[PDF] Ragam Ibadah Wanita Haidh dan Nifas di Romadhon - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Wahai saudariku, para Muslimah yang hatinya
senantiasa terpaut pada ridho Ilahi. Mari sejenak kita menundukkan hati,
merenungi betapa indahnya perjalanan seorang hamba menuju Robb-nya. Saat hilal
Romadhon nampak di ufuk timur, ada getaran kerinduan yang membuncah di dalam
dada. Kita semua ingin berlari menuju pintu Jannah yang sedang dibuka
lebar-lebar, kita ingin menjauh dari kobaran api Naar yang sedang ditutup
rapat, dan kita ingin menjadi bagian dari mereka yang dibebaskan dari siksa di
setiap malamnya.
Sungguh, Romadhon adalah kesempatan emas
yang ditunggu oleh setiap Mu’min. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي
أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾
“Bulan Romadhon adalah bulan yang di
dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan
yang bathil). Karena itu, siapa di antara kalian yang hadir (di negeri tempat
tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa.” (QS. Al-Baqoroh: 185)
Namun, di tengah semangat yang membara itu,
terkadang datanglah suatu ketetapan yang tak terelakkan bagi seorang wanita.
Tiba-tiba tubuh terasa lemah, dan keluarlah darah haidh atau nifas yang
membuatmu harus berhenti dari Sholat dan Puasa. Di saat itulah, seringkali
muncul rasa sedih yang mendalam. Engkau merasa seolah-olah pintu kebaikan
tertutup rapat bagimu, sementara orang lain sedang asyik mendulang pahala.
Engkau merasa seolah-olah terasing dari keagungan Romadhon karena tidak bisa bersujud
di Masjid atau menahan lapar di siang hari.
Ketahuilah saudariku, rasa sedihmu itu
adalah bukti keimananmu. Namun, jangan biarkan kesedihan itu membuatmu lupa
bahwa Alloh Ta’ala Maha Luas Rohmat-Nya. Haidh bukanlah hukuman,
melainkan fithroh yang telah Alloh tetapkan bagi putri-putri Adam. Ingatlah
saat Ibunda kita, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, menangis karena ia sedang
haidh saat menunaikan Haji bersama Nabi ﷺ. Beliau ﷺ
bersabda untuk menenangkan hatinya:
«إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ
اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي
بِالْبَيْتِ»
“Sungguh, ini adalah perkara yang telah
Alloh tetapkan bagi putri-putri Adam. Maka lakukanlah apa yang dilakukan oleh
orang yang sedang berhaji, kecuali janganlah engkau melakukan thowaf di Ka’bah (sampai engkau mandi dan suci dari haidh).” (HR. Al-Bukhori no. 294 dan Muslim no. 1211)
Hadits ini adalah pelipur lara yang sangat
indah. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa meskipun ada beberapa ibadah yang dilarang
saat haidh, namun pintu ibadah lainnya tetap terbuka lebar. Engkau tetap bisa berdzikir,
berdoa, dan melakukan segala amal kebaikan yang dilakukan oleh
orang-orang yang tidak haidh, kecuali Sholat dan Puasa.
Renungkanlah wahai Muslimah, ketaatan itu
bukan hanya tentang melakukan gerakan Sholat atau menahan haus, melainkan
tentang tunduk patuh pada perintah dan larangan Alloh. Saat Alloh
memerintahkanmu Sholat, engkau Sholat. Dan saat Alloh melarangmu Sholat karena
haidh, maka berhentimu dari Sholat adalah bentuk ketaatan yang juga membuahkan
pahala. Sungguh, Alloh itu Maha Baik. Dia tidak akan membiarkan hamba-Nya yang sungguh-sungguh
ingin beribadah kehilangan pahalanya hanya karena uzur yang bukan kemauannya
sendiri. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ،
أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا»
“Jika seorang hamba sakit atau melakukan
perjalanan (safar), maka akan dicatat baginya pahala amal yang biasa dia
kerjakan saat dia bermukim dan dalam keadaan sehat.” (HR. Al-Bukhori no. 2996)
Jika orang sakit saja tetap mendapatkan
pahala ibadah rutinnya, maka engkau pun demikian. Selama hatimu memiliki tekad
yang kuat untuk beribadah namun terhalang oleh fithroh kewanitaan ini, maka
pahalamu tetap mengalir deras di sisi Robb-mu. Sungguh, kasih sayang-Nya
melampaui segala prasangka kita. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ
الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾
“Alloh menghendaki kemudahan bagi kalian,
dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (QS.
Al-Baqoroh: 185)
Oleh karena itu, buku ini hadir untuk
menemani hari-harimu di bulan Romadhon saat engkau sedang haidh atau nifas.
Kami ingin mengajakmu menyadari bahwa ladang pahala itu sangatlah luas.
Romadhonmu tidak akan sia-sia. Justru di saat seperti inilah, engkau bisa lebih
fokus pada ibadah-ibadah lisan, hati, dan harta yang mungkin selama ini
terabaikan karena kesibukan fisik.
Mari kita hayati kembali hakikat ketaqwaan
yang menjadi tujuan utama Puasa. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kalian agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-Baqoroh:
183)
Taqwa bukan hanya milik mereka yang
berpuasa. Taqwa adalah milik siapa saja yang menjaga dirinya dari larangan
Alloh dan berlomba-lomba dalam ketaatan sesuai dengan kemampuannya. Dan bagi
wanita haidh, jalan ketaqwaan itu terbentang luas melalui kesabaran, ridho atas
takdir, serta lisan yang senantiasa basah dengan asma Alloh.
Ketahuilah, setiap detik di bulan Romadhon
adalah rohmat. Jangan engkau habiskan waktumu hanya untuk mengeluh atau larut
dalam kesedihan yang tak berujung. Ingatlah sabda Nabi ﷺ
mengenai keutamaan bulan ini:
«إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ
فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ»
“Jika Romadhon datang, maka pintu-pintu
Jannah dibuka, pintu-pintu Naar ditutup, dan syaithon-syaithon dibelenggu.” (HR. Al-Bukhori no. 1899 dan Muslim no. 1079)
Meskipun engkau tidak Sholat, pintu Jannah
itu tetap terbuka untukmu melalui doa-doamu yang tulus. Meskipun engkau tidak
berpuasa, pintu Naar tetap tertutup bagimu selama engkau menjauhi kemaksiatan
dan menjaga lisanmu. Syaithon pun tetap terbelenggu sehingga memudahkanmu untuk
terus berdzikir dan berbuat baik kepada sesama.
Buku ini akan membimbingmu langkah demi
langkah, bab demi bab, untuk menemukan mutiara-mutiara ibadah yang bisa engkau
petik. Kita akan belajar bagaimana lisan bisa menjadi kunci Jannah, bagaimana
pelayananmu di dapur untuk orang yang berpuasa bisa menjadi timbangan berat di
Akhiroh, dan bagaimana hatimu tetap bisa beri’tikaf dalam ketundukan kepada
Sang Kholiq.
Buku ini menginatkan, tidak ada satu pun Muslimah yang merasa “libur” beribadah di
bulan suci ini. Ibadah tidak pernah libur, hanya bentuknya saja yang berganti.
Sebagaimana para Shohabat dan Salaf terdahulu yang sangat antusias menyambut
kebaikan, mari kita jadikan setiap kucuran darah haidh dan nifas ini sebagai
pengingat bahwa kita hanyalah hamba yang lemah di hadapan Alloh yang Maha
Kuasa.
Alloh Ta’ala berfirman tentang
betapa bernilainya setiap amal sekecil apa pun:
﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ﴾
“Maka siapa yang mengerjakan kebaikan
seberat dzarroh (biji sawi) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)
Maka, jangan remehkan dzikirmu saat mencuci
baju, jangan remehkan shodaqohmu saat membantu sesama, dan jangan remehkan air
matamu saat memohon ampunan kepada-Nya di sepertiga malam terakhir. Semuanya
tercatat dan semuanya berharga.
Bab 1: Ridho Atas Ketentuan Alloh
1.1 Menyadari Bahwa Haidh Adalah Ketetapan Alloh bagi Putri Adam
Wahai saudariku yang hatinya lembut dan
penuh rindu pada ketaatan, mari kita awali perenungan ini dengan melihat ke
dalam diri. Pernahkah engkau merasa bahwa tubuhmu ini seolah mengkhianati
keinginanmu untuk beribadah? Saat fajar Romadhon menyingsing dan engkau ingin
sekali bersujud, tiba-tiba engkau mendapati dirimu dalam keadaan haidh.
Sadarilah wahai saudariku, apa yang engkau alami bukanlah sebuah kebetulan,
bukan pula sebuah halangan yang tanpa makna. Ini adalah ketetapan dari Yang
Maha Adil.
Alloh Ta’ala berfirman dalam
kitab-Nya yang mulia:
﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ
قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى
يَطْهُرْنَ﴾
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh.
Katakanlah: Haidh itu adalah adza
(kotoran, atau gangguan pada wanita). Oleh sebab
itu hendaklah kalian menjauhkan diri (dengan tidak jimak) dari wanita di waktu haidh;
dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (QS. Al-Baqoroh: 222)
Ayat ini menjelaskan bahwa haidh adalah adza,
sebuah gangguan fisik atau rasa sakit yang dialami wanita. Namun, jangan
sekali-kali engkau menganggap bahwa adza ini menjauhkanmu dari kasih
sayang Alloh. Justru, pengakuan Alloh terhadap rasa sakitmu adalah bentuk
perhatian-Nya.
Ingatlah kisah Ibunda kita, ‘Aisyah rodhiyallahu
‘anha, saat ia sedang menunaikan Haji Wada’ bersama Nabi ﷺ.
Beliau menangis tersedu-sedu karena mendapati dirinya haidh saat sudah sampai
di sebuah tempat bernama Saroof. Beliau sedih karena merasa tidak bisa
menjalankan rangkaian ibadah Haji. Lalu Nabi ﷺ masuk menemui beliau dan
bertanya, “Mengapa engkau menangis? Apakah engkau haidh?” ‘Aisyah
menjawab, “Iya.” Maka Nabi ﷺ bersabda dengan kalimat
yang sangat menenangkan:
«إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ
اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي
بِالْبَيْتِ»
“Sungguh, ini adalah perkara yang telah
Alloh tetapkan bagi putri-putri Adam. Maka lakukanlah apa yang dilakukan oleh
orang yang sedang berhaji, kecuali janganlah engkau melakukan thowaf di Ka’bah (sampai engkau mandi suci dari haidh).” (HR. Al-Bukhori no. 294 dan Muslim no. 1211)
Kalimat «إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ» adalah kunci bagi ketenangan hatimu. Sungguh, haidh adalah tulisan
takdir yang tidak bisa dihindari. Jika engkau ridho dengan takdir ini, maka
engkau telah menjalankan satu bentuk ibadah hati yang sangat agung.
Seorang Muslimah yang cerdas akan melihat
bahwa setiap tetes darah yang keluar adalah pengingat bahwa ia adalah hamba.
Dan seorang hamba tidak punya hak untuk memprotes aturan tuannya. Jika Alloh
menentukanmu untuk tidak Puasa hari ini, maka itulah yang terbaik bagimu.
1.2 Haidh Bukan Penghalang Ibadah, Tapi Bentuk Ketaatan
Seringkali kita terjebak dalam pikiran
sempit bahwa ibadah hanyalah sebatas gerakan fisik seperti Sholat atau menahan
lapar dalam Puasa. Wahai saudariku, mari kita meluaskan cakrawala hati. Apa
sebenarnya hakikat ibadah itu? Ibadah adalah menjalankan apa yang dicintai dan
diridhoi oleh Alloh, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Bayangkanlah, saat engkau sedang suci,
Alloh memerintahkanmu: “Sholatlah!” Maka engkau Sholat dan engkau
berpahala. Namun, saat darah haidh itu datang, Alloh memerintahkanmu melalui
lisan Rosul-Nya: “Berhentilah Sholat!” Maka, jika engkau berhenti Sholat
karena mematuhi larangan itu, engkau pun sedang beribadah. Meninggalkan
larangan karena Alloh adalah ketaatan yang setara dengan menjalankan perintah
karena Alloh.
Perhatikanlah dialog antara Mu’adzah binti ‘Abdillah
(83 H) dengan Ibunda ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha berikut ini:
سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ:
مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ؟ فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ
أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ. قَالَتْ: «كَانَ يُصِيبُنَا
ذَلِكَ، فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ»
Aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Mengapa wanita haidh
harus mengqodho Puasa namun tidak mengqodho Sholat?” ‘Aisyah menjawab: “Apakah engkau termasuk
golongan Khowarij (Haruriyyah)?” Aku menjawab: “Aku bukan Khowarij, aku
hanya bertanya.” ‘Aisyah berkata: “Dahulu kami mengalami hal itu (haidh), maka kami diperintahkan untuk
mengqodho Puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqodho Sholat.” (HR. Muslim no. 335)
Lihatlah bagaimana para wanita di zaman
Nabi ﷺ memahami hal ini. Mereka tidak membebani diri dengan logika
yang rumit. Cukup bagi mereka adalah: “Kami diperintahkan, maka kami
kerjakan” dan “Kami dilarang, maka kami berhenti”. Inilah puncak
dari makna Islam, yaitu berserah diri.
Sungguh, jika engkau tetap memaksakan diri
untuk Sholat atau Puasa padahal engkau sedang haidh, engkau justru sedang
bermaksiat kepada Alloh. Maka, berhentimu dari Sholat adalah bentuk ibadahmu
saat ini. Rosululloh ﷺ menegaskan keadaan wanita yang haidh dalam sabdanya:
«أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ
لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا»
“Bukankah jika wanita itu haidh, dia
tidak Sholat dan tidak Puasa? Itulah bentuk kekurangan agamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 304)
Istilah “kekurangan agama” di sini
janganlah engkau pahami sebagai kerendahan martabat. Imam An-Nawawi (676 H)
menjelaskan bahwa kekurangan ini adalah kekurangan yang sifatnya diberikan
udzur (keringanan) oleh Alloh. Engkau tidak berdosa karena meninggalkan Sholat
tersebut, justru engkau mendapatkan pahala karena kepatuhanmu pada hukum
syariat yang melarangmu Sholat saat haidh.
Renungkanlah wahai Muslimah, ketaatan itu
letaknya di hati. Jika hatimu tetap rindu pada Alloh, meskipun tubuhmu tidak
bisa bersujud, maka engkau tetaplah seorang ahli ibadah. Alloh Ta’ala
tidak melihat pada bentuk fisikmu, tapi melihat pada apa yang ada di hatimu.
1.3 Pahalanya Orang yang Terhalang Uzur Syar’i
Mungkin dalam benakmu masih terbersit rasa
khawatir: “Lalu bagaimana dengan pahala yang terlewat? Bagaimana dengan
ribuan roka’at Sholat Tarowih yang tidak bisa aku ikuti? Bagaimana dengan
hari-hari penuh keberkahan Romadhon yang berlalu tanpa Puasa?”
Wahai saudariku yang penuh harap, Alloh
Maha Karim, Maha Pemurah melampaui apa yang bisa dibayangkan oleh akal manusia.
Dia tidak pernah menzholimi hamba-Nya. Jika engkau memiliki kebiasaan ibadah
yang rutin engkau kerjakan saat suci, lalu engkau terhalang oleh haidh atau
nifas, maka pahala ibadah rutinmu itu tetap dicatat secara utuh seolah-olah
engkau sedang mengerjakannya.
Ini adalah kabar gembira dari Rosululloh ﷺ:
«إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ،
أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا»
“Jika seorang hamba sakit atau melakukan
perjalanan (safar), maka akan dicatat baginya pahala amal yang biasa dia
kerjakan saat dia bermukim dan dalam keadaan sehat.” (HR. Al-Bukhori no. 2996)
Sebagian ulama, di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani (852 H),
menjelaskan bahwa hadits ini juga berlaku bagi orang yang terhalang oleh uzur
syar’i lainnya seperti haidh. Mengapa demikian? Karena yang menghalangimu bukan
kemalasanmu, bukan pula keenggananmu, melainkan ketetapan syariat-Nya. Niatmu
yang tulus untuk beribadah itulah yang akan menyampaikanmu pada pahala
tersebut.
Ingatlah apa yang dikatakan Nabi ﷺ
kepada para Shohabat saat dalam perjalanan pulang dari perang Tabuk. Saat itu
ada sebagian orang yang tidak bisa ikut berperang karena tidak memiliki kendaraan
atau karena alasan lainnya yang dibenarkan. Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا،
مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ»، قَالُوا:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ؟ قَالَ: «وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ، حَبَسَهُمُ
العُذْرُ»
“Sungguh di Madinah ada orang-orang yang
tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan, dan tidaklah kalian menyeberangi
suatu lembah, kecuali mereka senantiasa bersama kalian (dalam pahala).” Para Shohabat
bertanya: “Wahai
Rosululloh, padahal mereka di Madinah?” Beliau menjawab: “Padahal mereka di
Madinah, mereka terhalang oleh uzur.” (HR.
Al-Bukhori no. 4423)
Sungguh luar biasa! Mereka duduk di
rumahnya di Madinah, namun pahala mereka sama dengan mereka yang bertaruh nyawa
di medan perang dan bersimbah peluh di bawah terik matahari. Mengapa? Karena
niat mereka jujur.
Maka wahai Muslimah, jika di malam-malam
Romadhon engkau hanya bisa terbaring lemas karena nyeri haidh, sementara
suamimu atau saudaramu pergi ke Masjid untuk Tarowih, janganlah berkecil hati.
Jika niatmu jujur bahwa seandainya engkau suci engkau pasti akan Tarowih, maka engkau tetap
mendapatkan pahala Sholat tersebut.
Niat adalah penggerak utama. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ،
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Sungguh setiap amal itu bergantung pada
niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no. 1907)
Oleh karena itu, jangan pernah berhenti
berniat baik. Setiap pagi di bulan Romadhon, meskipun engkau sedang haidh,
niatkanlah dalam hatimu: “Yaa Alloh, seandainya aku tidak haidh, niscaya aku
akan berpuasa karena-Mu hari ini.” Dengan niat yang tulus seperti itu,
engkau sudah mencatatkan satu hari pahala Puasa di buku amalmu, bahkan sebelum
engkau melakukan aktivitas apa pun.
Ridholah pada pembagian Alloh. Ridho adalah
Jannah di dunia sebelum Jannah di Akhiroh. Orang yang ridho tidak akan pernah
merasa rugi, karena ia tahu bahwa Robbnya tidak pernah salah dalam mengatur keadaan hamba-Nya. Inilah
pondasi pertama yang harus engkau bangun dengan kokoh sebelum kita melangkah
pada jenis-jenis ibadah lisan dan anggota badan lainnya. Tanpa keridhoan dan
pemahaman yang benar tentang takdir ini, ibadahmu akan terasa hambar dan penuh
dengan keluh kesah. Namun dengan ridho, setiap detik haidhmu akan berubah
menjadi pundi-pundi pahala yang terus mengalir.
Alloh Ta’ala berfirman tentang
orang-orang yang ridho:
﴿رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ﴾
“Alloh ridho terhadap mereka dan mereka
pun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut
kepada Robb-nya.” (QS. Al-Bayyinah: 8)
Jadilah bagian dari mereka yang ridho
kepada Alloh di setiap keadaan, baik saat suci maupun saat haidh, karena
sungguh Romadhonmu tetaplah Romadhon yang mulia.
Bab 2: Dzikir dan Istighfar
2.1 Kalimat Thoyyibah
Wahai saudariku yang tetap bersemangat
meraih ridho-Nya, saat tubuhmu tidak diperkenankan untuk ruku’ dan sujud,
ingatlah bahwa lisanmu tidak pernah terbelenggu. Pintu Jannah tetap terbuka
lebar melalui kalimat-kalimat yang ringan engkau ucapkan namun memiliki
timbangan yang sangat berat di sisi Alloh. Jangan biarkan detik-detik Romadhon
berlalu begitu saja hanya karena engkau merasa tidak sedang “beribadah”.
Sungguh, setiap ucapan tasbih, tahmid, dan tahlilmu adalah tanaman di Jannah
yang sedang engkau tanam saat ini juga.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ﴾
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya
Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah
kalian mengingkari (ni’mat)-Ku.” (QS.
Al-Baqoroh: 152)
Bayangkanlah, saat engkau berdzikir, Robb
semesta alam menyebut namamu di hadapan para Malaikat-Nya. Kehormatan apalagi
yang lebih tinggi dari ini? Rosululloh ﷺ memberikan resep yang
sangat mudah bagi kita untuk memperberat timbangan amal di Akhiroh kelak.
Beliau ﷺ bersabda:
«كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ
عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ»
“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat
di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rohman (Alloh Yang Maha Pengasih):
Subhanallohi wa bihamdihi, Subhanallohil ‘azhim (Maha Suci Alloh dengan segala
puji-Nya, Maha Suci Alloh Yang Maha Agung).” (HR.
Al-Bukhori no. 6406 dan Muslim no. 2694)
Saudariku, ucapkanlah kalimat ini saat
engkau sedang menyiapkan hidangan berbuka untuk keluargamu. Ucapkanlah saat
engkau sedang beristirahat menahan nyeri haidhmu. Sungguh, dzikir adalah ibadah
yang paling fleksibel namun paling dahsyat dampaknya bagi ketenangan hati.
Rosululloh ﷺ juga bersabda tentang keutamaan 4 kalimat:
«أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى
اللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ»
“Ucapan yang paling dicintai oleh Alloh
ada empat: Subhanalloh (Maha Suci Alloh), Al-Hamdulillah (Segala puji bagi
Alloh), Laa ilaha illalloh (Tidak ada sesembahan yang haq selain Alloh), dan
Allohu Akbar (Alloh Maha Besar). Tidak mengapa bagimu memulai dari mana saja.” (HR. Muslim no. 2137)
Bukankah ini sangat mudah? Engkau tetap
bisa melampaui pahala orang yang berpuasa namun lisannya kering dari dzikir.
Dzikir adalah nutrisi bagi hati agar tidak layu di tengah gempuran ujian fisik
yang engkau alami.
2.2 Doa di Waktu-Waktu Mustajab
Mungkin engkau merasa sedih saat melihat
kaum Muslimin berbondong-bondong menuju Masjid untuk Sholat Tarowih, sementara
engkau hanya duduk di rumah. Wahai saudariku, ketahuilah bahwa Robb yang mereka
sembah di Masjid adalah Robb yang mendengarmu di dalam kamar. Doa adalah
senjata seorang Mu’min, dan Romadhon adalah waktu di mana doa-doa tidak akan
ditolak.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي
عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا
لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sungguh Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqoroh: 186)
Ayat ini diletakkan oleh Alloh di sela-sela
ayat tentang Puasa Romadhon. Ini menunjukkan bahwa doa memiliki kaitan yang
sangat erat dengan bulan suci ini, baik bagi yang sedang berpuasa maupun yang
berhalangan karena uzur. Engkau memiliki waktu-waktu istimewa untuk mengetuk
pintu langit. Rosululloh ﷺ bersabda:
«الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ»
“Doa itu adalah ibadah.” (HSR. Abu Dawud no. 1479)
Gunakanlah waktu menjelang berbuka, waktu
antara adzan dan iqomah, serta sepertiga malam terakhir untuk mengadu
kepada-Nya. Mintalah Jannah, mintalah perlindungan dari Naar, dan mintalah
kebaikan dunia serta Akhiroh. Tidak ada penghalang bagi seorang wanita haidh
untuk berdoa. Sungguh, Alloh menyukai hamba-Nya yang merengek dalam doa.
Dari Abu Huroiroh (58 H), Rosululloh ﷺ
bersabda:
«ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالإِمَامُ
العَادِلُ، وَدَعْوَةُ المَظْلُومِ»
“Ada tiga doa yang dikabulkan: Doa orang
yang berpuasa hingga berbuka, doa pemimpin adil, dan doa orang yang terzholimi.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3598)
Walaupun engkau sedang tidak berpuasa,
namun engkau berada dalam “suasana” Romadhon yang penuh barokah.
Manfaatkanlah setiap kesempatan untuk mengangkat tanganmu. Jangan biarkan rasa
sakit atau lemas menghalangimu untuk berbisik kepada Sang Kholiq.
2.3 Membasahi Lisan dengan Istighfar di Waktu Sahur
Waktu sahur adalah waktu yang sangat
istimewa. Seringkali engkau sebagai seorang wanita harus bangun lebih awal
untuk menyiapkan makanan bagi suami, anak-anak, atau anggota keluarga lainnya.
Wahai saudariku, jangan biarkan tanganmu sibuk di dapur sementara lisanmu diam.
Jadikanlah kesibukanmu di dapur sebagai ibadah, dan iringilah dengan istighfar.
Alloh Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya
yang beristighfar di waktu sahur:
﴿وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ﴾
“Dan orang-orang yang memohon ampun
(beristighfar) di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imron:
17)
Waktu sahur adalah waktu di mana Alloh Ta’ala
turun ke langit dunia untuk memberikan ampunan. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ
الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ
لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»
“Robb kita Tabaroka wa Ta’ala turun
setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, kemudian
Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuknya. Siapa
yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri kepadanya. Siapa yang memohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dia.” (HR.
Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)
Betapa ruginya jika waktu yang sangat mulia
ini hanya kita habiskan untuk urusan perut semata. Sambil memotong sayur atau
mengaduk masakan, ucapkanlah “Astaghfirulloh”. Sungguh, istighfar adalah
kunci pembuka segala kesulitan dan penenang jiwa yang gundah. Seorang Muslimah
yang senantiasa beristighfar akan merasakan kelapangan dada meskipun ia sedang
dalam kondisi fisik yang tidak nyaman akibat haidh.
Rosululloh ﷺ, manusia yang sudah
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, senantiasa
beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Maka, siapakah kita yang
penuh dengan khilaf ini jika enggan membasahi lisan dengan istighfar?
2.4 Bersholawat kepada Nabi ﷺ sebagai Pembuka
Keberkahan
Satu lagi ibadah lisan yang sangat agung
dan bisa dilakukan oleh wanita haidh tanpa batas adalah bersholawat kepada
Baginda Nabi ﷺ. Sholawat adalah bukti cinta kita kepada beliau dan merupakan
wasilah untuk mendapatkan rohmat dari Alloh Ta’ala.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا﴾
“Sungguh Alloh dan para malaikat-Nya
bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian
untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Betapa agungnya amalan ini sampai Alloh
sendiri melakukannya dan memerintahkan kita untuk mengikutinya. Di bulan
Romadhon, di mana setiap amal dilipatgandakan, bayangkanlah pahala yang engkau
raih dari setiap sholawat yang engkau lantunkan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا»
“Siapa yang bersholawat kepadaku satu
kali, maka Alloh akan bersholawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)
Bersholawat sepuluh kali dari Alloh berarti
engkau mendapatkan sepuluh rohmat, ampunan, dan keberkahan dalam hidupmu. Bagi
wanita yang sedang haidh, sholawat bisa menjadi penyejuk hati di saat ia merasa
jauh dari rutinitas ibadah fisik. Sholawat juga merupakan sebab dikabulkannya
doa. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ‘Umar bin Al-Khoththob (23 H):
«إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ
بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى
نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»
“Sungguh doa itu terhenti di antara
langit dan bumi, tidak akan naik sedikit pun darinya sampai engkau bersholawat
kepada Nabimu ﷺ.” (HHR. At-Tirmidzi no. 486)
Oleh karena itu saudariku, jangan biarkan
lisanmu menganggur. Hiasilah harimu dengan sholawat. Jadikanlah lisanmu sebagai
saksi di Akhiroh kelak bahwa meskipun engkau sedang tidak Sholat dan Puasa,
cintamu kepada Alloh dan Rosul-Nya tetap membara dan nyata melalui
dzikir-dzikirmu. Inilah cara kita menghidupkan Romadhon di atas pondasi ridho
yang telah kita bangun. Lisan yang basah dengan dzikir akan menjaga hati agar
tetap bercahaya, meskipun raga sedang beristirahat dari ibadah jasmani.
2.5 Dzikir
Muqoyyad
Dzikir beragam lafazhnya,
seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqolah, istighfar, dan sholawat. Jika
dzikir-dzikir ini dibaca secara mutlak tanpa terikat waktu dan jumlah, maka ia
disebut dzikir mutlak. Kebalikannya adalah dzikir muqoyyad (sudah ditentukan
waktunya), dan ia lebih utama dari dzikir mutlak. Maka jagalah dzikir pagi dan dzikir sore, serta dzikir pada momen khusus yang bisa Saudari
baca di Hisnul Muslim.
Bab 3: Al-Qur’an di Kala Haidh
3.1 Mendengarkan Lantunan Ayat Suci sebagai Ganti Membaca
Wahai saudariku yang merindukan kehangatan
kalam Ilahi, saat engkau merasa berat untuk lisanmu melantunkan ayat-ayat suci
karena kekhawatiranmu akan hukum syariat, janganlah engkau membiarkan telingamu
menutup diri dari cahaya-Nya. Al-Qur’an adalah obat bagi hati yang gundah dan
penerang bagi jiwa yang lara. Di bulan Romadhon, di mana setiap huruf yang
dibaca membawa beribu keberkahan, engkau tetap bisa meraih rohmat-Nya melalui
pendengaranmu.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ
فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾
“Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka
dengarkanlah dan diamlah agar kalian mendapat rohmat.” (QS. Al-A’rof: 204)
Ayat ini adalah undangan bagi setiap jiwa
untuk berdiam diri dan menyimak dengan saksama. Perhatikanlah janji Alloh di
akhir ayat: “agar kalian mendapat rohmat”. Sungguh, rohmat Alloh tidak
hanya turun kepada mereka yang membaca, tetapi juga kepada mereka yang
telinganya setia menyimak. Saat engkau sedang beristirahat atau sedang
melakukan pekerjaan rumah tangga, putarlah murrotal Al-Qur’an. Biarkan setiap
ayatnya menggetarkan relung hatimu.
Ketahuilah, Nabi ﷺ pun
sangat senang mendengarkan Al-Qur’an dari lisan orang lain. Diriwayatkan dari ‘Abdullah
bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), ia berkata:
قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَأْ عَلَيَّ» قُلْتُ: آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟
قَالَ: «فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي»
Nabi ﷺ berkata kepadaku: “Bacakanlah Al-Qur’an
untukku!” Aku berkata: “Wahai Rosululloh, apakah aku membacakannya untukmu padahal Al-Qur’an
diturunkan kepadamu?” Beliau bersabda: “Iya, sungguh aku suka mendengarkannya dari orang
lain.” (HR. Al-Bukhori no. 4583 dan Muslim no. 800)
Jika Nabi ﷺ saja yang dituruni wahyu
masih merasa nikmat mendengarkannya dari orang lain, maka apatah lagi kita?
Mendengarkan Al-Qur’an dengan penuh tadabbur adalah ibadah yang sangat mulia
bagi wanita yang sedang haidh. Ini adalah cara yang paling aman dan tetap
mendatangkan pahala yang melimpah tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
3.2 Mentadabburi Makna Al-Qur’an dan Mempelajari Tafsirnya
Saudariku, Al-Qur’an diturunkan bukan
sekadar untuk dibaca dengan lisan, melainkan untuk dipahami dengan hati dan
diamalkan dengan perbuatan. Saat engkau sedang berhalangan untuk memegang
Mushaf, inilah waktu yang paling tepat bagimu untuk menyelami samudera
maknanya. Bacalah buku-buku tafsir, dengarkanlah penjelasan para ulama tentang
maksud dari ayat-ayat Alloh.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ
إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami
turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan
(mentadabburi) ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran
mendapat pelajaran.” (QS. Shod: 29)
Tadabbur tidak membutuhkan keadaan suci
dari hadats besar maupun kecil. Hati yang jernih dan niat yang tulus adalah
syarat utamanya. Romadhon adalah bulan Al-Qur’an, maka jadikanlah momen haidhmu
sebagai “madrosah” untuk lebih mengenal isi Al-Qur’an.
Pelajarilah bagaimana tafsir ayat-ayat tentang Sholat, Puasa, dan Akhlaq.
Sungguh, satu ayat yang engkau pahami maknanya dan meresap ke dalam sanubari,
itu jauh lebih baik daripada membaca banyak juz namun hati dalam keadaan lalai.
Rosululloh ﷺ memberikan motivasi yang
sangat besar bagi mereka yang berkumpul (meskipun secara virtual atau melalui
buku) untuk mempelajari Al-Qur’an:
«وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ
فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ
إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ
الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah
satu rumah Alloh (Masjid) untuk membaca Kitabulloh dan saling mempelajarinya di
antara mereka, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rohmat akan
meliputi mereka, Malaikat akan mengelilingi mereka, dan Alloh akan
menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2699)
Walaupun engkau mempelajarinya di rumah
karena sedang uzur, selama engkau bersungguh-sungguh ingin memahami Kalam-Nya,
maka ketenangan (sakinah) dan rohmat itu pun akan sampai kepadamu. Jangan
biarkan pikiranmu kosong, isilah dengan hikmah-hikmah dari Al-Qur’an yang
engkau pelajari melalui tafsir yang terpercaya.
3.3 Bolehkah Membaca Al-Qur’an Tanpa Menyentuh Mushaf Secara Langsung?
Ini adalah bahasan yang seringkali membuat
para Muslimah bimbang. “Bolehkah aku membaca Al-Qur’an saat haidh?”
Wahai saudariku, dalam masalah ini terdapat perselisihan di antara para ulama,
namun kita akan melihat pendapat yang lebih kuat (rojih) agar hatimu tenang
dalam beribadah.
Pendapat yang paling kuat dan memudahkan
bagi wanita haidh—terutama bagi mereka yang khawatir hafalannya hilang atau
mereka yang sedang belajar—adalah diperbolehkannya membaca Al-Qur’an tanpa
menyentuh Mushaf secara langsung. Mengapa demikian? Karena tidak ada dalil
shohih dan tegas (shorih) yang melarang wanita haidh membaca Al-Qur’an. Adapun
hadits yang sering dikutip tentang larangan bagi orang junub dan haidh untuk
membaca sedikit pun dari Al-Qur’an adalah hadits yang dho’if (lemah).
Imam Malik (179 H), Ath-Thobari (310 H),
Ibnu Taimiyyah
(728 H), Ibnu Al-Qoyyim (751 H), Ibnu ‘Utsaimin (1421 H), dan Komite Tetap Urusan Riset
Ilmiah dan Fatwa (Al-Lajnah Ad-Da-imah) cenderung membolehkan wanita
haidh membaca Al-Qur’an demi kemaslahatan, seperti agar hafalan tidak hilang
atau untuk keperluan belajar mengajar.
Hal itu berdasarkan alasan-alasan berikut
ini:
Pertama:
Sungguh para wanita di zaman Rosululloh ﷺ senantiasa mengalami
haidh, namun tidak ada Hadits beliau pernah melarang mereka untuk membaca Al-Qur’an. Seandainya wanita
haidh itu terlarang membacanya, tentu akan datang Hadits-Hadits yang shohih
lagi tegas mengenai larangan tersebut, sebagaimana adanya larangan bagi mereka
untuk mengerjakan Sholat dan Puasa. Maka, ketika Hadits-Hadits yang ada tidak
bisa dijadikan sebagai landasan hukum (karena dho’if), dipahami bahwa syariat memang tidak melarang
wanita haidh untuk membacanya.
Kedua:
Sungguh haidh bukanlah hasil usaha atau keinginan wanita itu sendiri, dan dia
pun tidak kuasa untuk mengangkat atau menghentikannya. Terkadang masa haidh itu
berlangsung lama bagi seorang wanita, sehingga ia terancam akan lupa dengan
ayat-ayat yang telah ia hafal jika dilarang membacanya dalam waktu yang lama.
Namun, yang perlu diperhatikan adalah adab
terhadap Mushaf.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ﴾
“Tidak ada yang menyentuhnya kecuali
hamba-hamba yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah:
79)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang
dimaksud “Al-Muthohharun” dalam ayat ini adalah para Malaikat, dan kitab
yang dimaksud adalah Lauh Mahfuzh. Namun, sebagai bentuk penghormatan (ta’zhim)
kepada Al-Qur’an, jumhur ulama tetap menganjurkan untuk tidak menyentuh
lembaran Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci.
Lalu bagaimana solusinya bagimu di bulan
Romadhon? Engkau bisa membaca Al-Qur’an melalui perangkat elektronik seperti
telepon pintar (HP) atau tablet. Perangkat tersebut bukanlah Mushaf, sehingga
tidak berlaku hukum Mushaf padanya. Engkau juga bisa menggunakan sarung tangan
atau pembatas jika ingin membalik halaman Mushaf fisik tanpa menyentuh
kertasnya secara langsung.
Rosululloh ﷺ bersabda kepada Abu
Huroiroh (58 H):
«إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ
يَنْجُسُ»
“Sungguh orang Mu’min itu tidaklah
najis.” (HR. Al-Bukhori no. 283 dan Muslim no.
371)
Darah haidh memang najis, namun zat dirimu
sebagai seorang Muslimah tetaplah suci. Oleh karena itu, lisanmu tetap
diperbolehkan melakukan dzikrulloh, dan Al-Qur’an adalah sebaik-baik dzikir.
Ibunda ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha menceritakan kebiasaan Nabi ﷺ:
«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ»
“Nabi ﷺ
senantiasa berdzikir kepada Alloh dalam setiap keadaannya.” (HR. Muslim no. 373)
Maka, selama engkau menjaga adab dengan
tidak menyentuh Mushaf secara langsung, silakan engkau tetap melantunkan
ayat-ayat suci untuk menjaga hafalanmu atau untuk sekadar meraih pahala bacaan
di bulan yang mulia ini. Ambillah kemudahan yang diberikan syariat ini dengan
penuh rasa syukur. Sungguh, Alloh tidak ingin menyulitkanmu, melainkan ingin
menyucikanmu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu.
Dengan memahami hal ini, engkau tidak perlu
lagi merasa jauh dari Al-Qur’an selama masa haidhmu di bulan Romadhon. Lisanmu
bisa tetap basah, telingamu tetap terjaga, dan hatimu tetap bercahaya dengan
Kalamulloh.
Namun, jika Saudari
menyibukkan diri dengan dzikir dan doa selain Al-Qur’an maka itu lebih
baik, untuk keluar dari perselisihan ulama. Sebagai gantinya, Saudari bisa
menggantinya dengan mendengarkannya atau membaca buku tentangnya atau menonton
kajian Tafsirnya.
Bab 4:
Sodaqoh dan Khidmah (Pelayanan)
4.1 Melipatgandakan Pahala dengan Memberi Makan Orang Berpuasa
Wahai saudariku yang mulia, mungkin saat
ini engkau sedang berada di dapur, berpeluh di depan tungku api, dan tanganmu
sibuk mengolah berbagai hidangan. Terkadang muncul bisikan di hatimu, “Ah,
aku hanya memasak, sementara mereka yang aku layani sedang mendulang pahala
Puasa.” Buang jauh-jauh pikiran itu, wahai Muslimah! Sungguh, keringatmu
yang menetes saat menyiapkan hidangan berbuka adalah saksi bisu betapa besarnya
peluang pahalamu.
Alloh Ta’ala berfirman tentang
kemuliaan berbagi makanan:
﴿وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ
عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ
اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا﴾
“Dan mereka memberikan makanan yang
disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Sambil
berkata dalam hati): ‘Sungguh kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap
wajah Alloh, kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula ucapan
terima kasih.’” (QS. Al-Insan: 8-9)
Engkau tidak harus berpuasa untuk mendapatkan pahala Puasa.
Cukuplah engkau sediakan air minum, sebutir kurma, atau sepiring makanan bagi
mereka yang berpuasa, maka pahala mereka akan mengalir pula kepadamu tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Rosululloh ﷺ
memberikan janji yang sangat nyata dalam sabdanya:
«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا
كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا»
“Siapa yang memberi makan berbuka bagi
orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang
berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HSR. At-Tirmidzi no. 807)
Renungkanlah, jika di
rumahmu ada suami dan tiga anak yang berpuasa, lalu engkau yang menyiapkan
segalanya, maka dalam sehari engkau bisa meraih empat pahala Puasa sekaligus! Inilah perdagangan yang sangat menguntungkan dengan Alloh. Walaupun
engkau sedang haidh, engkau tetap bisa “memanen” pahala Puasa melalui
tangan-tanganmu yang dermawan itu.
4.2 Semangat Shodaqoh Wanita di Bulan Romadhon
Romadhon adalah bulan kedermawanan.
Rosululloh ﷺ adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau
memuncak saat bulan Romadhon tiba. Beliau ﷺ tidak pernah menolak
permintaan siapa pun yang meminta kepada beliau.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu
‘anhuma (68 H), ia berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ
فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ... فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ»
“Rosululloh ﷺ
adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi saat bulan
Romadhon ketika Jibril menemui beliau... Sungguh Rosululloh ﷺ
lebih dermawan dalam memberikan kebaikan daripada angin yang berhembus (karena
cepat dan meratanya).” (HR. Al-Bukhori no. 6 dan
Muslim no. 2308)
Wahai Muslimah, Shodaqoh adalah pembasuh
dosa dan pelindung dari api Naar. Secara khusus, Nabi ﷺ
pernah berpesan kepada kaum wanita untuk memperbanyak Shodaqoh sebagai tebusan
atas kekurangan-kekurangan yang mungkin dilakukan. Beliau ﷺ
bersabda:
«يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ،
تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ
النَّارِ»
“Wahai sekalian kaum wanita,
bershodaqohlah kalian dan perbanyaklah istighfar, karena sungguh aku melihat
kalian adalah penghuni Naar yang paling banyak.” (HR.
Muslim no. 79)
Mendengar hal ini, para Shohabat wanita
tidak tinggal diam. Mereka tidak menunggu punya harta yang melimpah. Mereka
melepas cincin, kalung, dan perhiasan mereka untuk diserahkan kepada Nabi ﷺ
sebagai Shodaqoh. Inilah semangat yang harus engkau teladani. Di bulan Romadhon
ini, meskipun engkau sedang haidh, jangan lewatkan satu hari pun tanpa
memberikan Shodaqoh, meskipun hanya sedikit. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿الَّذِينَ يُنْفِقُونَ
أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ
عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya
di malam dan di siang hari secara tersembunyi maupun terang-terangan, mereka
mendapat pahala di sisi Robb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS.
Al-Baqoroh: 274)
Shodaqohmu akan menjadi naungan bagimu di
hari Kiamat kelak. Jangan merasa kecil hati jika hartamu terbatas, karena Alloh
melihat ketulusan hatimu, bukan jumlah nominalnya.
4.3 Melayani Kebutuhan Keluarga sebagai Bentuk Jihad bagi Wanita
Saudariku, terkadang rasa lelah menyergap
saat engkau harus mengurus rumah tangga di tengah kondisi fisik yang tidak
menentu karena haidh atau nifas. Ketahuilah, setiap khidmah atau pelayanan yang
engkau berikan kepada suami dan keluargamu dengan mengharap wajah Alloh adalah
ibadah yang setara dengan Jihad.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Anas bin Malik (93 H), dikisahkan para Shohabat sedang melakukan perjalanan
(safar) di bulan Romadhon. Sebagian mereka berpuasa dan sebagian lagi tidak
berpuasa (karena mengambil keringanan safar). Mereka yang tidak berpuasa inilah
yang bekerja keras melayani, mendirikan tenda, dan memberi minum tunggangan.
Melihat hal itu, Nabi ﷺ bersabda:
«ذَهَبَ الْمُفْطِرُونَ
الْيَوْمَ بِالأَجْرِ»
“Orang-orang yang tidak berpuasa hari
ini pergi dengan membawa semua pahala.” (HR.
Al-Bukhori no. 2890 dan Muslim no. 1119)
Hadits ini adalah tamparan lembut bagi rasa
sedihmu. Orang-orang yang melayani mereka yang beribadah, justru mendapatkan
pahala yang sangat besar. Jika engkau melayani suamimu agar ia bisa berpuasa
dengan tenang, melayani anak-anakmu agar mereka semangat belajar agama, maka
engkau telah mengambil porsi pahala yang besar di bulan ini.
Bahkan, membantu orang yang sedang
melakukan ketaatan memiliki pahala tersendiri. Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا
فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا، وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ
فَقَدْ غَزَا»
“Siapa yang menyiapkan bekal bagi orang
yang berperang di jalan Alloh, maka sungguh ia telah ikut berperang. Dan siapa
yang menjaga keluarga orang yang berperang di jalan Alloh dengan baik, maka sungguh
ia telah ikut berperang.” (HR. Al-Bukhori no.
2843 dan Muslim no. 1895)
Dalam konteks Romadhon, engkau adalah
penyedia bekal bagi para “pejuang” yang sedang menahan lapar dan dahaga
karena Alloh. Maka pahalamu pun sama dengan mereka. Lakukanlah tugasmu dengan
senyuman dan hati yang ridho. Setiap suapan makanan yang engkau berikan kepada
keluargamu adalah Shodaqoh. Setiap pakaian yang engkau cuci agar mereka bisa
Sholat dengan suci dan rapi adalah amal sholih.
4.4 Menunaikan Zakat Maal dan Zakat Fithri Tepat Waktu
Sebagai penutup ladang amal harta ini,
jangan lupakan kewajiban utama yang telah Alloh gariskan, yaitu Zakat. Bagi
engkau yang memiliki harta yang telah mencapai nishob (batas minimal) dan haul
(satu tahun), tunaikanlah Zakat Maal-mu. Dan bagi setiap jiwa, termasuk engkau
yang sedang haidh atau nifas, wajib menunaikan Zakat Fithri sebagai pembersih
bagi orang yang berpuasa dan makanan bagi orang miskin.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ
وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ
اللَّهِ﴾
“Dan dirikanlah Sholat serta tunaikanlah
Zakat. Apa pun kebaikan yang kalian kerjakan untuk diri kalian, niscaya kalian
akan mendapatkannya (balasan) di sisi Alloh.” (QS.
Al-Baqoroh: 110)
Meskipun saat ini engkau tidak sedang
Sholat, perintah menunaikan Zakat tetap berlaku bagimu jika syaratnya
terpenuhi. Zakat adalah pilar Islam yang tidak boleh runtuh. Mengenai Zakat
Fithri, Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menjelaskan tujuannya:
«فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ
وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ»
“Rosululloh ﷺ
mewajibkan Zakat Fithri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari
perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta sebagai pemberian makanan bagi
orang-orang miskin.” (HSR. Abu Dawud no. 1609)
Bagi wanita haidh, Zakat Fithri tetap wajib
dikeluarkan oleh dirinya sendiri atau melalui walinya. Ini adalah bentuk
kepedulian sosial yang nyata. Dengan berzakat, engkau sedang membersihkan
hartamu dan mensucikan jiwamu dari sifat kikir. Jangan tunda-tunda dalam
menunaikannya. Lakukanlah dengan penuh kegembiraan karena engkau telah membantu
saudara-saudaramu yang kekurangan agar mereka pun bisa merasakan kebahagiaan di
hari raya kelak.
Sungguh, ladang pahala melalui harta dan
pelayanan ini sangatlah luas. Jangan engkau sempitkan dirimu hanya pada satu
jenis ibadah saja. Tangan yang memberi, kaki yang melangkah melayani, dan harta
yang dikeluarkan di jalan Alloh akan menjadi pembela bagimu di hadapan Robb
semesta alam.
Bab 5: Lailatul Qodr Tanpa Sholat
5.1 Hakikat Lailatul Qodr bagi Setiap Muslim dan Muslimah
Wahai saudariku yang jiwanya bergetar
merindukan malam yang lebih baik dari seribu bulan, janganlah engkau merasa
bahwa pintu keberkahan itu tertutup bagimu hanya karena engkau sedang haidh.
Lailatul Qodr bukanlah milik mereka yang Sholat saja, melainkan milik setiap
hamba Alloh yang menghidupkan malamnya dengan ketaatan. Sungguh, kemuliaan
malam itu meliputi seluruh penjuru bumi dan diberikan kepada siapa saja yang
dikehendaki oleh Ar-Rohman.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي
لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ
خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾
“Sungguh Kami telah menurunkannya
(Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS.
Al-Qodr: 1-3)
Renungkanlah, kebaikan yang engkau lakukan
di malam itu, meskipun “hanya” berupa dzikir atau doa yang tulus,
pahalanya lebih baik daripada amal yang dikerjakan selama 1000 bulan atau 83 tahun lebih. Ini adalah
anugerah yang sangat luas. Bagi seorang wanita haidh, Lailatul Qodr adalah saat
untuk membuktikan bahwa ketaatannya tidak bergantung pada gerakan badan,
melainkan pada ketulusan penghambaan.
Rosululloh ﷺ memberikan motivasi agar
kita sungguh-sungguh mencarinya:
«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ
فِي الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»
“Carilah Lailatul Qodr pada malam ganjil
di sepuluh malam terakhir dari bulan Romadhon.” (HR.
Al-Bukhori no. 2017 dan Muslim no. 1169)
Tidak ada satu pun keterangan dari Nabi ﷺ yang
mengecualikan wanita haidh dari usaha mencari malam ini. Jika engkau menjaga
lisanmu agar tetap basah dengan dzikir, menjaga hatimu agar tetap terpaut
kepada Alloh, dan menjaga dirimu dari dosa, maka engkau sedang “berburu”
Lailatul Qodr dengan cara yang sangat mulia.
Durasi Lailatul Qodr
adalah dari Maghrib sampai Subuh. Maka siapa yang beribadah di antara
waktu tersebut maka seakan-akan ia melakukannya selama 1000 bulan.
5.2 Amalan Utama di Sepuluh Malam Terakhir bagi Wanita Haidh
Mungkin engkau bertanya-tanya, “Jika aku
tidak bisa Sholat Tarowih dan tidak bisa membaca Al-Qur’an dari Mushaf, apa
yang harus aku lakukan di malam-malam ganjil itu?” Wahai saudariku, resep
paling utama telah diajarkan oleh Rosululloh ﷺ melalui lisan Ibunda
kita, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha,
ia berkata:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ
إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: «قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ
فَاعْفُ عَنِّي»
Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, apa
pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah Lailatul Qodr, apa yang harus
aku ucapkan?”
Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Allohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii
(Yaa Alloh, sungguh Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai kemaafan, maka
maafkanlah aku).” (HSR. At-Tirmidzi no. 3513)
Perhatikanlah doa ini. Nabi ﷺ
tidak memerintahkan Sholat sekian roka’at atau amalan fisik yang berat,
melainkan sebuah doa pendek yang sarat makna. Engkau bisa melantunkan doa ini
ribuan kali sambil berbaring, sambil duduk, atau sambil menyusui bayimu. Inilah
amalan kunci di malam-malam terakhir Romadhon.
Selain itu, berdzikirlah dengan
dzikir-dzikir yang telah kita bahas di bab sebelumnya. Tasbih, Tahmid, Tahlil,
dan Sholawat adalah teman setiamu. Ingatlah sabda Nabi ﷺ
tentang keutamaan malam Romadhon secara umum:
«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ
إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qodr
karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah
lalu.” (HR. Al-Bukhori no. 1901 dan Muslim no.
760)
Menghidupkan malam (qiyam) bagi wanita
haidh bukan dengan Sholat, melainkan dengan tetap terjaga untuk berdzikir,
beristighfar, dan merenungi kebesaran Alloh. Jangan engkau habiskan malam-malam
itu hanya dengan tidur lelap atau sekadar bermain telepon genggam. Bangunlah,
bersihkan dirimu, pakailah wewangian (di dalam rumah), dan duduklah di tempat
sujudmu yang biasa untuk bermunajat kepada Robb semesta alam.
5.3 Menjaga I’tikaf Hati Meskipun Berdiam di Rumah
I’tikaf secara bahasa berarti menetap atau
mengurung diri. Bagi laki-laki dan wanita yang suci, I’tikaf dilakukan di
Masjid. Namun bagimu yang sedang haidh, engkau bisa melakukan “I’tikaf Hati”.
Engkau mengurung hatimu dari kesibukan duniawi dan memusatkannya hanya kepada
Alloh Ta’ala.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا
لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ﴾
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus.” (QS.
Al-Bayyinah: 5)
Ikhlas adalah I’tikaf yang sesungguhnya.
Matikanlah sejenak kebisingan media sosial, kurangi obrolan yang tidak
bermanfaat, dan buatlah satu sudut di rumahmu sebagai tempat tenang untuk
menyendiri bersama Alloh. Di sanalah engkau merenungi setiap nikmat-Nya,
meratapi setiap dosamu, dan membangun tekad untuk menjadi pribadi yang lebih
baik.
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)
menjelaskan bahwa maksud dari I’tikaf adalah memutuskan hubungan dengan makhluk
demi bersambung dengan Sang Kholiq. Maka, meskipun jasadmu berada di dapur atau
di ruang tengah, biarkan hatimu senantiasa “beri’tikaf” dalam
ketundukan.
Ingatlah bahwa Alloh melihat apa yang ada
di hatimu. Jika hatimu benar-benar rindu untuk beri’tikaf di Masjid namun
terhalang oleh haidh, maka pahala I’tikaf itu telah Alloh catat bagimu. Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا
فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ﴾
“Katakanlah: ‘Jika kalian
menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kalian melahirkannya, niscaya
Alloh mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imron: 29)
Jadikanlah sepuluh malam terakhir ini
sebagai momen privasi antara engkau dan Penciptamu. Bisikkanlah segala hajatmu,
adukanlah segala keluhmu. Sungguh, seorang hamba yang berduaan dengan Robbnya di kegelapan malam
tidak akan pernah kembali dengan tangan kosong.
Bab 6: Menuntut Ilmu dan Kebaikan
6.1 Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu di Bulan Romadhon
Wahai saudariku yang haus akan ilmu, haidh
bukanlah penghalang bagimu untuk melangkahkan kaki menuju taman-taman Jannah di
dunia ini, yaitu majelis ilmu. Jika majelis tersebut diadakan di teras Masjid
atau tempat umum yang tidak dilarang bagi wanita haidh untuk memasukinya, maka
datanglah. Jika majelis itu diadakan secara daring melalui layar perangkatmu,
maka simaklah dengan seksama.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ
آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾
“Alloh akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Di bulan Romadhon, setiap ilmu yang engkau
pelajari akan menjadi cahaya yang menuntunmu dalam beramal. Jangan biarkan masa
haidhmu berlalu tanpa ada satu pun ilmu baru yang engkau serap. Menuntut ilmu
adalah ibadah yang sangat dicintai oleh Alloh. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ
فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»
“Siapa yang menempuh suatu jalan untuk
mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan baginya jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)
Engkau bisa membaca buku-buku agama,
mendengarkan ceramah para asatidz yang bermanhaj Salaf, atau mempelajari
hukum-hukum fiqih yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Ilmu adalah imam
bagi amal. Dengan ilmu, engkau akan tahu bagaimana cara beribadah yang benar
meskipun sedang haidh, sehingga engkau tidak terjebak dalam rasa sedih yang
tidak beralasan atau amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya.
6.2 Berdakwah dan Mengajak kepada Kebaikan di Lingkungan Sekitar
Ketahuilah saudariku, dakwah bukan hanya
tugas para ustadz atau penceramah kondang. Setiap Muslimah adalah daiyah
(pendakwah) di lingkungannya masing-masing. Di bulan Romadhon, engkau bisa
mengajak saudaramu yang lain untuk lebih giat beribadah, mengingatkan mereka
tentang waktu Sholat, atau berbagi ilmu yang baru saja engkau dapatkan.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ
أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ﴾
“Kalian adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari
yang munkar, dan beriman kepada Alloh.” (QS. Ali
‘Imron: 110)
Berdakwah tidak harus melalui lisan yang
panjang lebar. Saat engkau tetap ceria dan sabar menyiapkan hidangan berbuka
bagi orang lain meskipun engkau sendiri merasa sakit karena haidh, itu adalah
dakwah melalui akhlaq (dakwah bil hal). Saat engkau membagikan artikel
bermanfaat atau dalil-dalil syar’i melalui media sosialmu, itu adalah dakwah
melalui tulisan.
Rosululloh ﷺ bersabda tentang besarnya
pahala orang yang menunjukkan kebaikan:
«مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ
فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»
“Siapa yang menunjukkan kepada suatu
kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)
Bayangkan jika karena ajakanmu, temanmu menjadi
tergerak untuk beristighfar atau memberikan shodaqoh, maka engkau mendapatkan
pahala yang sama dengan mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Ini
adalah cara cerdas bagimu untuk terus memupuk pahala meskipun engkau sedang “libur”
dari Sholat dan Puasa.
6.3 Menjaga Lisan dari Ghibah dan Perbuatan Sia-sia
Puncak dari ketaqwaan di bulan Romadhon
adalah kemampuan menahan diri dari segala hal yang tidak diridhoi oleh Alloh.
Wahai saudariku, meskipun engkau tidak diperintahkan menahan lapar dan dahaga,
engkau tetap diperintahkan untuk “berpuasa” dari kemaksiatan lisan dan
anggota badan. Jangan sampai masa haidhmu menjadi alasan untuk bebas berbicara
apa saja, termasuk ghibah (menggunjing) atau berkata kotor.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ
إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tiada suatu ucapan pun yang
diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)
Malaikat Roqib dan ‘Atid tidak pernah libur
mencatat, baik engkau sedang suci maupun sedang haidh. Rosululloh ﷺ
memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang tidak bisa menjaga lisannya di
bulan suci ini:
«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ
الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»
“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan
dusta dan perbuatan buruk, maka Alloh tidak butuh kepadanya dalam hal dia
meninggalkan makan dan minumnya.” (HR.
Al-Bukhori no. 1903)
Hadits ini memang ditujukan bagi orang yang
berpuasa, namun maknanya berlaku umum. Jika orang yang berpuasa saja bisa
terancam kehilangan pahala puasanya karena lisan yang buruk, apalagi kita yang
sedang tidak berpuasa. Jangan biarkan waktu luangmu karena tidak Sholat malah
engkau gunakan untuk membicarakan aib orang lain atau menonton hal-hal yang
sia-sia.
Jadikanlah lisanmu sebagai benteng. Jika
engkau tidak bisa berkata baik, maka diam adalah pilihan yang paling mulia.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Siapa yang beriman kepada Alloh dan
hari Akhiroh, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)
Dengan menjaga lisan, engkau sedang menjaga
kesucian hatimu. Dengan menyebar kebaikan, engkau sedang membangun istanamu di
Jannah. Inilah cara kita menghiasi hari-hari Romadhon dengan cahaya ilmu dan
kemuliaan akhlaq, sehingga setiap detik yang berlalu tetap bernilai ibadah di
sisi Robb yang Maha Melihat.
Bab 7: Akhlaq dan Adab Wanita Haidh
7.1 Menjaga Kehormatan Bulan Romadhon Meskipun Tidak Berpuasa
Wahai saudariku yang berbudi luhur,
meskipun saat ini engkau sedang diberikan keringanan oleh Alloh untuk tidak
menahan lapar dan dahaga, bukan berarti kesucian bulan Romadhon hilang dari
harimu. Seorang Muslimah yang mencintai Robb-nya akan senantiasa mengagungkan
apa yang diagungkan oleh-Nya. Menjaga adab saat tidak berpuasa adalah tanda
beningnya hati dan tingginya ketaqwaan.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ
شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ﴾
“Demikianlah (perintah Alloh). Dan siapa
yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Alloh, maka sungguh hal itu timbul dari
ketaqwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Romadhon adalah syi’ar Alloh yang sangat
besar. Di antara bentuk mengagungkan bulan ini adalah dengan tidak menampakkan aktivitas
makan atau minum secara terang-terangan di hadapan orang yang sedang berpuasa.
Bukan karena Puasamu yang utama, melainkan karena penghormatanmu terhadap
perintah Alloh yang sedang dijalankan oleh saudara-saudarimu.
Ingatlah bagaimana para Shohabat sangat
menjaga kehormatan syi’ar agama. Dari Abu Huroiroh (58 H), Nabi ﷺ
bersabda:
«كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى
إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ»
“Setiap umatku dimaafkan (dosanya),
kecuali orang-orang yang menampakkannya secara terang-terangan.” (HR. Al-Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990)
Meskipun makan bagimu saat haidh adalah
mubah (boleh), namun menampakkannya di depan umum bisa melukai perasaan orang
lain atau bahkan menimbulkan fitnah bagi dirimu sendiri. Jadilah Muslimah yang
anggun, yang tetap menjaga suasana ibadah di rumah dan lingkungannya meskipun
ia sendiri sedang memiliki udzur.
7.2 Kesabaran dan Kelapangan Dada Menghadapi Gejala Fisik Haidh
Saudariku, seringkali datangnya haidh
dibarengi dengan rasa nyeri di perut, sakit di pinggang, hingga suasana hati
yang mudah berubah. Janganlah engkau menggerutu atau mencela keadaan ini.
Ketahuilah bahwa setiap rasa sakit yang engkau rasakan, meskipun hanya seberat
tusukan duri, adalah penggugur dosa-dosamu.
Alloh Ta’ala berfirman tentang
balasan bagi orang yang sabar:
﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ
أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾
“Sungguh hanya orang-orang yang
bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Kesabaranmu menghadapi gangguan fisik saat
haidh adalah ibadah yang sangat tinggi nilainya. Rosululloh ﷺ
memberikan kabar gembira yang sangat indah bagi setiap Muslim yang tertimpa
musibah atau rasa sakit:
«مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ
مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى
الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa rasa
lelah, sakit yang menahun, kegundahan, kesedihan, gangguan, hingga kesusahan,
bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan menghapuskan
dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Al-Bukhori
no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Maka, saat rasa sakit itu datang di siang
hari Romadhon, tersenyumlah dan katakan dalam hatimu, “Yaa Alloh, aku ridho
atas ketetapan-Mu, maka jadikanlah sakit ini sebagai pembersih bagi jiwaku.”
Dengan sikap seperti ini, engkau tetap mendulang pahala besar meskipun hanya
terbaring di tempat tidur.
7.3 Menjauhi Maksiat sebagai Bentuk Taqwa
Tujuan akhir dari Romadhon adalah menjadi
pribadi yang bertaqwa. Taqwa berarti menjalankan perintah Alloh dan menjauhi
larangan-Nya. Wahai Muslimah, jangan sampai karena engkau sedang tidak Sholat
dan Puasa, engkau merasa longgar dalam menjaga pandangan, pendengaran, dan
lisan dari kemaksiatan.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ
مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
* الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan
dari Robb kalian dan menuju Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang
menginfakkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang
yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Alloh
mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS.
Ali ‘Imron: 133-134)
Ayat ini menunjukkan bahwa sifat Taqwa
sangat berkaitan dengan akhlaq dan pengendalian diri. Menahan amarah saat
emosimu naik akibat perubahan hormon ketika haidh adalah bentuk ketaqwaan yang
nyata. Menjaga pandangan dari tayangan yang harom di media sosial adalah bentuk
Jihad yang engkau lakukan.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا
كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ
حَسَنٍ»
“Bertaqwalah kepada Alloh di mana pun
engkau berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan
menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1987)
Ingatlah, Romadhon adalah madrosah bagi jiwa. Meskipun
raga tidak berpuasa, biarkan jiwamu tetap “berpuasa” dari segala yang
dibenci oleh Alloh. Inilah adab sejati seorang Muslimah di bulan suci.
Bab 8: Tata Cara Qodho Puasa dan Persiapan Idul Fithri
8.1 Kewajiban Mengganti Hutang Puasa bagi Wanita Haidh dan Nifas
Wahai saudariku, setelah bulan Romadhon
berlalu, engkau masih memiliki satu amanah yang harus ditunaikan, yaitu
mengganti (qodho) hari-hari Puasa yang engkau tinggalkan. Inilah bentuk kasih
sayang Alloh; Dia memberimu keringanan saat haidh, namun tetap memberimu
kesempatan untuk meraih pahala Puasa di hari yang lain agar engkau tidak
merugi.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ
مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾
“Maka siapa di antara kalian yang sakit
atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya mengganti)
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqoroh: 184)
Wanita haidh dan nifas dianalogikan dengan
orang yang sakit, karena adanya gangguan fisik yang menghalangi mereka untuk
berpuasa. Engkau wajib mencatat dengan teliti berapa hari engkau tidak berpuasa
agar tidak ada yang terlewat. Ibunda ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha
menceritakan bagaimana beliau menunaikan kewajiban ini:
«كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ
الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ»
“Dahulu aku memiliki hutang Puasa
Romadhon, dan aku tidak mampu mengqodho-nya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhori no. 1950 dan Muslim no. 1146)
Para ulama, seperti Ibnu Qudamah (620 H),
menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menunda qodho Puasa selama
belum datang Romadhon berikutnya. Namun, menyegerakan kebaikan adalah hal yang
jauh lebih utama. Jika engkau memiliki kekuatan, segeralah ganti hutangmu
setelah hari raya, agar jiwamu merasa tenang karena telah menunaikan hak Alloh.
8.2 Adab Wanita Keluar Menuju Sholat Idul Fithri Meskipun Sedang Haidh
Hari raya Idul Fithri adalah hari
kemenangan dan kegembiraan bagi seluruh umat Islam. Tahukah engkau saudariku,
meskipun engkau sedang haidh dan tidak bisa melaksanakan Sholat Id, Nabi ﷺ
tetap memerintahkanmu untuk keluar menuju tempat Sholat (tanah lapang). Engkau
tidak boleh merasa terasing dari kegembiraan umat ini.
Ummu ‘Athiyyah rodhiyallahu ‘anha
(70 H) menceritakan perintah Nabi ﷺ ini:
«أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الفِطْرِ وَالأَضْحَى، العَوَاتِقَ
وَالحُيَّضَ وَذَوَاتِ الخُدُورِ، فَأَمَّا الحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ
الخَيْرَ وَدَعْوَةَ المُسْلِمِينَ»
“Rosululloh ﷺ
memerintahkan kami untuk mengeluarkan para gadis, wanita haidh, dan wanita yang
dipingit pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. Adapun wanita yang haidh, mereka
memisahkan diri dari tempat Sholat, namun mereka ikut serta menyaksikan
kebaikan dan doa kaum Muslimin.” (HR. Muslim no.
890 dan Al-Bukhori no. 324)
Lihatlah betapa indahnya syariat ini.
Engkau diajak keluar untuk ikut mengaminkan doa-doa, mendengarkan khutbah, dan
merasakan persaudaraan sesama Muslim. Engkau hanya perlu menjauh dari tempat
sujud yang digunakan untuk Sholat, namun engkau tetap berada dalam kerumunan
keberkahan. Janganlah engkau mengurung diri di rumah dengan alasan haidh,
karena hari itu adalah hari di mana rohmat Alloh tercurah luas bagi siapa saja
yang hadir.
Persiapkanlah dirimu dengan mandi (bukan
mandi wajib, tapi mandi kebersihan), pakailah pakaian terbaikmu yang tidak
membentuk lekuk tubuh dan tidak menarik perhatian lelaki ajnabi, lalu
berangkatlah dengan melantunkan takbir dengan suara lirih. Sungguh, Idul
Fithrimu tetaplah sempurna dengan kehadiranmu di tengah-tengah doa kaum
Muslimin.
Penutup
Wahai saudariku yang senantiasa dalam
penjagaan Alloh, sampailah kita di penghujung renungan ini. Kita telah
menyusuri lorong-lorong ibadah yang luas, membuktikan bahwa bagi seorang Muslimah,
Romadhon tidak pernah menjadi masa “libur” dari ketaatan. Darah yang
mengalir dari rahimmu bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk mengenal
sisi lain dari penghambaan yang mungkin selama ini terlupakan.
Engkau telah belajar bahwa ridho adalah
kunci, bahwa lisan yang berdzikir adalah senjata, bahwa khidmah di dapur adalah
Jihad, dan bahwa doa di kegelapan malam adalah pengetuk pintu langit.
Romadhonmu telah terisi dengan butiran-butiran mutiara amal yang in syaa Alloh akan engkau temukan timbangannya sangat berat di hari perhitungan
kelak.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ
مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا﴾
“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap
jiwa mendapatkan balasan atas kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan (di
hadapannya).” (QS. Ali ‘Imron: 30)
Maka, saat Romadhon ini pergi meninggalkan
kita, janganlah engkau biarkan semangat ibadahmu ikut pergi. Jadikanlah madrosah haidh di bulan
Romadhon ini sebagai bekal untuk menghadapi bulan-bulan berikutnya. Tetaplah
istiqomah dalam menjaga lisan, tetaplah rajin dalam bershodaqoh, dan tetaplah
rendah hati dalam melayani keluarga karena-Nya.
Sungguh, Robb yang engkau sembah di bulan
Romadhon adalah Robb yang tetap mengawasimu di bulan Syawwal, Dzulqo’dah, dan
seterusnya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى
اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»
“Amal yang paling dicintai oleh Alloh
adalah yang paling konsisten (istiqomah), meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhori no. 6465 dan Muslim no. 783)
Semoga setiap tetes keringatmu, setiap
desah nafas dzikirmu, dan setiap rasa sakit yang engkau tanggung dengan sabar,
menjadi wasilah bagimu untuk mencium wanginya Jannah dan memandang Wajah-Nya
yang Mulia.
Kami berdoa agar Alloh menerima seluruh
amal ibadahmu dan mempertemukan kita kembali dengan Romadhon tahun depan dalam
keadaan yang lebih baik dan lebih bertaqwa.
﴿رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا
إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
“Wahai Robb kami, terimalah (amal) dari
kami, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 127)
Segala puji bagi Alloh yang dengan
ni’mat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, dan para
Shohabatnya sekalian.
Daftar Pustaka
1. Sumber Utama
Al-Qur’anul Karim.
2. Kitab Hadits (Al-Kutubus Sittah dan
Masanid)
Al-Muwaththo’, karya Al-Imam Malik bin Anas (179 H).
Al-Jami’ul Musnad Shohih (Shohih Al-Bukhori), karya Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori (256 H).
Al-Musnadush Shohih (Shohih Muslim), karya Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi (261 H).
As-Sunan,
karya Al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats (279 H).
Al-Jami’ul Kabir (Sunan At-Tirmidzi), karya Al-Imam Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi (275 H).
As-Sunan,
karya Al-Imam Ibnu Majah Muhammad bin Yazid (273 H).
Al-Musnad,
karya Al-Imam Ahmad bin Hanbal (241 H).
3. Kitab Syarah dan Tafsir
Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani (852 H).
Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim, karya Al-Imam An-Nawawi (676 H).
Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, karya Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H).
4. Kitab Fiqh, Aqidah, dan Akhlaq
Al-Mughni,
karya Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620 H).
Majmu’ Al-Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah (728 H).
Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril ‘Ibad, karya Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H).
Lathoiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am
minal Wazhoif, karya Al-Hafizh Ibnu Rojab
Al-Hanbali (795 H).
