Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Ragam Ibadah Wanita Haidh dan Nifas di Romadhon - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai saudariku, para Muslimah yang hatinya senantiasa terpaut pada ridho Ilahi. Mari sejenak kita menundukkan hati, merenungi betapa indahnya perjalanan seorang hamba menuju Robb-nya. Saat hilal Romadhon nampak di ufuk timur, ada getaran kerinduan yang membuncah di dalam dada. Kita semua ingin berlari menuju pintu Jannah yang sedang dibuka lebar-lebar, kita ingin menjauh dari kobaran api Naar yang sedang ditutup rapat, dan kita ingin menjadi bagian dari mereka yang dibebaskan dari siksa di setiap malamnya.

Sungguh, Romadhon adalah kesempatan emas yang ditunggu oleh setiap Mu’min. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾

“Bulan Romadhon adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, siapa di antara kalian yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa.” (QS. Al-Baqoroh: 185)

Namun, di tengah semangat yang membara itu, terkadang datanglah suatu ketetapan yang tak terelakkan bagi seorang wanita. Tiba-tiba tubuh terasa lemah, dan keluarlah darah haidh atau nifas yang membuatmu harus berhenti dari Sholat dan Puasa. Di saat itulah, seringkali muncul rasa sedih yang mendalam. Engkau merasa seolah-olah pintu kebaikan tertutup rapat bagimu, sementara orang lain sedang asyik mendulang pahala. Engkau merasa seolah-olah terasing dari keagungan Romadhon karena tidak bisa bersujud di Masjid atau menahan lapar di siang hari.

Ketahuilah saudariku, rasa sedihmu itu adalah bukti keimananmu. Namun, jangan biarkan kesedihan itu membuatmu lupa bahwa Alloh Ta’ala Maha Luas Rohmat-Nya. Haidh bukanlah hukuman, melainkan fithroh yang telah Alloh tetapkan bagi putri-putri Adam. Ingatlah saat Ibunda kita, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, menangis karena ia sedang haidh saat menunaikan Haji bersama Nabi . Beliau bersabda untuk menenangkan hatinya:

«إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ»

“Sungguh, ini adalah perkara yang telah Alloh tetapkan bagi putri-putri Adam. Maka lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang sedang berhaji, kecuali janganlah engkau melakukan thowaf di Ka’bah (sampai engkau mandi dan suci dari haidh).” (HR. Al-Bukhori no. 294 dan Muslim no. 1211)

Hadits ini adalah pelipur lara yang sangat indah. Nabi mengajarkan bahwa meskipun ada beberapa ibadah yang dilarang saat haidh, namun pintu ibadah lainnya tetap terbuka lebar. Engkau tetap bisa berdzikir, berdoa, dan melakukan segala amal kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak haidh, kecuali Sholat dan Puasa.

Renungkanlah wahai Muslimah, ketaatan itu bukan hanya tentang melakukan gerakan Sholat atau menahan haus, melainkan tentang tunduk patuh pada perintah dan larangan Alloh. Saat Alloh memerintahkanmu Sholat, engkau Sholat. Dan saat Alloh melarangmu Sholat karena haidh, maka berhentimu dari Sholat adalah bentuk ketaatan yang juga membuahkan pahala. Sungguh, Alloh itu Maha Baik. Dia tidak akan membiarkan hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin beribadah kehilangan pahalanya hanya karena uzur yang bukan kemauannya sendiri. Rosululloh bersabda:

«إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا»

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan (safar), maka akan dicatat baginya pahala amal yang biasa dia kerjakan saat dia bermukim dan dalam keadaan sehat.” (HR. Al-Bukhori no. 2996)

Jika orang sakit saja tetap mendapatkan pahala ibadah rutinnya, maka engkau pun demikian. Selama hatimu memiliki tekad yang kuat untuk beribadah namun terhalang oleh fithroh kewanitaan ini, maka pahalamu tetap mengalir deras di sisi Robb-mu. Sungguh, kasih sayang-Nya melampaui segala prasangka kita. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾

“Alloh menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (QS. Al-Baqoroh: 185)

Oleh karena itu, buku ini hadir untuk menemani hari-harimu di bulan Romadhon saat engkau sedang haidh atau nifas. Kami ingin mengajakmu menyadari bahwa ladang pahala itu sangatlah luas. Romadhonmu tidak akan sia-sia. Justru di saat seperti inilah, engkau bisa lebih fokus pada ibadah-ibadah lisan, hati, dan harta yang mungkin selama ini terabaikan karena kesibukan fisik.

Mari kita hayati kembali hakikat ketaqwaan yang menjadi tujuan utama Puasa. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-Baqoroh: 183)

Taqwa bukan hanya milik mereka yang berpuasa. Taqwa adalah milik siapa saja yang menjaga dirinya dari larangan Alloh dan berlomba-lomba dalam ketaatan sesuai dengan kemampuannya. Dan bagi wanita haidh, jalan ketaqwaan itu terbentang luas melalui kesabaran, ridho atas takdir, serta lisan yang senantiasa basah dengan asma Alloh.

Ketahuilah, setiap detik di bulan Romadhon adalah rohmat. Jangan engkau habiskan waktumu hanya untuk mengeluh atau larut dalam kesedihan yang tak berujung. Ingatlah sabda Nabi mengenai keutamaan bulan ini:

«إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ»

“Jika Romadhon datang, maka pintu-pintu Jannah dibuka, pintu-pintu Naar ditutup, dan syaithon-syaithon dibelenggu.” (HR. Al-Bukhori no. 1899 dan Muslim no. 1079)

Meskipun engkau tidak Sholat, pintu Jannah itu tetap terbuka untukmu melalui doa-doamu yang tulus. Meskipun engkau tidak berpuasa, pintu Naar tetap tertutup bagimu selama engkau menjauhi kemaksiatan dan menjaga lisanmu. Syaithon pun tetap terbelenggu sehingga memudahkanmu untuk terus berdzikir dan berbuat baik kepada sesama.

Buku ini akan membimbingmu langkah demi langkah, bab demi bab, untuk menemukan mutiara-mutiara ibadah yang bisa engkau petik. Kita akan belajar bagaimana lisan bisa menjadi kunci Jannah, bagaimana pelayananmu di dapur untuk orang yang berpuasa bisa menjadi timbangan berat di Akhiroh, dan bagaimana hatimu tetap bisa beri’tikaf dalam ketundukan kepada Sang Kholiq.

Buku ini menginatkan, tidak ada satu pun Muslimah yang merasa “libur” beribadah di bulan suci ini. Ibadah tidak pernah libur, hanya bentuknya saja yang berganti. Sebagaimana para Shohabat dan Salaf terdahulu yang sangat antusias menyambut kebaikan, mari kita jadikan setiap kucuran darah haidh dan nifas ini sebagai pengingat bahwa kita hanyalah hamba yang lemah di hadapan Alloh yang Maha Kuasa.

Alloh Ta’ala berfirman tentang betapa bernilainya setiap amal sekecil apa pun:

﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ﴾

“Maka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarroh (biji sawi) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)

Maka, jangan remehkan dzikirmu saat mencuci baju, jangan remehkan shodaqohmu saat membantu sesama, dan jangan remehkan air matamu saat memohon ampunan kepada-Nya di sepertiga malam terakhir. Semuanya tercatat dan semuanya berharga.

 

Bab 1: Ridho Atas Ketentuan Alloh

1.1 Menyadari Bahwa Haidh Adalah Ketetapan Alloh bagi Putri Adam

Wahai saudariku yang hatinya lembut dan penuh rindu pada ketaatan, mari kita awali perenungan ini dengan melihat ke dalam diri. Pernahkah engkau merasa bahwa tubuhmu ini seolah mengkhianati keinginanmu untuk beribadah? Saat fajar Romadhon menyingsing dan engkau ingin sekali bersujud, tiba-tiba engkau mendapati dirimu dalam keadaan haidh. Sadarilah wahai saudariku, apa yang engkau alami bukanlah sebuah kebetulan, bukan pula sebuah halangan yang tanpa makna. Ini adalah ketetapan dari Yang Maha Adil.

Alloh Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ﴾

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: Haidh itu adalah adza (kotoran,  atau gangguan pada wanita). Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri (dengan tidak jimak) dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (QS. Al-Baqoroh: 222)

Ayat ini menjelaskan bahwa haidh adalah adza, sebuah gangguan fisik atau rasa sakit yang dialami wanita. Namun, jangan sekali-kali engkau menganggap bahwa adza ini menjauhkanmu dari kasih sayang Alloh. Justru, pengakuan Alloh terhadap rasa sakitmu adalah bentuk perhatian-Nya.

Ingatlah kisah Ibunda kita, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, saat ia sedang menunaikan Haji Wada’ bersama Nabi . Beliau menangis tersedu-sedu karena mendapati dirinya haidh saat sudah sampai di sebuah tempat bernama Saroof. Beliau sedih karena merasa tidak bisa menjalankan rangkaian ibadah Haji. Lalu Nabi masuk menemui beliau dan bertanya, “Mengapa engkau menangis? Apakah engkau haidh?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Maka Nabi bersabda dengan kalimat yang sangat menenangkan:

«إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ»

“Sungguh, ini adalah perkara yang telah Alloh tetapkan bagi putri-putri Adam. Maka lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang sedang berhaji, kecuali janganlah engkau melakukan thowaf di Ka’bah (sampai engkau mandi suci dari haidh).” (HR. Al-Bukhori no. 294 dan Muslim no. 1211)

Kalimat «إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ» adalah kunci bagi ketenangan hatimu. Sungguh, haidh adalah tulisan takdir yang tidak bisa dihindari. Jika engkau ridho dengan takdir ini, maka engkau telah menjalankan satu bentuk ibadah hati yang sangat agung.

Seorang Muslimah yang cerdas akan melihat bahwa setiap tetes darah yang keluar adalah pengingat bahwa ia adalah hamba. Dan seorang hamba tidak punya hak untuk memprotes aturan tuannya. Jika Alloh menentukanmu untuk tidak Puasa hari ini, maka itulah yang terbaik bagimu.

1.2 Haidh Bukan Penghalang Ibadah, Tapi Bentuk Ketaatan

Seringkali kita terjebak dalam pikiran sempit bahwa ibadah hanyalah sebatas gerakan fisik seperti Sholat atau menahan lapar dalam Puasa. Wahai saudariku, mari kita meluaskan cakrawala hati. Apa sebenarnya hakikat ibadah itu? Ibadah adalah menjalankan apa yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Bayangkanlah, saat engkau sedang suci, Alloh memerintahkanmu: “Sholatlah!” Maka engkau Sholat dan engkau berpahala. Namun, saat darah haidh itu datang, Alloh memerintahkanmu melalui lisan Rosul-Nya: “Berhentilah Sholat!” Maka, jika engkau berhenti Sholat karena mematuhi larangan itu, engkau pun sedang beribadah. Meninggalkan larangan karena Alloh adalah ketaatan yang setara dengan menjalankan perintah karena Alloh.

Perhatikanlah dialog antara Mu’adzah binti ‘Abdillah (83 H) dengan Ibunda ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha berikut ini:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ؟ فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ. قَالَتْ: «كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ، فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ»

Aku bertanya kepada ‘Aisyah: Mengapa wanita haidh harus mengqodho Puasa namun tidak mengqodho Sholat? ‘Aisyah menjawab: Apakah engkau termasuk golongan Khowarij (Haruriyyah)? Aku menjawab: Aku bukan Khowarij, aku hanya bertanya. ‘Aisyah berkata: Dahulu kami mengalami hal itu (haidh), maka kami diperintahkan untuk mengqodho Puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqodho Sholat.” (HR. Muslim no. 335)

Lihatlah bagaimana para wanita di zaman Nabi memahami hal ini. Mereka tidak membebani diri dengan logika yang rumit. Cukup bagi mereka adalah: “Kami diperintahkan, maka kami kerjakan” dan “Kami dilarang, maka kami berhenti”. Inilah puncak dari makna Islam, yaitu berserah diri.

Sungguh, jika engkau tetap memaksakan diri untuk Sholat atau Puasa padahal engkau sedang haidh, engkau justru sedang bermaksiat kepada Alloh. Maka, berhentimu dari Sholat adalah bentuk ibadahmu saat ini. Rosululloh menegaskan keadaan wanita yang haidh dalam sabdanya:

«أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا»

“Bukankah jika wanita itu haidh, dia tidak Sholat dan tidak Puasa? Itulah bentuk kekurangan agamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 304)

Istilah “kekurangan agama” di sini janganlah engkau pahami sebagai kerendahan martabat. Imam An-Nawawi (676 H) menjelaskan bahwa kekurangan ini adalah kekurangan yang sifatnya diberikan udzur (keringanan) oleh Alloh. Engkau tidak berdosa karena meninggalkan Sholat tersebut, justru engkau mendapatkan pahala karena kepatuhanmu pada hukum syariat yang melarangmu Sholat saat haidh.

Renungkanlah wahai Muslimah, ketaatan itu letaknya di hati. Jika hatimu tetap rindu pada Alloh, meskipun tubuhmu tidak bisa bersujud, maka engkau tetaplah seorang ahli ibadah. Alloh Ta’ala tidak melihat pada bentuk fisikmu, tapi melihat pada apa yang ada di hatimu.

1.3 Pahalanya Orang yang Terhalang Uzur Syar’i

Mungkin dalam benakmu masih terbersit rasa khawatir: “Lalu bagaimana dengan pahala yang terlewat? Bagaimana dengan ribuan roka’at Sholat Tarowih yang tidak bisa aku ikuti? Bagaimana dengan hari-hari penuh keberkahan Romadhon yang berlalu tanpa Puasa?”

Wahai saudariku yang penuh harap, Alloh Maha Karim, Maha Pemurah melampaui apa yang bisa dibayangkan oleh akal manusia. Dia tidak pernah menzholimi hamba-Nya. Jika engkau memiliki kebiasaan ibadah yang rutin engkau kerjakan saat suci, lalu engkau terhalang oleh haidh atau nifas, maka pahala ibadah rutinmu itu tetap dicatat secara utuh seolah-olah engkau sedang mengerjakannya.

Ini adalah kabar gembira dari Rosululloh :

«إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا»

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan (safar), maka akan dicatat baginya pahala amal yang biasa dia kerjakan saat dia bermukim dan dalam keadaan sehat.” (HR. Al-Bukhori no. 2996)

Sebagian ulama, di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani (852 H), menjelaskan bahwa hadits ini juga berlaku bagi orang yang terhalang oleh uzur syar’i lainnya seperti haidh. Mengapa demikian? Karena yang menghalangimu bukan kemalasanmu, bukan pula keenggananmu, melainkan ketetapan syariat-Nya. Niatmu yang tulus untuk beribadah itulah yang akan menyampaikanmu pada pahala tersebut.

Ingatlah apa yang dikatakan Nabi kepada para Shohabat saat dalam perjalanan pulang dari perang Tabuk. Saat itu ada sebagian orang yang tidak bisa ikut berperang karena tidak memiliki kendaraan atau karena alasan lainnya yang dibenarkan. Nabi bersabda:

«إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا، مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ؟ قَالَ: «وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ، حَبَسَهُمُ العُذْرُ»

“Sungguh di Madinah ada orang-orang yang tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan, dan tidaklah kalian menyeberangi suatu lembah, kecuali mereka senantiasa bersama kalian (dalam pahala). Para Shohabat bertanya: Wahai Rosululloh, padahal mereka di Madinah? Beliau menjawab: Padahal mereka di Madinah, mereka terhalang oleh uzur.” (HR. Al-Bukhori no. 4423)

Sungguh luar biasa! Mereka duduk di rumahnya di Madinah, namun pahala mereka sama dengan mereka yang bertaruh nyawa di medan perang dan bersimbah peluh di bawah terik matahari. Mengapa? Karena niat mereka jujur.

Maka wahai Muslimah, jika di malam-malam Romadhon engkau hanya bisa terbaring lemas karena nyeri haidh, sementara suamimu atau saudaramu pergi ke Masjid untuk Tarowih, janganlah berkecil hati. Jika niatmu jujur bahwa seandainya engkau suci engkau pasti akan Tarowih, maka engkau tetap mendapatkan pahala Sholat tersebut.

Niat adalah penggerak utama. Rosululloh bersabda:

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»

“Sungguh setiap amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no. 1907)

Oleh karena itu, jangan pernah berhenti berniat baik. Setiap pagi di bulan Romadhon, meskipun engkau sedang haidh, niatkanlah dalam hatimu: “Yaa Alloh, seandainya aku tidak haidh, niscaya aku akan berpuasa karena-Mu hari ini.” Dengan niat yang tulus seperti itu, engkau sudah mencatatkan satu hari pahala Puasa di buku amalmu, bahkan sebelum engkau melakukan aktivitas apa pun.

Ridholah pada pembagian Alloh. Ridho adalah Jannah di dunia sebelum Jannah di Akhiroh. Orang yang ridho tidak akan pernah merasa rugi, karena ia tahu bahwa Robbnya tidak pernah salah dalam mengatur keadaan hamba-Nya. Inilah pondasi pertama yang harus engkau bangun dengan kokoh sebelum kita melangkah pada jenis-jenis ibadah lisan dan anggota badan lainnya. Tanpa keridhoan dan pemahaman yang benar tentang takdir ini, ibadahmu akan terasa hambar dan penuh dengan keluh kesah. Namun dengan ridho, setiap detik haidhmu akan berubah menjadi pundi-pundi pahala yang terus mengalir.

Alloh Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang ridho:

﴿رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ﴾

“Alloh ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Robb-nya.” (QS. Al-Bayyinah: 8)

Jadilah bagian dari mereka yang ridho kepada Alloh di setiap keadaan, baik saat suci maupun saat haidh, karena sungguh Romadhonmu tetaplah Romadhon yang mulia.

 

Bab 2: Dzikir dan Istighfar

2.1 Kalimat Thoyyibah

Wahai saudariku yang tetap bersemangat meraih ridho-Nya, saat tubuhmu tidak diperkenankan untuk ruku’ dan sujud, ingatlah bahwa lisanmu tidak pernah terbelenggu. Pintu Jannah tetap terbuka lebar melalui kalimat-kalimat yang ringan engkau ucapkan namun memiliki timbangan yang sangat berat di sisi Alloh. Jangan biarkan detik-detik Romadhon berlalu begitu saja hanya karena engkau merasa tidak sedang “beribadah”. Sungguh, setiap ucapan tasbih, tahmid, dan tahlilmu adalah tanaman di Jannah yang sedang engkau tanam saat ini juga.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ﴾

“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (ni’mat)-Ku.” (QS. Al-Baqoroh: 152)

Bayangkanlah, saat engkau berdzikir, Robb semesta alam menyebut namamu di hadapan para Malaikat-Nya. Kehormatan apalagi yang lebih tinggi dari ini? Rosululloh memberikan resep yang sangat mudah bagi kita untuk memperberat timbangan amal di Akhiroh kelak. Beliau bersabda:

«كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ»

“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rohman (Alloh Yang Maha Pengasih): Subhanallohi wa bihamdihi, Subhanallohil ‘azhim (Maha Suci Alloh dengan segala puji-Nya, Maha Suci Alloh Yang Maha Agung).” (HR. Al-Bukhori no. 6406 dan Muslim no. 2694)

Saudariku, ucapkanlah kalimat ini saat engkau sedang menyiapkan hidangan berbuka untuk keluargamu. Ucapkanlah saat engkau sedang beristirahat menahan nyeri haidhmu. Sungguh, dzikir adalah ibadah yang paling fleksibel namun paling dahsyat dampaknya bagi ketenangan hati. Rosululloh juga bersabda tentang keutamaan 4 kalimat:

«أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ»

“Ucapan yang paling dicintai oleh Alloh ada empat: Subhanalloh (Maha Suci Alloh), Al-Hamdulillah (Segala puji bagi Alloh), Laa ilaha illalloh (Tidak ada sesembahan yang haq selain Alloh), dan Allohu Akbar (Alloh Maha Besar). Tidak mengapa bagimu memulai dari mana saja.” (HR. Muslim no. 2137)

Bukankah ini sangat mudah? Engkau tetap bisa melampaui pahala orang yang berpuasa namun lisannya kering dari dzikir. Dzikir adalah nutrisi bagi hati agar tidak layu di tengah gempuran ujian fisik yang engkau alami.

2.2 Doa di Waktu-Waktu Mustajab

Mungkin engkau merasa sedih saat melihat kaum Muslimin berbondong-bondong menuju Masjid untuk Sholat Tarowih, sementara engkau hanya duduk di rumah. Wahai saudariku, ketahuilah bahwa Robb yang mereka sembah di Masjid adalah Robb yang mendengarmu di dalam kamar. Doa adalah senjata seorang Mu’min, dan Romadhon adalah waktu di mana doa-doa tidak akan ditolak.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sungguh Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqoroh: 186)

Ayat ini diletakkan oleh Alloh di sela-sela ayat tentang Puasa Romadhon. Ini menunjukkan bahwa doa memiliki kaitan yang sangat erat dengan bulan suci ini, baik bagi yang sedang berpuasa maupun yang berhalangan karena uzur. Engkau memiliki waktu-waktu istimewa untuk mengetuk pintu langit. Rosululloh bersabda:

«الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ»

“Doa itu adalah ibadah.” (HSR. Abu Dawud no. 1479)

Gunakanlah waktu menjelang berbuka, waktu antara adzan dan iqomah, serta sepertiga malam terakhir untuk mengadu kepada-Nya. Mintalah Jannah, mintalah perlindungan dari Naar, dan mintalah kebaikan dunia serta Akhiroh. Tidak ada penghalang bagi seorang wanita haidh untuk berdoa. Sungguh, Alloh menyukai hamba-Nya yang merengek dalam doa.

Dari Abu Huroiroh (58 H), Rosululloh bersabda:

«ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالإِمَامُ العَادِلُ، وَدَعْوَةُ المَظْلُومِ»

“Ada tiga doa yang dikabulkan: Doa orang yang berpuasa hingga berbuka, doa pemimpin adil, dan doa orang yang terzholimi.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3598)

Walaupun engkau sedang tidak berpuasa, namun engkau berada dalam “suasana” Romadhon yang penuh barokah. Manfaatkanlah setiap kesempatan untuk mengangkat tanganmu. Jangan biarkan rasa sakit atau lemas menghalangimu untuk berbisik kepada Sang Kholiq.

2.3 Membasahi Lisan dengan Istighfar di Waktu Sahur

Waktu sahur adalah waktu yang sangat istimewa. Seringkali engkau sebagai seorang wanita harus bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan bagi suami, anak-anak, atau anggota keluarga lainnya. Wahai saudariku, jangan biarkan tanganmu sibuk di dapur sementara lisanmu diam. Jadikanlah kesibukanmu di dapur sebagai ibadah, dan iringilah dengan istighfar.

Alloh Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang beristighfar di waktu sahur:

﴿وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ﴾

“Dan orang-orang yang memohon ampun (beristighfar) di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imron: 17)

Waktu sahur adalah waktu di mana Alloh Ta’ala turun ke langit dunia untuk memberikan ampunan. Rosululloh bersabda:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»

“Robb kita Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, kemudian Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuknya. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri kepadanya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dia.” (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)

Betapa ruginya jika waktu yang sangat mulia ini hanya kita habiskan untuk urusan perut semata. Sambil memotong sayur atau mengaduk masakan, ucapkanlah “Astaghfirulloh”. Sungguh, istighfar adalah kunci pembuka segala kesulitan dan penenang jiwa yang gundah. Seorang Muslimah yang senantiasa beristighfar akan merasakan kelapangan dada meskipun ia sedang dalam kondisi fisik yang tidak nyaman akibat haidh.

Rosululloh , manusia yang sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, senantiasa beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Maka, siapakah kita yang penuh dengan khilaf ini jika enggan membasahi lisan dengan istighfar?

2.4 Bersholawat kepada Nabi sebagai Pembuka Keberkahan

Satu lagi ibadah lisan yang sangat agung dan bisa dilakukan oleh wanita haidh tanpa batas adalah bersholawat kepada Baginda Nabi . Sholawat adalah bukti cinta kita kepada beliau dan merupakan wasilah untuk mendapatkan rohmat dari Alloh Ta’ala.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Sungguh Alloh dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Betapa agungnya amalan ini sampai Alloh sendiri melakukannya dan memerintahkan kita untuk mengikutinya. Di bulan Romadhon, di mana setiap amal dilipatgandakan, bayangkanlah pahala yang engkau raih dari setiap sholawat yang engkau lantunkan. Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا»

“Siapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Alloh akan bersholawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)

Bersholawat sepuluh kali dari Alloh berarti engkau mendapatkan sepuluh rohmat, ampunan, dan keberkahan dalam hidupmu. Bagi wanita yang sedang haidh, sholawat bisa menjadi penyejuk hati di saat ia merasa jauh dari rutinitas ibadah fisik. Sholawat juga merupakan sebab dikabulkannya doa. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ‘Umar bin Al-Khoththob (23 H):

«إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“Sungguh doa itu terhenti di antara langit dan bumi, tidak akan naik sedikit pun darinya sampai engkau bersholawat kepada Nabimu .” (HHR. At-Tirmidzi no. 486)

Oleh karena itu saudariku, jangan biarkan lisanmu menganggur. Hiasilah harimu dengan sholawat. Jadikanlah lisanmu sebagai saksi di Akhiroh kelak bahwa meskipun engkau sedang tidak Sholat dan Puasa, cintamu kepada Alloh dan Rosul-Nya tetap membara dan nyata melalui dzikir-dzikirmu. Inilah cara kita menghidupkan Romadhon di atas pondasi ridho yang telah kita bangun. Lisan yang basah dengan dzikir akan menjaga hati agar tetap bercahaya, meskipun raga sedang beristirahat dari ibadah jasmani.

2.5 Dzikir Muqoyyad

Dzikir beragam lafazhnya, seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqolah, istighfar, dan sholawat. Jika dzikir-dzikir ini dibaca secara mutlak tanpa terikat waktu dan jumlah, maka ia disebut dzikir mutlak. Kebalikannya adalah dzikir muqoyyad (sudah ditentukan waktunya), dan ia lebih utama dari dzikir mutlak. Maka jagalah dzikir pagi dan dzikir sore, serta dzikir pada momen khusus yang bisa Saudari baca di Hisnul Muslim.

 

Bab 3: Al-Qur’an di Kala Haidh

3.1 Mendengarkan Lantunan Ayat Suci sebagai Ganti Membaca

Wahai saudariku yang merindukan kehangatan kalam Ilahi, saat engkau merasa berat untuk lisanmu melantunkan ayat-ayat suci karena kekhawatiranmu akan hukum syariat, janganlah engkau membiarkan telingamu menutup diri dari cahaya-Nya. Al-Qur’an adalah obat bagi hati yang gundah dan penerang bagi jiwa yang lara. Di bulan Romadhon, di mana setiap huruf yang dibaca membawa beribu keberkahan, engkau tetap bisa meraih rohmat-Nya melalui pendengaranmu.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾

“Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian mendapat rohmat.” (QS. Al-A’rof: 204)

Ayat ini adalah undangan bagi setiap jiwa untuk berdiam diri dan menyimak dengan saksama. Perhatikanlah janji Alloh di akhir ayat: “agar kalian mendapat rohmat”. Sungguh, rohmat Alloh tidak hanya turun kepada mereka yang membaca, tetapi juga kepada mereka yang telinganya setia menyimak. Saat engkau sedang beristirahat atau sedang melakukan pekerjaan rumah tangga, putarlah murrotal Al-Qur’an. Biarkan setiap ayatnya menggetarkan relung hatimu.

Ketahuilah, Nabi pun sangat senang mendengarkan Al-Qur’an dari lisan orang lain. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), ia berkata:

قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَأْ عَلَيَّ» قُلْتُ: آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ: «فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي»

Nabi berkata kepadaku: Bacakanlah Al-Qur’an untukku! Aku berkata: Wahai Rosululloh, apakah aku membacakannya untukmu padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu? Beliau bersabda: Iya, sungguh aku suka mendengarkannya dari orang lain.” (HR. Al-Bukhori no. 4583 dan Muslim no. 800)

Jika Nabi saja yang dituruni wahyu masih merasa nikmat mendengarkannya dari orang lain, maka apatah lagi kita? Mendengarkan Al-Qur’an dengan penuh tadabbur adalah ibadah yang sangat mulia bagi wanita yang sedang haidh. Ini adalah cara yang paling aman dan tetap mendatangkan pahala yang melimpah tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

3.2 Mentadabburi Makna Al-Qur’an dan Mempelajari Tafsirnya

Saudariku, Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk dibaca dengan lisan, melainkan untuk dipahami dengan hati dan diamalkan dengan perbuatan. Saat engkau sedang berhalangan untuk memegang Mushaf, inilah waktu yang paling tepat bagimu untuk menyelami samudera maknanya. Bacalah buku-buku tafsir, dengarkanlah penjelasan para ulama tentang maksud dari ayat-ayat Alloh.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (mentadabburi) ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (QS. Shod: 29)

Tadabbur tidak membutuhkan keadaan suci dari hadats besar maupun kecil. Hati yang jernih dan niat yang tulus adalah syarat utamanya. Romadhon adalah bulan Al-Qur’an, maka jadikanlah momen haidhmu sebagai “madrosah” untuk lebih mengenal isi Al-Qur’an. Pelajarilah bagaimana tafsir ayat-ayat tentang Sholat, Puasa, dan Akhlaq. Sungguh, satu ayat yang engkau pahami maknanya dan meresap ke dalam sanubari, itu jauh lebih baik daripada membaca banyak juz namun hati dalam keadaan lalai.

Rosululloh memberikan motivasi yang sangat besar bagi mereka yang berkumpul (meskipun secara virtual atau melalui buku) untuk mempelajari Al-Qur’an:

«وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh (Masjid) untuk membaca Kitabulloh dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rohmat akan meliputi mereka, Malaikat akan mengelilingi mereka, dan Alloh akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2699)

Walaupun engkau mempelajarinya di rumah karena sedang uzur, selama engkau bersungguh-sungguh ingin memahami Kalam-Nya, maka ketenangan (sakinah) dan rohmat itu pun akan sampai kepadamu. Jangan biarkan pikiranmu kosong, isilah dengan hikmah-hikmah dari Al-Qur’an yang engkau pelajari melalui tafsir yang terpercaya.

3.3 Bolehkah Membaca Al-Qur’an Tanpa Menyentuh Mushaf Secara Langsung?

Ini adalah bahasan yang seringkali membuat para Muslimah bimbang. “Bolehkah aku membaca Al-Qur’an saat haidh?” Wahai saudariku, dalam masalah ini terdapat perselisihan di antara para ulama, namun kita akan melihat pendapat yang lebih kuat (rojih) agar hatimu tenang dalam beribadah.

Pendapat yang paling kuat dan memudahkan bagi wanita haidh—terutama bagi mereka yang khawatir hafalannya hilang atau mereka yang sedang belajar—adalah diperbolehkannya membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh Mushaf secara langsung. Mengapa demikian? Karena tidak ada dalil shohih dan tegas (shorih) yang melarang wanita haidh membaca Al-Qur’an. Adapun hadits yang sering dikutip tentang larangan bagi orang junub dan haidh untuk membaca sedikit pun dari Al-Qur’an adalah hadits yang dho’if (lemah).

Imam Malik (179 H), Ath-Thobari (310 H), Ibnu Taimiyyah (728 H), Ibnu Al-Qoyyim (751 H), Ibnu Utsaimin (1421 H), dan Komite Tetap Urusan Riset Ilmiah dan Fatwa (Al-Lajnah Ad-Da-imah) cenderung membolehkan wanita haidh membaca Al-Qur’an demi kemaslahatan, seperti agar hafalan tidak hilang atau untuk keperluan belajar mengajar.

Hal itu berdasarkan alasan-alasan berikut ini:

Pertama: Sungguh para wanita di zaman Rosululloh senantiasa mengalami haidh, namun tidak ada Hadits beliau pernah melarang mereka untuk membaca Al-Quran. Seandainya wanita haidh itu terlarang membacanya, tentu akan datang Hadits-Hadits yang shohih lagi tegas mengenai larangan tersebut, sebagaimana adanya larangan bagi mereka untuk mengerjakan Sholat dan Puasa. Maka, ketika Hadits-Hadits yang ada tidak bisa dijadikan sebagai landasan hukum (karena dhoif), dipahami bahwa syariat memang tidak melarang wanita haidh untuk membacanya.

Kedua: Sungguh haidh bukanlah hasil usaha atau keinginan wanita itu sendiri, dan dia pun tidak kuasa untuk mengangkat atau menghentikannya. Terkadang masa haidh itu berlangsung lama bagi seorang wanita, sehingga ia terancam akan lupa dengan ayat-ayat yang telah ia hafal jika dilarang membacanya dalam waktu yang lama.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah adab terhadap Mushaf.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ﴾

“Tidak ada yang menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “Al-Muthohharun” dalam ayat ini adalah para Malaikat, dan kitab yang dimaksud adalah Lauh Mahfuzh. Namun, sebagai bentuk penghormatan (ta’zhim) kepada Al-Qur’an, jumhur ulama tetap menganjurkan untuk tidak menyentuh lembaran Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci.

Lalu bagaimana solusinya bagimu di bulan Romadhon? Engkau bisa membaca Al-Qur’an melalui perangkat elektronik seperti telepon pintar (HP) atau tablet. Perangkat tersebut bukanlah Mushaf, sehingga tidak berlaku hukum Mushaf padanya. Engkau juga bisa menggunakan sarung tangan atau pembatas jika ingin membalik halaman Mushaf fisik tanpa menyentuh kertasnya secara langsung.

Rosululloh bersabda kepada Abu Huroiroh (58 H):

«إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ»

“Sungguh orang Mu’min itu tidaklah najis.” (HR. Al-Bukhori no. 283 dan Muslim no. 371)

Darah haidh memang najis, namun zat dirimu sebagai seorang Muslimah tetaplah suci. Oleh karena itu, lisanmu tetap diperbolehkan melakukan dzikrulloh, dan Al-Qur’an adalah sebaik-baik dzikir. Ibunda ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha menceritakan kebiasaan Nabi :

«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ»

“Nabi senantiasa berdzikir kepada Alloh dalam setiap keadaannya.” (HR. Muslim no. 373)

Maka, selama engkau menjaga adab dengan tidak menyentuh Mushaf secara langsung, silakan engkau tetap melantunkan ayat-ayat suci untuk menjaga hafalanmu atau untuk sekadar meraih pahala bacaan di bulan yang mulia ini. Ambillah kemudahan yang diberikan syariat ini dengan penuh rasa syukur. Sungguh, Alloh tidak ingin menyulitkanmu, melainkan ingin menyucikanmu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu.

Dengan memahami hal ini, engkau tidak perlu lagi merasa jauh dari Al-Qur’an selama masa haidhmu di bulan Romadhon. Lisanmu bisa tetap basah, telingamu tetap terjaga, dan hatimu tetap bercahaya dengan Kalamulloh.

Namun, jika Saudari menyibukkan diri dengan dzikir dan doa selain Al-Qur’an maka itu lebih baik, untuk keluar dari perselisihan ulama. Sebagai gantinya, Saudari bisa menggantinya dengan mendengarkannya atau membaca buku tentangnya atau menonton kajian Tafsirnya.

 

Bab 4: Sodaqoh dan Khidmah (Pelayanan)

4.1 Melipatgandakan Pahala dengan Memberi Makan Orang Berpuasa

Wahai saudariku yang mulia, mungkin saat ini engkau sedang berada di dapur, berpeluh di depan tungku api, dan tanganmu sibuk mengolah berbagai hidangan. Terkadang muncul bisikan di hatimu, “Ah, aku hanya memasak, sementara mereka yang aku layani sedang mendulang pahala Puasa.” Buang jauh-jauh pikiran itu, wahai Muslimah! Sungguh, keringatmu yang menetes saat menyiapkan hidangan berbuka adalah saksi bisu betapa besarnya peluang pahalamu.

Alloh Ta’ala berfirman tentang kemuliaan berbagi makanan:

﴿وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا﴾

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Sambil berkata dalam hati): Sungguh kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Alloh, kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terima kasih. (QS. Al-Insan: 8-9)

Engkau tidak harus berpuasa untuk mendapatkan pahala Puasa. Cukuplah engkau sediakan air minum, sebutir kurma, atau sepiring makanan bagi mereka yang berpuasa, maka pahala mereka akan mengalir pula kepadamu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Rosululloh memberikan janji yang sangat nyata dalam sabdanya:

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا»

“Siapa yang memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HSR. At-Tirmidzi no. 807)

Renungkanlah, jika di rumahmu ada suami dan tiga anak yang berpuasa, lalu engkau yang menyiapkan segalanya, maka dalam sehari engkau bisa meraih empat pahala Puasa sekaligus! Inilah perdagangan yang sangat menguntungkan dengan Alloh. Walaupun engkau sedang haidh, engkau tetap bisa “memanen” pahala Puasa melalui tangan-tanganmu yang dermawan itu.

4.2 Semangat Shodaqoh Wanita di Bulan Romadhon

Romadhon adalah bulan kedermawanan. Rosululloh adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau memuncak saat bulan Romadhon tiba. Beliau tidak pernah menolak permintaan siapa pun yang meminta kepada beliau.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), ia berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ... فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ»

“Rosululloh adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi saat bulan Romadhon ketika Jibril menemui beliau... Sungguh Rosululloh lebih dermawan dalam memberikan kebaikan daripada angin yang berhembus (karena cepat dan meratanya).” (HR. Al-Bukhori no. 6 dan Muslim no. 2308)

Wahai Muslimah, Shodaqoh adalah pembasuh dosa dan pelindung dari api Naar. Secara khusus, Nabi pernah berpesan kepada kaum wanita untuk memperbanyak Shodaqoh sebagai tebusan atas kekurangan-kekurangan yang mungkin dilakukan. Beliau bersabda:

«يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ»

“Wahai sekalian kaum wanita, bershodaqohlah kalian dan perbanyaklah istighfar, karena sungguh aku melihat kalian adalah penghuni Naar yang paling banyak.” (HR. Muslim no. 79)

Mendengar hal ini, para Shohabat wanita tidak tinggal diam. Mereka tidak menunggu punya harta yang melimpah. Mereka melepas cincin, kalung, dan perhiasan mereka untuk diserahkan kepada Nabi sebagai Shodaqoh. Inilah semangat yang harus engkau teladani. Di bulan Romadhon ini, meskipun engkau sedang haidh, jangan lewatkan satu hari pun tanpa memberikan Shodaqoh, meskipun hanya sedikit. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾

“Orang-orang yang menginfakkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Robb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 274)

Shodaqohmu akan menjadi naungan bagimu di hari Kiamat kelak. Jangan merasa kecil hati jika hartamu terbatas, karena Alloh melihat ketulusan hatimu, bukan jumlah nominalnya.

4.3 Melayani Kebutuhan Keluarga sebagai Bentuk Jihad bagi Wanita

Saudariku, terkadang rasa lelah menyergap saat engkau harus mengurus rumah tangga di tengah kondisi fisik yang tidak menentu karena haidh atau nifas. Ketahuilah, setiap khidmah atau pelayanan yang engkau berikan kepada suami dan keluargamu dengan mengharap wajah Alloh adalah ibadah yang setara dengan Jihad.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (93 H), dikisahkan para Shohabat sedang melakukan perjalanan (safar) di bulan Romadhon. Sebagian mereka berpuasa dan sebagian lagi tidak berpuasa (karena mengambil keringanan safar). Mereka yang tidak berpuasa inilah yang bekerja keras melayani, mendirikan tenda, dan memberi minum tunggangan. Melihat hal itu, Nabi bersabda:

«ذَهَبَ الْمُفْطِرُونَ الْيَوْمَ بِالأَجْرِ»

“Orang-orang yang tidak berpuasa hari ini pergi dengan membawa semua pahala.” (HR. Al-Bukhori no. 2890 dan Muslim no. 1119)

Hadits ini adalah tamparan lembut bagi rasa sedihmu. Orang-orang yang melayani mereka yang beribadah, justru mendapatkan pahala yang sangat besar. Jika engkau melayani suamimu agar ia bisa berpuasa dengan tenang, melayani anak-anakmu agar mereka semangat belajar agama, maka engkau telah mengambil porsi pahala yang besar di bulan ini.

Bahkan, membantu orang yang sedang melakukan ketaatan memiliki pahala tersendiri. Nabi bersabda:

«مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا، وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا»

“Siapa yang menyiapkan bekal bagi orang yang berperang di jalan Alloh, maka sungguh ia telah ikut berperang. Dan siapa yang menjaga keluarga orang yang berperang di jalan Alloh dengan baik, maka sungguh ia telah ikut berperang.” (HR. Al-Bukhori no. 2843 dan Muslim no. 1895)

Dalam konteks Romadhon, engkau adalah penyedia bekal bagi para “pejuang” yang sedang menahan lapar dan dahaga karena Alloh. Maka pahalamu pun sama dengan mereka. Lakukanlah tugasmu dengan senyuman dan hati yang ridho. Setiap suapan makanan yang engkau berikan kepada keluargamu adalah Shodaqoh. Setiap pakaian yang engkau cuci agar mereka bisa Sholat dengan suci dan rapi adalah amal sholih.

4.4 Menunaikan Zakat Maal dan Zakat Fithri Tepat Waktu

Sebagai penutup ladang amal harta ini, jangan lupakan kewajiban utama yang telah Alloh gariskan, yaitu Zakat. Bagi engkau yang memiliki harta yang telah mencapai nishob (batas minimal) dan haul (satu tahun), tunaikanlah Zakat Maal-mu. Dan bagi setiap jiwa, termasuk engkau yang sedang haidh atau nifas, wajib menunaikan Zakat Fithri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dan makanan bagi orang miskin.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ﴾

“Dan dirikanlah Sholat serta tunaikanlah Zakat. Apa pun kebaikan yang kalian kerjakan untuk diri kalian, niscaya kalian akan mendapatkannya (balasan) di sisi Alloh.” (QS. Al-Baqoroh: 110)

Meskipun saat ini engkau tidak sedang Sholat, perintah menunaikan Zakat tetap berlaku bagimu jika syaratnya terpenuhi. Zakat adalah pilar Islam yang tidak boleh runtuh. Mengenai Zakat Fithri, Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menjelaskan tujuannya:

«فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ»

“Rosululloh mewajibkan Zakat Fithri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin.” (HSR. Abu Dawud no. 1609)

Bagi wanita haidh, Zakat Fithri tetap wajib dikeluarkan oleh dirinya sendiri atau melalui walinya. Ini adalah bentuk kepedulian sosial yang nyata. Dengan berzakat, engkau sedang membersihkan hartamu dan mensucikan jiwamu dari sifat kikir. Jangan tunda-tunda dalam menunaikannya. Lakukanlah dengan penuh kegembiraan karena engkau telah membantu saudara-saudaramu yang kekurangan agar mereka pun bisa merasakan kebahagiaan di hari raya kelak.

Sungguh, ladang pahala melalui harta dan pelayanan ini sangatlah luas. Jangan engkau sempitkan dirimu hanya pada satu jenis ibadah saja. Tangan yang memberi, kaki yang melangkah melayani, dan harta yang dikeluarkan di jalan Alloh akan menjadi pembela bagimu di hadapan Robb semesta alam.

 

Bab 5: Lailatul Qodr Tanpa Sholat

5.1 Hakikat Lailatul Qodr bagi Setiap Muslim dan Muslimah

Wahai saudariku yang jiwanya bergetar merindukan malam yang lebih baik dari seribu bulan, janganlah engkau merasa bahwa pintu keberkahan itu tertutup bagimu hanya karena engkau sedang haidh. Lailatul Qodr bukanlah milik mereka yang Sholat saja, melainkan milik setiap hamba Alloh yang menghidupkan malamnya dengan ketaatan. Sungguh, kemuliaan malam itu meliputi seluruh penjuru bumi dan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki oleh Ar-Rohman.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾

“Sungguh Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qodr: 1-3)

Renungkanlah, kebaikan yang engkau lakukan di malam itu, meskipun “hanya” berupa dzikir atau doa yang tulus, pahalanya lebih baik daripada amal yang dikerjakan selama 1000 bulan atau 83 tahun lebih. Ini adalah anugerah yang sangat luas. Bagi seorang wanita haidh, Lailatul Qodr adalah saat untuk membuktikan bahwa ketaatannya tidak bergantung pada gerakan badan, melainkan pada ketulusan penghambaan.

Rosululloh memberikan motivasi agar kita sungguh-sungguh mencarinya:

«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»

“Carilah Lailatul Qodr pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir dari bulan Romadhon.” (HR. Al-Bukhori no. 2017 dan Muslim no. 1169)

Tidak ada satu pun keterangan dari Nabi yang mengecualikan wanita haidh dari usaha mencari malam ini. Jika engkau menjaga lisanmu agar tetap basah dengan dzikir, menjaga hatimu agar tetap terpaut kepada Alloh, dan menjaga dirimu dari dosa, maka engkau sedang “berburu” Lailatul Qodr dengan cara yang sangat mulia.

Durasi Lailatul Qodr adalah dari Maghrib sampai Subuh. Maka siapa yang beribadah di antara waktu tersebut maka seakan-akan ia melakukannya selama 1000 bulan.

5.2 Amalan Utama di Sepuluh Malam Terakhir bagi Wanita Haidh

Mungkin engkau bertanya-tanya, “Jika aku tidak bisa Sholat Tarowih dan tidak bisa membaca Al-Qur’an dari Mushaf, apa yang harus aku lakukan di malam-malam ganjil itu?” Wahai saudariku, resep paling utama telah diajarkan oleh Rosululloh melalui lisan Ibunda kita, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, ia berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: «قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»

Aku bertanya: Wahai Rosululloh, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah Lailatul Qodr, apa yang harus aku ucapkan? Beliau bersabda: Ucapkanlah: Allohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Yaa Alloh, sungguh Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku).” (HSR. At-Tirmidzi no. 3513)

Perhatikanlah doa ini. Nabi tidak memerintahkan Sholat sekian roka’at atau amalan fisik yang berat, melainkan sebuah doa pendek yang sarat makna. Engkau bisa melantunkan doa ini ribuan kali sambil berbaring, sambil duduk, atau sambil menyusui bayimu. Inilah amalan kunci di malam-malam terakhir Romadhon.

Selain itu, berdzikirlah dengan dzikir-dzikir yang telah kita bahas di bab sebelumnya. Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Sholawat adalah teman setiamu. Ingatlah sabda Nabi tentang keutamaan malam Romadhon secara umum:

«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qodr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhori no. 1901 dan Muslim no. 760)

Menghidupkan malam (qiyam) bagi wanita haidh bukan dengan Sholat, melainkan dengan tetap terjaga untuk berdzikir, beristighfar, dan merenungi kebesaran Alloh. Jangan engkau habiskan malam-malam itu hanya dengan tidur lelap atau sekadar bermain telepon genggam. Bangunlah, bersihkan dirimu, pakailah wewangian (di dalam rumah), dan duduklah di tempat sujudmu yang biasa untuk bermunajat kepada Robb semesta alam.

5.3 Menjaga I’tikaf Hati Meskipun Berdiam di Rumah

I’tikaf secara bahasa berarti menetap atau mengurung diri. Bagi laki-laki dan wanita yang suci, I’tikaf dilakukan di Masjid. Namun bagimu yang sedang haidh, engkau bisa melakukan “I’tikaf Hati”. Engkau mengurung hatimu dari kesibukan duniawi dan memusatkannya hanya kepada Alloh Ta’ala.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ﴾

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas adalah I’tikaf yang sesungguhnya. Matikanlah sejenak kebisingan media sosial, kurangi obrolan yang tidak bermanfaat, dan buatlah satu sudut di rumahmu sebagai tempat tenang untuk menyendiri bersama Alloh. Di sanalah engkau merenungi setiap nikmat-Nya, meratapi setiap dosamu, dan membangun tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan bahwa maksud dari I’tikaf adalah memutuskan hubungan dengan makhluk demi bersambung dengan Sang Kholiq. Maka, meskipun jasadmu berada di dapur atau di ruang tengah, biarkan hatimu senantiasa “beri’tikaf” dalam ketundukan.

Ingatlah bahwa Alloh melihat apa yang ada di hatimu. Jika hatimu benar-benar rindu untuk beri’tikaf di Masjid namun terhalang oleh haidh, maka pahala I’tikaf itu telah Alloh catat bagimu. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ﴾

“Katakanlah: Jika kalian menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kalian melahirkannya, niscaya Alloh mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imron: 29)

Jadikanlah sepuluh malam terakhir ini sebagai momen privasi antara engkau dan Penciptamu. Bisikkanlah segala hajatmu, adukanlah segala keluhmu. Sungguh, seorang hamba yang berduaan dengan Robbnya di kegelapan malam tidak akan pernah kembali dengan tangan kosong.

 

Bab 6: Menuntut Ilmu dan Kebaikan

6.1 Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu di Bulan Romadhon

Wahai saudariku yang haus akan ilmu, haidh bukanlah penghalang bagimu untuk melangkahkan kaki menuju taman-taman Jannah di dunia ini, yaitu majelis ilmu. Jika majelis tersebut diadakan di teras Masjid atau tempat umum yang tidak dilarang bagi wanita haidh untuk memasukinya, maka datanglah. Jika majelis itu diadakan secara daring melalui layar perangkatmu, maka simaklah dengan seksama.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾

“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Di bulan Romadhon, setiap ilmu yang engkau pelajari akan menjadi cahaya yang menuntunmu dalam beramal. Jangan biarkan masa haidhmu berlalu tanpa ada satu pun ilmu baru yang engkau serap. Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat dicintai oleh Alloh. Rosululloh bersabda:

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»

“Siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan baginya jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)

Engkau bisa membaca buku-buku agama, mendengarkan ceramah para asatidz yang bermanhaj Salaf, atau mempelajari hukum-hukum fiqih yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Ilmu adalah imam bagi amal. Dengan ilmu, engkau akan tahu bagaimana cara beribadah yang benar meskipun sedang haidh, sehingga engkau tidak terjebak dalam rasa sedih yang tidak beralasan atau amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya.

6.2 Berdakwah dan Mengajak kepada Kebaikan di Lingkungan Sekitar

Ketahuilah saudariku, dakwah bukan hanya tugas para ustadz atau penceramah kondang. Setiap Muslimah adalah daiyah (pendakwah) di lingkungannya masing-masing. Di bulan Romadhon, engkau bisa mengajak saudaramu yang lain untuk lebih giat beribadah, mengingatkan mereka tentang waktu Sholat, atau berbagi ilmu yang baru saja engkau dapatkan.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh.” (QS. Ali ‘Imron: 110)

Berdakwah tidak harus melalui lisan yang panjang lebar. Saat engkau tetap ceria dan sabar menyiapkan hidangan berbuka bagi orang lain meskipun engkau sendiri merasa sakit karena haidh, itu adalah dakwah melalui akhlaq (dakwah bil hal). Saat engkau membagikan artikel bermanfaat atau dalil-dalil syar’i melalui media sosialmu, itu adalah dakwah melalui tulisan.

Rosululloh bersabda tentang besarnya pahala orang yang menunjukkan kebaikan:

«مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»

“Siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)

Bayangkan jika karena ajakanmu, temanmu menjadi tergerak untuk beristighfar atau memberikan shodaqoh, maka engkau mendapatkan pahala yang sama dengan mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Ini adalah cara cerdas bagimu untuk terus memupuk pahala meskipun engkau sedang “libur” dari Sholat dan Puasa.

6.3 Menjaga Lisan dari Ghibah dan Perbuatan Sia-sia

Puncak dari ketaqwaan di bulan Romadhon adalah kemampuan menahan diri dari segala hal yang tidak diridhoi oleh Alloh. Wahai saudariku, meskipun engkau tidak diperintahkan menahan lapar dan dahaga, engkau tetap diperintahkan untuk “berpuasa” dari kemaksiatan lisan dan anggota badan. Jangan sampai masa haidhmu menjadi alasan untuk bebas berbicara apa saja, termasuk ghibah (menggunjing) atau berkata kotor.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)

Malaikat Roqib dan ‘Atid tidak pernah libur mencatat, baik engkau sedang suci maupun sedang haidh. Rosululloh memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang tidak bisa menjaga lisannya di bulan suci ini:

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Alloh tidak butuh kepadanya dalam hal dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1903)

Hadits ini memang ditujukan bagi orang yang berpuasa, namun maknanya berlaku umum. Jika orang yang berpuasa saja bisa terancam kehilangan pahala puasanya karena lisan yang buruk, apalagi kita yang sedang tidak berpuasa. Jangan biarkan waktu luangmu karena tidak Sholat malah engkau gunakan untuk membicarakan aib orang lain atau menonton hal-hal yang sia-sia.

Jadikanlah lisanmu sebagai benteng. Jika engkau tidak bisa berkata baik, maka diam adalah pilihan yang paling mulia. Nabi bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

Dengan menjaga lisan, engkau sedang menjaga kesucian hatimu. Dengan menyebar kebaikan, engkau sedang membangun istanamu di Jannah. Inilah cara kita menghiasi hari-hari Romadhon dengan cahaya ilmu dan kemuliaan akhlaq, sehingga setiap detik yang berlalu tetap bernilai ibadah di sisi Robb yang Maha Melihat.

 

Bab 7: Akhlaq dan Adab Wanita Haidh

7.1 Menjaga Kehormatan Bulan Romadhon Meskipun Tidak Berpuasa

Wahai saudariku yang berbudi luhur, meskipun saat ini engkau sedang diberikan keringanan oleh Alloh untuk tidak menahan lapar dan dahaga, bukan berarti kesucian bulan Romadhon hilang dari harimu. Seorang Muslimah yang mencintai Robb-nya akan senantiasa mengagungkan apa yang diagungkan oleh-Nya. Menjaga adab saat tidak berpuasa adalah tanda beningnya hati dan tingginya ketaqwaan.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ﴾

“Demikianlah (perintah Alloh). Dan siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Alloh, maka sungguh hal itu timbul dari ketaqwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Romadhon adalah syi’ar Alloh yang sangat besar. Di antara bentuk mengagungkan bulan ini adalah dengan tidak menampakkan aktivitas makan atau minum secara terang-terangan di hadapan orang yang sedang berpuasa. Bukan karena Puasamu yang utama, melainkan karena penghormatanmu terhadap perintah Alloh yang sedang dijalankan oleh saudara-saudarimu.

Ingatlah bagaimana para Shohabat sangat menjaga kehormatan syi’ar agama. Dari Abu Huroiroh (58 H), Nabi bersabda:

«كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ»

“Setiap umatku dimaafkan (dosanya), kecuali orang-orang yang menampakkannya secara terang-terangan.” (HR. Al-Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990)

Meskipun makan bagimu saat haidh adalah mubah (boleh), namun menampakkannya di depan umum bisa melukai perasaan orang lain atau bahkan menimbulkan fitnah bagi dirimu sendiri. Jadilah Muslimah yang anggun, yang tetap menjaga suasana ibadah di rumah dan lingkungannya meskipun ia sendiri sedang memiliki udzur.

7.2 Kesabaran dan Kelapangan Dada Menghadapi Gejala Fisik Haidh

Saudariku, seringkali datangnya haidh dibarengi dengan rasa nyeri di perut, sakit di pinggang, hingga suasana hati yang mudah berubah. Janganlah engkau menggerutu atau mencela keadaan ini. Ketahuilah bahwa setiap rasa sakit yang engkau rasakan, meskipun hanya seberat tusukan duri, adalah penggugur dosa-dosamu.

Alloh Ta’ala berfirman tentang balasan bagi orang yang sabar:

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾

“Sungguh hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Kesabaranmu menghadapi gangguan fisik saat haidh adalah ibadah yang sangat tinggi nilainya. Rosululloh memberikan kabar gembira yang sangat indah bagi setiap Muslim yang tertimpa musibah atau rasa sakit:

«مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa rasa lelah, sakit yang menahun, kegundahan, kesedihan, gangguan, hingga kesusahan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Al-Bukhori no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Maka, saat rasa sakit itu datang di siang hari Romadhon, tersenyumlah dan katakan dalam hatimu, “Yaa Alloh, aku ridho atas ketetapan-Mu, maka jadikanlah sakit ini sebagai pembersih bagi jiwaku.” Dengan sikap seperti ini, engkau tetap mendulang pahala besar meskipun hanya terbaring di tempat tidur.

7.3 Menjauhi Maksiat sebagai Bentuk Taqwa

Tujuan akhir dari Romadhon adalah menjadi pribadi yang bertaqwa. Taqwa berarti menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya. Wahai Muslimah, jangan sampai karena engkau sedang tidak Sholat dan Puasa, engkau merasa longgar dalam menjaga pandangan, pendengaran, dan lisan dari kemaksiatan.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Robb kalian dan menuju Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Alloh mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imron: 133-134)

Ayat ini menunjukkan bahwa sifat Taqwa sangat berkaitan dengan akhlaq dan pengendalian diri. Menahan amarah saat emosimu naik akibat perubahan hormon ketika haidh adalah bentuk ketaqwaan yang nyata. Menjaga pandangan dari tayangan yang harom di media sosial adalah bentuk Jihad yang engkau lakukan.

Rosululloh bersabda:

«اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»

“Bertaqwalah kepada Alloh di mana pun engkau berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1987)

Ingatlah, Romadhon adalah madrosah bagi jiwa. Meskipun raga tidak berpuasa, biarkan jiwamu tetap “berpuasa” dari segala yang dibenci oleh Alloh. Inilah adab sejati seorang Muslimah di bulan suci.

 

Bab 8: Tata Cara Qodho Puasa dan Persiapan Idul Fithri

8.1 Kewajiban Mengganti Hutang Puasa bagi Wanita Haidh dan Nifas

Wahai saudariku, setelah bulan Romadhon berlalu, engkau masih memiliki satu amanah yang harus ditunaikan, yaitu mengganti (qodho) hari-hari Puasa yang engkau tinggalkan. Inilah bentuk kasih sayang Alloh; Dia memberimu keringanan saat haidh, namun tetap memberimu kesempatan untuk meraih pahala Puasa di hari yang lain agar engkau tidak merugi.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾

“Maka siapa di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqoroh: 184)

Wanita haidh dan nifas dianalogikan dengan orang yang sakit, karena adanya gangguan fisik yang menghalangi mereka untuk berpuasa. Engkau wajib mencatat dengan teliti berapa hari engkau tidak berpuasa agar tidak ada yang terlewat. Ibunda ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha menceritakan bagaimana beliau menunaikan kewajiban ini:

«كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ»

“Dahulu aku memiliki hutang Puasa Romadhon, dan aku tidak mampu mengqodho-nya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhori no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Para ulama, seperti Ibnu Qudamah (620 H), menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menunda qodho Puasa selama belum datang Romadhon berikutnya. Namun, menyegerakan kebaikan adalah hal yang jauh lebih utama. Jika engkau memiliki kekuatan, segeralah ganti hutangmu setelah hari raya, agar jiwamu merasa tenang karena telah menunaikan hak Alloh.

8.2 Adab Wanita Keluar Menuju Sholat Idul Fithri Meskipun Sedang Haidh

Hari raya Idul Fithri adalah hari kemenangan dan kegembiraan bagi seluruh umat Islam. Tahukah engkau saudariku, meskipun engkau sedang haidh dan tidak bisa melaksanakan Sholat Id, Nabi tetap memerintahkanmu untuk keluar menuju tempat Sholat (tanah lapang). Engkau tidak boleh merasa terasing dari kegembiraan umat ini.

Ummu ‘Athiyyah rodhiyallahu ‘anha (70 H) menceritakan perintah Nabi ini:

«أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الفِطْرِ وَالأَضْحَى، العَوَاتِقَ وَالحُيَّضَ وَذَوَاتِ الخُدُورِ، فَأَمَّا الحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الخَيْرَ وَدَعْوَةَ المُسْلِمِينَ»

“Rosululloh memerintahkan kami untuk mengeluarkan para gadis, wanita haidh, dan wanita yang dipingit pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. Adapun wanita yang haidh, mereka memisahkan diri dari tempat Sholat, namun mereka ikut serta menyaksikan kebaikan dan doa kaum Muslimin.” (HR. Muslim no. 890 dan Al-Bukhori no. 324)

Lihatlah betapa indahnya syariat ini. Engkau diajak keluar untuk ikut mengaminkan doa-doa, mendengarkan khutbah, dan merasakan persaudaraan sesama Muslim. Engkau hanya perlu menjauh dari tempat sujud yang digunakan untuk Sholat, namun engkau tetap berada dalam kerumunan keberkahan. Janganlah engkau mengurung diri di rumah dengan alasan haidh, karena hari itu adalah hari di mana rohmat Alloh tercurah luas bagi siapa saja yang hadir.

Persiapkanlah dirimu dengan mandi (bukan mandi wajib, tapi mandi kebersihan), pakailah pakaian terbaikmu yang tidak membentuk lekuk tubuh dan tidak menarik perhatian lelaki ajnabi, lalu berangkatlah dengan melantunkan takbir dengan suara lirih. Sungguh, Idul Fithrimu tetaplah sempurna dengan kehadiranmu di tengah-tengah doa kaum Muslimin.

 

Penutup

Wahai saudariku yang senantiasa dalam penjagaan Alloh, sampailah kita di penghujung renungan ini. Kita telah menyusuri lorong-lorong ibadah yang luas, membuktikan bahwa bagi seorang Muslimah, Romadhon tidak pernah menjadi masa “libur” dari ketaatan. Darah yang mengalir dari rahimmu bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk mengenal sisi lain dari penghambaan yang mungkin selama ini terlupakan.

Engkau telah belajar bahwa ridho adalah kunci, bahwa lisan yang berdzikir adalah senjata, bahwa khidmah di dapur adalah Jihad, dan bahwa doa di kegelapan malam adalah pengetuk pintu langit. Romadhonmu telah terisi dengan butiran-butiran mutiara amal yang in syaa Alloh akan engkau temukan timbangannya sangat berat di hari perhitungan kelak.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا﴾

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan balasan atas kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan (di hadapannya).” (QS. Ali ‘Imron: 30)

Maka, saat Romadhon ini pergi meninggalkan kita, janganlah engkau biarkan semangat ibadahmu ikut pergi. Jadikanlah madrosah haidh di bulan Romadhon ini sebagai bekal untuk menghadapi bulan-bulan berikutnya. Tetaplah istiqomah dalam menjaga lisan, tetaplah rajin dalam bershodaqoh, dan tetaplah rendah hati dalam melayani keluarga karena-Nya.

Sungguh, Robb yang engkau sembah di bulan Romadhon adalah Robb yang tetap mengawasimu di bulan Syawwal, Dzulqo’dah, dan seterusnya. Rosululloh bersabda:

«أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»

“Amal yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang paling konsisten (istiqomah), meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhori no. 6465 dan Muslim no. 783)

Semoga setiap tetes keringatmu, setiap desah nafas dzikirmu, dan setiap rasa sakit yang engkau tanggung dengan sabar, menjadi wasilah bagimu untuk mencium wanginya Jannah dan memandang Wajah-Nya yang Mulia.

Kami berdoa agar Alloh menerima seluruh amal ibadahmu dan mempertemukan kita kembali dengan Romadhon tahun depan dalam keadaan yang lebih baik dan lebih bertaqwa.

﴿رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Wahai Robb kami, terimalah (amal) dari kami, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 127)

Segala puji bagi Alloh yang dengan ni’mat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad , keluarganya, dan para Shohabatnya sekalian.

 

Daftar Pustaka

1. Sumber Utama

Al-Qur’anul Karim.

2. Kitab Hadits (Al-Kutubus Sittah dan Masanid)

Al-Muwaththo’, karya Al-Imam Malik bin Anas (179 H).

Al-Jami’ul Musnad Shohih (Shohih Al-Bukhori), karya Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori (256 H).

Al-Musnadush Shohih (Shohih Muslim), karya Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi (261 H).

As-Sunan, karya Al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats (279 H).

Al-Jami’ul Kabir (Sunan At-Tirmidzi), karya Al-Imam Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi (275 H).

As-Sunan, karya Al-Imam Ibnu Majah Muhammad bin Yazid (273 H).

Al-Musnad, karya Al-Imam Ahmad bin Hanbal (241 H).

3. Kitab Syarah dan Tafsir

Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani (852 H).

Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim, karya Al-Imam An-Nawawi (676 H).

Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, karya Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H).

4. Kitab Fiqh, Aqidah, dan Akhlaq

Al-Mughni, karya Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620 H).

Majmu’ Al-Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah (728 H).

Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril ‘Ibad, karya Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H).

Lathoiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhoif, karya Al-Hafizh Ibnu Rojab Al-Hanbali (795 H).


Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url