Cari Ebook

[PDF] Fenomena Content Creator Mencari Musuh Abadi Demi Sesuap Nasi - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji hanya milik Alloh , Robb semesta alam yang telah memberikan ni’mat iman dan Islam kepada kita.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarganya, para Shohabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Sesungguhnya, kita sedang hidup di suatu zaman yang penuh dengan fitnah yang dahsyat, di mana nilai-nilai kebenaran seringkali tertutup oleh debu-debu syahwat dan syubhat. Salah satu fenomena yang sangat memprihatinkan di era digital ini adalah munculnya sekelompok orang yang disebut sebagai pembuat konten, namun mereka menjadikan perselisihan, kebencian, dan penghinaan terhadap sesama sebagai komoditas utama untuk meraup keuntungan duniawi. Mereka tidak segan-segan mencari musuh, membenturkan para dai, serta menyebarkan ghibah demi mendapatkan perhatian netizen dan pundi-pundi uang dari iklan. Fenomena ini merupakan ancaman serius bagi keutuhan ukhuwah Islamiyah dan keselamatan Agama seseorang.

Perilaku mencari musuh demi materi telah merusak tatanan akhlaq di tengah masyarakat. Kehormatan seorang Muslim yang seharusnya dijaga lebih suci daripada Ka’bah, kini dengan mudahnya dirobek-robek di ruang publik digital. Banyak orang yang terjebak dalam lingkaran syaithon ini, baik sebagai pembuat konten maupun sebagai penonton yang ikut memberikan dukungan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah tinjauan yang mendalam berdasarkan wahyu untuk menakar sejauh mana kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan ini, serta bagaimana solusi yang ditawarkan oleh Islam agar terhindar dari adzab yang pedih di Akhiroh.

Alloh telah memperingatkan kita tentang bahaya orang-orang yang suka menyakiti sesama Muslim:

﴿وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mu’min laki-laki dan perempuan tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Ayat ini merupakan pondasi utama dalam memahami betapa beratnya dosa bagi mereka yang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain untuk dijadikan konten. Kehidupan dunia ini hanyalah sementara, dan setiap kata yang diucapkan serta setiap video yang diunggah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Robb semesta alam. Nabi juga telah mengingatkan tentang hakekat Agama sebagai nasehat, bukan sebagai sarana untuk saling menjatuhkan:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ»

“Agama itu adalah nasehat.” (HR. Muslim no. 55)

Bahkan Nabi mengabarkan siapa yang menutupi aib saudaranya di dunia maka aibnya akan ditutupi di Akhiroh.

Jika seorang pembuat konten mengaku ingin memperbaiki umat namun caranya adalah dengan merendahkan orang lain dan memancing keributan, maka sejatinya ia tidak sedang memberikan nasehat, melainkan sedang menuruti bisikan syaithon demi mengejar popularitas yang fana.

Penulisan buku ini bertujuan untuk memberikan peringatan keras bagi para pelaku dan edukasi bagi masyarakat agar tidak menjadi bagian dari ekosistem kemaksiatan di dunia maya.

Perjalanan buku ini akan dimulai dengan membedah landasan utama seorang hamba dalam mencari penghidupan, yaitu hakikat rizqi dan keberkahan. Kita akan melihat bagaimana cara-cara yang harom dalam mencari harta justru akan mendatangkan kegelisahan dan jebakan istidroj. Setelah memahami landasan tersebut, pembahasan akan mengalir pada bahaya lisan dan tulisan di ruang digital yang sering dianggap remeh, padahal satu kalimat saja bisa menjatuhkan seseorang ke dalam lubang Naar yang sangat dalam.

Selanjutnya, pembahasan akan berlanjut pada pengupasan gejala adu domba dan pencarian aib yang kini dikemas secara menarik. Kita akan menyingkap bagaimana perilaku namimah dan tajassus bekerja di balik layar kamera. Tidak berhenti di sana, buku ini juga akan masuk ke dalam relung hati untuk membedah penyakit gila pujian, riya’, dan cinta dunia yang menjadi akar dari segala kegilaan konten tersebut.

Setelah semua kerusakan dipaparkan, pembahasan akan beralih pada bimbingan adab yang mulia, memberikan prinsip tatsabbut dan waro’ sebagai benteng pertahanan. Seluruh rangkaian pembahasan ini akan ditutup dengan seruan untuk bertaubat dan cara memperbaiki kerusakan yang telah dibuat, agar setiap pembuat konten memiliki kesempatan untuk kembali kepada Robb mereka dengan jiwa yang tenang.

 

Bab 1: Keberkahan dalam Mencari Dunia

Alloh menciptakan manusia dan menjamin seluruh urusan hidupnya, termasuk urusan materi yang seringkali menjadi fitnah besar di akhir zaman ini. Banyak manusia yang lupa bahwa tujuan utama mereka adalah beribadah, sehingga mereka menghabiskan 24 jam dalam sehari hanya untuk memikirkan bagaimana cara menambah angka di saldo tabungan mereka atau jumlah pengikut di media sosial. Fenomena ini semakin nyata ketika para pembuat konten menganggap bahwa layar gawai adalah ladang utama untuk memanen harta, meskipun harus mengorbankan nilai-nilai luhur dan melanggar batasan syariat yang telah ditetapkan oleh Robb semesta alam. Mereka terjebak dalam perlombaan yang semu, mengejar popularitas yang fana, dan seringkali menghalalkan segala cara demi mendapatkan perhatian dari netizen. Padahal, rizqi yang didapatkan dengan cara yang tidak benar tidak akan pernah memberikan ketenangan sejati di dalam hati.

1.1 Larangan Mencari Harta dengan Cara yang Harom

Mencari harta adalah perkara yang diperbolehkan, namun Islam memberikan batasan yang sangat tegas mengenai cara mendapatkannya. Ketika seorang pembuat konten sengaja menciptakan permusuhan, menghina sesama, atau membenturkan para dai hanya agar videonya menjadi viral dan mendapatkan iklan yang banyak, maka ia telah masuk ke dalam pintu mencari harta dengan cara yang harom. Hal ini termasuk dalam kategori memakan harta manusia dengan cara yang batil.

Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang tidak benar, yaitu dengan cara yang tidak dihalalkan oleh Alloh. Dan janganlah kalian membawa urusan harta itu kepada para hakim agar kalian dapat memakan sebagian harta milik orang lain dengan cara dosa, padahal kalian mengetahui bahwa itu adalah harom.” (QS. Al-Baqoroh: 188)

Ayat ini merupakan peringatan keras bagi siapa saja yang menggunakan tipu daya untuk mendapatkan keuntungan materi. Dalam konteks digital, membuat narasi palsu atau melakukan ghibah (menggunjing) terhadap orang lain demi konten adalah bentuk dari memakan harta secara batil. Harta yang dikumpulkan dari hasil merusak kehormatan orang lain adalah harta yang kotor dan akan menjadi beban di Akhiroh kelak.

Nabi bersabda:

«إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ»

“Sesungguhnya tidaklah tumbuh daging yang berasal dari harta yang harom, melainkan Naar lebih pantas baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 614)

Seorang Muslim harus menyadari bahwa setiap rupiah yang masuk ke dalam kantongnya akan dimintai pertanggungjawaban. Jika 1.000.000 views didapatkan dari hasil mencaci maki, maka 1.000.000 kali pula ia telah menanam benih keburukan bagi dirinya sendiri. Disebutkan dalam Hadits shohih bahwa rakusnya manusia terhadap harta dan kedudukan dapat merusak Agamanya lebih parah daripada dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan kambing.

Contoh yang sering kita lihat adalah seorang pembuat konten yang secara sengaja memotong video ceramah seorang dai, lalu menambahkan judul yang provokatif untuk memicu perdebatan. Tujuannya hanya satu: agar kolom komentar penuh dengan netizen dan video tersebut dibagikan secara luas. Ini adalah bentuk pencarian rizqi yang sangat kotor karena mencampuradukkan antara kebohongan dan fitnah demi kepentingan duniawi semata.

1.2 Keberkahan dalam Ketenangan Jiwa

Banyak orang yang memiliki harta melimpah namun hidupnya selalu diliputi kecemasan. Hal ini terjadi karena hilangnya barokah (keberkahan) dalam harta tersebut. Keberkahan bukan terletak pada banyaknya angka, melainkan pada kecukupan dan ketenangan yang dirasakan oleh jiwa. Pembuat konten yang hidup dari hasil mencari musuh biasanya akan selalu merasa tidak puas dan selalu dilingkupi rasa takut jika popularitasnya menurun.

Alloh memerintahkan kita untuk mencari karunia-Nya dengan tetap mengutamakan kehidupan Akhiroh:

﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Carilah pahala negeri Akhiroh dengan apa yang telah Alloh anugerahkan kepadamu dari harta benda, namun janganlah kamu melupakan bagianmu dari keni’matan duniawi yang halal. Berbuat baiklah kepada hamba-hamba Alloh sebagaimana Alloh telah berbuat baik kepadamu dengan memberimu harta, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan maksiat. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qoshosh: 77)

Membuat konten yang memicu perpecahan di tengah masyarakat adalah salah satu bentuk berbuat kerusakan di muka bumi.

Sebaliknya, harta yang berkah adalah harta yang didapatkan dengan cara yang jujur dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Nabi memberikan gambaran tentang orang yang merasa kaya dengan apa yang dimilikinya:

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (merasa cukup).” (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Seorang pembuat konten yang memiliki jiwa yang kaya tidak akan merasa perlu menjatuhkan orang lain demi mendapatkan pengakuan. Ia akan merasa cukup dengan apa yang Alloh berikan kepadanya melalui jalan yang halal. Di dalam hati terdapat sebuah kekosongan yang tidak dapat diisi kecuali dengan kedekatan kepada Alloh, dan tidak ada harta sebanyak apapun yang bisa menggantikan ketenangan tersebut jika didapatkan dengan cara yang zholim.

Misalnya, 2 orang pembuat konten memiliki jumlah pengikut yang sama. Yang pertama mendapatkan pengikut dari konten pendidikan yang bermanfaat, sementara yang kedua mendapatkannya dari konten drama dan saling sindir. Meskipun pendapatan mereka mungkin sama secara nominal, namun pembuat konten yang pertama akan merasakan ketenangan saat tidur, sementara yang kedua akan terus-menerus memikirkan taktik baru untuk menjatuhkan lawan bicaranya agar tetap relevan di mata netizen.

1.3 Bahaya Istidroj di Balik Melimpahnya Pengikut dan Harta

Salah satu tipu daya syaithon yang paling halus adalah istidroj (penundaan adzab dengan pemberian ni’mat). Seringkali para pembuat konten merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar karena mereka melihat jumlah pengikutnya terus bertambah dan penghasilannya semakin melonjak meskipun kontennya penuh dengan ghibah dan fitnah. Mereka mengira itu adalah tanda kesuksesan, padahal itu bisa jadi adalah awal dari kehancuran yang sangat pedih.

Alloh berfirman:

﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُون

“Maka ketika mereka meninggalkan perintah Alloh yang telah diingatkan kepada mereka, Kami pun membukakan untuk mereka pintu-pintu kesenangan dunia sebagai bentuk ujian bagi mereka. Hingga ketika mereka telah merasa bangga dan sombong dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami menyiksa mereka secara tiba-tiba, maka seketika itu mereka terdiam berputus asa dari segala kebaikan.” (QS. Al-An’am: 44)

Ayat ini harus menjadi bahan renungan bagi setiap pembuat konten. Melimpahnya iklan dan banyaknya pujian dari netizen bukanlah jaminan bahwa Alloh ridho terhadap apa yang dikerjakan. Jika ni’mat tersebut didapatkan sambil terus melakukan maksiat seperti merendahkan kehormatan Muslim lainnya, maka waspadalah terhadap istidroj.

Nabi bersabda:

«إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»

“Apabila kamu melihat Alloh memberikan keni’matan dunia kepada seorang hamba yang ia sukai, padahal hamba tersebut terus melakukan maksiat, maka ketahuilah bahwa itu hanyalah istidroj.” (HHR. Ahmad no. 17311)

Contoh istidroj dalam dunia digital adalah ketika seorang pembuat konten merasa kebal hukum dan kebal kritik karena memiliki jutaan penggemar yang selalu membelanya meskipun ia jelas-jelas menyebarkan kebencian. Ia merasa seolah-olah berada di atas angin, namun sebenarnya ia sedang ditarik perlahan-lahan menuju lubang kehancuran yang dalam. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) berkata bahwa jika Alloh mencintai seorang hamba, maka Alloh akan memberinya rasa takut agar ia selalu waspada, namun jika Alloh membiarkan hamba tersebut dalam kelalaiannya, maka itu adalah tanda kemurkaan-Nya.

Bayangkan 1 orang yang setiap hari mengunggah konten yang menghina para dai. Setiap unggahannya ditonton oleh 500.000 orang. Harta mengalir deras, ia bisa membeli mobil baru dan rumah mewah. Namun, di saat yang sama, ia semakin jauh dari Masjid, semakin jauh dari majelis ilmu, dan hatinya semakin keras karena setiap hari yang dipikirkan hanyalah bagaimana cara membalas dendam atau mencari celah kesalahan orang lain. Inilah hakikat istidroj yang seringkali tidak disadari oleh para pengejar materi di dunia maya.

Seorang Mu’min yang cerdas harus selalu menimbang setiap langkahnya dengan wahyu. Popularitas hanyalah hiasan dunia yang akan hilang, namun apa yang kita tulis dan apa yang kita ucapkan akan tercatat selamanya di hadapan Robb semesta alam. Jangan sampai demi sesuap nasi, kita rela menukarkan Jannah dengan Naar, dan jangan sampai demi angka penonton, kita rela menghancurkan martabat diri kita sendiri di hadapan pencipta alam semesta ini.

 

Bab 2: Bahaya Lisan dan Tulisan dalam Ruang Digital

Setiap inci dari aktivitas manusia di dunia digital, baik berupa suara dalam video, tulisan dalam kolom komentar, maupun naskah yang dibacakan oleh para pembuat konten, semuanya merupakan kepanjangan dari lisan dan tangan mereka. Di zaman yang penuh dengan fitnah ini, banyak orang yang merasa bebas berucap dan menulis apa saja di balik layar gawai mereka seolah-olah tidak ada mata yang mengawasi. Mereka menganggap bahwa kata-kata yang dilontarkan untuk menjatuhkan orang lain atau memancing keributan hanyalah bumbu dalam mencari nafkah. Padahal, setiap huruf yang diketik dan setiap kalimat yang diucapkan akan menjadi saksi yang memberatkan atau meringankan di hari perhitungan kelak. Ruang digital bukanlah ruang hampa yang terlepas dari pengawasan Robb semesta alam, melainkan sebuah medan ujian yang sangat berat bagi keimanan dan akhlaq seorang Muslim.

2.1 Kedudukan Ucapan di Sisi Robb Semesta Alam

Segala sesuatu yang keluar dari mulut seorang hamba, baik itu berupa pujian maupun hinaan, telah tercatat dengan sangat rapi oleh para Malaikat yang tidak pernah lalai. Dalam dunia media sosial, sebuah video pendek atau satu kalimat dalam unggahan status dapat menjangkau jutaan manusia dalam waktu sekejap. Oleh karena itu, beban tanggung jawabnya jauh lebih besar dibandingkan ucapan yang hanya didengar oleh beberapa orang di dunia nyata.

Alloh berfirman:

﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata pun yang terucap melainkan di sisinya ada Malaikat pengawas yang selalu siap mencatatnya.” (QS. Qof: 18)

Ayat ini memberikan peringatan yang sangat dalam bahwa tidak ada satu pun konten yang luput dari catatan. Jika seorang pembuat konten sengaja mengucapkan kata-kata yang memancing emosi netizen atau menyebarkan kebencian demi mendapatkan interaksi (engagement) yang tinggi, maka Malaikat Roqib dan ‘Atid telah mencatatnya sebagai dosa yang akan dituntut pertanggungjawabannya.

Nabi juga memberikan peringatan tentang bahaya lisan yang meremehkan dosa:

«إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ»

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang diridhoi Alloh, yang ia tidak terlalu memperhatikannya, namun dengan sebab itu Alloh mengangkat derajatnya. Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai Alloh, yang ia tidak terlalu memperhatikannya, namun dengan sebab itu ia terjatuh ke dalam Jahanam.” (HR. Al-Bukhori no. 6478)

Hadits ini sangat relevan dengan perilaku pembuat konten masa kini. Terkadang mereka merasa hanya sedang bercanda atau sekadar mengikuti tren (trending topic) ketika menghina seorang dai atau merendahkan martabat sesama pembuat konten. Mereka tidak mempedulikan dampak dari ucapan tersebut, padahal satu kalimat saja sudah cukup untuk melemparkan mereka ke dalam Naar. An-Nawawi (676 H) menjelaskan bahwa maksud dari “tidak terlalu memperhatikan” adalah menganggap remeh ucapan tersebut padahal dampaknya sangat besar bagi Agama dan kehormatan manusia.

Sebagai contoh, ada seorang pembuat konten yang membuat video reaksi terhadap pendapat seorang ulama dengan gaya bahasa yang sinis dan penuh ejekan. Ia mungkin merasa itu hanya sebuah ekspresi pendapat, namun di mata syariat, ia telah meremehkan kedudukan ilmu dan penyampainya. Setiap orang yang ikut tertawa dan ikut menghina setelah menonton video tersebut akan menambah beban dosa bagi si pembuat konten awal.

2.2 Larangan Menghina dan Merendahkan Kehormatan Muslim

Salah satu modal utama para pembuat konten yang haus akan popularitas adalah dengan merusak kehormatan orang lain. Mereka mencari celah kekurangan sesama, melakukan perundungan digital, hingga melakukan ghibah secara berjamaah di depan kamera. Hal ini dilakukan karena mereka tahu bahwa berita tentang aib dan perselisihan adalah komoditas yang sangat laku dijual kepada netizen yang haus akan drama.

Alloh melarang perbuatan merendahkan orang lain:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi kaum yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka. Janganlah kalian saling mencela satu sama lain dan janganlah kalian saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk sebutan adalah sebutan yang buruk (fasiq) setelah kalian beriman. Dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zholim.” (QS. Al-Hujurot: 11)

Dalam dunia digital, perbuatan “saling memanggil dengan gelar yang buruk” bermetamorfosis menjadi julukan-julukan negatif di kolom komentar atau penyebutan nama yang tidak layak dalam konten video. Perbuatan ini adalah pintu menuju kefasikan. Rosululloh menegaskan batas-batas kehormatan seorang Muslim dalam sabdanya:

«كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ»

“Setiap Muslim terhadap Muslim lainnya adalah harom; darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)

Seorang pembuat konten yang merendahkan kehormatan saudaranya sesama Muslim demi mendapatkan uang iklan sesungguhnya telah melanggar batasan yang sangat suci dalam Islam. Menjatuhkan nama baik seseorang agar video menjadi viral adalah bentuk pencurian terhadap “harga diri” yang nilainya jauh lebih mahal daripada harta duniawi. Menyakiti perasaan seorang Muslim tanpa alasan yang benar termasuk dosa besar yang dapat menghapus pahala amal sholih.

Contoh yang sering terjadi adalah fenomena “roasting” yang dilakukan tanpa batas. Seorang pembuat konten menguliti aib pribadi orang lain, mulai dari bentuk fisik hingga kegagalan masa lalu, kemudian dibungkus dengan kemasan komedi. Netizen tertawa, iklan mengalir, namun di sisi lain, kehormatan sang korban telah hancur berkeping-keping. Ini adalah tindakan zholim yang dilakukan secara terbuka dan disaksikan oleh banyak orang.

2.3 Ancaman bagi Orang yang Menjadi Pelopor Keburukan

Banyak pembuat konten yang berdalih bahwa mereka hanya memberikan apa yang diinginkan oleh penonton. Namun, mereka lupa bahwa orang yang pertama kali memulai sebuah tren buruk, atau menjadi pelopor dalam sebuah perselisihan, akan menanggung dosa dari setiap orang yang mengikuti jejaknya. Jika sebuah konten adu domba ditonton oleh 1.000.000 orang dan memicu kemarahan di antara mereka, maka si pembuat konten akan mendapatkan bagian dari setiap dosa kemarahan tersebut.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan keji (termasuk berita bohong dan fitnah) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan mendapat adzab yang pedih di dunia dan di Akhiroh. Dan Alloh mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)

Menyiarkan aib orang lain atau membenturkan pendapat antar dai agar menjadi perdebatan panas di media sosial termasuk dalam kategori menyebarkan keburukan. Penonton yang tadinya tenang menjadi terprovokasi, dan masyarakat yang tadinya rukun menjadi terpecah belah hanya karena satu unggahan konten. Nabi bersabda mengenai beban dosa jariyah ini:

«وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»

“Dan barangsiapa yang memulai dalam Islam suatu jalan yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya setelah itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)

Bagi seorang pembuat konten, Hadits ini seharusnya menjadi peringatan yang sangat menakutkan. Bayangkan jika seseorang membuat konten drama yang isinya mencaci maki orang lain, lalu video tersebut tetap ada di internet selama bertahun-tahun meskipun ia sudah meninggal dunia. Selama video itu ditonton dan orang-orang terpengaruh untuk ikut mencaci maki, maka aliran dosa akan terus mengalir ke alam kuburnya. Bahaya menjadi pelopor keburukan adalah ia menanggung dosa kolektif yang sulit untuk dihapus kecuali dengan taubat yang sungguh-sungguh dan usaha untuk memperbaiki kerusakan tersebut secara terbuka.

Contoh nyatanya adalah ketika seorang pembuat konten memulai sebuah tantangan (challenge) yang membahayakan atau merusak moral, seperti melakukan “prank” yang melecehkan orang tua atau orang yang sedang bekerja. Ketika konten tersebut viral, ribuan pembuat konten lain mengikutinya karena ingin mengejar jumlah penonton. Pelopor pertama dari tren ini memikul dosa dari ribuan video turunan yang dihasilkan oleh orang lain. Begitu pula dengan konten yang membenturkan dai; ketika satu orang sukses mendapatkan uang dari konten adu domba, yang lain akan meniru, dan si pelopor pertama telah membuka pintu fitnah yang sangat lebar bagi umat Islam.

Oleh karena itu, setiap pembuat konten harus berpikir ribuan kali sebelum menekan tombol “unggah”. Apakah konten ini akan menjadi timbangan kebaikan atau justru menjadi sumber dosa yang tidak berujung? Apakah popularitas sesaat sebanding dengan adzab yang pedih di Akhiroh? Seorang Mu’min harus menjaga jari-jarinya sebagaimana ia menjaga lisannya, karena di hari Qiyamah, mulut akan terkunci dan tanganlah yang akan berbicara memberikan kesaksian atas apa yang telah dikerjakannya di dunia maya.

 

Bab 3: Mencari Aib Berkedok Konten

Dunia digital saat ini telah menjadi panggung besar bagi perilaku namimah (adu domba) dan tajassus (mencari-cari kesalahan) yang dikemas secara modern. Jika dahulu seorang tukang adu domba harus berpindah dari satu rumah ke rumah lain untuk membisikkan fitnah, kini para pembuat konten cukup duduk di depan kamera dan menyebarkan benih permusuhan kepada jutaan orang sekaligus. Mereka membungkus perbuatan harom ini dengan istilah-istilah yang tampak wajar, seperti konten klarifikasi, konten reaksi, atau konten bongkar rahasia. Motivasi utamanya bukanlah penegakan kebenaran, melainkan pengejaran angka tayangan yang berujung pada pundi-pundi uang iklan. Fenomena ini telah merusak tatanan sosial dan ukhuwah Islamiyah, di mana netizen digiring untuk memihak salah satu kubu dan saling mencela di kolom komentar.

3.1 Namimah dalam Bentuk Video dan Tulisan

Namimah atau adu domba adalah memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka. Dalam industri konten, hal ini sering terjadi ketika seorang pembuat konten mengambil potongan pernyataan seorang dai atau tokoh, lalu menunjukkannya kepada dai atau tokoh lain untuk memancing reaksi keras. Tujuannya jelas, yaitu menciptakan perselisihan yang menarik untuk ditonton. Perbuatan ini adalah dosa besar yang diancam dengan siksa kubur dan terhalangnya seseorang dari masuk Jannah.

Alloh berfirman:

﴿وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ ۞ هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

“Dan janganlah kamu patuhi setiap orang yang suka bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah adu domba.” (QS. Al-Qolam: 10-11)

Ayat ini memperingatkan kita agar tidak mengikuti atau mendukung orang-orang yang profesinya adalah menyebarkan berita untuk merusak hubungan manusia. Para pembuat konten yang kerjanya hanya membenturkan pendapat satu orang dengan orang lain demi konten adalah perwujudan nyata dari ayat ini di zaman sekarang.

Nabi bersabda dengan tegas:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim no. 105)

Namimah adalah salah satu perbuatan paling buruk yang bisa menghancurkan Agama seseorang. Bayangkan seorang pembuat konten yang membuat video dengan judul provokatif seperti “Dai A Menghina Dai B”, padahal ia hanya mengambil potongan kalimat yang tidak utuh. Tindakan ini memicu kemarahan pengikut Dai A dan Dai B, sehingga terjadi perang komentar yang penuh caci maki. Inilah namimah digital yang dosanya berlipat ganda karena disaksikan jutaan pasang mata.

Dalam sebuah Hadits diceritakan tentang siksa kubur bagi pelaku namimah:

مَرَّ النَّبِيُّ بِقَبْرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ»

Nabi melewati 2 kuburan, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab, dan keduanya tidak diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. Salah satunya diadzab karena tidak menutup diri saat buang air kecil, sedangkan yang lainnya diadzab karena suka berkeliling melakukan adu domba.” (HR. Al-Bukhori no. 218 dan Muslim no. 292)

Orang yang melakukan adu domba dapat merusak dalam 1 jam apa yang tidak bisa dilakukan oleh tukang sihir dalam 1 bulan. Contoh di lapangan adalah akun-akun media sosial yang khusus mengunggah potongan video perdebatan. Mereka sengaja mencari titik paling panas dari sebuah diskusi, memotongnya tanpa konteks, lalu memberinya musik latar yang dramatis agar penonton merasa emosional. Ini adalah bentuk pencarian rizqi yang sangat kotor karena berdiri di atas reruntuhan ukhuwah sesama Muslim.

3.2 Tajassus (Mencari-cari Kesalahan) untuk Mendapat Perhatian

Tajassus adalah upaya mencari-cari kesalahan, aib, atau privasi orang lain yang sebenarnya tertutup. Para pembuat konten seringkali bertindak seolah-olah mereka adalah detektif atau penegak keadilan dengan membongkar urusan pribadi seseorang ke publik. Mereka melacak jejak digital masa lalu orang lain, mewawancarai pihak-pihak yang sedang berselisih secara sepihak, hingga menggunakan kamera tersembunyi hanya untuk mendapatkan konten yang bombastis.

Alloh melarang keras perbuatan ini dalam firman-Nya:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kalian yang menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Ayat ini merupakan fondasi akhlaq dalam berinteraksi. Namun, di dunia konten, tajassus justru dianggap sebagai prestasi. Semakin dalam seseorang membongkar aib orang lain, semakin dianggap hebat oleh netizen. Padahal, Nabi telah memberikan peringatan yang sangat keras bagi orang-orang yang hobi mencari aib saudaranya:

«يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ»

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin, dan janganlah kalian mencari-cari aurat (aib) mereka. Karena barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Alloh cari-cari aibnya, maka Alloh akan menghinakannya meskipun ia berada di dalam rumahnya.” (HR. Abu Dawud no. 4880)

Seorang pembuat konten yang merasa aman di dalam studio mewahnya sambil membongkar aib orang lain harus takut akan Hadits ini. Kesuksesan konten tersebut adalah semu, karena Alloh sedang menyiapkan kehinaan baginya.

Orang yang sibuk dengan aib orang lain biasanya adalah orang yang lalai dari memperbaiki aib dirinya sendiri.

Sebagai contoh, ada konten yang disebut dengan investigasi netizen. Mereka mencari tahu siapa istri kedua seorang dai, mencari tahu berapa harta kekayaannya, atau mencari tahu kesalahan-kesalahan kecil di masa mudanya untuk kemudian dijadikan bahan olok-olok. Tindakan ini adalah tajassus yang sangat zholim. Mereka berdalih bahwa publik berhak tahu, padahal itu hanyalah alasan untuk menutupi rasa lapar mereka akan views dan adsense. Harta yang didapat dari menjatuhkan martabat orang lain melalui cara tajassus ini tidak akan pernah barokah.

3.3 Rusaknya Hubungan Akibat Perselisihan Buatan

Salah satu dampak paling nyata dari perilaku pembuat konten yang mencari musuh adalah hancurnya tali ukhuwwah di tengah masyarakat. Mereka menciptakan polarisasi yang tajam. Netizen tidak lagi melihat ilmu atau kebenaran, melainkan hanya melihat siapa yang paling jago dalam berdebat atau siapa yang paling berani menghina. Perselisihan yang seharusnya bisa diselesaikan secara pribadi, ditarik ke ruang publik sehingga menjadi konsumsi massal yang merusak hati banyak orang.

Alloh berfirman mengenai bahaya memutuskan hubungan:

﴿فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ۞ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُم

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturrohim)? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk oleh Alloh; lalu dibuat-Nya tuli (telinganya dari kebenaran) dan dibutakan-Nya penglihatannya (dari jalan petunjuk).” (QS. Muhammad: 22-23)

Ketika seorang pembuat konten membenturkan 2 dai yang berbeda pendapat, ia secara tidak langsung telah memutuskan silaturrohim di antara kedua dai tersebut dan di antara para pengikutnya. Akibatnya, masyarakat menjadi tuli dari nasehat dan buta dari kebenaran karena hatinya sudah dipenuhi kebencian. Nabi bersabda:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang memutuskan tali silaturrohim.” (HR. Al-Bukhori no. 5984 dan Muslim no. 2556)

Memutuskan silaturrohim dan ukhuwwah di era digital bisa dilakukan hanya dengan satu klik. Misalnya, seorang pembuat konten mengajak pengikutnya untuk melakukan report massal terhadap akun orang yang tidak disukainya, atau mengajak pengikutnya untuk menyerbu kolom komentar dengan kata-kata kasar (cyber bullying). Ini adalah bentuk perusakan hubungan yang sangat masif.

Al-Hasan Al-Bashri (110 H) pernah berkata bahwa jika fitnah itu datang, hanya orang berilmu yang mengetahuinya, namun jika fitnah itu telah pergi, barulah semua orang menyadarinya. Para pembuat konten ini seringkali menjadi motor penggerak fitnah. Mereka tidak peduli jika masyarakat menjadi pecah, asalkan statistik videonya naik. Contohnya adalah konten podcast yang sengaja mengundang tamu untuk membicarakan kejelekan pihak lain yang tidak hadir di sana. Ini adalah majelis ghibah dan namimah yang disiarkan secara nasional. Sang pembawa acara merasa hebat karena bisa menggali informasi panas, padahal ia sedang membangun jembatan menuju dosa besar yang memutus kasih sayang antar sesama Muslim.

Dampak buruknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga oleh masyarakat. Masyarakat menjadi terbiasa dengan kegaduhan, kehilangan rasa hormat kepada ulama, dan menganggap bahwa menjatuhkan orang lain adalah hal yang lumrah dalam kompetisi hidup. Inilah kerusakan di muka bumi yang nyata akibat dari nafsu mencari dunia melalui jalan permusuhan. Seorang Muslim sejati harus menjaga dirinya dari menonton atau mendukung konten-konten semacam ini, karena dengan menontonnya, kita ikut berkontribusi dalam melanggengkan ekosistem kemaksiatan di dunia maya.

 

Bab 4: Penyakit Gila Pujian dan Kedudukan di Mata Manusia

Sifat gila pujian dan gila kedudukan (jah) merupakan akar dari segala perilaku menyimpang para pembuat konten di zaman ini. Mereka tidak lagi mempedulikan apakah konten yang mereka buat mendatangkan ridho Alloh atau justru mengundang murka-Nya. Fokus utama mereka adalah bagaimana agar nama mereka selalu disebut-sebut, gambar mereka selalu terpampang di beranda gawai manusia, dan ucapan mereka menjadi buah bibir netizen. Inilah penyakit hati yang sangat mematikan, di mana seseorang merasa bahwa eksistensi dirinya bergantung pada jumlah jempol (likes) dan komentar dari manusia yang sama-sama lemah seperti dirinya. Akibatnya, rasa takut kepada Alloh pun berkurang, digantikan dengan rasa takut kehilangan pengikut atau takut kehilangan panggung di dunia maya.

4.1 Tipu Daya Syaithon melalui Riya’ dan Sum’ah

Riya’ (ingin dilihat orang lain dalam ibadah atau kebaikan) dan sum’ah (ingin didengar orang lain) adalah pintu masuk utama bagi syaithon untuk merusak amal para pembuat konten. Seringkali mereka mengemas konten mereka dengan label da’wah, nasehat, atau kepedulian sosial, namun di balik itu semua terdapat keinginan terpendam agar orang-orang memuji kedermawanan, keberanian, atau kecerdasan mereka. Ketika seorang pembuat konten dengan sengaja mencari-cari musuh atau membenturkan para dai, ia seringkali melakukannya untuk menunjukkan bahwa dialah yang paling benar, paling kritis, atau paling peduli terhadap umat, padahal itu hanyalah topeng riya’.

Alloh berfirman:

﴿فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ۞ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۞ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’ (ingin dilihat manusia dalam amalannya).” (QS. Al-Ma’un: 4-6)

Ayat ini secara tegas memberikan ancaman bagi mereka yang beramal namun tujuannya adalah pandangan manusia. Jika orang yang sholat saja bisa celaka karena riya’, maka bagaimana dengan pembuat konten yang setiap aktivitasnya sengaja didesain untuk mendapatkan perhatian (pujian) manusia? Pamer kemewahan, pamer sedekah, bahkan pamer perselisihan dengan orang lain agar dianggap pemberani adalah bentuk nyata dari penyakit ini.

Nabi bersabda mengenai bahaya syirik kecil ini:

«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ»

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para Shohabat bertanya: “Wahai Rosululloh, apa itu syirik kecil?” Beliau menjawab: “Riya’.” (HHR. Ahmad no. 23630)

Dalam dunia digital, riya’ telah berubah menjadi industri. Seseorang tidak lagi merasa cukup melakukan kebaikan secara sembunyi-sembunyi; ia harus membawa kamera, mengatur cahaya, dan memastikan mikrofon terpasang dengan baik sebelum mulai “berbagi”. Jika niat di dalam hati sudah bergeser untuk mendapatkan pujian netizen, maka sirnalah pahala di sisi Alloh . Ibnu Mubarok (181 H) pernah berkata bahwa betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niatnya.

Sebagai contoh, ada seorang pembuat konten yang membuat konten reaksi terhadap seorang ulama yang sedang tertimpa musibah atau salah ucap. Tujuannya bukan untuk menasehati secara rahasia, melainkan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia memiliki pemahaman yang lebih dalam. Ia menggunakan kata-kata yang tajam agar dianggap sebagai “pembela kebenaran”. Di mata netizen, ia mungkin terlihat hebat, namun di hadapan Alloh , ia sedang menumpuk dosa karena menghina kehormatan Muslim demi sum’ah (popularitas).

Contoh lain adalah fenomena “sedekah di depan kamera”. Seorang pembuat konten memberikan bantuan kepada orang miskin dengan durasi video 10 menit, di mana wajah orang miskin tersebut diperlihatkan dengan jelas dalam keadaan hina, sementara si pembuat konten berlagak bak pahlawan. Jika tujuannya adalah agar orang-orang berkomentar “Masya Alloh, orang ini sangat baik”, maka ia telah terjebak dalam sum’ah yang nyata. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) memperingatkan bahwa meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah jika Alloh menyelamatkanmu dari keduanya.

4.2 Bahaya Hubbud Dunya (Cinta Dunia) yang Menghilangkan Rasa Malu

Cinta dunia (hubbud dun-ya) adalah penyakit yang membuat seseorang buta terhadap kebenaran. Bagi seorang pembuat konten yang sudah terjangkit penyakit ini, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana mendapatkan uang iklan yang banyak, kontrak kerja sama (endorsement) yang menggiurkan, dan aset duniawi yang melimpah. Demi mengejar semua itu, mereka rela membuang rasa malu. Mereka tidak malu lagi mengumbar aib keluarga, tidak malu lagi mencaci maki orang yang lebih tua, dan tidak malu lagi melakukan perbuatan bodoh yang merendahkan martabat manusia, asalkan kontennya viral.

Alloh memberikan gambaran tentang kecintaan manusia terhadap dunia:

﴿زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik (Jannah).” (QS. Ali ‘Imron: 14)

Para pembuat konten seringkali terjebak pada ayat ini. Mereka melihat kesuksesan hanya dari seberapa banyak “emas dan perak” yang dihasilkan dari kanal videonya. Ketika dunia sudah menjadi tujuan utama, maka rasa malu yang merupakan benteng pertahanan terakhir seorang Mu’min akan runtuh.

Nabi bersabda:

«إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ»

“Sesungguhnya setiap Agama itu memiliki akhlaq, dan akhlaq Islam adalah rasa malu.” (HHR. Ibnu Majah no. 4181)

Hilangnya rasa malu pada pembuat konten terlihat jelas saat mereka sengaja membuat perselisihan dengan orang lain hanya demi “drama” yang bisa menaikkan angka penonton. Mereka saling sindir di media sosial, saling bongkar rahasia pribadi, dan saling merendahkan dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang manusia yang beradab. Semua itu dilakukan demi uang. Jika rasa malu sudah hilang, maka seseorang akan berbuat sekehendak hatinya tanpa memperdulikan halal dan harom.

Nabi bersabda:

«إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»

“Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhori no. 3484)

Rasa malu adalah kunci dari segala kebaikan. Jika rasa malu telah dicabut dari hati seseorang, maka ia akan mudah terjerumus ke dalam kemaksiatan yang paling hina sekalipun. Contoh nyatanya adalah pembuat konten yang melakukan “prank” atau lelucon jahil yang membahayakan orang lain atau menghina orang lemah. Mereka tertawa di atas penderitaan orang lain, lalu mengunggahnya ke internet. Tidak ada sedikit pun rasa malu di wajah mereka, yang ada hanyalah kegembiraan saat melihat jumlah tayangan yang meningkat.

Contoh lainnya adalah pembuat konten yang mengeksploitasi kesedihan keluarganya sendiri. Saat ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal dunia, bukannya fokus mengurus janazah atau mendoakan, ia justru sibuk mengatur sudut kamera agar terlihat estetik di layar gawai untuk dijadikan konten. Kehilangan rasa malu semacam ini adalah tanda bahwa hati sudah sangat keras karena terlalu banyak mengonsumsi harta yang syubhat (tidak jelas halalnya) atau harom dari hasil mencari musuh.

4.3 Menjual Kewibawaan demi Angka Penonton

Kewibawaan (muru’ah) adalah harga diri yang harus dijaga oleh setiap Muslim, terutama mereka yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Namun, demi mengejar algoritma media sosial yang lebih menyukai hal-hal yang kontroversial, banyak tokoh atau pembuat konten yang rela menjatuhkan wibawanya sendiri. Mereka yang dulunya dikenal santun, kini berubah menjadi kasar dan suka memaki. Mereka yang dulunya dikenal berilmu, kini rela ikut serta dalam perdebatan kusir yang tidak bermanfaat hanya agar namanya tetap “trending” (populer).

Alloh memperingatkan tentang orang yang menjual ayat-ayat-Nya demi dunia:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Alloh turunkan, yaitu Al-Kitab, dan menjualnya dengan harga yang murah (kepentingan dunia), mereka itu tidak memakan ke dalam perutnya melainkan Naar (Neraka), dan Alloh tidak akan berbicara kepada mereka pada hari Qiyamah dan tidak akan mensucikan mereka. Bagi mereka adzab yang sangat pedih.” (QS. Al-Baqoroh: 174)

Meskipun ayat ini turun berkenaan dengan Ahli Kitab, namun maknanya mencakup siapa saja yang menggadaikan kebenaran dan kewibawaan Agamanya demi mendapatkan keuntungan duniawi yang sedikit. Seorang pembuat konten yang memiliki ilmu Agama namun sengaja membuat narasi yang membenturkan antar dai agar videonya ditonton banyak orang, sesungguhnya ia sedang menjual kehormatan ilmunya dengan harga yang sangat murah.

Abdurrohman bin Mahdi (198 H) berkata bahwa seorang tokoh tidak akan menjadi imam (pemimpin) yang diikuti jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar, menceritakan hal-hal yang ghorib (aneh/asing), dan menceritakan dari setiap orang.

Di zaman sekarang, demi angka penonton, para pembuat konten menceritakan segala hal tanpa disaring. Mereka tidak peduli apakah berita itu benar atau dusta, apakah bermanfaat atau merusak, yang penting adalah kecepatan mengunggah agar menjadi yang pertama.

Nabi memberikan perumpamaan yang sangat dalam tentang rakusnya manusia terhadap kedudukan:

«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»

“Tidaklah 2 ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah sekumpulan kambing lebih merusak daripada sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan bagi Agamanya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2376)

Kewibawaan seorang Muslim akan hilang ketika ia sudah mulai masuk ke dalam kubangan perselisihan demi konten. Contoh nyata adalah ketika seorang dai atau pembuat konten pendidikan ikut-ikutan melakukan “live streaming” (siaran langsung) yang isinya hanya berdebat kusir dengan orang-orang yang tidak berilmu. Ia membiarkan dirinya dihina dan ia pun balas menghina. Semua itu dilakukan agar mendapatkan pemberian (gift) dari penonton atau agar pengikutnya bertambah. Di saat itulah, kewibawaannya sebagai pembawa risalah kebenaran runtuh. Penonton tidak lagi melihatnya sebagai teladan, melainkan hanya sebagai penghibur yang sedang mencari makan melalui jalan perselisihan.

Keinginan untuk selalu berada di puncak popularitas membuat seseorang kehilangan akal sehat. Ia akan melakukan apa saja agar tidak dilupakan oleh netizen, termasuk dengan cara mencari musuh baru setiap minggunya. Ini adalah bentuk perbudakan modern, di mana seorang manusia menjadi budak dari angka penonton dan pendapat netizen. Seharusnya, seorang Mu’min hanya mencari ridho Alloh , karena jika Alloh sudah ridho, maka Alloh akan meletakkan rasa cinta dan hormat di hati manusia kepadanya tanpa ia harus meminta atau melakukan perbuatan yang menghinakan dirinya sendiri.

 

Bab 5: Adab Berinteraksi di Dunia Maya

Manhaj Salaf bukan sekadar teori yang dibicarakan di dalam ruang kelas atau majelis ilmu, melainkan sebuah jalan hidup yang mencakup segala sisi, termasuk bagaimana seorang Mu’min bersikap di hadapan layar gawai. Di tengah kepungan fitnah media sosial di mana setiap orang merasa berhak menjadi hakim bagi orang lain, kembali kepada pemahaman para pendahulu yang sholih adalah sebuah keniscayaan. Para Salafus Sholih adalah generasi yang paling takut terhadap lisan mereka, paling hati-hati terhadap urusan hati, dan paling menjauh dari segala bentuk ketenaran yang dapat merusak keikhlasan. Di zaman ini, ketika para pembuat konten berlomba-lomba mencari musuh demi sesuap nasi, prinsip-prinsip luhur ini seringkali dilupakan. Padahal, keselamatan seorang hamba di dunia dan Akhiroh sangat bergantung pada sejauh mana ia mengikuti jejak mereka dalam menjaga adab dan kehormatan.

5.1 Prinsip Tatsabbut (Mencari Kejelasan) Sebelum Menyebarkan Berita

Dalam dunia digital yang serba cepat, kecepatan seringkali dianggap lebih penting daripada kebenaran. Banyak pembuat konten yang demi menjadi yang pertama mengunggah berita (breaking news), mereka rela mengabaikan proses verifikasi atau klarifikasi. Mereka melihat sebuah potongan video, mendengar sebuah selentingan kabar, lalu langsung membuat konten reaksi yang provokatif. Inilah titik awal kehancuran ukhuwah. Islam sangat menekankan prinsip tatsabbut atau tabayyun agar tidak terjadi kezholiman terhadap suatu kaum karena kebodohan.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasiq datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot: 6)

Ayat ini merupakan perintah tegas agar kita tidak menjadi corong bagi berita yang belum jelas kebenarannya. Bagi seorang pembuat konten, setiap informasi yang masuk harus disaring dengan ketat. Jangan sampai demi mendapatkan angka penonton, kita menyebarkan fitnah yang merugikan nama baik seseorang. Nabi juga memberikan peringatan tentang bahaya menceritakan setiap apa yang didengar tanpa disaring:

«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5)

Hadits ini sangat relevan dengan fenomena “sharing” atau membagikan ulang konten di media sosial. Seseorang yang hanya sekadar meneruskan berita tanpa tahu kebenarannya sudah dianggap melakukan kedustaan di sisi Robb semesta alam. Ibnu Sirin (110 H) menyatakan bahwa ilmu ini adalah Agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil Agama kalian. Begitu pula dalam berita, kita harus melihat sumbernya.

Sebagai contoh, ada seorang pembuat konten yang mendapatkan kiriman video pendek tentang seorang dai yang seolah-olah menghalalkan sesuatu yang harom. Tanpa mencari tahu video versi utuhnya, ia langsung membuat video hujatan. Ternyata, video tersebut adalah potongan yang sengaja dibuat oleh oknum untuk menjatuhkan dai tersebut. Si pembuat konten telah melakukan dosa besar karena tidak melakukan tatsabbut, dan ia akan menanggung penyesalan di Akhiroh atas kezholiman yang ia sebar kepada jutaan pengikutnya.

Alloh juga berfirman:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isro’: 36)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap indera kita akan bersaksi. Seorang pembuat konten tidak boleh berdalih “katanya” atau “menurut kabar yang beredar”. Ia harus memastikan fakta sebelum berbicara. Qotadah (117 H) menjelaskan bahwa maksud ayat ini adalah janganlah kamu mengatakan “aku melihat” padahal kamu tidak melihat, “aku mendengar” padahal kamu tidak mendengar, dan “aku tahu” padahal kamu tidak tahu. Di dunia maya, ini berarti janganlah kamu membuat konten analisis jika kamu tidak memiliki data yang valid.

5.2 Menjaga Lisan dari Perdebatan

Salah satu cara pembuat konten mencari musuh adalah dengan memancing perdebatan (miro’) di ruang publik. Mereka sengaja mengeluarkan pernyataan yang kontroversial agar orang-orang menyerang mereka, lalu mereka membalas serangan tersebut dengan kata-kata yang lebih pedas. Semua ini dilakukan agar algoritma media sosial mengangkat konten mereka karena tingginya interaksi. Padahal, perdebatan yang hanya bertujuan untuk menjatuhkan lawan dan mencari kemenangan diri adalah perbuatan yang tercela.

Nabi bersabda:

«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir Jannah bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HSR. Abu Dawud no. 4800)

Hadits ini memberikan solusi agung bagi kegaduhan di dunia maya. Jika seorang pembuat konten memiliki prinsip ini, ia tidak akan terpancing untuk membalas komentar kasar netizen atau meladeni tantangan debat dari sesama pembuat konten. Meninggalkan debat demi menjaga kedamaian hati dan ukhuwah jauh lebih mulia daripada memenangkan argumen di depan manusia.

Al-Imam Malik bin Anas (179 H) pernah ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau menjawab “aku tidak tahu”. Orang yang bertanya terheran-heran, namun beliau tetap pada pendiriannya. Beliau juga pernah berkata bahwa perdebatan dalam urusan Agama itu dapat mengeraskan hati dan menimbulkan kedengkian. Jika perdebatan urusan Agama saja diperingatkan oleh Imam Malik, maka bagaimana dengan perdebatan urusan dunia demi popularitas konten?

Contoh nyata adalah fenomena “battle” atau tanding adu mulut di siaran langsung media sosial. Kedua belah pihak saling menghina dan mencari kelemahan lawan, sementara penonton memberikan hadiah digital (gifts) sebagai bentuk dukungan. Ini adalah pemandangan yang sangat jauh dari adab Islam. Mereka menjual harga diri dan ketenangan jiwa demi rupiah yang tidak seberapa.

Nabi juga bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2317)

Ikut campur dalam urusan orang lain, ikut berkomentar dalam masalah yang tidak dipahami, atau sengaja masuk ke dalam konflik antar tokoh adalah tanda lemahnya iman. Seorang pembuat konten yang cerdas akan fokus pada pembuatan karya yang bermanfaat daripada menghabiskan waktu untuk memantau apa yang dilakukan oleh musuh-musuhnya atau memikirkan bagaimana cara membalas sindiran orang lain. Umar bin Khoththob (23 H) pernah berkata bahwa barangsiapa yang banyak bicaranya, maka banyak pula salahnya. Di era digital, barangsiapa yang terlalu banyak membuat konten tanpa isi yang bermanfaat, maka ia sedang membuka pintu kesalahan yang sangat lebar bagi dirinya sendiri.

5.3 Pentingnya Sifat Waro’ (Berhati-hati) dalam Menggunakan Teknologi

Waro’ adalah meninggalkan hal-hal yang syubhat karena takut terjerumus ke dalam yang harom. Dalam konteks konten, sifat waro’ sangat dibutuhkan terutama berkaitan dengan sumber penghasilan dan dampak dari konten tersebut. Banyak pembuat konten yang tidak lagi peduli apakah uang iklan yang masuk berasal dari perusahaan judi, riba, atau produk yang merusak moral. Mereka juga tidak peduli apakah konten yang mereka unggah akan memberikan pengaruh buruk bagi anak-anak atau masyarakat luas.

Nabi bersabda:

«الْحَلَالُ بَيِّنٌ، وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ»

“Yang halal itu jelas dan yang harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa yang menjauhi perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan Agama dan kehormatannya.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599 secara makna)

Seorang pembuat konten yang memiliki sifat waro’ akan sangat berhati-hati. Sebelum mengunggah sebuah video, ia akan bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah konten ini akan mendatangkan Ridho Alloh ?”, “Apakah ada unsur menghina orang lain?”, “Apakah iklan yang tampil di video ini harom?”. Jika ia merasa ada keraguan, ia lebih memilih untuk tidak mengunggahnya. Inilah bentuk penjagaan terhadap kehormatan.

Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H) pernah memuntahkan kembali makanan yang sudah masuk ke perutnya ketika ia tahu bahwa makanan tersebut berasal dari sumber yang tidak jelas. Ini adalah puncak dari sifat waro’. Jika para Shohabat begitu takut terhadap satu suap makanan yang syubhat, maka sudah sebarusnyalah para pembuat konten takut terhadap harta melimpah yang didapat dari hasil mengadu domba manusia atau merendahkan martabat dai.

Contoh perilaku tidak waro’ adalah pembuat konten yang menggunakan judul (clickbait) yang menipu hanya agar orang mengklik videonya. Judulnya sangat panas dan berisi fitnah, namun isinya tidak ada hubungannya sama sekali. Ini adalah bentuk penipuan (ghisy) yang dilarang dalam Islam. Nabi bersabda:

«مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا»

“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no. 101)

Selain itu, sifat waro’ juga mencakup menjaga privasi orang lain. Tidak semua hal harus dijadikan konten. Mengambil gambar orang lain tanpa izin, membagikan chat pribadi ke ruang publik, atau merekam orang yang sedang dalam kesulitan hanya untuk mendapatkan simpati adalah tindakan yang jauh dari sifat waro’. Al-Hasan Al-Bashri (110 H) berkata bahwa tidaklah seseorang menjadi benar-benar bertaqwa sampai ia meninggalkan sesuatu yang tidak mengapa karena takut terkena sesuatu yang dilarang.

Seorang pembuat konten yang bertaqwa akan lebih memilih kehilangan potensi pendapatan jutaan rupiah daripada harus mengunggah konten yang mengandung unsur ghibah atau namimah. Ia yakin bahwa rizqi sudah diatur oleh Robb-nya dan tidak akan tertukar. Ia memahami bahwa ketenangan hati jauh lebih berharga daripada jumlah saldo yang melimpah namun didapat dari jalan yang dibenci oleh syariat. Dengan memegang teguh prinsip tatsabbut, menjauhi miro’, dan mengedepankan waro’, seorang pembuat konten dapat menggunakan teknologi sebagai sarana meraih Jannah, bukan justru sebagai jalan menuju Naar.

 

Bab 6: Taubat dengan Memperbaiki Kerusakan

Kesadaran akan kesalahan merupakan anugerah besar yang Alloh berikan kepada hamba-Nya. Bagi para pembuat konten yang selama ini terjerembap dalam kubangan fitnah, mencari musuh demi materi, dan merusak kehormatan sesama, pintu taubat senantiasa terbuka lebar selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Namun, taubat dalam urusan yang berkaitan dengan hak sesama manusia (haqqul adami) memiliki konsekuensi yang lebih berat daripada sekadar memohon ampun kepada Alloh . Kerusakan yang telah disebarkan di dunia maya, video yang telah ditonton jutaan kali, serta kebencian yang telah tertanam di hati netizen memerlukan usaha ekstra untuk memperbaikinya. Ini adalah jalan kepulangan yang mendaki dan sukar, namun ia adalah satu-satunya jalan keselamatan agar tidak menjadi orang yang bangkrut di hari pembalasan kelak.

6.1 Kewajiban Meminta Maaf dan Membersihkan Nama Baik Orang Lain

Langkah pertama bagi seorang pembuat konten yang ingin bertaubat adalah mengakui kezholiman yang telah ia perbuat secara terang-terangan. Jika ia menghina atau menjatuhkan kehormatan seseorang di depan kamera, maka ia wajib meminta maaf dan memulihkan nama baik orang tersebut melalui media yang sama. Tidak cukup bagi seseorang yang telah menyebarkan fitnah secara publik untuk hanya bertaubat di dalam kamar dalam kesunyian, sementara jutaan orang masih memiliki prasangka buruk terhadap korban akibat kontennya.

Alloh berfirman mengenai diterimanya taubat setelah melakukan kejahatan:

﴿إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan memperbaiki diri (melakukan perbaikan atas kerusakan yang dibuat), maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 5)

Ayat ini menekankan kata “wa ashlahu” (dan mereka melakukan perbaikan). Bagi pembuat konten, perbaikan ini berarti menghapus video yang berisi maksiat tersebut, membuat pernyataan klarifikasi yang jujur bahwa apa yang ia sampaikan dahulu adalah salah, dan berusaha sekuat tenaga menghentikan penyebaran konten buruk tersebut. Tanpa adanya perbaikan atas kerusakan yang telah dibuat, taubat seseorang belum dianggap sempurna dalam timbangan syariat.

Bahaya dari tidak meminta kehalalan dari orang yang dizholimi sangatlah besar. Nabi memberikan gambaran tentang orang yang bangkrut (muflis) di Akhiroh:

«أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Para Shohabat menjawab: “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun harta benda.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Qiyamah dengan membawa pahala Sholat, Puasa, dan Zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa karena telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang ini. Maka diberikanlah sebagian pahala kebaikannya kepada orang ini dan sebagian lagi kepada orang itu. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum terselesaikan urusan kezholimannya, maka diambilkan dari dosa-dosa mereka (yang dizholimi) lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 2581)

Hadits ini merupakan peringatan mengerikan bagi para pembuat konten yang merasa aman karena memiliki banyak pengikut. Setiap caci maki yang mereka lontarkan kepada dai atau sesama Muslim demi konten akan dituntut di hadapan Robb semesta alam. Jika ada 100.000 orang yang terpengaruh oleh fitnahnya, maka ada 100.000 tuntutan yang harus ia hadapi. Oleh karena itu, meminta maaf dan membersihkan nama baik korban di dunia jauh lebih ringan daripada menghadapi tuntutan di Akhiroh.

Ibnu Qudamah (620 H) menjelaskan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidin bahwa taubat dari ghibah (menggunjing) dan fitnah mengharuskan seseorang mendatangi korbannya jika memungkinkan, atau jika akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar, maka ia harus memuji korban di majelis-majelis di mana ia pernah menghinanya dahulu.

Contoh aplikasinya adalah, seorang pembuat konten membuat video khusus berjudul “Permohonan Maaf dan Pelurusan Fakta” untuk membatalkan narasi jahat yang pernah ia buat sebelumnya. Ia tidak boleh malu kehilangan muka di depan netizen, karena kehilangan muka di hadapan Alloh jauh lebih pedih.

6.2 Mengalihkan Kreativitas untuk Kepentingan Da’wah

Setelah bertaubat dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, langkah selanjutnya bagi seorang mantan pembuat konten “pencari musuh” adalah mengalihkan kemampuannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Kemampuan berbicara di depan kamera, kemampuan mengolah video, dan kemampuan menarik massa yang selama ini digunakan untuk memecah belah, kini harus digunakan untuk menyatukan umat dan menyebarkan ilmu yang shohih sesuai Manhaj Salaf. Ini adalah bentuk hijroh yang sesungguhnya di dunia digital.

Nabi bersabda tentang keutamaan orang yang menunjukkan kebaikan:

«مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka bagi dia pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)

Bayangkan jika selama ini seorang pembuat konten mendapatkan dosa jariyah dari konten adu domba, sekarang ia berkesempatan mendapatkan pahala jariyah. Jika ia membuat konten tentang tata cara Sholat Nabi yang benar atau adab-adab bertetangga, dan video tersebut ditonton serta diamalkan oleh banyak orang, maka ia akan mendapatkan aliran pahala yang tidak terputus. Inilah perdagangan yang paling menguntungkan di sisi Alloh .

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) pernah berkata tentang niat yang benar: “Yaitu amal yang ikhlas dan benar.” Ada yang bertanya: “Wahai Abu Ali, apa amal yang ikhlas dan benar itu?” Ia menjawab:

«إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا، وَالْخَالِصُ أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ، وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ»

“Sesungguhnya yang diinginkan dari suatu amal adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Mereka bertanya: Wahai Abu ‘Ali, apa itu yang paling ikhlas dan paling benar? Beliau menjawab: Sesungguhnya amalan jika dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar (tidak sesuai syariat), maka tidak diterima. Dan jika amalan itu benar namun tidak ikhlas, maka tidak diterima, sampai amalan itu dilakukan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas adalah jika dilakukan hanya karena Alloh, dan benar adalah jika sesuai dengan Sunnah.” (Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 8/95)

Bagi pembuat konten yang baru hijroh, prinsip ini sangat penting. Kontennya harus ikhlas karena Alloh , bukan lagi demi angka tayangan atau pujian netizen. Isinya pun harus shohih sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para Shohabat, bukan berdasarkan logika sendiri atau keinginan untuk viral. Ia tidak lagi mencari-cari perdebatan, melainkan mencari cara agar umat mendapatkan manfaat.

Contoh nyatanya adalah seorang pembuat konten yang dahulu sering membenturkan antar dai, kini ia justru membuat seri video tentang “Indahnya Ukhuwah” atau “Mengenal Ulama-ulama Ahlus Sunnah”. Ia menggunakan keahlian grafisnya untuk membuat poster nasehat yang menyejukkan hati. Ia tidak lagi mempedulikan apakah pengikutnya berkurang karena tidak ada lagi “drama”, sebab ia tahu bahwa satu orang yang mendapatkan hidayah melalui tangannya lebih baik daripada dunia dan seisinya.

6.3 Meraih Ridho Alloh dengan Meninggalkan Syubhat

Taubat yang kokoh mengharuskan seseorang untuk menjauh dari segala hal yang dapat menyeretnya kembali ke dalam dosa yang sama. Dalam dunia konten, ini berarti meninggalkan cara-cara pencarian materi yang syubhat atau tidak jelas halalnya. Ia harus mulai memilah mana iklan yang layak tampil di kanalnya dan mana yang harus diblokir karena mengandung kemaksiatan. Ia lebih memilih hidup sederhana namun tenang, daripada hidup mewah dari hasil mengaduk-aduk emosi netizen melalui konten permusuhan.

Alloh memberikan jaminan bagi orang yang bertaqwa:

﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۞ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

Seorang pembuat konten yang takut kepada Alloh mungkin akan mengalami penurunan pendapatan secara drastis di awal masa hijrohnya karena ia tidak lagi menggunakan judul-judul bombastis atau drama yang memicu klik. Namun, ia harus yakin bahwa Alloh akan memberikan jalan keluar. Rizqi yang sedikit namun barokah jauh lebih baik daripada rizqi melimpah yang menyeret ke dalam Naar.

Nabi bersabda:

«إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»

“Sesungguhnya tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena Alloh ‘Azza wa Jalla, melainkan Alloh akan menggantinya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (HHR. Ahmad no. 23074)

Hadits ini adalah penghibur bagi mereka yang harus merelakan kontrak iklan besar atau popularitas tinggi demi menjaga Agama. Penggantinya bisa berupa ketenangan hati, keharmonisan keluarga, atau kemudahan dalam urusan Akhiroh.

Ilmu dan keberkahan tidak akan didapat dengan cara yang kotor. Seseorang yang ingin meraih Ridho Alloh harus membersihkan setiap butir nasi yang masuk ke perutnya dari unsur kezholiman kepada sesama.

Seorang pembuat konten yang waro’ akan berhenti mengikuti akun-akun yang hanya menyebarkan ghibah, ia akan keluar dari grup-grup diskusi yang isinya hanya mencela dai, dan ia akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu Agama secara shohih. Ia menyadari bahwa teknologi adalah pedang bermata dua; ia bisa menjadi wasilah (sarana) menuju Jannah jika digunakan dengan taqwa, namun bisa menjadi istidroj yang mematikan jika digunakan untuk menuruti hawa nafsu. Dengan konsisten di jalan ini, ia akan menemukan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada jumlah pengikut di dunia maya, melainkan pada ridho dari Robb semesta alam yang menggenggam jiwanya.

 

Penutup

Buku sederhana ini telah mengupas bagaimana fitnah media sosial telah menyeret sebagian manusia ke dalam perilaku yang sangat jauh dari akhlaq Islam. Fenomena pembuat konten yang mencari musuh abadi demi sesuap nasi merupakan masalah krisis keimanan dan hilangnya rasa takut kepada hari Pembalasan. Mereka yang tertipu oleh kemilau dunia digital seringkali lupa bahwa setiap ketikan jari dan setiap ucapan di depan kamera memiliki beban tanggung jawab yang abadi di hadapan Alloh .

Kehormatan seorang Muslim adalah sesuatu yang suci, bahkan lebih suci dari Ka’bah di mata Alloh . Merobek kehormatan tersebut demi mendapatkan angka tayangan atau iklan adalah tindakan zholim yang dampaknya akan dirasakan pelakunya sejak di alam kubur hingga hari Qiyamah. Tidak ada keberkahan dalam harta yang dikumpulkan dari hasil memecah belah umat, menghina para dai, atau menyebarkan namimah digital. Harta tersebut mungkin bisa membangun rumah yang megah di dunia, namun ia akan menjadi bahan bakar Naar yang membakar pelakunya di Akhiroh jika tidak segera bertaubat.

Mari kita jadikan dunia maya sebagai ladang untuk menanam kebaikan, bukan tempat untuk menebar duri permusuhan. Bagi para pembuat konten, ingatlah bahwa kalian adalah pembawa pengaruh; gunakanlah pengaruh itu untuk mengajak manusia kembali kepada Alloh dan Sunnah Nabi dengan pemahaman Salafus Sholih yang luhur. Jangan biarkan diri kalian diperbudak oleh algoritma atau keinginan netizen yang tidak ada habisnya. Carilah Ridho Alloh meskipun seluruh manusia di bumi membenci kalian, karena pada akhirnya, hanya Ridho-Nya yang akan menyelamatkan kita saat kita berdiri sendirian di hadapan-Nya.

Semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita semua untuk senantiasa menjaga lisan dan tangan dari perbuatan zholim. Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kita di masa lalu dan membimbing para pembuat konten agar menjadi pejuang-pejuang kebenaran yang menebarkan manfaat bagi masyarakat. Akhir dari da’wah kami adalah Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarganya, dan para Shohabatnya yang mulia. [NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini