[PDF] Syarah Hadits Iftitah Tahajjud Ibnu 'Abbas Kurikulum Tauhid dan Penyerahan Diri Seorang Hamba - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam yang telah
memberikan hidayah kepada hamba-hamba-Nya.
Sholawat
serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ,
sang teladan agung, serta keluarga dan para Shohabat beliau yang mulia.
Amma ba’du:
Sholat Tahajjud
merupakan ibadah yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Alloh ﷻ. Waktu malam adalah saat
turunnya rohmat dan pengabulan doa. Di antara sunnah yang sangat utama dalam Sholat
malam adalah membaca doa iftitah yang pernah dibaca oleh Ibnu ‘Abbas rodhiyAllohu
‘anhuma dari Nabi ﷺ. Doa ini merupakan sebuah
kurikulum Tauhid yang mendalam bagi setiap hamba.
Ibnu ‘Abbas
rodhiyallahu ‘anhuma berkata, “Apabila Nabi ﷺ
bangun di malam hari untuk Tahajjud, beliau berdoa,
«اللَّهُمَّ
لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ
لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ
السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ
وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ،
وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ
ﷺ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ
تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ
لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ،
وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا
بِاللَّهِ»
‘Ya
Allah, segala puji hanya milik-Mu, Engkaulah Pengatur langit dan bumi serta
siapa saja yang ada di dalamnya. Segala puji hanya milik-Mu, hanya milik-Mu
kerajaan langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Segala puji
hanya milik-Mu, Engkaulah Cahaya langit dan bumi serta siapa saja yang ada di
dalamnya. Segala puji hanya milik-Mu, Engkaulah Raja langit dan bumi. Segala
puji hanya milik-Mu, Engkaulah kebenaran, janji-Mu adalah kebenaran, pertemuan
dengan-Mu adalah kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran, Surga adalah kebenaran,
Neraka adalah kebenaran, para Nabi adalah kebenaran, Muhammad ﷺ adalah kebenaran, dan hari Qiyamah adalah
kebenaran. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku
beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku bertaubat, hanya
dengan (nama-Mu) aku berdebat, dan hanya kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah
dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang
aku tampakkan. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan.
Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau, dan tidak ada daya serta
kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.’” (HR. Al-Bukhori no. 1120)
Dalam
riwayat lain:
«اللَّهُمَّ
لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ
السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ
فِيهِنَّ، أَنْتَ الحَقُّ، وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَقَوْلُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الحَقُّ،
وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ،
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ،
وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ،
وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ إِلَهِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ»
“Ya
Allah, segala puji hanya milik-Mu, Engkaulah Cahaya langit dan bumi. Segala
puji hanya milik-Mu, Engkaulah Pengatur langit dan bumi. Segala puji hanya
milik-Mu, Engkaulah Robb langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya.
Engkaulah kebenaran, janji-Mu adalah kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran,
pertemuan dengan-Mu adalah kebenaran, Surga adalah kebenaran, Neraka adalah
kebenaran, para Nabi adalah kebenaran, dan hari Qiyamah adalah kebenaran. Ya
Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya
kepada-Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku bertaubat, hanya dengan (nama-Mu)
aku berdebat, dan hanya kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku yang
telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan.
Engkaulah Ilah-ku, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Al-Bukhori no. 7499)
Urgensi
pembahasan ini terletak pada perlunya menghadirkan hati saat Sholat. Banyak di
antara kita membaca doa ini tanpa memahami kedalaman Tauhid yang terkandung di
dalamnya. Tanpa pemahaman, Sholat kehilangan ruhnya. Dengan memahami syarah doa
ini, diharapkan setiap Muslim dapat menapaki Sholatnya dengan kesadaran penuh,
ketundukan yang mutlak, dan pengharapan yang besar kepada Robb-nya.
Buku ini
disusun dengan kerangka yang sistematis untuk memudahkan pembaca dalam memahami
setiap potongan kalimat dalam doa tersebut. Pembahasan dimulai dengan mengenali
keagungan Alloh ﷻ
dalam sifat Rububiyyah dan Uluhiyyah. Kemudian, uraian berlanjut pada penetapan
kebenaran janji Alloh ﷻ dan
hari kebangkitan. Setelah itu, dipaparkan tentang hakikat penyerahan diri yang
tulus, diikuti dengan permohonan ampunan atas segala dosa, baik yang terdahulu
maupun yang akan datang, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.
Terakhir, buku ini membahas puncak Tauhid serta penyerahan daya dan kekuatan
hanya kepada Alloh ﷻ.
Bab 1: Keagungan Alloh ﷻ dalam Sifat Rububiyyah dan Uluhiyyah
1.1:
Pemahaman tentang Qoyyim (Pengurus) Semesta
Lafazh “Qoyyim”
dalam Hadits ini mencakup makna al-Qoim bi tadbiril makhluqot, yakni
Dzat yang menegakkan segala urusan makhluk-Nya, menjaga kelangsungan hidup
mereka, memberikan rizqi, serta mengatur perputaran langit dan bumi tanpa rasa
lelah dan tanpa butuh bantuan. Qoyyim berarti Dzat yang maha berdiri sendiri
sehingga tidak membutuhkan siapa pun, sementara segala sesuatu di alam semesta
ini berdiri karena Dia dan butuh kepada-Nya.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿اللَّهُ
لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ
مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ﴾
Alloh,
tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus
menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya
apa yang di langit dan di bumi. (QS. Al-Baqoroh: 255)
Al-Qoyyim
adalah Dzat yang menjaga segala sesuatu, yang menetapkan segala sesuatu pada
tempatnya, yang memberi rizqi dan segala kemaslahatan makhluk.
Pengakuan
seorang hamba di awal Sholat Tahajjud dengan kalimat “Anta Qoyyimus samawati
wal ardhi” merupakan bentuk penyerahan diri total kepada Robb yang mengatur
nasib dan takdir. Hamba yang memahami ini akan merasa tenang karena menyadari
bahwa urusannya berada di tangan Dzat yang Maha Sempurna dalam pengaturan.
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Ketenangan hati dalam menghadapi ujian kehidupan. Ketika seseorang menyadari bahwa Alloh
ﷻ adalah Qoyyim yang mengatur
segala urusan langit dan bumi, maka ia tidak akan berkeluh kesah secara
berlebihan saat menghadapi kesulitan ekonomi atau masalah keluarga. Ia yakin
bahwa Dzat yang mengatur peredaran matahari dan bulan juga mengatur urusannya.
Membangun sifat tawakkal yang benar. Seseorang tidak akan mengandalkan
kekuatan manusia atau kekuasaan makhluk karena ia sadar bahwa mereka pun berada
di bawah pengaturan Alloh ﷻ.
Kesadaran untuk selalu bergantung kepada Alloh ﷻ dalam
setiap langkah. Sebagaimana
sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik rodhiyAllohu ‘anhu,
Nabi ﷺ bersabda:
«يَا
حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ»
Wahai Dzat
Yang Maha Hidup, wahai Dzat Yang Maha Mengurus makhluk, dengan rohmat-Mu aku
memohon pertolongan. (HR. At-Tirmidzi no. 3524)
1.2:
Alloh ﷻ
sebagai Pemilik Mutlak Kerajaan Langit dan Bumi
Setelah
mengakui Alloh ﷻ
sebagai pengurus, hamba melanjutkan dengan pengakuan kepemilikan. “Wa laka
mulku samawati wal ardhi”. Ini adalah penetapan sifat mulk
(kerajaan) yang mutlak bagi Alloh ﷻ.
Tidak ada satu pun atom di semesta ini yang keluar dari kekuasaan-Nya.
Pengakuan ini meruntuhkan kesombongan manusia yang sering merasa memiliki
jabatan, harta, atau kekuasaan, padahal semuanya adalah titipan dari Robb
semesta alam.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿تَبَارَكَ
الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾
Maha Suci
Alloh yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. (QS. Al-Mulk: 1)
Setiap Mu’min
wajib meyakini bahwa Alloh ﷻ
adalah pemilik alam semesta yang hakiki. Kepemilikan Alloh ﷻ bukan sekadar penguasaan,
melainkan juga penciptaan. Berbeda dengan kepemilikan manusia yang terbatas,
kepemilikan Alloh ﷻ
mencakup zat, sifat, dan nasib dari setiap ciptaan-Nya.
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Menghilangkan sifat kikir dan sombong atas harta. Seorang hamba yang sadar bahwa Alloh
ﷻ adalah pemilik mutlak, akan
mudah mengeluarkan Zakat dan bersedekah, karena ia merasa hanya sebagai
pemegang amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Sikap ridho terhadap takdir. Saat kehilangan sesuatu yang dicintai,
seorang hamba tidak akan meratap karena ia sadar bahwa pemilik sesungguhnya
telah mengambil kembali apa yang memang milik-Nya.
Menjaga lisan dan perbuatan. Pemilik kerajaan berhak membuat aturan. Maka
hamba akan tunduk pada syariat karena sadar bahwa ia hidup di dalam kerajaan
milik Alloh ﷻ dan wajib mengikuti
aturan-Nya. Sebagaimana Hadits:
«يَقْبِضُ
اللَّهُ الأَرْضَ، وَيَطْوِي السَّمَوَاتِ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا المَلِكُ،
أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ»
Alloh akan
menggenggam bumi pada hari Qiyamah dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya,
kemudian berfirman: “Aku adalah Raja, di manakah raja-raja bumi?” (HR.
Al-Bukhori no. 4812 dan Muslim no. 2787)
1.3:
Alloh ﷻ
sebagai Cahaya bagi Langit dan Bumi
“Anta
nuru samawati wal ardhi”. Kalimat ini adalah bentuk pengagungan terhadap sifat Nur Alloh ﷻ. Alloh ﷻ adalah Nur yang menyinari
langit dan bumi dengan cahaya-Nya. Cahaya ini bersifat hakiki dan maknawi
(keagungan dan petunjuk). Alloh ﷻ
lah yang memberikan cahaya kepada bulan, bintang, dan matahari, serta
memberikan cahaya petunjuk kepada hati orang-orang beriman.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿اللَّهُ
نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ
فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ
زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ
تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ
اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلِنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلُّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
Alloh
(pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Alloh, adalah
seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita
itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti
mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon
zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah
barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak
disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Alloh membimbing kepada
cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Alloh memperperumpamaan-perumpamaan
bagi manusia, dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nur: 35)
Makna Nur
dalam Hadits ini juga mencakup hidayah. Tanpa cahaya Alloh ﷻ, niscaya langit dan bumi akan
berada dalam kegelapan syirik dan kebodohan. Alloh ﷻ
lah yang menuntun para Nabi, Rosul, dan kaum Mu’min menuju kebenaran.
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Pentingnya menuntut ilmu syar’i. Ilmu adalah cahaya yang dengannya
seorang hamba dapat melihat jalan yang lurus di tengah kegelapan zaman dan
fitnah yang merajalela.
Harapan bagi orang yang tersesat. Bagi mereka yang merasa hidupnya
gelap, jauh dari ketaatan, Hadits ini mengajarkan untuk memohon cahaya kepada Alloh
ﷻ agar hati kembali mendapatkan
petunjuk.
Membedakan yang hak dan bathil. Hamba yang mendapatkan cahaya dari Alloh ﷻ akan memiliki bashiroh (ketajaman
mata hati) untuk melihat kebenaran di balik kerancuan yang ditebarkan oleh ahli
bid’ah atau musuh-musuh agama. Sebagaimana doa Nabi ﷺ:
«اللَّهُمَّ
اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي
نُورًا، وَعَنْ يَسَارِي نُورًا، وَفَوْقِي نُورًا، وَتَحْتِي نُورًا، وَأَمَامِي نُورًا،
وَخَلْفِي نُورًا، وَاجْعَلْ لِي نُورًا»
Ya Alloh,
jadikanlah di dalam hatiku cahaya, pada penglihatanku cahaya, pada
pendengaranku cahaya, di sebelah kananku cahaya, di sebelah kiriku cahaya, di
atasku cahaya, di bawahku cahaya, di depanku cahaya, dan di belakangku cahaya,
serta berilah aku cahaya. (HR. Al-Bukhori no. 6316 dan Muslim no. 763)
Bab 2: Penetapan Al-Haq dan Hari
Kebangkitan
2.1:
Alloh ﷻ
adalah Al-Haq dan Janji-Nya adalah Benar
Kalimat “Antal
Haqq wa wa’dukal Haqq” mengandung penetapan sifat Al-Haq bagi Alloh ﷻ. Al-Haq artinya Dzat yang
keberadaannya adalah kebenaran mutlak, sifat-sifat-Nya benar, perbuatan-Nya
benar, dan firman-Nya benar. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam setiap
ketetapan Alloh ﷻ.
Segala sesuatu selain Alloh ﷻ
adalah bathil atau akan menjadi binasa, namun Alloh ﷻ
tetap kekal dan benar.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿ذَلِكَ
بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ
وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ﴾
Yang
demikian itu, karena sesungguhnya Alloh, Dialah Yang Haq dan sesungguhnya apa
saja yang mereka seru selain dari Alloh, itulah yang bathil, dan sesungguhnya
Alloh Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Hajj: 62)
Alloh ﷻ adalah kebenaran yang tidak
ada keraguan pada-Nya, dan Dialah yang disembah dengan haq.
Adapun wa’dukal
Haqq bermakna janji Alloh ﷻ
untuk menolong hamba-Nya, janji pahala bagi yang taat, dan janji adzab bagi
yang bermaksiat adalah pasti terjadi. Tidak ada yang bisa membatalkan
janji-Nya.
Contohnya
janji Alloh yang dipenuhi kepada Musa. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَمَّا
بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ﴾
Dan tatkala
Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian)
dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik. (QS. Al-Qoshosh: 14)
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Menumbuhkan optimisme dalam berdoa. Hamba yang meyakini janji Alloh ﷻ adalah benar, tidak akan
pernah berputus asa dalam memohon, karena ia tahu Alloh ﷻ tidak pernah mengingkari
janji-Nya untuk mengabulkan doa.
Keteguhan dalam berpegang pada syariat. Saat manusia di sekelilingnya
meninggalkan agama demi dunia, ia tetap teguh karena yakin janji Alloh ﷻ tentang balasan Akhiroh
adalah satu-satunya yang pasti.
Kejujuran dalam bertutur kata. Meneladani sifat Al-Haq Alloh ﷻ, seorang Mu’min akan berusaha
menjauhi dusta dalam setiap urusan, baik urusan perdagangan maupun janji
pribadi.
2.2:
Pertemuan dengan Alloh ﷻ dan
Kebenaran Hari Berbangkit
Kalimat “Liqa-uka
Haqq” adalah pengakuan atas kepastian pertemuan dengan Alloh ﷻ. Ini adalah pondasi iman yang
mengubah orientasi hidup seseorang. Ketika seorang hamba sadar bahwa ia pasti
akan menghadap Alloh untuk mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya, maka ia
akan sangat berhati-hati dalam setiap detik kehidupannya.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَمَنْ
كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ
رَبِّهِ أَحَدًا﴾
Siapa
mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada
Robbnya. (QS. Al-Kahfi: 110)
Ayat ini
memotivasi hamba untuk menyiapkan bekal terbaik demi perjumpaan yang
membahagiakan, bukan perjumpaan yang penuh penyesalan. Pertemuan ini adalah
realita yang tidak terelakkan, sebagaimana siang berganti malam.
Rosululloh ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits:
«مَنْ
أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ
كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ»
Siapa yang
senang bertemu dengan Alloh, maka Alloh pun senang bertemu dengannya, dan siapa
yang benci bertemu dengan Alloh, maka Alloh pun benci bertemu dengannya. (HR.
Al-Bukhori no. 6507 dan Muslim no. 2683)
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Meringankan beban dunia. Ketika seseorang sadar tujuan akhirnya adalah
Alloh ﷻ, maka kehilangan harta atau
jabatan duniawi tidak lagi dianggap sebagai bencana besar, karena fokusnya
adalah persiapan perjumpaan dengan Robb-nya.
Memperbaiki kualitas Sholat. Sholat Tahajjud yang dilakukan adalah sarana
untuk mendekatkan diri kepada Alloh ﷻ
sebagai latihan kecil sebelum pertemuan besar di Akhiroh kelak.
Menjauhi perbuatan zholim. Kesadaran bahwa ia akan berdiri di hadapan Alloh
ﷻ membuat seseorang takut untuk
menyakiti orang lain atau mengambil hak orang lain, karena ia tahu ia akan
dimintai pertanggungjawaban.
2.3:
Kebenaran Para Nabi, Nabi Muhammad ﷺ, dan Hari Qiyamah
Penggalangan
kalimat “Qouluka Haqq, wal Jannah Haqq, wan Naar Haqq, wan Nabiyyuna Haqq,
wa Muhammad ﷺ Haqq, was Sa’ah Haqq” merupakan penegasan aqidah secara
sistematis. Seluruh berita dari Alloh ﷻ
dalam Qur’an adalah kebenaran. Tempat kembali berupa Jannah dan Naar adalah
realita fisik yang telah disiapkan. Kenabian dan keRosulan merupakan kebenaran
mutlak.
Alloh ﷻ berfirman mengenai Jannah dan
Naar:
﴿أُعِدَّتْ
لِلْمُتَّقِينَ﴾
(Jannah)
yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (QS. Ali ‘Imron: 133)
﴿وَأَعْتَدْنَا
لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا﴾
Dan Kami
menyediakan bagi siapa yang mendustakan hari Qiyamah, suatu neraka yang
menyala-nyala. (QS. Al-Furqon: 11)
Kebenaran
Nabi Muhammad ﷺ adalah bagian dari iman yang
tidak terpisahkan. Meyakini beliau berarti meyakini seluruh syariat yang beliau
bawa.
Adapun Hari
Qiyamah (As-Sa’ah) adalah kepastian yang tidak ada keraguan padanya.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَأَنَّ
السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ﴾
Dan
sesungguhnya hari Qiyamah itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya
Alloh membangkitkan semua orang di dalam kubur. (QS. Al-Hajj: 7)
Penetapan
haq bagi hal-hal ini dalam doa iftitah bertujuan untuk mengokohkan hati hamba
agar tetap istiqomah di atas jalan yang lurus.
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Mengokohkan identitas sebagai Muslim. Di tengah maraknya pemikiran yang
meragukan syariat atau kenabian, pengakuan ini memperkuat keyakinan bahwa apa
yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ adalah kebenaran
satu-satunya.
Motivasi untuk beramal sholih. Keyakinan akan adanya Jannah dan Naar yang
haq memberikan dorongan psikologis yang kuat bagi seorang Mu’min untuk
bersegera dalam kebaikan dan menjauhi maksiat.
Menghindari kesia-siaan waktu. Karena mengetahui bahwa Hari Qiyamah itu haq
dan akan datang dengan tiba-tiba, maka seseorang tidak akan menyia-nyiakan
umurnya untuk perkara yang tidak bermanfaat bagi Akhirohnya.
Meneladani Nabi ﷺ dalam segala urusan. Mengakui Muhammad ﷺ itu haq berarti menerima sunnah beliau sebagai pedoman hidup,
baik dalam urusan ibadah maupun muamalah sehari-hari. Sebagaimana firman Alloh ﷻ:
﴿مَا
آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا﴾
Apa yang
diberikan Rosul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu
maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr: 7)
Bab 3: Hakikat Penyerahan Diri
kepada Robb Semesta
3.1:
Islam, Iman, dan Tawakkal sebagai Fondasi Hamba
Pengakuan
seorang hamba yang telah menetapkan keagungan Alloh ﷻ
dalam sifat Rububiyyah dan Uluhiyyah kemudian berpindah kepada tindakan praktis
berupa penyerahan diri. Kalimat “Allohumma laka aslamtu, wa bika amantu, wa ‘alaika
tawakkaltu” merupakan tiga pilar utama penghambaan. Islam berarti
ketundukan lahiriah terhadap syariat, Iman berarti pembenaran dalam hati
terhadap segala perintah dan larangan, sementara Tawakkal adalah menyandarkan
seluruh urusan kepada Alloh ﷻ
setelah berusaha.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَنْ
أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ
إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا﴾
Siapakah
yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Alloh,
sedang diapun berbuat kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrohim yang lurus? Dan
Alloh mengambil Ibrohim menjadi kesayangan-Nya. (QS. An-Nisa: 125)
Ayat ini
sebagai bentuk ketaatan mutlak di mana seorang hamba tidak lagi memiliki
kehendak kecuali Alloh memudahkannya. Tawakkal bukan berarti pasrah tanpa
usaha, melainkan menggantungkan hati kepada Alloh ﷻ
sementara anggota badan bekerja sesuai sunnatulloh.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا
يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»
Seandainya
kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenarnya, niscaya Dia
akan memberi kalian rizqi sebagaimana Dia memberi rizqi kepada burung, yang
berangkat pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore hari dalam keadaan
kenyang. (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Stabilitas emosi dalam bekerja. Seorang Mu’min yang benar tawakkalnya tidak
akan terkena depresi saat target usaha tidak tercapai, karena ia meyakini bahwa
Alloh ﷻ sebagai penentu akhir segala
hasil.
Ketulusan dalam beribadah. Ketika seseorang berserah diri (Islam), ia
tidak lagi mengharap pujian manusia dalam Sholat atau sedekahnya, karena
tujuannya hanyalah keridhoan Alloh ﷻ.
Menghilangkan sifat iri dan dengki. Meyakini Alloh ﷻ sebagai pemberi rizqi membuat
seseorang merasa cukup dengan bagian yang diberikan kepadanya, sehingga hatinya
lapang dari rasa hasad terhadap keberhasilan orang lain.
3.2:
Kembali kepada Alloh ﷻ dan
Berhujjah dengan-Nya
Kalimat “Wa
ilaika anabtu, wa bika khoshomtu” mengandung makna inabah (kembali/bertaubat)
dan khishom (pembelaan terhadap kebenaran). Inabah adalah sikap kembali
kepada Alloh ﷻ dari
segala dosa dan kelalaian. Seorang hamba yang bertaqwa senantiasa memperbarui
taubatnya setiap saat. Adapun khishom bermakna menggunakan argumen Alloh ﷻ untuk membela kebenaran dan
menolak kebathilan.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿مَنْ
خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ﴾
(Yaitu)
orang yang takut kepada Robb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan
(olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. (QS. Qof: 33)
Al-Qurtubi
(671 H) menjelaskan bahwa hati yang munib adalah hati yang selalu kembali
kepada ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.
Menjadi
hamba yang khoshom artinya tidak berdiam diri melihat kemungkaran, namun
membela syariat dengan dalil-dalil yang Shohih sesuai tuntunan Nabi ﷺ dan para Shohabat.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»
Siapa di
antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak
mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu
adalah selemah-lemah iman. (HR. Muslim no. 49)
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Keberanian menyuarakan kebenaran. Dalam kehidupan sosial, seringkali
kebenaran ditekan. Seorang Mu’min wajib memiliki keberanian untuk menyampaikan
kebenaran dengan hikmah dan argumen yang kuat dari Al-Qur’an dan Hadits.
Pentingnya muhasabah harian. Aktivitas inabah (kembali kepada Alloh
ﷻ) dilakukan setiap hari,
sehingga kesalahan kecil tidak menumpuk menjadi dosa besar yang mematikan hati.
Menjaga lisan dari perdebatan kosong. Berhujjah (khoshom) di sini
bukan debat kusir untuk mencari menang sendiri, melainkan menegakkan keadilan
dan syariat.
3.3:
Konsekuensi Berhukum kepada Alloh ﷻ
Kalimat “Wa
ilaika hakamtu” bermakna menjadikan Alloh ﷻ
sebagai hakim tertinggi dalam segala perselisihan. Baik perselisihan dalam
urusan keluarga, perdagangan, maupun masalah sosial. Tidak ada hukum yang lebih
adil daripada hukum Alloh ﷻ.
Seorang hamba yang mengucapkan doa ini secara sadar wajib menerima hukum
syariat dengan lapang dada, meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا
يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
Maka demi
Robbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (hai
Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka
tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa: 65)
Siapa yang
mencari hukum selain hukum Alloh ﷻ,
maka ia telah keluar dari hakikat Tauhid. Tawallul hakamah (menyerahkan
keputusan) kepada Alloh ﷻ
mencakup pula keridhoan terhadap ketentuan takdir yang pahit.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿أَفَحُكْمَ
الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ﴾
Apakah
hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik
daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah: 50)
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Keadilan dalam rumah tangga. Saat suami istri berselisih, mereka tidak
menggunakan emosi atau adat setempat yang bertentangan dengan Islam, melainkan
merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Ketenangan pasca keputusan. Ketika seseorang sudah menyerahkan perkara
kepada Alloh ﷻ
(hukum syar’i), maka ia tidak akan menyimpan dendam atau rasa tidak puas,
karena ia tahu keputusan Alloh ﷻ
adalah yang terbaik.
Ketaatan pada pemimpin selama tidak maksiat. Berhukum kepada Alloh ﷻ juga berarti menaati aturan
yang tidak melanggar syariat, sebagai wujud tunduk kepada Robb semesta.
Jujur dalam berbisnis. Seorang pedagang Muslim tidak akan melakukan
praktik curang (riba atau ghoror) karena ia telah menetapkan bahwa Alloh
ﷻ adalah satu-satunya hakim
yang menentukan halal dan harom dalam hartanya. Sebagaimana Hadits:
«الْحَلَالُ
بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ»
Yang halal
itu jelas dan yang harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat
perkara-perkara yang syubhat. (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)
Bab 4: Doa Pengampunan dan
Pengakuan terhadap Nama dan Sifat Alloh ﷻ
4.1:
Memohon Ampunan atas Dosa yang Lalu dan yang Akan Datang
Kalimat faghfirli
ma qoddamtu wa ma akhkhortu merupakan bentuk kesadaran hamba akan kelemahan
dan dosa. Seseorang tidak pernah luput dari kesalahan, baik dosa yang telah
dilakukan di masa lalu (ma qoddamtu) maupun dosa yang mungkin akan
dilakukan di masa depan (ma akhkhortu). Memohon ampunan untuk dosa masa
depan bermakna memohon penjagaan dari Alloh ﷻ
agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan di kemudian hari.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَاصْبِرْ
إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ
وَالْإِبْكَارِ﴾
Maka
bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Alloh itu benar, dan mohonlah
ampunan bagi dosa kamu dan bertasbihlah seraya memuji Robbmu pada waktu petang
dan pagi. (QS. Ghofir: 55)
Istighfar
merupakan kunci pembuka rohmat dan kelembutan Alloh ﷻ
bagi setiap Mu’min yang mengakui kehinaannya di hadapan keagungan Sang
Pencipta. Memohon ampun atas dosa yang akan datang adalah bentuk tawassul
dengan sifat rohmat Alloh ﷻ agar
senantiasa dibimbing dalam ketaatan.
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Menjaga kerendahan hati. Seseorang yang selalu beristighfar atas dosa
yang telah lewat tidak akan terjebak dalam kesombongan masa lalu atau merasa
diri suci.
Kewaspadaan diri. Permohonan ampun atas dosa yang akan datang
menanamkan kesadaran untuk selalu berhati-hati dalam berucap dan bertindak agar
tidak melanggar syariat di masa depan.
Ketenangan jiwa. Kesadaran bahwa Alloh ﷻ Maha Pengampun memberikan
harapan besar bagi seorang hamba untuk terus memperbaiki diri tanpa berputus
asa dari rohmat-Nya.
Kepatuhan kepada Nabi ﷺ.
Meneladani Nabi ﷺ yang senantiasa beristighfar,
sebagaimana sabda beliau:
«وَاللَّهِ
إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ
مَرَّةً»
Demi Alloh,
aku memohon ampun kepada Alloh dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari
tujuh puluh kali. (HR. Al-Bukhori no. 6307)
4.2:
Memohon Ampunan atas Dosa yang Tersembunyi dan Terang-terangan
Ungkapan wa
ma asrortu wa ma a’lantu adalah pengakuan jujur bahwa tidak ada satu pun
perbuatan manusia yang luput dari pengawasan Alloh ﷻ.
Dosa yang disembunyikan (asrortu) seringkali lebih berbahaya karena
dilakukan di tempat sunyi tanpa rasa malu kepada manusia, sementara dosa yang
terang-terangan (a’lantu) adalah bentuk kelancangan dan meremehkan
syariat di depan umum.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَعْلَمُ
خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ﴾
Dia
mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS.
Ghofir: 19)
Alloh ﷻ Maha Melihat segala sesuatu,
baik yang tampak maupun yang tersembunyi, maka hamba yang beriman harus menjaga
adab baik saat sendiri maupun bersama orang. Pengakuan dalam doa ini adalah
bentuk pensucian diri dari sifat munafik, di mana perbuatan lahiriah sesuai
dengan apa yang ada di dalam hati.
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Membangun muraqobatulloh. Menyadari bahwa dosa tersembunyi pun
diketahui Alloh ﷻ akan
menghalangi seseorang dari perbuatan maksiat di saat sendirian, seperti saat
menggunakan internet atau berada di tempat yang jauh dari pengawasan manusia.
Jujur pada diri. Seorang Mu’min berusaha menyamakan kondisi
batin dan lahirnya, sehingga ia menjadi sosok yang terpercaya dan jauh dari
perilaku nifaq.
Kejujuran dalam bertaubat. Mengakui dosa secara spesifik dalam doa
adalah langkah awal untuk benar-benar meninggalkan perbuatan tersebut.
Benteng dari dosa sosial. Menjaga diri dari dosa terang-terangan
membantu menjaga marwah agama di tengah masyarakat, agar tidak menjadi fitnah
bagi orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
«كُلُّ
أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ»
Setiap
umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang berterang-terangan dalam berbuat
dosa. (HR. Al-Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990)
4.3:
Menetapkan Nama Alloh ﷻ
Al-Muqoddim dan Al-Mu-akhkhir
Kalimat Antal
Muqoddim, wa Antal Mu-akhkhir adalah penetapan terhadap dua nama mulia
Alloh ﷻ. Al-Muqoddim artinya Dzat
yang mendahulukan segala sesuatu sesuai dengan hikmah dan ilmu-Nya, sedangkan
Al-Mu-akhkhir artinya Dzat yang mengakhirkan segala sesuatu sesuai dengan
ketentuan-Nya. Tidak ada yang bisa mendahulukan apa yang diakhirkan Alloh ﷻ, dan tidak ada yang bisa
mengakhirkan apa yang didahulukan-Nya.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿مَا
نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ
تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾
Ayat mana
saja yang Kami nasakhkan (hapuskan), atau Kami jadikan (manusia) lupa
kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding
dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas
segala sesuatu? (QS. Al-Baqoroh: 106)
Hikmah
Alloh ﷻ dalam mendahulukan dan
mengakhirkan sesuatu—baik dalam urusan syariat maupun takdir—adalah bukti
sempurna keadilan dan ilmu-Nya yang tidak terbatas oleh logika manusia. Hamba
yang mengakui ini akan menerima setiap ketetapan takdir dengan ridho, termasuk
jika ia merasa urusannya diakhirkan oleh Alloh ﷻ
dibandingkan orang lain.
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Menghilangkan rasa iri terhadap capaian duniawi orang
lain. Seseorang tidak
akan merasa tersaingi ketika melihat orang lain lebih sukses atau lebih dahulu
mencapai target, karena ia yakin Alloh ﷻ
yang mengatur giliran dan waktu.
Kesabaran dalam menunggu hasil. Dalam berbisnis atau belajar, seseorang tetap
berikhtiar maksimal namun hatinya tenang menanti waktu terbaik yang telah
ditetapkan Alloh ﷻ.
Menghargai proses. Mengetahui bahwa ada hal yang didahulukan dan
diakhirkan membuat seseorang lebih bijak dalam menentukan prioritas dalam
hidupnya.
Mengutamakan Akhiroh atas dunia. Mengakui sifat ini menuntut hamba
untuk mendahulukan amal ketaatan yang abadi daripada kesenangan dunia yang
sementara, karena Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ
بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ»
Siapa yang
dunia menjadi tujuannya, maka Alloh mencerai-beraikan urusannya, menjadikan
kefakirannya di depan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali apa yang
telah ditetapkan baginya. (HSR. Ibnu Majah no. 4105)
Bab 5: Tauhid Uluhiyyah dan Hauqolah
5.1:
Mengesakan Alloh ﷻ
dalam Ibadah
Kalimat Laa
ilaha illa Anta merupakan puncak dari seluruh rangkaian doa ini. Ini adalah
kalimat Tauhid yang menjadi inti dakwah para Rosul sejak Nabi Adam ‘alaihis
salam hingga Nabi Muhammad ﷺ.
Kalimat ini menegaskan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan
cara apa pun, baik Sholat, doa, nadzar, maupun kurban, selain Alloh ﷻ.
Setelah
seorang hamba memuji Alloh ﷻ,
menetapkan sifat-sifat-Nya, dan mengakui segala kekurangan dirinya, ia menutup
pengakuan tersebut dengan mengesakan Penciptanya.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ﴾
Maka
ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak melainkan Alloh
dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki
dan perempuan. Dan Alloh mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu
tinggal. (QS. Muhammad: 19)
Ayat ini
memerintahkan untuk mengilmui dan meyakini Tauhid, karena inilah hak Alloh ﷻ yang paling agung. Ketika
seseorang mengucapkan Laa ilaha illa Anta dalam Sholat, ia sedang
memperbarui akad imannya. Ia melepaskan diri dari segala bentuk kesyirikan,
baik syirik besar yang mengeluarkan dari agama maupun syirik kecil yang menodai
kesempurnaan Tauhid.
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Menjaga kemurnian niat. Seorang yang berTauhid tidak akan terjebak
dalam riya atau mencari popularitas di tengah masyarakat, karena ia tahu hanya
Alloh ﷻ sesembahannya yang berhak
memberi pahala.
Menjadi benteng dari khurofat. Di tengah masyarakat yang masih percaya pada
jimat, dukun, atau perantara untuk melancarkan urusan, hamba yang berTauhid
tetap teguh hanya menyandarkan diri kepada Alloh ﷻ.
Ketenangan dalam menghadapi krisis. Saat situasi sulit menimpa,
seseorang tidak lari kepada hal-hal yang dimurkai Alloh ﷻ, melainkan kembali kepada Tauhid
sebagai solusi utama.
Mengamalkan keutamaan kalimat Tauhid. Sebagaimana Hadits Nabi ﷺ:
«أَفْضَلُ
الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ»
Zikir yang
paling utama adalah Laa ilaha illalloh dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah.
(HHR. At-Tirmidzi no. 3383)
5.2:
Menyerahkan Segalanya kepada Kekuatan dan Pertolongan Alloh ﷻ
Kalimat
terakhir dalam iftitah ini adalah Laa haula wala quwwata illa billah.
Kalimat ini adalah pernyataan ketidakberdayaan seorang hamba dan pengakuan akan
kemahakuasaan Alloh ﷻ. Laa
haula berarti tidak ada daya untuk meninggalkan maksiat, dan wala
quwwata berarti tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan, kecuali atas
pertolongan Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَلَوْلَا
إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ
تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا﴾
Dan mengapa
kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu: Maa syaa Alloh, laa
quwwata illaa billah (sungguh atas kehendak Alloh semua ini terwujud, tiada
kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh). Sekiranya kamu anggap aku lebih
sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. (QS. Al-Kahfi: 39)
Kalimat ini
adalah penyembuh bagi berbagai penyakit hati, khususnya kesombongan dan
ketergantungan pada diri. Hamba yang menyadari ini tidak akan takabur atas
keberhasilan atau kepintarannya, karena ia tahu semuanya adalah anugerah dari
Alloh ﷻ.
Kaitan
dengan Realita Kehidupan:
Meringankan beban amal sholih. Seseorang tidak merasa hebat ketika mampu Sholat
malam atau berpuasa, karena ia sadar bahwa kemampuan itu datang dari Alloh ﷻ.
Kunci masuk Jannah. Kalimat ini merupakan simpanan dari simpanan
Jannah, yang jika diucapkan dengan penuh penghayatan akan menenangkan jiwa di
dunia.
Menghilangkan rasa takut berlebihan. Saat menghadapi ancaman atau
tantangan besar, mengucapkan kalimat ini memberikan kekuatan mental yang luar
biasa karena ia bersandar pada Dzat yang tidak tertandingi kekuatannya.
Meneladani Nabi ﷺ.
Dalam Hadits disebutkan:
«أَلاَ
أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزِ الجَنَّةِ؟ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا
بِاللَّهِ»
Maukah aku
tunjukkan kepadamu suatu kalimat yang merupakan simpanan dari simpanan Jannah?
Yaitu Laa haula wala quwwata illa billaah. (HR. Al-Bukhori no. 6386
dan Muslim no. 2704)
Penutup
Perjalanan
memahami syarah Hadits iftitah Tahajjud Ibnu ‘Abbas ini telah mengantarkan kita
pada pemahaman betapa agungnya doa yang diajarkan oleh Rosululloh ﷺ kepada umatnya. Iftitah ini bukan sekadar rangkaian kata yang
dibaca secara rutin, melainkan sebuah kurikulum Tauhid yang lengkap bagi setiap
hamba yang ingin menghadap Robbnya di tengah malam.
Seseorang
yang memulai Sholatnya dengan pengakuan terhadap Rububiyyah Alloh ﷻ, kepemilikan-Nya, cahaya-Nya,
kebenaran janji-Nya, dan hari berbangkit, akan menapaki Sholat dengan hati yang
penuh ketundukan. Ia telah melepas beban duniawi dan meletakkan hatinya di
bawah naungan kekuasaan Alloh ﷻ
semata. Islam, iman, tawakkal, dan inabah yang diucapkan bukan sekadar lisan,
tetapi janji setia seorang hamba kepada Penciptanya.
Pengakuan
atas dosa-dosa, baik yang lalu maupun yang akan datang, terang maupun
tersembunyi, menunjukkan kejujuran seorang Mu’min yang sadar akan hakikat
dirinya sebagai manusia yang dhoif (lemah). Ditutup dengan penetapan Tauhid
Uluhiyyah dan berserah diri sepenuhnya melalui kalimat Laa haula wala quwwata
illa billah, menjadikan Sholat Tahajjud bukan lagi rutinitas biasa,
melainkan pertemuan hamba dengan Robbnya yang penuh pengharapan dan rasa takut.
Semoga
pembahasan singkat ini dapat membantu pembaca dalam menghayati setiap kata yang
terucap dalam doa iftitah tersebut, sehingga Sholat kita menjadi Sholat yang
menghidupkan hati, mencegah dari perbuatan keji dan munkar, serta menjadi
penolong dalam setiap urusan kehidupan dunia dan Akhiroh.
Sholawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga, para Shohabat, dan pengikut beliau hingga akhir
zaman. Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam.
Allohu a’lam.[NK]
Daftar Pustaka
Al-Bukhori,
Muhammad bin Ismail. Shohih Al-Bukhori.
Muslim, bin
Hajjaj. Shohih Muslim.
At-Tirmidzi,
Muhammad bin Isa. Sunan At-Tirmidzi.
Ibnu Majah,
Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah.
Ibnu
Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Ibnu Katsir.
As-Sa’di,
Abdurrohman bin Nashir. Tafsir As-Sa’di (Taisirul Karimir Rohman).
Al-Qurtubi,
Muhammad bin Ahmad. Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an.
Ibnu
Taimiyyah, Ahmad bin Abdul Halim. Majmu’ Fatawa.
Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah, Muhammad bin Abu Bakr. Madarijus Salikin.
Ibnu
Qudamah, Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni.
Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah, Muhammad bin Abu Bakr. Syifaul ‘Alil.
Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah, Muhammad bin Abu Bakr. Zadul Ma’ad.[]
