[PDF] ARBAIN Mengikuti Manhaj Shohabat - Nor Kandir
﷽
Bab 1 Mengikuti Sunnah Khulafaur
Rosyidin
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا
اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ
إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
ۚ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul serta ulil amri di
antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka
kembalikanlah ia kepada Alloh dan Rosul jika kalian benar-benar beriman kepada
Alloh dan hari Akhiroh. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa: 59)
Dari
Al-Irbadh bin Sariyah rodhiyallahu ‘anhu (75 H) berkata:
«أُوصِيكُمْ
بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Aku
wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Alloh, mendengar dan taat (kepada
pemimpin) walaupun seorang budak Habasyi. Karena sesungguhnya siapa saja di
antara kalian yang hidup setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang
banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur
Rosyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah ia dengan
gigi geraham. Serta jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang
diada-adakan, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah
adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676)
Kandungan
Hadits:
Perintah
untuk senantiasa bertaqwa kepada Alloh ﷻ dalam segala kondisi,
termasuk dalam urusan pekerjaan.
Kewajiban
mendengar dan taat kepada pimpinan dalam hal-hal yang ma’ruf guna menjaga
stabilitas.
Berpegang
teguh pada Manhaj Shohabat (khususnya Khulafaur Rosyidin) adalah solusi tunggal
saat terjadi perselisihan.
Perintah
untuk memegang prinsip agama dengan sangat kuat sebagaimana kiasan “menggigit
dengan gigi geraham”.
Peringatan
keras dari segala bentuk bid’ah dalam beragama karena akan berujung pada
kesesatan.
Bab 2 Ancaman Terhadap Bid’ah
﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا
تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾
“Dan siapa
yang menentang Rosul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti selain jalan
orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu
dan Kami masukkan ia ke dalam Naar Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk
tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)
Dari Aisyah
rodhiyallahu ‘anha (58 H) berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa yang
mengada-adakan suatu perkara baru dalam urusan agama kami ini yang bukan
berasal darinya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697
dan Muslim no. 1718)
Kandungan
Hadits:
Islam telah
sempurna, sehingga tidak membutuhkan tambahan atau inovasi dalam urusan ibadah.
Setiap
amalan yang tidak memiliki dasar dari syariat Nabi ﷺ dan pemahaman Shohabat akan
sia-sia di sisi Alloh ﷻ.
Menjaga
kemurnian agama adalah bentuk loyalitas tertinggi kepada Alloh ﷻ dan
Rosul-Nya.
Ketegasan
dalam menolak segala bentuk penyimpangan demi menjaga keselamatan di Akhiroh.
Bab 3 Larangan Menyelisihi Jalan Shohabat
﴿وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
“Dan bahwa
(yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh
agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am: 153)
Dari Ibnu
Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H) menceritakan:
خَطَّ
رَسُولُ اللهِ ﷺ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: «هَذَا سَبِيلُ اللهِ مُسْتَقِيمًا»،
قَالَ: ثُمَّ خَطَّ عَنْ يَمِينِهِ، وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: «هَذِهِ السُّبُلُ،
لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ» ثُمَّ قَرَأَ:
﴿وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ﴾
“Rosululloh
ﷺ membuat satu garis dengan
tangannya lalu bersabda: ‘Ini adalah jalan Alloh yang lurus’. Kemudian beliau
membuat garis-garis di kanan dan kirinya, lalu bersabda: ‘Ini adalah
jalan-jalan (menyimpang), tidak ada satu pun dari jalan-jalan ini melainkan ada
syaithon yang menyeru kepadanya’. Kemudian beliau membaca ayat: ‘Dan bahwa ini
adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah mengikut
jalan-jalan lain...’” (HHR. Ahmad no. 4437 dan Ad-Darimi no. 208)
Kandungan
Hadits:
Jalan
menuju Alloh ﷻ
hanya satu, yaitu jalan yang ditempuh oleh Rosululloh ﷺ dan para Shohabatnya.
Banyaknya
syubhat dan godaan yang berusaha memalingkan seorang Muslim dari kebenaran.
Syaithon
senantiasa bekerja keras menghiasi jalan kesesatan agar terlihat menarik bagi
manusia.
Seorang
harus waspada terhadap berbagai aliran atau pemikiran yang menyimpang di
lingkungannya.
Kewajiban
beriltizam (berkomitmen) hanya pada kebenaran yang bersumber dari wahyu.
Bab 4 Jaminan Keselamatan bagi
Pengikut Salafush Sholih
﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا
أَبَدًا ۚ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾
“Orang-orang
yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan
Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada
mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Alloh menyediakan bagi mereka
Jannah-Jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Dari Mu’awiyah
bin Abi Sufyan rodhiyallahu ‘anhu (60 H) berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَلَا
إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ
مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ
وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ»
“Ketahuilah,
sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Ahli Kitab telah terpecah menjadi
72 golongan, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. 72
golongan di Naar, dan satu golongan di Jannah, yaitu Al-Jama’ah.” (HHR. Abu
Dawud no. 4597 dan Ahmad no. 16937)
Kandungan
Hadits:
Perpecahan
umat adalah suatu kepastian yang telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ, maka kita harus bersiap.
Al-Jama’ah
adalah standar keselamatan, yaitu mereka yang mengikuti jejak Nabi ﷺ dan Shohabat.
Mayoritas
bukan menjadi ukuran kebenaran jika mereka menyelisihi jalan Salaf.
Jaminan
Jannah hanya diberikan bagi mereka yang tetap teguh pada manhaj yang murni.
Pentingnya
mencari lingkungan yang mendukung kita untuk tetap berada di dalam Al-Jama’ah.
Bab 5 Kewajiban Mengikuti
Pemahaman Shohabat
﴿فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ
فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ
ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
“Maka jika
mereka beriman dengan apa yang kalian (para Shohabat) telah beriman kepadanya,
sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya
mereka berada dalam permusuhan. Maka Alloh akan mencukupkan kamu dari mereka.
Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Baqoroh: 137)
Dari Abdullah
bin Amr bin Ash rodhiyallahu ‘anhu (65 H) bahwa Nabi ﷺ bersabda mengenai golongan
yang selamat:
«مَا
أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي»
“(Golongan
yang selamat adalah) apa yang aku berada di atasnya dan juga para Shohabatku.” (HHR.
At-Tirmidzi no. 2641)
Kandungan
Hadits:
Standar
keimanan yang benar adalah keimanannya para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.
Tidak
dibenarkan menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits hanya berdasarkan logika atau
perasaan tanpa merujuk penjelasan Shohabat.
Mengikuti
Shohabat adalah syarat mutlak untuk mendapatkan hidayah yang sempurna.
Menyelisihi
cara beragama Shohabat akan menyebabkan perpecahan dan permusuhan di antara Muslimin.
Seorang Muslim
harus bangga dengan identitas keislamannya yang murni di mana pun ia berada.
Bab 6 Shohabat adalah Generasi
Terbaik
﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾
“Kalian
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf,
dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh.” (QS. Ali ‘Imron:
110)
Dari
Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), Nabi ﷺ bersabda:
«خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ
يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ»
“Sebaik-baik
manusia adalah generasiku (para Shohabat), kemudian orang-orang setelah mereka
(Tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (Tabi’ut Tabi’in). Kemudian akan
datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului
sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. Al-Bukhori no. 2652
dan Muslim no. 2533)
Kandungan
Hadits:
Shohabat
adalah standar kebaikan dan kebenaran karena mereka dididik langsung oleh
Rosululloh ﷺ.
Kewajiban
menjadikan pemahaman tiga generasi awal (Salafush Sholih) sebagai rujukan utama
dalam beragama.
Munculnya
kerusakan pada generasi setelah Salaf ditandai dengan meremehkan sumpah dan
persaksian.
Seseorang
harus meneladani Salaf dalam kejujuran, bukan mengikuti tren orang-orang yang
mudah berdusta demi materi.
Kebaikan
suatu zaman tidak diukur dari kemajuan teknologi atau ekonomi semata, melainkan
dari kedekatan mereka dengan Sunnah.
Bab 7 Mengikuti Al-Kitab dan
As-Sunnah
﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ
أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Maka
hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul takut akan ditimpa fitnah
atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«تَرَكْتُ
فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ
نَبِيِّهِ»
“Aku telah
tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang
teguh kepada keduanya: Kitabulloh dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dan
Shohih Targhib no. 40)
Kandungan
Hadits:
Berpegang
teguh pada wahyu adalah jaminan agar tidak tersesat di dunia dan Akhiroh.
Kesesatan
terjadi ketika seseorang mulai melepaskan ikatannya dari Sunnah dan beralih
pada pemikiran manusia.
Fitnah
(keraguan/syubhat) akan menyambar siapa saja yang sengaja menyelisihi petunjuk
Nabi ﷺ.
Di tengah
kesibukan, seorang Muslim wajib menjadikan Sunnah sebagai kompas agar hidupnya
berkah.
Kekuatan
iman diukur dari sejauh mana seseorang bertahan di atas atsar saat badai
penyimpangan melanda.
Bab 8 Bahaya Terpecahnya Umat
﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا
مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ﴾
“Dan
janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih
sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang
yang mendapat adzab yang berat.” (QS. Ali ‘Imron: 105)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ: أَنْ تَعْبُدُوهُ، وَلَا تُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا»
“Sesungguhnya
Alloh meridhoi 3 hal bagi kalian. Dia meridhoi kalian untuk beribadah
kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, berpegang teguh pada tali
Alloh seluruhnya, dan tidak bercerai-berai.” (HR. Muslim no. 1715)
Kandungan
Hadits:
Ancaman keras
berupa siksa bagi siapa saja yang keluar dari Manhaj Al-Jama’ah (Shohabat).
Pentingnya
mendoakan persatuan umat di atas kebenaran atsar.
Bab 9 Larangan Mencela Shohabat
﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا
تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya
Robb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami
terhadap orang-orang yang beriman; Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu (74 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«لاَ
تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ، ذَهَبًا مَا
بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلاَ نَصِيفَهُ»
“Janganlah
kalian mencela para Shohabatku! Karena andai salah seorang dari kalian
menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menandingi infak
mereka yang hanya satu mud atau setengahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3673 dan Muslim
no. 2540)
Kandungan
Hadits:
Mencela
Shohabat adalah dosa besar dan ciri utama kaum zholim yang menyimpang.
Kedudukan
Shohabat tidak akan pernah terkejar oleh generasi mana pun setelah mereka, meskipun
dengan harta yang melimpah.
Menghormati
Shohabat adalah bagian dari menghormati Rosululloh ﷺ yang mendidik mereka.
Kewajiban umat
untuk membersihkan hati dari kebencian terhadap generasi Salaf.
Keberkahan
amal sangat bergantung pada keikhlasan dan ittiba’ (mengikuti) cara mereka
beramal.
Bab 10 Hangusnya Amal Pelaku
Bid’ah I’tiqod
﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ
أَعْمَالًا 103 الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ
أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾
“Katakanlah:
‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Dari Jabir
bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu (78 H), dalam khutbah Nabi ﷺ beliau bersabda:
«أَمَّا
بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ،
وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Amma ba’du,
sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabulloh, dan sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan,
dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)
Kandungan
Hadits:
Standar
kebenaran mutlak ada pada Al-Qur’an dan Sunnah, bukan pada kreativitas akal
dalam ibadah.
Bid’ah
disebut sebagai seburuk-buruk perkara karena ia merusak keaslian agama.
Seseorang
bisa merasa telah beramal baik, padahal ia sedang merugi karena amalnya tidak
sesuai atsar.
Di
lingkungan masyarakat, waspadai ritual-ritual atau keyakinan yang tidak ada
tuntunannya dari generasi Shohabat.
Kesesatan
bid’ah akan menjauhkan pelakunya dari telaga Nabi ﷺ di hari Qiyamah.
Bab 11 Bahaya Menjauhi Al-Jama’ah
﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا
تَفَرَّقُوا﴾
“Dan
berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Alloh, dan janganlah kalian
bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imron: 103)
Dari Ibnu
Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H) bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ
الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»
“Siapa
melihat sesuatu yang ia benci dari pemimpinnya, maka hendaknya ia bersabar.
Karena sesungguhnya siapa yang memisahkan diri dari Al-Jama’ah sejengkal saja
kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR.
Al-Bukhori no. 7054 dan Muslim no. 1849)
Kandungan
Hadits:
Al-Jama’ah
adalah para Shohabat dan siapa saja yang mengikuti jalan mereka dalam beragama
dan bernegara.
Sabar
terhadap kebijakan pimpinan yang tidak disukai merupakan prinsip Salaf guna
menghindari pertumpahan darah.
Keluar dari
barisan kaum Muslimin walau hanya sedikit (sejengkal) dapat menghantarkan pada
kematian yang buruk.
Manhaj
Shohabat mengajarkan ketaatan yang membawa kemaslahatan bagi umat secara luas.
Bab 12 Larangan Mengikuti Hawa
Nafsu dalam Berdalil
﴿أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى
بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ﴾
“Maka
pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya, dan
Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Alloh telah mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah
yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh? Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَا
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ»
“Tidaklah
beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang
aku bawa (wahyu).” (HSR. Ibnu Abi Ashim no. 15, Arbain Nawawi no. 41)
Kandungan
Hadits:
Iman yang
sempurna menuntut penundukan seluruh keinginan pribadi di bawah aturan syariat.
Hawa nafsu
adalah penghalang utama seseorang untuk menerima kebenaran dari Manhaj
Shohabat.
Bahayanya
memiliki ilmu namun tetap tersesat karena lebih mendahulukan logika atau
kepentingan duniawi.
Kebahagiaan
hakiki diraih dengan merasa ridho terhadap segala ketetapan Nabi ﷺ.
Bab 13 Peringatan dari Da’i-Da’i
Penyesat Umat
﴿وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ
ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ﴾
“Dan
apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika
mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang
tersandar.” (QS. Al-Munafiqun: 4)
Dari
Hudzaifah bin Al-Yaman rodhiyallahu ‘anhu (36 H), Rosululloh ﷺ bersabda dalam hadits panjang
tentang fitnah:
«دُعَاةٌ
إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا»
“(Akan ada)
para penyeru di pintu-pintu Jahanam, siapa yang memenuhi seruan mereka, maka
mereka akan melemparkannya ke dalam Jahanam.” (HR. Al-Bukhori no. 3606 dan Muslim
no. 1847)
Kandungan
Hadits:
Kewaspadaan
terhadap tokoh atau penceramah yang pandai bersilat lidah namun mengajak pada
kesesatan.
Penyeru
kebathilan seringkali menggunakan kemasan yang menarik sehingga banyak orang
terpedaya.
Tolok ukur
kebenaran seorang da’i adalah kecocokan dakwahnya dengan atsar para Shohabat.
Muslim
harus berhati-hati dalam memilih tontonan atau bacaan agama agar tidak
terjerumus ke pintu Jahanam.
Mengikuti
orang yang salah dapat mengakibatkan penyesalan abadi di Akhiroh.
Bab 14 Ilmu Sebelum Berkata dan
Berbuat
﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro: 36)
Dari Mu’awiyah
bin Abi Sufyan rodhiyallahu ‘anhu (60 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Siapa yang
Alloh kehendaki kebaikan baginya, maka Alloh akan pahamkan dia dalam urusan
agama.” (HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)
Kandungan
Hadits:
Ilmu adalah
imam bagi amal; amal tanpa ilmu akan berujung pada kesalahan dan bid’ah.
Tanda utama
seseorang dicintai Alloh ﷻ adalah semangatnya dalam mempelajari Manhaj Salaf.
Pentingnya
mendalami hukum-hukum agar terhindar dari perkara harom.
Shohabat
adalah orang yang paling paham tentang maksud wahyu, maka merujuk pemahaman
mereka adalah kewajiban ilmu.
Pengetahuan
yang benar akan melahirkan ketaqwaan.
Bab 15 Keharusan Memurnikan Ibadah
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ
ۚ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan
sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS.
Al-Bayyinah: 5)
Dari Mu’adz
bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu (18 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«فَإِنَّ
حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا»
“Hak Alloh
atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhori no. 2856 dan Muslim
no. 30)
Kandungan
Hadits:
Tauhid
adalah pondasi utama Manhaj Shohabat dan misi utama para Rosul.
Larangan
keras terhadap segala bentuk Syirik, baik dalam ibadah maupun dalam
ketergantungan hati pada pekerjaan.
Muslim
harus meyakini bahwa pemberi rizqi hanyalah Alloh ﷻ, bukan perusahaan atau
atasan.
Ikhlas
dalam bekerja karena Alloh ﷻ akan mengubah rutinitas menjadi pundi-pundi pahala.
Memurnikan
agama berarti membersihkannya dari segala noda khurofat dan kesyirikan.
Bab 16 Meninggalkan Perdebatan
﴿مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ﴾
“Mereka
tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah
saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf:
58)
Dari Abu
Umamah Al-Bahili rodhiyallahu ‘anhu (81 H) berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ»
“Tidaklah
suatu kaum tersesat setelah mereka berada di atas hidayah melainkan karena
mereka diberikan (sifat suka) berdebat.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3253 dan Ibnu
Majah no. 48)
Kandungan
Hadits:
Perdebatan
dalam urusan agama tanpa ilmu adalah pintu menuju kesesatan dan kerasnya hati.
Manhaj
Shohabat adalah menerima dan mengamalkan wahyu, bukan mempertanyakan dengan
akal yang liar.
Sifat suka
membantah dapat menghilangkan keberkahan ilmu dan hidayah yang telah diraih.
Di
lingkungan masyarakat, hindarilah debat kusir mengenai agama yang hanya memicu
permusuhan.
Keselamatan
ada pada sikap taslim (pasrah) terhadap nash yang shohih.
Bab 17 Pertengahan antara Ghuluw
dan Jafa’
﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا﴾
“Dan
demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan
(pertengahan) agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul
menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (QS. Al-Baqoroh: 143)
Dari Ibnu
Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H) berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ
وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ
فِي الدِّينِ»
“Jauhilah
oleh kalian sikap melampaui batas (ghuluw) dalam agama, karena
sesungguhnya perkara yang membinasakan orang sebelum kalian adalah sikap ghuluw
dalam agama.” (HSR. An-Nasa’i no. 3057 dan Ibnu Majah no. 3029)
Kandungan
Hadits:
Manhaj
Shohabat adalah Manhaj pertengahan, tidak berlebihan (ghuluw) dan tidak
meremehkan (jafa’).
Sikap
ekstrem dalam beragama merupakan penyebab utama kehancuran umat-umat terdahulu.
Islam
melarang sikap fanatik buta yang keluar dari batasan syariat yang telah
digariskan.
Seorang
pekerja harus proporsional: tidak melalaikan kewajiban kerja demi sunnah yang
tidak wajib, namun tidak pula meninggalkan kewajiban agama demi kerja.
Keseimbangan
(i’tidal) dalam beramal adalah kunci istiqomah di atas atsar.
Bab 18 Menjauhi Majelis Ahli Bid’ah
﴿وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي
آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ﴾
“Dan
apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka
tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS.
Al-An’am: 68)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«يَكُونُ
فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ، يَأْتُونَكُمْ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِمَا
لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ، لَا يُضِلُّونَكُمْ،
وَلَا يَفْتِنُونَكُمْ»
“Akan ada
di akhir zaman para dajjal pendusta, mereka membawa ucapan-ucapan yang belum
pernah kalian dengar, tidak pula bapak-bapak kalian dengar. Maka waspadalah
kalian terhadap mereka, jangan sampai mereka menyesatkan kalian dan memfitnah
kalian.” (HR. Muslim no. 7)
Kandungan
Hadits:
Kewajiban
selektif dalam memilih guru dan majelis ilmu agar Aqidah tetap terjaga di atas
pemahaman Salaf.
Larangan
mendengarkan ucapan-ucapan yang menyelisihi apa yang telah dipahami para
Shohabat.
Syubhat
sangatlah menyambar, sedangkan hati manusia itu lemah, maka menjauh dari ahli bid’ah
adalah keselamatan.
Harus
berhati-hati dengan konten-konten agama di media sosial yang tidak jelas sanad
dan manhajnya.
Menjaga
telinga dari syubhat sama pentingnya dengan menjaga perut dari harta harom.
Bab 19 Memahami Agama Sesuai
Konteks Shohabat
﴿لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ
إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ
عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا﴾
“Sesungguhnya
Alloh telah ridho terhadap orang-orang Mu’min ketika mereka berjanji setia
kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka
lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan
kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)
Dari Ibnu
Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda kepada kami ketika
kembali dari Perang Al-Ahzab:
«لاَ يُصَلِّيَنَّ
أَحَدٌ العَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ»
“Janganlah
ada seorang pun yang Sholat Ashar melainkan di perkampungan Bani Quroizhoh.”
Lalu waktu Sholat Ashar mendapati sebagian mereka di tengah jalan. Sebagian
mereka berkata: “Kami tidak akan Sholat sampai kita mendapatinya.” Dan sebagian
mereka berkata: “Bahkan kita harus Sholat, bukan itu yang diinginkan dari kita.”
Peristiwa itu kemudian diceritakan kepada Nabi ﷺ, maka beliau ﷺ
tidak mencela seorang pun dari mereka. (HR. Al-Bukhori no. 946 dan Muslim
no. 1770)
Kandungan
Hadits:
Keridhoan
Alloh ﷻ
atas para Shohabat bersifat abadi karena keikhlasan hati mereka yang disaksikan
oleh Wahyu.
Memahami
agama tanpa merujuk kepada mereka adalah bentuk pengabaian terhadap saksi hidup
turunnya Al-Qur’an.
Manhaj
Shohabat adalah standar dalam memahami kontekstualisasi hukum syariat di segala
zaman.
Mengambil
salah satu pendapat Shohabat adalah kebenaran meskipun diperselisihkan mereka.
Bab 20 Merujuk kepada Ulama Kibaar
﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ
لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Maka
bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Dari Abu
Umayyah Al-Jumahi rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ»
“Sesungguhnya
di antara tanda-tanda hari Qiyamah adalah dicarinya ilmu pada al-ashoghir
(orang-orang kecil/junior dalam ilmu dan manhaj).” (HSR. Ibnul Mubarok;
Shohih Al-Jami’ no. 2207)
Kandungan
Hadits:
Keberkahan
ilmu ada pada para ulama senior yang kokoh di atas Manhaj Salaf.
Bahaya
mengambil ilmu dari orang yang hanya pandai bicara namun minim pemahaman
terhadap atsar Shohabat.
Pentingnya
sikap hormat dan mulazamah (belajar sungguh-sungguh) kepada para pewaris Nabi ﷺ.
Orang yang
sibuk harus memiliki sandaran fatwa dari ulama yang terpercaya agar langkah
dunianya tetap syar’i.
Ketelitian
dalam berguru merupakan bagian dari menjaga keselamatan agama seseorang.
Bab 21 Mendengar dan Taat kepada
Pimpinan
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا
اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul serta ulil amri di
antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59)
Dari Ibnu
Umar rodhiyallahu ‘anhuma (73 H) berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«السَّمْعُ
وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ
بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ»
“Mendengar
dan taat adalah kewajiban bagi setiap Muslim dalam perkara yang ia sukai maupun
yang ia benci, selama ia tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Jika ia
diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak
pula ketaatan.” (HR. Al-Bukhori no. 7144 dan Muslim no. 1839)
Kandungan
Hadits:
Ketaatan
kepada pimpinan (baik penguasa maupun atasan di tempat kerja) adalah ibadah
selama dalam koridor kebaikan.
Perasaan
suka atau tidak suka terhadap sosok pribadi pemimpin bukan menjadi alasan untuk
membangkang.
Batasan
ketaatan kepada makhluk adalah ketika perintah tersebut berbenturan dengan
larangan Alloh ﷻ.
Menjaga
keteraturan sistem merupakan bagian dari akhlaq Manhaj Shohabat demi
kemaslahatan umum.
Bab 22 Larangan Memberontak
Penguasa Zholim
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا
وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Alloh, agar kamu beruntung.” (QS.
Ali ‘Imron: 200)
Dari Iyadh
bin Ghonm rodhiyallahu ‘anhu (20 H) berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ
لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ
قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ»
“Siapa yang
ingin menasihati penguasa dengan suatu perkara, maka janganlah ia
menampakkannya secara terang-terangan (di hadapan orang banyak), akan tetapi
hendaknya ia mengambil tangannya dan menyendiri bersamanya. Jika ia menerima
nasihat itu maka itulah yang diharapkan, jika tidak, maka ia telah menunaikan
kewajibannya.” (HR. Ahmad no. 15333 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no.
1096, dishohihkan Al-Albani)
Kandungan
Hadits:
Sabar
menghadapi kezholiman pemimpin adalah prinsip keselamatan yang diajarkan oleh
Manhaj Salaf.
Larangan
melakukan provokasi atau demonstrasi yang dapat memicu fitnah dan pertumpahan
darah.
Hakikat
keberanian dalam Islam adalah menyampaikan kebenaran langsung kepada yang
bersangkutan dengan adab.
Fokuslah
pada kewajiban diri sendiri dan mintalah hak kita kepada Alloh ﷻ jika
dizholimi.
Bab 23 Menasihati Pemimpin dengan
Tersembunyi
﴿اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ
43 فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ﴾
“Pergilah
kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas; maka
berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thoha: 43-44)
Dari Tamim
Ad-Dari rodhiyallahu ‘anhu (40 H) bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«الدِّينُ
النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ
الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»
“Agama itu
adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau bersabda: “Untuk Alloh,
Kitab-Nya, Rosul-Nya, untuk para pemimpin kaum Muslimin, dan rakyat pada
umumnya.” (HR. Muslim no. 55)
Kandungan
Hadits:
Nasihat
adalah pilar agama yang bertujuan demi perbaikan dan kasih sayang, bukan untuk
menjatuhkan kehormatan.
Nasihat
kepada pimpinan harus dibarengi dengan adab yang tinggi agar tujuan perbaikan
tercapai.
Memberikan
masukan yang membangun kepada manajemen perusahaan dengan cara yang santun
adalah bentuk pengamalan hadits ini.
Ketulusan
dalam memberikan nasihat akan mendatangkan Ridho Alloh ﷻ bagi si pemberi nasihat.
Bab 24 Menjauh dari Fitnah di
Tengah Muslimin
﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ
ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan
peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak khusus menimpa orang-orang
yang zholim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Alloh sangat keras
siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«سَتَكُونُ
فِتَنٌ القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ، وَالقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ المَاشِي،
وَالمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ، وَمَنْ
وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ»
“Akan
terjadi fitnah (kekacauan/kerancuan), orang yang duduk saat itu lebih baik
daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang
berjalan lebih baik daripada yang berlari. Siapa yang mencarinya maka fitnah
itu akan menyeretnya. Siapa yang mendapatkan tempat berlindung, maka hendaknya
ia berlindung.” (HR. Al-Bukhori no. 3601 dan Muslim no. 2886)
Kandungan
Hadits:
Larangan
keras ikut campur dalam fitnah yang merusak persatuan kaum Muslimin.
Semakin
seseorang menjauh dari pusat kegaduhan, maka agamanya akan semakin selamat.
Fitnah seringkali
mengaburkan mana yang haq dan mana yang bathil, maka diam dan sabar adalah
jalan Salaf.
Jangan
membawa perdebatan politik atau kelompok yang memecah belah ke dalam lingkungan
kerja.
Kewajiban
menjaga lisan dan jemari dari menyebarkan berita yang memicu keresahan (hoaks).
Bab 25 Kewajiban Menjaga Persatuan
di Atas Al-Haq
﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا
فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾
“Dan
taatlah kepada Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Dari An-Nu’man
bin Basyir rodhiyallahu ‘anhuma (64 H) berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَثَلُ
الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ
إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
“Perumpamaan
orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi
adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka
seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.”
(HR. Al-Bukhori no. 6011 dan lafazh Muslim no. 2586)
Kandungan
Hadits:
Persatuan
yang hakiki hanya bisa dibangun di atas ketaatan kepada Alloh ﷻ dan
Rosul-Nya.
Perpecahan
akan melemahkan martabat dan kekuatan kaum Muslimin di hadapan musuh-musuh
mereka.
Membangun
kerjasama tim (teamwork) yang solid di tengah masyarakat berdasarkan
rasa ukhuwah Islamiyah.
Larangan
bersikap egois dan tidak peduli terhadap kesulitan yang menimpa sesama Muslim.
Manhaj
Shohabat mengutamakan persaudaraan di atas kepentingan kelompok atau organisasi
tertentu.
Bab 26 Sabar Menghadapi
Ketidakadilan
﴿وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ
عَزْمِ الْأُمُورِ﴾
“Tetapi
orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syuroo: 43)
Dari Usaid
bin Hudhoir rodhiyallahu ‘anhu (20 H), bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«سَتَلْقَوْنَ
بَعْدِي أُثْرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الحَوْضِ»
“Kalian
akan menemui sikap egois (pimpinan yang mementingkan diri sendiri) setelahku,
maka bersabarlah kalian sampai kalian menjumpaiku di telaga (Al-Haudh).” (HR.
Al-Bukhori no. 3792 dan Muslim no. 1845)
Kandungan
Hadits:
Kabar dari
Nabi ﷺ
bahwa akan datang masa di mana para pemimpin mengambil hak rakyat untuk diri
mereka sendiri.
Sabar
adalah perintah syariat saat menghadapi ketidakadilan pembagian duniawi guna
mencegah fitnah yang lebih besar.
Janji
pertemuan di telaga Nabi ﷺ
bagi mereka yang kokoh memegang Sunnah dan sabar di tengah kezholiman.
Di dunia
kerja, jika hak-hak materi dizholimi, seorang Muslim tetap harus menjaga
integritas profesinya sambil menuntut hak dengan cara yang baik.
Manhaj
Shohabat tidak mengajarkan anarkisme dalam menuntut hak duniawi yang hilang.
Bab 27 Menjaga Aqidah di Tengah
Kesibukan Dunia
﴿رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ
عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ
وَالْأَبْصَارُ﴾
“Para
lelaki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat
Alloh, mendirikan Sholat, dan menunaikan Zakat. Mereka takut kepada suatu hari
yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS. An-Nur: 37)
Dari Mu’awiyah rodhiyallahu
‘anhu (60 H) bahwa Nabi ﷺ
bersabda:
«لاَ
يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ،
وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ»
“Akan senantiasa
ada segolongan dari umatku yang nampak di atas kebenaran, tidak akan
membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan
Alloh sementara mereka tetap dalam keadaan demikian.” (HR. Al-Bukhori no. 3641
dan Muslim no. 1037)
Kandungan
Hadits:
Kewajiban
tetap teguh memegang Aqidah yang shohih meski berada di lingkungan yang tidak
mendukung.
Dunia dan
perniagaan tidak boleh menjadi penghalang untuk menjalankan ketaatan yang pokok
kepada Alloh ﷻ.
Keyakinan
terhadap kebenaran memberikan ketenangan jiwa meski dikucilkan oleh rekan kerja
yang menyimpang.
Thoifah
Manshuroh (golongan yang ditolong) adalah mereka yang mengikuti Manhaj Shohabat
dalam ilmu, amal, dan dakwah.
Menjaga
identitas keislaman di kantor adalah bagian dari Jihad mempertahankan iman.
Bab 28 Larangan Ghulul (Korupsi)
﴿وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ
وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾
“Siapa yang
berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang/ghulul), niscaya ia akan datang
membawa apa yang dikhianatkannya itu pada hari Qiyamah, kemudian tiap-tiap diri
akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan pembalasan yang
setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali ‘Imron: 161)
Dari ‘Adi
bin ‘Amiroh Al-Kindi rodhiyallahu ‘anhu (40 H) berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَنِ
اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا، فَمَا فَوْقَهُ كَانَ
غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Siapa di
antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan
(mengambil) sebuah jarum atau yang lebih dari itu, maka itu adalah ghulul
(pengkhianatan/korupsi) yang akan ia bawa pada hari Qiyamah.” (HR. Muslim
no. 1833)
Kandungan
Hadits:
Ancaman
sangat keras bagi siapa pun yang mengambil harta perusahaan atau negara yang
bukan menjadi haknya.
Amanah
dalam pekerjaan adalah syarat bagi pengikut Manhaj Salaf yang mengharapkan
keselamatan Akhiroh.
Sekecil apa
pun barang yang diambil tanpa izin pimpinan (seperti alat tulis atau fasilitas
kantor untuk kepentingan pribadi) termasuk bentuk khianat.
Mencari
rizqi dengan cara yang bersih akan mendatangkan keberkahan bagi keluarga dan
keturunan.
Kejujuran
profesional adalah dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan) yang sangat
berkesan.
Bab 29 Keharusan Bersikap Jujur
dalam Setiap Akad
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَكُولُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)
Dari Hakim
bin Hizam rodhiyallahu ‘anhu (54 H) bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«البَيِّعَانِ بِالخِيَارِ مَا
لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ
كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»
“Dua orang
yang melakukan jual beli memiliki hak khiyar (memilih) selama keduanya belum
berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (aib barangnya), maka diberkahi jual
beli mereka. Namun jika keduanya menyembunyikan (aib) dan berdusta, maka
dihapus keberkahan jual beli mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2079 dan Muslim
no. 1532)
Kandungan
Hadits:
Kejujuran
adalah pilar utama dalam perniagaan dan setiap akad kerja dalam Islam.
Larangan
keras menipu konsumen atau rekan bisnis dengan menyembunyikan kekurangan produk
atau jasa.
Keberkahan
harta tidak dilihat dari nominalnya, melainkan dari cara mendapatkannya yang
jujur.
Dustanya
seorang pebisnis atau pekerja akan menghancurkan reputasi di dunia dan
mendatangkan dosa di Akhiroh.
Manhaj
Shohabat mengedepankan prinsip “nashihat” (menginginkan kebaikan bagi orang
lain) dalam setiap transaksi.
Bab 30 Mencari Rizqi yang Halal
﴿يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ
وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ﴾
“Wahai
Rosul-Rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik (halal), dan kerjakanlah amal
sholih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS.
Al-Mu’minun: 51)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَيُّهَا
النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا»
“Wahai
sekalian manusia, sesungguhnya Alloh itu Thoyyib (Maha Baik) dan tidak menerima
kecuali yang thoyyib (baik/halal).” (HR. Muslim no. 1015)
Kandungan
Hadits:
Syarat
diterimanya doa dan amal sholih adalah dengan mengonsumsi harta yang halal.
Seorang pengikut
Manhaj Shohabat sangat berhati-hati (waro’) terhadap syubhat dalam pendapatan
mereka.
Harta harom
akan menjadi penghalang antara hamba dengan Robbnya serta merusak akhlaq.
Bekerja
keras mencari nafkah yang halal adalah bagian dari ibadah yang agung jika
didasari niat bertaqwa.
Kesucian
jiwa dimulai dari kesucian makanan yang masuk ke dalam tubuh.
Bab 31 Larangan Tasyabbuh
﴿ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ
فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Kemudian
Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama)
itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang
yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)
Dari Ibnu
Umar rodhiyallahu ‘anhuma (73 H) berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ
مِنْهُمْ»
“Siapa
yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HSR. Abu
Dawud no. 4031)
Kandungan
Hadits:
Kewajiban
bagi Muslim untuk memiliki identitas yang teguh dan berbeda dari kaum Yahudi, Nashroni,
maupun kaum kafir lainnya dalam hal peribadatan dan syiar agama.
Larangan
mengikuti tren, budaya, atau ritual kaum kuffar yang bertentangan dengan Manhaj
Shohabat.
Di
lingkungan kerja, seorang Muslim tidak boleh ikut serta dalam perayaan atau
simbol-simbol keagamaan non-Muslim.
Tasyabbuh
dalam hal-hal lahiriyah dapat menarik hati untuk mengikuti kesesatan batiniyah
mereka.
Kemuliaan
seorang pekerja Muslim terletak pada kepatuhannya terhadap Sunnah, bukan pada
seberapa mirip ia dengan gaya hidup orang kafir.
Bab 32 Istiqomah di Saat Umat
Telah Rusak
﴿فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ
أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ
أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ﴾
“Maka
mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai
keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali
sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara
mereka.” (QS. Hud: 116)
Dari ‘Abdulloh
bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H) berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«بَدَأَ
الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
“Islam muncul
dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia muncul. Maka
beruntunglah bagi orang-orang yang asing (Al-Ghuroba).” (HR. Muslim no. 145)
Kandungan
Hadits:
Kabar
gembira bagi mereka yang tetap konsisten di atas Manhaj Shohabat saat manusia
di sekelilingnya mulai menyimpang.
Definisi
Al-Ghuroba adalah mereka yang memperbaiki apa yang telah dirusak manusia dari Sunnah
Nabi ﷺ.
Rasa asing
di tempat kerja karena tidak ikut dalam praktik riba, sogok, atau bid’ah adalah
tanda keimanan yang kokoh.
Kesabaran
menghadapi cemoohan rekan kerja karena menjalankan Sunnah akan berbuah Jannah.
Istiqomah
di masa fitnah memiliki pahala yang sangat besar di sisi Alloh ﷻ.
Bab 33 Adil walau Terhadap Musuh
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ
لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا
ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan
(kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Dari An-Nu’man
bin Basyir rodhiyallahu ‘anhuma (64 H) berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«فَاتَّقُوا
اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ»
“Bertaqwalah
kepada Alloh dan berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR.
Al-Bukhori no. 2587 dan Muslim no. 1623)
Kandungan
Hadits:
Berlaku
adil adalah perintah Robbani yang harus diterapkan dalam segala aspek
kehidupan, termasuk dunia profesi.
Kebencian
pribadi kepada rekan kerja atau bawahan tidak boleh menghilangkan hak-hak
objektif mereka.
Seorang
pimpinan perusahaan harus adil dalam memberikan upah, tugas, dan apresiasi
tanpa pilih kasih.
Keadilan
adalah jalan terdekat menuju derajat taqwa yang hakiki.
Manhaj
Shohabat sangat menjunjung tinggi hukum dan menolak segala bentuk kezholiman.
Bab 34 Mencintai Shohabat
﴿وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ
مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا﴾
“Dan siapa
yang mentaati Alloh dan Rosul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Alloh, yaitu: Nabi-Nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholih. Dan mereka
itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)
Dari Anas
bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H) bahwa seseorang bertanya kepada Nabi
ﷺ tentang Qiyamah, beliau
menjawab:
«أَنْتَ
مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
“Kamu akan
bersama dengan siapa yang kamu cintai.” (HR. Al-Bukhori no. 3688 dan Muslim
no. 2639)
Kandungan
Hadits:
Cinta yang
tulus kepada para Shohabat adalah modal besar untuk berkumpul bersama mereka di
Jannah.
Syafaat
Nabi ﷺ
diharapkan oleh setiap Mu’min yang berpegang teguh pada tuntunannya.
Membangun
kerinduan kepada Salafush Sholih lebih utama daripada mengidolakan tokoh-tokoh
dunia yang tidak mengenal Sunnah.
Di sela
waktu bekerja, perbanyaklah mengingat kisah dan keteladanan Shohabat agar hati
tetap terpaut pada Akhiroh.
Harapan
berkumpul di Jannah harus dibuktikan dengan mengikuti jejak langkah mereka di
dunia.
Bab 35 Waspada Harta yang Melalaikan
﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ
بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ﴾
“Maka
tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun
membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka
bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka
dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS.
Al-An’am: 44)
Dari ‘Uqbah
bin ‘Amir rodhiyallahu ‘anhu (58 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ،
فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»
“Apabila
kamu melihat Alloh memberikan kepada seorang hamba kemewahan dunia atas
kemaksiatan-kemaksiatannya sesuai dengan apa yang ia inginkan, maka
sesungguhnya itu adalah istidroj (penundaan adzab).” (HHR. Ahmad no. 17311)
Kandungan
Hadits:
Bahayanya
merasa aman dengan kesuksesan karir dan limpahan harta sementara ketaatan
kepada Sunnah ditinggalkan.
Istidroj
adalah ujian yang samar, di mana seseorang diberi ni’mat duniawi sehingga ia
semakin jauh dari jalan Salaf.
Keberhasilan
ekonomi bukan barometer keridhoan Alloh ﷻ jika tidak dibarengi dengan
aqidah yang lurus.
Seorang
pekerja harus mawas diri jika urusan dunianya semakin lancar namun hatinya
semakin malas menuntut ilmu syar’i.
Manhaj
Shohabat mengajarkan rasa takut (khouf) terhadap jebakan dunia yang
melalaikan dari Akhiroh.
Bab 36 Istiqomah di Atas Sunnah
﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ
ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka (istiqomah), maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah
mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu’.” (QS.
Fushshilat: 30)
Dari Sufyan
bin Abdillah Ats-Tsaqofi rodhiyallahu ‘anhu (Abad 1 H) berkata: “Wahai
Rosululloh, katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak akan
bertanya lagi kepada selainmu.” Beliau ﷺ bersabda:
«قُلْ
آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ»
“Katakanlah:
‘Aku beriman kepada Alloh’, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim no. 38)
Kandungan
Hadits:
Puncak dari
mengikuti Manhaj Shohabat adalah keistiqomahan di atas Tauhid dan Sunnah hingga
janazah diantar ke liang lahat.
Istiqomah
membutuhkan perjuangan besar dalam menjaga lisan, hati, dan perbuatan di tengah
hiruk pikuk dunia kerja.
Jaminan
kabar gembira dari Malaikat saat kematian menjemput bagi mereka yang teguh di
atas jalan yang lurus.
Karomah
yang paling utama bagi seorang Muslim profesional adalah konsistensi
menjalankan perintah Alloh ﷻ tanpa berubah arah.
Harapan
meraih husnul khotimah hanya bisa digapai dengan mengikuti petunjuk Nabi
ﷺ secara kaffah
(totalitas).
Bab 37 Larangan Fanatik Golongan
﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا
شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ﴾
“Yaitu
orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan
mereka.” (QS. Ar-Rum: 32)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»
“Siapa yang
keluar dari ketaatan (kepada pimpinan) dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah lalu
ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1848)
Bab 38 Membela Sunnah dari
Penyimpangan
﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى
الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 104)
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu (74 H) berkata: “Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ،
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»
“Siapa di
antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan
tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan
hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no.
49)
Bab 39 Berpegang pada Dalil Bukan
Dugaan
﴿وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا
ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ﴾
“Dan
kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan
itu tidak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran. Sesungguhnya Alloh Maha
Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ
الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ»
“Jauhilah
oleh kalian persangkaan, karena sesungguhnya persangkaan itu adalah
seburuk-buruk kedustaan.” (HR. Al-Bukhori no. 6066 dan Muslim no. 2563)
Kandungan
Hadits:
Manhaj
Shohabat dibangun di atas kebenaran dalil yang pasti, bukan perasaan atau
sangkaan belaka.
Larangan
menetapkan hukum syariat berlandaskan asumsi yang tidak berdasar.
Kewajiban
melakukan tabayyun (klarifikasi) sebelum mengambil keputusan dalam
urusan agama maupun perniagaan.
Kebenaran
yang bersumber dari wahyu tidak akan pernah bisa ditandingi oleh akal-akalan
manusia.
Bab 40 Doa Keteguhan Hati di Atas
Manhaj
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾
“Ya Robb
kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah
Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari
sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron:
8)
Dari Ummu
Salamah rodhiyallahu ‘anha (62 H), ia berkata bahwa doa yang paling
sering dibaca Nabi ﷺ
adalah:
«يَا
مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai Dzat
yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 3522)
Tamat.
