Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Arbain (40 Hadits) Tentang Sholat Jum'at - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam, yang telah mengistimewakan umat Muhammad dengan hari yang penuh barokah. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh , keluarga, para Shohabat, dan para Tabi’in serta orang-orang yang mengikuti jalan Salafus Sholih hingga akhir zaman.

Alloh Robbul ‘Alamin berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan Sholat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Buku ini disusun untuk mengumpulkan 40 Hadits pilihan (Arbain) yang berkaitan dengan keagungan hari Jumat dan hukum-hukum Sholat Jumat. Penting bagi setiap Muslim untuk memahami adab-adab ini agar ibadah yang dilakukan tidak sia-sia dan mendapatkan kesempurnaan pahala di sisi Alloh.

Sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawi (676 H) dalam karya-karyanya, mengumpulkan Hadits-Hadits tentang pokok agama adalah tradisi para ulama demi memudahkan umat dalam menjalankan Syari’at. Semoga buku ini menjadi amal jariyah dan panduan praktis bagi kaum Muslimin dalam mengagungkan hari Jumat.

Bagian 1: Keutamaan Hari Jumat

1. Hari Raya Pekanan

Alloh Robbul ‘Alamin menjadikan hari Jumat sebagai hari raya bagi umat Islam agar mereka berkumpul dalam ketaatan dan dzikir kepada-Nya.

Dari Ibnu Abbas RodhiyAllohu ‘Anhuma, Rosululloh bersabda:

«إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ، جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ»

“Sesungguhnya hari ini (Jumat) adalah hari raya yang dijadikan Alloh bagi kaum Muslimin. Barangsiapa yang datang untuk menunaikan Sholat Jumat, maka hendaklah ia mandi. Jika ia memiliki wangi-wangian, maka hendaklah ia memakainya, dan gunakanlah siwak oleh kalian.” (HSR. Ibnu Majah no. 1098)

2. Hari Terbaik

Hari Jumat memiliki kedudukan yang paling mulia di antara tujuh hari dalam satu pekan berdasarkan pilihan Alloh Robbul ‘Alamin.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:

«خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ»

“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam Jannah, pada hari itu ia dikeluarkan dari sana, dan Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.” (HR. Muslim no. 854)

3. Penciptaan Manusia Pertama

Keagungan hari Jumat berkaitan erat dengan sejarah penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam , yang menunjukkan kemuliaan asal-usul manusia di hari tersebut.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:

«فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا»

“Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam Jannah, pada hari itu ia dikeluarkan dari sana.” (HR. Muslim no. 854)

Dalam riwayat lain:

«وَفِيهِ تِيبَ عَلَيْهِ، وَفِيهِ مَاتَ»

“Pada hari itu diterima taubatnya dan pada hari itu ia wafat.” (HSR. Abu Dawud no. 1046)

4. Terjadinya Hari Kiamat

Hari Jumat bukan hanya hari perayaan, tetapi juga hari yang penuh rasa takut bagi mahluk selain manusia dan jin, karena pada hari itulah Kiamat besar akan terjadi.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:

«وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ»

“Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.” (HR. Muslim no. 854)

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, dalam potongan Hadits yang panjang, Rosululloh bersabda:

«وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ، وَمَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا وَهِيَ مُسِيخَةٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، مِنْ حِينَ تُصْبِحُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ شَفَقًا مِنَ السَّاعَةِ، إِلَّا الْجِنَّ وَالْإِنْسَ»

Di hari Jumat terjadi Kiamat. Dan tidak ada satu pun makhluk bumi melainkan mereka memasang telinga (waspada) pada hari Jumat, sejak waktu subuh hingga matahari terbit karena takut akan datangnya hari Kiamat, kecuali jin dan manusia.” (HSR. Abu Dawud no. 1046)

Dari Aus bin Aus RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ»

“Pada hari itu tiupan sangkakala pertama dilakukan, dan pada hari itu pula kematian massal (hari Kiamat) terjadi.(HSR. Abu Dawud no. 1047)

5. Waktu Mustajab untuk Berdoa

Salah satu karunia terbesar di hari Jumat adalah adanya waktu yang sangat singkat di mana doa seorang hamba tidak akan ditolak oleh Alloh.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata:  Rosululloh menyebutkan tentang hari Jumat, kemudian beliau bersabda:

«فِيهِ سَاعَةٌ، لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ» وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

‘Di dalamnya terdapat satu waktu, tidaklah seorang hamba Muslim mendapati waktu tersebut dalam keadaan dia berdiri melakukan Sholat seraya memohon sesuatu kepada Alloh Ta’ala, melainkan Alloh akan memberikan apa yang ia minta.’ Dan beliau memberikan isyarat dengan tangannya untuk menunjukkan sebentarnya waktu tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 935 dan Muslim no. 852)

Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘Anhuma berkata kepadaku: “Apakah engkau pernah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rosulullah tentang waktu mustajab di hari Jumat?” Aku menjawab: “Ya, aku pernah mendengarnya berkata: Aku mendengar Rosululloh bersabda:

«هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ»

“Waktu tersebut adalah antara Imam duduk (di atas mimbar) sampai Sholat selesai dilaksanakan.” (HR. Muslim no. 853)

Dari Jabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘Anhuma, dari Rosululloh , beliau bersabda:

«يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ سَاعَةً، لَا يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا، إِلَّا أَتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ»

“Hari Jumat itu ada dua belas jam. Tidak ada seorang hamba Muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah (pada waktu tersebut) melainkan Allah akan mengabulkannya. Maka carilah waktu tersebut di jam terakhir  (sebelum Maghrib), setelah Ashar.” (HSR. Abu Dawud no. 1048)

Ka’ab Al-Ahbar berkata: “Waktu tersebut (waktu mustajab) hanya ada satu hari dalam setiap tahun.” Maka aku (Abu Huroiroh) berkata: “Bukan, bahkan waktu itu ada pada setiap hari Jumat.” Lalu Ka’ab membaca Taurot dan berkata: “Nabi telah berkata benar.” Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kemudian aku bertemu dengan Abdullah bin Salam, lalu aku ceritakan kepadanya tentang majelisku bersama Ka’ab. Maka Abdullah bin Salam berkata: ‘Sungguh aku telah mengetahui waktu kapan itu.’“ Abu Huroiroh berkata: ‘Beritahukanlah kepadaku waktu tersebut!’ Abdullah bin Salam berkata:

هِيَ آخِرُ سَاعَةٍ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Waktu itu adalah saat-saat terakhir dari hari Jumat.” Aku berkata: “Bagaimana mungkin itu adalah saat-saat terakhir dari hari Jumat, padahal Rosululloh telah bersabda: ‘Tidaklah seorang hamba Muslim mendapati waktu tersebut dalam keadaan dia sedang Sholat,’ sedangkan waktu tersebut (setelah Ashar menjelang Maghrib) bukanlah waktu untuk Sholat?” Maka Abdullah bin Salam Rodhiyallahu ‘Anhu berkata: “Bukankah Rosulullah telah bersabda:

«مَنْ جَلَسَ مَجْلِسًا يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ حَتَّى يُصَلِّيَ»

‘Barangsiapa yang duduk di suatu tempat untuk menunggu Sholat, maka dia dihitung dalam keadaan Sholat sampai dia benar-benar Sholat?’“ Abu Huroiroh berkata: “Aku menjawab: ‘Benar.’“ Abdullah bin Salam berkata: “Itulah yang dimaksud.” (HSR. Abu Dawud no. 1046)

Bagian 2: Keutamaan Sholat Jumat

6. Kewajiban Jumatan bagi Laki-laki

Sholat Jumat adalah kewajiban yang telah ditetapkan oleh Alloh bagi setiap Muslim laki-laki yang merdeka, baligh, berakal, mukim, dan tidak memiliki udzur syar’i.

Dari Thoriq bin Syihab RodhiyAllohu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ»

“Jumatan adalah hak yang wajib bagi setiap Muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan: hamba sahaya, wanita, anak-anak, atau orang yang sedang sakit.” (HSR. Abu Dawud no. 1067)

7. Sholat Jumat sebagai Penggugur Dosa

Alloh menjadikan Sholat Jumat sebagai sarana pembersih dosa-dosa kecil yang dilakukan di antara dua Jumat, selama dosa besar dijauhi.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

«الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانُ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ»

“Sholat lima waktu, antara Sholat Jumat ke Sholat Jumat berikutnya, dan antara Romadhon ke Romadhon berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233)

8. Keutamaan Berangkat di Awal Waktu

Barangsiapa yang bersegera menuju Masjid untuk melaksanakan Sholat Jumat, maka ia akan mendapatkan pahala yang sangat besar yang diibaratkan dengan berkurban.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ غُسْلَ الجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الخَامِسَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ المَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ»

“Barangsiapa mandi pada hari Jumat seperti mandi janabah, kemudian ia berangkat (ke Masjid pada jam pertama), maka seolah-olah ia berkurban seekor unta. Barangsiapa berangkat pada jam kedua, maka seolah-olah ia berkurban seekor sapi. Barangsiapa berangkat pada jam ketiga, maka seolah-olah ia berkurban seekor domba yang bertanduk. Barangsiapa berangkat pada jam keempat, maka seolah-olah ia berkurban seekor ayam. Barangsiapa berangkat pada jam kelima, maka seolah-olah ia berkurban sebutir telur. Apabila Imam telah keluar (untuk khutbah), maka para Malaikat hadir untuk mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Al-Bukhori no. 881 dan Muslim no. 850)

9. Pahala Langkah Kaki Menuju Masjid

Setiap langkah kaki seorang Muslim yang berangkat menuju Masjid dengan adab yang sempurna di hari Jumat mengandung pahala yang luar biasa besarnya.

Dari Aus bin Aus Ats-Tsaqofi RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh bersabda:

«مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ، ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ، وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا»

“Barangsiapa mencuci rambutnya dan mandi (janabah) (atau mandi jinabat dan menjadikan istrinya jinabat juga) pada hari Jumat, kemudian ia berangkat lebih awal dan mendapati awal khutbah, ia berjalan kaki dan tidak berkendara, mendekat kepada Imam, mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya pada setiap langkah kaki pahala amalan setahun, yaitu pahala puasa dan Sholat malamnya.” (HSR. Abu Dawud no. 345)

10. Ancaman Meninggalkan Sholat Jumat

Mengabaikan kewajiban Sholat Jumat tanpa alasan yang dibenarkan oleh Syari’at merupakan dosa besar yang dapat menyebabkan hati seseorang terkunci dari hidayah.

Dari Abdullah bin Umar RodhiyAllohu ‘Anhuma dan Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwasanya mereka berdua mendengar Rosululloh bersabda di atas mimbarnya:

«لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ»

“Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan Sholat Jumat, atau jika tidak, Alloh benar-benar akan mengunci hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim no. 865)

Bagian 3: Amal-Amal Sunnah Hari Jumat

11. Mandi Jumat (Ghusl)

Mandi sebelum berangkat ke Masjid merupakan sunnah yang sangat ditekankan, bahkan sebagian ulama seperti Ibnu Hazm (456 H) menganggapnya wajib bagi mereka yang hendak melaksanakan Jumatan.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

«غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ»

“Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang sudah bermimpi (baligh).” (HR. Al-Bukhori no. 879 dan Muslim no. 846)

12. Memakai Wangi-wangian dan Baju Terbaik

Disunnahkan bagi seorang Muslim untuk berhias dengan aroma yang harum dan pakaian yang bersih saat menghadiri perkumpulan kaum Muslimin di hari Jumat.

Dari Salman Al-Farisi RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata bahwa Nabi bersabda:

«لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى»

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat dan bersih-bersih semampunya, berminyak dengan minyak rambutnya atau memakai wangi-wangian dari rumahnya, kemudian ia keluar (menuju Masjid) dan tidak memisahkan antara dua orang (yang sedang duduk berdampingan), lalu ia Sholat apa yang telah ditentukan baginya, kemudian ia diam mendengarkan saat Imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat itu dengan Jumat yang lain.” (HR. Al-Bukhori no. 883)

13. Memotong Kuku dan Bersiwak

Menjaga kebersihan diri termasuk memotong kuku dan membersihkan mulut dengan siwak adalah bagian dari adab yang dicontohkan para Salaf dalam menyambut hari raya pekanan.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

«لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ»

“Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 887 dan Muslim no. 252)

Para ulama, termasuk Asy-Syafi’i (204 H), menekankan bahwa perintah ini lebih kuat lagi pada hari Jumat. Bukhori memasukkan Hadits ini dalam bab Bersiwak di Hari Jumat.

14. Membaca Surat Al-Kahfi

Membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat atau malam Jumat merupakan amalan yang akan memberikan cahaya bagi pelakunya.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri RodhiyAllohu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ»

“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka cahaya akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. An-Nasai dan Al-Baihaqi. Shohihul Jami’ no. 6470)

Dalam riwayat lain:

«مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ»

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.” (HR. Ad-Darimi. Shohihul Jami’ no. 6471)

15. Memperbanyak Sholawat kepada Nabi

Hari Jumat adalah waktu yang paling utama untuk memperbanyak pujian dan sholawat kepada Rosululloh karena sholawat tersebut disampaikan langsung kepada beliau.

Dari Aus bin Aus RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ» قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ؟ فَقَالَ: «إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ»

“Maka perbanyaklah membaca sholawat kepadaku pada hari itu (Jumat), karena sesungguhnya sholawat kalian akan dihadapkan kepadaku.” Mereka bertanya: “Bagaimana sholawat kami dihadapkan kepada Anda sementara Anda telah menjadi debu?” Jawab beliau: “Alloh mengharomkan bumi memakan jasad para Nabi.” (HSR. Abu Dawud no. 1047)

Bagian 4: Adab-Adab di Masjid

16. Larangan Melangkahi Pundak Orang Lain

Ketika datang ke Masjid, seorang Muslim hendaknya duduk di tempat yang masih tersedia dan tidak menyakiti jamaah lain dengan melangkahi pundak mereka demi mendapatkan baris depan.

Dari Abdullah bin Busr RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata: Seseorang datang melangkahi pundak manusia pada hari Jumat saat Nabi sedang berkhutbah, maka beliau bersabda:

«اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ وَآنَيْتَ»

“Duduklah! Sungguh engkau telah mengganggu dan engkau telah terlambat datang.” (HR. Abu Dawud no. 1118, Ahmad no. 17697)

17. Larangan Memindahkan Orang dari Tempat Duduknya

Islam melarang seseorang untuk mengusir orang lain dari tempat duduknya di Masjid hanya agar ia bisa duduk di tempat tersebut.

Dari Ibnu Umar RodhiyAllohu ‘Anhuma, dari Nabi , beliau bersabda:

«لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَقْعَدِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا وَتَوَسَّعُوا»

“Janganlah seseorang memindahkan orang lain dari tempat duduknya kemudian ia duduk di sana, akan tetapi berlapang-lapanglah dan perluaslah (ruang duduk kalian).” (HR. Al-Bukhori no. 911 dan Muslim no. 2177)

18. Melakukan Sholat Tahiyatul Masjid

Meskipun Imam sedang berkhutbah, seseorang yang baru masuk ke Masjid tetap dianjurkan untuk mengerjakan Sholat sunnah dua rokaat secara ringan sebelum duduk.

Dari Jabir bin Abdillah RodhiyAllohu ‘Anhuma, ia berkata: Sulaik Al-Ghifari datang pada hari Jumat saat Rosululloh sedang berkhutbah, maka beliau bersabda kepadanya:

«يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا» ثُمَّ قَالَ: «إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا»

“Wahai Sulaik! Berdirilah dan kerjakanlah Sholat dua rokaat, serta ringankanlah dalam mengerjakannya.” Lalu beliau bersabda: “Apabila seorang dari kalian datang Jumatan sementara Imam sudah berkhutbah, kerjakan Sholat dua rokaat dengan ringan.” (Muslim no. 875)

19. Duduk Tenang dan Mendengarkan Khutbah

Ketenangan jasmani dan ruhani sangat diperlukan saat menyimak khutbah agar pesan-pesan yang disampaikan Imam dapat meresap ke dalam hati.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:

«مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ، فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ، غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ، وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا»

“Barangsiapa yang berwudhu lalu memperbagus wudhunya, kemudian ia mendatangi Sholat Jumat, lalu mendengarkan dan diam (memperhatikan khutbah), maka diampuni dosa-dosanya antara Jumat itu dengan Jumat berikutnya ditambah tiga hari. Siapa yang bermain kerikil maka ia sia-sia.” (HR. Muslim no. 857)

20. Larangan Berbicara Saat Khutbah Berlangsung

Berbicara—bahkan untuk menegur orang lain agar diam—saat Imam sedang berkhutbah dapat membatalkan pahala Sholat Jumat seseorang.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh bersabda:

«إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ»

“Jika engkau berkata kepada temanmu pada hari Jumat ‘Diamlah!’, sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.” (HR. Al-Bukhori no. 934 dan Muslim no. 851)

Bagian 5: Ketentuan Khutbah dan Sholat

21. Khutbah Dilakukan di Atas Mimbar

Sunnah dalam berkhutbah adalah dilakukan di tempat yang tinggi seperti mimbar agar suara dan sosok khotib dapat menjangkau seluruh jamaah yang hadir di Masjid.

Dari Ibnu Umar RodhiyAllohu ‘Anhuma, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ، كَانَ يَجْلِسُ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ حَتَّى يَفْرَغَ الْمُؤَذِّنُ، ثُمَّ يَقُومُ، فَيَخْطُبُ، ثُمَّ يَجْلِسُ فَلَا يَتَكَلَّمُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ

“Nabi berkhutbah dua kali. Beliau duduk saat naik mimbar hingga muadzin selesai adzan. Lalu beliau berdiri berkhutbah lalu duduk tanpa bicara lalu kembali berdiri berkhutbah.” (HR. Abu Dawud no. 1092)

22. Mengucapkan Salam Sebelum Khutbah

Termasuk adab seorang khotib ketika naik ke atas mimbar dan menghadap ke arah jamaah adalah mengucapkan salam sebelum memulai khutbahnya.

Dari Jabir bin Abdillah RodhiyAllohu ‘Anhuma, ia berkata:

«أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ سَلَّمَ»

“Bahwasanya Nabi apabila telah naik ke atas mimbar, beliau mengucapkan salam.” (HHR. Ibnu Majah no. 1109)

23. Khutbah yang Pendek dan Sholat yang Panjang

Seorang imam yang memiliki pemahaman agama yang mendalam akan menyeimbangkan antara khutbah dan Sholat, di mana khutbahnya padat namun bermakna, sedangkan Sholatnya dikerjakan dengan sempurna.

Dari Ammar bin Yasir RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh bersabda:

«إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ، وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ، مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ، وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ، وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا»

“Sesungguhnya panjangnya Sholat seseorang dan pendeknya khutbah merupakan tanda kepahamannya terhadap agama. Maka panjangkanlah Sholat dan pendekkanlah khutbah. Sesungguhnya di antara kata-kata itu ada yang mengandung kekuatan sihir (daya tarik yang kuat).” (HR. Muslim no. 869)

24. Bacaan Surat dalam Sholat Jumat

Rosululloh seringkali membacakan surat-surat tertentu dalam Sholat Jumat yang mengandung peringatan bagi umat.

Dari An-Nu’man bin Basyir RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللهِ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ»، قَالَ: «وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ، فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ»

“Rosululloh biasa membaca dalam Sholat dua hari raya dan Sholat Jumat surat Sabbihisma Robbikal A’la (Al-A’la) dan surat Hal Ataka Haditsul Ghosyiyah (Al-Ghosyiyah). Apabil hari raya dan Jumat berkumpul dalam satu hari, beliau tetap membaca keduanya pada dua Sholat tersebut.” (HR. Muslim no. 878)

25. Makmum yang Mendapati Satu Rokaat

Bagi jamaah yang terlambat, batasan ia dianggap mendapatkan Sholat Jumat berjamaah adalah jika ia masih sempat melakukan ruku’ bersama Imam pada rokaat yang kedua.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ»

“Barangsiapa yang mendapatkan satu rokaat dari Sholat, maka sungguh ia telah mendapatkan Sholat tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 580 dan Muslim no. 607)

Para ulama, termasuk Ibnu Qudamah (620 H), menjelaskan bahwa jika kurang dari satu rokaat, maka ia menyempurnakannya sebagai Sholat Zhuhur empat rokaat.

Bagian 6: Hal-Hal Terkait Pelaksanaan

26. Sholat Jumat di Perjalanan (Safar)

Bagi seorang musafir, kewajiban Sholat Jumat gugur dan digantikan dengan Sholat Zhuhur yang di-qoshor (diringkas), kecuali jika ia memilih untuk tetap melaksanakannya bersama penduduk setempat.

Dari Jabir bin Abdillah RodhiyAllohu ‘Anhuma, dari Rosululloh beliau bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَعَلَيْهِ الْجُمُعَةُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا مَرِيضٌ أَوْ مُسَافِرٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيُّ أَوْ مَمْلُوكٌ»

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, maka wajib baginya melaksanakan Sholat Jumat pada hari Jumat, kecuali orang yang sakit, musafir, wanita, anak-anak, atau hamba sahaya.” (HR. Ad-Daruquthni no. 1576)

An-Nawawi berkata: “Sanadnya lemah tetapi memiliki syawahid (beberapa Hadits yang menguatkannya).”

27. Keringanan Tidak Jumatan karena Hujan

Islam adalah agama yang memberikan kemudahan. Ketika terjadi hujan lebat atau lumpur yang menyulitkan perjalanan menuju Masjid, diperbolehkan mengganti Jumatan dengan Sholat di rumah.

Dari Abdullah bin Abbas RodhiyAllohu ‘Anhuma, bahwasanya ia berkata kepada tukang adzannya pada hari yang penuh hujan dan lumpur: “Apabila engkau sudah mengucapkan Asyhadu anna Muhammadan Rosululloh, maka janganlah engkau ucapkan Hayya ‘alash Sholah, tetapi ucapkanlah Shollu fi buyutikum (Sholatlah di rumah-rumah kalian).” Ibnu Abbas melihat orang-orang seolah mengingkari hal itu, lalu ia berkata:

فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي، إِنَّ الجُمْعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُونَ فِي الطِّينِ وَالدَّحَضِ

“Hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (yakni Rosululloh ). Sesungguhnya Sholat Jumat itu adalah kewajiban yang kuat, namun aku tidak suka menyusahkan kalian sehingga kalian harus berjalan di atas tanah becek dan licin.” (HR. Al-Bukhori no. 901 dan Muslim no. 699)

28. Sholat Jumat Saat Bertemu Hari Raya

Apabila hari raya (Idul Fitri atau Idul Adha) jatuh pada hari Jumat, diberikan keringanan bagi mereka yang telah menghadiri Sholat Id untuk tidak menghadiri Sholat Jumat.

Dari Iyas bin Abi Romlah Asy-Syami, ia berkata: Aku melihat Mu’awiyah bin Abi Sufyan RodhiyAllohu ‘Anhuma bertanya kepada Zaid bin Arqom RodhiyAllohu ‘Anhu: “Apakah engkau pernah menyaksikan dua hari raya (Id dan Jumat) jatuh pada satu hari bersama Rosululloh ?” Ia menjawab: “Ya.” Mu’awiyah bertanya: “Apa yang beliau lakukan?” Ia menjawab:

صَلَّى الْعِيدَ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: «مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَلْيُصَلِّ»

“Beliau mengerjakan Sholat Id, kemudian memberikan keringanan untuk tidak mengerjakan Sholat Jumat. Beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang ingin Sholat (Jumat), maka silakan ia Sholat.’” (HSR. Abu Dawud no. 1070)

29. Larangan Mengkhususkan Puasa di Hari Jumat

Seorang Muslim dilarang mengkhususkan hari Jumat untuk melakukan ibadah puasa sunnah jika tidak dibarengi dengan puasa di hari sebelum atau sesudahnya.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda:

«لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا أَنْ يَصُومَ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian melakukan Fasting pada hari Jumat, kecuali ia juga berpuasa satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1985 dan Muslim no. 1144)

30. Larangan Mengkhususkan Ibadah Malam Jumat

Sebagaimana dilarang mengkhususkan puasa di siang harinya, dilarang pula mengkhususkan malam Jumat dengan Sholat malam tertentu yang tidak dilakukan di malam-malam lainnya.

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ»

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat untuk Sholat malam (Qiyam) di antara malam-malam lainnya, dan janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat untuk puasa di antara hari-hari lainnya, kecuali jika itu merupakan bagian dari puasa yang biasa kalian kerjakan.” (HR. Muslim no. 1144)

Bagian 7: Adab Setelah Sholat Jumat

31. Sholat Sunnah Rowatib Setelah Jumat

Setelah menunaikan Sholat Jumat, disunnahkan untuk mengerjakan Sholat sunnah, baik dilakukan di dalam Masjid sebanyak empat rokaat atau di rumah sebanyak dua rokaat.

Dari Ibnu Umar, ia berkata:

«كَانَ لاَ يُصَلِّي بَعْدَ الجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ»

“Nabi tidak mengerjakan Sholat setelah Jumatan kecuali pulang dan mengerjakannya dua rokaat.” (HR. Al-Bukhori no. 937)

Dari Abu Huroiroh RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا»

“Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai melaksanakan Sholat Jumat, maka hendaklah ia Sholat setelahnya sebanyak empat rokaat.” (HR. Muslim no. 881)

32. Bertebaran di Muka Bumi untuk Mencari Karunia

Setelah kewajiban ibadah selesai, Alloh memberikan izin kepada hamba-Nya untuk kembali beraktivitas mencari rizki yang halal sebagai bentuk syukur atas nikmat-Nya.

Alloh Robbul ‘Alamin berfirman:

﴿فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila Sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Alloh dan ingatlah Alloh banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Ketika keluar Masjid ia meminta karunia Alloh dengan membaca:

«اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ»

“Ya Alloh, aku memohon sebagian dari karunia-Mu.” (HR. Muslim no. 713)

33. Berdzikir Setelah Sholat

Dzikir merupakan pelengkap ibadah yang sangat ditekankan setelah Sholat fardhu, termasuk Sholat Jumat, untuk tetap menjaga hubungan hati dengan Alloh.

Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah RodhiyAllohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi setiap kali selesai melaksanakan Sholat fardhu beliau membaca:

«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ»

“Tidak ada sesembahan yang haq selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Alloh, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, dan tidaklah bermanfaat kekayaan bagi pemiliknya dari azab-Mu.” (HR. Al-Bukhori no. 844 dan Muslim no. 593)

34. Menjaga Ukhuwah dengan Jamaah

Momen berkumpulnya umat Islam di hari Jumat harus dijadikan sarana untuk memperkuat persaudaraan, saling mengenal, dan membantu sesama.

Dari Nu’man bin Basyir RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan merasa demam.” (HR. Al-Bukhori no. 6011 dan Muslim no. 2586)

35. Mengulang Pelajaran dari Khutbah

Mengingat kembali materi khutbah yang telah disampaikan oleh Imam merupakan adab yang baik agar ilmu tersebut dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Anas bin Malik RodhiyAllohu ‘Anhu, ia berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ»

“Bahwasanya Nabi apabila berbicara dengan suatu kalimat, beliau mengulanginya sebanyak tiga kali agar kalimat tersebut dapat dipahami darinya.” (HR. Al-Bukhori no. 95)

Bagian 8: Hikmah dan Larangan

36. Larangan Berjual-Beli Saat Adzan Jumat

Ketika adzan kedua dikumandangkan (saat Imam naik mimbar), maka harom hukumnya bagi setiap Muslim yang wajib Jumatan untuk melakukan transaksi dagang atau aktivitas duniawi lainnya.

Alloh Robbul ‘Alamin berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan Sholat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Dari As-Saib bin Yazid, ia berkata,

كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ. قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ

“Dahulu azan pada hari Jum’at dilakukan di awal ketika imam di mimbar. Ini dilakukan di masa Nabi , Abu Bakr dan ‘Umar. Namun di masa ‘Utsman karena saking banyaknya jama’ah, beliau menambahkan azan sampai tiga kali di Zauro.’” Abu ‘Abdillah berkata, “Zauro’ adalah salah satu tempat di pasar di Madinah.” (HR. Al-Bukhori no. 912)

37. Tidur Saat Khutbah dan Perintah Berpindah Tempat

Jika seseorang merasa kantuk yang berat saat mendengarkan khutbah, disunnahkan baginya untuk berpindah tempat duduk guna mengusir rasa kantuk tersebut agar tetap bisa menyimak pesan Imam.

Dari Ibnu Umar RodhiyAllohu ‘Anhuma, dari Nabi , beliau bersabda:

«إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ إِلَى غَيْرِهِ»

“Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk saat berada di dalam Masjid pada hari Jumat, maka hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya itu ke tempat yang lain.” (HSR. Ahmad no. 4875)

38. Keutamaan Meninggal di Hari Jumat

Termasuk tanda Husnul Khotimah (akhir yang baik) adalah apabila seorang Muslim diwafatkan oleh Alloh pada hari Jumat atau malam Jumat.

Dari Abdullah bin ‘Amr RodhiyAllohu ‘Anhuma, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ القَبْرِ»

“Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Alloh akan melindunginya dari fitnah kubur.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1074)

39. Kedudukan Sholat Subuh Berjamaah di Hari Jumat

Sholat yang paling utama dalam sepekan di sisi Alloh adalah Sholat Subuh berjamaah yang dikerjakan tepat pada hari Jumat.

Dari Ibnu Umar RodhiyAllohu ‘Anhuma, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«أَفْضَلُ الصَّلَوَاتِ عِنْدَ اللَّهِ صَلَاةُ الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي جَمَاعَةٍ»

“Sholat yang paling utama di hadapan Alloh adalah Sholat Subuh pada hari Jumat secara berjamaah.” (Shohihul Jami no. 1119)

40. Kewajiban Mendengarkan Imam dengan Seksama

Kesempurnaan Jumatan seseorang sangat bergantung pada bagaimana ia memuliakan khutbah dengan diam dan memperhatikan setiap perkataan Imam tanpa ada gangguan sedikitpun.

Dari Ibnu Abbas RodhiyAllohu ‘Anhuma, ia berkata bahwa Nabi bersabda:

«مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا وَالَّذِي يَقُولُ لَهُ أَنْصِتْ لَيْسَتْ لَهُ جُمُعَةٌ»

“Barangsiapa yang berbicara pada hari Jumat saat Imam sedang berkhutbah, maka ia bagaikan keledai yang memikul kitab-kitab yang tebal (sia-sia). Dan orang yang berkata kepada temannya ‘Diamlah!’, maka tidak ada (pahala sempurna) Jumat baginya.” (HHR. Ahmad no. 2033)

Hadits ini dihasankan Ibnu Hajar dan Ahmad Syakir.

Penutup

Alhamdulillah, dengan pertolongan Alloh Robb semesta alam, penyusunan buku Arbain Tentang Sholat Jumat yang mencakup 40 Hadits lengkap beserta adab dan hukumnya telah selesai.

Buku ini bukan sekadar kumpulan teks, melainkan panduan bagi setiap Muslim untuk mengagungkan hari yang telah dipilih Alloh sebagai Sayyidul Ayyam (pemimpin hari-hari). Sebagaimana yang telah kita pelajari dari Hadits-Hadits di atas, hari Jumat adalah momentum bagi kita untuk membersihkan jiwa, memperbanyak sholawat kepada Rosululloh , dan memperkuat ikatan berjamaah di Masjid.

Semoga Alloh Robbul ‘Izzah memberikan kita taufiq untuk mengamalkan ilmu yang telah didapat. Ilmu tidaklah bermanfaat kecuali jika membuahkan amal dan rasa takut kepada Alloh.[]


Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url