[PDF] Menjadi Aktifis Da’wah di Atas Cahaya Nubuwwah - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh Robb semesta alam yang telah mengutus para Rosul sebagai pembawa
kabar gembira dan pemberi peringatan, serta menurunkan Al-Qur’an sebagai
petunjuk dan pembeda antara yang haq dengan yang bathil.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan abadi kita, Nabi Muhammad
ﷺ, yang telah menunaikan amanah
risalah, menyampaikan nasihat kepada ummat, dan meninggalkan kita di atas jalan
yang terang benderang, yang malamnya laksana siangnya, tidak ada yang berpaling
darinya melainkan dia akan binasa. Begitu pula kepada para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum, para Tabi’in, Tabiut Tabi’in, dan seluruh pengikut setia yang terus
konsisten memperjuangkan tegaknya Sunnah hingga hari pembalasan kelak.
Amma
ba’du:
Meniti
jalan da’wah di zaman yang penuh dengan gelombang fitnah ini adalah sebuah keni’matan
sekaligus amanah yang sangat besar. Ketika dunia mulai diselimuti oleh kabut
syubhat yang samar dan tarikan syahwat yang melalaikan, keberadaan para penyeru
kebaikan laksana bintang-bintang di langit yang memandu para musafir di tengah
kegelapan malam. Menjadi seorang aktifis da’wah bukanlah sekadar menyandang
status sosial atau mengisi waktu luang dengan kegiatan keagamaan, melainkan
sebuah ikatan janji suci untuk mendedikasikan seluruh potensi diri demi
meninggikan kalimatulloh di muka bumi.
Alloh
menegaskan kedudukan mulia ini di dalam kitab-Nya yang agung:
﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 104)
Buku yang
berada di hadapan pembaca yang mulia ini, yang kami beri judul “Menjadi
Aktifis Da’wah di Atas Cahaya Nubuwwah”, disusun dengan sebuah harapan
besar agar para pejuang Tauhid memiliki panduan baku yang kokoh dalam
melangkah. Banyak dari kalangan pemuda Muslim yang memiliki semangat
menyala-nyala untuk merubah keadaan masyarakat, namun langkah mereka patah di
tengah jalan atau justru menimbulkan kerusakan yang lebih parah karena tidak
dibimbing oleh manhaj da’wah yang shohih. Da’wah ini memiliki aturan, fiqih,
dan batasan syar’i yang tidak boleh dilanggar demi meraih simpati massa
atau target duniawi yang fana.
Rosululloh ﷺ telah memberikan teladan yang
sangat utuh mengenai bagaimana merintis da’wah dari titik nol hingga Islam
tersebar ke segenap penjuru dunia. Beliau ﷺ bersabda:
«قَدْ
تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي
إِلَّا هَالِكٌ»
“Sungguh
aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang benderang, yang
malamnya laksana siangnya, tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan
dia akan binasa.” (HSR. Ibnu Majah no. 43)
Oleh karena
itu, memurnikan niat hanya demi meraih ridho Alloh, membekali diri dengan ilmu
syar’i sebelum berucap, memahami skala prioritas dengan mengutamakan perbaikan Aqidah,
serta menghias diri dengan keluhuran akhlaq nubuwwah adalah pilar-pilar penting
yang kami kupas secara mendalam di dalam bab-bab buku ini. Kami juga
menyertakan pembahasan mengenai fiqih pengelolaan ummat serta bagaimana
bersikap di dalam sebuah komunitas da’wah, agar setiap aktifis siap memimpin
dengan tawadhu atau dipimpin dengan penuh ketaatan dalam perkara yang ma’ruf.
Al-Fudhoil
bin Iyadh (187 H) memberikan sebuah untaian nasihat yang sangat berharga bagi
setiap jiwa yang ingin amalnya bernilai di sisi Alloh. Beliau rohimahulloh
berkata:
إنَّ الْعَمَلَ
إذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ؛ وَإِذَا كَانَ صَوَابًا
وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا وَالْخَالِصُ:
أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ. وَالصَّوَابُ: أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ
“Sesungguhnya
amalan itu jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan
diterima. Dan jika amalan itu benar namun tidak ikhlas, juga tidak akan
diterima, sampai amalan tersebut dikerjakan dengan ikhlas dan benar. Yang
ikhlas adalah yang dikerjakan karena Alloh, dan yang benar adalah yang
dikerjakan di atas Sunnah.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 28/23)
Buku ini
secara khusus dibuat untuk teman-teman kami di Ketapang Bertauhid, dan untuk semua aktifis kajian secara umum.
Bab 1: Kedudukan Da’wah
1.1
Jalan Para Rosul dan Pengikutnya
Meniti
jalan da’wah berarti mengikatkan diri pada rantai perjuangan paling mulia di
muka bumi. Jalan ini adalah garis lurus yang ditetapkan Alloh untuk para
utusan-Nya guna mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya Tauhid.
Ketika seorang aktifis da’wah menyeru kepada kebaikan, dia sedang menyambung
lidah para Nabi dan memikul beban manusia pilihan.
Alloh
menegaskan hakikat ini di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:
﴿قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾
“Katakanlah:
Inilah jalan (da’wah)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu
kepada Alloh di atas bashiroh (ilmu), Maha Suci Alloh, dan aku tiada
termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Kalimat “aku
dan orang-orang yang mengikutiku” menunjukkan bahwa pengikut Rosululloh ﷺ yang sejati adalah mereka
yang mengambil peran berda’wah. Da’wah adalah identitas utama seorang Mu’min di
atas jalan nubuwwah. Bashiroh mencakup ilmu tentang apa yang dida’wahkan,
keadaan objek da’wah, serta metode penyampaian yang tepat.
Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan dalam kitabnya: “Tidaklah seseorang dikatakan
sebagai pengikut Rosul yang sebenar-benarnya sampai dia berda’wah menuju apa
yang dida’wahkan oleh Rosul di atas bashiroh.” (Miftah Daris Sa’adah, Ibnu
Qayyim Al-Jauziyyah, 1/154)
Kehidupan
para Rosul dipenuhi perjuangan da’wah tiada henti. Alloh mengabadikan kegigihan
Nabi Nuh alaihissalam yang berda’wah siang dan malam:
﴿قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا﴾
“Nuh
berkata: ‘Ya Robbku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.” (QS.
Nuh: 5)
Rosululloh ﷺ pada fase Makkiyyah menolak
tegas tawaran harta dan kerajaan dari Quroisy demi mempertahankan da’wah. Sikap
tegar ini diwarisi oleh para Shohabat. Rob’i bin ‘Amir rodhiyallahu ‘anhu
menjelaskan esensi da’wah Islam di hadapan Panglima Rustam dari Persia:
اللَّهُ ابْتَعَثْنَا
لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ
ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سِعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ
“Alloh
telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari
penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan kepada Alloh semata, dari
kesempitan dunia menuju kelapangan dunia dan Akhiroh, serta dari kezholiman
agama-agama menuju keadilan Islam.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/622)
Aktifis da’wah
berjalan di atas jalur para khulafaur rosyidin. Rosululloh ﷺ bersabda bahwa ilmu ini akan
terus dijaga oleh orang-orang pilihan:
«يَحْمِلُ
هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ
وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلين»
“Ilmu ini
akan dibawa dari setiap generasi oleh orang-orang yang adil di antara mereka,
yang membersihkan ilmu tersebut dari penyimpangan orang-orang yang melampaui
batas, kedustaan para pelaku kebatilan, dan takwil orang-orang yang bodoh.” (HSR.
Al-Baihaqi dan Al-Misykat no. 248)
Maka,
menjadi pengikut nubuwwah yang sesungguhnya berarti siap mengambil bagian dalam
barisan da’wah dan tidak menjadi penonton pasif di tengah kerusakan ummat.
1.2
Keutamaan Menjadi Penyeru Kebaikan
Alloh
meletakkan ucapan para penyeru kebaikan pada maqom paling mulia. Tidak ada
perkataan yang lebih indah di sisi Robb semesta alam melainkan kalimat ajakan
untuk tunduk kepada aturan Alloh.
Hal ini
ditegaskan di dalam kitab-Nya yang agung:
﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ
وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾
“Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh,
mengerjakan amal yang sholih, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang berserah diri.” (QS. Fushshilat: 33)
Al-Hasan
Al-Bashri (110 H) memberikan sanjungan bagi para aktifis da’wah:
هَذَا حَبِيبُ
اللَّهِ هَذَا وَلِيُّ اللَّهِ هَذَا صَفْوَةُ اللَّهِ هَذَا خِيرَةُ اللَّهِ هَذَا
أَحَبُّ أَهْلِ الْأَرْضِ إِلَى اللَّهِ أَجَابَ اللَّهَ فِي دَعْوَتِهِ وَدَعَا النَّاسَ
إِلَى مَا أَجَابَ اللَّهَ فِيهِ فِي دَعْوَتِهِ وَعَمِلَ صَالِحًا فِي إِجَابَتِهِ
“Orang ini
adalah kekasih Alloh, orang ini adalah wali Alloh, orang ini adalah pilihan
Alloh, orang ini adalah makhluk yang paling dicintai oleh Alloh di muka bumi.
Dia memenuhi panggilan Alloh dalam da’wahnya, mengajak manusia kepada apa yang
dia penuhi dari panggilan Alloh tersebut, dan beramal sholih dalam
pemenuhannya.” (Mausu’ah At-Tafsir Al-Ma’tsur, 19/481)
Keutamaan
agung bagi penyeru kebaikan adalah aliran pahala yang tiada terputus. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«مَنْ
دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ
ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا»
“Siapa yang
menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang
mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no.
2674)
Contohnya,
saat aktifis da’wah mengajarkan atau menjadi sebab terlaksananya kajian
tata cara wudhu sesuai Sunnah kepada pemuda awam, maka seluruh pahala ibadah
dari pemuda itu dan orang yang diajarkannya akan mengalir kepada sang aktifis
walau ia telah dikubur di dalam tanah janazah, tanpa mengurangi pahala mereka
sedikitpun.
Para
penyeru kebaikan juga mendapatkan doa dari seluruh makhluk. Nabi ﷺ mengabarkan hal ini:
«إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي
جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ»
“Sesungguhnya
Alloh, para Malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, sampai semut di dalam
lubangnya dan ikan paus di lautan, benar-benar bersholawat (memohonkan ampunan
dan rohmat) bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2685)
Rosululloh ﷺ juga memotivasi Ali bin Abi
Tholib rodhiyallahu ‘anhu bahwa nilai hidayah lewat lisan kita jauh
lebih berharga daripada aset duniawi termewah:
«فَوَاللَّهِ
لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَك مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ
حُمُرُ النَّعَمِ»
“Demi
Alloh, demi karena Alloh memberikan petunjuk kepada satu orang saja lewat
perantaraanmu, itu jauh lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta-unta
merah.” (HR. Al-Bukhori no. 3701 dan Muslim no. 2406)
1.3
Hukum Menegakkan Da’wah
Hukum berda’wah
terbagi menjadi dua keadaan, yaitu fardhu kifayah dan fardhu ‘ain, tergantung
pada kapasitas keilmuan dan kondisi kemungkaran yang dihadapi.
Alloh
berfirman mengenai kewajiban adanya sekelompok ummat yang mengkhususkan diri dalam
medan da’wah:
﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 104)
Maksud dari
ayat ini adalah agar ada sekelompok dari ummat ini yang mengkhususkan diri
untuk menangani urusan da’wah ini, meskipun urusan berda’wah ini juga wajib
atas setiap individu dari anggota ummat sesuai dengan kemampuannya
masing-masing.
Da’wah
menjadi fardhu ‘ain saat seseorang melihat kemungkaran di hadapannya secara
langsung dan ia mampu merubahnya. Rosululloh ﷺ meletakkan tahapan kewajiban ini di dalam sabdanya:
«مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»
“Siapa di
antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan
tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu,
maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR.
Muslim no. 49)
Fardhu ‘ain
juga mencakup penyampaian ilmu mendasar yang diketahui. Nabi ﷺ bersabda:
«بَلِّغُوا
عَنِّي وَلَوْ آيَةً»
“Sampaikanlah
dariku walau 1 ayat.” (HR. Al-Bukhori no. 3461)
Ancaman
bagi ummat yang meninggalkan aktivitas da’wah sangat keras. Rosululloh ﷺ memberikan peringatan:
«وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ
لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ
فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»
“Demi Dzat
yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar harus memerintahkan kepada
yang ma’ruf dan benar-benar harus mencegah dari yang munkar, atau jika tidak,
hampir saja Alloh akan mengirimkan siksaan dari sisi-Nya kepada kalian,
kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun doa kalian tidak lagi dikabulkan.” (HHR.
At-Tirmidzi no. 2169)
Kehancuran
kaum akibat meremehkan hukum da’wah ini pernah terjadi pada Bani Isroil yang
dikutuk karena membiarkan kemungkaran merajalela tanpa saling mencegah:
﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ
عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ
78 كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾
“Telah
dila’nati orang-orang kafir dari Bani Isroil dengan lisan Dawud dan Isa putra
Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.
Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat.
Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Ma’idah:
78-79)
Mengingat
beratnya hukum ini, seorang aktifis da’wah harus memandang aktivitasnya sebagai
pengguguran kewajiban di hadapan Alloh sekaligus tameng pelindung keselamatan
ummat.
Bab 2: Tiga Pilar
Aktifis Da’wah
2.1
Memurnikan Niat
Niat adalah
ruh dari setiap amalan syar’i, termasuk di dalamnya aktivitas menyeru manusia
kepada kebaikan. Seorang aktifis da’wah wajib memeriksa hatinya secara berkala
sebelum melangkah ke tengah-tengah ummat. Tujuan utama dari da’wah tidak boleh
bergeser kepada pencarian popularitas, pengumpulan harta, atau demi mendapatkan
pujian sebagai seorang penyeru yang hebat. Jika niat telah terkotori oleh
kepentingan duniawi, maka seluruh kelelahan dalam berda’wah hanya akan
membuahkan kerugian di Akhiroh.
Alloh
menegaskan perintah untuk memurnikan ketaatan ini di dalam Al-Qur’an melalui
firman-Nya:
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan Sholat
dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS.
Al-Bayyinah: 5)
Keikhlasan
adalah syarat mutlak diterimanya sebuah amal. Da’wah yang tegak di atas asas riya
atau sum’ah (ingin didengar) akan runtuh dan tidak membuahkan barokah
bagi pelakunya maupun bagi orang yang diserunya. Ketegasan mengenai pentingnya
menjaga arah niat ini disampaikan langsung oleh Rosululloh ﷺ dalam hadits yang sangat
masyhur:
«إِنَّمَا
الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ
هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا
هَاجَرَ إِلَيْهِ»
“Amal itu
tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai apa yang dia
niatkan. Siapa yang hijrohnya kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrohnya kepada
Alloh dan Rosul-Nya. Dan siapa yang hijrohnya karena dunia yang ingin diraihnya
atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrohnya kepada apa yang dia
hijroh kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no. 1907)
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) pernah memberikan gambaran betapa beratnya mengelola
keikhlasan di dalam hati. Beliau rohimahulloh berkata:
مَا عَالَجْتُ
شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ
“Tidaklah
aku mengobati sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku, karena niat itu
terus berbolak-balik pada diriku.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rojob,
1/70)
Contoh
nyata kerusakan amal akibat salah niat dikabarkan oleh Nabi ﷺ mengenai golongan manusia
pertama yang diputuskan hukumannya pada hari Qiyamah. Di antara mereka adalah
seorang lelaki yang menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia agar dipuji
sebagai seorang alim atau qori.
Ketika dia
dihadapkan pada hari persidangan agung, Alloh berfirman kepadanya mengenai
kepalsuan niatnya tersebut:
«كَذَبْتَ،
وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ
تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ
قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ،كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ
قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ»
“Engkau
dusta, akan tetapi engkau berjuang agar dikatakan sebagai pahlawan dan engkau
sudah puji;
Engkau dusta,
akan tetapi engkau menuntut ilmu agar dikatakan sebagai seorang alim, dan
engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan dia adalah seorang qori, dan sungguh engkau
sudah dipuji (di dunia);
Engkau
dusta, akan tetapi engkau bershodaqoh agar disebut sebagai dermawan, dan
sungguh kamu sudah dipuji.
Kemudian
diperintahkan (kepada Malaikat) agar dia diseret di atas wajahnya hingga
dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 1905)
Oleh karena
itu, memurnikan niat hanya demi meraih ridho Alloh adalah pilar pertama yang
tidak boleh goyah. Seorang aktifis da’wah harus terus mengawasi hatinya agar
tetap konsisten berjuang demi meninggikan kalimatulloh, bukan demi membesarkan
nama pribadinya atau kelompoknya.
2.2
Membekali Diri dengan Ilmu Syar’i
Berda’wah
tanpa dasar ilmu adalah pintu gerbang menuju kerusakan yang besar. Semangat
yang meluap-luap dalam menyeru manusia wajib dibimbing oleh pemahaman agama
yang shohih. Jika seorang aktifis da’wah melangkah tanpa ilmu, dia akan
mencampuradukkan antara yang Sunnah dengan yang bid’ah, serta menghalalkan yang
harom karena ketidaktahuannya. Ilmu syar’i adalah warisan murni dari Nabi ﷺ yang wajib dipelajari sebelum
seseorang berbicara di hadapan ummat.
Alloh
memerintahkan hamba-Nya untuk berilmu terlebih dahulu sebelum berucap dan
berbuat, sebagaimana firman-Nya:
﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ﴾
“Maka
ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Robb (yang berhak disembah) melainkan
Alloh dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min,
laki-laki dan perempuan. Dan Alloh mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat
kamu tinggal.” (QS. Muhammad: 19)
Al-Imam Al-Bukhori (256 H) membuat sebuah bab yang sangat
agung dalam kitab shohihnya menggunakan dasar ayat ini, yaitu “Bab: Ilmu
Sebelum Berkata dan Beramal”. Ini menunjukkan bahwa maqom ilmu berada di
atas amal. Seseorang tidak akan mampu memandu orang lain menuju jalan yang
lurus jika dirinya sendiri tersesat dalam kegelapan kebodohan.
Pentingnya
membekali diri dengan ilmu syar’i ini bersumber dari hakikat bahwa para ulama
dan penuntut ilmu adalah pewaris sah dari risalah para Nabi. Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَإِنَّ
الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا
وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»
“Sesungguhnya
para ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak
mewariskan dinar tidak pula dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa yang
mengambil ilmu tersebut, maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HSR.
Abu Dawud no. 3641)
Sebagai
contoh nyata dari urgensi ilmu ini, Umar bin Al-Khotthob (23 H) dahulu melarang
para pedagang masuk ke pasar kaum Muslimin sebelum mereka memahami fiqih
muamalah. Beliau berkata:
«لَا
يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ»
“Jangan ada
yang berjualan di pasar kami kecuali orang yang telah paham mendalam tentang
urusan agama.” (HHR. At-Tirmidzi no. 487)
Jika dalam
urusan perniagaan dunia saja seseorang wajib berilmu agar tidak terjerumus ke
dalam riba yang harom, maka dalam urusan menyelamatkan Aqidah dan ibadah ummat,
kewajiban berilmu bagi seorang aktifis da’wah tentu jauh lebih utama. Aktifis
da’wah harus rajin duduk di majelis ilmu para ulama Robbani untuk menyerap
warisan nubuwwah yang murni sebelum dia ditugaskan menjadi penitia kajian
dan pelayan ummat.
2.3
Memahami Aqidah yang Shohih
Pilar pokok
yang menjadi pondasi utama dari seluruh gerak da’wah adalah penanaman Aqidah
yang shohih yang bersumber dari ma’rifatulloh (mengenal Alloh dengan benar). Sebelum
seorang aktifis mengajak manusia kepada perkara-perkara cabang syari’at, dia
harus memantapkan dahulu Tauhid di dalam jiwanya sendiri dan memahami bagaimana
cara mengenalkan Robb semesta alam kepada para mad’u. Tanpa landasan Aqidah
yang lurus, seluruh amalan akan terancam terhapus dan sia-sia.
Alloh
memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai bahaya syirik yang dapat
merusak seluruh pondasi amalan:
﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن
قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Dan
sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu:
Jika engkau mempersekutukan (Alloh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah
engkau termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
Ma’rifatulloh
yang benar dibangun di atas pengenalan terhadap Nama-Nama dan Sifat-Sifat Alloh
yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Shohabat. Aqidah
inilah yang memberikan kekuatan mental bagi seorang aktifis ketika menghadapi
beratnya medan perjuangan. Dia tahu bahwa Alloh Maha Melihat, Maha Mendengar,
dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, sehingga dia tidak pernah merasa takut
kepada ancaman manusia selama berada di atas kebenaran.
Ketika Rosululloh
ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal (18
H) menuju Yaman untuk berda’wah, pilar pertama yang wajib ditegakkan adalah
masalah Aqidah dan Tauhid ini. Beliau ﷺ memberikan instruksi yang sangat jelas:
«إِنَّكَ
تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ
عِبَادَةُ اللَّهِ، فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ
عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ»
“Sesungguhnya
engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab, maka hendaklah
perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah beribadah kepada Alloh
semata. Jika mereka telah mengenal Alloh (dengan benar), maka kabarkanlah
kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan atas mereka Sholat 5 waktu dalam
sehari semalam.” (HR. Al-Bukhori no. 1458 dan Muslim no. 19)
Hadits yang
mulia ini menjadi dalil yang sangat kuat bahwa ma’rifatulloh dan keTauhidan
adalah kunci utama dari diterimanya syari’at yang lain. Bagaimana mungkin
seseorang dapat mendirikan Sholat dengan khusyuk atau mengeluarkan Zakat dengan
ikhlas jika dia belum mengenal dengan benar siapa Robb yang dia sembah.
Maka,
setiap aktifis da’wah wajib membersihkan dirinya dari noda-noda syirik, baik
syirik besar maupun syirik kecil seperti riya. Pemahaman Aqidah yang kokoh
inilah yang akan menjaga sang aktifis agar tidak mudah goyah oleh badai fitnah
dan tetap istiqomah menyeru manusia di atas Tauhid hingga maut menjemputnya
menuju Akhiroh.
Bab 3: Manhaj Da’wah
3.1
Memulai Da’wah dari Perbaikan Aqidah
Meniti
manhaj da’wah yang shohih berarti menapaki jejak langkah para Nabi tanpa ada
penyimpangan sedikit pun. Pilar terpenting yang menjadi pondasi utama dalam
metode ini adalah memulai seruan dari perbaikan Aqidah dan pemurnian Tauhid.
Kesalahan terbesar yang sering terjadi di medan perjuangan adalah ketika
seorang aktifis disibukkan oleh pembenahan perkara-perkara cabang atau masalah
politik kekuasaan, sementara di tengah-tengah ummat masih marak praktik syirik,
khurofat, dan penyembahan kepada selain Alloh. Seluruh amalan dan tatanan
sosial tidak akan pernah tegak dengan kokoh melainkan di atas fondasi Tauhid
yang lurus.
Alloh
mengabarkan di dalam Al-Qur’an bahwa menyatukan kalimat manusia di atas Tauhid
adalah misi utama yang dibawa oleh setiap utusan-Nya:
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا
نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴾
“Kami tidak
mengutus seorang Rosul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Tidak
ada yang berhak disembah melainkan Aku, maka Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya: 25)
Misi yang
seragam ini menunjukkan bahwa kerusakan paling parah yang wajib diobati terlebih
dahulu dari suatu kaum adalah rusaknya hubungan mereka dengan Robb yang
menciptakan mereka. Jika Aqidah telah rusak, maka perbaikan ekonomi, moral,
maupun tatanan hukum tidak akan memberikan manfaat apa pun di hadapan
pengadilan Akhiroh. Oleh karena itu, prioritas da’wah nubuwwah tidak pernah
bergeser dari penanaman kalimat Tauhid ke dalam dada manusia.
Ketegasan
mengenai skala prioritas da’wah ini dicontohkan dengan sangat benderang oleh Rosululloh
ﷺ ketika beliau mengutus Mu’adz
bin Jabal (18 H) untuk berda’wah ke negeri Yaman. Beliau ﷺ bersabda:
«إِنَّكَ
تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ
إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى»
“Sesungguhnya
engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab, maka hendaklah
perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka menyembah
Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 7371 dan Muslim no. 19)
Hadits yang
mulia ini menjadi dalil yang sangat kuat bahwa seorang aktifis da’wah tidak
boleh melangkah ke tahapan berikutnya sebelum urusan Aqidah kaumnya telah
beres. Menuntut manusia mendirikan Sholat, menunaikan Zakat, atau memakai
jilbab yang syar’i sebelum mereka mengenal Tauhid adalah sebuah kesia-siaan,
karena syarat sahnya seluruh ibadah tersebut adalah kebersihan jiwa dari noda
syirik.
Ibnu Katsir
(774 H) menjelaskan bagaimana prioritas da’wah ini diterapkan oleh para Nabi
terdahulu dalam mengikis kezholiman terbesar, yaitu menyekutukan Alloh.
Sebagai
contoh dalam lembaran siroh, Rosululloh ﷺ menghabiskan waktu selama 13 tahun di fase Makkiyyah hanya
untuk menanamkan pondasi Aqidah dan Tauhid ke dalam sanubari para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum. Pada periode tersebut, belum banyak hukum syari’at yang diturunkan,
belum ada kewajiban Puasa Romadhon, Zakat, maupun larangan khomr yang mendalam.
Kebijakan Robbani ini bertujuan agar keimanan menghujam kuat terlebih dahulu,
sehingga ketika perintah dan larangan syari’at lainnya diturunkan di fase
Madaniyyah, para Shohabat langsung mematuhinya tanpa ada keraguan sedikit pun
di dalam hati mereka.
Maka,
setiap aktifis da’wah yang ingin programnya membuahkan barokah wajib meletakkan
pembahasan Tauhid, bahaya syirik, serta pemurnian ibadah pada urutan pertama di
majelis-majelis taklimnya, buletin da’wahnya, tema kajiannya, maupun media
sosialnya. Ini adalah harga mati dari manhaj nubuwwah yang tidak boleh ditawar
demi mencari simpati massa.
3.2
Meneladani Akhlaq Rosululloh ﷺ
Menyampaikan
kebenaran tidak boleh dilakukan dengan cara yang serampangan atau kasar yang
justru membuat manusia lari dari agama Alloh. Seorang aktifis da’wah wajib
menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia, keluhuran budi pekerti, serta
ketulusan sikap dalam menghadapi berbagai macam karakter mad’u. Akhlaq
yang mulia adalah magnet terbesar yang mampu membuka gembok hati manusia yang
keras agar mau menerima pancaran hidayah Sunnah.
Alloh
memuji keluhuran akhlaq Rosululloh ﷺ yang menjadi sebab manusia berkumpul di sekeliling beliau untuk
mereguk manisnya iman:
﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّمَنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ
ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا
مِنْ حَوْلِك﴾
“Maka
disebabkan rohmat dari Alloh-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya
engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imron: 159)
Ayat ini
menegaskan bahwa kelembutan sikap dan kelapangan dada adalah rohmat besar dari
Alloh yang wajib dimiliki oleh setiap penyeru kebaikan. Kebenaran yang
disampaikan dengan gaya yang ketus, penuh caci maki, dan merendahkan orang lain
hanya akan melahirkan penolakan dan kesombongan dari pihak mad’u.
Aktifis da’wah tidak bertugas untuk menghakimi manusia, melainkan mengulurkan
tangan guna menyelamatkan mereka dari murka Alloh.
Keteladanan
akhlaq ini digambarkan dengan sangat indah oleh para Shohabat yang hidup
bersama Nabi ﷺ.
Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, yang melayani Rosululloh ﷺ selama 10 tahun, memberikan
kesaksian yang sangat menyentuh mengenai kesabaran dan kelembutan beliau:
«خَدَمْتُ
النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ،
وَمَا قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ صَنَعْتَهُ، وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ لِمَ
تَرَكْتَهُ»
“Aku telah
melayani Nabi ﷺ
selama 10 tahun, maka beliau tidak pernah mengatakan kepadaku kata ‘Ah’ sama
sekali, dan beliau tidak pernah mengatakan terhadap apa yang aku perbuat:
Mengapa engkau perbuat ini? Serta tidak pernah mengatakan terhadap apa yang aku
tinggalkan: Mengapa engkau tinggalkan ini?” (Muttafaq ‘Alaih dan lafazh
At-Tirmidzi no. 2015)
Mari kita
petik sebuah contoh kasus yang sangat masyhur dari kelembutan akhlaq nubuwwah
ini. Ketika seorang Arob Badui yang awam masuk ke dalam Masjid Nabawi lalu
kencing di salah satu sudut ruangan, para Shohabat bergegas bangkit dengan
emosi untuk menghardik dan menghentikannya. Namun, Rosululloh ﷺ dengan ketenangan yang luar
biasa justru melarang para Shohabat dan bersabda:
«دَعُوهُ
وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا
بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»
“Biarkanlah
dia (menyelesaikan kencingnya), dan siramlah di atas bekas kencingnya seember
air atau seciduk air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan
dan kalian tidak diutus untuk memberi kesusahan.” (HR. Al-Bukhori no. 220)
Sikap bijak
Rosululloh ﷺ
ini membuahkan hasil yang luar biasa. Sang Arob Badui tersebut merasa sangat
dihargai dan disayangi, sehingga kebodohannya terkikis tanpa menyisakan dendam
di dalam hatinya, dan dia pun menerima ajaran Islam dengan sukarela.
Seorang
aktifis da’wah harus bercermin pada akhlaq nubuwwah ini. Di tengah masyarakat
yang majemuk dan awam, dia harus tampil sebagai sosok yang jujur, amanah, suka
membantu, dan murah senyum. Jangan sampai da’wah Sunnah yang agung ini
terhalang dari manusia hanya karena pembawa da’wahnya berwajah masam, suka
mencela, dan tertutup dari pergaulan sosial yang ma’ruf.
3.3
Bersikap Lemah Lembut
Sifat lemah
lembut adalah mahkota bagi seorang penyeru kebaikan, namun kelembutan tersebut
tidak boleh disalahartikan sebagai bentuk kompromi atau peleburan dalam perkara
batil. Manhaj da’wah nubuwwah mengajarkan keseimbangan yang sangat kokoh, yaitu
bersikap santun, akomodatif, dan penuh kasih sayang dalam metode penyampaian,
namun tetap teguh, kokoh, dan tidak bergeser satu mili pun dalam menjaga
prinsip-prinsip syari’at serta hukum-hukum agama yang telah paten.
Alloh
memberikan batas yang sangat tegas kepada Rosululloh ﷺ agar tidak condong kepada
keinginan orang-orang kafir yang menginginkan adanya titik temu yang merusak
kemurnian wahyu:
﴿وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ﴾
“Mereka
menginginkan supaya engkau bersikap lunak (berkompromi dalam urusan agama) lalu
mereka bermuka manis (bersikap lunak pula kepadamu).” (QS. Al-Qolam: 9)
Ayat ini
memperingatkan para aktifis da’wah dari bahaya mudahanah, yaitu
mengorbankan atau menyembunyikan sebagian hukum agama demi mencari keridhoan
manusia, menghindari kritikan, atau demi menjaga keharmonisan yang semu.
Menyamarkan kebenaran di hadapan kemungkaran dengan alasan toleransi atau
kelembutan adalah sebuah pengkhianatan terhadap amanah da’wah. Yang dituntut
dari seorang aktifis adalah mudarot, yaitu bersikap ramah dan mengalah
dalam urusan duniawi demi menyelamatkan urusan agama manusia.
Kelembutan
yang berada di atas koridor prinsip syari’at ini diajarkan oleh Nabi ﷺ melalui sabda beliau yang
sangat mendalam:
«إِنَّ
الرِّفْقَ لَا يَكُنْ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا
شَانَهُ»
“Sesungguhnya
kelembutan itu tidaklah berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya,
dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan dia akan
memperburuknya.” (HR. Muslim no. 2594)
Mari kita
perhatikan sebuah contoh ketegasan nubuwwah yang dibungkus dengan keadilan yang
tinggi. Ketika seorang wanita dari kalangan bangsawan suku Makhzum melakukan
pencurian, para Shohabat merasa sungkan jika hukum potong tangan diterapkan
kepadanya karena kedudukan sosial keluarganya yang tinggi. Mereka mengutus
Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu untuk meminta keringanan hukum kepada
Nabi ﷺ.
Mendengar permohonan tersebut, wajah Rosululloh ﷺ langsung berubah karena
prinsip syari’at sedang ditawar, lalu beliau ﷺ bersabda dengan penuh ketegasan:
«أَتَشْفَعُ
فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ؟!» ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّمَا
أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ
تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ
اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا»
“Apakah
engkau ingin memberikan syafa’at (keringanan) dalam penegakan hukuman dari
hukuman-hukuman Alloh?” Kemudian beliau berdiri lalu berkhutbah dan bersabda: “Wahai
manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika
ada orang terpandang di antara mereka yang mencuri maka mereka membiarkannya,
dan jika ada orang yang lemah mencuri maka mereka menegakkan hukuman atasnya.
Demi Alloh, sekiranya Fathimah binti Muhammad mencuri niscaya aku sendiri yang
akan memotong tangannya.” (HR. Al-Bukhori no. 3475 dan Muslim no. 1688)
Inilah
gambaran manhaj yang lurus. Di satu sisi, Rosululloh ﷺ adalah manusia yang paling
penyayang dan pemaaf, namun di sisi lain, ketika batasan-batasan Alloh
dilanggar, beliau tampil sebagai pembela syari’at yang paling kokoh tanpa
memandang bulu.
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) merumuskan bagaimana seharusnya sikap seorang aktifis yang
melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar di tengah masyarakat. Beliau rohimahulloh
berkata:
لَا يَأْمُرُ
بِالْمَعْرُوفِ، وَلَا يَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ إِلَّا مَنْ كَانَ فِيهِ خِصَالٌ ثَلَاثٌ:
رَفِيقٌ بِمَا يَأْمُرُ، رَفِيقٌ بِمَا يَنْهَى، عَدْلٌ بِمَا يَأْمُرُ، عَدْلٌ بِمَا
يَنْهَى، عَالِمٌ بِمَا يَأْمُرُ، عَالِمٌ بِمَا يَنْهَى
“Tidak
boleh memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar kecuali
orang yang memiliki 3 perkara:
(1)
Lembut terhadap apa yang dia perintahkan dan lembut
terhadap apa yang dia larang,
(2)
Adil terhadap apa yang dia perintahkan dan adil
terhadap apa yang dia larang, serta
(3)
Berilmu terhadap apa yang dia perintahkan dan berilmu
terhadap apa yang dia larang.” (Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anul Munkar,
Al-Khollal, hal. 24)
Oleh karena
itu, aktifis da’wah tidak boleh menjadi sosok yang lembek sehingga terseret
dalam arus kemaksiatan atau bid’ah yang dilakukan masyarakat dengan dalih agar
bisa diterima. Gunakan bahasa yang santun, sampaikan dengan penuh hikmah,
hargai adat istiadat setempat yang tidak menyelisihi syari’at, namun tetap
sampaikan kebenaran apa adanya dengan penuh kemuliaan iman.
Bab 4: Jiwa Sang
Aktifis
4.1
Taqwa dan Sabar
Medan da’wah
bukanlah jalan yang bertabur permadani yang empuk, melainkan sebuah medan
perjuangan yang dipenuhi dengan batu sandungan dan duri ujian. Oleh karena itu,
seorang aktifis da’wah tidak akan mampu bertahan lama di jalan ini melainkan
jika dia membentengi jiwanya dengan dua bekal utama yang sangat agung, yaitu
sifat taqwa kepada Alloh dan sifat shobur (sangat sabar) dalam
menghadapi segala gejolak. Tanpa taqwa, langkah kaki akan mudah terseret ke
dalam jurang kemaksiatan, dan tanpa kesabaran, keputusasaan akan dengan cepat
menghentikan langkah perjuangan.
Alloh telah
menggandengkan kedua sifat yang mulia ini sebagai kunci utama untuk meraih
kemenangan dan menggagalkan segala macam makar jahat dari para musuh da’wah:
﴿وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ
كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ﴾
“Jika kamu
bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan
kemudhorotan kepadamu. Sesungguhnya Alloh mengetahui segala apa yang mereka
kerjakan.” (QS. Ali ‘Imron: 120)
Taqwa
adalah benteng batin yang menjaga seorang aktifis agar tetap merasa diawasi
oleh Alloh, baik ketika berada di tengah keramaian ummat maupun saat
bersendirian di kamar yang sepi. Adapun sabar adalah daya tahan jiwa untuk
tetap istiqomah menjalankan perintah Alloh, menjauhi larangan-Nya, serta tabah
menerima segala bentuk penolakan, cemoohan, hingga gangguan fisik dari manusia
yang belum menerima da’wah Sunnah.
Nabi ﷺ memberikan wasiat yang sangat
mendalam mengenai hakikat kesabaran ini sebagai anugerah yang paling luas bagi
seorang Muslim:
«وَمَا
أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ»
“Dan
tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas
daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhori no. 1469 dan Muslim no. 1053)
Mari kita
tengok lembaran sejarah yang menakjubkan dari kesabaran para Nabi. Ketika Rosululloh
ﷺ pergi berda’wah ke kota Thoif
dengan harapan mendapatkan perlindungan dan penerimaan, beliau justru disambut
dengan lemparan batu oleh penduduknya hingga kaki mulia beliau berlumuran
darah. Di tengah kondisi yang sangat kritis dan menyakitkan itu, Malaikat
penjaga gunung datang menawarkan diri untuk menimpakan dua gunung besar ke atas
penduduk Thoif. Namun, dengan kelapangan dada dan kesabaran nubuwwah yang tiada
tanding, beliau ﷺ
justru menolaknya dan berdoa:
«بَلْ
أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ،
لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»
“Bahkan aku
berharap agar Alloh mengeluarkan dari tulang rusuk (keturunan) mereka
orang-orang yang beribadah kepada Alloh semata dengan tidak menyekutukan-Nya
dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhori no. 3231 dan Muslim no. 1795)
Sifat shobur
inilah yang membuat da’wah Islam dapat tersebar luas ke segenap penjuru dunia.
Jika para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dahulu cepat berputus asa ketika
menghadapi siksaan dan pemboikotan, niscaya cahaya iman tidak akan pernah
sampai ke negeri kita hari ini.
Al-Fudhoil
bin Iyadh (187 H) menegaskan pentingnya konsistensi di atas jalan petunjuk ini
meskipun sedikit orang yang melaluinya. Beliau rohimahulloh berkata:
اتَّبِعْ
طُرُقَ الْهُدَى وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ
وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ
“Wajib
bagimu untuk meniti jalan-jalan petunjuk, dan tidak mengapa bagimu sedikitnya
orang yang menempuhnya. Dan berhati-hatilah engkau dari jalan-jalan kesesatan,
serta janganlah engkau terpedaya oleh banyaknya orang yang binasa.” (Al-I’tishom,
Al-Syathibi, 1/112)
Seorang
aktifis da’wah harus menanamkan sifat taqwa dan sabar ini ke dalam urat
nadinya. Saat dicaci dia tidak membalas dengan cacian, saat program da’wahnya
dihalangi dia mencari jalan lain yang ma’ruf, dan saat hatinya merasa lelah,
dia segera kembali bersujud memohon kekuatan kepada Robb yang menguasai seluruh
jiwa manusia.
4.2
Tawakkal
Sering kali
seorang aktifis da’wah merasa terbebani dan stres secara mental ketika melihat
pesan-pesan da’wah yang disampaikannya ditolak oleh masyarakat, atau ketika
majelis ilmu yang dibukanya sepi dari jama’ah. Untuk mengobati kegundahan ini,
sang aktifis wajib memahami hakikat tawakkal yang benar. Dia harus menyadari
sepenuhnya bahwa tugas seorang penyeru kebaikan hanyalah menyampaikan risalah
dengan cara yang terbaik, sedangkan urusan membalikkan hati manusia dan
memberikan taufiq hidayah adalah hak mutlak milik Alloh semata.
Alloh
memberikan batasan tugas yang sangat jelas kepada Nabi-Nya yang mulia agar jiwa
beliau tidak hancur karena kesedihan melihat penolakan kaumnya:
﴿فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوا ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ
ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ﴾
“Jika
mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika
mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan (risalah). Dan Alloh
Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imron: 20)
Tawakkal
yang benar adalah menyandarkan hati sepenuhnya kepada Alloh setelah melakukan
usaha da’wah secara maksimal sesuai syari’at. Aktifis da’wah tidak boleh
mengukur kesuksesan da’wahnya berdasarkan angka statistik jumlah pengikut atau
banyaknya tanda suka di media sosial. Tolok ukur keberhasilan di hadapan Alloh
adalah sejauh mana dia telah menyampaikan kebenaran tersebut di atas landasan
keikhlasan dan bimbingan Sunnah.
Rosululloh ﷺ memberikan gambaran yang
sangat mengejutkan mengenai keadaan para Nabi terdahulu pada hari Qiyamah, di
mana jumlah pengikut tidak menjadi penentu kemuliaan tugas mereka:
«عُرِضَتْ
عَلَيَّ الأُمَمُ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ وَالنَّبِيَّانِ يَمُرُّونَ مَعَهُمُ الرَّهْطُ،
وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ»
“Telah
diperlihatkan kepadaku ummat-ummat, maka ada seorang Nabi atau dua Nabi yang
bersamanya hanya sekelompok kecil orang (kurang dari 10 orang), dan ada seorang
Nabi yang tidak ada seorang pun pengikut bersamanya.” (HR. Al-Bukhori no.
5705 dan Muslim no. 220)
Hadits yang
agung ini menjadi obat penawar yang sangat mujarab bagi jiwa aktifis da’wah
yang sedang layu. Jika seorang Nabi yang dibimbing langsung oleh wahyu dari
langit saja ada yang tidak memiliki pengikut satu pun pada hari Qiyamah, maka
apalah artinya kita yang hanya manusia biasa. Fakta ini membuktikan bahwa tidak
adanya penerimaan dari manusia bukanlah bukti bahwa da’wah yang kita sampaikan
itu keliru, selama materi yang dibawa adalah kebenaran.
Abu
Abdillah Ahmad bin Hanbal (241 H) memberikan untaian kata yang sangat berharga
mengenai hakikat tawakkal dan ketergantungan hati kepada Robb semesta alam.
Beliau rohimahulloh berkata:
وَجُمْلَةُ
التَّوَكُّلِ؛ تَفْوِيضُ الْأَمْرِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ ثَنَاؤُهُ، وَالثِّقَةُ بِهِ
“Dan
kesimpulan dari tawakal adalah menyerahkan urusan kepada Alloh Jalla
Tsanauhu, serta percaya kepada-Nya.” (Hal Anta minal Mutawakkilin,
1/5—Azhari Ahmad Mahmud)
Dengan
menanamkan Tauhid tawakkal ini, aktifis da’wah akan terbebas dari penyakit gila
pujian atau ketakutan akan celaan manusia. Dia akan tetap tegap melangkah
menyebarkan ilmu, baik yang hadir kajian ribuan audiens maupun satu orang saja,
karena dia tahu bahwa pahala dari Alloh tidak akan pernah berkurang sedikit pun
karena sepinya majelis.
4.3
Menjauhi Penyakit Ujub, Riya, dan Cinta Jabatan
Ujian
paling samar yang sering kali meluluhlantakkan amalan seorang aktifis da’wah
tidak datang dari luar, melainkan dari dalam dadanya sendiri. Ketika da’wahnya
mulai diterima luas, namanya mulai dikenal (baik sebagai dai atau ketua panita),
dan pengikutnya bertambah banyak, syaithon akan datang menghembuskan
racun-racun hati yang sangat mematikan, yaitu penyakit ujub (bangga diri
terhadap kelebihan), riya (beramal demi tontonan manusia), serta cinta jabatan
dan kedudukan di mata makhluk. Jika penyakit-penyakit ini dibiarkan bersarang,
maka hancurlah seluruh nilai amal da’wahnya di sisi Alloh.
Alloh
memberikan peringatan keras kepada manusia agar tidak merasa suci dan bersih
dari dosa, karena Dialah yang paling tahu kadar ketakwaan yang sesungguhnya:
﴿فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾
“Maka
janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang
orang yang bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32)
Penyakit
ujub membuat seorang aktifis merasa bahwa keberhasilan da’wah di daerahnya
adalah murni karena kehebatan retorika bicaranya, kecerdasannya, atau strategi
pergerakannya, sehingga dia melupakan ni’mat dan pertolongan Alloh. Sedangkan
riya dan cinta jabatan membuat fokus tujuannya bergeser dari mencari ridho Robb
menjadi pemburu sanjungan dan kedudukan sosial.
Rosululloh ﷺ mengabarkan kekhawatiran
terbesar beliau terhadap ummatnya mengenai syirik kecil yang sangat samar ini:
«إِنَّ
أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ» قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ
الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ»
“Sesungguhnya
perkara yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para
Shohabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai Rosululloh?” Beliau bersabda:
“Riya.” (HHR. Ahmad no. 23630)
Lebih dari
itu, ambisi untuk mendapatkan ketenaran dan kehormatan di tengah-tengah ummat
melalui jalur da’wah digambarkan oleh Nabi ﷺ sebagai perusak agama yang lebih ganas daripada serigala lapar
yang dilepaskan di kandang domba. Beliau ﷺ bersabda:
«مَا
ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ
عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»
“Tidaklah
dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah-tengah kawanan domba lebih
merusak daripada ambisi seseorang terhadap harta dan kehormatan bagi agamanya.”
(HSR. At-Tirmidzi no. 2376)
Mari kita
ambil keteladanan yang sangat indah dari salah seorang ulama Salaf, Al-Fudhoil
bin Iyadh (187 H). Beliau adalah sosok yang sangat takut terhadap ketenaran dan
selalu menyembunyikan amalan kebaikannya agar terhindar dari fitnah riya.
Beliau rohimahulloh pernah berkata:
إِنْ قَدَرْتَ
أَنْ لَا تُعْرَفَ فَافْعَلْ، وَمَا عَلَيْكَ أَنْ لَا تُعْرَفَ، وَمَا عَلَيْكَ أَنْ
لَا يُثْنَى عَلَيْكَ، وَمَا عَلَيْكَ أَنْ تَكُونَ مَذْمُومًا عِنْدَ النَّاسِ، إِذَا
كُنْتَ مَحْمُودًا عِنْدَ اللَّهِ
“Jika
engkau mampu untuk tidak dikenal oleh manusia maka lakukanlah, dan tidak ada
ruginya bagimu jika engkau tidak dikenal, serta tidak ada ruginya bagimu jika
engkau tidak dipuji oleh manusia.” (Az-Zuhdu-l Kabir, Abu Bakr Al-Baihaqi,
hal. 99)
Setiap
aktifis da’wah harus terus melakukan muhasabah (evaluasi diri) yang
ketat terhadap detak jantung dan lintasan pikirannya. Ketika ada pujian manusia
yang datang menghampiri, dia harus segera menundukkan kepala seraya menyadari
bahwa pujian itu hanyalah karena Alloh masih menutup aib-aibnya. Dengan
demikian, jiwanya akan tetap bersih, tawadhu, dan selamat dari jebakan tipu
daya syaithon yang merusak Akhiroh.
Bab 5: Tantangan
di Medan Da’wah
5.1
Menghadapi Penolakan, Goncangan, dan Makar Syaithon
Setiap
gerak langkah kaki aktifis da’wah yang ingin menghidupkan Sunnah pasti akan
berhadapan dengan gelombang penolakan dari manusia dan makar dari pasukan
syaithon. Perang antara al-haq (kebenaran) melawan al-bathil
(kebatilan) adalah permusuhan abadi yang tidak akan pernah reda sampai hari
Qiyamah. Syaithon dari golongan jin dan manusia akan bahu-membahu membentangkan
berbagai macam syubhat (kerancuan pemikiran) dan syahwat guna meruntuhkan
semangat sang aktifis serta menghalangi masyarakat dari jalan petunjuk.
Alloh telah
mengabarkan adanya sunnah permusuhan ini di dalam Kitab-Nya yang mulia:
﴿وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا
شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ
غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ﴾
“Dan
demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithon-syaithon
(dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada
sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka
tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 112)
Makar yang
dilancarkan oleh musuh-musuh da’wah sering kali dibungkus dengan
tuduhan-tuduhan keji untuk merusak reputasi sang aktifis di mata masyarakat
awam. Ada yang dituduh sebagai orang yang memecah belah persatuan kaum, sok
suci, hingga tuduhan-tuduhan miring lainnya yang bersumber dari hawa nafsu.
Jika seorang aktifis da’wah tidak memiliki ketahanan jiwa yang kokoh, dia akan
mudah merasa ciut, mundur teratur, atau bahkan membalas dengan kemarahan yang
tidak berdasar pada ilmu syar’i.
Rosululloh ﷺ mengajarkan doa perlindungan
yang sangat kuat agar kita senantiasa dibentengi dari tipu daya setan yang
berusaha menggelincirkan hati manusia:
«أَعُوذُ
بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ، وَلَا فَاجِرٌ مِنْ
شَرِّ مَا خَلَقَ، وَذَرَأَ وَبَرَأَ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ،
وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي الْأَرْضِ، وَمِنْ
شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ
كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ، يَا رَحْمَنُ»
“Aku
berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna, yang tidak dapat
dilampaui oleh orang yang baik maupun orang yang durhaka, dari kejahatan apa
yang Dia ciptakan, Dia adakan, dan Dia wujudkan, dan dari kejahatan apa yang
turun dari langit, dan dari kejahatan apa yang naik kepadanya, dan dari
kejahatan apa yang Dia ciptakan di bumi, dan dari kejahatan apa yang keluar darinya,
dan dari kejahatan fitnah malam dan siang, dan dari kejahatan setiap yang
datang mengetuk di waktu malam kecuali yang datang mengetuk membawa kebaikan,
wahai Robb Yang Maha Pengasih.” (HHR. Ahmad no. 15461)
Mari kita
ambil keteladanan yang sangat berharga dari keteguhan mental para Shohabat
ketika mendapatkan goncangan boikot dan intimidasi di fase awal da’wah Islam.
Ketika kaum musyrikin Quroisy bersekutu untuk memutus jalur logistik makanan
dan hubungan sosial dengan Bani Hasyim dan Bani Muththolib selama 3 tahun di syi’ib
(lembah) Abu Tholib, para Shohabat tetap bertahan memegang teguh tali iman
meski harus memakan daun-daun kering demi bertahan hidup. Mereka tidak
menggadaikan Aqidah hanya demi sesuap nasi dari para penentang Tauhid.
Oleh karena
itu, sikap bijak dalam menghadapi penolakan dan makar ini adalah dengan terus
membalasnya menggunakan hujjah syar’iyyah yang terang, memperbanyak istighfar,
serta tidak membiarkan diri terjebak dalam perdebatan kusir yang tidak
menghasilkan amal sholih. Fokus utama aktifis da’wah adalah menyelamatkan
manusia, bukan memenangkan ego pribadi dalam perselisihan.
5.2
Memahami Sunnatulloh Berupa Ujian di Jalan Da’wah
Banyak
aktifis pemula yang mengira bahwa ketika mereka berada di atas kebenaran, maka
jalan da’wahnya akan selalu mulus tanpa hambatan, penuh dengan fasilitas, dan
disanjung oleh manusia. Ini adalah sebuah kekeliruan yang fatal dalam memahami
tabiat jalan ini. Sunnatulloh yang berlaku bagi para pejuang Tauhid sejak zaman
dahulu adalah adanya ujian, cobaan, dan benturan fisik maupun mental. Ujian ini
bertujuan untuk menyaring mana emas murni yang sejati dan mana loyang yang
palsu di dalam barisan para penyeru kebaikan.
Alloh
mematahkan persepsi keliru tersebut melalui firman-Nya yang sangat tegas:
﴿أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا
يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا
حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرُ اللَّهِ قَرِيبٌ﴾
“Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah, padahal belum datang kepadamu
(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa
oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam
cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Kapankah
datangnya pertolongan Alloh?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat
dekat.” (QS. Al-Baqoroh: 214)
Kadar ujian
yang menimpa seorang hamba akan disesuaikan dengan tingkatan kualitas keimanan
yang ada di dalam dadanya. Semakin kokoh Aqidah seorang aktifis da’wah dan
semakin kuat dia memegang Sunnah, maka ujian yang datang menghadang pun akan
semakin berat dan beruntun.
Rosululloh ﷺ menegaskan sunnatulloh ini
dalam sabda beliau ketika ditanya oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallahu ‘anhu
mengenai manusia yang paling berat ujiannya:
«أَشَدُّ
النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ
عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ
فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ»
“Manusia
yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang semisalnya dan yang
semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya
kokoh, maka akan semakin keras pula ujiannya. Jika agamanya lemah, maka
ujiannya disesuaikan kadar agamanya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2398)
Sebagai
contoh nyata dari penerapan sunnatulloh ini, mari kita kenang keteguhan Al-Imam
Ahmad bin Hanbal (241 H) ketika menghadapi fitnah kholqul Qur’an (pemikiran
sesat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk). Beliau dipenjara,
dicambuk di bawah terik matahari, dan diintimidasi oleh penguasa yang
terpengaruh pemikiran menyimpang selama bertahun-tahun. Namun, beliau tetap
berdiri kokoh laksana gunung karang demi mempertahankan Aqidah Salaf, hingga
akhirnya Alloh memenangkan Sunnah lewat perantaraan kesabaran beliau.
Ketahuilah
bahwa sesungguhnya ujian-ujian itu berfungsi untuk menyaring para lelaki dan
mengeluarkan kotoran-kotoran mereka, sebagaimana api mengeluarkan kotoran dari
emas murni.
Maka,
ketika seorang aktifis da’wah mendapati dirinya dikritik, dikucilkan, atau
bahkan kehilangan sebagian dari mata pencaharian dunianya karena menda’wahkan
Sunnah, janganlah dia merasa berkecil hati. Sadarilah bahwa itu adalah stempel
legalitas bahwa dia sedang berjalan di atas rute yang sama dengan yang dilalui
oleh manusia-manusia terbaik terdahulu menuju Jannah.
5.3
Mewaspadai Bahaya Fitnah Dunia
Tantangan
yang tidak kalah mengerikan dan sering kali melalaikan para aktifis da’wah
adalah ketika ujian itu tidak datang dalam bentuk kesempitan atau penolakan,
melainkan datang dalam bentuk kelapangan, kemudahan duniawi, popularitas yang
melesat, dan limpahan harta benda. Banyak yang mampu bertahan ketika dicaci,
namun roboh dan hancur ketika disanjung dan difasilitasi. Keadaan ini wajib
diwaspadai karena bisa jadi merupakan bentuk istidroj (jebakan berupa keni’matan
yang menyeret pada kehancuran) dari Alloh bagi orang-orang yang mulai bergeser
niat hatinya.
Alloh
memberikan peringatan yang sangat menakutkan mengenai hakikat istidroj ini di
dalam Al-Qur’an:
﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم
بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ﴾
“Maka
tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami
pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila
mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa
mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS.
Al-An’am: 44)
Istidroj
membuat seorang aktifis da’wah merasa aman dengan kemaksiatan atau penyimpangan
batin yang dilakukannya. Dia merasa bahwa karena majelisnya semakin ramai dan
donasi da’wahnya semakin melimpah, berarti Alloh sedang ridho kepadanya,
padahal itu adalah bentuk pembiaran dari Alloh agar dosanya semakin menumpuk
hingga tiba waktu pengadilan di Akhiroh.
Dosa apa?
Dosa pamer, yang penting menang debat meskipun dengan ucapan kotor, merasa
paling benar sementara orang lain salah dan sesat padahal masalah khilafiyah,
ujub, merendahkan panita kajian lain, berda’wah untuk mencari dunia dan menjual
fatwa untuknya.
Rosululloh ﷺ memberikan definisi yang
sangat jelas mengenai tanda-tanda terjadinya istidroj ini agar kita
tidak tertipu oleh casing keni’matan lahiriah:
«إِذَا
رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا
هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»
“Jika
engkau melihat Alloh memberikan kepada seorang hamba bagian dari dunia yang dia
cintai di atas kemaksiatan-kemaksiatannya, maka sesungguhnya hal itu tidak lain
adalah istidroj.” (HHR. Ahmad no. 17311)
Mari kita
ambil pelajaran dari sejarah runtuhnya kerajaan-kerajaan besar yang zholim di
masa lalu karena terlena oleh fitnah duniawi ini. Begitu pula dalam dunia da’wah,
tidak sedikit figur yang dahulunya sangat kokoh menyuarakan Sunnah, namun
perlahan-lahan melunak, menyembunyikan kebenaran, dan berkompromi dengan
kebatilan setelah mereka masuk ke dalam lingkaran kemewahan fasilitas duniawi
atau lingkaran kekuasaan.
Setiap
ni’mat yang justru mendekatkan diri kepada Naar maka tidak ada kebaikan di
dalamnya, dan setiap cobaan yang justru mendekatkan diri kepada Jannah maka ia
adalah ni’mat yang sesungguhnya.
Seorang
aktifis da’wah harus memiliki rem batin yang sangat pakem terhadap gemerlap
dunia. Setiap kali mendapatkan tambahan fasilitas dunia atau popularitas, dia
harus semakin memperbanyak sujud syukur, memperketat muhasabah diri,
meningkatkan amalan-amalan rahasia yang tidak diketahui oleh manusia, serta
menginfakkan harta tersebut di jalan da’wah agar ia menjadi hujgah yang
menyelamatkannya di hadapan Robb semesta alam.
Bab 6: Fiqih Da’wah
6.1
Mempererat Tali Ukhuwwah
Membangun
kedekatan di tengah kaum Muslimin adalah modal sosial yang sangat berharga
dalam pengelolaan ummat. Seorang aktifis da’wah tidak boleh menampilkan kesan
eksklusif yang kaku atau menjauh dari interaksi kemasyarakatan yang ma’ruf.
Mempererat tali silaturrohim (menyambung hubungan kekerabatan dan persaudaraan)
adalah metode nubuwwah untuk melunakkan hati manusia, sehingga mereka lebih
mudah menerima siraman hidayah. Kendati demikian, persatuan yang dibangun wajib
diletakkan di atas koridor Sunnah yang murni, bukan persatuan semu yang
mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil.
Alloh
memerintahkan kaum Mu’min untuk saling berpegang teguh pada tali agama-Nya
secara kolektif dan melarang perpecahan:
﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا
تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ
كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا﴾
“Dan
berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu
bercerai berai, dan ingatlah niat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa
Jahiliyyah) bermusuhan, lalu Alloh mempersatukan hatimu, sehingga dengan
niat-Nya jadilah kamu orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali ‘Imron: 103)
Tali Alloh
dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama sebagai Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Persatuan sejati yang membawa barokah hanya akan terwujud apabila ummat
disatukan di atas Aqidah yang shohih. Aktifis da’wah harus terdepan dalam
menyambung hubungan baik, menjenguk yang sakit, membantu yang kesusahan, serta
menghadiri undangan masyarakat selama tidak ada kemaksiatan di dalamnya.
Langkah ini menjadi jembatan agar pesan-pesan Sunnah dapat mengalir alami ke
dalam sanubari mereka.
Rosululloh ﷺ menekankan bahwa jalinan
silaturrohim yang erat merupakan salah satu sebab dilapangkannya rizqi dan
dipanjangkannya umur di dunia:
«مَنْ
أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ
رَحِمَهُ»
“Siapa yang
ingin dilapangkan rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya (diberkahi jejak
langkahnya), maka hendaklah dia menyambung tali silaturrohimnya.” (HR.
Al-Bukhori no. 5986 dan Muslim no. 2557)
Mari kita
petik sebuah contoh nyata dari potret kehidupan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum
pasca hijroh dari Makkah ke Madinah. Rosululloh ﷺ mempersaudarakan antara kaum
Muhajirin dan kaum Anshor di atas ikatan iman yang begitu erat. Kaum Anshor
dengan sukarela menawarkan setengah dari harta dan tanah mereka untuk dibagikan
kepada saudara baru mereka tanpa ada rasa pamrih. Persatuan di atas Sunnah
inilah yang menjadi pilar kekuatan militer, sosial, dan ekonomi yang mampu
menundukkan berbagai macam kezholiman di jazirah Arab.
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) memberikan penegasan mengenai pentingnya menjaga hubungan
kasih sayang di antara sesama pengikut Sunnah agar barisan da’wah tidak mudah
retak. Beliau rohimahulloh berkata:
إذَا بَلَغَك
عَنْ رَجُلٍ بِالْمَشْرِقِ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ وَبِالْمَغْرِبِ صَاحِبُ سُنَّةٍ
فَابْعَثْ إلَيْهِمَا بِالسَّلَامِ وَادْعُ اللَّهَ لَهُمَا فَمَا أَقَلَّ أَهْلَ السُّنَّةِ
وَالْجَمَاعَةِ
“Jika
sampai kepadamu kabar tentang seorang lelaki di ujung timur yang merupakan
pengikut Sunnah, dan lelaki lain di ujung barat yang juga pengikut Sunnah, maka
kirimkanlah salam kepada keduanya dan doakanlah kebaikan untuk keduanya, karena
alangkah sedikitnya jumlah pengikut Sunnah (di tengah manusia).” (Al-Adab
Asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih, 2/242)
Dengan
demikian, aktifis da’wah harus pandai merajut kebersamaan dengan ummat.
Kelembutan sosial yang berpadu dengan ketegasan prinsip di atas Sunnah akan
melahirkan sebuah komunitas Muslim yang kokoh, saling mencintai, dan siap
bergotong royong dalam menyebarkan kebaikan syari’at.
6.2
Memilah Maslahat dan Mudhorot dalam Berda’wah
Di dalam
medan da’wah yang dinamis, seorang aktifis tidak jarang dihadapkan pada situasi
pelik yang menuntut pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Fiqih da’wah
mengajarkan bahwa setiap tindakan amar ma’ruf dan nahi munkar wajib
mempertimbangkan perbandingan antara maslahat (kebaikan yang diraih) dan mudhorot
(dampak buruk yang ditimbulkan). Jika hilangnya sebuah kemungkaran justru
melahirkan kemungkaran lain yang jauh lebih besar dan fatal, maka menahan diri
untuk sementara waktu adalah sebuah kewajiban syar’i.
Alloh
memberikan panduan kaidah yang sangat agung ini melalui larangan mencaci maki
berhala-berhala kaum musyrikin, apabila tindakan tersebut memicu mereka untuk
membalas dengan mencaci maki Alloh tanpa dasar ilmu:
﴿وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ
اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ
ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجَعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Alloh, karena
mereka nanti akan memaki Alloh dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
Demikianlah Kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka.
Kemudian kepada Robb merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada
mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)
Ayat ini
adalah dalil paling utama dalam fiqih da’wah tentang kewajiban menutup celah
kerusakan. Melarang kemungkaran adalah perkara yang ma’ruf, namun jika
berakibat pada timbulnya pelecehan terhadap syari’at atau pertumpahan darah di
tengah kaum Muslimin, maka tindakan tersebut harus ditunda sampai kondisinya
memungkinkan. Aktifis da’wah membutuhkan keluasan wawasan fiqih, bukan sekadar
modal nekat dan emosi yang meluap-luap.
Rosululloh ﷺ mempraktikkan penimbangan
maslahat dan mudhorot ini ketika beliau mengurungkan niatnya untuk merenovasi
Ka’bah agar kembali sesuai dengan pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrohim alaihissalam.
Beliau ﷺ
bersabda kepada Aisyah rodhiyallahu ‘anha:
«يَا
عَائِشَةُ، لَوْلاَ أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْتِ،
فَهُدِمَ، فَأَدْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ، وَأَلْزَقْتُهُ بِالأَرْضِ»
“Wahai
Aisyah, sekiranya kaummu bukan karena baru saja meninggalkan masa Jahiliyyah
(baru masuk Islam), niscaya aku telah memerintahkan agar Ka’bah itu dibongkar,
lalu aku masukkan kembali bagian yang dikeluarkan darinya, dan aku sejajarkan
pintunya dengan tanah.” (HR. Al-Bukhori no. 1586 dan Muslim no. 1333)
Nabi ﷺ memilih untuk membiarkan
bangunan Ka’bah tetap pada kondisi saat itu demi menjaga kemaslahatan yang
lebih besar, yaitu memantapkan Aqidah penduduk Makkah yang baru saja memeluk
Islam, agar mereka tidak syok atau murtad kembali karena menyangka Muhammad ﷺ merusak kesucian Ka’bah.
Al-Imam
Malik bin Anas (179 H) pernah ditanya oleh seorang penguasa tentang penegakan
sebuah perkara hukum syar’i di tengah masyarakat yang berpotensi menimbulkan
gejolak massal. Beliau rohimahulloh memberikan nasihat agar penguasa
tersebut menahan diri seraya mengedepankan ketenangan ummat daripada memaksakan
sebuah perkara yang mudhorotnya lebih nyata.
Jika
upaya merubah kemungkaran tersebut justru mengantarkan kepada fitnah
(kekacauan) yang lebih besar daripada kemungkaran yang ingin dirubah, maka
tidak boleh baginya melakukan perubahan tersebut.
Oleh karena
itu, setiap aktifis da’wah sebelum mengeksekusi sebuah program, baik itu
pembubaran sebuah acara maksiat atau penyampaian materi yang sensitif di suatu
daerah, wajib berdiskusi dengan para ulama setempat. Timbanglah dengan matang
dampak jangka panjangnya bagi keberlangsungan da’wah Sunnah di tempat tersebut.
6.3
Mengajak Manusia Sesuai dengan Tingkat Kemampuan Akal Mereka
Salah satu
seni paling tinggi dalam pengelolaan ummat adalah menempatkan mad’u
sesuai dengan porsinya. Setiap manusia dilahirkan dengan latar belakang
ekonomi, tingkat pendidikan, dan kapasitas intelektual yang berbeda-beda.
Seorang aktifis da’wah yang bijak tidak akan menyamakan metode penyampaian
antara seorang profesor di kampus dengan seorang petani di desa, atau antara
seorang tokoh masyarakat dengan seorang pemuda yang baru berhijroh.
Menyampaikan materi yang terlalu berat atau menggunakan istilah-istilah rumit
di hadapan orang awam justru dapat memicu kesalahpahaman dan menjauhkan mereka
dari hidayah.
Alloh
memberikan instruksi yang sangat indah mengenai metode berinteraksi ini melalui
firman-Nya:
﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ
الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن
سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ﴾
“Serulah
(manusia) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robbmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)
Hikmah
dalam ayat ini berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya yang pas. Di antara
bentuk hikmah adalah berbicara menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh obyek
da’wah. Menyampaikan masalah-masalah khilafiyyah yang rumit atau materi syubhat
yang mendalam di hadapan jama’ah majelis taklim ibu-ibu kampung adalah tindakan
yang menyelisihi hikmah da’wah.
Ali bin Abi
Tholib (40 H) memberikan sebuah fatwa yang sangat masyhur dan wajib menjadi
hiasan dinding di setiap ruang kerja aktifis da’wah:
«حَدِّثُوا
النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ! أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ»
“Berbicaralah
kalian kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui (mampu dicerna oleh
akal mereka). Apakah kalian ingin Alloh dan Rosul-Nya didustakan (oleh manusia
karena salah paham)?” (HR. Al-Bukhori no. 127)
Sebagai
contoh keteladanan dari kelapangan dada nubuwwah, Rosululloh ﷺ selalu menjawab pertanyaan
para Shohabat sesuai dengan kondisi kebutuhan individu penanya tersebut. Ketika
ada seorang sahabat yang memiliki watak temperamental datang meminta nasihat,
beliau ﷺ
bersabda: “Jangan marah.” Ketika sahabat lain yang berbakti kepada orang tua
datang meminta amalan terbaik, beliau ﷺ bersabda: “Berbaktilah kepada kedua orang tuamu.” Beliau ﷺ tidak memberikan jawaban
teoritis yang seragam, melainkan memberikan obat syar’i yang pas bagi penyakit
jiwa masing-masing mad’u.
Ibnu Mas’ud
(32 H) juga memberikan peringatan senada mengenai bahaya memaksakan materi
keagamaan di luar batas kemampuan nalar audiens. Beliau rodhiyallahu ‘anhu
berkata:
«مَا
أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ
فِتْنَةً»
“Tidaklah
engkau menyampaikan suatu pembicaraan kepada suatu kaum yang akal-akal mereka
belum mampu mencapainya, melainkan hal itu pasti akan menjadi fitnah
(kerancuan) bagi sebagian dari mereka.” (Muqoddimah Shohih Muslim, hal. 11)
Maka dari
itu, aktifis da’wah wajib menyusun kurikulum da’wahnya secara bertahap.
Mulailah dari materi yang paling mendasar seperti tata cara Sholat yang shohih,
rukun Iman, dan akhlaq harian. Gunakan ilustrasi sederhana yang akrab dengan
kehidupan mereka, hindari istilah asing yang sukar dipahami, serta sampaikan
dengan penuh kasih sayang agar ummat merasa dibimbing menuju Jannah, bukan
sedang dihakimi di ruang sidang.
Bab 7: Siap
Memimpin atau Dipimpin
Bab ini
lebih dikhususkan untuk panitia kajian dan penggerak da’wah.
7.1
Perintah Mengangkat Pemimpin Pada Komunitas
Keteraturan
dan kedisiplinan adalah ciri utama dari ajaran Islam yang dibawa berdasarkan
bimbingan nubuwwah. Islam tidak menyukai adanya kekacauan, ketidakteraturan,
atau sikap berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang jelas dalam sebuah
pergerakan da’wah. Oleh karena itu, ketika beberapa orang aktifis berkumpul
dalam sebuah komunitas, organisasi, atau kepanitiaan da’wah, syari’at
memerintahkan mereka untuk menunjuk salah seorang di antara mereka sebagai
pemimpin. Pemimpin inilah yang bertugas mengoordinasi barisan, mengambil
keputusan, serta memilah pembagian tugas demi tercapainya maslahat da’wah.
Alloh
memerintahkan kaum Mu’min untuk mentaati ulil amri (pemimpin) setelah perintah
taat kepada Alloh dan Rosul-Nya:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى
اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul-(Nya), dan ulil
amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Qur’an) dan Rosul (Sunnahnya), jika kalian
benar-benar beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh. Yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)
Perintah
mengangkat pemimpin dalam skala komunitas kecil sekalipun ditunjukkan oleh Nabi
ﷺ untuk mencegah timbulnya
perselisihan yang dapat merusak barisan. Bayangkan jika sebuah lembaga da’wah
berjalan tanpa pemimpin, maka setiap anggota akan melangkah sesuai dengan
seleranya masing-masing, sehingga program da’wah akan terbengkalai dan ummat
akan menjadi bingung.
Rosululloh ﷺ memberikan instruksi yang
sangat tegas mengenai kewajiban menunjuk pemimpin ini, bahkan dalam kondisi
bersafar yang jumlah anggotanya sangat sedikit:
«إِذَا
خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ»
“Jika ada 3
orang keluar dalam sebuah safar (perjalanan), maka hendaklah mereka mengangkat
salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.” (HSR. Abu Dawud no. 2608)
Hadits yang
mulia ini menjadi dalil yang sangat kuat bagi para aktifis da’wah. Jika dalam
urusan safar duniawi yang sifatnya sementara saja kita diwajibkan memiliki
seorang pemimpin agar perjalanan teratur, aman, dan selamat sampai tujuan, maka
dalam urusan safar da’wah yang bertujuan menyelamatkan ummat menuju Akhiroh,
keberadaan seorang pemimpin tentu jauh lebih mutlak diperlukan.
Umar bin
Al-Khotthob (23 H) memberikan sebuah rumusan yang sangat masyhur mengenai
hubungan erat antara Islam, jama’ah (komunitas), kepemimpinan, dan ketaatan.
Beliau rodhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنَّهُ لَا
إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ، وَلَا إِمَارَةَ
إِلَّا بِطَاعَةٍ
“Sesungguhnya
tidak ada Islam kecuali dengan adanya jama’ah (komunitas yang bersatu), dan
tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya imaroh (kepemimpinan), dan tidak ada
kepemimpinan kecuali dengan adanya ketaatan.” (Sunan Ad-Darimi no. 257)
Sebagai
contoh praktis dalam kepanitiaan da’wah, ketika sebuah yayasan ingin mengadakan
tabligh akbar, mereka wajib menunjuk seorang ketua panitia. Ketua inilah yang
memegang kendali koordinasi. Anggota komunitas tidak boleh berjalan sendiri
tanpa izin ketua, agar tidak terjadi tumpang tindih tugas atau pengeluaran dana
da’wah yang sia-sia. Pengangkatan pemimpin ini dilakukan bukan untuk
kesombongan, melainkan demi keteraturan amal jama’i di atas Sunnah.
7.2
Mentaati Pemimpin dan Musyawaroh
Setelah
seorang pemimpin dipilih dan disepakati di dalam sebuah komunitas da’wah, maka
kewajiban bagi seluruh anggota adalah mendengar dan mentaati arahan pemimpin
tersebut selama perkara yang diperintahkan bukan merupakan maksiat kepada
Alloh. Ketaatan ini wajib dijaga demi keutuhan barisan. Namun di sisi lain, seorang
pemimpin da’wah juga tidak boleh bersikap diktator yang memaksakan kehendak
pribadinya tanpa mendengar masukan. Dia wajib menghidupkan sunnah musyawaroh
(berdiskusi) dengan para anggotanya sebelum mengetok sebuah keputusan besar.
Alloh
memuji karakter para pejuang iman yang selalu mengedepankan musyawaroh dalam
memutuskan segala urusan bersama mereka:
﴿وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا
الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴾
“Dan (bagi)
orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Robb mereka dan mendirikan Sholat,
sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawaroh antara mereka; dan mereka
menafkahkan sebagian dari rizqi yang Kami berikan kepada mereka.” (QS.
Asy-Syuro: 38)
Mendengar
dan taat kepada pemimpin dalam komunitas da’wah adalah pilar tegaknya sebuah
program. Jika setiap anggota menolak diatur atau selalu membantah keputusan
yang telah disepakati bersama dalam musyawaroh, maka organisasi da’wah tersebut
akan rapuh dan mudah dihancurkan oleh makar syaithon. Ketaatan ini memiliki
batasan yang sangat jelas, yaitu hanya dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan yang
tidak melanggar syari’at).
Rosululloh ﷺ memberikan batasan mengenai
koridor ketaatan ini di dalam sabda beliau:
«السَّمْعُ
وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ
بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ»
“Wajib atas
seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam perkara yang
dia sukai maupun yang dia benci, kecuali jika dia diperintahkan untuk berbuat
maksiat. Jika dia diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban
mendengar dan tidak pula ketaatan.” (HR. Al-Bukhori no. 7144 dan Muslim no.
1839)
Mari kita
ambil keteladanan yang sangat indah dari Rosululloh ﷺ dalam mempraktikkan sunnah
musyawaroh ini. Jelang terjadinya perang Badar, Nabi ﷺ menghentikan pasukan Muslim
di sebuah tempat yang dekat dengan sumur Badar. Melihat posisi tersebut,
seorang sahabat bernama Al-Hubab bin Mundzir rodhiyallahu ‘anhu
datang mendekat dan bertanya dengan sopan apakah posisi itu ditentukan
berdasarkan wahyu ataukah strategi perang semata. Ketika Nabi ﷺ menjawab bahwa itu adalah
strategi perang, Al-Hubab memberikan masukan agar pasukan pindah ke sumur yang
paling dekat dengan musuh lalu menguasai sumber air tersebut. Rosululloh ﷺ tanpa ragu menerima masukan
berharga dari anggotanya dan langsung memindahkan pasukan.
Oleh karena
itu, aktifis da’wah yang dipimpin harus berlapang dada menerima keputusan
pemimpin meskipun opininya pribadi tidak terpilih dalam musyawaroh. Sebaliknya,
aktifis da’wah yang diberi amanah memimpin harus menjadi sosok yang tawadhu,
gemar mendengar masukan, serta tidak egois dalam mengelola potensi para
anggotanya.
7.3
Anggota Saling Membantu Bukan Menjatuhkan
Pilar
penopang terakhir yang menjaga kelangsungan sebuah komunitas da’wah di atas
cahaya nubuwwah adalah terciptanya iklim ukhuwwah (persaudaraan) yang
bersih di antara sesama anggota. Para aktifis da’wah wajib memandang rekan
seperjuangannya sebagai saudara seiman yang saling menguatkan, laksana sebuah
bangunan yang kokoh. Mereka harus saling tolong-menolong dalam memikul beban da’wah,
menutupi aib saudaranya, serta menjauhi segala bentuk penyakit hati seperti
hasad (iri dengki), saling merendahkan, atau usaha tersembunyi untuk
menjatuhkan reputasi sesama anggota demi ambisi pribadi.
Alloh
memerintahkan kaum Mu’min untuk saling bekerja sama dalam menegakkan kebaikan
dan melarang kerja sama dalam dosa:
﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Alloh,
sesungguhnya Alloh amat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Perjalanan
da’wah yang berat tidak akan bisa dipikul oleh satu orang saja. Saling membantu
di antara sesama anggota panitia atau yayasan da’wah adalah kunci ringannya
sebuah urusan. Syaithon sangat lihai dalam merusak hubungan antar aktifis.
Ketika sebuah komunitas da’wah mulai membesar, syaithon akan meniupkan rasa
persaingan yang tidak sehat, sehingga sesama anggota saling menggunjing,
mencari-cari kesalahan, dan berusaha menjatuhkan posisi saudaranya sendiri di
hadapan pemimpin atau di hadapan ummat.
Rosululloh ﷺ memberikan perumpamaan yang
sangat indah mengenai bagaimana seharusnya hubungan antar sesama Muslim
terjalin di dalam sebuah barisan:
«إِنَّ
المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
“Seorang Mu’min
dengan Mu’min yang lainnya adalah laksana sebuah bangunan yang sebagiannya
menguatkan sebagian yang lain, kemudian beliau ﷺ menyilangkan jari-jemarinya.” (HR. Al-Bukhori no. 481 dan
Muslim no. 2585)
Dalam
kesempatan lain, Nabi ﷺ
melarang dengan sangat keras segala bentuk perilaku yang dapat meretakkan
persaudaraan batin di antara kaum Mu’min:
«لَا
تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا
عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ،
وَلَا يَحْقِرُهُ»
“Janganlah
kalian saling mendengki, janganlah kalian saling melakukan najasy (menipu dalam
penawaran), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling
membelakangi (memutus hubungan), dan jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang
bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh
dia menzholiminya, tidak boleh membiarkannya teraniaya, dan tidak boleh
merendahkannya.” (HR. Muslim no. 2564)
Mari kita
ambil pelajaran dari generasi Salafush Sholih. Abu Abdillah bin Al-Mubarok (181
H) adalah sosok yang sangat dermawan dan selalu membantu memenuhi kebutuhan
hidup rekan-rekan penuntut ilmu dan aktifis da’wah di zamannya agar mereka bisa
fokus menyebarkan Sunnah tanpa terbebani masalah ekonomi. Beliau tidak pernah
merasa tersaingi oleh keilmuan atau ketenaran rekan-rekannya, justru beliau
menjadi pelindung dan penopang utama bagi perjuangan mereka.
Setiap
aktifis da’wah harus membersihkan hatinya dari ego sektoral atau penyakit hasad.
Jika melihat saudaranya memiliki kelebihan dalam kedekatan ustadz dan kehebatan
membuat event besar, hendaklah dia bersyukur dan membantunya, bukan malah
mencari-cari kesalahannya untuk menjatuhkannya. Kekuatan da’wah Sunnah ini
terletak pada solidnya barisan dalam saling menutupi kekurangan, saling
menasihati dalam kebenaran secara rahasia, serta bahu-bahu yang saling merapat
demi meninggikan kalimatulloh di muka bumi.
Penutup
Meniti
jalan da’wah di atas cahaya nubuwwah adalah sebuah perjalanan panjang yang
ujungnya tidak diukur dari seberapa banyak pengikut yang berhasil dikumpulkan,
melainkan dari seberapa istiqomah seorang aktifis bertahan di atas Sunnah
hingga Malaikat maut datang menjemput. Buku ini telah memaparkan lembaran demi
lembaran mengenai hakikat perjuangan para utusan Alloh, pilar batin yang wajib
dibenahi, manhaj yang lurus dalam menyebarkan Tauhid, hingga fiqih pengelolaan
ummat serta pentingnya keteraturan dalam sebuah komunitas da’wah. Semua ini
adalah warisan murni yang tidak boleh diubah atau digantikan dengan metode
buatan manusia yang bersumber dari hawa nafsu.
Alloh
memberikan janji yang pasti mengenai kebahagiaan dan kemenangan bagi
orang-orang yang tetap teguh memegang prinsip iman di tengah gempuran fitnah
zaman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ
اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah
kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan
Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)
Menjadi aktifis
da’wah berarti siap mengorbankan sebagian waktu, harta, dan kesenangan duniawi
yang fana demi meraih keuntungan yang abadi di Akhiroh. Tantangan yang
dihadapi, baik berupa penolakan masyarakat, makar syaithon, ujian kesempitan,
maupun jebakan istidroj berupa kemewahan, semuanya adalah bumbu-bumbu
perjuangan yang telah dirasakan oleh para Nabi terdahulu. Seorang penyeru
kebaikan tidak boleh cengeng atau mudah berputus asa, karena dia tahu bahwa
Alloh Maha Melihat setiap tetesan keringat dan helaan napasnya di medan da’wah.
Rosululloh ﷺ memberikan kabar gembira
sekaligus garansi keselamatan bagi siapa saja yang memegang erat dua warisan
agung yang beliau ﷺ
tinggalkan di tengah-tengah ummat:
«تَرَكْتُ
فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ
نَبِيِّهِ»
“Aku telah
tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat
selama-lamanya selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabulloh
(Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.” (HSR. Malik dan Shohihul Targhib no. 40)
Keberhasilan
sejati seorang aktifis adalah ketika dia mampu menjaga keikhlasan niatnya dari
penyakit riya, ujub, dan cinta jabatan, serta mampu bersinergi dengan sesama
saudaranya dalam sebuah barisan yang rapat dan teratur. Kita tidak dibebani
untuk merubah dunia ini dalam semalam, tugas kita hanyalah memastikan bahwa
ketika maut datang memisahkan jiwa dari raga, kita sedang berada di dalam
barisan para pembela Sunnah.
Dunia ini
seluruhnya adalah kebodohan kecuali apa yang ada di dalamnya dari ilmu, dan
ilmu itu seluruhnya akan menjadi bumerang yang menuntut kecuali apa yang
diamalkan darinya, dan amal itu seluruhnya akan menjadi debu yang beterbangan
yang sia-sia kecuali apa yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan, dan
keikhlasan itu tetap berada di atas kekhawatiran yang besar sampai amalan
tersebut ditutup dengan khusnul khotimah.
Semoga
catatan-catatan ilmiah yang tertuang di dalam buku ini dapat menjadi lentera
penerang bagi para pejuang Tauhid yang sedang melangkah di tengah kegelapan
syubhat. Semoga Alloh mengampuni segala kekhilafan kita, meluruskan langkah
kaki kita, mengikat hati-hati kita di atas ukhuwwah yang sholih, serta
mengumpulkan kita semua kelak di dalam Jannah yang tertinggi bersama Rosululloh
ﷺ, para Shohabat, dan
orang-orang sholih.
Segala puji
bagi Alloh yang dengan niat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
