[PDF] Kitab Ar-Ruh - Ibnu Qoyyim (751 H) - Jilid 1 Edisi 1
Muqoddimah
﷽
Ini adalah
tarjamah jilid 1 untuk Kitab Ar-Ruh karya Ibnu Qoyyim. Karena cukup
tebal kitab aslinya, maka kami mentarjamahkannya bertahap dalam beberapa jilid.
Semoga Alloh memudahkan.
Judul
subbab berasal dari kami. Naskah yang dijadikan bahan tarjamah adalah
cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyyah Beirut yang bisa diunduh di sini.
Bab 1: Apakah orang-orang yang
sudah meninggal mengetahui ziaroh dan salam dari orang-orang yang masih hidup
atau tidak?
Mayit
Mengetahui Orang yang Menziarohinya
Ibnu Abdil
Barr (463 H) menyatakan bahwa telah tetap (yakni shohih) riwayat dari
Nabi ﷺ
bahwa beliau bersabda:
«مَا
مِنْ مُسْلِمٍ يَمُرُّ عَلَى قَبْرِ أَخِيهِ كَانَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ
عَلَيْهِ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْهِ رُوحَهُ حَتَّى يَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ»
“Tidaklah
seorang Muslim melewati makam saudaranya yang ia kenal sewaktu di dunia, lalu
ia mengucapkan salam kepadanya, melainkan Alloh akan mengembalikan ruh kepada mayit
tersebut hingga ia membalas salamnya.” (HR. Ibnu Abdil Barr dalam
Al-Istidzkar 1/185)
Hadits ini
merupakan nash (dalil tegas) bahwa mayit mengenal orang yang menziarohinya
secara spesifik dan ia membalas salam orang tersebut.
Dalam kitab
Ash-Shohihain (Al-Bukhori dan Muslim), terdapat riwayat dari
berbagai jalur bahwa Rosululloh ﷺ memerintahkan agar janazah para korban yang tewas dalam Perang
Badr dilemparkan ke dalam sebuah sumur tua yang kering. Kemudian beliau ﷺ mendatangi mereka, berdiri di
hadapan mereka, lalu memanggil nama-nama mereka: “Wahai Fulan bin Fulan, wahai
Fulan bin Fulan! Apakah kalian telah mendapati apa yang Robb kalian janjikan
kepada kalian adalah benar adanya? Karena sesungguhnya aku telah mendapati apa
yang Robb-ku janjikan kepadaku adalah benar.” Maka Umar (23 H) bertanya kepada
beliau: “Wahai Rosululloh, mengapa engkau berbicara kepada jasad-jasad yang
telah menjadi bangkai?” Beliau ﷺ menjawab:
«وَالَّذِي
بَعَثَنِي بِالْحَقِّ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ وَلَكِنَّهُمْ
لَا يَسْتَطِيعُونَ جَوَابًا»
“Demi Dzat
yang mengutusku dengan kebenaran, kalian tidaklah lebih mendengar terhadap apa
yang aku ucapkan dibandingkan mereka, hanya saja mereka tidak mampu memberikan
jawaban.” (HR. Al-Bukhori no. 3976 dan Muslim no. 2875)
Telah tetap
(shohih) pula riwayat dari Nabi ﷺ bahwa mayit benar-benar mendengar suara ketukan sandal
orang-orang yang mengantarkannya saat mereka beranjak pergi meninggalkannya. (HR.
Al-Bukhori no. 1338 dan Muslim no. 2870)
Nabi ﷺ juga telah mensyariatkan bagi
umatnya, apabila mereka mengucapkan salam kepada penghuni kubur, hendaknya
mereka menyapa sebagaimana menyapa orang yang diajak bicara. Mereka
mengucapkan:
«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ...»
“Semoga
keselamatan tercurah atas kalian, wahai penghuni negeri kaum Mu’min.” (HR. Muslim)
Sapaan ini
ditujukan kepada pihak yang mendengar dan berakal. Seandainya tidak demikian,
tentu sapaan ini hanyalah seperti berbicara kepada benda mati atau sesuatu yang
tidak ada.
Para
Salaf (generasi terdahulu yang sholih) telah bersepakat mengenai hal ini. Atsar
(riwayat) dari mereka telah mencapai derajat mutawatir (sangat banyak) yang
menyatakan bahwa mayit mengetahui ziaroh orang yang hidup kepadanya dan
ia merasa gembira dengan kedatangan tersebut.
Abu Bakr
Abdulloh bin Muhammad bin Ubaid bin Abi Ad-Dunya (281 H) menyebutkan dalam Kitab
al-Qubur, pada bab Pengetahuan Orang Mati terhadap Ziaroh Orang yang
Hidup:
Muhammad
bin Aun menceritakan kepada kami, Yahya bin Yaman menceritakan kepada kami,
dari Abdulloh bin Sam’an, dari Zaid bin Aslam, dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu
‘anha, ia berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
مِنْ رَجُلٍ يَزُورُ قَبْرَ أَخِيهِ وَيَجْلِسُ عِنْدَهُ إِلَّا اسْتَأْنَسَ بِهِ وَرَدَّ
عَلَيْهِ حَتَّى يَقُومَ»
“Tidaklah
seseorang menziarohi makam saudaranya lalu ia duduk di sisinya, melainkan mayit
tersebut merasa tenang dengan keberadaannya dan membalas salamnya hingga orang
itu bangkit berdiri.”
Muhammad
bin Qudamah al-Jauhari menceritakan kepada kami, Ma’n bin Isa al-Qozzas
menceritakan kepada kami, Hisyam bin Sa’d mengabarkan kepada kami, Zaid bin
Aslam menceritakan kepada kami, dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: “Apabila seseorang melewati makam saudaranya yang ia kenal lalu
mengucapkan salam, maka mayit itu akan membalas salamnya dan mengenalinya.
Namun jika ia melewati makam yang tidak ia kenal lalu bersalam, maka mayit itu
akan membalas salamnya saja.”
Muhammad
bin al-Husain menceritakan kepada kami, Yahya bin Bistham al-Asghor
menceritakan kepadaku, Misma’ menceritakan kepadaku, seorang lelaki dari
keluarga Ashim al-Jahdari menceritakan kepadaku, ia berkata: “Aku melihat Ashim
al-Jahdari dalam mimpiku setelah 2 tahun kematiannya. Aku bertanya: ‘Bukankah
engkau telah wafat?’ Ia menjawab: ‘Benar.’ Aku bertanya: ‘Lalu di manakah
engkau sekarang?’ Ia menjawab: ‘Demi Alloh, aku berada di salah satu taman dari
taman-taman Jannah. Aku bersama sekelompok sahabatku berkumpul setiap malam Jum’at
dan pagi harinya menemui Bakr bin Abdulloh al-Muzani (108 H), lalu kami
menerima kabar-kabar tentang kalian.’ Aku bertanya: ‘Apakah yang berkumpul itu
jasad kalian atau ruh kalian?’ Ia menjawab: ‘Mustahil jasad, karena jasad-jasad
telah hancur, namun yang saling bertemu adalah ruh-ruh.’ Aku bertanya: ‘Apakah
kalian mengetahui ziaroh kami kepada kalian?’ Ia menjawab: ‘Ya, kami
mengetahuinya pada sore hari Jum’at seluruhnya dan pada hari Sabtu hingga
matahari terbit.’ Aku bertanya: ‘Mengapa hal itu terjadi pada hari-hari
tersebut, tidak pada semua hari?’ Ia menjawab: ‘Karena keutamaan dan keagungan
hari Jum’at.’”
Muhammad
bin al-Husain menceritakan kepada kami, Bakr bin Muhammad menceritakan
kepadaku, Hasan al-Qoshshob menceritakan kepada kami, ia berkata: “Aku dahulu
berangkat bersama Muhammad bin Wasi’ (123 H) setiap Sabtu pagi menuju
pemakaman, lalu kami berdiri di depan kuburan, mengucapkan salam kepada mereka,
dan mendoakan mereka, kemudian kami pulang. Suatu hari aku bertanya: ‘Bagaimana
jika engkau memindahkan kegiatan ini ke hari Senin?’ Beliau menjawab: ‘Telah
sampai kabar kepadaku bahwa orang-orang mati mengetahui para penziaroh mereka
pada hari Jum’at, sehari sebelumnya, dan sehari sesudahnya.’”
Muhammad
menceritakan kepadaku, Abdul Aziz bin Aban menceritakan kepada kami, Sufyan
ath-Thouri (161 H) menceritakan kepada kami, ia berkata: “Telah sampai kabar
kepadaku dari Adh-Dhohhak (105 H) bahwa ia berkata: ‘Barang siapa menziarohi
kuburan pada hari Sabtu sebelum matahari terbit, maka mayit akan mengetahui ziarohnya.’
Lalu ditanyakan kepadanya: ‘Bagaimana bisa demikian?’ Ia menjawab: ‘Karena kedudukan
hari Jum’at.’”
Kholid bin
Khidasy menceritakan kepada kami, Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami,
dari Abu At-Tayyah, ia berkata: “Dahulu Muthorrif (95 H) selalu berangkat
pagi-pagi, dan apabila hari Jum’at tiba, ia berangkat di akhir malam.” Abu
At-Tayyah berkata: “Telah sampai kabar kepada kami bahwa cambuknya mengeluarkan
cahaya bagi dirinya. Suatu malam ia datang hingga sampai di area pemakaman
kaumnya sambil menunggang kuda. Ia melihat para penghuni kubur, masing-masing
pemilik kubur sedang duduk di atas makamnya. Mereka berkata: ‘Ini adalah Muthorrif
yang datang untuk hari Jum’at.’ Aku (Abu At-Tayyah) bertanya: ‘Apakah kalian
mengetahui adanya hari Jum’at di tempat kalian?’ Mereka menjawab: ‘Ya, dan kami
mengetahui apa yang diucapkan oleh burung-burung pada hari itu.’ Aku bertanya: ‘Apa
yang mereka katakan?’ Mereka menjawab: ‘Burung-burung itu mengucapkan: Salam,
salam.’”
Muhammad
bin al-Husain menceritakan kepadaku, Yahya bin Abi Bukair menceritakan
kepadaku, Al-Fadhl bin Muwaffaq (sepupu Sufyan bin Uyainah) menceritakan
kepadaku, ia berkata: “Ketika ayahku meninggal, aku sangat berduka cita atas
kepergiannya. Aku selalu mendatangi makamnya setiap hari. Namun kemudian aku
menguranginya sesuai kehendak Alloh. Suatu hari aku mendatanginya, dan saat aku
sedang duduk di sisi makam, mataku terasa berat hingga aku tertidur. Aku
bermimpi seolah-olah makam ayahku terbelah dan ia tampak sedang duduk di dalam
kuburnya dengan mengenakan kain kafan, terlihat guratan wajah orang mati.
Sepertinya aku menangis saat melihatnya. Ia berkata: ‘Wahai anakku, apa yang
membuatmu terlambat mendatangiku?’ Aku bertanya: ‘Apakah engkau mengetahui
kedatanganku?’ Ia menjawab: ‘Setiap kali engkau datang, aku mengetahuinya.
Dahulu saat engkau sering datang, aku merasa tenang dan gembira dengannya, dan
orang-orang di sekitarku pun turut gembira dengan doamu.’ Setelah itu, aku pun
sangat sering menziarohinya.”
Muhammad
menceritakan kepadaku, Yahya bin Bisthom menceritakan kepadaku, Utsman bin Saudah
ath-Thofawi menceritakan kepadaku, ia berkata bahwa ibunya adalah seorang
wanita yang tekun beribadah (ahli ibadah), yang biasa dijuluki “Rahibah”
(wanita yang sangat takut pada Alloh atau ahli ibadah). Ia menceritakan: “Saat
maut menjemputnya, ia mengangkat kepalanya ke langit dan berdoa: ‘Wahai Robb
yang menjadi simpanan dan bekalku, serta Dzat yang kepadanya aku bersandar
dalam hidupku dan setelah matiku, janganlah Engkau hinakan aku saat kematian
dan janganlah Engkau biarkan aku merasa kesepian di dalam kuburku.’ Kemudian ia
wafat. Aku selalu mendatanginya setiap hari Jum’at, mendoakannya, memohon
ampunan untuknya dan untuk seluruh penghuni kubur. Suatu hari aku melihatnya
dalam mimpi, lalu aku bertanya: ‘Wahai ibu, bagaimana keadaanmu?’ Ia menjawab: ‘Wahai
anakku, sesungguhnya kematian itu memiliki kesengsaraan yang sangat dahsyat.
Namun, alhamdulillah aku berada di alam Barzakh yang terpuji; kami
menghamparkan bunga-bunga kemuning, serta berbantalkan kain sutra tebal dan
tipis hingga hari kebangkitan.’ Aku bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau memiliki
keperluan?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Aku bertanya: ‘Apa itu?’ Ia menjawab: ‘Janganlah
engkau meninggalkan apa yang biasa engkau lakukan, yaitu menziarohi kami dan
mendoakan kami. Sesungguhnya aku diberi kabar gembira atas kedatanganmu pada
hari Jum’at. Saat engkau berangkat dari keluargamu, dikatakan kepadaku: ‘Wahai
Rohibah, ini anakmu telah datang.’ Maka aku merasa senang, dan para mayit di
sekitarku pun turut merasa senang dengan hal itu.’”
Muhammad bin
Abdul Aziz bin Sulaiman menceritakan kepadaku, Bisyr bin Manshur menceritakan
kepada kami, ia berkata: “Pada zaman wabah penyakit menular (tho’un),
ada seorang lelaki yang sering bolak-balik ke pemakaman untuk mensholati
janazah. Apabila sore hari tiba, ia berdiri di pintu pemakaman lalu berdoa: ‘Semoga
Alloh menenangkan kesepian kalian, merohmati keterasingan kalian, mengampuni
kesalahan kalian, dan menerima kebaikan-kebaikan kalian.’ Ia tidak menambah
lebih dari kata-kata itu. Suatu malam aku pulang ke keluargaku dan tidak
mendatangi pemakaman untuk mendoakan seperti biasanya. Saat aku tidur,
tiba-tiba ada banyak makhluk yang mendatangi mimpiku. Aku bertanya: ‘Siapa
kalian dan apa keperluan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah penghuni
pemakaman.’ Aku bertanya: ‘Apa keperluan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya
engkau telah membiasakan kami mendapat hadiah darimu saat engkau hendak pulang
ke keluargamu.’ Aku bertanya: ‘Apa hadiah itu?’ Mereka menjawab: ‘Doa-doa yang
biasa engkau panjatkan.’ Maka aku berkata: ‘Sesungguhnya aku akan kembali
melakukannya.’ Setelah itu, aku tidak pernah meninggalkannya lagi.”
Muhammad
menceritakan kepadaku, Ahmad bin Sahl menceritakan kepadaku, Rusyd bin Sa’d
menceritakan kepadaku, dari seorang lelaki, dari Yazid bin Abi Habib, bahwa
Sulaim bin Umair melewati sebuah pemakaman dalam keadaan sangat ingin buang air
kecil. Salah seorang sahabatnya berkata: “Bagaimana jika engkau turun ke
pemakaman ini dan kencing di salah satu lubangnya?” Maka Sulaim menangis dan
berkata: “Subhanalloh! Demi Alloh, sesungguhnya aku merasa malu kepada
orang-orang yang sudah mati sebagaimana aku merasa malu kepada orang-orang yang
masih hidup. Seandainya mayit tidak merasakan hal itu, tentu aku tidak akan
merasa malu kepadanya.”
Mayit
Tahu Amal Perbuatan Kerabatnya yang Masih Hidup
Lebih jauh
lagi, sesungguhnya mayit mengetahui amal perbuatan kerabat dan
saudara-saudaranya yang masih hidup. Abdulloh bin al-Mubarok (181 H) berkata
bahwa Thour bin Yazid menceritakan kepadaku, dari Ibrohim, dari Abu Ayyub (52
H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Amal-amal orang yang hidup
diperlihatkan kepada orang-orang yang sudah mati. Jika mereka melihat kebaikan,
mereka bergembira dan bersuka cita. Namun jika mereka melihat keburukan, mereka
berdoa: ‘Ya Alloh, kembalikanlah ia kepada kebenaran.”
Ibnu Abi
Ad-Dunya menyebutkan dari Ahmad bin Abi al-Hawari, ia berkata: Muhammad
saudaraku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abbad bin Abbad (181 H) menemui Ibrohim
bin Salih (176 H) saat ia berada di Palestina, lalu Abbad berkata: ‘Berilah aku
nasihat!’ Ibrohim menjawab: ‘Dengan apa aku harus menasihatimu? Semoga Alloh
memperbaiki keadaanmu. Telah sampai kabar kepadaku bahwa amal-amal orang yang
hidup diperlihatkan kepada kerabat mereka yang sudah mati. Maka perhatikanlah,
apa yang akan diperlihatkan kepada Rosululloh ﷺ dari amalmu!’ Maka Ibrohim menangis hingga air matanya
membasahi jenggotnya.”
Ibnu Abi
Ad-Dunya berkata, Muhammad bin al-Husain menceritakan kepadaku, Kholid bin Amru
al-Umawi menceritakan kepadaku, Sodaqoh bin Sulaiman al-Ja’fari menceritakan
kepada kami, ia berkata: “Dahulu aku memiliki perangai yang buruk. Ketika
ayahku wafat, aku bertaubat dan menyesali kelalaianku. Namun kemudian aku
melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Aku melihat ayahku dalam mimpi, lalu ia
berkata: ‘Wahai anakku, betapa besarnya kegembiraanku melihatmu dahulu;
amal-amalmu diperlihatkan kepada kami dan kami menyamakannya dengan amal
orang-orang Sholih. Namun ketika engkau melakukan kesalahan ini, aku merasa
sangat malu karenanya. Maka janganlah engkau mempermalukan aku di hadapan
orang-orang mati di sekitarku.’ Sodaqoh berkata: ‘Setelah kejadian itu, aku
mendengarnya berdoa di waktu sahur—ia adalah tetanggaku di Kufah—ia mengucapkan:
Aku memohon kepada-Mu inabah (kembali taat) yang tidak ada lagi kembalinya pada
dosa, dan tidak ada lagi penyimpangan, wahai Robb yang memperbaiki orang-orang
sholih, wahai Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang tersesat, wahai Dzat yang
paling penyayang di antara para penyayang.’”
Ini adalah
bab yang penuh dengan atsar yang sangat banyak dari para Shohabat (rodhiyallahu
‘anhum). Dahulu sebagian kaum Anshor dari kerabat Abdulloh bin Rowahah (8
H) biasa berdoa: “Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan yang akan
mempermalukan aku di hadapan Abdulloh bin Rowahah.” Ia mengucapkan hal itu
setelah syahidnya Abdulloh.
Cukuplah
bagi kita penyebutan orang Muslim sebagai “zair (penziaroh)”
(pengunjung) terhadap mereka. Seandainya mereka tidak merasakan keberadaannya,
tentu tidak sah penyebutan dirinya sebagai penziaroh. Sebab, pihak yang
dikunjungi jika tidak mengetahui kunjungan orang yang mendatanginya, tidaklah
sah dikatakan bahwa orang tersebut telah menziarohinya. Inilah makna yang logis
dari kata “ziaroh” menurut seluruh bangsa.
Demikian
pula halnya dengan ucapan salam kepada mereka. Sebab, mengucapkan salam kepada
pihak yang tidak merasakan dan tidak mengetahui keberadaan orang yang bersalam
adalah hal yang mustahil secara akal. Nabi ﷺ telah mengajarkan umatnya apabila menziarohi kubur untuk
mengucapkan:
«سَلَامٌ
عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ
شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ يَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَمِنْكُمْ
وَالْمُسْتَأْخِرِينَ نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ»
“Semoga
keselamatan tercurah atas kalian wahai penghuni negeri ini dari kalangan kaum
Mu’min dan Muslim. Sesungguhnya kami, In Syaa Alloh, akan menyusul
kalian. Semoga Alloh merohmati orang-orang yang telah mendahului di antara kami
dan kalian, serta orang-orang yang datang belakangan. Kami memohon kepada Alloh
keselamatan bagi kami dan bagi kalian.” (HR. Muslim no. 975)
Salam,
sapaan, dan panggilan ini ditujukan kepada sesuatu yang ada, mendengar, diajak
bicara, berakal, serta membalas sapaan, meskipun orang yang bersalam tidak
mendengar jawaban tersebut. Apabila seseorang mengerjakan Sholat di dekat
mereka, mereka menyaksikannya, mengetahui Sholatnya, dan mereka merasa iri (dalam
kebaikan) atas hal tersebut.
Yazid bin
Harun (206 H) menceritakan kepada kami, Sulaiman at-Taimi mengabarkan kepada
kami, dari Abu Utsman an-Nahdi (95 H), bahwa Ibnu Sas keluar mengantar janazah
pada suatu hari dengan mengenakan pakaian yang ringan. Ia sampai di sebuah
kuburan lalu berkata: “Aku mengerjakan Sholat 2 rokaat kemudian aku bersandar
di atas makam tersebut. Demi Alloh, hatiku dalam keadaan terjaga saat aku
mendengar suara dari dalam kubur: ‘Menjauhlah dariku! Janganlah engkau
menggangguku! Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bisa beramal namun tidak
mengetahui (hakikat Akhirat), sedangkan kami adalah kaum yang mengetahui namun
tidak bisa beramal. Sungguh, memiliki pahala seperti 2 rokaat yang engkau
kerjakan itu lebih aku cintai daripada ini dan itu.” Mayit ini mengetahui
sandaran lelaki itu di atas kuburnya dan mengetahui Sholatnya.
Ibnu Abi
Ad-Dunya berkata, Husain bin Ali al-Ijli menceritakan kepadaku, Muhammad bin
ash-Sholt menceritakan kepada kami, Ismail bin Ayyasy menceritakan kepada kami,
dari Tsabit bin Salim, Abu Qilabah (104 H) menceritakan kepada kami, ia
berkata: “Aku berangkat dari Syam menuju Bashroh. Aku singgah di sebuah tempat,
lalu aku bersuci dan mengerjakan Sholat 2 rokaat di malam hari. Kemudian aku
meletakkan kepalaku di atas sebuah kuburan lalu tertidur. Aku pun terbangun,
tiba-tiba pemilik kubur itu mengeluh kepadaku dengan berkata: ‘Engkau telah
menggangguku sejak malam tadi!’ Kemudian ia berkata: ‘Sesungguhnya kalian bisa
beramal namun tidak mengetahui, sedangkan kami mengetahui namun tidak mampu
lagi beramal. Sungguh, 2 rokaat yang engkau kerjakan itu lebih baik daripada
dunia dan seisinya.’ Kemudian ia berkata: ‘Semoga Alloh membalas penduduk dunia
dengan kebaikan, sampaikanlah salam kami kepada mereka, karena sesungguhnya
doa-doa mereka masuk kepada kami seperti cahaya yang besarnya seperti
gunung-gunung.’”
Husain
al-Ijli menceritakan kepadaku, Abdulloh bin Numair menceritakan kepada kami,
Malik bin Mighwal menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Zaid bin Wahb
(96 H), ia berkata: “Aku keluar menuju pemakaman lalu aku duduk di sana.
Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi sebuah makam lalu meratakannya. Kemudian ia
berbalik ke arahku dan duduk. Aku bertanya: ‘Milik siapa makam ini?’ Ia
menjawab: ‘Milik saudaraku.’ Aku bertanya: ‘Saudaramu sesungguhnya?’ Ia
menjawab: ‘Saudaraku karena Alloh. Aku melihatnya dalam mimpi, lalu aku
berkata: Wahai Fulan, engkau telah hidup (merasakan pahala), alhamdulillah
Robb-ul ‘Alamin. Ia menjawab: Sungguh, aku mengucapkan kata-kata itu
(Alhamdulillah). Sekiranya aku mampu mengucapkannya kembali, itu lebih aku
cintai daripada dunia dan seisinya. Kemudian ia bertanya: Tidakkah engkau
melihat saat mereka menguburkanku? Sesungguhnya si Fulan bangkit lalu
mengerjakan Sholat 2 rokaat. Sungguh, sekiranya aku mampu mengerjakan 2 rokaat
itu, itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.’”
Abu Bakr
at-Taimi menceritakan kepadaku, Abdulloh bin Sholih menceritakan kepada kami,
Al-Laits bin Sa’d (175 H) menceritakan kepadaku, Humaid ath-Thowil menceritakan
kepadaku, dari Muthorrif bin Abdulloh al-Harsyi (95 H), ia berkata: “Kami pergi
keluar di musim semi pada masanya, lalu kami berkata: ‘Mari kita masuk ke kota
pada hari Jum’at untuk menghadirinya. Jalan kami melewati pemakaman. Kami pun
masuk dan aku melihat sebuah janazah di pemakaman itu.’ Aku berkata: ‘Seandainya
aku mengambil kesempatan untuk menghadiri janazah ini, tentu baik.’ Aku pun
menepi di sebuah sudut dekat makam, lalu aku mengerjakan Sholat 2 rokaat dengan
ringkas namun tidak menyempurnakannya dengan baik. Aku merasa mengantuk lalu
aku bermimpi melihat pemilik kubur berbicara kepadaku: ‘Engkau mengerjakan 2
rokaat namun tidak menyempurnakannya dengan baik?’ Aku menjawab: ‘Benar demikian.’
Ia berkata: ‘Kalian beramal namun tidak mengetahui, sedangkan kami tidak bisa
lagi beramal. Sungguh, sekiranya aku bisa mengerjakan Sholat seperti 2 rokaatmu
itu, lebih aku cintai daripada dunia dengan segala isinya.’ Aku bertanya: ‘Siapa
saja yang ada di sini?’ Ia menjawab: ‘Semuanya adalah Muslim dan semuanya telah
mendapatkan kebaikan.’ Aku bertanya: ‘Siapa yang paling utama di sini?’ Ia
menunjuk ke sebuah makam. Aku berkata dalam hatiku: ‘Ya Alloh, keluarkanlah ia
kepadaku agar aku bisa berbicara dengannya.’ Maka keluarlah dari makamnya
seorang pemuda. Aku bertanya: ‘Apakah engkau yang paling utama di sini?’ Ia
menjawab: Mereka (penghuni kubur lain) mengatakan demikian. Aku bertanya: ‘Dengan
apa engkau meraih kedudukan itu? Demi Alloh, aku tidak melihat usiamu begitu
tua hingga aku bisa berkata engkau meraihnya dengan panjangnya Haji, Umroh,
Jihad di jalan Alloh, atau amal lainnya.’ Ia menjawab: ‘Aku telah diuji dengan
berbagai musibah, lalu aku dianugerahi kesabaran atasnya. Dengan itulah aku
mengungguli mereka.”
Mimpi-mimpi
ini, meskipun tidak bisa berdiri sendiri secara mutlak untuk menetapkan hal
tersebut, namun karena jumlahnya yang sangat banyak yang tidak terhitung
kecuali oleh Alloh, maka semuanya bersepakat pada makna ini. Nabi ﷺ telah bersabda:
«أَرَى
رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ عَلَى أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ»
“Aku
melihat mimpi-mimpi kalian telah bersepakat bahwa ia (Lailatul Qodar) berada
pada 10 malam terakhir.” (HR. Al-Bukhori no. 2015)
Yaitu
tentang Lailatul Qodar. Apabila mimpi-mimpi kaum Mu’min telah bersepakat atas
sesuatu, maka itu kedudukannya seperti kesepakatan riwayat mereka terhadap hal
tersebut, dan seperti kesepakatan pendapat mereka dalam menganggap baik atau
buruknya sesuatu. Apa yang dianggap baik oleh kaum Muslimin, maka di sisi Alloh
hal itu adalah baik. Apa yang mereka anggap buruk, maka di sisi Alloh hal itu
adalah buruk. Terlebih lagi, kami tidak menetapkan hal ini hanya berdasarkan
mimpi semata, melainkan dengan hujah-hujah yang telah kami sebutkan dan
lainnya.
Mayit
Merasakan Kehadiran dan Merasa Senang atas Ziaroh
Telah tetap
dalam kitab Shohih bahwa mayit merasa tenang dengan kehadiran para
pengantar janazahnya setelah ia dikuburkan. Muslim (261 H) meriwayatkan dalam Shohihnya
dari hadits Abdurrohman bin Syumasah al-Mahri, ia berkata: Kami menghadiri Amru
bin al-Ash (43 H) saat ia sedang dalam sakarotul maut. Ia menangis lama sekali
dan memalingkan wajahnya ke arah tembok. Putranya berkata: “Apa yang membuatmu
menangis wahai ayahku? Bukankah Rosululloh ﷺ telah memberimu kabar gembira dengan ini dan itu?” Amru pun
menghadapkan wajahnya lalu berkata: “Sesungguhnya hal paling utama yang kami
persiapkan adalah kesaksian bahwa tidak ada Robb yang berhak diibadahi dengan
benar selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah utusan Alloh. Sungguh aku telah
melewati 3 fase dalam hidupku. Aku pernah melihat diriku sebagai orang yang
paling benci kepada Rosululloh ﷺ dan tidak ada yang lebih aku sukai selain seandainya aku bisa
menangkap beliau lalu membunuhnya. Seandainya aku mati pada saat itu, tentu aku
termasuk penduduk Naar. Namun ketika Alloh memasukkan Islam ke dalam hatiku,
aku mendatangi Rosululloh ﷺ
dan berkata: ‘Ulurkan tangan kananmu, aku akan membaiatmu.’ Beliau mengulurkan
tangan kanannya, namun aku menarik tanganku. Beliau bertanya: ‘Ada apa denganmu
wahai Amru?’ Aku menjawab: ‘Aku ingin mengajukan syarat.’’ Beliau bertanya:
Syarat apa?’ Aku menjawab: ‘Agar aku diampuni.’ Beliau bersabda: ‘Bukankah
engkau tahu bahwa Islam menghapuskan apa yang sebelumnya, Hijroh menghapuskan
apa yang sebelumnya, dan Haji menghapuskan apa yang sebelumnya?’ Sejak saat
itu, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai melebihi Rosululloh ﷺ, dan tidak ada yang lebih
agung di mataku melebihi beliau. Aku tidak sanggup memandang wajah beliau
secara penuh karena rasa hormatku yang begitu besar. Seandainya aku diminta
untuk mensifati beliau, aku tidak akan sanggup karena aku tidak pernah menatap
beliau secara penuh. Seandainya aku mati dalam keadaan itu, aku berharap termasuk
penduduk Jannah. Kemudian kami diserahi berbagai urusan yang aku tidak tahu
bagaimana keadaanku di dalamnya. Apabila aku mati, janganlah pengantarku
menyertakan wanita yang meratap (niyahah) dan jangan pula api. Apabila
kalian telah menguburkanku, tumpahkanlah tanah ke atasku perlahan-lahan.
Kemudian berdiamlah di sekitar kuburku selama waktu yang dibutuhkan untuk
menyembelih seekor unta dan membagikan dagingnya, agar aku merasa tenang
dengan kehadiran kalian dan aku bisa melihat apa yang harus aku jawab
kepada utusan-utusan Robb-ku (Malaikat Munkar dan Nakir).” (HR. Muslim no.
121)
Ini
menunjukkan bahwa mayit merasa tenang dengan kehadiran orang-orang di kuburnya
dan merasa senang dengan mereka.
Dibacakan
Al-Qur’an di Sisi Kubur
Disebutkan
dari segolongan Salaf bahwa mereka berwasiat agar dibacakan Al-Qur’an di sisi
kubur mereka pada waktu pemakaman. Abdul Haqq (581 H) berkata: “Diriwayatkan
bahwa Abdulloh bin Umar (73 H) memerintahkan agar dibacakan Suroh Al-Baqoroh di
sisi kuburnya.” Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Al-Mu’alla bin
Abdurrohman. Awalnya Imam Ahmad (241 H) mengingkari hal tersebut karena belum
sampai kepadanya atsar mengenai hal itu, namun kemudian beliau menarik kembali
pengingkarannya.
Al-Khollal
(311 H) berkata dalam Al-Jami’, kitab Membaca Al-Qur’an di Kubur:
Abbas bin
Muhammad ad-Duri mengabarkan kepada kami, Yahya bin Ma’in (233 H) menceritakan
kepada kami, Mubasysyir al-Halabi menceritakan kepada kami, Abdurrohman bin
al-Ala’ bin al-Lajlaj menceritakan kepadaku, dari ayahnya, ia berkata: “Ayahku
berpesan, jika aku mati, letakkanlah aku di liang lahat, ucapkanlah ‘Bismillah
wa ‘ala sunnati Rosulillah’, tumpahkanlah tanah perlahan-lahan, dan bacalah
di sisi kepalaku permulaan Suroh Al-Baqoroh, karena sesungguhnya aku mendengar
Abdulloh bin Umar (73 H) mengatakan hal itu.”
Abbas
ad-Duri berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal (241 H): “Apakah engkau
hafal sesuatu tentang membaca Al-Qur’an di atas kubur?” Beliau menjawab: “Tidak.”
Lalu aku bertanya kepada Yahya bin Ma’in (233 H), maka beliau menceritakan
hadits ini kepadaku.
Al-Khollal
berkata, Hasan bin Ahmad al-Warroq mengabarkan kepadaku, Ali bin Musa al-Haddad
menceritakan kepadaku—ia adalah orang yang sangat jujur—ia berkata: Aku sedang
bersama Ahmad bin Hanbal (241 H) dan Muhammad bin Qudamah al-Jauhari dalam
sebuah pengantaran janazah. Setelah mayit dikuburkan, seorang lelaki buta duduk
dan membaca Al-Qur’an di sisi kubur. Maka Ahmad berkata kepadanya: “Wahai
fulan, sesungguhnya membaca Al-Qur’an di sisi kubur adalah bid’ah.” Ketika kami
keluar dari pemakaman, Muhammad bin Qudamah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: “Wahai
Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang Mubasysyir al-Halabi?” Beliau menjawab: “Ia
orang kepercayaan (tsiqoh).” Muhammad bertanya: “Apakah engkau menulis darinya
sesuatu?” Beliau menjawab: “Ya.” Muhammad berkata: Mubasysyir mengabarkan
kepadaku dari Abdurrohman bin al-Ala’ al-Lajlaj dari ayahnya, bahwa ia
berwasiat jika dikuburkan agar dibacakan di sisi kepalanya permulaan Suroh Al-Baqoroh
dan akhirnya, dan ia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar (73 H) berwasiat dengan
hal itu. Maka Ahmad berkata kepada Muhammad bin Qudamah: “Kembalilah, dan
katakan kepada lelaki itu agar membacanya.”
Hasan bin
ash-Shobah az-Za’faroni berkata: Aku bertanya kepada Asy-Syafi’i (204 H)
tentang membaca Al-Qur’an di sisi kubur, beliau menjawab: “Tidak mengapa.”
Al-Khollal
menyebutkan dari Asy-Sya’bi (103 H), ia berkata: “Dahulu kaum Anshor apabila
ada orang mati di antara mereka, mereka bergantian mendatangi kuburnya untuk
membacakan Al-Qur’an di sisinya.”
Ia berkata,
Abu Yahya an-Naqid mengabarkan kepadaku, ia berkata: “Aku mendengar Hasan bin
al-Jarwi berkata: Aku melewati kuburan saudara perempuanku lalu aku membacakan
di sisinya Suroh Tabarok (Al-Mulk) karena keutamaannya. Kemudian seorang lelaki
mendatangiku dan berkata: ‘Sesungguhnya aku melihat saudaramu dalam mimpi, ia
berkata: ‘Semoga Alloh membalas Abu Ali dengan kebaikan, sungguh aku telah
mendapatkan manfaat dari apa yang ia baca.”
Hasan bin
al-Haitsam mengabarkan kepadaku, ia berkata: “Aku mendengar Abu Bakr bin
al-Athrusy berkata: Ada seorang lelaki yang selalu mendatangi makam ibunya
setiap hari Jum’at lalu membaca Suroh Yasin. Suatu hari ia membacanya kemudian
berdoa: ‘Ya Alloh, jika Engkau telah membagikan pahala untuk Suroh ini, maka
jadikanlah pahalanya untuk para penghuni pemakaman ini.’ Pada hari Jum’at
berikutnya, seorang wanita datang dan bertanya: ‘Apakah engkau Fulan bin
Fulanah?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Wanita itu berkata: ‘Sesungguhnya putriku telah
meninggal, aku melihatnya dalam mimpi sedang duduk di pinggir kuburnya. Aku
bertanya: ‘Apa yang membuatmu duduk di sini?’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya Fulan
bin Fulanah datang ke makam ibunya dan membaca Suroh Yasin, ia menjadikan
pahalanya untuk penghuni pemakaman, maka kami pun mendapatkan ketenangan
darinya, atau kami diampuni, atau semacamnya.”
Dalam Sunan
an-Nasa’i dan lainnya terdapat hadits dari Ma’qil bin Yasar al-Muzani rodhiyallahu
‘anhu, dari Nabi ﷺ
bahwa beliau bersabda:
«اقْرَأُوا
{يس} عِنْدَ مَوْتَاكُمْ»
“Bacalah
Suroh Yasin pada orang-orang mati di antara kalian.” (HR. Abu Dawud no. 3121)
Hadits ini
mengandung kemungkinan yang dimaksud adalah membacanya untuk orang yang sedang
sakarotul maut, sebagaimana sabda beliau: “Tuntunlah (talqin) orang-orang yang
hendak mati di antara kalian dengan kalimat La ilaha illallah.” Namun ada pula
kemungkinan maknanya adalah membaca di sisi kubur. Makna pertama lebih nampak
karena beberapa alasan:
Hal itu
sejalan dengan sabda beliau: “Tuntunlah orang-orang yang hendak mati di antara
kalian dengan La ilaha illallah.”
Manfaat
yang didapat orang yang sedang sakarotul maut dari Suroh ini, karena di
dalamnya terkandung Tauhid, penjelasan tentang hari kebangkitan (Ma’ad), dan
kabar gembira berupa Jannah bagi ahli Tauhid, serta rasa iri yang baik bagi
orang yang mati di atasnya sebagaimana firman-Nya: “Aduhai kiranya kaumku
mengetahui bagaimana Robb-ku telah mengampuniku dan menjadikanku termasuk
orang-orang yang dimuliakan.” Maka ruh pun merasa gembira sehingga ia mencintai
perjumpaan dengan Alloh, dan Alloh pun mencintai perjumpaannya. Sebab Suroh ini
adalah jantung Al-Qur’an dan memiliki keistimewaan luar biasa saat dibacakan di
sisi orang yang hendak mati.
Abu
al-Faroj bin al-Jauzi (597 H) menyebutkan: “Kami berada di sisi guru kami Abu
al-Waqt Abdul Awwal (553 H) saat beliau dalam sakarotul maut. Saat-saat terakhir
kami bersamanya, beliau menatap ke langit lalu tersenyum dan mengucapkan: ‘Wahai
kiranya kaumku mengetahui bagaimana Robb-ku telah mengampuniku dan menjadikanku
termasuk orang-orang yang dimuliakan’, kemudian beliau wafat.”
Ini
adalah amalan manusia dan kebiasaan mereka sejak dahulu hingga sekarang, yaitu
membaca Yasin di sisi orang yang sedang sakarotul maut.
Seandainya
para Shohabat (rodhiyallahu ‘anhum) memahami sabda beliau “Bacalah Yasin
pada orang-orang mati kalian” sebagai perintah membaca di atas kubur, tentu
mereka tidak akan meninggalkannya, dan hal itu akan menjadi perkara yang biasa
dan masyhur (populer) di antara mereka.
Manfaat
bagi mayit adalah dengan mendengarkannya serta kehadiran hati dan jiwanya saat
menyimak bacaan itu di akhir masa hidupnya di dunia, itulah tujuannya. Adapun
membacanya di sisi kuburnya, maka mayit tidak mendapatkan pahala atas hal
tersebut, karena pahala itu didapat baik dengan membaca atau menyimak,
sedangkan keduanya adalah amal, dan amal telah terputus dari mayit.
Mayit
Bertanya Tentang Kondisi Orang Hidup
Al-Hafizh
Abu Muhammad Abdul Haqq al-Isybili (581 H) membuat bab tentang hal ini, ia
berkata: “Penyebutan riwayat yang menyatakan bahwa orang mati bertanya
tentang orang yang hidup dan mereka mengetahui ucapan serta perbuatan orang
hidup.” Kemudian ia menyebutkan: Abu Umar bin Abdil Barr (463 H)
menyebutkan dari hadits Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma dari Nabi
ﷺ:
«مَا
مِنْ رَجُلٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ أَخِيهِ الْمُؤْمِنِ كَانَ يَعْرِفُهُ فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ
إِلَّا عَرَفَهُ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ»
“Tidaklah
seseorang melewati makam saudaranya yang Mu’min yang ia kenal sewaktu di dunia,
lalu ia bersalam kepadanya, melainkan mayit itu mengenalnya dan membalas
salamnya.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Huroiroh secara marfu’)
Beliau
bersabda: “Jika ia tidak mengenalnya lalu mengucapkan salam, mayit itu tetap
membalas salamnya.”
Ia berkata,
diriwayatkan dari hadits Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha bahwa ia
berkata, Rosululloh ﷺ
bersabda: “Tidaklah seseorang menziarohi makam saudaranya lalu ia duduk di
sisinya, melainkan mayit itu merasa tenang dengannya hingga ia bangkit.”
Al-Hafizh
Abu Muhammad berhujjah dalam bab ini dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu
Dawud (275 H) dalam Sunannya dari hadits Abu Huroiroh (57 H), ia berkata,
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَا
مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ
عَلَيْهِ السَّلَامَ»
“Tidaklah
seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Alloh mengembalikan ruhku
kepadaku hingga aku membalas salamnya.” (HR. Abu Dawud no. 2041)
Ia berkata,
Sulaiman bin Nu’aim berkata: Aku melihat Nabi ﷺ dalam mimpi lalu aku bertanya: “Wahai Rosululloh, orang-orang
yang datang kepadamu dan mengucapkan salam padamu, apakah engkau paham salam
mereka?” Beliau menjawab: “Ya, dan aku membalas salam mereka.”
Ia berkata,
Nabi ﷺ
juga mengajarkan mereka untuk mengucapkan apabila masuk ke pemakaman: “Assalamu
‘alaikum ahlad diyar...” Ini menunjukkan bahwa mayit mengetahui salam orang
yang bersalam padanya dan doa orang yang mendoakannya.
Abu
Muhammad berkata, disebutkan dari Al-Fadhl bin al-Muwaffaq: “Aku dahulu sering
mendatangi makam ayahku berulang kali. Suatu hari aku menghadiri janazah di
pemakaman tempat ia dikuburkan, namun aku terburu-buru karena ada keperluan
sehingga aku tidak mendatanginya. Saat malam tiba, aku melihatnya dalam mimpi,
ia berkata: ‘Wahai anakku, mengapa engkau tidak mendatangiku?’ Aku bertanya: ‘Wahai
ayah, apakah engkau mengetahuiku jika aku datang?’ Ia menjawab: ‘Ya, demi Alloh
wahai anakku, aku terus memantau kedatanganmu sejak engkau muncul dari jembatan
hingga engkau sampai kepadaku dan duduk di sisiku, kemudian engkau bangkit, aku
terus menatapmu hingga engkau melewati jembatan itu kembali.”
Ibnu Abi
Ad-Dunya berkata, Ibrohim bin Basyar al-Kufi menceritakan kepadaku, Al-Fadhl
bin al-Muwaffaq menceritakan kepadaku, lalu ia menyebutkan kisah tersebut.
Telah shohih
dari Amru bin Dinar (126 H) bahwa ia berkata: “Tidaklah seorang mayit meninggal
melainkan ia mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya setelahnya. Mereka
memandikannya dan mengkafaninya, dan sesungguhnya ia benar-benar melihat kepada
mereka.”
Telah shohih
pula dari Mujahid (103 H) bahwa ia berkata: “Sesungguhnya seseorang diberi
kabar gembira di dalam kuburnya atas kesholihan anaknya setelah kematiannya.”
Mayit
Mengerti Talqin Atasnya
Hal ini
juga ditunjukkan oleh apa yang telah berjalan dalam amalan manusia sejak dahulu
hingga sekarang, yaitu memberikan talqin (tuntunan) kepada mayit di dalam
kuburnya. Seandainya mayit tidak mendengar hal itu dan tidak mengambil manfaat
darinya, tentu tidak ada gunanya dan hal itu hanya kesia-siaan belaka. Imam
Ahmad (241 H) rohimahulloh pernah ditanya tentang hal ini, beliau
menganggapnya baik dan berhujjah dengan amalan yang sudah berlaku.
Diriwayatkan
mengenai hal ini sebuah hadits dho’if yang disebutkan oleh Ath-Thobaroni (360
H) dalam Mu’jamnya dari hadits Abu Umamah (81 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia
berkata, Rosululloh ﷺ
bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian meninggal dunia lalu kalian
telah meratakan tanah di atasnya, hendaknya salah seorang dari kalian berdiri
di sisi kepalanya kemudian berkata: ‘Wahai Fulan bin Fulanah!’ Sesungguhnya ia
mendengar namun tidak menjawab. Kemudian hendaknya ia berkata kedua kalinya: ‘Wahai
Fulan bin Fulanah!’ Maka ia akan duduk tegak. Kemudian hendaknya ia berkata
ketiga kalinya: ‘Wahai Fulan bin Fulanah!’ Maka mayit itu akan berkata: ‘Berilah
kami petunjuk, semoga Alloh merohmatimu,’ namun kalian tidak mendengarnya. Lalu
hendaknya orang itu berkata: ‘Ingatlah apa yang engkau bawa keluar dari dunia,
yaitu kesaksian bahwa tidak ada Robb yang berhak diibadahi dengan benar selain
Alloh dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan engkau telah ridho
Alloh sebagai Robb, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Qur’an
sebagai imam. Maka sesungguhnya Munkar dan Nakir akan datang masing-masing, dan
salah satunya berkata: Mari kita pergi, apa yang membuat kita duduk di sisi
orang ini sementara ia telah dituntun hujah (jawaban)-nya. Maka Alloh dan
Rosul-Nya lah yang menjadi pembelanya di hadapan kedua malaikat itu.” Seorang
lelaki bertanya: “Wahai Rosululloh, bagaimana jika tidak diketahui ibunya?”
Beliau bersabda: “Nisbatkan ia kepada ibunya, Hawa.” (Diriwayatkan oleh
Ath-Thobaroni)
Hadits ini,
sekalipun tidak tetap secara derajat keshohihan, namun bersambungnya
amalan dengannya di seluruh negeri dan sepanjang zaman tanpa ada pengingkaran
merupakan alasan yang cukup dalam mengamalkannya. Alloh ﷻ
tidaklah pernah menjadikan kebiasaan suatu umat yang memenuhi timur dan barat
bumi—yang mana mereka adalah umat yang paling sempurna akalnya dan paling
banyak pengetahuannya—untuk sepakat berbicara kepada pihak yang tidak mendengar
dan tidak berakal, serta menganggap baik hal itu tanpa ada seorang pun yang
mengingkarinya. Bahkan generasi awal mensunnahkannya untuk generasi akhir, dan
generasi akhir mengikuti generasi awal. Seandainya yang diajak bicara itu tidak
mendengar, tentu pembicaraan itu kedudukannya sama dengan berbicara kepada
tanah, kayu, batu, atau sesuatu yang tidak ada. Jika ada satu orang yang
menganggapnya baik, tentu seluruh ulama akan sepakat menganggapnya buruk dan
menjijikkan.
Abu Dawud
(275 H) telah meriwayatkan dalam Sunannya dengan sanad yang tidak mengapa
(hasan) bahwa Nabi ﷺ
menghadiri janazah seorang lelaki. Setelah dikuburkan, beliau ﷺ bersabda:
«سَلُوا
لِأَخِيكُمُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ»
“Mohonkanlah
kemantapan bagi saudara kalian, karena sesungguhnya ia sekarang sedang ditanya.”
(HR. Abu Dawud no. 3221)
Beliau ﷺ mengabarkan bahwa mayit
sedang ditanya saat itu. Jika ia sedang ditanya, maka ia pasti mendengar
talqin.
Telah shohih
dari Nabi ﷺ
bahwa mayit mendengar suara ketukan sandal mereka ketika mereka beranjak
pulang. Abdul Haqq (581 H) menyebutkan dari sebagian orang sholih, ia berkata: “Saudaraku
meninggal dunia, lalu aku melihatnya dalam mimpi. Aku bertanya: ‘Wahai
saudaraku, bagaimana keadaanmu saat diletakkan di kuburmu?’ Ia menjawab: ‘Seseorang
mendatangiku membawa obor api, seandainya tidak ada orang yang mendoakan
untukku, tentu aku sudah binasa.”
Syabib bin
Syaibah (170 H) berkata: “Ibuku berwasiat kepadaku saat kematiannya, ia berkata:
‘Wahai anakku, jika engkau telah menguburkanku, berdirilah di sisi kuburku dan
katakanlah: ‘Wahai Ummu Syabib, ucapkanlah La ilaha illallah.’ Setelah aku
menguburkannya, aku berdiri di makamnya lalu berkata: ‘Wahai Ummu Syabib,
ucapkanlah La ilaha illallah,’ kemudian aku pulang. Saat malam tiba, aku
melihatnya dalam mimpi, ia berkata: ‘Wahai anakku, hampir saja aku binasa
seandainya tidak tertolong oleh kalimat La ilaha illallah. Sungguh engkau telah
menjaga wasiatku wahai anakku.”
Ibnu Abi
Ad-Dunya menyebutkan dari Tumadhir binti Sahl (istri Ayyub bin Uyainah), ia
berkata: “Aku melihat Sufyan bin Uyainah (198 H) dalam mimpi, ia berkata: ‘Semoga
Alloh membalas saudaraku Ayyub dengan kebaikan, karena ia sering menziarohiku.
Sungguh ia ada di sisiku hari ini.’ Maka Ayyub berkata: ‘Benar, aku mendatangi
pemakaman hari ini, aku pergi ke makamnya.”
Telah shohih
dari Hammad bin Salamah (167 H), dari Tsabit, dari Syahr bin Hausyab, bahwa Sho’b
bin Jatsamah (9 H) dan Auf bin Malik (73 H) saling bersaudara (mempersaudarakan
diri). Sho’b berkata kepada Auf: “Wahai saudaraku, siapa pun di antara kita
yang mati lebih dahulu, hendaknya ia menampakkan diri kepada temannya.” Auf
bertanya: “Apakah hal itu memungkinkan?” Sho’b menjawab: “Ya.” Maka Sho’b
meninggal dunia, lalu Auf melihatnya dalam mimpi seolah-olah ia mendatanginya.
Auf bertanya: “Wahai saudaraku (bagaimana keadaanmu)?” Sho’b menjawab: “Ya,
kami telah diampuni setelah berbagai musibah.” Auf berkata: “Aku melihat ada
bercak hitam di lehernya.” Aku bertanya: “Wahai saudaraku, apa ini?” Ia
menjawab: “Itu adalah utang 10 dinar yang aku pinjam dari si Fulan orang
Yahudi, uang itu ada di dalam wadah anak panahku, maka serahkanlah kepadanya.
Dan ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada satu pun kejadian baru di keluargaku
setelah kematianku melainkan kabarnya telah sampai kepadaku, bahkan kucing kami
yang mati beberapa hari yang lalu aku pun tahu. Dan ketahuilah bahwa putriku
akan meninggal dalam waktu 6 hari lagi, maka perlakukanlah ia dengan baik.”
Pagi harinya
Auf berkata: “Sesungguhnya dalam hal ini terdapat tanda pelajaran.” Lalu ia
mendatangi keluarga Sho’b. Mereka berkata: “Selamat datang wahai Auf! Begitukah
cara kalian memperlakukan peninggalan saudara kalian? Engkau tidak pernah
mendekati kami sejak Sho’b meninggal.” Auf berkata: Aku pun beralasan dengan
alasan-alasan yang biasa dikemukakan orang-orang. Kemudian aku melihat wadah
anak panah, lalu aku menurunkannya dan menuangkan isinya, ternyata aku
menemukan kantong berisi dinar-dinar tersebut. Aku pun mengirimkannya kepada
orang Yahudi itu. Aku bertanya: “Apakah engkau memiliki piutang pada Sho’b?” Ia
menjawab: “Semoga Alloh merohmati Sho’b, ia termasuk sahabat Rosululloh ﷺ yang terbaik, utang itu sudah
menjadi miliknya.” Aku berkata: “Kabarkanlah padaku!” Ia menjawab: “Ya, aku
meminjamkannya 10 dinar.” Aku menyerahkannya kepadanya, dan ia berkata: “Demi
Alloh, ini adalah uang yang sama persis.” Auf berkata: “Ini adalah bukti
pertama.”
Auf
melanjutkan: Aku bertanya kepada keluarganya: “Apakah terjadi sesuatu pada
kalian setelah Sho’b meninggal?” Mereka menjawab: “Ya, terjadi ini dan itu.”
Auf bertanya: “Coba ingat-ingat kembali!” Mereka menjawab: “Ya, ada kucing yang
mati beberapa hari yang lalu.” Auf berkata: “Ini bukti kedua.” Kemudian aku
bertanya: “Di mana putri saudaraku?” Mereka menjawab: “Ia sedang bermain.” Aku
mendatanginya dan memegangnya, ternyata ia sedang demam. Aku berpesan: “Perlakukanlah
ia dengan baik.” Maka ia meninggal dunia dalam waktu 6 hari.”
Ini
merupakan bagian dari pemahaman (fiqih) Auf rohimahulloh—yang mana ia
adalah seorang Shohabat—di mana ia melaksanakan wasiat Sho’b bin Jatsamah
setelah kematiannya. Ia mengetahui kebenaran ucapannya melalui bukti-bukti yang
dikabarkan kepadanya, yaitu jumlah 10 dinar dan keberadaannya di wadah anak
panah. Kemudian ia bertanya kepada Yahya Yahudi itu dan ternyata ucapannya
cocok dengan apa yang ada dalam mimpi. Maka Auf yakin akan kebenaran perkara
tersebut lalu menyerahkan dinar itu kepada si Yahudi. Fiqih semacam ini hanya
layak bagi orang yang paling paham dan paling berilmu, yaitu para Shohabat
Rosululloh ﷺ.
Mungkin banyak orang-orang belakangan yang mengingkari hal itu dan berkata: “Bagaimana
mungkin Auf diperbolehkan memindahkan dinar-dinar dari harta peninggalan Sho’b—yang
merupakan hak anak yatim dan ahli warisnya—kepada seorang Yahudi hanya
berdasarkan mimpi?”
Contoh lain
dari pemahaman fiqih yang dikhususkan bagi mereka adalah kisah Tsabit bin Qois
bin Syammas (12 H) yang disebutkan oleh Abu Umar bin Abdil Barr (463 H) dan
lainnya. Abu Umar berkata: Abdul Warits bin Sufyan mengabarkan kepada kami,
Qosim bin Ashbagh menceritakan kepada kami, Abu az-Zinba’ Ruuh bin al-Faroj
menceritakan kepada kami, Sa’id bin Ufair dan Abdul Aziz bin Yahya al-Madani
menceritakan kepada kami, Malik bin Anas (179 H) menceritakan kepada kami, dari
Ibnu Syihab (124 H), dari Ismail bin Muhammad bin Tsabit al-Anshori, dari
Tsabit bin Qois bin Syammas (12 H) bahwa Rosululloh ﷺ bersabda kepadanya:
«يَا
ثَابِتُ أَمَا تَرْضَى أَنْ تَعِيشَ حَمِيدًا وَتُقْتَلَ شَهِيدًا وَتَدْخُلَ الْجَنَّةَ»
“Wahai
Tsabit, tidakkah engkau ridho untuk hidup dalam keadaan terpuji, terbunuh
sebagai Syahid, dan masuk ke dalam Jannah?” Malik berkata: “Maka Tsabit bin
Qois terbunuh pada hari Yamamah sebagai Syahid.”
Abu Umar
berkata, Hisyam bin Ammar meriwayatkan dari Sodaqoh bin Kholid, Abdurrohman bin
Yazid bin Jabir menceritakan kepada kami, ia berkata: Atho’ al-Khurosoni
menceritakan kepadaku, ia berkata: Putri Tsabit bin Qois bin Syammas
menceritakan kepadaku, ia berkata: “Ketika turun ayat ‘Wahai orang-orang
yang beriman janganlah kalian mengangkat suara kalian di atas suara Nabi’,
ayahku masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Rosululloh ﷺ merasa kehilangan beliau lalu
mengutus orang untuk bertanya kabarnya. Ayahku menjawab: Aku adalah orang yang
bersuara keras, aku takut amalanku telah terhapus. Beliau ﷺ bersabda: Engkau bukan
termasuk mereka, bahkan engkau hidup dengan kebaikan dan mati dengan kebaikan.
Kemudian Alloh menurunkan ayat ‘Sesungguhnya Alloh tidak menyukai setiap
orang yang sombong lagi membanggakan diri’, maka beliau kembali menutup
pintu rumahnya dan menangis. Rosululloh ﷺ merasa kehilangan lagi lalu mengutus orang untuk bertanya.
Beliau berkata: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya aku menyukai keindahan dan aku
suka menjadi pemimpin kaumku.” Beliau ﷺ bersabda: “Engkau bukan termasuk mereka, bahkan engkau hidup
dalam keadaan terpuji, mati sebagai Syahid, dan masuk ke dalam Jannah.”
Putri
Tsabit melanjutkan: “Ketika terjadi Perang Yamamah, beliau keluar bersama Kholid
bin al-Walid (21 H) menghadapi Musailamah al-Kadzdzab. Saat pertempuran
berkecamuk dan pasukan sempat terpukul mundur, Tsabit dan Salim (12 H) maula
Abu Hudzaifah berkata: “Tidak begini cara kami berperang bersama Rosululloh ﷺ.” Kemudian masing-masing
menggali lubang untuk dirinya sendiri, mereka berdiri kokoh dan bertempur
hingga gugur sebagai Syahid. Pada hari itu Tsabit mengenakan baju besi (dir’un)
yang sangat mahal. Seorang lelaki Muslim melewatinya lalu mengambil baju besi
itu. Suatu ketika, seorang lelaki Muslim lainnya sedang tidur, lalu Tsabit
mendatanginya dalam mimpi dan berkata: Aku berwasiat kepadamu dengan sebuah
wasiat, maka janganlah sekali-kali engkau katakan ini hanyalah mimpi lalu
engkau mengabaikannya. Sesungguhnya ketika aku terbunuh kemarin, seorang lelaki
Muslim melewati jasadku lalu mengambil baju besiku. Tempat tinggalnya berada di
ujung perkemahan, di dekat tendanya terdapat seekor kuda yang sedang
berlari-lari kecil dengan tali panjangnya. Ia menyembunyikan baju besi itu di
bawah kuali besar (burmah), dan di atas kuali itu ada pelana (rohl).
Maka datangilah Kholid, perintahkanlah ia untuk mengirim orang mengambil baju
besiku. Dan jika engkau telah sampai di Madinah menemui Kholifah Rosululloh ﷺ—yaitu
Abu Bakr ash-Shiddiq (13 H)—katakanlah kepadanya bahwa aku memiliki utang
sekian dan sekian, dan si fulan di antara budakku telah merdeka.”
Lelaki itu
pun mendatangi Kholid lalu mengabarkannya. Kholid mengirim orang untuk
mengambil baju besi itu dan ternyata benar ditemukan. Kemudian ia menceritakan
mimpinya kepada Abu Bakr, maka Abu Bakr pun melaksanakan wasiatnya.
Abu Umar
berkata: “Kami tidak mengetahui ada seorang pun yang wasiatnya dilaksanakan
setelah kematiannya selain Tsabit bin Qois rohimahulloh.” Selesai
perkataan Abu Umar.
Kholid, Abu
Bakr ash-Shiddiq, dan para Shohabat yang bersamanya telah bersepakat untuk
mengamalkan mimpi ini, melaksanakan wasiat tersebut, dan mengambil kembali baju
besi dari tangan pemegangnya. Inilah murni pemahaman fiqih.
Apabila Abu
Hanifah (150 H), Ahmad (241 H), dan Malik (179 H) menerima perkataan salah satu
dari suami-istri yang mengklaim barang yang layak baginya bukan bagi
pasangannya dengan disertai bukti yang mendukung (qorinah), maka hal ini tentu
lebih utama. Begitu pula Abu Hanifah menerima klaim pemilik tembok berdasarkan
keberadaan batu bata di sisinya. Alloh telah mensyariatkan hukuman bagi wanita
melalui sumpah suaminya disertai bukti pendukung yang ada padanya, karena hal
itu termasuk bukti paling jelas atas kejujuran suami.
Lebih kuat
lagi adalah pembunuhan terhadap orang yang disumpah dalam perkara Qosamah
berdasarkan sumpah para pendakwa yang disertai bukti pendukung yang nampak (lauts).
Alloh ﷻ
telah mensyariatkan penerimaan sumpah dua orang pendakwa terhadap harta
peninggalan janazah mereka apabila mayit wafat dalam perjalanan dan berwasiat
kepada dua orang non-Muslim, lalu ahli waris mendapati pengkhianatan kedua washi
(penerima wasiat) tersebut. Kedua ahli waris bersumpah demi Alloh dan berhak
atas klaimnya, dan sumpah mereka lebih utama dari sumpah kedua penerima wasiat.
Hal ini diturunkan oleh Alloh ﷻ di akhir perkara dalam Suroh Al-Ma’idah, yang merupakan bagian
akhir Al-Qur’an dan tidak dihapus hukumnya (mansukh) oleh apa pun, serta
diamalkan oleh para Shohabat setelahnya.
Ini adalah
dalil bahwa keputusan hukum dalam urusan harta bisa diambil berdasarkan
bukti-bukti pendukung yang kuat (lauts). Jika darah saja boleh
ditumpahkan berdasarkan lauts dalam Qosamah, maka memberikan keputusan
hukum berdasarkan lauts—yaitu bukti-bukti yang nampak jelas—dalam urusan
harta tentu lebih utama dan lebih layak. Berdasarkan hal inilah para pemimpin
yang adil beramal dalam mengungkap pencurian dari para pencuri, hingga banyak
orang yang mengingkari hal itu namun mereka justru meminta bantuan kepada para
pemimpin tersebut saat harta mereka dicuri.
Alloh ﷻ
telah menceritakan tentang saksi yang memberikan kesaksian antara Yusuf
ash-Shiddiq dan istri Al-Aziz, bahwa ia memutuskan berdasarkan bukti pendukung
(qorinah) atas kejujuran Yusuf dan kebohongan wanita tersebut. Alloh ﷻ
tidak mengingkari hal itu, bahkan menceritakannya sebagai bentuk penetapan
hukum. Nabi ﷺ
juga mengabarkan tentang Nabi Alloh Sulaiman bin Dawud ‘alaihissalam
yang memutuskan antara dua orang wanita yang mengklaim seorang anak sebagai
putranya. Beliau memutuskan bagi wanita yang lebih muda berdasarkan bukti yang
nampak baginya ketika beliau berkata: “Berikan aku pisau, aku akan membelah
anak ini menjadi dua bagian untuk kalian.” Wanita yang lebih tua setuju demi
kepuasan hati karena telah kehilangan anaknya sendiri, sedangkan wanita yang
lebih muda berkata: “Jangan lakukan itu, dia adalah putranya.” Maka Sulaiman
memutuskan anak itu milik wanita muda karena kasih sayang dan rohmat yang ada
di hatinya hingga ia merelakannya untuk wanita lain asal si anak tetap hidup
dan ia tetap bisa melihatnya.
Inilah
termasuk hukum yang paling baik dan paling adil, dan syariat Islam menetapkan
hal semacam ini serta bersaksi atas kebenarannya. Demikian pula hukum
berdasarkan Al-Qiyafah (pencocokan kemiripan fisik) dan penyambungan nasab
dengannya, hal itu bersandar pada bukti-bukti kemiripan meskipun seringkali
samar dan tersembunyi.
Tujuannya
adalah bahwa bukti-bukti yang ada dalam mimpi Auf bin Malik dan kisah Tsabit
bin Qois tidaklah kalah kuat dibandingkan bukti-bukti pendukung lainnya. Bahkan
ia lebih kuat daripada sekadar keberadaan batu bata atau kelayakan barang bagi
salah satu pihak dalam masalah suami-istri atau pengrajin. Hal ini jelas dan
tidak samar, serta fitrah manusia dan akal mereka bersaksi atas kebenarannya.
Hanya kepada Alloh lah taufiq itu memohon.
Maksud dari
jawaban penanya adalah apabila mayit mengetahui rincian perkara-perkara kecil
semacam itu, maka pengetahuannya tentang ziaroh orang yang hidup kepadanya,
salam kepadanya, dan doa untuknya tentu lebih utama dan lebih layak lagi.
Bab 2: Apakah
ruh-ruh orang yang telah meninggal saling bertemu, saling mengunjungi, dan
saling berbincang atau tidak?
Ini
merupakan masalah yang mulia dan besar kedudukannya. Jawabannya adalah bahwa
ruh itu ada dua macam: ruh yang disiksa (mu’adzdzabah) dan ruh yang
diberi ni’mat (muna’amah). Ruh yang disiksa dalam keadaan sibuk dengan
siksaan yang ia alami sehingga tidak sempat untuk saling mengunjungi dan
bertemu. Adapun ruh-ruh yang diberi ni’mat—yang dilepaskan dan tidak
ditahan—maka mereka saling bertemu, saling mengunjungi, dan saling berbincang
tentang apa yang dahulu terjadi di dunia serta apa yang dialami oleh penduduk
dunia. Setiap ruh akan bersama temannya yang memiliki amal yang semisal
dengannya. Ruh Nabi kita Muhammad ﷺ berada di Ar-Rofiq al-A’la (tingkatan tertinggi para Nabi dan
Rosul). Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ
رَفِيقًا﴾
“Siapa saja
yang mentaati Alloh dan Rosul-Nya dalam segala perintah dan larangan, maka
mereka itu akan bersama orang-orang yang telah Alloh berikan ni’mat kepada
mereka, yaitu dari kalangan para Nabi, para Shiddiqin (orang-orang yang sangat
jujur imannya), para Syuhada (orang-orang yang gugur di jalan Alloh), serta
orang-orang Sholih. Mereka itulah sebaik-baik teman bagi penduduk Jannah.” (QS.
An-Nisa: 69)
Kebersamaan
ini tetap ada di dunia, di alam Barzakh, dan di negeri pembalasan (Akhirat).
Seseorang akan bersama orang yang ia cintai di ketiga negeri tersebut.
Jarir
meriwayatkan dari Manshur, dari Abu adh-Dhuha, dari Masruq (62 H), ia berkata: “Para
Shohabat Muhammad ﷺ
berkata: ‘Tidak pantas bagi kami untuk berpisah darimu (wahai Rosul) di dunia.
Namun apabila engkau wafat, engkau akan diangkat ke atas kami sehingga kami
tidak bisa melihatmu lagi. Maka Alloh menurunkan ayat: ‘Siapa saja yang
mentaati Alloh dan Rosul-Nya...’“ (QS. An-Nisa: 69)
Asy-Sya’bi
(103 H) menceritakan: Seorang lelaki Anshor datang kepada Nabi ﷺ sambil menangis. Beliau
bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai Fulan?” Ia menjawab: “Wahai Nabi
Alloh, demi Alloh yang tidak ada Robb yang berhak diibadahi dengan benar selain
Dia, sungguh engkau lebih aku cintai daripada keluargaku dan hartaku. Demi
Alloh yang tidak ada Robb selain Dia, sungguh engkau lebih aku cintai daripada
diriku sendiri. Aku sedang mengingatmu bersama keluargaku, lalu aku merasa
tidak tenang hingga aku bisa melihatmu. Kemudian aku ingat tentang kematianmu
dan kematianku, maka aku sadar bahwa aku tidak akan bisa bersamamu kecuali di
dunia. Sesungguhnya engkau akan diangkat derajatnya bersama para Nabi,
sedangkan aku tahu jika aku masuk Jannah, kedudukanku tentu lebih rendah dari
kedudukanmu.” Maka Nabi ﷺ
tidak memberikan jawaban sedikit pun hingga Alloh ﷻ menurunkan ayat: “Siapa saja
yang mentaati Alloh dan Rosul-Nya...” hingga firman-Nya “Dan cukuplah Alloh
sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 69-70)
Alloh ﷻ juga
berfirman:
﴿يَا
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي﴾
“Wahai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada Robb-mu dalam keadaan hati yang ridho terhadap pahala-Nya
lagi diridhoi di sisi-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku yang
sholih dan masuklah ke dalam Jannah-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)
Yakni
masuklah ke dalam kelompok mereka dan jadilah bersama mereka. Perkataan ini
dikatakan kepada ruh saat kematian menjemput.
Dalam kisah
Isro’, dari hadits Abdulloh bin Mas’ud (32 H), ia berkata: “Ketika Nabi ﷺ diisro’kan, beliau bertemu
dengan Ibrohim, Musa, dan Isa (sholawatulloh wa salamuhu ‘alaihim ajma’in).
Mereka saling berbincang tentang hari Qiyamah. Mereka memulai dari Ibrohim lalu
bertanya kepadanya tentang Qiyamah, namun ia tidak memiliki ilmu mengenainya.
Kemudian kepada Musa, ia pun tidak memiliki ilmu mengenainya, hingga
perbincangan beralih kepada Isa. Isa berkata: ‘Alloh telah memberikan janji
kepadaku mengenai tanda-tanda sebelum terjadinya Qiyamah.” Ia pun menyebutkan
keluarnya Dajjal. Isa berkata: ‘Lalu aku turun dan membunuhnya, manusia pun
kembali ke negeri-negeri mereka, namun mereka dihadang oleh Ya’juj dan Ma’juj
yang turun dengan cepat dari segala tempat yang tinggi. Tidaklah mereka
melewati air melainkan mereka meminumnya hingga habis, dan tidak melewati
sesuatu melainkan mereka merusaknya. Maka mereka (kaum Mu’min) memohon
pertolongan kepadaku, aku pun berdoa kepada Alloh lalu Alloh mematikan mereka.
Kemudian bumi mengadu kepada Alloh karena bau bangkai mereka, maka aku pun
berdoa, lalu Alloh mengirimkan hujan dari langit yang membawa jasad-jasad
mereka dan melemparkannya ke laut. Kemudian Alloh menghancurkan gunung-gunung
dan meratakan bumi seluas-luasnya. Janji Alloh kepadaku adalah apabila keadaan
sudah seperti itu, maka hari Qiyamah bagi manusia ibarat wanita hamil yang
telah sempurna masa kandungannya, keluarganya tidak tahu kapan tiba-tiba ia
akan melahirkan, baik di malam hari atau di siang hari.” (Disebutkan oleh
Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan lainnya)
Ini adalah
nash tentang ruh-ruh yang saling berbincang mengenai ilmu.
Alloh ﷻ
telah mengabarkan kepada kita tentang para Syuhada bahwa mereka hidup di sisi
Robb mereka dengan mendapatkan rizqi, dan bahwa mereka saling memberi kabar
gembira tentang orang-orang setelah mereka yang belum menyusul, serta mereka
bergembira dengan ni’mat dan karunia dari Alloh. Hal ini menunjukkan pertemuan
mereka dari 3 sisi:
1) Bahwa mereka di
sisi Robb mereka mendapatkan rizqi. Jika mereka hidup, maka mereka pasti saling
bertemu.
2) Bahwa mereka
saling memberi kabar gembira atas kedatangan dan perjumpaan saudara-saudara
mereka dengan mereka.
3) Bahwa lafazh “yastabsyirun”
(saling memberi kabar gembira) dalam bahasa Arab memberikan makna bahwa
sebagian mereka memberikan kabar gembira kepada sebagian yang lain.
Sebagian
Mimpi Bertemu Sholihin
Mimpi-mimpi
tentang hal ini pun telah mutawatir. Di antaranya apa yang disebutkan oleh
Sholih bin Basyir, ia berkata: “Aku melihat Atho’ as-Sulami dalam mimpi setelah
kematiannya, lalu aku berkata kepadanya: ‘Semoga Alloh merohmatimu, engkau
dahulu adalah orang yang panjang kesedihannya di dunia.’ Ia menjawab: ‘Demi
Alloh, kesedihan itu telah membuahkan kegembiraan yang panjang dan kebahagiaan
yang abadi bagiku.’ Aku bertanya: ‘Di derajat manakah engkau berada?’ Ia
menjawab: ‘Bersama orang-orang yang telah Alloh berikan ni’mat kepada mereka,
yaitu para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada, dan para Sholih.”
Abdulloh
bin al-Mubarok (181 H) berkata: “Aku melihat Sufyan ath-Tsauri (161 H) dalam
mimpi, lalu aku bertanya: ‘Apa yang Alloh lakukan kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Aku
telah bertemu dengan Muhammad dan kelompoknya (para Shohabat).”
Sokhr bin
Rosyid berkata: “Aku melihat Abdulloh bin al-Mubarok (181 H) dalam mimpi
setelah kematiannya. Aku bertanya: ‘Bukankah engkau telah mati?’ Ia menjawab: ‘Benar.’
Aku bertanya: ‘Apa yang Alloh lakukan kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Alloh telah
mengampuniku dengan ampunan yang meliputi setiap dosaku.’ Maka Sufyan ath-Tsauri
berkata: ‘Hebat, hebat! Orang itu (Ibnu al-Mubarok) bersama orang-orang yang
telah Alloh beri ni’mat kepada mereka, dari kalangan para Nabi, Shiddiqin,
Syuhada, dan orang-orang Sholih, dan mereka itulah sebaik-baik teman.”
Ibnu Abi
Ad-Dunya menyebutkan dari hadits Hammad bin Zaid (179 H), dari Hisyam bin
Hassan, dari Yaqozhoh binti Rosyid, ia berkata: “Marwan al-Muhallami adalah
tetanggaku, ia adalah seorang hakim yang sangat bersungguh-sungguh dalam
ibadah. Ketika ia meninggal, aku sangat berduka cita atasnya. Aku melihatnya
dalam mimpi, lalu aku bertanya: ‘Wahai Abu Abdillah, apa yang Robb-mu lakukan
kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Ia memasukkanku ke dalam Jannah.’ Aku bertanya: ‘Kemudian
apa?’ Ia menjawab: ‘Kemudian aku diangkat ke golongan Ash-habul Yamin (golongan
kanan).’ Aku bertanya: ‘Kemudian apa?’ Ia menjawab: ‘Kemudian aku diangkat ke
golongan Al-Muqorrobin al-Muqorrobin (orang-orang yang didekatkan kepada
Alloh).’ Aku bertanya: ‘Siapa yang engkau lihat dari saudara-saudaramu?’ Ia
menjawab: Aku melihat Al-Hasan (al-Bashri), Ibnu Sirin (110 H), dan Maimun bin
Siyah.”
Hammad
berkata, Hisyam bin Hassan menceritakan kepadaku: Ummu Abdillah—yang termasuk
wanita terbaik penduduk Bashroh—menceritakan kepadaku, ia berkata: “Aku
bermimpi seolah-olah masuk ke dalam rumah yang sangat indah, lalu masuk ke
sebuah taman yang keindahannya luar biasa. Di sana ada seorang lelaki yang
bersandar di atas dipan dari emas, di sekelilingnya ada para pelayan yang
memegang piala-piala. Aku sangat takjub dengan keindahan yang aku lihat.
Tiba-tiba dikatakan: ‘Marwan al-Muhallami telah datang!’ Maka ia pun bangkit
dan duduk tegak di atas dipannya. Saat itu juga aku terbangun, ternyata janazah
Marwan sedang lewat di depan pintuku pada jam tersebut.”
Ruh
Saling Bertemu dan Mengenal
Telah
datang sunnah yang tegas tentang pertemuan dan saling kenalnya ruh-ruh. Ibnu
Abi Ad-Dunya berkata, Muhammad bin Abdulloh bin Bazigh menceritakan kepadaku,
Fudhoil bin Sulaiman an-Numairi mengabarkan kepadaku, Yahya bin Abdurrohman bin
Abi Labibah menceritakan kepadaku dari kakeknya, ia berkata: “Ketika Bisyr bin
al-Baro’ bin Ma’rur (7 H) meninggal dunia, ibunya merasa sangat berduka cita.
Ia bertanya: ‘Wahai Rosululloh, sesungguhnya orang-orang yang mati dari Bani
Salamah terus berjatuhan, apakah orang-orang mati itu saling mengenal satu sama
lain? Jika benar, aku akan menitipkan salam untuk Bisyr.’ Rosululloh ﷺ bersabda: ‘Ya, demi Dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya wahai Ummu Bisyr, sesungguhnya mereka saling
mengenal sebagaimana burung-burung saling mengenal di pucuk-pucuk pohon.’ Maka
tidaklah ada orang yang meninggal dari Bani Salamah melainkan Ummu Bisyr
mendatanginya dan berkata: ‘Wahai Fulan, keselamatan atasmu!’ Mayit itu
menjawab: ‘Dan atasmu pula.’ Ummu Bisyr berkata: ‘Sampaikanlah salam kepada
Bisyr.”
Ibnu Abi
Ad-Dunya menyebutkan dari hadits Sufyan, dari Amru bin Dinar, dari Ubaid bin
Umair (68 H), ia berkata: “Penghuni kubur selalu menanti-nanti kabar. Apabila
ada mayit yang baru datang, mereka bertanya: ‘Apa yang dilakukan si Fulan?’ Ia
menjawab: ‘Ia orang sholih.’ Apa yang dilakukan si Fulan? Ia menjawab: ‘Ia
orang sholih.’ ‘Apa yang dilakukan si Fulan?’ Ia menjawab: ‘Bukankah ia telah
mendatangi kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Maka mayit baru itu berkata: ‘Inna
lillahi wa inna ilaihi roji’un, ia telah dibawa ke jalan selain jalan kita
(yakni ke Neraka Hawiyah).”
Sholih
al-Murri berkata: “Telah sampai kabar kepadaku bahwa ruh-ruh saling bertemu
saat kematian. Ruh-ruh orang mati bertanya kepada ruh yang baru keluar menemui
mereka: ‘Bagaimana tempat tinggalmu? Dan di dalam jasad manakah engkau berada,
di jasad yang baik atau yang buruk?’ Kemudian ia menangis hingga tangisannya
mengalahkan bicaranya.”
Ubaid bin
Umair (68 H) juga berkata: “Apabila seseorang meninggal dunia, ruh-ruh akan
menyambutnya dan meminta keterangan kepadanya sebagaimana rombongan kafilah
meminta kabar: ‘Apa yang dilakukan si Fulan? Apa yang dilakukan si Fulan?’
Apabila ia menjawab bahwa orang tersebut sudah wafat namun tidak datang kepada
mereka, mereka berkata: ‘Ia telah dibawa pergi menuju ibunya, yaitu Neraka
Hawiyah.”
Sa’id bin
al-Musayyib (94 H) berkata: “Apabila seseorang meninggal, ayahnya akan
menyambutnya sebagaimana menyambut orang yang telah lama hilang.”
Ubaid bin
Umair juga berkata: “Seandainya aku berputus asa untuk bisa bertemu dengan
keluargaku yang telah meninggal, tentu aku sudah mati karena kesedihan yang
mendalam.”
Mu’awiyah bin Yahya menyebutkan dari Abdulloh bin Salamah, bahwa Abu
Ruhm al-Misma’i menceritakan kepadanya bahwa Abu Ayyub al-Anshori (52 H) rodhiyallahu
‘anhu menceritakan kepadanya bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ نَفْسَ الْمُؤْمِنِ إِذا قُبِضَتْ تَلَقَّاهَا أَهْلُ الرَّحْمَةِ
مِنْ عِنْدِ اللَّهِ كَمَا يَتَلَقَّى الْبَشِيرُ فِي الدُّنْيَا، فَيَقُولُونَ: انْظُرُوا
أَخَاكُمْ حَتَّى يَسْتَرِيحَ، فَإِنَّهُ كَانَ فِي كَرْبٍ شَدِيدٍ، فَيَسْأَلُونَهُ:
مَاذَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ وَمَاذَا فَعَلَتْ فُلَانَةُ؟ وَهَلْ تَزَوَّجَتْ فُلَانَةُ؟
فَإِذَا سَأَلُوهُ عَنْ رَجُلٍ مَاتَ قَبْلَهُ قَالَ: إِنَّهُ قَدْ مَاتَ، فَبَلَى!
قَالُوا: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، ذُهِبَ بِهِ إِلَى أُمِّهِ
الْهَاوِيَةِ، فَبِئْسَتِ الْمُرَبِّيَةُ»
“Sesungguhnya jiwa seorang Mu’min apabila dicabut, ia akan disambut oleh
para penghuni rohmat dari sisi Alloh sebagaimana pembawa kabar gembira disambut
di dunia. Mereka berkata: ‘Biarkanlah saudara kalian ini beristirahat sejenak,’
karena ia baru saja berada dalam kesengsaraan yang sangat dahsyat. Kemudian
mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang dilakukan si Fulan? Apa yang dilakukan si
Fulanah? Apakah si Fulanah sudah menikah?’ Apabila mereka bertanya tentang
seseorang yang ternyata sudah wafat mendahuluinya, maka jiwa itu menjawab: ‘Sesungguhnya
ia telah wafat sebelumku.’ Mereka pun berseru: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi
roji’un, ia telah dibawa pergi menuju ibunya, yaitu Neraka Hawiyah, dan
itulah seburuk-buruk tempat pengasuhan.” (HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam
Al-Maut no. 101)
Telah disebutkan sebelumnya hadits Yahya bin Bisthom, bahwa Misma’ bin
Ashim menceritakan kepadaku: “Aku melihat Ashim al-Jahdari dalam mimpiku
setelah 2 tahun kematiannya.” Aku bertanya: “Bukankah engkau telah wafat?” Ia
menjawab: “Benar.” Aku bertanya: “Lalu di manakah engkau sekarang?” Ia
menjawab: “Demi Alloh, aku berada di salah satu taman dari taman-taman Jannah.
Aku bersama sekelompok sahabatku berkumpul setiap malam Jum’at dan pagi harinya
menemui Bakr bin Abdulloh al-Muzani (108 H), lalu kami menerima kabar-kabar
tentang kalian.” Aku bertanya: “Apakah yang berkumpul itu jasad kalian atau ruh
kalian?” Ia menjawab: “Mustahil jasad, karena jasad-jasad telah hancur, namun
yang saling bertemu adalah ruh-ruh.”
Bab 3: Apakah ruh orang yang masih hidup bisa bertemu dengan ruh orang
yang sudah mati atau tidak?
Bukti-bukti dan dalil-dalil mengenai masalah ini terlalu banyak untuk
bisa dihitung kecuali oleh Alloh ﷻ. Perasaan dan kenyataan merupakan saksi yang paling adil
mengenai hal ini. Ruh-ruh orang yang hidup dan orang yang mati bisa saling
bertemu sebagaimana ruh sesama orang yang masih hidup juga bisa saling bertemu.
Alloh ﷻ telah berfirman:
﴿اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ
فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى
إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Alloh memegang jiwa-jiwa manusia saat kematiannya dan memegang jiwa
yang belum mati dalam tidurnya; maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan
kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi
kaum yang mau berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42)
Abu Abdillah bin Mandah (395 H) berkata, Ahmad bin Muhammad bin Ibrohim
menceritakan kepada kami, Abdulloh bin Husain al-Harroni menceritakan kepada
kami, kakekku Ahmad bin Syu’aib menceritakan kepada kami, Musa bin ‘Ayun
menceritakan kepada kami, dari Muthorrif, dari Ja’far bin Abi al-Mughiroh, dari
Sa’id bin Jubair (95 H), dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma
mengenai ayat ini, beliau berkata: “Telah sampai kabar kepadaku bahwa ruh
orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati saling bertemu dalam mimpi.
Mereka saling bertanya satu sama lain, kemudian Alloh menahan ruh orang-orang
yang sudah mati dan melepaskan ruh orang-orang yang hidup kembali ke
jasad-jasad mereka.”
Ibnu Abi Hatim (327 H) menyebutkan dalam tafsirnya, Abdulloh bin
Sulaiman menceritakan kepada kami, Al-Husain menceritakan kepada kami, ‘Amir
menceritakan kepada kami, Asbath menceritakan kepada kami, dari As-Suddi (127
H) mengenai firman Alloh ﷻ “dan jiwa
yang belum mati dalam tidurnya”, ia berkata: “Alloh mewafatkan jiwa tersebut
dalam tidurnya, lalu ruh orang yang hidup dan ruh orang yang mati bertemu.
Keduanya saling berbincang dan saling mengenal. Kemudian ruh orang yang hidup
kembali ke jasadnya di dunia hingga sisa ajalnya berakhir, sedangkan ruh orang
yang mati ingin kembali ke jasadnya namun ia ditahan.”
Ini adalah salah satu dari dua pendapat mengenai ayat tersebut, yaitu
bahwa ruh yang ditahan adalah ruh yang memang telah wafat karena kematian sejak
awal, sedangkan ruh yang dilepaskan adalah ruh yang “diwafatkan” melalui tidur.
Maknanya menurut pendapat ini adalah Alloh mewafatkan jiwa orang yang mati lalu
menahannya dan tidak melepaskannya kembali ke jasadnya sebelum hari Qiyamah,
dan Dia mewafatkan jiwa orang yang tidur kemudian melepaskannya kembali ke
jasadnya sampai batas ajalnya, lalu kelak Dia akan mewafatkannya dengan
kematian yang sebenarnya.
Pendapat kedua mengenai ayat ini adalah bahwa ruh yang ditahan maupun
yang dilepaskan dalam ayat tersebut, keduanya sama-sama mengalami “wafat”
karena tidur. Barang siapa yang ajalnya telah sempurna, maka Alloh akan menahan
ruhnya di sisi-Nya sehingga tidak kembali ke jasadnya. Namun barang siapa yang
ajalnya belum sempurna, Alloh mengembalikannya ke jasadnya agar ia bisa
menyempurnakan ajalnya. Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah - 728 H) memilih pendapat
ini dan mengatakan bahwa Al-Qur’an serta As-Sunnah menunjukkan hal tersebut.
Beliau berargumen bahwa Alloh ﷻ
menyebutkan penahanan bagi jiwa yang telah ditetapkan kematiannya dari
jiwa-jiwa yang Dia wafatkan melalui tidur tersebut. Adapun jiwa yang sudah
wafat sejak awal karena kematian, maka Alloh tidak mensifatinya dengan
penahanan maupun pelepasan dalam konteks tidur ini, melainkan ia adalah
golongan ketiga.
Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama. Karena Alloh ﷻ mengabarkan adanya dua jenis kematian:
kematian besar yaitu ajal yang berakhir, dan kematian kecil yaitu tidur. Alloh
membagi ruh menjadi dua kelompok: kelompok yang telah ditetapkan kematiannya
lalu ditahan di sisi-Nya, yaitu ruh yang wafat karena kematian sebenarnya. Dan
kelompok yang masih memiliki sisa ajal, lalu dikembalikan ke jasadnya hingga
ajalnya sempurna. Alloh menjadikan “penahanan” dan “pelepasan” sebagai dua
ketetapan hukum bagi dua jenis kewafatan yang telah disebutkan di awal ayat.
Maka ada ruh yang ditahan dan ada ruh yang dilepaskan. Alloh juga mengabarkan
bahwa ruh yang belum mati adalah ruh yang diwafatkan dalam tidurnya. Seandainya
Alloh membagi wafat tidur menjadi dua bagian (wafat tidur yang berujung mati
dan wafat tidur biasa), tentu Dia tidak akan berfirman “dan jiwa yang belum
mati dalam tidurnya”, karena jika ia ditahan saat itu juga berarti ia telah
mati. Padahal Alloh telah mengabarkan bahwa jiwa itu “belum mati”, lantas
bagaimana setelah itu Dia berfirman “maka Dia menahan jiwa yang telah Dia
tetapkan kematiannya”?
Bagi yang membela pendapat kedua ini bisa saja berargumen bahwa
firman-Nya “maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya”
terjadi setelah jiwa itu diwafatkan melalui tidur. Jadi Alloh mewafatkannya
terlebih dahulu dengan wafat tidur, kemudian menetapkan kematian padanya setelah
itu. Namun hakikatnya, ayat ini mencakup kedua jenis tersebut.
Sesungguhnya Alloh menyebutkan dua jenis kewafatan: wafat tidur dan
wafat kematian. Alloh menyebutkan penahanan bagi yang mati dan pelepasan bagi
yang lainnya. Sudah dimaklumi bahwa Alloh menahan setiap jiwa orang yang mati,
baik ia mati saat tidur maupun saat terjaga, dan Dia melepaskan jiwa orang yang
tidak mati. Maka firman-Nya “Alloh memegang jiwa-jiwa manusia saat
kematiannya” mencakup orang yang mati saat terjaga maupun orang yang mati
saat tidur.
Pertemuan antara ruh orang yang hidup dan orang yang mati telah
ditunjukkan oleh fakta bahwa orang yang hidup bisa melihat orang yang mati
dalam mimpinya. Orang yang mati tersebut memberikan kabar yang tidak diketahui
oleh orang yang hidup, dan ternyata kabarnya benar sesuai kenyataan, baik itu
kejadian masa lalu maupun masa depan. Terkadang orang mati mengabarkan harta
yang ia pendam di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun selain
dirinya. Terkadang ia mengabarkan adanya utang yang ia tanggung dan menyebutkan
bukti-bukti serta petunjuk-petunjuknya.
Bahkan lebih dari itu, orang mati bisa mengabarkan tentang amal
perbuatan yang dilakukan oleh orang hidup yang tidak diketahui oleh seorang pun
di dunia ini. Dan yang lebih menakjubkan lagi, orang mati bisa mengabarkan
kepada orang hidup: “Engkau akan menyusul kami pada waktu sekian dan sekian,”
dan hal itu benar-benar terjadi sebagaimana yang dikabarkan. Terkadang ia
mengabarkan perkara-perkara yang orang hidup itu yakin bahwa tidak ada yang
mengetahuinya kecuali dirinya sendiri. Kami telah menyebutkan kisah Sho’b bin
Jatsamah dan apa yang ia katakan kepada Auf bin Malik. Kami juga telah
menyebutkan kisah Tsabit bin Qois bin Syammas (12 H) dan kabar yang ia berikan
kepada orang yang melihatnya mengenai baju besinya serta utang-utang yang ia
tanggung.
Begitu pula kisah Sodaqoh bin Sulaiman al-Ja’fari dan kabar dari ayahnya
mengenai apa yang ia lakukan setelah kematiannya. Kisah Syabib bin Syaibah (170
H) dan perkataan ibunya setelah wafat: “Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan
karena engkau telah menuntunku dengan kalimat La ilaha illallah.” Juga kisah
Al-Fadhl bin al-Muwaffaq bersama ayahnya dan kabar ayahnya bahwa ia mengetahui ziarohnya.
Sa’id bin al-Musayyib (94 H) menceritakan bahwa Abdulloh bin Salam (43
H) rodhiyallahu ‘anhu dan Salman al-Farisi (32 H) rodhiyallahu ‘anhu
bertemu. Salah satunya berkata kepada yang lain: “Jika engkau mati
mendahuluiku, maka temuilah aku dan kabarkanlah apa yang engkau dapati dari
Robb-mu. Dan jika aku yang mati mendahuluimu, aku pun akan menemuimu dan
mengabarkannya.” Yang lain bertanya: “Apakah orang mati dan orang hidup bisa
saling bertemu?” Ia menjawab: “Ya, ruh-ruh mereka berada di Jannah, pergi ke
mana saja yang dikehendaki.” Kemudian salah satunya wafat lalu menemui temannya
dalam mimpi dan berkata: “Bertawakkallah dan berilah kabar gembira, karena aku
tidak melihat amalan yang setara dengan Tawakkal sama sekali.”
Al-Abbas bin Abdul Mutholib (32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku
sangat ingin melihat Umar (23 H) dalam mimpi, namun aku tidak bisa melihatnya
kecuali setelah hampir setahun. Aku melihatnya sedang mengusap keringat dari
keningnya sambil berkata: ‘Inilah saat luangku. Hampir saja singgasanaku runtuh
seandainya aku tidak bertemu dengan Robb Yang Maha Santun lagi Maha Penyayang.”
Ketika Syuroih bin ‘Abid ath-Thumali hampir wafat, Ghudhoif bin
al-Harits (80 H) menemuinya saat ia sedang berjuang menghadapi sakarotul maut.
Ghudhoif berkata: “Wahai Abu al-Hajjaj, jika engkau sanggup menemui kami
setelah mati untuk mengabarkan apa yang engkau lihat, maka lakukanlah.” Syuraih
mengiyakannya, dan kata-kata itu dianggap sebagai hal yang diterima di kalangan
ahli fiqih. Ghudhoif menunggu sekian lama tanpa melihatnya, hingga akhirnya ia
melihat Syuraih dalam mimpinya. Ia bertanya: “Bukankah engkau telah wafat?”
Syuraih menjawab: “Benar.” Ia bertanya: “Bagaimana keadaanmu?” Syuraih
menjawab: “Robb kami telah mengampuni dosa-dosa kami, maka tidak ada yang
binasa di antara kami kecuali orang-orang al-ahrodh.” Aku bertanya: “Apa
itu al-ahrodh?” Ia menjawab: “Yaitu orang-orang yang ditunjuk dengan
jari dalam suatu perkara (karena keburukannya).”
Abdulloh bin Umar bin Abdul Aziz menceritakan: “Aku melihat ayahku dalam
mimpi setelah kematiannya seolah-olah ia berada di sebuah kebun. Ia memberiku
buah apel, dan aku menafsirkannya sebagai anak. Aku bertanya: ‘Amalan apa yang
engkau dapati paling utama?’ Ia menjawab: ‘Memohon ampunan (Istighfar), wahai
anakku.”
Maslamah bin Abdul Malik (121 H) melihat Umar bin Abdul Aziz (101 H)
setelah wafatnya, lalu ia bertanya: “Wahai Amirul Mu’minin, andai saja aku tahu
ke keadaan manakah engkau beranjak setelah mati?” Umar menjawab: “Wahai
Maslamah, inilah waktu luangku. Demi Alloh, aku tidak pernah merasakan
istirahat kecuali sekarang.” Aku bertanya: “Lalu di manakah engkau sekarang
wahai Amirul Mu’minin?” Ia menjawab: “Bersama para imam pembawa petunjuk di
Jannah ‘Adn.”
Sholih al-Barrod menceritakan: “Aku melihat Zuroroh bin Aufa (93 H)
setelah kematiannya, lalu aku bertanya: ‘Semoga Alloh merohmatimu, apa yang
dikatakan kepadamu dan apa yang engkau katakan?’ Ia memalingkan wajah dariku.
Aku bertanya lagi: ‘Apa yang Alloh lakukan kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Dia memberikan
karunia kepadaku dengan kedermawanan dan kemuliaan-Nya.’ Aku bertanya: ‘Bagaimana
dengan Abu al-Ala’ bin Yazid, saudara Muthorrif?’ Ia menjawab: ‘Dia berada di
derajat yang tinggi.’ Aku bertanya: ‘Amalan apakah yang paling sampai
pengaruhnya menurut kalian?’ Ia menjawab: ‘Tawakkal dan pendek angan-angan.”
Malik bin Dinar (131 H) menceritakan: “Aku melihat Muslim bin Yasar (100
H) setelah kematiannya. Aku mengucapkan salam kepadanya, namun ia tidak
menjawab salamku. Aku bertanya: ‘Apa yang menghalangimu untuk membalas salamku?’
Ia menjawab: ‘Aku sudah mati, lantas bagaimana aku bisa membalas salammu?’ Aku
bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau dapati setelah mati?’ Ia menjawab: ‘Demi
Alloh, aku menjumpai kengerian-kengerian dan guncangan-guncangan yang sangat
besar lagi dahsyat.’ Aku bertanya lagi: ‘Lalu apa yang terjadi setelah itu?’ Ia
menjawab: ‘Apa lagi yang engkau harapkan akan terjadi dari Dzat Yang Maha
Mulia?’ Dia menerima kebaikan-kebaikan kami, mengampuni kesalahan-kesalahan
kami, dan menanggung segala konsekuensi (tabi’at) atas kami.” Malik pun
berteriak kencang hingga pingsan. Setelah itu ia jatuh sakit selama beberapa
hari kemudian jantungnya pecah dan ia pun wafat.
Suhail saudara Hazm menceritakan: “Aku melihat Malik bin Dinar (131 H)
setelah kematiannya, lalu aku bertanya: ‘Wahai Abu Yahya, andai saja aku tahu
dengan apa engkau menghadap Alloh?’ Ia menjawab: ‘Aku menghadap dengan dosa
yang sangat banyak, namun husnuzhon (prasangka baik) kepada Alloh ﷻ telah menghapuskannya dariku.”
Ketika Rojaa’ bin Haywah (112 H) wafat, seorang wanita ahli ibadah
melihatnya dalam mimpi. Ia bertanya: “Wahai Abu al-Miqdam, ke manakah kalian
beranjak?” Ia menjawab: “Kepada kebaikan, namun kami sempat terkejut setelah
kepergian kalian dengan sebuah keterkejutan yang membuat kami menyangka bahwa
hari Qiyamah telah tiba.” Wanita itu bertanya: “Mengapa demikian?” Ia menjawab:
“Al-Jarroh dan para pengikutnya masuk ke Jannah dengan segala beban mereka
(pahala jihad) hingga mereka berdesak-desakan di pintunya.”
Jamil bin Murroh menceritakan: “Muwarriq al-Ijali (100 H) adalah saudara
dan sahabatku. Suatu hari aku berkata kepadanya: oSiapa pun di antara kita yang
mati lebih dahulu, hendaknya ia mendatangi temannya untuk mengabarkan apa yang
ia alami.’ Ketika Muwarriq wafat, istriku melihatnya dalam mimpi seolah-olah ia
mendatangi kami seperti biasanya. Ia mengetuk pintu rumah sebagaimana biasanya.
Istriku bangkit dan membukakan pintu untuknya, lalu berkata: ‘Masuklah wahai
Abu al-Mu’tamir menuju pintu saudaramu.’ Namun ia menjawab: ‘Bagaimana aku bisa
masuk sementara aku telah merasakan mati? Aku hanyalah datang untuk mengabarkan
Jamil tentang apa yang Alloh lakukan kepadaku. Beritahukanlah padanya bahwa
Alloh telah menjadikanku termasuk orang-orang yang didekatkan (Al-Muqorrobin).”
Ketika Muhammad bin Sirin (110 H) wafat, sebagian sahabatnya sangat
berduka cita. Kemudian ia melihatnya dalam mimpi dalam keadaan yang sangat
baik. Ia bertanya: “Wahai saudaraku, aku melihatmu dalam keadaan yang
menyenangkan hatiku. Lalu apa yang dilakukan Al-Hasan (al-Bashri - 110 H)?”
Ibnu Sirin menjawab: “Ia diangkat derajatnya 70 derajat di atasku.” Aku
bertanya: “Mengapa demikian, padahal kami memandangmu lebih utama darinya?” Ia
menjawab: “Itu dikarenakan panjangnya kesedihan yang ia rasakan (karena takut
pada Alloh).”
Ibnu ‘Uyainah (198 H) menceritakan: “Aku melihat Sufyan ath-Tsauri (161
H) dalam mimpi lalu aku berkata: ‘Berilah aku wasiat.’ Ia menjawab: ‘Kurangilah
bergaul dengan manusia.”
Ammar bin Saif menceritakan: “Aku melihat Hasan bin Sholih (169 H) dalam
mimpinya, lalu aku berkata: ‘Aku sangat mendambakan pertemuan denganmu, maka
apa yang ada di sisimu yang bisa engkau kabarkan kepada kami?’ Ia menjawab: ‘Berilah
kabar gembira, karena sesungguhnya aku tidak melihat sesuatu yang lebih utama
daripada berprasangka baik (husnuzhon) kepada Alloh.”
Ketika Dhoyghom al-Abid wafat, sebagian sahabatnya melihatnya dalam
mimpi. Dhoyghom bertanya: “Apakah engkau telah mensholatiku?” Sahabatnya
menyebutkan suatu udzur yang ada. Dhoyghom berkata: “Andai saja engkau ikut
serta, niscaya engkau akan mendapatkan keselamatan yang besar.”
Ketika Robiah (al-Adawiyyah - 185 H) wafat, seorang wanita sahabatnya
melihatnya mengenakan pakaian sutra tebal (istibroq) dan kerudung dari
sutra tipis (sundus), padahal ia dikafani dengan jubah dan kerudung dari
wol. Wanita itu bertanya: “Apa yang terjadi dengan jubah wol yang kami gunakan
untuk mengafanimu?” Robiah menjawab: “Demi Alloh, jubah itu telah dilepaskan
dariku dan digantikan dengan pakaian yang engkau lihat ini. Kafanku telah
dilipat, disegel, dan diangkat ke tempat yang tinggi (Illiyyin) agar pahalanya
disempurnakan untukku pada hari Qiyamah.” Wanita itu berkata: “Inilah yang
engkau ketahui saat di dunia.” Robiah menjawab: “Apa gunanya ini dibandingkan
dengan kemuliaan yang aku lihat dari Alloh bagi para wali-Nya.” Aku bertanya: “Lalu
apa yang dilakukan ‘Abdah binti Abi Kilab?” Robiah menjawab: “Jauh, sangat
jauh! Demi Alloh, ia telah mendahului kami menuju derajat-derajat yang tinggi.”
Aku bertanya: “Dengan apa, padahal orang-orang memandangmu lebih rajin ibadah
darinya?” Robiah menjawab: “Sesungguhnya ia tidak mempedulikan dalam keadaan
bagaimana ia berada di dunia, baik di pagi hari maupun di sore hari.” Aku
bertanya: “Lalu bagaimana dengan Abu Malik (yakni Dhoyghom)?” Ia menjawab: “Ia
menziarohi Alloh ﷻ kapan pun ia kehendaki.”
Aku bertanya: “Lalu bagaimana dengan Bisyr bin Manshur (180 H)?” Ia
menjawab: “Bakh, bakh! Demi Alloh, ia telah diberi melebihi apa yang ia
harapkan.” Aku berkata: “Perintahkanlah kepadaku suatu perkara yang bisa
mendekatkan diriku kepada Alloh ﷻ.” Robiah menjawab: “Hendaknya engkau memperbanyak berdzikir
kepada Alloh, niscaya engkau akan merasa iri (dalam kebaikan) dengan hal itu di
dalam kuburmu kelak.”
Ketika Abdul Aziz bin Sulaiman al-Abid wafat, sebagian sahabatnya
melihatnya mengenakan pakaian hijau dan di atas kepalanya terdapat mahkota dari
mutiara. Ia bertanya: “Bagaimana keadaanmu setelah meninggalkan kami? Bagaimana
rasanya mati? Dan bagaimana engkau melihat urusan di sana?” Ia menjawab: “Adapun
tentang kematian, janganlah engkau tanya tentang betapa dahsyatnya kesengsaraan
dan kegundahannya. Namun rohmat Alloh telah menutupi segala aib kami, dan kami
tidak disambut melainkan dengan karunia-Nya.”
Sholih bin Bisyir menceritakan: “Ketika Atho’ as-Sulami wafat, aku
melihatnya dalam mimpinya. Aku bertanya: ‘Wahai Abu Muhammad, bukankah engkau
termasuk golongan orang yang sudah mati?’ Ia menjawab: ‘Benar.’ Aku bertanya: ‘Menjadi
apakah engkau setelah mati?’ Ia menjawab: ‘Demi Alloh, aku menuju kebaikan yang
sangat banyak dan Robb Yang Maha Pengampun lagi Maha Bersyukur.’ Aku berkata: ‘Demi
Alloh, engkau dahulu adalah orang yang sangat panjang kesedihannya di dunia.’
Ia tersenyum dan berkata: ‘Demi Alloh, kesedihan itu telah membuahkan istirahat
yang panjang dan kegembiraan yang abadi bagiku.’ Aku bertanya: ‘Di derajat
manakah engkau berada?’ Ia menjawab: ‘Bersama orang-orang yang telah Alloh
berikan ni’mat kepada mereka, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada,
dan orang-orang Sholih, dan mereka itulah sebaik-baik teman.”
Ketika Ashim al-Jahdari wafat, sebagian keluarganya melihatnya dalam
mimpi. Ia bertanya: “Bukankah engkau telah wafat?” Ia menjawab: “Benar.” Ia
bertanya: “Di manakah engkau sekarang?” Ia menjawab: “Demi Alloh, aku berada di
salah satu taman dari taman-taman Jannah. Aku bersama sekelompok sahabatku
berkumpul setiap malam Jum’at dan pagi harinya menemui Bakr bin Abdulloh al-Muzani
(108 H), lalu kami menerima kabar-kabar tentang kalian.” Aku bertanya: “Jasad
kalian atau ruh kalian?” Ia menjawab: “Mustahil jasad, karena jasad telah
hancur, yang saling bertemu adalah ruh.”
Fudhoil bin Iyadh (187 H) terlihat dalam mimpi setelah kematiannya, ia
berkata: “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih baik bagi seorang hamba selain
Robb-nya.”
Murroh al-Hamdani (76 H) pernah bersujud hingga tanah mengikis jidatnya.
Ketika ia wafat, seorang dari keluarganya melihatnya dalam mimpi seolah-olah tempat
sujudnya bercahaya seperti bintang yang terang. Ia bertanya: “Bekas apa yang
aku lihat di wajahmu ini?” Ia menjawab: “Tempat sujud yang terkikis oleh tanah
itu telah dipakaikan cahaya.” Aku bertanya: “Lalu bagaimana kedudukanmu di
Akhiroh?” Ia menjawab: “Sebaik-baik tempat kediaman yang penghuninya tidak akan
berpindah darinya dan tidak akan mati.”
Abu Ya’qub al-Qori’ menceritakan: “Aku bermimpi melihat seorang lelaki
yang berkulit cokelat dan tinggi, orang-orang mengikutinya.” Aku bertanya: “Siapa
ini?” Mereka menjawab: “Uwais al-Qorni (37 H).” Aku pun mengikutinya dan
berkata: “Berilah aku wasiat, semoga Alloh merohmatimu.” Ia memasang wajah
masam kepadaku. Aku berkata: “Aku orang yang meminta petunjuk, maka
tunjukkanlah kepadaku, semoga Alloh merohmatimu.” Ia pun menghadapku dan
berkata: “Carilah rohmat Alloh saat engkau mencintai-Nya, waspadalah terhadap
kemurkaan-Nya saat engkau bermaksiat kepada-Nya, dan janganlah engkau memutus
harapanmu dari-Nya di sela-sela hal tersebut.” Kemudian ia pergi
meninggalkanku.”
Ibnu as-Sammak (183 H) menceritakan: “Aku melihat Mis’ar (155 H) dalam
mimpi, lalu aku bertanya: ‘Amalan apakah yang engkau dapati paling utama?’ Ia
menjawab: Majelis-majelis dzikir.”
Al-Ajlah menceritakan: “Aku melihat Salamah bin Kuhail (121 H) dalam
mimpi, aku bertanya: ‘Amalan apakah yang paling utama?’ Ia menjawab: ‘Qiyamul
Lail (Sholat malam).”
Abu Bakr bin Abi Maryam menceritakan: “Aku melihat Wafa’ bin Bisyir
setelah wafatnya, aku bertanya: ‘Apa yang terjadi padamu wahai Wafa’?’ Ia
menjawab: ‘Aku selamat setelah segala perjuangan yang berat.’ Aku bertanya: ‘Amalan
apakah yang kalian dapati paling utama?’ Ia menjawab: ‘Menangis karena takut
kepada Alloh ﷻ.”
Al-Laits bin Sa’d (175 H) menceritakan dari Musa bin Wardan bahwa ia
melihat Abdulloh bin Abi Habibah (126 H) setelah kematiannya. Ia berkata: “Amal
kebaikan dan keburukanku diperlihatkan kepadaku. Aku melihat dalam catatan
kebaikanku terdapat biji-biji delima yang aku punguti lalu aku makan. Dan aku
melihat dalam catatan keburukanku dua helai benang sutra yang ada di kopiahku.”
Sunaid bin Dawud menceritakan, keponakan Juwairiyah bin Asma’
menceritakan kepadaku: “Kami berada di Abadan, lalu datanglah seorang pemuda
dari Kufah yang ahli ibadah. Ia wafat di sana pada hari yang sangat panas. Aku
berkata: ‘Biarkan ia mendingin dahulu baru kita urus janazahnya.’ Aku pun
tertidur dan bermimpi berada di pemakaman, tiba-tiba ada kubah dari permata
yang sangat indah bercahaya. Saat aku menatapnya, kubah itu terbelah dan muncul
seorang gadis yang kecantikannya belum pernah aku lihat. Ia menghadapku dan
berkata: ‘Demi Alloh, janganlah engkau menahannya dari kami sampai Zhuhur.’ Aku
pun terbangun dengan terkejut, segera mengurus janazahnya, dan menggali kubur
untuknya di tempat yang aku lihat kubah itu dalam mimpi, lalu aku
menguburkannya di sana.”
Abdul Malik bin Atab al-Laitsi menceritakan: “Aku melihat Amir bin Abdi
Qois (55 H) dalam mimpi, aku bertanya: ‘Amalan apakah yang engkau dapati paling
utama?’ Ia menjawab: ‘Apa saja yang dengannya diharapkan wajah Alloh ﷻ.”
Yazid bin Harun (206 H) menceritakan: “Aku melihat Abu al-Ala’ Ayyub bin
Miskin dalam mimpi, aku bertanya: ‘Apa yang Robb-mu lakukan kepadamu?’ Ia
menjawab: ‘Dia mengampuniku.’ Aku bertanya: ‘Dengan apa?’ Ia menjawab: ‘Dengan
Puasa dan Sholat.’ Aku bertanya: ‘Apakah engkau melihat Manshur bin Zadan (131
H)?’ Ia menjawab: ‘Jauh, istananya hanya bisa kami lihat dari kejauhan.”
Yazid bin Nu’amah menceritakan bahwa seorang gadis wafat dalam wabah Tho’un
al-Jarif. Ayahnya menemuinya setelah kematiannya dan bertanya: “Wahai putriku,
kabarkanlah kepadaku tentang Akhiroh.” Ia menjawab: “Wahai ayah, kami
mendatangi urusan yang sangat besar. Kami mengetahui namun tidak bisa beramal,
sedangkan kalian beramal namun tidak mengetahui. Demi Alloh, sungguh satu atau
dua tasbih, atau satu atau dua rokaat dalam catatan amalku lebih aku cintai
daripada dunia dan seisinya.” Katsir bin Murroh menceritakan: “Aku bermimpi
seolah-olah masuk ke tingkat tertinggi di Jannah. Aku berkeliling di sana dan
merasa takjub. Tiba-tiba aku bertemu dengan wanita-wanita dari Masjid di salah
satu sudutnya. Aku menghampiri mereka dan mengucapkan salam, lalu bertanya: ‘Dengan
apa kalian meraih tingkatan ini?’ Mereka menjawab: ‘Dengan sujud-sujud dan
takbir-takbir.’”
Muzahim (maula Umar bin Abdul Aziz) menceritakan dari Fatimah binti
Abdul Malik (istri Umar bin Abdul Aziz): “Suatu malam Umar bin Abdul Aziz terbangun
dan berkata: ‘Aku benar-benar melihat mimpi yang menakjubkan.’ Fatimah
bertanya: ‘Ceritakanlah kepadaku.’ Umar menjawab: ‘Aku tidak akan
menceritakannya padamu sampai pagi tiba.’ Ketika fajar terbit, ia keluar untuk
Sholat lalu kembali ke majelisnya. Fatimah mengambil kesempatan saat ia sedang
sendirian dan berkata: ‘Kabarkanlah mimpi itu.’ Umar berkata: ‘Aku bermimpi
seolah-olah diangkat ke suatu tanah hijau yang sangat luas bagaikan hamparan
karpet hijau. Di sana terdapat istana putih seolah-olah dari perak. Tiba-tiba
seseorang keluar dari istana itu dan berseru dengan suara keras: ‘Di manakah
Muhammad bin Abdulloh bin Abdul Mutholib? Di manakah Rosululloh?’ Maka
Rosululloh ﷺ datang dan masuk ke istana
itu. Kemudian orang lain keluar dan berseru: ‘Di manakah Abu Bakr ash-Shiddiq?
Di manakah putra Abu Quhafah?’ Maka Abu Bakr datang dan masuk ke istana itu.
Kemudian orang lain lagi keluar dan berseru: ‘Di manakah Umar bin al-Khoththob?’
Maka Umar datang dan masuk. Kemudian keluar lagi yang berseru: ‘Di manakah
Utsman bin Affan?’ Maka Utsman datang dan masuk. Kemudian keluar lagi yang
berseru: ‘Di manakah Ali bin Abi Tholib?’ Maka Ali datang dan masuk. Akhirnya
seseorang keluar dan berseru: ‘Di manakah Umar bin Abdul Aziz?’ Aku pun bangkit
dan masuk ke istana itu. Aku sampai di hadapan Rosululloh ﷺ dan orang-orang di sekelilingnya. Aku bertanya dalam hatiku: ‘Di
manakah aku harus duduk?’ Maka aku duduk di samping ayahku, Umar bin al-Khoththob.
Aku melihat Abu Bakr di sebelah kanan Nabi dan Umar di sebelah kiri beliau. Aku
memperhatikan, ternyata di antara Rosululloh dan Abu Bakr ada seorang lelaki.
Aku bertanya: ‘Siapa lelaki yang berada di antara Rosul dan Abu Bakr ini?’
Seseorang menjawab: ‘Ini adalah Isa bin Maryam ‘alaihissalam.’ Kemudian
aku mendengar suara yang memanggilku, sementara di antaraku dan dia ada tabir
cahaya: ‘Wahai Umar bin Abdul Aziz, tetaplah berpegang teguh pada apa yang
engkau jalankan dan kokohlah di atasnya.’ Kemudian seolah-olah aku diizinkan
keluar, maka aku pun keluar dari istana itu. Saat aku menoleh ke belakang,
ternyata Utsman bin Affan sedang keluar dari istana itu sambil berkata: ‘Segala
puji bagi Alloh yang telah menolongku.’ Dan di belakangnya ada Ali bin Abi
Tholib yang keluar sambil berkata: ‘Segala puji bagi Alloh yang telah
mengampuniku.”
Sa’id bin Abi Arubah menceritakan dari Umar bin Abdul Aziz: “Aku
bermimpi melihat Rosululloh ﷺ, sementara Abu Bakr dan Umar
duduk di sisi beliau. Aku mengucapkan salam dan duduk. Tiba-tiba didatangkan
Ali dan Mu’awiyah (60 H) lalu keduanya dimasukkan ke dalam sebuah rumah dan
pintunya ditutup, sementara aku melihat mereka. Tidak lama kemudian Ali keluar
sambil berkata: ‘Robb Pemilik Ka’bah telah memberikan keputusan bagiku (yakni
memenangkanku).’ Tidak lama setelah itu Mu’awiyah pun keluar sambil berkata: ‘Robb
Pemilik Ka’bah telah mengampuniku.”
Hammad bin Abi Hasyim menceritakan bahwa seorang lelaki mendatangi Umar
bin Abdul Aziz dan berkata: “Aku bermimpi melihat Rosululloh ﷺ, Abu Bakr di sebelah kanan beliau dan Umar di sebelah kiri
beliau. Tiba-tiba dua orang lelaki datang berselisih dan engkau duduk di
hadapan beliau. Beliau ﷺ bersabda padamu: “Wahai Umar,
apabila engkau beramal, maka beramallah dengan amalan kedua orang ini, yaitu
Abu Bakr dan Umar.” Umar bin Abdul Aziz menyumpah lelaki itu demi Alloh apakah
ia benar-benar melihat mimpi itu, lelaki itu pun bersumpah, maka Umar menangis.
Abdurrohman bin Ghonm menceritakan: “Aku melihat Mu’adz bin Jabal (18 H)
tiga hari setelah wafatnya menunggang kuda putih keabu-abuan (ablaq). Di
belakangnya ada lelaki berkulit putih mengenakan pakaian hijau menunggang kuda
yang serupa. Mu’adz berada di depan mereka sambil mengucapkan: ‘Wahai kiranya
kaumku mengetahui bagaimana Robb-ku telah mengampuniku dan menjadikanku
termasuk orang-orang yang dimuliakan.’ Kemudian ia menoleh ke kanan dan kirinya
sambil berkata: ‘Wahai Ibnu Rowahah! Wahai Ibnu Mazh’un! Segala puji bagi Alloh
yang telah membuktikan janji-Nya kepada kami dan mewariskan bumi ini kepada
kami, kami menempati Jannah di mana saja kami kehendaki, maka itulah
sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal. Kemudian ia menyalamiku dan
mengucapkan salam padaku.”
Qobishoh bin Uqbah menceritakan: “Aku melihat Sufyan ath-Tsauri (161 H)
dalam mimpi setelah kematiannya, aku bertanya: ‘Apa yang Alloh lakukan padamu?’
Ia menjawab dengan syair:
نَظَرْتُ إِلَى رَبِّي عِيَانًا فَقَالَ لِي ... هَنِيئًا
رِضَايَا عَنْكَ يَا ابْنَ سَعِيدِ
فَقَدْ كُنْتَ قَوَّامًا إِذَا اللَّيْلُ قَدْ دَجَا ...
بِعَبْرَةِ مَحْزُونٍ وَقَلْبٍ عَمِيدِ
فَدُونَكَ فَاخْتَر أَيَّ قَصْرٍ تُرِيدُهُ ... وَزُرْنِي
فَإِنِّي مِنْكَ غَيْرُ بَعِيدِ
Aku memandang Robb-ku secara nyata, lalu Dia berfirman kepadaku: ‘Selamat
atas ridho-Ku kepadamu wahai putra Sa’id. Sungguh engkau dahulu adalah orang
yang tegak berdiri (sholat) saat malam telah gelap gulita, dengan cucuran air
mata yang sedih dan hati yang penuh kerinduan. Maka silakan engkau memilih
istana mana saja yang engkau inginkan, dan ziarohilah Aku karena sesungguhnya
Aku tidaklah jauh darimu.’”
Sufyan bin ‘Uyainah (198 H) menceritakan: “Aku melihat Sufyan ath-Tsauri
setelah kematiannya terbang di Jannah dari satu pohon kurma ke pohon lain, dari
satu pohon ke pohon lain, sambil mengucapkan: ‘Untuk yang seperti inilah
hendaknya orang-orang yang beramal itu beramal.’ Ditanyakan kepadanya: ‘Dengan
apa engkau dimasukkan ke Jannah?’ Ia menjawab: ‘Dengan sikap Wiro’
(berhati-hati dari dosa), dengan sikap Wiro’.’ Ditanyakan: ‘Lalu apa yang
dilakukan Ali bin Ashim (201 H)?’ Ia menjawab: ‘Kami tidak melihatnya kecuali
seperti bintang (sangat tinggi).’”
Syu’bah bin al-Hajjaj (160 H) dan Mis’ar bin Kidam (155 H) adalah dua
orang penghafal hadits yang agung. Abu Ahmad al-Buroidi menceritakan: “Aku
melihat keduanya setelah kematian mereka. Aku bertanya: ‘Wahai Abu Bisthom, apa
yang Alloh lakukan kepadamu?’ Syu’bah menjawab: ‘Semoga Alloh memberimu taufiq
untuk menghafal apa yang aku katakan:
حَبَانِي إِلَهِي فِي الْجِنَانِ بَقِيَّةً ... لَهَا أَلْفُ
بَابٍ مِنْ لُجَيْنٍ وَجَوْهَرَا
وَقَالَ لِي الرَّحْمَنُ يَا شُعْبَةُ الَّذِي ... تَبَحَّرَ
فِي جَمْعِ الْعُلُومِ فَأَكْثَرَا
تَنَعَّمْ بِقُرْبِي إِنَّنِي عَنْكَ ذُو رِضَا ... وَعَنْ
عَبْدِي الْقَوَّامِ فِي اللَّيْلِ مِسْعَرَا
كَفَا مِسْعَرًا عِزًّا بِأَنْ سَيَزُورُنِي ... وَأَكْشِفُ
عَنْ وَجْهِي الْكَرِيمِ لِيَنْظُرَا
وَهَذَا فِعَالِي بِالَّذِينَ تَنَسَّكُوا ... وَلَمْ يَأْلَفُوا
فِي سَالِفِ الدَّهْرِ مُنْكَرَا
Robb-ku telah menganugerahiku sebuah tempat di Jannah yang memiliki
1.000 pintu dari perak dan permata. Robb Yang Maha Pengasih berfirman kepadaku:
‘Wahai Syu’bah yang telah menyelam luas dalam mengumpulkan ilmu dan
memperbanyaknya. Berbahagialah dengan kedekatan-Ku karena sesungguhnya Aku
ridho kepadamu, dan juga kepada hamba-Ku Mis’ar yang tegak sholat di malam
hari. Cukuplah kemuliaan bagi Mis’ar bahwa ia akan menziarohi-Ku, dan Aku akan
menyingkap wajah-Ku Yang Mulia agar ia bisa menatap-Nya. Inilah perbuatan-Ku
bagi orang-orang yang tekun beribadah dan tidak membiasakan kemungkaran di masa
lalu.”
Ahmad bin Muhammad al-Lubadi menceritakan: “Aku melihat Ahmad bin Hanbal
(241 H) dalam mimpi, aku bertanya: ‘Wahai Abu Abdillah, apa yang Alloh lakukan
kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Dia mengampuniku.’ Kemudian Alloh berfirman: ‘Wahai
Ahmad, engkau telah dicambuk 60 kali (saat fitnah Khalqul Qur’an)?’ Aku
menjawab: ‘Benar wahai Robb.’ Dia berfirman: ‘Inilah wajah-Ku, telah Aku
halalkan bagimu maka pandanglah.”
Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin al-Hajjaj menceritakan, seorang lelaki
dari penduduk Thorsus menceritakan kepadaku: “Aku berdoa kepada Alloh ﷻ agar memperlihatkan penghuni kubur
kepadaku sehingga aku bisa bertanya tentang Ahmad bin Hanbal, apa yang Alloh
lakukan padanya. Setelah 10 tahun, aku bermimpi seolah-olah penghuni kubur
bangkit di atas makam mereka dan mereka segera berkata kepadaku: ‘Wahai fulan,
berapa lama engkau berdoa memohon kepada Alloh agar memperlihatkan kami hanya
untuk bertanya tentang seseorang yang sejak meninggalkan kalian para Malaikat terus
menghiasinya di bawah pohon Thuba?”
Al-Hafizh Abu Muhammad Abdul Haqq (581 H) berkata: “Perkataan penghuni
kubur ini merupakan kabar tentang tingginya derajat Ahmad bin Hanbal dan kemuliaan
kedudukannya. Mereka tidak sanggup mensifatkan keadaannya kecuali dengan
ungkapan ini.”
Abu Ja’far as-Saqqo’ (sahabat Bisyir) menceritakan: “Aku melihat Bisyir
al-Hafi (227 H) dan Ma’ruf al-Karkhi (200 H) datang bersamaan. Aku bertanya: ‘Dari
mana kalian?’ Mereka menjawab: ‘Dari Jannah Firdaus, kami baru saja menziarohi
Nabi Musa Kalimullah.”
Ashim al-Jazari menceritakan: “Aku bermimpi bertemu Bisyir bin
al-Harits, aku bertanya: ‘Dari mana wahai Abu Nashr?’ Ia menjawab: ‘Dari
Illiyyin.’ Aku bertanya: ‘Apa yang dilakukan Ahmad bin Hanbal?’ Ia menjawab: ‘Aku
baru saja meninggalkannya bersama Abdul Wahhab al-Warroq (227 H) di hadapan
Alloh ﷻ, mereka sedang makan dan
minum.’ Aku bertanya: ‘Lalu bagaimana denganmu?’ Ia menjawab: ‘Alloh mengetahui
kurangnya minatku pada makanan, maka Dia mengizinkanku untuk memandang-Nya.”
Abu Ja’far as-Saqqo’ menceritakan: “Aku melihat Bisyir bin al-Harits
dalam mimpi setelah kematiannya, aku bertanya: ‘Wahai Abu Nashr, apa yang Alloh
lakukan padamu?’ Ia menjawab: ‘Dia menyantuniku dan merohmatiku, serta
berfirman kepadaku: Wahai Bisyir, seandainya engkau bersujud untuk-Ku di atas
bara api saat di dunia, niscaya engkau belum menunaikan syukur atas apa yang
Aku tanamkan dalam hati hamba-hamba-Ku tentangmu.’ Alloh mengizinkanku
menguasai separuh Jannah, maka aku bisa berjalan-jalan di sana sesukaku. Dan
Dia menjanjikan ampunan bagiku untuk siapa saja yang mengantarkan janazahku.”
Aku bertanya: “Lalu apa yang dilakukan Abu Nashr at-Tammar (228 H)?” Ia
menjawab: “Ia berada di atas orang-orang karena kesabarannya atas ujian dan
kefakirannya.”
Abdul Haqq berkata: “Mungkin yang dimaksud dengan ‘separuh Jannah’
adalah separuh ni’matnya. Karena ni’mat Jannah ada dua: ni’mat ruhani dan ni’mat
jasmani. Mereka mendapatkan ni’mat ruhani terlebih dahulu, dan ketika ruh
dikembalikan ke jasad, ni’mat jasmani akan ditambahkan.” Ulama lain berkata: “Ni’mat
Jannah bertingkat berdasarkan ilmu dan amal. Bagian Bisyir dari amal lebih
banyak daripada bagiannya dari ilmu. Wallohu A’lam.”
Sebagian orang sholih menceritakan: “Aku melihat Abu Bakr asy-Syibli
(334 H) dalam mimpi seolah-olah ia duduk di majelis Rushoofah di tempat yang
biasa ia tempati. Tiba-tiba ia datang mengenakan pakaian yang sangat indah. Aku
bangkit dan menyalaminya lalu duduk di hadapannya. Aku bertanya: ‘Siapa
sahabatmu yang paling dekat denganmu?’ Ia menjawab: ‘Orang yang paling giat
berdzikir kepada Alloh, paling tegak menunaikan hak Alloh, dan paling bersegera
mencari keridhoan Alloh.”
Abu Abdurrihman as-Sahili menceritakan: “Aku melihat Maisaroh bin Sulaim
dalam mimpi setelah kematiannya. Aku berkata: ‘Lama sekali engkau pergi.’ Ia
menjawab: ‘Perjalanannya memang panjang.’ Aku bertanya: ‘Apa yang engkau dapati
di sana?’ Ia menjawab: ‘Aku diberikan kemudahan karena dahulu kami suka memberi
fatwa dengan kemudahan (rukhsoh).’ Aku bertanya: ‘Apa yang engkau
perintahkan kepadaku?’ Ia menjawab: ‘Mengikuti Atsar dan bersahabat dengan
orang-orang pilihan akan menyelamatkanmu dari Naar dan mendekatkanmu kepada
Robb Yang Maha Perkasa.”
Abu Ja’far adh-Dhorir menceritakan: “Aku melihat Isa bin Zadhan setelah
wafatnya, aku bertanya: ‘Apa yang Alloh lakukan padamu?’ Ia melantunkan syair:
لَوْ رَأَيْتَ الْحِسَانَ فِي الْخُلْدِ حَوْلِي ... وَأَكَاويِبَ
مَعَهَا لِلشَّرَابِ
يَتَرَنَّمْنَ بِالْكِتَابِ جَمِيعًا ... يَتَمَشَّيْنَ مُسْبَلَاتِ
الثِّيَابِ
Andai saja engkau melihat para bidadari cantik di Jannah Khuld di
sekelilingku, bersama piala-piala untuk minuman. Mereka semua melantunkan
ayat-ayat Al-Qur’an dengan merdu, berjalan dengan pakaian yang menjuntai indah.”
Sebagian sahabat Ibnu Juroij (150 H) menceritakan: “Aku bermimpi
seolah-olah mendatangi pemakaman di Makkah. Aku melihat tenda besar (surodiq)
di atas sebagian besarnya, dan aku melihat sebuah makam yang di atasnya ada
tenda besar, tenda biasa (fusthoth), dan pohon lotus (sidroh).
Aku masuk dan mengucapkan salam, ternyata di sana ada Muslim bin Kholid
az-Zanji (180 H). Aku bertanya: ‘Wahai Abu Kholid, mengapa makam-makam ini ada
tenda besar di atasnya, namun makammu ada tenda besar, tenda biasa, dan pohon
lotus?’ Ia menjawab: ‘Karena aku dahulu sangat banyak berpuasa.’ Aku bertanya: ‘Di
manakah makam Ibnu Juroij dan di manakah kedudukannya?’ Aku sering duduk
bersamanya dan ingin mengucapkan salam padanya. Ia memberi isyarat dengan
tangannya: ‘Jauh!’ Sambil memutar jari telunjuknya: Di manakah Ibnu Juroij?
Catatan amalnya telah diangkat ke Illiyyin.”
Hammad bin Salamah (167 H) melihat sebagian sahabatnya dalam mimpi lalu
bertanya: “Apa yang Alloh lakukan padamu?” Ia menjawab: “Alloh berfirman
padaku: Sudah lama engkau meletihkan dirimu di dunia, maka hari ini Aku
sempurnakan istirahatmu dan istirahat orang-orang yang letih.”
Bab ini sangatlah panjang.
Jika jiwamu tidak mudah membenarkannya dan engkau berkata “ini hanyalah mimpi
yang tidak makshum (terjaga dari salah)”, maka perhatikanlah orang yang melihat
sahabatnya atau kerabatnya lalu orang mati itu mengabarkan hal yang tidak
diketahui kecuali oleh si pemimpi. Atau mengabarkan harta yang dipendam, atau
memperingatkan dari perkara yang akan terjadi lalu benar-benar terjadi. Atau
memberi kabar gembira tentang sesuatu yang akan ada lalu benar-benar ada. Atau
mengabarkan bahwa ia atau sebagian keluarganya akan mati pada waktu sekian dan
ternyata benar. Atau mengabarkan tentang kesuburan, kekeringan, musuh, bencana,
penyakit, atau niat tersembunyi lalu semuanya terjadi sesuai kabar tersebut.
Fakta-fakta mengenai hal ini tidak terhitung kecuali oleh Alloh, dan manusia
sama-sama mengalaminya. Kami sendiri dan orang lain telah menyaksikan keajaiban
dari hal itu.
Sangatlah batil pendapat yang mengatakan bahwa ini semua hanyalah
pengetahuan dan keyakinan dalam jiwa yang muncul saat jiwa terputus dari
kesibukan fisik melalui tidur. Ini adalah kebatilan yang mustahil. Sebab jiwa
sama sekali tidak pernah memiliki pengetahuan tentang perkara-perkara yang
dikabarkan oleh orang mati itu sebelumnya, tidak pernah terlintas dalam benak,
dan tidak memiliki tanda atau petunjuk apa pun mengenai hal itu. Kami tidak
memungkiri bahwa ada hal yang memang terjadi seperti itu. Memang ada mimpi yang
berasal dari lintasan jiwa dan gambaran keyakinan, bahkan banyak mimpi manusia
hanyalah gambaran dari keyakinan mereka yang benar maupun salah.
Sebab mimpi ada 3 jenis: mimpi dari Alloh, mimpi dari syaithon, dan
mimpi dari lintasan jiwa. Mimpi yang benar sendiri memiliki beberapa bagian, di
antaranya: ilham yang Alloh ﷻ
tanamkan dalam hati hamba, yang merupakan pembicaraan Robb kepada hamba-Nya
dalam tidur sebagaimana dikatakan oleh ‘Ubadah bin ash-Shomit (34 H) dan
lainnya. Bagian lain adalah perumpamaan yang diberikan oleh Malaikat Mimpi yang
ditugaskan untuk itu. Bagian lainnya adalah pertemuan ruh orang yang tidur
dengan ruh-ruh orang mati dari keluarganya, kerabatnya, dan sahabatnya
sebagaimana telah kami sebutkan. Bagian lainnya adalah naiknya ruh ke hadapan
Alloh ﷻ dan pembicaraan ruh
dengan-Nya. Bagian lainnya adalah masuknya ruh ke Jannah dan menyaksikannya.
Maka pertemuan ruh orang yang hidup dan mati adalah salah satu jenis mimpi yang
benar yang bagi manusia kedudukannya sama dengan perkara yang bisa dirasakan
oleh indra.
Ini adalah masalah yang di dalamnya manusia berselisih. Ada yang
berpendapat bahwa semua ilmu sudah tersimpan dalam jiwa, namun kesibukan dengan
alam indra menghalanginya untuk melihat ilmu itu. Apabila jiwa terlepas karena
tidur, ia bisa melihat sesuai kesiapannya. Dan karena pelepasan ruh saat mati
lebih sempurna, maka ilmu dan makrifat di sana pun lebih sempurna. Pendapat ini
mengandung kebenaran dan kebatilan; tidak ditolak seluruhnya dan tidak diterima
seluruhnya. Terlepasnya jiwa memang membuatnya mengetahui ilmu yang tidak
didapat tanpa pelepasan itu. Namun jika ia terlepas sepenuhnya pun, ia tidak
akan bisa mengetahui ilmu Alloh yang dengannya Dia mengutus Rosul-Nya, seperti
rincian kabar tentang para Rosul terdahulu, umat masa lalu, rincian hari
Akhiroh, tanda-tanda Qiyamah, rincian perintah dan larangan, Nama dan Sifat
Alloh, serta lainnya yang tidak diketahui kecuali melalui wahyu. Namun
terlepasnya jiwa membantu untuk mengetahui hal itu dan menerimanya dari sumbernya
dengan lebih mudah dan dekat dibandingkan jiwa yang tenggelam dalam kesibukan
fisik.
Ada pula yang berpendapat bahwa mimpi-mimpi ini adalah ilmu yang Alloh
kaitkan dalam jiwa sejak awal tanpa sebab. Ini adalah pendapat orang yang
mengingkari sebab-sebab dan hikmah yang kuat, dan ini menyelisihi Syariat,
akal, serta fitroh.
Ada juga yang berpendapat bahwa mimpi adalah perumpamaan yang Alloh
berikan bagi hamba sesuai kesiapannya melalui tangan Malaikat Mimpi. Terkadang
berupa perumpamaan, terkadang berupa kejadian yang sebenarnya sebagaimana yang
dilihat sehingga cocok dengan kenyataan. Pendapat ini lebih dekat daripada dua
pendapat sebelumnya, namun mimpi tidak terbatas pada hal itu saja. Mimpi
memiliki sebab-sebab lain sebagaimana telah dijelaskan, yaitu pertemuan ruh-ruh
dan kabar yang diberikan satu sama lain, serta bisikan Malaikat dalam hati, dan
penglihatan ruh terhadap segala sesuatu secara langsung tanpa perantara.
Al-Hafizh Abu Abdulloh bin Mandah (395 H) menyebutkan dalam Kitab
an-Nafsi war Ruuh dari hadits Muhammad bin Humid, Abdurrohman bin Maghro’
ad-Darusi menceritakan kepada kami, Al-Azhar bin Abdulloh al-Azdi menceritakan
kepada kami, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Salim bin Abdulloh, dari ayahnya
(73 H) bahwa Umar bin al-Khoththob (23 H) bertemu Ali bin Abi Tholib (40 H)
lalu berkata: “Wahai Abu al-Hasan, terkadang engkau hadir namun kami tidak ada,
dan kami hadir namun engkau tidak ada. Ada 3 hal yang ingin aku tanyakan
kepadamu, apakah engkau memiliki ilmu tentangnya?” Ali bin Abi Tholib bertanya:
“Apa saja itu?” Umar berkata: “Seseorang yang mencintai orang lain padahal ia
belum melihat kebaikan darinya, dan seseorang yang membenci orang lain padahal
ia belum melihat keburukan darinya.” Ali menjawab: “Ya, aku mendengar
Rosululloh ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya
ruh-ruh itu adalah pasukan yang dikerahkan, mereka bertemu di udara lalu saling
mencium. Apa yang saling mengenal darinya maka akan bersatu, dan apa yang
saling mengingkari maka akan berselisih.” Umar berkata: “Ini yang pertama.”
Umar berkata lagi: “Dan seseorang yang sedang berbicara tiba-tiba ia
lupa akan pembicaraannya, namun saat ia meninggalkannya tiba-tiba ia teringat
kembali.” Ali menjawab: “Ya, aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda: ‘Tidaklah dalam hati manusia melainkan ada awan
seperti awan yang menutupi bulan. Saat bulan bersinar terang, tiba-tiba awan
gelap menutupinya sehingga menjadi gelap, namun saat awan itu tersingkap ia
bersinar kembali. Begitu pula hati, saat ia berbicara tiba-tiba awan
menutupinya sehingga ia lupa, namun saat tersingkap ia pun teringat.” Umar
berkata: “Dua.” Umar bertanya lagi: “Dan seseorang yang bermimpi, di antaranya
ada yang benar dan ada yang dusta.”
Ali menjawab: “Ya, aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda: ‘Tidaklah seorang hamba tidur dengan tidur yang lelap
melainkan ruhnya akan naik menuju Arsy. Ruh yang tidak terbangun sebelum sampai
di Arsy, itulah mimpi yang benar. Sedangkan ruh yang terbangun sebelum sampai
di Arsy, itulah mimpi yang dusta.” Umar berkata: “Tiga hal inilah yang aku cari
jawabannya, maka segala puji bagi Alloh yang telah mempertemukanku dengan
jawabannya sebelum mati.”
Bughiyah bin al-Walid menceritakan, Sofwan bin Amru menceritakan kepada
kami, dari Sulaim bin ‘Amir al-Hadhromi, ia berkata: Umar bin al-Khoththob berkata:
“Aku takjub dengan mimpi seseorang, ia melihat sesuatu yang tidak pernah
terlintas dalam benaknya namun kemudian terjadi sesuai apa yang ia lihat. Namun
ia juga melihat sesuatu namun tidak terjadi apa-apa.” Ali bin Abi Tholib
berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, Alloh ﷻ berfirman: ‘Alloh memegang jiwa-jiwa manusia saat
kematiannya...’. Ruh-ruh itu naik dalam tidurnya. Apa yang ia lihat saat berada
di langit, itulah kebenaran. Namun ketika ruh-ruh itu dikembalikan ke jasadnya,
syaithon menemuinya di udara lalu membohonginya, maka apa yang ia lihat saat
itu adalah kebatilan.” Umar pun takjub dengan perkataan Ali tersebut. Ibnu
Mandah berkata: “Ini adalah kabar yang masyhur dari Sofwan bin Amru dan
lainnya, serta diriwayatkan pula dari Abu ad-Darda’ (32 H).”
Ath-Thobaroni (360 H) menyebutkan dari hadits Ali bin Abi Tholhah, bahwa
Abdulloh bin Abbas (68 H) berkata kepada Umar bin al-Khoththob (23 H): “Wahai
Amirul Mu’minin, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu.” Umar
berkata: “Tanyalah sesukamu.” Ibnu Abbas bertanya: “Wahai Amirul Mu’minin,
mengapa seseorang bisa ingat dan lupa? Dan mengapa mimpi ada yang benar dan ada
yang dusta?” Umar berkata: “Sesungguhnya di atas hati terdapat lapisan penutup
(thokhowah) seperti lapisan awan pada bulan. Apabila ia menutupi hati,
anak Adam akan lupa. Namun apabila tersingkap, ia akan teringat apa yang ia
lupakan. Adapun mengenai mimpi yang benar dan dusta, sesungguhnya Alloh ﷻ berfirman: ‘Alloh memegang jiwa-jiwa
manusia saat kematiannya...’. Jiwa yang masuk ke dalam malakut (kerajaan)
langit, itulah yang benar. Sedangkan yang berada di bawah malakut langit,
itulah yang dusta.”
Ibnu Lahi’ah meriwayatkan dari Utsman bin Nu’aim ar-Ru’aini, dari Abu
Utsman al-Asybahi, dari Abu ad-Darda’ (32 H), ia berkata: “Apabila manusia
tidur, ruhnya akan naik hingga dibawa ke hadapan Arsy. Jika ia dalam keadaan
suci (thohir), ia diizinkan untuk bersujud. Namun jika ia dalam keadaan junub,
ia tidak diizinkan untuk bersujud.”
Ja’far bin ‘Aun meriwayatkan dari Ibrohim al-Hijri, dari Abu al-Ahwash,
dari Abdulloh bin Mas’ud (32 H), ia berkata: “Sesungguhnya ruh-ruh itu adalah
pasukan yang dikerahkan, mereka bertemu lalu saling mencium sebagaimana kuda
saling mencium. Apa yang saling mengenal di antara kita maka akan bersatu, dan
apa yang saling mengingkari maka akan berselisih.”
Sejak dahulu hingga sekarang, manusia mengenal hal ini dan menyaksikannya.
Jamil bin Ma’mar al-‘Udzri (82 H) berkata dalam syairnya:
أَظَلُّ نَهَارِي مُسْتَهَامًا وَتَلْتَقِي ... مَعَ اللَّيْلِ
رُوحِي فِي الْمَنَامِ وَرُوحُهَا
“Siang hariku aku lalui dengan penuh kerinduan, dan saat malam tiba,
ruhku bertemu dengan ruhnya dalam mimpi.”
Jika ditanyakan: Orang yang tidur seringkali melihat orang hidup lainnya
berbicara dan menyapanya, padahal jarak keduanya sangat jauh dan orang yang
dilihat itu dalam keadaan terjaga ruhnya tidak meninggalkan jasadnya, lantas
bagaimana ruh keduanya bisa bertemu?
Jawabannya: Hal ini bisa jadi
merupakan perumpamaan yang diberikan oleh Malaikat Mimpi kepada si pemimpi.
Atau bisa jadi merupakan lintasan jiwa dari si pemimpi yang mewujud dalam
tidurnya sebagaimana dikatakan oleh Habib bin Aws (Abu Tammam - 231 H):
سُقْيًا لِطَيْفِكَ مِنْ زَوْرٍ أَتَاكَ بِهِ ... حَدِيثُ
نَفْسِكَ عَنْهُ وَهُوَ مَشْغُولُ
“Semoga keselamatan tercurah atas bayanganmu yang datang mengunjungiku,
itu hanyalah lintasan jiwamu tentangnya padahal ia sedang sibuk dengan
urusannya.”
Terkadang dua ruh memiliki kesesuaian dan hubungan yang sangat kuat satu
sama lain, sehingga salah satunya bisa merasakan sebagian apa yang terjadi pada
temannya walaupun ia tidak merasakan apa yang terjadi pada orang lain karena
kuatnya ikatan di antara keduanya. Manusia telah menyaksikan
keajaiban-keajaiban dari hal tersebut.
Intinya, ruh-ruh orang yang masih hidup bisa saling bertemu dalam tidur
sebagaimana ruh orang hidup bertemu dengan ruh orang mati. Sebagian Salaf
berkata: “Sesungguhnya ruh-ruh bertemu di udara lalu saling mengenal atau
saling bercerita, kemudian Malaikat Mimpi mendatanginya membawa apa yang akan
ia temui berupa kebaikan atau keburukan.” Ia berkata: “Alloh telah menugaskan
seorang Malaikat untuk mimpi yang benar, ia telah diajarkan dan diilhami
pengetahuan tentang setiap jiwa secara spesifik, namanya, tempat kembalinya
dalam agama dan dunianya, tabiatnya, dan makrifatnya. Tidak ada yang samar
baginya dan tidak ada yang salah. Kemudian ia membawakan salinan dari ilmu ghoib
Alloh dari Ummul Kitab mengenai apa yang akan menimpa orang tersebut berupa
kebaikan dan keburukan dalam agama dan dunianya. Malaikat itu memberikan
perumpamaan dan gambaran sesuai kebiasaannya; terkadang memberinya kabar
gembira atas kebaikan yang telah ia lakukan atau akan ia lakukan, memberinya
peringatan dari maksiat yang ia kerjakan atau ia niatkan, dan memperingatkannya
dari hal buruk yang sebab-sebabnya telah terkumpul agar ia bisa melawan
sebab-sebab itu dengan sebab lain yang menolaknya. Dan masih banyak lagi hikmah
serta kemaslahatan yang Alloh jadikan dalam mimpi sebagai ni’mat, rohmat,
ihsan, pengingat, dan perkenalan dari-Nya. Alloh menjadikan salah satu jalannya
adalah melalui pertemuan ruh-ruh, perbincangan mereka, dan perkenalan mereka.
Betapa banyak orang yang taubatnya, kesholihannya, kezuhudannya, dan arah
hidupnya menuju Akhiroh berawal dari mimpi yang ia lihat atau mimpi orang lain
tentangnya.
Kisah Ditunjukkan Harta dalam Mimpi
Betapa banyak pula orang yang menjadi kaya dan menemukan harta karun
terpendam berawal dari mimpi.
Dalam Kitab al-Majalisah karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan
al-Maliki (333 H), dari Ibnu Qutaibah (276 H), dari Abu Hatim, dari Al-Ashma’i
(216 H), dari Al-Mu’tamir bin Sulaiman (187 H), dari seseorang yang menceritakan
kepadanya, ia berkata: “Kami pernah bepergian bertiga. Salah seorang dari kami
tertidur, lalu kami melihat seperti ada lampu yang keluar dari hidungnya
kemudian masuk ke sebuah gua di dekatnya. Tak lama kemudian lampu itu kembali
dan masuk ke hidungnya. Ia pun terbangun sambil mengusap wajahnya dan berkata: ‘Aku
melihat hal yang menakjubkan, aku bermimpi di gua ini ada begini dan begitu.
Kami pun memasukinya dan menemukan sisa harta karun di sana.”
Begitu pula Abdul Mutholib (wafat sebelum kenabian) yang ditunjukkan
letak sumur Zamzam dalam mimpinya dan menemukan harta karun yang ada di sana.
Umair bin Wahb (25 H) juga didatangi dalam mimpinya lalu dikatakan
padanya: “Bangunlah menuju tempat sekian dan sekian dari rumah ini, galilah
niscaya engkau temukan harta ayahmu.” Ayahnya dahulu memendam harta lalu wafat
tanpa sempat berwasiat. Umair pun bangun dan menggali di tempat yang
diperintahkan, ia menemukan 10.000 dirham dan emas mentah (tibron) yang
sangat banyak. Ia pun bisa melunasi utangnya dan membaiklah keadaannya serta
keluarganya. Hal itu terjadi setelah ia masuk Islam. Putri bungsunya berkata: “Wahai
ayah, Robb kami yang telah menghidupkan kami dengan agama-Nya ini lebih baik
daripada Hubal dan ‘Uzza. Seandainya tidak demikian, tentu engkau tidak akan
mewarisi harta ini padahal engkau baru menyembah-Nya beberapa hari saja.”
Ali bin Abi Tholib al-Qoirowani (seorang ahli ta’bir mimpi) berkata: “Kisah
Umair dalam mengeluarkan harta melalui mimpi ini tidaklah lebih menakjubkan
daripada apa yang ada pada kami dan kami saksikan sendiri di zaman kami di kota
kami dari Abu Muhammad Abdulloh al-Baghonsyi. Ia adalah seorang lelaki sholih
yang masyhur (terkenal) karena sering melihat orang mati dan bertanya kepada
mereka tentang hal-hal yang ghoib (tersembunyi), lalu menyampaikannya kepada
keluarga dan kerabat mereka sampai hal itu menjadi populer dan sering terjadi.
Ada seseorang yang datang kepadanya mengadu bahwa kerabatnya telah wafat tanpa
berwasiat, padahal ia memiliki harta namun tidak diketahui tempatnya. Al-Baghonsyi
menjanjikan kebaikan lalu ia berdoa kepada Alloh ﷻ pada malam harinya. Ia pun diperlihatkan mayit tersebut dalam
mimpinya lalu bertanya tentang urusan itu, dan mayit itu mengabarkannya.
Di antara keajaibannya adalah ada seorang wanita tua sholihah wafat, dan
ia meninggalkan 7 dinar titipan milik wanita lain. Pemilik titipan itu datang
menemui Al-Baghonsyi dan mengadukan musibah yang menimpanya serta
memberitahukan namanya dan nama si wanita yang wafat itu. Keesokan harinya ia
kembali, lalu Al-Baghonsyi berkata kepadanya: “Fulanah (wanita yang wafat)
berkata kepadamu: Hitunglah dari atap rumahku 7 batang kayu, niscaya engkau
temukan dinar-dinar itu di batang kayu yang ke-7 di dalam potongan kain wol.”
Wanita itu melakukannya dan ternyata benar sebagaimana yang disifatkan padanya.
Ia juga berkata, seorang lelaki yang aku tidak meragukan kejujurannya
mengabarkan kepadaku: “Seorang wanita kaya menyewaku untuk merobohkan rumahnya
dan membangunnya kembali dengan biaya tertentu. Saat aku mulai merobohkannya,
wanita itu terus mengawasi pekerjaan kami bersama orang-orangnya. Aku bertanya:
‘Ada apa denganmu?’ Ia menjawab: ‘Demi Alloh, aku tidak butuh merobohkan rumah
ini, namun ayahku wafat dalam keadaan kaya raya tapi kami tidak menemukan
hartanya. Aku menduga hartanya dipendam, maka aku sengaja merobohkan rumah ini
barangkali aku menemukan sesuatu. Seseorang yang hadir berkata padanya: ‘Engkau
telah melewatkan cara yang lebih mudah bagimu.’ Wanita itu bertanya: ‘Apa itu?’
Ia menjawab: ‘Si Fulan (Al-Baghonsyi), pergilah padanya dan mintalah ia untuk
memimpikan masalahmu malam ini, barangkali ia melihat ayahmu lalu ayahmu
menunjukkan tempat hartanya tanpa letih dan susah.’ Wanita itu pergi menemuinya
lalu kembali lagi. Ia mengklaim bahwa Al-Baghonsyi telah mencatat namanya dan
nama ayahnya. Esok paginya ia datang saat kami bekerja dan berkata bahwa lelaki
itu melihat ayahnya dan ayahnya berkata: ‘Hartanya ada di Al-Huniyyah (semacam
ceruk atau lengkungan bangunan).’ Kami pun menggali di bawah Al-Huniyyah dan di
samping-sampingnya sampai muncul sebuah celah, dan ternyata hartanya ada di
sana. Kami pun takjub, namun wanita itu meremehkan apa yang ditemukannya dan
berkata: ‘Harta ayahku lebih banyak dari ini, aku akan kembali lagi padanya.’
Ia pun pergi memberitahunya lalu memohon agar ia melihat lagi. Esok harinya ia
datang lagi dengan wajah sedih, ia berkata bahwa Al-Baghonsyi melihat ayahnya
lagi dan ayahnya berkata: ‘Engkau telah mengambil apa yang ditakdirkan untukmu,’
adapun sisanya telah dijaga oleh jin ‘Ifrit yang menjaganya sampai datang orang
yang ditakdirkan untuknya.” Kisah-kisah dalam bab ini sangatlah banyak sekali.
Kisah Bertanya dalam Mimpi
Adapun orang yang mendapatkan kesembuhan dengan menggunakan obat yang ia
lihat melalui mimpi dari orang yang mensifatkannya, itu pun sangatlah banyak.
Bahkan tidak sedikit orang—termasuk yang awalnya tidak condong kepada Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah (728 H)—bercerita kepadaku bahwa mereka melihatnya setelah
wafatnya. Mereka bertanya tentang masalah-masalah yang musykil (sulit) bagi
mereka, seperti masalah waris (faro’idh) dan lainnya, lalu beliau
menjawabnya dengan jawaban yang benar.
Secara keseluruhan, perkara ini tidaklah diingkari kecuali oleh orang
yang paling jahil (bodoh) tentang urusan ruh, hukum-hukumnya, dan hakikatnya.
Hanya kepada Alloh lah taufiq itu memohon.
Bersambung jilid 2….
%20-%20Jilid%201%20Edisi%201.jpg)