[PDF] Makki dan Madani dalam Al-Quran - Dr. Muhammad bin Abdurrohman Asy-Syaayi'
Berikut ini
adalah rangkuman buku “Makki dan Madani dalam Al-Qur’an” dan PDFnya bisa Anda unduh
di link di bawah.
Sungguh, ilmu Makki dan Madani dalam Al-Qur'an Al-Karim
merupakan topik yang amat penting dan mendapat perhatian besar dari para ulama.
Ilmu ini memiliki pengaruh sangat besar dalam Tafsir karena menjadi tiang dasar
dalam mengetahui sejarah turunnya ayat, mana yang lebih dahulu dan belakangan,
hingga dapat diketahui An-Nasikh wal Mansukh (hukum yang menghapus dan
yang dihapus), serta hukum-hukum yang telah ditetapkan secara final.
Bab Maksud Makki dan Madani
Para ulama memiliki tiga pertimbangan utama dalam menentukan
suatu ayat atau suroh itu Makki atau Madani:
Pertimbangan Tempat: Makki adalah ayat yang turun di
Makkah dan wilayah sekitarnya, meskipun itu terjadi setelah hijroh Nabi ﷺ. Madani adalah ayat
yang turun di Madinah dan wilayah sekitarnya.
Pertimbangan Lawan Bicara (Mukhothob): Makki adalah
pembicaraan yang ditujukan bagi penduduk Makkah. Ciri umumnya adalah diawali
dengan lafal { يَا أَيُّهَا
النَّاسُ } "Wahai sekalian manusia". Sementara itu, Madani
adalah pembicaraan yang ditujukan bagi penduduk Madinah. Ciri umumnya diawali
dengan { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
} "Wahai orang-orang yang beriman".
Pertimbangan Waktu (Zaman): Pertimbangan ini adalah
yang paling masyhur dan dipakai oleh jumhur ulama, karena lebih akurat dan
konsisten. Makki adalah apa saja yang turun sebelum Hijroh Nabi ﷺ ke Madinah. Sedangkan
Madani adalah apa saja yang turun setelah Hijroh. Contohnya: Ayat yang turun di
Arofah seperti
﴿ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
﴾
"Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu, dan
telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam itu sebagai
agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3)
Ayat ini digolongkan Madaniyyah karena turun setelah peristiwa
Hijroh.
Bab Cara Mengetahui Makki Dan Madani
Untuk mengetahui apakah suatu ayat atau suroh itu Makki atau
Madani, ada dua cara:
Sama’ dan Naql: Yaitu penukilan yang shohih dari para
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum atau para Tabi’in. Mereka adalah saksi yang
menyaksikan kondisi dan sebab turunnya wahyu, sementara Tabiin adalah manusia
terpercaya yang amanah mengambilnya dari Shohabat.
Qiyas dan Ijtihad: Ilmu ini juga melibatkan ijtihad
para ulama, yang mendasarkan penetapan Makki dan Madani pada kaidah-kaidah yang
telah mereka tentukan. Oleh karena itu, terkadang bisa terjadi perselisihan
pendapat pada sebagian ayat atau suroh.
Bab Karakteristik Utama
1. Karakteristik Makkiyyah
Gaya Bahasa: Umumnya ayat-ayatnya pendek, ringkas,
memiliki ungkapan yang kuat dan menggugah jiwa, serta sering mengandung sumpah
(qosam) dan lafal “كَلَّا” sebagai hardikan atau peringatan keras.
Tema Utama: Fokus utama adalah pada masalah akidah
atau pokok-pokok agama, seperti mengesakan Alloh ﷻ, keimanan kepada
Rosul dan hari kebangkitan atau Akhiroh, serta bantahan tegas terhadap
kesyirikan.
Panggilan Khas: Umumnya menggunakan panggilan { يَا أَيُّهَا النَّاسُ } "Wahai
sekalian manusia".
Isu Sosial: Jarang membahas masalah hukum-hukum
syariat secara rinci, dan tidak membahas orang-orang munafik.
2. Karakteristik Madaniyyah
Gaya Bahasa: Umumnya ayat-ayatnya lebih panjang dan
lebih terperinci dalam menjelaskan hukum-hukum.
Tema Utama: Fokus utama adalah pada perincian syariat
(hukum-hukum), seperti hukum Zakat, Puasa, Haji, Jihad, hukum keluarga,
perdata, dan muamalah.
Panggilan Khas: Umumnya menggunakan panggilan { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
} "Wahai orang-orang yang beriman", dan juga sering memanggil { يَا أَهْلَ الْكِتَابِ } "Wahai Ahli
Kitab" untuk berdialog dengan mereka.
Isu Sosial: Banyak berbicara tentang orang-orang
munafik yang mulai muncul di Madinah dan juga sering berisi perdebatan dengan
Ahli Kitab.
