[PDF] Fenomena Content Creator Mencari Musuh Abadi Demi Sesuap Nasi - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
hanya milik Alloh ﷻ,
Robb semesta alam yang telah memberikan ni’mat iman dan Islam kepada kita.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, para
Shohabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga
hari Qiyamah.
Amma
ba’du:
Sesungguhnya,
kita sedang hidup di suatu zaman yang penuh dengan fitnah yang dahsyat, di mana
nilai-nilai kebenaran seringkali tertutup oleh debu-debu syahwat dan syubhat.
Salah satu fenomena yang sangat memprihatinkan di era digital ini adalah
munculnya sekelompok orang yang disebut sebagai pembuat konten, namun
mereka menjadikan perselisihan, kebencian, dan penghinaan terhadap sesama
sebagai komoditas utama untuk meraup keuntungan duniawi. Mereka tidak
segan-segan mencari musuh, membenturkan para dai, serta menyebarkan ghibah
demi mendapatkan perhatian netizen dan pundi-pundi uang dari iklan. Fenomena
ini merupakan ancaman serius bagi keutuhan ukhuwah Islamiyah dan keselamatan
Agama seseorang.
Perilaku
mencari musuh demi materi telah merusak tatanan akhlaq di tengah masyarakat.
Kehormatan seorang Muslim yang seharusnya dijaga lebih suci daripada Ka’bah,
kini dengan mudahnya dirobek-robek di ruang publik digital. Banyak orang yang
terjebak dalam lingkaran syaithon ini, baik sebagai pembuat konten maupun
sebagai penonton yang ikut memberikan dukungan. Oleh karena itu, diperlukan
sebuah tinjauan yang mendalam berdasarkan wahyu untuk menakar sejauh mana
kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan ini, serta bagaimana solusi yang
ditawarkan oleh Islam agar terhindar dari adzab yang pedih di Akhiroh.
Alloh ﷻ
telah memperingatkan kita tentang bahaya orang-orang yang suka menyakiti sesama
Muslim:
﴿وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا﴾
“Orang-orang
yang menyakiti orang-orang yang Mu’min laki-laki dan perempuan tanpa ada
kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul
kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Ayat ini
merupakan pondasi utama dalam memahami betapa beratnya dosa bagi mereka yang
sengaja mencari-cari kesalahan orang lain untuk dijadikan konten. Kehidupan
dunia ini hanyalah sementara, dan setiap kata yang diucapkan serta setiap video
yang diunggah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Robb semesta alam.
Nabi ﷺ
juga telah mengingatkan tentang hakekat Agama sebagai nasehat, bukan sebagai
sarana untuk saling menjatuhkan:
«الدِّينُ
النَّصِيحَةُ»
“Agama itu
adalah nasehat.” (HR. Muslim no. 55)
Bahkan Nabi
ﷺ
mengabarkan siapa yang menutupi aib saudaranya di dunia maka aibnya akan
ditutupi di Akhiroh.
Jika
seorang pembuat konten mengaku ingin memperbaiki umat namun caranya adalah
dengan merendahkan orang lain dan memancing keributan, maka sejatinya ia tidak
sedang memberikan nasehat, melainkan sedang menuruti bisikan syaithon demi
mengejar popularitas yang fana.
Penulisan
buku ini bertujuan untuk memberikan peringatan keras bagi para pelaku dan
edukasi bagi masyarakat agar tidak menjadi bagian dari ekosistem kemaksiatan di
dunia maya.
Perjalanan
buku ini akan dimulai dengan membedah landasan utama seorang hamba dalam
mencari penghidupan, yaitu hakikat rizqi dan keberkahan. Kita akan melihat
bagaimana cara-cara yang harom dalam mencari harta justru akan mendatangkan
kegelisahan dan jebakan istidroj. Setelah memahami landasan tersebut,
pembahasan akan mengalir pada bahaya lisan dan tulisan di ruang digital yang
sering dianggap remeh, padahal satu kalimat saja bisa menjatuhkan seseorang ke
dalam lubang Naar yang sangat dalam.
Selanjutnya,
pembahasan akan berlanjut pada pengupasan gejala adu domba dan pencarian aib
yang kini dikemas secara menarik. Kita akan menyingkap bagaimana perilaku namimah
dan tajassus bekerja di balik layar kamera. Tidak berhenti di sana, buku
ini juga akan masuk ke dalam relung hati untuk membedah penyakit gila pujian,
riya’, dan cinta dunia yang menjadi akar dari segala kegilaan konten tersebut.
Setelah
semua kerusakan dipaparkan, pembahasan akan beralih pada bimbingan adab yang
mulia, memberikan prinsip tatsabbut dan waro’ sebagai benteng
pertahanan. Seluruh rangkaian pembahasan ini akan ditutup dengan seruan untuk
bertaubat dan cara memperbaiki kerusakan yang telah dibuat, agar setiap pembuat
konten memiliki kesempatan untuk kembali kepada Robb mereka dengan jiwa yang
tenang.
Bab 1: Keberkahan
dalam Mencari Dunia
Alloh ﷻ
menciptakan manusia dan menjamin seluruh urusan hidupnya, termasuk urusan
materi yang seringkali menjadi fitnah besar di akhir zaman ini. Banyak manusia
yang lupa bahwa tujuan utama mereka adalah beribadah, sehingga mereka
menghabiskan 24 jam dalam sehari hanya untuk memikirkan bagaimana cara menambah
angka di saldo tabungan mereka atau jumlah pengikut di media sosial. Fenomena
ini semakin nyata ketika para pembuat konten menganggap bahwa layar gawai
adalah ladang utama untuk memanen harta, meskipun harus mengorbankan
nilai-nilai luhur dan melanggar batasan syariat yang telah ditetapkan oleh Robb
semesta alam. Mereka terjebak dalam perlombaan yang semu, mengejar popularitas
yang fana, dan seringkali menghalalkan segala cara demi mendapatkan perhatian
dari netizen. Padahal, rizqi yang didapatkan dengan cara yang tidak benar tidak
akan pernah memberikan ketenangan sejati di dalam hati.
1.1
Larangan Mencari Harta dengan Cara yang Harom
Mencari
harta adalah perkara yang diperbolehkan, namun Islam memberikan batasan yang
sangat tegas mengenai cara mendapatkannya. Ketika seorang pembuat konten
sengaja menciptakan permusuhan, menghina sesama, atau membenturkan para dai
hanya agar videonya menjadi viral dan mendapatkan iklan yang banyak, maka ia
telah masuk ke dalam pintu mencari harta dengan cara yang harom. Hal ini
termasuk dalam kategori memakan harta manusia dengan cara yang batil.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ
بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ
النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
“Janganlah
kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang tidak benar, yaitu
dengan cara yang tidak dihalalkan oleh Alloh. Dan janganlah kalian membawa
urusan harta itu kepada para hakim agar kalian dapat memakan sebagian harta
milik orang lain dengan cara dosa, padahal kalian mengetahui bahwa itu adalah
harom.” (QS. Al-Baqoroh: 188)
Ayat ini
merupakan peringatan keras bagi siapa saja yang menggunakan tipu daya untuk
mendapatkan keuntungan materi. Dalam konteks digital, membuat narasi palsu atau
melakukan ghibah (menggunjing) terhadap orang lain demi konten adalah
bentuk dari memakan harta secara batil. Harta yang dikumpulkan dari hasil
merusak kehormatan orang lain adalah harta yang kotor dan akan menjadi beban di
Akhiroh kelak.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّهُ
لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ»
“Sesungguhnya
tidaklah tumbuh daging yang berasal dari harta yang harom, melainkan Naar lebih
pantas baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 614)
Seorang
Muslim harus menyadari bahwa setiap rupiah yang masuk ke dalam kantongnya akan
dimintai pertanggungjawaban. Jika 1.000.000 views didapatkan dari hasil mencaci
maki, maka 1.000.000 kali pula ia telah menanam benih keburukan bagi dirinya
sendiri. Disebutkan dalam Hadits shohih bahwa rakusnya manusia terhadap harta
dan kedudukan dapat merusak Agamanya lebih parah daripada dua ekor serigala
lapar yang dilepaskan di tengah kawanan kambing.
Contoh yang
sering kita lihat adalah seorang pembuat konten yang secara sengaja memotong
video ceramah seorang dai, lalu menambahkan judul yang provokatif untuk memicu
perdebatan. Tujuannya hanya satu: agar kolom komentar penuh dengan netizen dan
video tersebut dibagikan secara luas. Ini adalah bentuk pencarian rizqi yang
sangat kotor karena mencampuradukkan antara kebohongan dan fitnah demi
kepentingan duniawi semata.
1.2
Keberkahan dalam Ketenangan Jiwa
Banyak
orang yang memiliki harta melimpah namun hidupnya selalu diliputi kecemasan.
Hal ini terjadi karena hilangnya barokah (keberkahan) dalam harta tersebut.
Keberkahan bukan terletak pada banyaknya angka, melainkan pada kecukupan dan
ketenangan yang dirasakan oleh jiwa. Pembuat konten yang hidup dari hasil
mencari musuh biasanya akan selalu merasa tidak puas dan selalu dilingkupi rasa
takut jika popularitasnya menurun.
Alloh ﷻ
memerintahkan kita untuk mencari karunia-Nya dengan tetap mengutamakan
kehidupan Akhiroh:
﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ
الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ
إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴾
“Carilah
pahala negeri Akhiroh dengan apa yang telah Alloh anugerahkan kepadamu dari
harta benda, namun janganlah kamu melupakan bagianmu dari keni’matan duniawi
yang halal. Berbuat baiklah kepada hamba-hamba Alloh sebagaimana
Alloh telah berbuat baik kepadamu dengan memberimu harta, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan maksiat. Sesungguhnya Alloh
tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qoshosh: 77)
Membuat
konten yang memicu perpecahan di tengah masyarakat adalah salah satu bentuk
berbuat kerusakan di muka bumi.
Sebaliknya,
harta yang berkah adalah harta yang didapatkan dengan cara yang jujur dan
digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Nabi ﷺ memberikan gambaran tentang orang yang merasa kaya dengan apa
yang dimilikinya:
«لَيْسَ
الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
“Kekayaan
itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah
kekayaan jiwa (merasa cukup).” (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Seorang
pembuat konten yang memiliki jiwa yang kaya tidak akan merasa perlu menjatuhkan
orang lain demi mendapatkan pengakuan. Ia akan merasa cukup dengan apa yang
Alloh berikan kepadanya melalui jalan yang halal. Di dalam hati terdapat sebuah
kekosongan yang tidak dapat diisi kecuali dengan kedekatan kepada Alloh, dan
tidak ada harta sebanyak apapun yang bisa menggantikan ketenangan tersebut jika
didapatkan dengan cara yang zholim.
Misalnya, 2
orang pembuat konten memiliki jumlah pengikut yang sama. Yang pertama
mendapatkan pengikut dari konten pendidikan yang bermanfaat, sementara yang
kedua mendapatkannya dari konten drama dan saling sindir. Meskipun pendapatan
mereka mungkin sama secara nominal, namun pembuat konten yang pertama akan
merasakan ketenangan saat tidur, sementara yang kedua akan terus-menerus
memikirkan taktik baru untuk menjatuhkan lawan bicaranya agar tetap relevan di
mata netizen.
1.3
Bahaya Istidroj di Balik Melimpahnya Pengikut dan Harta
Salah satu
tipu daya syaithon yang paling halus adalah istidroj (penundaan adzab
dengan pemberian ni’mat). Seringkali para pembuat konten merasa bahwa apa yang
mereka lakukan adalah benar karena mereka melihat jumlah pengikutnya terus
bertambah dan penghasilannya semakin melonjak meskipun kontennya penuh dengan ghibah
dan fitnah. Mereka mengira itu adalah tanda kesuksesan, padahal itu bisa jadi
adalah awal dari kehancuran yang sangat pedih.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ
بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُون﴾
“Maka
ketika mereka meninggalkan perintah Alloh yang telah diingatkan kepada mereka,
Kami pun membukakan untuk mereka pintu-pintu kesenangan dunia sebagai bentuk
ujian bagi mereka. Hingga ketika mereka telah merasa bangga dan sombong dengan
apa yang diberikan kepada mereka, Kami menyiksa mereka secara tiba-tiba, maka
seketika itu mereka terdiam berputus asa dari segala kebaikan.” (QS. Al-An’am:
44)
Ayat ini
harus menjadi bahan renungan bagi setiap pembuat konten. Melimpahnya iklan dan
banyaknya pujian dari netizen bukanlah jaminan bahwa Alloh ridho terhadap apa
yang dikerjakan. Jika ni’mat tersebut didapatkan sambil terus melakukan maksiat
seperti merendahkan kehormatan Muslim lainnya, maka waspadalah terhadap istidroj.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا
رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ،
فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»
“Apabila
kamu melihat Alloh memberikan keni’matan dunia kepada seorang hamba yang ia
sukai, padahal hamba tersebut terus melakukan maksiat, maka ketahuilah bahwa
itu hanyalah istidroj.” (HHR. Ahmad no. 17311)
Contoh istidroj
dalam dunia digital adalah ketika seorang pembuat konten merasa kebal hukum dan
kebal kritik karena memiliki jutaan penggemar yang selalu membelanya meskipun
ia jelas-jelas menyebarkan kebencian. Ia merasa seolah-olah berada di atas
angin, namun sebenarnya ia sedang ditarik perlahan-lahan menuju lubang
kehancuran yang dalam. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) berkata bahwa jika Alloh
mencintai seorang hamba, maka Alloh akan memberinya rasa takut agar ia selalu
waspada, namun jika Alloh membiarkan hamba tersebut dalam kelalaiannya, maka
itu adalah tanda kemurkaan-Nya.
Bayangkan 1
orang yang setiap hari mengunggah konten yang menghina para dai. Setiap
unggahannya ditonton oleh 500.000 orang. Harta mengalir deras, ia bisa membeli
mobil baru dan rumah mewah. Namun, di saat yang sama, ia semakin jauh dari
Masjid, semakin jauh dari majelis ilmu, dan hatinya semakin keras karena setiap
hari yang dipikirkan hanyalah bagaimana cara membalas dendam atau mencari celah
kesalahan orang lain. Inilah hakikat istidroj yang seringkali tidak
disadari oleh para pengejar materi di dunia maya.
Seorang Mu’min
yang cerdas harus selalu menimbang setiap langkahnya dengan wahyu. Popularitas
hanyalah hiasan dunia yang akan hilang, namun apa yang kita tulis dan apa yang
kita ucapkan akan tercatat selamanya di hadapan Robb semesta alam. Jangan
sampai demi sesuap nasi, kita rela menukarkan Jannah dengan Naar, dan jangan
sampai demi angka penonton, kita rela menghancurkan martabat diri kita sendiri
di hadapan pencipta alam semesta ini.
Bab 2: Bahaya
Lisan dan Tulisan dalam Ruang Digital
Setiap inci
dari aktivitas manusia di dunia digital, baik berupa suara dalam video, tulisan
dalam kolom komentar, maupun naskah yang dibacakan oleh para pembuat konten,
semuanya merupakan kepanjangan dari lisan dan tangan mereka. Di zaman yang
penuh dengan fitnah ini, banyak orang yang merasa bebas berucap dan menulis apa
saja di balik layar gawai mereka seolah-olah tidak ada mata yang mengawasi.
Mereka menganggap bahwa kata-kata yang dilontarkan untuk menjatuhkan orang lain
atau memancing keributan hanyalah bumbu dalam mencari nafkah. Padahal, setiap
huruf yang diketik dan setiap kalimat yang diucapkan akan menjadi saksi yang
memberatkan atau meringankan di hari perhitungan kelak. Ruang digital bukanlah
ruang hampa yang terlepas dari pengawasan Robb semesta alam, melainkan sebuah
medan ujian yang sangat berat bagi keimanan dan akhlaq seorang Muslim.
2.1
Kedudukan Ucapan di Sisi Robb Semesta Alam
Segala
sesuatu yang keluar dari mulut seorang hamba, baik itu berupa pujian maupun
hinaan, telah tercatat dengan sangat rapi oleh para Malaikat yang tidak pernah
lalai. Dalam dunia media sosial, sebuah video pendek atau satu kalimat dalam
unggahan status dapat menjangkau jutaan manusia dalam waktu sekejap. Oleh
karena itu, beban tanggung jawabnya jauh lebih besar dibandingkan ucapan yang
hanya didengar oleh beberapa orang di dunia nyata.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ
رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tidak ada
suatu kata pun yang terucap melainkan di sisinya ada Malaikat pengawas yang
selalu siap mencatatnya.” (QS. Qof: 18)
Ayat ini
memberikan peringatan yang sangat dalam bahwa tidak ada satu pun konten yang
luput dari catatan. Jika seorang pembuat konten sengaja mengucapkan kata-kata
yang memancing emosi netizen atau menyebarkan kebencian demi mendapatkan
interaksi (engagement) yang tinggi, maka Malaikat Roqib dan ‘Atid telah
mencatatnya sebagai dosa yang akan dituntut pertanggungjawabannya.
Nabi ﷺ juga memberikan peringatan
tentang bahaya lisan yang meremehkan dosa:
«إِنَّ
العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا،
يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ
مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ»
“Sesungguhnya
seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang diridhoi Alloh, yang
ia tidak terlalu memperhatikannya, namun dengan sebab itu Alloh mengangkat
derajatnya. Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu
kalimat yang dimurkai Alloh, yang ia tidak terlalu memperhatikannya, namun
dengan sebab itu ia terjatuh ke dalam Jahanam.” (HR. Al-Bukhori no. 6478)
Hadits ini
sangat relevan dengan perilaku pembuat konten masa kini. Terkadang mereka
merasa hanya sedang bercanda atau sekadar mengikuti tren (trending topic)
ketika menghina seorang dai atau merendahkan martabat sesama pembuat konten.
Mereka tidak mempedulikan dampak dari ucapan tersebut, padahal satu kalimat
saja sudah cukup untuk melemparkan mereka ke dalam Naar. An-Nawawi (676 H)
menjelaskan bahwa maksud dari “tidak terlalu memperhatikan” adalah menganggap
remeh ucapan tersebut padahal dampaknya sangat besar bagi Agama dan kehormatan
manusia.
Sebagai
contoh, ada seorang pembuat konten yang membuat video reaksi terhadap pendapat
seorang ulama dengan gaya bahasa yang sinis dan penuh ejekan. Ia mungkin merasa
itu hanya sebuah ekspresi pendapat, namun di mata syariat, ia telah meremehkan
kedudukan ilmu dan penyampainya. Setiap orang yang ikut tertawa dan ikut
menghina setelah menonton video tersebut akan menambah beban dosa bagi si
pembuat konten awal.
2.2
Larangan Menghina dan Merendahkan Kehormatan Muslim
Salah satu
modal utama para pembuat konten yang haus akan popularitas adalah dengan
merusak kehormatan orang lain. Mereka mencari celah kekurangan sesama,
melakukan perundungan digital, hingga melakukan ghibah secara berjamaah
di depan kamera. Hal ini dilakukan karena mereka tahu bahwa berita tentang aib
dan perselisihan adalah komoditas yang sangat laku dijual kepada netizen yang
haus akan drama.
Alloh ﷻ
melarang perbuatan merendahkan orang lain:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ
قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ
عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا
بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ
فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain,
karena boleh jadi kaum yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka. Dan jangan
pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan
yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka. Janganlah kalian saling mencela
satu sama lain dan janganlah kalian saling memanggil dengan gelar-gelar yang
buruk. Seburuk-buruk sebutan adalah sebutan yang buruk (fasiq) setelah kalian
beriman. Dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang
zholim.” (QS. Al-Hujurot: 11)
Dalam dunia
digital, perbuatan “saling memanggil dengan gelar yang buruk” bermetamorfosis
menjadi julukan-julukan negatif di kolom komentar atau penyebutan nama yang tidak
layak dalam konten video. Perbuatan ini adalah pintu menuju kefasikan.
Rosululloh ﷺ
menegaskan batas-batas kehormatan seorang Muslim dalam sabdanya:
«كُلُّ
الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ»
“Setiap
Muslim terhadap Muslim lainnya adalah harom; darahnya, hartanya, dan
kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)
Seorang
pembuat konten yang merendahkan kehormatan saudaranya sesama Muslim demi
mendapatkan uang iklan sesungguhnya telah melanggar batasan yang sangat suci
dalam Islam. Menjatuhkan nama baik seseorang agar video menjadi viral adalah
bentuk pencurian terhadap “harga diri” yang nilainya jauh lebih mahal daripada
harta duniawi. Menyakiti perasaan seorang Muslim tanpa alasan yang benar
termasuk dosa besar yang dapat menghapus pahala amal sholih.
Contoh yang
sering terjadi adalah fenomena “roasting” yang dilakukan tanpa batas.
Seorang pembuat konten menguliti aib pribadi orang lain, mulai dari bentuk
fisik hingga kegagalan masa lalu, kemudian dibungkus dengan kemasan komedi.
Netizen tertawa, iklan mengalir, namun di sisi lain, kehormatan sang korban
telah hancur berkeping-keping. Ini adalah tindakan zholim yang dilakukan secara
terbuka dan disaksikan oleh banyak orang.
2.3
Ancaman bagi Orang yang Menjadi Pelopor Keburukan
Banyak
pembuat konten yang berdalih bahwa mereka hanya memberikan apa yang diinginkan
oleh penonton. Namun, mereka lupa bahwa orang yang pertama kali memulai sebuah
tren buruk, atau menjadi pelopor dalam sebuah perselisihan, akan menanggung
dosa dari setiap orang yang mengikuti jejaknya. Jika sebuah konten adu domba
ditonton oleh 1.000.000 orang dan memicu kemarahan di antara mereka, maka si
pembuat konten akan mendapatkan bagian dari setiap dosa kemarahan tersebut.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ
فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang ingin agar perbuatan keji (termasuk berita bohong dan fitnah)
tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan mendapat adzab yang
pedih di dunia dan di Akhiroh. Dan Alloh mengetahui, sedang kalian tidak
mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)
Menyiarkan
aib orang lain atau membenturkan pendapat antar dai agar menjadi perdebatan
panas di media sosial termasuk dalam kategori menyebarkan keburukan. Penonton
yang tadinya tenang menjadi terprovokasi, dan masyarakat yang tadinya rukun
menjadi terpecah belah hanya karena satu unggahan konten. Nabi ﷺ bersabda mengenai beban dosa
jariyah ini:
«وَمَنْ
سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ
عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»
“Dan
barangsiapa yang memulai dalam Islam suatu jalan yang buruk, maka ia akan
menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya setelah itu, tanpa
mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)
Bagi
seorang pembuat konten, Hadits ini seharusnya menjadi peringatan yang sangat
menakutkan. Bayangkan jika seseorang membuat konten drama yang isinya mencaci
maki orang lain, lalu video tersebut tetap ada di internet selama
bertahun-tahun meskipun ia sudah meninggal dunia. Selama video itu ditonton dan
orang-orang terpengaruh untuk ikut mencaci maki, maka aliran dosa akan terus
mengalir ke alam kuburnya. Bahaya menjadi pelopor keburukan adalah ia
menanggung dosa kolektif yang sulit untuk dihapus kecuali dengan taubat yang
sungguh-sungguh dan usaha untuk memperbaiki kerusakan tersebut secara terbuka.
Contoh
nyatanya adalah ketika seorang pembuat konten memulai sebuah tantangan (challenge)
yang membahayakan atau merusak moral, seperti melakukan “prank” yang
melecehkan orang tua atau orang yang sedang bekerja. Ketika konten tersebut
viral, ribuan pembuat konten lain mengikutinya karena ingin mengejar jumlah
penonton. Pelopor pertama dari tren ini memikul dosa dari ribuan video turunan
yang dihasilkan oleh orang lain. Begitu pula dengan konten yang membenturkan
dai; ketika satu orang sukses mendapatkan uang dari konten adu domba, yang lain
akan meniru, dan si pelopor pertama telah membuka pintu fitnah yang sangat
lebar bagi umat Islam.
Oleh karena
itu, setiap pembuat konten harus berpikir ribuan kali sebelum menekan tombol “unggah”.
Apakah konten ini akan menjadi timbangan kebaikan atau justru menjadi sumber
dosa yang tidak berujung? Apakah popularitas sesaat sebanding dengan adzab yang
pedih di Akhiroh? Seorang Mu’min harus menjaga jari-jarinya sebagaimana ia
menjaga lisannya, karena di hari Qiyamah, mulut akan terkunci dan tanganlah
yang akan berbicara memberikan kesaksian atas apa yang telah dikerjakannya di
dunia maya.
Bab 3: Mencari
Aib Berkedok Konten
Dunia
digital saat ini telah menjadi panggung besar bagi perilaku namimah (adu
domba) dan tajassus (mencari-cari kesalahan) yang dikemas secara modern.
Jika dahulu seorang tukang adu domba harus berpindah dari satu rumah ke rumah
lain untuk membisikkan fitnah, kini para pembuat konten cukup duduk di depan
kamera dan menyebarkan benih permusuhan kepada jutaan orang sekaligus. Mereka
membungkus perbuatan harom ini dengan istilah-istilah yang tampak wajar,
seperti konten klarifikasi, konten reaksi, atau konten bongkar rahasia.
Motivasi utamanya bukanlah penegakan kebenaran, melainkan pengejaran angka
tayangan yang berujung pada pundi-pundi uang iklan. Fenomena ini telah merusak
tatanan sosial dan ukhuwah Islamiyah, di mana netizen digiring untuk memihak
salah satu kubu dan saling mencela di kolom komentar.
3.1
Namimah dalam Bentuk Video dan Tulisan
Namimah
atau adu domba adalah memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan
tujuan merusak hubungan di antara mereka. Dalam industri konten, hal ini sering
terjadi ketika seorang pembuat konten mengambil potongan pernyataan seorang dai
atau tokoh, lalu menunjukkannya kepada dai atau tokoh lain untuk memancing
reaksi keras. Tujuannya jelas, yaitu menciptakan perselisihan yang menarik
untuk ditonton. Perbuatan ini adalah dosa besar yang diancam dengan siksa kubur
dan terhalangnya seseorang dari masuk Jannah.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ ۞ هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ﴾
“Dan
janganlah kamu patuhi setiap orang yang suka bersumpah lagi hina, yang banyak
mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah adu domba.” (QS. Al-Qolam:
10-11)
Ayat ini
memperingatkan kita agar tidak mengikuti atau mendukung orang-orang yang
profesinya adalah menyebarkan berita untuk merusak hubungan manusia. Para
pembuat konten yang kerjanya hanya membenturkan pendapat satu orang dengan
orang lain demi konten adalah perwujudan nyata dari ayat ini di zaman sekarang.
Nabi ﷺ bersabda dengan tegas:
«لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»
“Tidak
akan masuk Jannah orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim no. 105)
Namimah
adalah salah satu perbuatan paling buruk yang bisa menghancurkan Agama
seseorang. Bayangkan seorang pembuat konten yang membuat video dengan judul
provokatif seperti “Dai A Menghina Dai B”, padahal ia hanya mengambil potongan
kalimat yang tidak utuh. Tindakan ini memicu kemarahan pengikut Dai A dan Dai
B, sehingga terjadi perang komentar yang penuh caci maki. Inilah namimah
digital yang dosanya berlipat ganda karena disaksikan jutaan pasang mata.
Dalam
sebuah Hadits diceritakan tentang siksa kubur bagi pelaku namimah:
مَرَّ
النَّبِيُّ ﷺ بِقَبْرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ،
وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ،
وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ»
Nabi ﷺ melewati 2 kuburan, lalu
beliau bersabda: “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab, dan
keduanya tidak diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. Salah
satunya diadzab karena tidak menutup diri saat buang air kecil, sedangkan yang lainnya
diadzab karena suka berkeliling melakukan adu domba.” (HR. Al-Bukhori no.
218 dan Muslim no. 292)
Orang yang
melakukan adu domba dapat merusak dalam 1 jam apa yang tidak bisa dilakukan
oleh tukang sihir dalam 1 bulan. Contoh di lapangan adalah akun-akun media
sosial yang khusus mengunggah potongan video perdebatan. Mereka sengaja mencari
titik paling panas dari sebuah diskusi, memotongnya tanpa konteks, lalu
memberinya musik latar yang dramatis agar penonton merasa emosional. Ini adalah
bentuk pencarian rizqi yang sangat kotor karena berdiri di atas reruntuhan
ukhuwah sesama Muslim.
3.2
Tajassus (Mencari-cari Kesalahan) untuk Mendapat Perhatian
Tajassus adalah upaya mencari-cari
kesalahan, aib, atau privasi orang lain yang sebenarnya tertutup. Para pembuat
konten seringkali bertindak seolah-olah mereka adalah detektif atau penegak
keadilan dengan membongkar urusan pribadi seseorang ke publik. Mereka melacak
jejak digital masa lalu orang lain, mewawancarai pihak-pihak yang sedang
berselisih secara sepihak, hingga menggunakan kamera tersembunyi hanya untuk
mendapatkan konten yang bombastis.
Alloh ﷻ
melarang keras perbuatan ini dalam firman-Nya:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا
كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ
بَعْضُكُمْ بَعْضًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian
prasangka itu dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan
janganlah ada di antara kalian yang menggunjing sebagian yang lain.” (QS.
Al-Hujurot: 12)
Ayat ini
merupakan fondasi akhlaq dalam berinteraksi. Namun, di dunia konten, tajassus
justru dianggap sebagai prestasi. Semakin dalam seseorang membongkar aib orang
lain, semakin dianggap hebat oleh netizen. Padahal, Nabi ﷺ telah memberikan peringatan
yang sangat keras bagi orang-orang yang hobi mencari aib saudaranya:
«يَا
مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا
الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ
يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي
بَيْتِهِ»
“Wahai
sekalian orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam
hatinya! Janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin, dan janganlah kalian
mencari-cari aurat (aib) mereka. Karena barangsiapa yang mencari-cari aib
mereka, maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Alloh
cari-cari aibnya, maka Alloh akan menghinakannya meskipun ia berada di dalam
rumahnya.” (HR. Abu Dawud no. 4880)
Seorang
pembuat konten yang merasa aman di dalam studio mewahnya sambil membongkar aib
orang lain harus takut akan Hadits ini. Kesuksesan konten tersebut adalah semu,
karena Alloh ﷻ
sedang menyiapkan kehinaan baginya.
Orang yang
sibuk dengan aib orang lain biasanya adalah orang yang lalai dari memperbaiki
aib dirinya sendiri.
Sebagai
contoh, ada konten yang disebut dengan investigasi netizen. Mereka
mencari tahu siapa istri kedua seorang dai, mencari tahu berapa harta
kekayaannya, atau mencari tahu kesalahan-kesalahan kecil di masa mudanya untuk
kemudian dijadikan bahan olok-olok. Tindakan ini adalah tajassus yang
sangat zholim. Mereka berdalih bahwa publik berhak tahu, padahal itu hanyalah
alasan untuk menutupi rasa lapar mereka akan views dan adsense. Harta yang
didapat dari menjatuhkan martabat orang lain melalui cara tajassus ini tidak
akan pernah barokah.
3.3
Rusaknya Hubungan Akibat Perselisihan Buatan
Salah satu
dampak paling nyata dari perilaku pembuat konten yang mencari musuh adalah
hancurnya tali ukhuwwah di tengah masyarakat. Mereka menciptakan polarisasi
yang tajam. Netizen tidak lagi melihat ilmu atau kebenaran, melainkan hanya
melihat siapa yang paling jago dalam berdebat atau siapa yang paling berani
menghina. Perselisihan yang seharusnya bisa diselesaikan secara pribadi,
ditarik ke ruang publik sehingga menjadi konsumsi massal yang merusak hati
banyak orang.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai bahaya memutuskan hubungan:
﴿فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ
تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ۞ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ
وَأَعْمَى أَبْصَارَهُم﴾
“Maka
apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturrohim)? Mereka itulah orang-orang yang
dikutuk oleh Alloh; lalu dibuat-Nya tuli (telinganya dari kebenaran) dan
dibutakan-Nya penglihatannya (dari jalan petunjuk).” (QS. Muhammad: 22-23)
Ketika
seorang pembuat konten membenturkan 2 dai yang berbeda pendapat, ia secara
tidak langsung telah memutuskan silaturrohim di antara kedua dai tersebut dan
di antara para pengikutnya. Akibatnya, masyarakat menjadi tuli dari nasehat dan
buta dari kebenaran karena hatinya sudah dipenuhi kebencian. Nabi ﷺ bersabda:
«لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ»
“Tidak
akan masuk Jannah orang yang memutuskan tali silaturrohim.” (HR. Al-Bukhori
no. 5984 dan Muslim no. 2556)
Memutuskan
silaturrohim dan ukhuwwah di era digital bisa dilakukan hanya dengan satu klik.
Misalnya, seorang pembuat konten mengajak pengikutnya untuk melakukan report
massal terhadap akun orang yang tidak disukainya, atau mengajak pengikutnya
untuk menyerbu kolom komentar dengan kata-kata kasar (cyber bullying).
Ini adalah bentuk perusakan hubungan yang sangat masif.
Al-Hasan
Al-Bashri (110 H) pernah berkata bahwa jika fitnah itu datang, hanya orang
berilmu yang mengetahuinya, namun jika fitnah itu telah pergi, barulah semua
orang menyadarinya. Para pembuat konten ini seringkali menjadi motor penggerak
fitnah. Mereka tidak peduli jika masyarakat menjadi pecah, asalkan statistik
videonya naik. Contohnya adalah konten podcast yang sengaja mengundang tamu
untuk membicarakan kejelekan pihak lain yang tidak hadir di sana. Ini adalah
majelis ghibah dan namimah yang disiarkan secara nasional. Sang pembawa
acara merasa hebat karena bisa menggali informasi panas, padahal ia sedang
membangun jembatan menuju dosa besar yang memutus kasih sayang antar sesama
Muslim.
Dampak
buruknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga oleh masyarakat.
Masyarakat menjadi terbiasa dengan kegaduhan, kehilangan rasa hormat kepada
ulama, dan menganggap bahwa menjatuhkan orang lain adalah hal yang lumrah dalam
kompetisi hidup. Inilah kerusakan di muka bumi yang nyata akibat dari nafsu
mencari dunia melalui jalan permusuhan. Seorang Muslim sejati harus menjaga
dirinya dari menonton atau mendukung konten-konten semacam ini, karena dengan
menontonnya, kita ikut berkontribusi dalam melanggengkan ekosistem kemaksiatan
di dunia maya.
Bab 4: Penyakit
Gila Pujian dan Kedudukan di Mata Manusia
Sifat gila
pujian dan gila kedudukan (jah) merupakan akar dari segala perilaku
menyimpang para pembuat konten di zaman ini. Mereka tidak lagi mempedulikan
apakah konten yang mereka buat mendatangkan ridho Alloh ﷻ atau
justru mengundang murka-Nya. Fokus utama mereka adalah bagaimana agar nama
mereka selalu disebut-sebut, gambar mereka selalu terpampang di beranda gawai
manusia, dan ucapan mereka menjadi buah bibir netizen. Inilah penyakit hati
yang sangat mematikan, di mana seseorang merasa bahwa eksistensi dirinya
bergantung pada jumlah jempol (likes) dan komentar dari manusia yang
sama-sama lemah seperti dirinya. Akibatnya, rasa takut kepada Alloh ﷻ pun berkurang,
digantikan dengan rasa takut kehilangan pengikut atau takut kehilangan panggung
di dunia maya.
4.1
Tipu Daya Syaithon melalui Riya’ dan Sum’ah
Riya’
(ingin dilihat orang lain dalam ibadah atau kebaikan) dan sum’ah (ingin
didengar orang lain) adalah pintu masuk utama bagi syaithon untuk merusak amal
para pembuat konten. Seringkali mereka mengemas konten mereka dengan label da’wah,
nasehat, atau kepedulian sosial, namun di balik itu semua terdapat keinginan
terpendam agar orang-orang memuji kedermawanan, keberanian, atau kecerdasan
mereka. Ketika seorang pembuat konten dengan sengaja mencari-cari musuh atau
membenturkan para dai, ia seringkali melakukannya untuk menunjukkan bahwa
dialah yang paling benar, paling kritis, atau paling peduli terhadap umat,
padahal itu hanyalah topeng riya’.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ۞ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
۞ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ﴾
“Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari
sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’ (ingin dilihat manusia dalam
amalannya).” (QS. Al-Ma’un: 4-6)
Ayat ini
secara tegas memberikan ancaman bagi mereka yang beramal namun tujuannya adalah
pandangan manusia. Jika orang yang sholat saja bisa celaka karena riya’, maka
bagaimana dengan pembuat konten yang setiap aktivitasnya sengaja didesain untuk
mendapatkan perhatian (pujian) manusia? Pamer kemewahan, pamer sedekah, bahkan
pamer perselisihan dengan orang lain agar dianggap pemberani adalah bentuk
nyata dari penyakit ini.
Nabi ﷺ bersabda mengenai bahaya
syirik kecil ini:
«إِنَّ
أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ
وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ»
“Sesungguhnya
yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para Shohabat
bertanya: “Wahai Rosululloh, apa itu syirik kecil?” Beliau menjawab: “Riya’.” (HHR.
Ahmad no. 23630)
Dalam dunia
digital, riya’ telah berubah menjadi industri. Seseorang tidak lagi merasa
cukup melakukan kebaikan secara sembunyi-sembunyi; ia harus membawa kamera,
mengatur cahaya, dan memastikan mikrofon terpasang dengan baik sebelum mulai “berbagi”.
Jika niat di dalam hati sudah bergeser untuk mendapatkan pujian netizen, maka
sirnalah pahala di sisi Alloh ﷻ. Ibnu Mubarok (181 H) pernah berkata bahwa betapa banyak amalan
kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar menjadi
kecil karena niatnya.
Sebagai
contoh, ada seorang pembuat konten yang membuat konten reaksi terhadap seorang
ulama yang sedang tertimpa musibah atau salah ucap. Tujuannya bukan untuk
menasehati secara rahasia, melainkan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia
memiliki pemahaman yang lebih dalam. Ia menggunakan kata-kata yang tajam agar
dianggap sebagai “pembela kebenaran”. Di mata netizen, ia mungkin terlihat
hebat, namun di hadapan Alloh ﷻ, ia sedang menumpuk dosa karena menghina kehormatan Muslim demi
sum’ah (popularitas).
Contoh lain
adalah fenomena “sedekah di depan kamera”. Seorang pembuat konten memberikan
bantuan kepada orang miskin dengan durasi video 10 menit, di mana wajah orang
miskin tersebut diperlihatkan dengan jelas dalam keadaan hina, sementara si
pembuat konten berlagak bak pahlawan. Jika tujuannya adalah agar orang-orang
berkomentar “Masya Alloh, orang ini sangat baik”, maka ia telah terjebak dalam sum’ah
yang nyata. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) memperingatkan bahwa meninggalkan
amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik,
sedangkan ikhlas adalah jika Alloh menyelamatkanmu dari keduanya.
4.2
Bahaya Hubbud Dunya (Cinta Dunia) yang Menghilangkan Rasa Malu
Cinta dunia
(hubbud dun-ya) adalah penyakit yang membuat seseorang buta terhadap
kebenaran. Bagi seorang pembuat konten yang sudah terjangkit penyakit ini, yang
ada di pikirannya hanyalah bagaimana mendapatkan uang iklan yang banyak,
kontrak kerja sama (endorsement) yang menggiurkan, dan aset duniawi yang
melimpah. Demi mengejar semua itu, mereka rela membuang rasa malu. Mereka tidak
malu lagi mengumbar aib keluarga, tidak malu lagi mencaci maki orang yang lebih
tua, dan tidak malu lagi melakukan perbuatan bodoh yang merendahkan martabat
manusia, asalkan kontennya viral.
Alloh ﷻ memberikan
gambaran tentang kecintaan manusia terhadap dunia:
﴿زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ
النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ﴾
“Dijadikan
indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia, dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik (Jannah).” (QS. Ali ‘Imron:
14)
Para
pembuat konten seringkali terjebak pada ayat ini. Mereka melihat kesuksesan
hanya dari seberapa banyak “emas dan perak” yang dihasilkan dari kanal
videonya. Ketika dunia sudah menjadi tujuan utama, maka rasa malu yang
merupakan benteng pertahanan terakhir seorang Mu’min akan runtuh.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ»
“Sesungguhnya
setiap Agama itu memiliki akhlaq, dan akhlaq Islam adalah rasa malu.” (HHR.
Ibnu Majah no. 4181)
Hilangnya
rasa malu pada pembuat konten terlihat jelas saat mereka sengaja membuat
perselisihan dengan orang lain hanya demi “drama” yang bisa menaikkan angka
penonton. Mereka saling sindir di media sosial, saling bongkar rahasia pribadi,
dan saling merendahkan dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh
seorang manusia yang beradab. Semua itu dilakukan demi uang. Jika rasa malu
sudah hilang, maka seseorang akan berbuat sekehendak hatinya tanpa
memperdulikan halal dan harom.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا
لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»
“Jika kamu
tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhori no.
3484)
Rasa malu
adalah kunci dari segala kebaikan. Jika rasa malu telah dicabut dari hati
seseorang, maka ia akan mudah terjerumus ke dalam kemaksiatan yang paling hina
sekalipun. Contoh nyatanya adalah pembuat konten yang melakukan “prank” atau
lelucon jahil yang membahayakan orang lain atau menghina orang lemah. Mereka
tertawa di atas penderitaan orang lain, lalu mengunggahnya ke internet. Tidak
ada sedikit pun rasa malu di wajah mereka, yang ada hanyalah kegembiraan saat
melihat jumlah tayangan yang meningkat.
Contoh
lainnya adalah pembuat konten yang mengeksploitasi kesedihan keluarganya
sendiri. Saat ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal dunia, bukannya fokus
mengurus janazah atau mendoakan, ia justru sibuk mengatur sudut kamera agar
terlihat estetik di layar gawai untuk dijadikan konten. Kehilangan rasa malu
semacam ini adalah tanda bahwa hati sudah sangat keras karena terlalu banyak
mengonsumsi harta yang syubhat (tidak jelas halalnya) atau harom dari hasil
mencari musuh.
4.3
Menjual Kewibawaan demi Angka Penonton
Kewibawaan
(muru’ah) adalah harga diri yang harus dijaga oleh setiap Muslim,
terutama mereka yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Namun, demi
mengejar algoritma media sosial yang lebih menyukai hal-hal yang kontroversial,
banyak tokoh atau pembuat konten yang rela menjatuhkan wibawanya sendiri.
Mereka yang dulunya dikenal santun, kini berubah menjadi kasar dan suka memaki.
Mereka yang dulunya dikenal berilmu, kini rela ikut serta dalam perdebatan
kusir yang tidak bermanfaat hanya agar namanya tetap “trending”
(populer).
Alloh ﷻ
memperingatkan tentang orang yang menjual ayat-ayat-Nya demi dunia:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ
اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ
فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Alloh turunkan, yaitu Al-Kitab,
dan menjualnya dengan harga yang murah (kepentingan dunia), mereka itu tidak
memakan ke dalam perutnya melainkan Naar (Neraka), dan Alloh tidak akan
berbicara kepada mereka pada hari Qiyamah dan tidak akan mensucikan mereka.
Bagi mereka adzab yang sangat pedih.” (QS. Al-Baqoroh: 174)
Meskipun
ayat ini turun berkenaan dengan Ahli Kitab, namun maknanya mencakup siapa saja
yang menggadaikan kebenaran dan kewibawaan Agamanya demi mendapatkan keuntungan
duniawi yang sedikit. Seorang pembuat konten yang memiliki ilmu Agama namun
sengaja membuat narasi yang membenturkan antar dai agar videonya ditonton
banyak orang, sesungguhnya ia sedang menjual kehormatan ilmunya dengan harga
yang sangat murah.
Abdurrohman
bin Mahdi (198 H) berkata bahwa seorang tokoh tidak akan menjadi imam
(pemimpin) yang diikuti jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar,
menceritakan hal-hal yang ghorib (aneh/asing), dan menceritakan dari setiap
orang.
Di zaman
sekarang, demi angka penonton, para pembuat konten menceritakan segala hal
tanpa disaring. Mereka tidak peduli apakah berita itu benar atau dusta, apakah
bermanfaat atau merusak, yang penting adalah kecepatan mengunggah agar menjadi
yang pertama.
Nabi ﷺ memberikan perumpamaan yang
sangat dalam tentang rakusnya manusia terhadap kedudukan:
«مَا
ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ
عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»
“Tidaklah 2
ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah sekumpulan kambing lebih merusak
daripada sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan bagi Agamanya.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2376)
Kewibawaan
seorang Muslim akan hilang ketika ia sudah mulai masuk ke dalam kubangan
perselisihan demi konten. Contoh nyata adalah ketika seorang dai atau pembuat
konten pendidikan ikut-ikutan melakukan “live streaming” (siaran
langsung) yang isinya hanya berdebat kusir dengan orang-orang yang tidak
berilmu. Ia membiarkan dirinya dihina dan ia pun balas menghina. Semua itu
dilakukan agar mendapatkan pemberian (gift) dari penonton atau agar
pengikutnya bertambah. Di saat itulah, kewibawaannya sebagai pembawa risalah
kebenaran runtuh. Penonton tidak lagi melihatnya sebagai teladan, melainkan
hanya sebagai penghibur yang sedang mencari makan melalui jalan perselisihan.
Keinginan
untuk selalu berada di puncak popularitas membuat seseorang kehilangan akal
sehat. Ia akan melakukan apa saja agar tidak dilupakan oleh netizen, termasuk
dengan cara mencari musuh baru setiap minggunya. Ini adalah bentuk perbudakan
modern, di mana seorang manusia menjadi budak dari angka penonton dan pendapat
netizen. Seharusnya, seorang Mu’min hanya mencari ridho Alloh ﷻ,
karena jika Alloh ﷻ
sudah ridho, maka Alloh ﷻ akan meletakkan rasa cinta dan hormat di hati manusia kepadanya
tanpa ia harus meminta atau melakukan perbuatan yang menghinakan dirinya
sendiri.
Bab 5: Adab
Berinteraksi di Dunia Maya
Manhaj
Salaf bukan sekadar teori yang dibicarakan di dalam ruang kelas atau majelis
ilmu, melainkan sebuah jalan hidup yang mencakup segala sisi, termasuk
bagaimana seorang Mu’min bersikap di hadapan layar gawai. Di tengah kepungan
fitnah media sosial di mana setiap orang merasa berhak menjadi hakim bagi orang
lain, kembali kepada pemahaman para pendahulu yang sholih adalah sebuah
keniscayaan. Para Salafus Sholih adalah generasi yang paling takut terhadap lisan
mereka, paling hati-hati terhadap urusan hati, dan paling menjauh dari segala
bentuk ketenaran yang dapat merusak keikhlasan. Di zaman ini, ketika para
pembuat konten berlomba-lomba mencari musuh demi sesuap nasi, prinsip-prinsip
luhur ini seringkali dilupakan. Padahal, keselamatan seorang hamba di dunia dan
Akhiroh sangat bergantung pada sejauh mana ia mengikuti jejak mereka dalam
menjaga adab dan kehormatan.
5.1
Prinsip Tatsabbut (Mencari Kejelasan) Sebelum Menyebarkan Berita
Dalam dunia
digital yang serba cepat, kecepatan seringkali dianggap lebih penting daripada
kebenaran. Banyak pembuat konten yang demi menjadi yang pertama mengunggah
berita (breaking news), mereka rela mengabaikan proses verifikasi atau
klarifikasi. Mereka melihat sebuah potongan video, mendengar sebuah selentingan
kabar, lalu langsung membuat konten reaksi yang provokatif. Inilah titik awal
kehancuran ukhuwah. Islam sangat menekankan prinsip tatsabbut atau tabayyun
agar tidak terjadi kezholiman terhadap suatu kaum karena kebodohan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ
فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى
مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasiq datang kepadamu membawa
suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu
kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu
itu.” (QS. Al-Hujurot: 6)
Ayat ini
merupakan perintah tegas agar kita tidak menjadi corong bagi berita yang belum
jelas kebenarannya. Bagi seorang pembuat konten, setiap informasi yang masuk
harus disaring dengan ketat. Jangan sampai demi mendapatkan angka penonton,
kita menyebarkan fitnah yang merugikan nama baik seseorang. Nabi ﷺ juga memberikan peringatan
tentang bahaya menceritakan setiap apa yang didengar tanpa disaring:
«كَفَى
بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»
“Cukuplah
seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR.
Muslim no. 5)
Hadits ini
sangat relevan dengan fenomena “sharing” atau membagikan ulang konten di
media sosial. Seseorang yang hanya sekadar meneruskan berita tanpa tahu
kebenarannya sudah dianggap melakukan kedustaan di sisi Robb semesta alam. Ibnu
Sirin (110 H) menyatakan bahwa ilmu ini adalah Agama, maka perhatikanlah dari
siapa kalian mengambil Agama kalian. Begitu pula dalam berita, kita harus
melihat sumbernya.
Sebagai
contoh, ada seorang pembuat konten yang mendapatkan kiriman video pendek
tentang seorang dai yang seolah-olah menghalalkan sesuatu yang harom. Tanpa
mencari tahu video versi utuhnya, ia langsung membuat video hujatan. Ternyata,
video tersebut adalah potongan yang sengaja dibuat oleh oknum untuk menjatuhkan
dai tersebut. Si pembuat konten telah melakukan dosa besar karena tidak
melakukan tatsabbut, dan ia akan menanggung penyesalan di Akhiroh atas
kezholiman yang ia sebar kepada jutaan pengikutnya.
Alloh ﷻ juga
berfirman:
﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isro’: 36)
Ayat ini
mengingatkan bahwa setiap indera kita akan bersaksi. Seorang pembuat konten
tidak boleh berdalih “katanya” atau “menurut kabar yang beredar”. Ia harus
memastikan fakta sebelum berbicara. Qotadah (117 H) menjelaskan bahwa maksud
ayat ini adalah janganlah kamu mengatakan “aku melihat” padahal kamu tidak
melihat, “aku mendengar” padahal kamu tidak mendengar, dan “aku tahu” padahal
kamu tidak tahu. Di dunia maya, ini berarti janganlah kamu membuat konten
analisis jika kamu tidak memiliki data yang valid.
5.2
Menjaga Lisan dari Perdebatan
Salah satu
cara pembuat konten mencari musuh adalah dengan memancing perdebatan (miro’)
di ruang publik. Mereka sengaja mengeluarkan pernyataan yang kontroversial agar
orang-orang menyerang mereka, lalu mereka membalas serangan tersebut dengan
kata-kata yang lebih pedas. Semua ini dilakukan agar algoritma media sosial
mengangkat konten mereka karena tingginya interaksi. Padahal, perdebatan yang
hanya bertujuan untuk menjatuhkan lawan dan mencari kemenangan diri adalah
perbuatan yang tercela.
Nabi ﷺ bersabda:
«أَنَا
زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»
“Aku
menjamin sebuah rumah di pinggir Jannah bagi orang yang meninggalkan perdebatan
meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HSR. Abu Dawud no. 4800)
Hadits ini
memberikan solusi agung bagi kegaduhan di dunia maya. Jika seorang pembuat konten
memiliki prinsip ini, ia tidak akan terpancing untuk membalas komentar kasar
netizen atau meladeni tantangan debat dari sesama pembuat konten. Meninggalkan
debat demi menjaga kedamaian hati dan ukhuwah jauh lebih mulia daripada
memenangkan argumen di depan manusia.
Al-Imam
Malik bin Anas (179 H) pernah ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau
menjawab “aku tidak tahu”. Orang yang bertanya terheran-heran, namun beliau
tetap pada pendiriannya. Beliau juga pernah berkata bahwa perdebatan dalam
urusan Agama itu dapat mengeraskan hati dan menimbulkan kedengkian. Jika
perdebatan urusan Agama saja diperingatkan oleh Imam Malik, maka bagaimana
dengan perdebatan urusan dunia demi popularitas konten?
Contoh
nyata adalah fenomena “battle” atau tanding adu mulut di siaran langsung
media sosial. Kedua belah pihak saling menghina dan mencari kelemahan lawan,
sementara penonton memberikan hadiah digital (gifts) sebagai bentuk
dukungan. Ini adalah pemandangan yang sangat jauh dari adab Islam. Mereka
menjual harga diri dan ketenangan jiwa demi rupiah yang tidak seberapa.
Nabi ﷺ juga bersabda:
«مِنْ
حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»
“Di antara
tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak
bermanfaat baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2317)
Ikut campur
dalam urusan orang lain, ikut berkomentar dalam masalah yang tidak dipahami,
atau sengaja masuk ke dalam konflik antar tokoh adalah tanda lemahnya iman.
Seorang pembuat konten yang cerdas akan fokus pada pembuatan karya yang
bermanfaat daripada menghabiskan waktu untuk memantau apa yang dilakukan oleh
musuh-musuhnya atau memikirkan bagaimana cara membalas sindiran orang lain.
Umar bin Khoththob (23 H) pernah berkata bahwa barangsiapa yang banyak
bicaranya, maka banyak pula salahnya. Di era digital, barangsiapa yang terlalu
banyak membuat konten tanpa isi yang bermanfaat, maka ia sedang membuka pintu
kesalahan yang sangat lebar bagi dirinya sendiri.
5.3
Pentingnya Sifat Waro’ (Berhati-hati) dalam Menggunakan Teknologi
Waro’ adalah
meninggalkan hal-hal yang syubhat karena takut terjerumus ke dalam yang harom.
Dalam konteks konten, sifat waro’ sangat dibutuhkan terutama berkaitan dengan
sumber penghasilan dan dampak dari konten tersebut. Banyak pembuat konten yang
tidak lagi peduli apakah uang iklan yang masuk berasal dari perusahaan judi,
riba, atau produk yang merusak moral. Mereka juga tidak peduli apakah konten
yang mereka unggah akan memberikan pengaruh buruk bagi anak-anak atau
masyarakat luas.
Nabi ﷺ bersabda:
«الْحَلَالُ
بَيِّنٌ، وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ
مِنَ النَّاسِ، فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ»
“Yang halal
itu jelas dan yang harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat
perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa
yang menjauhi perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan Agama dan
kehormatannya.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599 secara makna)
Seorang
pembuat konten yang memiliki sifat waro’ akan sangat berhati-hati. Sebelum
mengunggah sebuah video, ia akan bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah
konten ini akan mendatangkan Ridho Alloh ﷻ?”, “Apakah ada unsur menghina
orang lain?”, “Apakah iklan yang tampil di video ini harom?”. Jika ia merasa
ada keraguan, ia lebih memilih untuk tidak mengunggahnya. Inilah bentuk
penjagaan terhadap kehormatan.
Abu Bakr
Ash-Shiddiq (13 H) pernah memuntahkan kembali makanan yang sudah masuk ke
perutnya ketika ia tahu bahwa makanan tersebut berasal dari sumber yang tidak
jelas. Ini adalah puncak dari sifat waro’. Jika para Shohabat begitu takut
terhadap satu suap makanan yang syubhat, maka sudah sebarusnyalah para pembuat
konten takut terhadap harta melimpah yang didapat dari hasil mengadu domba
manusia atau merendahkan martabat dai.
Contoh
perilaku tidak waro’ adalah pembuat konten yang menggunakan judul (clickbait)
yang menipu hanya agar orang mengklik videonya. Judulnya sangat panas dan
berisi fitnah, namun isinya tidak ada hubungannya sama sekali. Ini adalah bentuk
penipuan (ghisy) yang dilarang dalam Islam. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا»
“Barangsiapa
yang menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no.
101)
Selain itu,
sifat waro’ juga mencakup menjaga privasi orang lain. Tidak semua hal harus
dijadikan konten. Mengambil gambar orang lain tanpa izin, membagikan chat
pribadi ke ruang publik, atau merekam orang yang sedang dalam kesulitan hanya
untuk mendapatkan simpati adalah tindakan yang jauh dari sifat waro’. Al-Hasan
Al-Bashri (110 H) berkata bahwa tidaklah seseorang menjadi benar-benar bertaqwa
sampai ia meninggalkan sesuatu yang tidak mengapa karena takut terkena sesuatu
yang dilarang.
Seorang
pembuat konten yang bertaqwa akan lebih memilih kehilangan potensi pendapatan
jutaan rupiah daripada harus mengunggah konten yang mengandung unsur ghibah
atau namimah. Ia yakin bahwa rizqi sudah diatur oleh Robb-nya dan tidak
akan tertukar. Ia memahami bahwa ketenangan hati jauh lebih berharga daripada
jumlah saldo yang melimpah namun didapat dari jalan yang dibenci oleh syariat.
Dengan memegang teguh prinsip tatsabbut, menjauhi miro’, dan
mengedepankan waro’, seorang pembuat konten dapat menggunakan teknologi
sebagai sarana meraih Jannah, bukan justru sebagai jalan menuju Naar.
Bab 6: Taubat dengan
Memperbaiki Kerusakan
Kesadaran
akan kesalahan merupakan anugerah besar yang Alloh ﷻ berikan kepada hamba-Nya.
Bagi para pembuat konten yang selama ini terjerembap dalam kubangan fitnah,
mencari musuh demi materi, dan merusak kehormatan sesama, pintu taubat
senantiasa terbuka lebar selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Namun,
taubat dalam urusan yang berkaitan dengan hak sesama manusia (haqqul adami)
memiliki konsekuensi yang lebih berat daripada sekadar memohon ampun kepada
Alloh ﷻ.
Kerusakan yang telah disebarkan di dunia maya, video yang telah ditonton jutaan
kali, serta kebencian yang telah tertanam di hati netizen memerlukan usaha
ekstra untuk memperbaikinya. Ini adalah jalan kepulangan yang mendaki dan
sukar, namun ia adalah satu-satunya jalan keselamatan agar tidak menjadi orang
yang bangkrut di hari pembalasan kelak.
6.1
Kewajiban Meminta Maaf dan Membersihkan Nama Baik Orang Lain
Langkah
pertama bagi seorang pembuat konten yang ingin bertaubat adalah mengakui
kezholiman yang telah ia perbuat secara terang-terangan. Jika ia menghina atau
menjatuhkan kehormatan seseorang di depan kamera, maka ia wajib meminta maaf
dan memulihkan nama baik orang tersebut melalui media yang sama. Tidak cukup
bagi seseorang yang telah menyebarkan fitnah secara publik untuk hanya
bertaubat di dalam kamar dalam kesunyian, sementara jutaan orang masih memiliki
prasangka buruk terhadap korban akibat kontennya.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai diterimanya taubat setelah melakukan kejahatan:
﴿إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ
وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Kecuali
orang-orang yang bertaubat setelah itu dan memperbaiki diri (melakukan perbaikan
atas kerusakan yang dibuat), maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. An-Nur: 5)
Ayat ini
menekankan kata “wa ashlahu” (dan mereka melakukan perbaikan). Bagi
pembuat konten, perbaikan ini berarti menghapus video yang berisi maksiat
tersebut, membuat pernyataan klarifikasi yang jujur bahwa apa yang ia sampaikan
dahulu adalah salah, dan berusaha sekuat tenaga menghentikan penyebaran konten
buruk tersebut. Tanpa adanya perbaikan atas kerusakan yang telah dibuat, taubat
seseorang belum dianggap sempurna dalam timbangan syariat.
Bahaya dari
tidak meminta kehalalan dari orang yang dizholimi sangatlah besar. Nabi ﷺ memberikan gambaran tentang
orang yang bangkrut (muflis) di Akhiroh:
«أَتَدْرُونَ
مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ،
فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ،
وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ
هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا
مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ
مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»
“Tahukah
kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Para Shohabat menjawab: “Orang yang
bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun harta
benda.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah
orang yang datang pada hari Qiyamah dengan membawa pahala Sholat, Puasa, dan
Zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa karena telah mencela orang ini,
menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan
memukul orang ini. Maka diberikanlah sebagian pahala kebaikannya kepada orang
ini dan sebagian lagi kepada orang itu. Jika pahala kebaikannya telah habis
sebelum terselesaikan urusan kezholimannya, maka diambilkan dari dosa-dosa
mereka (yang dizholimi) lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke
dalam Naar.” (HR. Muslim no. 2581)
Hadits ini
merupakan peringatan mengerikan bagi para pembuat konten yang merasa aman
karena memiliki banyak pengikut. Setiap caci maki yang mereka lontarkan kepada
dai atau sesama Muslim demi konten akan dituntut di hadapan Robb semesta alam.
Jika ada 100.000 orang yang terpengaruh oleh fitnahnya, maka ada 100.000
tuntutan yang harus ia hadapi. Oleh karena itu, meminta maaf dan membersihkan nama
baik korban di dunia jauh lebih ringan daripada menghadapi tuntutan di Akhiroh.
Ibnu
Qudamah (620 H) menjelaskan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidin bahwa
taubat dari ghibah (menggunjing) dan fitnah mengharuskan seseorang
mendatangi korbannya jika memungkinkan, atau jika akan menimbulkan kerusakan
yang lebih besar, maka ia harus memuji korban di majelis-majelis di mana ia
pernah menghinanya dahulu.
Contoh
aplikasinya adalah, seorang pembuat konten membuat video khusus berjudul “Permohonan
Maaf dan Pelurusan Fakta” untuk membatalkan narasi jahat yang pernah ia buat
sebelumnya. Ia tidak boleh malu kehilangan muka di depan netizen, karena
kehilangan muka di hadapan Alloh ﷻ jauh lebih pedih.
6.2
Mengalihkan Kreativitas untuk Kepentingan Da’wah
Setelah
bertaubat dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, langkah selanjutnya
bagi seorang mantan pembuat konten “pencari musuh” adalah mengalihkan
kemampuannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Kemampuan berbicara di depan
kamera, kemampuan mengolah video, dan kemampuan menarik massa yang selama ini
digunakan untuk memecah belah, kini harus digunakan untuk menyatukan umat dan
menyebarkan ilmu yang shohih sesuai Manhaj Salaf. Ini adalah bentuk hijroh yang
sesungguhnya di dunia digital.
Nabi ﷺ bersabda tentang keutamaan
orang yang menunjukkan kebaikan:
«مَنْ
دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»
“Barangsiapa
yang menunjukkan kepada kebaikan, maka bagi dia pahala seperti pahala orang
yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)
Bayangkan
jika selama ini seorang pembuat konten mendapatkan dosa jariyah dari konten adu
domba, sekarang ia berkesempatan mendapatkan pahala jariyah. Jika ia membuat
konten tentang tata cara Sholat Nabi ﷺ yang benar atau adab-adab bertetangga, dan video tersebut
ditonton serta diamalkan oleh banyak orang, maka ia akan mendapatkan aliran
pahala yang tidak terputus. Inilah perdagangan yang paling menguntungkan di
sisi Alloh ﷻ.
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) pernah berkata tentang niat yang benar: “Yaitu amal yang
ikhlas dan benar.” Ada yang bertanya: “Wahai Abu Ali, apa amal yang ikhlas dan
benar itu?” Ia menjawab:
«إِنَّ
الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ
صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا،
وَالْخَالِصُ أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ، وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ»
“Sesungguhnya
yang diinginkan dari suatu amal adalah yang paling ikhlas dan yang paling
benar. Mereka bertanya: Wahai Abu ‘Ali, apa itu yang paling ikhlas dan paling
benar? Beliau menjawab: Sesungguhnya amalan jika dilakukan dengan ikhlas namun
tidak benar (tidak sesuai syariat), maka tidak diterima. Dan jika amalan itu
benar namun tidak ikhlas, maka tidak diterima, sampai amalan itu dilakukan dengan
ikhlas dan benar. Ikhlas adalah jika dilakukan hanya karena Alloh, dan benar
adalah jika sesuai dengan Sunnah.” (Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 8/95)
Bagi
pembuat konten yang baru hijroh, prinsip ini sangat penting. Kontennya harus
ikhlas karena Alloh ﷻ,
bukan lagi demi angka tayangan atau pujian netizen. Isinya pun harus shohih
sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para Shohabat, bukan
berdasarkan logika sendiri atau keinginan untuk viral. Ia tidak lagi
mencari-cari perdebatan, melainkan mencari cara agar umat mendapatkan manfaat.
Contoh
nyatanya adalah seorang pembuat konten yang dahulu sering membenturkan antar
dai, kini ia justru membuat seri video tentang “Indahnya Ukhuwah” atau “Mengenal
Ulama-ulama Ahlus Sunnah”. Ia menggunakan keahlian grafisnya untuk membuat
poster nasehat yang menyejukkan hati. Ia tidak lagi mempedulikan apakah
pengikutnya berkurang karena tidak ada lagi “drama”, sebab ia tahu bahwa satu
orang yang mendapatkan hidayah melalui tangannya lebih baik daripada dunia dan
seisinya.
6.3
Meraih Ridho Alloh dengan Meninggalkan Syubhat
Taubat yang
kokoh mengharuskan seseorang untuk menjauh dari segala hal yang dapat
menyeretnya kembali ke dalam dosa yang sama. Dalam dunia konten, ini berarti
meninggalkan cara-cara pencarian materi yang syubhat atau tidak jelas halalnya.
Ia harus mulai memilah mana iklan yang layak tampil di kanalnya dan mana yang
harus diblokir karena mengandung kemaksiatan. Ia lebih memilih hidup sederhana
namun tenang, daripada hidup mewah dari hasil mengaduk-aduk emosi netizen
melalui konten permusuhan.
Alloh ﷻ
memberikan jaminan bagi orang yang bertaqwa:
﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
۞ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾
“Barangsiapa
bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan
memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Tholaq:
2-3)
Seorang
pembuat konten yang takut kepada Alloh ﷻ mungkin akan mengalami
penurunan pendapatan secara drastis di awal masa hijrohnya karena ia tidak lagi
menggunakan judul-judul bombastis atau drama yang memicu klik. Namun, ia harus
yakin bahwa Alloh ﷻ
akan memberikan jalan keluar. Rizqi yang sedikit namun barokah jauh lebih baik
daripada rizqi melimpah yang menyeret ke dalam Naar.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّكَ
لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ
خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»
“Sesungguhnya
tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena Alloh ‘Azza wa Jalla,
melainkan Alloh akan menggantinya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik
darinya.” (HHR. Ahmad no. 23074)
Hadits ini
adalah penghibur bagi mereka yang harus merelakan kontrak iklan besar atau
popularitas tinggi demi menjaga Agama. Penggantinya bisa berupa ketenangan
hati, keharmonisan keluarga, atau kemudahan dalam urusan Akhiroh.
Ilmu dan
keberkahan tidak akan didapat dengan cara yang kotor. Seseorang yang ingin
meraih Ridho Alloh ﷻ
harus membersihkan setiap butir nasi yang masuk ke perutnya dari unsur
kezholiman kepada sesama.
Seorang pembuat
konten yang waro’ akan berhenti mengikuti akun-akun yang hanya menyebarkan ghibah,
ia akan keluar dari grup-grup diskusi yang isinya hanya mencela dai, dan ia
akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu Agama secara shohih.
Ia menyadari bahwa teknologi adalah pedang bermata dua; ia bisa menjadi wasilah
(sarana) menuju Jannah jika digunakan dengan taqwa, namun bisa menjadi istidroj
yang mematikan jika digunakan untuk menuruti hawa nafsu. Dengan konsisten di
jalan ini, ia akan menemukan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada
jumlah pengikut di dunia maya, melainkan pada ridho dari Robb semesta alam yang
menggenggam jiwanya.
Penutup
Buku
sederhana ini telah mengupas bagaimana fitnah media sosial telah menyeret
sebagian manusia ke dalam perilaku yang sangat jauh dari akhlaq Islam. Fenomena
pembuat konten yang mencari musuh abadi demi sesuap nasi merupakan masalah
krisis keimanan dan hilangnya rasa takut kepada hari Pembalasan. Mereka yang
tertipu oleh kemilau dunia digital seringkali lupa bahwa setiap ketikan jari
dan setiap ucapan di depan kamera memiliki beban tanggung jawab yang abadi di
hadapan Alloh ﷻ.
Kehormatan
seorang Muslim adalah sesuatu yang suci, bahkan lebih suci dari Ka’bah di mata
Alloh ﷻ.
Merobek kehormatan tersebut demi mendapatkan angka tayangan atau iklan adalah
tindakan zholim yang dampaknya akan dirasakan pelakunya sejak di alam kubur
hingga hari Qiyamah. Tidak ada keberkahan dalam harta yang dikumpulkan dari
hasil memecah belah umat, menghina para dai, atau menyebarkan namimah digital.
Harta tersebut mungkin bisa membangun rumah yang megah di dunia, namun ia akan
menjadi bahan bakar Naar yang membakar pelakunya di Akhiroh jika tidak segera
bertaubat.
Mari kita
jadikan dunia maya sebagai ladang untuk menanam kebaikan, bukan tempat untuk
menebar duri permusuhan. Bagi para pembuat konten, ingatlah bahwa kalian adalah
pembawa pengaruh; gunakanlah pengaruh itu untuk mengajak manusia kembali kepada
Alloh ﷻ
dan Sunnah Nabi ﷺ
dengan pemahaman Salafus Sholih yang luhur. Jangan biarkan diri kalian
diperbudak oleh algoritma atau keinginan netizen yang tidak ada habisnya.
Carilah Ridho Alloh ﷻ
meskipun seluruh manusia di bumi membenci kalian, karena pada akhirnya, hanya
Ridho-Nya yang akan menyelamatkan kita saat kita berdiri sendirian di
hadapan-Nya.
Semoga
Alloh ﷻ
memberikan taufiq kepada kita semua untuk senantiasa menjaga lisan dan tangan
dari perbuatan zholim. Semoga Alloh ﷻ mengampuni dosa-dosa kita di
masa lalu dan membimbing para pembuat konten agar menjadi pejuang-pejuang
kebenaran yang menebarkan manfaat bagi masyarakat. Akhir dari da’wah kami
adalah Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, dan para
Shohabatnya yang mulia. [NK]
