Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] 24 Jam Memaksimalkan Romadhon - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang dengan ni’mat-Nya segala amal sholih menjadi sempurna. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi , teladan terbaik bagi seluruh umat manusia, juga kepada para keluarga beliau, para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, dan para pengikutnya yang setia hingga hari pembalasan.

Amma ba’du:

Sungguh, waktu adalah modal paling berharga bagi seorang hamba di dunia ini. Ia adalah hamparan kesempatan yang Alloh berikan agar kita dapat menanam benih-benih ketaatan yang kelak akan kita panen di Akhiroh. Terlebih lagi ketika kita memasuki bulan Romadhon, sebuah masa yang penuh dengan limpahan rohmat, ampunan, dan pembebasan dari api Naar. Romadhon bukan sekadar masa untuk menahan lapar dan haus, melainkan sebuah madrosah agung yang bertujuan membentuk fithroh manusia agar mencapai derajat taqwa yang sebenar-benarnya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ﴾

Bulan Romadhon adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang salah.” (QS. Al-Baqoroh: 185)

Buku ini disusun dengan satu tujuan utama: membimbing kita semua untuk mengisi setiap detik di bulan suci ini dengan amal yang nyata dan terarah. Kita memilih sudut pandang yang dimulai dari terbenamnya matahari di waktu Maghrib hingga kembali ke waktu Maghrib esok harinya. Mengapa demikian? Karena dalam hitungan waktu Islam, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam, bukan jam 00:00. Dengan memahami bahwa malam adalah awal dari perjuangan hari yang baru, seorang Muslim akan lebih siap secara mental dan raga untuk menghidupkan malamnya dengan ibadah, sehingga siangnya menjadi lebih bermakna dengan Puasa yang berkualitas.

Setiap manusia memiliki tanggung jawab dan kondisi yang berbeda-beda. Ada para lelaki dan perempuan yang harus bekerja di kantor atau di lapangan dengan tekanan tugas yang tinggi, dan ada pula yang memiliki keleluasaan waktu di rumah. Namun, luasnya rohmat Alloh memungkinkan siapa saja untuk meraih pahala yang sama besarnya. Di dalam buku ini, kita akan membahas dua jenis amalan: amalan muqoyyad yang waktunya telah ditentukan oleh syariat seperti Sholat Rowatib, Dhuha, dan Tarowih, serta amalan mutlak yang bisa dikerjakan kapan saja tanpa batas seperti tilawah Al-Qur’an, dzikir, dan shodaqoh.

Nabi memberikan motivasi yang sangat kuat bagi kita untuk tidak menyia-nyiakan satu malam pun di bulan ini. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits dari Abu Huroiroh (57 H), Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Siapa yang menjalankan ibadah Puasa di bulan Romadhon karena iman dan mengharapkan pahala dari Alloh, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhori no. 38 dan Muslim no. 760)

Ibadah yang dijalankan dengan penuh kesadaran dan ilmu akan membuahkan ketenangan batin yang luar biasa. Kita ingin menghindari kondisi di mana Puasa kita hanya menghasilkan rasa lapar saja, atau Sholat malam kita hanya menyisakan rasa kantuk tanpa nilai di sisi Alloh. Sebagaimana peringatan dari para Salaf dan dipertegas oleh lisan Nabi , bahwa betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus.

Oleh karena itu, penyusunan buku ini dibuat sangat runut berdasarkan waktu agar memudahkan siapa saja untuk mempraktekkannya. Kita akan menelusuri bagaimana cara memulai malam dengan doa yang mustajab saat berbuka, menguatkan pondasi dengan Sholat fardhu dan sunnah, hingga meraih puncak kedekatan dengan Sang Pencipta di sepertiga malam terakhir. Kita juga akan membahas bagaimana manajemen waktu bagi para pekerja agar tetap produktif namun lisan tetap basah dengan dzikir, serta bagaimana para perempuan di rumah bisa menjadikan aktivitas domestik mereka sebagai ladang pahala yang melimpah.

Semua bahasan di dalam buku ini diperkuat dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits-hadits yang shohih agar pembaca merasa tenang dan yakin dalam melangkah. Penekanan pada fadhilah atau keutamaan amal juga kami hadirkan agar semangat di dalam dada senantiasa berkobar, terutama saat rasa lelah mulai menyapa di pertengahan bulan. Sungguh, Romadhon adalah perlombaan menuju Jannah, dan hanya mereka yang memiliki persiapan matang serta kesungguhan yang akan keluar sebagai pemenang.

BAB 1: MEMASUKI GERBANG HARI (MAGHRIB HINGGA ISYA)

[1] Keutamaan Menyegerakan Berbuka dan Doa yang Mustajab

Waktu Maghrib di bulan Romadhon bukanlah sekadar penanda berakhirnya rasa lapar dan haus. Ia adalah gerbang menuju kegembiraan yang dijanjikan. Bagi seorang Muslim, baik ia bekerja di kantor yang sibuk atau sedang mengurus rumah tangga, menyegerakan berbuka adalah ketaatan yang mendatangkan cinta dari Alloh.

Dalam sebuah hadits shohih dari Sahl bin Sa’ad (91 H), Nabi bersabda:

«لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ»

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka Puasa.” (HR. Al-Bukhori no. 1957 dan Muslim no. 1098)

Kebaikan yang dimaksud dalam hadits ini mencakup kebaikan dunia (menjadi kuat) dan Akhiroh (meraih pahala tambahan karena melaksanakan perintah). Dengan menyegerakan berbuka, kita menjaga fithroh agama ini agar tetap berbeda dengan kaum yang suka menunda-nunda hingga bintang nampak di langit. Sungguh, Islam adalah agama yang memudahkan, bukan memberatkan.

Penting bagi kita untuk memahami bahwa saat berbuka adalah salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa. Bagi para pekerja yang mungkin masih di jalan atau di kantor, sempatkanlah lisan ini memohon kepada Robb semesta alam. Begitu pula bagi para perempuan yang mungkin masih sibuk menyiapkan hidangan di meja makan.

Dari Abu Huroiroh (57 H), Rosululloh bersabda:

«ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالإِمَامُ العَادِلُ، وَدَعْوَةُ المَظْلُومِ»

“Ada tiga golongan yang doa mereka tidak akan ditolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizholimi.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3598)

Dalam riwayat lain yang mempertegas kesempatan saat berbuka, Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash (63 H) meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

«إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ»

“Sungguh, bagi orang yang berpuasa, pada saat ia berbuka terdapat doa yang tidak akan tertolak.” (HSR. Ibnu Majah no. 1753)

Oleh karena itu, jangan biarkan waktu yang sangat berharga ini lewat begitu saja hanya dengan senda gurau atau sibuk memotret makanan. Skala prioritas kita di detik-detik ini adalah memohon ampunan, meminta Jannah, dan perlindungan dari Naar.

Adapun apa yang sebaiknya diucapkan saat berbuka, kita meneladani apa yang dipraktekkan oleh Rosululloh . Dari Abdullah bin Umar (73 H), ia berkata bahwa jika Rosululloh berbuka, beliau mengucapkan:

«ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»

“Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Alloh.” (HHR. Abu Dawud no. 2357)

Ia bebas menambah doa apapun dan lafazh apapun yang ia sukai.

[2] Sholat Maghrib dan Rowatib: Pondasi Awal Hari

Setelah membatalkan Puasa dengan beberapa butir kurma atau seteguk air, seorang Muslim segera bangkit menuju panggilan Sholat Maghrib, karena Nabi berbuka dengan kurma atau air lalu Sholat. Makan besar bisa Anda lakukan setelah Sholat Maghrib.

Sholat ini adalah pondasi pertama di hari yang baru. Bagi para lelaki, Masjid adalah tempat utama untuk meraih pahala berjamaah 27 derajat lebih tinggi. Bagi perempuan, Sholat di awal waktu di rumah adalah kemuliaan.

Jangan sampai kita terlena dengan hidangan berbuka hingga melalaikan Sholat Maghrib. Rosululloh sangat menekankan penjagaan terhadap Sholat-sholat sunnah yang mengiringi Sholat wajib, yang kita kenal sebagai Rowatib.

Dari Ummu Habibah (44 H), istri Nabi , beliau bersabda:

«مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا، غَيْرَ فَرِيضَةٍ، إِلَّا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ، أَوْ إِلَّا بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ»

“Tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan Sholat sunnah karena Alloh setiap harinya sebanyak dua belas roka’at, selain Sholat wajib, melainkan Alloh akan membangunkan baginya sebuah rumah di Jannah.” (HR. Muslim no. 728)

Dua roka’at setelah Maghrib adalah bagian dari dua belas roka’at yang menjanjikan istana di Jannah tersebut. Bagi seorang pekerja yang mungkin lelah setelah seharian beraktivitas, ingatlah bahwa dua roka’at ini tidak memakan waktu lama, namun fadhilahnya abadi.

Abdullah bin Umar (73 H) menceritakan kedekatan beliau dengan ibadah Nabi :

«حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ»

“Aku menghafal dari Nabi sepuluh roka’at: dua roka’at sebelum Zhuhur, dua roka’at sesudahnya, dua roka’at sesudah Maghrib di rumah beliau, dua roka’at sesudah Isya di rumah beliau, dan dua roka’at sebelum Subuh.” (HR. Al-Bukhori no. 1180 dan Muslim no. 729)

Perhatikanlah bagaimana Nabi mengutamakan Sholat sunnah ini dilakukan di rumah. Ini adalah isyarat bagi kita, terutama bagi kepala keluarga, untuk membawa cahaya ibadah ke dalam rumah agar tidak seperti kuburan. Bagi perempuan, ini adalah kemudahan luar biasa karena mereka bisa meraih pahala besar ini langsung di tempat tinggal mereka.

Namun, jika kondisi menuntut mereka (laki-perempuan di Masjid) seperti menghadiri taklim dan disediakan menu buber, maka berdiam di Masjid sampai Tarowih termasuk pilihan bijak, karena menunggu waktu Sholat terhitung pahala Sholat, apalagi diisi dengan taklim buber yang merupakan ibadah tertinggi setelah Sholat fardhu dan Puasa fardhu.

[3] Adab Makan dan Minum bagi Pekerja serta Pengatur Rumah Tangga

Islam mengatur segala lini kehidupan, termasuk cara kita menikmati rizqi setelah seharian menahan diri. Romadhon bukan ajang balas dendam dengan makanan berlebihan. Sifat berlebih-lebihan adalah pintu masuk syaithon dan membuat tubuh berat untuk melaksanakan Sholat Tarowih nantinya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ﴾

“Makan dan minumlah, namun jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’rof: 31)

Seorang Muslim yang beradab akan memulai makannya dengan menyebut nama Alloh (bismillah). Hal ini penting agar makanan tersebut berkah dan tidak dinikmati bersama syaithon. Bagi pekerja yang makan di kantor atau di luar rumah, adab ini tetap menjadi identitas diri.

Dari ‘Umar bin Abi Salamah (83 H), Rosululloh bersabda kepadanya saat ia masih kecil:

«يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»

“Wahai anak muda, sebutlah nama Alloh (bacalah Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang ada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhori no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Setelah selesai makan, jangan lupa untuk bersyukur. Rasa syukur inilah yang akan menambah ni’mat tersebut. Rosululloh mengajarkan kita untuk menjilati jemari (jika makan dengan tangan) atau memastikan tidak ada sisa makanan yang terbuang sia-sia, karena kita tidak tahu di bagian mana keberkahan itu berada.

Dari Ka’ab bin Malik (50 H) ia berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَأْكُلُ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ، وَيَلْعَقُ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يَمْسَحَهَا»

“Rosululloh makan dengan tiga jari, kemudian beliau menjilatinya sebelum membersihkannya.” (HR. Muslim no. 2032)

Bagi para perempuan yang telah bersusah payah menyiapkan hidangan, pahala mereka sungguh besar. Namun, jangan sampai kesibukan menyiapkan makanan membuat adab-adab ini terlupakan. Makanlah secukupnya agar fithroh tubuh tetap terjaga untuk beribadah di malam hari.

[4] Mengisi Waktu Antara Maghrib dan Isya dengan Dzikir Petang

Waktu antara Maghrib dan Isya adalah waktu yang sangat pendek namun penuh dengan keutamaan. Banyak orang melalaikan waktu ini dengan menonton televisi atau sekadar mengobrol yang tidak bermanfaat. Padahal, para Salaf sangat memperhatikan waktu ini untuk berdzikir dan tetap berada di dalam Masjid (bagi lelaki) atau di tempat Sholat (bagi perempuan). Di antara ulama yang berpendapat dzikir petang lebih utama dibaca ba’da Maghrib adalah Dr. Sholih Al-Ushoimi. Bagi yang memilih membacanya setelah Ashar maka silahkan dan ini dipilih Syaikhuna Prof. Dr. Abdurrozzaq Al-Badr.

Alloh Ta’ala memuji orang-orang yang senantiasa berdzikir dan beribadah di waktu-waktu tersebut:

﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Robbnya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rizqi yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)

Anas bin Malik (93 H) menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para Shohabat yang menunggu Sholat Isya setelah Maghrib sambil melakukan Sholat-sholat sunnah atau berdzikir.

Dzikir petang adalah perisai bagi seorang Muslim. Jika kita belum sempat membacanya sebelum Maghrib karena kesibukan kerja atau menyiapkan berbuka, maka waktu setelah Maghrib ini adalah kesempatan terakhir yang sangat baik. Dzikir ini akan melindungi kita dari berbagai keburukan sepanjang malam.

Salah satu dzikir yang sangat agung adalah membaca ayat Kursi. Dari Abu Huroiroh (57 H), Nabi mengabarkan bahwa siapa yang membacanya saat malam akan senantiasa dijaga oleh penjaga dari Alloh dan syaithon tidak akan mendekatinya sampai pagi (HR. Al-Bukhori no. 2311).

Selain itu, Nabi juga mengajarkan:

«مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ، وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ، حَتَّى يُصْبِحَ»

“Siapa yang mengucapkan pada waktu petang: ‘Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa-i wa huwas samii’ul ‘aliim’ (Dengan nama Alloh yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakan di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan ditimpa musibah secara tiba-tiba sampai pagi hari.” (HR. Abu Dawud no. 5088)

Bagi mereka yang memilih untuk melakukan Sholat sunnah mutlak di antara Maghrib dan Isya, ini juga merupakan amalan yang sangat dicintai oleh para Salaf. Hudzaifah (36 H) menceritakan:

«فَجِئْتُهُ فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ ثُمَّ خَرَجَ»

“Aku mendatangi Nabi lalu aku Sholat Maghrib bersama beliau. Setelah beliau menyelesaikan Sholatnya, beliau berdiri untuk Sholat (sunnah), dan beliau terus menerus Sholat sampai beliau mengerjakan Sholat Isya, barulah setelah itu beliau keluar.” (HSR. Ahmad no. 23436)

Skala prioritas kita di waktu ini adalah menjaga kesinambungan ibadah. Bagi pekerja, ini adalah saat untuk melepas lelah dunia dengan ketenangan dzikir. Bagi perempuan, ini adalah saat untuk rehat sejenak dari urusan dapur dan membasahi lidah dengan asma Alloh sebelum memasuki rangkaian Sholat malam yang panjang.

BAB 2: MENGHIDUPKAN MALAM-MALAM MULIA (ISYA HINGGA SEPERTIGA MALAM PERTAMA)

[1] Sholat Isya Berjamaah dan Rowatib

Memasuki waktu Isya, seorang Muslim berada di ambang gerbang malam yang penuh ampunan. Bagi para lelaki yang bekerja, kelelahan setelah seharian beraktivitas bukanlah alasan untuk meninggalkan Sholat berjamaah di Masjid. Sungguh, langkah kaki menuju rumah Alloh di kegelapan malam adalah cahaya yang sempurna di Hari Kiamat.

Keutamaan Sholat Isya berjamaah di bulan Romadhon sangatlah besar, karena ia menjadi pondasi sebelum seseorang melaksanakan Sholat Tarowih. ‘Utsman (35 H) meriwayatkan bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ»

“Siapa yang mengerjakan Sholat Isya secara berjamaah, maka seolah-olah ia telah Sholat setengah malam. Dan siapa yang mengerjakan Sholat Subuh secara berjamaah, maka seolah-olah ia telah Sholat semalam suntuk.” (HR. Muslim no. 656)

“Perhatikan, ibadah paling Alloh cintai dan paling besar pahalanya di Romadhon maupun luar Romadhon adalah Sholat lima waktu, apalagi dikerjakan berjamaah di Masjid.”

Jangan lupakan dua roka’at Rowatib setelah Isya. Ini adalah amalan muqoyyad yang menjaga integritas pahala Sholat wajib kita. Bagi perempuan yang Sholat di rumah, laksanakanlah segera setelah adzan berkumandang untuk meraih keutamaan awal waktu.

Abdullah bin Umar (73 H) menegaskan bahwa Nabi tidak pernah meninggalkan roka’at-roka’at ini:

«حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ»

“Aku menghafal dari Nabi (amalan sunnah berupa) dua roka’at setelah Isya.” (HR. Al-Bukhori no. 1180)

[2] Sholat Tarowih dan Witir

Inilah permata malam Romadhon. Sholat Tarowih atau Qiyamu Romadhon adalah pembeda antara malam-malam biasa dengan malam di bulan suci ini. Amalan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana penggugur dosa-dosa yang telah lalu.

“Perhatikan! Amal sunnah terbaik di Romadhon adalah Tarowih.”

Dari Abu Huroiroh (57 H), sungguh Rosululloh bersabda:

«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Siapa yang berdiri (menunaikan Sholat) di malam bulan Romadhon karena iman dan mengharap pahala dari Alloh, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhori no. 37 dan Muslim no. 759)

Bagi para pekerja yang mungkin baru sampai di rumah atau masih di tempat kerja, jika tertinggal jamaah di Masjid, jangan berkecil hati. Sholat ini bisa dikerjakan sendiri atau berjamaah bersama keluarga di rumah. Namun, bagi yang memiliki kesempatan, Sholat bersama Imam hingga selesai memiliki fadhilah yang luar biasa.

Abu Dzarr (32 H) meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

«إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ»

“Sungguh, siapa yang Sholat bersama Imam sampai selesai, maka dicatat baginya pahala Sholat semalam suntuk.” (HSR. At-Tirmidzi no. 806)

Adapun Sholat Witir, ia adalah penutup rangkaian ibadah malam. Nabi memerintahkan agar kita menjadikan Witir sebagai akhir dari Sholat malam kita. Abdullah bin Umar (73 H) meriwayatkan sabda Nabi :

«اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا»

“Jadikanlah akhir Sholat kalian di malam hari adalah Sholat Witir.” (HR. Al-Bukhori no. 998 dan Muslim no. 751)

Bagi mereka yang berencana bangun di sepertiga malam terakhir untuk Tahajjud, maka Witir boleh diakhirkan. Namun jika khawatir tidak terbangun, maka melakukannya setelah Tarowih adalah pilihan yang bijak dan sesuai sunnah.

Jumlah rokaat Tarowih bebas, yang penting tiap dua rokaat salam, baik dikerjakan di awal malam, tengah malam, maupun akhir malam, baik berjamaah maupun sendiri, baik sekali atau bertahap dalam satu malam.

[3] Tilawah Al-Qur’an

Romadhon adalah bulan Al-Qur’an. Maka, mengisi waktu malam setelah Tarowih dengan tilawah adalah amalan mutlak yang paling utama. Tidak ada batasan jumlah, namun konsistensi adalah kunci.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ﴾

“Bulan Romadhon adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” (QS. Al-Baqoroh: 185)

Malaikat Jibril ‘alaihissalam senantiasa mendatangi Nabi setiap malam di bulan Romadhon untuk menyimak bacaan Al-Qur’an beliau. Ibnu Abbas (68 H) menceritakan:

«وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ»

“Dan Jibril senantiasa menemui Nabi pada setiap malam di bulan Romadhon, lalu ia (Jibril) muroja’ah (tadarus) Al-Qur’an bersama beliau.” (HR. Al-Bukhori no. 6)

Bagi Muslimah yang sedang berhalangan Sholat, waktu malam ini bisa diisi dengan berdzikir, mendengarkan murottal atau membaca tafsir, agar hati tetap terpaut dengan kalamulloh. Ingatlah setiap hurufnya membawa sepuluh kebaikan. Abdullah bin Mas’ud (32 H) meriwayatkan sabda Nabi :

«مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ»

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabulloh (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2910)

[4] Shodaqoh Malam Hari, Meneladani Kedermawanan Nabi

Malam hari di bulan Romadhon adalah waktu yang tepat untuk berbagi, baik secara langsung maupun melalui sarana digital yang memudahkan bagi para pekerja sibuk. Kedermawanan di bulan ini harus melampaui bulan-bulan lainnya.

Ibnu Abbas (68 H) menggambarkan betapa dermawannya Nabi di bulan ini:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ»

“Rosululloh adalah orang yang paling dermawan, dan beliau jauh lebih dermawan lagi di bulan Romadhon saat Jibril menemui beliau di setiap malam... Sungguh Rosululloh lebih dermawan dalam memberikan kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Al-Bukhori no. 6)

Shodaqoh tidak harus selalu berupa uang dalam jumlah besar. Memberi makan orang yang berpuasa, meski hanya untuk berbuka esok harinya atau membantu kebutuhan sahur tetangga, memiliki pahala yang setara dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

Zaid bin Kholid Al-Juhani (78 H) meriwayatkan dari Nabi :

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا»

“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HSR. At-Tirmidzi no. 807)

Bagi para pekerja, sisihkanlah sebagian dari gaji untuk program-program ifthor. Bagi perempuan, masakan yang diberikan kepada tetangga atau kerabat adalah bentuk nyata dari kedermawanan ini. Jangan menunda kebaikan, karena malam-malam Romadhon berjalan begitu cepat.

Shodaqoh kepada kerabat yang membutuhkan lebih utama daripada kepada orang asing, karena pahalanya dobel, yaitu pahala shodaqoh dan pahala silaturrohim.

[5] Dzikir Malam dan Menjelang Tidur

Nabi mengajarkan banyak dzikir di malam hari, terutama menjelang tidur. Bacalah secara lengkap karena ini kesempatan emas di Romadhon. Jika tidak mampu, maka paling tidak dua akhir Al-Baqoroh.

Silahkan baca dzikir lengkap di sini.

Nabi tidak suka tidur sebelum Isya dan tidak suka begadang setelah Isya, kecuali untuk kemaslahatan.

Berwudhulah sebelum tidur karena Malaikat akan menemanimu dan mendoakan ampunan setiap kali badan berpindah posisi saat tidur.

Niatkan tidur untuk menjaga kesehatan atas perintah Alloh, dan agar bisa bangun lebih kuat untuk ibadah. Maka tidur sekian jam menjadi ibadah, seperti yang dilakukan Shohabat: “Aku mengharapkan pahala pada tidurku seperti pada terjagaku.”

[6] Skala Prioritas Malam Hari

1. Wajib: Sholat Isya berjamaah (bagi lelaki) dan waktu atamah sekitar jam 21.30 (bagi perempuan) jika tidak memberatkannya.

2. Muqoyyad (Terikat Waktu): Sholat Rowatib Isya, Tarowih, dan Witir.

3. Mutlak Utama: Tilawah Al-Qur’an dan dzikir.

4. Mutlak Pendukung: Shodaqoh dan memberikan hidangan ifthor/sahur.

BAB 3: PUNCAK KEDEKATAN DI WAKTU SAHUR (SEPERTIGA MALAM TERAKHIR HINGGA SUBUH)

Mari kita lanjutkan perjalanan ibadah kita menuju waktu yang paling jernih dan penuh dengan limpahan rohmat, yaitu sepertiga malam terakhir. Ini adalah waktu di mana pintu-pintu langit dibuka dan Robb semesta alam memberikan penawaran-Nya yang mulia kepada hamba-hamba-Nya yang terjaga.

[1] Sholat Lail dan Tahajjud, Saat Robb Turun ke Langit Dunia

Di saat sebagian besar manusia terlelap dalam mimpi, seorang Mu’min yang merindukan Jannah akan bangkit dari tempat tidurnya. Bagi seorang pekerja, waktu ini mungkin terasa berat karena rasa kantuk, namun sungguh kelelahannya akan terbayar dengan ketenangan hati yang luar biasa. Sholat malam atau Tahajjud di bulan Romadhon memiliki kedudukan yang sangat tinggi sebagai penambah pahala setelah Sholat Tarowih di awal malam.

Alloh Ta’ala berfirman memuji para hamba-Nya yang menjauhkan diri dari tempat tidur demi beribadah:

﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Robbnya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rizqi yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)

Keutamaan utama dari waktu ini adalah kedekatan Kholiq dengan hamba-Nya. Dari Abu Huroiroh (57 H), sungguh Rosululloh bersabda:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»

“Robb kita yang Maha Memberkahi dan Maha Tinggi turun ke langit dunia setiap malam pada saat tersisa sepertiga malam yang terakhir. Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.’” (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)

Inilah saatnya bagi para lelaki dan perempuan untuk menumpahkan segala keluh kesah, harapan, dan hajat dunia maupun Akhiroh. Tidak ada perantara antara hamba dengan Sang Pencipta. Jika seorang pekerja merasa beban tugasnya berat, atau seorang ibu rumah tangga merasa lelah mengurus anak, mintalah kekuatan di waktu ini.

Nabi juga menegaskan bahwa Sholat malam adalah sebaik-baik Sholat setelah Sholat wajib. Dari Abu Huroiroh (57 H), Nabi bersabda:

«أَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ، الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ»

“Sebaik-baik Sholat setelah Sholat wajib adalah Sholat di tengah malam.” (HR. Muslim no. 1163)

[2] Keberkahan Makan Sahur dan Mengakhirkan Waktunya

Setelah melaksanakan beberapa roka’at Sholat malam, langkah berikutnya adalah memenuhi panggilan fisik namun bernilai ibadah besar, yaitu makan sahur. Makan sahur bukan hanya urusan mengisi perut agar kuat berpuasa, namun di dalamnya terdapat keberkahan yang telah ditetapkan oleh syariat.

Anas bin Malik (93 H) meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

«تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً»

“Makan sahurlah kalian, karena sungguh di dalam makan sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Al-Bukhori no. 1923 dan Muslim no. 1095)

Keberkahan sahur meliputi keberkahan syariat—karena mengikuti sunnah—dan keberkahan fisik—karena memberikan energi bagi tubuh untuk beribadah di siang hari. Bahkan, Alloh dan para Malaikat-Nya bersholawat kepada orang-orang yang makan sahur. Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) meriwayatkan sabda Nabi :

«السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ»

“Makan sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya, meskipun salah seorang di antara kalian hanya meminum seteguk air. Karena sungguh Alloh ‘Azza wa Jalla dan para Malaikat-Nya bersholawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad no. 11396)

Sunnah yang sangat ditekankan adalah mengakhirkan makan sahur hingga mendekati waktu fajar. Hal ini berbeda dengan berbuka yang harus disegerakan. Zaid bin Tsabit (45 H) menceritakan:

«تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ»، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟ قَالَ: «قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً»

“Kami makan sahur bersama Nabi kemudian beliau bangkit untuk melaksanakan Sholat. Aku (Anas bin Malik) bertanya: ‘Berapa lama jarak antara adzan (Subuh) dan selesai makan sahur?’ Zaid menjawab: ‘Kira-kira sejauh pembacaan lima puluh ayat.’” (HR. Al-Bukhori no. 1921 dan Muslim no. 1097)

Bagi para pekerja yang harus berangkat pagi-pagi sekali, tetaplah berupaya mengakhirkan sahur agar tubuh lebih bugar dan tidak cepat lapar di tempat kerja. 50 Ayat adalah kira-kira 5-10 menit. Bagi perempuan yang menyiapkan sahur, niatkanlah setiap keringat saat memasak sebagai bagian dari pelayanan ibadah yang pahalanya sangat melimpah.

Jika seseorang ingin memberi shodaqoh kepada pasangannya dengan jimak maka dianjurkan dilakukan sebelum sahur dan setelah Sholat malam. Demikian kebiasaan Nabi menjimak istrinya setelah Sholat Tahajjud.

[3] Istighfar di Waktu Sahur, Ciri Penghuni Jannah

Salah satu amalan yang sering terlupakan di sela-sela kesibukan makan sahur adalah beristighfar (memohon ampunan). Waktu ini disebut sebagai waktu “sahar” dalam Al-Qur’an, dan Alloh telah menetapkannya sebagai salah satu ciri utama hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ﴾

“Dan pada akhir malam (waktu sahur) mereka memohon ampunan (kepada Alloh).” (QS. Adz-Dzariyat: 18)

Juga dalam ayat lain:

﴿وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ﴾

“...dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imron: 17)

Sambil menunggu waktu Subuh, setelah selesai makan sahur, lisan ini jangan berhenti mengucapkan “Astaghfirulloh”. Ini adalah kesempatan di mana ampunan Alloh turun dengan sangat deras. Bagi seorang Muslim, ini adalah cara untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang tidak sengaja dilakukan sepanjang hari sebelumnya.

Sungguh, siapa pun yang membiasakan istighfar di waktu ini, ia sedang menabung ketenangan untuk menghadapi hari-harinya. Bagi perempuan yang mungkin sedang berhalangan Sholat, istighfar adalah amalan kunci yang tetap bisa dikerjakan di waktu mulia ini.

[4] Persiapan Sholat Subuh dan Menjaga Lisan bagi Perempuan dan Lelaki

Menjelang adzan Subuh berkumandang, berhentilah makan dan minum. Inilah waktu transisi untuk mempersiapkan diri menuju Sholat fardhu yang paling disaksikan oleh para Malaikat. Bagi para lelaki, segera bersuci dan bersiap menuju Masjid. Bagi perempuan, bersiaplah di tempat Sholat yang paling tenang di rumah.

Alloh Ta’ala berfirman tentang pentingnya Sholat Subuh:

﴿أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا﴾

“Dirikanlah Sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula Sholat) Subuh. Sungguh Sholat Subuh itu disaksikan (oleh Malaikat).” (QS. Al-Isro’: 78)

Di waktu yang sangat kritis ini, sangat penting bagi kita untuk menjaga lisan. Terkadang di meja sahur, obrolan bisa meluas hingga membicarakan orang lain atau mengeluh tentang pekerjaan. Padahal, Puasa bukan hanya menahan perut, tapi juga menahan lisan.

Dari Abu Huroiroh (57 H), Nabi bersabda:

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan yang buruk, maka Alloh tidak butuh terhadap upayanya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1903)

Oleh karena itu, gunakanlah sisa waktu menjelang fajar untuk berdzikir atau merenungi ayat-ayat Alloh yang telah dibaca saat Tahajjud tadi. Skala prioritas di sini adalah memastikan kita masuk ke waktu fajar dalam keadaan suci, tenang, dan lisan yang basah dengan asma Alloh.

[5] Skala Prioritas Waktu Sahur

Wajib: Berhenti makan dan minum tepat saat fajar Shodiq terbit.

Muqoyyad (Sangat Ditekankan): Sholat Tahajjud (meski hanya dua roka’at ditambah Witir bagi yang belum) dan makan sahur.

Keutamaan Waktu: Beristighfar di saat sahur (menjelang Subuh).

Adab Penting: Menjaga lisan dari perkataan sia-sia saat berkumpul di meja sahur.

BAB 4: CAHAYA DI PAGI HARI (TERBIT FAJAR HINGGA DHUHA)

[1] Sholat Subuh Berjamaah dan Dzikir Pagi yang Melindungi

Fajar telah menyingsing. Ini adalah awal dari kewajiban harian yang sangat berat bagi kaum munafiq namun ringan bagi orang-orang yang beriman. Sholat Subuh adalah tolok ukur kekuatan iman seseorang.

Bagi para lelaki, Masjid adalah tujuan utama. Rosululloh memberikan kabar gembira berupa cahaya yang sempurna bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan menuju Masjid. Dari Buroidah Al-Aslami (62 H), Nabi bersabda:

«بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju Masjid dengan cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat.” (HSR. Abu Dawud no. 561)

Setelah menunaikan Sholat Subuh, janganlah terburu-buru tidur kembali. Ini adalah waktu di mana bumi sedang dibagikan keberkahannya. Nabi telah berdoa secara khusus untuk umatnya di waktu pagi ini. Shokhr Al-Ghamidi (shohabat Nabi) meriwayatkan bahwa Rosululloh bersabda:

«اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا»

“Ya Alloh, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HSR. Abu Dawud no. 2606)

Salah satu cara menjemput keberkahan tersebut adalah dengan membaca dzikir pagi. Dzikir ini adalah benteng yang melindungi seorang Muslim, baik ia seorang pekerja yang akan menghadapi tekanan di kantor maupun seorang perempuan yang akan memulai tugas domestiknya.

Alloh Ta’ala memerintahkan kita untuk berdzikir di waktu pagi:

﴿وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا﴾

“...dan bertasbihlah dengan memuji Robbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (QS. Thoha: 130)

Jika Masjid mengadakan taklim setelah Sholat Shubuh maka itu kebaikan di atas kebaikan.

[2] Sholat Isyroq, Meraih Pahala Haji dan Umroh yang Sempurna

Bagi mereka yang memiliki keluasan waktu, seperti orang yang tidak harus berangkat kerja terlalu pagi atau para perempuan yang sudah menyelesaikan persiapan sarapan anggota keluarganya, terdapat sebuah amalan yang sangat istimewa. Yaitu tetap duduk di tempat Sholatnya hingga 15 menit setelah matahari terbit, lalu melaksanakan Sholat dua roka’at.

Dari Anas bin Malik (93 H), Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ»

“Siapa yang Sholat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Alloh sampai matahari terbit, lalu ia Sholat dua roka’at (Isyroq), maka baginya pahala seperti pahala Haji dan Umroh, sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. At-Tirmidzi no. 586)

Amalan ini sungguh sangat ringan namun pahalanya melangit. Bagi pekerja yang bisa berangkat sedikit lebih siang, atau bagi mereka yang bekerja dari rumah, luangkanlah waktu sekitar 15-20 menit setelah terbit matahari untuk Sholat Isyroq ini. Ini adalah modal spiritual yang sangat besar untuk menghadapi hiruk-pikuk dunia sepanjang hari.

Yang utama adalah 4 rokaat, berdasarkan Hadits Qudsi:

«ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ»

“Wahai anak Adam! Sholatlah empat rokaat karena-Ku di awal pagi maka Aku mencukupimu di akhir hari.” (HSR. At-Tirmidzi no. 475)

[3] Sholat Dhuha, Sedekah Bagi Seluruh Persendian Tubuh

Setelah matahari meninggi, seorang Muslim masuk ke dalam waktu Dhuha. Ini adalah saat di mana tubuh mulai beraktivitas, baik bagi para pekerja yang sudah berada di kantor maupun perempuan yang sedang mengurus urusan rumah tangga. Di sela-sela kesibukan ini, terdapat satu ibadah yang menjadi bentuk syukur atas kesehatan raga yang Alloh berikan.

Setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap harinya, dan Sholat Dhuha hadir sebagai pencukup kewajiban tersebut. Dari Abu Dzarr (32 H), Nabi bersabda:

«يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى»

“Setiap pagi, setiap persendian dari salah seorang di antara kalian memiliki kewajiban sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kepada kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu cukup terwakili dengan dua roka’at Sholat Dhuha yang dikerjakannya.” (HR. Muslim no. 720)

Bagi para pekerja, Sholat Dhuha adalah kesempatan untuk merehatkan batin dan pikiran dari beban tugas. Luangkan waktu sejenak, meski hanya dua roka’at, untuk bersimpuh di hadapan Robb semesta alam. Ini bukan sekadar amalan tambahan, melainkan kunci pembuka pintu rizqi dan kecukupan sepanjang hari.

Waktu utama Sholat Dhuha adalah saat anak unta mulai merasakan panasnya pasir padang pasir, yaitu ketika matahari sudah mulai terasa terik. Hal ini ditegaskan dalam hadits dari Zaid bin Arqom (66 H) bahwa Nabi bersabda:

«صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ»

“Sholatnya orang-orang yang bertaubat (Sholat Dhuha) adalah pada saat anak-anak unta mulai merasakan panas (matahari).” (HR. Muslim no. 748)

Sholat Isyroq adalah Sholat Dhuha di awal waktu. Sebagian ulama menyukai 8 roka’at. Maka kekurangan ini bisa ditambah di waktu Dhuha ini. Setelah Sholat dianjurkan istighfar 100 kali, sebagaimana dalam Hadits shohih. Juga bisa dilanjut dzikir atau tilawah Qur’an.

[4] Manajemen Waktu bagi Pekerja agar Tetap Produktif dalam Keadaan Puasa

Bekerja di bulan Romadhon bukanlah halangan untuk tetap produktif. Seorang Muslim harus menunjukkan bahwa Puasa justru meningkatkan etos kerjanya karena ia merasa diawasi oleh Alloh. Bekerja untuk menafkahi keluarga adalah bagian dari Jihad yang mulia jika diniatkan dengan benar.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Apabila Sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kalian di bumi; carilah karunia Alloh dan ingatlah Alloh sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Seorang pekerja harus pandai mengatur waktu agar urusan dunia tidak melalaikannya dari dzikir mutlak. Lisan bisa tetap basah dengan tasbih sambil tangan mengerjakan tugas kantor atau mengurus rumah. Inilah skala prioritas yang harus dijaga: melaksanakan kewajiban pekerjaan dengan amanah tanpa meninggalkan identitas sebagai seorang hamba yang sedang beribadah.

Dari Abu Huroiroh (57 H), Nabi bersabda:

«إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ»

“Sungguh Alloh mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan profesional (itqon).” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 4929)

Bagi perempuan yang memiliki tugas ganda, mengelola rumah tangga sekaligus bekerja, ingatlah bahwa setiap detik kesabaran dalam kelelahan itu dicatat sebagai pahala. Jangan biarkan keletihan membuat lisan terjatuh pada keluh kesah yang bisa mengurangi nilai Puasa.

BAB 5: MENJAGA IBADAH DI TENGAH KESIBUKAN (ZHUHUR HINGGA ASHAR)

[1] Sholat Zhuhur dan Rowatib

Saat matahari tepat di atas kepala dan mulai tergelincir, tibalah waktu Zhuhur. Ini adalah saat di mana kelelahan mulai terasa memuncak. Namun, inilah waktu yang sangat baik untuk menghapus dosa-dosa antara dua Sholat.

Nabi sangat menjaga empat roka’at sebelum Zhuhur. Dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, ia berkata:

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ لاَ يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الغَدَاةِ»

“Bahwa Nabi tidak pernah meninggalkan empat roka’at sebelum Sholat Zhuhur dan dua roka’at sebelum Sholat Shubuh.” (HR. Al-Bukhori no. 1182)

Keutamaan Sholat Rowatib Zhuhur, baik sebelum maupun sesudahnya, sangatlah agung. Dari Ummu Habibah (44 H) rodhiyallahu ‘anha, Rosululloh bersabda:

«مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا، حَرُمَ عَلَى النَّارِ»

“Siapa yang menjaga empat roka’at sebelum Zhuhur dan empat roka’at sesudahnya, maka Alloh akan mengharomkan baginya api Naar.” (HSR. Abu Dawud no. 1269)

Bagi para pekerja, jadikanlah waktu istirahat Zhuhur sebagai sarana “mengisi ulang” kekuatan batin. Sholatlah dengan tenang, jangan terburu-buru, karena saat itu pintu-pintu langit sedang dibuka. Dari Abdullah bin As-Sa’ib (shohabat Nabi), Nabi bersabda:

«إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ»

“Sungguh itu adalah waktu di mana pintu-pintu langit dibuka, dan aku ingin amal sholihku naik pada saat itu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 478)

[2] Keutamaan Qoilulah (Tidur Sejenak) untuk Menguatkan Ibadah Malam

Salah satu sunnah yang sering ditinggalkan oleh manusia modern adalah Qoilulah, yaitu tidur sejenak di siang hari. Tidur singkat ini bukan tanda kemalasan, melainkan strategi cerdas untuk menjaga kesehatan dan memberikan kekuatan raga dalam menghidupkan malam dengan Sholat Tarowih dan Tahajjud.

Dari Anas bin Malik (93 H), Nabi bersabda:

«قِيلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَقِيلُ»

“Tidurlah sejenak (Qoilulah), karena sungguh syaithon-syaithon itu tidak melakukan Qoilulah.” (Ash-Shohihah no. 1647)

Bagi pekerja yang memiliki waktu istirahat satu jam, menggunakan 15-20 menit untuk memejamkan mata setelah Sholat Zhuhur akan memberikan dampak luar biasa pada produktivitas sore hari dan semangat ibadah di malam hari. Bagi perempuan di rumah, waktu ini bisa diambil setelah menyelesaikan urusan dapur dan sebelum menjemput anak atau aktivitas sore lainnya.

[3] Menghindari Ghibah serta Perkataan Sia-sia

Puasa bukan hanya tentang perut yang kosong, tetapi juga tentang lisan yang terjaga. Di waktu-waktu kritis antara siang hingga sore, godaan untuk membicarakan orang lain (ghibah) atau berkata sia-sia seringkali muncul di sela obrolan rekan kerja atau tetangga.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ﴾

“...dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Jika lisan tidak terjaga, Puasa seseorang hanya akan menyisakan lapar dan haus tanpa pahala. Dari Abu Huroiroh (57 H), Nabi bersabda:

«رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ»

“Boleh jadi orang yang berpuasa itu tidak mendapatkan apa-apa dari Puasanya kecuali rasa lapar, dan boleh jadi orang yang sholat malam itu tidak mendapatkan apa-apa dari Sholatnya kecuali begadang saja.” (HSR. Ibnu Majah no. 1690)

Oleh karena itu, jika ada seseorang yang memancing amarah atau mengajak berdebat kusir saat kita bekerja atau beraktivitas, katakanlah bahwa kita sedang berpuasa. Nabi bersabda:

«فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفَثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ»

“Jika pada hari salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan janganlah ia berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata: ‘Sungguh aku sedang berpuasa.’” (HR. Al-Bukhori no. 1904 dan Muslim no. 1151)

[4] Dzikir Mutlak saat Bekerja atau Mengurus Rumah Tangga

Bagi Muslim yang memiliki mobilitas tinggi atau kesibukan yang menyita perhatian, dzikir mutlak adalah solusi agar waktu tidak terbuang sia-sia. Dzikir ini tidak terikat waktu dan tempat, selama tempat tersebut suci. Sambil mengetik laporan, mengemudikan kendaraan, atau memasak untuk hidangan berbuka, lidah harus terus bergerak memuji Alloh.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ﴾

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring..” (QS. Ali ‘Imron: 191)

Kalimat yang paling dicintai Alloh sangat ringan di lisan namun berat di timbangan Mizan. Dari Abu Huroiroh (57 H), Rosululloh bersabda:

«كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ»

“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rohman: Subhanallohi wa bihamdihi, Subhanallohil ‘Azhim.” (HR. Al-Bukhori no. 6406 dan Muslim no. 2694)

Skala prioritas di siang hari ini adalah menjaga kualitas Puasa dengan akhlaq yang mulia. Jangan biarkan pekerjaan duniawi membuat kita lupa akan identitas sebagai seorang hamba. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan integritas dan kejujuran di bulan Romadhon akan bernilai pahala berlipat ganda.

BAB 6: MENJEMPUT ROHMAT DI PENGHUJUNG HARI (ASHAR HINGGA MENJELANG MAGHRIB)

[1] Sholat Ashar, Amalan di Waktu yang Paling Utama

Waktu Ashar adalah waktu yang sangat krusial. Di saat tubuh mulai merasakan lelah yang amat sangat setelah seharian bekerja, Alloh justru memerintahkan kita untuk menjaga Sholat ini dengan perhatian khusus. Sholat Ashar disebut sebagai Sholat Wustho (Sholat terbaik) yang memiliki keutamaan luar biasa.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ﴾

“Jagalah segala Sholat (fardhu) dan Sholat Wustho (Ashar). Dan berdirilah karena Alloh (dalam Sholatmu) dengan khusyu.’” (QS. Al-Baqoroh: 238)

Bahaya bagi siapa yang meninggalkan Sholat Ashar sangatlah besar, bahkan amalannya di hari itu terancam sia-sia. Dari Buroidah Al-Aslami (62 H), Nabi bersabda:

«مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ»

“Siapa yang meninggalkan Sholat Ashar, maka sungguh telah gugur amalannya.” (HR. Al-Bukhori no. 553)

Bagi para pekerja, jangan biarkan tumpukan tugas atau kemacetan di jalan saat pulang membuat kita mengakhirkan Sholat Ashar hingga matahari berwarna kuning (menjelang terbenam). Dari Abdullah bin Umar (73 H), Rosululloh bersabda:

«الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ، كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ»

“Orang yang kehilangan Sholat Ashar seolah-olah ia telah kehilangan keluarga dan hartanya.” (HR. Al-Bukhori no. 552 dan Muslim no. 626)

[2] Menyiapkan Hidangan Berbuka, Ladang Pahala bagi Perempuan dan Pelayan

Bagi para perempuan atau siapa pun yang bertugas menyiapkan makanan di dapur, janganlah merasa bahwa aktivitas memasak itu menghalangi kalian dari ibadah. Justru, menyiapkan hidangan untuk orang yang berpuasa adalah ladang pahala yang pahalanya menyamai pahala orang yang berpuasa tersebut.

Zaid bin Kholid Al-Juhani (78 H) meriwayatkan dari Nabi :

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا»

“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HSR. At-Tirmidzi no. 807)

Selama tangan sibuk mengaduk masakan, lisan bisa tetap berdzikir atau berdoa. Ingatlah bahwa doanya orang yang berpuasa tidak akan ditolak, terutama menjelang waktu berbuka.

[3] Menanti Berbuka dengan Doa dan Dzikir Petang

Satu jam atau tiga puluh menit menjelang Maghrib adalah waktu yang sangat mustajab. Inilah waktu yang tepat untuk melakukan dzikir petang yang merupakan benteng perlindungan bagi seorang Muslim. Jangan habiskan waktu ini hanya dengan berburu makanan takjil tanpa menghadirkan hati kepada Alloh.

Dari Abu Huroiroh (57 H), Nabi bersabda:

«ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ»

“Ada tiga golongan yang doa mereka tidak akan ditolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizholimi.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3598)

Gunakanlah waktu ini untuk memohon apa saja kepada Alloh. Mintalah ketetapan iman, kesehatan, kecukupan rizqi, dan yang paling utama adalah ampunan dari dosa.

[4] Skala Prioritas: Antara Kesibukan Dunia dan Mengejar Ampunan Alloh

Di penghujung hari, kita harus pandai membagi prioritas. Bagi pekerja, selesaikan kewajiban pekerjaan tepat waktu agar bisa beribadah dengan tenang. Bagi perempuan, siapkan hidangan secukupnya tanpa berlebihan agar tidak membuang waktu.

Tabel Skala Prioritas Akhir Hari:

Waktu

Amalan Prioritas

Kategori

Ba'da Ashar

Sholat Ashar tepat waktu & Dzikir Petang

Muqoyyad

Sore Hari

Menyiapkan makanan & Sedekah (Ifthor)

Mutlak

Menjelang Maghrib

Berdoa dengan sungguh-sungguh

Mutlak (Mustajab)

 

BAB 7: STRATEGI SEPULUH MALAM TERAKHIR DAN I’TIKAF

[1] Syariat I’tikaf, Mengisolasi Diri demi Sang Kholiq

Sepuluh malam terakhir Romadhon adalah puncak dari segala ibadah. Nabi memberikan teladan untuk semakin bersungguh-sungguh dan melakukan I’tikaf di Masjid.

Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha menceritakan:

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ»

“Bahwa Nabi senantiasa ber-I’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon sampai Alloh mewafatkannya.” (HR. Al-Bukhori no. 2026 dan Muslim no. 1172)

I’tikaf adalah sarana untuk memutuskan diri sejenak dari kesibukan duniawi dan memfokuskan diri hanya untuk beribadah kepada Alloh. Bagi yang tidak bisa full sepuluh hari karena tuntutan kerja, ia bisa mengambil i’tikaf di malam-malam ganjil atau sesuai kemampuannya. Paling tidak, ia berniat itikaf saat berdiam di Masjid Sholat Isya sampai Tarowih.

[2] Berburu Lailatul Qodr, Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Lailatul Qodr adalah dambaan setiap Muslim. Satu malam yang ibadah di dalamnya lebih baik daripada seribu bulan.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qodr: 3)

Nabi memerintahkan kita untuk mencarinya di malam-malam ganjil. Dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, Rosululloh bersabda:

«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»

“Carilah Lailatul Qodr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Romadhon.” (HR. Al-Bukhori no. 2017)

Doa yang paling utama dibaca adalah permohonan maaf kepada Alloh. Aisyah pernah bertanya kepada Nabi apa yang harus diucapkan jika ia menemui Lailatul Qodr, beliau bersabda:

«قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»

“Ucapkanlah: Allohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Alloh, sungguh Engkau Maha Pemaaf dan mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku).” (HSR. At-Tirmidzi no. 3513)

Durasi Lailatu Qodr adalah dari Maghrib sampai Shubuh. Siapa yang beribadah pada malam tersebut baik di awalnya, di tengahnya, maupun di akhirnya, maka lebih utama dari dikerjakan selama 1000 bulan. Sholat Maghrib, Isya, dan Shubuh merupakan amal terbaik saat itu. Sementara Tarowih menjadi ibadah sunnah terbaik. Jika ditambah itikaf, tilawah Qur’an, berdzikir, berdoa maka ia memborong pahala.

[3] Amalan Khusus saat Terhalang I’tikaf bagi Pekerja dan Wanita Haidh

Bagi Muslim yang harus tetap bekerja di malam hari atau bagi perempuan yang sedang mengalami haidh, pintu pahala tidaklah tertutup. Mereka tetap bisa menghidupkan malam dengan dzikir, doa, bershodaqoh, dan memberikan bantuan kepada orang lain.

Nabi adalah orang yang paling dermawan, terutama di sepuluh malam terakhir. Ibnu Abbas (68 H) berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ... فَلَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ»

“Rosululloh adalah orang yang paling dermawan... sungguh Rosululloh lebih dermawan dalam memberikan kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Al-Bukhori no. 6)

Ingatlah, Alloh melihat niat yang tulus di dalam hati hamba-Nya. Jika seseorang terhalang melakukan suatu ibadah rutin karena udzur syar’i, pahalanya tetap mengalir baginya.

PENUTUP

Demikianlah rangkaian perjalanan ibadah 24 jam kita di bulan yang mulia ini. Setiap detik yang kita lalui dari Maghrib hingga Maghrib kembali adalah kesempatan yang tidak akan pernah terulang. Romadhon akan segera pergi, namun Robb dari bulan Romadhon akan selalu ada dan tidak pernah pergi. Maka, jadikanlah setiap amalan yang kita pelajari dan kita praktekkan ini sebagai karakter yang melekat, bukan sekadar musiman. Semoga Alloh menerima seluruh Puasa kita, Sholat malam kita, tilawah Al-Qur’an kita, serta shodaqoh kita. Janganlah kita menjadi golongan orang yang merugi, yaitu mereka yang mendapati Romadhon namun tidak mendapatkan ampunan dari Alloh (yaitu orang yang tidak berpuasa).

Allahu a’lam.[NK]

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url