[PDF] Empat Madzhab Mengkritik Asya’iroh - Firos bin Muhammad Ar-Rifa'i
Rekomendasi Syaikh As-Suhaimi
﷽
Segala puji
bagi Alloh semata, dan semoga sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada
Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para Shohabat beliau.
Amma ba’du:
Saya telah
membaca penelitian yang diajukan oleh saudara, seorang Syaikh, Firos bin
Muhammad Said Jandal Ar-Rifa’i, yang berjudul “Taubatnya Tokoh-Tokoh Utama Asya’iroh”,
yang kemudian diikuti dengan lampiran ringkas “Empat Madzhab Mengkritik
Asya’iroh.”
Saya
mendapati karya ini sebagai sebuah penelitian yang
sangat bagus lagi bermanfaat, yang memiliki keunggulan dalam hal otentisitas
rujukan, ketepatan informasi beserta pendasaran teoritisnya, keindahan gaya
bahasa, keselamatan tutur kata, serta kebagusan dalam pengorganisasian maupun
penyusunan. Saya menilai bahwa ini adalah sebuah penelitian yang sangat
berharga, layak untuk diterbitkan, dan mendatangkan manfaat bagi kaum Muslimin
secara umum, khususnya bagi para penuntut ilmu.
Semoga
Alloh membalas peneliti dengan kebaikan atas usahanya dalam menyusun penelitian
ini, dan menjadikannya bermanfaat bagi Islam beserta kaum Muslimin.
Semoga
sholawat, salam, dan berkah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, juga
kepada keluarga dan para Shohabat beliau seluruhnya.
Dikte ini
disampaikan oleh seorang yang faqir yang mengharapkan ampunan Robbnya,
Sholih bin
Sa’ad As-Suhaimi
Pada
tanggal 8 Romadhon 1443 H.
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh, Robb semesta alam. Akhir yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa,
dan tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang zholim.
Semoga
sholawat, salam, dan berkah senantiasa tercurah kepada makhluk Alloh yang
terbaik secara keseluruhan, juga kepada keluarga, para Shohabat, serta para
Tabi’in.
Amma ba’du:
Ini adalah
sebuah risalah ringkas yang saya kumpulkan di dalamnya ucapan-ucapan para ahli
fikih dari empat mazhab, yaitu orang-orang yang menjauhi kaum Asy’ariyah dan
menyebutkan celaan terhadap mereka secara tekstual. Hal itu dikarenakan kaum Asya’iroh
di zaman kita sekarang ini memperindah kebatilan mereka, sehingga mereka
memberikan kesan keliru kepada para pengikutnya bahwa mazhab mereka adalah
mazhab yang dipegang oleh para ulama empat mazhab fikih, dengan hanya ada
perbedaan yang sedikit dengan aliran Hanafiyah (Maturidiyah) dan keterasingan
sebagian ulama Hanabilah (Ahli Hadits).
Padahal kenyataannya, klaim ini sama sekali tidak memiliki dasar
kebenaran. Sebuah klaim, selama tidak ditegakkan bukti-bukti nyata atasnya,
maka para pemilik klaim tersebut hanyalah pembuat pengakuan palsu belaka.
Tidaklah ucapan-ucapan yang saya kumpulkan ini melainkan menjadi dalil yang
jelas lagi menerangkan atas rusaknya klaim tersebut dan kosongnya klaim itu
dari kebenaran.
Mengingat
bahwa mayoritas kaum Asya’iroh pada hari ini termasuk orang-orang yang
menisbatkan diri ke dalam mazhab Syafi’i, maka saya memperbanyak nukilan dari
para ahli fikih kalangan Syafi’iyah yang menjauhkan diri dari metode dan mazhab
kaum Asya’iroh. Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan. Saya memohon kepada
Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan usaha pengumpulan ini ikhlas
semata-mata demi mengharap wajah-Nya Yang Mulia. Serta menjadikannya sebagai
sebab hidayah bagi siapa saja yang terpengaruh oleh mazhab yang menyelisihi
mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini, sehingga Alloh melapangkan dadanya untuk
menerima kebenaran melalui risalah ini, lalu dia memegang teguh kebenaran
tersebut, serta menjadi bagian dari pengikutnya sekaligus penyeru kepadanya.
Sesungguhnya Dialah Pelindung hal itu dan Yang Maha Kuasa atasnya.
﷽
[1] Abu Al-Abbas Suroij Asy-Syafi’i
(306 H)
“Syafi’i
Kedua” yaitu Abu Al-Abbas bin Suroij[1] rohimahulloh
(306 H) pernah ditanya tentang mazhab Salaf dalam menyikapi sifat-sifat Alloh Subhanahu
wa Ta’ala, lalu beliau menyebutkan sebagian dari sifat-sifat tersebut,
kemudian memberikan wasiat seraya mengatakan:
“Hendaknya disepakati atas apa yang telah mereka sepakati, dan hendaknya
menahan diri dari apa yang mereka menahan diri darinya. Serta hendaknya sebuah
khobar (Hadits) itu diterima sesuai dengan lahiriahnya, begitu pula suatu ayat
diterima sesuai dengan lahiriah penurunannya. Selain itu, hendaknya dijauhi
dalam memahami sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta’ala bentuk ta’wilnya
kaum Mu’tazilah, Asya’iroh, kaum ateis, kaum Mujassimoh (yang memvisualisasikan
Alloh memiliki fisik), kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Alloh dengan
makhluk), kaum Karromiyah, serta kaum Mukayyifah (yang mempertanyakan bagaimana
hakikat bentuk sifat Alloh).[2]
[2] Abu Zaid Al-Marwazi Asy-Syafi’I
(371 H)
Ahli fikih
yaitu Abu Zaid Al-Marwazi Asy-Syafi’i[3] rohimahulloh
(371 H) berkata: “Aku mendatangi Abu Al-Hasan Al-Asy’ari di Bashroh, lalu aku
mengambil sedikit ilmu kalam darinya. Kemudian pada malam harinya, aku melihat
di dalam mimpi seolah-olah diriku menjadi buta. Maka aku menceritakan mimpi
tersebut kepada seorang ahli ta’wil mimpi, lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya
kamu sedang mengambil suatu ilmu yang membuatmu tersesat!’ Maka aku pun menahan diri dari mendatangi
Al-Asy’ari. Kemudian dia melihatku di jalan, lalu dia berkata kepadaku: ‘Wahai
Abu Zaid! Apakah kamu tidak merasa malu jika kembali ke Khurosan dalam keadaan
berilmu tentang perkara cabang (fikih) namun bodoh tentang perkara ushul (Aqidah)?!’
Maka aku menceritakan mimpi tersebut kepadanya, lalu dia berkata: ‘Sembunyikanlah
mimpi ini dariku di sini!’”[4]
[3] Al-Hasan An-Naisaburi
Al-Hanafi (340 H)
Al-Hasan
bin Abi Bakr An-Naisaburi Al-Hanafi[5] rohimahulloh
(340 H) berkata: “Jadilah kamu seorang pengikut Syafi’i dan jangan menjadi
seorang Asy’ari, jadilah kamu seorang pengikut Hanafi dan jangan menjadi seorang
Mu’tazilah, serta jadilah kamu seorang pengikut Hanbali dan jangan menjadi
seorang Musyabbih (yang menyerupakan Alloh dengan makhluk). Akan tetapi, aku
tidak melihat yang lebih mengherankan daripada para pengikut Syafi’i, mereka meninggalkan
perkara pokok (Aqidah Salaf) dan justru bergantung pada perkara cabang (fikih)!”
Dan beliau memuji para imam yang empat serta mencela Al-Asy’ari.[6]
[4] Kholaf bin Umar Al-Maliki (371
H)
Ahli fikih
Kholaf bin Umar Al-Maliki[7] rohimahulloh
(371 H) berkata: “Al-Asy’ari menetap selama 40 tahun di atas pemikiran Mu’tazilah,
kemudian beliau menampakkan taubatnya, lalu beliau kembali dari perkara cabang
namun tetap menetap di atas perkara pokok (pemikiran lamanya).”[8]
[5] Ibnu Khuwaiz Mindad Al-Maliki
(390 H)
Ahli fikih
Ibnu Khuwaiz Mindad Al-Maliki[9] rohimahulloh
(390 H) berkata: “Pengikut hawa nafsu
menurut Malik dan seluruh sahabat mazhab kami adalah ahli kalam. Maka setiap
mutakallim (ahli kalam) adalah termasuk pengikut hawa nafsu dan bid’ah, baik
dia seorang Asy’ari ataupun selain Asy’ari. Persaksiannya tidak boleh diterima
dalam Islam, dia harus diboikot, dan dihukum atas bid’ahnya. Jika dia terus
menerus dalam bid’ahnya tersebut, maka dia diminta untuk bertaubat darinya.”[10]
[6] Sa’d bin Ali Al-Zanjani
Asy-Syafi’i (471 H)
Ahli fikih
yaitu Sa’d bin Ali Al-Zanjani Asy-Syafi’i[11] rohimahulloh
(471 H) berkata:
“Apa
yang diucapkan oleh Jahm adalah benar-benar sebuah kesesatan,
Dan juga
Bisyr, apa yang dia tampakkan merupakan kebodohan yang telah tersebar luas.
Adapun
Ja’d, dia telah dibinasakan oleh keburukan ucapannya,
sedangkan
Ibnu Kullab, alangkah buruknya apa yang telah dia sebutkan.
Dan Ibnu
Karrom datang dengan membawa ucapan yang keji,
dia
tidak memiliki pijakan yang kokoh dalam ilmu, akan tetapi dia lancang.
Dan si
Asy’ari ini memperindah susunan kata-katanya,
dan dia
melebihi orang-orang sebelum dirinya dari kalangan yang berbalik ke belakang.
Maka apa
yang dia ucapkan telah tampak jelas menyelisihi kebenaran,
dan
tidak ada kesengajaan dalam petunjuk bagi orang yang membedakan dan mengambil
pelajaran.”[12]
[7] Ibnu Hubairoh Al-Hanbali (506
H)
Ahli fikih
yaitu Abu Al-Muzhoffar Ibnu Hubairoh Asy-Syaibani Al-Hanbali[13] rohimahulloh
(506 H) berkata: “Demi Alloh, kami tidak
akan membiarkan Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib bersama kaum Rofidhoh
(Syiah), kami lebih berhak atas beliau daripada mereka; karena beliau adalah
bagian dari kami dan kami adalah bagian dari beliau. Kami juga tidak akan
membiarkan Asy-Syafi’i bersama kaum Asya’iroh; karena sesungguhnya kami lebih
berhak atas beliau daripada mereka.”[14]
[8] Al-Hasan Al-Karoji Asy-Syafi’I
(532 H)
Ahli fikih
yaitu Abu Al-Hasan Al-Karoji Asy-Syafi’i[15] rohimahulloh
(532 H) berkata: “Para imam kalangan
Syafi’iyah senantiasa merasa enggan dan enggan untuk dinisbatkan kepada Al-Asy’ari,
mereka berlepas diri dari apa yang Al-Asy’ari membangun mazhabnya di atasnya,
serta mereka melarang para sahabat dan orang-orang yang mereka cintai untuk
mendekati sekitar mazhab tersebut.”[16]
Beliau rohimahulloh
berkata dalam sebuah manzhūmah miliknya yang berjudul “Arusul Qosho’id
fi Syumusil ‘Aqo’id”:
“Metode-metode
Mujassimoh dan jalan-jalan Jahmiyah,
serta
jalan-jalan Mu’tazilah bagaikan sarang laba-laba.
Dan
dalam masalah takdir serta Rofidhoh terdapat jalan-jalan yang buta,
begitu
pula apa yang dikatakan tentang Irja’ berupa gagasan yang tidak berdasar.
Dan
keburukan ucapan si Asy’ari ini adalah suatu kepalsuan,
yang kelainannya
menyerupai liukan ular yang meliuk-liuk.
Si Asy’ari
ini memperindah ucapannya,
dan dia
mencampurinya dengan racun, duhai seburuk-buruk orang yang mencampur racun!
Maka dia
menolak perkara-perkara yang rinci namun menetapkan secara global,
bagaikan
seorang wanita yang mengurai kembali jalinan rambutnya setelah mengikatnya
dengan kuat.
Dia menta’wil
ayat-ayat tentang sifat Alloh dengan logikanya sendiri,
maka
kelancangannya dalam urusan agama bagaikan kelancangan seorang perusak.
Dan dia
memastikan ta’wil tersebut sebagai bagian dari jalan-jalan petunjuk,
dan dia
memerah susu dari orang-orang bodoh, maka alangkah sialnya orang yang memerah
tersebut.”[17]
Manzhūmah
ini telah membuat Tajuddin As-Subki keluar dari batas kewajarannya; bahkan
keluar dari adab dan ilmu yang wajib dimiliki oleh orang-orang yang sepertinya.
Akan tetapi dia justru mendoakan keburukan atas pencetus sya’ir tersebut, dan
menghujaninya dengan celaan serta makian, hingga sampai pada tingkat menikam
niatnya! Kemudian dia meragukan penisbatan sya’ir ini kepada Al-Faqih Abu
Al-Hasan tanpa adanya bukti ilmiah yang nyata! Padahal dia mengetahui bahwa
gurunya yaitu Al-Hafizh Adz-Dzahabi, Ibnu As-Sholah (643 H), serta Ibnu As-Sam’ani
(562 H) telah menetapkan validitas penisbatan manzhūmah ini kepadanya,
dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mengomentarinya dengan celaan. Akan
tetapi, inilah bentuk fanatisme golongan Asya’iroh, hingga As-Subki berkata
tentang qosidah tersebut: “Seandainya memungkinkan untuk melenyapkannya dari
keberadaan, tentulah itu lebih utama.”[18]
Dan yang
lebih mengherankan dari hal itu adalah, bahwasanya meskipun As-Subki ini
seorang Asy’ari yang fanatik, bait-bait sya’ir ini telah membuatnya ragu dalam
hal penisbatan kaum Asya’iroh kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah! Maka dia
berkata: “Dan tidak tersembunyi bahwasanya kaum Asya’iroh itu hanyalah
merupakan inti dari Ahlus Sunnah sendiri, atau mereka adalah manusia yang paling
dekat dengan Ahlus Sunnah!”[19]
[9] Yahya Al-Umroni Asy-Syafi’I
(558 H)
Ahli fikih
yaitu Yahya bin Abi Al-Khoir Al-Umroni Asy-Syafi’i[20] rohimahulloh
(558 H) berkata: “Kaum Asya’iroh telah
melangkah seiringan dengan kaum Mu’tazilah, mereka meletakkan kaki mereka di
tempat di mana kaum Mu’tazilah meletakkan kaki-kaki mereka. Namun mereka
mengarahkan kaki yang satunya lagi ke tempat di mana Ahli Hadits meletakkan
kaki-kaki mereka!”[21]
[10] Abdul Qodir Al-Jilani
Al-Hanbali (561 H)
Ahli fikih
yaitu Abdul Qodir Al-Jilani Al-Hanbali[22] rohimahulloh
(561 H) berkata: “Dan sesungguhnya Imam
Ahmad rohimahulloh telah menegaskan atas penetapan sifat suara bagi
Alloh dalam riwayat sekelompok sahabat mazhab, semoga ridho Alloh tercurah
kepada mereka semua, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kaum Asya’iroh yang
berpendapat bahwasanya Kalam Alloh adalah sebuah makna abstrak yang berdiri
pada zat-Nya! Dan Alloh adalah Sang Penghitung bagi setiap pelaku bid’ah yang
sesat lagi menyesatkan.”[23]
[11] Ibnu Al-Jauzi Al-Hanbali (597
H)
Abu
Al-Faroj Ibnu Al-Jauzi Al-Hanbali[24] rohimahulloh
(597 H) berkata dalam biografi Abu Al-Hasan Al-Asy’ari: “Beliau dilahirkan pada tahun 260 H, beliau menyibukkan
diri dengan ilmu kalam, dan berada di atas mazhab Mu’tazilah dalam waktu yang
lama. Kemudian muncul dalam benaknya untuk menyelisihi mereka, lalu beliau
menampakkan suatu ucapan yang mengacaukan Aqidah manusia, serta menyebabkan
timbulnya fitnah yang berkesinambungan! Dahulu manusia tidak berselisih
bahwasanya Al-Qur’an yang didengar ini adalah Kalam Alloh, dan bahwasanya
Jibril ‘alaihis salam turun membawanya kepada Muhammad ﷺ. Maka para imam yang menjadi
sandaran berkata bahwasanya ia bersifat qodim (terdahulu tanpa
permulaan),[25]
sedangkan kaum Mu’tazilah berkata: ‘Ia adalah makhluk’. Lalu Al-Asy’ari
menyepakati kaum Mu’tazilah dalam hal bahwasanya Al-Qur’an fisik ini adalah
makhluk, dan beliau berkata: ‘Ini bukanlah Kalam Alloh, sesungguhnya Kalam
Alloh adalah sebuah sifat yang berdiri pada zat-Nya, tidak diturunkan dan tidak
pula ia merupakan sesuatu yang didengar!’ Dan beliau senantiasa sejak
menampakkan pemikiran ini berada dalam keadaan mengkhawatirkan keselamatan
dirinya karena menyelisihi Ahlus Sunnah, hingga puncaknya beliau meminta
perlindungan di rumah Abu Al-Hasan At-Tamimi demi menghindari pembunuhan.
Kemudian sekelompok orang dari kalangan penguasa mengikuti mazhabnya; lalu
mereka bersikap fanatik membelanya, dan para pengikutnya menjadi banyak, hingga
kaum Syafi’iyah meninggalkan Aqidah Imam Syafi’i rodhiyallahu ‘anhu, dan
mereka beragama dengan mengikuti ucapan Al-Asy’ari.”[26]
Dan di
dalam ucapan ini terdapat kesaksian dari Ibnu Al-Jauzi bahwasanya mazhab kaum Asya’iroh
tegak di atas kesibukan terhadap ilmu kalam, menjadi penyebab timbulnya
berbagai fitnah, serta menyelisihi Aqidah Imam Syafi’i rohimahulloh. Dan
bahwasanya para pengikut mazhab ini tidaklah menjadi banyak melainkan
disebabkan oleh sikap fanatik sebagian penguasa terhadap ucapan-ucapan Abu
Al-Hasan Al-Asy’ari.. maka renungkanlah!
[12] Ibnu Hajar Al-Asqolani
Asy-Syafi’i (852 H)
Al-Hafizh
Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i[27] rohimahulloh
(852 H) membuat biografi tentang salah seorang dari mereka, lalu beliau
berkata: “Muhammad bin Ishaq bin
An-Nadim, Abu Al-Faroj Al-Ikhbari, seorang sastrawan Syiah Mu’tazilah,
disebutkan bahwasanya beliau menyusun kitab Al-Fihrist pada tahun 377 H[28]...
dan ketika aku meneliti kitabnya, tampak jelas bagiku bahwasanya dia adalah
seorang Syiah Rofidhoh yang berpemikiran Mu’tazilah! Karena sesungguhnya dia
menamakan Ahlus Sunnah dengan sebutan: Al-Hasyawiyah! Dan dia menamakan kaum Asya’iroh
dengan sebutan: Al-Mujbiroh! Serta dia menamakan setiap orang yang bukan dari
kalangan Syiah dengan sebutan: Orang awam!”[29]
Maka
renungkanlah bagaimana Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh membedakan
antara penamaan Ahlus Sunnah dengan penamaan kaum Asya’iroh, dan pembedaan itu
menuntut adanya perbedaan identitas di antara keduanya!
Dan beliau rohimahulloh
berkata ketika mengulas biografi Fakhruddin Ar-Rozi yang berAqidah Asy’ari: “Dan beliau dahulu dicela disebabkan sering
memaparkan syubhat (kerancuan berpikir) yang sangat kuat, namun beliau lemah
dalam mengurai solusinya, hingga sebagian ulama Maghribi berkata: ‘Beliau
mendatangkan syubhat secara kontan, namun menyelesaikannya secara tempo
(tertunda-tunda).’”[30]
Dan beliau rohimahulloh
berkata tentang Ar-Rozi: “Dan beliau berwasiat dengan sebuah wasiat yang
menunjukkan bahwasanya Aqidah beliau telah membaik.”[31]
Maka
nukilan-nukilan ini dan yang sejenisnya termasuk perkara yang menambah kekuatan
tekad bagi orang-orang yang membela Aqidah Al-Hafizh yang sungguh-sungguh ini,
dan bahwasanya mutlak menggeneralisasi penisbatan beliau kepada kaum Asya’iroh
merupakan suatu tindakan yang merugikan hak beliau, serta sebuah kezholiman dan
melampaui batas... ![32]
[13] Ibnu Qudamah Al-Hanbali (620
H)
Ahli fikih
yaitu Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Al-Hanbali[33] rohimahulloh
(620 H) berkata: “Dan tidaklah dikenal di dalam kalangan pelaku bid’ah suatu
kelompok yang menyembunyikan ucapan mereka, serta tidak berani menyuarakannya
secara terang-terangan melainkan kaum zindik dan kaum Asya’iroh. Dan
sesungguhnya Alloh Ta’ala telah memerintahkan Rosul-Nya ﷺ untuk menampakkan agama ini,
menyeru manusia kepadanya, serta menyampaikan apa yang diturunkan kepada
beliau, maka Alloh Ta’ala berfirman:
﴿يَأَيُّهَا
الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا
بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ﴾
“Wahai
Rosul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu. Dan jika kamu
tidak mengerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan
amanat-Nya. Dan Alloh memelihara kamu dari gangguan manusia..” (QS. Al-Ma’idah:
67)
Maka jika
ucapan mereka adalah sebuah kebenaran sebagaimana yang mereka klaim, mengapa
mereka tidak menampakkannya dan mengajak manusia kepadanya?”[34]
[14] An-Nawawi Asy-Syafi’i (676 H)
Imam
Al-Hafizh An-Nawawi Asy-Syafi’i[35] rohimahulloh
(676 H) berkata di dalam konteks bantahan beliau terhadap kaum Asya’iroh pada
bab yang paling penting di antara bab-bab sifat, setelah beliau menyebutkan
dalil-dalil bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalam Alloh, dan bahwasanya ia dengan
huruf dan suara, beliau rohimahulloh berkata: “Dan sungguh mengherankan
bahwasanya kitab-kitab kaum Asya’iroh dipenuhi dengan pernyataan bahwa Kalam
Alloh itu diturunkan kepada Nabi-Nya, ditulis di dalam mushaf-mushaf, dan
dibaca dengan lisan secara hakiki. Kemudian mereka berkata: ‘Yang diturunkan
itu adalah sebuah ibarat (ungkapan/redaksi teks)! Yang ditulis itu berbeda
dengan tulisan! Dan yang dibaca itu berbeda dengan bacaan!’ Lalu mereka pun
memulai dalam kontradiksi yang tampak jelas, serta sanggahan-sanggahan yang
dingin lagi lemah! Dan cukuplah untuk meruntuhkan Aqidah ini: keadaan mereka
yang tidak sanggup untuk menyuarakannya secara terang-terangan; bahkan mereka
di dalamnya berada di atas puncak perdebatan yang meragukan.”[36]
[15] Asy-Syarmasaahi Al-Maliki
(669 H)
Al-Hafizh
Ibnu Hajar Al-Asqolani menukil dari Al-Faqih Sirajuddin Asy-Syarmasaahi
Al-Maliki[37]
rohimahulloh (669 H) bahwasanya beliau menyusun kitab Al-Ma’akhidz dalam
2 jilid besar yang menjelaskan di dalam keduanya perkara-perkara berupa
kepalsuan dan kepalsuan yang ada di dalam kitab Tafsir Fakhruddin Ar-Rozi.
Beliau dahulu sering kali mencela Ar-Rozi dan berkata: “Ar-Rozi memaparkan
syubhat (kerancuan berpikir) dari orang-orang yang menyelisihi mazhab dan agama
ini di atas puncak analisis ilmiah yang kuat, namun kemudian beliau memaparkan
mazhab Ahlus Sunnah dan Al-Haq di atas puncak kelemahan yang rapuh!”[38]
Di dalam
ucapan ini terdapat isyarat yang sangat jelas mengenai keadaan Al-Hafizh Ibnu
Hajar rohimahulloh yang tidak meridhoi jalan yang ditempuh oleh
Fakhruddin Ar-Rozi (yang beraqidah Asy’ari) berupa metodenya di dalam
memaparkan masalah-masalah agama, cara mendatangkan syubhat para penentang,
serta metode membantahnya... maka perhatikanlah!
[16] Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i (748
H)
Al-Faqih
Al-Hafizh Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i[39] rohimahulloh
(748 H) berkata:
“Segala
puji bagi Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar,
kemudian
sholawat tercurah kepada pemberi syafaat di Padang Mahsyar.
Wahai
orang yang bertanya kepadaku tentang syariat dan Aqidahku,
sesungguhnya
aku adalah seorang lelaki yang agamaku adalah mencintai Haidar (Ali bin Abi
Thalib)
Serta
mencintai anak-anaknya dan para Shohabat yang mulia, seraya mengutamakan,
dua syaikh
(Abu Bakr dan Umar), celakalah bagi orang bodoh yang mengingkarinya.
Maka aku
beragama dengan agamanya Muhammad dan para Shohabatnya,
serta
para Tabi’in yang mengikuti mereka, dan aku tidak menyembunyikan diri.
Dan aku
mencela secara umum terhadap seluruh orang,
yang
mencampakkan Hadits lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah seorang Asy’ari.’
Begitu
pula aku mencela orang Rofidhoh (Syiah), Washil (bin Atha’),
dan
pemuda Ubaid (pembesar dinasti Fatimiyah) bersama Ubaid sang pembuat kedustaan.
Dan aku lari
menjauh dari orang-orang sesat kalangan Jahmiyah,
serta
orang-orang yang berpaling menuju pemikiran Mu’tazilah seperti Az-Zamakhsyari.”[40]
[17] Taqiyuddin Al-Maqdisi Al-Hanbali
(679 H)
Al-Hafizh
Adz-Dzahabi membuat biografi untuk Al-Faqih Taqiyuddin Al-Maqdisi Al-Hanbali[41] rohimahulloh
(679 H), lalu beliau berkata: “Beliau adalah seorang Hanbali yang kokoh, sangat
keras terhadap kaum Asya’iroh. Telah sampai sebuah khobar kepadaku bahwasanya
sebagian mutakallim (ahli kalam) berkata kepadanya: ‘Apakah kamu mengatakan
bahwa Alloh bersemayam di atas Arsy?!’ Maka beliau menjawab: ‘Tidak, demi Alloh
aku tidak mengatakannya! Akan tetapi Alloh-lah yang mengatakannya, dan Rosul ﷺ telah menyampaikannya,
sedangkan aku membenarkannya, lalu kamu mendustakannya!’, maka seketika
bungkamlah lelaki ahli kalam tersebut!”[42]
[18] Ibnu Abdil Hadi Al-Hanbali (744
H)
Al-Faqih
Ibnu Abdil Hadi Al-Hanbali[43] rohimahulloh
(744 H) berkata: “Aku pernah suatu kali berada di kediaman seorang tokoh dari
pembesar ulama Hanafiyah; lalu masuklah seorang lelaki lain dari kalangan
Hanafiyah juga. Lelaki itu kemudian memujiku dan berkata: ‘Syaikh ini adalah
seorang lelaki yang baik lagi beraqidah Asy’ari!’ Maka tokoh Hanafiyah tersebut
berkata kepadanya: ‘Atas dasar apa kamu mengatakan bahwa beliau beraqidah Asy’ari?!’
Lelaki itu menjawab: ‘Karena Aqidah yang shohih itu dinisbatkan kepada Al-Asy’ari!’
Maka demi Alloh, demi Alloh! Sungguh dia telah berdusta atas diriku, dan aku
berlepas diri dari ucapannya tersebut. Aku tidak akan berada di atas Aqidah Asy’ari
melainkan jika akal pikiranku telah hilang, atau agamaku telah lenyap!”[44]
Penutup
Aku memohon
kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan risalah pengumpulan ini
ikhlas semata-mata demi mengharap wajah-Nya Yang Mulia, bermanfaat bagi para
hamba-Nya yang muslim.
Serta
semoga Alloh memberatkan timbangan kebaikan dengannya bagiku dan bagi kedua
orang tuaku. Dan semoga sholawat, salam, serta berkah senantiasa tercurah
kepada Nabi kita dan kekasih kita Muhammad, juga kepada keluarga, para
Shohabat, serta para Tabi’in. Dan segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.
Ditulis
oleh:
Firos bin
Muhammad Said Jandal Ar-Rifa’i
Kota
Madinah Nabawiyyah, 15 Sya’ban 1443 H.
[1] Tajuddin As-Subki (771 H) berkata dalam
biografi beliau: “Sang elang kelabu, singa yang menerkam musuh-musuh mazhab,
syaikh dari mazhab ini, pembawa panjinya, bulan purnama yang terbit di
langitnya, hujan deras yang membasahi dengan kesegarannya. Tidak ada dari para
pengikut mazhab melainkan dia berputar di sekitar mata airnya, terkesima oleh
permata berharga dari lautan ilmunya. Kepadanyalah tujuan akhir dari sebuah
perjalanan ilmiah berujung, sehingga unta-unta dipacu dengan cepat ke arahnya,
tekad-tekad kuat digantungkan padanya, dan gelombang para penuntut ilmu
mendatanginya dengan tidak mengenal hamparan tanah luas melainkan sebagai bantal
tempat duduk mereka.” (Kitab: “Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubro” karya
As-Subki (3/21), cetakan Dar Hijr, Kairo Mesir 1413 H, dengan tahqiq Dr. Mahmud
At-Thonahi dan Dr. Abdul Fattan Al-Hulu)
[2] Bagian di dalamnya terdapat tulisan: “Ajwibah fi Ushuliddin”
karya Ibnu Suroij (hal. 40-42), cetakan Dar Al-Basya’ir Al-Islamiyyah, Beirut
Lebanon 1427 H.
[3] Al-Hakim (405 H) rohimahulloh berkata dalam
biografi beliau: “Beliau adalah salah satu imam kaum Muslimin, termasuk orang
yang paling hafal terhadap mazhab Syafi’i rohimahulloh, yang paling baik
pandangan analisisnya, dan yang paling zuhud terhadap dunia. Aku mendengar Abu
Bakr Al-Bazzaz rohimahulloh berkata: ‘Aku menemani perjalanan Al-Faqih
Abu Zaid dari Naisabur menuju Makkah, maka aku tidak mengetahui bahwa Malaikat mencatat
satu dosa pun atasnya!’
Dan Al-Khothib (463
H) rohimahulloh berkata: “Beliau menyampaikan Hadits di Baghdad,
kemudian tinggal menetap di dekat Makkah, dan beliau menyampaikan di sana Shohih
Al-Bukhori dari riwayat Al-Firobri, dan Abu Zaid adalah orang yang paling mulia
yang meriwayatkan kitab tersebut.”
Abu Ishaq
Asy-Syirozi (476 H) rohimahulloh berkata: “Beliau adalah seorang
penghafal mazhab.” (Lihat: Tarikh Al-Islam 8/363)
[4] Kitab: “Sounul Manthiqi wal Kalami ‘an Fannayil
Manthiqi wal Kalam” karya As-Suyuthi (911 H) (hal. 119-120), termasuk
publikasi Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah di Universitas Al-Azhar tahun 1389 H,
dengan tahqiq Dr. Ali Sami An-Nasysyar dan Su’ad Ali Abdul Roziq.
[5] Ibnu Al-Jauzi (597 H) rohimahulloh berkata
tentangnya: “Seorang ahli fikih yang memiliki kedudukan besar... beliau
termasuk pengikut Abu Hanifah, memiliki pengetahuan yang baik tentang bahasa,
pemahaman yang bagus dalam berdebat, aku telah duduk bermajelis bersamanya
selama beberapa waktu, dan aku banyak mendengar majelis-majelisnya...” (Kitab:
“Al-Muntazhom” karya Abu Al-Faroj Ibnu Al-Jauzi (18/31), Dar Al-Kutub
Al-Ilmiyyah, Beirut Lebanon tahun 1415 H, dengan tahqiq Muhammad dan Musthofa
Abdul Qodir ‘Atho)
[6] Al-Muntazhom (18/31).
[7] Abu Abdillah At-Tustari rohimahulloh berkata: “Beliau dahulu dikenal sebagai gurunya para ahli fikih,
tidak ada pada zamannya orang yang lebih hafal darinya, ilmu tentang halal dan
haram telah menyatu dengan daging dan darahnya, beliau sangat mengetahui apa yang
diperselisihkan manusia dan apa yang mereka sepakati, serta berilmu tentang
kasus-kasus hukum yang baru terjadi, lagi seorang penghafal yang ulung.” (Kitab:
“Tartib Al-Madarik” (6/211), Percetakan Fodhulah - Al-Muhammadiyyah,
Maroko 1401 H, dengan tahqiq Sa’id Ahmad A’rob)
[8] Kitab: “Risalah As-Sijzi ila Ahli Zabid fir Roddi ‘ala Man Ankarol Harf was Shout” (hal. 140), cetakan Dekanat Penelitian Ilmiah di Universitas Islam -
Madinah Nabawiyyah, Kerajaan Arob Saudi 1413 H, dengan tahqiq Muhammad Bakarim
Ba’abdullah.
[9] Al-Hafizh Ibnu Hajar (852 H) berkata tentangnya: “Seorang
ahli fikih Maliki dari Bashroh, memiliki kunyah Abu Abdillah...” (Lisan
Al-Mizan 7/359)
[10] Kitab: “Jami’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi”
karya Ibnu Abdil Barr (1/131), cetakan Dar Ibnil Jauzi, Dammam Kerajaan Arob
Saudi 1435 H, dengan tahqiq Abu Al-Asybal Al-Zuhairi. Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr
tidak mengomentari ucapan ini dengan apa pun, yang mana hal itu menunjukkan
penetapan dan penerimaan beliau terhadap ucapan tersebut.
[11] Tajuddin As-Subki menukil dalam biografi beliau dari
Abu Sa’d yang mengatakan: “Zanjani adalah seorang penghafal yang mutqin (kuat
hafalannya), tsiqoh (terpercaya), warok, banyak beribadah. Dan Muhammad bin Thohir berkata: “Aku tidak
melihat orang yang seperti beliau.” Aku mendengar Abu Ishaq Al-Habbal berkata:
“Tidak ada di dunia ini yang seperti Abu Al-Qosim Al-Zanjani dalam hal
keutamaan.” Beliau dahulu menghadiri majelis bersama kami, dan dibacakan
kesalahan di hadapannya, namun beliau tidak menyanggah seorang pun kecuali jika
ditanya, baru beliau menjawab.” (Thobaqot Asy-Syafi’iyyah 4/384-385)
[12] Kitab: “Syarh Al-Manzhūmah Ar-Rō’iyyah fis Sunnah”
(Manzhūmah beserta syarahnya oleh Al-Zanjani) (hal. 28-29), cetakan Maktabah
Dar Al-Minhaj, Riyadh Kerajaan Arob Saudi 1430 H, di bawah asuhan Syaikh Abdul
Rozzaq Al-Badr.
[13] Al-Hafizh Adz-Dzahabi (748 H) berkata tentangnya: “Seorang
menteri yang sempurna, imam yang alim lagi adil, Aunuddin, tangan kanan kekholifahan,
Abu Al-Muzhoffar Yahya bin Muhammad bin Hubairoh bin Sa’id bin Al-Hasan bin
Jahm As-Syaibani, Ad-Dauri Al-Iraqi Al-Hanbali, pemilik berbagai karya tulis.
Beliau memasuki Baghdad pada masa mudanya, lalu menuntut ilmu, duduk bersama
para ahli fikih, belajar fikih kepada Abu Al-Husein bin Al-Qodhi Abu Ya’la,
duduk bersama para ahli sastra, mendengar Hadits, membaca Al-Qur’an dengan qiroah
sab’ah, mengambil bagian dalam ilmu-ilmu Islam, serta ahli dalam bidang
bahasa. Beliau mengetahui mazhab, bahasa Arob, dan ilmu arudh, lagi seorang
yang berAqidah Salafiyah Atsariyah.” (Lihat: Siyar A’lam An-Nubala
20/426)
[14] Kitab: “Ad-Dzailu ‘ala Thobaqotil Hanabilah”
karya Ibnu Rojab (2/156), cetakan Maktabah Al-Obeikan, Riyadh Kerajaan Arob
Saudi 1425 H, dengan tahqiq Dr. Abdurrohman Al-Utsaimin.
[15] Tajuddin As-Subki berkata tentangnya: “Beliau menyusun
karya tulis dalam bidang mazhab dan tafsir.... Ibnu As-Sam’ani berkata
tentangnya: “Abu Al-Hasan termasuk penduduk Karoj, aku melihat beliau di sana;
seorang imam, warok, alim, berakal, ahli fikih, mufti, muhaddits, penyair,
sastrawan, beliau memiliki kumpulan karya yang bagus, menghabiskan sepanjang
umurnya untuk mengumpulkan ilmu dan menyebarkannya. Beliau bermazhab Syafi’i;
hanya saja beliau tidak melakukan qunut dalam sholat Shubuh, dan beliau dahulu
berkata: Imam kita As-Syafi’i rohimahulloh telah berkata: ‘Jika Hadits
itu shohih maka tinggalkanlah ucapanku, dan ambillah Hadits tersebut’, dan
telah shohih di sisiku bahwasanya Nabi ﷺ meninggalkan qunut dalam sholat Shubuh’.” (Thobaqot
Asy-Syafi’iyyah 6/138)
[16] Kitab: “At-Tis’īniyyah” karya Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah (728 H) (3/880), cetakan Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh Kerajaan
Arob Saudi 1420 H, dengan tahqiq Dr. Muhammad bin Ibrohim Al-Ajlan.
[17] Thobaqot Asy-Syafi’iyyah (6/144).
[18] Thobaqot Asy-Syafi’iyyah (6/146).
[19] Thobaqot Asy-Syafi’iyyah (6/144).
[20] As-Sam’ani rohimahulloh berkata tentangnya: “Seorang
syaikh dari kalangan Syafi’iyah di wilayah Yaman.... Beliau adalah seorang imam
yang zuhud, warok, alim, penuh kebaikan, namanya masyhur, reputasinya luas,
mengetahui fikih dan ushul, ilmu kalam serta nahwu, orang yang paling
mengetahui di muka bumi tentang karya-karya tulis Abu Ishaq Asy-Syirozi...
beliau menghafal kitab Al-Muhadzdzab di luar kepala, dan dikatakan bahwa
beliau membacanya dalam satu malam saja.” (Thobaqot Asy-Syafi’iyyah
7/336)
[21] Kitab: “Al-Intishor fir Roddi ‘alal Mu’tazilah
Al-Qodariyyah Al-Asyror” karya Al-Umroni (2/595), cetakan Dar Adhwa’
Al-Salaf, Riyadh Kerajaan Arob Saudi 1419 H, dengan tahqiq Dr. Su’ud Al-Kholaf.
[22] As-Sam’ani rohimahulloh berkata tentangnya: “Termasuk
penduduk Jailan, imam kaum Hanabilah, dan syaikh mereka pada zamannya, seorang
ahli fikih yang sholih, taat beragama lagi penuh kebaikan, banyak berdzikir,
senantiasa berpikir, mudah meneteskan air mata.” (Tarikh Al-Islam
12/254)
[23] Kitab: “Al-Ghunyah li Tholibi Thoriqil Haqq”
karya Al-Jilani (1/131), cetakan Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut Lebanon 1417
H, dengan tahqiq Sholah bin Muhammad bin ‘Uwaidhah.
[24] Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Seorang
syaikh, imam, ‘allamah (orang yang sangat berilmu), hafizh, mufasir, syaikhul
Islam, kebanggaan Irak...” (Siyar A’lam An-Nubala 21/365)
[25] Ahlus Sunnah meyakini bahwasanya sifat kalam
(berbicara) bagi Alloh adalah qodim secara jenisnya, namun baru secara satuan
bicaranya; maka Robb kita Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bersifat dengan
sifat berbicara, Dia berbicara kapan saja Dia kehendaki. Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا
اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ﴾
“Tidak datang
kepada mereka suatu peringatan yang baru diturunkan dari Robb mereka, melainkan
mereka mendengarkannya sambil bermain-main..” (QS. Al-Anbiya: 2)
Lihat untuk
tambahan penjelasan dalam masalah ini: Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah
(5/411-412) dan (5/466-467).
[26] Al-Muntazhom fi Tarikh Al-Muluk wal Umam (14/29).
[27] Al-Hafizh Al-Iroqi (806 H) berkata tentangnya: “Seorang
hafizh, mutqin, kritikus Hadits, hujah, Syihabuddin Ahmad bin Ali Asy-Syafi’i,
yang terkenal dengan sebutan Ibnu Hajar, semoga Alloh memberikan manfaat dengan
ilmu-ilmunya, dan memberikan kenikmatan dengan hasil karyanya.” (Kitab: “Al-Jawahir
wad Duror fi Tarjamati Ibnil Hajar” karya As-Sakhawi (1/268), cetakan Dar
Ibn Hazm, Beirut Lebanon 1419 H, dengan tahqiq Ibrohim Bajis Abdul Majid)
[28] Al-Hafizh rohimahulloh berkata tentangnya: “Dan
dia adalah orang yang tidak terpercaya, dan kitab karangannya yang disebutkan
tersebut menyerukan atas pelakunya berupa pemikiran Mu’tazilah dan
penyimpangan, kita memohon keselamatan kepada Alloh.” (Lisan Al-Mizan
6/588)
[29] Lisan Al-Mizan (6/588).
[30] Lisan Al-Mizan (6/319).
[31] Lisan Al-Mizan (6/321).
[32] Lihat kitab: “Manhaj Al-Hafizh Ibnil Hajar
Al-Asqolani fil ‘Aqidah min Khilali Kitabihi Fathil Bari” Tesis Magister
oleh Syaikh Muhammad Ishaq Kando, cetakan Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh Kerajaan
Arob Saudi 1416 H.
[33] Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Dia seorang syaikh,
imam, panutan, ‘allamah, mujtahid, syaikhul Islam... dan beliau adalah ulama
penduduk Syam pada zamannya, Ibnu
An-Najjar berkata: ‘Beliau adalah imam kaum Hanabilah di Masjid Jami’ Damaskus,
beliau seorang yang tsiqoh, hujah, mulia, memiliki keutamaan yang melimpah,
bersih dari noda, warok, lagi ahli ibadah, di atas manhaj Salaf, tampak atasnya
cahaya dan kewibawaan, seseorang dapat mengambil manfaat hanya dengan
melihatnya sebelum mendengar ucapannya.’ Dan Umar bin Al-Hajib berkata: ‘Beliau
adalah imamnya para imam, mufti umat, Alloh mengkhususkan beliau dengan
keutamaan yang melimpah, kecerdasan yang mengalir, dan ilmu yang sempurna, nama
beliau menggema di berbagai negeri, dan zaman pun terasa kikir untuk melahirkan
orang yang seperti beliau, beliau memegang erat hakikat-hakikat dalil naqliyah
maupun aqliyah.’ (Siyar A’lam An-Nubala 22/165-167)
[34] Kitab: “Hikayat Al-Munazhoroh fil Qur’an” karya
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620 H), hal. 35, cetakan Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh
Kerajaan Arob Saudi 1418 H, dengan tahqiq Abdullah bin Yusuf Al-Judai’.
[35] Tajuddin As-Subki (771 H) berkata tentang beliau:
“Syaikh Islam, guru bagi orang-orang belakangan, hujah Alloh atas orang-orang
yang datang kemudian, dan penyeru menuju jalan orang-orang terdahulu...” (Thobaqot
Asy-Syafi’iyyah, 8/395)
[36] Kitab: “Juz’un fihi Dzikru I’tiqodilla Salaf fil
Hurufi wal Ashwat” karya An-Nawawi, hal. 39.
[37] Al-Hafizh Adz-Dzahabi (748 H) berkata tentangnya:
“Seorang mufti yang ‘allamah, ahli fikih Maliki, pengajar di sekolah
Al-Mustanshiriyyah, termasuk pembesar para imam mazhab, dan beliau memiliki
kezuhudan serta kesholihan...” (Tarikh Al-Islam, 15/167-168)
[38] Lisan Al-Mizan, 4/428.
[39] Tajuddin As-Subki berkata tentang Adz-Dzahabi:
“Seorang imam bagi seluruh alam dalam hal hafalan, emasnya zaman secara makna
maupun lafazh, syaikh dalam bidang ilmu jarh wa ta’dil, tokoh dari para
tokoh di setiap jalan ilmiah, seolah-olah umat ini dikumpulkan di satu hamparan
tanah yang luas; lalu beliau melihatnya, kemudian beliau mengabarkan tentang
umat tersebut bagaikan kabar dari orang yang ikut menghadirinya.” (Thobaqot
Asy-Syafi’iyyah, 9/101)
[40] Manzhūmah sya’ir ini dinukil dari naskah manuskrip
asli yang ditulis oleh salah seorang murid utama Al-Hafizh Adz-Dzahabi dengan
tulisan tangannya sendiri, yaitu Al-Burhan bin Jama’ah rohimahulloh.
Beliau berkata di dalam bagian pembuka sya’ir tersebut: “Beliau (Adz-Dzahabi)
melantunkannya langsung kepadaku untuk dirinya sendiri”, yang mana hal ini
menegaskan bahwasanya untaian sya’ir tersebut merupakan gubahan dari gurunya
sendiri yaitu Adz-Dzahabi rohimahulloh. Manzhūmah ini telah ditahqiq dan
diterbitkan oleh Muhammad bin Abdullah As-Sari’ pada tahun 1440 H.
[41] Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata tentangnya: “Beliau
belajar fikih kepada At-Taqiy bin Al-Izz, mahir dalam mazhab, menaruh perhatian
besar pada sunnah dan mengumpulkannya, mendebat musuh-musuh sunnah dan
mengkafirkan mereka, beliau adalah seorang yang memiliki keberanian, sangat
keras terhadap kaum Asya’iroh; sehingga mereka menuduh beliau dengan tuduhan tajsim
(memvisualisasikan Alloh memiliki fisik)!” (Ad-Dzailu ‘ala Thobaqotil
Hanabilah, 4/156)
[42] Tarikh Al-Islam, 15/374.
[43] Ibnu Al-Imad berkata tentang beliau: “Dikenal dengan
sebutan Ibnu Al-Mubarrid... beliau adalah seorang imam yang ‘allamah, sangat
mendominasi atas dirinya ilmu Hadits dan fikih...” (Kitab: “Syadzarot
Adz-Dzahab” karya Ibnu Al-Imad (10/62), cetakan Dar Ibnu Katsir, Damaskus
Suriah 1414 H, dengan tahqiq Mahmud Al-Arna’uth di bawah pengawasan Abdul Qadir
Al-Arna’uth)
[44] Kitab: “Thimar Al-Maqashid fi Dzikri Al-Masajid”
karya Ibnu Abdil Hadi, hal. 25, cetakan Al-Ma’had Al-Fransi, Beirut Lebanon
1362 H, dengan tahqiq Muhammad As’ad Tholas.
