[PDF] [5 of 5] AL-GHUN-YAH - Aqidah Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani (561)
Bab 25:
Perincian Sekte-Sekte Gholiyah dan Kesesatannya
25.1 Klaim
Ekstrem Mengenai Ali
وَأَمَّا
الَّذِي انْفَرَدَتْ بِهِ كُلُّ فِرْقَةٍ: فَمِنْهُمُ الْغَالِيَةُ: وَقَدِ ادَّعَتْ
أَنَّ عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- أَفْضَلُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللهِ
عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ. وَادَّعَتْ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَدْفُونٍ فِي التُّرَابِ كَبَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ-، بَلْ هُوَ فِي السَّحَابِ يُقَاتِلُ أَعْدَاءَهُ
تَعَالَى مِنْ فَوْقِ السَّحَابِ، وَأَنَّهُ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ يَرْجِعُ فِي آخِرِ
الزَّمَانِ يَقْتُلُ مُبْغِضِيهِ وَأَعْدَاءَهُ، وَأَنَّ عَلِيًّا وَسَائِرَ الْأَئِمَّةِ
لَمْ يَمُوتُوا، بَلْ هُمْ بَاقُونَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ، وَلَا يَجُوزُ
عَلَيْهِمُ الْمَوْتُ.
وَادَّعَتْ
أَيْضًا أَنَّ عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- نَبِيٌّ وَأَنَّ جِبْرِيلَ -عَلَيْهِ
السَّلَامُ- غَلِطَ فِي نُزُولِ الْوَحْيِ عَلَيْهِ.
وَادَّعَتْ
أَيْضًا أَنَّ عَلِيًّا كَانَ إِلَهًا -عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ
وَسَائِرِ خَلْقِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَقَلَعَ آثَارَهُمْ وَأَبَادَ خَضْرَاءَهُمْ،
وَلَا جَعَلَ مِنْهُمْ فِي الْأَرْضِ دِيَارًا. لِأَنَّهُمْ بَالَغُوا فِي غُلُوِّهِمْ
وَمَرَدُوا عَلَى الْكُفْرِ، وَتَرَكُوا الْإِسْلَامَ وَفَارَقُوا الْإِيمَانَ، وَجَحَدُوا
الْإِلَهَ وَالرُّسُلَ وَالتَّنْزِيلَ، فَنَعُوذُ بِاللهِ مِمَّنْ ذَهَبَ إِلَى هَذِهِ
الْمَقَالَةِ.
Adapun perkara yang
menjadi ciri khas mereka (Syiah) yang berbeda dari setiap sekte: Di antara
mereka adalah Gholiyah, mereka mengklaim bahwasanya Ali rodhiyallahu ‘anhu
lebih utama daripada para Nabi sholawatulloh ‘alaihim ajma’in. Mereka
juga mengklaim bahwasanya beliau tidaklah dimakamkan di dalam tanah seperti
para Shohabat lainnya rodhiyallahu ‘anhum, melainkan beliau berada di
awan berperang melawan musuh-musuh Alloh Ta’ala dari atas awan. Serta
bahwasanya beliau -semoga Alloh memuliakan wajahnya- akan kembali di akhir
zaman untuk membunuh orang-orang yang membencinya dan musuh-musuhnya. Mereka
beranggapan bahwa Ali serta seluruh Imam lainnya tidaklah mati, melainkan
mereka kekal sampai datangnya hari Qiyamah, dan kematian tidak mungkin menimpa
mereka.
Mereka juga mengklaim
bahwasanya Ali rodhiyallahu ‘anhu adalah seorang Nabi dan bahwasanya
Jibril ‘alaihis salam telah keliru dalam menurunkan wahyu kepadanya.
Bahkan mereka mengklaim bahwasanya Ali adalah Tuhan —semoga laknat Alloh, para Malaikat,
dan seluruh makhluk-Nya menimpa mereka sampai hari pembalasan, semoga Alloh
mencabut jejak mereka, memusnahkan keturunan mereka, dan tidak menyisakan
seorang pun dari mereka di muka bumi. Hal itu karena mereka telah melampaui
batas dalam sikap ekstrem (ghuluw) dan telah mahir dalam kekufuran,
meninggalkan Islam dan memisahkan diri dari Iman, serta mengingkari Tuhan, para
Rosul, dan wahyu yang diturunkan. Maka kami berlindung kepada Alloh dari orang
yang berpegang pada pendapat semacam ini.
25.2 Sekte
Bayaniyah, Thoyyariyah, dan Aqidah Tanasukh
وَيَتَفَرَّعُ
عَنِ الْغَالِيَةِ: الْبَيَانِيَّةُ: وَهُمْ يُنْسَبُونَ إِلَى بَيَانِ بْنِ سَمْعَانَ.
وَمِنْ جُمْلَةِ فِرْيَتِهِمْ وَأَبَاطِيلِهِمْ أَنَّ اللهَ عَلَى صُورَةِ الْإِنْسَانِ.
كَذَبُوا عَلَى اللهِ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا، قَالَ -عَزَّ
وَجَلَّ-: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾.
وَأَمَّا
الطَّيَّارِيَّةُ: مِنَ الْغَالِيَةِ، وَهِيَ مَنْسُوبَةٌ إِلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ
مُعَاوِيَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَرٍ الطَّيَّارِ يَقُولُونَ بِالتَّنَاسُخِ،
وَأَنَّ رُوحَ آدَمَ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- رُوحُ اللهِ نَسَخَتْ فِيهِ. وَالْمُتَعَمِّقُونَ
مِنَ الْغَالِيَةِ الْقَائِلُونَ بِالتَّنَاسُخِ يَزْعُمُونَ أَنَّ الرُّوحَ الْمَنْقُولَةَ
إِلَى هَذِهِ الدَّارِ بَعْدَ أَنْ خَرَجَتْ مِنَ الدُّنْيَا بِالْمَوْتِ أَوَّلُ مَا
تَنْسَخُ فِي حَمْلٍ، ثُمَّ تُنْقَلُ إِلَى مَا دُونَ هَيْكَلِهِ أَبَدًا حَالًا بَعْدَ
حَالٍ، إِلَى أَنْ تُنْقَلَ إِلَى دُودِ الْعَذِرَةِ وَمَا شَاكَلَ ذَلِكَ، وَهُوَ
آخِرُ مَا يُنْسَخُ فِيهِ. حَتَّى قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّ أَرْوَاحَ الْعُصَاةِ تَنْسَخُ
فِي الْحَدِيدِ وَالطِّينِ وَالْفَخَّارِ، وَتَكُونُ مُعَذَّبَةً بِالنَّارِ وَالطَّبْخِ
وَالضَّرْبِ وَالسَّبْكِ وَالِابْتِذَالِ وَالِامْتِهَانِ عِقَابًا عَلَى إِجْرَامِهِمْ.
Golongan Gholiyah
bercabang menjadi: Bayaniyah, mereka dinisbatkan kepada Bayan bin Sam’an.
Di antara kebohongan dan kebatilan mereka adalah anggapan bahwa Alloh itu
menyerupai bentuk manusia. Mereka telah berdusta atas nama Alloh, Maha Tinggi
Alloh dari hal tersebut dengan ketinggian yang besar, Alloh ﷻ berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS.
Asy-Syuro: 11).
Adapun Thoyyariyah dari
kalangan Gholiyah, mereka dinisbatkan kepada Abdullah bin Mu’awiyah bin
Abdullah bin Ja’far Ath-Thoyyar. Mereka berpendapat adanya reinkarnasi (tanasukh),
dan bahwasanya Ruh Adam ‘alaihis salam adalah Ruh Alloh yang menyatu ke
dalam dirinya. Orang-orang yang mendalam kesesatannya dari kalangan Gholiyah
yang berpendapat tanasukh mengklaim bahwasanya Ruh yang berpindah ke
alam ini setelah keluar dari dunia melalui kematian, pertama kali akan menjelma
ke dalam janin, kemudian berpindah ke bentuk yang lebih rendah secara
terus-menerus dari satu keadaan ke keadaan lain, sampai akhirnya berpindah ke
cacing kotoran dan yang semisalnya, itulah akhir dari penjelmaan Ruh tersebut.
Bahkan sebagian mereka berkata: “Sesungguhnya Ruh para pelaku maksiat akan
menjelma ke dalam besi, tanah liat, dan tembikar, lalu mereka akan disiksa
dengan api, dimasak, dipukul, dilelehkan, dihina, dan direndahkan sebagai
hukuman atas kejahatan mereka.”
25.3 Sekte
Mughiriyah, Manshuriyah, dan Khoththobiyah
وَأَمَّا
الْمُغِيرِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى مُغِيرَةَ بْنِ سَعِيدٍ، ادَّعَى النُّبُوَّةَ،
وَزَعَمَ أَنَّ اللهَ نُورٌ عَلَى صُورَةِ رَجُلٍ، وَادَّعَى إِحْيَاءَ الْمَوْتَى
وَغَيْرَ ذَلِكَ.
وَأَمَّا
الْمَنْصُورِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى أَبِي مَنْصُورٍ، كَانَ يَزْعُمُ أَنَّهُ صَعِدَ
إِلَى السَّمَاءِ، وَمَسَحَ الرَّبُّ رَأْسَهُ، وَزَعَمَ أَنَّ عِيسَى -عَلَيْهِ السَّلَامُ-
أَوَّلُ خَلْقِ اللهِ، ثُمَّ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، وَرُسُلُ اللهِ لَا تَنْقَطِعُ،
وَأَنَّ لَا جَنَّةَ وَلَا نَارَ، وَتَزْعُمُ هَذِهِ الطَّائِفَةُ أَنَّ مَنْ قَتَلَ
أَرْبَعِينَ نَفْسًا مِمَّنْ خَالَفَهُمْ دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَيَسْتَحِلُّونَ أَمْوَالَ
النَّاسِ، وَأَنَّ جِبْرِيلَ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- أَخْطَأَ بِالرِّسَالَةِ، وَهُوَ
الْكُفْرُ الَّذِي لَا يَشُوبُهُ شَيْءٌ.
وَأَمَّا
الْخَطَّابِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى أَبِي الْخَطَّابِ، يَزْعُمُونَ أَنَّ الْأَئِمَّةَ
أَنْبِيَاءُ أُمَنَاءُ، وَفِي كُلِّ وَقْتٍ رَسُولٌ نَاطِقٌ وَصَامِتٌ فَمُحَمَّدٌ
نَاطِقٌ وَعَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- صَامِتٌ. وَأَمَّا الْمَعْمَرِيَّةُ: فَكَذَلِكَ
تَقُولُ، وَانْفَرَدَتْ عَنِ الْخَطَّابِيَّةِ بِالزِّيَادَةِ فِي تَرْكِ الصَّلَاةِ.
Adapun Mughiriyah
dinisbatkan kepada Mughiroh bin Said, dia mengaku sebagai Nabi,
mengklaim bahwa Alloh adalah cahaya dalam rupa seorang lelaki, serta mengaku
bisa menghidupkan orang mati dan hal lainnya.
Adapun Manshuriyah
dinisbatkan kepada Abu Manshur, dia dahulu mengklaim pernah naik ke
langit dan Robb mengusap kepalanya. Dia juga mengklaim bahwa Isa ‘alaihis
salam adalah makhluk Alloh yang pertama, kemudian Ali rodhiyallahu ‘anhu,
dan bahwasanya para Rosul Alloh tidak pernah putus. Dia juga beranggapan tidak
ada Jannah maupun Naar. Kelompok ini mengklaim bahwa barang siapa membunuh 40
jiwa dari orang-orang yang menyelisihi mereka maka dia masuk Jannah, mereka
menghalalkan harta manusia, serta beranggapan Jibril ‘alaihis salam
telah salah dalam menyampaikan risalah; ini adalah kekufuran murni yang tidak
bercampur apa pun.
Adapun Khoththobiyah
dinisbatkan kepada Abu Al-Khoththob, mereka mengklaim para Imam adalah
para Nabi yang terpercaya, dan di setiap zaman ada Rosul yang berbicara (nathiq)
dan yang diam (shomit), maka Muhammad adalah nathiq sedangkan Ali
rodhiyallahu ‘anhu adalah shomit. Adapun Ma’mariyah juga
berpendapat demikian, namun mereka menyendiri dari Khoththobiyah dengan
tambahan pendapat membolehkan meninggalkan Sholat.
25.4 Sekte Bazi’iyah,
Mufadhdholiyah, Syari’iyah, Saba-iyah, dan Mufawwidhoh
وَأَمَّا
الْبَزِيعِيَّةُ: الْمَنْسُوبَةُ إِلَى بَزِيعٍ، زَعَمُوا أَنَّ جَعْفَرًا هُوَ اللهُ
فَلَا يُرَى وَلَكِنَّ شَبَهَ هَذِهِ الصُّورَةِ، تَبًّا لَهُمْ مَا أَعْظَمَ فِرْيَتَهُمْ
وَكَذِبَهُمْ وَأَبَاطِيلَهُمْ، بَلْ يَحُطُّونَ إِلَى أَسْفَلِ السَّافِلِينَ، إِلَى
الْهَاوِيَةِ وَالدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ بِمَقَالَتِهِمُ السُّوءِ وَدَعْوَاهُمُ
الزُّورِ.
وَأَمَّا
الْمُفَضَّلِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى الْمُفَضَّلِ الصَّيْرَفِيِّ، يَنْتَحِلُونَ
الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ، وَقَوْلُهُمْ فِي الْأَئِمَّةِ كَقَوْلِ النَّصَارَى
فِي الْمَسِيحِ.
وَأَمَّا
الشَّرِيعِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى شَرِيعٍ، زَعَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى فِي
خَمْسَةِ أَشْخَاصٍ النَّبِيِّ وَآلِهِ، يَعْنِي فِي النَّبِيِّ وَآلِهِ وَهُمْ: الْعَبَّاسُ
وَعَلِيٌّ وَجَعْفَرٌ وَعَقِيلٌ.
وَأَمَّا
السَّبَئِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ سَبَأٍ، مِنْ دَعْوَاهُمْ أَنَّ
عَلِيًّا لَمْ يَمُتْ، وَأَنَّهُ يَرْجِعُ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالسَّيِّدُ
الْحِمْيَرِيُّ مِنْهُمْ.
وَأَمَّا
الْمُفَوِّضِيَّةُ: فَهُمُ الْقَائِلُونَ إِنَّ اللهَ فَوَّضَ تَدْبِيرَ الْخَلْقِ
إِلَى الْأَئِمَّةِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ أَقْدَرَ النَّبِيَّ ﷺ عَلَى خَلْقِ
الْعَالَمِ وَتَدْبِيرِهِ، وَإِنْ كَانَ مَا خَلَقَ اللهُ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا، وَكَذَلِكَ
قَالُوا فِي حَقِّ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، وَمِنْهُمْ مَنْ إِذَا رَأَى السَّحَابَ
سَلَّمَ عَلَيْهِ، يَزْعُمُ أَنَّ عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فِيهِ، عَلَى مَا
بَيَّنَّا مِنْ قَبْلُ.
Adapun Bazi’iyah
dinisbatkan kepada Bazi’, mereka mengklaim bahwasanya Ja’far (Ash-Shodiq, 148
H) adalah Alloh, Dia tidak bisa dilihat namun menyerupai rupa ini; binasalah
mereka, alangkah besarnya kebohongan, kedustaan, dan kebatilan mereka.
Sebaliknya mereka akan jatuh ke dasar kerak bumi paling bawah, ke Neraka
Hawiyah dan tingkatan paling bawah dari Naar karena ucapan buruk dan klaim
palsu mereka.
Adapun Mufadhdholiyah
dinisbatkan kepada Al-Mufadhdhol Ash-Shoirofi, mereka memalsukan risalah
dan kenabian, dan ucapan mereka tentang para Imam seperti ucapan orang Nasroni
tentang Al-Masih.
Adapun Syari’iyah
dinisbatkan kepada Syari’, mereka mengklaim bahwasanya Alloh Ta’ala
berada di dalam 5 orang yaitu Nabi dan keluarganya, yakni Nabi dan keluarganya
yaitu: Al-Abbas, Ali, Ja’far, dan ‘Aqil.
Adapun Saba-iyah
dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba’, di antara klaim mereka adalah Ali
tidak mati dan beliau akan kembali sebelum hari Qiyamah; Sayyid Al-Himyari
termasuk golongan mereka.
Adapun Mufawwidhoh adalah
orang-orang yang berkata bahwasanya Alloh menyerahkan (mandat) pengaturan makhluk
kepada para Imam, dan bahwasanya Alloh Ta’ala telah memberikan kemampuan
kepada Nabi ﷺ untuk
menciptakan alam dan mengaturnya, meski tidak menciptakan sedikit pun dari hal
itu; demikian pula yang mereka katakan terhadap Ali rodhiyallahu ‘anhu.
Di antara mereka ada yang jika melihat awan maka dia mengucapkan salam
kepadanya, seraya mengklaim bahwasanya Ali rodhiyallahu ‘anhu berada di
dalamnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya.
Bab 26: Golongan
Zaidiyah dan Cabang-Cabangnya
وَأَمَّا
الزَّيْدِيَّةُ: فَإِنَّمَا سُمُّوا بِذَلِكَ لِمَيْلِهِمْ إِلَى قَوْلِ زَيْدِ بْنِ
عَلِيٍّ فِي تَوْلِيَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-.
وَأَمَّا
الْجَارُودِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى أَبِي الْجَارُودِ، زَعَمُوا أَنَّ عَلِيًّا
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- وَصِيُّ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَهُوَ الْإِمَامُ. وَقَالُوا إِنَّ
النَّبِيَّ ﷺ نَصَّ عَلَى عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- بِصِفَتِهِ لَا بِاسْمِهِ،
وَيَسُوقُونَ الْإِمَامَةَ إِلَى الْحُسَيْنِ، ثُمَّ هِيَ شُورَى بَيْنَهُمْ فِيمَنْ
خَرَجَ مِنْهُمْ.
وَأَمَّا
السُّلَيْمَانِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى سُلَيْمَانَ بْنِ كَثِيرٍ، قَالَ زُرْقَانُ:
زَعَمُوا أَنَّ عَلِيًّا كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ كَانَ الْإِمَامَ، وَأَنَّ بَيْعَةَ
أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- خَطَأٌ، لَا يَسْتَحِقَّانِ اسْمَ
السَّبْقِ، وَأَنَّ الْأُمَّةَ تَرَكَتِ الْأَصْلَحَ.
وَأَمَّا
الْبَتْرِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى الْأَبْتَرِ وَهُوَ النَّوَّاءُ، وَكَانَ يُلَقَّبُ
بِهِ وَزَعَمُوا أَنَّ بَيْعَةَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- لَيْسَتْ
بِخَطَأٍ، لِأَنَّ عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- تَرَكَ الْإِمَارَةَ لَهُمَا، وَهُمْ
وَاقِفُونَ فِي عُثْمَانَ، وَيَقُولُونَ عَلِيٌّ إِمَامٌ حِينَ بُويِعَ.
وَأَمَّا
النُّعَيْمِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى نُعَيْمِ بْنِ الْيَمَانِ، وَهِيَ تَقُولُ بِقَوْلِ
الْبَتْرِيَّةِ، إِلَّا أَنَّهَا تَبَرَّأَتْ مِنْ عُثْمَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-
وَكَفَرَتْ بِهِ.
وَأَمَّا
الْيَعْقُوبِيَّةُ: فَيَقُولُونَ بِإِمَامَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ -رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمَا- إِلَّا أَنَّهُمْ يَقُولُونَ بِتَفْضِيلِ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا وَيُنْكِرُونَ
الرَّجْعَةَ، فَهِيَ تُنْسَبُ إِلَى رَجُلٍ يُقَالُ لَهُ يَعْقُوبُ. وَمِنْهُمْ مَنْ
تَبَرَّأَ مِنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- وَيَقُولُونَ بِالرَّجْعَةِ.
Adapun Zaidiyah,
dinamakan demikian karena kecenderungan mereka pada pendapat Zaid bin Ali
(122 H) dalam mengakui kepemimpinan Abu Bakr dan Umar rodhiyallahu ‘anhuma.
Adapun Jarudiyah
dinisbatkan kepada Abu Al-Jarud, mereka mengklaim bahwasanya Ali rodhiyallahu
‘anhu adalah penerima wasiat Rosululloh ﷺ dan
beliaulah Imam. Mereka berkata bahwasanya Nabi ﷺ
menegaskan Ali rodhiyallahu ‘anhu dengan sifatnya bukan dengan namanya,
dan mereka meneruskan keimaman kepada Al-Husain (61 H), kemudian ia menjadi
urusan Syuro di antara mereka bagi siapa saja yang keluar memimpin dari
kalangan mereka.
Adapun Sulaimaniyah
dinisbatkan kepada Sulaiman bin Katsir; Zurqon berkata: “Mereka
mengklaim bahwasanya Ali karromallohu wajhah adalah Imam, dan bahwasanya baiat
Abu Bakr dan Umar rodhiyallahu ‘anhuma adalah kesalahan, keduanya tidak berhak
atas gelar pendahulu (sabq), dan bahwasanya umat telah meninggalkan yang
terbaik (ashlah).”
Adapun Batriyah
dinisbatkan kepada Al-Abtar yaitu An-Nawwa’, beliau digelar demikian,
mereka mengklaim bahwasanya baiat Abu Bakr dan Umar rodhiyallahu ‘anhuma
bukan kesalahan karena Ali rodhiyallahu ‘anhu telah menyerahkan
kepemimpinan kepada keduanya. Mereka bersikap diam (waqifun) terhadap
urusan Utsman, dan berkata Ali adalah Imam ketika beliau dibaiat.
Adapun Nu’aimiyah
dinisbatkan kepada Nu’aim bin Al-Yaman, pendapatnya serupa dengan Batriyah
namun mereka berlepas diri dari Utsman rodhiyallahu ‘anhu dan
mengafirkannya. Adapun Ya’qubiyah, mereka mengakui keimaman Abu Bakr dan Umar rodhiyallahu
‘anhuma namun mereka melebihkan Ali di atas keduanya dan mengingkari Roj’ah
(reinkarnasi/kembali ke dunia), sekte ini dinisbatkan kepada seorang lelaki
bernama Ya’qub. Di antara mereka ada pula yang berlepas diri dari Abu Bakr dan
Umar rodhiyallahu ‘anhuma serta berpendapat dengan adanya Roj’ah.
Bab 27: Golongan
Rofidhoh dan Perincian 14 Sektenya
وَأَمَّا
الرَّافِضَةُ فَالْأَرْبَعَ عَشْرَةَ فِرْقَةً الَّتِي تَفَرَّعَتْ عَنْهَا: أَوَّلُهَا
الْقَطْعِيَّةُ: سُمُّوا بِذَلِكَ لِقَطْعِهِمْ عَلَى مَوْتِ مُوسَى بْنِ جَعْفَرٍ،
سَاقُوا الْإِمَامَةَ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ الْقَائِمُ الْمُنْتَظَرُ.
وَالثَّانِيَةُ:
الْكَيْسَانِيَّةُ: وَهِيَ مَنْسُوبَةٌ إِلَى كَيْسَانَ، يَقُولُونَ بِإِمَامَةِ مُحَمَّدِ
بْنِ الْحَنَفِيَّةِ، لِأَنَّهُ دَفَعَ إِلَيْهِ الرَّايَةَ بِالْبَصْرَةِ.
وَالثَّالِثَةُ:
الْكُرَيْبِيَّةُ: وَهُمْ أَصْحَابُ ابْنِ كُرَيْبٍ الضَّرِيرِ.
وَالرَّابِعَةُ
الْعُمَيْرِيَّةُ: وَهُمْ أَصْحَابُ عُمَيْرٍ وَهُوَ إِمَامُهُمْ إِلَى خُرُوجِ الْمَهْدِيِّ.
وَالْخَامِسَةُ
الْمُحَمَّدِيَّةُ: وَقَدْ زَعَمَتْ أَنَّ الْقَائِمَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ
بْنِ الْحَسَنِ بْنِ الْحُسَيْنِ، وَأَنَّهُ أَوْصَى إِلَى أَبِي مَنْصُورٍ دُونَ بَنِي
هَاشِمٍ، كَمَا أَوْصَى مُوسَى -عَلَيْهِ السَّلَامُ- إِلَى يُوشَعَ بْنِ نُونٍ دُونَ
وَلَدِهِ وَوَلَدِ هَارُونَ.
وَأَمَّا
السَّادِسَةُ الْحُسَيْنِيَّةُ: زَعَمَتْ أَنَّ أَبَا مَنْصُورٍ أَوْصَى إِلَى وَلَدِهِ
الْحُسَيْنِ بْنِ أَبِي مَنْصُورٍ وَهُوَ الْإِمَامُ بَعْدَهُ.
وَأَمَّا
السَّابِعَةُ النَّاوُسِيَّةُ: فَلُقِّبُوا بِهِ لِأَنَّهُمْ نُسِبُوا إِلَى نَاوُسٍ
الْبَصْرِيِّ.
وَأَمَّا
الْإِسْمَاعِيلِيَّةُ: فَقَدْ قَالُوا إِنَّ جَعْفَرًا مَيِّتٌ وَالْإِمَامُ بَعْدَهُ
إِسْمَاعِيلُ، وَقَالُوا إِنَّهُ يَمْلِكُ، وَهُوَ الْمُنْتَظَرُ عِنْدَهُمْ.
Adapun golongan Rofidhoh,
ada 14 sekte yang bercabang darinya: pertama adalah Qoth’iyah, dinamakan
demikian karena mereka memastikan kematian Musa bin Ja’far (183 H), mereka menjadikan
keimaman kepada Muhammad bin Al-Hanafiyyah (81 H) dan beliaulah Al-Qo-im yang
ditunggu.
Kedua adalah Kaisaniyah,
yang dinisbatkan kepada Kaisan, mereka mengakui keimaman Muhammad bin
Al-Hanafiyyah karena (Ali) menyerahkan bendera kepadanya di Bashroh.
Ketiga adalah Kuroibiyah,
yaitu para pengikut Ibnu Kuroib yang buta.
Keempat adalah ‘Umairiyah,
yaitu para pengikut ‘Umair dan dialah Imam mereka sampai munculnya Al-Mahdi.
Kelima adalah Muhammadiyah,
mereka mengklaim bahwasanya Al-Qo-im adalah Muhammad bin Abdullah bin Al-Hasan
bin Al-Husain, dan bahwasanya beliau berwasiat kepada Abu Manshur bukan kepada
Bani Hasyim, sebagaimana Musa ‘alaihis salam berwasiat kepada Yusya’ bin
Nun bukan kepada anaknya maupun anak Harun.
Adapun keenam adalah Husainiyah,
mereka mengklaim bahwasanya Abu Manshur berwasiat kepada anaknya yaitu
Al-Husain bin Abi Manshur dan dialah Imam setelahnya.
Adapun ketujuh adalah Nawusiyah,
digelar demikian karena dinisbatkan kepada Nawus Al-Bashri. Adapun Isma’iliyah,
mereka berkata bahwasanya Ja’far telah mati dan Imam setelahnya adalah Ismail
(138 H), mereka berkata bahwasanya beliau akan berkuasa dan dialah yang
ditunggu menurut mereka.
وَأَمَّا
الْقَرَامِطَةُ: فَهُمْ يَسُوقُونَ الْإِمَامَةَ إِلَى جَعْفَرٍ، وَأَنَّ جَعْفَرًا
نَصَّ عَلَى وِرَاثَةِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ، وَمُحَمَّدٌ لَمْ يَمُتْ وَهُوَ
حَيٌّ، وَهُوَ الْمَهْدِيُّ.
وَأَمَّا
الْمُبَارَكِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى رَئِيسِهِمُ الْمُبَارَكِ، زَعَمُوا أَنَّ
مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ مَاتَ، وَأَنَّ الْإِمَامَةَ فِي وَلَدِهِ.
وَأَمَّا
الشَّمْطِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى رَئِيسِهِمْ يُقَالُ لَهُ يَحْيَى بْنُ شَمِيطٍ،
زَعَمُوا أَنَّ الْإِمَامَ جَعْفَرٌ ثُمَّ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ ثُمَّ فِي وَلَدِهِ.
وَأَمَّا
الْمَعْمَرِيَّةُ: وَيُقَالُ لَهُمُ الْأَفْطَحِيَّةُ، لِأَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ جَعْفَرٍ
كَانَ أَفْطَحَ الرِّجْلَيْنِ، يَقُولُونَ إِنَّ الْإِمَامَ بَعْدَ جَعْفَرٍ ابْنُهُ
عَبْدُ اللهِ وَهُمْ عَدَدٌ كَثِيرٌ.
وَأَمَّا
الْمَمْطُورِيَّةُ: فَسُمُّوا بِذَلِكَ لِأَنَّهُمْ نَاظَرُوا يُونُسَ بْنَ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ وَهُوَ مِنَ الْقَطْعِيَّةِ الَّذِينَ يَقْطَعُونَ عَلَى مَوْتِ مُوسَى
بْنِ جَعْفَرٍ، فَقَالَ لَهُمْ يُونُسُ: أَنْتُمْ أَهْوَنُ مِنَ الْكِلَابِ الْمَمْطُورَةِ،
فَلَزِمَهُمْ هَذَا اللَّقَبُ، وَيُسَمَّوْنَ الْوَاقِفَةَ، لِوُقُوفِهِمْ عَلَى مُوسَى
بْنِ جَعْفَرٍ، وَقَوْلِهِمْ هُوَ حَيٌّ لَمْ يَمُتْ، وَلَا يَمُوتُ، وَهُوَ الْمَهْدِيُّ
عِنْدَهُمْ.
أَمَّا الْمُوسَوِيَّةُ:
فَسُمُّوا بِذَلِكَ لِوُقُوفِهِمْ فِي مُوسَى وَقَوْلِهِمْ لَا نَدْرِي أَمَيِّتٌ هُوَ
أَمْ حَيٌّ؟ وَقَالُوا إِنْ صَحَّتْ إِمَامَةُ غَيْرِهِ أَنْفَذُوهَا.
وَأَمَّا
الْإِمَامِيَّةُ: فَيَسُوقُونَ الْإِمَامَةَ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، وَأَنَّهُ
الْقَائِمُ الْمُنْتَظَرُ الَّذِي يَظْهَرُ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ عَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ
جَوْرًا.
وَأَمَّا
الزَّرَارِيَّةُ: فَهُمْ أَصْحَابُ زُرَارَةَ، ادَّعَى مَا ادَّعَتِ الْعَمَّارِيَّةُ،
وَقِيلَ إِنَّهُ تَرَكَ مَقَالَتَهَا وَأَنَّهُ سَأَلَ عَبْدَ اللهِ بْنَ جَعْفَرٍ
عَنْ مَسَائِلَ وَلَمْ يَعْلَمْهَا فَصَارَ إِلَى مُوسَى بْنِ جَعْفَرٍ.
Adapun Qoramithoh,
mereka meneruskan keimaman kepada Ja’far, dan bahwasanya Ja’far menegaskan
wasiat kepada Muhammad bin Ismail, dan Muhammad tidak mati melainkan beliau
masih hidup dan beliaulah Al-Mahdi.
Adapun Mubarokiyah
dinisbatkan kepada pemimpin mereka yaitu Al-Mubarok, mereka mengklaim
bahwasanya Muhammad bin Ismail telah mati dan keimaman berada pada
keturunannya.
Adapun Syumaitiyah
dinisbatkan kepada pemimpin mereka bernama Yahya bin Syumait, mereka mengklaim bahwasanya
Imam itu Ja’far kemudian Muhammad bin Ja’far kemudian pada keturunannya.
Adapun Ma’mariyah
disebut pula Afthohiyah karena Abdullah bin Ja’far memiliki kaki yang lebar (afthoh),
mereka berkata bahwasanya Imam setelah Ja’far adalah anaknya yaitu Abdullah;
mereka berjumlah sangat banyak.
Adapun Mamthuriyah
dinamakan demikian karena mereka pernah berdebat dengan Yunus bin Abdurrohman
yang merupakan golongan Qoth’iyah (yang memastikan kematian Musa bin Ja’far),
lalu Yunus berkata kepada mereka: “Kalian lebih rendah daripada anjing yang
kehujanan (mamthuroh)”, maka melekatlah gelar tersebut pada mereka. Mereka
juga dinamakan Waqifah karena mereka berhenti (waqof) pada keimaman Musa
bin Ja’far dan berkata beliau masih hidup tidak mati dan tidak akan mati, serta
beliaulah Al-Mahdi menurut mereka.
Adapun Musawiyah
dinamakan demikian karena mereka diam (waqof) tentang urusan Musa dan
berkata: “Kami tidak tahu apakah beliau sudah mati atau masih hidup.”
Mereka berkata jika keimaman selainnya terbukti sah maka mereka akan
melaksanakannya.
Adapun Imamiyah
meneruskan keimaman kepada Muhammad bin Al-Hasan (255 H), dan bahwasanya dialah
Al-Qo-im yang ditunggu yang akan muncul lalu memenuhi bumi dengan keadilan
sebagaimana ia telah dipenuhi dengan kezholiman.
Adapun Zuroriyah
adalah para pengikut Zuroroh, dia mengklaim apa yang diklaim ‘Ammariyah, namun
dikatakan beliau meninggalkan pendapat itu dan pernah bertanya kepada Abdullah
bin Ja’far tentang suatu masalah namun beliau tidak mengetahuinya sehingga
beliau beralih kepada Musa bin Ja’far.
Bab 28:
Penyerupaan Madzhab Rofidhoh dengan Yahudi
فَقَدْ شُبِّهَتْ
مَذَاهِبُ الرَّوَافِضِ بِالْيَهُودِيَّةِ؛ قَالَ الشَّعْبِيُّ: مَحَبَّةُ الرَّوَافِضِ
مَحَبَّةُ الْيَهُودِ، قَالَتِ الْيَهُودُ: لَا تَصْلُحُ الْإِمَامَةُ إِلَّا لِرَجُلٍ
مِنْ آلِ دَاوُدَ، وَقَالَتِ الرَّافِضَةُ: لَا تَصْلُحُ الْإِمَامَةُ إِلَّا لِرَجُلٍ
مِنْ وَلَدِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ؛ وَقَالَتِ الْيَهُودُ: لَا جِهَادَ فِي سَبِيلِ
اللهِ حَتَّى يَخْرُجَ الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ، وَيَنْزِلَ بِسَبَبٍ مِنَ السَّمَاءِ،
وَقَالَتِ الرَّافِضَةُ: لَا جِهَادَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَخْرُجَ الْمَهْدِيُّ
وَيُنَادِيَ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ، وَتُؤَخِّرُ الْيَهُودُ صَلَاةَ الْمَغْرِبِ
حَتَّى تَشْتَبِكَ النُّجُومُ، وَكَذَلِكَ الرَّوَافِضُ يُؤَخِّرُونَهَا؛ وَالْيَهُودُ
تَزُولُ عَنِ الْقِبْلَةِ شَيْئًا، وَكَذَلِكَ الرَّافِضَةُ؛ وَالْيَهُودُ تُنَوِّرُ
فِي الصَّلَاةِ، وَكَذَلِكَ الرَّافِضَةُ؛ وَالْيَهُودُ تَسْدُلُ أَبْوَابَهَا فِي
الصَّلَاةِ، وَكَذَلِكَ الرَّوَافِضُ؛ وَالْيَهُودُ تَسْتَحِلُّ دَمَ الْمُسْلِمِ،
وَكَذَلِكَ الرَّوَافِضُ؛ وَالْيَهُودُ لَا تَرَى عَلَى النِّسَاءِ عِدَّةً، وَكَذَلِكَ
الرَّافِضَةُ؛ وَالْيَهُودُ لَا تَرَى فِي الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ شَيْئًا، وَكَذَلِكَ
الرَّوَافِضُ؛ وَالْيَهُودُ حَرَّفَتِ التَّوْرَاةَ، وَكَذَلِكَ الرَّافِضَةُ حَرَّفُوا
الْقُرْآنَ؛ لِأَنَّهُمْ قَالُوا الْقُرْآنُ غُيِّرَ وَبُدِّلَ، وَخُولِفَ بَيْنَ نَظْمِهِ
وَتَرْتِيبِهِ، وَأُحِيلَ عَمَّا أُنْزِلَ عَلَيْهِ، وَقُرِئَ عَلَى وُجُوهٍ غَيْرِ
ثَابِتَةٍ عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَأَنَّهُ قَدْ نَقَصَ مِنْهُ وَزِيدَ فِيهِ؛ وَالْيَهُودُ
يُبْغِضُونَ جِبْرِيلَ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- وَيَقُولُونَ هُوَ عَدُوُّنَا مِنَ الْمَلَائِكَةِ،
وَكَذَلِكَ صِنْفٌ مِنَ الرَّوَافِضِ يَقُولُونَ غَلِطَ جِبْرِيلُ -عَلَيْهِ السَّلَامُ-
بِالْوَحْيِ إِلَى مُحَمَّدٍ ﷺ، وَإِنَّمَا بُعِثَ إِلَى عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-،
كَذَبُوا تَبًّا لَهُمْ إِلَى آخِرِ الدَّهْرِ.
Sungguh madzhab-madzhab
Rowafidh serupa dengan agama Yahudi; Asy-Sya’bi (103 H) berkata: “Kecintaan
Rowafidh (kepada Ali) seperti kecintaan kaum Yahudi (kepada Uzair). Kaum Yahudi
berkata: tidak layak keimaman kecuali bagi lelaki dari keluarga Dawud, dan Rofidhoh
berkata: tidak layak keimaman kecuali bagi lelaki dari keturunan Ali bin Abi
Tholib.”
Kaum Yahudi berkata: “Tidak
ada Jihad di jalan Alloh sampai munculnya Al-Masih Ad-Dajjal dan turunnya tali
dari langit”, dan Rofidhoh berkata: “Tidak ada Jihad di jalan Alloh
sampai munculnya Al-Mahdi dan ada penyeru yang berseru dari langit.”
Kaum Yahudi mengakhirkan
Sholat Maghrib sampai bintang-bintang saling bertautan, demikian pula Rowafidh
mengakhirkannya.
Kaum Yahudi sedikit
melenceng dari arah Qiblat, demikian pula Rofidhoh.
Kaum Yahudi
bergerak-gerak dalam Sholat, demikian pula Rofidhoh.
Kaum Yahudi menutup
pintu-pintu mereka saat Sholat, demikian pula Rowafidh.
Kaum Yahudi menghalalkan
darah orang Muslim, demikian pula Rowafidh.
Kaum Yahudi tidak
memandang adanya ‘iddah bagi kaum wanita, demikian pula Rofidhoh.
Kaum Yahudi tidak
menganggap jatuhnya talak 3, demikian pula Rowafidh.
Kaum Yahudi telah
mengubah Taurot, demikian pula Rofidhoh mengubah Al-Qur’an; karena mereka
berkata bahwasanya Al-Qur’an telah diubah dan diganti, susunan dan urutannya
diselisihi, dipalingkan dari apa yang diturunkan, dibaca dengan cara yang tidak
tetap dari Rosululloh ﷺ, serta
bahwasanya Al-Qur’an telah dikurangi dan ditambahi.
Kaum Yahudi membenci
Jibril ‘alaihis salam dan berkata ‘dia adalah musuh kami dari kalangan Malaikat’,
demikian pula satu kelompok Rofidhoh berkata Jibril ‘alaihis salam telah
keliru menyampaikan wahyu kepada Muhammad ﷺ,
padahal seharusnya ia diutus kepada Ali rodhiyallahu ‘anhu; mereka telah
berdusta, binasalah mereka sampai akhir zaman.
Bab 29: Golongan
Murji’ah dan Prinsip Keimanan Mereka
وَأَمَّا
الْمُرْجِئَةُ فَفِرَقُهَا اثْنَتَا عَشْرَةَ فِرْقَةً: الْجَهْمِيَّةُ، وَالصَّالِحِيَّةُ،
الشَّمْرِيَّةُ، الْيُونُسِيَّةُ، الْيُونَانِيَّةُ، النَّجَّارِيَّةُ، الْغَيْلَانِيَّةُ،
الشَّبِيبِيَّةُ، الْغَسَّانِيَّةُ، الْمُعَاذِيَّةُ، الْمُرِيسِيَّةُ، وَالْكَرَّامِيَّةُ.
وَإِنَّمَا
سُمُّوا الْمُرْجِئَةَ لِأَنَّهَا زَعَمَتْ أَنَّ الْوَاحِدَ مِنَ الْمُكَلَّفِينَ
إِذَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَفَعَلَ بَعْدَ ذَلِكَ
سَائِرَ الْمَعَاصِي لَمْ يَدْخُلِ النَّارَ أَصْلًا. وَأَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ بِلَا
عَمَلٍ، وَالْأَعْمَالُ شَرَائِعُ، وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ مُجَرَّدٌ، وَالنَّاسُ لَا
يَتَفَاضَلُونَ فِي الْإِيمَانِ، وَأَنَّ إِيمَانَهُمْ وَإِيمَانَ الْمَلَائِكَةِ وَالْأَنْبِيَاءِ
وَاحِدٌ لَا يَزِيدُ وَلَا يَنْقُصُ وَلَا يُسْتَثْنَى فِيهِ، فَمَنْ أَقَرَّ بِلِسَانِهِ
وَلَمْ يَعْمَلْ فَهُوَ مُؤْمِنٌ.
Adapun Murji’ah, sektenya
ada 12 sekte: Jahmiyah, Sholihiyah, Syamriyah, Yunusiyah, Yunaniyah,
Najjariyah, Ghoilaniyah, Syabibiyah, Ghossaniyah, Mu’adziyah, Marisiyah, dan
Karramiyah.
Hanyalah mereka dinamakan
Murji’ah karena mereka mengklaim bahwasanya setiap orang mukallaf jika sudah
mengucapkan ‘Laa ilaaha illalloh Muhammadar Rosululloh’ meski melakukan
seluruh kemaksiatan setelahnya, maka dia tidak akan masuk Naar sama sekali.
Mereka berpendapat bahwasanya Iman adalah ucapan tanpa amal, sedangkan amal
hanyalah syariat tambahan; Iman adalah ucapan belaka, dan manusia tidak
bertingkat-tingkat dalam Iman. Mereka beranggapan bahwasanya iman mereka sama
dengan iman para Malaikat dan para Nabi, tidak bertambah dan tidak berkurang
serta tidak ada pengecualian (istitsna) di dalamnya; maka barang siapa
yang sudah berikrar dengan lisannya meski tidak beramal maka dia adalah Mu’min.
Bab 30:
Perincian 12 Sekte Golongan Murji’ah
30.1 Sekte
Jahmiyah, Sholihiyah, dan Yunusiyah
وَأَمَّا
الْجَهْمِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى جَهْمِ بْنِ صَفْوَانَ، وَكَانَ يَقُولُ: الْإِيمَانُ
هُوَ الْمَعْرِفَةُ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَجَمِيعِ مَا جَاءَ مِنْ عِنْدِهِ فَقَطْ.
وَيَزْعُمُونَ أَنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوقٌ، وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يُكَلِّمْ
مُوسَى، وَأَنَّهُ تَعَالَى لَا يَتَكَلَّمُ وَلَا يُرَى وَلَا يُعْرَفُ لَهُ مَكَانٌ
وَلَيْسَ لَهُ عَرْشٌ وَلَا كُرْسِيٌّ، وَلَا هُوَ عَلَى الْعَرْشِ.
وَأَنْكَرُوا
الْمَوَازِينَ وَعَذَابَ الْقَبْرِ، وَكَوْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ مَخْلُوقَيْنِ.
وَادَّعَوْا أَنَّهُمَا إِذَا خُلِقَتَا تَفْنَيَانِ، وَاللهُ -عَزَّ وَجَلَّ- لَا
يُكَلِّمُ خَلْقَهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ
أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَلَا يَرَوْنَهُ فِيهَا، وَأَنَّ الْإِيمَانَ
مَعْرِفَةُ الْقَلْبِ دُونَ إِقْرَارِ اللِّسَانِ، وَأَنْكَرُوا جَمِيعَ صِفَاتِ الْحَقِّ
-عَزَّ وَجَلَّ-، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا.
Adapun Jahmiyah
dinisbatkan kepada Jahm bin Shofwan (128 H), dia dahulu berkata: “Iman
adalah sebatas makrifat (mengenal) Alloh, Rosul-Nya, dan seluruh apa yang
datang dari sisi-Nya saja.” Mereka mengklaim bahwasanya Al-Qur’an adalah
makhluk, bahwasanya Alloh Ta’ala tidak mengajak bicara Musa, dan
bahwasanya Alloh tidak berbicara, tidak bisa dilihat, tidak diketahui tempat
bagi-Nya, tidak memiliki ‘Arsy maupun Kursi, dan Dia tidak berada di atas ‘Arsy.
Mereka mengingkari Mizan dan adzab kubur, serta mengingkari keberadaan Jannah
dan Naar sebagai makhluk. Mereka mengklaim jika keduanya diciptakan maka
keduanya akan sirna; Alloh ﷻ tidak akan mengajak bicara makhluk-Nya dan tidak melihat kepada
mereka pada hari Qiyamah, penduduk Jannah pun tidak melihat kepada Alloh Ta’ala
dan tidak melihat-Nya di sana. Mereka beranggapan Iman adalah makrifat di hati
tanpa ikrar lisan, serta mengingkari seluruh sifat Al-Haq (Alloh) ﷻ; Maha Tinggi Alloh dari hal tersebut
dengan ketinggian yang besar.
وَأَمَّا
الصَّالِحِيَّةُ: فَإِنَّمَا سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِقَوْلِهَا بِمَذْهَبِ أَبِي الْحُسَيْنِ
الصَّالِحِيِّ. وَكَانَ يَقُولُ: الْإِيمَانُ هُوَ الْمَعْرِفَةُ، وَالْكُفْرُ هُوَ
الْجَهْلُ، وَإِنَّ قَوْلَ مَنْ قَالَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ لَيْسَ بِكُفْرٍ وَإِنْ كَانَ
لَا يَظْهَرُ إِلَّا مِمَّنْ كَانَ كَافِرًا، وَأَنْ لَا عِبَادَةَ إِلَّا الْإِيمَانُ.
وَأَمَّا
الْيُونُسِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى يُونُسَ الْبَرِيِّ، زَعَمَ أَنَّ الْإِيمَانَ
هُوَ الْمَعْرِفَةُ وَالْخُضُوعُ وَالْمُحَبَّةُ لِلَّهِ -عَزَّ وَجَلَّ-، وَأَنَّهُ
مَنْ تَرَكَ خَصْلَةً مِنْهَا فَهُوَ كَافِرٌ.
Adapun Sholihiyah
dinamakan demikian karena mereka mengikuti madzhab Abu Al-Husain Ash-Sholihi.
Dia dahulu berkata: “Iman adalah makrifat (mengenal), sedangkan kufur adalah
bodoh; sesungguhnya ucapan orang yang berkata (Tuhan) adalah salah satu dari
yang 3 (Trinitas) bukanlah kekufuran meski ia tidak muncul kecuali dari orang
yang kafir”, dan menurutnya tidak ada Ibadah kecuali Iman.
Adapun Yunusiyah
dinisbatkan kepada Yunus Al-Barri, dia mengklaim bahwasanya Iman adalah makrifat,
tunduk, dan cinta kepada Alloh ﷻ; dan bahwasanya barang siapa yang
meninggalkan salah satu darinya maka dia kafir.
30.2 Sekte
Syamriyah, Yunaniyah, Najjariyah, dan Ghoilaniyah
وَأَمَّا
الشَّمْرِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى أَبِي شَمِرٍ، زَعَمَ أَنَّ الْإِيمَانَ هُوَ
الْمَعْرِفَةُ وَالْخُضُوعُ وَالْمُحَبَّةُ وَالْإِقْرَارُ بِأَنَّهُ وَاحِدٌ ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾ وَذَلِكَ بِاجْتِمَاعِهِ إِيمَانًا.
وَقَالَ
أَبُو شَمِرٍ: لَا أُسَمَّى مَنْ رَكِبَ الْكَبِيرَةَ فَاسِقًا عَلَى الْإِطْلَاقِ
دُونَ أَنْ أَقُولَ فَاسِقٌ فِي كَذَا وَكَذَا.
وَأَمَّا
الْيُونَانِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى يُونَانَ، زَعَمُوا أَنَّ الْإِيمَانَ هُوَ
الْإِيمَانُ وَالْإِقْرَارُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ، وَمَا يَجُوزُ فِي الْعَقْلِ إِلَّا
أَنْ يَفْعَلَهُ.
وَأَمَّا
النَّجَّارِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى الْحُسَيْنِ بْنِ مُحَمَّدٍ النَّجَّارِ. يَقُولُونَ:
إِنَّ الْإِيمَانَ هُوَ الْمَعْرِفَةُ بِاللهِ وَبِرُسُلِهِ، وَفَرَائِضِهِ الْمُجْتَمَعِ
عَلَيْهَا، وَالْخُضُوعِ لَهُ وَالْإِقْرَارِ بِاللِّسَانِ، فَمَتَى جَهِلَ مِنْهُ
شَيْئًا وَقَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ وَلَمْ يُقِرَّ بِهِ كَانَ كَافِرًا.
وَأَمَّا
الْغَيْلَانِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى غَيْلَانَ، وَافَقُوا الشَّمْرِيَّةَ وَزَعَمُوا
أَنَّ الْعِلْمَ بِحُدُوثِ الْأَشْيَاءِ ضَرُورِيٌّ، وَالْعِلْمَ بِالتَّوْحِيدِ بِاللِّسَانِ.
وَفِي حِكَايَةِ زُرْقَانَ أَنَّ غَيْلَانَ يَقُولُ: بِأَنَّ الْإِيمَانَ هُوَ الْإِقْرَارُ
بِاللِّسَانِ وَهُوَ التَّصْدِيقُ.
Adapun Syamriyah
dinisbatkan kepada Abu Syamir, dia mengklaim bahwasanya Iman adalah makrifat,
tunduk, cinta, dan ikrar bahwasanya Dia Maha Tunggal “Tidak ada sesuatu pun
yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS.
Asy-Syuro: 11); gabungan dari itulah yang disebut Iman. Abu Syamir berkata:
“Aku tidak menjuluki orang yang terjerumus dosa besar sebagai fasik secara
mutlak tanpa aku katakan fasik dalam perkara ini dan itu.”
Adapun Yunaniyah
dinisbatkan kepada Yunan, mereka mengklaim bahwasanya Iman adalah iman dan
ikrar kepada Alloh dan para Rosul-Nya, serta apa yang dibolehkan secara akal
kecuali ia mengerjakannya.
Adapun Najjariyah
dinisbatkan kepada Al-Husain bin Muhammad An-Najjar, mereka berkata bahwasanya
Iman adalah makrifat kepada Alloh dan para Rosul-Nya, serta kewajiban-kewajiban
yang disepakati, tunduk kepada-Nya dan ikrar dengan lisan; maka kapan pun dia
bodoh terhadap sesuatu darinya padahal hujjah telah tegak atasnya namun dia
tidak mengakuinya maka dia kafir.
Adapun Ghoilaniyah
dinisbatkan kepada Ghoilan (Al-Dimasyqi, 106 H), mereka menyetujui Syamriyah
dan mengklaim bahwasanya ilmu tentang barunya segala sesuatu adalah dhoruri
(pasti), dan ilmu tentang Tauhid adalah dengan lisan. Dalam hikayat Zurqon
disebutkan bahwasanya Ghoilan berkata: “Iman adalah ikrar dengan lisan dan
itulah pembenaran (tashdiq).”
30.3 Sekte
Syabibiyah, Ghossaniyah, Mu’adziyah, Marisiyah, dan Karromiyah
وَأَمَّا
الشَّبِيبِيَّةُ: فَهُمْ أَصْحَابُ مُحَمَّدِ بْنِ شَبِيبٍ. زَعَمُوا أَنَّ الْإِيمَانَ
هُوَ الْإِقْرَارُ بِاللهِ وَالْمَعْرِفَةُ بِوَحْدَانِيَّتِهِ وَنَفَى التَّشْبِيهِ
عَنْهُ. وَزَعَمَ مُحَمَّدٌ أَنَّ الْإِيمَانَ كَانَ فِي إِبْلِيسَ، وَإِنَّمَا كَفَرَ
لِاسْتِكْبَارِهِ.
وَأَمَّا
الْغَسَّانِيَّةُ: فَهُمْ أَصْحَابُ غَسَّانَ الْكُوفِيِّ، زَعَمَ أَنَّ الْإِيمَانَ
هُوَ الْمَعْرِفَةُ وَالْإِقْرَارُ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَبِمَا جَاءَ مِنْ عِنْدِهِ
جُمْلَةً عَلَى مَا ذَكَرَهُ الْبَرْهُوتِيُّ فِي كِتَابِ الشَّجَرَةِ.
وَأَمَّا
الْمُعَاذِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى مُعَاذٍ الْمُوصِي، كَانَ يَقُولُ: مَنْ تَرَكَ
طَاعَةَ اللهِ يُقَالُ لَهُ إِنَّهُ فَسَقَ، وَلَا يُقَالُ فَاسِقٌ، وَالْفَاسِقُ لَيْسَ
بِعَدُوٍّ لِلَّهِ وَلَا وَلِيٍّ.
وَأَمَّا
الْمُرِيسِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى بِشْرٍ الْمُرِيسِيِّ، يَزْعُمُونَ أَنَّ الْإِيمَانَ
هُوَ التَّصْدِيقُ، وَأَنَّ التَّصْدِيقَ يَكُونُ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَإِلَى
هَذَا كَانَ يَذْهَبُ ابْنُ الرَّاوَنْدِيِّ. وَزَعَمَ أَيْضًا أَنَّ السُّجُودَ لِلشَّمْسِ
لَيْسَ بِكُفْرٍ وَلَكِنَّهُ إِمَارَةُ الْكُفْرِ.
وَأَمَّا
الْكَرَّامِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى أَبِي عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدِ بْنِ كَرَّامٍ،
زَعَمُوا أَنَّ الْإِيمَانَ هُوَ الْإِقْرَارُ بِاللِّسَانِ دُونَ الْقَلْبِ، وَأَنَّ
الْمُنَافِقِينَ كَانُوا مُؤْمِنِينَ فِي الْحَقِيقَةِ.
Adapun Syabibiyah adalah
para pengikut Muhammad bin Syabib, mereka mengklaim bahwasanya Iman
adalah ikrar kepada Alloh, makrifat terhadap keesaan-Nya, dan meniadakan
penyerupaan (tasybih) dari-Nya. Muhammad mengklaim bahwasanya Iman
dahulu ada pada Iblis, namun dia menjadi kafir karena kesombongannya.
Adapun Ghossaniyah adalah
para pengikut Ghossan Al-Kufi, dia mengklaim bahwasanya Iman adalah makrifat
dan ikrar kepada Alloh, Rosul-Nya, dan terhadap apa yang datang dari sisi-Nya
secara global sebagaimana disebut oleh Al-Barhuti dalam Kitab Asy-Syajaroh.
Adapun Mu’adziyah
dinisbatkan kepada Mu’adz Al-Maushi, dia dahulu berkata: “Barang
siapa meninggalkan ketaatan kepada Alloh maka dikatakan kepadanya dia telah
berbuat fasik (fasaqo), namun tidak disebut orang fasik (fasiq); orang fasik
itu bukanlah musuh Alloh dan bukan pula wali Alloh.”
Adapun Marisiyah
dinisbatkan kepada Bisyr Al-Marisi (218 H), mereka mengklaim bahwasanya Iman
adalah pembenaran (tashdiq) yang berada di hati dan lisan, dan pendapat
inilah yang diikuti oleh Ibnu Ar-Rowandi (298 H). Dia juga mengklaim bahwasanya
sujud kepada matahari bukanlah kekufuran melainkan ia hanyalah tanda (isyarat)
bagi kekufuran.
Adapun Karromiyah
dinisbatkan kepada Abu Abdillah Muhammad bin Karrom (255 H), mereka
mengklaim bahwasanya Iman adalah ikrar dengan lisan tanpa hati, dan bahwasanya
orang-orang munafik adalah kaum Mu’min yang hakiki.
وَمِنْ قَوْلِهِمْ
إِنَّ الِاسْتِطَاعَةَ تَتَقَدَّمُ الْفِعْلَ مَعَ وُجُودِ كَوْنِهَا مُقَارِنَةً لَهُ،
بِخِلَافِ مَا قَالَ أَهْلُ السُّنَّةِ مِنْ أَنَّهَا مَعَ الْفِعْلِ، وَلَا يَجُوزُ
أَنْ تَتَقَدَّمَهُ مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ. وَمُؤَلِّفُو كُتُبِهِمْ: أَبُو الْحُسَيْنِ
الصَّالِحِيُّ، ابْنُ الرَّاوَنْدِيِّ، مُحَمَّدُ بْنُ شَبِيبٍ، الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ
النَّجَّارُ. وَأَكْثَرُ مَا يَكُونُ مَذْهَبُهُمْ بِالْمَشْرِقِ وَنَوَاحِي خُرَاسَانَ.
Di antara pendapat mereka
adalah bahwasanya kemampuan (istitho’ah) mendahului perbuatan meski ia
ada bersamanya, berbeda dengan apa yang dikatakan Ahli Sunnah bahwasanya kemampuan
itu menyertai perbuatan dan tidak boleh mendahuluinya tanpa syarat. Para
pengarang kitab-kitab mereka adalah Abu Al-Husain Ash-Sholihi, Ibnu Ar-Rowandi,
Muhammad bin Syabib, dan Al-Husain bin Muhammad An-Najjar. Madzhab mereka
paling banyak tersebar di wilayah Timur dan daerah-daerah Khurosan.
Bab 31:
Penjelasan Mendalam Mengenai Golongan Mu’tazilah dan Qodariyah
31.1 Asal-usul
Penamaan Mu’tazilah dan Tokoh Utamanya
(فَصْلٌ)
فِي ذِكْرِ مَقَالَةِ الْمُعْتَزِلَةِ وَالْقَدَرِيَّةِ: وَإِنَّمَا سُمُّوا الْمُعْتَزِلَةَ
لِاعْتِزَالِهِمُ الْحَقَّ، وَقِيلَ لِاعْتِزَالِهِمْ أَقَاوِيلَ الْمُسْلِمِينَ، لِأَنَّ
النَّاسَ كَانُوا مُخْتَلِفِينَ فِي مُرْتَكِبِ الْكَبِيرَةِ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ:
هُمْ مُؤْمِنُونَ بِمَا مَعَهُمْ مِنَ الْإِيمَانِ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُمْ كَافِرُونَ،
فَأَحْدَثَ وَاصِلُ بْنُ عَطَاءٍ قَوْلًا ثَالِثًا وَفَارَقَ الْمُسْلِمِينَ وَاعْتَزَلَ
الْمُؤْمِنِينَ فَقَالَ: مَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ وَلَا كَافِرِينَ فَسُمُّوا بِذَلِكَ
الْمُعْتَزِلَةَ.
(Fashl) Mengenai penjelasan pendapat golongan Mu’tazilah
dan Qodariyah: Hanyalah mereka dinamakan Mu’tazilah karena mereka memisahkan
diri (i’tizal) dari kebenaran. Dikatakan pula karena mereka memisahkan
diri dari pendapat-pendapat kaum Muslimin, sebab manusia dahulu berselisih
pendapat mengenai status pelaku dosa besar. Sebagian orang berkata: mereka
adalah kaum Mu’min berdasarkan iman yang masih ada pada mereka, dan sebagian
lain berkata: mereka adalah orang-orang kafir. Lalu Washil bin ‘Atho’ (131 H)
mengada-adakan pendapat ketiga; dia memisahkan diri dari kaum Muslimin dan
menjauhi kaum Mu’min seraya berkata: “Mereka bukanlah Mu’min dan bukan pula
kafir” (manzilah baina manzilatain), maka karena itulah mereka
dinamakan Mu’tazilah.
وَقِيلَ:
إِنَّمَا سُمُّوا بِذَلِكَ، لِاعْتِزَالِهِمْ مَجْلِسَ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ -رَحِمَهُ
اللهُ-، فَمَرَّ الْحَسَنُ بِهِمْ وَقَالَ: هَؤُلَاءِ مُعْتَزِلَةٌ فَلُقِّبُوا بِذَلِكَ.
وَهُمْ يَقْتَدُونَ بِعَمْرِو بْنِ عُبَيْدٍ، وَلَمَّا غَضِبَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ
عَلَى عَمْرِو بْنِ عُبَيْدٍ عُوتِبَ فِي ذَلِكَ، فَقَالَ: أَتُعَاتِبُونَنِي فِي رَجُلٍ
رَأَيْتُهُ يَسْجُدُ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللهِ فِي الْمَقَامِ؟ وَسُمُّوا أَيْضًا
قَدَرِيَّةً لِرَدِّهِمْ قَضَاءَ اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ- وَقَدَرِهِ فِي مَعَاصِي الْعِبَادِ،
وَإِتْيَانِهِمْ بِهَا بِأَنْفُسِهِمْ.
Dikatakan pula: mereka
dinamakan demikian karena mereka memisahkan diri dari majelis Al-Hasan
Al-Bashri (110 H) rohimahulloh, lalu Al-Hasan melewati mereka dan
berkata: “Mereka itu adalah orang-orang yang memisahkan diri (mu’tazilah)”,
maka mereka pun dijuluki dengan nama itu. Mereka juga mengikuti jejak ‘Amr bin ‘Ubaid
(144 H). Ketika Al-Hasan Al-Bashri marah kepada ‘Amr bin ‘Ubaid lalu beliau
ditegur karena hal itu, beliau menjawab: “Apakah kalian menegurku karena
(bersikap keras kepada) seorang lelaki yang aku lihat dia bersujud kepada
matahari selain kepada Alloh di tempat ini?” Mereka dinamakan juga
Qodariyah karena mereka menolak qodho’ Alloh ﷻ dan Qodar-Nya dalam masalah kemaksiatan
para hamba, serta menganggap bahwa hamba itulah yang mewujudkan sendiri
perbuatannya.
31.2
Prinsip-Prinsip yang Disepakati oleh Golongan Mu’tazilah
وَمَذْهَبُ
الْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ فِي نَفْيِ الصِّفَاتِ وَاحِدٌ،
وَقَدْ ذَكَرْنَا بَعْضَ مَذَاهِبِهِمْ فِي الِاعْتِقَادِ. وَمُؤَلِّفُوا كُتُبِهِمْ:
أَبُو الْهُذَيْلِ، وَجَعْفَرُ بْنُ حَرْبٍ، الْخَيَّاطُ، الْكَعْبِيُّ، أَبُو هَاشِمٍ،
أَبُو عَبْدِ اللهِ الْبَصْرِيُّ، عَبْدُ اللهِ الْجَبَّارُ بْنُ أَحْمَدَ الْهَمْدَانِيُّ.
وَأَكْثَرُ مَا يَكُونُ مَذْهَبُهُمْ بِالْعَسْكَرِ وَالْأَهْوَازِ وَجَهْرَمَ. وَهُمْ
سِتُّ فِرَقٍ: الْهُذَلِيَّةُ، النِّظَامِيَّةُ، الْمَعْمَرِيَّةُ، الْجُبَّائِيَّةُ،
الْكَعْبِيَّةُ، وَالْبَهْشَمِيَّةُ.
Madzhab Mu’tazilah,
Jahmiyah, dan Qodariyah adalah sama dalam hal meniadakan sifat-sifat Alloh (naf-yus
shifat), dan kami telah menyebutkan sebagian madzhab mereka dalam bab Aqidah.
Para pengarang kitab-kitab mereka adalah Abu Al-Hudzail (235 H), Ja’far bin
Harb (236 H), Al-Khoyyath (300 H), Al-Ka’bi (319 H), Abu Hasyim (321 H), Abu
Abdillah Al-Bashri (369 H), dan Abdul Jabbar bin Ahmad Al-Hamadani (415 H).
Madzhab mereka paling banyak tersebar di wilayah ‘Askar, Ahwaz, dan Jahrom.
Mereka terdiri dari 6 golongan: Hudzaliyah, Nazhzhomiyah, Ma’mariyah, Jubba’iyah,
Ka’biyah, dan Bahsyamiyah.
وَالَّذِي
اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ فِرَقُ الْمُعْتَزِلَةِ نَفْيُ الصِّفَاتِ جَمِيعِهَا. فَنَفَتْ
أَنْ يَكُونَ لَهُ -عَزَّ وَجَلَّ- عِلْمٌ وَقُدْرَةٌ وَحَيَاةٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ.
وَكَذَلِكَ نَفْيُ الصِّفَاتِ الْمُثْبَتَةِ بِالسَّمْعِ، مِنَ الِاسْتِوَاءِ وَالنُّزُولِ
وَغَيْرِ ذَلِكَ. وَاجْتَمَعَتْ أَيْضًا عَلَى أَنَّ كَلَامَ اللهِ مُحْدَثٌ، وَإِرَادَتُهُ
مُحْدَثَةٌ، وَأَنَّهُ تَعَالَى تَكَلَّمَ بِكَلَامٍ خَلَقَهُ فِي غَيْرِهِ، وَيُرِيدُ
بِإِرَادَةٍ مُحْدَثَةٍ، لَا فِي مَحَلٍّ، وَأَنَّهُ تَعَالَى يُرِيدُ خِلَافَ مَعْلُومِهِ،
وَيُرِيدُ مِنْ عِبَادِهِ مَا لَا يَكُونُ، وَيَكُونُ مَا لَا يُرِيدُ، وَأَنَّهُ تَعَالَى
لَا يَقْدِرُ عَلَى مَقْدُورَاتِ غَيْرِهِ، بَلْ يَسْتَحِيلُ ذَلِكَ.
Perkara yang disepakati
oleh seluruh sekte Mu’tazilah adalah peniadaan seluruh sifat Alloh. Mereka
menafikan bahwasanya Alloh ﷻ memiliki Ilmu, Qudroh (kekuasaan), Hidup, Pendengaran, dan
Penglihatan. Demikian pula mereka menafikan sifat-sifat yang ditetapkan melalui
dalil naqli (sama’) seperti istiwa, nuzul (turun ke langit dunia), dan
sifat lainnya. Mereka juga sepakat bahwasanya Kalamulloh adalah perkara baru
(makhluk), keinginan-Nya (irodah) adalah baru, dan bahwasanya Dia Ta’ala
berbicara dengan perkataan yang Dia ciptakan pada selain Dzat-Nya. Mereka
beranggapan Dia berkehendak dengan keinginan yang baru tanpa tempat menetap,
dan bahwasanya Dia Ta’ala menghendaki kebalikan dari apa yang Dia
ketahui, serta menghendaki dari hamba-Nya apa yang tidak terjadi, dan terjadi
pula apa yang tidak Dia kehendaki. Menurut mereka, Dia Ta’ala tidak
mampu atas apa yang sudah ditentukan bagi selain-Nya, bahkan hal itu mustahil
bagi-Nya.
وَأَنَّهُ
لَمْ يَخْلُقْ أَفْعَالَ عَبِيدِهِ، بَلْ هُمُ الْخَالِقُونَ لَهَا دُونَ رَبِّهِمْ.
وَإِنْ كَثُرَ مَا يَتَغَذَّاهُ الْإِنْسَانُ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ إِذَا كَانَ حَرَامًا،
وَإِنَّمَا الَّذِي يَرْزُقُ اللهُ الْحَلَالَ دُونَ الْحَرَامِ، وَأَنَّ الْإِنْسَانَ
قَدْ يُقْتَلُ دُونَ أَجَلِهِ، وَالْقَاتِلُ يَقْطَعُ أَجَلَهُ قَبْلَ حِينِهِ. وَأَنَّ
مَنْ ارْتَكَبَ كَبِيرَةً مِنَ الْمُوَحِّدِينَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ كُفْرًا فَإِنَّهُ
يَخْرُجُ بِهَا مِنْ إِيمَانِهِ، وَيَخْلُدُ فِي النَّارِ أَبَدَ الْآبِدِينَ، وَتَبْطُلُ
جَمِيعُ حَسَنَاتِهِ.
Mereka berpendapat
bahwasanya Alloh tidak menciptakan perbuatan para hamba-Nya, melainkan hambalah
pencipta perbuatannya sendiri bukan Robb mereka. Mereka beranggapan jika
manusia memakan banyak asupan, maka Alloh tidaklah memberinya rizqi jika asupan
itu harom, karena menurut mereka Alloh hanyalah memberi rizqi yang halal bukan
yang harom. Mereka juga beranggapan bahwa manusia terkadang dibunuh sebelum
datang ajalnya, dan si pembunuh telah memutus ajal korban sebelum waktunya.
Mereka meyakini bahwa siapa pun dari kalangan muwahhid (orang bertauhid) yang
melakukan dosa besar meski bukan kekufuran, maka dia telah keluar dari imannya
dan kekal di dalam Naar selama-lamanya serta seluruh kebaikannya terhapus.
وَأَبْطَلُوا
شَفَاعَةَ النَّبِيِّ ﷺ لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ، وَأَكْثَرُهُمْ نَفَوْا عَذَابَ الْقَبْرِ
وَالْمِيزَانَ، وَرَأَوْا الْخُرُوجَ عَلَى السُّلْطَانِ وَتَرْكَ طَاعَتِهِ. وَأَنْكَرُوا
انْتِفَاعَ الْمَيِّتِ بِدُعَاءِ الْحَيِّ لَهُ وَالصَّدَقَةِ عَنْهُ وَوُصُولِ ثَوَابِهَا
إِلَيْهِ. وَزَعَمَتْ أَيْضًا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ لَمْ يُكَلِّمْ آدَمَ وَنُوحًا
وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى وَمُحَمَّدًا -صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ-،
وَلَا جِبْرِيلَ وَلَا مِيكَائِيلَ وَلَا إِسْرَافِيلَ وَلَا حَمَلَةَ الْعَرْشِ وَلَا
يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ مِثْلَ مَا لَا يُكَلِّمُ إِبْلِيسَ وَالْيَهُودَ وَالنَّصَارَى.
Mereka membatalkan
(mengingkari) Syafaat Nabi ﷺ bagi
pelaku dosa besar, dan mayoritas mereka menafikan adzab kubur serta Mizan
(timbangan amal). Mereka memandang bolehnya memberontak (khuruj) kepada
Sultan dan meninggalkan ketaatan kepadanya. Mereka juga mengingkari manfaat
bagi mayit dari doa orang yang hidup untuknya maupun sedekah atas namanya,
serta mengingkari sampainya pahala tersebut kepadanya. Mereka juga mengklaim
bahwasanya Alloh Subhanahu tidak pernah mengajak bicara Adam, Nuh, Ibrohim,
Musa, Isa, maupun Muhammad ﷺ, tidak
pula kepada Jibril, Mikail, Isrofil, maupun para pemikul ‘Arsy. Menurut mereka,
Alloh tidak melihat kepada mereka sebagaimana Dia tidak mengajak bicara Iblis,
kaum Yahudi, maupun Nasroni.
31.3 Perincian
Khusus Sekte-Sekte Mu’tazilah
وَأَمَّا
الَّذِي انْفَرَدَتْ بِهِ كُلُّ فِرْقَةٍ مِنْهَا: أَمَّا الْهُذَلِيَّةُ: فَقَدِ انْفَرَدَ
شَيْخُهُمْ أَبُو الْهُذَيْلِ بِأَنَّ لِلَّهِ عِلْمًا وَقُدْرَةً وَسَمْعًا وَبَصَرًا،
وَأَنَّ كَلَامَ اللهِ بَعْضُهُ مَخْلُوقٌ وَبَعْضُهُ غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَهُوَ قَوْلُهُ
تَعَالَى: ﴿كُنْ﴾. وَقَالَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ بِخِلَافِ
خَلْقِهِ، وَأَنَّ مَقْدُورَ اللهِ مُتَنَاهٍ فَيَبْقَى أَهْلُ الْجَنَّةِ لَا حَرَكَةَ
لَهُمْ، وَاللهُ تَعَالَى لَا يَقْدِرُ عَلَى تَحْرِيكِهِمْ وَلَا هُمْ يَقْدِرُونَ
عَلَى ذَلِكَ. وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمَيِّتُ وَالْمَعْدُومُ وَالْعَاجِزُ يَفْعَلُ
الْأَفْعَالَ، وَأَبَى أَنْ يَكُونَ اللهُ تَعَالَى لَمْ يَزَلْ سَمِيعًا.
Adapun perkara yang
menjadi ciri khas masing-masing sekte: Golongan Hudzaliyah, pemimpin mereka Abu
Al-Hudzail (235 H) menyendiri dengan pendapat bahwasanya Alloh memiliki Ilmu, Qudroh,
Pendengaran, dan Penglihatan (namun ia adalah Dzat-Nya sendiri). Dia
beranggapan Kalamulloh itu sebagiannya makhluk dan sebagiannya bukan makhluk,
yaitu firman-Nya Ta’ala: “Jadilah!” (QS. Yasin: 82). Dia
berkata bahwasanya Alloh Ta’ala tidaklah berbeda dengan makhluk-Nya, dan
bahwasanya apa yang berada dalam kuasa Alloh itu terbatas sehingga kelak
penduduk Jannah akan terhenti gerak-geriknya, dan Alloh Ta’ala tidak
mampu lagi menggerakkan mereka serta mereka pun tidak mampu melakukannya. Dia
membolehkan orang mati, orang yang tiada, maupun orang yang lemah untuk
mewujudkan perbuatan, serta dia enggan mengakui bahwasanya Alloh Ta’ala
senantiasa Maha Mendengar (sejak azali).
وَأَمَّا
النِّظَامِيَّةُ: فَكَانَ شَيْخُهُمْ النِّظَامُ يَقُولُ: إِنَّ الْجَمَادَاتِ تَفْعَلُ
بِإِيجَابِ الْخِلْقَةِ. وَكَانَ يَنْفِي الْأَعْرَاضَ إِلَّا الْحَرَكَةَ الِاعْتِمَادِيَّةَ،
وَيَقُولُ: إِنَّ الْإِنْسَانَ هُوَ الرُّوحُ، وَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يَرَ النَّبِيَّ
ﷺ، وَإِنَّمَا رَأَى ظَرْفَهُ يَعْنِي جِسْمَهُ. وَخَرَقَ الْإِجْمَاعَ فَقَالَ: مَنْ
تَرَكَ الصَّلَاةَ عَامِدًا ذَاكِرًا فَلَا إِعَادَةَ عَلَيْهِ. وَكَانَ يَنْفِي إِجْمَاعَ
الْأُمَّةِ، وَيُجَوِّزُ اجْتِمَاعَهَا عَلَى بَاطِلٍ، وَيَقُولُ: إِنَّ الْإِيمَانَ
مِثْلُ الْكُفْرِ، وَالطَّاعَةَ كَالْمَعْصِيَةِ وَفِعْلَ النَّبِيِّ ﷺ كَفِعْلِ إِبْلِيسَ
اللَّعِينِ وَأَنَّ سِيرَةَ عُمَرَ وَعَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- كَسِيرَةِ الْحَجَّاجِ.
Adapun Nizhzhomiyah,
pemimpin mereka An-Nizhzham (221 H) berkata: “Sesungguhnya benda mati
melakukan perbuatan karena tuntutan penciptaannya.” Dia menafikan adanya
sifat benda (‘arodh) kecuali gerak yang bersifat dorongan (i’timad),
dan dia berkata: “Manusia itu hanyalah Ruh saja, dan sesungguhnya tidak ada
seorang pun yang pernah melihat Nabi ﷺ, melainkan mereka hanya melihat wadah beliau yakni jasadnya.” Dia merusak ijma’ dengan perkataannya: “Barang
siapa meninggalkan Sholat secara sengaja dalam keadaan sadar maka tidak ada
kewajiban mengganti (qodho’) baginya.” Dia juga mengingkari ijma’ umat dan
membolehkan kesepakatan umat di atas kebatilan. Bahkan dia berkata bahwasanya
Iman itu semisal dengan kufur, ketaatan semisal maksiat, perbuatan Nabi ﷺ semisal perbuatan Iblis yang terlaknat,
dan bahwasanya perjalanan hidup Umar dan Ali rodhiyallahu ‘anhuma
semisal dengan perjalanan hidup Al-Hajjaj.
وَإِنَّمَا
الْتَزَمَ ذَلِكَ وَرَكِبَهُ لِأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِنَّ الْحَيَوَانَ كُلَّهُ جِنْسٌ
وَاحِدٌ. وَزَعَمَ أَنَّ الْقُرْآنَ لَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي نَظْمِهِ، وَأَنَّ اللهَ
تَعَالَى لَيْسَ بِقَادِرٍ عَلَى تَحْرِيقِ الطِّفْلِ وَلَوْ كَانَ عَلَى شَفِيرِ جَهَنَّمَ،
وَلَا عَلَى طَرْحِهِ فِيهَا. وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ قَالَ بِالْكُفْرِ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ،
وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ الْجِسْمَ يَتَجَزَّأُ إِلَى مَا لَا غَايَةَ لَهُ. وَكَانَ
يَقُولُ: إِنَّ الْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبَ وَالْخَنَافِسَ فِي الْجَنَّةِ، وَكَذَلِكَ
الْكِلَابُ وَالْخَنَازِيرُ فِي الْجَنَّةِ.
Dia berpegang teguh pada
hal itu karena dia berpendapat bahwasanya seluruh hewan adalah satu jenis. Dia
mengklaim bahwasanya Al-Qur’an bukanlah mu’jizat dalam susunannya (nadzm),
dan bahwasanya Alloh Ta’ala tidak mampu membakar anak kecil meskipun ia
berada di tepi Jahannam, tidak pula mampu melemparkannya ke dalam sana. Dialah
orang pertama yang berpendapat dengan kekufuran dari kalangan Ahli Qiblat. Dia
juga berkata bahwasanya jasad (materi) itu dapat terbagi-bagi menjadi bagian
yang tidak ada ujungnya. Bahkan dia berkata bahwasanya ular, kalajengking, dan
kumbang berada di Jannah, demikian pula anjing dan babi berada di Jannah.
أَمَّا الْمَعْمَرِيَّةُ:
فَكَانَ شَيْخُهُمْ مَعْمَرٌ يَقُولُ بِقَوْلِ أَهْلِ الطَّبَائِعِ وَيَتَجَاوَزُ وَيَزْعُمُ
أَنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يَخْلُقْ لَوْنًا وَلَا طَعْمًا وَلَا رَائِحَةَ وَلَا مَوْتًا
وَلَا حَيَاةً، وَلِأَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ فِعْلُ الْجِسْمِ بِطَبْعِهِ. وَكَانَ يَقُولُ
إِنَّ الْقُرْآنَ فِعْلُ الْأَجْسَامِ، وَلَيْسَ هُوَ بِفِعْلِ اللهِ تَعَالَى. وَأَنْكَر
أَنْ يَكُونَ اللهُ تَعَالَى قَدِيمًا -تَبًّا لَهُ وَأَبْعَدَهُ اللهُ تَعَالَى مَعَ
هَذِهِ الْمَقَالَةِ-.
Adapun Ma’mariyah,
pemimpin mereka Ma’mar (228 H) berpegang pada pendapat kaum filsuf alam (ahlut
thoba’i’) dan melampaui batas dengan mengklaim bahwasanya Alloh Ta’ala
tidak menciptakan warna, rasa, aroma, kematian, maupun kehidupan; karena
menurutnya semua itu adalah perbuatan jasad sesuai karakternya. Dia juga
berkata bahwasanya Al-Qur’an adalah perbuatan jasad-jasad dan bukan perbuatan
Alloh Ta’ala. Dia juga mengingkari bahwasanya Alloh Ta’ala itu
bersifat Qodim; binasalah dia dan semoga Alloh Ta’ala menjauhkannya
bersama pendapatnya ini.
أَمَّا الْجُبَّائِيَّةُ:
فَكَانَ شَيْخُهُمُ الْجُبَّائِيُّ، خَرَقَ الْإِجْمَاعَ وَشَذَّ عَنْهُ فِي أَشْيَاءَ
مِنْهَا: أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: إِنَّ الْعِبَادَ خَالِقُونَ لِأَفْعَالِهِمْ وَلَمْ
يَسْبِقْهُ إِلَى هَذِهِ الْمَقَالَةِ أَحَدٌ. وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى
أَحْبَلَ نِسَاءَ الْعَالَمِينَ بِخَلْقِهِ الْحَبَلَ فِيهِنَّ. وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ
اللهَ مُطِيعٌ لِعِبَادِهِ إِذَا فَعَلَ مَا أَرَادَهُ. وَقَالَ مَنْ حَلَفَ أَنْ يُعْطِيَ
غَرِيمَهُ حَقَّهُ غَدًا وَاسْتَثْنَى فِي ذَلِكَ بِقَوْلِ إِنْ شَاءَ اللهُ لَمْ يَنْفَعْهُ
الِاسْتِثْنَاءُ، فَإِذَا لَمْ يُعْطِ حَنِثَ. وَكَانَ يَقُولُ مَنْ سَرَقَ خَمْسَةَ
دَرَاهِمَ كَانَ فَاسِقًا، وَإِنْ نَقَصَتْ مِنْهُ حَبَّةٌ لَمْ يَفْسِقْ.
Adapun Jubba’iyah,
pemimpin mereka Al-Jubba’i (303 H) telah merusak ijma’ dan menyimpang darinya
dalam beberapa perkara, di antaranya: dia berkata bahwasanya para hamba adalah
pencipta bagi perbuatan mereka sendiri, dan tidak ada seorang pun sebelum dia
yang berpendapat demikian. Dia berkata bahwasanya Alloh Ta’ala
menghamili wanita-wanita di alam semesta dengan cara menciptakan janin di dalam
rahim mereka. Dia juga berkata bahwasanya Alloh itu taat kepada hamba-Nya jika
Dia melakukan apa yang diinginkan hamba-Nya. Dia berkata barang siapa bersumpah
akan membayar hutang kepada penagihnya besok lalu dia mengecualikannya dengan
ucapan “In syaa Alloh”, maka pengecualian (istitsna) itu tidak
bermanfaat baginya, jika dia tidak memberi maka dia melanggar sumpah. Dia juga
berkata barang siapa mencuri 5 dirham maka dia fasik, namun jika kurang satu
biji saja darinya maka dia tidak menjadi fasik.
وَأَمَّا
الْبَهْشَمِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى أَبِي هَاشِمِ بْنِ الْجُبَّائِيِّ. وَكَانَ
أَبُو هَاشِمٍ يُجَوِّزُ أَنْ يَكُونَ الْمُكَلَّفُ قَادِرًا، وَهُوَ لَا يَكُونُ فَاعِلًا
وَلَا تَارِكًا، فَيُعَاقِبُهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى فِعْلِهِ. وَكَانَ يَقُولُ: مَنْ
تَابَ مِنْ سَائِرِ الذُّنُوبِ إِلَّا ذَنْبًا وَاحِدًا لَمْ تَصِحَّ تَوْبَتُهُ فِيمَا
تَابَ مِنْهُ.
Adapun Bahsyamiyah
dinisbatkan kepada Abu Hasyim bin Al-Jubba’i (321 H). Abu Hasyim membolehkan
adanya seorang mukallaf yang mampu namun dia bukanlah pelaku dan bukan pula
yang meninggalkan perbuatan, namun Alloh Ta’ala tetap menyiksanya atas
perbuatan tersebut. Dia juga berkata: “Barang siapa bertaubat dari seluruh
dosa kecuali satu dosa saja, maka tidak sah taubatnya pada apa yang telah dia
taubati tersebut.”
وَأَمَّا
الْكَعْبِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى أَبِي الْقَاسِمِ الْكَعْبِيِّ وَكَانَ بَغْدَادِيَّ
الْمَذْهَبِ. فَأَنْكَرَ أَنْ يَكُونَ اللهُ سَمِيعًا بَصِيرًا، وَأَنْ يَكُونَ مُرِيدًا
بِالْحَقِيقَةِ، وَإِنَّ إِرَادَةَ اللهِ تَعَالَى مِنْ فِعْلِ عِبَادِهِ هِيَ الْأَمْرُ
بِهِ، وَإِرَادَتُهُ مِنْ فِعْلِ نَفْسِهِ فِعْلُهُ، وَزَعَمَ أَنَّ الْعَالَمَ كُلَّهُ
مَلَأٌ، وَأَنَّ الْمُتَحَرِّكَ إِنَّمَا هُوَ الصَّفْحَةُ الْأُولَى مِنَ الْأَجْسَامِ،
وَأَنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ تَدَهَّنَ بِدُهْنٍ وَمَشَى لَمْ يَكُنِ الْمُتَحَرِّكَ،
وَإِنَّمَا الدُّهْنُ هُوَ الْمُتَحَرِّكُ. وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ الْقُرْآنَ مُحْدَثٌ
وَلَا يَقُولُ مَخْلُوقٌ.
Adapun Ka’biyah
dinisbatkan kepada Abu Al-Qoshim Al-Ka’bi (319 H) yang bermazhab
Baghdadi. Dia mengingkari bahwasanya Alloh itu Maha Mendengar lagi Maha
Melihat, serta mengingkari bahwasanya Alloh memiliki keinginan (irodah)
secara hakiki. Menurutnya keinginan Alloh terhadap perbuatan hamba-Nya hanyalah
berupa perintah untuk melakukannya, sedangkan keinginan terhadap perbuatan-Nya
sendiri adalah perbuatan-Nya itu sendiri. Dia mengklaim bahwasanya alam semesta
ini seluruhnya padat (penuh), dan bahwasanya yang bergerak hanyalah lapisan
pertama dari jasad-jasad. Dia juga beranggapan jika manusia memakai minyak lalu
berjalan, maka bukan manusianya yang bergerak melainkan minyak itulah yang
bergerak. Dia berkata bahwasanya Al-Qur’an adalah perkara baru (muhdats)
namun tidak mau menyebutnya sebagai makhluk.
Bab 32: Golongan
Musyabbihah, Jahmiyah, Dhiroriyah, Najjariyah, dan Kullabiyah
32.1 Golongan
Musyabbihah dan Keyakinan Tasybih Mereka
(فَصْلٌ)
فِي ذِكْرِ مَقَالَةِ الْمُشَبِّهَةِ، فَهُمْ ثَلَاثُ فِرَقٍ: الْهِشَامِيَّةُ، الْمُقَاتِلِيَّةُ،
الْوَاسِمِيَّةُ. وَالَّذِي اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ الْفِرَقُ الثَّلَاثُ إِنَّ اللهَ
جِسْمٌ، وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَعْقِلَ الْمَوْجُودَ إِلَّا جِسْمًا، وَالَّذِي
غَلَبَ عَلَيْهِمُ التَّشْبِيهُ فِرَقُ الرَّاوَافِضِ وَالْكَرَّامِيَّةِ. وَالَّذِي
أَلَّفَ كُتُبَهُمْ: هِشَامُ بْنُ الْحَكَمِ، وَلَهُ كِتَابٌ فِي إِثْبَاتِ الْجِسْمِ.
(Fashl) Mengenai penjelasan pendapat golongan Musyabbihah
(penyerupa Alloh dengan makhluk), mereka terdiri dari 3 golongan: Hisyamiyah,
Muqotiliyah, dan Wasimiyah. Perkara yang disepakati oleh ketiga golongan
tersebut adalah bahwasanya Alloh adalah jasad (tubuh), dan bahwasanya akal
tidak mungkin memahami sesuatu yang ada (maujud) kecuali ia berbentuk jasad.
Kelompok yang paling didominasi oleh paham tasybih (penyerupaan) adalah
sekte-sekte Rofidhoh dan Karromiyah. Orang yang menyusun kitab-kitab mereka
adalah Hisyam bin Al-Hakam, dan dia memiliki kitab mengenai penetapan sifat
jasad bagi Tuhan.
أَمَّا الْهِشَامِيَّةُ:
فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى هِشَامِ بْنِ الْحَكَمِ زَعَمَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى جِسْمٌ طَوِيلٌ
عَرِيضٌ عَمِيقٌ نُورٌ سَاطِعٌ لَهُ قَدْرٌ مِنَ الْأَقْدَارِ كَالسَّبِيكَةِ الصَّافِيَةِ
يَتَحَرَّكُ وَيَسْكُنُ وَيَقُومُ وَيَقْعُدُ. وَحُكَى عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أَحْسَنُ
الْأَقْدَارِ أَنْ يَكُونَ سَبْعَةَ أَشْبَارٍ، وَقِيلَ لَهُ: رَبُّكَ أَعْظَمُ أَمْ
أُحُدٌ؟ فَقَالَ رَبِّي أَعْظَمُ. أَمَّا الْمُقَاتِلِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى مُقَاتِلِ
بْنِ سُلَيْمَانَ حُكَى عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى جِسْمٌ، وَإِنَّهُ
جُثَّةٌ عَلَى صُورَةِ الْإِنْسَانِ لَحْمٌ وَدَمٌ وَلَهُ جَوَارِحُ وَأَعْضَاءٌ مِنْ
رَأْسٍ وَلِسَانٍ وَعُنُقٍ. وَإِنَّهُ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ لَا يُشْبِهُ الْأَشْيَاءَ،
وَالْأَشْيَاءُ لَا تُشْبِهُهُ.
Adapun Hisyamiyah
dinisbatkan kepada Hisyam bin Al-Hakam, dia mengklaim bahwasanya Alloh Ta’ala
adalah jasad yang panjang, lebar, dan tebal, berupa cahaya yang terpancar dan
memiliki ukuran tertentu seperti lempengan logam murni yang bergerak, diam,
berdiri, maupun duduk. Diceritakan darinya bahwasanya dia berkata: “Ukuran
yang paling ideal adalah 7 jengkal”, lalu dikatakan kepadanya: “Apakah
Robb-mu lebih besar ataukah Gunung Uhud?”, maka dia menjawab: “Robb-ku
lebih besar.”
Adapun Muqotiliyah
dinisbatkan kepada Muqoatil bin Sulaiman (150 H), diceritakan darinya
bahwasanya dia berkata: “Sesungguhnya Alloh Ta’ala adalah jasad, dan
bahwasanya Dia adalah raga dalam rupa manusia yang terdiri dari daging dan
darah, serta memiliki anggota tubuh dan panca indra berupa kepala, lisan, dan
leher.” Namun dia beranggapan dalam semua itu Dia tidak menyerupai segala
sesuatu dan segala sesuatu tidak menyerupai-Nya.
32.2 Golongan
Jahmiyah, Dhiroriyah, Najjariyah, dan Kullabiyah
(فَصْلٌ)
فِي ذِكْرِ مَقَالَةِ الْجَهْمِيَّةِ: تَفَرَّدَ جَهْمُ بْنُ صَفْوَانَ بِأَنَّ الْإِنْسَانَ
إِنَّمَا يُنْسَبُ إِلَيْهِ مَا يَظْهَرُ مِنْهُ عَلَى الْمَجَازِ لَا عَلَى الْحَقِيقَةِ،
كَمَا يُقَالُ: طَالَتِ النَّخْلَةُ وَأَدْرَكَتِ الثَّمَرَةُ. وَكَانَ يَأْبَى أَنْ
يَقُولَ: (إِنَّ اللهَ شَيْءٌ وَيَقُولُ يَحْدُثُ عِلْمُ اللهِ وَيَمْتَنِعُ أَنْ يَقُولَ)،
إِنَّ اللهَ كَانَ عَالِمًا بِالْأَشْيَاءِ قَبْلَ كَوْنِهَا، وَيَقُولُ: إِنَّ الْجَنَّةَ
وَالنَّارَ تَفْنَيَانِ وَيَنْفِي الصِّفَاتِ. وَكَانَ مَذْهَبُ جَهْمٍ بِتِرْمِذَ
وَهُوَ بَلَدٌ، وَقِيلَ بِمَرْوَ، وَلَهُ تَآلِيفُ فِي نَفْيِ الصِّفَاتِ، قَتَلَهُ
مُسْلِمُ بْنُ أَحْوَرَ الْمَازِنِيُّ.
(Fashl) Mengenai penjelasan pendapat golongan Jahmiyah:
Jahm bin Shofwan (128 H) menyendiri dengan pendapat bahwasanya manusia hanyalah
dinisbatkan perbuatannya secara kiasan (majas) bukan hakiki, seperti
ucapan: “pohon kurma itu tinggi” atau “buah itu sudah matang.”
Dia enggan untuk mengatakan bahwasanya Alloh adalah “Sesuatu”, dan dia
berkata Ilmu Alloh itu baru terjadi serta enggan mengatakan bahwasanya Alloh
Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum keberadaannya. Dia juga berkata
bahwasanya Jannah dan Naar akan sirna (fana) serta dia menafikan seluruh sifat
Alloh. Madzhab Jahm ini berkembang di Tirmidz (sebuah negeri) dan dikatakan
pula di Marwa, dia memiliki karya tulis mengenai peniadaan sifat-sifat Tuhan,
hingga akhirnya dia dibunuh oleh Muslim bin Ahwar Al-Mazini.
وَمِنْهُمُ
الضِّرَارِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى ضِرَارِ بْنِ عَمْرٍو، وَكَانَ يَقُولُ ضِرَارٌ
إِنَّ الْأَجْسَامَ أَعْرَاضٌ مُجْتَمِعَةٌ، وَجَوَّزَ أَنْ تَنْقَلِبَ الْأَعْرَاضُ
أَجْسَامًا، وَأَنَّ الِاسْتِطَاعَةَ بَعْضُ الْمُسْتَطِيعِ وَهِيَ قَبْلَ الْفِعْلِ
وَمَعَ الْفِعْلِ، وَأَنْكَرَ قِرَاءَةَ ابْنِ مَسْعُودٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ -رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ-.
Di antara mereka adalah Dhiroriyah
yang dinisbatkan kepada Dhiror bin ‘Amr (200 H). Dhiror berkata
bahwasanya jasad-jasad itu adalah kumpulan dari sifat-sifat benda (‘arodh),
dan dia membolehkan sifat benda berubah menjadi jasad. Dia berpendapat
bahwasanya kemampuan (istitho’ah) adalah bagian dari orang yang mampu
dan ia ada sebelum perbuatan serta menyertai perbuatan. Dia juga mengingkari qiro-ah
(bacaan Al-Qur’an) dari Ibnu Mas’ud (32 H) dan Ubay bin Ka’ab (30 H) rodhiyallahu
‘anhu.
وَأَمَّا
النَّجَّارِيَّةُ: فَهِيَ مَنْسُوبَةٌ إِلَى الْحُسَيْنِ بْنِ مُحَمَّدٍ النَّجَّارِ
كَانَ يُثْبِتُ فِعْلَ الْفَاعِلِينَ بِالْحَقِيقَةِ لِلَّهِ وَلِلْعَبْدِ. وَكَانَ
يَقُولُ بِنَفْيِ الصِّفَاتِ، وَقَالَ بِقَوْلِ الْمُعْتَزِلَةِ فِي نَفْيِ الصِّفَاتِ،
إِلَّا فِي نَفْيِ الْإِرَادَةِ، فَإِنَّهُ أَثْبَتَ أَنَّ الْقَدِيمَ مُرِيدٌ لِنَفْسِهِ.
وَكَانَ يَقُولُ بِخَلْقِ الْقُرْآنِ، وَيَقُولُ إِنَّ اللهَ مُرِيدٌ عَلَى مَعْنَى
أَنَّهُ لَيْسَ بِمَقْهُورٍ وَلَا مَغْلُوبٍ، وَإِنَّ اللهَ مُتَكَلِّمٌ بِمَعْنَى
أَنَّهُ لَيْسَ بِعَاجِزٍ عَنِ الْكَلَامِ، وَأَنَّهُ لَمْ يَزَلْ جَوَادًا بِمَعْنَى
نَفْيِ الْبُخْلِ عَنْهُ. وَمَذْهَبُهُ مُوَافِقٌ لِمَذْهَبِ ابْنِ عَوْنٍ وَابْنِ
يُوسُفَ الرَّازِيِّ، وَأَكْثَرُ مَا يَكُونُ مَذْهَبُهُ بِقَاشَانَ.
Adapun Najjariyah
dinisbatkan kepada Al-Husain bin Muhammad An-Najjar (230 H), dia
menetapkan perbuatan para pelaku secara hakiki bagi Alloh dan bagi hamba. Dia
berpendapat dengan peniadaan sifat-sifat Tuhan, mengikuti pendapat Mu’tazilah
dalam hal itu kecuali dalam peniadaan irodah (keinginan), karena dia
menetapkan bahwasanya Dzat Yang Qodim itu berkehendak bagi diri-Nya sendiri.
Dia berkata bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, dan berkata Alloh itu
berkehendak dengan makna bahwasanya Dia tidak dipaksa dan tidak dikalahkan.
Menurutnya Alloh itu Berbicara dengan makna bahwasanya Dia tidak lemah dari
berbicara, dan bahwasanya Dia senantiasa Dermawan dengan makna menafikan sifat
bakhil dari-Nya. Madzhabnya sesuai dengan madzhab Ibnu ‘Aun dan Ibnu Yusuf Ar-Rozi,
serta paling banyak tersebar di Qosyan.
وَأَمَّا
الْكُلَّابِيَّةُ: فَمَنْسُوبَةٌ إِلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ كُلَّابٍ، وَكَانَ يَقُولُ
صِفَاتُ اللهِ لَيْسَتْ بِقَدِيمَةٍ وَلَا مُحْدَثَةٍ، وَكَانَ يَقُولُ: لَا أَقُولُ
صِفَاتُهُ هِيَ هُوَ، وَلَا هِيَ غَيْرُهُ، وَإِنَّ مَعْنَى الِاسْتِوَاءِ نَفْيُ الِاعْوِجَاجِ
فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾ وَإِنَّ اللهَ لَمْ يَزَلْ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ
مِنْ قَبْلُ وَأَنْ لَا مَكَانَ لَهُ، وَنَفَى أَنْ يَكُونَ الْقُرْآنُ حُرُوفًا.
Adapun Kullabiyah
dinisbatkan kepada Abdullah bin Kullab (241 H). Dia dahulu berkata
bahwasanya sifat-sifat Alloh itu tidak Qodim (terdahulu tanpa awal) dan tidak
pula baru (makhluk). Dia berkata: “Aku tidak mengatakan sifat-sifat-Nya
adalah Dzat-Nya, tidak pula ia selain Dzat-Nya.” Menurutnya makna istiwa
adalah peniadaan kebengkokan dalam firman-Nya Ta’ala: “Ar-Rohman
beristiwa di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha: 5). Dia beranggapan bahwasanya
Alloh senantiasa berada dalam keadaan sebagaimana keberadaan-Nya sebelum
penciptaan makhluk serta bahwasanya tidak ada tempat bagi-Nya, dan dia
menafikan bahwasanya Al-Qur’an terdiri dari huruf-huruf.
Bab 33:
Penjelasan Mengenai Golongan Salimiyah
33.1 Aqidah
Sesat Salimiyah Mengenai Ru’yatulloh dan Takdir
(فَصْلٌ)
فِي ذِكْرِ مَقَالَةِ السَّالِمِيَّةِ: وَهِيَ مَنْسُوبَةٌ إِلَى ابْنِ سَالِمٍ. مِنْ
قَوْلِهِمْ إِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ يُرَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ
مُحَمَّدِيٍّ، وَإِنَّهُ -عَزَّ وَجَلَّ- يَتَجَلَّى لِسَائِرِ الْخَلْقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْحَيَوَانِ أَجْمَعَ لِكُلِّ وَاحِدٍ
فِي مَعْنَاهُ،
وَفِي كِتَابِ
اللهِ تَكْذِيبُهُمْ، وَهُوَ فِي قَوْلِهِ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾.
(Fashl) Mengenai penjelasan pendapat golongan Salimiyah:
Kelompok ini dinisbatkan kepada Ibnu Salim (350 H). Di antara pendapat
mereka adalah bahwasanya Alloh Subhanahu dapat dilihat pada hari Qiyamah
dalam rupa manusia yang menyerupai Muhammad ﷺ. Mereka
mengklaim bahwasanya Alloh ﷻ menampakkan diri (tajalli) kepada seluruh makhluk pada
hari Qiyamah baik dari kalangan jin, manusia, Malaikat, maupun seluruh hewan,
di mana masing-masing melihat-Nya sesuai persepsinya.
Kitabulloh mendustakan
ucapan mereka, yaitu dalam firman-Nya ﷻ: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa
dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro:
11).
وَمِنْ قَوْلِهِمْ
إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى سِرًّا لَوْ أَظْهَرَهُ لَبَطَلَ التَّدْبِيرُ، وَلِلْأَنْبِيَاءِ
سِرًّا لَوْ أَظْهَرُوهُ لَبَطَلَتِ النُّبُوَّةُ، وَلِلْعُلَمَاءِ سِرًّا لَوْ أَظْهَرُوهُ
لَبَطَلَ الْعِلْمُ. وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى حَكِيمٌ وَتَدْبِيرُهُ
مُحْكَمٌ لَا يَتَطَرَّقُ نَحْوَهُ الْبُطْلَانُ وَالْفَسَادُ، وَمَا ذَكَرُوهُ يُؤَدِّي
إِلَى إِبْطَالِ حِكْمَتِهِ تَعَالَى وَهَذَا كُفْرٌ. وَمِنْ قَوْلِهِمْ إِنَّ الْكُفَّارَ
يَرَوْنَ اللهَ تَعَالَى فِي الْآخِرَةِ وَيُحَاسِبُهُمْ.
Di antara pendapat mereka
adalah bahwasanya Alloh Ta’ala memiliki rahasia yang jika Dia
menampakkannya niscaya akan batal segala pengaturan alam (tadbir), para
Nabi pun memiliki rahasia yang jika mereka tampakkan niscaya akan batal
kenabian, dan para ulama memiliki rahasia yang jika mereka tampakkan niscaya
akan batal ilmu. Pendapat ini adalah rusak, karena Alloh Ta’ala Maha
Bijaksana (Hakim) dan pengaturan-Nya sangat kokoh sehingga tidak mungkin
tersentuh oleh pembatalan maupun kerusakan. Apa yang mereka sebutkan itu justru
membawa pada pembatalan hikmah Alloh Ta’ala dan ini adalah kekufuran. Di
antara pendapat mereka pula adalah bahwasanya orang-orang kafir melihat Alloh Ta’ala
di Akhiroh dan Dia menghisab mereka.
33.2 Kebohongan
Salimiyah atas Nama Para Nabi dan Al-Qur’an
وَمِنْ قَوْلِهِمْ
إِنَّ إِبْلِيسَ سَجَدَ لِآدَمَ فِي الثَّانِيَةِ، وَفِي الْقُرْآنِ تَكْذِيبُهُمْ،
وَهُوَ قَوْلُ اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ
مِنَ الْكَافِرِينَ﴾، وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ﴾.
وَمِنْ قَوْلِهِمْ:
إِنَّ إِبْلِيسَ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَفِي الْقُرْآنِ تَكْذِيبُهُمْ، وَهُوَ قَوْلُهُ
تَعَالَى: ﴿فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ﴾.
وَمِنْ قَوْلِهِمْ:
إِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يَجِيءُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَلَا يَبْرَحُ مِنْ مَكَانِهِ.
Di antara pendapat mereka
adalah bahwasanya Iblis bersujud kepada Adam pada kali yang kedua. Di dalam
Al-Qur’an terdapat pendustaan atas mereka, yaitu firman Alloh ﷻ: “Kecuali Iblis; ia enggan dan takabur
dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS.
Al-Baqoroh: 34), serta firman-Nya Ta’ala: “Kecuali Iblis; dia
tidak termasuk orang-orang yang sujud.” (QS. Al-A’rof: 11).
Di antara pendapat mereka
pula: sesungguhnya Iblis tidak pernah masuk Jannah, padahal di dalam Al-Qur’an
terdapat pendustaan atas mereka, yaitu firman-Nya Ta’ala: “Maka
keluarlah darinya (Jannah), karena sesungguhnya kamu adalah makhluk yang
terkutuk.” (QS. Al-Hijr: 34).
Di antara pendapat mereka
pula: sesungguhnya Jibril dahulu mendatangi Nabi ﷺ namun dia tidak pernah berpindah dari
tempatnya.
وَمِنْ قَوْلِهِمْ
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَمَّا كَلَّمَ مُوسَى -عَلَيْهِ السَّلَامُ- أَعْجَبَ مُوسَى
بِنَفْسِهِ، فَأَوْحَى اللهُ إِلَيْهِ يَا مُوسَى أَتُعْجِبُكَ نَفْسُكَ، مُدَّ عَيْنَيْكَ،
فَمَدَّ مُوسَى عَيْنَيْهِ فَنَظَرَ فَإِذَا مِائَةُ طُورٍ، عَلَى كُلِّ طُورٍ مُوسَى.
وَهَذَا مُنْكَرٌ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ وَأَصْحَابِ الْحَدِيثِ، وَقَدْ أَوْعَدَ
النَّبِيُّ ﷺ مَنْ كَذَبَ عَلَيْهِ فَقَالَ: «مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا
فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ».
Di antara pendapat mereka
adalah bahwasanya Alloh Ta’ala ketika mengajak bicara Musa ‘alaihis
salam, maka Musa merasa kagum terhadap dirinya sendiri. Lalu Alloh
mewahyukan kepadanya: “Wahai Musa, apakah engkau kagum pada dirimu?
Luaskanlah pandanganmu”, maka Musa meluaskan pandangannya dan melihat
ternyata ada 100 gunung Thur, dan di setiap gunung Thur itu ada Musa. Ini
adalah perkara munkar di sisi ahli naqli dan Ash-habul Hadits, dan sungguh Nabi
ﷺ telah mengancam siapa pun yang berdusta
atas namanya, beliau bersabda: “Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku
maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di Naar.”
وَمِنْ قَوْلِهِمْ
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُرِيدُ مِنَ الْعِبَادِ الطَّاعَاتِ وَلَا يُرِيدُ مِنْهُمُ
الْمَعَاصِيَ، وَإِنَّهُ -عَزَّ وَجَلَّ- أَرَادَهَا بِهِمْ لَا مِنْهُمْ. وَهَذَا
بَاطِلٌ مِنْهُمْ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: ﴿وَمَنْ يُرِدِ اللهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ
لَهُ مِنَ اللهِ شَيْئًا﴾ يَعْنِي كُفْرَهُ، وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ﴾، ﴿وَلَوْ شَاءَ اللهُ مَا فَعَلُوهُ﴾، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَوْ شَاءَ اللهُ مَا اقْتَتَلُوا﴾.
Di antara pendapat mereka
adalah bahwasanya Alloh Ta’ala menghendaki ketaatan dari para hamba dan
tidak menghendaki kemaksiatan dari mereka, serta bahwasanya Dia ﷻ menghendaki (kemaksiatan) itu menimpa
mereka namun bukan berasal dari keinginan-Nya. Ini adalah kebatilan dari
mereka, karena Alloh Ta’ala berfirman: “Barang siapa yang Alloh
menghendaki fitnahnya (kesesatannya), maka kamu sekali-kali tidak akan mampu
menolak sesuatu pun (yang datang) dari Alloh.” (QS. Al-Ma’idah: 41)
maksudnya adalah kekufurannya.
Alloh Ta’ala juga
berfirman: “Dan jikalau Robb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak
mengerjakannya.” (QS. Al-An’am: 112),
“Jikalau
Alloh menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya.” (QS. Al-An’am: 137), serta firman-Nya Ta’ala:
“Dan kalau Alloh menghendaki, niscaya mereka tidak berbunuh-bunuhan.” (QS.
Al-Baqoroh: 253).
وَمِنْ قَوْلِهِمْ
إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَحْفَظُ الْقُرْآنَ قَبْلَ النُّبُوَّةِ وَقَبْلَ أَنْ يَأْتِيَهُ
جِبْرِيلُ -عَلَيْهِ السَّلَامُ-. وَفِي الْقُرْآنِ تَكْذِيبُهُمْ، وَهُوَ قَوْلُهُ
تَعَالَى: ﴿مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ﴾، وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ
وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ﴾.
وَمِنْ قَوْلِهِمْ:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقْرَأُ عَلَى لِسَانِ كُلِّ قَارِئٍ، وَإِنَّهُمْ إِذَا سَمِعُوا
الْقُرْآنَ مِنْ قَارِئٍ فَإِنَّمَا يَسْمَعُونَهُ مِنَ اللهِ. وَهَذَا الْقَوْلُ يُفْضِي
إِلَى الْحُلُولِ، نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ ذَلِكَ، وَيُؤَدِّي إِلَى أَنَّ اللهَ تَعَالَى
يَلْحَنُ وَيَغْلَطُ، وَهَذَا كُفْرٌ.
وَمِنْ قَوْلِهِمْ:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَلَا فَرْقَ بَيْنَ الْعَرْشِ وَغَيْرِهِ
مِنَ الْأَمْكِنَةِ.
Di antara pendapat mereka
adalah bahwasanya Nabi ﷺ sudah
menghafal Al-Qur’an sebelum masa kenabian dan sebelum Jibril ‘alaihis salam
mendatanginya. Di dalam Al-Qur’an terdapat pendustaan atas mereka, yaitu
firman-Nya Ta’ala: “Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah
Al-Kitab itu dan tidak pula mengetahui apakah Iman itu.” (QS. Asy-Syuro:
52), serta firman-Nya Ta’ala: “Dan kamu tidak pernah membaca
sebelumnya sesuatu Kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu Kitab dengan
tangan kananmu.” (QS. Al-Ankabut: 48).
Di antara pendapat mereka
pula: sesungguhnya Alloh Ta’ala membaca melalui lisan setiap pembaca,
dan jika mereka mendengar Al-Qur’an dari seorang qori (pembaca) maka
sesungguhnya mereka sedang mendengarnya langsung dari Alloh. Pendapat ini
membawa pada paham manunggalnya Tuhan dengan makhluk (hulul), kami
berlindung kepada Alloh dari hal itu. Ia juga berujung pada anggapan bahwasanya
Alloh Ta’ala bisa salah dalam dialek (lahn) maupun keliru, dan
ini adalah kekufuran.
Di antara pendapat mereka
pula: sesungguhnya Alloh Ta’ala berada di setiap tempat, dan tidak ada
perbedaan antara ‘Arsy dengan tempat-tempat lainnya.[NK]
.jpg)