Cari Ebook

[PDF] Menjadi Aktifis Da’wah di Atas Cahaya Nubuwwah - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam yang telah mengutus para Rosul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, serta menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang haq dengan yang bathil.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan abadi kita, Nabi Muhammad , yang telah menunaikan amanah risalah, menyampaikan nasihat kepada ummat, dan meninggalkan kita di atas jalan yang terang benderang, yang malamnya laksana siangnya, tidak ada yang berpaling darinya melainkan dia akan binasa. Begitu pula kepada para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, para Tabi’in, Tabiut Tabi’in, dan seluruh pengikut setia yang terus konsisten memperjuangkan tegaknya Sunnah hingga hari pembalasan kelak.

Amma ba’du:

Meniti jalan da’wah di zaman yang penuh dengan gelombang fitnah ini adalah sebuah keni’matan sekaligus amanah yang sangat besar. Ketika dunia mulai diselimuti oleh kabut syubhat yang samar dan tarikan syahwat yang melalaikan, keberadaan para penyeru kebaikan laksana bintang-bintang di langit yang memandu para musafir di tengah kegelapan malam. Menjadi seorang aktifis da’wah bukanlah sekadar menyandang status sosial atau mengisi waktu luang dengan kegiatan keagamaan, melainkan sebuah ikatan janji suci untuk mendedikasikan seluruh potensi diri demi meninggikan kalimatulloh di muka bumi.

Alloh menegaskan kedudukan mulia ini di dalam kitab-Nya yang agung:

﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 104)

Buku yang berada di hadapan pembaca yang mulia ini, yang kami beri judul “Menjadi Aktifis Da’wah di Atas Cahaya Nubuwwah”, disusun dengan sebuah harapan besar agar para pejuang Tauhid memiliki panduan baku yang kokoh dalam melangkah. Banyak dari kalangan pemuda Muslim yang memiliki semangat menyala-nyala untuk merubah keadaan masyarakat, namun langkah mereka patah di tengah jalan atau justru menimbulkan kerusakan yang lebih parah karena tidak dibimbing oleh manhaj da’wah yang shohih. Da’wah ini memiliki aturan, fiqih, dan batasan syar’i yang tidak boleh dilanggar demi meraih simpati massa atau target duniawi yang fana.

Rosululloh telah memberikan teladan yang sangat utuh mengenai bagaimana merintis da’wah dari titik nol hingga Islam tersebar ke segenap penjuru dunia. Beliau bersabda:

«قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ»

“Sungguh aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang benderang, yang malamnya laksana siangnya, tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan dia akan binasa.” (HSR. Ibnu Majah no. 43)

Oleh karena itu, memurnikan niat hanya demi meraih ridho Alloh, membekali diri dengan ilmu syar’i sebelum berucap, memahami skala prioritas dengan mengutamakan perbaikan Aqidah, serta menghias diri dengan keluhuran akhlaq nubuwwah adalah pilar-pilar penting yang kami kupas secara mendalam di dalam bab-bab buku ini. Kami juga menyertakan pembahasan mengenai fiqih pengelolaan ummat serta bagaimana bersikap di dalam sebuah komunitas da’wah, agar setiap aktifis siap memimpin dengan tawadhu atau dipimpin dengan penuh ketaatan dalam perkara yang ma’ruf.

Al-Fudhoil bin Iyadh (187 H) memberikan sebuah untaian nasihat yang sangat berharga bagi setiap jiwa yang ingin amalnya bernilai di sisi Alloh. Beliau rohimahulloh berkata:

إنَّ الْعَمَلَ إذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ؛ وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا وَالْخَالِصُ: أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ. وَالصَّوَابُ: أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ

“Sesungguhnya amalan itu jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Dan jika amalan itu benar namun tidak ikhlas, juga tidak akan diterima, sampai amalan tersebut dikerjakan dengan ikhlas dan benar. Yang ikhlas adalah yang dikerjakan karena Alloh, dan yang benar adalah yang dikerjakan di atas Sunnah.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 28/23)

Buku ini secara khusus dibuat untuk teman-teman kami di Ketapang Bertauhid, dan untuk semua aktifis kajian secara umum.

 

Bab 1: Kedudukan Da’wah

1.1 Jalan Para Rosul dan Pengikutnya

Meniti jalan da’wah berarti mengikatkan diri pada rantai perjuangan paling mulia di muka bumi. Jalan ini adalah garis lurus yang ditetapkan Alloh untuk para utusan-Nya guna mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya Tauhid. Ketika seorang aktifis da’wah menyeru kepada kebaikan, dia sedang menyambung lidah para Nabi dan memikul beban manusia pilihan.

Alloh menegaskan hakikat ini di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

﴿قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: Inilah jalan (da’wah)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Alloh di atas bashiroh (ilmu), Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Kalimat “aku dan orang-orang yang mengikutiku” menunjukkan bahwa pengikut Rosululloh yang sejati adalah mereka yang mengambil peran berda’wah. Da’wah adalah identitas utama seorang Mu’min di atas jalan nubuwwah. Bashiroh mencakup ilmu tentang apa yang dida’wahkan, keadaan objek da’wah, serta metode penyampaian yang tepat.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan dalam kitabnya: “Tidaklah seseorang dikatakan sebagai pengikut Rosul yang sebenar-benarnya sampai dia berda’wah menuju apa yang dida’wahkan oleh Rosul di atas bashiroh.” (Miftah Daris Sa’adah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 1/154)

Kehidupan para Rosul dipenuhi perjuangan da’wah tiada henti. Alloh mengabadikan kegigihan Nabi Nuh alaihissalam yang berda’wah siang dan malam:

﴿قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا

“Nuh berkata: ‘Ya Robbku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.” (QS. Nuh: 5)

Rosululloh pada fase Makkiyyah menolak tegas tawaran harta dan kerajaan dari Quroisy demi mempertahankan da’wah. Sikap tegar ini diwarisi oleh para Shohabat. Rob’i bin ‘Amir rodhiyallahu ‘anhu menjelaskan esensi da’wah Islam di hadapan Panglima Rustam dari Persia:

اللَّهُ ابْتَعَثْنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سِعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ

“Alloh telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan kepada Alloh semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangan dunia dan Akhiroh, serta dari kezholiman agama-agama menuju keadilan Islam.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/622)

Aktifis da’wah berjalan di atas jalur para khulafaur rosyidin. Rosululloh bersabda bahwa ilmu ini akan terus dijaga oleh orang-orang pilihan:

«يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلين»

“Ilmu ini akan dibawa dari setiap generasi oleh orang-orang yang adil di antara mereka, yang membersihkan ilmu tersebut dari penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, kedustaan para pelaku kebatilan, dan takwil orang-orang yang bodoh.” (HSR. Al-Baihaqi dan Al-Misykat no. 248)

Maka, menjadi pengikut nubuwwah yang sesungguhnya berarti siap mengambil bagian dalam barisan da’wah dan tidak menjadi penonton pasif di tengah kerusakan ummat.

1.2 Keutamaan Menjadi Penyeru Kebaikan

Alloh meletakkan ucapan para penyeru kebaikan pada maqom paling mulia. Tidak ada perkataan yang lebih indah di sisi Robb semesta alam melainkan kalimat ajakan untuk tunduk kepada aturan Alloh.

Hal ini ditegaskan di dalam kitab-Nya yang agung:

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh, mengerjakan amal yang sholih, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Fushshilat: 33)

Al-Hasan Al-Bashri (110 H) memberikan sanjungan bagi para aktifis da’wah:

هَذَا حَبِيبُ اللَّهِ هَذَا وَلِيُّ اللَّهِ هَذَا صَفْوَةُ اللَّهِ هَذَا خِيرَةُ اللَّهِ هَذَا أَحَبُّ أَهْلِ الْأَرْضِ إِلَى اللَّهِ أَجَابَ اللَّهَ فِي دَعْوَتِهِ وَدَعَا النَّاسَ إِلَى مَا أَجَابَ اللَّهَ فِيهِ فِي دَعْوَتِهِ وَعَمِلَ صَالِحًا فِي إِجَابَتِهِ

“Orang ini adalah kekasih Alloh, orang ini adalah wali Alloh, orang ini adalah pilihan Alloh, orang ini adalah makhluk yang paling dicintai oleh Alloh di muka bumi. Dia memenuhi panggilan Alloh dalam da’wahnya, mengajak manusia kepada apa yang dia penuhi dari panggilan Alloh tersebut, dan beramal sholih dalam pemenuhannya.” (Mausu’ah At-Tafsir Al-Ma’tsur, 19/481)

Keutamaan agung bagi penyeru kebaikan adalah aliran pahala yang tiada terputus. Rosululloh bersabda:

«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا»

“Siapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2674)

Contohnya, saat aktifis da’wah mengajarkan atau menjadi sebab terlaksananya kajian tata cara wudhu sesuai Sunnah kepada pemuda awam, maka seluruh pahala ibadah dari pemuda itu dan orang yang diajarkannya akan mengalir kepada sang aktifis walau ia telah dikubur di dalam tanah janazah, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.

Para penyeru kebaikan juga mendapatkan doa dari seluruh makhluk. Nabi mengabarkan hal ini:

«إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ»

“Sesungguhnya Alloh, para Malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, sampai semut di dalam lubangnya dan ikan paus di lautan, benar-benar bersholawat (memohonkan ampunan dan rohmat) bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2685)

Rosululloh juga memotivasi Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu bahwa nilai hidayah lewat lisan kita jauh lebih berharga daripada aset duniawi termewah:

«فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَك مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمُرُ النَّعَمِ»

“Demi Alloh, demi karena Alloh memberikan petunjuk kepada satu orang saja lewat perantaraanmu, itu jauh lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta-unta merah.” (HR. Al-Bukhori no. 3701 dan Muslim no. 2406)

1.3 Hukum Menegakkan Da’wah

Hukum berda’wah terbagi menjadi dua keadaan, yaitu fardhu kifayah dan fardhu ‘ain, tergantung pada kapasitas keilmuan dan kondisi kemungkaran yang dihadapi.

Alloh berfirman mengenai kewajiban adanya sekelompok ummat yang mengkhususkan diri dalam medan da’wah:

﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 104)

Maksud dari ayat ini adalah agar ada sekelompok dari ummat ini yang mengkhususkan diri untuk menangani urusan da’wah ini, meskipun urusan berda’wah ini juga wajib atas setiap individu dari anggota ummat sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Da’wah menjadi fardhu ‘ain saat seseorang melihat kemungkaran di hadapannya secara langsung dan ia mampu merubahnya. Rosululloh meletakkan tahapan kewajiban ini di dalam sabdanya:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

“Siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)

Fardhu ‘ain juga mencakup penyampaian ilmu mendasar yang diketahui. Nabi bersabda:

«بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً»

“Sampaikanlah dariku walau 1 ayat.” (HR. Al-Bukhori no. 3461)

Ancaman bagi ummat yang meninggalkan aktivitas da’wah sangat keras. Rosululloh memberikan peringatan:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar harus memerintahkan kepada yang ma’ruf dan benar-benar harus mencegah dari yang munkar, atau jika tidak, hampir saja Alloh akan mengirimkan siksaan dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun doa kalian tidak lagi dikabulkan.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2169)

Kehancuran kaum akibat meremehkan hukum da’wah ini pernah terjadi pada Bani Isroil yang dikutuk karena membiarkan kemungkaran merajalela tanpa saling mencegah:

﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ 78 كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Isroil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Ma’idah: 78-79)

Mengingat beratnya hukum ini, seorang aktifis da’wah harus memandang aktivitasnya sebagai pengguguran kewajiban di hadapan Alloh sekaligus tameng pelindung keselamatan ummat.

 

Bab 2: Tiga Pilar Aktifis Da’wah

2.1 Memurnikan Niat

Niat adalah ruh dari setiap amalan syar’i, termasuk di dalamnya aktivitas menyeru manusia kepada kebaikan. Seorang aktifis da’wah wajib memeriksa hatinya secara berkala sebelum melangkah ke tengah-tengah ummat. Tujuan utama dari da’wah tidak boleh bergeser kepada pencarian popularitas, pengumpulan harta, atau demi mendapatkan pujian sebagai seorang penyeru yang hebat. Jika niat telah terkotori oleh kepentingan duniawi, maka seluruh kelelahan dalam berda’wah hanya akan membuahkan kerugian di Akhiroh.

Alloh menegaskan perintah untuk memurnikan ketaatan ini di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan Sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Keikhlasan adalah syarat mutlak diterimanya sebuah amal. Da’wah yang tegak di atas asas riya atau sum’ah (ingin didengar) akan runtuh dan tidak membuahkan barokah bagi pelakunya maupun bagi orang yang diserunya. Ketegasan mengenai pentingnya menjaga arah niat ini disampaikan langsung oleh Rosululloh dalam hadits yang sangat masyhur:

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrohnya kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrohnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan siapa yang hijrohnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrohnya kepada apa yang dia hijroh kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no. 1907)

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) pernah memberikan gambaran betapa beratnya mengelola keikhlasan di dalam hati. Beliau rohimahulloh berkata:

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

“Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku, karena niat itu terus berbolak-balik pada diriku.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rojob, 1/70)

Contoh nyata kerusakan amal akibat salah niat dikabarkan oleh Nabi mengenai golongan manusia pertama yang diputuskan hukumannya pada hari Qiyamah. Di antara mereka adalah seorang lelaki yang menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia agar dipuji sebagai seorang alim atau qori.

Ketika dia dihadapkan pada hari persidangan agung, Alloh berfirman kepadanya mengenai kepalsuan niatnya tersebut:

«كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ،كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ»

“Engkau dusta, akan tetapi engkau berjuang agar dikatakan sebagai pahlawan dan engkau sudah puji;

Engkau dusta, akan tetapi engkau menuntut ilmu agar dikatakan sebagai seorang alim, dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan dia adalah seorang qori, dan sungguh engkau sudah dipuji (di dunia);

Engkau dusta, akan tetapi engkau bershodaqoh agar disebut sebagai dermawan, dan sungguh kamu sudah dipuji.

Kemudian diperintahkan (kepada Malaikat) agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 1905)

Oleh karena itu, memurnikan niat hanya demi meraih ridho Alloh adalah pilar pertama yang tidak boleh goyah. Seorang aktifis da’wah harus terus mengawasi hatinya agar tetap konsisten berjuang demi meninggikan kalimatulloh, bukan demi membesarkan nama pribadinya atau kelompoknya.

2.2 Membekali Diri dengan Ilmu Syar’i

Berda’wah tanpa dasar ilmu adalah pintu gerbang menuju kerusakan yang besar. Semangat yang meluap-luap dalam menyeru manusia wajib dibimbing oleh pemahaman agama yang shohih. Jika seorang aktifis da’wah melangkah tanpa ilmu, dia akan mencampuradukkan antara yang Sunnah dengan yang bid’ah, serta menghalalkan yang harom karena ketidaktahuannya. Ilmu syar’i adalah warisan murni dari Nabi yang wajib dipelajari sebelum seseorang berbicara di hadapan ummat.

Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk berilmu terlebih dahulu sebelum berucap dan berbuat, sebagaimana firman-Nya:

﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Robb (yang berhak disembah) melainkan Alloh dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Alloh mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad: 19)

Al-Imam Al-Bukhori (256 H) membuat sebuah bab yang sangat agung dalam kitab shohihnya menggunakan dasar ayat ini, yaitu “Bab: Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal”. Ini menunjukkan bahwa maqom ilmu berada di atas amal. Seseorang tidak akan mampu memandu orang lain menuju jalan yang lurus jika dirinya sendiri tersesat dalam kegelapan kebodohan.

Pentingnya membekali diri dengan ilmu syar’i ini bersumber dari hakikat bahwa para ulama dan penuntut ilmu adalah pewaris sah dari risalah para Nabi. Rosululloh bersabda:

«وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak pula dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa yang mengambil ilmu tersebut, maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)

Sebagai contoh nyata dari urgensi ilmu ini, Umar bin Al-Khotthob (23 H) dahulu melarang para pedagang masuk ke pasar kaum Muslimin sebelum mereka memahami fiqih muamalah. Beliau berkata:

«لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ»

“Jangan ada yang berjualan di pasar kami kecuali orang yang telah paham mendalam tentang urusan agama.” (HHR. At-Tirmidzi no. 487)

Jika dalam urusan perniagaan dunia saja seseorang wajib berilmu agar tidak terjerumus ke dalam riba yang harom, maka dalam urusan menyelamatkan Aqidah dan ibadah ummat, kewajiban berilmu bagi seorang aktifis da’wah tentu jauh lebih utama. Aktifis da’wah harus rajin duduk di majelis ilmu para ulama Robbani untuk menyerap warisan nubuwwah yang murni sebelum dia ditugaskan menjadi penitia kajian dan pelayan ummat.

2.3 Memahami Aqidah yang Shohih

Pilar pokok yang menjadi pondasi utama dari seluruh gerak da’wah adalah penanaman Aqidah yang shohih yang bersumber dari ma’rifatulloh (mengenal Alloh dengan benar). Sebelum seorang aktifis mengajak manusia kepada perkara-perkara cabang syari’at, dia harus memantapkan dahulu Tauhid di dalam jiwanya sendiri dan memahami bagaimana cara mengenalkan Robb semesta alam kepada para mad’u. Tanpa landasan Aqidah yang lurus, seluruh amalan akan terancam terhapus dan sia-sia.

Alloh memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai bahaya syirik yang dapat merusak seluruh pondasi amalan:

﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu: Jika engkau mempersekutukan (Alloh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Ma’rifatulloh yang benar dibangun di atas pengenalan terhadap Nama-Nama dan Sifat-Sifat Alloh yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Shohabat. Aqidah inilah yang memberikan kekuatan mental bagi seorang aktifis ketika menghadapi beratnya medan perjuangan. Dia tahu bahwa Alloh Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, sehingga dia tidak pernah merasa takut kepada ancaman manusia selama berada di atas kebenaran.

Ketika Rosululloh mengutus Mu’adz bin Jabal (18 H) menuju Yaman untuk berda’wah, pilar pertama yang wajib ditegakkan adalah masalah Aqidah dan Tauhid ini. Beliau memberikan instruksi yang sangat jelas:

«إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ، فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ»

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab, maka hendaklah perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah beribadah kepada Alloh semata. Jika mereka telah mengenal Alloh (dengan benar), maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan atas mereka Sholat 5 waktu dalam sehari semalam.” (HR. Al-Bukhori no. 1458 dan Muslim no. 19)

Hadits yang mulia ini menjadi dalil yang sangat kuat bahwa ma’rifatulloh dan keTauhidan adalah kunci utama dari diterimanya syari’at yang lain. Bagaimana mungkin seseorang dapat mendirikan Sholat dengan khusyuk atau mengeluarkan Zakat dengan ikhlas jika dia belum mengenal dengan benar siapa Robb yang dia sembah.

Maka, setiap aktifis da’wah wajib membersihkan dirinya dari noda-noda syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil seperti riya. Pemahaman Aqidah yang kokoh inilah yang akan menjaga sang aktifis agar tidak mudah goyah oleh badai fitnah dan tetap istiqomah menyeru manusia di atas Tauhid hingga maut menjemputnya menuju Akhiroh.

Bab 3: Manhaj Da’wah

3.1 Memulai Da’wah dari Perbaikan Aqidah

Meniti manhaj da’wah yang shohih berarti menapaki jejak langkah para Nabi tanpa ada penyimpangan sedikit pun. Pilar terpenting yang menjadi pondasi utama dalam metode ini adalah memulai seruan dari perbaikan Aqidah dan pemurnian Tauhid. Kesalahan terbesar yang sering terjadi di medan perjuangan adalah ketika seorang aktifis disibukkan oleh pembenahan perkara-perkara cabang atau masalah politik kekuasaan, sementara di tengah-tengah ummat masih marak praktik syirik, khurofat, dan penyembahan kepada selain Alloh. Seluruh amalan dan tatanan sosial tidak akan pernah tegak dengan kokoh melainkan di atas fondasi Tauhid yang lurus.

Alloh mengabarkan di dalam Al-Qur’an bahwa menyatukan kalimat manusia di atas Tauhid adalah misi utama yang dibawa oleh setiap utusan-Nya:

﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Kami tidak mengutus seorang Rosul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Tidak ada yang berhak disembah melainkan Aku, maka Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya: 25)

Misi yang seragam ini menunjukkan bahwa kerusakan paling parah yang wajib diobati terlebih dahulu dari suatu kaum adalah rusaknya hubungan mereka dengan Robb yang menciptakan mereka. Jika Aqidah telah rusak, maka perbaikan ekonomi, moral, maupun tatanan hukum tidak akan memberikan manfaat apa pun di hadapan pengadilan Akhiroh. Oleh karena itu, prioritas da’wah nubuwwah tidak pernah bergeser dari penanaman kalimat Tauhid ke dalam dada manusia.

Ketegasan mengenai skala prioritas da’wah ini dicontohkan dengan sangat benderang oleh Rosululloh ketika beliau mengutus Mu’adz bin Jabal (18 H) untuk berda’wah ke negeri Yaman. Beliau bersabda:

«إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى»

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab, maka hendaklah perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka menyembah Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 7371 dan Muslim no. 19)

Hadits yang mulia ini menjadi dalil yang sangat kuat bahwa seorang aktifis da’wah tidak boleh melangkah ke tahapan berikutnya sebelum urusan Aqidah kaumnya telah beres. Menuntut manusia mendirikan Sholat, menunaikan Zakat, atau memakai jilbab yang syar’i sebelum mereka mengenal Tauhid adalah sebuah kesia-siaan, karena syarat sahnya seluruh ibadah tersebut adalah kebersihan jiwa dari noda syirik.

Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bagaimana prioritas da’wah ini diterapkan oleh para Nabi terdahulu dalam mengikis kezholiman terbesar, yaitu menyekutukan Alloh.

Sebagai contoh dalam lembaran siroh, Rosululloh menghabiskan waktu selama 13 tahun di fase Makkiyyah hanya untuk menanamkan pondasi Aqidah dan Tauhid ke dalam sanubari para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum. Pada periode tersebut, belum banyak hukum syari’at yang diturunkan, belum ada kewajiban Puasa Romadhon, Zakat, maupun larangan khomr yang mendalam. Kebijakan Robbani ini bertujuan agar keimanan menghujam kuat terlebih dahulu, sehingga ketika perintah dan larangan syari’at lainnya diturunkan di fase Madaniyyah, para Shohabat langsung mematuhinya tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam hati mereka.

Maka, setiap aktifis da’wah yang ingin programnya membuahkan barokah wajib meletakkan pembahasan Tauhid, bahaya syirik, serta pemurnian ibadah pada urutan pertama di majelis-majelis taklimnya, buletin da’wahnya, tema kajiannya, maupun media sosialnya. Ini adalah harga mati dari manhaj nubuwwah yang tidak boleh ditawar demi mencari simpati massa.

3.2 Meneladani Akhlaq Rosululloh

Menyampaikan kebenaran tidak boleh dilakukan dengan cara yang serampangan atau kasar yang justru membuat manusia lari dari agama Alloh. Seorang aktifis da’wah wajib menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia, keluhuran budi pekerti, serta ketulusan sikap dalam menghadapi berbagai macam karakter mad’u. Akhlaq yang mulia adalah magnet terbesar yang mampu membuka gembok hati manusia yang keras agar mau menerima pancaran hidayah Sunnah.

Alloh memuji keluhuran akhlaq Rosululloh yang menjadi sebab manusia berkumpul di sekeliling beliau untuk mereguk manisnya iman:

﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّمَنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِك

“Maka disebabkan rohmat dari Alloh-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imron: 159)

Ayat ini menegaskan bahwa kelembutan sikap dan kelapangan dada adalah rohmat besar dari Alloh yang wajib dimiliki oleh setiap penyeru kebaikan. Kebenaran yang disampaikan dengan gaya yang ketus, penuh caci maki, dan merendahkan orang lain hanya akan melahirkan penolakan dan kesombongan dari pihak mad’u. Aktifis da’wah tidak bertugas untuk menghakimi manusia, melainkan mengulurkan tangan guna menyelamatkan mereka dari murka Alloh.

Keteladanan akhlaq ini digambarkan dengan sangat indah oleh para Shohabat yang hidup bersama Nabi . Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, yang melayani Rosululloh selama 10 tahun, memberikan kesaksian yang sangat menyentuh mengenai kesabaran dan kelembutan beliau:

«خَدَمْتُ النَّبِيَّ عَشْرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ صَنَعْتَهُ، وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ لِمَ تَرَكْتَهُ»

“Aku telah melayani Nabi selama 10 tahun, maka beliau tidak pernah mengatakan kepadaku kata ‘Ah’ sama sekali, dan beliau tidak pernah mengatakan terhadap apa yang aku perbuat: Mengapa engkau perbuat ini? Serta tidak pernah mengatakan terhadap apa yang aku tinggalkan: Mengapa engkau tinggalkan ini?” (Muttafaq ‘Alaih dan lafazh At-Tirmidzi no. 2015)

Mari kita petik sebuah contoh kasus yang sangat masyhur dari kelembutan akhlaq nubuwwah ini. Ketika seorang Arob Badui yang awam masuk ke dalam Masjid Nabawi lalu kencing di salah satu sudut ruangan, para Shohabat bergegas bangkit dengan emosi untuk menghardik dan menghentikannya. Namun, Rosululloh dengan ketenangan yang luar biasa justru melarang para Shohabat dan bersabda:

«دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»

“Biarkanlah dia (menyelesaikan kencingnya), dan siramlah di atas bekas kencingnya seember air atau seciduk air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan kalian tidak diutus untuk memberi kesusahan.” (HR. Al-Bukhori no. 220)

Sikap bijak Rosululloh ini membuahkan hasil yang luar biasa. Sang Arob Badui tersebut merasa sangat dihargai dan disayangi, sehingga kebodohannya terkikis tanpa menyisakan dendam di dalam hatinya, dan dia pun menerima ajaran Islam dengan sukarela.

Seorang aktifis da’wah harus bercermin pada akhlaq nubuwwah ini. Di tengah masyarakat yang majemuk dan awam, dia harus tampil sebagai sosok yang jujur, amanah, suka membantu, dan murah senyum. Jangan sampai da’wah Sunnah yang agung ini terhalang dari manusia hanya karena pembawa da’wahnya berwajah masam, suka mencela, dan tertutup dari pergaulan sosial yang ma’ruf.

3.3 Bersikap Lemah Lembut

Sifat lemah lembut adalah mahkota bagi seorang penyeru kebaikan, namun kelembutan tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai bentuk kompromi atau peleburan dalam perkara batil. Manhaj da’wah nubuwwah mengajarkan keseimbangan yang sangat kokoh, yaitu bersikap santun, akomodatif, dan penuh kasih sayang dalam metode penyampaian, namun tetap teguh, kokoh, dan tidak bergeser satu mili pun dalam menjaga prinsip-prinsip syari’at serta hukum-hukum agama yang telah paten.

Alloh memberikan batas yang sangat tegas kepada Rosululloh agar tidak condong kepada keinginan orang-orang kafir yang menginginkan adanya titik temu yang merusak kemurnian wahyu:

﴿وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Mereka menginginkan supaya engkau bersikap lunak (berkompromi dalam urusan agama) lalu mereka bermuka manis (bersikap lunak pula kepadamu).” (QS. Al-Qolam: 9)

Ayat ini memperingatkan para aktifis da’wah dari bahaya mudahanah, yaitu mengorbankan atau menyembunyikan sebagian hukum agama demi mencari keridhoan manusia, menghindari kritikan, atau demi menjaga keharmonisan yang semu. Menyamarkan kebenaran di hadapan kemungkaran dengan alasan toleransi atau kelembutan adalah sebuah pengkhianatan terhadap amanah da’wah. Yang dituntut dari seorang aktifis adalah mudarot, yaitu bersikap ramah dan mengalah dalam urusan duniawi demi menyelamatkan urusan agama manusia.

Kelembutan yang berada di atas koridor prinsip syari’at ini diajarkan oleh Nabi melalui sabda beliau yang sangat mendalam:

«إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُنْ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ»

“Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan dia akan memperburuknya.” (HR. Muslim no. 2594)

Mari kita perhatikan sebuah contoh ketegasan nubuwwah yang dibungkus dengan keadilan yang tinggi. Ketika seorang wanita dari kalangan bangsawan suku Makhzum melakukan pencurian, para Shohabat merasa sungkan jika hukum potong tangan diterapkan kepadanya karena kedudukan sosial keluarganya yang tinggi. Mereka mengutus Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu untuk meminta keringanan hukum kepada Nabi . Mendengar permohonan tersebut, wajah Rosululloh langsung berubah karena prinsip syari’at sedang ditawar, lalu beliau bersabda dengan penuh ketegasan:

«أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ؟!» ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا»

“Apakah engkau ingin memberikan syafa’at (keringanan) dalam penegakan hukuman dari hukuman-hukuman Alloh?” Kemudian beliau berdiri lalu berkhutbah dan bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang terpandang di antara mereka yang mencuri maka mereka membiarkannya, dan jika ada orang yang lemah mencuri maka mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Alloh, sekiranya Fathimah binti Muhammad mencuri niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (HR. Al-Bukhori no. 3475 dan Muslim no. 1688)

Inilah gambaran manhaj yang lurus. Di satu sisi, Rosululloh adalah manusia yang paling penyayang dan pemaaf, namun di sisi lain, ketika batasan-batasan Alloh dilanggar, beliau tampil sebagai pembela syari’at yang paling kokoh tanpa memandang bulu.

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) merumuskan bagaimana seharusnya sikap seorang aktifis yang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar di tengah masyarakat. Beliau rohimahulloh berkata:

لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَا يَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ إِلَّا مَنْ كَانَ فِيهِ خِصَالٌ ثَلَاثٌ: رَفِيقٌ بِمَا يَأْمُرُ، رَفِيقٌ بِمَا يَنْهَى، عَدْلٌ بِمَا يَأْمُرُ، عَدْلٌ بِمَا يَنْهَى، عَالِمٌ بِمَا يَأْمُرُ، عَالِمٌ بِمَا يَنْهَى

“Tidak boleh memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar kecuali orang yang memiliki 3 perkara:

(1)            Lembut terhadap apa yang dia perintahkan dan lembut terhadap apa yang dia larang,

(2)            Adil terhadap apa yang dia perintahkan dan adil terhadap apa yang dia larang, serta

(3)            Berilmu terhadap apa yang dia perintahkan dan berilmu terhadap apa yang dia larang.” (Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anul Munkar, Al-Khollal, hal. 24)

Oleh karena itu, aktifis da’wah tidak boleh menjadi sosok yang lembek sehingga terseret dalam arus kemaksiatan atau bid’ah yang dilakukan masyarakat dengan dalih agar bisa diterima. Gunakan bahasa yang santun, sampaikan dengan penuh hikmah, hargai adat istiadat setempat yang tidak menyelisihi syari’at, namun tetap sampaikan kebenaran apa adanya dengan penuh kemuliaan iman.

 

Bab 4: Jiwa Sang Aktifis

4.1 Taqwa dan Sabar

Medan da’wah bukanlah jalan yang bertabur permadani yang empuk, melainkan sebuah medan perjuangan yang dipenuhi dengan batu sandungan dan duri ujian. Oleh karena itu, seorang aktifis da’wah tidak akan mampu bertahan lama di jalan ini melainkan jika dia membentengi jiwanya dengan dua bekal utama yang sangat agung, yaitu sifat taqwa kepada Alloh dan sifat shobur (sangat sabar) dalam menghadapi segala gejolak. Tanpa taqwa, langkah kaki akan mudah terseret ke dalam jurang kemaksiatan, dan tanpa kesabaran, keputusasaan akan dengan cepat menghentikan langkah perjuangan.

Alloh telah menggandengkan kedua sifat yang mulia ini sebagai kunci utama untuk meraih kemenangan dan menggagalkan segala macam makar jahat dari para musuh da’wah:

﴿وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudhorotan kepadamu. Sesungguhnya Alloh mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imron: 120)

Taqwa adalah benteng batin yang menjaga seorang aktifis agar tetap merasa diawasi oleh Alloh, baik ketika berada di tengah keramaian ummat maupun saat bersendirian di kamar yang sepi. Adapun sabar adalah daya tahan jiwa untuk tetap istiqomah menjalankan perintah Alloh, menjauhi larangan-Nya, serta tabah menerima segala bentuk penolakan, cemoohan, hingga gangguan fisik dari manusia yang belum menerima da’wah Sunnah.

Nabi memberikan wasiat yang sangat mendalam mengenai hakikat kesabaran ini sebagai anugerah yang paling luas bagi seorang Muslim:

«وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ»

“Dan tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhori no. 1469 dan Muslim no. 1053)

Mari kita tengok lembaran sejarah yang menakjubkan dari kesabaran para Nabi. Ketika Rosululloh pergi berda’wah ke kota Thoif dengan harapan mendapatkan perlindungan dan penerimaan, beliau justru disambut dengan lemparan batu oleh penduduknya hingga kaki mulia beliau berlumuran darah. Di tengah kondisi yang sangat kritis dan menyakitkan itu, Malaikat penjaga gunung datang menawarkan diri untuk menimpakan dua gunung besar ke atas penduduk Thoif. Namun, dengan kelapangan dada dan kesabaran nubuwwah yang tiada tanding, beliau justru menolaknya dan berdoa:

«بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»

“Bahkan aku berharap agar Alloh mengeluarkan dari tulang rusuk (keturunan) mereka orang-orang yang beribadah kepada Alloh semata dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhori no. 3231 dan Muslim no. 1795)

Sifat shobur inilah yang membuat da’wah Islam dapat tersebar luas ke segenap penjuru dunia. Jika para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dahulu cepat berputus asa ketika menghadapi siksaan dan pemboikotan, niscaya cahaya iman tidak akan pernah sampai ke negeri kita hari ini.

Al-Fudhoil bin Iyadh (187 H) menegaskan pentingnya konsistensi di atas jalan petunjuk ini meskipun sedikit orang yang melaluinya. Beliau rohimahulloh berkata:

اتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ

“Wajib bagimu untuk meniti jalan-jalan petunjuk, dan tidak mengapa bagimu sedikitnya orang yang menempuhnya. Dan berhati-hatilah engkau dari jalan-jalan kesesatan, serta janganlah engkau terpedaya oleh banyaknya orang yang binasa.” (Al-I’tishom, Al-Syathibi, 1/112)

Seorang aktifis da’wah harus menanamkan sifat taqwa dan sabar ini ke dalam urat nadinya. Saat dicaci dia tidak membalas dengan cacian, saat program da’wahnya dihalangi dia mencari jalan lain yang ma’ruf, dan saat hatinya merasa lelah, dia segera kembali bersujud memohon kekuatan kepada Robb yang menguasai seluruh jiwa manusia.

4.2 Tawakkal

Sering kali seorang aktifis da’wah merasa terbebani dan stres secara mental ketika melihat pesan-pesan da’wah yang disampaikannya ditolak oleh masyarakat, atau ketika majelis ilmu yang dibukanya sepi dari jama’ah. Untuk mengobati kegundahan ini, sang aktifis wajib memahami hakikat tawakkal yang benar. Dia harus menyadari sepenuhnya bahwa tugas seorang penyeru kebaikan hanyalah menyampaikan risalah dengan cara yang terbaik, sedangkan urusan membalikkan hati manusia dan memberikan taufiq hidayah adalah hak mutlak milik Alloh semata.

Alloh memberikan batasan tugas yang sangat jelas kepada Nabi-Nya yang mulia agar jiwa beliau tidak hancur karena kesedihan melihat penolakan kaumnya:

﴿فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوا ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan (risalah). Dan Alloh Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imron: 20)

Tawakkal yang benar adalah menyandarkan hati sepenuhnya kepada Alloh setelah melakukan usaha da’wah secara maksimal sesuai syari’at. Aktifis da’wah tidak boleh mengukur kesuksesan da’wahnya berdasarkan angka statistik jumlah pengikut atau banyaknya tanda suka di media sosial. Tolok ukur keberhasilan di hadapan Alloh adalah sejauh mana dia telah menyampaikan kebenaran tersebut di atas landasan keikhlasan dan bimbingan Sunnah.

Rosululloh memberikan gambaran yang sangat mengejutkan mengenai keadaan para Nabi terdahulu pada hari Qiyamah, di mana jumlah pengikut tidak menjadi penentu kemuliaan tugas mereka:

«عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ وَالنَّبِيَّانِ يَمُرُّونَ مَعَهُمُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ»

“Telah diperlihatkan kepadaku ummat-ummat, maka ada seorang Nabi atau dua Nabi yang bersamanya hanya sekelompok kecil orang (kurang dari 10 orang), dan ada seorang Nabi yang tidak ada seorang pun pengikut bersamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 5705 dan Muslim no. 220)

Hadits yang agung ini menjadi obat penawar yang sangat mujarab bagi jiwa aktifis da’wah yang sedang layu. Jika seorang Nabi yang dibimbing langsung oleh wahyu dari langit saja ada yang tidak memiliki pengikut satu pun pada hari Qiyamah, maka apalah artinya kita yang hanya manusia biasa. Fakta ini membuktikan bahwa tidak adanya penerimaan dari manusia bukanlah bukti bahwa da’wah yang kita sampaikan itu keliru, selama materi yang dibawa adalah kebenaran.

Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (241 H) memberikan untaian kata yang sangat berharga mengenai hakikat tawakkal dan ketergantungan hati kepada Robb semesta alam. Beliau rohimahulloh berkata:

وَجُمْلَةُ التَّوَكُّلِ؛ تَفْوِيضُ الْأَمْرِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ ثَنَاؤُهُ، وَالثِّقَةُ بِهِ

“Dan kesimpulan dari tawakal adalah menyerahkan urusan kepada Alloh Jalla Tsanauhu, serta percaya kepada-Nya.” (Hal Anta minal Mutawakkilin, 1/5—Azhari Ahmad Mahmud)

Dengan menanamkan Tauhid tawakkal ini, aktifis da’wah akan terbebas dari penyakit gila pujian atau ketakutan akan celaan manusia. Dia akan tetap tegap melangkah menyebarkan ilmu, baik yang hadir kajian ribuan audiens maupun satu orang saja, karena dia tahu bahwa pahala dari Alloh tidak akan pernah berkurang sedikit pun karena sepinya majelis.

4.3 Menjauhi Penyakit Ujub, Riya, dan Cinta Jabatan

Ujian paling samar yang sering kali meluluhlantakkan amalan seorang aktifis da’wah tidak datang dari luar, melainkan dari dalam dadanya sendiri. Ketika da’wahnya mulai diterima luas, namanya mulai dikenal (baik sebagai dai atau ketua panita), dan pengikutnya bertambah banyak, syaithon akan datang menghembuskan racun-racun hati yang sangat mematikan, yaitu penyakit ujub (bangga diri terhadap kelebihan), riya (beramal demi tontonan manusia), serta cinta jabatan dan kedudukan di mata makhluk. Jika penyakit-penyakit ini dibiarkan bersarang, maka hancurlah seluruh nilai amal da’wahnya di sisi Alloh.

Alloh memberikan peringatan keras kepada manusia agar tidak merasa suci dan bersih dari dosa, karena Dialah yang paling tahu kadar ketakwaan yang sesungguhnya:

﴿فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32)

Penyakit ujub membuat seorang aktifis merasa bahwa keberhasilan da’wah di daerahnya adalah murni karena kehebatan retorika bicaranya, kecerdasannya, atau strategi pergerakannya, sehingga dia melupakan ni’mat dan pertolongan Alloh. Sedangkan riya dan cinta jabatan membuat fokus tujuannya bergeser dari mencari ridho Robb menjadi pemburu sanjungan dan kedudukan sosial.

Rosululloh mengabarkan kekhawatiran terbesar beliau terhadap ummatnya mengenai syirik kecil yang sangat samar ini:

«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ» قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ»

“Sesungguhnya perkara yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para Shohabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai Rosululloh?” Beliau bersabda: “Riya.” (HHR. Ahmad no. 23630)

Lebih dari itu, ambisi untuk mendapatkan ketenaran dan kehormatan di tengah-tengah ummat melalui jalur da’wah digambarkan oleh Nabi sebagai perusak agama yang lebih ganas daripada serigala lapar yang dilepaskan di kandang domba. Beliau bersabda:

«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»

“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah-tengah kawanan domba lebih merusak daripada ambisi seseorang terhadap harta dan kehormatan bagi agamanya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2376)

Mari kita ambil keteladanan yang sangat indah dari salah seorang ulama Salaf, Al-Fudhoil bin Iyadh (187 H). Beliau adalah sosok yang sangat takut terhadap ketenaran dan selalu menyembunyikan amalan kebaikannya agar terhindar dari fitnah riya. Beliau rohimahulloh pernah berkata:

إِنْ قَدَرْتَ أَنْ لَا تُعْرَفَ فَافْعَلْ، وَمَا عَلَيْكَ أَنْ لَا تُعْرَفَ، وَمَا عَلَيْكَ أَنْ لَا يُثْنَى عَلَيْكَ، وَمَا عَلَيْكَ أَنْ تَكُونَ مَذْمُومًا عِنْدَ النَّاسِ، إِذَا كُنْتَ مَحْمُودًا عِنْدَ اللَّهِ

“Jika engkau mampu untuk tidak dikenal oleh manusia maka lakukanlah, dan tidak ada ruginya bagimu jika engkau tidak dikenal, serta tidak ada ruginya bagimu jika engkau tidak dipuji oleh manusia.” (Az-Zuhdu-l Kabir, Abu Bakr Al-Baihaqi, hal. 99)

Setiap aktifis da’wah harus terus melakukan muhasabah (evaluasi diri) yang ketat terhadap detak jantung dan lintasan pikirannya. Ketika ada pujian manusia yang datang menghampiri, dia harus segera menundukkan kepala seraya menyadari bahwa pujian itu hanyalah karena Alloh masih menutup aib-aibnya. Dengan demikian, jiwanya akan tetap bersih, tawadhu, dan selamat dari jebakan tipu daya syaithon yang merusak Akhiroh.

 

Bab 5: Tantangan di Medan Da’wah

5.1 Menghadapi Penolakan, Goncangan, dan Makar Syaithon

Setiap gerak langkah kaki aktifis da’wah yang ingin menghidupkan Sunnah pasti akan berhadapan dengan gelombang penolakan dari manusia dan makar dari pasukan syaithon. Perang antara al-haq (kebenaran) melawan al-bathil (kebatilan) adalah permusuhan abadi yang tidak akan pernah reda sampai hari Qiyamah. Syaithon dari golongan jin dan manusia akan bahu-membahu membentangkan berbagai macam syubhat (kerancuan pemikiran) dan syahwat guna meruntuhkan semangat sang aktifis serta menghalangi masyarakat dari jalan petunjuk.

Alloh telah mengabarkan adanya sunnah permusuhan ini di dalam Kitab-Nya yang mulia:

﴿وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithon-syaithon (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 112)

Makar yang dilancarkan oleh musuh-musuh da’wah sering kali dibungkus dengan tuduhan-tuduhan keji untuk merusak reputasi sang aktifis di mata masyarakat awam. Ada yang dituduh sebagai orang yang memecah belah persatuan kaum, sok suci, hingga tuduhan-tuduhan miring lainnya yang bersumber dari hawa nafsu. Jika seorang aktifis da’wah tidak memiliki ketahanan jiwa yang kokoh, dia akan mudah merasa ciut, mundur teratur, atau bahkan membalas dengan kemarahan yang tidak berdasar pada ilmu syar’i.

Rosululloh mengajarkan doa perlindungan yang sangat kuat agar kita senantiasa dibentengi dari tipu daya setan yang berusaha menggelincirkan hati manusia:

«أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ، وَلَا فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، وَذَرَأَ وَبَرَأَ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي الْأَرْضِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ، يَا رَحْمَنُ»

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna, yang tidak dapat dilampaui oleh orang yang baik maupun orang yang durhaka, dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, Dia adakan, dan Dia wujudkan, dan dari kejahatan apa yang turun dari langit, dan dari kejahatan apa yang naik kepadanya, dan dari kejahatan apa yang Dia ciptakan di bumi, dan dari kejahatan apa yang keluar darinya, dan dari kejahatan fitnah malam dan siang, dan dari kejahatan setiap yang datang mengetuk di waktu malam kecuali yang datang mengetuk membawa kebaikan, wahai Robb Yang Maha Pengasih.” (HHR. Ahmad no. 15461)

Mari kita ambil keteladanan yang sangat berharga dari keteguhan mental para Shohabat ketika mendapatkan goncangan boikot dan intimidasi di fase awal da’wah Islam. Ketika kaum musyrikin Quroisy bersekutu untuk memutus jalur logistik makanan dan hubungan sosial dengan Bani Hasyim dan Bani Muththolib selama 3 tahun di syi’ib (lembah) Abu Tholib, para Shohabat tetap bertahan memegang teguh tali iman meski harus memakan daun-daun kering demi bertahan hidup. Mereka tidak menggadaikan Aqidah hanya demi sesuap nasi dari para penentang Tauhid.

Oleh karena itu, sikap bijak dalam menghadapi penolakan dan makar ini adalah dengan terus membalasnya menggunakan hujjah syar’iyyah yang terang, memperbanyak istighfar, serta tidak membiarkan diri terjebak dalam perdebatan kusir yang tidak menghasilkan amal sholih. Fokus utama aktifis da’wah adalah menyelamatkan manusia, bukan memenangkan ego pribadi dalam perselisihan.

5.2 Memahami Sunnatulloh Berupa Ujian di Jalan Da’wah

Banyak aktifis pemula yang mengira bahwa ketika mereka berada di atas kebenaran, maka jalan da’wahnya akan selalu mulus tanpa hambatan, penuh dengan fasilitas, dan disanjung oleh manusia. Ini adalah sebuah kekeliruan yang fatal dalam memahami tabiat jalan ini. Sunnatulloh yang berlaku bagi para pejuang Tauhid sejak zaman dahulu adalah adanya ujian, cobaan, dan benturan fisik maupun mental. Ujian ini bertujuan untuk menyaring mana emas murni yang sejati dan mana loyang yang palsu di dalam barisan para penyeru kebaikan.

Alloh mematahkan persepsi keliru tersebut melalui firman-Nya yang sangat tegas:

﴿أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرُ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Kapankah datangnya pertolongan Alloh?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat.” (QS. Al-Baqoroh: 214)

Kadar ujian yang menimpa seorang hamba akan disesuaikan dengan tingkatan kualitas keimanan yang ada di dalam dadanya. Semakin kokoh Aqidah seorang aktifis da’wah dan semakin kuat dia memegang Sunnah, maka ujian yang datang menghadang pun akan semakin berat dan beruntun.

Rosululloh menegaskan sunnatulloh ini dalam sabda beliau ketika ditanya oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallahu ‘anhu mengenai manusia yang paling berat ujiannya:

«أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ»

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh, maka akan semakin keras pula ujiannya. Jika agamanya lemah, maka ujiannya disesuaikan kadar agamanya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2398)

Sebagai contoh nyata dari penerapan sunnatulloh ini, mari kita kenang keteguhan Al-Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) ketika menghadapi fitnah kholqul Qur’an (pemikiran sesat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk). Beliau dipenjara, dicambuk di bawah terik matahari, dan diintimidasi oleh penguasa yang terpengaruh pemikiran menyimpang selama bertahun-tahun. Namun, beliau tetap berdiri kokoh laksana gunung karang demi mempertahankan Aqidah Salaf, hingga akhirnya Alloh memenangkan Sunnah lewat perantaraan kesabaran beliau.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya ujian-ujian itu berfungsi untuk menyaring para lelaki dan mengeluarkan kotoran-kotoran mereka, sebagaimana api mengeluarkan kotoran dari emas murni.

Maka, ketika seorang aktifis da’wah mendapati dirinya dikritik, dikucilkan, atau bahkan kehilangan sebagian dari mata pencaharian dunianya karena menda’wahkan Sunnah, janganlah dia merasa berkecil hati. Sadarilah bahwa itu adalah stempel legalitas bahwa dia sedang berjalan di atas rute yang sama dengan yang dilalui oleh manusia-manusia terbaik terdahulu menuju Jannah.

5.3 Mewaspadai Bahaya Fitnah Dunia

Tantangan yang tidak kalah mengerikan dan sering kali melalaikan para aktifis da’wah adalah ketika ujian itu tidak datang dalam bentuk kesempitan atau penolakan, melainkan datang dalam bentuk kelapangan, kemudahan duniawi, popularitas yang melesat, dan limpahan harta benda. Banyak yang mampu bertahan ketika dicaci, namun roboh dan hancur ketika disanjung dan difasilitasi. Keadaan ini wajib diwaspadai karena bisa jadi merupakan bentuk istidroj (jebakan berupa keni’matan yang menyeret pada kehancuran) dari Alloh bagi orang-orang yang mulai bergeser niat hatinya.

Alloh memberikan peringatan yang sangat menakutkan mengenai hakikat istidroj ini di dalam Al-Qur’an:

﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Istidroj membuat seorang aktifis da’wah merasa aman dengan kemaksiatan atau penyimpangan batin yang dilakukannya. Dia merasa bahwa karena majelisnya semakin ramai dan donasi da’wahnya semakin melimpah, berarti Alloh sedang ridho kepadanya, padahal itu adalah bentuk pembiaran dari Alloh agar dosanya semakin menumpuk hingga tiba waktu pengadilan di Akhiroh.

Dosa apa? Dosa pamer, yang penting menang debat meskipun dengan ucapan kotor, merasa paling benar sementara orang lain salah dan sesat padahal masalah khilafiyah, ujub, merendahkan panita kajian lain, berda’wah untuk mencari dunia dan menjual fatwa untuknya.

Rosululloh memberikan definisi yang sangat jelas mengenai tanda-tanda terjadinya istidroj ini agar kita tidak tertipu oleh casing keni’matan lahiriah:

«إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»

“Jika engkau melihat Alloh memberikan kepada seorang hamba bagian dari dunia yang dia cintai di atas kemaksiatan-kemaksiatannya, maka sesungguhnya hal itu tidak lain adalah istidroj.” (HHR. Ahmad no. 17311)

Mari kita ambil pelajaran dari sejarah runtuhnya kerajaan-kerajaan besar yang zholim di masa lalu karena terlena oleh fitnah duniawi ini. Begitu pula dalam dunia da’wah, tidak sedikit figur yang dahulunya sangat kokoh menyuarakan Sunnah, namun perlahan-lahan melunak, menyembunyikan kebenaran, dan berkompromi dengan kebatilan setelah mereka masuk ke dalam lingkaran kemewahan fasilitas duniawi atau lingkaran kekuasaan.

Setiap ni’mat yang justru mendekatkan diri kepada Naar maka tidak ada kebaikan di dalamnya, dan setiap cobaan yang justru mendekatkan diri kepada Jannah maka ia adalah ni’mat yang sesungguhnya.

Seorang aktifis da’wah harus memiliki rem batin yang sangat pakem terhadap gemerlap dunia. Setiap kali mendapatkan tambahan fasilitas dunia atau popularitas, dia harus semakin memperbanyak sujud syukur, memperketat muhasabah diri, meningkatkan amalan-amalan rahasia yang tidak diketahui oleh manusia, serta menginfakkan harta tersebut di jalan da’wah agar ia menjadi hujgah yang menyelamatkannya di hadapan Robb semesta alam.

 

Bab 6: Fiqih Da’wah

6.1 Mempererat Tali Ukhuwwah

Membangun kedekatan di tengah kaum Muslimin adalah modal sosial yang sangat berharga dalam pengelolaan ummat. Seorang aktifis da’wah tidak boleh menampilkan kesan eksklusif yang kaku atau menjauh dari interaksi kemasyarakatan yang ma’ruf. Mempererat tali silaturrohim (menyambung hubungan kekerabatan dan persaudaraan) adalah metode nubuwwah untuk melunakkan hati manusia, sehingga mereka lebih mudah menerima siraman hidayah. Kendati demikian, persatuan yang dibangun wajib diletakkan di atas koridor Sunnah yang murni, bukan persatuan semu yang mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil.

Alloh memerintahkan kaum Mu’min untuk saling berpegang teguh pada tali agama-Nya secara kolektif dan melarang perpecahan:

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah niat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuhan, lalu Alloh mempersatukan hatimu, sehingga dengan niat-Nya jadilah kamu orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali ‘Imron: 103)

Tali Alloh dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama sebagai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Persatuan sejati yang membawa barokah hanya akan terwujud apabila ummat disatukan di atas Aqidah yang shohih. Aktifis da’wah harus terdepan dalam menyambung hubungan baik, menjenguk yang sakit, membantu yang kesusahan, serta menghadiri undangan masyarakat selama tidak ada kemaksiatan di dalamnya. Langkah ini menjadi jembatan agar pesan-pesan Sunnah dapat mengalir alami ke dalam sanubari mereka.

Rosululloh menekankan bahwa jalinan silaturrohim yang erat merupakan salah satu sebab dilapangkannya rizqi dan dipanjangkannya umur di dunia:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»

“Siapa yang ingin dilapangkan rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya (diberkahi jejak langkahnya), maka hendaklah dia menyambung tali silaturrohimnya.” (HR. Al-Bukhori no. 5986 dan Muslim no. 2557)

Mari kita petik sebuah contoh nyata dari potret kehidupan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum pasca hijroh dari Makkah ke Madinah. Rosululloh mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor di atas ikatan iman yang begitu erat. Kaum Anshor dengan sukarela menawarkan setengah dari harta dan tanah mereka untuk dibagikan kepada saudara baru mereka tanpa ada rasa pamrih. Persatuan di atas Sunnah inilah yang menjadi pilar kekuatan militer, sosial, dan ekonomi yang mampu menundukkan berbagai macam kezholiman di jazirah Arab.

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) memberikan penegasan mengenai pentingnya menjaga hubungan kasih sayang di antara sesama pengikut Sunnah agar barisan da’wah tidak mudah retak. Beliau rohimahulloh berkata:

إذَا بَلَغَك عَنْ رَجُلٍ بِالْمَشْرِقِ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ وَبِالْمَغْرِبِ صَاحِبُ سُنَّةٍ فَابْعَثْ إلَيْهِمَا بِالسَّلَامِ وَادْعُ اللَّهَ لَهُمَا فَمَا أَقَلَّ أَهْلَ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

“Jika sampai kepadamu kabar tentang seorang lelaki di ujung timur yang merupakan pengikut Sunnah, dan lelaki lain di ujung barat yang juga pengikut Sunnah, maka kirimkanlah salam kepada keduanya dan doakanlah kebaikan untuk keduanya, karena alangkah sedikitnya jumlah pengikut Sunnah (di tengah manusia).” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih, 2/242)

Dengan demikian, aktifis da’wah harus pandai merajut kebersamaan dengan ummat. Kelembutan sosial yang berpadu dengan ketegasan prinsip di atas Sunnah akan melahirkan sebuah komunitas Muslim yang kokoh, saling mencintai, dan siap bergotong royong dalam menyebarkan kebaikan syari’at.

6.2 Memilah Maslahat dan Mudhorot dalam Berda’wah

Di dalam medan da’wah yang dinamis, seorang aktifis tidak jarang dihadapkan pada situasi pelik yang menuntut pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Fiqih da’wah mengajarkan bahwa setiap tindakan amar ma’ruf dan nahi munkar wajib mempertimbangkan perbandingan antara maslahat (kebaikan yang diraih) dan mudhorot (dampak buruk yang ditimbulkan). Jika hilangnya sebuah kemungkaran justru melahirkan kemungkaran lain yang jauh lebih besar dan fatal, maka menahan diri untuk sementara waktu adalah sebuah kewajiban syar’i.

Alloh memberikan panduan kaidah yang sangat agung ini melalui larangan mencaci maki berhala-berhala kaum musyrikin, apabila tindakan tersebut memicu mereka untuk membalas dengan mencaci maki Alloh tanpa dasar ilmu:

﴿وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجَعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Alloh, karena mereka nanti akan memaki Alloh dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Robb merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)

Ayat ini adalah dalil paling utama dalam fiqih da’wah tentang kewajiban menutup celah kerusakan. Melarang kemungkaran adalah perkara yang ma’ruf, namun jika berakibat pada timbulnya pelecehan terhadap syari’at atau pertumpahan darah di tengah kaum Muslimin, maka tindakan tersebut harus ditunda sampai kondisinya memungkinkan. Aktifis da’wah membutuhkan keluasan wawasan fiqih, bukan sekadar modal nekat dan emosi yang meluap-luap.

Rosululloh mempraktikkan penimbangan maslahat dan mudhorot ini ketika beliau mengurungkan niatnya untuk merenovasi Ka’bah agar kembali sesuai dengan pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrohim alaihissalam. Beliau bersabda kepada Aisyah rodhiyallahu ‘anha:

«يَا عَائِشَةُ، لَوْلاَ أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْتِ، فَهُدِمَ، فَأَدْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ، وَأَلْزَقْتُهُ بِالأَرْضِ»

“Wahai Aisyah, sekiranya kaummu bukan karena baru saja meninggalkan masa Jahiliyyah (baru masuk Islam), niscaya aku telah memerintahkan agar Ka’bah itu dibongkar, lalu aku masukkan kembali bagian yang dikeluarkan darinya, dan aku sejajarkan pintunya dengan tanah.” (HR. Al-Bukhori no. 1586 dan Muslim no. 1333)

Nabi memilih untuk membiarkan bangunan Ka’bah tetap pada kondisi saat itu demi menjaga kemaslahatan yang lebih besar, yaitu memantapkan Aqidah penduduk Makkah yang baru saja memeluk Islam, agar mereka tidak syok atau murtad kembali karena menyangka Muhammad merusak kesucian Ka’bah.

Al-Imam Malik bin Anas (179 H) pernah ditanya oleh seorang penguasa tentang penegakan sebuah perkara hukum syar’i di tengah masyarakat yang berpotensi menimbulkan gejolak massal. Beliau rohimahulloh memberikan nasihat agar penguasa tersebut menahan diri seraya mengedepankan ketenangan ummat daripada memaksakan sebuah perkara yang mudhorotnya lebih nyata.

Jika upaya merubah kemungkaran tersebut justru mengantarkan kepada fitnah (kekacauan) yang lebih besar daripada kemungkaran yang ingin dirubah, maka tidak boleh baginya melakukan perubahan tersebut.

Oleh karena itu, setiap aktifis da’wah sebelum mengeksekusi sebuah program, baik itu pembubaran sebuah acara maksiat atau penyampaian materi yang sensitif di suatu daerah, wajib berdiskusi dengan para ulama setempat. Timbanglah dengan matang dampak jangka panjangnya bagi keberlangsungan da’wah Sunnah di tempat tersebut.

6.3 Mengajak Manusia Sesuai dengan Tingkat Kemampuan Akal Mereka

Salah satu seni paling tinggi dalam pengelolaan ummat adalah menempatkan mad’u sesuai dengan porsinya. Setiap manusia dilahirkan dengan latar belakang ekonomi, tingkat pendidikan, dan kapasitas intelektual yang berbeda-beda. Seorang aktifis da’wah yang bijak tidak akan menyamakan metode penyampaian antara seorang profesor di kampus dengan seorang petani di desa, atau antara seorang tokoh masyarakat dengan seorang pemuda yang baru berhijroh. Menyampaikan materi yang terlalu berat atau menggunakan istilah-istilah rumit di hadapan orang awam justru dapat memicu kesalahpahaman dan menjauhkan mereka dari hidayah.

Alloh memberikan instruksi yang sangat indah mengenai metode berinteraksi ini melalui firman-Nya:

﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Hikmah dalam ayat ini berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya yang pas. Di antara bentuk hikmah adalah berbicara menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh obyek da’wah. Menyampaikan masalah-masalah khilafiyyah yang rumit atau materi syubhat yang mendalam di hadapan jama’ah majelis taklim ibu-ibu kampung adalah tindakan yang menyelisihi hikmah da’wah.

Ali bin Abi Tholib (40 H) memberikan sebuah fatwa yang sangat masyhur dan wajib menjadi hiasan dinding di setiap ruang kerja aktifis da’wah:

«حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ! أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ»

“Berbicaralah kalian kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui (mampu dicerna oleh akal mereka). Apakah kalian ingin Alloh dan Rosul-Nya didustakan (oleh manusia karena salah paham)?” (HR. Al-Bukhori no. 127)

Sebagai contoh keteladanan dari kelapangan dada nubuwwah, Rosululloh selalu menjawab pertanyaan para Shohabat sesuai dengan kondisi kebutuhan individu penanya tersebut. Ketika ada seorang sahabat yang memiliki watak temperamental datang meminta nasihat, beliau bersabda: “Jangan marah.” Ketika sahabat lain yang berbakti kepada orang tua datang meminta amalan terbaik, beliau bersabda: “Berbaktilah kepada kedua orang tuamu.” Beliau tidak memberikan jawaban teoritis yang seragam, melainkan memberikan obat syar’i yang pas bagi penyakit jiwa masing-masing mad’u.

Ibnu Mas’ud (32 H) juga memberikan peringatan senada mengenai bahaya memaksakan materi keagamaan di luar batas kemampuan nalar audiens. Beliau rodhiyallahu ‘anhu berkata:

«مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً»

“Tidaklah engkau menyampaikan suatu pembicaraan kepada suatu kaum yang akal-akal mereka belum mampu mencapainya, melainkan hal itu pasti akan menjadi fitnah (kerancuan) bagi sebagian dari mereka.” (Muqoddimah Shohih Muslim, hal. 11)

Maka dari itu, aktifis da’wah wajib menyusun kurikulum da’wahnya secara bertahap. Mulailah dari materi yang paling mendasar seperti tata cara Sholat yang shohih, rukun Iman, dan akhlaq harian. Gunakan ilustrasi sederhana yang akrab dengan kehidupan mereka, hindari istilah asing yang sukar dipahami, serta sampaikan dengan penuh kasih sayang agar ummat merasa dibimbing menuju Jannah, bukan sedang dihakimi di ruang sidang.

 

Bab 7: Siap Memimpin atau Dipimpin

Bab ini lebih dikhususkan untuk panitia kajian dan penggerak da’wah.

7.1 Perintah Mengangkat Pemimpin Pada Komunitas

Keteraturan dan kedisiplinan adalah ciri utama dari ajaran Islam yang dibawa berdasarkan bimbingan nubuwwah. Islam tidak menyukai adanya kekacauan, ketidakteraturan, atau sikap berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang jelas dalam sebuah pergerakan da’wah. Oleh karena itu, ketika beberapa orang aktifis berkumpul dalam sebuah komunitas, organisasi, atau kepanitiaan da’wah, syari’at memerintahkan mereka untuk menunjuk salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin. Pemimpin inilah yang bertugas mengoordinasi barisan, mengambil keputusan, serta memilah pembagian tugas demi tercapainya maslahat da’wah.

Alloh memerintahkan kaum Mu’min untuk mentaati ulil amri (pemimpin) setelah perintah taat kepada Alloh dan Rosul-Nya:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Qur’an) dan Rosul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)

Perintah mengangkat pemimpin dalam skala komunitas kecil sekalipun ditunjukkan oleh Nabi untuk mencegah timbulnya perselisihan yang dapat merusak barisan. Bayangkan jika sebuah lembaga da’wah berjalan tanpa pemimpin, maka setiap anggota akan melangkah sesuai dengan seleranya masing-masing, sehingga program da’wah akan terbengkalai dan ummat akan menjadi bingung.

Rosululloh memberikan instruksi yang sangat tegas mengenai kewajiban menunjuk pemimpin ini, bahkan dalam kondisi bersafar yang jumlah anggotanya sangat sedikit:

«إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ»

“Jika ada 3 orang keluar dalam sebuah safar (perjalanan), maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.” (HSR. Abu Dawud no. 2608)

Hadits yang mulia ini menjadi dalil yang sangat kuat bagi para aktifis da’wah. Jika dalam urusan safar duniawi yang sifatnya sementara saja kita diwajibkan memiliki seorang pemimpin agar perjalanan teratur, aman, dan selamat sampai tujuan, maka dalam urusan safar da’wah yang bertujuan menyelamatkan ummat menuju Akhiroh, keberadaan seorang pemimpin tentu jauh lebih mutlak diperlukan.

Umar bin Al-Khotthob (23 H) memberikan sebuah rumusan yang sangat masyhur mengenai hubungan erat antara Islam, jama’ah (komunitas), kepemimpinan, dan ketaatan. Beliau rodhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ

“Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan adanya jama’ah (komunitas yang bersatu), dan tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya imaroh (kepemimpinan), dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan adanya ketaatan.” (Sunan Ad-Darimi no. 257)

Sebagai contoh praktis dalam kepanitiaan da’wah, ketika sebuah yayasan ingin mengadakan tabligh akbar, mereka wajib menunjuk seorang ketua panitia. Ketua inilah yang memegang kendali koordinasi. Anggota komunitas tidak boleh berjalan sendiri tanpa izin ketua, agar tidak terjadi tumpang tindih tugas atau pengeluaran dana da’wah yang sia-sia. Pengangkatan pemimpin ini dilakukan bukan untuk kesombongan, melainkan demi keteraturan amal jama’i di atas Sunnah.

7.2 Mentaati Pemimpin dan Musyawaroh

Setelah seorang pemimpin dipilih dan disepakati di dalam sebuah komunitas da’wah, maka kewajiban bagi seluruh anggota adalah mendengar dan mentaati arahan pemimpin tersebut selama perkara yang diperintahkan bukan merupakan maksiat kepada Alloh. Ketaatan ini wajib dijaga demi keutuhan barisan. Namun di sisi lain, seorang pemimpin da’wah juga tidak boleh bersikap diktator yang memaksakan kehendak pribadinya tanpa mendengar masukan. Dia wajib menghidupkan sunnah musyawaroh (berdiskusi) dengan para anggotanya sebelum mengetok sebuah keputusan besar.

Alloh memuji karakter para pejuang iman yang selalu mengedepankan musyawaroh dalam memutuskan segala urusan bersama mereka:

﴿وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Robb mereka dan mendirikan Sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawaroh antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizqi yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syuro: 38)

Mendengar dan taat kepada pemimpin dalam komunitas da’wah adalah pilar tegaknya sebuah program. Jika setiap anggota menolak diatur atau selalu membantah keputusan yang telah disepakati bersama dalam musyawaroh, maka organisasi da’wah tersebut akan rapuh dan mudah dihancurkan oleh makar syaithon. Ketaatan ini memiliki batasan yang sangat jelas, yaitu hanya dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan yang tidak melanggar syari’at).

Rosululloh memberikan batasan mengenai koridor ketaatan ini di dalam sabda beliau:

«السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ»

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam perkara yang dia sukai maupun yang dia benci, kecuali jika dia diperintahkan untuk berbuat maksiat. Jika dia diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak pula ketaatan.” (HR. Al-Bukhori no. 7144 dan Muslim no. 1839)

Mari kita ambil keteladanan yang sangat indah dari Rosululloh dalam mempraktikkan sunnah musyawaroh ini. Jelang terjadinya perang Badar, Nabi menghentikan pasukan Muslim di sebuah tempat yang dekat dengan sumur Badar. Melihat posisi tersebut, seorang sahabat bernama Al-Hubab bin Mundzir rodhiyallahu ‘anhu datang mendekat dan bertanya dengan sopan apakah posisi itu ditentukan berdasarkan wahyu ataukah strategi perang semata. Ketika Nabi menjawab bahwa itu adalah strategi perang, Al-Hubab memberikan masukan agar pasukan pindah ke sumur yang paling dekat dengan musuh lalu menguasai sumber air tersebut. Rosululloh tanpa ragu menerima masukan berharga dari anggotanya dan langsung memindahkan pasukan.

Oleh karena itu, aktifis da’wah yang dipimpin harus berlapang dada menerima keputusan pemimpin meskipun opininya pribadi tidak terpilih dalam musyawaroh. Sebaliknya, aktifis da’wah yang diberi amanah memimpin harus menjadi sosok yang tawadhu, gemar mendengar masukan, serta tidak egois dalam mengelola potensi para anggotanya.

7.3 Anggota Saling Membantu Bukan Menjatuhkan

Pilar penopang terakhir yang menjaga kelangsungan sebuah komunitas da’wah di atas cahaya nubuwwah adalah terciptanya iklim ukhuwwah (persaudaraan) yang bersih di antara sesama anggota. Para aktifis da’wah wajib memandang rekan seperjuangannya sebagai saudara seiman yang saling menguatkan, laksana sebuah bangunan yang kokoh. Mereka harus saling tolong-menolong dalam memikul beban da’wah, menutupi aib saudaranya, serta menjauhi segala bentuk penyakit hati seperti hasad (iri dengki), saling merendahkan, atau usaha tersembunyi untuk menjatuhkan reputasi sesama anggota demi ambisi pribadi.

Alloh memerintahkan kaum Mu’min untuk saling bekerja sama dalam menegakkan kebaikan dan melarang kerja sama dalam dosa:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Perjalanan da’wah yang berat tidak akan bisa dipikul oleh satu orang saja. Saling membantu di antara sesama anggota panitia atau yayasan da’wah adalah kunci ringannya sebuah urusan. Syaithon sangat lihai dalam merusak hubungan antar aktifis. Ketika sebuah komunitas da’wah mulai membesar, syaithon akan meniupkan rasa persaingan yang tidak sehat, sehingga sesama anggota saling menggunjing, mencari-cari kesalahan, dan berusaha menjatuhkan posisi saudaranya sendiri di hadapan pemimpin atau di hadapan ummat.

Rosululloh memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai bagaimana seharusnya hubungan antar sesama Muslim terjalin di dalam sebuah barisan:

«إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Seorang Mu’min dengan Mu’min yang lainnya adalah laksana sebuah bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain, kemudian beliau menyilangkan jari-jemarinya.” (HR. Al-Bukhori no. 481 dan Muslim no. 2585)

Dalam kesempatan lain, Nabi melarang dengan sangat keras segala bentuk perilaku yang dapat meretakkan persaudaraan batin di antara kaum Mu’min:

«لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ»

“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling melakukan najasy (menipu dalam penawaran), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi (memutus hubungan), dan jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh dia menzholiminya, tidak boleh membiarkannya teraniaya, dan tidak boleh merendahkannya.” (HR. Muslim no. 2564)

Mari kita ambil pelajaran dari generasi Salafush Sholih. Abu Abdillah bin Al-Mubarok (181 H) adalah sosok yang sangat dermawan dan selalu membantu memenuhi kebutuhan hidup rekan-rekan penuntut ilmu dan aktifis da’wah di zamannya agar mereka bisa fokus menyebarkan Sunnah tanpa terbebani masalah ekonomi. Beliau tidak pernah merasa tersaingi oleh keilmuan atau ketenaran rekan-rekannya, justru beliau menjadi pelindung dan penopang utama bagi perjuangan mereka.

Setiap aktifis da’wah harus membersihkan hatinya dari ego sektoral atau penyakit hasad. Jika melihat saudaranya memiliki kelebihan dalam kedekatan ustadz dan kehebatan membuat event besar, hendaklah dia bersyukur dan membantunya, bukan malah mencari-cari kesalahannya untuk menjatuhkannya. Kekuatan da’wah Sunnah ini terletak pada solidnya barisan dalam saling menutupi kekurangan, saling menasihati dalam kebenaran secara rahasia, serta bahu-bahu yang saling merapat demi meninggikan kalimatulloh di muka bumi.

 

Penutup

Meniti jalan da’wah di atas cahaya nubuwwah adalah sebuah perjalanan panjang yang ujungnya tidak diukur dari seberapa banyak pengikut yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari seberapa istiqomah seorang aktifis bertahan di atas Sunnah hingga Malaikat maut datang menjemput. Buku ini telah memaparkan lembaran demi lembaran mengenai hakikat perjuangan para utusan Alloh, pilar batin yang wajib dibenahi, manhaj yang lurus dalam menyebarkan Tauhid, hingga fiqih pengelolaan ummat serta pentingnya keteraturan dalam sebuah komunitas da’wah. Semua ini adalah warisan murni yang tidak boleh diubah atau digantikan dengan metode buatan manusia yang bersumber dari hawa nafsu.

Alloh memberikan janji yang pasti mengenai kebahagiaan dan kemenangan bagi orang-orang yang tetap teguh memegang prinsip iman di tengah gempuran fitnah zaman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)

Menjadi aktifis da’wah berarti siap mengorbankan sebagian waktu, harta, dan kesenangan duniawi yang fana demi meraih keuntungan yang abadi di Akhiroh. Tantangan yang dihadapi, baik berupa penolakan masyarakat, makar syaithon, ujian kesempitan, maupun jebakan istidroj berupa kemewahan, semuanya adalah bumbu-bumbu perjuangan yang telah dirasakan oleh para Nabi terdahulu. Seorang penyeru kebaikan tidak boleh cengeng atau mudah berputus asa, karena dia tahu bahwa Alloh Maha Melihat setiap tetesan keringat dan helaan napasnya di medan da’wah.

Rosululloh memberikan kabar gembira sekaligus garansi keselamatan bagi siapa saja yang memegang erat dua warisan agung yang beliau tinggalkan di tengah-tengah ummat:

«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»

“Aku telah tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabulloh (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.” (HSR. Malik dan Shohihul Targhib no. 40)

Keberhasilan sejati seorang aktifis adalah ketika dia mampu menjaga keikhlasan niatnya dari penyakit riya, ujub, dan cinta jabatan, serta mampu bersinergi dengan sesama saudaranya dalam sebuah barisan yang rapat dan teratur. Kita tidak dibebani untuk merubah dunia ini dalam semalam, tugas kita hanyalah memastikan bahwa ketika maut datang memisahkan jiwa dari raga, kita sedang berada di dalam barisan para pembela Sunnah.

Dunia ini seluruhnya adalah kebodohan kecuali apa yang ada di dalamnya dari ilmu, dan ilmu itu seluruhnya akan menjadi bumerang yang menuntut kecuali apa yang diamalkan darinya, dan amal itu seluruhnya akan menjadi debu yang beterbangan yang sia-sia kecuali apa yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan, dan keikhlasan itu tetap berada di atas kekhawatiran yang besar sampai amalan tersebut ditutup dengan khusnul khotimah.

Semoga catatan-catatan ilmiah yang tertuang di dalam buku ini dapat menjadi lentera penerang bagi para pejuang Tauhid yang sedang melangkah di tengah kegelapan syubhat. Semoga Alloh mengampuni segala kekhilafan kita, meluruskan langkah kaki kita, mengikat hati-hati kita di atas ukhuwwah yang sholih, serta mengumpulkan kita semua kelak di dalam Jannah yang tertinggi bersama Rosululloh , para Shohabat, dan orang-orang sholih.

Segala puji bagi Alloh yang dengan niat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini