Cari Ebook

[PDF] Empat Madzhab Mengkritik Asya’iroh - Firos bin Muhammad Ar-Rifa'i

 


Rekomendasi Syaikh As-Suhaimi

Segala puji bagi Alloh semata, dan semoga sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para Shohabat beliau.

Amma ba’du:

Saya telah membaca penelitian yang diajukan oleh saudara, seorang Syaikh, Firos bin Muhammad Said Jandal Ar-Rifa’i, yang berjudul “Taubatnya Tokoh-Tokoh Utama Asya’iroh”, yang kemudian diikuti dengan lampiran ringkas “Empat Madzhab Mengkritik Asya’iroh.”

Saya mendapati karya ini sebagai sebuah penelitian yang sangat bagus lagi bermanfaat, yang memiliki keunggulan dalam hal otentisitas rujukan, ketepatan informasi beserta pendasaran teoritisnya, keindahan gaya bahasa, keselamatan tutur kata, serta kebagusan dalam pengorganisasian maupun penyusunan. Saya menilai bahwa ini adalah sebuah penelitian yang sangat berharga, layak untuk diterbitkan, dan mendatangkan manfaat bagi kaum Muslimin secara umum, khususnya bagi para penuntut ilmu.

Semoga Alloh membalas peneliti dengan kebaikan atas usahanya dalam menyusun penelitian ini, dan menjadikannya bermanfaat bagi Islam beserta kaum Muslimin.

Semoga sholawat, salam, dan berkah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para Shohabat beliau seluruhnya.

Dikte ini disampaikan oleh seorang yang faqir yang mengharapkan ampunan Robbnya,

Sholih bin Sa’ad As-Suhaimi

Pada tanggal 8 Romadhon 1443 H.

 

Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Akhir yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa, dan tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang zholim.

Semoga sholawat, salam, dan berkah senantiasa tercurah kepada makhluk Alloh yang terbaik secara keseluruhan, juga kepada keluarga, para Shohabat, serta para Tabi’in.

Amma ba’du:

Ini adalah sebuah risalah ringkas yang saya kumpulkan di dalamnya ucapan-ucapan para ahli fikih dari empat mazhab, yaitu orang-orang yang menjauhi kaum Asy’ariyah dan menyebutkan celaan terhadap mereka secara tekstual. Hal itu dikarenakan kaum Asya’iroh di zaman kita sekarang ini memperindah kebatilan mereka, sehingga mereka memberikan kesan keliru kepada para pengikutnya bahwa mazhab mereka adalah mazhab yang dipegang oleh para ulama empat mazhab fikih, dengan hanya ada perbedaan yang sedikit dengan aliran Hanafiyah (Maturidiyah) dan keterasingan sebagian ulama Hanabilah (Ahli Hadits).  Padahal kenyataannya, klaim ini sama sekali tidak memiliki dasar kebenaran. Sebuah klaim, selama tidak ditegakkan bukti-bukti nyata atasnya, maka para pemilik klaim tersebut hanyalah pembuat pengakuan palsu belaka. Tidaklah ucapan-ucapan yang saya kumpulkan ini melainkan menjadi dalil yang jelas lagi menerangkan atas rusaknya klaim tersebut dan kosongnya klaim itu dari kebenaran.

Mengingat bahwa mayoritas kaum Asya’iroh pada hari ini termasuk orang-orang yang menisbatkan diri ke dalam mazhab Syafi’i, maka saya memperbanyak nukilan dari para ahli fikih kalangan Syafi’iyah yang menjauhkan diri dari metode dan mazhab kaum Asya’iroh. Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan. Saya memohon kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan usaha pengumpulan ini ikhlas semata-mata demi mengharap wajah-Nya Yang Mulia. Serta menjadikannya sebagai sebab hidayah bagi siapa saja yang terpengaruh oleh mazhab yang menyelisihi mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini, sehingga Alloh melapangkan dadanya untuk menerima kebenaran melalui risalah ini, lalu dia memegang teguh kebenaran tersebut, serta menjadi bagian dari pengikutnya sekaligus penyeru kepadanya. Sesungguhnya Dialah Pelindung hal itu dan Yang Maha Kuasa atasnya.

 

[1] Abu Al-Abbas Suroij Asy-Syafi’i (306 H)

“Syafi’i Kedua” yaitu Abu Al-Abbas bin Suroij[1] rohimahulloh (306 H) pernah ditanya tentang mazhab Salaf dalam menyikapi sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta’ala, lalu beliau menyebutkan sebagian dari sifat-sifat tersebut, kemudian memberikan wasiat seraya mengatakan:  “Hendaknya disepakati atas apa yang telah mereka sepakati, dan hendaknya menahan diri dari apa yang mereka menahan diri darinya. Serta hendaknya sebuah khobar (Hadits) itu diterima sesuai dengan lahiriahnya, begitu pula suatu ayat diterima sesuai dengan lahiriah penurunannya. Selain itu, hendaknya dijauhi dalam memahami sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta’ala bentuk ta’wilnya kaum Mu’tazilah, Asya’iroh, kaum ateis, kaum Mujassimoh (yang memvisualisasikan Alloh memiliki fisik), kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Alloh dengan makhluk), kaum Karromiyah, serta kaum Mukayyifah (yang mempertanyakan bagaimana hakikat bentuk sifat Alloh).[2]

 

[2] Abu Zaid Al-Marwazi Asy-Syafi’I (371 H)

Ahli fikih yaitu Abu Zaid Al-Marwazi Asy-Syafi’i[3] rohimahulloh (371 H) berkata: “Aku mendatangi Abu Al-Hasan Al-Asy’ari di Bashroh, lalu aku mengambil sedikit ilmu kalam darinya. Kemudian pada malam harinya, aku melihat di dalam mimpi seolah-olah diriku menjadi buta. Maka aku menceritakan mimpi tersebut kepada seorang ahli ta’wil mimpi, lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu sedang mengambil suatu ilmu yang membuatmu tersesat!’  Maka aku pun menahan diri dari mendatangi Al-Asy’ari. Kemudian dia melihatku di jalan, lalu dia berkata kepadaku: ‘Wahai Abu Zaid! Apakah kamu tidak merasa malu jika kembali ke Khurosan dalam keadaan berilmu tentang perkara cabang (fikih) namun bodoh tentang perkara ushul (Aqidah)?!’ Maka aku menceritakan mimpi tersebut kepadanya, lalu dia berkata: ‘Sembunyikanlah mimpi ini dariku di sini!’”[4]

 

[3] Al-Hasan An-Naisaburi Al-Hanafi (340 H)

Al-Hasan bin Abi Bakr An-Naisaburi Al-Hanafi[5] rohimahulloh (340 H) berkata: “Jadilah kamu seorang pengikut Syafi’i dan jangan menjadi seorang Asy’ari, jadilah kamu seorang pengikut Hanafi dan jangan menjadi seorang Mu’tazilah, serta jadilah kamu seorang pengikut Hanbali dan jangan menjadi seorang Musyabbih (yang menyerupakan Alloh dengan makhluk). Akan tetapi, aku tidak melihat yang lebih mengherankan daripada para pengikut Syafi’i, mereka meninggalkan perkara pokok (Aqidah Salaf) dan justru bergantung pada perkara cabang (fikih)!” Dan beliau memuji para imam yang empat serta mencela Al-Asy’ari.[6]

 

[4] Kholaf bin Umar Al-Maliki (371 H)

Ahli fikih Kholaf bin Umar Al-Maliki[7] rohimahulloh (371 H) berkata: “Al-Asy’ari menetap selama 40 tahun di atas pemikiran Mu’tazilah, kemudian beliau menampakkan taubatnya, lalu beliau kembali dari perkara cabang namun tetap menetap di atas perkara pokok (pemikiran lamanya).”[8]

 

[5] Ibnu Khuwaiz Mindad Al-Maliki (390 H)

Ahli fikih Ibnu Khuwaiz Mindad Al-Maliki[9] rohimahulloh (390 H) berkata:  “Pengikut hawa nafsu menurut Malik dan seluruh sahabat mazhab kami adalah ahli kalam. Maka setiap mutakallim (ahli kalam) adalah termasuk pengikut hawa nafsu dan bid’ah, baik dia seorang Asy’ari ataupun selain Asy’ari. Persaksiannya tidak boleh diterima dalam Islam, dia harus diboikot, dan dihukum atas bid’ahnya. Jika dia terus menerus dalam bid’ahnya tersebut, maka dia diminta untuk bertaubat darinya.”[10]

 

[6] Sa’d bin Ali Al-Zanjani Asy-Syafi’i (471 H)

Ahli fikih yaitu Sa’d bin Ali Al-Zanjani Asy-Syafi’i[11] rohimahulloh (471 H) berkata:

“Apa yang diucapkan oleh Jahm adalah benar-benar sebuah kesesatan,

Dan juga Bisyr, apa yang dia tampakkan merupakan kebodohan yang telah tersebar luas.

Adapun Ja’d, dia telah dibinasakan oleh keburukan ucapannya,

sedangkan Ibnu Kullab, alangkah buruknya apa yang telah dia sebutkan.

Dan Ibnu Karrom datang dengan membawa ucapan yang keji,

dia tidak memiliki pijakan yang kokoh dalam ilmu, akan tetapi dia lancang.

Dan si Asy’ari ini memperindah susunan kata-katanya,

dan dia melebihi orang-orang sebelum dirinya dari kalangan yang berbalik ke belakang.

Maka apa yang dia ucapkan telah tampak jelas menyelisihi kebenaran,

dan tidak ada kesengajaan dalam petunjuk bagi orang yang membedakan dan mengambil pelajaran.[12]

 

[7] Ibnu Hubairoh Al-Hanbali (506 H)

Ahli fikih yaitu Abu Al-Muzhoffar Ibnu Hubairoh Asy-Syaibani Al-Hanbali[13] rohimahulloh (506 H) berkata:  “Demi Alloh, kami tidak akan membiarkan Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib bersama kaum Rofidhoh (Syiah), kami lebih berhak atas beliau daripada mereka; karena beliau adalah bagian dari kami dan kami adalah bagian dari beliau. Kami juga tidak akan membiarkan Asy-Syafi’i bersama kaum Asya’iroh; karena sesungguhnya kami lebih berhak atas beliau daripada mereka.”[14]

 

[8] Al-Hasan Al-Karoji Asy-Syafi’I (532 H)

Ahli fikih yaitu Abu Al-Hasan Al-Karoji Asy-Syafi’i[15] rohimahulloh (532 H) berkata:  “Para imam kalangan Syafi’iyah senantiasa merasa enggan dan enggan untuk dinisbatkan kepada Al-Asy’ari, mereka berlepas diri dari apa yang Al-Asy’ari membangun mazhabnya di atasnya, serta mereka melarang para sahabat dan orang-orang yang mereka cintai untuk mendekati sekitar mazhab tersebut.”[16]

Beliau rohimahulloh berkata dalam sebuah manzhūmah miliknya yang berjudul “Arusul Qosho’id fi Syumusil ‘Aqo’id”:

Metode-metode Mujassimoh dan jalan-jalan Jahmiyah,

serta jalan-jalan Mu’tazilah bagaikan sarang laba-laba.

Dan dalam masalah takdir serta Rofidhoh terdapat jalan-jalan yang buta,

begitu pula apa yang dikatakan tentang Irja’ berupa gagasan yang tidak berdasar.

Dan keburukan ucapan si Asy’ari ini adalah suatu kepalsuan,

yang kelainannya menyerupai liukan ular yang meliuk-liuk.

Si Asy’ari ini memperindah ucapannya,

dan dia mencampurinya dengan racun, duhai seburuk-buruk orang yang mencampur racun!

Maka dia menolak perkara-perkara yang rinci namun menetapkan secara global,

bagaikan seorang wanita yang mengurai kembali jalinan rambutnya setelah mengikatnya dengan kuat.

Dia menta’wil ayat-ayat tentang sifat Alloh dengan logikanya sendiri,

maka kelancangannya dalam urusan agama bagaikan kelancangan seorang perusak.

Dan dia memastikan ta’wil tersebut sebagai bagian dari jalan-jalan petunjuk,

dan dia memerah susu dari orang-orang bodoh, maka alangkah sialnya orang yang memerah tersebut.”[17]

Manzhūmah ini telah membuat Tajuddin As-Subki keluar dari batas kewajarannya; bahkan keluar dari adab dan ilmu yang wajib dimiliki oleh orang-orang yang sepertinya. Akan tetapi dia justru mendoakan keburukan atas pencetus sya’ir tersebut, dan menghujaninya dengan celaan serta makian, hingga sampai pada tingkat menikam niatnya! Kemudian dia meragukan penisbatan sya’ir ini kepada Al-Faqih Abu Al-Hasan tanpa adanya bukti ilmiah yang nyata! Padahal dia mengetahui bahwa gurunya yaitu Al-Hafizh Adz-Dzahabi, Ibnu As-Sholah (643 H), serta Ibnu As-Sam’ani (562 H) telah menetapkan validitas penisbatan manzhūmah ini kepadanya, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mengomentarinya dengan celaan. Akan tetapi, inilah bentuk fanatisme golongan Asya’iroh, hingga As-Subki berkata tentang qosidah tersebut: “Seandainya memungkinkan untuk melenyapkannya dari keberadaan, tentulah itu lebih utama.”[18]

Dan yang lebih mengherankan dari hal itu adalah, bahwasanya meskipun As-Subki ini seorang Asy’ari yang fanatik, bait-bait sya’ir ini telah membuatnya ragu dalam hal penisbatan kaum Asya’iroh kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah! Maka dia berkata: “Dan tidak tersembunyi bahwasanya kaum Asya’iroh itu hanyalah merupakan inti dari Ahlus Sunnah sendiri, atau mereka adalah manusia yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah!”[19]

 

[9] Yahya Al-Umroni Asy-Syafi’I (558 H)

Ahli fikih yaitu Yahya bin Abi Al-Khoir Al-Umroni Asy-Syafi’i[20] rohimahulloh (558 H) berkata:  “Kaum Asya’iroh telah melangkah seiringan dengan kaum Mu’tazilah, mereka meletakkan kaki mereka di tempat di mana kaum Mu’tazilah meletakkan kaki-kaki mereka. Namun mereka mengarahkan kaki yang satunya lagi ke tempat di mana Ahli Hadits meletakkan kaki-kaki mereka!”[21]

 

[10] Abdul Qodir Al-Jilani Al-Hanbali (561 H)

Ahli fikih yaitu Abdul Qodir Al-Jilani Al-Hanbali[22] rohimahulloh (561 H) berkata:  “Dan sesungguhnya Imam Ahmad rohimahulloh telah menegaskan atas penetapan sifat suara bagi Alloh dalam riwayat sekelompok sahabat mazhab, semoga ridho Alloh tercurah kepada mereka semua, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kaum Asya’iroh yang berpendapat bahwasanya Kalam Alloh adalah sebuah makna abstrak yang berdiri pada zat-Nya! Dan Alloh adalah Sang Penghitung bagi setiap pelaku bid’ah yang sesat lagi menyesatkan.”[23]

 

[11] Ibnu Al-Jauzi Al-Hanbali (597 H)

Abu Al-Faroj Ibnu Al-Jauzi Al-Hanbali[24] rohimahulloh (597 H) berkata dalam biografi Abu Al-Hasan Al-Asy’ari:  “Beliau dilahirkan pada tahun 260 H, beliau menyibukkan diri dengan ilmu kalam, dan berada di atas mazhab Mu’tazilah dalam waktu yang lama. Kemudian muncul dalam benaknya untuk menyelisihi mereka, lalu beliau menampakkan suatu ucapan yang mengacaukan Aqidah manusia, serta menyebabkan timbulnya fitnah yang berkesinambungan! Dahulu manusia tidak berselisih bahwasanya Al-Qur’an yang didengar ini adalah Kalam Alloh, dan bahwasanya Jibril ‘alaihis salam turun membawanya kepada Muhammad . Maka para imam yang menjadi sandaran berkata bahwasanya ia bersifat qodim (terdahulu tanpa permulaan),[25] sedangkan kaum Mu’tazilah berkata: ‘Ia adalah makhluk’. Lalu Al-Asy’ari menyepakati kaum Mu’tazilah dalam hal bahwasanya Al-Qur’an fisik ini adalah makhluk, dan beliau berkata: ‘Ini bukanlah Kalam Alloh, sesungguhnya Kalam Alloh adalah sebuah sifat yang berdiri pada zat-Nya, tidak diturunkan dan tidak pula ia merupakan sesuatu yang didengar!’ Dan beliau senantiasa sejak menampakkan pemikiran ini berada dalam keadaan mengkhawatirkan keselamatan dirinya karena menyelisihi Ahlus Sunnah, hingga puncaknya beliau meminta perlindungan di rumah Abu Al-Hasan At-Tamimi demi menghindari pembunuhan. Kemudian sekelompok orang dari kalangan penguasa mengikuti mazhabnya; lalu mereka bersikap fanatik membelanya, dan para pengikutnya menjadi banyak, hingga kaum Syafi’iyah meninggalkan Aqidah Imam Syafi’i rodhiyallahu ‘anhu, dan mereka beragama dengan mengikuti ucapan Al-Asy’ari.”[26]

Dan di dalam ucapan ini terdapat kesaksian dari Ibnu Al-Jauzi bahwasanya mazhab kaum Asya’iroh tegak di atas kesibukan terhadap ilmu kalam, menjadi penyebab timbulnya berbagai fitnah, serta menyelisihi Aqidah Imam Syafi’i rohimahulloh. Dan bahwasanya para pengikut mazhab ini tidaklah menjadi banyak melainkan disebabkan oleh sikap fanatik sebagian penguasa terhadap ucapan-ucapan Abu Al-Hasan Al-Asy’ari.. maka renungkanlah!

[12] Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i (852 H)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i[27] rohimahulloh (852 H) membuat biografi tentang salah seorang dari mereka, lalu beliau berkata:  “Muhammad bin Ishaq bin An-Nadim, Abu Al-Faroj Al-Ikhbari, seorang sastrawan Syiah Mu’tazilah, disebutkan bahwasanya beliau menyusun kitab Al-Fihrist pada tahun 377 H[28]... dan ketika aku meneliti kitabnya, tampak jelas bagiku bahwasanya dia adalah seorang Syiah Rofidhoh yang berpemikiran Mu’tazilah! Karena sesungguhnya dia menamakan Ahlus Sunnah dengan sebutan: Al-Hasyawiyah! Dan dia menamakan kaum Asya’iroh dengan sebutan: Al-Mujbiroh! Serta dia menamakan setiap orang yang bukan dari kalangan Syiah dengan sebutan: Orang awam!”[29]

Maka renungkanlah bagaimana Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh membedakan antara penamaan Ahlus Sunnah dengan penamaan kaum Asya’iroh, dan pembedaan itu menuntut adanya perbedaan identitas di antara keduanya!

Dan beliau rohimahulloh berkata ketika mengulas biografi Fakhruddin Ar-Rozi yang berAqidah Asy’ari:  “Dan beliau dahulu dicela disebabkan sering memaparkan syubhat (kerancuan berpikir) yang sangat kuat, namun beliau lemah dalam mengurai solusinya, hingga sebagian ulama Maghribi berkata: ‘Beliau mendatangkan syubhat secara kontan, namun menyelesaikannya secara tempo (tertunda-tunda).’”[30]

Dan beliau rohimahulloh berkata tentang Ar-Rozi: “Dan beliau berwasiat dengan sebuah wasiat yang menunjukkan bahwasanya Aqidah beliau telah membaik.”[31]

Maka nukilan-nukilan ini dan yang sejenisnya termasuk perkara yang menambah kekuatan tekad bagi orang-orang yang membela Aqidah Al-Hafizh yang sungguh-sungguh ini, dan bahwasanya mutlak menggeneralisasi penisbatan beliau kepada kaum Asya’iroh merupakan suatu tindakan yang merugikan hak beliau, serta sebuah kezholiman dan melampaui batas... ![32]

 

[13] Ibnu Qudamah Al-Hanbali (620 H)

Ahli fikih yaitu Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Al-Hanbali[33] rohimahulloh (620 H) berkata: “Dan tidaklah dikenal di dalam kalangan pelaku bid’ah suatu kelompok yang menyembunyikan ucapan mereka, serta tidak berani menyuarakannya secara terang-terangan melainkan kaum zindik dan kaum Asya’iroh. Dan sesungguhnya Alloh Ta’ala telah memerintahkan Rosul-Nya untuk menampakkan agama ini, menyeru manusia kepadanya, serta menyampaikan apa yang diturunkan kepada beliau, maka Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ﴾

“Wahai Rosul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu. Dan jika kamu tidak mengerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Alloh memelihara kamu dari gangguan manusia..” (QS. Al-Ma’idah: 67)

Maka jika ucapan mereka adalah sebuah kebenaran sebagaimana yang mereka klaim, mengapa mereka tidak menampakkannya dan mengajak manusia kepadanya?”[34]

 

[14] An-Nawawi Asy-Syafi’i (676 H)

Imam Al-Hafizh An-Nawawi Asy-Syafi’i[35] rohimahulloh (676 H) berkata di dalam konteks bantahan beliau terhadap kaum Asya’iroh pada bab yang paling penting di antara bab-bab sifat, setelah beliau menyebutkan dalil-dalil bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalam Alloh, dan bahwasanya ia dengan huruf dan suara, beliau rohimahulloh berkata: “Dan sungguh mengherankan bahwasanya kitab-kitab kaum Asya’iroh dipenuhi dengan pernyataan bahwa Kalam Alloh itu diturunkan kepada Nabi-Nya, ditulis di dalam mushaf-mushaf, dan dibaca dengan lisan secara hakiki. Kemudian mereka berkata: ‘Yang diturunkan itu adalah sebuah ibarat (ungkapan/redaksi teks)! Yang ditulis itu berbeda dengan tulisan! Dan yang dibaca itu berbeda dengan bacaan!’ Lalu mereka pun memulai dalam kontradiksi yang tampak jelas, serta sanggahan-sanggahan yang dingin lagi lemah! Dan cukuplah untuk meruntuhkan Aqidah ini: keadaan mereka yang tidak sanggup untuk menyuarakannya secara terang-terangan; bahkan mereka di dalamnya berada di atas puncak perdebatan yang meragukan.”[36]

[15] Asy-Syarmasaahi Al-Maliki (669 H)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani menukil dari Al-Faqih Sirajuddin Asy-Syarmasaahi Al-Maliki[37] rohimahulloh (669 H) bahwasanya beliau menyusun kitab Al-Ma’akhidz dalam 2 jilid besar yang menjelaskan di dalam keduanya perkara-perkara berupa kepalsuan dan kepalsuan yang ada di dalam kitab Tafsir Fakhruddin Ar-Rozi. Beliau dahulu sering kali mencela Ar-Rozi dan berkata: “Ar-Rozi memaparkan syubhat (kerancuan berpikir) dari orang-orang yang menyelisihi mazhab dan agama ini di atas puncak analisis ilmiah yang kuat, namun kemudian beliau memaparkan mazhab Ahlus Sunnah dan Al-Haq di atas puncak kelemahan yang rapuh!”[38]

Di dalam ucapan ini terdapat isyarat yang sangat jelas mengenai keadaan Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh yang tidak meridhoi jalan yang ditempuh oleh Fakhruddin Ar-Rozi (yang beraqidah Asy’ari) berupa metodenya di dalam memaparkan masalah-masalah agama, cara mendatangkan syubhat para penentang, serta metode membantahnya... maka perhatikanlah!

 

[16] Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i (748 H)

Al-Faqih Al-Hafizh Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i[39] rohimahulloh (748 H) berkata:

Segala puji bagi Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar,

kemudian sholawat tercurah kepada pemberi syafaat di Padang Mahsyar.

Wahai orang yang bertanya kepadaku tentang syariat dan Aqidahku,

sesungguhnya aku adalah seorang lelaki yang agamaku adalah mencintai Haidar (Ali bin Abi Thalib)

Serta mencintai anak-anaknya dan para Shohabat yang mulia, seraya mengutamakan,

dua syaikh (Abu Bakr dan Umar), celakalah bagi orang bodoh yang mengingkarinya.

Maka aku beragama dengan agamanya Muhammad dan para Shohabatnya,

serta para Tabi’in yang mengikuti mereka, dan aku tidak menyembunyikan diri.

Dan aku mencela secara umum terhadap seluruh orang,

yang mencampakkan Hadits lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah seorang Asy’ari.’

Begitu pula aku mencela orang Rofidhoh (Syiah), Washil (bin Atha’),

dan pemuda Ubaid (pembesar dinasti Fatimiyah) bersama Ubaid sang pembuat kedustaan.

Dan aku lari menjauh dari orang-orang sesat kalangan Jahmiyah,

serta orang-orang yang berpaling menuju pemikiran Mu’tazilah seperti Az-Zamakhsyari.[40]

 

[17] Taqiyuddin Al-Maqdisi Al-Hanbali (679 H)

Al-Hafizh Adz-Dzahabi membuat biografi untuk Al-Faqih Taqiyuddin Al-Maqdisi Al-Hanbali[41] rohimahulloh (679 H), lalu beliau berkata: “Beliau adalah seorang Hanbali yang kokoh, sangat keras terhadap kaum Asya’iroh. Telah sampai sebuah khobar kepadaku bahwasanya sebagian mutakallim (ahli kalam) berkata kepadanya: ‘Apakah kamu mengatakan bahwa Alloh bersemayam di atas Arsy?!’ Maka beliau menjawab: ‘Tidak, demi Alloh aku tidak mengatakannya! Akan tetapi Alloh-lah yang mengatakannya, dan Rosul telah menyampaikannya, sedangkan aku membenarkannya, lalu kamu mendustakannya!’, maka seketika bungkamlah lelaki ahli kalam tersebut!”[42]

 

[18] Ibnu Abdil Hadi Al-Hanbali (744 H)

Al-Faqih Ibnu Abdil Hadi Al-Hanbali[43] rohimahulloh (744 H) berkata: “Aku pernah suatu kali berada di kediaman seorang tokoh dari pembesar ulama Hanafiyah; lalu masuklah seorang lelaki lain dari kalangan Hanafiyah juga. Lelaki itu kemudian memujiku dan berkata: ‘Syaikh ini adalah seorang lelaki yang baik lagi beraqidah Asy’ari!’ Maka tokoh Hanafiyah tersebut berkata kepadanya: ‘Atas dasar apa kamu mengatakan bahwa beliau beraqidah Asy’ari?!’ Lelaki itu menjawab: ‘Karena Aqidah yang shohih itu dinisbatkan kepada Al-Asy’ari!’ Maka demi Alloh, demi Alloh! Sungguh dia telah berdusta atas diriku, dan aku berlepas diri dari ucapannya tersebut. Aku tidak akan berada di atas Aqidah Asy’ari melainkan jika akal pikiranku telah hilang, atau agamaku telah lenyap!”[44]

 

Penutup

Aku memohon kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan risalah pengumpulan ini ikhlas semata-mata demi mengharap wajah-Nya Yang Mulia, bermanfaat bagi para hamba-Nya yang muslim.

Serta semoga Alloh memberatkan timbangan kebaikan dengannya bagiku dan bagi kedua orang tuaku. Dan semoga sholawat, salam, serta berkah senantiasa tercurah kepada Nabi kita dan kekasih kita Muhammad, juga kepada keluarga, para Shohabat, serta para Tabi’in. Dan segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.

Ditulis oleh:

Firos bin Muhammad Said Jandal Ar-Rifa’i

Kota Madinah Nabawiyyah, 15 Sya’ban 1443 H.



[1] Tajuddin As-Subki (771 H) berkata dalam biografi beliau: “Sang elang kelabu, singa yang menerkam musuh-musuh mazhab, syaikh dari mazhab ini, pembawa panjinya, bulan purnama yang terbit di langitnya, hujan deras yang membasahi dengan kesegarannya. Tidak ada dari para pengikut mazhab melainkan dia berputar di sekitar mata airnya, terkesima oleh permata berharga dari lautan ilmunya. Kepadanyalah tujuan akhir dari sebuah perjalanan ilmiah berujung, sehingga unta-unta dipacu dengan cepat ke arahnya, tekad-tekad kuat digantungkan padanya, dan gelombang para penuntut ilmu mendatanginya dengan tidak mengenal hamparan tanah luas melainkan sebagai bantal tempat duduk mereka.” (Kitab: “Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubro” karya As-Subki (3/21), cetakan Dar Hijr, Kairo Mesir 1413 H, dengan tahqiq Dr. Mahmud At-Thonahi dan Dr. Abdul Fattan Al-Hulu)

[2] Bagian di dalamnya terdapat tulisan: “Ajwibah fi Ushuliddin” karya Ibnu Suroij (hal. 40-42), cetakan Dar Al-Basya’ir Al-Islamiyyah, Beirut Lebanon 1427 H.

[3] Al-Hakim (405 H) rohimahulloh berkata dalam biografi beliau: “Beliau adalah salah satu imam kaum Muslimin, termasuk orang yang paling hafal terhadap mazhab Syafi’i rohimahulloh, yang paling baik pandangan analisisnya, dan yang paling zuhud terhadap dunia. Aku mendengar Abu Bakr Al-Bazzaz rohimahulloh berkata: ‘Aku menemani perjalanan Al-Faqih Abu Zaid dari Naisabur menuju Makkah, maka aku tidak mengetahui bahwa Malaikat mencatat satu dosa pun atasnya!’

Dan Al-Khothib (463 H) rohimahulloh berkata: “Beliau menyampaikan Hadits di Baghdad, kemudian tinggal menetap di dekat Makkah, dan beliau menyampaikan di sana Shohih Al-Bukhori dari riwayat Al-Firobri, dan Abu Zaid adalah orang yang paling mulia yang meriwayatkan kitab tersebut.”

Abu Ishaq Asy-Syirozi (476 H) rohimahulloh berkata: “Beliau adalah seorang penghafal mazhab.” (Lihat: Tarikh Al-Islam 8/363)

[4] Kitab: “Sounul Manthiqi wal Kalami ‘an Fannayil Manthiqi wal Kalam” karya As-Suyuthi (911 H) (hal. 119-120), termasuk publikasi Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah di Universitas Al-Azhar tahun 1389 H, dengan tahqiq Dr. Ali Sami An-Nasysyar dan Su’ad Ali Abdul Roziq.

[5] Ibnu Al-Jauzi (597 H) rohimahulloh berkata tentangnya: “Seorang ahli fikih yang memiliki kedudukan besar... beliau termasuk pengikut Abu Hanifah, memiliki pengetahuan yang baik tentang bahasa, pemahaman yang bagus dalam berdebat, aku telah duduk bermajelis bersamanya selama beberapa waktu, dan aku banyak mendengar majelis-majelisnya...” (Kitab: “Al-Muntazhom” karya Abu Al-Faroj Ibnu Al-Jauzi (18/31), Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut Lebanon tahun 1415 H, dengan tahqiq Muhammad dan Musthofa Abdul Qodir ‘Atho)

[6] Al-Muntazhom (18/31).

[7] Abu Abdillah At-Tustari rohimahulloh berkata: Beliau dahulu dikenal sebagai gurunya para ahli fikih, tidak ada pada zamannya orang yang lebih hafal darinya, ilmu tentang halal dan haram telah menyatu dengan daging dan darahnya, beliau sangat mengetahui apa yang diperselisihkan manusia dan apa yang mereka sepakati, serta berilmu tentang kasus-kasus hukum yang baru terjadi, lagi seorang penghafal yang ulung. (Kitab: “Tartib Al-Madarik” (6/211), Percetakan Fodhulah - Al-Muhammadiyyah, Maroko 1401 H, dengan tahqiq Sa’id Ahmad A’rob)

[8] Kitab: “Risalah As-Sijzi ila Ahli Zabid fir Roddi ‘ala Man Ankarol Harf was Shout” (hal. 140), cetakan Dekanat Penelitian Ilmiah di Universitas Islam - Madinah Nabawiyyah, Kerajaan Arob Saudi 1413 H, dengan tahqiq Muhammad Bakarim Ba’abdullah.

[9] Al-Hafizh Ibnu Hajar (852 H) berkata tentangnya: “Seorang ahli fikih Maliki dari Bashroh, memiliki kunyah Abu Abdillah...” (Lisan Al-Mizan 7/359)

[10] Kitab: “Jami’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi” karya Ibnu Abdil Barr (1/131), cetakan Dar Ibnil Jauzi, Dammam Kerajaan Arob Saudi 1435 H, dengan tahqiq Abu Al-Asybal Al-Zuhairi. Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr tidak mengomentari ucapan ini dengan apa pun, yang mana hal itu menunjukkan penetapan dan penerimaan beliau terhadap ucapan tersebut.

[11] Tajuddin As-Subki menukil dalam biografi beliau dari Abu Sa’d yang mengatakan: “Zanjani adalah seorang penghafal yang mutqin (kuat hafalannya), tsiqoh (terpercaya), warok, banyak beribadah.  Dan Muhammad bin Thohir berkata: “Aku tidak melihat orang yang seperti beliau.” Aku mendengar Abu Ishaq Al-Habbal berkata: “Tidak ada di dunia ini yang seperti Abu Al-Qosim Al-Zanjani dalam hal keutamaan.” Beliau dahulu menghadiri majelis bersama kami, dan dibacakan kesalahan di hadapannya, namun beliau tidak menyanggah seorang pun kecuali jika ditanya, baru beliau menjawab.” (Thobaqot Asy-Syafi’iyyah 4/384-385)

[12] Kitab: “Syarh Al-Manzhūmah Ar-Rō’iyyah fis Sunnah” (Manzhūmah beserta syarahnya oleh Al-Zanjani) (hal. 28-29), cetakan Maktabah Dar Al-Minhaj, Riyadh Kerajaan Arob Saudi 1430 H, di bawah asuhan Syaikh Abdul Rozzaq Al-Badr.

[13] Al-Hafizh Adz-Dzahabi (748 H) berkata tentangnya: “Seorang menteri yang sempurna, imam yang alim lagi adil, Aunuddin, tangan kanan kekholifahan, Abu Al-Muzhoffar Yahya bin Muhammad bin Hubairoh bin Sa’id bin Al-Hasan bin Jahm As-Syaibani, Ad-Dauri Al-Iraqi Al-Hanbali, pemilik berbagai karya tulis. Beliau memasuki Baghdad pada masa mudanya, lalu menuntut ilmu, duduk bersama para ahli fikih, belajar fikih kepada Abu Al-Husein bin Al-Qodhi Abu Ya’la, duduk bersama para ahli sastra, mendengar Hadits, membaca Al-Qur’an dengan qiroah sab’ah, mengambil bagian dalam ilmu-ilmu Islam, serta ahli dalam bidang bahasa. Beliau mengetahui mazhab, bahasa Arob, dan ilmu arudh, lagi seorang yang berAqidah Salafiyah Atsariyah.” (Lihat: Siyar A’lam An-Nubala 20/426)

[14] Kitab: “Ad-Dzailu ‘ala Thobaqotil Hanabilah” karya Ibnu Rojab (2/156), cetakan Maktabah Al-Obeikan, Riyadh Kerajaan Arob Saudi 1425 H, dengan tahqiq Dr. Abdurrohman Al-Utsaimin.

[15] Tajuddin As-Subki berkata tentangnya: “Beliau menyusun karya tulis dalam bidang mazhab dan tafsir.... Ibnu As-Sam’ani berkata tentangnya: “Abu Al-Hasan termasuk penduduk Karoj, aku melihat beliau di sana; seorang imam, warok, alim, berakal, ahli fikih, mufti, muhaddits, penyair, sastrawan, beliau memiliki kumpulan karya yang bagus, menghabiskan sepanjang umurnya untuk mengumpulkan ilmu dan menyebarkannya. Beliau bermazhab Syafi’i; hanya saja beliau tidak melakukan qunut dalam sholat Shubuh, dan beliau dahulu berkata: Imam kita As-Syafi’i rohimahulloh telah berkata: ‘Jika Hadits itu shohih maka tinggalkanlah ucapanku, dan ambillah Hadits tersebut’, dan telah shohih di sisiku bahwasanya Nabi meninggalkan qunut dalam sholat Shubuh’.” (Thobaqot Asy-Syafi’iyyah 6/138)

[16] Kitab: “At-Tis’īniyyah” karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) (3/880), cetakan Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh Kerajaan Arob Saudi 1420 H, dengan tahqiq Dr. Muhammad bin Ibrohim Al-Ajlan.

[17] Thobaqot Asy-Syafi’iyyah (6/144).

[18] Thobaqot Asy-Syafi’iyyah (6/146).

[19] Thobaqot Asy-Syafi’iyyah (6/144).

[20] As-Sam’ani rohimahulloh berkata tentangnya: “Seorang syaikh dari kalangan Syafi’iyah di wilayah Yaman.... Beliau adalah seorang imam yang zuhud, warok, alim, penuh kebaikan, namanya masyhur, reputasinya luas, mengetahui fikih dan ushul, ilmu kalam serta nahwu, orang yang paling mengetahui di muka bumi tentang karya-karya tulis Abu Ishaq Asy-Syirozi... beliau menghafal kitab Al-Muhadzdzab di luar kepala, dan dikatakan bahwa beliau membacanya dalam satu malam saja.” (Thobaqot Asy-Syafi’iyyah 7/336)

[21] Kitab: “Al-Intishor fir Roddi ‘alal Mu’tazilah Al-Qodariyyah Al-Asyror” karya Al-Umroni (2/595), cetakan Dar Adhwa’ Al-Salaf, Riyadh Kerajaan Arob Saudi 1419 H, dengan tahqiq Dr. Su’ud Al-Kholaf.

[22] As-Sam’ani rohimahulloh berkata tentangnya: “Termasuk penduduk Jailan, imam kaum Hanabilah, dan syaikh mereka pada zamannya, seorang ahli fikih yang sholih, taat beragama lagi penuh kebaikan, banyak berdzikir, senantiasa berpikir, mudah meneteskan air mata.” (Tarikh Al-Islam 12/254)

[23] Kitab: “Al-Ghunyah li Tholibi Thoriqil Haqq” karya Al-Jilani (1/131), cetakan Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut Lebanon 1417 H, dengan tahqiq Sholah bin Muhammad bin ‘Uwaidhah.

[24] Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Seorang syaikh, imam, ‘allamah (orang yang sangat berilmu), hafizh, mufasir, syaikhul Islam, kebanggaan Irak...” (Siyar A’lam An-Nubala 21/365)

[25] Ahlus Sunnah meyakini bahwasanya sifat kalam (berbicara) bagi Alloh adalah qodim secara jenisnya, namun baru secara satuan bicaranya; maka Robb kita Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bersifat dengan sifat berbicara, Dia berbicara kapan saja Dia kehendaki. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ﴾

“Tidak datang kepada mereka suatu peringatan yang baru diturunkan dari Robb mereka, melainkan mereka mendengarkannya sambil bermain-main..” (QS. Al-Anbiya: 2)

Lihat untuk tambahan penjelasan dalam masalah ini: Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (5/411-412) dan (5/466-467).

[26] Al-Muntazhom fi Tarikh Al-Muluk wal Umam (14/29).

[27] Al-Hafizh Al-Iroqi (806 H) berkata tentangnya: “Seorang hafizh, mutqin, kritikus Hadits, hujah, Syihabuddin Ahmad bin Ali Asy-Syafi’i, yang terkenal dengan sebutan Ibnu Hajar, semoga Alloh memberikan manfaat dengan ilmu-ilmunya, dan memberikan kenikmatan dengan hasil karyanya.” (Kitab: “Al-Jawahir wad Duror fi Tarjamati Ibnil Hajar” karya As-Sakhawi (1/268), cetakan Dar Ibn Hazm, Beirut Lebanon 1419 H, dengan tahqiq Ibrohim Bajis Abdul Majid)

[28] Al-Hafizh rohimahulloh berkata tentangnya: “Dan dia adalah orang yang tidak terpercaya, dan kitab karangannya yang disebutkan tersebut menyerukan atas pelakunya berupa pemikiran Mu’tazilah dan penyimpangan, kita memohon keselamatan kepada Alloh.” (Lisan Al-Mizan 6/588)

[29] Lisan Al-Mizan (6/588).

[30] Lisan Al-Mizan (6/319).

[31] Lisan Al-Mizan (6/321).

[32] Lihat kitab: “Manhaj Al-Hafizh Ibnil Hajar Al-Asqolani fil ‘Aqidah min Khilali Kitabihi Fathil Bari” Tesis Magister oleh Syaikh Muhammad Ishaq Kando, cetakan Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh Kerajaan Arob Saudi 1416 H.

[33] Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Dia seorang syaikh, imam, panutan, ‘allamah, mujtahid, syaikhul Islam... dan beliau adalah ulama penduduk Syam pada zamannya,  Ibnu An-Najjar berkata: ‘Beliau adalah imam kaum Hanabilah di Masjid Jami’ Damaskus, beliau seorang yang tsiqoh, hujah, mulia, memiliki keutamaan yang melimpah, bersih dari noda, warok, lagi ahli ibadah, di atas manhaj Salaf, tampak atasnya cahaya dan kewibawaan, seseorang dapat mengambil manfaat hanya dengan melihatnya sebelum mendengar ucapannya.’ Dan Umar bin Al-Hajib berkata: ‘Beliau adalah imamnya para imam, mufti umat, Alloh mengkhususkan beliau dengan keutamaan yang melimpah, kecerdasan yang mengalir, dan ilmu yang sempurna, nama beliau menggema di berbagai negeri, dan zaman pun terasa kikir untuk melahirkan orang yang seperti beliau, beliau memegang erat hakikat-hakikat dalil naqliyah maupun aqliyah.’ (Siyar A’lam An-Nubala 22/165-167)

[34] Kitab: “Hikayat Al-Munazhoroh fil Qur’an” karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620 H), hal. 35, cetakan Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh Kerajaan Arob Saudi 1418 H, dengan tahqiq Abdullah bin Yusuf Al-Judai’.

[35] Tajuddin As-Subki (771 H) berkata tentang beliau: “Syaikh Islam, guru bagi orang-orang belakangan, hujah Alloh atas orang-orang yang datang kemudian, dan penyeru menuju jalan orang-orang terdahulu...” (Thobaqot Asy-Syafi’iyyah, 8/395)

[36] Kitab: “Juz’un fihi Dzikru I’tiqodilla Salaf fil Hurufi wal Ashwat” karya An-Nawawi, hal. 39.

[37] Al-Hafizh Adz-Dzahabi (748 H) berkata tentangnya: “Seorang mufti yang ‘allamah, ahli fikih Maliki, pengajar di sekolah Al-Mustanshiriyyah, termasuk pembesar para imam mazhab, dan beliau memiliki kezuhudan serta kesholihan...” (Tarikh Al-Islam, 15/167-168)

[38] Lisan Al-Mizan, 4/428.

[39] Tajuddin As-Subki berkata tentang Adz-Dzahabi: “Seorang imam bagi seluruh alam dalam hal hafalan, emasnya zaman secara makna maupun lafazh, syaikh dalam bidang ilmu jarh wa ta’dil, tokoh dari para tokoh di setiap jalan ilmiah, seolah-olah umat ini dikumpulkan di satu hamparan tanah yang luas; lalu beliau melihatnya, kemudian beliau mengabarkan tentang umat tersebut bagaikan kabar dari orang yang ikut menghadirinya.” (Thobaqot Asy-Syafi’iyyah, 9/101)

[40] Manzhūmah sya’ir ini dinukil dari naskah manuskrip asli yang ditulis oleh salah seorang murid utama Al-Hafizh Adz-Dzahabi dengan tulisan tangannya sendiri, yaitu Al-Burhan bin Jama’ah rohimahulloh. Beliau berkata di dalam bagian pembuka sya’ir tersebut: “Beliau (Adz-Dzahabi) melantunkannya langsung kepadaku untuk dirinya sendiri”, yang mana hal ini menegaskan bahwasanya untaian sya’ir tersebut merupakan gubahan dari gurunya sendiri yaitu Adz-Dzahabi rohimahulloh. Manzhūmah ini telah ditahqiq dan diterbitkan oleh Muhammad bin Abdullah As-Sari’ pada tahun 1440 H.

[41] Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata tentangnya: “Beliau belajar fikih kepada At-Taqiy bin Al-Izz, mahir dalam mazhab, menaruh perhatian besar pada sunnah dan mengumpulkannya, mendebat musuh-musuh sunnah dan mengkafirkan mereka, beliau adalah seorang yang memiliki keberanian, sangat keras terhadap kaum Asya’iroh; sehingga mereka menuduh beliau dengan tuduhan tajsim (memvisualisasikan Alloh memiliki fisik)!” (Ad-Dzailu ‘ala Thobaqotil Hanabilah, 4/156)

[42] Tarikh Al-Islam, 15/374.

[43] Ibnu Al-Imad berkata tentang beliau: “Dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Mubarrid... beliau adalah seorang imam yang ‘allamah, sangat mendominasi atas dirinya ilmu Hadits dan fikih...” (Kitab: “Syadzarot Adz-Dzahab” karya Ibnu Al-Imad (10/62), cetakan Dar Ibnu Katsir, Damaskus Suriah 1414 H, dengan tahqiq Mahmud Al-Arna’uth di bawah pengawasan Abdul Qadir Al-Arna’uth)

[44] Kitab: “Thimar Al-Maqashid fi Dzikri Al-Masajid” karya Ibnu Abdil Hadi, hal. 25, cetakan Al-Ma’had Al-Fransi, Beirut Lebanon 1362 H, dengan tahqiq Muhammad As’ad Tholas.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini