan pusat Universitas Al-Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyyah.

Lisanul ‘Arob karya Ibnu Manzhur (711 H), cetakan Dar Shodir Beirut.

Lisanul Mizan karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani (852 H), Yayasan Al-A’lami lil Mathbu’at Beirut, Lebanon, cetakan kedua 1390 H.

Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah (728 H), dikumpulkan oleh Abdurrohman bin Qosim, cetakan Yayasan Ar-Risalah.

Masa’ilul Imam Ahmad karya Abu Dawud Al-Sijistani (275 H), cetakan Darul Ma’rifah lith Thiba’ah wan Nasyr Beirut.

Al-Mustadrok ‘alas Shohihain karya Al-Hakim (405 H), cetakan Maktabah Ibnu ‘Arobi Lebanon.

Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), cetakan Al-Maktab Al-Islami lith Thiba’ah wan Nasyr.

Manaqib Abi Hanifah karya Imam Ahmad Al-Makki (568 H), cetakan Darul Kitab Al-’Arobi.

Manaqibus Syafi’i karya Al-Baihaqi (458 H), tahqiq Sayyid Ahmad Shoqr, cetakan pertama 1391 H, Darut Turots Mesir.

Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H), tahqiq Dr. Muhammad Rosyad Salim 1406 H, cetakan Universitas Al-Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyyah, cetakan lain Maktabah Riyadh Al-Haditsah.

An-Nurul Lami’ wal Burhanus Sathi’ karya An-Nashiri, manuskrip di perpustakaan Sulaimaniyyah, Turki.[]

 

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url