Cari Ebook

[PDF] Musibah Wafatnya Dai Sunnah - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Alloh , Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh , keluarga, para Shohabat, dan para dai hingga Hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Sesungguhnya ni’mat yang paling agung setelah hidayah Iman dan Islam adalah ni’mat ilmu syar’i yang dibawa oleh para warotsatul anbiya (pewaris para Nabi). Keberadaan para Dai Sunnah di tengah ummat laksana bintang-bintang di langit yang menyinari kegelapan malam, memberikan arah bagi musafir yang tersesat, dan memberikan ketenangan bagi jiwa yang dahaga akan kebenaran. Namun, sebuah ketetapan yang pasti adalah bahwa setiap jiwa akan merasakan maut, dan dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara menuju kampung Akhiroh.

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوفَنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada Hari Qiyamah sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari Naar dan dimasukkan ke dalam Jannah, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Wafatnya seorang dai yang menyerukan Sunnah bukanlah sekadar hilangnya satu nyawa, melainkan sebuah lubang besar dalam benteng pertahanan Islam. Hal ini merupakan musibah yang sangat berat bagi ummat, karena dengan wafatnya mereka, satu per satu cahaya ilmu padam dari muka bumi. Ilmu tidak dicabut dengan cara dihilangkan dari dada manusia, melainkan dengan diwafatkannya para ulama yang membawanya. Ketahuilah bahwa wafatnya seorang ahli ilmu merupakan kerugian yang tidak dapat digantikan, karena mereka adalah penjaga wahyu dan penjelas syariat dari penyimpangan orang-orang yang berbuat zholim dan bid’ah.

﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴾

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Alloh menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dialah yang Maha Cepat hisab-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41)

Ibnu Abbas menafsirkannya:

خَرَابُهَا بِمَوْتِ عُلَمَائِهَا وَفُقَهَائِهَا وَأَهْلِ الْخَيْرِ مِنْهَا

“Maksud (mengurangi bumi dari tepi-tepinya) adalah dengan wafatnya para ulama, para ahli fikihnya, dan orang-orang baik di dalamnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/406)

Tanpa mereka, manusia akan kehilangan penuntun dalam kegelapan syubhat dan syahwat. Maka, merupakan sebuah keharusan bagi setiap Muslim untuk segera mengambil faidah dan ilmu dari mereka selagi ruh masih di kandung badan, sebelum pintu ilmu tertutup dengan kepergian mereka. Kesempatan untuk tholabul ilmi di hadapan para Dai Sunnah adalah ni’mat yang tidak boleh disia-siakan, karena penyesalan selalu datang terlambat ketika sang guru telah kembali ke haribaan Robb-nya.

 

Bab 1: Kedudukan Pewaris Nabi

1.1 Kemuliaan Menuntut Ilmu Syar’i dan Ahlinya

Kemuliaan ilmu syar’i terletak pada kedudukannya sebagai cahaya yang membedakan antara al-haq dan al-bathil. Alloh mengangkat derajat orang-orang yang berilmu di atas hamba-hamba lainnya sebagai bentuk pemuliaan terhadap apa yang mereka bawa di dalam dada mereka.

﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾

“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Persaksian Alloh terhadap keesaan-Nya digandangkan dengan persaksian para Malaikat dan para ahli ilmu, yang menunjukkan betapa tingginya martabat mereka di sisi Robb.

﴿شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾

“Alloh menyatakan bahwasanya tidak ada Robb yang berhak disembah melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tak ada Robb yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imron: 18)

Hanya orang-orang berilmu yang benar-benar memiliki rasa khosyyah (takut) yang sempurna kepada Alloh karena mereka mengenal sifat-sifat keagungan-Nya melalui dalil-dalil syar’i.

﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ﴾

“Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Faathir: 28)

Rosululloh memberikan motivasi yang sangat besar bagi siapa saja yang menempuh jalan untuk tholabul ilmi, bahwa setiap langkahnya akan dipermudah menuju Jannah.

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)

Tanda kebaikan bagi seorang hamba di dunia ini adalah ketika dia diberikan taufiq oleh Alloh untuk memahami urusan agamanya secara mendalam.

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»

“Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, maka Alloh akan pahamkan dia dalam urusan agama.” (HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)

Ilmu syar’i adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada emas dan perak, karena ilmu akan terus menemani pelakunya hingga ke dalam Barzakh dan menjadi amal jariyah yang tidak terputus.

«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Bahkan seluruh makhluk di alam semesta ini, hingga ikan di lautan dan semut di lubangnya, memohonkan ampun bagi mereka yang mengajarkan kebaikan dan ilmu kepada manusia.

«إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ»

“Sesungguhnya Alloh, para Malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi sampai semut di lubangnya dan ikan (di lautan) benar-benar mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2685)

Sufyan bin ‘Uyaynah (198 H) berkata:

أَعْظَمُ النَّاسِ مَنْزِلَةً مَنْ كَانَ بَيْنَ اللهِ وَبَيْنَ خَلْقِهِ الأَنْبِيَاءُ وَالعُلَمَاءُ

“Tingkatan manusia yang paling agung adalah yang berada di antara Alloh dan hamba-hamba-Nya, yaitu para Nabi dan para ulama.” (Warotsatul Anbiya, Ibnu Rojab, hal. 47)

Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) menegaskan pentingnya ilmu melebihi kebutuhan jasmani:

النَّاسُ إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ؛ لِأَنَّ الرَّجُلَ يَحْتَاجُ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فِي الْيَوْمِ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ، وَحَاجَتُهُ إِلَى الْعِلْمِ بِعَدَدِ أَنْفَاسِهِ

“Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman, karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan 2 atau 3 kali sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan sebanyak tarikan nafas.” (Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim, 2/440)

1.2 Kedudukan Dai Sunnah sebagai Penjaga Syariat

Para Dai Sunnah adalah pilar-pilar yang menjaga keaslian agama ini dari segala bentuk penyimpangan. Mereka berdiri di garis depan untuk membantah setiap syubhat yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam dan menjelaskan bid’ah yang dapat merusak kemurnian tauhid. Kedudukan mereka sebagai pewaris para Nabi menjadikannya rujukan utama ummat dalam setiap permasalahan hidup.

«إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا [إِنَّمَا] وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HSR. Abu Dawud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)

Keberadaan mereka laksana penunjuk jalan yang memastikan ummat tetap berada di atas as-shirothol mustaqim. Tanpa mereka, risalah kenabian tidak akan sampai kepada generasi-generasi berikutnya secara utuh.

Nabi bersabda:

«يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ»

“Ilmu ini akan dibawa pada setiap generasi oleh orang-orang yang adil di antara mereka. Mereka akan membersihkan ilmu ini dari penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, kedustaan para pembela kebatilan, dan takwil (penafsiran) orang-orang bodoh.” (HR. Al-Baihaqi no. 21439, Syarofu Ahshabil Hadits, hal. 28)

Mereka adalah orang-orang yang paling tahu tentang Sunnah Nabi dan yang paling bersemangat dalam membelanya. Alloh menempatkan mereka sebagai pemimpin yang membimbing ummat dengan petunjuk-Nya.

﴿وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ﴾

“Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Ibnu Syihab Az-Zuhri (124 H) berkata:

«كَانَ مَنْ مَضَى مِنْ عُلَمَائِنَا يَقُولُونَ الِاعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ وَالْعِلْمُ يُقْبَضُ قَبْضًا سَرِيعًا فَنَعْشُ الْعِلْمِ ثَبَاتُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَفِي ذَهَابِ الْعِلْمِ ذَهَابُ ذَلِكَ كُلِّهِ»

“Ulama kami terdahulu berkata: ‘Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan, dan ilmu dicabut dengan sangat cepat. Maka tegaknya ilmu adalah keteguhan agama dan dunia, sedangkan hilangnya ilmu adalah hilangnya semua itu.” (HR. Ad-Darimi, no. 97, shohih)

Al-Hasan Al-Bashri (110 H) memberikan perumpamaan yang indah:

الدُّنْيَا كُلُّهَا ظُلْمَةٌ إِلَّا مَجَالِسَ الْعُلَمَاءِ

“Dunia ini seluruhnya adalah kegelapan kecuali majelisnya para ulama.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr (463 H), no. 264)

Sufyan At-Tsauri (161 H) berkata:

لَيْسَ شَيْءٌ بَعْدَ الفَرَائِضِ أَفْضَل مِنْ طَلَبِ العِلْمِ

“Aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih utama setelah perkara wajib daripada menuntut ilmu hadits.” (Syarhul Misykah, Ath-Thibi, 2/674)

1.3 Keutamaan Majelis Ilmu di Atas Ibadah Sunnah

Duduk di majelis ilmu untuk mendengarkan untaian ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Alloh , bahkan lebih utama daripada melakukan sholat Sunnah ratusan rokaat. Hal ini dikarenakan manfaat ilmu bersifat meluas kepada orang lain, sedangkan manfaat ibadah Sunnah hanya kembali kepada pelakunya sendiri.

Diriwayatkan Nabi bersabda:

«لَفَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ»

“Sungguh, satu orang faqih (yang paham agama) itu lebih berat bagi syaithon daripada 1000 ahli ibadah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2681 dan Ibnu Majah no. 222. Sanadnya lemah tetapi maknanya benar)

Keunggulan seorang ahli ilmu dibandingkan ahli ibadah digambarkan seperti keunggulan rembulan di tengah bintang-bintang yang menunjukkan betapa terangnya cahaya ilmu tersebut.

Nabi bersabda:

«إِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ، كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ»

“Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid adalah seperti keutamaan cahaya bulan purnama atas seluruh bintang-bintang.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)

Dalam riwayat lain, perbandingannya bahkan lebih tinggi lagi, yaitu antara Nabi dengan orang yang paling rendah di antara Shohabatnya:

«فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ»

“Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2685)

Majelis ilmu adalah taman-taman Jannah yang ada di muka bumi. Rosululloh memerintahkan para Shohabat untuk singgah dan mengambil manfaat darinya:

«إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الجَنَّةِ فَارْتَعُوا» قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنَّةِ؟ قَالَ: «حِلَقُ الذِّكْرِ»

“Apabila kalian melewati taman-taman Jannah, maka singgahlah. Mereka bertanya: Apa itu taman-taman Jannah? Beliau menjawab: Lingkaran-lingkaran dzikir (majelis ilmu).” (HSR. At-Tirmidzi no. 3510)

Setiap detik yang dihabiskan di dalam majelis ilmu mendapatkan perlindungan dari para Malaikat dan diturunkan ketenangan ke dalam hati para tholabul ilmi:

«مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh untuk membaca Kitabulloh dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan akan turun atas mereka, rohmat akan meliputi mereka, Malaikat akan mengelilingi mereka, dan Alloh akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2699)

Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (59 H) berkata:

لَأَنْ أَجْلِسَ سَاعَةً فَأَفْقَهَ فِي دِينِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ إِحْيَاءِ لَيْلَةٍ إِلَى الصَّبَاحِ

“Aku duduk satu jam untuk memahami agamaku lebih aku cintai daripada menghidupkan seluruh malam hingga pagi.” (Miftah Daris Sa’adah, Ibnu Qoyyim, 1/510)

Abu Abdillah Az-Zuhri (124 H) menyatakan:

مَا عُبِدَ اللَّهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِنَ الْعِلْمِ

“Tidak ada suatu bentuk ibadah kepada Alloh yang lebih utama daripada ilmu.” (Tarikh Islam, Adz-Dzahabi, 8/240)

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H) juga menegaskan:

تَدَارُسُ الْعِلْمِ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ خَيْرٌ مِنْ إِحْيَائِهَا

“Mempelajari ilmu sesaat di malam hari lebih baik daripada menghidupkan malam dengan sholat.” (HR. Ad-Darimi no. 281)

 

Bab 2: Musibah Wafatnya Dai Sunnah

2.1 Wafatnya Ulama sebagai Dicabutnya Ilmu dari Bumi

Wafatnya para Dai Sunnah dan ulama rabbani bukanlah peristiwa biasa yang berlalu begitu saja tanpa bekas. Hal ini merupakan pertanda dicabutnya ilmu secara perlahan dari tengah-tengah manusia. Alloh tidak menghapus ilmu dengan cara menghilangkannya secara langsung dari ingatan para hamba, namun Dia melakukannya dengan cara mewafatkan para pengemban ilmu tersebut satu demi satu hingga tidak tersisa lagi orang yang membimbing manusia di atas kebenaran.

Nabi bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»

“Sesungguhnya Alloh tidaklah mencabut ilmu dengan sekali cabut dari dada manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa lagi seorang alim pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 100 dan Muslim no. 2673)

Keberadaan ulama adalah jaminan keamanan bagi ummat dari kesesatan. Selama mereka masih ada, maka cahaya wahyu masih terpelihara. Namun saat mereka pergi, kegelapan mulai menyelimuti ufuk kehidupan beragama.

Alloh berfirman:

﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا﴾

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu dari tepi-tepinya?” (QS. Ar-Ro’d: 41)

Atho bin Abi Robah menjelaskan:

ذَهَابُ فُقَهَائِهَا وَخِيَارِ أَهْلِهَا

“Yaitu wafatnya para ahli fikih dan orang-orang pilihan di bumi tersebut.” (HR. Ibnu Abdil Barr, Al-Jami, no. 1030)

Ketika ilmu dicabut, maka keberkahan di muka bumi pun akan berkurang. Kekosongan yang ditinggalkan oleh seorang alim tidak akan mudah ditambal, karena ilmu yang dibawanya adalah hasil dari kesungguhan bertahun-tahun dalam mencari ridho Alloh .

Nabi menjelaskan:

«إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: أَنْ يُرْفَعَ العِلْمُ وَيَثْبُتَ الجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا»

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Qiyamah adalah diangkatnya ilmu, tetapnya kebodohan, khomr diminum, dan zina merebak.” (HR. Al-Bukhori no. 80 dan Muslim no. 2671)

Selama ulama masih ada, maka ilmu masih tetap terjaga. Namun jika mereka wafat, maka ilmu pun akan pergi bersama mereka. Bersamaan itu, kebodohan akan menyebabkan khomr dan zina merajarela.

2.2 Perumpamaan Hilangnya Ulama dalam Atsar Salaf

Para Salafush Sholih memandang wafatnya seorang dai sebagai musibah yang tidak ada bandingannya. Mereka memberikan perumpamaan yang sangat mendalam tentang betapa rapuhnya kondisi ummat tanpa kehadiran para ahli ilmu.

Al-Hasan Al-Bashri (110 H) berkata:

كَانُوا يَقُولُونَ مَوْتُ الْعَالِمِ ثُلْمَةٌ فِي الْإِسْلَامِ لَا يَسُدُّهَا شَيْءٌ مَا اخْتَلَفَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ

“Para ulama dahulu berkata: ‘Wafatnya seorang alim adalah lubang (kerusakan) dalam Islam yang tidak akan dapat ditutup selama siang dan malam silih berganti.” (HR. Ad-Darimi, no. 333, shohih)

Kerusakan ini laksana runtuhnya tiang penyangga bangunan yang megah. Jika tiang itu patah, maka seluruh atap akan roboh menimpa penghuninya. Begitu pula dengan keberadaan ulama di tengah masyarakat.

Ubaidillah bin Umar (147 H) berkata:

مَوْتُ الْعَالِمِ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ مَوْتِ أَلْفِ عَابِدٍ

“Matinya seorang alim lebih disukai oleh syaithon daripada matinya 1000 ahli ibadah.” (Siyar A’lamun Nubala, dan dikutip Ibnu Utsaimin dalam Syarhul Mumti, 3212)

Syaithon sangat bergembira dengan kematian Dai Sunnah karena dengan kepergian mereka, pintu-pintu bid’ah (perkara baru dalam agama yang tercela) akan terbuka lebar tanpa ada yang menghalangi.

Seseorang bertanya kepada Sa’id bin Jubair (95 H): “Wahai Abu Abdillah, apakah tanda kehancuran manusia?” Beliau menjawab: “Hilangnya (wafatnya) para ulama mereka.”

Hilangnya ulama berarti hilangnya lentera petunjuk. Manusia laksana musafir di tengah padang pasir yang luas pada malam yang pekat tanpa bintang penunjuk arah. Mereka akan berjalan serampangan mengikuti hawa nafsu dan bisikan syaithon.

Ayyub As-Sikhtiyani (131 H) menggambarkan betapa beratnya beban perasaan saat mendengar kematian seorang pengikut Sunnah:

إِنِّي أُخْبَرُ بِمَوْتِ الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ فَكَأَنِّي أَفْقِدُ بَعْضَ أَعْضَائِي

“Sesungguhnya ketika dikabarkan kepadaku tentang kematian seorang lelaki dari pengikut Sunnah, maka seolah-olah aku kehilangan salah satu anggota tubuhku.” (Syarhu Ushul, Al-Lalikai, 1/66)

2.3 Tangisan Penduduk Langit dan Bumi Atas Wafatnya Ahli Ilmu

Wafatnya seorang Dai Sunnah tidak hanya menyisakan duka bagi manusia di bumi, melainkan juga bagi seluruh makhluk Alloh . Para Malaikat, binatang-binatang di darat, hingga ikan di kedalaman lautan merasakan dampak dari hilangnya sang pengajar kebaikan.

Nabi bersabda:

«وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ»

“Sesungguhnya seorang alim itu benar-benar dimohonkan ampunan oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, bahkan hingga ikan-ikan yang ada di dalam air.” (HSR. Abu Dawud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)

Jika semasa hidupnya makhluk-makhluk tersebut memohonkan ampunan baginya, maka saat kewafatannya mereka merasakan kehilangan yang sangat dalam. Bumi tempatnya berpijak dan melakukan sujud pun ikut bersedih.

﴿فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ﴾

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka (kafir yang meninggal) dan mereka pun tidak diberi tangguh.” (QS. Ad-Dukhon: 29)

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H) menjelaskan bahwa ayat ini bermakna secara terbalik bagi orang Mu’min dan ulama: “Jika seorang Mu’min meninggal, maka tempat sholatnya di bumi akan menangisinya, begitupun tempat naik amalnya di langit.”

Nabi bersabda, dari Anas bin Malik (93 H) meriwayatkan:

«مَا مِنْ مُؤْمِنٍ إِلَّا وَلَهُ بَابَانِ بَابٌ يَصْعَدُ مِنْهُ عَمَلُهُ وَبَابٌ يَنْزِلُ مِنْهُ رِزْقُهُ فَإِذَا مَاتَ بَكَيَا عَلَيْهِ»

“Tidak ada seorang Mu’min pun kecuali ia memiliki dua pintu; pintu tempat naiknya amalannya dan pintu tempat turunnya rizqi baginya. Apabila ia meninggal dunia, maka kedua pintu tersebut menangisinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3255, lemah)

Wafatnya Dai Sunnah adalah terputusnya hubungan antara langit dan bumi dalam hal penyampaian ilmu yang bermanfaat bagi alam semesta. Hal ini merupakan ni’mat yang dicabut kembali oleh Robb pemilik keagungan.

Salman Al-Farisi berkata:

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا بَقِيَ الْأَوَّلُ حَتَّى يَتَعَلَّمَ الْآخِرُ فَإِذَا هَلَكَ الْأَوَّلُ قَبْلَ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْآخِرُ هَلَكَ النَّاسُ

“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama generasi awal masih ada hingga generasi akhir belajar darinya. Namun jika generasi awal binasa (wafat) sebelum generasi akhir belajar darinya, maka binasalah manusia.” (Sunan Ad-Darimi, no. 255, shohih)

 

Bab 3: Dampak Buruk Hilangnya Penjaga Sunnah bagi Ummat

3.1 Munculnya Pemimpin Bodoh yang Menyesatkan

Dampak yang paling nyata dan berbahaya dari wafatnya para ulama adalah munculnya orang-orang bodoh yang memegang tampuk kepemimpinan agama. Mereka bukan memimpin dengan dalil, melainkan dengan akal-akalan dan hawa nafsu yang justru menjauhkan ummat dari as-Sunnah.

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا... اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا»

“...Manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh.” (HR. Al-Bukhori no. 100)

Ini adalah kenyataan yang pahit di mana posisi yang seharusnya diisi oleh pewaris Nabi justru ditempati oleh para ahli bid’ah atau orang yang hanya mencari kemegahan duniawi. Mereka berbicara atas nama agama namun hakikatnya menghancurkan pondasi iman.

Nabi bersabda:

«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»

 “Sesungguhnya sebelum datangnya Qiyamah akan ada tahun-tahun yang penuh penipuan. Pada masa itu, pendusta dianggap benar dan orang yang benar dianggap dusta. Pengkhianat diberikan amanah dan orang yang amanah dikhianati. Dan pada saat itu Ruwaibidhoh akan berbicara.” Ada yang bertanya: “Apa itu Ruwaibidhoh?” Beliau menjawab: “Orang bodoh (tidak kompeten) yang berbicara mengenai urusan orang banyak.” (HSR. Ibnu Majah no. 4036)

Kepemimpinan yang tanpa ilmu syar’i akan membawa pada kekacauan hukum. Fatwa-fatwa yang dikeluarkan tidak lagi berpijak pada al-haq, melainkan mengikuti arus kemauan manusia demi mendapatkan ridho makhluk dan mengorbankan ridho Kholiq.

Mereka menghalalkan apa yang diharomkan Alloh dan sebaliknya. Mereka para pendusta agama, seperti yang Alloh singgung:

﴿وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ﴾

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara bohong ‘ini halal dan ini harom’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh tiadalah beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)

Sufyan At-Tsauri (161 H) berkata: “Apabila kamu melihat seorang alim mendekati penguasa, ketahuilah bahwa dia adalah pencuri.”

Inilah fitnah bagi ummat ketika rujukan mereka bukan lagi Dai Sunnah yang teguh, melainkan mereka yang menjual ayat-ayat Alloh demi kesenangan dunia yang sedikit.

3.2 Terbukanya Pintu Fitnah dan Syubhat

Dai Sunnah laksana benteng kokoh yang menahan terjangan ombak fitnah dan badai syubhat (kerancuan berpikir). Ketika benteng tersebut roboh karena kewafatannya, maka air bah kesesatan akan masuk merembes ke setiap rumah kaum Muslimin tanpa ada penghalang yang berarti.

Nabi bersabda:

«لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ»

“Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan zaman setelahnya lebih buruk darinya, sampai kalian berjumpa dengan Robb kalian.” (HR. Al-Bukhori no. 7068)

Anas bin Malik (93 H) menegaskan bahwa keburukan tersebut bukan karena berkurangnya harta atau kemakmuran, melainkan karena wafatnya ulama. Bukan karena sedikitnya hujan atau buruknya hasil panen, melainkan karena hilangnya para ulama.

Fitnah yang masuk setelah wafatnya para penjaga Sunnah sangatlah lembut namun mematikan. Syubhat dipoles dengan bahasa yang indah sehingga yang bathil tampak seolah-olah haq. Tanpa ada dai yang menyingkap tabir tersebut, ummat akan terjebak dalam kebingungan.

﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Alloh sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)

Kewafatan ulama adalah saat di mana kebenaran menjadi sesuatu yang asing (ghuroba) dan kebatilan menjadi sesuatu yang diagungkan. Ummat akan kehilangan arah karena kompas yang menuntun mereka telah tiada.

3.3 Menjamurnya Bid’ah dan Pudarnya Cahaya Sunnah

Salah satu tugas utama Dai Sunnah adalah menghidupkan kembali Sunnah yang telah mati dan mematikan bid’ah yang mulai tumbuh. Dengan wafatnya mereka, maka penjagaan terhadap kemurnian syariat menjadi melemah, sehingga bid’ah tumbuh subur laksana jamur di musim hujan.

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami ini yang bukan merupakan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Para pelaku bid’ah merasa leluasa untuk menyebarkan ajaran mereka saat tidak ada lagi dai yang memiliki hujah kuat untuk membungkam argumen-argumen sesat mereka. Inilah masa pudarnya cahaya Sunnah.

Nabi bersabda:

«بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia bermula, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing tersebut.” (HR. Muslim no. 145)

Siapakah orang asing tersebut? Mereka adalah orang-orang yang tetap teguh memegang Sunnah di saat manusia lain merusaknya.

«الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي»

“...yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku yang telah dirusak oleh manusia setelahku.” (HR. At-Tirmidzi no. 2630)

Setiap kali satu bid’ah muncul, maka satu Sunnah akan hilang. Demikianlah proses pudarnya cahaya Islam sedikit demi sedikit hingga tidak tersisa lagi kecuali nama tanpa makna bagi orang-orang yang lalai.

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H) berkata:

مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلَّا رُفِعَ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ

“Tidaklah suatu kaum mengada-adakan suatu bid’ah, melainkan akan diangkat dari mereka yang semisal dengannya dari Sunnah.”

Kematian para Dai Sunnah mempermudah proses ini, karena merekalah orang-orang yang paling tahu mana yang murni dari ajaran Nabi dan mana yang merupakan susupan dari luar agama. Tanpa filter ilmiyyah dari mereka, Islam akan dipenuhi oleh debu-debu syirik dan bid’ah yang zholim.

﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ﴾

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zholim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (QS. Al-A’rof: 165)

Dai Sunnah adalah golongan yang melarang perbuatan jahat dan bid’ah. Kepergian mereka berarti hilangnya faktor keselamatan bagi sebuah negeri.

 

Bab 4: Kewajiban Mengambil Ilmu Sebelum Datangnya Penyesalan

4.1 Perintah Bersegera Talabul Ilmi Selagi Ulama Masih Hidup

Kewajiban menuntut ilmu adalah beban yang dipikul oleh setiap Muslim sepanjang hayatnya. Namun, urgensi tholabul ilmi menjadi berlipat ganda ketika para Dai Sunnah masih ada di tengah-tengah kita. Kesempatan untuk mengambil ilmu langsung dari lisan para ulama adalah ni’mat yang akan segera sirna seiring berjalannya waktu.

﴿فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Rosululloh memerintahkan ummatnya untuk mengambil ilmu sebelum ilmu itu diangkat dengan wafatnya para pengembannya.

Nabi bersabda:

«خُذُوا مِنَ العِلْمِ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ العِلْمُ وَقَبْلَ أَنْ يُرْفَع»

“Ambillah ilmu sebelum ilmu itu dicabut, dan dicabutnya ilmu adalah dengan diangkatnya (wafatnya ulama).” (HHR. Ahmad no. 22290)

Ibnu Mas’ud berkata:

عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ وَقَبْضُهُ أَنْ يُذْهَبَ بِأَصْحَابِهِ عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي مَتَى يُفْتَقَرُ إِلَيْهِ أَوْ يُفْتَقَرُ إِلَى مَا عِنْدَهُ

“Pelajarilah ilmu... karena sesungguhnya salah seorang dari kalian tidak tahu kapan dia akan membutuhkannya, atau kapan orang lain membutuhkan apa yang ada pada dirinya.” (Sunan Ad-Darimi no. 145)

Keberadaan Dai Sunnah adalah kesempatan emas bagi pencari hidayah untuk membersihkan jiwanya dari syubhat. Menunda-nunda belajar hanya akan mendatangkan penyesalan yang mendalam saat kematian menjemput sang guru.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)

Ibnu Mas’ud berpesan:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ وَقَبْضُهُ أَنْ يَذْهَبَ أَهْلُهُ أَلَا وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ وَالتَّعَمُّقَ وَالْبِدَعَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيقِ

“Hendaklah kalian berpegang pada ilmu sebelum ia dicabut, dan dicabutnya ilmu adalah dengan perginya para pemiliknya. Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, membebani diri, dan bid’ah. Hendaklah kalian berpegang pada urusan yang lama (Sunnah).” (Sunan Ad-Darimi, no. 144)

4.2 Adab dan Cara Bermuamalah dengan Ulama Sunnah

Ilmu tidak akan diraih tanpa adab yang mulia terhadap pembawanya. Dai Sunnah wajib dihormati dan dimuliakan bukan karena kedudukan dunianya, melainkan karena cahaya wahyu yang ia bawa. Meremehkan ulama adalah pintu menuju kehancuran agama seseorang.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurot: 2)

Ayat ini merupakan pondasi dalam beradab kepada Nabi , yang kemudian berlaku pula bagi para pewarisnya dalam hal memuliakan dan mendengarkan arahan mereka.

Nabi bersabda:

«لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا»

“Bukan termasuk ummatku orang yang tidak memuliakan yang lebih tua di antara kami, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak bagi ulama kami.” (HR. Ahmad no. 22755)

Usamah bin Syarik (80 H) menggambarkan suasana majelis Nabi :

كُنَّا نَجْلِسُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ كَأَنَّ عَلَى رُؤُوسِنَا الطَّيْرَ

“Dahulu kami duduk di sisi Nabi seolah-olah di atas kepala kami ada burung (sangat tenang dan beradab).” (HR. Al-Hakim 4/441, shohih)

Abdullah bin Al-Mubarok (181 H) berkata:

نَحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ

“Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.” (Siyar A’lamun Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 8/407)

Beliau juga menegaskan:

مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْعُلَمَاءِ ذَهَبَتْ آخِرَتُ

“Barangsiapa yang meremehkan ulama, maka akan hilang Akhirohnya.” (Adabus Shuhbah, Abu Abdirrohman As-Sulami, hal. 62)

4.3 Pentingnya Mencatat Ilmu sebagai Bekal Masa Depan

Ilmu yang didengar tanpa dicatat laksana buruan yang dilepaskan kembali ke hutan. Ketika Dai Sunnah wafat, catatan-catatan ilmiyyah itulah yang menjadi warisan abadi yang terus menuntun ummat. Menulis ilmu adalah bentuk amanah dalam menjaga syariat agar tidak berubah.

«قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ»

“Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Al-Hakim no. 360)

﴿ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ﴾

“Nuun, demi qolam (pena) dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qolam: 1)

Alloh bersumpah dengan pena untuk menunjukkan kemuliaan alat yang digunakan untuk menjaga ilmu tersebut.

Imam Asy-Syafi’i (204 H) dalam syairnya menyebutkan:

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ، قَيِّدْ صُيُودَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَةِ

“Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya, maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.” (Diwan Asy-Syafi’i, 1/103)

Bab 5: Meneladani Kesungguhan Salaf dalam Menuntut Ilmu

5.1 Kisah Perjalanan Jauh Para Imam demi Satu Hadits

Para pendahulu yang sholih tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang ada di negerinya. Mereka melakukan rihlah (perjalanan) ribuan kilometer, menembus padang pasir dan badai, hanya untuk memastikan kebenaran satu Hadits dari lisan seorang dai.

«مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ»

“Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Alloh sampai ia kembali.” (HR. At-Tirmidzi no. 2647)

Jabir bin Abdullah (78 H) melakukan perjalanan selama 1 bulan penuh menuju Syam hanya untuk mendengar 1 Hadits dari Abdullah bin Unais (54 H) agar tidak ada perantara di antara mereka. (HR. Al-Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod no. 970)

Syu’bah bin Al-Hajjaj (160 H) berkata: “Seandainya seseorang melakukan perjalanan dari Syam menuju ujung Yaman demi satu kalimat yang menunjukkan hidayah atau menjauhkannya dari kehancuran, aku tidak melihat perjalanannya itu sia-sia.”

Said bin Al-Musyyib menyatakan:

إِنْ كُنْتُ لأَسِيْرُ الأَيَّامَ وَاللَّيَالِيَ فِي طَلَبِ الحَدِيْثِ الوَاحِدِ

“Aku pernah berjalan berhari-hari dan bermalam-malam hanya demi mencari 1 Hadits.” (Siyar, Adz-Dzahabi, 4/222)

5.2 Kesabaran dalam Menghadapi Kerasnya Guru

Mendapatkan ilmu memerlukan kesabaran ekstra, termasuk dalam menghadapi ketegasan seorang guru. Dai Sunnah terkadang bersikap keras untuk mendidik mental penuntut ilmu agar kuat dalam memegang amanah syariat.

﴿قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا  قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا﴾

“Musa berkata kepada Khidhir: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.” (QS. Al-Kahfi: 66-67)

Ibnu Abbas (68 H) pernah menunggu di depan pintu rumah Zaid bin Tsabit (45 H) hingga debu-debu menyelimuti wajahnya, hanya karena tidak ingin mengganggu sang guru yang sedang istirahat.

Beliau berkata: “Aku merendahkan diri saat mencari ilmu, maka aku menjadi mulia saat menjadi orang yang dicari ilmunya.”

Mujahid bin Jabr (104 H) berkata:

«لاَ يَتَعَلَّمُ العِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ»

“Ilmu tidak akan diraih oleh orang yang pemalu dan orang yang sombong.” (HR. Al-Bukhori secara mu’allaq Hadits no. 130)

5.3 Mewariskan Estafet Da’wah Kepada Generasi Berikutnya

Setelah mengambil ilmu dari para dai sebelum wafatnya mereka, kewajiban berikutnya adalah menyampaikan kembali kepada orang lain. Inilah estafet perjuangan yang menjaga agar cahaya Islam tidak padam.

«بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً»

“Sampaikanlah dariku walau hanya 1 ayat.” (HR. Al-Bukhori no. 3461)

«لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ»

“Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” (HR. Al-Bukhori no. 67 dan Muslim no. 1679)

«نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا، فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ»

“Semoga Alloh mencerahkan wajah seseorang yang mendengar Hadits dari kami lalu dia menghafalnya hingga dia menyampaikannya.” (HSR. Abu Dawud no. 3660)

Dikatakan:

مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللَّهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Barangsiapa mengamalkan apa yang dia ketahui, maka Alloh akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum dia ketahui.”

 

Penutup

Musibah wafatnya para Dai Sunnah adalah pengingat keras bagi kita semua bahwa dunia ini akan segera berakhir dan ilmu akan diangkat. Setiap kali seorang alim wafat, maka satu pintu cahaya tertutup bagi ummat. Maka, wahai penuntut ilmu, janganlah engkau tunda masa belajarmu. Bergegaslah menuju majelis-majelis ilmu, ikatlah mutiara hikmah dengan tulisan, dan muliakanlah mereka yang telah mewakafkan umurnya untuk menjaga Sunnah Nabi .

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhiroh); dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Kepergian para ulama adalah duka bumi, namun bagi mereka adalah awal dari istirahat panjang menuju Jannah yang dijanjikan. Tugas kita bukan sekadar menangisi kepergian mereka, melainkan melanjutkan perjuangan mereka dengan ilmu, amal, dan da’wah.

Semoga Alloh senantiasa menjaga para Dai Sunnah yang masih hidup, merohmati mereka yang telah wafat, dan menjadikan kita generasi yang amanah dalam mengemban warisan kenabian ini hingga ajal menjemput dalam keadaan husnul khotimah.

Subhanalloh, walhamdulillah, wala ilaaha illalloh, Allohu Akbar.[NK]

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url