Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Petunjuk Nabawi Menyambut Sang Buah Hati - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh, Dzat yang Maha Memberi (Al-Wahhab), yang dengan kehendak-Nya Dia menganugerahkan anak-anak kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kita memuji-Nya atas segala ni’mat, baik ni’mat yang telah tampak maupun yang masih tersimpan dalam rahasia takdir-Nya.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan mulia, Rosululloh , yang sangat bangga dengan jumlah umatnya yang banyak pada hari Kiamat kelak, serta kepada keluarga dan para Shohabat beliau yang telah mendidik generasi terbaik di bawah naungan wahyu.

Buku ini disusun sebagai sebuah risalah cinta dan panduan ilmiyyah bagi setiap jiwa yang sedang menanti, yang sedang mengandung, atau yang sedang bersiap menyambut kehadiran sang buah hati. Kehadiran seorang anak bukan sekadar peristiwa biologis semata, melainkan sebuah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Alloh Ta’ala. Alloh menyandingkan ni’mat harta dan anak sebagai perhiasan dunia, sebagaimana firman-Nya:

﴿الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Robbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Bagi hati yang merindu, yang setiap malam bersujud dalam tangis memohon keturunan, ketahuilah bahwa Alloh Maha Mendengar. Penantian Anda adalah ibadah, dan kesabaran Anda adalah timbangan pahala yang berat. Alloh menceritakan bagaimana Nabi Zakariyya ‘alaihis salam tetap optimis dalam doanya meski raga telah renta:

﴿هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Di sanalah Zakariyya berdoa kepada Robbnya. Dia berkata, ‘Ya Robbku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sungguh Engkau Maha Mendengar doa.’” (QS. Ali ‘Imron: 38)

Buku ini hadir untuk menjembatani antara keteguhan iman dan ikhtiar yang benar. Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual, tetapi juga memberikan tuntunan rinci sejak benih itu ditanam hingga ia menatap dunia. Kita akan menyelami samudera dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena tidak ada petunjuk yang lebih akurat daripada wahyu. Rosululloh bersabda:

«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik no. 1594)

Sejalan dengan itu, keselamatan medis adalah bagian dari menjaga jiwa (hifzun nafs) yang merupakan salah satu dari tujuan utama syariat (maqoshid asy-syari’ah). Mengabaikan aspek kesehatan dalam kehamilan dan persalinan bukanlah bentuk tawakkal yang benar, melainkan sebuah kelalaian. Islam memerintahkan kita untuk bertanya kepada ahli jika kita tidak mengetahui, dan dalam hal ini, para dokter dan tenaga medis adalah mitra dalam menjaga amanah Alloh.

Setiap bab dalam buku ini dirancang untuk menguatkan mental orang tua. Kita akan membahas bagaimana mempersiapkan ruhiyah agar saat anak lahir, ia disambut oleh lingkungan yang bertauhid. Kita akan membedah hak-hak janin dalam kandungan, bagaimana syariat memberikan keringanan bagi ibu hamil, hingga detik-detik persalinan yang penuh perjuangan. Sungguh, rasa sakit yang dialami seorang ibu saat melahirkan adalah penggugur dosa dan pengangkat derajat, asalkan dihadapi dengan iman.

Bagi Anda yang sedang memegang buku ini dengan harapan besar, semoga setiap hurufnya menjadi penyejuk hati. Anak adalah investasi Akhiroh yang tidak akan terputus pahalanya. Sebagaimana sabda Nabi :

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

BAB 1: MENANTI KEHADIRAN SANG BUAH HATI DALAM DEKAPAN DOA

1.1 Hakikat anak dalam pandangan syariat: Perhiasan dunia dan investasi Akhiroh

Anak adalah karunia yang paling murni, sebuah amanah yang diletakkan Alloh di pundak hamba-Nya untuk dijaga dan dididik. Dalam Islam, anak bukan sekadar penerus garis keturunan atau pembantu di masa tua, melainkan ujian sekaligus anugerah besar. Alloh Ta’ala berfirman mengenai kedudukan anak sebagai perhiasan:

﴿الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Sebagai perhiasan, ia memperindah kehidupan, namun Islam mengingatkan agar keindahan tersebut tidak melalaikan manusia dari tujuan penciptaannya. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sungguh di sisi Alloh-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)

Anak disebut sebagai fitnah karena orang tua seringkali terbawa emosi dan kecintaan yang berlebih sehingga melampaui batas syariat. Namun, jika dididik dengan benar, anak berganti menjadi tabungan abadi. Rosululloh bersabda mengenai kemuliaan orang tua yang memiliki anak yang memohonkan ampun baginya:

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ»

“Sungguh Alloh ‘Azza wa Jalla benar-benar mengangkat derajat seorang hamba yang sholih di Jannah, maka hamba itu bertanya: ‘Wahai Robbku, dari mana aku mendapatkan ini?’ Alloh berfirman: ‘Karena istighfar (permohonan ampun) anakmu untukmu.’” (HHR. Ahmad no. 10610)

Inilah hakikat tertinggi seorang anak dalam Islam; ia adalah jembatan menuju Jannah. Bagi mereka yang memahami ini, persiapan menyambut kelahiran bukan sekadar menyiapkan pakaian atau kamar bayi, melainkan menyiapkan jiwa untuk mengemban amanah “mencetak” hamba Alloh yang bertaqwa.

1.2 Merawat kesabaran bagi hati yang merindu

Bagi Anda yang saat ini tengah menanti dalam kerinduan yang mendalam, ketahuilah bahwa perasaan ini juga pernah dialami oleh manusia-manusia terbaik pilihan Alloh. Nabi Ibrohim ‘alaihis salam dan Nabi Zakariyya ‘alaihis salam melewati masa penantian yang sangat panjang hingga usia senja. Hal ini menunjukkan bahwa keterlambatan hadirnya anak bukanlah tanda kebencian Alloh, melainkan sebuah rencana indah untuk melatih kesabaran.

Alloh menceritakan kerinduan Nabi Ibrohim ‘alaihis salam melalui doanya yang abadi:

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Robbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholih.” (QS. Ash-Shoffat: 100)

Lihatlah bagaimana beliau tidak sekadar meminta “anak”, melainkan menekankan pada kualitas “sholih”. Penantian beliau berbuah manis dengan lahirnya Ismail ‘alaihis salam dan Ishaq (baca: Is-haq) ‘alaihis salam.

Begitu pula Nabi Zakariyya ‘alaihis salam yang merasa khawatir akan kelanjutan dakwahnya jika tidak memiliki penerus. Beliau mengadu kepada Alloh dengan penuh adab:

﴿قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

“Dia (Zakariyya) berkata, ‘Ya Robbku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Robbku.’” (QS. Maryam: 4)

Ayat ini merupakan pelipur lara bagi siapa pun yang merasa secara medis “tidak mungkin” lagi memiliki anak. Nabi Zakariyya mengajarkan bahwa meski raga melemah secara biologis, harapan kepada Sang Pencipta tidak boleh surut. Jawaban Alloh terhadap keteguhan beliau tercantum dalam firman-Nya:

﴿فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sungguh mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90)

Imam Al-Qurthubi (671 H) dalam tafsirnya menyebutkan bahwa “memperbaiki istrinya” bermakna Alloh menyembuhkan rahim istrinya yang sebelumnya mandul. Ini adalah bukti bahwa kekuasaan Alloh berada di atas segala hukum medis.

1.3 Adab dan wasilah doa dalam memohon keturunan yang sholih

Doa adalah kunci yang membuka pintu-pintu takdir yang tertutup. Namun, doa memiliki adab agar lebih mudah diijabah. Selain meratap di sepertiga malam terakhir, Islam mengajarkan kalimat-kalimat khusus yang dipetik dari wahyu. Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk terus dibaca oleh pasangan suami istri adalah:

﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Selain doa, terdapat wasilah (perantara) yang diperintahkan syariat untuk mempercepat datangnya pertolongan Alloh, di antaranya:

a. Memperbanyak istighfar

Istighfar adalah pembuka sumbat rizqi, termasuk rizqi anak. Alloh Ta’ala berfirman menirukan ucapan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya:

﴿فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Robbmu, sungguh Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu...’” (QS. Nuh: 10-12)

Imam Al-Hasan Al-Bashri (110 H) pernah didatangi seseorang yang mengadu tentang kemandulan, lalu beliau memerintahkannya untuk beristighfar seraya membacakan ayat di atas.

b. Bersedekah dengan niat yang tulus

Rosululloh bersabda:

«دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ»

“Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (Shohihul Jami no. 3358)

Kemandulan atau gangguan kesuburan secara medis dapat dipandang sebagai “penyakit” yang perlu diobati, dan sedekah adalah obat langit yang sangat mujarab jika dibarengi dengan keyakinan penuh.

c. Memperhatikan makanan yang halal

Doa tidak akan terangkat jika darah yang mengalir di tubuh berasal dari harta harom. Rosululloh menyebutkan tentang seseorang yang menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa “Ya Robb, Ya Robb”, namun makanannya harom, maka beliau bersabda:

«فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ»

“Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)

Menutup bab ini, bagi setiap calon orang tua, mulailah perjalanan ini dengan menyucikan batin. Bersihkan hati dari rasa iri terhadap mereka yang telah dikaruniai anak, dan gantilah dengan keyakinan bahwa Alloh akan memberikan yang terbaik pada waktu yang paling tepat. Persiapan mental inilah yang akan menjadi fondasi kuat saat Alloh benar-benar menitipkan janin di rahim nanti.

BAB 2: PERSIAPAN ROHANI DAN FISIK PASUTRI

2.1 Memperbaiki niat dan bertaubat sebagai pembuka pintu rizqi anak

Langkah awal sebelum menanam benih adalah memastikan bahwa tanah tempatnya tumbuh adalah tanah yang subur dan bersih. Dalam konteks kehadiran anak, “tanah” tersebut adalah hati dan jiwa pasangan suami istri. Memperbaiki niat merupakan pondasi utama. Jika niat memiliki anak hanya untuk sekadar kebanggaan duniawi atau agar tidak kalah saing dengan orang lain, maka keberkahan akan menjauh. Niatkanlah memiliki keturunan agar lahir hamba Alloh yang akan bersujud dan meninggikan kalimat-Nya di muka bumi.

Alloh Ta’ala berfirman mengenai pentingnya kesucian jiwa dalam meraih karunia:

﴿وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

Rizqi dalam ayat ini mencakup segala hal, termasuk kehadiran buah hati. Bertaubat dari kemaksiatan masa lalu adalah kunci. Dosa-dosa yang kita lakukan bisa menjadi penghalang bagi terkabulnya doa. Sebagaimana perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (751 H) dalam kitab Al-Jawabul Kafi, bahwa di antara dampak buruk kemaksiatan adalah terhalangnya rizqi dan sulitnya urusan. Maka, sebelum memulai ikhtiar fisik, basuhlah jiwa dengan taubat nasuha. Sungguh, Alloh sangat mencintai hamba-Nya yang kembali kepada-Nya:

﴿إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sungguh Alloh menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh: 222)

2.2 Hubungan suami istri yang diberkahi

Islam memandang hubungan suami istri bukan sekadar pelampiasan nafsu, melainkan ibadah yang mendatangkan pahala dan keberkahan bagi calon janin. Rosululloh mengajarkan adab yang sangat penting sebelum memulai hubungan, yaitu membaca doa untuk memohon perlindungan dari gangguan syaithon bagi keturunan yang akan dihasilkan.

Beliau bersabda:

«لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا»

“Jika salah seorang dari mereka hendak mendatangi istrinya, ia membaca: ‘Bismillah, Allohumma jannibnasy syaithoonaa wa jannibisy syaithoonaa ma rozaqtanaa’ (Dengan nama Alloh, ya Alloh jauhkanlah kami dari syaithon dan jauhkanlah syaithon dari apa yang Engkau rizqikan kepada kami). Maka jika ditakdirkan lahir seorang anak dari hubungan tersebut, syaithon tidak akan bisa mencelakakannya selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6388 dan Muslim no. 1434)

Dari sisi kesehatan, syariat juga mengatur waktu-waktu yang diharomkan untuk berhubungan, yaitu saat istri sedang haid atau nifas. Hal ini selaras dengan keselamatan medis karena berhubungan saat haid dapat memicu infeksi dan berbagai risiko kesehatan reproduksi. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah suatu kotoran (gangguan)’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Imam An-Nawawi (676 H) menjelaskan dalam Syarh Shohih Muslim bahwa hikmah dilarangnya hal ini adalah untuk menjaga kemaslahatan fisik dan kesucian jiwa. Pasangan yang menjaga batasan syariat ini akan mendapatkan ketenangan batin yang mendukung kualitas kesuburan mereka.

2.3 Ikhtiar medis dan tawakal

Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kedokteran. Melakukan ikhtiar medis untuk meningkatkan kesuburan atau mengatasi hambatan kehamilan adalah bagian dari perintah agama untuk berobat. Rosululloh bersabda:

«تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ»

“Berobatlah kalian, karena sungguh Alloh ‘Azza wa Jalla tidak meletakkan suatu penyakit melainkan Dia juga meletakkan obatnya, kecuali satu penyakit yaitu masa tua.” (HSR. Abu Dawud no. 3855)

Bagi suami istri, menjaga kesehatan fisik mencakup beberapa aspek penting yang ditekankan baik secara syar’i maupun medis:

a. Mengonsumsi Makanan yang Thoyyib (Baik)

Alloh memerintahkan kita untuk memakan makanan yang halal lagi baik. Dalam konteks kesuburan, makanan yang kaya nutrisi seperti madu, kurma, dan zaitun sangat dianjurkan. Alloh Ta’ala berfirman mengenai madu:

﴿يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)

b. Menghindari Hal-hal yang Merusak Tubuh

Segala sesuatu yang membahayakan kesehatan (seperti rokok, alkohol, atau stres berlebih) harus dijauhi. Disamping harom, ia berbahaya bagi tubuh. Kaidah syariat menyebutkan:

«لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ»

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HSR. Ibnu Majah no. 2341)

c. Konsultasi dengan Ahli (Dokter)

Jika dalam waktu tertentu kehamilan belum terjadi, syariat mengarahkan kita untuk bertanya kepada ahlinya.

﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Tawakal bukan berarti berdiam diri, melainkan melakukan ikhtiar maksimal secara medis kemudian menyerahkan hasilnya kepada Alloh. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa mengabaikan sebab (ikhtiar) adalah kekurangan dalam akal, sementara menyandarkan hati sepenuhnya pada sebab adalah kekurangan dalam tauhid.

Persiapan fisik dan spiritual yang matang ini adalah bentuk penghormatan kita terhadap nyawa yang akan ditiupkan nanti. Dengan tubuh yang sehat dan hati yang bersih, pasangan suami istri telah siap menjadi orang tua yang akan mengasuh tunas baru umat Muhammad .

BAB 3: MASA KEHAMILAN

3.1 Kewajiban menjaga janin

Ketika pembuahan terjadi dan janin mulai menetap di dalam rahim, maka saat itu pula hak-hak sebagai manusia mulai melekat padanya. Islam sangat menjunjung tinggi hak hidup janin; ia bukanlah sekadar gumpalan daging, melainkan calon hamba Alloh yang wajib dilindungi. Alloh Ta’ala berfirman mengenai proses penciptaan manusia yang menakjubkan ini:

﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ * ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ * ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (bentuk) lain. Mahasuci Alloh, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun: 12-14)

Karena janin berada dalam “tempat yang kokoh” (rahim), maka ibu sebagai pemegang amanah wajib memberikan nutrisi yang thoyyib (baik dan sehat). Nutrisi ini tidak hanya berpengaruh pada fisik, tetapi juga pada perkembangan otak dan watak anak kelak. Alloh berfirman:

﴿كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا

“Makanlah dari makanan yang baik-baik (thoyyib), dan kerjakanlah amal sholih.” (QS. Al-Mu’minun: 51)

Imam Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa mengonsumsi makanan yang halal dan bergizi merupakan penopang utama dalam melakukan amal sholih.

Secara medis, asupan asam folat, zat besi, dan vitamin yang cukup adalah hak janin yang harus dipenuhi oleh sang ibu demi mencegah kecacatan dan mendukung tumbuh kembangnya.

3.2 Amalan-amalan utama bagi ibu hamil

Masa kehamilan adalah masa “pendidikan” pertama. Meskipun janin belum memahami bahasa manusia, namun ia sudah dapat merasakan ketenangan dari suara ibunya dan getaran spiritual dari bacaan Al-Qur’an. Ibu hamil sangat dianjurkan untuk memperbanyak interaksi dengan Kalamullah. Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ro’d: 28)

Ketenteraman hati ibu hamil sangat berpengaruh pada stabilitas hormon yang mendukung kesehatan janin. Selain itu, para ulama menekankan pentingnya menjaga lisan dan pandangan selama hamil agar sifat-sifat mulia tertular pada anak. Rosululloh bersabda tentang pengaruh lingkungan dan orang tua terhadap fitroh anak:

«كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

“Setiap anak dilahirkan di atas fitroh, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasroni, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhori no. 1385 dan Muslim no. 2658)

Maka, jadikanlah masa kehamilan sebagai momentum untuk memperbaiki diri (ishlahun nafs). Dzikir pagi dan petang tidak boleh ditinggalkan sebagai perisai bagi ibu dan janin dari gangguan syaithon dan penyakit lahir maupun batin.

3.3 Keringanan syariat bagi ibu hamil dalam ibadah

Islam adalah agama yang penuh rohmat dan tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Alloh memahami bahwa kehamilan membawa keletihan yang luar biasa (wahnan ‘ala wahnin). Oleh karena itu, terdapat keringanan (rukhsoh) khusus bagi ibu hamil, terutama dalam ibadah puasa.

Rosululloh bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ المُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلَاةِ، وَعَنِ الحَامِلِ أَوِ المُرْضِعِ الصَّوْمَ»

“Sungguh Alloh Ta’ala menggugurkan kewajiban puasa dan separuh Sholat bagi musafir, serta menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita hamil atau menyusui (jika mereka khawatir akan keselamatan diri atau anaknya).” (HSR. At-Tirmidzi no. 715)

Jika seorang ibu hamil khawatir akan kesehatan janinnya apabila ia berpuasa, maka ia diperbolehkan —bahkan dianjurkan— untuk berbuka dan menggantinya di hari lain atau membayar fidyah sesuai dengan ijtihad para ulama. Hal ini menunjukkan bahwa nyawa janin sangat berharga dalam timbangan syariat.

3.4 Pemantauan medis berkala

Tawakkal yang sempurna harus dibarengi dengan ikhtiar lahiriyah yang tepat. Memeriksakan kehamilan ke dokter spesialis kandungan atau bidan adalah perwujudan dari perintah Alloh untuk menjaga titipan-Nya, jika mampu secara finansial. Pemantauan medis bertujuan untuk mendeteksi dini risiko seperti preeklamsia, diabetes gestasional, atau posisi janin yang memerlukan tindakan khusus.

Kaidah fiqih menyebutkan:

الضَّرَرُ يُزَالُ

“Kemudhorotan (bahaya) harus dihilangkan.”

Mengabaikan pemeriksaan medis yang berakibat fatal bagi janin —padahal mampu— dapat dikategorikan sebagai kelalaian dalam menjaga amanah. Melalui teknologi seperti USG, kita bisa melihat tanda-tanda kebesaran Alloh dalam rahim, yang seharusnya menambah keimanan kita. Penjagaan kesehatan ini adalah bentuk pengamalan dari firman Alloh:

﴿وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqoroh: 195)

Dengan menjaga keseimbangan antara asupan ruhiyah (dzikir dan Al-Qur’an) serta asupan jasmaniyah (nutrisi dan kontrol medis), seorang ibu hamil tengah membangun pondasi yang kokoh bagi masa depan sang anak. Masa sembilan bulan ini bukanlah beban, melainkan perjalanan suci yang penuh pahala di setiap helaan napas dan detak jantungnya.

BAB 4: MENJELANG DETIK PERSALINAN

4.1 Persiapan mental menghadapi persalinan

Menjelang hari persalinan, seringkali rasa cemas dan takut menyergap hati seorang ibu. Hal ini manusiawi, namun Islam memberikan obat penawar berupa tawakkal yang menghujam. Tawakkal bukan hanya pasrah, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Dzat yang memegang kendali atas segala sesuatu setelah ikhtiar semampunya dilakukan. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

“Dan siapa yang bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya.” (QS. Ath-Tholaq: 3)

Ibu yang hendak melahirkan harus yakin bahwa setiap rasa sakit yang dirasakan adalah sarana penggugur dosa. Rosululloh bersabda:

«مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Alloh akan menghapus dosa-dosanya dengan itu.” (HR. Al-Bukhori no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Ketenangan hati adalah separuh obat. Dengan berprasangka baik (husnuzon) kepada Alloh, otot-otot tubuh akan lebih rileks, yang secara medis sangat membantu kelancaran proses pembukaan jalan lahir.

4.2 Manajemen nyeri dalam Islam dan bantuan medis

Al-Qur’an mengabadikan perjuangan Maryam binti Imron saat melahirkan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sebagai pelajaran bagi seluruh wanita beriman. Rasa sakit yang luar biasa membuat Maryam merasa sangat lemah, namun Alloh memberikan bimbingan fisik dan mental. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا * فَنَادَاهَا مِن تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا * وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan’. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Robbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.’” (QS. Maryam: 23-25)

Dalam ayat ini, terdapat isyarat medis yang luar biasa:

Dukungan Psikologis: Jibril berkata “Janganlah bersedih hati”, menunjukkan pentingnya ketenangan mental.

Hidrasi dan Nutrisi: Adanya “anak sungai” dan “buah kurma” menunjukkan bahwa ibu yang akan melahirkan membutuhkan asupan energi dan cairan. Kurma mengandung oksitosin alami yang membantu kontraksi rahim dan mengurangi perdarahan.

Aktivitas Fisik: Perintah “goyanglah pangkal pohon” mengisyaratkan bahwa sedikit gerakan aktif dapat membantu proses persalinan.

Islam tidak melarang penggunaan bantuan medis untuk mengurangi rasa sakit (seperti anestesi ILA/Epidural) selama hal itu aman secara medis dan tidak membahayakan jiwa. Hal ini masuk dalam kaidah:

المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

“Kesulitan itu mendatangkan kemudahan.”

4.3 Peran suami sebagai pendamping setia (support system) saat kontraksi dan persalinan

Suami memiliki kewajiban moral dan syar’i untuk mendampingi istrinya dalam saat-saat paling kritis ini. Kehadiran suami adalah bentuk nyata dari pergaulan yang baik (mu’asyarah bil ma’ruf). Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut (baik).” (QS. An-Nisa: 19)

Pendampingan suami bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi juga memberikan penguatan spiritual. Suami hendaknya membimbing istri untuk terus berdzikir dan membaca doa-doa kemudahan. Di antara doa yang dapat dibaca adalah:

«اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا»

“Ya Alloh, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan) itu mudah jika Engkau kehendaki.” (HSR. Ibnu Hibban no. 974)

Secara medis, dukungan suami terbukti menurunkan kadar hormon stres pada istri, sehingga produksi hormon oksitosin yang memperlancar persalinan dapat bekerja maksimal. Suami harus menjadi benteng kesabaran, tidak ikut panik, dan siap mengambil keputusan medis yang diperlukan (seperti tindakan operasi Caesar jika ada indikasi medis darurat) demi keselamatan nyawa ibu dan anak. Ingatlah sabda Nabi :

«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي»

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya), dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3895)

Menjelang detik-detik kelahiran, biarlah lisan tak henti berdzikir dan hati tak henti berharap. Sungguh, di balik setiap kontraksi yang hebat, terdapat satu nyawa yang sedang berjuang menembus cahaya dunia atas izin Sang Pencipta.

BAB 5: SAAT SANG BUAH HATI MENATAP DUNIA

5.1 Menyambut tangis pertama dengan syukur dan kalimat thoyyibah

Saat bayi lahir ke dunia, perasaan pertama yang harus muncul dalam hati orang tua adalah rasa syukur yang mendalam kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Tangisan bayi adalah tanda kehidupan dan bekerjanya fungsi paru-paru secara medis, namun secara maknawi, itu adalah pengingat akan amanah besar. Alloh Ta’ala mengajarkan kita untuk bersyukur atas ni’mat-Nya:

﴿لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sungguh jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrohim: 7)

Para ulama menganjurkan agar kalimat pertama yang didengar bayi atau yang diucapkan orang tua adalah kalimat tauhid dan permohonan perlindungan. Meski terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai keshohihan hadits mengadzani bayi, namun Imam An-Nawawi (676 H) dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan bahwa secara tradisi para ulama (amalan Salaf) hal ini dilakukan agar kalimat yang pertama kali mengetuk pendengaran bayi adalah kebesaran Alloh (Takbir) dan persaksian tauhid, guna mengusir syaithon yang selalu mengintai setiap anak Adam yang lahir. Rosululloh bersabda:

«مَا مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلَّا يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ، غَيْرَ مَرْيَمَ وَابْنِهَا»

“Tidak ada seorang bayi pun yang lahir melainkan ia disentuh oleh syaithon saat lahir, lalu ia menangis dengan keras karena sentuhan syaithon tersebut, kecuali putra Maryam (‘Isa) dan ibunya.”

Lalu Abu Huroiroh membaca ayat:

﴿وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Sungguh aku memohonkan perlindungan kepada-Mu untuknya dan keturunannya dari syaithon yang terkutuk.” (QS. Ali Imron: 36) (HR. Al-Bukhori no. 3431 dan Muslim no. 2366)

5.2 Syariat Tahnik dan manfaatnya secara medis

Tahnik adalah mengunyah kurma hingga halus kemudian meletakkannya di langit-langit mulut bayi agar ada bagian yang tertelan. Dipastikan mulut orang tua yang mengunyah bersih dan tidak sedang sakit. Yang dimasukkan adalah kurma yang sudah benar-benar lumut atau cairannya, karena bayi belum mampu menelan benda padat.

Ini adalah sunnah yang sangat ditekankan berdasarkan perbuatan Nabi . Aisyah rodhiyallohu ‘anha menceritakan:

«أَنَّ رَسُولَ اللهِ كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ»

“Rosululloh didatangi dengan membawa bayi-bayi, lalu beliau mendoakan keberkahan (barokah) bagi mereka dan mentahnik mereka.” (HR. Muslim no. 2147)

Secara medis, penemuan modern menunjukkan bahwa memberikan zat glukosa (seperti yang terkandung dalam kurma) kepada bayi yang baru lahir dapat mencegah risiko hipoglikemia (kadar gula darah rendah) yang berbahaya bagi otak bayi. Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani (852 H) dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hikmah tahnik adalah untuk melatih otot mulut bayi agar kuat menghisap ASI. Pilihlah kurma yang berkualitas dan pastikan yang melakukan tahnik adalah orang yang sholih (diutamakan orang tuanya sendiri) dengan menjaga kebersihan tangan dan mulut.

5.3 Memberikan nama yang indah (Tasmiyah)

Nama adalah identitas sekaligus doa yang akan dipanggilkan hingga hari Kiamat. Islam memerintahkan orang tua untuk memilihkan nama yang terbaik bagi anaknya. Rosululloh bersabda:

«إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ، وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ، فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ»

“Sungguh kalian akan dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah-ayah kalian, maka perbaguslah nama-nama kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4948, sanadnya dinilai baik oleh Nawawi)

Nama-nama yang paling dicintai Alloh adalah Abdullah dan Abdurrohman, sebagaimana sabda Nabi :

«إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللهِ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ»

“Nama yang paling dicintai Alloh adalah Abdullah dan Abdurrohman.” (HR. Muslim no. 2132)

Memberikan nama boleh dilakukan pada hari pertama kelahiran atau ditunda hingga hari ketujuh. Hindarilah nama-nama yang mengandung unsur kesyirikan, nama yang bermakna buruk, atau nama-nama orang kafir yang menjadi syiar agama mereka.

5.4 Mencukur rambut dan sedekah perak

Pada hari ketujuh, disunnahkan untuk mencukur habis rambut bayi. Hal ini bertujuan untuk membersihkan kotoran dari rahim yang menempel pada rambut serta memperkuat akar rambut bayi. Setelah dicukur, rambut tersebut ditimbang dan orang tua bersedekah perak seberat timbangan rambut tersebut.

Rosululloh bersabda kepada Fatimah ketika melahirkan Al-Hasan:

«يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، وَتَصَدَّقِي بِزِنَةِ شَعْرِهِ فِضَّةً»

“Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak seberat timbangan rambutnya (kepada orang-orang miskin).”

Fathimah menakarnya sekitar satu dirham atau kurang darinya. (HHR. At-Tirmidzi no. 1519)

Satu dirham di zaman Nabi = 2,975 gram perak. Harga perak Asumsi harga perak hari ini (Januari 2026) berada di kisaran Rp16.000 - Rp18.000 per gram (harga ini fluktuatif). Maka 1 dirham kira-kira: ± Rp47.600 - Rp53.550.

Amalan ini mengajarkan dua hal sekaligus:

Thoharoh (Kesucian): Membersihkan bayi secara fisik agar tumbuh sehat.

Ijtima’iyyah (Sosial): Menanamkan rasa syukur dengan berbagi kepada fakir miskin sejak hari-hari awal kehadiran anak di dunia.

Secara medis, mencukur rambut bayi memudahkan orang tua untuk melihat kondisi kulit kepala bayi, apakah terdapat kerak (cradle cap) atau gangguan lainnya, sehingga dapat segera dibersihkan. Dengan melaksanakan sunnah-sunnah ini, kita tidak hanya memberikan awal yang sehat secara fisik bagi bayi, tetapi juga mengikatnya dengan keberkahan syariat sejak detik pertama ia menghirup udara dunia.

BAB 6: AQIQOH DAN KHITAN

6.1 Syariat Aqiqoh

Aqiqoh adalah penyembelihan hewan ternak sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak sekaligus sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Secara hukum, mayoritas ulama (Jumhur) menghukumi Aqiqoh sebagai Sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Rosululloh bersabda:

«كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى»

“Setiap anak tergadai dengan Aqiqohnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HSR. Abu Dawud no. 2838)

Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) menjelaskan makna “tergadai” dalam Hadits ini adalah bahwa syafaat anak tersebut bagi kedua orang tuanya kelak pada hari Kiamat tertahan hingga ia diaqiqohi. Ketentuan jumlah hewan Aqiqoh dibedakan berdasarkan jenis kelamin anak, sebagaimana sabda Nabi :

«عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ»

“Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.” (HHR. Abu Dawud no. 2842)

Namun, 2 ekor untuk lelaki hanyalah anjuran, menurut satu pendapat. Andaikan hanya mampu 1 ekor maka mencukupi, berdasarkan Hadits Ibnu Abbas:

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ، وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا»

“Rosululloh menyembelih Aqiqoh untuk Hasan dan Husain masing-masing satu kambing.” (HHR. Abu Dawud no. 2841)

Namun, Al-Albani berkata: “Ia Hadits shohih tetapi dalam riwayat An-Nasai dengan lafazh ‘masing-masing dua kambing’ dan ini yang lebih shohih.”

Penyembelihan diutamakan pada hari ketujuh, namun jika tidak mampu, boleh dilakukan pada hari ke-14 atau ke-21. Jika tetap tidak mampu, maka beban tersebut gugur hingga orang tua memiliki kelapangan rizqi. Secara medis dan sosial, Aqiqoh mengajarkan orang tua untuk berbagi nutrisi protein hewani kepada sesama, yang sangat bermanfaat bagi kesehatan masyarakat di sekitar mereka.

6.2 Khitan bagi anak laki-laki

Khitan merupakan salah satu dari fitroh kesucian manusia yang diajarkan sejak zaman Nabi Ibrohim ‘alaihis salam. Bagi anak laki-laki, khitan bukan sekadar tradisi, melainkan kewajiban syar’i untuk menjaga kesucian dari najis (urin) yang dapat membatalkan Sholat jika tersisa di balik kulit kemaluan (preputium). Rosululloh bersabda:

«الفِطْرَةُ خَمْسٌ، أَوْ خَمْسٌ مِنَ الفِطْرَةِ: الخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الإِبْطِ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ»

“Fitroh itu ada lima: Khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan memotong kumis.” (HR. Al-Bukhori no. 5889 dan Muslim no. 257)

Dari sisi medis, khitan memiliki manfaat yang sangat besar, di antaranya mencegah infeksi saluran kemih (ISK), mencegah risiko kanker penis, dan menurunkan risiko penularan penyakit menular seksual di masa depan. Islam telah memerintahkan hal ini jauh sebelum dunia medis modern menyadari urgensinya. Meskipun tidak ada batasan waktu mutlak, khitan di masa kanak-kanak lebih diutamakan karena proses penyembuhannya lebih cepat. Khitan bagi lelaki wajib, sementara bagi wanita anjuran.

6.3 Walimah kelahiran

Sebagai ungkapan kegembiraan, sebagian ulama —diantaranya Ibnu Qoyyim dalam At-Tuhfah— membolehkan diadakannya walimah atau jamuan makan saat kelahiran anak. Namun, perayaan ini harus dijauhkan dari unsur kemubaziran (tabdzir), kesyirikan, maupun perbuatan yang menyerupai kaum kafir (tasyabbuh). Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا * إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon.” (QS. Al-Isra: 26-27)

Walimah yang berkah adalah yang di dalamnya diundang orang-orang sholih dan fakir miskin, bukan sekadar ajang pamer kekayaan. Rosululloh bersabda mengenai makanan walimah:

«شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الوَلِيمَةِ، يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الفُقَرَاءُ»

“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya dan meninggalkan orang-orang fakir.” (HR. Al-Bukhori no. 5177 dan Muslim no. 1432)

Jadikanlah momen Aqiqoh dan khitan sebagai sarana dakwah, di mana keluarga berkumpul untuk saling mendoakan kebaikan bagi sang anak agar tumbuh menjadi pribadi yang bertauhid dan bermanfaat bagi umat.

BAB 7: MENYUSUI DAN HAK-HAK DASAR BAYI

7.1 Masa menyusui (rodho’ah)

Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hak nutrisi bayi, terutama melalui air susu ibu (ASI). Al-Qur’an secara eksplisit mengatur durasi penyusuan yang sempurna guna menjamin kesehatan fisik dan kedekatan emosional antara ibu dan anak. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Dan para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqoroh: 233)

Ayat ini menunjukkan bahwa ASI adalah hak asasi bagi seorang bayi. Secara medis, ASI merupakan “vaksin alami” pertama yang mengandung kolostrum dan antibodi yang tidak dapat digantikan oleh susu formula manapun.

Penyusuan juga menciptakan ikatan mahrom (persusuan) yang diatur dalam syariat. Rosululloh bersabda:

«يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ»

“Persusuan itu mengharomkan (pernikahan) sebagaimana nasab (keturunan) mengharomkannya.” (HR. Al-Bukhori no. 2645 dan Muslim no. 1447)

7.2 Membangun kedekatan emosional melalui sentuhan dan kasih sayang

Anak yang baru lahir membutuhkan rasa aman. Islam mengajarkan agar orang tua menunjukkan kasih sayang yang tulus melalui sentuhan, pelukan, dan ciuman. Hal ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan tuntunan Nabi yang berdampak pada kesehatan mental anak. Rosululloh adalah pribadi yang sangat penyayang kepada anak-anak. Diriwayatkan bahwa beliau mencium cucunya, Al-Hasan bin Ali, sedangkan di dekat beliau ada Al-Aqro’ bin Habis. Al-Aqro’ berkata: “Sungguh aku memiliki sepuluh anak, namun tak satu pun yang pernah aku cium.” Maka Rosululloh memandangnya dan bersabda:

«مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ»

“Siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Al-Bukhori no. 5997 dan Muslim no. 2318)

Sentuhan hangat dari orang tua, terutama melalui metode skin-to-skin atau menggendong, secara medis terbukti dapat menstabilkan detak jantung bayi, menurunkan hormon stres, dan merangsang pertumbuhan otak. Inilah rahasia pengasuhan nubuwah; mendidik dengan hati sebelum mendidik dengan lisan.

7.3 Perlindungan anak dari gangguan syaithon dan penyakit

Bayi dan anak kecil seringkali rentan terhadap gangguan non-medis seperti penyakit ‘Ain (pandangan mata yang merusak/hasad) serta gangguan jin. Islam membekali orang tua dengan “perisai langit” melalui doa dan dzikir perlindungan. Rosululloh sering memintakan perlindungan untuk cucu-cucunya, Al-Hasan dan Al-Husain, dengan doa:

«أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ»

“Aku memohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna, dari setiap syaithon dan binatang berbisa, serta dari setiap mata yang jahat (hasad).” (HSR. Abu Dawud no. 4737)

Selain doa tersebut, orang tua dianjurkan untuk merutinkan bacaan Al-Mu’awwidzatain (Surat Al-Falaq dan An-Naas) serta Ayat Kursi di dekat anak, terutama saat menjelang tidur atau ketika anak terlihat gelisah tanpa sebab medis yang jelas.

Menutup bab ini, ingatlah bahwa hak terbesar anak adalah hak untuk tumbuh dalam lingkungan yang bertauhid. Pemenuhan ASI, kasih sayang, dan perlindungan spiritual adalah modal utama bagi mereka untuk menjadi generasi tangguh. Sebagaimana firman Alloh:

﴿وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِفَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut (kepada Alloh) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Alloh dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)

Dengan menunaikan hak-hak dasar ini, kita tidak hanya membesarkan fisiknya, tetapi juga menjaga fitrohnya agar tetap suci hingga ia mampu berdiri tegak menghamba kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.

PENUTUP

Menyambut kehadiran buah hati adalah sebuah perjalanan ruhani yang tidak berakhir saat persalinan usai, melainkan awal dari pengabdian panjang seorang hamba kepada Sang Pencipta melalui jalur pengasuhan. Kita telah menelusuri samudera dalil, mulai dari desiran doa para Nabi yang merindukan keturunan, hingga detail syariat yang mengatur setiap inci kehidupan sang bayi sejak hari pertamanya. Semua itu bermuara pada satu tujuan besar: menjadikan anak sebagai jalan menuju ridho Alloh dan Jannah-Nya.

Sungguh, tugas mendidik anak adalah amanah yang berat namun menjanjikan kemuliaan yang tak terlukiskan. Setiap tetes keringat ayah yang mencari nafkah halal demi nutrisi anaknya, dan setiap kelelahan ibu yang terbangun di tengah malam demi memberikan dekapan hangat serta tetesan ASI, semuanya dicatat sebagai amal sholih yang memberatkan timbangan kebajikan. Alloh Ta’ala mengingatkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari kehancuran:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Imam Ali bin Abi Thalib (40 H) menjelaskan makna ayat ini adalah: “Ajarkanlah adab dan ilmu kepada mereka.”

Maka, setelah seluruh proses kelahiran ini terlalui, kewajiban kita selanjutnya adalah menanamkan kecintaan kepada Alloh dan Rosul-Nya di dalam hati mereka. Jadikanlah rumah-rumah kita sebagai taman Jannah yang senantiasa bergema dengan lantunan Al-Qur’an dan dzikir, karena lingkungan yang sholih adalah sebaik-baik penjagaan bagi fitroh anak.

Buku ini mungkin telah selesai kita baca, namun implementasi dari ilmu yang ada di dalamnya akan terus berlangsung sepanjang hayat. Kepada setiap orang tua, jangan pernah berputus asa dari rohmat Alloh jika dalam pengasuhan nanti terdapat kerikil tajam. Teruslah mengetuk pintu langit dengan doa, karena doa orang tua untuk anaknya tidak memiliki penghalang (hijab). Rosululloh bersabda:

«ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ»

“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi: doa orang tua, doa musafir, doa orang yang terzholimi.” (HHR. Abu Dawud no. 1536)

Akhirnya, marilah kita serahkan seluruh hasil dari ikhtiar kita kepada Alloh. Dialah sebaik-baik Penjaga. Semoga Alloh menjadikan putra-putri kita sebagai penyejuk pandangan mata (qurrota a’yun), pelanjut dakwah Nabi Muhammad , dan syafaat bagi kita di hari Kiamat kelak. Segala kebenaran dalam risalah ini datangnya dari Alloh, dan segala kekurangan adalah murni dari kelemahan kami sebagai hamba.

Semoga Alloh memberkahi setiap langkah Anda dalam menyambut sang buah hati.

Walhamdulillahi Robbil ‘alamin.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url