[PDF] Gemar Berbohong Untuk Memuji dan Dipuji - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam, yang telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa
berlaku jujur dan menjadikan kejujuran sebagai jalan menuju Jannah.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ, hamba Alloh yang paling
jujur ucapannya, juga kepada para Shohabat, para Tabi’in (generasi setelah
Shohabat), dan Salafush Sholih (pendahulu yang sholih) hingga hari Qiyamah.
Amma
ba’du:
Masalah
lisan merupakan perkara yang sangat besar dalam Syariat Islam. Lisan adalah
anggota tubuh yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam dosa jika tidak
dijaga dengan ketaqwaan. Salah satu penyakit lisan yang paling merusak tatanan
keimanan dan sosial adalah kedustaan, terutama yang lahir dari syahwat duniawi untuk
mendapatkan pujian atau untuk memberikan pujian palsu demi kepentingan
tertentu. Fenomena ini telah merambah ke dalam bilik-bilik rumah tangga, di
mana seorang istri seringkali merasa perlu merangkai kata-kata fiktif agar
nampak mulia di hadapan wanita lain.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ
فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾
“Wahai orang-orang
yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Alloh dan ucapkanlah perkataan yang
benar. Niscaya Alloh akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni
dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Alloh dan Rosul-Nya, maka sungguh dia
telah mendapat kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Yakni:
wahai orang-orang yang membenarkan Alloh dan mengikuti Rosul-Nya, takutlah
kalian kepada Alloh dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi
larangan-larangan-Nya, serta ucapkanlah ucapan yang benar dan jujur. Jika
kalian melakukan hal tersebut, Alloh akan memberikan taufiq bagi kalian untuk
melakukan amal-amal yang sholih, mengampuni dosa-dosa kalian yang telah lalu,
dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul-Nya dalam perintah dan larangan,
maka dia telah meraih keberuntungan yang sangat besar.
Kejujuran
adalah pondasi dari bangunan keimanan. Tanpa kejujuran, amalan seseorang
hanyalah tumpukan kepalsuan yang tidak bernilai di sisi Alloh ﷻ.
Sebaliknya, kedustaan adalah ciri utama dari kemunafikan yang sangat dibenci.
Orang yang gemar berbohong demi dipuji sesama makhluk pada hakikatnya sedang
menghancurkan kedudukannya di sisi Robb-nya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّمَا
يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ﴾
“Sesungguhnya
yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada
ayat-ayat Alloh, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl: 105)
Rosululloh ﷺ memberikan peringatan keras
bahwa kedustaan adalah pintu menuju kejahatan yang berakhir di dalam Naar.
«إِيَّاكُمْ
وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي
إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ
عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا»
“Waspadalah
kalian terhadap kedustaan, karena kedustaan itu menuntun kepada kejahatan, dan
kejahatan itu menuntun ke dalam Naar. Dan tidaklah seseorang senantiasa
berdusta dan berusaha untuk terus berdusta hingga ia dicatat di sisi Alloh
sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)
Fenomena
berbohong untuk dipuji (riya dalam ucapan) seringkali muncul dari rasa rendah
diri atau keinginan untuk nampak lebih unggul dari orang lain. Sebagai
contoh dalam kehidupan sehari-hari, seorang wanita yang merasa ingin dipuji
sebagai ahli ibadah atau menyenangkan orang lain dengan kedustaan, kemudian
berkata kepada temannya: “Kata suamiku tadi malam setelah kami Tahajjud
bilang kalau kuah darimu enak sekali”, padahal suaminya sedang lembur di
kantor dan tidak tahu apa-apa tentang makanan tersebut.
Ucapannya “Tahajjud”
adalah dusta untuk dipuji, sementara ucapannya “kuah darimu enak sekali”
adalah dusta dalam memuji orang lain agar diberi kuah lagi.
Tindakan
semacam ini masuk dalam kategori berhias dengan sesuatu yang tidak ia miliki. Nabi
ﷺ bersabda:
«الْمُتَشَبِّعُ
بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»
“Orang yang
berhias dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang
memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Al-Bukhori no. 5219 dan Muslim no. 2129)
An-Nawawi
(676 H) menjelaskan dalam Syarh Muslim bahwa makna “dua pakaian
kedustaan” adalah orang tersebut telah melakukan dua kedustaan sekaligus: ia
berdusta atas dirinya sendiri dengan menampakkan apa yang tidak ada padanya,
dan ia berdusta kepada orang lain yang tertipu oleh penampilannya.
Kedustaan
tidak dibenarkan baik dalam keadaan serius maupun bercanda, tidak pula jika
salah seorang dari kalian menjanjikan sesuatu kepada anaknya kemudian tidak
menepatinya.
Kebiasaan
memuji orang lain secara palsu (penjilatan) juga merupakan bahaya besar. Banyak
orang merangkai kata-kata indah yang dusta hanya agar orang lain senang padanya
dan kemudian membalas pujian tersebut. Ini adalah bentuk penyakit hati yang
sangat kronis. Lisan yang seharusnya digunakan untuk memuji Alloh ﷻ
justru digunakan untuk memuji makhluk dengan kepalsuan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿لَا
تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا
لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Janganlah
sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah
mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka
kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari adzab, dan bagi
mereka adzab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imron: 188)
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) berkata Ibnul Mubarok (181 H):
إِيَّاكَ وَالشُّهْرَةَ، فَمَا أَتَيْتُ أَحَدًا إِلاَّ وَقَدْ
نَهَى عَنِ الشُّهرَةِ
“Waspadalah
kalian terhadap popularitas, karena tidaklah aku mendatangi seorang pun (dari
kalangan ulama) melainkan mereka melarang dari mencari popularitas.” (Siyar
A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 7/260)
Umar bin
Al-Khoththob (23 H) berkata:
عَلَيْكَ الصِّدْقَ وَإِنْ قَتَلَكَ الصِّدْقُ
“Hendaklah
kalian jujur meskipun kejujuran itu membunuhmu.” (At-Targhib, Al-Asfahani,
3/92, shohih)
Umar bin
Abdul Aziz (101 H) berkata:
مَا كَذَبْتُ كَذْبَةً مُنْذُ عَلِمْتُ أَنَّ الكَذِبَ يَضُرُّ
أَهْلَهُ
“Aku tidak
pernah berdusta sekalipun semenjak aku mengetahui bahwa kedustaan itu
membahayakan pelakunya.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 5/121)
Bahaya
lisan tidak boleh diremehkan. Seorang pendusta mungkin mendapatkan sanjungan
manusia selama beberapa menit di dunia, namun ia akan menanggung kehinaan yang
sangat lama di hadapan Alloh ﷻ. Setiap kata yang keluar dari mulut akan dimintai pertanggungjawabannya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿مَا
يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tidak ada
suatu kata pun yang terucap melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas yang
selalu siap (mencatat).” (QS. Qof: 18)
Hukuman
pertama bagi pendusta dari orang yang mempercayainya adalah apabila ia
mengabarkan kebenaran, ia tetap tidak akan dipercayai.
Buku ini
hadir sebagai pengingat (tadzkiroh) bagi setiap Muslim dan Muslimah agar
tidak terjerumus dalam sifat-sifat kaum munafik. Memuji diri sendiri lewat dusta,
atau memuji orang lain secara berlebihan demi keuntungan pribadi, adalah jalan
kehancuran.
Risalah ini
akan membongkar kerancuan berfikir orang-orang yang menganggap remeh kedustaan
demi gengsi sosial atau mencari harta manusia. Di dalamnya akan dibahas tuntas
mengenai hakikat dusta, motif-motif pencarian pujian melalui lisan, serta
contoh-contoh nyata kedustaan yang sering terjadi di tengah masyarakat,
khususnya para wanita. Buku ini juga akan memberikan solusi syar’i tentang
bagaimana membersihkan lisan dari noda-noda kepalsuan agar kembali menjadi
lisan yang shodiq (jujur) dan membawa keberkahan.
Bab 1: Hakikat Bohong
1.1
Definisi Dusta secara Bahasa dan Istilah Syar’i
Kedustaan
merupakan penyakit lisan yang sangat berbahaya dan menjadi induk dari berbagai
keburukan lainnya. Secara bahasa, para ulama menjelaskan bahwa dusta adalah mengabarkan
sesuatu yang menyelisihi kenyataan, baik dilakukan dengan sengaja maupun
tidak sengaja. Sehingga lafazh kadzib terkadang digunakan Salaf untuk
perbuatan yang dikerjakan yang salah tanpa disengaja, seperti ucapan Rosululloh
ﷺ: “Abu
Sanabil kadzib” yakni keliru dalam ucapannya itu.
Dalam
istilah Syar’i, dusta adalah memberikan informasi yang tidak sesuai dengan fakta
yang sebenarnya dengan maksud menipu atau menciptakan kesan yang salah di mata
manusia.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّمَا
يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ﴾
“Sesungguhnya
yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada
ayat-ayat Alloh, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl: 105)
Ayat ini
menjelaskan bahwa sesungguhnya yang membuat-buat kedustaan itu hanyalah
orang-orang yang tidak membenarkan hujah-hujah Alloh dan tanda-tanda
kekuasaan-Nya, dan mereka itulah orang-orang yang sudah mendarah daging dalam
kedustaan.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ
وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي
إِلَى النَّارِ»
“Waspadalah
kalian terhadap kedustaan, karena kedustaan itu menuntun kepada kejahatan, dan
kejahatan itu menuntun ke dalam Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 6094 dan Muslim
no. 2607)
Dalam
konteks mencari pujian, kedustaan menjadi lebih buruk karena melibatkan sifat riya
(ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar) yang merupakan bagian dari
syirik ashghor (syirik kecil).
1.2
Jujur Sebagai Iman Sementara Dusta Sebagai Kemunafikan
Keimanan
seseorang sangat berkaitan erat dengan kejujurannya. Seorang Mu’min tidak
mungkin menjadi pendusta yang mendarah daging, karena iman menuntut ketundukan
pada kebenaran. Sebaliknya, dusta adalah salah satu tanda utama dari sifat
munafik yang sangat dibenci dalam Islam.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)
Nabi ﷺ menjelaskan ciri-ciri orang
munafik dalam sabdanya:
«آيَةُ
الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ
خَانَ»
“Tanda
orang munafik itu ada 3: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia
menyelisihi, dan jika dipercaya dia berkhianat.” (HR. Al-Bukhori no. 33 dan
Muslim no. 59)
Al-Hasan
Al-Bashri (110 H) berkata:
«أَصْلُ
النِّفَاقِ الَّذِي بُنِيَ عَلَيْهِ الْكَذِبُ»
“Pokok
kemunafikan yang bangunan di atasnya berdiri adalah kedustaan.” (Sifatun
Nifaq, Abu Nu’aim, 1/150)
Seseorang
yang sengaja berbohong agar dipuji oleh manusia telah menukar keridhoan Robb
dengan pujian makhluk yang semu. Hal ini menunjukkan lemahnya iman dan dominasi
nafsu dalam diri seseorang. Terutama bagi seorang istri yang seringkali terjebak
dalam keinginan untuk nampak lebih unggul di hadapan wanita lain dengan
menceritakan hal-hal yang tidak ada pada dirinya atau suaminya.
1.3
Tingkatan-Tingkatan Dusta dari yang Ringan hingga yang Membinasakan
Dusta
memiliki tingkatan yang berbeda-beda tergantung pada dampak dan niat pelakunya.
Kedustaan yang paling besar adalah berdusta atas nama Alloh ﷻ dan
Rosul-Nya ﷺ.
Di bawahnya terdapat kedustaan yang bertujuan untuk merugikan orang lain atau
untuk mendapatkan pujian atas sesuatu yang tidak pernah dilakukan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا
تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ
لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ
الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara
bohong ‘Ini halal dan ini harom’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap
Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh
tiada beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)
Rosululloh ﷺ memberikan ancaman keras bagi
orang yang berdusta atas nama beliau:
«مَنْ
كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Barangsiapa
yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat
duduknya di dalam Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 1291 dan Muslim no. 4)
Adapun
kedustaan dalam interaksi sosial (mu’amalah) demi meraih pujian termasuk
dalam kategori yang sangat tercela. Contohnya adalah seorang istri yang berkata
kepada temannya: “Suamiku selalu memberiku perhiasan emas setiap bulan”,
padahal suaminya sedang dalam kesulitan ekonomi. Tujuannya hanyalah agar dia
dipuji sebagai istri yang disayang atau agar suaminya dipuji sebagai lelaki
dermawan. Ini adalah kedustaan yang membinasakan wibawa dan keberkahan rumah
tangga.
Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan:
إِيَّاكَ وَالكَذِبَ؛ فَإِنَّهُ يُفْسِدُ عَلَيْكَ تَصَوُّرَ
المَعْلُومَاتِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ، وَيُفْسِدُ عَلَيْكَ تَصْوِيرَهَا وَتَعْلِيمَهَا
لِلنَّاسِ!
“Waspadalah
kalian terhadap kedustaan, karena sesungguhnya ia merusak gambaran informasi
pada dirimu sebagaimana mestinya, dan merusak gambaranmu serta pengajaranmu
kepada manusia.” (Al-Fawaid, Ibnu Qoyyim, 1/202)
1.4
Larangan Bersikap Mutasyabbi
Sikap
mutasyabbi adalah perilaku seseorang yang menampakkan diri seolah-olah memiliki
kelebihan, harta, atau kedudukan tertentu padahal kenyataannya tidak demikian.
Hal ini sangat sering terjadi dalam kasus berbohong demi dipuji. Seorang istri
mungkin bercerita kepada tetangganya bahwa dia baru saja dibelikan pakaian
mewah oleh suaminya, padahal pakaian itu adalah pinjaman atau barang lama yang diakui
baru.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْمُتَشَبِّعُ
بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»
“Orang yang
berhias dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang
memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Al-Bukhori no. 5219 dan Muslim no. 2129)
An-Nawawi
(676 H) menjelaskan maksud dari “dua pakaian kedustaan” adalah orang
tersebut telah melakukan dua kedustaan sekaligus: berdusta atas dirinya sendiri
dengan menampakkan apa yang tidak ada, dan berdusta kepada orang lain yang
melihatnya.
Contoh
nyata dalam kehidupan rumah tangga adalah ketika seorang istri yang mendapatkan
kiriman makanan dari tetangga, lalu dia berkata kepada wanita lain: “Lihatlah,
suamiku tadi malam sengaja membelikan kuah ini karena dia tahu aku sangat
menyukainya, dia memang sangat perhatian padahal dia sedang sibuk di kantor”.
Padahal suaminya bahkan tidak tahu ada makanan tersebut di rumah. Ucapan ini
mengandung dua keburukan: kedustaan murni dan sikap mutasyabbi untuk
mendapatkan pujian sebagai istri yang dimanja.
Kebiasaan
memuji diri sendiri dengan cara berbohong atau memuji orang lain secara palsu
demi mendapatkan imbalan balik berupa pujian adalah akhlak yang rendah. Seorang
Muslim harus merasa cukup dengan apa yang Alloh ﷻ berikan dan tidak perlu
menciptakan citra palsu di hadapan makhluk. Lisan yang terbiasa berbohong untuk
hal-hal kecil akan mudah tergelincir pada kedustaan yang besar.
Al-Fudhail
bin ‘Iyadh (187 H) menegaskan:
ما من مضغة أحب إلى الله من لسان صدوق وما من مضغة أبغض إلى
الله من لسان كذوب
“Tidak ada
segumpal daging yang lebih dicintai oleh Alloh daripada lisan yang jujur, dan
tidak ada segumpal daging yang lebih dibenci oleh Alloh daripada lisan yang
gemar berdusta.” (Roudhotul Uqola, Abu Hatim, hal. 52)
Bab 1 ini menekankan bahwa dusta bukan sekadar
masalah ucapan, melainkan masalah hati yang sakit. Keinginan dipuji adalah
racun yang mendorong lisan untuk merangkai kata-kata palsu. Sebagai istri,
menjaga lisan dari menceritakan khayalan tentang kebaikan suami atau kelebihan
rumah tangga di hadapan wanita lain adalah bentuk penjagaan terhadap kehormatan
diri dan ketaatan kepada Robb. Setiap kata yang keluar akan dicatat oleh Malaikat
dan akan dimintai pertanggungjawaban pada hari Qiyamah kelak.
Bab 2: Motif Berbohong
2.1
Mengharap Kedudukan di Hati Manusia
Akar dari
keinginan dipuji melalui jalan kedustaan adalah penyakit riya yang bersarang di
dalam jiwa. Seseorang yang terjangkit penyakit ini tidak lagi merasa cukup
dengan penilaian Alloh ﷻ,
melainkan hatinya senantiasa condong untuk mendapatkan perhatian dan sanjungan
dari sesama manusia. Riya dalam ucapan terjadi ketika seseorang memperindah
perkataannya atau mengarang cerita palsu agar dipandang sebagai orang yang
mulia, dermawan, atau memiliki kelebihan tertentu.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَوَيْلٌ
لِّلْمُصَلِّينَ * الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ * الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ﴾
“Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang Sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari
sholatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)
Apabila
riya dalam ibadah saja diancam dengan kecelakaan, maka bagaimana dengan riya
yang dibangun di atas pondasi kedustaan? Seseorang yang berbohong demi dipuji
telah menggabungkan dua dosa besar sekaligus: berdusta dan syirik kecil dalam
bentuk riya.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ» قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ
الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ»
“Sesungguhnya
yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para Shohabat
bertanya: “Apa itu syirik kecil wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Riya.” (HHR. Ahmad no. 23630)
Al-Ghozali
(505 H) menjelaskan dalam kitabnya:
وَأَصْلُ الرِّيَاءِ طَلَبُ المَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ
“Sesungguhnya
pokok dari riya adalah mencari kedudukan di hati manusia.” (Tafsir Qurthubi,
20/212)
Keinginan
mendapatkan kedudukan ini seringkali mendorong seorang istri untuk mengarang
cerita palsu di hadapan teman-temannya. Misalnya, seorang istri yang berkata: “Tadi
pagi aku bangun jam 2 malam untuk Sholat Tahajjud dan memasakkan makanan
spesial untuk suamiku”, padahal kenyataannya dia bangun saat Sholat Shubuh
hampir habis waktunya dan hanya menyajikan makanan sisa. Ucapan ini bertujuan
agar dia mendapatkan kedudukan sebagai istri yang sholihah dan rajin di mata
orang lain.
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) berkata mengenai bahaya beramal demi manusia:
تَرْكُ الْعَمَلِ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ: رِيَاءٌ. وَالْعَمَلُ
مِنْ أَجْلِ النَّاسِ: شِرْكٌ. وَالْإِخْلَاصُ: أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا
“Meninggalkan
amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik,
sedangkan ikhlas adalah jika Alloh menyelamatkanmu dari keduanya.” (Madarijus
Salikin, Ibnu Qoyyim, 2/92)
2.2
Bahaya Keinginan Dipuji atas Perbuatan yang Tidak Dilakukan
Salah satu
bentuk kedustaan yang paling buruk adalah ketika seseorang merasa senang dan
bangga jika dipuji atas suatu kebaikan yang sebenarnya tidak pernah ia
kerjakan. Sifat ini merupakan ciri khas orang-orang yang terputus dari hidayah
Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿لَا
تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا
لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Janganlah
sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah
mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka
kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari adzab, dan bagi
mereka adzab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imron: 188)
Ayat ini
merupakan peringatan keras bagi para istri yang sering mengklaim jasa atau
kebaikan yang bukan miliknya. Sebagai contoh, seorang istri berkata kepada
ibu-ibu di pengajian: “Alhamdulillah, berkat didikanku yang sangat disiplin
setiap hari, anak-anakku sekarang sudah hafal 5 juz”, padahal sebenarnya
anak-anaknya belajar les dengan bimbingan guru, sementara sang istri justru tidak
setuju keputusan suami mendatangkan les tersebut. Dia ingin dipuji sebagai ibu
yang sukses mendidik anak melalui kedustaan.
Rosululloh ﷺ bersabda mengenai orang yang
menampakkan sesuatu yang tidak ada pada dirinya:
«الْمُتَشَبِّعُ
بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»
“Orang yang
merasa kenyang (berhias diri) dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan
orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Al-Bukhori no. 5219 dan
Muslim no. 2129)
Keinginan
dipuji ini sering menjerumuskan pada sikap memalsukan keadaan. Contoh lain
adalah seorang istri yang berkata kepada kawannya: “Suamiku tadi malam membisikkan
kata-kata sangat manis sebelum dia berangkat lembur, katanya aku adalah
bidadari tercantik di hidupnya”, padahal suaminya pergi dalam keadaan
terburu-buru tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbohong demi mendapatkan
pengakuan sebagai istri yang paling dicintai.
2.3
Memperindah Kebohongan Demi Harga Diri
Syaithon
memiliki cara yang sangat halus dalam menjerumuskan manusia ke dalam jurang
kedustaan. Ia membisikkan bahwa berbohong demi menjaga harga diri atau agar
tidak diremehkan oleh orang lain adalah sebuah kecerdasan sosial atau strategi
untuk tetap dihormati. Syaithon membungkus dosa kedustaan dengan nama-nama yang
indah seperti “menjaga wibawa keluarga” atau “menjaga perasaan orang
lain”, padahal agar ia dipuji.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَإِذْ
زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ﴾
“Dan ketika
syaithon menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka.” (QS. Al-Anfal:
48)
Ketika
seorang istri merasa kalah saing dengan wanita lain dalam hal materi atau
perhatian suami, syaithon masuk dan membisikkan: “Katakan saja kalau kamu
juga punya barang itu, atau katakan suamimu juga melakukan hal yang sama, agar
kamu tidak nampak rendah di depan mereka”. Akhirnya lisan mulai merangkai
dusta.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ»
“Sesungguhnya
syaithon mendatangi salah seorang dari kalian pada setiap urusannya.” (HR.
Muslim no. 2033)
Syaithon
ingin menyeret manusia ke dalam Naar dengan cara membiasakan lisan mereka
berkata dusta untuk hal-hal sepele yang dianggap remeh. Seorang istri yang
terbiasa berbohong tentang ucapan suami demi dipuji tetangga, perlahan-lahan
akan kehilangan sifat shidq (jujur) dalam jiwanya.
2.4
Perbedaan antara Menjaga Nama Baik dengan Berbohong untuk Mencari Muka
Islam
memerintahkan pemeluknya untuk menjaga kehormatan (muru’ah) dan menutupi
aib keluarga. Namun, ada batas yang jelas antara menutupi aib (sitrul ‘uyub)
dengan menciptakan kebohongan untuk mencari muka (tashonnu’). Menjaga
nama baik adalah dengan diam atau memberikan jawaban yang diplomatis tanpa
berdusta, sedangkan mencari muka adalah secara aktif mengarang cerita yang
tidak ada kenyataannya agar dipuji.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isro’: 36)
Seorang
istri diperbolehkan diam jika ditanya tentang kekurangan suaminya demi menjaga
kehormatan suami. Namun, harom hukumnya jika malah membalikkan fakta dengan
pujian palsu. Misalnya, suami jarang memberi uang belanja, lalu istri bercerita:
“Suamiku itu saking dermawannya, setiap minggu aku disuruh belanja apa saja
yang aku mau tanpa batas”, ini bukan menjaga nama baik, melainkan kedustaan
yang bertujuan untuk dipuji sebagai istri dari orang kaya.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barangsiapa
yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah dia berkata yang
baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)
Berkata
baik bukan berarti berkata dusta yang indah. Berkata baik adalah berkata jujur
yang bermanfaat.
Contoh yang
sangat relevan adalah ketika seorang istri merasa malu karena suaminya hanya
bekerja sebagai buruh kasar. Di hadapan teman-temannya dia berbohong: “Suamiku
sebenarnya manajer di perusahaan besar, tapi dia suka berpenampilan sederhana
agar tidak riya”, padahal jelas itu adalah bohong. Sikap ini muncul karena
dia merasa rendah diri dan ingin dihormati. Padahal kehormatan sejati ada pada
ketaatan, bukan pada jabatan atau harta hasil dusta.
Pujian
manusia adalah fatamorgana yang tidak akan menambah timbangan pahala di
Akhiroh. Seorang istri yang mencari ridho manusia dengan kemurkaan Alloh (lewat
dusta), maka Alloh akan murka kepadanya dan menjadikan manusia yang memujinya
itu kelak berbalik membencinya. Maka, hendaknya setiap lisan dijaga agar tetap
berada di atas rel kejujuran, karena kejujuran adalah ketenangan, sedangkan
kedustaan adalah kegelisahan.
Kebiasaan
berbohong demi pujian ini harus segera diputus. Jika seorang istri merasa ingin
dipuji, hendaknya dia melakukan amal sholih yang nyata dengan ikhlas, bukan
dengan lisan yang penuh kepalsuan. Kesenangan sesaat saat dipuji manusia tidak
sebanding dengan kehinaan yang akan didapatkan ketika kedustaan tersebut
terbongkar, baik di dunia maupun di hadapan seluruh makhluk pada hari
pembalasan nanti.
Bab 2 ini memberikan pelajaran bahwa motif utama di
balik dusta adalah penyakit hati. Keinginan dipuji adalah jebakan yang membuat
seseorang rela menjual kejujurannya. Hendaklah kita waspada terhadap setiap
bisikan yang mengajak untuk melebih-lebihkan cerita tentang kehidupan rumah
tangga, karena di dalam kejujuran terdapat barokah, dan di dalam kedustaan
terdapat laknat dan kesempitan hidup.
Bab 3: Ragam Kebohongan dalam Rumah
3.1
Berbohong Tentang Pemberian dan Perhatian
Fenomena
berbangga diri di hadapan sesama wanita seringkali menyeret seorang istri ke
dalam jurang kedustaan. Keinginan untuk nampak sebagai istri yang paling
dicintai dan dimuliakan oleh suami membuat lisan begitu ringan mengarang cerita
tentang pemberian yang sebenarnya tidak pernah ada. Hal ini merupakan bentuk
sikap mutasyabbi (berhias dengan sesuatu yang tidak dimiliki) yang
sangat dilarang dalam Syariat.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي
يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya
dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya
karena riya (ingin dipuji) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Alloh
dan hari Akhiroh.” (QS. Al-Baqoroh: 264)
Seorang
istri yang menceritakan pemberian suami secara dusta demi meraih pujian
termasuk dalam kategori riya yang membinasakan amal. Rosululloh ﷺ memberikan perumpamaan yang
sangat buruk bagi orang yang melakukan hal ini:
«الْمُتَشَبِّعُ
بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»
“Orang yang
berhias dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang
memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Al-Bukhori no. 5219 dan Muslim no. 2129)
Contoh yang
sering terjadi adalah ketika seorang istri berkumpul dengan teman-temannya lalu
berkata: “Lihatlah perhiasan ini, suamiku memberikannya sebagai hadiah ulang
tahun pernikahan kami tadi malam”, padahal perhiasan tersebut adalah milik
ibunya yang dipinjam, atau dia membelinya sendiri dengan uang tabungan tanpa
sepengetahuan suaminya. Tujuannya hanyalah agar teman-temannya memuji
keharmonisan dan kedermawanan suaminya, padahal itu semua adalah kepalsuan.
Asma’ binti
Abi Bakr rodhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa ada seorang wanita bertanya
kepada Nabi ﷺ:
إِنَّ لِي ضَرَّةً فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنْ أَتَشَبَّعَ
مِنْ مَالِ زَوْجِي بِمَا لَمْ يُعْطِنِي؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: «الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»
“Wahai
Rosululloh, sesungguhnya aku memiliki madu (istri lain dari suamiku), apakah
aku berdosa jika aku nampak kenyang (bermewah-mewah) dari pemberian suamiku
melebihi apa yang sebenarnya dia berikan kepadaku?” Maka Rosululloh ﷺ bersabda: “Orang yang berhias
dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian
kedustaan.” (HR. Muslim no. 2129)
Seorang
istri yang jujur akan merasa cukup dengan apa yang diberikan suaminya. Dia
tidak akan mencari-cari pengakuan manusia dengan cara memalsukan nikmat Alloh ﷻ.
3.2
Cerita Keharmonisan yang Fiktif
Penyakit
lisan berikutnya adalah menceritakan detail kemesraan rumah tangga yang
sebenarnya tidak terjadi. Hal ini biasanya dipicu oleh rasa iri melihat
kebahagiaan orang lain, sehingga seorang istri merasa perlu mengarang narasi
romantis agar tidak dianggap gagal dalam rumah tangga.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمِنَ
النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ
مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ﴾
“Dan di
antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu,
dan dipersaksikannya kepada Alloh (atas kebenaran) isi hatinya, padahal dia
adalah penantang yang paling keras.” (QS. Al-Baqoroh: 204)
Ucapan
menawan di atas kebohongan untuk menarik simpati masuk ancaman ini: aladdul
khishom.
Istri yang
sering mengarang cerita kemesraan fiktif pada hakikatnya sedang bersikap
munafik dalam skala kecil. Dia menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan
realita di rumahnya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ
بِوَجْهٍ»
“Sesungguhnya
manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi
sekelompok orang dengan satu wajah dan mendatangi yang lain dengan wajah yang
berbeda.” (HR. Al-Bukhori no. 7179 dan Muslim no. 2526)
Misalnya,
seorang istri berkata kepada sesama wanita: “Setiap malam suamiku tidak akan
bisa tidur kalau tidak memegang tanganku sambil membacakan ayat-ayat Al-Qur’an”,
padahal kenyataannya mereka sering tidur dalam keadaan saling memunggungi
karena konflik, atau suaminya langsung tidur karena kelelahan tanpa bicara.
Cerita fiktif ini dibuat semata-mata agar dia dipuji sebagai wanita yang sangat
disayangi dan dimuliakan suaminya.
Adz-Dzahabi
(748 H) dalam kitab Al-Kaba’ir menyebutkan bahwa kedustaan adalah dosa
besar, terutama jika dilakukan untuk menipu orang lain agar menganggap dirinya
memiliki kelebihan. Seorang istri yang gemar memalsukan kemesraan ini akan
terjebak dalam kegelisahan batin yang terus-menerus karena harus menjaga
konsistensi kebohongannya.
3.3
Berdusta dalam Masakan dan Khidmat
Keinginan
untuk dipuji sebagai istri yang mahir mengurus rumah tangga dan pandai memasak
seringkali menjadi pintu masuk kedustaan. Banyak istri yang merasa malu jika
diketahui tidak bisa memasak atau jarang berkhidmat kepada suami, sehingga
mereka mengarang cerita tentang kesibukan mereka di dapur demi mendapatkan
sanjungan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَلَا
تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾
“Maka
janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia paling mengetahui tentang orang yang
bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32)
Seorang
istri yang memuji-muji dirinya sendiri dengan kedustaan telah melakukan
pelanggaran ganda. Dia berdusta dan dia bersikap sombong (ujub). Rosululloh ﷺ bersabda:
«كُلُّ
أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ
الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ،
فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ
رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ»
“Setiap
umatku akan dimaafkan kecuali orang-orang yang menampakkan kemaksiatannya (mujahirin).
Dan termasuk bentuk menampakkan kemaksiatan adalah seseorang yang melakukan
suatu perbuatan di malam hari kemudian pada pagi harinya dia bercerita padahal
Alloh telah menutupinya: ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan begini dan
begitu.” (HR. Al-Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990)
Dalam
konteks ini, contohnya seorang tuan rumah mungkin membeli makanan di luar, lalu
menatanya di piring rumahnya dan berkata kepada tamu atau temannya: “Ini
adalah resep rahasia yang aku masak selama 5 jam untuk kalian”, padahal dia
hanya membelinya. Dia ingin mendapatkan gelar “istri idaman” melalui jalan
pintas kedustaan.
Istri yang
berkhidmat secara tulus tidak membutuhkan pengakuan dari lisan manusia.
Sebaliknya, istri yang haus pujian akan selalu mencari celah untuk menceritakan
khidmatnya secara berlebihan bahkan palsu.
3.4
Mengarang Ucapan Suami untuk Menyenangkan Orang Lain
Salah satu
contoh kedustaan yang sangat spesifik dan buruk adalah ketika seorang istri
mengarang-ngarang ucapan suaminya hanya untuk membuat orang lain merasa senang
atau agar suaminya dipuji sebagai orang yang baik. Ini adalah jenis bohong demi
“memuji” yang sangat dilarang.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَقُولُوا
قَوْلًا سَدِيدًا﴾
“Dan
berkatalah dengan perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
Seorang
istri berkata kepada wanita yang memberinya hadiah makanan: “Kata suamiku
tadi malam sebelum tidur di kamar bilang kalau kuah darimu enak sekali, dia
sampai minta dibuatkan lagi lain kali”, padahal kenyataannya suaminya
bahkan tidak tahu ada makanan itu karena sedang lembur di kantor dan baru
pulang saat istrinya sudah tidur, lalu berangkat pagi-pagi sekali. Istri ini
ingin memuji pemberi makanan dengan menggunakan nama suaminya secara dusta agar
hubungan sosialnya nampak indah dan suaminya nampak ramah, disamping ingin
diberi makanan lagi.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barangsiapa
yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah dia berkata yang
baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)
Berbohong
dengan mencatut nama orang lain, apalagi suami sendiri, adalah pengkhianatan
terhadap amanah lisan. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurodzi berkata:
«لَا
يَكْذِبُ الْكَاذِبُ حِينَ يَكْذِبُ إِلَّا مِنْ مَهَانَةِ نَفْسِهِ عَلَيْهِ»
“Tertulis
di dalam lembaran-lembaran: Tidaklah seorang pendusta itu berdusta melainkan
karena rendahnya harga dirinya di hadapan jiwanya sendiri.” (Adh-Dhuafa,
Al-Uqoili, 1/11)
Keinginan
untuk menyenangkan hati manusia tidak boleh dilakukan dengan cara memurkai
Alloh ﷻ
melalui kedustaan. Seorang istri harus sadar bahwa setiap kata yang ia kutip
dari suaminya haruslah sesuai dengan fakta. Mengarang pujian suami untuk orang
lain adalah bentuk penjilatan yang tercela.
3.5
Kebohongan dalam Nasab, Harta, dan Kemewahan
Tingkatan
kedustaan yang juga sering terjadi di kalangan wanita adalah memalsukan latar
belakang keluarga (nasab) atau kondisi ekonomi demi mendapatkan penghormatan di
lingkungan pergaulan. Hal ini sangat berbahaya karena menyangkut identitas dan
hak-hak Syar’i.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا
تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu
sembunyikan yang hak, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 42)
Istri yang
bercerita bahwa dia berasal dari keluarga bangsawan atau anak orang kaya yang
jatuh miskin demi mendapatkan simpati dan pujian atas “kesabarannya”,
padahal kenyataannya dia berasal dari keluarga biasa, telah melakukan kedustaan
yang besar. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنِ
ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ»
“Barangsiapa
yang mengaku memiliki nasab kepada selain ayahnya padahal dia mengetahuinya,
maka Jannah harom baginya.” (HR. Al-Bukhori no. 6766 dan Muslim no. 63)
Dalam hal
harta, seringkali istri berkata: “Mobil yang di depan rumah itu punya kami,
baru beli tunai kemarin”, padahal itu mobil kantor suaminya atau mobil
sewaan. Dia ingin dipuji sebagai orang sukses dan kaya raya. Sikap ini adalah
bentuk ketidakmampuan mensyukuri nikmat Alloh ﷻ yang ada.
Orang yang
menampakkan diri dengan kebaikan (kemewahan/kelebihan) padahal batinnya penuh
dengan keburukan (kedustaan), maka dia adalah orang munafik.
Al-Mawardi
(450 H) berkata:
وَالْكَذِبُ جِمَاعُ كُلِّ شَرٍّ
“Kedustaan
adalah pengumpul segala keburukan.” (Adabut Dun-ya wad Din, 1/261)
Sikap pamer
yang dibumbui bohong adalah racun bagi hati. Istri yang melakukan hal ini akan
selalu merasa kurang dan tidak akan pernah merasakan nikmatnya qona’ah (merasa
cukup). Dia diperbudak oleh pandangan manusia dan rela membohongi dunia demi
sanjungan yang tidak bertahan lama.
Abu Bakr
Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu (13 H) berkata:
«إِيَّاكُمْ
وَالْكَذِبَ؛ فَإِنَّ الْكَذِبَ مُجَانِبُ الْإِيمَانِ»
“Waspadalah
kalian terhadap kedustaan, karena sesungguhnya kedustaan itu menjauhkan dari
keimanan.” (HR. Hannad As-Sirri dalam Az-Zuhd, no. 4, shohih)
Seorang
istri Muslimah yang sejati adalah dia yang menghiasi dirinya dengan kejujuran (shidq).
Dia tidak akan menceritakan pemberian suami yang tidak ada, tidak akan
mengarang kemesraan palsu, tidak akan berdusta tentang masakannya, tidak akan
mencatut ucapan suami secara zolim, dan tidak akan memalsukan status sosialnya.
Kehormatan seorang istri terletak pada ketaqwaannya kepada Robb, bukan pada
tumpukan cerita bohong yang dirangkai demi memburu pujian sesama wanita.
Tirmidzi
(279 H) meriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bahwa beliau
berkata:
«مَا
كَانَ خُلُقٌ أَبْغَضَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ
الْكَذِبِ»
“Tidak ada
akhlak yang lebih dibenci oleh Rosululloh ﷺ daripada kedustaan.” (HR. At-Tirmidzi no. 1973. Dishohihkan
Al-Arnauth)
Bab 3 menekankan
setiap istri melakukan muhasabah terhadap setiap kata yang keluar dari lisannya
saat berkumpul dengan teman-temannya. Apakah cerita tentang suami dan rumah
tangga itu benar adanya, ataukah hanya bumbu-bumbu dusta demi terlihat
sempurna? Ingatlah bahwa Naar adalah tempat bagi para pendusta, dan lisan yang
jujur adalah jalan menuju Jannah yang penuh nikmat.
Maka, berhentilah
berbohong untuk dipuji, karena pujian makhluk hanyalah debu yang akan terbang
ditiup angin, sedangkan murka Robb adalah kepastian bagi lisan yang penuh
kepalsuan.
Bab 4: Dosa Bohong
4.1
Hakikat Memuji yang Terlarang
Pujian
adalah ucapan yang menunjukkan kekaguman terhadap kebaikan atau kelebihan
seseorang. Namun, dalam Syariat, memuji memiliki batasan yang sangat ketat agar
tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Memuji yang terlarang adalah pujian yang
mengandung kedustaan, dilakukan secara berlebihan, atau dilakukan di hadapan
orang yang dipuji sehingga menimbulkan fitnah bagi agamanya. Terutama jika
pujian tersebut hanyalah basa-basi demi mendapatkan imbalan atau balasan pujian
serupa.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَلَمْ
تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَلَا
يُظْلَمُونَ فَتِيلًا﴾
“Tidakkah
kamu memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci? Sebenarnya
Alloh menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizholimi sedikit
pun.” (QS. An-Nisa: 49)
Yakni:
tidakkah engkau melihat -wahai Rosul- kepada orang-orang dari kalangan Yahudi
dan Nasroni yang memuji-muji diri mereka sendiri dan mensucikannya? Padahal
urusan pensucian itu kembali kepada Alloh semata. Dialah yang mensucikan siapa
yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya yang beriman. Dan mereka tidak akan
dikurangi pahalanya sedikit pun meskipun seukuran tali yang ada pada belahan
biji kurma.
Apabila
memuji diri sendiri dengan kebenaran saja dilarang karena khawatir munculnya
sifat ujub, maka memuji orang lain dengan kedustaan jauh lebih harom.
Seringkali seorang istri terjebak dalam hal ini. Misal, seorang istri berkata
kepada temannya: “Masakanmu ini adalah masakan paling lezat yang pernah aku
makan seumur hidupku, koki profesional pun kalah”, padahal di dalam hatinya
dia merasa masakan itu sangat asin dan tidak layak dimakan. Dia berdusta dalam
memuji agar dia dianggap sebagai teman yang sangat baik dan agar kelak saat dia
memasak, dia mendapatkan pujian yang sama dahsyatnya.
Rosululloh ﷺ memerintahkan untuk menjauhi
para pemuji yang berlebihan:
«إِذَا
رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ»
“Jika
kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka taburkanlah debu ke
wajah-wajah mereka.” (HR. Muslim no. 3002)
Al-Khoththobi
(388 H) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pemuji di sini adalah
mereka yang menjadikan aktivitas memuji manusia sebagai kebiasaan untuk mencari
keuntungan dan pemberian, serta mereka yang memuji dengan cara yang batil atau
melebih-lebihkan fakta.
4.2
Bahaya Memuji Seseorang di Depan Mukanya dengan Berlebihan
Memuji
seseorang langsung di hadapannya merupakan perbuatan yang dapat merusak hati
orang yang dipuji. Pujian yang dibumbui kedustaan akan membuat orang tersebut
merasa telah mencapai kedudukan tinggi, padahal kenyataannya tidak demikian.
Hal ini sangat sering terjadi dalam interaksi sosial para istri, di mana mereka
saling melempar pujian palsu demi menjaga kerukunan semu.
Pujian
palsu seringkali diucapkan istri kepada saudaranya atau tetangganya. Contohnya,
seorang istri memuji anak tetangganya: “Anakmu ini sangat cerdas, wajahnya
memancarkan cahaya kesholihan, pasti dia anak yang sangat berbakti”,
padahal dia tahu anak itu sering membangkang dan malas belajar. Dia memuji
demikian hanya agar ibunya merasa senang dan balik memuji anak-anaknya. Ini
adalah kedustaan yang membahayakan karena membuat orang tua tersebut merasa
sudah sukses mendidik anak sehingga lalai dari memperbaiki kesalahan anaknya.
Rosululloh ﷺ pernah menegur seseorang yang
memuji saudaranya secara berlebihan:
«وَيْلَكَ
قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ» مِرَارًا، ثُمَّ قَالَ: «مَنْ
كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لاَ مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلاَنًا، وَاللَّهُ
حَسِيبُهُ، وَلاَ أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ
يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ»
“Celaka
kamu, kamu telah memotong leher saudaramu, kamu telah memotong leher saudaramu”
-beliau mengucapkannya berkali-kali-. Kemudian beliau bersabda: “Jika salah seorang
dari kalian harus memuji saudaranya, maka hendaklah dia berkata: ‘Aku mengira
si fulan demikian, dan Alloh-lah yang lebih tahu, dan aku tidak mensucikan
seorang pun di hadapan Alloh,’ aku mengira dia -jika dia mengetahui hal itu-
begini dan begitu.” (HR. Al-Bukhori no. 2662 dan Muslim no. 3000)
4.3
Menjerumuskan Orang yang Dipuji ke dalam Jerat Ujub dan Kesombongan
Pujian yang
dusta bukan hanya dosa bagi pengucapnya, tetapi juga menjadi racun bagi
penerimanya. Ketika seorang istri sering menerima pujian palsu tentang
kecantikannya, ketaatannya, atau kehebatan rumah tangganya, dia akan mulai
merasa ujub (bangga diri). Sifat ujub ini akan menutup pintu taubat dan
menghalangi seseorang dari introspeksi diri.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا
تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ
طُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu
sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi
gunung.” (QS. Al-Isro’: 37)
Seorang
istri yang dipuji oleh kawannya: “Kamu adalah istri paling sabar yang pernah
aku kenal, suamimu yang kasar itu pasti luluh karena kelembutanmu”, padahal
kenyataannya istri tersebut juga sering membalas dengan teriakan dan tidak
sabar. Karena pujian dusta itu, sang istri merasa dirinya sudah sangat sholihah
dan menganggap suaminya sebagai satu-satunya pihak yang bersalah. Pujian dusta
telah mematikan kepekaan hatinya untuk memperbaiki diri.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَوْ
لَمْ تَكُونُوا تُذْنِبُونَ لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ: الْعُجْبَ»
“Jika
kalian tidak berdosa, niscaya aku lebih takut kalian tertimpa sesuatu yang
lebih besar dari itu, yaitu ujub.” (HR. Al-Bazzar no. 3633, dihasankan oleh
Al-Albani)
Al-Ghozali
(505 H) menyebutkan bahwa pujian mengandung 6 bahaya: 4 bagi pemuji dan 2 bagi
yang dipuji. Bagi yang dipuji, bahayanya adalah menimbulkan kesombongan dan
ujub, serta membuatnya merasa puas dengan dirinya sendiri sehingga malas
beramal.
Muthorrif
bin Abdillah (95 H) berkata:
«وَلَأَنْ
أَبِيتَ نَائِمًا وَأُصْبِحُ نَادِمًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَبِيتَ قَائِمًا
وَأُصْبِحُ مُعْجَبًا»
“Sungguh
aku bermalam dalam keadaan tidur lalu bangun dalam keadaan menyesal lebih aku
sukai daripada aku bermalam dalam keadaan bangun (Sholat malam) lalu bangun
dalam keadaan ujub.” (HR. Ahmad no. 1537, dalam Az-Zuhd)
4.4
Sanksi bagi Orang yang Menjadi Penjilat demi Meraih Keuntungan Duniawi
Orang yang
gemar memuji dengan kedustaan demi mendapatkan keuntungan duniawi disebut
sebagai penjilat. Dalam Islam, penjilat memiliki kedudukan yang sangat rendah
karena mereka mengorbankan kejujuran demi sesuap nasi atau demi kedudukan di
mata manusia. Fenomena ini juga merambah pada hubungan antar istri, di mana
seorang istri memuji-muji istri atasan suaminya dengan berbagai kedustaan agar
suaminya mendapatkan promosi atau kemudahan.
Penjilat
adalah orang yang bermuka dua. Rosululloh ﷺ bersabda:
«تَجِدُونَ
شَرَّ النَّاسِ ذَا الوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ، وَيَأْتِي هَؤُلاَءِ
بِوَجْهٍ»
“Engkau
akan dapati manusia yang paling buruk di sisi Alloh (pada hari Qiyamah) adalah
orang yang bermuka dua, yang mendatangi sekelompok orang dengan satu wajah dan
mendatangi yang lain dengan wajah yang berbeda.” (HR. Al-Bukhori no. 3494
dan Muslim no. 2526)
Contoh
penjilatan di kalangan istri: Seorang istri berkata kepada temannya yang kaya: “Pakaianmu
ini sangat indah, selera fashionmu sangat tinggi, kamu nampak seperti ratu”,
padahal dia tahu pakaian itu sangat buruk dan tidak cocok. Dia memuji demikian
dengan harapan temannya itu akan memberikan pakaian bekas yang bermerek
kepadanya atau mengajaknya makan di tempat mewah. Ini adalah bentuk kerendahan
jiwa.
Imam Asy-Syafi’i
(204 H) berkata:
مَنْ صَدَقَ فِي أُخُوَّةِ أَخِيهِ قَبِلَ عِلَلَهُ، وَسَدَّ
خَلَلَهُ، وَعَفَا عَنْ زَلَلِهِ
“Barangsiapa
yang jujur dalam persaudaraan dengan saudaranya, maka dia akan menerima
kekurangannya, menutupi aibnya, dan memaafkan kesalahannya.” (HR.
Al-Baihaqi, 2/194, Manaqibus Syafii)
Beliau
tidak menyebutkan bahwa persaudaraan dibangun dengan pujian palsu. Justru
pujian palsu adalah bentuk pengkhianatan terhadap persaudaraan tersebut.
Yahya bin
Mu’adz (258 H) berkata:
«لِيَكُنْ
حَظُّ المُؤْمِنِ مِنْكَ ثَلَاثَ خِصَالٍ لِتَكُونَ مِنَ المُحْسِنِينَ: إِحْدَاهَا:
إِنْ لَمْ تَنْفَعْهُ فَلَا تَضُرَّهُ، وَالثَّانِيَةُ: إِنْ لَمْ تُسِرَّهُ فَلَا
تُغَمَّهُ، وَالثَّالِثَةَ: إِنْ لَمْ تَمْدَحْهُ فَلَا تَذُمَّهُ»
“Hendaklah
bagian seorang Mu’min darimu ada 3 hal agar kamu terbaik orang baik: jika
engkau tidak bisa memberinya manfaat maka jangan memberinya mudhorot, jika
engkau tidak bisa membahagiakannya maka jangan membuatnya sedih, dan jika
engkau tidak memujinya maka jangan mencelanya.” (Hilyatul Auliya, 3/41)
Dalam
ungkapan tersebut, beliau menekankan jika tidak memuji dengan kebenaran, lebih
baik diam daripada memuji dengan kedustaan atau mencela.
Seorang
istri yang menjadi penjilat akan kehilangan harga diri di hadapan Alloh ﷻ dan
manusia. Orang yang dipuji dengan palsu, jika dia orang yang berakal, suatu
saat akan menyadari bahwa dia sedang dibohongi dan akan berbalik membenci sang
penjilat tersebut.
Umar bin
Al-Khoththob (23 H) berkata:
المدح هو الذبح
“Pujian itu
adalah penyembelihan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 26254)
Maksudnya adalah pujian dapat mematikan hati seseorang
sebagaimana sembelihan mematikan hewan.
Bab 4 ini memperingatkan kita semua agar menjaga
lisan dari memuji orang lain secara dusta. Janganlah kita menjadi sebab
hancurnya hati saudara kita karena ujub, dan janganlah kita rendahkan diri kita
menjadi penjilat hanya demi kesenangan dunia yang sesaat. Kejujuran dalam
menilai jauh lebih mulia daripada tumpukan pujian palsu yang hanya membawa
murka Robb.
Bab 5: Dampak Buruk Gemar
Berbohong
5.1
Hilangnya Keberkahan dalam Ucapan dan Terhapusnya Kepercayaan Manusia
Kedustaan
yang dilakukan demi meraih pujian atau untuk memberikan pujian palsu akan
mencabut keberkahan dari kehidupan seseorang. Keberkahan adalah tetapnya
kebaikan Alloh ﷻ
pada sesuatu, dan tidak ada kebaikan dalam lisan yang terbiasa merangkai
kepalsuan. Dampak nyata yang dirasakan di dunia adalah hilangnya kepercayaan (tsiqoh)
dari manusia. Sekali saja kebohongan seorang istri terbongkar, maka ribuan
kejujuran yang ia sampaikan setelahnya akan senantiasa diragukan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ
اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ﴾
“Sesungguhnya
Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi
pendusta.” (QS. Ghofir: 28)
Seseorang
yang tidak mendapatkan petunjuk (hidayah taufiq) akan terus berputar dalam
lingkaran setan kedustaan. Terutama bagi seorang istri, ketika dia berbohong
kepada tetangganya dengan berkata: “Suamiku tadi malam memberikan uang
tambahan 5 juta karena dia sangat bangga dengan caraku mengelola dapur”,
padahal suaminya sedang mengeluh tentang borosnya belanja rumah tangga. Jika
tetangga tersebut secara tidak sengaja mengonfirmasi hal ini kepada suaminya,
maka jatuhlah wibawa istri tersebut dan dia tidak akan dipercaya lagi dalam
urusan apa pun.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«البَيِّعَانِ
بِالخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي
بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»
“Dua orang
yang berjual beli memiliki hak khiyar (memilih) selama belum berpisah. Jika
keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang), maka akan diberkahi pada jual
beli mereka. Namun jika keduanya menyembunyikan dan berdusta, maka akan dihapus
keberkahan jual beli mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2079 dan Muslim no. 1532)
Jika dalam
urusan dagang saja kedustaan menghapus keberkahan, maka dalam urusan rumah tangga
dan pergaulan sosial, kedustaan demi pujian akan menghapus ketenangan dan
keharmonisan. Keberkahan lisan akan hilang, sehingga ucapannya tidak lagi
mengandung wibawa dan tidak didengar oleh anak maupun suaminya.
5.2
Kegelisahan Hati Akibat Menyembunyikan Kebenaran
Kejujuran
mendatangkan ketenangan, sedangkan kedustaan mendatangkan kegelisahan.
Seseorang yang berbohong demi dipuji harus terus memutar otak untuk menutupi
kebohongannya agar tidak terbongkar. Hal ini menyebabkan dada terasa sempit dan
hati senantiasa diliputi ketakutan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فِي
قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ﴾
“Dalam hati
mereka ada penyakit, lalu ditambah Alloh penyakitnya; dan bagi mereka siksa
yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqoroh: 10)
Orang
munafik tersiksa karena penyakitnya, begitupula pendusta tersika karena takut
diketahui kedustaannya.
Istri yang
suka memamerkan perhatian suami secara palsu sebenarnya sedang menyiksa dirinya
sendiri. Dia harus berakting di depan orang lain seolah-olah hidupnya sangat
sempurna, sementara di dalam rumah dia merasakan kekosongan. Kegelisahan ini
adalah hukuman tunai di dunia.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«دَعْ
مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ
الكَذِبَ رِيبَةٌ»
“Tinggalkanlah
apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran
adalah ketenangan dan kedustaan adalah keraguan (kegelisahan).” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2518)
Hasan bin
Ali rodhiyallahu ‘anhuma (50 H) meriwayatkan hadits di atas sebagai
pedoman hidup. Bahwa siapa pun yang ingin hatinya tenang, maka dia harus jujur.
Seorang istri yang berkata jujur: “Suamiku sedang sibuk lembur dan belum
sempat mencicipi masakan ini”, akan merasa jauh lebih tenang daripada dia
mengarang cerita: “Suamiku tadi malam bilang kuah darimu enak sekali sebelum
tidur”, padahal dia takut kalau-kalau temannya itu nanti bertemu suaminya
dan menanyakan hal yang sama.
5.3
Ancaman Kerugian di Padang Mahsyar dan Kedudukan di dalam Naar
Dampak
paling mengerikan dari hobi berbohong demi pujian adalah ancaman adzab yang
pedih di Akhiroh. Para pendusta akan dibangkitkan dalam keadaan hina dan akan
mendapatkan tempat yang sangat buruk di dalam Naar.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَيَوْمَ
الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْمُتَكَبِّرِينَ﴾
“Dan pada
hari Qiyamah kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Alloh,
mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang
yang menyombongkan diri?.” (QS. Az-Zumar: 60)
Meskipun
ayat ini bicara tentang dusta atas nama Alloh, namun setiap kedustaan yang
dilakukan karena kesombongan (ingin dipuji) memiliki bagian dari ancaman
kegelapan wajah di Akhiroh. Rosululloh ﷺ menceritakan gambaran siksa bagi pendusta dalam mimpi beliau:
فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ، وَإِذَا
آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِي أَحَدَ شِقَّيْ
وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنَهُ
إِلَى قَفَاهُ، فَيَشُقُّ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الجَانِبِ الآخَرِ فَيَفْعَلُ بِهِ
مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ الأَوَّلِ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الجَانِبِ حَتَّى
يَصِحَّ ذَلِكَ الجَانِبُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا
فَعَلَ المَرَّةَ الأُولَى» قَالَ: «وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ،
يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنُهُ إِلَى
قَفَاهُ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ، فَيَكْذِبُ الكَذْبَةَ تَبْلُغُ
الآفَاقَ»
“Lalu kami
mendatangi seorang lelaki yang terlentang, dan ada lelaki lain yang berdiri
memegang pengait besi. Lelaki itu mendatangi salah satu sisi wajahnya lalu merobek
mulutnya hingga ke tengkuk, lubang hidungnya hingga ke tengkuk, dan matanya
hingga ke tengkuk. Kemudian dia berpindah ke sisi satunya dan melakukan hal
yang sama. Belum selesai dia merobek sisi tersebut, sisi yang pertama sudah
kembali utuh seperti semula, lalu dia mengulanginya lagi... Malaikat berkata:
Itu adalah lelaki yang keluar dari rumahnya lalu dia berbohong dengan satu
kebohongan yang tersebar hingga mencapai ufuk (pelosok dunia).” (HR.
Al-Bukhori no. 7047)
Hadits ini
sangat relevan dengan zaman sekarang di mana seorang istri bisa berbohong di
media sosial demi dipuji, dan kebohongannya itu tersebar luas ditonton ribuan
orang. Siksaannya adalah robekan wajah yang terus menerus di alam barzakh.
5.4
Kekhawatiran Doa yang Tertolak
Salah satu kekhawatiran
terbesar bagi seorang Muslimah adalah ketika doanya tidak lagi didengar oleh
Robb karena lisannya sering digunakan untuk bermaksiat melalui kedustaan. Lisan
yang digunakan untuk memuji secara palsu atau berbohong demi dipuji adalah
lisan yang kotor.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِلَيْهِ
يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ﴾
“Kepada-Nyalah
naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang sholih dinaikkan-Nya.” (QS.
Fathir: 10)
Yakni: Kepada
Alloh semata naik ucapan yang baik berupa dzikir, tilawah, dan doa, serta amal
sholih yang dikerjakan dengan ikhlas untuk-Nya akan diangkat dan diterima
oleh-Nya.
Jika lisan
terbiasa dengan “al-kalimul khobits” (ucapan yang buruk/dusta), maka dikhawatirkan
doa-doanya tidak akan terangkat. Rosululloh ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh,
rambutnya kusut, penuh debu, lalu dia menengadahkan tangan ke langit sambil
berteriak “Ya Robb, Ya Robb”, namun:
«وَمَطْعَمُهُ
حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى
يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ»
“Sedangkan
makanannya harom, minumannya harom, pakaiannya harom, dan dia diberi makan dari
yang harom, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no.
1015)
Sebagian Ulama
menjelaskan bahwa termasuk dalam kategori “ghudziya bil harom” (diberi
makan/tumbuh dari yang harom) adalah lisan yang tumbuh dan terbiasa dengan
kata-kata harom seperti dusta. Istri yang sering berbohong demi gengsi di
hadapan wanita lain telah menodai kesucian lisannya. Saat dia tertimpa musibah
atau membutuhkan pertolongan Alloh, lisan tersebut terasa berat dan hambar
dalam berdoa, lalu dikhawatirkan terhalang dari ijabah.
Betapa
ruginya seorang istri yang demi pujian “masakan enak” atau “suami perhatian”
yang hanya bertahan beberapa detik di telinga manusia, namun harus menanggung
resiko doanya mungkin tertolak. Penyakit “suka dipuji” ini benar-benar merusak
tatanan ibadah seseorang secara menyeluruh.
Kehilangan
koneksi dengan Robb melalui doa adalah musibah di atas musibah. Seorang istri
harus sadar bahwa kejujurannya lebih berharga daripada seluruh emas di dunia,
karena dengan kejujuranlah dia memiliki akses untuk mengetuk pintu rahmat Alloh
ﷻ.
Sedangkan dengan kedustaan, dia telah menutup pintu tersebut dengan tangannya
sendiri.
Bab 5 ini memberikan peringatan keras bahwa berbohong
untuk dipuji bukan hanya urusan lisan, tapi urusan keselamatan dunia dan
Akhiroh. Kehilangan keberkahan, kegelisahan batin, ancaman siksa Naar yang
mengerikan, hingga tertolaknya doa adalah harga yang sangat mahal untuk
membayar sebuah pujian semu dari makhluk yang lemah.
Bab 6: Terapi Syar’i dari
Kebiasaan Berbohong
6.1
Menanamkan Muroqobatulloh
Obat paling
mujarab untuk menyembuhkan penyakit lisan berupa kedustaan demi pujian adalah
dengan menghadirkan rasa takut dan merasa diawasi oleh Alloh ﷻ
dalam setiap keadaan. Ketika seorang istri menyadari bahwa setiap desahan nafas
dan setiap kata yang keluar dari bibirnya tidak luput dari pengawasan Robb,
maka dia akan merasa malu untuk merangkai kepalsuan hanya demi mendapatkan
decak kagum dari sesama makhluk. Muroqobatulloh adalah pondasi utama dalam
memperbaiki akhlak.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿مَا
يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tidak ada
suatu kata pun yang terucap melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas yang
selalu siap (mencatat).” (QS. Qof: 18)
Seorang
istri yang hendak berkata kepada rekannya: “Suamiku tadi malam memberikan
hadiah ini karena dia sangat mencintaiku”, padahal dia membelinya sendiri,
harus segera mengingat bahwa ada Malaikat yang sedang memegang pena untuk
mencatat kedustaan tersebut. Keinginan dipuji oleh teman hanyalah kesenangan
sesaat yang akan berakhir dengan catatan dosa di sisi Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ bersabda dalam hadits Jibril
yang masyhur mengenai tingkatan Ihsan:
«أَنْ
تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»
“Engkau
beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya,
sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 8)
Jika rasa
diawasi ini sudah tertanam, maka dorongan untuk mencari perhatian manusia akan
luntur. Seorang istri tidak akan lagi merasa perlu mengarang cerita tentang
kuah masakan yang dipuji suami padahal suami tidak tahu, karena dia tahu bahwa
Alloh ﷻ
tahu kebenarannya. Dia akan merasa cukup dengan penilaian Robb dan tidak peduli
lagi dengan sanjungan manusia yang seringkali justru menjerumuskan.
6.2
Melatih Lisan untuk Diam jika Tidak Mampu Berkata Benar
Langkah
praktis untuk mengobati kebiasaan berbohong adalah dengan melatih diam.
Seringkali kedustaan muncul karena keinginan untuk ikut serta dalam pembicaraan
yang sedang hangat atau karena takut dianggap tidak memiliki kelebihan. Dengan
membiasakan diam, seseorang memberi waktu bagi hatinya untuk menyaring mana
ucapan yang jujur dan mana yang merupakan bumbu syaithon.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isro’: 36)
Rosululloh ﷺ memberikan jaminan bagi orang
yang mampu menjaga lisan:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barangsiapa
yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah dia berkata yang
baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)
Dalam
sebuah majelis para istri, ketika yang lain mulai saling membanggakan pemberian
suami, seorang istri yang merasa tidak memiliki hal serupa hendaknya memilih
untuk diam atau mendoakan keberkahan bagi temannya, daripada harus mengarang
cerita palsu demi menjaga gengsi. Diam dalam kondisi tersebut adalah kemuliaan
dan bukti kekuatan iman.
Abu Bakr
Ash-Shiddiq (13 H) pernah meletakkan batu kecil di dalam mulutnya agar dia
tidak berbicara kecuali dalam hal yang sangat penting dan benar. Beliau berkata
sambil menunjuk lidahnya:
«هَذَا
الَّذِي أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ»
“Inilah
yang membawaku ke tempat-tempat yang membahayakan.” (HR. Ibnu Wahb, Al-Jami,
no. 307)
Al-Fudhail
bin ‘Iyadh (187 H) berkata:
مَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ قَلَّ كَلَامُهُ إِلَّا
فِيمَا يَعْنِيهِ
“Barangsiapa
yang menganggap ucapannya sebagai bagian dari amal perbuatannya, maka akan
sedikit bicaranya kecuali dalam hal yang bermanfaat baginya.” (Risalah
Qusyairiyyah, 1/250)
6.3
Menumbuhkan Sifat Qona’ah
Akar dari
perilaku memalsukan keadaan rumah tangga adalah hilangnya rasa syukur dan sifat
qona’ah. Seorang istri yang merasa kurang dengan apa yang diberikan suaminya
akan cenderung mencari pengakuan di luar dengan cara berbohong. Terapi yang
tepat adalah dengan melihat ke bawah dalam urusan dunia dan melihat ke atas
dalam urusan Akhiroh.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا
تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ﴾
“Dan
janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Alloh kepada sebagian
kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«انْظُرُوا
إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ
أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ»
“Lihatlah
kepada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat kepada orang
yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak
meremehkan nikmat Alloh atas kalian.” (HR. Muslim no. 2963)
Apabila
seorang istri merasa suaminya tidak sefashih atau sesering suami temannya dalam
memuji masakan, dia harus ingat bahwa di luar sana ada banyak istri yang
suaminya tidak memiliki makanan untuk dimakan atau suaminya sudah tiada. Dia
akan jujur apa adanya dan merasa cukup dengan ridho Alloh ﷻ.
6.4
Bertaubat dari Bohong
Bagi mereka
yang sudah terlanjur terbiasa berbohong untuk dipuji atau memuji secara palsu,
pintu taubat senantiasa terbuka lebar sebelum nyawa sampai di kerongkongan.
Taubat nasuha menuntut penyesalan yang mendalam, penghentian dosa saat itu
juga, dan tekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika kebohongan tersebut
merugikan nama baik orang lain atau berkaitan dengan hak manusia, maka ada
kewajiban tambahan untuk meminta maaf atau meluruskan informasi tersebut.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang
semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)
Seorang
istri yang pernah berbohong tentang ucapan suaminya kepada teman, jika dia
bertaubat, dia harus menyesali hal itu. Jika memungkinkan tanpa menimbulkan
fitnah yang lebih besar, dia hendaknya menjelaskan kepada temannya: “Maaf,
kemarin aku salah bicara, suamiku sebenarnya tidak tahu tentang masakan itu
karena dia sedang lembur, aku hanya ingin menyenangkan hatimu namun caraku
salah”. Jika hal itu bisa memicu pertengkaran, maka cukup baginya bertaubat
kepada Alloh ﷻ
dan memuji temannya dengan kejujuran di kesempatan lain.
Rosululloh ﷺ bersabda tentang syarat
diterimanya taubat:
«النَّدَمُ
تَوْبَةٌ»
“Menyesal
itu adalah taubat.” (HSR. Ibnu Majah no. 4252)
An-Nawawi
(676 H) menjelaskan syarat taubat:
قَالَ العلماءُ: التَّوْبَةُ وَاجبَةٌ مِنْ كُلِّ ذَنْب،
فإنْ كَانتِ المَعْصِيَةُ بَيْنَ العَبْدِ وبَيْنَ اللهِ تَعَالَى لاَ تَتَعلَّقُ بحقّ
آدَمِيٍّ، فَلَهَا ثَلاثَةُ شُرُوط:
أحَدُها: أنْ يُقلِعَ عَنِ المَعصِيَةِ.
والثَّانِي: أَنْ يَنْدَمَ عَلَى فِعْلِهَا.
والثَّالثُ: أنْ يَعْزِمَ أَنْ لا يعُودَ إِلَيْهَا أَبَدًا.
فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ الثَّلاثَةِ لَمْ تَصِحَّ تَوبَتُهُ.
“Taubat itu
wajib dari setiap dosa. Jika kemaksiatan itu antara hamba dengan Alloh Ta’ala
saja dan tidak berkaitan dengan hak manusia, maka syaratnya ada 3: Pertama,
berhenti dari kemaksiatan tersebut. Kedua, menyesal telah melakukannya. Ketiga,
bertekad untuk tidak mengulanginya selamanya. Jika salah satu dari
ketiganya tidak ada maka tidak sah.” (Riyadhus Sholihin, An-Nawawi, 1/33)
Jika
berkaitan dengan hak manusia, maka syarat keempat adalah meminta maaf atau
mengembalikan hak tersebut. Dalam kasus memuji orang lain secara dusta, jika
pujian itu menyebabkan orang tersebut menjadi sombong atau salah jalan, maka
sang pemuji harus berusaha meluruskan keadaan tersebut dengan cara yang bijak.
Seseorang
yang benar-benar bertaubat dari dosa lisan akan nampak dari kehati-hatiannya
dalam berucap setelah itu. Dia tidak akan lagi tergiur oleh manisnya pujian
manusia yang fana. Dia lebih memilih menjadi orang yang tidak dikenal di bumi
namun namanya harum di penduduk langit karena kejujurannya.
Bab 6 ini menutup pembahasan kita dengan sebuah
solusi nyata. Berhenti berbohong bukan hanya tentang mengubah kata-kata, tapi
tentang mengubah orientasi hati dari makhluk menuju Al-Kholiq. Dengan muroqobah,
latihan diam, sifat qona’ah, dan taubat nasuha, lisan yang tadinya kotor oleh
kepalsuan akan berubah menjadi lisan yang basah dengan dzikir dan kejujuran.
Kehormatan sejati seorang istri bukanlah pada apa yang dikatakan orang
tentangnya, melainkan pada apa yang Alloh ﷻ ketahui tentang
kesucian hatinya.
Penutup
Melalui
lembaran-lembaran yang telah lalu, kita telah membedah betapa lisan manusia
seringkali terjebak dalam kepalsuan hanya demi meraih sanjungan makhluk yang
bersifat sementara. Kedustaan bukan sekadar masalah ucapan, melainkan cerminan
dari hati yang sedang sakit dan haus akan pengakuan selain dari Robb-nya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَمَن
كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ
رَبِّهِ أَحَدًا﴾
“Maka
barangsiapa mengharap pertemuan dengan Robb-nya maka hendaklah dia mengerjakan
amal yang sholih dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah
kepada Robb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Tanpa
kejujuran, setiap pujian yang diterima hanyalah bangkai yang tidak bernyawa.
Seorang istri harus sadar bahwa pujian tetangga atau teman tidak akan mampu
menyelamatkannya dari siksa Naar jika lisannya kotor oleh kepalsuan. Alloh ﷻ
memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur.
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)
Semoga buku
ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian untuk memperbaiki akhlak dan
menjaga kesucian lisan.
Segala
kebenaran datangnya dari Alloh ﷻ, dan segala kesalahan berasal
dari diri hamba yang dho’if serta gangguan syaithon.
Akhirul
kalam, walhamdulillahi Robbil ‘alamin.[NK]
