[PDF] Matahari Sujud di Bawah Arsy - Nor Kandir
MUQODDIMAH
﷽
Sungguh, segala puji hanya milik Alloh, Robb semesta alam,
yang telah menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran yang nyata.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh
ﷺ, penutup para Nabi, yang telah menyampaikan risalah dengan
sejelas-jelasnya, juga kepada para Shohabat dan pengikut beliau hingga hari Akhiroh.
Amma ba’du:
Tulisan ini hadir sebagai bentuk tadabbur ilmiyyah terhadap
salah satu ayat kauniyyah yang paling agung di jagat raya, yaitu matahari. Di
tengah hiruk-pikuk teori manusia yang sering kali menafikan sisi ketundukan
makhluk kepada Sang Pencipta, kita perlu kembali menilik bagaimana Al-Qur’an
dan Sunnah menjelaskan hakikat matahari. Matahari bukanlah sekadar bola gas
raksasa yang bergerak tanpa arah, melainkan hamba Alloh yang sangat patuh, yang
setiap harinya menempuh perjalanan jauh dan bersujud di bawah Arsy yang maha
luas.
Tujuan utama dari karya ini adalah untuk menguatkan pondasi
iman melalui pemahaman yang lurus terhadap nash-nash syariat. Kita akan
menyelami bagaimana matahari mengelilingi bumi sebagai pusat kehidupan manusia,
serta rahasia di balik sujudnya yang luar biasa di hadapan Robbnya. Dengan
merujuk pada pemahaman para ulama Salaf yang amanah dalam menjaga teks-teks
wahyu, buku ini akan membedah secara mendalam perjalanan matahari dari terbit
hingga terbenam, serta kaitan eratnya dengan kebesaran Arsy Alloh. Tiada satu pun dzarroh di alam semesta
ini yang lepas dari pengaturan dan pengawasan Alloh Yang Maha Perkasa.
BAB 1: MATAHARI SEBAGAI AYATULLOH
1: Asal-usul Penciptaan Matahari
Penciptaan matahari merupakan salah satu bukti kekuasaan
Alloh yang paling nyata. Alloh menciptakan matahari bukan tanpa tujuan,
melainkan sebagai tanda bagi orang-orang yang berakal. Dalam perspektif iman,
matahari diciptakan melalui perintah “Kun” dari Sang Kholiq dan diletakkan pada
tempatnya yang mulia. Alloh berfirman:
﴿هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ
نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ
ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴾
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar terang dan bulan
bercahaya, serta menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kalian mengetahui
bilangan tahun dan perhitungan waktu. Alloh tidak menciptakan semua itu
melainkan dengan tujuan yang benar. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya
kepada orang-orang yang berilmu.” (QS. Yunus: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa asal-usul matahari adalah ciptaan
yang penuh dengan kebenaran (bil haqq). Tidak ada unsur kebetulan dalam
kehadirannya. Cahaya yang dipancarkannya adalah dhiya’, yakni cahaya
yang mengandung panas dan energi, berbeda dengan bulan yang merupakan nur
atau cahaya yang tidak panas. Dalam Hadits tentang awal penciptaan, disebutkan
bahwa Alloh telah menetapkan segala sesuatu sebelum penciptaan langit dan bumi,
termasuk peran matahari sebagai pelayan bagi kemaslahatan hamba-hamba-Nya.
2: Sifat-Sifat Fisik Matahari
Matahari dalam Al-Qur’an sering kali disifati dengan kata siroj
(lampu yang terang) dan wahhaj (yang sangat panas menyala). Hal ini
menunjukkan bahwa matahari memiliki sifat fisik yang aktif dan memberikan
pengaruh besar pada alam sekitarnya. Alloh berfirman:
﴿وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا﴾
“Dan Kami telah menjadikan lampu yang cahayanya sangat
terang benderang.” (QS. An-Naba’: 13)
Sifat ini menunjukkan betapa dahsyatnya energi yang Alloh
titipkan pada matahari. Secara ilmiyyah yang berlandaskan wahyu, panas matahari
adalah sebagian kecil dari panasnya api Neraka yang diingatkan kepada manusia
agar mereka senantiasa bertauhid. Rosululloh ﷺ
bersabda mengenai pengaruh panas matahari di bumi:
«إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ
فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ ، فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ»
“Jika hawa panas sangat menyengat, maka tunggulah hingga
suhu agak mendingin untuk melaksanakan sholat, karena sungguh panas yang sangat
menyengat itu berasal dari hembusan api Neraka Jahannam.” (HR. Al-Bukhori
no. 536 dan Muslim no. 615)
Sifat fisik matahari yang panas ini menjadi pengingat bagi
setiap Mu’min akan adanya hari Akhiroh, di mana kelak matahari akan didekatkan
sejarak satu mil di atas kepala manusia pada hari Kiamat. Ketetapan sifat fisik
ini adalah mutlak di bawah kendali Alloh, yang bisa Dia ubah kapan pun sesuai
kehendak-Nya.
Di dalam Mausuah Al-I’jaz Ilmi fil Qur’an was Sunnah
disebutkan bahwa besar matahari 1.300.000 kali bumi, sementara jaraknya dari
bumi: 156 juta km. Berkaitan ini, Syaikh Bin Baz (1420 H) mengatakan bahwa
ucapan astronom matahari lebih besar dari bumi hanyalah klaim tanpa hujjah yang
pasti, sehingga tidak mutlak benar. Yang jelas matahari adalah salah satu dari ayat (tanda) kebesaran Alloh.
3: Hikmah Penciptaan Matahari bagi Keberlangsungan
Hidup di Bumi
Hikmah terbesar dari adanya matahari adalah untuk menopang
kehidupan di bumi. Tanpa matahari, bumi akan berada dalam kegelapan abadi dan
kedinginan yang mematikan. Alloh mengatur jarak dan peredaran matahari
sedemikian rupa agar memberikan rohmat bagi seluruh makhluk. Alloh berfirman:
﴿وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ
وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾
“Dan karena sebagian dari rohmat-Nya, Dia menjadikan untuk
kalian malam dan siang, agar kalian bisa beristirahat pada malam hari dan
mencari sebagian karunia-Nya pada siang hari, dan agar kalian menjadi hamba
yang bersyukur.” (QS. Al-Qoshosh: 73)
Matahari menjadi penggerak bagi sistem siang yang
memungkinkan manusia bekerja, tanaman tumbuh, dan ekosistem berjalan seimbang.
Keteraturan ini adalah ni’mat yang luar biasa besar yang sering kali terlupakan
oleh manusia karena telah menjadi rutinitas. Dalam sebuah Hadits, Rosululloh ﷺ mengajarkan kita untuk menyadari bahwa setiap pagi saat
matahari terbit, itu adalah kesempatan baru untuk bersyukur:
«اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ
بِي مِنْ نِعْمَةٍ [أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ] ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ
لَكَ ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ»
“Ya Alloh, ni’mat apa pun yang aku rasakan di pagi ini atau
yang dirasakan oleh salah seorang dari makhluk-Mu, maka itu semua hanya berasal
dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Maka hanya bagi-Mu segala puji dan
syukur.” (HR. Abu Dawud no. 5073)
Penciptaan matahari juga berfungsi sebagai alat hitung waktu
yang akurat bagi ibadah manusia, seperti penentuan waktu Sholat, Puasa, dan Haji.
Kedudukan matahari sebagai pelayan bagi bumi dan penghuninya adalah bukti nyata
bahwa bumi memiliki posisi sentral dalam perhatian Sang Pencipta, di mana
matahari “ditugaskan” untuk mengitarinya demi kemaslahatan hamba-hamba Alloh.
BAB 2: GARIS EDAR MATAHARI (FALAK)
1:
Tafsir Ayat tentang Peredaran Matahari
Dalam
memahami alam semesta, seorang Mu’min wajib menjadikan firman Alloh sebagai
rujukan tertinggi. Al-Qur’an telah memberikan penegasan yang sangat jelas bahwa
matahari memiliki garis edar yang tetap. Alloh berfirman:
﴿وَهُوَ
الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ
يَسْبَحُونَ﴾
“Dan Dialah
yang telah menciptakan malam dan siang, serta matahari dan bulan. Masing-masing
dari semuanya itu beredar pada garis edarnya.” (QS. Al-Anbiya’: 33)
Istilah yasbahun
dalam ayat di atas secara maknawiyah berarti “berenang” atau “bergerak dengan
cepat dan lancar”. Hal ini menggambarkan bahwa matahari tidak diam, melainkan
bergerak aktif di sebuah orbit yang disebut falak. Para ulama tafsir
menjelaskan bahwa falak adalah seperti lingkaran atau garis lengkung tempat
benda-benda langit itu berlari menjalankan perintah Robbnya. Pergerakan ini
bukanlah tanpa aturan, melainkan sebuah sistem yang sangat presisi yang telah
ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Hal ini dipertegas dalam ayat lain:
﴿لَا
الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ
ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ»
“Tidaklah
mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului
siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin: 40)
Ayat ini
menunjukkan adanya keteraturan yang mutlak. Matahari tidak pernah keluar dari
jalurnya, tidak melambat, dan tidak pula bertabrakan dengan benda langit
lainnya. Gerakan matahari di atas garis edarnya merupakan bentuk ketaatan fisik
kepada hukum-hukum Alloh (Sunnatulloh). Dalam pandangan yang ilmiyyah dan syar’i,
pergerakan matahari inilah yang menciptakan dinamika waktu di bumi, yang
memungkinkan manusia mengatur urusan dunianya dengan kepastian yang diberikan
oleh Alloh.
2:
Bantahan terhadap Anggapan Diamnya Matahari Berdasarkan Nash
Dalam
sejarah pemikiran manusia, muncul berbagai teori yang mencoba menafsirkan alam
semesta, termasuk teori-teori yang mengklaim bahwa matahari diam di tempat
sebagai pusat, sementara bumi yang mengelilinginya. Namun, jika kita merujuk
pada zhohir nash Al-Qur’an dan Sunnah, kebenaran yang disampaikan wahyu justru
sebaliknya. Wahyu menegaskan bahwa mataharilah yang berjalan (tajri).
Alloh berfirman:
﴿وَالشَّمْسُ
تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ
الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾
“Dan
matahari itu berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan dari Yang
Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 38)
Kata tajri
(berjalan/berlari) adalah lawan kata dari diam. Mengatakan bahwa matahari diam
adalah sebuah bentuk pengingkaran terhadap teks eksplisit (shorih) dari
Al-Qur’an. Para ulama, termasuk Ibnu Katsir dan Ibnu Taimiyyah, menegaskan
bahwa fenomena terbit dan terbenamnya matahari yang kita saksikan setiap hari
adalah akibat dari pergerakan nyata matahari itu sendiri mengelilingi bumi,
bukan sekadar efek semu dari perputaran bumi.
Dalam
sebuah Hadits yang shohih, Rosululloh ﷺ
bersabda kepada Abu Dzarr saat matahari terbenam:
«أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ؟» قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَعْلَمُ. قَالَ : «فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ»
“Tahukah
kamu ke mana matahari ini pergi?” Aku (Abu Dzarr) menjawab: “Alloh dan
Rosul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Sungguh matahari itu pergi
hingga dia bersujud di bawah Arsy.” (HR. Al-Bukhori no. 4802 dan Muslim no.
159)
Hadits ini
menggunakan kata tadz-habu (pergi), yang merupakan aktivitas perpindahan
tempat. Jika matahari diam, maka istilah “pergi” dan “sampai ke bawah Arsy”
menjadi tidak bermakna secara bahasa. Oleh karena itu, secara ilmiyyah
berdasarkan wahyu, kita wajib meyakini bahwa matahari bergerak secara hakiki
sesuai dengan apa yang Alloh beritakan.
3:
Kecepatan dan Ketetapan Garis Edar Matahari atas Perintah Robb
Garis edar
matahari bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan atau karena gaya tarik
mekanis semata yang tanpa kendali. Setiap jengkal pergerakan matahari berada di
bawah perintah langsung dari Alloh. Matahari memiliki kecepatan yang sangat
konsisten, tidak pernah melampaui batas yang ditentukan sehingga tidak membakar
bumi, dan tidak pula menjauh sehingga tidak membekukan bumi. Alloh berfirman:
﴿الشَّمْسُ
وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ﴾
“Matahari
dan bulan beredar menurut perhitungan (yang sangat teliti).” (QS. Ar-Rohman:
5)
Kata husban
bermakna perhitungan yang sangat akurat, seperti alat hitung yang tidak pernah
meleset. Ketetapan garis edar ini adalah bentuk ketundukan matahari sebagai
makhluk. Ia tidak memiliki kehendak sendiri untuk berhenti atau berbelok arah
kecuali jika Alloh memerintahkannya. Ketaatan matahari pada garis edarnya
digambarkan dalam Hadits sebagai bentuk pengabdian yang terus-menerus tanpa
rasa lelah.
Rosululloh ﷺ menggambarkan betapa patuhnya matahari dalam menjalankan
tugasnya mengelilingi bumi dan bersujud:
«فَتَسْتَأْذِنُ فَيُؤْذَنُ لَهَا ، وَيُوشِكُ أَنْ تَسْجُدَ فَلَا
يُقْبَلَ مِنْهَا ، وَتَسْتَأْذِنَ فَلَا يُؤْذَنَ لَهَا ، يُقَالُ لَهَا : ارْجِعِي
مِنْ حَيْثُ جِئْتِ ، فَتَطْلُعُ مِنْ مَغْرِبِهَا»
“Matahari
itu meminta izin (untuk beredar kembali) lalu diizinkan baginya. Dan hampir
tiba waktunya dia bersujud namun tidak diterima, dan dia meminta izin namun
tidak diizinkan. Dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah ke tempat asalmu datang.’
Maka ia pun terbit dari tempat terbenamnya (barat).” (HR. Al-Bukhori no.
3199)
Ketetapan
garis edar ini akan terus berlangsung hingga batas waktu yang telah ditentukan
(ajalum musamma). Kecepatan dan ketetapannya adalah tanda bagi manusia
bahwa ada Dzat Yang Maha Mengatur di balik keteraturan alam semesta ini. Secara
ilmiyyah, kestabilan orbit matahari merupakan jaminan keamanan bagi kehidupan
manusia di bumi, yang harus disyukuri sebagai bagian dari ni’mat Robbaniyyah
yang sangat agung.
BAB 3: PERJALANAN MATAHARI
MENGELILINGI BUMI
1:
Dalil-Dalil dari Al-Qur’an tentang Matahari yang Berjalan Menuju Tempat
Peristirahatan (Mustaqorr)
Al-Qur’anul
Karim secara eksplisit menggunakan kata “berjalan” atau “berlari” (tajri)
untuk mendeskripsikan aktivitas matahari. Hal ini menegaskan bahwa matahari
adalah subjek yang bergerak secara aktif, bukan diam. Perjalanan ini memiliki
titik tujuan atau tempat peristirahatan yang disebut dengan mustaqorr.
Alloh berfirman:
﴿وَالشَّمْسُ
تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ
الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾
“Dan
matahari itu berjalan di (atau menuju) mustaqorr. Demikianlah ketetapan
dari Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 38)
Para ulama
tafsir memiliki dua penjelasan utama mengenai makna mustaqorr (tempat
peristirahatan) ini. Pertama, mustaqorr secara maknawi, yaitu batas
akhir perjalanan matahari di hari Kiamat kelak ketika ia digulung. Kedua, mustaqorr
secara makani (tempat), yaitu tempat di bawah Arsy di mana matahari bersujud
setiap malam setelah terbenam.
Apabila
kita merujuk pada zhohir ayat, sangat jelas bahwa mataharilah yang melakukan
perpindahan tempat mengelilingi pusat koordinat yang telah Alloh tetapkan,
yaitu bumi. Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang sia-sia, melainkan
perjalanan yang penuh dengan misi pengabdian kepada Sang Pencipta. Hal ini juga
diperkuat dengan firman-Nya:
﴿وَسَخَّرَ
الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى﴾
“Dia
menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan hingga waktu yang
ditentukan.” (QS. Ar-Ro’d: 2)
Ayat-ayat
ini menjadi hujjah yang sangat kuat bahwa matahari senantiasa berada dalam
kondisi bergerak (dinamis) dan tidak pernah berhenti sedetik pun hingga
datangnya ajal yang telah ditetapkan oleh Alloh bagi alam semesta ini.
2:
Penjelasan Hadits Shohih Mengenai Perjalanan Matahari Setiap Hari
Dalam
khazanah Hadits, penjelasan mengenai perjalanan matahari menjadi semakin detail
dan nyata. Rosululloh ﷺ menggambarkan perjalanan
matahari bukan sekadar fenomena optik, melainkan sebuah perjalanan fisik yang
menempuh jarak yang sangat jauh hingga mencapai singgasana Alloh (Arsy).
Dalam
sebuah Hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim,
dari Abu Dzarr berkata bahwa Nabi ﷺ
bersabda:
«أَتَدْرُونَ
أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: «إِنَّ
هَذِهِ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَخِرُّ
سَاجِدَةً»
“Tahukah
kamu ke mana matahari ini pergi?” Aku menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih
mengetahui.” Beliau bersabda: “Sungguh matahari itu berjalan hingga sampai ke
tempat peristirahatannya di bawah Arsy, lalu ia tersungkur bersujud.” (HR.
Muslim no. 159)
Hadits ini
adalah pondasi ilmiyyah dalam kosmologi Islam yang menegaskan adanya perjalanan
harian matahari. Frasa “berjalan hingga sampai” (tajri hatta tantahiya)
secara bahasa menunjukkan adanya perpindahan lokasi dari satu titik ke titik
lainnya. Perjalanan ini dilakukan matahari setiap hari, dimulai dari terbitnya
di timur, melewati zenit (puncak langit), hingga terbenam di barat dan
akhirnya sampai ke bawah Arsy.
Pergerakan
ini menunjukkan betapa kecilnya matahari di hadapan Arsy Alloh yang maha luas.
Meskipun matahari tampak begitu besar di mata manusia, ia hanyalah sesosok
hamba yang berlari menunaikan perintah untuk mengitari bumi demi kepentingan
kehidupan hamba-hamba Alloh lainnya.
Banyak
pensyarah Hadits yang menjelaskan bahwa Arsy seperti kubah untuk seluruh
makhluk yang di bawahnya termasuk matahari, maka di manapun matahari berada
maka ia dikatakan di bawah Arsy.
3:
Hubungan Antara Peredaran Matahari dengan Pergantian Siang dan Malam
Secara
ilmiyyah syar’i, pergantian siang dan malam adalah akibat langsung dari datang
dan perginya matahari. Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan bahwa bumi yang
berputar sehingga menyebabkan siang dan malam, melainkan Allohlah yang
mendatangkan malam dan siang melalui peredaran benda langit tersebut. Alloh
berfirman:
﴿يُغْشِي
اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا﴾
“Dia
menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.” (QS. Al-A’rof:
54)
Kata yathlubuhu
hathitsan bermakna bahwa malam mengejar siang dengan sangat cepat. Fenomena
“kejar-mengejar” ini hanya mungkin terjadi jika ada pergerakan nyata dari objek
yang membawa cahaya (matahari) dan bayangan (malam). Matahari bertindak sebagai
pelita yang berjalan mengelilingi bumi; saat ia berada di atas suatu wilayah,
maka wilayah tersebut mengalami siang, dan saat ia menjauh mengelilingi bagian
bumi yang lain, maka wilayah tersebut tertutup oleh kegelapan malam.
Ketundukan
malam dan siang ini juga dijelaskan dalam ayat lain:
﴿أَلَمْ
تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ
وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى﴾
“Tidakkah
kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Alloh memasukkan malam ke dalam siang dan
memasukkan siang ke dalam malam, dan Dia menundukkan matahari dan bulan,
masing-masing berjalan hingga waktu yang ditentukan.” (QS. Luqman: 29)
Ayat ini
menyandingkan proses masuknya siang dan malam dengan aktivitas matahari yang “berjalan”
(yajri). Ini menunjukkan kaitan sebab-akibat yang sangat erat antara
pergerakan matahari dengan perubahan waktu di bumi. Matahari adalah mesin
penggerak waktu yang diciptakan Alloh untuk mengitari bumi, sehingga setiap
sudut bumi mendapatkan porsi cahaya dan kegelapan yang seimbang sesuai dengan
hikmah-Nya yang maha sempurna.
4:
Bumi Diam dan Tidak Mengelilingi Matahari
Dalam
diskursus kosmologi yang berlandaskan wahyu, prinsip dasar yang harus dipegang
adalah bahwa bumi diciptakan sebagai tempat menetap yang kokoh dan tenang
(Qoror) bagi manusia. Berlawanan dengan teori-teori manusia yang menyatakan
bumi bergerak sangat cepat mengelilingi matahari, Al-Qur’an justru menyifati
bumi dengan sifat menetap dan stabil. Alloh berfirman:
﴿اللَّهُ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً﴾
“Allohlah
yang menjadikan bumi bagi kalian sebagai tempat menetap yang kokoh dan langit
sebagai bangunan.” (QS. Ghofir: 64)
Kata Qoror
secara bahasa bermakna sesuatu yang tenang, diam, dan tidak berguncang atau
berpindah. Jika bumi bergerak atau berputar mengelilingi matahari, maka sifat
Qoror (ketenangan mutlak) ini akan hilang. Selain itu, Alloh menegaskan bahwa
Dia-lah yang menahan benda-benda langit agar tidak bergeser dari tempat yang
telah ditentukan. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا
مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ﴾
“Sungguh
Alloh menahan langit dan bumi agar keduanya tidak bergeser (dari tempatnya);
dan jika keduanya bergeser, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya selain
Dia.” (QS. Fathir: 41)
Ayat ini
menggunakan kata tazula yang berarti bergeser atau berpindah tempat.
Penegasan bahwa Alloh menahan bumi agar tidak bergeser menunjukkan bahwa secara
hakiki bumi berada dalam posisi diam di pusat alam semesta, sementara matahari,
bulan, dan bintang-bintanglah yang ditundukkan untuk bergerak mengelilinginya.
Secara
ilmiyyah syar’i, diamnya bumi merupakan bentuk rohmat agar manusia dapat
menjalankan ibadah dan aktivitas kehidupan dengan tenang. Tidak ada satu pun
nash dalam Al-Qur’an maupun Hadits yang menyatakan bahwa bumi itu berlari atau
berputar mengelilingi matahari. Sebaliknya, seluruh dalil menunjuk pada
aktivitas matahari yang berjalan (tajri), pergi (tadzhabu), serta
terbit dan terbenam. Oleh karena itu, meyakini bahwa bumi diam dan mataharilah yang
mengelilinginya
merupakan konsekuensi logis dari sikap tunduk terhadap zhohir nash yang murni
dari campur tangan logika manusia yang terbatas.
BAB 4: HAKIKAT SUJUDNYA MATAHARI
DI BAWAH ARSY
1:
Matahari Meminta Izin di Bawah Arsy Setiap Terbenam
Ketika
penduduk bumi menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat, sesungguhnya itu
bukanlah sekadar fenomena optik hilangnya cahaya. Secara hakiki, mataharilah
yang sedang menempuh perjalanan menuju titik paling sakral dalam siklus
hariannya, yaitu di bawah Arsy Alloh. Di sana, ia menghentikan lajunya sejenak (atau
tetap berjalan) untuk meminta izin melanjutkan peredaran guna terbit kembali. Rosululloh
ﷺ menjelaskan peristiwa ini dalam sebuah Hadits yang sangat
agung:
«فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ العَرْشِ، فَتَسْتَأْذِنَ
فَيُؤْذَنُ لَهَا»
“Sungguh
matahari itu pergi hingga ia bersujud di bawah Arsy, lalu ia meminta izin (untuk
terbit kembali), maka ia pun diizinkan.” (HR. Al-Bukhori no. 3199)
Momen
meminta izin ini menunjukkan bahwa matahari tidak memiliki kekuatan otonom atas
dirinya sendiri. Meski ia begitu besar dan kuat, ia tetaplah hamba yang sangat
fakir di hadapan Robbnya. Sujudnya matahari di bawah Arsy adalah pengakuan
mutlak akan ketuhanan Alloh. Setiap sore, matahari memberikan laporan
ketaatannya dan tidak akan berani terbit kembali di timur kecuali setelah
mendapatkan titah langsung dari Sang Kholiq. Kedahsyatan momen ini
menggambarkan betapa Arsy Alloh meliputi segala sesuatu, dan matahari yang
tampak perkasa bagi manusia, hanyalah titik kecil yang tersungkur di bawah
singgasana-Nya yang maha luas.
2:
Makna Sujudnya Makhluk yang Tidak Bernyawa Secara Syar’i
Disebutkan
dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah: “Gambar itu terkadang berupa makhluk
hidup yang berakal dan memiliki nyawa, seperti gambar manusia. Atau makhluk
yang tidak berakal, seperti gambar burung atau singa. Atau berupa makhluk hidup
namun bukan jenis hewan, seperti gambar pepohonan, bunga-bunga, dan rerumputan.
Atau berupa benda-benda mati seperti gambar matahari, bulan,
bintang-bintang, dan gunung-gunung. Atau bisa juga berupa gambar hasil karya
manusia seperti gambar rumah, mobil, menara, atau kapal.” Adapun hakikat
sesungguhnya, matahari mampu mendengar dan berbicara serta taat kepada Alloh.
Mungkin
terbersit dalam pikiran manusia, bagaimana mungkin benda padat seperti matahari
bisa bersujud? Di sinilah iman berbicara melampaui logika materi. Sujudnya
matahari adalah sujud yang hakiki sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk,
meskipun caranya tidak menyerupai sujud manusia yang memiliki dahi dan anggota
badan. Alloh menegaskan bahwa seluruh penghuni langit dan bumi, termasuk
benda-benda langit, senantiasa bersujud kepada-Nya. Alloh berfirman:
﴿أَلَمْ
تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ
وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ﴾
“Tidakkah
kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kepada Alloh-lah bersujud apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi; matahari, bulan, bintang, gunung,
pohon-pohonan, hewan-hewan yang melata, dan sebagian besar dari manusia?” (QS.
Al-Hajj: 18)
Para ulama
menjelaskan bahwa sujudnya benda-benda mati seperti matahari mengandung dua
makna. Pertama, sujud secara taskhir (ketundukan), yaitu ketundukan
mutlak matahari terhadap hukum-hukum Alloh sehingga ia tidak pernah melenceng
dari tugasnya. Kedua, sujud secara hakiki yang hanya Alloh yang mengetahui tata
caranya (kaifiyyah). Sebagai Mu’min, kita wajib menetapkan sifat sujud
bagi matahari sebagaimana yang ditetapkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, tanpa
menyamakan dengan makhluk lain dan tanpa menolaknya hanya karena indra kita
tidak mampu menangkapnya. Sujud tersebut adalah bentuk ibadah matahari yang
paling tinggi kepada Robbnya.
3:
Rahasia di Balik Izin Terbit dari Timur
Setiap
harinya, terjadi sebuah “dialog” kepatuhan antara matahari dengan Alloh Azza
wa Jalla. Setelah matahari bersujud di bawah Arsy, ia menanti perintah
untuk tugas selanjutnya. Dialog ini menunjukkan betapa detailnya pengawasan
Alloh terhadap alam semesta. Dalam Hadits riwayat Abu Dzarr, Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَيُوشِكُ
أَنْ تَسْجُدَ، فَلاَ يُقْبَلَ مِنْهَا، وَتَسْتَأْذِنَ فَلاَ يُؤْذَنَ لَهَا يُقَالُ
لَهَا: ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ، فَتَطْلُعُ مِنْ مَغْرِبِهَا»
“Hampir
tiba waktunya ia bersujud namun tidak diterima, dan ia meminta izin namun tidak
diizinkan. Dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah ke tempat asalmu datang!’ Maka ia
pun terbit dari tempat terbenamnya (barat).” (HR. Al-Bukhori no. 3199)
Rahasia di
balik izin terbit dari timur setiap hari adalah rohmat Alloh yang masih
diberikan kepada penduduk bumi. Selama matahari masih diizinkan terbit dari
timur setelah sujudnya, itu pertanda bahwa pintu taubat masih terbuka luas dan
tatanan dunia masih dalam keadaan stabil. Izin yang diberikan Alloh setiap
subuh adalah jaminan keamanan hidup bagi manusia. Matahari patuh karena ia tahu
bahwa tanpa izin-Nya, ia tidak akan sanggup memberikan cahayanya sedikit pun.
Ketaatan matahari ini semestinya menjadi cermin bagi manusia: jika matahari
yang tidak memiliki nyawa dan tidak dijanjikan Surga begitu tunduk bersujud di
bawah Arsy, maka betapa zholimnya manusia jika enggan bersujud kepada
Penciptanya.
BAB 5: MATAHARI DAN KESEMPURNAAN
ATURAN ALLOH DI ALAM SEMESTA
1:
Ketundukan Matahari terhadap Perintah Alloh di Bawah Kekuasaan Arsy
Segala
sesuatu di alam semesta ini berada di bawah kendali penuh Alloh Azza wa
Jalla, termasuk matahari yang merupakan salah satu makhluk-Nya yang paling
besar. Ketundukan matahari bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan
kodrati yang menunjukkan betapa agungnya kekuasaan Alloh di atas Arsy. Alloh
berfirman:
﴿إِنَّ
رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ
ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا
وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ
وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾
“Sungguh
Robb kalian adalah Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam
masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang
yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan
bintang-bintang; semuanya tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Alloh. Maha Suci Alloh, Robb semesta alam.” (QS.
Al-A’rof: 54)
Ayat ini
menegaskan bahwa matahari adalah makhluk yang musakkhorot (ditundukkan)
oleh perintah-Nya. Keberadaan matahari yang bersujud di bawah Arsy setiap hari
menunjukkan bahwa Arsy adalah atap bagi seluruh makhluk, dan matahari selalu
berada dalam jangkauan kekuasaan Alloh yang Maha Tinggi. Secara ilmiyyah syar’i,
ketundukan ini menjamin konsistensi alam semesta; tidak ada pemberontakan dari
benda langit, tidak ada keterlambatan dalam rotasi orbit, dan tidak ada
pembangkangan terhadap perintah untuk terbit dan terbenam. Matahari menyadari
kedudukannya sebagai pelayan yang diatur, bukan pengatur.
2:
Keajaiban Pengaturan Jarak Matahari
Salah satu
bukti kesempurnaan aturan Alloh adalah peletakan matahari pada jarak yang
sangat presisi dari bumi. Jarak ini adalah bentuk rohmat bagi penduduk bumi,
namun di sisi lain, matahari juga bisa menjadi instrumen siksa jika Alloh
menghendakinya. Alloh berfirman mengenai keseimbangan ini:
﴿الشَّمْسُ
وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ﴾
“Matahari
dan bulan beredar menurut perhitungan (yang sangat teliti).” (QS. Ar-Rohman:
5)
Perhitungan
yang teliti (husban) ini mencakup jarak, panas, dan intensitas cahaya.
Jika matahari sedikit saja lebih dekat, maka bumi akan hangus terbakar; dan
jika sedikit saja lebih jauh, maka bumi akan membeku. Keajaiban pengaturan ini
adalah bukti nyata adanya Al-Muqoddir (Dzat Yang Maha Menentukan Ukuran).
Namun, seorang Mu’min juga harus mengingat bahwa di hari Kiamat kelak, aturan
jarak ini akan diubah oleh Alloh sebagai bentuk ujian dan siksaan bagi orang
yang zholim. Rosululloh ﷺ bersabda:
«تُدْنَى
الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ
مِيلٍ»
“Matahari
akan didekatkan kepada makhluk pada hari Kiamat hingga jaraknya hanya sekira
satu mil dari mereka.” (HR. Muslim no. 2864)
Saat ini,
matahari yang kita lihat adalah matahari yang sedang menjalankan tugas “rohmat”
atas perintah Alloh. Kesadaran akan adanya “perhitungan teliti” ini semestinya
membuahkan rasa takut dan harap (khouf wa roja’) dalam hati manusia, bahwa
keteraturan yang ada sekarang hanyalah karena kemurahan hati Sang Pencipta yang
menahan matahari agar tetap pada jalurnya demi kelangsungan hidup kita.
3:
Matahari sebagai Saksi atas Ketauhidan Sang Pencipta
Matahari
bukan sekadar benda langit yang bersinar, melainkan saksi bisu yang menyeru
manusia kepada Tauhidulloh. Setiap terbitnya di timur dan setiap sujudnya di
bawah Arsy merupakan proklamasi bahwa hanya Alloh satu-satunya Dzat yang berhak
disembah. Kebergantungan matahari kepada izin Alloh untuk terbit kembali
membuktikan bahwa ia tidak memiliki sifat ketuhanan sedikit pun. Alloh
berfirman:
﴿وَمِنْ
آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ
وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ
تَعْبُدُونَ﴾
“Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan.
Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan,
tetapi bersujudlah kepada Alloh yang menciptakan mereka, jika kalian hanya
kepada-Nya saja menyembah.” (QS. Fushshilat: 37)
Ayat ini
adalah pondasi ilmiyyah yang melarang segala bentuk kesyirikan terhadap
fenomena alam. Matahari yang begitu besar saja bersujud kepada Alloh, maka
sungguh tidak masuk akal jika ada manusia yang justru menyembah matahari.
Kesempurnaan aturan matahari yang tidak pernah meleset dari jadwalnya merupakan
dalil aqli (logika) dan naqli (wahyu) yang kuat akan keesaan
Alloh. Jika ada dua tuhan, tentu aturan peredaran matahari akan kacau balau.
Ketunggalan aturan matahari adalah cermin dari ketunggalan Sang Pengatur di
atas Arsy. Dengan demikian, setiap kali seorang Mu’min memandang matahari, ia
seharusnya bertambah kuat imannya bahwa alam semesta ini berjalan di atas
sistem yang serba teratur dan tunduk pada satu komando ilahiyyah.
BAB 6: SAAT MATAHARI TERBIT DARI
BARAT
1:
Hadits-Hadits tentang Penolakan Izin Sujud Matahari di Akhir Zaman
Selama
ribuan tahun, matahari menjalankan rutinitas pengabdiannya: berjalan, bersujud
di bawah Arsy, meminta izin, lalu diizinkan untuk terbit kembali dari timur.
Namun, akan tiba suatu masa di mana siklus ini akan dihentikan oleh Alloh Azza
wa Jalla. Dalam sebuah Hadits yang sangat jelas, Rosululloh ﷺ menggambarkan momen perubahan besar tersebut:
«فَتَسْتَأْذِنَ
فَيُؤْذَنُ لَهَا وَيُوشِكُ أَنْ تَسْجُدَ، فَلاَ يُقْبَلَ مِنْهَا، وَتَسْتَأْذِنَ
فَلاَ يُؤْذَنَ لَهَا يُقَالُ لَهَا: ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ، فَتَطْلُعُ مِنْ
مَغْرِبِهَا»
“Matahari
itu meminta izin (untuk beredar kembali) lalu diizinkan baginya. Dan hampir
tiba waktunya dia bersujud namun tidak diterima, dan dia meminta izin namun
tidak diizinkan. Dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah ke tempat asalmu datang!’
Maka ia pun terbit dari tempat terbenamnya (barat).” (HR. Al-Bukhori no.
3199)
Penolakan
izin ini merupakan tanda bahwa umur dunia telah mencapai puncaknya. Secara
ilmiyyah syar’i, peristiwa ini menunjukkan bahwa keteraturan alam semesta
bukanlah sesuatu yang bersifat abadi atau otomatis, melainkan murni karena
pemberian izin yang terus-menerus dari Alloh. Ketika izin itu dicabut, hukum
alam yang kita kenal akan segera runtuh. Matahari yang biasanya tunduk untuk
melayani manusia, pada hari itu akan menjadi saksi bahwa waktu ujian bagi
manusia telah berakhir.
2:
Berubahnya Arah Edar Matahari sebagai Tanda Besar Kiamat
Terbitnya
matahari dari barat adalah salah satu dari sepuluh tanda besar (asyrotus sa’ah kubro) yang menandakan kehancuran alam semesta sudah
sangat dekat. Peristiwa ini akan mengguncang kesadaran seluruh manusia di bumi.
Jika sebelumnya manusia melihat peredaran matahari sebagai hal yang lumrah,
pada hari itu mereka akan tersadar bahwa matahari berada di bawah kekuasaan
Dzat yang mampu membalikkan arah edarnya dalam sekejap. Alloh berfirman:
﴿هَلْ
يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ
بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ
آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ
أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا﴾
“Yang
mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan Malaikat kepada mereka, atau
kedatangan Robbmu, atau kedatangan sebagian tanda-tanda Robbmu (yakni matahari).
Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Robbmu itu, tidak bermanfaat lagi iman
seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum
mengerjakan kebaikan dalam masa imannya.” (QS. Al-An’am: 158)
Rosululloh ﷺ menegaskan bahwa “sebagian tanda” yang dimaksud dalam ayat
tersebut adalah terbitnya matahari dari barat. Beliau bersabda:
«لاَ
تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا طَلَعَتْ
وَرَآهَا النَّاسُ آمَنُوا أَجْمَعُونَ، وَذَلِكَ حِينَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا»
“Kiamat
tidak akan terjadi sampai matahari terbit dari barat. Apabila ia terbit dari
timur dan manusia melihat hal itu, maka seluruh orang yang ada di atas bumi
akan beriman. Namun pada saat itulah tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi
dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhori no. 4635 dan Muslim no. 157)
Perubahan
arah edar ini menunjukkan bahwa matahari adalah hamba yang sama sekali tidak
memiliki kuasa. Ia hanya mengikuti komando. Ketika perintah “kembalilah ke
tempat asalmu datang” bergema di bawah Arsy, matahari langsung berbalik arah
tanpa bantahan, sekaligus meruntuhkan segala teori manusia yang tidak
berlandaskan wahyu.
3:
Tertutupnya Pintu Taubat dan Berhentinya Siklus Rutin Matahari
Konsekuensi
paling ngeri dari terbitnya matahari dari barat adalah tertutupnya pintu taubat
bagi seluruh umat manusia. Matahari yang selama ini menjadi simbol harapan dan
kehidupan baru setiap paginya, pada hari itu berubah menjadi simbol penutupan
kesempatan. Tidak ada lagi manfaat dari penyesalan dan sujudnya manusia jika
dilakukan setelah matahari berbalik arah. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ
يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ
مَغْرِبِهَا»
“Sungguh
Alloh Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk
menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan
tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam
hari, sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya (barat).” (HR. Muslim
no. 2759)
Siklus
rutin matahari yang mengelilingi bumi dan bersujud di bawah Arsy adalah rohmat
selama ia masih berjalan normal. Berhentinya siklus normal ini menandakan bahwa
kontrak kehidupan dunia telah usai. Alam semesta akan mulai digulung, dan
matahari pun kelak akan kehilangan cahayanya. Alloh berfirman:
﴿إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ﴾
“Apabila
matahari digulung (dihilangkan cahayanya).” (QS. At-Takwir: 1)
Fenomena
akhir zaman ini mengajarkan kita bahwa ketaatan matahari kepada Alloh adalah
peringatan bagi kita untuk segera bertaubat sebelum matahari “berhenti”
memberikan kesempatannya. Matahari yang sujud di bawah Arsy setiap hari adalah
pengingat harian, sedangkan terbitnya dari barat adalah peringatan final bahwa
kekuasaan Alloh di atas Arsy adalah mutlak dan tak terelakkan.
BAB 7: MENANAMKAN TAUHID MELALUI
TADABBUR KOSMOLOGI ISLAM
1:
Meluruskan Aqidah Terhadap Fenomena Alam
Seorang Mu’min
wajib memandang fenomena alam bukan sekadar kejadian fisik yang hampa dari
peran ketuhanan. Kosmologi Islam mengajarkan bahwa setiap gerak benda langit
adalah manifestasi dari ketaatan kepada Sang Pencipta. Meluruskan aqidah
berarti meyakini bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi dan bersujud di
bawah Arsy karena perintah Alloh, bukan karena kekuatan alamiah yang berdiri
sendiri. Alloh berfirman:
﴿تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا
وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا﴾
“Maha Suci
Alloh yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan
padanya matahari (lampu) serta bulan yang bersinar.” (QS. Al-Furqon: 61)
Keberkahan
(tabaroka) dalam ayat ini menunjukkan bahwa pengaturan matahari adalah
bukti kesempurnaan Robbaniyyah. Aqidah yang lurus menempatkan wahyu sebagai
penentu kebenaran dalam memahami alam. Jika nash yang shohih menyatakan
matahari berjalan dan bersujud, maka akal seorang Mu’min harus tunduk mengikuti
kabar tersebut. Dengan demikian, alam semesta menjadi sarana untuk semakin
mengenal Alloh (Ma’rifatulloh), bukan justru menjadi tirai yang menutupi
keberadaan-Nya di balik teori-teori materi yang kaku.
2:
Menepis Syubhat-Syubhat yang Menyelisihi Zhohir Nash Al-Qur’an dan Sunnah
Di era
modern, banyak syubhat atau keraguan yang dimunculkan untuk membenturkan antara
sains manusia dengan zhohir ayat atau Hadits. Salah satunya adalah upaya
memalingkan makna “matahari berjalan” menjadi sekadar makna kiasan. Padahal,
bagi para ulama yang amanah, selama suatu teks bisa dimaknai secara hakiki
tanpa meniadakan keagungan Alloh, maka makna hakiki itulah yang harus dipegang.
Alloh berfirman mengenai orang-orang yang hatinya cenderung pada kesesatan:
﴿فَأَمَّا
الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ
الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ﴾
“Adapun
orang-orang yang dalam hatinya terdapat kecenderungan kepada kesesatan, maka
mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk
mencari-cari takwilnya.” (QS. Ali Imron: 7)
Menepis
syubhat berarti kembali kepada prinsip bahwa ilmu manusia sangat terbatas,
sedangkan ilmu Alloh meliputi segala sesuatu. Jika indra manusia tidak sanggup
melihat matahari bersujud, hal itu bukan bukti bahwa sujud itu tidak ada,
melainkan bukti keterbatasan alat indra manusia. Kita harus meyakini apa yang
telah ditegaskan Rosululloh ﷺ dalam Hadits Abu Dzarr
tentang perjalanan harian matahari tanpa perlu melakukan takwil yang menjauhkan
makna dari kebenaran teks aslinya. Iman kepada yang ghoib adalah ciri utama
orang yang bertakwa.
Islam tidak
melarang manusia mempelajari fenomena alam, namun Islam melarang manusia
menjadikan hasil pengamatannya sebagai tuhan baru yang menggantikan kebenaran
ayat-ayat Alloh. Ilmu pengetahuan yang benar seharusnya mengantarkan manusia
pada pengagungan terhadap Alloh. Jika sebuah teori ilmiah menafikan apa yang
secara tegas disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah—seperti pergerakan matahari
mengelilingi bumi—maka teori tersebut bersifat spekulatif dan tidak mencapai
derajat keyakinan yang pasti (yaqin). Alloh berfirman:
﴿وَمَا
لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ
إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا﴾
“Dan mereka
tidak mempunyai ilmu sedikit pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah
mengikuti persangkaan, dan sungguh persangkaan itu tidak sedikit pun berguna
untuk mencapai kebenaran.” (QS. An-Najm: 28)
Dalam
pendalaman ini, kita menegaskan bahwa fenomena alam adalah pelayan bagi
syariat. Matahari berjalan dan bersujud adalah fakta ghoib yang disampaikan
oleh Shodiqul Mashduq (Rosululloh ﷺ
yang jujur dan dibenarkan). Ilmu manusia hanya mampu menjangkau sisi lahiriyah,
sedangkan hakikat perpindahan matahari menuju bawah Arsy adalah rahasia yang
hanya disingkap melalui jalur wahyu. Mempercayai hal ini adalah bentuk
tertinggi dari integritas ilmiyyah seorang Mu’min.
3:
Buah Keimanan dari Mengimani Kedahsyatan Arsy dan Ketaatan Matahari
Mengimani
bahwa matahari yang sedemikian besar harus bersujud di bawah Arsy setiap hari
akan membuahkan rasa rendah hati yang mendalam dalam diri seorang hamba. Arsy
adalah makhluk Alloh yang terbesar, dan matahari hanyalah hamba yang sangat
kecil di hadapannya. Buah keimanan ini akan menjauhkan manusia dari sifat
sombong. Jika matahari saja tidak berani terbit tanpa izin, mengapa manusia
berani berbuat maksiat tanpa rasa malu? Rosululloh ﷺ
bersabda mengenai luasnya Arsy dibanding makhluk lainnya:
«مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ
بِأَرْضِ فَلَاةٍ ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ
عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ»
“Perumpamaan
tujuh langit dibanding Kursi hanyalah seperti sebuah cincin yang dilemparkan di
padang pasir yang luas. Dan besarnya Arsy dibanding Kursi adalah seperti
luasnya padang pasir tersebut dibanding cincin itu.” (HSR. Ibnu Abi Syaibah
dalam Kitab Al-Arsy no. 58)
Mengetahui
bahwa matahari berada di bawah naungan Arsy yang maha luas ini memberikan
ketenangan jiwa bahwa alam semesta ini tidak berjalan sendirian secara liar.
Ada pengawasan yang sangat ketat dan penuh rohmat dari Alloh Yang Maha Tinggi.
Buah dari tadabbur ini adalah lahirnya ketaatan yang tulus; seorang Mu’min akan
berusaha menyesuaikan langkah hidupnya dengan ritme ketaatan matahari, yaitu
senantiasa bersujud dan patuh pada aturan Robbnya hingga datangnya hari Akhiroh.
Matahari
adalah guru bagi manusia dalam hal konsistensi dan ketaatan. Ia tidak pernah
absen dari jadwal sujudnya, tidak pernah mengeluh atas beban perjalanannya, dan
tidak pernah sombong meskipun seluruh dunia membutuhkannya. Buah dari
pendalaman materi ini adalah transformasi karakter hamba. Jika matahari yang
memiliki energi dahsyat saja tersungkur bersujud di bawah Arsy, maka sungguh
memalukan jika manusia yang lemah ini merasa besar di bumi. Rosululloh ﷺ sering kali menghubungkan fenomena alam dengan peringatan akan
dosa dan taubat, sebagaimana sabda beliau saat terjadi gerhana:
«إِنَّ
الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ
وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا
وَتَصَدَّقُوا»
“Sungguh
matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Alloh.
Keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Jika
kalian melihat hal itu, maka berdoalah kepada Alloh, bertakbirlah, sholatlah,
dan bershodaqohlah.” (HR. Al-Bukhori no. 1044)
Pesan ini
menekankan bahwa setiap perubahan pada matahari—baik itu peredaran hariannya
maupun kejadian luar biasa seperti gerhana—semuanya diarahkan untuk membawa
manusia kembali kepada Alloh. Matahari yang mengelilingi bumi dan bersujud di
bawah Arsy adalah sebuah simfoni ketaatan yang seharusnya diikuti oleh setiap
detak jantung manusia dalam bertauhid kepada Sang Pencipta. Dengan memahami
kedudukan matahari yang rendah di hadapan Arsy, seorang Mu’min akan meraih
kemuliaan yang hakiki karena ia hanya menggantungkan harapannya kepada Robb
yang menggerakkan matahari tersebut.
PENUTUP
Segala puji
bagi Alloh yang dengan ni’mat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Kita telah
menempuh perjalanan ilmiyyah yang panjang, menelusuri garis edar matahari
melalui cahaya wahyu, dan menyelami rahasia sujudnya di bawah Arsy yang maha
agung. Buku ini bukanlah sekadar catatan tentang fenomena alam, melainkan
sebuah seruan untuk mengembalikan pandangan kita kepada kebenaran mutlak yang
tertulis dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang shohih.
Melalui
lembaran-lembaran yang telah kita lalui, menjadi jelaslah bagi kita bahwa
matahari bukanlah penguasa atas dirinya sendiri. Ia adalah hamba yang taat,
pelari yang konsisten mengelilingi bumi, dan pemohon izin yang setia di bawah
singgasana Robbnya. Fenomena terbit dan terbenam yang kita saksikan setiap hari
adalah bukti nyata dari ketergantungan makhluk kepada Sang Kholiq. Setiap kali
matahari tenggelam di ufuk barat, ia membawa pesan ghoib yang sangat dahsyat:
bahwa ia harus tersungkur bersujud dan menanti titah ilahiyyah untuk kembali
menyinari dunia. Ketaatan matahari ini adalah teguran bagi setiap jiwa yang
sering kali lalai dari sujud kepada Alloh, padahal segala fasilitas hidupnya di
bumi ini disediakan melalui ketundukan matahari tersebut.
Pelajaran
terbesar dari pergerakan matahari adalah tentang kepastian waktu dan janji
Alloh. Kita diingatkan bahwa tatanan alam semesta ini memiliki titik akhir.
Suatu saat nanti, izin untuk terbit dari timur akan dicabut, dan matahari akan
diperintahkan untuk berbalik arah sebagai pertanda bahwa pintu taubat telah
tertutup rapat. Sebelum masa itu tiba, setiap terbitnya matahari di pagi hari
seharusnya kita maknai sebagai rohmat dan kesempatan kedua untuk memperbaiki
diri. Kita harus menepis segala keraguan dan syubhat yang mencoba menjauhkan
kita dari zhohir nash-nash syariat. Keyakinan bahwa matahari berjalan
mengelilingi bumi dan bersujud di bawah Arsy adalah bagian dari integritas iman
yang tidak boleh goyah oleh teori-teori manusia yang terbatas dan berubah-ubah.
Akhirnya,
marilah kita jadikan setiap pandangan mata kita ke arah langit sebagai sarana
untuk mempertebal tauhid. Hendaknya kita menyadari betapa kecilnya kita di
hadapan Arsy Alloh, namun betapa besarnya perhatian Alloh kepada kita dengan
ditundukkannya matahari sebagai pelayan kehidupan.
Semoga
Alloh senantiasa menjaga hati kita di atas aqidah yang lurus, menjauhkan kita
dari kesombongan akal, dan mengumpulkan kita kelak di bawah naungan rohmat-Nya
pada hari di mana matahari didekatkan sejarak satu mil. Hanya kepada Alloh kita
memohon taufiq, dan kepada-Nya pulalah kita akan kembali.
﴿سُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
“Maha Suci
Robbmu, Robb yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan. Dan
kesejahteraan semoga tercurah atas para Rosul. Dan segala puji bagi Alloh, Robb
semesta alam.” (QS. Ash-Shoffat: 180-182)
