Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Memakmurkan Masjid Alloh - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

Sungguh, segala puji hanya milik Alloh. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya.

Amma ba’du:

Masjid adalah rumah Alloh yang ada di muka bumi, tempat yang paling mulia, dan menara petunjuk bagi umat Muslim. Mema’murkan Masjid merupakan bagian yang sangat mendasar dari keimanan seorang hamba. Alloh telah mengaitkan antara keimanan kepada-Nya dan Hari Akhiroh dengan perbuatan mema’murkan Masjid. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan seseorang terhadap tempat suci ini adalah cerminan dari kesucian hatinya dan ketulusan hubungannya dengan sang Kholiq. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia yang sering kali melalaikan, Masjid hadir sebagai tempat berteduh bagi jiwa-jiwa yang haus akan rohmat Alloh.

Dalam lembaran-lembaran buku ini, kita akan menyelami samudera dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang menjelaskan betapa agungnya kedudukan mereka yang membaktikan hidupnya untuk menjaga, membangun, dan menghidupkan Masjid. Buku ini disusun dengan landasan ilmiyyah yang kuat, menyajikan setiap argumen berdasarkan wahyu, agar setiap pembaca memahami bahwa mema’murkan Masjid bukan sekadar perkara membangun fisik yang megah, melainkan tentang bagaimana menghidupkan cahaya Alloh di dalamnya melalui Sholat, dzikir, dan ilmu. Semoga Alloh menjadikan amal ini ikhlas karena wajah-Nya yang mulia dan bermanfaat bagi seluruh kaum Muslim.

BAB 1: PENGERTIAN MEMA’MURKAN MASJID

1.1 Makna Mema’murkan Masjid

Secara bahasa, kata “mema’murkan” berasal dari akar kata yang berarti menghuni, mendiami, membangun, dan memelihara. Dalam konteks syariat, mema’murkan Masjid memiliki cakupan makna yang luas, menyentuh sisi lahiriah maupun batiniah manusia. Alloh memberikan penegasan tentang siapa yang sebenarnya layak disebut sebagai pema’mur Masjid dalam firman-Nya:

﴿إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ﴾

“Sungguh yang mema’murkan Masjid-Masjid Alloh hanyalah orang yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhiroh, serta tetap mendirikan Sholat, menunaikan Zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Alloh, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa kema’muran sebuah Masjid tidak diukur dari kemegahan hiasannya, melainkan dari kualitas iman orang-orang yang berada di dalamnya.

Ayat ini merupakan dalil bahwa persaksian iman diberikan kepada mereka yang terbiasa mendatangi dan mema’murkan Masjid.

Disebutkan dalam Hadits yang diperselisihkan:

«إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَتَعَاهَدُ المَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ»

“Jika kalian melihat seorang lelaki yang terbiasa mendatangi Masjid, maka saksikanlah bahwa dia adalah orang yang beriman.” (HR. At-Tirmidzi no. 2617 dan Ibnu Majah no. 802)

Oleh karena itu, makna syariat dari mema’murkan Masjid adalah menghidupkan fungsi Masjid sebagai pusat ibadah dan penyebaran agama Alloh, yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang bertaqwa.

1.2 Antara Bangunan Fisik dan Amal Ibadah

Para ulama membagi cara mema’murkan Masjid menjadi dua bagian utama. Pertama adalah imaroh hissiyyah (pembangunan secara fisik) dan kedua adalah imaroh maknawiyyah (pembangunan secara makna melalui ibadah). Keduanya harus berjalan beriringan, namun sisi ibadahlah yang menjadi inti tujuan didirikannya Masjid.

Membangun Masjid secara fisik meliputi mendirikan bangunan, memperbaiki kerusakan, dan menjaga kebersihannya. Alloh berfirman mengenai izin-Nya untuk meninggikan bangunan Masjid:

﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ﴾

“Tasbih memuji Alloh di Masjid-Masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An-Nur: 36)

Adapun mema’murkan Masjid secara makna adalah dengan Sholat, i’tikaf, dan mempelajari ilmu agama. Hal inilah yang dilakukan oleh para Shohabat dan Salaf. Jika sebuah Masjid dibangun dengan sangat megah namun sepi dari jamaah Sholat, maka Masjid tersebut kehilangan ruh kema’murannya. Rosululloh memberikan peringatan akan datangnya suatu zaman di mana manusia bermegah-megahan dalam fisik Masjid namun jauh dari petunjuk:

«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ»

“Kiamat tidak akan terjadi sampai manusia berbangga-bangga (dengan kemegahan) Masjid-Masjid.” (HSR. Abu Dawud no. 449)

Maka, kema’muran yang hakiki adalah saat bangunan yang kokoh dipenuhi oleh hamba-hamba yang ruku’ dan sujud kepada Robb mereka.

 

BAB 2: KEUTAMAAN MEMA’MURKAN MASJID

2.1 Tempat yang Paling Dicintai Alloh

Masjid memiliki kedudukan yang tidak dimiliki oleh tempat lain mana pun di dunia ini. Ia adalah titik pusat keberkahan dan rohmat. Dalam sebuah Hadits yang shohih, Rosululloh bersabda:

«أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا»

“Tempat yang paling dicintai oleh Alloh adalah Masjid-Masjidnya, dan tempat yang paling dibenci oleh Alloh adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim no. 671)

Mengapa Masjid menjadi yang paling dicintai? Karena di sanalah ketaatan ditegakkan, nama Alloh diagungkan, dan kerendahan hati seorang hamba ditunjukkan di hadapan Penciptanya. Berbeda dengan pasar yang sering kali menjadi tempat kelalaian, sumpah palsu, dan keterpautan hati pada dunia. Dengan mengetahui hal ini, seorang Muslim yang cerdas akan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di tempat yang dicintai oleh Robbnya.

2.2 Istana di Jannah

Alloh menjanjikan balasan yang luar biasa bagi siapa yang menginfakkan hartanya untuk membangun tempat sujud bagi kaum Muslim. Janji ini bukan sekadar janji biasa, melainkan jaminan tempat tinggal di Akhiroh kelak. Rosululloh bersabda:

«مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الجَنَّةِ»

“Siapa yang membangun Masjid karena Alloh, maka Alloh akan membangunkan baginya yang serupa di Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 450 dan Muslim no. 533)

Keutamaan ini berlaku meskipun Masjid yang dibangun itu kecil atau menyumbang satu keramik saja, selama dilandasi keikhlasan. Dalam riwayat lain disebutkan:

«مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ، أَوْ أَصْغَرَ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ»

“Siapa yang membangun Masjid karena Alloh meskipun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil dari itu, Alloh akan membangunkan baginya rumah di Jannah.” (HSR. Ibnu Majah no. 738)

Ini menunjukkan bahwa pintu kemuliaan ini terbuka bagi siapa saja, baik orang kaya dengan harta besarnya maupun orang sederhana dengan sumbangsih kecilnya.

2.3 Rohmat dan Ketenangan

Masjid adalah tempat turunnya ketenangan jiwa (sakinah). Saat seorang Muslim berada di dalam Masjid untuk berdzikir atau membaca Al-Qur’an, ia akan dikelilingi oleh para Malaikat. Rosululloh bersabda:

«وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Alloh (Masjid), mereka membaca Kitabulloh dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi rohmat, mereka akan dikelilingi oleh para Malaikat, dan Alloh akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2699)

Ketenangan ini adalah anugerah besar yang tidak bisa dibeli dengan materi. Di dalam Masjid, segala gundah gulana duniawi sirna digantikan dengan kedamaian batin karena merasa dekat dengan Sang Pencipta, doa dan harapan dikabulkan.

2.4 Cahaya yang Sempurna Pada Hari Kiamat

Perjuangan seorang Muslim untuk mendatangi Masjid, terutama dalam keadaan gelap seperti saat Sholat Subuh dan Isya, akan membuahkan hasil yang manis di Hari Akhiroh. Di saat manusia kebingungan mencari cahaya di tengah kegelapan Kiamat, para pema’mur Masjid akan berjalan dengan cahaya yang terang benderang. Rosululloh bersabda:

«بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan kaki di kegelapan malam menuju Masjid-Masjid, bahwa mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat.” (HSR. Abu Dawud no. 561)

Cahaya ini adalah bentuk balasan yang setimpal (al-jaza’ min jinsil ‘amal). Karena mereka telah menghidupkan cahaya Alloh di bumi melalui Masjid, maka Alloh memberikan mereka cahaya untuk meniti jalan menuju Jannah-Nya.

Puji syukur kita panjatkan kepada Alloh atas taufiq-Nya. Berikut adalah kelanjutan dari buku “Mema’murkan Masjid Alloh” yang mencakup Bab 3 dan Bab 4 dengan porsi dalil yang dominan, penjelasan yang mengalir, dan kepatuhan penuh pada format yang Anda inginkan.

 

BAB 3: KARAKTERISTIK PARA PEMA’MUR MASJID

3.1 Persaksian Iman dari Alloh bagi Para Pema’mur Masjid

Mereka yang menghidupkan rumah-rumah Alloh bukanlah orang sembarangan. Alloh telah menetapkan bahwa identitas utama seorang pema’mur Masjid adalah keimanan yang kokoh di dalam dadanya. Karakter ini digambarkan oleh Alloh sebagai sosok lelaki sejati yang tidak silau oleh gemerlap perniagaan dunia ketika panggilan Robbnya datang. Alloh berfirman:

﴿رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Mereka adalah para lelaki yang perdagangan dan jual beli mereka tidak sampai melalaikan mereka dari mengingat Alloh, mendirikan Sholat, dan menunaikan Zakat. Mereka merasa takut pada suatu hari yang ketika itu hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS. An-Nur: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa kesibukan mencari nafkah bukan menjadi alasan bagi para pema’mur Masjid untuk meninggalkan kewajiban. Mereka adalah orang-orang yang tetap mengutamakan ketaatan kepada Alloh di atas keuntungan duniawi.

3.2 Sifat Khosyah (Takut kepada Alloh)

Pema’mur Masjid memiliki mentalitas yang tangguh karena mereka hanya menggantungkan rasa takutnya kepada Alloh semata. Rasa takut inilah yang mendorong mereka untuk istiqomah melangkahkan kaki ke Masjid meski dalam keadaan sulit. Alloh berfirman:

﴿وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Dan dia tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Alloh, maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

Keikhlasan dalam rasa takut ini membuat mereka merdeka dari tekanan sesama makhluk. Sifat ini sangat penting bagi setiap Muslim agar tujuan mereka datang ke Masjid murni untuk mengharap wajah Alloh, bukan untuk mencari pujian atau kedudukan di mata manusia.

3.3 Keteguhan dalam Menjaga Sholat dan Menunaikan Zakat

Ciri fisik dan amal yang paling nampak dari pema’mur Masjid adalah keteraturan mereka dalam menghamba. Mereka tidak hanya sholih secara pribadi, tetapi juga peduli pada tatanan sosial melalui Zakat. Rosululloh memberikan gambaran tentang betapa berharganya setiap langkah kaki mereka:

«وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ»

“Setiap langkah kaki yang diayunkan seseorang menuju tempat Sholat adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhori no. 2989 dan Muslim no. 1009)

Maka, setiap gerakan fisik menuju Masjid merupakan rangkaian amal jariyah yang terus mengalir. Kedisiplinan ini menunjukkan bahwa syariat Alloh telah menyatu dalam denyut nadi kehidupan mereka sehari-hari.

3.4 Mereka yang Hatinya Terpaut dengan Masjid

Salah satu karakter yang paling mulia adalah memiliki keterikatan batin yang sangat kuat dengan Masjid. Seolah-olah Masjid adalah rumah utama baginya, dan dunia luar hanyalah tempat persinggahan sementara. Rosululloh bersabda mengenai golongan orang yang akan mendapatkan perlindungan istimewa:

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ... وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ»

“Ada tujuh golongan yang akan Alloh naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya... (salah satunya adalah) seorang lelaki yang hatinya terpaut dengan Masjid-Masjid.” (HR. Al-Bukhori no. 660 dan Muslim no. 1031)

Shohabat Abu Huroiroh (57 H) merupakan salah satu contoh nyata dari mereka yang menghabiskan waktunya di Masjid demi menjaga ilmu dan ibadah, menunjukkan bahwa kedekatan dengan Masjid adalah kunci keselamatan di Akhiroh.

 

BAB 4: BENTUK NYATA MEMA’MURKAN MASJID

4.1 Menegakkan Sholat Berjamaah sebagai Kema’muran Terbesar

Puncak dari usaha mema’murkan Masjid adalah pelaksanaan Sholat berjamaah. Inilah tujuan utama mengapa bangunan suci ini didirikan di tengah pemukiman Muslim. Rosululloh sangat menekankan keutamaan ini hingga memberikan perbandingan pahala yang sangat besar:

«صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً»

“Sholat berjamaah itu lebih utama daripada Sholat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat.” (HR. Al-Bukhori no. 645 dan Muslim no. 650)

Sungguh, siapa yang menyia-nyiakan Sholat berjamaah tanpa alasan yang benar, ia telah melewatkan peluang besar untuk melipatgandakan bekal di Akhiroh. Kema’muran Masjid diukur dari rapatnya shof-shof jamaah, bukan dari mahalnya karpet atau indahnya ukiran dinding.

4.2 Menghidupkan Majelis Ilmu dan Pembelajaran Al-Qur’an

Masjid juga berfungsi sebagai madrosah bagi umat. Mema’murkan Masjid berarti menjadikannya pusat cahaya ilmu yang menerangi kegelapan kebodohan. Rosululloh menjanjikan pahala setara ibadah Haji bagi mereka yang datang ke Masjid demi ilmu:

«مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ»

“Siapa yang berangkat ke Masjid dengan tujuan semata-mata untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang menunaikan ibadah Haji secara sempurna.” (HR. At-Thobaroni dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 7473, dishohihkan oleh Al-Mundziri, Ad-Dimyathi, Al-Haitsami, Al-Albani)

Ini adalah bentuk kema’muran maknawiyah yang sangat ditekankan oleh para Salafush Sholih, di mana Masjid menjadi tempat di mana ayat-ayat Alloh dibahas dan dipahami.

4.3 Dzikir, Istighfar, dan I’tikaf di dalam Masjid

Masjid adalah tempat terbaik untuk menyepi dari hiruk-pikuk dunia guna mendekatkan diri kepada Sang Kholiq. Berdiam diri di dalam Masjid dengan niat ibadah atau i’tikaf adalah tradisi yang dijaga oleh Nabi . Alloh berfirman:

﴿وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Tetapi janganlah kalian campuri mereka (istri-istri kalian), sedang kalian sedang ber-i’tikaf di dalam Masjid.” (QS. Al-Baqoroh: 187)

Bentuk mema’murkan Masjid ini memberikan ruang bagi jiwa untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah), memperbanyak istighfar, dan membasahi lisan dengan dzikir, sehingga ketika keluar dari Masjid, seorang Muslim membawa kedamaian dan kejernihan hati.

4.4 Menjaga Kebersihan, Keharuman, dan Keindahan Masjid

Menjaga kondisi fisik Masjid agar tetap nyaman untuk ibadah adalah bentuk ketaatan yang nyata. Rosululloh memerintahkan kita untuk memperhatikan hal ini dengan serius. Dari ‘Aisyah (58 H) berkata:

«أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِي الدُّورِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ»

“Rosululloh memerintahkan untuk membangun Masjid-Masjid di lingkungan tempat tinggal dan agar Masjid-Masjid tersebut dibersihkan serta diberi wewangian.” (HSR. Abu Dawud no. 455)

Bahkan, ada seorang wanita hitam yang pekerjaannya hanya menyapu Masjid Nabi , dan ketika ia wafat, Nabi secara khusus mensholatinya di kuburnya sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam mema’murkan rumah Alloh. Hal ini menunjukkan bahwa sekecil apa pun khidmah kita terhadap kebersihan Masjid, itu memiliki nilai yang sangat besar di sisi-Nya.

 

BAB 5: ADAB MEMA’MURKAN MASJID

5.1 Dzikir Masuk Serta Keluar Masjid

Memasuki Masjid sebagai rumah Alloh menuntut adab yang berbeda dengan memasuki bangunan duniawi lainnya. Seorang Muslim yang hendak mema’murkan Masjid harus menghadirkan rasa pengagungan sejak langkah pertama. Hal ini dimulai dengan mendahulukan kaki kanan saat masuk dan kaki kiri saat keluar, sembari memohon rohmat dan karunia kepada Sang Pemilik rumah.

Rosululloh memberikan tuntunan doa yang sangat indah saat seseorang melangkah masuk. Dari Abu Humaid (60 H) atau dari Abu Usaid (40 H), Rosululloh bersabda:

«إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ، فَلْيَقُلْ: اللهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَإِذَا خَرَجَ، فَلْيَقُلْ: اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ»

“Jika salah satu di antara kalian masuk ke dalam Masjid, maka hendaklah dia mengucapkan: ‘Ya Alloh, bukakanlah untukku pintu-pintu rohmat-Mu.’ Dan jika dia keluar, maka hendaklah dia mengucapkan: ‘Ya Alloh, sungguh aku memohon kepada-Mu bagian dari karunia-Mu’.” (HR. Muslim no. 713)

Perbedaan permohonan antara “rohmat” saat masuk dan “karunia” saat keluar mengandung makna yang dalam. Di dalam Masjid, seorang hamba sangat membutuhkan rohmat Alloh agar ibadahnya diterima, sedangkan saat keluar menuju urusan dunia, ia membutuhkan karunia Alloh dalam mencari nafkah yang halal.

Selain itu, Nabi juga mengajarkan untuk bersholawat kepada beliau saat memasuki Masjid. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang disampaikan oleh Fatimah (11 H) binti Rosululloh :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ المَسْجِدَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ»، وَإِذَا خَرَجَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ»

“Dahulu Rosululloh jika masuk ke dalam Masjid, beliau bersholawat atas Muhammad dan mengucapkan salam (yakni mengucapkan Allohumma sholli wa sallim ala nabiyyinaa Muhammad), lalu berdoa: ‘Wahai Robbku, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu rohmat-Mu.’ Dan jika beliau keluar, beliau bersholawat atas Muhammad dan mengucapkan salam, lalu berdoa: ‘Wahai Robbku, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu karunia-Mu’.” (HSR. At-Tirmidzi no. 314)

Adab lain yang tidak boleh ditinggalkan adalah melakukan Sholat sunnah dua roka’at sebelum duduk sebagai bentuk penghormatan kepada Masjid (Tahiyyatul Masjid). Rosululloh bersabda:

«إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ»

“Jika salah satu di antara kalian masuk ke dalam Masjid, maka kerjakan Sholat dua roka’at sebelum duduk.” (HR. Al-Bukhori no. 444 dan Muslim no. 714)

5.2 Larangan Melakukan Jual Beli dan Mengumumkan Barang Hilang

Masjid adalah tempat yang dikhususkan hanya untuk urusan Akhiroh dan pengabdian kepada Alloh. Oleh karena itu, syariat Islam melarang keras segala aktivitas yang bersifat komersial atau kepentingan pribadi yang bersifat duniawi di dalamnya, seperti transaksi jual beli atau mencari barang yang hilang.

Mengenai jual beli, Rosululloh memerintahkan umatnya untuk mendoakan keburukan bagi mereka yang bertransaksi di dalam Masjid agar mereka sadar akan kesalahannya. Beliau bersabda:

«إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي المَسْجِدِ، فَقُولُوا: لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ»

“Jika kalian melihat orang yang menjual atau membeli di dalam Masjid, maka katakanlah kepadanya: ‘Semoga Alloh tidak memberikan keuntungan pada perniagaanmu’.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1321)

Masjid bukanlah pasar. Kesuciannya harus dijaga dari kebisingan tawar-menawar harga dan ambisi mengejar harta. Demikian pula dengan pengumuman barang hilang. Nabi memberikan arahan yang tegas bagi siapa yang menjadikan Masjid sebagai tempat mengadu urusan kehilangan benda duniawinya:

«مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ: لَا رَدَّهَا اللهُ عَلَيْكَ، فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا»

“Siapa yang mendengar seseorang mencari barang yang hilang di dalam Masjid, maka hendaklah dia mengatakan: ‘Semoga Alloh tidak mengembalikannya kepadamu,’ karena sungguh Masjid-Masjid itu tidaklah dibangun untuk tujuan seperti ini.” (HR. Muslim no. 568)

Imam An-Nawawi (676 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan untuk menjaga kehormatan Masjid agar tetap menjadi pusat dzikir dan ibadah, serta menjauhkannya dari segala hal yang merusak ketenangan para jamaah.

5.3 Menjaga Ketenangan dan Larangan Mengerasakan Suara

Salah satu bentuk pemuliaan terhadap rumah Alloh adalah dengan menjaga lisan dan suara agar tidak mengganggu kekhusyukan hamba Alloh yang sedang bersujud atau berdzikir. Meskipun suara tersebut berasal dari bacaan Al-Qur’an, jika hal itu mengganggu orang lain yang juga sedang beribadah, maka perbuatan tersebut dilarang.

Rosululloh pernah mengingatkan para Shohabat ketika suara mereka mulai terdengar bersahut-sahutan dalam membaca Al-Qur’an di Masjid. Beliau bersabda:

«أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ»

“Ketahuilah, sungguh setiap dari kalian sedang bermunajat kepada Robbnya. Maka dari itu, janganlah sebagian dari kalian menyakiti sebagian yang lain, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan suara di atas suara yang lain dalam membaca (Al-Qur’an).” (HSR. Abu Dawud no. 1332)

Bahkan, Umar bin Khoththob (23 H) pernah menegur dua orang yang bersuara keras di Masjid Nabawi. Beliau bertanya dari mana asal mereka, dan ketika mereka menjawab berasal dari Thoif, Umar berkata bahwa seandainya mereka penduduk Madinah, maka beliau akan memukul mereka karena tidak tahu adab dalam menghargai ketenangan Masjid Nabi .

Alloh juga memerintahkan untuk merendahkan suara dan tidak berteriak-teriak, sebagaimana prinsip dasar dalam bermunajat yang tertuang dalam firman-Nya:

﴿وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sungguh, rohmat Alloh itu sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’rof: 56)

Ketenangan ini mencakup larangan untuk berlari-lari kecil menuju Sholat (tergesa-gesa) karena hal tersebut dapat menimbulkan kegaduhan dan menghilangkan ketenangan diri sendiri. Rosululloh bersabda:

«إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ، فَلاَ تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ، وَأْتُوهَا تَمْشُونَ، عَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا»

“Jika Sholat telah dikumandangkan iqomahnya, maka janganlah kalian mendatanginya dengan berlari, namun datangilah dengan berjalan kaki dan kalian harus dalam keadaan tenang. Apa yang kalian dapati dari Sholat maka kerjakanlah, dan apa yang terlewat maka sempurnakanlah.” (HR. Al-Bukhori no. 908 dan Muslim no. 602)

5.4 Menghindari Bau yang Tidak Sedap

Menjaga kesucian Masjid bukan hanya dari segi kotoran yang terlihat, melainkan juga dari aroma yang dapat mengganggu penciuman orang-orang yang Sholat dan para Malaikat yang hadir di sana. Seseorang yang memakan sesuatu yang berbau tajam atau memiliki bau badan yang menyengat, sangat ditekankan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum masuk ke Masjid.

Hal ini didasarkan pada sabda Rosululloh yang sangat tegas:

«مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ»

“Siapa yang memakan bawang merah, bawang putih, dan bawang bakung, maka janganlah dia mendekati Masjid kami ini. Karena sungguh para Malaikat merasa terganggu dengan apa yang membuat anak Adam (manusia) merasa terganggu darinya.” (HR. Muslim no. 564)

Shohabat Jabir bin Abdillah (78 H) menegaskan bahwa larangan ini bukan berarti makanan tersebut harom, melainkan sebuah adab dalam bermasyarakat dan beribadah. Jika aroma bawang saja dilarang, maka aroma yang lebih buruk seperti bau asap rokok atau bau badan yang tidak terurus tentu lebih utama untuk dijauhi saat mendatangi rumah Alloh.

Alloh memerintahkan setiap Muslim untuk mengenakan pakaian yang terbaik dan menjaga keindahan diri setiap kali mendatangi Masjid. Alloh berfirman:

﴿يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ﴾

“Wahai anak cucu Adam, pakailah perhiasanmu (pakaian yang bersih dan indah) pada setiap kali (memasuki) Masjid.” (QS. Al-A’rof: 31)

Ayat ini merupakan dasar bagi setiap pema’mur Masjid untuk selalu memperhatikan kebersihan lahiriahnya, karena lahiriah yang bersih dan harum akan memberikan kenyamanan bagi sesama jamaah dan mencerminkan kesucian batin seorang Mu’min yang hendak menghadap Robbnya.

 

BAB 6: TELADAN GENERASI SALAF DALAM MEMA’MURKAN MASJID

6.1 Semangat Para Shohabat

Generasi Shohabat adalah generasi terbaik yang memahami hakikat mema’murkan Masjid. Bagi mereka, Masjid bukan sekadar bangunan, melainkan jantung kehidupan. Mereka berlomba-lomba dalam kebaikan, bahkan bagi mereka yang rumahnya jauh sekalipun. Alloh telah memuji mereka dalam firman-Nya:

﴿مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ﴾

“Muhammad adalah Rosul Alloh dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Alloh dan keridhoan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29)

Umar bin Khoththob (23 H) adalah sosok yang sangat memperhatikan kema’muran Masjid. Beliau tidak hanya membangun fisiknya, tetapi juga menjaga wibawa Masjid. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau meluaskan Masjid Nabawi dan berkata: Seandainya aku tidak mendengar Rosululloh bersabda:

«نَبْغِي نَزِيدُ فِي مَسْجِدِنَا»

“Seharusnya kita menambah luas Masjid kita,” niscaya aku tidak akan menambahnya sedikit pun. (HR. Ahmad no. 330)

Semangat ini juga terlihat pada Bani Salimah yang ingin pindah rumah agar dekat dengan Masjid. Namun Nabi bersabda:

«يَا بَنِي سَلِمَةَ، دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ، دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ»

“Wahai Bani Salimah, tetaplah di rumah-rumah kalian, niscaya langkah-langkah kaki kalian akan dicatat (pahalanya). Tetaplah di rumah-rumah kalian, niscaya langkah-langkah kaki kalian akan dicatat.” (HR. Muslim no. 665)

Abu Huroiroh (57 H) juga memberikan teladan dalam mema’murkan Masjid dengan ilmu. Beliau adalah pemimpin bagi para penghuni Shuffah (area di Masjid Nabawi). Beliau menghabiskan waktunya untuk menjaga Hadits-Hadits Nabi di dalam Masjid. Beliau pernah berkata kepada orang-orang di pasar Madinah:

«ذَاكَ مِيرَاثُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْسَمُ، وَأَنْتُمْ هَاهُنَا لَا تَذْهَبُونَ فَتَأَخُذُونَ نَصِيبَكُمْ مِنْهُ»

“Kalian di sini, sementara warisan Rosululloh sedang dibagikan dan kalian tidak ikut mengambil bagian kalian?” Mereka bertanya: “Di mana?” Ia menjawab: “Di Masjid!” Saat mereka datang ke Masjid, mereka hanya melihat majelis ilmu dan Sholat. (Lihat Al-Mu’jamul Ausath, At-Thobaroni, no. 1429, hasan)

6.2 Kisah Para Tabi’in dan Ulama Salaf

Keteguhan para Tabi’in dan ulama Salaf setelahnya dalam mema’murkan Masjid sungguh di luar nalar manusia modern. Bagi mereka, tertinggal satu kali takbiratul ihrom bersama Imam adalah musibah yang lebih besar daripada kehilangan harta benda.

Said bin Al-Musayyib (94 H), penghulu para Tabi’in, memberikan teladan yang menakjubkan. Beliau berkata:

«مَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً إِلَّا وَأَنَا فِي الْمَسْجِدِ»

“Sungguh tidaklah muadzin mengumandangkan adzan sejak 30 tahun lamanya, melainkan aku sudah berada di dalam Masjid.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 3522)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau menjaga Sholat berjamaah tanpa terputus selama 40 tahun, dan beliau tidak pernah melihat tengkuk (punggung) orang di depannya karena beliau selalu berada di shof pertama. Inilah perwujudan nyata dari firman Alloh:

﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ  أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ﴾

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu) bahwa sungguh mereka akan kembali kepada Robb mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mu’minun: 60-61)

Ibrohim bin Maimun (131 H) adalah seorang pengrajin emas. Diceritakan dalam Siyar A’lamun Nubala bahwa jika beliau sedang mengangkat palunya dan mendengar suara adzan, beliau tidak akan mengayunkan palu tersebut ke bawah, tetapi langsung meletakkannya dan segera beranjak menuju Masjid.

Begitu pula dengan Ar-Robi’ bin Khutsaim (61 H). Ketika beliau sudah tua dan sakit lumpuh, beliau tetap dipapah oleh dua orang untuk menuju Masjid. Seseorang berkata kepadanya: “Wahai Abu Yazid, sungguh engkau telah diberikan udzur (keringanan) untuk Sholat di rumah.” Beliau menjawab:

إِنَّهُ كَمَا تَقُولُونَ وَلَكِنِّي سَمِعْتُهُ يُنَادِي حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، فَمَنْ سَمِعَهُ مِنْكُمْ يُنَادِي حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ فَلْيُجِبْهُ وَلَوْ زَحْفًا وَلَوْ حَبْوًا

“Sungguh benar apa yang kau katakan. Akan tetapi, aku mendengar seruan ‘Marilah meraih kemenangan’. Maka siapa yang mendengarnya, hendaklah ia mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd, no. 1995)

Al-A’masy (148 H) adalah ulama besar yang menjaga Sholat berjamaah dengan sangat ketat. Waki’ bin Al-Jarroh (197 H) menceritakan:

وَكَانَ قَرِيبًا مِنْ سَبْعِينَ سَنَةً لَمْ تَفُتْهُ التَّكْبِيرَةُ الأُولَى

“Al-A’masy telah berusia hampir 70 tahun, dan dia tidak pernah tertinggal takbir pertama (bersama Imam).” (Tahdzibut Tahdzib, 4/196)

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa mema’murkan Masjid bagi mereka adalah kebutuhan jiwa, bukan sekadar penggugur kewajiban. Mereka memahami sabda Nabi :

«لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا»

“Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada seruan adzan dan shof pertama, kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan melakukan undian itu.” (HR. Al-Bukhori no. 615 dan Muslim no. 437)

 

PENUTUP

Sungguh, perjalanan kita dalam menelusuri dalil-dalil dan kisah para pendahulu yang sholih dalam mema’murkan Masjid Alloh membawa kita pada satu kesimpulan besar: bahwa Masjid adalah pusat keselamatan seorang Muslim. Kema’muran sebuah Masjid adalah indikator kebaikan sebuah umat. Jika Masjid-Masjid dipenuhi oleh pemuda-pemuda yang ruku’ dan sujud, serta majelis-majelis ilmu yang menghidupkan hati, maka kejayaan Islam akan senantiasa menyertai kita. Namun jika Masjid hanya menjadi monumen yang megah namun sunyi dari dzikir dan ketaatan, maka itulah awal dari kerapuhan iman.

Alloh telah memberikan janji yang nyata bagi mereka yang menjaga rumah-Nya. Janji berupa petunjuk di dunia, perlindungan di hari Kiamat, dan rumah yang mulia di Jannah. Mema’murkan Masjid bukan hanya tugas para pengurus Masjid atau orang tua, melainkan kewajiban setiap individu yang mengaku beriman kepada Alloh dan Hari Akhiroh. Kita harus sadar bahwa setiap langkah kaki yang kita ayunkan menuju rumah Alloh adalah investasi yang tidak akan pernah merugi.

Mari kita jadikan Masjid sebagai tempat yang paling kita rindukan. Mari kita ajarkan anak cucu kita untuk mencintai Masjid lebih dari mereka mencintai tempat-tempat hiburan dunia. Ingatlah bahwa dunia ini hanya sementara, dan tempat yang paling diberkati untuk menghabiskan waktu adalah di bawah naungan rumah-Nya. Kita memohon kepada Alloh agar hati kita senantiasa dipautkan dengan Masjid, dan agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan persaksian iman langsung dari-Nya.

Semoga buku yang sederhana ini menjadi saksi bagi kita di hadapan Alloh kelak, dan menjadi pendorong bagi setiap pembaca untuk kembali menghidupkan cahaya Alloh di muka bumi ini melalui Masjid-Masjid-Nya. Segala kebenaran datangnya dari Alloh semata, dan segala kekurangan adalah dari kelemahan diri kami.

﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ  وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Maha Suci Robbmu, Robb Yang Memiliki Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan salam sejahtera bagi para Rosul. Dan segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.” (QS. Ash-Shoffat: 180-182)

 


Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url