Cari Ebook

[PDF] Ragam Ni'mat Kubur - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Alam kubur atau alam Barzakh merupakan persinggahan pertama manusia menuju kehidupan Akhiroh. Bagi hamba yang beriman dan beramal sholih, kubur bukanlah tempat penyiksaan yang mengerikan, melainkan taman di antara taman-taman Jannah yang penuh dengan ni’mat, kelapangan, serta kedamaian.

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Robb kami ialah Alloh kemudian mereka istiqomah (mati di atas Tauhid), maka Malaikat akan turun kepada mereka (saat sekarat) dengan menyatakan: ‘Janganlah kamu merasa takut (terhadap alam Barzakh) dan janganlah kamu merasa sedih (atas dunia yang kamu tinggalkan) serta bergembiralah kamu dengan memperoleh Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.” (QS. Fushshilot: 30)

﴿فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ ۝ وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ ۝ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ

“Bagaimana ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu menyaksikan, dan Kami lebih dekat kepada nyawa itu daripada kamu tetapi kamu tidak melihatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 83-85)

﴿فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ ۝ فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ

“Adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Alloh, maka dia memperoleh ketentraman, rizqi yang baik, serta Jannah kenikmatan.” (QS. Al-Waqi’ah: 88-89)

«إِذَا حُضِرَ الْمُؤْمِنُ أَتَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ بِحَرِيرَةٍ بَيْضَاءَ فَيَقُولُونَ: اخْرُجِي رَاضِيَةً مَرْضِيًّا عَنْكِ إِلَى رَوْحِ اللَّهِ، وَرَيْحَانٍ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ»

“Sesungguhnya orang Mu’min apabila menghadapi kematian, Malaikat Rohmat akan mendatangi dirinya dengan membawa kain sutra putih seraya berkata: ‘Keluarlah engkau dalam keadaan ridho dan diridhoi menuju ketentraman dari Alloh, wewangian, serta Robb yang tidak murka.’” (HSR. An-Nasa’i no. 1833)

Buku ini disusun untuk menghimpun dalil-dalil shohih tentang ragam ni’mat kubur guna menanamkan taqwa, kerinduan akan perjumpaan dengan Alloh , serta memotivasikan diri untuk memperbanyak bekal kebaikan sebelum ajal menjemput.

 

Bab 1: Kepastian Ni’mat Kubur

1.1 Kehidupan Alam Barzakh

Kehidupan di alam Barzakh adalah kehidupan hakiki yang memiliki hukum tersendiri, berbeda dengan kehidupan duniawi. Ruh orang-orang sholih hidup di alam tersebut dalam keadaan mendapatkan karunia dan rizqi dari Alloh .

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati, melainkan mereka itu hidup di sisi Robb mereka dengan mendapat rizqi.” (QS. Ali ‘Imron: 169)

﴿فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُون

“Melainkan mereka bergembira dengan karunia yang Alloh berikan kepada mereka, dan mereka memberi kabar gembira kepada orang-orang yang belum menyusul mereka dari belakang bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Ali ‘Imron: 170)

«إِنَّمَا نَسَمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلُقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يُرْجِعَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ»

“Sesungguhnya ruh orang Mu’min itu berupa burung yang bergantungan pada pepohonan Jannah hingga Alloh mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.” (HSR. Ahmad no. 15778, An-Nasa’i no. 2073 dan Ibnu Majah no. 4271)

Hadits ini unik: dari Imam Ahmad (241 H) dari Imam Asy-Syafii (204 H) dari Imam Malik (179 H) dari ‘Abdurrohman bin Ka’ab bin Malik dari ayahnya.

Ruh-ruh orang Mu’min berada di dalam Jannah, memakan buah-buahannya dan menikmati kenikmatan di dalamnya.

1.2 Dalil Kepastian Ni’mat Kubur

Kepastian adanya ni’mat kubur ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah yang shohih. Ketika seorang hamba Mu’min mampu menjawab pertanyaan Malaikat, maka karunia ni’mat kubur langsung dibukakan baginya.

﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di Akhiroh.” (QS. Ibrohim: 27)

«إِذَا أُقْعِدَ المُؤْمِنُ فِي قَبْرِهِ أُتِيَ، ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: ﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالقَوْلِ الثَّابِتِ﴾»

“Apabila orang Mu’min didudukkan di dalam kuburnya, dia didatangi lalu dia bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah Rosul Alloh, maka itulah maksud firman-Nya: ‘Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh.’(HR. Al-Bukhori no. 1369 dan Muslim no. 2871)

«فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ»

“Maka berserulah penyeru dari langit: ‘Hamba-Ku benar, maka bentangkanlah untuknya permadani dari Jannah, berikanlah pakaian dari Jannah, dan bukakanlah untuknya pintu menuju Jannah.’” (HSR. Ahmad no. 18534)

«فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا، وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ»

“Lalu bertiuplah kepadanya ketenangan dan keharuman Jannah, serta diluaskan kuburnya sejauh mata memandang.” (HSR. Ahmad no. 18534)

1.3 Ruh dan Jasad Orang Mu’min

Di alam Barzakh, jasad manusia secara umum hancur dimakan tanah kecuali bagian tertentu, sedangkan ruh tetap hidup merasakan ni’mat atau penderitaan. Adapun jasad para Nabi diharomkan bagi tanah untuk memakannya.

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ»

“Sesungguhnya Alloh memharomkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (HSR. An-Nasa’i no. 1374)

«كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَأْكُلُهُ التُّرَابُ، إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ، مِنْهُ خُلِقَ وَفِيهِ يُرَكَّبُ»

“Setiap anak Adam akan dimakan oleh tanah kecuali tulang ekor, darinya dia diciptakan dan darinya pula dia dirakit kembali.” (HR. Muslim no. 2955)

Ruh-ruh itu tetap ada dan tidak hancur, ia merasakan ni’mat atau adzab, sedangkan jasad-jasad hancur selain jasad para Nabi dan orang-orang yang Alloh kecualikan dari kekasih-Nya.

Ini terjadi pada jasad para syuhada perang Uhud seperti Hamzah bin Abdul Muttholib (3 H) rodhiyallahu ‘anhu dan Shohabat lainnya. Ketika kubur mereka tergali kembali pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan (60 H) rodhiyallahu ‘anhu setelah 40 tahun berlalu, jasad mereka ditemukan tetap utuh, lemas seperti orang tidur, dan mengalirkan darah yang harum.

 

Bab 2: Amalan Pembuka Ni’mat Kubur

2.1 Iman Sebagai Landasan Utama

Ketauhidan murni tanpa noda syirik merupakan pelindung paling utama yang menyelamatkan seorang hamba di alam kubur dan membukakan baginya pintu-pintu ni’mat Barzakh.

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezholiman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan (di Barzakh) dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

«مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Alloh, niscaya dia masuk Jannah.” (HR. Muslim no. 26)

2.2 Sholat, Zakat, Puasa, dan Seluruh Ketaatan

Ibadah-ibadah wajib seperti Sholat, Zakat, Puasa, dan ketaatan kepada orang tua akan menjelma menjadi benteng pertahanan yang membentengi hamba dari segala penjuru kubur.

«إِنَّ الْمَيِّتَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ إِنَّهُ يَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ حِينَ يُوَلُّونَ عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا، كَانَتِ الصَّلَاةُ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَكَانَ الصِّيَامُ عَنْ يَمِينِهِ، وَكَانَتِ الزَّكَاةُ عَنْ شِمَالِهِ، وَكَانَ فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ، فَيُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ، فَتَقُولُ الصَّلَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، ثُمَّ يُؤْتَى عَنْ يَمِينِهِ، فَيَقُولُ الصِّيَامُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، ثُمَّ يُؤْتَى عَنْ يَسَارِهِ، فَتَقُولُ الزَّكَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، ثُمَّ يُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ، فَتَقُولُ فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، فَيُقَالُ لَهُ: اجْلِسْ فَيَجْلِسُ»

“Sesungguhnya mayit apabila diletakkan di dalam kuburnya, ia benar-benar mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya saat mereka berpaling pergi meninggalkannya. Jika ia seorang Mu’min, maka Sholat berada di sisi kepalanya, Puasa berada di sebelah kanannya, Zakat berada di sebelah kirinya, dan amal-amal kebaikan berupa sedekah, silaturrohim, perbuatan baik, serta berbuat baik kepada manusia berada di dekat kedua kakinya.

Kemudian, ia didatangi dari arah kepalanya, lalu Sholat berkata: ‘Tidak ada celah dari arahku.’

Kemudian, ia didatangi dari sebelah kanannya, lalu Puasa berkata: ‘Tidak ada celah dari arahku.’

Kemudian, ia didatangi dari sebelah kirinya, lalu Zakat berkata: ‘Tidak ada celah dari arahku.’

Kemudian, ia didatangi dari dekat kedua kakinya, lalu amal-amal kebaikan berupa sedekah, silaturrohim, perbuatan baik, serta berbuat baik kepada manusia berkata: ‘Tidak ada celah dari arahku.’

Lalu, dikatakan kepadanya: ‘Duduklah!’ Maka ia pun duduk.” (HHR. Ibnu Hibban no. 3113)

Maka hamba yang konsisten menjaga Sholat 5 waktu (bagi lelaki berjamaah di Masjid), menunaikan Zakat Mal, Puasa Romadhon, dan senantiasa berbakti menyenangi hati kedua orang tuanya, serta amal lainnya, saat memasuki alam kubur, seluruh amalan sholih tersebut berdiri gagah melindungi dirinya dari segala arah.

2.3 Keutamaan Membaca Surat Al-Mulk

Membaca dan merenungi Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Mulk setiap malam, menjadi pembela serta penghalang langsung dari marabahaya adzab kubur.

«إِنَّ سُورَةً مِنَ القُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ، وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ المُلْكُ»

“Satu surat dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 30 ayat dapat memberikan syafa’at bagi seseorang hingga dia diampuni, yaitu surat Tabarokalladzi biyadihil mulku.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2891)

Abdullah bin Mas’ud berkata:

يُؤْتَى الرَّجُلُ فِي قَبْرِهِ فَتُؤْتَى رِجْلَاهُ فَتَقُوَلَانِ: لَيْسَ لَكُمْ عَلَى مَا قِبَلَنَا سَبِيلٌ، قَدْ كَانَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا سُورَةَ الْمُلْكِ، ثُمَّ يُؤْتَى جَوْفُهُ فَيَقُولُ: لَيْسَ لَكُمْ عَلَيَّ سَبِيلٌ كَانَ قَدْ أَوْعَى فِيَّ سُورَةَ الْمُلْكِ، ثُمَّ يُؤْتَى رَأْسُهُ فَيَقُولُ: لَيْسَ لَكُمْ عَلَى مَا قِبَلِي سَبِيلٌ كَانَ يَقْرَأُ بِي سُورَةَ الْمُلْكِ. قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: وَهِيَ الْمَانِعَةُ تَمْنَعُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَهِيَ فِي التَّوْرَاةِ هَذِهِ سُورَةُ الْمُلْكِ وَمَنْ قَرَأَهَا فِي لَيْلَةٍ فَقَدْ أَكْثَرَ وَأَطْيَبَ

“Seseorang didatangi di dalam kuburnya, lalu bagian kedua kakinya didatangi, maka keduanya berkata: ‘Tidak ada jalan bagi kalian terhadap apa yang ada di sisi kami, dahulu ia selalu membaca surat Al-Mulk melalui kami.’

Kemudian, bagian rongga tubuhnya didatangi, lalu ia berkata: ‘Tidak ada jalan bagi kalian terhadap diriku, dahulu ia menghafalkan surat Al-Mulk di dalam diriku.’

Kemudian, bagian kepalanya didatangi, lalu ia berkata: ‘Tidak ada jalan bagi kalian terhadap apa yang ada di sisiku, dahulu ia membaca surat Al-Mulk melalui diriku.’

Surat tersebut adalah Al-Mani’ah (pemberi perlindungan) yang mencegah dari adzab kubur, dan surat tersebut di dalam Taurot adalah surat Al-Mulk, barangsiapa yang membacanya dalam satu malam, sungguh ia telah memperbanyak dan berbuat kebaikan.” (HSR. Al-Mushonnaf Ash-Shon’ani no. 6025)

2.4 Mati Syahid di Jalan Alloh

Kematian syahid dalam perjuangan membela agama Alloh membawa pelakunya terbebas dari fitnah dan adzab kubur serta langsung diperlihatkan tempat duduknya di Jannah.

﴿وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ ۝ سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ ۝ وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ

“Dan orang-orang yang gugur di jalan Alloh, Alloh tidak akan menyia-nyiakan amal-amal mereka. Alloh akan memberi petunjuk kepada mereka, membaikkan keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam Jannah yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6)

«لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ [سَبْعُ] خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الفَزَعِ الأَكْبَرِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الوَقَارِ، اليَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الحُورِ العِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ»

“Bagi seorang syahid di sisi Alloh terdapat 7 keutamaan: (1) diampuni dosanya pada tetesan darah pertama, (2) diperlihatkan tempat duduknya dari Jannah, (3) dilindungi dari adzab kubur, (4) diberi keamanan dari Qiyamah yang besar, (5) diletakkan di atas kepalanya mahkota kemuliaan yang satu permata yaqut darinya lebih baik daripada dunia seisinya, (6) dinikahkan dengan 72 istri dari bidadari, dan (7) diizinkan memberikan syafaat bagi 70 orang dari kerabatnya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1663 dan Ibnu Abi Ashim fil Jihad no. 204)

2.5 Wafat Pada Hari Atau Malam Jum’at

Wafat pada hari atau malam Jum’at merupakan tanda husnul khotimah bagi seorang Mu’min yang menjamin perlindungan dari fitnah ujian kubur.

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ القَبْرِ»

“Tidak ada seorang Muslim pun yang meninggal dunia pada hari Jum’at atau malam Jum’at melainkan Alloh akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1074 dan Ahmad no. 6582)

Karunia istimewa ini merupakan penutup kehidupan yang mulia bagi hamba yang senantiasa menjaga ketakwaan dalam kesehariannya.

2.6 Ribath

Melakukan ribath atau bersiap siaga menjaga perbatasan wilayah umat Islam dari ancaman musuh merupakan amalan mulia yang pahalanya terus mengalir dan menghindarkan pelakunya dari fitnah kubur.

«رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ»

“Ribath sehari semalam lebih baik daripada Puasa sebulan beserta Sholat malamnya, dan jika dia meninggal dunia maka pahala amalnya yang biasa dia kerjakan akan terus mengalir, rizqinya dicurahkan, dan dia aman dari fitnah kubur.” (HR. Muslim no. 1913)

«كُلُّ الْمَيِّتِ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلَّا الْمُرَابِطَ، فَإِنَّهُ يَنْمُو لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَيُؤَمَّنُ مِنْ فَتَّانِ الْقَبْرِ»

“Setiap mayit diakhiri amalnya kecuali orang yang meninggal dalam keadaan ribath di jalan Alloh, sesungguhnya amalnya dikembangkan baginya hingga hari Qiyamah dan dia aman dari fitnah kubur.” (HSR. Abu Dawud no. 2500 dan At-Tirmidzi no. 1621)

 

Bab 3: Perjalanan Ruh Mu’min Ke Alam Barzakh

3.1 Malaikat Rohmat Saat Sakarotul Maut

Kedatangan Malaikat rohmat saat sakarotul maut merupakan penghormatan awal bagi hamba Mu’min. Alloh mengutus Malaikat dengan wajah yang berseri-seri untuk mencabut ruh orang sholih secara lembut dan penuh penghormatan.

﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Orang-orang yang diwafatkan oleh Malaikat dalam keadaan baik, Malaikat-Malaikat itu berkata: ‘Keselamatan atas kamu, masuklah ke dalam Jannah disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. An-Nahl: 32)

«إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ، مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ، وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ »

“Sesungguhnya hamba yang Mu’min apabila hendak meninggalkan dunia dan menuju Akhiroh, turunlah kepadanya Malaikat-Malaikat dari langit yang berwajah putih seolah-olah wajah mereka adalah matahari, mereka membawa kain kafan dari kafan Jannah dan wewangian dari wewangian Jannah hingga mereka duduk darinya sejauh mata memandang.” (HR. Ahmad no. 18534)

3.2 Disambut Oleh Para Penghuni Langit

Setelah ruh dicabut dari jasad, para Malaikat membawanya membumbung tinggi menembus langit. Para penghuni langit menyambut kedatangan ruh tersebut dengan rasa gembira dan memuji wewangian yang keluar darinya.

«وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ» قَالَ: «فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ، يَعْنِي بِهَا، عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا»

“Maka keluarlah dari ruh itu aroma wewangian kasturi yang paling harum yang pernah ada di muka bumi, lalu mereka membawanya naik dan tidaklah mereka melewati rombongan Malaikat melainkan para Malaikat itu berkata siapakah ruh yang baik ini, lalu mereka menjawab fulan bin fulan dengan sebutan nama-namanya yang paling baik yang biasa mereka panggil di dunia.” (HSR. Ahmad no. 18534)

Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi tentang kegembiraan arwah orang-orang beriman:

«فَيَأْتُونَ بِهِ أَرْوَاحَ الْمُؤْمِنِينَ فَلَهُمْ أَشَدُّ فَرَحًا بِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ بِغَائِبِهِ يَقْدَمُ عَلَيْهِ، فَيَسْأَلُونَهُ: مَاذَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ مَاذَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ فَيَقُولُونَ: دَعُوهُ فَإِنَّهُ كَانَ فِي غَمِّ الدُّنْيَا، فَإِذَا قَالَ: أَمَا أَتَاكُمْ؟ قَالُوا: ذُهِبَ بِهِ إِلَى أُمِّهِ الْهَاوِيَةِ»

“Mereka (para Malaikat) membawa ruh tersebut kepada para ruh orang-orang Mu’min, maka mereka benar-benar lebih gembira menyambutnya daripada kegembiraan seseorang di antara kalian ketika menyambut keluarganya yang bepergian jauh yang datang kembali kepadanya.

Lalu, mereka bertanya kepada si mayit tadi: ‘Apa yang dilakukan si fulan (si A yang masih hidup)? Apa yang dilakukan si fulan (si B)?’

Kemudian, ruh-ruh tersebut berkata (kepada sesamanya): ‘Biarkanlah ia (si mayit ini), sesungguhnya ia baru tiba dari kesusahan dunia.’

Lalu, ketika si mayit menjawab: ‘Bukankah ia telah mendatangi kalian?’

Mereka menjawab: ‘(Kalau begitu) ia telah dibawa pergi ke tempat yang sangat dalam di Naar.’” (HSR. An-Nasa’i no. 1833)

3.3 Fitnah Kubur

Di dalam kubur, setelah jasad dimakamkan dan para pengantar melangkah pulang, hamba Mu’min akan menjalani ujian fitnah kubur. Dua Malaikat yaitu Mungkar dan Nakir mendudukkannya untuk menguji keimanan.

﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di Akhiroh.” (QS. Ibrahim: 27)

فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ، فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللهِ ، فَيَقُولَانِ لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللهِ، فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ»

“Lalu dua Malaikat mendatangi dirinya dan mendudukkannya seraya bertanya siapakah Robbmu, maka dia menjawab Robbku adalah Alloh, lalu keduanya bertanya apakah agamamu, maka dia menjawab agamaku adalah Islam, lalu keduanya bertanya siapakah lelaki yang diutus di tengah-tengah kamu ini, maka dia menjawab beliau adalah Rosululloh , lalu keduanya bertanya dari mana engkau mengetahuinya, maka dia menjawab aku membaca Kitab Alloh lalu aku beriman kepadanya dan membenarkannya.” (HR. Ahmad no. 18534)

Keteguhan jawaban ini lahir dari keikhlasan dan ketakwaan yang dipraktikkan semasa hidup di dunia, bukan sekadar hafalan lisan.

3.4 Seruan dari Langit

Setelah hamba Mu’min berhasil menjawab seluruh pertanyaan di alam kubur dengan keteguhan iman, Alloh mengumumkan kebenarannya dan menetapkan baginya tempat kediaman yang mulia.

«فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ» قَالَ: «فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا، وَطِيبِهَا، وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ»

“Maka berserulah penyeru dari langit bahwa hamba-Ku benar, maka bentangkanlah untuknya peraduan dari Jannah, berikanlah pakaian dari Jannah, dan bukakanlah untuknya pintu menuju Jannah, lalu bertiuplah kepadanya ketenangan dan keharuman Jannah serta dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang.” (HSR. Ahmad no. 18534)

Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan penampakan penggantian tempat duduk:

«فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الجَنَّةِ، فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا»

“Lalu dikatakan kepadanya lihatlah tempat dudukmu di Naar, sungguh Alloh telah menggantikannya untukmu dengan tempat duduk dari Jannah, maka dia melihat keduanya sekaligus.” (HR. Al-Bukhori no. 1374 dan Muslim no. 2870)

 

Bab 4: Ragam Ni’mat di Dalam Kubur

4.1 Perluasan dan Penerangan Kubur Sejauh Mata Memandang

Di antara bentuk ni’mat kubur yang dirasakan secara langsung oleh hamba Mu’min adalah kelapangan kuburnya yang meluas sejauh mata memandang serta pencahayaan yang terang benderang.

﴿أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

“Apakah orang yang mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia serupa dengan orang yang berada dalam gelap gulita yang tidak dapat keluar darinya.” (QS. Al-An’am: 122)

«ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا، وَيُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ»

“Diluaskan bagi orang Mu’min di dalam kuburnya seluas 70 hasta dan diterangi di dalamnya.” (HHR. Ibnu Hibban no. 3113)

«وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ»

“Dan diluaskan kuburnya sejauh mata memandang.” (HSR. Ahmad no. 18534)

Perbedaan luasnya kubur ini sesuai dengan iman dan amal sholih.

4.2 Hamparan Permadani dan Pakaian dari Jannah

Bentuk kenikmatan lainnya di alam Barzakh adalah dihamparkannya permadani dari Jannah serta dipakaikannya busana kebesaran yang berasal dari kain sutra Jannah.

﴿يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

“Mereka di dalamnya diberi perhiasan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (QS. Al-Hajj: 23)

«فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ»

“Maka bentangkanlah untuknya peraduan dari Jannah dan berikanlah pakaian dari Jannah.” (HSR. Ahmad no. 18534)

4.3 Pembukaan Pintu Menuju Jannah dan Tiupan Wewangiannya

Dari kubur orang Mu’min, dibukakan sebuah pintu yang terhubung langsung menuju Jannah, sehingga hembusan angin segar, aroma wewangian kasturi, dan pemandangan keindahan Jannah terus mengalir menyapa dirinya sepanjang waktu.

«وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ » قَالَ: «فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا، وَطِيبِهَا»

“Dan bukalah untuknya pintu menuju Jannah,” lalu bertiuplah kepadanya angin wewangian dan keharuman Jannah. (HSR. Ahmad no. 18534)

Lalu dia melihat tempat duduknya di dalamnya hingga hari Qiyamah tiba.

4.4 Amal Sholih Menjadi Teman yang Rupawam

Amalan sholih seperti Sholat, sedekah, Puasa, membaca Al-Qur’an, dan Dzikir akan diwujudkan oleh Alloh dalam rupa sesosok manusia yang sangat rupawan, berbusana indah, serta beraroma sangat harum untuk menemaninya di dalam kubur.

﴿مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Siapa mengerjakan amalan sholih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

«وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ»

“Dan datanglah kepadanya seorang yang berwajah rupawan, berpakaian indah, dan beraroma harum seraya berkata bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang dahulu diancamkan kepadamu, maka dia bertanya siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang datang membawa kebaikan, lalu ia menjawab aku adalah amalan sholihmu.” (HSR. Ahmad no. 18534)

4.5 Kenikmatan Tidur Tenang Layaknya Pengantin

Setelah terbukti keteguhan iman dan amalan sholihnya, Malaikat menyuruh hamba Mu’min untuk beristirahat dan tidur dengan penuh ketenangan serta kedamaian sebagaimana tidurnya seorang pengantin baru.

«فَيَقُولَانِ: نَمْ كَنَوْمَةِ العَرُوسِ الَّذِي لَا يُوقِظُهُ إِلَّا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ، حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ»

“Maka dikatakan kepadanya tidurlah engkau sebagaimana tidurnya pengantin baru yang tidak ada yang membangunkan dirinya melainkan orang yang paling dicintainya hingga Alloh membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1071)

Tidurnya pengantin merupakan puncak kenyamanan dan keamanan bagi orang Mu’min di alam Barzakhnya.

Ini bukan berarti bahwa ia tidur selamanya, tapi ia kiasan ia beristirahat dari penatnya dunia menuju kenikmatan Barzakh (tidur) sebelum kenikmatan Surga (bangun).

4.6 Penggantian Tempat Duduk di Naar Menjadi Tempat di Jannah

Penghormatan besar lainnya yang didapatkan hamba Mu’min di alam kubur adalah diperlihatkannya siksa Naar yang berhasil dia hindari, lalu ditunjukkan penggantian kedudukannya berupa tempat nan indah di Jannah.

«إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian, apabila telah meninggal dunia, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya setiap pagi dan petang. Jika ia termasuk penghuni Surga, maka (yang diperlihatkan kepadanya adalah tempatnya) di Surga. Dan jika ia termasuk penghuni Neraka, maka (yang diperlihatkan kepadanya adalah tempatnya) di Neraka. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempat tinggalmu, yang nanti Alloh tempatkan kamu padanya saat membangkitkanmu pada Hari Kiamat.’” (HR. Al-Bukhori no. 1379)

Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan penampakan penggantian tempat duduk:

«فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الجَنَّةِ، فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا»

“Lalu dikatakan kepadanya lihatlah tempat dudukmu di Naar, sungguh Alloh telah menggantikannya untukmu dengan tempat duduk dari Jannah, maka dia melihat keduanya sekaligus.” (HR. Al-Bukhori no. 1374 dan Muslim no. 2870)

Peristiwa ini menimbulkan kegembiraan yang luar biasa sehingga sang Mu’min tidak sabar menantikan terjadinya hari Qiyamah.

 

Bab 5: Pertemuan Antar Ruh

5.1 Ruh Para Syuhada dalam Wujud Burung-Burung Jannah

Keberadaan ruh para syuhada di alam Barzakh memiliki kedudukan yang amat mulia di sisi Alloh . Ruh mereka ditempatkan dalam wujud burung-burung hijau yang terbang bebas menikmati keindahan Jannah.

«أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ، لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ، ثُمَّ تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ»

“Ruh-ruh mereka berada di dalam rongga burung hijau yang memiliki pelita-pelita tergantung di ‘Arsy, terbang bebas di Jannah ke mana saja mereka kehendaki kemudian kembali ke pelita-pelita tersebut.” (HR. Muslim no. 1887)

5.2 Saling Berkunjung dan Saling Menyapa Antara Ruh Orang Mu’min

Alam Barzakh bagi orang-orang sholih bukanlah tempat kesendirian yang terisolasi, melainkan ruang perjumpaan yang penuh kehangatan. Ruh-ruh orang Mu’min saling berkunjung, bertegur sapa, dan menanyakan kabar kerabat yang masih hidup di dunia.

«إِنَّ نَفْسَ الْمُؤْمِنِ إِذَا قُبِضَتْ تَلَقَّاهَا أَهْلُ الرَّحْمَةِ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ، كَمَا تَلَقَّوْنَ الْبَشِيرَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُونَ: أَنْظِرُوا صَاحِبَكُمْ يَسْتَرِيحُ، فَإِنَّهُ فِي كَرِبٍ شَدِيدٍ، ثُمَّ يَسْأَلُونَهُ: مَا فَعَلَ فُلَانٌ، وَفُلَانَةٌ هَلْ تَزَوَّجَتْ؟ فَإِذَا سَأَلُوهُ عَنِ الرَّجُلِ قَدْ مَاتَ قَبْلَهُ، فَيَقُولُ: أَيْهَاتَ، قَدْ مَاتَ ذَاكَ قَبْلِي. فَيَقُولُونَ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، ذُهِبَ بِهِ إِلَى أُمِّهِ الْهَاوِيَةِ، بِئْسَتِ الْأُمُّ، وَبِئْسَتِ الْمُرَبِّيَةُ» . وَقَالَ: «إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَارِبِكُمْ، وَعَشَائِرِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا فَرِحُوا وَاسْتَبْشَرُوا، وَقَالُوا: اللَّهُمَّ هَذَا فَضْلُكَ وَرَحْمَتُكَ، فَأَتْمِمْ نِعْمَتَكَ عَلَيْهِ، وَأَمِتْهُ عَلَيْهَا. وَيُعْرَضُ عَلَيْهِمْ عَمَلُ الْمُسِيءِ، فَيَقُولُونَ: اللَّهُمَّ أَلْهِمْهُ عَمَلًا صَالِحًا تَرْضَى بِهِ، وتُقَرِّبُهُ إِلَيْكَ»

“Sesungguhnya ruh seorang Mukmin, apabila telah dicabut, akan disambut oleh para penghuni rohmat dari kalangan hamba-hamba Alloh, sebagaimana kalian menyambut seseorang yang datang membawa kabar gembira dari dunia. Lalu mereka berkata, ‘Biarkanlah saudara kalian beristirahat terlebih dahulu, karena ia baru saja mengalami kesusahan yang sangat berat.’

Kemudian mereka mulai bertanya kepadanya, ‘Bagaimana keadaan si fulan? Bagaimana pula si fulanah, apakah ia sudah menikah?’

Apabila mereka bertanya tentang seseorang yang telah meninggal lebih dahulu darinya, lalu ia menjawab, ‘Jauh sekali! Dia telah meninggal sebelumku.’

Maka mereka berkata, ‘Sesungguhnya kita milik Alloh dan kepada-Nya kita akan kembali. Berarti ia telah dibawa menuju tempatnya, yaitu Hawiyah. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal dan seburuk-buruk tempat pemeliharaan.’” (HR. Ath-Thobroni dalam Al-Ausath no. 148)

Ruh-ruh itu saling berkunjung dan saling bertemu, mereka saling menceritakan apa yang dahulu terjadi pada mereka di dunia.

5.3 Penyampaian Kabar Kebaikan Kerabat Dunia Kepada Penghuni Kubur

Setiap amal sholih yang dikerjakan oleh orang-orang yang masih hidup di dunia akan diperlihatkan kepada kerabat mereka yang telah mendahului menuju alam Barzakh. Amalan baik tersebut menjadi sumber kegembiraan dan kebahagiaan bagi para penghuni kubur.

﴿وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah bekerjalah kamu, maka Alloh dan Rosul-Nya serta orang-orang Mu’min akan melihat pekerjaanmu.” (QS. At-Taubah: 105)

«إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَارِبِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ، قَالُوا: اللهُمَّ لَا تُمِتْهُمْ، حَتَّى تَهْدِيَهُمْ كَمَا هَدَيْتَنَا»

“Sesungguhnya amalan-amalanmu diperlihatkan kepada kerabat-kerabatmu dan keluargamu yang telah meninggal dunia, jika amalan itu baik maka mereka bergembira dengannya, dan jika selain itu maka mereka berdoa ya Alloh janganlah Engkau wafatkan mereka hingga Engkau beri petunjuk kepada mereka sebagaimana Engkau telah memberi petunjuk kepada kami.” (HR. Ahmad no. 12683; Ash-Shohihah 6/605)

Atsar-atsar tentang ini banyak disebutkan Al-Hafizh Ibnu Abid-Dunya dalam Al-Manaamaat.

 

Bab 6: Amalan yang Mengalirkan Ni’mat Kubur

6.1 Sedekah Jariyah dan Ilmu yang Bermanfaat

Investasi terbaik seorang hamba semasa hidup adalah amalan-amalan yang pahalanya tidak pernah terputus meskipun jasadnya telah tertimbun tanah. Sedekah jariyah dan ilmu yang diajarkan akan terus mengalirkan balasan ni’mat ke dalam kuburnya.

«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah darinya amalnya kecuali 3 perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak sholih yang mendoakan dirinya.” (HR. Muslim no. 1631)

«سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلًا أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ»

“Ada 7 amalan yang pahalanya tetap mengalir bagi seorang hamba di dalam kuburnya setelah kematiannya: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam kurma, membangun Masjid, mewariskan mushaf, atau meninggalkan anak yang memohonkan ampunan baginya setelah kematiannya.” (HHR. Al-Bazzar no. 7289)

Seseorang yang membangun fasilitas air bersih atau mewakafkan tanah untuk Masjid, selama fasilitas tersebut dimanfaatkan oleh umat, cahaya pahala dan kelapangan kubur akan terus menyirami tempat peristirahatannya.

6.2 Doa dan Permohonan Ampun Anak Sholih Untuk Orang Tua

Anak yang sholih merupakan karunia terbesar bagi orang tua. Untaian doa dan permohonan ampunan yang dipanjatkan oleh anak sholih secara langsung mengangkat derajat orang tua di alam kubur dan membebaskan mereka dari kesusahan Barzakh.

﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Robb kami, berilah ampunan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku serta kepada orang-orang Mu’min pada hari terjadinya hisab.” (QS. Ibrohim: 41)

«إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ»

“Sesungguhnya Alloh benar-benar mengangkat derajat bagi hamba yang sholih di Jannah, lalu hamba itu bertanya wahai Robbku dari mana aku mendapatkan derajat ini, maka Dia berfirman disebabkan permohonan ampunan anakmu untukmu.” (HHR. Ahmad no. 10610 dan Ibnu Majah no. 3660)

6.3 Jejak Kebaikan yang Terus Diteladani

Kehidupan manusia yang singkat di dunia dapat menghasilkan pahala yang abadi apabila dia meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang diteladani oleh generasi setelahnya.

﴿إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan, dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.” (QS. Yasin: 12)

«مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ»

“Siapa memelopori suatu tradisi kebaikan dalam Islam (menghidupkan ajaran Islam yang ditinggalkan manusia), maka dia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)

Syaikhuna Prof. Dr. Abdurrozzaq Al-Badr menyebutkan secara lengkap amal jariyah di bukunya 10 Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Wafat.

Penutup

Kematian bukanlah akhir dari eksistensi manusia, melainkan gerbang awal menuju kehidupan Barzakh yang kekal hingga hari kebangkitan. Karunia ni’mat kubur yang telah dipaparkan dari petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah yang shohih hendaknya menjadi pendorong utama bagi setiap hamba Mu’min untuk senantiasa menyempurnakan taqwa, meluruskan niat, serta memperbanyak bekal amalan sholih sebelum kesempatan di dunia berakhir.

﴿وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Robbmu sampai datang kepadamu yang diyakini.” (QS. Al-Hijr: 99)

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang menyeberang jalan.” (HR. Al-Bukhori no. 6416)

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ»

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan yaitu kematian.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2307 dan An-Nasa’i no. 1824)

Al-Hasan Al-Bashri (110 H) rohimahulloh memberikan nasehat yang sangat mendalam bagi hamba yang merindukan keselamatan di alam Barzakh:

« الدُّنْيَا ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ: أَمَا أَمْسِ فَقَدْ ذَهَبَ بِمَا فِيهِ، أَمَا غَدٌ فَلَعَلَّكَ لَا تُدْرِكُهُ، وَالْيَوْمُ لَكَ فَاعْمَلْ فِيهِ»

“Dunia itu hanya 3 hari: adapun hari kemarin telah berlalu bersama apa yang ada di dalamnya, adapun hari esok boleh jadi engkau tidak akan menjumpainya, dan adapun hari ini adalah milikmu maka beramallah padanya.” (Kalam Al-Layaalii, Ibnu Abid Dun-ya, no. 61)

Semoga Alloh menjadikan akhir kehidupan kita husnul khotimah, melapangkan kubur kita dengan ragam ni’mat Barzakh, melindungi kita dari adzab kubur, serta mengumpulkan kita bersama Nabi dan orang-orang sholih di dalam Jannah-Nya. Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam.

Tamat.

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini