Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Ketika Memasuki Usia Senja - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh yang telah menetapkan bagi setiap makhluk-Nya ajal yang tidak dapat dimajukan maupun diundurkan. Kami memuji-Nya atas karunia umur yang masih tersisa, yang merupakan modal utama seorang hamba untuk mengumpulkan bekal menuju perjalanan abadi.

Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdillah , sosok yang diutus sebagai rohmat bagi alam semesta, yang telah memberikan bimbingan paripurna tentang bagaimana mengakhiri hidup dengan kemuliaan di atas iman dan taqwa.

Memasuki usia senja adalah sebuah keniscayaan yang telah ditetapkan oleh Alloh dalam kitab-Nya yang mulia. Ia merupakan fase “kembali” menuju kelemahan setelah sebelumnya manusia diberikan puncak kekuatan pada masa mudanya. Alloh berfirman:

﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Alloh, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah (bayi), kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat (dewasa), kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban (tua). Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rum: 54)

Ayat ini merupakan bukti kekuasaan Alloh sekaligus pengingat bagi setiap jiwa bahwa raga ini hanyalah pinjaman yang akan terus menyusut kekuatannya. Ketika rambut mulai memutih, penglihatan mulai kabur, dan tulang-tulang mulai terasa rapuh, sesungguhnya itu adalah pesan halus dari Sang Pencipta bahwa waktu perjumpaan dengan-Nya kian mendekat.

Dalam pandangan syariat yang mulia, usia senja bukanlah beban yang harus diratapi, melainkan anugerah yang harus disyukuri. Sebab, bagi seorang Mu’min, setiap detik tambahan umur adalah peluang untuk menambah pundi-pundi pahala dan menghapuskan noda-noda dosa masa lalu. Rosululloh menegaskan keutamaan orang tua yang tetap teguh dalam ketaatan dalam sabdanya:

«لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ، مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً»

“Janganlah kalian mencabut uban. Tidaklah seorang Muslim yang tumbuh ubannya dalam Islam, melainkan uban itu akan menjadi cahaya baginya pada hari Qiyamah nanti.” (HSR. Abu Dawud no. 4202)

Hadits ini memberikan motivasi besar bahwa uban yang selama ini dianggap sebagai tanda “berakhirnya kegagahan” justru merupakan mahkota cahaya di hari Qiyamah kelak. Maka, sangatlah beruntung bagi siapa yang diberikan umur panjang dan ia mampu menghiasinya dengan amal-amal sholih. Sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits yang diriwayatkan dari Shohabat Abdulloh bin Busr: “Sungguh seorang Arab badui bertanya: ‘Wahai Rosululloh , siapakah sebaik-baik manusia?’ Beliau menjawab:

«مَنْ طَالَ عُمُرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ»

‘Siapa yang panjang umurnya dan baik amalnya.’” (HSR. At-Tirmidzi no. 2329)

Sebaliknya, usia tua juga merupakan masa di mana Alloh menutup segala alasan bagi manusia untuk terus lalai. Jika pada masa muda seseorang terpedaya oleh kuatnya fisik dan gejolak syahwat, maka di masa tua semua itu telah melemah. Alloh memberikan peringatan keras bagi mereka yang tetap berpaling meski telah mencapai usia 60 tahun. Hal ini berlandaskan sabda Nabi :

«أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً»

“Alloh tidak lagi memberikan udzur (alasan) kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya hingga Dia menyampaikannya pada usia 60 tahun.” (HR. Al-Bukhori no. 6419)

Makna dari Hadits ini adalah Alloh tidak lagi menerima alasan dari hamba-Nya yang telah mencapai usia tersebut jika ia tidak bersegera bertaubat dan memperbaiki diri. Enam puluh tahun adalah batas di mana seseorang seharusnya sudah benar-benar “selesai” dengan urusan dunianya dan memfokuskan seluruh hatinya untuk menghadap Robb-nya. Oleh karena itu, bagi siapa yang telah memasuki gerbang usia senja, tidak ada pilihan lain kecuali memperbanyak dzikir, istighfar, dan memperbaiki tauhidnya.

Buku ini disusun dengan berusaha ilmiyyah, merujuk langsung kepada nash-nash wahyu, guna memandu para pembaca dalam meniti sisa umur yang ada. Penulis membagi pembahasan ini ke dalam tujuh bab utama yang sangat mendalam:

Pertama, menanamkan pemahaman yang benar tentang hakikat usia lanjut sesuai syariat, agar seorang hamba tidak merasa rendah diri, namun justru merasa mulia dengan uban yang dimilikinya.

Kedua, menekankan pentingnya perbaikan amalan hati. Di masa tua, ketulusan iman dan keikhlasan adalah kunci utama, karena seringkali fisik tak lagi mampu melakukan ibadah-ibadah berat.

Ketiga, menguraikan fiqih ibadah bagi lansia. Bagaimana Islam memberikan kemudahan (rukhshoh) dalam Sholat, Puasa, dan Haji tanpa mengurangi nilai pahalanya sedikit pun.

Keempat, membahas adab sosial. Bagaimana orang tua harus bersikap di tengah keluarga agar tetap menjadi sumber barokah dan teladan bagi anak cucu.

Kelima, manajemen waktu dan persiapan bekal. Penulisan wasiat dan pengalokasian harta untuk sedekah jariyah menjadi poin krusial yang dibahas secara mendalam.

Keenam, tinjauan kesehatan melalui kacamata thibbun nabawi. Menjaga fisik agar tetap bugar semata-mata demi meningkatkan kualitas ibadah kepada Alloh.

Ketujuh, bimbingan dalam menghadapi detik-detik sakarotul maut dengan harapan mencapai akhir yang baik (husnul khotimah)

Sungguh, akhir hidup (khotimah) seseorang sangat bergantung pada kebiasaan hidupnya. Siapa yang menghabiskan umurnya dalam ketaatan, maka Alloh akan mewafatkannya dalam ketaatan. Sebaliknya, siapa yang terus-menerus dalam kelalaian, dikhawatirkan ia akan dicabut nyawanya dalam keadaan yang buruk. Nabi bersabda:

«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ» فَقِيلَ: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ المَوْتِ»

“Apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan mempekerjakannya. Para Shohabat bertanya: ‘Bagaimana cara Alloh mempekerjakannya?’ Beliau menjawab: ‘Alloh memberikan taufiq kepadanya untuk beramal sholih sebelum matinya.’” (HSR. At-Tirmidzi no. 2142)

Maka, hadirnya buku ini diharapkan dapat menjadi wasilah bagi para pembaca untuk mendapatkan taufiq tersebut. Agar sisa umur yang ada tidak terbuang sia-sia dalam angan-angan kosong, melainkan diisi dengan persiapan nyata untuk menghuni liang lahat yang gelap, lalu bangkit menuju padang Mahsyar, hingga akhirnya menempati Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi.

 

BAB 1: HAKIKAT LANSIA

1.1 Makna Udzur dan Peringatan Alloh Lewat Rambut Putih

Lansia (lanjut usia) atau usia senja ditandai dengan munculnya uban yang memutih di kepala. Dalam Islam, uban bukanlah sekadar perubahan warna rambut secara biologis, melainkan sebuah “surat peringatan” dari Alloh bahwa waktu pertemuan sudah sangat dekat. Ia disebut sebagai nadzir (pemberi peringatan). Alloh berfirman dalam Al-Quran:

﴿أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ

“Dan bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (bukankah) telah datang kepadamu pemberi peringatan?” (QS. Fatir: 37)

Para ulama tafsir, di antaranya adalah Ibnu Abbas, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “pemberi peringatan” dalam ayat di atas adalah uban. Keberadaan uban memberikan udzur (alasan) yang sangat kuat bagi seorang hamba untuk segera bertaubat. Sungguh, Alloh tidak lagi menerima alasan bagi siapa yang telah dipanjangkan umurnya hingga mencapai kepala enam namun tetap lalai. Nabi bersabda:

«أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً»

“Alloh tidak memberikan udzur (alasan) kepada seseorang yang Dia tunda ajalnya hingga Dia menyampaikannya pada usia enam puluh tahun.” (HR. Al-Bukhori no. 6419)

1.2 Keutamaan Umur Panjang yang Dihiasi Amal Sholih

Umur panjang adalah sebuah berkah jika digunakan untuk mengumpulkan ketaatan. Setiap hari tambahan hidup bagi seorang Muslim adalah kesempatan emas untuk menambah derajat di Jannah. Rosululloh sangat memuji orang tua yang konsisten dalam kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits:

Dari Abdulloh bin Busr, sungguh seorang Arab badui bertanya: “Wahai Rosululloh , siapakah orang yang terbaik?” Beliau menjawab:

«مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ»

“Siapa yang panjang umurnya dan baik pula amal perbuatannya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2329)

Keutamaan ini menunjukkan bahwa setiap tasbih, tahmid, dan sujud yang dilakukan di masa tua memiliki nilai yang sangat agung, karena dilakukan di tengah keterbatasan fisik yang kian menurun.

1.3 Fase Kelemahan Setelah Kekuatan sebagai Sunnatulloh

Manusia harus menyadari bahwa kelemahan fisik di masa tua adalah ketetapan Robb (Sunnatulloh) yang tidak bisa dihindari. Kekuatan masa muda hanyalah pinjaman sementara. Alloh mengingatkan kita dalam firman-Nya:

﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً

“Alloh, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS. Ar-Rum: 54)

Memahami hakikat ini akan membuat seseorang lebih legowo (ridho) menerima keadaan fisiknya. Ia tidak lagi mengejar ambisi duniawi yang menguras tenaga, melainkan mengalihkan kekuatannya yang tersisa untuk ibadah yang lebih berkualitas.

1.4 Kedudukan Orang Tua dan Lansia di Sisi Alloh dan Rosul-Nya

Islam sangat memuliakan mereka yang telah lanjut usia. Memuliakan orang tua Muslim yang sudah beruban merupakan bagian dari mengagungkan Alloh. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ»

“Sungguh, termasuk bentuk mengagungkan Alloh adalah memuliakan orang Muslim yang telah beruban (tua).” (HHR. Abu Dawud no. 4843)

Oleh karena itu, seorang lansia seharusnya memiliki rasa percaya diri dan ketenangan, karena mereka berada dalam kedudukan yang mulia di mata syariat, selama mereka tetap berada di atas jalan iman.

1.5 Larangan Mencabut Uban dan Cahayanya di Hari Qiyamah

Banyak orang merasa risih dengan munculnya uban dan berusaha menghilangkannya agar terlihat tetap muda. Namun, syariat melarang hal tersebut karena uban adalah cahaya bagi seorang Mu’min. Nabi bersabda:

«لَا تَنْتَفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Janganlah kalian mencabut uban. Tidaklah seorang Muslim yang tumbuh ubannya dalam Islam, melainkan uban itu akan menjadi cahaya baginya pada hari Qiyamah nanti.” (HSR. Abu Dawud no. 4202)

Cahaya ini akan menuntun hamba melewati kegelapan di hari Qiyamah. Maka, biarkanlah uban itu menghiasi kepala sebagai tanda kesetiaan kita dalam memeluk Islam hingga usia senja.

1.6 Taubat Nasuha sebagai Pintu Utama Memasuki Usia Senja

Langkah pertama dan paling utama bagi setiap jiwa di masa tua adalah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat (nasuha). Kita harus membersihkan lembaran masa lalu dari noda maksiat sebelum menghadap Alloh. Alloh memerintahkan:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)

Rosululloh pun, manusia yang paling suci, senantiasa bertaubat setiap hari. Maka bagi kita yang telah berumur, memperbanyak istighfar adalah keharusan. Nabi bersabda:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ»

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Alloh, karena sungguh aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)

Taubat di usia senja adalah kunci ketenangan. Dengan bertaubat, beban dosa yang dipikul selama puluhan tahun akan diangkat, sehingga kita bisa melangkah menuju Akhiroh dengan perasaan ringan dan penuh harap akan ampunan-Nya.

 

BAB 2: AMALAN HATI LANSIA

2.1 Memurnikan Ikhlas dan Menjauhi Riya’ di Penghujung Usia

Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Bagi seseorang yang telah berada di usia senja, tidak ada lagi ruang untuk mencari pujian manusia atau mengejar popularitas dunia. Segala amalan harus dimurnikan hanya untuk mencari wajah Alloh. Sungguh, Alloh tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan tulus karena-Nya. Alloh berfirman:

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Di masa ini, seseorang harus sangat waspada terhadap penyakit riya’ (pamer), karena riya’ dapat menghapuskan pahala yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun. Rosululloh memperingatkan:

«قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»

“Alloh Tabaroka wa Ta’ala berfirman: ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang melakukan suatu amal yang di dalamnya ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.’” (HR. Muslim no. 2985)

2.2 Memperkuat Husnuzhon (Prasangka Baik) Kepada Alloh

Salah satu amalan hati yang paling wajib bagi seseorang yang merasa ajalnya kian dekat adalah memiliki prasangka baik kepada Alloh. Ia harus yakin bahwa Alloh adalah Dzat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Rosululloh memberikan wasiat penting menjelang wafat beliau:

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berprasangka baik kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim no. 2877)

Prasangka baik ini akan melahirkan ketenangan jiwa. Seorang hamba yang husnuzhon akan merasa tentram karena ia yakin bahwa Alloh tidak akan menyia-nyiakan iman dan amal sholihnya selama hidup di dunia.

2.3 Menyeimbangkan Rasa Takut (Khof) dan Harap (Roja’)

Hati seorang Mu’min di masa tua harus berada di antara rasa takut akan azab Alloh karena dosa-dosanya, dan rasa harap yang besar akan rohmat-Nya. Namun, para ulama menjelaskan bahwa saat mendekati kematian, sisi harapan (roja’) harus lebih didominasi agar hamba tersebut bersemangat menemui Robb-nya. Alloh berfirman menyifati hamba-hamba-Nya yang sholih:

﴿يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا

“Mereka berdoa kepada Robb-nya dengan rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah: 16)

Keseimbangan ini menjaga seseorang agar tidak merasa aman dari maksiat, namun juga tidak berputus asa dari luasnya ampunan Alloh.

2.4 Istiqomah di Atas Sunnah Hingga Ajal Menjemput

Istiqomah adalah karunia terbesar di akhir hayat. Mempertahankan keyakinan yang lurus sesuai sunnah Rosululloh di tengah gempuran fitnah zaman adalah perjuangan yang mulia. Alloh menjanjikan ketenangan bagi mereka yang istiqomah:

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sungguh orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah dengan mati tidak syirik), maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)

Nabi pun memerintahkan kita untuk selalu memohon ketetapan hati:

«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3522)

2.5 Menjaga Hati dari Penyakit Cinta Dunia dan Panjang Angan-Angan

Salah satu fitnah yang sering menimpa manusia di masa tua adalah justru semakin kuatnya cinta pada harta dan keinginan untuk hidup lama (panjang angan-angan). Hal ini harus dilawan dengan kesadaran akan kematian. Nabi bersabda:

«يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ: حُبُّ المَالِ، وَطُولُ العُمُرِ»

“Anak cucu Adam semakin tua, namun ada dua perkara yang justru semakin muda (tumbuh kuat) padanya: ambisi terhadap harta dan ambisi terhadap umur (ingin hidup lama).” (HR. Al-Bukhori no. 6421 dan Muslim no. 1047)

Seseorang yang bijak di usia senja akan mulai melepaskan keterikatan hatinya pada perhiasan dunia dan lebih banyak memikirkan apa yang akan ia bawa ke liang lahat.

2.6 Hakikat Zuhud bagi Seseorang yang Telah Berumur

Zuhud di masa tua bukan berarti meninggalkan harta sama sekali, melainkan mengeluarkan dunia dari hati dan meletakkannya hanya di tangan. Fokus utama adalah mengalihkan segala nikmat yang ada untuk kepentingan Akhiroh. Alloh mengingatkan tentang rendahnya nilai dunia:

﴿وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Seorang hamba yang zuhud akan merasa cukup dengan apa yang Alloh berikan (qona’ah) dan lebih merindukan perjumpaan dengan Alloh daripada menetap lebih lama di dunia. Nabi bersabda:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara yang sekadar lewat.” (HR. Al-Bukhori no. 6416)

 

BAB 3: FIQIH IBADAH LANSIA

3.1 Semangat Menjaga Sholat Berjamaah Meski dalam Keterbatasan

Sholat berjamaah di Masjid bagi kaum laki-laki tetap menjadi prioritas utama selama fisik masih mampu untuk melangkah. Semangat menuju rumah Alloh di usia senja adalah bukti kuatnya iman dan kecintaan kepada Robb. Alloh berfirman:

﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ رِجَالٌ

“Bertasbih kepada Alloh di Masjid-Masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, yaitu para lelaki.” (QS. An-Nur: 36-37)

Rosululloh pun memberikan motivasi besar bahwa setiap langkah menuju Masjid akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat, sesuatu yang sangat dibutuhkan di hari tua. Beliau bersabda:

«أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟» قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ»

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Alloh menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat? Para Shohabat menjawab: ‘Tentu, wahai Rosululloh .’ Beliau bersabda: ‘Menyempurnakan wudhu di saat-saat yang sulit, memperbanyak langkah menuju Masjid. Itulah ribath (mengikat diri di ketaatan).’” (HR. Muslim no. 251)

3.2 Hukum-Hukum Sholat dengan Duduk atau Berbaring

Islam tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Jika berdiri terasa menyulitkan atau dapat memperparah sakit, maka Sholat dapat dilakukan dengan duduk atau bahkan berbaring. Alloh berfirman:

﴿فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertaqwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghobun: 16)

Bimbingan mengenai hal ini telah dijelaskan oleh Nabi kepada Shohabat Imron bin Hushain yang sedang sakit:

«صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ»

“Sholatlah dengan berdiri, jika kamu tidak mampu maka dengan duduk, dan jika kamu tidak mampu juga maka dengan berbaring menyamping.” (HR. Al-Bukhori no. 1117)

3.3 Puasa bagi Lansia dan Ketentuan Membayar Fidyah

Bagi orang tua yang sudah sangat renta dan tidak mampu lagi menjalankan ibadah Puasa Romadhon, atau dikhawatirkan Puasa tersebut akan membahayakan kesehatannya secara serius, maka Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan memberi makan orang miskin (fidyah). Alloh berfirman:

﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqoroh: 184)

Hal ini dilakukan dengan memberikan makanan pokok sebanyak satu mud (kurang lebih 750 gram) atau memberikan makan kenyang kepada satu orang miskin untuk setiap hari Puasa yang ditinggalkan.

3.4 Keutamaan Memperbanyak Dzikir dan Istighfar di Setiap Keadaan

Dzikir adalah ibadah yang paling ringan bagi lisan namun paling berat dalam timbangan amal. Di usia senja, saat tenaga fisik mulai berkurang, lisan harus terus basah dengan menyebut nama Alloh. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)

Nabi pun memberikan resep agar sisa umur kita tetap produktif dalam pahala:

«لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»

“Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3375)

3.5 Menggapai Haji Mabrur dan Umroh di Usia Senja

Meskipun Haji dan umroh memerlukan kekuatan fisik, namun niat yang tulus dan kesabaran menghadapi keletihan di masa tua akan membuahkan pahala yang berlipat ganda. Rosululloh bersabda:

«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»

“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 1773 dan Muslim no. 1349)

Jika fisik benar-benar tidak memungkinkan namun harta mencukupi, maka syariat membolehkan pelaksanaan Haji untuk diwakilkan (dibadalkan) oleh orang lain yang sudah pernah berhaji.

3.6 Kedisiplinan Membaca dan Mentadabburi Al-Quran Setiap Hari

Membaca Al-Quran adalah obat bagi hati yang gundah dan cahaya bagi penglihatan yang mulai kabur. Seorang Mu’min di usia senja tidak boleh menjauh dari Al-Quran. Alloh berfirman:

﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (mentadabburi) ayat-ayatnya.” (QS. Shod: 29)

Nabi mengingatkan bahwa pembaca Al-Quran akan mendapatkan syafaat di hari Qiyamah:

«اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ»

“Bacalah Al-Quran, karena sungguh ia akan datang pada hari Qiyamah sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim no. 804)

3.7 Sholat Malam sebagai Cahaya di Alam Kubur

Sholat malam (Tahajjud) adalah kebiasaan orang-orang sholih dan merupakan kemuliaan bagi seorang Mu’min. Di tengah malam, saat dunia terlelap, seorang lansia dapat mengadu dan bermunajat kepada Robb-nya dengan penuh khusyuk. Alloh berfirman:

﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam hari Sholat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Robb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isro: 79)

Nabi bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنْ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ»

“Hendaknya kalian melakukan Sholat malam, karena hal itu adalah kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian. Sungguh Sholat malam mendekatkan kepada Alloh, mencegah berbuat dosa, menghapus dosa-dosa, mengusir penyakit dari badan.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3549)

 

BAB 4: ADAB SOSIAL LANSIA

Pada bagian ini, kita akan menguraikan bagaimana seorang hamba yang telah berusia lanjut memosisikan dirinya di tengah keluarga dan masyarakat, agar keberadaannya senantiasa menjadi sumber keberkahan, teladan, dan penyejuk bagi generasi di bawahnya.

4.1 Menjadi Teladan bagi Anak dan Cucu dalam Ketaatan

Tanggung jawab sebagai pendidik tidak pernah usai hingga ajal menjemput. Di usia senja, nasihat yang paling ampuh bukanlah sekadar kata-kata, melainkan keteladanan dalam beramal. Ketika anak dan cucu melihat orang tuanya tetap teguh menjaga Sholat, lisan yang basah dengan dzikir, dan akhlak yang mulia, maka itulah dakwah yang paling membekas. Alloh berfirman:

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. At-Thur: 21)

Seorang kakek atau nenek yang sholih adalah lentera iman bagi keluarganya. Rosululloh mengingatkan bahwa setiap kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)

4.2 Kewajiban Anak Berbakti dan Larangan Berkata “Ah” Kepada Orang Tua

Di masa tua, saat fisik mulai lemah dan ingatan mungkin memudar, di sinilah ujian bakti bagi anak-anak dimulai. Syariat Islam memberikan perlindungan yang sangat tinggi bagi orang tua dengan mewajibkan anak untuk bersikap lembut. Alloh memerintahkan:

﴿فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isro: 23)

Bakti kepada orang tua di masa tua mereka adalah pintu Jannah yang paling tengah. Nabi bersabda:

«الوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ البَابَ أَوْ احْفَظْهُ»

“Orang tua adalah pintu Jannah yang paling tengah. Jika kamu mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1900)

4.3 Menjaga Silaturrohim dengan Kerabat dan Teman Lama

Usia senja seringkali mendatangkan rasa sepi. Oleh karena itu, menyambung tali silaturrohim dengan saudara serta teman-teman lama yang sholih sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan jiwa dan menambah keberkahan umur. Alloh berfirman:

﴿وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ

“Dan bertaqwalah kepada Alloh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrohim.” (QS. An-Nisa: 1)

Rosululloh pun memberikan motivasi bahwa silaturrohim dapat memperpanjang keberkahan umur:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrohim.” (HR. Al-Bukhori no. 5986 dan Muslim no. 2557)

4.4 Adab Berbicara dan Memberi Nasihat kepada Generasi Muda

Seorang yang telah lanjut usia hendaknya menghiasi dirinya dengan sifat lemah lembut dan hikmah saat berbicara. Nasihat yang diberikan dengan penuh kasih sayang akan lebih mudah diterima daripada nasihat yang mengandung unsur merendahkan. Alloh berfirman:

﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Wibawa seorang tua Mu’min terletak pada ketenangannya dan lisannya yang hanya berucap kebaikan. Nabi bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

4.5 Tanggung Jawab Nafkah dan Pengasuhan Lansia

Islam menetapkan bahwa kebutuhan hidup orang tua yang sudah tidak mampu bekerja menjadi tanggung jawab anak-anaknya. Harta anak adalah milik orang tuanya jika dibutuhkan. Rosululloh bersabda kepada seorang laki-laki yang mengadu tentang ayahnya:

«أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ»

“Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HSR. Ibnu Majah no. 2291)

Maka, orang tua tidak perlu merasa khawatir atau menjadi beban, karena pemenuhan kebutuhan mereka oleh anak adalah bentuk ibadah yang agung dan kewajiban yang pasti dalam agama.

4.6 Menghindari Pertikaian Harta Waris Sejak Dini

Salah satu adab orang tua yang bijak di masa tua adalah mengatur urusan hartanya agar tidak menjadi fitnah bagi anak cucunya kelak. Hal ini dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang hukum waris Islam serta memberikan hibah yang adil jika diperlukan saat masih hidup. Alloh memberikan peringatan tentang harta:

﴿إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (cobaan).” (QS. At-Taghobun: 15)

Nabi pun mengingatkan agar kita tidak meninggalkan ahli waris dalam keadaan meminta-minta:

«إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ»

“Sungguh, jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya (berkecukupan) itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 1295 dan Muslim no. 1628)

 

BAB 5: BEKAL AKHIROH LANSIA

Pada bagian ini, kita akan membahas bagaimana seorang hamba yang berakal mengatur sisa nafasnya agar setiap detik yang berlalu menjadi simpanan pahala yang tak terputus, serta bagaimana menyiapkan bekal Akhiroh sebelum ruh berpisah dari jasad.

5.1 Memanfaatkan Sisa Umur Sebelum Datangnya Lima Perkara

Waktu adalah aset yang paling berharga bagi manusia di usia senja. Sisa umur yang ada tidak boleh dibiarkan menguap dalam kesia-siaan. Kesadaran akan terbatasnya waktu harus memicu semangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Alloh berfirman:

﴿وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robb-mu dan kepada Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Rosululloh memberikan wasiat emas tentang manajemen waktu ini:

«اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ»

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HSR. Al-Hakim no. 7846)

5.2 Pentingnya Sedekah Jariyah dan Wakaf sebagai Investasi Abadi

Di saat kekuatan fisik untuk Sholat malam atau Puasa sunnah mulai berkurang, investasi harta menjadi jalan pintas menuju pahala yang terus mengalir meski raga telah terkubur. Seorang lansia hendaknya meninjau kembali hartanya untuk dialokasikan pada jalan-jalan jariyah. Nabi bersabda:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila manusia mati, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

5.3 Menulis Wasiat yang Sesuai dengan Tuntunan Syariat

Menulis wasiat bukanlah pertanda seseorang ingin segera mati, melainkan bentuk ketaatan dan tanggung jawab agar tidak meninggalkan masalah di dunia. Wasiat mencakup pesan ketaqwaan kepada keluarga serta pengaturan sepertiga harta untuk kebaikan. Alloh berfirman:

﴿كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ

“Diwajibkan atas kamu, apabila salah seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah...” (QS. Al-Baqoroh: 180)

Rosululloh pun mengingatkan:

«مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ»

“Tidaklah pantas bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan melewati dua malam, melainkan wasiatnya telah tertulis di sisinya.” (HR. Al-Bukhori no. 2738 dan Muslim no. 1627)

5.4 Menjauhi Majelis Sia-Sia dan Perkataan yang Tidak Berguna

Di penghujung usia, telinga dan lisan harus dijaga ketat. Menghadiri kumpulan yang hanya berisi ghibah, senda gurau berlebih, atau urusan dunia yang tidak berujung hanya akan mengeraskan hati. Alloh menyifati hamba-Nya yang mulia:

﴿وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 3)

Nabi bersabda mengenai kualitas keislaman seseorang:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2317)

5.5 Memperbanyak Doa Memohon Ketetapan Hati dan Khusnul Khotimah

Senjata paling ampuh di masa tua adalah doa. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita, maka memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian adalah keharusan. Alloh mengajarkan doa:

﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً

“Wahai Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu.” (QS. Ali Imron: 8)

Abu Bakr As-Shiddiq juga sering berdoa memohon akhir yang baik:

«اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمُرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ»

“Ya Alloh, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan sebaik-baik amalku pada akhirnya, dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menemui-Mu.” (HHR. At-Thobroni no. 9409)

5.6 Persiapan Mental Menghadapi Sakarotul Maut

Mengingat mati bukan untuk ditakuti hingga membuat putus asa, melainkan untuk membangun kesiapan mental. Seorang Mu’min harus menyadari bahwa kematian adalah pintu satu-satunya menuju kenikmatan yang hakiki. Alloh berfirman:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Qiyamah sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. Ali Imron: 185)

Nabi memerintahkan kita untuk sering mengingat pemutus kelezatan ini:

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ»

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2307)

 

BAB 6: KESEHATAN LANSIA

Pada bagian ini, kita akan membahas pentingnya menjaga raga sebagai amanah dari Alloh. Kesehatan di usia senja bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana agar seorang hamba tetap tegak berdiri dalam menjalankan ketaatan kepada Sang Kholiq.

6.1 Pandangan Islam Tentang Mencari Kesembuhan (Ikhtiar Medis)

Islam mengajarkan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Bagi seorang lansia, berobat saat sakit bukanlah bentuk ketidaksabaran atau kurangnya tawakkal, melainkan sebuah bentuk ikhtiar yang diperintahkan oleh syariat. Alloh memerintahkan kita untuk tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sungguh Alloh menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqoroh: 195)

Rosululloh pun memerintahkan umatnya untuk mencari pengobatan:

«تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ»

“Berobatlah kalian, karena sungguh Alloh ‘Azza wa Jalla tidak menetapkan suatu penyakit melainkan Dia juga menetapkan obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu usia tua.” (HSR. Abu Dawud no. 3855)

6.2 Khasiat Habbatussauda, Madu, dan Minyak Zaitun bagi Fisik yang Lemah

Rosululloh telah memberikan petunjuk mengenai bahan-bahan alami yang memiliki keberkahan dan kesembuhan, yang sangat cocok dikonsumsi untuk menjaga daya tahan tubuh di masa tua. Mengenai jintan hitam (Habbatussauda), Nabi bersabda:

«فِي الحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ، إِلَّا السَّامَ»

“Pada jintan hitam terdapat kesembuhan dari segala macam penyakit kecuali As-Saam (kematian).” (HR. Al-Bukhori no. 5688 dan Muslim no. 2215)

Begitu pula dengan madu yang Alloh sebutkan dalam Al-Quran sebagai obat bagi manusia:

﴿يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)

Tentang Zaitun, Nabi bersabda:

«كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ»

“Konsumsilah Zaitun dan oleskan ke badan, karena ia berasal dari pohon yang diberkahi.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1851)

6.3 Menjaga Pola Makan yang Halal dan Thoyyib untuk Kekuatan Ibadah

Di usia senja, sistem pencernaan manusia tidak lagi sekuat dahulu. Maka, memilih makanan yang tidak hanya halal secara hukum, tetapi juga baik (thoyyib) secara kesehatan adalah kewajiban. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (QS. Al-Baqoroh: 168)

Nabi memberikan tuntunan agar tidak berlebihan dalam mengisi perut:

«مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ»

“Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang punggungnya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2380)

6.4 Sabar Menghadapi Penyakit sebagai Penggugur Dosa

Seringkali usia tua dibarengi dengan berbagai keluhan kesehatan kronis. Seorang Mu’min harus memandang rasa sakit tersebut sebagai pembersih diri dari noda dosa sebelum menghadap Alloh. Alloh berfirman:

﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 155)

Nabi bersabda memberikan penguatan:

«مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhori no. 5641)

6.5 Larangan Mengharap Kematian Karena Penyakit yang Diderita

Seberat apa pun ujian fisik di masa tua, seorang Muslim dilarang berputus asa hingga mengharapkan kematian. Hal ini menunjukkan kurangnya ridho terhadap takdir Alloh. Nabi memberikan bimbingan:

«لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ المَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian karena musibah (sakit) yang menimpanya.” (HR. Al-Bukhori no. 5671 dan Muslim no. 2680)

6.6 Ruqyah Syariyyah untuk Ketenangan Jiwa dan Raga

Selain pengobatan fisik, pengobatan dengan Al-Quran dan doa-doa sesuai sunnah (Ruqyah Syariyyah) sangat penting untuk mengatasi gangguan psikis atau penyakit yang sulit disembuhkan secara medis. Alloh berfirman:

﴿وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rohmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isro: 82)

Nabi pun sering membaca doa perlindungan (Al-Mu’awwidzatain) saat merasa sakit, sebagai bentuk penyerahan diri secara total kepada Sang Penyembuh yang sesungguhnya.

 

BAB 7: DETIK-DETIK PERJUMPAAN DENGAN SANG KHOLIQ

Ini adalah puncak dari seluruh perjalanan hidup seorang hamba. Pada bagian ini, kita akan membahas bagaimana seorang Mu’min yang telah membekali dirinya dengan ilmu, iman, dan amal sholih, menyongsong gerbang Akhiroh dengan penuh optimisme dan ketenangan.

7.1 Tanda-Tanda Kedatangan Ajal bagi Seorang Mu’min

Kematian bagi seorang Mu’min bukanlah momok yang mengerikan, melainkan perpindahan dari penjara dunia menuju keluasan rohmat Alloh. Di antara tanda kebaikan bagi seorang Mu’min saat ajalnya tiba adalah munculnya keringat di kening serta kemampuan untuk tetap tenang karena adanya kabar gembira dari para Malaikat. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sungguh orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah, tanpa syirik sampai mati), maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)

Nabi pun bersabda mengenai tanda fisik seorang Mu’min yang wafat:

«مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِينِ»

“Kematian seorang Mu’min ditandai dengan keringat di keningnya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 982)

7.2 Kalimat Tauhid sebagai Ucapan Terakhir (Talqin)

Puncak kesuksesan seorang hamba adalah ketika ia mampu mengakhiri nafasnya dengan kalimat tauhid. Oleh karena itu, bagi keluarga yang mendampingi, disunnahkan untuk menuntun (mentalqin) orang yang sedang sakarotul maut dengan lembut. Nabi menjanjikan Jannah bagi mereka yang mampu mengucapkannya di akhir hayat:

«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Siapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illalloh’, maka ia masuk Jannah.” (HSR. Abu Dawud no. 3116)

7.3 Hakikat Kematian sebagai Qiyamah Kecil dan Pintu Akhiroh

Kematian adalah Qiyamah kecil (Al-Qiyamah Ash-Shughro). Saat ruh terpisah dari jasad, berakhirlah masa beramal dan mulailah masa pembalasan. Seorang Mu’min yang bijak menyadari bahwa kubur adalah tempat persinggahan pertama menuju Akhiroh. Alloh berfirman:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, kemudian hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 57)

Sesuai dengan sabda Nabi , kubur bisa menjadi taman di antara taman-taman Jannah bagi penghuninya yang sholih:

«إِنَّمَا القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ»

“Sungguh kubur itu tidak lain adalah taman di antara taman-taman Jannah atau lubang di antara lubang-lubang neraka.” (HR. At-Tirmidzi no. 2460)

7.4 Gambaran Nikmat Kubur bagi Hamba yang Sholih

Bagi jiwa yang tenang, alam barzakh bukanlah tempat yang menyiksa, melainkan masa penantian yang penuh dengan kenikmatan. Setelah berhasil menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, akan dibukakan baginya pintu menuju Jannah. Alloh berfirman tentang keadaan mereka yang wafat di atas kebaikan:

﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para Malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): ‘Salamun ‘alaikum (keselamatan atasmu), masuklah kamu ke dalam Jannah disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. An-Nahl: 32)

7.5 Kerinduan Berjumpa dengan Alloh dan Rosul-Nya

Di akhir hayat, seorang Mu’min sejati tidak lagi merasa berat meninggalkan dunia karena rasa rindu yang membuncah untuk bertemu dengan Sang Kholiq dan kekasih-Nya, Nabi Muhammad. Nabi bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ»

“Siapa yang suka bertemu Alloh, maka Alloh pun suka bertemu dengannya. Dan siapa yang benci bertemu Alloh, maka Alloh pun benci bertemu dengannya.” (HR. Al-Bukhori no. 6507 dan Muslim no. 2683)

Kerinduan ini adalah tanda iman yang telah meresap jauh ke dalam sanubari, membuat kematian terasa seperti pulang ke rumah yang sebenarnya.

7.6 Keadaan Orang-Orang Sholih Terdahulu Saat Menghadapi Maut

Para pendahulu kita yang sholih (Salafush Sholih) menghadapi maut dengan penuh keberanian dan kebahagiaan. Mereka melihat kematian sebagai jembatan yang menghubungkan kekasih dengan yang dikasihi. Alloh memanggil jiwa-jiwa tersebut dengan penuh kelembutan:

﴿يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Robb-mu dengan hati yang ridho lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Jannah-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Begitulah akhir perjalanan bagi mereka yang membaktikan umurnya untuk Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka pergi dengan meninggalkan jejak kebaikan dan disambut oleh Robb alam semesta dengan ampunan serta keridhoan yang abadi.

 

PENUTUP

Segala puji bagi Alloh yang dengan nikmat-Nya segala amal sholih menjadi sempurna. Lembar demi lembar dari buku ini telah kita lalui bersama, mulai dari memahami hakikat uban sebagai peringatan, hingga menyelami detik-detik perjumpaan dengan Sang Kholiq.

Sungguh, semua uraian yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah ini bukanlah sekadar wacana ilmiyyah untuk memenuhi ruang fikiran, melainkan kompas bagi setiap jiwa yang menyadari bahwa matahari umurnya telah mulai condong ke arah barat.

Memasuki usia senja adalah saat di mana seorang hamba harus benar-benar “berhenti” sejenak dari hiruk-pikuk ambisi duniawi yang tidak akan pernah ada habisnya. Inilah masa di mana kualitas satu sujud jauh lebih berharga daripada seluruh tumpukan harta yang pernah dikumpulkan. Kita diingatkan bahwa perjalanan sesungguhnya bukanlah perjalanan dari satu negeri ke negeri lain di bumi, melainkan perjalanan pulang menuju pelukan rohmat Alloh di Akhiroh kelak.

Tiada keberuntungan yang lebih besar bagi seseorang yang telah lanjut usia selain mendapati catatan amalnya penuh dengan istighfar. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Shohabat Abdulloh bin Busr:

«طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا»

“Beruntunglah bagi siapa yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HSR. Ibnu Majah no. 3818)

Oleh karena itu, janganlah rasa lemah di tulang atau penglihatan yang kian kabur membuat kita berputus asa. Justru dalam kelemahan fisik itulah, Alloh ingin melihat kekuatan iman kita. Jadikanlah sisa nafas yang tersisa sebagai wasilah untuk memperbaiki hubungan dengan Alloh, menyambung tali persaudaraan yang sempat terputus, dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya melalui ilmu, doa, maupun harta yang masih kita miliki.

Kita memohon kepada Alloh yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, agar Dia tidak membiarkan kita lalai di penghujung usia.

Semoga Alloh menjadikan buku ini sebagai hujjah yang menyelamatkan bagi penulis dan pembacanya. Kita memohon dengan sangat agar diwafatkan dalam keadaan lisan yang basah dengan kalimat tauhid, hati yang ridho terhadap takdir-Nya, dan jiwa yang tenang saat menyambut panggilan-Nya.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمُرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ

“Ya Alloh, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan sebaik-baik amalku pada akhirnya, dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menemui-Mu.”[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url