Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] 40 Hadits Sifat Sholat Nabi - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarga, para Shohabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Risalah singkat ini menghimpun 40 Hadits shohih mengenai tata cara Sholat Nabi , disusun secara berurutan mulai dari Takbir hingga Salam. Pemilihan Hadits didasarkan pada riwayat-riwayat pokok yang menjadi pondasi hukum bagi para fuqoha (ahli fiqih), khususnya dalam Madzhab Syafi’i dan Hanbali. Tujuan dari penyusunan ini adalah agar setiap Muslim dapat menunaikan ibadah Sholat sesuai dengan petunjuk beliau, sebagaimana sabdanya: “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.”

Hadits 1: Kewajiban Mengikuti Sifat Sholat Nabi

Dari Malik bin Al-Huwairits Rodhiyallahu ‘Anhu (74 H), Nabi bersabda:

«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 631)

Hadits 2: Niat dalam Sholat

Dari Umar bin Al-Khotthob Rodhiyallahu ‘Anhu (23 H), Nabi bersabda:

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»

“Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no. 1907)

Hadits 3: Berdiri bagi yang Mampu

Dari ‘Imron bin Hushoin Rodhiyallahu ‘Anhu (52 H), Nabi bersabda kepadaku:

«صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ»

“Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring menyamping.” (HR. Al-Bukhori no. 1117)

Hadits 4: Sutroh (Pembatas) dalam Sholat

Dari Abu Said Al-Khudri Rodhiyallahu ‘Anhu (74 H), Nabi bersabda:

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا»

“Jika salah seorang di antara kalian Sholat, hendaknya ia Sholat menghadap sutroh (pembatas) dan mendekatlah kepadanya.” (HSR. Abu Dawud no. 698)

Hadits 5: Kewajiban Takbirotul Ihrom

Dari Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘Anhu (40 H), Nabi bersabda:

«مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ»

“Kunci Sholat adalah bersuci, pengharomannya (dimulainya) adalah Takbir, dan penghalalannya (diakhirinya) adalah Salam.” (HSR. Abu Dawud no. 61)

Hadits 6: Mengangkat Kedua Tangan saat Takbir

Dari Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘Anhuma (73 H), beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ

“Bahwasanya Rosulullah mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya ketika membuka Sholat (Takbirotul Ihrom).” (HR. Al-Bukhori no. 735 dan Muslim no. 390)

Hadits 7: Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri (Sedekap)

Dari Sahl bin Sa’ad Rodhiyallahu ‘Anhu (88 H), beliau berkata:

«كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ اليَدَ اليُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ اليُسْرَى فِي الصَّلاَةِ»

“Dahulu orang-orang diperintahkan agar seseorang meletakkan tangan kanannya di atas lengan kirinya dalam Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 740)

Hadits 8: Tempat Meletakkan Tangan (Dada)

Dari Wa’il bin Hujr Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:

«صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ»

“Aku Sholat bersama Rosulullah dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 479)

Al-Albani berkata: Sanadnya lemah tetapi Hadits ini adalah shohih dilihat dari banyak jalur yang semakna, serta tambahan “meletakkannya di dada”. Maka Al-Albani berpendapat diletakkan di dada.

Hadits ini menjadi landasan meskipun para fuqoha berbeda pendapat mengenai letak pastinya; Syafiiyah di bawah dada di atas pusar, sedangkan Hanabilah di bawah pusar.

Hadits 9: Pandangan Mata ke Tempat Sujud

Dari Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘Anhu (93 H), bahwasanya Rosulullah bersabda:

«مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلاَتِهِمْ، لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ»

“Ada apa dengan kaum yang mengangkat pandangan mereka ke langit dalam Sholat mereka? Mereka berhenti dari hal itu akan mata mereka dijadikan buta?!(HR. Al-Bukhori no. 750)

Banyak fuqoha mengambil kesimpulan dari larangan ini bahwa pandangan yang disunnahkan adalah menunduk ke arah tempat Sujud.

Hadits 10: Doa Istiftah

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu (57 H), beliau berkata bahwa Rosulullah biasanya diam sejenak antara Takbir dan bacaan Al-Fatihah, lalu beliau membaca:

«اللهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ»

“Ya Alloh, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Alloh, bersihkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Alloh, cucilah aku dari kesalahanku dengan salju, air, dan air es.” (HR. Muslim no. 598 dan Al-Bukhori no. 744)

Umar mengeraskan bacaan ini (dalam iftitah):

«سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، تَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ»

“Mahasuci Engkau ya Alloh disertai pujian atas-Mu. Mahaberkah nama-Mu, Mahatinggi kemulian-Mu, tidak ada yang berhak disembah selain-Mu.” (HR. Muslim no. 399)

Doa Umar ini dipilih kebanyakan ulama (Hanafiyah dan Hanabilah) dan dipilih Ibnu Taimiyyah.

Hadits 11: Membaca Isti’adzah

Dari Abu Said Al-Khudri Rodhiyallahu ‘Anhu (74 H), beliau menceritakan bahwa Nabi sebelum membaca (Al-Fatihah) mengucapkan:

«أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ»

“Aku berlindung kepada Alloh Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaithan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan hembusan syairnya yang buruk.” (HSR. Abu Dawud no. 775)

Hadits 12: Membaca Basmalah

Dari Nu’aim Al-Mujmir Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Aku Sholat di belakang Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu (57 H), maka beliau membaca:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

lalu membaca Al-Fatihah... (di akhir Hadits beliau berkata):

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهُ »

‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip Sholat-nya dengan Rosulullah ’.” (HR. An-Nasa’i no. 906)

Statusnya diperselisihkan. Yang menilaihnya shohih seperti Ibnu Khuzaimah, Daruquthni, Shiddiq Hasan Khon.

Asy-Syafii berpendapat: wajib dibaca. Kebanyakan ulama berpendapat: sunnah dibaca. Menurut Asy-Syafii: dibaca keras, menurut kebanyakan ulama: dibaca lirih.

Hadits 13: Kewajiban Membaca Al-Fatihah

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit Rodhiyallahu ‘Anhu (34 H), bahwasanya Rosulullah bersabda:

«لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ»

“Tidak sah Sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).” (HR. Al-Bukhori no. 756 dan Muslim no. 394)

Hadits 14: Membaca Amin Setelah Al-Fatihah

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu (57 H), bahwasanya Nabi bersabda:

«إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ، فَأَمِّنُوا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Jika Imam mengucapkan ‘Amin’, maka ucapkanlah ‘Amin’. Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya para Malaikat, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhori no. 780 dan Muslim no. 410)

Hadits 15: Membaca Surat Setelah Al-Fatihah

Dari Abu Qotadah Rodhiyallahu ‘Anhu (54 H), beliau berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنْ صَلاَةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ، وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ فِي الأُولَى، وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ»

“Nabi membaca Al-Fatihah dan dua surat pada dua rokaat pertama Sholat Zhuhur. Beliau memanjangkan pada rokaat pertama dan memendekkan pada rokaat kedua.” (HR. Al-Bukhori no. 759 dan Muslim no. 451)

Hadits 16: Ruku’ dan Meletakkan Tangan di Lutut

Dari Abu Humaid As-Sa’idi Rodhiyallahu ‘Anhu (60 H) saat menjelaskan sifat Sholat Nabi :

«وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ»

“Dan apabila beliau Ruku’, beliau memegang kedua lututnya dengan kedua tangannya, kemudian meratakan punggungnya.” (HR. Al-Bukhori no. 828)

Hadits 17: Meratakan Punggung saat Ruku’

Dari Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha (58 H) menceritakan cara Sholat Nabi :

«وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ، وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ»

“Dan beliau apabila Ruku’, tidak mengangkat kepalanya (lebih tinggi dari punggung) dan tidak pula terlalu menundukkannya, akan tetapi di antara keduanya (sejajar dengan punggung).” (HR. Muslim no. 498)

Hadits 18: Dzikir saat Ruku’

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Rodhiyallahu ‘Anhu (36 H), beliau berkata:

ثُمَّ رَكَعَ، فَجَعَلَ يَقُولُ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ»

“Beliau Ruku dan mengucapkan: ‘Subhana Robbi-yal ‘Azhim’ (Maha Suci Robb-ku Yang Maha Agung).” (HR. Muslim no. 772)

Hadits 19: I’tidal dan Mengangkat Tangan

Dari Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘Anhuma (73 H), beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، وَقَالَ: «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ»

“Rosulullah mengangkat kedua tangannya ketika mengangkat kepalanya dari Ruku’ hingga sejajar dengan kedua bahunya, dan beliau mengucapkan: ‘Sami’allahu liman hamidah’ (Alloh mendengar orang yang memuji-Nya).” (HR. Al-Bukhori no. 735 dan Muslim no. 390)

Hadits 20: Dzikir saat I’tidal

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata: Apabila Rosulullah bangkit dari Ruku membaca:

«رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ: اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ»

“Wahai Robb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki dari sesuatu setelah itu. Engkaulah pemilik pujian dan kemuliaan. Paling benar dari apa yang diucapkan oleh seorang hamba —dan kami semua adalah hamba-Mu: ‘Ya Alloh, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan kekayaan serta kedudukan tidak memberi manfaat di hadapan-Mu bagi siapa pun yang memilikinya.” (HR. Muslim no. 477)

Hadits 21: Turun Menuju Sujud (Mendahulukan Lutut)

Dari Wa’il bin Hujr Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:

«رَأَيْتُ النَّبِيَّ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ، وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ»

“Aku melihat Rosulullah apabila hendak Sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dan apabila bangkit (dari Sujud), beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” (HR. Abu Dawud no. 838)

Hadits ini diperselisihkan kevalidanya. Yang menilaihnya hasan: Al-Baghowi, Al-Bahuthi, Bin Baz, Syuaib Al-Arnauth.

Hadits ini menjadi pegangan utama dalam Madzhab Syafi’i dan Hanbali.

Adapun Madzhab Maliki dan dipilih Al-Albani: mendahulukan dua tangan ketika turun Sujud.

Hadits 22: Kewajiban Sujud pada Tujuh Anggota Badan

Dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhuma (68 H), Nabi bersabda:

«أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ-، وَاليَدَيْنِ، وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ»

“Aku diperintahkan untuk Sujud di atas tujuh tulang (anggota badan): Dahi -lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah hidung-, kedua tangan, kedua lutut, dan ujung jari-jemari kedua kaki.” (HR. Al-Bukhori no. 812 dan Muslim no. 490)

Hadits 23: Posisi Tangan dan Lengan saat Sujud

Dari Abdullah bin Malik bin Buhainah Rodhiyallahu ‘Anhu (56 H):

«أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ»

“Bahwasanya Nabi apabila Sholat (sedang Sujud), beliau merenggangkan kedua tangannya hingga terlihat putih ketiaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 390 dan Muslim no. 495)

Hadits 24: Dzikir saat Sujud

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Rodhiyallahu ‘Anhu (36 H), beliau menceritakan tentang Sholat Nabi :

ثُمَّ سَجَدَ، فَقَالَ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى»

“Lalu beliau mengucapkan di dalam Sujud-nya: ‘Subhana Robbi-yal A’la’ (Maha Suci Robb-ku Yang Maha Tinggi).” (HR. Muslim no. 772)

Hadits 25: Duduk di Antara Dua Sujud (Iftirosy)

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu, Nabi bersabda:

«ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا»

“Lalu Sujudlah hingga tenang dalam Sujud. Lalu bangkitlah hingga tenang dalam duduk. Lalu Sujudlah hingga tenang dalam Sujud.” (HR. Al-Bukhori no. 793)

Dari Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha (58 H) menceritakan sifat Sholat Nabi :

«وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ، وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى»

“Beliau mengucapkan ‘At-Tahiyyat’ pada setiap dua Rokaat, dan beliau menghamparkan (menduduki) kaki kirinya serta menegakkan kaki kanannya.” (HR. Muslim no. 498)

Hadits 26: Doa di Antara Dua Sujud

Dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhuma (68 H), bahwasanya Nabi biasa mengucapkan di antara dua Sujud:

«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَعَافِنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي»

“Ya Alloh, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah kekuranganku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rezeki.” (HSR. Abu Dawud no. 850)

Dalam riwayat At-Tirmidzi ada tambahan:

«وَاجْبُرْنِي»

“Tutupilah aibku.”

Dalam riwayat Ibnu Majah ada tambahan:

«وَارْفَعْنِي»

“Angkatlah derajatku.”

Hadits 27: Duduk Istirohah (Duduk Sejenak Sebelum Bangkit)

Dari Malik bin Al-Huwairits Rodhiyallahu ‘Anhu (74 H), beliau melihat Nabi Sholat, dan:

«فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا»

“Apabila beliau berada pada Rokaat yang ganjil dari Sholatnya, beliau tidak langsung bangkit hingga beliau duduk dengan tegak (duduk sejenak).” (HR. Al-Bukhori no. 823)

Ini adalah sunnah yang dikuatkan dalam Madzhab Syafi’i, dan dipilih Bin Baz dan Al-Albani.

Jumhur ulama berkata: hanya dilakukan jika dibutuhkan seperti gemuk, sakit, dan semisalnya.

Hadits 28: Bangkit dengan Bertumpu pada Tangan

Dari Malik bin Al-Huwairits Rodhiyallahu ‘Anhu (74 H) juga diriwayatkan:

«وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ عَنِ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الأَرْضِ، ثُمَّ قَامَ»

“Apabila beliau bangkit dari sujud kedua, duduk dan bertumpu (dengan tangannya) pada tanah/lantai lalu berdiri.” (HR. Al-Bukhori no. 824)

Hadits 29: Tasyahud Awal dan Posisi Duduknya

Dari Abdullah bin Zubair Rodhiyallahu ‘Anhu (73 H), beliau berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ، جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ، وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ»

“Adalah Rosulullah apabila duduk dalam Sholat (Tasyahud Awal), beliau menjadikan kaki kirinya di bawah paha dan betisnya, serta menghamparkan kaki kanannya. Dan meletakkan (telapak) tangan kirinya di lutut kirinya, dan meletakkan (telapak) tangan kanannya di paha kanannya lalu berisyarat dengan telunjuknya.” (HR. Muslim no. 579)

Ini menunjukkan sifat duduk Iftirosy.

Hadits 30: Menggerakkan Jari Telunjuk saat Tasyahud

Dari Wa’il bin Hujr Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau menceritakan tentang Tasyahud Nabi :

«ثُمَّ رَفَعَ أُصْبُعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا»

“Kemudian beliau mengangkat jarinya, maka aku melihat beliau menggerak-gerakkannya seraya berdoa dengannya.” (HSR. An-Nasa’i no. 1268)

Hadits ini menjadi landasan dalam tahrik (menggetarkan telunjuk) dan dipilih Al-Albani, meskipun Syafiiyah dan Hanabilah bahkan jumhur lebih cenderung hanya mengangkat tanpa menggerak-gerakkan secara terus-menerus.

Hadits 31: Bacaan Tasyahud (Riwayat Ibnu Mas’ud)

Dari Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu (32 H), beliau berkata: “ Rosulullah mengajarkan kepadaku Tasyahud... beliau bersabda: ucapkanlah:

«التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»

“Segala penghormatan hanya milik Alloh, juga segala Sholat dan kebaikan. Semoga salam sejahtera tercurah kepadamu wahai Nabi, serta rohmat Alloh dan keberkahan-Nya. Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Alloh yang sholih. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Alloh, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 6265 dan Muslim no. 402)

Ini adalah riwayat Tasyahud yang paling utama menurut Hanabilah dan Hanafiyah.

Malikiyyah memilih riwayat Umar. Syafiiyyah memilih riwayat Ibnu Abbas. Juga ada riwayat lain: Abu Musa, Ibnu Umar, dan Aisyah.

Sebagian ulama menguatkan: yang utama (عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ) diganti (عَلَى النَّبِيُّ) dan ini dipilih Ibnu Hajar dan Al-Abani.

Hadits 32: Sholawat kepada Nabi dalam Tasyahud

Dari Ka’ab bin ‘Ujroh Rodhiyallahu ‘Anhu (51 H), para Shohabat bertanya: “Wahai Rosulullah, kami telah mengetahui cara memberi salam kepadamu, lalu bagaimana cara kami bersholawat kepadamu?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

“Ya Alloh, berilah Sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, karena Engkau telah memberi Sholawat kepada keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Alloh, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, karena Engkau telah memberkahi keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al-Bukhori no. 6357 dan Muslim no. 406)

Hadits 33: Berdiri Menuju Rokaat Ketiga

Dari Nafi’ Rohimahullah (117 H), bahwasanya Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘Anhuma (73 H) apabila bangkit dari Rokaat kedua (menuju ke tiga), beliau mengangkat kedua tangannya, dan beliau menyandarkan perbuatan itu kepada Nabi :

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ»

“Bahwasanya Nabi apabila bangkit dari dua rokaat (Tasyahud Awal), beliau mengangkat kedua tangannya.” (HR. Al-Bukhori no. 739)

Ini dipilih Syafiiyyah dan Al-Bukhori condong kepadanya. Adapun jumhur, tidak menganjurkannya.

Hadits 34: Doa Qunut (Dalam Pandangan Syafiiyah)

Dari Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘Anhu (93 H), ketika beliau ditanya apakah Nabi melakukan Qunut dalam Sholat Shubuh, beliau menjawab:

«نَعَمْ، بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا»

“Ya, (beliau Qunut) setelah Ruku’ dalam waktu yang singkat (terus menerus hingga wafat).” (HR. Muslim no. 677)

Hadits ini menjadi landasan utama Madzhab Syafi’i untuk Qunut Shubuh.

Abu Hanifah dan Ahmad tidak menganjurkannya. Sementara Malik dan Syafii menganjurkannya.

Dari Al-Hasan bin Ali Rodhiyallahu ‘Anhuma (50 H), beliau berkata: “Rosulullah mengajariku kalimat-kalimat yang aku ucapkan dalam Witr (dan digunakan para fuqoha Syafiiyah dalam Qunut Shubuh):

«اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ»

“Ya Alloh, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang Engkau beri keselamatan, uruslah aku di antara orang-orang yang Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan, dan lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau-lah yang menetapkan hukum dan tidak ada yang menetapkan hukum atas-Mu. Sesungguhnya tidak akan terhina orang yang Engkau pimpin. Maha Suci Engkau, wahai Robb kami, dan Maha Tinggi Engkau.” (HSR. Abu Dawud no. 1425)

Dalam pelaksanaan Sholat Jamaah, Imam biasanya mengubah dhomir (kata ganti) menjadi bentuk jamak (seperti Ihdina - Berilah kami petunjuk) dan makmum mengaminkannya.

Hadits 35: Tasyahud Akhir dan Duduk Tawarruk

Dari Abu Humaid As-Sa’idi Rodhiyallahu ‘Anhu (60 H) menjelaskan sifat Sholat Nabi :

«إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ»

“Maka apabila sampai pada Sujud (roka’at) yang di dalamnya terdapat Salam (Tasyahud Akhir), beliau menggeser kaki kirinya ke belakang (ke bawah kaki kanan) dan duduk secara Tawarruk (menduduki lantai) pada sisi kirinya.” (HR. Abu Dawud no. 730 dan Al-Bukhori no. 828)

Hadits 36: Doa Perlindungan Sebelum Salam

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu (57 H), Rosulullah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian selesai membaca Tasyahud (Akhir), hendaknya ia memohon perlindungan kepada Alloh dari empat perkara dengan membaca:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ»

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)

Hadits 37: Salam Pertama dan Kedua

Dari Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu (32 H):

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ»

“Bahwasanya Nabi mengucapkan Salam ke arah kanan dan ke arah kirinya (dengan ucapan): ‘As-Salamu ‘Alaikum wa Rahmatullah, As-Salamu ‘Alaikum wa Rahmatullah’.” (HSR. At-Tirmidzi no. 295)

Hadits 38: Menoleh saat Salam

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh Rodhiyallahu ‘Anhu (55 H), beliau berkata:

«كُنْتُ أَرَى رَسُولَ اللهِ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ، وَعَنْ يَسَارِهِ، حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ»

“Aku melihat Rosulullah mengucapkan Salam ke arah kanan dan ke arah kirinya, hingga aku melihat putih pipinya.” (HR. Muslim no. 582)

Hadits 39: Tuma’ninah dalam Setiap Gerakan

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu (57 H) dalam hadits tentang orang yang salah Sholat-nya (musi’us sholah), Rosulullah bersabda:

«ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا»

“Kemudian Ruku’lah sampai kamu tenang (Tuma’ninah) dalam Ruku’, lalu bangkitlah sampai kamu berdiri tegak (I’tidal), kemudian Sujudlah sampai kamu tenang dalam Sujud. Lalu bangkitlah sampai kamu duduk dengan thuma’ninah. Jadikan semua Sholatmu seperti itu.” (HR. Al-Bukhori no. 757 dan Muslim no. 397)

Hadits 40: Dzikir Setelah Sholat

Dari Tsauban Rodhiyallahu ‘Anhu (54 H), beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ، إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ: «اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»

“Rosulullah apabila selesai dari Sholatnya (Salam), beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan: ‘Allohumma Antas Salam wa Minkas Salam, Tabarokta Dzal Jalali wal Ikrom’ (Ya Alloh, Engkau adalah As-Salam (Yang Maha Sejahtera), dari-Mu lah kesejahteraan, Maha Suci Engkau Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).” (HR. Muslim no. 591)

Penutup

Demikianlah risalah Arbain Sifat Sholat Nabi yang menghimpun 40 hadits shohih sebagai panduan praktis ibadah Sholat. Dengan merujuk pada hadits-hadits pokok yang menjadi sandaran Madzhab Syafi’i dan Hanbali ini, diharapkan kita dapat meraih kesempurnaan dalam ibadah yang merupakan tiang agama ini.

Semoga Alloh Robb semesta alam menerima amal ibadah kita dan menjadikannya ikhlas semata-mata mengharap wajah-Nya. Segala kebenaran datangnya dari Alloh, dan segala kekhilafan datangnya dari hamba-Nya yang faqir.

Selesai disusun dengan taufiq dari Alloh.[]


Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url