[PDF] Ketika Memasuki Usia Senja - Nor Kandir
MUQODDIMAH
﷽
Segala puji bagi Alloh yang telah menetapkan bagi setiap
makhluk-Nya ajal yang tidak dapat dimajukan maupun diundurkan. Kami memuji-Nya
atas karunia umur yang masih tersisa, yang merupakan modal utama seorang hamba
untuk mengumpulkan bekal menuju perjalanan abadi.
Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi
ﷺ kita, Muhammad bin Abdillah ﷺ, sosok yang diutus sebagai rohmat bagi
alam semesta, yang telah memberikan bimbingan paripurna tentang bagaimana
mengakhiri hidup dengan kemuliaan di atas iman dan taqwa.
Memasuki usia senja adalah sebuah keniscayaan yang telah
ditetapkan oleh Alloh dalam kitab-Nya yang mulia. Ia merupakan fase “kembali”
menuju kelemahan setelah sebelumnya manusia diberikan puncak kekuatan pada masa
mudanya. Alloh berfirman:
﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ
مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ
ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ﴾
“Alloh, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah (bayi),
kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat (dewasa),
kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban (tua).
Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi
Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rum: 54)
Ayat ini merupakan bukti kekuasaan Alloh sekaligus pengingat
bagi setiap jiwa bahwa raga ini hanyalah pinjaman yang akan terus menyusut
kekuatannya. Ketika rambut mulai memutih, penglihatan mulai kabur, dan
tulang-tulang mulai terasa rapuh, sesungguhnya itu adalah pesan halus dari Sang
Pencipta bahwa waktu perjumpaan dengan-Nya kian mendekat.
Dalam pandangan syariat yang mulia, usia senja bukanlah
beban yang harus diratapi, melainkan anugerah yang harus disyukuri. Sebab, bagi
seorang Mu’min, setiap detik tambahan umur adalah peluang untuk menambah
pundi-pundi pahala dan menghapuskan noda-noda dosa masa lalu. Rosululloh ﷺ menegaskan keutamaan orang tua yang tetap teguh dalam ketaatan
dalam sabdanya:
«لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ،
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ، وَإِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا
خَطِيئَةً»
“Janganlah kalian mencabut uban. Tidaklah seorang Muslim
yang tumbuh ubannya dalam Islam, melainkan uban itu akan menjadi cahaya baginya
pada hari Qiyamah nanti.” (HSR. Abu Dawud no. 4202)
Hadits ini memberikan motivasi besar bahwa uban yang selama
ini dianggap sebagai tanda “berakhirnya kegagahan” justru merupakan mahkota
cahaya di hari Qiyamah kelak. Maka, sangatlah beruntung bagi siapa yang
diberikan umur panjang dan ia mampu menghiasinya dengan amal-amal sholih.
Sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits yang diriwayatkan dari Shohabat
Abdulloh bin Busr: “Sungguh seorang Arab badui bertanya: ‘Wahai Rosululloh ﷺ, siapakah sebaik-baik manusia?’ Beliau menjawab:
«مَنْ
طَالَ عُمُرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ»
‘Siapa yang panjang umurnya dan baik amalnya.’” (HSR. At-Tirmidzi no. 2329)
Sebaliknya, usia tua juga merupakan masa di mana Alloh
menutup segala alasan bagi manusia untuk terus lalai. Jika pada masa muda
seseorang terpedaya oleh kuatnya fisik dan gejolak syahwat, maka di masa tua
semua itu telah melemah. Alloh memberikan peringatan keras bagi mereka yang
tetap berpaling meski telah mencapai usia 60 tahun. Hal ini berlandaskan sabda Nabi ﷺ:
«أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى
امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً»
“Alloh tidak
lagi memberikan udzur (alasan) kepada seseorang yang Dia akhirkan
ajalnya hingga Dia menyampaikannya pada usia 60 tahun.” (HR. Al-Bukhori no. 6419)
Makna dari Hadits ini adalah Alloh tidak lagi menerima
alasan dari hamba-Nya yang telah mencapai usia tersebut jika ia tidak bersegera
bertaubat dan memperbaiki diri. Enam puluh tahun adalah batas di mana seseorang
seharusnya sudah benar-benar “selesai” dengan urusan dunianya dan memfokuskan
seluruh hatinya untuk menghadap Robb-nya. Oleh karena itu, bagi siapa yang telah
memasuki gerbang usia senja, tidak ada pilihan lain kecuali memperbanyak
dzikir, istighfar, dan memperbaiki tauhidnya.
Buku ini disusun dengan berusaha ilmiyyah, merujuk langsung
kepada nash-nash wahyu, guna memandu para pembaca dalam meniti sisa umur yang
ada. Penulis membagi pembahasan ini ke dalam tujuh bab utama yang sangat
mendalam:
Pertama, menanamkan pemahaman yang benar tentang
hakikat usia lanjut sesuai syariat, agar seorang hamba tidak merasa rendah diri, namun justru merasa mulia
dengan uban yang dimilikinya.
Kedua, menekankan pentingnya perbaikan amalan hati.
Di masa tua, ketulusan iman dan keikhlasan adalah kunci utama, karena
seringkali fisik tak lagi mampu melakukan ibadah-ibadah berat.
Ketiga, menguraikan fiqih ibadah bagi lansia.
Bagaimana Islam memberikan kemudahan (rukhshoh) dalam Sholat, Puasa, dan
Haji tanpa mengurangi nilai pahalanya sedikit pun.
Keempat, membahas adab sosial. Bagaimana orang
tua harus bersikap di tengah keluarga agar tetap menjadi sumber barokah dan
teladan bagi anak cucu.
Kelima, manajemen waktu dan persiapan bekal.
Penulisan wasiat dan pengalokasian harta untuk sedekah jariyah menjadi poin
krusial yang dibahas secara mendalam.
Keenam, tinjauan kesehatan melalui kacamata thibbun
nabawi. Menjaga fisik agar tetap bugar semata-mata demi meningkatkan
kualitas ibadah kepada Alloh.
Ketujuh, bimbingan dalam menghadapi detik-detik
sakarotul maut dengan harapan mencapai akhir yang baik (husnul khotimah)
Sungguh, akhir hidup (khotimah) seseorang sangat bergantung
pada kebiasaan hidupnya. Siapa yang menghabiskan umurnya dalam ketaatan, maka
Alloh akan mewafatkannya dalam ketaatan. Sebaliknya, siapa yang terus-menerus
dalam kelalaian, dikhawatirkan ia akan dicabut nyawanya dalam keadaan yang
buruk. Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ
بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ» فَقِيلَ: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: «يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ المَوْتِ»
“Apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka
Dia akan mempekerjakannya. Para Shohabat bertanya: ‘Bagaimana cara Alloh
mempekerjakannya?’ Beliau menjawab: ‘Alloh memberikan taufiq kepadanya untuk
beramal sholih sebelum matinya.’” (HSR. At-Tirmidzi no. 2142)
Maka, hadirnya buku ini diharapkan dapat menjadi wasilah
bagi para pembaca untuk mendapatkan taufiq tersebut. Agar sisa umur yang ada
tidak terbuang sia-sia dalam angan-angan kosong, melainkan diisi dengan
persiapan nyata untuk menghuni liang lahat yang gelap, lalu bangkit menuju
padang Mahsyar, hingga akhirnya menempati Jannah yang luasnya seluas langit dan
bumi.
BAB 1: HAKIKAT LANSIA
1.1
Makna Udzur dan Peringatan Alloh Lewat Rambut Putih
Lansia
(lanjut usia) atau usia senja ditandai dengan munculnya uban yang
memutih di kepala. Dalam Islam, uban bukanlah sekadar perubahan warna rambut
secara biologis, melainkan sebuah “surat peringatan” dari Alloh bahwa waktu
pertemuan sudah sangat dekat. Ia disebut sebagai nadzir (pemberi peringatan). Alloh
berfirman dalam Al-Quran:
﴿أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ
النَّذِيرُ﴾
“Dan bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang
cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (bukankah) telah datang
kepadamu pemberi peringatan?” (QS. Fatir: 37)
Para ulama tafsir, di antaranya adalah Ibnu Abbas,
menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “pemberi peringatan” dalam ayat di atas
adalah uban. Keberadaan uban memberikan udzur (alasan) yang sangat kuat bagi
seorang hamba untuk segera bertaubat. Sungguh, Alloh tidak lagi menerima alasan
bagi siapa yang telah dipanjangkan umurnya hingga mencapai kepala enam namun
tetap lalai. Nabi ﷺ bersabda:
«أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى
امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً»
“Alloh tidak
memberikan udzur (alasan) kepada seseorang yang Dia tunda ajalnya hingga
Dia menyampaikannya pada usia enam puluh tahun.” (HR. Al-Bukhori no. 6419)
1.2
Keutamaan Umur Panjang yang Dihiasi Amal Sholih
Umur panjang adalah sebuah berkah jika digunakan untuk
mengumpulkan ketaatan. Setiap hari tambahan hidup bagi seorang Muslim adalah
kesempatan emas untuk menambah derajat di Jannah. Rosululloh ﷺ
sangat memuji orang tua yang konsisten dalam kebaikan. Sebagaimana disebutkan
dalam Hadits:
Dari Abdulloh bin Busr, sungguh
seorang Arab badui bertanya: “Wahai Rosululloh ﷺ,
siapakah orang yang terbaik?” Beliau menjawab:
«مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ»
“Siapa yang panjang umurnya dan baik pula
amal perbuatannya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2329)
Keutamaan ini menunjukkan bahwa setiap tasbih, tahmid, dan
sujud yang dilakukan di masa tua memiliki nilai yang sangat agung, karena
dilakukan di tengah keterbatasan fisik yang kian menurun.
1.3
Fase Kelemahan Setelah Kekuatan sebagai Sunnatulloh
Manusia harus menyadari bahwa kelemahan fisik di masa tua
adalah ketetapan Robb (Sunnatulloh) yang tidak bisa dihindari. Kekuatan masa
muda hanyalah pinjaman sementara. Alloh mengingatkan kita dalam firman-Nya:
﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ
قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً﴾
“Alloh, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah,
kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian
Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS.
Ar-Rum: 54)
Memahami hakikat ini akan membuat seseorang lebih legowo (ridho) menerima keadaan fisiknya.
Ia tidak lagi mengejar ambisi duniawi yang menguras tenaga, melainkan
mengalihkan kekuatannya yang tersisa untuk ibadah yang lebih berkualitas.
1.4
Kedudukan Orang Tua dan Lansia di Sisi Alloh dan Rosul-Nya
Islam sangat memuliakan mereka yang telah lanjut usia.
Memuliakan orang tua Muslim yang sudah beruban merupakan bagian dari
mengagungkan Alloh. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ
إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ»
“Sungguh, termasuk bentuk mengagungkan Alloh adalah memuliakan
orang Muslim yang telah beruban (tua).” (HHR. Abu Dawud no. 4843)
Oleh karena itu, seorang lansia seharusnya memiliki rasa
percaya diri dan ketenangan, karena mereka berada dalam kedudukan yang mulia di
mata syariat, selama mereka tetap berada di atas jalan iman.
1.5
Larangan Mencabut Uban dan Cahayanya di Hari Qiyamah
Banyak orang merasa risih dengan munculnya uban dan berusaha
menghilangkannya agar terlihat tetap muda. Namun, syariat melarang hal tersebut
karena uban adalah cahaya bagi seorang Mu’min. Nabi ﷺ
bersabda:
«لَا تَنْتَفُوا الشَّيْبَ
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ»
“Janganlah kalian mencabut uban. Tidaklah seorang Muslim yang
tumbuh ubannya dalam Islam, melainkan uban itu akan menjadi cahaya baginya pada
hari Qiyamah nanti.” (HSR. Abu Dawud no. 4202)
Cahaya ini akan menuntun hamba melewati kegelapan di hari Qiyamah.
Maka, biarkanlah uban itu menghiasi kepala sebagai tanda kesetiaan kita dalam
memeluk Islam hingga usia senja.
1.6
Taubat Nasuha sebagai Pintu Utama Memasuki Usia Senja
Langkah pertama dan paling utama bagi setiap jiwa di masa
tua adalah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat (nasuha). Kita harus
membersihkan lembaran masa lalu dari noda maksiat sebelum menghadap Alloh.
Alloh memerintahkan:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh
dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)
Rosululloh ﷺ pun, manusia yang
paling suci, senantiasa bertaubat setiap hari. Maka bagi kita yang telah
berumur, memperbanyak istighfar adalah keharusan. Nabi ﷺ
bersabda:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ
تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ»
“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Alloh, karena
sungguh aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim
no. 2702)
Taubat di usia senja adalah kunci ketenangan. Dengan
bertaubat, beban dosa yang dipikul selama puluhan tahun akan diangkat, sehingga
kita bisa melangkah menuju Akhiroh dengan perasaan ringan dan penuh harap akan
ampunan-Nya.
BAB 2: AMALAN HATI LANSIA
2.1
Memurnikan Ikhlas dan Menjauhi Riya’ di Penghujung Usia
Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Bagi seseorang yang
telah berada di usia senja, tidak ada lagi ruang untuk mencari pujian manusia
atau mengejar popularitas dunia. Segala amalan harus dimurnikan hanya untuk
mencari wajah Alloh. Sungguh, Alloh tidak menerima amal kecuali yang dilakukan
dengan tulus karena-Nya. Alloh berfirman:
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا
لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ﴾
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS.
Al-Bayyinah: 5)
Di masa ini, seseorang harus sangat waspada terhadap
penyakit riya’ (pamer), karena riya’ dapat menghapuskan pahala yang telah
dikumpulkan selama puluhan tahun. Rosululloh ﷺ
memperingatkan:
«قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ
فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»
“Alloh Tabaroka wa Ta’ala berfirman: ‘Aku adalah Dzat
yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang melakukan suatu amal yang di
dalamnya ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan
kesyirikannya.’” (HR. Muslim no. 2985)
2.2 Memperkuat Husnuzhon (Prasangka Baik) Kepada
Alloh
Salah satu amalan hati yang paling wajib bagi seseorang yang
merasa ajalnya kian dekat adalah memiliki prasangka baik kepada Alloh. Ia harus
yakin bahwa Alloh adalah Dzat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Rosululloh
ﷺ memberikan wasiat penting menjelang wafat beliau:
«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ
إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam
keadaan berprasangka baik kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim
no. 2877)
Prasangka baik ini akan melahirkan ketenangan jiwa. Seorang
hamba yang husnuzhon akan merasa tentram karena ia yakin bahwa Alloh tidak akan
menyia-nyiakan iman dan amal sholihnya selama hidup di dunia.
2.3
Menyeimbangkan Rasa Takut (Khof) dan Harap (Roja’)
Hati seorang Mu’min di masa tua harus berada di antara rasa
takut akan azab Alloh karena dosa-dosanya, dan rasa harap yang besar akan rohmat-Nya.
Namun, para ulama menjelaskan bahwa saat mendekati kematian, sisi harapan (roja’)
harus lebih didominasi agar hamba tersebut bersemangat menemui Robb-nya. Alloh
berfirman menyifati hamba-hamba-Nya yang sholih:
﴿يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا﴾
“Mereka berdoa kepada Robb-nya dengan rasa takut dan harap.”
(QS. As-Sajdah: 16)
Keseimbangan ini menjaga seseorang agar tidak merasa aman
dari maksiat, namun juga tidak berputus asa dari luasnya ampunan Alloh.
2.4
Istiqomah di Atas Sunnah Hingga Ajal Menjemput
Istiqomah adalah karunia terbesar di akhir hayat.
Mempertahankan keyakinan yang lurus sesuai sunnah Rosululloh ﷺ
di tengah gempuran fitnah zaman adalah perjuangan yang mulia. Alloh menjanjikan
ketenangan bagi mereka yang istiqomah:
﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ
عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ
الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sungguh orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah
Alloh’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah dengan mati
tidak syirik), maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah
kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah
yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)
Nabi ﷺ pun memerintahkan
kita untuk selalu memohon ketetapan hati:
«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ
ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku
di atas agama-Mu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 3522)
2.5
Menjaga Hati dari Penyakit Cinta Dunia dan Panjang Angan-Angan
Salah satu fitnah yang sering menimpa manusia di masa tua
adalah justru semakin kuatnya cinta pada harta dan keinginan untuk hidup lama
(panjang angan-angan). Hal ini harus dilawan dengan kesadaran akan kematian. Nabi
ﷺ bersabda:
«يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ
مَعَهُ اثْنَانِ: حُبُّ المَالِ، وَطُولُ العُمُرِ»
“Anak cucu Adam semakin tua, namun ada dua perkara yang
justru semakin muda (tumbuh kuat) padanya: ambisi terhadap harta dan ambisi
terhadap umur (ingin hidup lama).” (HR. Al-Bukhori no. 6421 dan Muslim no. 1047)
Seseorang yang bijak di usia senja akan mulai melepaskan
keterikatan hatinya pada perhiasan dunia dan lebih banyak memikirkan apa yang
akan ia bawa ke liang lahat.
2.6
Hakikat Zuhud bagi Seseorang yang Telah Berumur
Zuhud di masa tua bukan berarti meninggalkan harta sama
sekali, melainkan mengeluarkan dunia dari hati dan meletakkannya hanya di
tangan. Fokus utama adalah mengalihkan segala nikmat yang ada untuk kepentingan
Akhiroh. Alloh mengingatkan tentang rendahnya nilai dunia:
﴿وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Seorang hamba yang zuhud akan merasa cukup dengan apa yang
Alloh berikan (qona’ah) dan lebih merindukan perjumpaan dengan Alloh
daripada menetap lebih lama di dunia. Nabi ﷺ
bersabda:
«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ
غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»
“Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau
pengembara yang sekadar lewat.” (HR. Al-Bukhori no. 6416)
BAB 3: FIQIH IBADAH LANSIA
3.1
Semangat Menjaga Sholat Berjamaah Meski dalam Keterbatasan
Sholat
berjamaah di Masjid bagi kaum laki-laki tetap menjadi prioritas utama selama
fisik masih mampu untuk melangkah. Semangat menuju rumah Alloh di usia senja
adalah bukti kuatnya iman dan kecintaan kepada Robb. Alloh berfirman:
﴿فِي
بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا
بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ رِجَالٌ﴾
“Bertasbih
kepada Alloh di Masjid-Masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan
disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, yaitu para
lelaki.” (QS. An-Nur: 36-37)
Rosululloh ﷺ pun memberikan motivasi besar bahwa setiap langkah menuju Masjid
akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat, sesuatu yang sangat dibutuhkan
di hari tua. Beliau bersabda:
«أَلَا
أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟»
قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ،
وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ،
فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ»
“Maukah aku
tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Alloh menghapuskan dosa-dosa dan
mengangkat derajat? Para Shohabat menjawab: ‘Tentu, wahai Rosululloh ﷺ.’ Beliau bersabda: ‘Menyempurnakan wudhu di saat-saat yang
sulit, memperbanyak langkah menuju Masjid. Itulah ribath (mengikat diri
di ketaatan).’” (HR. Muslim no. 251)
3.2
Hukum-Hukum Sholat dengan Duduk atau Berbaring
Islam tidak
membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Jika berdiri terasa menyulitkan
atau dapat memperparah sakit, maka Sholat dapat dilakukan dengan duduk atau
bahkan berbaring. Alloh berfirman:
﴿فَاتَّقُوا
اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ﴾
“Maka
bertaqwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghobun: 16)
Bimbingan
mengenai hal ini telah dijelaskan oleh Nabi ﷺ
kepada Shohabat Imron bin Hushain yang sedang sakit:
«صَلِّ
قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ»
“Sholatlah
dengan berdiri, jika kamu tidak mampu maka dengan duduk, dan jika kamu tidak
mampu juga maka dengan berbaring menyamping.” (HR. Al-Bukhori no. 1117)
3.3
Puasa bagi Lansia dan Ketentuan Membayar Fidyah
Bagi orang
tua yang sudah sangat renta dan tidak mampu lagi menjalankan ibadah Puasa
Romadhon, atau dikhawatirkan Puasa tersebut akan membahayakan kesehatannya
secara serius, maka Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan
menggantinya dengan memberi makan orang miskin (fidyah). Alloh berfirman:
﴿وَعَلَى
الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ﴾
“Dan bagi
orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi
makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqoroh: 184)
Hal ini
dilakukan dengan memberikan makanan pokok sebanyak satu mud (kurang
lebih 750 gram) atau memberikan makan kenyang kepada satu orang miskin untuk
setiap hari Puasa yang ditinggalkan.
3.4
Keutamaan Memperbanyak Dzikir dan Istighfar di Setiap Keadaan
Dzikir
adalah ibadah yang paling ringan bagi lisan namun paling berat dalam timbangan
amal. Di usia senja, saat tenaga fisik mulai berkurang, lisan harus terus basah
dengan menyebut nama Alloh. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh, dzikir
yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)
Nabi ﷺ pun memberikan resep agar sisa umur kita tetap produktif dalam
pahala:
«لَا
يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»
“Hendaklah
lisanmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi
no. 3375)
3.5
Menggapai Haji Mabrur dan Umroh di Usia Senja
Meskipun Haji
dan umroh memerlukan kekuatan fisik, namun niat yang tulus dan kesabaran
menghadapi keletihan di masa tua akan membuahkan pahala yang berlipat ganda. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«الْحَجُّ
الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»
“Haji
yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 1773
dan Muslim no. 1349)
Jika fisik
benar-benar tidak memungkinkan namun harta mencukupi, maka syariat membolehkan
pelaksanaan Haji untuk diwakilkan (dibadalkan) oleh orang lain yang sudah
pernah berhaji.
3.6
Kedisiplinan Membaca dan Mentadabburi Al-Quran Setiap Hari
Membaca
Al-Quran adalah obat bagi hati yang gundah dan cahaya bagi penglihatan yang
mulai kabur. Seorang Mu’min di usia senja tidak boleh menjauh dari Al-Quran.
Alloh berfirman:
﴿كِتَابٌ
أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ﴾
“Ini adalah
sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan (mentadabburi) ayat-ayatnya.” (QS. Shod: 29)
Nabi ﷺ mengingatkan bahwa pembaca Al-Quran akan mendapatkan syafaat di
hari Qiyamah:
«اقْرَءُوا
الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ»
“Bacalah
Al-Quran, karena sungguh ia akan datang pada hari Qiyamah sebagai pemberi
syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim no. 804)
3.7
Sholat Malam sebagai Cahaya di Alam Kubur
Sholat
malam (Tahajjud) adalah kebiasaan orang-orang sholih dan merupakan kemuliaan
bagi seorang Mu’min. Di tengah malam, saat dunia terlelap, seorang lansia dapat
mengadu dan bermunajat kepada Robb-nya dengan penuh khusyuk. Alloh berfirman:
﴿وَمِنَ
اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا
مَحْمُودًا﴾
“Dan pada
sebagian malam hari Sholat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan
bagimu; mudah-mudahan Robb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS.
Al-Isro: 79)
Nabi ﷺ bersabda:
«عَلَيْكُمْ
بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ
قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنْ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ
لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ»
“Hendaknya
kalian melakukan Sholat malam, karena hal itu adalah kebiasaan orang-orang
sholih sebelum kalian. Sungguh Sholat malam mendekatkan kepada Alloh, mencegah
berbuat dosa, menghapus dosa-dosa, mengusir penyakit dari badan.” (HHR.
At-Tirmidzi no. 3549)
BAB 4: ADAB SOSIAL LANSIA
Pada bagian
ini, kita akan menguraikan bagaimana seorang hamba yang telah berusia lanjut
memosisikan dirinya di tengah keluarga dan masyarakat, agar keberadaannya
senantiasa menjadi sumber keberkahan, teladan, dan penyejuk bagi generasi di
bawahnya.
4.1
Menjadi Teladan bagi Anak dan Cucu dalam Ketaatan
Tanggung
jawab sebagai pendidik tidak pernah usai hingga ajal menjemput. Di usia senja,
nasihat yang paling ampuh bukanlah sekadar kata-kata, melainkan keteladanan
dalam beramal. Ketika anak dan cucu melihat orang tuanya tetap teguh menjaga Sholat,
lisan yang basah dengan dzikir, dan akhlak yang mulia, maka itulah dakwah yang
paling membekas. Alloh berfirman:
﴿وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ﴾
“Dan
orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam
keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. At-Thur: 21)
Seorang
kakek atau nenek yang sholih adalah lentera iman bagi keluarganya. Rosululloh ﷺ mengingatkan bahwa setiap kita adalah pemimpin yang akan
dimintai pertanggungjawaban:
«كُلُّكُمْ
رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)
4.2
Kewajiban Anak Berbakti dan Larangan Berkata “Ah” Kepada Orang Tua
Di masa
tua, saat fisik mulai lemah dan ingatan mungkin memudar, di sinilah ujian bakti
bagi anak-anak dimulai. Syariat Islam memberikan perlindungan yang sangat
tinggi bagi orang tua dengan mewajibkan anak untuk bersikap lembut. Alloh
memerintahkan:
﴿فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا﴾
“Maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia.” (QS. Al-Isro: 23)
Bakti
kepada orang tua di masa tua mereka adalah pintu Jannah yang paling tengah. Nabi
ﷺ bersabda:
«الوَالِدُ
أَوْسَطُ أَبْوَابِ الجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ البَابَ أَوْ احْفَظْهُ»
“Orang tua
adalah pintu Jannah yang paling tengah. Jika kamu mau, sia-siakanlah pintu itu
atau jagalah ia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1900)
4.3
Menjaga Silaturrohim dengan Kerabat dan Teman Lama
Usia senja
seringkali mendatangkan rasa sepi. Oleh karena itu, menyambung tali silaturrohim
dengan saudara serta teman-teman lama yang sholih sangat dianjurkan untuk
menjaga kesehatan jiwa dan menambah keberkahan umur. Alloh berfirman:
﴿وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ﴾
“Dan
bertaqwalah kepada Alloh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrohim.” (QS.
An-Nisa: 1)
Rosululloh ﷺ pun memberikan motivasi bahwa silaturrohim dapat memperpanjang
keberkahan umur:
«مَنْ
أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ
رَحِمَهُ»
“Siapa yang
suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia
menyambung tali silaturrohim.” (HR. Al-Bukhori no. 5986 dan Muslim no. 2557)
4.4
Adab Berbicara dan Memberi Nasihat kepada Generasi Muda
Seorang
yang telah lanjut usia hendaknya menghiasi dirinya dengan sifat lemah lembut
dan hikmah saat berbicara. Nasihat yang diberikan dengan penuh kasih sayang
akan lebih mudah diterima daripada nasihat yang mengandung unsur merendahkan.
Alloh berfirman:
﴿ادْعُ
إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ﴾
“Serulah
(manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS.
An-Nahl: 125)
Wibawa
seorang tua Mu’min terletak pada ketenangannya dan lisannya yang hanya berucap
kebaikan. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Siapa yang
beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau
diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)
4.5
Tanggung Jawab Nafkah dan Pengasuhan Lansia
Islam
menetapkan bahwa kebutuhan hidup orang tua yang sudah tidak mampu bekerja
menjadi tanggung jawab anak-anaknya. Harta anak adalah milik orang tuanya jika
dibutuhkan. Rosululloh ﷺ bersabda kepada seorang
laki-laki yang mengadu tentang ayahnya:
«أَنْتَ
وَمَالُكَ لِأَبِيكَ»
“Kamu
dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HSR. Ibnu Majah no. 2291)
Maka, orang
tua tidak perlu merasa khawatir atau menjadi beban, karena pemenuhan kebutuhan
mereka oleh anak adalah bentuk ibadah yang agung dan kewajiban yang pasti dalam
agama.
4.6
Menghindari Pertikaian Harta Waris Sejak Dini
Salah satu
adab orang tua yang bijak di masa tua adalah mengatur urusan hartanya agar
tidak menjadi fitnah bagi anak cucunya kelak. Hal ini dilakukan dengan
memberikan pemahaman tentang hukum waris Islam serta memberikan hibah yang adil
jika diperlukan saat masih hidup. Alloh memberikan peringatan tentang harta:
﴿إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ﴾
“Sesungguhnya
hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (cobaan).” (QS. At-Taghobun: 15)
Nabi ﷺ pun mengingatkan agar kita tidak meninggalkan ahli waris dalam
keadaan meminta-minta:
«إِنَّكَ
أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ
النَّاسَ»
“Sungguh,
jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya (berkecukupan) itu lebih
baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta
kepada manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 1295 dan Muslim no. 1628)
BAB 5: BEKAL AKHIROH LANSIA
Pada bagian
ini, kita akan membahas bagaimana seorang hamba yang berakal mengatur sisa
nafasnya agar setiap detik yang berlalu menjadi simpanan pahala yang tak
terputus, serta bagaimana menyiapkan bekal Akhiroh sebelum ruh berpisah dari
jasad.
5.1
Memanfaatkan Sisa Umur Sebelum Datangnya Lima Perkara
Waktu
adalah aset yang paling berharga bagi manusia di usia senja. Sisa umur yang ada
tidak boleh dibiarkan menguap dalam kesia-siaan. Kesadaran akan terbatasnya
waktu harus memicu semangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Alloh berfirman:
﴿وَسَارِعُوا
إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ
لِلْمُتَّقِينَ﴾
“Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robb-mu dan kepada Jannah yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS.
Ali Imron: 133)
Rosululloh ﷺ memberikan wasiat emas tentang manajemen waktu ini:
«اغْتَنِمْ
خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ
قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ»
“Manfaatkanlah
lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu,
sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan
hidupmu sebelum matimu.” (HSR. Al-Hakim no. 7846)
5.2
Pentingnya Sedekah Jariyah dan Wakaf sebagai Investasi Abadi
Di saat
kekuatan fisik untuk Sholat malam atau Puasa sunnah mulai berkurang, investasi
harta menjadi jalan pintas menuju pahala yang terus mengalir meski raga telah
terkubur. Seorang lansia hendaknya meninjau kembali hartanya untuk dialokasikan
pada jalan-jalan jariyah. Nabi ﷺ
bersabda:
«إِذَا
مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Apabila
manusia mati, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah,
ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
5.3
Menulis Wasiat yang Sesuai dengan Tuntunan Syariat
Menulis
wasiat bukanlah pertanda seseorang ingin segera mati, melainkan bentuk ketaatan
dan tanggung jawab agar tidak meninggalkan masalah di dunia. Wasiat mencakup
pesan ketaqwaan kepada keluarga serta pengaturan sepertiga harta untuk
kebaikan. Alloh berfirman:
﴿كُتِبَ
عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ﴾
“Diwajibkan
atas kamu, apabila salah seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut,
jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah...” (QS. Al-Baqoroh:
180)
Rosululloh ﷺ pun mengingatkan:
«مَا
حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ
مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ»
“Tidaklah
pantas bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan melewati dua
malam, melainkan wasiatnya telah tertulis di sisinya.” (HR. Al-Bukhori no. 2738
dan Muslim no. 1627)
5.4
Menjauhi Majelis Sia-Sia dan Perkataan yang Tidak Berguna
Di
penghujung usia, telinga dan lisan harus dijaga ketat. Menghadiri kumpulan yang
hanya berisi ghibah, senda gurau berlebih, atau urusan dunia yang tidak
berujung hanya akan mengeraskan hati. Alloh menyifati hamba-Nya yang mulia:
﴿وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ﴾
“Dan
orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada
berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 3)
Nabi ﷺ bersabda mengenai kualitas keislaman seseorang:
«مِنْ
حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»
“Di antara
tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak berguna
baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2317)
5.5
Memperbanyak Doa Memohon Ketetapan Hati dan Khusnul Khotimah
Senjata
paling ampuh di masa tua adalah doa. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir
hidup kita, maka memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian adalah
keharusan. Alloh mengajarkan doa:
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً﴾
“Wahai Robb
kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah
Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari
sisi-Mu.” (QS. Ali Imron: 8)
Abu Bakr
As-Shiddiq juga sering berdoa memohon akhir yang baik:
«اللَّهُمَّ
اجْعَلْ خَيْرَ عُمُرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي
يَوْمَ أَلْقَاكَ»
“Ya
Alloh, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan sebaik-baik amalku pada
akhirnya, dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menemui-Mu.” (HHR.
At-Thobroni no. 9409)
5.6
Persiapan Mental Menghadapi Sakarotul Maut
Mengingat
mati bukan untuk ditakuti hingga membuat putus asa, melainkan untuk membangun
kesiapan mental. Seorang Mu’min harus menyadari bahwa kematian adalah pintu
satu-satunya menuju kenikmatan yang hakiki. Alloh berfirman:
﴿كُلُّ
نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا
تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ﴾
“Tiap-tiap
yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Qiyamah sajalah disempurnakan
pahalamu.” (QS. Ali Imron: 185)
Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk sering mengingat pemutus kelezatan ini:
«أَكْثِرُوا
ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ»
“Perbanyaklah
mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2307)
BAB 6: KESEHATAN LANSIA
Pada bagian
ini, kita akan membahas pentingnya menjaga raga sebagai amanah dari Alloh.
Kesehatan di usia senja bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana agar seorang
hamba tetap tegak berdiri dalam menjalankan ketaatan kepada Sang Kholiq.
6.1
Pandangan Islam Tentang Mencari Kesembuhan (Ikhtiar Medis)
Islam
mengajarkan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Bagi seorang lansia, berobat
saat sakit bukanlah bentuk ketidaksabaran atau kurangnya tawakkal, melainkan
sebuah bentuk ikhtiar yang diperintahkan oleh syariat. Alloh memerintahkan kita
untuk tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat
baiklah, karena sungguh Alloh menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS.
Al-Baqoroh: 195)
Rosululloh ﷺ pun memerintahkan umatnya untuk mencari pengobatan:
«تَدَاوَوْا
فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ
دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ»
“Berobatlah
kalian, karena sungguh Alloh ‘Azza wa Jalla tidak menetapkan suatu
penyakit melainkan Dia juga menetapkan obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu
usia tua.” (HSR. Abu Dawud no. 3855)
6.2
Khasiat Habbatussauda, Madu, dan Minyak Zaitun bagi Fisik yang Lemah
Rosululloh ﷺ telah memberikan petunjuk mengenai bahan-bahan alami yang
memiliki keberkahan dan kesembuhan, yang sangat cocok dikonsumsi untuk menjaga
daya tahan tubuh di masa tua. Mengenai jintan hitam (Habbatussauda), Nabi ﷺ bersabda:
«فِي
الحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ، إِلَّا السَّامَ»
“Pada
jintan hitam terdapat kesembuhan dari segala macam penyakit kecuali As-Saam
(kematian).” (HR. Al-Bukhori no. 5688 dan Muslim no. 2215)
Begitu pula
dengan madu yang Alloh sebutkan dalam Al-Quran sebagai obat bagi manusia:
﴿يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ
أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ﴾
“Dari perut
lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya
terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)
Tentang Zaitun,
Nabi ﷺ bersabda:
«كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ»
“Konsumsilah
Zaitun dan oleskan ke badan, karena ia berasal dari pohon yang diberkahi.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 1851)
6.3
Menjaga Pola Makan yang Halal dan Thoyyib untuk Kekuatan Ibadah
Di usia
senja, sistem pencernaan manusia tidak lagi sekuat dahulu. Maka, memilih
makanan yang tidak hanya halal secara hukum, tetapi juga baik (thoyyib) secara
kesehatan adalah kewajiban. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا﴾
“Wahai
sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat
di bumi.” (QS. Al-Baqoroh: 168)
Nabi ﷺ memberikan tuntunan agar tidak berlebihan dalam mengisi perut:
«مَا
مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ
صُلْبَهُ»
“Tidak ada
bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah
bagi anak Adam memakan beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang
punggungnya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2380)
6.4
Sabar Menghadapi Penyakit sebagai Penggugur Dosa
Seringkali
usia tua dibarengi dengan berbagai keluhan kesehatan kronis. Seorang Mu’min
harus memandang rasa sakit tersebut sebagai pembersih diri dari noda dosa
sebelum menghadap Alloh. Alloh berfirman:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾
“Dan
sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 155)
Nabi ﷺ bersabda memberikan penguatan:
«مَا
يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى
وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»
“Tidaklah
seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan,
maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan
menghapuskan kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhori no. 5641)
6.5
Larangan Mengharap Kematian Karena Penyakit yang Diderita
Seberat apa
pun ujian fisik di masa tua, seorang Muslim dilarang berputus asa hingga
mengharapkan kematian. Hal ini menunjukkan kurangnya ridho terhadap takdir
Alloh. Nabi ﷺ memberikan bimbingan:
«لاَ
يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ المَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ»
“Janganlah
salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian karena musibah (sakit)
yang menimpanya.” (HR. Al-Bukhori no. 5671 dan Muslim no. 2680)
6.6
Ruqyah Syariyyah untuk Ketenangan Jiwa dan Raga
Selain
pengobatan fisik, pengobatan dengan Al-Quran dan doa-doa sesuai sunnah (Ruqyah
Syariyyah) sangat penting untuk mengatasi gangguan psikis atau penyakit yang
sulit disembuhkan secara medis. Alloh berfirman:
﴿وَنُنَزِّلُ
مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ﴾
“Dan Kami
turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rohmat bagi orang-orang
yang beriman.” (QS. Al-Isro: 82)
Nabi ﷺ pun sering membaca doa perlindungan (Al-Mu’awwidzatain) saat
merasa sakit, sebagai bentuk penyerahan diri secara total kepada Sang Penyembuh
yang sesungguhnya.
BAB 7: DETIK-DETIK PERJUMPAAN
DENGAN SANG KHOLIQ
Ini adalah
puncak dari seluruh perjalanan hidup seorang hamba. Pada bagian ini, kita akan
membahas bagaimana seorang Mu’min yang telah membekali dirinya dengan ilmu,
iman, dan amal sholih, menyongsong gerbang Akhiroh dengan penuh optimisme dan
ketenangan.
7.1
Tanda-Tanda Kedatangan Ajal bagi Seorang Mu’min
Kematian
bagi seorang Mu’min bukanlah momok yang mengerikan, melainkan perpindahan dari
penjara dunia menuju keluasan rohmat Alloh. Di antara tanda kebaikan bagi
seorang Mu’min saat ajalnya tiba adalah munculnya keringat di kening serta
kemampuan untuk tetap tenang karena adanya kabar gembira dari para Malaikat.
Alloh berfirman:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sungguh
orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah Alloh’ kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka (istiqomah, tanpa syirik sampai mati), maka Malaikat
akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan
janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah
dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)
Nabi ﷺ pun bersabda mengenai tanda fisik seorang Mu’min yang wafat:
«مَوْتُ
الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِينِ»
“Kematian
seorang Mu’min ditandai dengan keringat di keningnya.” (HSR. At-Tirmidzi no.
982)
7.2
Kalimat Tauhid sebagai Ucapan Terakhir (Talqin)
Puncak
kesuksesan seorang hamba adalah ketika ia mampu mengakhiri nafasnya dengan
kalimat tauhid. Oleh karena itu, bagi keluarga yang mendampingi, disunnahkan
untuk menuntun (mentalqin) orang yang sedang sakarotul maut dengan lembut. Nabi
ﷺ menjanjikan Jannah bagi mereka yang mampu mengucapkannya di
akhir hayat:
«مَنْ
كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Siapa
yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illalloh’, maka ia masuk Jannah.” (HSR.
Abu Dawud no. 3116)
7.3
Hakikat Kematian sebagai Qiyamah Kecil dan Pintu Akhiroh
Kematian
adalah Qiyamah kecil (Al-Qiyamah Ash-Shughro). Saat ruh terpisah dari jasad,
berakhirlah masa beramal dan mulailah masa pembalasan. Seorang Mu’min yang
bijak menyadari bahwa kubur adalah tempat persinggahan pertama menuju Akhiroh.
Alloh berfirman:
﴿كُلُّ
نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ﴾
“Setiap
yang bernyawa akan merasakan mati, kemudian hanya kepada Kami-lah kamu
dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 57)
Sesuai
dengan sabda Nabi ﷺ, kubur bisa menjadi taman di
antara taman-taman Jannah bagi penghuninya yang sholih:
«إِنَّمَا
القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ»
“Sungguh
kubur itu tidak lain adalah taman di antara taman-taman Jannah atau lubang di
antara lubang-lubang neraka.” (HR. At-Tirmidzi no. 2460)
7.4
Gambaran Nikmat Kubur bagi Hamba yang Sholih
Bagi jiwa
yang tenang, alam barzakh bukanlah tempat yang menyiksa, melainkan masa
penantian yang penuh dengan kenikmatan. Setelah berhasil menjawab pertanyaan Malaikat
Munkar dan Nakir, akan dibukakan baginya pintu menuju Jannah. Alloh berfirman
tentang keadaan mereka yang wafat di atas kebaikan:
﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ
يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾
“(Yaitu)
orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para Malaikat dengan
mengatakan (kepada mereka): ‘Salamun ‘alaikum (keselamatan atasmu),
masuklah kamu ke dalam Jannah disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS.
An-Nahl: 32)
7.5
Kerinduan Berjumpa dengan Alloh dan Rosul-Nya
Di akhir
hayat, seorang Mu’min sejati tidak lagi merasa berat meninggalkan dunia karena
rasa rindu yang membuncah untuk bertemu dengan Sang Kholiq dan kekasih-Nya, Nabi
ﷺ Muhammad. Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ
أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ
كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ»
“Siapa
yang suka bertemu Alloh, maka Alloh pun suka bertemu dengannya. Dan siapa yang
benci bertemu Alloh, maka Alloh pun benci bertemu dengannya.” (HR. Al-Bukhori
no. 6507 dan Muslim no. 2683)
Kerinduan
ini adalah tanda iman yang telah meresap jauh ke dalam sanubari, membuat
kematian terasa seperti pulang ke rumah yang sebenarnya.
7.6
Keadaan Orang-Orang Sholih Terdahulu Saat Menghadapi Maut
Para
pendahulu kita yang sholih (Salafush Sholih) menghadapi maut dengan penuh
keberanian dan kebahagiaan. Mereka melihat kematian sebagai jembatan yang
menghubungkan kekasih dengan yang dikasihi. Alloh memanggil jiwa-jiwa tersebut
dengan penuh kelembutan:
﴿يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي
جَنَّتِي﴾
“Wahai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada Robb-mu dengan hati yang ridho lagi diridhoi-Nya.
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Jannah-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27-30)
Begitulah
akhir perjalanan bagi mereka yang membaktikan umurnya untuk Al-Quran dan
As-Sunnah. Mereka pergi dengan meninggalkan jejak kebaikan dan disambut oleh
Robb alam semesta dengan ampunan serta keridhoan yang abadi.
PENUTUP
Segala puji
bagi Alloh yang dengan nikmat-Nya segala amal sholih menjadi sempurna. Lembar
demi lembar dari buku ini telah kita lalui bersama, mulai dari memahami hakikat
uban sebagai peringatan, hingga menyelami detik-detik perjumpaan dengan Sang
Kholiq.
Sungguh,
semua uraian yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah ini bukanlah sekadar
wacana ilmiyyah untuk memenuhi ruang fikiran, melainkan kompas bagi setiap jiwa
yang menyadari bahwa matahari umurnya telah mulai condong ke arah barat.
Memasuki
usia senja adalah saat di mana seorang hamba harus benar-benar “berhenti”
sejenak dari hiruk-pikuk ambisi duniawi yang tidak akan pernah ada habisnya.
Inilah masa di mana kualitas satu sujud jauh lebih berharga daripada seluruh
tumpukan harta yang pernah dikumpulkan. Kita diingatkan bahwa perjalanan
sesungguhnya bukanlah perjalanan dari satu negeri ke negeri lain di bumi,
melainkan perjalanan pulang menuju pelukan rohmat Alloh di Akhiroh kelak.
Tiada
keberuntungan yang lebih besar bagi seseorang yang telah lanjut usia selain
mendapati catatan amalnya penuh dengan istighfar. Sebagaimana disebutkan dalam
sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Shohabat Abdulloh bin Busr:
«طُوبَى
لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا»
“Beruntunglah
bagi siapa yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya istighfar yang
banyak.” (HSR. Ibnu Majah no. 3818)
Oleh karena
itu, janganlah rasa lemah di tulang atau penglihatan yang kian kabur membuat
kita berputus asa. Justru dalam kelemahan fisik itulah, Alloh ingin melihat
kekuatan iman kita. Jadikanlah sisa nafas yang tersisa sebagai wasilah untuk
memperbaiki hubungan dengan Alloh, menyambung tali persaudaraan yang sempat
terputus, dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya melalui ilmu, doa, maupun
harta yang masih kita miliki.
Kita
memohon kepada Alloh yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, agar Dia tidak
membiarkan kita lalai di penghujung usia.
Semoga
Alloh menjadikan buku ini sebagai hujjah yang menyelamatkan bagi penulis dan
pembacanya. Kita memohon dengan sangat agar diwafatkan dalam keadaan lisan yang
basah dengan kalimat tauhid, hati yang ridho terhadap takdir-Nya, dan jiwa yang
tenang saat menyambut panggilan-Nya.
اللَّهُمَّ
اجْعَلْ خَيْرَ عُمُرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي
يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ
“Ya Alloh,
jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan sebaik-baik amalku pada
akhirnya, dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menemui-Mu.”[NK]
