[PDF] Resign dari Bank dengan Hati - Nor Kandir
MUQODDIMAH
﷽
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang menggenggam
setiap hati hamba-Nya dan mengatur setiap butir rizqi yang turun dari langit ke
bumi. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah Rosululloh ﷺ, teladan agung yang telah menunjukkan
jalan keselamatan dari gelapnya zholim menuju terangnya iman.
Saudaraku yang kucintai karena Alloh, tulisan ini hadir
bukan untuk menghakimi, bukan pula untuk menyudutkan langkah kaki yang setiap
pagi menyusuri koridor gedung-gedung megah itu. Saya memahami dengan sangat
dalam bahwa di balik seragam rapi dan senyum profesional yang kau tampilkan,
terkadang ada gemuruh kecil di dasar kalbu. Ada sebuah tanya yang seringkali
muncul saat sujud panjangmu di sepertiga malam, atau saat kau memandangi wajah
buah hatimu yang sedang terlelap. Sebuah tanya tentang makna keberkahan,
tentang hakikat pengabdian, dan tentang ke mana arah langkah ini akan bermuara
di Akhiroh kelak.
Sungguh, mencari nafkah adalah ibadah yang mulia. Setiap
peluh yang menetes demi memberi makan keluarga adalah pemberat timbangan
kebaikan. Namun, sebagai seorang Mu’min yang merindukan Jannah, kita tentu
menyadari bahwa syariat Islam telah memberikan batasan yang indah demi menjaga
keselamatan jiwa dan harta kita. Kita diingatkan oleh Alloh dalam Al-Quran:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾
Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan
tinggalkan sisa riba jika kamu adalah orang-orang yang beriman. (QS.
Al-Baqoroh: 278)
Ayat ini adalah panggilan cinta dari Robb kita. Panggilan
yang mengajak kita untuk merenung sejenak di tengah hiruk pikuk target bulanan
dan laporan keuangan. Apakah harta yang kita bawa pulang ke rumah benar-benar
akan menjadi daging yang menumbuhkan kebaikan, ataukah justru menjadi
penghalang bagi doa-doa kita untuk menembus langit?
Saya tahu, keputusan untuk beranjak tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan. Ada cicilan yang harus dibayar, ada biaya sekolah
anak yang terus merangkak naik, dan ada ekspektasi keluarga yang terpikul di
pundakmu. Alloh Maha Mengetahui setiap kegelisahan itu. Dia tidak melihat hanya
pada hasil akhir, tetapi Dia melihat setiap tetes air mata dan usaha kerasmu
dalam menjauhi apa yang dilarang-Nya. Tidak ada dosa bagi seseorang yang
saat ini masih berada di sana namun hatinya telah membenci riba dan sudah
berniat kuat untuk Hijroh dan tengah berikhtiar mencari pintu rizqi yang lain.
Berikan dirimu ruang untuk bernapas, berikan dirimu waktu untuk mencari
sandaran baru, sembari terus memohon ampunan dan petunjuk-Nya.
Ingatlah sabda Nabi ﷺ
yang menyejukkan hati:
«إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا
لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»
Sungguh, tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena Alloh ‘Azza
wa Jalla, melainkan Alloh akan menggantikannya untukmu dengan sesuatu yang
lebih baik bagimu darinya. (HSR. Ahmad no. 23074)
Buku ini bukan sekadar deretan dalil, melainkan teman bicara
bagi hatimu yang sedang bimbang. Kita akan berjalan perlahan, memahami mengapa
riba begitu dijauhi dalam Islam, namun juga memberikan pelukan hangat bagi kamu
yang sedang berjuang di masa transisi. Kita akan belajar bersama bagaimana
merajut keyakinan bahwa rizqi itu bukan datang dari bank, bukan dari atasan,
melainkan dari Alloh Ar-Rozzaq.
Saudaraku, mari kita buka lembaran ini dengan kejujuran pada
diri sendiri. Jika hari ini hatimu terasa berat, jika hari ini ada rasa tidak
tenang saat menerima gaji, mungkin itu adalah tanda cinta dari Alloh. Dia ingin
menarikmu kembali ke dekapan-Nya yang lebih luas. Dia ingin menyucikan hartamu
agar menjadi wasilah bagimu untuk meraih ni’mat di dunia dan keselamatan di
Akhiroh. Mari kita mulai perjalanan pulang ini dengan penuh harap, karena
sesungguhnya rohmat Alloh jauh lebih luas daripada segala ketakutan kita akan
hari esok.
BAB 1: MENGENAL MAKNA KEBERKAHAN
DALAM SETIAP RUPIAH
1:
Mencari Ridho Alloh dalam Setiap Lelah
Saudaraku,
setiap pagi kita melangkah keluar rumah dengan satu niat yang sama: menjemput rizqi
demi kelangsungan hidup dan kebahagiaan orang-orang tercinta. Lelah yang kita
rasakan, penat yang menghinggapi raga setelah seharian bekerja, sesungguhnya
memiliki kedudukan yang mulia jika disandarkan pada niat yang benar. Islam
tidak pernah melarang pemeluknya untuk menjadi kaya atau bekerja keras; justru
Islam memotivasi setiap Muslim untuk menjadi kuat secara ekonomi agar dapat
memberi manfaat lebih luas. Namun, di atas semua kerja keras itu, ada satu
tujuan puncak yang tidak boleh terabaikan, yaitu meraih ridho Alloh.
Ridho Alloh
adalah standar utama dalam setiap jengkal aktivitas kita. Pekerjaan bukan
sekadar sarana untuk mengumpulkan angka di buku tabungan, melainkan sebuah
bentuk peribadatan. Ketika kita menyadari bahwa setiap rupiah yang masuk ke
kantong kita akan ditanya dari mana didapatkan dan untuk apa dibelanjakan, maka
kita akan lebih berhati-hati. Kita tidak ingin lelah yang kita rasakan hanya
berujung pada keletihan fisik tanpa nilai pahala di sisi-Nya.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَقُلِ
اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ
عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾
Dan
katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Alloh dan Rosul-Nya serta orang-orang Mu’min
akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Alloh) Yang
Mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa
yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah: 105)
Pesan ini
mengingatkan kita bahwa setiap pekerjaan kita sedang “diawasi” oleh Sang
Pencipta. Pandangan Alloh terhadap pekerjaan kita bukan sekadar pada
profesionalitasnya, melainkan pada kehalalan jalannya. Bayangkan betapa
indahnya jika lelah kita di dunia ini disambut dengan senyuman ridho dari-Nya
di Akhiroh kelak. Oleh karena itu, mari kita tanyakan pada diri sendiri di
sela-sela kesibukan kantor: “Apakah lelahku hari ini membuat Alloh tersenyum,
ataukah justru menjauhkan aku dari Rohmat-Nya?”
Nabi ﷺ memberikan kabar gembira bagi siapa yang bekerja dengan jujur
dan baik melalui sabdanya:
«مَا
أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ
نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ»
Tidak ada
seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik daripada memakan
makanan dari hasil usaha tangannya sendiri (yang halal). Dan sungguh Nabi Alloh
Dawud ‘alaihis salam dahulu selalu makan dari hasil usaha tangannya
sendiri. (HR. Al-Bukhori no. 2072)
«مَنْ
أَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُورًا لَهُ»
Siapa yang
pada sore hari merasa lelah karena amal usaha tangannya sendiri, maka ia pada
sore itu diampuni dosanya. (HR. Ath-Thobaroni dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no.
7520)
Betapa
besarnya kasih sayang Alloh. Dia menjadikan rasa capek kita sebagai penggugur dosa.
Namun, tentu saja ampunan ini berkaitan erat dengan usaha yang dijalankan di
atas rel yang diridhoi-Nya. Jika kita merasa pekerjaan saat ini masih berada di
zona yang abu-abu, janganlah berputus asa. Gunakan rasa lelah itu sebagai
pemicu untuk terus berdoa agar Alloh segera membukakan jalan menuju pekerjaan
yang seratus persen bersih, sehingga setiap tetes keringat kita benar-benar
menjadi saksi pengampunan dosa di hari Kiamat.
2:
Perbedaan Antara Kelimpahan Harta dan Keberkahan Harta
Seringkali
kita terjebak dalam angka. Kita merasa bahwa semakin besar nominal gaji, maka
semakin terjamin pula kebahagiaan kita. Padahal, dalam kacamata iman, ada
variabel yang jauh lebih penting daripada jumlah, yaitu keberkahan. Berkah
artinya ziyadatul khoir atau bertambahnya kebaikan. Harta yang berkah,
meskipun jumlahnya mungkin terlihat sedikit secara matematik, ia mampu
mencukupi kebutuhan, menghadirkan ketenangan di dalam rumah, membuat anak-anak
tumbuh menjadi sholih, dan pemiliknya selalu merasa cukup (qona’ah).
Sebaliknya,
harta yang tidak berkah, sebanyak apa pun jumlahnya, seringkali terasa cepat
menguap tanpa bekas yang bermanfaat. Ia mungkin habis untuk biaya pengobatan
yang tak terduga, perbaikan barang yang terus rusak, atau gaya hidup yang tak
pernah puas yang justru menjauhkan pelakunya dari ibadah. Di sinilah letak
perenungan kita: untuk apa mengejar kelimpahan jika di dalamnya tidak ada
keberkahan? Apa gunanya gaji besar jika hati selalu merasa was-was dan rumah
tangga terasa gersang dari cahaya ketaqwaan?
Alloh
menceritakan tentang bagaimana Dia mencabut keberkahan dari jalan yang salah
dan menumbuhsuburkan ketaqwaan:
﴿يَمْحَقُ
اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ
كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ﴾
Alloh
memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang
yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. (QS. Al-Baqoroh: 276)
Kata yamhaqu
dalam ayat ini berarti menghapus atau melenyapkan. Bisa jadi hartanya masih ada
secara fisik, namun manfaat dan ketenangannya dicabut oleh Alloh. Kita tentu
tidak ingin mengumpulkan harta yang seperti fatamorgana; terlihat indah dari
jauh namun tidak bisa menghilangkan dahaga di hati.
Dalam
sebuah Hadits yang sangat masyhur, Nabi ﷺ
menjelaskan hakikat kekayaan yang sesungguhnya:
«لَيْسَ
الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
Kekayaan
itu bukanlah dari banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya
adalah kekayaan hati. (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Kekayaan
hati inilah yang lahir dari keberkahan. Saat kita bekerja di tempat yang bersih
dari unsur riba, hati kita akan merasa tenang meskipun mungkin kita harus
menyesuaikan kembali gaya hidup. Ketenangan saat memakan sesuap nasi yang
benar-benar halal jauh lebih lezat daripada hidangan mewah yang didapat dari
jalan yang penuh keraguan. Saudaraku, keberkahan adalah kunci. Jika saat ini
kau merasa hartamu seolah “cepat habis” atau “tidak membahagiakan”, mungkin ini
saatnya kita memeriksa kembali sumbernya dengan penuh kejujuran.
3:
Menjaga Fithroh Mu’min dari Syubhat
Setiap
manusia dilahirkan dalam keadaan fithroh, yaitu kecenderungan kepada kebenaran
dan kesucian. Sebagai seorang Mu’min, fithroh kita sebenarnya memiliki “radar”
alami terhadap hal-hal yang tidak baik. Pernahkah kau merasa ada getaran tidak
nyaman di hati saat memproses transaksi tertentu? Atau ada rasa berat saat
harus menjelaskan produk yang mengandung unsur bunga? Itulah sinyal dari
fithrohmu yang sedang berbicara.
Di dunia
perbankan, batas antara yang jelas halalnya dan yang jelas haromnya seringkali
tertutup oleh istilah-istilah teknis yang rumit. Inilah yang disebut dengan
syubhat atau sesuatu yang samar. Nabi ﷺ
telah mewanti-wanti kita agar sangat berhati-hati terhadap wilayah abu-abu ini,
karena siapa yang terbiasa bermain di pinggir jurang syubhat, dikhawatirkan ia
akan terperosok ke dalam yang harom.
Alloh
mengingatkan kita untuk selalu mengonsumsi yang tidak hanya baik secara fisik,
tapi juga baik secara syar’i:
﴿يَا
أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا
خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ
مُّبِينٌ﴾
Wahai
manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon; karena sungguh syaithon itu
adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqoroh: 168)
Mencari
yang halalan thoyyiban adalah perjuangan untuk menjaga fithroh. Syaithon
seringkali membisikkan bahwa “semua orang juga melakukan ini” atau “ini kan
cuma tuntutan pekerjaan”. Namun, seorang Mu’min yang cerdas akan berusaha
menjaga diri agar tidak terjebak dalam langkah-langkah tersebut.
Perhatikan
pesan mendalam dari Rosululloh ﷺ
tentang pentingnya menjaga diri dari perkara yang samar:
«الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ
لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ
لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ»
Yang halal
itu jelas dan yang harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat
perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.
Maka siapa yang menjaga diri dari syubhat, sungguh ia telah membersihkan agama
dan kehormatannya. (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)
Menjaga
kehormatan agama berarti memastikan bahwa tidak ada satu pun yang harom masuk
ke dalam perut kita dan keluarga kita. Menjaga fithroh memang membutuhkan
keberanian, terutama saat lingkungan sekitar menganggap hal tersebut biasa
saja. Namun yakinlah, ketika kau berusaha menjauhi syubhat demi menjaga
kemurnian agamamu, Alloh tidak akan membiarkanmu sendirian. Dia akan memberikan
cahaya di hatimu yang membimbingmu menuju jalan keluar yang lebih mulia.
Tetaplah berhusnudzhon
kepada Alloh. Jika saat ini kau masih harus berada di sana karena keadaan
dhorurot yang mendesak, tetaplah jaga hatimu agar tidak mencintai pekerjaan
tersebut. Teruslah berikhtiar mencari pelabuhan baru yang lebih tenang dan
diridhoi. Karena sungguh, menjaga fithroh adalah perjalanan seumur hidup menuju
perjumpaan yang indah dengan Robb kita.
BAB 2: MEMAHAMI HAKIKAT RIBA DAN
PEKERJAAN DI DALAMNYA
1:
Mengapa Alloh Mengharomkan Riba
Saudaraku
yang dirohmati Alloh, terkadang kita bertanya dalam hati dengan penuh rasa
ingin tahu, mengapa sistem yang tampak begitu mapan dan menjadi tulang punggung
ekonomi dunia saat ini justru dilarang dengan keras dalam agama kita? Islam
adalah agama yang sempurna, dan setiap larangannya pasti mengandung maslahat
bagi manusia, baik mereka menyadarinya atau tidak. Riba diharamkan karena ia
mengandung unsur kezholiman. Ia adalah sistem yang membuat yang kaya semakin
kuat tanpa bekerja, sementara yang lemah semakin terhimpit oleh beban tambahan
yang terus berbunga.
Riba
merusak tatanan persaudaraan manusia. Di saat seseorang sedang mengalami
kesulitan dan membutuhkan pinjaman, riba justru datang untuk mengambil
keuntungan dari kesempitan tersebut. Padahal, ruh dari pinjam-meminjam dalam
Islam adalah ta’awun atau tolong-menolong, bukan komersialisasi utang.
Alloh ingin agar harta berputar di antara semua kalangan, bukan hanya berhenti
di tangan segelintir orang saja. Ketegasan Alloh dalam hal ini sangat jelas,
sebagaimana tertuang dalam firman-Nya:
﴿الَّذِينَ
يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ
مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ
الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا﴾
Orang-orang
yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaithon lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka
yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya
jual beli itu sama dengan riba, padahal Alloh telah menghalalkan jual beli dan
mengharomkan riba. (QS. Al-Baqoroh: 275)
Ayat ini
adalah cermin bagi kita semua. Alloh membedakan dengan sangat tegas antara
perniagaan yang sehat dengan praktik riba. Jual beli mengandung risiko dan
usaha, sedangkan riba adalah keuntungan pasti di atas penderitaan orang lain.
Dengan memahami hakikat ini, kita mulai menyadari bahwa larangan ini bukan
untuk membatasi ruang gerak kita, melainkan untuk melindungi hati kita dari
sifat thoma’ (serakah) dan melindungi masyarakat dari ketimpangan yang
zholim.
Nabi ﷺ juga mengingatkan kita bahwa riba adalah salah satu dari tujuh
dosa besar yang menghancurkan. Beliau bersabda:
«اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ... (وَمِنْهَا) وَأَكْلُ الرِّبَا»
Jauhilah
tujuh perkara yang membinasakan... (salah satunya adalah) memakan riba. (HR.
Al-Bukhori no. 2766 dan Muslim no. 89)
Ketika kita
mengetahui bahwa sesuatu itu membinasakan, maka peringatan itu sebenarnya
adalah bentuk kasih sayang dari Rosululloh ﷺ
agar kita tidak terjerumus ke dalam jurang yang sama. Ini adalah undangan bagi
kita untuk kembali ke jalan ekonomi yang barokah dan penuh dengan keridhoan.
2:
Ancaman Perang dari Alloh dan Rosul bagi Pelaku Riba
Mungkin di
antara sekian banyak larangan dalam Islam, tidak ada yang mendapatkan ancaman
sekeras ancaman terhadap riba. Jika dosa-dosa lain seringkali dibalas dengan
ancaman Naar secara umum, khusus untuk riba, Alloh memberikan peringatan berupa
“maklumat perang”. Tentu kita tidak bisa membayangkan, bagaimana mungkin
seorang hamba yang lemah, yang nafasnya berada dalam genggaman Robb-nya,
sanggup menghadapi peperangan melawan Penguasa Alam Semesta dan Rosul-Nya?
Ancaman ini
bukan bermaksud menakut-nakuti tanpa alasan, melainkan untuk menunjukkan betapa
buruknya dampak riba bagi kehidupan spiritual seorang Mu’min. Peperangan ini
bisa mewujud dalam bentuk hilangnya ketenangan batin, rusaknya keberkahan dalam
keluarga, hingga tertutupnya pintu-pintu hidayah. Alloh berfirman dengan sangat
tegas:
﴿فَإِن
لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ
رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ﴾
Maka jika
kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Alloh
dan Rosul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan
riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak berbuat zholim dan tidak (pula)
dizholimi. (QS. Al-Baqoroh: 279)
Saudaraku,
bacalah ayat ini dengan hati yang luruh. Adakah yang lebih menyedihkan daripada
hidup di dunia ini sementara Pencipta kita sedang menyatakan perang kepada
kita? Namun perhatikanlah akhir ayat tersebut, Alloh membuka pintu taubat yang
begitu lebar. Dia tidak meminta kita untuk kehilangan harta pokok kita, Dia
hanya meminta kita berhenti dari kezholiman riba. Ini adalah tawaran perdamaian
yang sangat indah dari Alloh untuk kita semua yang ingin kembali.
Dalam
sebuah Hadits yang sangat menggetarkan, Nabi ﷺ
menggambarkan betapa ngerinya dosa riba bahkan dalam tingkatannya yang paling
ringan:
«الرِّبَا
سَبْعُونَ حُوبًا، أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ»
Riba itu
memiliki tujuh puluh tingkatan dosa, yang paling ringannya adalah seperti
seseorang yang menikahi (berzina dengan) ibu kandungnya sendiri. (HSR. Ibnu
Majah no. 2274)
Hadits ini
merupakan tamparan keras bagi fithroh kita. Mengapa digambarkan seburuk itu?
Karena riba merusak sendi-sendi kemanusiaan sebagaimana perbuatan keji tersebut
merusak kemuliaan nasab dan keluarga. Dengan mengetahui betapa beratnya perkara
ini, mari kita kuatkan tekad dalam hati: “Ya Alloh, aku tidak ingin berada
dalam barisan yang Engkau perangi. Berilah aku jalan keluar agar aku bisa
mencari ridho-Mu dengan tenang.”
3:
Kedudukan Pegawai Bank dalam Tinjauan Hadits Nabi
Inilah
bagian yang paling berat untuk kita diskusikan, namun harus kita hadapi dengan
kejujuran intelektual dan keimanan. Seringkali muncul alasan bahwa “saya kan
hanya bekerja di bagian administrasi”, “saya tidak memakan bunganya”, atau “saya
hanya menjalankan sistem”. Namun, dalam syariat Islam, sebuah kemungkaran yang
sistemik melibatkan semua pihak yang membantu terselenggaranya kemungkaran
tersebut.
Alloh
memerintahkan kita untuk saling membantu dalam kebaikan, bukan dalam perbuatan
dosa:
﴿وَتَعَاوَنُوا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا
عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ
ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada
Alloh, sungguh Alloh amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini
menjadi dasar bahwa setiap peran yang kita ambil dalam sebuah ekosistem
pekerjaan akan dimintai pertanggung-jawaban. Meskipun kita tidak menikmati
secara langsung bunga riba tersebut, namun jika keberadaan kita menjadi salah
satu mata rantai yang memperlancar proses riba, maka kita ikut memikul beban
tanggung jawabnya. Ini adalah kenyataan yang pahit, namun mengetahuinya
sekarang jauh lebih baik daripada mengetahuinya saat semua sudah terlambat di
hari perhitungan.
Ketegasan
mengenai hal ini secara spesifik disebutkan dalam Hadits:
لَعَنَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ
وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: «هُمْ سَوَاءٌ»
Rosululloh ﷺ melaknat pemakan riba, yang memberikannya, penulisnya, dan dua
orang saksinya. Beliau bersabda: “Mereka semua itu sama.” (HR. Muslim no.
1598)
Kata “laknat”
berarti dijauhkan dari Rohmat Alloh. Dan kalimat “mereka semua itu sama”
menunjukkan bahwa peran sebagai pencatat (penulis) atau bagian pendukung
lainnya memiliki beban dosa yang serupa dalam transaksi tersebut.
Namun
saudaraku, janganlah kabar ini membuatmu putus asa dari Rohmat Alloh. Jika saat
ini kau masih duduk di kursi itu, pandanglah ini sebagai peringatan kasih
sayang. Alloh masih memberimu nafas dan waktu untuk berencana. Dia tahu hatimu
tidak tenang. Dia tahu kau ingin keluar. Mulailah dengan membenci perbuatan
tersebut di dalam hati, lalu iringi dengan doa yang tulus: “Ya Robb, aku
mengakui kelemahanku, aku ingin menjauh dari laknat-Mu, mudahkanlah jalanku
untuk mendapatkan pekerjaan yang Engkau ridhoi.” Ingatlah, pintu taubat
senantiasa terbuka bagi siapa yang mau melangkah mendekat.
BAB 3: DILEMA ANTARA KEBUTUHAN DAN
KETAQWAAN
1:
Memahami Beratnya Langkah Kaki Saat Menanggung Nafkah Keluarga
Saudaraku,
saya sangat memahami bahwa di balik keinginan kuatmu untuk Hijroh, ada
kenyataan hidup yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Engkau adalah tulang
punggung keluarga, sosok yang diandalkan untuk menyediakan tempat tinggal yang
layak, makanan yang bergizi, serta pendidikan terbaik bagi anak-anakmu.
Terkadang, rasa takut akan masa depan ekonomi keluarga terasa lebih menghimpit
daripada kegelisahan hati itu sendiri. Ada kekhawatiran: “Jika aku berhenti
hari ini, bagaimana dengan susu anakku esok hari? Bagaimana dengan orang tuaku
yang membutuhkanku?”
Ketahuilah,
Alloh Maha Mendengar rintihan hati hamba-Nya yang sedang terjepit di antara dua
pilihan sulit. Islam tidak memerintahkan kita untuk menjadi hamba yang ceroboh
atau mengabaikan amanah nafkah. Justru, rasa tanggung jawabmu terhadap keluarga
adalah sebuah kemuliaan di mata Alloh. Dia tidak akan membiarkan seorang hamba
yang berusaha bertaqwa jatuh ke dalam kesengsaraan tanpa pertolongan-Nya. Alloh
meyakinkan kita melalui firman-Nya:
﴿وَمَن
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾
Siapa yang
bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan
memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Ath-Tholaq:
2-3)
Janji ini bagaikan
“hujan” bagi jiwamu yang sedang terombang-ambing. “Jalan keluar” dan “rizqi
yang tidak disangka” seringkali hadir setelah kita menunjukkan kesungguhan
dalam bertaqwa. Jangan biarkan syaithon menakut-nakutimu dengan kemiskinan,
karena sungguh Alloh lebih kaya dari segala institusi yang ada di dunia ini.
Lakukanlah tugasmu saat ini dengan penuh rasa tanggung jawab sembari terus
mengetuk pintu langit, memohon agar Alloh segera mengganti sumber nafkahmu
dengan yang lebih bersih.
Rosululloh ﷺ juga mengingatkan kita bahwa setiap nafkah yang diberikan
dengan tulus memiliki nilai Shodaqoh yang besar:
«إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ
صَدَقَةٌ»
Jika
seorang lelaki memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala
dari Alloh, maka nafkah itu bernilai Shodaqoh baginya. (HR. Al-Bukhori no.
55 dan Muslim no. 1002)
Bayangkan
betapa besarnya pahala yang kau kumpulkan setiap hari. Oleh karena itu,
janganlah merasa rendah diri karena keadaanmu saat ini. Teruslah berjuang untuk
memberikan yang terbaik bagi keluarga, sembari secara bertahap memindahkan “perahu”
kehidupanmu ke dermaga yang lebih aman dan berkah.
2:
Berikhtiar Mencari yang Halal Sembari Berdoa
Saudaraku,
Hijroh seringkali bukan tentang sebuah lompatan besar yang instan, melainkan
tentang langkah-langkah kecil yang konsisten. Jika saat ini engkau merasa belum
mampu untuk langsung mengundurkan diri karena adanya kebutuhan dhorurot
(darurat) yang nyata, maka janganlah berputus asa. Islam adalah agama yang
penuh kemudahan dan memahami kondisi hambanya. Yang terpenting adalah hatimu
tidak lagi merasa nyaman di sana, dan lisanmu tidak berhenti memohon ampun
serta tanganmu tidak berhenti mencari peluang baru.
Manfaatkan
waktu yang ada sebagai masa transisi. Mulailah membangun keahlian baru, mencari
jejaring di luar dunia perbankan, atau merintis usaha kecil-kecilan. Masa ini
adalah saat di mana engkau “menabung” keberanian dan persiapan. Alloh
memerintahkan kita untuk tidak berputus asa dari Rohmat-Nya, meskipun kita
merasa sedang berada di tempat yang salah:
﴿قُلْ
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ
اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ
الرَّحِيمُ﴾
Katakanlah:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari Rohmat Alloh. Sungguh Alloh mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Az-Zumar: 53)
Ayat ini
adalah pelukan bagi jiwamu. Selama engkau masih berniat untuk keluar dan sedang
berusaha, maka engkau berada dalam pantauan kasih sayang-Nya. Gunakan setiap
waktu luangmu untuk mengetuk pintu rizqi yang lain. Perbanyaklah doa di
waktu-waktu mustajab, karena hati manusia dan segala urusan dunia ini berada di
tangan Alloh.
Nabi ﷺ mengajarkan sebuah doa yang sangat indah untuk memohon
kelapangan rizqi yang halal:
«اللَّهُمَّ
اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ»
Ya Alloh,
cukupkanlah aku dengan kehalalan-Mu dari keharoman-Mu, dan cukupkanlah aku
dengan karunia-Mu dari selain-Mu. (HSR. At-Tirmidzi no. 3563)
Bacalah doa
ini dengan penuh keyakinan di setiap akhir Sholatmu. Yakinlah bahwa Alloh tidak
akan menyia-nyiakan hamba yang ingin menyucikan dirinya. Masa transisimu ini
adalah ujian kesabaran, dan setiap detik usahamu untuk mencari yang halal akan
dicatat sebagai Jihad di jalan-Nya.
3:
Janji Alloh Bagi Siapa yang Meninggalkan Sesuatu Karena-Nya
Puncak dari
segala dilema ini adalah kepercayaan. Apakah kita lebih percaya pada
angka-angka di atas kertas, atau kita lebih percaya pada janji Pencipta Alam
Semesta? Meninggalkan sesuatu yang sudah memberikan zona nyaman secara
finansial tentu membutuhkan iman yang kokoh. Namun, sejarah para Salaf dan
orang-orang sholih telah membuktikan bahwa tidak ada satu pun orang yang merugi
karena memilih ketaatan kepada Alloh di atas segalanya.
Alloh
menjanjikan keluasan bagi mereka yang berani melangkah meninggalkan bumi yang
sempit menuju bumi Alloh yang luas:
﴿وَمَن
يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً﴾
Siapa yang
berhijroh di jalan Alloh, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat
Hijroh yang luas dan rizqi yang banyak. (QS. An-Nisa: 100)
Kata muroghoman
dalam ayat ini berarti tempat pelarian atau peluang yang sangat banyak.
Seringkali, peluang itu tertutup pandangan kita hanya karena kita belum berani
melepaskan genggaman pada yang lama. Begitu tangan kita lepas dari yang harom
atau syubhat, Alloh akan membukakan pintu-pintu yang selama ini tidak pernah
kita bayangkan sebelumnya.
Sebagaimana
disebutkan di awal, sabda Rosululloh ﷺ
ini harus terus terpatri dalam ingatanmu:
«إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ
اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»
Sungguh,
tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena Alloh ‘Azza wa Jalla,
melainkan Alloh akan menggantikannya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik
bagimu darinya. (HSR. Ahmad no. 23074)
“Lebih baik”
dalam Hadits ini tidak selalu berarti nominal yang lebih besar secara materi,
meskipun itu sangat mungkin terjadi. Namun, “lebih baik” bisa berarti hati yang
tenang, keluarga yang harmonis, anak-anak yang sholih, dan waktu yang lebih berkah
untuk beribadah. Bukankah ketenangan hati adalah kemewahan yang tidak bisa
dibeli dengan gaji setinggi apa pun? Percayalah pada janji-Nya, karena Alloh
tidak pernah memungkiri janji. Langkahmu untuk resign dengan hati adalah
langkah menuju pelukan Rohmat-Nya yang tak bertepi.
BAB 4: MERENUNGKAN KESENGSARAAN
PARA KORBAN BANK
1:
Melihat Air Mata di Balik Jeratan Hutang yang Berbunga
Saudaraku,
mari sejenak kita menanggalkan seragam kerja kita dan keluar dari balik meja
kantor yang nyaman untuk melihat realitas di tengah masyarakat. Sebagai orang
yang berada di dalam sistem, terkadang kita hanya melihat angka, target, dan
kolektibilitas. Namun, pernahkah kita merenungkan bahwa di balik angka-angka
yang kita proses itu, ada air mata kepala keluarga yang tidak bisa tidur karena
rumahnya terancam disita? Ada para ibu yang gemetar setiap kali mendengar suara
ketukan pintu, khawatir itu adalah penagih utang yang datang dengan wajah
garang.
Riba bukan
sekadar soal bunga satu atau dua persen; riba adalah penghancur kedamaian rumah
tangga. Banyak saudara kita yang awalnya hanya meminjam untuk kebutuhan
mendesak, namun karena sistem bunga berbunga, hutang tersebut menjadi jeratan
yang tak kunjung usai. Mereka terjebak dalam lingkaran syaithon yang membuat mereka
kehilangan harta, harga diri, bahkan iman. Alloh Ta’ala telah
memperingatkan kita akan kezholiman ini:
﴿وَلَا
تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ
لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾
Dan
janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Alloh lalai dari apa yang diperbuat
oleh orang-orang yang zholim. Sungguh Alloh menangguhkan mereka sampai hari
yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS. Ibrohim: 42)
Ketika kita
menjadi bagian dari sistem yang menghimpit orang miskin dan mengambil
keuntungan dari kesempitan orang lain, kita harus bertanya pada nurani: “Sanggupkah
aku mempertanggungjawabkan setiap kesedihan mereka di hadapan Alloh kelak?”
Kesengsaraan para korban ini adalah bukti nyata mengapa Alloh mengharomkan riba
dengan begitu keras.
Nabi ﷺ selalu memohon perlindungan dari lilitan hutang yang
menghancurkan martabat manusia:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ»
Ya Alloh,
aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan dari lilitan hutang. (HR.
Al-Bukhori no. 832 dan Muslim no. 589)
Jika
Rosululloh ﷺ saja memohon perlindungan dari hutang, bagaimana mungkin kita
merasa tenang bekerja di tempat yang justru memfasilitasi dan mendorong manusia
untuk terus berhutang dengan cara yang zholim?
2:
Kehancuran Sosial Akibat Sistem yang tidak Berpihak Pada Si Miskin
Sistem riba
menciptakan jurang pemisah yang sangat dalam antara si kaya dan si miskin.
Dalam sistem bank, uang seolah hanya berputar di kalangan mereka yang sudah
memiliki aset, sementara mereka yang kecil dipaksa untuk terus membayar lebih
dari yang mereka terima. Hal ini memicu berbagai masalah sosial: perceraian
karena tekanan ekonomi, anak-anak yang putus sekolah karena harta orang tuanya
habis tersedot bunga, hingga tindakan kriminal yang lahir dari keputusasaan.
Alloh
mengingatkan agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya
saja:
﴿كَيْ
لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ﴾
... supaya
harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (QS.
Al-Hasyr: 7)
Sistem bank
yang kita jalani saat ini justru seringkali melakukan hal yang sebaliknya. Ia
mengambil tetes keringat orang kecil untuk menambah pundi-pundi para pemilik
modal. Merenungkan hal ini seharusnya membuat hati kita merasa perih. Apakah
kita ingin terus menjadi sekrup dari mesin raksasa yang menggiling
kesejahteraan rakyat kecil demi keuntungan segelintir korporasi?
Dalam
sebuah Hadits, Nabi ﷺ memberikan ancaman bagi siapa
saja yang mempersulit urusan orang lain:
«اللَّهُمَّ
مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ»
Ya Alloh,
siapa yang mengurus suatu urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka
persulitlah ia. (HR. Muslim no. 1828)
Bekerja di
bagian yang menagih atau menyusun sistem yang memberatkan nasabah yang sedang
kesulitan adalah bentuk “mempersulit” yang sangat nyata. Kita tentu tidak ingin
doa Nabi ﷺ ini menimpa kehidupan kita dan keluarga kita.
3:
Menjadi Bagian dari Solusi, Bukan Bagian dari Masalah
Setelah
kita melihat dan merenungkan penderitaan para korban riba, maka keinginan untuk
Hijroh bukan lagi sekadar demi keamanan diri sendiri, melainkan sebuah bentuk
empati dan pembelaan terhadap keadilan. Dengan keluar dari bank, kita sedang
mencabut dukungan kita terhadap sistem yang merusak tatanan masyarakat. Kita
ingin menjadi hamba yang tangannya digunakan Alloh untuk menolong, bukan untuk
membebani.
Alloh
menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang memberikan kelonggaran kepada
orang yang kesulitan:
﴿وَإِن
كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا
خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
Dan jika
(orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia
berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik
bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqoroh: 280)
Inilah
konsep ekonomi Islam yang penuh Rohmat. Bayangkan perbedaannya dengan sistem
bank yang justru memberikan denda dan sita saat nasabah sedang terpuruk. Dengan
memilih jalan Hijroh, engkau sedang memilih untuk berdiri di barisan yang
menyebarkan Rohmat, bukan barisan yang menyebarkan kesulitan.
Rosululloh ﷺ bersabda tentang ni’matnya membantu orang yang dalam kesulitan:
«مَنْ
نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً
مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»
Siapa yang
melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mu’min, maka Alloh akan
melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. (HR. Muslim no. 2699)
Saudaraku,
mari kita renungkan: lebih indah mana, mendapatkan bonus bulanan dari hasil
bunga yang mencekik sesama, atau mendapatkan jaminan kelapangan dari Alloh di
hari Kiamat kelak? Pilihan ada di tanganmu. Jadikan air mata para korban riba
sebagai penguat azammu untuk segera beranjak dan mencari pintu rizqi yang di
dalamnya terdapat keberkahan bagi dirimu dan juga bagi sesama manusia.
BAB 5: MERENCANAKAN HIJROH DENGAN
ILMU
1:
Mempersiapkan Bekal Mental dan Finansial Sebelum Melangkah
Saudaraku,
Hijroh bukanlah sebuah tindakan yang dilakukan dengan tergesa-gesa tanpa
perhitungan yang matang. Islam mengajarkan kita untuk bertawakkal, namun tawakkal
yang benar selalu didahului dengan ikhtiar yang maksimal. Resign dari
pekerjaan, terutama bagi seorang kepala keluarga, memerlukan persiapan mental
yang kuat agar ketika badai ujian datang di masa awal transisi, iman kita tidak
goyah. Persiapan finansial seperti dana darurat atau modal usaha sampingan
bukanlah tanda kurangnya iman, melainkan bagian dari mengikuti sunnah
sebab-akibat yang telah Alloh tetapkan di alam semesta ini.
Alloh Ta’ala
mengingatkan kita untuk selalu memiliki persiapan dalam setiap langkah besar:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ
بِمَا تَعْمَلُونَ﴾
Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertaqwalah
kepada Alloh, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.
Al-Hasyr: 18)
Meskipun ayat
ini utamanya berbicara tentang bekal Akhiroh, para ulama juga mengambil
pelajaran tentang pentingnya perencanaan untuk masa depan dunia demi menjaga
ketaqwaan. Persiapkanlah dirimu dengan matang, bicaralah dengan pasangan secara
terbuka, dan susunlah rencana hidup yang lebih sederhana namun penuh barokah.
Nabi ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang keseimbangan
antara usaha dan tawakkal:
«لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا
يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»
Sekiranya
kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya
kalian akan diberi rizqi sebagaimana burung diberi rizqi; ia pergi di pagi hari
dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. (HSR.
At-Tirmidzi no. 2344)
Perhatikanlah,
burung tersebut tidak diam di dalam sarangnya, ia “pergi” untuk mencari. Maka,
siapkanlah kepakan sayapmu, asahlah keahlianmu, dan biarkan Alloh yang mengatur
ke mana rizqi itu akan mendarat.
2:
Mencari Pertolongan Alloh Melalui Doa
Ketika
rencana sudah disusun dan niat sudah bulat, langkah selanjutnya adalah membawa
urusan tersebut ke hadapan Pemilik Segalanya. Seringkali kita merasa ragu, “Apakah
ini waktu yang tepat?”, “Apakah aku akan sanggup?”. Di sinilah pentingnya doa.
Ini adalah momen di mana seorang hamba melepaskan keakuannya dan memohon agar
Alloh memilihkan yang terbaik bagi agama dan dunianya. Janganlah melangkah
hanya karena emosi sesaat, tapi melangkahlah karena petunjuk yang menenangkan
dari-Nya.
Alloh
mencintai hamba-Nya yang selalu melibatkan-Nya dalam setiap urusan, sebagaimana
firman-Nya:
﴿فَإِذَا
عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْمُتَوَكِّلِينَ﴾
Kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh. Sungguh
Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imron: 159)
Tidak ada
salahnya mengerjakan Sholat Istikhoroh. Ia akan memberikan ketetapan hati. Jika
memang jalan Hijroh ini baik untukmu baik sesuai waktunya ataupun langkah
setelah resign yang baik, Alloh akan mudahkan. Jika ada hambatan, Alloh akan
berikan kesabaran dan jalan keluar yang tidak terduga.
Rosululloh ﷺ sangat menekankan pentingnya Istikhoroh hingga para Shohabat
mengatakan beliau mengajarkannya sebagaimana mengajarkan surat dalam Al-Quran.
Dalam doanya, ada kalimat yang sangat menyentuh:
«اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي
فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ
بَارِكْ لِي فِيهِ»
Ya Alloh,
jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (resign dan langkah berikutnya) baik
bagiku untuk agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka takdirkanlah ia
untukku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku di dalamnya. (HR.
Al-Bukhori no. 1162)
Mintalah
keberkahan, karena dengan keberkahan, yang sedikit akan menjadi cukup, dan yang
sulit akan menjadi mudah.
3:
Menjaga Hubungan Baik dengan Rekan Kerja Saat Berpamitan
Saudaraku,
caramu keluar mencerminkan kemuliaan akhlaqmu sebagai seorang Muslim. Meskipun
kita meyakini bahwa sistem tempat kita bekerja saat ini bermasalah secara syar’i,
hal itu tidak menjadi alasan untuk bersikap kasar, sombong, atau memutus
silaturahmi dengan rekan kerja. Sampaikanlah pengunduran dirimu dengan lisan
yang santun dan alasan yang jujur namun tetap bijaksana. Biarkan kepulanganmu
meninggalkan kesan yang indah, siapa tahu melalui akhlaqmu yang baik, Alloh
memberikan hidayah kepada rekan-rekanmu yang lain.
Alloh
memerintahkan kita untuk membalas segala sesuatu dengan yang lebih baik:
﴿ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي
بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾
Tolaklah
(kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu
dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat
setia. (QS. Fushshilat: 34)
Jika dalam
dunia kerja mungkin ada gesekan, akhiri itu semua dengan permohonan maaf dan
senyuman. Keluar dari bank bukan berarti memusuhi manusianya, melainkan
menjauhi sistem ribanya demi menjaga cinta kita kepada Alloh.
Nabi ﷺ adalah pribadi yang paling baik dalam bermuamalah. Disebutkan
dalam Hadits:
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا،
وَكَانَ يَقُولُ: «إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا»
Nabi ﷺ bukanlah orang yang ucapannya kotor dan kasar. Beliau bersabda:
“Sungguh, yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya.” (HR.
Al-Bukhori no. 3559 dan Muslim no. 2321)
Tunjukkanlah
bahwa keputusanmu untuk resign adalah keputusan yang lahir dari
ketaqwaan, bukan dari kebencian. Dengan begitu, engkau melangkah keluar dengan
kepala tegak, hati yang bersih, dan doa-doa baik yang mengiringi langkahmu
menuju pintu rizqi yang baru.
BAB 6: MEMBUKA PINTU RIZQI BARU
YANG MENENANGKAN
1:
Yakin Bahwa Alloh Adalah Ar-Rozzaq
Saudaraku,
ketika lembaran surat pengunduran diri itu akhirnya ditandatangani, mungkin ada
sedikit getar di hati tentang hari esok. Namun, di saat itulah imanmu sedang
diuji untuk benar-benar meyakini satu nama Alloh yang Agung: Ar-Rozzaq (Yang
Maha Pemberi Rizqi). Selama ini, mungkin secara tidak sadar kita merasa
bank-lah yang memberi kita penghidupan, atau posisi jabatanlah yang menjamin
kenyamanan kita. Hijroh ini adalah momen untuk memurnikan Tauhid, bahwa rizqi
tidak pernah tertukar dan tidak akan pernah terputus selama nafas masih
dikandung badan.
Alloh telah
menetapkan jatah rizqi setiap makhluk-Nya jauh sebelum mereka dilahirkan ke
dunia. Dia berfirman untuk menenangkan hati kita:
﴿وَمَا
مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا
وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ﴾
Dan tidak
ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Alloh-lah yang memberi rizqinya,
dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya.
Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Hud: 6)
Jika cicak
yang hanya merayap di dinding mendapatkan makanannya berupa hewan bersayap, dan
burung di langit tercukupi kebutuhannya berupa ikan di laut, maka bagaimana
mungkin Alloh akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang meninggalkan keharoman demi
mencari ridho-Nya? Keyakinan inilah yang harus menjadi fondasi barumu. Rizqi
itu datang dari langit, dan pekerjaan hanyalah wasilah (perantara). Ketika satu
pintu wasilah tertutup karena kita ingin menjaga kesucian diri, yakinlah Sang
Maha Pemberi Rizqi akan membukakan pintu-pintu lain yang jauh lebih luas.
Nabi ﷺ memberikan wasiat yang sangat mendalam kepada Ibnu Abbas yang
juga berlaku untuk kita semua:
«وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ
بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ»
Dan
ketahuilah, sekiranya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat,
mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah
ditetapkan Alloh untukmu. (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)
Maka,
janganlah takut kehilangan “manfaat” dari sebuah instansi, karena jika Alloh
telah menetapkan rizqi itu milikmu, ia akan sampai kepadamu melalui jalan yang
tak terduga.
2:
Indahnya Hidup Sederhana dalam Naungan Ketaqwaan
Mungkin
setelah resign, akan ada penyesuaian gaya hidup. Nominal yang masuk
mungkin tidak sebesar dahulu, atau fasilitas yang dinikmati tidak semewah
sebelumnya. Namun, di sinilah engkau akan menemukan keindahan yang selama ini
hilang: kebercukupan (qona’ah). Hidup sederhana namun tenang, tanpa
bayang-bayang bunga riba dan tanpa beban perasaan bersalah, adalah sebuah
kemewahan yang tak ternilai harganya. Sederhana bukan berarti kekurangan,
melainkan cerdas dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Alloh
memuji hamba-hamba-Nya yang pertengahan dalam menjalani hidup:
﴿وَالَّذِينَ
إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا﴾
Dan
orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan
tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang
demikian. (QS. Al-Furqon: 67)
Dalam
kesederhanaan, seringkali Alloh menitipkan Rohmat yang besar. Waktu yang dulu
habis untuk mengejar target kantor, kini bisa digunakan untuk menemani anak
menghafal Al-Quran atau sekadar bercengkerama dengan orang tua. Makanan yang
dibeli dari harta yang seratus persen halal akan memberikan energi ketaatan
yang berbeda bagi raga kita.
Rosululloh ﷺ bersabda tentang keberuntungan orang yang memiliki sifat ini:
«قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ»
Sungguh
sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizqi yang cukup, dan
Alloh menjadikannya merasa puas (qona’ah) dengan apa yang telah
diberikan-Nya. (HR. Muslim no. 1054)
Ketenangan
batin itu letaknya bukan di luasnya rumah, tapi di luasnya rasa syukur. Ketika
kau merasa cukup dengan yang halal, maka dunia dan seisinya seolah berada dalam
genggamanmu.
3:
Menemukan Kedamaian Hati Setelah Melepas Rantai Riba
Saudaraku,
perasaan lega yang kau rasakan setelah benar-benar terlepas dari sistem riba
adalah ni’mat yang luar biasa. Ibarat seseorang yang baru saja melepaskan beban
berat dari punggungnya, atau burung yang baru keluar dari sangkar besi.
Kegelisahan yang selama ini menghantui, rasa was-was setiap kali menerima gaji,
kini berganti dengan kedamaian yang menghunjam ke dalam qalbu. Engkau kini bisa
berdiri tegak di hadapan Robb-mu dalam Sholatmu, tanpa ada rasa mengganjal di
hati.
Inilah
janji Alloh tentang ketenangan bagi mereka yang beriman dan beramal sholih:
﴿الَّذِينَ
آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ
تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
(Yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram. (QS.
Ar-Ro’d: 28)
Ketenangan
yang sejati tidak bisa didapatkan dari tumpukan harta yang didapat dengan cara
yang Alloh benci. Ia hanya hadir saat seorang hamba merasa selaras dengan
aturan Penciptanya. Setelah kau melangkah keluar, kau akan menyadari bahwa “rizqi”
bukan hanya soal uang, tapi juga soal tidur yang nyenyak, doa yang mudah
terijabah, dan hati yang selalu rindu kepada kebaikan.
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kebaikan itu membawa ketenangan, sedangkan
dosa membawa kegelisahan:
«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ
أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ»
Kebajikan
itu adalah akhlaq yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang mengganjal di
hatimu dan engkau benci jika orang lain mengetahuinya. (HR. Muslim no. 2553)
Sekarang,
ganjalan itu telah sirna. Engkau telah memilih untuk memuliakan Alloh di atas
segalanya, maka Alloh pun akan memuliakanmu dengan ketenangan yang tidak bisa
dirasakan oleh mereka yang masih terbelenggu dalam syubhat. Selamat menikmati
fajar baru dalam kehidupanmu yang penuh barokah.
PENUTUP
Saudaraku
yang kucintai karena Alloh, jika hari ini engkau telah memantapkan hati, atau
setidaknya telah menanamkan niat yang kuat untuk melangkah keluar dari jeratan
riba, maka ketahuilah bahwa saat ini para Malaikat sedang mencatat sebuah
kemenangan besar di dalam jiwamu. Hijrohmu bukan sekadar perpindahan gedung
tempat bekerja, melainkan sebuah pernyataan cinta yang paling jujur kepada Robb
yang telah menciptakanmu.
Mungkin di
luar sana, dunia akan memandangmu dengan penuh tanya. Mungkin ada rekan atau
kerabat yang menyayangkan keputusanmu, menganggapmu membuang peluang emas, atau
bahkan menyebutmu tidak realistis di tengah sulitnya mencari pekerjaan. Namun,
biarlah dunia berkata apa saja, karena engkau sedang tidak mencari ridho
manusia. Engkau sedang berjalan menuju satu tujuan yang jauh lebih mulia dan
abadi. Engkau sedang melangkah keluar dari pintu bank dengan wajah yang mantap
menghadap ke arah Jannah.
Ingatlah
selalu firman Alloh yang menjadi pelipur lara bagi setiap pengelana yang
mencari kebenaran:
﴿وَالَّذِينَ
جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ
لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ﴾
Dan orang-orang
yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan
kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Alloh benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69)
Alloh tidak
pernah berjanji bahwa jalan ini akan selalu bertabur bunga, namun Dia berjanji
akan menyertaimu. Jika satu jalan tertutup, Dia akan menunjukkan jalan-jalan
yang lain. Perjuanganmu menahan keinginan hawa nafsu dan ketakutan akan masa
depan adalah bentuk Jihad yang sangat dicintai-Nya. Jangan pernah merasa
sendirian, karena Pencipta Langit dan Bumi berada di pihakmu selama engkau
berada di atas kebenaran.
Saudaraku,
masa-masa awal setelah resign mungkin akan menjadi masa pembuktian iman.
Terkadang syaithon akan datang kembali membisikkan keraguan saat tabungan mulai
menipis. Di saat seperti itu, kembalilah sujud. Ingatlah bahwa dunia ini hanya
sementara, dan setiap kesempitan yang kau lalui karena taat kepada-Nya akan
menjadi simpanan ni’mat yang luar biasa di Akhiroh. Tidak ada pengorbanan yang
sia-sia di hadapan Alloh. Setiap rupiah yang kau relakan demi menjauhi riba
akan diganti dengan ketenangan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Sebagaimana
sabda Rosululloh ﷺ yang menguatkan jiwa:
«طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
Beruntunglah
orang-orang yang asing. (HR. Muslim no. 145)
Engkau
mungkin merasa “asing” di tengah arus gaya hidup modern yang menghalalkan
segala cara, namun “asing” di mata manusia adalah kemuliaan di mata penduduk
langit. Teruslah berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadits. Jadikan ketaqwaan
sebagai bekal utamamu, karena ketaqwaan adalah sebaik-baik pakaian dan
perhiasan bagi seorang Mu’min.
Akhir kata,
saya memohon kepada Alloh Yang Maha Membolak-balikkan Hati, agar senantiasa
meneguhkan hatimu di atas ketaatan. Semoga Alloh memberkahi setiap langkahmu,
mencukupkan kebutuhan keluargamu dengan harta yang paling suci, dan kelak
mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya yang seluas langit dan bumi, tanpa
hisab dan tanpa adzab. Melangkahlah dengan tenang, saudaraku. Alloh bersamamu,
dan masa depan yang penuh barokah telah menantimu di depan sana. Walhamdulillahirobbil
‘alamin.[]
