[PDF] [1 of 5] AL-GHUN-YAH - Aqidah Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani (561)
Muqoddimah
Pentarjamah
بسم
الله الرحمن الرحيم
Kitab Al-Ghun-yah
memiliki 5 bab: Fiqih, Aqidah, Majlis Dzikir, Fadhoil A’mal, Tashowwuf.
Kami hanya mentarjamah bagian Aqidah saja. Judul pada bab dan subbab berasal
dari perntarjamah.
Tarjamah ini kami jadikan
5 jilid karena cukup besar halamannya. Ini adalah hasil tarjamah manusia yang
banyak lalai dan lupa, sangat dimungkinkan ada kekurangan dan kekhilafan dalam
tarjamah. Bagi para pemerhati bisa menyampaikan koreksi dan sarannya ke kontak
penulis di sini.
Kitab ini sangat penting
mengingat penulisnya merupakan tokoh besar di kalangan Shufi dan ormas NU, bersamaan
beredar banyak kisah karomah yang tidak valid dari beliau yang berisi
kesyirikan dan khurofat. Di banyak daerah sebagian orang mengadakan pembacaan Manaqib
(kisah-kisah karomah Syaikh Abdul Qodir) seperti mereka membaca Al-Quran: rutin
dan berjamaah, bahkan diajarkan ke anak-anak kecil.
Dengan mengetahui Aqidah
yang valid dari beliau, diharapkan cinta mereka yang tulus kepada beliau
menjadikan mereka mengikuti Aqidah Salaf, karena Aqidah beliau tidak lain
adalah Aqidah Salaf yang diyakini Tsauri, Auzai, Ibnul Mubarok, Ibnu Uyainah,
Malik, Ahmad, Syafii, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir,
Ibnu Qudamah, disamping Madzhab yang beliau pilih adalah Hanbali bukan Syafii.
Cetakan yang dijadikan
acuan tarjamah adalah penerbit Darul Kutub Alamiyyah Beirut Lebanon tahun 1447
H/ 1997. Klik ini atau ini.
Siapa Syaikh
Abdul Qodir Al-Jailani?
Adz-Dzahabi (748 H)
berkata Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani:
الشَّيْخُ،
الإِمَامُ، العَالِمُ، الزَّاهِدُ، العَارِفُ، القُدْوَةُ، شَيْخُ الإِسْلاَمِ، عَلَمُ
الأَوْلِيَاءِ، مُحْيِي الدِّ ينِ، أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ القَادِرِ ابنُ أَبِي صَالِحٍ
عَبْدِ اللهِ بنِ جنكِي دَوَّسَتْ الجِيْلِيُّ، الحَنْبَلِيُّ، شَيْخُ بَغْدَادَ
“Beliau adalah sang
Syaikh, sang Imam, orang yang berilmu, orang yang zuhud (meninggalkan
keduniaan), orang yang mengenal Alloh, sang teladan, Syaikhul Islam, benderanya
para wali, penghidup agama, Abu Muhammad Abdul Qodir bin Abi Sholih Abdillah
bin Janki Daussat Al-Jili, penganut madzhab Hanbali, Syaikh negeri Baghdad.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 20/439)
Juga berkata di akhir
biografinya:
وَفِي الجُمْلَة:
الشَّيْخ عَبْد القَادِر كَبِيْرُ الشَّأْنِ، وَعَلَيْهِ مَآخِذ فِي بَعْضِ أَقْوَالِه
وَدَعَاويه، وَاللهُ المَوْعِدُ، وَبَعْضُ ذَلِكَ مَكْذُوْبٌ عَلَيْهِ
“Dan secara garis
besar: Syaikh Abdul Qodir adalah orang yang sangat agung kedudukannya, namun
atasnya terdapat catatan-catatan kritikan dalam sebagian ucapan-ucapan dan
pengakuan-pengakuannya, dan hanya kepada Alloh tempat kembali, dan sebagian
dari hal tersebut ada yang didustakan (dipalsukan) atas nama beliau.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 20/451)
Validasi Kitab
Al-Ghun-yah
Kitab صَنَّفَ كِتَابَ الغُنْيَةِ،
وَكِتَابَ فُتُوْحِ الغَيْبِ diakui
oleh banyak ulama.
Berikut ini beberapa
ulama yang menyandarkan kitab Al-Ghun-yah kepada Imam Abdul Qodir Al-Jailani
(atau Al-Jili) (561 H), yang di dalamnya nampak Aqidah beliau yang merupakan
Aqidah Salaf.
[1] Ibnu
Taimiyah (728 H)
Ia berkata: “Syaikh
Abdul Qodir (561 H) berkata dalam Al-Ghun-yah: ‘Adapun mengenal Sang Pencipta
dengan ayat-ayat dan dalil-dalil—secara ringkas—maka hendaknya ia mengenal dan
meyakini bahwa Alloh itu satu, Esa, tempat bergantung...” (Majmu’
Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 3/222)
[2] Adz-Dzahabi
(748 H)
Ia berkata: “Ia adalah
Syaikhul Islam pemimpin para pemberi nasihat, Abu Muhammad Abdul Qodir bin Abi
Sholih bin Janki Dust Al-Jili—beliau sendiri adalah Al-Jilani, disebut Al-Jili
dan Al-Jilani—Al-Hanbali, Syaikh negeri Iraq, berkata dalam kitab Al-Ghun-yah
miliknya yang sebanyak satu jilid: ‘Adapun mengenal Sang Pencipta dengan
ayat-ayat dan dalil-dalil secara ringkas, maka hendaknya ia mengenal dan
meyakini bahwa Alloh itu satu, Esa.’
Hingga beliau berkata:
‘Dan Dia beristiwa di atas Arsy, meliputi kerajaan-Nya, ilmu-Nya meliputi
segala sesuatu, kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal
sholih diangkat-Nya. Tidak boleh menyifati-Nya bahwa Dia berada di setiap
tempat, melainkan dikatakan sesungguhnya Dia di langit di atas Arsy sebagaimana
firman-Nya: ‘Ar-Rohman di atas Arsy beristiwa.’ Hendaknya memutlakkan hal itu
tanpa takwil. Keberadaan-Nya tinggi di atas Arsy disebutkan dalam setiap kitab
yang diturunkan kepada setiap Nabi yang diutus, tanpa kaifa.’
Aku (Adz-Dzahabi)
mendengar Al-Hafizh Abul Husain berkata: Aku mendengar Syaikh Izzuddin bin
Abdissalam (660 H) di Mesir berkata: Kami tidak mengenal seorang pun yang
karomah-karomahnya mutawatir (diriwayatkan sangat banyak orang) seperti Syaikh
Abdul Qodir rohimahulloh.” (Al-Uluw,
Adz-Dzahabi, hal. 265)
[3] Ibnu Katsir
(774 H)
Ia berkata: “Syaikh
Abdul Qodir Al-Jili bin Abi Sholih Abu Muhammad Al-Jili, lahir tahun 470 H,
masuk ke Baghdad lalu mendengar Hadits dan belajar fikih kepada Abu Sa’id
Al-Mukhorromi Al-Hanbali (513 H). Abu Sa’id telah membangun sebuah madrosah
lalu menyerahkannya kepada Syaikh Abdul Qodir, maka beliau berbicara kepada
manusia di sana dan menasihati mereka. Manusia mengambil manfaat yang banyak
darinya. Beliau memiliki kepribadian yang baik dan banyak diam kecuali untuk
amar makruf nahi mungkar. Beliau memiliki sifat zuhud yang banyak, memiliki
keadaan-keadaan yang sholih serta mukasyafah (tersingkapnya hal ghoib). Para
pengikut dan sahabatnya memiliki banyak perkataan tentangnya, dan mereka
menyebutkan dari beliau ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan
mukasyafah-mukasyafah yang kebanyakan bersifat berlebihan (perlu divalidasi).
Beliau adalah orang yang sholih dan warok (berhati-hati dari dosa), dan beliau
telah menyusun kitab Al-Ghun-yah serta Futuhul Ghoib. Di dalam keduanya
terdapat hal-hal yang bagus, dan beliau menyebutkan di dalamnya Hadits-Hadits
dho’if (lemah) dan maudhu’ (palsu). Secara umum, beliau termasuk dari para
pemuka guru. Beliau wafat dalam usia 90 tahun dan dimakamkan di madrosah
miliknya.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 12/313)
[4] Ibnu Rojab (795
H)
Ia berkata: “Syaikh
Abdul Qodir (561 H) rohimahulloh memiliki perkataan yang bagus dalam masalah
Tauhid, Shifat, dan Qodar, serta dalam ilmu-ilmu makrifat yang sesuai dengan
Sunnah. Beliau memiliki kitab Al-Ghun-yah li Tholibi Thoriqil Haqq dan kitab
itu masyhur (dikenal). Beliau juga memiliki kitab Futuhul Ghoib, dan para
sahabatnya telah mengumpulkan banyak hal dari majelis-majelis nasihatnya.
Beliau adalah orang yang berpegang teguh pada Sunnah dalam masalah Shifat,
Qodar, dan semisalnya, serta sangat keras dalam membantah orang yang
menyelisihinya.”
“Beliau berkata dalam
kitabnya Al-Ghun-yah yang masyhur: ‘Alloh berada di arah ketinggian, beristiwa
(menetap tinggi) di atas Arsy, meliputi kerajaan-Nya, ilmu-Nya meliputi segala
sesuatu. ‘Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal sholih
diangkat-Nya.’ (QS. Fathir: 10)
‘Dia mengatur urusan
dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang
kadarnya adalah 1.000 tahun menurut perhitunganmu.’ (QS. As-Sajdah: 5)
Dan tidak boleh
menyifati-Nya bahwa Dia berada di setiap tempat, melainkan dikatakan:
Sesungguhnya Dia di langit di atas Arsy, sebagaimana firman-Nya: ‘Ar-Rohman di
atas Arsy beristiwa.’ (QS. Thoha: 5)”
Dan beliau menyebutkan
ayat-ayat serta Hadits-Hadits hingga beliau berkata: ‘Dan hendaknya memutlakkan
sifat Istiwa tanpa takwil (penyimpangan makna), dan bahwa itu adalah Istiwanya
Dzat di atas Arsy.’”
Beliau berkata: ‘Keberadaan-Nya
di atas Arsy disebutkan dalam setiap kitab yang diturunkan kepada setiap Nabi
yang diutus, tanpa kaifa (menanyakan bagaimananya).’ Beliau menyebutkan
perkataan yang panjang dan menyebutkan semisalnya pada seluruh Shifat lainnya.” (Dzail Thobaqotil Hanabilah, Ibnu Rojab, hal.
121)
[5] Al-Mardawi
(885 H)
Ia berkata: “Syaikh
Abdul Qodir (561 H) berkata dalam Al-Ghun-yah: ‘Hendaknya ia (imam) tidak
menambah lebih dari satu kali khatam (dalam Tarowih) agar tidak memberatkan
sehingga mereka bosan lalu meninggalkannya karenanya, maka dosanya menjadi besar.”
(Al-Inshof, Al-Mardawi, 2/185)
[6] As-Sakhowi
(902 H)
Ia berkata: “Hadits
‘Barangsiapa memotong kuku-kukunya secara bersilangan maka ia tidak akan
melihat penyakit mata pada kedua matanya.’ Hadits ini terdapat dalam perkataan
tidak hanya satu dari para imam, di antara mereka adalah Ibnu Qudamah (620 H)
dalam Al-Mughni dan Syaikh Abdul Qodir (561 H) dalam Al-Ghun-yah, namun aku
tidak menemukannya (secara sanad). Akan tetapi Al-Hafizh Asy-Syaraf Ad-Dimyathi
(705 H) meriwayatkan hal itu dari sebagian guru-gurunya, dan Imam Ahmad (241 H)
menegaskan tentang kesunnahannya.” (Al-Maqoshidul Hasanah, As-Sakhowi,
2/85)
[7] Ali Al-Qori
(1014 H)
Ia berkata: “Sungguh
telah menyebutkan tuan kami dan sandaran kami Maulana Al-Quthub Ar-Robbani wal
Ghouts Ash-Shomadani Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani (561 H)—semoga Alloh
mengharumkan ruhnya dan memberi kita rizqi berupa pembukaan darinya—di dalam
kitabnya Al-Ghun-yah...” (Mirqotul Mafatih, Mulla Ali Al-Qori, 7/62)
[8] Al-Amiri
Al-Ghozzi (1061 H)
Ia berkata: “Hadits
ini terdapat dalam perkataan Al-Mughni milik Al-Muwaffaq bin Qudamah (620 H)
dan Syaikh Abdul Qodir Al-Kilani (561 H) dalam Al-Ghun-yah.” (Al-Jaddul
Hatsits, Al-Amiri Al-Ghozzi, hal. 234)
[9] Al-Ajluni
(1162 H)
Ia berkata: “Dan di
dalam Al-Ghun-yah karya tuanku Abdul Qodir Al-Kilani (561 H)—semoga Alloh
memberi manfaat kepada kita dengan berkah-berkahnya—terdapat teks sebagai
berikut: ‘Dan dahulu Nabi ﷺ bersabda: ‘Seorang lelaki merindukan saudaranya...” (Kasyful Khofa, Al-Ajluni, 1/81)
[10] Al-Alusi
(1270 H)
Ia berkata: “Dan di
dalam Al-Ghun-yah karya Al-Quthub Ar-Robbani Syaikh Abdul Qodir Al-Kilani
qoddasallohu sirrohu, dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma ia berkata: ‘Apabila
terjadi Lailatul Qodar, Alloh Ta’ala memerintahkan Jibril ‘alaihissalam untuk
turun ke bumi dan bersamanya para penduduk Sidrotul Muntaha sebanyak 70.000 Malaikat,
dan bersama mereka panji-panji dari cahaya. Apabila mereka telah turun ke bumi,
Jibril ‘alaihissalam menancapkan panjinya dan para Malaikat ‘alaihimussalam
menancapkan panji-panji mereka di 4 tempat: di Ka’bah, kubur Nabi ﷺ, Masjid Baitul Maqdis, dan Masjid Thura
Sina.” (Ruhul Ma’ani,
Al-Alusi)
[11] Umar
Kahhalah (1408 H)
Umar Kahhalah (1408 H)
berkata: “Di antara karya-karyanya: Jala-ul Khothir fil Bathin wazh Zhohir,
Al-Fathur Robbani wal Faidhur Rohmani, Al-Ghun-yah li Tholibi Thoriqil Haqq,
Sirrul Asror wa Mazh-harul Anwar fima Yahtaju ilaihil Abrar, dan Adabus Suluk
wat Tawasshul ila Manazilil Muluk.” (Mu’jamul Mu-allifin, Umar Kahhalah,
5/307)
Muqoddimah
Penulis
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قَالَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَلَّامَةُ
الْعَالِمُ الزَّاهِدُ الْأَوْحَدُ الْوَرِعُ الْعَارِفُ الْمُؤَيَّدُ مُحْيِي الدِّيْنِ
قُطْبُ الْإِسْلَامِ مُعِزُّ الْأَنَامِ نَاصِرُ السُّنَّةِ قَامِعُ الْبِدْعَةِ صَدْرُ
الْأَئِمَّةِ أَبُوْ مُحَمَّدٍ عَبْدُ الْقَادِرِ بْنُ أَبِيْ صَالِحِ بْنِ عَبْدِ
اللّٰهِ الْجِيْلِيُّ، تَغَمَّدَهُ اللّٰهُ بِرَحْمَتِهِ وَأَعَادَ عَلَيْنَا وَعَلَى
الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ بَرَكَتِهِ، وَحَشَرَنَا فِيْ زُمْرَتِهِ آمِيْنَ:
Telah berkata seorang Syaikh, pemimpin,
yang sangat luas ilmunya, ahli ibadah, yang tiada tandingannya, sangat
berhati-hati dalam agama, yang mengenal Alloh, yang dikuatkan oleh-Nya,
penghidup agama, poros Islam, pemulia manusia, pembela Sunnah, penghancur bid’ah, pemuka para imam,
Abu Muhammad Abdul Qodir bin Abi Sholih bin Abdulloh Al-Jaili (561 H), semoga
Alloh senantiasa meliputinya dengan rohmat-Nya, melimpahkan kembali
keberkahannya kepada kita dan kepada seluruh kaum Muslim, serta mengumpulkan
kita semua dalam golongannya. Aamiin:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِتَحْمِيْدِهِ
يُسْتَفْتَحُ كُلُّ كِتَابٍ
Segala puji bagi Alloh yang dengan
memuji-Nya setiap kitab dimulai.
وَبِذِكْرِهِ يُصَدَّرُ كُلُّ
خِطَابٍ
Dan dengan menyebut nama-Nya setiap ucapan
diawali.
وَبِحَمْدِهِ يَتَنَعَّمُ أَهْلُ
النَّعِيْمِ فِيْ دَارِ الْجَزَاءِ وَالثَّوَابِ
Serta dengan memuji-Nya, penduduk Surga
merasakan kenikmatan di negeri balasan dan pahala.
وَبِاسْمِهِ يُشْفَى كُلُّ دَاءٍ
Dengan nama-Nya segala penyakit dapat
disembuhkan.
وَبِهِ يُكْشَفُ كُلُّ غُمَّةٍ
وَبَلَاءٍ
Dan melalui-Nya pula segala kesedihan serta
cobaan dapat terangkat.
إِلَيْهِ تُرْفَعُ الْأَيْدِيْ
بِالتَّضَرُّعِ وَالدُّعَاءِ
Hanya kepada-Nya tangan-tangan diangkat
dengan penuh ketundukan dan doa.
فِي الشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ،
وَالسَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
Baik dalam keadaan sulit maupun lapang,
serta dalam kondisi senang maupun susah.
وَهُوَ سَامِعٌ لِجَمِيْعِ الْأَصْوَاتِ،
بِفُنُوْنِ الْخِطَابِ عَلَى اخْتِلَافِ اللُّغَاتِ
Dia Maha Mendengar seluruh suara dengan
berbagai macam jenis ucapan dalam beragam bahasa yang berbeda.
وَالْمُجِيْبُ لِلْمُضْطَرِّ الدُّعَاءَ
Dan Dialah yang mengabulkan doa bagi
orang-orang yang berada dalam kesulitan.
فَلَهُ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَوْلَى
وَأَسْدَى
Maka bagi-Nya segala puji atas segala
perlindungan dan kebaikan yang telah Dia limpahkan.
وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى مَا أَنْعَمَ
وَأَعْطَى
Serta bagi-Nya segala syukur atas segala
ni’mat dan pemberian yang telah Dia karuniakan.
وَأَوْضَحَ الْمَحَجَّةَ وَهَدَى
Dia pula yang telah menerangkan jalan yang
lurus dan memberikan hidayah.
وَصَلَوَاتُهُ عَلَى صَفِيِّهِ
وَرَسُوْلِهِ الَّذِيْ بِهِ مِنَ الضَّلَالَةِ هَدَى
Semoga sholawat senantiasa tercurah kepada
hamba pilihan dan Rosul-Nya, yang melaluinya Alloh memberi petunjuk dari
kesesatan.
مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَإِخْوَانِهِ الْمُرْسَلِيْنَ وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا.
Yaitu Nabi Muhammad ﷺ,
keluarganya, para Shohabatnya, saudara-saudaranya dari kalangan para Rosul,
serta para Malaikat Muqorrobin, dan semoga Alloh memberikan salam kesejahteraan
yang sempurna.
أَمَّا بَعْدُ:
Adapun setelah itu:
فَقَدْ أَلَحَّ عَلَيَّ بَعْضُ
أَصْحَابِيْ، وَشَدَّدَ فِي الْخِطَابِ فِيْ تَصْنِيْفِ هٰذَا الْكِتَابِ لِحُسْنِ
ظَنِّهِ فِي الْإِصَابَةِ وَالصَّوَابِ
Sungguh, sebagian sahabatku telah
mendesakku dan meminta dengan sangat dalam bicaranya agar aku menyusun kitab
ini, karena prasangka baiknya bahwa aku akan mencapai ketepatan dan kebenaran
dalam menyusunnya.
وَاللّٰهُ تَعَالَى هُوَ الْعَاصِمُ
فِي الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ وَالْمُطَّلِعُ عَلَى الضَّمَائِرِ وَالنِّيَّاتِ
Sedangkan Alloh Ta’ala adalah Dzat
yang menjaga setiap perkataan dan perbuatan, serta Dzat yang mengawasi isi hati
dan niat.
وَالْمُنْعِمُ الْمُتَفَضِّلُ
بِتَسْهِيْلِ مَا أَرَادَ
Dialah yang Maha Memberi Ni’mat lagi Maha
Pemurah dengan memudahkan apa yang dikehendaki-Nya.
وَإِلَيْهِ عَزَّ وَجَلَّ الِالْتِجَاءُ
لِتَطْهِيْرِ الْقُلُوْبِ مِنَ الرِّيَاءِ وَالنِّفَاقِ
Hanya kepada-Nya lah tempat bersandar untuk
menyucikan hati dari penyakit riya (pamer) dan nifaq (kemunafikan).
وَإِبْدَالِ السَّيِّئَاتِ بِالْحَسَنَاتِ
Serta untuk mengubah keburukan-keburukan
menjadi berbagai kebaikan.
إِنَّهُ غَافِرُ الذُّنُوْبِ وَالْخَطِيْئَاتِ،
وَقَابِلُ التَّوْبِ مِنَ الْعِبَادِ.
Sesungguhnya Dia Maha Mengampuni segala
dosa dan kesalahan, serta Maha Menerima taubat dari para hamba-Nya.
فَلَمَّا رَأَيْتُ صِدْقَ رَغْبَتِهِ
فِيْ مَعْرِفَةِ الْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ مِنَ الْفَرَائِضِ وَالْأَرْكَانِ وَالسُّنَنِ
وَالْهَيْئَاتِ
Maka tatkala aku melihat kesungguhan
keinginannya untuk mengetahui adab-adab syar’i, mulai dari perkara yang wajib,
rukun-rukun, sunnah-sunnah, hingga tata cara yang bersifat pelengkap.
وَمَعْرِفَةِ الصَّانِعِ عَزَّ
وَجَلَّ بِالْآيَاتِ وَالْعَلَامَاتِ
Serta keinginannya untuk mengenal Sang
Pencipta Azza wa Jalla melalui tanda-tanda kebesaran-Nya.
ثُمَّ الِاتِّعَاظِ بِمَوَاعِظِ
الْقُرْآنِ وَالْأَلْفَاظِ النَّبَوِيَّةِ فِيْ مَجَالِسَ نَذْكُرُهَا
Kemudian untuk mengambil pelajaran melalui
nasihat-nasihat Al-Qur’an dan sabda-sabda Nabi ﷺ dalam majelis-majelis
yang akan kami sebutkan.
وَمَعْرِفَةِ أَخْلَاقِ الصَّالِحِيْنَ
نُشِيْرُ لَهَا فِيْ أَثْنَاءِ الْكِتَابِ
Serta mengenal akhlak orang-orang sholih
yang akan kami isyaratkan di tengah-tengah pembahasan kitab ini.
لِيَكُوْنَ عَوْنًا لَهُ عَلَى
سُلُوْكِ طَرِيْقِ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ، وَانْتِهَاءِ
نَوَاهِيْهِ
Agar semua itu menjadi penolong baginya
dalam meniti jalan menuju Alloh Azza wa Jalla, menjalankan
perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
وَوَجَدْتُ لَهُ نِيَّةً صَادِقَةً
صَدَرَتْ مِنْ فُتُوْحِ الْغَيْبِ فِيْ إِجَابَتِهِ إِلَى ذٰلِكَ
Dan aku mendapati padanya niat yang tulus
yang muncul dari ketetapan takdir yang tersembunyi untuk memenuhi permohonan
tersebut.
فَسَارَعْتُ مُشَمِّرًا مُبْتَغِيًا
مُحْتَسِبًا لِلثَّوَابِ
Maka aku pun segera bergegas dengan penuh
kesungguhan, seraya mengharapkan pahala dari-Nya.
رَاجِيًا لِلنَّجَاةِ فِيْ يَوْمِ
الْحِسَابِ
Sambil berharap mendapatkan keselamatan
pada hari perhitungan amal kelak.
إِلَى جَمْعِ هٰذَا الْكِتَابِ
بِتَوْفِيْقِ رَبِّ الْأَرْبَابِ الْمُلْهِمِ لِلصَّوَابِ
Untuk menghimpun kitab ini dengan taufiq
dari Robb para penguasa, Dzat yang memberikan ilham kebenaran.
وَقَدْ سَمَّيْتُهُ:
Dan sungguh aku telah menamakannya:
«الْغُنْيَة لِطَالِبِيْ طَرِيْقِ الْحَقِّ عَزَّ وَجَلَّ»
“Al-Ghunyah li Tholibi Thoriqil Haqqi ‘Azza
wa Jalla” (Kecukupan bagi para pencari jalan kebenaran Azza wa Jalla).
Bab 1: Mengenal
Sang Pencipta
1.1 Keesaan
Alloh dan Kesucian-Nya dari Sifat-Sifat Makhluk
نَقُولُ:
أَمَّا مَعْرِفَةُ الصَّانِعِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْآيَاتِ وَالدَّلَالَاتِ عَلَى وَجْهِ
الِاخْتِصَارِ، فَهِيَ:
أَنْ يَعْرِفَ
وَيَتَيَقَّنَ أَنَّ اللهَ وَاحِدٌ أَحَدٌ فَرْدٌ صَمَدٌ، ﴿لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ
كُفُوًا أَحَدٌ﴾ ، ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾ لَا شَبِيهَ لَهُ وَلَا نَظِيرَ، وَلَا عَوْنَ
وَلَا ظَهِيرَ، وَلَا شَرِيكَ وَلَا وَزِيرَ، وَلَا نِدَّ وَلَا مُشِيرَ، لَيْسَ بِجِسْمٍ
فَيُمَسَّ، وَلَا بِجَوْهَرٍ فَيُحَسَّ، وَلَا عَرَضٍ فَيُقْضَى، وَلَا ذِي تَرْكِيبٍ
أَوْ آلَةٍ وَتَأْلِيفٍ، أَوْ مَاهِيَّةٍ وَتَحْدِيدٍ.
Kami katakan: Adapun
mengenal Sang Pencipta Azza wa Jalla dengan ayat-ayat dan dalil-dalil
secara ringkas adalah: Hendaknya dia mengenal dan meyakini bahwa Alloh adalah
Dzat Yang Maha Tunggal, Maha Esa, Sendiri, bergantung kepada-Nya segala
sesuatu, “Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada sesuatu
yang setara dengan Dia” (QS. Al-Ikhlash: 3-4), “Tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS.
Asy-Syuro: 11).
Tidak ada yang
menyerupai-Nya dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak ada pembantu dan
tidak ada pendukung, tidak ada sekutu dan tidak ada pendamping (menteri), tidak
ada tandingan dan tidak ada pemberi saran. Dia bukan jasad sehingga bisa
disentuh, bukan esensi materi (jauhar) sehingga bisa diindera, bukan
pula sifat yang menempel pada materi (‘arodh) sehingga bisa ditiadakan,
bukan pemilik susunan atau alat dan komposisi, serta bukan pemilik hakikat (mahiyah)
dan batasan tertentu.
وَهُوَ اللهُ
لِلسَّمَاءِ رَافِعٌ، وَلِلْأَرْضِ وَاضِعٌ، لَا طَبِيعَةَ لَهُ مِنَ الطَّبَائِعِ،
وَلَا طَالِعَ لَهُ مِنَ الطَّوَالِعِ، وَلَا ظُلْمَةَ تَظْهَرُ، وَلَا نُورَ يَزْهَرُ،
حَاضِرُ الْأَشْيَاءِ عِلْمًا، شَاهِدٌ لَهَا مِنْ غَيْرِ مُمَاسَّةٍ، قَاهِرٌ حَاكِمٌ
قَادِرٌ، رَاحِمٌ غَافِرٌ، سَاتِرٌ مُعِزٌّ نَاصِرٌ، رَؤُوفٌ خَالِقٌ فَاطِرٌ، أَوَّلٌ
آخِرٌ، ظَاهِرٌ بَاطِنٌ، فَرْدٌ مَعْبُودٌ، حَيٌّ لَا يَمُوتُ، أَزَلِيٌّ لَا يَفُوتُ،
أَبَدِيُّ الْمَلَكُوتِ سَرْمَدِيُّ الْجَبَرُوتِ، قَيُّومٌ لَا يَنَامُ، عَزِيزٌ لَا
يُضَامُ، مَنِيعٌ لَا يُرَامُ، لَهُ الْأَسْمَاءُ الْعِظَامُ وَالْمَوَاهِبُ الْجِسَامُ،
قَضَى بِالْفَنَاءِ عَلَى جَمِيعِ الْأَنَامِ فَقَالَ: ﴿كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ * وَيَبْقَى وَجْهُ
رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾.
Dia adalah Alloh Yang
meninggikan langit dan Yang menghamparkan bumi. Tidak ada bagi-Nya karakter
dari karakter-karakter (alam), tidak ada bagi-Nya ramalan bintang dari
ramalan-ramalan bintang. Tidak ada kegelapan yang nampak dan tidak ada cahaya
yang bersinar (yang menyerupai-Nya). Dia hadir pada segala sesuatu dengan
ilmu-Nya, menyaksikan segala sesuatu tanpa persentuhan, Maha Menundukkan, Maha
Menghakimi, Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Menutupi (aib),
Maha Memuliakan, Maha Penolong, Maha Pengasih, Maha Pencipta, Maha Mewujudkan
dari ketiadaan, Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhohir, Yang Bathin, Dzat yang
sendiri yang disembah, Maha Hidup yang tidak mati, Maha Azali yang tidak akan
lenyap, abadi kerajaan-Nya, kekal kekuasaan-Nya, Maha Berdiri Sendiri yang
tidak tidur, Maha Perkasa yang tidak dizholimi, Maha Kokoh yang tidak bisa
dicapai. Bagi-Nya nama-nama yang agung dan pemberian-pemberian yang besar. Dia
telah menetapkan kebinasaan bagi seluruh makhluk, maka Dia berfirman: “Semua
yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Robb-mu yang
mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. Ar-Rohman: 26-27).
1.2 Ketinggian
Alloh di Atas ‘Arsy dan Ilmu-Nya yang Meliputi Segala Sesuatu
وَهُوَ بِجِهَةِ
الْعُلُوِّ مُسْتَوٍ عَلَى الْعَرْشِ، مُحْتَوٍ عَلَى الْمُلْكِ، مُحِيطٌ عِلْمُهُ
بِالْأَشْيَاءِ، ﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ
الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ﴾.
Dia berada di arah
ketinggian, beristiwa di atas ‘Arsy, menguasai kerajaan, ilmu-Nya meliputi
segala sesuatu, “Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik dan
amal sholih akan diangkat-Nya” (QS. Fathir: 10).
﴿يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ
ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ﴾.
“Dia mengatur segala
urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam 1 hari
yang kadarnya (lamanya) adalah 1000 tahun menurut perhitunganmu” (QS. As-Sajdah: 5).
خَلَقَ الْخَلَائِقَ
وَأَفْعَالَهُمْ وَقَدَّرَ أَرْزَاقَهُمْ وَآجَالَهُمْ، لَا مُقَدِّمَ لِمَا أَخَّرَ،
وَلَا مُؤَخِّرَ لِمَا قَدَّمَ، أَرَادَ مَا الْعَالَمُ فَاعِلُوهُ، وَلَوْ عَصَمَهُمْ
لَمَا خَالَفُوهُ، وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُطِيعُوهُ جَمِيعًا لَأَطَاعُوهُ، يَعْلَمُ السِّرَّ
وَأَخْفَى، عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ، ﴿أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ
الْخَبِيرُ﴾.
Dia menciptakan para
makhluk dan perbuatan-perbuatan mereka, serta telah menentukan rizqi-rizqi
mereka dan ajal-ajal mereka. Tidak ada yang bisa memajukan apa yang Dia
akhirkan, dan tidak ada yang bisa mengakhirkan apa yang Dia majukan. Dia
menghendaki apa yang dilakukan oleh alam semesta, sekiranya Dia menjaga mereka
niscaya mereka tidak akan menyelisihi-Nya, dan sekiranya Dia menghendaki agar
mereka semua menaati-Nya niscaya mereka akan menaati-Nya. Dia mengetahui
rahasia dan yang lebih tersembunyi, Maha Mengetahui segala isi dada, “Apakah
(pantas) Dzat yang menciptakan itu tidak mengetahui? Padahal Dia Maha Halus
lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Mulk: 14).
هُوَ الْمُحَرِّكُ،
هُوَ الْمُسَكِّنُ، لِمَا تَتَصَوَّرُهُ الْأَوْهَامُ وَلَا تَقْدِرُهُ الْأَذْهَانُ،
وَلَا يُقَاسُ بِالنَّاسِ، جَلَّ أَنْ يُشْبِهَ بِمَا صَنَعَهُ، أَوْ يُضَافَ إِلَى
مَا اخْتَرَعَهُ وَابْتَدَعَهُ، مُحْصِي الْأَنْفَاسِ، الْقَائِمُ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ
بِمَا كَسَبَتْ ﴿لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا * وَكُلُّهُمْ
آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا﴾، ﴿لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى﴾، ﴿لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاؤُوا بِمَا عَمِلُوا
وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى﴾ غَنِيٌّ عَنْ خَلْقِهِ، رَازِقٌ لِبَرِيَّتِهِ،
يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ، يَرْزُقُ وَلَا يُرْزَقُ، يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ،
الْخَلِيقَةُ مُفْتَقِرَةٌ إِلَيْهِ، لَمْ يَخْلُقْهُمْ لِاجْتِلَابِ نَفْعٍ وَلَا
دَفْعِ ضَرَرٍ، وَلَا لِدَاعٍ دَعَاهُ إِلَيْهِ، وَلَا لِخَاطِرٍ خَطَرَ لَهُ، وَفِكْرٍ
حَدَثَ لَهُ، بَلْ إِرَادَةٌ مُجَرَّدَةٌ كَمَا قَالَ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِينَ:
﴿ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ * فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ﴾.
Dia yang menggerakkan,
Dia yang mendiamkan, terhadap apa yang dibayangkan oleh khayalan dan tidak bisa
ditetapkan kadarnya oleh akal pikiran, serta tidak bisa dianalogikan dengan
manusia. Maha Suci Dia dari menyerupai apa yang Dia ciptakan, atau disandarkan
kepada apa yang Dia buat dan Dia adakan dari ketiadaan. Maha Menghitung
hembusan nafas, Yang Mengawasi setiap jiwa atas apa yang telah diperbuatnya, “Sungguh,
Dia telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang
teliti. Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada-Nya pada hari Qiyamah
dengan sendiri-sendiri” (QS. Maryam: 94-95), “Agar setiap jiwa
diberi balasan sesuai dengan apa yang dia upayakan” (QS. Thoha: 15),
“Agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai
dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang terbaik (Jannah)” (QS.
An-Najm: 31).
Dia Maha Kaya (tidak
butuh) dari makhluk-Nya, Maha Pemberi Rizqi kepada ciptaan-Nya, Dia memberi
makan dan tidak diberi makan, Dia memberi rizqi dan tidak diberi rizqi, Dia
melindungi dan tidak ada yang bisa dilindungi dari-Nya. Makhluk sangat butuh
kepada-Nya. Dia tidak menciptakan mereka untuk menarik manfaat atau menolak
madhorot, bukan pula karena ada penyeru yang menyeru-Nya untuk itu, bukan
karena ada lintasan pikiran yang melintas pada-Nya, atau pemikiran yang baru
muncul pada-Nya, melainkan murni kehendak sebagaimana yang Dia firmankan dan
Dia adalah sejujur-jujur perkataan: “Pemilik ‘Arsy yang mulia, Maha Kuasa
berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Buruj: 15-16).
مُتَفَرِّدَةٌ
بِالْقُدْرَةِ عَلَى اخْتِرَاعِ الْأَعْيَانِ، وَكَشْفِ الضُّرِّ وَالْبَلْوَى وَتَقْلِيبِ
الْأَعْيَانِ وَتَغْيِيرِ الْأَحْوَالِ، ﴿كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ﴾. يَسُوقُ مَا قَدَّرَ إِلَى مَا وَقَّتَ.
Sendirian dalam kemampuan
untuk menciptakan segala sesuatu yang berwujud, menghilangkan bahaya dan
musibah, membolak-balikkan keadaan benda, dan mengubah kondisi, “Setiap
waktu Dia dalam kesibukan (mengurus makhluk-Nya)” (QS. Ar-Rohman: 29).
Dia menggiring apa yang telah Dia takdirkan menuju waktu yang telah Dia
tentukan.
1.3 Penetapan
Sifat-Sifat Dzatiyah dan Fi’liyah Bagi Alloh
وَأَنَّهُ
تَعَالَى حَيٌّ بِحَيَاةٍ، وَعَالِمٌ بِعِلْمٍ، وَقَادِرٌ بِقُدْرَةٍ، وَمُرِيدٌ بِإِرَادَةٍ،
وَسَمِيعٌ بِسَمْعٍ، وَبَصِيرٌ بِبَصَرٍ، وَمُدْرِكٌ بِإِدْرَاكٍ، وَمُتَكَلِّمٌ بِكَلَامٍ،
وَآمِرٌ بِأَمْرٍ، وَنَاهٍ بِنَهْيٍ، وَمُخْبِرٌ بِخَبَرٍ.
Bahwasanya Dia Ta’ala
Maha Hidup dengan sifat hidup, Maha Mengetahui dengan ilmu, Maha Kuasa dengan qudroh
(kemampuan), Maha Berkehendak dengan irodah (keinginan), Maha Mendengar
dengan pendengaran, Maha Melihat dengan penglihatan, Maha Menjangkau dengan
jangkauan, Maha Berbicara dengan kalam (perkataan), Maha Memerintah dengan
perintah, Maha Melarang dengan larangan, dan Maha Memberi Kabar dengan kabar.
وَأَنَّهُ
تَعَالَى عَادِلٌ فِي حُكْمِهِ وَقَضَائِهِ، وَمُحْسِنٌ مُتَفَضِّلٌ فِي عَطَائِهِ
وَإِنْعَامِهِ، مُبْدِئٌ وَمُعِيدٌ، مُحْيٍ وَمُمِيتٌ، مُحْدِثٌ وَمُوجِدٌ، مُثِيبٌ
وَمُعَاقِبٌ، جَوَادٌ لَا يَبْخَلُ، حَلِيمٌ لَا يَعْجَلُ، حَفِيظٌ لَا يَنْسَى، يَقْظَانُ
لَا يَسْهُو، رَقِيبٌ لَا يَغْفَلُ، يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ، يَضْحَكُ وَيَفْرَحُ، يُحِبُّ
وَيَكْرَهُ، وَيَبْغَضُ وَيَرْضَى، وَيَغْضَبُ وَيَسْخَطُ، يَرْحَمُ وَيَغْفِرُ، وَيُعْطِي
وَيَمْنَعُ، لَهُ يَدَانِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، قَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾، رُوِيَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ: قَرَأَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى الْمِنْبَرِ ﴿وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾ وَقَالَ: «تَكُونُ فِي يَمِينِهِ يَرْمِي
بِهَا كَمَا يَرْمِي الْغُلَامُ بِالْكُرَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْعَزِيزُ»،
قَالَ: فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَتَحَرَّكُ عَلَى الْمِنْبَرِ حَتَّى كَادَ
يَسْقُطُ.
Bahwasanya Dia Ta’ala
Maha Adil dalam hukum dan ketetapan-Nya, Maha Berbuat Baik lagi Maha Memberi
Karunia dalam pemberian dan nikmat-Nya. Dzat Yang Memulai penciptaan dan Yang
Mengulanginya, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan, Yang Mewujudkan dan Yang
Mengadakan. Dzat Yang Memberi Pahala dan Yang Menyiksa, Maha Dermawan yang
tidak bakhil, Maha Penyantun yang tidak terburu-buru, Maha Menjaga yang tidak
lupa, Maha Terjaga yang tidak lalai, Maha Mengawasi yang tidak lengah. Dia
Menyempitkan dan Melapangkan (rizqi), Tertawa dan Bergembira, Mencintai dan
Membenci, Murka dan Ridho, Marah dan Gusar. Dia Menyayangi dan Mengampuni,
serta Memberi dan Menghalangi. Bagi-Nya 2 tangan dan kedua tangan-Nya adalah
kanan, Dia Jalla wa ‘Ala berfirman: “Dan langit-langit digulung
dengan tangan kanan-Nya” (QS. Az-Zumar: 67). Diriwayatkan dari Nafi’
(117 H) dari Ibnu Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau
berkata: Rosululloh ﷺ membaca
di atas mimbar “Dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (QS.
Az-Zumar: 67) dan bersabda: “Langit-langit itu berada di tangan
kanan-Nya, Dia melemparkannya sebagaimana seorang anak kecil melempar bola,
kemudian Dia berfirman: ‘Aku adalah Yang Maha Perkasa.” Rowi berkata: “Sungguh
aku melihat Rosululloh ﷺ
bergerak-gerak di atas mimbar sampai-sampai hampir saja beliau jatuh.”
قَالَ ابْنُ
عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: يَقْبِضُ الْأَرَضِينَ وَالسَّمَاوَاتِ جَمِيعًا،
فَلَا يُرَى طَرَفُهُمَا مِنْ قَبْضَتِهِ.
Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu
‘anhuma berkata: “Dia menggenggam bumi dan langit semuanya, sehingga
kedua ujungnya tidak terlihat dari genggaman-Nya.”
وَعَنِ ابْنِ
عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «الْمُقْسِطُونَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ».
Dari Ibnu Umar (73 H)
dari Nabi ﷺ
bahwasanya beliau bersabda: “Orang-orang yang adil di sisi Alloh pada hari
Qiyamah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rohman,
dan kedua tangan-Nya adalah kanan” (HR. Muslim no. 1827).
خَلَقَ آدَمَ
عَلَيْهِ السَّلَامُ بِيَدِهِ عَلَى صُورَتِهِ، وَغَرَسَ جَنَّةَ عَدْنٍ بِيَدِهِ،
وَغَرَسَ شَجَرَةَ طُوبَى بِيَدِهِ، وَكَتَبَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ، وَنَاوَلَهَا
مُوسَى مِنْ يَدِهِ إِلَى يَدِهِ، وَكَلَّمَهُ تَكْلِيمًا مِنْ غَيْرِ وَاسِطَةٍ وَلَا
تَرْجُمَانٍ، وَقُلُوبُ الْعِبَادِ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ
يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ وَيُوعِيهَا مَا أَرَادَ، وَالسَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي كَفِّهِ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ.
Dia menciptakan Adam ‘alaihis
salam dengan tangan-Nya sesuai dengan bentuk-Nya, menanam Jannah ‘Adn
dengan tangan-Nya, menanam pohon Thuba dengan tangan-Nya, menulis Taurot dengan
tangan-Nya, dan menyerahkannya kepada Musa dari tangan-Nya ke tangan Musa. Dia
berbicara kepada Musa secara langsung tanpa perantara dan tanpa penerjemah.
Hati para hamba berada di antara 2 jari dari jari-jemari Ar-Rohman, Dia
membolak-balikkannya sebagaimana yang Dia kehendaki dan mengisinya dengan apa
yang Dia inginkan. Langit dan bumi pada hari Qiyamah berada di dalam telapak
tangan-Nya sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits.
وَيَضَعُ
قَدَمَهُ فِي جَهَنَّمَ، فَيَنْزَوِي بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، وَتَقُولُ: قَطْ قَطْ،
وَيُخْرِجُ قَوْمًا مِنَ النَّارِ بِيَدِهِ.
Dia meletakkan kaki-Nya
di Jahannam, maka sebagian Jahannam menyatu dengan sebagian lainnya, dan
Jahannam berkata: “Cukup, cukup. Dia mengeluarkan suatu kaum dari Naar
dengan tangan-Nya.”
وَيَنْظُرُ
أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى وَجْهِهِ، وَيَرَوْنَهُ لَا يُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ، وَلَا
يُضَارُّونَ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ: «يَتَجَلَّى لَهُمْ يُعْطِيهِمْ مَا يَتَمَنَّوْنَ»،
وَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: ﴿لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ﴾ قِيلَ: الْحُسْنَى هِيَ الْجَنَّةُ، وَالزِّيَادَةُ:
النَّظَرُ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ * إِلَى رَبِّهَا
نَاظِرَةٌ﴾.
Penduduk Jannah akan
memandang kepada Wajah-Nya, mereka melihat-Nya tanpa mengalami kesulitan dalam
melihat-Nya dan tidak saling berdesakan, sebagaimana disebutkan dalam Hadits: “Dia
menampakkan diri kepada mereka dan memberikan kepada mereka apa yang mereka
harapkan.” Alloh berfirman: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada
pahala yang terbaik (Jannah) dan tambahannya” (QS. Yunus: 26).
Dikatakan: Al-Husna adalah Jannah, dan Az-Ziyadah (tambahannya) adalah melihat
kepada Wajah-Nya Yang Mulia. Alloh Ta’ala berfirman: “Wajah-wajah
(orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri. Memandang kepada Robb-nya” (QS.
Al-Qiyamah: 22-23).
وَيُعْرَضُ
عَلَيْهِ الْعِبَادُ يَوْمَ الْفَصْلِ وَالدِّينِ، يَتَوَلَّى حِسَابَهُمْ بِنَفْسِهِ،
وَلَا يَتَوَلَّى ذَلِكَ غَيْرُهُ.
Para hamba akan
dihadapkan kepada-Nya pada hari keputusan dan hari pembalasan. Dia sendiri yang
mengurusi perhitungan (hisab) mereka, dan tidak ada selain-Nya yang mengurusi
hal itu.
وَأَنَّ
اللهَ تَعَالَى خَلَقَ سَمَاوَاتٍ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ، وَسَبْعَ أَرَضِينَ بَعْضُهَا
أَسْفَلَ مِنْ بَعْضٍ، وَمِنَ الْأَرْضِ الْعُلْيَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا مَسِيرَةُ
خَمْسِمِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ كُلِّ سَمَاءٍ وَسَمَاءٍ مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ،
وَالْمَاءُ فَوْقَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، وَعَرْشُ الرَّحْمَنِ فَوْقَ الْمَاءِ،
وَاللهُ تَعَالَى عَلَى الْعَرْشِ، وَدُونَهُ حُجُبٌ مِنْ نَارٍ وَنُورٍ وَظُلْمَةٍ،
وَمَا هُوَ أَعْلَمُ بِهِ، وَلِلْعَرْشِ حَمَلَةٌ يَحْمِلُونَهُ، قَالَ عَزَّ وَجَلَّ:
﴿الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ﴾ الْآيَةَ.
Bahwasanya Alloh Ta’ala
menciptakan langit yang sebagiannya di atas sebagian yang lain, dan 7 lapis
bumi yang sebagiannya di bawah sebagian yang lain. Jarak antara bumi yang
paling atas ke langit dunia adalah perjalanan 500 tahun, dan antara satu langit
dengan langit berikutnya adalah perjalanan 500 tahun. Air berada di atas langit
ke 7, dan ‘Arsy Ar-Rohman berada di atas air. Alloh Ta’ala berada di
atas ‘Arsy. Di bawah-Nya terdapat hijab-hijab dari api, cahaya, kegelapan, dan
apa yang lebih Dia ketahui. ‘Arsy memiliki para pemikul yang memikulnya, Alloh Azza
wa Jalla berfirman: “(Malaikat-Malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat
yang berada di sekelilingnya...” (QS. Ghofir: 7).
وَلِلْعَرْشِ
حَدٌّ يَعْلَمُهُ اللهُ تَعَالَى، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ
الْعَرْشِ﴾ وَهُوَ مِنْ يَاقُوتَةٍ حَمْرَاءَ، وَسِعَتُهُ
كَسِعَةِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِينَ.
‘Arsy memiliki batasan
yang diketahui oleh Alloh Ta’ala, Alloh Azza wa Jalla berfirman: “Dan
kamu (Muhammad) akan melihat Malaikat-Malaikat melingkar di sekeliling ‘Arsy”
(QS. Az-Zumar: 75). ‘Arsy tersebut terbuat dari yaqut merah, dan luasnya
seluas langit dan bumi.
وَالْكُرْسِيُّ
عِنْدَ الْعَرْشِ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ فِي أَرْضِ فَلَاةٍ.
وَهُوَ جَلَّ
وَعَلَا يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا بَيْنَهُنَّ وَمَا تَحْتَهُنَّ،
وَمَا فِي الْأَرَضِينَ السَّبْعِ وَمَا تَحْتَهُنَّ وَمَا بَيْنَهُنَّ وَمَا تَحْتَ
الثَّرَى، وَمَا فِي قَعْرِ الْبِحَارِ وَمَنْبَتَ كُلِّ شَعْرَةٍ وَكُلِّ شَجَرَةٍ
وَكُلِّ زَرْعٍ يَنْبُتُ، وَمَسْقَطَ كُلِّ وَرَقَةٍ، وَعَدَدَ ذَلِكَ كُلِّهِ، وَعَدَدَ
الْحَصَى وَالرَّمْلِ وَالتُّرَابِ، وَمَثَاقِيلَ الْجِبَالِ، وَمَكَايِيلَ الْبِحَارِ،
وَأَعْمَالَ الْعِبَادِ وَآثَارَهُمْ، وَأَنْفَاسَهُمْ وَكَلَامَهُمْ، وَيَعْلَمُ كُلَّ
شَيْءٍ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ.
Kursi dibandingkan dengan
‘Arsy hanyalah seperti sebuah cincin yang dilemparkan di tanah lapang yang
luas.
Dia Jalla wa ‘Ala
mengetahui apa yang ada di 7 langit, apa yang ada di antara mereka, dan apa
yang ada di bawah mereka. Dia mengetahui apa yang ada di 7 lapis bumi, apa yang
ada di bawah mereka, apa yang ada di antara mereka, dan apa yang ada di bawah
tanah yang lembap. Dia mengetahui apa yang ada di dasar lautan, tempat
tumbuhnya setiap helai rambut, setiap pohon, dan setiap tanaman yang tumbuh,
serta setiap daun yang gugur. Dia mengetahui jumlah itu semua, jumlah kerikil,
pasir, dan debu, beratnya gunung-gunung, takaran air laut, amal perbuatan para
hamba dan bekas-bekasnya, serta hembusan nafas dan perkataan mereka. Dia
mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun dari hal itu yang tersembunyi
bagi-Nya.
1.4 Alloh Berada
di Atas Langit dan Beristiwa di Atas ‘Arsy
وَهُوَ بَايِنٌ
مِنْ خَلْقِهِ، لَا يَخْلُو مِنْ عِلْمِهِ مَكَانٌ، وَلَا يَجُوزُ وَصْفُهُ بِأَنَّهُ
فِي كُلِّ مَكَانٍ، بَلْ يُقَالُ: إِنَّهُ فِي السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ، كَمَا قَالَ
جَلَّ ثَنَاؤُهُ ﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾، وَقَوْلُهُ: ﴿ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ﴾، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ
الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ﴾.
Dia terpisah dari
makhluk-Nya, tidak ada satu tempat pun yang luput dari ilmu-Nya. Tidak boleh
menyifati-Nya bahwa Dia berada di setiap tempat, melainkan dikatakan:
Sesungguhnya Dia berada di langit di atas ‘Arsy, sebagaimana firman-Nya: “Ar-Rohman
beristiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thoha: 5), dan firman-Nya: “Kemudian
Ar-Rohman beristiwa di atas ‘Arsy” (QS. Al-Furqon: 59), serta
firman-Nya: “Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik dan amal
sholih akan diangkat-Nya” (QS. Fathir: 10).
وَالنَّبِيُّ
ﷺ حَكَمَ بِإِسْلَامِ الْأَمَةِ لَمَّا قَالَ لَهَا: أَيْنَ اللهُ؟ فَأَشَارَتْ إِلَى
السَّمَاءِ.
Nabi ﷺ menghukumi keislaman seorang budak wanita
ketika beliau bertanya kepadanya: “Di mana Alloh?”, lalu budak itu
menunjuk ke arah langit (HR. Muslim no. 537).
وَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «لَمَّا خَلَقَ اللهُ
الْخَلْقَ كَتَبَ كِتَابًا عَلَى نَفْسِهِ، وَهُوَ عِنْدَهُ، فَوْقَ الْعَرْشِ: أَنَّ
رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبِي.” وَفِي لَفْظٍ
آخَرَ: «لَمَّا قَضَى اللهُ سُبْحَانَهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابٍ فَهُوَ عِنْدَهُ
فَوْقَ الْعَرْشِ أَنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي.”
Nabi ﷺ bersabda dalam Hadits Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu
‘anhu: “Ketika Alloh menciptakan makhluk, Dia menuliskan ketetapan bagi
diri-Nya, dan ketetapan itu ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy: Sesungguhnya rohmat-Ku
mengalahkan murka-Ku” (HR. Al-Bukhori no. 7404).
Dalam lafazh lain: “Ketika
Alloh subhanahu telah menetapkan penciptaan makhluk, Dia menulis di dalam kitab
yang ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy: ‘Sesungguhnya rohmat-Ku mendahului murka-Ku”
(HR. Muslim no. 2751).
وَيَنْبَغِي
إِطْلَاقُ صِفَةِ الِاسْتِوَاءِ مِنْ غَيْرِ تَأْوِيلٍ، وَأَنَّهُ اسْتِوَاءُ الذَّاتِ
عَلَى الْعَرْشِ لَا عَلَى مَعْنَى الْقُعُودِ وَالْمُمَاسَّةِ كَمَا قَالَتِ الْمُجَسِّمَةُ
وَالْكَرَّامِيَّةُ، وَلَا عَلَى مَعْنَى الْعُلُوِّ وَالرِّفْعَةِ كَمَا قَالَتِ الْأَشْعَرِيَّةُ،
وَلَا عَلَى مَعْنَى الِاسْتِيلَاءِ وَالْغَلَبَةِ كَمَا قَالَتِ الْمُعْتَزِلَةُ،
لِأَنَّ الشَّرْعَ لَمْ يَرِدْ بِذَلِكَ، وَلَا نُقِلَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِينَ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ، بَلِ الْمَنْقُولُ
عَنْهُمْ حَمْلُهُ عَلَى الْإِطْلَاقِ.
Hendaknya menetapkan
sifat istiwa tanpa melakukan takwil (pengalihan makna), dan bahwasanya
itu adalah istiwa Dzat di atas ‘Arsy. Bukan bermakna duduk atau menempel
sebagaimana perkataan kaum Mujassimah dan Karromiyah, bukan pula bermakna ketinggian
kedudukan dan derajat semata sebagaimana perkataan kaum Asy’ariyah, dan
bukan pula bermakna penguasaan serta kemenangan sebagaimana perkataan
kaum Mu’tazilah. Hal itu karena syariat tidak datang dengan pemaknaan seperti
itu, dan tidak pula dinukil dari seorang pun dari kalangan Shohabat, Tabi’in,
maupun Salaf sholih dari kalangan ahli Hadits. Sebaliknya, yang dinukil dari
mereka adalah menetapkannya sebagaimana adanya (ithlaq).
قَدْ رُوِيَ
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ ﷺ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾ قَالَتِ: الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالِاسْتِوَاءُ
غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْإِقْرَارُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالْجُحُودُ بِهِ كُفْرٌ. وَقَدْ
أَسْنَدَهُ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي صَحِيحِهِ، وَكَذَلِكَ
فِي حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Telah diriwayatkan dari
Ummu Salamah (62 H) istri Nabi ﷺ
mengenai firman Alloh Azza wa Jalla “Ar-Rohman beristiwa di atas ‘Arsy”
(QS. Thoha: 5), beliau berkata: “Bagaimananya (kaifiyat-nya) tidak diketahui
akal, sedangkan istiwa itu sendiri bukan hal yang tidak diketahui (maknanya
jelas), mengakuinya adalah wajib, dan mengingkarinya adalah kekufuran.”
Muslim bin Al-Hajjaj (261 H) telah menyandarkannya dari beliau dari Nabi ﷺ dalam kitab shohih-nya, begitu pula dalam Hadits
Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu.
1.5 Manhaj Salaf
dalam Menyikapi Sifat-Sifat Alloh
وَقَالَ
أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ اللهُ قَبْلَ مَوْتِهِ بِقَرِيبٍ: أَخْبَارُ الصِّفَاتِ
تُمَرُّ، كَمَا جَاءَتْ، بِلَا تَشْبِيهٍ وَلَا تَعْطِيلٍ.
Ahmad bin Hanbal (241 H) rohimahulloh
berkata sesaat sebelum wafatnya: “Hadits-Hadits tentang sifat harus
dibiarkan berlalu sebagaimana datangnya, tanpa menyerupakan (tasybih) dan tanpa
meniadakan (ta’thil).”
وَقَالَ
أَيْضًا فِي رِوَايَةِ بَعْضِهِمْ: لَسْتُ بِصَاحِبِ كَلَامٍ، وَلَا أَرَى الْكَلَامَ
فِي شَيْءٍ مِنْ هَذَا، إِلَّا مَا كَانَ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، أَوْ حَدِيثٍ
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَوْ عَنْ أَصْحَابِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، أَوْ عَنِ التَّابِعِينَ،
فَأَمَّا غَيْرُ ذَلِكَ فَإِنَّ الْكَلَامَ فِيهِ غَيْرُ مَحْمُودٍ، فَلَا يُقَالُ
فِي صِفَاتِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ: كَيْفَ، وَلِمَ، وَلَا يَقُولُ ذَلِكَ إِلَّا
شَاكٌّ.
Beliau juga berkata dalam
riwayat sebagian muridnya: “Aku bukan ahli kalam (filsafat), dan aku tidak
memandang perlunya bicara dalam masalah ini sedikit pun kecuali apa yang ada di
dalam Kitab Alloh Azza wa Jalla, atau Hadits dari Nabi ﷺ, atau dari para Shohabat-nya rodhiyallahu ‘anhum,
atau dari para Tabi’in. Adapun selain itu, maka membicarakannya tidaklah
terpuji. Tidak boleh dikatakan mengenai sifat-sifat Robb Azza wa Jalla: ‘bagaimana’
atau ‘mengapa’, dan tidaklah mengatakan hal itu kecuali orang yang ragu.”
وَقَالَ
أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ، فِي رِوَايَةٍ عَنْهُ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ: نَحْنُ نُؤْمِنُ
بِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْعَرْشِ، كَيْفَ شَاءَ، وَكَمَا شَاءَ، بِلَا
حَدٍّ وَلَا صِفَةٍ، يَبْلُغُهَا وَاصِفٌ، أَوْ يَحُدُّهُ حَادٌّ، لِمَا رُوِيَ عَنْ
سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ كَعْبِ الْأَحْبَارِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي التَّوْرَاةِ:
أَنَا اللهُ فَوْقَ عِبَادِي، وَعَرْشِي فَوْقَ جَمِيعِ خَلْقِي، وَأَنَا عَلَى عَرْشِي،
عَلَيْهِ أُدَبِّرُ عِبَادِي، وَلَا يَخْفَى عَلَيَّ شَيْءٌ مِنْ عِبَادِي.
Ahmad (241 H) rohimahulloh
berkata dalam sebuah riwayat di tempat lain: “Kami beriman bahwa Alloh Azza
wa Jalla berada di atas ‘Arsy, sebagaimana yang Dia kehendaki dan dengan cara
yang Dia kehendaki, tanpa batasan dan tanpa kriteria yang bisa dicapai oleh
pemberi sifat, atau dibatasi oleh orang yang membuat batasan.” Hal ini karena
apa yang diriwayatkan dari Said bin Al-Musayyab (94 H) dari Ka’ab Al-Ahbar (32
H) bahwa Alloh Ta’ala berfirman dalam Taurot: “Aku adalah Alloh yang
berada di atas hamba-hamba-Ku, dan ‘Arsy-Ku berada di atas seluruh makhluk-Ku,
dan Aku berada di atas ‘Arsy-Ku, di atasnya Aku mengatur urusan hamba-hamba-Ku,
dan tidak ada sesuatu pun dari hamba-hamba-Ku yang tersembunyi bagi-Ku.”
وَكَوْنُهُ
عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْعَرْشِ مَذْكُورًا فِي كُلِّ كِتَابٍ أُنْزِلَ عَلَى كُلِّ
نَبِيٍّ أُرْسِلَ بِلَا كَيْفَ، وَلِأَنَّ اللهَ تَعَالَى فِيمَا لَمْ يَزَلْ مَوْصُوفٌ
بِالْعُلُوِّ وَالْقُدْرَةِ وَالِاسْتِيلَاءِ وَالْغَلَبَةِ عَلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ
مِنَ الْعَرْشِ وَغَيْرِهِ، فَلَا يُحْمَلُ الِاسْتِوَاءُ عَلَى ذَلِكَ.
Keberadaan-Nya Azza wa
Jalla di atas ‘Arsy telah disebutkan dalam setiap kitab yang diturunkan
kepada setiap Nabi yang diutus tanpa menanyakan bagaimananya (kaifa).
Dan karena Alloh Ta’ala senantiasa disifati dengan ketinggian,
kekuasaan, penguasaan, dan kemenangan atas seluruh makhluk-Nya baik itu ‘Arsy
maupun lainnya, maka istiwa tidak boleh diartikan hanya sebatas itu
(penguasaan).
فَالِاسْتِوَاءُ
مِنْ صِفَاتِ الذَّاتِ بَعْدَمَا أَخْبَرَنَا بِهِ، وَنَصَّ عَلَيْهِ، وَأَكَّدَهُ
فِي سَبْعِ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِهِ، وَالسُّنَّةُ الْمَأْثُورَةُ بِهِ، وَهُوَ صِفَةٌ
لَازِمَةٌ لَهُ، وَلَائِقَةٌ بِهِ كَالْيَدِ وَالْوَجْهِ وَالْعَيْنِ وَالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ
وَالْحَيَاةِ وَالْقُدْرَةِ، وَكَوْنُهُ خَالِقًا وَرَازِقًا وَمُحْيِيًا وَمُمِيتًا،
مَوْصُوفٌ بِهَا، وَلَا نَخْرُجُ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، نَقْرَأُ الْآيَةَ
وَالْخَبَرَ، وَنُؤْمِنُ بِمَا فِيهِمَا، وَنَكِلُ الْكَيْفِيَّةَ فِي الصِّفَاتِ إِلَى
عِلْمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، كَمَا قَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ رَحِمَهُ اللهُ:
كَمَا وَصَفَ اللهُ تَعَالَى نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ. فَتَفْسِيرُهُ قِرَاءَتُهُ، لَا
تَفْسِيرَ لَهُ غَيْرُهَا، وَلَا نَتَكَلَّفُ غَيْرَ ذَلِكَ، فَإِنَّهُ غَيْبٌ، لَا
مَجَالَ لِلْعَقْلِ فِي إِدْرَاكِهِ، وَنَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ،
وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ أَنْ نَقُولَ فِيهِ وَفِي صِفَاتِهِ مَا لَمْ يُخْبِرْنَا بِهِ
هُوَ أَوْ رَسُولُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.
Maka istiwa termasuk
sifat dzatiyah setelah Dia mengabarkannya kepada kita, menegaskannya, dan
menguatkannya dalam 7 ayat di dalam Kitab-Nya, serta diperkuat oleh sunnah yang
diriwayatkan. Ia adalah sifat yang tetap bagi-Nya dan layak bagi-Nya seperti
halnya Tangan, Wajah, Mata, Pendengaran, Penglihatan, Hidup, dan Kekuasaan.
Begitu pula keberadaan-Nya sebagai Pencipta, Pemberi Rizqi, Yang Menghidupkan,
dan Yang Mematikan, Dia disifati dengannya. Kita tidak keluar dari Al-Kitab dan
As-Sunnah; kita membaca ayat dan Hadits, beriman kepada apa yang ada pada
keduanya, dan menyerahkan perkara kaifiyah (bagaimananya) sifat-sifat
tersebut kepada ilmu Alloh Azza wa Jalla. Sebagaimana yang dikatakan
oleh Sufyan bin ‘Uyainah (198 H) rohimahulloh: “Sebagaimana Alloh Ta’ala
menyifati diri-Nya di dalam Kitab-Nya. Maka tafsirnya adalah dengan membacanya,
tidak ada tafsir baginya selain itu.” Kita tidak membebani diri dengan
selain itu, karena hal tersebut adalah perkara ghoib yang tidak ada ruang bagi
akal untuk menjangkaunya. Kami memohon ampunan dan keselamatan kepada Alloh Ta’ala,
dan kami berlindung kepada-Nya dari mengatakan tentang Dzat-Nya dan
sifat-sifat-Nya apa yang tidak Dia kabarkan atau tidak dikabarkan oleh
Rosul-Nya ‘alaihish sholatu was salam.
1.6 Turunnya
Alloh ke Langit Dunia Setiap Malam
وَأَنَّهُ
تَعَالَى يَنْزِلُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، كَيْفَ شَاءَ وَكَمَا
شَاءَ، فَيَغْفِرُ لِمَنْ أَذْنَبَ وَأَخْطَأَ وَأَجْرَمَ وَعَصَى لِمَنْ يَخْتَارُ
مِنْ عِبَادِهِ وَيَشَاءُ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْعَلِيُّ الْأَعْلَى، لَا إِلَهَ
إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى، لَا بِمَعْنَى نُزُولِ رَحْمَتِهِ وَثَوَابِهِ
عَلَى مَا ادَّعَتْهُ الْمُعْتَزِلَةُ وَالْأَشْعَرِيَّةُ، لِمَا رَوَى عُبَادَةُ بْنُ
الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «يَنْزِلُ اللهُ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ
اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى سُؤَالَهُ؟ هَلْ مِنْ
مُسْتَغْفِرٍ فَيُغْفَرُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ عَانٍ فَيُفَكُّ عَانِيهِ؟ حَتَّى يُصْبِحَ
الصُّبْحُ، ثُمَّ يَعْلُو رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى كُرْسِيِّهِ».
Bahwasanya Dia Ta’ala
turun setiap malam ke langit dunia, dengan cara yang Dia kehendaki dan
sebagaimana yang Dia kehendaki. Lalu Dia mengampuni siapa yang berdosa,
bersalah, melakukan kriminal (dosa besar), dan bermaksiat di antara hamba-hamba
yang Dia pilih dan Dia kehendaki. Maha Berkah dan Maha Tinggi Dzat Yang Maha
Tinggi lagi Maha Luhur, tidak ada Robb yang berhak disembah selain Dia,
bagi-Nya nama-nama yang paling indah. Hal ini bukan bermakna turunnya rohmat
dan pahala-Nya sebagaimana klaim kaum Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Karena apa
yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Ash-Shomit (34 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda: “Alloh Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia
ketika tersisa 1/3 malam yang terakhir, lalu Dia berfirman: ‘Apakah ada orang
yang meminta maka akan diberikan permintaannya? Apakah ada orang yang memohon
ampunan maka akan diampuni baginya? Apakah ada orang yang kesulitan maka akan
dibebaskan kesulitannya?’ Hal itu terus berlangsung sampai waktu Shubuh tiba,
kemudian Robb kami Tabaroka wa Ta’ala naik ke atas Kursi-Nya.”
وَفِي لَفْظٍ
آخَرَ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ
قَالَ: «يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا
حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَخِيرُ فَيَقُولُ: أَلَا عَبْدٌ مِنْ عِبَادِي
يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبُ لَهُ؟ أَلَا ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ يَدْعُونِي فَأَغْفِرُ لَهُ؟
أَلَا مُقْتَرٌ عَلَيْهِ رِزْقُهُ يَدْعُونِي فَأَرْزُقُهُ؟ أَلَا مَظْلُومٌ يَذْكُرُنِي
فَأَنْصُرُهُ؟ أَلَا عَانٍ يَدْعُونِي فَأَفُكُّهُ؟ قَالَ: فَيَكُونُ كَذَلِكَ إِلَى
أَنْ يَطْلُعَ الصُّبْحُ، وَيَعْلُو عَلَى كُرْسِيِّهِ».
Dalam lafazh lain dari
Ubadah bin Ash-Shomit (34 H) rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda: “Alloh
Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa 1/3 malam
yang terakhir, lalu Dia berfirman: ‘Adakah seorang hamba-Ku yang berdoa
kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya? Adakah orang yang menzholimi dirinya
sendiri berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang
disempitkan rizqinya berdoa kepada-Ku maka Aku akan memberinya rizqi? Adakah
orang yang dizholimi mengingat-Ku maka Aku akan menolongnya? Adakah orang yang
tertawan berdoa kepada-Ku maka Aku akan membebaskannya?’ Keadaan itu terus
berlangsung sampai fajar terbit, dan Dia naik ke atas Kursi-Nya.”
وَقَدْ رُوِيَ
هَذَا الْحَدِيثُ بِأَلْفَاظٍ مُخْتَلِفَةٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَجَابِرِ بْنِ عَبْدِ
اللهِ وَعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَأَبِي
الدَّرْدَاءِ وَابْنِ عَبَّاسِ وَعَائِشَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ، كُلُّهُمْ
عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ. وَلِهَذَا كَانُوا يُفَضِّلُونَ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ عَلَى
أَوَّلِهِ.
Hadits ini telah
diriwayatkan dengan lafazh-lafazh yang berbeda dari Abu Huroiroh (57 H), Jabir
bin Abdullah (78 H), dan Ali (40 H) rodhiyallahu ‘anhum, serta dari
Abdullah bin Mas’ud (32 H), Abu Darda (32 H), Ibnu Abbas (68 H), dan Aisyah (58
H) ridhwanulloh ‘alaihim, semuanya dari Rosululloh ﷺ. Oleh karena itulah mereka lebih mengutamakan
Sholat di akhir malam daripada di awal malam.
وَرَوَى
أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «يَنْزِلُ
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا،
فَيَغْفِرُ لِكُلِّ نَفْسٍ إِلَّا لِإِنْسَانٍ فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ، أَوْ شِرْكٌ
بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ».
Abu Bakr Ash-Shiddiq (13
H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda: “Alloh Azza
wa Jalla turun pada malam Nisfu Sya’ban ke langit dunia, maka Dia mengampuni
setiap jiwa kecuali manusia yang di dalam hatinya ada permusuhan atau
kesyirikan kepada Alloh Azza wa Jalla.”
وَرُوِيَ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ
ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ
يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرُ لَهُ؟
هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟ هَلْ مِنْ تَائِبٍ فَأَتُوبُ عَلَيْهِ؟ حَتَّى يَنْشَقَّ
الْفَجْرُ».
Diriwayatkan dari Abu Huroiroh
(57 H) rodhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh
ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Alloh Azza wa
Jalla apabila paruh pertama malam telah berlalu, Dia turun ke langit dunia lalu
berfirman: ‘Adakah orang yang memohon ampunan maka Aku mengampuninya? Adakah
orang yang meminta maka Aku memberinya? Adakah orang yang bertaubat maka Aku
menerima taubatnya? Sampai fajar menyingsing.”
وَقِيلَ
لِإِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهَ: مَا هَذِهِ الْأَحَادِيثُ الَّتِي تُحَدِّثُ بِهَا عَنِ
اللهِ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، وَاللهُ يَصْعَدُ وَيَتَحَرَّكُ،
قَالَ لِلسَّائِلِ: تَقُولُ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَنْزِلَ وَيَصْعَدَ،
وَلَا يَتَحَرَّكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَلِمَ تُنْكِرُهُ؟
Dikatakan kepada Ishaq
bin Rohuyah (238 H): “Apa Hadits-Hadits ini yang engkau sampaikan tentang
Alloh Ta’ala yang turun ke langit dunia, sementara Alloh itu naik dan bergerak?”
Ishaq berkata kepada penanya itu: “Apakah engkau mengakui bahwa Alloh Ta’ala
mampu untuk turun dan naik?” Penanya menjawab: “Iya.” Ishaq berkata:
“Lalu mengapa engkau mengingkarinya?”
وَقَالَ
يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: إِذَا قَالَ لَكَ الْجَهْمِيُّ: كَيْفَ يَنْزِلُ؟ فَقُلْ لَهُ:
كَيْفَ صَعَدَ؟.
Yahya bin Ma’in (233 H)
berkata: “Jika orang Jahmiyah bertanya kepadamu: ‘Bagaimana Dia turun?’,
maka katakanlah kepadanya: ‘Bagaimana Dia naik?’”
وَقَالَ
الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ: إِذَا قَالَ لَكَ الْجَهْمِيُّ: أَنَا كَافِرٌ
بِرَبٍّ يَنْزِلُ، فَقُلْ لَهُ: أَنَا مُؤْمِنٌ بِرَبٍّ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ.
Fudhoil bin ‘Iyadh (187
H) rohimahulloh berkata: “Jika orang Jahmiyah berkata kepadamu: ‘Aku
kafir kepada Robb yang turun’, maka katakanlah kepadanya: ‘Aku beriman kepada
Robb yang melakukan apa saja yang Dia kehendaki.’”
وَعَنْ شَرِيكِ
بْنِ عَبْدِ اللهِ رَحِمَهُ اللهُ- لَمَّا قِيلَ لَهُ عِنْدَنَا قَوْمٌ يُنْكِرُونَ
هَذِهِ الْأَحَادِيثَ-: مَنْ جَاءَنَا بِأَسْمَاءٍ لَيْسَتْ عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ الصَّلَاةُ
وَالصِّيَامُ وَالزَّكَاةُ وَالْحَجُّ، وَإِنَّمَا عَرَفْنَا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهَذِهِ
الْأَحَادِيثِ.
Dari Syuroik bin Abdulloh
(177 H) rohimahulloh ketika dikatakan kepada beliau: “Di sisi kami
ada kaum yang mengingkari Hadits-Hadits ini.” Beliau menjawab: “Siapa
yang mendatangi kita dengan nama-nama (syariat) yang bukan berasal dari
Rosululloh ﷺ seperti
Sholat, Puasa, Zakat, dan Haji? Sesungguhnya kita mengenal Alloh Azza wa Jalla
melalui Hadits-Hadits ini.”
Bab 2: Al-Qur’an
Al-Karim Kalamulloh ﷻ
2.1 Al-Qur’an
adalah Ucapan Alloh ﷻ dan
Bukan Makhluk
(فَصْلٌ)
نَعْتَقِدُ أَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُ اللهِ كِتَابُهُ وَخِطَابُهُ وَوَحْيُهُ الَّذِي
نَزَلَ بِهِ جِبْرِيلُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ.
(Fashl) Kami meyakini bahwa Al-Qur’an adalah Kalamulloh,
Kitab-Nya, firman-Nya, dan wahyu-Nya yang dibawa turun oleh Jibril kepada
Rosululloh ﷺ.
﴿نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ * عَلَى قَلْبِكَ
لِتُكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ * بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ﴾.
“Ia dibawa turun oleh
Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi salah
seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arob yang
jelas” (QS. Asy-Syu’aro:
193-195).
هُوَ الَّذِي
بَلَّغَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ أُمَّتَهُ امْتِثَالًا لِأَمْرِ رَبِّ الْعَالَمِينَ بِقَوْلِهِ
تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ
إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ﴾.
Ia adalah yang
disampaikan oleh Rosululloh ﷺ kepada
umatnya sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Robb semesta alam melalui
firman-Nya Ta’ala: “Wahai Rosul! Sampaikanlah apa yang diturunkan
kepadamu dari Robb-mu” (QS. Al-Ma’idah: 67).
وَرُوِيَ
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ
ﷺ يَعْرِضُ نَفْسَهُ عَلَى النَّاسِ بِالْمَوْقِفِ فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ رَجُلٍ يَحْمِلُنِي
إِلَى قَوْمِهِ فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي.”
Diriwayatkan dari Jabir
bin Abdullah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata: “Dahulu
Nabi ﷺ
menawarkan dirinya kepada orang-orang di tempat berkumpul (Maukif), lalu beliau
bersabda: ‘Adakah seorang lelaki yang mau membawaku kepada kaumnya, karena
sesungguhnya kaum Quroisy telah menghalangiku untuk menyampaikan perkataan
Robb-ku.’”
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ
فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللهِ﴾ كَلَامُ اللهِ تَعَالَى هُوَ الْقُرْآنُ غَيْرُ
مَخْلُوقٍ كَيْفَمَا قُرِئَ وَتُلِيَ وَكُتِبَ، وَكَيْفَمَا تَصَرَّفَتْ بِهِ قِرَاءَةُ
قَارِئٍ، لَفْظُ لَافِظٍ، وَحِفْظُ حَافِظٍ، هُوَ كَلَامُ اللهِ وَصِفَةٌ مِنْ صِفَاتِ
ذَاتِهِ، غَيْرُ مُحْدَثٍ وَلَا مُبَدَّلٍ وَلَا مُغَيَّرٍ وَلَا مُؤَلَّفٍ وَلَا مَنْقُوصٍ
وَلَا مَصْنُوعٍ وَلَا مَزَادٍ فِيهِ، مِنْهُ بَدَأَ تَنْزِيلُهُ، وَإِلَيْهِ يَعُودُ
حُكْمُهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ، فِي حَدِيثِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ: «إِنَّ فَضْلَ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى
سَائِرِ خَلْقِهِ».
Alloh Azza wa Jalla
berfirman: “Dan jika ada seseorang di antara orang-orang musyrik itu meminta
perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia dapat mendengar perkataan
Alloh” (QS. At-Taubah: 6). Perkataan Alloh Ta’ala adalah
Al-Qur’an, ia bukan makhluk bagaimanapun ia dibaca, ditilawah, dan ditulis.
Serta bagaimanapun pembacaan pembaca, lafazh pelafazh, dan hafalan penghafal
melakukannya, ia tetaplah perkataan Alloh dan sifat di antara sifat-sifat
Dzat-Nya. Ia bukan perkara baru (muhdats), tidak diganti, tidak diubah,
tidak disusun, tidak dikurangi, tidak dibuat-buat, dan tidak ditambahi di
dalamnya. Dari-Nya ia mulai diturunkan, dan kepada-Nya hukumnya kembali,
sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi ﷺ dalam Hadits
Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya keutamaan
Al-Qur’an di atas seluruh perkataan adalah seperti keutamaan Alloh di atas
seluruh makhluk-Nya.”
وَذَلِكَ
أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى خَرَجَ وَإِلَيْهِ يَعُودُ فَمَعْنَاهُ:
أَنَّ تَنْزِيلَهُ وَبِدَايَتَهُ وَظُهُورَهُ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِلَيْهِ يَعُودُ
حُكْمُهُ الَّذِي هُوَ الْعِبَادَاتُ مِنْ أَدَاءِ الْأَوَامِرِ وَانْتِهَاءِ النَّوَاهِي،
لِأَجْلِهِ تُفْعَلُ وَتُتْرَكُ، فَالْأَحْكَامُ عَائِدَةٌ إِلَيْهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Hal itu karena Al-Qur’an
berasal dari-Nya Tabaroka wa Ta’ala ia keluar dan kepada-Nya ia kembali.
Maknanya adalah: sesungguhnya turunnya, permulaannya, dan kemunculannya berasal
dari-Nya Azza wa Jalla, dan kepada-Nya kembali hukumnya yaitu
Ibadah-Ibadah yang berupa menunaikan perintah-perintah dan menjauhi
larangan-larangan. Karena-Nyalah hal itu dikerjakan dan ditinggalkan, maka
hukum-hukum kembali kepada-Nya Azza wa Jalla.
وَقِيلَ:
مِنْهُ بَدَأَ حُكْمًا، وَإِلَيْهِ يَعُودُ عِلْمًا، وَهُوَ كَلَامُ اللهِ فِي صُدُورِ
الْحَافِظِينَ وَأَلْسُنِ النَّاطِقِينَ وَفِي أَكُفِّ الْكَاتِبِينَ وَمُلَاحَظَةِ
النَّاظِرِينَ وَمَصَاحِفِ أَهْلِ الْإِسْلَامِ وَأَلْوَاحِ الصِّبْيَانِ حَيْثُمَا
رُؤِيَ وَوُجِدَ.
Dikatakan: dari-Nya ia
bermula secara hukum, dan kepada-Nya ia kembali secara ilmu. Ia adalah
perkataan Alloh yang ada di dalam dada-dada penghafal, lisan-lisan pengucap, di
tangan-tangan penulis, pengamatan orang-orang yang melihat, mushaf-mushaf
penduduk Islam, dan papan-papan tulis anak-anak di mana pun ia dilihat dan
ditemukan.
فَمَنْ زَعَمَ
أَنَّهُ مَخْلُوقٌ أَوْ عِبَارَتُهُ أَوِ التَّلَاوَةُ غَيْرُ الْمَتْلُوِّ، أَوْ قَالَ:
لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ كَافِرٌ بِاللهِ الْعَظِيمِ، وَلَا يُخَالَطُ
وَلَا يُؤَاكَلُ وَلَا يُنَاكَحُ وَلَا يُجَاوَرُ، بَلْ يُهْجَرُ وَيُهَانُ، وَلَا
يُصَلَّى خَلْفَهُ، وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ، وَلَا تَصِحُّ وِلَايَتُهُ فِي نِكَاحِ
وَلِيِّهِ، وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ إِذَا مَاتَ، فَإِنْ ظُفِرَ بِهِ اسْتُتِيبَ ثَلَاثًا
كَالْمُرْتَدِّ، فَإِنْ تَابَ وَإِلَّا قُتِلَ.
Barang siapa yang
menganggap bahwa ia adalah makhluk, atau sebuah ungkapan, atau bahwa tilawah
berbeda dengan yang dibaca, atau berkata: “lafazhku terhadap Al-Qur’an
adalah makhluk”, maka dia telah kafir kepada Alloh Yang Maha Agung. Dia
tidak boleh diajak bergaul, tidak boleh diajak makan bersama, tidak boleh
dinikahi, dan tidak boleh dijadikan tetangga. Akan tetapi dia harus dijauhi dan
dihinakan. Tidak boleh Sholat di belakangnya, tidak diterima persaksiannya,
tidak sah perwaliannya dalam pernikahan walinya, dan tidak disholati janazahnya
jika dia mati. Jika dia tertangkap, maka diminta untuk bertaubat sebanyak 3
kali sebagaimana orang murtad, jika dia bertaubat maka diterima, jika tidak
maka dibunuh.
سُئِلَ الْإِمَامُ
أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ اللهُ عَمَّنْ قَالَ: لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ
فَقَالَ: كُفْرٌ.
وَقَالَ
رَحِمَهُ اللهُ فِيمَنْ قَالَ: الْقُرْآنُ كَلَامُ اللهِ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ، وَالتَّلَاوَةُ
مَخْلُوقَةٌ، أَوْ أَلْفَاظُنَا بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقَةٌ: هُوَ كَافِرٌ.
Imam Ahmad bin Hanbal
(241 H) rohimahulloh ditanya tentang orang yang berkata: “lafazhku
terhadap Al-Qur’an adalah makhluk”, maka beliau menjawab: “Kufur.”
Beliau rohimahulloh juga berkata mengenai orang yang berkata: “Al-Qur’an
adalah perkataan Alloh bukan makhluk, namun tilawahnya adalah makhluk”,
atau “lafazh-lafazh kami terhadap Al-Qur’an adalah makhluk”: “Dia
adalah kafir.”
وَرُوِيَ
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيِّ ﷺ عَنِ الْقُرْآنِ
فَقَالَ: «كَلَامُ اللهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ».
وَرُوِيَ
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْغَفَّارِ وَكَانَ مَوْلَى لِرَسُولِ اللهِ ﷺ، عَتَاقَةً
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «إِذَا ذُكِرَ الْقُرْآنُ فَقُولُوا: كَلَامُ اللهِ غَيْرُ
مَخْلُوقٍ، فَمَنْ قَالَ مَخْلُوقٌ فَهُوَ كَافِرٌ».
Diriwayatkan dari Abu
Darda (32 H) rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang Al-Qur’an, maka beliau bersabda: “Ucapan
Alloh bukan makhluk.” Diriwayatkan dari Abdullah bin Abdil Ghoffar yang
merupakan mantan budak Rosululloh ﷺ, sebuah
pembebasan dari Nabi ﷺ, beliau
bersabda: “Jika Al-Qur’an disebut, maka katakanlah: Perkataan Alloh bukan
makhluk, barang siapa yang berkata ia makhluk maka dia kafir.”
وَقَالَ
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ﴾، فَفَصَلَ بَيْنَ الْخَلْقِ وَالْأَمْرِ، فَلَوْ
كَانَ أَمْرُهُ الَّذِي هُوَ كُنْ، الَّذِي بِهِ يَخْلُقُ الْخَلْقَ مَخْلُوقًا لَكَانَ
ذَلِكَ تَكْرَارًا وَعَيْبًا لَا فَائِدَةَ فِيهِ. كَأَنَّهُ قَالَ: أَلَا لَهُ الْخَلْقُ
وَالْخَلْقُ، وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَتَعَالَى عَنْ ذَلِكَ.
Alloh Azza wa Jalla
berfirman: “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Alloh” (QS.
Al-A’rof: 54). Maka Dia memisahkan antara ciptaan dan perintah. Seandainya
perintah-Nya yaitu “Kun”, yang dengannya Dia menciptakan makhluk adalah
makhluk juga, niscaya hal itu merupakan pengulangan dan cacat yang tidak ada
manfaatnya. Seolah-olah Dia berfirman: Ingatlah milik-Nya ciptaan dan ciptaan,
dan Alloh Azza wa Jalla Maha Tinggi dari hal tersebut.
وَعَنْ ابْنِ
مَسْعُودٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَنَّهُمَا فَسَّرَا قَوْلَهُ عَزَّ
وَجَلَّ: ﴿قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ﴾ أَنَّهُ غَيْرُ مَخْلُوقٍ.
Dari Ibnu Mas’ud (32 H)
dan Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhum bahwasanya mereka berdua
menafsirkan firman-Nya Azza wa Jalla: “Al-Qur’an dalam bahasa Arob
yang tidak ada kebengkokan di dalamnya” (QS. Az-Zumar: 28) bahwa ia
bukan makhluk.
وَقَدْ هَدَّدَ
اللهُ تَعَالَى الْوَلِيدَ بْنَ الْمُغِيرَةِ الْمَخْزُومِيَّ حِينَ سَمَّى الْقُرْآنَ
قَوْلَ الْبَشَرِ- بِسَقَرَ فَقَالَ: ﴿إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ * إِنْ هَذَا
إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ * سَأُصْلِيهِ سَقَرَ﴾. فَكُلُّ مَنْ قَالَ: الْقُرْآنُ عِبَارَةٌ أَوْ
مَخْلُوقٌ، أَوْ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ، فَلَهُ سَقَرُ، كَمَا هُوَ لِلْوَلِيدِ،
إِلَّا أَنْ يَتُوبَ.
Sungguh Alloh Ta’ala
telah mengancam Walid bin Mughiroh Al-Makhzumi ketika dia menyebut Al-Qur’an
sebagai perkataan manusia dengan Saqor. Dia berkata: “Ini tidak lain
hanyalah sihir yang dipelajari. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” Aku
akan memasukkannya ke dalam Saqor” (QS. Al-Muddatstsir: 24-26). Maka
setiap orang yang berkata: “Al-Qur’an adalah sebuah ungkapan” atau “makhluk”,
atau “lafazhku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk”, maka baginya Naar
Saqor sebagaimana ia diperuntukkan bagi Walid, kecuali jika dia bertaubat.
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ
فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللهِ﴾، وَلَمْ يَقُلْ: حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَكَ يَا
مُحَمَّدُ.
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴾، يَعْنِي الْقُرْآنَ الَّذِي هُوَ فِي الصُّدُورِ
وَالْمَصَاحِفِ.
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُونَ﴾.
Alloh Ta’ala
berfirman: “Dan jika ada seseorang di antara orang-orang musyrik itu meminta
perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia dapat mendengar perkataan
Alloh” (QS. At-Taubah: 6), dan Dia tidak berfirman: “agar dia
mendengar perkataanmu wahai Muhammad.”
Alloh Ta’ala juga
berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan” (QS.
Al-Qodr: 1), yaitu Al-Qur’an yang berada di dalam dada-dada dan
mushaf-mushaf.
Alloh Azza wa Jalla
juga berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah ia dan
diamlah agar kamu mendapat rohmat” (QS. Al-A’rof: 204).
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ
عَلَى مُكْثٍ﴾ وَالنَّاسُ إِنَّمَا سَمِعُوا قِرَاءَةَ النَّبِيِّ
ﷺ وَلَفْظَهُ، فَلَفْظُهُ بِالْقُرْآنِ هُوَ الْقُرْآنُ، وَمَدَحَ اللهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى الْجِنَّ الَّذِينَ سَمِعُوا قِرَاءَةَ النَّبِيِّ ﷺ: ﴿فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا * يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا﴾.
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ
يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ﴾.
وَسَمَّى
اللهُ قِرَاءَةَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِلْقُرْآنِ قُرْآنًا، فَقَالَ جَلَّ
وَعَلَا: ﴿لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
* إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ * فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ﴾.
Alloh Ta’ala
berfirman: “Dan Al-Qur’an itu telah Kami bagi-bagi supaya kamu membacakannya
perlahan-lahan kepada manusia” (QS. Al-Isro: 106). Manusia hanyalah
mendengar pembacaan Nabi ﷺ dan
lafazh beliau, maka lafazh beliau terhadap Al-Qur’an adalah Al-Qur’an itu
sendiri. Alloh subhanahu wa Ta’ala memuji kaum jin yang
mendengar pembacaan Nabi ﷺ: “Maka
mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Qur’an yang menakjubkan,
(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya.
Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Robb kami’” (QS.
Al-Jin: 1-2).
Alloh Ta’ala
berfirman: “Dan ketika Kami hadapkan sekumpulan jin kepadamu yang mendengarkan
Al-Qur’an” (QS. Al-Ahqof: 29).
Alloh juga menamakan
pembacaan Jibril ‘alaihis salam terhadap Al-Qur’an sebagai Al-Qur’an.
Maka Dia Jalla wa ‘Ala berfirman: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu
untuk membacanya karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas
tanggungan Kami-lah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila Kami telah selesai
membacakannya maka ikutilah bacaannya itu” (QS. Al-Qiyamah: 16-18).
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿فَاقْرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ﴾. وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ مَنْ
قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ فِي صَلَاةٍ إِنَّهُ قَارِئُ كِتَابِ اللهِ، وَأَنَّ مَنْ
حَلَفَ أَنَّهُ لَا يَتَكَلَّمُ فَقَرَأَ الْقُرْآنَ لَمْ يَحْنَثْ، فَدَلَّ عَلَى
أَنَّهُ لَيْسَ بِعِبَارَةٍ.
وَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ فِي حَدِيثِ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «إِنَّ
صَلَاتَنَا هَذِهِ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ الْآدَمِيِّينَ، إِنَّمَا
هِيَ الْقِرَاءَةُ، وَالتَّسْبِيحُ، وَالتَّهْلِيلُ، وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ».
فَأَخْبَرَ
أَنَّ تِلَاوَةَ الْقُرْآنِ هِيَ الْقُرْآنُ، فَعُلِمَ بِذَلِكَ أَنَّ التَّلَاوَةَ
هِيَ الْمَتْلُوُّ، وَاللهُ تَعَالَى، وَرَسُولُهُ ﷺ أَمَرَا الْمُؤْمِنِينَ بِالْقِرَاءَةِ
فِي الصَّلَاةِ، وَنَهَيَا عَنِ الْكَلَامِ، فَلَوْ كَانَتْ قِرَاءَتُنَا كَلَامَنَا
لَا كَلَامَ اللهِ لَكُنَّا مُرْتَكِبِينَ لِلنَّهْيِ فِي الصَّلَاةِ.
Alloh Ta’ala
berfirman: “Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an” (QS.
Al-Muzzammil: 20). Kaum Muslimin telah bersepakat bahwa barang siapa yang
membaca Fatihatul Kitab dalam Sholat sesungguhnya dia telah membaca
Kitabulloh. Serta barang siapa yang bersumpah bahwa dia tidak akan berbicara
lalu dia membaca Al-Qur’an maka dia tidak melanggar sumpahnya, hal ini
menunjukkan bahwa ia bukan sekadar ungkapan manusia. Nabi ﷺ bersabda dalam Hadits Mu’awiyah bin
Al-Hakam (wafat setelah 40 H) rodhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya
Sholat kita ini tidak pantas di dalamnya ada sesuatu pun dari perkataan
manusia, ia hanyalah bacaan, Tasbih, Tahlil, dan tilawah Al-Qur’an.”
Beliau mengabarkan bahwa
tilawah Al-Qur’an adalah Al-Qur’an itu sendiri, maka diketahui dengan itu bahwa
tilawah adalah apa yang dibaca. Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya ﷺ memerintahkan kaum Mu’min untuk membaca
dalam Sholat dan melarang dari berbicara. Seandainya bacaan kita adalah
perkataan kita sendiri dan bukan perkataan Alloh, niscaya kita telah terjerumus
melakukan larangan dalam Sholat.
2.2 Al-Qur’an
Terdiri dari Huruf dan Suara
(فَصْلٌ)
نَعْتَقِدُ أَنَّ الْقُرْآنَ حُرُوفٌ مَفْهُومَةٌ وَأَصْوَاتٌ مَسْمُوعَةٌ. لِأَنَّ
بِهَا يَصِيرُ الْأَخْرَسُ وَالسَّاكِتُ مُتَكَلِّمًا وَنَاطِقًا، وَكَلَامُ اللهِ
عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنْفَكُّ عَنْ ذَلِكَ، فَمَنْ جَحَدَ ذَلِكَ الْكِتَابَ فَقَدْ
كَابَرَ حِسَّهُ، وَعَمِيَتْ بَصِيرَتُهُ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿ألم * ذَلِكَ الْكِتَابُ﴾، ﴿حم﴾، ﴿طسم * تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ﴾، فَقَدْ ذَكَرَ حُرُوفًا وَكَنَّى عَنْهَا بِالْكِتَابِ،
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ
أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ
اللهِ﴾.
(Fashl) Kami meyakini bahwa Al-Qur’an adalah huruf-huruf
yang dipahami dan suara-suara yang didengar. Karena dengannya orang bisu dan
orang diam menjadi bisa berbicara dan berucap, dan perkataan Alloh Azza wa
Jalla tidak terlepas dari hal itu. Barang siapa yang mengingkari hal
tersebut dari Al-Kitab maka dia telah menentang inderanya dan buta mata
batinnya. Alloh Azza wa Jalla berfirman: “Alif Lam Mim. Kitab ini...”
(QS. Al-Baqoroh: 1-2). Serta: “Ha Mim.” Dan: “Tho Sin Mim.
Inilah ayat-ayat Kitab...” (QS. Al-Qoshosh: 1-2). Sungguh Dia telah
menyebutkan huruf-huruf dan menyebutnya sebagai Al-Kitab. Alloh Ta’ala
berfirman: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut
ditambahkan kepadanya 7 laut sesudahnya, niscaya tidak akan habis-habisnya
kalimat Alloh” (QS. Luqman: 27).
فَأَثْبَتَ
لِنَفْسِهِ كَلِمَاتٍ مُتَعَدِّدَةً غَيْرَ مُتَنَاهِيَةِ الْأَعْدَادِ، وَكَذَلِكَ
قَوْلُهُ: ﴿قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ
رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ
مَدَدًا﴾.
Maka Dia menetapkan bagi
diri-Nya kalimat-kalimat yang banyak yang tidak terbatas jumlahnya. Demikian
pula firman-Nya: “Katakanlah: ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk
kalimat-kalimat Robb-ku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis
kalimat-kalimat Robb-ku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula’” (QS.
Al-Kahfi: 109).
وَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ: «اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ عَلَيْهِ بِكُلِّ
حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ، أَمَا إِنِّي لَا أَقُولُ: ﴿ألم﴾ حَرْفٌ، وَلَكِنَّ الْأَلِفَ عَشْرٌ، وَاللَّامَ
عَشْرٌ، وَالْمِيمَ عَشْرٌ، فَذَلِكَ ثَلَاثُونَ». وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أُنْزِلَ الْقُرْآنُ
عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ كُلُّهَا شَافٍ كَافٍ». وَقَالَ تَعَالَى فِي حَقِّ مُوسَى
عَلَيْهِ السَّلَامُ: ﴿وَإِذْ نَادَى رَبُّكَ مُوسَى﴾، ﴿وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ
وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا﴾. وَقَالَ تَعَالَى لِمُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ:
﴿إِنَّنِي أَنَا اللهُ لَا إِلهَ إِلَّا أَنَا
فَاعْبُدْنِي﴾. كُلُّ هَذَا لَا يَكُونُ إِلَّا صَوْتًا، وَلَا
يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ هَذَا النِّدَاءُ وَهَذَا الِاسْمُ وَالصِّفَةُ إِلَّا لِلَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ، دُونَ غَيْرِهِ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَسَائِرِ الْمَخْلُوقَاتِ.
Nabi ﷺ bersabda: “Bacalah Al-Qur’an karena
sesungguhnya kalian diberi pahala atasnya setiap huruf 10 kebaikan, ketahuilah
aku tidak mengatakan: “Alif Lam Mim” itu 1 huruf, akan tetapi Alif 10, Lam
10, dan Mim 10, maka itu adalah 30 kebaikan.”
Nabi ﷺ bersabda: “Al-Qur’an diturunkan dalam 7
huruf, semuanya menyembuhkan lagi mencukupi.”
Alloh Ta’ala
berfirman tentang hak Musa ‘alaihis salam: “Dan ketika Robb-mu
menyeru Musa” (QS. Asy-Syu’aro: 10). Serta: “Dan Kami telah
menyerunya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada
Kami di waktu dia munajat” (QS. Maryam: 52).
Alloh Ta’ala
berfirman kepada Musa ‘alaihis salam: “Sesungguhnya Aku ini adalah
Alloh, tidak ada Robb selain Aku, maka sembahlah Aku” (QS. Thoha: 14).
Semua ini tidaklah
terjadi kecuali dengan suara, dan tidak boleh seruan ini serta nama dan sifat
ini kecuali milik Alloh Azza wa Jalla, bukan milik selain-Nya dari
kalangan Malaikat dan seluruh makhluk lainnya.
وَعَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا كَانَ يَوْمُ
الْقِيَامَةِ، يَأْتِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ، فَيَتَكَلَّمُ
بِكَلَامٍ طَلْقٍ ذَلْقٍ، فَيَقُولُ- وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِينَ-: انْصِتُوا فَطَالَمَا
أَنْصَتُّ لَكُمْ، مُنْذُ خَلَقْتُكُمْ، أَرَى أَعْمَالَكُمْ، وَأَسْمَعُ أَقْوَالَكُمْ،
فَإِنَّمَا هِيَ صَحَائِفُكُمْ، تُقْرَأُ عَلَيْكُمْ، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ
اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا
نَفْسَهُ».
Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu
‘anhu beliau berkata: Nabi ﷺ
bersabda: “Apabila terjadi hari Qiyamah, Alloh Azza wa Jalla datang dalam
naungan awan, lalu Dia berfirman dengan perkataan yang lancar lagi fasih, Dia
berfirman -dan Dia adalah sejujur-jujur pengucap-: ‘Diamlah kalian, sudah lama
Aku diam mendengarkan kalian sejak Aku menciptakan kalian, Aku melihat
amal-amal kalian dan mendengar ucapan-ucapan kalian, maka sesungguhnya ini
adalah catatan amal kalian yang dibacakan kepada kalian, barang siapa yang
mendapati kebaikan maka hendaknya dia memuji Alloh subhanahu wa Ta’ala, dan
barang siapa mendapati selain itu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya
sendiri.”
وَرَوَى
الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ بِإِسْنَادِهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أُنَيْسٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «يَحْشُرُ اللهُ
سُبْحَانَهُ الْعِبَادَ فَيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ، كَمَا يَسْمَعُهُ
مَنْ قَرُبَ: أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ».
Al-Bukhori (256 H)
meriwayatkan dalam shohih-nya dengan sanadnya dari Abdullah bin Unais (54 H) rodhiyallahu
‘anhu bahwasanya beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda: “Alloh subhanahu akan
mengumpulkan para hamba lalu menyeru mereka dengan suara yang didengar oleh
orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat: ‘Aku adalah Sang
Raja, Aku adalah Sang Pemberi Balasan.”
وَرَوَى
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمُحَارِبِيُّ، عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ
عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: «إِذَا تَكَلَّمَ
اللهُ بِالْوَحْيِ سَمِعَ صَوْتَهُ أَهْلُ السَّمَاءِ فَيَخِرُّونَ سُجَّدًا حَتَّى
إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ، قَالَ: سَكَنَ عَنْ قُلُوبِهِمْ، نَادَى أَهْلُ السَّمَاءِ:
أَهْلُ السَّمَاءِ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا: الْحَقَّ، قَالَ: كَذَا وَكَذَا،
يَعْنِي ذَكَرَ الْوَحْيَ».
Abdurrohman bin Muhammad Al-Muharibi
meriwayatkan dari Al-A’masy dari Muslim dari Masruq (62 H) dari Abdullah bin
Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Apabila Alloh
berfirman dengan wahyu, maka penduduk langit mendengar suara-Nya lalu mereka
tersungkur sujud, sampai apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka,
beliau berkata: rasa takut tenang dari hati mereka, penduduk langit menyeru: ‘Wahai
penduduk langit, apa yang difirmankan oleh Robb kalian?’ Mereka menjawab: ‘Al-Haq,’
Dia berfirman: ‘begini dan begitu,’ yaitu menyebutkan wahyu.”
وَعَنْ عَبْدِ
اللهِ بْنِ الْحَرْثِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ:
«إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا تَكَلَّمَ بِالْوَحْيِ سَمِعَ أَهْلُ السَّمَوَاتِ
صَوْتًا كَصَوْتِ الْحَدِيدِ إِذَا وَقَعَ عَلَى الصَّفَا فَيَخِرُّونَ لَهُ سُجَّدًا
فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ، قَالُوا الْحَقَّ
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ».
Dari Abdullah bin
Al-Harits, dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau
berkata: “Sesungguhnya Alloh Tabaroka wa Ta’ala apabila berfirman dengan
wahyu, penduduk langit mendengar suara seperti suara besi apabila jatuh di atas
batu yang licin, lalu mereka tersungkur sujud untuk-Nya, maka apabila rasa
takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka bertanya: ‘Apa yang
difirmankan oleh Robb kalian?’, mereka menjawab: ‘Al-Haq, dan Dia Maha Tinggi
lagi Maha Besar.’”
قَالَ مُحَمَّدُ
بْنُ كَعْبٍ: قَالَ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: بِمَ شَبَّهْتَ
صَوْتَ رَبِّكَ حِينَ كَلَّمَكَ فِي هَذَا الْخَلْقِ، قَالَ: شَبَّهْتُ صَوْتَ رَبِّي
بِصَوْتِ الرَّعْدِ حِينَ لَا يَرْتَجِعُ.
Muhammad bin Ka’ab (108
H) berkata: Bani Isroil bertanya kepada Musa ‘alaihis salam: “Dengan
apa engkau menyerupakan suara Robb-mu ketika Dia berbicara kepadamu di makhluk
ini?”, Musa menjawab: “Aku menyerupakan suara Robb-ku dengan suara petir
ketika tidak berulang.”
وَهَذِهِ
الْآيَاتُ وَالْأَخْبَارُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ كَلَامَ اللهِ صَوْتٌ لَا كَصَوْتِ الْآدَمِيِّينَ،
كَمَا أَنَّ عِلْمَهُ قُدْرَتَهُ وَبَقِيَّةَ صِفَاتِهِ لَا تُشْبِهُ صِفَاتِ الْآدَمِيِّينَ،
كَذَلِكَ صَوْتُهُ.
Ayat-ayat dan
khabar-khabar ini menunjukkan bahwa perkataan Alloh adalah suara yang tidak
seperti suara manusia. Sebagaimana Ilmu-Nya, Kekuasaan-Nya, dan sisa
sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat manusia, maka demikian pula
suara-Nya.
وَقَدْ نَصَّ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ عَلَى إِثْبَاتِ الصَّوْتِ فِي رِوَايَةِ جَمَاعَةٍ
مِنَ الْأَصْحَابِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ. خِلَافَ مَا قَالَتِ الْأَشْعَرِيَّةُ
مِنْ أَنَّ كَلَامَ اللهِ مَعْنًى قَائِمٌ بِنَفْسِهِ، وَاللهُ حَسِيبُ كُلِّ مُبْتَدِعٍ
ضَالٍّ مُضِلٍّ، فَاللهُ سُبْحَانَهُ لَمْ يَزَلْ مُتَكَلِّمًا وَقَدْ أَحَاطَ كَلَامُهُ
بِجَمِيعِ مَعَانِي الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَالِاسْتِخْبَارِ.
Sungguh Imam Ahmad (241
H) rohimahulloh telah menegaskan penetapan adanya suara dalam riwayat
sekelompok murid beliau ridhwanulloh ‘alaihim ajma’in. Hal ini
menyelisihi apa yang dikatakan oleh kaum Asy’ariyah bahwa perkataan Alloh
adalah makna yang berdiri pada Dzat-Nya saja. Alloh adalah pemberi perhitungan
bagi setiap pelaku bid’ah yang sesat lagi menyesatkan. Maka Alloh subhanahu
senantiasa berbicara dan perkataan-Nya telah meliputi seluruh makna perintah,
larangan, dan permintaan kabar.
وَقَالَ
ابْنُ خُزَيْمَةَ رَحِمَهُ اللهُ: كَلَامُ اللهِ تَعَالَى مُتَوَاصِلٌ لَا سُكُوتَ
فِيهِ وَلَا صَوْتَ.
Ibnu Khuzaimah (311 H) rohimahulloh
berkata: “Perkataan Alloh Ta’ala itu bersambung, tidak ada diam di dalamnya
dan tidak ada suara.”
وَقِيلَ
لِأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ اللهُ: هَلْ يَجُوزُ أَنْ تَقُولَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى
مُتَكَلِّمٌ، وَيَجُوزُ عَلَيْهِ السُّكُوتُ؟ فَقَالَ رَحِمَهُ اللهُ: نَقُولُ فِي
الْجُمْلَةِ إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يَزَلْ مُتَكَلِّمًا، وَلَوْ وَرَدَ الْخَبَرُ
بِأَنَّهُ سَكَتَ لَقُلْنَا بِهِ وَلَكِنَّا نَقُولُ إِنَّهُ مُتَكَلِّمٌ كَيْفَ شَاءَ
بِلَا كَيْفٍ وَلَا تَشْبِيهٍ.
Dikatakan kepada Ahmad
bin Hanbal (241 H) rohimahulloh: “Apakah boleh engkau katakan bahwa
Alloh Ta’ala adalah Dzat Yang Berbicara, dan boleh bagi-Nya untuk diam?”
Maka beliau rohimahulloh menjawab: “Kami katakan secara garis besar
bahwa Alloh Ta’ala senantiasa berbicara, dan seandainya ada dalil yang datang
bahwa Dia diam niscaya kami akan mengatakannya. Akan tetapi kami katakan bahwa
Dia adalah Dzat Yang Berbicara bagaimana pun yang Dia kehendaki tanpa
menanyakan bagaimananya dan tanpa penyerupaan.”
2.3 Hakikat
Huruf-Huruf Hijaiyah
(فَصْلٌ)
كَذَلِكَ حُرُوفُ الْمُعْجَمِ غَيْرُ مَخْلُوقَةٍ وَسَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ فِي كَلَامِ
اللهِ تَعَالَى أَوْ فِي كَلَامِ الْآدَمِيِّينَ.
(Fashl) Demikian pula huruf-huruf hijaiyah adalah bukan
makhluk, baik itu yang berada dalam perkataan Alloh Ta’ala maupun dalam
perkataan manusia.
وَقَدِ ادَّعَى
قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّهَا قَدِيمَةٌ فِي الْقُرْآنِ الشَّرِيفِ مُحْدَثَةٌ
فِي غَيْرِهِ، وَهَذَا خَطَأٌ مِنْهُمْ، بَلِ الْقَوْلُ السَّدِيدُ هُوَ الْأَوَّلُ
مِنْ مَذْهَبِ أَهْلِ السُّنَّةِ بِلَا فَرْقٍ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ
يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾.
Sungguh sekelompok orang
dari Ahli Sunnah telah mengklaim bahwa ia bersifat qodim di dalam Al-Qur’an
yang mulia namun merupakan perkara baru di selainnya, dan ini adalah kesalahan
dari mereka. Sebaliknya, perkataan yang benar adalah pendapat pertama dari
madzhab Ahli Sunnah tanpa membeda-bedakannya, berdasarkan firman-Nya Ta’ala:
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata
kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia” (QS. Yasin: 82).
وَهِيَ حَرْفَانِ
فَلَوْ كَانَتْ «كُنْ» مَخْلُوقَةً لَاحْتَاجَتْ إِلَى «كُنْ» تُخْلَقُ
بِهَا إِلَى مَا لَا نِهَايَةَ لَهُ، وَقَدْ تَقَدَّمَتْ أَدِلَّةٌ كَثِيرَةٌ مِنَ
الْآيَاتِ فَلَا نُعِيدُهَا.
Kalimat tersebut terdiri
dari 2 huruf, maka seandainya kata “Kun” adalah makhluk, niscaya ia
membutuhkan “Kun” yang lain untuk menciptakannya, dan terus demikian
hingga tidak ada ujungnya. Sungguh telah berlalu dalil-dalil yang banyak dari
ayat-ayat maka kami tidak mengulanginya.
وَأَمَّا
مِنَ السُّنَّةِ فَمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ لِعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ
لَمَّا سُئِلَ عَنْ أ، ب، ت، ث، إِلَى آخِرِ الْحُرُوفِ.
فَقَالَ:
الْأَلِفُ مِنِ اسْمِ اللهِ الَّذِي هُوَ اللهُ، وَالْبَاءُ مِنِ اسْمِ اللهِ الَّذِي
هُوَ الْبَارِئُ، وَالتَّاءُ مِنِ اسْمِ اللهِ الَّذِي هُوَ الْمُتَكَبِّرُ، وَالثَّاءُ
مِنِ اسْمِ اللهِ الَّذِي هُوَ الْبَاعِثُ وَالْوَارِثُ، حَتَّى أَتَى إِلَى آخِرِهَا،
فَذَكَرَ أَنَّهَا كُلَّهَا مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ وَصِفَاتِهِ.
Adapun dari Sunnah adalah
apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ
bahwasanya beliau bersabda kepada Utsman bin Affan (35 H) ketika beliau ditanya
tentang Alif, Ba, Ta, Tsa, hingga akhir huruf-huruf. Beliau bersabda: “Alif
berasal dari nama Alloh yaitu Alloh, Ba berasal dari nama Alloh yaitu Al-Bari’,
Ta berasal dari nama Alloh yaitu Al-Mutakabbir, dan Tsa berasal dari nama Alloh
yaitu Al-Ba’its dan Al-Warits”, hingga beliau sampai ke akhirnya, lalu
beliau menyebutkan bahwa itu semua berasal dari Nama-Nama Alloh dan
Sifat-Sifat-Nya.
وَأَسْمَاؤُهُ
عَزَّ وَجَلَّ غَيْرُ مَخْلُوقَةٍ. وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ فِي حَدِيثِ عَلِيٍّ كَرَمَ
اللهُ وَجْهَهُ لَمَّا سَأَلَهُ عَنْ مَعْنَى أَبْجَد هَوز حُطِّي ... إِلَى آخِرِهَا:
يَا عَلِيُّ أَلَا تَعْرِفُ تَفْسِيرَ أَبِي جَادٍ؟.
الْأَلِفُ
مِنِ اسْمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي هُوَ اللهُ، وَالْبَاءُ مِنِ اسْمِ اللهِ الَّذِي
هُوَ الْبَارِئُ، وَالْجِيمُ مِنِ اسْمِ اللهِ الَّذِي هُوَ الْجَلِيلُ ... إِلَى آخِرِهَا.
فَذَكَرَ
النَّبِيُّ ﷺ أَنَّهَا مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ وَهِيَ فِي كَلَامِ الْآدَمِيِّينَ.
Sedangkan Nama-Nama-Nya Azza
wa Jalla adalah bukan makhluk. Nabi ﷺ
bersabda dalam Hadits Ali (40 H) semoga Alloh memuliakan wajahnya ketika beliau
bertanya tentang makna Abjad Hawwaz Hutthi... sampai akhirnya: “Wahai
Ali, tidakkah engkau tahu tafsir dari Abi Jad?” Alif berasal dari nama
Alloh Azza wa Jalla yaitu Alloh, Ba berasal dari nama Alloh yaitu
Al-Bari’, dan Jim berasal dari nama Alloh yaitu Al-Jalil... sampai akhirnya.
Maka Nabi ﷺ
menyebutkan bahwa itu termasuk dari Nama-Nama Alloh padahal ia berada dalam
perkataan manusia.
وَقَدْ نَصَّ
أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ اللهُ عَلَى قِدَمِ حُرُوفِ الْهِجَاءِ، فَقَالَ فِي
رِسَالَتِهِ إِلَى أَهْلِ نَيْسَابُورَ وَجُرْجَانَ: وَمَنْ قَالَ إِنَّ حُرُوفَ التَّهَجِّي
مُحْدَثَةٌ فَهُوَ كَافِرٌ بِاللهِ، وَمَتَى حَكَمَ أَنَّ ذَلِكَ مَخْلُوقٌ فَقَدْ
جَعَلَ الْقُرْآنَ مَخْلُوقًا.
Sungguh Ahmad bin Hanbal
(241 H) rohimahulloh telah menegaskan sifat qodim-nya huruf-huruf
hijaiyah. Beliau berkata dalam risalahnya kepada penduduk Naisabur dan Jurjan: “Barang
siapa yang berkata bahwa huruf-huruf hijaiyah adalah perkara baru maka dia telah
kafir kepada Alloh, dan ketika dia menghukumi bahwa hal itu makhluk maka
sungguh dia telah menjadikan Al-Qur’an itu makhluk.”
وَلَمَّا
قِيلَ لَهُ رَحِمَهُ اللهُ إِنَّ فُلَانًا يَقُولُ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَمَّا خَلَقَ
الْحُرُوفَ انْضَجَعَتِ اللَّامُ، وَانْتَصَبَتِ الْأَلِفُ، فَقَالَتْ لَا أَسْجُدُ
حَتَّى أُؤْمَرَ. فَقَالَ أَحْمَدُ هَذَا كُفْرٌ مِنْ قَائِلِهِ.
Ketika dikatakan kepada
beliau rohimahulloh bahwa si fulan berkata: “Sesungguhnya Alloh Ta’ala
ketika menciptakan huruf-huruf, maka huruf Lam berbaring dan huruf Alif tegak
berdiri, lalu ia berkata: ‘Aku tidak akan sujud sampai aku diperintah.’” Maka
Ahmad berkata: “Ini adalah kekufuran dari pengucapnya.”
وَقَالَ
الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: لَا تَقُولُوا بِحَدَثِ الْحُرُوفِ فَإِنَّ الْيَهُودَ
أَوَّلَ مَا هَلَكَتْ بِهَذَا، وَمَنْ قَالَ بِحَدَثِ حَرْفٍ مِنَ الْحُرُوفِ فَقَدْ
قَالَ بِحَدَثِ الْقُرْآنِ.
Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh
berkata: “Janganlah kalian berpendapat dengan barunya huruf-huruf, karena
sesungguhnya kaum Yahudi pertama kali binasa disebabkan hal ini, dan barang
siapa yang berpendapat dengan barunya satu huruf dari huruf-huruf tersebut maka
sungguh dia telah berpendapat dengan barunya Al-Qur’an.”
وَلِأَنَّهُ
لَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يُقَالُ هِيَ قَدِيمَةٌ فِي الْقُرْآنِ أَوْ مُحْدَثَةٌ فِيهِ
فَإِنْ قِيلَ هِيَ قَدِيمَةٌ فِي الْقُرْآنِ فَوَجَبَ أَنْ تَكُونَ قَدِيمَةٌ فِي غَيْرِهِ،
لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الشَّيْءُ الْوَاحِدُ قَدِيمًا وَهُوَ بِعَيْنِهِ
مُحْدَثٌ.
Hal itu karena tidak
lepas dari dua kemungkinan: apakah dikatakan huruf itu qodim di dalam Al-Qur’an
atau ia baru di dalamnya. Jika dikatakan ia qodim di dalam Al-Qur’an, maka
wajib ia juga bersifat qodim di selainnya, karena tidak boleh sesuatu yang satu
bersifat qodim namun di sisi lain ia juga baru.
فَإِنْ قَالُوا
هِيَ مُحْدَثَةٌ فِي الْقُرْآنِ فَقَدْ تَقَدَّمَتِ الْأَدِلَّةُ عَلَى قِدَمِهَا فِي
الْقُرْآنِ، فَإِذَا ثَبَتَ ذَلِكَ فِي الْقُرْآنِ فَكَذَلِكَ فِي غَيْرِهِ.
Jika mereka berkata ia
baru di dalam Al-Qur’an, maka sungguh telah berlalu dalil-dalil atas qodim-nya
huruf di dalam Al-Qur’an, dan apabila hal itu telah tetap di dalam Al-Qur’an
maka demikian pula di selainnya.
فَإِنْ قَالُوا
فَهَذَا يُفْضِي إِلَى أَنَّ جَمِيعَ الْكَلَامِ يَكُونُ قَدِيمًا، قِيلَ يَلْزَمُ
الْقُرْآنَ لَمَّا لَمْ يَقُلْ ذَلِكَ فِي حُرُوفِ الْهِجَاءِ.
Jika mereka berkata bahwa
hal ini membawa konsekuensi bahwa seluruh perkataan menjadi qodim, maka
dikatakan: hal itu melazimkan Al-Qur’an ketika hal tersebut tidak dikatakan
pada huruf-huruf hijaiyah.[]
.jpg)