Cari Ebook

[PDF] Gemar Berbohong Untuk Memuji dan Dipuji - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam, yang telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa berlaku jujur dan menjadikan kejujuran sebagai jalan menuju Jannah.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad , hamba Alloh yang paling jujur ucapannya, juga kepada para Shohabat, para Tabi’in (generasi setelah Shohabat), dan Salafush Sholih (pendahulu yang sholih) hingga hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Masalah lisan merupakan perkara yang sangat besar dalam Syariat Islam. Lisan adalah anggota tubuh yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam dosa jika tidak dijaga dengan ketaqwaan. Salah satu penyakit lisan yang paling merusak tatanan keimanan dan sosial adalah kedustaan, terutama yang lahir dari syahwat duniawi untuk mendapatkan pujian atau untuk memberikan pujian palsu demi kepentingan tertentu. Fenomena ini telah merambah ke dalam bilik-bilik rumah tangga, di mana seorang istri seringkali merasa perlu merangkai kata-kata fiktif agar nampak mulia di hadapan wanita lain.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Alloh dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Alloh akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Alloh dan Rosul-Nya, maka sungguh dia telah mendapat kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Yakni: wahai orang-orang yang membenarkan Alloh dan mengikuti Rosul-Nya, takutlah kalian kepada Alloh dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta ucapkanlah ucapan yang benar dan jujur. Jika kalian melakukan hal tersebut, Alloh akan memberikan taufiq bagi kalian untuk melakukan amal-amal yang sholih, mengampuni dosa-dosa kalian yang telah lalu, dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul-Nya dalam perintah dan larangan, maka dia telah meraih keberuntungan yang sangat besar.

Kejujuran adalah pondasi dari bangunan keimanan. Tanpa kejujuran, amalan seseorang hanyalah tumpukan kepalsuan yang tidak bernilai di sisi Alloh . Sebaliknya, kedustaan adalah ciri utama dari kemunafikan yang sangat dibenci. Orang yang gemar berbohong demi dipuji sesama makhluk pada hakikatnya sedang menghancurkan kedudukannya di sisi Robb-nya.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ﴾

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl: 105)

Rosululloh memberikan peringatan keras bahwa kedustaan adalah pintu menuju kejahatan yang berakhir di dalam Naar.

«إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا»

“Waspadalah kalian terhadap kedustaan, karena kedustaan itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan itu menuntun ke dalam Naar. Dan tidaklah seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk terus berdusta hingga ia dicatat di sisi Alloh sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

Fenomena berbohong untuk dipuji (riya dalam ucapan) seringkali muncul dari rasa rendah diri atau keinginan untuk nampak lebih unggul dari orang lain. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, seorang wanita yang merasa ingin dipuji sebagai ahli ibadah atau menyenangkan orang lain dengan kedustaan, kemudian berkata kepada temannya: “Kata suamiku tadi malam setelah kami Tahajjud bilang kalau kuah darimu enak sekali”, padahal suaminya sedang lembur di kantor dan tidak tahu apa-apa tentang makanan tersebut.

Ucapannya “Tahajjud” adalah dusta untuk dipuji, sementara ucapannya “kuah darimu enak sekali” adalah dusta dalam memuji orang lain agar diberi kuah lagi.

Tindakan semacam ini masuk dalam kategori berhias dengan sesuatu yang tidak ia miliki. Nabi bersabda:

«الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»

“Orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Al-Bukhori no. 5219 dan Muslim no. 2129)

An-Nawawi (676 H) menjelaskan dalam Syarh Muslim bahwa makna “dua pakaian kedustaan” adalah orang tersebut telah melakukan dua kedustaan sekaligus: ia berdusta atas dirinya sendiri dengan menampakkan apa yang tidak ada padanya, dan ia berdusta kepada orang lain yang tertipu oleh penampilannya.

Kedustaan tidak dibenarkan baik dalam keadaan serius maupun bercanda, tidak pula jika salah seorang dari kalian menjanjikan sesuatu kepada anaknya kemudian tidak menepatinya.

Kebiasaan memuji orang lain secara palsu (penjilatan) juga merupakan bahaya besar. Banyak orang merangkai kata-kata indah yang dusta hanya agar orang lain senang padanya dan kemudian membalas pujian tersebut. Ini adalah bentuk penyakit hati yang sangat kronis. Lisan yang seharusnya digunakan untuk memuji Alloh justru digunakan untuk memuji makhluk dengan kepalsuan.

Alloh berfirman:

﴿لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari adzab, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imron: 188)

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) berkata Ibnul Mubarok (181 H):

إِيَّاكَ وَالشُّهْرَةَ، فَمَا أَتَيْتُ أَحَدًا إِلاَّ وَقَدْ نَهَى عَنِ الشُّهرَةِ

“Waspadalah kalian terhadap popularitas, karena tidaklah aku mendatangi seorang pun (dari kalangan ulama) melainkan mereka melarang dari mencari popularitas.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 7/260)

Umar bin Al-Khoththob (23 H) berkata:

عَلَيْكَ الصِّدْقَ وَإِنْ قَتَلَكَ الصِّدْقُ

“Hendaklah kalian jujur meskipun kejujuran itu membunuhmu.” (At-Targhib, Al-Asfahani, 3/92, shohih)

Umar bin Abdul Aziz (101 H) berkata:

مَا كَذَبْتُ كَذْبَةً مُنْذُ عَلِمْتُ أَنَّ الكَذِبَ يَضُرُّ أَهْلَهُ

“Aku tidak pernah berdusta sekalipun semenjak aku mengetahui bahwa kedustaan itu membahayakan pelakunya.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 5/121)

Bahaya lisan tidak boleh diremehkan. Seorang pendusta mungkin mendapatkan sanjungan manusia selama beberapa menit di dunia, namun ia akan menanggung kehinaan yang sangat lama di hadapan Alloh . Setiap kata yang keluar dari mulut akan dimintai pertanggungjawabannya.

Alloh berfirman:

﴿مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾

“Tidak ada suatu kata pun yang terucap melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qof: 18)

Hukuman pertama bagi pendusta dari orang yang mempercayainya adalah apabila ia mengabarkan kebenaran, ia tetap tidak akan dipercayai.

Buku ini hadir sebagai pengingat (tadzkiroh) bagi setiap Muslim dan Muslimah agar tidak terjerumus dalam sifat-sifat kaum munafik. Memuji diri sendiri lewat dusta, atau memuji orang lain secara berlebihan demi keuntungan pribadi, adalah jalan kehancuran.

Risalah ini akan membongkar kerancuan berfikir orang-orang yang menganggap remeh kedustaan demi gengsi sosial atau mencari harta manusia. Di dalamnya akan dibahas tuntas mengenai hakikat dusta, motif-motif pencarian pujian melalui lisan, serta contoh-contoh nyata kedustaan yang sering terjadi di tengah masyarakat, khususnya para wanita. Buku ini juga akan memberikan solusi syar’i tentang bagaimana membersihkan lisan dari noda-noda kepalsuan agar kembali menjadi lisan yang shodiq (jujur) dan membawa keberkahan.

 

Bab 1: Hakikat Bohong

1.1 Definisi Dusta secara Bahasa dan Istilah Syar’i

Kedustaan merupakan penyakit lisan yang sangat berbahaya dan menjadi induk dari berbagai keburukan lainnya. Secara bahasa, para ulama menjelaskan bahwa dusta adalah mengabarkan sesuatu yang menyelisihi kenyataan, baik dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja. Sehingga lafazh kadzib terkadang digunakan Salaf untuk perbuatan yang dikerjakan yang salah tanpa disengaja, seperti ucapan Rosululloh : “Abu Sanabil kadzib” yakni keliru dalam ucapannya itu.

Dalam istilah Syar’i, dusta adalah memberikan informasi yang tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya dengan maksud menipu atau menciptakan kesan yang salah di mata manusia.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ﴾

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl: 105)

Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya yang membuat-buat kedustaan itu hanyalah orang-orang yang tidak membenarkan hujah-hujah Alloh dan tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan mereka itulah orang-orang yang sudah mendarah daging dalam kedustaan.

Rosululloh bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ»

“Waspadalah kalian terhadap kedustaan, karena kedustaan itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan itu menuntun ke dalam Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 6094 dan Muslim no. 2607)

Dalam konteks mencari pujian, kedustaan menjadi lebih buruk karena melibatkan sifat riya (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar) yang merupakan bagian dari syirik ashghor (syirik kecil).

1.2 Jujur Sebagai Iman Sementara Dusta Sebagai Kemunafikan

Keimanan seseorang sangat berkaitan erat dengan kejujurannya. Seorang Mu’min tidak mungkin menjadi pendusta yang mendarah daging, karena iman menuntut ketundukan pada kebenaran. Sebaliknya, dusta adalah salah satu tanda utama dari sifat munafik yang sangat dibenci dalam Islam.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)

Nabi menjelaskan ciri-ciri orang munafik dalam sabdanya:

«آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ»

“Tanda orang munafik itu ada 3: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia menyelisihi, dan jika dipercaya dia berkhianat.” (HR. Al-Bukhori no. 33 dan Muslim no. 59)

Al-Hasan Al-Bashri (110 H) berkata:

«أَصْلُ النِّفَاقِ الَّذِي بُنِيَ عَلَيْهِ الْكَذِبُ»

“Pokok kemunafikan yang bangunan di atasnya berdiri adalah kedustaan.” (Sifatun Nifaq, Abu Nu’aim, 1/150)

Seseorang yang sengaja berbohong agar dipuji oleh manusia telah menukar keridhoan Robb dengan pujian makhluk yang semu. Hal ini menunjukkan lemahnya iman dan dominasi nafsu dalam diri seseorang. Terutama bagi seorang istri yang seringkali terjebak dalam keinginan untuk nampak lebih unggul di hadapan wanita lain dengan menceritakan hal-hal yang tidak ada pada dirinya atau suaminya.

1.3 Tingkatan-Tingkatan Dusta dari yang Ringan hingga yang Membinasakan

Dusta memiliki tingkatan yang berbeda-beda tergantung pada dampak dan niat pelakunya. Kedustaan yang paling besar adalah berdusta atas nama Alloh dan Rosul-Nya . Di bawahnya terdapat kedustaan yang bertujuan untuk merugikan orang lain atau untuk mendapatkan pujian atas sesuatu yang tidak pernah dilakukan.

Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ﴾

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara bohong ‘Ini halal dan ini harom’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh tiada beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)

Rosululloh memberikan ancaman keras bagi orang yang berdusta atas nama beliau:

«مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di dalam Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 1291 dan Muslim no. 4)

Adapun kedustaan dalam interaksi sosial (mu’amalah) demi meraih pujian termasuk dalam kategori yang sangat tercela. Contohnya adalah seorang istri yang berkata kepada temannya: “Suamiku selalu memberiku perhiasan emas setiap bulan”, padahal suaminya sedang dalam kesulitan ekonomi. Tujuannya hanyalah agar dia dipuji sebagai istri yang disayang atau agar suaminya dipuji sebagai lelaki dermawan. Ini adalah kedustaan yang membinasakan wibawa dan keberkahan rumah tangga.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan:

إِيَّاكَ وَالكَذِبَ؛ فَإِنَّهُ يُفْسِدُ عَلَيْكَ تَصَوُّرَ المَعْلُومَاتِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ، وَيُفْسِدُ عَلَيْكَ تَصْوِيرَهَا وَتَعْلِيمَهَا لِلنَّاسِ!

“Waspadalah kalian terhadap kedustaan, karena sesungguhnya ia merusak gambaran informasi pada dirimu sebagaimana mestinya, dan merusak gambaranmu serta pengajaranmu kepada manusia.” (Al-Fawaid, Ibnu Qoyyim, 1/202)

1.4 Larangan Bersikap Mutasyabbi

Sikap mutasyabbi adalah perilaku seseorang yang menampakkan diri seolah-olah memiliki kelebihan, harta, atau kedudukan tertentu padahal kenyataannya tidak demikian. Hal ini sangat sering terjadi dalam kasus berbohong demi dipuji. Seorang istri mungkin bercerita kepada tetangganya bahwa dia baru saja dibelikan pakaian mewah oleh suaminya, padahal pakaian itu adalah pinjaman atau barang lama yang diakui baru.

Rosululloh bersabda:

«الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»

“Orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Al-Bukhori no. 5219 dan Muslim no. 2129)

An-Nawawi (676 H) menjelaskan maksud dari “dua pakaian kedustaan” adalah orang tersebut telah melakukan dua kedustaan sekaligus: berdusta atas dirinya sendiri dengan menampakkan apa yang tidak ada, dan berdusta kepada orang lain yang melihatnya.

Contoh nyata dalam kehidupan rumah tangga adalah ketika seorang istri yang mendapatkan kiriman makanan dari tetangga, lalu dia berkata kepada wanita lain: “Lihatlah, suamiku tadi malam sengaja membelikan kuah ini karena dia tahu aku sangat menyukainya, dia memang sangat perhatian padahal dia sedang sibuk di kantor”. Padahal suaminya bahkan tidak tahu ada makanan tersebut di rumah. Ucapan ini mengandung dua keburukan: kedustaan murni dan sikap mutasyabbi untuk mendapatkan pujian sebagai istri yang dimanja.

Kebiasaan memuji diri sendiri dengan cara berbohong atau memuji orang lain secara palsu demi mendapatkan imbalan balik berupa pujian adalah akhlak yang rendah. Seorang Muslim harus merasa cukup dengan apa yang Alloh berikan dan tidak perlu menciptakan citra palsu di hadapan makhluk. Lisan yang terbiasa berbohong untuk hal-hal kecil akan mudah tergelincir pada kedustaan yang besar.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh (187 H) menegaskan:

ما من مضغة أحب إلى الله من لسان صدوق وما من مضغة أبغض إلى الله من لسان كذوب

“Tidak ada segumpal daging yang lebih dicintai oleh Alloh daripada lisan yang jujur, dan tidak ada segumpal daging yang lebih dibenci oleh Alloh daripada lisan yang gemar berdusta.” (Roudhotul Uqola, Abu Hatim, hal. 52)

Bab 1 ini menekankan bahwa dusta bukan sekadar masalah ucapan, melainkan masalah hati yang sakit. Keinginan dipuji adalah racun yang mendorong lisan untuk merangkai kata-kata palsu. Sebagai istri, menjaga lisan dari menceritakan khayalan tentang kebaikan suami atau kelebihan rumah tangga di hadapan wanita lain adalah bentuk penjagaan terhadap kehormatan diri dan ketaatan kepada Robb. Setiap kata yang keluar akan dicatat oleh Malaikat dan akan dimintai pertanggungjawaban pada hari Qiyamah kelak.

 

Bab 2: Motif Berbohong

2.1 Mengharap Kedudukan di Hati Manusia

Akar dari keinginan dipuji melalui jalan kedustaan adalah penyakit riya yang bersarang di dalam jiwa. Seseorang yang terjangkit penyakit ini tidak lagi merasa cukup dengan penilaian Alloh , melainkan hatinya senantiasa condong untuk mendapatkan perhatian dan sanjungan dari sesama manusia. Riya dalam ucapan terjadi ketika seseorang memperindah perkataannya atau mengarang cerita palsu agar dipandang sebagai orang yang mulia, dermawan, atau memiliki kelebihan tertentu.

Alloh berfirman:

﴿فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ * الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ * الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ﴾

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang Sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)

Apabila riya dalam ibadah saja diancam dengan kecelakaan, maka bagaimana dengan riya yang dibangun di atas pondasi kedustaan? Seseorang yang berbohong demi dipuji telah menggabungkan dua dosa besar sekaligus: berdusta dan syirik kecil dalam bentuk riya.

Rosululloh bersabda:

«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ» قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ»

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para Shohabat bertanya: “Apa itu syirik kecil wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Riya.” (HHR. Ahmad no. 23630)

Al-Ghozali (505 H) menjelaskan dalam kitabnya:

وَأَصْلُ الرِّيَاءِ طَلَبُ المَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ

“Sesungguhnya pokok dari riya adalah mencari kedudukan di hati manusia.” (Tafsir Qurthubi, 20/212)

Keinginan mendapatkan kedudukan ini seringkali mendorong seorang istri untuk mengarang cerita palsu di hadapan teman-temannya. Misalnya, seorang istri yang berkata: “Tadi pagi aku bangun jam 2 malam untuk Sholat Tahajjud dan memasakkan makanan spesial untuk suamiku”, padahal kenyataannya dia bangun saat Sholat Shubuh hampir habis waktunya dan hanya menyajikan makanan sisa. Ucapan ini bertujuan agar dia mendapatkan kedudukan sebagai istri yang sholihah dan rajin di mata orang lain.

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) berkata mengenai bahaya beramal demi manusia:

تَرْكُ الْعَمَلِ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ: رِيَاءٌ. وَالْعَمَلُ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ: شِرْكٌ. وَالْإِخْلَاصُ: أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا

“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah jika Alloh menyelamatkanmu dari keduanya.” (Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim, 2/92)

2.2 Bahaya Keinginan Dipuji atas Perbuatan yang Tidak Dilakukan

Salah satu bentuk kedustaan yang paling buruk adalah ketika seseorang merasa senang dan bangga jika dipuji atas suatu kebaikan yang sebenarnya tidak pernah ia kerjakan. Sifat ini merupakan ciri khas orang-orang yang terputus dari hidayah Alloh .

Alloh berfirman:

﴿لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari adzab, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imron: 188)

Ayat ini merupakan peringatan keras bagi para istri yang sering mengklaim jasa atau kebaikan yang bukan miliknya. Sebagai contoh, seorang istri berkata kepada ibu-ibu di pengajian: “Alhamdulillah, berkat didikanku yang sangat disiplin setiap hari, anak-anakku sekarang sudah hafal 5 juz”, padahal sebenarnya anak-anaknya belajar les dengan bimbingan guru, sementara sang istri justru tidak setuju keputusan suami mendatangkan les tersebut. Dia ingin dipuji sebagai ibu yang sukses mendidik anak melalui kedustaan.

Rosululloh bersabda mengenai orang yang menampakkan sesuatu yang tidak ada pada dirinya:

«الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»

“Orang yang merasa kenyang (berhias diri) dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Al-Bukhori no. 5219 dan Muslim no. 2129)

Keinginan dipuji ini sering menjerumuskan pada sikap memalsukan keadaan. Contoh lain adalah seorang istri yang berkata kepada kawannya: “Suamiku tadi malam membisikkan kata-kata sangat manis sebelum dia berangkat lembur, katanya aku adalah bidadari tercantik di hidupnya”, padahal suaminya pergi dalam keadaan terburu-buru tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbohong demi mendapatkan pengakuan sebagai istri yang paling dicintai.

2.3 Memperindah Kebohongan Demi Harga Diri

Syaithon memiliki cara yang sangat halus dalam menjerumuskan manusia ke dalam jurang kedustaan. Ia membisikkan bahwa berbohong demi menjaga harga diri atau agar tidak diremehkan oleh orang lain adalah sebuah kecerdasan sosial atau strategi untuk tetap dihormati. Syaithon membungkus dosa kedustaan dengan nama-nama yang indah seperti “menjaga wibawa keluarga” atau “menjaga perasaan orang lain”, padahal agar ia dipuji.

Alloh berfirman:

﴿وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ﴾

“Dan ketika syaithon menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka.” (QS. Al-Anfal: 48)

Ketika seorang istri merasa kalah saing dengan wanita lain dalam hal materi atau perhatian suami, syaithon masuk dan membisikkan: “Katakan saja kalau kamu juga punya barang itu, atau katakan suamimu juga melakukan hal yang sama, agar kamu tidak nampak rendah di depan mereka”. Akhirnya lisan mulai merangkai dusta.

Rosululloh bersabda:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ»

“Sesungguhnya syaithon mendatangi salah seorang dari kalian pada setiap urusannya.” (HR. Muslim no. 2033)

Syaithon ingin menyeret manusia ke dalam Naar dengan cara membiasakan lisan mereka berkata dusta untuk hal-hal sepele yang dianggap remeh. Seorang istri yang terbiasa berbohong tentang ucapan suami demi dipuji tetangga, perlahan-lahan akan kehilangan sifat shidq (jujur) dalam jiwanya.

2.4 Perbedaan antara Menjaga Nama Baik dengan Berbohong untuk Mencari Muka

Islam memerintahkan pemeluknya untuk menjaga kehormatan (muru’ah) dan menutupi aib keluarga. Namun, ada batas yang jelas antara menutupi aib (sitrul ‘uyub) dengan menciptakan kebohongan untuk mencari muka (tashonnu’). Menjaga nama baik adalah dengan diam atau memberikan jawaban yang diplomatis tanpa berdusta, sedangkan mencari muka adalah secara aktif mengarang cerita yang tidak ada kenyataannya agar dipuji.

Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isro’: 36)

Seorang istri diperbolehkan diam jika ditanya tentang kekurangan suaminya demi menjaga kehormatan suami. Namun, harom hukumnya jika malah membalikkan fakta dengan pujian palsu. Misalnya, suami jarang memberi uang belanja, lalu istri bercerita: “Suamiku itu saking dermawannya, setiap minggu aku disuruh belanja apa saja yang aku mau tanpa batas”, ini bukan menjaga nama baik, melainkan kedustaan yang bertujuan untuk dipuji sebagai istri dari orang kaya.

Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

Berkata baik bukan berarti berkata dusta yang indah. Berkata baik adalah berkata jujur yang bermanfaat.

Contoh yang sangat relevan adalah ketika seorang istri merasa malu karena suaminya hanya bekerja sebagai buruh kasar. Di hadapan teman-temannya dia berbohong: “Suamiku sebenarnya manajer di perusahaan besar, tapi dia suka berpenampilan sederhana agar tidak riya”, padahal jelas itu adalah bohong. Sikap ini muncul karena dia merasa rendah diri dan ingin dihormati. Padahal kehormatan sejati ada pada ketaatan, bukan pada jabatan atau harta hasil dusta.

Pujian manusia adalah fatamorgana yang tidak akan menambah timbangan pahala di Akhiroh. Seorang istri yang mencari ridho manusia dengan kemurkaan Alloh (lewat dusta), maka Alloh akan murka kepadanya dan menjadikan manusia yang memujinya itu kelak berbalik membencinya. Maka, hendaknya setiap lisan dijaga agar tetap berada di atas rel kejujuran, karena kejujuran adalah ketenangan, sedangkan kedustaan adalah kegelisahan.

Kebiasaan berbohong demi pujian ini harus segera diputus. Jika seorang istri merasa ingin dipuji, hendaknya dia melakukan amal sholih yang nyata dengan ikhlas, bukan dengan lisan yang penuh kepalsuan. Kesenangan sesaat saat dipuji manusia tidak sebanding dengan kehinaan yang akan didapatkan ketika kedustaan tersebut terbongkar, baik di dunia maupun di hadapan seluruh makhluk pada hari pembalasan nanti.

Bab 2 ini memberikan pelajaran bahwa motif utama di balik dusta adalah penyakit hati. Keinginan dipuji adalah jebakan yang membuat seseorang rela menjual kejujurannya. Hendaklah kita waspada terhadap setiap bisikan yang mengajak untuk melebih-lebihkan cerita tentang kehidupan rumah tangga, karena di dalam kejujuran terdapat barokah, dan di dalam kedustaan terdapat laknat dan kesempitan hidup.

 

Bab 3: Ragam Kebohongan dalam Rumah

3.1 Berbohong Tentang Pemberian dan Perhatian

Fenomena berbangga diri di hadapan sesama wanita seringkali menyeret seorang istri ke dalam jurang kedustaan. Keinginan untuk nampak sebagai istri yang paling dicintai dan dimuliakan oleh suami membuat lisan begitu ringan mengarang cerita tentang pemberian yang sebenarnya tidak pernah ada. Hal ini merupakan bentuk sikap mutasyabbi (berhias dengan sesuatu yang tidak dimiliki) yang sangat dilarang dalam Syariat.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (ingin dipuji) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh.” (QS. Al-Baqoroh: 264)

Seorang istri yang menceritakan pemberian suami secara dusta demi meraih pujian termasuk dalam kategori riya yang membinasakan amal. Rosululloh memberikan perumpamaan yang sangat buruk bagi orang yang melakukan hal ini:

«الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»

“Orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Al-Bukhori no. 5219 dan Muslim no. 2129)

Contoh yang sering terjadi adalah ketika seorang istri berkumpul dengan teman-temannya lalu berkata: “Lihatlah perhiasan ini, suamiku memberikannya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami tadi malam”, padahal perhiasan tersebut adalah milik ibunya yang dipinjam, atau dia membelinya sendiri dengan uang tabungan tanpa sepengetahuan suaminya. Tujuannya hanyalah agar teman-temannya memuji keharmonisan dan kedermawanan suaminya, padahal itu semua adalah kepalsuan.

Asma’ binti Abi Bakr rodhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa ada seorang wanita bertanya kepada Nabi :

إِنَّ لِي ضَرَّةً فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنْ أَتَشَبَّعَ مِنْ مَالِ زَوْجِي بِمَا لَمْ يُعْطِنِي؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»

“Wahai Rosululloh, sesungguhnya aku memiliki madu (istri lain dari suamiku), apakah aku berdosa jika aku nampak kenyang (bermewah-mewah) dari pemberian suamiku melebihi apa yang sebenarnya dia berikan kepadaku?” Maka Rosululloh bersabda: “Orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Muslim no. 2129)

Seorang istri yang jujur akan merasa cukup dengan apa yang diberikan suaminya. Dia tidak akan mencari-cari pengakuan manusia dengan cara memalsukan nikmat Alloh .

3.2 Cerita Keharmonisan yang Fiktif

Penyakit lisan berikutnya adalah menceritakan detail kemesraan rumah tangga yang sebenarnya tidak terjadi. Hal ini biasanya dipicu oleh rasa iri melihat kebahagiaan orang lain, sehingga seorang istri merasa perlu mengarang narasi romantis agar tidak dianggap gagal dalam rumah tangga.

Alloh berfirman:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Alloh (atas kebenaran) isi hatinya, padahal dia adalah penantang yang paling keras.” (QS. Al-Baqoroh: 204)

Ucapan menawan di atas kebohongan untuk menarik simpati masuk ancaman ini: aladdul khishom.

Istri yang sering mengarang cerita kemesraan fiktif pada hakikatnya sedang bersikap munafik dalam skala kecil. Dia menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan realita di rumahnya. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ»

“Sesungguhnya manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi sekelompok orang dengan satu wajah dan mendatangi yang lain dengan wajah yang berbeda.” (HR. Al-Bukhori no. 7179 dan Muslim no. 2526)

Misalnya, seorang istri berkata kepada sesama wanita: “Setiap malam suamiku tidak akan bisa tidur kalau tidak memegang tanganku sambil membacakan ayat-ayat Al-Qur’an”, padahal kenyataannya mereka sering tidur dalam keadaan saling memunggungi karena konflik, atau suaminya langsung tidur karena kelelahan tanpa bicara. Cerita fiktif ini dibuat semata-mata agar dia dipuji sebagai wanita yang sangat disayangi dan dimuliakan suaminya.

Adz-Dzahabi (748 H) dalam kitab Al-Kaba’ir menyebutkan bahwa kedustaan adalah dosa besar, terutama jika dilakukan untuk menipu orang lain agar menganggap dirinya memiliki kelebihan. Seorang istri yang gemar memalsukan kemesraan ini akan terjebak dalam kegelisahan batin yang terus-menerus karena harus menjaga konsistensi kebohongannya.

3.3 Berdusta dalam Masakan dan Khidmat

Keinginan untuk dipuji sebagai istri yang mahir mengurus rumah tangga dan pandai memasak seringkali menjadi pintu masuk kedustaan. Banyak istri yang merasa malu jika diketahui tidak bisa memasak atau jarang berkhidmat kepada suami, sehingga mereka mengarang cerita tentang kesibukan mereka di dapur demi mendapatkan sanjungan.

Alloh berfirman:

﴿فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32)

Seorang istri yang memuji-muji dirinya sendiri dengan kedustaan telah melakukan pelanggaran ganda. Dia berdusta dan dia bersikap sombong (ujub). Rosululloh bersabda:

«كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ»

“Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang-orang yang menampakkan kemaksiatannya (mujahirin). Dan termasuk bentuk menampakkan kemaksiatan adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan di malam hari kemudian pada pagi harinya dia bercerita padahal Alloh telah menutupinya: ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan begini dan begitu.” (HR. Al-Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990)

Dalam konteks ini, contohnya seorang tuan rumah mungkin membeli makanan di luar, lalu menatanya di piring rumahnya dan berkata kepada tamu atau temannya: “Ini adalah resep rahasia yang aku masak selama 5 jam untuk kalian”, padahal dia hanya membelinya. Dia ingin mendapatkan gelar “istri idaman” melalui jalan pintas kedustaan.

Istri yang berkhidmat secara tulus tidak membutuhkan pengakuan dari lisan manusia. Sebaliknya, istri yang haus pujian akan selalu mencari celah untuk menceritakan khidmatnya secara berlebihan bahkan palsu.

3.4 Mengarang Ucapan Suami untuk Menyenangkan Orang Lain

Salah satu contoh kedustaan yang sangat spesifik dan buruk adalah ketika seorang istri mengarang-ngarang ucapan suaminya hanya untuk membuat orang lain merasa senang atau agar suaminya dipuji sebagai orang yang baik. Ini adalah jenis bohong demi “memuji” yang sangat dilarang.

Alloh berfirman:

﴿وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا﴾

“Dan berkatalah dengan perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Seorang istri berkata kepada wanita yang memberinya hadiah makanan: “Kata suamiku tadi malam sebelum tidur di kamar bilang kalau kuah darimu enak sekali, dia sampai minta dibuatkan lagi lain kali”, padahal kenyataannya suaminya bahkan tidak tahu ada makanan itu karena sedang lembur di kantor dan baru pulang saat istrinya sudah tidur, lalu berangkat pagi-pagi sekali. Istri ini ingin memuji pemberi makanan dengan menggunakan nama suaminya secara dusta agar hubungan sosialnya nampak indah dan suaminya nampak ramah, disamping ingin diberi makanan lagi.

Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

Berbohong dengan mencatut nama orang lain, apalagi suami sendiri, adalah pengkhianatan terhadap amanah lisan. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurodzi berkata:

«لَا يَكْذِبُ الْكَاذِبُ حِينَ يَكْذِبُ إِلَّا مِنْ مَهَانَةِ نَفْسِهِ عَلَيْهِ»

“Tertulis di dalam lembaran-lembaran: Tidaklah seorang pendusta itu berdusta melainkan karena rendahnya harga dirinya di hadapan jiwanya sendiri.” (Adh-Dhuafa, Al-Uqoili, 1/11)

Keinginan untuk menyenangkan hati manusia tidak boleh dilakukan dengan cara memurkai Alloh melalui kedustaan. Seorang istri harus sadar bahwa setiap kata yang ia kutip dari suaminya haruslah sesuai dengan fakta. Mengarang pujian suami untuk orang lain adalah bentuk penjilatan yang tercela.

3.5 Kebohongan dalam Nasab, Harta, dan Kemewahan

Tingkatan kedustaan yang juga sering terjadi di kalangan wanita adalah memalsukan latar belakang keluarga (nasab) atau kondisi ekonomi demi mendapatkan penghormatan di lingkungan pergaulan. Hal ini sangat berbahaya karena menyangkut identitas dan hak-hak Syar’i.

Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 42)

Istri yang bercerita bahwa dia berasal dari keluarga bangsawan atau anak orang kaya yang jatuh miskin demi mendapatkan simpati dan pujian atas “kesabarannya”, padahal kenyataannya dia berasal dari keluarga biasa, telah melakukan kedustaan yang besar. Rosululloh bersabda:

«مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ»

“Barangsiapa yang mengaku memiliki nasab kepada selain ayahnya padahal dia mengetahuinya, maka Jannah harom baginya.” (HR. Al-Bukhori no. 6766 dan Muslim no. 63)

Dalam hal harta, seringkali istri berkata: “Mobil yang di depan rumah itu punya kami, baru beli tunai kemarin”, padahal itu mobil kantor suaminya atau mobil sewaan. Dia ingin dipuji sebagai orang sukses dan kaya raya. Sikap ini adalah bentuk ketidakmampuan mensyukuri nikmat Alloh yang ada.

Orang yang menampakkan diri dengan kebaikan (kemewahan/kelebihan) padahal batinnya penuh dengan keburukan (kedustaan), maka dia adalah orang munafik.

Al-Mawardi (450 H) berkata:

وَالْكَذِبُ جِمَاعُ كُلِّ شَرٍّ

“Kedustaan adalah pengumpul segala keburukan.” (Adabut Dun-ya wad Din, 1/261)

Sikap pamer yang dibumbui bohong adalah racun bagi hati. Istri yang melakukan hal ini akan selalu merasa kurang dan tidak akan pernah merasakan nikmatnya qona’ah (merasa cukup). Dia diperbudak oleh pandangan manusia dan rela membohongi dunia demi sanjungan yang tidak bertahan lama.

Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu (13 H) berkata:

«إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ؛ فَإِنَّ الْكَذِبَ مُجَانِبُ الْإِيمَانِ»

“Waspadalah kalian terhadap kedustaan, karena sesungguhnya kedustaan itu menjauhkan dari keimanan.” (HR. Hannad As-Sirri dalam Az-Zuhd, no. 4, shohih)

Seorang istri Muslimah yang sejati adalah dia yang menghiasi dirinya dengan kejujuran (shidq). Dia tidak akan menceritakan pemberian suami yang tidak ada, tidak akan mengarang kemesraan palsu, tidak akan berdusta tentang masakannya, tidak akan mencatut ucapan suami secara zolim, dan tidak akan memalsukan status sosialnya. Kehormatan seorang istri terletak pada ketaqwaannya kepada Robb, bukan pada tumpukan cerita bohong yang dirangkai demi memburu pujian sesama wanita.

Tirmidzi (279 H) meriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bahwa beliau berkata:

«مَا كَانَ خُلُقٌ أَبْغَضَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْكَذِبِ»

“Tidak ada akhlak yang lebih dibenci oleh Rosululloh daripada kedustaan.” (HR. At-Tirmidzi no. 1973. Dishohihkan Al-Arnauth)

Bab 3 menekankan setiap istri melakukan muhasabah terhadap setiap kata yang keluar dari lisannya saat berkumpul dengan teman-temannya. Apakah cerita tentang suami dan rumah tangga itu benar adanya, ataukah hanya bumbu-bumbu dusta demi terlihat sempurna? Ingatlah bahwa Naar adalah tempat bagi para pendusta, dan lisan yang jujur adalah jalan menuju Jannah yang penuh nikmat.

Maka, berhentilah berbohong untuk dipuji, karena pujian makhluk hanyalah debu yang akan terbang ditiup angin, sedangkan murka Robb adalah kepastian bagi lisan yang penuh kepalsuan.

 

Bab 4: Dosa Bohong

4.1 Hakikat Memuji yang Terlarang

Pujian adalah ucapan yang menunjukkan kekaguman terhadap kebaikan atau kelebihan seseorang. Namun, dalam Syariat, memuji memiliki batasan yang sangat ketat agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Memuji yang terlarang adalah pujian yang mengandung kedustaan, dilakukan secara berlebihan, atau dilakukan di hadapan orang yang dipuji sehingga menimbulkan fitnah bagi agamanya. Terutama jika pujian tersebut hanyalah basa-basi demi mendapatkan imbalan atau balasan pujian serupa.

Alloh berfirman:

﴿أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا﴾

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci? Sebenarnya Alloh menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizholimi sedikit pun.” (QS. An-Nisa: 49)

Yakni: tidakkah engkau melihat -wahai Rosul- kepada orang-orang dari kalangan Yahudi dan Nasroni yang memuji-muji diri mereka sendiri dan mensucikannya? Padahal urusan pensucian itu kembali kepada Alloh semata. Dialah yang mensucikan siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya yang beriman. Dan mereka tidak akan dikurangi pahalanya sedikit pun meskipun seukuran tali yang ada pada belahan biji kurma.

Apabila memuji diri sendiri dengan kebenaran saja dilarang karena khawatir munculnya sifat ujub, maka memuji orang lain dengan kedustaan jauh lebih harom. Seringkali seorang istri terjebak dalam hal ini. Misal, seorang istri berkata kepada temannya: “Masakanmu ini adalah masakan paling lezat yang pernah aku makan seumur hidupku, koki profesional pun kalah”, padahal di dalam hatinya dia merasa masakan itu sangat asin dan tidak layak dimakan. Dia berdusta dalam memuji agar dia dianggap sebagai teman yang sangat baik dan agar kelak saat dia memasak, dia mendapatkan pujian yang sama dahsyatnya.

Rosululloh memerintahkan untuk menjauhi para pemuji yang berlebihan:

«إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ»

“Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka taburkanlah debu ke wajah-wajah mereka.” (HR. Muslim no. 3002)

Al-Khoththobi (388 H) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pemuji di sini adalah mereka yang menjadikan aktivitas memuji manusia sebagai kebiasaan untuk mencari keuntungan dan pemberian, serta mereka yang memuji dengan cara yang batil atau melebih-lebihkan fakta.

4.2 Bahaya Memuji Seseorang di Depan Mukanya dengan Berlebihan

Memuji seseorang langsung di hadapannya merupakan perbuatan yang dapat merusak hati orang yang dipuji. Pujian yang dibumbui kedustaan akan membuat orang tersebut merasa telah mencapai kedudukan tinggi, padahal kenyataannya tidak demikian. Hal ini sangat sering terjadi dalam interaksi sosial para istri, di mana mereka saling melempar pujian palsu demi menjaga kerukunan semu.

Pujian palsu seringkali diucapkan istri kepada saudaranya atau tetangganya. Contohnya, seorang istri memuji anak tetangganya: “Anakmu ini sangat cerdas, wajahnya memancarkan cahaya kesholihan, pasti dia anak yang sangat berbakti”, padahal dia tahu anak itu sering membangkang dan malas belajar. Dia memuji demikian hanya agar ibunya merasa senang dan balik memuji anak-anaknya. Ini adalah kedustaan yang membahayakan karena membuat orang tua tersebut merasa sudah sukses mendidik anak sehingga lalai dari memperbaiki kesalahan anaknya.

Rosululloh pernah menegur seseorang yang memuji saudaranya secara berlebihan:

«وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ» مِرَارًا، ثُمَّ قَالَ: «مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لاَ مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلاَنًا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلاَ أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ»

“Celaka kamu, kamu telah memotong leher saudaramu, kamu telah memotong leher saudaramu” -beliau mengucapkannya berkali-kali-. Kemudian beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian harus memuji saudaranya, maka hendaklah dia berkata: ‘Aku mengira si fulan demikian, dan Alloh-lah yang lebih tahu, dan aku tidak mensucikan seorang pun di hadapan Alloh,’ aku mengira dia -jika dia mengetahui hal itu- begini dan begitu.” (HR. Al-Bukhori no. 2662 dan Muslim no. 3000)

4.3 Menjerumuskan Orang yang Dipuji ke dalam Jerat Ujub dan Kesombongan

Pujian yang dusta bukan hanya dosa bagi pengucapnya, tetapi juga menjadi racun bagi penerimanya. Ketika seorang istri sering menerima pujian palsu tentang kecantikannya, ketaatannya, atau kehebatan rumah tangganya, dia akan mulai merasa ujub (bangga diri). Sifat ujub ini akan menutup pintu taubat dan menghalangi seseorang dari introspeksi diri.

Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا﴾

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isro’: 37)

Seorang istri yang dipuji oleh kawannya: “Kamu adalah istri paling sabar yang pernah aku kenal, suamimu yang kasar itu pasti luluh karena kelembutanmu”, padahal kenyataannya istri tersebut juga sering membalas dengan teriakan dan tidak sabar. Karena pujian dusta itu, sang istri merasa dirinya sudah sangat sholihah dan menganggap suaminya sebagai satu-satunya pihak yang bersalah. Pujian dusta telah mematikan kepekaan hatinya untuk memperbaiki diri.

Rosululloh bersabda:

«لَوْ لَمْ تَكُونُوا تُذْنِبُونَ لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ: الْعُجْبَ»

“Jika kalian tidak berdosa, niscaya aku lebih takut kalian tertimpa sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu ujub.” (HR. Al-Bazzar no. 3633, dihasankan oleh Al-Albani)

Al-Ghozali (505 H) menyebutkan bahwa pujian mengandung 6 bahaya: 4 bagi pemuji dan 2 bagi yang dipuji. Bagi yang dipuji, bahayanya adalah menimbulkan kesombongan dan ujub, serta membuatnya merasa puas dengan dirinya sendiri sehingga malas beramal.

Muthorrif bin Abdillah (95 H) berkata:

«وَلَأَنْ أَبِيتَ نَائِمًا وَأُصْبِحُ نَادِمًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَبِيتَ قَائِمًا وَأُصْبِحُ مُعْجَبًا»

“Sungguh aku bermalam dalam keadaan tidur lalu bangun dalam keadaan menyesal lebih aku sukai daripada aku bermalam dalam keadaan bangun (Sholat malam) lalu bangun dalam keadaan ujub.(HR. Ahmad no. 1537, dalam Az-Zuhd)

4.4 Sanksi bagi Orang yang Menjadi Penjilat demi Meraih Keuntungan Duniawi

Orang yang gemar memuji dengan kedustaan demi mendapatkan keuntungan duniawi disebut sebagai penjilat. Dalam Islam, penjilat memiliki kedudukan yang sangat rendah karena mereka mengorbankan kejujuran demi sesuap nasi atau demi kedudukan di mata manusia. Fenomena ini juga merambah pada hubungan antar istri, di mana seorang istri memuji-muji istri atasan suaminya dengan berbagai kedustaan agar suaminya mendapatkan promosi atau kemudahan.

Penjilat adalah orang yang bermuka dua. Rosululloh bersabda:

«تَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ، وَيَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ»

“Engkau akan dapati manusia yang paling buruk di sisi Alloh (pada hari Qiyamah) adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi sekelompok orang dengan satu wajah dan mendatangi yang lain dengan wajah yang berbeda.” (HR. Al-Bukhori no. 3494 dan Muslim no. 2526)

Contoh penjilatan di kalangan istri: Seorang istri berkata kepada temannya yang kaya: “Pakaianmu ini sangat indah, selera fashionmu sangat tinggi, kamu nampak seperti ratu”, padahal dia tahu pakaian itu sangat buruk dan tidak cocok. Dia memuji demikian dengan harapan temannya itu akan memberikan pakaian bekas yang bermerek kepadanya atau mengajaknya makan di tempat mewah. Ini adalah bentuk kerendahan jiwa.

Imam Asy-Syafi’i (204 H) berkata:

مَنْ صَدَقَ فِي أُخُوَّةِ أَخِيهِ قَبِلَ عِلَلَهُ، وَسَدَّ خَلَلَهُ، وَعَفَا عَنْ زَلَلِهِ

“Barangsiapa yang jujur dalam persaudaraan dengan saudaranya, maka dia akan menerima kekurangannya, menutupi aibnya, dan memaafkan kesalahannya.” (HR. Al-Baihaqi, 2/194, Manaqibus Syafii)

Beliau tidak menyebutkan bahwa persaudaraan dibangun dengan pujian palsu. Justru pujian palsu adalah bentuk pengkhianatan terhadap persaudaraan tersebut.

Yahya bin Mu’adz (258 H) berkata:

«لِيَكُنْ حَظُّ المُؤْمِنِ مِنْكَ ثَلَاثَ خِصَالٍ لِتَكُونَ مِنَ المُحْسِنِينَ: إِحْدَاهَا: إِنْ لَمْ تَنْفَعْهُ فَلَا تَضُرَّهُ، وَالثَّانِيَةُ: إِنْ لَمْ تُسِرَّهُ فَلَا تُغَمَّهُ، وَالثَّالِثَةَ: إِنْ لَمْ تَمْدَحْهُ فَلَا تَذُمَّهُ»

“Hendaklah bagian seorang Mu’min darimu ada 3 hal agar kamu terbaik orang baik: jika engkau tidak bisa memberinya manfaat maka jangan memberinya mudhorot, jika engkau tidak bisa membahagiakannya maka jangan membuatnya sedih, dan jika engkau tidak memujinya maka jangan mencelanya.” (Hilyatul Auliya, 3/41)

Dalam ungkapan tersebut, beliau menekankan jika tidak memuji dengan kebenaran, lebih baik diam daripada memuji dengan kedustaan atau mencela.

Seorang istri yang menjadi penjilat akan kehilangan harga diri di hadapan Alloh dan manusia. Orang yang dipuji dengan palsu, jika dia orang yang berakal, suatu saat akan menyadari bahwa dia sedang dibohongi dan akan berbalik membenci sang penjilat tersebut.

Umar bin Al-Khoththob (23 H) berkata:

المدح هو الذبح

“Pujian itu adalah penyembelihan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 26254)

Maksudnya adalah pujian dapat mematikan hati seseorang sebagaimana sembelihan mematikan hewan.

Bab 4 ini memperingatkan kita semua agar menjaga lisan dari memuji orang lain secara dusta. Janganlah kita menjadi sebab hancurnya hati saudara kita karena ujub, dan janganlah kita rendahkan diri kita menjadi penjilat hanya demi kesenangan dunia yang sesaat. Kejujuran dalam menilai jauh lebih mulia daripada tumpukan pujian palsu yang hanya membawa murka Robb.

 

Bab 5: Dampak Buruk Gemar Berbohong

5.1 Hilangnya Keberkahan dalam Ucapan dan Terhapusnya Kepercayaan Manusia

Kedustaan yang dilakukan demi meraih pujian atau untuk memberikan pujian palsu akan mencabut keberkahan dari kehidupan seseorang. Keberkahan adalah tetapnya kebaikan Alloh pada sesuatu, dan tidak ada kebaikan dalam lisan yang terbiasa merangkai kepalsuan. Dampak nyata yang dirasakan di dunia adalah hilangnya kepercayaan (tsiqoh) dari manusia. Sekali saja kebohongan seorang istri terbongkar, maka ribuan kejujuran yang ia sampaikan setelahnya akan senantiasa diragukan.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ﴾

“Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Ghofir: 28)

Seseorang yang tidak mendapatkan petunjuk (hidayah taufiq) akan terus berputar dalam lingkaran setan kedustaan. Terutama bagi seorang istri, ketika dia berbohong kepada tetangganya dengan berkata: “Suamiku tadi malam memberikan uang tambahan 5 juta karena dia sangat bangga dengan caraku mengelola dapur”, padahal suaminya sedang mengeluh tentang borosnya belanja rumah tangga. Jika tetangga tersebut secara tidak sengaja mengonfirmasi hal ini kepada suaminya, maka jatuhlah wibawa istri tersebut dan dia tidak akan dipercaya lagi dalam urusan apa pun.

Rosululloh bersabda:

«البَيِّعَانِ بِالخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»

“Dua orang yang berjual beli memiliki hak khiyar (memilih) selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang), maka akan diberkahi pada jual beli mereka. Namun jika keduanya menyembunyikan dan berdusta, maka akan dihapus keberkahan jual beli mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2079 dan Muslim no. 1532)

Jika dalam urusan dagang saja kedustaan menghapus keberkahan, maka dalam urusan rumah tangga dan pergaulan sosial, kedustaan demi pujian akan menghapus ketenangan dan keharmonisan. Keberkahan lisan akan hilang, sehingga ucapannya tidak lagi mengandung wibawa dan tidak didengar oleh anak maupun suaminya.

5.2 Kegelisahan Hati Akibat Menyembunyikan Kebenaran

Kejujuran mendatangkan ketenangan, sedangkan kedustaan mendatangkan kegelisahan. Seseorang yang berbohong demi dipuji harus terus memutar otak untuk menutupi kebohongannya agar tidak terbongkar. Hal ini menyebabkan dada terasa sempit dan hati senantiasa diliputi ketakutan.

Alloh berfirman:

﴿فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ﴾

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Alloh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqoroh: 10)

Orang munafik tersiksa karena penyakitnya, begitupula pendusta tersika karena takut diketahui kedustaannya.

Istri yang suka memamerkan perhatian suami secara palsu sebenarnya sedang menyiksa dirinya sendiri. Dia harus berakting di depan orang lain seolah-olah hidupnya sangat sempurna, sementara di dalam rumah dia merasakan kekosongan. Kegelisahan ini adalah hukuman tunai di dunia.

Rosululloh bersabda:

«دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ»

“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kedustaan adalah keraguan (kegelisahan).” (HSR. At-Tirmidzi no. 2518)

Hasan bin Ali rodhiyallahu ‘anhuma (50 H) meriwayatkan hadits di atas sebagai pedoman hidup. Bahwa siapa pun yang ingin hatinya tenang, maka dia harus jujur. Seorang istri yang berkata jujur: “Suamiku sedang sibuk lembur dan belum sempat mencicipi masakan ini”, akan merasa jauh lebih tenang daripada dia mengarang cerita: “Suamiku tadi malam bilang kuah darimu enak sekali sebelum tidur”, padahal dia takut kalau-kalau temannya itu nanti bertemu suaminya dan menanyakan hal yang sama.

5.3 Ancaman Kerugian di Padang Mahsyar dan Kedudukan di dalam Naar

Dampak paling mengerikan dari hobi berbohong demi pujian adalah ancaman adzab yang pedih di Akhiroh. Para pendusta akan dibangkitkan dalam keadaan hina dan akan mendapatkan tempat yang sangat buruk di dalam Naar.

Alloh berfirman:

﴿وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْمُتَكَبِّرِينَ﴾

“Dan pada hari Qiyamah kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Alloh, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?.” (QS. Az-Zumar: 60)

Meskipun ayat ini bicara tentang dusta atas nama Alloh, namun setiap kedustaan yang dilakukan karena kesombongan (ingin dipuji) memiliki bagian dari ancaman kegelapan wajah di Akhiroh. Rosululloh menceritakan gambaran siksa bagi pendusta dalam mimpi beliau:

فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِي أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ، فَيَشُقُّ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الجَانِبِ الآخَرِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ الأَوَّلِ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الجَانِبُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ المَرَّةَ الأُولَى» قَالَ: «وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ، يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ، فَيَكْذِبُ الكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ»

“Lalu kami mendatangi seorang lelaki yang terlentang, dan ada lelaki lain yang berdiri memegang pengait besi. Lelaki itu mendatangi salah satu sisi wajahnya lalu merobek mulutnya hingga ke tengkuk, lubang hidungnya hingga ke tengkuk, dan matanya hingga ke tengkuk. Kemudian dia berpindah ke sisi satunya dan melakukan hal yang sama. Belum selesai dia merobek sisi tersebut, sisi yang pertama sudah kembali utuh seperti semula, lalu dia mengulanginya lagi... Malaikat berkata: Itu adalah lelaki yang keluar dari rumahnya lalu dia berbohong dengan satu kebohongan yang tersebar hingga mencapai ufuk (pelosok dunia).” (HR. Al-Bukhori no. 7047)

Hadits ini sangat relevan dengan zaman sekarang di mana seorang istri bisa berbohong di media sosial demi dipuji, dan kebohongannya itu tersebar luas ditonton ribuan orang. Siksaannya adalah robekan wajah yang terus menerus di alam barzakh.

5.4 Kekhawatiran Doa yang Tertolak

Salah satu kekhawatiran terbesar bagi seorang Muslimah adalah ketika doanya tidak lagi didengar oleh Robb karena lisannya sering digunakan untuk bermaksiat melalui kedustaan. Lisan yang digunakan untuk memuji secara palsu atau berbohong demi dipuji adalah lisan yang kotor.

Alloh berfirman:

﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ﴾

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang sholih dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10)

Yakni: Kepada Alloh semata naik ucapan yang baik berupa dzikir, tilawah, dan doa, serta amal sholih yang dikerjakan dengan ikhlas untuk-Nya akan diangkat dan diterima oleh-Nya.

Jika lisan terbiasa dengan “al-kalimul khobits” (ucapan yang buruk/dusta), maka dikhawatirkan doa-doanya tidak akan terangkat. Rosululloh menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, penuh debu, lalu dia menengadahkan tangan ke langit sambil berteriak “Ya Robb, Ya Robb”, namun:

«وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ»

“Sedangkan makanannya harom, minumannya harom, pakaiannya harom, dan dia diberi makan dari yang harom, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)

Sebagian Ulama menjelaskan bahwa termasuk dalam kategori “ghudziya bil harom” (diberi makan/tumbuh dari yang harom) adalah lisan yang tumbuh dan terbiasa dengan kata-kata harom seperti dusta. Istri yang sering berbohong demi gengsi di hadapan wanita lain telah menodai kesucian lisannya. Saat dia tertimpa musibah atau membutuhkan pertolongan Alloh, lisan tersebut terasa berat dan hambar dalam berdoa, lalu dikhawatirkan terhalang dari ijabah.

Betapa ruginya seorang istri yang demi pujian “masakan enak” atau “suami perhatian” yang hanya bertahan beberapa detik di telinga manusia, namun harus menanggung resiko doanya mungkin tertolak. Penyakit “suka dipuji” ini benar-benar merusak tatanan ibadah seseorang secara menyeluruh.

Kehilangan koneksi dengan Robb melalui doa adalah musibah di atas musibah. Seorang istri harus sadar bahwa kejujurannya lebih berharga daripada seluruh emas di dunia, karena dengan kejujuranlah dia memiliki akses untuk mengetuk pintu rahmat Alloh . Sedangkan dengan kedustaan, dia telah menutup pintu tersebut dengan tangannya sendiri.

Bab 5 ini memberikan peringatan keras bahwa berbohong untuk dipuji bukan hanya urusan lisan, tapi urusan keselamatan dunia dan Akhiroh. Kehilangan keberkahan, kegelisahan batin, ancaman siksa Naar yang mengerikan, hingga tertolaknya doa adalah harga yang sangat mahal untuk membayar sebuah pujian semu dari makhluk yang lemah.

 

Bab 6: Terapi Syar’i dari Kebiasaan Berbohong

6.1 Menanamkan Muroqobatulloh

Obat paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit lisan berupa kedustaan demi pujian adalah dengan menghadirkan rasa takut dan merasa diawasi oleh Alloh dalam setiap keadaan. Ketika seorang istri menyadari bahwa setiap desahan nafas dan setiap kata yang keluar dari bibirnya tidak luput dari pengawasan Robb, maka dia akan merasa malu untuk merangkai kepalsuan hanya demi mendapatkan decak kagum dari sesama makhluk. Muroqobatulloh adalah pondasi utama dalam memperbaiki akhlak.

Alloh berfirman:

﴿مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾

“Tidak ada suatu kata pun yang terucap melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qof: 18)

Seorang istri yang hendak berkata kepada rekannya: “Suamiku tadi malam memberikan hadiah ini karena dia sangat mencintaiku”, padahal dia membelinya sendiri, harus segera mengingat bahwa ada Malaikat yang sedang memegang pena untuk mencatat kedustaan tersebut. Keinginan dipuji oleh teman hanyalah kesenangan sesaat yang akan berakhir dengan catatan dosa di sisi Alloh .

Rosululloh bersabda dalam hadits Jibril yang masyhur mengenai tingkatan Ihsan:

«أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»

“Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 8)

Jika rasa diawasi ini sudah tertanam, maka dorongan untuk mencari perhatian manusia akan luntur. Seorang istri tidak akan lagi merasa perlu mengarang cerita tentang kuah masakan yang dipuji suami padahal suami tidak tahu, karena dia tahu bahwa Alloh tahu kebenarannya. Dia akan merasa cukup dengan penilaian Robb dan tidak peduli lagi dengan sanjungan manusia yang seringkali justru menjerumuskan.

6.2 Melatih Lisan untuk Diam jika Tidak Mampu Berkata Benar

Langkah praktis untuk mengobati kebiasaan berbohong adalah dengan melatih diam. Seringkali kedustaan muncul karena keinginan untuk ikut serta dalam pembicaraan yang sedang hangat atau karena takut dianggap tidak memiliki kelebihan. Dengan membiasakan diam, seseorang memberi waktu bagi hatinya untuk menyaring mana ucapan yang jujur dan mana yang merupakan bumbu syaithon.

Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isro’: 36)

Rosululloh memberikan jaminan bagi orang yang mampu menjaga lisan:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

Dalam sebuah majelis para istri, ketika yang lain mulai saling membanggakan pemberian suami, seorang istri yang merasa tidak memiliki hal serupa hendaknya memilih untuk diam atau mendoakan keberkahan bagi temannya, daripada harus mengarang cerita palsu demi menjaga gengsi. Diam dalam kondisi tersebut adalah kemuliaan dan bukti kekuatan iman.

Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H) pernah meletakkan batu kecil di dalam mulutnya agar dia tidak berbicara kecuali dalam hal yang sangat penting dan benar. Beliau berkata sambil menunjuk lidahnya:

«هَذَا الَّذِي أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ»

“Inilah yang membawaku ke tempat-tempat yang membahayakan.” (HR. Ibnu Wahb, Al-Jami, no. 307)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh (187 H) berkata:

مَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ قَلَّ كَلَامُهُ إِلَّا فِيمَا يَعْنِيهِ

“Barangsiapa yang menganggap ucapannya sebagai bagian dari amal perbuatannya, maka akan sedikit bicaranya kecuali dalam hal yang bermanfaat baginya.” (Risalah Qusyairiyyah, 1/250)

6.3 Menumbuhkan Sifat Qona’ah

Akar dari perilaku memalsukan keadaan rumah tangga adalah hilangnya rasa syukur dan sifat qona’ah. Seorang istri yang merasa kurang dengan apa yang diberikan suaminya akan cenderung mencari pengakuan di luar dengan cara berbohong. Terapi yang tepat adalah dengan melihat ke bawah dalam urusan dunia dan melihat ke atas dalam urusan Akhiroh.

Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ﴾

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Alloh kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)

Rosululloh bersabda:

«انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ»

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Alloh atas kalian.” (HR. Muslim no. 2963)

Apabila seorang istri merasa suaminya tidak sefashih atau sesering suami temannya dalam memuji masakan, dia harus ingat bahwa di luar sana ada banyak istri yang suaminya tidak memiliki makanan untuk dimakan atau suaminya sudah tiada. Dia akan jujur apa adanya dan merasa cukup dengan ridho Alloh .

6.4 Bertaubat dari Bohong

Bagi mereka yang sudah terlanjur terbiasa berbohong untuk dipuji atau memuji secara palsu, pintu taubat senantiasa terbuka lebar sebelum nyawa sampai di kerongkongan. Taubat nasuha menuntut penyesalan yang mendalam, penghentian dosa saat itu juga, dan tekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika kebohongan tersebut merugikan nama baik orang lain atau berkaitan dengan hak manusia, maka ada kewajiban tambahan untuk meminta maaf atau meluruskan informasi tersebut.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)

Seorang istri yang pernah berbohong tentang ucapan suaminya kepada teman, jika dia bertaubat, dia harus menyesali hal itu. Jika memungkinkan tanpa menimbulkan fitnah yang lebih besar, dia hendaknya menjelaskan kepada temannya: “Maaf, kemarin aku salah bicara, suamiku sebenarnya tidak tahu tentang masakan itu karena dia sedang lembur, aku hanya ingin menyenangkan hatimu namun caraku salah”. Jika hal itu bisa memicu pertengkaran, maka cukup baginya bertaubat kepada Alloh dan memuji temannya dengan kejujuran di kesempatan lain.

Rosululloh bersabda tentang syarat diterimanya taubat:

«النَّدَمُ تَوْبَةٌ»

“Menyesal itu adalah taubat.” (HSR. Ibnu Majah no. 4252)

An-Nawawi (676 H) menjelaskan syarat taubat:

قَالَ العلماءُ: التَّوْبَةُ وَاجبَةٌ مِنْ كُلِّ ذَنْب، فإنْ كَانتِ المَعْصِيَةُ بَيْنَ العَبْدِ وبَيْنَ اللهِ تَعَالَى لاَ تَتَعلَّقُ بحقّ آدَمِيٍّ، فَلَهَا ثَلاثَةُ شُرُوط:

أحَدُها: أنْ يُقلِعَ عَنِ المَعصِيَةِ.

والثَّانِي: أَنْ يَنْدَمَ عَلَى فِعْلِهَا.

والثَّالثُ: أنْ يَعْزِمَ أَنْ لا يعُودَ إِلَيْهَا أَبَدًا. فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ الثَّلاثَةِ لَمْ تَصِحَّ تَوبَتُهُ.

“Taubat itu wajib dari setiap dosa. Jika kemaksiatan itu antara hamba dengan Alloh Ta’ala saja dan tidak berkaitan dengan hak manusia, maka syaratnya ada 3: Pertama, berhenti dari kemaksiatan tersebut. Kedua, menyesal telah melakukannya. Ketiga, bertekad untuk tidak mengulanginya selamanya. Jika salah satu dari ketiganya tidak ada maka tidak sah. (Riyadhus Sholihin, An-Nawawi, 1/33)

Jika berkaitan dengan hak manusia, maka syarat keempat adalah meminta maaf atau mengembalikan hak tersebut. Dalam kasus memuji orang lain secara dusta, jika pujian itu menyebabkan orang tersebut menjadi sombong atau salah jalan, maka sang pemuji harus berusaha meluruskan keadaan tersebut dengan cara yang bijak.

Seseorang yang benar-benar bertaubat dari dosa lisan akan nampak dari kehati-hatiannya dalam berucap setelah itu. Dia tidak akan lagi tergiur oleh manisnya pujian manusia yang fana. Dia lebih memilih menjadi orang yang tidak dikenal di bumi namun namanya harum di penduduk langit karena kejujurannya.

Bab 6 ini menutup pembahasan kita dengan sebuah solusi nyata. Berhenti berbohong bukan hanya tentang mengubah kata-kata, tapi tentang mengubah orientasi hati dari makhluk menuju Al-Kholiq. Dengan muroqobah, latihan diam, sifat qona’ah, dan taubat nasuha, lisan yang tadinya kotor oleh kepalsuan akan berubah menjadi lisan yang basah dengan dzikir dan kejujuran. Kehormatan sejati seorang istri bukanlah pada apa yang dikatakan orang tentangnya, melainkan pada apa yang Alloh ketahui tentang kesucian hatinya.

Penutup

Melalui lembaran-lembaran yang telah lalu, kita telah membedah betapa lisan manusia seringkali terjebak dalam kepalsuan hanya demi meraih sanjungan makhluk yang bersifat sementara. Kedustaan bukan sekadar masalah ucapan, melainkan cerminan dari hati yang sedang sakit dan haus akan pengakuan selain dari Robb-nya.

Alloh berfirman:

﴿فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

“Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Robb-nya maka hendaklah dia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Robb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Tanpa kejujuran, setiap pujian yang diterima hanyalah bangkai yang tidak bernyawa. Seorang istri harus sadar bahwa pujian tetangga atau teman tidak akan mampu menyelamatkannya dari siksa Naar jika lisannya kotor oleh kepalsuan. Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)

Semoga buku ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian untuk memperbaiki akhlak dan menjaga kesucian lisan.

Segala kebenaran datangnya dari Alloh , dan segala kesalahan berasal dari diri hamba yang dho’if serta gangguan syaithon.

Akhirul kalam, walhamdulillahi Robbil ‘alamin.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url