Cari Ebook

[PDF] ARBAIN Mengikuti Manhaj Shohabat - Nor Kandir

 


Bab 1 Mengikuti Sunnah Khulafaur Rosyidin

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Alloh dan Rosul jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)

Dari Al-Irbadh bin Sariyah rodhiyallahu ‘anhu (75 H) berkata:

«أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Alloh, mendengar dan taat (kepada pemimpin) walaupun seorang budak Habasyi. Karena sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rosyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676)

Kandungan Hadits:

Perintah untuk senantiasa bertaqwa kepada Alloh dalam segala kondisi, termasuk dalam urusan pekerjaan.

Kewajiban mendengar dan taat kepada pimpinan dalam hal-hal yang ma’ruf guna menjaga stabilitas.

Berpegang teguh pada Manhaj Shohabat (khususnya Khulafaur Rosyidin) adalah solusi tunggal saat terjadi perselisihan.

Perintah untuk memegang prinsip agama dengan sangat kuat sebagaimana kiasan “menggigit dengan gigi geraham”.

Peringatan keras dari segala bentuk bid’ah dalam beragama karena akan berujung pada kesesatan.

Bab 2 Ancaman Terhadap Bid’ah

﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan siapa yang menentang Rosul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti selain jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Naar Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha (58 H) berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

“Siapa yang mengada-adakan suatu perkara baru dalam urusan agama kami ini yang bukan berasal darinya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Kandungan Hadits:

Islam telah sempurna, sehingga tidak membutuhkan tambahan atau inovasi dalam urusan ibadah.

Setiap amalan yang tidak memiliki dasar dari syariat Nabi dan pemahaman Shohabat akan sia-sia di sisi Alloh .

Menjaga kemurnian agama adalah bentuk loyalitas tertinggi kepada Alloh dan Rosul-Nya.

Ketegasan dalam menolak segala bentuk penyimpangan demi menjaga keselamatan di Akhiroh.

Bab 3 Larangan Menyelisihi Jalan Shohabat

﴿وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am: 153)

Dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H) menceritakan:

خَطَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: «هَذَا سَبِيلُ اللهِ مُسْتَقِيمًا»، قَالَ: ثُمَّ خَطَّ عَنْ يَمِينِهِ، وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: «هَذِهِ السُّبُلُ، لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ» ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ

“Rosululloh membuat satu garis dengan tangannya lalu bersabda: ‘Ini adalah jalan Alloh yang lurus’. Kemudian beliau membuat garis-garis di kanan dan kirinya, lalu bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan (menyimpang), tidak ada satu pun dari jalan-jalan ini melainkan ada syaithon yang menyeru kepadanya’. Kemudian beliau membaca ayat: ‘Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah mengikut jalan-jalan lain...’” (HHR. Ahmad no. 4437 dan Ad-Darimi no. 208)

Kandungan Hadits:

Jalan menuju Alloh hanya satu, yaitu jalan yang ditempuh oleh Rosululloh dan para Shohabatnya.

Banyaknya syubhat dan godaan yang berusaha memalingkan seorang Muslim dari kebenaran.

Syaithon senantiasa bekerja keras menghiasi jalan kesesatan agar terlihat menarik bagi manusia.

Seorang harus waspada terhadap berbagai aliran atau pemikiran yang menyimpang di lingkungannya.

Kewajiban beriltizam (berkomitmen) hanya pada kebenaran yang bersumber dari wahyu.

Bab 4 Jaminan Keselamatan bagi Pengikut Salafush Sholih

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Alloh menyediakan bagi mereka Jannah-Jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan rodhiyallahu ‘anhu (60 H) berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ»

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Ahli Kitab telah terpecah menjadi 72 golongan, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 golongan di Naar, dan satu golongan di Jannah, yaitu Al-Jama’ah.” (HHR. Abu Dawud no. 4597 dan Ahmad no. 16937)

Kandungan Hadits:

Perpecahan umat adalah suatu kepastian yang telah dikabarkan oleh Nabi , maka kita harus bersiap.

Al-Jama’ah adalah standar keselamatan, yaitu mereka yang mengikuti jejak Nabi dan Shohabat.

Mayoritas bukan menjadi ukuran kebenaran jika mereka menyelisihi jalan Salaf.

Jaminan Jannah hanya diberikan bagi mereka yang tetap teguh pada manhaj yang murni.

Pentingnya mencari lingkungan yang mendukung kita untuk tetap berada di dalam Al-Jama’ah.

Bab 5 Kewajiban Mengikuti Pemahaman Shohabat

﴿فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka jika mereka beriman dengan apa yang kalian (para Shohabat) telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan. Maka Alloh akan mencukupkan kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Baqoroh: 137)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash rodhiyallahu ‘anhu (65 H) bahwa Nabi bersabda mengenai golongan yang selamat:

«مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي»

“(Golongan yang selamat adalah) apa yang aku berada di atasnya dan juga para Shohabatku.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2641)

Kandungan Hadits:

Standar keimanan yang benar adalah keimanannya para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.

Tidak dibenarkan menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits hanya berdasarkan logika atau perasaan tanpa merujuk penjelasan Shohabat.

Mengikuti Shohabat adalah syarat mutlak untuk mendapatkan hidayah yang sempurna.

Menyelisihi cara beragama Shohabat akan menyebabkan perpecahan dan permusuhan di antara Muslimin.

Seorang Muslim harus bangga dengan identitas keislamannya yang murni di mana pun ia berada.

Bab 6 Shohabat adalah Generasi Terbaik

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh.” (QS. Ali ‘Imron: 110)

Dari Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), Nabi bersabda:

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ»

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para Shohabat), kemudian orang-orang setelah mereka (Tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (Tabi’ut Tabi’in). Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. Al-Bukhori no. 2652 dan Muslim no. 2533)

Kandungan Hadits:

Shohabat adalah standar kebaikan dan kebenaran karena mereka dididik langsung oleh Rosululloh .

Kewajiban menjadikan pemahaman tiga generasi awal (Salafush Sholih) sebagai rujukan utama dalam beragama.

Munculnya kerusakan pada generasi setelah Salaf ditandai dengan meremehkan sumpah dan persaksian.

Seseorang harus meneladani Salaf dalam kejujuran, bukan mengikuti tren orang-orang yang mudah berdusta demi materi.

Kebaikan suatu zaman tidak diukur dari kemajuan teknologi atau ekonomi semata, melainkan dari kedekatan mereka dengan Sunnah.

Bab 7 Mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah

﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh bersabda:

«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»

“Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabulloh dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dan Shohih Targhib no. 40)

Kandungan Hadits:

Berpegang teguh pada wahyu adalah jaminan agar tidak tersesat di dunia dan Akhiroh.

Kesesatan terjadi ketika seseorang mulai melepaskan ikatannya dari Sunnah dan beralih pada pemikiran manusia.

Fitnah (keraguan/syubhat) akan menyambar siapa saja yang sengaja menyelisihi petunjuk Nabi .

Di tengah kesibukan, seorang Muslim wajib menjadikan Sunnah sebagai kompas agar hidupnya berkah.

Kekuatan iman diukur dari sejauh mana seseorang bertahan di atas atsar saat badai penyimpangan melanda.

Bab 8 Bahaya Terpecahnya Umat

﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang berat.” (QS. Ali ‘Imron: 105)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Nabi bersabda:

«إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ: أَنْ تَعْبُدُوهُ، وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا»

“Sesungguhnya Alloh meridhoi 3 hal bagi kalian. Dia meridhoi kalian untuk beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, berpegang teguh pada tali Alloh seluruhnya, dan tidak bercerai-berai.” (HR. Muslim no. 1715)

Kandungan Hadits:

Ancaman keras berupa siksa bagi siapa saja yang keluar dari Manhaj Al-Jama’ah (Shohabat).

Pentingnya mendoakan persatuan umat di atas kebenaran atsar.

Bab 9 Larangan Mencela Shohabat

﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya Robb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu (74 H), Rosululloh bersabda:

«لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ، ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلاَ نَصِيفَهُ»

“Janganlah kalian mencela para Shohabatku! Karena andai salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menandingi infak mereka yang hanya satu mud atau setengahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3673 dan Muslim no. 2540)

Kandungan Hadits:

Mencela Shohabat adalah dosa besar dan ciri utama kaum zholim yang menyimpang.

Kedudukan Shohabat tidak akan pernah terkejar oleh generasi mana pun setelah mereka, meskipun dengan harta yang melimpah.

Menghormati Shohabat adalah bagian dari menghormati Rosululloh yang mendidik mereka.

Kewajiban umat untuk membersihkan hati dari kebencian terhadap generasi Salaf.

Keberkahan amal sangat bergantung pada keikhlasan dan ittiba’ (mengikuti) cara mereka beramal.

Bab 10 Hangusnya Amal Pelaku Bid’ah I’tiqod

﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا 103 الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Dari Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu (78 H), dalam khutbah Nabi beliau bersabda:

«أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabulloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)

Kandungan Hadits:

Standar kebenaran mutlak ada pada Al-Qur’an dan Sunnah, bukan pada kreativitas akal dalam ibadah.

Bid’ah disebut sebagai seburuk-buruk perkara karena ia merusak keaslian agama.

Seseorang bisa merasa telah beramal baik, padahal ia sedang merugi karena amalnya tidak sesuai atsar.

Di lingkungan masyarakat, waspadai ritual-ritual atau keyakinan yang tidak ada tuntunannya dari generasi Shohabat.

Kesesatan bid’ah akan menjauhkan pelakunya dari telaga Nabi di hari Qiyamah.

Bab 11 Bahaya Menjauhi Al-Jama’ah

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Alloh, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imron: 103)

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H) bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»

“Siapa melihat sesuatu yang ia benci dari pemimpinnya, maka hendaknya ia bersabar. Karena sesungguhnya siapa yang memisahkan diri dari Al-Jama’ah sejengkal saja kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhori no. 7054 dan Muslim no. 1849)

Kandungan Hadits:

Al-Jama’ah adalah para Shohabat dan siapa saja yang mengikuti jalan mereka dalam beragama dan bernegara.

Sabar terhadap kebijakan pimpinan yang tidak disukai merupakan prinsip Salaf guna menghindari pertumpahan darah.

Keluar dari barisan kaum Muslimin walau hanya sedikit (sejengkal) dapat menghantarkan pada kematian yang buruk.

Manhaj Shohabat mengajarkan ketaatan yang membawa kemaslahatan bagi umat secara luas.

Bab 12 Larangan Mengikuti Hawa Nafsu dalam Berdalil

﴿أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya, dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Alloh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ»

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (wahyu).” (HSR. Ibnu Abi Ashim no. 15, Arbain Nawawi no. 41)

Kandungan Hadits:

Iman yang sempurna menuntut penundukan seluruh keinginan pribadi di bawah aturan syariat.

Hawa nafsu adalah penghalang utama seseorang untuk menerima kebenaran dari Manhaj Shohabat.

Bahayanya memiliki ilmu namun tetap tersesat karena lebih mendahulukan logika atau kepentingan duniawi.

Kebahagiaan hakiki diraih dengan merasa ridho terhadap segala ketetapan Nabi .

Bab 13 Peringatan dari Da’i-Da’i Penyesat Umat

﴿وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar.” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman rodhiyallahu ‘anhu (36 H), Rosululloh bersabda dalam hadits panjang tentang fitnah:

«دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا»

“(Akan ada) para penyeru di pintu-pintu Jahanam, siapa yang memenuhi seruan mereka, maka mereka akan melemparkannya ke dalam Jahanam.” (HR. Al-Bukhori no. 3606 dan Muslim no. 1847)

Kandungan Hadits:

Kewaspadaan terhadap tokoh atau penceramah yang pandai bersilat lidah namun mengajak pada kesesatan.

Penyeru kebathilan seringkali menggunakan kemasan yang menarik sehingga banyak orang terpedaya.

Tolok ukur kebenaran seorang da’i adalah kecocokan dakwahnya dengan atsar para Shohabat.

Muslim harus berhati-hati dalam memilih tontonan atau bacaan agama agar tidak terjerumus ke pintu Jahanam.

Mengikuti orang yang salah dapat mengakibatkan penyesalan abadi di Akhiroh.

Bab 14 Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro: 36)

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan rodhiyallahu ‘anhu (60 H), Rosululloh bersabda:

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»

“Siapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, maka Alloh akan pahamkan dia dalam urusan agama.” (HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)

Kandungan Hadits:

Ilmu adalah imam bagi amal; amal tanpa ilmu akan berujung pada kesalahan dan bid’ah.

Tanda utama seseorang dicintai Alloh adalah semangatnya dalam mempelajari Manhaj Salaf.

Pentingnya mendalami hukum-hukum agar terhindar dari perkara harom.

Shohabat adalah orang yang paling paham tentang maksud wahyu, maka merujuk pemahaman mereka adalah kewajiban ilmu.

Pengetahuan yang benar akan melahirkan ketaqwaan.

Bab 15 Keharusan Memurnikan Ibadah

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dari Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu (18 H), Rosululloh bersabda:

«فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا»

“Hak Alloh atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhori no. 2856 dan Muslim no. 30)

Kandungan Hadits:

Tauhid adalah pondasi utama Manhaj Shohabat dan misi utama para Rosul.

Larangan keras terhadap segala bentuk Syirik, baik dalam ibadah maupun dalam ketergantungan hati pada pekerjaan.

Muslim harus meyakini bahwa pemberi rizqi hanyalah Alloh , bukan perusahaan atau atasan.

Ikhlas dalam bekerja karena Alloh akan mengubah rutinitas menjadi pundi-pundi pahala.

Memurnikan agama berarti membersihkannya dari segala noda khurofat dan kesyirikan.

Bab 16 Meninggalkan Perdebatan

﴿مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58)

Dari Abu Umamah Al-Bahili rodhiyallahu ‘anhu (81 H) berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ»

“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mereka berada di atas hidayah melainkan karena mereka diberikan (sifat suka) berdebat.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3253 dan Ibnu Majah no. 48)

Kandungan Hadits:

Perdebatan dalam urusan agama tanpa ilmu adalah pintu menuju kesesatan dan kerasnya hati.

Manhaj Shohabat adalah menerima dan mengamalkan wahyu, bukan mempertanyakan dengan akal yang liar.

Sifat suka membantah dapat menghilangkan keberkahan ilmu dan hidayah yang telah diraih.

Di lingkungan masyarakat, hindarilah debat kusir mengenai agama yang hanya memicu permusuhan.

Keselamatan ada pada sikap taslim (pasrah) terhadap nash yang shohih.

Bab 17 Pertengahan antara Ghuluw dan Jafa’

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan (pertengahan) agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (QS. Al-Baqoroh: 143)

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H) berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ»

“Jauhilah oleh kalian sikap melampaui batas (ghuluw) dalam agama, karena sesungguhnya perkara yang membinasakan orang sebelum kalian adalah sikap ghuluw dalam agama.” (HSR. An-Nasa’i no. 3057 dan Ibnu Majah no. 3029)

Kandungan Hadits:

Manhaj Shohabat adalah Manhaj pertengahan, tidak berlebihan (ghuluw) dan tidak meremehkan (jafa’).

Sikap ekstrem dalam beragama merupakan penyebab utama kehancuran umat-umat terdahulu.

Islam melarang sikap fanatik buta yang keluar dari batasan syariat yang telah digariskan.

Seorang pekerja harus proporsional: tidak melalaikan kewajiban kerja demi sunnah yang tidak wajib, namun tidak pula meninggalkan kewajiban agama demi kerja.

Keseimbangan (i’tidal) dalam beramal adalah kunci istiqomah di atas atsar.

Bab 18 Menjauhi Majelis Ahli Bid’ah

﴿وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS. Al-An’am: 68)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) bahwa Rosululloh bersabda:

«يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ، يَأْتُونَكُمْ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ، لَا يُضِلُّونَكُمْ، وَلَا يَفْتِنُونَكُمْ»

“Akan ada di akhir zaman para dajjal pendusta, mereka membawa ucapan-ucapan yang belum pernah kalian dengar, tidak pula bapak-bapak kalian dengar. Maka waspadalah kalian terhadap mereka, jangan sampai mereka menyesatkan kalian dan memfitnah kalian.” (HR. Muslim no. 7)

Kandungan Hadits:

Kewajiban selektif dalam memilih guru dan majelis ilmu agar Aqidah tetap terjaga di atas pemahaman Salaf.

Larangan mendengarkan ucapan-ucapan yang menyelisihi apa yang telah dipahami para Shohabat.

Syubhat sangatlah menyambar, sedangkan hati manusia itu lemah, maka menjauh dari ahli bid’ah adalah keselamatan.

Harus berhati-hati dengan konten-konten agama di media sosial yang tidak jelas sanad dan manhajnya.

Menjaga telinga dari syubhat sama pentingnya dengan menjaga perut dari harta harom.

Bab 19 Memahami Agama Sesuai Konteks Shohabat

﴿لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang Mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)

Dari Ibnu Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Nabi bersabda kepada kami ketika kembali dari Perang Al-Ahzab:

«لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ العَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ»

“Janganlah ada seorang pun yang Sholat Ashar melainkan di perkampungan Bani Quroizhoh.” Lalu waktu Sholat Ashar mendapati sebagian mereka di tengah jalan. Sebagian mereka berkata: “Kami tidak akan Sholat sampai kita mendapatinya.” Dan sebagian mereka berkata: “Bahkan kita harus Sholat, bukan itu yang diinginkan dari kita.” Peristiwa itu kemudian diceritakan kepada Nabi , maka beliau tidak mencela seorang pun dari mereka. (HR. Al-Bukhori no. 946 dan Muslim no. 1770)

Kandungan Hadits:

Keridhoan Alloh atas para Shohabat bersifat abadi karena keikhlasan hati mereka yang disaksikan oleh Wahyu.

Memahami agama tanpa merujuk kepada mereka adalah bentuk pengabaian terhadap saksi hidup turunnya Al-Qur’an.

Manhaj Shohabat adalah standar dalam memahami kontekstualisasi hukum syariat di segala zaman.

Mengambil salah satu pendapat Shohabat adalah kebenaran meskipun diperselisihkan mereka.

Bab 20 Merujuk kepada Ulama Kibaar

﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Dari Abu Umayyah Al-Jumahi rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

«إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ»

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Qiyamah adalah dicarinya ilmu pada al-ashoghir (orang-orang kecil/junior dalam ilmu dan manhaj).” (HSR. Ibnul Mubarok; Shohih Al-Jami’ no. 2207)

Kandungan Hadits:

Keberkahan ilmu ada pada para ulama senior yang kokoh di atas Manhaj Salaf.

Bahaya mengambil ilmu dari orang yang hanya pandai bicara namun minim pemahaman terhadap atsar Shohabat.

Pentingnya sikap hormat dan mulazamah (belajar sungguh-sungguh) kepada para pewaris Nabi .

Orang yang sibuk harus memiliki sandaran fatwa dari ulama yang terpercaya agar langkah dunianya tetap syar’i.

Ketelitian dalam berguru merupakan bagian dari menjaga keselamatan agama seseorang.

Bab 21 Mendengar dan Taat kepada Pimpinan

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul serta ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59)

Dari Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma (73 H) berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ»

“Mendengar dan taat adalah kewajiban bagi setiap Muslim dalam perkara yang ia sukai maupun yang ia benci, selama ia tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Jika ia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak pula ketaatan.” (HR. Al-Bukhori no. 7144 dan Muslim no. 1839)

Kandungan Hadits:

Ketaatan kepada pimpinan (baik penguasa maupun atasan di tempat kerja) adalah ibadah selama dalam koridor kebaikan.

Perasaan suka atau tidak suka terhadap sosok pribadi pemimpin bukan menjadi alasan untuk membangkang.

Batasan ketaatan kepada makhluk adalah ketika perintah tersebut berbenturan dengan larangan Alloh .

Menjaga keteraturan sistem merupakan bagian dari akhlaq Manhaj Shohabat demi kemaslahatan umum.

Bab 22 Larangan Memberontak Penguasa Zholim

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Alloh, agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 200)

Dari Iyadh bin Ghonm rodhiyallahu ‘anhu (20 H) berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ»

“Siapa yang ingin menasihati penguasa dengan suatu perkara, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan (di hadapan orang banyak), akan tetapi hendaknya ia mengambil tangannya dan menyendiri bersamanya. Jika ia menerima nasihat itu maka itulah yang diharapkan, jika tidak, maka ia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad no. 15333 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1096, dishohihkan Al-Albani)

Kandungan Hadits:

Sabar menghadapi kezholiman pemimpin adalah prinsip keselamatan yang diajarkan oleh Manhaj Salaf.

Larangan melakukan provokasi atau demonstrasi yang dapat memicu fitnah dan pertumpahan darah.

Hakikat keberanian dalam Islam adalah menyampaikan kebenaran langsung kepada yang bersangkutan dengan adab.

Fokuslah pada kewajiban diri sendiri dan mintalah hak kita kepada Alloh jika dizholimi.

Bab 23 Menasihati Pemimpin dengan Tersembunyi

﴿اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ 43 فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thoha: 43-44)

Dari Tamim Ad-Dari rodhiyallahu ‘anhu (40 H) bahwa Nabi bersabda:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»

“Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau bersabda: “Untuk Alloh, Kitab-Nya, Rosul-Nya, untuk para pemimpin kaum Muslimin, dan rakyat pada umumnya.” (HR. Muslim no. 55)

Kandungan Hadits:

Nasihat adalah pilar agama yang bertujuan demi perbaikan dan kasih sayang, bukan untuk menjatuhkan kehormatan.

Nasihat kepada pimpinan harus dibarengi dengan adab yang tinggi agar tujuan perbaikan tercapai.

Memberikan masukan yang membangun kepada manajemen perusahaan dengan cara yang santun adalah bentuk pengamalan hadits ini.

Ketulusan dalam memberikan nasihat akan mendatangkan Ridho Alloh bagi si pemberi nasihat.

Bab 24 Menjauh dari Fitnah di Tengah Muslimin

﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Alloh sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) bahwa Rosululloh bersabda:

«سَتَكُونُ فِتَنٌ القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ، وَالقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ المَاشِي، وَالمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ، وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ»

“Akan terjadi fitnah (kekacauan/kerancuan), orang yang duduk saat itu lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Siapa yang mencarinya maka fitnah itu akan menyeretnya. Siapa yang mendapatkan tempat berlindung, maka hendaknya ia berlindung.” (HR. Al-Bukhori no. 3601 dan Muslim no. 2886)

Kandungan Hadits:

Larangan keras ikut campur dalam fitnah yang merusak persatuan kaum Muslimin.

Semakin seseorang menjauh dari pusat kegaduhan, maka agamanya akan semakin selamat.

Fitnah seringkali mengaburkan mana yang haq dan mana yang bathil, maka diam dan sabar adalah jalan Salaf.

Jangan membawa perdebatan politik atau kelompok yang memecah belah ke dalam lingkungan kerja.

Kewajiban menjaga lisan dan jemari dari menyebarkan berita yang memicu keresahan (hoaks).

Bab 25 Kewajiban Menjaga Persatuan di Atas Al-Haq

﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Dari An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhuma (64 H) berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Al-Bukhori no. 6011 dan lafazh Muslim no. 2586)

Kandungan Hadits:

Persatuan yang hakiki hanya bisa dibangun di atas ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya.

Perpecahan akan melemahkan martabat dan kekuatan kaum Muslimin di hadapan musuh-musuh mereka.

Membangun kerjasama tim (teamwork) yang solid di tengah masyarakat berdasarkan rasa ukhuwah Islamiyah.

Larangan bersikap egois dan tidak peduli terhadap kesulitan yang menimpa sesama Muslim.

Manhaj Shohabat mengutamakan persaudaraan di atas kepentingan kelompok atau organisasi tertentu.

Bab 26 Sabar Menghadapi Ketidakadilan

﴿وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syuroo: 43)

Dari Usaid bin Hudhoir rodhiyallahu ‘anhu (20 H), bahwa Nabi bersabda:

«سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أُثْرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الحَوْضِ»

“Kalian akan menemui sikap egois (pimpinan yang mementingkan diri sendiri) setelahku, maka bersabarlah kalian sampai kalian menjumpaiku di telaga (Al-Haudh).” (HR. Al-Bukhori no. 3792 dan Muslim no. 1845)

Kandungan Hadits:

Kabar dari Nabi bahwa akan datang masa di mana para pemimpin mengambil hak rakyat untuk diri mereka sendiri.

Sabar adalah perintah syariat saat menghadapi ketidakadilan pembagian duniawi guna mencegah fitnah yang lebih besar.

Janji pertemuan di telaga Nabi bagi mereka yang kokoh memegang Sunnah dan sabar di tengah kezholiman.

Di dunia kerja, jika hak-hak materi dizholimi, seorang Muslim tetap harus menjaga integritas profesinya sambil menuntut hak dengan cara yang baik.

Manhaj Shohabat tidak mengajarkan anarkisme dalam menuntut hak duniawi yang hilang.

Bab 27 Menjaga Aqidah di Tengah Kesibukan Dunia

﴿رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Alloh, mendirikan Sholat, dan menunaikan Zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS. An-Nur: 37)

Dari Mu’awiyah rodhiyallahu ‘anhu (60 H) bahwa Nabi bersabda:

«لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ»

“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang nampak di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Alloh sementara mereka tetap dalam keadaan demikian.” (HR. Al-Bukhori no. 3641 dan Muslim no. 1037)

Kandungan Hadits:

Kewajiban tetap teguh memegang Aqidah yang shohih meski berada di lingkungan yang tidak mendukung.

Dunia dan perniagaan tidak boleh menjadi penghalang untuk menjalankan ketaatan yang pokok kepada Alloh .

Keyakinan terhadap kebenaran memberikan ketenangan jiwa meski dikucilkan oleh rekan kerja yang menyimpang.

Thoifah Manshuroh (golongan yang ditolong) adalah mereka yang mengikuti Manhaj Shohabat dalam ilmu, amal, dan dakwah.

Menjaga identitas keislaman di kantor adalah bagian dari Jihad mempertahankan iman.

Bab 28 Larangan Ghulul (Korupsi)

﴿وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Siapa yang berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang/ghulul), niscaya ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu pada hari Qiyamah, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan pembalasan yang setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali ‘Imron: 161)

Dari ‘Adi bin ‘Amiroh Al-Kindi rodhiyallahu ‘anhu (40 H) berkata bahwa Nabi bersabda:

«مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا، فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan (mengambil) sebuah jarum atau yang lebih dari itu, maka itu adalah ghulul (pengkhianatan/korupsi) yang akan ia bawa pada hari Qiyamah.” (HR. Muslim no. 1833)

Kandungan Hadits:

Ancaman sangat keras bagi siapa pun yang mengambil harta perusahaan atau negara yang bukan menjadi haknya.

Amanah dalam pekerjaan adalah syarat bagi pengikut Manhaj Salaf yang mengharapkan keselamatan Akhiroh.

Sekecil apa pun barang yang diambil tanpa izin pimpinan (seperti alat tulis atau fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi) termasuk bentuk khianat.

Mencari rizqi dengan cara yang bersih akan mendatangkan keberkahan bagi keluarga dan keturunan.

Kejujuran profesional adalah dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan) yang sangat berkesan.

Bab 29 Keharusan Bersikap Jujur dalam Setiap Akad

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُولُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)

Dari Hakim bin Hizam rodhiyallahu ‘anhu (54 H) bahwa Rosululloh bersabda:

«البَيِّعَانِ بِالخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»

“Dua orang yang melakukan jual beli memiliki hak khiyar (memilih) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (aib barangnya), maka diberkahi jual beli mereka. Namun jika keduanya menyembunyikan (aib) dan berdusta, maka dihapus keberkahan jual beli mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2079 dan Muslim no. 1532)

Kandungan Hadits:

Kejujuran adalah pilar utama dalam perniagaan dan setiap akad kerja dalam Islam.

Larangan keras menipu konsumen atau rekan bisnis dengan menyembunyikan kekurangan produk atau jasa.

Keberkahan harta tidak dilihat dari nominalnya, melainkan dari cara mendapatkannya yang jujur.

Dustanya seorang pebisnis atau pekerja akan menghancurkan reputasi di dunia dan mendatangkan dosa di Akhiroh.

Manhaj Shohabat mengedepankan prinsip “nashihat” (menginginkan kebaikan bagi orang lain) dalam setiap transaksi.

Bab 30 Mencari Rizqi yang Halal

﴿يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Wahai Rosul-Rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik (halal), dan kerjakanlah amal sholih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun: 51)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) bahwa Rosululloh bersabda:

«أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا»

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Alloh itu Thoyyib (Maha Baik) dan tidak menerima kecuali yang thoyyib (baik/halal).” (HR. Muslim no. 1015)

Kandungan Hadits:

Syarat diterimanya doa dan amal sholih adalah dengan mengonsumsi harta yang halal.

Seorang pengikut Manhaj Shohabat sangat berhati-hati (waro’) terhadap syubhat dalam pendapatan mereka.

Harta harom akan menjadi penghalang antara hamba dengan Robbnya serta merusak akhlaq.

Bekerja keras mencari nafkah yang halal adalah bagian dari ibadah yang agung jika didasari niat bertaqwa.

Kesucian jiwa dimulai dari kesucian makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Bab 31 Larangan Tasyabbuh

﴿ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

Dari Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma (73 H) berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HSR. Abu Dawud no. 4031)

Kandungan Hadits:

Kewajiban bagi Muslim untuk memiliki identitas yang teguh dan berbeda dari kaum Yahudi, Nashroni, maupun kaum kafir lainnya dalam hal peribadatan dan syiar agama.

Larangan mengikuti tren, budaya, atau ritual kaum kuffar yang bertentangan dengan Manhaj Shohabat.

Di lingkungan kerja, seorang Muslim tidak boleh ikut serta dalam perayaan atau simbol-simbol keagamaan non-Muslim.

Tasyabbuh dalam hal-hal lahiriyah dapat menarik hati untuk mengikuti kesesatan batiniyah mereka.

Kemuliaan seorang pekerja Muslim terletak pada kepatuhannya terhadap Sunnah, bukan pada seberapa mirip ia dengan gaya hidup orang kafir.

Bab 32 Istiqomah di Saat Umat Telah Rusak

﴿فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.” (QS. Hud: 116)

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H) berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia muncul. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing (Al-Ghuroba).” (HR. Muslim no. 145)

Kandungan Hadits:

Kabar gembira bagi mereka yang tetap konsisten di atas Manhaj Shohabat saat manusia di sekelilingnya mulai menyimpang.

Definisi Al-Ghuroba adalah mereka yang memperbaiki apa yang telah dirusak manusia dari Sunnah Nabi .

Rasa asing di tempat kerja karena tidak ikut dalam praktik riba, sogok, atau bid’ah adalah tanda keimanan yang kokoh.

Kesabaran menghadapi cemoohan rekan kerja karena menjalankan Sunnah akan berbuah Jannah.

Istiqomah di masa fitnah memiliki pahala yang sangat besar di sisi Alloh .

Bab 33 Adil walau Terhadap Musuh

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Dari An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhuma (64 H) berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ»

“Bertaqwalah kepada Alloh dan berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Al-Bukhori no. 2587 dan Muslim no. 1623)

Kandungan Hadits:

Berlaku adil adalah perintah Robbani yang harus diterapkan dalam segala aspek kehidupan, termasuk dunia profesi.

Kebencian pribadi kepada rekan kerja atau bawahan tidak boleh menghilangkan hak-hak objektif mereka.

Seorang pimpinan perusahaan harus adil dalam memberikan upah, tugas, dan apresiasi tanpa pilih kasih.

Keadilan adalah jalan terdekat menuju derajat taqwa yang hakiki.

Manhaj Shohabat sangat menjunjung tinggi hukum dan menolak segala bentuk kezholiman.

Bab 34 Mencintai Shohabat

﴿وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan siapa yang mentaati Alloh dan Rosul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Alloh, yaitu: Nabi-Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H) bahwa seseorang bertanya kepada Nabi tentang Qiyamah, beliau menjawab:

«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»

“Kamu akan bersama dengan siapa yang kamu cintai.” (HR. Al-Bukhori no. 3688 dan Muslim no. 2639)

Kandungan Hadits:

Cinta yang tulus kepada para Shohabat adalah modal besar untuk berkumpul bersama mereka di Jannah.

Syafaat Nabi diharapkan oleh setiap Mu’min yang berpegang teguh pada tuntunannya.

Membangun kerinduan kepada Salafush Sholih lebih utama daripada mengidolakan tokoh-tokoh dunia yang tidak mengenal Sunnah.

Di sela waktu bekerja, perbanyaklah mengingat kisah dan keteladanan Shohabat agar hati tetap terpaut pada Akhiroh.

Harapan berkumpul di Jannah harus dibuktikan dengan mengikuti jejak langkah mereka di dunia.

Bab 35 Waspada Harta yang Melalaikan

﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiyallahu ‘anhu (58 H), Rosululloh bersabda:

«إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»

“Apabila kamu melihat Alloh memberikan kepada seorang hamba kemewahan dunia atas kemaksiatan-kemaksiatannya sesuai dengan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya itu adalah istidroj (penundaan adzab).” (HHR. Ahmad no. 17311)

Kandungan Hadits:

Bahayanya merasa aman dengan kesuksesan karir dan limpahan harta sementara ketaatan kepada Sunnah ditinggalkan.

Istidroj adalah ujian yang samar, di mana seseorang diberi ni’mat duniawi sehingga ia semakin jauh dari jalan Salaf.

Keberhasilan ekonomi bukan barometer keridhoan Alloh jika tidak dibarengi dengan aqidah yang lurus.

Seorang pekerja harus mawas diri jika urusan dunianya semakin lancar namun hatinya semakin malas menuntut ilmu syar’i.

Manhaj Shohabat mengajarkan rasa takut (khouf) terhadap jebakan dunia yang melalaikan dari Akhiroh.

Bab 36 Istiqomah di Atas Sunnah

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu’.” (QS. Fushshilat: 30)

Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqofi rodhiyallahu ‘anhu (Abad 1 H) berkata: “Wahai Rosululloh, katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak akan bertanya lagi kepada selainmu.” Beliau bersabda:

«قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ»

“Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Alloh’, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim no. 38)

Kandungan Hadits:

Puncak dari mengikuti Manhaj Shohabat adalah keistiqomahan di atas Tauhid dan Sunnah hingga janazah diantar ke liang lahat.

Istiqomah membutuhkan perjuangan besar dalam menjaga lisan, hati, dan perbuatan di tengah hiruk pikuk dunia kerja.

Jaminan kabar gembira dari Malaikat saat kematian menjemput bagi mereka yang teguh di atas jalan yang lurus.

Karomah yang paling utama bagi seorang Muslim profesional adalah konsistensi menjalankan perintah Alloh tanpa berubah arah.

Harapan meraih husnul khotimah hanya bisa digapai dengan mengikuti petunjuk Nabi secara kaffah (totalitas).

Bab 37 Larangan Fanatik Golongan

﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 32)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Nabi bersabda:

«مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»

“Siapa yang keluar dari ketaatan (kepada pimpinan) dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah lalu ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1848)

Bab 38 Membela Sunnah dari Penyimpangan

﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 104)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu (74 H) berkata: “Aku mendengar Rosululloh bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

“Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)

Bab 39 Berpegang pada Dalil Bukan Dugaan

﴿وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ»

“Jauhilah oleh kalian persangkaan, karena sesungguhnya persangkaan itu adalah seburuk-buruk kedustaan.” (HR. Al-Bukhori no. 6066 dan Muslim no. 2563)

Kandungan Hadits:

Manhaj Shohabat dibangun di atas kebenaran dalil yang pasti, bukan perasaan atau sangkaan belaka.

Larangan menetapkan hukum syariat berlandaskan asumsi yang tidak berdasar.

Kewajiban melakukan tabayyun (klarifikasi) sebelum mengambil keputusan dalam urusan agama maupun perniagaan.

Kebenaran yang bersumber dari wahyu tidak akan pernah bisa ditandingi oleh akal-akalan manusia.

Bab 40 Doa Keteguhan Hati di Atas Manhaj

﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)

Dari Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha (62 H), ia berkata bahwa doa yang paling sering dibaca Nabi adalah:

«يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3522)

Tamat.

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini