Download Arbain Quraniyyah - Pustaka Syabab



Arba’in Qur`aniyyah

Disusun dan diurutkan oleh:
Abu Zur’ah ath-Thaybi

Download:
 

Penerbit          : Pustaka Syabab
Editor            : Tim Pustaka Syabab
Layout           : Tim Pustaka Syabab
Cetakan           : Pertama
Tahun      : Shafar 1435 H/Januari 2014 M


Pustaka Syabab
Perumahan Keputih Permai Blok A No. 1-3
Jl. Keputih Tegal Timur,
Sukolilo, Surabaya 60111, Jawa Timur
Email: pustakasyabab@yahoo.com

 



PENGANTAR PENERBIT

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
S
egala puji milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

Setelah penerbitan kutaib Arba’in Muttafaqun ‘Alaih, kami mendapat sambutan yang hangat dari para pembaca. Hal ini menunjukkan kaum muslimin dewasa ini --terutama kaum pemuda-- antusias dan memberi perhatian lebih kepada agamanya dengan mempelajari dan menghafal hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, meskipun jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding jumlah kaum muslimin secara keseluruhan.

Pada kesempatan ini kami persembahkan kutaib Arba’in Qur`aniyyah yang berisi 42 point tentang al-Qur`an dan ahlul Qur`an yang disusun Abu Zur’ah ath-Thaybi. Keistimewaan kutaib ini adalah benar-benar akan menjadi penyulut orang yang membacanya untuk mengagungkan al-Qur`an dan ahlinya serta menumbuhkan kecintaan untuk mulai menghafalnya karena besarnya keutamaan dan fadhilah al-Qur`an dan ahlinya. Semoga Allah memperbanyak keluarga-Nya dari kalangan manusia di tengah-tengah kaum muslimin dewasa ini. Amin.

Semoga shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para shahabatnya.[]
Surabaya, 1 Januari 2014
Penerbit

DAFTAR ISI

Pengantar Penerbit iii
Daftar Isi v
Muqaddimah 1
Siapakah Ahlul Qur`an atau Shahibul Qur`an Itu? 4

Ayat Membicarakan al-Qur`an
Poin Ke-1: Perdagangan yang Tidak Akan Pernah Merugi 6
Poin Ke-2: Ilmu Terkumpul dalam Dada Ahlul Qur`an 7
Poin Ke-3: Al-Qur`an Penyembuh Segala Penyakit, Petunjuk, Sekaligus Rahmat 9
Poin Ke-4: Jaminan Kemudahan al-Qur`an untuk Dibaca dan Dihafal 10
Poin Ke-5: Jihad al-Qur`an Lebih Utama dari Jihad Pedang 11

Hadits Membicarakan al-Qur`an
Poin Ke-6: Al-Qur`an Mengungguli Semua Kitab Samawi 12
Poin Ke-7: Sab’ul Matsâni Adalah al-Qur`anul Adzim 12
Poin Ke-8: Al-Qur`an Sebaik-Baik Pembimbing 13
Poin Ke-9: Dua Perkara Tidak Akan Tersesat 14
Poin Ke-10: Al-Qur`an Mu’jizat Terbesar Sepanjang Zaman 15
Poin Ke-11: Kesamaan Pahala Baca al-Qur`an dan Sedekah 16
Poin Ke-12: Boleh Menerima Hadiah Karena al-Qur`an 16
Poin Ke-13: Setan Lari dari al-Baqarah   17
Poin Ke-14: Al-Qur`an Membuat Setan Menangis 18
Poin Ke-15: Cahaya Membaca al-Kahfi di Hari Jum’at 19
Poin Ke-16: Sepuluh Lipat Setiap Satu Huruf al-Qur`an 19
Poin Ke-17: Baca al-Qur`an Lebih Utama dari Dunia Seisinya 20
Poin Ke-18: Al-Fatihah Menentukan Sahnya Amal Pertama yang Dihisab 21
Poin Ke-19: Pintu Langit Terbuka untuk al-Qur`an 21

Tentang Ahlul Qur`an
Poin Ke-20: Ahlul Qur`an Sebaik-Baik Manusia 22
Poin Ke-21: Mulia Karena al-Qur`an 22
Poin Ke-22: Wajib Memuliakan Ahlul Qur`an 23
Poin Ke-23: Ahlul Qur`an Keluarga Allah dari Kalangan Manusia 24
Poin Ke-24: Ahlul Qur`an Kebanggaan Allah 24
Poin Ke-25: Ahlul Qur`an Dicintai Allah dan Rasul-Nya 25
Poin Ke-26: Ahlul Qur`an Mendapat Warisan Kenabian 26
Poin Ke-27: Mendahulukan Ahlul Qur`an dalam Urusan Kepemimpinan 27
Poin Ke-28: Mendahulukan Ahlul Qur`an dalam Pernikahan 28
Poin Ke-29: Allah Suka Mendengarkan Bacaan Qari` 28
Poin Ke-30: Perbedaan Jauh Ahlul Qur`an dengan Selainnya 29
Poin Ke-31: Anjuran Iri Kepada Ahlul Qur`an 30
Poin Ke-32: Keutamaan Menyibukkan Diri dengan Sebaik-Baik Kalam 31
Poin Ke-33: Mahkota Kemuliaan untuk Ahlul Qur`an dan Kedua Orang Tuanya 32
Poin Ke-34: Naungan Khusus Bagi Ahlul Qur`an di Akhirat 33
Poin Ke-35: Ahlul Qur`an Bersama Iringan Malaikat 34
Poin Ke-36: Syafaat al-Qur`an Bagi Ahlul Qur`an 35
Poin Ke-37: Al-Qur`an Membela Ahlul Qur`an di Akhirat 36
Poin Ke-38: Dada Ahlul Qur`an Tidak Terbakar Api Neraka 37
Poin Ke-39: Tingkatan Tertinggi Surga Bagi Ahlul Qur`an 37

Atsar Shahih Membicarakan al-Qur`an dan Ahlinya
Poin Ke-40: Khatam al-Qur`an Punya Doa Mustajab 38
Poin Ke-41: Al-Qur`an Adalah Akhlaq Ahlul Qur`an 39
Poin Ke-42: Ahlul Qur`an Tidak Akan Pikun 40

Takhrij Luas dan Tahqiq 41
Catatan 61

MUQADDIMAH

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئآتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ:
A
kan tetap ada sekelompok dari umat Islam yang tegak di atas kebenaran. Mereka tekun mempelajari agamanya, mengamalkannya, dan menyebarkannya di tengah-tengah kaum muslimin. Mereka tekun mempelajari, mengkaji, dan menghafal hadits-hadits nan mulia.
Penyusun berharap kutaib ini merupakan bagian dari cara Allah menyiapkan generasi tersebut, yakni generasi yang akan tetap tegak di atas petunjuk nubuwwah yang tidak akan memudharatkan mereka orang yang membenci mereka dan tidak akan merendahkan mereka orang yang memusuhi mereka hingga hari Kiamat.
Awalnya penyusun menyangka bahwa penggarapan kutaib ini akan lebih mudah daripada kutaib sebelumnya, tetapi ternyata tidak demikian. Untuk mencari 42 hadits yang benar-benar berbeda tema-temanya amat sulit, apalagi dalam masalah al-Qur`an ini penyusun menjumpai banyak sekali hadits dha’if, palsu, bahkan mungkar, yang kebanyakan dibuat-buat oleh orang yang menghendaki kebaikan tetapi keliru jalannya.
Keempatpuluh dua point di kutaib ini tidak semuanya hadits, di antaranya penyusun memasukkan lima ayat yang membicarakan al-Qur`an dan ahlinya, kemudian tiga atsar shahih yang penyusun pandang sangat penting dan banyak faidah tentangnya. Awalnya penyusun ingin mencantumkan hadits-hadits pendek saja agar mudah dihafal, tetapi ternyata hal itu sangat sulit sekali diwujudkan karena keterbatasan ilmu dan tenaga. Akhirnya, apa yang tidak bisa diperoleh semuanya jangan ditinggal semuanya. Penyusun cantumkan hadits-hadits “penyulut” agar semakin mantap dan kokoh untuk mengkaji dan menghafal al-Qur`an. Semuanya adalah hadits shahih kecuali satu saja yang dha’if, itupun masih diperselisihkan perawinya yang penyusun singgung di Takhrij Luas dan Tahqiq.
Penulis menyadari bahwa kutaib ini sangat jauh dari kesempurnaan, maka saran dan koreksi dari pembaca sangat berarti sekali bagi penulis, dan bisa dilayangkan ke eth.thulaib@gmail.com. Semoga Allah membalas kebaikan orang yang berbuat baik.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَي مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Al-Faqir ilallah
Abu Zur’ah ath-Thaybi
Shafar 1435 H/Desember 2013 M

Siapakah Ahlul Qur`an atau Shahibul Qur`an Itu?

Imam Ibnul Qayyim (w. 751 H) berkata:
أَهْلُ الْقُرْآنِ: هُمُ الْعَالِمُونَ بِهِ وَالْعَامِلُونَ بِمَا فِيهِ، وَإِنْ لَمْ يَحْفَظُوهُ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ، أَمَّا مَنْ حَفِظَهُ وَلَمْ يَفْهَمْهُ وَلَمْ يَعْمَلْ بِمَا فِيهِ فَلَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ وَإِنْ أَقَامَ حُرُوفَهُ إِقَامَةَ السَّهْمِ
“Ahlul Qur`an adalah mereka yang mengilmuinya dan mengamalkannya, meskipun belum hafal di hatinya. Adapun orang yang menghafalnya, tetapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkannya, bukan termasuk ahlinya, meskipun hafalannya sangat kokoh.” [Zâdul Ma’âd fî Hadyi Khairil ‘Ibâd (I/327) oleh Ibnul Qayyim]



Syaraful Haq Abadi (w. 1329 H) berkata:
صَاحِبُ الْقُرْآنِ: أَيْ مَنْ يُلَازِمُهُ بِالتِّلَاوَةِ وَالْعَمَلِ لَا مَنْ يَقْرَؤُهُ وَلَا يَعْمَلُ بِهِ
“Shahibul Qur`an adalah orang yang senantiasa membacanya dan mengamalkannya, bukan yang (sekedar) membacanya tetapi tidak mengamalkannya.” [‘Aunul Ma’bûd (IV/237) oleh Syaraful Haq Abadi]








ARBA’IN QUR`ANIYYAH
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:
Poin Ke-1: Perdagangan yang Tidak Akan Pernah Merugi
ﭧ ﭨ                                              
Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitabullah, menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian harta yang telah Kami berikan kepada mereka baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, mereka berarti menghendaki perdagangan yang tidak akan pernah merugi.” [QS. Fâhir [35]: 29]
Poin Ke-2: Ilmu Terkumpul dalam Dada Ahlul Qur`an
ﭧ ﭨ ﮋ                    
Allah ta’ala berfirman, “Bahkan al-Qur`an adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu.” [QS. Al-‘Ankabût [29]: 49]
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَخَذَ السَّبْعَ الْأُوْلَ مِنَ الْقُرْآنِ فَهُوَ حَبْرٌ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengambil tujuh yang pertama[1] dari al-Qur`an, maka dia ulama.” [Shahih: HR. Ahmad (no. 24531)]
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: «مَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ، فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ»
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Barangsiapa yang menginginkan ilmu maka dalamilah al-Qur`an, karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian.” [HR. Ath-Thabarani (no. 8666)]



Poin Ke-3: Al-Qur`an Penyembuh Segala Penyakit, Petunjuk, Sekaligus Rahmat
ﭧ ﭨ ﮋ                                      
Allah ta’ala berfirman, “Wahai manusia, sungguh telah datang  kepada kalian mau’idhah dari Rabb kalian, penyembuh apa yang ada di dalam dada, dan petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Yûnûs [10]: 57]
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَلَيْكُمْ بِالشِّفَاءَيْنِ: الْعَسَلِ وَالْقُرْآنِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian menggunakan dua penyembuh, yaitu madu dan al-Qur`an.” [Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 3452)]

Poin Ke-4: Jaminan Kemudahan al-Qur`an untuk Dibaca dan Dihafal
ﭧ ﭨ ﮋ                                   
Allah berfirman, “Dan sesungguhnya al-Qur`an telah Kami mudahkan untuk adz-dzikr[2], maka siapakah yang mau adz-dzikr.” [QS. Al-Qamar [54]: 17, 22, 32, dan 40]
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ هَذَا القُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ، فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya al-Qur`an diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya.” [Muttafaqun ‘Alaih]
Imam al-Qurthubi (w. 671 H) berkata:
أَيْ سَهَّلْنَاهُ لِلْحِفْظِ وَأَعَنَّا عَلَيْهِ مَنْ أَرَادَ حِفْظَهُ، فَهَلْ مِنْ طَالِبٍ لِحِفْظِهِ فَيُعَانُ عَلَيْهِ؟
“Maksudnya, Kami telah mudahkan ia untuk dihafal dan Kami akan membantu siapa yang mau menghafalnya, maka adakah penuntut ilmu yang berkenan menghafalnya lalu dia akan dibantu?” [Tafsîr al-Qurthubî (XVII/134)]
Poin Ke-5: Jihad al-Qur`an Lebih Utama dari Jihad Pedang
ﭧ ﭨ ﮋ                   
Allah ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mentaati orang-orang kafir dan berjihadlah melawan mereka dengannya (al-Qur`an) sebagai jihad yang besar.” [QS. Al-Furqan [25]: 52]

Poin Ke-6: Al-Qur`an Mengungguli Semua Kitab Samawi
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberi as-sab’u yang menempati Taurat, aku diberi al-ma`în yang menempati Zabur, aku diberi al-matsâni yang menempati Injil, dan aku diutamakan dengan al-mufashshal.” [Hasan: HR. Ahmad (no. 16982)]
Poin Ke-7: Sab’ul Matsâni Adalah al-Qur`anul Adzim
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الفُرْقَانِ مِثْلُهَا، وَإِنَّهَا سَبْعٌ مِنَ المَثَانِي وَالقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيتُهُ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak diturunkan di dalam Taurat, tidak pula di Injil, tidak pula di Zabur, dan tidak pula di Furqan yang sepertinya, yaitu as-sab’ul matsânî dan al-Qur`an yang agung yang diberikan kepadaku.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2875)]
Poin Ke-8: Al-Qur`an Sebaik-Baik Pembimbing
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ وَمَاحِلٌ مُصَدَّقٌ، مَنْ جَعَلَهُ أَمَامَهُ قادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Qur`an adalah pemberi syafaat yang diterima syafaatnya dan pembela yang kuat hujjahnya. Barangsiapa yang menempatkannya di depannya akan membimbingnya ke surga dan barangsiapa yang menempatkannya di belakangnya akan menggiringnya ke neraka.” [Shahih: HR. Ath-Thabarani (no. 10450)]
Poin Ke-9: Dua Perkara Tidak Akan Tersesat
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا: كِتَابَ اللّٰهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah tinggalkan di tengah-tengah kalian apa yang jika kalian berpegang teguh padanya tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Shahih: HR. Al-Hakim (no. 318)]


Poin Ke-10: Al-Qur`an Mu’jizat Terbesar Sepanjang Zaman
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ البَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللّٰهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ القِيَامَةِ»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada nabi pun dari para nabi melainkan diberi mu’jizat yang diimani manusia. Adapun yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku. Aku berharap menjadi yang terbanyak pengikutnya di antara mereka di hari Kiamat.” [Muttafaqun ‘Alaih]



Poin Ke-11: Kesamaan Pahala Baca al-Qur`an dan Sedekah
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الجَاهِرُ بِالقُرْآنِ كَالجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ، وَالمُسِرُّ بِالقُرْآنِ كَالمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang terang-terangan dalam al-Qur`an seperti orang yang terang-terangan dalam sedekah, dan orang yang sembunyi-sembunyi dalam al-Qur`an seperti orang yang sembunyi-sembunyi dalam sedekah.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2919)]
Poin Ke-12: Boleh Menerima Hadiah Karena al-Qur`an
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللّٰهِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya upah yang paling berhak untuk diambil adalah Kitabullah.” [Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 5737)]
Poin Ke-13: Setan Lari dari al-Baqarah
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan.[3] Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah.” [Shahih: HR. Muslim (no. 780)]



Poin Ke-14: Al-Qur`an Membuat Setan Menangis
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila anak Adam membaca ayat Sajdah lalu bersujud, niscaya setan menyingkir sambil menangis. Dia berkata, ‘Celaka aku, anak Adam disuruh sujud lalu sujud maka dia mendapat surga, sementara aku disuruh sujud lalu enggan maka aku mendapat neraka.’” [Shahih: HR. Muslim (no. 81)]




Poin Ke-15: Cahaya Membaca al-Kahfi di Hari Jum’at
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi di hari Jum’at, maka dia akan diterangi cahaya antara dua Jum’at.” [Shahih: HR. Al-Baihaqi (no. 5996)]
Poin Ke-16: Sepuluh Lipat Setiap Satu Huruf al-Qur`an
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللّٰهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ اٰلم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia akan mendapat satu kebaikan, dan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan (اٰلم) satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2910)]
Poin Ke-17: Baca al-Qur`an Lebih Utama dari Dunia Seisinya
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلَاثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «فَثَلَاثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah seorang dari kalian suka jika pulang ke keluarganya menjumpai  di dalamnya tiga unta bunting besar lagi gemuk?” Kami menjawab, “Benar.” Beliau bersabda, “Tiga ayat yang dibaca oleh seorang dari kalian di dalam shalatnya lebih baik baginya daripada tiga unta bunting besar lagi gemuk.” [Shahih: HR. Muslim (no. 802)]
Poin Ke-18: Al-Fatihah Menentukan Sahnya Amal Pertama yang Dihisab
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat al-Fatihah.” [Muttafaqun ‘Alaih]
Poin Ke-19: Pintu Langit Terbuka untuk al-Qur`an
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ لِخَمْسٍ: لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَلِلِقَاءِ الزَّحْفِ، وَلِنُزُولِ الْقَطْرِ، وَلِدَعْوَةِ الْمَظْلُومِ، وَلِلْأَذَانِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pintu-pintu langit dibuka untuk lima hal, yaitu untuk bacaan al-Qur`an, bertemunya dua pasukan tempur, turunnya hujan, doa yang terzhalimi, dan adzan.” [Dha’if: HR. Ath-Thabarani (no. 490)]
Poin Ke-20: Ahlul Qur`an Sebaik-Baik Manusia
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.” [Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 5027)]
Poin Ke-21: Mulia Karena al-Qur`an
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللّٰهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Kitab ini beberapa kaum dan merendahkan dengannya pula beberapa kaum lain. [Shahih: HR. Muslim (no. 817)]
Poin Ke-22: Wajib Memuliakan Ahlul Qur`an
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللّٰهِ: إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara mengagungkan Allah adalah memuliakan orang muslim yang sudah tua, ahlul Qur`an yang tidak berlebihan dan meremehkannya, dan memuliakan penguasa yang adil.” [Hasan: HR. Abu Dawud (no. 4843)]



Poin Ke-23: Ahlul Qur`an Keluarga Allah dari Kalangan Manusia
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ لِلّٰهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: «هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللّٰهِ وَخَاصَّتُهُ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahlul Qur`an, yaitu keluarga Allah dan keistimewaan-Nya.” [Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 215)]
Poin Ke-24: Ahlul Qur`an Kebanggaan Allah
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللّٰهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللّٰهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللّٰهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajari di antara mereka, melainkan turun kepada mereka ketenangan, dinaungi rahmat, diliputi para malaikat, dan dibanggakan Allah di kalangan makhluk yang ada di sisi-Nya.” [Shahih: HR. Muslim (no. 2699)]
Poin Ke-25: Ahlul Qur`an Dicintai Allah dan Rasul-Nya
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُحِبَّهُ اللّٰهُ وَرَسُولُهُ فَلْيَقْرَأْ فِي الْمُصْحَفِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa senang dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka hendaklah dia membaca di mushaf.” [Hasan: HR. Ibnu Syahin (no. 191)]

Poin Ke-26: Ahlul Qur`an Mendapat Warisan Kenabian
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَقَدِ اسْتَدَرَجَ النُّبُوَّةَ بَيْنَ جَنْبَيْهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُوحَى إِلَيْهِ، لَا يَنْبَغِي لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ أَنْ يَحِدَّ مَعَ مَنْ حَدَّ، وَلَا يَجْهَلَ مَعَ مَنْ جَهِلَ وَفِي جَوْفِهِ كَلَامُ اللّٰهِ تَعَالَى»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca al-Qur`an maka sungguh dia telah menempatkan kenabian di antara dua keningnya, hanya saja dia tidak diberi wahyu. Tidak pantas bagi shahibul Qur`an melanggar bersama orang yang melanggar, bertindak bodoh bersama orang bodoh, sementara di rongganya ada Kalamullah.” [Shahih: HR. Al-Hakim (no. 2028)]

Poin Ke-27: Mendahulukan Ahlul Qur`an dalam Urusan Kepemimpinan
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللّٰهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا» وفِي رِوَايَةٍ: «فَأَقْدَمُهُمْ سِنًّا»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah yang paling aqra`[4] di antara mereka terhadap Kitabullah. Jika mereka sama dalam bacaan, maka yang menjadi imam mereka adalah yang paling berilmu tentang sunnah. Jika mereka sama dalam sunnah, maka yang yang paling dahulu hijrahnya. Jika mereka dalam hijrah sama, maka yang paling dahulu masuk Islam,” dalam riwayat lain, “yang paling tua umurnya.” [Shahih: HR. Muslim (no. 673)]
Poin Ke-28: Mendahulukan Ahlul Qur`an dalam Pernikahan
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku menikahkanmu dengan wanita itu dengan (mahar) hafalanmu dari al-Qur`an.” [Muttafaqun ‘Alaih]
Poin Ke-29: Allah Suka Mendengarkan Bacaan Qari`
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَشَدُّ أُذُنًا إِلَى الرَّجُلِ الْحَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مِنْ صَاحِبِ الْقَيْنَةِ إِلَى قَيْنَتِهِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah lebih suka mendengarkan seorang lelaki yang bagus suaranya dalam al-Qur`an daripada seseorang kepada kekasihnya.” [Shahih: HR. Al-Hakim (no. 2097)]
Poin Ke-30: Perbedaan Jauh Ahlul Qur`an dengan Selainnya
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang mu`min yang membaca al-Qur`an seperti buah uthrujah yang aromanya wangi dan rasanya enak, dan perumpamaam orang mu`min yang tidak membaca al-Qur`an seperti buah kurma yang tidak beraroma dan rasanya manis. Perumpamaan orang munafiq yang membaca al-Qur`an seperti raihanah yang aromanya wangi tetapi rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca al-Qur`an seperti handhalah yang tidak beraroma dan rasanya pahit.” [Muttafaqun ‘Alaih]
Poin Ke-31: Anjuran Iri Kepada Ahlul Qur`an
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللّٰهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللّٰهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh iri[5] kecuali kepada dua orang, yaitu seseorang yang Allah beri al-Qur`an lalu dia shalat dengannya di malam dan siang hari, dan seseorang yang diberi Allah harta lalu dia sedekahkan di malam dan siang hari.” [Muttafaqun ‘Alaih]
Poin Ke-32: Keutamaan Menyibukkan Diri dengan Sebaik-Baik Kalam
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِيَ السَّائِلِينَ، وَفَضْلُ كَلَامِ اللّٰهِ عَلَى سَائِرِ الكَلَامِ كَفَضْلِ اللّٰهِ عَلَى خَلْقِهِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb azza wa jalla berkata, ‘Barangsiapa yang tersibukkan oleh al-Qur`an dari berdzikir kepada-Ku dan meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan berikan kepadanya melebihi apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan Kalamullah atas seluruh kalam seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” [Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2926)]

Poin Ke-33: Mahkota Kemuliaan untuk Ahlul Qur`an dan Kedua Orang Tuanya
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ، فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا؟»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca al-Qur`an dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya, maka akan dipakaikan kepada kedua orangtuanya mahkota pada hari Kiamat yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia, seandainya ada di tengah-tengah kalian. Lantas apa pendapat kalian dengan orang yang mengamalkannya?” [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 1453)]


Poin Ke-34: Naungan Khusus Bagi Ahlul Qur`an di Akhirat
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur`an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya. Bacalah dua Zahrah yaitu al-Baqarah dan surat Ali Imran, karena keduanya akan datang para hari Kiamat laksana dua naungan atau laksana dua teduhan atau laksana dua kepakan sayap burung yang menaungi ahlinya. Bacalah surat al-Baqarah, karena mengambilnya adalah berkah, meninggalkannya adalah kerugian, dan tidak dapat dikalahkan oleh para tukang sihir.” [Shahih: HR. Muslim (no. 804)]
Poin Ke-35: Ahlul Qur`an Bersama Iringan Malaikat
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang mahir al-Qur`an bersama dengan malaikat yang mulia lagi ta’at. Sedangkan orang yang membaca al-Qur`an dan terbata-bata serta merasa berat, dia mendapat dua pahala.” [Muttafaqun ‘Alaih]



Poin Ke-36: Syafaat al-Qur`an Bagi Ahlul Qur`an
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ! وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ!» قَالَ: «فَيُشَفَّعَانِ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa dan al-Qur`an memberi syafaat kepada hamba pada hari Kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku telah menahannya makan dan syahwat di siang hari, maka berilah aku syafaat untuknya, dan al-Qur`an berkata, ‘Aku telah menahannya tidur di malam hari, maka berilah aku syafaat untuknya.’ Lalu keduanya diizinkan memberi syafaat.” [Shahih: HR. Ahmad (no. 6626)]

Poin Ke-37: Al-Qur`an Membela Ahlul Qur`an di Akhirat
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَجِيءُ القُرْآنُ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ! فَيُلْبَسُ تَاجَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ زِدْهُ! فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ! فَيَرْضَى عَنْهُ، فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَارْقَ! وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Qur`an datang pada hari Kiamat lalu berkata, ‘Wahai Rabb-ku, berilah dia perhiasan!’ Lalu dia (ahlul Qur`an) dipakaikan mahkota kemuliaan, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, tambahlah!’ Lalu dipakaikan kepadanya hiasan kemuliaan, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, berilah dia keridhaan-Mu!’ Lalu Dia meridhainya, lalu dikatakan kepadanya, ‘Bacalah dan naiklah!’ Ditambah setiap ayat satu kebaikan.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2915)]
Poin Ke-38: Dada Ahlul Qur`an Tidak Terbakar Api Neraka
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْ أَنَّ الْقُرْآنَ جُعِلَ فِي إِهَابٍ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ مَا احْتَرَقَ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya al-Qur`an diletakkan di dalam ibu jari lalu dilempar ke neraka, niscaya tidak akan terbakar.” [Hasan: HR. Ahmad (no. 17365)]
Poin Ke-39: Tingkatan Tertinggi Surga Bagi Ahlul Qur`an
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan diseru nanti kepada ahlul Qur`an, ‘Baca dan naiklah. Bacalah dengan tartil seperti kamu dulu membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu (di surga) di akhir ayat yang kamu baca.[6][Hasan Shahih: HR. Abu Dawud (no. 1464)]
Poin Ke-40: Khatam al-Qur`an Punya Doa Mustajab
عَنْ ثَابِتٍ، قَالَ: «كَانَ أَنَسٌ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ، جَمَعَ وَلَدَهُ وَأَهْلَ بَيْتِهِ فَدَعَا لَهُمْ»
Dari Tsabit (al-Bunani), dia berkata, “Apabila Anas (bin Malik) mengkhatamkan al-Qur`an, maka beliau mengumpulkan anak dan keluarganya lalu mendoakan kebaikan untuk mereka.” [Shahih: HR. Ad-Darimi (no. 3517)]
عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: «مَنْ خَتَمَ الْقُرْآنَ فَلَهُ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ» قَالَ: فَكَانَ عَبْدُ اللّٰهِ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ جَمَعَ أَهْلَهُ ثُمَّ دَعَا وَأَمِّنُوا عَلَى دُعَائِهِ.
Dari Ibrahim at-Taimi bahwa ‘‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang mengkhatamkan al-Qur`an maka dia memiliki doa mustajab.” Perawi berkata, “Apabila ‘‘Abdullah mengkhatamkan al-Qur`an, beliau mengumpulkan keluarganya kemudian berdoa dan mereka mengamini doanya.” [HR. Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam (hal. 108)]
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah ketenangan yang turun untuk al-Qur`an.” [Muttafaqun ‘Alaih]
Poin Ke-41: Al-Qur`an Adalah Akhlaq Ahlul Qur`an
قَالَتْ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا:  «إِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ»
وَفِي رِوَايَةٍ: «كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ»
Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya akhlaq Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur`an.” [Shahih: HR. Muslim (no. 746)]
Dalam riwayat lain, “Akhlaq beliau adalah al-Qur`an.” [Shahih: HR. Ahmad (no. 24601)]
Poin Ke-42: Ahlul Qur`an Tidak Akan Pikun
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ لَمْ يُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا، وَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ:                   » قَالَ: «إِلَّا الَّذِينَ قَرَءُوا الْقُرْآنَ»
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Siapa yang membaca al-Qur`an tidak akan dikembalikan kepada umur pikun yang tidak tahu apapun setelah sebelumnya mengetahuinya. Demikian itu karena Allah berfirman, ‘Kemudian Kami kembalikan ia kepada keadaan yang paling rendah, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih,’[7] yaitu kecuali orang-orang yang membaca al-Qur`an.” [Shahih: HR. Al-Hakim (no. 3952)]

TAKHRIJ LUAS DAN TA’LIQ

[2] Shahih: HR. Ahmad (no. 24531, XLI/78-79) dalam Musnadnya, al-Hakim (no. 2070) dalam al-Mustadrâk, al-Baihaqi (no. 964) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 2191) dalam Syu’abul Iman, ath-Thahawi (no. 1377) dalam Syarh Musykilil Atsâr, Ibnu adh-Dhurais (no. 72) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, dan al-Faryabi (no. 65) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Al-Hakim berkata, “Ini hadits shahih sanadnya tetapi tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari Muslim,” dan dinilai hasan oleh al-Arna`uth.
b. Diriwayatkan ath-Thabarani (no. 8666) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Ibnu Abi Syaibah (no. 30018) dalam Mushannafnya, Ibnu al-Mubarak (no. 814, hal. 280) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, dan al-Baihaqi (no. 1808) dalam Syu’abul Iman.
[3] Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 3452, II/1142), al-Hakim (no. 7435 dan 8225) dalam al-Mustadrâk, ath-Thabarani (no. 8910) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 19565) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 2345) dalam Syu’abul Iman, Abu Nu’aim (VII/133) dalam Hilyatul Auliyâ`, dan Ibnu Abi Hatim (no. 10418, VI/1957) dalam tafsirnya dari ‘‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
Al-Hakim berkata, “Ini sanadnya shahih tetapi tidak dikeluarkan al-Bukhari Muslim,” dan disetujui adz-Dzahabi. Al-Haitsami menilainya shahih dan para perawinya tsiqah dalam az-Zawâ`id (IV/55) dan juga dinilai shahih al-Baihaqi.
[4] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 4992, VI/184), Muslim (no. 818), at-Tirmidzi (no. 2943), Abu Dawud (no. 1475), a-Nasa`i (no. 936), Ahmad (no. 158) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 741) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 2845) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ath-Thayalisi (no. 39) dalam Musnadnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 30125) dalam Mushannafnya, Abu ‘Awanah (no. 3849) dalam al-Mustakhrâj, al-Bazzar (no. 300) dalam Musnadnya, Malik (no. 5) dalam al-Muwaththa`, ath-Thahawi (no. 3104) dalam Syarh Musykilil Atsâr, Ibnul ‘Arabi (no. 85) dalam al-Mu’jam, dan al-Ajurri (no. 148) dalam asy-Syarî’ah dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
[6] Hasan: HR. Ahmad (no. 16982, XXVIII/188) dalam Musnadnya, ath-Thabarani (no. 187) dalam al-Mu’jam al-Kabîr dan (no. 2734) dalam Musnad asy-Syammiyyin, al-Baihaqi (no. 962) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 2192) dalam Syu’abul Iman, Abu Nu’aim (no. 6485) dalam Ma’rifatush Shahâbah, ath-Thayalisi (no. 1105) dalam Musnadnya, ath-Thahawi (no. 1379) dalam Syarh Musykilil Atsâr dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu. Al-Arna`uth berkata, “Sanadnya hasan.”
Imam ath-Thabari berkata dalam tafsirnya (I/101-102), “As-Sab’u adalah surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An’am, al-A’raf, dan Yunus, menurut Sa’id bin Jubair. Dinamakan as-sab’u (tujuh yang panjang) karena suratnya panjang-panjang dibanding surat lainnya. Adapun al-mi`un (seratusan) yaitu surat-surat yang ayatnya seratus, atau lebih, atau kurang sedikit…. Adapun al-mufashshal (terpisah), dinamakan demikian karena suratnya pendek-pendek dan banyak pemisahnya dengan basmalah.”
[7] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2875, V/155), an-Nasa`i (no. 11141) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ahmad (no. 8682 dan 9345) dalam Musnadnya, al-Hakim (no. 2051) dalam al-Mustadrâk, al-Baihaqi (no. 3954) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 1427) dalam Syu’abul Iman, Abu Ya’la (no. 6482) dalam Musnadnya, dan ath-Thahawi (no. 1208) dalam Syarh Musykilil Atsâr dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[8] Shahih: HR. Ath-Thabarani (no. 10450, X/198) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 1855) dalam Syu’abul Iman, Ibnu Hibban (no. 124) dalam Shahîhnya, Abdurrazzaq (no. 6010) dalam Mushannafnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 30054) dalam Mushannafnya, Abu Nu’aim (IV/108) dalam Hilyatul Auliyâ`, Ibnu adh-Dhurais (no. 93) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, al-Faryabi (no. 23) Fadhâ`ilul Qur`ân, dan Imam Ahmad (no. 843) dalam az-Zuhd dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
[9] Shahih: HR. Al-Hakim (no. 318, I/171) dalam al-Mustadrâk, dan al-Baihaqi (no. 20336) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (V/449) dalam Dalâ`ilun Nubuwwah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Al-Hakim berkata, “Al-Bukhari berhujjah dengan haditsnya ‘Ikrimah dan Muslim berhujjah dengan haditsnya Abu Uwais dan sisa para perawi muttafaq (telah diakui), dan hadits ini merupakan khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam muttafaqun ‘alaih yang dikeluarkan di kitab Shahih,” dan disetujui adz-Dzahabi dan mengatakan bahwa ia memiliki hadits asal di kitab Shahih.
[10] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 4981, VI/182), Muslim (no. 152), Ahmad (no. 8491 dan 9828) dalam Musnadnya, al-Baihaqi (no. 17712) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Abu ‘Awanah (no. 327) dalam al-Mustakhrâj, an-Nasa`i (no. 7923 dan 11064) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Mandah (no. 372 dan 695) dalam al-Imân, dan Abu Nu’aim (X/233) dalam al-Hilyah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[11] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2919, V/180), Abu Dawud (no. 1333), an-Nasa`i (no. 1663 dan 2561), Ahmad (no. 17368, 17444, dan 17796) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 734) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 4712) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 2372) dalam Syu’abul Iman, Abu Ya’la (no. 1737) dalam Musnadnya, ar-Ruya`i (no. 267) dalam Musnadnya, ath-Thabarani (no. 3235) dalam al-Mu’jam al-Ausath dan (no. 1164, 1165, 1209, dan 1991) dalam Musnad asy-Syammiyyin, dan Ibnu ‘Arafah (no. 84) dalam Juz`nya dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu.
[12] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 5737, VII/131), Ibnu Hibban (no. 5146) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 2551) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 2019, 11676, dan 14404) dalam as-Sunan al-Kubrâ, dan ad-Daruquthni (no. 3038) dalam Sunannya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Dalam sebuah riwayat disebutkan:
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: عَلَّمْتُ رَجُلًا الْقُرْآنَ، فَأَهْدَى إِلَيَّ قَوْسًا، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «إِنْ أَخَذْتَهَا أَخَذْتَ قَوْسًا مِنْ نَارٍ»، فَرَدَدْتُهَا
Dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata, “Aku mengajar seseorang al-Qur`an lalu dia memberiku hadiah sebuah busur. Lalu kuceritakan itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda, ‘Jika kamu mengambilnya, berarti kamu mengambil busur dari api neraka.’ Lantas aku mengembalikannya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 2158, II/730) dan al-Baihaqi (no. 11684) dalam as-Sunan al-Kubrâ dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, al-Irwa` (no. 1493), dan ash-Shahîhah (no. 256). Begitulah ijtihad beliau, meskipun sebenarnya hadits ini masih diperbincangkan dan dinilai dha’if oleh sebagian ahli hadits, karena ada al-Mughirah bin Ziyad al-Mushili yang dinilai cacat Ibnu Hibban dalam al-Majrûhin (III/6) dan lain-lain. Allahu a’lam.
[13] Shahih: HR. Muslim (no. 780, I/539), at-Tirmidzi (no. 2877), an-Nasa`i (no. 7961 dan 10735) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ahmad (no. 7821, 8443, 8915, dan 9042) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 783) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 957) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 2164) dalam Syu’abul Iman, Abu ‘Awanah (no. 3892 dan 3907) dalam al-Mustakhrâj, Ibnu adh-Dhurais (no. 172 dan 183) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, dan al-Faryabi (no. 36 dan 37) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[14] Shahih: HR. Muslim (no. 81, I/87), Ibnu Majah (no. 1052), Ahmad (no. 9713) dalam Musnadnya, Ibnu Khuzaimah (no. 549) dalam Shahîhnya, Ibnu Hibban (no. 2759) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 3700) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 1407) dalam Syu’abul Iman, Abu ‘Awanah (no. 1945 dan 1946) dalam al-Mustakhrâj, Ibnul Mubarak (no. 981) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, al-Lalika`i (no. 1527) dalam Syarhul Ushul, dan Abu Nu’aim (V/60) dalam Hilyatul Auliyâ` dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[15] Shahih: HR. Al-Baihaqi (no. 5996, III/353) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 606 dan 967) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 2220, 2221, dan 2777) dalam Syu’abul Iman dan (no. 279) dalam Fadhâ`ilul Auqât, al-Hakim (no. 3392) dalam al-Mustadrâk, ad-Darimi (no. 3450) dalam Sunannya, Nu’aim bin Hammad (no. 1579) dalam al-Fitan, ath-Thabarani (no. 1455) dalam al-Mu’jam al-Ausath, dan Ibnu adh-Dhurais (no. 211) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
[16] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2910, V/175), ath-Thabarani (no. 8647) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Abdurrazzaq (no. 5993) dalam Mushannafnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 29935) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 3351) dalam Sunannya, Ibnul Mubarak (no. 808) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, Abu Yusuf al-Hanbali (no. 222) dalam al-Atsâr, al-Baihaqi (no. 1830) dalam Syu’abul Iman, al-Khathib al-Baghdadi (no. 78) dalam al-Jâmi` li Akhlâqir Râwî, dan al-Ajurri (no. 11 dan 12) dalam Akhlâq Ahlil Qur`ân dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dengan lafazh-lafazh yang beragam dan sebagian mauquf.
[17] Shahih: HR. Muslim (no. 802, I/552), Ibnu Majah (no. 3782), Ahmad (no. 9152, 10016, 10446) dalam Musnadnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 30073) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 3357) dalam Sunannya, Abu ‘Awanah (no. 3777) dalam al-Mustakhrâj, al-Bukhari (no. 60) dalam al-Qirâ`ah Khalfal Imâm, al-Baihaqi (no. 2048) dalam Syu’abul Iman, dan al-Faryabi (no. 69 dan 71) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[18] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 756, I/151) dan (no. 2) dalam al-Qirâ`ah, Muslim (no. 394), at-Tirmidzi (no. 247), Abu Dawud (no. 822), an-Nasa`i (no. 910), Ibnu Majah (no. 837), Ahmad (no. 22677) dalam Musnadnya, Ibnu Khuzaimah (no. 488) dalam Shahîhnya, Ibnu Hibban (no. 1782) dalam Shahîhnya, ath-Thabarani (no. 211) dalam al-Mu’jam ash-Shaghîr, al-Baihaqi (no. 378) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 2363) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Daruquthni (no. 1225) dalam Sunannya, Abdurrazzaq (no. 2623) dalam Mushannafnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 3618) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 1278) dalam Sunannya, Abu ‘Awanah (no. 1664) dalam Musnadnya, al-Humaidi (no. 390) dalam Musnadnya, Ibnul Jarud (no. 185) dalam al-Muntaqâ, dan al-Khathib al-Baghdadi (I/544) dalam al-Faqîh wal Mutafaqqih dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu.
[19] Dha’if: HR. Ath-Thabarani (no. 490, hal. 167) dalam ad-Du’a` dan (no. 471) dalam al-Mu’jam ash-Shaghîr dan (no. 3621) dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Dinilai dha’if oleh al-Albani dalam Dha’îful Jâmi`, sementara al-Haitsami tidak bersikap dengan perkataannya dalam az-Zawâ`id (I/328), “Di dalam perawinya ada Hafsh bin Sulaiman al-Asadi yang dinilai dha’if oleh al-Bukhari, Muslim, Ibnu Ma’in, an-Nasa`i, dan Ibnul Madini, tetapi dinilai tsiqah/terpercaya oleh Ahmad dan Ibnu Hibban.” Meskipun kebanyakan menilainya dha’if, hadits ini tidak bertentangan dengan hadits shahih bahwa langit terbuka sebagaimana riwayat bacaan al-Qur`an Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘ahnu, dan terkabulkannya doa orang yang sedang berjihad, saat turun hujan, yang terzhalimi, dan saat adzan, yang semuanya ma’ruf diketahui, ini jika dipahami terbukanya langit sebagai naiknya bacaan al-Qur`an sampai kepada penduduk langit (malaikat) dan naiknya doa ke langit (terkabul). Jadi hadits ini ringan kedha’ifannya, karena dua hal: tidak menyelisihi hadits shahih dan Hafs masih diperselisihkan. Allahu’ alam.
[20] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 5027, VI/192), at-Tirmidzi (no. 2907), Abu Dawud (no. 1452), an-Nasa`i (no. 7982) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Majah (no. 211), Ahmad (no. 500) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 118) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 942) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Abi Syaibah (no. 30071) dalam Mushannafnya, Abdurrazzaq (no. 5995) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 3381) dalam Sunannya, ath-Thayalisi (no. 73) dalam Musnadnya, dan Abu ‘Awanah (no. 3766) dalam al-Mustakhrâj, al-Bazzar (no. 396, II/52) dalam Musnadnya, Ibnul Ja’ad (no. 475) dalam Musnadnya, ath-Thahawi (no. 5116) dalam Syarh Musykilil Atsâr, Ibnul Arabi (no. 378) dalam Mu’jamnya, Ibnul Muqri` (no. 185) dalam Mu’jamnya, Ibnu Baththah (no. 24) dalam al-Ibânah al-Kubrâ, al-Lalika`i (no. 556) dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahli Sunnah wal Jamâ’ah, Abu Nu’aim (IV/193) dalam Hilyatul Auliyâ`, Ibnu adh-Dhurais (no. 132) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, al-Faryabi (no. 11) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, dan al-Ajurri (no. 15) dalam Akhlâqu Ahlil Qur`ân dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘ahnu.
[21] Shahih: HR. Muslim (no. 817, I/559), Ibnu Majah (no. 218), Ahmad (no. 232) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 772) dalam Shahîhnya, ad-Darimi (no. 3408) dalam Sunannya, al-Baihaqi (no. 5125) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 2428) dalam Syu’abul Iman, Abu Ya’la (no. 211) dalam Musnadnya, al-Bazzar (no. 249, I/371) dalam Musnadnya, Abu Awanah (no. 3762) dalam al-Mustakhrâj, Ma’mar bin Rasyid (no. 20944) dalam Jâmi’nya, al-Azraqi (II/152) dalam Akhbâru Makkah, ath-Thahawi (no. 2199) dalam Syarh Musykilil Atsâr, ath-Thabarani (no. 2999) dalam Munsad asy-Syammiyyin, dan ath-Thabari (no. 1109) dalam Tahdzîbul Atsâr dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
[22] Hasan: HR. Abu Dawud (no. 4843, IV/261), al-Bukhari (no. 52 ) dalam al-Adâb al-Mufrâd, al-Baihaqi (no. 16658) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 37) dalam al-Adâb dan (no. 2431 dan 10480) dalam Syu’abul Iman, Ibnu Abi Syaibah (no. 21922 dan 30258) dalam Mushannafnya, al-Bazzar (no. 3070) dalam Musnadnya, Ibnul Mubarak (no. 388 dan 389) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, dan Ibnu Zanjawaih (no. 52) dalam al-Amwâl dari Abu Musa al-‘Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.
[23] Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 215, I/78), an-Nasa`i (no. 7977) dalam as-Sunan ash-Shughrâ, Ahmad (no. 12279 dan 13542) dalam Musnadnya, al-Hakim (no. 2046) dalam al-Mustadrâk, Abu Ya’la al-Maushuli (no. 2238) dalam Musnadnya, ad-Darimi (no. 3369) dalam Sunannya, Abu Nu’aim (III/63 dan IX/40) dalam Hilyatul Auliyâ`, al-Baihaqi (no. 2434) dalam Syu’abul Iman, Ibnu adh-Dhurais (no. 75) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, dan al-Ajurri (no. 7 dan 8) dalam Akhlâqu Ahlil Qur`ân dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
[24] Shahih: HR. Muslim (no. 2699, IV/2074), at-Tirmidzi (no. 2945 dan 3378), Abu Dawud (no. 1455), Ibnu Majah (no. 225 dan 3791), Ahmad (no. 7427, 9274, 9772, dan 11892) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 768) dalam Shahîhnya, ath-Thayalisi (no. 2508) dalam Musnadnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 29475) dalam Mushannafnya, Abu Ya’la al-Maushuli (no. 1252, 1283, 6157, 6159, dan 6160) dalam Musnadnya, Ma’mar bin Rasyid (no. 20577) dalam al-Jâmi’, Ibnul Mubarak (no. 45) dalam Musnadnya dan (no. 944) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, Ibnul Arabi (no. 2064) Mu’jamnya, ath-Thabarani (no. 1500, 3780, 7873) dalam al-Mu’jam al-Ausath dan (no. 1898, 1900, 1901, 1902, 1903, 1904, dan 1905) dalam ad-Du’â`, Abu Nu’aim (VII/204) dalam Hilyatul Auliyâ`, al-Baihaqi (no. 451) dalam al-Asmâ` wash Shifât dan (no. 527 dan 1572) dalam Syu’abul Iman, Ibnu Abdil Barr (no. 45) dalam Jâmi’ Bayânil Ilmi wa Fadhlih, dan al-Ajurri (no. 19) dalam Akhlâq Ahlil Qur`ân dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[25] Hasan: HR. Ibnu Syahin (no. 191, I/67) dalam at-Targhîb, Ibnul Muqri` (no. 498) dalam al-Mu’jam, al-Baihaqi (no. 2027) dalam Syu’abul Iman, Ibnu Adhi (II/111), dan Abu Nu’aim (VII/209) dalam Hilyatul Auliyâ` dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dinilai hasan al-Albani dalam ash-Shahîhah (no. 2342).
[26] Shahih: HR. Al-Hakim (no. 2028, I/738) dalam al-Mustadrâk, Ibnu Abi Syaibah (no. 29953) dalam al-Mushannaf, Ibnul Mubarak (no. 799) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, al-Baihaqi (no. 2352 dan 2353) dalam Syu’abul Iman dan (no. 581) dalam al-Asmâ` wash Shifât, Ibnu adh-Dhurais (no. 65) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, al-Ajurri (no. 13) dalam Akhlâqu Ahlil Qur`ân, dan al-Khathib al-Baghdadi (I/197) dalam al-Faqîh wal Mutafaqqih dari ‘‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Al-Hakim berkata, “Ini hadits shahih tetapi tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari Muslim.”
[27] Shahih: HR. Muslim (no. 673, I/465), at-Tirmidzi (no. 235), Abu Dawud (no. 582 dan 583), an-Nasa`i (no. 780), Ibnu Majah (no. 980), dan Ahmad (no. 17063) dalam al-Musnad, Ibnu Khuzaimah (no. 1507) dalam Shahîhnya, Ibnu Hibban (no. 2127, 2133, dan 2144) dalam Shahîhnya, al-Hakim (no. 886 dan 887) dalam al-Mustadrâk,  ath-Thabarani (no. 602) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 503) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 5132) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Daruquthni (no. 1085) dalam Sunannya, ath-Thayalisi (no. 652) dalam Musnadnya, Abdurrazzaq (no. 3808) dalam Mushannafnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 3451) dalam Mushannafnya, Abu ‘Awanah (no. 1363) dalam al-Mustakhrâj, al-Humaidi (no. 462) dalam Musnadnya, Ibnul Jarud (no. 308) dalam al-Muntaqâ, ath-Thahawi (no. 3954) dalam Syarh Musykilil Atsâr, ath-Thabarani (no. 4282) dalam al-Mu’jam al-Ausath, dan Ibnul Mundzir (no. 1930) dalam al-Ausath fis Sunan wal Ijmâ` dari Abu Mas’ud al-Anshari dan ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhuma.
[28] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 5029, VI/192), Muslim (no. 1425), at-Tirmidzi (no. 1114), Abu Dawud (no. 2111), an-Nasa`i (no. 3200, 3280, 3339, dan 3359), Ibnu Majah (no. 1889), Ahmad (no. 22798, 22831, dan 22850) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 4093) dalam Shahîhnya, ath-Thabarani (no. 5750, 5781, 5907, 5915, 5927, 5934, 5938, 5951, 5961, 5980, dan 5993) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 2415 dan 2548) dalam as-Sunan ash-Saghîr dan (no. 13363 dan 14398) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Daruquthni (no. 3611 dan 3614) dalam Sunannya, Abdurrazzaq (no. 12274) dalam Mushannafnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 102) dalam Musnadnya dan (no. 36166) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 2247) dalam Sunannya, Abu ‘Awanah (no. 4160) dalam al-Mustakhrâj, Abu Ya’la (no. 7522) dalam Musnadnya, al-Humaidi (no. 957) dalam Musnadnya, dan ath-Thahawi (no. 2475) dalam Syarh Musykilil Atsâr dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu. Potongan dari hadits panjang sekali, dan hadits ini sangat perlu dihafal oleh para pemuda.
[29] Shahih: HR. Al-Hakim (no. 2097, I/760) dalam al-Mustadrâk, Ibnu Majah (no. 1340), Ahmad (no. 23947 dan 23956) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 754) dalam Shahîhnya, ath-Thabarani (no. 772) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 21051 dan 21052) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 1957) dalam Syu’abul Iman, Ibnu Baththah (no. 92) dalam al-Ibânah al-Kubrâ, dan al-Ajurri (no. 80) dalam Akhlâqu Ahlil Qur`ân dari Fudhalah bin ‘Ubaid al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Dinilai dha’if oleh al-Albani dalam adh-Dha’îfah (no. 2951) tetapi oleh al-Haitsami menilainya hasan dalam az-Zawâ`id. Al-Hakim berkata, “Ini hadits shahih sesuai syarat al-Bukhari Muslim tetapi keduanya tidak mengeluarkan.”
Dalam riwayat lain:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا أَذِنَ اللّٰهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِيِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالقُرْآنِ»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak memberi izin kepada apa pun seperti Dia memberi izin kepada Nabi untuk melagukan al-Qur`an.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5024 VI/191, 5023, 7482, dan 7544), Muslim (no. 792 dan 793), Abu Dawud (no. 1473), an-Nasa`i (no. 1017 dan 1018) dalam as-Sunan ash-Shughrâ dan (no. 1091, 1092, 7994, 7998, dan 7999) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ahmad (no. 7670, 7832, dan 9805) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 751 dan 752), al-Baihaqi (no. 980, 981, dan 3366) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 2428, 4709, 21040, dan 21041) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 577) dalam al-Asmâ` wash Shifât dan (no. 1956 dan 2370) dalam Syu’abul Iman, Abdurrazzaq (no. 4166 dan 4167) dalam Mushannafnya,  ad-Darimi (no. 1529, 1532, 3533, 3534, dan 3540) dalam Sunannya, Abu ‘Awanah (no. 3866, 3867, 3868, 3870, dan 3912) dalam al-Mustakhrâj, Abu Ya’la (no. 5959) dalam Musnadnya, al-Humaidi (no. 979) dalam Musnadnya, ath-Thahawi (no. 1302) Syarh Musykilil Atsâr, al-Fakihi (no. 262) dalam al-Fawâ`id, ath-Thabarani (no. 2679 dan 6653) dalam al-Mu’jam al-Ausath dan (no. 1732) dalam al-Mu’jam asy-Syammiyyin, dan Ibnu Baththah (no. 93) dalam al-Ibânah al-Kubrâ dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[30] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 5427 VII/77, 5020, 5059, dan 7560), Muslim (no. 797), at-Tirmidzi (no. 2865), an-Nasa`i (no. 5038), Ibnu Majah (no. 214), Ahmad (no. 19549, 19614, dan 19664) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 121, 770, 771) dalam Shahîhnya, ath-Thayalisi (no. 496) dalam Musnadnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 30172) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 3406) dalam Sunannya, Abu ‘Awanah (no. 3796) dalam al-Mustakhrâj, al-Bazzar (no. 2985 dan 3028) dalam Musnadnya, Abu Ya’la al-Maushuli (no. 7237) dalam Musnadnya, an-Nasa`i (no. 6699, 8027, dan 8028) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ar-Ruya`i (no. 438 dan 566) dalam Musnadnya, Abu Nu’aim (IX/59) dalam Hilyatul Auliyâ`, dan al-Baihaqi (no. 1821) dalam Syu’abul Iman dan (no. 579) dalam al-Asmâ` wash Shifât dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.
[31] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Muslim (no. 815, I/558), al-Bukhari (no. 5025 dan 7529), at-Tirmidzi (no. 1936), Ibnu Majah (no. 4209), an-Nasa`i (no. 8018) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ahmad (no. 4550) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 125 dan 126) dalam Shahîhnya, ath-Thabarani (no. 13162 dan 13351) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 3227) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 7826) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 1819) dalam Syu’abul Iman, Abdurrazzaq (no. 5974) dalam Mushannafnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 30281) dalam Mushannafnya, Abu ‘Awanah (no. 3854) dalam al-Mustakhrâj, Abu Ya’la (no. 5417) dalam Musnadnya, al-Humaidi (no. 629) dalam Musnadnya, Ibnul Mubarak (no. 58 ) dalam Musnadnya dan (no. 1203) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, ar-Ruya`i (II/397) dalam Musnadnya, ath-Thahawi (no. 459) dalam Syarh Musykilil Atsâr, ath-Thabarani (no. 2688) dalam al-Mu’jam ash-Shaghîr, Abu Nu’aim (II/ 195) dalam Hilyatul Auliyâ`, Ibnu Abdil Barr (no. 62, I/78) dalam al-Jâmi’, dan al-Faryabi (no. 97) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Di sana juga ada hadits yang setema dengan ini dari al-Bukhari yang lebih lengkap:
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللّٰهُ القُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللّٰهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh iri kecuali kepada dua orang: seseorang yang diajari Allah al-Qur`an lalu dia membacanya di malam dan siang hari, lalu didengar oleh tetangganya lalu berkata, ‘Seandainya aku diberi seperti yang diberikan kepada fulan, niscaya aku akan melakukan seperti apa yang dilakukannya.’ Dan seseorang yang diberi Allah harta lalu dia menghabiskannya dalam kebaikan, lalu lelaki itu (tetangganya) berkata, ‘Seandainya aku diberi seperti yang diberikan kepada fulan, niscaya aku akan melakukan seperti apa yang dilakukannya.’”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5026, 7232, dan 7528), an-Nasa`i (no. 5810 dan 8019) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ahmad (no. 10214) dalam Musnadnya, al-Baihaqi (no. 7827) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Abu ‘Awanah (no. 3861) dalam al-Mustakhrâj, ath-Thahawi (no. 462) dalam Syarh Musykilil Atsâr, al-Lalika`i (no. 578) Syarhul Ushûl, Abu Nu’aim (VIII/46) dalam Hilyatul Auliyâ`, dan al-Faryabi (no. 101 dan 102) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[32] Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2926, V/184), ad-Darimi (no. 286 dan 339) dalam ar-Radd alal Jahmiyyah, ath-Thabarani (no. 1851) dalam ad-Du’a`, al-Baihaqi (no. 507) dalam al-Asmâ` wash Shifât, dan ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (no. 128) dalam as-Sunnah dari Abi Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bârî (IX/66), “Para perawinya tsiqah (terpercaya) kecuali ‘Athiyyah al-‘Aufi, dia dha’if.”
Imam asy-Syaukani (w. 1250 H) mengatakan dalam al-Fawâ`it al-Majmû’ah fîl Ahâdîts al-Maudû’ah (I/296) bahwa ash-Shaghani menilainya palsu.
Dinilai dha’if oleh al-Albani dalam al-Jâmi’ (VI/117), al-Misykâh (no. 2136), dan al-Ahâdîts adh-Dha’îfah (no. 1335).
Syaikh ‘Abdullah ad-Duwais berkata dalam Tanbîhul Qâri’ li Taqwiyyati Mâ Dha’afahu al-Albanî (hal. 99), “Penilaian ini masih perlu ditinjau, karena hadits ini tidak memiliki cacat kecuali ‘Athiyyah al-‘Aufi seperti yang diisyaratkan al-Albani sendiri dalam as-Silsilah adh-Dha’îfah (III/508) dan at-Tirmidzi sendiri menilainya hasan sebagaimana menilai haditsnya hasan. Kemudian al-Albani menyebutkan dalam as-Silsilah dua hadits penguat yang salah satunya dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang di dalamnya ada Shafwan bin Abi ash-Shahba` yang masih diperselisihkan, dan yang kedua dari Khudzaifah yang di dalamnya ada Abu Muslim Abdurrahman bin Waqid yang dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban. Al-Hafizh mengatakan bahwa dia shaduq tetapi hafalannya goncang. Sementara perawi lainnya adalah perawi al-Bukhari Muslim maka sanadnya hasan menurutku (al-Albani), seandainya tidak ada kekhawatiran akan kegoncangan hafalan Abdurrahman bin Waqid.  Selesai penuturan al-Albani.
Aku (ad-Duwais) katakan, maka jika semua hadits-hadits ini dikumpulkan akan menunjukkan bahwa hafalannya benar, dan redaksi terakhir memiliki penguat seperti yang dikatakan ‘Abdullah bin Imam Ahmad di dalam as-Sunnah (hal. 82), ‘Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, menceritakan kepada kami Abu Bakar Ibnu Iyyas, dari A’masy dari al-Hasan dia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keutamaan al-Qur`an atas semua kalam seperti keutamaan Allah atas hamba-hamba-Nya,’ kemudian dia berkata (hal. 79), ‘Yusuf bin Musa al-Qaththan, menceritakan kepada kami ‘Amr bin Hamdan dari Sa’id bin Abi ‘Arubah dari Qatadah dari Syahr bin Haysyab dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya keutamaan al-Qur`an...,’ --Syaikh ad-Duwais menyebutkan beberapa jalur dan sanad lain lalu beliau berkata--, ‘Riwayat-riwayat ini saling menguatkan sehingga hadits ini menjadi hasan, jika bukan shahih, terkhusus redaksi hadits yang akhir.’” Allahu a’lam.
[33] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 1453, II/70), Ahmad (no. 15645) dalam Musnadnya, al-Hakim (no. 2085) dalam al-Mustadrâk, ath-Thabarani (no. 445) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Abu Ya’la al-Maushuli (no. 1493) dalam Musnadnya, al-Baihaqi (no. 1797) dalam Syu’abul Iman, dan al-Ajurri (no. 22) dalam Akhlâqu Ahlil Qur`ân dari Sahl bin Mu’adz al-Juhanni dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu. Al-Hakim berkata, “Hadits shahih sanadnya tetapi tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari Muslim.”
[34] Shahih: HR. Muslim (no. 804, I/553), Ahmad (no. 22146, 22157, 22193, dan 22213) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 116) dalam Shahîhnya, al-Hakim (no. 2071 dan 3135) dalam al-Mustadrâk, ath-Thabarani (no. 7542, 7544, dan 8118) dalam al-Mu’jam al-Kabîr dan (no. 468) dalam al-Mu’jam al-Ausath dan (no. 2862) dalam Musnad asy-Syammiyyin, al-Baihaqi (no. 956) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 4056) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 975) dalam al-Asmâ` wash Shifât dan (no. 1827 dan 2156) dalam Syu’abul Iman, Abdurrazzaq (no. 5991) dalam Mushannafnya, Abu ‘Awanah (no. 3933) dalam al-Mustakhrâj, ar-Ruba`i (no. 1254 dan 1275) dalam Musnadnya, Ibnu adh-Dhurais (no. 98) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, al-Faryabi (no. 26) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, dan Ibrahim al-Harbi (I/222) dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.
[35] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Muslim (no. 798, I/549), al-Bukhari (no. 4937), at-Tirmidzi (no. 2904), Abu Dawud (no. 1454), Ibnu Majah (no. 3779), Ahmad (no. 24211, 24634, 24667, 24788, 25365, 25591, 26028, dan 26296) dalam Musnadnya, al-Hakim (no. 767) dalam al-Mustadrâk, al-Baihaqi (no. 946) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 4054 dan 4055) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 1822) dalam Syu’abul Iman, ath-Thayalisi (no. 1602) dalam Musnadnya, Abdurrazzaq (no. 4194 dan 6016) dalam Mushannafnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 30036) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 3411) dalam Sunannya, Abu ‘Awanah (no. 3800 dan 3805) dalam al-Mustakhrâj, Ibnul Ja’ad (no. 956) dalam Musnadnya, Ishaq bin Rahawaih (no. 1313 dan 1314) dalam Musnadnya, an-Nasa`i (no. 7991, 7992, dan 7993, dan 11582) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ath-Thabarani (no. 2194) dalam al-Mu’jam al-Ausath, Abu Nu’aim (II/260) dalam Hilyatul Auliyâ`, Ibnu adh-Dhurais (no. 29, 30, 33, dan 35) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, dan al-Faryabi (no. 3, 4, dan 5) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Sengaja penulis mencantumkan redaksi Imam Muslim karena ini yang masyhur beredar dipopulerkan oleh Imam an-Nawawi, tetapi dalam Arbain Muttafaqun ‘Alaih penyusun mencantumkan redaksi Imam al-Bukhari:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ، وَمَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ»
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang membaca al-Qur`an sedang dia hafal, bersama malaikat yang mulia lagi taat. Perumpamaan orang yang membacanya dengan terbata-bata dan berat membacanya, maka dia mendapat dua pahala.”
[36] Shahih: HR. Ahmad (no. 6626, XI/199) dalam Musnadnya, al-Hakim (no. 2036) dalam al-Mustadrâk, ath-Thabarani (no. 88) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Ibnul Mubarak (no. 96) dalam Musnadnya dan (II/114) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, dan Abu Nu’aim (VIII/161) dalam Hilyatul Auliyâ` dari ‘‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Al-Hakim berkata, “Ini hadits shahih sesuai syarat Muslim tetapi tidak dikeluarkannya.”
[37] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2915, V/178), al-Hakim (no. 2029) dalam al-Mustadrâk, Ibnu Abi Syaibah (no. 30047) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 3354) dalam Sunannya, Ibnul ‘Arabi (no. 399) dalam Mu’jamnya, Abu Nu’aim (VII/206) dalam Hilyatul Auliyâ`, al-Baihaqi (no. 1841 dan 1842) dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu adh-Dhurais (no. 101 dan 109) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[38] Hasan: HR. Ahmad (no. 17365, XXVIII/595) dalam Musnadnya, ad-Darimi (no. 3353) dalam Sunannya, Abu Ya’la (no. 1745) dalam Musnadnya, ar-Ruya`i (no. 216) dalam Musnadnya, ath-Thahawi (no. 906) dalam Syarh Musykilul Atsâr, Ibnu Syahin (no. 197) dalam at-Targhîb, al-Baihaqi (no. 582) dalam al-Asmâ` dan (no. 2443) dalam Syu’abul Iman, dan al-Faryabi (no. 1) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu.
Dinilai dha’if oleh al-Haitsami, Husain Salim Asad, dan Syu’aib al-Arna`uth tetapi al-Albani menilainya hasan di ash-Shahîhah (no. 3562) dan mengatakan untuk mengabaikan penilaian mereka atas Ibnu Lahi’ah, karena ada jalur lain yang menguatkan. Allah alam. Al-Albani berkata, “Maksudnya, yakni hamilul Qur`an yang menghafalnya murni karena Allah ta’ala, tidak mengharap balasan dan pujian manusia, hanya karena Allah. Jika tidak, maka seperti yang dikatakan Abu Abdirahman ‘Abdullah bin Yazid al-Muqri` di Musnad Abu Ya’lâ, ‘Siapa yang menghafal al-Qur`an dan dimasukkan neraka, sungguh dia lebih lebih buruk daripada keledai.’”
[39] Hasan Shahih: HR. Abu Dawud (no. 1464, II/73), at-Tirmidzi (no. 2914), an-Nasa`i (no. 8002) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ahmad (no. 6799) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 766) dalam Shahîhnya, al-Hakim (no. 2030) dalam al-Mustadrâk, al-Baihaqi (no. 988) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 2425) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan (no. 1844 dan 1970) dalam Syu’abul Iman, Ibnu Abi Syaibah (no. 30057) dalam Mushannafnya, Ibnu adh-Dhurais (no. 112, 113, dan 114) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, al-Faryabi (no. 60 dan 61) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, dan al-Ajurri (no. 9 dan 10) dalam Akhlâqu Ahlil Qur`ân dari ‘‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma.
[40] Shahih: HR. Ad-Darimi (no. 3517, IV/2180) dalam Sunannya, al-Baihaqi (no. 1907) dalam Syu’abul Imân, Ibnu adh-Dharais (no. 84) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân, dan al-Faryabi (no. 83) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân. Dinilai shahih oleh al-Baihaqi dan Husain Salim Asad.
b. HR. Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam (hal. 108) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân dan Ibnu adh-Dhurais (no. 76) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân. Diriwayatkan bahwa Imam al-Bukhari juga mengatakan hal yang sama. Allahu a’lam.
c. Muttafaqun ‘Alaih: HR. Muslim (no. 795, I/547), al-Bukhari (no. 4839), at-Tirmidzi (no. 2885), an-Nasa`i (no. 11439) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ahmad (no. 18591) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 769) dalam Shahîhnya, ath-Thayalisi (no. 749) dalam Musnadnya, Abu ‘Awanah (no. 3938) dalam Musnadnya, Abu Ya’la (no. 1722) dalam Musnadnya,  dan Abu Nu’aim (IV/342) dalam al-Hilyah dari al-Barra` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu.
[41] Shahih: HR. Muslim (no. 746, I/512), Abu Dawud (no. 1342), Ahmad (no. 24269) dalam Musnadnya, Ibnu Khuzaimah (no. 1127) dalam Shahîhnya, Ibnu Hibban (no. 2551) dalam Shahîhnya, dan al-Baihaqi (no. 1359) dalam Syu’abul Iman.
b. Shahih: HR. Ahmad (no. 24601, IXL/148) dalam Musnadnya, ath-Thabarani (no. 72) dalam al-Mu’jam al-Ausath, dan al-Bukhari (I/87) dalam Khalqu Af’âlil Ibâd.
[42] Shahih: HR. Al-Hakim (no. 3952, II/576) dalam al-Mustadrâk dan al-Baihaqi (no. 2450) dalam Syu’abul Imân. Al-Hakim berkata, “Ini hadits shahih sanadnya tetapi al-Bukhari Muslim tidak mengeluarkannya,” dan disetujui adz-Dzahabi.[]

CATATAN

.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................[]


[1] Yang dimaksud “tujuh yang pertama” adalah tujuh surat-surat panjang di awal al-Qur`an, yaitu surat al-Baqarah 286 ayat, Ali Imran 200 ayat, an-Nisa` 176 ayat, al-Ma`idah 120 ayat, al-An’am 165 ayat, al-A’raf 206 ayat, at-Taubah 129 ayat. Adapun pendapat Sa’id bin Jubair, surat Yunus sebagai ganti at-Taubah.
[2] Dihafal, dibaca, dipelajari, ditadaburi, dan diamalkan.
[3] Maksudnya tidak dibacakan al-Qur`an di dalamnya seperti kuburan, karena kuburan bukan tempat membaca al-Qur`an.
[4] Muhammad Fuad Abdul Baqi berkata, “Yang paling banyak hafalannya dan paling baik bacaan tajwidnya.” [Ta’lîq Sunan Ibnu Mâjah (I/313)]
[5] Iri disini bermakna ghibthah, yakni berharap memiliki apa yang dimiliki orang lain tanpa berharap yang dimiliki itu hilang dari pemiliknya, ini berbeda dengan iri yang dilarang di mana orang yang iri berharap nikmat itu hilang dari pemiliknya.
[6] Maksudnya tingkatanmu di surga sebanyak ayat yang kamu baca saat di dunia, dan kamu terus naik hingga berhenti di akhir ayat.
[7] QS. At-Tîn [95]: 5-6.

Related

TERJEMAH HADITS DAN MUSTHOLAH 2734910853008557382

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda yang sopan dan rapi.

emo-but-icon

Follow Us

Pengikut

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item