Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Resign dari Bank dengan Hati - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang menggenggam setiap hati hamba-Nya dan mengatur setiap butir rizqi yang turun dari langit ke bumi. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah Rosululloh , teladan agung yang telah menunjukkan jalan keselamatan dari gelapnya zholim menuju terangnya iman.

Saudaraku yang kucintai karena Alloh, tulisan ini hadir bukan untuk menghakimi, bukan pula untuk menyudutkan langkah kaki yang setiap pagi menyusuri koridor gedung-gedung megah itu. Saya memahami dengan sangat dalam bahwa di balik seragam rapi dan senyum profesional yang kau tampilkan, terkadang ada gemuruh kecil di dasar kalbu. Ada sebuah tanya yang seringkali muncul saat sujud panjangmu di sepertiga malam, atau saat kau memandangi wajah buah hatimu yang sedang terlelap. Sebuah tanya tentang makna keberkahan, tentang hakikat pengabdian, dan tentang ke mana arah langkah ini akan bermuara di Akhiroh kelak.

Sungguh, mencari nafkah adalah ibadah yang mulia. Setiap peluh yang menetes demi memberi makan keluarga adalah pemberat timbangan kebaikan. Namun, sebagai seorang Mu’min yang merindukan Jannah, kita tentu menyadari bahwa syariat Islam telah memberikan batasan yang indah demi menjaga keselamatan jiwa dan harta kita. Kita diingatkan oleh Alloh dalam Al-Quran:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan tinggalkan sisa riba jika kamu adalah orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqoroh: 278)

Ayat ini adalah panggilan cinta dari Robb kita. Panggilan yang mengajak kita untuk merenung sejenak di tengah hiruk pikuk target bulanan dan laporan keuangan. Apakah harta yang kita bawa pulang ke rumah benar-benar akan menjadi daging yang menumbuhkan kebaikan, ataukah justru menjadi penghalang bagi doa-doa kita untuk menembus langit?

Saya tahu, keputusan untuk beranjak tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada cicilan yang harus dibayar, ada biaya sekolah anak yang terus merangkak naik, dan ada ekspektasi keluarga yang terpikul di pundakmu. Alloh Maha Mengetahui setiap kegelisahan itu. Dia tidak melihat hanya pada hasil akhir, tetapi Dia melihat setiap tetes air mata dan usaha kerasmu dalam menjauhi apa yang dilarang-Nya. Tidak ada dosa bagi seseorang yang saat ini masih berada di sana namun hatinya telah membenci riba dan sudah berniat kuat untuk Hijroh dan tengah berikhtiar mencari pintu rizqi yang lain. Berikan dirimu ruang untuk bernapas, berikan dirimu waktu untuk mencari sandaran baru, sembari terus memohon ampunan dan petunjuk-Nya.

Ingatlah sabda Nabi yang menyejukkan hati:

«إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»

Sungguh, tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena Alloh ‘Azza wa Jalla, melainkan Alloh akan menggantikannya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik bagimu darinya. (HSR. Ahmad no. 23074)

Buku ini bukan sekadar deretan dalil, melainkan teman bicara bagi hatimu yang sedang bimbang. Kita akan berjalan perlahan, memahami mengapa riba begitu dijauhi dalam Islam, namun juga memberikan pelukan hangat bagi kamu yang sedang berjuang di masa transisi. Kita akan belajar bersama bagaimana merajut keyakinan bahwa rizqi itu bukan datang dari bank, bukan dari atasan, melainkan dari Alloh Ar-Rozzaq.

Saudaraku, mari kita buka lembaran ini dengan kejujuran pada diri sendiri. Jika hari ini hatimu terasa berat, jika hari ini ada rasa tidak tenang saat menerima gaji, mungkin itu adalah tanda cinta dari Alloh. Dia ingin menarikmu kembali ke dekapan-Nya yang lebih luas. Dia ingin menyucikan hartamu agar menjadi wasilah bagimu untuk meraih ni’mat di dunia dan keselamatan di Akhiroh. Mari kita mulai perjalanan pulang ini dengan penuh harap, karena sesungguhnya rohmat Alloh jauh lebih luas daripada segala ketakutan kita akan hari esok.

BAB 1: MENGENAL MAKNA KEBERKAHAN DALAM SETIAP RUPIAH

1: Mencari Ridho Alloh dalam Setiap Lelah

Saudaraku, setiap pagi kita melangkah keluar rumah dengan satu niat yang sama: menjemput rizqi demi kelangsungan hidup dan kebahagiaan orang-orang tercinta. Lelah yang kita rasakan, penat yang menghinggapi raga setelah seharian bekerja, sesungguhnya memiliki kedudukan yang mulia jika disandarkan pada niat yang benar. Islam tidak pernah melarang pemeluknya untuk menjadi kaya atau bekerja keras; justru Islam memotivasi setiap Muslim untuk menjadi kuat secara ekonomi agar dapat memberi manfaat lebih luas. Namun, di atas semua kerja keras itu, ada satu tujuan puncak yang tidak boleh terabaikan, yaitu meraih ridho Alloh.

Ridho Alloh adalah standar utama dalam setiap jengkal aktivitas kita. Pekerjaan bukan sekadar sarana untuk mengumpulkan angka di buku tabungan, melainkan sebuah bentuk peribadatan. Ketika kita menyadari bahwa setiap rupiah yang masuk ke kantong kita akan ditanya dari mana didapatkan dan untuk apa dibelanjakan, maka kita akan lebih berhati-hati. Kita tidak ingin lelah yang kita rasakan hanya berujung pada keletihan fisik tanpa nilai pahala di sisi-Nya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Alloh dan Rosul-Nya serta orang-orang Mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Alloh) Yang Mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah: 105)

Pesan ini mengingatkan kita bahwa setiap pekerjaan kita sedang “diawasi” oleh Sang Pencipta. Pandangan Alloh terhadap pekerjaan kita bukan sekadar pada profesionalitasnya, melainkan pada kehalalan jalannya. Bayangkan betapa indahnya jika lelah kita di dunia ini disambut dengan senyuman ridho dari-Nya di Akhiroh kelak. Oleh karena itu, mari kita tanyakan pada diri sendiri di sela-sela kesibukan kantor: “Apakah lelahku hari ini membuat Alloh tersenyum, ataukah justru menjauhkan aku dari Rohmat-Nya?”

Nabi memberikan kabar gembira bagi siapa yang bekerja dengan jujur dan baik melalui sabdanya:

«مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ»

Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik daripada memakan makanan dari hasil usaha tangannya sendiri (yang halal). Dan sungguh Nabi Alloh Dawud ‘alaihis salam dahulu selalu makan dari hasil usaha tangannya sendiri. (HR. Al-Bukhori no. 2072)

«مَنْ أَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُورًا لَهُ»

Siapa yang pada sore hari merasa lelah karena amal usaha tangannya sendiri, maka ia pada sore itu diampuni dosanya. (HR. Ath-Thobaroni dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 7520)

Betapa besarnya kasih sayang Alloh. Dia menjadikan rasa capek kita sebagai penggugur dosa. Namun, tentu saja ampunan ini berkaitan erat dengan usaha yang dijalankan di atas rel yang diridhoi-Nya. Jika kita merasa pekerjaan saat ini masih berada di zona yang abu-abu, janganlah berputus asa. Gunakan rasa lelah itu sebagai pemicu untuk terus berdoa agar Alloh segera membukakan jalan menuju pekerjaan yang seratus persen bersih, sehingga setiap tetes keringat kita benar-benar menjadi saksi pengampunan dosa di hari Kiamat.

2: Perbedaan Antara Kelimpahan Harta dan Keberkahan Harta

Seringkali kita terjebak dalam angka. Kita merasa bahwa semakin besar nominal gaji, maka semakin terjamin pula kebahagiaan kita. Padahal, dalam kacamata iman, ada variabel yang jauh lebih penting daripada jumlah, yaitu keberkahan. Berkah artinya ziyadatul khoir atau bertambahnya kebaikan. Harta yang berkah, meskipun jumlahnya mungkin terlihat sedikit secara matematik, ia mampu mencukupi kebutuhan, menghadirkan ketenangan di dalam rumah, membuat anak-anak tumbuh menjadi sholih, dan pemiliknya selalu merasa cukup (qona’ah).

Sebaliknya, harta yang tidak berkah, sebanyak apa pun jumlahnya, seringkali terasa cepat menguap tanpa bekas yang bermanfaat. Ia mungkin habis untuk biaya pengobatan yang tak terduga, perbaikan barang yang terus rusak, atau gaya hidup yang tak pernah puas yang justru menjauhkan pelakunya dari ibadah. Di sinilah letak perenungan kita: untuk apa mengejar kelimpahan jika di dalamnya tidak ada keberkahan? Apa gunanya gaji besar jika hati selalu merasa was-was dan rumah tangga terasa gersang dari cahaya ketaqwaan?

Alloh menceritakan tentang bagaimana Dia mencabut keberkahan dari jalan yang salah dan menumbuhsuburkan ketaqwaan:

﴿يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. (QS. Al-Baqoroh: 276)

Kata yamhaqu dalam ayat ini berarti menghapus atau melenyapkan. Bisa jadi hartanya masih ada secara fisik, namun manfaat dan ketenangannya dicabut oleh Alloh. Kita tentu tidak ingin mengumpulkan harta yang seperti fatamorgana; terlihat indah dari jauh namun tidak bisa menghilangkan dahaga di hati.

Dalam sebuah Hadits yang sangat masyhur, Nabi menjelaskan hakikat kekayaan yang sesungguhnya:

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

Kekayaan itu bukanlah dari banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati. (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Kekayaan hati inilah yang lahir dari keberkahan. Saat kita bekerja di tempat yang bersih dari unsur riba, hati kita akan merasa tenang meskipun mungkin kita harus menyesuaikan kembali gaya hidup. Ketenangan saat memakan sesuap nasi yang benar-benar halal jauh lebih lezat daripada hidangan mewah yang didapat dari jalan yang penuh keraguan. Saudaraku, keberkahan adalah kunci. Jika saat ini kau merasa hartamu seolah “cepat habis” atau “tidak membahagiakan”, mungkin ini saatnya kita memeriksa kembali sumbernya dengan penuh kejujuran.

3: Menjaga Fithroh Mu’min dari Syubhat

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fithroh, yaitu kecenderungan kepada kebenaran dan kesucian. Sebagai seorang Mu’min, fithroh kita sebenarnya memiliki “radar” alami terhadap hal-hal yang tidak baik. Pernahkah kau merasa ada getaran tidak nyaman di hati saat memproses transaksi tertentu? Atau ada rasa berat saat harus menjelaskan produk yang mengandung unsur bunga? Itulah sinyal dari fithrohmu yang sedang berbicara.

Di dunia perbankan, batas antara yang jelas halalnya dan yang jelas haromnya seringkali tertutup oleh istilah-istilah teknis yang rumit. Inilah yang disebut dengan syubhat atau sesuatu yang samar. Nabi telah mewanti-wanti kita agar sangat berhati-hati terhadap wilayah abu-abu ini, karena siapa yang terbiasa bermain di pinggir jurang syubhat, dikhawatirkan ia akan terperosok ke dalam yang harom.

Alloh mengingatkan kita untuk selalu mengonsumsi yang tidak hanya baik secara fisik, tapi juga baik secara syar’i:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon; karena sungguh syaithon itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqoroh: 168)

Mencari yang halalan thoyyiban adalah perjuangan untuk menjaga fithroh. Syaithon seringkali membisikkan bahwa “semua orang juga melakukan ini” atau “ini kan cuma tuntutan pekerjaan”. Namun, seorang Mu’min yang cerdas akan berusaha menjaga diri agar tidak terjebak dalam langkah-langkah tersebut.

Perhatikan pesan mendalam dari Rosululloh tentang pentingnya menjaga diri dari perkara yang samar:

«الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ»

Yang halal itu jelas dan yang harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka siapa yang menjaga diri dari syubhat, sungguh ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)

Menjaga kehormatan agama berarti memastikan bahwa tidak ada satu pun yang harom masuk ke dalam perut kita dan keluarga kita. Menjaga fithroh memang membutuhkan keberanian, terutama saat lingkungan sekitar menganggap hal tersebut biasa saja. Namun yakinlah, ketika kau berusaha menjauhi syubhat demi menjaga kemurnian agamamu, Alloh tidak akan membiarkanmu sendirian. Dia akan memberikan cahaya di hatimu yang membimbingmu menuju jalan keluar yang lebih mulia.

Tetaplah berhusnudzhon kepada Alloh. Jika saat ini kau masih harus berada di sana karena keadaan dhorurot yang mendesak, tetaplah jaga hatimu agar tidak mencintai pekerjaan tersebut. Teruslah berikhtiar mencari pelabuhan baru yang lebih tenang dan diridhoi. Karena sungguh, menjaga fithroh adalah perjalanan seumur hidup menuju perjumpaan yang indah dengan Robb kita.

BAB 2: MEMAHAMI HAKIKAT RIBA DAN PEKERJAAN DI DALAMNYA

1: Mengapa Alloh Mengharomkan Riba

Saudaraku yang dirohmati Alloh, terkadang kita bertanya dalam hati dengan penuh rasa ingin tahu, mengapa sistem yang tampak begitu mapan dan menjadi tulang punggung ekonomi dunia saat ini justru dilarang dengan keras dalam agama kita? Islam adalah agama yang sempurna, dan setiap larangannya pasti mengandung maslahat bagi manusia, baik mereka menyadarinya atau tidak. Riba diharamkan karena ia mengandung unsur kezholiman. Ia adalah sistem yang membuat yang kaya semakin kuat tanpa bekerja, sementara yang lemah semakin terhimpit oleh beban tambahan yang terus berbunga.

Riba merusak tatanan persaudaraan manusia. Di saat seseorang sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan pinjaman, riba justru datang untuk mengambil keuntungan dari kesempitan tersebut. Padahal, ruh dari pinjam-meminjam dalam Islam adalah ta’awun atau tolong-menolong, bukan komersialisasi utang. Alloh ingin agar harta berputar di antara semua kalangan, bukan hanya berhenti di tangan segelintir orang saja. Ketegasan Alloh dalam hal ini sangat jelas, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya:

﴿الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithon lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharomkan riba. (QS. Al-Baqoroh: 275)

Ayat ini adalah cermin bagi kita semua. Alloh membedakan dengan sangat tegas antara perniagaan yang sehat dengan praktik riba. Jual beli mengandung risiko dan usaha, sedangkan riba adalah keuntungan pasti di atas penderitaan orang lain. Dengan memahami hakikat ini, kita mulai menyadari bahwa larangan ini bukan untuk membatasi ruang gerak kita, melainkan untuk melindungi hati kita dari sifat thoma’ (serakah) dan melindungi masyarakat dari ketimpangan yang zholim.

Nabi juga mengingatkan kita bahwa riba adalah salah satu dari tujuh dosa besar yang menghancurkan. Beliau bersabda:

«اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ... (وَمِنْهَا) وَأَكْلُ الرِّبَا»

Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan... (salah satunya adalah) memakan riba. (HR. Al-Bukhori no. 2766 dan Muslim no. 89)

Ketika kita mengetahui bahwa sesuatu itu membinasakan, maka peringatan itu sebenarnya adalah bentuk kasih sayang dari Rosululloh agar kita tidak terjerumus ke dalam jurang yang sama. Ini adalah undangan bagi kita untuk kembali ke jalan ekonomi yang barokah dan penuh dengan keridhoan.

2: Ancaman Perang dari Alloh dan Rosul bagi Pelaku Riba

Mungkin di antara sekian banyak larangan dalam Islam, tidak ada yang mendapatkan ancaman sekeras ancaman terhadap riba. Jika dosa-dosa lain seringkali dibalas dengan ancaman Naar secara umum, khusus untuk riba, Alloh memberikan peringatan berupa “maklumat perang”. Tentu kita tidak bisa membayangkan, bagaimana mungkin seorang hamba yang lemah, yang nafasnya berada dalam genggaman Robb-nya, sanggup menghadapi peperangan melawan Penguasa Alam Semesta dan Rosul-Nya?

Ancaman ini bukan bermaksud menakut-nakuti tanpa alasan, melainkan untuk menunjukkan betapa buruknya dampak riba bagi kehidupan spiritual seorang Mu’min. Peperangan ini bisa mewujud dalam bentuk hilangnya ketenangan batin, rusaknya keberkahan dalam keluarga, hingga tertutupnya pintu-pintu hidayah. Alloh berfirman dengan sangat tegas:

﴿فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Alloh dan Rosul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak berbuat zholim dan tidak (pula) dizholimi. (QS. Al-Baqoroh: 279)

Saudaraku, bacalah ayat ini dengan hati yang luruh. Adakah yang lebih menyedihkan daripada hidup di dunia ini sementara Pencipta kita sedang menyatakan perang kepada kita? Namun perhatikanlah akhir ayat tersebut, Alloh membuka pintu taubat yang begitu lebar. Dia tidak meminta kita untuk kehilangan harta pokok kita, Dia hanya meminta kita berhenti dari kezholiman riba. Ini adalah tawaran perdamaian yang sangat indah dari Alloh untuk kita semua yang ingin kembali.

Dalam sebuah Hadits yang sangat menggetarkan, Nabi menggambarkan betapa ngerinya dosa riba bahkan dalam tingkatannya yang paling ringan:

«الرِّبَا سَبْعُونَ حُوبًا، أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ»

Riba itu memiliki tujuh puluh tingkatan dosa, yang paling ringannya adalah seperti seseorang yang menikahi (berzina dengan) ibu kandungnya sendiri. (HSR. Ibnu Majah no. 2274)

Hadits ini merupakan tamparan keras bagi fithroh kita. Mengapa digambarkan seburuk itu? Karena riba merusak sendi-sendi kemanusiaan sebagaimana perbuatan keji tersebut merusak kemuliaan nasab dan keluarga. Dengan mengetahui betapa beratnya perkara ini, mari kita kuatkan tekad dalam hati: “Ya Alloh, aku tidak ingin berada dalam barisan yang Engkau perangi. Berilah aku jalan keluar agar aku bisa mencari ridho-Mu dengan tenang.”

3: Kedudukan Pegawai Bank dalam Tinjauan Hadits Nabi

Inilah bagian yang paling berat untuk kita diskusikan, namun harus kita hadapi dengan kejujuran intelektual dan keimanan. Seringkali muncul alasan bahwa “saya kan hanya bekerja di bagian administrasi”, “saya tidak memakan bunganya”, atau “saya hanya menjalankan sistem”. Namun, dalam syariat Islam, sebuah kemungkaran yang sistemik melibatkan semua pihak yang membantu terselenggaranya kemungkaran tersebut.

Alloh memerintahkan kita untuk saling membantu dalam kebaikan, bukan dalam perbuatan dosa:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sungguh Alloh amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini menjadi dasar bahwa setiap peran yang kita ambil dalam sebuah ekosistem pekerjaan akan dimintai pertanggung-jawaban. Meskipun kita tidak menikmati secara langsung bunga riba tersebut, namun jika keberadaan kita menjadi salah satu mata rantai yang memperlancar proses riba, maka kita ikut memikul beban tanggung jawabnya. Ini adalah kenyataan yang pahit, namun mengetahuinya sekarang jauh lebih baik daripada mengetahuinya saat semua sudah terlambat di hari perhitungan.

Ketegasan mengenai hal ini secara spesifik disebutkan dalam Hadits:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: «هُمْ سَوَاءٌ»

Rosululloh melaknat pemakan riba, yang memberikannya, penulisnya, dan dua orang saksinya. Beliau bersabda: “Mereka semua itu sama.” (HR. Muslim no. 1598)

Kata “laknat” berarti dijauhkan dari Rohmat Alloh. Dan kalimat “mereka semua itu sama” menunjukkan bahwa peran sebagai pencatat (penulis) atau bagian pendukung lainnya memiliki beban dosa yang serupa dalam transaksi tersebut.

Namun saudaraku, janganlah kabar ini membuatmu putus asa dari Rohmat Alloh. Jika saat ini kau masih duduk di kursi itu, pandanglah ini sebagai peringatan kasih sayang. Alloh masih memberimu nafas dan waktu untuk berencana. Dia tahu hatimu tidak tenang. Dia tahu kau ingin keluar. Mulailah dengan membenci perbuatan tersebut di dalam hati, lalu iringi dengan doa yang tulus: “Ya Robb, aku mengakui kelemahanku, aku ingin menjauh dari laknat-Mu, mudahkanlah jalanku untuk mendapatkan pekerjaan yang Engkau ridhoi.” Ingatlah, pintu taubat senantiasa terbuka bagi siapa yang mau melangkah mendekat.

BAB 3: DILEMA ANTARA KEBUTUHAN DAN KETAQWAAN

1: Memahami Beratnya Langkah Kaki Saat Menanggung Nafkah Keluarga

Saudaraku, saya sangat memahami bahwa di balik keinginan kuatmu untuk Hijroh, ada kenyataan hidup yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Engkau adalah tulang punggung keluarga, sosok yang diandalkan untuk menyediakan tempat tinggal yang layak, makanan yang bergizi, serta pendidikan terbaik bagi anak-anakmu. Terkadang, rasa takut akan masa depan ekonomi keluarga terasa lebih menghimpit daripada kegelisahan hati itu sendiri. Ada kekhawatiran: “Jika aku berhenti hari ini, bagaimana dengan susu anakku esok hari? Bagaimana dengan orang tuaku yang membutuhkanku?”

Ketahuilah, Alloh Maha Mendengar rintihan hati hamba-Nya yang sedang terjepit di antara dua pilihan sulit. Islam tidak memerintahkan kita untuk menjadi hamba yang ceroboh atau mengabaikan amanah nafkah. Justru, rasa tanggung jawabmu terhadap keluarga adalah sebuah kemuliaan di mata Alloh. Dia tidak akan membiarkan seorang hamba yang berusaha bertaqwa jatuh ke dalam kesengsaraan tanpa pertolongan-Nya. Alloh meyakinkan kita melalui firman-Nya:

﴿وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

Janji ini bagaikan “hujan” bagi jiwamu yang sedang terombang-ambing. “Jalan keluar” dan “rizqi yang tidak disangka” seringkali hadir setelah kita menunjukkan kesungguhan dalam bertaqwa. Jangan biarkan syaithon menakut-nakutimu dengan kemiskinan, karena sungguh Alloh lebih kaya dari segala institusi yang ada di dunia ini. Lakukanlah tugasmu saat ini dengan penuh rasa tanggung jawab sembari terus mengetuk pintu langit, memohon agar Alloh segera mengganti sumber nafkahmu dengan yang lebih bersih.

Rosululloh juga mengingatkan kita bahwa setiap nafkah yang diberikan dengan tulus memiliki nilai Shodaqoh yang besar:

«إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ»

Jika seorang lelaki memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Alloh, maka nafkah itu bernilai Shodaqoh baginya. (HR. Al-Bukhori no. 55 dan Muslim no. 1002)

Bayangkan betapa besarnya pahala yang kau kumpulkan setiap hari. Oleh karena itu, janganlah merasa rendah diri karena keadaanmu saat ini. Teruslah berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga, sembari secara bertahap memindahkan “perahu” kehidupanmu ke dermaga yang lebih aman dan berkah.

2: Berikhtiar Mencari yang Halal Sembari Berdoa

Saudaraku, Hijroh seringkali bukan tentang sebuah lompatan besar yang instan, melainkan tentang langkah-langkah kecil yang konsisten. Jika saat ini engkau merasa belum mampu untuk langsung mengundurkan diri karena adanya kebutuhan dhorurot (darurat) yang nyata, maka janganlah berputus asa. Islam adalah agama yang penuh kemudahan dan memahami kondisi hambanya. Yang terpenting adalah hatimu tidak lagi merasa nyaman di sana, dan lisanmu tidak berhenti memohon ampun serta tanganmu tidak berhenti mencari peluang baru.

Manfaatkan waktu yang ada sebagai masa transisi. Mulailah membangun keahlian baru, mencari jejaring di luar dunia perbankan, atau merintis usaha kecil-kecilan. Masa ini adalah saat di mana engkau “menabung” keberanian dan persiapan. Alloh memerintahkan kita untuk tidak berputus asa dari Rohmat-Nya, meskipun kita merasa sedang berada di tempat yang salah:

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari Rohmat Alloh. Sungguh Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini adalah pelukan bagi jiwamu. Selama engkau masih berniat untuk keluar dan sedang berusaha, maka engkau berada dalam pantauan kasih sayang-Nya. Gunakan setiap waktu luangmu untuk mengetuk pintu rizqi yang lain. Perbanyaklah doa di waktu-waktu mustajab, karena hati manusia dan segala urusan dunia ini berada di tangan Alloh.

Nabi mengajarkan sebuah doa yang sangat indah untuk memohon kelapangan rizqi yang halal:

«اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ»

Ya Alloh, cukupkanlah aku dengan kehalalan-Mu dari keharoman-Mu, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu. (HSR. At-Tirmidzi no. 3563)

Bacalah doa ini dengan penuh keyakinan di setiap akhir Sholatmu. Yakinlah bahwa Alloh tidak akan menyia-nyiakan hamba yang ingin menyucikan dirinya. Masa transisimu ini adalah ujian kesabaran, dan setiap detik usahamu untuk mencari yang halal akan dicatat sebagai Jihad di jalan-Nya.

3: Janji Alloh Bagi Siapa yang Meninggalkan Sesuatu Karena-Nya

Puncak dari segala dilema ini adalah kepercayaan. Apakah kita lebih percaya pada angka-angka di atas kertas, atau kita lebih percaya pada janji Pencipta Alam Semesta? Meninggalkan sesuatu yang sudah memberikan zona nyaman secara finansial tentu membutuhkan iman yang kokoh. Namun, sejarah para Salaf dan orang-orang sholih telah membuktikan bahwa tidak ada satu pun orang yang merugi karena memilih ketaatan kepada Alloh di atas segalanya.

Alloh menjanjikan keluasan bagi mereka yang berani melangkah meninggalkan bumi yang sempit menuju bumi Alloh yang luas:

﴿وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

Siapa yang berhijroh di jalan Alloh, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat Hijroh yang luas dan rizqi yang banyak. (QS. An-Nisa: 100)

Kata muroghoman dalam ayat ini berarti tempat pelarian atau peluang yang sangat banyak. Seringkali, peluang itu tertutup pandangan kita hanya karena kita belum berani melepaskan genggaman pada yang lama. Begitu tangan kita lepas dari yang harom atau syubhat, Alloh akan membukakan pintu-pintu yang selama ini tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Sebagaimana disebutkan di awal, sabda Rosululloh ini harus terus terpatri dalam ingatanmu:

«إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»

Sungguh, tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena Alloh ‘Azza wa Jalla, melainkan Alloh akan menggantikannya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik bagimu darinya. (HSR. Ahmad no. 23074)

“Lebih baik” dalam Hadits ini tidak selalu berarti nominal yang lebih besar secara materi, meskipun itu sangat mungkin terjadi. Namun, “lebih baik” bisa berarti hati yang tenang, keluarga yang harmonis, anak-anak yang sholih, dan waktu yang lebih berkah untuk beribadah. Bukankah ketenangan hati adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan gaji setinggi apa pun? Percayalah pada janji-Nya, karena Alloh tidak pernah memungkiri janji. Langkahmu untuk resign dengan hati adalah langkah menuju pelukan Rohmat-Nya yang tak bertepi.

BAB 4: MERENUNGKAN KESENGSARAAN PARA KORBAN BANK

1: Melihat Air Mata di Balik Jeratan Hutang yang Berbunga

Saudaraku, mari sejenak kita menanggalkan seragam kerja kita dan keluar dari balik meja kantor yang nyaman untuk melihat realitas di tengah masyarakat. Sebagai orang yang berada di dalam sistem, terkadang kita hanya melihat angka, target, dan kolektibilitas. Namun, pernahkah kita merenungkan bahwa di balik angka-angka yang kita proses itu, ada air mata kepala keluarga yang tidak bisa tidur karena rumahnya terancam disita? Ada para ibu yang gemetar setiap kali mendengar suara ketukan pintu, khawatir itu adalah penagih utang yang datang dengan wajah garang.

Riba bukan sekadar soal bunga satu atau dua persen; riba adalah penghancur kedamaian rumah tangga. Banyak saudara kita yang awalnya hanya meminjam untuk kebutuhan mendesak, namun karena sistem bunga berbunga, hutang tersebut menjadi jeratan yang tak kunjung usai. Mereka terjebak dalam lingkaran syaithon yang membuat mereka kehilangan harta, harga diri, bahkan iman. Alloh Ta’ala telah memperingatkan kita akan kezholiman ini:

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Alloh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zholim. Sungguh Alloh menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS. Ibrohim: 42)

Ketika kita menjadi bagian dari sistem yang menghimpit orang miskin dan mengambil keuntungan dari kesempitan orang lain, kita harus bertanya pada nurani: “Sanggupkah aku mempertanggungjawabkan setiap kesedihan mereka di hadapan Alloh kelak?” Kesengsaraan para korban ini adalah bukti nyata mengapa Alloh mengharomkan riba dengan begitu keras.

Nabi selalu memohon perlindungan dari lilitan hutang yang menghancurkan martabat manusia:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ»

Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan dari lilitan hutang. (HR. Al-Bukhori no. 832 dan Muslim no. 589)

Jika Rosululloh saja memohon perlindungan dari hutang, bagaimana mungkin kita merasa tenang bekerja di tempat yang justru memfasilitasi dan mendorong manusia untuk terus berhutang dengan cara yang zholim?

2: Kehancuran Sosial Akibat Sistem yang tidak Berpihak Pada Si Miskin

Sistem riba menciptakan jurang pemisah yang sangat dalam antara si kaya dan si miskin. Dalam sistem bank, uang seolah hanya berputar di kalangan mereka yang sudah memiliki aset, sementara mereka yang kecil dipaksa untuk terus membayar lebih dari yang mereka terima. Hal ini memicu berbagai masalah sosial: perceraian karena tekanan ekonomi, anak-anak yang putus sekolah karena harta orang tuanya habis tersedot bunga, hingga tindakan kriminal yang lahir dari keputusasaan.

Alloh mengingatkan agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja:

﴿كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ

... supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (QS. Al-Hasyr: 7)

Sistem bank yang kita jalani saat ini justru seringkali melakukan hal yang sebaliknya. Ia mengambil tetes keringat orang kecil untuk menambah pundi-pundi para pemilik modal. Merenungkan hal ini seharusnya membuat hati kita merasa perih. Apakah kita ingin terus menjadi sekrup dari mesin raksasa yang menggiling kesejahteraan rakyat kecil demi keuntungan segelintir korporasi?

Dalam sebuah Hadits, Nabi memberikan ancaman bagi siapa saja yang mempersulit urusan orang lain:

«اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ»

Ya Alloh, siapa yang mengurus suatu urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah ia. (HR. Muslim no. 1828)

Bekerja di bagian yang menagih atau menyusun sistem yang memberatkan nasabah yang sedang kesulitan adalah bentuk “mempersulit” yang sangat nyata. Kita tentu tidak ingin doa Nabi ini menimpa kehidupan kita dan keluarga kita.

3: Menjadi Bagian dari Solusi, Bukan Bagian dari Masalah

Setelah kita melihat dan merenungkan penderitaan para korban riba, maka keinginan untuk Hijroh bukan lagi sekadar demi keamanan diri sendiri, melainkan sebuah bentuk empati dan pembelaan terhadap keadilan. Dengan keluar dari bank, kita sedang mencabut dukungan kita terhadap sistem yang merusak tatanan masyarakat. Kita ingin menjadi hamba yang tangannya digunakan Alloh untuk menolong, bukan untuk membebani.

Alloh menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang memberikan kelonggaran kepada orang yang kesulitan:

﴿وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqoroh: 280)

Inilah konsep ekonomi Islam yang penuh Rohmat. Bayangkan perbedaannya dengan sistem bank yang justru memberikan denda dan sita saat nasabah sedang terpuruk. Dengan memilih jalan Hijroh, engkau sedang memilih untuk berdiri di barisan yang menyebarkan Rohmat, bukan barisan yang menyebarkan kesulitan.

Rosululloh bersabda tentang ni’matnya membantu orang yang dalam kesulitan:

«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»

Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mu’min, maka Alloh akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. (HR. Muslim no. 2699)

Saudaraku, mari kita renungkan: lebih indah mana, mendapatkan bonus bulanan dari hasil bunga yang mencekik sesama, atau mendapatkan jaminan kelapangan dari Alloh di hari Kiamat kelak? Pilihan ada di tanganmu. Jadikan air mata para korban riba sebagai penguat azammu untuk segera beranjak dan mencari pintu rizqi yang di dalamnya terdapat keberkahan bagi dirimu dan juga bagi sesama manusia.

BAB 5: MERENCANAKAN HIJROH DENGAN ILMU

1: Mempersiapkan Bekal Mental dan Finansial Sebelum Melangkah

Saudaraku, Hijroh bukanlah sebuah tindakan yang dilakukan dengan tergesa-gesa tanpa perhitungan yang matang. Islam mengajarkan kita untuk bertawakkal, namun tawakkal yang benar selalu didahului dengan ikhtiar yang maksimal. Resign dari pekerjaan, terutama bagi seorang kepala keluarga, memerlukan persiapan mental yang kuat agar ketika badai ujian datang di masa awal transisi, iman kita tidak goyah. Persiapan finansial seperti dana darurat atau modal usaha sampingan bukanlah tanda kurangnya iman, melainkan bagian dari mengikuti sunnah sebab-akibat yang telah Alloh tetapkan di alam semesta ini.

Alloh Ta’ala mengingatkan kita untuk selalu memiliki persiapan dalam setiap langkah besar:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertaqwalah kepada Alloh, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)

Meskipun ayat ini utamanya berbicara tentang bekal Akhiroh, para ulama juga mengambil pelajaran tentang pentingnya perencanaan untuk masa depan dunia demi menjaga ketaqwaan. Persiapkanlah dirimu dengan matang, bicaralah dengan pasangan secara terbuka, dan susunlah rencana hidup yang lebih sederhana namun penuh barokah.

Nabi memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang keseimbangan antara usaha dan tawakkal:

«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

Sekiranya kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizqi sebagaimana burung diberi rizqi; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)

Perhatikanlah, burung tersebut tidak diam di dalam sarangnya, ia “pergi” untuk mencari. Maka, siapkanlah kepakan sayapmu, asahlah keahlianmu, dan biarkan Alloh yang mengatur ke mana rizqi itu akan mendarat.

2: Mencari Pertolongan Alloh Melalui Doa

Ketika rencana sudah disusun dan niat sudah bulat, langkah selanjutnya adalah membawa urusan tersebut ke hadapan Pemilik Segalanya. Seringkali kita merasa ragu, “Apakah ini waktu yang tepat?”, “Apakah aku akan sanggup?”. Di sinilah pentingnya doa. Ini adalah momen di mana seorang hamba melepaskan keakuannya dan memohon agar Alloh memilihkan yang terbaik bagi agama dan dunianya. Janganlah melangkah hanya karena emosi sesaat, tapi melangkahlah karena petunjuk yang menenangkan dari-Nya.

Alloh mencintai hamba-Nya yang selalu melibatkan-Nya dalam setiap urusan, sebagaimana firman-Nya:

﴿فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh. Sungguh Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imron: 159)

Tidak ada salahnya mengerjakan Sholat Istikhoroh. Ia akan memberikan ketetapan hati. Jika memang jalan Hijroh ini baik untukmu baik sesuai waktunya ataupun langkah setelah resign yang baik, Alloh akan mudahkan. Jika ada hambatan, Alloh akan berikan kesabaran dan jalan keluar yang tidak terduga.

Rosululloh sangat menekankan pentingnya Istikhoroh hingga para Shohabat mengatakan beliau mengajarkannya sebagaimana mengajarkan surat dalam Al-Quran. Dalam doanya, ada kalimat yang sangat menyentuh:

«اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ»

Ya Alloh, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (resign dan langkah berikutnya) baik bagiku untuk agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku di dalamnya. (HR. Al-Bukhori no. 1162)

Mintalah keberkahan, karena dengan keberkahan, yang sedikit akan menjadi cukup, dan yang sulit akan menjadi mudah.

3: Menjaga Hubungan Baik dengan Rekan Kerja Saat Berpamitan

Saudaraku, caramu keluar mencerminkan kemuliaan akhlaqmu sebagai seorang Muslim. Meskipun kita meyakini bahwa sistem tempat kita bekerja saat ini bermasalah secara syar’i, hal itu tidak menjadi alasan untuk bersikap kasar, sombong, atau memutus silaturahmi dengan rekan kerja. Sampaikanlah pengunduran dirimu dengan lisan yang santun dan alasan yang jujur namun tetap bijaksana. Biarkan kepulanganmu meninggalkan kesan yang indah, siapa tahu melalui akhlaqmu yang baik, Alloh memberikan hidayah kepada rekan-rekanmu yang lain.

Alloh memerintahkan kita untuk membalas segala sesuatu dengan yang lebih baik:

﴿ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fushshilat: 34)

Jika dalam dunia kerja mungkin ada gesekan, akhiri itu semua dengan permohonan maaf dan senyuman. Keluar dari bank bukan berarti memusuhi manusianya, melainkan menjauhi sistem ribanya demi menjaga cinta kita kepada Alloh.

Nabi adalah pribadi yang paling baik dalam bermuamalah. Disebutkan dalam Hadits:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا، وَكَانَ يَقُولُ: «إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا»

Nabi bukanlah orang yang ucapannya kotor dan kasar. Beliau bersabda: “Sungguh, yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3559 dan Muslim no. 2321)

Tunjukkanlah bahwa keputusanmu untuk resign adalah keputusan yang lahir dari ketaqwaan, bukan dari kebencian. Dengan begitu, engkau melangkah keluar dengan kepala tegak, hati yang bersih, dan doa-doa baik yang mengiringi langkahmu menuju pintu rizqi yang baru.

BAB 6: MEMBUKA PINTU RIZQI BARU YANG MENENANGKAN

1: Yakin Bahwa Alloh Adalah Ar-Rozzaq

Saudaraku, ketika lembaran surat pengunduran diri itu akhirnya ditandatangani, mungkin ada sedikit getar di hati tentang hari esok. Namun, di saat itulah imanmu sedang diuji untuk benar-benar meyakini satu nama Alloh yang Agung: Ar-Rozzaq (Yang Maha Pemberi Rizqi). Selama ini, mungkin secara tidak sadar kita merasa bank-lah yang memberi kita penghidupan, atau posisi jabatanlah yang menjamin kenyamanan kita. Hijroh ini adalah momen untuk memurnikan Tauhid, bahwa rizqi tidak pernah tertukar dan tidak akan pernah terputus selama nafas masih dikandung badan.

Alloh telah menetapkan jatah rizqi setiap makhluk-Nya jauh sebelum mereka dilahirkan ke dunia. Dia berfirman untuk menenangkan hati kita:

﴿وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Alloh-lah yang memberi rizqinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Hud: 6)

Jika cicak yang hanya merayap di dinding mendapatkan makanannya berupa hewan bersayap, dan burung di langit tercukupi kebutuhannya berupa ikan di laut, maka bagaimana mungkin Alloh akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang meninggalkan keharoman demi mencari ridho-Nya? Keyakinan inilah yang harus menjadi fondasi barumu. Rizqi itu datang dari langit, dan pekerjaan hanyalah wasilah (perantara). Ketika satu pintu wasilah tertutup karena kita ingin menjaga kesucian diri, yakinlah Sang Maha Pemberi Rizqi akan membukakan pintu-pintu lain yang jauh lebih luas.

Nabi memberikan wasiat yang sangat mendalam kepada Ibnu Abbas yang juga berlaku untuk kita semua:

«وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ»

Dan ketahuilah, sekiranya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Alloh untukmu. (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Maka, janganlah takut kehilangan “manfaat” dari sebuah instansi, karena jika Alloh telah menetapkan rizqi itu milikmu, ia akan sampai kepadamu melalui jalan yang tak terduga.

2: Indahnya Hidup Sederhana dalam Naungan Ketaqwaan

Mungkin setelah resign, akan ada penyesuaian gaya hidup. Nominal yang masuk mungkin tidak sebesar dahulu, atau fasilitas yang dinikmati tidak semewah sebelumnya. Namun, di sinilah engkau akan menemukan keindahan yang selama ini hilang: kebercukupan (qona’ah). Hidup sederhana namun tenang, tanpa bayang-bayang bunga riba dan tanpa beban perasaan bersalah, adalah sebuah kemewahan yang tak ternilai harganya. Sederhana bukan berarti kekurangan, melainkan cerdas dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Alloh memuji hamba-hamba-Nya yang pertengahan dalam menjalani hidup:

﴿وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqon: 67)

Dalam kesederhanaan, seringkali Alloh menitipkan Rohmat yang besar. Waktu yang dulu habis untuk mengejar target kantor, kini bisa digunakan untuk menemani anak menghafal Al-Quran atau sekadar bercengkerama dengan orang tua. Makanan yang dibeli dari harta yang seratus persen halal akan memberikan energi ketaatan yang berbeda bagi raga kita.

Rosululloh bersabda tentang keberuntungan orang yang memiliki sifat ini:

«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ»

Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizqi yang cukup, dan Alloh menjadikannya merasa puas (qona’ah) dengan apa yang telah diberikan-Nya. (HR. Muslim no. 1054)

Ketenangan batin itu letaknya bukan di luasnya rumah, tapi di luasnya rasa syukur. Ketika kau merasa cukup dengan yang halal, maka dunia dan seisinya seolah berada dalam genggamanmu.

3: Menemukan Kedamaian Hati Setelah Melepas Rantai Riba

Saudaraku, perasaan lega yang kau rasakan setelah benar-benar terlepas dari sistem riba adalah ni’mat yang luar biasa. Ibarat seseorang yang baru saja melepaskan beban berat dari punggungnya, atau burung yang baru keluar dari sangkar besi. Kegelisahan yang selama ini menghantui, rasa was-was setiap kali menerima gaji, kini berganti dengan kedamaian yang menghunjam ke dalam qalbu. Engkau kini bisa berdiri tegak di hadapan Robb-mu dalam Sholatmu, tanpa ada rasa mengganjal di hati.

Inilah janji Alloh tentang ketenangan bagi mereka yang beriman dan beramal sholih:

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ro’d: 28)

Ketenangan yang sejati tidak bisa didapatkan dari tumpukan harta yang didapat dengan cara yang Alloh benci. Ia hanya hadir saat seorang hamba merasa selaras dengan aturan Penciptanya. Setelah kau melangkah keluar, kau akan menyadari bahwa “rizqi” bukan hanya soal uang, tapi juga soal tidur yang nyenyak, doa yang mudah terijabah, dan hati yang selalu rindu kepada kebaikan.

Nabi menjelaskan bahwa kebaikan itu membawa ketenangan, sedangkan dosa membawa kegelisahan:

«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ»

Kebajikan itu adalah akhlaq yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang mengganjal di hatimu dan engkau benci jika orang lain mengetahuinya. (HR. Muslim no. 2553)

Sekarang, ganjalan itu telah sirna. Engkau telah memilih untuk memuliakan Alloh di atas segalanya, maka Alloh pun akan memuliakanmu dengan ketenangan yang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang masih terbelenggu dalam syubhat. Selamat menikmati fajar baru dalam kehidupanmu yang penuh barokah.

PENUTUP

Saudaraku yang kucintai karena Alloh, jika hari ini engkau telah memantapkan hati, atau setidaknya telah menanamkan niat yang kuat untuk melangkah keluar dari jeratan riba, maka ketahuilah bahwa saat ini para Malaikat sedang mencatat sebuah kemenangan besar di dalam jiwamu. Hijrohmu bukan sekadar perpindahan gedung tempat bekerja, melainkan sebuah pernyataan cinta yang paling jujur kepada Robb yang telah menciptakanmu.

Mungkin di luar sana, dunia akan memandangmu dengan penuh tanya. Mungkin ada rekan atau kerabat yang menyayangkan keputusanmu, menganggapmu membuang peluang emas, atau bahkan menyebutmu tidak realistis di tengah sulitnya mencari pekerjaan. Namun, biarlah dunia berkata apa saja, karena engkau sedang tidak mencari ridho manusia. Engkau sedang berjalan menuju satu tujuan yang jauh lebih mulia dan abadi. Engkau sedang melangkah keluar dari pintu bank dengan wajah yang mantap menghadap ke arah Jannah.

Ingatlah selalu firman Alloh yang menjadi pelipur lara bagi setiap pengelana yang mencari kebenaran:

﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69)

Alloh tidak pernah berjanji bahwa jalan ini akan selalu bertabur bunga, namun Dia berjanji akan menyertaimu. Jika satu jalan tertutup, Dia akan menunjukkan jalan-jalan yang lain. Perjuanganmu menahan keinginan hawa nafsu dan ketakutan akan masa depan adalah bentuk Jihad yang sangat dicintai-Nya. Jangan pernah merasa sendirian, karena Pencipta Langit dan Bumi berada di pihakmu selama engkau berada di atas kebenaran.

Saudaraku, masa-masa awal setelah resign mungkin akan menjadi masa pembuktian iman. Terkadang syaithon akan datang kembali membisikkan keraguan saat tabungan mulai menipis. Di saat seperti itu, kembalilah sujud. Ingatlah bahwa dunia ini hanya sementara, dan setiap kesempitan yang kau lalui karena taat kepada-Nya akan menjadi simpanan ni’mat yang luar biasa di Akhiroh. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia di hadapan Alloh. Setiap rupiah yang kau relakan demi menjauhi riba akan diganti dengan ketenangan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Sebagaimana sabda Rosululloh yang menguatkan jiwa:

«طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

Beruntunglah orang-orang yang asing. (HR. Muslim no. 145)

Engkau mungkin merasa “asing” di tengah arus gaya hidup modern yang menghalalkan segala cara, namun “asing” di mata manusia adalah kemuliaan di mata penduduk langit. Teruslah berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadits. Jadikan ketaqwaan sebagai bekal utamamu, karena ketaqwaan adalah sebaik-baik pakaian dan perhiasan bagi seorang Mu’min.

Akhir kata, saya memohon kepada Alloh Yang Maha Membolak-balikkan Hati, agar senantiasa meneguhkan hatimu di atas ketaatan. Semoga Alloh memberkahi setiap langkahmu, mencukupkan kebutuhan keluargamu dengan harta yang paling suci, dan kelak mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya yang seluas langit dan bumi, tanpa hisab dan tanpa adzab. Melangkahlah dengan tenang, saudaraku. Alloh bersamamu, dan masa depan yang penuh barokah telah menantimu di depan sana. Walhamdulillahirobbil ‘alamin.[]


Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url