Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Tabarruk Syar'i dan Syirik Menurut Salafus Sholih - Nor Kandir

 


Resensi Buku: Tabarruk Syar’i dan Syirik Menurut Salafus Sholih

Identitas Buku

Judul: Tabarruk Syar’i dan Syirik Menurut Salafus Sholih

Penulis: Nor Kandir, ST., BA

Penerbit: Pustaka Syabab

Tahun Terbit: Cetakan Ke-1, 1447 H (2026)

Lisensi: www.terjemahmatan.com

1. Pendahuluan dan Latar Belakang

Buku ini hadir sebagai jawaban atas fenomena sosial di tengah masyarakat yang sering kali salah kaprah dalam mencari barokah atau melakukan tabarruk (ngalap berkah). Penulis menyoroti adanya kecenderungan ghuluw (berlebihan) terhadap makhluk, seperti mengkultuskan benda mati, mengusap nisan kuburan, hingga meminta-minta kepada penghuni kubur dengan keyakinan adanya karomah yang membawa barokah. Tujuan utama buku ini adalah menjernihkan kembali pemahaman umat agar dapat membedakan mana tabarruk yang disyariatkan (syar'i) dan mana yang menjurus pada kesyirikan atau bid'ah.

2. Hakikat Barokah dan Sumbernya

Penulis mengawali pembahasan dengan definisi yang sangat mendalam:

Secara Lughoh (Bahasa): Barokah berasal dari kata baroka (menderumnya unta), yang mengandung unsur kebaikan (khoir) yang menetap (tsubut) dan melimpah (katsir).

Secara Syariat: Barokah adalah banyaknya dan langgengnya kebaikan Ilahi pada sesuatu.

Sumber Tunggal: Buku ini menegaskan bahwa Alloh adalah satu-satunya sumber barokah. Tidak ada makhluk yang mampu menciptakan barokah secara mandiri; segala kebaikan hanya berasal dari-Nya (QS. Al-A’rof: 54).

3. Klasifikasi Tabarruk

Buku ini membagi praktik mencari berkah menjadi dua kategori besar:

Tabarruk Syar’i: Mencari barokah melalui wasilah yang ditetapkan dalil, seperti Al-Qur'an, Dzikrulloh, amal sholih, serta tempat dan waktu yang mulia (seperti Tanah Suci dan bulan Romadhon). Termasuk di dalamnya adalah tabarruk dengan jasad dan bekas (atsar) Nabi Muhammad yang hanya khusus bagi beliau dan tidak bisa dikiaskan kepada orang sholih lainnya.

Tabarruk yang Dilarang: Mencari barokah dari sesuatu tanpa landasan dalil, seperti pohon, batu, atau makam orang sholih. Penulis mengutip kisah pohon Dzatu Anwath untuk menunjukkan bahwa mencari berkah pada benda mati adalah perilaku jahiliyah yang menyerupai penyembahan berhala.

4. Prinsip Tauqifiyyah dalam Ibadah

Salah satu poin krusial dalam buku ini adalah penegasan bahwa ibadah bersifat tauqifiyyah (berdasarkan dalil). Kita tidak boleh mengklaim sesuatu memiliki barokah tanpa bukti kuat (sulthonan) dari wahyu. Berbicara tentang barokah tanpa ilmu dianggap sebagai dosa besar dan perbuatan yang tertolak jika menyelisihi Sunnah Nabi (HR. Muslim no. 1718).

5. Panduan Praktis Meraih Barokah

Penulis memberikan panduan tentang cara meraih barokah yang benar:

Al-Qur'an: Bukan dengan menjadikannya pajangan atau jimat, melainkan dengan tilawah, tadabbur (merenungkan makna), dan mengamalkannya.

Dzikir dan Doa: Menggunakan Asmaul Husna dan rutin menjalankan Dzikir Pagi Petang sebagai perisai dan pembuka pintu langit.

Ketaatan: Menyadari bahwa pintu-pintu barokah hanya dibuka dengan kunci iman dan taqwa (QS. Al-A’rof: 96).

Kesimpulan

Buku ini merupakan karya yang sangat penting untuk menjaga kemurnian Aqidah. Dengan narasi yang ilmiyyah dan berlandaskan dalil yang kuat, Nor Kandir berhasil mendudukkan posisi orang sholih dengan benar tanpa ghuluw. Buku ini sangat direkomendasikan bagi setiap Muslim yang ingin meraih keberkahan hidup tanpa terjatuh ke dalam jurang kesyirikan.[]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url