Cari Ebook

[PDF] Mereka Kehilangan Syaikh Aunur Rofiq bin Ghufron (1447 H) - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Langit duka menyelimuti hati kaum Muslimin saat kabar itu tersiar. Seorang pengemban ilmu, pejuang Tauhid, dan sosok ayah yang penuh kasih telah berpulang memenuhi panggilan Robbnya, Jum’at Dzulqo’dah 1447 H, Mei 2026. Syaikh Aunur Rofiq bin Ghufron rohimahulloh (1447 H) meninggalkan lubang yang amat dalam di tengah umat yang sedang haus akan bimbingan. Sosoknya bagaikan satu pelita yang selama puluhan tahun menerangi jalan da’wah di bumi Nusantara. Keheningan terasa begitu pekat bagi mereka yang terbiasa mendengar nasehat lembut namun tegas darinya. Kepergian seorang alim adalah musibah besar bagi umat manusia, sebagaimana disabdakan oleh Nabi :

«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ»

“Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada-dada hamba, akan tetapi Alloh mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama.” (HR. Al-Bukhori no. 100 dan Muslim no. 2673)

Sosoknya adalah bukti nyata bahwa ilmu bukan hanya untuk dihafal, melainkan untuk dihidupkan dalam akhlak dan amal nyata. Beliau adalah pribadi yang tidak suka pujian. Setiap kali ada yang hendak menyanjungnya, beliau menunduk, merasa dirinya hanyalah hamba yang faqir di hadapan Alloh . Baginya, da’wah adalah pengabdian yang sunyi dari hiruk pikuk ketenaran duniawi. Namun, justru dalam kesunyian dan kesederhanaan itulah, pancaran pengaruhnya merasuk ke dalam jiwa para muridnya, dari kota hingga ke pelosok desa.

Yang lebih berilmu dari beliau ada banyak, tetapi adabnya telah sampai kabarnya dari orang-orang terdekatnya dan murid-muridnya. Mengabarkan kepada penulis orang yang dipercaya bahwa beliau sering memberi hadiah dan THR kepada tetangganya, termasuk orang yang ngontrak  rumahnya. Ini hanyalah sedikit dari apa yang akan kita singgung di tempatnya.

Buku ini disusun bukan untuk mengagungkan sosoknya di atas batas syar’i, melainkan sebagai upaya untuk merekam jejak langkah seorang sholih agar menjadi pelajaran bagi generasi mendatang. Kita semua merasa kehilangan, namun di balik kesedihan itu, ada warisan berharga berupa semangat menuntut ilmu yang tidak pernah padam hingga akhir hayatnya.

 

Bab 1: Akar Kesholihan di Tanah Srowo

1.1 Nasab dan Keluarga yang Baik

Pohon yang kokoh dan berbuah manis selalu bermula dari akar yang tertanam di tanah yang baik. Begitu pula dengan Syaikh Aunur Rofiq bin Ghufron bin Hamdan rohimahulloh. Beliau tumbuh dalam asuhan kedua orang tua yang memiliki perhatian besar terhadap agama. Ayah beliau bernama Ghufron dan ibu beliau bernama Marfu’ah. Lingkungan keluarga yang sederhana namun kental dengan nilai-nilai ketaatan menjadi madrosah pertama yang membentuk karakter kuat dalam diri beliau sesuai dengan fithroh yang suci. Rosululloh bersabda:

«مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

“Tidaklah setiap anak yang lahir melainkan dilahirkan di atas fithroh. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashroni, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhori no. 1358 dan Muslim no. 2658)

Sebagai anak sulung dari 5 bersaudara yang semuanya laki-laki, beliau memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi teladan bagi adik-adiknya. Keempat adik beliau adalah Ridhwan, Abdurrohman, Mubarok, dan Nashruddin. Sejak dini, kebersamaan di antara mereka diwarnai dengan semangat saling mendukung dalam kebaikan. Sifat kepemimpinan dan rasa peduli beliau terhadap keluarga sudah tampak sejak usia belia, sebuah bekal yang di kemudian hari menjadikan beliau sebagai figur bapak bagi ribuan santrinya.

Beliau menikah dengan seorang wanita bernama Shofarah saat liburan studi kuliah di Universitas Ibnu Su’ud, KSA. Beliau dikaruniai 13 anak, hanya saja yang hidup hanya 5 orang sampai sekarang, yaitu: Aunus Shofi, Rifaq Ashfiya’, Mi’wanul Muttaqin, Kuni Hafidzoh, Abdul Hakim.

Di antara cucunya: Masyhur Ubaidah, Sami Mukhtar, Hasan Abdullah, Husain Abdurrahman, Aunul Furqon.

1.2 Masa Kecil dan Pendidikan Awal di Sidayu

Beliau dilahirkan di sebuah desa bernama Srowo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur pada tanggal 1 September 1956. Sidayu dikenal sebagai wilayah yang religius dengan tradisi keilmuan yang kuat. Di tanah kelahirannya inilah, langkah kaki kecil beliau mulai menyusuri jalan ilmu. Beliau menempuh pendidikan dasar di Madrosah Ibtidai’yyah Sidayu dan berhasil lulus pada tahun 1968.

Setelah menamatkan pendidikan dasar, semangat beliau untuk terus belajar tidak pernah surut. Beliau melanjutkan sekolah ke PGA Muhammadiyyah selama 2 tahun hingga tahun 1972. Pada masa itu, sekolah tersebut dipimpin oleh Ustadz Nawawi Bakri rohimahulloh, seorang tokoh dan kyai terkemuka yang sangat disegani di daerah tersebut. Interaksi dengan para tokoh agama di masa remaja ini memberikan pengaruh besar dalam cara pandang beliau terhadap da’wah dan pendidikan Islam yang mengedepankan kemurnian ajaran.

1.3 Menempa Diri di Karang Asem Paciran

Dahaga akan ilmu membawa beliau melangkahkan kaki lebih jauh meninggalkan kampung halaman. Beliau melanjutkan pendidikannya ke PGA Muhammadiyyah Karang Asem, Paciran, Lamongan. Di sana, beliau menimba ilmu selama 4 tahun hingga tahun 1974 di bawah bimbingan langsung KH. Abdurrohman Syamsuri rohimahulloh. Masa-masa di Karang Asem menjadi periode penting dalam pendewasaan pemikiran dan penguasaan dasar-dasar ilmu agama beliau.

Selama di Pesantren, beliau dikenal sebagai santri yang memiliki tekad membaja. Beliau tidak hanya fokus pada materi di dalam kelas, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan yang mengasah ketajaman berfikir dan keterampilan berda’wah. Didikan keras namun penuh kasih sayang dari gurunya, KH. Abdurrohman Syamsuri rohimahulloh (1417 H), telah menanamkan jiwa mujahid dalam diri beliau. Pelajaran tentang kesabaran dalam menghadapi tantangan hidup mulai beliau serap dengan baik di sini, yang kelak akan beliau praktekkan dalam medan da’wah yang jauh lebih luas.

Bab 2: Menjemput Warisan Nabi di Negeri Tauhid

2.1 Perjalanan Menuju Jami’ah Imam Ibnu Su’ud

Alloh membukakan pintu kemudahan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam mencari ridho-Nya. Setelah menyelesaikan pendidikan di tanah air, beliau mendapatkan anugerah besar untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Beliau diterima di Jami’ah Imam Ibnu Su’ud di Riyadh, Saudi Arobia. Keberangkatan beliau ke Negeri Tauhid tersebut menjadi titik balik besar yang mempertemukan beliau dengan sumber ilmu yang lebih jernih dan luas. Beliau sangat memahami bahwa jalan ilmu adalah jalan menuju Jannah, sebagaimana sabda Nabi :

«وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»

“Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan baginya jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)

Di Universitas tersebut, beliau memilih jurusan Ushuluddin untuk mendalami pokok-pokok agama Islam secara mendalam. Beliau menempuh masa perkuliahan dengan penuh kedisiplinan hingga akhirnya lulus pada tahun 1982. Masa-masa di Riyadh tidak hanya diisi dengan menghafal kitab dan menghadiri kuliah, tetapi juga menjadi sarana bagi beliau untuk menyaksikan langsung penerapan syariat dan da’wah yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Sholih.

2.2 Meniti Jalan Ilmu dengan Peluh dan Perjuangan

Kehidupan menuntut ilmu di negeri orang tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang. Beliau menjalaninya dengan penuh keuletan dan ketabahan yang luar biasa. Ketika belajar, bekal yang dibawa dari orang tua sangatlah sedikit. Demi untuk tetap bisa bertahan dan membiayai studinya, beliau tidak malu melakukan pekerjaan apa pun yang halal. Beliau terkadang harus makan dari sisa-sisa makanan karena keterbatasan biaya.

Semangat beliau begitu membara sehingga rasa lelah fisik tidak menjadi penghalang. Untuk bisa terus belajar, beliau bekerja sebagai tukang masak. Bahkan ketika liburan sekolah tiba di Saudi, beliau menggunakannya untuk bekerja sebagai kuli bangunan. Perjuangan yang penuh pengorbanan ini membentuk beliau menjadi pribadi yang sangat menghargai waktu dan rizqi dari Alloh . Beliau benar-benar menghayati makna kesabaran dalam tholabul ilmi, sebuah teladan nyata bagi para santri masa kini yang seringkali mengeluh di tengah fasilitas yang serba ada.

2.3 Berguru Kepada Para Ulama Kibar

Selama menetap di Riyadh, beliau mendapatkan kesempatan emas untuk mengambil ilmu langsung dari para pakar di bidangnya. Di antara guru-guru beliau adalah para dosen di Universitas Imam Ibnu Su’ud yang saat itu dipimpin oleh Dr. Abdul Muhsin At-Turki. Interaksi akademis dengan para masyayikh di Saudi memberikan landasan ilmiah yang kokoh bagi beliau dalam memahami berbagai persoalan agama dari sudut pandang dalil yang shohih.

Tidak berhenti sampai di situ, setelah kembali ke tanah air pun, beliau tetap menjaga semangat belajarnya dengan menghadiri berbagai dauroh yang diisi oleh para ulama dunia. Beliau banyak menimba ilmu dari murid-murid Syaikh Al-Albani rohimahulloh (1420 H) seperti Syaikh Ali Hasan rohimahulloh (1442 H), Syaikh Musa Alu Nashr rohimahulloh (1439 H), Syaikh Masyhur Hasan, dan Syaikh Akrom Ziyadah. Beliau juga mengambil ilmu dari para masyayikh Madinah seperti Syaikh Sholih As-Suhaimi, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili, Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad, dan Syaikh Walid bin Saif An-Nashr. Meski usianya sudah tidak muda lagi, beliau sering terlihat hadir lebih awal di majelis dauroh dan duduk di tempat terdepan, menunjukkan rasa haus akan ilmu yang tidak pernah kunjung padam.

2.4 Murid-Muridnya

Murid-murid beliau banyak sekali tak terhitung jumlahnya. Betapa banyak para dai dan ustadz di Indonesia ini, dahulu pernah menimba ilmu dari pondok beliau dan hingga kini para alumnus dan murid beliau bertebaran di berbagai sudut Indonesia menyebarkan dawah, bahkan diantara mereka mendirikan pondok-pondok pesantren di daerahnya masing-masing. Di antaranya:

1. Dr. Abdullah Roy, Lc MA.

2. Ustadz Aris Sugiyantoro, murid Syaikh Utsaimin dan mudir Mahad Al-Ukhuwwah, Sukoharjo, Solo, Jateng.

3. Ustadz Arif Fathul Ulum, mudir Ma’had Thoifah Manshuroh, Kediri

4. Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali, mudir Ma’had As-Sunnah, Pasuruan

5. Ustadz Ahmad Izzah Abu Hammam, mudir Ma’had Tahkim Sunnah, Lampung

6. Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf, ketua Yayasan Al Furqon dan penulis buku

7. Ustadz Syahrul Fatwa, Penasehat Ahsan TV, penulis buku-buku ilmiah

8. Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar, sekaligus menantunya.

Dan masih banyak lagi murid-murid beliau lainnya yang belum disebutkan.   Seringkali seorang ustadz dan aktivis da’wah mengatakan: “Aku heran, setiap kali aku pergi ke penjuru dan pelosok, saya mendapati dai dan Ustadz yang berda’wah di sana adalah lulusan Al Furqon.”

 

Bab 3: Jejak Langkah Sang Penyeru Tauhid

3.1 Menabur Benih Da’wah di Bumi Kalimantan

Tugas suci sebagai penda’wah mulai beliau emban setelah lulus dari Pesantren Karang Asem. Beliau diutus oleh Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia (DDII) untuk mengabdikan diri di kota Pontianak, Kalimantan. Selama 2 tahun, beliau bergelut dengan realitas da’wah di lapangan yang penuh dengan tantangan geografis dan sosial. Beliau meyakini bahwa mengajak manusia ke jalan Alloh adalah perkataan yang paling mulia, sebagaimana firman Alloh :

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh, mengerjakan amal yang sholih, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Fushshilat: 33)

Di bumi Borneo, beliau belajar bagaimana menyampaikan kebenaran di tengah masyarakat yang majemuk. Beliau tidak hanya menyampaikan pelajaran di Masjid, tetapi juga menjalin silaturrohim dengan berbagai lapisan masyarakat untuk memperkenalkan keindahan Islam. Masa 2 tahun tersebut memberikan pondasi mental yang kuat bagi beliau, bahwa da’wah bukan sekadar retorika di atas mimbar, melainkan tindakan nyata untuk membawa manusia kembali kepada jalan Robbnya.

3.2 Ujian dan Ketabahan di Kota Kediri

Sekembalinya dari studi di Saudi Arobia, beliau memilih untuk membuka lahan da’wah di Kota Kediri. Beliau diberikan amanah untuk mengelola sebuah Pondok Pesantren, mengajar di sekolah, serta mengisi berbagai majlis taklim. Di kota inilah, keteguhan prinsip beliau benar-benar diuji. Selama 7 tahun lamanya, beliau merasakan pahit getirnya memperjuangkan da’wah Sunnah di tengah lingkungan yang belum sepenuhnya menerima.

Ujian dan cobaan silih berganti menghampiri, mulai dari penolakan secara halus hingga intimidasi yang nyata. Namun, beliau menghadapinya dengan kepala tegak dan hati yang lapang. Meskipun pada akhirnya beliau harus memilih untuk meninggalkan Kediri karena situasi yang semakin tidak kondusif, masa 7 tahun tersebut tidaklah sia-sia. Benih-benih tauhid yang beliau tanam di sana telah tumbuh di hati sebagian muridnya yang hingga kini masih terus istiqomah. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa bumi Alloh itu luas, dan ketika satu pintu da’wah tertutup, Alloh akan membuka pintu-pintu lain yang lebih barokah.

3.3 Kembali ke Kampung Halaman Membangun Umat

Alloh adalah sebaik-baik pengatur siasat. Setelah perjalanan panjang yang penuh liku, beliau akhirnya kembali ke kampung halamannya di Srowo, Sidayu pada tahun 1989. Di atas tanah yang diberikan oleh orang tuanya, beliau mulai merintis sebuah karya besar yang kelak akan mengubah wajah da’wah di Indonesia. Dengan modal semangat yang membara dan gotong royong bersama masyarakat sekitar yang mendukungnya, berdirilah sebuah Pondok Pesantren sederhana.

Awal berdirinya Pesantren ini penuh dengan keterbatasan fisik, namun kaya akan ruh perjuangan. Beliau terjun langsung dalam pembangunan, bahkan ikut memanggul material bersama para pekerja lainnya. Beliau ingin menunjukkan bahwa membangun umat dimulai dari membangun kedekatan dengan masyarakat sekitar. Lambat laun, tempat yang dulunya sunyi itu berubah menjadi markaz ilmu yang didatangi oleh para penuntut ilmu dari berbagai penjuru Nusantara. Di sinilah beliau menemukan ketenangan untuk mencurahkan seluruh hidupnya demi mendidik generasi Robbani yang beraqidah lurus. Beliau yakin bahwa setiap petunjuk yang diterima orang lain melalui perantaranya adalah rizqi yang besar, sesuai sabda Nabi :

«فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ»

“Demi Alloh, sungguh jika Alloh memberi petunjuk kepada satu orang saja melalui perantaramu, itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah (harta paling berharga).” (HR. Al-Bukhori no. 3701 dan Muslim no. 2406)

 

Bab 4: Al Furqon: Menara Ilmu di Pesisir Utara

4.1 Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Al Furqon

Berdirinya Pondok Pesantren Al Furqon bukanlah sebuah proyek megah yang direncanakan dengan gelontoran dana besar dari para pemodal. Ia lahir dari ketulusan hati dan keinginan kuat untuk membentengi umat dari kesyirikan dan bid’ah. Pada tahun 1989, sekembalinya dari Saudi Arobia, beliau mulai membangun pondasi pertama di atas tanah milik orang tua beliau di Desa Srowo. Dengan segala keterbatasan, beliau tidak hanya menjadi pengajar, namun juga menjadi kuli bangunan bagi pesantrennya sendiri. Beliau meyakini bahwa menolong agama Alloh akan mendatangkan pertolongan-Nya, sebagaimana firman Alloh :

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Kala itu, fasilitas yang ada sangatlah bersahaja. Hanya ada beberapa ruangan untuk belajar dan menginap santri yang sangat terbatas. Namun, keberkahan tidak diukur dari kemegahan gedung, melainkan dari keikhlasan sang murobbi. Nama Al Furqon dipilih sebagai doa agar lembaga ini benar-benar menjadi pembeda antara yang Haq dan yang bathil di tengah masyarakat. Dari tempat yang jauh dari keramaian kota inilah, gaung da’wah Sunnah mulai terdengar ke seantero negeri.

4.2 Menepis Onak dan Duri dalam Mengasuh Santri

Perjalanan membangun Al Furqon tidaklah selalu mulus. Beliau harus berhadapan dengan berbagai tuduhan miring dan kecurigaan dari pihak-pihak yang belum memahami hakikat da’wah yang beliau bawa. Beliau pernah mengalami masa-masa sulit ketika pesantren didemo, disidang, bahkan diancam untuk ditutup paksa. Tekanan tersebut tidak hanya datang secara lisan, namun juga berupa ancaman fisik yang membahayakan nyawa beliau. Beliau pernah diancam untuk dibunuh karena keteguhannya dalam menyuarakan Tauhid.

Namun, beliau menghadapinya dengan tawakkal yang tinggi dan kesabaran yang luar biasa. Beliau selalu berpesan kepada para santri dan ustadz untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan dengan akhlak yang mulia. Beliau sangat memahami nasehat Rosululloh :

«وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا»

“Kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesempitan, dan kemudahan itu bersama kesulitan.” (HR. Ahmad no. 2803)

4.3 Kaderisasi Da’i: Memetik Buah Perjuangan

Fokus utama beliau di Al Furqon adalah mencetak para pengemban ilmu yang siap diterjunkan ke medan da’wah. Beliau sangat menekankan pentingnya penguasaan bahasa Arob dan pemahaman kitab-kitab para ulama Salaf. Beliau tidak ingin santrinya hanya pandai berbicara, tetapi kosong dari ilmu yang berlandaskan dalil. Beliau mendidik santri dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ayah kepada anak-anaknya sendiri, sehingga ikatan antara guru dan murid di Al Furqon terasa sangat kuat.

Kini, buah dari jerih payah beliau telah tersebar luas. Para alumni Al Furqon telah banyak yang mendirikan pondok pesantren, sekolah, dan majlis taklim di berbagai daerah di Indonesia. Keberhasilan ini adalah bentuk amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun beliau telah tiada. Hal ini sesuai dengan janji Nabi :

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

 

Bab 5: Mutiara Hikmah dan Karya Nyata

5.1 Mukhtarot: Jembatan Menuju Pemahaman Kitabulloh

Salah satu warisan intelektual terbesar beliau adalah kitab Al-Mukhtarot. Kitab ini disusun dengan metode yang sangat praktis dan mudah dipahami bagi pemula yang ingin mempelajari kaidah bahasa Arob. Beliau menyadari bahwa bahasa Arob adalah kunci untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga beliau mencurahkan waktu dan fikiran untuk menyusun panduan yang sistematis. Kitab ini telah digunakan oleh ribuan penuntut ilmu di berbagai penjuru tanah air, menjadi saksi bisu betapa besarnya perhatian beliau terhadap bahasa ahli Jannah.

5.2 Khidmah Melalui Tulisan di Majalah Al Furqon dan Al Mawaddah

Selain melalui lisan, beliau juga berda’wah melalui tulisan. Beliau merintis berdirinya Majalah Al Furqon yang menjadi sarana informasi dan edukasi bagi umat Islam. Melalui majalah ini, beliau menjawab berbagai persoalan umat dengan timbangan syariat yang lurus. Beliau juga memberikan perhatian khusus kepada para wanita dengan mendukung terbitnya Majalah Al Mawaddah. Bagi beliau, tulisan adalah sarana da’wah yang jangkauannya sangat luas dan abadi, melintasi batas waktu dan tempat.

5.3 Prioritas Da’wah: Menanamkan Aqidah di Sanubari

Dalam setiap tulisan dan ceramahnya, beliau selalu menempatkan masalah Aqidah dan Tauhid sebagai pondasi utama. Beliau sangat tidak menyukai perdebatan yang tidak bermanfaat atau masalah khilafiyyah yang melalaikan dari pokok agama. Beliau sering mengutip ucapan para ulama Salaf untuk menguatkan pemahaman santrinya. Beliau meyakini bahwa perbaikan umat harus dimulai dari perbaikan hubungan hamba dengan Robbnya melalui pemurnian ibadah hanya kepada Alloh semata.

 

Bab 6: Sosok Bersahaja dengan Akhlak Mulia

6.1 Zuhud dan Kesederhanaan dalam Arus Dunia

Dunia berada di tangan beliau, namun tidak di hati beliau. Sebagai pimpinan sebuah pesantren besar, beliau bisa saja hidup dalam kemewahan, namun beliau memilih jalan zuhud dan kesederhanaan. Rumah beliau sangat bersahaja, pakaian beliau tidak menunjukkan kemegahan, dan makanan beliau pun sangat sederhana. Beliau benar-benar mengamalkan apa yang beliau ajarkan tentang hakikat dunia yang sementara. Beliau tidak menyukai pujian dan merasa tidak nyaman jika ada orang yang menyanjungnya secara berlebihan.

6.2 Ketawadhuan Sang Guru yang Berilmu

Meskipun memiliki ilmu yang sangat dalam, beliau adalah pribadi yang sangat tawadhu. Beliau tidak segan untuk mendengarkan masukan dari murid-muridnya atau para ustadz yang jauh lebih muda darinya. Jika beliau mendapati dirinya melakukan kesalahan, beliau dengan lapang dada menerimanya dan segera memperbaikinya. Beliau seringkali menundukkan pandangan ketika berbicara dengan orang lain, sebagai bentuk penghormatan dan rasa takut kepada Alloh . Hal ini mengingatkan kita pada sabda Nabi :

«وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»

“Tidaklah seseorang merendahkan diri (tawadhu) karena Alloh melainkan Alloh akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588)

6.3 Multi Talenta: Keterampilan di Luar Mimbar

Satu sisi yang mungkin jarang diketahui oleh masyarakat luas adalah keahlian beliau dalam berbagai bidang kehidupan. Beliau bukan hanya ahli di atas mimbar, tetapi juga seorang praktisi yang mahir. Beliau menguasai ilmu pertukangan dan bangunan, bahkan seringkali turun tangan langsung memperbaiki kerusakan di pesantren. Beliau juga ahli dalam memperbaiki jam, mesin mobil, hingga memiliki keterampilan menjahit. Beliau adalah sosok mandiri yang tidak ingin membebani orang lain untuk urusan-urusan yang bisa beliau kerjakan sendiri. Keterampilan ini beliau gunakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan memberikan manfaat nyata.

6.4 Kedermawanan yang Tersembunyi dari Pandangan Mata

Beliau adalah seorang yang sangat dermawan, namun kedermawanannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui orang lain. Beliau sering memberikan bantuan kepada keluarga, santri yang kesulitan, tetangga, hingga orang asing yang membutuhkan, tanpa pernah menyebut-nyebut pemberian tersebut. Beliau sangat menjaga kerahasiaan sedekahnya agar tetap murni karena Alloh , sesuai dengan hadits tentang tujuh golongan yang dinaungi Alloh, di antaranya adalah:

«رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ»

“Seseorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Al-Bukhori no. 660 dan Muslim no. 1031)

 

Bab 7: Kesabaran di Atas Ujian

7.1 Menghadapi Fitnah dan Celaan dengan Kelapangan Hati

Sebagai seorang da’i, fitnah dan celaan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Beliau sering mendapatkan tuduhan yang menyakitkan dari orang-orang yang membenci da’wah Sunnah. Namun, beliau menghadapinya dengan kelapangan hati yang luar biasa. Beliau tidak pernah menyimpan dendam atau niat untuk membalas. Bagi beliau, semua itu adalah bagian dari ujian yang harus dijalani oleh para pengikut Nabi . Beliau lebih memilih untuk mendoakan hidayah bagi orang-orang yang memusuhi beliau daripada sibuk membela diri.

7.2 Sabar Menghadapi Rasa Sakit Demi Umat

Ketabahan beliau juga terlihat saat beliau diuji dengan masalah kesehatan. Beliau pernah harus menjalani operasi besar untuk penyakit yang dideritanya. Luar biasanya, beliau merahasiakan hal tersebut dari siapapun, bahkan dari keluarga terdekatnya sekalipun. Beliau tidak ingin membuat orang-orang tercinta merasa risau, cemas, atau terbebani dengan kondisi kesehatannya. Beliau menanggung rasa sakit itu dalam kesunyian, bersimpuh di hadapan Robbnya dengan penuh ketundukan dan kesabaran yang mengharukan.

7.3 Tawakkal dalam Menghadapi Ancaman dan Intimidasi

Ketakutan terbesar beliau hanyalah kepada Alloh . Hal ini terbukti ketika beliau menghadapi ancaman pembunuhan dan intimidasi saat berda’wah di Kediri maupun di tempat lainnya. Beliau tetap teguh menyampaikan kebenaran meskipun nyawa menjadi taruhannya. Beliau sangat mengandalkan kekuatan doa dan tawakkal. Setiap kali ada masalah yang rumit dan tidak ada solusinya, beliau selalu kembali kepada Alloh dan mencari petunjuk melalui istikhoroh. Ketenangan jiwa beliau dalam menghadapi bahaya menjadi inspirasi bagi semua orang yang berada di sekitar beliau.

 

Bab 8: Kesaksian Mereka

8.1 Pengakuan Para Ulama dan Asatidzah

Banyak ulama dan asatidzah yang memberikan pengakuan atas amanah dan keilmuan beliau. Mereka melihat beliau sebagai sosok yang istiqomah dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap da’wah Salafiyyah di Indonesia. Keteguhan beliau dalam memegang prinsip tanpa bersikap keras yang tidak pada tempatnya telah membuat beliau disegani oleh kawan maupun lawan. Kesaksian para ulama ini menjadi bukti bahwa jalan yang ditempuh beliau adalah jalan yang benar sesuai dengan tuntunan syariat.

Ustadz Muhammad Abid Rodhi —teman sejak kecil bercerita: “Ustadz Aun memang orang yang semangat sejak dulu. Jika dia memiliki suatu keinginan dan cita-cita, maka dia akan berjuang sekuat tenaga untuk menggapainya.

Syaikh Walid bin Saif pernah mengatakan: “Saya sangat mencintai beliau. Pertama kali aku bertemu dengannya, langsung tertanam rasa cinta dan ta’dzim kepada beliau.”

Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Yawas dan Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, sering menanyakan tentang kabar beliau saat bertemu menantunya, Ustadz Abu Ubaidah: memuji akhlak, semangat dawah dan kesabarannya dan menitipkan salam untuk beliau.

Ustadz Ahmad Tamimi berkata ketika membela beliau dari sebagian kalangan yang mencela beliau: “Seandainya saya bisa menggendong beliau, saya akan menggendong beliau,” sebagai bentuk penghormatan.

Ustadz Mubarok Bamuallim: “Ustadz Aun adalah orang yang maa sya Allah dalam semangat dakwah.”

Ustadz Badrus Salam mencantumkan nama beliau termasuk ustadz Salaf di Jawa yang direkomondasikan untuk belajar ilmu agama kepadanya dan mengahadiri majlis ilmunya.

Ustadz Abdullah Zen pernah bercerita padaku: “Diantara nasehat Ustadz yang sangat menyentuh, singkat tapi mengena adalah nasehat Ustadz Aunur Rofiq.”

8.2 Kenangan Indah di Mata Para Murid

Bagi para muridnya, beliau adalah lebih dari sekadar guru. Beliau adalah ayah yang penuh perhatian. Banyak murid yang mengenang bagaimana beliau selalu memberikan solusi yang tepat bagi setiap permasalahan yang mereka hadapi. Nasehat-nasehat beliau selalu menyejukkan hati dan memberikan semangat baru untuk terus menuntut ilmu. Kehilangan beliau adalah kehilangan yang sangat besar, namun kenangan akan kebaikan dan bimbingan beliau akan tetap hidup dalam sanubari setiap santri yang pernah menimba ilmu di bawah asuhan beliau.

Penutup

Kini, Syaikh Aunur Rofiq bin Ghufron rohimahulloh telah kembali kepada Robbnya. Tugasnya di dunia telah usai, namun tanggung jawab kita sebagai penerus da’wah baru saja dimulai. Perjalanan hidup beliau yang penuh dengan pengabdian, kesabaran, dan keikhlasan haruslah menjadi cermin bagi kita semua. Jangan biarkan pelita yang telah beliau nyalakan padam karena kelalaian kita.

Mari kita teruskan perjuangan beliau dalam menyebarkan Tauhid dan Sunnah. Pesantren Al Furqon dan karya-karya beliau merusakan usia keduanya dalam memberikan manfaat bagi umat. Kepergian beliau adalah pengingat bahwa waktu kita di dunia sangatlah singkat, maka pergunakanlah waktu yang tersisa untuk beramal sholih dan mencari ridho Alloh .

Beliau meninggal pada Jum’at 21 Dzulqo’dah 1447 H bertepatan 8 Mei 2026 dalam usia 69 tahun.

Semoga Alloh mengampuni segala dosa beliau, menerima amal ibadah beliau, dan menempatkan beliau di dalam Jannah-Nya yang paling tinggi bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Sholihin.

«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ»

“Ya Alloh, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia.” (HR. Muslim no. 963)

Referensi

Penulisan buku ini banyak mengambil dari menantu beliau, Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi dalam sebuah makalah di internet.

 

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url