[PDF] Musibah Wafatnya Dai Sunnah - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم
الله الرحمن الرحيم
Segala puji hanya milik
Alloh ﷻ, Robb
semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh ﷺ, keluarga, para Shohabat, dan para dai
hingga Hari Qiyamah.
Amma ba’du:
Sesungguhnya ni’mat yang
paling agung setelah hidayah Iman dan Islam adalah ni’mat ilmu syar’i yang
dibawa oleh para warotsatul anbiya (pewaris para Nabi). Keberadaan para Dai
Sunnah di tengah ummat laksana bintang-bintang di langit yang menyinari
kegelapan malam, memberikan arah bagi musafir yang tersesat, dan memberikan
ketenangan bagi jiwa yang dahaga akan kebenaran. Namun, sebuah ketetapan yang
pasti adalah bahwa setiap jiwa akan merasakan maut, dan dunia ini hanyalah
tempat persinggahan sementara menuju kampung Akhiroh.
﴿كُلُّ
نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا
تُوَفَّوفَنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾
“Setiap yang bernyawa
pasti akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada Hari Qiyamah sajalah
diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari Naar dan
dimasukkan ke dalam Jannah, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu
tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imron: 185)
Wafatnya seorang dai yang
menyerukan Sunnah bukanlah sekadar hilangnya satu nyawa, melainkan sebuah
lubang besar dalam benteng pertahanan Islam. Hal ini merupakan musibah yang
sangat berat bagi ummat, karena dengan wafatnya mereka, satu per satu cahaya
ilmu padam dari muka bumi. Ilmu tidak dicabut dengan cara dihilangkan dari dada
manusia, melainkan dengan diwafatkannya para ulama yang membawanya. Ketahuilah
bahwa wafatnya seorang ahli ilmu merupakan kerugian yang tidak dapat
digantikan, karena mereka adalah penjaga wahyu dan penjelas syariat dari penyimpangan
orang-orang yang berbuat zholim dan bid’ah.
﴿أَوَلَمْ
يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴾
“Dan apakah mereka tidak
melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi
daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Alloh menetapkan
hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan
Dialah yang Maha Cepat hisab-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41)
Ibnu Abbas
menafsirkannya:
خَرَابُهَا
بِمَوْتِ عُلَمَائِهَا وَفُقَهَائِهَا وَأَهْلِ الْخَيْرِ مِنْهَا
“Maksud (mengurangi
bumi dari tepi-tepinya) adalah dengan wafatnya para ulama, para ahli
fikihnya, dan orang-orang baik di dalamnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/406)
Tanpa mereka, manusia
akan kehilangan penuntun dalam kegelapan syubhat dan syahwat. Maka, merupakan
sebuah keharusan bagi setiap Muslim untuk segera mengambil faidah dan ilmu dari
mereka selagi ruh masih di kandung badan, sebelum pintu ilmu tertutup dengan
kepergian mereka. Kesempatan untuk tholabul ilmi di hadapan para Dai Sunnah
adalah ni’mat yang tidak boleh disia-siakan, karena penyesalan selalu datang
terlambat ketika sang guru telah kembali ke haribaan Robb-nya.
Bab 1: Kedudukan Pewaris Nabi ﷺ
1.1 Kemuliaan
Menuntut Ilmu Syar’i dan Ahlinya
Kemuliaan ilmu syar’i
terletak pada kedudukannya sebagai cahaya yang membedakan antara al-haq dan
al-bathil. Alloh ﷻ
mengangkat derajat orang-orang yang berilmu di atas hamba-hamba lainnya sebagai
bentuk pemuliaan terhadap apa yang mereka bawa di dalam dada mereka.
﴿يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾
“Alloh akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Persaksian Alloh ﷻ terhadap keesaan-Nya digandangkan dengan
persaksian para Malaikat dan para ahli ilmu, yang menunjukkan betapa tingginya
martabat mereka di sisi Robb.
﴿شَهِدَ
اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا
بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾
“Alloh menyatakan
bahwasanya tidak ada Robb yang berhak disembah melainkan Dia, Yang menegakkan
keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan
demikian). Tak ada Robb yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imron: 18)
Hanya orang-orang berilmu
yang benar-benar memiliki rasa khosyyah (takut) yang sempurna kepada Alloh ﷻ karena mereka mengenal sifat-sifat
keagungan-Nya melalui dalil-dalil syar’i.
﴿إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ﴾
“Sesungguhnya yang takut
kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Alloh
Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Faathir: 28)
Rosululloh ﷺ memberikan motivasi yang sangat besar bagi
siapa saja yang menempuh jalan untuk tholabul ilmi, bahwa setiap langkahnya
akan dipermudah menuju Jannah.
«مَنْ
سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى
الْجَنَّةِ»
“Barangsiapa menempuh
suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju
Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)
Tanda kebaikan bagi
seorang hamba di dunia ini adalah ketika dia diberikan taufiq oleh Alloh ﷻ untuk memahami urusan agamanya secara
mendalam.
«مَنْ
يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Barangsiapa yang Alloh
kehendaki kebaikan baginya, maka Alloh akan pahamkan dia dalam urusan agama.” (HR.
Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)
Ilmu syar’i adalah
warisan yang jauh lebih berharga daripada emas dan perak, karena ilmu akan
terus menemani pelakunya hingga ke dalam Barzakh dan menjadi amal jariyah yang
tidak terputus.
«إِذَا
مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ
جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Apabila manusia itu
meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR.
Muslim no. 1631)
Bahkan seluruh makhluk di
alam semesta ini, hingga ikan di lautan dan semut di lubangnya, memohonkan
ampun bagi mereka yang mengajarkan kebaikan dan ilmu kepada manusia.
«إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي
جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ»
“Sesungguhnya Alloh, para
Malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi sampai semut di lubangnya dan ikan
(di lautan) benar-benar mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan
kepada manusia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2685)
Sufyan bin ‘Uyaynah (198
H) berkata:
أَعْظَمُ
النَّاسِ مَنْزِلَةً مَنْ كَانَ بَيْنَ اللهِ وَبَيْنَ خَلْقِهِ الأَنْبِيَاءُ وَالعُلَمَاءُ
“Tingkatan manusia yang
paling agung adalah yang berada di antara Alloh dan hamba-hamba-Nya, yaitu para
Nabi dan para ulama.” (Warotsatul Anbiya, Ibnu Rojab, hal. 47)
Imam Ahmad bin Hanbal
(241 H) menegaskan pentingnya ilmu melebihi kebutuhan jasmani:
النَّاسُ
إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ؛ لِأَنَّ الرَّجُلَ
يَحْتَاجُ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فِي الْيَوْمِ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ،
وَحَاجَتُهُ إِلَى الْعِلْمِ بِعَدَدِ أَنْفَاسِهِ
“Manusia lebih
membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman, karena makanan dan minuman hanya
dibutuhkan 2 atau 3 kali sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan sebanyak tarikan
nafas.” (Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim, 2/440)
1.2 Kedudukan Dai
Sunnah sebagai Penjaga Syariat
Para Dai Sunnah adalah
pilar-pilar yang menjaga keaslian agama ini dari segala bentuk penyimpangan.
Mereka berdiri di garis depan untuk membantah setiap syubhat yang dilemparkan
oleh musuh-musuh Islam dan menjelaskan bid’ah yang dapat merusak kemurnian
tauhid. Kedudukan mereka sebagai pewaris para Nabi menjadikannya rujukan utama
ummat dalam setiap permasalahan hidup.
«إِنَّ
الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا،
وَلَا دِرْهَمًا [إِنَّمَا] وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»
“Sesungguhnya ulama
adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar maupun
dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia
telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HSR. Abu Dawud no. 3641 dan
At-Tirmidzi no. 2682)
Keberadaan mereka laksana
penunjuk jalan yang memastikan ummat tetap berada di atas as-shirothol
mustaqim. Tanpa mereka, risalah kenabian tidak akan sampai kepada
generasi-generasi berikutnya secara utuh.
Nabi ﷺ bersabda:
«يَحْمِلُ
هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ،
وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ»
“Ilmu ini akan dibawa
pada setiap generasi oleh orang-orang yang adil di antara mereka. Mereka akan
membersihkan ilmu ini dari penyimpangan orang-orang yang melampaui batas,
kedustaan para pembela kebatilan, dan takwil (penafsiran) orang-orang bodoh.” (HR.
Al-Baihaqi no. 21439, Syarofu Ahshabil Hadits, hal. 28)
Mereka adalah orang-orang
yang paling tahu tentang Sunnah Nabi ﷺ dan
yang paling bersemangat dalam membelanya. Alloh ﷻ menempatkan mereka sebagai pemimpin yang
membimbing ummat dengan petunjuk-Nya.
﴿وَجَعَلْنَا
مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ﴾
“Kami jadikan di antara
mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika
mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah:
24)
Ibnu Syihab Az-Zuhri (124
H) berkata:
«كَانَ
مَنْ مَضَى مِنْ عُلَمَائِنَا يَقُولُونَ الِاعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ وَالْعِلْمُ
يُقْبَضُ قَبْضًا سَرِيعًا فَنَعْشُ الْعِلْمِ ثَبَاتُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَفِي
ذَهَابِ الْعِلْمِ ذَهَابُ ذَلِكَ كُلِّهِ»
“Ulama kami terdahulu
berkata: ‘Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan, dan ilmu dicabut
dengan sangat cepat. Maka tegaknya ilmu adalah keteguhan agama dan dunia,
sedangkan hilangnya ilmu adalah hilangnya semua itu.” (HR. Ad-Darimi, no.
97, shohih)
Al-Hasan Al-Bashri (110
H) memberikan perumpamaan yang indah:
الدُّنْيَا
كُلُّهَا ظُلْمَةٌ إِلَّا مَجَالِسَ الْعُلَمَاءِ
“Dunia ini seluruhnya
adalah kegelapan kecuali majelisnya para ulama.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa
Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr (463 H), no. 264)
Sufyan At-Tsauri (161 H)
berkata:
لَيْسَ شَيْءٌ
بَعْدَ الفَرَائِضِ أَفْضَل مِنْ طَلَبِ العِلْمِ
“Aku tidak mengetahui
suatu amalan yang lebih utama setelah perkara wajib daripada menuntut ilmu
hadits.” (Syarhul Misykah, Ath-Thibi, 2/674)
1.3 Keutamaan
Majelis Ilmu di Atas Ibadah Sunnah
Duduk di majelis ilmu
untuk mendengarkan untaian ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi ﷺ memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi
Alloh ﷻ, bahkan
lebih utama daripada melakukan sholat Sunnah ratusan rokaat. Hal ini
dikarenakan manfaat ilmu bersifat meluas kepada orang lain, sedangkan manfaat
ibadah Sunnah hanya kembali kepada pelakunya sendiri.
Diriwayatkan Nabi ﷺ bersabda:
«لَفَقِيهٌ
وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ»
“Sungguh, satu orang
faqih (yang paham agama) itu lebih berat bagi syaithon daripada 1000 ahli
ibadah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2681 dan Ibnu Majah no. 222. Sanadnya lemah
tetapi maknanya benar)
Keunggulan seorang ahli
ilmu dibandingkan ahli ibadah digambarkan seperti keunggulan rembulan di tengah
bintang-bintang yang menunjukkan betapa terangnya cahaya ilmu tersebut.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ، كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى
سَائِرِ الْكَوَاكِبِ»
“Dan sesungguhnya
keutamaan seorang alim atas seorang abid adalah seperti keutamaan cahaya bulan
purnama atas seluruh bintang-bintang.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)
Dalam riwayat lain,
perbandingannya bahkan lebih tinggi lagi, yaitu antara Nabi ﷺ dengan orang yang paling rendah di antara
Shohabatnya:
«فَضْلُ
الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ»
“Keutamaan orang berilmu
atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara
kalian.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2685)
Majelis ilmu adalah
taman-taman Jannah yang ada di muka bumi. Rosululloh ﷺ memerintahkan para Shohabat untuk singgah
dan mengambil manfaat darinya:
«إِذَا
مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الجَنَّةِ فَارْتَعُوا» قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنَّةِ؟ قَالَ:
«حِلَقُ الذِّكْرِ»
“Apabila kalian melewati
taman-taman Jannah, maka singgahlah. Mereka bertanya: Apa itu taman-taman
Jannah? Beliau menjawab: Lingkaran-lingkaran dzikir (majelis ilmu).” (HSR.
At-Tirmidzi no. 3510)
Setiap detik yang
dihabiskan di dalam majelis ilmu mendapatkan perlindungan dari para Malaikat
dan diturunkan ketenangan ke dalam hati para tholabul ilmi:
«مَا
اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ
بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ
الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»
“Tidaklah suatu kaum
berkumpul di salah satu rumah Alloh untuk membaca Kitabulloh dan saling
mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan akan turun atas mereka,
rohmat akan meliputi mereka, Malaikat akan mengelilingi mereka, dan Alloh akan
menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim
no. 2699)
Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu (59 H) berkata:
لَأَنْ أَجْلِسَ
سَاعَةً فَأَفْقَهَ فِي دِينِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ إِحْيَاءِ لَيْلَةٍ إِلَى الصَّبَاحِ
“Aku duduk satu jam untuk
memahami agamaku lebih aku cintai daripada menghidupkan seluruh malam hingga
pagi.” (Miftah Daris Sa’adah, Ibnu Qoyyim, 1/510)
Abu Abdillah Az-Zuhri
(124 H) menyatakan:
مَا عُبِدَ
اللَّهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِنَ الْعِلْمِ
“Tidak ada suatu bentuk
ibadah kepada Alloh yang lebih utama daripada ilmu.” (Tarikh Islam,
Adz-Dzahabi, 8/240)
Ibnu Abbas rodhiyallahu
‘anhuma (68 H) juga menegaskan:
تَدَارُسُ
الْعِلْمِ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ خَيْرٌ مِنْ إِحْيَائِهَا
“Mempelajari ilmu sesaat
di malam hari lebih baik daripada menghidupkan malam dengan sholat.” (HR.
Ad-Darimi no. 281)
Bab 2: Musibah Wafatnya Dai Sunnah
2.1 Wafatnya
Ulama sebagai Dicabutnya Ilmu dari Bumi
Wafatnya para Dai Sunnah
dan ulama rabbani bukanlah peristiwa biasa yang berlalu begitu saja tanpa
bekas. Hal ini merupakan pertanda dicabutnya ilmu secara perlahan dari
tengah-tengah manusia. Alloh ﷻ tidak menghapus ilmu dengan cara menghilangkannya secara
langsung dari ingatan para hamba, namun Dia melakukannya dengan cara mewafatkan
para pengemban ilmu tersebut satu demi satu hingga tidak tersisa lagi orang
yang membimbing manusia di atas kebenaran.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ
يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ
النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»
“Sesungguhnya Alloh
tidaklah mencabut ilmu dengan sekali cabut dari dada manusia, akan tetapi Dia
mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa lagi
seorang alim pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka
ditanya, lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan
menyesatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 100 dan Muslim no. 2673)
Keberadaan ulama adalah
jaminan keamanan bagi ummat dari kesesatan. Selama mereka masih ada, maka
cahaya wahyu masih terpelihara. Namun saat mereka pergi, kegelapan mulai
menyelimuti ufuk kehidupan beragama.
Alloh berfirman:
﴿أَوَلَمْ
يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا﴾
“Dan apakah mereka tidak
melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah
itu dari tepi-tepinya?” (QS. Ar-Ro’d: 41)
Atho bin Abi Robah
menjelaskan:
ذَهَابُ
فُقَهَائِهَا وَخِيَارِ أَهْلِهَا
“Yaitu wafatnya para ahli
fikih dan orang-orang pilihan di bumi tersebut.” (HR. Ibnu Abdil Barr,
Al-Jami, no. 1030)
Ketika ilmu dicabut, maka
keberkahan di muka bumi pun akan berkurang. Kekosongan yang ditinggalkan oleh
seorang alim tidak akan mudah ditambal, karena ilmu yang dibawanya adalah hasil
dari kesungguhan bertahun-tahun dalam mencari ridho Alloh ﷻ.
Nabi ﷺ menjelaskan:
«إِنَّ
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: أَنْ يُرْفَعَ العِلْمُ وَيَثْبُتَ الجَهْلُ، وَيُشْرَبَ
الخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا»
“Sesungguhnya di antara
tanda-tanda Qiyamah adalah diangkatnya ilmu, tetapnya kebodohan, khomr diminum,
dan zina merebak.” (HR. Al-Bukhori no. 80 dan Muslim no. 2671)
Selama ulama masih ada,
maka ilmu masih tetap terjaga. Namun jika mereka wafat, maka ilmu pun akan
pergi bersama mereka. Bersamaan itu, kebodohan akan menyebabkan khomr dan zina
merajarela.
2.2 Perumpamaan
Hilangnya Ulama dalam Atsar Salaf
Para Salafush Sholih
memandang wafatnya seorang dai sebagai musibah yang tidak ada bandingannya.
Mereka memberikan perumpamaan yang sangat mendalam tentang betapa rapuhnya
kondisi ummat tanpa kehadiran para ahli ilmu.
Al-Hasan Al-Bashri (110
H) berkata:
كَانُوا
يَقُولُونَ مَوْتُ الْعَالِمِ ثُلْمَةٌ فِي الْإِسْلَامِ لَا يَسُدُّهَا شَيْءٌ مَا
اخْتَلَفَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ
“Para ulama dahulu
berkata: ‘Wafatnya seorang alim adalah lubang (kerusakan) dalam Islam yang
tidak akan dapat ditutup selama siang dan malam silih berganti.” (HR.
Ad-Darimi, no. 333, shohih)
Kerusakan ini laksana
runtuhnya tiang penyangga bangunan yang megah. Jika tiang itu patah, maka
seluruh atap akan roboh menimpa penghuninya. Begitu pula dengan keberadaan ulama
di tengah masyarakat.
Ubaidillah bin Umar (147
H) berkata:
مَوْتُ الْعَالِمِ
أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ مَوْتِ أَلْفِ عَابِدٍ
“Matinya seorang alim
lebih disukai oleh syaithon daripada matinya 1000 ahli ibadah.” (Siyar A’lamun
Nubala, dan dikutip Ibnu Utsaimin dalam Syarhul Mumti, 3212)
Syaithon sangat
bergembira dengan kematian Dai Sunnah karena dengan kepergian mereka,
pintu-pintu bid’ah (perkara baru dalam agama yang tercela) akan terbuka lebar
tanpa ada yang menghalangi.
Seseorang bertanya kepada
Sa’id bin Jubair (95 H): “Wahai Abu Abdillah, apakah tanda kehancuran manusia?”
Beliau menjawab: “Hilangnya (wafatnya) para ulama mereka.”
Hilangnya ulama berarti
hilangnya lentera petunjuk. Manusia laksana musafir di tengah padang pasir yang
luas pada malam yang pekat tanpa bintang penunjuk arah. Mereka akan berjalan
serampangan mengikuti hawa nafsu dan bisikan syaithon.
Ayyub As-Sikhtiyani (131
H) menggambarkan betapa beratnya beban perasaan saat mendengar kematian seorang
pengikut Sunnah:
إِنِّي أُخْبَرُ
بِمَوْتِ الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ فَكَأَنِّي أَفْقِدُ بَعْضَ أَعْضَائِي
“Sesungguhnya ketika
dikabarkan kepadaku tentang kematian seorang lelaki dari pengikut Sunnah, maka
seolah-olah aku kehilangan salah satu anggota tubuhku.” (Syarhu Ushul, Al-Lalikai, 1/66)
2.3 Tangisan
Penduduk Langit dan Bumi Atas Wafatnya Ahli Ilmu
Wafatnya seorang Dai
Sunnah tidak hanya menyisakan duka bagi manusia di bumi, melainkan juga bagi
seluruh makhluk Alloh ﷻ. Para Malaikat,
binatang-binatang di darat, hingga ikan di kedalaman lautan merasakan dampak
dari hilangnya sang pengajar kebaikan.
Nabi ﷺ bersabda:
«وَإِنَّ
الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ
فِي جَوْفِ الْمَاءِ»
“Sesungguhnya seorang
alim itu benar-benar dimohonkan ampunan oleh siapa saja yang ada di langit dan
di bumi, bahkan hingga ikan-ikan yang ada di dalam air.” (HSR. Abu Dawud no.
3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)
Jika semasa hidupnya
makhluk-makhluk tersebut memohonkan ampunan baginya, maka saat kewafatannya
mereka merasakan kehilangan yang sangat dalam. Bumi tempatnya berpijak dan
melakukan sujud pun ikut bersedih.
﴿فَمَا
بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ﴾
“Maka langit dan bumi
tidak menangisi mereka (kafir yang meninggal) dan mereka pun tidak diberi
tangguh.” (QS. Ad-Dukhon: 29)
Ibnu Abbas rodhiyallahu
‘anhuma (68 H) menjelaskan bahwa ayat ini bermakna secara terbalik bagi
orang Mu’min dan ulama: “Jika seorang Mu’min meninggal, maka tempat sholatnya
di bumi akan menangisinya, begitupun tempat naik amalnya di langit.”
Nabi ﷺ bersabda, dari Anas bin Malik
(93 H) meriwayatkan:
«مَا
مِنْ مُؤْمِنٍ إِلَّا وَلَهُ بَابَانِ بَابٌ يَصْعَدُ مِنْهُ عَمَلُهُ وَبَابٌ يَنْزِلُ
مِنْهُ رِزْقُهُ فَإِذَا مَاتَ بَكَيَا عَلَيْهِ»
“Tidak ada seorang Mu’min
pun kecuali ia memiliki dua pintu; pintu tempat naiknya amalannya dan pintu
tempat turunnya rizqi baginya. Apabila ia meninggal dunia, maka kedua pintu
tersebut menangisinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3255, lemah)
Wafatnya Dai Sunnah
adalah terputusnya hubungan antara langit dan bumi dalam hal penyampaian ilmu
yang bermanfaat bagi alam semesta. Hal ini merupakan ni’mat yang dicabut
kembali oleh Robb pemilik keagungan.
Salman Al-Farisi berkata:
لَا يَزَالُ
النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا بَقِيَ الْأَوَّلُ حَتَّى يَتَعَلَّمَ الْآخِرُ فَإِذَا هَلَكَ
الْأَوَّلُ قَبْلَ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْآخِرُ هَلَكَ النَّاسُ
“Manusia senantiasa dalam
kebaikan selama generasi awal masih ada hingga generasi akhir belajar darinya.
Namun jika generasi awal binasa (wafat) sebelum generasi akhir belajar darinya,
maka binasalah manusia.” (Sunan Ad-Darimi, no. 255, shohih)
Bab 3: Dampak Buruk Hilangnya Penjaga Sunnah bagi Ummat
3.1 Munculnya
Pemimpin Bodoh yang Menyesatkan
Dampak yang paling nyata
dan berbahaya dari wafatnya para ulama adalah munculnya orang-orang bodoh yang
memegang tampuk kepemimpinan agama. Mereka bukan memimpin dengan dalil,
melainkan dengan akal-akalan dan hawa nafsu yang justru menjauhkan ummat dari
as-Sunnah.
«إِنَّ
اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا... اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا»
“...Manusia akan
mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh.” (HR. Al-Bukhori no. 100)
Ini adalah kenyataan yang
pahit di mana posisi yang seharusnya diisi oleh pewaris Nabi justru ditempati
oleh para ahli bid’ah atau orang yang hanya mencari kemegahan duniawi. Mereka
berbicara atas nama agama namun hakikatnya menghancurkan pondasi iman.
Nabi ﷺ bersabda:
«سَيَأْتِي
عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا
الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ
فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ
فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
“Sesungguhnya sebelum datangnya Qiyamah akan
ada tahun-tahun yang penuh penipuan. Pada masa itu, pendusta dianggap benar dan
orang yang benar dianggap dusta. Pengkhianat diberikan amanah dan orang yang
amanah dikhianati. Dan pada saat itu Ruwaibidhoh akan berbicara.” Ada yang
bertanya: “Apa itu Ruwaibidhoh?” Beliau menjawab: “Orang bodoh (tidak kompeten)
yang berbicara mengenai urusan orang banyak.” (HSR. Ibnu Majah no. 4036)
Kepemimpinan yang tanpa
ilmu syar’i akan membawa pada kekacauan hukum. Fatwa-fatwa yang dikeluarkan
tidak lagi berpijak pada al-haq, melainkan mengikuti arus kemauan manusia demi
mendapatkan ridho makhluk dan mengorbankan ridho Kholiq.
Mereka menghalalkan apa
yang diharomkan Alloh dan sebaliknya. Mereka para pendusta agama, seperti yang Alloh
singgung:
﴿وَلَا
تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ
لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ﴾
“Dan janganlah kamu
mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara bohong ‘ini
halal dan ini harom’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh.
Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh tiadalah
beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)
Sufyan At-Tsauri (161 H)
berkata: “Apabila kamu melihat seorang alim mendekati penguasa, ketahuilah
bahwa dia adalah pencuri.”
Inilah fitnah bagi ummat
ketika rujukan mereka bukan lagi Dai Sunnah yang teguh, melainkan mereka yang
menjual ayat-ayat Alloh ﷻ demi kesenangan dunia yang sedikit.
3.2 Terbukanya
Pintu Fitnah dan Syubhat
Dai Sunnah laksana
benteng kokoh yang menahan terjangan ombak fitnah dan badai syubhat (kerancuan
berpikir). Ketika benteng tersebut roboh karena kewafatannya, maka air bah
kesesatan akan masuk merembes ke setiap rumah kaum Muslimin tanpa ada
penghalang yang berarti.
Nabi ﷺ bersabda:
«لاَ
يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ، حَتَّى تَلْقَوْا
رَبَّكُمْ»
“Tidaklah datang suatu
zaman kepada kalian melainkan zaman setelahnya lebih buruk darinya, sampai
kalian berjumpa dengan Robb kalian.” (HR. Al-Bukhori no. 7068)
Anas bin Malik (93 H)
menegaskan bahwa keburukan tersebut bukan karena berkurangnya harta atau
kemakmuran, melainkan karena wafatnya ulama. Bukan karena sedikitnya hujan atau
buruknya hasil panen, melainkan karena hilangnya para ulama.
Fitnah yang masuk setelah
wafatnya para penjaga Sunnah sangatlah lembut namun mematikan. Syubhat dipoles
dengan bahasa yang indah sehingga yang bathil tampak seolah-olah haq. Tanpa ada
dai yang menyingkap tabir tersebut, ummat akan terjebak dalam kebingungan.
﴿وَاتَّقُوا
فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan peliharalah dirimu
dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim saja di antara
kamu. Dan ketahuilah bahwa Alloh sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal:
25)
Kewafatan ulama adalah
saat di mana kebenaran menjadi sesuatu yang asing (ghuroba) dan
kebatilan menjadi sesuatu yang diagungkan. Ummat akan kehilangan arah karena
kompas yang menuntun mereka telah tiada.
3.3 Menjamurnya
Bid’ah dan Pudarnya Cahaya Sunnah
Salah satu tugas utama Dai
Sunnah adalah menghidupkan kembali Sunnah yang telah mati dan mematikan bid’ah
yang mulai tumbuh. Dengan wafatnya mereka, maka penjagaan terhadap kemurnian
syariat menjadi melemah, sehingga bid’ah tumbuh subur laksana jamur di musim
hujan.
«مَنْ
أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
“Barangsiapa yang
mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami ini yang bukan merupakan
bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no.
1718)
Para pelaku bid’ah merasa
leluasa untuk menyebarkan ajaran mereka saat tidak ada lagi dai yang memiliki
hujah kuat untuk membungkam argumen-argumen sesat mereka. Inilah masa pudarnya
cahaya Sunnah.
Nabi ﷺ bersabda:
«بَدَأَ
الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
“Islam bermula dalam
keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia bermula, maka beruntunglah
bagi orang-orang yang asing tersebut.” (HR. Muslim no. 145)
Siapakah orang asing
tersebut? Mereka adalah orang-orang yang tetap teguh memegang Sunnah di saat
manusia lain merusaknya.
«الَّذِينَ
يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي»
“...yaitu orang-orang
yang memperbaiki Sunnahku yang telah dirusak oleh manusia setelahku.” (HR.
At-Tirmidzi no. 2630)
Setiap kali satu bid’ah
muncul, maka satu Sunnah akan hilang. Demikianlah proses pudarnya cahaya Islam
sedikit demi sedikit hingga tidak tersisa lagi kecuali nama tanpa makna bagi
orang-orang yang lalai.
Ibnu Abbas rodhiyallahu
‘anhuma (68 H) berkata:
مَا أَحْدَثَ
قَوْمٌ بِدْعَةً إِلَّا رُفِعَ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ
“Tidaklah suatu kaum
mengada-adakan suatu bid’ah, melainkan akan diangkat dari mereka yang semisal
dengannya dari Sunnah.”
Kematian para Dai Sunnah
mempermudah proses ini, karena merekalah orang-orang yang paling tahu mana yang
murni dari ajaran Nabi ﷺ dan
mana yang merupakan susupan dari luar agama. Tanpa filter ilmiyyah dari mereka,
Islam akan dipenuhi oleh debu-debu syirik dan bid’ah yang zholim.
﴿فَلَمَّا
نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا
الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ﴾
“Maka tatkala mereka
melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang
melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zholim
siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (QS. Al-A’rof:
165)
Dai Sunnah adalah
golongan yang melarang perbuatan jahat dan bid’ah. Kepergian mereka berarti
hilangnya faktor keselamatan bagi sebuah negeri.
Bab 4: Kewajiban Mengambil Ilmu Sebelum Datangnya Penyesalan
4.1 Perintah
Bersegera Talabul Ilmi Selagi Ulama Masih Hidup
Kewajiban menuntut ilmu
adalah beban yang dipikul oleh setiap Muslim sepanjang hayatnya. Namun, urgensi
tholabul ilmi menjadi berlipat ganda ketika para Dai Sunnah masih ada di
tengah-tengah kita. Kesempatan untuk mengambil ilmu langsung dari lisan para ulama
adalah ni’mat yang akan segera sirna seiring berjalannya waktu.
﴿فَلَوْلَا
نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا
قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾
“Mengapa tidak pergi dari
tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)
Rosululloh ﷺ memerintahkan ummatnya untuk mengambil
ilmu sebelum ilmu itu diangkat dengan wafatnya para pengembannya.
Nabi ﷺ bersabda:
«خُذُوا
مِنَ العِلْمِ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ العِلْمُ وَقَبْلَ أَنْ يُرْفَع»
“Ambillah ilmu sebelum
ilmu itu dicabut, dan dicabutnya ilmu adalah dengan diangkatnya (wafatnya
ulama).” (HHR. Ahmad no. 22290)
Ibnu Mas’ud berkata:
عَلَيْكُمْ
بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ وَقَبْضُهُ أَنْ يُذْهَبَ بِأَصْحَابِهِ عَلَيْكُمْ
بِالْعِلْمِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي مَتَى يُفْتَقَرُ إِلَيْهِ أَوْ يُفْتَقَرُ
إِلَى مَا عِنْدَهُ
“Pelajarilah ilmu...
karena sesungguhnya salah seorang dari kalian tidak tahu kapan dia akan
membutuhkannya, atau kapan orang lain membutuhkan apa yang ada pada dirinya.” (Sunan
Ad-Darimi no. 145)
Keberadaan Dai Sunnah
adalah kesempatan emas bagi pencari hidayah untuk membersihkan jiwanya dari
syubhat. Menunda-nunda belajar hanya akan mendatangkan penyesalan yang mendalam
saat kematian menjemput sang guru.
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا
يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ
بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang
beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kamu
kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya
Alloh membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu
akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)
Ibnu Mas’ud berpesan:
تَعَلَّمُوا
الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ وَقَبْضُهُ أَنْ يَذْهَبَ أَهْلُهُ أَلَا وَإِيَّاكُمْ
وَالتَّنَطُّعَ وَالتَّعَمُّقَ وَالْبِدَعَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيقِ
“Hendaklah kalian
berpegang pada ilmu sebelum ia dicabut, dan dicabutnya ilmu adalah dengan
perginya para pemiliknya. Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan,
membebani diri, dan bid’ah. Hendaklah kalian berpegang pada urusan yang lama (Sunnah).”
(Sunan Ad-Darimi, no. 144)
4.2 Adab dan
Cara Bermuamalah dengan Ulama Sunnah
Ilmu tidak akan diraih
tanpa adab yang mulia terhadap pembawanya. Dai Sunnah wajib dihormati dan
dimuliakan bukan karena kedudukan dunianya, melainkan karena cahaya wahyu yang
ia bawa. Meremehkan ulama adalah pintu menuju kehancuran agama seseorang.
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ
وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah
kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara
sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala)
amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurot: 2)
Ayat ini merupakan
pondasi dalam beradab kepada Nabi ﷺ, yang
kemudian berlaku pula bagi para pewarisnya dalam hal memuliakan dan
mendengarkan arahan mereka.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا»
“Bukan termasuk ummatku
orang yang tidak memuliakan yang lebih tua di antara kami, tidak menyayangi
yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak bagi ulama kami.” (HR. Ahmad no.
22755)
Usamah bin Syarik (80 H)
menggambarkan suasana majelis Nabi ﷺ:
كُنَّا نَجْلِسُ
عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ كَأَنَّ عَلَى رُؤُوسِنَا الطَّيْرَ
“Dahulu kami duduk di
sisi Nabi ﷺ
seolah-olah di atas kepala kami ada burung (sangat tenang dan beradab).” (HR.
Al-Hakim 4/441, shohih)
Abdullah bin Al-Mubarok
(181 H) berkata:
نَحْنُ إِلَى
قَلِيلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ
“Kita lebih membutuhkan
sedikit adab daripada banyak ilmu.” (Siyar A’lamun Nubala, Adz-Dzahabi (748 H),
8/407)
Beliau juga menegaskan:
مَنِ اسْتَخَفَّ
بِالْعُلَمَاءِ ذَهَبَتْ آخِرَتُ
“Barangsiapa yang
meremehkan ulama, maka akan hilang Akhirohnya.” (Adabus Shuhbah, Abu
Abdirrohman As-Sulami, hal. 62)
4.3 Pentingnya
Mencatat Ilmu sebagai Bekal Masa Depan
Ilmu yang didengar tanpa
dicatat laksana buruan yang dilepaskan kembali ke hutan. Ketika Dai Sunnah
wafat, catatan-catatan ilmiyyah itulah yang menjadi warisan abadi yang terus
menuntun ummat. Menulis ilmu adalah bentuk amanah dalam menjaga syariat agar
tidak berubah.
«قَيِّدُوا
الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ»
“Ikatlah ilmu dengan
tulisan.” (HR. Al-Hakim no. 360)
﴿ن
ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ﴾
“Nuun, demi qolam (pena)
dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qolam: 1)
Alloh ﷻ bersumpah dengan pena untuk menunjukkan
kemuliaan alat yang digunakan untuk menjaga ilmu tersebut.
Imam Asy-Syafi’i (204 H)
dalam syairnya menyebutkan:
الْعِلْمُ
صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ، قَيِّدْ صُيُودَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَةِ
“Ilmu adalah buruan dan
tulisan adalah ikatannya, maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.” (Diwan
Asy-Syafi’i, 1/103)
Bab 5: Meneladani Kesungguhan Salaf dalam Menuntut Ilmu
5.1 Kisah
Perjalanan Jauh Para Imam demi Satu Hadits
Para pendahulu yang
sholih tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang ada di negerinya. Mereka
melakukan rihlah (perjalanan) ribuan kilometer, menembus padang pasir
dan badai, hanya untuk memastikan kebenaran satu Hadits dari lisan seorang dai.
«مَنْ
خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ»
“Barangsiapa keluar dalam
rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Alloh sampai ia kembali.” (HR.
At-Tirmidzi no. 2647)
Jabir bin Abdullah (78 H)
melakukan perjalanan selama 1 bulan penuh menuju Syam hanya untuk mendengar 1
Hadits dari Abdullah bin Unais (54 H) agar tidak ada perantara di antara
mereka. (HR. Al-Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod no. 970)
Syu’bah bin Al-Hajjaj (160
H) berkata: “Seandainya seseorang melakukan perjalanan dari Syam menuju ujung
Yaman demi satu kalimat yang menunjukkan hidayah atau menjauhkannya dari
kehancuran, aku tidak melihat perjalanannya itu sia-sia.”
Said bin Al-Musyyib
menyatakan:
إِنْ كُنْتُ
لأَسِيْرُ الأَيَّامَ وَاللَّيَالِيَ فِي طَلَبِ الحَدِيْثِ الوَاحِدِ
“Aku pernah berjalan
berhari-hari dan bermalam-malam hanya demi mencari 1 Hadits.” (Siyar,
Adz-Dzahabi, 4/222)
5.2 Kesabaran
dalam Menghadapi Kerasnya Guru
Mendapatkan ilmu
memerlukan kesabaran ekstra, termasuk dalam menghadapi ketegasan seorang guru. Dai
Sunnah terkadang bersikap keras untuk mendidik mental penuntut ilmu agar kuat
dalam memegang amanah syariat.
﴿قَالَ
لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا﴾
“Musa berkata kepada
Khidhir: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang
benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya
kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.” (QS. Al-Kahfi: 66-67)
Ibnu Abbas (68 H) pernah
menunggu di depan pintu rumah Zaid bin Tsabit (45 H) hingga debu-debu
menyelimuti wajahnya, hanya karena tidak ingin mengganggu sang guru yang sedang
istirahat.
Beliau berkata: “Aku
merendahkan diri saat mencari ilmu, maka aku menjadi mulia saat menjadi orang
yang dicari ilmunya.”
Mujahid bin Jabr (104 H)
berkata:
«لاَ
يَتَعَلَّمُ العِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ»
“Ilmu tidak akan diraih
oleh orang yang pemalu dan orang yang sombong.” (HR. Al-Bukhori secara
mu’allaq Hadits no. 130)
5.3 Mewariskan
Estafet Da’wah Kepada Generasi Berikutnya
Setelah mengambil ilmu
dari para dai sebelum wafatnya mereka, kewajiban berikutnya adalah menyampaikan
kembali kepada orang lain. Inilah estafet perjuangan yang menjaga agar cahaya
Islam tidak padam.
«بَلِّغُوا
عَنِّي وَلَوْ آيَةً»
“Sampaikanlah dariku
walau hanya 1 ayat.” (HR. Al-Bukhori no. 3461)
«لِيُبَلِّغِ
الشَّاهِدُ الغَائِبَ»
“Hendaklah yang hadir menyampaikan
kepada yang tidak hadir.” (HR. Al-Bukhori no. 67 dan Muslim no. 1679)
«نَضَّرَ
اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا، فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ»
“Semoga Alloh mencerahkan
wajah seseorang yang mendengar Hadits dari kami lalu dia menghafalnya hingga
dia menyampaikannya.” (HSR. Abu Dawud no. 3660)
Dikatakan:
مَنْ عَمِلَ
بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللَّهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Barangsiapa mengamalkan
apa yang dia ketahui, maka Alloh akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum dia
ketahui.”
Penutup
Musibah wafatnya para Dai
Sunnah adalah pengingat keras bagi kita semua bahwa dunia ini akan segera
berakhir dan ilmu akan diangkat. Setiap kali seorang alim wafat, maka satu
pintu cahaya tertutup bagi ummat. Maka, wahai penuntut ilmu, janganlah engkau
tunda masa belajarmu. Bergegaslah menuju majelis-majelis ilmu, ikatlah mutiara
hikmah dengan tulisan, dan muliakanlah mereka yang telah mewakafkan umurnya
untuk menjaga Sunnah Nabi ﷺ.
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang
beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa
yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhiroh); dan bertaqwalah kepada
Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
Al-Hasyr: 18)
Kepergian para ulama
adalah duka bumi, namun bagi mereka adalah awal dari istirahat panjang menuju
Jannah yang dijanjikan. Tugas kita bukan sekadar menangisi kepergian mereka,
melainkan melanjutkan perjuangan mereka dengan ilmu, amal, dan da’wah.
Semoga Alloh ﷻ senantiasa menjaga para Dai Sunnah yang
masih hidup, merohmati mereka yang telah wafat, dan menjadikan kita generasi
yang amanah dalam mengemban warisan kenabian ini hingga ajal menjemput dalam
keadaan husnul khotimah.
Subhanalloh,
walhamdulillah, wala ilaaha illalloh, Allohu Akbar.[NK]
