Cari Ebook

[PDF] Kitab Ar-Ruh - Ibnu Qoyyim (751 H) - Jilid 1 Edisi 1

 


Muqoddimah

Ini adalah tarjamah jilid 1 untuk Kitab Ar-Ruh karya Ibnu Qoyyim. Karena cukup tebal kitab aslinya, maka kami mentarjamahkannya bertahap dalam beberapa jilid. Semoga Alloh memudahkan.

Judul subbab berasal dari kami. Naskah yang dijadikan bahan tarjamah adalah cetakan Darul Kutub  Al-Ilmiyyah Beirut yang bisa diunduh di sini.

Bab 1: Apakah orang-orang yang sudah meninggal mengetahui ziaroh dan salam dari orang-orang yang masih hidup atau tidak?

Mayit Mengetahui Orang yang Menziarohinya

Ibnu Abdil Barr (463 H) menyatakan bahwa telah tetap (yakni shohih) riwayat dari Nabi bahwa beliau bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُرُّ عَلَى قَبْرِ أَخِيهِ كَانَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْهِ رُوحَهُ حَتَّى يَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ»

“Tidaklah seorang Muslim melewati makam saudaranya yang ia kenal sewaktu di dunia, lalu ia mengucapkan salam kepadanya, melainkan Alloh akan mengembalikan ruh kepada mayit tersebut hingga ia membalas salamnya.” (HR. Ibnu Abdil Barr dalam Al-Istidzkar 1/185)

Hadits ini merupakan nash (dalil tegas) bahwa mayit mengenal orang yang menziarohinya secara spesifik dan ia membalas salam orang tersebut.

Dalam kitab Ash-Shohihain (Al-Bukhori dan Muslim), terdapat riwayat dari berbagai jalur bahwa Rosululloh memerintahkan agar janazah para korban yang tewas dalam Perang Badr dilemparkan ke dalam sebuah sumur tua yang kering. Kemudian beliau mendatangi mereka, berdiri di hadapan mereka, lalu memanggil nama-nama mereka: “Wahai Fulan bin Fulan, wahai Fulan bin Fulan! Apakah kalian telah mendapati apa yang Robb kalian janjikan kepada kalian adalah benar adanya? Karena sesungguhnya aku telah mendapati apa yang Robb-ku janjikan kepadaku adalah benar.” Maka Umar (23 H) bertanya kepada beliau: “Wahai Rosululloh, mengapa engkau berbicara kepada jasad-jasad yang telah menjadi bangkai?” Beliau menjawab:

«وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ وَلَكِنَّهُمْ لَا يَسْتَطِيعُونَ جَوَابًا»

“Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, kalian tidaklah lebih mendengar terhadap apa yang aku ucapkan dibandingkan mereka, hanya saja mereka tidak mampu memberikan jawaban.” (HR. Al-Bukhori no. 3976 dan Muslim no. 2875)

Telah tetap (shohih) pula riwayat dari Nabi bahwa mayit benar-benar mendengar suara ketukan sandal orang-orang yang mengantarkannya saat mereka beranjak pergi meninggalkannya. (HR. Al-Bukhori no. 1338 dan Muslim no. 2870)

Nabi juga telah mensyariatkan bagi umatnya, apabila mereka mengucapkan salam kepada penghuni kubur, hendaknya mereka menyapa sebagaimana menyapa orang yang diajak bicara. Mereka mengucapkan:

«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ...»

“Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai penghuni negeri kaum Mu’min.” (HR. Muslim)

Sapaan ini ditujukan kepada pihak yang mendengar dan berakal. Seandainya tidak demikian, tentu sapaan ini hanyalah seperti berbicara kepada benda mati atau sesuatu yang tidak ada.

Para Salaf (generasi terdahulu yang sholih) telah bersepakat mengenai hal ini. Atsar (riwayat) dari mereka telah mencapai derajat mutawatir (sangat banyak) yang menyatakan bahwa mayit mengetahui ziaroh orang yang hidup kepadanya dan ia merasa gembira dengan kedatangan tersebut.

Abu Bakr Abdulloh bin Muhammad bin Ubaid bin Abi Ad-Dunya (281 H) menyebutkan dalam Kitab al-Qubur, pada bab Pengetahuan Orang Mati terhadap Ziaroh Orang yang Hidup:

Muhammad bin Aun menceritakan kepada kami, Yahya bin Yaman menceritakan kepada kami, dari Abdulloh bin Sam’an, dari Zaid bin Aslam, dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَا مِنْ رَجُلٍ يَزُورُ قَبْرَ أَخِيهِ وَيَجْلِسُ عِنْدَهُ إِلَّا اسْتَأْنَسَ بِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ حَتَّى يَقُومَ»

“Tidaklah seseorang menziarohi makam saudaranya lalu ia duduk di sisinya, melainkan mayit tersebut merasa tenang dengan keberadaannya dan membalas salamnya hingga orang itu bangkit berdiri.”

Muhammad bin Qudamah al-Jauhari menceritakan kepada kami, Ma’n bin Isa al-Qozzas menceritakan kepada kami, Hisyam bin Sa’d mengabarkan kepada kami, Zaid bin Aslam menceritakan kepada kami, dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Apabila seseorang melewati makam saudaranya yang ia kenal lalu mengucapkan salam, maka mayit itu akan membalas salamnya dan mengenalinya. Namun jika ia melewati makam yang tidak ia kenal lalu bersalam, maka mayit itu akan membalas salamnya saja.”

Muhammad bin al-Husain menceritakan kepada kami, Yahya bin Bistham al-Asghor menceritakan kepadaku, Misma’ menceritakan kepadaku, seorang lelaki dari keluarga Ashim al-Jahdari menceritakan kepadaku, ia berkata: “Aku melihat Ashim al-Jahdari dalam mimpiku setelah 2 tahun kematiannya. Aku bertanya: ‘Bukankah engkau telah wafat?’ Ia menjawab: ‘Benar.’ Aku bertanya: ‘Lalu di manakah engkau sekarang?’ Ia menjawab: ‘Demi Alloh, aku berada di salah satu taman dari taman-taman Jannah. Aku bersama sekelompok sahabatku berkumpul setiap malam Jum’at dan pagi harinya menemui Bakr bin Abdulloh al-Muzani (108 H), lalu kami menerima kabar-kabar tentang kalian.’ Aku bertanya: ‘Apakah yang berkumpul itu jasad kalian atau ruh kalian?’ Ia menjawab: ‘Mustahil jasad, karena jasad-jasad telah hancur, namun yang saling bertemu adalah ruh-ruh.’ Aku bertanya: ‘Apakah kalian mengetahui ziaroh kami kepada kalian?’ Ia menjawab: ‘Ya, kami mengetahuinya pada sore hari Jum’at seluruhnya dan pada hari Sabtu hingga matahari terbit.’ Aku bertanya: ‘Mengapa hal itu terjadi pada hari-hari tersebut, tidak pada semua hari?’ Ia menjawab: ‘Karena keutamaan dan keagungan hari Jum’at.’”

Muhammad bin al-Husain menceritakan kepada kami, Bakr bin Muhammad menceritakan kepadaku, Hasan al-Qoshshob menceritakan kepada kami, ia berkata: “Aku dahulu berangkat bersama Muhammad bin Wasi’ (123 H) setiap Sabtu pagi menuju pemakaman, lalu kami berdiri di depan kuburan, mengucapkan salam kepada mereka, dan mendoakan mereka, kemudian kami pulang. Suatu hari aku bertanya: ‘Bagaimana jika engkau memindahkan kegiatan ini ke hari Senin?’ Beliau menjawab: ‘Telah sampai kabar kepadaku bahwa orang-orang mati mengetahui para penziaroh mereka pada hari Jum’at, sehari sebelumnya, dan sehari sesudahnya.’”

Muhammad menceritakan kepadaku, Abdul Aziz bin Aban menceritakan kepada kami, Sufyan ath-Thouri (161 H) menceritakan kepada kami, ia berkata: “Telah sampai kabar kepadaku dari Adh-Dhohhak (105 H) bahwa ia berkata: ‘Barang siapa menziarohi kuburan pada hari Sabtu sebelum matahari terbit, maka mayit akan mengetahui ziarohnya.’ Lalu ditanyakan kepadanya: ‘Bagaimana bisa demikian?’ Ia menjawab: ‘Karena kedudukan hari Jum’at.’”

Kholid bin Khidasy menceritakan kepada kami, Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abu At-Tayyah, ia berkata: “Dahulu Muthorrif (95 H) selalu berangkat pagi-pagi, dan apabila hari Jum’at tiba, ia berangkat di akhir malam.” Abu At-Tayyah berkata: “Telah sampai kabar kepada kami bahwa cambuknya mengeluarkan cahaya bagi dirinya. Suatu malam ia datang hingga sampai di area pemakaman kaumnya sambil menunggang kuda. Ia melihat para penghuni kubur, masing-masing pemilik kubur sedang duduk di atas makamnya. Mereka berkata: ‘Ini adalah Muthorrif yang datang untuk hari Jum’at.’ Aku (Abu At-Tayyah) bertanya: ‘Apakah kalian mengetahui adanya hari Jum’at di tempat kalian?’ Mereka menjawab: ‘Ya, dan kami mengetahui apa yang diucapkan oleh burung-burung pada hari itu.’ Aku bertanya: ‘Apa yang mereka katakan?’ Mereka menjawab: ‘Burung-burung itu mengucapkan: Salam, salam.’”

Muhammad bin al-Husain menceritakan kepadaku, Yahya bin Abi Bukair menceritakan kepadaku, Al-Fadhl bin Muwaffaq (sepupu Sufyan bin Uyainah) menceritakan kepadaku, ia berkata: “Ketika ayahku meninggal, aku sangat berduka cita atas kepergiannya. Aku selalu mendatangi makamnya setiap hari. Namun kemudian aku menguranginya sesuai kehendak Alloh. Suatu hari aku mendatanginya, dan saat aku sedang duduk di sisi makam, mataku terasa berat hingga aku tertidur. Aku bermimpi seolah-olah makam ayahku terbelah dan ia tampak sedang duduk di dalam kuburnya dengan mengenakan kain kafan, terlihat guratan wajah orang mati. Sepertinya aku menangis saat melihatnya. Ia berkata: ‘Wahai anakku, apa yang membuatmu terlambat mendatangiku?’ Aku bertanya: ‘Apakah engkau mengetahui kedatanganku?’ Ia menjawab: ‘Setiap kali engkau datang, aku mengetahuinya. Dahulu saat engkau sering datang, aku merasa tenang dan gembira dengannya, dan orang-orang di sekitarku pun turut gembira dengan doamu.’ Setelah itu, aku pun sangat sering menziarohinya.”

Muhammad menceritakan kepadaku, Yahya bin Bisthom menceritakan kepadaku, Utsman bin Saudah ath-Thofawi menceritakan kepadaku, ia berkata bahwa ibunya adalah seorang wanita yang tekun beribadah (ahli ibadah), yang biasa dijuluki “Rahibah” (wanita yang sangat takut pada Alloh atau ahli ibadah). Ia menceritakan: “Saat maut menjemputnya, ia mengangkat kepalanya ke langit dan berdoa: ‘Wahai Robb yang menjadi simpanan dan bekalku, serta Dzat yang kepadanya aku bersandar dalam hidupku dan setelah matiku, janganlah Engkau hinakan aku saat kematian dan janganlah Engkau biarkan aku merasa kesepian di dalam kuburku.’ Kemudian ia wafat. Aku selalu mendatanginya setiap hari Jum’at, mendoakannya, memohon ampunan untuknya dan untuk seluruh penghuni kubur. Suatu hari aku melihatnya dalam mimpi, lalu aku bertanya: ‘Wahai ibu, bagaimana keadaanmu?’ Ia menjawab: ‘Wahai anakku, sesungguhnya kematian itu memiliki kesengsaraan yang sangat dahsyat. Namun, alhamdulillah aku berada di alam Barzakh yang terpuji; kami menghamparkan bunga-bunga kemuning, serta berbantalkan kain sutra tebal dan tipis hingga hari kebangkitan.’ Aku bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau memiliki keperluan?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Aku bertanya: ‘Apa itu?’ Ia menjawab: ‘Janganlah engkau meninggalkan apa yang biasa engkau lakukan, yaitu menziarohi kami dan mendoakan kami. Sesungguhnya aku diberi kabar gembira atas kedatanganmu pada hari Jum’at. Saat engkau berangkat dari keluargamu, dikatakan kepadaku: ‘Wahai Rohibah, ini anakmu telah datang.’ Maka aku merasa senang, dan para mayit di sekitarku pun turut merasa senang dengan hal itu.’”

Muhammad bin Abdul Aziz bin Sulaiman menceritakan kepadaku, Bisyr bin Manshur menceritakan kepada kami, ia berkata: “Pada zaman wabah penyakit menular (tho’un), ada seorang lelaki yang sering bolak-balik ke pemakaman untuk mensholati janazah. Apabila sore hari tiba, ia berdiri di pintu pemakaman lalu berdoa: ‘Semoga Alloh menenangkan kesepian kalian, merohmati keterasingan kalian, mengampuni kesalahan kalian, dan menerima kebaikan-kebaikan kalian.’ Ia tidak menambah lebih dari kata-kata itu. Suatu malam aku pulang ke keluargaku dan tidak mendatangi pemakaman untuk mendoakan seperti biasanya. Saat aku tidur, tiba-tiba ada banyak makhluk yang mendatangi mimpiku. Aku bertanya: ‘Siapa kalian dan apa keperluan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah penghuni pemakaman.’ Aku bertanya: ‘Apa keperluan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya engkau telah membiasakan kami mendapat hadiah darimu saat engkau hendak pulang ke keluargamu.’ Aku bertanya: ‘Apa hadiah itu?’ Mereka menjawab: ‘Doa-doa yang biasa engkau panjatkan.’ Maka aku berkata: ‘Sesungguhnya aku akan kembali melakukannya.’ Setelah itu, aku tidak pernah meninggalkannya lagi.”

Muhammad menceritakan kepadaku, Ahmad bin Sahl menceritakan kepadaku, Rusyd bin Sa’d menceritakan kepadaku, dari seorang lelaki, dari Yazid bin Abi Habib, bahwa Sulaim bin Umair melewati sebuah pemakaman dalam keadaan sangat ingin buang air kecil. Salah seorang sahabatnya berkata: “Bagaimana jika engkau turun ke pemakaman ini dan kencing di salah satu lubangnya?” Maka Sulaim menangis dan berkata: “Subhanalloh! Demi Alloh, sesungguhnya aku merasa malu kepada orang-orang yang sudah mati sebagaimana aku merasa malu kepada orang-orang yang masih hidup. Seandainya mayit tidak merasakan hal itu, tentu aku tidak akan merasa malu kepadanya.”

Mayit Tahu Amal Perbuatan Kerabatnya yang Masih Hidup

Lebih jauh lagi, sesungguhnya mayit mengetahui amal perbuatan kerabat dan saudara-saudaranya yang masih hidup. Abdulloh bin al-Mubarok (181 H) berkata bahwa Thour bin Yazid menceritakan kepadaku, dari Ibrohim, dari Abu Ayyub (52 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Amal-amal orang yang hidup diperlihatkan kepada orang-orang yang sudah mati. Jika mereka melihat kebaikan, mereka bergembira dan bersuka cita. Namun jika mereka melihat keburukan, mereka berdoa: ‘Ya Alloh, kembalikanlah ia kepada kebenaran.”

Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dari Ahmad bin Abi al-Hawari, ia berkata: Muhammad saudaraku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abbad bin Abbad (181 H) menemui Ibrohim bin Salih (176 H) saat ia berada di Palestina, lalu Abbad berkata: ‘Berilah aku nasihat!’ Ibrohim menjawab: ‘Dengan apa aku harus menasihatimu? Semoga Alloh memperbaiki keadaanmu. Telah sampai kabar kepadaku bahwa amal-amal orang yang hidup diperlihatkan kepada kerabat mereka yang sudah mati. Maka perhatikanlah, apa yang akan diperlihatkan kepada Rosululloh dari amalmu!’ Maka Ibrohim menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya.”

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata, Muhammad bin al-Husain menceritakan kepadaku, Kholid bin Amru al-Umawi menceritakan kepadaku, Sodaqoh bin Sulaiman al-Ja’fari menceritakan kepada kami, ia berkata: “Dahulu aku memiliki perangai yang buruk. Ketika ayahku wafat, aku bertaubat dan menyesali kelalaianku. Namun kemudian aku melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Aku melihat ayahku dalam mimpi, lalu ia berkata: ‘Wahai anakku, betapa besarnya kegembiraanku melihatmu dahulu; amal-amalmu diperlihatkan kepada kami dan kami menyamakannya dengan amal orang-orang Sholih. Namun ketika engkau melakukan kesalahan ini, aku merasa sangat malu karenanya. Maka janganlah engkau mempermalukan aku di hadapan orang-orang mati di sekitarku.’ Sodaqoh berkata: ‘Setelah kejadian itu, aku mendengarnya berdoa di waktu sahur—ia adalah tetanggaku di Kufah—ia mengucapkan: Aku memohon kepada-Mu inabah (kembali taat) yang tidak ada lagi kembalinya pada dosa, dan tidak ada lagi penyimpangan, wahai Robb yang memperbaiki orang-orang sholih, wahai Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang tersesat, wahai Dzat yang paling penyayang di antara para penyayang.’”

Ini adalah bab yang penuh dengan atsar yang sangat banyak dari para Shohabat (rodhiyallahu ‘anhum). Dahulu sebagian kaum Anshor dari kerabat Abdulloh bin Rowahah (8 H) biasa berdoa: “Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan yang akan mempermalukan aku di hadapan Abdulloh bin Rowahah.” Ia mengucapkan hal itu setelah syahidnya Abdulloh.

Cukuplah bagi kita penyebutan orang Muslim sebagai “zair (penziaroh)” (pengunjung) terhadap mereka. Seandainya mereka tidak merasakan keberadaannya, tentu tidak sah penyebutan dirinya sebagai penziaroh. Sebab, pihak yang dikunjungi jika tidak mengetahui kunjungan orang yang mendatanginya, tidaklah sah dikatakan bahwa orang tersebut telah menziarohinya. Inilah makna yang logis dari kata “ziaroh” menurut seluruh bangsa.

Demikian pula halnya dengan ucapan salam kepada mereka. Sebab, mengucapkan salam kepada pihak yang tidak merasakan dan tidak mengetahui keberadaan orang yang bersalam adalah hal yang mustahil secara akal. Nabi telah mengajarkan umatnya apabila menziarohi kubur untuk mengucapkan:

«سَلَامٌ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ يَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِينَ نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ»

“Semoga keselamatan tercurah atas kalian wahai penghuni negeri ini dari kalangan kaum Mu’min dan Muslim. Sesungguhnya kami, In Syaa Alloh, akan menyusul kalian. Semoga Alloh merohmati orang-orang yang telah mendahului di antara kami dan kalian, serta orang-orang yang datang belakangan. Kami memohon kepada Alloh keselamatan bagi kami dan bagi kalian.” (HR. Muslim no. 975)

Salam, sapaan, dan panggilan ini ditujukan kepada sesuatu yang ada, mendengar, diajak bicara, berakal, serta membalas sapaan, meskipun orang yang bersalam tidak mendengar jawaban tersebut. Apabila seseorang mengerjakan Sholat di dekat mereka, mereka menyaksikannya, mengetahui Sholatnya, dan mereka merasa iri (dalam kebaikan) atas hal tersebut.

Yazid bin Harun (206 H) menceritakan kepada kami, Sulaiman at-Taimi mengabarkan kepada kami, dari Abu Utsman an-Nahdi (95 H), bahwa Ibnu Sas keluar mengantar janazah pada suatu hari dengan mengenakan pakaian yang ringan. Ia sampai di sebuah kuburan lalu berkata: “Aku mengerjakan Sholat 2 rokaat kemudian aku bersandar di atas makam tersebut. Demi Alloh, hatiku dalam keadaan terjaga saat aku mendengar suara dari dalam kubur: ‘Menjauhlah dariku! Janganlah engkau menggangguku! Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bisa beramal namun tidak mengetahui (hakikat Akhirat), sedangkan kami adalah kaum yang mengetahui namun tidak bisa beramal. Sungguh, memiliki pahala seperti 2 rokaat yang engkau kerjakan itu lebih aku cintai daripada ini dan itu.” Mayit ini mengetahui sandaran lelaki itu di atas kuburnya dan mengetahui Sholatnya.

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata, Husain bin Ali al-Ijli menceritakan kepadaku, Muhammad bin ash-Sholt menceritakan kepada kami, Ismail bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Tsabit bin Salim, Abu Qilabah (104 H) menceritakan kepada kami, ia berkata: “Aku berangkat dari Syam menuju Bashroh. Aku singgah di sebuah tempat, lalu aku bersuci dan mengerjakan Sholat 2 rokaat di malam hari. Kemudian aku meletakkan kepalaku di atas sebuah kuburan lalu tertidur. Aku pun terbangun, tiba-tiba pemilik kubur itu mengeluh kepadaku dengan berkata: ‘Engkau telah menggangguku sejak malam tadi!’ Kemudian ia berkata: ‘Sesungguhnya kalian bisa beramal namun tidak mengetahui, sedangkan kami mengetahui namun tidak mampu lagi beramal. Sungguh, 2 rokaat yang engkau kerjakan itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.’ Kemudian ia berkata: ‘Semoga Alloh membalas penduduk dunia dengan kebaikan, sampaikanlah salam kami kepada mereka, karena sesungguhnya doa-doa mereka masuk kepada kami seperti cahaya yang besarnya seperti gunung-gunung.’”

Husain al-Ijli menceritakan kepadaku, Abdulloh bin Numair menceritakan kepada kami, Malik bin Mighwal menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Zaid bin Wahb (96 H), ia berkata: “Aku keluar menuju pemakaman lalu aku duduk di sana. Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi sebuah makam lalu meratakannya. Kemudian ia berbalik ke arahku dan duduk. Aku bertanya: ‘Milik siapa makam ini?’ Ia menjawab: ‘Milik saudaraku.’ Aku bertanya: ‘Saudaramu sesungguhnya?’ Ia menjawab: ‘Saudaraku karena Alloh. Aku melihatnya dalam mimpi, lalu aku berkata: Wahai Fulan, engkau telah hidup (merasakan pahala), alhamdulillah Robb-ul ‘Alamin. Ia menjawab: Sungguh, aku mengucapkan kata-kata itu (Alhamdulillah). Sekiranya aku mampu mengucapkannya kembali, itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya. Kemudian ia bertanya: Tidakkah engkau melihat saat mereka menguburkanku? Sesungguhnya si Fulan bangkit lalu mengerjakan Sholat 2 rokaat. Sungguh, sekiranya aku mampu mengerjakan 2 rokaat itu, itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.’”

Abu Bakr at-Taimi menceritakan kepadaku, Abdulloh bin Sholih menceritakan kepada kami, Al-Laits bin Sa’d (175 H) menceritakan kepadaku, Humaid ath-Thowil menceritakan kepadaku, dari Muthorrif bin Abdulloh al-Harsyi (95 H), ia berkata: “Kami pergi keluar di musim semi pada masanya, lalu kami berkata: ‘Mari kita masuk ke kota pada hari Jum’at untuk menghadirinya. Jalan kami melewati pemakaman. Kami pun masuk dan aku melihat sebuah janazah di pemakaman itu.’ Aku berkata: ‘Seandainya aku mengambil kesempatan untuk menghadiri janazah ini, tentu baik.’ Aku pun menepi di sebuah sudut dekat makam, lalu aku mengerjakan Sholat 2 rokaat dengan ringkas namun tidak menyempurnakannya dengan baik. Aku merasa mengantuk lalu aku bermimpi melihat pemilik kubur berbicara kepadaku: ‘Engkau mengerjakan 2 rokaat namun tidak menyempurnakannya dengan baik?’ Aku menjawab: ‘Benar demikian.’ Ia berkata: ‘Kalian beramal namun tidak mengetahui, sedangkan kami tidak bisa lagi beramal. Sungguh, sekiranya aku bisa mengerjakan Sholat seperti 2 rokaatmu itu, lebih aku cintai daripada dunia dengan segala isinya.’ Aku bertanya: ‘Siapa saja yang ada di sini?’ Ia menjawab: ‘Semuanya adalah Muslim dan semuanya telah mendapatkan kebaikan.’ Aku bertanya: ‘Siapa yang paling utama di sini?’ Ia menunjuk ke sebuah makam. Aku berkata dalam hatiku: ‘Ya Alloh, keluarkanlah ia kepadaku agar aku bisa berbicara dengannya.’ Maka keluarlah dari makamnya seorang pemuda. Aku bertanya: ‘Apakah engkau yang paling utama di sini?’ Ia menjawab: Mereka (penghuni kubur lain) mengatakan demikian. Aku bertanya: ‘Dengan apa engkau meraih kedudukan itu? Demi Alloh, aku tidak melihat usiamu begitu tua hingga aku bisa berkata engkau meraihnya dengan panjangnya Haji, Umroh, Jihad di jalan Alloh, atau amal lainnya.’ Ia menjawab: ‘Aku telah diuji dengan berbagai musibah, lalu aku dianugerahi kesabaran atasnya. Dengan itulah aku mengungguli mereka.”

Mimpi-mimpi ini, meskipun tidak bisa berdiri sendiri secara mutlak untuk menetapkan hal tersebut, namun karena jumlahnya yang sangat banyak yang tidak terhitung kecuali oleh Alloh, maka semuanya bersepakat pada makna ini. Nabi telah bersabda:

«أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ عَلَى أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ»

“Aku melihat mimpi-mimpi kalian telah bersepakat bahwa ia (Lailatul Qodar) berada pada 10 malam terakhir.” (HR. Al-Bukhori no. 2015)

Yaitu tentang Lailatul Qodar. Apabila mimpi-mimpi kaum Mu’min telah bersepakat atas sesuatu, maka itu kedudukannya seperti kesepakatan riwayat mereka terhadap hal tersebut, dan seperti kesepakatan pendapat mereka dalam menganggap baik atau buruknya sesuatu. Apa yang dianggap baik oleh kaum Muslimin, maka di sisi Alloh hal itu adalah baik. Apa yang mereka anggap buruk, maka di sisi Alloh hal itu adalah buruk. Terlebih lagi, kami tidak menetapkan hal ini hanya berdasarkan mimpi semata, melainkan dengan hujah-hujah yang telah kami sebutkan dan lainnya.

Mayit Merasakan Kehadiran dan Merasa Senang atas Ziaroh

Telah tetap dalam kitab Shohih bahwa mayit merasa tenang dengan kehadiran para pengantar janazahnya setelah ia dikuburkan. Muslim (261 H) meriwayatkan dalam Shohihnya dari hadits Abdurrohman bin Syumasah al-Mahri, ia berkata: Kami menghadiri Amru bin al-Ash (43 H) saat ia sedang dalam sakarotul maut. Ia menangis lama sekali dan memalingkan wajahnya ke arah tembok. Putranya berkata: “Apa yang membuatmu menangis wahai ayahku? Bukankah Rosululloh telah memberimu kabar gembira dengan ini dan itu?” Amru pun menghadapkan wajahnya lalu berkata: “Sesungguhnya hal paling utama yang kami persiapkan adalah kesaksian bahwa tidak ada Robb yang berhak diibadahi dengan benar selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah utusan Alloh. Sungguh aku telah melewati 3 fase dalam hidupku. Aku pernah melihat diriku sebagai orang yang paling benci kepada Rosululloh dan tidak ada yang lebih aku sukai selain seandainya aku bisa menangkap beliau lalu membunuhnya. Seandainya aku mati pada saat itu, tentu aku termasuk penduduk Naar. Namun ketika Alloh memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku mendatangi Rosululloh dan berkata: ‘Ulurkan tangan kananmu, aku akan membaiatmu.’ Beliau mengulurkan tangan kanannya, namun aku menarik tanganku. Beliau bertanya: ‘Ada apa denganmu wahai Amru?’ Aku menjawab: ‘Aku ingin mengajukan syarat.’’ Beliau bertanya: Syarat apa?’ Aku menjawab: ‘Agar aku diampuni.’ Beliau bersabda: ‘Bukankah engkau tahu bahwa Islam menghapuskan apa yang sebelumnya, Hijroh menghapuskan apa yang sebelumnya, dan Haji menghapuskan apa yang sebelumnya?’ Sejak saat itu, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai melebihi Rosululloh , dan tidak ada yang lebih agung di mataku melebihi beliau. Aku tidak sanggup memandang wajah beliau secara penuh karena rasa hormatku yang begitu besar. Seandainya aku diminta untuk mensifati beliau, aku tidak akan sanggup karena aku tidak pernah menatap beliau secara penuh. Seandainya aku mati dalam keadaan itu, aku berharap termasuk penduduk Jannah. Kemudian kami diserahi berbagai urusan yang aku tidak tahu bagaimana keadaanku di dalamnya. Apabila aku mati, janganlah pengantarku menyertakan wanita yang meratap (niyahah) dan jangan pula api. Apabila kalian telah menguburkanku, tumpahkanlah tanah ke atasku perlahan-lahan. Kemudian berdiamlah di sekitar kuburku selama waktu yang dibutuhkan untuk menyembelih seekor unta dan membagikan dagingnya, agar aku merasa tenang dengan kehadiran kalian dan aku bisa melihat apa yang harus aku jawab kepada utusan-utusan Robb-ku (Malaikat Munkar dan Nakir).” (HR. Muslim no. 121)

Ini menunjukkan bahwa mayit merasa tenang dengan kehadiran orang-orang di kuburnya dan merasa senang dengan mereka.

Dibacakan Al-Qur’an di Sisi Kubur

Disebutkan dari segolongan Salaf bahwa mereka berwasiat agar dibacakan Al-Qur’an di sisi kubur mereka pada waktu pemakaman. Abdul Haqq (581 H) berkata: “Diriwayatkan bahwa Abdulloh bin Umar (73 H) memerintahkan agar dibacakan Suroh Al-Baqoroh di sisi kuburnya.” Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Al-Mu’alla bin Abdurrohman. Awalnya Imam Ahmad (241 H) mengingkari hal tersebut karena belum sampai kepadanya atsar mengenai hal itu, namun kemudian beliau menarik kembali pengingkarannya.

Al-Khollal (311 H) berkata dalam Al-Jami’, kitab Membaca Al-Qur’an di Kubur:

Abbas bin Muhammad ad-Duri mengabarkan kepada kami, Yahya bin Ma’in (233 H) menceritakan kepada kami, Mubasysyir al-Halabi menceritakan kepada kami, Abdurrohman bin al-Ala’ bin al-Lajlaj menceritakan kepadaku, dari ayahnya, ia berkata: “Ayahku berpesan, jika aku mati, letakkanlah aku di liang lahat, ucapkanlah ‘Bismillah wa ‘ala sunnati Rosulillah’, tumpahkanlah tanah perlahan-lahan, dan bacalah di sisi kepalaku permulaan Suroh Al-Baqoroh, karena sesungguhnya aku mendengar Abdulloh bin Umar (73 H) mengatakan hal itu.”

Abbas ad-Duri berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal (241 H): “Apakah engkau hafal sesuatu tentang membaca Al-Qur’an di atas kubur?” Beliau menjawab: “Tidak.” Lalu aku bertanya kepada Yahya bin Ma’in (233 H), maka beliau menceritakan hadits ini kepadaku.

Al-Khollal berkata, Hasan bin Ahmad al-Warroq mengabarkan kepadaku, Ali bin Musa al-Haddad menceritakan kepadaku—ia adalah orang yang sangat jujur—ia berkata: Aku sedang bersama Ahmad bin Hanbal (241 H) dan Muhammad bin Qudamah al-Jauhari dalam sebuah pengantaran janazah. Setelah mayit dikuburkan, seorang lelaki buta duduk dan membaca Al-Qur’an di sisi kubur. Maka Ahmad berkata kepadanya: “Wahai fulan, sesungguhnya membaca Al-Qur’an di sisi kubur adalah bid’ah.” Ketika kami keluar dari pemakaman, Muhammad bin Qudamah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: “Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang Mubasysyir al-Halabi?” Beliau menjawab: “Ia orang kepercayaan (tsiqoh).” Muhammad bertanya: “Apakah engkau menulis darinya sesuatu?” Beliau menjawab: “Ya.” Muhammad berkata: Mubasysyir mengabarkan kepadaku dari Abdurrohman bin al-Ala’ al-Lajlaj dari ayahnya, bahwa ia berwasiat jika dikuburkan agar dibacakan di sisi kepalanya permulaan Suroh Al-Baqoroh dan akhirnya, dan ia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar (73 H) berwasiat dengan hal itu. Maka Ahmad berkata kepada Muhammad bin Qudamah: “Kembalilah, dan katakan kepada lelaki itu agar membacanya.”

Hasan bin ash-Shobah az-Za’faroni berkata: Aku bertanya kepada Asy-Syafi’i (204 H) tentang membaca Al-Qur’an di sisi kubur, beliau menjawab: “Tidak mengapa.”

Al-Khollal menyebutkan dari Asy-Sya’bi (103 H), ia berkata: “Dahulu kaum Anshor apabila ada orang mati di antara mereka, mereka bergantian mendatangi kuburnya untuk membacakan Al-Qur’an di sisinya.”

Ia berkata, Abu Yahya an-Naqid mengabarkan kepadaku, ia berkata: “Aku mendengar Hasan bin al-Jarwi berkata: Aku melewati kuburan saudara perempuanku lalu aku membacakan di sisinya Suroh Tabarok (Al-Mulk) karena keutamaannya. Kemudian seorang lelaki mendatangiku dan berkata: ‘Sesungguhnya aku melihat saudaramu dalam mimpi, ia berkata: ‘Semoga Alloh membalas Abu Ali dengan kebaikan, sungguh aku telah mendapatkan manfaat dari apa yang ia baca.”

Hasan bin al-Haitsam mengabarkan kepadaku, ia berkata: “Aku mendengar Abu Bakr bin al-Athrusy berkata: Ada seorang lelaki yang selalu mendatangi makam ibunya setiap hari Jum’at lalu membaca Suroh Yasin. Suatu hari ia membacanya kemudian berdoa: ‘Ya Alloh, jika Engkau telah membagikan pahala untuk Suroh ini, maka jadikanlah pahalanya untuk para penghuni pemakaman ini.’ Pada hari Jum’at berikutnya, seorang wanita datang dan bertanya: ‘Apakah engkau Fulan bin Fulanah?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Wanita itu berkata: ‘Sesungguhnya putriku telah meninggal, aku melihatnya dalam mimpi sedang duduk di pinggir kuburnya. Aku bertanya: ‘Apa yang membuatmu duduk di sini?’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya Fulan bin Fulanah datang ke makam ibunya dan membaca Suroh Yasin, ia menjadikan pahalanya untuk penghuni pemakaman, maka kami pun mendapatkan ketenangan darinya, atau kami diampuni, atau semacamnya.”

Dalam Sunan an-Nasa’i dan lainnya terdapat hadits dari Ma’qil bin Yasar al-Muzani rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi bahwa beliau bersabda:

«اقْرَأُوا {يس} عِنْدَ مَوْتَاكُمْ»

“Bacalah Suroh Yasin pada orang-orang mati di antara kalian.” (HR. Abu Dawud no. 3121)

Hadits ini mengandung kemungkinan yang dimaksud adalah membacanya untuk orang yang sedang sakarotul maut, sebagaimana sabda beliau: “Tuntunlah (talqin) orang-orang yang hendak mati di antara kalian dengan kalimat La ilaha illallah.” Namun ada pula kemungkinan maknanya adalah membaca di sisi kubur. Makna pertama lebih nampak karena beberapa alasan:

Hal itu sejalan dengan sabda beliau: “Tuntunlah orang-orang yang hendak mati di antara kalian dengan La ilaha illallah.”

Manfaat yang didapat orang yang sedang sakarotul maut dari Suroh ini, karena di dalamnya terkandung Tauhid, penjelasan tentang hari kebangkitan (Ma’ad), dan kabar gembira berupa Jannah bagi ahli Tauhid, serta rasa iri yang baik bagi orang yang mati di atasnya sebagaimana firman-Nya: “Aduhai kiranya kaumku mengetahui bagaimana Robb-ku telah mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” Maka ruh pun merasa gembira sehingga ia mencintai perjumpaan dengan Alloh, dan Alloh pun mencintai perjumpaannya. Sebab Suroh ini adalah jantung Al-Qur’an dan memiliki keistimewaan luar biasa saat dibacakan di sisi orang yang hendak mati.

Abu al-Faroj bin al-Jauzi (597 H) menyebutkan: “Kami berada di sisi guru kami Abu al-Waqt Abdul Awwal (553 H) saat beliau dalam sakarotul maut. Saat-saat terakhir kami bersamanya, beliau menatap ke langit lalu tersenyum dan mengucapkan: ‘Wahai kiranya kaumku mengetahui bagaimana Robb-ku telah mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan’, kemudian beliau wafat.”

Ini adalah amalan manusia dan kebiasaan mereka sejak dahulu hingga sekarang, yaitu membaca Yasin di sisi orang yang sedang sakarotul maut.

Seandainya para Shohabat (rodhiyallahu ‘anhum) memahami sabda beliau “Bacalah Yasin pada orang-orang mati kalian” sebagai perintah membaca di atas kubur, tentu mereka tidak akan meninggalkannya, dan hal itu akan menjadi perkara yang biasa dan masyhur (populer) di antara mereka.

Manfaat bagi mayit adalah dengan mendengarkannya serta kehadiran hati dan jiwanya saat menyimak bacaan itu di akhir masa hidupnya di dunia, itulah tujuannya. Adapun membacanya di sisi kuburnya, maka mayit tidak mendapatkan pahala atas hal tersebut, karena pahala itu didapat baik dengan membaca atau menyimak, sedangkan keduanya adalah amal, dan amal telah terputus dari mayit.

Mayit Bertanya Tentang Kondisi Orang Hidup

Al-Hafizh Abu Muhammad Abdul Haqq al-Isybili (581 H) membuat bab tentang hal ini, ia berkata: “Penyebutan riwayat yang menyatakan bahwa orang mati bertanya tentang orang yang hidup dan mereka mengetahui ucapan serta perbuatan orang hidup.” Kemudian ia menyebutkan: Abu Umar bin Abdil Barr (463 H) menyebutkan dari hadits Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma dari Nabi :

«مَا مِنْ رَجُلٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ أَخِيهِ الْمُؤْمِنِ كَانَ يَعْرِفُهُ فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلَّا عَرَفَهُ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ»

“Tidaklah seseorang melewati makam saudaranya yang Mu’min yang ia kenal sewaktu di dunia, lalu ia bersalam kepadanya, melainkan mayit itu mengenalnya dan membalas salamnya.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Huroiroh secara marfu’)

Beliau bersabda: “Jika ia tidak mengenalnya lalu mengucapkan salam, mayit itu tetap membalas salamnya.”

Ia berkata, diriwayatkan dari hadits Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata, Rosululloh bersabda: “Tidaklah seseorang menziarohi makam saudaranya lalu ia duduk di sisinya, melainkan mayit itu merasa tenang dengannya hingga ia bangkit.”

Al-Hafizh Abu Muhammad berhujjah dalam bab ini dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (275 H) dalam Sunannya dari hadits Abu Huroiroh (57 H), ia berkata, Rosululloh bersabda:

«مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ»

“Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Alloh mengembalikan ruhku kepadaku hingga aku membalas salamnya.” (HR. Abu Dawud no. 2041)

Ia berkata, Sulaiman bin Nu’aim berkata: Aku melihat Nabi dalam mimpi lalu aku bertanya: “Wahai Rosululloh, orang-orang yang datang kepadamu dan mengucapkan salam padamu, apakah engkau paham salam mereka?” Beliau menjawab: “Ya, dan aku membalas salam mereka.”

Ia berkata, Nabi juga mengajarkan mereka untuk mengucapkan apabila masuk ke pemakaman: “Assalamu ‘alaikum ahlad diyar...” Ini menunjukkan bahwa mayit mengetahui salam orang yang bersalam padanya dan doa orang yang mendoakannya.

Abu Muhammad berkata, disebutkan dari Al-Fadhl bin al-Muwaffaq: “Aku dahulu sering mendatangi makam ayahku berulang kali. Suatu hari aku menghadiri janazah di pemakaman tempat ia dikuburkan, namun aku terburu-buru karena ada keperluan sehingga aku tidak mendatanginya. Saat malam tiba, aku melihatnya dalam mimpi, ia berkata: ‘Wahai anakku, mengapa engkau tidak mendatangiku?’ Aku bertanya: ‘Wahai ayah, apakah engkau mengetahuiku jika aku datang?’ Ia menjawab: ‘Ya, demi Alloh wahai anakku, aku terus memantau kedatanganmu sejak engkau muncul dari jembatan hingga engkau sampai kepadaku dan duduk di sisiku, kemudian engkau bangkit, aku terus menatapmu hingga engkau melewati jembatan itu kembali.”

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata, Ibrohim bin Basyar al-Kufi menceritakan kepadaku, Al-Fadhl bin al-Muwaffaq menceritakan kepadaku, lalu ia menyebutkan kisah tersebut.

Telah shohih dari Amru bin Dinar (126 H) bahwa ia berkata: “Tidaklah seorang mayit meninggal melainkan ia mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya setelahnya. Mereka memandikannya dan mengkafaninya, dan sesungguhnya ia benar-benar melihat kepada mereka.”

Telah shohih pula dari Mujahid (103 H) bahwa ia berkata: “Sesungguhnya seseorang diberi kabar gembira di dalam kuburnya atas kesholihan anaknya setelah kematiannya.”

Mayit Mengerti Talqin Atasnya

Hal ini juga ditunjukkan oleh apa yang telah berjalan dalam amalan manusia sejak dahulu hingga sekarang, yaitu memberikan talqin (tuntunan) kepada mayit di dalam kuburnya. Seandainya mayit tidak mendengar hal itu dan tidak mengambil manfaat darinya, tentu tidak ada gunanya dan hal itu hanya kesia-siaan belaka. Imam Ahmad (241 H) rohimahulloh pernah ditanya tentang hal ini, beliau menganggapnya baik dan berhujjah dengan amalan yang sudah berlaku.

Diriwayatkan mengenai hal ini sebuah hadits dho’if yang disebutkan oleh Ath-Thobaroni (360 H) dalam Mu’jamnya dari hadits Abu Umamah (81 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rosululloh bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian meninggal dunia lalu kalian telah meratakan tanah di atasnya, hendaknya salah seorang dari kalian berdiri di sisi kepalanya kemudian berkata: ‘Wahai Fulan bin Fulanah!’ Sesungguhnya ia mendengar namun tidak menjawab. Kemudian hendaknya ia berkata kedua kalinya: ‘Wahai Fulan bin Fulanah!’ Maka ia akan duduk tegak. Kemudian hendaknya ia berkata ketiga kalinya: ‘Wahai Fulan bin Fulanah!’ Maka mayit itu akan berkata: ‘Berilah kami petunjuk, semoga Alloh merohmatimu,’ namun kalian tidak mendengarnya. Lalu hendaknya orang itu berkata: ‘Ingatlah apa yang engkau bawa keluar dari dunia, yaitu kesaksian bahwa tidak ada Robb yang berhak diibadahi dengan benar selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan engkau telah ridho Alloh sebagai Robb, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Qur’an sebagai imam. Maka sesungguhnya Munkar dan Nakir akan datang masing-masing, dan salah satunya berkata: Mari kita pergi, apa yang membuat kita duduk di sisi orang ini sementara ia telah dituntun hujah (jawaban)-nya. Maka Alloh dan Rosul-Nya lah yang menjadi pembelanya di hadapan kedua malaikat itu.” Seorang lelaki bertanya: “Wahai Rosululloh, bagaimana jika tidak diketahui ibunya?” Beliau bersabda: “Nisbatkan ia kepada ibunya, Hawa.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thobaroni)

Hadits ini, sekalipun tidak tetap secara derajat keshohihan, namun bersambungnya amalan dengannya di seluruh negeri dan sepanjang zaman tanpa ada pengingkaran merupakan alasan yang cukup dalam mengamalkannya. Alloh tidaklah pernah menjadikan kebiasaan suatu umat yang memenuhi timur dan barat bumi—yang mana mereka adalah umat yang paling sempurna akalnya dan paling banyak pengetahuannya—untuk sepakat berbicara kepada pihak yang tidak mendengar dan tidak berakal, serta menganggap baik hal itu tanpa ada seorang pun yang mengingkarinya. Bahkan generasi awal mensunnahkannya untuk generasi akhir, dan generasi akhir mengikuti generasi awal. Seandainya yang diajak bicara itu tidak mendengar, tentu pembicaraan itu kedudukannya sama dengan berbicara kepada tanah, kayu, batu, atau sesuatu yang tidak ada. Jika ada satu orang yang menganggapnya baik, tentu seluruh ulama akan sepakat menganggapnya buruk dan menjijikkan.

Abu Dawud (275 H) telah meriwayatkan dalam Sunannya dengan sanad yang tidak mengapa (hasan) bahwa Nabi menghadiri janazah seorang lelaki. Setelah dikuburkan, beliau bersabda:

«سَلُوا لِأَخِيكُمُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ»

“Mohonkanlah kemantapan bagi saudara kalian, karena sesungguhnya ia sekarang sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud no. 3221)

Beliau mengabarkan bahwa mayit sedang ditanya saat itu. Jika ia sedang ditanya, maka ia pasti mendengar talqin.

Telah shohih dari Nabi bahwa mayit mendengar suara ketukan sandal mereka ketika mereka beranjak pulang. Abdul Haqq (581 H) menyebutkan dari sebagian orang sholih, ia berkata: “Saudaraku meninggal dunia, lalu aku melihatnya dalam mimpi. Aku bertanya: ‘Wahai saudaraku, bagaimana keadaanmu saat diletakkan di kuburmu?’ Ia menjawab: ‘Seseorang mendatangiku membawa obor api, seandainya tidak ada orang yang mendoakan untukku, tentu aku sudah binasa.”

Syabib bin Syaibah (170 H) berkata: “Ibuku berwasiat kepadaku saat kematiannya, ia berkata: ‘Wahai anakku, jika engkau telah menguburkanku, berdirilah di sisi kuburku dan katakanlah: ‘Wahai Ummu Syabib, ucapkanlah La ilaha illallah.’ Setelah aku menguburkannya, aku berdiri di makamnya lalu berkata: ‘Wahai Ummu Syabib, ucapkanlah La ilaha illallah,’ kemudian aku pulang. Saat malam tiba, aku melihatnya dalam mimpi, ia berkata: ‘Wahai anakku, hampir saja aku binasa seandainya tidak tertolong oleh kalimat La ilaha illallah. Sungguh engkau telah menjaga wasiatku wahai anakku.”

Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dari Tumadhir binti Sahl (istri Ayyub bin Uyainah), ia berkata: “Aku melihat Sufyan bin Uyainah (198 H) dalam mimpi, ia berkata: ‘Semoga Alloh membalas saudaraku Ayyub dengan kebaikan, karena ia sering menziarohiku. Sungguh ia ada di sisiku hari ini.’ Maka Ayyub berkata: ‘Benar, aku mendatangi pemakaman hari ini, aku pergi ke makamnya.”

Telah shohih dari Hammad bin Salamah (167 H), dari Tsabit, dari Syahr bin Hausyab, bahwa Sho’b bin Jatsamah (9 H) dan Auf bin Malik (73 H) saling bersaudara (mempersaudarakan diri). Sho’b berkata kepada Auf: “Wahai saudaraku, siapa pun di antara kita yang mati lebih dahulu, hendaknya ia menampakkan diri kepada temannya.” Auf bertanya: “Apakah hal itu memungkinkan?” Sho’b menjawab: “Ya.” Maka Sho’b meninggal dunia, lalu Auf melihatnya dalam mimpi seolah-olah ia mendatanginya. Auf bertanya: “Wahai saudaraku (bagaimana keadaanmu)?” Sho’b menjawab: “Ya, kami telah diampuni setelah berbagai musibah.” Auf berkata: “Aku melihat ada bercak hitam di lehernya.” Aku bertanya: “Wahai saudaraku, apa ini?” Ia menjawab: “Itu adalah utang 10 dinar yang aku pinjam dari si Fulan orang Yahudi, uang itu ada di dalam wadah anak panahku, maka serahkanlah kepadanya. Dan ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada satu pun kejadian baru di keluargaku setelah kematianku melainkan kabarnya telah sampai kepadaku, bahkan kucing kami yang mati beberapa hari yang lalu aku pun tahu. Dan ketahuilah bahwa putriku akan meninggal dalam waktu 6 hari lagi, maka perlakukanlah ia dengan baik.”

Pagi harinya Auf berkata: “Sesungguhnya dalam hal ini terdapat tanda pelajaran.” Lalu ia mendatangi keluarga Sho’b. Mereka berkata: “Selamat datang wahai Auf! Begitukah cara kalian memperlakukan peninggalan saudara kalian? Engkau tidak pernah mendekati kami sejak Sho’b meninggal.” Auf berkata: Aku pun beralasan dengan alasan-alasan yang biasa dikemukakan orang-orang. Kemudian aku melihat wadah anak panah, lalu aku menurunkannya dan menuangkan isinya, ternyata aku menemukan kantong berisi dinar-dinar tersebut. Aku pun mengirimkannya kepada orang Yahudi itu. Aku bertanya: “Apakah engkau memiliki piutang pada Sho’b?” Ia menjawab: “Semoga Alloh merohmati Sho’b, ia termasuk sahabat Rosululloh yang terbaik, utang itu sudah menjadi miliknya.” Aku berkata: “Kabarkanlah padaku!” Ia menjawab: “Ya, aku meminjamkannya 10 dinar.” Aku menyerahkannya kepadanya, dan ia berkata: “Demi Alloh, ini adalah uang yang sama persis.” Auf berkata: “Ini adalah bukti pertama.”

Auf melanjutkan: Aku bertanya kepada keluarganya: “Apakah terjadi sesuatu pada kalian setelah Sho’b meninggal?” Mereka menjawab: “Ya, terjadi ini dan itu.” Auf bertanya: “Coba ingat-ingat kembali!” Mereka menjawab: “Ya, ada kucing yang mati beberapa hari yang lalu.” Auf berkata: “Ini bukti kedua.” Kemudian aku bertanya: “Di mana putri saudaraku?” Mereka menjawab: “Ia sedang bermain.” Aku mendatanginya dan memegangnya, ternyata ia sedang demam. Aku berpesan: “Perlakukanlah ia dengan baik.” Maka ia meninggal dunia dalam waktu 6 hari.”

Ini merupakan bagian dari pemahaman (fiqih) Auf rohimahulloh—yang mana ia adalah seorang Shohabat—di mana ia melaksanakan wasiat Sho’b bin Jatsamah setelah kematiannya. Ia mengetahui kebenaran ucapannya melalui bukti-bukti yang dikabarkan kepadanya, yaitu jumlah 10 dinar dan keberadaannya di wadah anak panah. Kemudian ia bertanya kepada Yahya Yahudi itu dan ternyata ucapannya cocok dengan apa yang ada dalam mimpi. Maka Auf yakin akan kebenaran perkara tersebut lalu menyerahkan dinar itu kepada si Yahudi. Fiqih semacam ini hanya layak bagi orang yang paling paham dan paling berilmu, yaitu para Shohabat Rosululloh . Mungkin banyak orang-orang belakangan yang mengingkari hal itu dan berkata: “Bagaimana mungkin Auf diperbolehkan memindahkan dinar-dinar dari harta peninggalan Sho’b—yang merupakan hak anak yatim dan ahli warisnya—kepada seorang Yahudi hanya berdasarkan mimpi?”

Contoh lain dari pemahaman fiqih yang dikhususkan bagi mereka adalah kisah Tsabit bin Qois bin Syammas (12 H) yang disebutkan oleh Abu Umar bin Abdil Barr (463 H) dan lainnya. Abu Umar berkata: Abdul Warits bin Sufyan mengabarkan kepada kami, Qosim bin Ashbagh menceritakan kepada kami, Abu az-Zinba’ Ruuh bin al-Faroj menceritakan kepada kami, Sa’id bin Ufair dan Abdul Aziz bin Yahya al-Madani menceritakan kepada kami, Malik bin Anas (179 H) menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihab (124 H), dari Ismail bin Muhammad bin Tsabit al-Anshori, dari Tsabit bin Qois bin Syammas (12 H) bahwa Rosululloh bersabda kepadanya:

«يَا ثَابِتُ أَمَا تَرْضَى أَنْ تَعِيشَ حَمِيدًا وَتُقْتَلَ شَهِيدًا وَتَدْخُلَ الْجَنَّةَ»

“Wahai Tsabit, tidakkah engkau ridho untuk hidup dalam keadaan terpuji, terbunuh sebagai Syahid, dan masuk ke dalam Jannah?” Malik berkata: “Maka Tsabit bin Qois terbunuh pada hari Yamamah sebagai Syahid.”

Abu Umar berkata, Hisyam bin Ammar meriwayatkan dari Sodaqoh bin Kholid, Abdurrohman bin Yazid bin Jabir menceritakan kepada kami, ia berkata: Atho’ al-Khurosoni menceritakan kepadaku, ia berkata: Putri Tsabit bin Qois bin Syammas menceritakan kepadaku, ia berkata: “Ketika turun ayat ‘Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengangkat suara kalian di atas suara Nabi’, ayahku masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Rosululloh merasa kehilangan beliau lalu mengutus orang untuk bertanya kabarnya. Ayahku menjawab: Aku adalah orang yang bersuara keras, aku takut amalanku telah terhapus. Beliau bersabda: Engkau bukan termasuk mereka, bahkan engkau hidup dengan kebaikan dan mati dengan kebaikan. Kemudian Alloh menurunkan ayat ‘Sesungguhnya Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri’, maka beliau kembali menutup pintu rumahnya dan menangis. Rosululloh merasa kehilangan lagi lalu mengutus orang untuk bertanya. Beliau berkata: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya aku menyukai keindahan dan aku suka menjadi pemimpin kaumku.” Beliau bersabda: “Engkau bukan termasuk mereka, bahkan engkau hidup dalam keadaan terpuji, mati sebagai Syahid, dan masuk ke dalam Jannah.”

Putri Tsabit melanjutkan: “Ketika terjadi Perang Yamamah, beliau keluar bersama Kholid bin al-Walid (21 H) menghadapi Musailamah al-Kadzdzab. Saat pertempuran berkecamuk dan pasukan sempat terpukul mundur, Tsabit dan Salim (12 H) maula Abu Hudzaifah berkata: “Tidak begini cara kami berperang bersama Rosululloh .” Kemudian masing-masing menggali lubang untuk dirinya sendiri, mereka berdiri kokoh dan bertempur hingga gugur sebagai Syahid. Pada hari itu Tsabit mengenakan baju besi (dir’un) yang sangat mahal. Seorang lelaki Muslim melewatinya lalu mengambil baju besi itu. Suatu ketika, seorang lelaki Muslim lainnya sedang tidur, lalu Tsabit mendatanginya dalam mimpi dan berkata: Aku berwasiat kepadamu dengan sebuah wasiat, maka janganlah sekali-kali engkau katakan ini hanyalah mimpi lalu engkau mengabaikannya. Sesungguhnya ketika aku terbunuh kemarin, seorang lelaki Muslim melewati jasadku lalu mengambil baju besiku. Tempat tinggalnya berada di ujung perkemahan, di dekat tendanya terdapat seekor kuda yang sedang berlari-lari kecil dengan tali panjangnya. Ia menyembunyikan baju besi itu di bawah kuali besar (burmah), dan di atas kuali itu ada pelana (rohl). Maka datangilah Kholid, perintahkanlah ia untuk mengirim orang mengambil baju besiku. Dan jika engkau telah sampai di Madinah menemui Kholifah Rosululloh yaitu Abu Bakr ash-Shiddiq (13 H)—katakanlah kepadanya bahwa aku memiliki utang sekian dan sekian, dan si fulan di antara budakku telah merdeka.”

Lelaki itu pun mendatangi Kholid lalu mengabarkannya. Kholid mengirim orang untuk mengambil baju besi itu dan ternyata benar ditemukan. Kemudian ia menceritakan mimpinya kepada Abu Bakr, maka Abu Bakr pun melaksanakan wasiatnya.

Abu Umar berkata: “Kami tidak mengetahui ada seorang pun yang wasiatnya dilaksanakan setelah kematiannya selain Tsabit bin Qois rohimahulloh.” Selesai perkataan Abu Umar.

Kholid, Abu Bakr ash-Shiddiq, dan para Shohabat yang bersamanya telah bersepakat untuk mengamalkan mimpi ini, melaksanakan wasiat tersebut, dan mengambil kembali baju besi dari tangan pemegangnya. Inilah murni pemahaman fiqih.

Apabila Abu Hanifah (150 H), Ahmad (241 H), dan Malik (179 H) menerima perkataan salah satu dari suami-istri yang mengklaim barang yang layak baginya bukan bagi pasangannya dengan disertai bukti yang mendukung (qorinah), maka hal ini tentu lebih utama. Begitu pula Abu Hanifah menerima klaim pemilik tembok berdasarkan keberadaan batu bata di sisinya. Alloh telah mensyariatkan hukuman bagi wanita melalui sumpah suaminya disertai bukti pendukung yang ada padanya, karena hal itu termasuk bukti paling jelas atas kejujuran suami.

Lebih kuat lagi adalah pembunuhan terhadap orang yang disumpah dalam perkara Qosamah berdasarkan sumpah para pendakwa yang disertai bukti pendukung yang nampak (lauts). Alloh telah mensyariatkan penerimaan sumpah dua orang pendakwa terhadap harta peninggalan janazah mereka apabila mayit wafat dalam perjalanan dan berwasiat kepada dua orang non-Muslim, lalu ahli waris mendapati pengkhianatan kedua washi (penerima wasiat) tersebut. Kedua ahli waris bersumpah demi Alloh dan berhak atas klaimnya, dan sumpah mereka lebih utama dari sumpah kedua penerima wasiat. Hal ini diturunkan oleh Alloh di akhir perkara dalam Suroh Al-Ma’idah, yang merupakan bagian akhir Al-Qur’an dan tidak dihapus hukumnya (mansukh) oleh apa pun, serta diamalkan oleh para Shohabat setelahnya.

Ini adalah dalil bahwa keputusan hukum dalam urusan harta bisa diambil berdasarkan bukti-bukti pendukung yang kuat (lauts). Jika darah saja boleh ditumpahkan berdasarkan lauts dalam Qosamah, maka memberikan keputusan hukum berdasarkan lauts—yaitu bukti-bukti yang nampak jelas—dalam urusan harta tentu lebih utama dan lebih layak. Berdasarkan hal inilah para pemimpin yang adil beramal dalam mengungkap pencurian dari para pencuri, hingga banyak orang yang mengingkari hal itu namun mereka justru meminta bantuan kepada para pemimpin tersebut saat harta mereka dicuri.

Alloh telah menceritakan tentang saksi yang memberikan kesaksian antara Yusuf ash-Shiddiq dan istri Al-Aziz, bahwa ia memutuskan berdasarkan bukti pendukung (qorinah) atas kejujuran Yusuf dan kebohongan wanita tersebut. Alloh tidak mengingkari hal itu, bahkan menceritakannya sebagai bentuk penetapan hukum. Nabi juga mengabarkan tentang Nabi Alloh Sulaiman bin Dawud ‘alaihissalam yang memutuskan antara dua orang wanita yang mengklaim seorang anak sebagai putranya. Beliau memutuskan bagi wanita yang lebih muda berdasarkan bukti yang nampak baginya ketika beliau berkata: “Berikan aku pisau, aku akan membelah anak ini menjadi dua bagian untuk kalian.” Wanita yang lebih tua setuju demi kepuasan hati karena telah kehilangan anaknya sendiri, sedangkan wanita yang lebih muda berkata: “Jangan lakukan itu, dia adalah putranya.” Maka Sulaiman memutuskan anak itu milik wanita muda karena kasih sayang dan rohmat yang ada di hatinya hingga ia merelakannya untuk wanita lain asal si anak tetap hidup dan ia tetap bisa melihatnya.

Inilah termasuk hukum yang paling baik dan paling adil, dan syariat Islam menetapkan hal semacam ini serta bersaksi atas kebenarannya. Demikian pula hukum berdasarkan Al-Qiyafah (pencocokan kemiripan fisik) dan penyambungan nasab dengannya, hal itu bersandar pada bukti-bukti kemiripan meskipun seringkali samar dan tersembunyi.

Tujuannya adalah bahwa bukti-bukti yang ada dalam mimpi Auf bin Malik dan kisah Tsabit bin Qois tidaklah kalah kuat dibandingkan bukti-bukti pendukung lainnya. Bahkan ia lebih kuat daripada sekadar keberadaan batu bata atau kelayakan barang bagi salah satu pihak dalam masalah suami-istri atau pengrajin. Hal ini jelas dan tidak samar, serta fitrah manusia dan akal mereka bersaksi atas kebenarannya. Hanya kepada Alloh lah taufiq itu memohon.

Maksud dari jawaban penanya adalah apabila mayit mengetahui rincian perkara-perkara kecil semacam itu, maka pengetahuannya tentang ziaroh orang yang hidup kepadanya, salam kepadanya, dan doa untuknya tentu lebih utama dan lebih layak lagi.

 

Bab 2: Apakah ruh-ruh orang yang telah meninggal saling bertemu, saling mengunjungi, dan saling berbincang atau tidak?

Ini merupakan masalah yang mulia dan besar kedudukannya. Jawabannya adalah bahwa ruh itu ada dua macam: ruh yang disiksa (mu’adzdzabah) dan ruh yang diberi ni’mat (muna’amah). Ruh yang disiksa dalam keadaan sibuk dengan siksaan yang ia alami sehingga tidak sempat untuk saling mengunjungi dan bertemu. Adapun ruh-ruh yang diberi ni’mat—yang dilepaskan dan tidak ditahan—maka mereka saling bertemu, saling mengunjungi, dan saling berbincang tentang apa yang dahulu terjadi di dunia serta apa yang dialami oleh penduduk dunia. Setiap ruh akan bersama temannya yang memiliki amal yang semisal dengannya. Ruh Nabi kita Muhammad berada di Ar-Rofiq al-A’la (tingkatan tertinggi para Nabi dan Rosul). Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا﴾

“Siapa saja yang mentaati Alloh dan Rosul-Nya dalam segala perintah dan larangan, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang telah Alloh berikan ni’mat kepada mereka, yaitu dari kalangan para Nabi, para Shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur imannya), para Syuhada (orang-orang yang gugur di jalan Alloh), serta orang-orang Sholih. Mereka itulah sebaik-baik teman bagi penduduk Jannah.” (QS. An-Nisa: 69)

Kebersamaan ini tetap ada di dunia, di alam Barzakh, dan di negeri pembalasan (Akhirat). Seseorang akan bersama orang yang ia cintai di ketiga negeri tersebut.

Jarir meriwayatkan dari Manshur, dari Abu adh-Dhuha, dari Masruq (62 H), ia berkata: “Para Shohabat Muhammad berkata: ‘Tidak pantas bagi kami untuk berpisah darimu (wahai Rosul) di dunia. Namun apabila engkau wafat, engkau akan diangkat ke atas kami sehingga kami tidak bisa melihatmu lagi. Maka Alloh menurunkan ayat: ‘Siapa saja yang mentaati Alloh dan Rosul-Nya...’“ (QS. An-Nisa: 69)

Asy-Sya’bi (103 H) menceritakan: Seorang lelaki Anshor datang kepada Nabi sambil menangis. Beliau bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai Fulan?” Ia menjawab: “Wahai Nabi Alloh, demi Alloh yang tidak ada Robb yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, sungguh engkau lebih aku cintai daripada keluargaku dan hartaku. Demi Alloh yang tidak ada Robb selain Dia, sungguh engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri. Aku sedang mengingatmu bersama keluargaku, lalu aku merasa tidak tenang hingga aku bisa melihatmu. Kemudian aku ingat tentang kematianmu dan kematianku, maka aku sadar bahwa aku tidak akan bisa bersamamu kecuali di dunia. Sesungguhnya engkau akan diangkat derajatnya bersama para Nabi, sedangkan aku tahu jika aku masuk Jannah, kedudukanku tentu lebih rendah dari kedudukanmu.” Maka Nabi tidak memberikan jawaban sedikit pun hingga Alloh menurunkan ayat: “Siapa saja yang mentaati Alloh dan Rosul-Nya...” hingga firman-Nya “Dan cukuplah Alloh sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 69-70)

Alloh juga berfirman:

﴿يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي﴾

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Robb-mu dalam keadaan hati yang ridho terhadap pahala-Nya lagi diridhoi di sisi-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku yang sholih dan masuklah ke dalam Jannah-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Yakni masuklah ke dalam kelompok mereka dan jadilah bersama mereka. Perkataan ini dikatakan kepada ruh saat kematian menjemput.

Dalam kisah Isro’, dari hadits Abdulloh bin Mas’ud (32 H), ia berkata: “Ketika Nabi diisro’kan, beliau bertemu dengan Ibrohim, Musa, dan Isa (sholawatulloh wa salamuhu ‘alaihim ajma’in). Mereka saling berbincang tentang hari Qiyamah. Mereka memulai dari Ibrohim lalu bertanya kepadanya tentang Qiyamah, namun ia tidak memiliki ilmu mengenainya. Kemudian kepada Musa, ia pun tidak memiliki ilmu mengenainya, hingga perbincangan beralih kepada Isa. Isa berkata: ‘Alloh telah memberikan janji kepadaku mengenai tanda-tanda sebelum terjadinya Qiyamah.” Ia pun menyebutkan keluarnya Dajjal. Isa berkata: ‘Lalu aku turun dan membunuhnya, manusia pun kembali ke negeri-negeri mereka, namun mereka dihadang oleh Ya’juj dan Ma’juj yang turun dengan cepat dari segala tempat yang tinggi. Tidaklah mereka melewati air melainkan mereka meminumnya hingga habis, dan tidak melewati sesuatu melainkan mereka merusaknya. Maka mereka (kaum Mu’min) memohon pertolongan kepadaku, aku pun berdoa kepada Alloh lalu Alloh mematikan mereka. Kemudian bumi mengadu kepada Alloh karena bau bangkai mereka, maka aku pun berdoa, lalu Alloh mengirimkan hujan dari langit yang membawa jasad-jasad mereka dan melemparkannya ke laut. Kemudian Alloh menghancurkan gunung-gunung dan meratakan bumi seluas-luasnya. Janji Alloh kepadaku adalah apabila keadaan sudah seperti itu, maka hari Qiyamah bagi manusia ibarat wanita hamil yang telah sempurna masa kandungannya, keluarganya tidak tahu kapan tiba-tiba ia akan melahirkan, baik di malam hari atau di siang hari.” (Disebutkan oleh Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan lainnya)

Ini adalah nash tentang ruh-ruh yang saling berbincang mengenai ilmu.

Alloh telah mengabarkan kepada kita tentang para Syuhada bahwa mereka hidup di sisi Robb mereka dengan mendapatkan rizqi, dan bahwa mereka saling memberi kabar gembira tentang orang-orang setelah mereka yang belum menyusul, serta mereka bergembira dengan ni’mat dan karunia dari Alloh. Hal ini menunjukkan pertemuan mereka dari 3 sisi:

1) Bahwa mereka di sisi Robb mereka mendapatkan rizqi. Jika mereka hidup, maka mereka pasti saling bertemu.

2) Bahwa mereka saling memberi kabar gembira atas kedatangan dan perjumpaan saudara-saudara mereka dengan mereka.

3) Bahwa lafazh “yastabsyirun” (saling memberi kabar gembira) dalam bahasa Arab memberikan makna bahwa sebagian mereka memberikan kabar gembira kepada sebagian yang lain.

Sebagian Mimpi Bertemu Sholihin

Mimpi-mimpi tentang hal ini pun telah mutawatir. Di antaranya apa yang disebutkan oleh Sholih bin Basyir, ia berkata: “Aku melihat Atho’ as-Sulami dalam mimpi setelah kematiannya, lalu aku berkata kepadanya: ‘Semoga Alloh merohmatimu, engkau dahulu adalah orang yang panjang kesedihannya di dunia.’ Ia menjawab: ‘Demi Alloh, kesedihan itu telah membuahkan kegembiraan yang panjang dan kebahagiaan yang abadi bagiku.’ Aku bertanya: ‘Di derajat manakah engkau berada?’ Ia menjawab: ‘Bersama orang-orang yang telah Alloh berikan ni’mat kepada mereka, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada, dan para Sholih.”

Abdulloh bin al-Mubarok (181 H) berkata: “Aku melihat Sufyan ath-Tsauri (161 H) dalam mimpi, lalu aku bertanya: ‘Apa yang Alloh lakukan kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Aku telah bertemu dengan Muhammad dan kelompoknya (para Shohabat).”

Sokhr bin Rosyid berkata: “Aku melihat Abdulloh bin al-Mubarok (181 H) dalam mimpi setelah kematiannya. Aku bertanya: ‘Bukankah engkau telah mati?’ Ia menjawab: ‘Benar.’ Aku bertanya: ‘Apa yang Alloh lakukan kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Alloh telah mengampuniku dengan ampunan yang meliputi setiap dosaku.’ Maka Sufyan ath-Tsauri berkata: ‘Hebat, hebat! Orang itu (Ibnu al-Mubarok) bersama orang-orang yang telah Alloh beri ni’mat kepada mereka, dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang Sholih, dan mereka itulah sebaik-baik teman.”

Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dari hadits Hammad bin Zaid (179 H), dari Hisyam bin Hassan, dari Yaqozhoh binti Rosyid, ia berkata: “Marwan al-Muhallami adalah tetanggaku, ia adalah seorang hakim yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Ketika ia meninggal, aku sangat berduka cita atasnya. Aku melihatnya dalam mimpi, lalu aku bertanya: ‘Wahai Abu Abdillah, apa yang Robb-mu lakukan kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Ia memasukkanku ke dalam Jannah.’ Aku bertanya: ‘Kemudian apa?’ Ia menjawab: ‘Kemudian aku diangkat ke golongan Ash-habul Yamin (golongan kanan).’ Aku bertanya: ‘Kemudian apa?’ Ia menjawab: ‘Kemudian aku diangkat ke golongan Al-Muqorrobin al-Muqorrobin (orang-orang yang didekatkan kepada Alloh).’ Aku bertanya: ‘Siapa yang engkau lihat dari saudara-saudaramu?’ Ia menjawab: Aku melihat Al-Hasan (al-Bashri), Ibnu Sirin (110 H), dan Maimun bin Siyah.”

Hammad berkata, Hisyam bin Hassan menceritakan kepadaku: Ummu Abdillah—yang termasuk wanita terbaik penduduk Bashroh—menceritakan kepadaku, ia berkata: “Aku bermimpi seolah-olah masuk ke dalam rumah yang sangat indah, lalu masuk ke sebuah taman yang keindahannya luar biasa. Di sana ada seorang lelaki yang bersandar di atas dipan dari emas, di sekelilingnya ada para pelayan yang memegang piala-piala. Aku sangat takjub dengan keindahan yang aku lihat. Tiba-tiba dikatakan: ‘Marwan al-Muhallami telah datang!’ Maka ia pun bangkit dan duduk tegak di atas dipannya. Saat itu juga aku terbangun, ternyata janazah Marwan sedang lewat di depan pintuku pada jam tersebut.”

Ruh Saling Bertemu dan Mengenal

Telah datang sunnah yang tegas tentang pertemuan dan saling kenalnya ruh-ruh. Ibnu Abi Ad-Dunya berkata, Muhammad bin Abdulloh bin Bazigh menceritakan kepadaku, Fudhoil bin Sulaiman an-Numairi mengabarkan kepadaku, Yahya bin Abdurrohman bin Abi Labibah menceritakan kepadaku dari kakeknya, ia berkata: “Ketika Bisyr bin al-Baro’ bin Ma’rur (7 H) meninggal dunia, ibunya merasa sangat berduka cita. Ia bertanya: ‘Wahai Rosululloh, sesungguhnya orang-orang yang mati dari Bani Salamah terus berjatuhan, apakah orang-orang mati itu saling mengenal satu sama lain? Jika benar, aku akan menitipkan salam untuk Bisyr.’ Rosululloh bersabda: ‘Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya wahai Ummu Bisyr, sesungguhnya mereka saling mengenal sebagaimana burung-burung saling mengenal di pucuk-pucuk pohon.’ Maka tidaklah ada orang yang meninggal dari Bani Salamah melainkan Ummu Bisyr mendatanginya dan berkata: ‘Wahai Fulan, keselamatan atasmu!’ Mayit itu menjawab: ‘Dan atasmu pula.’ Ummu Bisyr berkata: ‘Sampaikanlah salam kepada Bisyr.”

Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dari hadits Sufyan, dari Amru bin Dinar, dari Ubaid bin Umair (68 H), ia berkata: “Penghuni kubur selalu menanti-nanti kabar. Apabila ada mayit yang baru datang, mereka bertanya: ‘Apa yang dilakukan si Fulan?’ Ia menjawab: ‘Ia orang sholih.’ Apa yang dilakukan si Fulan? Ia menjawab: ‘Ia orang sholih.’ ‘Apa yang dilakukan si Fulan?’ Ia menjawab: ‘Bukankah ia telah mendatangi kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Maka mayit baru itu berkata: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, ia telah dibawa ke jalan selain jalan kita (yakni ke Neraka Hawiyah).”

Sholih al-Murri berkata: “Telah sampai kabar kepadaku bahwa ruh-ruh saling bertemu saat kematian. Ruh-ruh orang mati bertanya kepada ruh yang baru keluar menemui mereka: ‘Bagaimana tempat tinggalmu? Dan di dalam jasad manakah engkau berada, di jasad yang baik atau yang buruk?’ Kemudian ia menangis hingga tangisannya mengalahkan bicaranya.”

Ubaid bin Umair (68 H) juga berkata: “Apabila seseorang meninggal dunia, ruh-ruh akan menyambutnya dan meminta keterangan kepadanya sebagaimana rombongan kafilah meminta kabar: ‘Apa yang dilakukan si Fulan? Apa yang dilakukan si Fulan?’ Apabila ia menjawab bahwa orang tersebut sudah wafat namun tidak datang kepada mereka, mereka berkata: ‘Ia telah dibawa pergi menuju ibunya, yaitu Neraka Hawiyah.”

Sa’id bin al-Musayyib (94 H) berkata: “Apabila seseorang meninggal, ayahnya akan menyambutnya sebagaimana menyambut orang yang telah lama hilang.”

Ubaid bin Umair juga berkata: “Seandainya aku berputus asa untuk bisa bertemu dengan keluargaku yang telah meninggal, tentu aku sudah mati karena kesedihan yang mendalam.”

Mu’awiyah bin Yahya menyebutkan dari Abdulloh bin Salamah, bahwa Abu Ruhm al-Misma’i menceritakan kepadanya bahwa Abu Ayyub al-Anshori (52 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan kepadanya bahwa Rosululloh bersabda:

«إِنَّ نَفْسَ الْمُؤْمِنِ إِذا قُبِضَتْ تَلَقَّاهَا أَهْلُ الرَّحْمَةِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ كَمَا يَتَلَقَّى الْبَشِيرُ فِي الدُّنْيَا، فَيَقُولُونَ: انْظُرُوا أَخَاكُمْ حَتَّى يَسْتَرِيحَ، فَإِنَّهُ كَانَ فِي كَرْبٍ شَدِيدٍ، فَيَسْأَلُونَهُ: مَاذَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ وَمَاذَا فَعَلَتْ فُلَانَةُ؟ وَهَلْ تَزَوَّجَتْ فُلَانَةُ؟ فَإِذَا سَأَلُوهُ عَنْ رَجُلٍ مَاتَ قَبْلَهُ قَالَ: إِنَّهُ قَدْ مَاتَ، فَبَلَى! قَالُوا: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، ذُهِبَ بِهِ إِلَى أُمِّهِ الْهَاوِيَةِ، فَبِئْسَتِ الْمُرَبِّيَةُ»

“Sesungguhnya jiwa seorang Mu’min apabila dicabut, ia akan disambut oleh para penghuni rohmat dari sisi Alloh sebagaimana pembawa kabar gembira disambut di dunia. Mereka berkata: ‘Biarkanlah saudara kalian ini beristirahat sejenak,’ karena ia baru saja berada dalam kesengsaraan yang sangat dahsyat. Kemudian mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang dilakukan si Fulan? Apa yang dilakukan si Fulanah? Apakah si Fulanah sudah menikah?’ Apabila mereka bertanya tentang seseorang yang ternyata sudah wafat mendahuluinya, maka jiwa itu menjawab: ‘Sesungguhnya ia telah wafat sebelumku.’ Mereka pun berseru: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, ia telah dibawa pergi menuju ibunya, yaitu Neraka Hawiyah, dan itulah seburuk-buruk tempat pengasuhan.” (HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam Al-Maut no. 101)

Telah disebutkan sebelumnya hadits Yahya bin Bisthom, bahwa Misma’ bin Ashim menceritakan kepadaku: “Aku melihat Ashim al-Jahdari dalam mimpiku setelah 2 tahun kematiannya.” Aku bertanya: “Bukankah engkau telah wafat?” Ia menjawab: “Benar.” Aku bertanya: “Lalu di manakah engkau sekarang?” Ia menjawab: “Demi Alloh, aku berada di salah satu taman dari taman-taman Jannah. Aku bersama sekelompok sahabatku berkumpul setiap malam Jum’at dan pagi harinya menemui Bakr bin Abdulloh al-Muzani (108 H), lalu kami menerima kabar-kabar tentang kalian.” Aku bertanya: “Apakah yang berkumpul itu jasad kalian atau ruh kalian?” Ia menjawab: “Mustahil jasad, karena jasad-jasad telah hancur, namun yang saling bertemu adalah ruh-ruh.”

 

Bab 3: Apakah ruh orang yang masih hidup bisa bertemu dengan ruh orang yang sudah mati atau tidak?

Bukti-bukti dan dalil-dalil mengenai masalah ini terlalu banyak untuk bisa dihitung kecuali oleh Alloh . Perasaan dan kenyataan merupakan saksi yang paling adil mengenai hal ini. Ruh-ruh orang yang hidup dan orang yang mati bisa saling bertemu sebagaimana ruh sesama orang yang masih hidup juga bisa saling bertemu. Alloh telah berfirman:

﴿اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾

“Alloh memegang jiwa-jiwa manusia saat kematiannya dan memegang jiwa yang belum mati dalam tidurnya; maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi kaum yang mau berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42)

Abu Abdillah bin Mandah (395 H) berkata, Ahmad bin Muhammad bin Ibrohim menceritakan kepada kami, Abdulloh bin Husain al-Harroni menceritakan kepada kami, kakekku Ahmad bin Syu’aib menceritakan kepada kami, Musa bin ‘Ayun menceritakan kepada kami, dari Muthorrif, dari Ja’far bin Abi al-Mughiroh, dari Sa’id bin Jubair (95 H), dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma mengenai ayat ini, beliau berkata: “Telah sampai kabar kepadaku bahwa ruh orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati saling bertemu dalam mimpi. Mereka saling bertanya satu sama lain, kemudian Alloh menahan ruh orang-orang yang sudah mati dan melepaskan ruh orang-orang yang hidup kembali ke jasad-jasad mereka.”

Ibnu Abi Hatim (327 H) menyebutkan dalam tafsirnya, Abdulloh bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Al-Husain menceritakan kepada kami, ‘Amir menceritakan kepada kami, Asbath menceritakan kepada kami, dari As-Suddi (127 H) mengenai firman Alloh “dan jiwa yang belum mati dalam tidurnya”, ia berkata: “Alloh mewafatkan jiwa tersebut dalam tidurnya, lalu ruh orang yang hidup dan ruh orang yang mati bertemu. Keduanya saling berbincang dan saling mengenal. Kemudian ruh orang yang hidup kembali ke jasadnya di dunia hingga sisa ajalnya berakhir, sedangkan ruh orang yang mati ingin kembali ke jasadnya namun ia ditahan.”

Ini adalah salah satu dari dua pendapat mengenai ayat tersebut, yaitu bahwa ruh yang ditahan adalah ruh yang memang telah wafat karena kematian sejak awal, sedangkan ruh yang dilepaskan adalah ruh yang “diwafatkan” melalui tidur. Maknanya menurut pendapat ini adalah Alloh mewafatkan jiwa orang yang mati lalu menahannya dan tidak melepaskannya kembali ke jasadnya sebelum hari Qiyamah, dan Dia mewafatkan jiwa orang yang tidur kemudian melepaskannya kembali ke jasadnya sampai batas ajalnya, lalu kelak Dia akan mewafatkannya dengan kematian yang sebenarnya.

Pendapat kedua mengenai ayat ini adalah bahwa ruh yang ditahan maupun yang dilepaskan dalam ayat tersebut, keduanya sama-sama mengalami “wafat” karena tidur. Barang siapa yang ajalnya telah sempurna, maka Alloh akan menahan ruhnya di sisi-Nya sehingga tidak kembali ke jasadnya. Namun barang siapa yang ajalnya belum sempurna, Alloh mengembalikannya ke jasadnya agar ia bisa menyempurnakan ajalnya. Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah - 728 H) memilih pendapat ini dan mengatakan bahwa Al-Qur’an serta As-Sunnah menunjukkan hal tersebut. Beliau berargumen bahwa Alloh menyebutkan penahanan bagi jiwa yang telah ditetapkan kematiannya dari jiwa-jiwa yang Dia wafatkan melalui tidur tersebut. Adapun jiwa yang sudah wafat sejak awal karena kematian, maka Alloh tidak mensifatinya dengan penahanan maupun pelepasan dalam konteks tidur ini, melainkan ia adalah golongan ketiga.

Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama. Karena Alloh mengabarkan adanya dua jenis kematian: kematian besar yaitu ajal yang berakhir, dan kematian kecil yaitu tidur. Alloh membagi ruh menjadi dua kelompok: kelompok yang telah ditetapkan kematiannya lalu ditahan di sisi-Nya, yaitu ruh yang wafat karena kematian sebenarnya. Dan kelompok yang masih memiliki sisa ajal, lalu dikembalikan ke jasadnya hingga ajalnya sempurna. Alloh menjadikan “penahanan” dan “pelepasan” sebagai dua ketetapan hukum bagi dua jenis kewafatan yang telah disebutkan di awal ayat. Maka ada ruh yang ditahan dan ada ruh yang dilepaskan. Alloh juga mengabarkan bahwa ruh yang belum mati adalah ruh yang diwafatkan dalam tidurnya. Seandainya Alloh membagi wafat tidur menjadi dua bagian (wafat tidur yang berujung mati dan wafat tidur biasa), tentu Dia tidak akan berfirman “dan jiwa yang belum mati dalam tidurnya”, karena jika ia ditahan saat itu juga berarti ia telah mati. Padahal Alloh telah mengabarkan bahwa jiwa itu “belum mati”, lantas bagaimana setelah itu Dia berfirman “maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya”?

Bagi yang membela pendapat kedua ini bisa saja berargumen bahwa firman-Nya “maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya” terjadi setelah jiwa itu diwafatkan melalui tidur. Jadi Alloh mewafatkannya terlebih dahulu dengan wafat tidur, kemudian menetapkan kematian padanya setelah itu. Namun hakikatnya, ayat ini mencakup kedua jenis tersebut.

Sesungguhnya Alloh menyebutkan dua jenis kewafatan: wafat tidur dan wafat kematian. Alloh menyebutkan penahanan bagi yang mati dan pelepasan bagi yang lainnya. Sudah dimaklumi bahwa Alloh menahan setiap jiwa orang yang mati, baik ia mati saat tidur maupun saat terjaga, dan Dia melepaskan jiwa orang yang tidak mati. Maka firman-Nya “Alloh memegang jiwa-jiwa manusia saat kematiannya” mencakup orang yang mati saat terjaga maupun orang yang mati saat tidur.

Pertemuan antara ruh orang yang hidup dan orang yang mati telah ditunjukkan oleh fakta bahwa orang yang hidup bisa melihat orang yang mati dalam mimpinya. Orang yang mati tersebut memberikan kabar yang tidak diketahui oleh orang yang hidup, dan ternyata kabarnya benar sesuai kenyataan, baik itu kejadian masa lalu maupun masa depan. Terkadang orang mati mengabarkan harta yang ia pendam di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya. Terkadang ia mengabarkan adanya utang yang ia tanggung dan menyebutkan bukti-bukti serta petunjuk-petunjuknya.

Bahkan lebih dari itu, orang mati bisa mengabarkan tentang amal perbuatan yang dilakukan oleh orang hidup yang tidak diketahui oleh seorang pun di dunia ini. Dan yang lebih menakjubkan lagi, orang mati bisa mengabarkan kepada orang hidup: “Engkau akan menyusul kami pada waktu sekian dan sekian,” dan hal itu benar-benar terjadi sebagaimana yang dikabarkan. Terkadang ia mengabarkan perkara-perkara yang orang hidup itu yakin bahwa tidak ada yang mengetahuinya kecuali dirinya sendiri. Kami telah menyebutkan kisah Sho’b bin Jatsamah dan apa yang ia katakan kepada Auf bin Malik. Kami juga telah menyebutkan kisah Tsabit bin Qois bin Syammas (12 H) dan kabar yang ia berikan kepada orang yang melihatnya mengenai baju besinya serta utang-utang yang ia tanggung.

Begitu pula kisah Sodaqoh bin Sulaiman al-Ja’fari dan kabar dari ayahnya mengenai apa yang ia lakukan setelah kematiannya. Kisah Syabib bin Syaibah (170 H) dan perkataan ibunya setelah wafat: “Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan karena engkau telah menuntunku dengan kalimat La ilaha illallah.” Juga kisah Al-Fadhl bin al-Muwaffaq bersama ayahnya dan kabar ayahnya bahwa ia mengetahui ziarohnya.

Sa’id bin al-Musayyib (94 H) menceritakan bahwa Abdulloh bin Salam (43 H) rodhiyallahu ‘anhu dan Salman al-Farisi (32 H) rodhiyallahu ‘anhu bertemu. Salah satunya berkata kepada yang lain: “Jika engkau mati mendahuluiku, maka temuilah aku dan kabarkanlah apa yang engkau dapati dari Robb-mu. Dan jika aku yang mati mendahuluimu, aku pun akan menemuimu dan mengabarkannya.” Yang lain bertanya: “Apakah orang mati dan orang hidup bisa saling bertemu?” Ia menjawab: “Ya, ruh-ruh mereka berada di Jannah, pergi ke mana saja yang dikehendaki.” Kemudian salah satunya wafat lalu menemui temannya dalam mimpi dan berkata: “Bertawakkallah dan berilah kabar gembira, karena aku tidak melihat amalan yang setara dengan Tawakkal sama sekali.”

Al-Abbas bin Abdul Mutholib (32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku sangat ingin melihat Umar (23 H) dalam mimpi, namun aku tidak bisa melihatnya kecuali setelah hampir setahun. Aku melihatnya sedang mengusap keringat dari keningnya sambil berkata: ‘Inilah saat luangku. Hampir saja singgasanaku runtuh seandainya aku tidak bertemu dengan Robb Yang Maha Santun lagi Maha Penyayang.”

Ketika Syuroih bin ‘Abid ath-Thumali hampir wafat, Ghudhoif bin al-Harits (80 H) menemuinya saat ia sedang berjuang menghadapi sakarotul maut. Ghudhoif berkata: “Wahai Abu al-Hajjaj, jika engkau sanggup menemui kami setelah mati untuk mengabarkan apa yang engkau lihat, maka lakukanlah.” Syuraih mengiyakannya, dan kata-kata itu dianggap sebagai hal yang diterima di kalangan ahli fiqih. Ghudhoif menunggu sekian lama tanpa melihatnya, hingga akhirnya ia melihat Syuraih dalam mimpinya. Ia bertanya: “Bukankah engkau telah wafat?” Syuraih menjawab: “Benar.” Ia bertanya: “Bagaimana keadaanmu?” Syuraih menjawab: “Robb kami telah mengampuni dosa-dosa kami, maka tidak ada yang binasa di antara kami kecuali orang-orang al-ahrodh.” Aku bertanya: “Apa itu al-ahrodh?” Ia menjawab: “Yaitu orang-orang yang ditunjuk dengan jari dalam suatu perkara (karena keburukannya).”

Abdulloh bin Umar bin Abdul Aziz menceritakan: “Aku melihat ayahku dalam mimpi setelah kematiannya seolah-olah ia berada di sebuah kebun. Ia memberiku buah apel, dan aku menafsirkannya sebagai anak. Aku bertanya: ‘Amalan apa yang engkau dapati paling utama?’ Ia menjawab: ‘Memohon ampunan (Istighfar), wahai anakku.”

Maslamah bin Abdul Malik (121 H) melihat Umar bin Abdul Aziz (101 H) setelah wafatnya, lalu ia bertanya: “Wahai Amirul Mu’minin, andai saja aku tahu ke keadaan manakah engkau beranjak setelah mati?” Umar menjawab: “Wahai Maslamah, inilah waktu luangku. Demi Alloh, aku tidak pernah merasakan istirahat kecuali sekarang.” Aku bertanya: “Lalu di manakah engkau sekarang wahai Amirul Mu’minin?” Ia menjawab: “Bersama para imam pembawa petunjuk di Jannah ‘Adn.”

Sholih al-Barrod menceritakan: “Aku melihat Zuroroh bin Aufa (93 H) setelah kematiannya, lalu aku bertanya: ‘Semoga Alloh merohmatimu, apa yang dikatakan kepadamu dan apa yang engkau katakan?’ Ia memalingkan wajah dariku. Aku bertanya lagi: ‘Apa yang Alloh lakukan kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Dia memberikan karunia kepadaku dengan kedermawanan dan kemuliaan-Nya.’ Aku bertanya: ‘Bagaimana dengan Abu al-Ala’ bin Yazid, saudara Muthorrif?’ Ia menjawab: ‘Dia berada di derajat yang tinggi.’ Aku bertanya: ‘Amalan apakah yang paling sampai pengaruhnya menurut kalian?’ Ia menjawab: ‘Tawakkal dan pendek angan-angan.”

Malik bin Dinar (131 H) menceritakan: “Aku melihat Muslim bin Yasar (100 H) setelah kematiannya. Aku mengucapkan salam kepadanya, namun ia tidak menjawab salamku. Aku bertanya: ‘Apa yang menghalangimu untuk membalas salamku?’ Ia menjawab: ‘Aku sudah mati, lantas bagaimana aku bisa membalas salammu?’ Aku bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau dapati setelah mati?’ Ia menjawab: ‘Demi Alloh, aku menjumpai kengerian-kengerian dan guncangan-guncangan yang sangat besar lagi dahsyat.’ Aku bertanya lagi: ‘Lalu apa yang terjadi setelah itu?’ Ia menjawab: ‘Apa lagi yang engkau harapkan akan terjadi dari Dzat Yang Maha Mulia?’ Dia menerima kebaikan-kebaikan kami, mengampuni kesalahan-kesalahan kami, dan menanggung segala konsekuensi (tabi’at) atas kami.” Malik pun berteriak kencang hingga pingsan. Setelah itu ia jatuh sakit selama beberapa hari kemudian jantungnya pecah dan ia pun wafat.

Suhail saudara Hazm menceritakan: “Aku melihat Malik bin Dinar (131 H) setelah kematiannya, lalu aku bertanya: ‘Wahai Abu Yahya, andai saja aku tahu dengan apa engkau menghadap Alloh?’ Ia menjawab: ‘Aku menghadap dengan dosa yang sangat banyak, namun husnuzhon (prasangka baik) kepada Alloh telah menghapuskannya dariku.”

Ketika Rojaa’ bin Haywah (112 H) wafat, seorang wanita ahli ibadah melihatnya dalam mimpi. Ia bertanya: “Wahai Abu al-Miqdam, ke manakah kalian beranjak?” Ia menjawab: “Kepada kebaikan, namun kami sempat terkejut setelah kepergian kalian dengan sebuah keterkejutan yang membuat kami menyangka bahwa hari Qiyamah telah tiba.” Wanita itu bertanya: “Mengapa demikian?” Ia menjawab: “Al-Jarroh dan para pengikutnya masuk ke Jannah dengan segala beban mereka (pahala jihad) hingga mereka berdesak-desakan di pintunya.”

Jamil bin Murroh menceritakan: “Muwarriq al-Ijali (100 H) adalah saudara dan sahabatku. Suatu hari aku berkata kepadanya: oSiapa pun di antara kita yang mati lebih dahulu, hendaknya ia mendatangi temannya untuk mengabarkan apa yang ia alami.’ Ketika Muwarriq wafat, istriku melihatnya dalam mimpi seolah-olah ia mendatangi kami seperti biasanya. Ia mengetuk pintu rumah sebagaimana biasanya. Istriku bangkit dan membukakan pintu untuknya, lalu berkata: ‘Masuklah wahai Abu al-Mu’tamir menuju pintu saudaramu.’ Namun ia menjawab: ‘Bagaimana aku bisa masuk sementara aku telah merasakan mati? Aku hanyalah datang untuk mengabarkan Jamil tentang apa yang Alloh lakukan kepadaku. Beritahukanlah padanya bahwa Alloh telah menjadikanku termasuk orang-orang yang didekatkan (Al-Muqorrobin).”

Ketika Muhammad bin Sirin (110 H) wafat, sebagian sahabatnya sangat berduka cita. Kemudian ia melihatnya dalam mimpi dalam keadaan yang sangat baik. Ia bertanya: “Wahai saudaraku, aku melihatmu dalam keadaan yang menyenangkan hatiku. Lalu apa yang dilakukan Al-Hasan (al-Bashri - 110 H)?” Ibnu Sirin menjawab: “Ia diangkat derajatnya 70 derajat di atasku.” Aku bertanya: “Mengapa demikian, padahal kami memandangmu lebih utama darinya?” Ia menjawab: “Itu dikarenakan panjangnya kesedihan yang ia rasakan (karena takut pada Alloh).”

Ibnu ‘Uyainah (198 H) menceritakan: “Aku melihat Sufyan ath-Tsauri (161 H) dalam mimpi lalu aku berkata: ‘Berilah aku wasiat.’ Ia menjawab: ‘Kurangilah bergaul dengan manusia.”

Ammar bin Saif menceritakan: “Aku melihat Hasan bin Sholih (169 H) dalam mimpinya, lalu aku berkata: ‘Aku sangat mendambakan pertemuan denganmu, maka apa yang ada di sisimu yang bisa engkau kabarkan kepada kami?’ Ia menjawab: ‘Berilah kabar gembira, karena sesungguhnya aku tidak melihat sesuatu yang lebih utama daripada berprasangka baik (husnuzhon) kepada Alloh.”

Ketika Dhoyghom al-Abid wafat, sebagian sahabatnya melihatnya dalam mimpi. Dhoyghom bertanya: “Apakah engkau telah mensholatiku?” Sahabatnya menyebutkan suatu udzur yang ada. Dhoyghom berkata: “Andai saja engkau ikut serta, niscaya engkau akan mendapatkan keselamatan yang besar.”

Ketika Robiah (al-Adawiyyah - 185 H) wafat, seorang wanita sahabatnya melihatnya mengenakan pakaian sutra tebal (istibroq) dan kerudung dari sutra tipis (sundus), padahal ia dikafani dengan jubah dan kerudung dari wol. Wanita itu bertanya: “Apa yang terjadi dengan jubah wol yang kami gunakan untuk mengafanimu?” Robiah menjawab: “Demi Alloh, jubah itu telah dilepaskan dariku dan digantikan dengan pakaian yang engkau lihat ini. Kafanku telah dilipat, disegel, dan diangkat ke tempat yang tinggi (Illiyyin) agar pahalanya disempurnakan untukku pada hari Qiyamah.” Wanita itu berkata: “Inilah yang engkau ketahui saat di dunia.” Robiah menjawab: “Apa gunanya ini dibandingkan dengan kemuliaan yang aku lihat dari Alloh bagi para wali-Nya.” Aku bertanya: “Lalu apa yang dilakukan ‘Abdah binti Abi Kilab?” Robiah menjawab: “Jauh, sangat jauh! Demi Alloh, ia telah mendahului kami menuju derajat-derajat yang tinggi.” Aku bertanya: “Dengan apa, padahal orang-orang memandangmu lebih rajin ibadah darinya?” Robiah menjawab: “Sesungguhnya ia tidak mempedulikan dalam keadaan bagaimana ia berada di dunia, baik di pagi hari maupun di sore hari.” Aku bertanya: “Lalu bagaimana dengan Abu Malik (yakni Dhoyghom)?” Ia menjawab: “Ia menziarohi Alloh kapan pun ia kehendaki.”

Aku bertanya: “Lalu bagaimana dengan Bisyr bin Manshur (180 H)?” Ia menjawab: “Bakh, bakh! Demi Alloh, ia telah diberi melebihi apa yang ia harapkan.” Aku berkata: “Perintahkanlah kepadaku suatu perkara yang bisa mendekatkan diriku kepada Alloh .” Robiah menjawab: “Hendaknya engkau memperbanyak berdzikir kepada Alloh, niscaya engkau akan merasa iri (dalam kebaikan) dengan hal itu di dalam kuburmu kelak.”

Ketika Abdul Aziz bin Sulaiman al-Abid wafat, sebagian sahabatnya melihatnya mengenakan pakaian hijau dan di atas kepalanya terdapat mahkota dari mutiara. Ia bertanya: “Bagaimana keadaanmu setelah meninggalkan kami? Bagaimana rasanya mati? Dan bagaimana engkau melihat urusan di sana?” Ia menjawab: “Adapun tentang kematian, janganlah engkau tanya tentang betapa dahsyatnya kesengsaraan dan kegundahannya. Namun rohmat Alloh telah menutupi segala aib kami, dan kami tidak disambut melainkan dengan karunia-Nya.”

Sholih bin Bisyir menceritakan: “Ketika Atho’ as-Sulami wafat, aku melihatnya dalam mimpinya. Aku bertanya: ‘Wahai Abu Muhammad, bukankah engkau termasuk golongan orang yang sudah mati?’ Ia menjawab: ‘Benar.’ Aku bertanya: ‘Menjadi apakah engkau setelah mati?’ Ia menjawab: ‘Demi Alloh, aku menuju kebaikan yang sangat banyak dan Robb Yang Maha Pengampun lagi Maha Bersyukur.’ Aku berkata: ‘Demi Alloh, engkau dahulu adalah orang yang sangat panjang kesedihannya di dunia.’ Ia tersenyum dan berkata: ‘Demi Alloh, kesedihan itu telah membuahkan istirahat yang panjang dan kegembiraan yang abadi bagiku.’ Aku bertanya: ‘Di derajat manakah engkau berada?’ Ia menjawab: ‘Bersama orang-orang yang telah Alloh berikan ni’mat kepada mereka, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada, dan orang-orang Sholih, dan mereka itulah sebaik-baik teman.”

Ketika Ashim al-Jahdari wafat, sebagian keluarganya melihatnya dalam mimpi. Ia bertanya: “Bukankah engkau telah wafat?” Ia menjawab: “Benar.” Ia bertanya: “Di manakah engkau sekarang?” Ia menjawab: “Demi Alloh, aku berada di salah satu taman dari taman-taman Jannah. Aku bersama sekelompok sahabatku berkumpul setiap malam Jum’at dan pagi harinya menemui Bakr bin Abdulloh al-Muzani (108 H), lalu kami menerima kabar-kabar tentang kalian.” Aku bertanya: “Jasad kalian atau ruh kalian?” Ia menjawab: “Mustahil jasad, karena jasad telah hancur, yang saling bertemu adalah ruh.”

Fudhoil bin Iyadh (187 H) terlihat dalam mimpi setelah kematiannya, ia berkata: “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih baik bagi seorang hamba selain Robb-nya.”

Murroh al-Hamdani (76 H) pernah bersujud hingga tanah mengikis jidatnya. Ketika ia wafat, seorang dari keluarganya melihatnya dalam mimpi seolah-olah tempat sujudnya bercahaya seperti bintang yang terang. Ia bertanya: “Bekas apa yang aku lihat di wajahmu ini?” Ia menjawab: “Tempat sujud yang terkikis oleh tanah itu telah dipakaikan cahaya.” Aku bertanya: “Lalu bagaimana kedudukanmu di Akhiroh?” Ia menjawab: “Sebaik-baik tempat kediaman yang penghuninya tidak akan berpindah darinya dan tidak akan mati.”

Abu Ya’qub al-Qori’ menceritakan: “Aku bermimpi melihat seorang lelaki yang berkulit cokelat dan tinggi, orang-orang mengikutinya.” Aku bertanya: “Siapa ini?” Mereka menjawab: “Uwais al-Qorni (37 H).” Aku pun mengikutinya dan berkata: “Berilah aku wasiat, semoga Alloh merohmatimu.” Ia memasang wajah masam kepadaku. Aku berkata: “Aku orang yang meminta petunjuk, maka tunjukkanlah kepadaku, semoga Alloh merohmatimu.” Ia pun menghadapku dan berkata: “Carilah rohmat Alloh saat engkau mencintai-Nya, waspadalah terhadap kemurkaan-Nya saat engkau bermaksiat kepada-Nya, dan janganlah engkau memutus harapanmu dari-Nya di sela-sela hal tersebut.” Kemudian ia pergi meninggalkanku.”

Ibnu as-Sammak (183 H) menceritakan: “Aku melihat Mis’ar (155 H) dalam mimpi, lalu aku bertanya: ‘Amalan apakah yang engkau dapati paling utama?’ Ia menjawab: Majelis-majelis dzikir.”

Al-Ajlah menceritakan: “Aku melihat Salamah bin Kuhail (121 H) dalam mimpi, aku bertanya: ‘Amalan apakah yang paling utama?’ Ia menjawab: ‘Qiyamul Lail (Sholat malam).”

Abu Bakr bin Abi Maryam menceritakan: “Aku melihat Wafa’ bin Bisyir setelah wafatnya, aku bertanya: ‘Apa yang terjadi padamu wahai Wafa’?’ Ia menjawab: ‘Aku selamat setelah segala perjuangan yang berat.’ Aku bertanya: ‘Amalan apakah yang kalian dapati paling utama?’ Ia menjawab: ‘Menangis karena takut kepada Alloh .”

Al-Laits bin Sa’d (175 H) menceritakan dari Musa bin Wardan bahwa ia melihat Abdulloh bin Abi Habibah (126 H) setelah kematiannya. Ia berkata: “Amal kebaikan dan keburukanku diperlihatkan kepadaku. Aku melihat dalam catatan kebaikanku terdapat biji-biji delima yang aku punguti lalu aku makan. Dan aku melihat dalam catatan keburukanku dua helai benang sutra yang ada di kopiahku.”

Sunaid bin Dawud menceritakan, keponakan Juwairiyah bin Asma’ menceritakan kepadaku: “Kami berada di Abadan, lalu datanglah seorang pemuda dari Kufah yang ahli ibadah. Ia wafat di sana pada hari yang sangat panas. Aku berkata: ‘Biarkan ia mendingin dahulu baru kita urus janazahnya.’ Aku pun tertidur dan bermimpi berada di pemakaman, tiba-tiba ada kubah dari permata yang sangat indah bercahaya. Saat aku menatapnya, kubah itu terbelah dan muncul seorang gadis yang kecantikannya belum pernah aku lihat. Ia menghadapku dan berkata: ‘Demi Alloh, janganlah engkau menahannya dari kami sampai Zhuhur.’ Aku pun terbangun dengan terkejut, segera mengurus janazahnya, dan menggali kubur untuknya di tempat yang aku lihat kubah itu dalam mimpi, lalu aku menguburkannya di sana.”

Abdul Malik bin Atab al-Laitsi menceritakan: “Aku melihat Amir bin Abdi Qois (55 H) dalam mimpi, aku bertanya: ‘Amalan apakah yang engkau dapati paling utama?’ Ia menjawab: ‘Apa saja yang dengannya diharapkan wajah Alloh .”

Yazid bin Harun (206 H) menceritakan: “Aku melihat Abu al-Ala’ Ayyub bin Miskin dalam mimpi, aku bertanya: ‘Apa yang Robb-mu lakukan kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Dia mengampuniku.’ Aku bertanya: ‘Dengan apa?’ Ia menjawab: ‘Dengan Puasa dan Sholat.’ Aku bertanya: ‘Apakah engkau melihat Manshur bin Zadan (131 H)?’ Ia menjawab: ‘Jauh, istananya hanya bisa kami lihat dari kejauhan.”

Yazid bin Nu’amah menceritakan bahwa seorang gadis wafat dalam wabah Tho’un al-Jarif. Ayahnya menemuinya setelah kematiannya dan bertanya: “Wahai putriku, kabarkanlah kepadaku tentang Akhiroh.” Ia menjawab: “Wahai ayah, kami mendatangi urusan yang sangat besar. Kami mengetahui namun tidak bisa beramal, sedangkan kalian beramal namun tidak mengetahui. Demi Alloh, sungguh satu atau dua tasbih, atau satu atau dua rokaat dalam catatan amalku lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.” Katsir bin Murroh menceritakan: “Aku bermimpi seolah-olah masuk ke tingkat tertinggi di Jannah. Aku berkeliling di sana dan merasa takjub. Tiba-tiba aku bertemu dengan wanita-wanita dari Masjid di salah satu sudutnya. Aku menghampiri mereka dan mengucapkan salam, lalu bertanya: ‘Dengan apa kalian meraih tingkatan ini?’ Mereka menjawab: ‘Dengan sujud-sujud dan takbir-takbir.’”

Muzahim (maula Umar bin Abdul Aziz) menceritakan dari Fatimah binti Abdul Malik (istri Umar bin Abdul Aziz): “Suatu malam Umar bin Abdul Aziz terbangun dan berkata: ‘Aku benar-benar melihat mimpi yang menakjubkan.’ Fatimah bertanya: ‘Ceritakanlah kepadaku.’ Umar menjawab: ‘Aku tidak akan menceritakannya padamu sampai pagi tiba.’ Ketika fajar terbit, ia keluar untuk Sholat lalu kembali ke majelisnya. Fatimah mengambil kesempatan saat ia sedang sendirian dan berkata: ‘Kabarkanlah mimpi itu.’ Umar berkata: ‘Aku bermimpi seolah-olah diangkat ke suatu tanah hijau yang sangat luas bagaikan hamparan karpet hijau. Di sana terdapat istana putih seolah-olah dari perak. Tiba-tiba seseorang keluar dari istana itu dan berseru dengan suara keras: ‘Di manakah Muhammad bin Abdulloh bin Abdul Mutholib? Di manakah Rosululloh?’ Maka Rosululloh datang dan masuk ke istana itu. Kemudian orang lain keluar dan berseru: ‘Di manakah Abu Bakr ash-Shiddiq? Di manakah putra Abu Quhafah?’ Maka Abu Bakr datang dan masuk ke istana itu. Kemudian orang lain lagi keluar dan berseru: ‘Di manakah Umar bin al-Khoththob?’ Maka Umar datang dan masuk. Kemudian keluar lagi yang berseru: ‘Di manakah Utsman bin Affan?’ Maka Utsman datang dan masuk. Kemudian keluar lagi yang berseru: ‘Di manakah Ali bin Abi Tholib?’ Maka Ali datang dan masuk. Akhirnya seseorang keluar dan berseru: ‘Di manakah Umar bin Abdul Aziz?’ Aku pun bangkit dan masuk ke istana itu. Aku sampai di hadapan Rosululloh dan orang-orang di sekelilingnya. Aku bertanya dalam hatiku: ‘Di manakah aku harus duduk?’ Maka aku duduk di samping ayahku, Umar bin al-Khoththob. Aku melihat Abu Bakr di sebelah kanan Nabi dan Umar di sebelah kiri beliau. Aku memperhatikan, ternyata di antara Rosululloh dan Abu Bakr ada seorang lelaki. Aku bertanya: ‘Siapa lelaki yang berada di antara Rosul dan Abu Bakr ini?’ Seseorang menjawab: ‘Ini adalah Isa bin Maryam ‘alaihissalam.’ Kemudian aku mendengar suara yang memanggilku, sementara di antaraku dan dia ada tabir cahaya: ‘Wahai Umar bin Abdul Aziz, tetaplah berpegang teguh pada apa yang engkau jalankan dan kokohlah di atasnya.’ Kemudian seolah-olah aku diizinkan keluar, maka aku pun keluar dari istana itu. Saat aku menoleh ke belakang, ternyata Utsman bin Affan sedang keluar dari istana itu sambil berkata: ‘Segala puji bagi Alloh yang telah menolongku.’ Dan di belakangnya ada Ali bin Abi Tholib yang keluar sambil berkata: ‘Segala puji bagi Alloh yang telah mengampuniku.”

Sa’id bin Abi Arubah menceritakan dari Umar bin Abdul Aziz: “Aku bermimpi melihat Rosululloh , sementara Abu Bakr dan Umar duduk di sisi beliau. Aku mengucapkan salam dan duduk. Tiba-tiba didatangkan Ali dan Mu’awiyah (60 H) lalu keduanya dimasukkan ke dalam sebuah rumah dan pintunya ditutup, sementara aku melihat mereka. Tidak lama kemudian Ali keluar sambil berkata: ‘Robb Pemilik Ka’bah telah memberikan keputusan bagiku (yakni memenangkanku).’ Tidak lama setelah itu Mu’awiyah pun keluar sambil berkata: ‘Robb Pemilik Ka’bah telah mengampuniku.”

Hammad bin Abi Hasyim menceritakan bahwa seorang lelaki mendatangi Umar bin Abdul Aziz dan berkata: “Aku bermimpi melihat Rosululloh , Abu Bakr di sebelah kanan beliau dan Umar di sebelah kiri beliau. Tiba-tiba dua orang lelaki datang berselisih dan engkau duduk di hadapan beliau. Beliau bersabda padamu: “Wahai Umar, apabila engkau beramal, maka beramallah dengan amalan kedua orang ini, yaitu Abu Bakr dan Umar.” Umar bin Abdul Aziz menyumpah lelaki itu demi Alloh apakah ia benar-benar melihat mimpi itu, lelaki itu pun bersumpah, maka Umar menangis.

Abdurrohman bin Ghonm menceritakan: “Aku melihat Mu’adz bin Jabal (18 H) tiga hari setelah wafatnya menunggang kuda putih keabu-abuan (ablaq). Di belakangnya ada lelaki berkulit putih mengenakan pakaian hijau menunggang kuda yang serupa. Mu’adz berada di depan mereka sambil mengucapkan: ‘Wahai kiranya kaumku mengetahui bagaimana Robb-ku telah mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.’ Kemudian ia menoleh ke kanan dan kirinya sambil berkata: ‘Wahai Ibnu Rowahah! Wahai Ibnu Mazh’un! Segala puji bagi Alloh yang telah membuktikan janji-Nya kepada kami dan mewariskan bumi ini kepada kami, kami menempati Jannah di mana saja kami kehendaki, maka itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal. Kemudian ia menyalamiku dan mengucapkan salam padaku.”

Qobishoh bin Uqbah menceritakan: “Aku melihat Sufyan ath-Tsauri (161 H) dalam mimpi setelah kematiannya, aku bertanya: ‘Apa yang Alloh lakukan padamu?’ Ia menjawab dengan syair:

نَظَرْتُ إِلَى رَبِّي عِيَانًا فَقَالَ لِي ... هَنِيئًا رِضَايَا عَنْكَ يَا ابْنَ سَعِيدِ

فَقَدْ كُنْتَ قَوَّامًا إِذَا اللَّيْلُ قَدْ دَجَا ... بِعَبْرَةِ مَحْزُونٍ وَقَلْبٍ عَمِيدِ

فَدُونَكَ فَاخْتَر أَيَّ قَصْرٍ تُرِيدُهُ ... وَزُرْنِي فَإِنِّي مِنْكَ غَيْرُ بَعِيدِ

Aku memandang Robb-ku secara nyata, lalu Dia berfirman kepadaku: ‘Selamat atas ridho-Ku kepadamu wahai putra Sa’id. Sungguh engkau dahulu adalah orang yang tegak berdiri (sholat) saat malam telah gelap gulita, dengan cucuran air mata yang sedih dan hati yang penuh kerinduan. Maka silakan engkau memilih istana mana saja yang engkau inginkan, dan ziarohilah Aku karena sesungguhnya Aku tidaklah jauh darimu.’”

Sufyan bin ‘Uyainah (198 H) menceritakan: “Aku melihat Sufyan ath-Tsauri setelah kematiannya terbang di Jannah dari satu pohon kurma ke pohon lain, dari satu pohon ke pohon lain, sambil mengucapkan: ‘Untuk yang seperti inilah hendaknya orang-orang yang beramal itu beramal.’ Ditanyakan kepadanya: ‘Dengan apa engkau dimasukkan ke Jannah?’ Ia menjawab: ‘Dengan sikap Wiro’ (berhati-hati dari dosa), dengan sikap Wiro’.’ Ditanyakan: ‘Lalu apa yang dilakukan Ali bin Ashim (201 H)?’ Ia menjawab: ‘Kami tidak melihatnya kecuali seperti bintang (sangat tinggi).’”

Syu’bah bin al-Hajjaj (160 H) dan Mis’ar bin Kidam (155 H) adalah dua orang penghafal hadits yang agung. Abu Ahmad al-Buroidi menceritakan: “Aku melihat keduanya setelah kematian mereka. Aku bertanya: ‘Wahai Abu Bisthom, apa yang Alloh lakukan kepadamu?’ Syu’bah menjawab: ‘Semoga Alloh memberimu taufiq untuk menghafal apa yang aku katakan:

حَبَانِي إِلَهِي فِي الْجِنَانِ بَقِيَّةً ... لَهَا أَلْفُ بَابٍ مِنْ لُجَيْنٍ وَجَوْهَرَا

وَقَالَ لِي الرَّحْمَنُ يَا شُعْبَةُ الَّذِي ... تَبَحَّرَ فِي جَمْعِ الْعُلُومِ فَأَكْثَرَا

تَنَعَّمْ بِقُرْبِي إِنَّنِي عَنْكَ ذُو رِضَا ... وَعَنْ عَبْدِي الْقَوَّامِ فِي اللَّيْلِ مِسْعَرَا

كَفَا مِسْعَرًا عِزًّا بِأَنْ سَيَزُورُنِي ... وَأَكْشِفُ عَنْ وَجْهِي الْكَرِيمِ لِيَنْظُرَا

وَهَذَا فِعَالِي بِالَّذِينَ تَنَسَّكُوا ... وَلَمْ يَأْلَفُوا فِي سَالِفِ الدَّهْرِ مُنْكَرَا

Robb-ku telah menganugerahiku sebuah tempat di Jannah yang memiliki 1.000 pintu dari perak dan permata. Robb Yang Maha Pengasih berfirman kepadaku: ‘Wahai Syu’bah yang telah menyelam luas dalam mengumpulkan ilmu dan memperbanyaknya. Berbahagialah dengan kedekatan-Ku karena sesungguhnya Aku ridho kepadamu, dan juga kepada hamba-Ku Mis’ar yang tegak sholat di malam hari. Cukuplah kemuliaan bagi Mis’ar bahwa ia akan menziarohi-Ku, dan Aku akan menyingkap wajah-Ku Yang Mulia agar ia bisa menatap-Nya. Inilah perbuatan-Ku bagi orang-orang yang tekun beribadah dan tidak membiasakan kemungkaran di masa lalu.”

Ahmad bin Muhammad al-Lubadi menceritakan: “Aku melihat Ahmad bin Hanbal (241 H) dalam mimpi, aku bertanya: ‘Wahai Abu Abdillah, apa yang Alloh lakukan kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Dia mengampuniku.’ Kemudian Alloh berfirman: ‘Wahai Ahmad, engkau telah dicambuk 60 kali (saat fitnah Khalqul Qur’an)?’ Aku menjawab: ‘Benar wahai Robb.’ Dia berfirman: ‘Inilah wajah-Ku, telah Aku halalkan bagimu maka pandanglah.”

Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin al-Hajjaj menceritakan, seorang lelaki dari penduduk Thorsus menceritakan kepadaku: “Aku berdoa kepada Alloh agar memperlihatkan penghuni kubur kepadaku sehingga aku bisa bertanya tentang Ahmad bin Hanbal, apa yang Alloh lakukan padanya. Setelah 10 tahun, aku bermimpi seolah-olah penghuni kubur bangkit di atas makam mereka dan mereka segera berkata kepadaku: ‘Wahai fulan, berapa lama engkau berdoa memohon kepada Alloh agar memperlihatkan kami hanya untuk bertanya tentang seseorang yang sejak meninggalkan kalian para Malaikat terus menghiasinya di bawah pohon Thuba?”

Al-Hafizh Abu Muhammad Abdul Haqq (581 H) berkata: “Perkataan penghuni kubur ini merupakan kabar tentang tingginya derajat Ahmad bin Hanbal dan kemuliaan kedudukannya. Mereka tidak sanggup mensifatkan keadaannya kecuali dengan ungkapan ini.”

Abu Ja’far as-Saqqo’ (sahabat Bisyir) menceritakan: “Aku melihat Bisyir al-Hafi (227 H) dan Ma’ruf al-Karkhi (200 H) datang bersamaan. Aku bertanya: ‘Dari mana kalian?’ Mereka menjawab: ‘Dari Jannah Firdaus, kami baru saja menziarohi Nabi Musa Kalimullah.”

Ashim al-Jazari menceritakan: “Aku bermimpi bertemu Bisyir bin al-Harits, aku bertanya: ‘Dari mana wahai Abu Nashr?’ Ia menjawab: ‘Dari Illiyyin.’ Aku bertanya: ‘Apa yang dilakukan Ahmad bin Hanbal?’ Ia menjawab: ‘Aku baru saja meninggalkannya bersama Abdul Wahhab al-Warroq (227 H) di hadapan Alloh , mereka sedang makan dan minum.’ Aku bertanya: ‘Lalu bagaimana denganmu?’ Ia menjawab: ‘Alloh mengetahui kurangnya minatku pada makanan, maka Dia mengizinkanku untuk memandang-Nya.”

Abu Ja’far as-Saqqo’ menceritakan: “Aku melihat Bisyir bin al-Harits dalam mimpi setelah kematiannya, aku bertanya: ‘Wahai Abu Nashr, apa yang Alloh lakukan padamu?’ Ia menjawab: ‘Dia menyantuniku dan merohmatiku, serta berfirman kepadaku: Wahai Bisyir, seandainya engkau bersujud untuk-Ku di atas bara api saat di dunia, niscaya engkau belum menunaikan syukur atas apa yang Aku tanamkan dalam hati hamba-hamba-Ku tentangmu.’ Alloh mengizinkanku menguasai separuh Jannah, maka aku bisa berjalan-jalan di sana sesukaku. Dan Dia menjanjikan ampunan bagiku untuk siapa saja yang mengantarkan janazahku.” Aku bertanya: “Lalu apa yang dilakukan Abu Nashr at-Tammar (228 H)?” Ia menjawab: “Ia berada di atas orang-orang karena kesabarannya atas ujian dan kefakirannya.”

Abdul Haqq berkata: “Mungkin yang dimaksud dengan ‘separuh Jannah’ adalah separuh ni’matnya. Karena ni’mat Jannah ada dua: ni’mat ruhani dan ni’mat jasmani. Mereka mendapatkan ni’mat ruhani terlebih dahulu, dan ketika ruh dikembalikan ke jasad, ni’mat jasmani akan ditambahkan.” Ulama lain berkata: “Ni’mat Jannah bertingkat berdasarkan ilmu dan amal. Bagian Bisyir dari amal lebih banyak daripada bagiannya dari ilmu. Wallohu A’lam.”

Sebagian orang sholih menceritakan: “Aku melihat Abu Bakr asy-Syibli (334 H) dalam mimpi seolah-olah ia duduk di majelis Rushoofah di tempat yang biasa ia tempati. Tiba-tiba ia datang mengenakan pakaian yang sangat indah. Aku bangkit dan menyalaminya lalu duduk di hadapannya. Aku bertanya: ‘Siapa sahabatmu yang paling dekat denganmu?’ Ia menjawab: ‘Orang yang paling giat berdzikir kepada Alloh, paling tegak menunaikan hak Alloh, dan paling bersegera mencari keridhoan Alloh.”

Abu Abdurrihman as-Sahili menceritakan: “Aku melihat Maisaroh bin Sulaim dalam mimpi setelah kematiannya. Aku berkata: ‘Lama sekali engkau pergi.’ Ia menjawab: ‘Perjalanannya memang panjang.’ Aku bertanya: ‘Apa yang engkau dapati di sana?’ Ia menjawab: ‘Aku diberikan kemudahan karena dahulu kami suka memberi fatwa dengan kemudahan (rukhsoh).’ Aku bertanya: ‘Apa yang engkau perintahkan kepadaku?’ Ia menjawab: ‘Mengikuti Atsar dan bersahabat dengan orang-orang pilihan akan menyelamatkanmu dari Naar dan mendekatkanmu kepada Robb Yang Maha Perkasa.”

Abu Ja’far adh-Dhorir menceritakan: “Aku melihat Isa bin Zadhan setelah wafatnya, aku bertanya: ‘Apa yang Alloh lakukan padamu?’ Ia melantunkan syair:

لَوْ رَأَيْتَ الْحِسَانَ فِي الْخُلْدِ حَوْلِي ... وَأَكَاويِبَ مَعَهَا لِلشَّرَابِ

يَتَرَنَّمْنَ بِالْكِتَابِ جَمِيعًا ... يَتَمَشَّيْنَ مُسْبَلَاتِ الثِّيَابِ

Andai saja engkau melihat para bidadari cantik di Jannah Khuld di sekelilingku, bersama piala-piala untuk minuman. Mereka semua melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan merdu, berjalan dengan pakaian yang menjuntai indah.”

Sebagian sahabat Ibnu Juroij (150 H) menceritakan: “Aku bermimpi seolah-olah mendatangi pemakaman di Makkah. Aku melihat tenda besar (surodiq) di atas sebagian besarnya, dan aku melihat sebuah makam yang di atasnya ada tenda besar, tenda biasa (fusthoth), dan pohon lotus (sidroh). Aku masuk dan mengucapkan salam, ternyata di sana ada Muslim bin Kholid az-Zanji (180 H). Aku bertanya: ‘Wahai Abu Kholid, mengapa makam-makam ini ada tenda besar di atasnya, namun makammu ada tenda besar, tenda biasa, dan pohon lotus?’ Ia menjawab: ‘Karena aku dahulu sangat banyak berpuasa.’ Aku bertanya: ‘Di manakah makam Ibnu Juroij dan di manakah kedudukannya?’ Aku sering duduk bersamanya dan ingin mengucapkan salam padanya. Ia memberi isyarat dengan tangannya: ‘Jauh!’ Sambil memutar jari telunjuknya: Di manakah Ibnu Juroij? Catatan amalnya telah diangkat ke Illiyyin.”

Hammad bin Salamah (167 H) melihat sebagian sahabatnya dalam mimpi lalu bertanya: “Apa yang Alloh lakukan padamu?” Ia menjawab: “Alloh berfirman padaku: Sudah lama engkau meletihkan dirimu di dunia, maka hari ini Aku sempurnakan istirahatmu dan istirahat orang-orang yang letih.”

Bab ini sangatlah panjang. Jika jiwamu tidak mudah membenarkannya dan engkau berkata “ini hanyalah mimpi yang tidak makshum (terjaga dari salah)”, maka perhatikanlah orang yang melihat sahabatnya atau kerabatnya lalu orang mati itu mengabarkan hal yang tidak diketahui kecuali oleh si pemimpi. Atau mengabarkan harta yang dipendam, atau memperingatkan dari perkara yang akan terjadi lalu benar-benar terjadi. Atau memberi kabar gembira tentang sesuatu yang akan ada lalu benar-benar ada. Atau mengabarkan bahwa ia atau sebagian keluarganya akan mati pada waktu sekian dan ternyata benar. Atau mengabarkan tentang kesuburan, kekeringan, musuh, bencana, penyakit, atau niat tersembunyi lalu semuanya terjadi sesuai kabar tersebut. Fakta-fakta mengenai hal ini tidak terhitung kecuali oleh Alloh, dan manusia sama-sama mengalaminya. Kami sendiri dan orang lain telah menyaksikan keajaiban dari hal itu.

Sangatlah batil pendapat yang mengatakan bahwa ini semua hanyalah pengetahuan dan keyakinan dalam jiwa yang muncul saat jiwa terputus dari kesibukan fisik melalui tidur. Ini adalah kebatilan yang mustahil. Sebab jiwa sama sekali tidak pernah memiliki pengetahuan tentang perkara-perkara yang dikabarkan oleh orang mati itu sebelumnya, tidak pernah terlintas dalam benak, dan tidak memiliki tanda atau petunjuk apa pun mengenai hal itu. Kami tidak memungkiri bahwa ada hal yang memang terjadi seperti itu. Memang ada mimpi yang berasal dari lintasan jiwa dan gambaran keyakinan, bahkan banyak mimpi manusia hanyalah gambaran dari keyakinan mereka yang benar maupun salah.

Sebab mimpi ada 3 jenis: mimpi dari Alloh, mimpi dari syaithon, dan mimpi dari lintasan jiwa. Mimpi yang benar sendiri memiliki beberapa bagian, di antaranya: ilham yang Alloh tanamkan dalam hati hamba, yang merupakan pembicaraan Robb kepada hamba-Nya dalam tidur sebagaimana dikatakan oleh ‘Ubadah bin ash-Shomit (34 H) dan lainnya. Bagian lain adalah perumpamaan yang diberikan oleh Malaikat Mimpi yang ditugaskan untuk itu. Bagian lainnya adalah pertemuan ruh orang yang tidur dengan ruh-ruh orang mati dari keluarganya, kerabatnya, dan sahabatnya sebagaimana telah kami sebutkan. Bagian lainnya adalah naiknya ruh ke hadapan Alloh dan pembicaraan ruh dengan-Nya. Bagian lainnya adalah masuknya ruh ke Jannah dan menyaksikannya. Maka pertemuan ruh orang yang hidup dan mati adalah salah satu jenis mimpi yang benar yang bagi manusia kedudukannya sama dengan perkara yang bisa dirasakan oleh indra.

Ini adalah masalah yang di dalamnya manusia berselisih. Ada yang berpendapat bahwa semua ilmu sudah tersimpan dalam jiwa, namun kesibukan dengan alam indra menghalanginya untuk melihat ilmu itu. Apabila jiwa terlepas karena tidur, ia bisa melihat sesuai kesiapannya. Dan karena pelepasan ruh saat mati lebih sempurna, maka ilmu dan makrifat di sana pun lebih sempurna. Pendapat ini mengandung kebenaran dan kebatilan; tidak ditolak seluruhnya dan tidak diterima seluruhnya. Terlepasnya jiwa memang membuatnya mengetahui ilmu yang tidak didapat tanpa pelepasan itu. Namun jika ia terlepas sepenuhnya pun, ia tidak akan bisa mengetahui ilmu Alloh yang dengannya Dia mengutus Rosul-Nya, seperti rincian kabar tentang para Rosul terdahulu, umat masa lalu, rincian hari Akhiroh, tanda-tanda Qiyamah, rincian perintah dan larangan, Nama dan Sifat Alloh, serta lainnya yang tidak diketahui kecuali melalui wahyu. Namun terlepasnya jiwa membantu untuk mengetahui hal itu dan menerimanya dari sumbernya dengan lebih mudah dan dekat dibandingkan jiwa yang tenggelam dalam kesibukan fisik.

Ada pula yang berpendapat bahwa mimpi-mimpi ini adalah ilmu yang Alloh kaitkan dalam jiwa sejak awal tanpa sebab. Ini adalah pendapat orang yang mengingkari sebab-sebab dan hikmah yang kuat, dan ini menyelisihi Syariat, akal, serta fitroh.

Ada juga yang berpendapat bahwa mimpi adalah perumpamaan yang Alloh berikan bagi hamba sesuai kesiapannya melalui tangan Malaikat Mimpi. Terkadang berupa perumpamaan, terkadang berupa kejadian yang sebenarnya sebagaimana yang dilihat sehingga cocok dengan kenyataan. Pendapat ini lebih dekat daripada dua pendapat sebelumnya, namun mimpi tidak terbatas pada hal itu saja. Mimpi memiliki sebab-sebab lain sebagaimana telah dijelaskan, yaitu pertemuan ruh-ruh dan kabar yang diberikan satu sama lain, serta bisikan Malaikat dalam hati, dan penglihatan ruh terhadap segala sesuatu secara langsung tanpa perantara.

Al-Hafizh Abu Abdulloh bin Mandah (395 H) menyebutkan dalam Kitab an-Nafsi war Ruuh dari hadits Muhammad bin Humid, Abdurrohman bin Maghro’ ad-Darusi menceritakan kepada kami, Al-Azhar bin Abdulloh al-Azdi menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Salim bin Abdulloh, dari ayahnya (73 H) bahwa Umar bin al-Khoththob (23 H) bertemu Ali bin Abi Tholib (40 H) lalu berkata: “Wahai Abu al-Hasan, terkadang engkau hadir namun kami tidak ada, dan kami hadir namun engkau tidak ada. Ada 3 hal yang ingin aku tanyakan kepadamu, apakah engkau memiliki ilmu tentangnya?” Ali bin Abi Tholib bertanya: “Apa saja itu?” Umar berkata: “Seseorang yang mencintai orang lain padahal ia belum melihat kebaikan darinya, dan seseorang yang membenci orang lain padahal ia belum melihat keburukan darinya.” Ali menjawab: “Ya, aku mendengar Rosululloh bersabda: ‘Sesungguhnya ruh-ruh itu adalah pasukan yang dikerahkan, mereka bertemu di udara lalu saling mencium. Apa yang saling mengenal darinya maka akan bersatu, dan apa yang saling mengingkari maka akan berselisih.” Umar berkata: “Ini yang pertama.”

Umar berkata lagi: “Dan seseorang yang sedang berbicara tiba-tiba ia lupa akan pembicaraannya, namun saat ia meninggalkannya tiba-tiba ia teringat kembali.” Ali menjawab: “Ya, aku mendengar Rosululloh bersabda: ‘Tidaklah dalam hati manusia melainkan ada awan seperti awan yang menutupi bulan. Saat bulan bersinar terang, tiba-tiba awan gelap menutupinya sehingga menjadi gelap, namun saat awan itu tersingkap ia bersinar kembali. Begitu pula hati, saat ia berbicara tiba-tiba awan menutupinya sehingga ia lupa, namun saat tersingkap ia pun teringat.” Umar berkata: “Dua.” Umar bertanya lagi: “Dan seseorang yang bermimpi, di antaranya ada yang benar dan ada yang dusta.”

Ali menjawab: “Ya, aku mendengar Rosululloh bersabda: ‘Tidaklah seorang hamba tidur dengan tidur yang lelap melainkan ruhnya akan naik menuju Arsy. Ruh yang tidak terbangun sebelum sampai di Arsy, itulah mimpi yang benar. Sedangkan ruh yang terbangun sebelum sampai di Arsy, itulah mimpi yang dusta.” Umar berkata: “Tiga hal inilah yang aku cari jawabannya, maka segala puji bagi Alloh yang telah mempertemukanku dengan jawabannya sebelum mati.”

Bughiyah bin al-Walid menceritakan, Sofwan bin Amru menceritakan kepada kami, dari Sulaim bin ‘Amir al-Hadhromi, ia berkata: Umar bin al-Khoththob berkata: “Aku takjub dengan mimpi seseorang, ia melihat sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benaknya namun kemudian terjadi sesuai apa yang ia lihat. Namun ia juga melihat sesuatu namun tidak terjadi apa-apa.” Ali bin Abi Tholib berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, Alloh berfirman: ‘Alloh memegang jiwa-jiwa manusia saat kematiannya...’. Ruh-ruh itu naik dalam tidurnya. Apa yang ia lihat saat berada di langit, itulah kebenaran. Namun ketika ruh-ruh itu dikembalikan ke jasadnya, syaithon menemuinya di udara lalu membohonginya, maka apa yang ia lihat saat itu adalah kebatilan.” Umar pun takjub dengan perkataan Ali tersebut. Ibnu Mandah berkata: “Ini adalah kabar yang masyhur dari Sofwan bin Amru dan lainnya, serta diriwayatkan pula dari Abu ad-Darda’ (32 H).”

Ath-Thobaroni (360 H) menyebutkan dari hadits Ali bin Abi Tholhah, bahwa Abdulloh bin Abbas (68 H) berkata kepada Umar bin al-Khoththob (23 H): “Wahai Amirul Mu’minin, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu.” Umar berkata: “Tanyalah sesukamu.” Ibnu Abbas bertanya: “Wahai Amirul Mu’minin, mengapa seseorang bisa ingat dan lupa? Dan mengapa mimpi ada yang benar dan ada yang dusta?” Umar berkata: “Sesungguhnya di atas hati terdapat lapisan penutup (thokhowah) seperti lapisan awan pada bulan. Apabila ia menutupi hati, anak Adam akan lupa. Namun apabila tersingkap, ia akan teringat apa yang ia lupakan. Adapun mengenai mimpi yang benar dan dusta, sesungguhnya Alloh berfirman: ‘Alloh memegang jiwa-jiwa manusia saat kematiannya...’. Jiwa yang masuk ke dalam malakut (kerajaan) langit, itulah yang benar. Sedangkan yang berada di bawah malakut langit, itulah yang dusta.”

Ibnu Lahi’ah meriwayatkan dari Utsman bin Nu’aim ar-Ru’aini, dari Abu Utsman al-Asybahi, dari Abu ad-Darda’ (32 H), ia berkata: “Apabila manusia tidur, ruhnya akan naik hingga dibawa ke hadapan Arsy. Jika ia dalam keadaan suci (thohir), ia diizinkan untuk bersujud. Namun jika ia dalam keadaan junub, ia tidak diizinkan untuk bersujud.”

Ja’far bin ‘Aun meriwayatkan dari Ibrohim al-Hijri, dari Abu al-Ahwash, dari Abdulloh bin Mas’ud (32 H), ia berkata: “Sesungguhnya ruh-ruh itu adalah pasukan yang dikerahkan, mereka bertemu lalu saling mencium sebagaimana kuda saling mencium. Apa yang saling mengenal di antara kita maka akan bersatu, dan apa yang saling mengingkari maka akan berselisih.”

Sejak dahulu hingga sekarang, manusia mengenal hal ini dan menyaksikannya. Jamil bin Ma’mar al-‘Udzri (82 H) berkata dalam syairnya:

أَظَلُّ نَهَارِي مُسْتَهَامًا وَتَلْتَقِي ... مَعَ اللَّيْلِ رُوحِي فِي الْمَنَامِ وَرُوحُهَا

“Siang hariku aku lalui dengan penuh kerinduan, dan saat malam tiba, ruhku bertemu dengan ruhnya dalam mimpi.”

Jika ditanyakan: Orang yang tidur seringkali melihat orang hidup lainnya berbicara dan menyapanya, padahal jarak keduanya sangat jauh dan orang yang dilihat itu dalam keadaan terjaga ruhnya tidak meninggalkan jasadnya, lantas bagaimana ruh keduanya bisa bertemu?

Jawabannya: Hal ini bisa jadi merupakan perumpamaan yang diberikan oleh Malaikat Mimpi kepada si pemimpi. Atau bisa jadi merupakan lintasan jiwa dari si pemimpi yang mewujud dalam tidurnya sebagaimana dikatakan oleh Habib bin Aws (Abu Tammam - 231 H):

سُقْيًا لِطَيْفِكَ مِنْ زَوْرٍ أَتَاكَ بِهِ ... حَدِيثُ نَفْسِكَ عَنْهُ وَهُوَ مَشْغُولُ

“Semoga keselamatan tercurah atas bayanganmu yang datang mengunjungiku, itu hanyalah lintasan jiwamu tentangnya padahal ia sedang sibuk dengan urusannya.”

Terkadang dua ruh memiliki kesesuaian dan hubungan yang sangat kuat satu sama lain, sehingga salah satunya bisa merasakan sebagian apa yang terjadi pada temannya walaupun ia tidak merasakan apa yang terjadi pada orang lain karena kuatnya ikatan di antara keduanya. Manusia telah menyaksikan keajaiban-keajaiban dari hal tersebut.

Intinya, ruh-ruh orang yang masih hidup bisa saling bertemu dalam tidur sebagaimana ruh orang hidup bertemu dengan ruh orang mati. Sebagian Salaf berkata: “Sesungguhnya ruh-ruh bertemu di udara lalu saling mengenal atau saling bercerita, kemudian Malaikat Mimpi mendatanginya membawa apa yang akan ia temui berupa kebaikan atau keburukan.” Ia berkata: “Alloh telah menugaskan seorang Malaikat untuk mimpi yang benar, ia telah diajarkan dan diilhami pengetahuan tentang setiap jiwa secara spesifik, namanya, tempat kembalinya dalam agama dan dunianya, tabiatnya, dan makrifatnya. Tidak ada yang samar baginya dan tidak ada yang salah. Kemudian ia membawakan salinan dari ilmu ghoib Alloh dari Ummul Kitab mengenai apa yang akan menimpa orang tersebut berupa kebaikan dan keburukan dalam agama dan dunianya. Malaikat itu memberikan perumpamaan dan gambaran sesuai kebiasaannya; terkadang memberinya kabar gembira atas kebaikan yang telah ia lakukan atau akan ia lakukan, memberinya peringatan dari maksiat yang ia kerjakan atau ia niatkan, dan memperingatkannya dari hal buruk yang sebab-sebabnya telah terkumpul agar ia bisa melawan sebab-sebab itu dengan sebab lain yang menolaknya. Dan masih banyak lagi hikmah serta kemaslahatan yang Alloh jadikan dalam mimpi sebagai ni’mat, rohmat, ihsan, pengingat, dan perkenalan dari-Nya. Alloh menjadikan salah satu jalannya adalah melalui pertemuan ruh-ruh, perbincangan mereka, dan perkenalan mereka. Betapa banyak orang yang taubatnya, kesholihannya, kezuhudannya, dan arah hidupnya menuju Akhiroh berawal dari mimpi yang ia lihat atau mimpi orang lain tentangnya.

Kisah Ditunjukkan Harta dalam Mimpi

Betapa banyak pula orang yang menjadi kaya dan menemukan harta karun terpendam berawal dari mimpi.

Dalam Kitab al-Majalisah karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan al-Maliki (333 H), dari Ibnu Qutaibah (276 H), dari Abu Hatim, dari Al-Ashma’i (216 H), dari Al-Mu’tamir bin Sulaiman (187 H), dari seseorang yang menceritakan kepadanya, ia berkata: “Kami pernah bepergian bertiga. Salah seorang dari kami tertidur, lalu kami melihat seperti ada lampu yang keluar dari hidungnya kemudian masuk ke sebuah gua di dekatnya. Tak lama kemudian lampu itu kembali dan masuk ke hidungnya. Ia pun terbangun sambil mengusap wajahnya dan berkata: ‘Aku melihat hal yang menakjubkan, aku bermimpi di gua ini ada begini dan begitu. Kami pun memasukinya dan menemukan sisa harta karun di sana.”

Begitu pula Abdul Mutholib (wafat sebelum kenabian) yang ditunjukkan letak sumur Zamzam dalam mimpinya dan menemukan harta karun yang ada di sana.

Umair bin Wahb (25 H) juga didatangi dalam mimpinya lalu dikatakan padanya: “Bangunlah menuju tempat sekian dan sekian dari rumah ini, galilah niscaya engkau temukan harta ayahmu.” Ayahnya dahulu memendam harta lalu wafat tanpa sempat berwasiat. Umair pun bangun dan menggali di tempat yang diperintahkan, ia menemukan 10.000 dirham dan emas mentah (tibron) yang sangat banyak. Ia pun bisa melunasi utangnya dan membaiklah keadaannya serta keluarganya. Hal itu terjadi setelah ia masuk Islam. Putri bungsunya berkata: “Wahai ayah, Robb kami yang telah menghidupkan kami dengan agama-Nya ini lebih baik daripada Hubal dan ‘Uzza. Seandainya tidak demikian, tentu engkau tidak akan mewarisi harta ini padahal engkau baru menyembah-Nya beberapa hari saja.”

Ali bin Abi Tholib al-Qoirowani (seorang ahli ta’bir mimpi) berkata: “Kisah Umair dalam mengeluarkan harta melalui mimpi ini tidaklah lebih menakjubkan daripada apa yang ada pada kami dan kami saksikan sendiri di zaman kami di kota kami dari Abu Muhammad Abdulloh al-Baghonsyi. Ia adalah seorang lelaki sholih yang masyhur (terkenal) karena sering melihat orang mati dan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ghoib (tersembunyi), lalu menyampaikannya kepada keluarga dan kerabat mereka sampai hal itu menjadi populer dan sering terjadi. Ada seseorang yang datang kepadanya mengadu bahwa kerabatnya telah wafat tanpa berwasiat, padahal ia memiliki harta namun tidak diketahui tempatnya. Al-Baghonsyi menjanjikan kebaikan lalu ia berdoa kepada Alloh pada malam harinya. Ia pun diperlihatkan mayit tersebut dalam mimpinya lalu bertanya tentang urusan itu, dan mayit itu mengabarkannya.

Di antara keajaibannya adalah ada seorang wanita tua sholihah wafat, dan ia meninggalkan 7 dinar titipan milik wanita lain. Pemilik titipan itu datang menemui Al-Baghonsyi dan mengadukan musibah yang menimpanya serta memberitahukan namanya dan nama si wanita yang wafat itu. Keesokan harinya ia kembali, lalu Al-Baghonsyi berkata kepadanya: “Fulanah (wanita yang wafat) berkata kepadamu: Hitunglah dari atap rumahku 7 batang kayu, niscaya engkau temukan dinar-dinar itu di batang kayu yang ke-7 di dalam potongan kain wol.” Wanita itu melakukannya dan ternyata benar sebagaimana yang disifatkan padanya.

Ia juga berkata, seorang lelaki yang aku tidak meragukan kejujurannya mengabarkan kepadaku: “Seorang wanita kaya menyewaku untuk merobohkan rumahnya dan membangunnya kembali dengan biaya tertentu. Saat aku mulai merobohkannya, wanita itu terus mengawasi pekerjaan kami bersama orang-orangnya. Aku bertanya: ‘Ada apa denganmu?’ Ia menjawab: ‘Demi Alloh, aku tidak butuh merobohkan rumah ini, namun ayahku wafat dalam keadaan kaya raya tapi kami tidak menemukan hartanya. Aku menduga hartanya dipendam, maka aku sengaja merobohkan rumah ini barangkali aku menemukan sesuatu. Seseorang yang hadir berkata padanya: ‘Engkau telah melewatkan cara yang lebih mudah bagimu.’ Wanita itu bertanya: ‘Apa itu?’ Ia menjawab: ‘Si Fulan (Al-Baghonsyi), pergilah padanya dan mintalah ia untuk memimpikan masalahmu malam ini, barangkali ia melihat ayahmu lalu ayahmu menunjukkan tempat hartanya tanpa letih dan susah.’ Wanita itu pergi menemuinya lalu kembali lagi. Ia mengklaim bahwa Al-Baghonsyi telah mencatat namanya dan nama ayahnya. Esok paginya ia datang saat kami bekerja dan berkata bahwa lelaki itu melihat ayahnya dan ayahnya berkata: ‘Hartanya ada di Al-Huniyyah (semacam ceruk atau lengkungan bangunan).’ Kami pun menggali di bawah Al-Huniyyah dan di samping-sampingnya sampai muncul sebuah celah, dan ternyata hartanya ada di sana. Kami pun takjub, namun wanita itu meremehkan apa yang ditemukannya dan berkata: ‘Harta ayahku lebih banyak dari ini, aku akan kembali lagi padanya.’ Ia pun pergi memberitahunya lalu memohon agar ia melihat lagi. Esok harinya ia datang lagi dengan wajah sedih, ia berkata bahwa Al-Baghonsyi melihat ayahnya lagi dan ayahnya berkata: ‘Engkau telah mengambil apa yang ditakdirkan untukmu,’ adapun sisanya telah dijaga oleh jin ‘Ifrit yang menjaganya sampai datang orang yang ditakdirkan untuknya.” Kisah-kisah dalam bab ini sangatlah banyak sekali.

Kisah Bertanya dalam Mimpi

Adapun orang yang mendapatkan kesembuhan dengan menggunakan obat yang ia lihat melalui mimpi dari orang yang mensifatkannya, itu pun sangatlah banyak. Bahkan tidak sedikit orang—termasuk yang awalnya tidak condong kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H)—bercerita kepadaku bahwa mereka melihatnya setelah wafatnya. Mereka bertanya tentang masalah-masalah yang musykil (sulit) bagi mereka, seperti masalah waris (faro’idh) dan lainnya, lalu beliau menjawabnya dengan jawaban yang benar.

Secara keseluruhan, perkara ini tidaklah diingkari kecuali oleh orang yang paling jahil (bodoh) tentang urusan ruh, hukum-hukumnya, dan hakikatnya. Hanya kepada Alloh lah taufiq itu memohon.

Bersambung jilid 2….

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url