Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Pembeda Antara Wali Alloh dan Wali Syaithon - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh, kami memohon pertolongan-Nya, memohon petunjuk-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Alloh dari keburukan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya.

Amma ba’du:

Alloh mengutus Muhammad menjelang tibanya hari Qiyamah sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, serta penyeru kepada Alloh dengan izin-Nya dan sebagai pelita yang menerangi. Melalui perantara beliau, Alloh memberi petunjuk dari kesesatan, memberikan penglihatan dari kebutaan, dan memberikan arahan dari penyimpangan. Alloh membuka mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang tertutup. Dengan risalah beliau pula, Alloh membedakan antara yang haq dan yang bathil, antara petunjuk dan kesesatan, antara jalan yang lurus dan penyimpangan. Beliau menjadi pembeda antara orang-orang Mu’min dan orang-orang kafir, antara penduduk Jannah yang berbahagia dan penduduk Naar yang celaka, serta menjadi pembeda antara para Wali Alloh dan para musuh Alloh.

Barangsiapa yang dipersaksikan oleh Muhammad bahwa ia termasuk Wali Alloh, maka ia adalah Wali Ar-Rohman. Sebaliknya, barangsiapa yang dipersaksikan oleh beliau sebagai musuh Alloh, maka ia adalah musuh Alloh dan termasuk wali syaithon. Alloh telah menjelaskan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rosul-Nya bahwa di antara manusia terdapat para Wali Alloh dan para wali syaithon. Perbedaan di antara keduanya sangatlah nyata, dan sebagai Muslim, kita diwajibkan untuk memahami batasan yang memisahkan antara kemuliaan Wali Ar-Rohman dan kehinaan wali syaithon.

Buku ini hadir untuk mengupas tuntas hakikat kewalian tersebut agar tidak terjadi kerancuan di tengah umat. Seringkali manusia terjebak dalam fenomena-fenomena luar biasa (khoriqul ‘adah) dan menganggapnya sebagai karomah, padahal bisa jadi itu adalah tipu daya syaithon. Oleh karena itu, standar utama dalam menilai kewalian seseorang bukanlah keajaiban yang ditunjukkannya, melainkan sejauh mana ketaatannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.

Derajat kewalian itu bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar Iman dan Taqwa seseorang. Ada yang mencapai derajat As-Sabiqun Al-Muqorrobun (orang-orang terdahulu yang didekatkan kepada Alloh) dan ada pula yang berada pada tingkatan Al-Muqtashidun (orang-orang yang bersikap pertengahan). Dengan memahami prinsip-prinsip ini, seorang Muslim akan terlindungi dari kesesatan kaum Mulaahidah (orang-orang atheis/menyimpang) yang mengklaim kewalian namun justru menghalalkan yang harom dan meninggalkan syariat Nabi Muhammad .

 

Bab 1: Hakikat Kewalian

1.1: Definisi Wali Berdasarkan Iman dan Taqwa

Alloh telah menjelaskan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rosul-Nya bahwa Alloh memiliki para Wali di antara manusia, dan syaithon pun memiliki para Wali. Alloh membedakan antara para Wali Ar-Rohman dengan para wali syaithon.

Alloh berfirman:

﴿أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ * لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾

“Ingatlah, sesungguhnya para Wali Alloh itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka kabar gembira dalam kehidupan dunia dan di Akhiroh. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Alloh. Yang demikian itu adalah kemenangan yang agung.” (QS. Yunus: 62-64)

Alloh juga berfirman:

﴿اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴾

“Alloh adalah pelindung (wali) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, wali-wali mereka adalah thoghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni Naar; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqoroh: 257)

Maka, para Wali Alloh adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori (256 H) dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda bahwa Alloh berfirman:

«إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا»

“Alloh Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi Wali-Ku, maka sungguh ia telah menantang-Ku berperang. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada menunaikan apa yang Aku fardhukan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan nafilah (amalan tambahan) hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.” (HR. Al-Bukhori no. 6502)

Dalam riwayat lain disebutkan:

«فَبِي يَسْمَعُ وَبِي يُبْصِرُ، وَبِي يَبْطِشُ، وَبِي يَمْشِي»

“Maka dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia memukul, dan dengan-Ku ia berjalan.”

Hadits ini adalah hadits paling shohih yang diriwayatkan tentang para Wali. Di sini dijelaskan bahwa siapa yang memusuhi Wali Alloh, maka ia telah menantang Alloh dalam peperangan. Wali Alloh adalah mereka yang beriman kepada-Nya dan mencintai-Nya, mereka mencintai apa yang Dia cintai, membenci apa yang Dia benci, ridho dengan apa yang Dia ridhoi, dan murka dengan apa yang Dia murkai. Mereka memerintahkan apa yang Dia perintahkan dan melarang apa yang Dia melarang.

Ikatan Iman yang paling kuat adalah cinta karena Alloh dan benci karena Alloh. Rosululloh bersabda:

«أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ: الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ»

“Ikatan Iman yang paling kuat adalah cinta karena Alloh dan benci karena Alloh.” (Silsilah Shohihah no. 998)

Beliau juga bersabda:

«مَنْ أَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ، وَأَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، فَقَدْ اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ»

“Barangsiapa yang mencintai karena Alloh, membenci karena Alloh, memberi karena Alloh, dan menahan karena Alloh, maka sungguh ia telah menyempurnakan Imannya.” (HHR. Abu Dawud no. 4681)

Al-Wilayah (kewalian) adalah lawan dari al-‘adawah (permusuhan). Asal dari kewalian adalah kecintaan dan kedekatan, sedangkan asal dari permusuhan adalah kebencian dan kejauhan. Wali adalah orang yang dekat. Maka Wali Alloh adalah orang yang menyetujui dan mengikuti-Nya dalam apa yang Dia cintai dan ridhoi, serta apa yang Dia benci dan murkai.

1.2: Rosululloh Sebagai Al-Furqon (Pembeda) Mutlak

Wali Alloh yang paling utama adalah para Nabi-Nya, dan Nabi yang paling utama adalah para Rosul. Di antara para Rosul, yang paling utama adalah Ulul ‘Azmi yaitu Nuh, Ibrohim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad . Dan yang paling utama di antara Ulul ‘Azmi adalah Muhammad , penutup para Nabi, imam bagi orang-orang yang bertaqwa, dan pemimpin anak cucu Adam.

Alloh menjadikan beliau sebagai pembeda antara para Wali-Nya dan musuh-musuh-Nya. Tidak ada yang menjadi Wali Alloh kecuali orang yang beriman kepadanya dan kepada apa yang dibawanya, serta mengikutinya secara batin dan zhohir. Siapa yang mengaku mencintai Alloh dan menjadi Wali-Nya namun tidak mengikuti beliau, maka ia bukan termasuk Wali Alloh. Bahkan siapa yang menyelisihinya, maka ia termasuk musuh Alloh dan wali syaithon.

Alloh berfirman:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُوني يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Jika kalian benar-benar mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imron: 31)

Al-Hasan Al-Bashri (110 H) rohimahullah berkata bahwa ada suatu kaum yang mengaku mencintai Alloh, lalu Alloh menurunkan ayat ini sebagai ujian bagi mereka.

Kewajiban mengikuti Rosululloh ini berlaku bagi seluruh manusia dan jin. Tidak ada seorang manusia atau jin pun kecuali wajib baginya beriman kepada Muhammad dan mengikutinya. Barangsiapa yang telah tegak hujjah atasnya tentang risalah beliau namun tidak beriman, maka ia kafir, baik dari kalangan manusia maupun jin. Alloh mengabarkan tentang jin yang mendengarkan Al-Qur’an dan beriman:

﴿قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an). Yang memberikan petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Robb kami.” (QS. Al-Jin: 1-2)

1.3: Bantahan terhadap Klaim Kewalian Kaum Musyrik dan Ahli Kitab

Banyak orang yang mengira diri mereka atau orang lain sebagai Wali Alloh padahal sebenarnya bukan. Kaum Yahudi dan Nasroni mengklaim sebagai Wali Alloh dan anak-anak-Nya yang dicintai. Namun Alloh membantah mereka:

﴿قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ﴾

“Katakanlah: ‘Mengapa Alloh menyiksa kalian karena dosa-dosa kalian? Sebenarnya kalian adalah manusia biasa di antara makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 18)

Demikian pula kaum Musyrik Arob mengklaim sebagai Ahlu Alloh karena tinggal di Makkah dan menjaga Baitulloh. Alloh menjelaskan bahwa mereka bukan Wali-Nya:

﴿وَمَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ﴾

“Dan mereka bukanlah para wali-Nya. Tidak lain para wali-Nya itu hanyalah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Anfal: 34)

Begitu pula kaum munafiq yang menampakkan Islam secara zhohir namun meyakini batin yang menyelisihi risalah Nabi . Ada yang meyakini bahwa Nabi hanya diutus kepada kaum Ummiyyin (buta huruf) bukan kepada Ahli Kitab, atau meyakini bahwa Alloh memiliki Wali-Wali khusus yang tidak butuh kepada Rosul, sebagaimana dugaan mereka Khidhir yang konon tidak butuh kepada Musa.

Ini adalah kesesatan yang nyata. Muhammad adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahnya, dan beliau diutus kepada seluruh jin dan manusia. Barangsiapa meyakini bahwa ada Wali yang memiliki jalan menuju Alloh tanpa mengikuti Muhammad , maka ia kafir dan termasuk wali syaithon. Meskipun seseorang mencapai puncak zuhud, ibadah, dan ilmu, jika ia tidak beriman kepada seluruh apa yang dibawa oleh Muhammad , maka ia bukan Mu’min dan bukan Wali Alloh. Contohnya adalah para pendeta Yahudi dan Nasroni, serta para filosof seperti Aristoteles (322 SM) yang merupakan kaum musyrik penyembah berhala dan bintang.

Banyak orang yang tertipu dengan khoriqul ‘adah (hal luar biasa) atau mukasyafah (tersingkapnya rahasia ghoib). Mereka mengira itu karomah, padahal itu berasal dari syaithon karena mereka tidak mengikuti Rosul. Syaithon turun kepada para pendusta dan pendosa. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ﴾

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Ar-Rohman (Al-Qur’an), Kami adakan baginya syaithon (yang menyesatkan) maka syaithon itulah yang menjadi teman pendampingnya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)

Dzikrur Rohman adalah apa yang dibawa oleh Rosululloh yaitu Al-Qur’an. Maka siapa yang tidak beriman kepada Al-Qur’an dan tidak mengikuti perintahnya, maka ia akan didampingi oleh syaithon. Meskipun ia terbang di udara atau berjalan di atas air, itu dilakukan oleh syaithon yang membawanya. Kewalian Alloh hanya didapatkan dengan Iman dan Taqwa melalui ketaatan kepada Muhammad .

1.4: Meluruskan Kekeliruan Tentang Ahlu Shuffah

Sebagian orang yang sesat mengklaim bahwa Ahlu Shuffah tidak butuh kepada Nabi atau mereka mendapatkan wahyu batin sebagaimana Nabi saat Mi’roj. Ini adalah kebodohan yang nyata. Mi’roj terjadi di Makkah, sedangkan Shuffah hanya ada di Madinah. Shuffah adalah bagian utara Masjid Nabi tempat singgah para perantau yang tidak memiliki tempat tinggal. Mereka bukan orang-orang tertentu yang menetap selamanya, melainkan silih berganti. Di antara mereka ada orang-orang Muslim yang paling utama seperti Sa’ad bin Abi Waqqosh (55 H) dan Abu Huroiroh (58 H), namun ada juga orang yang murtad seperti kaum ‘Uroiniyyin yang dibunuh oleh Nabi karena membunuh penggembala. Ahli Shuffah tidak memiliki keistimewaan khusus dalam agama yang membedakan mereka dari kaum Muslimin lainnya. Shohabat senior seperti Abu Bakr (13 H), ‘Umar (23 H), ‘Utsman (35 H), dan ‘Ali (40 H) bukanlah Ahlu Shuffah.

1.5: Kepalsuan Hadits-Hadits Tentang Tingkatan Wali

Hadits-hadits yang menyebutkan jumlah Wali seperti 7, 12, 40, 70, 300, atau adanya Quthb yang satu, semuanya adalah dusta (maudhu’) menurut kesepakatan ulama. Tidak ada yang shohih dari Nabi tentang istilah-istilah seperti Aqthob, Autad, Nujaba, dan Nuqoba. Hanya istilah “Abdal” yang pernah diucapkan oleh sebagian Salaf, namun hadits yang menyebutkan bahwa mereka berjumlah 40 orang di Syam adalah hadits munqothi’ (terputus sanadnya) dan tidak tsabit.

 

Bab 2: Klasifikasi dan Tingkatan Para Wali

2.1 As-Sabiqun Al-Muqorrobun dan Ashabul Yamin yang Muqtashid

Dalam membagi tingkatan manusia di hadapan Robb mereka, Alloh menjelaskan dalam banyak tempat di Al-Qur’an bahwa para Wali-Nya terbagi menjadi dua golongan utama: As-Sabiqun Al-Muqorrobun (orang-orang terdahulu yang didekatkan) dan Ashabul Yamin Al-Muqtashidun (golongan kanan yang bersikap pertengahan). Pembagian ini disebutkan secara rinci dalam awal dan akhir Suroh Al-Waqi’ah, juga dalam Suroh Al-Insan, Al-Muthoffifin, dan Fathir.

Dalam Suroh Al-Waqi’ah, Alloh berfirman mengenai pembagian manusia saat Qiyamah Kubro:

﴿فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ﴾

“Maka golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk Jannah). Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh).” (QS. Al-Waqi’ah: 8-11)

1. Al-Abror Ashabul Yamin (Al-Muqtashidun)

Mereka adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Alloh dengan melaksanakan hal-hal yang fardhu saja. Mereka mengerjakan apa yang Alloh wajibkan dan meninggalkan apa yang Alloh haromkan, tanpa membebani diri mereka dengan amalan-amalan sunnah (mandubat) atau menahan diri dari kelebihan hal-hal yang mubah.

2. As-Sabiqun Al-Muqorrobun

Mereka adalah golongan yang lebih tinggi tingkatannya, yang mendekatkan diri kepada Alloh dengan amalan nafilah (sunnah) setelah menyempurnakan yang fardhu. Mereka mengerjakan yang wajib dan yang mustahab (disukai), serta meninggalkan yang harom maupun yang makruh. Karena mereka telah mencurahkan segala kemampuan untuk melakukan apa yang dicintai Alloh, maka Alloh pun mencintai mereka dengan kecintaan yang sempurna. Bagi kelompok ini, perkara-perkara mubah pun berubah menjadi ketaatan karena diniatkan untuk membantu mereka dalam beribadah kepada Alloh .

Perbedaan balasan bagi kedua kelompok ini digambarkan dalam Suroh Al-Muthoffifin mengenai minuman mereka di Jannah:

﴿يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ﴾

“Mereka diberi minum dari khomr murni yang dilak (tempatnya). Laknya dari minyak misk; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba. Dan campuran khomr murni itu adalah dari Tasnim. (Yaitu) mata air yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh).” (QS. Al-Muthoffifin: 25-28)

Ibnu ‘Abbas (68 H) dan ulama Salaf lainnya menjelaskan bahwa para Muqorrobun meminum air Tasnim tersebut secara murni, sedangkan bagi Ashabul Yamin, air tersebut dicampurkan ke dalam minuman mereka sesuai dengan kadar amal mereka di dunia.

2.2 Perbedaan Derajat Hamba Rosul dengan Nabi Raja

Alloh memberikan pilihan kepada para Nabi-Nya mengenai kedudukan mereka. Hal ini terlihat jelas pada perbandingan antara Nabi Muhammad dengan Nabi Sulaiman atau Nabi Dawud.

Nabi Malik (Nabi yang juga Raja): Seperti Sulaiman dan Dawud ‘alaihimas salam. Alloh memberikan kekuasaan besar kepada mereka, sebagaimana firman-Nya mengenai Sulaiman:

 ﴿هَذَا عَطَاؤُنَا فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾

 “Inilah pemberian Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa pertanggungjawaban.” (QS. Shod: 39)

 Seorang Nabi Malik diperbolehkan mengatur urusan kerajaan dan harta sesuai pilihannya, selama ia tetap menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan.

Abdun Rosul (Hamba yang menjadi Rosul): Nabi Muhammad memilih kedudukan ini setelah diberi pilihan oleh Alloh . Beliau tidak memberikan atau menahan sesuatu kecuali berdasarkan perintah Robb-Nya. Beliau bersabda dalam hadits shohih:

«مَا أُعْطِيكُمْ وَلاَ أَمْنَعُكُمْ، إِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ أَضَعُ حَيْثُ أُمِرْتُ»

 “Aku tidak memberi kepadamu maupun tidak menahan darimu (apapun). Sesungguhnya aku hanyalah pembagi yang meletakkan (harta) di mana aku diperintahkan.” (HR. Al-Bukhori no. 3117)

Oleh karena itu, derajat Abdun Rosul lebih tinggi daripada Nabi Malik, sebagaimana Ibrohim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad lebih utama dibandingkan Yusuf, Dawud, dan Sulaiman. Hal ini karena seluruh amal perbuatan Abdun Rosul adalah ibadah murni kepada Alloh .

2.3 Balasan Alloh yang Sesuai dengan Jenis Amal

Prinsip keadilan Alloh menetapkan bahwa balasan selalu sesuai dengan jenis amal perbuatan (al-jaza’ min jinsil ‘amal), baik dalam kebaikan maupun keburukan. Rosululloh bersabda:

«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ»

“Barangsiapa yang meringankan satu kesusahan seorang Mu’min di dunia, Alloh akan meringankan kesusahannya pada hari Qiyamah. Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan, Alloh akan memudahkannya di dunia dan Akhirqh. Barangsiapa yang menutupi aib seorang Muslim, Alloh akan menutupi aibnya di dunia dan Akhiroh. Alloh senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

Dalam pembagian umat Muhammad , Alloh mengklasifikasikan mereka menjadi tiga golongan dalam Suroh Fathir:

1. Zholimun linafsih (Menzholimi diri sendiri): Mereka yang berdosa dan terus-menerus melakukannya.

2. Muqtashid (Pertengahan): Mereka yang menjalankan kewajiban dan menjauhi keharoman.

3. Sabiqun bil Khoirot (Terdepan dalam kebaikan): Mereka yang menjalankan kewajiban sekaligus amalan sunnah.

﴿ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Lalu Kami wariskan Al-Quran kepada hamba-hamba Kami yang Kami pilih. Di antara mereka ada yang menzholimi diri sendiri, ada pula yang pertengahan, dan ada pula yang terdepan dalam kebaikan dengan seizin Alloh. Itulah karunia yang sangat besar.” (QS. Fathir: 32)

Bagi umat Muhammad , ketiga golongan ini semuanya dijanjikan masuk Jannah ‘Adn. Hal ini menjadi dalil bagi Ahlu Sunnah bahwa pelaku dosa besar (ahlu kaba’ir) dari kalangan ahli tauhid tidak akan kekal di dalam Naar. Mereka akan dikeluarkan dari Naar melalui syafaat Nabi Muhammad dan syafaat lainnya setelah menjalani adzab sesuai kadar dosanya, kecuali jika Alloh menghendaki untuk mengampuni mereka secara langsung sebagaimana firman-Nya:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48)

Standar utama kewalian tetap kembali pada Iman dan Taqwa. Seseorang bisa saja memiliki sebagian sifat kewalian karena Imannya, namun juga memiliki sebagian sifat permusuhan terhadap Alloh karena kemaksiatan atau nifaq yang ada pada dirinya. Derajat kewalian seseorang akan sempurna seiring dengan sempurnanya Iman dan Taqwa mereka kepada Alloh .

 

Bab 3: Meluruskan Sejarah dan Hadits-Hadits Tentang Wali

3.1 Hakikat Ahlu Shuffah dan Bantahan terhadap Mitos Mereka

Sering kali muncul anggapan keliru di tengah masyarakat bahwa Ahlu Shuffah adalah kelompok orang yang memiliki keistimewaan khusus dalam urusan batin atau ilmu rahasia yang tidak diketahui oleh Shohabat lain. Sebagian kaum bahkan berani mengklaim bahwa Alloh mewahyukan kepada Ahlu Shuffah secara batin apa yang diwahyukan kepada Nabi pada malam Mi’roj. Ini adalah bentuk kebodohan yang sangat nyata, karena peristiwa Isro’ Mi’roj terjadi di Makkah, sementara Shuffah baru ada di Madinah setelah Nabi berhijroh. Shuffah sebenarnya hanyalah sebuah area di bagian utara Masjid Nabawi yang digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi para pendatang atau orang miskin yang tidak memiliki keluarga atau tempat bernaung di Madinah.

Penduduk Shuffah bukanlah orang-orang tertentu yang menetap di sana secara permanen untuk melakukan ritual khusus. Jumlah mereka sering kali berubah, terkadang banyak dan terkadang sedikit, bergantung pada kondisi ekonomi dan sosial saat itu. Jika ada di antara mereka yang sudah mendapatkan tempat tinggal, mereka akan segera pindah dari Shuffah. Orang-orang yang tinggal di sana pun berasal dari berbagai kalangan Muslim, dan tidak semuanya memiliki derajat agama yang sama. Faktanya, di antara mereka ada orang-orang Muslim yang sangat mulia seperti Abu Huroiroh (57 H) dan Sa’ad bin Abi Waqqosh (55 H), namun ada pula orang yang akhirnya murtad dan dihukum mati oleh Nabi karena kejahatannya, seperti kaum ‘Uroiniyyin.

Kisah kaum ‘Uroiniyyin ini terekam dalam Shohih Al-Bukhori (256 H) dan Muslim (261 H). Mereka datang ke Madinah, lalu jatuh sakit, kemudian Nabi memerintahkan mereka untuk tinggal di Shuffah dan berobat dengan meminum air kencing dan susu unta zakat. Setelah sembuh, mereka justru berkhianat dengan membunuh penggembala unta Nabi dan merampas ternaknya. Hal ini membuktikan bahwa tinggal di Shuffah bukanlah jaminan kesucian atau kewalian bagi seseorang.

Penting pula untuk dicatat bahwa para Shohabat yang paling mulia seperti Abu Bakr (13 H), ‘Umar (23 H), ‘Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), Tholhah (36 H), Az-Zubair (36 H), ‘Abdurrohman bin ‘Auf (32 H), dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarroh (18 H) bukanlah penghuni Shuffah. Demikian juga kaum Anshor tidak termasuk dalam Ahlu Shuffah karena mereka sudah memiliki rumah di Madinah. Maka, sangat tidak logis jika dikatakan bahwa Ahlu Shuffah memiliki derajat yang lebih tinggi daripada para pilar utama umat ini. Istilah “Shuffah” sendiri secara bahasa merujuk pada bangunan yang memiliki atap, dan sebutan Sufi bukanlah nisbah (penyandaran nama) kepada Shuffah secara kaidah bahasa Arob yang benar.

3.2 Hadits Palsu Tentang Abdal, Quthb, Autad, dan Nujaba

Dalam literatur yang berkembang di sebagian kalangan, sering disebut-sebut adanya tingkatan-tingkatan Wali dengan istilah seperti Al-Abdal, Al-Aqthob, Al-Autad, Al-Nuqoba, dan Al-Nujaba. Mereka mengklaim bahwa Wali-Wali ini memiliki jumlah tertentu, seperti 7, 40, atau 313 orang, yang mengatur alam semesta. Perlu ditegaskan bahwa setiap Hadits yang menyebutkan jumlah Wali secara spesifik atau menggunakan gelar-gelar tersebut adalah Hadits yang dusta dan palsu menurut kesepakatan para ahli ilmu Hadits.

Para Salaf sama sekali tidak pernah mengucapkan istilah-istilah tersebut kecuali kata “Abdal”. Adapun Hadits yang menyebutkan bahwa Abdal berjumlah 40 orang dan berada di Syam, yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dari jalur ‘Ali (40 H), statusnya adalah Hadits yang munqothi’ (terputus sanadnya) dan tidak shohih. Secara logika dan sejarah, klaim bahwa Abdal terbaik hanya ada di Syam pada masa itu juga terbantah. Pada masa perselisihan antara ‘Ali dan Mu’awiyah (60 H), sudah pasti ‘Ali dan para Shohabat yang bersamanya jauh lebih utama dibandingkan pasukan Mu’awiyah di Syam. Rosululloh sendiri bersabda dalam Hadits shohih:

«تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عِنْدَ فُرْقَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، يَقْتُلُهَا أَوْلَى الطَّائِفَتَيْنِ بِالْحَقِّ»

“Akan muncul kelompok yang keluar dari Dien (Khowarij) saat terjadi perpecahan di antara kaum Muslimin; mereka akan diperangi oleh kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran di antara dua kelompok yang bertikai.” (HR. Muslim no. 1064)

‘Ali bin Abi Tholib (40 H) dan pasukannya adalah pihak yang memerangi kaum Khowarij tersebut, sehingga beliau adalah pihak yang lebih berhak atas kebenaran. Maka tidak mungkin para Abdal terbaik justru berada di pihak yang derajatnya berada di bawah kelompok ‘Ali.

Selain itu, terdapat Hadits palsu lain yang sering dikutip, seperti kisah Nabi yang konon menari (tawajud) hingga selendangnya jatuh saat mendengar syair tentang kerinduan, atau kisah Jibril yang mengambil sobekan baju Nabi lalu menggantungnya di ‘Arsy. Semua ini adalah kedustaan yang nyata yang dibuat oleh orang-orang yang tidak memahami martabat Kenabian. Demikian pula Hadits yang menyebutkan bahwa ‘Umar bin Al-Khoththob (23 H) merasa seperti orang kulit hitam (Zunji) saat Nabi dan Abu Bakr (13 H) sedang berbincang; itu adalah Hadits palsu (maudhu’) yang disepakati oleh para pakar.

3.3 Muhaddats Namun Tetap Terikat Syariat

‘Umar bin Al-Khoththob (23 H) adalah salah satu Wali Alloh yang paling mulia dalam umat ini. Nabi secara khusus menyebut beliau sebagai seorang Muhaddats, yaitu orang yang diberikan ilham atau dibisiki kebenaran dalam hatinya. Beliau bersabda:

«إِنَّهُ قَدْ كَانَ فِيمَا مَضَى قَبْلَكُمْ مِنَ الأُمَمِ مُحَدَّثُونَ، وَإِنَّهُ إِنْ كَانَ فِي أُمَّتِي هَذِهِ مِنْهُمْ فَإِنَّهُ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ»

“Sungguh telah ada pada umat-umat sebelum kalian orang-orang yang diberikan ilham (Muhaddatsun), maka jika ada salah seorang dari umatku yang memilikinya, dialah ‘Umar.” (HR. Al-Bukhori no. 3469 dan Muslim no. 2398)

Keistimewaan ‘Umar ini sangat luar biasa, hingga ‘Ali (40 H) pernah berkata bahwa kewibawaan (as-sakinah) sering kali berbicara melalui lisan ‘Umar. Banyak ayat Al-Qur’an yang turun selaras dengan pendapat ‘Umar dalam berbagai masalah. Namun, meskipun ‘Umar mencapai derajat Muhaddats, beliau tetaplah seorang manusia yang tidak ma’shum (terjaga dari salah). Beliau tetap diwajibkan untuk mencocokkan setiap ilham atau bisikan hatinya dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Sejarah mencatat bahwa ilham yang didapatkan ‘Umar terkadang disanggah oleh Shohabat lain dengan dalil yang lebih kuat, dan ‘Umar pun tunduk pada dalil tersebut. Contoh paling nyata adalah saat perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. ‘Umar saat itu sangat keberatan dengan poin-poin perjanjian yang tampak merugikan kaum Muslimin secara zhohir. Beliau bahkan bertanya kepada Nabi dan Abu Bakr (13 H) dengan nada protes karena semangatnya yang tinggi untuk membela Islam. Namun Nabi menegaskan:

«إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَلَسْتُ أَعْصِيهِ، وَهُوَ نَاصِرِي»

“Sesungguhnya aku adalah Rosululloh, aku tidak akan memaksiati-Nya, dan Dia adalah penolongku.” (HR. Al-Bukhori no. 2731)

Setelah itu, ‘Umar pun menyadari kekhilafannya dan bertaubat dengan melakukan banyak amal sholih sebagai penghapus kesalahannya tersebut. Kejadian ini juga membuktikan bahwa Abu Bakr (13 H) memiliki derajat yang lebih tinggi daripada ‘Umar. Meskipun ‘Umar adalah seorang Muhaddats, Abu Bakr adalah seorang Shiddiq. Seorang Shiddiq mengambil ilmunya langsung dari bimbingan Rosul yang ma’shum, sedangkan seorang Muhaddats mengambil ilmu dari ilham di hatinya yang tidak ma’shum. Oleh karena itu, ilham seorang Wali tetap harus tunduk di bawah otoritas Syariat Nabi .

Begitu pula saat wafatnya Nabi , ‘Umar pada awalnya mengingkari berita tersebut karena kecintaannya yang sangat besar, hingga Abu Bakr (13 H) datang dan membacakan ayat Al-Qur’an yang menyadarkannya. Dalam kasus memerangi orang yang enggan membayar Zakat, ‘Umar awalnya ragu, namun Abu Bakr (13 H) memberikan hujjah yang sangat kuat berdasarkan Sabda Nabi , hingga akhirnya Alloh melapangkan dada ‘Umar untuk menerima kebenaran tersebut.

Ini adalah pelajaran berharga bagi siapa saja yang mengaku sebagai Wali atau pengikut Wali. Tidak ada seorang pun setelah Nabi yang perkataannya wajib diterima secara mutlak tanpa syarat. Setiap pendapat harus ditimbang dengan timbangan Al-Qur’an dan Sunnah. Jika seorang Muhaddats sekaliber ‘Umar saja tetap bermusyawarah dan merujuk pada nash (seperti kasus wabah di Syam lalu Umar tunduk kepada Hadits dari seorang Sahabat), maka apalagi orang-orang yang derajatnya jauh di bawah beliau. Kewalian yang sejati justru terletak pada kesempurnaan dalam mengikuti (ittiba’) kepada petunjuk Rosululloh , bukan pada klaim ilham yang menyelisihi syariat zhohir.

Prinsip ini sangat penting untuk dipahami agar umat tidak terjebak pada pengkultusan individu yang melampaui batas. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Malik (179 H) rohimahullah bahwa setiap orang dapat diambil atau ditolak perkataannya, kecuali penghuni kubur ini, yaitu Nabi Muhammad . Kesepakatan para Wali Alloh yang sejati adalah bahwa setiap bisikan hati atau keadaan batin (al-wajd) yang tidak disaksikan kebenarannya oleh Kitab dan Sunnah, maka hal itu adalah bathil dan tertolak.

Sebagaimana dikatakan oleh Abu Sulaiman Ad-Daroni (215 H) bahwa terkadang terlintas di hatinya sebuah ide dari kaum tersebut (ahli sufi), namun ia tidak menerimanya kecuali dengan kehadiran dua saksi adil yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian pula Al-Junaid bin Muhammad (297 H) menegaskan bahwa ilmu kita ini terikat dengan Kitab dan Sunnah. Barangsiapa yang tidak membaca Al-Qur’an dan tidak menulis Hadits, maka ia tidak layak untuk dijadikan teladan dalam urusan ini. Kesimpulan besarnya adalah bahwa standar tunggal kewalian adalah ketaatan mutlak kepada Muhammad dalam segala aspek.

 

Bab 4: Hubungan Dunia Manusia dan Dunia Jin

4.1 Kewajiban Seluruh Jin dan Manusia Mengikuti Risalah Nabi

Salah satu prinsip penting yang wajib dipahami oleh setiap hamba adalah bahwa Alloh mengutus Nabi Muhammad kepada seluruh makhluk, baik dari golongan manusia maupun jin. Tidak ada satu pun manusia atau jin yang dikecualikan dari kewajiban untuk beriman kepada beliau dan mengikuti risalahnya. Setiap hamba wajib membenarkan apa yang beliau kabarkan dan mentaati apa yang beliau perintahkan. Siapa pun yang telah sampai kepadanya hujjah (bukti nyata) tentang kerasulan beliau namun tetap tidak beriman, maka ia dihukumi sebagai orang kafir, tanpa membedakan apakah ia seorang manusia atau jin.

Para ulama telah bersepakat bahwa Muhammad adalah utusan Alloh bagi kedua golongan makhluk besar ini (ats-tsaqolain). Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an ketika sekelompok jin mendengarkan bacaan beliau saat beliau sedang melaksanakan Sholat bersama para Shohabat di lembah Batn Nakhlah sekembalinya beliau dari Thoif. Peristiwa ini dikabarkan oleh Alloh dalam firman-Nya:

﴿وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ * فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ * قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ * يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ * وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ﴾

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaannya, mereka berkata: ‘Diamlah kalian.’ Tatkala pembacaan itu telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab yang diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Alloh dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosa kalian dan melepaskan kalian dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Alloh, maka ia tidak akan melepaskan diri dari adzab Alloh di muka bumi dan baginya tidak ada pelindung-pelindung selain-Nya. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Ahqof: 29-32)

Setelah peristiwa itu, Alloh menurunkan wahyu yang lebih rinci tentang keimanan jin:

﴿قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا * يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا * وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا * وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا * وَأَنَّا ظَنَنَّا أَن لَّن تَقُولَ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا * وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا﴾

“Katakanlah (Muhammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan. (Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan Robb kami dengan sesuatu pun. Dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Robb kami, Dia tidak beristri dan tidak pula beranak. Dan sesungguhnya orang yang kurang akal di antara kami dahulu selalu mengucapkan perkataan yang melampaui batas terhadap Alloh. Dan sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan kedustaan terhadap Alloh. Dan sesungguhnya ada beberapa laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, maka jin-jin itu menambah beban (rahaqo) bagi mereka.’” (QS. Al-Jin: 1-6)

Ayat di atas menjelaskan bahwa jin mengakui adanya orang-orang bodoh di antara mereka yang berbicara lancang terhadap Alloh . Para Salaf menjelaskan bahwa dahulu jika ada laki-laki dari golongan manusia singgah di suatu lembah, ia akan berkata: ‘Aku berlindung kepada penguasa lembah ini dari gangguan orang-orang bodoh di kaumnya. Perbuatan manusia yang meminta perlindungan (isti’adzah) kepada jin ini justru membuat jin semakin sombong, melampaui batas, dan kafir karena mereka merasa manusia telah tunduk kepadanya. Inilah yang dimaksud dengan “rohaqo” yaitu beban penderitaan atau kesengsaraan yang bertambah.

4.2 Fenomena Jin yang Beriman dan Hadits Tentang Bekal Mereka

Dunia jin mengalami perubahan besar sejak diturunkan Al-Qur’an. Sebelum risalah Muhammad , para syaithon terkadang berhasil mencuri dengar berita dari langit sebelum terkena lemparan api. Namun setelah Nabi diutus, langit dipenuhi oleh penjaga yang sangat ketat dan panah api (syihab) yang selalu mengintai. Jin berkata:

﴿وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا * وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَن يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا﴾

“Dan sesungguhnya kami telah mencoba menyentuh (langit), maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu duduk di beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar. Tetapi sekarang barangsiapa yang mencoba mencuri dengar, niscaya ia akan menjumpai panah api yang mengintai.” (QS. Al-Jin: 8-9)

Sebagaimana manusia, golongan jin juga memiliki keragaman dalam keyakinan. Ada di antara mereka yang Muslim, Musyrik, Yahudi, Nashroni, penganut Sunnah, maupun pengikut bid’ah. Mereka menyebut diri mereka sebagai “Tho-ro-iqo qidada” yang artinya bermacam-macam aliran atau madzhab. Di Akhirat nanti, jin yang kafir akan dimasukkan ke dalam Naar berdasarkan nash (dalil) dan ijma’ (kesepakatan ulama). Sedangkan jin yang beriman, mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka akan masuk ke dalam Jannah.

Terdapat catatan sejarah yang shohih dalam kitab Shohiih bahwa jin dari wilayah Nashibin mendatangi Nabi dan menyatakan keimanan mereka. Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi pernah membacakan Suroh Ar-Rohman kepada mereka. Setiap kali beliau membaca ayat:

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾

“Maka nikmat Robb kalian yang manakah yang kalian berdua (jin dan manusia) dustakan?” (QS. Ar-Rohman: 13)

Para jin menjawab:

«وَلَا بِشَيْءٍ مِنْ آلَائِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ، فَلَكَ الْحَمْدُ»

“Dan tidak ada satu pun dari nikmat-nikmat-Mu wahai Robb kami yang kami dustakan, maka bagi-Mu segala puji.” (HR. Al-Bazzar 12/190. Ar-Rosibi dinilai kuat Ibnu Hibban dan dilemahkan selainnya. Sisa rowi adalah shohih)

Mengenai urusan makanan, jin pernah meminta bekal kepada Rosululloh untuk diri mereka dan hewan tunggangan mereka. Beliau bersabda:

«لَكُمْ كُلُّ عَظْمٍ ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ تَجِدُونَهُ أَوْفَرَ مَا يَكُونُ لَحْمًا، وَكُلُّ بَعْرَةٍ عَلَفٌ لِدَوَابِّكُمْ»

“Bagi kalian adalah setiap tulang yang disebutkan nama Alloh di atasnya, kalian akan mendapatinya penuh dengan daging sesaat setelah berada di tangan kalian. Dan setiap kotoran hewan (بعرة) adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.” (HR. Muslim no. 450)

Oleh karena itu, Nabi melarang umatnya untuk ber-istinja (membersihkan diri setelah buang air) menggunakan tulang dan kotoran hewan kering. Beliau menegaskan:

«فَلَا تَسْتَنْجُوا بِهِمَا فَإِنَّهُمَا طَعَامُ إِخْوَانِكُمْ»

 yang artinya “Janganlah kalian ber-istinja dengan keduanya karena keduanya adalah bekal bagi saudara-saudara kalian dari golongan jin” (HR. Muslim no. 450)

Para ulama menyimpulkan bahwa jika ber-istinja dengan makanan jin saja dilarang, maka apalagi ber-istinja dengan makanan manusia, tentu lebih harom lagi.

Penting pula untuk mencatat kedudukan Nabi Muhammad yang jauh lebih agung dibandingkan Nabi Sulaiman dalam hal hubungan dengan jin. Meskipun jin ditundukkan bagi Sulaiman, hal itu berada dalam kerangka kekuasaan kerajaan (Mulki). Sedangkan Muhammad diutus kepada jin untuk memerintahkan mereka beribadah kepada Alloh sebagai hamba dan Rosul. Kedudukan “Abdun Rosul” (Hamba yang menjadi Rosul) lebih tinggi daripada “Nabi Malik” (Nabi yang menjadi Raja). Selain itu, seluruh Rosul berasal dari golongan manusia, sedangkan dari golongan jin hanya ada “Nudzur” (pemberi peringatan) yang menyampaikan risalah dari para Nabi manusia.

4.3 Hubungan Jin dan Manusia serta Pemanfaatannya

Interaksi antara jin dan manusia dapat dikategorikan menjadi beberapa tingkatan:

1. Tingkatan Tertinggi: Manusia yang memerintahkan jin untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh dan Rosul-Nya, seperti beribadah kepada Alloh semata dan mentaati Nabi-Nya. Orang semacam ini adalah termasuk Wali Alloh yang paling utama dan merupakan kholifah (wakil) Rosul di tengah kaum jin.

2. Tingkatan Menengah: Manusia yang menggunakan jin untuk urusan-urusan mubah (boleh), seperti membantu keperluan sehari-hari yang tidak mengandung kemaksiatan. Kedudukan orang ini setara dengan raja-raja yang menggunakan manusia untuk membantu urusannya. Jika ia termasuk Wali Alloh, maka ia berada pada derajat umum Wali Alloh (Al-Abror Al-Muqtashidun), setara dengan kedudukan Nabi yang menjadi raja.

3. Tingkatan Terendah dan Berbahaya: Manusia yang menggunakan jin untuk hal-hal yang dilarang Alloh dan Rosul-Nya. Jika ia meminta bantuan jin untuk melakukan kesyirikan, maka ia kafir. Jika ia menggunakannya untuk kemaksiatan seperti membunuh orang yang harom darahnya, menyakiti orang, membuat orang sakit, atau mendatangkan lawan jenis untuk perbuatan fakhisyah (keji), maka ia adalah pelaku maksiat yang fasiq.

Banyak manusia yang tertipu karena kurangnya ilmu syariat. Mereka mengira bantuan jin yang membawa mereka terbang ke Makkah atau Arofah adalah karomah, padahal itu adalah tipu daya syaithon. Pergi ke Arofah tanpa ber-ihrom dari miqot, tanpa talbiyah, dan tanpa menjalankan rukun Haji lainnya bukanlah Haji yang syar’i, melainkan bentuk makar dari jin yang ingin menyesatkan manusia tersebut dari jalan yang benar.

Sering kali manusia yang tidak memiliki hakikat Iman dan makrifat Al-Qur’an tidak bisa membedakan antara Karomah Rohmaniyyah dan talbis (tipu muslihat) Syaithoniyyah. Jika seseorang melakukan kesyirikan seperti menyembah bintang atau berhala, syaithon akan memberikan manfaat duniawi kepadanya agar ia semakin yakin pada kesesatannya. Bahkan syaithon sering kali menyerupai sosok wali atau syaikh yang dipuja oleh manusia tersebut. syaithon masuk ke dalam patung, pohon, atau batu dan berbicara kepada manusia dengan suara yang seolah-olah berasal dari benda tersebut, padahal itu hanyalah tipu daya untuk menyesatkan hamba Alloh dari tauhid yang murni.

 

Bab 5: Pembeda Antara Karomah dan Tipu Daya Asy-Syaithon

5.1 Mengapa Khoriqul ‘Adah Bukan Ukuran Kewalian

Banyak orang awam terjebak dalam pemahaman yang keliru, menganggap bahwa setiap orang yang memiliki kemampuan luar biasa atau khoriqul ‘adah (hal yang menembus kebiasaan manusia normal) secara otomatis adalah seorang Wali Alloh. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Kemampuan luar biasa bisa muncul dari dua sumber yang sangat bertolak belakang: karomah yang berasal dari Alloh sebagai bentuk kemuliaan bagi hamba-Nya yang bertaqwa, atau tipu daya syaithoniyyah yang berasal dari syaithon untuk menyesatkan manusia.

Perlu ditegaskan bahwa ukuran kewalian seseorang bukanlah terletak pada bisa terbangnya ia di udara, berjalannya ia di atas air, atau kemampuannya mengabarkan hal-hal ghoib yang akan terjadi. Standar tunggal yang tidak boleh ditawar adalah sejauh mana orang tersebut mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh . Jika seseorang memiliki kemampuan luar biasa namun ia meninggalkan Sholat, melanggar batasan syariat, atau melakukan kesyirikan, maka dipastikan itu adalah bantuan syaithon, bukan karomah.

Bahkan Dajjal, makhluk yang paling besar fitnahnya di akhir zaman, akan memiliki kemampuan luar biasa yang sangat hebat. Ia bisa memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, memerintahkan bumi menumbuhkan tanaman, dan menghidupkan orang yang sudah ia bunuh. Namun, semua itu adalah ujian (fitnah) dari Alloh , dan Dajjal tetaplah makhluk terlaknat dan kafir, bukan Wali Alloh. Hal ini membuktikan bahwa khoriqul ‘adah semata-mata tidak menunjukkan kemuliaan pemiliknya di sisi Alloh .

Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan bahwa khoriqul ‘adah terbagi menjadi tiga jenis:

(1) Ilmu (seperti mukasyafah atau tersingkapnya rahasia),

(2) Kemampuan dan kekuasaan (seperti tindakan-tindakan ajaib), serta

(3) Kekayaan (seperti mendapatkan harta secara tidak wajar).

Semua ini bisa saja dimiliki oleh orang sholih maupun orang jahat. Perbedaannya terletak pada tujuan dan cara mendapatkannya. Karomah para Wali Alloh selalu bertujuan untuk menguatkan Iman, menolong Dienulloh, atau karena kebutuhan mendesak yang diridhoi Alloh . Sedangkan keadaan syaithoniyyah bertujuan untuk kebanggaan diri, kesombongan, atau menyesatkan orang dari Tauhid yang murni.

5.2 Macam-Macam Penyesatan Syaithon

Syaithon memiliki ribuan cara untuk menipu manusia yang mencari “keajaiban” di luar jalur syariat. Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah adanya pohon, batu, atau kuburan yang seolah-olah bisa berbicara kepada orang yang datang kepadanya. Sebenarnya, yang berbicara itu bukanlah benda mati tersebut, melainkan jin atau syaithon yang masuk ke dalamnya untuk menyesatkan manusia agar mereka menyembah selain Alloh .

Ada pula orang-orang yang merasa dirinya dibawa terbang oleh kekuatan ghoib menuju Makkah atau tempat jauh lainnya dalam waktu sekejap. Seringkali jin-lah yang mengangkat dan membawa mereka. Hal ini biasanya terjadi pada orang-orang yang gemar melakukan amalan bid’ah atau ritual yang tidak ada tuntunannya dari Nabi . Mereka mengira itu adalah karomah, padahal itu adalah penghinaan. Syaithon membawa mereka agar mereka merasa sudah mencapai derajat tinggi sehingga tidak lagi butuh belajar ilmu syariat.

Selain itu, syaithon sering kali menampakkan diri dalam bentuk cahaya yang sangat terang di kegelapan, lalu mengaku-ngaku sebagai Robb atau Malaikat. Syaithon tersebut berkata: “Aku telah menggugurkan kewajiban Sholat darimu karena kedudukanmu yang tinggi.” Orang yang tidak memiliki ilmu akan sujud kepada cahaya tersebut dan merasa telah sampai pada tujuan akhir, padahal ia sedang diseret ke dalam kekafiran. Wali Alloh yang sejati, seperti ‘Abdul Qodir Al-Jailani (561 H), pernah mengalami hal ini. Beliau melihat cahaya terang yang mengaku sebagai Robb-nya, namun beliau langsung menolaknya dengan berkata: “Pergilah wahai musuh Alloh, karena Alloh tidak memerintahkan kekejian dan tidak menggugurkan syariat-Nya.”

Syaithon juga sering menyerupai sosok orang yang telah wafat atau sosok syaikh yang masih hidup namun berada di tempat jauh. Jika seseorang ber-istighotsah (meminta tolong) kepada syaikhnya yang berada di kejauhan, syaithon akan datang menyerupai syaikh tersebut dan membantu orang itu. Si pencari bantuan mengira syaikhnya telah melakukan karomah hebat, padahal itu adalah syaithon yang sedang mempermainkan mereka berdua. Jika syaikh tersebut adalah orang sholih yang berilmu, ia tidak akan tahu menahu tentang kejadian itu dan mengingkarinya jika tahu. Namun jika syaikh tersebut adalah orang bodoh yang juga menyukai hal-hal ghoib, syaithon akan membisikkan kepadanya bahwa ia baru saja menolong muridnya, sehingga sang syaikh pun ikut terjebak dalam kesombongan.

Terdapat pula teknik-teknik tipuan fisik yang sering dikira karomah, seperti masuk ke dalam api tanpa terbakar. Sebagian orang menggunakan bahan kimia tertentu seperti minyak katak atau belerang yang dicampur dengan bahan-bahan tertentu agar kulit mereka tahan api sementara. Ada juga yang menggunakan trik dengan bantuan jin. Semua ini dilakukan untuk memukau orang awam dan menjauhkan mereka dari tuntunan Rosululloh .

5.3 Ayat Kursi dalam Membatalkan Sihir

Pembeda paling utama antara Wali Ar-Rohman dan Wali Syaithon adalah reaksi mereka terhadap dzikir kepada Alloh , terutama Ayat Kursi. Karomah para Wali Alloh akan semakin kuat dan berkah dengan dzikrulloh. Sebaliknya, segala bentuk bantuan jin dan tipu daya syaithon akan hancur dan lenyap seketika jika dibacakan Ayat Kursi dengan penuh keyakinan dan Tauhid.

Alloh berfirman dalam ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an:

﴿اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ﴾

“Alloh, tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurusi (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Alloh tanpa izin-Nya. Alloh mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Alloh melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Alloh meliputi langit dan bumi. Dan Alloh tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Alloh Mahatinggi lagi Mahaagung.” (QS. Al-Baqoroh: 255)

Mengenai keutamaan ayat ini, terdapat Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori (256 H) dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, di mana syaithon (yang saat itu tertangkap sedang mencuri harta zakat) berkata kepada Abu Huroiroh:

«إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ»

“Jika kamu hendak pergi ke tempat tidurmu, bacalah Ayat Kursi, niscaya akan senantiasa ada penjaga dari Alloh untukmu dan syaithon tidak akan mendekatimu sampai pagi hari.”

Ketika hal itu diceritakan kepada Nabi , beliau bersabda:

«صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ»

“Ia telah berkata jujur kepadamu padahal ia adalah seorang pendusta. Dia syaithon.” (HR. Al-Bukhori no. 3275)

Ayat Kursi adalah senjata bagi setiap Muslim untuk membongkar kedok para wali gadungan yang dibantu oleh jin. Banyak kejadian di mana seseorang yang diklaim memiliki karomah hebat, tiba-tiba kehilangan kemampuannya atau bahkan jin pendampingnya lari terbirit-birit saat Ayat Kursi dibacakan di dekatnya. Syaithon sangat membenci ayat ini karena di dalamnya terkandung Tauhid yang murni, yang menegaskan bahwa segala kekuasaan dan penjagaan hanyalah milik Alloh semata.

Kesimpulannya, karomah sejati hanya diberikan kepada orang-orang yang istiqomah di atas Sunnah. Karomah tersebut muncul bukan karena dicari-cari atau dipelajari, melainkan murni sebagai anugerah dari Alloh . Sebaliknya, segala kemampuan yang didapatkan melalui ritual bid’ah, pemujaan terhadap selain Alloh , atau pengabaian terhadap syariat, adalah kondisi syaithoniyyah yang wajib dijauhi. Pembeda antara keduanya sangatlah jernih bagi mereka yang memiliki bashiroh (penglihatan hati) yang dibimbing oleh cahaya Wahyu. Segala keajaiban yang tidak menambah ketaatan kepada Alloh dan ketaubatan kepada-Nya, hanyalah istidroj (penangguhan adzab) yang akan berakhir pada kerugian yang nyata di Akhiroh.

 

Bab 6: Bantahan Terhadap Paham Wihdatul Wujud dan Ittihad

6.1: Menelanjangi Pemikiran Ibnu ‘Arobi (638 H)

Puncak dari kesesatan para wali syaithon yang berbaju kesholihan adalah munculnya paham wihdatul wujud (kesatuan wujud). Tokoh utama dalam penyimpangan ini adalah Ibnu ‘Arobi (638 H), penulis kitab Fushushul Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyah. Kelompok ini mengklaim bahwa wujud alam semesta ini pada hakikatnya adalah wujud Alloh itu sendiri. Mereka mengaburkan batasan antara Kholiq (Pencipta) dan makhluk, bahkan berani menyatakan bahwa “Kebenaran itu (Alloh) adalah makhluk” (al-haqqu huwa al-kholqu). Pemikiran ini merupakan bentuk kekafiran yang jauh lebih parah dibandingkan kekafiran kaum Yahudi dan Nashroni, karena mereka menganggap segala sesuatu, termasuk yang najis dan kotor, sebagai penampakan dari Dzat Alloh.

Ibnu ‘Arobi (638 H) menciptakan sebuah teori palsu yang disebut Khotmul Auliya (Penutup para Wali). Ia mengklaim bahwa kedudukan penutup para Wali ini jauh lebih tinggi daripada kedudukan para Nabi dalam hal pengambilan ilmu dari Alloh . Menurut imajinasinya, para Nabi mengambil ilmu melalui perantara Malaikat (misykatul anbiya), sementara penutup para Wali mengambil ilmu langsung dari sumbernya tanpa perantara. Ia bahkan berani berbohong dengan mengatakan bahwa para Nabi di Akhiroh akan mengambil manfaat dari cahaya penutup para Wali tersebut. Ini adalah penghinaan besar terhadap martabat Nubuwwah.

Untuk melegitimasi kesesatannya, mereka sering kali menyandarkan diri pada sebuah hadits yang tidak memiliki asal-usul (maudhu’) dalam kitab-kitab Hadits manapun:

«أَوْلِيَاءُ اللَّهِ تَحْتَ قِبَابِي لَا يَعْرِفُهُمْ غَيْرِي»

“Wali-wali Alloh berada di bawah kubah-kubah-Ku, tidak ada yang mengenal mereka selain Aku.”

Ini adalah perkataan karangan mereka sendiri untuk membangun kesan bahwa mereka memiliki ilmu rahasia yang tidak terjangkau oleh syariat zhohir. Padahal, setiap Wali Alloh yang sejati pastilah dikenal melalui keimanan dan ketaqwaannya yang nampak, sebagaimana Alloh telah memperkenalkan para Wali-Nya melalui lisan Rosul-Nya agar menjadi teladan bagi manusia.

6.2: Kerusakan Paham Kebenaran itu adalah Makhluk

Logika yang diusung oleh penganut wihdatul wujud, seperti Ibnu Sab’in (669 H) dan At-Tilimsani (690 H), sangatlah rusak secara akal maupun Dien. Mereka menyamakan antara Wujud Al-Kholiq yang bersifat Qodim (tanpa awal) dan berdiri sendiri, dengan wujud makhluk yang bersifat muhdats (baru) dan bergantung kepada penciptanya. Mereka tidak membedakan antara Robb yang memberikan rizki dengan hamba yang memohon rizki.

At-Tilimsani (690 H), salah satu pengikut ekstrim Ibnu ‘Arobi (638 H), pernah ditanya tentang perbedaan antara ibu, anak perempuan, dan orang asing dalam pandangan mereka. Ia dengan lancang menjawab bahwa secara hakikat tidak ada perbedaan di antara mereka, karena semuanya adalah satu wujud yang sama. Ia berdalih bahwa orang awam menganggap hal itu harom karena adanya hijab (penghalang) di hati mereka, sedangkan bagi orang yang telah mencapai maqom “wushul” (sampai kepada Alloh), segala sesuatu adalah halal. Pemikiran rusak ini secara otomatis meruntuhkan seluruh tatanan syariat Islam, menghalalkan perzinaan, dan menghilangkan kewajiban ibadah.

Alloh telah memberikan pembeda yang sangat tegas dalam Kitab-Nya:

﴿أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ﴾

“Maka apakah (Robb) yang menciptakan itu sama dengan makhluk yang tidak dapat menciptakan? Mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?” (QS. An-Nahl: 17)

Ayat ini membuktikan bahwa antara Pencipta dan yang diciptakan memiliki perbedaan yang sangat kontras. Keyakinan ittihad (penyatuan) atau hulul (penempatan Alloh pada makhluk) adalah kesesatan yang nyata. Siapa pun yang meyakini bahwa dirinya bisa menyatu dengan Robb-nya, maka ia telah keluar dari Islam dan menjadi hamba syaithon yang paling hina.

6.3: Perbedaan Antara Kholiq (Pencipta) dan Makhluk yang Tercipta

Aqidah yang lurus yang diwariskan oleh para Shohabat dan Tabi’in adalah bahwa Alloh berada di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas langit, dan terpisah dari seluruh makhluk-Nya (bainun min kholqihi). Tidak ada sesuatu pun dari Dzat Alloh yang menyatu dengan tubuh makhluk, dan tidak ada sesuatu pun dari sifat makhluk yang melekat pada Dzat Alloh. Alloh adalah Al-Ghoniy (Mahakaya) yang tidak membutuhkan alam semesta, sementara seluruh makhluk adalah faqir yang senantiasa membutuhkan-Nya.

Kelompok sesat ini sering kali memelintir makna sifat ma’iyyah (kebersamaan) Alloh untuk mendukung paham wihdatul wujud. Para ulama Salaf seperti Ahmad bin Hanbal (241 H) dan Ibnu Mubarok (181 H) telah menjelaskan bahwa Ma’iyyah Alloh terbagi menjadi dua:

1. Ma’iyyah ‘Ammah (Kebersamaan Umum): Yaitu kebersamaan Alloh dengan seluruh makhluk-Nya melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, dan kekuasaan-Nya. Alloh berfirman:

﴿وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ﴾

“Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

Imam Ahmad (241 H) menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah Alloh bersama makhluk melalui ilmu-Nya, karena ayat tersebut diawali dengan penyebutan bahwa Alloh mengetahui apa yang masuk ke bumi dan diakhiri dengan penegasan bahwa Alloh melihat apa yang kalian kerjakan. Dzat Alloh tetap berada di atas ‘Arsy, tidak masuk ke dalam ruang atau waktu makhluk-Nya.

2. Ma’iyyah Khoshshoh (Kebersamaan Khusus): Yaitu kebersamaan Alloh dengan para Wali-Nya melalui pertolongan (nashr), perlindungan, dan bimbingan khusus. Alloh berfirman kepada Musa dan Harun:

﴿إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى﴾

“Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan Aku melihat.” (QS. Thoha: 46)

Dan firman-Nya mengenai Nabi dan Abu Bakr (13 H) saat berada di dalam gua:

﴿لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Alloh bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

Kebersamaan khusus ini bermakna pemberian taufiq dan pembelaan dari Alloh , bukan bermakna Dzat Alloh menyatu dengan raga Nabi atau Abu Bakr (13 H). Menganggap Alloh menyatu dengan manusia adalah kekafiran yang meniru kaum Nashroni yang mentuhankan ‘Isa.

Walhasil, setiap hamba wajib memurnikan Tauhidnya dengan membedakan antara Kholiq dan makhluk. Kesempurnaan kewalian hanya bisa diraih dengan menyadari kemiskinan dan kelemahan diri di hadapan Robb Yang Mahaagung, serta ketundukan mutlak kepada syariat Nabi Muhammad . Barangsiapa yang merasa dirinya telah “lenyap” (fana) ke dalam Dzat Alloh hingga merasa tidak perlu lagi menjalankan Sholat atau menjauhi larangan, maka ia telah benar-benar lenyap ke dalam pelukan syaithon dan akan dibangkitkan bersama orang-orang yang celaka di dalam Naar. Kewalian sejati adalah istiqomah dalam pengabdian, bukan klaim kesatuan wujud yang penuh dengan khayalan dan kesesatan.

 

Bab 7: Kedudukan Syariat dan Hakikat Takdir

7.1 Perbedaan Antara Irodah Kauniyyah dan Irodah Diniyyah

Banyak manusia terjebak dalam kebingungan besar karena tidak mampu membedakan antara dua jenis kehendak (Irodah) Alloh . Ketidakmampuan membedakan hal ini sering kali menyeret seseorang pada kesesatan, baik menjadi kaum Qodariyah yang mengingkari takdir, atau kaum Jabariyah yang merasa terpaksa dan menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermaksiat. Sebagai Wali Alloh, seseorang wajib memahami bahwa Alloh memiliki dua jenis Irodah yang berbeda secara makna namun saling berkaitan dalam kehidupan hamba.

[1] Irodah Kauniyyah Qodariyyah (Kehendak Penciptaan dan Takdir)

Irodah ini mencakup segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik yang dicintai Alloh maupun yang dibenci-Nya. Keimanan, ketaatan, kekafiran, kemaksiatan, kesehatan, dan rasa sakit, semuanya terjadi karena Irodah Kauniyyah ini. Apa pun yang Alloh kehendaki dalam hal penciptaan pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi. Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)

Ayat ini menegaskan bahwa perintah Alloh sangat cepat dan mudah; jika Dia menginginkan sesuatu untuk ada, maka Dia hanya perlu berfirman “Kun” (Jadilah), maka hal itu langsung ada sesuai kehendak-Nya.

[2] Irodah Diniyyah Syar’iyyah (Kehendak Agama dan Syariat)

Irodah ini hanya mencakup apa yang Alloh cintai dan ridhoi. Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk beriman, bertaqwa, dan beramal sholih. Namun, Irodah ini tidak mesti terjadi pada setiap orang. Ada manusia yang memenuhi panggilan ini dan ada yang menolaknya. Alloh berfirman:

﴿يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾

“Alloh menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (QS. Al-Baqoroh: 185)

Ayat ini menjelaskan bahwa dalam syariat-Nya, Alloh menginginkan kemudahan bagi hamba-Nya dalam menjalankan ibadah dan tidak menginginkan kesempitan yang menyulitkan mereka.

Kekeliruan terjadi saat seseorang melihat suatu kemaksiatan terjadi (berdasarkan Irodah Kauniyyah), lalu ia menyimpulkan bahwa Alloh mencintai kemaksiatan tersebut. Atau sebaliknya, ia melihat Alloh memerintahkan Iman (Irodah Diniyyah), namun ada orang yang kafir, lalu ia menyimpulkan bahwa kekafiran itu terjadi di luar kekuasaan Alloh. Wali Alloh yang sejati meyakini bahwa segala sesuatu diciptakan Alloh melalui takdir-Nya, namun ia tetap berpegang teguh pada syariat-Nya dan hanya melakukan apa yang diridhoi-Nya.

7.2 Meluruskan Pemahaman Tentang Kisah Nabi Musa dan Khidhir

Kisah Nabi Musa dan Khidhir sering kali disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin keluar dari batasan syariat. Mereka beranggapan bahwa sebagaimana Khidhir boleh menyelisihi syariat Musa, maka para wali juga boleh menyelisihi syariat Muhammad . Ini adalah kesesatan yang sangat fatal dan menunjukkan kebodohan terhadap hakikat risalah.

Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan beberapa poin penting untuk meluruskan pemahaman ini.

Pertama, Musa tidak diutus kepada Khidhir. Pada masa itu, seorang Nabi hanya diutus khusus untuk kaumnya saja. Khidhir bukan termasuk kaum Bani Isroil yang wajib mengikuti Musa. Khidhir memiliki syariat tersendiri yang diwahyukan Alloh kepadanya secara langsung.

Kedua, apa yang dilakukan Khidhir—seperti melubangi perahu atau membunuh anak kecil—sebenarnya tidak menyelisihi syariat zhohir jika dilihat dari hakikat perintah Alloh kepadanya. Khidhir melakukan itu berdasarkan wahyu khusus dari Alloh untuk kemaslahatan yang tidak diketahui Musa saat itu.

Sangat berbeda dengan kedudukan Nabi Muhammad . Beliau diutus untuk seluruh jin dan manusia tanpa terkecuali. Tidak ada seorang pun setelah beliau diutus yang dibenarkan untuk memiliki jalan sendiri menuju Alloh tanpa melalui syariat beliau. Siapa pun yang merasa bisa keluar dari syariat Muhammad sebagaimana Khidhir keluar dari syariat Musa, maka ia telah kafir. Rosululloh bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»

“Demi (Alloh) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini yang mendengar tentangku, baik ia seorang Yahudi maupun Nashroni, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk penduduk Naar.” (HR. Muslim no. 153)

Oleh karena itu, menjadikan kisah Khidhir sebagai dalil untuk membolehkan praktik-praktik bid’ah atau meninggalkan kewajiban Sholat adalah bentuk penyesatan syaithon. Para Wali Alloh yang paling agung, seperti Abu Bakr (13 H) dan ‘Umar (23 H), adalah orang-orang yang paling taat pada syariat lahiriah Nabi dan tidak pernah merasa memiliki ilmu batin yang membolehkan mereka melanggar aturan agama.

7.3 Menjadikan Takdir Sebagai Hujjah untuk Bermaksiat?

Terdapat sekelompok orang yang terjebak dalam pemikiran bahwa karena segala sesuatu sudah ditakdirkan, maka mereka tidak perlu berusaha atau bahkan merasa tidak bersalah saat melakukan maksiat. Mereka berkata: “Jika Alloh tidak menakdirkan aku mencuri, tentu aku tidak akan mencuri.” Pemikiran seperti ini sebenarnya meniru logika iblis dan kaum musyrikin kuno.

Iblis adalah makhluk pertama yang menjadikan takdir sebagai hujjah (alasan) untuk menyalahkan Alloh. Saat ia membangkang, ia berkata sebagaimana dikabarkan dalam Al-Qur’an:

﴿قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ﴾

“Iblis berkata: ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku,’ pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (QS. Al-A’rof: 16)

Iblis tidak mengakui kesalahannya sendiri, melainkan melemparkan kesalahan kepada takdir Alloh.

Sebaliknya, bapak manusia yaitu Adam menunjukkan jalan para Wali Ar-Rohman. Ketika Adam melakukan kesalahan dengan memakan buah pohon yang dilarang, ia tidak menyalahkan takdir, melainkan mengakui kezholiman dirinya dan bertaubat. Alloh berfirman tentang doa Adam:

﴿قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

“Keduanya (Adam dan Hawa) berkata: ‘Wahai Robb kami, kami telah menzholimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rohmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’rof: 23)

Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan sebuah kaidah penting: “Takdir boleh dijadikan alasan dalam menghadapi musibah (masho’ib), namun tidak boleh dijadikan alasan dalam melakukan kemaksiatan (ma’ayib).”

Jika seseorang terkena musibah seperti sakit atau kemiskinan, ia boleh berkata bahwa ini adalah takdir Alloh dan ia bersabar. Namun, jika ia melakukan dosa, ia wajib bertaubat dan mengakui kesalahannya, bukan justru berlindung di balik takdir.

Orang-orang yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermaksiat sebenarnya sedang menghancurkan diri mereka sendiri. Jika logika mereka diterapkan, maka mereka pun tidak berhak marah jika ada orang lain yang menyakiti atau merampas harta mereka dengan alasan “itu sudah takdir”. Namun anehnya, mereka hanya menggunakan takdir untuk melegalkan hawa nafsu mereka sendiri.

Hakikat kewalian adalah menyatukan antara keimanan terhadap takdir yang berjalan (Irodah Kauniyyah) dengan ketaatan penuh terhadap perintah agama (Irodah Diniyyah). Seorang hamba sejati berjuang keras menjalankan perintah Alloh seolah-olah seluruh keberhasilannya tergantung pada usahanya, namun di sisi lain hatinya bersandar penuh kepada takdir Alloh bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya. Pemahaman yang lurus ini akan membebaskan seseorang dari sifat sombong saat taat dan menghindarkannya dari putus asa saat tergelincir dalam dosa.

 

Bab 8: Antara Sunnah dan Bid’ah

8.1 Keutamaan Sholat dan Jihad

Setiap Wali Alloh memiliki tingkatan dalam beramal, namun ada amalan-amalan pokok yang menjadi pembeda utama antara ketaatan yang tulus dan pengakuan yang palsu. Sholat dan Jihad adalah dua rukun besar yang seringkali menjadi ujian bagi kejujuran Iman seseorang. Sholat adalah tiang Dien, sementara Jihad adalah puncak kemuliaan Islam.

Mengenai keutamaan Sholat tepat waktu, Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi tentang amal apa yang paling dicintai oleh Alloh .

أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

Aku bertanya kepada Nabi : “Amal apakah yang paling dicintai oleh Alloh?” Beliau bersabda: “Sholat pada waktunya.” Aku bertanya: “Kemudian apa lagi?” Beliau bersabda: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya: “Kemudian apa lagi?” Beliau bersabda: “Jihad di jalan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 527 dan Muslim no. 85)

Para Wali Alloh yang sejati sangat menjaga Sholat mereka, terutama Sholat berjamaah di Masjid. Mereka memahami bahwa Sholat adalah sarana mi’roj (naik) bagi hati seorang hamba menuju Robb-nya. Barangsiapa yang meremehkan Sholat dengan dalih telah mencapai tingkatan hakikat, maka ia sebenarnya telah terjatuh ke dalam kesesatan yang nyata. Tidak ada tingkatan dalam wilayah (kewalian) yang menggugurkan kewajiban Sholat selama akal masih melekat pada tubuh.

Begitu pula dengan Jihad. Jihad adalah bukti nyata kecintaan hamba kepada Alloh di atas kecintaannya kepada dunia dan dirinya sendiri. Para Wali Alloh senantiasa siap mengorbankan harta dan nyawa mereka demi tegaknya kalimat Alloh. Namun, Jihad yang haq adalah Jihad yang dibimbing oleh ilmu syariat, bukan sekadar emosi atau tindakan serampangan yang justru merusak citra Islam.

8.2 Tipu Daya Syaithon dalam Nyanyian

Ibnu Taimiyah (728 H) memberikan peringatan keras terhadap fenomena sama’ (ritual mendengarkan nyanyian dan musik) yang sering dilakukan oleh sebagian kelompok sebagai bentuk ibadah. Mereka mengklaim bahwa dengan mendengarkan nada-nada indah dan syair-syair kerinduan, hati mereka bisa lebih dekat kepada Alloh . Padahal, ini adalah salah satu pintu masuk terbesar syaithon untuk menyesatkan para hamba yang bodoh.

Ada dua jenis Sama’ yang perlu dibedakan secara tegas:

1. Sama’ Syar’i (Pendengaran yang Disyariatkan): Yaitu mendengarkan Al-Qur’an dengan tadabbur (merenungkan makna) dan hati yang khusyu’. Inilah Sama’ yang dilakukan oleh para Shohabat dan para Nabi. Alloh memuji orang-orang yang ketika dibacakan ayat-ayat Ar-Rohman, mereka menyungkur sujud dan menangis.

﴿وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ﴾

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rosul (Al-Qur’an), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui.” (QS. Al-Ma’idah: 83)

Ayat ini menjelaskan reaksi hati yang jujur saat mengenali kebenaran wahyu Alloh .

2. Sama’ Bid’i (Pendengaran yang Mengada-ada): Yaitu ritual mendengarkan nyanyian, alat musik, atau tepuk tangan yang dibungkus dengan label ibadah. Nyanyian semacam ini disebut sebagai “muadzin syaithon” karena ia membangkitkan hawa nafsu dan kekejian dalam jiwa, meskipun dibalut dengan bahasa-bahasa cinta ketuhanan.

Banyak orang yang terjebak dalam Sama’ Bid’i ini mengalami kondisi tawajud (perasaan emosional yang meluap-luap hingga hilang kesadaran). Seringkali saat kondisi ini memuncak, syaithon turun menaungi mereka. Ada yang sampai terbang di udara, ada yang berbicara dengan bahasa asing yang tidak dipahaminya, atau melakukan tindakan di luar nalar. Para saksi mata sering mengira itu adalah karomah, padahal itu adalah keadaan Syaithoniyyah.

Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan bahwa syaithon sangat menyukai suasana yang penuh dengan nyanyian dan kegaduhan. Sebagaimana khomr (minuman keras) merusak akal manusia, nyanyian pun merusak kesucian hati. Orang yang kecanduan Sama’ nyanyian biasanya akan merasa hambar dan malas saat mendengarkan Al-Qur’an. Ini adalah tanda nyata bahwa hatinya telah didominasi oleh pengaruh syaithon.

8.3 Istiqomah Adalah Puncak Karomah

Kaidah besar yang dipegang teguh oleh para Salaf dan ulama yang lurus adalah:

«إِنَّمَا غَايَةُ الكَرَامَةِ لُزُومُ الِاسْتِقَامَةِ»

“Karomah yang paling puncak hanyalah senantiasa istiqomah (teguh di atas ketaatan).” (Al-Furqon Baina Auliyair Rohman wa Auliyais Syaithon, hal. 187)

Banyak orang mencari karomah dalam bentuk keajaiban fisik, seperti mengetahui isi hati orang, berjalan di atas air, atau tidak mempan senjata tajam. Namun, Wali Alloh yang sejati tidak mengejar hal-hal tersebut. Baginya, karomah sejati adalah ketika Alloh menolongnya untuk tetap Sholat tepat waktu, tetap menjauhi kemaksiatan saat sendirian, dan tetap ikhlas dalam beramal.

Istiqomah adalah perintah Alloh yang paling berat namun paling mulia. Alloh berfirman:

﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar (Istiqomah), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Hud: 112)

Ayat ini adalah perintah untuk teguh menjalankan syariat tanpa menambah-nambah (bid’ah) atau mengurangi.

Setiap khoriqul ‘adah (hal luar biasa) yang tidak membawa seseorang semakin bertaubat dan semakin tunduk kepada syariat, maka itu bukanlah karomah, melainkan istidroj (penangguhan adzab) atau tipu daya syaithon. Syariat adalah timbangan yang adil. Jika seseorang memiliki seribu keajaiban namun ia menyelisihi satu Sunnah Nabi dengan sengaja, maka jatuhlah martabatnya dari derajat kewalian.

Para Wali Alloh seperti Abu Bakr (13 H), ‘Umar (23 H), dan Malik bin Anas (179 H) tidak dikenal karena atraksi keajaiban di depan umum. Mereka dikenal karena keteguhan mereka dalam membela Tauhid dan mengikuti Sunnah Rosululloh hingga akhir hayat. Inilah standar tertinggi bagi setiap orang yang mendambakan kedekatan dengan Ar-Rohman. Kewalian bukan tentang apa yang bisa kita pamerkan secara fisik, melainkan tentang sejauh mana hati kita tunduk pada kehendak Robb semesta alam.

Barangsiapa yang Alloh berikan taufiq untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan beribadah dengan benar, maka ia telah mendapatkan karomah yang jauh lebih besar daripada sekadar terbang di awan. Kesempurnaan seorang hamba terletak pada ubudiyah-nya (penghambaannya) yang murni hanya bagi Alloh , terbebas dari noda syirik dan kotoran bid’ah. Inilah jalan yang akan menghantarkan seseorang menuju Jannah-Nya yang penuh ni’mat.

 

Bab 9: Contoh Karomah Para Shohabat serta Tabi’in

9.1 Karomah Para Shohabat: Pilar Utama Umat

Ibnu Taimiyah (728 H) menukilkan berbagai riwayat yang shohih mengenai karomah yang dialami oleh para Shohabat dan Tabi’in. Tujuannya adalah untuk memberikan teladan nyata bagaimana Karomah Ar-Rohman itu muncul dalam kehidupan para Wali Alloh yang paling utama, yaitu mereka yang paling teguh dalam mengikuti Sunnah Nabi . Ini sebagian contohnya.

1. Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H)

Pernah suatu ketika beliau membawa tiga orang tamu ke rumahnya, namun makanan yang dihidangkan justru bertambah banyak dari arah bawah setiap kali diambil. Tamu-tamu tersebut makan sampai kenyang, namun makanan itu tetap melimpah bahkan lebih banyak dari porsi awalnya. Abu Bakr melihat hal itu dan istrinya pun membenarkan keajaiban tersebut. Akhirnya, sisa makanan itu dibawa kepada Nabi dan cukup untuk memberi makan banyak orang.

2. ‘Umar bin Al-Khoththob (23 H)

Kejadian yang sangat masyhur adalah saat beliau sedang berkhutbah di atas mimbar di Madinah. Tiba-tiba di tengah khutbahnya, beliau berseru dengan suara keras:

«يَا سَارِيَةُ الْجَبَلَ»

“Wahai Sariyah, tetaplah di gunung!” (Silsilah Shohihah, no. 1110)

Sariyah adalah komandan pasukan Muslim yang sedang berperang di wilayah jauh di Persia. Sariyah mendengar suara ‘Umar tersebut, lalu ia membawa pasukannya berlindung ke gunung, sehingga mereka selamat dari kepungan musuh dan meraih kemenangan. Hal ini adalah bentuk ilham dan pendengaran yang Alloh berikan melampaui batas jarak.

3. Kholid bin Al-Walid (21 H)

Pernah beliau ditantang oleh musuh untuk membuktikan kebenaran Islam dengan meminum racun yang sangat mematikan. Beliau mengambil racun tersebut, membaca Basmalah, lalu meminumnya hingga habis. Dengan izin Alloh , racun tersebut sama sekali tidak memberikan dampak buruk bagi kesehatan beliau.

4. Al-‘Ala’ bin Al-Hadhromi (21 H)

Beliau dan pasukannya pernah harus menyeberangi lautan dalam sebuah ekspedisi Jihad. Karena tidak ada kapal, beliau berdoa kepada Alloh lalu memimpin pasukannya berjalan di atas permukaan air laut. Ajaibnya, kaki-kaki kuda dan unta mereka tidak basah, dan pelana mereka tetap kering hingga sampai ke seberang.

9.2 Karomah Para Tabi’in: Penerus Cahaya Kenabian

Setelah generasi Shohabat, Alloh juga memuliakan para Tabi’in dengan berbagai karomah untuk mengokohkan Iman umat.

1. Abu Muslim Al-Khoulani (62 H)

Beliau pernah dilemparkan ke dalam api yang sangat besar oleh Al-Aswad Al-Ansi, seorang nabi palsu di Yaman. Namun, api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkan beliau, persis seperti mukjizat Nabi Ibrohim. Ketika beliau sampai di Madinah, ‘Umar bin Al-Khoththob (23 H) memeluknya dan menangis seraya bersyukur bahwa Alloh telah memperlihatkan di umat ini seseorang yang diperlakukan seperti Nabi Ibrohim.

2. Shilah bin Asyam

Pernah saat beliau sedang melakukan perjalanan Jihad, kuda tunggangannya mati. Beliau berdoa kepada Alloh agar menghidupkan kembali kudanya agar beliau bisa menyelesaikan tugasnya. Alloh mengabulkan doanya; kuda itu hidup kembali dan beliau kendarai sampai sampai ke rumah. Sesampainya di rumah, beliau berkata kepada anaknya untuk mengambil pelana kuda tersebut karena kuda itu akan mati lagi, dan benar saja, sesaat kemudian kuda itu mati kembali.

3. Sa’id bin Al-Musayyab (94 H)

Pada masa fitnah Harroh, di mana Masjid Nabawi dikosongkan dan tidak ada adzan maupun iqomah yang dikumandangkan, beliau tetap tinggal di dalam Masjid. Beliau menceritakan bahwa setiap kali tiba waktu Sholat, beliau mendengar suara adzan yang keluar dari arah makam Nabi , sehingga beliau mengetahui waktu Sholat dan tetap bisa beribadah dengan tenang.

9.3 Kesimpulan: Syariat Sebagai Timbangan Utama

Seluruh contoh karomah di atas menunjukkan bahwa Alloh memberikan kemuliaan tersebut kepada hamba-Nya yang benar-benar berjuang di jalan-Nya. Namun, Ibnu Taimiyah (728 H) mengingatkan kembali sebuah kaidah emas: “Karomah bukanlah tujuan, melainkan wasilah (sarana) untuk menambah ketaqwaan.”

Jika ada seseorang yang memiliki kemampuan ajaib namun ia tidak mengikuti Syariat Nabi , maka itu adalah tipu daya syaithon. syaithon bisa membantu manusia terbang, memberikan kabar ghoib, atau melindungi dari senjata, namun tujuannya adalah untuk menyeret manusia ke dalam kesyirikan dan maksiat. Karomah sejati selalu membawa pemiliknya semakin tunduk kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Wali Alloh yang paling sempurna adalah mereka yang paling mengikuti Muhammad . Derajat kewalian bukanlah dicapai dengan mengasingkan diri dari manusia (uzlah) tanpa ilmu, melainkan dengan berjihad, menuntut ilmu, dan beramal sholih di tengah masyarakat sesuai tuntunan Rosululloh .

Pembeda (Al-Furqon) yang paling nyata antara Wali Ar-Rohman dan wali syaithon adalah ketaatan batin dan zhohir kepada wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad . Barangsiapa yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia berada di bawah perlindungan Ar-Rohman. Barangsiapa yang menyimpang darinya, maka ia telah menjadikan syaithon sebagai walinya.

 

Penutup

Semoga Alloh menggolongkan kita semua ke dalam barisan para Wali-Nya yang bertaqwa, menjauhkan kita dari tipu daya syaithon, dan mengumpulkan kita di Jannah-Nya bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Sholihin.

﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾

“Wahai Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)

Tamat. Allohu a’lam.[NK]

Daftar Pustaka

Buku ini banyak mengambil faidah dari kitab monumental Ibnu Taimiyyah (728 H) berjudul Al-Furqon baina Auliyair Rohman wa Auliyais Syaithon.

Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url