Download Buku: Mungkinkah Aku Hafal Satu Juta Hadits Seperti Imam Ahmad?

Mungkinkah Aku Hafal Satu Juta Hadits Seperti Imam Ahmad?
Abu Zur’ah ath-Thaybi
­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­
Download







Penerbit  : Pustaka Syabab
Editor    : Tim Pustaka Syabab
Layout    : Tim Pustaka Syabab
Setting   : Tim Pustaka Syabab
Cetakan   : Pertama
Tahun     : Rabi’ul Awwal 1435 H
  Januari 2014 M


Pustaka Syabab
Perumahan Keputih Permai Blok A No. 1-3
Jl. Keputih Tegal Timur,
Sukolilo, Surabaya 60111, Jawa Timur
Email: pustakasyabab@yahoo.com


Pengantar Penerbit

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

S
egala puji milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
Ini adalah buku ke-3 buah tangan Abu Zur’ah ath-Thaybi yang kami terbitkan. Buku ke-2 Ada Apa dengan Bahasa Arab? telah mendapat sambutan hangat dari para pembaca, sehingga hal ini mendorong kami menerbitkan buku ke-3 ini. Secara garis besar, buku ke-3 ini merupakan lanjutan dari buku ke-2 untuk melahirkan semangat nyata dalam mendalami ilmu din yang semakin marak di tahun belakangan ini, yaitu di kampus-kampus umum dan agama. Semoga buku ini bisa memantapkan langkah kaum muslimin untuk menekuni hadits-hadits yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semoga shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para shahabatnya.[]
Surabaya, 1 Januari 2014
Penerbit






Daftar Isi


Pengantar Penerbit iii
Daftar Isi iv
Muqaddimah 1

BAB I: ANTARA OTAK DAN AHLI HADITS 7
1. Keajaiban Memori Otak Manusia 8
2. Para Huffazh adalah Buktinya 11
a. Definisi Huffazh 11
b. Jumlah Hafalan Kaum Salaf 15
3. Sepenggal Kisah Ahli Hadits yang Mengagumkan 22

BAB II: MEWUJUDKAN IMPIAN 31
1. Perdalam Bahasa Arab 32
2. Menghafal al-Qur`an 36
3. Merintis Hafalan Mutun 51
Sekilas Tentang Arbain an-Nawawi 53
4. Petualangan Dimulai 58
Menyelam Sambil Minum Air 62
5. Jauhi Maksiat 63
Solusi Ilahi 67
6. Rajin Puasa 72
7. Banyak Berdoa 75
8. Mengulang-Ulang Hafalan 82
9. Mengkonsumsi dan Menghindari Makanan Tertentu 88
a. Makanan yang Perlu Dikonsumsi 88
b. Makanan yang Perlu Dihindari 102

BAB III: JANGAN LUPAKAN TUJUAN UTAMA 107
1. Ikhlas Hanya Karena Allah 108
2. Mengamalkan Ilmu 114
3. Mengajar dan Berdakwah 121

BAB IV: ANTARA AHLI HADITS DAN AHLI DUNIA 129
1. Mana Yang Lebih Mulia? 129
2. Jangan Ragu Menjadi Ahli Hadits 134

Penutup 141
Referensi 143
Catatan 152













Abu Zur’ah ar-Razi berkata:
«كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْفَظُ أَلْفَ أَلْفِ حَدِيثٍ»
“Ahmad bin Hanbal hafal satu juta hadits.”




Muqaddimah

S
egala puji milik Allah yang telah menurunkan al-Qur`an sebagai pedoman dan sumber ilmu. Semoga shalawat dan salam sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membimbing umat dengan hadits-haditsnya, kepada keluarganya, para shahabatnya, serta para ulama yang menjaga hadits-hadits dalam dada mereka, kitab mereka, dan amal mereka hingga sampai kepada umat-umat. Amma ba’du:
Kita sekarang ini sedang berada di suatu zaman di mana nyala api menuntut ilmu mulai redup, syubhat pemikiran sesat makin hidup, dan syahwat pesona wanita makin kencang mendegup. Fitnah-fitnah ini dari segala penjuru menyelundup. Siapa yang tidak punya benteng, ia akan celaka seumur hidup.
Sebaik-baik benteng adalah ilmu. Namun demikian, banyak yang tidak berhasrat memburu. Maka, mereka memerlukan penyulut untuk membesarkan nyala api yang hampir padam itu.
Kebanyakan manusia masa kini sibuk dengan proyek-proyek dunia mereka lalu mereka pun mendapatkannya tetapi dengan kerelaan kehilangan megaproyek akhiratnya. Mereka tidak lagi berhasrat untuk menghafal hadits karena kesamaran kemuliaan mereka yang ditutupi setan. Namun, akan tetap ada di setiap zaman orang-orang yang tegak di atas jalan hadits yang tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang jahat dan memusuhi mereka. Mereka akan tetap ada di setiap zaman, terserah apakah ahli dunia itu ikut bergabung ataukah tidak???
Mereka adalah sebaik-baik manusia karena menjadi penyambung antara umat dan syariat yang diturunkan Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihya, “Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Ibrahim, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ibnu Syihab, dari Amir bin Watsilah bahwa Nafi’ bin Abdul Harits bertemu Umar di Usfan, sementara Umar telah mengangkatnya sebagai gubernur bagi penduduk Makkah. Umar bertanya:
مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِي؟ فَقَالَ: ابْنَ أَبْزَى، قَالَ: وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى؟ قَالَ: مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا، قَالَ: فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى؟ قَالَ: إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ، قَالَ عُمَرُ: أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ: «إِنَّ اللّٰهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ»
‘Siapakah yang kamu angkat untuk memimpin penduduk lembah?’ Dia menjawab, ‘Ibnu Abza.’ Umar bertanya, ‘Siapa Ibnu Abza itu?’ Dia menjawab, ‘Maula[1] dari budak-budak kami.’ Umar berkata, ‘Kamu mengangkat maula untuk memimpin mereka?’ Dia menjawab, ‘Dia qari` Kitabullah azza wa jalla dan dia mahir ilmu faraidh.’ Umar berkata, ‘Benar sekali, sungguh Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Kitab ini beberapa kaum dan merendahkan dengannya pula beberapa kaum lain.’[2]
Abdullah bin al-Mubarak masuk kota Khurasan, maka ribuan penuntut ilmu keluar untuk menyambutnya. Melihat itu, ibu dari anak (ummu walad) milik Khalifah Harus ar-Rasyid bertanya tentangnya, maka dijawab, “Dia adalah Abdullah bin al-Mubarak, ahli hadits Khurasan.” Dia pun menimpali, “Inilah kerajaan sebenarnya, bukan kerajaan Harun.”
Ketika Muhammad bin Isma’il al-Bukhari tiba di Naisabur, Imam Muslim berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pejabat atau seorang ulama pun yang diperlakukan penduduk Naisabur sebagaimana perlakuan mereka terhadap al-Bukhari. Mereka telah menyambutnya sejak dua atau tiga marhalah dari negeri ini.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ketika al-Bukhari kembali dari perjalanan studinya, maka dibangunlah kemah-kemah untuknya pada jarak satu farsakh dari negeri, dan dia disambut oleh hampir semua penduduk negeri dan tidak tersisa seorang pun dari mereka melainkan menyebarkan dirham dan dinar.”
Perlu diketahui, dalam takhrij terkadang penulis mencantumkan Lihat, maksudnya: penulis mengutip secara makna, atau mengutip dari kutipan lain (tidak melihat langsung kitab aslinya), kecuali sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Penulis lebih mendahulukan redaksi Imam al-Bukhari daripada Imam Muslim dalam takhrij muttafaqun ‘alaih dan urutan takhrij pertama menunjukkan teks hadits yang dinukil. Hal ini perlu dijelaskan karena terkadang ada hadits yang setema tetapi berbeda sedikit redaksi haditsnya, dan juga agar memantapkan hafalan para pembaca. Ini juga berlaku untuk atsar dan nukilan-nukilan.
Semoga keberadaan buku ini melengkapi khazanah Islam dan ikut serta membantu menyulut semangat para pemuda Islam yang hampir padam untuk mencintai hadits dan ahlinya dan bercita-cita menjadi ahli hadits al-hafizh.
Semoga Allah menjadikan buku ini bermanfaat bagi kaum muslimin dan mengampuni segala khilaf di dalamnya serta menerimanya sebagai pemberat timbangan di hari tiada lagi bermanfaat harta dan anak. Sesungguhnya Rabb-ku mahadekat lagi maha mengabulkan.[]

Abu Zur’ah ath-Thaybi


Text Box: BAB I
ANTARA OTAK DAN AHLI HADITS


[sengaja dikosongkan]





BAB I
ANTARA OTAK DAN AHLI HADITS
A
da hubungan erat antara keajaiban otak manusia dan ahli hadits. Akan disebutkan nanti riwayat-riwayat tentang hafalan ahli hadits yang luar biasa dan mengagumkan, baik segi kuantitas maupun kualitas. Segi kuantitas ditunjukkan oleh hafalan mereka yang luar biasa banyaknya bahkan ada yang mencapai satu juta hadits, belum termasuk hafalan selain hadits. Adapun segi kualitas ditunjukkan oleh kuatnya daya hafal mereka dengan sekali dengar dan itu terus bertahan hingga masa tua, bahkan ada yang sama sekali tidak lupa meski satu huruf pun hingga wafat. Ternyata di balik itu semua, jauh sebelumnya Allah telah merancang otak manusia sedemikian rupa bisa menampung bermilyar-milyar informasi. Lebih jelasnya ikutilah bahasan-bahasan berikut ini.


1. Keajaiban Memori Otak Manusia
Otak terbentuk dari dua jenis sel, yaitu glia dan neuron. Glia berfungsi untuk menunjang dan melindungi neuron, sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang dikenal sebagai potensi aksi.
Proses perekaman informasi dalam memori itu cukup sederhana. Informasi diterima oleh mata karena adanya gelombang cahaya yang ditangkap oleh sel-sel di mata yang kemudian diubah menjadi energi listrik yang merangsang listrik-listrik di otak. Rangsangan ini membawa jenis-jenis rekaman yang akhirnya tersimpan di suatu tempat yang dinamakan memori. Setiap proses belajar meninggalkan jejak-jejak dalam otak yang mengendap di dalam memori dan menunggu untuk dipanggil kembali, proses ini disebut retrieval.
Penelitian terbaru menyebutkan bahwa otak manusia berisi 1.000 milyar sel saraf neuron, meliputi 100 milyar sel aktif dan 900 milyar sel nonaktif. Diperkirakan jika setiap detik satu informasi dimasukkan ke otak, maka kapasitas otak baru penuh sekitar 30 juta tahun kemudian.
Kapasitas yang begitu bombastis ini bila benar-benar dimanfaatkan tentu akan menjadikan seseorang benar-benar cerdas dan banyak hafalannya, lebih banyak daripada data yang tersimpan di hardisk berukuran 40 terabyte (40.000 GB).
Di antara kaum salaf ada yang berkata, “Segala sesuatu jika di isi akan penuh, kecuali otak. Jika otak selalu diisi, justru ia semakin kosong.”
Bagi kaum muslimin, hal ini bukanlah hal baru. Sebab 1400 tahun yang lalu Allah telah mengabarkan kepada mereka tentang kapasitas otak manusia lewat cerita Adam nenek moyang mereka ‘alaihis salam.
Allah berfirman:
ﭰ  ﭱ  ﭲ  ﭳ
“Dan Dia mengajari Adam nama-nama semuanya.”[3]
Mujahid bin Jabr (w. 104 H) berkata:
عَلَّمَهُ اسْمَ كُلِّ دَابَّةٍ وَكُلِّ طَيْرٍ وَكُلِّ شَيْءٍ
“Dia mengajarinya semua nama dabbah[4], burung, dan segala sesuatu.”[5]
Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata:
الْصَحِيْحُ أَنَّهُ عَلَّمَهُ أَسْمَاءَ الْأَشْيَاءِ كُلِّهَا: ذَوَاتِهَا وَأَفْعَالِهَا
“Tafsir yang benar adalah Dia mengajarinya nama-nama segala sesuatu seluruhnya baik dzatnya maupun perbuatannya.”[6]
Kaum salaf adalah orang-orang yang terdepan dalam memanfaatkan kapasitas mega besar ini dengan digunakan untuk menuntut ilmu, menghafal, dan menulis kitab. Hasilnya, mereka menjadi orang-orang yang tak tertandingi dalam keilmuan, tidak pula ilmuwan-ilmuwan dari Barat dan Eropa meskipun menyandang gelar profesor.
Contoh sederhana adalah cerita tentang hafalan dan kecerdasan Imam al-Bukhari.
Diriwayatkan oleh beberapa syaikh ahli hadits bahwa Muhammad bin Ismail al-Bukhari tiba di Baghdad. Para ahli hadits mendengar kedatangannya lalu mereka berkumpul untuk mengujinya dengan 100 hadits yang dibolak-balik matan dan sanadnya. Mereka menukar matan dengan sanad lain, dan sanad lain dengan matan yang lain pula. Mereka menyerahkan hadits-hadits itu kepada sepuluh orang sehingga setiap orang diserahi 10 hadits. Kemudian satu persatu bertanya ke al-Bukhari tentang hadits tersebut tetapi al-Bukhari hanya menjawab, ‘Aku tidak mengenalnya.’ Hadits yang lain disampaikan dan dijawab, ‘Aku tidak mengenalnya.’ Satu per satu disampaikannya hadits-hadits tersebut hingga habis sebanyak sepuluh, sementara al-Bukhari hanya menjawab, ‘Aku tidak mengenalnya.’ Sebagian ahli fiqih bergumam, ‘Lelaki itu memang faqih,’ dan sebagian lain menuduhnya lemah hafalan.
Kemudian bergilir penguji lain dengan haditsnya sementara al-Bukhari pada setiap hadits hanya menjawab, ‘Aku tidak mengenalnya,’ hingga habis sepuluh hadits. Kemudian penguji ketiga, kemudian keempat, hingga kesepuluh, sementara al-Bukhari tidak menambah jawabannya selain hanya, ‘Aku tidak mengenalnya.’
Setelah habis semuanya, al-Bukhari mendekati penguji pertama dan berkata, ‘Adapun haditsmu pertama yang benar adalah demikian, yang kedua demikian, yang ketiga demikian, yang keempat demikian,’ hingga selesai sepuluh hadits dengan sempurna. Al-Bukhari mengembalikan setiap matan ke sanad aslinya, dan setiap sanad ke matan aslinya. Dia melakukan itu juga pada sisa hadits-hadits lainnya. Akhirnya, orang-orang mengakui hafalannya dan menyuarakan keutamaannya.”[7]
Sungguh mengagumkan apa yang dilakukan al-Bukhari dengan menempatkan matan dan sanad ke tempatnya masing-masing sebanyak 100 hadits dengan hafalannya. Namun, yang lebih mengagumkan adalah tindakannya mengurutkan hadits pertama yang dibawakan penguji pertama hingga hadits ke-100 yang terakhir dibawakan penguji terakhir, tanpa ada yang keliru sama sekali!!! Subhanallah!
Maka, dengan kapasitas otak sebesar ini, sangat memungkinkan bagi seseorang untuk hafal 1 juta hadits seperti Imam Ahmad.
Dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bahwa dia mendengar Abu Zur’ah ar-Razi berkata:
كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْفَظُ أَلْفَ أَلْفِ حَدِيثٍ. فَقِيلَ لَهُ: وَمَا يُدْرِيكَ؟ قَالَ: ذَاكَرْتُهُ، وَأَخَذْتُ عَلَيْهِ الأَبْوَابَ
“Ahmad bin Hanbal hafal satu juta hadits.” Ditanyakan kepadanya, “Dari mana Anda tahu?” Abu Zur’ah menjawab, “Aku belajar kepadanya dan mengambil beberapa bab darinya.”[8]
Jika masih ada yang ragu, “Mungkinkah aku hafal satu juta hadits seperti Imam Ahmad?” Maka jawabannya, “Bacalah pembahasan-pembahasan berikutnya. Semoga tidak ada lagi keraguan untuk hafal satu juta hadits dan menjadi al-hafizh, insya Allah dengan pertolongan Allah.”[]

2. Para Huffazh adalah Buktinya
a. Definisi Huffazh
Al-Huffâzh (الحُفَّاظُ) adalah bentuk jama’ dari al-hâfizh (الحَافِظُ) artinya yang menjaga atau menghafal. Yang dimaksud huffazh di sini ahli hadits yang memiliki hafalan hadits sangat banyak sekali. Para ulama berselisih tentang berapa jumlah minimun sehingga seseorang dikatakan al-hafizh. Di antara mereka ada yang berpendapat 20.000 hadits, 100.000 hadits, dan ada pula 300.000 hadits, bahkan ada yang lebih banyak dari itu.
Dari Abu Zur’ah ar-Razi bahwa dia mendengar Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah berkata:
مَنْ لَمْ يَكُتُبْ عِشْرِيْنَ أَلْفِ حَدِيْثٍ إِمْلاَءً، لَمْ يُعَدْ صَاحِبَ حَدِيْثٍ
“Barangsiapa yang belum menulis 20.000 hadits secara imla`, maka dia belum pantas disebut ahli hadits.”[9]
Ada seorang dari Kufah yang datang ke Imam Ahmad sambil membawa tas berisi kitab. Dia berkata kepada Imam Ahmad, “Sampai kapan seseorang menuntut ilmu? Apabila seseorang telah menghafal 30.000 hadits apakah sudah cukup?” Imam Ahmad diam, lalu dia berkata lagi, “Kalau 60.000 hadits?” Imam Ahmad diam. Dia bertanya lagi, “Kalau 100.000 hadits?” Imam Ahmad berkata, “Apabila seseorang telah menulis 100.000 hadits, ketika itu dia baru mengetahui sedikit dari ilmu.”[10]
Ahmad bin al-Abbas al-Nasa`i berkata:
سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ عَنِ الرَّجُلِ يَكُوْنُ مَعَهُ مِائَةُ أَلْفِ حَدِيْثٍ، يُقَالُ إِنَّهُ صَاحِبَ حَدِيْثٍ؟ قَالَ: لاَ. قُلْتُ لَهُ: عِنْدَهُ مِائَتَا أَلْفِ حَدِيْثٍ، يُقَالُ: إِنَّهُ صَاحِبَ حَدِيْثٍ؟ قَالَ: لاَ. قُلْتُ لَهُ: ثَلاَثُمِائَةِ أَلْفِ حَدِيْثٍ؟ فَقَالَ بِيَدِهِ: كَذَا
“Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang seseorang yang hafal 100.000 hadits, apakah dia bisa disebut ahli hadits?” Dia menjawab, “Tidak.” Aku berkata, “Kalau hafal 200.000 hadits, bisakah disebut ahli hadits?” Dia menjawab, “Tidak.” Aku berkata kepadanya, “Kalau 300.000 hadits?” Dia menjawab dengan isyarat tangannya, ‘Ya, segitu.’”[11]
Namun, hafalan sebanyak itu belum cukup untuk berfatwa kecuali hafal setengah juta hadits. Ini pendapat Yahya bin Ma’in.
Diriwayatkan dari kakek Ismail bin Muhammad bin al-Fadhl bahwa Yahya bin Ma’in ditanya:
أَيُفْتِي الرَّجُلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ حَدِيْثٍ؟ قَالَ: لا. قُلْتُ: وَمِنْ مِائَتَي أَلْفٍ؟ قَالَ: لاَ. قُلْتُ: ثَلاَثُمِائَةٍ؟ قَالَ: لاَ. قُلْتُ: خَمْسُمِائَةِ أَلْفٍ؟ قَالَ: أَرْجُوْ
“Apakah seseorang yang telah hafal 100.000 hadits boleh berfatwa?” Dia menjawab, “Tidak boleh.” Aku bertanya, “Kalau 200.000 hadits?” Dia menjawab, “Tidak boleh.” Aku berkata, “Kalau 500.000 hadits?” Dia menjawab, “Aku berharap boleh.”[12]
Saat membawakan riwayat ini al-Khathib al-Baghdadi berkata, “Belumlah mencukupi seseorang yang berfatwa sekedar apa yang disebutkan Yahya tanpa memiliki marifat, analisa, dan kemutqinan, karena ilmu adalah pemahaman dan dirayah bukan (sekedar) memperbanyak dan memperluas riwayat.”[13]
Sebagai perbandingan, kitab Shahîh al-Bukhârî berisi lebih 7.500 hadits, Shahîh Muslim berisi sekitar 12.000 hadits, al-Jâmi` at-Tirmidzî sekitar 4.000 hadits, Sunan Abû Dâwûd sekitar 5.000 hadits, Sunan an-Nasâ`i berisi lebih 5.750 hadits, Sunan Ibnu Mâjah berisi lebih 4.300 hadits. Maka, seseorang yang hafal semua hadits di kutubus sittah baru mencapai sekitar 38.550 hadits. Jumlah sebesar ini belum mencukupi untuk disebut ahli hadits, menurut sebagian ahli hadits yang mutabar sebagaimana nukilan di atas.
Musykilah: Mana yang benar istilah al-hafizh untuk yang hafal hadits atau untuk yang hafal al-Qur`an atau boleh untuk kedua-duanya?
Yang dikenal pada zaman dulu bahwa istilah al-hafizh digunakan untuk para ahli hadits yang hafal ratusan ribu hadits. Pemakaian istilah ini masyhur digunakan seperti al-Hafizh Ibnul Jauzi, al-Hafizh Ibnu Katsir, al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Hafizh as-Suyuthi, dan lain-lain. Al-Hafizh Ibnul Jauzi memiliki kitab berisi biografi para ahli hadits terkemuka diberi judul Al-Hatstsu ‘ala Hifzhil Ilmi wa Dzikru Kibâril Huffâzh (Motivasi Menghafal Ilmu dan Biografi Para Huffazh Terkemuka). Adapun penghafal al-Qur`an menggunakan gelar al-Hâmil. Imam an-Nawawi memiliki kitab tentang adab-adab para penghafal al-Qur`an dan diberi judul at-Tibyân fî Adabi Hamalatil Qur`ân. Hamalah (الحَمَلَةُ) jama’ dari hâmil (الحَامِلُ).
Kemudian, istilah al-hafizh mengalami perluasan makna dipakai untuk para penghafal al-Qur`an terutama untuk masa sekarang, terutama di negeri kita Indonesia. Pemakainan ini tidak begitu bermasalah. Walhamdulillah.
Disebutkan dalam al-Mu’jam al-Wasîth, “Al-Hâfizh adalah orang yang hafal al-Qur`an atau orang yang hafal hadits dengan jumlah yang banyak.”[14] Allahu a’lam.

b. Jumlah Hafalan Kaum Salaf
a) Hafal 100 Hadits
Husyaim berkata:
كُنْتُ أَحْفَظُ فِي الْمَجْلِسِ مِائَةَ حَدِيثٍ وَلَوْ سُئِلْتُ عَنْهَا بَعْدَ شَهْرٍ لأَجَبْتُ
“Aku pernah menghafal dalam satu majlis 100 hadits. Seandainya aku diminta untuk menyampaikannya sebulan kemudian, niscaya aku akan menyebutkannya.”[15]
b) Hafal 4.000 Hadits
Ma’mar berkata:
اجْتَمَعْتُ أَنَا وَشُعْبَةُ وَالثَّوْرِيُّ وَابْنُ جُرَيْجٍ، فَقَدِمَ عَلَيْنَا شَيْخٌ، فَأَمْلَى عَلَيْنَا أَرْبَعَةَ آلافِ حَدِيثٍ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ، فَمَا أَخْطَأَ إِلاَّ فِي مَوْضِعَيْنِ، لَمْ يَكُنِ الْخَطَأُ مِنَّا وَلا مِنْهُ، إِنَّمَا الْخَطَأُ مِنْ فَوْقِهِ، وَكَانَ الرَّجُلُ طَلْحَةُ بْنُ عَمْرٍو
“Aku pernah berkumpul bersama Syu’bah, ats-Tsauri, dan Ibnu Juraij. Kemudian, datanglah seorang syaikh kepada kami, lalu dia menyampaikan 4.000 hadits dari hafalannya. Dia tidak keliru kecuali di dua tempat, tetapi kesalahan itu bukan berasal dari kami dan bukan pula darinya. Kesalahan itu berasal dari perawi lain dalam sanadnya. Lelaki itu adalah Thalhah bin Amr.”[16]
c) Hafal 20.000 Hadits
Ubaidullah bin Umar al-Qawariri berkata:
أَمْلَى عَلَيَّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عِشْرِينَ أَلْفَ حَدِيثٍ حِفْظًا
“Abdurrahman bin Mahdi mendiktekan kepadaku 20.000 hadits secara hafalan.”[17]
d) Hafal 30.000 Hadits
Ahmad bin Ibrahim bin Syadzan berkata:
خَرَجَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ إِلَى سِجِسْتَانَ، فَاجْتَمَعَ إِلَيْهِ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ، وَسَأَلُوهُ أَنْ يُحَدِّثَهُمْ، فَأَبَى وَقَالَ: لَيْسَ مَعِي كِتَابٌ، فَقَالُوا لَهُ: ابْنُ أَبِي دَاوُدَ وَكِتَابٌ؟ قَالَ: فَأَثَارُونِي فَأَمْلَيْتُ عَلَيْهِمْ ثَلاثِينَ أَلْفَ حَدِيثٍ مِنْ حِفْظِي، فَلَمَّا قَدِمْتُ بَغْدَادَ، قَالَ الْبَغْدَادِيُّونَ: مَضَى فَلَعِبَ بِالنَّاسِ! ثُمَّ فَيَّجُوا فَيْجًا اكْتَرَوْهُ بِسِتَّةِ دَنَانِيرَ إِلَى سِجِسْتَانَ لِيَكْتُبُواْ لَهُمُ النُّسْخَةَ، فَكُتِبَتْ وَجِيءَ بِهَا إِلَى بَغْدَادَ، وَعُرِضَتْ عَلَى الْحُفَّاظِ، فَخَطَّئُونِي فِي سِتَّةِ أَحَادِيثَ، مِنْهَا ثَلاثَةٌ حَدَّثْتُ بِهَا كَمَا حُدِّثْتُ، وَثَلاثَةُ أَحَادِيثَ أَخْطَأْتُ فِيهَا
Abu Bakar bin Abu Dawud keluar menuju Sijistan lalu para ahli hadits berkumpul kepadanya lalu memintanya agar membacakan hadits kepada mereka. Dia tidak mau dan berkata, ‘Aku tidak membawa kitab.’ Mereka pun berkata kepadanya, ‘Putra Abu Dawud dan kitab???’ Abu Bakar berkata, ‘Ucapan itu menyinggungku lalu aku diktekan 30.000 hadits kepada mereka dari hafalanku. Tatkala aku tiba di Baghdad, orang-orang Baghdad berkata, ‘Dia telah membuat takjub manusia!’ Kemudian mereka segera mengutus beberapa orang dengan diupah 6 dinar untuk pergi ke Sijistan guna menulis manuskrip untuk mereka, lalu ditulis dan dibawa ke Baghdad untuk diperlihatkan kepada para huffazh. Mereka menyalahkanku 6 hadits, yaitu tiga hadits yang aku riwayatkan seperti yang aku dapatkan dan tiga hadits yang murni karena kesalahanku.’”[18]
e) Hafal 40.000 Hadits
Al-Hafizh Ibnul Jauzi mengatakan tentang Abu Ali ad-Dailami:
كَانَ يَحْفَظُ أَرْبَعِينَ أَلْفَ حَدِيثٍ، وَيُذَاكِرُ بِسَبْعِينَ أَلْفِ حَدِيثٍ
“Dia hafal 40.000 hadits dan saat mudzakarah mencapai 60.000 hadits.”[19]
Shalih bin Ahmad al-Ijli berkata:
كَانَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ كَثِيرَ الْحِفْظِ شَرِبَ الْبَلاذُرَ هُوَ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، فَجُذِمَ أَبُو دَاوُدَ وَبُرِصَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، فَحَفِظَ أَبُو دَاوُدَ أَرْبَعِينَ أَلْفَ حَدِيثٍ وَحَفِظَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَشَرَةَ أَلْفَ حَدِيثٍ
Abu Dawud ath-Thayalisi dan Abdurrahman bin Mahdi banyak hafalannya dan minum baladzur. Abu Dawud terkena penyakit belang dan Abdurrahman terkena penyakit kusta. Abu Dawud hafal 40.000 hadits dan Abdurrahman hafal 10.000 hadits.”[20]
Umar bin Syabbah berkata:
كَتَبُوا عَنْ أَبِي دَاوُدَ أَرْبَعِينَ أَلْفَ حَدِيثٍ، وَلَيْسَ مَعَهُ كِتَابٌ
“Orang-orang menulis 40.000 hadits dari Abu Dawud tanpa membawa kitab.”[21]
f) Hafal 50.000 Hadits
Abu Abdillah al-Khuttuli berkata:
حَدَّثْتُ بِخَمْسِينَ أَلْفِ حَدِيثٍ مِنْ حِفْظِي إِلَى أَنْ لَحِقَتْنِي كُتُبِي
“Aku menyampaikan sebanyak 50.000 hadits dari hafalanku tanpa melihat kitab-kitabku.”[22]
Muhammad bin Yahya berkata:
مَا رَأَيْتُ عِنْدَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كِتَابًا قَطُّ، وَكُلُّ مَا سَمِعْتُهُ مِنْهُ سَمِعْتُهُ حِفْظًا
“Aku tidak pernah melihat kitab di sisi Abdurrahman sama sekali. Semua yang aku dengar darinya, aku dengar dari hafalannya.”
g) Hafal 70.000 hadits
Ibnu Khasyram berkata:
كَانَ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهُوَيْهَ يُمْلِي عَلَيَّ سَبْعِينَ أَلْفَ حَدِيثٍ حِفْظًا
“Ishaq bin Rahawaih mendiktekan hadits kepadaku 70.000 hadits secara hafalan.”[23]
h) Hafal 100.000 Hadits
Abu Ali berkata:
كَانَ عَبْدَانُ يَحْفَظُ مِائَةَ أَلْفِ حَدِيثٍ
“Abdan hafal 100.000 hadits.”[24]
i) Hafal 200.000 Hadits
Abu Bakar al-Ji’abi berkata:
دَخَلْتُ الرَّقَّةَ وَكَانَ لِي ثَمَّ قِمَطْرَانِ كُتُبًا فَأَنْفَذْتُ غُلامِي إِلَى ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي كُتُبِي عِنْدَهُ فَرَجَعَ الْغُلامُ مَغْمُومًا فَقَالَ: ضَاعَتِ الْكُتُبُ، فَقُلْتُ: يَا بُنَيَّ لا تَغْتَمَّ فَإِنَّ فِيهَا مِائَتَيْ أَلْفَ حَدِيثٍ لا يُشْكَلُ عَلَيَّ مِنْهَا حَدِيثٌ لا إِسْنَادًا وَلا مَتْنًا
“Aku memasuki Roqqah dan di sana aku memiliki beberapa lemari berisi kitab-kitab. Aku memberi tugas pelayanku pergi menemui laki-laki yang kitab-kitabku di tempatnya. Pelayan itu kembali dengan sedih dan berkata, ‘Kitab-kitab Anda hilang.’ Aku berkata, ‘Hai anakku janganlah kamu bersedih, karena 200.000 hadits yang ada di dalamnya tidak ada satupun yang tersamar bagiku, baik sanad maupun matannya.”[25]
Abu Zur’ah ar-Razi[26] berkata:
أَحْفَظُ مِائَتَيْ أَلْفِ حَدِيثٍ كَمَا يَحْفَظُ الإِنْسَانُ: ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ   وَفِي الْمُذَاكَرَةِ ثَلاثُمِائَةِ أَلْفِ حَدِيثٍ
“Aku hafal 200.000 hadits seperti seseorang hafal surat al-Ikhlas dan dalam mudzakarah mencapai 300.000 hadits.”[27]
j) Hafal 400.000 Hadits
Abu Bakar al-Ji’abi berkata:
أَحْفَظُ أَرْبَعَ مِائَةِ أَلْفَ حَدِيثٍ، وَأُذَاكِرُ بِسِتِّ مِائَةِ أَلْفِ حَدِيثٍ
“Aku hafal 400.000 hadits dan dalam mudzakarah mencapai 600.000 hadits.”[28]
k) Hafal 500.000 Hadits
Abu Dawud as-Sijistani berkata:
كَتَبْتُ عَنْ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسَ مِائَةِ أَلْفِ حَدِيثٍ، انْتَخَبْتُ مِنْهَا مَا تَضَمَّنَتْهُ السُّنَنُ. جَمَعْتُ فِيهِ أَرْبَعَةَ أَلْفَ وَثَمَانِ مِائَةِ حَدِيثٍ
Aku menulis 500.000 dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku menyeleksinya dan mencantumkannya dalam kitab sunan. Aku kumpulkan di kitab tersebut 4.800 hadits.”[29]
l) Hafal 1 Juta Hadits
Dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bahwa dia mendengar Abu Zur’ah ar-Razi berkata:
كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْفَظُ أَلْفَ أَلْفِ حَدِيثٍ. فَقِيلَ لَهُ: وَمَا يُدْرِيكَ؟ قَالَ: ذَاكَرْتُهُ، وَأَخَذْتُ عَلَيْهِ الأَبْوَابَ
“Ahmad bin Hanbal hafal satu juta hadits.” Ditanyakan kepadanya, “Dari mana Anda tahu?” Abu Zur’ah menjawab, “Aku belajar kepadanya dan mengambil beberapa bab darinya.”[30]
          Mengagumkan sekali. Mereka memang orang-orang yang dimuliakan Allah di dunia dan di akhirat, karena hadits adalah kemuliaan sementara hadits-hadits ini tidak akan sampai kepada kita melainkan karena kerja keras dan perjuangan mereka.
          Rupanya hafalan mereka tidak terbatas hanya hadits saja. Di antara mereka ada juga yang hafal riwayat-riwayat dan kitab-kitab yang tebal. Semuanya atas pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.
Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata tentang Abu Bakar al-Anbari:
ذَكَرُوا أَنَّهُ كَانَ يَحْفَظُ عِشْرِينَ وَمِائَةً مِنْ تَفَاسِيرِ الْقُرْآنِ بِأَسَانِيدِهَا
“Orang-orang menyebutkan bahwa dia hafal 120 kitab tafsir beserta sanad-sanadnya.”
Al-Hafizh juga berkata:
قَدْ أَمْلَى مِنْ حِفْظِهِ غَرِيبَ الْحَدِيثِ، وَهُوَ خَمْسٌ وَأَرْبَعُونَ أَلْفَ وَرَقَةٍ، وَكِتَابَ شَرْحِ الْكَافِي، وَهُوَ أَلْفُ وَرَقَةٍ، وَكِتَابَ الأَضْدَادِ، أَلْفُ وَرَقَةٍ، وَالْجَاهِلِيَّاتِ، سَبْعُ مِائَةِ وَرَقَةٍ، وَغَيْرَ ذَلِكَ
“Dia pernah mendiktekan dari hafalannya kosa-kata asing dalam hadits sebanyak 45.000 lembar, kitab Syarhul Kâfî sebanyak 1.000 lembar, kitab al-Adhdâd sebanyak 1.000 lembar, kitab Jâhiliyyât sebanyak 700 lembar, dan lain-lain.”[31][]

3. Sepenggal Kisah Ahli Hadits yang Mengagumkan
Berikut akan penulis bawakan beberapa riwayat tentang sepenggal kisah agung dan hafalan ahli hadits dari kaum salaf rahimahumullah.
Diriwayatkan bahwa Warraq berkata tentang Abu Thayyib al-Mutanabi, “Aku tidak tahu ada yang lebih kuat hafalannya daripada pemuda ini. Pada suatu hari dia berada di sisiku. Lalu tiba-tiba ada seseorang menawarkan sebuah kitab karya al-Ashma’i sebanyak 30 lembar untuk dijual. Lalu diambilnya kitab itu dan dilihat beberapa lama. Lelaki itu berkata kepadanya, ‘Hai orang, aku hendak menjualnya, tetapi kamu justru menunda-nundanya. Jika kamu mau menghafalnya bisa sebulan insya Allah.” Dia berkata, ‘Jika saya berhasil menghafalnya tadi, apa yang akan kamu perbuat untukku?’ Dia berkata, ‘Aku akan berikan kitab itu padamu cuma-cuma.’ Lalu dia meletakkan lembaran-lembaran itu di depan lalu membacanya secara hafalan dari awal hingga akhir. Usai itu, kitab itu diambil dan disimpan di dalam lengan bajunya. Pemilik kitab itu merebutnya dan meminta harga. Al-Mutanabi berkata, ‘Kamu tidak boleh melakukan itu, karena kamu telah memberikannya kepadaku cuma-cuma.’ Aku ikut membelanya dan berkata, ‘Kamu tadi telah membuat janji bahwa kitab ini untuknya  atas syarat yang kamu buat sendiri.’ Akhirnya dia merelakannya.”[32]
Al-Azhari berkata, “Ad-Daruquthni adalah orang yang cerdas. Jika disebutkan di sisinya ilmu apapun, dia sangat menguasainya. Muhammad bin Thalha an-Ni’ali pernah bercerita kepadaku bahwa dia pernah menghadiri jamuan makan bersama Abu al-Hasan ad-Daruquthni pada suatu malam. Mereka berbincang-bincang tentang kisah orang-orang yang gemar makan. Tiba-tiba Abu al-Hasan terdorong berkisah tentang kabar-kabar mereka, hikayat-hikayat, dan hal-hal aneh tentang mereka hingga menghabiskan malamnya untuk itu (sampai menjelang pagi).”[33]
Hisyam bin al-Kalbi berkata, “Aku hafal apa yang tidak dihafal oleh siapa pun. Aku lupa apa yang tidak dilupakan oleh siapa pun. Aku memiliki paman yang menyinggungku karena belum hafal al-Qur`an. Maka, aku masuk kamar dan bersumpah tidak akan keluar hingga selesai menghafal al-Qur`an. Akhirnya aku hafal dalam tiga hari. Pada suatu hari aku mengaca di depan cermin lalu memegang jenggotku, ternyata jenggotku belum cukup dipegang.”[34]
Diriwayatkan dari al-Azhari bahwa dia berkata, “Aku pernah hadir di sisi Abu Abdillah bin Bukair yang di depannya banyak berjuz-juz kitab. Aku menatapnya dalam-dalam lalu dia berkata kepadaku, ‘Manakah yang kamu suka: kamu menyebutkan matan yang kamu suka kepadaku dari hadits-hadits ini lalu aku akan sebutkan kepadamu sanadnya, atau kamu menyebutkan sanadnya kepadaku lalu aku akan sebutkan kepadamu matannya?’ Maka, aku sebutkan matan kepadanya lalu dia menyebutkan sanadnya dari hafalannya. Aku terus melakukannya berulang kali.”[35]
Diriwayatkan dari Hamzah bin Muhammad bin Thahir bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah bin Duwais, “Aku selalu melihatmu mendiktekan dengan hafalanmu, mengapa kamu tidak mendiktekan dari kitabmu (agar akurat)?’ Lalu dia berkata kepadaku, ‘Perhatikan apa yang aku diktekan, jika ada kesalahan dalam apa yang aku diktekan aku akan mendiktekan dari kitabku, jika kedua-duanya cocok lantas untuk apa keperluanku terhadap kitab???’”[36]
Imam asy-Sya’bi (w. 105 H), berkata, “Al-Hajjaj bin Yusuf bertanya kepadaku tentang faraidh (ilmu warisan) seraya berkata, ‘Apa pendapatmu tentang pembagian saudari perempuan, ibu, dan kakek?’ Aku menjawab, ‘Masalah ini diperselisihkan oleh lima shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, Ali, dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘ahnum.’ Dia bertanya, ‘Apa pendapat Ibnu Abbas mengenai hal itu dalam fatwanya?’ Aku menjawab, ‘Ia menjadikan kakek sebagai ayah, memberikan ibu sepertiga, dan tidak memberi saudari perempuan sedikitpun.’ Dia bertanya, ‘Lalu apa pendapat Amirul Mukminin?’ Yakni Utsman, aku menjawab, ‘Dia menjadikannya masing-masing mendapatkan sepertiga.’ Dia bertanya, ‘Apa pendapat Zaid bin Tsabit mengenai hal ini?’ Aku menjawab, ‘Ia menjadikannya berpenyebut sembilan lalu memberi ibu tiga bagian, memberi kakek empat bagian, dan memberi saudari perempuan dua bagian.’ Dia bertanya, ‘Lalu apa pendapat Ibnu Mas’ud?’ Aku menjawab, ‘Dia menjadikannya berpenyebut enam lalu memberikan saudari perempuan tiga bagian, ibu satu bagian, dan kakek dua bagian.’ Dia bertanya, ‘Lalu apa pendapat Abu Turab?’ Yakni Ali, aku menjawab, ‘Ia menjadikannya berpenyebut enam, lalu memberikan saudari perempuan tiga bagian, memberi kakek satu bagian, dan memberi ibu dua bagian.’ Al-Hajjaj berkata, ‘Perintahkan qadhi supaya memutuskan masalah ini sebagaimana yang diputuskan oleh Amirul Mukminin Utsman.’”[37]
Sa’id bin al-Musayyid (w. 94 H) berkata kepada Qatadah (w. 118 H):
أَكُلُّ مَا سَأَلْتَنِي عَنْهُ تَحْفَظُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ، سَأَلْتُكَ عَنْ كَذَا فَقُلْتَ كَذَا، وَعَنْ كَذَا فَقُلْتَ كَذَا، وَعَنْ كَذَا فَقُلْتَ كَذَا، فَقَالَ سَعِيدٌ: مَا ظَنَنْتُ أَنَّ اللّٰهَ خَلَقَ مِثْلَكَ
“Apakah setiap yang kamu tanyakan kepadaku kamu hafal?” Dia menjawab, “Ya. Aku bertanya tentang demikian lalu Anda menjawab demikian, dan tentang ini lalu Anda menjawab begini, dan tentang ini lalu Anda menjawab begini.” Lalu Sa’id berkata, “Aku tidak menyangka bahwa Allah menciptakan orang sepertimu.”[38]
Imam asy-Sya’bi (w. 105 H) berkata:
مَا سَمِعْتُ مُنْذُ عِشْرِيْنَ سَنَةً رَجُلاً يُحَدِّثُ بِحَدِيْثٍ إِلاَّ أَنَا أَعْلَمُ بِهِ مِنْهُ، وَلَقَدْ نَسِيْتُ مِنَ العِلْمِ مَا لَوْ حَفِظَهُ رَجُلٌ لَكَانَ بِهِ عَالِماً
“Tidaklah aku mendengar semenjak 20 tahun seseorang yang menyampaikan sebuah hadits melainkan aku mengetahui hadits tersebut. Aku telah lupa sebagian ilmu yang seandainya dihafal oleh seseorang akan menjadikannya seorang ulama.”[39]
Ahmad bin Yahya Tsa’lab berkata, “Aku belajar bahasa dan nahwu saat berumur 16 tahun. Aku mulai berdiskusi tentang kitab al-Hudûd karya al-Farra` saat berumur 18 tahun. Saat aku menginjak umur 25 tahun, tidak tersisa satu masalah pun dari al-Farra` ataupun dari kitab-kitabnya melainkan telah aku hafal. Aku juga mendengar hadits dari al-Qawariri sebanyak 100.000 hadits.”[40]
Diriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bahwa dia berkata:
قَالَ لِي أَبِي: خُذْ أَيَّ كِتَابٍ شِئْتَ مِنْ كُتُبِ وَكِيعٍ مِنَ الْمُصَنَّفِ، فَإِنْ شِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنِ الْكَلامِ حَتَّى أُخْبِرَكَ بِالإِسْنَادِ، وَإِنْ شِئْتَ الإِسْنَادَ حَتَّى أُخْبِرَكَ بِالْكَلامِ
“Ayah berkata kepadaku, ‘Ambillah kitab mana saja yang kamu suka dari kitab-kitab Waki’ yang pernah dikarang. Jika kamu mau kamu memintaku menyebutkan matannya lalu aku akan sebutkan kepadamu sanadnya, dan jika kamu mau sanadnya aku akan sebutkan kepadamu matannya.”[41]
Diriwayatkan bahwa Abu Zur’ah ar-Razi ditanya:
مَنْ رَأَيْتَ مِنَ الْمَشَايِخِ الْمُحَدِّثِينَ أَحْفَظَ؟ قَالَ: أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، حُزِرَتْ كُتُبُهُ الْيَوْمَ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، فَبَلَغَتِ اثْنَيْ عَشَرَ حَمْلاً وَعَدْلاً، مَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ كِتَابٍ مِنْهَا حَدِيثُ فُلانٍ، وَلا فِي بَطْنِهِ حَدَّثَنَا فُلانٌ، وَكُلُّ ذَلِكَ كَانَ يَحْفَظُهُ مِنْ ظَهْرِ قَلْبِهِ
“Siapakah menurutmu dari para masyayikh ahli hadits yang paling hafizh?” Dia menjawab, “Ahmad bin Hanbal. Kitab-kitabnya pernah dikumpulkan saat kematiannya dan mencapai 12 pikulan lebih satu adl. Tidak satupun hadits yang ada di kitab-kitab tersebut dan tidak pula yang isinya ‘telah menceritakan kepada kami’ melainkan semuanya telah dihafal di dalam hatinya.”[42]
Cuma satu kata, MENGAGUMKAN![]


[Sengaja dikosongkan]





Text Box: BAB II
MEWUJUDKAN IMPIAN


[Sengaja dikosongkan]









BAB II
MEWUJUDKAN IMPIAN

P
ara ulama menjelaskan bahwa menuntut ilmu itu perlu tadarruj (tahapan-tahapan). Sayangnya kita melihat penuntut ilmu masa kini inginnya yang instan-instan. Inginnya belajar setahun langsung jadi ustadz, syaikh, atau ahli hadits. Akhirnya keinginan mereka tidak tercapai karena menyalahi kurikulum kaum salaf, sehingga mereka pun jenuh, bosan, dan meninggalkan belajar, bahkan tidak ingin belajar lagi selama-lamanya. Kesalahan besar yang terjadi pada mereka adalah keinginan mereka untuk menaiki tangga al-hafizh dalam sekali lompatan dan loncatan, hingga dia terjatuh dan hancur semangat dan keinginannya untuk belajar. Padahal seharusnya dia menapaki tangga itu satu demi satu, sedikit demi sedikit.
Imam az-Zuhri (w. 124 H) berkata:
الْعِلْمُ وَادٍ، فَإِنْ هَبَطْتَ وَادِيًا فَعَلَيْكَ بِالتُّؤَدَةِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْهُ، فَإِنَّكَ لَا تَقْطَعُ حَتَّى يَقْطَعَ بِكَ
“Ilmu adalah lembah. Jika kamu menuruni lembah, maka kamu harus berjalan perlahan sampai keluar darinya. Sebab, kamu tidak akan bisa melintasinya hingga ia yang melintasimu.”[43]
          Imam az-Zuhri juga berkata:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ إِنْ أَخَذْتَهُ بِالْمُكَاثَرَةِ غَلَبَكَ وَلَمْ تَظْفَرْ مِنْهُ بِشَيْءٍ، وَلَكِنْ خُذْهُ مَعَ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي أَخْذًا رَفِيقًا تَظْفَرْ بِهِ
“Sungguh jika kamu mengambil ilmu ini dengan jumlah banyak, maka kamu akan kalah dan tidak mendapatkan apa-apa. Namun, ambillah bersama siang dan malam secara halus, maka kamu akan mendapatkannya.”[44]
Tadarruj ini sangat menentukan dalam mewujudkan impian seseorang untuk menjadi al-hafizh. Mari kita bersama-sama mewujudkan impian itu.
Penulis akan menyebutkan 9 tadarruj yang sangat penting diketahui dan dilangkahi.

1. Perdalam Bahasa Arab
Hadits berbahasa Arab, maka mustahil bila ada seseorang yang ingin ahli dalam hadits tetapi tidak tahu bahasa Arab. Ibaratnya ada seseorang yang ingin mengambil mutiara di dasar laut tetapi tidak tahu-menahu tentang menyelam dan berenang, lalu dipaksakan. Kira-kira apa yang terjadi setelah itu?
Memang benar, tanpa belajar bahasa Arab pun seseorang tetap mampu menghafal hadits. Hanya saja, menempuh jalan ini akan menimbulkan efek samping yang akut seperti cepat futur, lambat menghafal, hafalan tidak kuat, banyak mengeluh, tidak bisa mengambil manfaat dari hafalan, dan yang lebih berat dari itu kebanyakan pemahamannya menyimpang dari maksud hadits.
Imam asy-Sya’bi (w. 105 H) berkata:
النَّحْوُ فِي الْعِلْمِ كَالْمُلْحِ فِي الطَّعَامِ لاَ يَسْتَغْنِى عَنْهُ
“Nahwu bagi ilmu bagaikan garam bagi makanan yang pasti dibutuhkan.”[45]
Kedudukan bahasa Arab bagi ahli hadits seperti kedudukan air bagi kehidupan di mana tidak ada kehidupan tanpa air, begitu pula tidak ada hadits tanpa bahasa Arab.
          Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:
الْعِلْمُ بِهِ عِنْدَ الْعَرَبِ كَالْعِلْمِ بِالسُّنَّةِ عِنْدَ أَهْلِ الْفِقْهِ
“Ilmu bahasa Arab bagi orang Arab seperti ilmu sunnah bagi ahli fiqih.”[46]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) berkata:
إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى لَمَّا أَنْزَلَ كِتَابَهُ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِي وَجَعَلَ رَسُوْلَهُ مُبَلِّغاً عَنْهُ لِلْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ بِلِسَانِهِ الْعَرَبِي وَجَعَلَ السَّابِقِيْنَ إِلَى هَذَا الدِّيْنِ مُتَكَلِّمِيْنَ بِهِ، لَمْ يَكُنْ سَبِيْلٌ إِلَى ضَبْطِ الدِّيْنِ وَمَعْرِفَتِهِ إِلاَّ بِضَبْطِ اللِّسَانِ. وَصَارَتْ مَعْرِفَتُهُ مِنَ الدِّيْنِ، وَصَارَ اعْتِبَارُ التَكَلُّمِ بِهِ أَسْهَلَ عَلَى أَهْلِ الدِّيْنِ فِي مَعْرِفَةِ دِيْنِ اللّٰهِ وَأَقْرَبَ إِلَى إِقَامَةِ شَعَائِرِ الدِّيْنِ وَأَقْرَبَ إِلَى مُشَابَهَتِهِمْ لِلسَّابِقِيْنَ الْأَوَّلِيْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنْصَارِ فِي جَمِيْعِ أُمُورِهِمْ
“Sesungguhnya Allah ta’ala ketika menurunkan Kitab-Nya dengan bahasa Arab dan menjadikan Rasul-Nya menyampaikan al-Kitab dan as-Sunnah dengan bahasa Arab serta menjadikan orang-orang terdahulu masuk Islam berbicara dengan bahasa ini, maka tidak ada jalan untuk mendalami agama ini dan mengenalnya kecuali dengan mendalami bahasa ini. Jadilah mempelajarinya bagian dari agama dan jadilah mempraktikkan berbicara dengannya lebih mempermudah ahli agama dalam mempelajari agama Allah, lebih dekat kepada menegakkan syiar-syiar agama, dan lebih dekat kepada menyerupai orang-orang terdahulu yang masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dalam semua aspek urusan mereka.”[47]
          Syaikh al-Albani (w. 1420 H) berkata, “Al-Kitab dan as-Sunnah tidak mungkin bisa dipahami --begitu pula cabang dari keduanya-- kecuali lewat jalan bahasa Arab.”
Kesimpulannya, sebelum menempuh perjalanan ilmiah hadits hendaknya menempuh dulu jalan bahasa Arab dan hal ini tidak bisa ditawar-tawar bagi yang memang ingin ahli dibidang hadits baik hafalan, riwayat, maupun dirayah. Bahkan, mempelajari bahasa Arab adalah yang pertama kali sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lain.
Imam Abu Bakar al-Baihaqi (w. 458 H) berkata:
وَيَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ طَلَبَ الْعِلْمِ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ لِسَانِ الْعَرَبِ أَنْ يَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ أَوَّلًا وَيَتَدَرَّبَ فِيهِ
“Sepatutnya bagi seseorang yang ingin menuntut ilmu sementara dia bukan ahli berbahasa Arab untuk pertama kalinya dengan mempelajari bahasa Arab dan mempraktikannya.[48]
Siapa yang menguasai bahasa Arab maka ilmu-ilmu yang lain akan terasa mudah baginya. Ibarat ada gudang berisi sejumlah perbendaharaan melimpah baik harta, makanan, barang berharga, dan warisan-warisan yang memiliki pintu terkunci rapat. Siapa yang memiliki kuncinya, berarti semua perbendaharaan di dalamnya bisa dimilikinya. Kunci itu tidak lain adalah bahasa Arab.
Abu Hayyan mengisahkan dalam kitab Muhâdharâtul Ulamâ`: telah menceritakan kepada kami al-Qadhi Abu Hamid Ahmad bin Biysr. Dia berkata, “Pada suatu hari al-Farra`--ahli bahasa Kufah-- berada di samping Muhammad bin al-Hasan --ahli fiqih Kufah--. Mereka berdiskusi tentang fiqih dan nahwu. Al-Farra` unggul dalam nahwu daripada fiqih, sementara Muhammad bin al-Hasan unggul dalam fiqih daripada nahwu. Al-Farra` berkata, ‘Tidaklah seseorang diberi nikmat mahir bahasa Arab lalu menginginkan ilmu lain melainkan akan mudah baginya.’ Muhammad bin al-Hasan menimpali, ‘Sungguh kamu telah diberi nikmat itu. Kalau begitu, aku akan bertanya kepadamu tentang masalah fiqih.’ Dia menjawab, ‘Datangkanlah, dengan berkah dari Allah.’ Dia bertanya, ‘Apa pendapatmu tentang seseorang yang shalat lalu lupa dalam shalatnya, lalu dia lupa lagi sehingga sujud sahwi dua kali?’ Al-Farra` berpikir sesaat lalu menjawab, ‘Tidak masalah.’ Muhammad bin al-Hasan bertanya, ‘Kenapa bisa begitu?’ Dia menjawab:
لِأَنَّ التَّصْغِيْرَ عِنْدَنَا لَيْسَ لَهُ تَصْغِيْرٌ، وَإِنّمَا سَجْدَةُ السَّهْوِ تَمَامُ الصّلَاةِ وَلَيْسَ لِلتَّمَامِ تَمَامٌ
‘Karena tashghir (sesuatu yang diperkecil) di sisi kami tidak bisa lagi ditashghir. Sesugguhnya sujud sahwi adalah untuk menyempurnakan shalat sementara sesuatu yang telah sempurna tidak bisa disempurnakan lagi.’ Akhirnya Muhammad bin al-Hasan berkata:
مَا ظَنَنْتُ أَنَّ آدَمِيًّا يُلِدُ مِثْلَكَ
‘Aku tidak menyangka bahwa ada keturunan Adam yang melahirkan orang sepertimu.’”[49]
Pembahasan ini adalah pembahasan yang sangat penting. Namun sayang penulis tidak akan berpanjang lebar di sini karena penulis suka untuk menghindari pengulangan-pengulangan. Bagi yang suka bisa merujuk ke buku penulis Ada Apa dengan Bahasa Arab? Di sana penulis jelaskan berbagai hal tentang bahasa Arab meliputi sejarahnya, perhatian kaum salaf terhadapnya, metode mempelajarinya, dan hal-hal penting lainnya yang mencukupi insya Allah. Silahkan dirujuk.[]


2. Menghafal al-Qur`an
Mungkin ada yang bertanya-tanya, “Mengapa harus menghafal al-Qur`an dulu? Apa hubungannya dengan menghafal hadits? Bukankah menghafal bisa langsung dilakukan setiap orang tanpa harus mendahuluinya al-Qur`an, apalagi bila dia sudah mahir berbahasa Arab?”
Penulis jawab, “Petunjuk adalah dengan mengikuti kaum salaf. Tanpa diragukan lagi bahwa mereka lebih alim, cerdas, wara, bertaqwa, dan lebih mengetahui jalan paling selamat dan mudah dalam menuntut ilmu, sementara mereka memulai perjalanan ilmiah mereka setelah bahasa Arab adalah menghafal al-Qur`an.”
Al-Walid bin Muslim berkata:
كُنَّا إِذَا جَالَسْنَا الْأَوْزَاعِيَّ فَرَأَى فِينَا حَدَثًا، قَالَ: يَا غُلَامُ، قَرَأْتَ الْقُرْآنَ؟ فَإِنْ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: اقْرَأْ: ﮓ  ﮔ   ﮕ  ﮖ وَإِنْ قَالَ: لَا، قَالَ: اذْهَبْ، تَعَلَّمِ الْقُرْآنَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُبَ الْعِلْمَ
“Apabila kami duduk di majlisnya al-Auza’i lalu melihat di tengah-tengah kami orang baru, maka dia akan bertanya, ‘Hai anak, apakah kamu bisa membaca al-Qur`an?’ Jika dia menjawab, ‘Ya,’ maka dia berkata, ‘Bacalah (يُوصِيكُمُ اللّٰهُ فِي أَوْلَادِكُمْ)[50],’ dan jika dia menjawab, ‘Tidak,’ maka dia berkata, ‘Pergilah. Belajarlah al-Qur`an sebelum belajar hadits.’”[51]
Abu Hisyam ar-Rifa’i berkata:
كَانَ يَحْيَى بْنُ يَمَانٍ إِذَا جَاءَهُ غُلَامٌ أَمْرَدَ اسْتَقْرَأَهُ رَأْسَ سَبْعِينَ مِنَ «الْأَعْرَافِ»، وَرَأْسَ سَبْعِينَ مِنْ «يُوسُفَ»، وَأَوَّلَ الْحَدِيثِ، فَإِنْ قَرَأَهُ حَدَّثَهُ، وَإِلَّا لَمْ يُحَدِّثْهُ. فَإِذَا رَزَقَهُ اللّٰهُ تَعَالَى حِفْظَ كِتَابِهِ، فَلْيَحْذَرْ أَنْ يَشْتَغِلَ عَنْهُ بِالْحَدِيثِ، أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ اشْتِغَالًا يُؤَدِّي إِلَى نِسْيَانِهِ
“Apabila Yahya bin Yaman didatangi seorang lelaki amrad (belum memiliki jenggot karena masih muda), maka dia akan memintanya membaca 60 ayat awal dari surat al-A’raf, 60 ayat awal dari surat Yusuf, dan awal hadits. Jika dia bisa membacanya, Yahya akan memberikannya hadits, tetapi jika tidak maka tidak diberi hadits. Seandainya Allah memberinya anugerah hafal Kitab-Nya maka Yahya mengingatkannya agar tidak tersibukkan dengan hadits atau ilmu-ilmu lain yang menyibukkannya sehingga menyebabkannya lupa.”[52]
Di antara ahli hadits ternama yang terdepan dalam menganjurkan para thalibul hadits untuk menghafal al-Qur`an terlebih dahulu adalah Imamul Muhadditsin Abu Bakar Ibnu Khuzaimah. Cicitnya menceritakan, “Aku mendengar kakekku berkata, ‘Aku pernah meminta izin kepada ayahku untuk pergi kepada Qutaibah, lalu dia berkata, ‘Bacalah al-Qur`an terlebih dahulu baru aku akan memberimu izin.’ Aku pun membaca al-Qur`an dengan hafalan. Setelah selesai dia berkata, ‘Jangan pergi hingga kamu shalat dengan mengkhatamkannya.’ Aku pun melakukannya. Ketika aku telah menyelesaikannya, dia memberi izin kepadaku, lalu aku pergi ke Marwa. Di Marwa ar-Raudz aku mendengar dari Muhammad bin Hisyam murid Haitsam bahwa Qutaibah telah wafat.’”[53]
Imam adz-Dzahabi sebelum mendalami hadits hingga menjadi al-hafizh dan mendalami sejarah hingga menjadi syaikhul muarrikhin, dia mendalami al-Qur`an terlebih dahulu. Dia menaruh perhatian kepada studi al-Qur`an dan qira’at. Pada tahun 691 H, dia dan kawannya pergi kepada Syaikhul Qurra` Jamaluddin Abu Ishaq Ibrahim bin Dawud al-Asqalani kemudian ad-Dimasqi yang dikenal dengan al-Fadhili. Adz-Dzahabi tetap demikian hingga dia memiliki pengetahuan yang baik tentang qiraah, ushul dan berbagai persoalannya, saat dia masih muda yang usianya belum mencapai 20 tahun.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani hafal al-Qur`an saat berumur 9 tahun. Saat usianya genap 12 tahun, dia diminta menjadi imam Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H.
Sinan al-Baghdadi hafal al-Qur`an saat masih kanak-kanak, dan saat menginjak usia sepuluh tahun telah mampu membacakan qira’ah asyrah (variasi sepuluh bacaan al-Qur`an). Tak heran jika dia menjadi imam, mufti, syaikh madzhab Hanafi, ahli bahasa Arab, ahli Qira’at, dan panutan negeri Bashrah.
Putra Ibrahim al-Harbi hafal al-Qur`an saat usia 10 tahun, kemudian ayahnya baru mendiktekan kepadanya beberapa persoalan fiqih, padahal umurnya masih sangat muda.
Syaikhul Qurra` Ibnul Jazari (w. 833 H) hafal al-Qur`an saat berumur 13 tahun, menjadi imam shalat saat berumur 14 tahun, dan mandiri dalam qira’ah saat berumur 15 tahun.[54]
Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:
حَفِظْتُ القُرْآنَ وَأَنَا ابْنُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَحَفِظْتُ المُوَطَّأَ وَأَنَا ابْنُ عَشْرٍ
“Aku hafal al-Qur`an ketika berumur 7 tahun, dan aku hafal kitab al-Muwaththa` ketika berumur 10 tahun.”[55]
Al-Bulqini hafal al-Qur`an saat berumur 7 tahun, Ibnu Laban saat berumur 5 tahun, al-Hafizh al-Iraqi saat berumur 8 tahun, Abu Bakar Zarirani al-Baghdadi saat berumur 7 tahun, dan Muhammad bin Abdul Baqi al-Anshari saat berumur 7 tahun.
Tidak ketinggalan dari kalangan wanita. Ummu Darda` hafal al-Qur`an saat masih kecil kemudian dinikahi Abu Darda` lalu menimba ilmu kepada shahabat Nabi yang mulia ini. Dia membacakan hafalan al-Qur`an di depan Abu Darda` saat umurnya masih sangat kecil. Dia dikaruniai umur yang panjang dan menjadi masyhur karena ilmu, amal, dan kezuhudannya.[56]
Hafshah binti Sirin saudari Muhammad bin Sirin hafal al-Qur`an lalu menjadi ahlinya. Saat Muhammad bin Sirin mengalami kesulitan mengenai suatu masalah tentang al-Qur`an maka dia berkata, “Pergilah kalian dan tanyakan kepada Hafshah.”[57]
Semua penjelasan ini membuktikan bahwa para ulama Islam baik ahli hadits maupun yang lainnya, mereka menghafalkan al-Qur`an lalu menyempurnakan hafalannya, setelah itu Allah pun membukakan baginya ilmu-ilmu yang lain. Allah-lah pemilik semua kemulian dan anugerah.
Ibnu Mas’ud (w. 32 H) berkata:
مَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ، فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
“Barangsiapa yang menginginkan ilmu maka dalamilah al-Qur`an karena di dalamnya ada ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian.”[58]
Mereka telah menempuh jalan pendahulu mereka sehingga mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena kesuksesan itu ada pada mengikuti para shahabat dan kaum salaf.
Ibnu Abbas (w. 68 H) radhiyallahu ‘anhuma berkata:
تُوُفِّيَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا ابْنُ عَشْرِ سِنِينَ، وَقَدْ قَرَأْتُ المُحْكَمَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat saat aku berumur 10 tahun dan aku telah membaca[59] al-Muhkam[60].”[61]
Apa rahasia dibalik menghafal al-Qur`an dalam persiapan menghafal hadits?
Subhanallah! Jika kita renungkan, menghafal al-Qur`an memiliki pengaruh yang agung untuk menyiapkan rohani, jasmani, dan otak untuk menghafal ilmu-ilmu yang lain terutama hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedalaman pemahaman. Berikut akan penulis paparkan pembuktiannya lewat tiga sisi: sisi memori otak, sisi uslub al-Qur`an, dan sisi rasa percaya diri.
a. Sisi Memori Otak
Menghafal al-Qur`an menjadikan otak menjadi kokoh dan kuat dalam menghafal. Telah disinggung di awal buku bahwa otak manusia terdiri dari triliunan sel saraf yang disebut neuron. Semakin banyak sel-sel saraf ini yang saling terhubung, maka semakin kuat dan kokoh pula daya ingat dan  daya hafal. Menghafal dan mengulang-ulang adalah jalan utama untuk menghubungkan sel-sel saraf ini. Secara tidak langsung orang yang menghafal atau yang murajaah al-Qur`an sedang mempersiapkan otaknya untuk membuatnya kokoh, kuat, dan siap untuk menampung hafalan lain yang lebih banyak jumlahnya. Ibaratnya hutan belantara yang dilalui seekor binatang akan meninggalkan bekas meskipun sedikit, lalu dilalui binatang lain lagi, begitu seterusnya hingga ia menjadi jalan yang datar tanpa ada semaknya sama sekali.
Imam az-Zuhri (w. 124 H) berkata, “Sesungguhnya ada seorang penuntut ilmu yang memiliki hati bagaikan bukit yang gersang. Namun, lama-kelamaan ia menjadi bukit yang subur. Tidak ada sesuatu yang ditaruh di atasnya kecuali ia melahapnya.”
Abu Hilal menceritakan pengalaman pribadinya tentang masalah ini. Dia berkata, “Pada awalnya menghafal merupakan sesuatu yang sulit bagi saya. Kemudian saya membiasakan diri (menghafal), hingga saya mampu menghafal syair Ru’bah bin al-Ajjaj dalam satu malam yang berjumlah sekitar 200 bait.”[62]
Orang yang hafal al-Qur`an kebanyakan lebih cepat dalam menghafal nama seseorang daripada selainnya dan lebih tahan lama. Allahu a’lam.
b. Sisi Uslub al-Qur`an
Siapa pun yang pernah berkelana menghafal al-Qur`an tentu mengetahui uslub (susunan) al-Qur`an yang unik. Sungguh menakjubkan uslub-uslub al-Qur`an yang Allah buat di dalamnya, seolah-olah dengan hal itu Allah hendak menyiapkan para penghafal al-Qur`an untuk menjadi ahli ilmu yang luas keilmuannya, mendalam pemahamannya, dan kuat serta teliti hafalannya.
Uslub yang unik ini dikenal oleh ahli qira’ah dengan nama ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat mutasyabihat ini bervariasi: ada yang berupa pengulangan persis, pembuangan atau penambahan kata, pendahuluan atau pengakhiran kata, penggantian fi’il mudhari’ ke madhi dan sebaliknya, atau lain-lain dalam dua ayat atau lebih. Dengan adanya ini, para penghafal al-Qur`an secara tidak langsung diajari untuk lebih hati-hati, fokus, jeli, dan teliti dalam membaca hafalannya. Berikut ini beberapa contohnya.
a) Mutasyabihat di 2 Tempat
١- ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ   البقرة: ٣٠
٢- ﯟ  ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ    ﯧ  ﯨ  ﯩ  ﯪ  ﯫ  الحجر: ٢٨

b) Mutasyabihat di 3 Tempat!
١- ﭬ  ﭭ      ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ  ﭳ     ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷ   البقرة: ٨
٢- ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ   ﭘ  ﭙ  ﭚ   ﭛ  ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ   ﭣ  ﭤ  النساء: ٣٨
٣- ﭽ  ﭾ   ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃ  ﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ   ﮉ  ﮊ التوبة: ٢٩
c) Mutasyabihat di 7 Tempat!!
١- ﮆ   ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ      ﮐ  الأنعام: ١٤٤
٢- ﯬ   ﯭ  ﯮ  ﯯ          ﯰ  ﯱ  ﯲ  ﯳ  الأنعام: ١٥٧ ٣- ﯮ  ﯯ    ﯰ  ﯱ    ﯲ  ﯳ  ﯴ        ﯵ    ﯶ      ﯷ  ﯹ  ﯺ  ﯻ  ﯼ  ﯽ  الأعراف: ٣٧
٤-   ﰁ  ﰂ    ﰄ  ﰅ  ﰆ  ﰇ        ﰈ   ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ   ﭙ   ﭚ  ﭛ  ﭜ  ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ   ﭤ  الكهف: ١٥ - ١٦
٥-   ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ     ﭚ   ﭛ  ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  الزمر: ٣٢
٦- ﮒ  ﮓ     ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ      ﮛ  ﮝ         ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡ  يونس: ١٧
٧- ﭲ  ﭳ   ﭴ  ﭵ      ﭶ  ﭷ  ﭸ    ﭹ  ﭺ  ﭻ    ﭼ  ﭾ  ﭿ   ﮀ  ﮁ  ﮂ    ﮃ  الصف: ٧


d) Mutasyabihat di 20 Tempat!!!
١- ﯴ  ﯵ  ﯶ  ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺ             ﯻ  ﯼ   ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ   ﭕ  ﭖ      ﭗ  ﭘ    ﭙ       البقرة: ٢٤٨ - ٢٤٩
٢- ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ           ﮩ  ﮪ   آل عمران: ٤٩
٣- ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟ   ﮠ  ﮡ  ﮢ   ﮤ  ﮥ      ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ  هود: ١٠٣
٤- ﭵ  ﭶ  ﭷ   ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ        ﭽ  ﭾ  ﭿ  ﮀ   الحجر: ٧٧ - ٧٨
٥-  ﮇ  ﮈ   ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ   ﮐ  ﮒ   ﮓ  ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ   النحل: ١١
٦- ﮫ  ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯔ      ﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ     ﯙ  ﯚ  النحل: ١٣
٧- ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ   ﭾﭿ  ﮀ       ﮁ  ﮂ  ﮃ  ﮄ      ﮅ  ﮆ  النحل: ٦٧
٨- ﮕ  ﮖ          ﮗ  ﮘ      ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮟ  ﮠ  ﮡ   ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ  ﮭ    ﮮ  ﮯ  النحل: ٦٩
٩- ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭜ    ﭝ  ﭞ   ﭟ  ﭠ    ﭡ  ﭢ  النحل: ٦٥
١٠- ﮩ  ﮪ     ﮫ  ﮬ   ﮭ  ﮯ      ﮰ  ﮱ   ﯓ  ﯔ     ﯕ  ﯖ  النمل: ٥٢
١١- ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯔ  ﯕ  ﯖ   ﯗ  ﯘ  ﯙ  العنكبوت: ٤٤
١٢- ﭣ  ﭤ  ﭥ  ﭦ  ﭧ  ﭨ   ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ   ﭳ   ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷ        ﭸ  ﭹ  ﭻ  ﭼ  ﭽ   ﭾ  ﭿ       ﮀ  ﮁ  ﮂ  سبأ: ٩
١٣- ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮑ  ﮒ      ﮓ  ﮔ  ﮕ  ﮖ   ﮗ  ﮘ   ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡ    ﮢ     ﮣ  ﮤ  الشعراء: ٨ - ١٠
١٤- ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮄ  ﮅ  ﮆ      ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ   ﮌ      ﮍ   ﮎ  ﮏ  ﮐ   ﮑ  ﮒ      ﮓ  الشعراء: ٦٧ - ٦٩
١٥- ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﯣ  ﯥ  ﯦ               ﯧ    ﯨ  ﯩ  ﯪ  ﯫ  ﯬ  ﯭ   ﯮ   ﯯ  ﯰ       ﯱ  ﯲ  ﯳ  ﯴ  الشعراء: ١٠٣ - ١٠٥
١٦- ﮑ  ﮒ  ﮓ  ﮔ  ﮖ  ﮗ   ﮘ   ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ   ﮞ     ﮟ  ﮠ  ﮡ      ﮢ  ﮣ  ﮤ  الشعراء: ١٢١ - ١٢٣
١٧- ﭛ   ﭜ  ﭞ   ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭣ  ﭤ           ﭥ    ﭦ  ﭧ  ﭨ   ﭩ   ﭪ  ﭫ   ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ  الشعراء: ١٣٩ - ١٤١
١٨- ﯾ  ﯿ  ﰁ   ﰂ  ﰃ  ﰄ  ﰆ  ﰇ               ﰈ  ﰉ  ﰊ  ﰋ  ﰌ  ﰍ  ﰎ     ﰏ  ﰐ   ﭑ      ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  الشعراء: ١٥٨ - ١٦٠
١٩- ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ  ﯖ  ﯗ  ﯘ       ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ   ﯞ    ﯟ  ﯠ  ﯡ  ﯢ     ﯣ  ﯤ  ﯥ  الشعراء: ١٧٤ - ١٧٦
٢٠- ﮃ      ﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮈ  ﮉ       ﮊ   ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ    ﮐ     ﮑ   ﮒ  ﮓ  ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  الشعراء: ١٩٠ - ١٩٢
          Bersamaan dengan banyaknya mutasyabihat ini yang secara dhahir mengacaukan hafalan, justru kaum salaf terkenal dengan kemutqinannya (kokoh dan kuat hafalannya), tentunya dengan perjuangan besar. Di antara mereka ada yang khatam al-Qur`an dalam satu bulan, ada yang 15 hari, ada yang 7 hari sebagaimana Imam Ahmad dan Ibnul Jauzi, ada yang 3 hari sebagaimana Khaitsamah, ada yang 2 malam sebagaimana Sa’id bin Jubair, ada yang setiap hari sebagaimana Manshur bin Zadzan, ada yang semalam saja dalam shalatnya sebagaimana Utsman bin Affan, dan ada pula yang 2 kali khatam dalam sehari semalam sebagaimana Imam asy-Syafi’i pada bulan Ramadhan. Akhirnya, hafalan mereka kuat sehingga otaknya cerdas dan siap menampung hafalan yang lebih besar dan banyak dari itu.
          Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar bin Ayyasy menjelang wafat, adik perempuannya menangis. Lalu sambil menunjuk ke salah satu dinding rumahnya, dia berkata:
لَا تَبْكِي فَقَدْ خَتَمَ أَخُوكَ فِي تِلْكَ الزَّاوِيَةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ أَلْفِ خَتْمَةٍ
“Jangan menangis, karena kakakmu ini telah khatam al-Qur`an sebanyak 18.000 kali di sudut itu.”[63]
c. Sisi Rasa Percaya Diri
Al-Qur`an standar mushaf Utsmani yang beredar berjumlah 604 halaman atau 302 lembar yang terdiri dari 114 surat, 6.236 ayat, 77.439 kata, dan 340.740 huruf, menurut pendapat yang masyhur.[64]  Hafalan sebanyak ini adalah luar biasa yang tidak pernah mampu dilakukan oleh umat-umat terdahulu.
Abu Amr ad-Dani berkata:
وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ عَدَدَ آيِ الْقُرْآنِ سِتَّةُ آلَافِ آيَةٍ ثُمَّ اِخْتَلَفُوا فِيمَا زَادَ، فَقِيلَ: وَمِائَتَا آيَةٍ وَأَرْبَعُ آيَاتٍ،  وَقِيلَ: وَأَرْبَعُ عَشْرَةٍ، وَقِيلَ: وَتِسْعُ عَشْرَةٍ، وَقِيلَ: وَخَمْسٌ وَعِشْرُونَ، وَقِيلَ: وَسِتٌّ وَثَلَاثُونَ
“Para ulama bersepakat bahwa jumlah ayat al-Qur`an adalah 6.000 ayat, tetapi mereka berselisih pendapat tentang kelebihannya. Ada yang berpendapat lebih 204 ayat, 214 ayat, 219 ayat, 225 ayat, dan 236 ayat.”[65]
Lihatlah al-Qur`an yang berisi ribuan ayat ini, kemudian bayangkan bahwa semua itu ada dalam dada Anda. Bagaimana perasaan Anda saat melihat hadits sekian puluh, sekian ratus, bahkan sekian ribu? Tentu terasa ringan bila ingin menghafalnya karena rasa percaya diri yang Allah berikan kepada Anda dengan berkah al-Qur`an yang lebih tebal kitabnya dan lebih urut hafalannya. Allahu a’lam.[]

3. Merintis Hafalan Mutun
Setelah mahir bahasa Arab dan hafal al-Qur`an, langkah selanjutnya adalah menghafal matan-matan ringkas dan sederhana untuk setiap disiplin ilmu.
Apa keuntungan melewati tahapan ini?
Pertama, untuk benar-benar menyiapkan otak sebelum menceburkan diri ke samudra hadits yang sangat dalam dan luas.
Kedua, mendahulukan yang mendesak daripada yang penting. Menghafal hadits adalah penting, tetapi ada yang lebih penting dan mendesak yaitu mempelajari dan menghafal dasar-dasar aqidah shahihah, fiqih ibadah sehari-hari, adab islami sehari-hari, musthalah hadits, dan lain-lain, bahkan semua disiplin ilmu ini secara tidak langsung akan melicinkan jalan megaproyek menjadi al-hafizh.
Ibnu Wahhab berkata:
قِيلَ لِمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ: مَا تَقُولُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ؟ قَالَ: حَسَنٌ جَمِيلٌ وَلَكِنِ انْظُرِ الَّذِي يَلْزَمُكَ مِنْ حِينِ تُصْبِحُ إِلَى حِينِ تُمْسِي فَالْزَمْهُ
“Ditanyakan kepada Malik bin Anas, ‘Apa pendapat Anda tentang menuntut ilmu?’ Dia menjawab, ‘Baik dan bagus, hanya saja perhatikanlah apa yang perlu kamu amalkan dari pagi hingga sore, lalu amalkan secara rutin.”[66]
Ketiga, dengan memiliki hafalan fan/disiplin ilmu tertentu akan memudahkan penuntut ilmu bila ingin mengembangkan fan tersebut. Dikatakan oleh sebagian ulama:
مَنْ حَفِظَ الْمُتُوْنَ حَازَ الْفُنُوْنَ
“Barangsiapa yang hafal matan-matan, maka dia menguasai fan-fan tersebut.”
Seseorang yang ingin menjadi ahli hadits maka minimal memiliki dua hafalan: Arba’in an-Nawawi dalam hadits dan Mandhûmah al-Baiqûniyyah dalam musthalah hadits. Kepada kedua ini, dia berpegang agar tidak goncang dan bingung. Setelah menguasainya, maka kitab-kitab yang lain akan terasa mudah baginya karena telah memiliki barometer untuk mengukur. Akhirnya, dia pun bisa mengembangkan keilmuannya dalam bidang tersebut dengan mempelajari kitab-kitab lain yang setema dengan keragaman kelebihan masing-masing.
Adapun kutaib-kutaib matan yang direkomendasikan adalah:
Ø  Aqidah: Aqîdah al-Wâsithiyyah karya Ibnu Taimiyyah.
Ø  Al-Qur`an: Muqaddimah al-Jazariyyah (ilmu tajwid).
Ø  Hadits: Arba’în an-Nawawî dan al-Baiqûniyyah.
Ø  Fiqih: Matan Abû Syujâ’ (fiqih madzhab asy-Syafi’i) dan Bulûghul Marâm (hadits-hadits fiqih) karya Ibnu Hajar.
Ø  Bahasa: Matan al-Ajurrumiyyah (nahwu) dan al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah (sharaf).
Ø  Adab: Hishnul Muslim karya Wahf al-Qahthani.

Sekilas Tentang Arbain an-Nawawi
a. Pengenalan
Hadits Arbain atau Arbain an-Nawawi disusun oleh al-Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (w. 676 H). Arbain artinya empat puluh, karena kutaib (kitab kecil) ini mencantumkan 42 hadits yang berisi pokok-pokok ajaran Islam.
Banyak ulama yang menyusun hadits arbain, di antaranya Ibnul Mubarak, ath-Thusi, an-Nasa`i, Abu Bakar al-Ajurri, Abu Bakar al-Ashfahani, ad-Daruquthni, al-Hakim, Abu Nu’aim al-Ashfahani, Abu Abdirrahman as-Sulami, Abu Utsman ash-Shabuni, Abu Bakar al-Baihaqi dan lain-lain yang tidak terhitung jumlahnya. Di antara mereka ada yang menghimpun 40 hadits tentang ushul, cabang, jihad, zuhud, adab, dan tema-tema baik lainnya.[67]
Secara umum hadits-hadits Arbain karya Imam an-Nawawi adalah hadits-hadits pokok dalam agama Islam. Dari keistimewaan ini, belum ada kutaib manapun yang setema mengunggulinya. Dikatakan bahwa pokok-pokok agama Islam tercantum dalam tiga hadits: hadits niat Umar bin Khaththab, hadits bid’ah Aisyah, dan hadits halal-haram an-Nu’man bin Basyir, dan semua hadits ini dimasukkan al-Imam dalam kutaibnya ini.
Imam Ahmad (w. 241 H) berkata:
أُصُوْلُ الْإِسْلاَمِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحَادِيْثَ: حَدِيْثُ عُمَرَ «الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتَ»، وَحَدِيْثُ عَائِشَةَ «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»، وَحَدِيْثُ النُّعْمَانِ بِنْ بَشِيْرٍ «الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ»
“Pokok-pokok Islam terangkum dalam tiga hadits: hadits Umar ‘Amal itu dengan niat’, hadits Aisyah ‘Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan kami apa yang bukan darinya maka ia tertolak’, dan hadits an-Nu’man bin Basyir ‘Yang halal jelas dan yang haram jelas.’[68]
Semua hadits ini dicantumkan oleh al-Imam secara berturut-turut no. 1, no. 5, dan no. 6.
Perlu diketahui, dalam Arbain an-Nawawi terdapat tiga hadits yang dha’if tetapi dinilai hasan/shahih oleh al-Imam,  yaitu hadits no. 27, 30, dan 41. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh para pensyarahnya. Barangkali dicantumkannya hadits-hadits itu karena ada hadits lain setema yang tsabit atau ijtihad pengarang terhadap perawi bahwa mereka diterima atau minimal hasan.
Pengarang Arbain an-Nawawi adalah seorang imam ahli hadits pada zamannya sehingga digelari al-hafizh “hafal ribuan hadits”. Allah telah menjadikan penerimaan kutaib ini di hati kaum muslimin dan menjadikan puluhan ulama mensyarah hadits ini karena kandungan faidah yang banyak di dalamnya.
Di antara para ulama yang mensyarah kutaib ini adalah[69]:
  1. Imam an-Nawawi sekaligus penyusun kutaib ini.
  2. Imam Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H) dalam kitabnya Syarah Arbain an-Nawawiyah.
  3. Imam Ibnu Rajab (w. 795 H) dalam kitabnya Jâmi’ul Ulûm wal Hikam yang merupakan syarah terbaik Arbain an-Nawawi.
  4. Imam Ibnu Mulaqqin (w. 804 H).
  5. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di (w. 1376 H).
  6. Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi (w. 1163 H).
  7. Syaikh Musthafa al-Bagha dan Muhyiddin Mistu.
  8. Syaikh Nazhim Muhammad Sulthan.
  9. Syaikh al-Utsaimin (w. 1421 H).
  10. Syaikh Abdul Muhsin al-Abd al-Badr.
  11. Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan.
  12. Syaikh Shalih Alu Syaikh, dan lain-lain banyak sekali.
Kutaib ini telah mendapatkan pujian yang banyak dari para ulama dari zaman ke zaman. Maka, tidak layak bagi penuntut ilmu meninggalkan kutaib ini tanpa menghafalnya. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan.
b. Tips Mudah Menghafal Arbain an-Nawawi
Penulis di sini tidak mencantumkan cara yang memang sudah umum tidak boleh tidak --bahkan dalam segala hal-- seperti ikhlas dll. Walhamdulillah hal ini telah diketahui oleh semua orang. Namun, yang akan penulis tawarkan adalah langkah nyata atau konkrit dalam menghafalnya. Berikut langkah-langkahnya:
  1. Bagilah hadits-hadits Arbain menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama berisi hadits-hadits pendek (22 hadits: no. 5, 7, 8, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 30, 31, 32, 33, 34, 39, 40, 41, dan 42), kelompok kedua berisi hadits-hadits sedang (15 hadits: no. 1, 3, 6, 9, 10, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 35, 36, 37, dan 38), dan kelompok terakhir berisi hadits-hadits panjang (5 hadits: no. 2, 4, 19, 24, dan 29). Hafalkan kelompok pertama dulu, baru kemudian kelompok kedua, dan seterusnya. Motode ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan keputusasaan dan kejenuhan.
  2. Hafalkan yang matan (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) terlebih dulu, jika sudah selesai menghafal semua matan yang berjumlah 42 hadits, dilanjutkan menghafal shahabat yang meriwayatkannya, baru kemudian takhrijnya.
  3. Jika semua langkah di atas telah diterapkan dan telah/pernah hafal semuanya, bagilah menjadi tiga bagian, yaitu no. 1 s.d no. 10, no. 11 s.d no. 30, dan no. 31 s.d no. 42. Mulailah mengulang-ulang bagian pertama hingga benar-benar sempurna hafalannya. Jika sudah mutqin dilanjutkan dengan bagian kedua, kemudian bagian ketiga. Usai itu, ditutup dengan mengulangi dari awal hingga akhir. Akhirnya Anda pun telah sukses menghafal 42 hadits.
  4. Terakhir, jika Anda telah hafal 42 hadits secara sempurna tidak boleh terlalu percaya diri dulu. Belum selesai! Anda harus mengulang-ulang hafalan itu minimal 50 kali dari hadits no. 1 hingga no. 42. Sekedar saran, sempatkan memurajaahnya minimal sekali dalam sehari pada waktu antara Maghrib sampai Isya`. Insya Allah dengan begitu Anda akan memiliki hafalan yang sempurna dan siap dinukil kapan pun dan di mana pun Anda mau.
Ketahuilah! Termasuk akal yang kurang cerdas adalah melepas hewan buruan yang berhasil ditangkapnya.
  1. Terakhir sekali, jika semua langkah ini telah Anda tempuh dan Anda pun telah hafal 42 hadits dengan hafalan yang kokoh, maka jangan lupa bersyukur kepada Allah dan mengamalkan hadits-haditsnya.
Di antara bentuk syukur itu adalah dengan sedekah. Terdapat sebuah riwayat bahwa al-Hafizh Ibnu Hajar setelah menyelesaikan penggarapan Fathul Bârî Syarah Shahîh al-Bukhârî selama bertahun-tahun, beliau mengadakan pesta makan besar-besaran hingga orang-orang memenuhi jalan-jalan, dan ikut serta merayakannya penguasa pada waktu itu.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu menghafal surat al-Baqarah selama 12 tahun. Usai itu, beliau menyembelih seekor kambing dan menyedekahkannya kepada orang-orang. Putranya memberitakan:
تَعَلَّمَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ الْبَقَرَةَ فِي اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً، فَلَمَّا خَتَمَهَا نَحَرَ جَزُوْرًا
“Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu belajar (menghafal) surat al-Baqarah selama 12 tahun. Tatkala khatam, dia menyembelih jazur[70].”[71][]


4. Petualangan Dimulai
Kini saatnya untuk berpetualang. Ucapkanlah bismillah dan mintalah pertolongan kepada Allah dalam menempuh jalan ini dan jangan lemah.
Setelah hafal Arbain an-Nawawi, dilanjutkan dengan hadits-hadits muttafaqun ‘alaih di kitab al-Lu’lu’ wa al-Marjân karya Syaikh Fuad Abdul Baqi yang berisi 1.906 hadits muttafaqun ‘alaih yang dikeluarkan al-Bukhari dan Muslim dalam dua kitab shahihnya. Minimal ada dua keuntungan memilih kitab ini:
  1. Kebanyakan kitab-kitab para ulama lebih mendahulukan dalil dari hadits-hadits Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, lalu al-Bukhari sendirian, baru kemudian Muslim sendirian. Dengan Anda menghafal kitab ini, maka akan memudahkan Anda nantinya dalam membaca kitab-kitab para ulama, dan menimbulkan semangat dan kegandrungan membaca kitab-kitab mereka tanpa bersusah payah.
  2. Kitab-kitab hadits yang mu’tabar ada banyak dan yang terkenal adalah kutubus sittah (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan an-Nasa`i). Terkadang ada satu hadits yang diriwayatkan oleh para imam tersebut tetapi redaksinya sedikit berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tentu hal ini akan melemahkan dan membuat buyar hafalan Anda. Maka, menjadikan hadits-hadits muttafaqun ‘alaih al-Bukhari Muslim sebagai patokan hafalan Anda adalah tindakan yang bijak.
Usai itu lanjutkan dengan Shahih al-Bukhari[72] lalu Shahih Muslim[73] lalu Sunan at-Tirmidzi lalu Sunan Abu Dawud lalu Sunan an-Nasa`i lalu Sunan Ibnu Majah lalu Musnad Ahmad. Jika usai semua, diperkirakan hafalan Anda sekitar 80.000 hadits. Jumlah ini masih sangat jauh dari hafalan kaum salaf kita, maka jangan berhenti dan merasa cukup tanpa alasan yang dibenarkan.[74]
 Pilihlah seorang syaikh, ustadz, atau orang terpercaya yang berkenan mendengar dan menerima hafalan Anda. Hal ini sangat bermanfaat untuk menjaga keistiqamahan dan semangat.
Di antara pembaca mungkin ada yang sibuk kerja karena tuntutan keluarga, kuliah umum karena tuntutan orang tua, atau kesibukan-kesibukan lainnya. Namun, hal ini bukan alasan untuk mematahkan cita-cita kita.
Jangan merasa pesimis hanya karena Anda berada di lingkungan yang tidak mendukung seakan-akan megaproyek ini hanya khayalan belaka. Ahli ushul fiqih mengatakan, “Apa yang tidak bisa diraih semuanya maka jangan ditinggal semuanya.” Yang baik adalah tempuhlah jalan itu semampu Anda meskipun secara kenyataan tidak akan sampai ke tempat tujuan. Jika Anda sungguh-sungguh, niscaya Allah akan menyiapkan untuk Anda apa yang dulunya tidak terbayangkan, insya Allah.
Perlu diketahui, ini hanyalah pendapat penulis pribadi yang boleh diambil dan boleh pula ditinggal. Bahkan, di sana mungkin ada langkah-langkah yang jauh lebih baik yang tidak ada di sini dalam hal menghafal, baik metode maupun urutan-urutannya. Penulis tidak berpendapat bahwa semua poin di sini harus disikapi rigit/kaku tanpa toleransi. Semuanya kembali kepada diri masing-masing dari kita. Penulis laksana penjual yang menawarkan barang, sementara Anda memiliki hak khiyar untuk melanjutkan aqad atau membatalkannya. Semoga Allah memudahkan segala urusan ilmiah kita.[]



           


Menyelam Sambil Minum Air
Agar kegiatan menghafal selalu semangat, buatlah cita-cita atau target tertentu. Maksudnya, tidak sekedar menghafal tetapi bekas menghafal itu terwujud dalam karya. Muhaddits zaman ini Syaikh al-Albani, menggunakan konsep ini. Di sela-sela mempelajari dan menghafal hadits, beliau wujudkan itu dalam karya-karya meliputi meringkas Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, mentakhrij dan mentashhih kutubus sittah, dan mengumpulkan hadits-hadits shahih dalam kitabnya Silsilah al-Ahâdîts as-Shahîhah. Dengan begitu kegiatan menghafal menjadi mudah, ringan, dan waktu terasa singkat.
Kaum muslimin memerlukan seorang penuntut ilmu yang memiliki semangat kuat untuk mengumpulkan semua hadits di kutubus sab’ah (kutubus sittah ditambah Musnad Ahmad). Kemudian, dipilah-pilah hadits yang setema yang berdekatan redaksinya kemudian ditentukan satu saja dari kumpulan hadits tersebut mana yang dipandang mencukupi untuk dimasukkan ke kitabnya. Cukup hadits shahih saja yang dimasukkan. Akhirnya kitab ini menjadi pegangan kaum muslimin dan memberi banyak faidah, terutama bagi para penghafal agar tidak goncang hafalannya yang disebabkan banyaknya hadits-hadits yang berdekatan redaksinya sesuai dengan banyaknya jalan-jalan periwayatan (thuruqul hadits).
Siapakah gerangan orang itu??? Semoga dia adalah yang sedang membaca ini. Allahul muwaffiq.
Demikian 4 tadarruj penting yang harus ditempuh dengan pelan-pelan oleh setiap peserta megaproyek ini sesuai urutannya. Adapun sisanya, meskipun juga memakai istilah tadarruj tetapi ia dilakukan secara bersamaan dari awal hingga akhir. Allahu a’lam.[]


5. Jauhi Maksiat
Ilmu syar’i adalah kemuliaan sementara maksiat adalah kehinaan. Kemuliaan tidak akan berkumpul dalam satu tempat dengan kehinaan. Setiap hamba yang melakukan maksiat, maka ilmu yang di dalam hatinya akan pergi sesuai kadar maksiatnya, hafalannya akan melemah, dan cahaya pemahamannya akan padam di dalam hatinya.
Allah berfirman:
ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ   ﰁ   ﰂ  ﰃ  ﰄ  ﰅ  ﰆ          ﰇ 
“Dan musibah apapun yang menimpamu disebabkan perbuatan tanganmu sendiri dan Dia mengampuni banyak (kesalahan).”[75]
Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنِّي لَأَحْسَبُ الرَّجُلَ يَنْسَى الْعِلْمَ بِالْخَطِيئَةِ يَعْمَلُهَا
“Saya menganggap orang yang lupa ilmu karena dosa yang dilakukannya.”[76]
Dosa dan maksiat melemahkan hafalan, menumpulkan otak, memadamkan cahaya hati, dan menimbulkan kemuraman wajah. Oleh karena itu, bila ditimpa malapetaka dan musibah, kaum salaf langsung mengingat-ingat dosa yang dulu mereka lakukan.
Muhammad bin Sirin (w. 110 H) berkata:
إِنِّي لَأَعْرِفُ الذَّنْبَ الَّذِي حُمِلَ عَلَيَّ بِهِ الدَّيْنُ مَا هُوَ، قُلْتُ لِرَجُلٍ مِنْ أَرْبَعِينَ سَنَةً: يَا مُفْلِسُ!
“Aku benar-benar mengetahui dosa yang menyebabkanku dililit hutang ini, yaitu aku pernah berkata kepada seseorang 40 tahun silam, ‘Hai orang bangkrut!’”[77]
Ja’far bin Sulaiman berkata:
كَانَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ مِنْ أَحْفَظِ النَّاسِ لِلْقُرْآنِ، وَكَانَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا كُلَّ يَوْمٍ جُزْءًا مِنَ الْقُرْآنِ حَتَّى خَتَمَ، فَإِنْ أَسْقَطَ حَرْفًا قَالَ: بِذَنْبٍ مِنِّي وَمَا اللّٰهُ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“Malik bin Dinar termasuk manusia yang paling hafal al-Qur`an. Dia membacakan kepada kami setiap hari satu juz al-Qur`an hingga khatam. Jika dia keliru satu huruf, dia berkata, ‘Akibat dosaku dan Allah tidak berbuat zhalim kepada para hamba-Nya.’”[78]
Abu Dawud al-Hafari berkata:
دَخَلْتُ عَلَى كُرْزِ بْنِ وَبَرَةَ بَيْتَهُ فَإِذَا هُوَ يَبْكِي، فَقُلْتُ لَهُ: مَا يُبْكِيْكَ؟ قَالَ: إِنَّ بَابِي مُغْلَقٌ، وَإِنَّ سِتْرِي لَمُسْبَلٌ، وَمُنِعْتُ حِزْبِي أَنْ أَقْرَأَهُ الْبَارِحَةَ، وَمَا هُوَ إِلَّا مِنْ ذَنْبٍ أَحْدَثْتُهُ
“Aku masuk menemui Kurz bin Wabarah di rumahnya. Ternyata dia sedang menangis. Aku bertanya kepadanya, ‘Apa yang membuat Anda menangis?’ Dia menjawab, ‘Pintu rumahku terkunci dan kordenku tertutup, sehingga aku terhalangi membaca al-Qur`an tadi malam. Ini tidak lain adalah karena dosa yang aku perbuat.’”[79]
Setiap kali Imam Abu Hanifah menemukan kesulitan dalam suatu masalah, dia berkata kepada para muridnya, “Semua ini karena dosa yang pernah aku lakukan.” Kemudian dia beristighfar, terkadang berdiri dan shalat, hingga terbuka baginya permasalahannya. Dia berkata, ‘Saya berharap Allah sudah menerima taubat saya.’
Hal tersebut sampai ke Fudhail bin Iyadh lalu dia menangis dengan tangisan yang isak lalu berkata, “Yang demikian itu karena dosanya yang sedikit, adapun selain dia tidak ada yang menyadari dosanya.”[80]
Sebagaimana maksiat melemahkan hafalan dan pemahaman, maka meninggalkan maksiat adalah obat yang paling mujarab untuk menguatkan hafalan dan pemahaman. Di sinilah letak perbedaan kekuatan hafalan kaum salaf di masa dulu dan kaum khalaf di masa sekarang.
Ali bin Khasyram berkata:
مَا رَأَيْتُ بِيَدِ وَكِيْعٍ كِتَاباً قَطُّ، إِنَّمَا هُوَ حِفْظٌ، فَسَأَلتُهُ عَنْ أَدوِيَةِ الحِفْظِ؟ فَقَالَ: إِنْ عَلَّمْتُكَ الدَّوَاءَ، اسْتَعْمَلتَه؟ قُلْتُ: إِيْ وَاللَّهِ. قَالَ: تَرْكُ المَعَاصِي، مَا جَرَّبْتُ مِثْلَهُ لِلْحِفْظِ
“Aku tidak pernah melihat kitab sama sekali di tangan Waki’, tetapi hanya hafalan. Lalu aku bertanya kepadanya tentang obat hafalan (agar tidak lupa)? Dia menjawab, ‘Jika aku beritahu obat itu, apakah kamu mau melakukannya?’ Aku menjawab, ‘Ya, demi Allah.’ Dia menjawab, “Meninggalkan maksiat. Aku belum pernah mencoba yang lebih mujarab untuk hafalan yang semisalnya.’”[81]
Yahya bin Yahya berkata:
سَأَلَ رَجُلٌ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ: يَا أَبَا عَبْدِ اللّٰهِ هَلْ يَصْلُحُ لِهَذَا الْحِفْظِ شَيْءٌ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ يَصْلُحُ لَهُ شَيْءٌ فَتَرْكُ الْمَعَاصِي
“Seseorang berkata kepada Imam Malik bin Anas dan berkata, ‘Wahai Abu Abdillah! Apa yang membuat baik hafalan?’ Dia menjawab, ‘Jika ada yang membuat baik, itu adalah meninggalkan maksiat.’”[82]
Imam asy-Syafi’i terkenal dengan hafalannya yang sangat kuat, bahkan hanya sekali dengar langsung hafal. Untuk itu, saat melewati pasar beliau menyumbat telinganya karena khawatir sumpah-sumpah orang pasar beliau hafal. Dikisahkan bahwa suatu ketika tidak seperti biasanya Imam as-Syafi’i mengalami kekacauan hafalan, lalu beliau mengadukan perkaranya kepada gurunya Waki’ bin Jarrah untuk meminta bimbingan. Gurunya menanyakan kepadanya untuk mengingat-ingat dosa yang pernah dilakukannya. Kemudian, ingatlah al-Imam bahwa beliau pernah tanpa sengaja melihat betis seorang wanita yang tersingkap karena tertiup angin. Maka, gurunya menasihatinya agar meninggalkan maksiat karena ilmu adalah cahaya dan cahaya itu tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.
Diriwayatkan bahwa Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) bersenandung dalam syairnya:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ ... فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَقَالَ: اِعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ ... وَنُوْرُ اللّٰهِ لَا يُؤْتَى لِعَاصِي
“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku … lalu dia membimbingku untuk meninggalkan maksiat … dan berkata, ‘Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahanya … dan cahaya Allah tidak diberikan  kepada pelaku maksiat.’”[83]
Bisyr al-Harits berkata:
إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تُلَقَّنَ الْعِلْمَ، فَلَا تَعْصِ
“Jika kamu ingin mendapat ilmu, maka jangan bermaksiat.”[84]
Solusi Ilahi
Manusia adalah tempat salah dan khilaf. Mungkin saja orang mukmin mengerjakan maksiat, dan ini bukan hal yang mustahil, sementara Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.
Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) berkata:
إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ لَيَعْمَلُ الذَّنْبَ فَلَا يَزَالُ بِهِ كَئِيبًا
“Sesungguhnya hamba yang beriman bisa berbuat dosa, hanya saja sebab itu dia jadi murung.”[85]
Allah yang mahatahu mengetahui bahwa manusia makhluk lemah dan memiliki nafsu yang cenderung menyukai maksiat. Namun, hal ini tidak menghalanginya untuk menjadi hamba yang dekat kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah membuka pintu tobat, bahkan mencintai orang-orang yang bertobat.
Saat Allah menetapkan aturan agar kaum mukmin menundukkan pandangannya terhadap kaum mukminah dan sebaliknya, Dia Yang Maha Pengampun menutup dengan firman-Nya:
ﯻ   ﯼ    ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ  ﰁ  ﰂ  ﰃ  
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang mukmin agar kalian beruntung.”[86]
Lafazh jami’an (semua) seakan mengisyaratkan kepada kita bahwa hampir tidak ada seorang pun yang selamat dari dosa memandang ini, tidak terkecuali orang mukmin. Lalu Allah membuka pintu tobat dan berjanji menerima tobat bagi yang sungguh-sungguh bertobat. Demikianlah solusi yang Allah tawarkan dalam surat an-Nur di atas, yakni istighfar dan tobat. Isi solusi pertama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«وَاللّٰهِ! إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً»
“Demi Allah! Sungguh aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadanya dalam sehari lebih dari 70 kali.”[87]
«مَنْ قَالَ: اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ»
“Barangsiapa berdoa, ‘Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia yang mahahidup yang mahaberdiri sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya,’ maka Dia akan mengampuninya meskipun pernah kabur saat perang berkecamuk.”[88]
Solusi kedua adalah banyak melakukan ibadah dan kebaikan, karena kebaikan itu akan menghapus keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«اتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»
“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan maka ia akan




menghapusnya, dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.”[89]
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu (w. 32 H) berkata:
اَنَّ رَجُلاً نَالَ مِنِ امْرَاَةٍ قَبَّلَهاَ فَاَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَسَاَلَهُ عَنْ كَفَّارَتِهَا؟ فَنَزَلَتْ: ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ     ﮭ  ﮮ       ﮯ  ﮱ   ﯓ  ﯔ  ﯕ  قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ هَذِهِ لِي؟ قَالَ: «لِمَنْ عَمِلَ مِنْ اُمَّتِي»
“Ada seorang lelaki yang menciumi wanita lalu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya tentang kafaratnya. Lalu turun ayat, ‘Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada permulaan malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu akan menghapus keburukan-keburukan.’[90] Dia bertanya, ‘Wahai Rasulullah apakah ini khusus untukku?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan untuk siapa saja yang melakukannya dari umatku.’[91]
Seandainya dia belum bisa maksimal dalam meninggalkan maksiat, maka hendaklah ia mendekat kepada Allah dengan memperbanyak sedekah, puasa sunnah, shalat sunnah, dan kebaikan-kebaikan lain dalam Islam dengan berusaha semampunya untuk meninggalkannya, serta memperbanyak istighfar. Semoga dengan itu Allah tidak meninggalkannya.
Solusi ketiga adalah tidak melakukan dosa-dosa besar. Allah berfirman:
ﮒ  ﮓ  ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ       ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ      ﮞ  
“Jika kalian meninggalkan dosa-dosa besar yang kalian dilarang darinya, niscaya Kami akan hapus kesalahan-kesalahan kalian dan Kami akan memasukkan kalian ke tempat yang mulia.”[92]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ»
“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan akan menghapus apa (dosa) yang ada di antaranya asal dia menjahui dosa-dosa besar.”[93]
          Sungguh Allah maha penyayang dan maha belas kasih kepada hamba-hamba-Nya.[]



6. Rajin Puasa
Di antara kaum salaf ada yang berkata, “Kami dahulu mencari hadits dengan bantuan puasa dan beramal dengan bantuan shalat malam.”
Al-Hasan bin Shalih berkata:
كُنَّا نَسْتَعِينُ عَلَى طَلَبِهِ بِالصَّوْمِ
“Kami meminta bantuan dalam menuntut ilmu dengan berpuasa.”[94]
Orang yang banyak makan akan banyak minum. Orang yang banyak minum akan cepat kenyang. Orang yang kenyang akan malas belajar dan keinginannya selalu tidur.
Nadhar bin Syumail berkata, “Seseorang tidak akan mendapatkan kelezatan ilmu hingga dia merasakan lapar lalu melupakan laparnya.”[95]
Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:
مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً إِلاَّ مَرَّةً، فَأَدْخَلْتُ يَدِي فَتَقَيَّأْتُهَا، لِأَنَّ الشِّبَعَ يُثْقِلُ البَدَنَ وَيُقَسِّي القَلْبَ وَيُزِيلُ الفِطْنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ وَيُضْعِفُ عَنِ العِبَادَةِ
“Aku tidak pernah kenyang selama 16 tahun kecuali sekali, tetapi aku memasukkan tanganku agar aku muntah. Sebab kenyang bisa memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mengajak tidur, dan melemahkan ibadah.”[96]
Imam an-Nawawi tidak berani makan buah-buahan dan berkata, “Saya takut menjadi gemuk dan mendorong saya untuk banyak tidur.” Dia makan dalam sehari semalam hanya sekali yaitu ketika sahur.[97]
Luqman al-Hakim menasihati anaknya, “Wahai anakku, apabila kamu penuhi lambungmu maka dia akan menutupi pikiranmu. Pelajaran akan tertahan dan anggota badan akan malas untuk beribadah.”[98]
Menurut studi dan eksperimen terbaru, puasa secara fisik memiliki banyak manfaat. Puasa berfungsi mendorong sistem detoksifikasi pada tubuh, membersihkan dan meregenerasi sel, jaringan, pembuluh darah, organ dan sistem, serta memberi waktu istirahat dan pemulihan diri bagi sistem pencernaan tubuh dan pengeluaran, juga organ lain yakni hati, pankreas, dan ginjal.
Puasa juga membakar lemak, membersihkan pikiran dari stres dan kebingungan, menyegarkan memori, memperbarui sel-sel otak, memulihkan kesehatan dan energi serta tentu saja meningkatkan kemampuan spiritual.
Banyak studi menunjukkan puasa bermanfaat bagi tubuh dan otak karena puasa ini membersihkan bagian-bagian tertentu dalam tubuh, sel, neuron, organ, dan sistem dari: racun, logam berat, unsur kimia di luar tubuh, bakteri, ragi, infeksi, obat, lemak, residu makanan dan kontaminasi lingkungan. Melalui detoksifikasi, sisi spiritual dan kejiwaan manusia ikut terdorong.
Bagaimana fenomena ini terjadi? Proses pembersihan terjadi setelah 12 jam tubuh absen dari makanan. Ketika makanan tidak tersedia sebagai bahan bakar dalam sistem, tubuh mulai menggunakan cadangan karbohidrat dan lemak. Liver pun mengubah lemak menjadi ketone dan mendistribusikan ke organ-organ dan sistem lewat pembuluh darah.
Saat ini pula jaringan dan sel-sel yang matang pecah dan memberi tubuh protein yang didaur ulang, memungkinkan terjadi regenerasi. Ketika ini terjadi, otak mulai melakukan proses pembersihan dari material yang menghambat kinerjanya dan membuat seseorang memiliki kemungkinan mengalami pencerahan spiritual lebih besar.
Makanan terbatas membuat banyak lemak yang terbakar, lebih banyak racun yang dikeluarkan, tubuh memiliki sedikit kotoran, sehingga hal ini memungkinkan untuk mencapai tingkat kecerdasan lebih tinggi. Racun dalam tubuh biasa disimpan dalam lapisan-lapisan lemak (zat kimia buatan, logam berat, hingga residu obat-obatan).
Bila lemak terbakar maka racun tadi dinonaktifkan dan dibuang lewat jalur colon, liver, kelenjar limfa, pernafasan, paru-paru, dan ginjal.
Dengan mengurangi lemak berlebih, yang bisa menimbulkan stres pada tubuh dan menyebabkan peradangan, puasa bisa mencegah dan mengobati penyakit terkait obesitas dan sindrom metabolisme seperti diabetes, hipertensi, kardiovaskuler, masalah hati, stroke dan bahkan kanker.
Syaratnya, puasa harus dilakukan seperti yang semestinya apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut adab-adab dan batasan-batasannya, bukan berdasar gaya hidup saat ini. Ketika berbuka dengan berbagai makanan menjadi gaya hidup dan menyimpang jauh dari kebiasaan sehat saat perintah puasa diturunkan, maka efeknya bisa berbeda.
Membiasakan puasa Senin Kamis secara rutin telah mencukupi bagi para penghafal hadits, atau puasa tiga hari dalam sebulan. Jika memang mampu puasa Dawud --sehari puasa sehari tidak-- maka ini lebih baik jika terbiasa dan tidak menimbulkan lemah dan malas. Masing-masing orang berbeda-beda.
Ibnul Jauzi bercerita dalam Shâidul Khâthir bahwa dia pernah memutuskan memperbanyak puasa tetapi kemudian tubuhnya lemas dan tidak lagi mampu membaca 5 juz sebagaimana biasanya. Lalu dia memutuskan untuk mengurangi puasanya tetapi tubuhnya kuat untuk menghafal hadits, mengkajinya dan menulisnya, serta mampu secara rutin membaca 5 juz dalam sehari. Hal ini juga terjadi pada shahabat mulia Ibnu Mas’ud (w. 32 H) radhiyallahu ‘anhu. Dia tidak mampu banyak berpuasa karena lemah dan tidak mampu menahan lapar, tetapi dengan tubuh yang kuat dia rajin membaca al-Qur`an dan mangajarkannya kepada manusia, sehingga jadilah dia salah satu dari referensi qira’ah asyrah dari kalangan shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ajmain.
Istri Ibrahim an-Nakha’i yang bernama Hunaidah berkata:
أَنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
“Sesungguhnya Ibrahim berpuasa sehari dan absen puasa sehari.”[99][]

7. Banyak Berdoa
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) berkata, “Terkadang untuk tafsir satu ayat saya membaca seratus kitab tafsir, tetapi belum memahaminya. Kemudian saya meminta kepada Allah pemahaman dengan berdoa, ‘Wahai gurunya Adam dan Ibrahim, ajarilah aku!’ Saya mendatangi masjid yang kosong lalu menyungkurkan wajah ke tanah dan bersujud kepada Allah sambil berdoa, ‘Wahai gurunya Adam dan Ibrahim, ajarilah aku!’”[100]
Ibnul Qayyim berkata, “Dahulu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah apabila sulit memahami permasalahan beliau berdoa:
يَا مُعَلِّمَ إِبْرَاهِيْمَ عَلِّمْنِي
          “Wahai yang mengajari Ibrahim, ajarilah saya.”[101] Dalam riwayat lain:
يَا مُعَلِّمَ إِبْرَاهِيْمَ عَلِّمْنِي وَيَا مُفَهِّمَ سُلَيْمَانَ فَهِّمْنِي
“Wahai yang mengajari Ibrahim, ajarilah saya. Wahai yang memberi pemahaman kepada Sulaiman, berilah saya pemahaman.”
Berdoalah kepada Allah agar dimudahkan dalam menghafal. Berdoalah kepada Allah agar dikokohkan dalam hafalan. Berdoalah kepada Allah agar diberi keikhlasan dalam menghafal. Berdoalah kepada Allah agar diberi amal apa yang telah dihafal. Allah pasti mengabulkannya sebagaimana janji-Nya, karena Dia senang kepada hamba yang merasa butuh dan rendah kepada-Nya. Allah berfirman:
ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ
“Dan Rabb kalian berkata, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan kalian.’”[102]
Sebaliknya Allah murka dan benci kepada hamba yang enggan berdoa kepada-Nya, seakan-akan dia merasa tidak butuh kepada Allah dan merasa mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa pertolongan dari Allah. Orang seperti ini lebih buruk daripada pelaku maksiat, karena pelaku maksiat merasa rendah di sisi Allah saat mengingat dosa-dosanya. Untuk itu, Allah menyiapkan neraka untuk hamba yang sombong itu. Allah berfirman:
ﭣ   ﭤ  ﭥ  ﭦ  ﭧ  ﭨ  ﭩ    ﭪ  ﭫ 
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan dirinya dari beribadah[103] kepadaku akan masuk ke Jahannam dengan hina-dina.”[104]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ لَمْ يَدْعُ اللّٰهَ سُبْحَانَهُ، غَضِبَ عَلَيْهِ»
“Barangsiapa yang tidak berdoa[105] kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Dia akan murka kepadanya.”[106]
Penyair berkata:
اللّٰهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ ... وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ
“Allah marah jika engkau meninggalkan meminta kepada-Nya ... berbeda dengan anak Adam yang jika diminta akan marah.”[107]
Berikut beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa sebagian pakar hadits terdahulu kisah perjalanannya berawal dari doa.
Pernah ditanyakan kepada Ibnu Khuzaimah, “Dari manakah engkau diberi ilmu?” Dia menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ»
‘Air zam-zam itu untuk apa (niat) yang ia diminum.’[108] Ketika aku minum zam-zam, aku memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat.”[109]
Imam Abu Abdillah al-Hakim (w. 405 H) memiliki karya yang banyak dan mengagumkan, terutama kitab haditsnya yang terkenal al-Mustadrâk. Allah mengabulkan permintaannya atas doanya. Dia berkata:
شَرِبْتُ مَاءَ زَمْزَم، وَسَأَلْتُ اللّٰهَ أَنْ يَرْزُقَنِي حُسْنَ التَّصْنِيْفِ
“Aku minum air zam-zam dan meminta kepada Allah agar Dia memberiku kemampuan mengarang yang baik.”[110]
Orang tua Ibnul Jazari --Syaikhul Qurra`-- adalah pedagang. Mereka berhaji pada tahun 750 H dan minum air zam-zam dengan niat anak shalih. Kemudian istrinya melahirkan laki-laki ini usai shalat Tarawih pada malam ke-25 Ramadhan pada tahun 751 H.[111]
Yaqut al-Hamawi bercerita, “Al-Khathib menyebutkan bahwa ketika berhaji dia minum air zam-zam tiga kali tegukan dan memohon kepada Allah tiga hal, karena berpegang dengan hadits, ‘Air zam-zam itu untuk apa (niat) yang ia diminum.’ Permohonan pertama: menceritakan sejarah Baghdad, permohonan kedua: mendiktekan hadits di masjid Jami’ al-Manshur, dan permohonan ketiga: ketika wafat dimakamkan di sisi kubur Bisyr al-Hafi.
Ketika kembali ke Baghdad, dia menceritakan sejarah di sana. Dia memiliki beberapa juz yang ingin disimakkan langsung kepada khalifah al-Qa`im Bi`amrillah, lalu dia membawa juz itu dan pergi ke pintu Majdah Khalifah, serta meminta izin untuk membacakan juz tersebut. Maka khalifah berkata, ‘Ini adalah orang besar dalam hadits, maka tidak mungkin dia memiliki hajat untuk memperdengarkan kepadaku. Bertanyalah kepadanya tentang keperluannya?’ Ketika ditanya dia menjawab, ‘Keperluanku supaya aku diberi izin untuk mendiktekan di masjid Jami’ al-Manshur.’ Khalifah lalu memerintahkan salah satu pembesar agar memberikan izin kepadanya, lalu pembesar itu hadir.
Ketika dia wafat, mereka ingin menguburnya di sisi Bisyr al-Hafi sesuai wasiat darinya.’ Ibnu Asakir berkata, ‘Syaikh kami Ismail bin Abu Sa’ad ash-Shufi menyebutkan, ‘Tempat yang ada di sisi Bisyr itu telah digali oleh Abu Bakar Ahmad bin Ali ath-Thartsitsi sebagai kubur untuk dirinya. Dia datang ke tempat itu untuk mengkhatamkan al-Qur`an dan berdoa. Dia melakukan demikian selama beberapa tahun. Ketika al-Khathib meninggal, mereka meminta kepadanya untuk menguburkannya di tempat tersebut, maka dia menolak seraya berkata, ‘Ini adalah kuburku yang telah aku gali dan aku khatamkan al-Qur`an di dalamnya beberapa kali khatam. Aku tidak mungkin mengizinkan seorang pun dimakamkan di sini, dan ini suatu hal yang mustahil.’ Ketika kabar itu sampai kepada ayahku, maka dia berkata, ‘Wahai Syaikh, seandainya Bisyr masih hidup dan engkau bersama al-Khathib menemuinya, siapakah di antara kalian yang akan didekati olehnya? Engkau ataukah al-Khathib?’ Dia menjawab, ‘Tidak, bahkan al-Khathib.’ Dia berkata kepadanya, ‘Begitu pula semestinya pada saat kematiannya, dia lebih berhak dengannya darimu.’ Mendengar itu hatinya rela bila al-Khathib dikuburkan di tempat itu, lalu al-Khathib dikuburkan di dalamnya.”[112]
Ibu Imam al-Bukhari adalah wanita ahli ibadah yang memiliki banyak karomah. Diriwayatkan Ghunjar dalam Tarîkhul Bukhârâ dan al-Lalika`i dalam Syarhus Sunnah dalam Bab Karamâtul Auliyâ` bahwa kedua mata Muhammad bin Ismail al-Bukhari buta ketika kecilnya, lalu ibunya melihat al-Khalil Ibrahim dalam mimpinya seraya berkata, “Wahai wanita, sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu karena banyaknya doamu.” Pada pagi harinya, ternyata Allah telah mengembalikan penglihatannya.[113]
Maka berdoalah dan pasti Allah akan memenuhi janji-Nya. Berdoalah dengan doa yang ma’tsur, maka Allah akan mendengar dan mengabulkannya, karena apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik taqarrub kepada Allah ta’ala.
   ﮁ  ﮂ  ﮃ  ﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ 
“Mahasuci Engkau, tiada ilmu bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau maha berilmu lagi maha bijaksana.”[114]
ﭡ  ﭢ  ﭣ   
“Ya Allah, tambahkanlah untukku ilmu.”[115]
«اللّٰهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا»
“Ya Allah, berilah manfaat ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarilah aku ilmu yang bermanfaat bagiku, serta tambahkanlah aku ilmu.”[116]
«اللّٰهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزَنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا»
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau jadikan kesedihan[117] --jika Engkau kehendaki-- mudah.”[118]
يَا مُعَلِّمَ إِبْرَاهِيْمَ عَلِّمْنِي وَيَا مُفَهِّمَ سُلَيْمَانَ فَهِّمْنِي
“Wahai yang mengajari Ibrahim, ajarilah saya. Wahai yang memberi pemahaman kepada Sulaiman, berilah saya pemahaman.”[119]
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فَهْمَ النَّبِيِّيْنَ وَحِفْظَ المُرْسَلِيْنَ وَإِلْهَامَ الْمَلاَئِكَةِ المُقَرَّبِيْنَ، اللّٰهُمَّ أَغْنِنِيْ بِالْعِلْمِ وَزَيِّنْنِـيْ بِالحِلْمِ وَأَكِرْمنِيْ بِالتَّقْوَى وَجَمِّلْنِيْ بِالْعَافِيَةِ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu pemahaman para nabi, hafalan para rasul, dan ilham para malaikat yang didekatkan. Ya Allah, kayakanlah aku dengan ilmu, hiasilah aku dengan kelembutan, muliakanlah aku dengan taqwa, dan indahkanlah aku dengan kesehatan, wahai yang paling pemurah dari yang semua pemurah.”[120][]

8. Mengulang-Ulang Hafalan
Manusia memiliki tabiat lupa, karena Adam juga lupa. Baru kemarin seseorang berkenalan, tetapi sekarang sudah lupa siapa namanya. Alangkah cepatnya manusia lupa!
Lupa adalah penyakit dan obatnya adalah mengulang-ulang. Imam az-Zuhri (w. 124 H) berkata:
إِنَّمَا يُذْهِبُ الْعِلْمَ النِّسْيَانُ وَتَرْكُ الْمُذَاكَرَةِ
“Ilmu hilang karena lupa dan meninggalkan mudzakarah (murajaah/diskusi).”[121]
Al-Hasan bin Abu Bakar an-Naisaburi al-Faqih berkata:
أَنَّ فَقِيْهًا أَعَادَ الدَّرْسَ فِي بَيْتِهِ مِرَارًا كَثِيْرَةً فقَالَتْ لَهُ عَجُوزٌ فِي بَيْتِهِ قَدْ وَاللّٰهِ حَفِظْتُهُ أَنَا. فَقَالَ: أَعِيْدِيْهِ! فَأَعَادَتْهُ. فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ أَيَّامٍ قَالَ: يَا عَجُوزُ، أَعِيدِي ذَلِكَ الدَّرْسَ، فَقَالَتْ: مَا أَحْفَظُهُ. قَالَ: إِنِّي أُكَرِّرُ عَدَّ الْحِفْظِ لِئَلاَّ يُصِيبَنِي مَا أَصَابَكِ
“Ada seorang ahli fiqih yang banyak mengulang-ulang pelajaran, lalu wanita tua yang ada di rumahnya berkata kepadanya, ‘Demi Allah, aku telah menghafalnya.’ Ahli fiqih itu berkata, ‘Ulangilah.’ Lalu dia mengulanginya. Setelah berlalu beberapa masa, dia berkata, ‘Hai wanita tua, coba kamu ulangi pelajaran itu.’ Dia berkata, ‘Aku tidak lagi hafal.’ Ahli fiqih itu berkata, ‘Sungguh aku banyak mengulang-ulang hafalanku sehingga tidak menimpaku apa yang telah menimpamu.’”[122]
Kaum salaf adalah teladan luar biasa bagi kita. Mereka terdepan dalam ketekunan dan kesabaran dalam belajar, mengajar, menghafal, dan beramal. Mereka mengulang-ngulang pelajaran hingga berkali-kali dan tidak merasa jenuh. Mari kita melihat sedikit dari kisah-kisah mereka.
Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata tentang Bakar bin Muhammad al-Hanafi:
وَسُئِلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَقَالَ: هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ أَعَدْتُهَا فِي بُرْجٍ مِنْ حِصْنِ بُخَارِ الرّبع مِائَةَ مَرَّةٍ
“Dia pernah ditanya tentang sebuah masalah lalu berkata, ‘Masalah ini aku ulang-ulang di menara kastil Bukhar ar-Rib’i sebanyak 100 kali.’”[123]
Abul Arab al-Qairawani berkata, “Ahmad bin Tamim bercerita kepada saya bahwa dia mendapatkan di akhir sebagian kitab Abbas bin Ali al-Farisi tertulis kalimat, ‘Saya mempelajari kitab ini lebih dari 1.000 kali.’”[124]
Ahli fiqih Ali bin Muhammad an-Naisaburi berkata, “Di Madrasah Sarhank di Naisabur terdapat anak sungai yang memiliki 70 anak tangga. Apabila saya ingin menghafal sebuah pelajaran saya mendatangi anak sungai tersebut. Saya mengulang-ulangi pelajaran sebanyak satu kali setiap anak tangga, dengan cara naik dan turun kembali. Begitu yang saya lakukan untuk setiap pelajaran yang telah saya hafal.”[125]
Al-Fairuz Abadi membaca kitab Shahih al-Bukhari lebih dari 50 kali.
Al-Hafizh Burhanuddin al-Halabi pernah membaca Shahih al-Bukhari lebih dari 60 kali dan Shahih Muslim 20 kali, selain bacaannya sendiri semasa belajar atau bacaan orang lain yang dia dengar.[126]
Ibnu Basykual al-Andalusi berkata, “Saya membaca dari tulisan sebagian teman bahwa Abu Bakar bin Athiyah al-Muharibi mengulang-ulangi membaca Shahih al-Bukhari sebanyak 700 kali.”
Al-Hafizh Sulaiman bin Ibrahim al-Alawi membaca ulang Shahih al-Bukhari lebih dari 280 kali dengan membaca, mendengar, atau dibacakan.
Imam an-Nawawi ketika menulis biografi Imam Abdul Ghafir bin Muhammad al-Farisi berkata, “Al-Hafizh al-Hasan as-Samarqandi membaca Shahih Muslim lebih dari 30 kali, dan Abu Sa’id al-Buhairi membaca Shahih Muslim di hadapannya lebih dari 20 kali.”[127]
Ibnu Makhluf ketika menceritakan biografi Syaikh Abu Muhammad bin Abdullah bin Ishaq, dia berkata, “Dia belajar dari Ibnu Lubab kitab al-Mudawwanah --kitab fiqih madzhab Maliki-- lebih dari 1.000 kali.”
Ahli fiqih dan ahli hadits Abu Bakar al-Anbari berkata, “Aku membaca kitab Mukhtashar Ibnu Abi Hakam sebanyak 500 kali, al-Asadiyah 75 kali, al-Muwaththa` 45 kali, Mukhtashar al-Barqi 70 kali, dan al-Mabsuth sebanyak 70 kali.”[128]
Jika ada yang bertanya, “Kaum salaf berbeda-beda dalam mengulang hafalannya, lantas berapa batas mengulang yang paling baik?”
Jawabannya bahwa tidak ada batasan atau patokan, karena masing-masing orang berbeda-beda kondisinya. Hanya saja, pada umumnya mereka mengulang-ulang antara 50 sampai 100 kali.
Al-Hasan bin Abu Bakar an-Naisaburi al-Faqih berkata:
لا يَحْصُلُ الْحِفْظُ إِلَيَّ حَتَّى يُعَادَ خَمْسِينَ مَرَّةً
“Bagiku hafalan tidak akan kokoh hingga diulang-ulang sebanyak 50 kali.”[129]
Al-Hafizh Ibnul Jauzi (w. 597 H) berkata:
كَانَ أَبُو إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيُّ يُعِيدُ الدَّرْسَ مِائَةَ مَرَّةٍ، وَإِنْ كَانَ إِلْكِياَ يُعِيدُ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Abu Ishaq asy-Syairazi mengulang-ulang pelajaran hingga 100 kali, sementara Ilkiya mengulang-ulang pelajaran hingga 70 kali.”[130]
Perlu diketahui bahwa hal ini hanya berlaku sebentar tidak begitu lama, karena seiring dengan banyaknya hafalan dan digunakannya otak untuk menghafal dan mengulang-ulang, setelah itu otak akan cepat merekam apa yang didengar dan dibaca, bahkan terkadang hanya sekali dengar dan baca langsung hafal, sebagaimana penjelasan otak di muka. Contohnya adalah Imam asy-Sya’bi, Imam az-Zuhri, Abu Zur’ah ar-Razi, Sufyan ats-Tsauri, Qatadah bin Du’amah, dan Imam asy-Syafi’.
Imam asy-Sya’bi (w. 105 H) berkata:
مَا كَتَبْتُ سَوْدَاءَ فِي بَيْضَاءَ إِلَى يَوْمِي هَذَا، وَلاَ حَدَّثَنِي رَجُلٌ بِحَدِيْثٍ قَطُّ إِلاَّ حَفِظْتُهُ، وَلاَ أَحْبَبْتُ أَنْ يُعِيْدَهُ عَلَيَّ
“Aku tidak pernah menulis sesuatu yang hitam di dalam sesuatu yang putih.[131] Tidak pernah seorang pun menyampaikan hadits kepadaku melainkan aku telah menghafalnya, dan aku tidak suka dia mengulanginya untukku.”[132]
Abu al-Khaththab Qatadah bin Du’amah as-Sadusi (w. 118 H) berkata:
مَا سَمِعَتْ أُذُنَايَ شَيْئًا قَطُّ إِلا وَعَاهُ قَلْبِي
“Tidaklah kedua telingaku mendengar sesuatu melainkan akan dihafal oleh hatiku.”[133]
Sufyan ats-Tsauri berkata:
إِنِّيْ لَأَمُرُّ بِالحَائِكِ فَأَسُدُّ أُذُنَيَّ مَخَافَةَ أَنْ أَحْفَظَ مَا يَقُوْلُ
“Aku pernah melewati seorang penenun lalu aku sumbat kedua telingaku karena khawatir aku hafal apa yang dikatakannya.”[134]
Abu Zur’ah ar-Razi berkata:
وَمَا سَمِعَ أُذُنَيَّ شَيْئًا مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ وَعَاهُ قَلْبِي، فَإِنِّي كُنْتُ أَمْشِي فِي سُوْقِ بَغْدَادَ فَأَسْمَعُ مِنَ الْغُرَفِ صَوْتَ الْمُغَنِّيَاتِ فَأَضَعُ أُصْبُعِي فِي أُذُنَيَّ مَخَافَةَ أَنْ يَعِيَهُ قَلْبِي
“Tidaklah kedua telingaku mendengar sesuatu dari ilmu melainkan akan dihafal oleh hatiku. Aku pernah berjalan di pasar Baghdad lalu aku mendengar dari beberapa ruko suara para biduanita lalu aku menyumbatkan jari-jemariku kedua telingaku karena khawatir akan dihafal hatiku.”[135][]

9. Mengkonsumsi dan Menghindari Makanan Tertentu
a. Makanan yang Perlu Dikonsumsi
Allah subhanahu wa ta’ala menyukai orang-orang yang tidak berpangku tangan dalam menyambut takdir baik. Memang semuanya terjadi atas takdir Allah tetapi Allah memerintahkan manusia untuk berusaha dan menempuh jalan-jalannya. Di antara jalan untuk menguatkan hafalan adalah mengkonsumi beberapa jenis makanan: madu, kismis (anggur kering), habbatus sauda` (jinten hitam), kurma, dan susu.
a) Madu
Imam az-Zuhri (w. 124 H) berkata:
عَلَيْكَ بِالْعَسَلِ فَإِنَّهُ جَيِّدٌ لِلْحِفْظِ
“Minumlah madu karena ia baik untuk menghafal.”[136]
Dikatakan bahwa terapi penyembuhan penyakit itu ada dua, yaitu al-Qur`an dan madu.[137] Seolah-olah penyakit rohani diterapi dengan al-Qur`an sementara penyakit jasmani diterapi dengan madu. Makanan yang secara tegas disebutkan di al-Qur`an untuk penyembuhan adalah madu. Ini menunjukkan kedudukan agung madu sebagai obat karena datang dari pemberitaan wahyu. Allah berfirman:
ﮥ  ﮦ  ﮧ
“Di dalamnya (madu) ada kesembuhan bagi manusia.”[138]
Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata, “Maksudnya, di dalam madu ada penyembuh bagi manusia dari segala penyakit yang menjangkiti mereka.”[139]
Al-Hafizh Ibnul Jauzi (w. 597 H) berkata, “Dhamir “nya” di sini kembali kepada madu. Ini diriwayatkan oleh al-Aufi dari Ibnu Abbas, dan ini juga pendapat Ibnu Mas’ud. Para ulama berselisih apakah penyembuh di sini untuk penyakit tertentu atau tidak? Ada dua pendapat: pertama bahwa dia umum untuk berbagai penyakit. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Madu adalah penyembuh dari segala penyakit.’ Qatadah berkata, ‘Di dalam madu ada penyembuh bagi manusia dari berbagai penyakit.’ (Hal ini berdasarkan hadits) Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa dia berkata, ‘Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Saudaraku sakit perut.’ Lalu beliau bersabda, ‘Beri dia minum madu.’ Lalu dia memberinya minum madu lalu kembali dan berkata, ‘Aku telah memberinya minum madu tetapi justru bertambah sakitnya.’ Beliau bersabda, ‘Beri dia minum madu.’ Disebutkan dalam hadits sampai ucapan, ‘Lalu dia sembuh pada kali yang ketiga atau yang keempat.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah mahabenar dan perut saudaramu telah berdusta.’[140] Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim.[141] Yang dimaksud “Allah mahabenar” adalah kebenaran ayat ini.
Yang kedua: bahwa ia untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang memang bisa disembuhkan oleh madu, ini pendapat as-Suddi. Tafsir yang benar adalah ia mencakup keumuman. Ibnul Anbari berkata, ‘Pada umumnya madu bisa bereaksi pada segala jenis penyakit dan mencakup sebagai obat-obatan. Jika ada seseorang yang tidak cocok dengannya, sungguh ia telah cocok bagi kebanyakan orang. Ini seperti pepatah Arab:
الْمَاءُ حَيَاةُ كُلِّ شَيْءٍ، وَقَدْ نَرَى مَنْ يَقْتُلُهُ الْمَاءُ
‘Air adalah kehidupan segala sesuatu tetapi kita terkadang melihat ada yang dibunuh oleh air.’
Konteks kalimat untuk menunjukkan keumuman.’”[142]
Madu mengandung vitamin, mineral, protein, antiseptik, dan enzim yang bisa meningkatkan daya ingat juga kecerdasan mental seseorang. Dengan kandungan zat galian yang dimilikinya, ia mampu meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Zat galian adalah manganese (belerang), klorin, silica, kuprum, potassium (kalium), magnesium, sulfur, karbon, kalsium, fosforus,  dan zat besi. Dua sendok teh tiap pagi dan malam adalah cara minum madu yang baik.
Madu mengandung glukosa (gula anggur), fruktosa (gula buah), sukrosa (gula tebu), dan maltosa (gula gandum). Glukosa dan fruktosa menghasilkan suplai glikogen dalam hati. Memakan satu sendok madu asli sebelum tidur akan meningkatkan fungsi otak, karena fruktosa yang terkandung dalam madu menjadi energi cadangan di dalam hati dan bekerja di otak semalaman. Tak heran, madu menjadi rahasia penambah energi bagi atlet zaman Yunani kuno yang menghadapi olimpiade.
Di dalam madu juga terkandung berbagai vitamin yang hampir memenuhi seluruh vitamin yang dibutuhkan oleh manusia, yaitu : A, B1, B2, B3, B5, B6, D, K, E, Uric Acid, dan asam nikotinat. Bahkan berdasarkan hasil penelitian ahli gizi dan pangan, madu mengandung karbohidrat yang paling tinggi di antara produk ternak lainnya: susu, telur, daging, keju, dan mentega sekitar (82,3% lebih tinggi). Setiap 100 gram madu murni bernilai 294 kalori atau perbandingan 1.000 gram madu murni setara dengan 50 butir telur ayam atau 5,675 liter susu atau 1.680 gram daging. Dari hasil penelitian terbaru ternyata zat-zat atau senyawa yang ada di dalam madu sangat komplek yaitu mencapai 181 jenis.
Di dalam madu juga terdapat kandungan mineral dan garam seperti: besi, sulfur, magnesium, kalsium, kalium, sodium, klorin, tembaga, krom, nikel, lead, silica, mangan, alumunium, aurum, lithium, thin, zink, dan titanium. Sungguh menakjubkan, karena semua mineral tersebut merupakan komposisi tanah yang darinya manusia diciptakan.
Di dalam madu juga terkandung bermacam-macam enzim dan asam yang sangat penting untuk kehidupan dan aktivitas tubuh manusia, misalnya: enzim amilase, enzim katalase, enzim fosfolirase, dan beberapa enzim lainnya.
Adapun macam-macam asam yang terkandung dalam madu adalah: formic acid, lactic acid, atric acid, tartaric acid, oxalid acid asam fosfat, dan asam glukomat.
Di dalam madu juga terkandung hormon-hormon kuat yang berfungsi menggiatkan dan memacu kerja organ-organ tubuh. Karena itu di dalam madu juga terkandung antibiotik yang melindungi manusia dari seluruh penyakit dan membunuh berbagai bakteri dan mikroba.
Telah diketahui pula bahwa di dalam madu terdapat dotorium (hydrogen berat) yang berfungsi sebagai anti kanker.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنْ كَانَ فِى شَىْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ -أَوْ يَكُونُ فِى شَىْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ- خَيْرٌ فَفِى شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ، أَوْ لَذْعَةٍ بِنَارٍ تُوَافِقُ الدَّاءَ، وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ»
“Jika ada sesuatu dari obat kalian –atau jika ada sesuatu dari obat kalian– yang bisa menyembuhkan, maka ia ada pada bekam, minum madu, atau mengecos dengan besi panas pada luka tetapi saya tidak suka kay (pengobatan dengan besi panas ini).”[143]
Adapun untuk kemampuan otak yang mengagumkan, madu adalah pilihan yang tepat. Madu dapat meningkatkan perkembangan mental anak-anak dalam semua bidang. Laju perjalanan glukosa ke otak yang cepat berguna untuk mempertahankan fungsi normal dari nutrisi penting otak. Asetilkolin merupakan bahan penting untuk meningkatkan memori, dan vitamin untuk meningkatkan kegiatan berpikir dalam otak dengan normal. Mineral penting untuk menjaga fungsi otak yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir, kalsium dapat memastikan otak bekerja ulet dan intens, dan germanium dapat meningkatkan kecerdasan.
Madu mendukung keseimbangan asam-basa dalam tubuh yang kaya garam anorganik. Garam anorganik dalam tubuh manusia dapat dikombinasikan dengan bahan-bahan asam, sehingga memberikan kontribusi untuk keseimbangan asam-basa, tubuh dapat menghilangkan kelelahan.
Pakar obat tradisional Prof. Hembing Widjayakusumah berkata, “Aneka zat yang terdapat dalam madu berkhasiat bagi perkembangan otak anak, terutama zat gulanya yang sangat dibutuhkan otak untuk melaksanakan fungsinya secara optimal.”
Fakta ilmiah lain tentang madu telah dibicarakan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Konferensi tersebut membahas pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari, dan propolis dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter Rumania mengatakan bahwa ia mengujikan madu untuk pengobatan pasien katarak, dan 2.002 dari 2.094 pasiennya sembuh total. Para dokter Polandia juga menyatakan dalam konferensi tersebut bahwa resin lebah dapat membantu penyembuhan banyak penyakit seperti wasir, masalah kulit, penyakit ginekologis, dan berbagai penyakit lainnya.
Dari al-Laits bin Sa’ad, dari Ibnu Syihab bahwa dia bercakap-cakap dengan bersulang madu, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang-orang pada malam hari. Mereka berkata, “Berilah kami minum dan bertuturlah kepada kami.” Dia banyak minum madu dan tidak makan buah-buahan sedikitpun.[144]
Menjauhi buah-buahan secara mutlak perlu ditinjau ulang. Para penduduk surga sebelum dihidangkan daging, terlebih dahulu dihidangkan buah-buahan. Di antara dalil yang digunakan oleh yang berpendapat ini adalah firman Allah:
ﮚ  ﮛ    ﮜ   ﮝ  ﮞ     ﮟ 
“Dan Kami berikan mereka buah-buahan dan daging melimpah menurut selera mereka.”[145]
Begitu pula Allah memerintahkan Nabi Yahya untuk memakan buah-buahan pasca sakit berat beberapa lama di perut ikan. Allah berfirman:
ﯔ  ﯕ  ﯖ   ﯗ  ﯘ  ﯙ 
“Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu.”[146]
Dijelaskan oleh sebagian pakar kesehatan bahwa mendahulukan buah-buahan sebelum makan daging membantu memudahkan pencernaan, menjaga kesehatan, dan beberapa manfaat lainnya.
Menurut kaum Yahudi memakan hidangan berkarbohidrat (roti dan nasi) kemudian ditutup dengan buah-buahan menyebabkan ngantuk. Mereka mengetahui kaidah penemuan ini, sehingga sebelum makan menu utama, mereka mendahuluinya dengan buah-buahan.
Penulis berpendapat tidak masalah mengkonsumsi buah-buahan bagi para penghafal hanya saja tidak berlebihan, tetapi yang terbaik adalah menghindarinya ala kadarnya karena terdapat riwayat bahwa Abu Bakar al-Anbari tidak menyentuh buah-buahan sedikitpun saat dijamu oleh Khalifah ar-Radhi Billah, lalu saat beliau sakit keras meminta keluarganya untuk mendatangkan buah-buahan yang lezat lalu memakannya dengan lahap. Ketika ditanya beliau menjawab, “Aku merasa sakit ini akan mengantarkanku kepada kematian, sehingga aku tidak begitu khawatir dengan hafalanku.” Setelah itu beliau wafat. Orang-orang pada zamannya mengatakan, “Abu Bakar al-Anbari adalah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah dalam menghafal,” karena saking banyak dan kuat hafalannya. Allahu a’lam.
b) Kismis
Kismis adalah anggur yang telah dikeringkan dan rasanya manis karena kandungan zat gula yang melimpah di dalamnya. Nama lain kismis adalah zabib (Arab), grape seed/raisin (Inggris), dan vitis vinifera (Latin/Saintifik).
Imam az-Zuhri (w. 124 H) berkata:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَحْفَظَ الْحَدِيثَ فَلْيَأْكُلِ الزَّبِيبَ
“Barangsiapa yang suka menghafal hadits, hendaklah makan kismis.”[147]
Imam al-Hakim menjelaskan, “Karena kismis Hijaz itu panas, manis, lembut, agak kering, dan menghilangkan lendir.”[148]
Dalam riwayat Abu Ja’far ath-Thusi disebutkan bahwa kismis dapat menghilangkan lendir dan menyehatkan jiwa.
Sebanyak 60% berat kismis terdiri dari gula, di mana separuh darinya adalah fruktosa dan separuh lagi adalah glukosa. Kismis sangat tinggi kandungan antioksidannya sebanding dengan buah prune dan aprikot. Terdapat sekitar 54% zat gula dengan berat 90 gram dari sekitar 165 gram berat kismis. Fruktosa dan glukosa berguna untuk meningkatkan, menajamkan, dan menguatkan daya ingatan. Penjelasannya, otak manusia memerlukan zat gula secara cepat dengan kadar yang banyak agar bisa bekerja dengan baik dan kismis dapat menyediakan keperluan itu dalam jumlah yang banyak dan cepat.
Juga, hal ini disebabkan otak yang kekurangan oksigen akan menyebabkan rasa kantuk, lemah ingatan, dan mudah lupa. Kismis mengandung zat besi yang diperlukan untuk mengatur peredaran darah dan menyediakan pasokan oksigen yang akhirnya akan dikirim ke otak.
Prof. Hembing Widjayakusumah berkata, “Jika suplai darah dan oksigen ke otak lancar, maka daya ingat bisa menjadi lebih baik.”
Seorang ibu kebangsaan Malaysia menulis di internet --dengan pengeditan ke bahasa Indonesia--, “Saya telah mempraktekkan kepada anak-anak saya untuk mengkonsumsi kismis setiap hari dan al-hamdulillah walaupun tanpa tuisyen, hasil pemeriksaan amat membanggakan. Di antaranya Nurul Amerah (16 tahun) mencapai UPSR 4A1B dan PMR 8A, Nurul Ezzati (14 tahun) mencapai UPSR 5A, Muhammad Naim (9 tahun) juara satu di kelasnya, dan Nurul Izzyan (6 tahun) sudah bisa membaca, menulis, dan menghitung dengan lancar.”
Selain itu, kismis sendiri mampu menurunkan kadar radikal bebas. Radikal bebas merupakan senyawa yang dapat merusak sel dan membuat tubuh sulit untuk kembali bugar setelah berolahraga. Fakta ini terungkap dalam pertemuan tahunan American College of Nutrition. Para peneliti mempelajari delapan atlet triathlon yang berkompetisi dalam dua minggu yang terpisah. Pada satu perlombaan, mereka diberi makan kismis dan pada perlombaan lainnya tidak. Akhirnya Gene Spiller, Ph.D --pimpinan utama penelitian ini-- menyimpulkan, “Kismis secara signifikan mengurangi jumlah kerusakan sel pada tubuh atlet akibat radikal bebas.” Dia menyarankan mengkonsumsi segenggam kismis sebelum berolahraga berat.


c) Habbatus Sauda`
Nama lain habbastus sauda` adalah jinten hitam (Indonesia), fennel flower (Inggris), habat et baraka (Mesir), nigella (Italia), nigelle (Prancis),  nidella (Jerman), black cumin/black seed (Amerika), dan black caraway (Eropa).
Habbatus sauda` mampu meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kewaspadaan. Dengan kandungan asam linoleat (omega 6) dan asam linolenat (omega 3), habbatus sauda` merupakan nutrisi bagi sel otak untuk meningkatkan daya ingat dan kecerdasan. Habbatus sauda juga memperbaiki peredaran darah mikro ke otak dan cocok diberikan kepada anak usia masa pertumbuhan maupun lansia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«فِى الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ السَّامَ»
“Dalam habbatus sauda` ada penyembuh untuk segala penyakit kecuali kematian.”[149]
d) Kurma
          Orang Yahudi dikenal sebagai orang-orang cerdas, dan al-Qur`an memberitahukan bahwa Allah telah melebihkan mereka dengan kecerdasan ini atas makhluk di bumi, terlepas dari kesesatan mereka dan kelicikan mereka bahkan mereka adalah manusia yang paling bertanggung jawab atas kekacauan umat manusia di bumi. Apa di antara langkah mereka dalam mewujudkan kecerdasan ini? Dr. Stephen Carr Leon melakukan penelitian selama 8 tahun untuk meneliti prilaku kecerdasan kaum Yahudi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa kaum wanita mereka banyak mengkonsumsi kurma dan susu terutama di masa hamil dan masa menyusui. Namun, liciknya mereka menutup-nutupi hal ini dan merekomendasikan manusia dengan makanan-makanan lain sebagaimana yang dimuat di buku-buku yang beredar.
          Sebenarnya Islam telah memberitahukannya kepada kaum muslimin, yaitu saat Allah menjelaskan tentang Maryam si perawan suci yang disuruh Allah untuk menggoyangkan pohon kurma agar berguguran ruthabnya (kurma basah) pasca melahirkan Isa ‘alaihissalam. Allah mengisahkan:
ﯼ  ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ  ﰁ  ﰂ  ﰃ  ﰄ  
“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu agar ia menggugurkan kepadamu ruthab yang masak.”[150]
Jika kita menilik sejarah kaum salaf dahulu, makanan keseharian mereka adalah kurma. Diriwayatkan bahwa di antara makanan keseharian Imam an-Nawawi adalah kurma. As-Sakhawi berkata, “Dia ridha meluruskan tulang sulbinya dan menutupi kebutuhan hidupnya dengan apa yang dikirimkan oleh ayahnya berupa kue Ka’ak kering dan Tin Haurani atau cukup dengan roti. Dia tidak makan kecuali satu jenis lauk berupa madu, kurma, cuka, atau minyak.”[151] Begitu pula telah diriwayatkan bahwa di antara makanan keseharian Imam asy-Syafi’i adalah kurma dan roti kering.
          Sungguh telah shahih bahwa Rasulullah makan kurma begitu pula para shahabatnya. Urwah bin Zubair bin Awwam menceritakan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata kepadanya:
ابْنَ أُخْتِي، إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلاَلِ، ثُمَّ الْهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ. فَقُلْتُ: يَا خَالَةُ، مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ؟ قَالَتْ: الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنَ الأَنْصَارِ، كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ، وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ، فَيَسْقِيْنَا
“Wahai putra saudariku, kami dulu benar-benar melihat bulan sabit, lalu bulan sabit, tiga bulan sabit dalam dua bulan, sementara api tidak mengepul di rumah-rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku bertanya, “Wahai bibi, lantas dengan apa kalian makan?” Dia menjawab, “Dengan aswadan yaitu kurma dan air. Hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki tetangga Anshar yang memiliki manihah (kambing/unta betina). Mereka memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam susu perahannya lalu kami meminumnya.”[152]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ تَصَبَّحَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سَمٌّ وَلاَ سِحْرٌ»
“Barangsiapa yang memasuki pagi memakan tujuh kurma ajwah, maka pada hari itu racun dan sihir tidak akan membahayakannya.”[153]
          Cukuplah menjadi kemuliaan kurma saat Allah menjadikan-Nya sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah berfirman:
ﮇ  ﮈ   ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ   ﮐ  ﮒ   ﮓ  ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  
“Dengan air itu Allah menumbuhkan untuk kalian tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan berbagai buah-buahan. Sesungguhnya pada demikian itu terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.”[154]
e) Susu
Enam kelas makanan yang diperlukan terdapat dalam susu yaitu air, mineral, lemak, karbohidrat, protein, dan semua jenis vitamin. Susu yang terbaik untuk mempertajam otak dan pikiran adalah susu kambing di samping susu lembu yang segar. Susu yang pekat/cair lebih baik khasiatnya dibandingkan susu tepung. Susu segar juga bisa menguatkan tulang belakang, meningkatkan kecerdasan, memperbaiki penglihatan, dan mencegah/menghindari kelupaan. Aturan minum susu yang baik adalah lebih kurang segelas pada waktu pagi dan malam. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum susu kambing sebagaimana yang terdapat pada hadits-hadits yang shahih.
Cukuplah menjadi kemuliaan susu saat Allah menjadikannya sebagai salah satu dari empat minuman utama penduduk surga. Allah berfirman:
ﮒ  ﮓ  ﮔ  ﮕ   ﮖ     ﮗ 
“Dan sungai-sungai susu yang tidak berubah rasanya.”[155]
Imam Ibnu Syihab az-Zuhri[156] telah mempraktekkannya dengan mengkonsumsi makanan-makanan tersebut dan hasilnya beliau menjadi imam dalam menghafal, setelah taufiq dari Allah. Disebutkan bahwa beliau menghafal al-Qur`an hanya dalam 2 bulan 20 hari.
Imam adz-Dzahabi berkata, “Bukti (kekuatan) hafalan az-Zuhri adalah bahwa dia hafal al-Qur`an dalam 80 malam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh keponakannya, Muhammad bin Abdullah.”[157]
Imam az-Zuhri berkata:
مَا اسْتَعَدْتُ حَدِيثًا قَطُّ، وَلا شَكَكْتُ فِي حَدِيثٍ إِلا حَدِيثًا وَاحِدًا فَسَأَلْتُ صَاحِبِي فَإِذَا هُوَ كَمَا حَفِظْتُ
“Aku tidak pernah mempersiapkan hadits sama sekali. Aku tidak pernah ragu dalam suatu hadits kecuali satu hadits saja lalu aku tanyakan kepada temanku, ternyata hadits tersebut persis seperti yang aku hafal.”[158]
Abu Bakar al-Hudzali berkata, “Aku duduk di majlis al-Hasan dan Ibnu Sirin, dan aku tidak melihat seorang pun yang lebih mulia darinya,” yakni az-Zuhri.[159]
Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin masyhur dikenal sebagai ulama besar Bashrah dan mereka lebih tua dan lebih tinggi tingkatan thabaqahnya daripada az-Zuhri. Hanya saja ilmu adalah anugerah dan anugerah Allah diberikan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah pemilik karunia yang besar.
Dari Ja’far bin Rabi’ah bahwa dia berkata, “Aku berkata kepada Irak bin Malik, ‘Orang yang paling faqih dari penduduk Madinah dan yang paling tahu tentang sesuatu yang telah berlalu dari urusan manusia adalah Sa’id bin al-Musayyib. Adapun yang paling melimpah haditsnya di antara mereka adalah Urwah bin az-Zubair. Tidaklah engkau berkehendak untuk memancarkan lautan dari Ubaidullah bin Abdullah melainkan engkau pasti bisa memancarkannya.” Irak berkata, “Namun yang paling berilmu di antara mereka semua menurutku adalah Ibnu Syihab, karena dia mengumpulkan ilmu mereka semua pada ilmunya.”[160]

b. Makanan yang Perlu Dihindari
a) Apel
Adapun makanan yang perlu dihindari adalah buah apel. Imam az-Zuhri berkata:
التُّفَّاحُ يُورِثُ النِّسْيَانَ
“Buah apel mewarisi sifat lupa.”[161]
b) Rokok
Rokok memang bukan makanan tetapi di masa sekarang rokok seperti makanan pokok bagi sebagian orang. Bahkan sebagian mereka tidak ridha hanya makan 3 batang sehari tetapi 3 bungkus!!! Sehingga bibir mereka hitam legam berbau menyengat seperti aspal yang diinjak-injak kendaraan di jalan raya!!!
Hasil penelitian Universitas Israel menyebutkan bahwa nikotin dapat merusak sel utama otak dan akan melekat pada gen. Artinya keturunan perokok akan mewarisi generasi yang cacak otak (bodoh). Allahu a’lam.[]





[Sengaja[[ dikosongkan]



Text Box: BAB III
JANGAN LUPAKAN TUJUAN UTAMA
 



[Sengaja dikosongkan]








BAB III
JANGAN LUPAKAN TUJUAN UTAMA

S
egala sesuatu akan terarah, tercapai, dan sukses jika memiliki tujuan, baik urusan kecil maupun besar. Dengan adanya tujuan inilah sesuatu memiliki kemuliaan dan keutamaan. Misalnya manusia yang merupakan makhluk yang diciptakan Allah paling sempurna dan mulia, karena mereka membawa tujuan mulia yakni beribadah kepada Allah ta’ala. Seandainya manusia enggan beribadah kepada Allah, niscaya kesempurnaan dan kemuliaannya pun sirna dan hilang, bahkan ia lebih hina daripada binatang ternak dan bahkan lebih hina lagi. Begitu pula dalam hadits ini. Untuk itu, perhatikanlah setiap tujuan ini agar megaproyek ini tidak membawa duka dan sengsara di esok hari.
          Berikut pembahasan dan perinciannya.
1. Ikhlas Hanya karena Allah
Setan amat cerdik. Amal yang agung dan berpahala bisa digelincirkannya menjadi amal yang membinasakan lewat jalan merusak niat. Bercita-cita menjadi al-hafizh adalah cita-cita yang mulia dan agung, tetapi bisa membinasakan karena rusaknya niat, yaitu menghafal hadits bukan diniatkan untuk mencari wajah Allah tetapi semata-mata agar disebut-sebut sebagai al-hafizh.
Siapa yang menghafal hadits dengan niat untuk menghilangkan kebodohan, menegakkan sunnah dan menyebarkannya serta mengamalkannya, maka dia telah selamat dalam niatnya.
Allah mahabaik dan tidak menerima amal kecuali yang baik, yaitu yang ikhlas dan ittiba’. Setiap amal yang tidak diniatkan karena Allah, pasti akan menjadi penyesalan di akhirat.
Allah berfirman:
ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ   ﮞ  ﮟ  ﮠ
“Dan mereka tidak diperintah kecuali menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama yang lurus kepada-Nya.”[162]
Muhammad al-Hanafiyah berkata:
كُلُّ مَا لَا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللّٰهِ تَعَالَى يَضْمَحِلُّ
“Setiap yang tidak dimaksudkan mencari wajah Allah ta’ala pasti akan lenyap.”[163]
Disamping amalnya tidak diterima, Allah juga mengancamnya dan menyiapkan siksa yang pedih baginya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah, justru dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan bagian dari dunia, niscaya dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari Kiamat.”[164]
Syaraful Haq Abadi berkata, “Tidak mencium bau surga menunjukan akan penegasan keharaman surga baginya, karena siapa yang tidak mendapatkan bau sesuatu sudah pasti tidak akan mendapatkannya. Mungkin juga maksudnya dia berhak untuk itu tetapi tidak langsung memasukinya dan urusannya terserah Allah sebagaimana kasus para pelaku dosa, asal meninggal di atas keimanan.”[165]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَيُجَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، وَيَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، أَدْخَلَهُ اللّٰهُ جَهَنَّمَ»
“Barangsiapa mencari ilmu untuk berbangga-bangga di tengah ulama, mengelabui orang-orang bodoh, dan memalingkan wajah-wajah manusia ke arahnya, niscaya Allah akan memasukannya ke Jahanam.”[166]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللّٰهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَّادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ»
“Manusia pertama yang akan diadili pada hari Kiamat adalah orang mati syahid. Lalu dia didatangkan lalu diberitakan akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya lalu dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga terbunuh syahid.’ Allah berfirman, ‘Kamu bohong! Bahkan kamu berperang supaya disebut sang pemberani, sungguh telah disebut.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka.
Dan seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan membaca al-Qur`an. Lalu dia didatangkan lalu diberitakan akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya lalu dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur`an karena-Mu.’ Allah berfirman, ‘Kamu bohong! Bahkan kamu mempelajari ilmu supaya disebut sang alim dan membaca al-Qur`an supaya disebut dia qari`, sungguh telah disebut.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka.
Dan seseorang yang Allah luaskan rezeki baginya dan memberikannya perbendaharaan harta yang banyak. Lalu dia didatangkan lalu diberitakan akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya lalu dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Tidaklah aku tinggalkan jalan yang Engkau sukai untuk berinfaq di sana melainkan aku berinfaq karena-Mu.’ Allah berfirman, ‘Kamu bohong! Bahkan kamu berinfaq supaya disebut sang dermawan, sungguh telah disebut.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka.”[167]
Dalam riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim ada tambahan:
«يَا أَبَا هُرَيْرَةَ! أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللّٰهِ تُسَعَّرُ بِهِمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Wahai Abu Hurairah! Mereka bertiga adalah makhluk pertama yang neraka disulut untuk mereka pada hari Kiamat.”
Imam an-Nawawi berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang berperang, orang alim, dan orang dermawan berserta hukuman bagi mereka atas perbuatannya beramal untuk selain Allah dan dimasukannya mereka ke dalam neraka, adalah dalil atas beratnya keharaman riya` dan kerasnya siksa-Nya serta dorongan untuk ikhlas dalam semua amal, sebagaimana firman Allah, ‘Dan mereka tidak diperintah kecuali menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama yang lurus kepada-Nya.’ Di dalam hadits ini juga terdapat penjelasan bahwa dalil-dalil umum tentang keutamaan jihad hanya diperuntukan bagi siapa yang beramal ikhlas karena Allah, begitu pula pujian bagi para ulama dan bagi para munfiqin (orang-orang yang berinfaq) dalam segala kebaikan. Semuanya khusus bagi siapa yang melakukan hal tersebut ikhlas karena Allah ta’ala.[168]
Bagaimana caranya agar bisa ikhlas karena Allah dalam menuntut ilmu? Ibnu Jama’ah al-Kinani menjawab, “Niat yang baik dalam menuntut ilmu adalah bila bertujuan untuk mencari keridhaan Allah, untuk mengamalkannya, untuk menghidupkan syariat, untuk menyinari hati, untuk membersihkan batinnya, untuk dekat dengan Allah pada hari Kiamat, untuk mendapatkan apa yang dipersiapkan bagi pemilik ilmu berupa keridhaan Allah dan keagungan ilmu. Dia tidak belajar untuk tujuan-tujuan duniawi seperti mendapatkan jabatan, kehormatan, harta, dan berbangga-bangga di hadapan kawan atau untuk mendapatkan pujian teman dan penghormatan di majlis dan lainnya.”[169]
Bagaimana cara mendidik jiwa agar terbiasa ikhlas karena Allah? Ibnul Qayyim menjawab, “Tidak akan berkumpul di dalam hati keikhlasan dan keinginan untuk dipuji dan disanjung, juga kerakusan dengan apa yang ada pada orang lain, kecuali seperti berkumpulnya air dan api. Apabila Anda bertekad untuk ikhlas, maka pertama kali datangilah sifat rakus (terhadap pujian dan harta manusia) dan sembelihlah ia dengan pisau keputus-asaan. Berlakulah kasar terhadap pujian dan sanjungan, dan bersikaplah merasa tidak butuh sebagaimana  yang dilakukan para pecinta dunia terhadap akhirat. Apabila Anda menyembelih ketamakan dan merasa tidak perlu pujian dan sanjungan, maka akan mudah bagi Anda untuk ikhlas.
Jika Anda bertanya, ‘Apa yang membantu saya untuk menyembelih ketamakan serta pujian dan sanjungan manusia?’ Saya jawab, ‘Adapun yang bisa membantu Anda menyembelih ketamakan adalah keyakinan Anda bahwa tidak ada yang pantas ditamaki karena gudang kekayaan ada di tangan Allah. Adapun menyembelih pujian dan sanjungan adalah dengan meyakini bahwa tidak ada pujian dan sanjungan yang bermanfaat serta cacian yang membahayakan kecuali dari Allah.’”[170]
Ilmu adalah hibah dari Allah dan tidak diberikan kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Sebab mereka yang berhak membawa kemuliaan yang agung ini. Merekalah yang memiliki keahlian untuk menyebarkannya, mendakwahkannya, dan mengamalkannya.
Imam asy-Syaukani berkata, “Niat yang baik dan ikhlas dalam amal sangat berpengaruh dalam menghafal ilmu, memahami, dan bersemangat mencarinya.”[]

2. Mengamalkan Ilmu
Menjadi hafizh bukanlah segala-galanya, tetapi yang segala-galanya adalah mengamalkan apa yang telah diketahui dan dihafal. Tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan dan karena hal ini ilmu dipuji. Maka jika ilmu tidak diamalkan, ia sama saja dengan kebodohan bahkan lebih hina. Sebab mempertanggungjawabkan hisab untuk kesalahan yang tidak diketahui lebih ringan daripada kesalahan yang telah diketahui.
Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) berkata:
إِنَّمَا يُطْلَبُ الْعِلْمُ لِيُتَّقَى اللّٰهَ بِهِ فَمِنْ ثَمَّ فُضِّلَ، فَلَوْلَا ذَلِكَ لَكَانَ كَسَائِرِ الْأَشْيَاءِ
“Sesungguhnya ilmu itu dicari untuk menunjang ketaqwaan kepada Allah dan dari situlah dia memiliki keutamaan. Jika bukan karena hal itu, niscaya ia akan sama seperti yang lainnya.”[171]
Ilmu dicari untuk digunakan beribadah kepada Allah, karena Allah murka bila diibadahi tanpa ilmu, buktinya Allah murka kepada kaum Nashrani dan menyebut mereka sebagai kaum yang sesat. Di sisi lain, Allah juga murka kepada kaum yang memiliki ilmu tetapi tidak diamalkan, buktinya Allah murka kepada kaum Yahudi dan menyebut mereka sebagai kaum yang dimurkai.
Allah berfirman:
  ﮤ  ﮥ  ﮦ   ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮭ  ﮮ  ﮯ  
“Apakah kalian hendak memerintahkan kebaikan kepada manusia tetapi kalian sendiri melupakan diri-diri kalian, padahal kalian membaca al-Kitab? Apakah kalian tidak berakal???”[172]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ ويَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ ويَحْرِقُ نَفْسَهُ»
“Perumpamaan orang alim yang mengajari manusia kebaikan tetapi melupakan dirinya seperti lilin yang menerangi manusia tetapi membakar dirinya.”[173]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلاَنُ! مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ المُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ»
“Akan didatangkan seseorang pada hari Kiamat lalu dilempar ke neraka lalu usus-ususnya keluar berceceran di neraka. Dia berputar-putar seperti putaran keledai di tempat penggilingan. Kemudian penduduk neraka mengerumuninya dan bertanya, ‘Wahai fulan, apa yang terjadi padamu? Bukankah dahulu kamu memerintah kami yang ma’ruf dan melarang kami yang mungkar?’ Dia menjawab, ‘Dulu memang aku memerintahkan kalian yang ma’ruf tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya, dan aku melarang kalian yang mungkar tetapi aku sendiri melanggarnya.’”[174]
Wahab bin Munabbih berkata:
قَرَأْتُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ: «ابْنَ آدَمَ، لَا خَيْرَ لَكَ فِي أَنْ تَعْلَمَ مَا لَا تَعْلَمُ وَلَمْ تَعْمَلْ بِمَا عَلِمْتَ، فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَرَجُلٍ احْتَطَبَ حَطَبًا فَحَزَمَ حُزْمَةً فَذَهَبَ يَحْمِلُهَا فَعَجَزَ عَنْهَا، فَضَمَّ إِلَيْهَا أُخْرَى»
“Aku membaca di sebagian kitab: Hai anak Adam! Tidak ada kebaikan bagimu mempelajari apa yang tidak kamu ketahui dan tidak mengamalkan apa yang kamu ketahui. Perumpamaan itu seperti seseorang yang mengumpulkan kayu bakar lalu mengikatnya lalu dipikulnya dengan kepayahan, tetapi justru ditambah jumlahnya dengan kayu lain.”[175]
Jika umur habis untuk menulis dan menghafal hadits, lantas kapan mengamalkannya???
Hafsh bin Humaid berkata:
سَأَلْتُ دَاوُدَ الطَّائِيَّ، عَنْ مَسْأَلَةٍ فَقَالَ دَاوُدُ: أَلَيْسَ الْمُحَارِبُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَلْقَى الْحَرْبَ، أَلَيْسَ يَجْمَعُ لَهُ آلَتَهُ؟ فَإِذَا أَفْنَى عُمْرَهُ فِي جَمْعِ الْآلَةِ فَمَتَى يُحَارِبُ؟ إِنَّ الْعِلْمَ آلَةُ العَمَلِ، فَإِذَا أَفْنَى عُمْرَهُ فِيهِ فَمَتَى يَعْمَلُ؟
“Aku bertanya kepada Dawud ath-Tha`i tentang suatu masalah lalu Dawud berkata, ‘Bukankah seorang prajurit yang hendak pergi ke medan perang akan mengumpulkan alat-alat dan perlengkapannya? Tetapi jika umurnya habis untuk mengumpulkan alat, lalu kapan dia berperang? Ilmu itu sesungguhnya alat untuk beramal. Namun, jika umurnya habis untuk menuntut ilmu, lalu kapan dia beramal?’”[176]
Sufyan bin Uyainah (w. 198 H) berkata:
إِذَا كَانَ نَهَارِي نَهَارَ سَفِيهٍ وَلَيْلِي لَيْلَ جَاهِلٍ، فَمَا أَصْنَعُ بِالْعِلْمِ الَّذِي كَتَبْتُ؟
“Jika siang hariku adalah siang harinya orang idiot dan malam hariku adalah malam harinya orang jahil, lantas apa yang telah kuamalkan dengan ilmu yang telah aku tulis?”[177]
Sufyan bin Uyainah (w. 198 H) berkata:
لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْرِفُ الْخَيْرَ وَالشَّرَّ، إِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي إِذَا رَأَى الْخَيْرَ اتَّبَعَهُ وَإِذَا رَأَى الشَّرَّ اجْتَنَبَهُ
“Orang berakal bukanlah yang mengetahui kebaikan dan keburukan, tetapi orang berakal adalah yang melihat kebaikan lalu mengikutinya dan apabila melihat keburukan dijauhinya.”[178]
Malik bin Dinar (w. 130 H) berkata:
إِذَا تَعَلَّمَ الْعَبْدُ الْعِلْمَ لِيَعْمَلَ بِهِ كَسَرَهُ عِلْمُهُ وَإِذَا تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِغَيْرِ الْعَمَلِ بِهِ زَادَهُ فَخْرًا
“Apabila seorang hamba mempelajari ilmu untuk diamalkan, maka ilmunya akan melunakkannya. Apabila dia mempelajari ilmu bukan untuk diamalkan, maka ilmunya akan menambah kesombongannya.”[179]
Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata, “Saya menemukan diri bersemangat untuk belajar, sehingga ilmu memberikan saya segalanya. Tetapi saya mendapatkan diri saya hanya sibuk dengan belajar ilmu, maka saya berteriak, ‘Apa manfaatnya ilmu bagi dirimu? Di mana rasa takut, khawatir, dan kesadaranmu? Tidakkah kamu mendengar kabar orang-orang terbaik dalam ibadah dan tahajjud mereka? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan penghulu semuanya melaksanakan shalat malam hingga bengkak kakinya? Bukankah Abu Bakar banyak bersedih dan sering menangis? Bukankah ada dua garis di pipi Umar bekas air mata? Bukankah Utsman mengkhatamkan al-Qur`an dalam satu rakaat? Bukankah Ali menangis semalaman di mihrabnya hingga jenggotnya basah sambil berkata, ‘Wahai dunia, godalah selain diriku!’ Bukankah al-Hasan al-Bashri hidup dengan makanan khasyyatullah? Bukankah Sa’id bin al-Musayyib selalu ke masjid dan tidak pernah tertinggal shalat jamaahnya selama 40 tahun? Bukankah putri ar-Rabi’ bin Khaitsam berkata kepada ayahnya, ‘Saya melihat orang lain tidur, sementara Ayah tidak pernah tidur?’ Ar-Rabi’ menjawab, ‘Karena Ayahmu takut adzab yang turun secara tiba-tiba.’ Bukankah Abu Muslim al-Khaulani menggantungkan cemeti di masjid untuk memukul dirinya apabila malas beribadah? Bukankah Yazid ar-Raqqasy puasa selama 40 tahun tetapi berkata, ‘Alangkah ruginya, aku sudah didahului oleh ahli ibadah yang lain dan tidak bisa mengikuti mereka.’ Bukankah Manshur bin al-Mu’tamir juga berpuasa sunnah selama 40 tahun? Tidakkah kamu mendengar cerita kezuhudan keempat Imam: Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad? Berhati-hatilah hanya terpaku pada ilmu tetapi tidak mengamalkannya, karena demikian keadaan pemalas yang berbahaya.”[180]
Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan Imam al-Bukhari adalah teladan dalam mengamalkan hadits-hadits yang mereka hafal.
Imam Ahmad berkata, “Tidaklah aku menulis satu hadits pun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan aku mengamalkannya, hingga aku menjumpai hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan memberi satu dinar kepada Abu Thaybah, maka aku pun berbekam dan memberinya satu dinar.”[181]
Meskipun memanah bukan keahlian khusus para ulama, tetapi karena sunnah telah menyebutkannya, maka Imam al-Bukhari pergi ke lapangan untuk berlatih memanah. Di antara bukti kemahirannya dalam memanah, dia tidak keliru dalam membidik sasaran.[182] Begitu pula dengan Imam asy-Syafi’i.
Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata, “Saya bertemu dengan para masyayikh dalam keadaan berbeda-beda. Mereka tidak sama dalam keilmuan. Yang paling banyak memberikan manfaat kepadaku dari persahabatanku dengan mereka adalah yang paling banyak mengamalkan ilmunya, sekalipun yang lain lebih alim darinya.
Saya bertemu dengan sekelompok ulama hadits. Mereka banyak menghafal dan pandai, tetapi terkadang melakukan ghibah dengan alasan jarh wa ta’dil. Mereka segera menjawab agar tidak hilang kewibawaannya, sekalipun jatuh pada kesalahan.
Saya bertemu dengan Abdul Wahhab al-Anmathi. Beliau mengikuti ajaran salaf. Saya tidak pernah mendengar di majlisnya ada ghibah. Beliau juga tidak meminta imbalan selama mengajarkan hadits. Apabila saya membacakan kepadanya hadits-hadits raqa’iq (tentang kelembutan hati), beliau menangis terus-menerus. Waktu itu saya masih kecil tetapi tangis beliau itu sangat berpengaruh dalam hati saya dan membangun prinsip-prinsip adab dalam diriku. Beliau memiliki sifat-sifat sebagaimana para masyayikh yang kami ketahui sifat-sifat mereka dari sejarah.
Saya bertemu dengan Syaikh Abu Manshur al-Jawaliqi. Beliau banyak diam dan sangat menjaga perkataannya dengan hati-hati dan klarifikasi. Terkadang beliau ditanya tentang suatu masalah yang sangat jelas dan segera bisa dijawab oleh sebagian muridnya, tetapi beliau berhenti hingga yakin akan jawabannya. Beliau banyak berpuasa dan diam.
Saya banyak mengambil pelajaran dari kedua orang ini melebihi orang-orang selainnya. Dari mereka saya memahami bahwa dalam dalil perbuatan lebih bisa memberi petunjuk daripada dalil perkataan. Demi Allah, hendaklah kalian beramal dengan ilmu, karena itulah landasan yang agung. Seorang yang menderita adalah orang yang menghabiskan umurnya untuk belajar ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Dia telah kehilangan kelezatan dunia sekaligus kenikmatan akhirat. Dia akan datang dalam keadaan bangkrut, sementara kuatnya hujjah siap menyerangnya.”[183][]

3. Mengajar dan Berdakwah
Bayangkanlah bahwa ketika Anda telah meninggal yang dengan itu Anda tidak bisa lagi menambah amal ibadah, tetapi tiba-tiba ada kiriman bonus pahala dari Allah. Itulah pahala ilmu yang disebarkan yang pahalanya terus mengalir meskipun kita telah meninggal.
Allah berfirman:
ﯢ   ﯣ  ﯤ  ﯥ 
“Dan Kami menulis apa yang mereka perbuat dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan.”[184]
Sa’id bin Jubair (w. 95 H) berkata saat menjelaskan makna ayat ini:
مَا سَنُّوا مِنْ سُنَّةٍ فَعَمِلُوا بِهَا مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِمْ
“Yaitu sunnah yang mereka ajarkan lalu diamalkan orang lain sepeninggal mereka.”[185]
Ilmu yang mereka ajarkan dan kitab yang mereka tinggalkan adalah sebaik-baik jejak yang mereka tinggalkan, karena jejak ini dibutuhkan oleh setiap manusia sampai akhir zaman, oleh karena itu pahala para nabi dan rasul alaihimus salam melimpah ruah, begitu pula pewaris mereka dari kalangan para ulama, ahli ilmu, dan para da’i yang ikhlas mengajak kepada jalan Allah. Inilah sebesar-besar kesibukan yang tidak ada bandingannya.
Syaikh as-Sa’di (w. 1376 H) berkata, “Setiap kebaikan yang dikerjakan manusia yang disebabkan ilmu seseorang, pengajarannya, nasihatnya, perintahnya yang ma’ruf dan larangannya yang mungkar, ilmu dakwah bagi para pelajar, kitab-kitabnya yang dimanfaatkan saat hidup dan wafatnya, atau amal shalih berupa shalat, zakat, sedekah, dan berbuat baik yang ditiru oleh orang lain, atau membangun masjid, atau tempat-tempat lain yang bermanfaat bagi manusia, serta apa yang menyerupai itu semua, maka itu semua adalah jejak yang akan ditulis dalam kebaikannya.”[186]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا»
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.”[187]
Allah telah menunjukkan kepada kita akan kelembutan dan kemurahannya. Orang yang rugi adalah orang yang diberi Allah ilmu dan hadits yang melimpah tetapi pelit menyedekahkannya. Justru dengan menyedekahkannya, ilmunya akan bertambah, beda dengan harta yang terus berkurang.
Allah mengancam mereka dengan neraka siapa yang menyembunyikan ilmu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللّٰهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu menyembunyikannya, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian dari api neraka pada hari Kiamat.”[188]
Cukuplah menjadi kemuliaan da’i saat Allah menjadikan para nabi dan rasulnya sebagai da’i yang menyampaikan risalah Allah untuk umat manusia. Allah secara terang-terangan menjadikan sebaik-baik rasul-Nya sebagai da’i:
ﭛ   ﭜ   ﭝ    ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ   ﭤ      ﭥ  ﭦ     ﭧ  ﭨ  ﭩ 
“Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan da’i kepada Allah dengan izin-Nya serta lentera yang benderang.”[189]
Allah juga berfirman:
ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﭿ  ﮀ   ﮁ  ﮂ  ﮃ  ﮄ  ﮅ    ﮆ     ﮇ  ﮈ  ﮉ 
“Dan siapakah yang lebih baik ucapannya selain orang yang mengajak kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan, ‘Sungguh aku termasuk orang-orang muslim.’?”[190]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»
“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.”[191]
Jadikan di antara agenda hidup Anda adalah berdakwah untuk mendulang pahala yang melimpah di hari tidak berguna lagi harta dan kedudukan. Jika memungkinkan, hendaklah fokus menuntut ilmu hingga umur 40 tahun, kemudian fokus berdakwah hingga umur 50 tahun, kemudian di sisa umur fokus beribadah dan mengarang kitab. Allahul muwaffiq.[]


[Sengaja dikosongkan]


Text Box: BAB IV
ANTARA AHLI HADITS DAN AHLI DUNIA


[Sengaja dikosongkan]







BAB IV
ANTARA AHLI HADITS DAN AHLI DUNIA

A
da hubungan erat antara ahli hadits dan ahli dunia. Pasalnya, kebanyakan ahli dunia --karena sudah asyik dan terbuai dengan kenikmatan dunia-- tidak lagi butuh untuk mendalami hadits. Sebaliknya, para ahli hadits kebanyakan adalah orang-orang yang menghinakan dunia dan zuhud terhadapnya. Dari sini seolah-olah mereka tidak akan pernah bertemu meskipun di persimpangan jalan. Seolah-olah mereka hanya diberi satu pilihan: menjadi ahli hadits atau ahli dunia? Mana yang lebih mulia dan menguntungkan?

1. Mana yang Lebih Mulia?
Allah berfirman:
ﯞ  ﯟ             ﯠ  ﯡ    ﯢ  ﯣ          ﯤ
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah semua kemuliaan.”[192]
Akal yang sehat akan menyatakan dengan tegas bahwa ahli hadits lebih utama daripada ahli dunia. Sayangnya, kenyataan berbicara lain. Fakta yang ada membuktikan bahwa perguruan tinggi teknik dan umum dibanjiri pendaftar daripada jurusan agama, mall dan pasar lebih padat daripada majlis talim, kebanyakan pembicaraan manusia seputar dunia bukan akhirat, dan para pelaku dosa laksana buih di lautan sementara para pengikut sunnah laksana musafir di padang pasir.
Mereka menyangka bahwa kemuliaan dan kebahagiaan itu ada pada dunia dan mengekor kaum kafir. Mereka telah ditipu oleh setan. Setan membungkus kehinaan itu dengan seindah-indahnya hingga kehinaan tampak sebagai kemuliaan, padahal tipu daya setan itu lemah. Adapun orang-orang mukmin tidak akan tertipu karena melihat dengan mata hati yang bersinar karena cahaya keimanan.
Allah berfirman:
ﯞ    ﯟ  ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ 
“Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi mereka? Padahal kemulian itu milik Allah seluruhnya.”[193]
Az-Zujaj menafsirkan:
أَيَبْتَغِي الْمُنَافِقُوْنَ عِنْدَ الْكَافِرِيْنَ العِزَّةَ؟
“Apakah orang-orang munafiq itu mencari di sisi orang-orang kafir kemuliaan?”[194]
Banyak ayat al-Qur`an yang memuji ilmu dan ahlinya, tetapi tidak untuk dunia dan ahlinya meskipun sekali. Justru yang ada adalah celaan dan ancaman. Sifat-sifat buruk mengelilingi dunia dan ahlinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللّٰهُ عَلَى مَنْ تَابَ»
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya dia menginginkan yang ketiga. Perut anak Adam tidak akan penuh kecuali dengan tanah. Allah menerima tobat bagi siapa yang bertobat.”[195]
Seandainya kemuliaan itu milik ahli dunia, tentu Fir’aun, Qarun, dan Hamam lebih mulia daripada Musa dan Harun ‘alahimas salam. Dari sini telah nampak akan kemuliaan ahli hadits daripada ahli dunia.
Kekayaan berapapun yang dimiliki ahli dunia akan segera sirna karena dikelola tanpa ilmu atau berkurang karena dibelanjakan. Kekayaan tidak menambah kebahagiaan mereka tetapi justru menimbulkan hati mereka tidak tentram karena khawatir hilang atau dicuri. Kekayaan mengkhianati ahli dunia karena mereka telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk mencarinya tetapi ketika saat-saat sendirian di alam kubur ia justru meninggalkannya.
Adapun ahli hadits akan bertambah haditsnya saat dibelanjakan di jalan Allah. Hatinya tentram karena mendapat penjagaan dan bimbingan ilmu yang senantiasa menyertainya di dalam hatinya.
Mereka mendapat kedudukan tinggi di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan para shahabatnya untuk menyambut dan memuliakan para pendatang yang ingin belajar hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:
«سَيَأْتِيكُمْ أَقْوَامٌ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَقُولُوا لَهُمْ: مَرْحَبًا مَرْحَبًا بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ! وَاقْنُوهُمْ»
“Akan datang kepada kalian suatu kaum untuk menuntut ilmu. Jika kalian melihat mereka maka ucapkanlah, ‘Selamat datang, selamat datang dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!’ Dan ajarilah mereka.”[196]
Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) berkata:
الْمَلَائِكَةُ حُرَّاسُ السَّمَاءِ، وَأَصْحَابُ الْحَدِيثِ حُرَّاسُ الْأَرْضِ
“Para malaikat adalah penjaga langit, sementara para ahli hadits adalah penjaga bumi.”[197]
Di akhirat, tempat duduknya paling dekat dengan tempat duduk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:
«إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً»
“Sesungguhnya manusia yang paling berhak atasku pada hari Kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.”[198]
Hadits ini menunjukan kedekatan ahli hadits dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat kelak, karena mereka adalah orang-orang yang paling banyak bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama para perawi senantiasa bersanding dengan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik saat diriwayatkan, ditulis, dan didengarkan.
Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:
إِذَا رَأَيْتَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ كَأَنِّي رَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Apabila aku melihat seorang dari para ahli hadits, seolah-olah aku melihat seorang dari para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[199]
Cukuplah kemuliaan ahli hadits bila pada hari Kiamat nanti berada di iring-iringan rombongan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah berfirman:
ﮡ  ﮢ  ﮣ  ﮤ   ﮥ 
“(Ingatlah) pada hari Kami memanggil manusia beserta imam-imam mereka.”[200]
Sebagian kaum salaf berkata:
هَذَا أَكْبَرُ شَرَفٍ لِأَصْحَابِ الْحَدِيثِ، لِأَنَّ إِمَامَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ini adalah sebesar-besar kemuliaan bagi para ahli hadits, karena imam mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[201][]

2. Jangan Ragu Menjadi Ahli Hadits
Hidup hanya sekali maka hiduplah yang berarti. Apapun kesibukan seseorang, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi ahli hadits. Meskipun dia kuliah di perguruan tinggi umum atau teknik karena desakan orang tuanya, meskipun dia sibuk bisnis karena tuntutan hutang dan keluarga, meskipun dia orang miskin yang melarat tidak memiliki bekal, meskipun dia cacat tidak bisa bergerak bebas. Sebab ilmu adalah hibah dari Allah dan akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah-lah pemilik karunia yang agung.
Jika ada seseorang yang memiliki keinginan kuat belajar ilmu syar’i sementara orang tua dan biaya mendukung, maka jangan sia-siakan umurnya untuk mempelajari dunia dan meninggalkan ilmu syar’i, tetapi pilihlah dunia ilmu syar’i. Sebab, di sana banyak saudara kita yang kuat keinginannya untuk mendalami agama tetapi situasi, kondisi, lingkungan, orang tua, atau keluarga menghalangi-halangi dan menghambat mereka.
Ingatlah apa yang telah Allah persiapkan untuk para ahli hadits agar hati kita tentram dan tidak goyah karena hembusan bisikan setan.
Dari Jarir, dia berkata, “Aku melihat al-A’masy dalam mimpi setelah kematiannya, maka aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Muhammad, bagaimana keadaan kalian?’ Dia menjawab, ‘Kami selamat berkat ampunan Allah. Alhamdulillahi rabbil ‘âlamîn.’[202]
Yunus bin Muhammad al-Mu’addib berkata, “Hammad bin Salamah meninggal saat shalat di masjid.”[203]
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak membuka kedua matanya ketika hendak meninggal lalu tertawa seraya membaca:
ﮇ   ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ 
“Untuk yang seperti ini hendaklah orang-orang mengupayakannya.”[204] [205]
Dari al-Hasan bin Imran bin Uyainah bin Abu Imran putra saudara Sufyan bin Uyainah, dia bercerita, “Aku berhaji bersama pamanku Sufyan bin Uyainah pada akhir haji yang dilakukannya pada 197 H. Ketika kami berada di Jam’ (Muzdalifah), dan dia telah selesai shalat, maka dia tidur di atas tidurnya. Kemudian dia berkata, “Aku telah menempati tempat ini selama 70 tahun, dan aku berdoa setiap tahun, ‘Ya Allah janganlah Engkau jadikan akhir masaku di tempat ini,’ tetapi hari ini aku malu kepada Allah karena sedemikian banyaknya aku memohon itu kepada-Nya.’ Kemudian dia pulang lalu meninggal di tahun itu pada hari Sabtu, awal Rajab tahun 198 H dan dimakamkan di al-Hajun.
Ali al-Madini berkata:
رَأَيْتُ خَالِدَ بنَ الحَارِثِ فِي النَّومِ، فَقُلْتُ: مَا فَعَلَ اللّٰهُ بِكَ؟ قَالَ: غَفَرَ لِي، عَلَى أَنَّ الأَمْرَ شَدِيْدٌ. قُلْتُ: فَمَا فَعلَ يَحْيَى القَطَّانُ؟ قَالَ: نَرَاهُ كَمَا يُرَى الكَوْكَبُ الدُّرِّيُّ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ
“Aku bermimpi bertemu dengan Khalid bin al-Harits, lalu aku bertanya kepadanya, ‘Apa yang telah diperbuat Allah terhadapmu?’ Dia menjawab, ‘Dia mengampuniku, tetapi perkaranya sangat berat.’ Aku bertanya lagi, ‘Apa yang dilakukan Yahya al-Qaththan?’ Dia menjawab, ‘Kami melihatnya sebagaimana bintang yang bersinar dilihat di langit.’”[206]
Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku bermimpi bahwa Adam meninggal lalu jenazahnya diusung oleh orang-orang. Pada pagi harinya aku tanyakan kepada ahli ilmu mengenai mimpi itu, lalu dia menjawab, ‘Ini adalah kematian orang paling berilmu dari penduduk bumi, karena Allah telah mengajari Adam semua nama (ilmu).’ Tidak lama kemudian Imam asy-Syafi’i meninggal, semoga Allah merahmatinya.”[207]
Dari Abu Rafi’, anak dari putri Yazid bin Harun, dia berkata, “Aku berada di sisi Ahmad bin Hanbal, dan saat itu di sisinya ada dua orang --aku mengiranya mengatakan, ada dua orang syaikh--. Salah satu dari keduanya berkata, ‘Wahai Abu Abdillah, aku melihat Yazid bin Harun dalam mimpi, lalu aku katakan kepadanya, ‘Wahai Abu Khalid, apa yang telah diperbuat Allah padamu?’ Dia menjawab, ‘Allah mengampuniku dan memberi syafaat kepadaku, tetapi Dia mencelaku.’ Aku berkata, ‘Aku mengetahui Allah mengampunimu dan memberi syafaat kepadamu, tetapi karena apa Dia mencelamu?’ Dia menjawab, ‘Allah berkata kepadaku, ‘Wahai Yazid, apakah kamu menceritakan hadits dari Jarir bin Utsman?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rabb-ku, aku tidak mengenalnya kecuali kebaikan.’ Dia berkata, ‘Wahai Yazid, sungguh dia membenci al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.’
Abu Rafi’ melanjutkan, “Sementara orang kedua bercerita, ‘Adapun aku pernah melihat Yazid bin Harun dalam mimpi lalu aku bertanya kepadanya, ‘Apakah Mungkar dan Nakir telah mendatangimu?’ Dia menjawab, ‘Ya, demi Allah. Keduanya bertanya kepadaku, ‘Siapakah Rabb-mu? Apa agamamu?’ Lalu aku katakan, ‘Apakah orang sepertiku pantas diberi pertanyaan seperti ini, padahal aku mengajarkan manusia tentang hal ini sewaktu di dunia???’ Keduanya mengatakan kepadaku, ‘Kamu benar, maka tidurlah sebagaimana pengantin baru.’”[208]
Muhammad bin Yusuf al-Bukhari berkata, “Aku dan sahabatku menunaikan haji bersama Yahya bin Ma’in. Kami memasuki Madinah pada hari Jum’at, dan dia meninggal pada malam itu. Ketika kami berada di pagi hari, orang-orang mendengar kedatangan Yahya dan kematiannya, lalu mereka berkumpul dan datang pula Bani Hasyim seraya berkata, ‘Kami akan mengeluarkan papan-papan yang dahulu digunakan untuk memandikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Namun, kebanyakan orang tidak menyukai dan tidak setuju. Bani Hasyim berkata, ‘Kami lebih berhak dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kalian, dan dia pantas dimandikan di atasnya.’ Papan-papan pun dikeluarkan dan dia dimandikan di atasnya, serta dimakamkan pada hari Jum’at bulan Dzulqa’dah 233 H.”
Ja’far bin Muhammad bin Kazal berkata, “Ketika dia dinaikkan di atas papan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka seorang lelaki berseru, ‘Inilah orang yang memberantas kedustaan dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[209]
Jumlah kaum pelayat yang mengiringi jenazah Imam Ahmad bin Hanbal melimpah ruah yang belum pernah ada sebelumnya di masa jahiliyyah. Abdul Wahhab al-Warraq berkata, “Kami belum pernah mendengar bahwa ada orang banyak berkumpul di masa jahiliyyah dan Islam seperti pada saat pemakaman Imam Ahmad. Kami mendapat kabar bahwa yang hadir di tempat itu dihitung secara shahih, ternyata jumlahnya sekitar satu juta, dan kami menghitung di pemakaman ada sekitar 60.000 wanita.”[210]
Abu Nashr bin Makula berkata, “Aku bermimpi seakan-akan aku bertanya tentang keadaan ad-Daruquthni di akhirat, maka aku diberi jawaban, ‘Dia dipanggil Imam di surga.’”[211]
Al-Hasan bin Asy’ats al-Qurasyi berkata, “Aku melihat al-Hakim dalam mimpi sedang menunggang kuda dalam kondisi yang indah dan dia berkata, ‘Selamat.’ Aku bertanya, ‘Wahai Abu Abdillah, karena apa?’ Dia menjawab, ‘Karena menulis hadits.’”[212]
Ahmad bin Yunus al-Maqdisi al-Amin berkata, “Aku bermimpi seakan-akan aku berada di Masjid ad-Dair dan di dalamnya terdapat beberapa orang laki-laki yang berpakaian putih-putih yang menurut dugaanku mereka adalah para malaikat. Lalu masuklah al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, lalu mereka semua berseru, ‘Kami menjadikan Allah sebagai saksi bahwa engkau termasuk golongan kanan!’ dua atau tiga kali.”[213]
Sebagian murid Ibnul Qayyim menceritakan bahwa sebelum meninggal, Ibnul Qayyim bermimpi melihat gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan bertanya kepadanya tentang kedudukannya. Syaikhul Islam mengatakan bahwa kedudukannya melebihi kedudukan para tokoh lalu berkata, “Kamu sebentar lagi akan menyusul kami, dan kamu berada pada tingkatan Ibnu Khuzaimah.”
Diriwayatkan bahwa saat sakit yang mengantarkan kematian Abu Zur’ah ar-Razi, para ahli hadits berdatangan untuk menjenguknya. Hadir pula pada waktu itu Abu Hatim ar-Razi. Mereka memandang bahwa Abu Zur’ah sedang sekarat, sehingga mereka ingin mengikuti sunnah dengan mentalqinnya. Salah seorang dari mereka membaca sanadnya tetapi terputus, lalu digantikan yang lain dengan sanadnya tetapi juga terputus. Yang lain memilih diam, karena kewibawaan Abu Zur’ah sebagai syaikh besar. Akhirnya, berkatalah Abu Hatim ar-Razi, ‘Telah menceritakan kepadaku fulan, dari fulan, dari fulan…’ tetapi terhenti karena lupa. Tiba-tiba terdengar suara parau, ‘Telah mengabarkan kepadaku fulan, dari fulan, dari fulan, dari Muadz bin Jabal bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah lâ ilaha illallâh, maka dia akan masuk surga.”[214] Seketika itu Abu Zur’ah wafat.
Semoga Allah merahmati mereka semua dan membalas jasa-jasa mereka dalam menjaga agama.[]


Penutup

M
asih terngiang di ingatan setahun yang lalu beberapa hari setelah Idul Fithri 1433 H tepatnya tanggal 22 Agustus 2012, penulis memposting di dinding FB:
Jika masih punya umur, demi Allah!  aku akan menyusun buku MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD??? Akan aku bawakan dalil-dalilnya dari al-Qur`an dan hadits serta atsar kaum salaf tentangnya. Aku akan jadikan Anda ragu untuk menjawab TIDAK MUNGKIN… Insya Allah.
Kemudian berlalulah masa setahun dan penulis telah lupa karena kesibukan penuh di tahun tersebut. Setelah Allah memudahkan urusan penulis, dan kembali mulai aktif kuliah maka teringat akan postingan tersebut. Penulis khawatir kalau itu menjadi sumpah, akhirnya dengan berat hati penulis mulai menggarap buku itu usai hari raya Idul Fithri 1434 H dan selesai 27 Syawal 1434 H, dengan taufiq dari Allah. Walhamdulillah.
Pelajaran berharga yang penulis dapatkan dari penggarapan buku satu juta hadits ini adalah “jangan mudah-mudahnya bersumpah”. Bagaimana nasibnya jika umurnya tidak mencukupi sementara sumpahnya butuh masa yang panjang dan memberatkan jiwanya??? Sungguh telah diriwayatkan bahwa Imam al-A’masy, Imam asy-Syafi’i, dan Imam al-Bukhari tidak pernah bersumpah dengan nama Allah meski hanya sekali baik benar maupun dusta. Namun, penulis memuji Allah yang mengatur takdir-Nya sedemikian rupa terhadap penulis. Walhamdulillah dan segala puji milik Allah Rab semesta alam.
Kepada para pembaca budiman, penulis sangat senang dihubungi di eth.thulaib@gmail.com untuk menyampaikan koreksi-koreksi atau lainnya, karena agama adalah nasihat. Penulis dengan senang hati akan mengkajinya dan mempertimbangkannya. Semoga Allah membalas kebaikan orang yang berbuat baik. Tidak ada balasan bagi yang berbuat baik kecuali kebaikan pula.
ﭘ  ﭙ    ﭚ  ﭜ  ﭝ  ﭞ  ﭟ   
ﮁ  ﮂ  ﮃ  ﮄ  ﮅ   ﮆ  ﮇ
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shahabatnya, dan para ahli hadits di setiap zaman.[]

Surabaya, 27 Syawal 1434 H
Abu Zur’ah ath-Thaybi


Referensi

Al-Qur`an dan Tafsirnya
1.      Mushhaf al-Qur`ân rash Utsmani cetakan Beirut.
2.      Tafsîrul Qur`ânil Adzîm (Tafsîr Ibnî Katsîr) karya Abu al-Fida Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasy ad-Dimasyqi (w. 774 H), Tahqiq: Sami Muhammad Salamah, Penerbit: Dar Tayyibah, cet. ke-2 th. 1420 H/1999 M.
3.      Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr (Tafsîr Ibnul Jauzî) karya Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jauzi (w. 597 H), Tahqiq: Abdurrazzaq al-Mahdi, Penerbit: Darul Kutub al-Arabi Beirut, cet. ke-1 th. 1422 H.
4.      Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîri Kalâmil Mannân (Tafsîr as-Sa’di) karya Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah as-Sa'di (w. 1376 H), Tahqiq: Abdurrahman bin Ma'la al-Luwaihaq, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 th. 1420 H/2000 M.
Hadits dan Syarahnya
5.      Al-Jâmi’ as-Musnad ash-Shahîh al-Mukhtashar min Umûri Rasûlillahi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wa Sunanih wa Ayyamih (Shahîh al-Bukhârî) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (w. 256 H), Tahqiq: Muhammad Zuhair bin Nashir an-Nashir, Penerbit: Dar Thauqun Najah, cet. ke-1 th. 1422 H.
6.      Al-Musnad ash-Shahîh al-Mukhtashar Binaqlil Adli ‘anil Adli ilâ Rasûlillahi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (Shahîh Muslim) karya Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (w. 261 H), Tahqiq: Dr. Muhammad Fuad Abdul Baqi, Penerbit: Ihyaut Turats al-Arabi Beirut, tanpa tahun.
7.      Sunan at-Tirmidzî karya Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi (w. 249 H), Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir dkk, Penerbit: Musthafa al-Babi al-Halabi Mesir, cet. ke-2 th. 1395 H/1975 H.
8.      Sunan Abû Dâwûd karya Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani as-Azdi (w. 275 H), Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Penerbit: Maktabah al-Ishriyyah Beirut, tanpa tahun.
9.      Al-Mujtabâ (Sunan an-Nasâ`i) karya Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali an-Nasa`i (w. 303 H), Tahqiq: Abu Ghuddah Abdul Fattah, Penerbit: Maktab al-Mathbu’at al-Islamiyah Halab cet. ke-2 th. 1406 H/1986 M.
10.   Sunan Ibnu Mâjah karya Abu Abdillah Muhammad bin Majah (nama aslinya Yazid) al-Qazwini (w. 273 H), Tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Penerbit: Dar Ihya`ul Kutub al-Arabiyyah.
11.   Musnad Ahmad karya Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani (w. 241 ), Tahqiq: Syuaib al-Arnauth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 th. 1421 H/2001 M.
12.   As-Sunan al-Kubrâ karya Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali an-Nasa`i (w. 303 H), Tahqiq: Hasan Abdul Mun’im Syalabi, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-1 th. 1421 H/2001 M.
13.   Shahîh Ibnu Khuzaimah karya Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin al-Mughirah bin Shalih bin Bakar as-Sulami an-Naisaburi (w. 311 H), Tahqiq: Dr. Musthafa al-A’dzami, Penerbit: al-Maktabah al-Islami Beirut, cet. tanpa tahun.
14.   Shahîh Ibnu Hibbân karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Muadz bin Ma’bad at-Tamimi ad-Darimi (w. 354 H), Tahqiq: Syu’aib al-Arna`ut, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-2 th. 1414 H/1993 H.
15.   Al-Mustadrâk alâsh Shahîhain karya Abu Abdillah al-Hakim bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Hamadiyyah bin Tsu’aim bin al-Hakam adh-Dhabi ath-Thahmani an-Naisaburi (nama ma’ruf Ibnul Bayyi’) (w. 405 H), Tahqiq: Musthafa Abdul Qadir Atha, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-1 th. 1411 H/1990 H.
16.   Ar-Raudhu ad-Dânî (al-Mu’jam ash-Shaghîr) karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir al-Lahmi asy-Syami ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: Muhammad Syakur Mahmud al-Hajj al-Amiri, Penerbit: al-Maktab al-Islami Beirut, cet. ke-1 th. 1405 H/1985 H.
17.   Al-Mu’jam al-Ausath karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir al-Lahmi asy-Syami ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: Thariq bin Iwadhullah bin Muhammad dan Abdul Muhsin bin Ibrahim al-Husni, Penerbit: Darul Haramain Mesir, cet. tanpa tahun.
18.   Al-Mu’jam al-Kabîr karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir al-Lahmi asy-Syami ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: Hamdi bin Abdul Majid as-Salafi, Penerbit: Maktabah Ibnu Taimiyyah Mesir, cet. ke-2 tanpa tahun.
19.   Al-Mu’jam al-Kabîr (juz 13, 14, dan 21) karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir al-Lahmi asy-Syami ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: penelitian di bawah pengawasan Dr. Sa’ad bin Abdullah al-Hamid dan Dr. Khalid bin Abdurrahman al-Jarisi, cet. ke-1 th. 1427 H/2006 H.
20.   As-Sunan al-Kubrâ karya Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi (w. 458 H), Tahqiq: Muhamamd Abdul Qadir Atha, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-3 th. 1424 H/2003 H.
21.   As-Sunan ash-Shughrâ karya Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi (w. 458 H), Tahqiq: Abdul Mu’thi Amin, Penerbit: Jami’atud Dirâsât al-Islâmiyyah Pakistan, cet. ke-1 th. 1410 H/1989 H.
22.   Syu'abul Iman karya Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali bin Musa al-Baihaqi al-Khurasani (w. 458 H), Tahqiq: Dr. Abdul Ali Abdul Hamid Hamid, Penerbit: Maktabah ar-Rusyd Riyadh, cet. ke-1 th. 1423 H/2003 M.
23.   Mushannaf Ibnu Abi Syaibah karya Abu Bakar Abdullah bin Abu Syaibah al-Abasi al-Kufi (w. 235 H), Tahqiq: Kamal Yusuf al-Hut, Penerbit: Maktabah ar-Rusyd Riyadh, cet. ke-1 th. 1409 H.
24.   Mushannaf Abdurrazzâq karya Abu Bakar Abdurrazzaq bin Hammam ash-Shan'ani (w. 211 H), Tahqiq: Habiburrahman al-A'dhami, Penerbit: al-Maktab al-Islami Beirut, cet. ke-2 th. 1403 H.
25.   Musnad ad-Dârimî (Sunan ad-Dârimî) karya Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin al-Fadhal bin Bahram bin Abdush Shamad ad-Darimi at-Tamimi as-Samarqandi (w. 255 H), Tahqiq: Husain Salim Asad ad-Darani, Penerbit: Darul Mughni KSA, cet. ke-1 th. 1412 H/2000 M.
26.   Al-Mustakhrâj karya Abu Awanah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim an-Naisaburi al-Isfirayaini (w. 316 H), Tahqiq: Aiman bin Arif ad-Dimasyq, Penerbit: Darul Ma’rifah Beirut, cet. ke-1 th. 1419 H/1998 H.
27.   Sunan ad-Dâruquthnî karya Abul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad bin Mahdi bin Mas’ud bin Nu’man bin Dinar al-Baghdadi ad-Daruquthni (w. 385 H), Tahqiq: Syu’aib al-Arna`uth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-1 th. 1424 H/2004 H.
28.   Musnad Abû Ya’lâ karya Abu Ya’la Ahmad bin Ali bin al-Mutsanna bin Yahya bin Isa bin Hilal at-Tamimi al-Maushuli (w. 307 H), Tahqiq: Husain Salim Asad, Penerbit: Darul Ma`mun lit Turâts Damaskus, cet. ke-1 th. 1404 H/1984 H.
29.   Musnad Ibnu Abî Syaibah karya Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim bin Utsman bin Khawasiti al-Abasi Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H),  Tahqiq: Adil bin Yusuf al-Azazi dan Ahmad bin Farid al-Mazidi, Penerbit: Darul Wathan Riyadh, cet. ke-1 th. 1997 H.
30.   Musnad Abû Dâwûd ath-Thayâlisî karya Abu Dawud Sulaiman bin Dawud bin al-Jarud ath-Thayalisi al-Bashri (w. 204 H), Tahqiq: Dr. Muhammad bin Abdul Muhsin at-Turki, Penerbit: Dar Hijr Mesir, cet. ke-1 th. 1419 H/1999 H.
31.   Al-Bahr az-Zakhkhâr (Musnad al-Bazzâr) karya Abu Bakar Ahmad bin Amr bin Abdul Khaliq bin Khalad bin Ubaidillah al-Ataki (nama ma’ruf al-Bazzar) (w. 292 H), Tahqiq: Mahfuzhur Rahman Zainullah (juz 1-9), Adil bin Sa’ad (juz 10-17), dan Shabari Abdul Khaliq asy-Syafi’i (juz 18), Penerbit: Maktabah al-Ulum wal Hikam Madinah, cet. ke-1 th. 1988-2009 H.
32.   Musnad al-Humaidi karya Abu Bakar Abdullah bin az-Zubair bin Isa bin Abdillah al-Qurasyi al-Asadi al-Humaidi al-Makki (w. 219 H), Tahqiq: Hasan Salim Asad ad-Darani, Penerbit: Darus Saqa`, cet. ke-1 th. 1996 M.
33.   Al-Ibânah al-Kubrâ karya Abu Abdillah Ubaidillah bin Muhammad bin Muhammad bin Hamdan al-Ukbari (ma’ruf dengan nama Ibnu Baththah al-Ukbari) (w. 387 H), Tahqiq: Ridha Mu’thi dkk, Penerbit: Darur Râyah Riyadh, dicetak berkala dari 1415 H/1994 H sampai 1426 H/2005 M sebanyak 9 jilid.
34.   Az-Zuhd wal Raqa`iq karya Abu Abdirrahman Abdullah bin al-Mubarak bin Wadhih al-Handhali at-Turki al-Marwazi (w. 181 H), Tahqiq: Habiburrahman al-A'dhami, tanpa tahun.
35.   At-Tauhîd wa Ma’rifatu Asmâ`illah Azza wa Jalla wa Sifâtuhu ‘alal Ittifâq wat Tafarrudi (Kitâbut Tauhîd) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin Yahya bin Mandah al-Abdi (w. 395 H), Tahqiq: Dr. Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi, Penebit: Maktabatul Ulum wal Hikam Madinah, cet. ke-1 th. 1423 H/2002 M.
36.   Az-Zuhd karya Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad asy-Syaibani (w. 241 H), Hawasyiah: Muhammad Abdus Salam SYahain, Penerbit: Darul Kutub Ilmiyyah Beirut, cet. ke-1 th. 1420 H/1999 M.
37.   As-Sunnah karya Abu Bakar Ahmad bin Amr bin adh-Dhahhak bin Makhlad asy-Syaibani (w. 287 H), Tahqiq: Muhammad Nashiruddin al-Albani, Penerbit: al-Maktab al-Islami, cet. ke-1 th. 1400 H.
38.   Syarafu Ashhabil Hadits karya Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Mahdi al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H), Tahqiq: Dr. Muhammad Sa'id Khathi Aughali, Penerbit: Dar Ihya`us Sunnah an-Nabawiyyah, tanpa tahun.
39.   Al-Jâmi` li Akhlâqir Râwî wa Adâbis Sâmi' karya Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H), Tahqiq: Dr. Mahmud ath-Thalhan, Penebit: Maktabah al-Ma'arif Riyadh, tanpa tahun.
40.   Iqtidhâ`ul Ilmi al-Amal karya Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H), Tahqiq: Muhammad Nashiruddin al-Albani, Penerbit: al-Maktab al-Islami, cet. ke-4 th. 1397 H.
41.   Fathul Bârî Syarhu Shahîh al-Bukhârî karya Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i (w. 852 H), Tahqiq: Abdul Aziz bin Baz, Tarqim: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Takhrij: Muhibuddin al-Khathib, Penerbit: Darul Ma’rifat Beirut, cet. th. 1379 H.
42.   Al-Minhâj Syarhu Shahîh Muslim bin al-Hajjâj karya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi asy-Syafi’i (w. 676 H), Penerbit: Dar Ihyâ`ut Turâts al-Arabi Beirut, cet. ke-2 th. 1392 H.
43.   Aunul Ma'bûd karya Abu Abdirrahman Muhammad Asyraf bin Amir bin Ali bin Hidar Syaraful Haq ash-Shadiqi al-Adhimi Abadi (w. 1329 H), Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-3 th. 1425 H.
44.   Syarah Arbain an-Nawawi karya Ibnu Daqiq al-Id, Darus Salam: cet. ke-3 th. 1428 H/2007 M.
45.   Jâmi'ul Ulûm wal Hikam karya Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab bin al-Hasan as-Sualmi al-Baghdadi ad-Dimasyq al-Hanbali (w. 795 H), Tahqiq: Dr. Muhammad Ahmadi Abu an-Nur, Penerbit: Darus Salam, cet. ke-3 th. 1424 H/2004 H.
Bahasa dan Kamus
46.   Mu'jam Maqâyisil Lughah karya Abu al-Hasan Ahmad bin Faris bin Zakaria, Tahqiq: Abdul Salam Muhammad Harun, Penerbit: Darul Fikr, cet. th. 1399 H/1979 M.
47.   Lisânul Arâb karya Muhammad bin Mukrim bin Manzhur al-Afriqi al-Mishri, Penerbit: Dar Shadir Beirut, cet. ke-1.
48.   Al-Qâmûs al-Muhîth karya Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Fairuz Abadi (w. 817 H), Tahqiq: Muhammad Nu’aim al-Arqasusi dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-8 th. 1426 H/2005 M.
49.   Al-Mu'jam al-Wasîth karya Ibrahim Musthafa dkk, Tahqiq: Majma' al-Lughah al-Arabiyyah, Penerbit: Darud Da'wah, tanpa tahun.
Sejarah dan Biografi
50.   Siyar A'lâmin Nubalâ` karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Ustman adz-Dzahabi (w. 748 H), Tahqiq: Syu'aib al-Arna`uth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-3 th. 1405 H/1985 M.
51.   Hilyâtul Auliyâ` wa Thabaqâtul Ashfiyâ` karya Abu Nu'aim Ahmad bin Abdillah al-Ashfahani (w. 430 H), Penerbit: Darus Sa’âdah, cet. th. 1394 H/1974 M.
52.   Wafayâtul A'yân wa Abnâ Abnâ az-Zamân karya Syamsyuddin Abu al-Abbas Ahmad  bin Muhammad bin Khallikan (w. 681 H), Tahqiq: Ihsan Abbas, Penerbit: Dar Shadir Beirut, dicetak berkala dari th. 1900 M sampai 1994 dalam 7 jilid.
53.   Mu'jamul Udabâ` karya Abu Abdillah Yaqut bin Abdillah ar-Rumi al-Hamawi (w. 626 H), Tahqiq: Ihsan Abbas, Penerbit: Darul Gharb al-Islami Beirut, cet. ke-1 th. 1414 H/1993 H
54.   Al-A'lân karya Khairuddin bin Mahmud bin Muhammad bin Ali bin Faris az-Zarkali ad-Dimasyqi (w. 1396 H), Penerbit: Darul Ilmi, cet. ke-15 th. 2002.
Lain-Lain
55.   Al-Hatstsu ‘ala Hifzhil Ilmi wa Tadzkiratul Huffâdz karya Ibnul Jauzi (w. 597 H), Tahqiq: Prof. Dr. Fu’ad Abdul Mun’im, Penerbit: Muassasah Syababul Jami’ah Iskandariyah, cet. 2 th. 1412.
56.   Az-Zuhd Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Ahmad bin Hilal bin Asad asy-Syaibani (w. 241 H), Hawasyi: Muhammad Abdus Salam Syahin, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-1 th. 1420 H/1999 M.
57.   Iqtidhâ` ash-Shirâth al-Mustaqim li Mukhâlifati Ashhâbil Jahîm karya Abu al-Abbas bin Taimiyyah (w. 728 H), Tahqiq: Dr. Nashir Abdul Karim al-Aql, Penerbit: Maktabah ar-Rusyd Riyadh.
58.   Huqûqû Alil Bait karya Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qasim bin Muhammad bin Taimiyyah al-Harani al-Hanbali ad-Dimasyqi (w. 728 H), Tahqiq: Abdul Qadir Atha, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut, cet. tanpa tahun.
59.   `Ilâmul Muwaqqi’în ‘an Rabbil ‘Alamîn karya Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad bin Ibnul Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H), Tahqiq: Muhammad Abdus Salam Ibrahim, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-1 th. 1411 H/1991 H.
60.   Ar-Risâlah karya Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i (w. 204 H), Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah.
61.   Al-Faqîh wal Mutafaqqih karya Abu Bakar bin Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H), Tahqiq: Abu Abdirrahman Adil bin Yusuf al-Gharazi, Penerbit: Dar Ibnul Jauzi, cet. ke-2 th. 1421 H.
62.   Muqaddimah al-Jazariyyah karya Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Jazari (w. 833 H), Tahqiq: Dr. Aiman Rusydi Suwaid, Penerbit: Dar Nurul Maktabat Jeddah, cet. ke-5 th. 1430 H/2009 M.
63.   Al-Mahmudûn min asy-Syu'ara` wa Asy'ârihim karya Abu al-Hasan Ali bin Yusuf al-Qifthi (w. 646 H), Tahqiq: Hasan Ma'mari, Penerbit: Darul Yamamah, cet. th. 1390 H/1970 M.[]


Catatan

............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................[]




[1] Budak yang telah dimerdekakan.
[2] Shahih: HR. Muslim (no. 817), Ibnu Majah (no. 218), Ahmad (no. 232), Ibnu Hibban (no. 772) dalam Shahihnya, ad-Darimi (no. 3408) dalam Sunannya, Abu Ya’la (no. 211) dalam Musnadnya, al-Bazzar (no. 249) dalam Musnadnya, dan Abu Awanah (no. 3762) dalam al-Mustakhraj.
[3] QS. Al-Baqarah [2]: 31.
[4] Abu al-Husain Ibnu Faris berkata:
كُلُّ مَا مَشَى عَلَى الْأَرْضِ فَهُوَ دَابَّةٌ
“Segala sesuatu yang berjalan di atas bumi adalah dabbah.” [Mu’jam Maqâyisil Lughah (II/263)]
[5]Tafsîr Ibnu Katsîr (I/223).
[6] Tafsîr Ibnu Katsîr (I/223-224).
[7] Al-Hatstsu âla Hifzhil Ilmi wa Dzikru Kibâril Huffâzh (hal. 91) oleh Ibnul Jauzi.
[8] Ibid (hal. 53).
[9] Al-Jâmi` li Akhlâqir Râwî (no. 3, I/77) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[10] Lihat Manaqib Imam Ahmad oleh Ibnul Jauzi.
[11] Al-Jâmi` li Akhlâqir Râwî (no. 2) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[12] Ibid (no. 1525).
[13] Lihat Ibid (IV/255).
[14] Al-Mu’jam al-Wasîth (I/185) oleh Ibrahim Musthafa dkk.
[15] Al-Hatstsu ‘alâ Hifzhil Ilmi (hal. 103) oleh Ibnul Jauzi.
[16] Ibid (hal. 72).
[17] Ibid (hal. 77).
[18] Ibid (hal. 74).
[19] Ibid (hal. 59).
[20] Ibid (hal. 67).
[21] Ibid (hal. 67).
[22] Ibid (hal. 76).
[23] Ibid (hal. 60).
[24] Ibid (hal. 73).
[25] Ibid (hal. 98).
[26] Jumlah 200.000 ini adalah jumlah hafalannya yang sangat mutqin. Sebenarnya jumlah hafalan Abu Zur’ah adalah 600.000 hadits dan ini atas persaksian Imam Ahmad bin Hanbal. Abu Zur’ah adalah guru utama Imam Muslim dan memiliki kedudukan mulia di sisinya sehingga usai mengarang kisab Shahihnya diberikannya kitab itu kepada Abu Zur’ah untuk dikoreksi.
[27] Ibid (hal. 76).
[28] Ibid (hal. 99).
[29] Ibid (hal. 68).
[30] Telah berlalu takhrijnya.
[31] Ibid (hal. 95).
[32] Ibid (hal. 57).
[33] Siyar A’lâmin Nubalâ` (XVI/454) oleh adz-Dzahabi.
[34] Al-Hatstsu ‘alâ Hifzhil Ilmi (hal. 103) oleh Ibnul Jauzi.
[35] Ibid (hal. 65).
[36] Ibid (hal. 57).
[37] Lihat Hilyatul Auliyâ` (IV/325-326) oleh Abu Nu’aim.
[38] Ibid (hal. 89).
[39] Siyar ‘Alamin Nubalâ` (IV/301) oleh adz-Dzahabi.
[40] Al-Hatstsu (hal. 53-54) oleh Ibnul Jauzi.
[41] Ibid (hal. 53).
[42] Ibid (hal. 52).
[43] Hilyatul Auliyâ` (III/326) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani.
[44] Ibid (III/364).
[45] Al-Jâmi’ li Akhlâqir Râwî (no. 1088) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[46] Ar-Risâlah (hal. 42) oleh Imam asy-Syafi’i.
[47] Iqtidhâ` ash-Shirât al-Mustaqîm (I/449-450) oleh Syaikhul Islam.
[48] Diriwayatkan al-Baihaqi (III/187) dalam Syu’abul Iman.
[49] Mu’jamul Udabâ` (I/17) oleh Yaqut al-Hamawi.
[50] “Allah mewasiatkan kalian tentang (bagian warisan untuk) anak-anak kalian.” [QS. An-Nisâ` [4]: 11]
[51] Al-Jâmi’ li Akhlâqir Râwî (no. 80, I/108) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[52] Ibid (no. 81, I/108).
[53] Lihat as-Siyar (XIV/371-372) oleh adz-Dzahabi.
[54] Tahqîq Muqaddimah al-Jazariyyah (hal. د) oleh Dr. Aiman Rusydi Suwaid.
[55] As-Siyar (X/11) oleh adz-Dzahabi. Lihat Târikh Baghdâd (II/62), Tawâlît Ta`sîs (hal. 50), dan Tahdzîbul Kamâl (hal 1161).
[56] Lihat as-Siyar (IV/277).
[57] Lihat as-Siyar (IV/507).
[58] Diriwayatkan ath-Thabarani (no. 8666) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Ibnu Abi Syaibah (no. 30018) dalam Mushannafnya, Ibnu al-Mubarak (no. 814, hal. 280) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, dan al-Baihaqi (no. 1808) dalam Syu’abul Iman.
[59] Membaca di sini artinya hafal al-Qur`an sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bârî (IX/84) dengan dalil penguat dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’id dan lainnya dengan sanad yang shahih.
[60] Maksud al-Muhkam di sini adalah al-Mufashshal sebagaimana hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam as-Shahîh al-Bukhârî (no. 5036). Dinamai al-Mufashshal karena surat-surat ini banyak fashl (pendek-pendek ayatnya). Al-Mufashshal adalah kumpulan dari surat al-Hujurat sampai an-Nas menurut pendapat jumhur. Al-Hafizh Ibnu Katsir berpendapat agar anak-anak disuruh menghafal ayat-ayat al-Mufashshal untuk membentuk kepribadian dan adab yang baik karena surat-surat ini kebanyakan berbicara mengenai tauhid dan ketuhanan.
[61] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 5035), Ahmad (no. 2601), ath-Thabarani (no. 10577) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, dan ath-Thayalisi (no. 2761) dalam Musnadnya.
[62] Lihat al-Hatstsu ‘alâ Thalabil Ilmi oleh Abu Hilal al-Askari.
[63] Hilyatul Auliyâ`(VIII/304) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani.
[64] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (I/98-99).
[65] Aunul Ma’bûd (IV/237) oleh Syaraful Haq Abadi.
[66] Hilyatul Auliyâ` (VI/319) oleh Abu Nu’aim. Maksudnya, semua ilmu adalah bagus dan banyak. Karena banyaknya ilmu, maka dahulukanlah yang penting dulu, yaitu yang akan kamu gunakan untuk beribadah sehari-hari, dan amalkanlah ibadah itu dengan konsisten dan rutin. Allahu a’lam.
[67] Syarah Arbaîn an-Nawawî (hal. 34-36) oleh Ibnu Daqiq al-Id secara ringkas.
[68] Jâmi’ul Ulûm wal Hikam (I/57) oleh Ibnu Rajab al-Hanbali.
[69] Syarah Arbain an-Nawawi (hal. 4) oleh Yazid Abdul Qadir Jawaz.
[70] Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa jazur artinya unta muatan barang (ba’îr) atau unta betina (nâqah) atau kambing (syâh). [Al-Qâmûs al-Muhîth (hal. 364)]
[71] Diriwayatkan al-Baihaqi (no. 1805) dalam Syu’abul Iman. Barangkali masa yang lama ini dikarenakan Umar sibuk dengan kekhalifahan atau menghafal per lima ayat dengan ilmu dan amal, sebagaimana ucapannya sendiri, “Pelajarilah al-Qur`an per lima ayat karena Jibril ‘alaihis salam menurunkan al-Qur`an kepada beliau lima ayat-lima ayat.” [Syu’abul Iman (no. 1807)]
[72] Baiknya menghafal ringkasannya dulu, Mukhtashar Shahih al-Bukhari yang disusun Imam az-Zabidi. Usai itu baru kitab aslinya.
[73] Baiknya menghafal ringkasannya dulu, Mukhtashar Shahih Muslim yang disusun Imam al-Mundzir. Usai itu baru kitab aslinya.
[74] Kitab hadits induk yang sampai kepada kita masih banyak sekali, selain yang telah disebutkan. Di sana ada al-Muwaththa` Imam Malik, Sunan ad-Darimi, Sunan ad-Daruquthni, Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, al-Mustadrak al-Hakim, al-Mu’jam ash-Shaghir/al-Ausath/al-Kabir ath-Thabarani, Sunan ash-Shughra/al-Kubra al-Baihaqi, Musnad Abu Ya’la, Musnad al-Bazzar, Mustakhraj Abu Awanah, Mushannaf Abdurrazzaq, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, al-Adab al-Mufrad al-Bukhari, dan lain-lain banyak sekali.
[75] QS. Asy-Syûrâ [42]: 30.
[76] Al-Jâmi` li Akhlâqir Râwî (no. 1787, II/258) oleh al-Khathib al-Baghdadi. Lihat Jâmi’ Bayânil Ilmi wa Fadlih (I/196) oleh Ibnu Abdil Barr.
[77] Hilyatul Auliyâ` (II/271) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani.
[78] Ibid (VI/288).
[79] Ibid (V/79).
[80] Lihat Thabaqâtul Hanafiyyah (II/487) oleh Ali al-Qari.
[81] Siyar A’lâmin Nubalâ` (IX/151) oleh adz-Dzahabi. Mengenai hafalannya, Abu Hatim ar-Razi berkata, “Waki’ lebih hafal daripada Ibnul Mubarak.” [Ibid (IX/152)]
[82] Al-Jâmi` li Akhlâqir Râwî (no. 1783, II/258) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[83] Al-Mahmûdun min asy-Syu'arâ` wa Asy'ârihim (hal. 139) oleh Abu al-Hasan al-Qifthi.
[84] Al-Jâmi` li Akhlâqir Râwî (no. 1784, II/258) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[85] Hilyatul Auliyâ` (II/158) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani.
[86] QS. An-Nûr [24]: 31.
[87] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 6307), at-Tirmidzi (no. 3259), an-Nasa`i (no. 10196, 10197, dan 10198) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Hibban (no. 925) dalam Shahihnya, dan ath-Thabarani (no. 8770) dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[88] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 3577) dan Abu Dawud (no. 1517). Dinilai shahih oleh al-Hakim, at-Tirmidzi, dan al-Albani, serta disetujui adz-Dzahabi.
[89] Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 1987). Lihat Ahmad (V/153, 158, 177) dalam Musnadnya dan ad-Darimi (II/323) dalam Sunannya dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.
[90] QS. Hûd [11]: 114
[91] Tafsîr Ibnu Abi Hâtim (no. 11269, VI/2091).
[92] QS. An-Nisâ` [4]: 31.
[93] Shahih: HR. Muslim (no. 233), at-Tirmidzi (no. 214), Ibnu Majah (no. 1086), Ibnu Khuzaimah (no. 314 dan 1814) dalam Shahihnya, Ibnu Hibban (no. 1733 dan 2418) dalam Shahihnya, al-Hakim (no. 412 dan 7665) dalam al-Mustadrâk, Abu Ya’la (no. 6486) dalam Musnadnya, Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 2592) dalam Musnadnya, dan Abu Awanah (no. 1311 dan 2695) dalam al-Mustakhraj dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[94] Al-Jâmi` li Akhlâqir Râwî (no. 1788, II/258) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[95] Lihat Tadzkiratul Huffâdz (I/314) oleh adz-Dzahabi.
[96] Siyar A’lâmin Nubalâ` (X/36) oleh adz-Dzahabi, Hilyatul Auliyâ` (IX/127) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani, dan Tahdzîbul Asmâ` (I/54).
[97] Lihat Tadzkiratul Huffâdz (IV/1472) oleh adz-Dzahabi.
[98] Lihat Tashfiyatul Qulûb oleh adz-Dzimari.
[99] Hilyatul Auliyâ` (IV/224) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani.
[100] Lihat Tafsir Surat al-Ikhlas oleh Ibnu Taimiyyah. Lihat Huqûqu Alil Bait (hal. 12) oleh Ibnu Taimiyyah.
[101] `Ilâmul Muwaqqi’în (IV/198) oleh Ibnul Qayyim.
[102] QS. Ghâfir [40]: 60.
[103] Beribadah di sini artinya berdoa sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ»
“Doa adalah ibadah.” Lalu beliau membaca ayat di atas. [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 3372), an-Nasa`i (no. 11464) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Majah (no. 3828), dan Ahmad (IV/271) dalam Musnadnya dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu]
[104] QS. Ghâfir [40]: 60.
[105] Dalam riwayat lain, “meminta.”
[106] Hasan: HR. Ibnu Majah (no. 3827), at-Tirmidzi (no. 3373), dan Ahmad (II/477) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[107] Tafsîr Ibnu Katsîr (VII/153).
[108] Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 3062), Ahmad (no. 14849, XXIII/140), al-Hakim (no. 1739) dalam al-Mustadrâk, ath-Thabarani (no. 849, I/259) dalam al-Mu’jam al-Ausath, dan al-Baihaqi (no. 9660) dalam as-Sunan al-Kubrâ dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
[109] Lihat Târîkhul Baghdâd (X/166) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[110] Siyar A’lamin Nubalâ` (XVII/171) oleh adz-Dzahabi. Lihat al-Anshâb (II/371), Tadzkiratul Huffâdz (III/1044), dan Thabaqât as-Subkî (IV/159).
[111] Tahqîq Muqaddimah al-Jazariyyah (hal. د) oleh Dr. Aiman Rusydi Suwaid.
[112] Lihat Mu’jamul Udabâ` (IV/16-17) oleh Yaqut al-Hamawi.
[113] Lihat Hadyus Sari (hal. 502) oleh Ibnu Hajar.
[114] QS. Al-Baqarah [2]: 32.
[115] QS. Thâhâ [20]: 114.
[116] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 3599), Ibnu Majah (no. 251), Ibnu Abi Syaibah (no. 29393) dalam al-Mushannaf dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[117] Boleh juga dibaca (الْحُزْنَ), dalil keduanya QS. Yûsûf [12]: 86 dan QS. Fâthir [35]: 34.
[118] Shahih: HR. An-Nasa`i (no. 351) dalam Amalul Yaum wal Lailah, Ibnu Hibban (no. 974) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 265) dalam ad-Da’awât al-Kabîr, Abu Nu’aim al-Asbahani (II/276) dalam Târîkh Asbahân, dan Abu Abdillah al-Mahamili (no. 42) dalam ad-Du’â`dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih al-Albani dalam as-Shahîhah (II/2643), dan al-Arna`uth, dan juga Ibnu Hajar dalam Amâlîl Adzkâr sebagaimana yang dinukil Ibnu Alan (IV/25).
[119] Telah berlalu takhrijnya.
[120] Lihat al-Manhaj as-Sawî (hal. 233). Ini bukan hadits sehingga kedudukannya sama dengan redaksi doa-doa orang yang berdoa dan tidak boleh meyakini keutamaan tertentu dari doa ini kecuali dengan dalil yang tsabit. Ini tidak lain hanya untuk mempermudah ungkapan.
[121] Hilyatul Auliyâ` (III/364) oleh Abu Nu’aim.
[122] Al-Hatstsu (hal. 44) oleh Ibnul Jauzi.
[123] Ibid (hal. 61).
[124] Thabaqatul Ulamâ` Ifriqiyyah wa Tunis olehnya.
[125] Lihat Thabaqatusy Syafi’iyyah al-Kubrâ (VII/233) oleh as-Subki.
[126] Lihat adh-Dhau`ul Lami’ (I/141) oleh as-Sakhawi.
[127] Lihat Syarhul Muslim (I/8) oleh an-Nawawi.
[128] Lihat Tartîbul Madârik (VI/186) oleh al-Qadhi Iyadh.
[129] Al-Hatstsu (hal. 44) oleh Ibnul Jauzi.
[130] Ibid (hal. 43-44).
[131] Maksudnya, Imam asy-Sya’bi menghafal semua yang dia dengar sehingga tidak perlu ditulis.
[132] Siyar A’lâmin Nubalâ`  (VII/272) oleh adz-Dzahabi.
[133] Al-Hatstu ‘alâ Hifzhil Ilmi (hal. 89) oleh Ibnul Jauzi.
[134] Siyar A’lâmin Nubalâ`  (II/272) oleh adz-Dzahabi.
[135] Al-Hatstsu (hal. 75) oleh Ibnul Jauzi.
[136] Al-Hatstsu ‘alâ Hifzhil Ilmi (hal. 40) oleh Ibnul Jauzi. Lihat Al-Adab al-Syar’iyyah (III/22) oleh Ibnul Muflih.
[137] Berdasarkan hadits:
«عَلَيْكُمْ بِالشِّفَاءَيْنِ: الْعَسَلِ وَالْقُرْآنِ»
“Hendaklah kalian dengan dua penyembuh: madu dan al-Qur`an.” [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 3452) dan Tafsîr Ibnu Katsîr (IV/584) dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai dhaif oleh al-Albani tetapi Fuad Abdul Baqi berkata, “Di dalam az-Zawaid dijelaskan bahwa sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah.” Barangkali ada beberapa jalan periwayatan]
[138] QS. An-Nahl [16]: 69.
[139] Tafsîr Ibnu Katsîr (IV/582).
[140] Barangkali yang menyebabkan tidak bereaksinya terapi madu itu karena shahabat tersebut keliru dalam takarannya atau tidak sesuai dengan yang diinginkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mustahil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam salah. Demikian penjelasan Ibnul Qayyim dalam Thibbun Nabawî secara makna.
[141] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 5716 dan 5684) Muslim (no. 2217), at-Tirmidzi (no. 2083), Ahmad (III/19 dan 93), Abu Ya’la (no. 1261), dan al-Baghawi (no. 3125) dalam Syarhus Sunnah.
[142] Zâdul Masîr (II/570) oleh Ibnul Jauzi.
[143] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 5683) dan Muslim (no. 2205) dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
[144] Lihat Siyar A’lâmin Nubalâ` (V/335) oleh adz-Dzahabi.
[145] QS. Thûr [52]: 22. Lihat pula QS. Al-Wâqi’ah [56]: 20-21.
[146] QS. Ash-Shâffât [37]: 146.
[147] Al-Hatstsu  alâ Hifzhil Ilmi (hal. 40). Dalam riwayat lain ada tambahan, “sebanyak 21 biji setiap pagi.” [Lihat al-Adab al-Syar’iyyah (III/20) oleh Ibnu Muflih]
[148] Lihat Siyar A’lâmin Nubalâ` (V/346-347) oleh adz-Dzahabi.
[149] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 5688) dan Muslim (no. 2215) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[150] QS. Maryam [19]: 25.
[151] Lihat adh-Dhau` al-Lami’ (hal. 39) oleh as-Sakhawi.
[152] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 2567 dan 6459) dan Muslim (no. 2972).
[153] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 5769) dan Muslim (no. 2047) dari ‘Amir bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.
[154] QS. An-Nahl [16]: 11.
[155] QS. Muhammad [47]: 15.
[156] Dia adalah Muhamad bin Muslim bin Ubaid bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin al-Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah az-Zuhri. Lahir pada tahun 51 H dan wafat tahun 124 H. Dia berguru kepada beberapa shahabat di antaranya Sahl bin Sa’ad dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma dan juga ulama-ulama terkenal: Sa’id bin al-Musyayyib, Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Urwah bin az-Zubair bin Awwam, Abdul Malik bin Marwan, Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab, Muhammad bin Jubair bin Muth’im, Muhammad bin an-Nu’man bin Basyir, al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin Ka’ab bin Malik.
Adapun muridnya yang masyhur adalah Atha` bin Abi Rabah, Amr bin Dinar, Qatadah bin Du’amah, Zaid bin Aslam, Ayyub as-Sikhtiyani, Ibnu Juraij, Ma’mar bin Rasyid, al-Auza’i, Imam Malik bin Anas, al-Laits bin Sa’ad, Sufyan bin Uyainah dan lain-lain.
[157] Lihat Tadzkiratul Huffâzh (I/110) oleh adz-Dzahabi.
[158] Al-Hatstsu ‘alâ Hifzhil Ilmi (hal. 90) oleh Ibnul Jauzi dan Hilyatul Auliyâ` (III/363) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani.
[159] Ibid (XXVI/437).
[160] Lihat Shafwatus Shafwah (II/136-137) oleh Ibnul Jauzi.
[161] Al-Hatstsu ‘alâ Hifzhil Ilmi (hal. 40) oleh Ibnul Jauzi.
[162] QS. Al-Baiyyinah [98]: 5.
[163] Hilyatul Auliyâ` (III/176) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani.
[164] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 3664), Ibnu Majah (no. 252), Ahmad (no. 8457) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 78) dalam Shahihnya, al-Hakim (no. 288) dalam al-Mustadrak, Ibnu Abi Syaibah (no. 26127) dalam al-Mushannaf, Abu Ya’la (no. 6373) dalam al-Musnad, al-Khathib (no. 17) dalam al-Jâmi’, dan al-Baihaqi (no. 1634) dalam Syu’abul Iman dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘ahnu. Al-Hakim berkata, “Hadits shahih sanadnya dan tsiqah para perawinya atas syarat Syaikhan, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya,” dan disetujui oleh adz-Dzahabi.
[165] Aunul Ma’bûd (X/70) oleh Syaraful Haq Abadi.
[166] Hasan: HR. Ibnu Majah (no. 260) dan al-Khathib (II/174) dalam al-Faqîh wal Mutafaqqih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘ahnu. Didhaifkan dalam az-Zawa’id tetapi dinilai hasan oleh al-Albani.
[167] Shahih: HR. Muslim (no. 1905), at-Tirmidzi (no. 2382), an-Nasa`i (no. 3137) dalam al-Mujtabâ dan (no. 4330, 8029, dan 11495) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ahmad (no. 8277), Ibnu Khuzaimah (no. 2482) dalam Shahihnya, Ibnu Hibban (no. 408) dalam Shahihnya, dan al-Hakim (no. 364 dan 365, 1527, dan 2524, dan 2528) dalam al-Mustadrak dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘ahnu.
[168] Syarah Shahih Muslim (XII/51) oleh Imam an-Nawawi.
[169] Lihat Tadzkiratus Sâmi’ wal Mutakallim (hal. 68) oleh Ibnu Jama’ah.
[170] Lihat al-Fawâid oleh Ibnul Qayyim.
[171] Hilyatul Auliyâ` (VI/362) oleh Abu Nu’aim.
[172] QS. Al-Baqarah [2]: 44.
[173] Jayyid: HR. Ath-Thabarani (no. 1681) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Khathib al-Baghdadi (no. 70) dalam Iqtidhâ`ul Ilmi al-Amal, dan Ahmad (no. 1018) dalam az-Zuhd dari Jundub Abu Dzar radhiyallahu ‘ahnu.
[174] Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 3267), Muslim (no. 2989), Ahmad (no. 21784), al-Hakim (no. 7010) dalam al-Mustadrâk, al-Baihaqi (no. 20209) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Abi Syaibah (no. 152) dalam Mushannafnya, al-Humaidi (no. 557) dalam Musnadnya, dan Abu Nu’aim (IV/112) oleh al-Hilyah dari Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘ahnuma.
[175] Hilyatul Auliyâ` (IV/71) oleh Abu Nu’aim.
[176] Ibid (VII/341).
[177] Ibid (VII/271).
[178] Ibid (VI/163).
[179] Ibid (II/372).
[180] Lihat Shaidul Khathîr oleh Ibnul Jauzi.
[181] Lihat al-Manhaj al-Ahmad fî Tarajum Ashhâbil Imâm Ahmad (I/24) oleh al-Ulaimi.
[182] Lihat as-Siyar (hal. 77) oleh adz-Dzahabi.
[183] Lihat Shaidul Khathîr oleh Ibnul Jauzi.
[184] QS. Yâsîn [36]: 12.
[185] Tafsîr Ibnu Abî Hâtim (no. 18042, X/3190).
[186] Tafsîr as-Sa’di (hal. 692).
[187] Shahih: HR. Muslim (no. 2674), at-Tirmidzi (no. 2674), Abu Dawud (no. 4609), Ibnu Majah (no. 206), Ahmad (no. 9160), Ibnu Hibban (no. 112) dalam Shahihnya, ad-Darimi (no. 530) dalam Sunannya, Abu Ya’la (no. 6489) dalam Musnadnya, Ibnu Abi Ashim (no. 113) dalam as-Sunnah, Abu Awanah (no. 5823) dalam al-Mustakhraj, dan Ibnu Baththah (no. 146) dalam al-Ibanah al-Kubrâ dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘ahnu.
[188] Hasan Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 3658), Ibnu Majah (no. 266), Ahmad (no. 8638), Ibnu Hibban (no. 95) dalam Shahihnya, al-Hakim (no. 345) dalam al-Mustadrak, ath-Thabarani (no. 3529) dalam al-Mu’jam al-Ausath, Ibnu Abi Syaibah (no. 26454) dalam al-Mushannaf, Abu Ya’la (no. 6383) dalam Musnadnya, ath-Thayalisi (no. 2657) dalam Musnadnya, dan al-Baihaqi (no. 1612) dalam Syu’abul Iman dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘ahnu.
[189] QS. Al-Ahzâb [33]: 45-46.
[190] QS. Fushshilat [41]: 33.
[191] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 5027), at-Tirmidzi (no. 2907), Abu Dawud (no. 1452), an-Nasa`i (no. 7982) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Majah (no. 211), Ahmad (no. 500), Ibnu Hibban (no. 118) dalam Shahihnya, al-Baihaqi (no. 942) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Abi Syaibah (no. 30071) dalam al-Mushannaf, Abdurrazzaq (no. 5995) dalam al-Mushannaf, ad-Darimi (no. 3381) dalam Sunannya, ath-Thayalisi (no. 73) dalam Musnadnya, dan Abu Awanah (no. 3766) dalam al-Mustakhrâj dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘ahnu.
[192] QS. Fâthir [35]: 10.
[193] QS. An-Nisâ` [4]: 139.
[194] Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr (I/487) oleh Ibnul Jauzi.
[195] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 6436), Muslim (no. 1049), Ahmad (no. 21111), Ibnu Hibban (no. 3237) dalam Shahihnya, dan ath-Thabarani (no. 2544) dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘ahnuma.
[196] Hasan: HR. Ibnu Majah (no. 247), al-Hakim (no. 298) dalam al-Mustadarak, dan ath-Thayalisi (no. 2305) Musnadnya dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘ahnu. Dalam riwayat lain “waftûhum” artinya berilah mereka fatwa, maksudnya ajarilah ia.
[197] Syarafu Ashhâbil Hadîts (hal 44) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[198] Hasan Lighairih: HR. Ibnu Hibban (no. 911) dalam Shahihnya, at-Tirmidzi (no. 484) tanpa lafazh “inna”, ath-Thabarani (no. 9800) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Ibnu Abi Syaibah (no. 31787) dalam al-Mushannaf, dan Abu Ya’la (no. 5011) dalam al-Musnad dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘ahnu. Al-Arna`uth berkata, “Sanadnya dhaif. Musa bin Ya’qub az-Zam’i buruk hafalannya dan Abdullah bin Kaisan tidak tsiqah,” tetapi dinilahi hasan gharib oleh at-Tirmidzi dan hasan lighairih oleh al-Albani dalam at-Targhib (II/280).
[199] Al-Hilyah (IX/109) oleh Abu Nu’aim dan Syarafu Ashhâbil Hadîts (hal. 46) oleh al-Khathib al-Baghdadi dengan ganti, “Seolah-olah aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup.”
[200] QS. Al-Isrâ` [17]: 71.
[201] Tafsîr Ibnu Katsîr (V/99).
[202] Lihat Târîkhul Baghdâd (IX/130) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[203] As-Siyar (VII/448).
[204] QS. Ash-Shâffât [37]: 61.
[205] Lihat Târîkhul Dimasyq (XXVIII/380) oleh Ibnu Asakir.
[206] As-Siyar (IX/187).
[207] Lihat Manâqib asy-Syafi’î (II/301) oleh al-Baihaqi.
[208] Lihat Târîkhul Baghdad (XIV/347) oleh al-Khathib.
[209] Lihat Tahdzîbul Kamâl (XXXI/567) oleh al-Mizzi.
[210] Lihat Târîkhul Islâm (hal. 241-250) oleh adz-Dzahabi.
[211] Lihat Thabaqâtusy Syafi’iyyah al-Kubrâ (III/466) oleh as-Subki.
[212] Lihat Thabaqâtusy Syafi’iyyah (IVI/161) oleh as-Subki.
[213] As-Siyar (XXI/468-469).
[214] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 3116), at-Tirmidzi (no. 977 ) dengan “qaulihi” sebagai ganti dari “kalâmihi”, Ahmad (no. 22034), al-Bazzar (no. 2626) dalam Musnadnya, ath-Thabarani (no. 221) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Ibnu Mandah (no. 185) dalam Kitâbut Tauhîd, dan al-Hakim (no. 1842) dalam al-Mustadrâk dan berkata, “Hadits yang shahih sanadnya tetapi tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Hadits ini memiliki kisah tentang Abu Zur’ah yang telah kami sebutkan di kitab al-Ma’rifah.”

Related

TERJEMAH AQIDAH DAN TAUHID 6040719373587875239

Follow Us

Pengikut

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item