Cari Ebook

[PDF] Biografi Ibnu Abbas Sang Lautan Ilmu - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Abdulloh bin Abbas rodhiyallahu ‘anhuma adalah salah seorang Shohabat yang mulia dan termasuk di antara para ahli fikih Islam yang sangat masyhur, yang telah mencurahkan seluruh kehidupannya demi menyebarkan ilmu yang bermanfaat serta membantah para pelaku bid’ah. Inilah secercah kisah perjalanan hidupnya yang harum serta sejarahnya yang gemilang dan mulia, dengan harapan agar kita semua dapat meniti jalan di atas cahayanya sehingga kita meraih kebahagiaan di dunia maupun di Akhiroh.

Abdulloh bin Abbas bin Abdul Mutholib bin Hasyim, Abu Al-Abbas, adalah anak paman Rosululloh . Ibunya bernama Lubabah binti Al-Harits bin Huzn bin Bajiyyah bin Al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdulloh bin Hilal bin Amir bin Sho’sho’ah Al-Hilaliyyah. Beliau sering dijuluki Al-Habr (ulama) dan Al-Bahr (samudra) karena keluasan ilmu serta ketajaman pemahamannya. Beliau adalah ulamanya umat ini, orang yang paling paham urusan agama, lisan kaumnya yang paling fasih berbicara, dididik langsung dengan ludah kenabian, didoakan oleh lisan Rosul, dikaruniai pemahaman agama yang mendalam, diajarkan ilmu tafsir, serta menjadi penerjemah Al-Qur’an. Beliau dilahirkan ketika Bani Hasyim berada di syi’ib (lembah tempat boikot) 3 tahun sebelum Hijroh, namun ada yang berpendapat 5 tahun sebelum Hijroh, akan tetapi pendapat pertama lebih kuat. Usia ini mendekati apa yang diriwayatkan dalam kitab Ash-Shohihain dari beliau:

«أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلاَمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ، فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ بَعْضِ الصَّفِّ، وَأَرْسَلْتُ الأَتَانَ تَرْتَعُ، فَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ، فَلَمْ يُنْكَرْ ذَلِكَ عَلَيَّ»

“Aku datang dengan menunggangi keledai betina, dan pada hari itu aku hampir memasuki usia baligh. Rosululloh sedang sholat di Mina tanpa menghadap ke dinding. Lalu aku lewat di depan sebagian shof, kemudian aku melepas keledai betina itu agar mencari makan bebas, lalu aku masuk ke dalam shof, dan tidak ada seorang pun yang mengingkari perbuatanku tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 76 dan Muslim no. 504)

Dari Said bin Jubair (95 H), dia berkata: Ibnu Abbas ditanya: “Seukuran siapakah engkau ketika Nabi wafat?”  Beliau menjawab:

«أَنَا يَوْمَئِذٍ مَخْتُونٌ»

“Aku pada hari itu sudah dikhitan.” Said bin Jubair berkata: “Dan mereka dahulu tidak mengkhitan seorang lelaki hingga ia baligh.” (HR. Al-Bukhori no. 6299)

Dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:

«جَمَعْتُ المُحْكَمْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَقُبِضَ النَّبِيُّ ﷺ وَأَنَا ابْنُ عِشْرِ حُجَجٍ»

“Aku telah menghafal al-muhkam pada zaman Rosululloh , dan Nabi wafat ketika aku berumur 10 tahun.” Said bin Jubair berkata: Aku bertanya kepadanya: “Apa yang dimaksud al-muhkam?”  Beliau menjawab:

«المُفَصَّلُ»

“Bagian al-mufashshol (surat-surat pendek).” (HSR. Ahmad no. 3125)

Nabi mendoakan beliau agar diberikan kepahaman yang mendalam oleh Alloh dalam urusan agama dan diajarkan ilmu tafsir, beliau bersabda:

«اللهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ»

“Ya Alloh, pahamkanlah dia dalam urusan agama, dan ajarkanlah kepadanya ilmu tafsir.” (HR. Al-Bukhori no. 143, Muslim no. 2477, dan Ahmad no. 2397 dengan lafazh miliknya)

Beliau juga memohon kepada Alloh agar mengajarinya hikmah. Diriwayatkan dari Ikrimah (105 H), dari Ibnu Abbas, beliau berkata: “Nabi mendekapku ke dadanya dan bersabda:

«اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الحِكْمَةَ»

“Ya Alloh, ajarkanlah kepadanya hikmah.” (HR. Al-Bukhori no. 3756)

Dan hikmah adalah ketepatan dalam berbuat yang bukan berupa kenabian.

Buku ini kami tarjamahkan dari 2 makalah utama yang ditulis oleh Syaikh Sholah Najib Ad-Diq dan penulis Islamqo lalu kami menggabungnya dan menatanya. Semoga Alloh membalas keduanya.

 

[1] Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Abdulloh bin Abbas bin Abdul Muttholib bin Hasyim bin Abdu Manaf, sepupu Rosululloh .

 

[2] Kunyahnya

Kunyah beliau adalah Abu Al-Abbas, yang diambil dari nama anak laki-laki tertuanya.

 

[3] Ibunya

Ibu beliau adalah Ummul Fadhl Lubabah Al-Kubro binti Al-Harits Al-Hilaliyyah. Beliau merupakan saudariku kandung dari Maimunah binti Al-Harits, yang tidak lain adalah istri Nabi . (Asadul Ghoobah, Ibnul Atsir (630 H), 3/185)

 

[4] Kelahirannya      

Ibnu Abbas dilahirkan 3 tahun sebelum peristiwa hijroh, yang berarti bertepatan dengan tahun ke-10 dari diutusnya Nabi kita . (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/332)

 

[5] Sifat Fisiknya

Abdulloh bin Abbas adalah seorang pria berkulit putih, bertubuh tinggi, rona kulitnya bercampur kekuningan, berbadan besar, berwajah tampan menawan, memiliki rambut yang lebat, serta gemar mewarnai rambut atau jenggotnya dengan pacar kuku (hinna).

Ibnu Juroij (150 H) menuturkan: Kami pernah duduk-duduk bersama ‘Atho bin Abi Robah (114 H) di Masjidil Harom, lalu kami saling memperbincangkan perihal Ibnu Abbas. Maka ‘Atho berkata: “Tidaklah aku memandang rembulan pada malam ke-14 (purnama) melainkan aku pasti teringat pada ketampanan wajah Ibnu Abbas.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/336)

Ikrimah (105 H) mengisahkan: “Dahulu, apabila Ibnu Abbas sedang berjalan melewati suatu jalan, maka para wanita yang berada di dalam rumah-rumah mereka akan saling berseru: ‘Apakah penjual minyak kasturi baru saja lewat, ataukah yang lewat itu Ibnu Abbas?’” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/337)

 

[6] Keislamannya

Abdulloh bin Abbas memeluk agama Islam mendahului ayahnya, dan beliau melakukan hijroh bersama kedua orang tuanya menuju Madinah pada tahun terjadinya Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah), yaitu pada tahun ke-8 Hijriyyah. (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/333)

Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, beliau menuturkan: “Aku dan ibuku termasuk orang-orang yang tertindas (di Makkah), aku termasuk di antara anak-anak kecil dan ibuku termasuk di antara kaum wanita.” (HR. Al-Bukhori no. 1357)

 

[7] Anak-Anaknya

Alloh Ta’ala mengaruniakan 7 orang anak kepada Ibnu Abbas, yang terdiri atas 5 anak laki-laki yaitu: Al-Abbas (anak tertua), ‘Ali (kakek dari para Kholifah Bani Abbas), Al-Fadhl, Muhammad, dan Ubaidulloh. Sedangkan anak perempuan beliau ada 2 orang, yaitu: Lubabah dan Asma. (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/333)

 

[8] Doa Nabi untuknya

1. Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi pernah mendekapku ke dada beliau, lalu beliau berdoa:

«اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الحِكْمَةَ»

“Ya Alloh, ajarkanlah hikmah (pemahaman yang mendalam tentang agama) kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 3756)

2. Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi pernah memasuki tempat buang hajat, lalu aku menyiapkan air wudhu untuk beliau. Beliau bertanya: “Siapa yang meletakkan air ini?” Maka diceritakanlah kepada beliau. Lalu beliau berdoa:

«اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»

“Ya Alloh, pahamkanlah dia dalam urusan agama.” (HR. Al-Bukhori no. 143)

3. Ahmad (241 H) meriwayatkan dari Abdulloh bin Abbas, ia berkata: Aku mendatangi Rosululloh di akhir malam, lalu aku mendirikan sholat di belakang beliau. Beliau lalu memegang tanganku dan menarikku hingga memosisikan diriku sejajar di samping beliau. Namun ketika Rosululloh mulai fokus menghadapkan diri pada sholatnya, aku pun mundur sedikit ke belakang. Setelah Rosululloh selesai menunaikan sholatnya, beliau menoleh kepadaku dan bertanya: “Ada apa denganku, aku telah menempatkanmu sejajar di sampingku namun engkau justru mundur ke belakang?” Maka aku menjawab: “Wahai Rosululloh, apakah pantas bagi seseorang untuk sholat sejajar di sampingmu, sedangkan engkau adalah utusan Alloh yang telah dianugerahi keutamaan besar oleh Alloh?” Jawaban itu membuat beliau kagum, sehingga beliau mendoakan diriku kepada Alloh agar Alloh menambahkan ilmu dan pemahaman kepadaku. (HSR. Ahmad, no. 3060)

 

[9] Menuntut Ilmu Langsung dari Nabi

Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah, pada suatu malam. Ketika malam telah berlalu sebagian, Rosululloh bangun lalu berwudhu dari wadah air kulit yang tergantung dengan wudhu yang ringan (ringkas), kemudian beliau berdiri melaksanakan sholat. Aku pun bangun lalu berwudhu dengan cara yang serupa seperti wudhunya beliau, kemudian aku datang dan berdiri di sebelah kiri beliau. Namun beliau memutar posisiku dan menjadikanku berada di sebelah kanan beliau. Beliau lalu sholat sekuasa yang Alloh kehendaki, kemudian beliau berbaring tidur hingga terdengar suara embusan napasnya. Setelah itu, datanglah muadzin mengabarkan kepada beliau bahwa waktu sholat telah tiba, maka beliau pun berangkat bersamanya menuju sholat. Beliau langsung melaksanakan sholat tanpa berwudhu lagi. (HR. Al-Bukhori no. 859)

At-Tirmidzi (279 H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menuturkan: Pada suatu hari, aku berada di belakang Rosululloh , lalu beliau bersabda:

«يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ»

“Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Alloh (aturannya), niscaya Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, maka mintalah kepada Alloh, dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, ketahuilah sekiranya seluruh umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat itu kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan untukmu. Dan sekiranya mereka bersatu padu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan atasmu. Pena-pena takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah mengering.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2043)

 

[10] Semangat dan Kesungguhannya dalam Menuntut Ilmu

1. Al-Hakim (405 H) meriwayatkan dari Abdulloh bin Abbas, ia menceritakan: Tatkala Rosululloh wafat, aku berkata kepada seorang pemuda dari kaum Anshor: “Mari kita pergi bertanya kepada para Shohabat Rosululloh , karena jumlah mereka pada hari ini masih sangat banyak.” Namun pemuda itu menjawab: “Sungguh mengherankan dirimu ini, wahai Ibnu Abbas! Apakah engkau mengira manusia akan butuh kepadamu, padahal di tengah-tengah manusia saat ini masih banyak para Shohabat Rosululloh yang memiliki kedudukan tinggi?” Ibnu Abbas melanjutkan: “Maka aku pun meninggalkan pemuda itu, dan aku melangkah sendiri dengan penuh semangat untuk bertanya kepada para Shohabat Rosululloh . Sungguh, apabila sampai kepadaku kabar tentang suatu Hadits yang ada pada seseorang, aku sengaja mendatangi rumahnya di saat ia sedang tidur siang. Aku berbantalkan selendangku di depan pintu rumahnya, sementara tiupan angin menerbangkan debu-debu ke wajahku, hingga akhirnya ia keluar rumah dan melihatku.” Maka ia pun terkejut dan menyapa: “Wahai sepupu Rosululloh , apa yang membuatmu datang ke sini? Mengapa engkau tidak mengutus seseorang saja kepadaku, niscaya akulah yang akan datang menemuimu?” Maka aku menjawab: “Tidak, akulah yang lebih berhak untuk datang menemuimu.” Lalu aku pun menanyakan Hadits itu kepadanya. Pemuda Anshor tersebut ternyata berumur panjang hingga ia menyaksikanku di kemudian hari ketika manusia telah berkumpul mengerumuni diriku untuk bertanya kepadaku. Maka pemuda itu berkata: “Pemuda ini dahulu ternyata jauh lebih cerdas dan berakal daripada diriku.” (HSR. Al-Hakim, 1/188)

2. Abdulloh bin Abbas menuturkan: Pernah suatu ketika aku menanyakan satu urusan saja kepada 30 orang dari kalangan Shohabat Nabi . (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/344)

3. Ibnu Sa’d (230 H) meriwayatkan dari Abu Salamah Al-Hadhromi, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Dahulu aku selalu mendampingi para pembesar dari kalangan Shohabat Rosululloh , baik dari kaum Muhajirin maupun kaum Anshor. Aku bertanya kepada mereka mengenai sejarah peperangan Rosululloh serta ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut. Tidaklah aku mendatangi salah seorang pun dari mereka melainkan ia pasti merasa gembira dengan kedatanganku karena kedekatan kekerabatanku dengan Rosululloh . Hingga pada suatu hari, aku bertanya kepada Ubay bin Ka’b (30 H)—dan ia termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya—mengenai ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Madinah. Maka ia menjawab: “Di Madinah diturunkan 27 surat, sedangkan sisanya diturunkan di Makkah.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/283-284)

[11] Ibadahnya

Ibnu Abi Mulaikah (117 H) menuturkan: Aku pernah menyertai perjalanan Ibnu Abbas dari Makkah menuju Madinah. Beliau sholat (musafir) 2 rokaat, dan apabila telah singgah di suatu tempat, beliau mendirikan sholat di sebagian malam. Beliau membaca Al-Qur’an dengan tartil huruf demi huruf, serta memperbanyak isak tangis dan ratapan karena takut kepada Alloh dalam sholatnya tersebut. (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/352)

Abu Roja (105 H) menceritakan: Aku melihat Ibnu Abbas, dan di bagian bawah kedua matanya terdapat guratan hitam seperti bekas tali sandal yang telah usang akibat teramat sering menangis. (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/352)

 

[12] Wasiat Sang Ayah, Al-Abbas

Abu Nu’aim (430 H) meriwayatkan dari ‘Amir Asy-Sya’bi (103 H), dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ayahku pernah berpesan kepadaku: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khotthob (23 H) sering memanggilmu, mendekatkan posisimu, serta mengajakmu bermusyawarah bersama para Shohabat Rosululloh . Maka jagalah dengan baik 3 perkara dariku ini: Bertaqwalah kepada Alloh, jangan sampai ia mendapati dirimu berdusta sekali pun, jangan pernah engkau membocorkan rahasianya kepada siapa pun, dan jangan sekali-kali engkau menggunjing (ghibah) seseorang di hadapannya.” ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: Maka aku katakan kepada Ibnu Abbas: Setiap satu perkara dari wasiat itu nilainya lebih berharga daripada 1000 dirham. Ibnu Abbas menyahut: Bahkan setiap satu perkara darinya lebih berharga daripada 10.000 dirham. (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim Al-Asfohani (430 H), 1/318)

 

[13] Kesungguhannya dalam Menyebarkan Ilmu

Abdulloh bin Abbas meriwayatkan 1660 Hadits. Dari jumlah tersebut, terdapat 75 Hadits yang disepakati bersama oleh Al-Bukhori dan Muslim dalam kitab mereka.

Al-Bukhori meriwayatkan secara bersendiri sebanyak 120 Hadits, sedangkan Muslim meriwayatkan secara bersendiri sebanyak 9 Hadits. (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/359)

1. Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan dari Ikrimah (105 H), ia berkata: Pernah dihadapkan kepada ‘Ali rodhiyallahu ‘anhu beberapa orang zindiq (kaum murtad yang menyembunyikan kekafirannya), lalu ia membakar mereka. Ketika kabar tersebut sampai kepada Ibnu Abbas, ia berkata: Sekiranya aku yang bertindak, niscaya aku tidak akan membakar mereka karena adanya larangan dari Rosululloh : “Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Alloh (api)”. Namun aku pasti akan menghukum mati mereka karena sabda Rosululloh :

«مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ»

“Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.” (HR. Al-Bukhori no. 6922)

2. Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, ia menceritakan: Dahulu Umar bin Al-Khotthob (23 H) sering mengajakku masuk ke dalam majelis bersama para sesepuh ahli Badar. Maka sebagian dari mereka merasa kurang nyaman lalu berkata: “Mengapa engkau memasukkan pemuda ini bersama kami, padahal kami juga memiliki anak-anak yang sebaya dengannya?!” Maka Umar menjawab: “Sesungguhnya dia termasuk orang yang telah kalian ketahui sendiri kualitas keilmuannya.” Ibnu Abbas melanjutkan: Pada suatu hari, Umar memanggil mereka dan mengajakku hadir bersama mereka. Aku menyadari tidaklah Umar memanggilku pada hari itu melainkan demi memperlihatkan kapasitas diriku kepada mereka. Umar lalu bertanya kepada mereka: Bagaimana pendapat kalian mengenai firman Alloh:

﴿إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ  وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا﴾

“Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan (pembebasan kota Makkah). Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Alloh.” hingga beliau merampungkan seluruh surat tersebut. Maka sebagian dari mereka menjawab: Kita diperintahkan untuk memuji Alloh dan memohon ampunan kepada-Nya apabila kita telah ditolong dan diberi kemenangan.”

Sementara sebagian yang lain berkata: “Kami tidak tahu,” atau sebagian mereka memilih diam tidak berkomentar apa pun. Lalu Umar menoleh kepadaku dan bertanya: “Wahai Ibnu Abbas, apakah demikian pula pendapatmu?” Aku menjawab: “Tidak.” Umar bertanya lagi: “Lalu apa pendapatmu?” Aku menjawab: “Itu adalah isyarat tentang ajal Rosululloh yang Alloh beritahukan kepada beliau.” Firman-Nya “Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan” yaitu kemenangan dalam membebaskan kota Makkah, maka itulah tanda dekatnya ajalmu. Oleh karena itu, “Maka bertasbihlah dengan memuji Robb-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.” Umar pun berkata: “Tidaklah aku mengetahui makna dari surat ini melainkan persis seperti apa yang engkau ketahui.” (HR. Al-Bukhori no. 4294)

3. Abu Sholih menuturkan: Sungguh aku telah menyaksikan sendiri sebuah majelis yang diselenggarakan oleh Ibnu Abbas, yang sekiranya seluruh kaum Quroisy menjadikannya sebagai kebanggaan, niscaya majelis itu benar-benar menjadi kebanggaan yang luar biasa bagi mereka. Aku melihat manusia berkumpul sangat banyak hingga jalanan menjadi sempit lantaran penuh sesak oleh mereka, sampai-sampai tidak ada seorang pun yang bisa berjalan lewat maupun pergi dari tempat itu. Abu Sholih melanjutkan: Maka aku masuk menemui Ibnu Abbas dan mengabarkan kepadanya perihal keberadaan orang-orang yang telah memadati pintu rumahnya. Beliau lalu berkata kepadaku: Siapkan air wudhu untukku. Beliau pun berwudhu lalu duduk, kemudian berkata: “Keluarlah dan katakan kepada mereka, barangsiapa yang ingin bertanya tentang Al-Qur’an, qiroatnya, serta makna yang terkandung di dalamnya, maka silakan masuk.” Aku pun keluar dan mempersilakan mereka. Mereka masuk memenuhi rumah hingga ke ruangan tengah, dan tidaklah mereka menanyakan sesuatu pun melainkan beliau pasti menerangkannya kepada mereka, bahkan beliau menambahkan penjelasan yang serupa atau lebih banyak dari apa yang ditanyakan.

Kemudian beliau berkata: “Berikan kesempatan kepada saudara-saudara kalian yang lain.” Maka mereka pun keluar. Lalu beliau berkata lagi: “Keluarlah dan katakan, barangsiapa yang ingin bertanya tentang tafsir Al-Qur’an dan ta’wilnya, maka silakan masuk.” Aku pun keluar dan mempersilakan mereka. Mereka masuk memenuhi rumah hingga ke ruangan tengah, dan tidaklah mereka menanyakan sesuatu pun melainkan beliau menerangkannya, bahkan menambahkan penjelasan yang serupa atau lebih banyak. Kemudian beliau berkata: “Berikan kesempatan kepada saudara-saudara kalian yang lain,” maka mereka pun keluar. Lalu beliau berkata lagi: Keluarlah dan katakan, “Barangsiapa yang ingin bertanya tentang perkara halal dan harom serta ilmu fikih, maka silakan masuk.” Aku pun keluar dan mengatakannya kepada mereka. Mereka masuk memenuhi rumah hingga ke ruangan tengah, dan tidaklah mereka menanyakan sesuatu pun melainkan beliau menerangkannya serta menambahkan penjelasan yang serupa. Kemudian beliau berkata: “Berikan kesempatan kepada saudara-saudara kalian yang lain, maka mereka pun keluar.” Lalu beliau berkata lagi: “Keluarlah dan katakan, barangsiapa yang ingin bertanya tentang ilmu waris (faroidh) dan perkara yang sejenisnya, maka silakan masuk.” Aku pun keluar dan mempersilakan mereka, lalu mereka masuk memenuhi rumah hingga ke ruangan tengah. Tidaklah mereka menanyakan sesuatu pun melainkan beliau menerangkannya serta menambahkan penjelasan yang serupa. Kemudian beliau berkata: “Berikan kesempatan kepada saudara-saudara kalian yang lain,” maka mereka pun keluar. Lalu beliau berkata lagi: “Keluarlah dan katakan, barangsiapa yang ingin bertanya tentang sastra bahasa Arob, syair, serta kosakata asing yang pelik, maka silakan masuk.” Mereka pun masuk memenuhi rumah hingga ke ruangan tengah, dan tidaklah mereka menanyakan sesuatu pun melainkan beliau menerangkannya serta menambahkan penjelasan yang serupa. Abu Sholih berkata: Sekiranya seluruh kaum Quroisy membanggakan hal itu, niscaya itu adalah kebanggaan yang nyata. Aku belum pernah melihat kehebatan majelis seperti ini dimiliki oleh seorang manusia pun. (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim Al-Asfohani (430 H), 1/320-321)

Abdurrohman bin Hammam meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengisahkan: Pernah ada seorang lelaki datang menemui Umar bin Al-Khotthob (23 H), lalu Umar mulai menanyakan kepadanya perihal keadaan masyarakat. Lelaki itu menjawab: “Wahai Amirul Mu’minin, sungguh telah banyak di antara mereka yang mempelajari Al-Qur’an dengan sangat cepat hingga mencapai jumlah sekian dan sekian.” Mendengar hal itu, Ibnu Abbas berkata: “Demi Alloh, aku tidak suka jika mereka mempelajari Al-Qur’an dengan tergesa-gesa pada masa-masa sekarang ini.” Ibnu Abbas melanjutkan: “Maka Umar menghardikku dengan keras seraya berkata: ‘Diamlah!’ Aku pun pulang ke rumahku dalam keadaan duka dan bersedih hati. Aku bergumam dalam hati: ‘Dahulu aku menempatkan Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khotthob pada kedudukan yang tinggi, namun sekarang aku merasa kedudukkanku telah jatuh di matanya. Aku kembali ke rumahku lalu berbaring di atas tempat tidurku sampai-sampai para wanita di rumahku menjengukku, padahal aku sama sekali tidak sedang menderita sakit apa pun, melainkan ini semua semata-mata karena bentakan keras yang kudapatkan dari Umar. Ketika aku sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba datanglah seorang utusan kepadaku seraya berkata: ‘Penuhilah panggilan Amirul Mu’minin.’ Aku pun keluar dan mendapati beliau sedang berdiri menungguku. Beliau memegang tanganku lalu membawaku ke tempat yang sepi, kemudian beliau bertanya: ‘Apa yang membuatmu tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh lelaki tadi?’ Aku menjawab: ‘Wahai Amirul Mu’minin, jika perkataanku tadi adalah suatu kesalahan, maka aku memohon ampunan kepada Alloh dan bertaubat kepada-Nya, dan aku siap menerima keputusan apa pun yang engkau sukai.’ Umar menegaskan: ‘Engkau harus menceritakan kepadaku apa alasanmu membenci apa yang diucapkan oleh lelaki itu.’ Maka aku menjelaskan: ‘Wahai Amirul Mu’minin, kapan saja mereka mempelajari Al-Qur’an dengan tergesa-gesa tanpa pemahaman yang mendalam seperti itu, mereka pasti akan saling berbantah-bantahan. Dan kapan saja mereka sudah saling berbantah-bantahan, mereka pasti akan berselisih. Lalu kapan saja mereka sudah berselisih, mereka pasti akan saling memerangi satu sama lain.’ Mendengar penjelasan itu, Umar berseru: ‘Sungguh luar biasa dirimu! Demi Alloh, sebenarnya aku selama ini menyembunyikan kekhawatiran tersebut dari orang-orang, sampai akhirnya engkau datang dan menyuarakannya dengan tepat.’” (HSR. Abdurrozzaq, no. 20368)

 

[14] Pujian Shohabat Atasnya

1. Umar bin Al-Khotthob (23 H) pernah memuji Abdulloh bin Abbas dengan berkata: “Demi Alloh, sesungguhnya engkau adalah pemuda yang paling cerah wajahnya di antara kami, yang paling baik akal pikirannya, serta yang paling paham terhadap Kitabulloh ‘Azza wa Jalla.” (Shifatus Shofwah, Ibnu Al-Jauzi (597 H), 1/748)

2. Ibnu Sa’d (230 H) meriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bahwa beliau pernah memandang ke arah Ibnu Abbas yang sedang dikerumuni oleh manusia pada malam-malam pelaksanaan ibadah Haji guna menanyakan tentang tata cara manasik. Maka ‘Aisyah berkata: “Dia adalah orang yang paling berilmu di antara manusia yang tersisa mengenai tata cara manasik Haji.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/282)

3. Sa’d bin Abi Waqqos (55 H) menyatakan: Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih cepat paham, memiliki akal yang lebih cerdas, mempunyai ilmu yang lebih banyak, serta dada yang lebih lapang kelonggarannya daripada Ibnu Abbas. Sungguh aku telah melihat Umar bin Al-Khotthob memanggilnya untuk menyelesaikan urusan-urusan yang sangat pelik, lalu Umar berkata kepadanya: “Masalah yang sangat pelik telah datang kepadamu, dan engkaulah orang yang tepat untuk mengurusinya.” Kemudian kami tidak pernah melangkahi pendapatnya (kami berjalan mengikuti pendapatnya), padahal di sekeliling Umar terdapat para tokoh ahli Badar dari kalangan Muhajirin dan Anshor. (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/281-282)

4. Abdulloh bin Mas’ud (32 H) berkata: “Sebaik-baik penerjemah (ahli tafsir) Al-Qur’an adalah Ibnu Abbas.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/279)

5. Tholhah bin Ubaidulloh (36 H) berujar: “Sungguh Ibnu Abbas telah dianugerahi pemahaman yang tajam serta ilmu yang luas, yang mana aku tidak pernah melihat Umar bin Al-Khotthob mendahulukan seorang pun di atas dirinya.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/283)

6. Ubay bin Ka’b (30 H) pernah bersama Ibnu Abbas, lalu beliau berdiri dan berkata di hadapan orang banyak: “Pemuda ini kelak akan menjadi tintanya (ulama besar) umat ini. Aku melihat kualitas akal dan pemahaman yang luar biasa pada dirinya, dan sungguh Rosululloh telah mendoakan dirinya agar dipahamkan dalam urusan agama.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/348)

7. Abdulloh bin Umar bin Al-Khotthob (73 H) mengakui: “Ibnu Abbas adalah orang yang paling berilmu di antara kami.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/282)

8. Abdulloh bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) bersaksi: “Ibnu Abbas adalah orang yang paling mengetahui di antara kami mengenai urusan masa lalu, orang yang paling paham di antara kami mengenai ayat yang diturunkan, serta mengenai urusan masa depan yang belum terjadi.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/284)

9. Tatkala Abdulloh bin Abbas wafat, Rofi’ bin Khodij (74 H) berkata: “Pada hari ini telah wafat seorang ulama yang ilmu dan fatwanya senantiasa dibutuhkan oleh seluruh penduduk yang berada di antara ufuk timur dan ufuk barat.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/284)

10. Mu’awiyah bin Abi Sufyan (60 H) pernah berkata kepada Ikrimah (budak yang dimerdekakan oleh Ibnu Abbas): “Majikanmu itu, demi Alloh, adalah orang yang paling paham fikih di antara seluruh manusia yang telah wafat maupun yang masih hidup.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/282)

11. Thowus bin Kaisan (106 H) menuturkan: “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengagungkan perkara-perkara yang dihormati dan diharomkan oleh Alloh melebihi Ibnu Abbas rodhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Demi Alloh, sekiranya aku mau menangis setiap kali mengingat kebaikan dirinya, niscaya aku pasti bisa menangis.” (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim Al-Asfohani (430 H), 1/329)

Thowus juga menambahkan: “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih berilmu daripada Ibnu Abbas.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/280)

Thowus kembali menceritakan: “Aku mendapati sekitar 500 orang dari kalangan Shohabat, yang mana apabila mereka saling berdiskusi dengan Ibnu Abbas lalu menyelisihinya, maka Ibnu Abbas senantiasa memaparkan argumentasi ilmiahnya kepada mereka hingga akhirnya mereka semua tunduk menyetujui pendapat beliau.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/351)

12. Sa’id bin Al-Musayyib (94 H) menegaskan: “Abdulloh bin Abbas adalah manusia yang paling berilmu.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/281)

13. Muhammad ibnul Hanafiyyah (81 H) berkata ketika prosesi pemakaman Ibnu Abbas selesai: “Pada hari ini, telah wafat seorang ulama Robbani (yang membimbing umat dengan ilmu) bagi umat ini.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/280)

14. Masruq (63 H) mengungkapkan: Dahulu apabila aku melihat sosok fisik Ibnu Abbas, aku akan berkata: “Dia adalah manusia yang paling tampan.” Apabila beliau mulai angkat bicara, aku akan berkata: “Dia adalah manusia yang paling fasih tutur katanya.” Dan apabila beliau menyampaikan suatu Hadits atau ilmu, aku akan berkata: “Dia adalah manusia yang paling luas ilmunya.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/351)

15. Ikrimah (105 H) menyatakan: “Keberadaan Ibnu Abbas dalam dunia ilmu itu ibarat lautan luas yang tidak bertepi, yang mana segala jalan keluar dari urusan yang pelik akan tersingkap melaluinya.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/354)

16. Mujahid bin Jabr (104 H) berkata: “Aku belum pernah melihat seorang pun yang menyamai sosok Ibnu Abbas. Sungguh pada hari kematiannya, beliau wafat dalam keadaan menyandang gelar sebagai tinta (ulama besar) bagi umat ini.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/350)

Mujahid juga mengatakan: “Ibnu Abbas dijuluki sebagai Al-Bahr (lautan) karena keluasan ilmu yang dimilikinya.” (At-Thobaqotul Kubro, Ibnu Sa’d (230 H), 2/279)

Mujahid kembali memuji: “Aku belum pernah mendengar suatu fatwa hukum yang lebih indah daripada fatwa milik Ibnu Abbas, kecuali apabila ada orang lain yang menyampaikan fatwa seraya menegaskan: Rosululloh telah bersabda.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/351)

17. Al-Hasan Al-Bashri (110 H) menceritakan: “Dahulu Ibnu Abbas pernah berdiri di atas mimbar kami, lalu beliau membaca surat Al-Baqoroh dan Ali ‘Imron, kemudian beliau menafsirkan isi kedua surat tersebut ayat demi ayat dengan sangat mendalam.” (Shifatus Shofwah, Ibnu Al-Jauzi (597 H), 1/749)

18. Yazid bin Al-Ashom (104 H) berkisah: “Pernah Mu’awiyah bin Abi Sufyan berangkat menunaikan ibadah Haji bersama dengan Ibnu Abbas. Ketika itu, Mu’awiyah dikelilingi oleh rombongan pasukannya yang megah, sedangkan Ibnu Abbas dikelilingi oleh rombongan besar para penuntut ilmu yang haus akan bimbingannya.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/351)

19. Al-Hakim (405 H) meriwayatkan dari Syaqiq (82 H), ia menceritakan: Ibnu Abbas pernah menyampaikan khutbah di hadapan kaum Muslimin ketika musim ibadah Haji. Beliau mengawalinya dengan membaca surat An-Nur, lalu beliau membacanya sembari menguraikan tafsirnya secara mendalam. Hal itu membuatku takjub hingga aku bergumam: “Aku belum pernah melihat dan mendengar tutur kata seorang lelaki sehebat dirinya, yang sekiranya bangsa Persia dan bangsa Romawi mendengarkan untaian kalimatnya ini, mereka pasti akan langsung masuk Islam.” (Mustadrok Al-Hakim, 3/537)

20. Al-Qosim bin Muhammad (106 H) bersaksi: “Aku sama sekali tidak pernah menjumpai satu pun perkara yang sia-sia atau kebatilan di dalam majelis ilmu yang diselenggarakan oleh Ibnu Abbas.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/351)

21. Sufyan bin ‘Uyainah (198 H) menyimpulkan: “Tidak ditemukan seorang pun pada zaman tersebut yang mampu menandingi keluasan ilmu yang dimiliki oleh Ibnu Abbas.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H), 3/352)

Tidak ada keraguan sama sekali bahwa doa Nabi untuk Ibnu Abbas agar diajarkan hikmah, dipahamkan dalam agama, serta diajarkan tafsir Al-Qur’an memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan Ibnu Abbas, dalam pembentukan kepribadiannya yang penuh keimanan, keilmuan, dan akhlak, serta dalam kesungguhannya mencari ilmu dan memahaminya dengan pemahaman yang benar. Ibnu Abbas tidak berpangku tangan hanya dengan bersandar pada doa Nabi untuknya, melainkan beliau sangat bersungguh-sungguh dalam mengumpulkan ilmu, meraihnya, serta memahami agama Alloh dengan mengerahkan segala kekuatan, aktivitas, kesabaran, dan tekad yang dimilikinya. Beliau memulainya dengan senantiasa mendampingi Nabi sejak usia belia hingga Rosululloh wafat. Ketika Nabi wafat, beliau langsung mendatangi para shohabat senior, sampai-sampai beliau rela membentangkan selendangnya sebagai alas tidur di depan pintu rumah salah seorang dari mereka demi mendengar sebuah Hadits.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas:

لَمَّا قُبِضَ النَّبِيُّ ﷺ قُلْتُ لِرَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ: هَلُمَّ فَلْنَسْأَلْ أَصْحَابَ النَّبِيُّ ﷺ عَنْ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَإِنَّهُمْ كَثِيرٌ! قَالَ: الْعَجَبُ لَكَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، أَتَرَى النَّاسَ يَحْتَاجُونَ إِلَيْكَ، وَفِي الْأَرْضِ مَنْ تَرَى مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ؟ قَالَ: فَتَرَكَ ذَلِكَ، وَأَقْبَلْتُ عَلَى الْمَسْأَلَةِ، وَتَتَبُّعِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، فَإِنْ كُنْتُ لَيَبْلُغُنِي الْحَدِيثُ عَنْ رَجُلٍ سَمِعَ الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ، فَأَجِدُهُ قَائِلًا: فَأَتَوَسَّدُ رِدَائِي عَلَى بَابِهِ تَسْفِي الرِّيَاحُ فِي وَجْهِي حَتَّى يَخْرُجَ . فَيَقُولُ: مَا جَاءَ بِكَ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ؟ فَأَقُولُ: بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْكَ . فَيَقُولُ: فَهَلَّا بَعَثْتَ إِلَيَّ حَتَّى آتِيَكَ، فَأَقُولُ: أَنَا كُنْتُ أَحَقَّ أَنْ آتِيَكَ، فَكَانَ ذَلِكَ الرَّجُلُ يَمُرُّ بِي بَعْدُ، وَالنَّاسُ يَسْأَلُونِي فَيَقُولُ: أَنْتَ كُنْتَ أَعْقَلَ مِنِّي»

“Ketika Nabi wafat, aku berkata kepada seorang lelaki dari kalangan Anshar: ‘Mari kita bertanya kepada para shohabat Nabi tentang Hadits Rosululloh , karena jumlah mereka sekarang masih banyak!’ Orang itu menjawab: ‘Sungguh aneh engkau ini wahai Ibnu Abbas, apakah engkau mengira orang-orang akan membutuhkanmu, padahal di muka bumi ini masih banyak para shohabat Rosululloh yang engkau lihat sendiri?’ Ibnu Abbas berkata: ‘Orang itu pun membiarkan urusan tersebut, sedangkan aku langsung berfokus untuk bertanya dan mencari para shohabat Nabi . Sungguh, apabila sampai kepadaku sebuah Hadits dari seorang lelaki yang mendengarnya langsung dari Rosululloh, lalu aku mendapatinya sedang tidur siang, maka aku membentangkan selendangku di depan pintunya sebagai alas tidur hingga angin meniupkan debu ke wajahku sampai ia keluar rumah.’ Ketika ia keluar, ia terkejut dan berkata: ‘Apa yang membuatmu datang ke sini wahai anak paman Rosululloh? Mengapa engkau tidak mengirim utusan saja kepadaku agar aku yang mendatangimu?’ Aku menjawab: ‘Aku yang lebih berhak untuk mendatangi engkau.’ Di kemudian hari, lelaki Anshar tersebut sering melewatu dan melihatku saat orang-orang berkumpul di sekelilingku untuk bertanya, lalu ia pun berkata: ‘Dahulu engkau jauh lebih cerdas daripada aku.’” (HR. Imam Ahmad dalam Fadhoilush Shohabah no. 1925, Ad-Darimi no. 590, dan Al-Hakim no. 363)

Oleh karena itu, jika beliau ditanya: “Bagaimana engkau bisa mendapatkan ilmu yang banyak ini?”  Beliau menjawab:

«بِلِسَانٍ سَؤُولٍ، وَقَلْبٍ عَقُولٍ»

“Dengan lisan yang gemar bertanya, dan hati yang gemar memahami.” (HR. Imam Ahmad dalam Fadhoilush Shohabah no. 1903)

Dari sinilah menjadi terbukti kebenaran doa Rosululloh pada diri Ibnu Abbas, sehingga Alloh mengaruniakannya hikmah; yaitu ketepatan, kerapian dalam segala urusan, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Alloh juga memberikan kefahaman serta pemahaman yang mendalam dalam urusan agama, dan mengajarkannya tafsir Al-Qur’an serta takwilnya, hingga beliau menjadi penerjemah Al-Qur’an dan ulamanya umat ini. Tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang dikaruniai ilmu, pemahaman, dan hikmah, maka hal itu pasti akan memengaruhi seluruh sisi kehidupannya, baik dalam keimanan, ibadah, rasa takut kepada Alloh, akhlak, wibawa, kecerdasan, kebijaksanaan, keluhuran budi, serta ketepatan dalam berpendapat! Oleh karena itu, Umar selalu mengajak Ibnu Abbas masuk bersama para tetua ahli Badar, meminta saran dan pendapatnya, serta bertanya kepadanya di hadapan mereka untuk memperlihatkan kepada mereka keilmuan, kebijaksanaan, dan pemahamannya yang mendalam terhadap agama.

Diriwayatkan dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Umar selalu mengajakku masuk bersama para tetua ahli Badar, lalu sebagian dari mereka memprotes: “Mengapa engkau memasukkan pemuda ini bersama kami, padahal kami memiliki anak-anak yang seumur dengannya?” Umar menjawab: “Sesungguhnya ia termasuk orang yang telah kalian ketahui sendiri kualitas keilmuannya.” Ibnu Abbas berkata: “Pada suatu hari Umar mengundang mereka dan mengajakku masuk bersama mereka. Aku tahu tidaklah ia mengundangku pada hari itu melainkan untuk memperlihatkan kemampuanku kepada mereka.”  Umar bertanya: “Apa pendapat kalian mengenai firman Alloh:

﴿إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ﴾

“Apabila telah datang pertolongan Robb dan kemenangan.” (QS. An-Nashr: 1) hingga selesai membaca surat tersebut?” Maka sebagian dari mereka menjawab: “Kita diperintahkan untuk memuji Alloh dan memohon ampunan kepada-Nya apabila kita ditolong dan diberikan kemenangan.” Sebagian yang lain berkata: “Kami tidak tahu,” atau sebagian mereka terdiam tidak mengatakan apa-apa. Lalu Umar bertanya kepadaku: “Wahai Ibnu Abbas, apakah demikian pula pendapatmu?” Aku menjawab: “Tidak.” Umar bertanya: “Lalu apa pendapatmu?” Aku menjawab: “Itu adalah isyarat wafatnya Rosululloh yang Alloh beritahukan kepada beliau: ‘Apabila telah datang pertolongan Robb dan kemenangan yaitu pembebasan kota Makkah, maka itulah tanda ajalmu telah dekat, maka bertasbihlah dengan memuji Robb-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.’“  Umar pun berkata: “Aku tidak mengetahui makna dari surat ini melainkan apa yang engkau ketahui.” (HR. Al-Bukhori no. 4294)

Diriwayatkan dari Thowus (106 H), ia berkata:

«وَاللَّهِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشَدَّ تَعْظِيمًا لِحُرُمَاتِ اللَّهِ مِنَ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَاللَّهِ لَوْ أَشَاءُ إِذَا ذَكَرْتُهُ أَنْ أَبْكِيَ لَبَكَيْتُ»

“Demi Alloh, aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengagungkan batasan-batasan suci Alloh daripada Ibnu Abbas. Demi Alloh, andai aku mau menangis ketika mengingatnya, niscaya aku pasti akan menangis.” (HR. Imam Ahmad dalam Fadhoilush Shohabah 2/950)

 

[15] Secercah Permata dari Ucapannya

1. Ibnu Abi Syaibah (235 H) meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair (95 H), dari Ibnu Abbas mengenai tafsir firman Alloh:

﴿وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ﴾

“Dan para penghuni Naar menyeru para penghuni Jannah: ‘Limpahkanlah kepada kami sedikit air.” Beliau menerangkan: “Ada seorang lelaki yang berada di dalam Naar akan memanggil saudara kandungnya, atau seseorang memanggil orang lainnya seraya meratap: ‘Sesungguhnya tubuhku telah hangus terbakar, maka curahkanlah sedikit air kepadaku.’ Maka dijawablah ratapannya itu: Jawablah seruannya dengan mengatakan: ‘Sesungguhnya Alloh telah mengharomkan air dan kenikmatan Jannah bagi orang-orang kafir.’” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, shohih, no. 35782)

2. Ibnu Abi Syaibah (235 H) meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair (95 H), dari Ibnu Abbas mengenai makna firman Alloh:

﴿الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ﴾

“Dari kejahatan (bisikan) syaithon yang biasa bersembunyi.” Beliau menjelaskan: “Syaithon itu senantiasa mendekam di atas hati anak Adam (manusia). Apabila manusia itu lupa dan lalai dari mengingat Alloh, maka syaithon akan membisikkan waswasnya. Namun apabila manusia itu kembali mengingat Alloh, maka syaithon tersebut akan tunduk bersembunyi.” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, shohih, no. 35783)

3. Ibnu Abi Syaibah (235 H) meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair (95 H), dari Ibnu Abbas mengenai firman Alloh:

﴿إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ﴾

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu dapat menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.” Beliau menegaskan: “Yang dimaksud di sini adalah ibadah Sholat 5 waktu.” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, shohih, no. 35793)

4. Ibnu Abi Syaibah (235 H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Anak Adam (manusia) itu memiliki 33 sendi (anggota badan). Atas setiap sendi tersebut terdapat kewajiban Zakat berupa bacaan tasbih (Subhanalloh), tahmid (Alhamdulillah), serta amalan dzikir kepada Alloh.” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, shohih, no. 35797)

 

[16] Wafatnya

Al-Hakim (405 H) meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair (95 H), ia menceritakan: Ibnu Abbas wafat di kota Thoif, lalu aku ikut serta menghadiri prosesi janazah beliau. Tiba-tiba datanglah seekor burung yang keindahan bentuk fisiknya belum pernah disaksikan sebelumnya, lalu burung tersebut masuk ke dalam kain kafan pembungkus janazah beliau. Kami pun terus memandangi dan mengamati dengan saksama apakah burung itu akan keluar lagi, namun hingga akhir prosesi tidak terlihat burung itu keluar dari kain kafannya. Tatkala janazah beliau telah dimasukkan ke dalam liang lahat dan dimakamkan, tiba-tiba terdengar suara bacaan ayat ini dikumandangkan di tepi kuburnya, sementara tidak ada seorang pun di antara kami yang mengetahui siapakah gerangan yang telah membacanya:

﴿يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ  ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً  فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  وَادْخُلِي جَنَّتِي﴾

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Robb-mu dalam keadaan hati yang ridho lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Jannah-Ku.” (Mustadrok Al-Hakim, 3/543)

Ibnu Abbas diuji oleh Alloh dengan mengalami kebutaan pada kedua matanya di masa-masa akhir kehidupannya. Beliau wafat pada tahun 68 Hijriyyah, dalam usia 71 tahun. Adapun yang bertindak sebagai imam Sholat Janazah bagi beliau adalah Muhammad ibnul Hanafiyyah. (Asadul Ghoobah, Ibnul Atsir (630 H), 3/189; Shifatus Shofwah, Ibnu Al-Jauzi (597 H), 1/757)

Umar bin Al-Khotthob (23 H) selalu mendekatkan beliau dan bertanya kepadanya, serta memasukkannya bersama para tetua ahli Badar untuk memperlihatkan kepada mereka keluasan ilmu dan pemahamannya. Beliau adalah orang yang cepat dalam menjawab, berwajah cerah, tampan, memiliki rambut lebat yang disemir dengan henna, berkulit putih tinggi merona kuning, berbadan besar lagi rupawan, ilmunya sangat luas, riwayatnya banyak, orang yang bodoh kembali pulang membawa ilmu dan hikmahnya yang melimpah, dan orang yang lapar pun pulang dari hidangan makanannya dalam keadaan kenyang! Beliau wafat rohimahulloh di Thoif pada tahun 68 H. Para ulama berbeda pendapat tentang usianya, ada yang mengatakan 71 tahun, ada yang mengatakan 72 tahun, dan ada yang mengatakan 74 tahun, namun pendapat pertama adalah pendapat yang kuat. Untuk mengetahui lebih banyak tentang keutamaan dan kemuliaannya, silakan merujuk pada kitab Fadhoilush Shohabah karya Imam Ahmad (2/949), Ma’rifatush Shohabah karya Abu Nu’aim (3/1699), dan Al-Ishobah karya Ibnu Hajar (4/122)

Semoga Alloh Ta’ala melimpahkan rohmat-Nya yang teramat luas kepada Abdulloh bin Abbas, serta membalas segala jasa-jasanya terhadap Islam dengan balasan yang terbaik.

Dan kita memohon kepada Alloh yang Maha Kuasa agar sudi mengumpulkan kita bersamanya di dalam Jannah Firdaus yang paling tinggi.[NK]

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini