[PDF] [4 of 5] AL-GHUN-YAH - Aqidah Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani (561)
Bab
15: Adab Terhadap Pemimpin dan Larangan Bid’ah
15.1
Ketaatan Kepada Pemimpin Muslim
وَأَهْلُ
السُّنَّةِ أَجْمَعُوا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَاتِّبَاعِهِمْ،
وَالصَّلَاةِ خَلْفَ كُلِّ بَرٍّ مِنْهُمْ وَفَاجِرٍ، وَالْعَادِلِ مِنْهُمْ وَالْجَائِرِ،
وَمَنْ وَلَّوْهُ وَنَصَّبُوهُ وَاسْتَنَابُوهُ، وَأَلَّا يُنْزِلُوا أَحَدًا مِنْ
أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ، مُطِيعًا كَانَ أَوْ عَاصِيًا، رَشِيدًا
كَانَ أَوْ غَاوِيًا أَوْ عَاتِيًا إِلَّا أَنْ يُطَّلَعَ مِنْهُ عَلَى بِدْعَةٍ وَضَلَالَةٍ.
Ahli Sunnah telah
bersepakat atas kewajiban mendengar dan taat kepada para pemimpin kaum Muslimin
serta mengikuti mereka, juga melakukan Sholat di belakang setiap orang dari
mereka baik yang sholih maupun yang fajir (pendosa), yang adil maupun yang
zholim, serta terhadap siapa pun yang mereka beri mandat, mereka angkat, atau
mereka jadikan wakil.
Mereka juga tidak
menetapkan seorang pun dari Ahli Qiblat (Muslim) sebagai penduduk Jannah atau
penduduk Naar secara pasti, baik dia orang yang taat atau pelaku maksiat, orang
yang lurus atau orang yang menyimpang atau orang yang melampaui batas, kecuali
jika nampak jelas darinya suatu kebid’ahan dan kesesatan.
15.2
Mu’jizat Para Nabi dan Karomah Para Wali
وَأَجْمَعُوا
عَلَى تَسْلِيمِ الْمُعْجِزَاتِ لِلْأَنْبِيَاءِ، وَالْكَرَامَاتِ لِلْأَوْلِيَاءِ.
وَأَنَّ الْغَلَاءَ وَالرُّخْصَ مِنْ قِبَلِ اللهِ، لَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ
مِنَ السَّلَاطِينِ وَالْمُلُوكِ، وَلَا مِنَ الْكَوَاكِبِ كَمَا زَعَمَتِ الْقَدَرِيَّةُ
وَالْمُنَجِّمُونَ.
Mereka pun bersepakat
untuk mengakui adanya mu’jizat bagi para Nabi dan karomah bagi para wali.
Serta bahwasanya mahal
dan murahnya harga adalah berasal dari sisi Alloh, bukan dari salah seorang
makhluk-Nya baik itu sultan (penguasa) maupun raja, dan bukan pula pengaruh
dari bintang-bintang sebagaimana klaim kaum Qodariyah dan ahli nujum.
لِمَا رَوَى
أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «إِنَّ
الْغَلَاءَ وَالرُّخْصَ جُنْدَانِ مِنْ جُنُودِ اللهِ، اسْمُ أَحَدِهِمَا الرَّغْبَةُ،
وَالْآخَرُ الرَّهْبَةُ».
Berdasarkan riwayat Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rosululloh ﷺ bersabda: “Sesungguhnya mahal dan
murahnya harga adalah 2 tentara dari tentara-tentara Alloh, salah satunya
bernama Keinginan (ar-roghbah) dan yang lainnya bernama Ketakutan (ar-rohbah).”
فَإِذَا
أَرَادَ اللهُ أَنْ يُغْلِيَهُ قَذَفَ الرَّغْبَةَ فِي قُلُوبِ التُّجَّارِ فَحَبَسُوهُ.
وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُرَخِّصَ قَذَفَ الرَّهْبَةَ فِي صُدُورِ التُّجَّارِ فَأَخْرَجُوهُ
مِنْ أَيْدِيهِمْ.
Maka apabila Alloh
menghendaki untuk menjadikannya mahal, Dia menanamkan keinginan (untuk menumpuk
barang) ke dalam hati para pedagang sehingga mereka menahannya. Dan apabila Dia
menghendaki untuk menjadikannya murah, Dia menanamkan rasa takut (akan
kerugian) ke dalam dada para pedagang sehingga mereka mengeluarkannya dari
tangan mereka.
15.3
Mengikuti Sunnah dan Menjauhi Ahli Bid’ah
وَالْأَوْلَى
لِلْعَاقِلِ الْمُؤْمِنِ الْكَيْسِ أَنْ يَتَّبِعَ وَلَا يَبْتَدِعَ، وَلَا يُغَالِيَ
وَيُعَمِّقَ وَتَكَلَّفَ لِئَلَّا يَضِلَّ وَيَزِلَّ فَيَهْلِكَ.
Yang lebih utama bagi
seorang Mu’min yang berakal lagi cerdas adalah mengikuti (sunnah) dan tidak
berbuat bid’ah, serta tidak berlebih-lebihan, mendalam-dalamkan urusan, dan
membebani diri sendiri agar tidak tersesat dan tergelincir sehingga binasa.
قَالَ عَبْدُ
اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ
كُفِيتُمْ.
Abdullah bin Mas’ud (32
H) rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Ikutilah dan janganlah kalian berbuat
bid’ah, karena sungguh kalian telah dicukupi.”
قَالَ مُعَاذُ
بْنُ جَبَلٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: إِيَّاكَ وَمُغْمَضَاتِ الْأُمُورِ، وَأَنْ تَقُولَ
لِلشَّيْءِ مَا هَذَا، فَقَالَ مُجَاهِدٌ -رَحِمَهُ اللهُ- حِينَ بَلَغَهُ هَذَا عَنْ
مُعَاذٍ: قَدْ كُنَّا نَقُولُ لِلشَّيْءِ مَا هَذَا؟ فَأَمَّا الْآنَ فَلَا.
Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu
‘anhu berkata: “Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara yang samar,
dan (waspadalah) dari kalian mempertanyakan sesuatu dengan ‘apa ini
(hakikatnya).’”
Mujahid (104 H) rohimahulloh
berkata ketika berita ini dari Mu’adz sampai kepadanya: “Dahulu kami pernah
mempertanyakan sesuatu dengan ‘apa ini?’, adapun sekarang maka tidak lagi.”
فَعَلَى
الْمُؤْمِنِ اتِّبَاعُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، فَالسُّنَّةُ مَا سَنَّهُ رَسُولُ
اللهِ ﷺ، وَالْجَمَاعَةُ مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي خِلَافَةِ
الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ -رَحْمَةُ
اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ-.
Maka bagi seorang Mu’min
wajib mengikuti Sunnah dan Jama’ah. Sunnah adalah apa yang telah disyariatkan
oleh Rosululloh ﷺ,
sedangkan Jama’ah adalah apa yang telah disepakati oleh para Shohabat
Rosululloh ﷺ pada
masa kekholifahan para Imam yang 4, Khulafa’ur Rosyidin yang mendapat petunjuk
-semoga rohmat Alloh atas mereka semua-.
وَأَلَّا
يُكَاثِرَ أَهْلَ الْبِدَعِ وَلَا يُدَانِيَهُمْ، وَلَا يُسَلِّمَ عَلَيْهِمْ، لِأَنَّ
إِمَامَنَا أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ -رَحِمَهُ اللهُ- قَالَ: مَنْ سَلَّمَ عَلَى صَاحِبِ
بِدْعَةٍ فَقَدْ أَحَبَّهُ.
Dan hendaknya tidak
memperbanyak jumlah (berkumpul) dengan ahli bid’ah, tidak mendekati mereka, dan
tidak mengucapkan salam kepada mereka. Karena Imam kami Ahmad bin Hanbal (241
H) rohimahulloh berkata: “Barang siapa mengucapkan salam kepada
pelaku bid’ah maka sungguh dia telah mencintainya.”
وَلِقَوْلِ
النَّبِيِّ ﷺ: «افْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ تَحَابُّوا».
Dan karena sabda Nabi ﷺ: “Tebarkanlah salam di antara kalian
niscaya kalian akan saling mencintai.”
وَلَا يُجَالِسُهُمْ
وَلَا يَقْرُبُ مِنْهُمْ وَلَا يُهَنِّيهِمْ فِي الْأَعْيَادِ وَأَوْقَاتِ السُّرُورِ،
وَلَا يُصَلِّي عَلَيْهِمْ إِذَا مَاتُوا، وَلَا يَتَرَحَّمُ عَلَيْهِمْ إِذَا ذُكِرُوا
بَلْ يُبَايِنُهُمْ وَيُعَادِيهِمْ فِي اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ-، مُعْتَقِدًا وَمُحْتَسِبًا
بِذَلِكَ الثَّوَابَ الْجَزِيلَ وَالْأَجْرَ الْكَثِيرَ.
Maka janganlah duduk
bersama mereka, jangan mendekati mereka, jangan memberi ucapan selamat kepada
mereka pada hari raya maupun waktu-waktu kegembiraan, jangan mensholati janazah
mereka jika mereka mati, dan jangan memohonkan rohmat (mengucapkan rohimahulloh)
bagi mereka jika nama mereka disebut. Sebaliknya, hendaknya dia memisahkan diri
dari mereka serta memusuhi mereka karena Alloh ﷻ, seraya meyakini dan mengharapkan dengan
hal itu pahala yang besar serta ganjaran yang banyak.
وَرُوِيَ
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ نَظَرَ إِلَى صَاحِبِ بِدْعَةٍ بُغْضًا
لَهُ فِي اللهِ مَلَأَ اللهُ قَلْبَهُ أَمْنًا وَإِيمَانًا، وَمَنْ انْتَهَرَ صَاحِبَ
بِدْعَةٍ بُغْضًا لَهُ فِي اللهِ أَمَّنَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ اسْتَحْقَرَ
بِصَاحِبِ بِدْعَةٍ رَفَعَهُ اللهُ تَعَالَى فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، وَمَنْ
لَقِيَهُ بِالْبِشْرِ أَوْ بِمَا يَسُرُّهُ فَقَدِ اسْتَخَفَّ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ
تَعَالَى عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ»
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda: “Barang
siapa memandang pelaku bid’ah dengan rasa benci karena Alloh, maka Alloh akan
memenuhi hatinya dengan rasa aman dan iman. Barang siapa menghardik pelaku
bid’ah dengan rasa benci karena Alloh, maka Alloh akan memberinya keamanan pada
hari Qiyamah. Barang siapa merendahkan pelaku bid’ah maka Alloh Ta’ala akan
mengangkatnya 100 derajat di Jannah. Dan barang siapa menemuinya dengan wajah
ceria atau dengan sesuatu yang menyenangkannya, maka sungguh dia telah
meremehkan apa yang Alloh Ta’ala turunkan kepada Muhammad ﷺ.”
وَعَنْ أَبِي
الْمُغِيرَةِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَبَى اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ- أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ
بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ».
Dari Abu Al-Mughiroh dari
Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu Ta’ala ‘anhuma bahwasanya beliau
berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda: “Alloh ﷻ enggan untuk menerima amal perbuatan pelaku bid’ah sampai dia
meninggalkan kebid’ahannya.”
وَقَالَ
فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: مَنْ أَحَبَّ صَاحِبَ بِدْعَةٍ أَحْبَطَ اللهُ عَمَلَهُ وَأَخْرَجَ
نُورَ الْإِيمَانِ مِنْ قَلْبِهِ.
Fudhoil bin ‘Iyadh (187
H) berkata: “Barang siapa mencintai pelaku bid’ah maka Alloh akan menghapus
amal perbuatannya dan mengeluarkan cahaya iman dari hatinya.”
وَإِذَا
عَلِمَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ- مِنْ رَجُلٍ أَنَّهُ مُبْغِضٌ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ رَجَوْتُ
اللهَ تَعَالَى أَنْ يَغْفِرَ ذُنُوبَهُ وَإِنْ قَلَّ عَمَلُهُ، وَإِذَا رَأَيْتَ مُبْتَدِعًا
فِي طَرِيقٍ فَخُذْ طَرِيقًا آخَرَ.
“Dan apabila Alloh ﷻ mengetahui dari seorang lelaki bahwasanya
dia adalah pembenci pelaku bid’ah, maka aku berharap Alloh Ta’ala akan
mengampuni dosa-dosanya meskipun amalnya sedikit. Dan jika engkau melihat
seorang pelaku bid’ah di suatu jalan maka ambillah jalan yang lain.”
وَقَالَ
فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ -رَحِمَهُ اللهُ-: سَمِعْتُ سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ -رَحِمَهُ
اللهُ- يَقُولُ: مَنْ تَبِعَ جَنَازَةَ مُبْتَدِعٍ لَمْ يَزَلْ فِي سَخَطِ اللهِ تَعَالَى
حَتَّى يَرْجِعَ.
Fudhoil bin ‘Iyadh (187
H) rohimahulloh berkata: Aku mendengar Sufyan bin ‘Uyainah (198 H) rohimahulloh
berkata: “Barang siapa yang mengantarkan janazah pelaku bid’ah maka dia
senantiasa berada dalam kemurkaan Alloh Ta’ala sampai dia kembali.”
وَقَدْ لَعَنَ
النَّبِيُّ ﷺ الْمُبْتَدِعَ، فَقَالَ ﷺ: «مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا
فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يُقْبَلُ
مِنْهُ صَرْفٌ وَلَا عَدْلٌ».
Sungguh Nabi ﷺ telah melaknat pelaku bid’ah, beliau ﷺ bersabda: “Barang siapa melakukan suatu
bid’ah atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat Alloh, para Malaikat,
dan seluruh manusia, tidak akan diterima darinya amal wajib maupun amal
sunnahnya.”
يَعْنِي
بِالصَّرْفِ: الْفَرِيضَةَ، وَبِالْعَدْلِ: النَّافِلَةَ.
وَعَنْ أَبِي
أَيُّوبَ السِّجِسْتَانِيِّ -رَحِمَهُ اللهُ- أَنَّهُ قَالَ: إِذَا حَدَّثْتَ الرَّجُلَ
بِالسُّنَّةِ فَقَالَ: دَعْنَا مِنْ هَذَا وَحَدِّثْنَا بِمَا فِي الْقُرْآنِ، فَاعْلَمْ
أَنَّهُ ضَالٌّ.
Makna “shorf”
adalah Ibadah wajib, dan “adl” adalah Ibadah sunnah.
Dari Abu Ayyub
As-Sijistani (131 H) rohimahulloh bahwasanya beliau berkata: “Apabila
engkau menyampaikan Sunnah kepada seseorang lalu dia berkata: ‘Tinggalkanlah
hal ini dan sampaikanlah kepada kami apa yang ada di dalam Al-Qur’an saja’,
maka ketahuilah bahwa dia adalah orang yang sesat.”
(فَصْلٌ)
وَاعْلَمْ أَنَّ لِأَهْلِ الْبِدَعِ عَلَامَاتٍ يُعْرَفُونَ بِهَا. فَعَلَامَةُ أَهْلِ
الْبِدْعَةِ الْوَقِيعَةُ فِي أَهْلِ الْأَثَرِ.
(Fashl) Ketahuilah bahwasanya pelaku bid’ah memiliki tanda-tanda
yang dengannya mereka dikenali. Tanda ahli bid’ah adalah mencela (menjatuhkan)
Ahli Atsar.
وَعَلَامَةُ
الزَّنَادِقَةِ تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ الْأَثَرِ: بِالْحَشْوِيَّةِ، وَيُرِيدُونَ إِبْطَالَ
الْآثَارِ. وَعَلَامَةُ الْقَدَرِيَّةِ تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ الْأَثَرِ: مُجْبِرَةً.
Tanda kaum Zindiq adalah
menggelari Ahli Atsar dengan sebutan “Hasyawiyah”, yang dengan itu
mereka bermaksud untuk membatalkan kedudukan atsar-atsar (Hadits). Tanda kaum
Qodariyah adalah menggelari Ahli Atsar dengan sebutan “Mujbirah.”
وَعَلَامَةُ
الْجَهْمِيَّةِ تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ السُّنَّةِ: مُشَبِّهَةً. وَعَلَامَةُ الرَّافِضَةِ
تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ الْأَثَرِ: نَاصِبَةً.
Tanda kaum Jahmiyah
adalah menggelari Ahli Sunnah dengan sebutan “Musyabbihah.” Dan tanda
kaum Rowafidh adalah menggelari Ahli Atsar dengan sebutan “Nashibah.”
وَكُلُّ
ذَلِكَ عَصَبِيَّةٌ وَغِيَاظٌ لِأَهْلِ السُّنَّةِ، وَلَا اسْمَ لَهُمْ إِلَّا اسْمٌ
وَاحِدٌ: وَهُوَ «أَصْحَابُ الْحَدِيثِ».
Semua itu hanyalah bentuk
fanatisme dan kemarahan terhadap Ahli Sunnah, padahal mereka tidaklah memiliki
nama kecuali satu nama saja, yaitu “Ash-habul Hadits.”
وَلَا يَلْتَصِقُ
بِهِمْ مَا لَقَّبَهُمْ بِهِ أَهْلُ الْبِدَعِ، كَمَا لَمْ يَلْتَصِقْ بِالنَّبِيِّ
ﷺ تَسْمِيَةُ كُفَّارِ مَكَّةَ لَهُ سَاحِرًا وَشَاعِرًا وَمَجْنُونًا وَمَفْتُونًا
وَكَاهِنًا، وَلَمْ يَكُنِ اسْمُهُ عِنْدَ اللهِ وَعِنْدَ مَلَائِكَتِهِ وَعِنْدَ إِنْسِهِ
وَجِنِّهِ وَسَائِرِ خَلْقِهِ إِلَّا رَسُولًا نَبِيًّا بَرِيًّا مِنَ الْعَاهَاتِ
كُلِّهَا.
Gelar-gelar yang
diberikan oleh ahli bid’ah itu tidak akan melekat pada mereka, sebagaimana
tidak melekatnya sebutan kaum kafir Makkah terhadap Nabi ﷺ sebagai tukang sihir, penyair, orang gila,
orang yang terkena fitnah, maupun dukun. Padahal nama beliau di sisi Alloh, di
sisi para Malaikat-Nya, di sisi manusia dan jin, serta seluruh makhluk-Nya
tidak lain adalah seorang Rosul lagi Nabi yang bersih dari segala cacat.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: ﴿انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا
فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا﴾.
Alloh Ta’ala
berfirman: “Perhatikanlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan
untukmu, karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan
(yang benar).” (QS. Al-Isro: 48).
هَذَا آخِرُ
مَا أَلَّفْنَا فِي بَابِ مَعْرِفَةِ الصَّانِعِ وَالِاعْتِقَادِ عَلَى مَذْهَبِ أَهْلِ
السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ عَلَى وَجْهِ الِاخْتِصَارِ وَالْقُدْرَةِ.
Inilah akhir dari apa
yang kami susun mengenai bab mengenal Sang Pencipta serta Aqidah sesuai madzhab
Ahli Sunnah wal Jama’ah secara ringkas dan sesuai kemampuan.
ثُمَّ نُرْدِفُ
هَذِهِ الْجُمْلَةَ بِفَصْلَيْنِ آخَرَيْنِ: لَا يَسَعُ الْعَاقِلَ الْمُؤْمِنَ جَهْلُهُمَا
إِذَا أَرَادَ سُلُوكَ الْمَحَجَّةِ.
Kemudian kami akan
menyusulkan pembahasan ini dengan 2 pasal lainnya: di mana orang Mu’min yang
berakal tidaklah pantas untuk tidak mengetahuinya jika dia ingin meniti jalan
yang terang.
Bab
16: Sifat-Sifat yang Mustahil bagi Alloh ﷻ
16.1
Perkara-Perkara yang Tidak Boleh Disifatkan kepada Sang Pencipta
أَحَدُ الْفَصْلَيْنِ:
فِيمَا لَا يَجُوزُ إِطْلَاقُهُ عَلَى الْبَارِي -عَزَّ وَجَلَّ- مِنَ الصِّفَاتِ،
وَأَخْلَاقِ الْعِبَادِ وَالنَّقَائِضِ، وَمَا يَجُوزُ مِنْ ذَلِكَ. وَالْفَصْلُ الثَّانِي:
فِي بَيَانِ مَقَالَةِ الْفِرَقِ الضَّالَّةِ عَنْ طَرِيقِ الْهُدَى الدَّاحِضَةِ الْحُجَّةِ
فِي يَوْمِ الدِّينِ وَالْمُحَاسَبَةِ.
Salah satu dari 2 pasal:
mengenai sifat-sifat yang tidak boleh disematkan kepada Sang Pencipta ﷻ, serta akhlak para hamba dan
kekurangan-kekurangan, serta apa yang diperbolehkan dari hal tersebut. Dan
pasal kedua: mengenai penjelasan pendapat firqoh-firqoh (golongan) yang sesat
dari jalan petunjuk, yang hujjahnya akan lenyap pada hari pembalasan dan
perhitungan.
أَمَّا الْفَصْلُ
الْأَوَّلُ: فَبِمَا لَا يَجُوزُ إِطْلَاقُهُ عَلَى الْبَارِي -عَزَّ وَجَلَّ- مِنَ
الصِّفَاتِ وَيَسْتَحِيلُ إِضَافَتُهُ إِلَيْهِ مِنَ الْأَخْلَاقِ، وَمَا يَجُوزُ مِنْ
ذَلِكَ.
لَا يَجُوزُ
أَنْ يُوصَفَ الْبَارِي تَعَالَى بِالْجَهْلِ وَالشَّكِّ وَالظَّنِّ وَغَلَبَةِ الظَّنِّ
وَالسَّهْوِ وَالنِّسْيَانِ وَالسِّنَةِ وَالنَّوْمِ وَالْغَلَبَةِ وَالْغَفْلَةِ وَالْعَجْزِ
وَالْمَوْتِ وَالْخَرَسِ وَالصَّمَمِ وَالْعَمَى وَالشَّهْوَةِ وَالنُّفُورِ وَالْمَيْلِ
وَالْحَرَدِ وَالْغَيْظِ وَالْحُزْنِ وَالتَّأَسُّفِ وَالْكَمَدِ وَالْحَسْرَةِ وَالتَّلَهُّفِ
وَالْأَلَمِ وَاللَّذَّةِ وَالنَّفْعِ وَالْمَضَرَّةِ وَالتَّمَنِّي وَالْعَزْمِ وَالْكَذِبِ،
وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُسَمَّى إِيمَانًا خِلَافَ مَا قَالَتِ السَّالِمِيَّةُ، وَتَعَلُّقُهُمْ
بِقَوْلِهِ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ
عَمَلُهُ﴾ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ مَنْ يَكْفُرْ بِوُجُوبِ
الْإِيمَانِ، كَانَ كَمَنْ كَفَرَ بِالرَّسُولِ، وَمَا جَاءَ بِهِ ﷺ مِنَ اللهِ -عَزَّ
وَجَلَّ- مِنَ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي. وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُوصَفَ -عَزَّ وَجَلَّ-
بِأَنَّهُ مُطِيعٌ وَلَا مُحْبِلٌ لِنِسَاءِ الْعَالَمِ.
Adapun pasal pertama:
Mengenai apa yang tidak boleh disematkan kepada Sang Pencipta ﷻ dari sifat-sifat dan mustahil disandarkan
kepada-Nya dari akhlak (makhluk), serta apa yang diperbolehkan dari hal
tersebut. Tidak boleh Sang Pencipta Ta’ala disifati dengan kebodohan,
keraguan, persangkaan (zhon), persangkaan yang kuat (gholabatuz zhon),
kelalaian (sahwu), lupa, kantuk, tidur, dikalahkan, lengah, lemah, mati,
bisu, tuli, buta, syahwat, kebencian (nufur), kecenderungan (mail),
marah yang hebat (hard), kegusaran (ghoizh), sedih,
penyesalan (ta-assuf), duka mendalam (kamad), kerugian (hasroh),
kerinduan yang menyakitkan (talahhuf), rasa sakit, kelezatan, manfaat,
madhorot, angan-angan, keinginan yang belum tentu terlaksana (‘azm), dan
dusta.
Dan tidak boleh Dia
dinamakan Iman, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kaum Salimiyah. Adapun
ketergantungan mereka pada firman Alloh ﷻ: “Barang siapa yang kufur terhadap
Iman, maka sungguh hapuslah amalnya” (QS. Al-Ma’idah: 5), maka itu
dipahami sebagai: barang siapa yang mengingkari kewajiban iman, maka dia
seperti orang yang kufur kepada Rosul dan apa yang beliau ﷺ bawa dari sisi Alloh ﷻ berupa perintah dan larangan.
Dan tidak boleh Dia ﷻ disifati sebagai Dzat yang taat (kepada
selain-Nya) dan bukan pula yang menghamili wanita-wanita di alam semesta.
وَلَا يَجُوزُ
عَلَيْهِ الْحَدُّ وَلَا النِّهَايَةُ، وَلَا الْقَبْلُ وَلَا الْبَعْدُ، وَلَا تَحْتُ
وَلَا قُدَّامُ، وَلَا خَلْفُ وَلَا كَيْفُ، لِأَنَّ جَمِيعَ ذَلِكَ مَا وَرَدَ بِهِ
الشَّرْعُ إِلَّا مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ أَنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى، عَلَى مَا
وَرَدَ بِهِ الْقُرْآنُ وَالْأَخْبَارُ، بَلْ هُوَ -عَزَّ وَجَلَّ- خَالِقٌ لِجَمِيعِ
الْجِهَاتِ وَلَا يَجُوزُ عَلَيْهِ الْكَمِّيَّةُ.
Dan tidak boleh bagi-Nya
batasan maupun akhir, tidak ada sebelum maupun sesudah (secara temporal
makhluk), tidak ada bawah maupun depan, tidak ada belakang maupun kaifiyat
(bagaimana), karena semua itu tidaklah datang dalam syariat kecuali apa yang
telah kami sebutkan bahwasanya Dia beristiwa di atas ‘Arsy, sesuai dengan apa
yang ada di dalam Al-Qur’an dan khabar-khabar. Melainkan Dia ﷻ adalah Pencipta bagi seluruh arah dan
tidak boleh bagi-Nya kuantitas (jumlah bagian).
وَاخْتُلِفَ
فِي جَوَازِ إِطْلَاقِ تَسْمِيَتِهِ بِالشَّخْصِ، فَمَنْ جَوَّزَ ذَلِكَ فَلِقَوْلِ
النَّبِيِّ ﷺ فِي حَدِيثِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: «لَا
شَخْصَ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ، وَلَا شَخْصَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَعَاذِيرُ مِنَ اللهِ».
وَمَنْ مَنَعَ ذَلِكَ فَلِأَنَّ لَفْظَ الْخَبَرِ لَيْسَ بِصَرِيحٍ فِي الشَّخْصِ لِاحْتِمَالِ
أَنْ يَكُونَ مَعْنَاهُ: لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ. وَقَدْ وَرَدَ فِي بَعْضِ
الْأَلْفَاظِ: «لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ».
Dan terjadi perselisihan
mengenai kebolehan menamakan-Nya dengan “Syakhsh” (pribadi/sosok).
Barang siapa yang membolehkan hal itu, maka berlandaskan pada sabda Nabi ﷺ dalam Hadits Al-Mughiroh bin Syu’bah (50
H) rodhiyallahu ‘anhu: “Tidak ada syakhsh yang lebih cemburu daripada
Alloh, dan tidak ada syakhsh yang lebih menyukai alasan-alasan (pemaafan)
daripada Alloh.”
Dan barang siapa yang
melarang hal itu, dikarenakan lafazh tersebut tidaklah secara tegas bermakna syakhsh,
karena ada kemungkinan maknanya adalah: tidak ada seorang pun yang lebih
cemburu daripada Alloh. Sungguh telah datang dalam sebagian lafazh: “Tidak
ada seorang pun (ahad) yang lebih cemburu daripada Alloh.”
وَلَا يَجُوزُ
أَنْ يُسَمَّى فَاضِلًا وَعَتِيقًا وَفَقِيهًا وَلَا فَهِيمًا وَلَا فَطِنًا وَلَا
مُحَقِّقًا وَعَاقِلًا وَمُوَقَّرًا وَلَا طَيِّبًا، وَقِيلَ يَجُوزُ. وَلَا عَادِيًا،
لِأَنَّ ذَلِكَ مَنْسُوبٌ إِلَى زَمَنِ عَادٍ وَهُوَ مُحْدَثٌ، وَلَا مُطِيقًا لِأَنَّهُ
خَالِقُ كُلِّ طَاقَةٍ وَهِيَ مُتَنَاهِيَةٌ، وَلَا مَحْفُوظًا لِأَنَّهُ هُوَ الْحَافِظُ.
وَلَا يَجُوزُ وَصْفُهُ بِالْمُبَاشَرَةِ، وَلَا يَجُوزُ وَصْفُهُ بِأَنَّهُ مُكْتَسِبٌ،
لِأَنَّ ذَلِكَ مُحْدَثٌ بِقُدْرَةٍ مُحْدَثَةٍ، وَاللهُ تَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنْ ذَلِكَ.
Dan tidak boleh Dia
dinamakan fadhil (yang berlebih), ‘atiq (yang kuno/tua), faqih
(yang paham hukum), fahiim (yang mengerti), fathin (yang cerdik),
muhaqqiq (yang memverifikasi), ‘aqil (yang berakal), muwaqqor
(yang dimuliakan), dan tidak pula thoyyib; meskipun ada yang berpendapat boleh.
Dan tidak boleh dinamakan ‘adiy (kuno/dari kaum ‘Ad), karena itu
dinisbatkan kepada zaman kaum ‘Ad sedangkan itu adalah perkara baru. Tidak pula
muthiq (yang sanggup menahan beban) karena Dialah Pencipta setiap energi
(thoqoh) sedangkan energi itu terbatas. Dan tidak pula mahfuzh
(yang dijaga) karena Dialah Sang Penjaga. Dan tidak boleh menyifati-Nya dengan mubasyaroh
(sentuhan langsung secara fisik), serta tidak boleh menyifati-Nya sebagai orang
yang kasb (berusaha mengusahakan sesuatu untuk diri-Nya), karena hal itu
merupakan perkara baru dengan kemampuan yang baru, sedangkan Alloh Ta’ala
Maha Suci dari hal tersebut.
وَلَا يَجُوزُ
عَلَيْهِ الْعَدَمُ وَهُوَ قَدِيمٌ لَا بِقِدَمٍ، وَلَا أَوَّلَ لِوُجُودِهِ خِلَافَ
مَا قَالَ ابْنُ كُلَّابٍ مِنْ أَنَّهُ قَدِيمٌ بِقِدَمٍ، وَهُوَ بَاقٍ لَا بِبَقَاءٍ،
وَهُوَ -عَزَّ وَجَلَّ- عَالِمٌ بِمَعْلُومَاتٍ غَيْرِ مُتَنَاهِيَةٍ، قَادِرٌ بِمَقْدُورَاتٍ
غَيْرِ مُتَنَاهِيَةٍ خِلَافَ مَا أَذَاعَتِ الْمُعْتَزِلَةُ مِنْ أَنَّ كُلَّ ذَلِكَ
مُتَنَاهٍ.
Dan tidak boleh bagi-Nya
ketiadaan (‘adam). Dia Maha Qodim (terdahulu) namun bukan dengan sifat
qidam yang terpisah, dan tidak ada awal bagi keberadaan-Nya, berbeda dengan apa
yang dikatakan oleh Ibnu Kullab (241 H) bahwa Dia qodim dengan qidam. Dia Maha
Kekal bukan dengan sifat kekal (baqo’) yang terpisah. Dia ﷻ Maha Mengetahui atas informasi-informasi
yang tidak terbatas, dan Maha Kuasa atas segala takdir yang tidak terbatas,
berbeda dengan apa yang disebarkan oleh kaum Mu’tazilah bahwa semua itu
terbatas.
16.2
Sifat-Sifat yang Diperbolehkan bagi Alloh ﷻ
وَأَمَّا
الصِّفَاتُ الَّتِي يَجُوزُ وَصْفُهُ -عَزَّ وَجَلَّ- بِهَا: فَالْفَرَحُ وَالضَّحِكُ
وَالْغَضَبُ وَالسَّخَطُ وَالرِّضَا، وَقَدْ قَدَّمْنَا ذَلِكَ فِي أَوَّلِ الْبَابِ.
وَيَجُوزُ وَصْفُهُ -عَزَّ وَجَلَّ- بِأَنَّهُ مَوْجُودٌ لِقَوْلِهِ -عَزَّ وَجَلَّ-:
﴿وَوَجَدَ اللهَ عِنْدَهُ﴾. وَيَجُوزُ وَصْفُهُ بِأَنَّهُ شَيْءٌ لِقَوْلِهِ
تَعَالَى: ﴿قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللهُ﴾. وَيَجُوزُ أَنْ يُوصَفَ بِأَنَّهُ: نَفْسٌ وَذَاتٌ
وَعَيْنٌ مِنْ غَيْرِ تَشْبِيهٍ بِجَارِحَةِ الْإِنْسَانِ عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ.
Adapun sifat-sifat yang
diperbolehkan untuk menyifati-Nya ﷻ dengannya adalah: gembira, tertawa, marah,
gusar, dan ridho, dan kami telah menyampaikan hal tersebut di awal bab. Dan
boleh menyifati-Nya ﷻ bahwa
Dia itu Maujud (Ada), berdasarkan firman-Nya ﷻ: “Dan dia mendapati Alloh di sisinya”
(QS. An-Nur: 39).
Dan boleh menyifati-Nya
bahwa Dia adalah “Sesuatu” (Syai’) berdasarkan firman-Nya Ta’ala:
“Katakanlah: ‘Siapakah (sesuatu apa) yang lebih kuat kesaksiannya?’
Katakanlah: ‘Alloh’” (QS. Al-An’am: 19).
Dan boleh Dia disifati
sebagai: Nafs (Jiwa), Dzat, dan ‘Ayn (Mata) tanpa adanya penyerupaan (tasybih)
dengan anggota tubuh manusia, sebagaimana penjelasan yang telah lalu.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ كَائِنٌ مِنْ غَيْرِ حَدٍّ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا﴾، ﴿وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا﴾.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ قَدِيمٌ وَبَاقٍ، وَبِأَنَّهُ مُسْتَطِيعٌ، لِأَنَّ مَعْنَى الِاسْتِطَاعَةِ
الْقُدْرَةُ، وَهُوَ مَوْصُوفٌ بِالْقُدْرَةِ.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ سَيِّدٌ، وَيَجُوزُ وَصْفُهُ بِأَنَّهُ عَارِفٌ وَمَتِينٌ وَوَاثِقٌ
وَدَرِيٌّ وَدَارٍ. لِأَنَّ جَمِيعَ ذَلِكَ رَاجِعٌ إِلَى مَعْنَى الْعَالِمِ، وَلَمْ
يَرِدِ الشَّرْعُ بِمَنْعِ ذَلِكَ وَلَا اللُّغَةُ، بَلْ قَالَ الشَّاعِرُ: اللهُمَّ
لَا أَدْرِي ... وَأَنْتَ الدَّارِي.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ رَاءٍ وَيَرْجِعُ إِلَى مَعْنَى الْعَالِمِ، وَيَجُوزُ وَصْفُهُ
بِأَنَّهُ مُطَّلِعٌ عَلَى خَلْقِهِ وَعِبَادِهِ بِمَعْنَى عَالِمٍ بِهِمْ، وَكَذَلِكَ
وَاجِدٌ بِمَعْنَى عَالِمٍ.
Dan boleh menyifati-Nya
sebagai “Kaa-in” (Dzat yang ada) tanpa batasan, berdasarkan firman-Nya Ta’ala:
“Dan Alloh Maha Mengetahui atas segala sesuatu” (QS. Al-Ahzab: 40).
Serta: “Dan Alloh Maha Mengawasi atas segala sesuatu” (QS. Al-Ahzab:
52).
Serta boleh menyifati-Nya
sebagai Qodim (Terdahulu) dan Baaqi (Kekal), serta Mustathi’ (Yang Mampu),
karena makna istitho’ah adalah qudroh (kemampuan), sedangkan Dia
disifati dengan qudroh.
Dan boleh menyifati-Nya
sebagai Sayyid (Pemimpin/Tuan), serta boleh menyifati-Nya sebagai ‘Arif (Yang
Mengenal), Matiin (Yang Kokoh), Waatsiq (Yang Terpercaya), Diriy dan Daariy
(Yang Mengetahui). Karena semua itu kembali kepada makna Al-‘Aalim (Yang Maha Mengetahui),
dan syariat tidak melarang hal itu, begitu pula bahasa. Bahkan penyair berkata:
“Ya Alloh aku tidak tahu... sedangkan Engkau Maha Tahu (Ad-Daariy).”
Serta boleh menyifati-Nya sebagai Roo-in (Yang Melihat) dan itu kembali kepada
makna Al-‘Aalim, dan boleh menyifati-Nya sebagai Muththoli’ (Yang Mengetahui)
atas makhluk-Nya dan hamba-hamba-Nya dengan makna ‘Aalim (Maha Mengetahui)
terhadap mereka, demikian pula Waajid dengan makna ‘Aalim.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ جَمِيلٌ وَمُجْمِلٌ، يَعْنِي فِي الصُّنْعِ إِلَى خَلْقِهِ.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ دَيَّانٌ، عَلَى مَعْنَى أَنَّ مُجَازٍ لِعِبَادِهِ عَلَى أَفْعَالِهِمْ.
الدِّينُ: الْحِسَابُ، «كَمَا تَدِينُ تُدَانُ» ﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾ أَيْ يَوْمِ الْحِسَابِ، وَعَلَى مَعْنَى الشَّارِعِ
لِعِبَادِهِ عِبَادَةً وَشَرِيعَةً دَعَاهُمْ إِلَيْهَا، وَفَرَضَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ
ثُمَّ هُوَ يُجَازِيهِمْ عَلَى مَا فَعَلُوا فِيهَا.
Dan boleh menyifati-Nya
sebagai Jamiil (Maha Indah) dan Mujmil (Maha Memperindah), maksudnya dalam hal
ciptaan-Nya kepada makhluk-Nya. Serta boleh menyifati-Nya sebagai Dayyaan (Maha
Pemberi Balasan), dengan makna Dzat yang memberi balasan kepada hamba-hamba-Nya
atas perbuatan mereka. Ad-Diin maknanya adalah Al-Hisab (Perhitungan),
sebagaimana dalam pepatah: “Sebagaimana engkau memperlakukan maka engkau
akan diperlakukan.” Dan firman-Nya: “Pemilik Hari Pembalasan (Yaumid
Diin)” (QS. Al-Fatihah: 4) maksudnya adalah hari perhitungan. Serta
dalam makna Asy-Syaari’ (Pembuat Syariat) bagi hamba-hamba-Nya berupa Ibadah
dan syariat yang Dia seru mereka kepadanya, dan Dia wajibkan hal itu atas
mereka, kemudian Dialah yang memberi balasan atas apa yang mereka kerjakan di
dalamnya.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ مُقَدِّرٌ عَلَى مَعْنَى التَّقْدِيرِ: ﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾، ﴿الَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى﴾. وَعَلَى مَعْنَى الْخَبَرِ قَالَ تَعَالَى:
﴿إِلَّا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَا إِنَّهَا لَمِنَ
الْغَابِرِينَ﴾، أَيْ أَخْبَرْنَا لُوطًا -عَلَيْهِ السَّلَامُ-
أَنَّ امْرَأَتَهُ مِنَ الْبَاقِينَ فِي الْعَذَابِ مِنْ دُونِ أَهْلِهِ، وَلَا يَجُوزُ
أَنْ يَكُونَ مَعْنَاهُ الظَّنَّ وَالشَّكَّ -تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ-.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ نَاظِرٌ عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ رَاءٍ مُدْرِكٌ لِلْأَشْيَاءِ، لَا
عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ مُتَرٍو مُفَكِّرٌ، تَعَالَى عَنْ ذَلِكَ.
Dan boleh menyifati-Nya
sebagai Muqoddir (Maha Menentukan) dengan makna At-Taqdir: “Sesungguhnya
Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (qodar)” (QS. Al-Qomar:
49). Serta: “Dzat yang menentukan (qoddaro) lalu memberi petunjuk” (QS.
Al-A’la: 3). Dan dalam makna Al-Khobar (Pemberitahuan), Alloh Ta’ala
berfirman: “Kecuali istrinya; Kami telah tentukan bahwa dia termasuk
orang-orang yang tertinggal (dalam adzab)” (QS. Al-Hijr: 60),
maksudnya adalah Kami mengabarkan kepada Luth ‘alaihis salam bahwa
istrinya termasuk orang yang menetap di dalam adzab selain keluarganya yang
lain. Dan tidak boleh maknanya adalah dugaan (zhon) maupun keraguan,
Maha Tinggi Alloh dari hal tersebut. Dan boleh menyifati-Nya sebagai Naazhir
(Yang Melihat) dengan makna bahwa Dia Melihat lagi Menjangkau segala sesuatu,
bukan dengan makna bahwa Dia berangan-angan atau berpikir, Maha Tinggi Alloh
dari hal itu.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ أَنَّهُ شَفِيقٌ عَلَى مَعْنَى الرَّحْمَةِ بِخَلْقِهِ وَالرَّأْفَةِ بِهِمْ،
لَا عَلَى مَعْنَى الْخَوْفِ وَالْحُزْنِ.
وَكَذَلِكَ
يَجُوزُ وَصْفُهُ بِأَنَّهُ رَفِيقٌ عَلَى مَعْنَى الرَّحْمَةِ وَالتَّعَطُّفِ بِخَلْقِهِ
لَا عَلَى مَعْنَى التَّثْبِيتِ فِي الْأُمُورِ وَالْإِجْمَالِ فِي إِصْلَاحِهَا وَالسَّلَامَةِ
مِنْ عَوَاقِبِهَا.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ سَخِيٌّ كَمَا يَجُوزُ وَصْفُهُ بِأَنَّهُ كَرِيمٌ وَجَوَادٌ لِأَنَّ
مَعْنَى الْكُلِّ التَّفَضُّلُ وَالْإِحْسَانُ إِلَى خَلْقِهِ. وَلَا يُقْصَدُ بِذَلِكَ
الرَّخَاوَةُ وَاللِّينُ عَلَى مَا هُوَ فِي اللُّغَةِ مُسْتَعْمَلٌ فِي أَرْضٍ سَخِيَّةٍ
وَقِرْطَاسٍ سَخِيٍّ إِذَا كَانَا لَيِّنَيْن.
Dan boleh menyifati-Nya
bahwa Dia itu Syafiiq (Maha Santun) dengan makna rohmat kepada makhluk-Nya dan
kasih sayang kepada mereka, bukan dengan makna takut maupun sedih.
Demikian pula boleh
menyifati-Nya bahwa Dia itu Rofiiq (Maha Lembut) dengan makna rohmat dan belas
kasih kepada makhluk-Nya, bukan dengan makna berlambat-lambat dalam urusan atau
membagus-baguskan dalam perbaikan serta keselamatan dari akibat buruk.
Serta boleh menyifati-Nya
sebagai Sakhiyy (Maha Dermawan) sebagaimana boleh menyifati-Nya sebagai Kariim
(Maha Mulia) dan Jawaad (Maha Dermawan), karena makna semuanya adalah
memberikan karunia dan berbuat baik kepada makhluk-Nya. Dan tidaklah
dimaksudkan dengan hal itu adalah sifat lembek dan lunak sebagaimana yang
digunakan secara bahasa pada tanah yang sakhiyyah (lunak) atau kertas
yang sakhiyy (lemas) jika keduanya lunak.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ أَمِرٌ وَنَاهٍ، وَمُبِيحٌ وَحَاضِرٌ، وَمُحَلِّلٌ وَمُحَرِّمٌ،
وَفَارِضٌ وَمُلْهِمٌ، وَمُوجِبٌ وَنَادِبٌ، وَمُرْشِدٌ وَقَاضٍ، وَحَاكِمٌ عَلَى مَا
ذَكَرْنَاهُ.
وَكَذَلِكَ
يَجُوزُ وَصْفُهُ بِأَنَّهُ وَاعِدٌ وَمُتَوَعِّدٌ، وَمُخَوِّفٌ وَمُحَذِّرٌ، وَذَامٌّ
وَمَادِحٌ، وَمُخَاطِبٌ وَمُتَكَلِّمٌ، وَقَائِلٌ، كُلُّ ذَلِكَ رَاجِعٌ إِلَى مَعْنَى
أَنَّهُ مَوْصُوفٌ بِالْكَلَامِ.
Dan boleh menyifati-Nya
sebagai Aamir (Maha Memerintah) dan Naahin (Maha Melarang), Mubih (Maha
Membolehkan), Haadhir (Maha Hadir), Muhallil (Maha Menghalalkan), Muharrim
(Maha Mengharomkan), Faaridh (Maha Mewajibkan), Mulhim (Maha Memberi Ilham),
Muujib (Maha Mewajibkan), Naadib (Maha Menganjurkan), Mursyid (Maha Memberi
Petunjuk), Qoodhi (Maha Memutuskan), dan Haakim (Maha Menghakimi) sesuai yang
telah kami sebutkan.
Demikian pula boleh
menyifati-Nya sebagai Wa’id (Maha Menjanjikan Kebaikan) dan Mutawa’id (Maha
Mengancam), Mukhowwif (Maha Menakuti), Muhadzdzir (Maha Memperingatkan), Dzaam
(Maha Mencela), Maadih (Maha Memuji), Mukhotthib (Maha Mengajak Bicara),
Mutakallim (Maha Berbicara), dan Qoo-il (Maha Berucap). Semua itu kembali pada
makna bahwa Dia disifati dengan Kalam (Berbicara).
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ مُعْدِمٌ عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ لَمْ يُوجِدْ وَلَمْ يَفْعَلْ،
وَعَلَى مَعْنَى أَنَّهُ مُعْدِمٌ لِمَا أَوْجَدَهُ بَعْدَ إِيجَادِهِ بِقَطْعِ الْبَقَاءِ
عَنْهُ فَيَنْعَدِمُ بِذَلِكَ.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ فَاعِلٌ بِمَعْنَى أَنَّهُ مُخْتَرِعٌ لِذَاتِ مَا فَعَلَهُ، وَخَالِقٌ
لَهُ، وَجَاعِلٌ بِقُدْرَتِهِ، فَاسْتَحَقَّ لِذَلِكَ هَذَا الْوَصْفَ، لَا عَلَى مَعْنَى
الْمُبَاشَرَةِ لِلْأَشْيَاءِ لِأَنَّ حَقِيقَةَ ذَلِكَ تَلَاقِي الْأَجْسَامِ وَمُمَاسَّتُهَا،
وَاللهُ سُبْحَانَهُ مُتَعَالٍ عَنْ ذَلِكَ.
Dan boleh menyifati-Nya
sebagai Mu’dim (Maha Meniadakan) dengan makna bahwa Dia tidak mewujudkan atau
tidak melakukan sesuatu, dan dengan makna bahwa Dia melenyapkan apa yang telah
Dia wujudkan setelah pewujudannya dengan cara memutus kelestariannya sehingga
ia menjadi tiada karenanya.
Serta boleh menyifati-Nya
sebagai Faa’il (Maha Melakukan) dengan makna bahwa Dia adalah Pencipta bagi
dzat apa yang Dia lakukan, Penciptanya, dan Penjadinya dengan kekuasaan-Nya,
maka Dia berhak atas sifat ini. Bukan dengan makna mubasyaroh
(bersentuhan langsung) terhadap benda-benda, karena hakikat dari hal itu adalah
bertemunya dua jasad dan persentuhan mereka, sedangkan Alloh Subhanahu
Maha Tinggi dari hal tersebut.
وَكَذَلِكَ
يَجُوزُ وَصْفُهُ بِأَنَّهُ جَاعِلٌ عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ فَاعِلٌ وَفِعْلُهُ مَفْعُولٌ،
كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ﴾.
وَيَجُوزُ
أَنْ يَكُونَ الْجَعْلُ بِمَعْنَى الْحُكْمِ، قَالَ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا﴾.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ تَارِكٌ فِي الْحَقِيقَةِ كَمَا وُصِفَ بِأَنَّهُ فَاعِلٌ، عَلَى
مَعْنَى أَنَّهُ فَاعِلُ ضِدِّ فِعْلِهِ الْآخَرِ بَدَلًا مِنَ الْأَوَّلِ بِقُدْرَتِهِ
الْعَامَّةِ الشَّامِلَةِ، لَا عَلَى مَعْنَى كَفِّ النَّفْسِ وَمَنْعِهَا عَمَّا يَدْعُو
إِلَى فِعْلِهِ.
Demikian pula boleh
menyifati-Nya sebagai Jaa’il (Maha Menjadikan) dengan makna bahwa Dia adalah
Pelaku, dan perbuatan-Nya adalah obyek yang dijadikan, sebagaimana firman-Nya Ta’ala:
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda” (QS. Al-Isro:
12).
Dan boleh jadi kata “Jal”
itu bermakna menghukumi (al-hukm), Alloh ﷻ berfirman: “Sesungguhnya Kami telah
menjadikannya (menghukuminya) sebagai Al-Qur’an dalam bahasa Arob” (QS.
Az-Zukhruf: 3)
Serta boleh menyifati-Nya
sebagai Taarik (Maha Meninggalkan) secara hakiki sebagaimana Dia disifati
sebagai Pelaku, dengan makna bahwa Dia melakukan lawan dari perbuatan-Nya yang
lain sebagai pengganti dari yang pertama dengan kekuasaan-Nya yang umum lagi menyeluruh,
bukan dengan makna menahan diri (kaffun nafs) dan mencegahnya dari apa
yang mendorong untuk melakukan perbuatan tersebut.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ يُوجِدُ عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ يَخْلُقُ؟ وَكَذَلِكَ يَجُوزُ وَصْفُهُ
بِأَنَّهُ مُكَوِّنٌ عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ مُوجِدٌ.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ مُثَبِّتٌ عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ يُوجِدُ فِي الشَّيْءِ الْبَقَاءَ
وَالثَّبَاتَ، كَمَا قَالَ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ﴾، وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ
أُمُّ الْكِتَابِ﴾.
Dan boleh menyifati-Nya
sebagai Yuujid (Maha Mewujudkan) dengan makna bahwa Dia menciptakan.
Demikian pula boleh
menyifati-Nya sebagai Mukawwin (Maha Membentuk) dengan makna bahwa Dia adalah
Mewujudkan.
Serta boleh menyifati-Nya
sebagai Mutsabbit (Maha Meneguhkan) dengan makna bahwa Dia mewujudkan sifat
tetap dan teguh pada sesuatu, sebagaimana firman Alloh ﷻ: “Alloh meneguhkan orang-orang yang
beriman dengan ucapan yang teguh” (QS. Ibrohim: 27). Serta
firman-Nya Ta’ala: “Alloh menghapus apa yang Dia kehendaki dan
menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab” (QS.
Ar-Ro’d: 39).
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ عَامِلٌ وَصَانِعٌ بِمَعْنَى خَالِقٍ. وَيَجُوزُ وَصْفُهُ بِأَنَّهُ
مُصِيبٌ، عَلَى مَعْنَى أَنَّ أَفْعَالَهُ وَاقِعَةٌ عَلَى مَا قَصَدَهُ وَأَرَادَهُ
مِنْ غَيْرِ تَفَاوُتٍ وَتَزَايُدٍ وَتَنَاقُصٍ، لِأَنَّهُ تَعَالَى عَالِمٌ بِهَا
وَبِحَقَائِقِهَا وَكَيْفِيَّاتِهَا، لَا عَلَى مَعْنَى أَنَّ ذَلِكَ مُوَافِقٌ لِأَمْرِ
آمِرٍ أَمَرَهُ بِفِعْلِهَا، تَعَالَى عَنْ ذَلِكَ.
Dan boleh menyifati-Nya
sebagai ‘Aamil (Maha Mengerjakan) dan Shooni’ (Sang Pembuat) dengan makna
Pencipta.
Serta boleh menyifati-Nya
sebagai Mushiib (Maha Tepat), dengan makna bahwa perbuatan-perbuatan-Nya
terjadi sesuai dengan apa yang Dia maksudkan dan Dia inginkan tanpa adanya
perselisihan, tambahan, maupun pengurangan, karena Dia Ta’ala Maha
Mengetahui atas perbuatan itu, hakikatnya, dan kaifiyat-nya. Bukan dengan makna
bahwa hal itu sesuai dengan perintah dari pemberi perintah yang
memerintahkan-Nya untuk melakukannya, Maha Tinggi Alloh dari hal tersebut.
وَيَجُوزُ
إِطْلَاقُ هَذِهِ الصِّفَةِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ عَبِيدِهِ فَيُقَالُ لَهُ إِنَّهُ مُصِيبٌ،
بِمَعْنَى أَنَّهُ مُطِيعٌ لِرَبِّهِ، مُتَّبِعٌ لِأَمْرِهِ، مُنْتَهٍ لِنَهْيِهِ،
وَكَذَلِكَ إِذَا كَانَ مُطِيعًا لِمَنْ هُوَ فَوْقَهُ وَرَئِيسِهِ. وَيَجُوزُ وَصْفُ
أَفْعَالِهِ -عَزَّ وَجَلَّ- بِأَنَّهُ صَوَابٌ عَلَى مَعْنَى أَنَّهَا حَقٌّ وَثَابِتٌ.
Dan boleh menyematkan
sifat ini (mushiib) kepada salah seorang hamba-Nya sehingga dikatakan
kepadanya bahwa dia mushiib, dengan makna bahwa dia adalah orang yang
taat kepada Robb-nya, mengikuti perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya,
demikian pula jika dia taat kepada orang yang di atasnya dan pemimpinnya.
Dan boleh menyifati
perbuatan-perbuatan Alloh ﷻ sebagai “Showab” (Benar) dengan makna bahwa ia adalah
Al-Haq dan tetap.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ مُثِيبٌ وَمُنْعِمٌ، عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ يَجْعَلُ الْمُثَابَ
مُنْعَمًا مُعَظَّمًا.
وَكَذَلِكَ
يَجُوزُ وَصْفُهُ بِأَنَّهُ مُعَاقِبٌ وَمُجَازٍ، عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ يُهِينُ الْعَاصِيَ
وَيُؤْلِمُهُ عَلَى مَعْصِيَتِهِ.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ قَدِيمُ الْإِحْسَانِ عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ مَوْصُوفٌ بِالْخَلْقِ
وَالرِّزْقِ فِي الْقِدَمِ، قَالَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى﴾.
Dan boleh menyifati-Nya
sebagai Mutsiib (Maha Memberi Pahala) dan Mun’im (Maha Memberi Ni’mat), dengan
makna bahwa Dia menjadikan orang yang diberi pahala sebagai orang yang diberi
ni’mat lagi dimuliakan. Demikian pula boleh menyifati-Nya sebagai Mu’aaqib (Maha
Menyiksa) dan Mujaazin (Maha Membalas), dengan makna bahwa Dia menghinakan
orang yang bermaksiat dan menyakitinya atas kemaksiatannya. Serta boleh
menyifati-Nya sebagai Qodiimul Ihsan (Maha Terdahulu Kebaikan-Nya) dengan makna
bahwa Dia disifati dengan penciptaan dan pemberian rizqi sejak zaman azali,
Alloh ﷻ
berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan
yang baik (Al-Husna) dari Kami” (QS. Al-Anbiya: 101).
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ دَلِيلٌ، وَقَدْ نَصَّ الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَلَيْهِ فِي حَقِّ
رَجُلٍ قَالَ لَهُ: زَوِّدْنِي دَعْوَةً فَإِنِّي أُرِيدُ الْخُرُوجَ إِلَى طَرْطُوسَ،
فَقَالَ لَهُ: قُلْ يَا دَلِيلَ الْحَائِرِينَ، دُلَّنِي عَلَى طَرِيقِ الصَّادِقِينَ،
وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
وَيَجُوزُ
وَصْفُهُ بِأَنَّهُ طَبِيبٌ لِمَا رُوِيَ عَنْ أَبِي رِمْثَةَ التَّمِيمِيِّ أَنَّهُ
قَالَ: كُنْتُ مَعَ أَبِي عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَرَأَيْتُ عَلَى كَتِفِ النَّبِيِّ
ﷺ مِثْلَ التُّفَّاحَةِ. قَالَ: فَقَالَ أَبِي: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي طَبِيبٌ أَفَأُطَبُّهَا
لَكَ، قَالَ ﷺ: «طَبِيبُهَا الَّذِي خَلَقَهَا».
Dan boleh menyifati-Nya
sebagai Daliil (Maha Pemberi Petunjuk). Sungguh Imam Ahmad (241 H) telah
menegaskan hal itu kepada seorang lelaki yang berkata kepada beliau: “Berilah
aku bekal berupa doa karena aku ingin keluar menuju Thorthus.” Maka beliau
berkata kepadanya: “Katakanlah: ‘Wahai Pemberi Petunjuk bagi orang-orang
yang kebingungan (Ya Daliilal Ha-iriin), tunjukkanlah kepadaku jalan
orang-orang yang jujur, dan jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang sholih.’”
Serta boleh menyifati-Nya
sebagai Thobiib (Maha Penyembuh) berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Abu
Rimtsah At-Tamimi rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata: “Aku
pernah bersama ayahku di sisi Nabi ﷺ, lalu aku melihat di bahu Nabi ﷺ ada sesuatu seperti buah apel.” Beliau berkata: Ayahku bertanya: “Wahai
Rosululloh, sesungguhnya aku adalah seorang dokter (thobiib), bolehkah aku
mengobatimu?” Nabi ﷺ
bersabda: “Dokternya (Penyembuhnya) adalah Dzat yang telah menciptakannya.”
وَرُوِيَ
عَنْ أَبِي السَّفَرِ أَنَّهُ قَالَ: مَرِضَ أَبُو بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَعَادُوهُ
فَقَالُوا لَهُ: أَلَا نَدْعُو لَكَ الطَّبِيبَ؟ فَقَالَ قَدْ رَآنِي، قَالُوا: فَأَيُّ
شَيْءٍ قَالَ لَكَ؟ قَالَ: قَالَ لِي إِنِّي فَعَّالٌ لِمَا أُرِيدُ.
وَكَذَلِكَ
يُرْوَى أَنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- مَرِضَ، فَعَادُوهُ، فَقَالُوا
لَهُ: أَيُّ شَيْءٍ تَشْتَكِي؟ قَالَ: ذُنُوبِي، فَقَالُوا: أَيُّ شَيْءٍ تَشْتَهِي؟
قَالَ: الْجَنَّةَ، قَالُوا: أَلَا نَدْعُو لَكَ الطَّبِيبَ؟ قَالَ: هُوَ أَمْرَضَنِي.
Diriwayatkan dari Abu
As-Safar bahwasanya beliau berkata: Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu
jatuh sakit, lalu orang-orang menjenguknya dan bertanya kepadanya: “Tidakkah
kami panggilkan dokter untukmu?” Beliau menjawab: “Dia telah melihatku.”
Mereka bertanya: “Lalu apa yang Dia katakan kepadamu?” Beliau menjawab: “Dia
berfirman kepadaku: ‘Sesungguhnya Aku Maha Melaksanakan apa yang Aku
kehendaki.’”
Demikian pula
diriwayatkan bahwasanya Abu Darda (32 H) rodhiyallahu ‘anhu jatuh sakit,
lalu orang-orang menjenguknya dan bertanya: “Apa yang engkau keluhkan?”
Beliau menjawab: “Dosa-dosaku.” Mereka bertanya: “Apa yang engkau
inginkan?” Beliau menjawab: “Jannah.” Mereka bertanya: “Tidakkah
kami panggilkan dokter untukmu?” Beliau menjawab: “Dialah (Dokter itu)
yang telah membuatku sakit.”
فَإِذَا
ثَبُتَ هَذَا عَلَى مَا ذَكَرْنَا فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُدْعَا -عَزَّ وَجَلَّ- بِكُلِّ
اسْمٍ لَا يَجُوزُ إِطْلَاقُهُ عَلَيْهِ -عَزَّ وَجَلَّ-، عَلَى مَا ذَكَرْنَا فِي
أَوَّلِ الْفَصْلِ. وَإِنَّمَا يَجُوزُ أَنْ يُدْعَا بِمَا يُسَمَّى بِهِ مِنَ الْأَسْمَاءِ
الَّتِي يَجُوزُ وَصْفُهُ بِهَا، وَصِفَاتِهِ الَّتِي يَجُوزُ أَنْ يُوصَفَ بِهَا،
وَقَدْ ذَكَرْنَا التِّسْعَةَ وَالتِّسْعِينَ اسْمًا فِيمَا تَقَدَّمَ، فَهِيَ آكَدُ
فِي الدُّعَاءِ. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَصِفَهُ وَيَدْعُوَ بِمَا ذَكَرْنَا فِي هَذَا
الْفَصْلِ جَازَ ذَلِكَ، إِلَّا أَنَّهُ يَجْتَنِبُ فِي دُعَائِهِ مِنْ أَنْ يَدْعُوَهُ
-عَزَّ وَجَلَّ- بِقَوْلِهِ يَا سَاخِرُ يَا مُسْتَهْزِئُ يَا مَاكِرُ يَا خَادِعُ،
وَمُبْغِضٌ وَغَضْبَانٌ، وَمُنْتَقِمٌ وَمُعَادٍ، وَمُعْدِمٌ وَمُهْلِكٌ، فَلَا يَدْعُو
بِهَا وَإِنْ كَانَ مِمَّا يَجُوزُ وَصْفُهُ بِهَا عَلَى وَجْهِ الْجَزَاءِ وَالْمُقَابَلَةِ
لِأَهْلِ الْإِحْرَامِ عَلَى وَجْهِ الِاسْتِحْقَاقِ.
Maka jika telah tetap hal
ini sesuai yang telah kami sebutkan, maka tidak boleh Alloh ﷻ dipanggil dengan setiap nama yang tidak
boleh disematkan kepada-Nya ﷻ, sesuai yang kami sebutkan di awal pasal ini. Hanyalah boleh
Dia dipanggil dengan nama-nama yang memang Dia dinamakan dengannya yang
diperbolehkan untuk menyifati-Nya, serta sifat-sifat-Nya yang diperbolehkan
untuk Dia disifati dengannya. Kami telah menyebutkan 99 nama tersebut
sebelumnya, maka nama-nama itulah yang lebih utama (mu-akkad) dalam
berdoa. Dan jika seseorang ingin menyifati-Nya dan berdoa dengan apa yang kami
sebutkan dalam pasal ini, maka hal itu diperbolehkan. Namun hendaknya dia
menghindari dalam doanya dari memanggil Alloh ﷻ dengan ucapan: ‘Ya Saakhir (Wahai Dzat
yang meremehkan), Ya Mustahzi’ (Wahai Dzat yang mengolok-olok), Ya Maakir
(Wahai Dzat yang melakukan makar), Ya Khoodi’ (Wahai Dzat yang menipu), serta
yang Maha Membenci, Yang Maha Marah, Yang Maha Membalas Dendam (Muntaqim), Yang
Maha Memusuhi, Yang Maha Meniadakan, dan Yang Maha Membinasakan. Maka janganlah
berdoa dengan itu meskipun hal tersebut termasuk perkara yang diperbolehkan
untuk menyifati-Nya dalam rangka balasan dan timbal balik bagi para pelaku
kriminal sesuai dengan haknya.
Bab
17: Perpecahan Umat Islam Menjadi 73 Golongan
17.1
Hadits Tentang Perpecahan Umat
وَأَمَّا
الْفَصْلُ الثَّانِي: فِي بَيَانِ مَقَالَةِ الْفِرَقِ الضَّالَّةِ عَنْ طَرِيقِ الْهُدَى.
فَالْأَصْلُ فِي ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ
عَوْفٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ
ﷺ: «لَتَسْلُكُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، وَلَتَأْخُذُنَّ
مِثْلَ أَخْذِهِمْ إِنْ شِبْرًا فَشِبْرًا وَإِنْ ذِرَاعًا فَذِرَاعًا وَإِنْ بَاعًا
فَبَاعًا، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ فِيهِ مَعَهُمْ. أَلَا
إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ افْتَرَقَتْ عَلَى مُوسَى بِإِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
كُلُّهَا ضَالَّةٌ، إِلَّا فِرْقَةً وَاحِدَةً: الْإِسْلَامُ وَجَمَاعَتُهُمْ. ثُمَّ
إِنَّهَا افْتَرَقَتْ عَلَى عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ بِاثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
كُلُّهَا ضَالَّةٌ إِلَّا وَاحِدَةً: الْإِسْلَامُ وَجَمَاعَتُهُمْ. ثُمَّ إِنَّكُمْ
تَكُونُونَ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا ضَالَّةٌ إِلَّا فِرْقَةً
وَاحِدَةً: الْإِسْلَامُ وَجَمَاعَتُهُمْ».
Adapun pasal kedua:
Mengenai penjelasan pendapat firqoh-firqoh (golongan) yang sesat dari jalan
petunjuk.
Dasar dalam masalah ini
adalah apa yang diriwayatkan dari Katsir bin Abdullah (158 H) bin ‘Amr bin ‘Auf
dari ayahnya dari kakeknya rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda: “Kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum
kalian persis seperti sejajarnya sepasang sandal, dan kalian benar-benar akan
mengambil (sikap) seperti pengambilan mereka; jika sejengkal maka sejengkal,
jika sehasta maka sehasta, dan jika sedepa maka sedepa, hingga seandainya
mereka masuk ke lubang dhob (binatang padang pasir) niscaya kalian pun akan
masuk ke dalamnya bersama mereka.
Ketahuilah bahwa Bani
Isroil terpecah pada zaman Musa menjadi 71 golongan, semuanya sesat kecuali 1
golongan: yaitu Islam dan jamaah mereka. Kemudian mereka terpecah pada zaman
Isa bin Maryam menjadi 72 golongan, semuanya sesat kecuali 1: yaitu Islam dan
jamaah mereka. Kemudian sesungguhnya kalian akan menjadi 73 golongan, semuanya
sesat kecuali 1 golongan: yaitu Islam dan jamaah mereka.”
وَعَنْ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «تَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى
ثَلَاثَةٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً أَعْظَمُهَا فِتْنَةً عَلَى أُمَّتِي الَّذِينَ يَقِيسُونَ
الْأُمُورَ بِرَأْيِهِمْ يُحَرِّمُونَ الْحَلَالَ وَيُحَلِّلُونَ الْحَرَامَ».
وَعَنْ عَبْدِ
اللهِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ «إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ افْتَرَقُوا عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ
فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً. وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثَةٍ
وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً»، قَالُوا: وَمَا
تِلْكَ الْوَاحِدَةُ؟ قَالَ ﷺ: «مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي»
Dari Abdurrohman bin
Jubair bin Nufair dari ayahnya (Jubair bin Nufair, 80 H) dari ‘Auf bin Malik
Al-Asyja’i (73 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Umatku akan terpecah menjadi
73 golongan, yang paling besar fitnahnya bagi umatku adalah orang-orang yang
mengkiaskan urusan-urusan dengan rasio (pendapat) mereka semata; mereka
mengharomkan yang halal dan menghalalkan yang harom.”
Dari Abdullah bin Zaid
dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda: “Sesungguhnya Bani Isroil telah terpecah menjadi 71 golongan,
semuanya di Neraka kecuali 1. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan,
semuanya di Neraka kecuali 1.” Mereka bertanya: “Siapakah yang satu
itu?” Beliau ﷺ
bersabda: “Siapa saja yang berada di atas apa yang aku dan para Shohabatku
jalani.”
17.2
Terjadinya Perpecahan Sepeninggal Salaf
وَهَذَا
الِافْتِرَاقُ الَّذِي ذَكَرَهُ النَّبِيُّ ﷺ لَمْ يَكُنْ فِي زَمَانِهِ وَلَا فِي
زَمَنِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ-. وَإِنَّمَا
كَانَ بَعْدَ تَقَادُمِ السِّنِينَ وَالْأَعْوَامِ، وَفَوْتِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ
وَالْفُقَهَاءِ السَّبْعَةِ فُقَهَاءِ الْمَدِينَةِ، وَعُلَمَاءِ الْأَمْصَارِ وَفُقَهَائِهَا
قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ، وَقَبْضِ الْعِلْمِ بِمَوْتِهِمْ إِلَّا شِرْذِمَةٌ قَلِيلَةٌ،
وَهُمُ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ فَحَفِظَ اللهُ الدِّينَ بِهِمْ.
كَمَا رُوِيَ
عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَنْزِعُ الْعِلْمَ مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ
بَعْدَ أَنْ يُعْطِيَهُمْ، وَلَكِنْ يَذْهَبُ بِالْعُلَمَاءِ، فَكُلَّمَا ذَهَبَ بِعَالِمٍ
ذَهَبَ مَعَهُ مِنَ الْعِلْمِ حَتَّى يَبْقَى مَنْ لَا يَعْلَمُ، فَيَضِلُّونَ وَيُضَلُّونَ».
وَفِي لَفْظٍ
آخَرَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-
قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ
انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ، وَلُكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ،
حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالًا، فَسُئِلُوا
فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا».
Dan perpecahan yang
disebutkan oleh Nabi ﷺ ini
tidaklah terjadi pada zaman beliau, tidak pula pada zaman Abu Bakr, Umar,
Utsman, dan Ali rodhiyallahu ‘anhum. Hanyalah hal itu terjadi setelah
berlalu bertahun-tahun dan zaman-zaman yang lama, serta setelah wafatnya para
Shohabat, Tabi’in, dan 7 ahli fiqih Madinah, serta ulama-ulama negeri dan ahli
fiqihnya dari generasi ke generasi. Dan dicabutnya ilmu dengan kematian mereka
kecuali hanya tersisa sekelompok kecil saja, merekalah Golongan yang Selamat
(Al-Firqotun Najiyah), maka Alloh menjaga agama ini melalui mereka.
Sebagaimana diriwayatkan
dari ‘Urwah (94 H) dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma,
beliau berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda: “Sesungguhnya Alloh Ta’ala tidaklah mencabut ilmu dari dada
manusia setelah Dia memberikannya kepada mereka, akan tetapi Dia mewafatkan
para ulama. Setiap kali seorang ulama wafat, maka pergilah ilmu bersamanya
hingga tersisalah orang yang tidak tahu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”
Dalam lafazh lain dari
‘Urwah dari ayahnya dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, beliau
berkata: Aku mendengar Rosululloh ﷺ
bersabda: “Sesungguhnya Alloh tidaklah mencabut ilmu dengan sekali cabutan
yang Dia cabut dari manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan
para ulama. Sampai apabila tidak tersisa seorang ulama pun, manusia akan
mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya lalu memberi fatwa
tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan.”
وَعَنْ كَثِيرِ
بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- عَنْ
رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّ الدِّينَ لَيَأْزِرُ إِلَى الْحِجَازِ كَمَا
تَأْزِرُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا، وَلَيَعْقِلَنَّ الدِّينُ مِنَ الْحِجَازِ مَعْقِلَ
الْأُرْوِيَّةِ مِنْ رَأْسِ الْجَبَلِ، إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ
غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ». قِيلَ: وَمَنْ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ
ﷺ: «الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِي بَعْدِي»
وَعَنْ عِكْرِمَةَ
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- قَالَ: لَا يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ
إِلَّا أَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً وَأَحْيَوْا فِيهِ بِدْعَةً.
Dari Katsir bin Abdillah
bin ‘Auf dari ayahnya dari kakeknya rodhiyallahu ‘anhu dari Rosululloh ﷺ bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya
agama ini benar-benar akan kembali berkumpul ke Hijaz sebagaimana ular kembali
berkumpul ke lubangnya. Dan agama ini benar-benar akan berlindung di Hijaz
sebagaimana kambing gunung berlindung di puncak gunung. Sesungguhnya agama ini
bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana
permulaannya, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing (Al-Ghuroba’).”
Dikatakan: “Siapakah orang-orang asing itu?” Beliau ﷺ bersabda: “Yaitu orang-orang yang
memperbaiki apa yang telah dirusak manusia dari sunnahku sepeninggalku.”
Dari ‘Ikrimah (105 H)
dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Tidaklah
datang suatu zaman kepada manusia kecuali mereka mematikan suatu sunnah di
dalamnya dan menghidupkan suatu bid’ah.”
وَعَنِ الْحَارِثِ
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: ذَكَرَ رَسُولُ اللهِ
ﷺ الْفِتَنَ فَقُلْنَا: مَا الْمَخْرَجُ مِنْهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ رَسُولُ
اللهِ ﷺ: «كِتَابُ اللهِ هُوَ الذِّكْرُ الْحَكِيمُ، وَهُوَ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ،
هُوَ الَّذِي لَا تَلْتَبِسُ لَهُ الْأَلْسُنُ، هُوَ الَّذِي لَمْ تَنْتَهِ الْجِنُّ
إِذَا سَمِعَتْهُ أَنْ قَالُوا: ﴿إِنَّا سَمِعْنَا
قُرْآنًا عَجَبًا﴾ مَنْ قَالَ بِهِ صَدَقَ، وَمَنْ حَكَمَ بِهِ
عَدَلَ».
وَعَنْ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ عُمَرَ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ:
صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلَاةَ الصُّبْحِ، فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً،
ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ بِهَا الْقُلُوبُ وَرَمِضَتْ مِنْهَا الْجُلُودُ،
فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَقَالَ ﷺ: «أُوصِيكُمْ
بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ مِنْ بَعْدِي يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ
الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».
Dari Al-Harits dari Ali
bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ menyebutkan tentang berbagai fitnah, lalu
kami bertanya: “Apa jalan keluarnya wahai Rosululloh?” Rosululloh ﷺ bersabda: “Kitabulloh, ia adalah
peringatan yang penuh hikmah, ia adalah jalan yang lurus, ia adalah yang lisan
tidak akan keliru karenanya, ia adalah yang bangsa jin tidak berhenti ketika
mendengarnya hingga mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Qur’an
yang menakjubkan’ (QS. Al-Jin: 1). Barang siapa berucap dengannya maka
dia jujur, dan barang siapa menghukumi dengannya maka dia adil.”
Dari Abdurrohman bin ‘Amr
Al-‘Irbadh bin Sariyah (75 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
mengimami kami Sholat Shubuh, lalu beliau memberi kami nasehat yang sangat
menyentuh, yang membuat air mata bercucuran, hati bergetar, dan kulit gemetar.
Maka kami berkata: “Wahai Rosululloh, seolah-olah ini adalah nasehat orang
yang akan berpisah.” Maka beliau ﷺ bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Alloh serta mendengar dan
taat, meskipun (yang memimpin) adalah seorang budak Habasyi. Karena
sesungguhnya siapa yang hidup sepeninggalku akan melihat banyak perselisihan.
Maka wajib atas kalian untuk berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ur
Rosyidin sepeninggalku. Pegang teguhlah ia dan gigitlah ia dengan gigi geraham.
Dan waspadalah kalian terhadap perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara
baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”
وَعَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَيُّمَا دَاعٍ
دَعَا إِلَى الْهُدَى فَاتُّبِعَ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ اتَّبَعَهُ، لَا يَنْقُصُ
مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَأَيُّمَا دَاعٍ دَعَا إِلَى الضَّلَالَةِ فَاتُّبِعَ فَعَلَيْهِ
مِثْلُ أَوْزَارِ مَنْ اتَّبَعَهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ».
Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu
‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda: “Siapa saja penyeru yang menyeru kepada petunjuk lalu dia diikuti,
maka baginya pahala yang semisal dengan pahala orang yang mengikutinya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan siapa saja penyeru yang menyeru
kepada kesesatan lalu dia diikuti, maka atasnya dosa yang semisal dengan dosa
orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
17.3
Pokok-Pokok dari 73 Golongan
(فَصْلٌ)
فَأَصْلُ ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً عَشَرَةٌ: أَهْلُ السُّنَّةِ، وَالْخَوَارِجُ،
وَالشِّيعَةُ، وَالْمُعْتَزِلَةُ، وَالْمُرْجِئَةُ، وَالْمُشَبِّهَةُ، وَالْجَهْمِيَّةُ،
وَالضِّرَارِيَّةُ، وَالنَّجَّارِيَّةُ، وَالْكُلَّابِيَّةُ. فَأَهْلُ السُّنَّةِ طَائِفَةٌ
وَاحِدَةٌ، وَالْخَوَارِجُ خَمْسَ عَشْرَةَ فِرْقَةً، وَالْمُعْتَزِلَةُ سِتُّ فِرَقٍ،
وَالْمُرْجِئَةُ اثْنَتَا عَشْرَةَ فِرْقَةً، وَالشِّيعَةُ اثْنَتَانِ وَثَلَاثُونَ
فِرْقَةً، وَالْجَهْمِيَّةُ وَالنَّجَّارِيَّةُ وَالضِّرَارِيَّةُ وَالْكُلَّابِيَّةُ
كُلُّ وَاحِدَةٍ فِرْقَةٌ وَاحِدَةٌ، وَالْمُشَبِّهَةُ ثَلَاثُ فِرَقٍ، فَجَمِيعُ ذَلِكَ
ثَلَاثٌ وَسَبْعُونَ فِرْقَةً عَلَى مَا أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ.
(Fashl) Maka pokok dari 73 golongan itu ada 10: Ahli
Sunnah, Khowarij, Syi’ah, Mu’tazilah, Murji’ah, Musyabbihah, Jahmiyah,
Dhiroriyah, Najjariyah, dan Kullabiyah. Ahli Sunnah adalah 1 kelompok, Khowarij
ada 15 golongan, Mu’tazilah ada 6 golongan, Murji’ah ada 12 golongan, Syi’ah
ada 32 golongan, sedangkan Jahmiyah, Najjariyah, Dhiroriyah, dan Kullabiyah
masing-masing adalah 1 golongan, serta Musyabbihah ada 3 golongan. Maka jumlah
semuanya adalah 73 golongan sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ.
أَمَّا الْفِرْقَةُ
النَّاجِيَةُ فَهِيَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَقَدْ بَيَّنَّا مَذْهَبَهُمْ
وَاعْتِقَادَهُمْ عَلَى مَا قَدَّمْنَا ذِكْرَهُ. وَتُسَمِّى هَذِهِ الْفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ
الْقَدَرِيَّةُ وَالْمُعْتَزِلَةُ: مُجْبِرَةً لِقَوْلِهَا إِنَّ جَمِيعَ الْمَخْلُوقَاتِ
بِمَشِيئَةِ اللهِ تَعَالَى وَقُدْرَتِهِ وَإِرَادَتِهِ وَخَلْقِهِ.
وَتُسَمِّيهَا
الْمُرْجِئَةُ شَكَّاكِيَّةً لِاسْتِثْنَائِهَا فِي الْإِيمَانِ، يَقُولُ أَحَدُهُمْ:
أَنَا مُؤْمِنٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى، عَلَى مَا قَدَّمْنَا بَيَانَهُ.
وَتُسَمِّيهَا
الرَّافِضَةُ نَاصِبَةً، لِقَوْلِهَا بِاخْتِيَارِ الْإِمَامِ وَنَصْبِهِ بِالْعَقْدِ.
وَتُسَمِّيهَا
الْجَهْمِيَّةُ وَالنَّجَّارِيَّةُ مُشَبِّهَةً، لِإِتْيَانِهَا صِفَاتِ الْبَارِي
-عَزَّ وَجَلَّ- مِنَ الْعِلْمِ وَالْقُدْرَةِ وَالْحَيَاةِ وَغَيْرِهَا مِنَ الصِّفَاتِ.
وَتُسَمِّيهَا
الْبَاطِنِيَّةُ حَشْوِيَّةً، لِقَوْلِهَا بِالْأَخْبَارِ وَتَعَلُّقِهَا بِالْآثَارِ.
وَمَا اسْمُهُمْ إِلَّا أَصْحَابُ الْحَدِيثِ وَأَهْلُ السُّنَّةِ، عَلَى مَا بَيَّنَّا.
Adapun Golongan yang
Selamat (Al-Firqotun Najiyah) adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah. Kami telah
menjelaskan madzhab dan aqidah mereka berdasarkan apa yang telah kami sebutkan
sebelumnya. Golongan yang selamat ini dinamakan oleh kaum Qodariyah dan
Mu’tazilah sebagai: Mujbiroh (golongan yang memaksa) karena pendapat mereka
bahwa seluruh makhluk terjadi dengan kehendak Alloh Ta’ala, takdir-Nya,
keinginan-Nya, dan ciptaan-Nya.
Kaum Murji’ah menamakan
mereka sebagai Syakkaakiyah (orang-orang yang ragu) karena adanya pengecualian
(istitsna) dalam iman, di mana salah seorang dari mereka berkata: “Aku
Mu’min In syaa Alloh Ta’ala”, sesuai yang telah kami jelaskan sebelumnya.
Kaum Rofidhoh menamakan
mereka sebagai Nashibah, karena pendapat mereka tentang pemilihan Imam dan
pengangkatannya melalui akad (baiat).
Kaum Jahmiyah dan
Najjariyah menamakan mereka sebagai Musyabbihah, karena mereka menetapkan
sifat-sifat Sang Pencipta ﷻ seperti Ilmu, Qodrah, Hidup, dan sifat-sifat lainnya.
Kaum Bathiniyah menamakan
mereka sebagai Hasyawiyah, karena pendapat mereka yang berpegang pada
khabar-khabar dan ketergantungan mereka pada atsar-atsar. Padahal nama mereka
tidaklah lain kecuali Ash-habul Hadits dan Ahli Sunnah, sesuai yang kami
jelaskan.
Bab
21: Gelar dan Nama Golongan Khowarij
21.1
Latar Belakang Penamaan Khowarij
وَأَمَّا
الْخَوَارِجُ فَلَهُمْ أَسَامٍ وَأَلْقَابٌ: سُمُّوا الْخَوَارِجَ؛ لِخُرُوجِهِمْ عَلَى
عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-. وَسُمُّوا مُحَكِّمَةً؛ لِإِنْكَارِهِمُ
الْحَكَمَيْنِ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ وَعَمْرَو بْنَ الْعَاصِ -رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمَا-، وَلِقَوْلِهِمْ لَا حُكْمَ إِلَّا لِلَّهِ، لَا حُكْمَ الْحَكَمَيْنِ.
وَسُمُّوا أَيْضًا حَرُورِيَّةً؛ لِأَنَّهُمْ نَزَلُوا بِحَرُورَاءَ، وَهُوَ مَوْضِعٌ.
وَسُمُّوا شَرَاةً؛ لِقَوْلِهِمْ شَرَيْنَا أَنْفُسَنَا فِي اللهِ: أَيْ بَعْنَاهَا
بِثَوَابِ اللهِ وَبِرِضَاهُ الْجَنَّةَ. وَسُمُّوا مَارِقَةً؛ لِمُرُوقِهِمْ مِنَ
الدِّينِ، وَقَدْ وَصَفَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ، بِأَنَّهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ
كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لَا يَعُودُونَ فِيهِ.
Adapun Khowarij, mereka
memiliki nama-nama dan gelar-gelar: Dinamakan Khowarij karena keluarnya mereka
(pemberontakan) terhadap Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu.
Dinamakan Muhakkimah karena pengingkaran mereka terhadap dua orang penengah (hakam)
yaitu Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) dan ‘Amr bin Al-‘Ash (43 H) rodhiyallahu
‘anhuma, serta karena ucapan mereka: “Tidak ada hukum kecuali milik
Alloh”, bukan hukum dari dua hakam tersebut.
Mereka dinamakan juga
Haruriyah karena mereka menempati Haruro’, yaitu sebuah tempat. Dinamakan
Syuroh karena ucapan mereka “Kami telah menjual diri kami di jalan Alloh”,
maksudnya mereka menjualnya demi pahala Alloh dan keridhoan-Nya berupa Jannah.
Mereka juga dinamakan Mariqoh karena mereka keluar (muruq) dari agama,
dan sungguh Nabi ﷺ telah
menyifati mereka bahwa mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak
panah dari hewan buruannya kemudian mereka tidak kembali lagi ke dalamnya.
21.2
Karakteristik dan Aqidah Sesat Khowarij
فَهُمُ الَّذِينَ
مَرَقُوا مِنَ الدِّينِ وَالْإِسْلَامِ، وَفَارَقُوا الْمِلَّةَ وَشَرَدُوا عَنْهَا
وَعَنِ الْجَمَاعَةِ، وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ الْهُدَى وَالسَّبِيلِ وَخَرَجُوا عَلَى
السُّلْطَانِ، وَسَلُّوا السَّيْفَ عَلَى الْأَئِمَّةِ، وَاسْتَحَلُّوا دِمَاءَهُمْ
وَأَمْوَالَهُمْ، وَكَفَّرُوا مَنْ خَالَفَهُمْ، وَيَسُبُّونَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ
ﷺ وَأَصْهَارَهُ، وَيَتَبَرَّؤُونَ مِنْهُمْ وَيَرْمُونَهُمْ بِالْكُفْرِ وَالْعَظَائِمِ،
وَيَرَوْنَ خِلَافَهُمْ، وَلَا يُؤْمِنُونَ بِعَذَابِ الْقَبْرِ وَلَا الْحَوْضِ وَلَا
الشَّفَاعَةِ، وَلَا يُخْرِجُونَ أَحَدًا مِنَ النَّارِ، وَيَقُولُونَ: مَنْ كَذَبَ
كَذْبَةً أَوْ أَتَى صَغِيرَةً أَوْ كَبِيرَةً مِنَ الذُّنُوبِ فَمَاتَ مِنْ غَيْرِ
تَوْبَةٍ فَهُوَ كَافِرٌ وَفِي النَّارِ مُخَلَّدٌ. وَلَا يَرَوْنَ الْجَمَاعَةَ إِلَّا
خَلْفَ إِمَامِهِمْ، وَيَرَوْنَ تَأْخِيرَ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا وَالصَّوْمَ قَبْلَ
رُؤْيَةِ الْهِلَالِ، وَالْفِطْرَ مِثْلَ ذَلِكَ، وَالنِّكَاحَ بِغَيْرِ وَلِيٍّ.
Maka mereka adalah
orang-orang yang keluar dari agama dan Islam, memisahkan diri dari Millah dan menjauh
darinya serta dari jamaah, tersesat dari jalan hidayah yang lurus, memberontak
kepada penguasa (Sultan), menghunuskan pedang kepada para Imam, menghalalkan
darah dan harta mereka, serta mengafirkan siapa saja yang menyelisihi mereka.
Mereka mencela para Shohabat Rosululloh ﷺ dan
para kerabatnya melalui pernikahan (ash-har), berlepas diri dari mereka,
serta menuduh mereka dengan kekufuran dan dosa-dosa besar. Mereka memandang
perselisihan dengan Shohabat sebagai kebenaran, tidak beriman kepada adzab
kubur, tidak beriman kepada Haudh (telaga), dan tidak beriman kepada Syafaat.
Mereka tidak mengeluarkan seorang pun dari Naar dan berkata: “Barang siapa
berbohong sekali saja atau melakukan dosa kecil maupun dosa besar lalu mati
tanpa bertaubat, maka dia kafir dan kekal di dalam Naar.” Mereka tidak
memandang adanya jamaah kecuali di belakang Imam mereka, membolehkan
pengakhiran Sholat dari waktunya, berpuasa sebelum melihat hilal, berbuka pun
demikian, serta membolehkan nikah tanpa wali.
وَيَرَوْنَ
الْمُتْعَةَ وَالدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمَيْنِ يَدًا بِيَدٍ حَلَالًا. وَلَا يَرَوْنَ
الصَّلَاةَ فِي الْخِفَافِ وَلَا الْمَسْحَ عَلَيْهَا وَلَا طَاعَةَ السُّلْطَانِ وَلَا
خِلَافَةَ قُرَيْشٍ. وَأَكْثَرُ مَا يَكُونُ الْخَوَارِجُ بِالْجَزِيرَةِ وَعُمَانَ
وَالْمَوْصِلِ وَحَضْرَمَوْتَ وَنَوَاحِي الْمَغْرِبِ. وَالَّذِي وَضَعَ لَهُمُ الْكُتُبَ
وَصَنَّفَهَا عَبْدُ اللهِ بْنُ زَيْدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ وَيَحْيَى بْنُ كَامِلٍ
وَسَعِيدُ بْنُ هَارُونَ.
Mereka memandang nikah
mut’ah dan riba satu dirham ditukar dua dirham secara tunai sebagai hal yang
halal. Mereka tidak memandang sahnya Sholat mengenakan khuff (sepatu
kulit) dan tidak membolehkan mengusap di atasnya. Mereka tidak memandang
wajibnya taat kepada Sultan dan tidak mengakui khilafah dari kaum Quroisy.
Keberadaan Khowarij paling banyak di Jazirah, ‘Amman, Mosul, Hadromaut, dan
wilayah Maroko. Adapun orang yang menyusun dan mengarang kitab-kitab bagi
mereka adalah Abdullah bin Zaid, Muhammad bin Harb, Yahya bin Kamil, dan Said
bin Harun.
Bab
22: Perincian 15 Sekte Golongan Khowarij
22.1
Sekte Najadat, Azariqoh, dan Fadaikiyah
فَهُمْ خَمْسَ
عَشْرَةَ فِرْقَةً: مِنْهُمُ النَّجْدَاتُ: نُسِبُوا إِلَى نَجْدَةَ بْنِ عَامِرٍ الْحَنَفِيِّ،
مِنْ الْيَمَامَةِ وَتَمِيمٍ، وَهُمْ أَصْحَابُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نَاصِرٍ. ذَهَبُوا
إِلَى أَنَّ مَنْ كَذَبَ كَذْبَةً أَوْ أَتَى صَغِيرَةً وَأَصَرَّ عَلَيْهَا فَهُوَ
مُشْرِكٌ، وَإِنْ زَنَى وَسَرَقَ وَشَرِبَ الْخَمْرَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُصِرَّ عَلَيْهَا
فَهُوَ مُسْلِمٌ، وَأَنَّهُ لَا يَحْتَاجُ إِلَى إِمَامٍ إِنَّمَا الْوَاجِبُ الْعِلْمُ
بِكِتَابِ اللهِ فَحَسْبُ.
Mereka terdiri dari 15
golongan: Di antaranya adalah Najadat, yang dinisbatkan kepada Najdah bin ‘Amir
Al-Hanafi dari Yamamah dan Tamim, mereka adalah pengikut Abdullah bin Nashir.
Mereka berpendapat bahwa barang siapa berbohong sekali saja atau melakukan dosa
kecil dan terus-menerus melakukannya (isroor) maka dia adalah musyrik.
Namun jika dia berzina, mencuri, atau minum khomr tanpa terus-menerus
melakukannya maka dia tetap Muslim. Mereka juga berpendapat bahwa tidak
dibutuhkan adanya seorang Imam, melainkan yang wajib hanyalah berilmu terhadap
Kitabulloh saja.
وَمِنْهُمُ
الْأَزَارِقَةُ: وَهُمْ أَصْحَابُ نَافِعِ بْنِ الْأَزْرَقِ ذَهَبُوا إِلَى أَنَّ كُلَّ
كَبِيرَةٍ كُفْرٌ وَأَنَّ الدَّارَ دَارُ كُفْرٍ، وَأَنَّ أَبَا مُوسَى وَعَمْرَو بْنَ
الْعَاصِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- كَفَرَا بِاللهِ حِينَ حَكَّمَهُمَا عَلِيٌّ -رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ- بَيْنَهُ وَبَيْنَ مُعَاوِيَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فِي النَّظَرِ
فِي الْأَصْلَحِ لِلرَّعِيَّةِ. وَيَرَوْنَ أَيْضًا قَتْلَ الْأَطْفَالِ، يَعْنِي أَوْلَادَ
الْمُشْرِكِينَ، وَيُحَرِّمُونَ الرَّجْمَ، وَلَا يَحُدُّونَ قَاذِفَ الْمُحْصَنِ،
وَيَحُدُّونَ قَاذِفَ الْمُحْصَنَاتِ. وَمِنْهُمُ الْفَدَكِيَّةُ: مَنْسُوبَةٌ إِلَى
ابْنِ فَدَيْكٍ. وَمِنْهُمُ الْعَطَوِيَّةُ: مَنْسُوبَةٌ إِلَى عَطِيَّةَ بْنِ الْأَسْوَدِ.
Di antaranya adalah Azariqoh,
yaitu para pengikut Nafi’ bin Al-Azroq. Mereka berpendapat bahwa setiap dosa
besar adalah kekufuran dan bahwa negeri (selain wilayah mereka) adalah negeri
kafir (darul kufur). Mereka juga berpendapat bahwa Abu Musa dan ‘Amr bin
Al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhuma telah kafir kepada Alloh ketika Ali rodhiyallahu
‘anhu menjadikan keduanya sebagai penengah antara beliau dengan Mu’awiyah rodhiyallahu
‘anhu dalam mempertimbangkan kemaslahatan rakyat. Mereka juga membolehkan
pembunuhan anak-anak kecil, yakni anak-anak kaum musyrik. Mereka mengharomkan
rajam, tidak memberikan hukuman (hadd) bagi penuduh zina kepada lelaki
baik-baik (muhshon), namun memberikan hukuman bagi penuduh zina kepada
wanita baik-baik (muhshonat). Di antara mereka pula adalah Fadaikiyah yang
dinisbatkan kepada Ibnu Fadaik, serta ‘Athowiyah yang dinisbatkan kepada
‘Athiyah bin Al-Aswad.
22.2
Sekte ‘Ajaridah, Khazimiyah, dan Majhuliyah
وَمِنْهُمُ
الْعَجَارِدَةُ: وَهُمْ فِرَقٌ كَثِيرَةٌ. وَمِنْهُمُ الْيَمُونِيَّةُ: جَمِيعًا. يُجِيزُونَ
بَنَاتِ الْبَنِينَ وَبَنَاتِ الْبَنَاتِ وَبَنَاتِ الْإِخْوَةِ وَبَنَاتِ الْأَخَوَاتِ،
وَيَقُولُونَ إِنَّ سُورَةَ يُوسُفَ لَيْسَتْ مِنَ الْقُرْآنِ. وَمِنْهُمُ الْخَازِمِيَّةُ:
تَفَرَّدَتْ بِأَنَّ الْوِلَايَةَ وَالْعَدَاوَةَ صِفَتَانِ فِي ذَاتِهِ تَعَالَى.
وَتَشَعَّبَتِ الْخَازِمِيَّةُ مِنَ الْمَعْلُومِيَّةِ، ذَهَبَتْ إِلَى أَنَّ مَنْ
لَمْ يَعْلَمِ اللهَ بِأَسْمَائِهِ فَهُوَ جَاهِلٌ، وَنَفَوْا أَنْ تَكُونَ الْأَفْعَالُ
خَلْقًا لِلَّهِ تَعَالَى، وَأَنْ تَكُونَ الِاسْتِطَاعَةُ مَعَ الْفِعْلِ. وَمِنْ
أَصْلِ الْخَمْسَ عَشْرَةَ: الْمَجْهُولِيَّةُ: وَهِيَ تَقُولُ أَنَّ مَنْ عَلِمَ اللهَ
بَعْضَ أَسْمَائِهِ فَهُوَ عَالِمٌ بِهِ غَيْرُ جَاهِلٍ.
Di antara mereka pula
adalah ‘Ajaridah yang terdiri dari banyak kelompok, dan Yamuniyah semuanya.
Mereka membolehkan (menikahi) cucu perempuan dari anak laki-laki, cucu
perempuan dari anak perempuan, keponakan perempuan dari saudara laki-laki, dan
keponakan perempuan dari saudara perempuan. Mereka juga berkata bahwa Suroh
Yusuf bukan bagian dari Al-Qur’an. Di antaranya pula adalah Khazimiyah, yang
menyendiri dengan pendapat bahwa loyalitas (wilayah) dan permusuhan (‘adawah)
adalah dua sifat pada Dzat Alloh Ta’ala. Kelompok Khazimiyah ini
bercabang dari Ma’lumiyah yang berpendapat bahwa barang siapa tidak mengenal
Alloh dengan nama-nama-Nya maka dia adalah orang bodoh (jahil). Mereka
menafikan bahwa perbuatan-perbuatan adalah ciptaan Alloh Ta’ala, serta
menafikan bahwa kemampuan (istitho’ah) itu menyertai perbuatan. Dari
pokok 15 golongan tersebut adalah Majhuliyah, yang berpendapat bahwa barang
siapa mengenal Alloh dengan sebagian nama-nama-Nya maka dia adalah orang yang
mengenal-Nya (alim) dan bukan orang bodoh.
22.3
Sekte Sholtiyah, Akhnasiyah, Shofriyah, dan Lainnya
وَمِنْهُمُ
الصَّلْتِيَّةُ: وَهِيَ مَنْسُوبَةٌ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ الصَّلْتِ، وَادَّعَتْ أَنَّ
مَنْ اسْتَجَابَ لَنَا وَأَسْلَمَ وَلَهُ طِفْلٌ فَلَيْسَ لَهُ إِسْلَامٌ حَتَّى يُدْرِكَ،
وَيَدْعُوَهُ فَإِنْ أَبَى فَيَقْتُلَهُ. وَمِنْهُمُ الْأَخْنَسِيَّةُ: مَنْسُوبَةٌ
إِلَى رَجُلٍ يُقَالُ لَهُ الْأَخْنَسُ، ذَهَبُوا إِلَى أَنَّ السَّيِّدَ يَأْخُذُ
مِنْ زَكَاةِ عَبْدِهِ وَيُعْطِيهِ مِنْ زَكَاتِهِ إِذَا احْتَاجَ وَافْتَقَرَ. وَمِنْهُمُ
الصُّفْرِيَّةُ: وَالْحَفْصِيلَةُ طَائِفَةٌ مُتَشَعِّبَةٌ مِنْهَا، يَزْعُمُونَ أَنَّ
مَنْ عَرَفَ اللهَ وَكَفَرَ بِمَا سِوَاهُ مِنْ رَسُولٍ وَجَنَّةٍ وَنَارٍ، وَفَعَلَ
سَائِرَ الْجِنَايَاتِ مِنْ قَتْلِ النَّفْسِ، وَاسْتِحْلَالِ الزِّنَا فَهُوَ بَرِيءٌ
مِنَ الشِّرْكِ، وَإِنَّمَا يُشْرِكُ مَنْ جَهِلَ اللهَ وَأَنْكَرَهُ فَحَسْبُ. وَيَزْعُمُونَ
أَنَّ الْحَيْرَانَ الَّذِي ذَكَرَهُ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ هُوَ عَلِيٌّ وَحِزْبُهُ
وَأَصْحَابُهُ، يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا، وَهُمْ أَهْلُ النَّهْرَوَانِ.
Di antara mereka adalah
Sholtiyah yang dinisbatkan kepada Utsman bin Ash-Sholt. Mereka mengklaim bahwa
siapa saja yang memenuhi seruan kami dan masuk Islam sedangkan dia memiliki
anak kecil, maka anak tersebut belum dianggap Islam sampai dia baligh dan diajak
masuk Islam, jika menolak maka dia membunuhnya.
Di antaranya pula
Akhnasiyah yang dinisbatkan kepada seorang lelaki bernama Al-Akhnas. Mereka
berpendapat bahwa seorang tuan boleh mengambil dari zakat budaknya dan
memberinya dari zakatnya jika dia butuh dan miskin.
Di antaranya pula
Shofriyah, sedangkan Hafshilah adalah kelompok cabangnya. Mereka mengklaim
bahwa siapa saja yang mengenal Alloh namun kafir kepada selain-Nya seperti
Rosul, Jannah, dan Naar, serta melakukan tindak kriminal seperti membunuh nyawa
dan menghalalkan zina, maka dia berlepas diri dari kesyirikan. Menurut mereka,
hanyalah dikatakan syirik bagi siapa yang bodoh terhadap Alloh dan
mengingkari-Nya saja. Mereka juga mengklaim bahwa “Al-Hairon” (orang
yang kebingungan) yang disebut Alloh Ta’ala dalam Al-Qur’an adalah Ali
beserta kelompok dan para pengikutnya, yang menyerunya: “Kemarilah kepada
hidayah”, dan mereka adalah penduduk Nahrowan.
وَمِنْهُمُ
الْأَبَاضِيَّةُ: زَعَمُوا أَنَّ جَمِيعَ مَا افْتَرَضَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ
إِيمَانٌ، وَأَنَّ كُلَّ كَبِيرَةٍ فَهُوَ كُفْرُ نِعْمَةٍ لَا كُفْرُ شِرْكٍ. وَمِنْهُمُ
الْبَيْهَسِيَّةُ: مَنْسُوبَةٌ إِلَى أَبِي بَيْهَسٍ، تَفَرَّدُوا فَزَعَمُوا أَنَّ
الرَّجُلَ لَا يَكُونُ مُسْلِمًا حَتَّى يَعْلَمَ جَمِيعَ مَا أَحَلَّ اللهُ لَهُ وَحَرَّمَ
عَلَيْهِ بِعَيْنِهِ وَنَفْسِهِ. وَمِنَ الْبَيْهَسِيَّةِ مَنْ يَقُولُ: كُلُّ مَنْ
وَاقَعَ ذَنْبًا حَرَامًا عَلَيْهِ لَيْسَ يَكْفُرُ حَتَّى يُرْفَعَ إِلَى السُّلْطَانِ
فَيَحُدَّهُ عَلَيْهِ، فَحِينَئِذٍ يَحْكُمُ بِالْكُفْرِ. وَمِنْهُمُ الشِّمْرَاخِيَّةُ:
مَنْسُوبَةٌ إِلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ شِمْرَاخٍ زَعَمَ أَنَّ قَتْلَ الْأَبَوَيْنِ
حَلَالٌ. وَكَانَ حِينَ ادَّعَى ذَلِكَ فِي دَارِ التَّقِيَّةِ، فَتَبَرَّأَتْ مِنْهُ
الْخَوَارِجُ بِذَلِكَ.
Di antara mereka adalah
Ibadiyah, mereka mengklaim bahwa seluruh apa yang diwajibkan Alloh Ta’ala
kepada makhluk-Nya adalah Iman, dan setiap dosa besar adalah kufur ni’mat bukan
kufur syirik.
Di antaranya pula
Baihasiyah yang dinisbatkan kepada Abu Baihas, mereka menyendiri dengan klaim
bahwa seseorang tidaklah menjadi Muslim sampai dia mengetahui seluruh apa yang
dihalalkan Alloh baginya dan apa yang diharomkan atasnya secara rinci dan
detil. Di antara sekte Baihasiyah ada yang berkata: “Setiap orang yang
terjerumus dalam dosa yang harom baginya tidaklah kafir sampai perkaranya
diadukan kepada Sultan lalu dihukum atasnya, barulah saat itu dihukumi kafir.”
Di antaranya pula
Syimrokhiyah yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Syimrokh, ia mengklaim bahwa
membunuh kedua orang tua adalah halal. Saat ia mengklaim hal itu ia sedang
berada di negeri taqiyah (wilayah musuh), maka golongan Khowarij yang lain pun
berlepas diri darinya karena hal itu.
وَمِنْهُمُ
الْبَدَعِيَّةُ: قَوْلُهَا كَقَوْلِ الْأَزَارِقَةِ، وَتَفَرَّدَتْ بِأَنَّ الصَّلَاةَ
رَكْعَتَانِ بِالْغَدَاةِ وَرَكْعَتَانِ بِالْعَشِيِّ، لِقَوْلِ اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ-:
﴿وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا
مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ﴾. وَاتَّفَقَتْ مَعَ الْأَزَارِقَةِ عَلَى جَوَازِ
سَبْيِ النِّسَاءِ وَقَتْلِ الْأَطْفَالِ مِنَ الْكُفَّارِ مُغْتَالًا لِقَوْلِهِ تَعَالَى:
﴿لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ
دَيَّارًا﴾. وَاتَّفَقَتْ جَمِيعُ الْخَوَارِجِ عَلَى كُفْرِ
عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- لِأَجْلِ التَّحْكِيمِ، وَعَلَى كُفْرِ مُرْتَكِبِ الْكَبِيرَةِ،
إِلَّا النَّجْدَاتِ فَإِنَّهَا لَمْ تُوَافِقْهُمْ عَلَى ذَلِكَ.
Di antara mereka adalah
Bada’iyah yang pendapatnya serupa dengan Azariqoh, namun mereka menyendiri
dengan pendapat bahwa Sholat itu hanya 2 rokaat di pagi hari dan 2 rokaat di
petang hari, berdasarkan firman Alloh ﷻ: “Dan dirikanlah Sholat pada kedua tepi
siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang
buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS. Hud: 114)
Mereka bersepakat dengan
Azariqoh mengenai bolehnya menawan kaum wanita dan membunuh anak-anak kecil
dari kalangan orang kafir secara sembunyi-sembunyi (assasinasi),
berdasarkan firman-Nya Ta’ala: “Janganlah Engkau biarkan seorang pun
di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi” (QS. Nuh: 26).
Seluruh golongan Khowarij
bersepakat atas kafirnya Ali rodhiyallahu ‘anhu dikarenakan peristiwa
Tahkim, serta sepakat atas kafirnya pelaku dosa besar, kecuali golongan Najadat
yang tidak menyetujui hal itu.
Bab
23: Golongan Syi’ah dan Gelar-Gelar Mereka
23.1
Definisi dan Sebab Penamaan
وَأَمَّا
الشِّيعَةُ فَلَهُمْ أَسَامٍ مِنْهَا: الشِّيعَةُ وَالرَّافِضَةُ وَالْغَالِيَةُ وَالطَّيَّارَةُ.
وَإِنَّمَا قِيلَ لَهَا الشِّيعَةُ، لِأَنَّهَا شَيَّعَتْ عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-
وَفَضَّلُوهُ عَلَى سَائِرِ الصَّحَابَةِ. وَقِيلَ لَهَا الرَّافِضَةُ لِرَفْضِهِمْ
أَكْثَرَ الصَّحَابَةِ وَإِمَامَةَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-.
وَقِيلَ سُمُّوا الرَّوَافِضَ لِرَفْضِهِمْ زَيْدَ بْنَ عَلِيٍّ لَمَّا تَوَلَّى أَبَا
بَكْرٍ وَعُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- وَقَالَ بِإِمَامَتِهِمَا، وَقَالَ زَيْدٌ:
رَفَضُونِي، فَسُمُّوا رَافِضَةً.
Adapun Syi’ah, mereka
memiliki nama-nama di antaranya: Syi’ah, Rofidhoh, Gholiyah, dan Thoyyaroh.
Dinamakan Syi’ah karena mereka mengikuti (tasyayyu’) Ali rodhiyallahu
‘anhu dan melebihkannya di atas seluruh Shohabat. Dinamakan Rofidhoh karena
penolakan (rofadh) mereka terhadap mayoritas Shohabat serta menolak
keimaman Abu Bakr dan Umar rodhiyallahu ‘anhuma. Dikatakan pula mereka
dinamakan Rowafidh karena mereka meninggalkan Zaid bin Ali (122 H) ketika
beliau memberikan loyalitas (tawalli) kepada Abu Bakr dan Umar rodhiyallahu
‘anhuma serta mengakui keimaman keduanya. Zaid berkata: “Mereka telah
menolakku (rofadhuni)”, maka sejak itu mereka dinamakan Rofidhoh.
23.2
Penulis-penulis Kitab Syiah
وَقِيلَ
إِنَّ الشِّيعِيَّ مَنْ لَا يُفَضِّلُ عُثْمَانَ عَلَى عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-،
لِأَنَّ الرَّافِضِيَّ مَنْ فَضَّلَ عَلِيًّا عَلَى عُثْمَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-.
وَمِنْهُمُ الْقَطْعِيَّةُ لُقِّبُوا بِهِ لِقَطْعِهِمْ عَلَى مَوْتِ مُوسَى بْنِ جَعْفَرٍ
وَمِنْهُمُ الْغَالِيَةُ سُمُّوا بِذَلِكَ لِغُلُوِّهِمْ فِي عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ-، وَقَوْلِهِمْ فِيهِ مَا لَا يَلِيقُ بِهِ مِنْ صِفَاتِ الرُّبُوبِيَّةِ وَالنُّبُوَّةِ.
وَالَّذِينَ صَنَّفُوا كُتُبَهُمْ: هِشَامُ بْنُ الْحَكَمِ، وَعَلِيُّ بْنُ مَنْصُورٍ،
وَأَبُو الْأَحْوَصِ، وَالْحُسَيْنُ بْنُ سَعِيدٍ وَالْفَضْلُ بْنُ شَاذَانَ وَأَبُو
عِيسَى الْوَرَّاقُ وَابْنُ الرَّاوَنْدِيِّ وَالْمَنِيجِيُّ. وَأَكْثَرُ مَا يَكُونُونَ
فِي بِلَادِ قُمَّ وَقَاشَانَ وَبِلَادِ إِدْرِيسَ وَالْكُوفَةِ.
Dikatakan pula bahwa
seorang Syi’i adalah orang yang tidak melebihkan Utsman di atas Ali rodhiyallahu
‘anhuma, sedangkan seorang Rofidhi adalah orang yang melebihkan Ali di atas
Utsman rodhiyallahu ‘anhuma. Di antara mereka adalah Qoth’iyah, yang
digelar demikian karena mereka memastikan (qoth’i) kematian Musa bin
Ja’far (183 H). Di antaranya pula Gholiyah, dinamakan demikian karena sikap
ekstrem (ghuluw) mereka terhadap Ali rodhiyallahu ‘anhu dan
ucapan mereka tentangnya yang tidak pantas berupa sifat-sifat Ketuhanan maupun
Kenabian. Orang-orang yang menyusun kitab-kitab mereka adalah Hisyam bin
Al-Hakam, Ali bin Manshur, Abu Al-Ahwash, Al-Husain bin Said, Al-Fadhl bin
Syadzan, Abu ‘Isa Al-Warroq, Ibnu Ar-Rowandi, dan Al-Maniji. Keberadaan mereka
paling banyak di negeri Qum, Qosyan, wilayah Idris, dan Kufah.
Bab
24: Kelompok-Kelompok Rofidhoh dan Kesesatannya
24.1
Pembagian Kelompok Rofidhoh
فَأَمَّا
الرَّافِضَةُ، فَهُمْ ثَلَاثَةُ أَصْنَافٍ: الْغَالِيَةُ، وَالزَّيْدِيَّةُ، وَالرَّافِضَةُ.
أَمَّا الْغَالِيَةُ فَيَتَفَرَّقُ مِنْهَا اثْنَتَا عَشْرَةَ فِرْقَةً: مِنْهَا الْبَيَانِيَّةُ
وَالطَّيَّارِيَّةُ، وَالْمَنْصُورِيَّةُ، وَالْمُغِيرِيَّةُ، وَالْخَطَّابِيَّةُ،
وَالْمَعْمَرِيَّةُ، وَالْبَزِيعِيَّةُ، وَالْمُفَضَّلِيَّةُ، وَالْمُنْتَاسِخَةُ،
وَالشَّرِيعِيَّةُ، وَالسَّبَئِيَّةُ، وَالْمُفَوِّضَةُ. وَأَمَّا الزَّيْدِيَّةُ فَتَشَعَّبَتْ
سِتَّ شُعَبٍ: مِنْهَا الْجَارُودِيَّةُ، وَالسُّلَيْمَانِيَّةُ، وَالْبَتْرِيَّةُ،
وَالنُّعَيْمِيَّةُ، وَالْيَعْقُوبِيَّةُ، وَالسَّادِسَةُ لَا تُنْكِرُ الرَّجْعَةَ
وَيَتَبَرَّؤُونَ مِنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا.
Adapun Rofidhoh, mereka
terbagi menjadi 3 golongan: Gholiyah, Zaidiyah, dan Rofidhoh itu sendiri.
Golongan Gholiyah terbagi menjadi 12 sekte: di antaranya Bayaniyah, Thoyyariyah,
Manshuriyah, Mughiriyah, Khoththobiyah, Ma’mariyah, Bazii’iyah, Mufadhdholiyah,
Muntansikhoh (reinkarnasi), Syarii’iyah, Saba-iyah, dan Mufawwidhoh. Adapun
Zaidiyah bercabang menjadi 6 cabang: di antaranya Jarudiyah, Sulaimaniyah,
Batriyah, Nu’aimiyah, Ya’qubiyah, dan yang ke-6 adalah yang tidak mengingkari
Roj’ah (kembalinya orang mati ke dunia) serta berlepas diri dari Abu Bakr dan
Umar rodhiyallahu ‘anhuma.
وَأَمَّا
الرَّافِضَةُ فَتَفَرَّقَتْ أَرْبَعَ عَشْرَةَ فِرْقَةً: الْقَطْعِيَّةُ، الْكَيْسَانِيَّةُ،
الْكُرَيْبِيَّةُ، الْعُمَيْرِيَّةُ، الْمُحَمَّدِيَّةُ، الْحُسَيْنِيَّةُ، النَّاوُسِيَّةُ،
الْإِسْمَاعِيلِيَّةُ، الْقَرَامِطَةُ، الْمُبَارَكِيَّةُ، الشُّمَيْطِيَّةُ، الْعَمَّارِيَّةُ،
الْمَمْطُورِيَّةُ، الْمُوسَوِيَّةُ، وَالْإِمَامِيَّةُ.
Adapun golongan Rofidhoh
terbagi menjadi 14 sekte: Qoth’iyah, Kaisaniyah, Kuroibiyah, ‘Umairiyah,
Muhammadiyah, Husainiyah, Nawusiyah, Isma’iliyah, Qoromithoh, Mubarokiyah,
Syumaitiyah, ‘Ammariyah, Mamthuriyah, Musawiyah, dan Imamiyah.
24.2
Kesepakatan dan Prinsip Sesat Rofidhoh
وَالَّذِي
اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ طَوَائِفُ الرَّافِضَةِ وَفِرَقُهَا، إِثْبَاتُ الْإِمَامةِ عَقْلًا
وَأَنَّ الْإِمَامَةَ نَصٌّ، وَأَنَّ الْأَئِمَّةَ مَعْصُومُونَ مِنَ الْآفَاتِ مِنَ
الْغَلَطِ وَالسَّهْوِ وَالْخَطَأِ. وَمِنْ ذَلِكَ إِنْكَارُهُمْ إِمَامَةَ الْمَفْضُولِ
وَالِاخْتِيَارَ الَّذِي قَدَّمْنَاهُ فِي ذِكْرِ الْأَئِمَّةِ.
وَمِنْ ذَلِكَ
تَفْضِيلُهُمْ عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- عَلَى جَمِيعِ الصَّحَابَةِ وَتَنْصِيصُهُمْ
عَلَى إِمَامَتِهِ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ، وَتَبَرُّؤُهُمْ مِنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- وَغَيْرِهِمَا مِنَ الصَّحَابَةِ إِلَّا نَفَرًا مِنْهُمْ
سِوَى مَا حُكِىَ عَنِ الزَّيْدِيَّةِ، فَإِنَّهُمْ خَالَفُوهُمْ فِي ذَلِكَ.
Perkara yang disepakati
oleh kelompok-kelompok Rofidhoh dan sekte-sektenya adalah penetapan keimaman
secara akal dan bahwasanya keimaman itu berdasarkan nash (wahyu), serta
bahwasanya para Imam itu ma’shum (terjaga) dari cacat berupa kekeliruan,
lupa, maupun kesalahan. Di antaranya pula pengingkaran mereka terhadap keimaman
orang yang kurang utama (mafdhul) dan pengingkaran terhadap mekanisme
pemilihan (ikhtiyar) yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam
pembahasan para Imam.
Di antaranya pula sikap
mereka melebihkan Ali rodhiyallahu ‘anhu di atas seluruh Shohabat serta
penegasan mereka atas keimamannya sepeninggal Nabi ﷺ, serta berlepas dirinya mereka dari Abu
Bakr dan Umar rodhiyallahu ‘anhuma serta Shohabat lainnya kecuali hanya
beberapa gelintir saja, selain apa yang diceritakan dari Zaidiyah karena
sesungguhnya mereka (Zaidiyah) menyelisihi Rofidhoh dalam hal ini.
وَمِنْ ذَلِكَ
أَيْضًا ادِّعَاؤُهُمْ أَنَّ الْأُمَّةَ ارْتَدَّتْ بِتَرْكِهِمْ إِمَامَةَ عَلِيٍّ
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- إِلَّا سِتَّةَ نَفَرٍ. وَهُمْ عَلِيٌّ وَعَمَّارٌ وَالْمِقْدَادُ
بْنُ الْأَسْوَدِ وَسَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ وَرَجُلَانِ آخَرَانِ. وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ:
إِنَّ لِلْإِمَامِ أَنْ يَقُولَ لَسْتُ بِإِمَامٍ فِي حَالِ التَّقِيَّةِ. وَأَنَّ
اللهَ تَعَالَى لَا يَعْلَمُ مَا يَكُونُ قَبْلَ أَنْ يَكُونَ، وَإِنَّ الْأَمْوَاتَ
يَرْجِعُونَ إِلَى الدُّنْيَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ. إِلَّا الْغَالِيَةَ مِنْهُمْ،
فَإِنَّهَا زَعَمَتْ بِأَنْ لَا حِسَابَ وَلَا حَشْرَ.
Di antaranya pula klaim
mereka bahwasanya umat Islam telah murtad dikarenakan mereka meninggalkan
keimaman Ali rodhiyallahu ‘anhu, kecuali 6 orang saja: yaitu Ali (40 H),
‘Ammar (37 H), Al-Miqdad bin Al-Aswad (33 H), Salman Al-Farisi (32 H), dan 2
orang lelaki lainnya. Di antaranya pula ucapan mereka: “Sesungguhnya seorang
Imam boleh mengatakan ‘aku bukan Imam’ dalam keadaan taqiyah.” Serta
anggapan bahwa Alloh Ta’ala tidak mengetahui apa yang akan terjadi
sebelum ia terjadi (Bada’), dan bahwasanya orang-orang mati akan kembali ke
dunia sebelum hari perhitungan (Roj’ah). Kecuali golongan Gholiyah di antara
mereka, karena sesungguhnya mereka mengklaim tidak ada hisab (perhitungan) dan
tidak ada hasyr (pengumpulan di padang Mahsyar).
وَمِنْ ذَلِكَ
قَوْلُهُمْ: أَنَّ الْإِمَامَ يَعْلَمُ كُلَّ شَيْءٍ مَا كَانَ وَمَا يَكُونُ مِنْ
أَمْرِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ حَتَّى عَدَدَ الْحَصَى وَقَطْرَ الْأَمْطَارِ وَوَرَقَ
الشَّجَرِ، وَأَنَّ الْأَئِمَّةَ تَظْهَرُ عَلَى أَيْدِيهِمُ الْمُعْجِزَاتُ كَالْأَنْبِيَاءِ
-عَلَيْهِمُ السَّلَامُ-. وَقَالَ الْأَكْثَرُونَ مِنْهُمْ: إِنَّ مَنْ حَارَبَ عَلِيًّا
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَهُوَ كَافِرٌ بِاللهِ -عَزَّ وَجَلَّ-، وَأَشْيَاءَ ذَكَرُوهَا
غَيْرَ ذَلِكَ.
Di antaranya pula ucapan
mereka: “Sesungguhnya Imam itu mengetahui segala sesuatu baik yang telah
lalu maupun yang akan datang dari urusan dunia dan agama, hingga jumlah
kerikil, tetesan hujan, dan dedaunan pohon.” Mereka juga mengklaim bahwa
para Imam itu menampakkan mu’jizat melalui tangan mereka sebagaimana para Nabi
‘alaihimus salam. Mayoritas dari mereka berkata: “Sesungguhnya barang
siapa memerangi Ali rodhiyallahu ‘anhu maka dia kafir kepada Alloh ﷻ”, serta perkara-perkara lain yang mereka sebutkan selain hal tersebut.
.jpg)