[PDF] Jika Terjadi Perang Dunia 3, Aku Akan... - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji hanya milik Alloh, Robb semesta alam, yang
dengan rohmat-Nya menyinari hati orang-orang Mu’min dan dengan keadilan-Nya
menghancurkan para pelaku kezholiman.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi
kita, Muhammad ﷺ,
yang diutus sebagai rohmat bagi semesta alam, juga kepada keluarga beliau, para
Shohabat, dan para Tabi’in yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari
Akhiroh.
Amma ba’du:
Dunia hari ini (Maret 2026 / Romadhon 1447 H) sedang berada di persimpangan
jalan yang sangat genting. Kabut asap peperangan seakan mulai menyelimuti ufuk,
sementara dentuman meriam dan jeritan kaum tertindas di bumi Palestina terus
memanggil nurani umat. Ketegangan geopolitik yang melibatkan faksi besar
seperti Iran di satu sisi, serta Israel (Yahudi) yang didukung penuh oleh kekuatan Amerika dkk di sisi
lain, bukan sekadar urusan perebutan wilayah atau sumber daya. Bagi seorang
Muslim yang memahami bimbingan wahyu, ini adalah bagian dari rangkaian ujian
besar yang telah dikabarkan oleh Rosululloh ﷺ. Kita melihat bagaimana negara-negara besar berkumpul dan
bersekutu untuk memojokkan umat Islam, persis seperti yang digambarkan dalam
sabda Nabi ﷺ dari Tsauban rodhiyallahu
‘anhu:
«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ
تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»، فَقَالَ قَائِلٌ:
وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ
غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ
مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ»، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»
“Hampir saja bangsa-bangsa lain mengerumuni kalian
sebagaimana orang-orang yang lapar mengerumuni nampan berisi makanan.”
Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu?” Beliau
menjawab, “Bahkan kalian saat itu jumlahnya banyak, namun kalian ibarat buih
di lautan. Sungguh, Alloh akan mencabut rasa segan dari hati musuh-musuh
kalian, dan Alloh akan menanamkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Seseorang
bertanya lagi, “Wahai Rosululloh, apa itu wahn?” Beliau menjawab, “Cinta
dunia dan takut mati.” (HSR. Abu Dawud no. 4297)
Kondisi ini menuntut kita untuk tidak hanya menjadi penonton
yang panik atau sekadar pengamat politik yang menebak-nebak masa depan. Kita
harus kembali kepada pegangan hidup yang abadi, yaitu Kitabulloh dan Sunnah
Nabi ﷺ sesuai pemahaman para
Salafush Sholih. Sungguh, tipu daya musuh setangguh apa pun tidak akan pernah
mampu mengalahkan makar Alloh yang Maha Perkasa. Alloh mengingatkan kita agar
jangan pernah merasa lemah atau berkecil hati menghadapi besarnya kekuatan
materi yang dimiliki oleh musuh-musuh Islam, sebagaimana firman-Nya:
﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا
وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
“Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih
hati, karena kalianlah orang-orang yang paling tinggi kedudukannya jika kalian
benar-benar beriman.” (QS. Ali ‘Imron: 139)
Gejolak perang yang melibatkan Palestina, Iran, dan
sekutu-sekutu Barat hari ini adalah pengingat bahwa ketentraman dunia ini
hanyalah sementara. Setiap Mu’min harus menyiapkan diri, baik secara mental,
keimanan, maupun usaha nyata yang dibenarkan oleh syariat. Kita tidak boleh
menutup mata terhadap usaha moderen dalam menjaga kedaulatan dan kekuatan,
namun sandaran utama tetaplah kepada Sang Kholiq. Alloh telah menegaskan bahwa makar kaum kafir setinggi apa
pun akan menemui kegagalan jika umat ini kembali kepada jalan-Nya:
﴿وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ
اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾
“Mereka merencanakan tipu daya, dan Alloh juga membalas
tipu daya mereka. Sungguh, Alloh adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS.
Al-Anfal: 30)
Buku ini disusun
untuk menjawab kegelisahan hati setiap Muslim: “Apa yang harus aku lakukan
jika Perang Dunia 3 benar-benar pecah?” Jawaban dari pertanyaan ini tidak
akan kita temukan di meja-meja runding para politisi yang haus kekuasaan,
melainkan dalam untaian ayat-ayat suci dan wejangan Nabawi. Kita harus memahami
bahwa setiap tetes darah yang tumpah di Gaza dan setiap jengkal tanah yang
dirampas adalah ujian bagi persaudaraan Islam kita. Nabi ﷺ bersabda dari Nu’man
bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu:
«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ
فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى
مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
“Perumpamaan orang-orang Mu’min dalam hal saling
mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah ibarat satu tubuh. Jika salah satu
anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya dengan
tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim no. 2586 dan Al-Bukhori no. 6011)
Maka, bekal utama kita adalah ketaqwaan dan kesabaran.
Tanpa keduanya, kepandaian strategi militer atau kecanggihan teknologi senjata
tidak akan memberikan kemenangan yang hakiki.
Kemenangan
itu turun bersama kesabaran, dan kelapangan itu hadir setelah kesempitan.
Kita tidak boleh terperangkap dalam keputusasaan melihat
zholimnya kekuatan musuh, karena Alloh tidak pernah lalai terhadap apa yang
mereka perbuat:
﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ
غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ
فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾
“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa Alloh lalai
dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zholim. Sungguh, Alloh hanya
menangguhkan mereka sampai hari di mana mata-mata terbelalak (karena melihat
kedahsyatan adzab).” (QS. Ibrohim: 42)
Melalui risalah sederhana ini, kita akan membedah langkah
demi langkah sikap yang harus diambil. Mulai dari pembersihan aqidah dari
ketergantungan kepada makhluk, hingga langkah praktis dalam menyiapkan
ketahanan pangan, mental, dan keamanan keluarga. Kita diajarkan oleh para Salaf
untuk selalu siap siaga namun tetap tenang, bertawakkal namun tetap berikhtiar.
Sebagaimana pesan Rosululloh ﷺ
kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma:
«وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ
لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ
قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ
يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ
وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»
“Ketahuilah, sekiranya seluruh umat manusia bersatu untuk
memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan
sesuatu yang telah Alloh tetapkan bagimu. Dan sekiranya mereka bersatu untuk
mencelakakanmu, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang
telah Alloh tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran
telah kering.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2516)
Inilah pondasi kita. Di tengah ancaman perang besar yang
mungkin melibatkan senjata-senjata pemusnah massal dan keruntuhan ekonomi
global, seorang Muslim tetap tegak berdiri. Dia tahu bahwa hidup dan matinya
hanyalah untuk Alloh dan
terserah Alloh, Robb semesta alam. Dia tidak gentar oleh gertakan
manusia karena dia memiliki pelindung yang Maha Kuat. Alloh berfirman tentang
sikap para Shohabat saat menghadapi kepungan musuh yang jumlahnya berkali-kali
lipat:
﴿الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ
النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا
وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾
“Yaitu orang-orang (Shohabat dalam perang Ahzab) yang
ketika ada orang-orang (munafiq) berkata kepada mereka: ‘Sungguh, orang-orang
(musuh) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada
mereka’, maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka
menjawab: ‘Cukuplah Alloh bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung’.”
(QS. Ali ‘Imron: 173)
Semoga tulisan ini menjadi panduan bagi kita semua agar
tidak terombang-ambing dalam badai fitnah yang sedang melanda dunia. Kita
memohon kepada Alloh keselamatan bagi kaum Muslim di Palestina dan di seluruh
penjuru bumi, serta keteguhan iman saat menghadapi hari-hari yang penuh
kegoncangan. Sungguh, hanya kepada Alloh kita memohon pertolongan dan hanya
kepada-Nya kita kembali.
Bab 1: Membedah Akar dan Peta
Konflik Global
1.1
Palestina dan Konspirasi Global
Dunia hari
ini menyaksikan pemandangan yang menyayat hati di bumi yang diberkahi,
Palestina. Penindasan yang dilakukan oleh entitas zionis bukan sekadar perselisihan
wilayah, melainkan bentuk kezholiman nyata yang didukung oleh kekuatan besar
dunia. Amerika dkk terus menyokong persenjataan dan perlindungan politik bagi Yahudi
Israel, sementara darah kaum Muslim tertumpah tanpa henti. Kondisi ini adalah
perwujudan dari peringatan Alloh tentang permusuhan abadi yang dilancarkan oleh
mereka yang tidak ridho terhadap Islam. Alloh berfirman:
﴿وَلَنْ
تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ﴾
“Orang-orang
Yahudi dan Nasroni tidak akan pernah ridho kepadamu sampai kamu mengikuti agama
mereka.” (QS.
Al-Baqoroh: 120)
Kezholiman
yang kita lihat di Gaza dan sekitarnya adalah ujian bagi persatuan umat. Ketika
kekuatan global bersatu untuk menindas, mereka sebenarnya sedang menjalankan makar
untuk memadamkan cahaya Alloh. Namun, Alloh telah menjanjikan bahwa makar
mereka akan berbalik kepada mereka sendiri. Setiap jengkal tanah Palestina yang
dirampas adalah bukti nyata dari kebencian yang mendalam, sebagaimana Alloh
tegaskan:
﴿لَتَجِدَنَّ
أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا﴾
“Sungguh,
kamu akan dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap
orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Maidah: 82)
Dukungan
tanpa batas dari negara-negara Barat terhadap Yahudi menunjukkan adanya standar
ganda dalam kemanusiaan yang mereka gembor-gemborkan. Di balik diplomasi meja
makan, tersimpan konspirasi untuk melemahkan kekuatan kaum Muslim. Rosululloh ﷺ telah memberikan gambaran
tentang bagaimana musuh-musuh Islam saling memanggil untuk mengeroyok umat ini
dari berbagai penjuru, dari Tsauban rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«يُوشِكُ
الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»
“Hampir
saja bangsa-bangsa lain mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang lapar
mengerumuni nampan berisi makanan.” (HSR. Abu Dawud no. 4297)
Penderitaan
rakyat Palestina hari ini adalah bagian dari takdir
Alloh untuk menyaring siapa di antara hamba-Nya yang benar-benar berjihad
dengan harta dan jiwanya, serta siapa yang hanya pandai berucap tanpa tindakan
nyata. Kita tidak boleh lupa bahwa bumi Palestina adalah milik umat Islam, dan
setiap Muslim memikul tanggung jawab sesuai kemampuannya untuk menghentikan
tangan-tangan zholim tersebut.
1.2
Peran Iran dan Dinamika Kekuatan Regional
Di tengah
kemelut Palestina, peran Iran muncul sebagai kekuatan yang menambah rumit
konstelasi politik di Timur Tengah. Di satu sisi, Iran memposisikan diri
sebagai pembela Palestina, namun di sisi lain, terdapat perbedaan mendasar
dalam masalah aqidah menurut pandangan Salaf yang tidak boleh diabaikan.
Ketegangan antara Iran dan aliansi Yahudi-Amerika seringkali menyeret
negara-negara Muslim lainnya ke dalam pusaran konflik yang membingungkan.
Seorang
Muslim harus jeli melihat bahwa dalam pergolakan politik dunia, seringkali
terdapat kepentingan kelompok yang diselipkan di balik jargon agama. Kita
diperintahkan untuk waspada terhadap segala bentuk fitnah yang dapat memecah
belah shof kaum Muslim. Alloh memperingatkan tentang adanya golongan yang
mengaku beriman namun tindakan mereka justru menimbulkan kerusakan:
﴿وَإِذَا
قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ
لَا يَشْعُرُونَ﴾
“Dan
apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di muka
bumi’, mereka menjawab: ‘Sungguh, kami adalah orang-orang yang melakukan
perbaikan’. Ingatlah, sungguh merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka
tidak menyadarinya.”
(QS. Al-Baqoroh: 11-12)
Dinamika
antara Iran, Yahudi, dan Amerika dkk menciptakan situasi yang menyerupai “perang
proksi” di mana wilayah-wilayah Muslim menjadi medan tempurnya. Kita harus
berhati-hati agar tidak terjebak dalam mendukung agenda yang sebenarnya jauh
dari kemurnian tauhid. Para ulama Salaf selalu menekankan pentingnya kejernihan
dalam ber-wala’ (loyal) dan ber-bara’ (berlepas diri). Jangan
sampai kebencian kita kepada satu kaum membuat kita tidak berlaku adil atau
justru terjerumus dalam lubang fitnah yang lain.
Nabi ﷺ telah memperingatkan akan
datangnya masa di mana fitnah begitu pekat seperti potongan malam yang gelap,
dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:
«بَادِرُوا
بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا
وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ
بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»
“Segeralah
beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap
gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan Mu’min, namun di sore hari menjadi
kafir. Atau di sore hari dia Mu’min, namun di pagi hari menjadi kafir. Dia
menjual agamanya demi kesenangan dunia.” (HR. Muslim no. 118)
Oleh karena
itu, dalam menyikapi peran Iran dan faksi-faksi lainnya, timbangan kita adalah
Al-Qur’an dan Sunnah. Kita mendukung setiap usaha nyata untuk membebaskan tanah
Muslim dari penjajahan, namun kita tetap menjaga jarak dari penyimpangan aqidah
yang dapat merusak amal perbuatan. Kehati-hatian dalam mengambil sikap di
tengah benturan kepentingan global adalah bagian dari hikmah yang diajarkan
oleh Islam.
Menunggu
fatwa ulama kibar adalah jalan paling aman dalam menyikapi konflik
internasional. Banyak diam dari menilai tetapi banyak mendoakan kebaikan serta
membantu dengan harta dan apa yang mampu dengan ketelitian dan kehati-hatian.
1.3
Isyarat Nubuwwah tentang Perang Besar (Al-Malhamah Al-Kubro)
Eskalasi
konflik yang kita saksikan hari ini seringkali dikaitkan dengan nubuwwah
Rosululloh ﷺ
mengenai perang besar di akhir zaman yang dikenal sebagai Al-Malhamah Al-Kubro.
Hadits-hadits Nabi ﷺ
telah memberikan peta jalan bagi umat agar tidak tersesat saat peperangan
dahsyat itu meletus. Peperangan ini melibatkan persatuan bangsa-bangsa melawan
kaum Muslim, yang kemudian diakhiri dengan kemenangan bagi mereka yang teguh di
atas kebenaran.
Dari Mu’adz
bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«عُمْرَانُ
بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَرَابُ يَثْرِبَ، وَخَرَابُ يَثْرِبَ خُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ، وَخُرُوجُ
الْمَلْحَمَةِ فَتْحُ قُسْطَنْطِينِيَّةَ، وَفَتْحُ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ خُرُوجُ
الدَّجَّالِ»
“Makmurnya
Baitul Maqdis adalah tanda runtuhnya Yatsrib (Madinah), runtuhnya Yatsrib
adalah tanda keluarnya Al-Malhamah (perang besar), keluarnya Al-Malhamah adalah
tanda penaklukan Konstantinopel, dan penaklukan Konstantinopel adalah tanda
keluarnya Dajjal.” (HHR.
Abu Dawud no. 4294)
Hadits ini
menunjukkan adanya kaitan erat antara kondisi di Palestina (Baitul Maqdis)
dengan peristiwa-peristiwa besar dunia. Perang Dunia 3, jika memang itu yang
dimaksud dalam nubuwwah, bukanlah sekadar peperangan fisik, melainkan
pertarungan antara keimanan dan kekufuran. Alloh telah menetapkan bahwa bumi
ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang sholih meskipun musuh-musuh
Islam mengerahkan seluruh kekuatan teknologi mereka. Alloh berfirman:
﴿وَلَقَدْ
كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ
الصَّالِحُونَ﴾
“Dan
sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauhul
Mahfuzh, bahwasanya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang sholih.” (QS. Al-Anbiya: 105)
Dalam
Al-Malhamah Al-Kubro, kaum Muslim akan menghadapi ujian yang sangat berat.
Namun, pertolongan Alloh hanya akan datang jika umat ini kembali kepada
kemurnian agama. Kita diingatkan untuk tidak sekadar menanti datangnya hari itu
tanpa persiapan iman yang matang. Sebab, pada saat itu, tidak ada lagi tempat
bergantung kecuali hanya kepada Alloh semata. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa pusat
kekuatan kaum Muslim saat perang besar itu berada di wilayah Syam, dari Abu
Darda (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
فُسْطَاطَ الْمُسْلِمِينَ يَوْمَ الْمَلْحَمَةِ بِالْغُوطَةِ، إِلَى جَانِبِ مَدِينَةٍ
يُقَالُ لَهَا: دِمَشْقُ، مِنْ خَيْرِ مَدَائِنِ الشَّامِ»
“Sungguh,
pusat kekuatan kaum Muslim pada hari Al-Malhamah (perang besar) adalah di
Al-Ghoutoh, di samping kota yang bernama Damaskus, yang merupakan kota terbaik
di Syam.” (HSR.
Abu Dawud no. 4298)
1.4
Fitnah Akhir Zaman dan Pentingnya Ilmu
Saat
kekacauan merajalela dan informasi simpang siur, ilmu syar’i adalah pelindung
yang menjaga seorang Muslim dari ketergelinciran. Tanpa ilmu, seseorang akan
mudah terombang-ambing oleh propaganda musuh atau terjatuh ke dalam sikap
ekstrem yang merugikan Islam. Perang Dunia 3 bukan hanya perang senjata, tapi
juga perang pemikiran dan informasi. Oleh karena itu, menuntut ilmu tentang
bagaimana bersikap di masa fitnah adalah kewajiban yang mendesak.
Alloh
membedakan kedudukan orang yang berilmu dengan orang yang jahil, terutama dalam
situasi genting:
﴿قُلْ
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ
أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
“Katakanlah:
‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?’ Sungguh, hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran.” (QS.
Az-Zumar: 9)
Ulama-ulama
Robbani adalah tempat kita merujuk saat terjadi kemelut besar. Mereka memiliki bashiroh
(pandangan hati yang tajam) yang dibimbing oleh wahyu untuk melihat hakikat
dari sebuah peristiwa. Di masa perang, satu fatwa yang salah bisa menyebabkan
tumpahnya darah ribuan orang. Nabi ﷺ memperingatkan bahwa dicabutnya ilmu melalui wafatnya para
ulama akan membawa manusia pada kesesatan, dari Abdullah bin Amr bin Ash rodhiyallahu
‘anhuma, Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ
يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ
النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»
“Sungguh,
Alloh tidak mencabut ilmu dengan sekali cabut dari hati para hamba, namun Dia
mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sampai jika tidak tersisa lagi
seorang alim pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka
ditanya, lalu memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 100 dan
Muslim no. 2673)
Ilmu yang
kita butuhkan hari ini bukan sekadar pengetahuan teori, melainkan ilmu yang
membuahkan amal dan ketenangan jiwa. Dengan ilmu, kita tahu kapan harus maju
dan kapan harus menahan diri. Kita tahu mana yang merupakan Jihad syar’i dan
mana yang merupakan tindakan nekad yang sia-sia.
Ilmu
adalah cahaya yang dengannya seorang hamba berjalan di tengah kegelapan fitnah.
Maka,
setiap Muslim wajib membekali dirinya dengan pemahaman tentang aqidah yang
benar, kaidah-kaidah syariat dalam menghadapi musuh, serta pemahaman terhadap
realita dunia dengan kacamata iman. Hanya dengan ilmu kita bisa selamat dari
kepungan fitnah akhir zaman yang menyesatkan ini.
Bab 2: Sikap Keimanan Menghadapi
Kegentingan
2.1
Tawakkal Bulat kepada Alloh di Tengah Dentuman Meriam
Di saat
situasi dunia mencekam dan bayang-bayang peperangan besar menyelimuti bumi,
pondasi utama yang harus kokoh dalam dada seorang Mu’min adalah tawakkal yang
murni kepada Alloh. Tawakkal bukan berarti diam berpangku tangan, melainkan
menyandarkan seluruh urusan hanya kepada Sang Pencipta setelah melakukan usaha
maksimal. Sungguh, ketenangan hati di tengah dentuman meriam dan ancaman senjata
pemusnah massal hanya bisa diraih jika seseorang yakin bahwa tidak ada satu pun
kejadian di alam semesta ini yang luput dari kehendak-Nya. Alloh berfirman:
﴿وَمَنْ
يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ
اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا﴾
“Dan
siapa yang bertawakkal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sungguh, Alloh melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Alloh telah
mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Tholaq: 3)
Keyakinan
ini harus tertanam kuat bahwa nyawa dan rizki tidak berada di tangan kekuatan
adidaya mana pun, melainkan di tangan Alloh. Ketika tentara sekutu atau
kekuatan besar dunia menunjukkan kesombongannya, seorang Mu’min justru semakin
mendekat kepada Robb-nya. Inilah sifat orang-orang beriman yang dipuji oleh
Alloh dalam Al-Qur’an:
﴿إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ
عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾
“Sungguh,
orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,
bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Robb mereka sajalah mereka
bertawakkal.” (QS.
Al-Anfal: 2)
Rosululloh ﷺ memberikan gambaran betapa
dahsyatnya kekuatan tawakkal jika dilakukan dengan benar. Dari Umar bin
Khoththob rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا
يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»
“Sekiranya
kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya
Dia akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizki kepada
seekor burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di
sore hari dalam keadaan perut kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)
Dalam
konteks Perang Dunia, tawakkal berarti tidak gentar terhadap kecanggihan
teknologi musuh. Kita meneladani Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang saat
hendak dilemparkan ke dalam kobaran api yang dahsyat, beliau hanya mengucapkan
kalimat tauhid yang paling agung. Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma
berkata bahwa kalimat terakhir yang diucapkan Nabi Ibrohim ‘alaihissalam
saat dilempar ke api adalah:
«حَسْبُنَا
اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ»
“Cukuplah
Alloh bagiku, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.” (HR. Al-Bukhori no. 4563)
Tawakkal
adalah keridhoan hati terhadap apa yang telah ditetapkan Alloh, baik itu dalam
keadaan lapang maupun sempit. Di masa genting, siapa yang hatinya terpaut pada
berita-berita yang menakutkan tanpa sandaran iman, maka dia akan binasa dalam
kepanikan. Namun, siapa yang membangun benteng tawakkal, maka dia akan tetap
tenang meski bumi berguncang.
2.2
Menjauhi Sikap Tergesa-gesa (’Ajalah) dalam Mengambil Keputusan
Salah satu
fitnah terbesar saat terjadi kekacauan global adalah munculnya sikap
tergesa-gesa (‘ajalah). Banyak orang ingin segera bertindak,
berkomentar, atau bahkan terjun ke medan tempur tanpa pertimbangan syar’i yang
matang. Dalam manhaj Salaf, ketenangan (anah) dan kehati-hatian (ta’anni)
adalah sifat yang sangat dicintai oleh Alloh, terutama ketika urusan umat
sedang berada di ujung tanduk. Rosululloh ﷺ bersabda kepada Al-Asyajj bin Abdul Qois rodhiyallahu ‘anhu:
«إِنَّ
فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ، وَالْأَنَاةُ»
“Sungguh
dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Alloh, yaitu santun dan
tidak tergesa-gesa.”
(HR. Muslim no. 17)
Sifat
tergesa-gesa seringkali berasal dari dorongan nafsu atau bisikan syaithon yang
ingin menyeret umat Islam ke dalam kehancuran. Dari Anas bin Malik rodhiyallahu
‘anhu, Nabi ﷺ
bersabda:
«التَّأَنِّي
مِنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ»
“Ketenangan
itu datangnya dari Alloh, sedangkan tergesa-gesa itu datangnya dari setan.” (HR. Abu Ya’la no. 4256, dishohihkan
oleh Al-Albani)
Dalam
situasi perang, setiap langkah harus dipikirkan dampaknya bagi maslahat umat
yang lebih luas. Alloh melarang hamba-Nya untuk langsung menyebarkan setiap
kabar yang didengar tanpa diverifikasi oleh mereka yang memiliki otoritas ilmu
dan kepemimpinan. Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى
الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ
مِنْهُمْ﴾
“Dan
apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan,
mereka langsung menyiarkannya. Padahal, sekiranya mereka menyerahkannya kepada
Rosul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin
mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rosul dan Ulil
Amri).” (QS.
An-Nisa: 83)
Sikap
tergesa-gesa seringkali membuat seseorang kehilangan bashiroh (pandangan
jernih). Di zaman Perang Dunia yang penuh dengan propaganda digital, seorang
Muslim harus menahan diri dari menyebarkan berita yang belum tentu benar atau
mengambil tindakan sepihak yang bisa merusak strategi besar umat Islam.
Kesabaran dalam menanti arahan dari ulama kibar dan pemimpin Muslim adalah
kunci keselamatan. Jangan sampai karena dorongan emosi sesaat, kita justru
memberikan peluang bagi musuh untuk menghancurkan barisan kita dari dalam.
2.3
Memurnikan Wala’ dan Baro’ di Tengah Kepentingan Politik
Peperangan
global seperti yang melibatkan Palestina, Iran, Yahudi, dan Amerika dkk
seringkali mengaburkan batasan antara kawan dan lawan yang hakiki. Di sinilah
pentingnya memurnikan aqidah Wala’ (loyalitas) dan Baro’ (berlepas diri).
Seorang Mu’min wajib memberikan loyalitasnya hanya kepada Alloh, Rosul-Nya, dan
sesama orang beriman, serta berlepas diri dari kekufuran dan para pelakunya.
Alloh menegaskan:
﴿إِنَّمَا
وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ
وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ﴾
“Sungguh,
penolong kalian hanyalah Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang
mendirikan Sholat dan menunaikan Zakat, seraya mereka tunduk (kepada Alloh).” (QS. Al-Maidah: 55)
Dalam
konstelasi politik hari ini, kita harus waspada agar tidak terjebak membela
satu kelompok kafir untuk menghantam kelompok kafir lainnya secara membabi buta
tanpa prinsip yang jelas. Loyalitas kita kepada Palestina adalah loyalitas
karena persaudaraan iman dan kesucian bumi para Nabi, bukan karena kesamaan
ideologi politik semata. Alloh melarang kita mengambil musuh-musuh Islam
sebagai pelindung atau teman setia:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ
بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ
اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasroni menjadi pemimpin-pemimpin (kalian); sebagian mereka adalah pemimpin
bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi
pemimpin, maka sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh, Alloh tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim.” (QS. Al-Maidah: 51)
Prinsip Baro’
juga mengharuskan kita untuk waspada terhadap segala bentuk pemikiran yang
menyimpang dari manhaj Salaf, meskipun mereka mengatasnamakan pembelaan
terhadap Islam. Kita belajar dari sejarah para Shohabat rodhiyallahu ‘anhu
yang tetap teguh memegang prinsip meski dalam kondisi perang yang paling sulit.
Malik bin Anas (179 H) menekankan bahwa urusan umat ini tidak akan menjadi baik
kecuali dengan apa yang telah membuat baik urusan generasi awalnya.
Oleh karena
itu, di tengah isu Iran vs Yahudi-Amerika dkk, seorang Muslim harus menimbang
setiap dukungannya dengan timbangan syariat.
Kita
bersama barisan Iran karena mereka mendukung Palestina secara lahiriyah,
disertai waspada karena aqidah mereka (Syiah) yang rusak sangat memungkinkan
sandiwara dan permainan semata. Musuh dalam selimut.
Kita tidak
boleh mendukung kezholiman Yahudi, namun kita juga tidak boleh larut dalam
aqidah yang menyimpang hanya karena alasan politik praktis. Keberpihakan kita
adalah kepada kebenaran yang datang dari Alloh dan Rosul-Nya. Nabi ﷺ bersabda dari Abu Musa Al-Asy’ari
rodhiyallahu ‘anhu:
«الْمَرْءُ
مَعَ مَنْ أَحَبَّ»
“Seseorang
akan dikumpulkan bersama dengan orang yang ia cintai.” (HR. Al-Bukhori no. 6168 dan
Muslim no. 2640)
Maka,
pastikan cinta dan loyalitas kita hanya untuk mereka yang bertauhid dan
mengikuti Sunnah, sehingga kelak kita dikumpulkan bersama barisan para Nabi dan
Shohabat, bukan bersama barisan pelaku kemusyrikan atau ahli bid’ah.
2.4
Sabar dan Mengharap Pahala di Balik Musibah Perang
Jika
ketetapan Alloh mengharuskan kita melewati masa-masa kelam peperangan, maka
sabar adalah perisai yang paling ampuh. Sabar dalam Islam bukanlah sikap
menyerah tanpa usaha, melainkan keteguhan jiwa dalam menjalankan perintah Alloh
dan menahan diri dari apa yang dilarang-Nya di tengah ujian yang berat. Perang
membawa rasa takut, lapar, dan kehilangan, namun di baliknya terdapat pahala
yang tidak terbatas. Alloh berfirman:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا
لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾
“Dan
sungguh Kami akan memberikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar
gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa
musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un’ (Sungguh
kami adalah milik Alloh dan kepada-Nya lah kami kembali).” (QS. Al-Baqoroh: 155-156)
Setiap
kesulitan yang dialami seorang Mu’min di masa perang akan menjadi penggugur
dosa. Kelelahan, rasa cemas, hingga luka fisik sekalipun tidak akan sia-sia di
sisi Alloh. Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) dan Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu
‘anhuma, Nabi ﷺ
bersabda:
«مَا
يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى
وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»
“Tidaklah
seorang Muslim ditimpa rasa lelah, sakit, gelisah, sedih, gangguan, maupun
duka, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan menghapuskan
dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Al-Bukhori no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Kita harus
mencontoh kesabaran luar biasa dari para Shohabat dalam Perang Ahzab (Khondaq),
ketika mereka dikepung oleh pasukan sekutu dari berbagai arah hingga jantung
seakan naik ke kerongkongan. Alloh memuji keteguhan mereka:
﴿مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى
نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا﴾
“Di
antara orang-orang Mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Alloh (ingin mati syahid); maka di antara mereka ada
yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka
sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)
Mengharap
pahala (ihtisab) adalah kunci agar sabar tidak menjadi beban yang
menghancurkan mental. Seorang Muslim yang menghadapi Perang Dunia harus
menanamkan dalam dirinya bahwa jika dia hidup, dia hidup dalam kemuliaan iman,
dan jika dia wafat karena membela agamanya, maka Jannah telah menantinya.
Kematian adalah kepastian, namun mati di atas ketaatan saat fitnah melanda
adalah anugerah besar. Al-Qurthubi (671 H) menjelaskan bahwa kesabaran di masa
fitnah nilainya berlipat ganda karena beratnya beban jiwa yang ditanggung.
Sungguh, kemenangan itu datang bersama kesabaran, dan kemudahan datang setelah
kesulitan.
Bab 3: Fiqih Jihad dan Kaidah
Berperang dalam Islam
3.1
Syarat-syarat Jihad yang Syar’i
Ketika
Genderang perang dunia mulai ditabuh dan ancaman terhadap kedaulatan umat Islam
nyata di depan mata, maka memahami hukum Jihad menjadi kewajiban yang sangat
mendesak. Jihad bukan sekadar tindakan angkat senjata tanpa aturan, melainkan
ibadah yang memiliki syarat dan rukun yang ketat. Dalam pandangan Salaf, Jihad dilakukan
untuk meninggikan kalimat Alloh dan melindungi darah kaum Muslim. Alloh
berfirman:
﴿وَقَاتِلُوا
فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا
يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾
“Dan
perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah
kalian melampaui batas. Sungguh, Alloh tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas.” (QS.
Al-Baqoroh: 190)
Secara
umum, Jihad terbagi menjadi dua kondisi hukum. Pertama, Jihad Tholab (ofensif)
yang hukumnya fardu kifayah, dan kedua, Jihad Difa’ (defensif) yang hukumnya
menjadi fardu ‘ain ketika musuh telah menginjakkan kaki di negeri Muslim,
sebagaimana yang terjadi di Palestina hari ini. Alloh menegaskan kewajiban
berperang ketika umat diserang:
﴿أُذِنَ
لِلَّذِينَ يُقَاتِلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ﴾
“Diizinkan
(berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sungguh mereka telah
dizholimi. Dan sungguh, Alloh benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj: 39)
Syarat
utama Jihad adalah adanya niat yang ikhlas hanya karena Alloh. Dari Abu Musa
Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau ditanya tentang orang
yang berperang karena keberanian, karena fanatisme golongan, atau karena ingin
dipuji, manakah yang di jalan Alloh? Beliau bersabda:
«مَنْ
قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
“Siapa
yang berperang agar kalimat Alloh menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang
berada di jalan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 123 dan Muslim no. 1904)
Jihad
mensyaratkan adanya idzin dari orang tua jika Jihad tersebut bersifat sukarela
(fardu kifayah). Namun, jika musuh telah menyerang, maka kewajiban itu jatuh
kepada setiap orang yang mampu tanpa menunggu idzin siapa pun. Selain itu,
kemampuan fisik dan perbekalan juga menjadi pertimbangan syar’i agar Jihad
tidak menjadi tindakan sia-sia yang justru menghancurkan kekuatan umat. Alloh
berfirman:
﴿لَيْسَ
عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ﴾
“Tidak
ada dosa (karena tidak pergi berperang) bagi orang buta, tidak pula bagi orang
pincang, dan tidak pula bagi orang sakit.” (QS. Al-Fath: 17)
3.2
Ketaatan kepada Pemimpin Muslim di Masa Perang
Dalam
situasi Perang Dunia yang penuh kekacauan, keberadaan komando tunggal di bawah
pemimpin Muslim (Imam/Ulil Amri) adalah kunci kemenangan dan keselamatan shof
umat. Islam sangat melarang tindakan sendiri-sendiri (anarkisme militer) yang
tidak terkoordinasi, karena hal itu hanya akan menjadi santapan empuk bagi
musuh. Alloh memerintahkan ketaatan kepada pemimpin selama tidak dalam
kemaksiatan:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ
مِنْكُمْ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul, serta Ulil Amri
(pemimpin) di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59)
Ketaatan
kepada pemimpin di masa perang adalah bentuk ibadah yang menjaga keutuhan umat.
Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«السَّمْعُ
وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ
بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ»
“Wajib
bagi setiap Muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam hal yang ia
sukai maupun yang ia benci, kecuali jika diperintahkan untuk berbuat maksiat.
Jika diperintahkan berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan
taat.” (HR.
Al-Bukhori no. 7144 dan Muslim no. 1839)
Seorang
pemimpin berfungsi sebagai perisai tempat umat berlindung dan mengatur strategi
menghadapi kekuatan Yahudi-Amerika dkk. Tanpa pemimpin, Jihad akan kehilangan
arah dan mudah disusupi oleh kepentingan asing atau paham ekstrem. Dari Abu
Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«إِنَّمَا
الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»
“Sungguh,
seorang Imam (pemimpin) itu adalah perisai; orang-orang berperang di
belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung.” (HR. Al-Bukhori no. 2957 dan Muslim no.
1841)
Ulama Salaf
seperti Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa hidup enam puluh tahun di bawah
pemimpin yang zholim lebih baik daripada hidup satu malam tanpa pemimpin. Hal
ini dikarenakan dalam kondisi perang, perpecahan adalah kehancuran yang nyata.
Maka, sikap seorang Muslim jika terjadi perang adalah merapatkan barisan di
bawah komando resmi pemerintah Muslim dan tidak bertindak di luar koordinasi
yang ada.
3.3
Larangan Membunuh Wanita, Anak-anak, dan Merusak Fasilitas Umum
Salah satu
perbedaan mendasar antara Jihad Islam dengan peperangan moderen yang dilakukan
oleh musuh-musuh Islam adalah etika berperang. Islam melarang keras pembunuhan
massal yang tidak pandang bulu (genosida) sebagaimana yang dilakukan oleh
zionis terhadap rakyat Palestina. Islam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan
bahkan di medan pertempuran. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾
“Dan
janganlah kalian melampaui batas. Sungguh, Alloh tidak menyukai orang-orang
yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqoroh: 190)
Rosululloh ﷺ memberikan instruksi yang
sangat rinci kepada para komandan pasukan agar tidak menyakiti orang-orang yang
tidak terlibat perang. Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, ia
berkata:
أَنَّ
امْرَأَةً وُجِدَتْ فِي بَعْضِ مَغَازِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَقْتُولَةً، «فَأَنْكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَتْلَ
النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ»
“Ditemukan
seorang wanita terbunuh dalam salah satu peperangan Rosululloh ﷺ, maka Rosululloh ﷺ mengingkari (melarang keras)
pembunuhan terhadap kaum wanita dan anak-anak.” (HR. Al-Bukhori no. 3014 dan Muslim no.
1744)
Selain itu,
dalam hadits yang diriwayatkan oleh Buroidah rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ selalu berpesan kepada para
pemimpin pasukan:
«اغْزُوا
وَلَا تَغُلُّوا، وَلَا تَغْدِرُوا، وَلَا تَمْثُلُوا، وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا»
“Berperanglah
dan janganlah kalian berkhianat dalam pembagian rampasan perang, janganlah
melanggar janji, janganlah memutilasi mayat, dan janganlah membunuh anak kecil.” (HR. Muslim no. 1731)
Para Kholifah
setelah Nabi ﷺ
juga menekankan pentingnya menjaga alam dan fasilitas umum. Abu Bakar
Ash-Shiddiq (13 H) pernah berpesan kepada pasukannya:
وَلاَ تَقْطَعَنَّ شَجَراً مُثْمِراً. وَلاَ تُخَرِّبَنَّ
عَامِراً. وَلاَ تَعْقِرَنَّ شَاةً، وَلاَ بَعِيراً، إِلاَّ لِمَأْكُلَةٍ. وَلاَ تَحْرِقَنَّ
نَخْلاً، وَلاَ تُغَرِّقَنَّهُ
“Jangan
menebang pohon yang sedang berbuah, dan jangan menyembelih domba, sapi, atau
unta kecuali untuk dimakan. Janganlah
kalian menebang pohon kurma, jangan membakarnya.” (Al-Muwaththo, Malik
bin Anas, 2/447)
Ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki perbaikan di bumi,
bukan kerusakan, meskipun dalam keadaan perang besar. Sikap ini sangat kontras dengan taktik “bumi
hangus” yang sering digunakan dalam Perang Dunia moderen.
3.4
Doa sebagai Senjata Utama Mu’min yang Tak Terkalahkan
Di tengah
kecanggihan teknologi militer Amerika dkk, kaum Muslim memiliki satu senjata
yang tidak dimiliki oleh orang-orang kafir, yaitu Doa. Doa bukan sekadar
pelarian bagi orang lemah, melainkan bentuk pengakuan akan kekuasaan Alloh yang
Maha Perkasa atas segala sebab materi. Sungguh, kemenangan tidak ditentukan
oleh banyaknya jumlah pasukan atau canggihnya rudal, melainkan oleh pertolongan
dari langit. Alloh berfirman:
﴿وَقَالَ
رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي
سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾
“Dan
Robb kalian berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagi
kalian. Sungguh, orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku
(berdoa) akan masuk Jannah dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghofir: 60)
Dari Nu’man
bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«الدُّعَاءُ
هُوَ الْعِبَادَةُ»
“Doa
adalah ibadah itu sendiri.” (HSR. Abu Dawud no. 1479)
Sejarah
mencatat bagaimana Nabi ﷺ
menghabiskan malam-malam menjelang Perang Badr dengan berdoa hingga selendang
beliau terjatuh dari pundaknya. Beliau memohon pertolongan Alloh dengan sangat
sungguh-sungguh karena menyadari bahwa tanpa pertolongan-Nya, umat Islam akan
sirna. Alloh mengabadikan momen tersebut:
﴿إِذْ
تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ
مُرْدِفِينَ﴾
“(Ingatlah)
ketika kalian memohon pertolongan kepada Robb kalian, lalu diperkenankan-Nya
bagi kalian: ‘Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan
seribu Malaikat yang datang berturut-turut’.” (QS. Al-Anfal: 9)
Utsman bin
Affan (35 H) dan para Shohabat lainnya selalu menggabungkan antara usaha fisik
yang maksimal dengan doa yang terus menerus. Di masa fitnah dan perang besar,
doa adalah tali pengikat hati agar tidak jatuh dalam keputusasaan. Rosululloh ﷺ mengajarkan kita untuk selalu
berlindung dari fitnah-fitnah yang menyesatkan. Doa kaum Muslim yang terzholimi
di Palestina adalah senjata yang akan mengguncang Arsy. Nabi ﷺ bersabda:
«وَاتَّقِ
دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»
“Waspadalah
terhadap doa orang yang terzholimi, karena sungguh tidak ada penghalang antara
doa itu dengan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 1496 dan Muslim no. 19)
Maka, jika
Perang Dunia 3 benar-benar meletus, senjata pertama yang harus kita asah adalah
hubungan kita dengan Alloh melalui Sholat dan Doa. Ini adalah kekuatan
yang tidak bisa dideteksi oleh radar musuh dan tidak bisa ditangkis oleh sistem
pertahanan udara mana pun di dunia.
Bab 4: Strategi dan Ikhtiar
4.1
Mempersiapkan Kekuatan Fisik dan Keterampilan Bertahan Hidup
Seorang
Muslim tidak boleh hanya berpangku tangan menunggu keajaiban tanpa melakukan
persiapan yang nyata. Perang Dunia 3 yang melibatkan teknologi canggih menuntut
kita untuk memiliki fisik yang tangguh dan keterampilan bertahan hidup yang
mumpuni. Alloh memerintahkan kita untuk mempersiapkan segala bentuk kekuatan
guna menghadapi musuh-musuh-Nya. Alloh berfirman:
﴿وَأَعِدُّوا
لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ
عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ﴾
“Dan
persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi
dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)
kalian menggentarkan musuh Alloh dan musuh kalian.” (QS. Al-Anfal: 60)
Ayat ini
mencakup segala bentuk kekuatan modern, baik itu persenjataan, keahlian
strategi, maupun ketangkasan fisik. Rosululloh ﷺ sangat mencintai orang Mu’min yang memiliki kekuatan jasmani
yang didorong oleh kekuatan iman. Dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu,
Nabi ﷺ
bersabda:
«الْمُؤْمِنُ
الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ
خَيْرٌ»
“Mu’min
yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Alloh daripada Mu’min yang
lemah, namun pada keduanya tetap ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664)
Dalam
menghadapi situasi darurat perang, keterampilan dasar seperti pengobatan
pertama, navigasi, hingga kemampuan bela diri menjadi sangat krusial. Uqbah bin
Amir rodhiyallahu ‘anhu berkata bahwa beliau mendengar Rosululloh ﷺ bersabda di atas mimbar:
«أَلَا
إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ
الرَّمْيُ»
“Ketahuilah,
sungguh kekuatan itu adalah memanah (melempar, membidik), ketahuilah sungguh
kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah sungguh kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim no. 1917)
Di zaman
sekarang, “memanah” bisa dimaknai sebagai penguasaan teknologi rudal,
artileri, maupun keahlian menembak tepat. Persiapan fisik ini adalah bagian
dari ketaatan kepada Alloh.
Siapa yang
melatih badannya untuk ketaatan kepada Alloh, maka kekuatannya akan menjadi
berkah baginya. Oleh karena itu, di tengah ancaman Perang Dunia, setiap Muslim
harus mulai mendisiplinkan diri dengan olahraga yang bermanfaat dan mempelajari
ilmu-ilmu bertahan hidup (survival) agar tidak menjadi beban bagi orang lain
saat krisis melanda.
4.2
Ketahanan Pangan dan Ekonomi Mandiri di Masa Krisis
Salah satu
dampak paling nyata dari peperangan besar adalah keruntuhan sistem ekonomi
global dan kelangkaan pangan. Bergantung sepenuhnya pada produk luar negeri
atau sistem perbankan ribawi yang rapuh adalah tindakan yang sangat berisiko.
Umat Islam harus mulai membangun kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan
berbasis komunitas. Alloh telah memberikan contoh melalui kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam
dalam mengatur logistik menghadapi musim paceklik yang panjang:
﴿قَالَ
تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا
قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ﴾
“Yusuf
berkata: ‘Supaya kalian bercocok tanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa;
maka apa yang kalian panen hendaklah kalian biarkan di bulirnya kecuali sedikit
untuk kalian makan’.”
(QS. Yusuf: 47)
Strategi
menyimpan cadangan makanan adalah Sunnah yang dilakukan oleh Rosululloh ﷺ untuk menjamin kelangsungan
hidup keluarganya. Dari Umar bin Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبِيعُ نَخْلَ بَنِي النَّضِيرِ،
وَيَحْبِسُ لِأَهْلِهِ قُوتَ سَنَتِهِمْ»
“Sungguh
Nabi ﷺ
pernah menjual hasil kebun kurma Bani Nadhir (milik beliau), dan beliau
menyimpan untuk keluarganya persediaan makanan selama setahun.” (HR. Al-Bukhori no. 5357 dan
Muslim no. 1757)
Dalam
kondisi perang, inflasi akan melonjak dan mata uang kertas mungkin tidak lagi
berharga. Kembali kepada aset yang memiliki nilai intrinsik seperti emas
(Dinar) dan perak (Dirham) serta mengelola lahan pertanian secara mandiri
adalah usaha moderen yang selaras dengan bimbingan wahyu. Nabi ﷺ mengingatkan kita untuk
menjauhi sikap boros dan selalu bersiap menghadapi masa sulit. Beliau bersabda
dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu:
«إنْ
قَامَت السَّاعةُ وَفِي يَد أَحَدِكُم فَسِيلةٌ، فَإنْ استَطاعَ أنْ لَا تَقُومَ حَتى
يَغرِسَهَا فَليَغِرسْهَا»
“Jika
kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit
tanaman, maka jika dia mampu untuk tidak berdiri sampai dia menanamnya,
hendaklah dia menanamnya.” (HSR. Al-Bukhori dalam Al-Adab Al-Mufrod no. 479)
Ini adalah
dorongan untuk tetap produktif meski di ambang kehancuran dunia. Membangun
lumbung pangan di lingkungan Masjid atau komunitas Muslim terkecil akan menjadi
benteng pertahanan dari senjata kelaparan yang sering digunakan musuh untuk
menundukkan umat Islam.
4.3
Literasi Informasi dan Menangkal Propaganda Musuh
Perang
Dunia 3 tidak hanya terjadi di medan tempur fisik, tetapi juga di ruang digital
melalui penyebaran berita bohong (hoaks) dan propaganda untuk menjatuhkan
mental kaum Muslim. Musuh-musuh Islam sangat ahli dalam memutarbalikkan fakta.
Maka, literasi informasi dan sikap tabayyun (verifikasi) adalah kewajiban syar’i
agar kita tidak termakan oleh tipu daya mereka. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا
قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu
musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian
menyesal atas perbuatan kalian itu.” (QS. Al-Hujurot: 6)
Menyebarkan
setiap berita yang masuk ke ponsel kita tanpa tahu kebenarannya adalah tindakan
yang sangat berbahaya di masa perang. Rosululloh ﷺ memperingatkan tentang dosa
seseorang yang hanya menjadi corong berita tanpa saringan. Dari Abu Huroiroh
(58 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«كَفَى
بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»
“Cukuplah
seseorang dianggap sebagai pendusta apabila dia menceritakan setiap apa yang
dia dengar.” (HR.
Muslim dalam Muqoddimah Shohih-nya no. 5)
Propaganda
musuh seringkali bertujuan untuk menimbulkan kegaduhan dan memecah belah shof
umat. Kita harus memiliki ketahanan mental agar tidak mudah terprovokasi oleh
narasi yang dibangun oleh media-media Barat maupun faksi yang tidak sejalan
dengan aqidah Salaf. Ingatlah sabda Nabi ﷺ mengenai fitnah yang membuat seseorang menjadi bingung, dari
Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu:
«سَتَكُونُ
فِتَنٌ القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ، وَالقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ المَاشِي،
وَالمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي»
“Akan
terjadi fitnah-fitnah; orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang
berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang
yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.” (HR. Al-Bukhori no. 3601 dan
Muslim no. 2886)
Maksudnya
adalah semakin seseorang menjauhkan diri dari sumber fitnah dan kegaduhan, maka
itu lebih selamat baginya. Fokuslah pada informasi yang bersumber dari para
ulama yang terpercaya dan pemimpin Muslim yang amanah, serta gunakan media
sosial sebagai sarana untuk menguatkan iman, bukan menyebarkan kepanikan.
4.4
Membangun Komunitas Muslim yang Solid dan Saling Tolong-menolong
Ketika
tatanan dunia runtuh akibat perang, keselamatan individu sangat sulit dicapai.
Islam menekankan pentingnya ukhuwah dan persatuan dalam satu jamaah. Saling
tolong-menolong di antara sesama Muslim bukan lagi sekadar anjuran, melainkan
syarat untuk bertahan hidup di tengah badai fitnah. Alloh berfirman:
﴿وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾
“Dan
berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian
bercerai-berai.” (QS.
Ali ‘Imron: 103)
Dalam
kondisi perang, tetangga dan saudara seiman adalah kerabat terdekat kita. Kita
harus membangun sistem keamanan lingkungan dan saling mencukupi kebutuhan pokok
di antara sesama. Rosululloh ﷺ
memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang solidaritas seorang Mu’min.
Dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
“Seorang
Mu’min bagi Mu’min lainnya adalah ibarat bangunan yang saling menguatkan satu
sama lain.” (HR.
Al-Bukhori no. 481 dan Muslim no. 2585)
Saling
membantu orang yang kesulitan di masa krisis akan mendatangkan pertolongan
Alloh yang sangat besar. Dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu,
Nabi ﷺ
bersabda:
«وَاللَّهُ
فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ»
“Dan
Alloh senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)
Membangun
komunitas yang solid berarti kita harus membuang jauh-jauh sikap egois. Di masa
Perang Dunia, setiap kelebihan makanan, obat-obatan, maupun informasi harus
dibagikan demi kemaslahatan bersama. Kita meneladani kaum Anshor yang
mendahulukan kepentingan kaum Muhajirin meskipun mereka sendiri dalam keadaan
sulit. Alloh memuji mereka:
﴿وَيُؤْثِرُونَ
عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ﴾
“Dan
mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun
mereka sendiri sedang dalam kesulitan.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Umat Islam
harus menjadi satu tubuh yang kokoh. Jika satu bagian tersakiti, bagian lain
merasakan perihnya. Dengan kesolidan ini, ancaman dari Yahudi-Amerika dkk atau
faksi-faksi zholim lainnya tidak akan mudah merobohkan benteng keimanan dan
sosial kita.
Bab 5: Peran Keluarga dan
Pendidikan Anak di Masa Darurat
5.1
Menjaga Aqidah Keluarga dari Pemikiran Menyimpang
Di tengah
kemelut perang yang melanda dunia, benteng pertahanan terakhir bagi umat Islam
adalah keluarga. Seorang kepala keluarga memikul tanggung jawab yang sangat
berat untuk memastikan bahwa anggota keluarganya tetap berada di atas aqidah
yang lurus sesuai pemahaman para Salaf. Ketika fitnah peperangan berkecamuk,
seringkali muncul berbagai pemikiran menyimpang, baik yang bersifat ekstrem dan
melampaui batas (ghuluw) maupun yang bersifat melemahkan semangat iman.
Alloh memberikan peringatan keras kepada setiap orang Mu’min untuk menjaga diri
dan keluarganya:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api
Naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)
Menjaga
keluarga di masa perang bukan hanya sekadar memberikan perlindungan fisik dan
makanan, melainkan menjaga agar hati mereka tidak terasuki oleh keraguan atau
paham-paham yang dapat merusak iman. Setiap orang adalah pemimpin bagi
keluarganya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu
‘anhuma, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
«كُلُّكُمْ
رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
apa yang dipimpinnya. Seorang Imam (penguasa) adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi
keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan
Muslim no. 1829)
Mendidik
anak dengan aqidah yang benar adalah bentuk pemberian yang paling utama dari
orang tua. Di masa Perang Dunia, anak-anak harus diajarkan bahwa segala sesuatu
terjadi atas kehendak Alloh. Mereka harus dijauhkan dari pemikiran yang
menggantungkan rasa takut atau harapan kepada kekuatan rudal dan bom musuh,
melainkan hanya kepada Alloh semata.
Sungguh,
jika aqidah keluarga sudah kokoh, maka guncangan sebesar apa pun dari dunia
luar tidak akan mampu merobohkan ketenangan batin mereka. Kita harus waspada
terhadap gerakan-gerakan yang memanfaatkan situasi perang untuk menyebarkan
kebencian kepada sesama Muslim atau mengajak pada pemberontakan yang tidak syar’i.
Ingatlah sabda Nabi ﷺ
mengenai pentingnya menjaga ketaatan dan keutuhan di tengah kekacauan, dari
Hudzaifah bin Al-Yaman rodhiyallahu ‘anhu:
«تَلْزَمُ
جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ»
“Hendaklah
kamu tetap bersama jamaah kaum Muslim dan pemimpin mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 3606 dan
Muslim no. 1847)
5.2
Pendidikan Mental bagi Generasi Muda Muslim
Anak-anak
dan pemuda Muslim harus dididik memiliki mentalitas yang tangguh dan pemberani,
bukan generasi yang lembek dan penakut (pengecut). Di masa perang, ketahanan
mental sangat dipengaruhi oleh sedalam apa pemahaman mereka terhadap konsep
takdir dan kehidupan Akhiroh. Alloh memerintahkan kita untuk tidak
meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita:
﴿وَلْيَخْشَ
الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا
اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا﴾
“Dan hendaklah
takut (kepada Alloh) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan
yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)
mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Alloh dan hendaklah
mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)
Pendidikan
mental dimulai dengan menanamkan keberanian membela kebenaran sejak dini. Kita
meneladani bagaimana Rosululloh ﷺ mendidik Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma yang saat itu
masih belia dengan kalimat-kalimat yang menggetarkan jiwa. Nabi ﷺ bersabda:
«يَا
غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ
تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ
بِاللَّهِ»
“Wahai
anak muda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah
Alloh, niscaya Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh, niscaya kamu akan
mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kamu memohon, mohonlah kepada Alloh, dan jika
kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)
Sejarah
mencatat keberanian luar biasa dari anak-anak muda di zaman Nabi ﷺ, seperti Mu’awwidh dan Mu’adz
yang dengan gagah berani mencari Abu Jahl di medan Badr demi membela kehormatan
Rosululloh ﷺ.
Generasi muda kita saat ini harus diajarkan bahwa kematian di jalan Alloh
adalah sebuah kemuliaan yang dirindukan, bukan sesuatu yang harus ditakuti
secara berlebihan. Alloh berfirman tentang sifat orang-orang yang dicintai-Nya:
﴿يُجَاهِدُونَ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ﴾
“Mereka
berjihad di jalan Alloh, dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang
mencela.” (QS.
Al-Maidah: 54)
Orang tua
harus membiasakan anak-anak dengan kisah-kisah kepahlawanan para Shohabat dan
menjauhkan mereka dari tontonan atau hiburan yang melemahkan mental mereka. Di
masa krisis, seorang pemuda Muslim harus siap menjadi pelindung bagi
keluarganya dan pembela bagi agamanya. Malik bin Anas (179 H) menekankan bahwa
para Salaf mendidik anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar
sebagaimana mereka mengajarkan satu surat dari Al-Qur’an. Ini adalah cara
membangun identitas dan kekuatan mental yang kokoh.
5.3
Masjid sebagai Pusat Komando dan Edukasi Umat
Ketika
terjadi situasi darurat perang, Masjid harus dikembalikan fungsinya sebagaimana
di zaman Rosululloh ﷺ,
yakni sebagai pusat segala aktivitas umat, baik edukasi, bantuan sosial, maupun
koordinasi keamanan. Masjid bukan hanya tempat untuk Sholat, tetapi juga tempat
di mana kebenaran disampaikan dan strategi keselamatan umat dirumuskan. Alloh
berfirman mengenai pentingnya memakmurkan Masjid dengan ketaatan:
﴿إِنَّمَا
يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ
وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا
مِنَ الْمُهْتَدِينَ﴾
“Sungguh
yang memakmurkan Masjid-Masjid Alloh hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Alloh dan hari Akhiroh, serta tetap mendirikan Sholat, menunaikan Zakat dan
tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Alloh. Maka mudah-mudahan mereka
termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)
Di masa
perang, Masjid harus menjadi tempat yang paling aman bagi kaum Muslim. Di
sanalah ilmu syar’i disebarkan untuk menenangkan hati yang gundah. Dari Abu
Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«وَمَا
اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ
بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ
وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»
“Tidaklah
suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Alloh (Masjid) untuk
membaca Kitabulloh dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan
turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi oleh rohmat, para Malaikat
akan mengelilingi mereka, dan Alloh akan menyebut-nyebut mereka di hadapan
makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2699)
Utsman (35
H) dan para Shohabat lainnya menjadikan Masjid sebagai tempat untuk bermusyawarah
dalam urusan-urusan besar negara dan perang. Masjid juga berfungsi sebagai
lumbung logistik dan tempat pertolongan pertama bagi mereka yang terluka.
Dengan menjadikan Masjid sebagai pusat komando, umat Islam akan memiliki
kesatuan gerak dan informasi yang valid di bawah bimbingan para ulama dan
pemimpin yang bertaqwa.
Siapa yang
berpaling dari Masjid di masa fitnah, maka dia akan mudah terseret oleh arus
informasi yang menyesatkan. Kita harus menghidupkan kembali ruh Masjid sebagai
tempat yang menyatukan hati-hati kaum Muslim. Alloh berfirman:
﴿فِي
بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا
بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ
اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ
فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾
“Bertasbihlah
kepada Alloh di Masjid-Masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan
disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang
tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat
Alloh, dan (dari) mendirikan Sholat, dan (dari) membayarkan Zakat. Mereka takut
kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 36-37)
Demikianlah,
dengan memperkuat peran keluarga dan mengembalikan fungsi Masjid, umat Islam
akan memiliki ketahanan yang luar biasa menghadapi dampak buruk dari Perang
Dunia 3.
Penutup
Sebagai
penghujung dari seluruh rangkaian bahasan dalam buku ini, kita menyadari bahwa
setiap peristiwa besar di atas muka bumi, termasuk bayang-bayang Perang Dunia
3, berada di bawah kendali penuh Alloh yang Maha Perkasa. Seorang Muslim
tidaklah hidup dalam ketakutan yang melumpuhkan, melainkan hidup dalam
kewaspadaan yang dibalut dengan ketenangan iman. Keyakinan kita adalah bahwa
kemenangan hakiki hanya milik Alloh dan orang-orang yang bertaqwa. Alloh telah
menetapkan janji-Nya yang tidak akan pernah diingkari bagi hamba-hamba-Nya yang
teguh berdiri di atas kebenaran:
﴿وَعَدَ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ
فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ
دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا﴾
“Sungguh
Alloh telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan
yang mengerjakan amal sholih, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka
berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku
dengan tiada menyekutukan sesuatu pun dengan Aku.” (QS. An-Nur: 55)
Perang,
kehancuran ekonomi, dan fitnah yang melanda hanyalah sarana bagi Alloh untuk
menyaring siapa di antara kita yang benar-benar jujur imannya. Kita
diperintahkan untuk tetap tegar dan tidak merasa rendah di hadapan kekuatan
materi musuh seperti Yahudi-Amerika dkk, karena kemuliaan itu hanyalah milik
Alloh. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
“Janganlah
kalian merasa lemah dan janganlah kalian bersedih hati, karena kalianlah
orang-orang yang paling tinggi kedudukannya jika kalian benar-benar beriman.” (QS. Ali ‘Imron: 139)
Dalam
menghadapi segala kemungkinan terburuk, jalan keluar utama adalah kembali
kepada Alloh dengan taubat yang tulus (taubatan nashuha). Tidak ada
musibah yang turun kecuali karena dosa, dan tidak ada musibah yang diangkat
kecuali dengan taubat. Alloh menyeru kita:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ
أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang
semurni-murninya (tulus). Mudah-mudahan Robb kalian akan menghapus
kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam Jannah-Jannah yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8)
Kita harus
optimis melihat masa depan Islam. Meskipun hari ini umat terlihat tertekan oleh
kezholiman global di Palestina dan wilayah lainnya, namun fajar kemenangan
pasti akan menyingsing. Rosululloh ﷺ telah memberikan kabar gembira bahwa agama ini akan masuk ke
setiap sudut bumi. Dari Tamim Ad-Dari rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«لَيَبْلُغَنَّ
هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَلَا يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ
وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّينَ، بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ
ذَلِيلٍ، عِزًّا يُعِزُّ اللهُ بِهِ الْإِسْلَامَ، وَذُلًّا يُذِلُّ اللهُ بِهِ الْكُفْرَ»
“Sungguh
urusan (agama) ini akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Alloh
tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik di kota maupun di desa, melainkan
Alloh akan memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan kemuliaan bagi orang yang
mulia atau kehinaan bagi orang yang hina. Kemuliaan yang dengannya Alloh memuliakan
Islam, dan kehinaan yang dengannya Alloh menghinakan kekufuran.” (HSR. Ahmad no. 16957)
Optimisme
ini didasarkan pada janji Alloh yang tidak akan membiarkan hamba-Nya yang
beriman sendirian dalam kepungan musuh. Alloh menegaskan dukungan-Nya:
﴿إِنَّا
لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ
الْأَفْهَادُ﴾
“Sungguh
Kami benar-benar menolong Rosul-Rosul Kami dan orang-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi (Hari Kiamat).” (QS. Ghofir: 51)
Seorang
Muslim yang cerdas akan menggunakan waktu yang tersisa sebelum meletusnya
huru-hara besar untuk memperbaiki hubungan dengan Alloh dan sesama manusia.
Jika Perang Dunia benar-benar terjadi, biarlah ia mendapati kita dalam keadaan
sedang menegakkan Sholat, menunaikan Zakat, menjalin ukhuwah, dan membela
keadilan. Nabi ﷺ
mengingatkan kita untuk bersegera dalam beramal sholih:
«بَادِرُوا
بِالأَعْمَالِ سَبْعًا هَلْ تُنْظَرُونَ إِلَّا إِلَى فَقْرٍ مُنْسٍ، أَوْ غِنًى مُطْغٍ،
أَوْ مَرَضٍ مُفْسِدٍ، أَوْ هَرَمٍ مُفَنِّدٍ، أَوْ مَوْتٍ مُجْهِزٍ، أَوِ الدَّجَّالِ
فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ، أَوِ السَّاعَةِ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ»
“Segeralah
beramal sebelum datangnya tujuh perkara: Apakah kalian menunggu kemiskinan yang
melupakan, kekayaan yang menyesatkan, sakit yang merusak, masa tua yang
melemahkan, kematian yang mendadak, ataukah Dajjal yang merupakan seburuk-buruk
perkara ghaib yang dinanti, ataukah Hari Kiamat, padahal Hari Kiamat itu lebih
dahsyat dan lebih pahit?” (HR. At-Tirmidzi no. 2306, beliau berkata: Hadits Hasan)
Bekal
terbaik bagi seorang musafir yang akan menempuh perjalanan jauh menuju Akhiroh
adalah ketaqwaan, apalagi ketika perjalanan itu harus melewati badai
peperangan. Maka, siapa yang mempersiapkan diri dengan ketaqwaan, dia tidak
akan pernah merugi. Alloh berfirman:
﴿فَإِنَّ
اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ﴾
“Sungguh
Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)
Ketahuilah
bahwa bumi ini milik Alloh, dan Dia akan memberikannya kepada siapa saja yang
Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang
yang bertaqwa, sebagaimana ucapan Nabi Musa ‘alaihissalam kepada
kaumnya:
﴿قَالَ
مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا
مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ﴾
“Musa
berkata kepada kaumnya: ‘Mohonlah pertolongan kepada Alloh dan bersabarlah;
sungguh bumi ini milik Alloh, diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya
di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang
bertaqwa’.” (QS.
Al-A’rof: 128)
Sebagai
penutup, marilah kita senantiasa membasahi lisan kita dengan doa agar Alloh
menjaga keimanan kita dan memberikan keselamatan bagi kaum Muslim yang
tertindas. Kita berlindung kepada Alloh dari segala fitnah yang nampak maupun
yang tersembunyi. Nabi ﷺ
bersabda dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«تَعَوَّذُوا
بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ»
“Berlindunglah
kalian kepada Alloh dari berbagai fitnah, baik yang nampak maupun yang
tersembunyi.” (HR.
Muslim no. 2867)
Semoga
Alloh menjadikan kita termasuk golongan yang teguh (tsabit) saat
guncangan melanda, dan menjadikan setiap usaha kita sebagai pemberat timbangan
kebaikan di Akhiroh. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan
Alloh.
﴿سُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
“Maha
Suci Robb-mu, Robb yang memiliki kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan
kesejahteraan dilimpahkan atas para Rosul. Dan segala puji bagi Alloh, Robb
semesta alam.” (QS.
Ash-Shoffat: 180-182)[NK]
