Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Biografi Anas bin Malik Pelayan Kecil Rosululloh - Nor Kandir

 

MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang telah mengutus Rosul-Nya sebagai rohmat bagi seluruh alam.

Sungguh, dalam lembaran sejarah Islam, kita akan menemukan sosok-sosok luar biasa yang tumbuh besar di bawah naungan wahyu, menghirup udara yang sama dengan manusia paling mulia, dan merasakan langsung sentuhan kasih sayang kenabian. Di antara sekian banyak bintang yang bersinar di langit Shohabat, ada satu nama yang begitu lekat dengan keseharian Rosululloh . Ia bukan sekadar pengikut, melainkan tangan kanan yang selalu sigap, mata yang selalu terjaga, dan hati yang penuh pengabdian.

Anas bin Malik termasuk dari kalangan Anshor yang mendapatkan kemuliaan besar di sisi Alloh. Mengenai kemuliaan para Shohabat ini, Alloh berfirman dalam Kitab-Nya:

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh, dan Alloh menyediakan bagi mereka taman dan kebun yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya; mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Anas bukanlah pelayan dalam pengertian yang biasa kita pahami di dunia modern. Pengabdiannya adalah bentuk cinta yang paling murni. Sejak usia sepuluh tahun, saat anak-anak lain masih asyik bermain, Anas telah melangkah masuk ke dalam rumah tangga nubuwwah. Ibunya, Ummu Sulaim, adalah wanita cerdas yang memberikan hadiah paling berharga kepada Rosululloh . Anas menceritakan momen tersebut dalam sebuah riwayat:

Dari Anas, ia berkata: “Ibuku, Ummu Anas (Ummu Sulaim), membawaku kepada Rosululloh . Ia telah memakaikan kain kepadaku dari setengah kerudungnya dan menyelimutiku dengan setengahnya lagi. Lalu ia berkata,

يَا رَسُولَ اللهِ، هَذَا أُنَيْسٌ ابْنِي، أَتَيْتُكَ بِهِ يَخْدُمُكَ فَادْعُ اللهَ لَهُ

‘Wahai Rosululloh, ini Unais (Anas kecil) anakku, aku membawanya kepadamu agar ia melayanimu, maka doakanlah kepada Alloh untuknya.’ (HR. Muslim no. 2481)

Mendengar permintaan tulus itu, Rosululloh kemudian mendoakan Anas dengan doa yang sangat indah:

«اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ»

“Ya Alloh, perbanyaklah hartanya, anaknya, dan berkahilah dia pada apa yang telah Engkau berikan kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6334 dan Muslim no. 2480)

Selama setahun, Anas bin Malik hidup begitu dekat dengan Rosululloh . Ia melihat bagaimana beliau bangun di pagi hari, bagaimana beliau berwudhu, hingga bagaimana beliau menghadapi tekanan da’wah yang besar. Anas adalah penyimpan rahasia yang terpercaya. Kedekatannya ini membuatnya memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang sunnah-sunnah Nabi . Bahkan, Abu Huroiroh memberikan kesaksian tentang betapa miripnya ibadah Anas dengan Nabi :

Dari Abu Huroiroh, ia berkata:

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنِ ابْنِ أُمِّ سُلَيْمٍ - يَعْنِي أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang Sholatnya paling menyerupai Sholat Rosululloh daripada anak Ummu Sulaim (yakni Anas bin Malik).” (HSR. Ibnu Ja’ad no. 1366)

Namun, hal yang paling berkesan bagi Anas selama sepuluh tahun itu bukanlah beban kerja, melainkan kelembutan akhlak sang Nabi yang tiada tandingnya. Anas mengenangnya dengan penuh haru:

Dari Anas —semoga Alloh meridhoinya—, ia berkata:

خَدَمْتُ النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلاَ: لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلاَ: أَلَّا صَنَعْتَ

“Aku telah melayani Rosululloh selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah sekalipun berkata kepadaku ‘Ah’, dan tidak pernah bertanya, ‘Mengapa kamu lakukan ini?’ atau ‘Mengapa tidak kamu lakukan ini?’ (HR. Al-Bukhori no. 6038 dan Muslim no. 2309)

Kehidupan Anas bin Malik adalah bukti nyata bagaimana doa seorang Nabi mampu mengubah nasib seseorang. Ia menjadi salah satu Shohabat yang paling panjang umurnya dan paling banyak keturunannya. Namun, di balik semua itu, hati Anas tetap terpaut pada kenangan indah bersama Rosululloh . Kerinduannya begitu besar hingga ia selalu bertemu dengan beliau dalam tidurnya:

Dari Anas —semoga Alloh meridhoinya— ia berkata:

«قَلَّ لَيْلَةٌ تَأْتِي عَلَيَّ إِلَّا وَأَنَا أَرَى فِيهَا خَلِيلِي ﷺ» وَأَنَسٌ يَقُولُ ذَلِكَ وَتَدْمَعُ عَيْنَاهُ

Jarang ada satu malam pun yang kulewati melainkan aku melihat (bermimpi bertemu) kekasihku di dalamnya.” Anas mengatakan itu dengan menangis. (HSR. Ahmad, no. 13267)

Dalam buku ini, kita akan menelusuri jejak-jejak langkah Anas bin Malik yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan lisan suci Rosululloh . Kita akan belajar bagaimana menjadi pribadi yang amanah, bagaimana mendidik anak dengan cinta, dan bagaimana menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada sang Nabi melalui kacamata seorang pelayan setia. Semoga narasi yang mengalir ini mampu membawa kita seolah-olah hadir di Madinah, duduk bersama Anas, dan merasakan kehangatan bimbingan Rosululloh yang tiada tandingnya.

BAB I - AWAL PENGABDIAN

1: Keislaman Anas dan Peran Sang Ibu, Ummu Sulaim

Kisah perjalanan hidup Anas bin Malik tidak bisa dilepaskan dari peran seorang wanita mulia yang memiliki visi luar biasa bagi masa depan anaknya, yaitu ibunya sendiri, Ummu Sulaim. Ketika cahaya Islam mulai menyinari kota Madinah (yang kala itu masih disebut Yatsrib), Ummu Sulaim termasuk di antara orang-orang pertama yang menyambut da’wah ini dengan hati yang lapang. Keislamannya bukan sekadar ucapan, melainkan keyakinan yang menghujam kuat ke dalam jiwanya, meskipun saat itu suaminya, Malik bin an-Nadhor (ayah kandung Anas), sangat menentangnya.

Anas kecil tumbuh dalam suasana rumah tangga yang sedang dilanda pergolakan iman. Ummu Sulaim dengan penuh keteguhan mendidik Anas untuk mengucapkan kalimat tauhid, bahkan sebelum ayahnya menyetujuinya. Ketulusan iman keluarga ini adalah bagian dari karunia Alloh bagi penduduk Madinah yang telah dipuji dalam Al-Quran:

﴿وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijroh kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Setelah ayahnya wafat dalam keadaan belum memeluk Islam, Ummu Sulaim kemudian dipersunting oleh Abu Tholhah setelah lelaki itu masuk Islam. Sejak saat itu, pendidikan Anas berada di bawah bimbingan penuh ibundanya yang sholihah. Ummu Sulaim sadar bahwa harta yang paling berharga bagi seorang anak adalah kedekatannya dengan ilmu dan para pembawa ilmu. Maka, ketika terdengar kabar bahwa Rosululloh telah tiba di Madinah setelah perjalanan hijroh yang panjang, Ummu Sulaim tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya.

2: Saat Tangan Kecil Anas Diserahkan kepada Rosululloh

Bayangkan suasana kota Madinah yang penuh dengan sukacita. Penduduknya berbondong-bondong menyambut kedatangan sang Nabi dengan membawa berbagai hadiah. Ada yang membawa makanan, ada pula yang menawarkan harta. Namun, Ummu Sulaim datang dengan hadiah yang jauh berbeda dan jauh lebih berharga. Ia membawa Anas yang saat itu baru berusia sepuluh tahun.

Momen penyerahan Anas ini diabadikan dalam riwayat yang menyentuh hati. Anas menceritakan kejadian itu dengan penuh kenangan:

Dari Anas —semoga Alloh meridhoinya—, ia berkata: “Ibuku, Ummu Anas, membawaku kepada Rosululloh sementara ia telah memakaikan kain kepadaku dari setengah kerudungnya dan menyelimutiku dengan setengahnya lagi. Lalu ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا أُنَيْسٌ ابْنِي أَتَيْتُكَ بِهِ يَخْدُمُكَ، فَادْعُ اللَّهَ لَهُ

‘Wahai Rosululloh , ini Unais (panggilan sayang untuk Anas kecil) anakku, aku membawanya kepadamu agar ia melayanimu, maka doakanlah kepada Alloh untuknya.’“ (HR. Muslim no. 2481)

Rosululloh menyambut anak kecil itu dengan tangan terbuka. Beliau tidak menolak “hadiah” tersebut, meski Anas hanyalah seorang anak kecil yang mungkin belum banyak mengerti tentang urusan rumah tangga. Namun, Nabi melihat potensi besar dalam diri Anas. Kepercayaan yang diberikan oleh ibunda Anas menjadi pintu gerbang bagi Anas untuk memasuki dunia yang tidak pernah dibayangkan oleh anak sebayanya: dunia wahyu, dunia kemuliaan, dan dunia pengabdian.

3: Tugas Pertama di Rumah Rosululloh

Setelah diterima sebagai pelayan pribadi Nabi , Anas mulai menjalankan hari-harinya di lingkungan rumah tangga beliau. Tugas-tugasnya bukanlah beban berat yang memeras keringat, melainkan tugas-tugas ringan yang membutuhkan ketangkasan dan perhatian. Anas bertugas menyiapkan air wudhu bagi beliau, membawakan sandal saat beliau hendak keluar, serta menyiapkan siwak untuk menjaga kebersihan mulut beliau.

Kehadiran Anas di rumah Nabi adalah pemandangan yang indah. Rosululloh sangat menghargai keberadaan anak kecil ini. Beliau sering kali memanggil Anas dengan panggilan akrab atau panggilan sayang seperti “Yaa Bunayya” (wahai anakku sayang). Kedekatan ini memberikan akses bagi Anas untuk melihat bagaimana pribadi Rosululloh saat sedang sendirian atau bersama keluarganya.

Mengenai kelincahan dan ketangkasan Anas dalam melayani, beliau sendiri yang menceritakan betapa Nabi sangat memperhatikan kenyamanan dan kebutuhan orang lain, termasuk pelayannya. Sungguh, tugas-tugas itu ia lakukan dengan penuh rasa cinta, sebagaimana pesan dalam Al-Quran mengenai ketaatan:

﴿وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا﴾

“Jika kamu mentaatinya maka kamu akan mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Nur: 54)

Anas memahami bahwa melayani Nabi adalah bentuk ketaatan tertinggi yang akan membawa pahala yang besar. Setiap langkah kaki yang ia tempuh untuk memenuhi kebutuhan Nabi adalah langkah menuju Jannah.

4: Kesan Pertama Melayani Manusia Paling Mulia

Salah satu hal yang paling mengejutkan Anas saat pertama kali mulai melayani adalah kelembutan hati Rosululloh . Sebagai anak kecil, tentu Anas pernah melakukan kesalahan, lalai dalam tugas, atau terlambat mengerjakan sesuatu. Namun, selama sepuluh tahun penuh, Anas tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar.

Anas memberikan kesaksian yang sangat masyhur mengenai hal ini:

Dari Anas —semoga Alloh meridhoinya—, ia berkata:

خَدَمْتُ النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلاَ: لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلاَ: أَلَّا صَنَعْتَ

“Aku telah melayani Rosululloh selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah sekalipun berkata kepadaku ‘Ah’, dan tidak pernah bertanya, ‘Mengapa kamu lakukan ini?’ atau ‘Mengapa tidak kamu lakukan ini?’“ (HR. Al-Bukhori no. 6038 dan Muslim no. 2309)

Bukan hanya itu, Anas juga menceritakan betapa lembutnya tangan Rosululloh dan betapa harumnya aroma tubuh beliau. Kesan pertama ini begitu membekas dalam ingatan Anas, sehingga ia berkata:

«مَا مَسِسْتُ حَرِيرًا وَلاَ دِيبَاجًا أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ النَّبِيِّ ﷺ، وَلاَ شَمِمْتُ رِيحًا قَطُّ أَطْيَبَ مِنْ رِيحِ النَّبِيِّ ﷺ»

“Aku belum pernah menyentuh sutra tipis maupun sutra tebal yang lebih lembut daripada telapak tangan Rosululloh . Dan aku juga belum pernah mencium aroma yang lebih harum daripada aroma tubuh Rosululloh .” (HR. Al-Bukhori no. 3561 dan Muslim no. 2330)

Kesan-kesan indah ini membuat Anas merasa bukan seperti seorang pelayan, melainkan seperti bagian dari keluarga inti sang Nabi . Kasih sayang yang ia terima dari Rosululloh menghapus segala rasa lelah dan membuatnya ingin terus berada di dekat beliau selamanya.

Pelajaran besar bagi kita adalah bahwa pemimpin yang paling agung adalah mereka yang memimpin dengan kasih sayang, bukan dengan ancaman atau kata-kata kasar.

5: Faidah

a)  Peran ibu yang sholihah sangat menentukan masa depan anak dalam hal iman dan ilmu.

b) Memberikan hadiah terbaik bagi agama (berupa anak atau waktu) akan mendatangkan keberkahan yang tak terhingga.

c)  Akhlak yang mulia dari seorang pemimpin (seperti tidak mudah menegur atau menghardik) akan menumbuhkan loyalitas dan cinta yang tulus dari bawahannya.

d) Kedekatan dengan orang sholih akan membuat seseorang tertular aroma kebaikan dan keindahan budi pekertinya.

BAB II - MADRASAH NUBUWWAH

1: Rahasia di Balik Sepuluh Tahun Tanpa Teguran “Mengapa”

Selama sepuluh tahun penuh, Anas bin Malik hidup di bawah atap yang sama dengan wahyu. Satu hal yang paling mengherankan sekaligus menyentuh hati Anas adalah bagaimana Rosululloh memperlakukannya. Bayangkan seorang anak kecil yang lincah namun kadang ceroboh, namun tidak pernah sekalipun mendapatkan hardikan. Ini adalah rahasia besar dari pendidikan nubuwwah. Rosululloh tidak mendidik dengan menjatuhkan mental, melainkan dengan keteladanan yang nyata.

Anas menceritakan pengalamannya dengan sangat detail dalam sebuah Hadits:

خَدَمْتُ النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلاَ: لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلاَ: أَلاَّ صَنَعْتَ؟

“Aku melayani Nabi selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah berkata kepadaku: ‘Ah’, tidak pula bertanya: ‘Mengapa kamu melakukan ini?’ dan tidak pula berkata: ‘Mengapa kamu tidak melakukan ini?’“ (HR. Al-Bukhori no. 6038)

Bahkan, ketika Anas melakukan kesalahan yang jelas-jelas nyata, Rosululloh tetap menjaga lisan beliau dari mencela. Anas pernah bercerita:

وَاللهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ تِسْعَ سِنِينَ، مَا عَلِمْتُهُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ أَوْ لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ: هَلَّا فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا

“Demi Alloh, sungguh aku telah melayani beliau selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah berkomentar atas apa yang aku kerjakan dengan ucapan ‘mengapa kamu kerjakan ini?’ dan tidak pula atas apa yang aku tinggalkan dengan ucapan ‘mengapa kamu tinggalkan ini?’” (HR. Muslim no. 2309)

Sikap ini sejalan dengan firman Alloh yang memuji kelembutan hati sang Nabi :

﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rohmat dari Allohlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imron: 159)

Inilah yang membuat Anas betah dan sangat mencintai pekerjaannya. Beliau merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar tenaga kerja.

2: Metode Rosululloh Mendidik Anas Kecil

Pendidikan yang diterima Anas bukan melalui kurikulum di dalam kelas, melainkan melalui interaksi harian. Rosululloh sering memberikan nasihat singkat namun padat saat sedang bersama Anas. Salah satu metode beliau adalah memanggil dengan panggilan yang akrab untuk menarik perhatian dan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.

Anas berkata:

قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: يَا بُنَيَّ

“Rosululloh pernah memanggilku: ‘Wahai anakku sayang.’” (HR. Muslim no. 2151)

Beliau juga mendidik Anas untuk memiliki kepribadian yang luhur, seperti menjaga lisan dan tidak suka mencela. Anas menyaksikan sendiri bagaimana lidah sang Nabi terjaga dari kata-kata kotor. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi Anas dalam membentuk karakternya. Rosululloh bersabda yang diriwayatkan oleh Anas:

«لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ سَبَّابًا، وَلاَ فَحَّاشًا، وَلاَ لَعَّانًا»

“Nabi bukanlah orang yang suka mencaci maki, bukan orang yang suka berkata kotor, dan bukan orang yang suka melaknat.” (HR. Al-Bukhori no. 6031)

Dengan melihat langsung contoh dari gurunya, Anas belajar bahwa kekuatan sejati seorang lelaki bukan pada kerasnya suara, melainkan pada kemuliaan akhlaknya. Inilah “Madrasah Nubuwwah” yang sebenarnya, di mana ilmu dan amal menyatu dalam keseharian.

3: Kedekatan Emosional Rosululloh dengan Keluarga Anas

Cinta Rosululloh kepada Anas tidak berhenti pada pribadinya saja, tetapi meluas hingga ke keluarganya. Beliau sering mengunjungi rumah Ummu Sulaim, ibu Anas, dan beristirahat di sana. Hubungan ini sangat akrab, bahkan Rosululloh menganggap keluarga Anas seperti keluarga sendiri.

Anas menceritakan:

دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَيْنَا وَمَا هُوَ إِلَّا أَنَا، وَأُمِّي، وَأُمُّ حَرَامٍ خَالَتِي، فَقَالَ: «قُومُوا فَلِأُصَلِّيَ بِكُمْ» فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلَاةٍ، فَصَلَّى بِنَا

“Nabi masuk ke rumah kami, saat itu tidak ada siapa-siapa kecuali aku, ibuku, dan bibiku (Ummu Harom). Lalu beliau bersabda: ‘Berdirilah kalian, aku akan Sholat mengimami kalian.’ Itu terjadi bukan pada Sholat Fardhu. Beliau menjadi imam kami.” (HR. Muslim no. 660)

Momen Sholat berjamaah di rumah Anas ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi terhadap kesholihan keluarga pelayannya. Beliau ingin agar berkah wahyu tidak hanya dirasakan di Masjid, tetapi juga meresap ke dalam sudut-sudut rumah mereka. Ummu Sulaim pun sering mengumpulkan keringat Nabi saat beliau tidur di rumahnya untuk dijadikan campuran minyak wangi, karena aroma tubuh Nabi memang sangat harum. Keakraban ini membuat Anas merasa sangat aman dan terlindungi di bawah bimbingan sang Nabi .

4: Faidah Menjadi Pelayan Pribadi Sang Nabi

Menjadi pelayan pribadi memberikan Anas kesempatan langka yang tidak dimiliki banyak Shohabat lain: melihat hal-hal yang bersifat sangat pribadi namun penuh hikmah. Anas sering kali menjadi orang pertama yang mengetahui wahyu yang baru turun atau perintah penting yang baru saja keluar dari lisan Nabi .

Faidah terbesar yang dirasakan Anas adalah ia menjadi orang yang paling tahu tentang tata cara ibadah Nabi yang paling detail. Sholatnya Anas pun dipuji karena sangat mirip dengan Sholat Nabi . Hal ini tercapai karena ia melihat setiap gerakan Nabi selama sepuluh tahun tanpa jeda. Alloh berfirman:

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rohmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Anas benar-benar mengambil “uswah” (teladan) itu secara langsung. Ia belajar cara makan, cara berbicara, cara berjalan, hingga cara berinteraksi dengan orang asing melalui pengamatannya sebagai pelayan. Kedekatan fisik ini berubah menjadi kedekatan ruhani yang sangat kuat, yang nantinya menjadikan Anas sebagai salah satu perowi Hadits terbanyak. Ia tidak hanya meriwayatkan kata-kata, tapi ia meriwayatkan sebuah “kehidupan”.

5. Faidah

a)  Metode pendidikan terbaik adalah kelembutan dan memberikan teladan, bukan dengan hardikan atau mencari-cari kesalahan.

b) Memanggil anak atau murid dengan panggilan sayang dapat membuka pintu hati mereka untuk menerima nasihat.

c)  Hubungan baik antara guru dan murid sebaiknya juga mencakup hubungan baik dengan keluarga murid tersebut.

d) Kedekatan fisik dengan orang alim dan sholih adalah sarana tercepat untuk menyerap ilmu dan adab mereka secara alami.

BAB III - PEMBAWA RAHASIA DAN PENJAGA AMANAH

1: Anas dan Rahasia-Rahasia Rosululloh yang Terjaga

Menjadi orang terdekat dalam urusan harian Rosululloh menuntut Anas untuk memiliki integritas yang luar biasa. Tidak jarang beliau memberikan tugas yang bersifat rahasia kepada Anas. Kedewasaan Anas dalam menjaga lisan diuji berkali-kali, dan ia membuktikan dirinya sebagai pemuda yang sangat bisa dipercaya. Sungguh, menjaga rahasia adalah bagian dari perintah Alloh untuk menunaikan amanah:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sungguh, Alloh menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)

Anas menceritakan sebuah kisah menarik ketika ia terlambat pulang karena menjalankan sebuah misi rahasia dari Nabi . Ibunya, Ummu Sulaim, bertanya kepadanya, namun Anas tetap teguh menjaga rahasia itu. Anas menceritakan:

أَتَى عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَنَا أَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ، فَسَلَّمَ عَلَيْنَا، فَبَعَثَنِي إِلَى حَاجَةٍ، فَأَبْطَأْتُ عَلَى أُمِّي، فَلَمَّا جِئْتُ قَالَتْ: مَا حَبَسَكَ؟ قُلْتُ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِحَاجَةٍ. قَالَتْ: مَا حَاجَتُهُ؟ قُلْتُ: إِنَّهَا سِرٌّ. قَالَتْ: لَا تُحَدِّثَنَّ بِسِرِّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَحَدًا

“Rosululloh mendatangiku saat aku sedang bermain dengan anak-anak lelaki lainnya. Beliau mengucapkan salam kepada kami, lalu mengutusku untuk suatu keperluan. Karena itu, aku terlambat pulang ke rumah ibuku. Ketika aku sampai, ibu bertanya, ‘Apa yang membuatmu terlambat?’ Aku menjawab, ‘Rosululloh mengutusku untuk suatu keperluan.’ Ibu bertanya, ‘Keperluan apa itu?’ Aku menjawab, ‘Itu adalah rahasia.’ Ibu pun berpesan,

لَا تُحَدِّثَنَّ بِسِرِّ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَحَدًا

‘Kalau begitu, jangan sekali-kali kamu ceritakan rahasia Rosululloh kepada siapapun!’“ (HR. Muslim no. 2482)

Ketegasan Anas dan dukungan ibunya dalam menjaga rahasia ini menunjukkan betapa tingginya adab mereka terhadap privasi sang Nabi .

2: Kecekatan Anas dalam Menyiapkan Kebutuhan Ibadah Nabi

Tugas harian Anas seringkali berkaitan langsung dengan aktivitas ibadah Rosululloh . Anas adalah orang yang paling sigap menyiapkan air untuk bersuci, membawakan keperluan Sholat, hingga menemani beliau ke Masjid atau ke tempat yang sepi untuk beribadah. Kecekatan Anas ini merupakan cerminan dari semangat tolong-menolong dalam kebaikan:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Anas menceritakan bagaimana ia melayani kebutuhan bersuci Nabi dengan sangat teliti:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدْخُلُ الخَلاَءَ، فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلاَمٌ إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً، يَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ»

“Dahulu Rosululloh jika hendak masuk ke tempat buang hajat, maka aku dan seorang anak yang sebayaku membawakan wadah berisi air dan sebuah tombak kecil (sebagai pembatas Sholat), lalu beliau bersuci dengan air tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 152 dan Muslim no. 271)

Bagi Anas, menyiapkan air wudhu untuk Nabi adalah sebuah kemuliaan yang tak ternilai harganya. Ia tidak pernah merasa terhina menjadi pelayan, karena ia tahu bahwa tangan yang melayani Nabi adalah tangan yang diberkahi.

3: Ketaatan Anas dalam Menjalankan Perintah yang Sulit

Ketaatan Anas kepada Rosululloh bersifat mutlak dan tanpa tapi. Meskipun terkadang ia masih memiliki sifat kekanak-kanakan, namun ketika perintah Nabi datang, ia segera melaksanakannya. Anas menceritakan sebuah momen di mana ia sempat merasa enggan namun akhirnya tetap berangkat karena rasa hormatnya kepada Nabi :

قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا، فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ، فَقُلْتُ: وَاللَّهِ لاَ أَذْهَبُ - وَفِي نَفْسِي أَنِّي أَذْهَبُ لِمَا أَمَرَنِي بِهِ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ - فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي السُّوقِ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَدْ أَخَذَ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي، فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ، فَقَالَ: يَا أُنَيْسُ، أَذَهَبْتَ حَيْثُ أَمَرْتُكَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Rosululloh adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, lalu aku berkata (dalam hati), ‘Demi Alloh aku tidak akan pergi,’ padahal sebenarnya hatiku berniat untuk pergi melaksanakan perintah Nabi Alloh. Aku pun keluar hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rosululloh memegang tengkukku dari belakang. Aku melihat beliau sambil tertawa, lalu beliau bertanya,

«يَا أُنَيْسُ أَذَهَبْتَ حَيْثُ أَمَرْتُكَ؟»

‘Wahai Unais, apakah kamu sudah pergi ke tempat yang aku perintahkan?’ Aku menjawab, ‘Ya, aku akan pergi sekarang, wahai Rosululloh .’“ (HR. Muslim no. 2310)

Kisah ini menunjukkan betapa Rosululloh mendidik Anas dengan penuh kasih sayang dan canda tawa, sehingga ketaatan itu muncul bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa cinta.

4: Karakter Jujur dan Amanah sebagai Buah Pendidikan Nabi

Sepuluh tahun berada di sisi Nabi membentuk Anas menjadi pribadi yang sangat jujur. Ia tidak pernah menambah atau mengurangi pesan yang dititipkan kepadanya. Kejujuran ini adalah buah dari didikan Nabi yang selalu menekankan pentingnya berkata benar. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Alloh, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)

Anas benar-benar mempraktikkan hal ini dalam setiap perkataannya. Ketika ia meriwayatkan sesuatu dari Nabi , ia sangat berhati-hati agar tidak salah ucap. Ia menyerap nilai-nilai kejujuran dari tindakan Nabi sehari-hari. Rosululloh bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ»

“Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke Jannah.” (HR. Muslim no. 2607)

Karakter amanah ini nantinya akan membawa Anas menjadi rujukan utama bagi kaum Muslimin dalam hal ilmu agama. Orang-orang percaya kepadanya karena mereka tahu Anas adalah didikan langsung dari tangan sang Nabi yang bergelar Al-Amin (Yang Terpercaya).

5. Faidah

a)  Rahasia adalah amanah yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh, bahkan dari orang terdekat sekalipun jika itu berkaitan dengan orang lain.

b) Membantu urusan ibadah orang lain, terutama guru atau pemimpin yang sholih, memiliki keutamaan yang besar.

c)  Ketaatan kepada pemimpin atau orang tua sebaiknya didasari oleh rasa cinta dan hormat, bukan sekadar rasa takut.

d) Kejujuran adalah pondasi utama dalam membangun kepercayaan (kredibilitas) di tengah masyarakat.

BAB IV - ANAS DI MEDAN JIHAD DAN SAFAR

1: Keikutsertaan Anas dalam Perang Bedar dan Perjuangan Lainnya

Meskipun saat terjadi Perang Bedar usia Anas bin Malik masih sangat belia, namun semangatnya untuk membela agama Alloh tidak pernah surut. Sebagai pelayan pribadi, ia tetap mendampingi Rosululloh dalam berbagai situasi, termasuk saat-saat genting di medan perjuangan. Keberadaan Anas di medan jihad bukan sekadar sebagai prajurit yang memanggul senjata, tetapi sebagai pendukung setia yang memastikan kebutuhan sang Nabi terpenuhi agar beliau tetap kuat dalam memimpin umat.

Keikutsertaan Anas dalam perjuangan membela Islam adalah bentuk nyata dari pengabdian yang dipuji dalam Al-Quran:

﴿إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمْ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Sungguh, Alloh telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan Jannah untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Alloh.” (QS. At-Taubah: 111)

Anas menceritakan keterlibatannya di Perang Bedar, meskipun tugas utamanya adalah melayani:

خَرَجَ أَنَسٌ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ حِينَ تَوَجَّهَ إِلَى بَدْرٍ وَهُوَ غُلَامٌ يَخْدُمُ رَسُولَ اللهِ ﷺ

Dari seorang Anshor, bahwasanya Anas pergi bersama Rosululloh ke Badar, saat itu ia masih seorang anak untuk melayani beliau. (HR. Hakim no. 6623)

Setelah Bedar, Anas terus mendampingi Nabi dalam berbagai peperangan lainnya, termasuk Perang Khoibar dan Perang Hunain. Ia menyaksikan bagaimana pertolongan Alloh turun dan bagaimana keteguhan hati para Shohabat dalam menghadapi musuh.

2: Melayani Rosululloh di Tengah Perjalanan (Safar)

Safar atau perjalanan jauh di masa itu adalah ujian fisik yang sangat berat. Namun, bagi Anas, safar bersama Rosululloh adalah kesempatan emas untuk belajar tentang sabar dan ketangguhan. Di tengah teriknya matahari padang pasir, Anas tetap sigap menyiapkan segala keperluan perjalanan Nabi , mulai dari kendaraan, makanan, hingga air untuk bersuci.

Rosululloh sangat menghargai khidmah (pelayanan) yang diberikan para Shohabatnya saat safar. Anas meriwayatkan betapa mulianya melayani orang yang sedang menempuh perjalanan:

Dari Anas —semoga Alloh meridhoinya—, ia berkata:

«صَحِبْتُ جَرِيرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، فَكَانَ يَخْدُمُنِي وَهُوَ أَكْبَرُ مِنْ أَنَسٍ» قَالَ جَرِيرٌ: «إِنِّي رَأَيْتُ الأَنْصَارَ يَصْنَعُونَ شَيْئًا، لاَ أَجِدُ أَحَدًا مِنْهُمْ إِلَّا أَكْرَمْتُهُ»

“Aku menemani Jarir bin Abdillah dalam perjalanan, lalu ia melayaniku padahal ia lebih tua dariku. Jarir berkata: ‘Sungguh aku telah melihat orang-orang Anshor (termasuk Anas) melakukan sesuatu dalam melayani Rosululloh yang membuatku bersumpah tidaklah aku menemani salah seorang dari mereka melainkan aku akan melayaninya.’” (HR. Al-Bukhori no. 2888 dan Muslim no. 2513)

Ketangkasan Anas dalam safar menjadi standar keteladanan bagi Shohabat lainnya. Ia memahami bahwa melayani di saat sulit memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Alloh.

3: Keberanian Anas yang Tumbuh di Bawah Panji Islam

Hidup berdampingan dengan manusia paling berani di muka bumi membuat nyali Anas bin Malik terasah dengan sendirinya. Ia melihat bagaimana Rosululloh tetap tenang saat ribuan anak panah dilepaskan, dan bagaimana beliau berdiri tegak saat orang lain mulai goyah. Keberanian ini adalah anugerah yang Alloh tanamkan dalam hati hamba-hamba-Nya yang beriman:

﴿إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا

“(Ingatlah), ketika Robbmu mewahyukan kepada para Malaikat: ‘Sungguh Aku bersamamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.’“ (QS. Al-Anfal: 12)

Anas sering menceritakan keberanian Rosululloh yang luar biasa. Suatu ketika, penduduk Madinah dikejutkan oleh suara keras yang menakutkan di malam hari. Saat orang-orang baru saja hendak keluar mencari sumber suara, mereka sudah mendapati Rosululloh kembali dari tempat suara itu sendirian di atas kuda tanpa pelana dengan pedang di lehernya. Anas meriwayatkan:

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَحْسَنَ النَّاسِ، وَأَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَشْجَعَ النَّاسِ»

“Nabi adalah manusia yang paling baik, manusia yang paling dermawan, dan manusia yang paling berani.” (HR. Al-Bukhori no. 6033)

Melihat ketangguhan gurunya, Anas pun tumbuh menjadi lelaki yang tidak gentar menghadapi rintangan da’wah, baik di masa Nabi maupun setelah beliau wafat.

4: Mukjizat-Mukjizat Nabi yang Disaksikan Langsung oleh Anas

Sebagai orang yang paling sering berada di dekat Nabi , Anas menjadi saksi kunci berbagai mukjizat yang Alloh tunjukkan melalui tangan utusan-Nya. Mukjizat-mukjizat ini menguatkan iman Anas dan menjadi bukti nyata kebenaran risalah Islam. Hal ini sesuai dengan kedudukan Rosululloh sebagai saksi bagi umatnya:

﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

“Wahai Nabi ! Sungguh, Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahzab: 45)

Salah satu mukjizat yang disaksikan Anas adalah saat air memancar dari sela-sela jari jemari Rosululloh ketika orang-orang kesulitan mendapatkan air wudhu. Anas menceritakan dengan penuh takjub:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَحَانَتْ صَلاَةُ العَصْرِ، فَالْتَمَسَ النَّاسُ الوَضُوءَ فَلَمْ يَجِدُوهُ، فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِوَضُوءٍ، فَوَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي ذَلِكَ الإِنَاءِ يَدَهُ، وَأَمَرَ النَّاسَ أَنْ يَتَوَضَّئُوا مِنْهُ قَالَ: «فَرَأَيْتُ المَاءَ يَنْبُعُ مِنْ تَحْتِ أَصَابِعِهِ حَتَّى تَوَضَّئُوا مِنْ عِنْدِ آخِرِهِمْ»

“Aku melihat Rosululloh saat waktu Sholat Ashar telah tiba. Orang-orang mencari air wudhu namun tidak menemukannya. Lalu dibawakanlah sedikit air wudhu kepada Rosululloh , beliau pun meletakkan tangannya ke dalam wadah tersebut dan memerintahkan orang-orang untuk berwudhu darinya. Aku melihat air memancar dari bawah jari-jemari beliau, hingga orang yang terakhir dari mereka semua selesai berwudhu.” (HR. Al-Bukhori no. 169 dan Muslim no. 2279)

Kesaksian mata Anas ini memberikan keyakinan yang tak tergoyahkan dalam hatinya bahwa ia benar-benar melayani seorang Nabi utusan Alloh.

5: Faidah

a)  Jihad tidak selalu berarti berada di garis depan dengan pedang; membantu urusan logistik dan pelayanan bagi para pejuang juga memiliki pahala yang sangat besar.

b) Melayani sesama Mukmin di saat safar (perjalanan sulit) adalah akhlak yang sangat mulia dan dicontohkan oleh para Shohabat.

c)  Keberanian sejati lahir dari kedekatan dengan Alloh dan kepercayaan penuh pada perlindungan-Nya.

d) Melihat dan meyakini tanda-tanda kebesaran Alloh (mukjizat) berfungsi untuk menambah kemantapan iman dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

BAB V - BERKAH DOA SANG NABI

1: Doa Khusus Rosululloh untuk Anas bin Malik

Pengabdian Anas bin Malik selama sepuluh tahun terbayar dengan sebuah hadiah spiritual yang tak ternilai harganya: doa langsung dari lisan suci Rosululloh . Sebagaimana telah kita singgung di awal, doa ini bermula dari permintaan tulus ibunda Anas, Ummu Sulaim, yang menginginkan keberkahan bagi masa depan anaknya. Alloh adalah Dzat yang Maha Mengabulkan doa hamba-Nya yang sholih, sebagaimana firman-Nya:

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqoroh: 186)

Anas mengenang momen ketika Rosululloh memohonkan tiga hal utama bagi dirinya. Anas menceritakan:

Dari Anas —semoga Alloh meridhoinya—, ia berkata: “Ibuku berkata, ‘Wahai Rosululloh , pelayanmu Anas ini, doakanlah kepada Alloh untuknya.’ Beliau pun berdoa:

«اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ»

‘Ya Alloh, perbanyaklah hartanya, anaknya, dan berkahilah dia pada apa yang telah Engkau berikan kepadanya.’“ (HR. Al-Bukhori no. 6334 dan Muslim no. 2480)

Doa ini menjadi kunci utama yang membuka pintu-pintu keberuntungan hidup Anas di dunia hingga masa tuanya.

2: Melimpahnya Keturunan dan Harta sebagai Wujud Kabulnya Doa

Dunia menyaksikan bagaimana doa Rosululloh bekerja secara nyata pada kehidupan Anas. Setelah wafatnya Nabi , Anas tumbuh menjadi salah satu Shohabat Anshor yang paling makmur dan memiliki keluarga besar yang luar biasa. Kekayaan dan keturunan bukanlah penghalang bagi Anas dalam beribadah, melainkan sarana untuk bersyukur kepada Alloh. Sungguh, karunia Alloh itu luas bagi siapa saja yang Dia kehendaki:

﴿ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Itulah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Alloh mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Jumu’ah: 4)

Anas sendiri mengakui betapa doa Nabi tersebut telah merubah jalan hidupnya secara lahiriah. Ia pernah berkata dengan rasa syukur:

فَوَاللهِ إِنَّ مَالِي لَكَثِيرٌ، وَإِنَّ وَلَدِي وَوَلَدَ وَلَدِي لَيَتَعَادُّونَ عَلَى نَحْوِ الْمِائَةِ، الْيَوْمَ

“Demi Alloh, sungguh hartaku sangatlah banyak, dan sungguh anak-anakku serta cucu-cucuku hari ini jumlahnya telah mencapai seratus orang.” (HR. Muslim no. 2481)

Keberkahan ini bukan sekadar jumlah yang banyak, tetapi bagaimana setiap keturunan Anas juga tumbuh dalam ketaatan dan menjaga kehormatan keluarga sang pelayan Nabi .

3: Kebun Kurma Anas yang Berbuah Dua Kali Setahun

Salah satu bukti keajaiban berkah doa Nabi pada harta Anas adalah kebun kurmanya yang terletak di Bashroh. Di saat kebun-kebun kurma lainnya hanya berbuah sekali dalam setahun, kebun milik Anas memberikan hasil yang luar biasa. Ini adalah tanda nyata dari “barokah” (bertambahnya kebaikan) yang dipintakan oleh Rosululloh . Alloh berfirman mengenai berkah dari langit dan bumi:

﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’rof: 96)

Abul Aliyah menceritakan keistimewaan kebunnya tersebut yang tidak dimiliki oleh orang lain di zamannya:

وَكَانَ لَهُ بُسْتَانٌ يَحْمِلُ فِي السَّنَةِ الفَاكِهَةَ مَرَّتَيْنِ

“Ia memiliki kebun yang berbuah dua kali dalam setahun.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3833)

Bahkan disebutkan bahwa kebun milik Anas memiliki aroma yang sangat harum karena keberkahan doa Nabi yang menyertainya. Hal ini menunjukkan bahwa jika Alloh memberkati usaha seseorang, maka hasil yang didapat akan melampaui logika manusia pada umumnya.

4: Rahasia Usia Panjang dalam Ketaatan

Selain harta dan anak, doa Rosululloh juga mencakup keberkahan umur. Anas bin Malik termasuk salah satu Shohabat terakhir yang wafat, sehingga ia sempat menyaksikan berbagai peristiwa besar dalam sejarah umat Islam dan mengajarkan ilmu kepada banyak generasi Tabi’in. Namun, panjangnya usia Anas tidak membuatnya lalai, justru ia semakin giat dalam beramal sholih.

Rosululloh pernah bersabda mengenai siapa orang yang terbaik:

«خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ»

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2330)

Anas bin Malik hidup hingga mencapai usia lebih dari seratus tahun. Meskipun usianya senja, ingatan dan fisiknya tetap terjaga untuk meriwayatkan Hadits-Hadits Nabi . Keberkahan usia ini memungkinkannya untuk terus menjadi sumber ilmu bagi umat. Ia adalah penutup dari generasi pelayan Nabi yang langsung merasakan bimbingan beliau. Panjangnya usia Anas adalah kesempatan baginya untuk terus mengumpulkan bekal demi pertemuan kembali dengan kekasihnya, Rosululloh , di Jannah kelak.

5: Faidah

Doa orang tua (ibu) dan doa orang sholih (guru) adalah wasilah yang sangat kuat untuk mendapatkan keberkahan hidup.

Harta yang banyak dan anak yang melimpah adalah karunia jika disertai dengan keberkahan dari Alloh dan digunakan dalam ketaatan.

Hakikat barokah bukanlah sekadar jumlah, melainkan manfaat yang terus mengalir dan melampaui kebiasaan normal.

Usia panjang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas amal sholih agar menjadi manusia yang terbaik di sisi Alloh.

BAB VI - SEBAGAI PERAWI HADITS

1: Ketelitian Anas dalam Menjaga Kemurnian Sabda Nabi

Setelah wafatnya Rosululloh , Anas bin Malik menyadari bahwa ia memikul amanah besar sebagai saksi hidup sejarah kenabian. Selama sepuluh tahun pengabdiannya, telinga Anas telah mendengar ribuan sabda dan matanya telah menyaksikan ribuan perbuatan Nabi . Namun, Anas adalah sosok yang sangat berhati-hati. Ia tidak mudah berucap kecuali jika ia benar-benar yakin akan kebenaran kalimat tersebut. Ketelitian ini lahir dari rasa takut kepada Alloh dan kecintaan kepada kebenaran, sebagaimana Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro: 36)

Anas sering kali terlihat gemetar atau merasa berat saat hendak menyampaikan sebuah Hadits karena takut salah satu kata pun. Ia sangat memegang teguh peringatan keras dari Rosululloh mengenai bahaya berdusta atas nama beliau:

«مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»

“Siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhori no. 110 dan Muslim no. 3)

Oleh karena itu, setiap kali Anas selesai menceritakan sebuah Hadits dari Nabi , ia sering menambahkan kalimat perlindungan seperti, “Atau sebagaimana yang beliau sabdakan,” sebagai bentuk kehati-hatian tingkat tinggi.

2: Hadits-Hadits Penting yang Diriwayatkan oleh Anas

Berkat kedekatan fisiknya dengan Nabi , Anas meriwayatkan lebih dari dua ribu Hadits yang mencakup segala aspek kehidupan. Mulai dari urusan ibadah yang sangat mendalam hingga adab harian yang sangat sederhana. Salah satu Hadits yang sangat populer dan menjadi pondasi akhlak bagi kaum Muslimin adalah tentang pentingnya mencintai saudara seiman.

Anas meriwayatkan bahwa Rosululloh bersabda:

«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian (dengan iman yang sempurna) sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhori no. 13 dan Muslim no. 45)

Anas juga banyak meriwayatkan tentang sifat-sifat fisik dan kebiasaan Nabi , seperti cara beliau makan, cara beliau tidur, dan cara beliau berinteraksi dengan anak-anak. Melalui lisan Anas, umat Islam hingga hari ini bisa membayangkan bagaimana sosok Nabi seolah-olah beliau hadir di depan mata. Ini adalah bentuk penjagaan Alloh terhadap agama ini melalui perantara para Shohabat yang amanah.

3: Anas bin Malik sebagai Rujukan Para Tabi’in di Bashroh

Di masa tuanya, Anas bin Malik berpindah dan menetap di kota Bashroh. Di sana, ia menjadi oase ilmu bagi generasi Tabi’in (generasi setelah Shohabat). Orang-orang berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru hanya untuk mendengarkan Hadits langsung dari lisan orang yang pernah melayani sang Nabi . Anas adalah pemegang sanad (mata rantai) ilmu yang sangat pendek dan kuat.

Kehadiran Anas di tengah-tengah mereka adalah wujud dari perintah Alloh untuk bertanya kepada ahli ilmu:

﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Murid-murid Anas seperti Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, dan Qotadah, menyerap ilmu dan adab dari Anas dengan sangat teliti. Anas bukan hanya mengajarkan teks Hadits, tapi ia mengajarkan bagaimana menghidupkan Hadits tersebut dalam karakter sehari-hari. Ia sering mengajak murid-muridnya untuk melihat bagaimana ia melakukan sesuatu, seraya berkata, “Beginilah aku melihat Rosululloh melakukannya.”

4: Gaya Sholat Anas yang Paling Menyerupai Sholat Rosululloh

Salah satu warisan ilmu terbesar dari Anas bin Malik adalah tata cara Sholat. Karena ia selalu berada di belakang Nabi selama sepuluh tahun, gerakan Sholatnya menjadi rujukan paling akurat bagi para Shohabat lainnya dan para Tabi’in. Bahkan Abu Huroiroh yang juga sangat dekat dengan Nabi mengakui kehebatan Sholat Anas.

Kesaksian Abu Huroiroh ini terekam dalam riwayat:

Dari Abu Huroiroh, ia berkata:

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنِ ابْنِ أُمِّ سُلَيْمٍ

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang Sholatnya paling menyerupai Sholat Rosululloh daripada anak Ummu Sulaim (yakni Anas bin Malik).” (HHR. Ath-Thobaroni Ausath no. 7745)

Anas sangat menjaga rukun-rukun Sholat, terutama thuma’ninah (ketenangan) saat ruku’ dan sujud. Ia mengajarkan bahwa Sholat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan pertemuan ruhani dengan Sang Pencipta. Hal ini sejalan dengan perintah Nabi :

«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 631)

Melalui Anas, sunnah Sholat Nabi terjaga keasliannya dan sampai kepada kita hari ini dengan utuh. Anas telah menunaikan tugasnya sebagai pelayan ilmu dengan sangat gemilang.

5: Faidah

a)  Kejujuran dan ketelitian adalah syarat mutlak dalam menyampaikan ilmu agama agar tidak terjadi penyimpangan.

b) Mencintai saudara seiman seperti mencintai diri sendiri adalah tolak ukur kesempurnaan iman seseorang.

c)  Ahli ilmu (ulama) adalah rujukan utama umat dalam memahami syariat yang bersumber dari wahyu.

d) Meniru tata cara ibadah Nabi (Sholat) secara detail adalah bentuk kecintaan dan ketaatan yang paling nyata kepada beliau.

BAB VII - HARI-HARI TANPA ROSULULLOH

1: Kesedihan Anas Saat Wafatnya Sang Kekasih Alloh

Tidak ada hari yang lebih gelap dalam hidup Anas bin Malik selain hari ketika Rosululloh wafat. Sebagai pelayan yang selalu berada di sisi beliau, Anas merasakan kehilangan yang begitu menyesakkan dada. Ia menyaksikan bagaimana kota Madinah yang tadinya bercahaya terang benderang saat kedatangan beliau, tiba-tiba menjadi redup dan sunyi saat beliau pergi menghadap Sang Pencipta. Kehilangan ini adalah ujian kesabaran yang paling besar bagi para Shohabat. Alloh berfirman:

﴿وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (QS. Ali ‘Imron: 144)

Anas mengenang suasana tersebut dengan kalimat yang sangat menyentuh:

«لَمَّا كَانَ اليَوْمُ الَّذِي دَخَلَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ المَدِينَةَ أَضَاءَ مِنْهَا كُلُّ شَيْءٍ، فَلَمَّا كَانَ اليَوْمُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَظْلَمَ مِنْهَا كُلُّ شَيْءٍ»

“Pada hari ketika Rosululloh masuk ke Madinah, segala sesuatu di sana menjadi bercahaya terang. Namun, pada hari ketika beliau wafat, segala sesuatu di Madinah menjadi gelap gulita.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3618)

Bagi Anas, dunia seolah kehilangan ruhnya. Namun, ia tetap teguh memegang amanah ilmu dan iman yang telah diajarkan selama sepuluh tahun itu.

2: Mimpi Bertemu Rosululloh Setiap Malam

Meskipun jasad sang Nabi telah tiada, namun cinta di hati Anas tidak pernah padam. Kerinduannya begitu meluap-luap seolah memanggil nama beliau. Alloh memberikan hiburan kepada hamba-Nya yang benar-benar mencintai Nabi -Nya. Bagi Anas, pertemuan fisik yang terputus di dunia digantikan oleh Alloh melalui pertemuan di alam mimpi yang indah.

Sungguh, mimpi bertemu Nabi adalah sebuah kebenaran bagi mereka yang tulus mencintainya. Rosululloh bersabda:

«مَنْ رَآنِي فِي المَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي»

“Siapa yang melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia benar-benar telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupai bentukku.” (HR. Al-Bukhori no. 110 dan Muslim no. 2266)

Anas bin Malik, sang pelayan setia ini, dianugerahi kemuliaan yang sangat langka. Ia pernah berkata dengan rasa haru:

«قَلَّ لَيْلَةٌ تَأْتِي عَلَيَّ إِلَّا وَأَنَا أَرَى فِيهَا خَلِيلِي ﷺ» وَأَنَسٌ يَقُولُ ذَلِكَ وَتَدْمَعُ عَيْنَاهُ

Jarang ada satu malam pun yang kulewati melainkan aku melihat (bermimpi bertemu) kekasihku di dalamnya.” Anas mengatakan itu dengan menangis. (HSR. Ahmad, no. 13267)

Ia terbangun dari mimpinya, sementara air matanya berlinang karena rindu, namun hatinya merasa kuat karena ia tahu bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

3: Pesan-Pesan Terakhir Anas kepada Anak Cucunya

Di akhir hayatnya yang panjang, Anas bin Malik tidak meninggalkan harta sebagai warisan utama, melainkan ia meninggalkan warisan ketaatan dan kecintaan kepada sunnah. Ia sering mengumpulkan anak-anak dan cucu-cucunya untuk menceritakan bagaimana indahnya hidup di bawah bimbingan Nabi . Ia berpesan agar mereka menjaga Sholat dan amanah, sebagaimana Alloh berfirman:

﴿يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ

“Wahai anakku, dirikanlah Sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (QS. Luqman: 17)

Anas sangat menekankan kepada keturunannya agar mereka tetap berada di atas jalan kebenaran. Salah satu pesan yang sering ia sampaikan adalah mengenai pentingnya menuntut ilmu dan menjaga lisan. Ia ingin agar keberkahan doa Nabi yang ia rasakan dalam bentuk banyaknya harta dan anak, juga dibarengi dengan keberkahan iman yang kokoh hingga akhir zaman.

4: Detik-Detik Wafatnya Sang Pelayan

Anas bin Malik wafat di Bashroh dalam usia yang sangat senja, ada yang menyebutkan lebih dari seratus tahun. Menjelang wafatnya, ia meminta agar sebuah benda kecil yang sangat berharga baginya disertakan dalam kain kafannya. Benda itu adalah beberapa helai rambut Rosululloh yang ia simpan dengan sangat hati-hati selama puluhan tahun. Ia ingin menghadap Alloh dengan membawa bukti cintanya kepada sang Nabi .

Kematian bagi seorang Mukmin yang merindu adalah gerbang menuju pertemuan dengan kekasih. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Robbmu dengan hati yang ridho lagi diridhoi-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27-28)

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Anas merasa tenang karena ia telah menunaikan amanahnya. Ia telah menyampaikan ribuan Hadits dan mendidik ribuan murid. Wafatnya Anas bin Malik menandai berakhirnya sebuah era di mana orang yang pernah melayani Nabi secara langsung masih ada di muka bumi. Namun, meskipun raganya telah tertimbun tanah, namanya tetap harum dan kisah pengabdiannya tetap menjadi inspirasi bagi setiap jiwa yang merindukan syafaat Nabi .

5: Faidah

a)  Kesedihan atas wafatnya Nabi adalah tanda iman, namun kesabaran dalam memegang ajarannya adalah bukti cinta yang sejati.

b) Mimpi bertemu Nabi adalah karunia besar yang diberikan Alloh kepada hamba-hamba-Nya yang tulus menjaga sunnah beliau.

c)  Warisan terbaik bagi keluarga bukanlah materi, melainkan pendidikan agama dan pengenalan akan sosok Rosululloh .

d) Akhir hidup yang baik (husnul khotimah) adalah hasil dari panjangnya usia yang diisi dengan pengabdian dan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya.

PENUTUP

Menutup lembaran kisah Anas bin Malik adalah seperti menutup sebuah buku yang penuh dengan aroma wangi dan cahaya. Kita telah menelusuri perjalanan seorang anak kecil dari Madinah yang karena ketaatan ibunya dan kemuliaan hatinya, dipilih oleh Alloh untuk menjadi pelayan pribadi manusia paling mulia. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berada di bawah bimbingan wahyu. Selama itu pula, Anas tidak hanya belajar tentang hukum-hukum agama, tetapi ia menyerap kelembutan, kesabaran, dan keteguhan jiwa dari sumbernya langsung.

Kisah Anas adalah pengingat bagi kita semua bahwa kedekatan dengan Rosululloh bukanlah tentang status sosial, melainkan tentang pengabdian dan ketulusan. Anas mengajarkan bahwa menjadi pelayan bagi kebenaran adalah kemuliaan yang melampaui segala kedudukan di dunia. Alloh telah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang-orang yang beriman dan berilmu, sebagaimana firman-Nya:

﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Keberkahan hidup yang dialami Anas —harta yang melimpah, anak cucu yang banyak, dan usia yang panjang— adalah bukti nyata bahwa melayani agama tidak akan pernah membuat seseorang merugi. Justru, pengabdian itu menjadi kunci pembuka pintu-pintu rohmat di dunia dan tabungan yang kekal di Akhirat. Namun, di atas semua kemewahan duniawi itu, warisan terbesar yang ditinggalkan Anas untuk kita adalah ribuan sabda Nabi yang terjaga kemurniannya. Tanpa ketelitian dan kejujuran Anas, mungkin kita akan kehilangan banyak detail tentang bagaimana indahnya akhlak harian sang Nabi .

Sebagai penutup, marilah kita merenungi satu Hadits yang sering disampaikan oleh Anas bin Malik, sebuah Hadits yang memberikan harapan besar bagi setiap jiwa yang merasa amalnya masih sedikit, namun cintanya kepada Rosululloh begitu besar. Anas menceritakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi tentang kapan hari Kiamat tiba, lalu Nabi bertanya balik, “Apa yang telah kamu siapkan untuknya?” Lelaki itu menjawab, “Aku tidak menyiapkan banyak Sholat, puasa, maupun sedekah, tapi aku mencintai Alloh dan Rosul-Nya.” Maka Rosululloh bersabda:

«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»

“Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.”

Anas berkata setelah meriwayatkan Hadits ini,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»

“Kami tidak pernah merasa sangat gembira setelah masuk Islam melebihi kegembiraan kami saat mendengar sabda beliau: ‘Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.’” (HR. Al-Bukhori no. 3688 dan Muslim no. 2639)

Semoga dengan mempelajari biografi lengkap Anas bin Malik ini, tumbuh benih-benih cinta yang tulus di dalam hati kita. Cinta yang membuat kita ringan dalam menjalankan sunnah, cinta yang membuat kita sigap dalam melayani sesama, dan cinta yang kelak akan mengumpulkan kita kembali bersama Rosululloh dan para Shohabatnya di Jannah Firdaus yang abadi. Sungguh, pengabdian Anas telah usai di dunia, namun jejak langkahnya akan terus menjadi kompas bagi setiap pencari kebenaran hingga akhir zaman.[NK]


Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url