Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Jika Terjadi Perang Dunia 3, Aku Akan... - Nor Kandir


 

Muqoddimah

Segala puji hanya milik Alloh, Robb semesta alam, yang dengan rohmat-Nya menyinari hati orang-orang Mu’min dan dengan keadilan-Nya menghancurkan para pelaku kezholiman.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad , yang diutus sebagai rohmat bagi semesta alam, juga kepada keluarga beliau, para Shohabat, dan para Tabi’in yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari Akhiroh.

Amma ba’du:

Dunia hari ini (Maret 2026 / Romadhon 1447 H) sedang berada di persimpangan jalan yang sangat genting. Kabut asap peperangan seakan mulai menyelimuti ufuk, sementara dentuman meriam dan jeritan kaum tertindas di bumi Palestina terus memanggil nurani umat. Ketegangan geopolitik yang melibatkan faksi besar seperti Iran di satu sisi, serta Israel (Yahudi) yang didukung penuh oleh kekuatan Amerika dkk di sisi lain, bukan sekadar urusan perebutan wilayah atau sumber daya. Bagi seorang Muslim yang memahami bimbingan wahyu, ini adalah bagian dari rangkaian ujian besar yang telah dikabarkan oleh Rosululloh . Kita melihat bagaimana negara-negara besar berkumpul dan bersekutu untuk memojokkan umat Islam, persis seperti yang digambarkan dalam sabda Nabi dari Tsauban rodhiyallahu ‘anhu:

«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ»، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»

“Hampir saja bangsa-bangsa lain mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang lapar mengerumuni nampan berisi makanan.” Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu?” Beliau menjawab, “Bahkan kalian saat itu jumlahnya banyak, namun kalian ibarat buih di lautan. Sungguh, Alloh akan mencabut rasa segan dari hati musuh-musuh kalian, dan Alloh akan menanamkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Seseorang bertanya lagi, “Wahai Rosululloh, apa itu wahn?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HSR. Abu Dawud no. 4297)

Kondisi ini menuntut kita untuk tidak hanya menjadi penonton yang panik atau sekadar pengamat politik yang menebak-nebak masa depan. Kita harus kembali kepada pegangan hidup yang abadi, yaitu Kitabulloh dan Sunnah Nabi sesuai pemahaman para Salafush Sholih. Sungguh, tipu daya musuh setangguh apa pun tidak akan pernah mampu mengalahkan makar Alloh yang Maha Perkasa. Alloh mengingatkan kita agar jangan pernah merasa lemah atau berkecil hati menghadapi besarnya kekuatan materi yang dimiliki oleh musuh-musuh Islam, sebagaimana firman-Nya:

﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾

“Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, karena kalianlah orang-orang yang paling tinggi kedudukannya jika kalian benar-benar beriman.” (QS. Ali ‘Imron: 139)

Gejolak perang yang melibatkan Palestina, Iran, dan sekutu-sekutu Barat hari ini adalah pengingat bahwa ketentraman dunia ini hanyalah sementara. Setiap Mu’min harus menyiapkan diri, baik secara mental, keimanan, maupun usaha nyata yang dibenarkan oleh syariat. Kita tidak boleh menutup mata terhadap usaha moderen dalam menjaga kedaulatan dan kekuatan, namun sandaran utama tetaplah kepada Sang Kholiq. Alloh telah menegaskan bahwa makar kaum kafir setinggi apa pun akan menemui kegagalan jika umat ini kembali kepada jalan-Nya:

﴿وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾

“Mereka merencanakan tipu daya, dan Alloh juga membalas tipu daya mereka. Sungguh, Alloh adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)

Buku ini disusun untuk menjawab kegelisahan hati setiap Muslim: “Apa yang harus aku lakukan jika Perang Dunia 3 benar-benar pecah?” Jawaban dari pertanyaan ini tidak akan kita temukan di meja-meja runding para politisi yang haus kekuasaan, melainkan dalam untaian ayat-ayat suci dan wejangan Nabawi. Kita harus memahami bahwa setiap tetes darah yang tumpah di Gaza dan setiap jengkal tanah yang dirampas adalah ujian bagi persaudaraan Islam kita. Nabi bersabda dari Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»

“Perumpamaan orang-orang Mu’min dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim no. 2586 dan Al-Bukhori no. 6011)

Maka, bekal utama kita adalah ketaqwaan dan kesabaran. Tanpa keduanya, kepandaian strategi militer atau kecanggihan teknologi senjata tidak akan memberikan kemenangan yang hakiki.

Kemenangan itu turun bersama kesabaran, dan kelapangan itu hadir setelah kesempitan.

Kita tidak boleh terperangkap dalam keputusasaan melihat zholimnya kekuatan musuh, karena Alloh tidak pernah lalai terhadap apa yang mereka perbuat:

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa Alloh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zholim. Sungguh, Alloh hanya menangguhkan mereka sampai hari di mana mata-mata terbelalak (karena melihat kedahsyatan adzab).” (QS. Ibrohim: 42)

Melalui risalah sederhana ini, kita akan membedah langkah demi langkah sikap yang harus diambil. Mulai dari pembersihan aqidah dari ketergantungan kepada makhluk, hingga langkah praktis dalam menyiapkan ketahanan pangan, mental, dan keamanan keluarga. Kita diajarkan oleh para Salaf untuk selalu siap siaga namun tetap tenang, bertawakkal namun tetap berikhtiar. Sebagaimana pesan Rosululloh kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma:

«وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»

“Ketahuilah, sekiranya seluruh umat manusia bersatu untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan bagimu. Dan sekiranya mereka bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Inilah pondasi kita. Di tengah ancaman perang besar yang mungkin melibatkan senjata-senjata pemusnah massal dan keruntuhan ekonomi global, seorang Muslim tetap tegak berdiri. Dia tahu bahwa hidup dan matinya hanyalah untuk Alloh dan terserah Alloh, Robb semesta alam. Dia tidak gentar oleh gertakan manusia karena dia memiliki pelindung yang Maha Kuat. Alloh berfirman tentang sikap para Shohabat saat menghadapi kepungan musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat:

﴿الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾

“Yaitu orang-orang (Shohabat dalam perang Ahzab) yang ketika ada orang-orang (munafiq) berkata kepada mereka: ‘Sungguh, orang-orang (musuh) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Alloh bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung’.” (QS. Ali ‘Imron: 173)

Semoga tulisan ini menjadi panduan bagi kita semua agar tidak terombang-ambing dalam badai fitnah yang sedang melanda dunia. Kita memohon kepada Alloh keselamatan bagi kaum Muslim di Palestina dan di seluruh penjuru bumi, serta keteguhan iman saat menghadapi hari-hari yang penuh kegoncangan. Sungguh, hanya kepada Alloh kita memohon pertolongan dan hanya kepada-Nya kita kembali.

 

Bab 1: Membedah Akar dan Peta Konflik Global

1.1 Palestina dan Konspirasi Global

Dunia hari ini menyaksikan pemandangan yang menyayat hati di bumi yang diberkahi, Palestina. Penindasan yang dilakukan oleh entitas zionis bukan sekadar perselisihan wilayah, melainkan bentuk kezholiman nyata yang didukung oleh kekuatan besar dunia. Amerika dkk terus menyokong persenjataan dan perlindungan politik bagi Yahudi Israel, sementara darah kaum Muslim tertumpah tanpa henti. Kondisi ini adalah perwujudan dari peringatan Alloh tentang permusuhan abadi yang dilancarkan oleh mereka yang tidak ridho terhadap Islam. Alloh berfirman:

﴿وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ﴾

“Orang-orang Yahudi dan Nasroni tidak akan pernah ridho kepadamu sampai kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 120)

Kezholiman yang kita lihat di Gaza dan sekitarnya adalah ujian bagi persatuan umat. Ketika kekuatan global bersatu untuk menindas, mereka sebenarnya sedang menjalankan makar untuk memadamkan cahaya Alloh. Namun, Alloh telah menjanjikan bahwa makar mereka akan berbalik kepada mereka sendiri. Setiap jengkal tanah Palestina yang dirampas adalah bukti nyata dari kebencian yang mendalam, sebagaimana Alloh tegaskan:

﴿لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا﴾

“Sungguh, kamu akan dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Maidah: 82)

Dukungan tanpa batas dari negara-negara Barat terhadap Yahudi menunjukkan adanya standar ganda dalam kemanusiaan yang mereka gembor-gemborkan. Di balik diplomasi meja makan, tersimpan konspirasi untuk melemahkan kekuatan kaum Muslim. Rosululloh telah memberikan gambaran tentang bagaimana musuh-musuh Islam saling memanggil untuk mengeroyok umat ini dari berbagai penjuru, dari Tsauban rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»

“Hampir saja bangsa-bangsa lain mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang lapar mengerumuni nampan berisi makanan.” (HSR. Abu Dawud no. 4297)

Penderitaan rakyat Palestina hari ini adalah bagian dari takdir Alloh untuk menyaring siapa di antara hamba-Nya yang benar-benar berjihad dengan harta dan jiwanya, serta siapa yang hanya pandai berucap tanpa tindakan nyata. Kita tidak boleh lupa bahwa bumi Palestina adalah milik umat Islam, dan setiap Muslim memikul tanggung jawab sesuai kemampuannya untuk menghentikan tangan-tangan zholim tersebut.

1.2 Peran Iran dan Dinamika Kekuatan Regional

Di tengah kemelut Palestina, peran Iran muncul sebagai kekuatan yang menambah rumit konstelasi politik di Timur Tengah. Di satu sisi, Iran memposisikan diri sebagai pembela Palestina, namun di sisi lain, terdapat perbedaan mendasar dalam masalah aqidah menurut pandangan Salaf yang tidak boleh diabaikan. Ketegangan antara Iran dan aliansi Yahudi-Amerika seringkali menyeret negara-negara Muslim lainnya ke dalam pusaran konflik yang membingungkan.

Seorang Muslim harus jeli melihat bahwa dalam pergolakan politik dunia, seringkali terdapat kepentingan kelompok yang diselipkan di balik jargon agama. Kita diperintahkan untuk waspada terhadap segala bentuk fitnah yang dapat memecah belah shof kaum Muslim. Alloh memperingatkan tentang adanya golongan yang mengaku beriman namun tindakan mereka justru menimbulkan kerusakan:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ۝ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ﴾

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi’, mereka menjawab: ‘Sungguh, kami adalah orang-orang yang melakukan perbaikan’. Ingatlah, sungguh merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqoroh: 11-12)

Dinamika antara Iran, Yahudi, dan Amerika dkk menciptakan situasi yang menyerupai “perang proksi” di mana wilayah-wilayah Muslim menjadi medan tempurnya. Kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam mendukung agenda yang sebenarnya jauh dari kemurnian tauhid. Para ulama Salaf selalu menekankan pentingnya kejernihan dalam ber-wala’ (loyal) dan ber-bara’ (berlepas diri). Jangan sampai kebencian kita kepada satu kaum membuat kita tidak berlaku adil atau justru terjerumus dalam lubang fitnah yang lain.

Nabi telah memperingatkan akan datangnya masa di mana fitnah begitu pekat seperti potongan malam yang gelap, dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh bersabda:

«بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»

“Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan Mu’min, namun di sore hari menjadi kafir. Atau di sore hari dia Mu’min, namun di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi kesenangan dunia.” (HR. Muslim no. 118)

Oleh karena itu, dalam menyikapi peran Iran dan faksi-faksi lainnya, timbangan kita adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Kita mendukung setiap usaha nyata untuk membebaskan tanah Muslim dari penjajahan, namun kita tetap menjaga jarak dari penyimpangan aqidah yang dapat merusak amal perbuatan. Kehati-hatian dalam mengambil sikap di tengah benturan kepentingan global adalah bagian dari hikmah yang diajarkan oleh Islam.

Menunggu fatwa ulama kibar adalah jalan paling aman dalam menyikapi konflik internasional. Banyak diam dari menilai tetapi banyak mendoakan kebaikan serta membantu dengan harta dan apa yang mampu dengan ketelitian dan kehati-hatian.

1.3 Isyarat Nubuwwah tentang Perang Besar (Al-Malhamah Al-Kubro)

Eskalasi konflik yang kita saksikan hari ini seringkali dikaitkan dengan nubuwwah Rosululloh mengenai perang besar di akhir zaman yang dikenal sebagai Al-Malhamah Al-Kubro. Hadits-hadits Nabi telah memberikan peta jalan bagi umat agar tidak tersesat saat peperangan dahsyat itu meletus. Peperangan ini melibatkan persatuan bangsa-bangsa melawan kaum Muslim, yang kemudian diakhiri dengan kemenangan bagi mereka yang teguh di atas kebenaran.

Dari Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«عُمْرَانُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَرَابُ يَثْرِبَ، وَخَرَابُ يَثْرِبَ خُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ، وَخُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ فَتْحُ قُسْطَنْطِينِيَّةَ، وَفَتْحُ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ خُرُوجُ الدَّجَّالِ»

“Makmurnya Baitul Maqdis adalah tanda runtuhnya Yatsrib (Madinah), runtuhnya Yatsrib adalah tanda keluarnya Al-Malhamah (perang besar), keluarnya Al-Malhamah adalah tanda penaklukan Konstantinopel, dan penaklukan Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal.” (HHR. Abu Dawud no. 4294)

Hadits ini menunjukkan adanya kaitan erat antara kondisi di Palestina (Baitul Maqdis) dengan peristiwa-peristiwa besar dunia. Perang Dunia 3, jika memang itu yang dimaksud dalam nubuwwah, bukanlah sekadar peperangan fisik, melainkan pertarungan antara keimanan dan kekufuran. Alloh telah menetapkan bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang sholih meskipun musuh-musuh Islam mengerahkan seluruh kekuatan teknologi mereka. Alloh berfirman:

﴿وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ﴾

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauhul Mahfuzh, bahwasanya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang sholih.” (QS. Al-Anbiya: 105)

Dalam Al-Malhamah Al-Kubro, kaum Muslim akan menghadapi ujian yang sangat berat. Namun, pertolongan Alloh hanya akan datang jika umat ini kembali kepada kemurnian agama. Kita diingatkan untuk tidak sekadar menanti datangnya hari itu tanpa persiapan iman yang matang. Sebab, pada saat itu, tidak ada lagi tempat bergantung kecuali hanya kepada Alloh semata. Nabi menjelaskan bahwa pusat kekuatan kaum Muslim saat perang besar itu berada di wilayah Syam, dari Abu Darda (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«إِنَّ فُسْطَاطَ الْمُسْلِمِينَ يَوْمَ الْمَلْحَمَةِ بِالْغُوطَةِ، إِلَى جَانِبِ مَدِينَةٍ يُقَالُ لَهَا: دِمَشْقُ، مِنْ خَيْرِ مَدَائِنِ الشَّامِ»

“Sungguh, pusat kekuatan kaum Muslim pada hari Al-Malhamah (perang besar) adalah di Al-Ghoutoh, di samping kota yang bernama Damaskus, yang merupakan kota terbaik di Syam.” (HSR. Abu Dawud no. 4298)

1.4 Fitnah Akhir Zaman dan Pentingnya Ilmu

Saat kekacauan merajalela dan informasi simpang siur, ilmu syar’i adalah pelindung yang menjaga seorang Muslim dari ketergelinciran. Tanpa ilmu, seseorang akan mudah terombang-ambing oleh propaganda musuh atau terjatuh ke dalam sikap ekstrem yang merugikan Islam. Perang Dunia 3 bukan hanya perang senjata, tapi juga perang pemikiran dan informasi. Oleh karena itu, menuntut ilmu tentang bagaimana bersikap di masa fitnah adalah kewajiban yang mendesak.

Alloh membedakan kedudukan orang yang berilmu dengan orang yang jahil, terutama dalam situasi genting:

﴿قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾

“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sungguh, hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Ulama-ulama Robbani adalah tempat kita merujuk saat terjadi kemelut besar. Mereka memiliki bashiroh (pandangan hati yang tajam) yang dibimbing oleh wahyu untuk melihat hakikat dari sebuah peristiwa. Di masa perang, satu fatwa yang salah bisa menyebabkan tumpahnya darah ribuan orang. Nabi memperingatkan bahwa dicabutnya ilmu melalui wafatnya para ulama akan membawa manusia pada kesesatan, dari Abdullah bin Amr bin Ash rodhiyallahu ‘anhuma, Nabi bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»

“Sungguh, Alloh tidak mencabut ilmu dengan sekali cabut dari hati para hamba, namun Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sampai jika tidak tersisa lagi seorang alim pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 100 dan Muslim no. 2673)

Ilmu yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar pengetahuan teori, melainkan ilmu yang membuahkan amal dan ketenangan jiwa. Dengan ilmu, kita tahu kapan harus maju dan kapan harus menahan diri. Kita tahu mana yang merupakan Jihad syar’i dan mana yang merupakan tindakan nekad yang sia-sia.

Ilmu adalah cahaya yang dengannya seorang hamba berjalan di tengah kegelapan fitnah.

Maka, setiap Muslim wajib membekali dirinya dengan pemahaman tentang aqidah yang benar, kaidah-kaidah syariat dalam menghadapi musuh, serta pemahaman terhadap realita dunia dengan kacamata iman. Hanya dengan ilmu kita bisa selamat dari kepungan fitnah akhir zaman yang menyesatkan ini.

 

Bab 2: Sikap Keimanan Menghadapi Kegentingan

2.1 Tawakkal Bulat kepada Alloh di Tengah Dentuman Meriam

Di saat situasi dunia mencekam dan bayang-bayang peperangan besar menyelimuti bumi, pondasi utama yang harus kokoh dalam dada seorang Mu’min adalah tawakkal yang murni kepada Alloh. Tawakkal bukan berarti diam berpangku tangan, melainkan menyandarkan seluruh urusan hanya kepada Sang Pencipta setelah melakukan usaha maksimal. Sungguh, ketenangan hati di tengah dentuman meriam dan ancaman senjata pemusnah massal hanya bisa diraih jika seseorang yakin bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam semesta ini yang luput dari kehendak-Nya. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا﴾

“Dan siapa yang bertawakkal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sungguh, Alloh melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Alloh telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Tholaq: 3)

Keyakinan ini harus tertanam kuat bahwa nyawa dan rizki tidak berada di tangan kekuatan adidaya mana pun, melainkan di tangan Alloh. Ketika tentara sekutu atau kekuatan besar dunia menunjukkan kesombongannya, seorang Mu’min justru semakin mendekat kepada Robb-nya. Inilah sifat orang-orang beriman yang dipuji oleh Alloh dalam Al-Qur’an:

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾

“Sungguh, orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Robb mereka sajalah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)

Rosululloh memberikan gambaran betapa dahsyatnya kekuatan tawakkal jika dilakukan dengan benar. Dari Umar bin Khoththob rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizki kepada seekor burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di sore hari dalam keadaan perut kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)

Dalam konteks Perang Dunia, tawakkal berarti tidak gentar terhadap kecanggihan teknologi musuh. Kita meneladani Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang saat hendak dilemparkan ke dalam kobaran api yang dahsyat, beliau hanya mengucapkan kalimat tauhid yang paling agung. Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa kalimat terakhir yang diucapkan Nabi Ibrohim ‘alaihissalam saat dilempar ke api adalah:

«حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ»

“Cukuplah Alloh bagiku, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.” (HR. Al-Bukhori no. 4563)

Tawakkal adalah keridhoan hati terhadap apa yang telah ditetapkan Alloh, baik itu dalam keadaan lapang maupun sempit. Di masa genting, siapa yang hatinya terpaut pada berita-berita yang menakutkan tanpa sandaran iman, maka dia akan binasa dalam kepanikan. Namun, siapa yang membangun benteng tawakkal, maka dia akan tetap tenang meski bumi berguncang.

2.2 Menjauhi Sikap Tergesa-gesa (’Ajalah) dalam Mengambil Keputusan

Salah satu fitnah terbesar saat terjadi kekacauan global adalah munculnya sikap tergesa-gesa (‘ajalah). Banyak orang ingin segera bertindak, berkomentar, atau bahkan terjun ke medan tempur tanpa pertimbangan syar’i yang matang. Dalam manhaj Salaf, ketenangan (anah) dan kehati-hatian (ta’anni) adalah sifat yang sangat dicintai oleh Alloh, terutama ketika urusan umat sedang berada di ujung tanduk. Rosululloh bersabda kepada Al-Asyajj bin Abdul Qois rodhiyallahu ‘anhu:

«إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ، وَالْأَنَاةُ»

“Sungguh dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Alloh, yaitu santun dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Muslim no. 17)

Sifat tergesa-gesa seringkali berasal dari dorongan nafsu atau bisikan syaithon yang ingin menyeret umat Islam ke dalam kehancuran. Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ»

“Ketenangan itu datangnya dari Alloh, sedangkan tergesa-gesa itu datangnya dari setan.” (HR. Abu Ya’la no. 4256, dishohihkan oleh Al-Albani)

Dalam situasi perang, setiap langkah harus dipikirkan dampaknya bagi maslahat umat yang lebih luas. Alloh melarang hamba-Nya untuk langsung menyebarkan setiap kabar yang didengar tanpa diverifikasi oleh mereka yang memiliki otoritas ilmu dan kepemimpinan. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ﴾

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Padahal, sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rosul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rosul dan Ulil Amri).” (QS. An-Nisa: 83)

Sikap tergesa-gesa seringkali membuat seseorang kehilangan bashiroh (pandangan jernih). Di zaman Perang Dunia yang penuh dengan propaganda digital, seorang Muslim harus menahan diri dari menyebarkan berita yang belum tentu benar atau mengambil tindakan sepihak yang bisa merusak strategi besar umat Islam. Kesabaran dalam menanti arahan dari ulama kibar dan pemimpin Muslim adalah kunci keselamatan. Jangan sampai karena dorongan emosi sesaat, kita justru memberikan peluang bagi musuh untuk menghancurkan barisan kita dari dalam.

2.3 Memurnikan Wala’ dan Baro’ di Tengah Kepentingan Politik

Peperangan global seperti yang melibatkan Palestina, Iran, Yahudi, dan Amerika dkk seringkali mengaburkan batasan antara kawan dan lawan yang hakiki. Di sinilah pentingnya memurnikan aqidah Wala’ (loyalitas) dan Baro’ (berlepas diri). Seorang Mu’min wajib memberikan loyalitasnya hanya kepada Alloh, Rosul-Nya, dan sesama orang beriman, serta berlepas diri dari kekufuran dan para pelakunya. Alloh menegaskan:

﴿إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ﴾

“Sungguh, penolong kalian hanyalah Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan Sholat dan menunaikan Zakat, seraya mereka tunduk (kepada Alloh).” (QS. Al-Maidah: 55)

Dalam konstelasi politik hari ini, kita harus waspada agar tidak terjebak membela satu kelompok kafir untuk menghantam kelompok kafir lainnya secara membabi buta tanpa prinsip yang jelas. Loyalitas kita kepada Palestina adalah loyalitas karena persaudaraan iman dan kesucian bumi para Nabi, bukan karena kesamaan ideologi politik semata. Alloh melarang kita mengambil musuh-musuh Islam sebagai pelindung atau teman setia:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasroni menjadi pemimpin-pemimpin (kalian); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh, Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Prinsip Baro’ juga mengharuskan kita untuk waspada terhadap segala bentuk pemikiran yang menyimpang dari manhaj Salaf, meskipun mereka mengatasnamakan pembelaan terhadap Islam. Kita belajar dari sejarah para Shohabat rodhiyallahu ‘anhu yang tetap teguh memegang prinsip meski dalam kondisi perang yang paling sulit. Malik bin Anas (179 H) menekankan bahwa urusan umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah membuat baik urusan generasi awalnya.

Oleh karena itu, di tengah isu Iran vs Yahudi-Amerika dkk, seorang Muslim harus menimbang setiap dukungannya dengan timbangan syariat.

Kita bersama barisan Iran karena mereka mendukung Palestina secara lahiriyah, disertai waspada karena aqidah mereka (Syiah) yang rusak sangat memungkinkan sandiwara dan permainan semata. Musuh dalam selimut.

Kita tidak boleh mendukung kezholiman Yahudi, namun kita juga tidak boleh larut dalam aqidah yang menyimpang hanya karena alasan politik praktis. Keberpihakan kita adalah kepada kebenaran yang datang dari Alloh dan Rosul-Nya. Nabi bersabda dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu:

«الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ»

“Seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang ia cintai.” (HR. Al-Bukhori no. 6168 dan Muslim no. 2640)

Maka, pastikan cinta dan loyalitas kita hanya untuk mereka yang bertauhid dan mengikuti Sunnah, sehingga kelak kita dikumpulkan bersama barisan para Nabi dan Shohabat, bukan bersama barisan pelaku kemusyrikan atau ahli bid’ah.

2.4 Sabar dan Mengharap Pahala di Balik Musibah Perang

Jika ketetapan Alloh mengharuskan kita melewati masa-masa kelam peperangan, maka sabar adalah perisai yang paling ampuh. Sabar dalam Islam bukanlah sikap menyerah tanpa usaha, melainkan keteguhan jiwa dalam menjalankan perintah Alloh dan menahan diri dari apa yang dilarang-Nya di tengah ujian yang berat. Perang membawa rasa takut, lapar, dan kehilangan, namun di baliknya terdapat pahala yang tidak terbatas. Alloh berfirman:

﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾

“Dan sungguh Kami akan memberikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un’ (Sungguh kami adalah milik Alloh dan kepada-Nya lah kami kembali).” (QS. Al-Baqoroh: 155-156)

Setiap kesulitan yang dialami seorang Mu’min di masa perang akan menjadi penggugur dosa. Kelelahan, rasa cemas, hingga luka fisik sekalipun tidak akan sia-sia di sisi Alloh. Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) dan Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhuma, Nabi bersabda:

«مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa rasa lelah, sakit, gelisah, sedih, gangguan, maupun duka, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Al-Bukhori no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Kita harus mencontoh kesabaran luar biasa dari para Shohabat dalam Perang Ahzab (Khondaq), ketika mereka dikepung oleh pasukan sekutu dari berbagai arah hingga jantung seakan naik ke kerongkongan. Alloh memuji keteguhan mereka:

﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا﴾

“Di antara orang-orang Mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh (ingin mati syahid); maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)

Mengharap pahala (ihtisab) adalah kunci agar sabar tidak menjadi beban yang menghancurkan mental. Seorang Muslim yang menghadapi Perang Dunia harus menanamkan dalam dirinya bahwa jika dia hidup, dia hidup dalam kemuliaan iman, dan jika dia wafat karena membela agamanya, maka Jannah telah menantinya. Kematian adalah kepastian, namun mati di atas ketaatan saat fitnah melanda adalah anugerah besar. Al-Qurthubi (671 H) menjelaskan bahwa kesabaran di masa fitnah nilainya berlipat ganda karena beratnya beban jiwa yang ditanggung. Sungguh, kemenangan itu datang bersama kesabaran, dan kemudahan datang setelah kesulitan.

 

Bab 3: Fiqih Jihad dan Kaidah Berperang dalam Islam

3.1 Syarat-syarat Jihad yang Syar’i

Ketika Genderang perang dunia mulai ditabuh dan ancaman terhadap kedaulatan umat Islam nyata di depan mata, maka memahami hukum Jihad menjadi kewajiban yang sangat mendesak. Jihad bukan sekadar tindakan angkat senjata tanpa aturan, melainkan ibadah yang memiliki syarat dan rukun yang ketat. Dalam pandangan Salaf, Jihad dilakukan untuk meninggikan kalimat Alloh dan melindungi darah kaum Muslim. Alloh berfirman:

﴿وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾

“Dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas. Sungguh, Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqoroh: 190)

Secara umum, Jihad terbagi menjadi dua kondisi hukum. Pertama, Jihad Tholab (ofensif) yang hukumnya fardu kifayah, dan kedua, Jihad Difa’ (defensif) yang hukumnya menjadi fardu ‘ain ketika musuh telah menginjakkan kaki di negeri Muslim, sebagaimana yang terjadi di Palestina hari ini. Alloh menegaskan kewajiban berperang ketika umat diserang:

﴿أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتِلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ﴾

“Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sungguh mereka telah dizholimi. Dan sungguh, Alloh benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj: 39)

Syarat utama Jihad adalah adanya niat yang ikhlas hanya karena Alloh. Dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau ditanya tentang orang yang berperang karena keberanian, karena fanatisme golongan, atau karena ingin dipuji, manakah yang di jalan Alloh? Beliau bersabda:

«مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

“Siapa yang berperang agar kalimat Alloh menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 123 dan Muslim no. 1904)

Jihad mensyaratkan adanya idzin dari orang tua jika Jihad tersebut bersifat sukarela (fardu kifayah). Namun, jika musuh telah menyerang, maka kewajiban itu jatuh kepada setiap orang yang mampu tanpa menunggu idzin siapa pun. Selain itu, kemampuan fisik dan perbekalan juga menjadi pertimbangan syar’i agar Jihad tidak menjadi tindakan sia-sia yang justru menghancurkan kekuatan umat. Alloh berfirman:

﴿لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ﴾

“Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) bagi orang buta, tidak pula bagi orang pincang, dan tidak pula bagi orang sakit.” (QS. Al-Fath: 17)

3.2 Ketaatan kepada Pemimpin Muslim di Masa Perang

Dalam situasi Perang Dunia yang penuh kekacauan, keberadaan komando tunggal di bawah pemimpin Muslim (Imam/Ulil Amri) adalah kunci kemenangan dan keselamatan shof umat. Islam sangat melarang tindakan sendiri-sendiri (anarkisme militer) yang tidak terkoordinasi, karena hal itu hanya akan menjadi santapan empuk bagi musuh. Alloh memerintahkan ketaatan kepada pemimpin selama tidak dalam kemaksiatan:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul, serta Ulil Amri (pemimpin) di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59)

Ketaatan kepada pemimpin di masa perang adalah bentuk ibadah yang menjaga keutuhan umat. Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi , beliau bersabda:

«السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ»

“Wajib bagi setiap Muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika diperintahkan untuk berbuat maksiat. Jika diperintahkan berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhori no. 7144 dan Muslim no. 1839)

Seorang pemimpin berfungsi sebagai perisai tempat umat berlindung dan mengatur strategi menghadapi kekuatan Yahudi-Amerika dkk. Tanpa pemimpin, Jihad akan kehilangan arah dan mudah disusupi oleh kepentingan asing atau paham ekstrem. Dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

“Sungguh, seorang Imam (pemimpin) itu adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung.” (HR. Al-Bukhori no. 2957 dan Muslim no. 1841)

Ulama Salaf seperti Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa hidup enam puluh tahun di bawah pemimpin yang zholim lebih baik daripada hidup satu malam tanpa pemimpin. Hal ini dikarenakan dalam kondisi perang, perpecahan adalah kehancuran yang nyata. Maka, sikap seorang Muslim jika terjadi perang adalah merapatkan barisan di bawah komando resmi pemerintah Muslim dan tidak bertindak di luar koordinasi yang ada.

3.3 Larangan Membunuh Wanita, Anak-anak, dan Merusak Fasilitas Umum

Salah satu perbedaan mendasar antara Jihad Islam dengan peperangan moderen yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam adalah etika berperang. Islam melarang keras pembunuhan massal yang tidak pandang bulu (genosida) sebagaimana yang dilakukan oleh zionis terhadap rakyat Palestina. Islam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan bahkan di medan pertempuran. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾

“Dan janganlah kalian melampaui batas. Sungguh, Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqoroh: 190)

Rosululloh memberikan instruksi yang sangat rinci kepada para komandan pasukan agar tidak menyakiti orang-orang yang tidak terlibat perang. Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

أَنَّ امْرَأَةً وُجِدَتْ فِي بَعْضِ مَغَازِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقْتُولَةً، «فَأَنْكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَتْلَ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ»

“Ditemukan seorang wanita terbunuh dalam salah satu peperangan Rosululloh , maka Rosululloh mengingkari (melarang keras) pembunuhan terhadap kaum wanita dan anak-anak.” (HR. Al-Bukhori no. 3014 dan Muslim no. 1744)

Selain itu, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Buroidah rodhiyallahu ‘anhu, Nabi selalu berpesan kepada para pemimpin pasukan:

«اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا، وَلَا تَغْدِرُوا، وَلَا تَمْثُلُوا، وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا»

“Berperanglah dan janganlah kalian berkhianat dalam pembagian rampasan perang, janganlah melanggar janji, janganlah memutilasi mayat, dan janganlah membunuh anak kecil.” (HR. Muslim no. 1731)

Para Kholifah setelah Nabi juga menekankan pentingnya menjaga alam dan fasilitas umum. Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H) pernah berpesan kepada pasukannya:

وَلاَ تَقْطَعَنَّ شَجَراً مُثْمِراً. وَلاَ تُخَرِّبَنَّ عَامِراً. وَلاَ تَعْقِرَنَّ شَاةً، وَلاَ بَعِيراً، إِلاَّ لِمَأْكُلَةٍ. وَلاَ تَحْرِقَنَّ نَخْلاً، وَلاَ تُغَرِّقَنَّهُ

“Jangan menebang pohon yang sedang berbuah, dan jangan menyembelih domba, sapi, atau unta kecuali untuk dimakan. Janganlah kalian menebang pohon kurma, jangan membakarnya.” (Al-Muwaththo, Malik bin Anas, 2/447)

Ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki perbaikan di bumi, bukan kerusakan, meskipun dalam keadaan perang besar. Sikap ini sangat kontras dengan taktik “bumi hangus” yang sering digunakan dalam Perang Dunia moderen.

3.4 Doa sebagai Senjata Utama Mu’min yang Tak Terkalahkan

Di tengah kecanggihan teknologi militer Amerika dkk, kaum Muslim memiliki satu senjata yang tidak dimiliki oleh orang-orang kafir, yaitu Doa. Doa bukan sekadar pelarian bagi orang lemah, melainkan bentuk pengakuan akan kekuasaan Alloh yang Maha Perkasa atas segala sebab materi. Sungguh, kemenangan tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah pasukan atau canggihnya rudal, melainkan oleh pertolongan dari langit. Alloh berfirman:

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾

“Dan Robb kalian berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagi kalian. Sungguh, orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (berdoa) akan masuk Jannah dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghofir: 60)

Dari Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ»

“Doa adalah ibadah itu sendiri.” (HSR. Abu Dawud no. 1479)

Sejarah mencatat bagaimana Nabi menghabiskan malam-malam menjelang Perang Badr dengan berdoa hingga selendang beliau terjatuh dari pundaknya. Beliau memohon pertolongan Alloh dengan sangat sungguh-sungguh karena menyadari bahwa tanpa pertolongan-Nya, umat Islam akan sirna. Alloh mengabadikan momen tersebut:

﴿إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ﴾

“(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Robb kalian, lalu diperkenankan-Nya bagi kalian: ‘Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut’.” (QS. Al-Anfal: 9)

Utsman bin Affan (35 H) dan para Shohabat lainnya selalu menggabungkan antara usaha fisik yang maksimal dengan doa yang terus menerus. Di masa fitnah dan perang besar, doa adalah tali pengikat hati agar tidak jatuh dalam keputusasaan. Rosululloh mengajarkan kita untuk selalu berlindung dari fitnah-fitnah yang menyesatkan. Doa kaum Muslim yang terzholimi di Palestina adalah senjata yang akan mengguncang Arsy. Nabi bersabda:

«وَاتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

“Waspadalah terhadap doa orang yang terzholimi, karena sungguh tidak ada penghalang antara doa itu dengan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 1496 dan Muslim no. 19)

Maka, jika Perang Dunia 3 benar-benar meletus, senjata pertama yang harus kita asah adalah hubungan kita dengan Alloh melalui Sholat dan Doa. Ini adalah kekuatan yang tidak bisa dideteksi oleh radar musuh dan tidak bisa ditangkis oleh sistem pertahanan udara mana pun di dunia.

 

Bab 4: Strategi dan Ikhtiar

4.1 Mempersiapkan Kekuatan Fisik dan Keterampilan Bertahan Hidup

Seorang Muslim tidak boleh hanya berpangku tangan menunggu keajaiban tanpa melakukan persiapan yang nyata. Perang Dunia 3 yang melibatkan teknologi canggih menuntut kita untuk memiliki fisik yang tangguh dan keterampilan bertahan hidup yang mumpuni. Alloh memerintahkan kita untuk mempersiapkan segala bentuk kekuatan guna menghadapi musuh-musuh-Nya. Alloh berfirman:

﴿وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ﴾

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Alloh dan musuh kalian.” (QS. Al-Anfal: 60)

Ayat ini mencakup segala bentuk kekuatan modern, baik itu persenjataan, keahlian strategi, maupun ketangkasan fisik. Rosululloh sangat mencintai orang Mu’min yang memiliki kekuatan jasmani yang didorong oleh kekuatan iman. Dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ»

“Mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Alloh daripada Mu’min yang lemah, namun pada keduanya tetap ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664)

Dalam menghadapi situasi darurat perang, keterampilan dasar seperti pengobatan pertama, navigasi, hingga kemampuan bela diri menjadi sangat krusial. Uqbah bin Amir rodhiyallahu ‘anhu berkata bahwa beliau mendengar Rosululloh bersabda di atas mimbar:

«أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ»

“Ketahuilah, sungguh kekuatan itu adalah memanah (melempar, membidik), ketahuilah sungguh kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah sungguh kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim no. 1917)

Di zaman sekarang, “memanah” bisa dimaknai sebagai penguasaan teknologi rudal, artileri, maupun keahlian menembak tepat. Persiapan fisik ini adalah bagian dari ketaatan kepada Alloh.

Siapa yang melatih badannya untuk ketaatan kepada Alloh, maka kekuatannya akan menjadi berkah baginya. Oleh karena itu, di tengah ancaman Perang Dunia, setiap Muslim harus mulai mendisiplinkan diri dengan olahraga yang bermanfaat dan mempelajari ilmu-ilmu bertahan hidup (survival) agar tidak menjadi beban bagi orang lain saat krisis melanda.

4.2 Ketahanan Pangan dan Ekonomi Mandiri di Masa Krisis

Salah satu dampak paling nyata dari peperangan besar adalah keruntuhan sistem ekonomi global dan kelangkaan pangan. Bergantung sepenuhnya pada produk luar negeri atau sistem perbankan ribawi yang rapuh adalah tindakan yang sangat berisiko. Umat Islam harus mulai membangun kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan berbasis komunitas. Alloh telah memberikan contoh melalui kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam mengatur logistik menghadapi musim paceklik yang panjang:

﴿قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ﴾

“Yusuf berkata: ‘Supaya kalian bercocok tanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kalian panen hendaklah kalian biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kalian makan’.” (QS. Yusuf: 47)

Strategi menyimpan cadangan makanan adalah Sunnah yang dilakukan oleh Rosululloh untuk menjamin kelangsungan hidup keluarganya. Dari Umar bin Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبِيعُ نَخْلَ بَنِي النَّضِيرِ، وَيَحْبِسُ لِأَهْلِهِ قُوتَ سَنَتِهِمْ»

“Sungguh Nabi pernah menjual hasil kebun kurma Bani Nadhir (milik beliau), dan beliau menyimpan untuk keluarganya persediaan makanan selama setahun.” (HR. Al-Bukhori no. 5357 dan Muslim no. 1757)

Dalam kondisi perang, inflasi akan melonjak dan mata uang kertas mungkin tidak lagi berharga. Kembali kepada aset yang memiliki nilai intrinsik seperti emas (Dinar) dan perak (Dirham) serta mengelola lahan pertanian secara mandiri adalah usaha moderen yang selaras dengan bimbingan wahyu. Nabi mengingatkan kita untuk menjauhi sikap boros dan selalu bersiap menghadapi masa sulit. Beliau bersabda dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu:

«إنْ قَامَت السَّاعةُ وَفِي يَد أَحَدِكُم فَسِيلةٌ، فَإنْ استَطاعَ أنْ لَا تَقُومَ حَتى يَغرِسَهَا فَليَغِرسْهَا»

“Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, maka jika dia mampu untuk tidak berdiri sampai dia menanamnya, hendaklah dia menanamnya.” (HSR. Al-Bukhori dalam Al-Adab Al-Mufrod no. 479)

Ini adalah dorongan untuk tetap produktif meski di ambang kehancuran dunia. Membangun lumbung pangan di lingkungan Masjid atau komunitas Muslim terkecil akan menjadi benteng pertahanan dari senjata kelaparan yang sering digunakan musuh untuk menundukkan umat Islam.

4.3 Literasi Informasi dan Menangkal Propaganda Musuh

Perang Dunia 3 tidak hanya terjadi di medan tempur fisik, tetapi juga di ruang digital melalui penyebaran berita bohong (hoaks) dan propaganda untuk menjatuhkan mental kaum Muslim. Musuh-musuh Islam sangat ahli dalam memutarbalikkan fakta. Maka, literasi informasi dan sikap tabayyun (verifikasi) adalah kewajiban syar’i agar kita tidak termakan oleh tipu daya mereka. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” (QS. Al-Hujurot: 6)

Menyebarkan setiap berita yang masuk ke ponsel kita tanpa tahu kebenarannya adalah tindakan yang sangat berbahaya di masa perang. Rosululloh memperingatkan tentang dosa seseorang yang hanya menjadi corong berita tanpa saringan. Dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»

“Cukuplah seseorang dianggap sebagai pendusta apabila dia menceritakan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqoddimah Shohih-nya no. 5)

Propaganda musuh seringkali bertujuan untuk menimbulkan kegaduhan dan memecah belah shof umat. Kita harus memiliki ketahanan mental agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang dibangun oleh media-media Barat maupun faksi yang tidak sejalan dengan aqidah Salaf. Ingatlah sabda Nabi mengenai fitnah yang membuat seseorang menjadi bingung, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu:

«سَتَكُونُ فِتَنٌ القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ، وَالقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ المَاشِي، وَالمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي»

“Akan terjadi fitnah-fitnah; orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.” (HR. Al-Bukhori no. 3601 dan Muslim no. 2886)

Maksudnya adalah semakin seseorang menjauhkan diri dari sumber fitnah dan kegaduhan, maka itu lebih selamat baginya. Fokuslah pada informasi yang bersumber dari para ulama yang terpercaya dan pemimpin Muslim yang amanah, serta gunakan media sosial sebagai sarana untuk menguatkan iman, bukan menyebarkan kepanikan.

4.4 Membangun Komunitas Muslim yang Solid dan Saling Tolong-menolong

Ketika tatanan dunia runtuh akibat perang, keselamatan individu sangat sulit dicapai. Islam menekankan pentingnya ukhuwah dan persatuan dalam satu jamaah. Saling tolong-menolong di antara sesama Muslim bukan lagi sekadar anjuran, melainkan syarat untuk bertahan hidup di tengah badai fitnah. Alloh berfirman:

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imron: 103)

Dalam kondisi perang, tetangga dan saudara seiman adalah kerabat terdekat kita. Kita harus membangun sistem keamanan lingkungan dan saling mencukupi kebutuhan pokok di antara sesama. Rosululloh memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang solidaritas seorang Mu’min. Dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

“Seorang Mu’min bagi Mu’min lainnya adalah ibarat bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Al-Bukhori no. 481 dan Muslim no. 2585)

Saling membantu orang yang kesulitan di masa krisis akan mendatangkan pertolongan Alloh yang sangat besar. Dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ»

“Dan Alloh senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

Membangun komunitas yang solid berarti kita harus membuang jauh-jauh sikap egois. Di masa Perang Dunia, setiap kelebihan makanan, obat-obatan, maupun informasi harus dibagikan demi kemaslahatan bersama. Kita meneladani kaum Anshor yang mendahulukan kepentingan kaum Muhajirin meskipun mereka sendiri dalam keadaan sulit. Alloh memuji mereka:

﴿وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ﴾

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri sedang dalam kesulitan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Umat Islam harus menjadi satu tubuh yang kokoh. Jika satu bagian tersakiti, bagian lain merasakan perihnya. Dengan kesolidan ini, ancaman dari Yahudi-Amerika dkk atau faksi-faksi zholim lainnya tidak akan mudah merobohkan benteng keimanan dan sosial kita.

 

Bab 5: Peran Keluarga dan Pendidikan Anak di Masa Darurat

5.1 Menjaga Aqidah Keluarga dari Pemikiran Menyimpang

Di tengah kemelut perang yang melanda dunia, benteng pertahanan terakhir bagi umat Islam adalah keluarga. Seorang kepala keluarga memikul tanggung jawab yang sangat berat untuk memastikan bahwa anggota keluarganya tetap berada di atas aqidah yang lurus sesuai pemahaman para Salaf. Ketika fitnah peperangan berkecamuk, seringkali muncul berbagai pemikiran menyimpang, baik yang bersifat ekstrem dan melampaui batas (ghuluw) maupun yang bersifat melemahkan semangat iman. Alloh memberikan peringatan keras kepada setiap orang Mu’min untuk menjaga diri dan keluarganya:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api Naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Menjaga keluarga di masa perang bukan hanya sekadar memberikan perlindungan fisik dan makanan, melainkan menjaga agar hati mereka tidak terasuki oleh keraguan atau paham-paham yang dapat merusak iman. Setiap orang adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi , beliau bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang Imam (penguasa) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)

Mendidik anak dengan aqidah yang benar adalah bentuk pemberian yang paling utama dari orang tua. Di masa Perang Dunia, anak-anak harus diajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Alloh. Mereka harus dijauhkan dari pemikiran yang menggantungkan rasa takut atau harapan kepada kekuatan rudal dan bom musuh, melainkan hanya kepada Alloh semata.

Sungguh, jika aqidah keluarga sudah kokoh, maka guncangan sebesar apa pun dari dunia luar tidak akan mampu merobohkan ketenangan batin mereka. Kita harus waspada terhadap gerakan-gerakan yang memanfaatkan situasi perang untuk menyebarkan kebencian kepada sesama Muslim atau mengajak pada pemberontakan yang tidak syar’i. Ingatlah sabda Nabi mengenai pentingnya menjaga ketaatan dan keutuhan di tengah kekacauan, dari Hudzaifah bin Al-Yaman rodhiyallahu ‘anhu:

«تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ»

“Hendaklah kamu tetap bersama jamaah kaum Muslim dan pemimpin mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 3606 dan Muslim no. 1847)

5.2 Pendidikan Mental bagi Generasi Muda Muslim

Anak-anak dan pemuda Muslim harus dididik memiliki mentalitas yang tangguh dan pemberani, bukan generasi yang lembek dan penakut (pengecut). Di masa perang, ketahanan mental sangat dipengaruhi oleh sedalam apa pemahaman mereka terhadap konsep takdir dan kehidupan Akhiroh. Alloh memerintahkan kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita:

﴿وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا﴾

“Dan hendaklah takut (kepada Alloh) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Alloh dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)

Pendidikan mental dimulai dengan menanamkan keberanian membela kebenaran sejak dini. Kita meneladani bagaimana Rosululloh mendidik Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma yang saat itu masih belia dengan kalimat-kalimat yang menggetarkan jiwa. Nabi bersabda:

«يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ»

“Wahai anak muda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Alloh, niscaya Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kamu memohon, mohonlah kepada Alloh, dan jika kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Sejarah mencatat keberanian luar biasa dari anak-anak muda di zaman Nabi , seperti Mu’awwidh dan Mu’adz yang dengan gagah berani mencari Abu Jahl di medan Badr demi membela kehormatan Rosululloh . Generasi muda kita saat ini harus diajarkan bahwa kematian di jalan Alloh adalah sebuah kemuliaan yang dirindukan, bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan. Alloh berfirman tentang sifat orang-orang yang dicintai-Nya:

﴿يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ﴾

“Mereka berjihad di jalan Alloh, dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela.” (QS. Al-Maidah: 54)

Orang tua harus membiasakan anak-anak dengan kisah-kisah kepahlawanan para Shohabat dan menjauhkan mereka dari tontonan atau hiburan yang melemahkan mental mereka. Di masa krisis, seorang pemuda Muslim harus siap menjadi pelindung bagi keluarganya dan pembela bagi agamanya. Malik bin Anas (179 H) menekankan bahwa para Salaf mendidik anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar sebagaimana mereka mengajarkan satu surat dari Al-Qur’an. Ini adalah cara membangun identitas dan kekuatan mental yang kokoh.

5.3 Masjid sebagai Pusat Komando dan Edukasi Umat

Ketika terjadi situasi darurat perang, Masjid harus dikembalikan fungsinya sebagaimana di zaman Rosululloh , yakni sebagai pusat segala aktivitas umat, baik edukasi, bantuan sosial, maupun koordinasi keamanan. Masjid bukan hanya tempat untuk Sholat, tetapi juga tempat di mana kebenaran disampaikan dan strategi keselamatan umat dirumuskan. Alloh berfirman mengenai pentingnya memakmurkan Masjid dengan ketaatan:

﴿إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ﴾

“Sungguh yang memakmurkan Masjid-Masjid Alloh hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, serta tetap mendirikan Sholat, menunaikan Zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Alloh. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

Di masa perang, Masjid harus menjadi tempat yang paling aman bagi kaum Muslim. Di sanalah ilmu syar’i disebarkan untuk menenangkan hati yang gundah. Dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Alloh (Masjid) untuk membaca Kitabulloh dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi oleh rohmat, para Malaikat akan mengelilingi mereka, dan Alloh akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2699)

Utsman (35 H) dan para Shohabat lainnya menjadikan Masjid sebagai tempat untuk bermusyawarah dalam urusan-urusan besar negara dan perang. Masjid juga berfungsi sebagai lumbung logistik dan tempat pertolongan pertama bagi mereka yang terluka. Dengan menjadikan Masjid sebagai pusat komando, umat Islam akan memiliki kesatuan gerak dan informasi yang valid di bawah bimbingan para ulama dan pemimpin yang bertaqwa.

Siapa yang berpaling dari Masjid di masa fitnah, maka dia akan mudah terseret oleh arus informasi yang menyesatkan. Kita harus menghidupkan kembali ruh Masjid sebagai tempat yang menyatukan hati-hati kaum Muslim. Alloh berfirman:

﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ۝ رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾

“Bertasbihlah kepada Alloh di Masjid-Masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Alloh, dan (dari) mendirikan Sholat, dan (dari) membayarkan Zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 36-37)

Demikianlah, dengan memperkuat peran keluarga dan mengembalikan fungsi Masjid, umat Islam akan memiliki ketahanan yang luar biasa menghadapi dampak buruk dari Perang Dunia 3.

 

Penutup

Sebagai penghujung dari seluruh rangkaian bahasan dalam buku ini, kita menyadari bahwa setiap peristiwa besar di atas muka bumi, termasuk bayang-bayang Perang Dunia 3, berada di bawah kendali penuh Alloh yang Maha Perkasa. Seorang Muslim tidaklah hidup dalam ketakutan yang melumpuhkan, melainkan hidup dalam kewaspadaan yang dibalut dengan ketenangan iman. Keyakinan kita adalah bahwa kemenangan hakiki hanya milik Alloh dan orang-orang yang bertaqwa. Alloh telah menetapkan janji-Nya yang tidak akan pernah diingkari bagi hamba-hamba-Nya yang teguh berdiri di atas kebenaran:

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا﴾

“Sungguh Alloh telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang mengerjakan amal sholih, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada menyekutukan sesuatu pun dengan Aku.” (QS. An-Nur: 55)

Perang, kehancuran ekonomi, dan fitnah yang melanda hanyalah sarana bagi Alloh untuk menyaring siapa di antara kita yang benar-benar jujur imannya. Kita diperintahkan untuk tetap tegar dan tidak merasa rendah di hadapan kekuatan materi musuh seperti Yahudi-Amerika dkk, karena kemuliaan itu hanyalah milik Alloh. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾

“Janganlah kalian merasa lemah dan janganlah kalian bersedih hati, karena kalianlah orang-orang yang paling tinggi kedudukannya jika kalian benar-benar beriman.” (QS. Ali ‘Imron: 139)

Dalam menghadapi segala kemungkinan terburuk, jalan keluar utama adalah kembali kepada Alloh dengan taubat yang tulus (taubatan nashuha). Tidak ada musibah yang turun kecuali karena dosa, dan tidak ada musibah yang diangkat kecuali dengan taubat. Alloh menyeru kita:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang semurni-murninya (tulus). Mudah-mudahan Robb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam Jannah-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8)

Kita harus optimis melihat masa depan Islam. Meskipun hari ini umat terlihat tertekan oleh kezholiman global di Palestina dan wilayah lainnya, namun fajar kemenangan pasti akan menyingsing. Rosululloh telah memberikan kabar gembira bahwa agama ini akan masuk ke setiap sudut bumi. Dari Tamim Ad-Dari rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَلَا يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّينَ، بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ، عِزًّا يُعِزُّ اللهُ بِهِ الْإِسْلَامَ، وَذُلًّا يُذِلُّ اللهُ بِهِ الْكُفْرَ»

“Sungguh urusan (agama) ini akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Alloh tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik di kota maupun di desa, melainkan Alloh akan memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan kemuliaan bagi orang yang mulia atau kehinaan bagi orang yang hina. Kemuliaan yang dengannya Alloh memuliakan Islam, dan kehinaan yang dengannya Alloh menghinakan kekufuran.” (HSR. Ahmad no. 16957)

Optimisme ini didasarkan pada janji Alloh yang tidak akan membiarkan hamba-Nya yang beriman sendirian dalam kepungan musuh. Alloh menegaskan dukungan-Nya:

﴿إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَفْهَادُ﴾

“Sungguh Kami benar-benar menolong Rosul-Rosul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi (Hari Kiamat).” (QS. Ghofir: 51)

Seorang Muslim yang cerdas akan menggunakan waktu yang tersisa sebelum meletusnya huru-hara besar untuk memperbaiki hubungan dengan Alloh dan sesama manusia. Jika Perang Dunia benar-benar terjadi, biarlah ia mendapati kita dalam keadaan sedang menegakkan Sholat, menunaikan Zakat, menjalin ukhuwah, dan membela keadilan. Nabi mengingatkan kita untuk bersegera dalam beramal sholih:

«بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ سَبْعًا هَلْ تُنْظَرُونَ إِلَّا إِلَى فَقْرٍ مُنْسٍ، أَوْ غِنًى مُطْغٍ، أَوْ مَرَضٍ مُفْسِدٍ، أَوْ هَرَمٍ مُفَنِّدٍ، أَوْ مَوْتٍ مُجْهِزٍ، أَوِ الدَّجَّالِ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ، أَوِ السَّاعَةِ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ»

“Segeralah beramal sebelum datangnya tujuh perkara: Apakah kalian menunggu kemiskinan yang melupakan, kekayaan yang menyesatkan, sakit yang merusak, masa tua yang melemahkan, kematian yang mendadak, ataukah Dajjal yang merupakan seburuk-buruk perkara ghaib yang dinanti, ataukah Hari Kiamat, padahal Hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit?” (HR. At-Tirmidzi no. 2306, beliau berkata: Hadits Hasan)

Bekal terbaik bagi seorang musafir yang akan menempuh perjalanan jauh menuju Akhiroh adalah ketaqwaan, apalagi ketika perjalanan itu harus melewati badai peperangan. Maka, siapa yang mempersiapkan diri dengan ketaqwaan, dia tidak akan pernah merugi. Alloh berfirman:

﴿فَإِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ﴾

“Sungguh Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)

Ketahuilah bahwa bumi ini milik Alloh, dan Dia akan memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana ucapan Nabi Musa ‘alaihissalam kepada kaumnya:

﴿قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ﴾

“Musa berkata kepada kaumnya: ‘Mohonlah pertolongan kepada Alloh dan bersabarlah; sungguh bumi ini milik Alloh, diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa’.” (QS. Al-A’rof: 128)

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa membasahi lisan kita dengan doa agar Alloh menjaga keimanan kita dan memberikan keselamatan bagi kaum Muslim yang tertindas. Kita berlindung kepada Alloh dari segala fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. Nabi bersabda dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ»

“Berlindunglah kalian kepada Alloh dari berbagai fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.” (HR. Muslim no. 2867)

Semoga Alloh menjadikan kita termasuk golongan yang teguh (tsabit) saat guncangan melanda, dan menjadikan setiap usaha kita sebagai pemberat timbangan kebaikan di Akhiroh. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۝ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ۝ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Maha Suci Robb-mu, Robb yang memiliki kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rosul. Dan segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.” (QS. Ash-Shoffat: 180-182)[NK]


Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url