[PDF] Arbain (40 Hadits) Muttafaq Alaih Untuk Hafalan - Edisi 3 - Nor Kandir
Muqoddimah
Segala puji milik Alloh dan semoga sholawat
dan salam tercurah untuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Amma
ba’du:
Kutaib ini disusun untuk turut serta
menambah semangat sebagian para pemuda Islam yang ingin menghafal hadits-hadits Nabi shollallohu
‘alaihi wa sallam yang mulia dan penuh berkah.
Setan membisikan ke dalam hati, dengan anggapan kitab-kitab
hadits terlalu besar dan tebal sehingga membuat minder dan lemah semangat, dan banyak
menghafal justru mengacaukan hafalan sebelumnya karena banyaknya hadits yang
mirip tapi tidak serupa redaksinya. Inilah tipu daya setan yang menghalangi manusia dari jalan
Alloh ta’ala.
Akhirnya, semoga kutaib ini bisa
meringankan beban mereka dan menambah kecintaan mereka terhadap hadits.
Metode Penyusunan
Kutaib
1.
Hanya mencantumkan hadits muttafaqun
‘alaih, yaitu hadits yang telah disepakati keshahihannya oleh dua imam ahli
hadits al-Bukhari dan Muslim. Al-Hafizh Ibnu Hajar (w. 852 H) berkata, “Dikatakan
hadits Muslim muttafaqun ‘alaih dengan hadits al-Bukhari jika memiliki
takhrij asal hadits yang sama dalam hal shahabat yang meriwayatkannya, meskipun
terdapat sedikit perbedaan lafazh/redaksi hadits.” (Al-Lu’lu’ wal Marjân,
hal. 4, oleh Fuad Abdul Baqi)
2.
Lebih mendahulukan redaksi hadits
al-Bukhari daripada Muslim. Hanya saja, hadits muttafaqun ‘alaih di
kitab Arbain an-Nawawi —sebanyak 9 hadits— juga dimasukkan dalam kutaib ini dan kebanyakan
hadits-hadits muttafaqun ‘alaih di sana bukan redaksi al-Bukhari. Penulis sengaja mencantumkan hadits-hadits
itu di sini supaya para penghafal tidak terpecah hafalannya saat melanjutkan
hafalan ke Arbain an-Nawawi.
3.
Hanya mencantumkan hadits-hadits qauli.
4.
Kode takhrij sebagai berikut: AN = Arbain
an-Nawawi, SB = Shahih
al-Bukhari, dan
SM = Shahih
Muslim.
Kelebihan Kutaib
Ini
Secara umum Arbain an-Nawawi adalah kutaib yang paling
unggul dalam tema ini karena besarnya faidah yang terkandung di dalamnya.
Adapun jika ditinjau dari beberapa segi, Hadits Arbain
Muttafaqun ‘Alaih memiliki
beberapa kelebihan sebagai berikut:
1. Hanya berisi
hadits-hadits shahih muttafaqun ‘alaih yang diriwayatkan al-Bukhari dan
Muslim, sementara Arbain an-Nawawi berisi hadits-hadits yang shahih dan hasan
bahkan sebagian dha’if, seperti hadits no. 27, 30, dan 41 sebagaimana yang
dijelaskan dalam kitab-kitab syarahnya.
2. Hanya
hadits-hadits pendek saja yang dicantumkan di kutaib ini sehingga mudah untuk
dihafal —sebagaimana tujuan
awal penulisan kutaib ini—, sementara Arbain an-Nawawi sebagian haditsnya
panjang-panjang sehingga butuh kerja keras dalam menghafalnya.
3. Hanya
mencantumkan matan hadits saja sehingga mempermudah untuk dihafal, tetapi untuk
melengkapi faidah penulis cantumkan dalam tanda kurung shahabat yang
meriwayatkannya, dan takhrij hadits yang luas untuk hadits-hadits Arbain Nawawi
dalam footnote.
Usai menghafal semua hadits ini,
sangat dianjurkan untuk melanjutkannya ke Arbain an-Nawawi karena banyaknya kandungan
faidah dalam hadits-hadits di kutaib tersebut. Dikatakan bahwa pokok-pokok
agama Islam tercantum dalam Arbain an-Nawawi. Maka, meninggalkan Arbain
an-Nawawi berarti telah meninggalkan faidah yang begitu banyak dan melimpah.
Semoga Alloh memperbanyak para pemuda
Islam yang mencintai hadits dan ahlinya, lalu menghafalnya, memahaminya, dan
membekas dalam kehidupannya.
Semoga pembaca mendapat manfaat dari
kutaib sederhana ini dan penulis mendapat pahala di sisi Alloh yang maha
pemurah. Sesungguhnya Rabb-ku mahadekat lagi maha mengabulkan.
«رَبَّنَا
تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ»
«وَآخِرُ
دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ»
Semoga sholawat dan
salam tercurah kepada pemuka para ahli hadits shollallohu ‘alaihi wa sallam,
keluarganya, para shahabatnya, dan para penghafal hadits seluruhnya.[]
بِسْمِ اللّٰهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ،
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:
Hadits Ke-1: Ikhlas dalam Niat
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
إِلىَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللّٰهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ
كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا
فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ»
Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan
niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Maka,
barangsiapa yang hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya maka hijrahnya kepada Alloh
dan Rosul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya
atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah
kepadanya.” [AN (no. 1), SB (no. 1), dan SM (no. 1907)
dari Umar bin
Khaththab radhiyallahu ‘anhu][1]
Hadits Ke-2:
Lima Rukun Islam
قَالَ النَّبِيُّ
H: «بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللّٰهِ، وَإِقَامِ
الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ»
Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima hal: syahadat lâ
ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat,
menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” [AN (no. 3), SB (no. 8), dan SM (no. 16) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma][2]
Hadits Ke-3: Alloh di Atas Langit
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «لَمَّا قَضَى اللّٰهُ الْخَلْقَ كَتَبَ
فِى كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِى غَلَبَتْ
غَضَبِى»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setelah Alloh menciptakan makhluk, Dia menulis di Kitab-Nya yang berada di
sisi-Nya di atas Arsy, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.’”
[SB (no. 3194) dan SM (no. 2571) dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-4: Setan Musuh Utama Manusia
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «يَأْتِى الشَّيْطَانُ
أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ:
مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللّٰهِ وَلْيَنْتَهِ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setan mendatangi seseorang dari kalian lantas berkata, ‘Siapakah yang
menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan ini?’ Hingga dia berkata, ‘Siapakah
yang menciptakan Rabb-mu?’ Apabila ini terjadi, maka bacalah taawwudz dan
berhentilah.” [SB (no. 3276) dan SM (no. 134) dari Abu Huroiroh radhiyallahu
‘anhu]
Hadits Ke-5: Keutamaan al-Fatihah
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «لاَ صَلاَةَ لِمَنْ
لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat al-Fatihah.” [SB
(no. 756) dan SM (no. 394) dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-6:
Keutamaan Puasa
قَالَ النَّبِيُّ H: «إِنَّ فِي الْجَنَّةِ
بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟
فَيَقُوْمُوْنَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُواْ
أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
di surga terdapat sebuah pintu yang disebut ar-Rayyan yang akan dimasuki oleh
orang-orang yang berpuasa pada hari Kiamat. Tidak akan masuk ke dalamnya
seorang pun selain mereka. Dikatakan nanti, ‘Di mana orang-orang yang
berpuasa?’ Maka, mereka pun berdiri, tidak masuk ke dalamnya seorang pun selain
mereka. Apabila mereka sudah masuk maka pintu ditutup, sehingga tidak ada
seorang pun yang masuk lagi.” [SB (no. 1896) dan SM (no. 1152) dari Sahl
bin Sa’ad as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-7: Bahaya Bid’ah
قَالَ رَسُوْلُ
اللّٰهِ H: «مَنْ أَحْدَثَ فِيْ
أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-mengada dalam
urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” [AN (no. 5), SB (no. 2697), dan SM (no. 1718) dari Aisyah radhiyallahu
‘anha]
Hadits Ke-8: Kunci Surga
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «أُمِرْتُ أَنْ
أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُواْ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ وَيُقِيْمُواْ الصَّلاةَ وَيُؤْتُواْ الزَّكَاةَ،
فَإِذَا فَعَلُواْ ذَلِكَ عَصَمُواْ مِنِّي دِمَاءَهَمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ
بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersyahadat lâ
ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, dan
membayar zakat. Jika mereka melaksanakan hal tersebut, maka mereka telah
memelihara harta dan darah mereka dariku kecuali dengan hak Islam, dan hisab
mereka diserahkan kepada Alloh Ta’ala.” [AN (no. 8), SB (no. 25), dan SM (no. 22) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma]
Hadits Ke-9: Isa
Hamba dan Utusan Alloh
قَالَ النَّبِيُّ H: «مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللّٰهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا
إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللّٰهُ
الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa
bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan hak selain Alloh
semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad hamba dan utusan-Nya, dan Isa hamba
Alloh dan Rosul-Nya dan kalimat-Nya yang dihujamkan ke Maryam serta ruh
dari-Nya, dan surga benar adanya, dan neraka benar adanya, maka Alloh akan
memasukkannya ke surga meski berapapun amalnya.” [SB (no. 3435) dan SM (no.
28) dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-10: Manisnya
Iman
قَالَ النَّبِيُّ H: «ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ
فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ
إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلّٰهِ،
وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى
النَّارِ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga
hal yang barangsiapa ada pada dirinya, akan mendapatkan manisnya iman: Alloh
dan Rosul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, dia mencintai
seseorang hanya karena Alloh, dan dia benci kembali kepada kekufuran
sebagaimana dia benci dilempar ke dalam api.” [SB (no. 16) dan SM (no. 43)
dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-11: Mencintai
Sesama Muslim
قَالَ النَّبِيُّ H: «لاَ يُؤمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak
beriman (dengan sempurna) salah seorang dari kalian hingga dia mencintai untuk
saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [AN (no. 13), SB (no. 13), dan SM (no. 45) dari Anas bin
Malik radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-12: Agama Syiah Kafir
قَالَ النَّبِيُّ H: «لاَ تَسُبُّوا
أَصْحَابِى، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ
مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah
kalian mencela shahabat-shahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian
bersedekah emas sepenuh gunung Uhud, tentu tidak bisa menyamai sedekah satu mud
mereka dan tidak pula setengahnya.” [SB (no. 3673) dan SM (no. 2541) dari
Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-13: Tanda
Orang Munafik
قَالَ النَّبِيُّ H: «أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ
فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ
كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ
خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Empat
hal yang barangsiapa ada pada seseorang maka dia seorang munafik tulen, dan
barangsiapa yang pada dirinya ada satu cabang dari itu maka di dalam dirinya
ada satu cabang kemunafikan hingga meninggalkannya: apabila dipercaya khianat,
apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila bertengkar
curang.” [SB (no. 34) dan SM (no. 58) dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu
‘anhuma]
Hadits Ke-14: Kaidah Perintah dan Larangan
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «مَا نَهَيْتُكُمْ
عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فأْتُواْ مِنْهُ مَا
اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ
مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apa yang aku larang bagi kalian maka jauhilah dan apa yang aku perintahkan
kepada kalian maka kerjakan semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan
orang-orang sebelum kalian adalah banyak bertanya dan menyelisihi para nabi
mereka.” [AN (no. 9), SB (no. 7288), dan SM (no. 1337) dari Abu Huroiroh radhiyallahu
‘anhu][3]
Hadits Ke-15: Haramnya Darah Muslim
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «لا يَحِلُّ دَمُ
امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بإِحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِيْ، وَالنَّفْسُ
بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ المُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal:
orang yang berzina padahal sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang
meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah.” [AN (no. 14), SB (no. 6878), dan SM (no. 1676) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu][4]
Hadits Ke-16: Ciri Beriman Kepada Alloh dan Hari Akhir
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللّٰهِ
وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرَاً أَو لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللّٰهِ
وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، ومَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللّٰهِ واليَوْمِ
الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari Akhir, maka hendaklah dia berkata
yang baik atau diam saja. Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari Akhir, maka
hendaklah dia memuliakan tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari
Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” [AN (no. 15), SB (no. 6475), dan SM (no. 47) dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu][5]
Hadits Ke-17:
Ragam Sedekah
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ
عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَومٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ: تَعْدِلُ بَيْنَ
اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ في دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا
أَو تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ
صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيْطُ
الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap persendian manusia wajib bersedekah setiap hari di mana matahari
terbit di hari itu: engkau mendamaikan antara dua orang adalah sedekah, engkau
menolong seseorang untuk menaiki tunggangannya atau menggangkutkan barangnya ke
atas tunggangannya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, setiap
langkah yang engkau ayunkan menuju shalat adalah sedekah, dan engkau
menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” [AN (no. 26), SB (no. 2989), dan SM (no. 1009) dari Abu Huroiroh radhiyallahu
‘anhu][6]
Hadits Ke-18: Macam-Macam
Fithrah
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «الْفِطْرَةُ خَمْسٌ
-أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ-: الْخِتَانُ، وَالاِسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ
الإِبْطِ، وَتَقْلِيْمُ الأَظْفَارِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Fithrah ada lima
–atau lima yang termasuk fithrah–: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu
ketiak, memotong kuku, dan memangkas kumis.” [SB (no. 5889) dan SM (no. 257) dari
Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-19: Fitnah Harta
قَالَ النَّبِيُّ H: «كَانَ الرَّجُلُ
يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُوْلُ لِفَتَاهُ: إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا
فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللّٰهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا» قَالَ: «فَلَقِيَ اللّٰهَ
فَتَجَاوَزَ عَنْهُ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu
ada seseorang yang memberi hutang kepada orang lain, lalu dia berkata kepada
pembantunya, ‘Jika kamu mendatangi orang yang kesulitan, maafkan saja dia.
Mudah-mudahan Alloh memaafkan kita.’” Beliau bersabda, “Lalu dia bertemu
Alloh lantas Dia mengampuninya.” [SB (no. 3480) dan SM (no. 1562) dari Abu Huroiroh
radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-20: Keutamaan Zuhud
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «إِذَا نَظَرَ
أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ، فَلْيَنْظُرْ
إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila seseorang dari kalian melihat orang yang diberi kelebihan karunia
harta dan fisik, maka hendaklah dia melihat orang yang di bawahnya.” [SB
(no. 6490) dan SM (no. 2963) dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-21:
Adab Makan
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «يَا غُلاَمُ! سَمِّ اللّٰهَ،
وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai anak! Bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah
yang terdekat denganmu.” [SB (no. 5376) dan SM (no. 2022) dari Umar bin Abu
Salamah radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-22: Keutamaan
Ahli al-Qur`an
قَالَ النَّبِيُّ H: «مَثَلُ الَّذِى
يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ، وَمَثَلُ
الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ فَلَهُ
أَجْرَانِ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan
orang yang membaca al-Qur`an sedang dia hafal, bersama malaikat yang mulia lagi
taat. Perumpamaan orang yang membacanya dengan terbata-bata dan berat
membacanya, maka dia mendapat dua pahala.” [SB (no. 4937) dan SM (no. 798)
dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]
Hadits Ke-23: Hisnul
Muslim
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «لاَ يَقُوْلَنَّ
أَحَدُكُمُ: اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِى إِنْ شِئْتَ اللّٰهُمَّ ارْحَمْنِى إِنْ
شِئْتَ. لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّهُ لاَ مُكْرِهَ لَهُ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah sekali-kali seseorang dari kalian berdoa, ‘Ya Alloh ampuni
saya jika Engkau mau, ya Alloh rahmati saya jika Engkau mau.’ Namun,
hendaklah dia tegas dalam meminta, karena Dia tidak dipaksa.” [SB (no. 6339)
dan SM (no. 2679) dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-24: Penyakit dan Kesembuhan dari Alloh
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «أَذْهِبِ الْبَاسَ
رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِى، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً
لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hilangkanlah penyakit wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah dan Engkau adalah
Penyembuh. Tidak ada obat kecuali obat-Mu, yaitu obat yang tidak meninggalkan
penyakit.” [SB (no. 5675) dan SM (no. 2191) dari Aisyah radhiyallahu
‘anha]
Hadits Ke-25: Sabar
Saat Musibah
قَالَ النَّبِيُّ H: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ
ضَرَبَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوْبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah
termasuk golongan kami seseorang yang menampar pipi, merobek baju, dan
berteriak ala jahiliyyah.” [SB (no. 1298)
dan SM (no. 103) dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-26: Bahaya
Fitnah Wanita
قَالَ النَّبِيُّ H: «مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ
فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku
tidak meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki
selain wanita.” [SB (no. 5096) dan SM (no. 2740) dari Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu
‘anhuma]
Hadits Ke-27: Wajib
Menikahi yang Beragama
قَالَ النَّبِيُّ H: «تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ
لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ
بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita
dinikahi karena empat hal: karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan
agamanya. Nikahilah karena agamanya, maka kamu akan bahagia.” [SB (no.
5090) dan SM (no. 1466) dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-28: Akhlaq adalah Kasih Sayang
قَالَ النَّبِيُّ H: «مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ
يُرْحَمُ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Barangsiapa yang tidak sayang, maka tidak akan disayang.” [SB (no. 6013)
dan SM (no. 2319) dari Jarir
bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-29: Hakikat Orang Kuat
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «لَيْسَ الشَّدِيْدُ
بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang kuat itu bukan yang kuat bantingannya, tetapi orang kuat itu yang
bisa mengendalikan dirinya saat marah.” [SB (no. 6114) dan SM (no. 2609) dari Abu Huroiroh radhiyallahu
‘anhu]
Hadits Ke-30: Hak-Hak Muslim
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «حَقُّ الْمُسْلِمِ
عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ،
وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hak muslim atas muslim lainnya adalah menjawab salam, menjenguk yang sakit,
mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin.” [SB (no.
1240) dan SM (no. 2162)
dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-31: Haramnya Nyanyian
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «لَأَنْ يَمْتَلِئَ
جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا يَرِيْهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh perut seseorang diisi dengan nanah yang busuk lebih baik daripada
diisi dengan sya’ir/nyanyian.” [SB (no. 6155) dan SM (no. 2257) dari Abu Huroiroh
radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-32: Bersabar dalam
Berjihad
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «لاَ تَمَنَّوْا
لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوْا اللّٰهَ الْعَافِيَةَ، فَإِذَا لَقِيتُمُوْهُمْ
فَاصْبِرُوْا، وَاعْلَمُواْ أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Janganlah kalian mengharap bertemu musuh
dan mintalah kepada Alloh keselamatan. Namun, apabila kalian bertemu mereka
maka bersabarlah. Ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah bayang-bayang
pedang.” [SB (no. 3025) dan SM (no. 1742) dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-33: Keutamaan Ahli Ilmu
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «إِذَا حَكَمَ
الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ
فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Apabila seorang hakim mengambil keputusan dengan
berijtihad lalu ternyata benar, maka dia mendapat dua pahala. Apabila dia
mengambil keputusan dengan berijtihad lalu ternyata salah, maka dia mendapat
satu pahala.” [SB (no. 7352) dan SM (no. 1716) dari Amr bin Ash radhiyallahu
‘anhu]
Hadits Ke-34: Haram Memberontak
Penguasa Zhalim
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «مَنْ أَطَاعَنِيْ
فَقَدْ أَطَاعَ اللّٰهَ، وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ عَصَى اللّٰهَ، وَمَنْ أَطَاعَ
أَمِيْرِيْ فَقَدْ أَطَاعَنِيْ، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِيْ فَقَدْ عَصَانِيْ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Barangsiapa yang mentaatiku, maka sungguh dia telah
mentaati Alloh. Barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sungguh dia telah
mendurhakai Alloh. Barangsiapa mentaati amirku, maka sungguh dia telah
mentaatiku. Barangsiapa yang mendurhakai amirku, maka sungguh dia telah
mendurhakaiku.” [SB (no. 7137) dan SM (no. 1835) dari Abu Huroiroh radhiyallahu
‘anhu]
Hadits Ke-35: Haram Mengkafirkan
Tanpa Ilmu
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ
لأَخِيْهِ: يَا كَافِرُ! فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Lelaki mana saja yang mengucapkan kepada saudaranya, ‘Wahai
kafir!’ maka salah satu dari keduanya akan pulang dengan membawa vonis
tersebut.” [SB (no. 6104) dan SM (no. 60) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma]
Hadits Ke-36: Keutamaan Dai
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ
ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ
أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Tidaklah satu jiwa dibunuh secara zhalim, melainkan
anak Adam yang pertama menanggung dosanya, karena dialah yang pertama kali
memberi
contoh pembunuhan.” [SB (no. 3335) dan SM (no. 1677) dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu]
Hadits Ke-37: Dosa-Dosa Besar
قَالَ النَّبِيُّ H: «اِجْتَنِبُواْ
السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ!» قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ وَمَا هُنَّ؟
قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللّٰهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ
اللّٰهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ،
وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ
الْغَافِلاَتِ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah
enam hal yang membinasakan!” Orang-orang bertanya, “Wahai Rosululloh, apa
saja itu?” Beliau menjawab, “Syirik kepada Alloh, sihir, membunuh jiwa yang
diharamkan Alloh kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim,
melarikan diri saat perang berkecamuk, dan menuduh wanita baik-baik yang
mukminah lagi lalai dari berbuat keji.” [SB (no. 2766) dan SM (no. 89) dari
Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-38: Yahudi dan Nasrani Kafir
قَالَ النَّبِيُّ H: «لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ
مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُواْ جُحْرَ
ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ»، قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى؟
قَالَ: «فَمَنْ؟»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Sungguh kalian pasti akan mengikuti prilaku orang-orang sebelum
kalian sejengkal demi
sejengkal dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis biawak) tentu
kalian juga memasukinya.” Kami bertanya, “Ya Rosululloh, apakah maksudnya
orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi?” [SB (no. 3456) dan SM (no. 2669) dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu
‘anhu]
Hadits Ke-39: Keutamaan Ahli Sunnah
قَالَ النَّبِيُّ H: «لاَ يَزَالُ مِنْ
أُمَّتِى أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللّٰهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ
وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللّٰهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang tegak di atas perintah
Alloh. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menentangnya dan tidak
pula orang-orang yang menyelisihinya, hingga datang urusan Alloh kepada mereka,
sementara mereka tetap dalam keadaan seperti itu.” [SB (no. 3641) dan SM (no. 1037) dari Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu
‘anhuma]
Hadits Ke-40: Tanda Hari Kiamat
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ
السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَكْثُرَ الْجَهْلُ، وَيَكْثُرَ الزِّنَا،
وَيَكْثُرَ شُرْبُ الْخَمْرِ، وَيَقِلَّ الرِّجَالُ، وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى
يَكُوْنَ لِخَمْسِيْنَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah
diangkatnya ilmu, banyaknya kebodohan, maraknya zina, banyaknya minuman keras, sedikitnya
kaum laki-laki, dan banyaknya kaum perempuan hingga lima puluh perempuan
dibawahi satu orang
lelaki.” [SB (no. 5231) dan SM (no. 2671) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu]
Hadits Ke-41: Dahsyatnya Neraka
قَالَ النَّبِيُّ H: «إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ
النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوْضَعُ فِى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ
جَمْرَةٌ يَغْلِى مِنْهَا دِمَاغُهُ»
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
penduduk neraka yang paling ringan siksanya pada hari Kiamat adalah seseorang
yang diletakkan di kedua telapak kakinya batu bara yang menyebabkan otaknya
mendidih.” [SB (no. 6561) dan SM (no. 213) dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu
‘anhuma]
Hadits Ke-42: Indahnya Surga
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ H: «قَالَ اللّٰهُ:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيْ الصَّالِحِيْنَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ وَلاَ أُذُنَ
سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، فَاقْرَءُواْ إِنْ شِئْتُمْ: ((فَلاَ
تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ))»
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Alloh berfirman, ‘Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih apa
yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terbesit di hati
manusia.’ Bacalah jika kalian mau, ‘Maka, tidak ada seorang pun yang
mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka berupa pemandangan yang
menyejukkan mata.’” [SB
(no. 3244) dan SM (no. 2824)
dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu]
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Semoga sholawat dan salam tercurah untuk Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik. Wallahul muwaffiq.[]
[1] Hadits ini diriwayatkan oleh para imam ahli hadits
terkemuka: al-Bukhari (no. 1, 54,
2529, 3898, 5070, 6689, dan 6953), Muslim (no. 1907), at-Tirmidzi (no. 1647), an-Nasa`i (no. 75, 3437, dan 3794) dalam al-Mujtabâ dan
(no. 78, 4717, 5601, dan 11804) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Majah (no.
4227), Ahmad (no. 168 dan 300) dalam Musnadnya, Ibnu Khuzaimah (no. 142) dalam Shahîhnya, Ibnu Hibban (no. 388 dan 4868) dalam Shahîhnya, ath-Thabarani (no. 40 dan 7050) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, al-Baihaqi (no. 181) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no.
6419) dalam Syu’abul Iman, ad-Daruquthni (no. 131) dalam Sunannya,
ath-Thayalisi (no. 37) dalam Musnadnya, Abu Awanah (no. 7438) dalam al-Mustakhrâj,
al-Bazzar (no. 257) dalam Musnadnya, al-Humaidi (no. 28) dalam Musnadnya,
dan Ibnul Jarud (no. 64) dalam al-Muntaqâ. Namun sejauh penelitian,
tidak didapatkan redaksi yang sama persis dengan hadits tersebut di kitab-kitab
mereka. Yang paling mendekati adalah redaksi dari Abu Dawud (no. 2201) dengan (يَتَزَوَّجُهَا) sebagai ganti
(يَنْكِحُهَا).
[2] Dalam redaksi al-Bukhari tanpa lafazh (البَيْت). Redaksi yang sama persis diriwayatkan Ahmad (no. 5672 dan 6015) dalam Musnadnya dan Ibnu
Khuzaimah (no. 309) dalam Shahîhnya.
[3] Hadits ini diriwayatkan oleh para imam ahli hadits terkemuka: al-Bukhari (no. 7288), Muslim
(no. 1337), at-Tirmidzi
(no. 2679), an-Nasa`i (no. 2619) dalam al-Mujtabâ
dan (no. 3585) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Majah (no. 2), Ahmad (no. 7367, 7501, 8144, 8664, 9523, 9780, 9887, 10028,
10255, 10429, 10607, dan 10705) dalam Musnadnya, Ibnu Khuzaimah (no.
2508) dalam Shahîhnya, Ibnu Hibban (no. 18-21, 2105, 2106, 3704, dan
3705) dalam Shahîhnya, ath-Thabarani (no. 2715 dan 8773) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, al-Baihaqi (no.
1029 dan 1472) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Daruquthni (no. 2705 dan 2707) dalam Sunannya,
Abu Ya’la (no. 6305 dan 6676) dalam Musnadnya, dan al-Humaidi (no. 1158)
dalam Musnadnya. Namun sejauh penelitian, tidak didapatkan redaksi yang sama persis dengan hadits tersebut di kitab-kitab hadits mereka. Yang
paling mendekati adalah redaksi Imam Muslim (no. 1337) dan al-Baihaqi (no.
1029) dalam as-Sunan al-Kubrâ dengan lafazh (فأْتُوا
مِنْهُ) diganti (فَافْعَلُوْا
مِنْهُ).
[4] Hadits ini diriwayatkan oleh para imam ahli hadits
terkemuka: al-Bukhari (no. 6879), Muslim (no. 1676), at-Tirmidzi
(no. 1402), Abu Dawud (no. 4352), an-Nasa`i (no. 4016 dan 4721) dalam al-Mujtabâ dan (no.
3465 dan 6897) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Majah (no. 2534), Ahmad (no. 3621, 4065, 4245, 4429, dan 25475) dalam Musnadnya, Ibnu Khuzaimah (no. 142) dalam Shahîhnya, Ibnu Hibban (no. 4407, 4408, 5976, dan 5977) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 16819) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, Ibnu Abi Syaibah (no. 27901 dan 36492) dalam Mushannafnya,
Abdurrazzaq (no. 18704) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 2344 dan
2491) dalam Sunannya, ad-Daruquthni (no. 3090) dalam Sunannya,
Abu Ya’la (no. 5202) dalam Musnadnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 244) dalam Musnadnya,
Abu Awanah (no. 6154 dan 6175) dalam Mustakhrâjnya, al-Bazzar (no. 6175)
dalam Musnadnya, dan al-Humaidi (no. 119) dalam Musnadnya. Namun
sejauh penelitian, tidak ditemukan yang sama persis dengan redaksi tersebut
dalam kitab-kitab mereka. Redaksi yang mendekati diriwayatkan Abu Dawud
ath-Thayalisi (no. 287) dalam Musnadnya tetapi dengan (تَارِكٌ) dalam bentuk
nakirah, bukan makrifat.
[5] Redaksi ini diriwayatkan
Muslim. Adapun riwayat
al-Bukhari dengan lafazh (فَلْيُكْرِمْ
جَارَهُ) diganti (فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ).
[6] Redaksi
ini diriwayatkan Muslim. Adapun riwayat al-Bukhari menggunakan khitab huwa,
bukan anta.
%20Muttafaq%20Alaih%20Untuk%20Hafalan%20-%20Edisi%203%20-%20Nor%20Kandir.jpg)
Mantab, ijin save min :)
mohon izin save dan membagikan ke para santri..dan semoga menjadi amal jariyyah bagi kita semua khususnya penyusun kitab dan postingan ini..aa
amiiin