[PDF] Arbain (40 Hadits) Tentang Hari Raya Idul Fithri dan Idul Adha - Nor Kandir
MUQODDIMAH
Segala puji bagi Alloh ﷻ
yang telah mensyariatkan bagi hamba-Nya hari-hari besar sebagai simbol
kemenangan, persatuan, dan perwujudan
rasa syukur. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad ﷺ, yang telah menjelaskan syariat hari raya dengan sempurna
melalui lisan dan perbuatannya, serta kepada para Shohabat yang telah menjaga
amanah ilmu ini hingga sampai kepada kita.
Amma ba’d:
Buku Arbain Hari Raya Idul Fithri dan Idul Adha ini
disusun untuk menghimpun 40 Hadits pokok yang menjadi fondasi hukum dan adab
dalam merayakan dua hari besar umat Islam. Penulis berusaha menyajikan
dalil-dalil yang bersifat ushul (pokok) yang digunakan oleh para fuqoha (ahli
fiqih) dalam menetapkan hukum-hukum terkait Idul Fithri, Idul Adha, Zakat
Fitri, hingga ibadah qurban.
Tujuan utama dari karya ini adalah agar setiap Muslim dapat
menjalankan ibadahnya di hari raya di atas bashiroh (ilmu yang nyata),
sehingga kegembiraan yang dirasakan tidak hanya bersifat duniawi, namun
bernilai pahala di sisi Alloh ﷻ.
Kami memohon kepada Alloh ﷻ
agar proyek ilmiah ini menjadi amal jariyah dan bermanfaat bagi segenap kaum Muslimin.
BAGIAN 1: KEDUDUKAN DAN HUKUM HARI
RAYA
Hadits 1: Pensyariatan Hari Raya dalam Islam
Islam telah mengganti perayaan-perayaan jahiliyah dengan dua
hari yang lebih mulia dan penuh dengan nilai Tauhid.
عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: «مَا
هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟» قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ
الْأَضْحَى، وَيَوْمَ الْفِطْرِ»
Dari Anas bin Malik (93 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia
berkata: Rosululloh ﷺ datang ke Madinah
sedangkan penduduknya memiliki 2 hari raya yang mereka gunakan untuk
bermain-main di dalamnya. Maka beliau bertanya: “Dua hari apa ini?” Mereka
menjawab: “Kami biasa bermain-main di dalamnya pada masa jahiliyah.” Maka Rosululloh
ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Alloh telah menggantikan bagi kalian
yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari Idul Adha dan hari Idul Fithri.” (HSR.
Abu Dawud no. 1134)
Penjelasan Singkat:
Hadits ini menunjukkan bahwa hari raya dalam Islam bersifat tauqifiyyah
(berdasarkan wahyu). Islam tidak membolehkan umatnya untuk menetapkan hari raya
sendiri atau mengikuti perayaan yang tidak memiliki dasar syariat.
Hadits 2: Larangan Berpuasa Pada Dua Hari Raya
Hari raya adalah hari untuk berbuka dan jamuan dari Alloh ﷻ, sehingga diharomkan
untuk berpuasa di dalamnya.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ، قَالَ: «نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الفِطْرِ وَالنَّحْرِ»
Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) Rodhiyallahu ‘Anhu: “Rosululloh
ﷺ melarang puasa pada hari Fithri (Idul Fithri) dan hari
penyembelihan (Idul Adha).” (HR. Al-Bukhori no. 1991 dan Muslim no. 827)
Penjelasan Singkat:
Para ulama sepakat (ijma’) atas haromnya berpuasa pada dua
hari ini, baik itu puasa sunnah, puasa nadzar, maupun puasa qodho (mengganti
hutang puasa).
Hadits 3: Hukum Melaksanakan Sholat Id
Sholat Id merupakan syiar Islam yang sangat ditekankan,
bahkan Rosululloh ﷺ memerintahkan seluruh kaum Muslimin untuk menghadirinya.
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ، أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، الْعَوَاتِقَ،
وَالْحُيَّضَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ،
وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ، وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا
لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا»
Dari Ummu ‘Athiyyah (70 H) Rodhiyallahu ‘Anha, ia
berkata: Rosululloh ﷺ memerintahkan kami
untuk mengeluarkan mereka pada Idul Fithri dan Idul Adha; yaitu wanita yang
baru baligh, wanita haid, dan gadis-gadis yang dipingit. Adapun wanita haid,
maka mereka menjauhi tempat Sholat namun menyaksikan kebaikan dan doa kaum Muslimin. Aku berkata: “Wahai Rosululloh, ada
dari kami yang tidak memiliki jilbab.” Jawab beliau: “Saudarinya meminjamkannya
jilbab miliknya.” (HR. Muslim no. 890 dan Al-Bukhori no. 974)
Penjelasan Singkat:
Perintah ini menunjukkan kuatnya hukum Sholat Id. Sebagian
ulama berpendapat hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib bagi setiap individu) dan
sebagian lagi menyebut Fardhu Kifayah.
Hadits 4: Keutamaan Menghidupkan Malam Hari Raya
Meskipun Hadits-Hadits tentang menghidupkan malam hari raya
secara khusus sering diperdebatkan derajatnya, namun secara umum ibadah di
malam hari tetap dianjurkan.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ قَالَ: «مَنْ قَامَ لَيْلَتَيِ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا لِلَّهِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ
يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ»
Dari Abu Umamah (86 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Barangsiapa yang berdiri (Sholat malam) pada
2 malam hari raya dengan mengharap pahala karena Alloh, maka hatinya tidak akan
mati pada hari di mana hati-hati manusia mati.” (HR. Ibnu Majah no. 1782)
Hadits ini diperselisihkan
statusnya. Ia dihasankan Ibnu Muflih dan Al-Bushiri. Maknanya didukung oleh
keumuman dalil tentang keutamaan ibadah di waktu mulia. Kebanyakan ulama berhujjah dengan Hadits ini
dan mengajurkannya seperti An-Nawawi.
Hadits 5: Wanita Haid dan Anak-Anak Keluar Menuju
Tempat Sholat
Syiar hari raya harus dirasakan oleh seluruh lapisan
masyarakat, termasuk mereka yang tidak melaksanakan Sholat.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ:
«خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ يَوْمَ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَصَلَّى، ثُمَّ خَطَبَ، ثُمَّ
أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ، وَذَكَّرَهُنَّ، وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ»
Dari Ibnu ‘Abbas (68 H) Rodhiyallahu ‘Anhuma, ia
berkata: “Aku keluar bersama Nabi ﷺ pada hari Fithri atau
Adha, lalu beliau Sholat, kemudian berkhutbah, kemudian beliau mendatangi kaum
wanita maka beliau memberi nasehat kepada mereka, mengingatkan mereka, dan
memerintahkan mereka untuk bersedekah.” (HR. Al-Bukhori no. 975)
Penjelasan Singkat:
Hadits ini merupakan dalil bahwa anak-anak (seperti Ibnu ‘Abbas
yang saat itu masih kecil) dan wanita dianjurkan hadir di lapangan tempat Sholat
untuk mendengarkan nasehat.
BAGIAN 2: ADAB DAN SUNNAH SEBELUM SHOLAT
ID
Hadits
6: Mandi Sebelum Berangkat Sholat Id
Disunnahkan
bagi seorang Muslim untuk membersihkan diri dengan mandi sebelum menuju tempat Sholat
sebagai bentuk pemuliaan terhadap hari raya.
عَنْ
نَافِعٍ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ، قَبْلَ
أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
Dari Nafi’
(117 H) bahwa Abdullah bin Umar (73 H) Rodhiyallahu ‘Anhuma biasa mandi
pada hari Fithri sebelum berangkat menuju Musholla (lapangan tempat Sholat).
(HSR. Al-Muwaththo’, no. 609)
Penjelasan
Singkat:
Meskipun
tidak ditemukan Hadits marfu’ (sampai kepada Nabi ﷺ)
yang shohih tentang mandi ini, namun perbuatan Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘Anhuma
menjadi pijakan para fuqoha karena para Shohabat adalah orang yang paling
bersemangat mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
Imam Ash-Syafi’i (204 H) dan ulama lainnya menganjurkan hal ini.
Hadits
7: Memakai Pakaian Terbaik Pada Hari Raya
Menampakkan
nikmat Alloh ﷻ dengan
mengenakan pakaian yang bagus dan rapi merupakan bagian dari syiar hari raya.
عَنْ
جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: «كَانَ لِلنَّبِيِّ ﷺ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا فِي
الْعِيدَيْنِ وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ»
Dari Jabir
bin Abdillah (78 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Nabi ﷺ memiliki sebuah jubah yang beliau pakai pada 2 hari raya dan
pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1765)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ، يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ: «مَا عَلَى أَحَدِكُمْ
لَوِ اشْتَرَى ثَوْبَيْنِ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ، سِوَى ثَوْبِ مِهْنَتِهِ»
Dari Abdullah bin Salam, ia mendengar Rosululloh ﷺ
bersabda di atas mimbar pada hari Jumat: “Apa sulitnya salah seorang dari
kalian seandainya membeli dua kain (untuk atas dan bawah) untuk hari Jumat
selain pakaian untuk kerjanya?” (HSR. Ibnu Majah no. 1095)
Penjelasan
Singkat:
Sunnah bagi
laki-laki adalah memakai pakaian terbaik yang dimilikinya. Adapun bagi wanita,
tetap dianjurkan keluar dengan pakaian yang menutup aurot secara sempurna dan
tidak tabarruj (berhias berlebihan) atau memakai wewangian yang mencolok saat
keluar rumah.
Hadits
8: Makan Sebelum Keluar Pada Idul Fithri
Terdapat
perbedaan adab makan antara Idul Fithri dan Idul Adha untuk membedakan hukum
puasa dan berbuka.
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ
حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ» وَقَالَ: «وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا»
Dari Anas
bin Malik (93 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rosululloh ﷺ tidak berangkat pada hari Fithri hingga beliau memakan beberapa
biji kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.” (HR. Al-Bukhori no.
953)
Penjelasan
Singkat:
Hikmah
makan sebelum Sholat Idul Fithri adalah untuk menegaskan bahwa hari tersebut
sudah tidak lagi diperbolehkan berpuasa dan sebagai bentuk ketaatan segera
kepada perintah Alloh ﷻ
untuk berbuka.
Hadits
9: Tidak Makan Sebelum Kembali dari Sholat Pada Idul Adha
Pada Idul
Adha, disunnahkan untuk menunda makan agar makanan pertama yang disantap adalah
hasil sembelihan qurban jika memungkinkan.
عَنْ
بُرَيْدَةَ، قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ،
وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ»
Dari Buroidah
(62 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Nabi ﷺ
tidak keluar pada hari Fithri hingga beliau makan terlebih dahulu, dan beliau
tidak makan pada hari Adha hingga beliau melaksanakan Sholat.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 542)
Penjelasan
Singkat:
Para fuqoha
menjelaskan bahwa disunnahkan bagi orang yang memiliki hewan qurban untuk tidak
makan terlebih dahulu agar daging qurbannya menjadi makanan pertama yang ia
santap setelah Sholat sebagai bentuk tabarruk (mencari berkah).
Hadits
10: Mengambil Jalan yang Berbeda Saat Pergi dan Pulang
Disunnahkan
untuk merubah rute perjalanan saat berangkat dan pulang dari Sholat Id.
عَنْ
جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ
إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ»
Dari Jabir
bin Abdillah (78 H) Rodhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: “Nabi ﷺ apabila berada pada hari raya, beliau membedakan rute jalan
(antara berangkat dan pulang).” (HR. Al-Bukhori no. 986)
Penjelasan
Singkat:
Di antara
hikmahnya adalah agar lebih banyak jalan yang menjadi saksi amal ibadah,
menampakkan syiar Islam di berbagai penjuru, serta agar dapat bertemu dan
bersalaman dengan lebih banyak orang untuk menyebarkan salam.
BAGIAN 3: TAKBIR DAN DZIKIR
Hadits
11: Berjalan Kaki Menuju Tempat Sholat
Berjalan
kaki menuju tempat Sholat Id merupakan bagian dari adab yang dicontohkan oleh
Nabi ﷺ dan para Shohabat.
عَنْ
عَلِيٍّ، قَالَ: «مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى العِيدِ مَاشِيًا»
Dari Ali
bin Abi Tholib (40 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Termasuk sunnah
adalah engkau keluar menuju Sholat Id dengan berjalan kaki.” (HHR.
At-Tirmidzi no. 530)
Penjelasan
Singkat:
Berjalan
kaki menunjukkan ketawadhuan (rendah hati) dan memberikan kesempatan lebih
besar untuk berdzikir serta bertegur sapa dengan sesama Muslim di perjalanan.
Namun, jika jarak sangat jauh atau ada udzur (halangan), maka menggunakan
kendaraan.
Hadits
12: Pensyariatan Takbir Pada Hari Raya
Bertakbir
merupakan syiar utama pada hari raya sebagai bentuk pengagungan kepada Alloh ﷻ atas petunjuk-Nya.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا
اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾
Alloh Ta’ala
berfirman: “Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya (dengan
menggenapkan 30 hari jika mendung) dan hendaklah kalian bertakbir mengagungkan
Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.”
(QS. Al-Baqoroh: 185)
Penjelasan
Singkat:
Ayat ini
merupakan dasar disyariatkannya takbir, khususnya pada Idul Fithri setelah
menyelesaikan bilangan puasa Romadhon. Takbir dilakukan dengan suara keras bagi
laki-laki di rumah, Masjid, pasar, dan jalanan.
Hadits
13: Waktu Dimulainya Takbir Idul Fithri
Waktu
takbir Idul Fithri dimulai sejak malam hari raya hingga imam berdiri untuk
memimpin Sholat.
عَنِ
الزُّهْرِيِّ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ، فَيُكَبِّرُ
حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى، وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلَاةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلَاةَ،
قَطَعَ التَّكْبِيرَ»
Dari
Az-Zuhri (124 H) bahwasanya Rosululloh ﷺ
biasa keluar pada hari Fithri lalu beliau bertakbir hingga tiba di Musholla (lapangan),
dan hingga beliau menyelesaikan Sholat. Apabila beliau telah menyelesaikan Sholat,
beliau menghentikan takbir. (HSR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf no.
5621 secara mursal)
Syaikh
Al-Albani menilainya shohih dalam Silsilah Ash-Shohihah no. 171.
Hadits
14: Waktu Dimulainya Takbir Idul Adha (Takbir Muqoyyad)
Takbir pada
Idul Adha memiliki durasi yang lebih panjang, mencakup hari-hari Tasyriq.
عَنْ
عَلِيٍّ «أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ، إِلَى
صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ، وَيُكَبِّرُ بَعْدَ الْعَصْرِ»
Dari Ali
(40 H) Rodhiyallahu ‘Anhu bahwasanya beliau bertakbir mulai dari Sholat
fajar (Subuh) pada hari ‘Arofah hingga Ashar pada hari terakhir dari hari-hari
Tasyriq, dan beliau bertakbir setelah Ashar. (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 5631)
Penjelasan
Singkat:
Ini disebut
takbir muqoyyad, yaitu takbir yang terikat dengan waktu Sholat Fardhu.
Bagi yang tidak berhaji, takbir dimulai dari subuh hari ‘Arofah (9 Dzulhijjah)
hingga akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah).
‘Abdullah
berkata dalam kitab Masa-il (masalah-masalah) miliknya nomor (476): “Aku
bertanya kepada Ayahku —Al-Imam Ahmad (241 H)— tentang takbir pada ayyamut
tasyriq (hari-hari menjemur daging), maka beliau menjawab: ‘Dimulai dari
pagi hari ‘Arofah sampai akhir Ayyamut Tasyriq. Adapun ayyamut tasyriq adalah
tiga hari setelah Hari Nahr (penyembelihan/Idul Adha). Seseorang bertakbir
sampai Ashar kemudian berhenti, dan ini adalah takbir ‘Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu
‘Anhu.’ Ayahku berkata: ‘Dan kami mengambil (pendapat) ini’.”
Hadits
15: Shighot (Redaksi) Takbir yang Sesuai Atsar
Meskipun
tidak ada Hadits marfu’ yang membatasi redaksi tertentu, para Shohabat
mencontohkan lafadz takbir yang masyhur.
عَنِ
الْأَسْوَدِ، قَالَ: كَانَ عَبْدُ اللَّهِ، يُكَبِّرُ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ
عَرَفَةَ، إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنَ النَّحْرِ يَقُولُ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ
أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ
أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ»
Dari
Al-Aswad, ia berkata: Abdullah bin Mas’ud bertakbir dari Subuh hari Arofah
sampai Sholat Ashar dari hari Nahr dengan membaca: Allohu Akbar, Allohu
Akbar, Laa ilaha illallohu wallohu Akbar, Allohu Akbar walillahil hamd
(Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar, tidak ada sesembahan yang haq selain
Alloh, Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar, dan milik Alloh segala pujian).
(HSR. Ibnu Abi Syaibah no. 5633)
BAGIAN 4: TATA CARA SHOLAT ID
Hadits
16: Tempat Pelaksanaan Sholat Id (Lapangan)
Sunnah yang
utama dalam pelaksanaan Sholat Id adalah mengerjakannya di tanah lapang,
kecuali jika ada udzur seperti hujan atau keadaan darurat.
عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ
وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى»
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri (74 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rosululloh ﷺ biasa keluar pada hari Fithri dan hari Adha menuju musholla
(lapangan tempat Sholat).” (HR. Al-Bukhori no. 956 dan Muslim no. 889)
Penjelasan
Singkat:
Para fuqoha
menjelaskan bahwa Musholla dalam Hadits ini bukanlah bangunan Masjid kecil
seperti istilah sekarang, melainkan tanah lapang di luar pemukiman. Hal ini
bertujuan untuk menampakkan syiar Islam dan mengumpulkan seluruh kaum Muslimin
di satu tempat.
Hadits
17: Tidak Ada Adzan dan Iqomah Untuk Sholat Id
Sholat Id
dilaksanakan tanpa didahului oleh adzan maupun iqomah.
عَنْ
جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ: «صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ الْعِيدَيْنِ، غَيْرَ
مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ، بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ»
Dari Jabir
bin Samuroh (74 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Aku telah Sholat
bersama Rosululloh ﷺ pada 2 hari raya tidak hanya
sekali atau dua kali, tanpa adzan dan tanpa iqomah.” (HR. Muslim no. 887)
Penjelasan
Singkat:
Ibadah Sholat
Id langsung dimulai dengan takbirotul ihrom. Tidak disyariatkan pula ucapan “ash-sholatu
jami’ah” (Sholat akan ditegakkan secara berjamaah) karena tidak ada dalil
yang shohih mengenainya dalam Sholat Id.
Hadits
18: Tidak Ada Sholat Sunnah Qobliyyah dan Ba’diyyah
Tidak
disyariatkan melakukan Sholat sunnah sebelum maupun sesudah Sholat Id di tempat
pelaksanaan Sholat.
عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ خَرَجَ يَوْمَ الفِطْرِ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ
لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا»
Dari Ibnu ‘Abbas
(68 H) Rodhiyallahu ‘Anhuma: “Nabi ﷺ
keluar pada hari Fithri lalu beliau Sholat 2 rokaat, beliau tidak Sholat
(sunnah) sebelumnya dan tidak pula sesudahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 989)
Penjelasan
Singkat:
Larangan
ini berlaku jika Sholat Id dilakukan di lapangan. Namun, jika Sholat Id
dilaksanakan di Masjid karena suatu udzur, maka tetap disyariatkan Sholat
Tahiyatul Masjid sebelum duduk.
Hadits
19: Jumlah Takbir Tambahan Pada Rokaat Pertama dan Kedua
Dalam Sholat
Id terdapat tambahan takbir di luar takbirotul ihrom dan takbir perpindahan
gerakan.
مِنْ
عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَبَّرَ فِي
عِيدٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيرَةً، سَبْعًا فِي الْأُولَى، وَخَمْسًا فِي الْآخِرَةِ»
Dari ‘Amru
bin Syu’aib (118 H) dari ayahnya dari kakeknya bahwasanya: “Nabi ﷺ bertakbir pada Sholat Id sebanyak 12 takbir: 7 kali pada rokaat
pertama dan 5 kali pada rokaat terakhir.” (HHR. Ahmad no. 6688)
Penjelasan
Singkat:
Yakni 7
takbir pada rokaat pertama dilakukan setelah takbirotul ihrom dan sebelum
membaca Al-Fatihah. Sedangkan 5 takbir pada rokaat kedua dilakukan setelah
takbir intiqol (takbir saat bangun dari sujud) dan sebelum membaca Al-Fatihah.
Hadits
20: Bacaan Surat dalam Sholat Id
Rosululloh ﷺ biasanya membaca surat-surat tertentu yang mengandung
peringatan dan pengagungan.
عَنْ
عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، سَأَلَ أَبَا وَاقِدٍ
اللَّيْثِيَّ: مَا كَانَ يَقْرَأُ بِهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ؟
فَقَالَ: «كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِ ﴿ق وَالْقُرْآنِ
الْمَجِيدِ﴾، وَ﴿اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ﴾»
Dari
Ubaidillah bin Abdillah (102 H) bahwasanya Umar bin Al-Khoththob (23 H)
bertanya kepada Abu Waqid Al-Laitsi (68 H): “Apa yang biasa dibaca oleh Rosululloh
ﷺ pada Idul Adha dan Idul Fithri?” Maka ia menjawab: “Beliau
biasa membaca pada keduanya surat Qof dan surat Al-Qomar.” (HR. Muslim no.
891)
Penjelasan
Singkat:
Selain dua
surat di atas, dalam riwayat lain (HR. Muslim no. 878) disebutkan bahwa
Nabi ﷺ juga sering membaca surat Al-A’la pada rokaat pertama dan surat
Al-Ghosyiyah pada rokaat kedua.
BAGIAN 5: KHUTBAH DAN KETENTUAN
IDUL FITHRI
Hadits
21: Tata Cara Khutbah Hari Raya dan Hukum Mendengarkannya
Khutbah Id
dilaksanakan setelah Sholat, berbeda dengan Sholat Jumat yang khutbahnya
dilakukan sebelum Sholat.
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ، قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ الْعِيدَ،
فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ، قَالَ: «إِنَّا نَخْطُبُ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ
لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ»
Dari
Abdullah bin As-Sa’ib (sekitar 70 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku
menghadiri Sholat Id bersama Rosululloh ﷺ,
maka tatkala beliau telah menyelesaikan Sholat, beliau bersabda: “Sesungguhnya
kami akan berkhutbah, maka barangsiapa yang ingin duduk mendengarkan khutbah
silakan duduk, dan barangsiapa yang ingin pergi silakan pergi.” (HSR. Abu
Dawud no. 1155)
Penjelasan
Singkat:
Hadits ini
menunjukkan bahwa mendengarkan khutbah Id hukumnya adalah sunnah, bukan wajib.
Seseorang diperbolehkan langsung meninggalkan tempat setelah Sholat selesai,
meskipun berdiam diri untuk mendengarkan nasehat tentu lebih utama.
Hadits
22: Makmum yang Terlambat (Masbuq) dalam Sholat Id
Bagi makmum
yang terlambat, ia harus menyempurnakan rokaat yang tertinggal sebagaimana Sholat
lainnya.
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ، فَامْشُوا
إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا
أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا»
Dari Abu
Huroiroh (57 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda: “Apabila Sholat telah ditegakkan, maka janganlah kalian
mendatanginya dengan berlari, namun datangilah dengan berjalan, dan kalian
harus tenang. Apa yang kalian dapati (bersama imam) maka Sholatlah, dan apa
yang terlewat dari kalian maka sempurnakanlah.” (HR. Al-Bukhori no. 636 dan
Muslim no. 602)
Penjelasan
Singkat:
Jika makmum
mendapati imam sudah pada posisi ruku’ atau sujud, maka ia langsung mengikuti
imam. Setelah imam salam, ia berdiri menyempurnakan rokaat yang tertinggal
dengan tetap melakukan takbir tambahan (7 atau 5 takbir) pada rokaat tersebut
menurut pendapat yang masyhur.
Hadits
23: Kewajiban Zakat Fitri Sebagai Pembersih
Zakat Fitri
disyariatkan pada akhir Romadhon menjelang Idul Fithri sebagai penutup
kekurangan selama puasa.
عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ
مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ،
فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ
مِنَ الصَّدَقَاتِ»
Dari Ibnu ‘Abbas
(68 H) Rodhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: “Rosululloh ﷺ mewajibkan Zakat Fitri sebagai pembersih bagi orang yang
berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta sebagai pemberian
makan bagi orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum Sholat Id maka
itu Zakat yang diterima. Siapa yang menunaikannya setelahnya maka ia menjadi
sedekah.” (HSR. Abu Dawud no. 1609)
Penjelasan
Singkat:
Zakat Fitri
memiliki dua tujuan utama: hubungan vertikal (pembersihan diri bagi yang
berpuasa) dan hubungan horizontal (membantu kebutuhan makan fakir miskin di
hari raya).
Hadits
24: Waktu Penunaian Zakat Fitri yang Afdhol
Waktu
penunaian Zakat Fitri sangat terbatas agar benar-benar dapat dinikmati miskin
pada hari raya.
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «أَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ
خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ»
Dari Ibnu
Umar (73 H) Rodhiyallahu ‘Anhuma: “Rosululloh ﷺ
memerintahkan agar Zakat Fitri ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju Sholat
(Id).” (HR. Al-Bukhori no. 1503 dan Muslim no. 984)
Penjelasan
Singkat:
Para fuqoha
membagi waktu zakat fitri menjadi dua: waktu boleh (1 atau 2 hari sebelum Id)
dan waktu afdhol (setelah fajar 1 Syawal hingga sebelum Sholat Id). Jika
ditunaikan setelah Sholat Id tanpa udzur, maka statusnya hanya sedekah biasa
dan pelakunya berdosa karena menyelisihi perintah.
Hadits
25: Jenis dan Kadar Bahan Makanan Untuk Zakat Fitri
Zakat Fitri
dikeluarkan dalam bentuk bahan makanan pokok sebanyak 1 sho’.
عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ
الفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ،
أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ»
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri (74 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Kami dahulu (di zaman
Nabi) mengeluarkan Zakat Fitri sebanyak 1 sho’ dari makanan, atau 1 sho’
dari gandum, atau 1 sho’ dari kurma, atau 1 sho’ dari aqith
(susu kering), atau 1 sho’ dari kismis.” (HR. Al-Bukhori no. 1506)
Penjelasan
Singkat:
1 sho’
setara dengan 4 mud (cakupan dua telapak tangan laki-laki dewasa). Di
Indonesia, hal ini dikonversikan menjadi sekitar 2,5 kg hingga 3 kg beras.
Mayoritas ulama mewajibkan zakat fitri dalam bentuk makanan pokok daerah
setempat.
BAGIAN 6: KETENTUAN IDUL ADHA DAN
UDHHIYAH (KURBAN)
Hadits
26: Keutamaan Ibadah Qurban
Menyembelih
hewan qurban adalah ibadah yang paling dicintai Alloh ﷻ
pada hari raya Idul Adha.
عَنْ
عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ
النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ
القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ
مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا»
Dari Aisyah
(58 H) Rodhiyallahu ‘Anha bahwasanya Rosululloh ﷺ
bersabda: “Tidaklah seorang anak Adam melakukan suatu amalan pada hari nahr
(penyembelihan) yang lebih dicintai oleh Alloh daripada mengalirkan darah (qurban
pada hari raya Idul Adha). Sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat dengan
tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah
tersebut akan sampai di sisi Alloh di suatu tempat sebelum jatuh ke tanah, maka
lapangkanlah jiwa kalian dengan qurban tersebut.” (HR. At-Tirmidzi no. 1493
dan Ibnu Majah no. 3126)
Hadits ini
memiliki kelemahan namun didukung oleh keumuman dalil:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُرْطٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
«إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ،
ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ»
Dari Abdullah bin Qurth, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Hari
terbaik di sisi Allah adalah hari Nahr (qurban) lalu hari Qorr (11 Dzulhijjah).”
(HSR. Abu Dawud no. 1765)
Hadits
27: Larangan Memotong Rambut dan Kuku Bagi yang Hendak Berqurban
Bagi orang
yang telah berniat berqurban, terdapat larangan khusus saat memasuki bulan
Dzulhijjah.
عَنْ
أُمِّ سَلَمَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ،
وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ»
Dari Ummu
Salamah (62 H) Rodhiyallahu ‘Anha bahwasanya Nabi ﷺ bersabda: “Apabila kalian telah melihat hilal Dzulhijjah, dan
salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka hendaklah ia menahan
(tidak memotong) rambut dan kuku-kukunya.” (HR. Muslim no. 1977)
Penjelasan
Singkat:
Larangan
ini dimulai dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih.
Larangan ini berlaku bagi orang yang berqurban (shohibul qurban), bukan
bagi anggota keluarganya atau tukang jagal.
Hadits
28: Waktu Penyembelihan Qurban yang Sah
Penyembelihan
qurban harus dilakukan setelah pelaksanaan Sholat Idul Adha agar sah sebagai
ibadah qurban.
عَنْ
جُنْدَبٍ، أَنَّهُ شَهِدَ النَّبِيَّ ﷺ يَوْمَ النَّحْرِ صَلَّى، ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ:
«مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَمَنْ لَمْ
يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ»
Dari Jundab
bin Sufyan Al-Bajali (sekitar 60 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia menyaksikan
Nabi ﷺ pada hari Nahr, beliau Sholat lalu berkhutbah: “Barangsiapa
yang menyembelih sebelum ia Sholat (Id), maka hendaklah ia mengulanginya dengan
sembelihan lain sebagai gantinya. Dan barangsiapa yang belum menyembelih hingga
kami Sholat, maka hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Alloh.” (HR.
Al-Bukhori no. 7400 dan Muslim no. 1960)
Penjelasan
Singkat:
Waktu qurban
dimulai setelah Sholat Id dan berlangsung hingga matahari terbenam pada hari
Tasyriq yang terakhir (13 Dzulhijjah).
Hadits
29: Kriteria Hewan Qurban yang Memenuhi Syarat
Hewan qurban
harus mencapai usia tertentu sesuai jenisnya (musinnah) agar sah secara
syariat.
عَنْ
جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً، إِلَّا
أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ، فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ»
Dari Jabir
(78 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah
(hewan yang sudah ganti gigi), kecuali jika hal itu sulit bagi kalian, maka
sembelihlah jadza’ah (domba berusia minimal 6-12 bulan).” (HR. Muslim
no. 1963)
Penjelasan
Singkat:
Musinnah
untuk kambing/domba adalah usia 1 tahun masuk tahun ke 2. Untuk sapi adalah
usia 2 tahun masuk tahun ke 3. Sedangkan untuk unta adalah usia 5 tahun masuk
tahun ke 6.
Hadits
30: Cacat Hewan yang Menyebabkan Qurban Tidak Sah
Tidak semua
hewan boleh dijadikan qurban; ada kriteria fisik yang harus dipenuhi untuk keabsahan
ibadah ini.
عَنِ
الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: «أَرْبَعٌ
لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ: الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ
مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا، وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى»
Dari
Al-Baro’ bin ‘Azib (72 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ berdiri di tengah-tengah kami lalu bersabda: “Ada 4 jenis hewan
yang tidak boleh dijadikan qurban: yang buta sebelah dan jelas kebutaannya,
yang sakit dan jelas sakitnya, yang pincang dan jelas pincangnya, serta yang
sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang.” (HSR. Abu Dawud no. 2802)
BAGIAN 7: LARANGAN DALAM QURBAN
DAN HARI TASYRIQ
Hadits
31: Larangan Menjual Bagian Apa Pun dari Hewan Qurban
Hewan qurban
yang telah diserahkan karena Alloh ﷻ
tidak boleh dikomersialkan kembali oleh pemiliknya, baik itu daging, kulit,
maupun bulunya.
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ بَاعَ
جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلَا أُضْحِيَّةَ لَهُ»
Dari Abu Huroiroh
(57 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang menjual kulit hewan qurbannya, maka
tidak ada qurban baginya (tidak sah/tidak berpahala).” (HHR. Al-Hakim no.
3468, Shohih Al-Jami’ no. 6118)
Penjelasan
Singkat:
Hadits ini
menegaskan bahwa seluruh bagian hewan qurban harus dimanfaatkan untuk
kepentingan ibadah, baik dimakan sendiri, disedekahkan, atau dihadiahkan.
Menjual bagian qurban untuk keuntungan pribadi membatalkan nilai ibadah qurban
tersebut.
Hadits
32: Upah Penyembelih Bukan dari Bagian Qurban
Penyembelih
atau tukang jagal harus diupah dengan harta pribadi pemilik qurban, bukan
diambil dari bagian tubuh hewan qurban.
عَنْ
عَلِيٍّ، قَالَ: «أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ أَتَصَدَّقَ
بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا، وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا»،
قَالَ: «نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا»
Dari Ali
(40 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurbannya, menyedekahkan
dagingnya, kulitnya, dan pakaian punggungnya, serta aku tidak boleh memberikan
bagian apa pun kepada penjagal sebagai upahnya. Beliau bersabda: “Kami
memberikan upah kepadanya dari harta kami sendiri.” (HR. Muslim no. 1317)
Penjelasan
Singkat:
Memberikan
daging kepada penjagal hukumnya boleh jika diniatkan sebagai sedekah atau
hadiah, namun tidak boleh diniatkan atau dijadikan sebagai alat bayar (upah)
atas jasanya menyembelih.
Hadits
33: Pembagian Daging Qurban
Syariat
memberikan kelonggaran bagi pemilik qurban untuk mengelola daging qurbannya.
عَنْ
جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهُ نَهَى عَنْ أَكْلِ لُحُومِ الضَّحَايَا بَعْدَ
ثَلَاثٍ، ثُمَّ قَالَ بَعْدُ: «كُلُوا، وَتَزَوَّدُوا، وَادَّخِرُوا»
Dari Jabir
bin Abdillah (78 H) Rodhiyallahu ‘Anhuma, dari Nabi ﷺ: Bahwasanya beliau dahulu melarang memakan daging qurban
setelah 3 hari, kemudian setelah itu beliau bersabda: “Makanlah, berilah untuk
bekal, dan simpanlah.” (HR. Muslim no. 1972)
Penjelasan
Singkat:
Larangan
menyimpan daging lebih dari 3 hari pada masa awal Islam bertujuan agar daging
tersebut segera habis dibagikan kepada orang-orang miskin yang sedang tertimpa
krisis pangan. Setelah keadaan membaik, Nabi ﷺ
membolehkan pemiliknya untuk memakan, memberikan kepada orang lain, maupun
menyimpannya sebagai persediaan. Porsinya bebas. Sebagian ulama menyukai 1/3
untuk dimakan sendiri, 1/3 disedekahkan, dan 1/3 dihadiahkan.
Hadits
34: Keutamaan Hari Tasyriq Sebagai Hari Makan dan Minum
Hari
Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) adalah waktu untuk menikmati karunia Alloh ﷻ berupa makanan dan minuman.
عَنْ
نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ
أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ»
Dari Nubaisyah
Al-Hudzali Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk makan,
minum, dan berdzikir kepada Alloh.” (HR. Muslim no. 1141)
Penjelasan
Singkat:
Hadits ini
menunjukkan bahwa dalam Islam, kegembiraan fisik (makan dan minum) harus
dibarengi dengan ketaatan spiritual (dzikir). Dzikir yang dimaksud mencakup
takbir setiap selesai Sholat fardhu dan menyebut nama Alloh ﷻ saat menyembelih hewan.
Hadits
35: Larangan Berpuasa Pada Hari Tasyriq
Karena
hari-hari tersebut adalah hari jamuan dari Alloh ﷻ,
maka diharomkan untuk berpuasa di dalamnya.
عَنْ
عَائِشَةَ، وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، قَالاَ: «لَمْ يُرَخَّصْ
فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ، إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الهَدْيَ»
Dari Aisyah
(58 H) dan Ibnu Umar (73 H) Rodhiyallahu ‘Anhum, keduanya berkata: “Tidak
diberikan keringanan pada hari-hari Tasyriq untuk berpuasa, kecuali bagi orang
yang tidak mendapati hadyu (hewan qurban bagi jamaah Haji Tamattu’ atau Qiron).”
(HR. Al-Bukhori no. 1998)
Penjelasan
Singkat:
Bagi orang
yang tidak sedang berhaji, larangan puasa pada hari Tasyriq bersifat mutlak.
Adapun bagi jamaah haji yang wajib membayar denda hewan (hadyu) namun
tidak mampu, mereka diberi pengecualian untuk berpuasa pada hari-hari tersebut.
BAGIAN 8: SOSIAL, TRADISI, DAN
LARANGAN
Hadits
36: Perintah Berdzikir Pada Hari-Hari yang telah Ditentukan
Dzikir pada
hari raya dan hari Tasyriq adalah bagian dari perintah Al-Quran yang harus
dihidupkan.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ﴾
Alloh Ta’ala
berfirman: “Dan berdzikirlah kepada Alloh pada hari-hari yang telah ditentukan.”
(QS. Al-Baqoroh: 203)
Penjelasan
Singkat:
Ibnu Abbas
(68 H) menjelaskan bahwa “hari-hari yang telah ditentukan” adalah hari-hari
Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Dzikir di sini mencakup takbir muqoyyad
(setelah Sholat) dan penyebutan nama Alloh ﷻ
saat menyembelih atau hendak makan.
Hadits
37: Ucapan Selamat (Tahniah) Antar Sesama Muslim
Saling
mendoakan kebaikan saat bertemu di hari raya merupakan kebiasaan para Shohabat
Nabi ﷺ.
عَنْ
جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ: كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذَا الْتَقَوْا
يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: «تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ»
Dari Jubair
bin Nufair (80 H) Rohimahullah, ia berkata: Dahulu para shohabat Rosululloh ﷺ apabila mereka saling bertemu pada hari raya, sebagian mereka
mengucapkan kepada sebagian lainnya: “Taqobbalallohu minna wa minka”
(Semoga Alloh menerima amal kami dan amalmu). (HSR. Al-Mahamili no. 147
dalam Sholatu Idain)
Ia dinilai hasan oleh Ibnu Hajar dan Al-Qostholani, dan shohih oleh
Albani.
Penjelasan
Singkat:
Meskipun
tidak ada redaksi khusus dari Nabi ﷺ
secara langsung, perbuatan para Shohabat menunjukkan bahwa mengucapkan selamat
hari raya dengan doa adalah hal yang disyariatkan.
Hadits
38: Meluangkan Waktu Untuk Kegembiraan yang Mubah
Islam
memberikan ruang bagi umatnya untuk mengekspresikan kegembiraan di hari raya
selama tidak melanggar batasan syariat.
عَنْ
عَائِشَةَ، قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ
بِغِنَاءِ بُعَاثَ، فَاضْطَجَعَ عَلَى الفِرَاشِ، وَحَوَّلَ وَجْهَهُ، وَدَخَلَ أَبُو
بَكْرٍ، فَانْتَهَرَنِي وَقَالَ: مِزْمَارَةُ الشَّيْطَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَأَقْبَلَ
عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَقَالَ: «دَعْهُمَا، [يَا أَبَا بَكْرٍ،
إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا]»
Dari Aisyah
(58 H) Rodhiyallahu ‘Anha, ia berkata: Rosululloh ﷺ masuk menemuiku sedangkan di sisiku ada 2 anak perempuan kecil
yang sedang bernyanyi dengan nyanyian Bu’ats. Lalu beliau berbaring di tempat
tidur. Kemudian Abu Bakar (13 H) masuk dan menghardikku seraya berkata: “Seruling
setan di dekat Nabi ﷺ?” Maka Rosululloh ﷺ menghadap kepadanya dan bersabda: “Biarkanlah mereka wahai Abu
Bakr, karena setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.”
(HR. Al-Bukhori no. 949 dan Muslim no. 892)
Penjelasan
Singkat:
Hadits ini
menunjukkan bahwa menampakkan kegembiraan pada hari raya adalah bagian dari
syiar agama. Hal ini mencakup nyanyian yang tidak mengandung kata-kata kotor,
permainan ketangkasan, dan hiburan yang mubah lainnya.
Hadits
39: Menyambung Tali Silaturohmi di Hari Raya
Hari raya
adalah momentum terbaik untuk memperbaiki hubungan dan mengunjungi sanak
saudara.
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»
Dari Abu Huroiroh
(57 H) Rodhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah
ia menyambung tali silaturohmi.” (HR. Al-Bukhori no. 6138)
Penjelasan
Singkat:
Secara
khusus sebagian ulama menyebutkan bahwa berkunjung ke rumah kerabat dan
tetangga di hari raya adalah tradisi baik yang sejalan dengan perintah umum
silaturohmi dalam Islam.
Hadits
40: Larangan Tasyabbuh (Menyerupai) Perayaan Kaum Musyrikin
Umat Islam
dilarang mencampuradukkan perayaan hari rayanya dengan ritual atau cara-cara
kaum kafir.
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
Dari Ibnu
Umar (73 H) Rodhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia
termasuk bagian dari mereka.” (HSR. Abu Dawud no. 4031)
Penjelasan
Singkat:
Hadits ini
merupakan kaidah penting agar umat Islam menjaga identitas agamanya di hari
raya. Perayaan harus dilakukan sesuai tuntunan sunnah dan tidak mengikuti gaya
hidup, ritual, atau atribut keagamaan umat lain (tasyabbuh).
KHOTIMAH
Segala puji
bagi Alloh ﷻ yang dengan nikmat-Nya segala
amal sholih menjadi sempurna. Penulisan buku Arbain Hari Raya Idul Fithri
dan Idul Adha ini telah selesai dengan menghimpun 40 dalil pokok yang
mencakup hukum, adab, serta syiar-syiar penting dalam dua hari besar umat
Islam.
Penyusunan Hadits-Hadits
ini dimaksudkan untuk memberikan panduan praktis yang berlandaskan dalil yang
shohih dan pemahaman para fuqoha. Dimulai dari pensyariatan hari raya, tata
cara Sholat Id, ketentuan Zakat Fitri, hingga rincian ibadah qurban dan adab-adab
sosial di dalamnya. Kesimpulan besar dari seluruh dalil yang telah disebutkan
adalah:
Ittiba’: Bahwa hari raya adalah ibadah yang
bersifat tauqifiyyah (berdasarkan wahyu), maka pelaksanaannya harus
mengikuti contoh dari Rosululloh ﷺ
dan para Shohabat Rodhiyallahu ‘Anhum.
Ibadah: Islam menyeimbangkan antara
kegembiraan jasmani (makan, minum, dan hiburan mubah) dengan pengagungan rohani
(dzikir, takbir, dan Sholat).
Sosial: Hari raya bukan sekadar perayaan
pribadi, melainkan kesempatan untuk memperkuat ikatan umat melalui zakat,
pembagian daging qurban, dan silaturahmi.
Kami
berharap buku ringkas ini dapat menjadi rujukan bagi para dai, tholibul ilmi
(penuntut ilmu), maupun masyarakat umum dalam menghidupkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ di hari raya.
Semoga setiap
huruf yang ditulis dan setiap ilmu yang diamalkan dari buku ini menjadi
pemberat timbangan kebaikan di hari Kiamat kelak.
«سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»
Maha Suci
Engkau ya Alloh dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan
yang haq kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.[]
%20Tentang%20Hari%20Raya%20Idul%20Fithri%20dan%20Idul%20Adha%20-%20Nor%20Kandir.jpg)