Cari Ebook

[PDF] Syarah Hadits Iftitah Tahajjud Ibnu 'Abbas Kurikulum Tauhid dan Penyerahan Diri Seorang Hamba - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam yang telah memberikan hidayah kepada hamba-hamba-Nya.

Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , sang teladan agung, serta keluarga dan para Shohabat beliau yang mulia.

Amma ba’du:

Sholat Tahajjud merupakan ibadah yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Alloh . Waktu malam adalah saat turunnya rohmat dan pengabulan doa. Di antara sunnah yang sangat utama dalam Sholat malam adalah membaca doa iftitah yang pernah dibaca oleh Ibnu ‘Abbas rodhiyAllohu ‘anhuma dari Nabi . Doa ini merupakan sebuah kurikulum Tauhid yang mendalam bagi setiap hamba.

Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma berkata, “Apabila Nabi bangun di malam hari untuk Tahajjud, beliau berdoa,

«اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ ﷺ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

‘Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu, Engkaulah Pengatur langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Segala puji hanya milik-Mu, hanya milik-Mu kerajaan langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Segala puji hanya milik-Mu, Engkaulah Cahaya langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Segala puji hanya milik-Mu, Engkaulah Raja langit dan bumi. Segala puji hanya milik-Mu, Engkaulah kebenaran, janji-Mu adalah kebenaran, pertemuan dengan-Mu adalah kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran, Surga adalah kebenaran, Neraka adalah kebenaran, para Nabi adalah kebenaran, Muhammad adalah kebenaran, dan hari Qiyamah adalah kebenaran. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku bertaubat, hanya dengan (nama-Mu) aku berdebat, dan hanya kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.’” (HR. Al-Bukhori no. 1120)

Dalam riwayat lain:

«اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، أَنْتَ الحَقُّ، وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَقَوْلُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الحَقُّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ إِلَهِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ»

“Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu, Engkaulah Cahaya langit dan bumi. Segala puji hanya milik-Mu, Engkaulah Pengatur langit dan bumi. Segala puji hanya milik-Mu, Engkaulah Robb langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Engkaulah kebenaran, janji-Mu adalah kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran, pertemuan dengan-Mu adalah kebenaran, Surga adalah kebenaran, Neraka adalah kebenaran, para Nabi adalah kebenaran, dan hari Qiyamah adalah kebenaran. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku bertaubat, hanya dengan (nama-Mu) aku berdebat, dan hanya kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Ilah-ku, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Al-Bukhori no. 7499)

Urgensi pembahasan ini terletak pada perlunya menghadirkan hati saat Sholat. Banyak di antara kita membaca doa ini tanpa memahami kedalaman Tauhid yang terkandung di dalamnya. Tanpa pemahaman, Sholat kehilangan ruhnya. Dengan memahami syarah doa ini, diharapkan setiap Muslim dapat menapaki Sholatnya dengan kesadaran penuh, ketundukan yang mutlak, dan pengharapan yang besar kepada Robb-nya.

Buku ini disusun dengan kerangka yang sistematis untuk memudahkan pembaca dalam memahami setiap potongan kalimat dalam doa tersebut. Pembahasan dimulai dengan mengenali keagungan Alloh dalam sifat Rububiyyah dan Uluhiyyah. Kemudian, uraian berlanjut pada penetapan kebenaran janji Alloh dan hari kebangkitan. Setelah itu, dipaparkan tentang hakikat penyerahan diri yang tulus, diikuti dengan permohonan ampunan atas segala dosa, baik yang terdahulu maupun yang akan datang, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Terakhir, buku ini membahas puncak Tauhid serta penyerahan daya dan kekuatan hanya kepada Alloh .

 

Bab 1: Keagungan Alloh dalam Sifat Rububiyyah dan Uluhiyyah

1.1: Pemahaman tentang Qoyyim (Pengurus) Semesta

Lafazh “Qoyyim” dalam Hadits ini mencakup makna al-Qoim bi tadbiril makhluqot, yakni Dzat yang menegakkan segala urusan makhluk-Nya, menjaga kelangsungan hidup mereka, memberikan rizqi, serta mengatur perputaran langit dan bumi tanpa rasa lelah dan tanpa butuh bantuan. Qoyyim berarti Dzat yang maha berdiri sendiri sehingga tidak membutuhkan siapa pun, sementara segala sesuatu di alam semesta ini berdiri karena Dia dan butuh kepada-Nya.

Alloh berfirman:

﴿اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ﴾

Alloh, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. (QS. Al-Baqoroh: 255)

Al-Qoyyim adalah Dzat yang menjaga segala sesuatu, yang menetapkan segala sesuatu pada tempatnya, yang memberi rizqi dan segala kemaslahatan makhluk.

Pengakuan seorang hamba di awal Sholat Tahajjud dengan kalimat “Anta Qoyyimus samawati wal ardhi” merupakan bentuk penyerahan diri total kepada Robb yang mengatur nasib dan takdir. Hamba yang memahami ini akan merasa tenang karena menyadari bahwa urusannya berada di tangan Dzat yang Maha Sempurna dalam pengaturan.

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Ketenangan hati dalam menghadapi ujian kehidupan. Ketika seseorang menyadari bahwa Alloh adalah Qoyyim yang mengatur segala urusan langit dan bumi, maka ia tidak akan berkeluh kesah secara berlebihan saat menghadapi kesulitan ekonomi atau masalah keluarga. Ia yakin bahwa Dzat yang mengatur peredaran matahari dan bulan juga mengatur urusannya.

Membangun sifat tawakkal yang benar. Seseorang tidak akan mengandalkan kekuatan manusia atau kekuasaan makhluk karena ia sadar bahwa mereka pun berada di bawah pengaturan Alloh .

Kesadaran untuk selalu bergantung kepada Alloh dalam setiap langkah. Sebagaimana sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik rodhiyAllohu ‘anhu, Nabi bersabda:

«يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ»

Wahai Dzat Yang Maha Hidup, wahai Dzat Yang Maha Mengurus makhluk, dengan rohmat-Mu aku memohon pertolongan. (HR. At-Tirmidzi no. 3524)

1.2: Alloh sebagai Pemilik Mutlak Kerajaan Langit dan Bumi

Setelah mengakui Alloh sebagai pengurus, hamba melanjutkan dengan pengakuan kepemilikan. “Wa laka mulku samawati wal ardhi”. Ini adalah penetapan sifat mulk (kerajaan) yang mutlak bagi Alloh . Tidak ada satu pun atom di semesta ini yang keluar dari kekuasaan-Nya. Pengakuan ini meruntuhkan kesombongan manusia yang sering merasa memiliki jabatan, harta, atau kekuasaan, padahal semuanya adalah titipan dari Robb semesta alam.

Alloh berfirman:

﴿تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾

Maha Suci Alloh yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Mulk: 1)

Setiap Mu’min wajib meyakini bahwa Alloh adalah pemilik alam semesta yang hakiki. Kepemilikan Alloh bukan sekadar penguasaan, melainkan juga penciptaan. Berbeda dengan kepemilikan manusia yang terbatas, kepemilikan Alloh mencakup zat, sifat, dan nasib dari setiap ciptaan-Nya.

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Menghilangkan sifat kikir dan sombong atas harta. Seorang hamba yang sadar bahwa Alloh adalah pemilik mutlak, akan mudah mengeluarkan Zakat dan bersedekah, karena ia merasa hanya sebagai pemegang amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Sikap ridho terhadap takdir. Saat kehilangan sesuatu yang dicintai, seorang hamba tidak akan meratap karena ia sadar bahwa pemilik sesungguhnya telah mengambil kembali apa yang memang milik-Nya.

Menjaga lisan dan perbuatan. Pemilik kerajaan berhak membuat aturan. Maka hamba akan tunduk pada syariat karena sadar bahwa ia hidup di dalam kerajaan milik Alloh dan wajib mengikuti aturan-Nya. Sebagaimana Hadits:

«يَقْبِضُ اللَّهُ الأَرْضَ، وَيَطْوِي السَّمَوَاتِ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا المَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ»

Alloh akan menggenggam bumi pada hari Qiyamah dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman: “Aku adalah Raja, di manakah raja-raja bumi?” (HR. Al-Bukhori no. 4812 dan Muslim no. 2787)

1.3: Alloh sebagai Cahaya bagi Langit dan Bumi

“Anta nuru samawati wal ardhi”. Kalimat ini adalah bentuk pengagungan terhadap sifat Nur Alloh . Alloh adalah Nur yang menyinari langit dan bumi dengan cahaya-Nya. Cahaya ini bersifat hakiki dan maknawi (keagungan dan petunjuk). Alloh lah yang memberikan cahaya kepada bulan, bintang, dan matahari, serta memberikan cahaya petunjuk kepada hati orang-orang beriman.

Alloh berfirman:

﴿اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلِنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلُّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾

Alloh (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Alloh, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Alloh membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Alloh memperperumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nur: 35)

Makna Nur dalam Hadits ini juga mencakup hidayah. Tanpa cahaya Alloh , niscaya langit dan bumi akan berada dalam kegelapan syirik dan kebodohan. Alloh lah yang menuntun para Nabi, Rosul, dan kaum Mu’min menuju kebenaran.

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Pentingnya menuntut ilmu syar’i. Ilmu adalah cahaya yang dengannya seorang hamba dapat melihat jalan yang lurus di tengah kegelapan zaman dan fitnah yang merajalela.

Harapan bagi orang yang tersesat. Bagi mereka yang merasa hidupnya gelap, jauh dari ketaatan, Hadits ini mengajarkan untuk memohon cahaya kepada Alloh agar hati kembali mendapatkan petunjuk.

Membedakan yang hak dan bathil. Hamba yang mendapatkan cahaya dari Alloh akan memiliki bashiroh (ketajaman mata hati) untuk melihat kebenaran di balik kerancuan yang ditebarkan oleh ahli bid’ah atau musuh-musuh agama. Sebagaimana doa Nabi :

«اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا، وَعَنْ يَسَارِي نُورًا، وَفَوْقِي نُورًا، وَتَحْتِي نُورًا، وَأَمَامِي نُورًا، وَخَلْفِي نُورًا، وَاجْعَلْ لِي نُورًا»

Ya Alloh, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, pada penglihatanku cahaya, pada pendengaranku cahaya, di sebelah kananku cahaya, di sebelah kiriku cahaya, di atasku cahaya, di bawahku cahaya, di depanku cahaya, dan di belakangku cahaya, serta berilah aku cahaya. (HR. Al-Bukhori no. 6316 dan Muslim no. 763)

 

Bab 2: Penetapan Al-Haq dan Hari Kebangkitan

2.1: Alloh adalah Al-Haq dan Janji-Nya adalah Benar

Kalimat “Antal Haqq wa wa’dukal Haqq” mengandung penetapan sifat Al-Haq bagi Alloh . Al-Haq artinya Dzat yang keberadaannya adalah kebenaran mutlak, sifat-sifat-Nya benar, perbuatan-Nya benar, dan firman-Nya benar. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam setiap ketetapan Alloh . Segala sesuatu selain Alloh adalah bathil atau akan menjadi binasa, namun Alloh tetap kekal dan benar.

Alloh berfirman:

﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ﴾

Yang demikian itu, karena sesungguhnya Alloh, Dialah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Alloh, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Alloh Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Hajj: 62)

Alloh adalah kebenaran yang tidak ada keraguan pada-Nya, dan Dialah yang disembah dengan haq.

Adapun wa’dukal Haqq bermakna janji Alloh untuk menolong hamba-Nya, janji pahala bagi yang taat, dan janji adzab bagi yang bermaksiat adalah pasti terjadi. Tidak ada yang bisa membatalkan janji-Nya.

Contohnya janji Alloh yang dipenuhi kepada Musa. Alloh berfirman:

﴿وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ﴾

Dan tatkala Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Qoshosh: 14)

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Menumbuhkan optimisme dalam berdoa. Hamba yang meyakini janji Alloh adalah benar, tidak akan pernah berputus asa dalam memohon, karena ia tahu Alloh tidak pernah mengingkari janji-Nya untuk mengabulkan doa.

Keteguhan dalam berpegang pada syariat. Saat manusia di sekelilingnya meninggalkan agama demi dunia, ia tetap teguh karena yakin janji Alloh tentang balasan Akhiroh adalah satu-satunya yang pasti.

Kejujuran dalam bertutur kata. Meneladani sifat Al-Haq Alloh , seorang Mu’min akan berusaha menjauhi dusta dalam setiap urusan, baik urusan perdagangan maupun janji pribadi.

2.2: Pertemuan dengan Alloh dan Kebenaran Hari Berbangkit

Kalimat “Liqa-uka Haqq” adalah pengakuan atas kepastian pertemuan dengan Alloh . Ini adalah pondasi iman yang mengubah orientasi hidup seseorang. Ketika seorang hamba sadar bahwa ia pasti akan menghadap Alloh untuk mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya, maka ia akan sangat berhati-hati dalam setiap detik kehidupannya.

Alloh berfirman:

﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

Siapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Robbnya. (QS. Al-Kahfi: 110)

Ayat ini memotivasi hamba untuk menyiapkan bekal terbaik demi perjumpaan yang membahagiakan, bukan perjumpaan yang penuh penyesalan. Pertemuan ini adalah realita yang tidak terelakkan, sebagaimana siang berganti malam.

Rosululloh bersabda dalam sebuah Hadits:

«مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ»

Siapa yang senang bertemu dengan Alloh, maka Alloh pun senang bertemu dengannya, dan siapa yang benci bertemu dengan Alloh, maka Alloh pun benci bertemu dengannya. (HR. Al-Bukhori no. 6507 dan Muslim no. 2683)

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Meringankan beban dunia. Ketika seseorang sadar tujuan akhirnya adalah Alloh , maka kehilangan harta atau jabatan duniawi tidak lagi dianggap sebagai bencana besar, karena fokusnya adalah persiapan perjumpaan dengan Robb-nya.

Memperbaiki kualitas Sholat. Sholat Tahajjud yang dilakukan adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh sebagai latihan kecil sebelum pertemuan besar di Akhiroh kelak.

Menjauhi perbuatan zholim. Kesadaran bahwa ia akan berdiri di hadapan Alloh membuat seseorang takut untuk menyakiti orang lain atau mengambil hak orang lain, karena ia tahu ia akan dimintai pertanggungjawaban.

2.3: Kebenaran Para Nabi, Nabi Muhammad , dan Hari Qiyamah

Penggalangan kalimat “Qouluka Haqq, wal Jannah Haqq, wan Naar Haqq, wan Nabiyyuna Haqq, wa Muhammad Haqq, was Sa’ah Haqq” merupakan penegasan aqidah secara sistematis. Seluruh berita dari Alloh dalam Qur’an adalah kebenaran. Tempat kembali berupa Jannah dan Naar adalah realita fisik yang telah disiapkan. Kenabian dan keRosulan merupakan kebenaran mutlak.

Alloh berfirman mengenai Jannah dan Naar:

﴿أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾

(Jannah) yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (QS. Ali ‘Imron: 133)

﴿وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا﴾

Dan Kami menyediakan bagi siapa yang mendustakan hari Qiyamah, suatu neraka yang menyala-nyala. (QS. Al-Furqon: 11)

Kebenaran Nabi Muhammad adalah bagian dari iman yang tidak terpisahkan. Meyakini beliau berarti meyakini seluruh syariat yang beliau bawa.

Adapun Hari Qiyamah (As-Sa’ah) adalah kepastian yang tidak ada keraguan padanya.

Alloh berfirman:

﴿وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ﴾

Dan sesungguhnya hari Qiyamah itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Alloh membangkitkan semua orang di dalam kubur. (QS. Al-Hajj: 7)

Penetapan haq bagi hal-hal ini dalam doa iftitah bertujuan untuk mengokohkan hati hamba agar tetap istiqomah di atas jalan yang lurus.

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Mengokohkan identitas sebagai Muslim. Di tengah maraknya pemikiran yang meragukan syariat atau kenabian, pengakuan ini memperkuat keyakinan bahwa apa yang dibawa Nabi Muhammad adalah kebenaran satu-satunya.

Motivasi untuk beramal sholih. Keyakinan akan adanya Jannah dan Naar yang haq memberikan dorongan psikologis yang kuat bagi seorang Mu’min untuk bersegera dalam kebaikan dan menjauhi maksiat.

Menghindari kesia-siaan waktu. Karena mengetahui bahwa Hari Qiyamah itu haq dan akan datang dengan tiba-tiba, maka seseorang tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk perkara yang tidak bermanfaat bagi Akhirohnya.

Meneladani Nabi dalam segala urusan. Mengakui Muhammad itu haq berarti menerima sunnah beliau sebagai pedoman hidup, baik dalam urusan ibadah maupun muamalah sehari-hari. Sebagaimana firman Alloh :

﴿مَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا﴾

Apa yang diberikan Rosul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr: 7)

Bab 3: Hakikat Penyerahan Diri kepada Robb Semesta

3.1: Islam, Iman, dan Tawakkal sebagai Fondasi Hamba

Pengakuan seorang hamba yang telah menetapkan keagungan Alloh dalam sifat Rububiyyah dan Uluhiyyah kemudian berpindah kepada tindakan praktis berupa penyerahan diri. Kalimat “Allohumma laka aslamtu, wa bika amantu, wa ‘alaika tawakkaltu” merupakan tiga pilar utama penghambaan. Islam berarti ketundukan lahiriah terhadap syariat, Iman berarti pembenaran dalam hati terhadap segala perintah dan larangan, sementara Tawakkal adalah menyandarkan seluruh urusan kepada Alloh setelah berusaha.

Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا﴾

Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Alloh, sedang diapun berbuat kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrohim yang lurus? Dan Alloh mengambil Ibrohim menjadi kesayangan-Nya. (QS. An-Nisa: 125)

Ayat ini sebagai bentuk ketaatan mutlak di mana seorang hamba tidak lagi memiliki kehendak kecuali Alloh memudahkannya. Tawakkal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menggantungkan hati kepada Alloh sementara anggota badan bekerja sesuai sunnatulloh.

Rosululloh bersabda:

«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

Seandainya kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenarnya, niscaya Dia akan memberi kalian rizqi sebagaimana Dia memberi rizqi kepada burung, yang berangkat pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang. (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Stabilitas emosi dalam bekerja. Seorang Mu’min yang benar tawakkalnya tidak akan terkena depresi saat target usaha tidak tercapai, karena ia meyakini bahwa Alloh sebagai penentu akhir segala hasil.

Ketulusan dalam beribadah. Ketika seseorang berserah diri (Islam), ia tidak lagi mengharap pujian manusia dalam Sholat atau sedekahnya, karena tujuannya hanyalah keridhoan Alloh .

Menghilangkan sifat iri dan dengki. Meyakini Alloh sebagai pemberi rizqi membuat seseorang merasa cukup dengan bagian yang diberikan kepadanya, sehingga hatinya lapang dari rasa hasad terhadap keberhasilan orang lain.

3.2: Kembali kepada Alloh dan Berhujjah dengan-Nya

Kalimat “Wa ilaika anabtu, wa bika khoshomtu” mengandung makna inabah (kembali/bertaubat) dan khishom (pembelaan terhadap kebenaran). Inabah adalah sikap kembali kepada Alloh dari segala dosa dan kelalaian. Seorang hamba yang bertaqwa senantiasa memperbarui taubatnya setiap saat. Adapun khishom bermakna menggunakan argumen Alloh untuk membela kebenaran dan menolak kebathilan.

Alloh berfirman:

﴿مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ﴾

(Yaitu) orang yang takut kepada Robb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. (QS. Qof: 33)

Al-Qurtubi (671 H) menjelaskan bahwa hati yang munib adalah hati yang selalu kembali kepada ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.

Menjadi hamba yang khoshom artinya tidak berdiam diri melihat kemungkaran, namun membela syariat dengan dalil-dalil yang Shohih sesuai tuntunan Nabi dan para Shohabat.

Rosululloh bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman. (HR. Muslim no. 49)

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Keberanian menyuarakan kebenaran. Dalam kehidupan sosial, seringkali kebenaran ditekan. Seorang Mu’min wajib memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan argumen yang kuat dari Al-Qur’an dan Hadits.

Pentingnya muhasabah harian. Aktivitas inabah (kembali kepada Alloh ) dilakukan setiap hari, sehingga kesalahan kecil tidak menumpuk menjadi dosa besar yang mematikan hati.

Menjaga lisan dari perdebatan kosong. Berhujjah (khoshom) di sini bukan debat kusir untuk mencari menang sendiri, melainkan menegakkan keadilan dan syariat.

3.3: Konsekuensi Berhukum kepada Alloh

Kalimat “Wa ilaika hakamtu” bermakna menjadikan Alloh sebagai hakim tertinggi dalam segala perselisihan. Baik perselisihan dalam urusan keluarga, perdagangan, maupun masalah sosial. Tidak ada hukum yang lebih adil daripada hukum Alloh . Seorang hamba yang mengucapkan doa ini secara sadar wajib menerima hukum syariat dengan lapang dada, meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya.

Alloh berfirman:

﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

Maka demi Robbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (hai Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa: 65)

Siapa yang mencari hukum selain hukum Alloh , maka ia telah keluar dari hakikat Tauhid. Tawallul hakamah (menyerahkan keputusan) kepada Alloh mencakup pula keridhoan terhadap ketentuan takdir yang pahit.

Alloh berfirman:

﴿أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ﴾

Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah: 50)

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Keadilan dalam rumah tangga. Saat suami istri berselisih, mereka tidak menggunakan emosi atau adat setempat yang bertentangan dengan Islam, melainkan merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Ketenangan pasca keputusan. Ketika seseorang sudah menyerahkan perkara kepada Alloh (hukum syar’i), maka ia tidak akan menyimpan dendam atau rasa tidak puas, karena ia tahu keputusan Alloh adalah yang terbaik.

Ketaatan pada pemimpin selama tidak maksiat. Berhukum kepada Alloh juga berarti menaati aturan yang tidak melanggar syariat, sebagai wujud tunduk kepada Robb semesta.

Jujur dalam berbisnis. Seorang pedagang Muslim tidak akan melakukan praktik curang (riba atau ghoror) karena ia telah menetapkan bahwa Alloh adalah satu-satunya hakim yang menentukan halal dan harom dalam hartanya. Sebagaimana Hadits:

«الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ»

Yang halal itu jelas dan yang harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat. (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)

 

Bab 4: Doa Pengampunan dan Pengakuan terhadap Nama dan Sifat Alloh

4.1: Memohon Ampunan atas Dosa yang Lalu dan yang Akan Datang

Kalimat faghfirli ma qoddamtu wa ma akhkhortu merupakan bentuk kesadaran hamba akan kelemahan dan dosa. Seseorang tidak pernah luput dari kesalahan, baik dosa yang telah dilakukan di masa lalu (ma qoddamtu) maupun dosa yang mungkin akan dilakukan di masa depan (ma akhkhortu). Memohon ampunan untuk dosa masa depan bermakna memohon penjagaan dari Alloh agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan di kemudian hari.

Alloh berfirman:

﴿فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ﴾

Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Alloh itu benar, dan mohonlah ampunan bagi dosa kamu dan bertasbihlah seraya memuji Robbmu pada waktu petang dan pagi. (QS. Ghofir: 55)

Istighfar merupakan kunci pembuka rohmat dan kelembutan Alloh bagi setiap Mu’min yang mengakui kehinaannya di hadapan keagungan Sang Pencipta. Memohon ampun atas dosa yang akan datang adalah bentuk tawassul dengan sifat rohmat Alloh agar senantiasa dibimbing dalam ketaatan.

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Menjaga kerendahan hati. Seseorang yang selalu beristighfar atas dosa yang telah lewat tidak akan terjebak dalam kesombongan masa lalu atau merasa diri suci.

Kewaspadaan diri. Permohonan ampun atas dosa yang akan datang menanamkan kesadaran untuk selalu berhati-hati dalam berucap dan bertindak agar tidak melanggar syariat di masa depan.

Ketenangan jiwa. Kesadaran bahwa Alloh Maha Pengampun memberikan harapan besar bagi seorang hamba untuk terus memperbaiki diri tanpa berputus asa dari rohmat-Nya.

Kepatuhan kepada Nabi . Meneladani Nabi yang senantiasa beristighfar, sebagaimana sabda beliau:

«وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً»

Demi Alloh, aku memohon ampun kepada Alloh dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali. (HR. Al-Bukhori no. 6307)

4.2: Memohon Ampunan atas Dosa yang Tersembunyi dan Terang-terangan

Ungkapan wa ma asrortu wa ma a’lantu adalah pengakuan jujur bahwa tidak ada satu pun perbuatan manusia yang luput dari pengawasan Alloh . Dosa yang disembunyikan (asrortu) seringkali lebih berbahaya karena dilakukan di tempat sunyi tanpa rasa malu kepada manusia, sementara dosa yang terang-terangan (a’lantu) adalah bentuk kelancangan dan meremehkan syariat di depan umum.

Alloh berfirman:

﴿يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ﴾

Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS. Ghofir: 19)

Alloh Maha Melihat segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, maka hamba yang beriman harus menjaga adab baik saat sendiri maupun bersama orang. Pengakuan dalam doa ini adalah bentuk pensucian diri dari sifat munafik, di mana perbuatan lahiriah sesuai dengan apa yang ada di dalam hati.

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Membangun muraqobatulloh. Menyadari bahwa dosa tersembunyi pun diketahui Alloh akan menghalangi seseorang dari perbuatan maksiat di saat sendirian, seperti saat menggunakan internet atau berada di tempat yang jauh dari pengawasan manusia.

Jujur pada diri. Seorang Mu’min berusaha menyamakan kondisi batin dan lahirnya, sehingga ia menjadi sosok yang terpercaya dan jauh dari perilaku nifaq.

Kejujuran dalam bertaubat. Mengakui dosa secara spesifik dalam doa adalah langkah awal untuk benar-benar meninggalkan perbuatan tersebut.

Benteng dari dosa sosial. Menjaga diri dari dosa terang-terangan membantu menjaga marwah agama di tengah masyarakat, agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Sebagaimana sabda Nabi :

«كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ»

Setiap umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang berterang-terangan dalam berbuat dosa. (HR. Al-Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990)

4.3: Menetapkan Nama Alloh Al-Muqoddim dan Al-Mu-akhkhir

Kalimat Antal Muqoddim, wa Antal Mu-akhkhir adalah penetapan terhadap dua nama mulia Alloh . Al-Muqoddim artinya Dzat yang mendahulukan segala sesuatu sesuai dengan hikmah dan ilmu-Nya, sedangkan Al-Mu-akhkhir artinya Dzat yang mengakhirkan segala sesuatu sesuai dengan ketentuan-Nya. Tidak ada yang bisa mendahulukan apa yang diakhirkan Alloh , dan tidak ada yang bisa mengakhirkan apa yang didahulukan-Nya.

Alloh berfirman:

﴿مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan (hapuskan), atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu? (QS. Al-Baqoroh: 106)

Hikmah Alloh dalam mendahulukan dan mengakhirkan sesuatu—baik dalam urusan syariat maupun takdir—adalah bukti sempurna keadilan dan ilmu-Nya yang tidak terbatas oleh logika manusia. Hamba yang mengakui ini akan menerima setiap ketetapan takdir dengan ridho, termasuk jika ia merasa urusannya diakhirkan oleh Alloh dibandingkan orang lain.

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Menghilangkan rasa iri terhadap capaian duniawi orang lain. Seseorang tidak akan merasa tersaingi ketika melihat orang lain lebih sukses atau lebih dahulu mencapai target, karena ia yakin Alloh yang mengatur giliran dan waktu.

Kesabaran dalam menunggu hasil. Dalam berbisnis atau belajar, seseorang tetap berikhtiar maksimal namun hatinya tenang menanti waktu terbaik yang telah ditetapkan Alloh .

Menghargai proses. Mengetahui bahwa ada hal yang didahulukan dan diakhirkan membuat seseorang lebih bijak dalam menentukan prioritas dalam hidupnya.

Mengutamakan Akhiroh atas dunia. Mengakui sifat ini menuntut hamba untuk mendahulukan amal ketaatan yang abadi daripada kesenangan dunia yang sementara, karena Nabi bersabda:

«مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ»

Siapa yang dunia menjadi tujuannya, maka Alloh mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakirannya di depan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. (HSR. Ibnu Majah no. 4105)

 

Bab 5: Tauhid Uluhiyyah dan Hauqolah

5.1: Mengesakan Alloh dalam Ibadah

Kalimat Laa ilaha illa Anta merupakan puncak dari seluruh rangkaian doa ini. Ini adalah kalimat Tauhid yang menjadi inti dakwah para Rosul sejak Nabi Adam ‘alaihis salam hingga Nabi Muhammad . Kalimat ini menegaskan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan cara apa pun, baik Sholat, doa, nadzar, maupun kurban, selain Alloh .

Setelah seorang hamba memuji Alloh , menetapkan sifat-sifat-Nya, dan mengakui segala kekurangan dirinya, ia menutup pengakuan tersebut dengan mengesakan Penciptanya.

Alloh berfirman:

﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ﴾

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak melainkan Alloh dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Alloh mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (QS. Muhammad: 19)

Ayat ini memerintahkan untuk mengilmui dan meyakini Tauhid, karena inilah hak Alloh yang paling agung. Ketika seseorang mengucapkan Laa ilaha illa Anta dalam Sholat, ia sedang memperbarui akad imannya. Ia melepaskan diri dari segala bentuk kesyirikan, baik syirik besar yang mengeluarkan dari agama maupun syirik kecil yang menodai kesempurnaan Tauhid.

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Menjaga kemurnian niat. Seorang yang berTauhid tidak akan terjebak dalam riya atau mencari popularitas di tengah masyarakat, karena ia tahu hanya Alloh sesembahannya yang berhak memberi pahala.

Menjadi benteng dari khurofat. Di tengah masyarakat yang masih percaya pada jimat, dukun, atau perantara untuk melancarkan urusan, hamba yang berTauhid tetap teguh hanya menyandarkan diri kepada Alloh .

Ketenangan dalam menghadapi krisis. Saat situasi sulit menimpa, seseorang tidak lari kepada hal-hal yang dimurkai Alloh , melainkan kembali kepada Tauhid sebagai solusi utama.

Mengamalkan keutamaan kalimat Tauhid. Sebagaimana Hadits Nabi :

«أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ»

Zikir yang paling utama adalah Laa ilaha illalloh dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah. (HHR. At-Tirmidzi no. 3383)

5.2: Menyerahkan Segalanya kepada Kekuatan dan Pertolongan Alloh

Kalimat terakhir dalam iftitah ini adalah Laa haula wala quwwata illa billah. Kalimat ini adalah pernyataan ketidakberdayaan seorang hamba dan pengakuan akan kemahakuasaan Alloh . Laa haula berarti tidak ada daya untuk meninggalkan maksiat, dan wala quwwata berarti tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan, kecuali atas pertolongan Alloh .

Alloh berfirman:

﴿وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا﴾

Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu: Maa syaa Alloh, laa quwwata illaa billah (sungguh atas kehendak Alloh semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. (QS. Al-Kahfi: 39)

Kalimat ini adalah penyembuh bagi berbagai penyakit hati, khususnya kesombongan dan ketergantungan pada diri. Hamba yang menyadari ini tidak akan takabur atas keberhasilan atau kepintarannya, karena ia tahu semuanya adalah anugerah dari Alloh .

Kaitan dengan Realita Kehidupan:

Meringankan beban amal sholih. Seseorang tidak merasa hebat ketika mampu Sholat malam atau berpuasa, karena ia sadar bahwa kemampuan itu datang dari Alloh .

Kunci masuk Jannah. Kalimat ini merupakan simpanan dari simpanan Jannah, yang jika diucapkan dengan penuh penghayatan akan menenangkan jiwa di dunia.

Menghilangkan rasa takut berlebihan. Saat menghadapi ancaman atau tantangan besar, mengucapkan kalimat ini memberikan kekuatan mental yang luar biasa karena ia bersandar pada Dzat yang tidak tertandingi kekuatannya.

Meneladani Nabi . Dalam Hadits disebutkan:

«أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزِ الجَنَّةِ؟ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

Maukah aku tunjukkan kepadamu suatu kalimat yang merupakan simpanan dari simpanan Jannah? Yaitu Laa haula wala quwwata illa billaah. (HR. Al-Bukhori no. 6386 dan Muslim no. 2704)

 

Penutup

Perjalanan memahami syarah Hadits iftitah Tahajjud Ibnu ‘Abbas ini telah mengantarkan kita pada pemahaman betapa agungnya doa yang diajarkan oleh Rosululloh kepada umatnya. Iftitah ini bukan sekadar rangkaian kata yang dibaca secara rutin, melainkan sebuah kurikulum Tauhid yang lengkap bagi setiap hamba yang ingin menghadap Robbnya di tengah malam.

Seseorang yang memulai Sholatnya dengan pengakuan terhadap Rububiyyah Alloh , kepemilikan-Nya, cahaya-Nya, kebenaran janji-Nya, dan hari berbangkit, akan menapaki Sholat dengan hati yang penuh ketundukan. Ia telah melepas beban duniawi dan meletakkan hatinya di bawah naungan kekuasaan Alloh semata. Islam, iman, tawakkal, dan inabah yang diucapkan bukan sekadar lisan, tetapi janji setia seorang hamba kepada Penciptanya.

Pengakuan atas dosa-dosa, baik yang lalu maupun yang akan datang, terang maupun tersembunyi, menunjukkan kejujuran seorang Mu’min yang sadar akan hakikat dirinya sebagai manusia yang dhoif (lemah). Ditutup dengan penetapan Tauhid Uluhiyyah dan berserah diri sepenuhnya melalui kalimat Laa haula wala quwwata illa billah, menjadikan Sholat Tahajjud bukan lagi rutinitas biasa, melainkan pertemuan hamba dengan Robbnya yang penuh pengharapan dan rasa takut.

Semoga pembahasan singkat ini dapat membantu pembaca dalam menghayati setiap kata yang terucap dalam doa iftitah tersebut, sehingga Sholat kita menjadi Sholat yang menghidupkan hati, mencegah dari perbuatan keji dan munkar, serta menjadi penolong dalam setiap urusan kehidupan dunia dan Akhiroh.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad , keluarga, para Shohabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman. Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam.

Allohu a’lam.[NK]

 

Daftar Pustaka

Al-Bukhori, Muhammad bin Ismail. Shohih Al-Bukhori.

Muslim, bin Hajjaj. Shohih Muslim.

At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan At-Tirmidzi.

 

Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah.

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Ibnu Katsir.

As-Sa’di, Abdurrohman bin Nashir. Tafsir As-Sa’di (Taisirul Karimir Rohman).

Al-Qurtubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an.

Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abdul Halim. Majmu’ Fatawa.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, Muhammad bin Abu Bakr. Madarijus Salikin.

Ibnu Qudamah, Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni.

 

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, Muhammad bin Abu Bakr. Syifaul ‘Alil.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, Muhammad bin Abu Bakr. Zadul Ma’ad.[]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini