[PDF] Biografi Anas bin Malik Pelayan Kecil Rosululloh - Nor Kandir
MUQODDIMAH
﷽
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang telah
mengutus Rosul-Nya sebagai rohmat bagi seluruh alam.
Sungguh, dalam lembaran sejarah Islam, kita akan menemukan
sosok-sosok luar biasa yang tumbuh besar di bawah naungan wahyu, menghirup
udara yang sama dengan manusia paling mulia, dan merasakan langsung sentuhan
kasih sayang kenabian. Di antara sekian banyak bintang yang bersinar di langit Shohabat,
ada satu nama yang begitu lekat dengan keseharian Rosululloh ﷺ.
Ia bukan sekadar pengikut, melainkan tangan kanan yang selalu sigap, mata yang
selalu terjaga, dan hati yang penuh pengabdian.
Anas bin Malik termasuk dari kalangan Anshor yang
mendapatkan kemuliaan besar di sisi Alloh. Mengenai kemuliaan para Shohabat
ini, Alloh berfirman dalam Kitab-Nya:
﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا
أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk
Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh, dan
Alloh menyediakan bagi mereka taman dan kebun yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya selama-lamanya; mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang
besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Anas bukanlah pelayan dalam pengertian yang biasa kita
pahami di dunia modern. Pengabdiannya adalah bentuk cinta yang paling murni.
Sejak usia sepuluh tahun, saat anak-anak lain masih asyik bermain, Anas
telah melangkah masuk ke dalam rumah tangga nubuwwah. Ibunya, Ummu Sulaim,
adalah wanita cerdas yang memberikan hadiah paling berharga kepada Rosululloh ﷺ. Anas menceritakan momen tersebut dalam sebuah riwayat:
Dari Anas, ia berkata: “Ibuku, Ummu Anas (Ummu Sulaim),
membawaku kepada Rosululloh ﷺ. Ia telah memakaikan
kain kepadaku dari setengah kerudungnya dan menyelimutiku dengan setengahnya
lagi. Lalu ia berkata,
يَا رَسُولَ
اللهِ، هَذَا أُنَيْسٌ ابْنِي، أَتَيْتُكَ بِهِ يَخْدُمُكَ فَادْعُ اللهَ لَهُ
‘Wahai Rosululloh, ini Unais (Anas kecil) anakku, aku membawanya
kepadamu agar ia melayanimu, maka doakanlah kepada Alloh untuknya.’” (HR.
Muslim no. 2481)
Mendengar permintaan tulus itu, Rosululloh ﷺ
kemudian mendoakan Anas dengan doa yang sangat indah:
«اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ،
وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ»
“Ya Alloh, perbanyaklah hartanya, anaknya, dan berkahilah
dia pada apa yang telah Engkau berikan kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6334
dan Muslim no. 2480)
Selama setahun, Anas bin Malik hidup begitu dekat dengan Rosululloh
ﷺ. Ia melihat bagaimana beliau bangun di pagi hari, bagaimana
beliau berwudhu, hingga bagaimana beliau menghadapi tekanan da’wah yang besar.
Anas adalah penyimpan rahasia yang terpercaya. Kedekatannya ini membuatnya
memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang sunnah-sunnah Nabi ﷺ. Bahkan, Abu Huroiroh memberikan kesaksian tentang betapa
miripnya ibadah Anas dengan Nabi ﷺ:
Dari Abu Huroiroh, ia berkata:
مَا رَأَيْتُ
أَحَدًا أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنِ ابْنِ أُمِّ سُلَيْمٍ - يَعْنِي
أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang Sholatnya paling
menyerupai Sholat Rosululloh ﷺ daripada anak Ummu
Sulaim (yakni Anas bin Malik).” (HSR. Ibnu Ja’ad no. 1366)
Namun, hal yang paling berkesan bagi Anas selama sepuluh
tahun itu bukanlah beban kerja, melainkan kelembutan akhlak sang Nabi ﷺ yang tiada tandingnya. Anas mengenangnya dengan penuh haru:
Dari Anas —semoga Alloh meridhoinya—, ia berkata:
خَدَمْتُ النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ
سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلاَ: لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلاَ: أَلَّا صَنَعْتَ
“Aku telah melayani Rosululloh ﷺ
selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah sekalipun berkata kepadaku ‘Ah’, dan
tidak pernah bertanya, ‘Mengapa kamu lakukan ini?’ atau ‘Mengapa tidak kamu
lakukan ini?’” (HR. Al-Bukhori no. 6038 dan Muslim no. 2309)
Kehidupan Anas bin Malik adalah bukti nyata bagaimana doa
seorang Nabi ﷺ mampu mengubah nasib seseorang. Ia menjadi salah satu Shohabat
yang paling panjang umurnya dan paling banyak keturunannya. Namun, di balik
semua itu, hati Anas tetap terpaut pada kenangan indah bersama Rosululloh ﷺ. Kerinduannya begitu besar hingga ia selalu bertemu dengan
beliau dalam tidurnya:
Dari Anas —semoga Alloh meridhoinya— ia berkata:
«قَلَّ
لَيْلَةٌ تَأْتِي عَلَيَّ إِلَّا وَأَنَا أَرَى فِيهَا خَلِيلِي ﷺ» وَأَنَسٌ يَقُولُ
ذَلِكَ وَتَدْمَعُ عَيْنَاهُ
“Jarang
ada satu malam pun yang
kulewati melainkan aku melihat (bermimpi bertemu) kekasihku ﷺ di dalamnya.” Anas mengatakan itu dengan menangis. (HSR. Ahmad, no. 13267)
Dalam buku ini, kita akan menelusuri jejak-jejak langkah
Anas bin Malik yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan lisan suci Rosululloh
ﷺ. Kita akan belajar bagaimana menjadi pribadi yang amanah,
bagaimana mendidik anak dengan cinta, dan bagaimana menumbuhkan rasa cinta yang
mendalam kepada sang Nabi ﷺ melalui kacamata
seorang pelayan setia. Semoga narasi yang mengalir ini mampu membawa kita
seolah-olah hadir di Madinah, duduk bersama Anas, dan merasakan kehangatan
bimbingan Rosululloh ﷺ yang tiada tandingnya.
BAB I - AWAL PENGABDIAN
1:
Keislaman Anas dan Peran Sang Ibu, Ummu Sulaim
Kisah
perjalanan hidup Anas bin Malik tidak bisa dilepaskan dari peran seorang wanita
mulia yang memiliki visi luar biasa bagi masa depan anaknya, yaitu ibunya
sendiri, Ummu Sulaim. Ketika cahaya Islam mulai menyinari kota Madinah
(yang kala itu masih disebut Yatsrib), Ummu Sulaim termasuk di antara
orang-orang pertama yang menyambut da’wah ini dengan hati yang lapang.
Keislamannya bukan sekadar ucapan, melainkan keyakinan yang menghujam kuat ke
dalam jiwanya, meskipun saat itu suaminya, Malik bin an-Nadhor (ayah kandung
Anas), sangat menentangnya.
Anas kecil
tumbuh dalam suasana rumah tangga yang sedang dilanda pergolakan iman. Ummu
Sulaim dengan penuh keteguhan mendidik Anas untuk mengucapkan kalimat tauhid,
bahkan sebelum ayahnya menyetujuinya. Ketulusan iman keluarga ini adalah bagian
dari karunia Alloh bagi penduduk Madinah yang telah dipuji dalam Al-Quran:
﴿وَالَّذِينَ
تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ
وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ
وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ
نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Dan
orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor)
sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijroh
kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap
apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam
kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Setelah
ayahnya wafat dalam keadaan belum memeluk Islam, Ummu Sulaim kemudian
dipersunting oleh Abu Tholhah setelah lelaki itu masuk Islam. Sejak saat
itu, pendidikan Anas berada di bawah bimbingan penuh ibundanya yang sholihah.
Ummu Sulaim sadar bahwa harta yang paling berharga bagi seorang anak adalah
kedekatannya dengan ilmu dan para pembawa ilmu. Maka, ketika terdengar kabar
bahwa Rosululloh ﷺ telah tiba di Madinah setelah
perjalanan hijroh yang panjang, Ummu Sulaim tidak menyia-nyiakan kesempatan
emas ini untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya.
2:
Saat Tangan Kecil Anas Diserahkan kepada Rosululloh ﷺ
Bayangkan
suasana kota Madinah yang penuh dengan sukacita. Penduduknya berbondong-bondong
menyambut kedatangan sang Nabi ﷺ
dengan membawa berbagai hadiah. Ada yang membawa makanan, ada pula yang
menawarkan harta. Namun, Ummu Sulaim datang dengan hadiah yang jauh berbeda dan
jauh lebih berharga. Ia membawa Anas yang saat itu baru berusia sepuluh tahun.
Momen
penyerahan Anas ini diabadikan dalam riwayat yang menyentuh hati. Anas menceritakan
kejadian itu dengan penuh kenangan:
Dari Anas —semoga
Alloh meridhoinya—, ia berkata: “Ibuku, Ummu Anas, membawaku kepada Rosululloh
ﷺ sementara ia telah memakaikan kain kepadaku dari setengah
kerudungnya dan menyelimutiku dengan setengahnya lagi. Lalu ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا أُنَيْسٌ ابْنِي أَتَيْتُكَ بِهِ
يَخْدُمُكَ، فَادْعُ اللَّهَ لَهُ
‘Wahai
Rosululloh ﷺ, ini Unais (panggilan sayang untuk Anas kecil) anakku, aku
membawanya kepadamu agar ia melayanimu, maka doakanlah kepada Alloh untuknya.’“
(HR. Muslim no. 2481)
Rosululloh ﷺ menyambut anak kecil itu dengan tangan terbuka. Beliau tidak
menolak “hadiah” tersebut, meski Anas hanyalah seorang anak kecil yang mungkin
belum banyak mengerti tentang urusan rumah tangga. Namun, Nabi ﷺ melihat potensi besar dalam diri Anas. Kepercayaan yang
diberikan oleh ibunda Anas menjadi pintu gerbang bagi Anas untuk memasuki dunia
yang tidak pernah dibayangkan oleh anak sebayanya: dunia wahyu, dunia
kemuliaan, dan dunia pengabdian.
3:
Tugas Pertama di Rumah Rosululloh ﷺ
Setelah
diterima sebagai pelayan pribadi Nabi ﷺ,
Anas mulai menjalankan hari-harinya di lingkungan rumah tangga beliau.
Tugas-tugasnya bukanlah beban berat yang memeras keringat, melainkan
tugas-tugas ringan yang membutuhkan ketangkasan dan perhatian. Anas bertugas
menyiapkan air wudhu bagi beliau, membawakan sandal saat beliau hendak keluar,
serta menyiapkan siwak untuk menjaga kebersihan mulut beliau.
Kehadiran
Anas di rumah Nabi ﷺ adalah pemandangan yang
indah. Rosululloh ﷺ sangat menghargai keberadaan
anak kecil ini. Beliau sering kali memanggil Anas dengan panggilan akrab atau
panggilan sayang seperti “Yaa Bunayya” (wahai anakku sayang). Kedekatan ini
memberikan akses bagi Anas untuk melihat bagaimana pribadi Rosululloh ﷺ saat sedang sendirian atau bersama keluarganya.
Mengenai
kelincahan dan ketangkasan Anas dalam melayani, beliau sendiri yang
menceritakan betapa Nabi ﷺ sangat memperhatikan
kenyamanan dan kebutuhan orang lain, termasuk pelayannya. Sungguh, tugas-tugas
itu ia lakukan dengan penuh rasa cinta, sebagaimana pesan dalam Al-Quran
mengenai ketaatan:
﴿وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا﴾
“Jika kamu
mentaatinya maka kamu akan mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Nur: 54)
Anas
memahami bahwa melayani Nabi ﷺ adalah bentuk ketaatan
tertinggi yang akan membawa pahala yang besar. Setiap langkah kaki yang ia
tempuh untuk memenuhi kebutuhan Nabi ﷺ
adalah langkah menuju Jannah.
4:
Kesan Pertama Melayani Manusia Paling Mulia
Salah satu
hal yang paling mengejutkan Anas saat pertama kali mulai melayani adalah
kelembutan hati Rosululloh ﷺ. Sebagai anak kecil, tentu
Anas pernah melakukan kesalahan, lalai dalam tugas, atau terlambat mengerjakan
sesuatu. Namun, selama sepuluh tahun penuh, Anas tidak pernah mendapatkan
perlakuan kasar.
Anas
memberikan kesaksian yang sangat masyhur mengenai hal ini:
Dari Anas —semoga
Alloh meridhoinya—, ia berkata:
خَدَمْتُ النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي:
أُفٍّ، وَلاَ: لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلاَ: أَلَّا صَنَعْتَ
“Aku
telah melayani Rosululloh ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau
tidak pernah sekalipun berkata kepadaku ‘Ah’, dan tidak pernah bertanya, ‘Mengapa
kamu lakukan ini?’ atau ‘Mengapa tidak kamu lakukan ini?’“ (HR. Al-Bukhori
no. 6038 dan Muslim no. 2309)
Bukan hanya
itu, Anas juga menceritakan betapa lembutnya tangan Rosululloh ﷺ dan betapa harumnya aroma tubuh beliau. Kesan pertama ini
begitu membekas dalam ingatan Anas, sehingga ia berkata:
«مَا
مَسِسْتُ حَرِيرًا وَلاَ دِيبَاجًا أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ النَّبِيِّ ﷺ، وَلاَ شَمِمْتُ
رِيحًا قَطُّ أَطْيَبَ مِنْ رِيحِ النَّبِيِّ ﷺ»
“Aku belum
pernah menyentuh sutra tipis maupun sutra tebal yang lebih lembut daripada
telapak tangan Rosululloh ﷺ. Dan aku juga belum pernah
mencium aroma yang lebih harum daripada aroma tubuh Rosululloh ﷺ.” (HR. Al-Bukhori no. 3561 dan Muslim no. 2330)
Kesan-kesan
indah ini membuat Anas merasa bukan seperti seorang pelayan, melainkan seperti
bagian dari keluarga inti sang Nabi ﷺ.
Kasih sayang yang ia terima dari Rosululloh ﷺ
menghapus segala rasa lelah dan membuatnya ingin terus berada di dekat beliau
selamanya.
Pelajaran
besar bagi kita adalah bahwa pemimpin yang paling agung adalah mereka yang
memimpin dengan kasih sayang, bukan dengan ancaman atau kata-kata kasar.
5:
Faidah
a) Peran ibu yang
sholihah sangat menentukan masa depan anak dalam hal iman dan ilmu.
b) Memberikan
hadiah terbaik bagi agama (berupa anak atau waktu) akan mendatangkan keberkahan
yang tak terhingga.
c) Akhlak yang mulia
dari seorang pemimpin (seperti tidak mudah menegur atau menghardik) akan
menumbuhkan loyalitas dan cinta yang tulus dari bawahannya.
d) Kedekatan
dengan orang sholih akan membuat seseorang tertular aroma kebaikan dan
keindahan budi pekertinya.
BAB II - MADRASAH NUBUWWAH
1:
Rahasia di Balik Sepuluh Tahun Tanpa Teguran “Mengapa”
Selama
sepuluh tahun penuh, Anas bin Malik hidup di bawah atap yang sama dengan wahyu.
Satu hal yang paling mengherankan sekaligus menyentuh hati Anas adalah
bagaimana Rosululloh ﷺ memperlakukannya. Bayangkan
seorang anak kecil yang lincah namun kadang ceroboh, namun tidak pernah
sekalipun mendapatkan hardikan. Ini adalah rahasia besar dari pendidikan
nubuwwah. Rosululloh ﷺ tidak mendidik dengan
menjatuhkan mental, melainkan dengan keteladanan yang nyata.
Anas
menceritakan pengalamannya dengan sangat detail dalam sebuah Hadits:
خَدَمْتُ
النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلاَ: لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلاَ:
أَلاَّ صَنَعْتَ؟
“Aku
melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, beliau
tidak pernah berkata kepadaku: ‘Ah’, tidak pula bertanya: ‘Mengapa kamu
melakukan ini?’ dan tidak pula berkata: ‘Mengapa kamu tidak melakukan ini?’“ (HR.
Al-Bukhori no. 6038)
Bahkan,
ketika Anas melakukan kesalahan yang jelas-jelas nyata, Rosululloh ﷺ tetap menjaga lisan beliau dari mencela. Anas pernah bercerita:
وَاللهِ
لَقَدْ خَدَمْتُهُ تِسْعَ سِنِينَ، مَا عَلِمْتُهُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ: لِمَ
فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ أَوْ لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ: هَلَّا فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا
“Demi
Alloh, sungguh aku telah melayani beliau selama sepuluh tahun, beliau tidak
pernah berkomentar atas apa yang aku kerjakan dengan ucapan ‘mengapa kamu
kerjakan ini?’ dan tidak pula atas apa yang aku tinggalkan dengan ucapan ‘mengapa
kamu tinggalkan ini?’” (HR. Muslim no. 2309)
Sikap ini
sejalan dengan firman Alloh yang memuji kelembutan hati sang Nabi ﷺ:
﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ
ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا
مِنْ حَوْلِكَ﴾
“Maka
disebabkan rohmat dari Allohlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imron: 159)
Inilah yang
membuat Anas betah dan sangat mencintai pekerjaannya. Beliau merasa dihargai
sebagai manusia, bukan sekadar tenaga kerja.
2:
Metode Rosululloh ﷺ Mendidik Anas Kecil
Pendidikan
yang diterima Anas bukan melalui kurikulum di dalam kelas, melainkan melalui
interaksi harian. Rosululloh ﷺ sering memberikan nasihat
singkat namun padat saat sedang bersama Anas. Salah satu metode beliau adalah
memanggil dengan panggilan yang akrab untuk menarik perhatian dan menumbuhkan
rasa percaya diri pada anak.
Anas
berkata:
قَالَ
لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: يَا بُنَيَّ
“Rosululloh
ﷺ pernah memanggilku: ‘Wahai anakku sayang.’” (HR. Muslim no.
2151)
Beliau juga
mendidik Anas untuk memiliki kepribadian yang luhur, seperti menjaga lisan dan
tidak suka mencela. Anas menyaksikan sendiri bagaimana lidah sang Nabi ﷺ terjaga dari kata-kata kotor. Hal ini menjadi pelajaran
berharga bagi Anas dalam membentuk karakternya. Rosululloh ﷺ bersabda yang diriwayatkan oleh Anas:
«لَمْ
يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ سَبَّابًا، وَلاَ فَحَّاشًا، وَلاَ لَعَّانًا»
“Nabi ﷺ bukanlah orang yang suka mencaci maki, bukan orang yang suka
berkata kotor, dan bukan orang yang suka melaknat.” (HR. Al-Bukhori no. 6031)
Dengan
melihat langsung contoh dari gurunya, Anas belajar bahwa kekuatan sejati
seorang lelaki bukan pada kerasnya suara, melainkan pada kemuliaan akhlaknya.
Inilah “Madrasah Nubuwwah” yang sebenarnya, di mana ilmu dan amal menyatu dalam
keseharian.
3:
Kedekatan Emosional Rosululloh ﷺ dengan Keluarga Anas
Cinta Rosululloh
ﷺ kepada Anas tidak berhenti pada pribadinya saja, tetapi meluas
hingga ke keluarganya. Beliau sering mengunjungi rumah Ummu Sulaim, ibu Anas,
dan beristirahat di sana. Hubungan ini sangat akrab, bahkan Rosululloh ﷺ menganggap keluarga Anas seperti keluarga sendiri.
Anas
menceritakan:
دَخَلَ
النَّبِيُّ ﷺ عَلَيْنَا وَمَا هُوَ إِلَّا أَنَا، وَأُمِّي، وَأُمُّ حَرَامٍ خَالَتِي،
فَقَالَ: «قُومُوا فَلِأُصَلِّيَ بِكُمْ» فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلَاةٍ، فَصَلَّى بِنَا
“Nabi ﷺ masuk ke rumah kami, saat itu tidak ada siapa-siapa kecuali
aku, ibuku, dan bibiku (Ummu Harom). Lalu beliau bersabda: ‘Berdirilah kalian,
aku akan Sholat mengimami kalian.’ Itu terjadi bukan pada Sholat Fardhu. Beliau
menjadi imam kami.” (HR. Muslim no. 660)
Momen Sholat
berjamaah di rumah Anas ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap kesholihan keluarga pelayannya. Beliau ingin agar
berkah wahyu tidak hanya dirasakan di Masjid, tetapi juga meresap ke dalam
sudut-sudut rumah mereka. Ummu Sulaim pun sering mengumpulkan keringat Nabi ﷺ saat beliau tidur di rumahnya untuk dijadikan campuran minyak
wangi, karena aroma tubuh Nabi ﷺ
memang sangat harum. Keakraban ini membuat Anas merasa sangat aman dan
terlindungi di bawah bimbingan sang Nabi ﷺ.
4:
Faidah Menjadi Pelayan Pribadi Sang Nabi ﷺ
Menjadi
pelayan pribadi memberikan Anas kesempatan langka yang tidak dimiliki banyak Shohabat
lain: melihat hal-hal yang bersifat sangat pribadi namun penuh hikmah. Anas
sering kali menjadi orang pertama yang mengetahui wahyu yang baru turun atau
perintah penting yang baru saja keluar dari lisan Nabi ﷺ.
Faidah
terbesar yang dirasakan Anas adalah ia menjadi orang yang paling tahu tentang
tata cara ibadah Nabi ﷺ yang paling detail. Sholatnya
Anas pun dipuji karena sangat mirip dengan Sholat Nabi ﷺ.
Hal ini tercapai karena ia melihat setiap gerakan Nabi ﷺ
selama sepuluh tahun tanpa jeda. Alloh berfirman:
﴿لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴾
“Sungguh,
telah ada pada (diri) Rosululloh ﷺ
itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rohmat)
Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (QS.
Al-Ahzab: 21)
Anas
benar-benar mengambil “uswah” (teladan) itu secara langsung. Ia belajar cara
makan, cara berbicara, cara berjalan, hingga cara berinteraksi dengan orang
asing melalui pengamatannya sebagai pelayan. Kedekatan fisik ini berubah
menjadi kedekatan ruhani yang sangat kuat, yang nantinya menjadikan Anas
sebagai salah satu perowi Hadits terbanyak. Ia tidak hanya meriwayatkan
kata-kata, tapi ia meriwayatkan sebuah “kehidupan”.
5.
Faidah
a) Metode
pendidikan terbaik adalah kelembutan dan memberikan teladan, bukan dengan
hardikan atau mencari-cari kesalahan.
b) Memanggil anak
atau murid dengan panggilan sayang dapat membuka pintu hati mereka untuk
menerima nasihat.
c) Hubungan baik
antara guru dan murid sebaiknya juga mencakup hubungan baik dengan keluarga
murid tersebut.
d) Kedekatan fisik
dengan orang alim dan sholih adalah sarana tercepat untuk menyerap ilmu dan
adab mereka secara alami.
BAB III - PEMBAWA RAHASIA DAN
PENJAGA AMANAH
1:
Anas dan Rahasia-Rahasia Rosululloh ﷺ yang Terjaga
Menjadi
orang terdekat dalam urusan harian Rosululloh ﷺ
menuntut Anas untuk memiliki integritas yang luar biasa. Tidak jarang beliau
memberikan tugas yang bersifat rahasia kepada Anas. Kedewasaan Anas dalam
menjaga lisan diuji berkali-kali, dan ia membuktikan dirinya sebagai pemuda
yang sangat bisa dipercaya. Sungguh, menjaga rahasia adalah bagian dari
perintah Alloh untuk menunaikan amanah:
﴿إِنَّ
اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا﴾
“Sungguh,
Alloh menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS.
An-Nisa: 58)
Anas
menceritakan sebuah kisah menarik ketika ia terlambat pulang karena menjalankan
sebuah misi rahasia dari Nabi ﷺ. Ibunya, Ummu Sulaim,
bertanya kepadanya, namun Anas tetap teguh menjaga rahasia itu. Anas
menceritakan:
أَتَى
عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَنَا أَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ، فَسَلَّمَ عَلَيْنَا،
فَبَعَثَنِي إِلَى حَاجَةٍ، فَأَبْطَأْتُ عَلَى أُمِّي، فَلَمَّا جِئْتُ قَالَتْ: مَا
حَبَسَكَ؟ قُلْتُ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِحَاجَةٍ. قَالَتْ: مَا حَاجَتُهُ؟
قُلْتُ: إِنَّهَا سِرٌّ. قَالَتْ: لَا تُحَدِّثَنَّ بِسِرِّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَحَدًا
“Rosululloh
ﷺ mendatangiku saat aku sedang bermain dengan anak-anak lelaki
lainnya. Beliau mengucapkan salam kepada kami, lalu mengutusku untuk suatu
keperluan. Karena itu, aku terlambat pulang ke rumah ibuku. Ketika aku sampai,
ibu bertanya, ‘Apa yang membuatmu terlambat?’ Aku menjawab, ‘Rosululloh ﷺ mengutusku untuk suatu keperluan.’ Ibu bertanya, ‘Keperluan apa
itu?’ Aku menjawab, ‘Itu adalah rahasia.’ Ibu pun berpesan,
لَا تُحَدِّثَنَّ بِسِرِّ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَحَدًا
‘Kalau
begitu, jangan sekali-kali kamu ceritakan rahasia Rosululloh ﷺ kepada siapapun!’“ (HR. Muslim no. 2482)
Ketegasan
Anas dan dukungan ibunya dalam menjaga rahasia ini menunjukkan betapa tingginya
adab mereka terhadap privasi sang Nabi ﷺ.
2:
Kecekatan Anas dalam Menyiapkan Kebutuhan Ibadah Nabi ﷺ
Tugas
harian Anas seringkali berkaitan langsung dengan aktivitas ibadah Rosululloh ﷺ. Anas adalah orang yang paling sigap menyiapkan air untuk
bersuci, membawakan keperluan Sholat, hingga menemani beliau ke Masjid atau ke
tempat yang sepi untuk beribadah. Kecekatan Anas ini merupakan cerminan dari
semangat tolong-menolong dalam kebaikan:
﴿وَتَعَاوَنُوا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا
عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾
“Dan tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)
Anas
menceritakan bagaimana ia melayani kebutuhan bersuci Nabi ﷺ dengan sangat teliti:
«كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدْخُلُ الخَلاَءَ، فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلاَمٌ إِدَاوَةً مِنْ
مَاءٍ وَعَنَزَةً، يَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ»
“Dahulu Rosululloh
ﷺ jika hendak masuk ke tempat buang hajat, maka aku dan seorang
anak yang sebayaku membawakan wadah berisi air dan sebuah tombak kecil (sebagai
pembatas Sholat), lalu beliau bersuci dengan air tersebut.” (HR. Al-Bukhori
no. 152 dan Muslim no. 271)
Bagi Anas,
menyiapkan air wudhu untuk Nabi ﷺ
adalah sebuah kemuliaan yang tak ternilai harganya. Ia tidak pernah merasa
terhina menjadi pelayan, karena ia tahu bahwa tangan yang melayani Nabi ﷺ adalah tangan yang diberkahi.
3:
Ketaatan Anas dalam Menjalankan Perintah yang Sulit
Ketaatan
Anas kepada Rosululloh ﷺ bersifat mutlak dan tanpa
tapi. Meskipun terkadang ia masih memiliki sifat kekanak-kanakan, namun ketika
perintah Nabi ﷺ datang, ia segera
melaksanakannya. Anas menceritakan sebuah momen di mana ia sempat merasa enggan
namun akhirnya tetap berangkat karena rasa hormatnya kepada Nabi ﷺ:
قَالَ:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا، فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ،
فَقُلْتُ: وَاللَّهِ لاَ أَذْهَبُ - وَفِي نَفْسِي أَنِّي أَذْهَبُ لِمَا أَمَرَنِي
بِهِ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ - فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ
فِي السُّوقِ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَدْ أَخَذَ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي، فَنَظَرْتُ
إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ، فَقَالَ: يَا أُنَيْسُ، أَذَهَبْتَ حَيْثُ أَمَرْتُكَ؟ قُلْتُ:
نَعَمْ، أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
“Rosululloh
ﷺ adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau
mengutusku untuk suatu keperluan, lalu aku berkata (dalam hati), ‘Demi Alloh
aku tidak akan pergi,’ padahal sebenarnya hatiku berniat untuk pergi melaksanakan
perintah Nabi ﷺ Alloh. Aku pun keluar hingga
melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rosululloh ﷺ memegang tengkukku dari belakang. Aku melihat beliau sambil
tertawa, lalu beliau bertanya,
«يَا أُنَيْسُ أَذَهَبْتَ حَيْثُ أَمَرْتُكَ؟»
‘Wahai
Unais, apakah kamu sudah pergi ke tempat yang aku perintahkan?’ Aku menjawab, ‘Ya,
aku akan pergi sekarang, wahai Rosululloh ﷺ.’“
(HR. Muslim no. 2310)
Kisah ini
menunjukkan betapa Rosululloh ﷺ mendidik Anas dengan penuh
kasih sayang dan canda tawa, sehingga ketaatan itu muncul bukan karena rasa
takut, melainkan karena rasa cinta.
4:
Karakter Jujur dan Amanah sebagai Buah Pendidikan Nabi ﷺ
Sepuluh
tahun berada di sisi Nabi ﷺ membentuk Anas menjadi
pribadi yang sangat jujur. Ia tidak pernah menambah atau mengurangi pesan yang
dititipkan kepadanya. Kejujuran ini adalah buah dari didikan Nabi ﷺ yang selalu menekankan pentingnya berkata benar. Alloh
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Alloh, dan bersamalah kamu dengan
orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)
Anas
benar-benar mempraktikkan hal ini dalam setiap perkataannya. Ketika ia
meriwayatkan sesuatu dari Nabi ﷺ,
ia sangat berhati-hati agar tidak salah ucap. Ia menyerap nilai-nilai kejujuran
dari tindakan Nabi ﷺ sehari-hari. Rosululloh ﷺ bersabda:
«عَلَيْكُمْ
بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى
الْجَنَّةِ»
“Hendaklah
kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan
kebaikan itu menuntun ke Jannah.” (HR. Muslim no. 2607)
Karakter
amanah ini nantinya akan membawa Anas menjadi rujukan utama bagi kaum Muslimin dalam
hal ilmu agama. Orang-orang percaya kepadanya karena mereka tahu Anas adalah
didikan langsung dari tangan sang Nabi ﷺ
yang bergelar Al-Amin (Yang Terpercaya).
5.
Faidah
a) Rahasia adalah
amanah yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh, bahkan dari orang terdekat
sekalipun jika itu berkaitan dengan orang lain.
b) Membantu urusan
ibadah orang lain, terutama guru atau pemimpin yang sholih, memiliki keutamaan
yang besar.
c) Ketaatan kepada
pemimpin atau orang tua sebaiknya didasari oleh rasa cinta dan hormat, bukan
sekadar rasa takut.
d) Kejujuran
adalah pondasi utama dalam membangun kepercayaan (kredibilitas) di tengah
masyarakat.
BAB IV - ANAS DI MEDAN JIHAD DAN
SAFAR
1:
Keikutsertaan Anas dalam Perang Bedar dan Perjuangan Lainnya
Meskipun
saat terjadi Perang Bedar usia Anas bin Malik masih sangat belia, namun
semangatnya untuk membela agama Alloh tidak pernah surut. Sebagai pelayan
pribadi, ia tetap mendampingi Rosululloh ﷺ
dalam berbagai situasi, termasuk saat-saat genting di medan perjuangan.
Keberadaan Anas di medan jihad bukan sekadar sebagai prajurit yang memanggul
senjata, tetapi sebagai pendukung setia yang memastikan kebutuhan sang Nabi ﷺ terpenuhi agar beliau tetap kuat dalam memimpin umat.
Keikutsertaan
Anas dalam perjuangan membela Islam adalah bentuk nyata dari pengabdian yang
dipuji dalam Al-Quran:
﴿إِنَّ
اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمْ
الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ﴾
“Sungguh,
Alloh telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan Jannah untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Alloh.” (QS.
At-Taubah: 111)
Anas
menceritakan keterlibatannya di Perang Bedar, meskipun tugas utamanya adalah
melayani:
خَرَجَ أَنَسٌ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ حِينَ تَوَجَّهَ إِلَى
بَدْرٍ وَهُوَ غُلَامٌ يَخْدُمُ رَسُولَ اللهِ ﷺ
Dari seorang
Anshor, bahwasanya Anas pergi bersama Rosululloh ﷺ
ke Badar, saat itu ia masih seorang anak untuk melayani beliau. (HR. Hakim
no. 6623)
Setelah
Bedar, Anas terus mendampingi Nabi ﷺ
dalam berbagai peperangan lainnya, termasuk Perang Khoibar dan Perang Hunain.
Ia menyaksikan bagaimana pertolongan Alloh turun dan bagaimana keteguhan hati
para Shohabat dalam menghadapi musuh.
2:
Melayani Rosululloh ﷺ di Tengah Perjalanan (Safar)
Safar atau
perjalanan jauh di masa itu adalah ujian fisik yang sangat berat. Namun, bagi
Anas, safar bersama Rosululloh ﷺ
adalah kesempatan emas untuk belajar tentang sabar dan ketangguhan. Di tengah
teriknya matahari padang pasir, Anas tetap sigap menyiapkan segala keperluan
perjalanan Nabi ﷺ, mulai dari kendaraan,
makanan, hingga air untuk bersuci.
Rosululloh ﷺ sangat menghargai khidmah (pelayanan) yang diberikan para Shohabatnya
saat safar. Anas meriwayatkan betapa mulianya melayani orang yang sedang menempuh
perjalanan:
Dari Anas —semoga
Alloh meridhoinya—, ia berkata:
«صَحِبْتُ جَرِيرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، فَكَانَ يَخْدُمُنِي وَهُوَ
أَكْبَرُ مِنْ أَنَسٍ» قَالَ جَرِيرٌ: «إِنِّي رَأَيْتُ الأَنْصَارَ يَصْنَعُونَ شَيْئًا،
لاَ أَجِدُ أَحَدًا مِنْهُمْ إِلَّا أَكْرَمْتُهُ»
“Aku
menemani Jarir bin Abdillah dalam perjalanan, lalu ia melayaniku padahal ia
lebih tua dariku. Jarir berkata: ‘Sungguh aku telah melihat orang-orang Anshor
(termasuk Anas) melakukan sesuatu dalam melayani Rosululloh ﷺ yang membuatku bersumpah tidaklah aku menemani salah seorang
dari mereka melainkan aku akan melayaninya.’” (HR. Al-Bukhori no. 2888 dan
Muslim no. 2513)
Ketangkasan
Anas dalam safar menjadi standar keteladanan bagi Shohabat lainnya. Ia memahami
bahwa melayani di saat sulit memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Alloh.
3:
Keberanian Anas yang Tumbuh di Bawah Panji Islam
Hidup
berdampingan dengan manusia paling berani di muka bumi membuat nyali Anas bin
Malik terasah dengan sendirinya. Ia melihat bagaimana Rosululloh ﷺ tetap tenang saat ribuan anak panah dilepaskan, dan bagaimana
beliau berdiri tegak saat orang lain mulai goyah. Keberanian ini adalah
anugerah yang Alloh tanamkan dalam hati hamba-hamba-Nya yang beriman:
﴿إِذْ
يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا﴾
“(Ingatlah),
ketika Robbmu mewahyukan kepada para Malaikat: ‘Sungguh Aku bersamamu, maka
teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.’“ (QS. Al-Anfal: 12)
Anas sering
menceritakan keberanian Rosululloh ﷺ
yang luar biasa. Suatu ketika, penduduk Madinah dikejutkan oleh suara keras
yang menakutkan di malam hari. Saat orang-orang baru saja hendak keluar mencari
sumber suara, mereka sudah mendapati Rosululloh ﷺ
kembali dari tempat suara itu sendirian di atas kuda tanpa pelana dengan pedang
di lehernya. Anas meriwayatkan:
«كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ أَحْسَنَ النَّاسِ، وَأَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَشْجَعَ النَّاسِ»
“Nabi ﷺ adalah manusia yang paling baik, manusia yang paling dermawan,
dan manusia yang paling berani.” (HR. Al-Bukhori no. 6033)
Melihat
ketangguhan gurunya, Anas pun tumbuh menjadi lelaki yang tidak gentar
menghadapi rintangan da’wah, baik di masa Nabi ﷺ
maupun setelah beliau wafat.
4:
Mukjizat-Mukjizat Nabi ﷺ yang Disaksikan Langsung oleh Anas
Sebagai
orang yang paling sering berada di dekat Nabi ﷺ,
Anas menjadi saksi kunci berbagai mukjizat yang Alloh tunjukkan melalui tangan
utusan-Nya. Mukjizat-mukjizat ini menguatkan iman Anas dan menjadi bukti nyata
kebenaran risalah Islam. Hal ini sesuai dengan kedudukan Rosululloh ﷺ sebagai saksi bagi umatnya:
﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ
شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا﴾
“Wahai Nabi
ﷺ! Sungguh, Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar
gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahzab: 45)
Salah satu
mukjizat yang disaksikan Anas adalah saat air memancar dari sela-sela jari
jemari Rosululloh ﷺ ketika orang-orang kesulitan
mendapatkan air wudhu. Anas menceritakan dengan penuh takjub:
رَأَيْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَحَانَتْ صَلاَةُ العَصْرِ، فَالْتَمَسَ النَّاسُ الوَضُوءَ فَلَمْ
يَجِدُوهُ، فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِوَضُوءٍ، فَوَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي
ذَلِكَ الإِنَاءِ يَدَهُ، وَأَمَرَ النَّاسَ أَنْ يَتَوَضَّئُوا مِنْهُ قَالَ: «فَرَأَيْتُ
المَاءَ يَنْبُعُ مِنْ تَحْتِ أَصَابِعِهِ حَتَّى تَوَضَّئُوا مِنْ عِنْدِ آخِرِهِمْ»
“Aku
melihat Rosululloh ﷺ saat waktu Sholat Ashar telah
tiba. Orang-orang mencari air wudhu namun tidak menemukannya. Lalu dibawakanlah
sedikit air wudhu kepada Rosululloh ﷺ,
beliau pun meletakkan tangannya ke dalam wadah tersebut dan memerintahkan
orang-orang untuk berwudhu darinya. Aku melihat air memancar dari bawah
jari-jemari beliau, hingga orang yang terakhir dari mereka semua selesai
berwudhu.” (HR. Al-Bukhori no. 169 dan Muslim no. 2279)
Kesaksian
mata Anas ini memberikan keyakinan yang tak tergoyahkan dalam hatinya bahwa ia
benar-benar melayani seorang Nabi ﷺ
utusan Alloh.
5:
Faidah
a) Jihad tidak
selalu berarti berada di garis depan dengan pedang; membantu urusan logistik
dan pelayanan bagi para pejuang juga memiliki pahala yang sangat besar.
b) Melayani sesama
Mukmin di saat safar (perjalanan sulit) adalah akhlak yang sangat mulia dan
dicontohkan oleh para Shohabat.
c) Keberanian
sejati lahir dari kedekatan dengan Alloh dan kepercayaan penuh pada
perlindungan-Nya.
d) Melihat dan
meyakini tanda-tanda kebesaran Alloh (mukjizat) berfungsi untuk menambah
kemantapan iman dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
BAB V - BERKAH DOA SANG NABI ﷺ
1:
Doa Khusus Rosululloh ﷺ untuk Anas bin Malik
Pengabdian
Anas bin Malik selama sepuluh tahun terbayar dengan sebuah hadiah spiritual
yang tak ternilai harganya: doa langsung dari lisan suci Rosululloh ﷺ. Sebagaimana telah kita singgung di awal, doa ini bermula dari
permintaan tulus ibunda Anas, Ummu Sulaim, yang menginginkan keberkahan bagi
masa depan anaknya. Alloh adalah Dzat yang Maha Mengabulkan doa hamba-Nya yang
sholih, sebagaimana firman-Nya:
﴿وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ
الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqoroh: 186)
Anas
mengenang momen ketika Rosululloh ﷺ
memohonkan tiga hal utama bagi dirinya. Anas menceritakan:
Dari Anas —semoga
Alloh meridhoinya—, ia berkata: “Ibuku berkata, ‘Wahai Rosululloh ﷺ, pelayanmu Anas ini, doakanlah kepada Alloh untuknya.’ Beliau
pun berdoa:
«اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ»
‘Ya
Alloh, perbanyaklah hartanya, anaknya, dan berkahilah dia pada apa yang telah
Engkau berikan kepadanya.’“ (HR. Al-Bukhori no. 6334 dan Muslim no. 2480)
Doa ini
menjadi kunci utama yang membuka pintu-pintu keberuntungan hidup Anas di dunia
hingga masa tuanya.
2:
Melimpahnya Keturunan dan Harta sebagai Wujud Kabulnya Doa
Dunia
menyaksikan bagaimana doa Rosululloh ﷺ
bekerja secara nyata pada kehidupan Anas. Setelah wafatnya Nabi ﷺ, Anas tumbuh menjadi salah satu Shohabat Anshor yang paling
makmur dan memiliki keluarga besar yang luar biasa. Kekayaan dan keturunan
bukanlah penghalang bagi Anas dalam beribadah, melainkan sarana untuk bersyukur
kepada Alloh. Sungguh, karunia Alloh itu luas bagi siapa saja yang Dia
kehendaki:
﴿ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ
ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ﴾
“Itulah
karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Alloh
mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Jumu’ah: 4)
Anas
sendiri mengakui betapa doa Nabi ﷺ
tersebut telah merubah jalan hidupnya secara lahiriah. Ia pernah berkata dengan
rasa syukur:
فَوَاللهِ
إِنَّ مَالِي لَكَثِيرٌ، وَإِنَّ وَلَدِي وَوَلَدَ وَلَدِي لَيَتَعَادُّونَ عَلَى نَحْوِ
الْمِائَةِ، الْيَوْمَ
“Demi
Alloh, sungguh hartaku sangatlah banyak, dan sungguh anak-anakku serta
cucu-cucuku hari ini jumlahnya telah mencapai seratus orang.” (HR. Muslim
no. 2481)
Keberkahan
ini bukan sekadar jumlah yang banyak, tetapi bagaimana setiap keturunan Anas
juga tumbuh dalam ketaatan dan menjaga kehormatan keluarga sang pelayan Nabi ﷺ.
3:
Kebun Kurma Anas yang Berbuah Dua Kali Setahun
Salah satu
bukti keajaiban berkah doa Nabi ﷺ
pada harta Anas adalah kebun kurmanya yang terletak di Bashroh. Di saat
kebun-kebun kurma lainnya hanya berbuah sekali dalam setahun, kebun milik Anas
memberikan hasil yang luar biasa. Ini adalah tanda nyata dari “barokah”
(bertambahnya kebaikan) yang dipintakan oleh Rosululloh ﷺ. Alloh berfirman mengenai berkah dari langit dan bumi:
﴿وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ﴾
“Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’rof: 96)
Abul Aliyah
menceritakan keistimewaan kebunnya tersebut yang tidak dimiliki oleh orang lain
di zamannya:
وَكَانَ
لَهُ بُسْتَانٌ يَحْمِلُ فِي السَّنَةِ الفَاكِهَةَ مَرَّتَيْنِ
“Ia
memiliki kebun yang berbuah dua kali dalam setahun.” (HSR. At-Tirmidzi no.
3833)
Bahkan
disebutkan bahwa kebun milik Anas memiliki aroma yang sangat harum karena
keberkahan doa Nabi ﷺ yang menyertainya. Hal ini
menunjukkan bahwa jika Alloh memberkati usaha seseorang, maka hasil yang
didapat akan melampaui logika manusia pada umumnya.
4:
Rahasia Usia Panjang dalam Ketaatan
Selain
harta dan anak, doa Rosululloh ﷺ
juga mencakup keberkahan umur. Anas bin Malik termasuk salah satu Shohabat
terakhir yang wafat, sehingga ia sempat menyaksikan berbagai peristiwa besar
dalam sejarah umat Islam dan mengajarkan ilmu kepada banyak generasi Tabi’in.
Namun, panjangnya usia Anas tidak membuatnya lalai, justru ia semakin giat
dalam beramal sholih.
Rosululloh ﷺ pernah bersabda mengenai siapa orang yang terbaik:
«خَيْرُ
النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ»
“Sebaik-baik
manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2330)
Anas bin
Malik hidup hingga mencapai usia lebih dari seratus tahun. Meskipun usianya
senja, ingatan dan fisiknya tetap terjaga untuk meriwayatkan Hadits-Hadits Nabi
ﷺ. Keberkahan usia ini memungkinkannya untuk terus menjadi sumber
ilmu bagi umat. Ia adalah penutup dari generasi pelayan Nabi ﷺ yang langsung merasakan bimbingan beliau. Panjangnya usia Anas
adalah kesempatan baginya untuk terus mengumpulkan bekal demi pertemuan kembali
dengan kekasihnya, Rosululloh ﷺ, di Jannah kelak.
5:
Faidah
Doa orang
tua (ibu) dan doa orang sholih (guru) adalah wasilah yang sangat kuat untuk
mendapatkan keberkahan hidup.
Harta yang
banyak dan anak yang melimpah adalah karunia jika disertai dengan keberkahan
dari Alloh dan digunakan dalam ketaatan.
Hakikat
barokah bukanlah sekadar jumlah, melainkan manfaat yang terus mengalir dan
melampaui kebiasaan normal.
Usia
panjang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas amal sholih agar menjadi
manusia yang terbaik di sisi Alloh.
BAB VI - SEBAGAI PERAWI HADITS
1:
Ketelitian Anas dalam Menjaga Kemurnian Sabda Nabi ﷺ
Setelah
wafatnya Rosululloh ﷺ, Anas bin Malik menyadari
bahwa ia memikul amanah besar sebagai saksi hidup sejarah kenabian. Selama
sepuluh tahun pengabdiannya, telinga Anas telah mendengar ribuan sabda dan
matanya telah menyaksikan ribuan perbuatan Nabi ﷺ.
Namun, Anas adalah sosok yang sangat berhati-hati. Ia tidak mudah berucap
kecuali jika ia benar-benar yakin akan kebenaran kalimat tersebut. Ketelitian
ini lahir dari rasa takut kepada Alloh dan kecintaan kepada kebenaran,
sebagaimana Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro: 36)
Anas sering
kali terlihat gemetar atau merasa berat saat hendak menyampaikan sebuah Hadits
karena takut salah satu kata pun. Ia sangat memegang teguh peringatan keras
dari Rosululloh ﷺ mengenai bahaya berdusta atas
nama beliau:
«مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ
مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Siapa yang
sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di
neraka.” (HR. Al-Bukhori no. 110 dan Muslim no. 3)
Oleh karena
itu, setiap kali Anas selesai menceritakan sebuah Hadits dari Nabi ﷺ, ia sering menambahkan kalimat perlindungan seperti, “Atau
sebagaimana yang beliau sabdakan,” sebagai bentuk kehati-hatian tingkat
tinggi.
2:
Hadits-Hadits Penting yang Diriwayatkan oleh Anas
Berkat
kedekatan fisiknya dengan Nabi ﷺ,
Anas meriwayatkan lebih dari dua ribu Hadits yang mencakup segala aspek
kehidupan. Mulai dari urusan ibadah yang sangat mendalam hingga adab harian
yang sangat sederhana. Salah satu Hadits yang sangat populer dan menjadi
pondasi akhlak bagi kaum Muslimin adalah tentang pentingnya mencintai saudara
seiman.
Anas
meriwayatkan bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»
“Tidaklah
beriman salah seorang di antara kalian (dengan iman yang sempurna) sampai ia
mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR.
Al-Bukhori no. 13 dan Muslim no. 45)
Anas juga
banyak meriwayatkan tentang sifat-sifat fisik dan kebiasaan Nabi ﷺ, seperti cara beliau makan, cara beliau tidur, dan cara beliau
berinteraksi dengan anak-anak. Melalui lisan Anas, umat Islam hingga hari ini
bisa membayangkan bagaimana sosok Nabi ﷺ
seolah-olah beliau hadir di depan mata. Ini adalah bentuk penjagaan Alloh
terhadap agama ini melalui perantara para Shohabat yang amanah.
3:
Anas bin Malik sebagai Rujukan Para Tabi’in di Bashroh
Di masa
tuanya, Anas bin Malik berpindah dan menetap di kota Bashroh. Di sana, ia
menjadi oase ilmu bagi generasi Tabi’in (generasi setelah Shohabat).
Orang-orang berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru hanya untuk
mendengarkan Hadits langsung dari lisan orang yang pernah melayani sang Nabi ﷺ. Anas adalah pemegang sanad (mata rantai) ilmu yang sangat
pendek dan kuat.
Kehadiran
Anas di tengah-tengah mereka adalah wujud dari perintah Alloh untuk bertanya
kepada ahli ilmu:
﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ
لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Murid-murid
Anas seperti Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, dan Qotadah, menyerap ilmu dan adab
dari Anas dengan sangat teliti. Anas bukan hanya mengajarkan teks Hadits, tapi
ia mengajarkan bagaimana menghidupkan Hadits tersebut dalam karakter
sehari-hari. Ia sering mengajak murid-muridnya untuk melihat bagaimana ia
melakukan sesuatu, seraya berkata, “Beginilah aku melihat Rosululloh ﷺ melakukannya.”
4:
Gaya Sholat Anas yang Paling Menyerupai Sholat Rosululloh ﷺ
Salah satu
warisan ilmu terbesar dari Anas bin Malik adalah tata cara Sholat. Karena ia
selalu berada di belakang Nabi ﷺ
selama sepuluh tahun, gerakan Sholatnya menjadi rujukan paling akurat bagi para
Shohabat lainnya dan para Tabi’in. Bahkan Abu Huroiroh yang juga sangat dekat
dengan Nabi ﷺ mengakui kehebatan Sholat Anas.
Kesaksian
Abu Huroiroh ini terekam dalam riwayat:
Dari Abu
Huroiroh, ia berkata:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ
ﷺ مِنِ ابْنِ أُمِّ سُلَيْمٍ
“Aku
tidak pernah melihat seseorang yang Sholatnya paling menyerupai Sholat Rosululloh
ﷺ daripada anak Ummu Sulaim (yakni Anas bin Malik).” (HHR. Ath-Thobaroni
Ausath no. 7745)
Anas sangat
menjaga rukun-rukun Sholat, terutama thuma’ninah (ketenangan) saat ruku’ dan
sujud. Ia mengajarkan bahwa Sholat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan
pertemuan ruhani dengan Sang Pencipta. Hal ini sejalan dengan perintah Nabi ﷺ:
«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»
“Sholatlah
kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 631)
Melalui
Anas, sunnah Sholat Nabi ﷺ terjaga keasliannya dan
sampai kepada kita hari ini dengan utuh. Anas telah menunaikan tugasnya sebagai
pelayan ilmu dengan sangat gemilang.
5:
Faidah
a) Kejujuran dan
ketelitian adalah syarat mutlak dalam menyampaikan ilmu agama agar tidak
terjadi penyimpangan.
b) Mencintai
saudara seiman seperti mencintai diri sendiri adalah tolak ukur kesempurnaan
iman seseorang.
c) Ahli ilmu
(ulama) adalah rujukan utama umat dalam memahami syariat yang bersumber dari
wahyu.
d) Meniru tata
cara ibadah Nabi ﷺ (Sholat) secara detail adalah
bentuk kecintaan dan ketaatan yang paling nyata kepada beliau.
BAB VII - HARI-HARI TANPA ROSULULLOH
ﷺ
1:
Kesedihan Anas Saat Wafatnya Sang Kekasih Alloh
Tidak ada
hari yang lebih gelap dalam hidup Anas bin Malik selain hari ketika Rosululloh ﷺ wafat. Sebagai pelayan yang selalu berada di sisi beliau, Anas
merasakan kehilangan yang begitu menyesakkan dada. Ia menyaksikan bagaimana
kota Madinah yang tadinya bercahaya terang benderang saat kedatangan beliau,
tiba-tiba menjadi redup dan sunyi saat beliau pergi menghadap Sang Pencipta.
Kehilangan ini adalah ujian kesabaran yang paling besar bagi para Shohabat.
Alloh berfirman:
﴿وَمَا
مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ
قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ﴾
“Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang Rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke
belakang (murtad)?” (QS. Ali ‘Imron: 144)
Anas
mengenang suasana tersebut dengan kalimat yang sangat menyentuh:
«لَمَّا
كَانَ اليَوْمُ الَّذِي دَخَلَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ المَدِينَةَ أَضَاءَ مِنْهَا
كُلُّ شَيْءٍ، فَلَمَّا كَانَ اليَوْمُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَظْلَمَ مِنْهَا كُلُّ
شَيْءٍ»
“Pada hari
ketika Rosululloh ﷺ masuk ke Madinah, segala
sesuatu di sana menjadi bercahaya terang. Namun, pada hari ketika beliau wafat,
segala sesuatu di Madinah menjadi gelap gulita.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3618)
Bagi Anas,
dunia seolah kehilangan ruhnya. Namun, ia tetap teguh memegang amanah ilmu dan
iman yang telah diajarkan selama sepuluh tahun itu.
2:
Mimpi Bertemu Rosululloh ﷺ Setiap Malam
Meskipun
jasad sang Nabi ﷺ telah tiada, namun cinta di
hati Anas tidak pernah padam. Kerinduannya begitu meluap-luap seolah memanggil
nama beliau. Alloh memberikan hiburan kepada hamba-Nya yang benar-benar
mencintai Nabi ﷺ-Nya. Bagi Anas, pertemuan
fisik yang terputus di dunia digantikan oleh Alloh melalui pertemuan di alam
mimpi yang indah.
Sungguh,
mimpi bertemu Nabi ﷺ adalah sebuah kebenaran bagi
mereka yang tulus mencintainya. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ رَآنِي فِي المَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ
يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي»
“Siapa yang
melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia benar-benar telah melihatku, karena
setan tidak dapat menyerupai bentukku.” (HR. Al-Bukhori no. 110 dan Muslim
no. 2266)
Anas bin
Malik, sang pelayan setia ini, dianugerahi kemuliaan yang sangat langka. Ia
pernah berkata dengan rasa haru:
«قَلَّ
لَيْلَةٌ تَأْتِي عَلَيَّ إِلَّا وَأَنَا أَرَى فِيهَا خَلِيلِي ﷺ» وَأَنَسٌ يَقُولُ
ذَلِكَ وَتَدْمَعُ عَيْنَاهُ
“Jarang
ada satu malam pun yang
kulewati melainkan aku melihat (bermimpi bertemu) kekasihku ﷺ di dalamnya.” Anas mengatakan itu dengan menangis. (HSR.
Ahmad, no. 13267)
Ia
terbangun dari mimpinya, sementara air matanya berlinang karena rindu, namun
hatinya merasa kuat karena ia tahu bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah
tangan.
3:
Pesan-Pesan Terakhir Anas kepada Anak Cucunya
Di akhir
hayatnya yang panjang, Anas bin Malik tidak meninggalkan harta sebagai warisan
utama, melainkan ia meninggalkan warisan ketaatan dan kecintaan kepada sunnah.
Ia sering mengumpulkan anak-anak dan cucu-cucunya untuk menceritakan bagaimana
indahnya hidup di bawah bimbingan Nabi ﷺ.
Ia berpesan agar mereka menjaga Sholat dan amanah, sebagaimana Alloh berfirman:
﴿يَا
بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ
عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ﴾
“Wahai
anakku, dirikanlah Sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpamu.” (QS. Luqman: 17)
Anas sangat
menekankan kepada keturunannya agar mereka tetap berada di atas jalan
kebenaran. Salah satu pesan yang sering ia sampaikan adalah mengenai pentingnya
menuntut ilmu dan menjaga lisan. Ia ingin agar keberkahan doa Nabi ﷺ yang ia rasakan dalam bentuk banyaknya harta dan anak, juga
dibarengi dengan keberkahan iman yang kokoh hingga akhir zaman.
4:
Detik-Detik Wafatnya Sang Pelayan
Anas bin
Malik wafat di Bashroh dalam usia yang sangat senja, ada yang menyebutkan lebih
dari seratus tahun. Menjelang wafatnya, ia meminta agar sebuah benda kecil yang
sangat berharga baginya disertakan dalam kain kafannya. Benda itu adalah
beberapa helai rambut Rosululloh ﷺ
yang ia simpan dengan sangat hati-hati selama puluhan tahun. Ia ingin menghadap
Alloh dengan membawa bukti cintanya kepada sang Nabi ﷺ.
Kematian
bagi seorang Mukmin yang merindu adalah gerbang menuju pertemuan dengan
kekasih. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً﴾
“Wahai jiwa
yang tenang. Kembalilah kepada Robbmu dengan hati yang ridho lagi diridhoi-Nya.”
(QS. Al-Fajr: 27-28)
Sebelum
menghembuskan nafas terakhir, Anas merasa tenang karena ia telah menunaikan
amanahnya. Ia telah menyampaikan ribuan Hadits dan mendidik ribuan murid. Wafatnya
Anas bin Malik menandai berakhirnya sebuah era di mana orang yang pernah
melayani Nabi ﷺ secara langsung masih ada di
muka bumi. Namun, meskipun raganya telah tertimbun tanah, namanya tetap harum
dan kisah pengabdiannya tetap menjadi inspirasi bagi setiap jiwa yang
merindukan syafaat Nabi ﷺ.
5:
Faidah
a) Kesedihan atas
wafatnya Nabi ﷺ adalah tanda iman, namun
kesabaran dalam memegang ajarannya adalah bukti cinta yang sejati.
b) Mimpi bertemu Nabi
ﷺ adalah karunia besar yang diberikan Alloh kepada hamba-hamba-Nya
yang tulus menjaga sunnah beliau.
c) Warisan terbaik
bagi keluarga bukanlah materi, melainkan pendidikan agama dan pengenalan akan
sosok Rosululloh ﷺ.
d) Akhir hidup
yang baik (husnul khotimah) adalah hasil dari panjangnya usia yang diisi dengan
pengabdian dan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya.
PENUTUP
Menutup
lembaran kisah Anas bin Malik adalah seperti menutup sebuah buku yang penuh
dengan aroma wangi dan cahaya. Kita telah menelusuri perjalanan seorang anak
kecil dari Madinah yang karena ketaatan ibunya dan kemuliaan hatinya, dipilih
oleh Alloh untuk menjadi pelayan pribadi manusia paling mulia. Sepuluh tahun
bukanlah waktu yang singkat untuk berada di bawah bimbingan wahyu. Selama itu
pula, Anas tidak hanya belajar tentang hukum-hukum agama, tetapi ia menyerap
kelembutan, kesabaran, dan keteguhan jiwa dari sumbernya langsung.
Kisah Anas
adalah pengingat bagi kita semua bahwa kedekatan dengan Rosululloh ﷺ bukanlah tentang status sosial, melainkan tentang pengabdian
dan ketulusan. Anas mengajarkan bahwa menjadi pelayan bagi kebenaran adalah
kemuliaan yang melampaui segala kedudukan di dunia. Alloh telah menjanjikan
derajat yang tinggi bagi orang-orang yang beriman dan berilmu, sebagaimana
firman-Nya:
﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ
وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾
“Alloh akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Keberkahan
hidup yang dialami Anas —harta yang melimpah, anak cucu yang banyak, dan usia
yang panjang— adalah bukti nyata bahwa melayani agama tidak akan pernah membuat
seseorang merugi. Justru, pengabdian itu menjadi kunci pembuka pintu-pintu rohmat
di dunia dan tabungan yang kekal di Akhirat. Namun, di atas semua kemewahan
duniawi itu, warisan terbesar yang ditinggalkan Anas untuk kita adalah ribuan
sabda Nabi ﷺ yang terjaga kemurniannya. Tanpa ketelitian dan kejujuran Anas,
mungkin kita akan kehilangan banyak detail tentang bagaimana indahnya akhlak
harian sang Nabi ﷺ.
Sebagai
penutup, marilah kita merenungi satu Hadits yang sering disampaikan oleh Anas
bin Malik, sebuah Hadits yang memberikan harapan besar bagi setiap jiwa yang
merasa amalnya masih sedikit, namun cintanya kepada Rosululloh ﷺ begitu besar. Anas menceritakan bahwa ada seorang lelaki
bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kapan hari Kiamat tiba,
lalu Nabi ﷺ bertanya balik, “Apa yang telah kamu siapkan untuknya?” Lelaki
itu menjawab, “Aku tidak menyiapkan banyak Sholat, puasa, maupun sedekah, tapi
aku mencintai Alloh dan Rosul-Nya.” Maka Rosululloh ﷺ
bersabda:
«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
“Kamu akan
bersama dengan orang yang kamu cintai.”
Anas
berkata setelah meriwayatkan Hadits ini,
فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ
ﷺ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
“Kami
tidak pernah merasa sangat gembira setelah masuk Islam melebihi kegembiraan
kami saat mendengar sabda beliau: ‘Kamu akan bersama dengan orang yang kamu
cintai.’” (HR. Al-Bukhori no. 3688 dan Muslim no. 2639)
Semoga
dengan mempelajari biografi lengkap Anas bin Malik ini, tumbuh benih-benih
cinta yang tulus di dalam hati kita. Cinta yang membuat kita ringan dalam
menjalankan sunnah, cinta yang membuat kita sigap dalam melayani sesama, dan
cinta yang kelak akan mengumpulkan kita kembali bersama Rosululloh ﷺ dan para Shohabatnya di Jannah Firdaus yang abadi. Sungguh,
pengabdian Anas telah usai di dunia, namun jejak langkahnya akan terus menjadi
kompas bagi setiap pencari kebenaran hingga akhir zaman.[NK]
