Download Buku: Al-Qur’an Sumber Segala Ilmu - Pustaka Syabab

Al-Qur’an Sumber Segala Ilmu

Penulis:
Nor Kandir
Penerbit:
Pustaka Syabab
Cetakan:
Pertama, Dzul Qa’dah 1437 H/Agustus 2016

Download:


DAFTAR ISI








MUQADDIMAH

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  وَبَعْدُ:
Nikmat Allâh subhanahu wa ta’ala begitu banyak dan di antara nikmat yang banyak itu ada nikmat yang paling agung yang karenanya seluruh manusia pantas bergembira. Nikmat apakah itu? Al-Qur`an. Allâh subhanahu wa ta’ala berfirman:
«قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ»
“Katakanlah, ‘Karena karunia Allâh dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira, karena ia jauh lebih baik dari apa (dunia dan harta) yang mereka kumpulkan.’”[1]
Yang dimaksud nikmat karunia dan rahmat di sini adalah al-Qur`an karena ayat ini Allâh singgung setelah penyebutan al-Qur`an sebagai mau’izhah, penyembuh, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.
Al-‘Allamah as-Sa’di (w. 1376 H) menjelaskan, “Yaitu al-Qur`an yang merupakan nikmat dan anugrah yang paling agung serta sebesar-besar karunia Allâh kepada para hamba-Nya.”[2]
                Al-Imam al-Qurthubi (w. 671 H) menjelaskan, “Abu Sa’id al-Khudri dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum menafsirkan karunia Allâh adalah al-Qur`an sementara rahmat-Nya adalah dijadikan­Nya kalian ahlinya.”[3]
               Harta dunia memang nikmat besar yang diberikan Allâh kepada para hamba, tetapi nikmat al-Qur`an jauh lebih baik, agung, dan mulia. Adapun ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau menyalahkan dimasukkannya harta dunia termasuk nikmat karunia dan rahmat-Nya, karena nikmat yang dimaksud dalam ayat di atas adalah al-Qur`an, bukan selainnya. Diriwayatkan dari Aifa’ bin ‘Abd al-Kula’i bahwa dia berkata, “Tatkala hasil bumi Irak didatangkan ke ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, maka beliau dan seorang pembantunya datang dan mulai menghitung unta. Ternyata jumlahnya sangat banyak. ‘Umar pun berkata, ‘Alhamdulillah.’ Pembantunya berkata, ‘Demi Allâh, ini adalah karunia Allâh dan rahmat-Nya.’ ‘Umar menimpali, ‘Kamu keliru, bukan itu maksudnya. Dialah (al-Qur`an) yang Allâh maksud dalam firman-Nya, ‘Katakanlah, ‘Karena karunia Allâh dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira, karena ia jauh lebih baik dari apa (dunia dan harta) yang mereka kumpulkan.’’ Adapun ini adalah maksud dari ‘Apa yang mereka kumpulkan.’[4]
Untuk itulah Allâh mensifati dirinya ar-Rahman sebelum menyebutkan al-Qur`an, yang mengisyaratkan Allâh Maharahmat kepada manusia dengan diberikan­Nya al-Qur`an kepada mereka, sebagaimana firman-Nya:
«الرَّحْمَنُ (١) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (٢) خَلَقَ الْإِنْسَانَ»
“Ar-Rahman. Dia mengajari al-Qur`an. Dia menciptakan manusia.”[5]
Yang menarik di sini, Allâh subhanahu wa ta’ala mendahulukan penyebutan al-Qur`an sebelum manusia, padahal semestinya kebalikannya karena manusia yang membaca al-Qur`an. Penyebutan objek (al-Qur`an) sebelum subjek (manusia) merupakan susunan yang tidak lazim. Tetapi dengan ini, Allâh mengisyaratkan bahwa al-Qur`an merupakan pedoman manusia dan sia-sialah penciptaan mereka jika berpaling dari al-Qur`an.
Dengan keagungan al-Qur`an dan kebutuhan manusia terhadapnya, ternyata al-Qur`an merupakan sumber segala ilmu, untuk melengkapi sumber segala kebaikan dan kebahagiaan. Untuk memudahkan memahami hal ini, terlebih dahulu kami menyertakan pembahasan-pembahasan pengantar. Semuanya kami cantumkan di buku ini secara sistematis.
Metode Penyusunan Buku
1.        Kami menempuh metode kepustakaan, bukan penelitian lapangan. Kami dominan merujuk kepada referensi dari khazanah kitab para ‘ulama zaman dahulu dari kalangan salafush shalih.
2.       Penukilan yang kami lakukan dengan menyertakan secara berurutan nomor, juz, dan/atau halaman. Penukilan pertama dalam footnote merupakan teks yang dinukil, dan biasanya terjadi sedikit perbedaan teks dengan referensi setelahnya.
3.       Kami mentakhrij (menukil dari kitab aslinya) semua hadits yang disebutkan di buku ini dengan mencantumkan tashih (pengabsahan derajat riwayat) dari para pakarnya seperti al-Hakim, adz-Dzahabi, Ibnu Hajar, al-Albani, al-Arna`uth, dan Husain Salim Asad. Hadits dari al-Bukhari dan Muslim tidak kami tashih karena semua kaum muslimin telah menyepakati keshahihannya. Adapun jika dalam footnote terdapat kata lihat, maksudnya kami menukil bukan dari kitab aslinya atau mengutip secara makna.
4.      Kami berusaha mensyarah dan mengambil dari kitab yang terpercaya dan shahih seperti Tafsir Ibnu Katsîr dalam tafsir. Tafsir ini diakui paling baik di antara kitab tafsir lainnya karena sistematika penyusunannya yang baik di mana penulisnya menafsirkan ayat dengan ayat, baru hadits, baru pendapat ‘ulama, dan jika tidak ditemukan beliau menafsirkannya lewat bahasa ‘Arab. Al-Hafizh Ibnu Katsir juga menyeleksi setiap riwayat isra`iliyat untuk dicantumkan di kitabnya, itu pun sebagai penguat saja. Dalam biografi, kami mengambil dari kitab Siyar A’lâmin Nubalâ` karya Imam adz-Dzahabi yang dikenal pakar hadits sehingga beliau berusaha memilah riwayat-riwayat dari riwayat saqim (sakit/cacat).
5.       Bisa dikata bahwa buku ini bukan buah pikir kami tetapi nukilan-nukilan yang diurutkan dari kitab para ‘ulama terdahulu.
Allâh-lah sebaik-baik yang diserahi urusan.[]

Surabaya, 29 Agustus 2015
Nor Kandir


[1] QS. Yûnûs [10]: 58.
[2] Tafsîr as-Sa’dî (hal. 366).
[3] Tafsîr al-Qurthubî (VIII/353).
[4] Tafsîr Ibnu Katsîr (IV/275).
[5] QS. Ar-Rahmân [55]: 1-3.

Related

TERJEMAH TAFSIR DAN USUL TAFSIR 8140183445001208445

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda yang sopan dan rapi.

emo-but-icon

Follow Us

Pengikut

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item