[PDF] 40 Hadits Sifat Sholat Nabi - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat serta
salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ,
keluarga, para Shohabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Risalah singkat ini menghimpun 40 Hadits shohih mengenai
tata cara Sholat Nabi ﷺ, disusun secara
berurutan mulai dari Takbir hingga Salam. Pemilihan Hadits didasarkan pada
riwayat-riwayat pokok yang menjadi pondasi hukum bagi para fuqoha (ahli fiqih),
khususnya dalam Madzhab Syafi’i dan Hanbali. Tujuan dari penyusunan ini adalah
agar setiap Muslim dapat menunaikan ibadah Sholat sesuai dengan petunjuk
beliau, sebagaimana sabdanya: “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat
aku Sholat.”
Hadits 1:
Kewajiban Mengikuti Sifat Sholat Nabi ﷺ
Dari Malik bin Al-Huwairits Rodhiyallahu ‘Anhu (74
H), Nabi ﷺ bersabda:
«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي
أُصَلِّي»
“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.” (HR.
Al-Bukhori no. 631)
Hadits 2: Niat dalam Sholat
Dari Umar bin Al-Khotthob Rodhiyallahu ‘Anhu (23 H), Nabi
ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ،
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya, dan
setiap orang mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1
dan Muslim no. 1907)
Hadits 3: Berdiri bagi yang Mampu
Dari ‘Imron bin Hushoin Rodhiyallahu ‘Anhu (52 H), Nabi
ﷺ bersabda kepadaku:
«صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ
لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ»
“Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan
duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring menyamping.” (HR. Al-Bukhori
no. 1117)
Hadits 4: Sutroh
(Pembatas) dalam Sholat
Dari Abu Said Al-Khudri Rodhiyallahu ‘Anhu (74 H), Nabi
ﷺ bersabda:
«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ
فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا»
“Jika salah seorang di antara kalian Sholat, hendaknya ia
Sholat menghadap sutroh (pembatas) dan mendekatlah kepadanya.” (HSR. Abu
Dawud no. 698)
Hadits 5:
Kewajiban Takbirotul Ihrom
Dari Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘Anhu (40 H), Nabi
ﷺ bersabda:
«مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ،
وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ»
“Kunci Sholat adalah bersuci, pengharomannya (dimulainya) adalah Takbir, dan
penghalalannya (diakhirinya) adalah Salam.” (HSR. Abu Dawud no. 61)
Hadits 6: Mengangkat Kedua Tangan
saat Takbir
Dari Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘Anhuma (73 H),
beliau berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا
افْتَتَحَ الصَّلاَةَ
“Bahwasanya Rosulullah ﷺ
mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya ketika membuka Sholat (Takbirotul
Ihrom).” (HR. Al-Bukhori no. 735 dan Muslim no. 390)
Hadits 7: Meletakkan Tangan Kanan
di Atas Tangan Kiri (Sedekap)
Dari Sahl bin Sa’ad Rodhiyallahu ‘Anhu (88 H), beliau
berkata:
«كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ
أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ اليَدَ اليُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ اليُسْرَى فِي الصَّلاَةِ»
“Dahulu orang-orang diperintahkan agar seseorang meletakkan
tangan kanannya di atas lengan kirinya dalam Sholat.” (HR. Al-Bukhori no.
740)
Hadits 8: Tempat Meletakkan Tangan
(Dada)
Dari Wa’il bin Hujr Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau
berkata:
«صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ»
“Aku Sholat bersama Rosulullah ﷺ
dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.” (HR.
Ibnu Khuzaimah no. 479)
Al-Albani
berkata: Sanadnya lemah tetapi Hadits
ini adalah shohih
dilihat dari banyak jalur yang semakna, serta tambahan “meletakkannya di dada”.
Maka Al-Albani berpendapat diletakkan di dada.
Hadits ini menjadi landasan meskipun para fuqoha berbeda
pendapat mengenai letak pastinya; Syafiiyah di bawah dada di atas pusar,
sedangkan Hanabilah di bawah pusar.
Hadits 9: Pandangan Mata ke Tempat
Sujud
Dari Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘Anhu (93 H),
bahwasanya Rosulullah ﷺ bersabda:
«مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ
أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلاَتِهِمْ، لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ
أَبْصَارُهُمْ»
“Ada apa dengan kaum yang mengangkat pandangan mereka ke
langit dalam Sholat mereka?
Mereka berhenti dari hal itu akan mata mereka dijadikan buta?!” (HR.
Al-Bukhori no. 750)
Banyak
fuqoha mengambil kesimpulan dari larangan ini bahwa pandangan yang disunnahkan
adalah menunduk ke arah tempat Sujud.
Hadits 10: Doa
Istiftah
Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu (57 H), beliau
berkata bahwa Rosulullah ﷺ biasanya diam sejenak
antara Takbir dan bacaan Al-Fatihah, lalu beliau ﷺ
membaca:
«اللهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي
وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللهُمَّ نَقِّنِي
مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللهُمَّ اغْسِلْنِي
مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ»
“Ya Alloh, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana
Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Alloh, bersihkanlah aku dari
kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Alloh, cucilah
aku dari kesalahanku dengan salju, air, dan air es.” (HR. Muslim no. 598 dan Al-Bukhori no. 744)
Umar
mengeraskan bacaan ini (dalam iftitah):
«سُبْحَانَكَ
اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، تَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ»
“Mahasuci
Engkau ya Alloh disertai pujian atas-Mu. Mahaberkah nama-Mu, Mahatinggi
kemulian-Mu, tidak ada yang berhak disembah selain-Mu.” (HR. Muslim no. 399)
Doa Umar ini dipilih kebanyakan ulama (Hanafiyah dan Hanabilah) dan
dipilih Ibnu Taimiyyah.
Hadits 11: Membaca Isti’adzah
Dari Abu
Said Al-Khudri Rodhiyallahu ‘Anhu (74 H), beliau menceritakan bahwa Nabi
ﷺ sebelum membaca (Al-Fatihah) mengucapkan:
«أَعُوذُ
بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ،
وَنَفْثِهِ»
“Aku
berlindung kepada Alloh Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaithan
yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan hembusan syairnya yang
buruk.” (HSR. Abu Dawud no. 775)
Hadits 12: Membaca Basmalah
Dari Nu’aim
Al-Mujmir Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Aku Sholat di belakang
Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu (57 H), maka beliau membaca:
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
lalu membaca Al-Fatihah... (di akhir Hadits beliau berkata):
«وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهُ ﷺ»
‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku
adalah orang yang paling mirip Sholat-nya dengan Rosulullah ﷺ’.”
(HR. An-Nasa’i no. 906)
Statusnya
diperselisihkan. Yang menilaihnya shohih seperti Ibnu Khuzaimah, Daruquthni,
Shiddiq Hasan Khon.
Asy-Syafii
berpendapat: wajib dibaca. Kebanyakan ulama berpendapat: sunnah dibaca. Menurut
Asy-Syafii: dibaca keras, menurut kebanyakan ulama: dibaca lirih.
Hadits 13: Kewajiban Membaca
Al-Fatihah
Dari ‘Ubadah
bin Ash-Shomit Rodhiyallahu ‘Anhu (34 H), bahwasanya Rosulullah ﷺ bersabda:
«لَا
صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ»
“Tidak sah
Sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).” (HR.
Al-Bukhori no. 756 dan Muslim no. 394)
Hadits 14: Membaca Amin Setelah
Al-Fatihah
Dari Abu
Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu (57 H), bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا
أَمَّنَ الإِمَامُ، فَأَمِّنُوا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ المَلاَئِكَةِ
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Jika Imam
mengucapkan ‘Amin’, maka ucapkanlah ‘Amin’. Karena barangsiapa yang ucapan
aminnya bersamaan dengan aminnya para Malaikat, maka diampuni dosa-dosanya yang
telah lalu.” (HR. Al-Bukhori no. 780 dan Muslim no. 410)
Hadits 15: Membaca Surat Setelah
Al-Fatihah
Dari Abu
Qotadah Rodhiyallahu ‘Anhu (54 H), beliau berkata:
«كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ
مِنْ صَلاَةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ، وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ فِي الأُولَى،
وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ»
“Nabi ﷺ membaca Al-Fatihah dan dua surat pada dua rokaat pertama Sholat
Zhuhur. Beliau memanjangkan pada rokaat pertama dan memendekkan pada rokaat
kedua.” (HR. Al-Bukhori no. 759 dan Muslim no. 451)
Hadits 16: Ruku’ dan Meletakkan
Tangan di Lutut
Dari Abu
Humaid As-Sa’idi Rodhiyallahu ‘Anhu (60 H) saat menjelaskan sifat Sholat
Nabi ﷺ:
«وَإِذَا
رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ»
“Dan
apabila beliau Ruku’, beliau memegang kedua lututnya dengan kedua tangannya,
kemudian meratakan punggungnya.” (HR. Al-Bukhori no. 828)
Hadits 17: Meratakan Punggung saat
Ruku’
Dari Aisyah
Rodhiyallahu ‘Anha (58 H) menceritakan cara Sholat Nabi ﷺ:
«وَكَانَ
إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ، وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ»
“Dan beliau
apabila Ruku’, tidak mengangkat kepalanya (lebih tinggi dari punggung) dan
tidak pula terlalu menundukkannya, akan tetapi di antara keduanya (sejajar
dengan punggung).” (HR. Muslim no. 498)
Hadits 18: Dzikir saat Ruku’
Dari
Hudzaifah bin Al-Yaman Rodhiyallahu ‘Anhu (36 H), beliau berkata:
ثُمَّ
رَكَعَ، فَجَعَلَ يَقُولُ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ»
“Beliau
Ruku dan mengucapkan: ‘Subhana Robbi-yal ‘Azhim’ (Maha Suci Robb-ku Yang
Maha Agung).” (HR. Muslim no. 772)
Hadits 19: I’tidal dan Mengangkat
Tangan
Dari
Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘Anhuma (73 H), beliau berkata:
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ
إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، وَقَالَ: «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ،
رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ»
“Rosulullah
ﷺ mengangkat kedua tangannya ketika mengangkat kepalanya dari
Ruku’ hingga sejajar dengan kedua bahunya, dan beliau mengucapkan: ‘Sami’allahu
liman hamidah’ (Alloh mendengar orang yang memuji-Nya).” (HR. Al-Bukhori
no. 735 dan Muslim no. 390)
Hadits 20: Dzikir saat I’tidal
Dari Abu
Sa’id Al-Khudri, ia berkata: Apabila Rosulullah ﷺ
bangkit dari Ruku membaca:
«رَبَّنَا
لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ
بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ
عَبْدٌ: اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا
يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ»
“Wahai
Robb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh apa pun
yang Engkau kehendaki dari sesuatu setelah itu. Engkaulah pemilik pujian dan
kemuliaan. Paling benar dari apa yang diucapkan oleh seorang hamba —dan kami
semua adalah hamba-Mu: ‘Ya Alloh, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang
Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan
kekayaan serta kedudukan tidak memberi manfaat di hadapan-Mu bagi siapa pun
yang memilikinya.” (HR. Muslim no. 477)
Hadits 21: Turun Menuju Sujud
(Mendahulukan Lutut)
Dari Wa’il
bin Hujr Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:
«رَأَيْتُ
النَّبِيَّ ﷺ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ
يَدَيْهِ، وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ»
“Aku melihat Rosulullah ﷺ
apabila hendak Sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.
Dan apabila bangkit (dari Sujud), beliau mengangkat kedua tangannya sebelum
kedua lututnya.” (HR. Abu Dawud no. 838)
Hadits ini
diperselisihkan kevalidanya. Yang menilaihnya hasan: Al-Baghowi, Al-Bahuthi,
Bin Baz, Syuaib Al-Arnauth.
Hadits ini menjadi pegangan utama dalam Madzhab Syafi’i dan
Hanbali.
Adapun
Madzhab Maliki dan dipilih Al-Albani: mendahulukan dua tangan ketika turun
Sujud.
Hadits 22: Kewajiban Sujud pada Tujuh
Anggota Badan
Dari Ibnu
Abbas Rodhiyallahu ‘Anhuma (68 H), Nabi ﷺ
bersabda:
«أُمِرْتُ
أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى
أَنْفِهِ-، وَاليَدَيْنِ، وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ»
“Aku diperintahkan
untuk Sujud di atas tujuh tulang (anggota badan): Dahi -lalu beliau
mengisyaratkan dengan tangannya ke arah hidung-, kedua tangan, kedua lutut, dan
ujung jari-jemari kedua kaki.” (HR. Al-Bukhori no. 812 dan Muslim no. 490)
Hadits 23: Posisi Tangan dan
Lengan saat Sujud
Dari
Abdullah bin Malik bin Buhainah Rodhiyallahu ‘Anhu (56 H):
«أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ
حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ»
“Bahwasanya
Nabi ﷺ apabila Sholat (sedang Sujud), beliau merenggangkan kedua
tangannya hingga terlihat putih ketiaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 390 dan
Muslim no. 495)
Hadits 24: Dzikir saat Sujud
Dari
Hudzaifah bin Al-Yaman Rodhiyallahu ‘Anhu (36 H), beliau menceritakan
tentang Sholat Nabi ﷺ:
ثُمَّ
سَجَدَ، فَقَالَ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى»
“Lalu
beliau ﷺ mengucapkan di dalam Sujud-nya: ‘Subhana Robbi-yal A’la’
(Maha Suci Robb-ku Yang Maha Tinggi).” (HR. Muslim no. 772)
Hadits 25: Duduk di Antara Dua
Sujud (Iftirosy)
Dari Abu
Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«ثُمَّ
اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا،
ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا»
“Lalu
Sujudlah hingga tenang dalam Sujud. Lalu bangkitlah hingga tenang dalam duduk.
Lalu Sujudlah hingga tenang dalam Sujud.” (HR. Al-Bukhori no. 793)
Dari Aisyah
Rodhiyallahu ‘Anha (58 H) menceritakan sifat Sholat Nabi ﷺ:
«وَكَانَ
يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ، وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى
وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى»
“Beliau
mengucapkan ‘At-Tahiyyat’ pada setiap dua Rokaat, dan beliau menghamparkan
(menduduki) kaki kirinya serta menegakkan kaki kanannya.” (HR. Muslim no.
498)
Hadits 26: Doa di Antara Dua Sujud
Dari Ibnu
Abbas Rodhiyallahu ‘Anhuma (68 H), bahwasanya Nabi ﷺ biasa mengucapkan di antara dua Sujud:
«اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَعَافِنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي»
“Ya Alloh,
ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah kekuranganku, berilah aku petunjuk,
dan berilah aku rezeki.” (HSR. Abu Dawud no. 850)
Dalam
riwayat At-Tirmidzi ada tambahan:
«وَاجْبُرْنِي»
“Tutupilah
aibku.”
Dalam
riwayat Ibnu Majah ada tambahan:
«وَارْفَعْنِي»
“Angkatlah
derajatku.”
Hadits 27: Duduk Istirohah (Duduk
Sejenak Sebelum Bangkit)
Dari Malik
bin Al-Huwairits Rodhiyallahu ‘Anhu (74 H), beliau melihat Nabi ﷺ Sholat, dan:
«فَإِذَا
كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا»
“Apabila
beliau berada pada Rokaat yang ganjil dari Sholatnya, beliau tidak langsung
bangkit hingga beliau duduk dengan tegak (duduk sejenak).” (HR. Al-Bukhori
no. 823)
Ini adalah
sunnah yang dikuatkan dalam Madzhab Syafi’i, dan dipilih Bin Baz dan Al-Albani.
Jumhur
ulama berkata: hanya dilakukan jika dibutuhkan seperti gemuk, sakit, dan
semisalnya.
Hadits 28: Bangkit dengan Bertumpu
pada Tangan
Dari Malik
bin Al-Huwairits Rodhiyallahu ‘Anhu (74 H) juga diriwayatkan:
«وَإِذَا
رَفَعَ رَأْسَهُ عَنِ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الأَرْضِ،
ثُمَّ قَامَ»
“Apabila
beliau bangkit dari sujud kedua, duduk dan bertumpu (dengan tangannya) pada
tanah/lantai lalu berdiri.” (HR. Al-Bukhori no. 824)
Hadits 29: Tasyahud Awal dan
Posisi Duduknya
Dari
Abdullah bin Zubair Rodhiyallahu ‘Anhu (73 H), beliau berkata:
«كَانَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ، جَعَلَ قَدَمَهُ
الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ، وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى، وَوَضَعَ يَدَهُ
الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ
الْيُمْنَى، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ»
“Adalah
Rosulullah ﷺ apabila duduk dalam Sholat (Tasyahud Awal), beliau menjadikan
kaki kirinya di bawah paha dan betisnya, serta menghamparkan kaki kanannya. Dan
meletakkan (telapak) tangan kirinya di lutut kirinya, dan meletakkan (telapak)
tangan kanannya di paha kanannya lalu berisyarat dengan telunjuknya.” (HR.
Muslim no. 579)
Ini menunjukkan sifat duduk Iftirosy.
Hadits 30: Menggerakkan Jari
Telunjuk saat Tasyahud
Dari Wa’il
bin Hujr Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau menceritakan tentang Tasyahud Nabi ﷺ:
«ثُمَّ
رَفَعَ أُصْبُعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا»
“Kemudian beliau mengangkat jarinya, maka aku melihat beliau
menggerak-gerakkannya seraya berdoa dengannya.” (HSR. An-Nasa’i no. 1268)
Hadits ini menjadi landasan dalam tahrik
(menggetarkan telunjuk) dan dipilih Al-Albani, meskipun Syafiiyah dan Hanabilah
bahkan jumhur lebih cenderung hanya mengangkat tanpa menggerak-gerakkan secara
terus-menerus.
Hadits 31: Bacaan Tasyahud
(Riwayat Ibnu Mas’ud)
Dari
Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu (32 H), beliau berkata: “
Rosulullah ﷺ mengajarkan kepadaku Tasyahud... beliau bersabda: ucapkanlah:
«التَّحِيَّاتُ
لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ،
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»
“Segala
penghormatan hanya milik Alloh, juga segala Sholat dan kebaikan. Semoga salam
sejahtera tercurah kepadamu wahai Nabi, serta rohmat Alloh dan keberkahan-Nya.
Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Alloh yang
sholih. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Alloh,
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya.” (HR. Al-Bukhori
no. 6265 dan Muslim no. 402)
Ini adalah
riwayat Tasyahud yang paling utama menurut Hanabilah dan Hanafiyah.
Malikiyyah
memilih riwayat Umar. Syafiiyyah memilih riwayat Ibnu Abbas. Juga ada riwayat
lain: Abu Musa, Ibnu Umar, dan Aisyah.
Sebagian
ulama menguatkan: yang utama (عَلَيْكَ
أَيُّهَا النَّبِيُّ)
diganti (عَلَى النَّبِيُّ) dan ini dipilih Ibnu Hajar dan Al-Abani.
Hadits 32: Sholawat kepada Nabi ﷺ dalam Tasyahud
Dari Ka’ab
bin ‘Ujroh Rodhiyallahu ‘Anhu (51 H), para Shohabat bertanya: “Wahai
Rosulullah, kami telah mengetahui cara memberi salam kepadamu, lalu bagaimana
cara kami bersholawat kepadamu?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah:
«اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»
“Ya Alloh,
berilah Sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, karena Engkau telah
memberi Sholawat kepada keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi
Maha Mulia. Ya Alloh, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, karena Engkau
telah memberkahi keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha
Mulia.” (HR. Al-Bukhori no. 6357 dan Muslim no. 406)
Hadits 33: Berdiri Menuju Rokaat
Ketiga
Dari Nafi’ Rohimahullah
(117 H), bahwasanya Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘Anhuma (73 H)
apabila bangkit dari Rokaat kedua (menuju ke tiga), beliau mengangkat kedua
tangannya, dan beliau menyandarkan perbuatan itu kepada Nabi ﷺ:
«أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ»
“Bahwasanya
Nabi ﷺ apabila bangkit dari dua rokaat (Tasyahud Awal), beliau
mengangkat kedua tangannya.” (HR. Al-Bukhori no. 739)
Ini dipilih
Syafiiyyah dan Al-Bukhori condong kepadanya. Adapun jumhur, tidak
menganjurkannya.
Hadits 34: Doa Qunut (Dalam
Pandangan Syafiiyah)
Dari Anas
bin Malik Rodhiyallahu ‘Anhu (93 H), ketika beliau ditanya apakah Nabi ﷺ melakukan Qunut dalam Sholat Shubuh, beliau menjawab:
«نَعَمْ،
بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا»
“Ya, (beliau Qunut) setelah Ruku’ dalam waktu yang singkat
(terus menerus hingga wafat).” (HR. Muslim no. 677)
Hadits ini menjadi landasan utama Madzhab Syafi’i untuk
Qunut Shubuh.
Abu Hanifah
dan Ahmad tidak menganjurkannya. Sementara Malik dan Syafii menganjurkannya.
Dari Al-Hasan bin Ali Rodhiyallahu ‘Anhuma (50 H),
beliau berkata: “Rosulullah ﷺ
mengajariku kalimat-kalimat yang aku ucapkan dalam Witr (dan digunakan para
fuqoha Syafiiyah dalam Qunut Shubuh):
«اللَّهُمَّ
اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ،
وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا
يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ،
تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ»
“Ya Alloh,
berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berilah
aku keselamatan di antara orang-orang yang Engkau beri keselamatan, uruslah aku
di antara orang-orang yang Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah
Engkau berikan, dan lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau
tetapkan. Sesungguhnya Engkau-lah yang menetapkan hukum dan tidak ada yang
menetapkan hukum atas-Mu. Sesungguhnya tidak akan terhina orang yang Engkau
pimpin. Maha Suci Engkau, wahai Robb kami, dan Maha Tinggi Engkau.” (HSR.
Abu Dawud no. 1425)
Dalam
pelaksanaan Sholat Jamaah, Imam biasanya mengubah dhomir (kata ganti)
menjadi bentuk jamak (seperti Ihdina - Berilah kami petunjuk) dan makmum
mengaminkannya.
Hadits 35: Tasyahud Akhir dan
Duduk Tawarruk
Dari Abu
Humaid As-Sa’idi Rodhiyallahu ‘Anhu (60 H) menjelaskan sifat Sholat Nabi
ﷺ:
«إِذَا
كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ
مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ»
“Maka
apabila sampai pada Sujud (roka’at) yang di dalamnya terdapat Salam (Tasyahud
Akhir), beliau menggeser kaki kirinya ke belakang (ke bawah kaki kanan) dan
duduk secara Tawarruk (menduduki lantai) pada sisi kirinya.” (HR. Abu Dawud
no. 730 dan Al-Bukhori no. 828)
Hadits 36: Doa Perlindungan
Sebelum Salam
Dari Abu
Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu (57 H), Rosulullah ﷺ
bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian selesai membaca Tasyahud
(Akhir), hendaknya ia memohon perlindungan kepada Alloh dari empat perkara
dengan membaca:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ
الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ»
“Ya Alloh,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari
fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.”
(HR. Muslim no. 588)
Hadits 37: Salam Pertama dan Kedua
Dari
Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu (32 H):
«أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ»
“Bahwasanya
Nabi ﷺ mengucapkan Salam ke arah kanan dan ke arah kirinya (dengan
ucapan): ‘As-Salamu ‘Alaikum wa Rahmatullah, As-Salamu ‘Alaikum wa
Rahmatullah’.” (HSR. At-Tirmidzi no. 295)
Hadits 38: Menoleh saat Salam
Dari Sa’ad
bin Abi Waqqosh Rodhiyallahu ‘Anhu (55 H), beliau berkata:
«كُنْتُ
أَرَى رَسُولَ اللهِ ﷺ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ، وَعَنْ يَسَارِهِ،
حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ»
“Aku
melihat Rosulullah ﷺ mengucapkan Salam ke arah
kanan dan ke arah kirinya, hingga aku melihat putih pipinya.” (HR. Muslim
no. 582)
Hadits 39: Tuma’ninah dalam Setiap
Gerakan
Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu (57 H) dalam
hadits tentang orang yang salah Sholat-nya (musi’us sholah), Rosulullah ﷺ
bersabda:
«ثُمَّ
ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ
اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا،
وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا»
“Kemudian
Ruku’lah sampai kamu tenang (Tuma’ninah) dalam Ruku’, lalu bangkitlah sampai
kamu berdiri tegak (I’tidal), kemudian Sujudlah sampai kamu tenang dalam Sujud.
Lalu bangkitlah sampai kamu duduk dengan thuma’ninah. Jadikan semua Sholatmu
seperti itu.” (HR. Al-Bukhori no. 757 dan Muslim no. 397)
Hadits 40: Dzikir Setelah Sholat
Dari
Tsauban Rodhiyallahu ‘Anhu (54 H), beliau berkata:
كَانَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ، إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ
ثَلَاثًا وَقَالَ: «اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا
الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»
“Rosulullah
ﷺ apabila selesai dari Sholatnya (Salam), beliau beristighfar
tiga kali dan mengucapkan: ‘Allohumma Antas Salam wa Minkas Salam, Tabarokta
Dzal Jalali wal Ikrom’ (Ya Alloh, Engkau adalah As-Salam (Yang Maha
Sejahtera), dari-Mu lah kesejahteraan, Maha Suci Engkau Wahai Pemilik Keagungan
dan Kemuliaan).” (HR. Muslim no. 591)
Penutup
Demikianlah risalah Arbain Sifat Sholat Nabi ﷺ yang menghimpun 40 hadits shohih sebagai
panduan praktis ibadah Sholat. Dengan merujuk pada hadits-hadits pokok yang
menjadi sandaran Madzhab Syafi’i dan Hanbali ini, diharapkan kita dapat meraih
kesempurnaan dalam ibadah yang merupakan tiang agama ini.
Semoga Alloh
Robb semesta alam menerima amal ibadah kita dan menjadikannya ikhlas
semata-mata mengharap wajah-Nya. Segala kebenaran datangnya dari Alloh, dan
segala kekhilafan datangnya dari hamba-Nya yang faqir.
Selesai
disusun dengan taufiq dari Alloh.[]
