[PDF] Al-Quran Sumber Segala Ilmu - Edisi 3 - Nor Kandir
MUQADDIMAH
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا
هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَبَعْدُ:
Nikmat Alloh ﷻ
begitu banyak dan di antara nikmat yang banyak itu ada nikmat
yang paling agung yang karenanya seluruh manusia pantas bergembira. Nikmat
apakah itu? Al-Qur`an. Alloh ﷻ berfirman:
﴿قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ﴾
“Katakanlah, ‘Karena karunia Alloh dan rohmat-Nya
hendaklah mereka bergembira, karena ia jauh lebih baik dari apa (harta) yang mereka
kumpulkan.’”[1]
Yang dimaksud karunia dan rohmat
di sini adalah al-Qur`an karena ayat ini Alloh singgung setelah
penyebutan al-Qur`an sebagai mau’izhah (pelajaran), penyembuh, petunjuk, dan rohmat bagi
orang-orang beriman.
Al-‘Allamah as-Sa’di (1376 H) menjelaskan,
“Yaitu al-Qur`an yang merupakan nikmat dan anugrah yang paling agung serta
sebesar-besar karunia Alloh kepada para hamba-Nya.”[2]
Al-Imam al-Qurthubi (671 H) menjelaskan,
“Abu Sa’id al-Khudri dan Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhum menafsirkan
karunia Alloh adalah al-Qur`an sementara rohmat-Nya adalah dijadikanNya kalian
ahlinya.”[3]
Harta dunia memang nikmat besar yang
diberikan Alloh kepada para hamba, tetapi nikmat al-Qur`an jauh lebih baik,
agung, dan mulia. ‘Umar rodhiyalloohu ‘anhu, beliau tidak menyetujui
dimasukkannya harta dunia termasuk karunia dan rohmat-Nya dalam ayat di
atas.
Diriwayatkan dari Aifa’ bin ‘Abd al-Kula’i
bahwa dia berkata, “Tatkala hasil bumi Irak didatangkan ke ‘Umar rodhiyalloohu
‘anhu, maka beliau dan seorang pembantunya datang dan mulai menghitung
unta. Ternyata jumlahnya sangat banyak. ‘Umar pun berkata, ‘Alhamdulillah.’
Pembantunya berkata, ‘Demi Alloh, ini adalah karunia Alloh dan rohmat-Nya.’
‘Umar menimpali, ‘Kamu keliru, bukan itu maksudnya. Dialah (al-Qur`an) yang Alloh
maksud dalam firman-Nya, ‘Katakanlah, ‘Karena karunia Alloh dan rohmat-Nya
hendaklah mereka bergembira, karena ia jauh lebih baik dari apa (dunia dan
harta) yang mereka kumpulkan.’’ Adapun ini adalah maksud dari ‘Apa yang
mereka kumpulkan.’”[4]
Untuk itulah Alloh mensifati dirinya
ar-Rahman sebelum menyebutkan al-Qur`an, yang mengisyaratkan Alloh Maharohmat
kepada manusia dengan diberikanNya al-Qur`an kepada mereka, sebagaimana
firman-Nya:
﴿الرَّحْمَنُ (١) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (٢) خَلَقَ الْإِنْسَانَ﴾
“Ar-Rahman. Dia mengajari al-Qur`an. Dia
menciptakan manusia.”[5]
Yang menarik di sini, Alloh ﷻ mendahulukan
penyebutan al-Qur`an sebelum manusia, padahal semestinya kebalikannya karena
manusia yang membaca al-Qur`an. Penyebutan objek (al-Qur`an) sebelum subjek
(manusia) merupakan susunan yang tidak lazim. Tetapi dengan ini, Alloh
mengisyaratkan bahwa al-Qur`an merupakan pedoman manusia dan sia-sialah
penciptaan mereka jika berpaling dari al-Qur`an.
Dengan keagungan al-Qur`an dan kebutuhan
manusia terhadapnya, ternyata al-Qur`an merupakan sumber segala ilmu, untuk
melengkapi sumber segala kebaikan dan kebahagiaan. Untuk memudahkan memahami
hal ini, terlebih dahulu kami menyertakan pembahasan-pembahasan pengantar.
Semuanya kami cantumkan di buku ini secara sistematis.
Metode Penyusunan Buku
Kami menempuh metode kepustakaan. Kami
dominan merujuk kepada referensi dari khazanah kitab para ‘ulama zaman dahulu
dari kalangan salafush shalih.
Penukilan yang kami lakukan dengan
menyertakan secara berurutan nomor, juz, dan/atau halaman. Penukilan pertama
dalam footnote merupakan teks yang dinukil, dan biasanya terjadi sedikit
perbedaan teks dengan referensi setelahnya.
Kami mentakhrij (menukil dari kitab
aslinya) semua hadits yang disebutkan di buku ini dengan mencantumkan tashih
(pengabsahan derajat riwayat) dari para pakarnya seperti al-Hakim, adz-Dzahabi,
Ibnu Hajar, al-Albani, dan al-Arna`uth. Hadits dari al-Bukhari dan Muslim tidak kami tashih
karena semua kaum muslimin telah menyepakati keshahihannya. Adapun jika dalam
footnote terdapat kata lihat, maksudnya kami menukil bukan dari kitab
aslinya atau mengutip secara makna.
Kami berusaha mensyarah dan mengambil dari
kitab yang terpercaya dan shahih seperti Tafsir Ibnu Katsîr dalam tafsir.
Tafsir ini diakui paling baik di antara kitab tafsir lainnya karena sistematika
penyusunannya yang baik di mana penulisnya menafsirkan ayat dengan ayat, baru
hadits, baru pendapat ‘ulama, dan jika tidak ditemukan beliau menafsirkannya
lewat bahasa ‘Arob. Al-Hafizh Ibnu Katsir juga menyeleksi setiap riwayat
isra`iliyat untuk dicantumkan di kitabnya, itu pun sebagai penguat saja. Dalam
biografi, kami mengambil dari kitab Siyar A’lâmin Nubalâ` karya Imam
adz-Dzahabi yang dikenal pakar hadits sehingga beliau berusaha memilah riwayat-riwayat
dari riwayat saqim (sakit/cacat).
Bisa dikata bahwa buku ini bukan buah pikir
kami tetapi nukilan-nukilan yang diurutkan dari kitab para ‘ulama terdahulu.
Alloh-lah sebaik-baik yang diserahi urusan.[]
Surabaya, 29 Agustus 2015
Nor Kandir
BAB I: MU’JIZAT TERAGUNG SEPANJANG SEJARAH
Mu’jizat secara etimologi artinya sesuatu
yang melemahkan. Adapun secara terminologi, didefinisikan oleh ‘Ali al-Jurjani (816
H):
المُعْجِزَةُ: أَمْرٌ خَارِجٌ لِلْعَادَةِ، دَاعٍ إِلَى الْخَيْرِ
وَالسَّعَادَةِ، مَقْرُونٌ بِدَعْوَى النُّبُوَّةِ، قَصَدَ بِهِ إِظْهَارُ صِدْقٍ
مَنِ ادَّعَى أَنَّهُ رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ
“Mu’jizat adalah perkara yang keluar dari
kebiasaan yang mengajak kepada kebaikan dan kebahagiaan yang beriringan dengan
dakwah keNabian yang tujuannya untuk menampakkan kebenaran orang yang mengaku
sebagai utusan Alloh.”[6]
Tiga hal penting yang dimiliki mu’jizat
adalah kejadian itu tidak lazim dan keluar dari kebiasaan, bertujuan untuk
melemahkan kebatilan dan menampakkan kebenaran, dan hanya dimiliki para Rasul
atas seizin Alloh ﷻ.
Al-Fairuz Abadi (817 H) berkata, “Mu’jizat Nabi
adalah segala sesuatu yang melemahkan musuh saat diperlukan, dan huruf ha
(ة) berfungsi untuk mubalaghah
(kedahsyatan).”[7]
Dalam mengarungi dakwah, para Nabi dan rasul
‘alahimussalam diberi mu’jizat agar umat mereka percaya akan kerasulan
mereka sekaligus untuk melemahkan tantangan mereka. Mu’jizat ini datang sesuai
dengan jenis tantangan. Misalkan mu’jizat Nabi Musa ‘alaihissalam berupa
tongkat yang bisa berubah menjadi ular untuk menampakkan keunggulan Musa dan
kaumnya, dan mengalahkan Fir’aun dan para penyihirnya. Pada waktu itu sihir
menjadi trend dan dibanggakan oleh manusia. Mereka kagum dan silau
dengan ulah para penyihir yang pawai memainkan tali menjadi ular dan keahlian
sihir-sihir lainnya. Kemudian Musa datang dengan sesuatu yang lebih hebat dari
itu. Sisi keunggulannya, ia bukan sulap bukan sihir, tetapi nyata bahwa tongkat
menjadi ular.
Pada zaman Nabi ‘Isa ‘alahissalam ilmu
kedokteran berkembang pesat. Kemudian Alloh mendatangkan untuk ‘Isa yang lebih
hebat dari apa yang mereka banggakan. ‘Isa ‘alahissalam diberi mu’jizat
bisa mengobati penyakit kusta dan sopak hanya dengan diusap, membuat burung
dari tanah liat lalu ditiup ruh lalu hidup hingga bisa terbang, bahkan
menghidupkan orang yang telah mati dengan seizin Alloh. Ini jauh lebih dahsyat
dari semua kemajuan kedokteran mereka.
Nabi ﷺ pun tak ketinggalan dari mu’jizat-mu’jizat yang mengagumkan. Di
antaranya beliau membelah bulan dengan isyarat telunjuk tangan, memancarkan air
dari jari-jemari, mendengar salam batu dan rintihan pohon kurma, melakukan
perjalanan ke Baitul Maqdis lalu ke langit Sidratul Muntaha lalu bertemu Alloh
kurang dari semalam, dan lain-lain. Semua mu’jizat beliau lebih mengagumkan
dari semua mu’jizat para Nabi dan rasul ‘alahimussalam, sebagaimana
beliau paling utama dari seluruh Nabi dan rasul ‘alahimussalam.
Diriwayatkan bahwa Imam asy-Syafi’i
menyampaikan beberapa keutamaan Nabi ﷺ di suatu majlis ta’lim. Imam asy-Syafi’i berkata, “Alloh
menjadikan pemberian terbaik hanya untuk Nabi ﷺ.”
Seseorang bertanya kepadanya, “Bagaimana
tanggapan Anda bahwa Alloh telah memberikan ‘Isa ‘alahissalam kemampuan
menghidupkan orang mati?”
Imam asy-Syafi’i menjawab, “Batang kurma
yang menangis itu jauh lebih hebat. Sebab menghidupkan kayu lebih mengherankan
daripada menghidupkan orang mati.”
Ada yang bertanya lagi, “Musa pernah
membelah lautan, bagaimana dengan Nabi ﷺ?”
Beliau menjawab, “Membelah bulan jauh lebih
menakjubkan, karena bulan benda langit.”
Lanjut beliau, “Jika ada yang bertanya
tentang memancarnya air dari batu, kita menyanggahnya dengan memancarnya air
dari jari-jari Nabi ﷺ.
Yang seperti itu jauh lebih menakjubkan karena keluarnya air dari batu adalah
hal yang biasa terjadi. Adapun keluarnya air dari daging dan darah, itu baru
kejadian yang mengherankan. Apabila ada yang bertanya kepada kita tentang
ketundukan angin bagi Nabi Sulaiman, kita menyanggahnya dengan peristiwa Mi’raj
Nabi ﷺ.”[8]
Bersamaan dengan hebatnya mu’jizat-mu’jizat
Nabi ﷺ ini,
beliau masih memiliki satu mu’jizat lagi yang paling hebat dan mengagumkan yang
melebihi kehebatan dan keagungan seluruh mu’jizat, yaitu al-Qur`an al-Karim.
Zaman Nabi ﷺ adalah zaman di mana sastra mengalami puncaknya. Bangsa ‘Arob
berbondong-bondong mempelajari dan mengkaji sastra. Bagi mereka kemuliaan
seseorang diukur dari keindahan sastra dan syairnya. Karya-karya yang
dinobatkan sebagai sastra yang paling indah digantung di dinding-dinding Ka’bah.
Mereka juga memiliki pertemuan tahunan untuk saling berbangga-bangga dengan
karya sastranya di Pasar Ukadz. Pasar pada waktu itu tidak sekedar dijadikan tempat transaksi
jual-beli, tetapi tempat ajang adu potensi, keahlian, dan sya’ir. Para penyair
berdatangan dari segala penjuru negeri pada musim haji dalam festival tahunan
ini. Kabilah Quroisy yang merupakan penduduk asli Makkah terkena “cipratan”
para penyair, sehingga jadilah mereka kabilah yang sangat fasih bahasa Arobnya
dan indah dalam bersyair. Penyair ‘Arob jahiliyyah sebelum kedatangan Islam
yang terkenal ada tujuh, yaitu Imru al-Qais (80 SH), Zuhair bin Abi Salma (13
SH), Thorofah bin ‘Abdun (60 SH),
Abu Umamah Nabighoh, Antaroh al-Absyi (22 SH), ‘Amr bin Kultsum (39 SH), dan Harits bin Hilizah
(54 SH). Merekalah yang dinobatkan sebagai guru para penyair ‘Arob dan sya’ir-sya’ir
mereka digantungkan di dinding Ka’bah. Karena digantung inilah, sya’ir-sya’ir ini
disebut mu’allaqat (yang digantung). Tujuh penyair ini memiliki
kefasihan bahasa luar biasa dan kosa-kata ‘Arob melimpah yang tidak diketahui
kebanyakan orang ‘Arob. Benar-benar masa tersebut merupakan masa gemilang sya’ir
dan kefasihan bahasa ‘Arob.
Kemudian, Alloh mendatangkan al-Qur`an
untuk memutus kesombongan mereka. Mereka pun tunduk tanpa bisa melawannya,
bahkan untuk sekedar menuduh bahwa ia buatan Muhammad pun, mereka tak mampu, karena Alloh
menjadikan Nabi yang satu ini ummi (tidak bisa baca-tulis). Jadi
mustahil al-Qur`an buatan Muhammad ﷺ. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ
بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ﴾
“Dan kamu tidak pernah membaca kitab apapun
sebelumnya dan kamu tidak pernah menulis dengan tangan kananmu, yang akan menjadikan ragu orang-orang yang menghendaki kebathilan.”[9]
Dalam ayat ini, Alloh ﷻ menafikan 2 hal dalam
diri Rosululloh ﷺ,
yaitu menafikan bahwa Nabi ﷺ
pernah membaca/dibacakan kitab-kitab terdahulu sehingga mereka menuduh
al-Qur`an hasil adopsi/jiplakan kitab terdahulu. Kedua, Alloh ﷻ menafikan bahwa Nabi ﷺ
mampu menulis sehingga menuduh al-Qur`an hasil karya tulis Muhammad ﷺ.
Kesimpulannya, Alloh menafikan Nabi ﷺ mampu membaca dan menulis. Untuk itulah Nabi ﷺ
dijuluki Alloh dalam surat al-An’âm sebagai Nabi Ummi.
Muhammad ‘Ali ash-Shabuni menjelaskan,
“Maksudnya, hai Muhammad, kamu tidak mengenal menulis dan membaca sebelum
turunnya al-Qur`an karena kamu seorang ummi. Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu
‘anhuma berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ أُمِّيّاً لَا يَقْرَأُ شَيْئاً وَلَا يَكْتُبُ
‘Rosululloh ﷺ
adalah seorang ummi yang tidak bisa membaca sedikitpun dan tidak bisa
menulis.’
Seandainya kamu bisa membaca dan menulis
tentulah orang-orang kafir ragu tentang al-Qur`an dan menuduh kalau al-Qur`an
diadopsi dari kitab-kitab terdahulu kemudian diklaim dari Alloh. Ayat-ayat
al-Qur`an adalah hujjah yang menunjukkan bahwa al-Qur`an dari sisi Alloh,
karena Muhammad adalah Nabi ummi sementara yang didatangkan kepada
mereka adalah mu’jizat yang mengandung kabar umat-umat terdahulu, hal-hal
ghaib, dan inilah sebesar-besar bukti akan kebenaran Muhammad ﷺ.”[10]
Imam adh-Dhahhak (102 H) berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَقْرَأُ وَلَا يَكْتُبُ، وَكَذَلِكَ جُعِلَ
نَعْتُهُ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ أَنَّهُ أُمِّيٌّ لَا يَقْرَأُ وَلَا يَكْتُبُ
“Nabi ﷺ
tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Demikian pula, Alloh mensifati
beliau di Taurat dan Injil sebagai ummi yang tidak bisa membaca dan
menulis.”[11]
Setelah kalah telak, orang-orang kafir
menuduh kembali dengan tuduhan lain bahwa Nabi ﷺ tukang sya’ir sehingga mampu membuat al-Qur`an yang bersajak. Alloh
ﷻ
pun membantah mereka dengan firman-Nya:
﴿وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ
إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ﴾
“Kami tidak mengajarinya sya’ir dan tidak pula
hal itu layak baginya. Tidaklah ia (al-Qur`an) melainkan kemuliaan dan bacaan
yang jelas.”[12]
Mereka kalah telak dalam tuduhan, karena
memang Nabi ﷺ
tidak bisa bersyair, bahkan mereka sadar bahwa sya’ir itu tidak biasa dilakukan oleh orang-orang
terhormat, mulia, menjaga lisan, dan penyantun. Akhlak Muhammad ﷺ
yang mulia bukanlah hal yang rahasia di kalangan mereka. Oleh karena itu, tiada
keraguan lagi bahwa al-Qur`an bukan buatan Muhammad ﷺ, karena tingginya sastra al-Qur`an tidak mungkin ada kecuali
dari sisi Alloh ﷻ.
Di antara rahasia mu’jizat terbesar Nabi
terakhir ini berupa kitab, karena Alloh Mahatahu bahwa di abad-abad kemudian
ilmu pengetahuan akan mengalami puncaknya sementara buku yang berisi ilmu-ilmu
tersebut menjadi kebanggaan bangsa-bangsa. Kemudian, Alloh ﷻ mengunggulkan umat ini dengan sebuah bacaan (buku) yang berisi
ilmu terbesar sepanjang sejarah. Kitab ini menjadikan buku-buku lainnya jatuh
tersungkur karena kemuliaan Kitab penuh berkah ini.
Dengan semua ketinggian ini, Nabi ﷺ
mengakui bahwa mu’jizat beliau yang paling besar dan agung adalah al-Qur`an
al-Azhim, sebagaimana sabda beliau:
«مَا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلُهُ
آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ
اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ»
“Tidak ada seorang Nabi pun dari para Nabi
melainkan dia diberi mu’jizat yang menjadikan umatnya
beriman, dan sesungguhnya mu’jizat yang
diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Alloh kepadaku. Maka, aku
berharap menjadi yang paling banyak pengikutnya di hari Kiamat kelak.”[13]
Sastra yang Paling Mengagumkan
Seandainya ada suatu bacaan yang karena
bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan, bumi jadi terbelah, atau
orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, sungguh itu adalah suatu bacaan
yang mengagumkan. Adakah bacaan seperti itu? Kalaupun ada itulah al-Qur`an.
﴿وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ
بِهِ الأرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى﴾
“Dan seandainya ada bacaan yang karenanya
gunung-gunung dapat digoncangkan, bumi jadi terbelah, atau orang-orang yang
sudah mati dapat berbicara, (tentu itu adalah al-Qur`an).”[14]
Seandainya al-Qur`an benar-benar diturunkan
ke gunung, niscaya gunung itu akan terbelah karena takut kepada Alloh.
﴿لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ
خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ﴾
“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur`an
ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terbelah disebabkan takut kepada Alloh.”[15]
Al-Qur`an adalah suatu bacaan yang memiliki
sastra sangat indah dan tinggi. Tidak ada satu pun manusia dari orang-orang Quroisy
yang menjumpai turunnya al-Qur`an lalu dapat menandingi sastranya.
Alloh menantang orang-orang Quroisy yang
fasih bahasanya untuk membuat satu kitab yang sama dengan al-Qur`an. Untuk itu,
turunlah ayat:
﴿قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا
بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ
لِبَعْضٍ ظَهِيرًا﴾
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan
jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur`an ini, niscaya mereka
tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka
menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’”[16]
Imam al-Qurthubi (671 H) menjelaskan, “Ayat
ini turun ketika orang-orang kafir berkata, ‘Kalau kami mau, kami akan
menciptakan yang serupa dengannya.’ Lalu Alloh membantah kedustaan mereka.”[17]
Ternyata mereka tidak sanggup membuat satu
kitab yang serupa dengan al-Qur`an. Maka, Alloh menurunkan tantangannya hanya
sepuluh surat. Untuk itu turunlah ayat:
﴿قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا
مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾
“Katakanlah, ‘Datangkanlah sepuluh surat
yang serupa buatan sendiri dan panggillah siapa saja semampu kalian selain Alloh,
jika kalian adalah orang-orang yang benar.’”[18]
Ternyata mereka tidak sanggup pula
mendatangkan 10 surat yang serupa dengan al-Qur’an dalam hal sastra dan kandungan. Maka Alloh
menurunkan tantangannya hanya satu surat saja. Untuk itu turunlah ayat:
﴿قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ
مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾
“Katakanlah, ‘Maka, datangkanlah satu surat
saja yang serupa dengan al-Qur`an dan panggillah siapa saja semampu kalian
selain Alloh, jika kalian adalah orang-orang yang benar.’”[19]
Al-Hasan al-Bashri (110 H) mengomentari:
فَلا يَسْتَطِيعُونَ -وَاللَّهِ- أَنْ يَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ
مِثْلِهِ وَلَوْ حَرِصُوا
“Mereka tidak akan mampu –demi Alloh– untuk
mendatangkan satu surat yang serupa, meskipun mereka sangat menginginkannya.”[20]
Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan,
“Ini merupakan penjelasan tentang kemu’jizatan al-Qur`an bahwa tidak ada
seorang pun yang mampu mendatangkan sesuatu yang menyerupainya, tidak sepuluh
ayat, dan tidak pula satu ayat yang menyerupainya. Hal ini dikarenakan
kefasihan al-Qur`an, majaznya, kelezatannya, dan kandungan
makna-maknanya yang bermanfaat di dunia dan akhirat, tidak lain berasal dari
sisi Alloh. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Alloh dalam dzat dan
sifat-Nya, tidak pula perbuatan dan ucapan-Nya, sehingga kalam-Nya juga tidak
menyerupai kalam makhluk-makhluk-Nya.”[21]
Satu surat saja, tidak lebih. Namun, tetap
saja mereka tidak mampu menandingi sastra al-Qur`anul Karim. Hal ini
menunjukkan bahwa al-Qur`an adalah Kalamullah yang diturunkan dari Alloh.
﴿أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ
غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا﴾
“Maka, apakah mereka tidak memperhatikan
al-Qur`an? Kalau kiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka
mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.”[22]
Kalau begini kebenarannya, maka tidak ada
seorang pun yang berani menantang al-Qur`an melainkan hanya karena kesombongan
dan kedustaan belaka.
Dikisahkan oleh para ahli sejarah Islam
bahwa ‘Amr bin al-‘Ash berkunjung menemui Musailamah al-Kadzdzab, karena dahulu
di zaman Jahiliyyah adalah temannya. Saat kunjungan itu ‘Amr belum masuk Islam.
Musailamah berkata kepadanya, “Celaka wahai ‘Amr, apa yang diturunkan kepada
rekanmu –yakni Rosululloh ﷺ–
dalam waktu belum lama ini?” ‘Amr menjawab, “Aku telah mendengar para
shahabatnya membaca surat pendek nan agung.” Musailamah berkata, “Apa itu?”
Lalu ‘Amr membaca:
﴿وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ﴾
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal
shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam
kesabaran.”[23]
Musailamah berpikir sejenak, kemudian
berkata, “Telah diturunkan kepadaku yang semisal dengannya.” ‘Amr berkata, “Apa
itu?” Ia menjawab:
يَا وَبْرٌ يَا وَبْرٌ، إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ،
وَسَائِرُكَ حَفْزٌ نَقْزٌ
“Wahai kelinci, wahai kelinci, sesungguhnya engkau hanya memiliki dua
kuping dan satu dada. Dan selebihmu adalah lubang dan lekukan.
Bagaimana menurutmu wahai ‘Amr?” Lantas ‘Amr
berkata padanya, “Demi Alloh, sungguh engkau sadar bahwa aku tahu engkau itu
seorang pendusta.”[24][]
BAB II: KAITAN ILMU DENGAN AL-QUR`AN
Ditinjau dari sumbernya, ilmu dibagi
menjadi dua, yaitu ilmu yaqin (yang pasti benar) karena datangnya dari Alloh,
dan ilmu zhan (persangkaan/ penelitian/ observasi) yang mengandung kemungkinan benar dan salah karena
berasal dari akal manusia yang terbatas.
Dalil untuk yang pertama adalah firman Alloh
ﷻ:
﴿الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ﴾
“Kebenaran itu berasal dari Rabb-mu, maka
janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu.”[25]
Dalil untuk yang kedua adalah firman Alloh ﷻ:
﴿إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا
يَخْرُصُونَ﴾
“Mereka tidak mengikuti kecuali hanya zhan
saja, dan tidaklah mereka kecuali hanya
menduga-duga.”[26]
Allah
berfirman:
﴿وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ﴾
“Dan di atas orang yang berilmu ada yang
lebih berilmu lagi.”[27]
Ibnu ‘Abbas (68 H) rodhiyalloohu ‘anhuma
menafsirkannya:
يَكُونُ هَذَا أَعْلَمُ مِنْ هَذَا، وَهَذَا أَعْلَمُ مِنْ هَذَا،
وَاللَّهُ فَوْقَ كُلِّ عَالِمٍ
“Si A lebih
berilmu dari si B dan si C lebih
berilmu dari si B dan Alloh-lah puncak semua orang yang
berilmu.”[28]
Jelaslah bagi kita bahwa al-Qur`an adalah
sumber segala ilmu dan semua ilmu bermuara dari al-Qur`an. Syaikh Muhammad bin Shalih
al-‘Utsaimin mengatakan bahwa al-Qur`an seluruhnya adalah ilmu.
Alloh
ﷻ berfirman:
﴿بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا
الْعِلْمَ﴾
“Bahkan al-Qur`an adalah ayat-ayat yang
jelas di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu.”[29]
Dalam ayat ini Alloh ﷻ mensifati orang-orang
berilmu dengan al-Qur`an yang ada di dalam dada mereka baik pemahaman, hafalan,
maupun pengamalan. Seakan mengisyaratkan bahwa al-Qur`an tidak lain adalah ilmu,
dan tidak disebut berilmu jika tidak hafal al-Qur`an.
Al-Hasan al-Bashri (110 H) menjelaskan
maksud “orang-orang yang diberi ilmu ini” dalam ucapannya:
يَعْنِي الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ حَمَلُوا الْقُرْآنَ
“Yakni orang-orang beriman yang hafal
al-Qur`an.”[30]
Dari Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyalloohu
‘anhu, dia berkata:
مَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ، فَإِنَّ فِيهِ
عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
“Barangsiapa yang menginginkan ilmu maka
dalamilah al-Qur`an, karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan
orang-orang kemudian.”[31]
Ucapan shahabat yang mulia ini berlaku umum
baik ilmu akhirat maupun ilmu dunia, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan. Al-Qur`an
mencakup seluruh ilmu tak terkecuali ilmu dunia, meskipun al-Qur`an bukanlah
kitab tentang ilmu pengetahuan, tetapi al-Qur`an adalah pedoman hidup manusia
agar bahagia dunia dan akhiratnya. Hanya saja, Alloh Maha Sempurna dan mampu
untuk menyempurnakan kandungan firman-Nya.
Syaikh Abu Hasyim bin Shalih al-Maghamisi
berkata, “Sesungguhnya al-Qur`an adalah induk segala ilmu. Hal itu dikarenakan
segala ilmu kembali kepada al-Qur`an... Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim rahimahullah
menukil dari Syaikhnya Imam asy-Syinqithi pemilik kitab tafsir Adhwâ`ul
Bayân bahwa dia bertanya kepada gurunya itu saat menafsirkan al-Qur`an di
masjid Rosululloh ﷺ,
‘Anda adalah orang yang memiliki kecerdasaan yang agung dalam ilmu. Mengapa
Anda lebih memilih tafsir al-Qur`an bukan ilmu-ilmu yang lain, padahal Anda
mampu mendatangkan banyak permasalahan dan mensyarahnya?’ Gurunya yang sangat
arif terhadap Kitabullah itu menjawab, ‘Karena sesungguhnya segala ilmu kembali
kepada al-Qur`an.’”[32]
Al-Hafizh Ibnul Jauzi (597 H) berkata,
“Tatkala al-Qur`an yang mulia adalah semulia-mulia ilmu, maka memahaminya
adalah pemahaman yang paling sempurna karena kemuliaan ilmu sesuai dengan
kemuliaan yang dipelajari.”[33]
Jika dikaji secara mendalam, al-Qur`an
mengandung dasar-dasar ilmu pengetahuan yang membuat tercengang orang-orang
kafir. Penelitian dan penemuan mereka bertahun-tahun yang melelahkan telah
disinggung oleh al-Qur`an. Hikmah dicantumkannya sebagian ilmu pengetahuan
dalam al-Qur`an adalah untuk menundukkan kesombongan dan kecongkakan
orang-orang kafir yang mendustakan al-Qur`an.
Sebenarnya orang-orang kafir itu telah
ditipu setan. Kemajuan dan teknologi yang mereka capai itu hanyalah pengetahuan
yang sedikit. Untuk itu Alloh mensifati pengetahuan mereka dengan ilmu zhahir
(yang nampak) dari kehidupan dunia. Artinya, banyak rahasia alam semesta dan
perkara dunia yang terluput dari mereka, dan mereka tidak akan mampu mengkaji
semuanya meski umur mereka habis.
﴿يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ
الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾
“Mereka hanya mengetahui (berilmu) yang
zhahir saja dari kehidupan dunia, sementara mereka tentang akhirat adalah
orang-orang yang lalai.”[34]
Al-Imam Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan:
أَكْثَرُ النَّاسِ لَيْسَ لَهُمْ عِلْمٌ إِلاَّ بِالدُّنْيَا
وَأَكْسَابِهَا وُشُؤُوْنِهَا وَمَا فِيْهَا، فَهُمْ حِذَاقُ أَذْكِيَاءَ فِي
تَحْصِيْلِهَا وَوُجُوْهِ مَكَاسِبِهَا، وَهُمْ غَافِلُوْنَ عَمَّا يَنْفَعُهُمْ
فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، كَأَنَّ أَحَدَهُمْ مُغَفَّلٌ لَا ذِهْنَ لَهُ وَلَا فَكْرَةَ
“Kebanyakan manusia tidak mempunyai ilmu
kecuali tentang dunia, cara-cara memperolehnya, hal ihwalnya, dan apa yang
terkait dengannya. Mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas dalam meraihnya
dan cara-cara menempuhnya. Namun, mereka lalai tentang apa yang bisa memberi
manfaat bagi mereka di negeri akhirat, seolah-olah mereka dininabobokan, tidak
waras, dan tidak berakal.”[35]
Al-Hasan al-Bashri (110 H) berkata:
وَاللَّهِ لَبَلَغَ مِنْ أَحَدِهِمْ بِدُنْيَاهُ أَنَّهُ يُقَلِّبُ
الدِّرْهَمَ عَلَى ظَفْرِهِ، فَيُخْبِرَكَ بِوَزْنِهِ، وَمَا يُحْسِنُ أَنْ
يُصَلِّيَ
“Demi Alloh, benar-benar salah seorang di
antara mereka akan mencapai dunianya sambil membolak-balik dirham yang ada di
jari-jemarinya, lalu dia mengabarkan kepadamu tentang berat timbangannya.
Namun, dia tidak bisa shalat dengan baik.”[36]
Dengan ayat ini, seolah-olah Alloh
mengabarkan bahwa seandainya umur mereka yang singkat itu digunakan untuk
mengkaji al-Qur`an tentu lebih bermanfaat bagi mereka karena sarat dengan
rahasia-rahasia dunia, terlebih urusan akhirat. Tetapi yang terjadi di
lapangan, mereka sibuk dengan penelitian sehingga umur mereka habis tetapi
tidak mendapatkan ilmu kecuali sedikit, sekaligus terluput dari ilmu akhirat.
Inilah gambaran orang yang merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang
nyata.
A. Al-Qur`an Berbicara Fakta Ilmiah
Perlu diketahui bahwa al-Qur`an selamanya
tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiah, begitu pula sebaliknya. Namun ada
3 kaidah penting dalam masalah ini yang harus diketahui.
Al-Qur`an adalah kitab pedoman hidup
manusia untuk selamat di akhirat dan di dunia, bukan kitab ilmu pengetahuan
sains.
Selamanya wahyu tidak akan bertentangan
dengan fakta ilmiah karena wahyu berasal dari Alloh, sementara alam semesta
berjalan sesuai dengan sunnatullah.
Fakta ilmiah (sunnatullah)
berbeda dengan teori (ilmu pengetahuan sains). Al-Qur`an tidak harus sesuai dengan ilmu pengetahuan
sains, karena penelitian manusia sangat memungkinkan salah sehingga menyelisihi
al-Qur`an, atau boleh jadi ayat tersebut memang tidak menunjukkan fakta ilmiah.
Kesimpulannya, fakta ilmiah dan ilmu
pengetahuan sains adalah dua hal yang berbeda. Fakta ilmiah dikenal dalam agama
dengan istilah sunnatullah yaitu keteraturan alam semesta yang berjalan sesuai
dengan yang ia diciptakan. Adapun ilmu
pengetahuan sains adalah hasil pengamatan manusia yang bisa benar dan bisa
salah.
Fakta ilmiah yang dipublikasikan para ilmuwan
terutama orang Barat, diperlakukan sama dengan kabar isra`iliyat dari ahli
kitab. Para ‘ulama, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Ushûl
fît Tafsîr dan Ibnu Katsir dalam muqaddimah kitab tafsirnya, menjelaskan 3
keadaan dalam menyikapi kabar isra`iliyat ini:
Jika kabar itu sesuai dengan kabar nash
(al-Qur`an dan Sunnah) maka diterima dan dibenarkan, seperti kabar mereka bahwa
langit di hari kiamat nanti akan dilipat/digulung, Surga luasnya sejarak langit
dan bumi, langit-langit diletakkan Alloh di Jari-Nya dan seluruh makhluk di
Jari-Nya yang lain, dan lain-lain. Kabar-kabar itu sesuai dengan surat al-Anbiyâ`
[20]: 104, Ali Imrân [3]: 133, dan hadits muttafaqun ‘alaih al-Bukhari
(no. 4811) dan Muslim (no. 2786).
Jika kabar itu bertentangan dengan kabar
nash maka ditolak dan didustakan, seperti kabar mereka bahwa Nabi ‘Isa ‘alahissalam
adalah putra Alloh atau jika menggauli istri dari arah depan akan lahir anak
juling, dan lain-lain. Kedua kabar itu bertentangan dengan surat al-Mâ`idah
[6]: 116-117 dan al-Baqoroh [2]: 223.
Jika kabar itu tidak dibenarkan nash dan
tidak pula didustakan, maka kabar itu disikapi tawaqquf (tidak
dibenarkan tetapi tidak juga didustakan), karena boleh jadi benar sehingga
tidak mendustakannya dan boleh jadi dusta sehingga tidak membenarkannya. Hal
ini berdasarkan riwayat shahih bahwa Abu Huroiroh rodhiyalloohu ‘anhu
berkata:
كَانَ أَهْلُ الكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ
بِالعِبْرَانِيَّةِ، وَيُفَسِّرُونَهَا بِالعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الإِسْلاَمِ،
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: ﴿آمَنَّا
بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ
وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ﴾»
“Ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa
Ibrani lalu menafsirkannya dengan bahasa ‘Arob kepada kaum muslimin, lalu Rosululloh
ﷺ bersabda, ‘Janganlah kalian membenarkan
ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka, tetapi ucapkanlah, ‘Kami
beriman kepada Alloh dan kepada apa yang
diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kalian. Tuhan kami dan
Tuhan kalian adalah satu, dan kita hanya kepadanya memasrahkan diri.’[37]’”[38]
Apakah kabar isra`iliyat yang bertipe
seperti ini boleh diceritakan? Jawabannya, boleh asal tidak diimani pasti benar.
Hal ini berdasarkan hadits Nabi ﷺ:
«بَلِّغُوا عَنِّي
وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ
عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat dan
tidak mengapa menceritakan (kabar) dari Bani Isra`il. Barangsiapa yang berdusta
atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di Neraka.”[39]
Oleh karena itu, apa yang akan kami
sampaikan dari ayat-ayat yang sekilas membenarkan penemuan mereka, bukan
berarti memutlakkan kebenaran hasil penelitian ilmuwan. Penulis membawakan ayat
tersebut bukan untuk menafsirkannya ke fakta ilmiah tetapi untuk menunjukkan
bahwa al-Qur`an memiliki kaidah umum yang bisa digunakan untuk menjelaskan
fakta ilmiah, agar orang-orang kafir melihat bahwa al-Qur`an memang datangnya
dari sisi Alloh pemilik alam semesta. Hal ini perlu dijelaskan agar manusia
tidak mendustakan al-Qur`an karena ulah orang-orang yang gegabah mencomot ayat
al-Qur`an untuk membenarkan penemuan ilmiah mereka saat muncul penemuan lain
yang menentang penemuannya.
B. Al-Qur`an Berbicara Sains dan Alam
Semesta
Selama ratusan tahun, para ilmuwan
menyakini kekekalan langit dan bumi, tidak bermula dan tidak berakhir, yang mereka istilahkan Steady
State Theory. Di penghujung abad ke-20 sains modern mengungkapkan kenyataan
bahwa manusia hidup di alam yang berkembang dan berubah, bermula dan akan
berakhir. Mereka mengamati fenomena mengejutkan bahwa matahari setiap detik
kehilangan massa sekitar 4,6 miliar ton yang berubah menjadi energi panas dan
berpindahnya energi panas dari benda panas ke benda dingin. Hal ini meyakinkan
mereka bahwa alam semesta ini suatu saat akan musnah, entah kapan, mereka tidak
mampu menjawabnya.
Mereka pun merumuskan teori-teori awal
terciptanya alam semesta dan tidak ada satu pun yang diterima karena tidak bisa
menjelaskannya secara ilmiah kecuali sebuah teori yang dikuatkan oleh para
ilmuwan, yaitu Teori Ledakan Besar (Big Bang Theory). Teori ini
menyatakan bahwa alam semesta ini awalnya berasal dari gumpalan massa yang
sangat padat dan panas. Kemudian karena tekanan panas yang memuncak, massa ini
mengalami ledakan besar (bing bang) menjadi serpihan-serpihan alam
semesta: tata surya, galaksi, nebula, planet, dan sebagainya yang terus
mengembang. Ledakan Besar ini
diperkirakan terjadi sekitar 15 milyar tahun lalu.[40]
Sekarang mari kita bandingkan teori ini
dengan ayat al-Qur`an:
﴿أَوَلَمْ يَرَ
الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا
فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا
يُؤْمِنُونَ﴾
“Apakah orang-orang kafir itu belum
mengetahui bahwa langit-langit dan bumi itu dulunya sesuatu yang padu (ratqan) lalu
kami pisahkan keduanya, dan kami jadikan kehidupan segala sesuatu dari air.
Maka, apakah mereka tidak beriman?”[41]
Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H) memberikan
penjelasan yang menakjubkan tentang ayat ini, “Maksudnya, semua benda dahulunya
saling merekat, menyatu, dan tersusun satu sama lain. Kemudian langit-langit Alloh
jadikan tujuh dan bumi pun tujuh. Alloh memisah langit dunia dan bumi dengan
udara. Lalu langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanaman. Oleh karena
itu, Alloh berfirman, “Dan kami jadikan kehidupan segala sesuatu dari air.
Maka, apakah mereka tidak beriman?” Maksudnya, apakah mereka tidak
menyaksikan bahwa makhluk-makhluk ini terjadi dari fase ke fase yang
menunjukkan keberadaan Sang Pencipta yang Mahakuasa atas segala sesuatu.
فَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَة ... تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدٌ
...
Pada segala sesuatu terdapat tanda yang
menunjukkan bahwa Dia adalah esa
Sufyan ats-Tsauri berkata, dari ayahnya,
dari ‘Ikrimah, dia berkata, ‘Ibnu ‘Abbas pernah ditanya, apakah tercipta malam
dulu atau siang? Lalu menjawab, ‘Bagaimana menurutmu keadaan saat langit-langit
dan bumi menyatu, bukankah yang ada di antara keduanya hanya kegelapan?’
Akhirnya mereka pun tahu bahwa malam lebih dahulu daripada siang.’”[42]
Ayat-ayat al-Qur`an selalu mendahului lafazh
malam daripada siang yang menunjukkan ketepatan tafsiran Tarjamatul Qur`an Ibnu
‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhuma. Misalnya firman Alloh ﷻ:
﴿وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ﴾
“Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari
dan bulan.”[43]
Yang menakjubkan lagi, ternyata sains
modern juga menyebutkan hal yang sama, malam lebih dahulu ada sebelum siang.
Jika ada yang bertanya, “Apakah ayat ini
boleh disebut ayat Big Bang?” Jawabannya, tidak boleh. “Bukankah sesuai sekali
dengan teori Big Bang?” Ini pertanyaan yang bagus sekali dan penjelasannya
sebagai berikut:
Ayat hanya memberi informasi bahwa langit
dan bumi pernah menyatu. Adapun teori Big Bang, disamping menyebutkan langit
dan bumi menyatu juga menyebutkan hal-hal lainnya yang sama sekali tidak
dijelaskan nash atau justru menyelisihi nash. Oleh karena itu, kita membenarkan
penelitian mereka bahwa langit dan bumi pernah menyatu karena sesuai dengan
nash, tetapi kita mengingkari beberapa hal dalam teori ini, yaitu:
Perkiraan usia alam semesta 15 miliar.
Konsekuensi Big Bang bahwa bumi
tercipta bersamaan atau sebelum langit, matahari, dan benda angkasa lainnya.
Klaim mereka bahwa bumi mengelilingi
matahari karena bumi terbuat dari pecahan matahari.
Klaim mereka bahwa sebelum peristiwa Big
Bang belum ada materi dan energi.
Semua yang disebutkan di atas menyelisihi
nash shahih sehingga kita menyikapinya seperti menyikapi kabar Bani Isra`il
poin ke-2, yaitu mendustakannya dan tidak menerimanya. Adapun konsekuensi hukum
dari teori ini yang tidak didustakan nash dan tidak pula dibenarkan, maka
disikapi dengan poin ke-3, misalkan konsekuensi hukum bahwa teori ini secara
tidak langsung memberi pemahaman bahwa benda-benda langit semuanya tercipta
dari gumpalan massa yang superpanas tersebut; terdapat banyak galaksi di luar galaksi
kita yang tak terhitung jumlahnya; dan seterusnya.
1. Benarkah Usia Alam Semesta
15 Miliar Tahun?
Usia alam semesta adalah waktu yang
dihitung dari mulai terjadinya ledakan besar. Mereka mengklaim bahwa usia alam
semesta adalah 13,75 ± 0,11 miliar tahun (anggaplah 14 miliar). 13,75 miliar
adalah masa terjadinya ledakan hingga dingin dan stabil, dan 110 juta adalah masa stabil dan munculnya
tanda kehidupan hingga sekarang.
Yang benar usia alam semesta tidak sebanyak
itu. Al-Qur`an tidak menyinggung usia alam semesta, tetapi masa penciptaan alam
semesta disinggung, yaitu 6 hari, masa Alloh menciptakan langit, bumi, dan
segala yang ada di antara keduanya. Alloh ﷻ berfirman sebanyak 7 kali bahwa langit dan bumi tercipta dalam
6 hari:
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا
فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ﴾
“Dan sungguh Kami telah menciptakan
langit-langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam 6 hari.”[44]
“Langit-langit dan bumi serta apa yang ada
di antara keduanya” menunjukkan alam semesta.
Ini berarti alam semesta diciptakan Alloh selama 6 hari. Namun, hari di
sini maksudnya hari akhirat, bukan hari dunia. Satu hari akhirat sama
dengan 1.000 hari dunia. Dalilnya adalah firman Alloh ﷻ:
﴿وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا
تَعُدُّونَ﴾
“Dan sesungguhnya satu hari di sisi Tuhan-mu
seperti 1.000 tahun menurut perhitungan kalian.”[45]
Jadi, jika dihitung menurut perhitungan
kita, masa penciptaan alam semesta adalah 6.000 tahun. Ini dipegang oleh Ibnu
‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Ibnu Jarir, Imam Ahmad, dan lainnya. Adapun jumhur, mereka
memahami seperti hari biasa, yaitu 6 hari dunia sebagaimana hari-hari kita.
Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan,
“Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai maksud 6 hari ini menjadi 2
pendapat. Jumhur berpendapat seperti hari-hari biasa kita. Adapun Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu
‘anhuma, Mujahid, adh-Dhahhak, dan Ka’ab al-Ahbar berpendapat bahwa
masing-masing hari tersebut seperti seribu hari menurut perhitungan manusia.
Ini diriwayatkan Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan pendapat ini dipilih Imam
Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya ar-Ra’du ‘alal Jahmiyyah, dan dipilih
juga oleh Ibnu Jarir dan sekelompok ‘ulama muta`akhkhirin (belakangan). Allahu
a’lam.”[46]
Masa penciptaan alam semesta hingga masa
sekarang tidak sebanyak menurut klaim mereka. Perhatikan hadits shahih berikut
ini.
Sahal bin Sa’ad rodhiyalloohu ‘anhu
berkata, “Aku melihat Nabi ﷺ
bersabda sambil berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah:
«بُعِثْتُ [أَنَا]
وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ»
“Aku diutus dalam keadaan jarak hari Kiamat seperti jarak selisih dua jari
ini.”[47]
Jarak yang dimaksud adalah sisa panjang antara
jari tengah dan telunjuk jika disejajarkan merapat. Ibaratnya panjang jari
telunjuk adalah masa alam semesta hingga diutusnya Nabi ﷺ
dan panjang jari tengah adalah masa alam semesta hingga datangnya hari kiamat,
ini pendapat Qatadah. Jika dipraktekan, akan terlihat jari tengah memiliki
kelebihan sedikit sekitar 10% dari jari telunjuk. 10% inilah jarak hari Nabi
Muhammad ﷺ
diutus hingga datangnya hari Kiamat.
Al-Hafizh an-Nawawi (676 H) menjelaskan, “Qatadah
berpendapat maksudnya selisih jarak antara dua jari itu. Ada pula yang
berpendapat bahwa maksudnya adalah jarak pendek seperti (selisih) jarak panjang
dua jari, dan ada pula yang berpendapat sebagai isyarat dekatnya mujâwazah
(sisa waktu terjadinya hari Kiamat).”[48]
Al-Kirmani menjelaskan, “Maksud hadits ini
adalah masa sisa hari Kiamat dibanding dengan hari-hari yang telah berlalu
seperti sisa jari tengah dibanding jari telunjuk.”[49]
Jika 13,75 miliar sama dengan 90%, maka
100% adalah 15,3 miliar. Itu artinya hari Kiamat akan terjadi menurut teori ini
15,3 - 13,75 = 1,5 miliar tahun lagi.
Meskipun datangnya hari Kiamat tidak ada yang tahu kecuali Alloh, tetapi angka
ini terlalu lama dengan beberapa alasan:
Hari Kiamat disifati Alloh dengan dekat
baik di al-Qur`an maupun di hadits. Bahkan tanda-tanda hari Kiamat sudah
banyak bermunculan semenjak diutusnya Nabi
ﷺ
hingga sekarang.[50]
Malaikat yang ditugasi meniup sangkalala
hari Kiamat telah menempatkannya di mulutnya dan siaga menunggu perintah Alloh
sambil mendongak ke arah ‘Arsy.
Prilaku para shahabat dan ‘ulama yang takut
terjadi hari Kiamat saat masih hidup, hal ini karena dipahami hari Kiamat sudah
dekat.
Para ‘ulama sepakat akan dekatnya hari
Kiamat bahkan sebagian memprediksinya (tanpa meyakini kebenarannya) semisal
Ibnu Jarir ath-Thabari dan Imam as-Suyuthi, meskipun hal ini ditentang keras
oleh para ‘ulama karena datangnya hari Kiamat hanya Alloh semata yang tahu.
2. Benarkah Langit Tercipta
Sebelum Lainnya?
Teori Big Bang mengklaim bumi
tercipta bersamaan atau sebelum langit, matahari, dan benda angkasa lainnya,
artinya langit tercipta sebelum segala sesuatu. Ini adalah dugaan yang keliru
dan klaim yang tidak mendasar, karena
bertentangan dengan nash al-Qur`an, hadits, dan ijma’. Berikut
dalil-dalilnya:
Al-Qur`an menginformasikan bumi lebih dulu
diciptakan daripada langit:
﴿قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي
يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٩)
وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا
أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ (١٠) ثُمَّ اسْتَوَى
إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا
أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ (١١) فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ
سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا
السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ
الْعَلِيمِ﴾
“Katakanlah, apakah kalian benar-benar kafir
kepada Yang telah menciptakan bumi dalam dua hari dan kalian menjadikan
tandingan-tandingan bagi-Nya. Dialah Rabb semesta alam. Dia jadikan
gunung-gunung di atasnya dan memberkahinya serta menentukan kadar makanan
(penghuninya) dalam empat hari, sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya.
Kemudian Dia menuju[51]
kepada langit saat berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan bumi,
‘Datanglah kalian berdua dengan patuh atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami
datang dalam keadaan patuh.’ Kemudian Dia menciptakannya tujuh langit
dalam dua hari dan mewahyukan pada setiap langit urusannya. Kami hiasi langit
dunia dengan bintang-bintang dan sebagai penjaga. Demikianlah ketentuan yang
Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”[52]
Alloh ﷻ mengabarkan bahwa Dia menciptakan bumi kemudian menciptakan langit saat berupa asap
untuk diciptakan darinya. Hal ini menunjukkan penciptaan bumi sebelum langit.
Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini,
“Ayat ini menunjukkan bahwa bumi tercipta sebelum langit, karena bumi seperti
pondasi dari sebuah bangunan.”[53]
Nabi ﷺ mengabarkan bukan langit yang pertama kali diciptakan:
﴿إِنَّ أَوَّلَ شَيْءٍ خَلَقَهُ اللَّهُ الْقَلَمَ وَأَمَرَهُ
فَكَتَبَ كُلَّ شَيْءٍ﴾
“Sesungguhnya yang pertama kali Alloh
ciptakan adalah pena. Dia memerintahkannya untuk menulis (takdir)
segala-sesuatu.”[54]
Adapun lamanya adalah 50.000 tahun sebelum
penciptaan langit dan bumi, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
«كَتَبَ اللَّهُ
مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»
“Alloh menentukan takdir semua makhluk
50.000 tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi, dan ‘Arsy-Nya di atas
air.”[55]
Imam as-Suyuthi (911 H) menjelaskan sabda “‘Arsy-Nya
di atas air”, “Maksudnya, sebelum menciptakan langit-langit dan bumi.”[56]
Dengan uap air yang menjadi asap inilah Alloh
menciptakan langit, berdasarkan hadits marfu’ Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu
‘anhuma:
«وَكَانَ عَرْشُهُ
عَلَى الْمَاءِ فَارْتَفَعَ بُخَارُ الْمَاءِ فَفُتِقَتْ مِنْهُ السَّمَاوَاتُ»
“Dan ‘Arsy-Nya di atas air, lalu uap airnya
naik lalu dari itu terbentuk langit-langit.”[57]
‘Arsy lebih dahulu diciptakan daripada pena
takdir, sebagaimana riwayat bahwa Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhuma
berkata:
إِنَّ اللَّهَ - جَلَّ ذِكْرُهُ - خَلَقَ الْعَرْشَ فَاسْتَوَى
عَلَيْهِ، ثُمَّ خَلَقَ الْقَلَمَ فَأَمَرَهُ أَنْ يَجْرِيَ بِإِذْنِهِ
“Sesungguhnya Alloh ﷻ
menciptakan ‘Arsy lalu tinggi di
atasnya, kemudian menciptakan pena lalu memerintahkannya untuk berjalan dengan seizin-Nya.”[58]
Penjelasan ini sekaligus membantah anggapan
mereka bahwa sebelum peristiwa Big Bang belum ada materi dan energi.
3. Benarkah Bumi Mengelilingi
Matahari?
Mereka mengklaim bahwa bumi mengelilingi
matahari karena bumi terbuat dari pecahan matahari. Ini tidaklah benar karena
bertentangan dengan nash syar’i yang justru menyatakan kebalikannya, yaitu
matahari mengelilingi bumi. Ada lima alasan untuk menjawab hal ini:
Pertama,
bumi ini diam sehingga tidak mungkin bergerak mengelilingi matahari. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ﴾
“Dan di antara tanda-tanda-Nya adalah langit
dan bumi qiyam dengan perintah-Nya.”[59]
Secara bahasa fi’il (تَقُومَ)
berasal dari masdar (القِيَامُ)
yang artinya berdiri atau diam. Ibnu Manzhur menyebutkan makna qiyâm
adalah diam/tetap (العَزْمُ).
Setelah menyebutkan sya’ir-sya’ir penguat makna ini, beliau melanjutkan, “Qiyâm
bermakna diam dan tetap (الْوُقُوفُ وَالثَّبَاتُ).
Jika dikatakan kepada orang yang berjalan (قِفْ
لِي) artinya tetaplah di tempatmu hingga aku
datang kepadamu. Begitu pula (قُم لِي)
maksudnya sama dengan (قِفْ لِي).
Inilah tafsir firman Alloh ﷻ:
﴿وَإِذا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قامُوا﴾
‘Dan apabila kegelapan meliputi mereka,
mereka qiyâm.’[60]
Para ahli bahasa dan tafsir memaknai “mereka
qiyâm” di sini adalah mereka berhenti dan tetap di tempatnya, tidak maju
dan tidak mundur.”[61]
Al-Fairuz Abadi menyebutkan beberapa
penggunaan qiyâm. Jika digunakan untuk air artinya beku, jika untuk urusan
artinya adil, jika untuk binatang artinya berhenti. Dari situ muncul lafazh (المَقامُ)
artinya tempat meletakkan telapak kaki.[62]
Semua arti ini menunjukkan bahwa makna ayat
di atas adalah langit dan bumi diam dan tetap di tempatnya. Para ‘ulama juga
berpendapat demikian dalam menafsirkan ayat ini. Al-Hafizh Ibnu Katsir dan
Ibnul Jauzi menafsirkannya, “Berdiri tetap,” dan “Senantiasa diam.”[63] Al-Qurthubi menafsirkan, “Maksudnya berdirinya dan diamnya karena
kekuasaan-Nya meskipun tanpa tiang,”[64] dan yang semisal ini disampaikan oleh ahli bahasa kenamaan
al-Farra`, “Senantiasa diam karena perintah-Nya meskipun tanpa tiang.”[65]
Kedua,
justru nash syar’i menyebutkan kebalikannya, yakni mataharilah yang
mengelilingi bumi. Bukti-buktinya sangatlah jelas, dan kami rangkum dalam tiga
poin berikut:
Alloh ﷻ mengisyaratkan matahari mengelilingi bumi, seperti firman-Nya:
﴿قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ
الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ﴾
“Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Alloh
mendatangkan matahari dari timur, maka datangkanlah (wahai Namrud) ia dari
barat!’”[66]
Sisi pendalilannya, seandainya yang
bergerak bumi tentulah yang dikatakan Ibrahim kepada raja Namrud, “Sesungguhnya
Alloh menggerakkan bumi ke arah barat matahari, maka datangkanlah ia dari arah
timur matahari!’ Ini menunjukkan bahwa matahari yang berputar mengelilingi
bumi.
Juga firman Alloh ﷻ:
﴿فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا
أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ﴾
“Maka tatkala dia (Ibrahim) melihat matahari
terbit, dia berkata, ‘Inilah Rabb-ku. Ini lebih besar.’ Namun, tatkala dia
(matahari) terbenam (أَفَلَتْ),
dia berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian
sekutukan.’”[67]
Sisi pendalilannya, tatkala Alloh
menjadikan matahari terbenam, ini menunjukkan yang terbenam adalah dzat
mataharinya bukan panasnya, bayangannya, atau sinarnya, karena tidak ada qarinah
(indikasi) yang memalingkan kepada hal-hal tersebut. Demikian itu adalah kaidah
dasar nahwu yang disepakati seluruh ahli bahasa ‘Arob. Misalkan ungkapan “Muhammad
datang” (جَاءَ مُحَمَّدٌ),
maka dipahami yang datang diri Muhammad, bukan ayahnya, suratnya, kendaraannya,
atau lainnya. Tidak boleh makna ini dibawa ke makna lainnya kecuali adanya qarinah
(misalkan badal isytimal) yang menghalangi dari makna sebenarnya,
contohnya “Muhammad datang, suratnya” (جَاءَ
مُحَمَّدٌ رِسَالَتُهُ). Di sini dipahami yang
datang suratnya bukan diri Muhammad karena adanya qarinah berupa badal
isytimal.
Nabi Muhammad ﷺ juga mengisyaratkan matahari yang bergerak mengelilingi bumi,
misalkan sabda beliau ﷺ:
«غَزَا نَبِيٌّ
مِنَ الأَنْبِيَاءِ، فَقَالَ لِقَوْمِهِ: لاَ يَتْبَعْنِي رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ
امْرَأَةٍ، وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَبْنِيَ بِهَا، وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا، وَلاَ
أَحَدٌ بَنَى بُيُوتًا وَلَمْ يَرْفَعْ سُقُوفَهَا، وَلاَ أَحَدٌ اشْتَرَى غَنَمًا
أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ يَنْتَظِرُ وِلاَدَهَا، فَغَزَا فَدَنَا مِنَ القَرْيَةِ
صَلاَةَ العَصْرِ أَوْ قَرِيبًا مِنْ ذَلِكَ، فَقَالَ لِلشَّمْسِ: إِنَّكِ
مَأْمُورَةٌ وَأَنَا مَأْمُورٌ اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَيْنَا، فَحُبِسَتْ
حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ»
“Seorang Nabi berperang. Dia berkata kepada
kaumnya, ‘Tidak boleh mengikutiku seseorang yang memiliki istri dan ingin
menggaulinya tetapi belum sempat menggaulinya, tidak pula seseorang yang
membangun rumah dan belum memasang atapnya, dan tidak pula seseorang yang
membeli domba atau unta bunting dan sedang menunggu kelahiran anaknya.’ Dia pun
pergi berperang dan mendekat ke sebuah desa untuk shalat ‘Ashar, atau lebih
dekat lagi. Dia berkata kepada matahari, ‘Sesungguhnya kamu diperintah dan
aku pun diperintah. Ya Alloh tahanlah ia dari kami!’ Lalu dia ditahan
sehingga Alloh memberi kemenangan kepadanya.’”[68]
Dalam riwayat lain:
«أَيَّتُهَا
الشَّمْسُ إِنَّكِ مَأْمُورَةٌ وَأَنَا مَأْمُورٌ بِحُرْمَتِي عَلَيْكِ، إِلَّا
رَكَدْتِ سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ»
“Wahai matahari, sesungguhnya kamu
diperintah dan aku pun diperintah. Karena kehormatanku atasmu, berhentilah
sejenak dari siang hari.”[69]
Dalam hadits ini jelas sekali, Nabi Yusya’
bin Nun ‘alahissalam meyakini matahari yang bergerak berputar sehingga
terjadi malam dan siang. Aturan perang waktu itu, jika matahari telah tenggelam
perang berhenti, padahal keadaan waktu itu sedang berpihak kepada Nabi Yusya’
dan kaumnya sedikit lagi. Seandainya bumi yang bergerak, tentulah beliau akan
berdo’a, “Ya Alloh tahanlah gerakan bumi,” atau, “Hai bumi, berhentilah sesaat
agar aku bisa menuntaskan peperangan. Sesungguhnya kamu berputar karena
perintah Alloh dan aku pun berperang karena perintah Alloh!” Ini menunjukkan
bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi.
Ketiga,
hal ini (bumi diam, tidak mengelilingi matahari) merupakan pendapat jumhur ‘ulama
seperti Imam al-Isfirayini, Ibnu Hazm, Syaikhul Islam, Ibnul Qayyim, al-Hafizh
Ibnu Hajar, Syaikh Bin Baz, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh ad-Duwais, dan
lain-lain. Bahkan, al-Qurthubi menukil bahwa paham ini juga diyakini ahli kitab
zaman dulu, sebagaimana ucapan beliau, “Yang diyakini umat Islam dan ahli kitab
adalah pendapat bahwa bumi berhenti, diam, dan terhampar. Sementara gerakannya
biasanya terjadi karena gempa.”[70] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Di sini terdapat penjelasan bahwa
matahari beredar setiap hari dan malam. Ini jelas sekali bertentangan dengan
klaim para astronom.”[71]
Keempat,
akal sehat menolak bumi mengelilingi matahari. Seandainya memang bumi berputar
mengelilingi matahari dengan kecepatan 107.500 km/jam, itu artinya sama dengan 39
kali lipat kecepatan pesawat tempur tercepat dunia MIG29M yang hanya mampu
melaju 2.750 km/jam. Seandainya benar demikian, niscaya tidak akan ada lagi
kehidupan di dunia karena semua benda terpental, berbenturan, atau minamal
penuh goncangan. Mengapa hal ini tidak terjadi jika memang bumi berputar
revolusi? Masih ingatkah gempa di Jepang beberapa tahun lalu yang hanya
beberapa skala ritcher mampu meluluhlantahkan negeri sakura tersebut? Masih
ingatkah gempa Tsunami yang meluapkan air laut ke daratan Aceh, padahal hanya
benturan “ringan” antar lempengan dasar laut? Lantas, bagaimana jadinya jika
gerakan bumi lebih besar dari itu?
Andai benar bumi melakukan gerakan
revolusi, pastilah orang yang melompat tidak akan jatuh tepat di bawahnya,
tetapi bergeser jauh ke arah berlawanan dengan arah gerak revolusi bumi. Juga,
pastilah pesawat terbang dari Saudi menuju Indonesia tidak akan bisa kembali ke
Saudi, begitu juga sebaliknya, minimal salah satu tempat ditempuh lebih cepat
dan tempat lainnya ditempuh lebih dekat, tetapi kenyataan berbicara lain, yaitu
jarak Saudi – Indonesia sama tidak berubah sesuai dengan kecepatan pesawat
terbangnya. Juga, pastilah pesawat ruang angkasa yang lepas landas tidak akan
bisa kembali ke landasannya semula.
Kata mereka, “Benda-benda bumi tidak
terpental karena bumi memiliki gaya gravitasi dan gaya sentrifugal yang menarik
benda-benda di sekitarnya.” Kita jawab, seberapa besar gaya gravitasi bumi
hingga mampu menarik semua benda tetap di atasnya atau tertarik ke intinya?
Jika benar demikian, pastilah orang tidak akan mampu melompat bahkan sekedar
mengangkat kaki kanannya; pastilah pesawat terbang tidak akan mampu terbang; pastilah pesawat ruang angkasa
tidak akan mampu lepas landas, terutama pesawat ruang angkasa yang keluar dari
orbit gravitasi bumi seperti pesawat satelit.
Penjelasan yang cukup meretakkan taring
kesombongan Barat adalah penjelasan Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya saat
menafsirkan firman Alloh ﷻ:
﴿الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً﴾
“Yang telah menjadikan bumi untuk kalian
sebagai hamparan dan langit sebagai atap.”[72]
Ar-Razi berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya Alloh
ﷻ
di sini menyebutkan bahwa bumi sebagai hamparan. Yang semakna dengan ayat ini
adalah, ‘Dan siapakah yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap dan
menjadikan celah-celahnya sebagai sungai,’[73] juga, ‘Dia-lah yang menjadikan bumi untuk kalian sebagai
hamparan.’[74] Ketahuilah bahwa keberadaan bumi sebagai hamparan harus terpenuhi
beberapa syarat. Syarat pertama adalah bumi harus diam. Seandainya dia
bergerak, tentu akan bergerak lurus atau berputar. Seandainya bergerak lurus,
bumi tidak mungkin bisa dijadikan hamparan untuk kita, karena orang yang
melompat dari tempat tinggi mustahil jatuh ke bumi karena bumi ke bawah dan
orang itu juga ke bawah, sementara bumi lebih berat daripada manusia. Jika dua
benda jatuh maka yang paling berat lebih cepat dari satunya, dan yang lambat
tidak akan bisa mencapai yang cepat. Sehingga mustahil seseorang sampai ke
tanah. Hal ini menetapkan bahwa seandainya bumi bergerak tidak akan menjadi hamparan.
Adapun seandainya bumi bergerak putar,
niscaya bumi tidak bisa dimanfaatkan sama sekali. Misalkan gerakan bumi ke arah
timur dan seseorang ingin bergerak ke arah barat, pasti gerakan bumi yang lebih
cepat itu menyebabkannya tetap di tempatnya dan tidak mungkin mencapai tempat
yang dituju. Oleh karena itu, tatkala orang tersebut kenyataannya mencapai
tujuannya, kita pun mengetahui bahwa bumi itu tidak bergerak, baik gerak lurus
maupun gerak putar, tetapi diam.”[75]
Kelima,
yang unik di sini bahwa di dalam al-Qur`an Alloh ﷻ selalu menggandengkan antara matahari dengan bulan (minimal 15
kali), dan menggandengkan antara langit dengan bumi (minimal sebanyak 148
kali), tetapi tidak pernah antara matahari dengan bumi sekalipun. Ini
mengisyaratkan bahwa matahari berputar sebagaimana bulan berputar, dan bumi
diam sebagaimana langit diam.
Keberadaan bumi sebagai pusat tata surya
dan matahari mengelilinginya bukanlah hal aneh, sebab di bumi terdapat
orang-orang shalih, Ka’bah, masjid, bahkan para Nabi dan rasul yang merupakan
kekasih Alloh. Apakah aneh jika Alloh ﷻ memuliakan bumi dengan dijadikannya pusat tata surya kita dan
semua benda langit mengelilinginya karena keberadaan para kekasih-Nya? Adapun
para penyembah matahari dan kaum paganisme, mereka sangat senang dengan teori
matahari sebagai pusat tata surya dan bumi mengelilinginya, sebab hal itu
secara tidak langsung memuliakan tuhan mereka yang mahapanas itu. Asal Anda
tahu bahwa pencetus teori heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya dan
seluruh benda langit mengelilinginya)
adalah para penyembah berhala. Pencetus pertama teori heliosentris adalah
Pythagoras. Setelah 12 abad terpendam, dihidupkan kembali oleh Copernicus. Tak
ketinggalan Galileo yang mengkampanyekan teori ini hingga menjagat dunia. Mereka
juga meyakini bahwa alam semesta ada dengan sendirinya, alias ateis alias menginkari
Alloh Rabbul ‘Alamin. Wal’iyâdzubillah! Pahamilah!
Jika ada yang menyanggah, “Apa yang Anda
sampaikan bertentangan dengan fakta ilmiah dalam ilmu pengetahuan sains. Semua
teori sains yang Anda bantah telah dibuktikan kebenarannya. Ini menunjukkan
kebatilan bantahan Anda!”
Ini sanggahan yang bagus tetapi perlu
didudukkan. Izinkan kami untuk menyanggahnya pula dengan dua renungan berikut:
Apakah penelitian mereka pasti benar dan
tidak bisa digangu gugat? Apakah akal manusia sempurna tanpa cacat atau
menyamai ilmu Alloh? Sekali-kali tidak. Sesuatu dikatakan kepastian (benar,
jujur, dan tepat sehingga diterima persaksiannya/ klaimnya) jika terpenuhi tiga
syarat: [1] pernah melihat dengan kedua matanya langsung, [2] mengetahui alam
ghaib atau sakti mandraguna, atau [3] mendengar kabar dari wahyu. Jika mereka
mengklaim termasuk yang pertama, maka kita dustakan karena mereka mustahil
keluar dari tata surya lalu melihat dengan pandangan mereka sendiri bahwa semua
benda langit mengelilingi matahari. Jika mereka mengklaim termasuk yang kedua,
maka persaksian mereka tertolak dengan sendirinya karena dukun, paranormal,
tukang sihir yang bekerjasama dengan jin, atau setan yang berubah wujud manusia
tertolak persaksiannya. Jika mereka mengklaim termasuk yang ketiga, maka kita
katakan, “Teori mereka justru bertentangan dengan wahyu.”
Al-Qur`an dan as-Sunnah tidak
mungkin salah, dan apakah para ‘ulama ceroboh saat
berbicara tentang masalah keghaiban dan masalah besar? Sekali-kali tidak.
Mahasuci Alloh atas apa yang mereka sifatkan.
4. Langit Mengembang
dan Bagaikan Lembaran Kertas
Pembahasan berikutnya. Pada tahun 1929
Astronom Amerika Serikat, Edwin Hubble melakukan observasi dan mengamati galaksigalaksi
bergerak menjauhi kita dengan kecepatan yang tinggi. Ia juga mengamati jarak
antara galaksi-galaksi bertambah setiap saat. Penemuan Hubble ini menunjukkan
bahwa alam semesta kita tidaklah statis seperti yang dipercaya sejak lama,
namun bergerak mengembang. Kemudian hal ini menimbulkan suatu perkiraan bahwa alam
semesta bermula dari pengembangan di masa lampau.
Mari kita bandingkan penemuan ini dengan
ayat al-Qur`an:
﴿وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ﴾
“Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan Kami dan Kami benar-benar
meluaskannya.”[76]
Ash-Shabuni menjelaskan, “Maksudnya, Kami
benar-benar meluaskan penciptaan langit, sehingga bumi beserta yang meliputinya baik udara dan
air bagaikan gelang kecil di padang luas, sebagaimana yang tercantum di banyak
hadits. Ibnu ‘Abbas menjelaskan tafsir ‘Kami benar-benar meluaskannya’
yaitu kemampuan, yakni Kami benar-benar mampu meluaskannya.”[77]
Alloh ﷻ juga berfirman:
﴿اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ
تَرَوْنَهَا﴾
“Alloh-lah yang telah meninggikan
langit-langit tanpa tiang seperti yang kalian lihat.”[78]
Al-‘Allamah as-Sa’di (1376 H) menjelaskan,
“Alloh-lah yang meninggikannya dengan membesarkannya dan meluaskannya dengan
kemahaagungan-Nya ‘tanpa tiang seperti yang kalian lihat,’ yakni langit
tidak bertiang dari bawahnya, karena seandainya bertiang tentulah kalian akan
melihatnya.”[79]
“Meninggikannya” mengisyaratkan bahwa langit itu semakin tinggi, jauh, luas, dan
mengembang. Para ilmuwan mengilustrasikan pengembangan ini seperti bola yang ditiup
atau roti yang mengembang. Namun, ilustrasi yang lebih tepat adalah seperti
balon udara yang mengembang. Pendapat yang benar dan shahih menurut al-Qur`an
dan Sunnah adalah langit itu bulat sebagaimana bumi bulat. Dalil-dalilnya
sebagai berikut:
Al-Qur`an mengisyaratkan langit itu bulat
sebagaimana firman-Nya:
﴿لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا
اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
“Tidak layak bagi matahari untuk mendapati
bulan dan tidak mungkin malam mendahului siang. Masing-masing beredar (berputar)
pada falak (garis edarnya/ langit).”[80]
Sisi pendalilannya, keadaan sesuatu (bulan
dan matahari) berputar pada sesuatu (langit) menunjukkan kebulatannya. Al-Hasan
al-Bashri (110 H) menjelaskan ayat ini, “Yakni berputar.” Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu
‘anhuma menafsirkan (فَلَكٍ)
seperti (فَلْكَةِ الْمِغْزَلِ),
yaitu kayu berbentuk bulat yang digunakan untuk menenun kain.[81]
Juga firman Alloh ﷻ:
﴿وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا
مُعْرِضُونَ﴾
“Dan Kami jadikan langit sebagai atap yang
terjaga, sementara mereka berpaling dari ayat-ayat (tanda-tanda) Kami.”[82]
Sisi pendalilannya, sesuatu dikatakan atap
jika menaungi di bawahnya secara keseluruhan menyesuaikan bentuknya. Oleh
karena bumi (yang diatapi) itu bulat, maka langit (atap) pun bulat. Yang
mengejutkan di sini, seolah ayat “sementara mereka berpaling dari ayat-ayat
(tanda-tanda) Kami” mengisyaratkan bahwa nanti akan ada manusia yang
menentang kebenaran ayat ini, yaitu orang-orang kafir, karena konteks ayat dan
ayat sebelumnya membicarakan orang kafir.
Sabda Nabi ﷺ mengisyaratkan demikian:
«إِنَّ اللَّهَ
فَوْقَ عَرْشِهِ، فَوْقَ سَمَوَاتِهِ، وَسَمَوَاتُهُ فَوْقَ أَرَضِيهِ مِثْلُ
الْقُبَّةِ»
“Sesungguhnya Alloh di atas ‘Arsy-Nya, di
atas langit-langit-Nya, di atas bumi-bumi-Nya, bagaikan kubah.”[83]
Sisi pendalilannya, ‘Arsy yang menaungi
langit seperti kubah sehingga langit pun bulat. Ini pendapat Syaikhul Islam.
Adapun perbandingan ‘Arsy dengan langit dan bumi, terdapat dalam hadits yang
masih diperselisihkan keabsahannya:
«مَا
السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ مَعَ الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضٍ
فَلَاةٍ وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الْفَلَاةِ عَلَى
الْحَلْقَةِ»
“Tidaklah langit yang tujuh dibanding Kursi melainkan
seperti gelang yang dilempar di tanah lapang. Besarnya ‘Arsy dibanding Kursi seperti
besarnya tanah lapang dibanding gelang tersebut.”[84]
Ijma’
para ‘ulama. Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H) berkata, “Ibnu Hazm, Ibnul
Munadi, Abu Faraj Ibnul Jauzi, dan ‘ulama lainnya menukil ijma’ bahwa langit
bulat.”[85]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) berkata,
“Telah tsabit dari al-Qur`an, as-Sunnah, dan ijma’ ‘ulama bahwa langit
itu bulat.”[86]
Telah masyhur di kalangan ahli bahasa bahwa
(الْفَلَكُ)
bermakna sesuatu yang bulat.[87]
Ilmuwan menyatakan bahwa alam semesta
berkembang terus-menerus, tetapi dengan kelajuan yang semakin kecil dan semakin
kecil, meskipun tidak benar-benar mencapai nol. Hal ini menyebabkan suatu saat
alam semesta akan mengalami penyusutan seperti balon yang dilipat atau
digulung. Mungkin inilah keadaan hari Kiamat yang diyakini umat Islam.
Mari kita bandingkan penemuan ini dengan
ayat al-Qur`an:
﴿يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا
بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ﴾
“(Ingatlah) pada hari Kami melipat
(menggulung) langit seperti melipat (menggulung) lembaran-lembaran kertas.
Sebagaimana Kami yang mengawali penciptaan pada kali pertama, Kami pun akan
mengulanginya kembali (penciptaanya), sebagai janji atas Kami dan Kami
benar-benar akan melakukannya.”[88]
5. Gunung Sebagai
Pasak
Pembahasan berikutnya. Dalam al-Qur`an, Alloh
menjadikan gunung sebagai pasak (pondasi). Maklumnya, pasak berfungsi untuk
menjadikan sebuah bangunan seimbang dan tidak goncang atau roboh.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ
وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾
“Dan Dia memasang rawâsî di dalam
bumi agar ia tidak bergoncang bersama kalian, juga sungai-sungai dan
jalan-jalan agar kalian mendapat petunjuk.”[89]
Al-Hafizh Ibnul Jauzi (597 H) menjelaskan
makna rawâsî sebagai jibâl (gunung-gunung) dan ini juga pendapat
ahli bahasa terkenal az-Zujaj. Al-Hafizh berkata, “Maksudnya, Kami memasang di
dalamnya gunung-gunung yang kokoh agar ia tidak goncang.”[90]
Nabi ﷺ bersabda:
«لَمَّا خَلَقَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْأَرْضَ، جَعَلَتْ تَمِيدُ، فَخَلَقَ الْجِبَالَ،
فَأَلْقَاهَا عَلَيْهَا فَاسْتَقَرَّتْ»
“Tatkala Alloh ‘azza wa jalla menciptakan
bumi, ia berguncang. Lalu Dia menciptakan gunung-gunung lalu dipancangkan di
atasnya sehingga bumi jadi tenang.”[91]
Lantas, apa pendapat ilmuwan tentang
gunung? Mereka menemukan fenomena yang tidak terduga sebelumnya bahwa gunung
yang menjulang tinggi itu kalah jauh dengan akarnya yang menjulang ke bumi. Dan
seandainya bukan karena akar ini, bumi akan sering bergoncang karena di dasar
bumi terdapat cairan yang sangat panas dan mendidih. Cairan ini tetap stabil
karena tekanan panasnya dikeluarkan lewat gunung-gunung ke lempengan-lempengan
atau diletuskan.
Para ilmuwan juga menjelaskan bahwa fungsi
gunung bagi bumi adalah ibarat sebuah paku yang menjadikan lembaran kayu tetap
saling menyatu. Gunung muncul karena
tumbukan lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua
lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip ke bawah sedangkan lempengan yang lemah melipat ke atas
membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan
dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai
bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak
di permukaan bumi. Dengan perpanjangan yang menghujam jauh ke dalam maupun ke
atas permukaan bumi, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi
yang berbeda, layaknya pasak. Kerak bumi terdiri atas lempengan-lempengan yang
senantiasa dalam keadaan bergerak. Fungsi pasak dari gunung ini mencegah
guncangan dengan cara memancangkan kerak bumi yang memiliki struktur sangat
mudah bergerak.[92]
Alloh ﷻ mengabarkan fungsi gunung dalam firman-Nya:
﴿أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا (٦) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا﴾
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu
sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?”[93]
Diduga bahwa magma yang berhasil
ditenangkan gunung ini sebagian berasal dari magma yang berada di kerak bumi,
yang seolah-olah di dasar laut ada api.
Pada pertengahan tahun 1990-an, dua ahli
geologi berkebangsaan Rusia, Anatol
Sbagovich dan Yuri Bagdanov bersama rekannya ilmuwan Amerika Serikat, Rona
Clint pernah melakukan penelitian tentang kerak bumi dan patahannya di dasar
laut.
Para ilmuwan tersebut, menyelam ke dasar
laut sedalam 1.750 kilometer di lepas pantai Miami. Sbagovich bersama kedua
rekannya menggunakan kapal selam canggih yang kemudian beristirahat di batu
karang dasar laut. Di dasar laut itulah, mereka dikejutkan dengan fenomena
aliran air yang sangat panas mengalir ke arah retakan batu. Kemudian aliran air
itu disertai dengan semburan lava cair panas menyembur layaknya api di daratan,
juga disertai dengan debu vulkanik layaknya asap kebakaran di daratan. Panasnya
suhu api vulkanis di dalam air tersebut ternyata mencapai 231 derajat celcius.
Bagaimana api bisa bertahan di dalam laut? Mereka
menemukan fakta bahwa fenomena alam itu terjadi akibat aliran lava vulkanis
yang terjadi di dasar laut, layaknya gunung api bila di daratan. Dan kemudian
mereka menemukan lebih banyak lagi gunung api aktif di bawah laut, yang
tersebar di seluruh lautan.[94]
Setelah Perang Dunia II, para ilmuwan melakukan ekspedisi bawah laut dalam rangka
mencari alternatif berbagai barang tambang yang sudah nyaris habis cadangannya
di daratan akibat konsumerisme budaya materialistik yang dijalani manusia
sekarang ini. Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic
mountain chain) yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di
tengah-tengah seluruh samudera bumi yang kemudian mereka sebut sebagai ‘gunung-gunung
tengah samudera.’
Dengan mengkaji rangkaian gunung-gunung
tengah samudera ini tampak jelas bahwa gunung-gunung tengah samudera tersebut
sebagian besar terdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) yang dapat
meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak
yang sangat besar. Jaring retak ini dapat merobek lapisan bebatuan bumi dan ia
melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari segala arah dan terpusat di
dalam dasar samudera dan beberapa lautan, sedangkan kedalamannya mencapai 65 km. Kedalaman
jaring retak ini menembus lapisan bebatuan bumi secara penuh hingga menyentuh
lapisan lunak bumi (lapisan bumi ketiga) yang memiliki unsur bebatuan yang
sangat elastis, semi cair, dan memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.
Bebatuan lunak ini didorong oleh arus
muatan yang panas ke dasar semua samudera dan beberapa lautan semacam Laut
Merah dengan suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius. Batuan-batuan
elastis yang beratnya mencapai jutaan ton ini mendorong kedua sisi samudera
atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian disebut oleh para ilmuwan dengan ‘fenomena
perluasan dasar laut dan samudera.’ Dengan terus berlangsungnya proses
perluasan ini, maka wilayah-wilayah yang dihasilkan oleh proses perluasan
itupun penuh dengan magma bebatuan yang mampu menimbulkan pendidihan di dasar
samudera dan beberapa dasar laut.
Salah satu fenomena yang mencengangkan para
ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera
tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat
panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal
yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi, termasuk di dalamnya
Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut
Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Alloh ﷻ yang tiada batas.
Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka
yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen
dasar laut ini pun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar
pemikiran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arobia,
Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan
tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.
Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler
barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut.
Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam batang air yang ketebalannya
mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorang
pun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah
tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan
demikian, sudah terbukti nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan
gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh
melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan.
Kemudian terbukti pula dengan beragam dalil
dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Alloh ﷻ dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap
moncong gunung berapi. Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan
ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi. Di dalam lapisan
lunak bumi dan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air puluhan kali
lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi.
Dari sini tampaklah kehebatan hadits Nabi ﷺ
ini yang menetapkan sejumlah fakta-fakta bumi yang mencengangkan dengan sabda, “Sesungguhnya
di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.” Sebab fakta-fakta ini
baru terungkap dan baru bisa diketahui oleh umat manusia pada beberapa tahun
terakhir.[95]
Mari kita bandingkan penemuan ini dengan
ayat al-Qur`an:
﴿وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ﴾
“Demi laut yang dibakar api.”[96]
Kebanyakan mufassir (ahli tafsir)
menafsirkan ayat ini tentang kejadian hari Kiamat bukan fenomena alam sekarang.
Yang semakna dengan ini adalah firman Alloh:
﴿وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ﴾
“Dan apabila laut dibakar api.”[97]
‘Ali bin Abi Thalib bertanya kepada seorang
Yahudi, “Di mana Jahannam?” Dia menjawab, “Laut.” ‘Ali berkata, “Aku
memandangmu sebagai orang yang benar.” Kemudian ‘Ali membaca ayat, “Demi
laut yang dibakar api.”[98]
Boleh jadi ayat ini juga mengandung hukum alam. Sangat mudah bagi Alloh
menyempurnakan kandungan Kalam-Nya. Apalagi ayat ini diletakkan setelah
pembicaraan fenomena alam, “Dan demi atap (langit) yang ditinggikan.”
Juga ada hadits yang berbunyi:
«إِنَّ تَحْتَ
الْبَحْرِ نَارًا، وَتَحْتَ النَّارِ بَحْرًا»
“Sesungguhnya di bawah laut ada api dan di
bawah api ada laut.”[99]
Syaraful Haq al-‘Adhimi al-Abadi
menjelaskan, “Ada yang berpendapat bahwa makna hadits ini adalah sesuai
zhahirnya (apa adanya) karena Alloh Mahakuasa atas segala sesuatu.”[100]
Cairan api yang sangat panas ini
diistilahkan para ilmuwan dengan magma. Inti Bumi yang sangat panas mengandung
magma yang berada di dalam perut bumi. Lapisan dalam inti bumi ini menyambung
lapisan lithosfer yang menyambung pada gunung-gunung berapi. Magma yang berasal
dari lapisan athenosfer akan menjadi lahar setelah dimuntahkan oleh gunung
berapi. Para ilmuwan memperkirakan temperatur inti bumi antara 9.000 - 11.000
derajat Fahrenheit atau sekitar 5.000 - 6.000 derajat Celcius. Sebagai
perbandingan, air mendidih pada temperatur 100 derajat Celcius. Magma yang
super panas ini tidak membeku di dalam perut bumi karena makin ke dalam perut
bumi, tekanan dan suhu makin tinggi. Pada suhu yang tinggi itu
material-material akan meleleh sehingga material di bagian dalam bumi berbentuk cair. Suhu
tinggi ini yang mempertahankan cairan akan terus berbentuk cair hingga jutaan
tahun.
Ketika ada lubang keluar, cairan ini keluar
berbentuk lava cair. Ketika lava mencapai permukaan bumi, suhu menjadi lebih
dingin (dari ribuan derajat menjadi hanya sekitar 30 derajat). Pada suhu ini
cairan lava akan membeku membentuk batuan beku.
Mengapa cairan magma yang super panas ini
tidak sampai membakar permukaan bumi? Jawabannya, minimal karena dua hal:
diseimbangkan oleh gunung dengan cara dikeluarkan lewat letusannya, dan struktur lithosfer
(lapisan kerak bumi) yang tebal dan kuat. Jadi, manusia pada hakikatnya ini
sedang berjalan di atas lautan api yang sangat panas. Seandainya Alloh
berkehendak, Alloh akan membinasakan orang-orang yang sombong dan angkuh dalam
berjalan itu.
Mari kita bandingankan penemuan ini dengan
ayat al-Qur`an:
﴿وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ
الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا﴾
“Dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan
angkuh. Sesungguhnya kamu tidak akan mampu melubangi bumi dan tinggimu tidak
akan mampu mencapai gunung.”[101]
Firman-Nya, “kamu tidak akan mampu
melubangi bumi” seolah mengisyaratkan bahwa lapisan permukaan bumi ini
didesain kuat dan tebal oleh Alloh sehingga mustahil dilubangi oleh hamba-hamba
yang angkuh itu. Juga dengan hikmah-Nya agar tidak mampu ditembus oleh magma
yang super panas di dalam inti bumi sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada para
hamba-Nya.
Tentang “Kamu tidak akan mampu melubangi
bumi” ini, al-Hafizh Ibnul Jauzi (597 H) menjelaskan, “Ada dua pendapat.
Yang pertama: ‘Kamu tidak akan mampu melintasi bumi hingga ujungnya’ dan kedua:
‘Kamu tidak akan mampu menembus dan menggalinya.’”[102]
6. Sebuah Renungan
Apa yang kami sebutkan
ini mengenai seputar Big Bang, langit, matahari, dan bumi, jika masih
terasa berat karena keyakinan dulu yang sudah mendarah daging dan
turun-temurun, sejujurnya kami tidak memaksa siapapun untuk mengikutinya. Meskipun demikian, baiknya Anda merenungi sifat-sifat orang
beriman berikut ini. Mereka disebut beriman karena mereka percaya dengan
kabar-kabar dari Alloh meskipun belum pernah melihat Alloh ataupun belum pernah
menyaksikan sendiri kabar tersebut.
﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا﴾
“Sesungguhnya orang-orang beriman hanyalah
orang-orang yang percaya kepada Alloh dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak
ragu.”[103]
﴿إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ
وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Sesungguhnya ucapan orang-orang beriman
apabila diseru kepada Alloh dan Rasul-Nya agar memutuskan perkara di antara
mereka adalah ucapan, ‘kami dengar dan kami taat,’ dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung.”[104]
﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ
وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ
يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا﴾
“Dan tidak patut bagi orang beriman
laki-laki dan perempuan apabila Alloh dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu
perkara bahwa mereka memiliki pilihan lain dari urusan mereka tersebut.
Barangsiapa yang durhaka kepada Alloh dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat
dengan kesesatan yang nyata.”[105]
C. Al-Qur`an Berbicara Kedokteran Modern
Umat Islam memiliki ahli kedokteran yang
ternama di dunia Barat yang bernama Ibnu Sina atau dilatinkan menjadi Avicenna.
Bukunya yang menjadi pedoman kedokteran selama
berabad-abad silam di dunia Eropa dan Barat bukanlah hal yang
tersembunyi lagi. Ibnu Sina hafal al-Qur`an saat berumur sekitar 10 tahun,
sebagaimana yang dinukil adz-Dzahabi.
Al-Qur`an banyak menyinggung masalah
kedokteran agar beriman orang-orang yang sombong dan angkuh dari kalangan umat
Nashrani yang membanggakan ilmu kesehatan mereka.
Alloh ﷻ lewat al-Qur`an menyuruh manusia untuk memikirkan penciptaan
diri mereka sendiri yang begitu rumit dan
menakjubkan, apakah mungkin dirinya tercipta dengan sendirinya tanpa
Pencipta?
﴿وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (٢٠) وَفِي أَنْفُسِكُمْ
أَفَلَا تُبْصِرُونَ﴾
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang yakin dan juga di diri-diri kalian. Apakah kalian tidak
melihatnya?”[106]
Kemudian Alloh menjelaskan kaidah-kaidah
mendasar dalam kedokteran dari mulai keajaiban sperma, proses pembuahan, hingga
masa pertumbuhan dan masa tua yang pikun. Belum ada kitab yang mampu berbicara
permasalahan yang begitu akurat seperti ini sebelum 1400 tahun silam selain
al-Qur`an.
1. Sperma dalam
Kedokteran dan Wahyu
Ilmu kedokteran menjelaskan bahwa rata-rata
sel sperma laki-laki yang terpancar berjumlah 250 juta. Kumpulan sperma
tersebut membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk sampai ke sel telur, tetapi
hanya 1.000 saja yang berhasil sampai mencapai sel telur, yang lainnya mati terkena
asam di pintu rahim saat di perjalanan. Sel telur yang seukuran setengah garam
tersebut hanya mengijinkan dimasuki (dibuahi) oleh satu sel sperma saja
(spermatozoa). Spermatozoa ini yang akan menentukan apakah berjenis kelamin laki-laki
atau perempuan, bukan sel telur perempuan.
Bandingkan ini dengan firman Alloh:
﴿وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى (٤٥) مِنْ
نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى﴾
“Dan sesungguhnya Dia menciptakan
berpasangan laki-laki dan perempuan dari sperma apabila dipancarkan.”[107]
Dalam ayat ini setelah menyebutkan jenis
laki-laki dan perempuan, al-Qur`an menyebutkan bahan penciptaannya dari nutfah
(sperma) tanpa menyebutkan rahim atau sel telur, seakan mengisyaratkan bahwa
yang menentukan berjenis laki-laki atau perempuan adalah spermatozoa laki-laki
bukan sel perempuan. Inilah yang diakui ilmu kedokteran modern. Menurut
kedokteran, spermatozoa itu mengandung dua pasang kromosom y dan x sementara
perempuan hanya x. Jika y spermatozoa bertemu x sel telur maka berjenis
laki-laki (xy) tetapi jika x bertemu x maka berjenis perempuan (xx).
Syaikh as-Sa’di (1367 H) menjelaskan nutfah,
“Ia keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan lalu menetap
di ‘tempat yang kokoh’ yakni rahim yang menjaga dari kerusakan, angin,
dan lainnya.”[108]
Sperma tersusun dari campuran zat-zat
lainnya sehingga memiliki energi untuk bergerak, pelindung dari asam di sekitar
rahim, dan melincinkan jalan sehingga memudahkan pergerakan menuju sel telur.
Mari kita bandingkan hal ini dengan firman Alloh
ﷻ:
﴿إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ
نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا﴾
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dari sperma yang bercampur. Kami mengujinya lalu Kami menjadikan untuknya
pendengaran dan penglihatan.”[109]
Al-Hafizh Ibnul Jauzi (597 H) menukil dari
Ibnu Qutaibah bahwa makna (أَمْشاجٍ)
adalah bercampur (أَخْلاَطٌ).
Kemudian al-Hafizh menjelaskan, yaitu campuran air laki-laki dengan air
perempuan (bercampurnya spermatozoa dan ovum).[110]
Boleh jadi juga maknanya dibawa kepada
campuran bermacam-macam zat dalam sperma. Di dalam ayat lain, Alloh ﷻ mensifati sperma sulâlah (سُلَالَةٍ) yang artinya saripati. Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya
menjelaskan makna sulâlah, mengeluarkan sesuatu dari sesuatu. Itu
artinya air mani terbentuk dari saripati tubuh (zat mendasar atau terbaik) yang
bercampur lalu menjadi nutfah (sperma).
2. Enam Tahapan Janin
Kemudian, Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (١٢)
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (١٣) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ
عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا
فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ
اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ﴾
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia
dari saripati tanah. Kemudian Kami jadikan ia nutfah (sperma) di tempat yang
kokoh. Kemudian Kami jadikan nuftah ‘alaqah (segumpal darah).
Kamudian Kami jadikan ‘alaqah mudhghah (segumpang daging).
Kemudian Kami jadikan mudhghah tulang lalu Kami bungkus tulang tersebut dengan
daging. Kemudian Kami menjadikannya ke bentuk ciptaan lain. Maka Mahasuci Alloh
sebaik-baik pencipta.”[111]
Inilah tahapan-tahapan penciptaan manusia
yang Alloh jelaskan secara terperinci 14 abad silam, sementara kedokteran Barat
baru bisa menjelaskannya 2 abad silam. Sebab, embriologi (cabang ilmu
kedokteran tentang pembuahan spermatozoa dan ovum hingga menjadi janin)
berkembang seiring ditemukannya mikroskop pada abad ke-17 M oleh Leueewenhoek,
tetapi baru diketahui perkembangan embrio secara detail abad ke-20 M oleh
Streeter (1941) dan dilanjutkan oleh O’Rahilly (1972).
Ilmu embriologi menjelaskan bahwa
spermatozoa yang berhasil memasuki ovum, ia menempel ke rahim untuk mengambil
zat makanan dari darah ibu, mirip lintah mengisap darah. Seandainya zigot
(spermatozoa yang melebur dengan ovum) ini difoto sejajar dengan lintah, maka
gambar yang terambil hampir sama bentuknya. Al-Qur’an menyebut setelah tahapan nutfah
dengan ‘alaqah (عَلَقَةٌ)
yang dalam bahasa Arob artinya sesuatu yang menempel pada sesuatu. Orang ‘Arob
biasa menggunakan lafazh untuk mengungkapkan menempelkan lintah kepada sesuatu
dengan (أَعْلَقَ),
bahkan lintah sendiri bernama (عَلَقٌ). Al-Hafizh Ibnul Jauzi menjelaskan, “Ada yang berpendapat
bahwa disebut (عَلَقَةٌ)
karena ia bersifat basah dan menempel pada sesuatu yang dilewatinya, apabila
telah kering (sehingga terlepas) tidak disebut lagi (عَلَقَةٌ).”[112]
Alloh Mahasempurna menentukan istilah untuk
keadaan zigot ini dengan (عَلَقَةٌ)
yang ketiga maknanya menyamai keadaan zigot, yaitu sesuatu yang menempel
(karena memang zigot menempel pada dinding rahim), lintah (karena memang
bentuknya dan cara mengisapnya mirip lintah), dan segumpal darah (karena memang
menghisap darah lewat dinding rahim sehingga mengandung dominasi darah yang
menggumpal). Allahu akbar!
Kemudian Alloh rubah menjadi (مُضْغَةٌ)
setelah (عَلَقَةٌ).
Secara bahasa (مُضْغَةٌ)
artinya sesuatu yang dikunyah atau segumpal daging (yang dikunyah). Kata ini
mengena sekali dalam menjelaskan keadaan zigot dalam fase ini, di mana bahan
dasarnya berupa segumpal daging kecil dan bentuknya mirip sesuatu yang dikunyah
(sudah berbentuk tidak teratur). Al-Hafizh Ibnul Jauzi dan Syaikh as-Sa’di
menafsirkan (مُضْغَةٌ)
dengan gumpalan daging yang sedikit.[113]
Fase berikutnya, Alloh menjadikannya tulang
(عِظَامٌ)
kemudian Alloh bungkus dengan daging (لَحْمٌ). Awalnya kedokteran
meyakini fase tulang dan daging terbentuk bersamaan, tetapi kemudian
meralatnya, yaitu tulang dulu baru
dibungkus daging. Kemudian di fase terakhir zigot berkembang menjadi janin
dengan bentuk hampir sempurna kemudian sempurna seperti bayi pada umumnya,
sebagai tahapan dari (النَّشَأُ)
yang secara bahasa berarti berkembang, tumbuh, dan hidup. Fase ini dikenal oleh
ilmu kedokteran dengan diferensiasi.
Di dalam ayat yang agung ini, Alloh ﷻ mengajarkan ilmu embriologi kepada manusia. Tahapan-tahapan perkembangan
embrio Alloh ﷻ
rangkum dalam 6 tahapan. Alloh berfirman, “Dan Dia menciptakan kalian dalam
perut-perut ibu kalian kejadian demi kejadian (tahapan-tahapan).”[114]
Adapun 6 tahapan tersebut adalah:
1)
Nutfah
(sperma selama 40 hari)
2)
‘Alaqah
(segumpal darah selama 40 hari)
3)
Mudhghah
(segumpal daging selama 40 hari)
4)
‘Idhâm
(tulang)
5)
Lahma
(daging/otot)
6)
Nasy`
menjadi khalqun akhar (bentuk baru)[115]
Semua tahapan ini benar-benar fakta ilmiah
ilmu kedokteran modern, bahkan penjelasan dalam al-Qur`an lebih akurat, jelas,
singkat, dan mudah dipahami, berbeda dengan ilmu embriologi modern yang sulit ditangkap
dan dipahami dengan mudah. Seorang pakar anatomi dan embriologi dari
Universitas Toronto Kanada, Dr. Moore, dalam bukunya Developing Human
(Perkembangan Manusia) menyatakan bahwa klasifikasi modern tentang tahap
perkembangan embrionik yang telah diadopsi hampir di seluruh dunia, adalah
pengklasifikasian yang terlalu rumit dan tidak komprehensif. Klasifikasi modern
di atas tidak memberikan kontribusi terhadap pemahaman mengenai tahapan
perkembangan embrionik secara mudah dan jelas, karena tahap-tahap tersebut
berdasarkan bentuk numerik, yaitu tahap 1, tahap 2, tahap 3, dan seterusnya.
Pembelahan yang telah disebutkan al-Qur`an tidaklah bergantung pada sistem
numerik. Lebih jauh, klasifikasi perkembangan embrio yang terdapat di al-Qur`an
berdasarkan pada identifikasi morfologi (bentuk) dan ukuran yang lebih akurat,
mudah dipahami, dan jelas.
Mahasuci Alloh yang berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ
فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ
ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ
وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ
طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ
مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ
شَيْئًا﴾
“Wahai manusia, jika kalian berada dalam
keraguan tentang hari kebangkitan, (maka perhatikanlah) sesungguhnya Kami telah
menciptakan kalian dari tanah kemudian dari nutfah kemudian dari ‘alaqah
kemudian dari mudhghah yang terbentuk dan tidak terbentuk, supaya Kami jelaskan
itu kepada kalian. Kami simpan kalian dalam rahim sampai waktu yang Kami
kehendaki, kemudian Kami keluarkan kalian berupa bayi kemudian kalian tumbuh
dewasa. Sebagian kalian diwafatkan dan sebagian kalian dikembalikan kepada umur
pikun sehingga tidak mengetahui apapun setelah sebelumnya mengetahui.”[116]
3. 9 Bulan 10 Hari
Umur kehamilan secara umum menurut ilmu
kedokteran adalah 9 bulan 10 hari. Bagaimana dengan al-Qur`an? Perhatikan dua
firman Alloh ini yang akan membuat Anda takjub:
﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ
أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا﴾
“Dan Kami mewasiatkan manusia untuk berbuat
baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan kepayahan dan
melahirkannya dengan kepayahan pula. Masa mengandung dan menyapihnya adalah 30
bulan.”[117]
﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ
وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ﴾
“Dan Kami mewasiatkan manusia kedua orang
tuanya (untuk diperlakukan dengan baik). Ibunya mengandungnya dalam keadaan kelemahan di atas kelemahan, dan masa
menyapihnya 2 tahun.”[118]
Dalam ayat pertama, Alloh menyebutkan masa
mengandung ditambah menyapih (berhenti menyusui balita) adalah 30 bulan (2
tahun 6 bulan), sementara pada ayat kedua disebutkan masa menyapihnya 2 tahun.
Ini berarti masa mengandung ibu menurut al-Qur`an adalah 6 bulan!!!
Enam bulan adalah masa minimun memungkinkan wanita melahirkan atau
istilah kedokterannya prematur. Kedokteran tidak bisa membantah bahwa
terkadang ada wanita yang melahirkan saat menginjak usia kehamilan 6 bulan,
meskipun jarang terjadi dan terkadang bayinya kurang sempurna atau meninggal.
Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan,
“Dengan ayat ini ‘Ali rodhiyalloohu ‘anhu berdalil bahwa masa hamil
paling sedikit wanita adalah 6 bulan. Ini adalah istinbath (pengambilan
hukum) yang kuat dan shahih. Ini juga disetujui ‘Utsman dan jamaah para
shahabat rodhiyalloohu ‘anhum.” Kemudian al-Hafizh membawakan cerita
yang diriwayatkan dari Ba’ajah bin ‘Abdullah al-Juhanni, dia berkata, “Seorang
lelaki dari daerah kami menikah dengan seorang wanita dari Juhainah lalu
melahirkan persis 6 bulan. Kemudian suaminya pergi menemui ‘Utsman dan
menceritakannya (seolah-olah istrinya telah berzina karena baru 6 bulan bersama
suaminya sudah melahirkan). Lalu wanita itu didatangkan (untuk dirajam).
Tatkala wanita itu bangkit dengan mengenakan pakaiannya, saudarinya menangis.
Wanita itu berkata, ‘Apa yang membuatmu menangis?’ Dia menjawab, ‘Demi Alloh
tidak ada seorang pun dari makhluk Alloh yang memakaikan itu (mungkin merawat)
kepadaku selainmu. Alloh telah menetapkan takdirnya atasku apa yang Dia
kehendaki.’ Tatkala wanita itu didatangkan ke ‘Utsman, kemudian diperintahkan
eksekusi rajam (dilempari batu hingga mati). Kemudian berita itu sampai ke ‘Ali
bin Abi Thalib rodhiyalloohu ‘anhu, lalu berkata kepada beliau, ‘Apa
yang Anda lakukan?’ ‘Utsman menjawab, ‘Dia melahirkan persis 6 bulan.’ ‘Ali
berkata kepada beliau, ‘Tidakkah Anda membaca al-Qur`an?’ ‘Ya,’ jawabnya.
‘Tidakkah Anda mendengar Alloh berfirman, ‘Masa mengandung dan menyapihnya
adalah 30 bulan,’ dan firman-Nya, ‘Dan masa menyapihnya 2 tahun,’
sehingga kita tidak mendapatkan sisa kecuali 6 bulan?’ kata ‘Ali. ‘Utsman
berkata, ‘Demi Alloh, saya tidak mengetahuinya.’”[119]
D. Al-Qur`an Berbicara Masa Lampau dan Masa Depan
Banyak buku yang menggunakan istilah
“Ramalan al-Qur`an sekarang telah terbukti.” Kata ramalan seakan berkonotasi
jelek, yakni praduga kuat yang terlarang yang biasa dilakukan para dukun untuk
menentukan kejadian masa depan. Adapun yang dimaksud ramalan oleh mereka adalah
kabar al-Qur`an tentang masa depan yang pasti akan terjadi dan sebagian telah
terbukti, tetapi kata ramalan sebaiknya tidak digunakan.
1. Bulan Pernah
Terbelah Dua Kali
Alloh ﷻ berfirman:
﴿اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ﴾
“Hari Kiamat telah dekat dan bulan telah
terbelah.”[120]
Alloh Mahatahu yang ghaib mengabarkan bahwa
bulan telah terbelah, karena asal kata kerja lampau (انْشَقَّ) menunjukkan peristiwa yang telah terjadi.
Anas bin Malik rodhiyalloohu ‘anhu
berkata:
أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُرِيَهُمْ آيَةً، فَأَرَاهُمُ انْشِقَاقَ القَمَرِ [مَرَّتَيْنِ]
“Penduduk Makkah meminta Rosululloh ﷺ
untuk memperlihatkan kepada mereka suatu mu’jizat lalu beliau memperlihatkan
kepada mereka terbelahnya bulan [sebanyak dua kali].”[121]
Para ‘ulama telah berijma’ (sepakat tanpa
berselisih) bahwa bulan telah terbelah di masa Rosululloh ﷺ
sebagai mu’jizat dari beliau ﷺ,
di antaranya para imam ahli hadits semisal al-Bukhari dan Muslim yang membuat
bab terbelahnya bulan. Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Peristiwa ini benar
terjadi di masa Rosululloh ﷺ
sebagaimana yang tercantum dalam hadits-hadits mutawatir lagi shahih.”[122] Hingga Rosululloh ﷺ berkata kepada penduduk Makkah, “Saksikanlah! Saksikanlah!”
Kemudian mereka mendustakannya dengan mengatakan bahwa ini hanyalah sihir dari
Muhammad, tetapi sebagian mereka menolak tuduhan ini karena sihir tidak mungkin
berpengaruh di tempat-tempat lain juga. Abu Jahal bertanya kepada kafilah
dagang dari Syam dan dijawab benar adanya bahwa bulan terbelah dilihat oleh
mata mereka sendiri saat di perjalanan.
Jika ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin
bulan benda yang sangat besar terbelah lalu menyatu kembali? Ini sangat
bertentangan dengan ilmu fisika, gravitasi, dan geologi.” Maka jawabannya, “Alloh
Mahakuasa terhadap segala sesuatu.” Kewajiban kita adalah tunduk patuh dan
beriman kepada segala kabar dari Alloh dan Rasul-Nya jika benar-benar shahih
kabarnya, karena Alloh adalah haq dan Rosululloh adalah utusan-Nya.
Pada tahun 1969, badan antariksa Amerika
NASA mengklaim berhasil mengambil foto bulan pada ketinggian 14 km dari
permukaan bulan. Mereka menemukan fenomena aneh pada permukaan bulan yang
memiliki kawah melingkar seperti cincin. Celah yang menyerupai kawah ini
memiliki panjang 125 km dan kedalaman 400 m serta lebar 1.500 m.
Adapun umat Islam, mereka percaya 100 %
bahwa bulan pernah terbelah sebagai mu’jizat Nabi ﷺ karena kabar terbelahnya bulan shahih dari Alloh dan Rasul-Nya,
dan tidak akan goyah dengan penemuan Barat yang membenarkannya atau
menyanggahnya, karena penemuan dan penelitian manusia bisa salah dan bisa
benar, apalagi jika mereka berbohong lalu kita membenarkannya, seolah-olah
benar adanya mereka pernah ke bulan! Mereka tidaklah sehebat dan secanggih yang
mereka gembor-gemborkan di media massa!
2. Romawi Akan Mengalahkan
Persia
Kabar masa depan lainnya dan telah terbukti
kebenarannya adalah apa yang Alloh ﷻ firmankan:
﴿الم (١) غُلِبَتِ الرُّومُ (٢) فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ
بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (٣) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ
قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (٤) بِنَصْرِ اللَّهِ
يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ﴾
“Alif Lâm Mîm. Romawi telah dikalahkan di adnâ
bumi, dan mereka setelah kekalahannya akan menang dalam bidh’ tahun.
Milik Alloh sebelum dan sesudahnya, dan pada hari itu orang-orang beriman
bergembira karena pertolongan Alloh. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia
Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.”[123]
Alloh ﷻ mengabarkan kepada orang-orang beriman
bahwa Romawi (beragama Nashrani) akan menang mengalahkan Persia (kaum
paganisme, penyembah berhala) dalam bidh’. Apa itu Bidh’? Ahli
bahasa menyebutkan bahwa bidh’ untuk sebutan bilangan antara 3 sampai 9.
Itu artinya bangsa Romawi akan mengalahkan persia dalam kurun waktu antara itu,
dan terbukti 7 tahun setelah ayat ini turun terjadi peperangan antara Romawi
dan Persia dengan kemenangan di pihak Romawi. Mengapa seolah-olah orang beriman
mendukung Romawi padahal orang Nashrani telah Alloh kafirkan dan tidak diterima
agamanya? Jawabannya, dilihat dari sudut pandang “yang lebih baik” di antara
dua kubu, bukan karena dukungan ideologi merestui agama Nashrani. Bangsa Romawi
beragama Nashrani yang diturunkan kepada mereka kitab Taurat dan Injil (agama
samawi), sementara Bangsa Persia merupakan bangsa paganisme yang menyembah
berhala yang tidak beragama. Dilihat dari sini, Romawi lebih utama daripada
Persia. Ayat ini juga memberikan isyarat bahwa Alloh akan selalu memenangkan
yang paling mencocoki kebenaran di masa akhirnya.
Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhuma
menceritakan tentang ayat tersebut, “Romawi (awalnya) dikalahkan dan (akhirnya)
mengalahkan. Orang-orang musyrik senang jika Persia menang atas Romawi karena
keduanya sama-sama paganis. Adapun orang-orang mukmin senang jika Romawi menang
atas Persia karena mereka ahli kitab. Kemudian kabar itu disampaikan ke Abu
Bakar rodhiyalloohu ‘anhu dan Abu Bakar rodhiyalloohu ‘anhu
menyampaikannya kepada Rosululloh ﷺ. Beliau bersabda, ‘Sungguh mereka (Romawi) akan menang.’
Kemudian Abu Bakar menyampaikan itu kepada orang-orang musyrik dan mereka
berkata, ‘Mari kita taruhan sampai masa tertentu. Jika kami menang kamu bayar
sekian dan jika kamu yang menang kami akan membayar sekian.’ Maka mereka pun
menyepakati masa 5 tahun, tetapi belum
juga Romawi menang. Lalu diajukanlah kepada Nabi ﷺ
dan beliau bersabda, ‘Mengapa kamu tidak menetapkan kurang dari 10 saja (Sa’id –salah
satu perawi– mengatakan bahwa bidh’
artinya hitungan angka kurang dari 10).’ Kemudian Ramawi menang setelah itu.
Itulah firman Alloh ﷻ,
‘“Alif Lâm Mîm. Romawi telah dikalahkan di adnâ bumi, dan mereka
setelah kekalahannya akan menang dalam bidh’ tahun. Milik Alloh sebelum
dan sesudahnya, dan pada hari itu orang-orang mukmin bergembira karena
pertolongan Alloh. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa lagi
Maha Penyayang.’”[124]
Kemenangan Romawi adalah kemenangan yang tidak
pernah terduga sebelumnya, karena keadaan interen Romawi yang pecah dan
kekuatan militer yang melemah. Jangankan menyerang musuh, mempertahankan
negerinya sendiri sangat berat. Begitulah Alloh mengatur segala sesuatu menurut
kehendak-Nya.
Ada yang menakjubkan di ayat ini, Alloh
menyebutkan tempat pertempuran Romawi dengan Persia dengan lafazh adnâ.
Dalam bahasa ‘Arob lafazh (أَدْنَى)
memilili dua arti: dekat dan rendah. Dari situlah lafazh dunia (دُنْيَا)
terbentuk. Dunia bermakna dekat karena jaraknya sangat dekat dari akhirat
(umurnya singkat), dan bermakna rendah karena kenikmatannya sangat rendah
(sedikit, lenyap, meninggalkan kotoran, dan tidak sempurna) dibanding
kenikmatan Surga (banyak, kekal, tanpa meninggalkan kotoran, dan sempurna).
Para ahli sejarah menyebutkan bahwa
pertempuran tersebut terjadi di Laut Mati yang merupakan tempat paling rendah
dari permukaan laut, menurut penelitian terkini. Laut Mati memiliki titik
terendah di bumi sekitar 400 m di bawah permukaan laut. Disebut Laut Mati
karena tidak ada tanda kehidupan yang
dapat bertahan hidup di laut tersebut yang mengandung garam tertinggi dari
seluruh laut di dunia.
E. Al-Qur`an Berbicara Akhirat
Jika masalah dunia dan dasar-dasar ilmu
pengetahuan saja disinggung dalam al-Qur`an, apalagi masalah akhirat. Bahkan Alloh
menurunkan al-Qur`an sebagai kitab yang membimbing manusia agar selamat di
akhirat. Ia adalah kitab petunjuk dan pedoman hidup bukan kitab ilmu
pengetahuan. Seandainya al-Qur`an hanya mengandung petunjuk akhirat semata,
maka hal ini telah cukup. Namun, Alloh dengan hikmah-Nya menjadikan al-Qur`an
sesuai dengan apa yang Dia kehendaki dan sesuai dengan apa yang Dia firmankan.
Di antara ahli ilmu ada yang mengatakan bahwa sebenarnya seluruh
al-Qur`an berbicara masalah akhirat. Lalu bagaimana dengan ayat-ayat yang
menyingung tentang ilmu pengetahuan? Jawabannya adalah disinggungnya demikian
bukan semata untuk tujuan itu tetapi untuk bahan renungan manusia agar percaya
akan hari berbangkit, percaya akan datangnya kematian, percaya akan pembalasan
amal, percaya akan kemahakekuasaan Alloh. Dengannya, Alloh menegaskan bahwa Alloh
Maha Perkasa, Maha Memiliki, Maha Adil, Maha Mengatur, Maha Melihat, dan lain
sebagainya.
Alloh ﷻ menyebutkan tentang siklus hujan dalam
al-Qur`an dimana air hujan itu awalnya dari air laut yang menguap kemudian
menggumpal di angkasa menjadi butiran-butiran uap lalu disimpan di awan lalu
diturunkanlah hujan ke lembah-lembah gersang. Lalu tanah yang gersang itu
menjadi subur dan menumbuhkan tanaman. Demikian itulah perumpamaan manusia. Alloh
Mahakuasa untuk menghidupkannya kembali sebagaimana Dia kuasa menumbuhkan
kembali tanaman di tanah yang gersang.[125]
Alloh ﷻ membuat permisalan:
﴿وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا
بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ﴾
“Dan Dia-lah yang menurunkan air dari langit
menurut kadarnya lalu Kami sebarkan ia ke negeri-negeri yang mati. Demikianlah
kalian akan dikeluarkan (dari kubur) nanti.”[126]
Untuk itu al-Qur`an benar-benar menjadi
sebaik-baik pedoman hidup manusia. Alloh memerintahkan mereka untuk
mempelajarinya, mengkajinya, memahaminya, dan mengamalkannya dengan
menjadikannya sebagai pedoman hidup, sekaligus memerintahkan mereka agar
bersungguh-sungguh atasnya.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
“Ambillah apa yang Kami berikan kepada
kalian dengan kuat dan selalu ingatlah isinya agar kalian bertakwa.”[127]
﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا
آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
“Yang Kami turunkan kepadamu adalah sebuah
kitab yang diberkahi supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya
orang-orang yang berakal mau mengingat-ingatnya.”[128]
Setelah itu, Alloh menjanjikan kebahagiaan
di dunia dan di akhirat bagi mereka yang telah memenuhi perintah-Nya tersebut. Alloh
ﷻ
berfirman:
﴿مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ
مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih
baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik
dan Kami benar-benar akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik dari
apa yang mereka kerjakan.”[129]
Yang dimaksud di sini adalah ahli al-Qur`an, karena amal dikatakan
shalih jika dilakukan di atas petunjuk al-Qur`an dan bimbingan Sunnah, begitupula
dengan keimanan. Untuk itulah mengapa Alloh melanjutkan ayat berikutnya tentang
al-Qur`an dalam firman-Nya:
﴿فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ﴾
“Jika kamu membaca al-Qur`an, hendaklah
berlindung kepada Alloh dari setan yang terkutuk.”[130]
Huruf fa pada (فَإِذَا قَرَأْتَ)
adalah syarat untuk kalimat sebelumnya.[131] Yakni, syarat untuk mendapatkan dua pahala, di dunia dan di akhirat,
sebagaimana yang Alloh sebutkan dalam ayat sebelumnya yang disyaratkan dengan
al-Qur`an, yaitu dengan membacanya, mengkajinya, mentadaburinya,
mengamalkannya, dan menghafalkannya.
Adapun pahala di dunia adalah dilapangkannya
hati, dimudahkannya segala urusan, sembuh dari penyakit jasmani dan rohani,
mendapat petunjuk dan rohmat, tidak tersesat, dimuliakan manusia, dan dijauhkan
dari setan, memiliki do’a mustajab, dan tidak pikun di hari tuanya. Alloh
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ
رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ﴾
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada
kalian mau’idhah dari Rabb kalian, penyembuh untuk apa yang ada di dalam dada,
petunjuk, dan rohmat bagi orang-orang mukmin.”[132]
Rosululloh ﷺ bersabda:
«عَلَيْكُمْ
بِالشِّفَاءَيْنِ: الْعَسَلِ وَالْقُرْآنِ»
“Hendaklah kalian menggunakan dua penyembuh,
yaitu madu dan al-Qur`an.”[133]
«يَا أَيُّهَا
النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ
تَضِلُّوا أَبَدًا: كِتَابَ اللّٰهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ ﷺ»
“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah
tinggalkan di tengah-tengah kalian apa yang jika kalian berpegang teguh padanya
tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.”[134]
«إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللّٰهِ: إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ
الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ،
وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ»
“Sesungguhnya di antara mengagungkan Alloh
adalah memuliakan orang muslim yang sudah tua, ahlul Qur`an yang tidak
berlebihan dan meremehkannya, dan memuliakan penguasa yang adil.”[135]
«لَا تَجْعَلُوا
بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي
تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ»
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah
kalian sebagai kuburan.[136]
Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqoroh.”[137]
‘Abdullah bin Mas’ud rodhiyalloohu ‘anhu
berkata:
مَنْ خَتَمَ الْقُرْآنَ
فَلَهُ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ
“Barangsiapa yang mengkhatamkan al-Qur`an
maka dia memiliki do’a mustajab.”[138]
Dari Ibnu Abbas rodhiyalloohu ‘anhuma,
dia berkata:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ لَمْ
يُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا،
وَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (٥)
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ﴾ قَالَ: إِلَّا الَّذِينَ
قَرَءُوا الْقُرْآنَ
“Siapa yang membaca al-Qur`an tidak akan
dikembalikan kepada umur pikun yang tidak tahu apapun setelah sebelumnya
mengetahuinya. Demikian itu karena Alloh berfirman, ‘Kemudian Kami
kembalikan ia kepada keadaan yang paling rendah, kecuali orang-orang yang
beriman dan beramal shalih,’[139]
yaitu kecuali orang-orang yang membaca al-Qur`an.” [140]
Adapun pahala di akhirat adalah diberi mahkota
kemuliaan untuk kedua orang tuanya, diberi syafaat, diberi naungan, dikumpulkan
bersama malaikat yang taat dan mulia, dibela al-Qur`an, tidak terbakar api Neraka,
dan disediakan tempat yang tinggi di Surga. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ
تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ
الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ، فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا؟»
“Barangsiapa yang membaca al-Qur`an dan
mengamalkan apa yang ada di dalamnya, maka akan dipakaikan kepada kedua
orangtuanya mahkota pada hari Kiamat yang cahayanya lebih indah daripada cahaya
matahari di rumah-rumah dunia, seandainya ada di tengah-tengah kalian. Lantas
apa pendapat kalian dengan orang yang mengamalkannya?”[141]
«الصِّيَامُ
وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ:
أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي
فِيهِ! وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي
فِيهِ!» قَالَ: «فَيُشَفَّعَانِ»
“Puasa dan al-Qur`an memberi syafaat kepada
hamba pada hari Kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku telah
menahannya makan dan syahwat di siang hari, maka berilah aku syafaat untuknya,’ dan al-Qur`an berkata, ‘Aku telah
menahannya tidur di malam hari, maka berilah aku syafaat untuknya.’ Lalu
keduanya diizinkan memberi syafaat.”[142]
«اقْرَءُوا
الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ،
اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا
تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا
غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ
أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ
وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ»
“Bacalah al-Qur`an, karena ia akan datang
pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya. Bacalah dua cahaya yaitu
al-Baqoroh dan surat Ali Imran, karena keduanya akan datang para hari Kiamat
laksana dua naungan atau laksana dua teduhan atau laksana dua kepakan sayap
burung yang menaungi ahlinya. Bacalah surat al-Baqoroh, karena mengambilnya
adalah berkah, meninggalkannya adalah kerugian, dan tidak dapat dikalahkan oleh
para tukang sihir.”[143]
«الْمَاهِرُ
بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ
الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ»
“Orang yang mahir al-Qur`an bersama dengan
malaikat yang mulia lagi ta’at. Sedangkan orang yang membaca al-Qur`an dan
terbata-bata serta merasa berat, dia mendapat dua pahala.”[144]
«لَوْ أَنَّ الْقُرْآنَ جُعِلَ فِي إِهَابٍ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي
النَّارِ مَا احْتَرَقَ»
“Seandainya al-Qur`an dirasukkan ke kulit lalu dilempar ke Neraka, niscaya
tidak akan terbakar.”[145]
Setelah Alloh dan Rasul-Nya menjelaskan
keutamaan dan pahala yang besar bagi ahli al-Qur`an, ternyata Alloh
memberlakukan hukum kebalikan (mafhum mukhalafah), yaitu menghukum
orang-orang yang berpaling dari al-Qur`an dengan dua kerugian, yaitu kerugian
di dunia dan kerugian di akhirat.
Kerugian di dunia berupa Alloh menyempitkan
dadanya dan menjadikannya tidak puas dengan takdir dan pembagianNya. Adapun
kerugian di akhirat dia diabaikan sebagaimana dulu dia mengabaikan al-Qur`an. Dua
kehinaan di dunia dan di akhirat ini Alloh singgung dalam firman-Nya:
﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي
أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (١٢٥) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا
فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى﴾
“Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir-Ku,[146]
maka dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan Kami kelak akan menggiringnya
pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau
menggiringku dalam keadaan buta padahal
dahulunya aku bisa melihat?’ Alloh menjawab, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu
ayat-ayat Kami lalu kamu mengabaikannya, maka pada hari ini kamu diabaikan.’”[147]
«الْقُرْآنُ
شَافِعٌ مُشَفَّعٌ وَمَاحِلٌ مُصَدَّقٌ، مَنْ جَعَلَهُ أَمَامَهُ قادَهُ إِلَى
الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ»
“Al-Qur`an adalah pemberi syafaat yang
diterima syafaatnya dan pembela yang kuat hujjahnya. Barangsiapa yang
menempatkannya di depannya akan membimbingnya ke Surga, dan barangsiapa yang menempatkannya di
belakangnya akan menggiringnya ke Neraka.”[148][]
BAB III: AL-QUR`AN PRIORITAS UTAMA
Apakah ideal menjadikan al-Qur`an sebagai
prioritas utama sebelum belajar ilmu-ilmu yang lain? Apa kelebihan mendahulukan
pembelajaran al-Qur`an bagi anak-anak sebelum pembelajaran ilmu keduniaan
seperti matematika, fisika, kimia, biologi, kedokteran, teknik, bahasa dan
sastra, bahkan lebih didahulukan daripada tafsir, hadits, dan fiqih?
Al-Qur`an sebagai sumber ilmu memiliki
kaitan yang sangat erat dengan kecerdasan seseorang. Telah disinggung di muka
bahwa syarat yang Alloh berikan untuk menjadi orang yang berilmu adalah
memiliki hafalan al-Qur`an di dalam dada-dada mereka. Jika hal ini ditempuh,
benar-benar Alloh akan menjadikan orang tersebut dalam puncak keilmuwan, bahkan
tidak saja berilmu juga bertaqwa dan berakhlak mulia. Singkat istilah, mereka
memiliki tiga kelebihan, yaitu kelebihan dalam intelejensi, spiritual, dan
emosional.
Al-Walid bin Muslim berkata:
كُنَّا إِذَا جَالَسْنَا الْأَوْزَاعِيَّ فَرَأَى فِينَا حَدَثًا،
قَالَ: يَا غُلَامُ، قَرَأْتَ الْقُرْآنَ؟ فَإِنْ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: اقْرَأْ: ﴿يُوصِيكُمُ
اللّٰهُ فِي أَوْلَادِكُمْ﴾ وَإِنْ قَالَ: لَا، قَالَ: اذْهَبْ، تَعَلَّمِ
الْقُرْآنَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُبَ الْعِلْمَ
“Apabila kami duduk di majlisnya al-Auza’i
lalu melihat di tengah-tengah kami orang baru, maka dia akan bertanya, ‘Hai
anak, apakah kamu bisa membaca al-Qur`an?’ Jika dia menjawab, ‘Ya,’ maka dia
berkata, ‘Bacalah (يُوصِيكُمُ اللّٰهُ فِي أَوْلَادِكُمْ)[149],’
dan jika dia menjawab, ‘Tidak,’ maka dia berkata, ‘Pergilah. Belajarlah
al-Qur`an sebelum belajar hadits.’”[150]
Abu Hisyam ar-Rifa’i berkata:
كَانَ يَحْيَى بْنُ يَمَانٍ إِذَا جَاءَهُ غُلَامٌ أَمْرَدَ
اسْتَقْرَأَهُ رَأْسَ سَبْعِينَ مِنَ ﴿الْأَعْرَافِ﴾، وَرَأْسَ سَبْعِينَ مِنْ ﴿يُوسُفَ﴾،
وَأَوَّلَ الْحَدِيثِ، فَإِنْ قَرَأَهُ حَدَّثَهُ، وَإِلَّا لَمْ يُحَدِّثْهُ.
فَإِذَا رَزَقَهُ اللّٰهُ تَعَالَى حِفْظَ كِتَابِهِ، فَلْيَحْذَرْ أَنْ
يَشْتَغِلَ عَنْهُ بِالْحَدِيثِ، أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ اشْتِغَالًا
يُؤَدِّي إِلَى نِسْيَانِهِ
“Apabila Yahya bin Yaman didatangi seorang bocah amrad (belum
memiliki jenggot karena masih muda), maka dia akan memintanya membaca 60 ayat
awal dari surat al-A’raf, 60 ayat awal dari surat Yusuf, dan awal hadits. Jika
dia bisa membacanya, Yahya akan memberikannya hadits, tetapi jika tidak maka
tidak diberi hadits. Seandainya Alloh memberinya anugerah hafal Kitab-Nya maka
Yahya mengingatkannya agar tidak tersibukkan dengan hadits atau ilmu-ilmu lain
yang menyibukkannya sehingga menyebabkannya lupa.”[151]
Di antara ‘ulama sekaligus ahlil hadits
yang sangat memperhatikan hal ini adalah Imam Ibnu Khuzaimah. Cicitnya bercerita,
“Aku mendengar kakekku berkata, ‘Aku pernah meminta izin kepada ayahku untuk
pergi kepada Qutaibah, lalu dia berkata, ‘Bacalah al-Qur`an terlebih dahulu
baru aku akan memberimu izin.’ Aku pun membaca al-Qur`an dengan hafalan.
Setelah selesai dia berkata, ‘Jangan pergi hingga kamu shalat dengan
mengkhatamkannya.’ Aku pun melakukannya. Ketika aku telah menyelesaikannya, dia
memberi izin kepadaku, lalu aku pergi ke Marwa. Di Marwa ar-Raudz aku mendengar
dari Muhammad bin Hisyam murid Haitsam bahwa Qutaibah telah wafat.’”[152]
Imam adz-Dzahabi sebelum mendalami hadits
hingga menjadi al-hafizh dan mendalami sejarah hingga menjadi syaikhul
muarrikhin, beliau mendalami al-Qur`an terlebih dahulu. Beliau menaruh
perhatian kepada studi al-Qur`an dan qira’at. Pada tahun 691 H, beliau dan
kawannya pergi kepada Syaikhul Qurra` Jamaluddin Abu Ishaq Ibrahim bin Dawud
al-Asqalani kemudian ad-Dimasqi yang dikenal dengan al-Fadhili. Adz-Dzahabi
tetap demikian hingga beliau memiliki pengetahuan yang baik tentang qira’ah,
ushul dan berbagai persoalannya, saat beliau masih muda yang usianya belum
mencapai 20 tahun.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani hafal
al-Qur`an saat berumur 9 tahun. Saat usianya genap 12 tahun, beliau diminta
menjadi imam Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H.
Sinan al-Baghdadi hafal al-Qur`an saat
masih anak-anak, dan saat menginjak usia sepuluh tahun telah mampu membacakan qira’ah
asyrah (variasi sepuluh bacaan al-Qur`an). Tak heran jika beliau menjadi
imam, mufti, syaikh madzhab Hanafi, ahli bahasa ‘Arob, ahli Qira’at, dan
panutan negeri Bashrah.
Putra Ibrahim al-Harbi hafal al-Qur`an saat
usia 10 tahun, kemudian ayahnya baru mendiktekan kepadanya beberapa persoalan
fiqih, padahal umurnya masih sangat muda.
Syaikhul Qurra` Ibnul Jazari (833 H) hafal
al-Qur`an saat berumur 13 tahun, menjadi imam shalat saat berumur 14 tahun, dan
mandiri dalam qira’ah saat berumur 15 tahun.
Imam asy-Syafi’i (204 H) berkata:
حَفِظْتُ القُرْآنَ وَأَنَا ابْنُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَحَفِظْتُ
المُوَطَّأَ وَأَنَا ابْنُ عَشْرٍ
“Aku hafal al-Qur`an ketika berumur 7 tahun,
dan aku hafal kitab al-Muwaththa` ketika berumur 10 tahun.”[153]
Al-Bulqini hafal al-Qur`an saat berumur 7
tahun, Ibnu Laban saat berumur 5 tahun, al-Hafizh al-Iraqi saat berumur 8
tahun, Abu Bakar Zarirani al-Baghdadi saat berumur 7 tahun, dan Muhammad bin
Abdul Baqi al-Anshari saat berumur 7 tahun.
Tidak ketinggalan dari kalangan wanita.
Ummu Darda` hafal al-Qur`an saat masih kecil kemudian dinikahi Abu Darda` lalu
menimba ilmu kepada shahabat Nabi yang mulia ini. Dia membacakan hafalan
al-Qur`an di depan Abu Darda` saat umurnya masih sangat belia. Dia dikaruniai
umur yang panjang dan menjadi masyhur karena ilmu, amal, dan kezuhudannya.[154]
Hafshah binti Sirin saudari Muhammad bin
Sirin hafal al-Qur`an lalu menjadi ahlinya. Saat Muhammad bin Sirin mengalami
kesulitan mengenai suatu masalah tentang al-Qur`an maka dia berkata, “Pergilah
kalian dan tanyakan kepada Hafshah.”[155]
A. Tiga Pengaruh Agung al-Qur`an
1. Pengaruh Intelejensi[156]
Jika kita renungkan, menghafal al-Qur`an
memiliki pengaruh yang agung untuk menyiapkan otak untuk menghafal ilmu-ilmu
yang lain sekaligus memahaminya. Berikut akan kami paparkan pembuktiannya lewat
tiga sisi: sisi memori otak, sisi uslub al-Qur`an, dan sisi rasa percaya diri.
a. Sisi Memori Otak
Otak terbentuk dari dua jenis sel, yaitu
glia dan neuron. Glia berfungsi untuk menunjang dan melindungi neuron,
sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang dikenal
sebagai potensi aksi.
Proses perekaman informasi dalam memori itu
cukup sederhana. Informasi diterima oleh mata karena adanya gelombang cahaya
yang ditangkap oleh sel-sel di mata yang kemudian diubah menjadi energi listrik
yang merangsang listrik-listrik di otak. Rangsangan ini membawa jenis-jenis
rekaman yang akhirnya tersimpan di suatu tempat yang dinamakan memori. Setiap
proses belajar meninggalkan jejak-jejak dalam otak yang mengendap di dalam
memori dan menunggu untuk dipanggil kembali, proses ini disebut retrieval.
Penelitian terbaru menyebutkan bahwa otak
manusia berisi 1.000 miliar sel saraf neuron, meliputi 100 milyar sel aktif dan
900 milyar sel nonaktif. Diperkirakan jika setiap detik satu informasi
dimasukkan ke otak, maka kapasitas otak baru penuh sekitar 30 juta tahun
kemudian.
Kapasitas yang begitu bombastis ini bila
benar-benar dimanfaatkan tentu akan menjadikan seseorang benar-benar cerdas dan
banyak hafalannya, lebih banyak daripada data yang tersimpan di hardisk
berukuran 40 terabyte (40.000 GB).
Di antara kaum salaf ada yang berkata,
“Segala sesuatu jika di isi akan penuh, kecuali otak. Jika otak selalu diisi,
justru ia semakin kosong.”
Bagi kaum muslimin, hal ini bukanlah hal
baru. Sebab 1400 tahun yang lalu Alloh telah mengabarkan kepada mereka tentang
kapasitas otak manusia lewat cerita Adam nenek moyang mereka ‘alaihis salam.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا﴾
“Dan Dia
mengajari Adam nama-nama semuanya.”[157]
Mujahid
bin Jabr (104 H) berkata:
عَلَّمَهُ اسْمَ كُلِّ دَابَّةٍ وَكُلِّ طَيْرٍ
وَكُلِّ شَيْءٍ
“Dia
mengajarinya semua nama dabbah[158],
burung, dan segala sesuatu.”[159]
Al-Hafizh
Ibnu Katsir (774 H) berkata, “Tafsir yang benar adalah Dia mengajarinya
nama-nama segala sesuatu seluruhnya baik dzatnya maupun perbuatannya.”[160]
Kaum salaf adalah orang-orang yang terdepan
dalam memanfaatkan kapasitas mega besar ini dengan digunakan untuk menuntut
ilmu, menghafal, dan menulis kitab. Hasilnya, mereka menjadi orang-orang yang
tak tertandingi dalam keilmuan. Bagaimana dengan para ilmuwan Barat? Tak
sebanding, bagai langit dan bumi.
Contoh sederhana adalah cerita tentang
hafalan dan kecerdasan Imam al-Bukhari. Diriwayatkan oleh beberapa syaikh ahli
hadits bahwa Muhammad bin Ismail al-Bukhari tiba di Baghdad. Para ahli hadits
mendengar kedatangannya lalu mereka berkumpul untuk mengujinya dengan 100
hadits yang dibolak-balik matan dan sanadnya. Mereka menukar matan dengan sanad
lain, dan sanad lain dengan matan yang lain pula. Mereka menyerahkan
hadits-hadits itu kepada sepuluh orang sehingga setiap orang diserahi 10
hadits. Kemudian satu persatu bertanya ke al-Bukhari tentang hadits tersebut
tetapi al-Bukhari hanya menjawab, ‘Aku tidak mengenalnya.’ Hadits yang lain
disampaikan dan dijawab, ‘Aku tidak mengenalnya.’ Satu per satu disampaikannya
hadits-hadits tersebut hingga habis sebanyak sepuluh, sementara al-Bukhari
hanya menjawab, ‘Aku tidak mengenalnya.’ Sebagian ahli fiqih bergumam, ‘Lelaki
itu memang faqih,’ dan sebagian lain menuduhnya lemah hafalan.
Kemudian bergilir penguji lain dengan haditsnya
sementara al-Bukhari pada setiap hadits hanya menjawab, ‘Aku tidak
mengenalnya,’ hingga habis sepuluh hadits. Kemudian penguji ketiga, kemudian
keempat, hingga kesepuluh, sementara al-Bukhari tidak menambah jawabannya
selain hanya, ‘Aku tidak mengenalnya.’
Setelah habis semuanya, al-Bukhari
mendekati penguji pertama dan berkata, ‘Adapun haditsmu pertama yang benar
adalah demikian, yang kedua demikian, yang ketiga demikian, yang keempat
demikian,’ hingga selesai sepuluh hadits dengan sempurna. Al-Bukhari
mengembalikan setiap matan ke sanad aslinya, dan setiap sanad ke matan aslinya.
Dia melakukan itu juga pada sisa hadits-hadits lainnya. Akhirnya, orang-orang
mengakui hafalannya dan menyuarakan keutamaannya.”[161]
Sungguh mengagumkan apa yang dilakukan al-Bukhari
dengan menempatkan matan dan sanad ke tempatnya masing-masing sebanyak 100
hadits dengan hafalannya. Namun, yang lebih mengagumkan adalah tindakannya
mengurutkan hadits pertama yang dibawakan penguji pertama hingga hadits ke-100
yang terakhir dibawakan penguji terakhir, tanpa ada yang keliru sama sekali!!!
Subhanallah!
Maka, dengan kapasitas otak sebesar ini,
sangat memungkinkan bagi seseorang untuk menghafal ilmu-ilmu yang lain serta
mudah dalam memahami ilmu-ilmu yang sedang dipelajari dan waktu yang diperlukan
pun relatif lebih sedikit dari kebiasaan belajarnya kebanyakan orang.
Dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bahwa
dia mendengar Abu Zur’ah ar-Razi berkata:
كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْفَظُ أَلْفَ أَلْفِ حَدِيثٍ.
فَقِيلَ لَهُ: وَمَا يُدْرِيكَ؟ قَالَ: ذَاكَرْتُهُ، وَأَخَذْتُ عَلَيْهِ
الأَبْوَابَ
“Ahmad bin Hanbal hafal satu juta hadits.”
Ditanyakan kepadanya, “Dari mana Anda tahu?” Abu Zur’ah menjawab, “Aku belajar
kepadanya dan mengambil beberapa bab darinya.”[162]
Di sinilah letak intelejensi yang
mengagumkan bagi ahli al-Qur`an, karena menghafal al-Qur`an menjadikan otak
menjadi kokoh dan kuat dalam menghafal. Otak manusia terdiri dari triliunan sel
saraf yang disebut neuron. Semakin banyak sel-sel saraf ini yang saling
terhubung, maka semakin kuat dan kokoh pula daya ingat dan daya hafal. Menghafal dan mengulang-ulang
adalah jalan utama untuk menghubungkan sel-sel saraf ini. Secara tidak langsung
orang yang menghafal atau yang murajaah al-Qur`an sedang mempersiapkan otaknya
untuk membuatnya kokoh, kuat, dan siap untuk menampung hafalan lain yang lebih
banyak jumlahnya. Ibaratnya hutan belantara yang dilalui seekor binatang akan
meninggalkan bekas meskipun sedikit, lalu dilalui binatang lain lagi, begitu
seterusnya hingga ia menjadi jalan yang datar tanpa ada semaknya sama sekali.
Imam az-Zuhri (124 H) berkata,
“Sesungguhnya ada seorang penuntut ilmu yang memiliki hati bagaikan bukit yang
gersang. Namun, lama-kelamaan ia menjadi bukit yang subur. Tidak ada sesuatu
yang ditaruh di atasnya kecuali ia melahapnya.”
Abu Hilal menceritakan pengalaman
pribadinya tentang masalah ini. Dia berkata, “Pada awalnya menghafal merupakan
sesuatu yang sulit bagi saya. Kemudian saya membiasakan diri (menghafal),
hingga saya mampu menghafal sya’ir Ru’bah bin al-Ajjaj dalam satu malam yang
berjumlah sekitar 200 bait.”[163]
Orang yang hafal al-Qur`an kebanyakan lebih
cepat dalam menghafal nama seseorang daripada selainnya dan lebih tahan lama.
b. Sisi Uslub al-Qur`an
Siapa pun yang pernah berkelana menghafal
al-Qur`an tentu mengetahui uslub (susunan) al-Qur`an yang unik. Sungguh
menakjubkan uslub-uslub al-Qur`an yang Alloh buat di dalamnya, seolah-olah
dengan hal itu Alloh hendak menyiapkan para penghafal al-Qur`an untuk menjadi
ahli ilmu yang luas keilmuannya, mendalam pemahamannya, dan kuat serta teliti
hafalannya.
Uslub yang unik ini dikenal oleh ahli
qira’ah dengan nama ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat mutasyabihat ini
bervariasi: ada yang berupa pengulangan persis, pembuangan atau penambahan
kata, pendahuluan atau pengakhiran kata, penggantian fi’il mudhari’ ke madhi
dan sebaliknya, atau lain-lain dalam dua ayat atau lebih. Dengan adanya ini,
para penghafal al-Qur`an secara tidak langsung diajari untuk lebih hati-hati,
fokus, jeli, dan teliti dalam membaca hafalannya. Contohnya adalah “menyelamatkan”
yang menggunakan lafazh berbeda di tiga tempat yang hampir mirip sehingga
terkesan membingungkan, yaitu (نَجَّيْنَاكُمْ),
(أَنْجَيْنَاكُمْ), dan (أَنْجَاكُمْ):
١- ﴿وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ
يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ
وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ﴾
[البقرة: ٤٩]
٢- ﴿وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ
يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ
وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ﴾
[الأعراف: ١٤١]
٣- ﴿وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
عَلَيْكُمْ إِذْ أَنْجَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ
الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي
ذَلِكُمْ بَلاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ﴾ [إبراهيم: ٦]
Kita perhatikan kembali, di sana masih ada
mutasyabihat (kesamaran ayat) di tiga lafazh yaitu lafazh:
﴿سُوءَ الْعَذَابِ
يُذَبِّحُونَ﴾
﴿سُوءَ الْعَذَابِ
يُقَتِّلُونَ﴾
﴿سُوءَ الْعَذَابِ
وَيُذَبِّحُونَ﴾
Anda bisa membedakannya? Ya demikianlah,
al-Qur`an penuh dengan ayat-ayat seperti ini. Namun, Alloh menjadikan hal ini
bukan tanpa makna tetapi ada hikmah tersembunyi baik untuk penghafal (hikmah intelejensi)
maupun untuk hukum (kandungan hikmah yang mengagumkan).
Untuk contoh kandungan hikmah yang
mengagumkan, perhatikan tiga ayat berikut ini terutama yang bergaris bawah:
١- ﴿وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ (٦٤) وَأَنْجَيْنَا
مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ﴾
“Dan Kami tenggelamkan di sana orang-orang
yang tertinggal. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang
bersamanya seluruhnya.”[164]
٢- ﴿قَالَ رَبِّ إِنَّ قَوْمِي كَذَّبُونِ (١١٧) فَافْتَحْ بَيْنِي
وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَنَجِّنِي وَمَنْ مَعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (١١٩) فَأَنْجَيْنَاهُ
وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ﴾
“Dia (Nuh) berdo’a, ‘Ya Rabb-ku,
sesungguhnya kaumku mendustakanku, maka putuskanlah perkara antaraku dan mereka,
dan selamatkanlah aku dan orang-orang beriman yang bersamaku.’ Lalu Kami
selamatkan ia dan orang-orang yang bersamanya di sebuah kapal yang penuh.”[165]
٣- ﴿رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ (١٦٩) فَنَجَّيْنَاهُ
وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ (١٧٠) إِلَّا عَجُوزًا فِي الْغَابِرِينَ﴾
“’Ya Rabb-ku, selamatkanlah aku dan
keluargaku dari apa yang mereka kerjakan.’ Lalu Kami selamatkan ia dan
keluarganya seluruhnya, kecuali wanita tua (istri Luth) bersama orang-orang
yang dibinasakan.”[166]
Jika kita perhatikan pada 2 ayat terakhir (فَأَنْجَيْنَاهُ) & (فَنَجَّيْنَاهُ) berbeda dengan ayat pertama (وَأَنْجَيْنَا). Dua terakhir memakai lafazh “fa” yang secara harfiah berarti
“lalu segera” dan ayat pertama memakai lafazh “wa” yang artinya “dan.” Kenapa
berbeda? Jawabannya, karena dua ayat terakhir sebagai jawaban Alloh atas do’a Nabi
Nuh dan Luth ‘alahimassalam dan Alloh mengabulkannya sehingga “langsung
menyelamatkannya”, sementara ayat pertama hanya berupa kabar bahwa Musa ‘alahissalam
Alloh selamatkan sehingga memakai kata “dan”. Jika hamba saja langsung Alloh
kabulkan do’anya, apalangi para kekasih-Nya dari kalangan Nabi dan rasul ‘alahimussalam.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾
“Dan Rabb kalian berkata, ‘Berdo’alah kalian
kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan kalian.’”[167]
Semua huruf-huruf di al-Qur`an berlaku
hukum seperti ini, yaitu setiap huruf dalam al-Qur`an menyimpan hikmah dan ilmu
bagi yang mengetahuinya dan tersembunyi bagi yang tidak mengetahuinya. Itulah
mengapa hanya mengingkari SATU HURUF saja dari al-Qur`an, telah cukup untuk
dikafirkan para ‘ulama, dan ini ijma para ‘ulama Ahlus Sunnah, sebagaimana yang
dikatakan Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali (620 H):
وَلاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي أَنَّ مَنْ جَحَدَ مِنَ
الْقُرْآنِ سُورَةً أَوْ آيَةً أَوْ كَلِمَةً أَوْ حَرْفًا مُتَّفَقًا عَلَيْهِ
أَنَّهُ كَافِرٌ
“Dan tidak ada khilaf di antara kaum
muslimin tentang seseorang yang mengingkari satu surat, satu ayat, satu kata,
atau satu huruf al-Qur`an yang telah disepakati
ulama, bahwa dia kafir berdasarkan ijma’.”[168]
Kemudian, bersamaan dengan banyaknya
mutasyabihat ini yang secara dhahir mengacaukan hafalan, justru kaum salaf
terkenal dengan kemutqinannya (kokoh dan kuat hafalannya), tentunya dengan perjuangan
besar. Di antara mereka ada yang khatam al-Qur`an dalam satu bulan, ada yang 15
hari, ada yang 7 hari sebagaimana Imam Ahmad dan Ibnul Jauzi, ada yang 3 hari
sebagaimana Khaitsamah, ada yang 2 malam sebagaimana Sa’id bin Jubair, ada yang
setiap hari sebagaimana Manshur bin Zadzan, ada yang semalam saja dalam
shalatnya sebagaimana ‘Utsman bin ‘Affan, dan ada pula yang 2 kali khatam dalam
sehari semalam sebagaimana Imam asy-Syafi’i pada bulan Ramadhan. Akhirnya,
hafalan mereka kuat sehingga otaknya cerdas dan siap menampung hafalan yang lebih
besar dan banyak dari itu serta jauh lebih mudah dalam memahami dan mendalami
ilmu-ilmu lainnya.
Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar bin
Ayyasy menjelang wafat, adik perempuannya menangis. Lalu sambil menunjuk ke salah
satu dinding rumahnya, dia berkata:
لَا تَبْكِي فَقَدْ خَتَمَ أَخُوكَ فِي تِلْكَ الزَّاوِيَةِ
ثَمَانِيَةَ عَشَرَ أَلْفِ خَتْمَةٍ
“Jangan menangis, karena kakakmu ini telah
khatam al-Qur`an sebanyak 18.000 kali di sudut itu.”[169]
c. Sisi Rasa Percaya Diri
Al-Qur`an standar mushaf ‘Utsmani yang
beredar berjumlah 604 halaman atau 302 lembar yang terdiri dari 114 surat,
6.236 ayat, 77.439 kata, dan 340.740 huruf, menurut pendapat yang masyhur.[170] Hafalan sebanyak ini adalah perkara
luar biasa yang tidak pernah mampu dilakukan oleh umat-umat terdahulu.
Abu ‘Amr ad-Dani berkata:
وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ عَدَدَ آيِ الْقُرْآنِ سِتَّةُ آلَافِ
آيَةٍ ثُمَّ اِخْتَلَفُوا فِيمَا زَادَ، فَقِيلَ: وَمِائَتَا آيَةٍ وَأَرْبَعُ
آيَاتٍ، وَقِيلَ: وَأَرْبَعُ عَشْرَةٍ،
وَقِيلَ: وَتِسْعُ عَشْرَةٍ، وَقِيلَ: وَخَمْسٌ وَعِشْرُونَ، وَقِيلَ: وَسِتٌّ
وَثَلَاثُونَ
“Para ‘ulama bersepakat bahwa jumlah ayat
al-Qur`an adalah 6.000 ayat, tetapi mereka berselisih pendapat tentang
kelebihannya. Ada yang berpendapat lebih 204 ayat, 214 ayat, 219 ayat, 225
ayat, dan 236 ayat.”[171]
Lihatlah al-Qur`an yang berisi ribuan ayat
ini, kemudian bayangkan bahwa semua itu ada dalam dada Anda. Bagaimana perasaan
Anda saat melihat hadits sekian puluh, sekian ratus, bahkan sekian ribu? Bagaimana
perasaan Anda saat melihat tumpukan buku yang tebal-tebal? Rumus-rumus yang
ruwet dan jlimet? Tentu terasa ringan karena rasa percaya diri yang Alloh
berikan kepada Anda dengan berkah al-Qur`an yang lebih tebal kitabnya dan lebih
runtut susunannya.
Kesimpulannya, semua yang terdapat dalam
al-Qur`an baik isinya, kandungannya, hikmahnya, hukumnya, perumpamaan dan ibarat
yang dibuat di dalamnya, hingga huruf-hurufnya adalah ilmu dan akan diperoleh
oleh siapa yang memperhatikannya. Perhatikan firman Alloh ﷻ:
﴿وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا
إِلَّا الْعَالِمُونَ﴾
“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat
untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang berilmu.”[172]
Sebagaimana Alloh memberi ilmu kepada siapa
yang memperhatikan perumpamaan yang dibuat-Nya di al-Qur`an, begitu pula siapa
yang memperhatikan semua yang Alloh cantumkan di dalamnya.
2. Pengaruh Spiritual
Inilah pengaruh utama dari al-Qur`an, dan
tidaklah ia diturunkan kecuali untuk pengaruh spiritual ini, yakni bertaqwa
kepada-Nya. Pengaruh intelejensi hanyalah wasilah saja. Adapun pokoknya adalah
bertaqwa, karena ilmu dicari dan dipelajari untuk diamalkan dan diwujudkan
dalam bentuk ketaqwaan. Dulu, seseorang cukup disebut berilmu bila memiliki
rasa takut kepada Alloh karena buah dari ketaqwaannya, meskipun hafalannya
sedikit dan awam pengetahuannya.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى (٢) إِلَّا
تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى﴾
“Kami tidak menurunkan al-Qur`an kepadamu
supaya celaka tetapi pengajaran bagi orang yang takut.”[173]
﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
(٤٠) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى﴾
“Dan adapun orang yang takut kepada kedudukan
Rabb-nya dan menjaga diri dari hawa nafsu, maka sesungguhnya Surga adalah
tempat kediamannya.”[174]
Dua surat ini mengandung faidah bahwa
al-Qur`an akan menjadikan seseorang takut yang merupakan buah dari ketaqwaan
sehingga tidak celaka, kemudian Alloh memasukkannya ke Surga karena rasa
takutnya kepada-Nya itu. Inilah sebesar-besar manfaat al-Qur`an bagi ahlinya.
Yang semakna dengan ini adalah firman Alloh
ﷻ:
﴿إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى
عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (١٠٧) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ
رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (١٠٨) وَيَخِرُّونَ
لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu
sebelumnya, apabila (al-Qur`an/al-Kitab) dibacakan kepada mereka, mereka jatuh
tersungkur sambil bersujud dan mereka berkata, ‘Mahasuci Rabb kami, sungguh
janji Rabb kami benar-benar akan ditepati.’ Mereka jatuh tersungkur sambil menangis
dan (al-Qur`an/al-Kitab) itu menambah mereka khusyu’.”[175]
Dalam ayat ini, Alloh ﷻ menyandingkan ahli ilmu
dan al-Qur`an yang mengisyaratkan intelejensi kemudian pengaruh bacaan
al-Qur`an ini menimbulkan rasa takut dalam diri mereka ini, yang mengisyaratkan
pengaruh spiritual.
3. Pengaruh Emosional
Al-Qur`an mengandung cerita-cerita orang
shalih berikut sifat-sifat mereka yang mulia, juga disebut sifat-sifat penduduk
Surga. Dengan begitu al-Qur`an akan memberi pengaruh kepada ahlinya untuk
memiliki sifat-sifat tersebut. Mereka sangat tertarik memiliki sifat-sifat
mulia tersebut karena balasan agung yang Alloh siapkan untuk mereka berupa Surga.
Maka, ahli al-Qur`an menjadi orang-orang yang berakhlak mulia. Untuk itulah
mengapa Nabi ﷺ berakhlak
mulia, bahkan manusia yang paling mulia akhlaknya, karena beliau adalah orang
yang pertama kali hafal al-Qur`an, mempraktekkannya, dan mengajarkannya kepada
para shahabatnya.
‘Aisyah rodhiyalloohu ‘anha pernah
ditanya seseorang tentang akhlak Nabi ﷺ, lalu ‘Aisyah rodhiyalloohu ‘anha menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah al-Qur`an.”[176]
Dua pengaruh al-Qur`an terakhir ini
(spiritual dan emosional) bukan termasuk objek pembahasan ilmu yang sedang kita
kaji, tetapi sengaja kami masukkan untuk memperlengkap kedudukan al-Qur`an yang
agung bagi ahlinya sehingga tercapai maksud memotivasi untuk menjadi ahli
al-Qur`an.
B. Ulama dan Ilmuwan Hafal al-Qur`an
Sejarah menyingkap bahwa kebanyakan para ‘ulama
kaum muslimin adalah pakar di hampir semua disiplin ilmu. Hal ini disebabkan
mereka mengawali tahapan belajarnya dengan prioritas al-Qur`an. Hampir tidak
ada ‘ulama Islam kecuali hafal al-Qur`an. Sebut saja Imam Abu Ja’far
ath-Thabari (310 H), al-Hafizh Abul Faraj Ibnul Jauzi (597 H), Imam an-Nawawi (676
H), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H), Syaikhul Mu’arrikhin adz-Dzahabi (748
H), al-‘Allamah Ibnul Qayyim (751 H), al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H), dan Imam
as-Suyuthi (911 H).
Imam Abu Ja’far ath-Thabari menguasai
hampir seluruh disiplin ilmu, bahkan beliau disebut-sebut sebagai satu-satunya ‘ulama
yang berhasil mengumpulkan riwayat-riwayat dalam tafsir al-Qur`an paling banyak sehingga kitab tafsirnya adalah kitab
tafsir paling besar yang dimiliki kaum muslimin, bahkan semua kitab tafsir yang
ada banyak merujuk dan menukil dari kitab tafsir beliau. Dengan itu beliau
dijuluki Syaikhul Mufassirin (penghulu para ahli tafsir) dengan kitab tafsirnya
yang fenomenal Jâmi’ul Bayân fî Ta`wîlil Qur`ân. Dalam bidang sejarah
beliau memiliki karya Târîkhur Rusul wal Muluk.
Untuk mempelajari ilmu ‘Arudh (ilmu tentang
kaidah sya’ir ‘Arob) beliau hanya memerlukan waktu satu malam. Dikisahkan bahwa
ketika beliau singgah di suatu daerah, beliau didatangi oleh seseorang yang
bertanya tentang ilmu ‘Arudh. Beliau sama sekali tidak menguasainya, tetapi
beliau mengatakan kepadanya, “Pulanglah dulu, besok kembalilah ke sini untuk
aku jawab, insya Alloh.” Kemudian beliau berkata kepada seseorang untuk
dicarikan kitab yang membahas ilmu tersebut. Malam itu beliau mengkajinya
sampai pagi. Beliau mendapatkan faidah-faidah baru yang belum disinggung oleh
penulisnya. Akhirnya memasuki waktu pagi, beliau telah menjadi pakar dalam ilmu
‘Arudh. Si penanya pun datang sesuai janji dan sang imam menjawab semua
pertanyaannya dengan memuaskan hingga dia terheran ternyata ada manusia yang
sangat pakar dalam ilmu ‘Arudh yang sukar ini.
Beliau juga memiliki bacaan al-Qur`an yang
merdu. Dikisahkan bahwa ada seorang imam Tarawih yang tidak biasanya telat
datang. Ketika ditanya, rupanya dia mampir sebentar di masjidnya Imam
ath-Thabari mendengar merdu dan bagusnya tajwid sang imam.
Tidak hanya ahli tafsir, ahli hadits, ahli
qira’ah, ahli fiqih, ahli bahasa, dan ahli ilmu ‘Arudh, Imam ath-Thabari juga
dikenal sebagai ahli ibadah yang wara’, berakhlak mulia, dan dermawan.
Diriwayatkan bahwa beliau tidak pernah keluar kecuali memenuhi undangan. Jika
beliau datang, acara menjadi sangat mengesankan karena keberadaan beliau.
Al-Hafizh Ibnul Jauzi termasuk ‘ulama yang
pakar dalam segala bidang keilmuan. Dalam tafsir beliau memiliki karya Zâdul
Masîr fî Ilmit Tafsîr; dalam hadits beliau memiliki karya adh-Dhu’afâ`
wal Matrûkûn, al-Maudhû’ât, Gharîbul Hadîts, dan Kasyful Musykil min Hadîts ash-Shahîhain;
dalam biografi beliau memiliki karya Shifatu ash-Shafwah; dan Shaidul
Khâthir, dan Talbîs Iblîs merupakan kitab beliau yang digemari
banyak orang.
Imam an-Nawawi ditakdirkan memiliki umur
yang pendek hanya 45 tahun, tetapi usia
yang singkat ini menghasilkan karya yang banyak dan
berkah. Hampir setiap penuntut ilmu memiliki kitab ‘Arba’în an-Nawâwî
dan Riyâdhush Shâlihîn.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah setelah
wafat, dihitunglah umur beliau dengan karya-karyanya, ternyata jumlah karyanya
melebihi umurnya. Beliau disebut-sebut perpustakaan berjalan, seakan-akan tidak
disebut hadits shahih jika tidak dihafal oleh beliau karena saking banyaknya
hafalan beliau.
Imam adz-Dzahabi adalah imam yang pakar
hadits, sejarah, qira’ah, fiqih, dan lain-lain. Beliau memiliki kitab tentang
biografi para ‘ulama terlengkap dari zaman para shahabat hingga zaman beliau,
yaitu Siyar A’lâmin Nubalâ.
Ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, ahli
bahasa dan balaghah, ahli kedokteran, dan ahli jiwa. Dialah al-‘Allamah Ibnul
Qayyim al-Jauziyah. Kitab tebal Raudhatul Muhibbîn yang sarat petuah,
nukilan, dan hikmah beliau karang saat perjalanan, saat beralas tanah dan
berselimut langit. Demikian penuturan beliau sendiri dalam muqaddimah kitabnya.
Inilah pakar tafsir terkenal dan tersohor
pemilik Tafsîr Qur`ânil Adhîm yang lebih terkenal dengan Tafsîr Ibni
Katsîr. Beliau juga memiliki kitab sejarah yang fenomenal al-Bidâyah wan
Nihâyah yang mengumpulkan sejarah awal hingga akhir. Belum ada kitab setema
yang mengunggulinya. Beliau mengawalinya dari ‘Arsy makhluk besar di atas
langit sampai huru-hara hari Kiamat lalu sampai batas sejarah, yakni Surga dan Neraka.
Dikatakan oleh para ‘ulama bahwa kitab sejarah yang dijadikan rujukan dan
terpercaya ada empat, yaitu: Thabaqât Ibnu Sa’ad, Târîkh ath-Thabarî, as-Siyar
adz-Dzahabî, dan al-Bidâyah Ibnu Katsîr, dan dari keempat itu yang
paling shahih dan lengkap adalah al-Bidâyah Ibnu Katsîr, karena beliau
berusaha memilah-milah riwayat yang sharih dan shahih untuk dicantumkan ke
dalam kitabnya itu. Adapun Thabaqât Ibnu Sa’ad dan Târîkh
ath-Thabarî, penulisnya diibaratkan seperti pencari kayu bakar di malam
hari, maksudnya semua yang mereka dengar dimasukkan ke dalam kitabnya tanpa
memilahnya sehingga di dalamnya dijumpai riwayat dha’if, mungkar, dan
isra`iliyat. Adapun as-Siyar adz-Dzahabî tidak selengkap al-Bidâyah
Ibnu Katsîr karena beliau memulai sejarahnya semenjak zaman shahabat Nabi rodhiyalloohu
‘anhum hingga zaman hidupnya.
Inilah dia Imam as-Suyuthi yang
mengasingkan diri untuk fokus ibadah dan mengarang kitab saat berumur 50 tahun.
Beliau telah mengarang banyak kitab dalam semua disiplin ilmu baik tafsir,
hadits, fiqih dan ushul fiqih, bahasa dan balaghah, sejarah, qira’ah, dan
lain-lain dalam kitab-kitab yang tebal.
Semoga Alloh merohmati mereka semua,
mengampuni mereka, dan memasukkan mereka ke Surga-Nya, serta menjadikan mereka
sebagai teman-teman kita di sana. Mereka itulah sebaik-baik teman.
Ulama Islam juga tidak ketinggalan dalam
ilmu pengetahuan dan sains. Inilah Ibnu Hajar al-Asqalani seorang hafizh yang
hafal ribuan hadits pemilik kitab Syarh Shahîh al-Bukhârî yang terkenal,
beliau juga ahli geografi. Suatu ketika beliau menjenguk gurunya lalu gurunya
bertanya tentang nama negeri-negeri dan daerah-daerah. Kemudian Ibnu Hajar menyebut
semua nama-nama dengan mendiktekan dari hafalannya.
Dalam ilmu kedokteran ada Ibnu Sina, Ibnu Rusyd,
dan az-Zahrawi. Abu ‘Ali al-Husein Ibnu Sina (1037 M) dikenal di dunia Eropa
dengan nama Avicenna. Dia memiliki lebih 450 karya, salah satunya yang populer
di dunia Barat adalah asy-Syifâ dan al-Qânûn fi ath-Thibb. Yang
terakhir ini diterjemahkan dengan judul The Book of Healing dan The
Canon of Medicine. Buku ini menjadi buku rujukan dunia kedokteran selama berabad-abad sampai
sekarang. Untuk mengenang jasa-jasanya, dibuatlah patung Ibnu Sina di
Universitas Kedokteran Paris.
Ibnu Rusyd (1198 M) adalah ahli fiqih ternama.
Kepakarannya dalam fiqih beliau tuangkan dalam kitabnya Bidâyatul Mujtahid
wa Nihâyatul Muqtashid. Kitab ini menjadi rujukan dalam masalah fiqih
lintas madzhab dan bersanding dengan Syarhul Muhadzdzabnya Imam
an-Nawawi dan al-Mughnînya Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi. Imam ahli fiqih
ini ternyata juga ahli kedokteran yang dituangkan dalam kitab Kuliyah fî
ath-Thibb yang terdiri dari 16 jilid, yang pernah diterjemahkan ke dalam
bahasa Latin pada tahun 1255 M oleh seorang Yahudi bernama Bonacosa, kemudian
buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan nama General Rules of
Medicine sebuah buku wajib di universitas-universitas di Eropa. Di kalangan
ilmuwan Barat dikenal dengan nama Averroes.
Abul Qasim Khalaf bin al-Abbas az-Zahrawi (1013
M) dikenal di Barat sebagai Abulcasis. Karya terkenalnya adalah at-Tasrîf,
kumpulan praktik kedokteran yang terdiri atas 30 jilid. At-Tasrîf berisi
berbagai topik mengenai kedokteran, termasuk di antaranya tentang gigi dan
kelahiran anak. Buku ini diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerardo dari
Cremona pada abad ke-12 dengan judul Liber Alsaharavi di Cirurgia.
Salinan kitab at-Tasrîf juga diterbitkan di Venice pada tahun 1471
dengan judul Liber Servitoris. Dengan demikian kitab karya az-Zahrawi
semakin termasyhur di seluruh Eropa. Kitabnya yang mengandung sejumlah diagram
dan ilustrasi alat bedah ini menjadi buku wajib mahasiswa kedokteran di
berbagai kampus-kampus. Bahkan hingga lima abad setelah dia meninggal, bukunya
tetap menjadi buku wajib bagi para dokter di berbagai belahan dunia.
Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan kedokterannya masuk dalam kurikulum jurusan
kedokteran di seluruh Eropa.
Dalam bidang matematika umat Islam memiliki
al-Khawarizmi. Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (850 M) dikenal orang Eropa
dengan Algorizm. Nama itu kemudian dipakai orang-orang Barat untuk istilah
algoritma dalam ilmu hitung, karena beliau adalah muslim yang pertama-tama meletakkan
kaidah ilmu hitung. Bukunya yang terkenal berjudul al-Jabar wal Muqâbalah,
kemudian buku tersebut disalin oleh orang-orang Barat dan sampai sekarang ilmu
itu kita kenal dengan nama Aljabar.
Dalam robotika umat Islam memiliki
al-Jazari. Al-Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin
yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot. Donal Hill seorang ahli teknik
asal Inggris peneliti sejarah teknologi berkata, “Tak mungkin mengabaikan hasil
karya al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan
instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin.” Ketertarikan
Donald Hill terhadap karya al-Jazari membuatnya terdorong untuk menerjemahkan
karya al-Jazari pada 1974, atau 6 abad 68 tahun setelah pengarangnya
menyelesaikan karyanya.
Donald Routledge dalam bukunya Studies In
Medieval Islamic Technology, mengatakan bahwa hingga zaman modern ini,
tidak satupun dari suatu kebudayaan yang dapat menandingi lengkapnya instruksi
untuk merancang, memproduksi, dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang
disusun oleh al-Jazari. London Science Museum merancang kembali replika jam
raksasa al-Jazari, sebagai bentuk penghargaan atas karya besarnya. Pada acara World
of Islam Festival yang diselenggarakan di Inggris pada 1976, banyak orang
yang berdecak kagum dengan hasil karya al-Jazari. Al-Jazari dinobatkan sebagai
penemu robotika modern.
Dalam ilmu kimia, umat Islam memiliki
ar-Razi. Muhammad bin Zakaria ar-Razi (930 M) dilatinkan orang Barat menjadi
Razes. Seorang dokter klinis yang terbesar pada masa itu dan pernah mengadakan
satu penelitian al-Kimi yang sekarang kata itu dipakai untuk istilah ilmu kimia
zaman modern.
Di dalam penelitiannya pada waktu itu, ar-Razi
sudah menggunakan peralatan khusus dan secara sistematis hasil karyanya
dibukukan, sehingga orang sekarang tidak sulit mempelajarinya. Bukunya tersebut
menjadi pegangan laboratorium kimia pertama di dunia.
Manusia tempat salah dan lupa. Tidak ada
manusia satupun tanpa memiliki cacat/kekurangan, tidak terkecuali para ilmuwan.
Di antara mereka ada terperosok ke jurang penyimpangan agama, yaitu saat mereka
berbicara masalah agama apa yang mereka tidak kuasai ilmu tentangnya.
Kenapa bisa begitu? Jawabannya, karena
syarat terhindar dari penyimpangan adalah mengikuti bimbingan kaum salaf (para ‘ulama
baik dari kalangan shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, maupun ‘ulama
muta’akhirin yang mengikuti mereka dengan baik). Oleh karena itu, menjadi
ilmuwan bukan jaminan selamat dari penyimpangan agama, tetapi penyimpangan itu
jauh dari para ‘ulama. Di sini jelas bagi kita keutamaan ‘ulama daripada ilmuwan.
Hal ini lebih parah lagi, saat sebagian
ilmuwan hobi dan larut mempelajari filsafat buatan Yunani kaum Majusi
(penyembah api). Adapun para ‘ulama, mencukupkan diri dengan al-Qur`an dan
hadits dengan bimbingan salafush shalih, dan memperingatkan umat untuk menjauhi
ilmu filsafat, kalam, manthiq, dan semisalnya.
Imam Malik (179 H) berkata:
لَوْ كَانَ الْكَلامُ عِلْمًا، لَتَكَلَّمَ فِيهِ الصَّحَابَةُ
وَالتَّابِعُونَ، كَمَا تَكَلَّمُوا فِي الأَحْكَامِ وَالشَّرَائِعِ، وَلَكِنَّهُ
بَاطِلٌ يَدُلُّ عَلَى بَاطِلٍ
“Seandainya kalam adalah ilmu, niscaya para
shahabat dan tabi’in telah membicarakannya seperti pembicaraan mereka terhadap
hukum dan syari’at. Namun, ilmu kalam adalah kebathilan dan menunjukkan
kebathilan.”[177]
Imam asy-Syafi’i (204 H) berkata:
حُكْمِي فِي أَصْحَابِ الْكَلامِ أَنْ يُضْرَبُوا بِالْجَرِيدِ،
وَيُحْمَلُوا عَلَى الإِبِلِ، وَيُطَافُ بِهِمْ فِي الْعَشَائِرِ وَالْقَبَائِلِ،
وَيُقَالُ: هَذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ، وَأَخَذَ فِي
الْكَلامِ
“Hukumanku untuk ahli kalam adalah dipukul
dengan pelepah kurma dan dinaikkan di atas unta dan digiring ke kampung-kampung
sambil dikatakan, ‘Inilah balasan bagi yang meninggalkan al-Qur`an dan
as-Sunnah dan mengambil ilmu kalam.”[178]
Misalkan, sebut saja Ibnu Sina. Ilmuwan
muslim kenamaan sang rujukan dokter dunia ini, banyak bergelut di ilmu filsafat
dan menjadi pengagum Aristoteles. Juga ayahnya adalah dai sekte Isma’iliyah,
salah satu sekte Syi’ah yang ekstrim. Gurunya yang terkenal adalah al-Farabi
yang disebut-sebut Aristoteles II karena kecerdasannya dalam ilmu filsafat yang
pernah belajar kepada Matta bin Yunus dan Yuhanna bin Hilan yang keduanya
beragama Kristen. Ibnu Sina banyak berbicara tentang agama tanpa ilmu dan tidak
mengikuti kaum salaf, akhirnya banyak pendapatnya yang aneh, ganjil, dan menyimpang.
Di antara pendapatnya dan kebanyakan ahli
filsafat lainnya adalah Nabi ﷺ
memang mengetahui kebenaran tetapi terkadang yang ditampakkan adalah
kebalikannya untuk suatu maslahat. Juga, Nabi ﷺ tidak memiliki pengetahuan sebagaimana yang dimiliki ahli
filsafat dan yang semisalnya. Mereka mengunggulkan filsuf melebihi Nabi ﷺ
sebagaimana Ibnu ‘Arobi[179] (tokoh sufi) menggungulkan ath-Tha`i melebihi Nabi ﷺ. Untuk
itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) membantah kesesatan-kesesatannya
dalam kitab beliau Dar`u Ta’ârudil
‘Aql wan Naql. Bahkan, Imam adz-Dzahabi dalam kitab as-Siyar (VII/535)
menyebutkan bahwa Imam al-Ghazali mengkafirkan Ibnu Sina dan al-Farabi dalam
kitabnya al-Munqidz min adz-Dzalâl.
Akan tetapi, –Allahu a’lam– Ibnu
Khallikan menjelaskan saat mencantumkan biografi Ibnu Sina, “Kemudian dia (Ibnu
Sina) mandi dan bertobat, menyedekahkan harta miliknya kepada fakir
miskin, mengembalikan hak-hak orang yang
dizhaliminnya, memerdekakan budak-budaknya, dan mulai mengkhatamkan al-Qur`an
setiap tiga hari. Kemudian dia meninggal di bulan Ramadhan tahun 428 H.”[180]
Contoh lainnya, al-Imam al-Hafizh Abul
Walid Ibnu Rusyd al-Hafid al-Qurthubi (595 H).[181] Beliau tenggelam dalam ilmu filsafat, bahkan menyusun 4 kitab lebih
yang berisi kumpulan, ringkasan, atau syarah filsafat Aristotoles, juga beliau
menyusun syarah kitabnya Ibnu Sina. Layaknya ahli ilmu lainnya, beliau memiliki
banyak keutamaan. Mari kita mendengarnya dari al-Abbar, dia berkata, “Belum
pernah ada di Andalusia (Spanyol) yang menyamainya dalam kesempurnaan, ilmu,
dan keutamaan. Dia lelaki yang tawadhu dan rendah hati. Ada yang mengatakan
bahwa dia tidak pernah berhenti dari kesibukannya semenjak berakal kecuali 2
malam saja, yaitu malam kematian ayahnya dan malam pernikahannya.”[182]
Tentang keilmuannya, seandainya hanya kitab
Bidâyatul Mujtahid yang berhasil disusunnya, niscaya telah cukup untuk
mengakui akan kedalaman ilmunya, luasnya pemahamannya, kuatnya istinbathnya,
dan banyaknya hafalannya. Kitab ini menghimpun hampir semua pendapat ahli
fiqih. Siapa yang melihat langsung kitab ini akan tercengang, seolah-olah saat
menyusunnya hafalannya terpampang lebar di hadapannya. Hal ini tidaklah
mengherankan dan mustahil, karena beliau telah hafal al-Qur`an semenjak kecil,
juga ayahnya seorang ‘ulama dan kepadanya selesai setoran al-Muwaththa` (kitab
hadits karya Imam Malik). Kitab-kitab yang berhasil dikarangnya mencapai
sekitar 50 buah berjilid-jilid.
Bagaimana pendapat para imam ahlus sunnah tentang
beliau? Perhatikan ucapan adz-Dzahabi saat menulis biografinya, “Yang
meriwayatkan darinya adalah Abu Muhammad bin Hauthillah dan Sahl bin Malik. Akan
tetapi, tidak selayaknya meriwayatkan darinya.”[183] Komentar adz-Dzahabi ini seakan mengingkari ilmu Ibnu Rusyd karena
sudah bercampur dengan filsafat, khawatir sedikit-banyak mempengaruhinya saat
berbicara masalah hukum dan syari’at Islam, terutama masalah aqidah. Semoga Alloh
mengampuni beliau dan seluruh kaum muslimin. Sungguh Alloh Maha Pengampun dan
Maha Penyayang, dan Dia Mahatahu isi hati para hamba-Nya.
C. Kini Saatnya Anak Kaum Muslimin Menjadi
Jenius
Di belakang kebanyakan setiap ilmuwan Islam
yang terkenal, terdapat orang tua yang melatih putra-putri mereka menghafal
al-Qur`an semenjak balita hingga mereka dapat menyelesaikan hafalan al-Qur`an
saat berumur 7-10 tahun. Baru setelah itu mereka diajari ilmu-ilmu yang lain.
Ini juga merupakan nasihat Imam an-Nawawi, “Yang paling pokok adalah menghafal
al-Qur`an, karena ia adalah ilmu terpenting, bahkan para salaf tidak
mengajarkan hadits dan fiqih kecuali yang telah hafal al-Qur`an.”
Apabila kita merujuk kepada kejayaan Islam
dan kaum muslimin di zaman kegemilangan, maka kita akan mendapati bahwa
mayoritas kaum muslimin adalah para penghafal al-Qur`an.
Dialah Muhammad al-Fatih raja sekaligus
panglima perang yang berhasil menaklukkan Konstantinopel negara adidaya nomor
satu pada waktu itu. Diriwayatkan dalam alMustadrâk bahwa Nabi ﷺ
mengabarkan bahwa kelak Konstantinopel akan ditaklukkan oleh panglima terbaik
dan oleh pasukan terbaik, dan kabar ini shahih dari Nabi ﷺ.
Siapakah al-Fatih ini? Pemuda yang semenjak kecil dididik untuk membaca al-Qur`an
dan menghafalnya, hasilnya dia menjadi pemuda tangguh dan panglima perang penakluk
Konstantin, padahal umurnya ketika itu sekitar 22 tahun. Nabi ﷺ
bersabda tentang al-Fatih dan pasukannya:
«لَتُفْتَحَنَّ
الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ، وَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ
ذَلِكَ الْجَيْشُ»
“Sungguh Konstantinopel benar-benar akan
ditaklukan. Sungguh pemimpin terbaik adalah pemimpin penaklukan itu dan pasukan
terbaik adalah pasukan tersebut.”[184]
Para ‘ulama yang pakar dalam bidang-bidang
ilmu tertentu adalah para penghafal al-Qur`an di usia dini. Begitu pula ilmuwan
kaum muslimin, kebanyakan mereka adalah hafal al-Qur`an, seperti Ibnu Rusyd dan
Ibnu Sina rujukan ilmu kedokteran modern hingga saat ini yang hafal saat
berumur sekitar 10 tahun.
Sayangnya kebanyakan kaum muslimin zaman
ini memiliki konsep pendidikan untuk anak-anaknya jauh berbeda dengan kaum
salaf terdahulu. Mereka memulai pendidikan anak-anaknya dari ilmu-ilmu dunia,
ambil contoh matematika dan bahasa Inggris. Yang satu hanya mengajarkan
anak-anak sekedar “berpikir” dan yang kedua hanya sekedar “mendengar dan
berbicara”, padahal masa anak-anak sangat bagus untuk menghafal dan ini bisa
diperoleh secara maksimal dalam al-Qur`an. Di samping itu, otak para penghafal
al-Qur`an akan menjadi cerdas karena berkah al-Qur`an, baik akhlaknya, pandai merangkai
kata dan berbicara, mudah paham saat mendengar, dan peka terhadap permasalahan
dan kejadian-kejadian. Menghafal bisa meningkatkan fungsi memori otak jauh
lebih banyak dari konsep pembelajaran lainnya.
Imam Malik bin Anas (179 H) berkata:
كَانَ السَّلَفُ يُعَلِّمُونَ أَوْلَادَهُمْ حُبَّ أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ كَمَا يُعَلِّمُونَ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Kaum salaf dahulu mengajari anak-anaknya
mencintai Abu Bakar dan ‘Umar seperti mereka mengajari sebuah surat dari
al-Qur`an.”[185]
Meskipun ucapan ini tertuju kepada cinta
Abu Bakar dan ‘Umar, tetapi juga terkandung makna bahwa kebiasaan kaum salaf dulu
adalah mendidik putra-putri mereka dengan al-Qur`an semenjak dini.
Bayi-bayi yang baru lahir laksana CD kosong
yang akan merekam setiap data yang dimasukkan kepadanya. Menurut kajian sains,
otak anak-anak sudah siap menerima pelajaran sejak lahir. Otaknya pada waktu
ini ibarat sponge yang amat mudah menyerap air. Pada umur 2 tahun, kapasitas
otak anak-anak sudah menyamai 80% otak dewasa.
“Bahan mentah” anak-anak semuanya sama.
Yang membuat mereka berbeda adalah kualitas dan kuantitas didikan kedua
orangtuanya. Anak-anak yang semenjak dini diajarkan al-Qur`an memiliki empat
ketrampilan, yaitu mendengar, berbicara, menghafal, dan berpikir. Empat
ketrampilan yang diperolehi ini akan meningkatkan IQ otak mereka dan akan
mempengaruhi penyerapan pelajaran/ ilmu, bila mereka dewasa nanti. Ia ibarat BRAIN
TRAINING yang akan menghasilkan daya konsentrasi, fokus, kreativiti, dan kecepatan
berpikir yang bermanfaat untuk jangka masa panjang.
Jika orang tua mempunyai anak yang nakal,
bersegeralah ajarkan mereka al-Qur`an karena ia adalah ‘speech therapy’
bagi anak-anak tersebut.
Menurut pakar anak, bagi
mereka yang mempunyai anak-anak nakal dan bandel, anak-anak perlu diajak
berbicara dan dinasehati serta dimotifasi untuk menjauhkan diri dari hal-hal
yang tidak bermanfaat dan melaksanakan hal-hal yang bermanfaat. Ternyata peran
ini bisa digantikan oleh al-Qur`an. Dengan seringnya anak-anak membaca
al-Qur`an dan menghafalnya akan meningkatkan kualitas akhlak dan etika mereka,
karena pada hakekatnya orang yang membaca al-Qur`an sedang berbicara dengan Alloh
atau diajak dialog oleh Alloh.
Sebenarnya ini telah dibuktikan dalam sains
bahwa jalinan saraf neuron otak pada anak-anak sangat aktif di mana pada 3
tahun pertama bayi, sejumlah 300 trilliun sel penghubung dibuat di dalam otak
dimana sebelumnya tidak ada.
Di antara bentuk perhatian orang tua
terhadap al-Qur`an bagi putra-putrinya adalah menyiapkan al-Qur`an semenjak
dini bahkan jauh-jauh hari sebelum kelahiran sehingga pengaruh al-Qur`an
benar-benar menyatu dengan darah dan dagingnya.
Fase Pertama: Saat Masih Janin
Di antara perhatian orang tua terutama ibu
hamil adalah memperdengarkan janin murattal al-Qur`an (rekaman bacaan dari
seorang qari/imam shalat) dan lebih baik bila dibaca sendiri oleh ibunya. Janin
pada usia 6 bulan sudah bisa mendengar suara dan usia 7 bulan mampu membedakan
suara. Disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa ruh ditiup ke janin pada usia
kehamilan 4 bulan.[186]
Baik pula disetel murattal sebagai
pengantar tidur. Meskipun tidur, otak masih bekerja dan mampu merekam suara dan
ini juga berimbas pada si janin, demikian ini menurut penelitian mutakhir. Alloh
ﷻ
berfirman:
﴿هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ
وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ﴾
“Dia-lah yang menjadikan bagi kalian malam
untuk istirahat dan siang terang benderang (untuk bekerja). Sesungguhnya pada
demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mendengar.”[187]
Kebiasaan istirahat di malam hari adalah
tidur. Alloh mengaitkan antara tidur dengan mendengar, seakan mengisyaratkan
adanya hubungan keduanya.
Umat Yahudi yang terkenal kecerdasannya
memiliki kebiasaan bahwa wanita hamil selalu didengarkan musik dan mengerjakan
soal matematika, kata mereka, supaya kelak anaknya cerdas. Hanya saja, mereka seperti
ungkapan “memasak bubur dengan kotoran.”
Selanjutnya kedua orang tua selalu berdo’a
kepada Alloh agar diberi anak shalih yang cinta al-Qur`an. Betapa banyak para ‘ulama
terkenal karena hasil do’a orang tuanya, semisal Imam al-Bukhari, ‘Abdullah bin
Ahmad bin Hanbal, Ibnu Abi Hatim ar-Razi, Abu Bakar as-Sijistani, Ibnul Jazari,
dan lain-lain.
Baiknya kedua orang tua berdo’a dengan do’a
Nabi Ibrahim ‘alahissalam. Do’a beliau sederhana dan ringkas, lalu Alloh
kabulkan dengan memberinya kabar gembira seorang anak shalih dan taat bernama Isma’il,
juga seorang Nabi. Ini do’anya:
﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾
“Wahai Rabb-ku, berilah aku (anak) yang
termasuk orang-orang shalih.”[188]
Tidak ketinggalan do’a Nabi Zakariyya ‘alahissalam.
Beliau berdo’a kepada Alloh ﷻ
seorang anak shalih lalu Alloh memberinya seorang anak shalih bernama Yahya.
Ini do’anya:
﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ
سَمِيعُ الدُّعَاءِ﴾
“Wahai Rabb-ku, berilah aku dari sisi-Mu
seorang keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar segala do’a.”[189]
Juga do’a perempuan shalihah istri Imran.
Beliau bernazhar kepada Alloh ﷻ
bahwa janin yang dikandungnya akan dihibahkan sebagai da’i di jalan Alloh ﷻ. Ini teladan yang baik
yang patut ditiru oleh semua kaum muslimah shalihah. Karena ketulusannya, Alloh
pun menerimanya dan kelak dari keturunannya lahir seorang Nabi mulia, ‘Isa ‘alahissalam.
Ini do’anya:
﴿رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا
فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku bernazhar
kepada-Mu apa yang ada di dalam perutku sebagai muharrar,[190]
maka terimalah dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.”[191]
Sangat dianjurkan bagi orang tua untuk
selalu berdo’a dengan do’a ‘Ibadur Rahman sepanjang masa, yaitu sebelum
kehamilan, masa kehamilan, dan berlanjut setelah kelahiran. Sebab, do’a ini
mencakup segala permohonan kebaikan bagi keturunan shalih. Apa guna anak jika
tidak shalih yang hanya menyusahkan, meresahkan, dan durhaka kepada orang tua?
Maka punya anak shalih hukumnya wajib diusahakan. Ini do’anya:
﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ
أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا﴾
“Wahai Rabb kami jadikanlah istri-istri kami
dan keturunan kami sebagai penyejuk pandangan, dan jadikanlah kami imam bagi
orang-orang beriman.”[192]
Fase Kedua: Bayi Berumur 1-3 Tahun
Di samping bayi selalu diperdengarkan
al-Qur`an, ibu proaktif membaca al-Qur`an di samping bayi. Hal ini akan sangat
membekas pada dirinya dan mulai menirukan orang-orang yang di sekelilingnya.
Dulu ada seorang anak yang melihat pamannya
shalat malam. Kemudian ditiru oleh anak tersebut dan dia terus melakukannya
hingga dewasa sampai meninggal.
Fase Ketiga: Bayi Berumur 3-7 Tahun
Orang tua mulai mengajari anaknya menghafal
sedikit demi sedikit dengan sabar dan konsisten. Baik pula orang tua
mendatangkan guru ngaji al-Qur`an. Imam Abu Hanifah saat dikabari guru ngaji
anaknya bahwa anaknya telah hafal surat al-Fatihah gembira sekali lalu guru
tersebut diberi tambahan uang yang banyak. Saat ditanya beliau menjawab bahwa
al-Fatihah jauh lebih berharga dari sejumlah uang yang beliau keluarkan bahkan
tidak ada nilainya dibanding karunia al-Fatihah.
Kebiasaan para raja Islam zaman dulu adalah
mendatangkan guru privat ngaji untuk anak-anaknya sehingga banyak hafal
al-Qur`an di waktu kecil. Muhammad al-Fatih kecil termasuk yang diperlakukan
ayahnya seperti ini di waktu kecil.
Umur-umur ini begitu baik untuk menghafal,
mudah direkam dan susah hilang. Imam Qatadah (118 H) berkata:
الْحِفْظُ فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ فِي الْحَجَرِ
“Menghafal di masa kecil laksana mengukir di
atas batu (yakni bekasnya sulit hilang).”[193]
Banyak para ‘ulama yang sukses
menyelesaikan hafalannya di saat umurnya 7 tahun atau kurang dari itu, misalnya
Imam asy-Syafi’i, Imam ath-Thabari, al-Bulqini, Basyir al-Ghazi, Abu Bakar
Zarirani, Muhammad ‘Abdul Baqi al-Anshari, dan lainya.
Bila memungkinkan, tidak ada salahnya anak
dikirim ke halaqah al-Qur`an atau dipondokkan yang diampu oleh guru yang
mumpuni, shalih, dan bertanggungjawab.
Fase Keempat: Umur 7-12 Tahun
Jika belum selesai hafalannya, umur ini
sudah memungkinkan untuk dikirim ke pondok tahfizh jika ingin fokus dan hasil
yang memuaskan, tetapi boleh jadi dibimbing sendiri oleh orang tua di rumah
sambil didatangkan guru ngaji lebih baik dan utama. Dulu Syafi’i kecil dikirim
ibunya ke kuttab (sejenis pondok
tahfizh) dan rela melepas anak kesayangannya, tetapi setelah itu dia bergembira
atas apa yang Alloh perbuat terhadap Syafi’i sebagaimana yang telah kita
ketahui. Di usia ini, anak mulai diajari tajwid dan tafsir ringan untuk
memantapkan hafalannya.
Banyak pula ‘ulama Islam yang selesai di
umur-umur ini, seperti al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Ashqalani, al-Hafizh al-‘Iraqi,
dan Syaikhul Qurra` Ibnul Jazari.
Fase Kelima: Umur 12 Ke Atas
Pada usia ini anak sudah siap diajari
ilmu-ilmu lain termasuk ilmu dunia jika menghendaki. Orang tua akan melihat
berkah umurnya dalam belajar dan hasil maksimal yang dicapai anaknya, insya Alloh.
Kini saatnya para orang tua muslim
untuk mengubah paradigma dalam mendidik
putra-putrinya untuk memulainya dengan al-Qur`an. Kelak kejayaan itu akan
kembali kepada kaum muslimin sebagaimana mereka kembali kepada Kitabullah.
‘Abdullah bin ‘Abbas rodhiyalloohu
‘anhuma masih kecil di masa keNabian. Ketika Nabi ﷺ wafat, Ibnu ‘Abbas kecil ini baru beranjak dewasa belasan
tahun. Ajaibnya, sepeninggal Nabi ﷺ beliau menjadi tempat dimintai fatwa hampir untuk semua
permasalahan agama umat Muhammad ﷺ. Apa rahasianya? Ibnu ‘Abbas kecil menghafal al-Qur`an semenjak
wahyu diturunkan dan menggenapkannya saat Nabi ﷺ wafat. Ibnu Abbas (68 H) rodhiyalloohu ‘anhuma berkata:
تُوُفِّيَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ وَأَنَا ابْنُ عَشْرِ سِنِينَ، وَقَدْ قَرَأْتُ
المُحْكَمَ
“Rosululloh ﷺ
wafat saat aku berumur 10 tahun dan aku telah membaca[194] al-Muhkam[195].”[196][]
PENUTUP
Dari zaman ke zaman orang-orang kafir
terutama Yahudi dan Kristen senantiasa berusaha menjauhkan umat Islam dari
kitab sucinya. Mereka benar-benar mengetahui bahwa kejayaan dan peradaban umat
Islam akan bangkit jika mereka kembali kepada Kitabullah dengan menghafalnya
dan mengkajinya serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. Mereka pun bahu-membahu
dengan melakukan makar dan tipu daya sekuat tenaga, dengan mengalihkan kaum
muslimin kepada hiburan-hiburan televisi (film-film amoral, kartun-kartun yang
memuat khayalan tingkat tinggi, liga dunia sepak bola, dan sebagainya). Bahkan,
mereka sudah sejak lama “meracuni” umat Islam dengan makanan-makanan siap saji
yang mereka jual dengan bahan pengawet, pewarna, dan zat berbahaya lainnya
sehingga menciderai saraf dan pertumbuhan. Mereka juga membuat obat-obat dari
bahan haram dan hewani untuk dikonsumsi umat Islam. Intinya, mereka semua
bahu-membahu untuk menjauhkan umat Islam dari al-Qur`an dan berusaha merusak akal
serta badan mereka. Alloh ﷻ
seakan membangunkan kita dari kepulasan tidur ini dalam firman-Nya:
﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ
وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ﴾
“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Janganlah
kalian mendengarkan al-Qur`an dan timbulkanlah kegaduan di dalamnya agar kalian
menang.’”[197]
Umat Islam sekarang telah menjauh dari
al-Qur`an. Mereka menempatkan al-Qur`an di belakang mereka. Mereka lebih ridha
koran daripada al-Qur`an. Rosululloh ﷺ mengadu kepada Alloh akan umat beliau yang demikian, agar Alloh
ﷻ
berkenan mengentaskan mereka dari keterpurukan dan kemunduran mereka karena
berpaling dari hal ini.
﴿وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا
الْقُرْآنَ مَهْجُورًا﴾
“Rosululloh berkata, ‘Wahai Rabb-ku,
sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur`an mahjur (sesuatu yang
ditinggalkan).”[198]
Pengaduan beliau ini yang diabadikan Alloh,
tidak lain agar kita selalu mengingat kesedihan dan kegelisahan beliau lalu
bangkit menuju al-Qur`an, menuju kejayaan tinggi dan peradaban mulia di dunia
dan akhirat.
Inilah yang bisa kami hadiahkan kepada
pembaca. Kami sangat sadar bahwa buku ini sangat jauh sekali dari kesempurnaan.
Kami sangat terbuka dihubungi di 085730219208 untuk menyampaikan
koreksi, saran, kritik, maupun tegur sapa.
Jika ada kebenaran dalam buku ini, semuanya
dari Alloh, dan jika ada kesalahan di
dalamnya itu berasal dari kami dan setan.
Kami menyatakan rujuk dan kembali kepada kebenaran.
Semoga shalawat dan salam selalu tercurah
kepada Rosululloh Muhammad ﷺ, para keluarganya, para shahabatnya, dan para pengikut setianya
hingga akhir zaman.[]
Penulis
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur`an dan Tafsirnya
Mushhaf al-Qur`ân rash Utsmani cetakan Beirut.
Tafsîr Ibnu Abi Hâtim karya Abu Muhammad
Abdurrahman bin Abi Hatim ar-Razi, Tahqiq: As'ad Muhammad ath-Thayyib,
Penerbit: al-Maktabah al-Ishriyyah.
Jâmi’ul Bayân fî Ta`wîlil Qur`ân (Tafsîr
ath-Thabarî) karya Abu Ja’far Muhammad bin Jarir
bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari (310 H), Tahqiq: Ahmad
Muhammad Syakir, Penerbit: Mu`assasah ar-Risalah, cet. ke-1 th. 1420 H/2000 M.
Tafsîrul Qur`ânil Adzîm (Tafsîr Ibnî
Katsîr) karya Abu al-Fida Ismail bin ‘Umar bin
Katsir al-Qurasy ad-Dimasyqi (774 H), Tahqiq: Sami Muhammad Salamah, Penerbit:
Dar Tayyibah, cet. ke-2 th. 1420 H/1999 M.
Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr (Tafsîr Ibnul Jauzî) karya Abu al-Faraj Abdurrahman bin ‘Ali
bin Muhammad al-Jauzi (597 H), Tahqiq: Abdurrazzaq al-Mahdi, Penerbit: Darul
Kutub al-Arobi Beirut, cet. ke-1 th. 1422 H.
Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur`ân (Tafsîr
al-Qurthubî) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad
al-Qurthubi (671 H), Muhaqqiq: Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Athfisy, Penerbit:
Darul Kutub al-Mishriyyah, cet. ke-2 th. 1384 H/1964 M.
Fathul Qadir al-Jâmi' baina Fanar
Riwâyah wad Dirâyah min ‘Ilmit Tafsîr karya
Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdullah asy-Syaukani al-Yamani (1250 H),
Penerbit: Dar Ibnu Katsir, cet. ke-1 th. 1414 H.
Ad-Durrul Mantsûr fit Tafsîr bil Mantsûr karya Abu Bakar Abdurrahman as-Suyuthi (911 H), Tahqiq: Markaz Hijr
lil Buhuts, Penerbit: Dar Hijr Mesir, cet. th. 1424 H/2003 M.
Shafwah at-Tafâsîr karya Muhammad ‘Ali ash-Shabuni (lahir 1930 M). Penerbit: Darush
Shabuni Kairo, cet. ke-1 th. 1417 H/1997 M.
Ma’âlimut Tanzîl fî Tafsîril Qur`ân
(Tafsîr al-Baghawî) karya Muhyissunnah Abu Muhammad
al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad bin Farra` bin al-Baghawi asy-Syafi’i (510
H), Tahqiq: ‘Abdurrazzaq al-Mahdi, Penerbit: Dar Ihya`ut Turats al-‘Arobi
Beirut, cet. ke-1 th. 1420 H.
Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîri
Kalâmil Mannân (Tafsîr as-Sa’di) karya
Abdurrahman bin Nashir bin ‘Abdullah as-Sa'di (1376 H), Tahqiq: Abdurrahman bin
Ma'la al-Luwaihaq, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 th. 1420 H/2000 M.
Ma’ânil Qur`ân karya Abu Zakaria Yahya bin Ziyad bin ‘Abdullah bin ad-Dailami
al-Farra` (207 H), Tahqiq: Ahmad Yusuf an-Najati, Muhammad ‘Ali an-Najjar, dan
‘Abdul Fattah Ismail asy-Syilbi, Penerbit: Darul Mishriyyah, cet. ke-1 tanpa
tahun.
Mafâtîhul Ghaib karya Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Umar bin al-Hasan bin al-Husain
at-Taimi ar-Razi (Fakhruddin ar-Razi, w. 606 H), Penerbit: Dar Ihyâ`ut Turâts
al-‘Arâbî, cet. ke-3 th. 1420 H.
Al-Mujtabâ min Musykil I’râbil Qur`ân karya Prof. Dr. Abu Bilal Ahmad bin Muhammad al-Kharrath, Penerbit:
Majma’ al-Malik Fahd Madinah, cet. th. 1426 H.
Hadits dan Syarahnya
Al-Jâmi’ as-Musnad ash-Shahîh
al-Mukhtashar min Umûri Rasûlillahi ﷺ wa Sunanih wa Ayyamih (Shahîh al-Bukhârî) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (256 H),
Tahqiq: Muhammad Zuhair bin Nashir an-Nashir, Penerbit: Dar Thauqun Najah, cet.
ke-1 th. 1422 H.
Al-Musnad ash-Shahîh al-Mukhtashar
Binaqlil Adli ‘anil Adli ilâ Rasûlillahi ﷺ (Shahîh Muslim) karya Abu al-Husain
Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (261 H), Tahqiq: Dr.
Muhammad Fuad Abdul Baqi, Penerbit: Ihyaut Turats al-Arobi Beirut, tanpa tahun.
Sunan at-Tirmidzî karya Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi (249 H),
Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir dkk, Penerbit: Musthafa al-Babi al-Halabi Mesir,
cet. ke-2 th. 1395 H/1975 H.
Sunan Abû Dâwûd karya Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani as-Azdi (275
H), Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Penerbit: Maktabah al-Ishriyyah
Beirut, tanpa tahun.
Al-Mujtabâ (Sunan an-Nasâ`i) karya Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali an-Nasa`i (303 H),
Tahqiq: Abu Ghuddah Abdul Fattah, Penerbit: Maktab al-Mathbu’at al-Islamiyah
Halab cet. ke-2 th. 1406 H/1986 M.
Sunan Ibnu Mâjah karya Abu Abdillah Muhammad bin Majah (nama aslinya Yazid)
al-Qazwini (273 H), Tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Penerbit: Dar Ihya`ul
Kutub al-Arobiyyah.
Musnad Ahmad
karya Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani (241 ), Tahqiq: Syuaib
al-Arnauth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 th. 1421 H/2001 M.
As-Sunan al-Kubrâ karya Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali an-Nasa`i (303 H),
Tahqiq: Hasan Abdul Mun’im Syalabi, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet.
ke-1 th. 1421 H/2001 M.
Shahîh Ibnu Khuzaimah karya Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin al-Mughirah bin
Shalih bin Bakar as-Sulami an-Naisaburi (311 H), Tahqiq: Dr. Musthafa
al-A’dzami, Penerbit: al-Maktabah al-Islami Beirut, cet. tanpa tahun.
Shahîh Ibnu Hibbân karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Muadz
bin Ma’bad at-Tamimi ad-Darimi (354 H), Tahqiq: Syu’aib al-Arna`ut, Penerbit:
Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-2 th. 1414 H/1993 H.
Al-Mustadrâk alâsh Shahîhain karya Abu Abdillah al-Hakim bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Muhammad
bin Hamadiyyah bin Tsu’aim bin al-Hakam adh-Dhabi ath-Thahmani an-Naisaburi
(nama ma’ruf Ibnul Bayyi’) (405 H), Tahqiq: Musthafa Abdul Qadir Atha,
Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-1 th. 1411 H/1990 H.
Ar-Raudhu ad-Dânî (al-Mu’jam
ash-Shaghîr) karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad
bin Ayyub bin Muthir al-Lahmi asy-Syami ath-Thabarani (360 H), Tahqiq: Muhammad
Syakur Mahmud al-Hajj al-Amiri, Penerbit: al-Maktab al-Islami Beirut, cet. ke-1
th. 1405 H/1985 H.
Al-Mu’jam al-Ausath karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir al-Lahmi
asy-Syami ath-Thabarani (360 H), Tahqiq: Thariq bin Iwadhullah bin Muhammad dan
Abdul Muhsin bin Ibrahim al-Husni, Penerbit: Darul Haramain Mesir, cet. tanpa
tahun.
Al-Mu’jam al-Kabîr karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir al-Lahmi
asy-Syami ath-Thabarani (360 H), Tahqiq: Hamdi bin Abdul Majid as-Salafi,
Penerbit: Maktabah Ibnu Taimiyyah Mesir, cet. ke-2 tanpa tahun.
Al-Mu’jam al-Kabîr (juz 13, 14, dan 21) karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub
bin Muthir al-Lahmi asy-Syami ath-Thabarani (360 H), Tahqiq: penelitian di
bawah pengawasan Dr. Sa’ad bin ‘Abdullah al-Hamid dan Dr. Khalid bin
Abdurrahman al-Jarisi, cet. ke-1 th. 1427 H/2006 H.
As-Sunan al-Kubrâ karya Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali al-Baihaqi (458 H),
Tahqiq: Muhamamd Abdul Qadir Atha, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut,
cet. ke-3 th. 1424 H/2003 H.
As-Sunan ash-Shughrâ karya Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali al-Baihaqi (458 H),
Tahqiq: Abdul Mu’thi Amin, Penerbit: Jami’atud Dirâsât al-Islâmiyyah Pakistan,
cet. ke-1 th. 1410 H/1989 H.
Syu'abul Imân karya Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali bin Musa al-Baihaqi
al-Khurasani (458 H), Tahqiq: Dr. Abdul ‘Ali Abdul Hamid Hamid, Penerbit:
Maktabah ar-Rusyd Riyadh, cet. ke-1 th. 1423 H/2003 M.
Mushannaf Ibnu Abi Syaibah karya Abu Bakar ‘Abdullah bin Abu Syaibah al-Abasi al-Kufi (235 H),
Tahqiq: Kamal Yusuf al-Hut, Penerbit: Maktabah ar-Rusyd Riyadh, cet. ke-1 th.
1409 H.
Mushannaf Abdurrazzâq karya Abu Bakar Abdurrazzaq bin Hammam ash-Shan'ani (211 H),
Tahqiq: Habiburrahman al-A'dhami, Penerbit: al-Maktab al-Islami Beirut, cet.
ke-2 th. 1403 H.
Musnad ad-Dârimî (Sunan ad-Dârimî) karya Abu Muhammad ‘Abdullah bin Abdurrahman bin al-Fadhal bin
Bahram bin Abdush Shamad ad-Darimi at-Tamimi as-Samarqandi (255 H), Tahqiq:
Husain Salim Asad ad-Darani, Penerbit: Darul Mughni KSA, cet. ke-1 th. 1412
H/2000 M.
Al-Mustakhrâj karya Abu Awanah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim an-Naisaburi
al-Isfirayaini (316 H), Tahqiq: Aiman bin Arif ad-Dimasyq, Penerbit: Darul
Ma’rifah Beirut, cet. ke-1 th. 1419 H/1998 H.
Sunan ad-Dâruquthnî karya Abul Hasan ‘Ali bin ‘Umar bin Ahmad bin Mahdi bin Mas’ud bin
Nu’man bin Dinar al-Baghdadi ad-Daruquthni (385 H), Tahqiq: Syu’aib al-Arna`uth
dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-1 th. 1424 H/2004 H.
Musnad Abû Ya’lâ karya Abu Ya’la Ahmad bin ‘Ali bin al-Mutsanna bin Yahya bin Isa bin
Hilal at-Tamimi al-Maushuli (307 H), Tahqiq: Husain Salim Asad, Penerbit: Darul
Ma`mun lit Turâts Damaskus, cet. ke-1 th. 1404 H/1984 H.
Musnad Ibnu Abî Syaibah karya Abu Bakar ‘Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim bin Utsman bin
Khawasiti al-Abasi Ibnu Abi Syaibah (235 H),
Tahqiq: Adil bin Yusuf al-Azazi dan Ahmad bin Farid al-Mazidi, Penerbit:
Darul Wathan Riyadh, cet. ke-1 th. 1997 H.
Musnad Abû Dâwûd ath-Thayâlisî karya Abu Dawud Sulaiman bin Dawud bin al-Jarud ath-Thayalisi
al-Bashri (204 H), Tahqiq: Dr. Muhammad bin Abdul Muhsin at-Turki, Penerbit:
Dar Hijr Mesir, cet. ke-1 th. 1419 H/1999 H.
Al-Bahr az-Zakhkhâr (Musnad al-Bazzâr) karya Abu Bakar Ahmad bin Amr bin Abdul Khaliq bin Khalad bin
Ubaidillah al-Ataki (nama ma’ruf al-Bazzar) (292 H), Tahqiq: Mahfuzhur Rahman
Zainullah (juz 1-9), Adil bin Sa’ad (juz 10-17), dan Shabari Abdul Khaliq
asy-Syafi’i (juz 18), Penerbit: Maktabah al-Ulum wal Hikam Madinah, cet. ke-1
th. 1988-2009 H.
Musnad Ibnu Ja’ad karya ‘Ali bin al-Ja’ad bin Ubaid al-Jauhari al-Baghdadi (230 H),
Tahqiq: ‘Amir Ahmad Haidir, Penerbit: Mu`assasah Nadir Beirut, cet. ke-1 th.
1410 H/1990 M.
Az-Zuhd wal Raqa`iq karya Abu Abdirrahman ‘Abdullah bin al-Mubarak bin Wadhih al-Handhali
at-Turki al-Marwazi (181 H), Tahqiq: Habiburrahman al-A'dhami, tanpa tahun.
At-Tauhîd wa Ma’rifatu Asmâ`illah Azza
wa Jalla wa Sifâtuhu ‘alal Ittifâq wat Tafarrudi (Kitâbut Tauhîd) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin Yahya bin Mandah
al-Abdi (395 H), Tahqiq: Dr. ‘Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi, Penebit:
Maktabatul Ulum wal Hikam Madinah, cet. ke-1 th. 1423 H/2002 M.
A-Jâmi` Liakhlâqir Râwî wa Adâbis Sâmi’ karya Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi
al-Khathib al-Baghdadi (463 H), Tahqiq: Dr. Mahmud ath-Thahhan, Penerbit: Darul
Ma’arif Riyadh.
Fathul Bârî Syarhu Shahîh al-Bukhârî karya Abul Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i (852
H), Tahqiq: Abdul Aziz bin Baz, Tarqim: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Takhrij:
Muhibuddin al-Khathib, Penerbit: Darul Ma’rifat Beirut, cet. th. 1379 H.
Al-Minhâj Syarhu Shahîh Muslim bin
al-Hajjâj karya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf
an-Nawawi asy-Syafi’i (676 H), Penerbit: Dar Ihyâ`ut Turâts al-Arobi Beirut,
cet. ke-2 th. 1392 H.
Aunul Ma'bûd
karya Abu Abdirrahman Muhammad Asyraf bin Amir bin ‘Ali bin Hidar Syaraful Haq
ash-Shadiqi al-Adhimi Abadi (1329 H), Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut,
cet. ke-3 th. 1425 H.
Jâmi'ul Ulûm wal Hikam karya Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab bin al-Hasan as-Sualmi
al-Baghdadi ad-Dimasyq al-Hanbali (795 H), Tahqiq: Dr. Muhammad Ahmadi Abu
an-Nur, Penerbit: Darus Salam, cet. ke-3 th. 1424 H/2004 H.
Syarhu Shahîh al-Bukhârî karya Abu al-Hasan ‘Ali bin Khalaf bin Abdul Malik bin Baththal
al-Bakri al-Saudin Ibrahim, Penerbit: Maktabah ar-Rusyd Riyadh, cet. ke-2 th.
1423 H/2003 M.
Kifâyatul Hâjah fi Syarhi Sunan Ibni
Mâjah karya Muhammad bin 'Abdul Hadi as-Sindi (1138
H), Penerbit: Darul Jail Beirut, tanpa tahun.
Sejarah dan Biografi
Siyar A'lâmin Nubalâ` karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Ustman adz-Dzahabi (748
H), Tahqiq: Syu'aib al-Arna`uth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-3
th. 1405 H/1985 M.
Hilyâtul Auliyâ` wa Thabaqâtul Ashfiyâ` karya Abu Nu'aim Ahmad bin Abdillah al-Ashfahani (430 H), Penerbit:
Darus Sa’âdah, cet. th. 1394 H/1974 M.
Al-Bidâyah wan Nihâyah karya Abu al-Fida Ismail bin ‘Umar bin Katsir al-Qurasy ad-Dimasyqi
(774 H), Tahqiq: ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki, Penerbit: Darul Hijr,
cet. ke-1 th. 1418 H/1997 M.
Wafayâtul A’yân wa Anbâ Abnâ`iz Zamân karya Syamsyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin
Abu Bakar Ibnu Khallikan al-Barmaki al-Irbili (681 H), Tahqiq: Ihsan ‘Abbas,
Penerbit: Dar Shadir Beirut, cet. ke-1 (juz 1-7) th. 1900-1994 M.
Kamus dan Bahasa
Lisânul Arâb
karya Muhammad bin Mukrim bin Manzhur al-Afriqi al-Mishri, Penerbit: Dar Shadir
Beirut, cet. ke-1.
Al-Qâmûs al-Muhîth karya Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Fairuz Abadi (817 H),
Tahqiq: Muhammad Nu’aim al-Arqasusi dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut,
cet. ke-8 th. 1426 H/2005 M.
At-Ta’rîfât
karya Ali bin Muhammad al-Jurjani (816 H), Tahqiq: Ibrahim al-Abyari, Penerbit:
Darul Kitab al-‘Arobi Beirut, cet. ke-1 th. 1405 H.
Lain-Lain
Majmu’ al-Fatâwâ karya Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyyah al-Harani (728
H), Tahqiq: ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Qasim, Penerbit: Majma’ al-Malik Fahd
KSA, cet. th. 1416 H/1995 H.
Syarh Ushûlil I’tiqâd Ahlis Sunnah wal
Jamâ’ah karya Abul Qasim Habatullah bin al-Hasan
bin Manshur bin ath-Thabari ar-Razi al-Lalika`i (418 H), Tahqiq: Ahmad bin
Sa’ad bin Hamdan al-Ghamidi, Penerbit: Daruth Thaybah KSA, cet. ke-8 th. 1423
H/2003 M.
Al-‘Arsy
karya Abu ‘Abdillah adz-Dzahabi (748 H), Tahqiq: Muhammad bin Khalifah bin ‘Ali
at-Taimi, Penerbit: Jami’ah Islamiyyah Madinah, cet. Ke-2 th. Ke-1424 H/2003 M.
Asy-Syarî’ah
karya Abu Bakar Muhammad bin al-Hasan bin ‘Abdullah al-Ajurri al-Baghdadi (360
H), Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman, Penerbit: Darul Wathan KSA,
cet. ke-2 th. 1420 H/1999 M.
Khalqu Af’âlil Ibâd karya Imam al-Bukhari, Tahqiq: Dr. Abdurrahman Amirah, Penerbit:
Darul Ma’arif Saudiyyah Riyadh, tanpa tahun.
Lum’atul I’tiqâd karya Ibnu Qudamah, Penerbit: Wizaratuys Syu`un KSA, cet. Ke-2 th.
1420 H/2000 M.
Mungkinkah Aku Hafal Satu Juta Hadits
Seperti Imam Ahmad? karya Abu Zur’ah ath-Thaybi,
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya, cet. ke-1 th. 1434 H/2013.[]
[1] QS. Yûnûs [10]: 58.
[2] Tafsîr as-Sa’dî (hal. 366).
[3] Tafsîr al-Qurthubî (VIII/353).
[4] Tafsîr Ibnu Katsîr (IV/275).
[5] QS. Ar-Rahmân [55]: 1-3.
[6] At-Ta’rîfât (hal. 219) olehnya.
[7] Al-Qâmûs al-Muhîth (hal. 516)
olehnya.
[8] Lihat Manâqib asy-Syâfi’î (hal.
121) oleh ar-Rozi.
[9] QS. Al-‘Ankabût [29]: 48.
[10] Shafwah at-Tafâsîr (II/427)
olehnya.
[11] Ad-Durru Mantsûr fît Tafsîr bil Ma`tsûr
(VI/471) oleh as-Suyuthi.
[12] QS. Yâsîn [36]: 69.
[13] HR. Al-Bukhori (no. 4981, VI/182) dan
Muslim (no. 152) dari Abu Huroiroh rodhiyalloohu ‘anhu.
[14] QS. Ar-Ro’du
[13]: 31.
[15] QS. Al-Hasyr [59]: 21.
[16] QS. Al-Isrâ` [17]: 88.
[17] Tafsîr al-Qurthubî (X/327).
[18] QS. Hûd [11]: 13.
[19] QS. Yûnûs [10]: 38.
[20] Tafsîr Ibnu Abî Hâtim (no. 10730,
VI/2009).
[21] Tafsîr Ibnu Katsîr (IV/268).
[22] QS. An-Nisâ` [4]: 82.
[23] QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3.
[24] Tafsîr Ibnu Katsîr (VIII/479).
Kemungkinan kisah yang benar adalah setelah keislaman ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyalloohu
‘anhu sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Hajar dalam al-Ishâbah
(III/225).
[25] QS. Al-Baqoroh [2]: 147 dan Ali Imrân [3]:
60. Ayat yang senada Allâh ulang dalam QS. Yûnûs [10]: 94, Hûd [11]: 17,
al-Hajj [22]: 54, dan as-Sajdah [32]: 3, yang semua ini mengisyaratkan bahwa
kebenaran benar-benar hanya berasal dari Allâh semata dan melarang manusia
untuk meragukannya.
[26] QS. Al-An’âm [6]: 116 dan Yûnûs [10]: 66.
[27] QS. Yûsûf [12]: 76.
[28] Tafsîr ath-Thabarî (no. 19585,
XVI/192).
[29] QS. Al-‘Ankabût [29]: 49.
[30] Tafsîr al-Baghawî (III/563).
[31] Diriwayatkan ath-Thabarani (no. 8666)
dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Ibnu Abi Syaibah (no. 30018) dalam Mushannafnya,
Ibnu al-Mubarak (no. 814, hal. 280) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, dan
al-Baihaqi (no. 1808) dalam Syu’abul Imân.
[32] Ta`ammulât Qur`âniyyah (I/2)
olehnya. Diambil dari http://www.islamweb.net.
[33] Zâdul Masîr (I/11) olehnya.
[34] QS. Ar-Rûm [31]: 7.
[35] Tafsîr Ibnu Katsîr (VI/305).
[36] Ibid (VI/305).
[37] QS. Al-‘Ankabût [29]: 46. Adapun dalam
redaksi al-Bukhori adalah al-Baqoroh [2]: 136.
[38] HR. Al-Bukhori (no. 4485, VI/20-21),
an-Nasa`i (no. 11323, X/211), dan al-Baihaqi (no. 20615) keduanya dalam
as-Sunan al-Kubrâ.
[39] HR. Al-Bukhori (no. 3461, IV/170),
at-Tirmidzi (no. 2669), dan Ahmad (no. 6486) dalam Musnadnya, dan Ibnu
Hibban (no. 6256) dalam Shahîhnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr rodhiyalloohu
‘anhuma.
[40] Lebih jelasnya bisa dilihat di
http://id.wikipedia.org/wiki/big_bang.
[41] QS. Al-Anbiyâ` [21]: 30.
[42] Tafsîr Ibnu Katsîr (V/339).
[43] QS. Al-Anbiyâ` [21]: 33. Jika ditotal
minimal ada 17 tempat penyebutan malam sebelum siang saat beriringan, yaitu al-Baqoroh
[2]: 164, ‘Ali Imrân [3]: 190, begitu juga [6]: 13, [10]: 6, [14]: 33, [16]:
12, [17]: 12, [21]: 20 & 33, [23]: 88, [24]: 44, [25]: 62, [28]: 73, [34]:
33, [41]: 37, [45]: 5, dan [73]: 20.
[44] QS. Qâf [50]: 38.
[45] QS. Al-Hajj [22]: 47.
[46] Al-Bidâyah wan Nihâyah (I/27)
olehnya.
[47] HR. Al-Bukhori (no. 4936) dan Muslim (no.
2950). Dalam kurung tutup tambahan
lafazh dari al-Bukhori, Muslim, Ibnu Hibban, dan lainnya dalam riwayat lain.
[48] Al-Minhâj (XVIII/89) olehnya.
[49] Fathul Bârî (IX/442) oleh Ibnu
Hajar.
[50] Lihat QS. An-Nahl [16]: 1, al-Ahzâb [33]:
63, al-Qamar [54]: 1, dan an-Najm [53]: 57. Juga HR. Al-Bukhori (no. 3346) dan
Muslim (no. 2880), juga HR. Al-Bukhori (no. 5231) dan Muslim (no. 2671), dan
lain-lain.
[51] Maksud menuju di sini adalah beralih menciptakan langit.
Urutannya: bumi diciptakan dalam 2 hari masih kosongan, lalu langit diciptakan,
lalu isi bumi disempurnakan dalam 4 hari. Maka total penciptaan langit dan bumi
adalah 6 hari.
[52] QS. Fushshilat [41]: 9-12.
[53] Al-Bidâyah wan Nihâyah (I/29).
[54] Shahih: HR. Abu Ya’la al-Maushili
(no. 2329, IV/217) dalam Musnadnya dan ad-Darimi (I/142) dalam ar-Ra’du
‘alal Jahmiyyah dari Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu
‘anhuma. Dinilai shahih Husain Salim Asad.
[55] HR. Muslim (no. 2653, IV/2044),
at-Tirmidzdi (no. 2156), Ahmad (no. 6579), dan Ibnu Hibban (no. 6138) dalam
Shahihnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyalloohu ‘anhuma.
[56] Syarhus Suyûthî (VI/18).
[57] Shahih: HR. Al-Hakim (no. 3840,
II/540) dalam al-Mustadrâk seraya berkata, “Hadits shahih sesuai syarat
al-Bukhori Muslim tetapi keduanya tidak mengeluarkannya,” dan disetujui
adz-Dzahabi.
[58] HR. Ath-Thabarani (no. 10595, X/247) dalam
al-Mu’jam al-Kabîr. Al-Haitsami berkata, “Di dalamnya ada adh-Dhahhak
yang dinilai dha’if oleh sekelompok ‘ulama tetapi dinilai tsiqah Ibnu Hibban
seraya berkata, ‘Dia tidak pernah mendengar dari Ibnu ‘Abbas.’ Perawi lainnya
tsiqah.
[59] QS. Ar-Rûm [30]: 25. Ayat yang serupa
misalnya QS. [35]: 41, [40]: 64, dan [27]: 61.
[60] QS. Al-Baqoroh [2]: 20.
[61] Lisânul ‘Arâb (XII/497) olehnya.
[62] Al-Qâmûs al-Muhîth (hal. 1152)
olehnya.
[63] Zâdul Masîr (III/420).
[64] Tafsîr al-Qurthubî (XIV/19).
[65] Ma’ânil Qur`ân (II/323) olehnya.
[66] QS. Al-Baqoroh [2]: 258.
[67] QS. Al-An’âm [6]: 78.
[68] HR. Al-Bukhori (no. 3124, IV/86) dan
Muslim (no. 1747) dari Abu Huroiroh rodhiyalloohu ‘anhu.
[69] Shahih: HR. Al-Hakim (no. 2618,
II/151) dalam al-Mustadrâk. Dinilai shahih al-Hakim dan disetujui
adz-Dzahabi.
[70] Tafsîr al-Qurthubî (IX/280).
[71] Fathul Bârî (VI/299).
[72] QS. Al-Baqoroh [2]: 22.
[73] QS. An-Naml [27]: 61.
[74] QS. Az-Zukhrûf [43]: 10.
[75] Mafâtîhul Ghaib (II/336) olehnya.
[76] QS. Adz-Dzâriyât [51]: 47.
[77] Shafwatut Tafâsîr (III/239)
olehnya.
[78] QS. Ar-Ra’du [13]: 2.
[79] Tafsîr as-Sa’dî (hal. 412).
[80] QS. Yâsîn [36]: 40.
[81] Al-Bidâyah wan Nihâyah (I/69) oleh
Ibnu Katsir.
[82] QS. Al-Anbiyâ` [21]: 32.
[83] HR. Ad-Darimi (no. 71, I/49) dalam ar-Ra’du
‘alal Jahmiyyah, Abu Dawud (no. 4726), Ibnu Abi ‘Ashim (no. 575) dalam as-Sunnah,
Ibnu Khuzaimah (I/239) dalam at-Tauhîd, al-Ajurri (no. 677) dalam asy-Syarî’ah.
Dinilai dha’if oleh al-Albani. Adz-Dzahabi mengomentari sanad hadits ini di al-‘Uluw
(I/38), “Ini hadits gharib sekali. Memang Ibnu Ishaq bisa dijadikan hujjah
dalam bab peperangan apabila bersanad, tetapi dia memiliki riwayat yang mungkar
dan aneh.” Muhammad ‘Uwaidhah dalam adh-Dhiya` al-Lâmi’ min Kutub as-Sittah
wa Shahîhil Jâmi’ (hal. 47) menyatakan, “Hadits Jabir bin Muth’im ini milik
Abu Dawud dengan sanad hasan menurutnya, seperti yang dikatakan
adz-Dzahabi.” Kata beliau hanya
mencantumkan hadits shahih dalam kitabnya ini. Ibnu Mandah menyatakan dalam at-Tauhîd,
“Hadits ini diriwayatkan Bakar bin Sulaiman dan lainnya dan sanadnya muttasil.”
Al-Baihaqi berkomentar dalam al-Asmâ` (II/317) setelah membawakan
perbedaan sikap ahli hadits tentang beberapa rawi di dalam sanad ini, “Adapun
Abu Sulaiman al-Khaththabi menilai tsabit hadits ini dan berusaha
mensyarahnya.”
[84] HR. Ibnu Hibban (no. 361, II/76) dalam Shahîhnya,
Abusy Syaikh al-‘Ashfahani (II/648) dalam al-‘Adhamah, Abu Nu’aim
(I/166) dalam al-Hilyah, al-Baihaqi (no. 862) dalam al-Asma` wash
Shifât. Di dalam sanadnya ada Muhammad bin Abis Sirri al-‘Asqalani yang
dinilai dha’if Abu Hatim tetapi dinilai tsiqah Ibnu Ma’in. Ibnu ‘Adhi berkata,
“Sering keliru.”
[85] Al-Bidâyah wan Nihâyah (I/69)
olehnya.
[86] Majmu’ al-Fatâwâ (XXV/193) olehnya.
[87] Lihat Lisânul ‘Arâb (X/478) oleh
Ibnu Manzhur dan Majmu’ al-Fatâwâ (XXV/193) oleh Syaikhul Islam.
[88] QS. Al-Anbiyâ` [21]: 104.
[89] QS. An-Nahl [16]: 15.
[90] Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr
(II/553) olehnya.
[91] HR. Ahmad (no. 12253, XIX/276-227) dalam Musnadnya
dan at-Tirmidzi (no. 3369) dari Anas bin Malik rodhiyalloohu ‘anhu.
Dinilai dha’if oleh al-Albani dan al-Arna`uth. Namun, matan (teks) hadits ini
shahih menurut para ilmuwan. Akan dijelaskan lagi di footnote
berikutnya.
[92] http://www.keajaibanalquran.com/earth_mountains.html
[93] QS. An-Nabâ` [78]: 6-7.
[94] http://www.republika.co.id
[95] Lihat Buku Induk Mu’jizat Ilmiah Hadits
Nabi (hal. 68-70) oleh Prof. Dr. Zaghlul an-Najjar.
[96] QS. Ath-Thûr [52]: 6.
[97] QS. At-Takwîr [81]: 6. Ayat-ayat dalam
surat ini berbicara tentang hari Kiamat.
[98] Tafsîr al-Qurthubî (XVII/61).
[99] HR. Abu Dawud (no. 2489) dari Basyr bin
Abi ‘Abdillah dari Basyir bin Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyalloohu
‘anhuma. Jumhur ahli hadits menilai hadits ini dha’if (lemah). Al-Albani
berkata, “Sanad hadits ini dha’if karena juhhâlah (para perawinya tidak
dikenal) dan idhthirâb (goncang). Tentang perawi yang tidak dikenal ini,
al-Hafizh Ibnu Hajar bekata dalam biografi Bisyr Abu ‘Abdillah dan Basyir bin
Muslim di kitab at-Taqrîb, ‘Keduanya majhul.’ Tentang Basyir, Imam al-Bukhori
berkata, ‘Haditsnya tidak shahih.’ Adapun tentang kegoncangan, dikatakan juga
oleh Ibnul Mundziri demikian dan al-Khaththabi berkata, ‘Para ‘ulama mendha’ifkan
sanad hadits ini.’” Demikian secara ringkas yang tercantum dalam as-Silsilah
al-Ahâdîts adh-Dha’îfah (no. 478, I/691-692)
karya al-Albani. Kesimpulannya, secara sanad hadits ini dha’if menurut jumhur
ahli hadits. Hanya saja, secara matan shahih menurut sebagian ilmuwan, seperti Prof. Dr. Zaghlul Raghib an-Najjar
yang mengangkat hadits ini dari dha’if ke shahih karena shahih secara fakta
ilmiah. Beliau juga menyatakan bahwa hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Syaibah dengan sanad lain dan dinilai oleh Ibnu Abi Syaibah para perawi hadits
ini tsiqah (terpercaya). Sanad yang dimaksud adalah Abu Dawud ath-Thayalisi
dari Hisyam dari Qatadah dari Abi Ayyub dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyalloohu
‘anhuma, dan jika benar adanya sebagaimana yang dikatakan beliau, maka
dengan sendirinya hadits ini menjadi hasan lighairih. Syuhaib ‘Abdul Jabbar
dalam kitabnya al-Jâmi’ as-Shahîh lis Sunan wal Masânid
(I/556) berkata, “Meskipun hadits ini tidak shahih karena sanadnya yang lemah,
tetapi ia shahih berdasarkan fakta ilmiah.” Yang benar dalam masalah ini adalah
hadits dha’if tidak bisa diangkat ke shahih berdasar fakta ilmiah, karena fakta
ilmiah masih bersifat zhan (dugaan). Namun, hadits dha’if tidak
selamanya dha’if secara matan. Boleh jadi sebuah hadits dha’if secara sanad
tetapi shahih secara matan, dan ini banyak contohnya dan diakui oleh para ahli
hadits. Allahu a’lam.
[100] ‘Aunul Ma’bûd Syarh Sunan Abî Dâwûd
(VII/120) olehnya.
[101] QS. Al-Isrâ` [17]: 37.
[102] Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr
(III/25) olehnya.
[103] QS. Al-Hujurât [49]: 15.
[104] QS. An-Nûr [24]: 51.
[105] QS. Al-Ahzâb [33]: 36.
[106] QS. Adz-Dzâriyât [51]: 20-21.
[107] QS. An-Najm [53]: 45-46.
[108] Tafsîr as-Sa’dî (hal. 548).
[109] QS. Al-Insân [76]: 2.
[110] Zâdul Masîr (IV/374). Penjelasan
serupa dalam Tafsîr Ibnu Katsîr (VIII/285).
[111] QS. Al-Mu`minûn [23]: 12-14.
[112] Zâdul Masîr (III/223).
[113] Tafsîr Ibnul Jauzî (III/223) dan Tafsîr
as-Sa’dî (hal. 548).
[114] QS. Az-Zumar [39]: 6.
[115] Masa 40 hari ini berdasarkan hadits yang
shahih riwayat al-Bukhori (no. 3208) dan Muslim (no. 2643) dari Ibnu Mas’ud rodhiyalloohu
‘anhu.
[116] QS. Al-Hajj [22]: 5.
[117] QS. Al-Ahqâf [46]: 15.
[118] QS. Luqmân [31]: 14.
[119] Tafsîr Ibnu Katsîr (VII/280).
[120] QS. Al-Qamar [54]: 1.
[121] HR. Al-Bukhori (no. 3637, IV/206) dan
Muslim (no. 2802). Dalam kurung tambahan riwayat Muslim.
[122] Tafsîr Ibnu Katsîr (VII/472).
[123] QS. Ar-Rûm [30]: 1-5.
[124] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 3193,
V/343), Ahmad (no. 2495) dalam Musnadnya, dan al-Hakim (no. 3540) dalam al-Mustadrâk.
Sufyan berkata, “Aku mendengar bahwa mereka menang bertepatan perang Badar.”
Dinilai shahih oleh al-Albani dan al-Arna`uth. Al-Hakim berkata, “Hadits shahih
sesuai syarat al-Bukhori Muslim tetapi keduanya tidak mengeluarkannya,” dan
disepakati adz-Dzahabi.
[125] Lihat QS. An-Nûr [24]: 43, ar-Rûm [31]:
48, dan Fâthir [35]: 9.
[126] QS. Az-Zukhrûf [43]: 11.
[127] QS. Al-Baqoroh [2]: 63 dan al-A’râf [7]:
171.
[128] QS. Shad [38]: 29.
[129] QS. Al-Nahl [16]: 97.
[130] QS. Al-Nahl [16]: 98.
[131] Al-Mujtabâ min Musykil I’râbil Qur`ân
(no. 98, II/597) oleh al-Kharrath.
[132] QS. Yûnûs [10]: 57.
[133] Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 3452,
II/1142), al-Hakim (no. 7435 dan 8225) dalam al-Mustadrâk dari ‘Abdullah bin Mas’ud rodhiyalloohu
‘anhu. Dinilai shahih oleh al-Hakim, al-Haitsami, dan al-Baihaqi, serta
disetujui adz-Dzahabi.
[134] Shahih: HR. Al-Hakim (no. 318,
I/171) dalam al-Mustadrâk dan al-Baihaqi (no. 20336) dalam as-Sunan
al-Kubrâ dari Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhuma. Dinilai shahih oleh
al-Hakim dan disetujui adz-Dzahabi.
[135] Hasan: HR. Abu Dawud (no. 4843,
IV/261), al-Bukhori (no. 52 ) dalam al-Adâb al-Mufrâd, dan al-Baihaqi
(no. 16658) dalam as-Sunan al-Kubrâ dari Abu Musa al-‘Asy’ari rodhiyalloohu
‘anhu. Dinilai shahih oleh al-Albani.
[136] Maksudnya tidak dibacakan al-Qur`an di
dalamnya seperti kuburan, karena kuburan bukan tempat membaca al-Qur`an.
[137] HR. Muslim (no. 780, I/539), at-Tirmidzi
(no. 2877), dan an-Nasa`i (no. 7961 dan 10735) dalam as-Sunan al-Kubrâ
dari Abu Huroiroh rodhiyalloohu ‘anhu.
[138] HR. Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam (hal.
108) dalam Fadhâ`ilul Qur`ân dan Ibnu adh-Dhurais (no. 76) dalam Fadhâ`ilul
Qur`ân dari Ibrahim at-Taimi dan dia berkata:
فَكَانَ عَبْدُ اللّٰهِ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ جَمَعَ أَهْلَهُ
ثُمَّ دَعَا وَأَمِّنُوا عَلَى دُعَائِهِ
Perawi berkata, “Apabila
‘Abdullah mengkhatamkan al-Qur`an, beliau mengumpulkan keluarganya kemudian
berdo’a dan mereka mengamini do’anya.” Diriwayatkan bahwa Imam al-Bukhori juga
mengatakan hal yang sama. Allahu a’lam.
[139] QS. At-Tîn [95]: 5-6.
[140] Shahih: HR. Al-Hakim (no. 3952,
II/576) dalam al-Mustadrâk dan al-Baihaqi (no. 2450) dalam Syu’abul
Imân. Al-Hakim berkata, “Ini hadits shahih sanadnya tetapi al-Bukhori
Muslim tidak mengeluarkannya,” dan disetujui adz-Dzahabi.
[141] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 1453,
II/70), Ahmad (no. 15645) dalam Musnadnya, al-Hakim (no. 2085) dalam al-Mustadrâk,
dan ath-Thabarani (no. 445) dalam al-Mu’jam al-Kabîr. Al-Hakim berkata,
“Hadits shahih sanadnya tetapi tidak dikeluarkan oleh al-Bukhori Muslim.”
[142] Shahih: HR. Ahmad (no. 6626,
XI/199) dalam Musnadnya, al-Hakim (no. 2036) dalam al-Mustadrâk,
ath-Thabarani (no. 88) dalam al-Mu’jam al-Kabîr dari ‘Abdullah bin ‘Amr
bin ‘Ash rodhiyalloohu ‘anhuma. Al-Hakim berkata, “Ini hadits shahih
sesuai syarat Muslim tetapi tidak dikeluarkannya.”
[143] HR. Muslim (no. 804, I/553), Ibnu Hibban
(no. 116) dalam Shahîhnya, dan al-Hakim (no. 2071 dan 3135) dalam al-Mustadrâk
dari Abu Umamah al-Bahili rodhiyalloohu ‘anhu.
[144] HR. Muslim (no. 798, I/549) dan al-Bukhori
(no. 4937) dari ‘Aisyah rodhiyalloohu ‘anha.
[145] Hasan: HR. Ahmad (no. 17365,
XXVIII/595) dalam Musnadnya, ad-Darimi (no. 3353) dalam Sunannya,
dan Abu Ya’la (no. 1745) dalam Musnadnya dari ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiyalloohu
‘anhu.
[146] Dzikir di
sini adalah al-Qur`an, sebagaimana yang Allâh tafsirkan sendiri dalam surat
al-Hijr [15]: 7.
[147] QS. Thâhâ [20]: 124-126.
[148] Shahih: HR. Ath-Thabarani (no.
10450, X/198) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 1855) dalam Syu’abul
Iman, dan Ibnu Hibban (no. 124) dalam Shahîhnya dari Jabir bin
‘Abdillah rodhiyalloohu ‘anhuma.
[149] “Allâh mewasiatkan kalian tentang
(bagian warisan untuk) anak-anak kalian.” [QS. An-Nisâ` [4]: 11] Ayat
warisan termasuk ayat yang paling sulit karena berisi hitungan angkaangka.
[150] Al-Jâmi’ li Akhlâqir Râwî (no. 81,
I/108) oleh al-Khathib al-Baghdadi.
[151] Ibid (no. 81, I/108).
[152] Lihat as-Siyar (XIV/371-372) oleh
adz-Dzahabi.
[153] As-Siyar (X/11) oleh adz-Dzahabi.
[154] Lihat as-Siyar (IV/277).
[155] Lihat as-Siyar (IV/507).
[156] Subbab ini diringkas dari Mungkinkah
Aku Hafal Satu Juta Hadits Seperti Imam Ahmad (hal. 37-43) oleh Abu Zur’ah
ath-Thaybi disertai beberapa tambahan.
[157] QS. Al-Baqoroh [2]: 31.
[158] Abu al-Husain
Ibnu Faris berkata, “Segala sesuatu yang berjalan di atas bumi adalah dabbah.”
[Mu’jam Maqâyisil Lughah (II/263)]
[159]Tafsîr Ibnu Katsîr (I/223).
[160] Tafsîr Ibnu Katsîr (I/223-224).
[161] Al-Hatstsu âla Hifzhil Ilmi wa
Dzikru Kibâril Huffâzh (hal. 91) oleh Ibnul Jauzi.
[162] Ibid (hal. 53).
[163] Lihat al-Hatstsu ‘alâ Thalabil Ilmi
oleh Abu Hilal al-Askari.
[164] QS. Asy-Syu’arâ` [26]: 64-65.
[165] QS. Asy-Syu’arâ` [26]: 117-119.
[166] QS. Asy-Syu’arâ` [26]: 169-171.
[167] QS. Ghâfir [40]: 60.
[168] Lum’atul I’tiqâd (hal. 21) oleh
Ibnu Qudamah.
[169] Hilyatul Auliyâ`(VIII/304) oleh Abu
Nu’aim al-Ashfahani.
[170] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (I/98-99).
[171] Aunul Ma’bûd (IV/237) oleh Syaraful
Haq Abadi.
[172] QS. Al-‘Ankabût [29]: 43.
[173] QS. Thâhâ [20]: 2-3.
[174] QS. An-Nâzi’ât [79]: 40-41.
[175] QS. Al-Isrâ` [17]: 107-109.
[176] Shahih: HR. Ahmad (no. 24601,
IXL/148) dalam Musnadnya, ath-Thabarani (no. 72) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, dan al-Bukhori (I/87) dalam Khalqu Af’âlil Ibâd.
[177] Syarhus Sunnah (I/217) oleh
al-Baghawi.
[178] Ibid (I/218).
[179] Ibnu ‘Arobi di sini bukan Ibnul ‘Arobi
(pakai al, w. 534 H), yang kedua ahlus sunnah penulis kitab Ahkâmul Qur`ân.
[180] Wafayâtul A’yân (II/160) oleh Ibnu
Khallikan dan Siyar A’lâmin Nubalâ` (XVII/534) oleh adz-Dzahabi.
[181] Al-Qurthubi di sini bukan Imam Ahlus
Sunnah al-Qurthubi pemilik kitab tafsir al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur`ân.
[182] Siyar A’lâmin Nubalâ` (XXI/308)
oleh adz-Dzahabi.
[183] Ibid (XXI/310).
[184] Shahih: HR. Al-Hakim (no. 8300,
IV/468) dalam al-Mustadrâk dari Bisyr al-Ghanawi rodhiyalloohu ‘anhu.
Dinilai shahih al-Hakim dan disetujui adz-Dzahabi. Para pewarinya dinilai
tsiqah al-Haitsami.
[185] Syarhul Ushûl (no. 2325, VII/1313)
oleh al-Lalika`i.
[186] Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhori
(no. 3208) dan Muslim (no. 2643) dari Ibnu Mas’ud rodhiyalloohu ‘anhu.
Al-Qadhi ‘Iyadh dan lainnya berpendapat lebih 10 hari.
[187] QS. Yûnûs [10]: 67.
[188] QS. Ash-Shâffât [37]: 100.
[189] QS. Alî Imrân [3]: 38.
[190] Seorang yang ikhlas dan totalitas dalam
beribadah, juga sebagai khidmah Baitul Maqdis. Tafsîr Ibnu Katsîr
(II/33).
[191] Ali Imrân [3]: 35.
[192] QS. Al-Furqân [25]: 74.
[193] Diriwayatkan Ibnul Ja’ad (no. 1044, I/162)
dalam Musnadnya.
[194] Membaca di sini artinya hafal al-Qur`an
sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bârî (IX/84) dengan dalil
penguat dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’id dan lainnya dengan sanad
yang shahih.
[195] Maksud al-Muhkam di sini adalah
al-Mufashshal sebagaimana hadits Ibnu Abbas rodhiyalloohu ‘anhuma dalam as-Shahîh
al-Bukhârî (no. 5036). Dinamai al-Mufashshal karena surat-surat ini banyak
fashl (pendek-pendek ayatnya). Al-Mufashshal adalah kumpulan dari surat
al-Hujurat sampai an-Nas menurut pendapat jumhur. Al-Hafizh Ibnu Katsir berpendapat
agar anak-anak disuruh menghafal ayat-ayat al-Mufashshal untuk membentuk
kepribadian dan adab yang baik karena surat-surat ini kebanyakan berbicara
mengenai tauhid dan ketuhanan.
[196] HR. Al-Bukhori (no. 5035), Ahmad (no.
2601), ath-Thabarani (no. 10577) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, dan
ath-Thayalisi (no. 2761) dalam Musnadnya.
[197] QS. Fushshilat [41]: 26
[198] QS. Al-Furqân [25]: 30.
