[PDF] Aqidah Imam Ibnul Madini (234 H) - Riwayat Imam Al-Lalikai (418 H)
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Berikut adalah Aqidah Imam Ibnul Madini (234 H) yang diriwayatkan oleh Imam Al-Lalikai
dalam kitabnya Syarh Ushul Itiqod Ahli Sunnah yang merupakan salah satu
ensiklopedi aqidah bersanad terbesar.
Sanad Aqidah Ali
Al-Madini (234 H)
Imam Al-Lalikai (418 H)
berkata:
اعْتِقَادُ عَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ وَمَنْ نَقَلَ عَنْهُ
مِمَّنْ أَدْرَكَهُ مِنْ جَمَاعَةِ السَّلَفِ
Ini keyakinan Ali bin
Al-Madini dan sekelompok Salaf yang ia temui dan menukil darinya:
318
- أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رِزْقِ اللَّهِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ
جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نُصَيْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ
بْنُ غَنَّامِ بْنِ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ النَّخَعِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ
يَحْيَى بْنُ أَحْمَدَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ بِسْطَامٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ مُحَمَّدٍ قَرَأَهَا عَلَى عَلِيِّ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ الْمَدِينِيِّ، فَقَالَ لَهُ: قُلْتَ أَعَزَّكَ
اللَّهُ:
318. Kami dikabari oleh
Muhammad bin Rizqullah, ia berkata: Kami dikabari oleh Abu Muhammad Ja’far bin
Muhammad bin Nushoir (348 H), ia berkata: Abu Muhammad Abdullah bin Ghonnam bin
Hafsh bin Ghiyats an-Nakho’i (297 H) menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu
Sa’id Yahya bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu
Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Bisthom berkata: Aku mendengar Sahl bin
Muhammad (255 H) membacakannya kepada Ali bin Abdillah bin Ja’far al-Madini
(234 H). Lalu Sahl berkata kepadanya: Anda telah menyatakan—semoga Alloh
memuliakan Anda:
[1] Beriman
kepada Qodar
اَلسُّنَّةُ اللَّازِمَةُ الَّتِي مَنْ تَرَكَ مِنْهَا خَصْلَةً
لَمْ يَقُلْهَا أَوْ يُؤْمِنْ بِهَا لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِهَا: اَلْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ
خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Sunnah yang wajib
diikuti, yang mana jika seseorang meninggalkan satu saja darinya dengan tidak
mengucapkannya atau tidak mengimaninya, maka ia bukan termasuk pengikut Sunnah
tersebut, yaitu: beriman kepada Qodar (ketentuan Robb), baik yang nampak baik
maupun yang nampak buruk.
[2] Membenarkan
Seluruh Hadits
ثُمَّ تَصْدِيقٌ بِالْأَحَادِيثِ وَالْإِيمَانُ بِهَا، لَا يُقَالُ
لِمَ وَلَا كَيْفَ
Kemudian membenarkan
Hadits-Hadits dan mengimaninya, tanpa perlu mempertanyakan mengapa
(Alloh berbuat demikian) atau bagaimana (hakikatnya).
إِنَّمَا هُوَ التَّصْدِيقُ بِهَا وَالْإِيمَانُ بِهَا وَإِنْ
لَمْ يَعْلَمْ تَفْسِيرَ الْحَدِيثِ وَيَبْلُغْهُ عَقْلُهُ فَقَدْ كُفِيَ ذَلِكَ، وَأُحْكِمَ
عَلَيْهِ الْإِيمَانُ بِهِ وَالتَّسْلِيمُ
Kewajiban kita hanyalah
membenarkan dan mengimaninya. Meskipun seseorang tidak mengetahui penjelasan
mendalam dari Hadits tersebut atau akalnya belum mampu menjangkaunya, ia sudah
dianggap cukup dengan mengimaninya secara utuh dan berserah diri sepenuhnya.
مِثْلُ حَدِيثِ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ:
«حَدَّثَنَا الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ» وَنَحْوِهِ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمَأْثُورَةِ
عَنِ الثِّقَاتِ
Contohnya seperti Hadits
yang diriwayatkan oleh Zaid bin Wahb dari Ibnu Mas’ud (32 H), ia berkata: “Rasululloh
ﷺ yang jujur lagi dibenarkan ucapannya telah
menceritakan kepada kami...” (HR. Al-Bukhori no. 3208 dan Muslim no. 2643)
[3] Meninggalkan
Debat Hadits
Juga Hadits-Hadits serupa
yang diriwayatkan dari orang-orang yang terpercaya.
وَلَا يُخَاصِمُ أَحَدًا وَلَا يُنَاظِرُ، وَلَا يَتَعَلَّمُ
الْجَدَلَ
Seseorang tidak boleh
mendebat siapa pun, tidak melakukan adu argumen, dan tidak mempelajari ilmu
debat.
وَالْكَلَامُ فِي الْقَدَرِ وَغَيْرِهِ مِنَ السُّنَّةِ مَكْرُوهٌ
Membicarakan masalah
Qodar atau perkara Sunnah lainnya dengan akal semata adalah hal yang dibenci.
وَلَا يَكُونُ صَاحِبُهُ وَإِنْ أَصَابَ السُّنَّةَ بِكَلَامِهِ
مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ حَتَّى يَدَعَ الْجَدَلَ وَيُسَلِّمَ وَيُؤْمِنَ بِالْإِيمَانِ
Pelakunya tidak akan
dianggap sebagai pengikut Sunnah, meskipun ucapannya kebetulan sesuai dengan
Sunnah, sampai ia benar-benar meninggalkan perdebatan, berserah diri, dan
berpegang teguh pada Iman.
[4] Al-Qur’an
Adalah Kalamulloh
وَالْقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ، وَلَا تَضْعُفْ
أَنْ تَقُولَ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ
Al-Qur’an adalah
Kalamulloh (firman Robb), ia bukan makhluk. Janganlah kamu merasa ragu atau
lemah untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk.
فَإِنَّ كَلَامَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِبَائِنٍ مِنْهُ
وَلَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ مَخْلُوقٌ، يُؤْمِنُ بِهِ وَلَا يُنَاظِرُ فِيهِ أَحَدًا
Sebab, firman Alloh ﷻ bukanlah sesuatu yang terpisah dari
diri-Nya, dan tidak ada satu pun bagian dari firman-Nya yang merupakan makhluk.
Hal ini harus diimani sepenuhnya tanpa perlu didebatkan dengan siapa pun.
[5] Beriman pada
Mizan
وَالْإِيمَانُ بِالْمِيزَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يُوزَنُ الْعَبْدُ
وَلَا يَزِنُ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، يُوزَنُ أَعْمَالُ الْعِبَادِ كَمَا جَاءَتْ بِهِ
الْآثَارُ
Wajib beriman kepada
adanya Mizan (timbangan) pada hari Qiyamah. Kelak seorang hamba akan ditimbang,
padahal bobot aslinya mungkin tidak seberat sayap nyamuk pun. Amal perbuatan
para hamba juga akan ditimbang sebagaimana yang disebutkan dalam
riwayat-riwayat terdahulu.
الْإِيمَانُ بِهِ وَالتَّصْدِيقُ وَالْإِعْرَاضُ عَنْ مَنْ رَدَّ
ذَلِكَ وَتَرْكُ مُجَادَلَتِهِ
Kita harus mengimaninya
dan membenarkannya, serta berpaling dari siapa pun yang menolak hal tersebut
dan tidak perlu melayaninya berdebat.
وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُكَلِّمُ الْعِبَادَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَيُحَاسِبُهُمْ لَيْسَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ، الْإِيمَانُ
بِذَلِكَ وَالتَّصْدِيقُ
Sesungguhnya Alloh ﷻ akan berbicara langsung kepada para hamba
pada hari Qiyamah dan menghisab mereka tanpa ada penerjemah di antara mereka
dan Alloh. Ini harus diimani dan dibenarkan.
[6] Beriman pada
Telaga Nabi ﷺ
وَالْإِيمَانُ بِالْحَوْضِ أَنَّ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَوْضًا
يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتُهُ
Beriman kepada adanya Haudh
(telaga) milik Rosululloh ﷺ pada
hari Qiyamah yang akan didatangi oleh umatnya.
عَرْضُهُ مِثْلُ طُولِهِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، آنِيَتُهُ كَعَدَدِ
نُجُومِ السَّمَاءِ عَلَى مَا جَاءَ فِي الْأَثَرِ وَوُصِفَ، ثُمَّ الْإِيمَانُ بِذَلِكَ
Luasnya sama dengan
panjangnya, yaitu sejauh perjalanan 1 bulan. Wadah-wadah minumnya sebanyak
jumlah bintang di langit, sesuai dengan apa yang disebutkan dan disifatkan
dalam riwayat. Kita wajib mengimani hal tersebut.
[7] Beriman
kepada Siksa Kubur
وَالْإِيمَانُ بِعَذَابِ الْقَبْرِ أَنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ
تُفتَنُ فِي قُبُورِهَا، وَتُسْأَلُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ
Beriman kepada adzab
kubur, bahwa umat ini akan diuji di dalam kubur mereka dan akan ditanya tentang
Nabi ﷺ.
وَيَأْتِيهِ مُنْكَرٌ وَنَكِيرٌ كَيْفَ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ وَكَمَا أَرَادَ، الْإِيمَانُ بِذَلِكَ وَالتَّصْدِيقُ
Malaikat Munkar dan Nakir
akan mendatanginya dengan cara yang Alloh ﷻ kehendaki dan inginkan. Hal ini wajib
diimani dan dibenarkan.
[8] Syafa’at
Nabi ﷺ
وَالْإِيمَانُ بِشَفَاعَةِ النَّبِيِّ ﷺ، وَإِخْرَاجِ قَوْمٍ
مِنَ النَّارِ بَعْدَ مَا احْتَرَقُوا وَصَارُوا فَحْمًا
Beriman kepada Syafa’at
Nabi ﷺ, dan
adanya sekelompok orang yang akan dikeluarkan dari Naar setelah mereka hangus
terbakar hingga menjadi arang.
فَيُؤْمَرُ بِهِمْ إِلَى نَهْرٍ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ كَمَا
جَاءَ فِي الْأَثَرِ كَيْفَ شَاءَ اللَّهُ وَكَمَا شَاءَ، إِنَّمَا هُوَ الْإِيمَانُ
بِهِ وَالتَّصْدِيقُ
Lalu diperintahkan agar
mereka dibawa ke sebuah sungai di pintu Jannah, sebagaimana disebutkan dalam
riwayat, sesuai dengan kehendak Alloh. Kita wajib mengimani dan membenarkannya.
[9] Turunnya
Nabi Isa
وَالْإِيمَانُ بِأَنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ مَكْتُوبٌ بَيْنَ
عَيْنَيْهِ كَافِرٌ لِلْأَحَادِيثِ الَّتِي جَاءَتْ فِيهِ
Beriman bahwa Al-Masih
Dajjal memiliki tulisan “kafir” di antara kedua matanya, berdasarkan
Hadits-Hadits yang menjelaskan tentang dirinya.
الْإِيمَانُ بِأَنَّ ذَلِكَ كَائِنٌ وَأَنَّ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ
يَنْزِلُ فَيَقْتُلُهُ بِبَابِ لُدٍّ
Wajib mengimani bahwa hal
itu pasti terjadi, dan bahwa Isa putra Maryam (Alaihissalam) akan turun
lalu membunuh Dajjal di pintu Ludd (sebuah tempat di Palestina).
[10] Hakikat
Iman
وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ عَلَى سُنَّةٍ وَإِصَابَةٍ وَنِيَّةٍ.
وَالْإِيمَانُ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ
Iman itu terdiri dari
ucapan dan perbuatan, yang harus selaras dengan Sunnah, kebenaran, dan niat
yang tulus. Iman juga bisa bertambah dan berkurang.
وَأَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Orang Mu’min yang paling
sempurna Imannya adalah yang paling baik akhlaknya.
[11] Status Meninggalkan
Sholat
وَتَرْكُ الصَّلَاةِ كُفْرٌ، لَيْسَ شَيْءٌ مِنَ الْأَعْمَالِ
تَرْكُهُ كُفْرٌ إِلَّا الصَّلَاةَ، مَنْ تَرَكَهَا فَهُوَ كَافِرٌ وَقَدَ حَلَّ قَتْلُهُ
Meninggalkan Sholat
adalah perbuatan kafir. Tidak ada satu pun amal ibadah yang jika ditinggalkan
menyebabkan seseorang menjadi kafir kecuali Sholat. Barangsiapa
meninggalkannya, maka ia telah kafir dan darahnya halal untuk ditumpahkan (oleh
penguasa).
[12] Keutamaan
Para Shohabat
وَخَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ
الصِّدِّيقُ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ
Orang terbaik di umat ini
setelah Nabinya adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H), kemudian Umar (23 H), lalu
Utsman bin Affan (35 H).
نُقَدِّمُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ كَمَا قَدَّمَهُمْ أَصْحَابُ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَلَمْ يَخْتَلِفُوا فِي ذَلِكَ
Kita mendahulukan ketiga
orang ini sebagaimana para Shohabat Rosululloh ﷺ
mendahulukan mereka, dan para Shohabat tidak berselisih dalam hal tersebut.
ثُمَّ مِنْ بَعْدِ الثَّلَاثَةِ أَصْحَابُ الشُّورَى الْخَمْسَةُ:
عَلِيٌّ، وَطَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَسَعْدُ بْنُ
مَالِكٍ
Kemudian setelah mereka
bertiga, ada lima orang anggota dewan Syuro: Ali (40 H), Tholhah (36 H),
Az-Zubair (36 H), Abdurrohman bin ‘Auf (32 H), dan Sa’ad bin Malik (55 H).
كُلُّهُمْ يَصْلُحُ لِلْخِلَافَةِ وَكُلُّهُمْ إِمَامٌ، كَمَا
فَعَلَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Mereka semua layak untuk
memegang tampuk kepemimpinan dan semuanya adalah pemimpin, sebagaimana yang
telah ditetapkan oleh para Shohabat Rosululloh ﷺ.
ثُمَّ أَفْضَلُ النَّاسِ بَعْدَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
الْقَرْنُ الَّذِي بُعِثَ فِيهِمْ كُلُّهُمْ
Kemudian manusia yang
paling mulia setelah para Shohabat Rosululloh ﷺ adalah
seluruh generasi yang sezaman dengan masa diutusnya beliau.
مَنْ صَحِبَهُ سَنَةً أَوْ شَهْرًا أَوْ سَاعَةً أَوْ رَآهُ
أَوْ وَفَدَ إِلَيْهِ فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِهِ، لَهُ مِنَ الصُّحْبَةِ عَلَى قَدْرِ
مَا صَحِبَهُ
Siapa pun yang
mendampingi beliau selama 1 tahun, 1 bulan, atau bahkan sesaat saja, atau
pernah melihat beliau, atau datang menemui beliau, maka ia termasuk
Shohabatnya. Ia memiliki kemuliaan persahabatan sesuai dengan kadar
kebersamaannya dengan beliau.
فَأَدْنَاهُمْ صُحْبَةً هُوَ أَفْضَلُ مِنَ الَّذِينَ لَمْ يَرَوْهُ
وَلَوْ لَقُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِجَمِيعِ الْأَعْمَالِ
Maka Shohabat yang paling
singkat masa kebersamaannya dengan beliau tetap lebih utama daripada
orang-orang yang tidak pernah melihat beliau, meskipun orang-orang tersebut
menghadap Alloh ﷻ dengan
membawa seluruh amal kebaikan.
كَانَ الَّذِي صَحِبَ النَّبِيَّ ﷺ وَرَآهُ بِعَيْنَيْهِ وَآمَنَ
بِهِ وَلَوْ سَاعَةً أَفْضَلَ بِصُحْبَتِهِ مِنَ التَّابِعِينَ كُلِّهِمْ وَلَوْ عَمِلُوا
كُلَّ أَعْمَالِ الْخَيْرِ
Seseorang yang
mendampingi Nabi ﷺ,
melihat beliau dengan matanya sendiri, dan beriman kepada beliau meski hanya
sesaat, tetap lebih utama karena kemuliaan persahabatan tersebut dibandingkan
seluruh Tabi’in, walaupun para Tabi’in itu mengerjakan semua amal kebajikan.
[13] Taat Pemimpin
dan Larangan Memberontak
ثُمَّ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِلْأَئِمَّةِ وَأُمَرَاءِ الْمُؤْمِنِينَ
الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ
Selanjutnya, wajib untuk
mendengar dan taat kepada para pemimpin dan penguasa kaum Mu’minin, baik mereka
orang yang sholih maupun yang fasik (pendosa).
وَمَنْ وَلِيَ الْخِلَافَةَ بِإِجْمَاعِ النَّاسِ وَرِضَاهُمْ،
لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَبِيتَ لَيْلَةً
إِلَّا وَعَلَيْهِ إِمَامٌ، بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا فَهُوَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ
Siapa pun yang memegang
tampuk kepemimpinan atas dasar kesepakatan dan keridhoan manusia, maka tidak
halal bagi siapa pun yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhir untuk melewati
satu malam pun tanpa mengakui adanya pemimpin atas dirinya. Baik pemimpin itu
baik atau jahat, dia tetaplah pemimpin kaum Mu’minin.
وَالْغَزْوُ مَعَ الْأُمَرَاءِ مَاضٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، لَا يُتْرَكُ
Berjihad bersama penguasa
tetap berlaku hingga hari Qiyamah, baik pemimpinnya sholih maupun fasik, dan
jihad tidak boleh ditinggalkan.
وَقِسْمَةُ الْفَيْءِ وَإِقَامَةُ الْحُدُودِ لِلْأَئِمَّةِ
مَاضِيَةٌ لَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَطْعَنَ عَلَيْهِمْ وَلَا يُنَاذِعَهُمْ
Pembagian harta fai
(harta rampasan tanpa perang) dan penegakan hukum hudud (hukuman syari’at)
adalah wewenang para pemimpin. Tidak boleh bagi siapa pun untuk mencela mereka
atau menentang wewenang tersebut.
وَدَفْعُ الصَّدَقَاتِ إِلَيْهِمْ جَائِزَةٌ نَافِذَةٌ قَدْ
بَرِئَ مَنْ دَفَعَهَا إِلَيْهِمْ وَأَجْزَأَتْ عَنْهُ بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا
Menyerahkan Zakat dan
sedekah kepada mereka adalah sah dan berlaku. Seseorang telah terbebas dari
tanggung jawabnya jika telah menyerahkannya kepada penguasa, dan itu sudah
mencukupinya, baik pemimpinnya sholih maupun fasik.
وَصَلَاةُ الْجُمُعَةِ خَلْفَهُ وَخَلْفَ مَنْ وَلَّاهُ جَائِزَةٌ
قَائِمَةٌ رَكْعَتَانِ مَنْ أَعَادَهَا فَهُوَ مُبْتَدِعٌ تَارِكٌ لِلْإِيمَانِ مُخَالِفٌ
Sholat Jumu’ah di
belakang penguasa atau orang yang ditunjuknya adalah sah sebanyak 2 rokaat.
Barangsiapa yang mengulangi Sholatnya (karena tidak percaya pada imamnya), maka
ia adalah pelaku bid’ah (perkara baru dalam agama yang tercela), meninggalkan
prinsip Iman, dan menyimpang.
وَلَيْسَ لَهُ مِنْ فَضْلِ الْجُمُعَةِ شَيْءٌ إِذَا لَمْ يَرَ
الْجُمُعَةَ خَلْفَ الْأَئِمَّةِ مَنْ كَانُوا بَرِّهِمْ وَفَاجِرِهِمْ
Ia tidak mendapatkan
pahala Jumu’ah sedikit pun jika ia tidak memandang sahnya Sholat Jumu’ah di
belakang para pemimpin, siapa pun mereka, baik yang sholih maupun yang fasik.
وَالسُّنَّةُ أَنْ يُصَلُّوا خَلْفَهُمْ لَا يَكُونُ فِي صَدْرِهِ
حَرَجٌ مِنْ ذَلِكَ
Sunnahnya adalah Sholat
di belakang mereka tanpa ada rasa keberatan sedikit pun di dalam hati.
وَمَنْ خَرَجَ عَلَى إِمَامٍ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ
وَقَدِ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ النَّاسُ فَأَقَرُّوا لَهُ بِالْخِلَافَةِ بِأَيِّ وَجْهٍ
كَانَتْ بِرِضًا كَانَتْ أَوْ بِغَلَبَةٍ فَهُوَ شَاقٌّ هَذَا الْخَارِجُ عَلَيْهِ
الْعَصَا
Barangsiapa memberontak
terhadap salah satu pemimpin kaum Muslimin yang telah disepakati oleh manusia
dan diakui kepemimpinannya dengan cara apa pun, baik melalui keridhoan bersama
maupun melalui kekuatan (kemenangan), maka pemberontak tersebut telah memecah
belah persatuan kaum Muslimin.
وَخَالَفَ الْآثَارَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَإِنْ مَاتَ الْخَارِجُ
عَلَيْهِ مَاتَ مِيتَةَ جَاهِلِيَّةٍ
Ia telah menyelisihi
riwayat-riwayat dari Rosululloh ﷺ. Jika
pemberontak itu mati dalam keadaan demikian, maka ia mati seperti kematian
orang Jahiliyah (masa sebelum Islam).
وَلَا يَحِلُّ قِتَالُ السُّلْطَانِ وَلَا الْخُرُوجُ عَلَيْهِ
لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، فَمَنْ عَمِلَ ذَلِكَ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ عَلَى غَيْرِ السُّنَّةِ
Tidak halal bagi siapa
pun untuk memerangi penguasa atau memberontak kepadanya. Barangsiapa
melakukannya, maka ia adalah pelaku bid’ah yang tidak berada di atas Sunnah.
[14] Menghadapi
Perampok dan Khowarij
وَيَحِلُّ قِتَالُ الْخَوَارِجِ وَاللُّصُوصِ إِذَا عَرَضُوا
لِلرَّجُلِ فِي نَفْسِهِ وَمَالِهِ أَوْ مَا دُونَ نَفْسِهِ
Boleh memerangi kaum
Khowarij (golongan yang suka mengkafirkan sesama Muslim dan memberontak) dan
para perampok jika mereka mengancam nyawa, harta, atau apa pun milik seseorang.
فَلَهُ أَنْ يُقَاتِلَ عَنْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَدْفَعَ
عَنْهُ فِي مَقَامِهِ
Seseorang berhak membela
diri dan hartanya sampai ia berhasil mengusir gangguan tersebut di tempat
kejadian.
وَلَيْسَ لَهُ إِذَا فَارَقُوهُ أَوْ تَرَكُوهُ أَنْ يَطْلُبَهُمْ
وَلَا يَتْبَعَ آثَارَهُمْ، وَقَدْ سَلِمَ مِنْهُمْ، ذَلِكَ إِلَى الْأَئِمَّةِ
Namun, jika mereka telah
pergi atau membiarkannya, ia tidak boleh mencari-cari atau mengejar mereka
setelah ia selamat. Urusan mengejar mereka diserahkan kepada para pemimpin.
إِنَّمَا هُوَ يَدْفَعُ عنْ نَفْسِهِ فِي مَقَامِهِ وَيَنْوِي
بِجُهْدِهِ أَنْ لَا يَقْتُلَ أَحَدًا
Kewajibannya hanyalah
membela diri di tempat itu dengan tetap berusaha sekuat tenaga agar tidak
sampai membunuh siapa pun.
فَإِنْ أَتَى عَلَى يَدِهِ فِي دَفْعِهِ عَنْ نَفْسِهِ فِي الْمَعْرَكَةِ
فَأَبْعَدَ اللَّهُ الْمَقْتُولَ
Jika dalam upaya membela
diri tersebut ternyata penjahat itu terbunuh di tangannya, maka semoga Robb
menjauhkan orang yang terbunuh itu dari rohmat-Nya.
وإِنْ قُتِلَ هُوَ فِي ذَلِكَ الْحَالِ وَهُوَ يَدْفَعُ عَنْ
نَفْسِهِ وَمَالِهِ رَجَوْنَا لَهُ الشَّهَادَةَ كَمَا فِي الْأَثَرِ وَجَمِيعِ الْآثَارِ
Sebaliknya, jika orang
yang membela diri itu yang terbunuh, maka kita berharap ia mendapatkan pahala
Syahid, sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai riwayat.
إِنَّمَا أُمِرَ بِقِتَالِهِ، وَلَمْ يُؤْمَرْ بِقَتْلِهِ، وَلَا
يُقِيمُ عَلَيْهِ الْحَدَّ
Perintahnya adalah untuk
memerangi (melawan) demi membela diri, bukan perintah sengaja untuk membunuh,
dan ia tidak boleh menghukum penjahat itu sendiri.
وَلَكِنَّهُ يَدْفَعُهُ إِلَى مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَهُ
فَيَكُونُ هُوَ يَحْكُمُ فِيهِ
Akan tetapi, ia harus
menyerahkan urusannya kepada pihak yang telah diberi wewenang oleh Alloh untuk
mengatur urusan rakyat, sehingga pemimpin itulah yang akan menghukumnya.
[15] Mengharap Rohmat
Alloh bagi Kaum Muslimin
وَلَا يَشْهَدُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِعَمَلٍ
عَمِلَهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ
Kita tidak boleh
memastikan seseorang dari kalangan Muslimin (Ahli Qiblah) masuk Jannah atau
Naar hanya berdasarkan amalan yang ia kerjakan.
نَرْجُو لِلصَّالِحِ وَنَخَافُ عَلَى الطَّالِحِ الْمُذْنِبِ،
وَنَرْجُو لَهُ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Kita berharap kebaikan
bagi orang yang sholih dan merasa khawatir atas nasib orang yang jahat lagi
berdosa, namun kita tetap mengharapkan rohmat Alloh ﷻ baginya.
وَمَنْ لَقِيَ اللَّهَ بِذَنْبٍ يَجِبُ لَهُ بِذَنْبِهِ النَّارُ
تَائِبًا مِنْهُ غَيْرَ مُصِرٍّ عَلَيْهِ، فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ وَيَقْبَلُ
التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ
Barangsiapa menghadap
Alloh dengan membawa dosa yang seharusnya menyebabkannya masuk Naar, namun ia
telah bertaubat dan tidak terus-menerus melakukannya, maka sesungguhnya Alloh
akan menerima taubatnya. Sebab Alloh menerima taubat para hamba-Nya dan
memaafkan kesalahan-kesalahan.
وَمَنْ لَقِيَ اللَّهَ وَقَدْ أُقِيمَ عَلَيْهِ حَدُّ ذَلِكَ
الذَّنْبِ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ كَمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Barangsiapa menghadap
Alloh sementara hukuman syari’at (had) atas dosanya tersebut telah dilaksanakan
di dunia, maka hukuman itu menjadi penghapus dosanya, sebagaimana yang datang
dari Rosululloh ﷺ.
وَمَنْ لَقِيَهُ مُصِرًّا غَيْرَ تَائِبٍ مِنَ الذُّنُوبِ الَّتِي
اسْتُوجِبَتْ بِهَا الْعُقُوبَةُ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Adapun barangsiapa
menghadap Alloh dalam keadaan terus-menerus berbuat dosa dan belum bertaubat
dari dosa-dosa yang mengharuskan siksa, maka urusannya diserahkan sepenuhnya
kepada Alloh ﷻ.
إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَمَنْ لَقِيَهُ
مُشْرِكًا عَذَّبَهُ وَلَمْ يَغْفِرْ لَهُ
Jika Alloh berkehendak,
Dia akan menyiksanya, dan jika berkehendak, Dia akan mengampuninya. Namun
barangsiapa menghadap-Nya dalam keadaan musyrik (menyekutukan Alloh), maka
Alloh akan menyiksanya dan tidak akan memberikan ampunan baginya.
[16] Hukum Rajam
atas Pezina
وَالرَّجْمُ عَلَى مَنْ زَنَا وَهُوَ مُحْصَنٌ إِذَا اعْتَرَفَ
بِذَلِكَ وَقَامَتْ عَلَيْهِ الْبَيِّنَةُ
Hukum rajam (dilempari
batu sampai mati) wajib ditegakkan atas pelaku zina yang sudah pernah menikah
(muhshon), apabila ia mengakuinya atau terdapat bukti-bukti yang sah secara
syari’at.
رَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَرَجَمَ الْأَئِمَّةُ الرَّاشِدُونَ
مِنْ بَعْدِهِ
Rosululloh ﷺ telah melaksanakan hukum rajam, demikian
pula para pemimpin yang mendapat petunjuk (Khulafa’ur Rosyidin) setelah beliau.
[17] Adab
terhadap Shohabat
وَمَنْ تَنَقَّصَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
أَوْ أَبْغَضَهُ لِحَدَثٍ كَانَ مِنْهُ أَوْ ذَكَرَ مَسَاوِئَهُ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ
Barangsiapa merendahkan
salah seorang Shohabat Rosululloh ﷺ, atau
membencinya karena suatu peristiwa yang pernah terjadi, atau menyebut-nyebut
keburukan mereka, maka ia adalah pelaku bid’ah.
حَتَّى يَتَرَحَّمَ عَلَيْهِمْ جَمِيعًا، فَيَكُونَ قَلْبُهُ
لَهُمْ سَلِيمًا
Sampai ia mau mendoakan rohmat
bagi mereka semua dan memiliki hati yang bersih terhadap mereka.
[18] Nifaq Besar
dan Nifaq Kecil
وَالنِّفَاقُ هُوَ الْكُفْرُ، أَنْ يَكْفُرَ بِاللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ وَيَعْبُدَ غَيْرَهُ فِي السِّرِّ، وَيُظْهِرَ الْإِيمَانُ فِي الْعَلَانِيَةِ
Nifaq (kemunafikan) yang
sesungguhnya adalah kekufuran; yaitu seseorang kafir kepada Alloh ﷻ dan menyembah selain-Nya secara
sembunyi-sembunyi, namun menampakkan Iman secara terang-terangan.
مِثْلُ الْمُنَافِقِينَ الَّذِينَ كَانُوا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ فَقَبِلَ مِنْهُمُ الظَّاهِرَ، فَمَنْ أَظْهَرَالْكُفْرَ قُتِلَ
Seperti kaum munafik yang
hidup pada zaman Rosululloh ﷺ, di
mana beliau menerima lahiriah mereka. Adapun siapa saja yang menampakkan
kekufuran secara terang-terangan, maka ia dihukum mati.
وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ الَّتِي جَاءَتْ: «ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ
فِيهِ فَهُوَ مُنافِقٌ» جَاءَتْ عَلَى التَّغْلِيظِ، نَرْوِيهَا كَمَا جَاءَتْ، وَلَا
نُفَسِّرُهَا
Hadits-Hadits yang
menyebutkan: “Ada 3 perkara yang jika ada pada seseorang maka ia adalah
munafik...” (HR. Al-Bukhori no. 33 dan Muslim no. 59), maksudnya adalah sebagai
peringatan yang sangat keras. Kita meriwayatkannya sebagaimana aslinya tanpa
perlu memberikan tafsiran sendiri.
مِثْلُ: «لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ
رِقَابَ بَعْضٍ»
Sama seperti sabda
beliau: “Janganlah kalian kembali menjadi kafir sepeninggalku, di mana sebagian
kalian memenggal leher sebagian yang lain.” (HR. Al-Bukhori no. 121 dan
Muslim no. 65)
وَمِثْلُ: «إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ
وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ»
Dan seperti: “Apabila 2
orang Muslim saling berhadapan dengan pedang mereka, maka yang membunuh maupun
yang dibunuh keduanya masuk Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 31 dan Muslim no.
2888)
وَمِثْلُ: «سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»
Dan seperti: “Mencaci
seorang Muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR.
Al-Bukhori no. 48 dan Muslim no. 64)
وَمِثْلُ: «مَنْ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا
أَحَدُهُمَا»
Dan seperti: “Barangsiapa
berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir!’, maka ucapan itu akan kembali kepada
salah satu dari keduanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6103 dan Muslim no. 60)
وَمِثْلُ: «كُفْرٌ بِاللَّهِ تَبَرُّءٌ مِنْ نَسَبٍ وَإِنْ دَقَّ»
Dan seperti: “Termasuk
kekufuran kepada Alloh adalah berlepas diri dari garis keturunan (nasab) meskipun
itu silsilah yang jauh.”
وَنَحْوُ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ وَمِمَّا
لَمْ نَذْكُرْهُ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ مِمَّا صَحَّ وَحُفِظَ
Juga Hadits-Hadits serupa
lainnya, baik yang sudah kami sebutkan maupun yang belum, selama Hadits
tersebut shohih dan terjaga keasliannya.
فَإِنَّهُ يُسَلَّمُ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُعْلَمْ تَفْسِيرُهُ
فَلَا يُتَكَلَّمُ فِيهِ وَلَا يُجَادَلُ فِيهِ وَلَا يُتَكَلَّمُ فِيهِ مَا لَمْ يَبْلُغْ
لَنَا مِنْهُ وَلَا نُفَسِّرُ الْأَحَادِيثَ إِلَّا عَلَى مَا جَاءَتْ، وَلَا نَرُدُّهَا
Maka kita harus berserah
diri padanya. Meskipun kita tidak mengetahui tafsirannya, kita tidak boleh
memperdebatkannya atau membicarakannya tanpa dasar ilmu yang sampai kepada
kita. Kita tidak menafsirkan Hadits-Hadits tersebut kecuali sesuai dengan apa
yang tertulis, dan kita tidak menolaknya.
[19] Kekekalan
Jannah dan Naar
وَالْجَنَّةُ وَالنَّارُ مَخْلُوقَتَانِ كَمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ
Jannah dan Naar adalah
makhluk yang sudah diciptakan, sebagaimana yang dikabarkan dari Rosululloh ﷺ:
«دَخَلْتُ
الْجَنَّةَ فَرَأَيْتُ فِيهَا قَصْرًا، وَرَأَيْتُ الْكَوْثَرَ، وَاطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ
فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا كَذَا، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ
أَهْلِهَا كَذَا»
“Aku masuk ke dalam
Jannah lalu melihat sebuah istana di dalamnya, aku juga melihat telaga
Al-Kautsar. Aku menjenguk ke dalam Jannah dan melihat kebanyakan penghuninya
adalah begini, dan aku menjenguk ke dalam Naar lalu melihat kebanyakan
penghuninya adalah begitu.”
فَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُمَا لَمْ يُخْلَقَا فَهُوَ مُكَذِّبٌ بِالْأَثَرِ،
وَلَا أَحْسِبُهُ يُؤْمِنُ بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ
Barangsiapa beranggapan
bahwa keduanya belum diciptakan, maka ia telah mendustakan riwayat dan
menurutku ia sebenarnya tidak benar-benar beriman kepada adanya Jannah dan
Naar.
وَقَوْلُهُ: «أَرْوَاحُ الشُّهَدَاءِ تَسْرَحُ فِي الْجَنَّةِ»
وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ الَّتِي جَاءَتْ كُلُّهَا نُؤْمِنُ بِهَا
Juga sabda beliau: “Ruh
para Syuhada (orang yang mati syahid) bebas terbang di dalam Jannah.” (HR.
Muslim no. 1887). Semua Hadits seperti ini wajib kita imani.
[20] Mensholati
Ahli Qiblat
وَمَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ مُوَحِّدًا مُصَلِّيًا
صَلَّيْنَا عَلَيْهِ وَاسْتَغْفَرْنَا لَهُ
Siapa saja dari kalangan Muslimin
yang meninggal dunia dalam keadaan bertauhid dan menjaga Sholatnya, maka kita
harus menyolatinya dan memohonkan ampunan baginya.
لَا نَحْجُبُ الِاسْتِغْفَارَ وَلَا نَدَعُ الصَّلَاةَ عَلَيْهِ
لِذَنْبٍ صَغِيرٍ أَمْ كَبِيرٍ، وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Kita tidak boleh
menghalangi permohonan ampunan dan tidak boleh meninggalkan Sholat janazah
baginya hanya karena ia memiliki dosa kecil maupun besar. Urusannya diserahkan
sepenuhnya kepada Alloh ﷻ.
[21] Mencintai
Ulama Sunnah
وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَبَا هُرَيْرَةَ وَيَدْعُو
لَهُ وَيَتَرَحَّمُ عَلَيْهِ فَارْجُ خَيْرَهُ، وَاعْلَمْ أَنَّهُ بَرِيءٌ مِنَ الْبِدَعِ
Apabila engkau melihat
seseorang mencintai Abu Huroiroh (59 H), mendoakannya, dan memohonkan rohmat
baginya, maka harapkanlah kebaikan darinya, dan ketahuilah bahwa ia terbebas
dari bid’ah.
وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُحِبُّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ
وَيَذْكُرُ مَحَاسِنَهُ وَيَنْشُرُهَا فَاعْلَمْ أَنَّ وَرَاءَ ذَلِكَ خَيْرًا إِنْ
شَاءَ اللَّهُ
Apabila engkau melihat
seseorang mencintai Umar bin Abdul Aziz (101 H), menyebut-nyebut serta
menyebarkan kebaikan-kebaikannya, maka ketahuilah bahwa di balik itu terdapat
kebaikan, insya Alloh.
وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْتَمِدُ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ
عَلَى أَيُّوبَ السِّخْتِيَانِيِّ، وَابْنِ عَوْنٍ، وَيُونُسَ وَالتَّيْمِيِّ وَيُحِبُّهُمْ
وَيُكْثِرُ ذِكْرَهُمْ وَالِاقْتِدَاءَ بِهِمْ فَارْجُ خَيْرَهُ
Apabila engkau melihat
orang Bashroh bersandar kepada Ayyub as-Sikhtiyani (131 H), Ibnu ‘Aun (151 H),
Yunus (139 H), dan at-Taimi (143 H), serta mencintai mereka, sering menyebut
mereka, dan meneladani mereka, maka harapkanlah kebaikan darinya.
ثُمَّ مِنْ بَعْدِ هَؤُلَاءِ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، وَمُعَاذُ
بْنُ مُعَاذٍ، وَوَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ مِحْنَةُ أَهْلِ الْبِدَعِ
Kemudian setelah mereka
adalah Hammad bin Salamah (167 H), Mu’adz bin Mu’adz (196 H), dan Wahb bin
Jarir (206 H). Sesungguhnya mereka ini adalah barometer untuk menguji para
pelaku bid’ah.
وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِ الْكُوفَةِ يَعْتَمِدُ
عَلَى طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، وَابْنِ أَبْجَرَ، وَابْنِ حَيَّانَ التَّيْمِيِّ،
وَمَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ، وَسُفْيَانَ بْنِ سَعِيدٍ الثَّوْرِيِّ، وَزَائِدَةَ فَارْجُهُ
Apabila engkau melihat
orang Kufah bersandar kepada Tholhah bin Mushorrif (112 H), Ibnu Abjar (122 H),
Ibnu Hayyan at-Taimi (145 H), Malik bin Mighwal (158 H), Sufyan bin Sa’id
ats-Tsauri (161 H), dan Za’idah (161 H), maka harapkanlah kebaikan darinya.
وَمِنْ بَعْدِهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ، وَمُحَمَّدُ
بْنُ عُبَيْدٍ، وَابْنُ أَبِي عُتْبَةَ، وَالْمُحَارِبِيُّ فَارْجُهُ
Setelah mereka, ada pula
Abdullah bin Idris (192 H), Muhammad bin ‘Ubaid (204 H), Ibnu Abi ‘Utbah (199
H), dan al-Muharibi (195 H), maka harapkanlah kebaikan darinya.
[22] Peringatan
terhadap Pemikiran Abu Hanifah
وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَبَا حَنِيفَةَ وَرَأْيَهُ
وَالنَّظَرَ فِيهِ فَلَا تَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ
Apabila engkau melihat
seseorang mencintai Abu Hanifah (150 H), menyukai pemikiran logikanya (ro’yu),
dan mendalaminya, maka janganlah engkau merasa tenang terhadapnya.
وَإِلَى مَنْ يَذْهَبُ مَذْهَبَهُ مِمَّنْ يَغْلُو فِي أَمْرِهِ
وَيَتَّخِذُهُ إِمَامًا
Begitu juga terhadap
orang-orang yang mengikuti jalannya, yang bersikap berlebihan dalam memujinya
dan menjadikannya sebagai panutan utama.[NK]
%20-%20Riwayat%20Imam%20Al-Lalikai%20(418%20H).jpg)