[PDF] Biografi Ibnu Abbas Sang Lautan Ilmu - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم
الله الرحمن الرحيم
Abdulloh bin Abbas rodhiyallahu
‘anhuma adalah salah seorang Shohabat yang mulia dan termasuk di antara
para ahli fikih Islam yang sangat masyhur, yang telah mencurahkan seluruh
kehidupannya demi menyebarkan ilmu yang bermanfaat serta membantah para pelaku
bid’ah. Inilah secercah kisah perjalanan hidupnya yang harum serta sejarahnya
yang gemilang dan mulia, dengan harapan agar kita semua dapat meniti jalan di
atas cahayanya sehingga kita meraih kebahagiaan di dunia maupun di Akhiroh.
Abdulloh bin Abbas bin
Abdul Mutholib bin Hasyim, Abu Al-Abbas, adalah anak paman Rosululloh ﷺ. Ibunya bernama Lubabah binti Al-Harits
bin Huzn bin Bajiyyah bin Al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdulloh bin Hilal bin Amir
bin Sho’sho’ah Al-Hilaliyyah. Beliau sering dijuluki Al-Habr (ulama) dan
Al-Bahr (samudra) karena keluasan ilmu serta ketajaman pemahamannya. Beliau
adalah ulamanya umat ini, orang yang paling paham urusan agama, lisan kaumnya
yang paling fasih berbicara, dididik langsung dengan ludah kenabian, didoakan
oleh lisan Rosul, dikaruniai pemahaman agama yang mendalam, diajarkan ilmu
tafsir, serta menjadi penerjemah Al-Qur’an. Beliau dilahirkan ketika Bani
Hasyim berada di syi’ib (lembah tempat boikot) 3 tahun sebelum Hijroh,
namun ada yang berpendapat 5 tahun sebelum Hijroh, akan tetapi pendapat pertama
lebih kuat. Usia ini mendekati apa yang diriwayatkan dalam kitab Ash-Shohihain
dari beliau:
«أَقْبَلْتُ
رَاكِبًا عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلاَمَ،
وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ، فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ
بَعْضِ الصَّفِّ، وَأَرْسَلْتُ الأَتَانَ تَرْتَعُ، فَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ، فَلَمْ
يُنْكَرْ ذَلِكَ عَلَيَّ»
“Aku datang dengan
menunggangi keledai betina, dan pada hari itu aku hampir memasuki usia baligh.
Rosululloh ﷺ sedang
sholat di Mina tanpa menghadap ke dinding. Lalu aku lewat di depan sebagian
shof, kemudian aku melepas keledai betina itu agar mencari makan bebas, lalu
aku masuk ke dalam shof, dan tidak ada seorang pun yang mengingkari perbuatanku
tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 76 dan Muslim no. 504)
Dari Said bin Jubair (95
H), dia berkata: Ibnu Abbas ditanya: “Seukuran siapakah engkau ketika Nabi ﷺ wafat?”
Beliau menjawab:
«أَنَا
يَوْمَئِذٍ مَخْتُونٌ»
“Aku pada hari itu sudah
dikhitan.” Said bin Jubair berkata: “Dan mereka dahulu tidak mengkhitan seorang
lelaki hingga ia baligh.” (HR. Al-Bukhori no. 6299)
Dari Said bin Jubair,
dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
«جَمَعْتُ
المُحْكَمْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَقُبِضَ النَّبِيُّ ﷺ وَأَنَا ابْنُ عِشْرِ
حُجَجٍ»
“Aku telah menghafal
al-muhkam pada zaman Rosululloh ﷺ, dan
Nabi ﷺ wafat
ketika aku berumur 10 tahun.” Said bin Jubair berkata: Aku bertanya kepadanya: “Apa
yang dimaksud al-muhkam?” Beliau
menjawab:
«المُفَصَّلُ»
“Bagian al-mufashshol
(surat-surat pendek).” (HSR. Ahmad no. 3125)
Nabi ﷺ mendoakan beliau agar diberikan kepahaman
yang mendalam oleh Alloh dalam urusan agama dan diajarkan ilmu tafsir, beliau
bersabda:
«اللهُمَّ
فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ»
“Ya Alloh, pahamkanlah
dia dalam urusan agama, dan ajarkanlah kepadanya ilmu tafsir.” (HR.
Al-Bukhori no. 143, Muslim no. 2477, dan Ahmad no. 2397 dengan lafazh miliknya)
Beliau juga memohon
kepada Alloh agar mengajarinya hikmah. Diriwayatkan dari Ikrimah (105 H), dari
Ibnu Abbas, beliau berkata: “Nabi ﷺ
mendekapku ke dadanya dan bersabda:
«اللَّهُمَّ
عَلِّمْهُ الحِكْمَةَ»
“Ya Alloh, ajarkanlah
kepadanya hikmah.” (HR. Al-Bukhori no. 3756)
Dan hikmah adalah
ketepatan dalam berbuat yang bukan berupa kenabian.
Buku ini kami tarjamahkan
dari 2 makalah utama yang ditulis oleh Syaikh Sholah Najib Ad-Diq dan penulis Islamqo lalu kami menggabungnya dan menatanya. Semoga
Alloh membalas keduanya.
[1] Nama dan Nasabnya
Beliau adalah Abdulloh
bin Abbas bin Abdul Muttholib bin Hasyim bin Abdu Manaf, sepupu Rosululloh ﷺ.
[2] Kunyahnya
Kunyah beliau adalah Abu
Al-Abbas, yang diambil dari nama anak laki-laki tertuanya.
[3] Ibunya
Ibu beliau adalah Ummul
Fadhl Lubabah Al-Kubro binti Al-Harits Al-Hilaliyyah. Beliau merupakan saudariku
kandung dari Maimunah binti Al-Harits, yang tidak lain adalah istri Nabi ﷺ. (Asadul Ghoobah, Ibnul Atsir (630 H),
3/185)
[4] Kelahirannya
Ibnu Abbas dilahirkan 3
tahun sebelum peristiwa hijroh, yang berarti bertepatan dengan tahun ke-10 dari
diutusnya Nabi kita ﷺ. (Siyar
A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/332)
[5] Sifat Fisiknya
Abdulloh bin Abbas adalah
seorang pria berkulit putih, bertubuh tinggi, rona kulitnya bercampur
kekuningan, berbadan besar, berwajah tampan menawan, memiliki rambut yang
lebat, serta gemar mewarnai rambut atau jenggotnya dengan pacar kuku (hinna).
Ibnu Juroij (150 H)
menuturkan: Kami pernah duduk-duduk bersama ‘Atho bin Abi Robah (114 H) di
Masjidil Harom, lalu kami saling memperbincangkan perihal Ibnu Abbas. Maka ‘Atho
berkata: “Tidaklah aku memandang rembulan pada malam ke-14 (purnama) melainkan
aku pasti teringat pada ketampanan wajah Ibnu Abbas.” (Siyar A’lamin Nubala,
Adz-Dzahabi (748 H), 3/336)
Ikrimah (105 H)
mengisahkan: “Dahulu, apabila Ibnu Abbas sedang berjalan melewati suatu jalan,
maka para wanita yang berada di dalam rumah-rumah mereka akan saling berseru: ‘Apakah
penjual minyak kasturi baru saja lewat, ataukah yang lewat itu Ibnu Abbas?’” (Siyar
A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/337)
[6] Keislamannya
Abdulloh bin Abbas
memeluk agama Islam mendahului ayahnya, dan beliau melakukan hijroh bersama
kedua orang tuanya menuju Madinah pada tahun terjadinya Fathu Makkah
(pembebasan kota Makkah), yaitu pada tahun ke-8 Hijriyyah. (Siyar A’lamin
Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/333)
Al-Bukhori (256 H)
meriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, beliau menuturkan: “Aku
dan ibuku termasuk orang-orang yang tertindas (di Makkah), aku termasuk di
antara anak-anak kecil dan ibuku termasuk di antara kaum wanita.” (HR.
Al-Bukhori no. 1357)
[7] Anak-Anaknya
Alloh Ta’ala
mengaruniakan 7 orang anak kepada Ibnu Abbas, yang terdiri atas 5 anak
laki-laki yaitu: Al-Abbas (anak tertua), ‘Ali (kakek dari para Kholifah Bani
Abbas), Al-Fadhl, Muhammad, dan Ubaidulloh. Sedangkan anak perempuan beliau ada
2 orang, yaitu: Lubabah dan Asma. (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748
H), 3/333)
[8] Doa Nabi ﷺ
untuknya
1. Al-Bukhori (256 H)
meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi ﷺ pernah
mendekapku ke dada beliau, lalu beliau berdoa:
«اللَّهُمَّ
عَلِّمْهُ الحِكْمَةَ»
“Ya Alloh, ajarkanlah
hikmah (pemahaman yang mendalam tentang agama) kepadanya.” (HR. Al-Bukhori
no. 3756)
2. Al-Bukhori (256 H)
meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi ﷺ pernah
memasuki tempat buang hajat, lalu aku menyiapkan air wudhu untuk beliau. Beliau
bertanya: “Siapa yang meletakkan air ini?” Maka diceritakanlah kepada beliau.
Lalu beliau berdoa:
«اللَّهُمَّ
فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Ya Alloh, pahamkanlah
dia dalam urusan agama.” (HR. Al-Bukhori no. 143)
3. Ahmad (241 H)
meriwayatkan dari Abdulloh bin Abbas, ia berkata: Aku mendatangi Rosululloh ﷺ di akhir malam, lalu aku mendirikan sholat
di belakang beliau. Beliau lalu memegang tanganku dan menarikku hingga
memosisikan diriku sejajar di samping beliau. Namun ketika Rosululloh ﷺ mulai fokus menghadapkan diri pada
sholatnya, aku pun mundur sedikit ke belakang. Setelah Rosululloh ﷺ selesai menunaikan sholatnya, beliau
menoleh kepadaku dan bertanya: “Ada apa denganku, aku telah menempatkanmu
sejajar di sampingku namun engkau justru mundur ke belakang?” Maka aku
menjawab: “Wahai Rosululloh, apakah pantas bagi seseorang untuk sholat sejajar
di sampingmu, sedangkan engkau adalah utusan Alloh yang telah dianugerahi
keutamaan besar oleh Alloh?” Jawaban itu membuat beliau kagum, sehingga beliau
mendoakan diriku kepada Alloh agar Alloh menambahkan ilmu dan pemahaman
kepadaku. (HSR. Ahmad, no. 3060)
[9] Menuntut Ilmu Langsung dari Nabi ﷺ
Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan
dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: Aku pernah
menginap di rumah bibiku, Maimunah, pada suatu malam. Ketika malam telah
berlalu sebagian, Rosululloh ﷺ bangun
lalu berwudhu dari wadah air kulit yang tergantung dengan wudhu yang ringan
(ringkas), kemudian beliau berdiri melaksanakan sholat. Aku pun bangun lalu
berwudhu dengan cara yang serupa seperti wudhunya beliau, kemudian aku datang
dan berdiri di sebelah kiri beliau. Namun beliau memutar posisiku dan
menjadikanku berada di sebelah kanan beliau. Beliau lalu sholat sekuasa yang
Alloh kehendaki, kemudian beliau berbaring tidur hingga terdengar suara embusan
napasnya. Setelah itu, datanglah muadzin mengabarkan kepada beliau bahwa waktu
sholat telah tiba, maka beliau pun berangkat bersamanya menuju sholat. Beliau
langsung melaksanakan sholat tanpa berwudhu lagi. (HR. Al-Bukhori no. 859)
At-Tirmidzi (279 H)
meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menuturkan: Pada suatu hari, aku berada di
belakang Rosululloh ﷺ, lalu
beliau bersabda:
«يَا
غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ
تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ
بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ
لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا
عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ
عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ»
“Wahai anak muda,
sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Alloh
(aturannya), niscaya Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh, niscaya engkau akan
mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, maka mintalah
kepada Alloh, dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan
kepada Alloh. Ketahuilah, ketahuilah sekiranya seluruh umat manusia bersatu
padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu
memberikan manfaat itu kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan
untukmu. Dan sekiranya mereka bersatu padu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu,
mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh
tetapkan atasmu. Pena-pena takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan
telah mengering.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2043)
[10] Semangat dan Kesungguhannya dalam Menuntut Ilmu
1. Al-Hakim (405 H)
meriwayatkan dari Abdulloh bin Abbas, ia menceritakan: Tatkala Rosululloh ﷺ wafat, aku berkata kepada seorang pemuda
dari kaum Anshor: “Mari kita pergi bertanya kepada para Shohabat Rosululloh ﷺ, karena jumlah mereka pada hari ini masih
sangat banyak.” Namun pemuda itu menjawab: “Sungguh mengherankan dirimu ini,
wahai Ibnu Abbas! Apakah engkau mengira manusia akan butuh kepadamu, padahal di
tengah-tengah manusia saat ini masih banyak para Shohabat Rosululloh ﷺ yang memiliki kedudukan tinggi?” Ibnu
Abbas melanjutkan: “Maka aku pun meninggalkan pemuda itu, dan aku melangkah
sendiri dengan penuh semangat untuk bertanya kepada para Shohabat Rosululloh ﷺ. Sungguh, apabila sampai kepadaku kabar
tentang suatu Hadits yang ada pada seseorang, aku sengaja mendatangi rumahnya
di saat ia sedang tidur siang. Aku berbantalkan selendangku di depan pintu
rumahnya, sementara tiupan angin menerbangkan debu-debu ke wajahku, hingga
akhirnya ia keluar rumah dan melihatku.” Maka ia pun terkejut dan menyapa: “Wahai
sepupu Rosululloh ﷺ, apa
yang membuatmu datang ke sini? Mengapa engkau tidak mengutus seseorang saja
kepadaku, niscaya akulah yang akan datang menemuimu?” Maka aku menjawab: “Tidak,
akulah yang lebih berhak untuk datang menemuimu.” Lalu aku pun menanyakan Hadits
itu kepadanya. Pemuda Anshor tersebut ternyata berumur panjang hingga ia
menyaksikanku di kemudian hari ketika manusia telah berkumpul mengerumuni
diriku untuk bertanya kepadaku. Maka pemuda itu berkata: “Pemuda ini dahulu
ternyata jauh lebih cerdas dan berakal daripada diriku.” (HSR. Al-Hakim,
1/188)
2. Abdulloh bin Abbas
menuturkan: Pernah suatu ketika aku menanyakan satu urusan saja kepada 30 orang
dari kalangan Shohabat Nabi ﷺ. (Siyar
A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/344)
3. Ibnu Sa’d (230 H)
meriwayatkan dari Abu Salamah Al-Hadhromi, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas
berkata: Dahulu aku selalu mendampingi para pembesar dari kalangan Shohabat
Rosululloh ﷺ, baik
dari kaum Muhajirin maupun kaum Anshor. Aku bertanya kepada mereka mengenai
sejarah peperangan Rosululloh ﷺ serta
ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut.
Tidaklah aku mendatangi salah seorang pun dari mereka melainkan ia pasti merasa
gembira dengan kedatanganku karena kedekatan kekerabatanku dengan Rosululloh ﷺ. Hingga pada suatu hari, aku bertanya kepada
Ubay bin Ka’b (30 H)—dan ia termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya—mengenai
ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Madinah. Maka ia menjawab: “Di Madinah
diturunkan 27 surat, sedangkan sisanya diturunkan di Makkah.” (At-Thobaqotul
Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/283-284)
[11] Ibadahnya
Ibnu Abi Mulaikah (117 H)
menuturkan: Aku pernah menyertai perjalanan Ibnu Abbas dari Makkah menuju
Madinah. Beliau sholat (musafir) 2 rokaat, dan apabila telah singgah di suatu
tempat, beliau mendirikan sholat di sebagian malam. Beliau membaca Al-Qur’an
dengan tartil huruf demi huruf, serta memperbanyak isak tangis dan ratapan
karena takut kepada Alloh dalam sholatnya tersebut. (Siyar A’lamin Nubala,
Adz-Dzahabi (748 H), 3/352)
Abu Roja (105 H)
menceritakan: Aku melihat Ibnu Abbas, dan di bagian bawah kedua matanya
terdapat guratan hitam seperti bekas tali sandal yang telah usang akibat
teramat sering menangis. (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/352)
[12] Wasiat Sang Ayah, Al-Abbas
Abu Nu’aim (430 H)
meriwayatkan dari ‘Amir Asy-Sya’bi (103 H), dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ayahku
pernah berpesan kepadaku: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat Amirul Mu’minin
Umar bin Al-Khotthob (23 H) sering memanggilmu, mendekatkan posisimu, serta
mengajakmu bermusyawarah bersama para Shohabat Rosululloh ﷺ. Maka jagalah dengan baik 3 perkara dariku
ini: Bertaqwalah kepada Alloh, jangan sampai ia mendapati dirimu berdusta
sekali pun, jangan pernah engkau membocorkan rahasianya kepada siapa pun, dan
jangan sekali-kali engkau menggunjing (ghibah) seseorang di hadapannya.” ‘Amir
Asy-Sya’bi berkata: Maka aku katakan kepada Ibnu Abbas: Setiap satu perkara
dari wasiat itu nilainya lebih berharga daripada 1000 dirham. Ibnu Abbas
menyahut: Bahkan setiap satu perkara darinya lebih berharga daripada 10.000
dirham. (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim Al-Asfohani (430 H), 1/318)
[13] Kesungguhannya dalam Menyebarkan Ilmu
Abdulloh bin Abbas
meriwayatkan 1660 Hadits. Dari jumlah tersebut, terdapat 75 Hadits yang
disepakati bersama oleh Al-Bukhori dan Muslim dalam kitab mereka.
Al-Bukhori meriwayatkan
secara bersendiri sebanyak 120 Hadits, sedangkan Muslim meriwayatkan secara
bersendiri sebanyak 9 Hadits. (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H),
3/359)
1. Al-Bukhori (256 H)
meriwayatkan dari Ikrimah (105 H), ia berkata: Pernah dihadapkan kepada ‘Ali rodhiyallahu
‘anhu beberapa orang zindiq (kaum murtad yang menyembunyikan kekafirannya),
lalu ia membakar mereka. Ketika kabar tersebut sampai kepada Ibnu Abbas, ia
berkata: Sekiranya aku yang bertindak, niscaya aku tidak akan membakar mereka
karena adanya larangan dari Rosululloh ﷺ: “Janganlah
kalian menyiksa dengan siksaan Alloh (api)”. Namun aku pasti akan menghukum
mati mereka karena sabda Rosululloh ﷺ:
«مَنْ
بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ»
“Barangsiapa yang
mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.” (HR. Al-Bukhori no. 6922)
2. Al-Bukhori (256 H)
meriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, ia menceritakan:
Dahulu Umar bin Al-Khotthob (23 H) sering mengajakku masuk ke dalam majelis
bersama para sesepuh ahli Badar. Maka sebagian dari mereka merasa kurang nyaman
lalu berkata: “Mengapa engkau memasukkan pemuda ini bersama kami, padahal kami
juga memiliki anak-anak yang sebaya dengannya?!” Maka Umar menjawab: “Sesungguhnya
dia termasuk orang yang telah kalian ketahui sendiri kualitas keilmuannya.”
Ibnu Abbas melanjutkan: Pada suatu hari, Umar memanggil mereka dan mengajakku
hadir bersama mereka. Aku menyadari tidaklah Umar memanggilku pada hari itu
melainkan demi memperlihatkan kapasitas diriku kepada mereka. Umar lalu
bertanya kepada mereka: Bagaimana pendapat kalian mengenai firman Alloh:
﴿إِذَا
جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ
النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا﴾
“Apabila telah datang
pertolongan Alloh dan kemenangan (pembebasan kota Makkah). Dan engkau melihat
manusia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Alloh.” hingga beliau
merampungkan seluruh surat tersebut. Maka sebagian dari mereka menjawab: “Kita diperintahkan untuk memuji Alloh dan memohon
ampunan kepada-Nya apabila kita telah ditolong dan diberi kemenangan.”
Sementara sebagian yang
lain berkata: “Kami tidak tahu,” atau sebagian mereka memilih diam tidak berkomentar
apa pun. Lalu Umar menoleh kepadaku dan bertanya: “Wahai Ibnu Abbas, apakah
demikian pula pendapatmu?” Aku menjawab: “Tidak.” Umar bertanya lagi: “Lalu apa
pendapatmu?” Aku menjawab: “Itu adalah isyarat tentang ajal Rosululloh ﷺ yang Alloh beritahukan kepada beliau.”
Firman-Nya “Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan” yaitu
kemenangan dalam membebaskan kota Makkah, maka itulah tanda dekatnya ajalmu.
Oleh karena itu, “Maka bertasbihlah dengan memuji Robb-mu dan mohonlah ampunan
kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.” Umar pun berkata: “Tidaklah
aku mengetahui makna dari surat ini melainkan persis seperti apa yang engkau
ketahui.” (HR. Al-Bukhori no. 4294)
3. Abu Sholih menuturkan:
Sungguh aku telah menyaksikan sendiri sebuah majelis yang diselenggarakan oleh
Ibnu Abbas, yang sekiranya seluruh kaum Quroisy menjadikannya sebagai
kebanggaan, niscaya majelis itu benar-benar menjadi kebanggaan yang luar biasa
bagi mereka. Aku melihat manusia berkumpul sangat banyak hingga jalanan menjadi
sempit lantaran penuh sesak oleh mereka, sampai-sampai tidak ada seorang pun
yang bisa berjalan lewat maupun pergi dari tempat itu. Abu Sholih melanjutkan:
Maka aku masuk menemui Ibnu Abbas dan mengabarkan kepadanya perihal keberadaan
orang-orang yang telah memadati pintu rumahnya. Beliau lalu berkata kepadaku:
Siapkan air wudhu untukku. Beliau pun berwudhu lalu duduk, kemudian berkata: “Keluarlah
dan katakan kepada mereka, barangsiapa yang ingin bertanya tentang Al-Qur’an,
qiroatnya, serta makna yang terkandung di dalamnya, maka silakan masuk.” Aku
pun keluar dan mempersilakan mereka. Mereka masuk memenuhi rumah hingga ke
ruangan tengah, dan tidaklah mereka menanyakan sesuatu pun melainkan beliau
pasti menerangkannya kepada mereka, bahkan beliau menambahkan penjelasan yang
serupa atau lebih banyak dari apa yang ditanyakan.
Kemudian beliau berkata: “Berikan
kesempatan kepada saudara-saudara kalian yang lain.” Maka mereka pun keluar.
Lalu beliau berkata lagi: “Keluarlah dan katakan, barangsiapa yang ingin
bertanya tentang tafsir Al-Qur’an dan ta’wilnya, maka silakan masuk.” Aku pun
keluar dan mempersilakan mereka. Mereka masuk memenuhi rumah hingga ke ruangan
tengah, dan tidaklah mereka menanyakan sesuatu pun melainkan beliau menerangkannya,
bahkan menambahkan penjelasan yang serupa atau lebih banyak. Kemudian beliau
berkata: “Berikan kesempatan kepada saudara-saudara kalian yang lain,” maka
mereka pun keluar. Lalu beliau berkata lagi: Keluarlah dan katakan, “Barangsiapa
yang ingin bertanya tentang perkara halal dan harom serta ilmu fikih, maka
silakan masuk.” Aku pun keluar dan mengatakannya kepada mereka. Mereka masuk
memenuhi rumah hingga ke ruangan tengah, dan tidaklah mereka menanyakan sesuatu
pun melainkan beliau menerangkannya serta menambahkan penjelasan yang serupa.
Kemudian beliau berkata: “Berikan kesempatan kepada saudara-saudara kalian yang
lain, maka mereka pun keluar.” Lalu beliau berkata lagi: “Keluarlah dan
katakan, barangsiapa yang ingin bertanya tentang ilmu waris (faroidh) dan
perkara yang sejenisnya, maka silakan masuk.” Aku pun keluar dan mempersilakan
mereka, lalu mereka masuk memenuhi rumah hingga ke ruangan tengah. Tidaklah
mereka menanyakan sesuatu pun melainkan beliau menerangkannya serta menambahkan
penjelasan yang serupa. Kemudian beliau berkata: “Berikan kesempatan kepada
saudara-saudara kalian yang lain,” maka mereka pun keluar. Lalu beliau berkata
lagi: “Keluarlah dan katakan, barangsiapa yang ingin bertanya tentang sastra
bahasa Arob, syair, serta kosakata asing yang pelik, maka silakan masuk.”
Mereka pun masuk memenuhi rumah hingga ke ruangan tengah, dan tidaklah mereka
menanyakan sesuatu pun melainkan beliau menerangkannya serta menambahkan
penjelasan yang serupa. Abu Sholih berkata: Sekiranya seluruh kaum Quroisy
membanggakan hal itu, niscaya itu adalah kebanggaan yang nyata. Aku belum
pernah melihat kehebatan majelis seperti ini dimiliki oleh seorang manusia pun.
(Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim Al-Asfohani (430 H), 1/320-321)
Abdurrohman bin Hammam
meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengisahkan: Pernah ada seorang lelaki datang
menemui Umar bin Al-Khotthob (23 H), lalu Umar mulai menanyakan kepadanya
perihal keadaan masyarakat. Lelaki itu menjawab: “Wahai Amirul Mu’minin,
sungguh telah banyak di antara mereka yang mempelajari Al-Qur’an dengan sangat
cepat hingga mencapai jumlah sekian dan sekian.” Mendengar hal itu, Ibnu Abbas
berkata: “Demi Alloh, aku tidak suka jika mereka mempelajari Al-Qur’an dengan
tergesa-gesa pada masa-masa sekarang ini.” Ibnu Abbas melanjutkan: “Maka Umar
menghardikku dengan keras seraya berkata: ‘Diamlah!’ Aku pun pulang ke rumahku
dalam keadaan duka dan bersedih hati. Aku bergumam dalam hati: ‘Dahulu aku
menempatkan Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khotthob pada kedudukan yang tinggi, namun
sekarang aku merasa kedudukkanku telah jatuh di matanya. Aku kembali ke rumahku
lalu berbaring di atas tempat tidurku sampai-sampai para wanita di rumahku
menjengukku, padahal aku sama sekali tidak sedang menderita sakit apa pun,
melainkan ini semua semata-mata karena bentakan keras yang kudapatkan dari
Umar. Ketika aku sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba datanglah seorang
utusan kepadaku seraya berkata: ‘Penuhilah panggilan Amirul Mu’minin.’ Aku pun
keluar dan mendapati beliau sedang berdiri menungguku. Beliau memegang tanganku
lalu membawaku ke tempat yang sepi, kemudian beliau bertanya: ‘Apa yang
membuatmu tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh lelaki tadi?’ Aku menjawab:
‘Wahai Amirul Mu’minin, jika perkataanku tadi adalah suatu kesalahan, maka aku
memohon ampunan kepada Alloh dan bertaubat kepada-Nya, dan aku siap menerima
keputusan apa pun yang engkau sukai.’ Umar menegaskan: ‘Engkau harus
menceritakan kepadaku apa alasanmu membenci apa yang diucapkan oleh lelaki itu.’
Maka aku menjelaskan: ‘Wahai Amirul Mu’minin, kapan saja mereka mempelajari
Al-Qur’an dengan tergesa-gesa tanpa pemahaman yang mendalam seperti itu, mereka
pasti akan saling berbantah-bantahan. Dan kapan saja mereka sudah saling
berbantah-bantahan, mereka pasti akan berselisih. Lalu kapan saja mereka sudah
berselisih, mereka pasti akan saling memerangi satu sama lain.’ Mendengar
penjelasan itu, Umar berseru: ‘Sungguh luar biasa dirimu! Demi Alloh,
sebenarnya aku selama ini menyembunyikan kekhawatiran tersebut dari
orang-orang, sampai akhirnya engkau datang dan menyuarakannya dengan tepat.’”
(HSR. Abdurrozzaq, no. 20368)
[14] Pujian Shohabat Atasnya
1. Umar bin Al-Khotthob
(23 H) pernah memuji Abdulloh bin Abbas dengan berkata: “Demi Alloh,
sesungguhnya engkau adalah pemuda yang paling cerah wajahnya di antara kami,
yang paling baik akal pikirannya, serta yang paling paham terhadap Kitabulloh ‘Azza
wa Jalla.” (Shifatus Shofwah, Ibnu Al-Jauzi (597 H), 1/748)
2. Ibnu Sa’d (230 H)
meriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bahwa beliau pernah
memandang ke arah Ibnu Abbas yang sedang dikerumuni oleh manusia pada
malam-malam pelaksanaan ibadah Haji guna menanyakan tentang tata cara manasik.
Maka ‘Aisyah berkata: “Dia adalah orang yang paling berilmu di antara manusia
yang tersisa mengenai tata cara manasik Haji.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu
Sa’d (230 H), 2/282)
3. Sa’d bin Abi Waqqos
(55 H) menyatakan: Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih cepat paham,
memiliki akal yang lebih cerdas, mempunyai ilmu yang lebih banyak, serta dada
yang lebih lapang kelonggarannya daripada Ibnu Abbas. Sungguh aku telah melihat
Umar bin Al-Khotthob memanggilnya untuk menyelesaikan urusan-urusan yang sangat
pelik, lalu Umar berkata kepadanya: “Masalah yang sangat pelik telah datang
kepadamu, dan engkaulah orang yang tepat untuk mengurusinya.” Kemudian kami
tidak pernah melangkahi pendapatnya (kami berjalan mengikuti pendapatnya),
padahal di sekeliling Umar terdapat para tokoh ahli Badar dari kalangan
Muhajirin dan Anshor. (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/281-282)
4. Abdulloh bin Mas’ud
(32 H) berkata: “Sebaik-baik penerjemah (ahli tafsir) Al-Qur’an adalah Ibnu
Abbas.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/279)
5. Tholhah bin Ubaidulloh
(36 H) berujar: “Sungguh Ibnu Abbas telah dianugerahi pemahaman yang tajam
serta ilmu yang luas, yang mana aku tidak pernah melihat Umar bin Al-Khotthob
mendahulukan seorang pun di atas dirinya.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d
(230 H), 2/283)
6. Ubay bin Ka’b (30 H)
pernah bersama Ibnu Abbas, lalu beliau berdiri dan berkata di hadapan orang
banyak: “Pemuda ini kelak akan menjadi tintanya (ulama besar) umat ini. Aku
melihat kualitas akal dan pemahaman yang luar biasa pada dirinya, dan sungguh
Rosululloh ﷺ telah
mendoakan dirinya agar dipahamkan dalam urusan agama.” (Siyar A’lamin
Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/348)
7. Abdulloh bin Umar bin
Al-Khotthob (73 H) mengakui: “Ibnu Abbas adalah orang yang paling berilmu di
antara kami.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/282)
8. Abdulloh bin ‘Amr bin
Al-‘Ash (65 H) bersaksi: “Ibnu Abbas adalah orang yang paling mengetahui di
antara kami mengenai urusan masa lalu, orang yang paling paham di antara kami
mengenai ayat yang diturunkan, serta mengenai urusan masa depan yang belum
terjadi.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/284)
9. Tatkala Abdulloh bin
Abbas wafat, Rofi’ bin Khodij (74 H) berkata: “Pada hari ini telah wafat
seorang ulama yang ilmu dan fatwanya senantiasa dibutuhkan oleh seluruh
penduduk yang berada di antara ufuk timur dan ufuk barat.” (At-Thobaqotul
Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/284)
10. Mu’awiyah bin Abi
Sufyan (60 H) pernah berkata kepada Ikrimah (budak yang dimerdekakan oleh Ibnu
Abbas): “Majikanmu itu, demi Alloh, adalah orang yang paling paham fikih di
antara seluruh manusia yang telah wafat maupun yang masih hidup.” (At-Thobaqotul
Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/282)
11. Thowus bin Kaisan
(106 H) menuturkan: “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih
mengagungkan perkara-perkara yang dihormati dan diharomkan oleh Alloh melebihi
Ibnu Abbas rodhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Demi Alloh, sekiranya aku mau
menangis setiap kali mengingat kebaikan dirinya, niscaya aku pasti bisa
menangis.” (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim Al-Asfohani (430 H), 1/329)
Thowus juga menambahkan: “Aku
tidak pernah melihat seorang pun yang lebih berilmu daripada Ibnu Abbas.” (At-Thobaqotul
Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/280)
Thowus kembali
menceritakan: “Aku mendapati sekitar 500 orang dari kalangan Shohabat, yang
mana apabila mereka saling berdiskusi dengan Ibnu Abbas lalu menyelisihinya,
maka Ibnu Abbas senantiasa memaparkan argumentasi ilmiahnya kepada mereka
hingga akhirnya mereka semua tunduk menyetujui pendapat beliau.” (Siyar
A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/351)
12. Sa’id bin Al-Musayyib
(94 H) menegaskan: “Abdulloh bin Abbas adalah manusia yang paling berilmu.” (At-Thobaqotul
Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/281)
13. Muhammad ibnul
Hanafiyyah (81 H) berkata ketika prosesi pemakaman Ibnu Abbas selesai: “Pada
hari ini, telah wafat seorang ulama Robbani (yang membimbing umat dengan ilmu)
bagi umat ini.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/280)
14. Masruq (63 H)
mengungkapkan: Dahulu apabila aku melihat sosok fisik Ibnu Abbas, aku akan
berkata: “Dia adalah manusia yang paling tampan.” Apabila beliau mulai angkat
bicara, aku akan berkata: “Dia adalah manusia yang paling fasih tutur katanya.”
Dan apabila beliau menyampaikan suatu Hadits atau ilmu, aku akan berkata: “Dia
adalah manusia yang paling luas ilmunya.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi
(748 H), 3/351)
15. Ikrimah (105 H)
menyatakan: “Keberadaan Ibnu Abbas dalam dunia ilmu itu ibarat lautan luas yang
tidak bertepi, yang mana segala jalan keluar dari urusan yang pelik akan
tersingkap melaluinya.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/354)
16. Mujahid bin Jabr (104
H) berkata: “Aku belum pernah melihat seorang pun yang menyamai sosok Ibnu
Abbas. Sungguh pada hari kematiannya, beliau wafat dalam keadaan menyandang
gelar sebagai tinta (ulama besar) bagi umat ini.” (Siyar A’lamin Nubala,
Adz-Dzahabi (748 H), 3/350)
Mujahid juga mengatakan: “Ibnu
Abbas dijuluki sebagai Al-Bahr (lautan) karena keluasan ilmu yang dimilikinya.”
(At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/279)
Mujahid kembali memuji: “Aku
belum pernah mendengar suatu fatwa hukum yang lebih indah daripada fatwa milik
Ibnu Abbas, kecuali apabila ada orang lain yang menyampaikan fatwa seraya
menegaskan: Rosululloh ﷺ telah
bersabda.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/351)
17. Al-Hasan Al-Bashri
(110 H) menceritakan: “Dahulu Ibnu Abbas pernah berdiri di atas mimbar kami,
lalu beliau membaca surat Al-Baqoroh dan Ali ‘Imron, kemudian beliau
menafsirkan isi kedua surat tersebut ayat demi ayat dengan sangat mendalam.” (Shifatus
Shofwah, Ibnu Al-Jauzi (597 H), 1/749)
18. Yazid bin Al-Ashom
(104 H) berkisah: “Pernah Mu’awiyah bin Abi Sufyan berangkat menunaikan ibadah
Haji bersama dengan Ibnu Abbas. Ketika itu, Mu’awiyah dikelilingi oleh
rombongan pasukannya yang megah, sedangkan Ibnu Abbas dikelilingi oleh
rombongan besar para penuntut ilmu yang haus akan bimbingannya.” (Siyar
A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/351)
19. Al-Hakim (405 H)
meriwayatkan dari Syaqiq (82 H), ia menceritakan: Ibnu Abbas pernah menyampaikan
khutbah di hadapan kaum Muslimin ketika musim ibadah Haji. Beliau mengawalinya
dengan membaca surat An-Nur, lalu beliau membacanya sembari menguraikan
tafsirnya secara mendalam. Hal itu membuatku takjub hingga aku bergumam: “Aku
belum pernah melihat dan mendengar tutur kata seorang lelaki sehebat dirinya,
yang sekiranya bangsa Persia dan bangsa Romawi mendengarkan untaian kalimatnya
ini, mereka pasti akan langsung masuk Islam.” (Mustadrok Al-Hakim, 3/537)
20. Al-Qosim bin Muhammad
(106 H) bersaksi: “Aku sama sekali tidak pernah menjumpai satu pun perkara yang
sia-sia atau kebatilan di dalam majelis ilmu yang diselenggarakan oleh Ibnu
Abbas.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/351)
21. Sufyan bin ‘Uyainah
(198 H) menyimpulkan: “Tidak ditemukan seorang pun pada zaman tersebut yang
mampu menandingi keluasan ilmu yang dimiliki oleh Ibnu Abbas.” (Siyar
A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/352)
Tidak ada keraguan sama
sekali bahwa doa Nabi ﷺ untuk
Ibnu Abbas agar diajarkan hikmah, dipahamkan dalam agama, serta diajarkan
tafsir Al-Qur’an memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan Ibnu
Abbas, dalam pembentukan kepribadiannya yang penuh keimanan, keilmuan, dan
akhlak, serta dalam kesungguhannya mencari ilmu dan memahaminya dengan
pemahaman yang benar. Ibnu Abbas tidak berpangku tangan hanya dengan bersandar
pada doa Nabi ﷺ
untuknya, melainkan beliau sangat bersungguh-sungguh dalam mengumpulkan ilmu,
meraihnya, serta memahami agama Alloh dengan mengerahkan segala kekuatan,
aktivitas, kesabaran, dan tekad yang dimilikinya. Beliau memulainya dengan
senantiasa mendampingi Nabi ﷺ sejak
usia belia hingga Rosululloh ﷺ wafat.
Ketika Nabi ﷺ wafat,
beliau langsung mendatangi para shohabat senior, sampai-sampai beliau rela
membentangkan selendangnya sebagai alas tidur di depan pintu rumah salah
seorang dari mereka demi mendengar sebuah Hadits.
Diriwayatkan dari Ibnu
Abbas:
لَمَّا قُبِضَ
النَّبِيُّ ﷺ قُلْتُ لِرَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ: هَلُمَّ فَلْنَسْأَلْ أَصْحَابَ النَّبِيُّ
ﷺ عَنْ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَإِنَّهُمْ كَثِيرٌ! قَالَ: الْعَجَبُ لَكَ يَا
ابْنَ عَبَّاسٍ، أَتَرَى النَّاسَ يَحْتَاجُونَ إِلَيْكَ، وَفِي الْأَرْضِ مَنْ تَرَى
مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ؟ قَالَ: فَتَرَكَ ذَلِكَ، وَأَقْبَلْتُ عَلَى الْمَسْأَلَةِ،
وَتَتَبُّعِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، فَإِنْ كُنْتُ لَيَبْلُغُنِي الْحَدِيثُ عَنْ
رَجُلٍ سَمِعَ الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ، فَأَجِدُهُ قَائِلًا: فَأَتَوَسَّدُ
رِدَائِي عَلَى بَابِهِ تَسْفِي الرِّيَاحُ فِي وَجْهِي حَتَّى يَخْرُجَ . فَيَقُولُ:
مَا جَاءَ بِكَ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ؟ فَأَقُولُ: بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْكَ . فَيَقُولُ: فَهَلَّا بَعَثْتَ
إِلَيَّ حَتَّى آتِيَكَ، فَأَقُولُ: أَنَا كُنْتُ أَحَقَّ أَنْ آتِيَكَ، فَكَانَ ذَلِكَ
الرَّجُلُ يَمُرُّ بِي بَعْدُ، وَالنَّاسُ يَسْأَلُونِي فَيَقُولُ: أَنْتَ كُنْتَ أَعْقَلَ
مِنِّي»
“Ketika Nabi ﷺ wafat, aku berkata kepada seorang lelaki
dari kalangan Anshar: ‘Mari kita bertanya kepada para shohabat Nabi ﷺ tentang Hadits Rosululloh ﷺ, karena jumlah mereka sekarang masih
banyak!’ Orang itu menjawab: ‘Sungguh aneh engkau ini wahai Ibnu Abbas, apakah
engkau mengira orang-orang akan membutuhkanmu, padahal di muka bumi ini masih
banyak para shohabat Rosululloh yang engkau lihat sendiri?’ Ibnu Abbas berkata:
‘Orang itu pun membiarkan urusan tersebut, sedangkan aku langsung berfokus
untuk bertanya dan mencari para shohabat Nabi ﷺ.
Sungguh, apabila sampai kepadaku sebuah Hadits dari seorang lelaki yang
mendengarnya langsung dari Rosululloh, lalu aku mendapatinya sedang tidur siang,
maka aku membentangkan selendangku di depan pintunya sebagai alas tidur hingga
angin meniupkan debu ke wajahku sampai ia keluar rumah.’ Ketika ia keluar, ia
terkejut dan berkata: ‘Apa yang membuatmu datang ke sini wahai anak paman
Rosululloh? Mengapa engkau tidak mengirim utusan saja kepadaku agar aku yang
mendatangimu?’ Aku menjawab: ‘Aku yang lebih berhak untuk mendatangi engkau.’
Di kemudian hari, lelaki Anshar tersebut sering melewatu dan melihatku saat
orang-orang berkumpul di sekelilingku untuk bertanya, lalu ia pun berkata: ‘Dahulu
engkau jauh lebih cerdas daripada aku.’” (HR. Imam Ahmad dalam Fadhoilush
Shohabah no. 1925, Ad-Darimi no. 590, dan Al-Hakim no. 363)
Oleh karena itu, jika
beliau ditanya: “Bagaimana engkau bisa mendapatkan ilmu yang banyak ini?” Beliau menjawab:
«بِلِسَانٍ
سَؤُولٍ، وَقَلْبٍ عَقُولٍ»
“Dengan lisan yang gemar
bertanya, dan hati yang gemar memahami.” (HR. Imam Ahmad dalam Fadhoilush
Shohabah no. 1903)
Dari sinilah menjadi
terbukti kebenaran doa Rosululloh ﷺ pada
diri Ibnu Abbas, sehingga Alloh mengaruniakannya hikmah; yaitu ketepatan,
kerapian dalam segala urusan, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Alloh
juga memberikan kefahaman serta pemahaman yang mendalam dalam urusan agama, dan
mengajarkannya tafsir Al-Qur’an serta takwilnya, hingga beliau menjadi
penerjemah Al-Qur’an dan ulamanya umat ini. Tidak diragukan lagi bahwa
barangsiapa yang dikaruniai ilmu, pemahaman, dan hikmah, maka hal itu pasti
akan memengaruhi seluruh sisi kehidupannya, baik dalam keimanan, ibadah, rasa
takut kepada Alloh, akhlak, wibawa, kecerdasan, kebijaksanaan, keluhuran budi,
serta ketepatan dalam berpendapat! Oleh karena itu, Umar selalu mengajak Ibnu
Abbas masuk bersama para tetua ahli Badar, meminta saran dan pendapatnya, serta
bertanya kepadanya di hadapan mereka untuk memperlihatkan kepada mereka
keilmuan, kebijaksanaan, dan pemahamannya yang mendalam terhadap agama.
Diriwayatkan dari Said
bin Jubair, dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Umar selalu mengajakku masuk
bersama para tetua ahli Badar, lalu sebagian dari mereka memprotes: “Mengapa
engkau memasukkan pemuda ini bersama kami, padahal kami memiliki anak-anak yang
seumur dengannya?” Umar menjawab: “Sesungguhnya ia termasuk orang yang telah
kalian ketahui sendiri kualitas keilmuannya.” Ibnu Abbas berkata: “Pada suatu
hari Umar mengundang mereka dan mengajakku masuk bersama mereka. Aku tahu
tidaklah ia mengundangku pada hari itu melainkan untuk memperlihatkan
kemampuanku kepada mereka.” Umar
bertanya: “Apa pendapat kalian mengenai firman Alloh:
﴿إِذَا
جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ﴾
“Apabila telah datang
pertolongan Robb dan kemenangan.” (QS. An-Nashr: 1) hingga selesai membaca
surat tersebut?” Maka sebagian dari mereka menjawab: “Kita diperintahkan untuk
memuji Alloh dan memohon ampunan kepada-Nya apabila kita ditolong dan diberikan
kemenangan.” Sebagian yang lain berkata: “Kami tidak tahu,” atau sebagian
mereka terdiam tidak mengatakan apa-apa. Lalu Umar bertanya kepadaku: “Wahai
Ibnu Abbas, apakah demikian pula pendapatmu?” Aku menjawab: “Tidak.” Umar
bertanya: “Lalu apa pendapatmu?” Aku menjawab: “Itu adalah isyarat wafatnya
Rosululloh ﷺ yang
Alloh beritahukan kepada beliau: ‘Apabila telah datang pertolongan Robb dan
kemenangan yaitu pembebasan kota Makkah, maka itulah tanda ajalmu telah dekat,
maka bertasbihlah dengan memuji Robb-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya,
sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.’“
Umar pun berkata: “Aku tidak mengetahui makna dari surat ini melainkan
apa yang engkau ketahui.” (HR. Al-Bukhori no. 4294)
Diriwayatkan dari Thowus
(106 H), ia berkata:
«وَاللَّهِ
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشَدَّ تَعْظِيمًا لِحُرُمَاتِ اللَّهِ مِنَ ابْنِ عَبَّاسٍ،
وَاللَّهِ لَوْ أَشَاءُ إِذَا ذَكَرْتُهُ أَنْ أَبْكِيَ لَبَكَيْتُ»
“Demi Alloh, aku tidak
pernah melihat seorang pun yang lebih mengagungkan batasan-batasan suci Alloh
daripada Ibnu Abbas. Demi Alloh, andai aku mau menangis ketika mengingatnya,
niscaya aku pasti akan menangis.” (HR. Imam Ahmad dalam Fadhoilush Shohabah
2/950)
[15] Secercah Permata dari Ucapannya
1. Ibnu Abi Syaibah (235
H) meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair (95 H), dari Ibnu Abbas mengenai tafsir
firman Alloh:
﴿وَنَادَى
أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ﴾
“Dan para penghuni Naar
menyeru para penghuni Jannah: ‘Limpahkanlah kepada kami sedikit air.” Beliau menerangkan:
“Ada seorang lelaki yang berada di dalam Naar akan memanggil saudara
kandungnya, atau seseorang memanggil orang lainnya seraya meratap: ‘Sesungguhnya
tubuhku telah hangus terbakar, maka curahkanlah sedikit air kepadaku.’ Maka
dijawablah ratapannya itu: Jawablah seruannya dengan mengatakan: ‘Sesungguhnya
Alloh telah mengharomkan air dan kenikmatan Jannah bagi orang-orang kafir.’” (Mushonnaf
Ibnu Abi Syaibah, shohih, no. 35782)
2. Ibnu Abi Syaibah (235
H) meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair (95 H), dari Ibnu Abbas mengenai makna
firman Alloh:
﴿الْوَسْوَاسِ
الْخَنَّاسِ﴾
“Dari kejahatan (bisikan)
syaithon yang biasa bersembunyi.” Beliau menjelaskan: “Syaithon itu senantiasa
mendekam di atas hati anak Adam (manusia). Apabila manusia itu lupa dan lalai
dari mengingat Alloh, maka syaithon akan membisikkan waswasnya. Namun apabila
manusia itu kembali mengingat Alloh, maka syaithon tersebut akan tunduk bersembunyi.”
(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, shohih, no. 35783)
3. Ibnu Abi Syaibah (235
H) meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair (95 H), dari Ibnu Abbas mengenai firman
Alloh:
﴿إِنَّ
الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ﴾
“Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu dapat menghapuskan perbuatan-perbuatan yang
buruk.” Beliau menegaskan: “Yang dimaksud di sini adalah ibadah Sholat 5 waktu.”
(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, shohih, no. 35793)
4. Ibnu Abi Syaibah (235
H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Anak Adam (manusia) itu memiliki
33 sendi (anggota badan). Atas setiap sendi tersebut terdapat kewajiban Zakat
berupa bacaan tasbih (Subhanalloh), tahmid (Alhamdulillah), serta amalan dzikir
kepada Alloh.” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, shohih, no. 35797)
[16] Wafatnya
Al-Hakim (405 H)
meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair (95 H), ia menceritakan: Ibnu Abbas wafat di
kota Thoif, lalu aku ikut serta menghadiri prosesi janazah beliau. Tiba-tiba
datanglah seekor burung yang keindahan bentuk fisiknya belum pernah disaksikan
sebelumnya, lalu burung tersebut masuk ke dalam kain kafan pembungkus janazah
beliau. Kami pun terus memandangi dan mengamati dengan saksama apakah burung
itu akan keluar lagi, namun hingga akhir prosesi tidak terlihat burung itu
keluar dari kain kafannya. Tatkala janazah beliau telah dimasukkan ke dalam
liang lahat dan dimakamkan, tiba-tiba terdengar suara bacaan ayat ini
dikumandangkan di tepi kuburnya, sementara tidak ada seorang pun di antara kami
yang mengetahui siapakah gerangan yang telah membacanya:
﴿يَا
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي
إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي
فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي﴾
“Wahai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Robb-mu dalam keadaan hati yang ridho lagi diridhoi-Nya. Maka
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Jannah-Ku.” (Mustadrok
Al-Hakim, 3/543)
Ibnu Abbas diuji oleh
Alloh dengan mengalami kebutaan pada kedua matanya di masa-masa akhir
kehidupannya. Beliau wafat pada tahun 68 Hijriyyah, dalam usia 71 tahun. Adapun
yang bertindak sebagai imam Sholat Janazah bagi beliau adalah Muhammad ibnul
Hanafiyyah. (Asadul Ghoobah, Ibnul Atsir (630 H), 3/189; Shifatus Shofwah,
Ibnu Al-Jauzi (597 H), 1/757)
Umar bin Al-Khotthob (23
H) selalu mendekatkan beliau dan bertanya kepadanya, serta memasukkannya
bersama para tetua ahli Badar untuk memperlihatkan kepada mereka keluasan ilmu
dan pemahamannya. Beliau adalah orang yang cepat dalam menjawab, berwajah
cerah, tampan, memiliki rambut lebat yang disemir dengan henna, berkulit
putih tinggi merona kuning, berbadan besar lagi rupawan, ilmunya sangat luas,
riwayatnya banyak, orang yang bodoh kembali pulang membawa ilmu dan hikmahnya
yang melimpah, dan orang yang lapar pun pulang dari hidangan makanannya dalam
keadaan kenyang! Beliau wafat rohimahulloh di Thoif pada tahun 68 H.
Para ulama berbeda pendapat tentang usianya, ada yang mengatakan 71 tahun, ada
yang mengatakan 72 tahun, dan ada yang mengatakan 74 tahun, namun pendapat
pertama adalah pendapat yang kuat. Untuk mengetahui lebih banyak tentang
keutamaan dan kemuliaannya, silakan merujuk pada kitab Fadhoilush Shohabah
karya Imam Ahmad (2/949), Ma’rifatush Shohabah karya Abu Nu’aim
(3/1699), dan Al-Ishobah karya Ibnu Hajar (4/122)
Semoga Alloh Ta’ala
melimpahkan rohmat-Nya yang teramat luas kepada Abdulloh bin Abbas, serta
membalas segala jasa-jasanya terhadap Islam dengan balasan yang terbaik.
Dan kita memohon kepada
Alloh yang Maha Kuasa agar sudi mengumpulkan kita bersamanya di dalam Jannah
Firdaus yang paling tinggi.[NK]
