[PDF] Mungkinkah Aku Hafal Satu Juta Hadits Seperti Imam Ahmad - Edisi 2
Abu Zur’ah
ar-Rozi berkata:
«كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْفَظُ أَلْفَ أَلْفِ حَدِيثٍ»
“Ahmad bin Hanbal hafal satu juta Hadits.”
Muqoddimah
﷽
Segala puji milik Alloh yang telah menurunkan Al-Qur’an
sebagai pedoman dan sumber ilmu.
Semoga sholawat dan salam sampai kepada Rosululloh
ﷺ yang membimbing umat dengan Hadits-Haditsnya,
kepada keluarganya, para Shohabatnya, serta para Ulama yang menjaga Hadits-Hadits
dalam dada mereka, kitab mereka, dan amal mereka hingga sampai kepada
umat-umat.
Amma ba’du:
Kita sekarang ini
sedang berada di suatu zaman di mana nyala api menuntut ilmu mulai redup,
syubhat pemikiran sesat makin hidup, dan syahwat pesona wanita makin kencang
mendegup. Fitnah-fitnah ini dari segala penjuru menyelundup. Siapa yang tidak
punya benteng, ia akan celaka seumur hidup.
Sebaik-baik benteng
adalah ilmu. Namun demikian, banyak yang tidak berhasrat memburu. Maka, mereka memerlukan penyulut untuk membesarkan nyala
api yang hampir padam itu.
Kebanyakan manusia masa kini sibuk dengan
proyek-proyek dunia mereka lalu mereka pun mendapatkannya tetapi dengan
kerelaan kehilangan megaproyek Akhirohnya. Mereka tidak lagi berhasrat untuk
menghafal Hadits karena kesamaran kemuliaan mereka yang ditutupi syaithon.
Namun, akan tetap ada di setiap zaman orang-orang yang tegak di atas jalan Hadits
yang tidak akan memudhorotkan mereka orang-orang yang jahat dan memusuhi
mereka. Mereka akan tetap ada di setiap zaman, terserah apakah ahli dunia itu
ikut bergabung ataukah tidak???
Mereka adalah sebaik-baik manusia karena
menjadi penyambung antara umat dan syariat yang diturunkan Alloh kepada Rosululloh
ﷺ.
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shohihnya,
“Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepadaku
Ya’qub bin Ibrohim, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ibnu Syihab, dari
Amir bin Watsilah bahwa Nafi’ bin Abdul Harits bertemu Umar di Usfan, sementara
Umar telah mengangkatnya sebagai gubernur bagi penduduk Makkah. Umar bertanya:
مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِي؟
فَقَالَ: ابْنَ أَبْزَى، قَالَ: وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى؟ قَالَ: مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا،
قَالَ: فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى؟ قَالَ: إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللّٰهِ
عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ، قَالَ عُمَرُ: أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ
ﷺ قَدْ قَالَ: «إِنَّ اللّٰهَ يَرْفَعُ بِهَذَا
الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ»
‘Siapakah yang kamu angkat untuk memimpin
penduduk lembah?’ Dia menjawab, ‘Ibnu Abza.’ Umar bertanya, ‘Siapa Ibnu Abza
itu?’ Dia menjawab, ‘Maula dari budak-budak kami.’ Umar berkata, ‘Kamu
mengangkat maula untuk memimpin mereka?’ Dia menjawab, ‘Dia qori` Kitabulloh
azza wa jalla dan dia mahir ilmu faroidh.’ Umar berkata, ‘Benar sekali,
sungguh Nabi kalian ﷺ
telah bersabda, ‘Sesungguhnya Alloh mengangkat dengan Kitab ini beberapa
kaum dan merendahkan dengannya pula beberapa kaum lain.’”
Abdulloh bin al-Mubarok masuk kota Khurosan,
maka ribuan penuntut ilmu keluar untuk menyambutnya. Melihat itu, ibu
dari anak (ummu walad) milik Kholifah Harus ar-Rosyid bertanya
tentangnya, maka dijawab, “Dia adalah Abdulloh bin al-Mubarok, Ahli Hadits Khurosan.”
Dia pun menimpali, “Inilah kerajaan sebenarnya, bukan kerajaan Harun.”
Ketika Muhammad bin Isma’il al-Bukhori tiba di
Naisabur, Imam Muslim berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pejabat atau
seorang Ulama pun yang diperlakukan penduduk Naisabur sebagaimana perlakuan
mereka terhadap al-Bukhori. Mereka telah menyambutnya sejak dua atau tiga marhalah
dari negeri ini.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ketika al-Bukhori
kembali dari perjalanan studinya, maka dibangunlah kemah-kemah untuknya pada
jarak satu farsakh dari negeri, dan dia disambut oleh hampir semua
penduduk negeri dan tidak tersisa seorang pun dari mereka melainkan menyebarkan
dirham dan dinar.”
Perlu diketahui,
dalam takhrij terkadang penulis menulis Lihat,
maksudnya: penulis mengutip secara makna, atau mengutip dari kutipan lain (tidak
melihat langsung kitab aslinya), kecuali sabda Nabi ﷺ.
Penulis lebih
mendahulukan redaksi Imam al-Bukhori daripada Imam Muslim dalam takhrij muttafaqun
‘alaih dan urutan takhrij pertama menunjukkan teks Hadits yang dinukil. Hal
ini perlu dijelaskan karena terkadang ada Hadits yang setema tetapi berbeda
sedikit redaksi Haditsnya, dan juga agar memantapkan hafalan para pembaca. Ini
juga berlaku untuk atsar dan nukilan-nukilan.
Semoga keberadaan
buku ini melengkapi khazanah Islam dan ikut serta membantu menyulut semangat
para pemuda Islam untuk lebih mencintai Hadits dan ahlinya dan bercita-cita
menjadi Ahli Hadits al-Hafizh.
Simak
kelanjutannya di PDFnya, silahkan download.
