[PDF] Panduan Khutbah Hari Raya - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم
الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam, yang telah
mensyariatkan bagi umat ini dua Hari Raya sebagai terminal ketaatan dan
kegembiraan di atas Tauhid. Kami memuji-Nya atas ni’mat Iman dan Sunnah yang
menjadi pemandu dalam setiap gerak ibadah. Kami bersaksi bahwa tidak ada Ilah
yang berhak disembah dengan benar melainkan Alloh ﷻ semata, Maha Esa, tidak ada sekutu
bagi-Nya. Dan kami bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah
hamba dan Rosul-Nya, yang telah mencontohkan tata cara mengagungkan hari-hari
Alloh ﷻ dengan
bimbingan wahyu.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, para Shohabat, dan
pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Amma ba’du:
Buku yang ada di hadapan
pembaca ini, bertajuk Panduan Khutbah Hari Raya (Idul Fithri dan Idul Adha),
disusun secara sistematis untuk memenuhi kebutuhan para khotib dan penuntut
ilmu dalam memahami fiqih serta adab terkait khutbah dua Hari Raya. Mengingat
kedudukan khutbah Id sebagai salah satu syiar Islam yang paling nampak, maka
kejelasan dalil dan kesesuaian materi dengan tuntunan Salafush Sholih menjadi
prioritas utama dalam narasi buku ini. Keseluruhan isi buku ini didominasi oleh
nukilan ayat-ayat Al-Qur’an dan matan Hadits Nabi ﷺ yang shohih demi menjaga ilmiyyah dan
keberkahan pesan yang disampaikan.
Buku ini terbagi menjadi
5 bab utama yang saling berkaitan secara runtut. Bab 1 membedah sisi fiqih
khutbah dua Hari Raya, mencakup hukum, waktu pelaksanaan, rukun, hingga syarat
sahnya.
Bab 2 menitikberatkan
pada aspek adab dan sunnah, baik bagi khotib yang memegang tonggak nasehat
maupun bagi jamaah yang menyimak, termasuk tuntunan penampilan dan perilaku
syar’i menuju Musholla (tanah lapang).
Bab 3 memaparkan
karakteristik materi khutbah yang sesuai Sunnah, memberikan panduan bagaimana menyusun
narasi yang padat namun sarat makna, serta bagaimana menyisipkan wasiat khusus
bagi kaum wanita sebagaimana yang dipraktekkan oleh Rosululloh ﷺ.
Selanjutnya, Bab 4 dan
Bab 5 menyajikan bagian praktis berupa 6 contoh khutbah pilihan yang telah
disesuaikan dengan momen dan kebutuhan umat saat ini. Bab 4 berisi 3 contoh
khutbah Idul Fithri yang menekankan pada tema istiqomah, silaturrohim, dan
penguatan Aqidah pasca Romadhon. Adapun Bab 5 menyajikan 3 contoh khutbah Idul
Adha yang berfokus pada keteladanan Tauhid Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam,
fiqih penyembelihan Qurban, serta pengagungan hari-hari Tasyriq.
Bab 1: Fiqih
Khutbah Dua Hari Raya
1.1 Hukum
Khutbah Hari Raya
Pelaksanaan khutbah pada
dua Hari Raya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari syiar Islam yang
agung. Berbeda dengan Sholat Jum’at yang mewajibkan adanya khutbah sebagai
syarat sah, khutbah pada Idul Fithri dan Idul Adha memiliki kedudukan hukum
yang mandiri. Rosululloh ﷺ
senantiasa melaksanakan khutbah setelah menunaikan Sholat Id. Hal ini
menunjukkan bahwa khutbah merupakan penyempurna bagi ibadah pada hari tersebut.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَصَلِّ
لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴾
“Maka kerjakanlah Sholat
karena Robbmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Dalam menafsirkan ayat
tersebut, ulama menjelaskan bahwa perintah Sholat di sini mencakup Sholat Idul
Adha yang kemudian diikuti dengan penyembelihan hewan Qurban.
Ulama dari kalangan Salaf
bersepakat bahwa hukum menghadiri dan mendengarkan khutbah Hari Raya
adalah sunnah, bukan wajib. (Al-Majmu An-Nawawi, 5/21; Al-Inshof
Al-Mardawi, 2/302)
Hal ini didasarkan pada
Hadits dari Abdulloh bin As-Sa’ib, ia berkata: Aku menghadiri Sholat Id bersama
Rosululloh ﷺ. Ketika
beliau selesai menunaikan Sholat, beliau bersabda:
«إِنَّا
نَخْطُبُ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ، وَمَنْ أَحَبَّ
أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ»
“Sesungguhnya kami akan
berkhutbah. Siapa yang ingin duduk mendengarkan khutbah, maka silakan duduk.
Dan siapa yang ingin pergi, maka silakan pergi.” (HSR. Abu Dawud no. 1155)
Oleh karena itu, meskipun
sangat dianjurkan untuk mendengarkan nasehat khotib, seseorang yang
meninggalkan tempat Sholat sebelum khutbah selesai tidaklah berdosa dan Sholatnya
tetap sah.
1.2 Waktu
Pelaksanaan Khutbah Hari Raya
Waktu pelaksanaan khutbah
Hari Raya secara syar’i adalah dilakukan setelah Sholat Id selesai
dilaksanakan. Hal ini merupakan Sunnah yang mutawatir dari Nabi ﷺ, Abu Bakr (13 H), dan Umar (23 H).
Melaksanakan khutbah sebelum Sholat adalah perbuatan bid’ah (perkara baru dalam
agama) yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh ﷺ. Dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu
‘anhuma, ia berkata:
«شَهِدْتُ
العِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ، فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الخُطْبَةِ»
“Aku menyaksikan Sholat
Id bersama Rosululloh ﷺ, Abu
Bakr, Umar, dan Utsman (35 H) rodhiyallahu ‘anhum. Mereka semua melaksanakan
Sholat sebelum khutbah.” (HR. Al-Bukhori no. 962 dan Muslim no. 884)
Al-Imam Al-Bukhori (256
H) juga meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى، فَأَوَّلُ
شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ،
وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ، وَيُوصِيهِمْ، وَيَأْمُرُهُمْ»
“Rosululloh ﷺ keluar pada hari Idul Fithri dan Idul Adha
menuju tanah lapang (Musholla). Sesuatu yang pertama kali beliau lakukan adalah
Sholat. Kemudian beliau berpaling dan berdiri di hadapan manusia, sementara
orang-orang tetap duduk pada shof-shof mereka. Lalu beliau memberi nasehat,
wasiat, dan perintah kepada mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 956)
Jika ada khotib yang
sengaja mendahulukan khutbah sebelum Sholat, maka ia telah menyelisihi Sunnah.
Hal ini sebagaimana dilakukan oleh beberapa penguasa pada masa silam demi memastikan
orang-orang tetap duduk mendengarkan khutbah mereka. Namun, tindakan tersebut
ditentang oleh Shohabat.
1.3 Rukun-Rukun
Khutbah
Khotib harus
memperhatikan rukun-rukun dalam penyampaian khutbah agar pesan-pesan syariat
dapat tersampaikan dengan sempurna kepada jamaah Muslim. Rukun khutbah pada Hari
Raya pada dasarnya serupa dengan rukun Khutbah Jum’at.
Pertama, memuji Alloh ﷻ (Al-Hamdu lillah), seperti mengucapkan:
﴿الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
“Segala puji bagi Alloh,
Robb semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)
Kedua, membaca Sholawat kepada Nabi ﷺ. Hal ini merupakan bentuk pengagungan
terhadap Rosululloh ﷺ.
Ketiga, memberikan wasiat Taqwa kepada para jamaah agar
senantiasa takut kepada adzab Alloh ﷻ dan mengharap rohmat-Nya. Siapa yang membaca
3 ayat pembuka yang berisi perintah taqwa (Ali Imron, An-Nisa, Al-Ahzab) atau
salah satunya maka telah mencukupi dari wasiat taqwa.
Keempat, membaca ayat Al-Qur’an dalam salah satu dari dua
khutbah (boleh 1 khutbah atau 2 khutbah). Khotib menjelaskan ayat tersebut
sebagai bentuk nasihat dan arahan kepada jamaah. Sebagaimana disebutkan dalam
sebuah Hadits:
«كَانَتْ
لِلنَّبِيِّ ﷺ خُطْبَتَانِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، وَيُذَكِّرُ
النَّاسَ»
“Rosululloh ﷺ berkhutbah sambil berdiri, beliau membaca
ayat-ayat Al-Qur’an dan memberikan peringatan kepada manusia.” (HR. Muslim
no. 862)
Kelima, mendoakan orang-orang yang beriman (para Mu’min).
Kelengkapan rukun ini
memastikan bahwa khutbah bukan sekadar orasi biasa, melainkan ibadah yang sah
secara syar’i.
1.4 Syarat Sah
Khutbah Hari Raya
Meskipun menghadiri
khutbah adalah Sunnah, namun bagi khotib yang melaksanakannya, terdapat
beberapa syarat agar khutbah tersebut dianggap sah secara syariat. Syarat utama
adalah khutbah dilakukan setelah Sholat Id, bukan sebelumnya. Jika
dilakukan sebelum Sholat, maka khutbah tersebut dianggap tidak sah secara hukum
asal dan harus diulangi setelah Sholat jika memungkinkan.
Syarat berikutnya adalah
khutbah harus disampaikan dengan suara yang keras (jahr) sehingga
dapat didengar oleh jamaah yang hadir. Di masa sekarang, speaker sangat
membantu, walihamdulillah. Alloh ﷻ memerintahkan untuk menyampaikan dakwah
secara jelas.
Selain itu, khotib
disyaratkan harus seorang laki-laki yang berakal. Tidak sah khutbah yang
disampaikan oleh wanita di hadapan jamaah laki-laki atau orang yang hilang
akalnya. Hal ini sejalan dengan prinsip kepemimpinan dalam ibadah.
1.5 Perbedaan
Antara Khutbah Hari Raya dan Khutbah Jum’at
Terdapat beberapa perbedaan
mendasar antara khutbah pada Hari Raya dan Khutbah Jum’at. Perbedaan pertama
terletak pada waktu pelaksanaannya; Khutbah Jum’at dilakukan sebelum Sholat,
sedangkan khutbah Hari Raya dilakukan setelah Sholat.
Perbedaan kedua adalah
pada hukum menghadirinya. Menghadiri Khutbah Jum’at adalah wajib bagi
mereka yang wajib Sholat Jum’at, sedangkan menghadiri khutbah Hari Raya adalah sunnah.
Perbedaan ketiga adalah
pada pembukaan khutbah. Khutbah Jum’at selalu diawali dengan Hamdalah,
sementara pada khutbah Hari Raya, sebagian ulama menganjurkan untuk
memperbanyak Takbir di awal maupun di sela-sela khutbah, meskipun pendapat yang
paling kuat tetap memulainya dengan Hamdalah.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«كُلُّ
خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ، فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ»
“Setiap khutbah yang di
dalamnya tidak terdapat syahadat (persaksian), maka ia seperti tangan yang
terpotong (tidak sempurna).” (HSR. Abu Dawud no. 4841)
Maka yang rojih, khuthbah
'Ied tidaklah dibuka dengan Takbir, melainkan dibuka dengan Hamdalah
sebagaimana khuthbah-khuthbah lainnya. Pendapat ini dikatakan oleh sekelompok
ulama dari kalangan Syafi'iyyah dan sekelompok ulama dari kalangan Hanabilah.
Ini juga merupakan pilihan Ibnu Taimiyyah (728 H), Ibnu Al-Qoyyim (751 H), Ibnu
Rojab (795 H), dan Ibnu Baz (1420 H).
Ibnu Al-Qoyyim (751 H)
berkata: “Beliau ﷺ dahulu
membuka seluruh khuthbahnya dengan memuji Alloh (Hamdalah). Tidak ada satu pun
Hadits yang terjaga dari beliau ﷺ yang
menyebutkan bahwa beliau ﷺ membuka
dua khuthbah 'Ied dengan Takbir... Manusia telah berselisih pendapat tentang
pembukaan khuthbah dua 'Ied dan Istisqo (minta hujan). Ada yang berpendapat:
Keduanya dibuka dengan Takbir. Ada pula yang berpendapat: Khuthbah Istisqo
dibuka dengan Istighfar. Dan ada yang berpendapat: Keduanya dibuka dengan
Hamdalah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) berkata: Inilah (Hamdalah) pendapat
yang benar." (Zadul Ma'ad, Ibnu Al-Qoyyim, 1/447-448)
Perbedaan keempat, pada Sholat
Jum’at, khotib dilarang berbicara kepada jamaah kecuali ada keperluan mendesak,
dan jamaah dilarang berbicara sama sekali. Pada khutbah Hari Raya, aturan
mendengarkan tetap ada, namun karena hukumnya Sunnah, terdapat sedikit
kelonggaran bagi mereka yang memiliki udzur untuk meninggalkan tempat lebih
awal.
1.6 Hukum
Melaksanakan Dua Khutbah atau Satu Khutbah
Para ulama berbeda
pendapat mengenai apakah khutbah Hari Raya dilakukan sebanyak satu kali atau
dua kali dengan duduk di antaranya.
[1] Mayoritas ulama
(Jumhur) berpendapat bahwa khutbah Hari Raya dilakukan dua kali, sama seperti
Khutbah Jum’at. Hal ini didasarkan pada Hadits dari Jabir bin Abdilloh (74 H) rodhiyallahu
‘anhu:
«خَرَجَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ فِطْرٍ، فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ، ثُمَّ
خَطَبَ، فَلَمَّا فَرَغَ نَزَلَ فَأَتَى النِّسَاءَ، فَذَكَّرَهُنَّ»
“Rosululloh ﷺ keluar pada hari Idul Fithri, beliau
memulai dengan Sholat sebelum khutbah. Kemudian beliau berkhutbah. Setelah
selesai, beliau turun lalu mendatangi kaum wanita dan memberi peringatan kepada
mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 978)
Sebagian ulama
menjelaskan bahwa tindakan beliau mendatangi wanita adalah bentuk khutbah kedua
atau kelanjutan dari khutbah yang ditujukan khusus bagi wanita.
Empat madzhab sepakat
bahwa 2 khutbah ini bukan wajib tetapi sunnah, bahkan ini ijma (kesepakatan
seluruh ulama).
Ibnu Hazm (456 H)
berkata: “Apabila Imam telah mengucapkan salam, maka dia berdiri lalu
berkhuthbah di hadapan manusia dengan 2 khuthbah, dia duduk di antara
keduanya dengan satu kali duduk. Jika dia telah menyempurnakan keduanya, maka
manusia bubar. Seandainya dia berkhuthbah sebelum Sholat, maka itu bukanlah
khuthbah, dan tidak wajib diam mendengarkannya. Semua ini tidak ada
perselisihan di dalamnya kecuali pada beberapa tempat yang akan kami
sebutkan In Syaa Alloh Ta'ala.” (Al-Muhalla, Ibnu Hazm, 5/82)
Asy-Syafi'i (204 H)
berkata: Dari 'Ubaidulloh bin 'Abdulloh bin 'Utbah, dia berkata:”Sunnahnya
adalah Imam berkhuthbah pada dua 'Ied dengan 2 khuthbah yang dipisahkan di
antara keduanya dengan duduk.” Asy-Syafi'i berkata: “Begitu pula khuthbah
Istisqo (minta hujan), khuthbah Kusuuf (gerhana), khuthbah Haji, dan setiap
khuthbah jamaah.” (Al-Umm, Asy-Syafi'i, 1/272)
An-Nawawi (676 H)
berkata: “Tidak ada satu pun Hadits yang tsabit (shohih) mengenai
pengulangan khuthbah (menjadi 2 khuthbah), dan yang menjadi sandaran dalam hal
ini adalah qiyas (analogi) terhadap Jum'at.” (Khulashoh Al-Ahkam, An-Nawawi,
2/838)
[2] Namun, ada pula
pendapat yang menyatakan cukup dengan satu khutbah saja —seperti Ibnu Utsimin—,
jika pesan sudah tersampaikan secara lengkap.
Hadits-Hadits yang warid
(datang) mengenai sifat khuthbah beliau ﷺ pada Sholat-Sholat
'Ied tidak menunjukkan bahwa khuthbah tersebut ada 2 khuthbah, dan tidak pula
menunjukkan bahwa beliau ﷺ dahulu
duduk di antara keduanya.
Penulis Subulus Salam
(Ash-Shon'ani, 1182 H) berkata: "Mungkin hal itu tidak tsabit (shohih)
dari perbuatan beliau ﷺ, dan
sesungguhnya manusia melakukannya hanyalah karena qiyas (analogi) terhadap
Jum'at." (Subulus Salam, Ash-Shon'ani, 1/425)
Akan tetapi, mengikuti
amalan yang masyhur di kalangan Salaf dengan dua khutbah adalah lebih utama
(afdhol).
1.7 Duduk di Antara
Dua Khutbah
Jika khotib mengambil
pendapat untuk melakukan dua khutbah, maka disunnahkan baginya untuk duduk
sejenak di antara kedua khutbah tersebut. Duduk ini berfungsi sebagai pemisah
yang jelas. Dari Abdulloh bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma:
انَ النَّبِيُّ
ﷺ يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ، كَانَ يَجْلِسُ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ حَتَّى يَفْرَغَ
- أُرَاهُ قَالَ: الْمُؤَذِّنُ - ثُمَّ يَقُومُ، فَيَخْطُبُ، ثُمَّ يَجْلِسُ فَلَا
يَتَكَلَّمُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ
“Nabi ﷺ dahulu berkhutbah dengan dua khutbah.
Beliau duduk ketika telah naik ke atas mimbar sampai muadzin selesai (pada Jum’at),
kemudian beliau berdiri dan berkhutbah. Lalu beliau duduk dan tidak berbicara,
kemudian berdiri lagi untuk menyampaikan khutbah kedua.” (HR. Al-Bukhori no.
928 dan lafazhnya Abu Dawud no. 1092)
Meskipun Hadits ini
sering dikaitkan dengan Jum’at, para ulama melakukan qiyas (analogi)
untuk khutbah Hari Raya agar terdapat keseragaman dalam adab berkhutbah. Duduk
tersebut tidak perlu lama, sekadar memberikan jeda waktu bagi khotib untuk
mengumpulkan tenaga dan bagi jamaah untuk mempersiapkan pendengaran pada materi
berikutnya. Sebagaimana disebutkan oleh Malik bin Anas (179 H) dalam Al-Muwattho’,
bahwa amalan ini telah menjadi kebiasaan para imam sejak masa awal Islam di
Madinah.
Bab 2: Adab
Khotib Serta Jamaah
2.1 Adab Khotib
Sebelum Menuju Musholla (Tempat Sholat)
Seorang khotib hendaknya
mempersiapkan diri dengan persiapan yang sempurna sebelum keluar menuju tempat
pelaksanaan Sholat Id. Persiapan ini mencakup pembersihan diri dan penataan
niat agar semata-mata mengharap ridho Alloh ﷻ.
Disunnahkan bagi khotib
untuk mandi sebelum berangkat ke tanah lapang. Hal ini sebagaimana dilakukan
oleh Abdulloh bin Umar (73 H). Diwayatkan dari Nafi’ (117 H):
«أَنَّ
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ
إِلَى الْمُصَلَّى»
“Bahwa Abdulloh bin Umar rodhiyallahu
‘anhuma senantiasa mandi pada hari Idul Fithri sebelum berangkat menuju
tanah lapang (Musholla).” (Al-Muwattho’, Malik bin Anas, 1/177)
Selain mandi, khotib juga
disunnahkan untuk makan sebelum keluar pada hari Idul Fithri sebagai tanda
bahwa hari tersebut adalah hari berbuka dan harom untuk berpuasa.
Adapun pada hari Idul
Adha, disunnahkan untuk tidak makan terlebih dahulu hingga ia pulang dan
memakan hasil sembelihan Qurbannya. Anas bin Malik (93 H) meriwayatkan:
«كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ»
“Rosululloh ﷺ tidak berangkat pada hari Idul Fithri
hingga beliau memakan beberapa butir kurma.” (HR. Al-Bukhori no. 953)
2.2 Sunnah
Menampilkan Pakaian Terbaik dan Berwangi-wangian
Termasuk di antara
pengagungan terhadap syiar Islam adalah mengenakan pakaian terbaik yang
dimiliki pada Hari Raya. Khotib, sebagai pemimpin dalam ibadah tersebut, lebih
ditekankan lagi untuk tampil dengan penampilan yang rapi, bersih, dan berwibawa
namun tetap dalam batas kesederhanaan tanpa berlebih-lebihan (isrof).
Ja’far bin Muhammad (148
H) meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya:
أَنَّ النَّبِيَّ
ﷺ كَانَ يَلْبَسُ بُرْدَ حِبَرَةَ فِي كُلِّ عِيدٍ
“Nabi ﷺ mengenakan burdah hibaroh (pakaian
bermotif dari Yaman yang indah) pada setiap Hari Raya.” (HR. Asy-Syafi’i
dalam Musnad-nya no. 439)
Selain pakaian, khotib
juga dianjurkan menggunakan wewangian (parfum) agar memberikan
kenyamanan bagi jamaah yang berada di sekitarnya. Hal ini merupakan bagian dari
memuliakan hari tersebut. Al-Imam Al-Baghowi (516 H) menyebutkan bahwa para
ulama menganjurkan penggunaan wangi-wangian dan membersihkan rambut serta kuku
bagi orang yang hendak menuju Sholat Id.
2.3 Cara Berdiri
dan Posisi Khotib Saat Berkhutbah
Khotib disunnahkan
menyampaikan khutbahnya di atas tempat yang tinggi agar suara dan sosoknya
dapat terlihat serta terdengar jelas oleh seluruh jamaah. Rosululloh ﷺ biasa menyampaikan khutbah di atas mimbar
atau berdiri di atas tempat yang lebih tinggi dari jamaah. Dalam sebuah riwayat
disebutkan:
ثُمَّ قَامَ
مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ، فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ
“Maka Nabi ﷺ berdiri dengan bersandar kepada Bilal,
beliau memerintahkan untuk bertaqwa kepada Alloh dan mendorong untuk
mentaati-Nya.” (HR. Muslim no. 885)
Posisi khotib hendaknya
menghadap ke arah jamaah secara langsung dan tidak membelakangi mereka. Jamaah
pun hendaknya menghadapkan wajah mereka kepada khotib sebagai bentuk adab dan
penghormatan terhadap ilmu yang disampaikan. Jabir bin Abdilloh (74 H)
menjelaskan bahwa Nabi ﷺ saat
berkhutbah berdiri menghadap manusia sementara manusia duduk di shof-shof
mereka (HR. Al-Bukhori no. 956)
2.4 Larangan
Membawa Senjata Saat Khutbah Hari Raya
Pada Hari Raya yang penuh
dengan kegembiraan dan kedamaian, dilarang bagi siapa pun, termasuk khotib dan
jamaah, untuk membawa senjata yang terhunus atau sesuatu yang dapat
membahayakan orang lain di tempat Sholat. Hal ini untuk menjaga keamanan dan
ketenangan kaum Muslimin. Sa’id bin Jubair (95 H) meriwayatkan:
«كُنْتُ
مَعَ ابْنِ عُمَرَ حِينَ أَصَابَهُ سِنَانُ الرُّمْحِ فِي أَخْمَصِ قَدَمِهِ... فَقَالَ
ابْنُ عُمَرَ: حَمَلْتَ السِّلَاحَ فِي يَوْمٍ لَمْ يَكُنْ يُحْمَلُ فِيهِ، وَأَدْخَلْتَ
السِّلَاحَ الْحَرَمَ»
“Aku bersama Ibnu Umar
ketika tumitnya terkena mata tombak (saat Hari Raya)... Maka Ibnu Umar berkata
(kepada pelakunya): “Engkau membawa senjata pada hari yang senjata tidak boleh
dibawa padanya, dan engkau membawa senjata masuk ke tanah harom.” (HR.
Al-Bukhori no. 966)
Hadits ini menunjukkan
pengingkaran Shohabat terhadap pembawaan senjata di tempat perkumpulan kaum
Muslimin saat Hari Raya, karena hal tersebut dapat mencederai kehormatan dan
keselamatan sesama Muslim.
2.5 Adab
Mendengarkan Khutbah bagi Jamaah
Jamaah yang memilih untuk
tetap duduk setelah Sholat Id guna mendengarkan khutbah berkewajiban untuk
menjaga adab dan ketenangan. Mendengarkan khutbah adalah sarana untuk
mendapatkan mau’izhoh (pelajaran) dan keberkahan Hari Raya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَإِذَا
قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾
“Dan apabila dibacakan
Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rohmat.” (QS.
Al-A’rof: 204)
Meskipun ulama
membolehkan jamaah untuk pergi, namun bagi mereka yang memutuskan untuk hadir,
mereka tidak boleh menyibukkan diri dengan hal-hal yang sia-sia (laghu).
Hendaknya jamaah memusatkan perhatian pada apa yang disampaikan oleh khotib,
tidak bermain-main dengan kerikil, telepon genggam, atau melakukan hal-hal yang
dapat menghilangkan konsentrasi pendengar lainnya.
2.6 Hukum
Berbicara Saat Khutbah Berlangsung
Berbicara saat khutbah
berlangsung, meskipun tujuannya adalah untuk mengingatkan orang lain agar diam,
dapat mengurangi kesempurnaan pahala khutbah. Hal ini didasarkan pada keumuman
larangan berbicara saat khutbah sebagaimana dalam Khutbah Jum’at. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الجُمُعَةِ: أَنْصِتْ، وَالإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ»
“Jika engkau berkata
kepada temanmu pada hari Jum’at: “Diamlah”, sementara imam sedang berkhutbah,
maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.” (HR. Al-Bukhori no. 934 dan
Muslim no. 851)
Meskipun ini adalah teks
tentang Jum’at, para ulama seperti Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) menekankan
bahwa adab utama dalam majelis dzikir dan nasehat adalah diam dan menyimak.
Berbicara tanpa keperluan yang sangat mendesak (darurot) dianggap tidak beradab
di hadapan khotib yang sedang menyampaikan wasiat Alloh ﷻ.
2.7 Jika Meninggalkan
Tempat Sebelum Khutbah Usai
Sebagaimana telah
dijelaskan pada bab sebelumnya, mendengarkan khutbah Id adalah sunnah dan bukan
wajib. Oleh karena itu, diperbolehkan bagi jamaah yang memiliki keperluan atau
udzur untuk beranjak pergi setelah Sholat selesai tanpa harus menunggu khutbah
berakhir. Namun, kepulangannya hendaknya dilakukan dengan cara yang sopan dan
tidak menimbulkan kegaduhan yang mengganggu jamaah lain yang sedang menyimak.
Abdulloh bin As-Sa’ib meriwayatkan sabda Nabi ﷺ:
«فَمَنْ
أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ»
“Siapa yang ingin duduk
mendengarkan khutbah, maka silakan duduk. Dan siapa yang ingin pergi, maka
silakan pergi.” (HSR. Abu Dawud no. 1155)
Meskipun ada keringanan,
menetap di tempat hingga khutbah selesai adalah lebih utama karena di dalamnya
terdapat doa-doa kaum Muslimin dan keberkahan yang turun di tempat tersebut.
Siapa yang mendatangi Sholat
Id, maka ia jangan pergi sampai imam selesai berkhutbah, namun jika ia pergi
maka ia tidak berdosa.
Bab 3:
Karakteristik Materi Khutbah yang Sesuai Sunnah
3.1 Memulai
Khutbah dengan Hamdalah (Bukan Takbir)
Sebagian besar kaum
Muslimin memiliki kebiasaan membuka khutbah Hari Raya dengan bacaan Takbir
sebanyak 9 kali pada khutbah pertama dan 7 kali pada khutbah kedua. Namun, jika
ditinjau dari kacamata dalil yang shohih, Rosululloh ﷺ senantiasa membuka seluruh khutbah
beliau—baik itu Khutbah Jum’at, Khutbah Id, maupun khutbah lainnya—dengan
memuji Alloh ﷻ
(Hamdalah). Ibnuul Qoyyim (751 H) menjelaskan dalam Zadul Ma’ad: “Beliau ﷺ membuka seluruh khutbahnya dengan
Hamdalah.”
Khotib hendaknya
mengawali dengan nasehat Taqwa dan pujian kepada-Nya, karena tidak ada riwayat
yang shohih dan tegas yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ memulai khutbah Id dengan Takbir secara
khusus. Meskipun demikian, Takbir tetap menjadi syiar yang utama pada hari
tersebut.
3.2 Menghidupkan
Takbir di Sela-Sela Khutbah
Meskipun pembukaan
khutbah dimulai dengan Hamdalah, khotib sangat dianjurkan untuk memperbanyak
Takbir di sela-sela penyampaian materi khutbah. Hal ini bertujuan untuk
mengagungkan Alloh ﷻ atas
hidayah yang telah diberikan. Alloh ﷻ berfirman mengenai Idul Fithri:
﴿وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾
“Dan hendaklah kamu
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh (bertakbir) atas
petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS.
Al-Baqoroh: 185)
Takbir ini berfungsi
sebagai pengingat bagi jamaah agar hati mereka senantiasa terpaut pada
kebesaran Kholiq. Para Salaf menyukai khotib yang menyelingi nasehatnya dengan
Takbir agar suasana Hari Raya tetap terasa di tengah penyampaian ilmu.
3.3 Materi
Khutbah Idul Fithri: Tentang Zakat Fithri dan Syukur
Materi utama yang
selayaknya disampaikan pada hari Idul Fithri adalah tentang kewajiban Zakat
Fithri bagi yang belum menunaikannya atau hikmah di baliknya, serta ajakan
untuk senantiasa bersyukur atas nikmat menuntaskan Puasa Romadhon. Rosululloh ﷺ bersabda melalui riwayat Ibnu Abbas (68 H)
rodhiyallahu ‘anhuma:
فَرَضَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً
لِلْمَسَاكِينِ
“Rosululloh ﷺ mewajibkan Zakat Fithri sebagai pembersih
bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta
sebagai pemberian makan bagi orang-orang miskin.” (HSR. Abu Dawud no. 1609)
Khotib juga perlu
menekankan pentingnya istiqomah (konsisten) dalam ibadah pasca Romadhon, karena
tanda diterimanya amal sholih adalah lahirnya amal sholih berikutnya.
3.4 Materi
Khutbah Idul Adha: Tentang Qurban dan Tauhid
Pada khutbah Idul Adha,
materi yang paling tepat adalah menjelaskan hukum-hukum terkait penyembelihan
hewan Qurban serta menanamkan nilai-nilai Tauhid yang murni sebagaimana
dicontohkan oleh Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam. Alloh ﷻ berfirman:
﴿لَنْ
يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾
“Daging-daging unta dan
darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Alloh, tetapi
ketaqwaan darimulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Khotib hendaknya
menjelaskan syarat-syarat hewan Qurban dan larangan bagi mereka yang hendak
berqurban untuk tidak mencukur rambut atau memotong kuku hingga penyembelihan
selesai, sebagaimana Hadits dari Ummu Salamah (62 H) rodhiyallahu ‘anha:
«إِذَا
رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ
عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ»
“Jika kalian melihat
hilal Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka
hendaklah ia menahan diri (tidak memotong) rambut dan kuku-kukunya.” (HR.
Muslim no. 1977)
3.5 Memberikan
Wasiat Khusus bagi Kaum Wanita
Termasuk Sunnah Nabi ﷺ yang sering dilupakan adalah memberikan
porsi nasehat khusus bagi kaum wanita saat khutbah Hari Raya. Jika suara khotib
tidak menjangkau tempat wanita, khotib disunnahkan untuk mendatangi area mereka
(jika memungkinkan dan aman dari fitnah) untuk menyampaikan wasiat. Jabir bin
Abdulloh (74 H) meriwayatkan:
ثُمَّ مَضَى
حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، فَقَالَ: «تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ
أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ»
Kemudian beliau (Nabi ﷺ) berlalu hingga mendatangi kaum wanita,
lalu beliau memberi nasehat dan peringatan kepada mereka. Beliau bersabda: “Wahai
sekalian kaum wanita, bershodaqohlah kalian! Karena sesungguhnya kalian adalah
penghuni Jahanam yang paling banyak.” (HR. Muslim no. 885)
Nasehat bagi wanita
biasanya berkisar pada masalah syukur kepada suami, menjaga hijab, shodaqoh,
dan menjauhi lisan yang buruk.
3.6 Meringkas
Khutbah dan Memanjangkan Sholat
Karakteristik khutbah
yang sesuai Sunnah adalah khutbah yang padat, ringkas, namun sarat dengan makna
dan dalil. Sebaliknya, Sholatnya justru dilakukan dengan lebih panjang
(berkualitas). Hal ini menunjukkan pemahaman (fiqih) seorang khotib. Ammar bin
Yasir (37 H) meriwayatkan sabda Rosululloh ﷺ:
«إِنَّ
طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ، وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ، مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيلُوا
الصَّلَاةَ، وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ»
“Sesungguhnya panjangnya Sholat
seseorang dan pendeknya khutbahnya merupakan tanda dari kefaqihannya
(pemahamannya terhadap agama). Maka panjangkanlah Sholat dan pendekkanlah
khutbah.” (HR. Muslim no. 869)
Khotib yang bijak tidak
akan membuat jamaah merasa bosan dengan narasi yang bertele-tele, terutama pada
Hari Raya di mana jamaah ingin segera bersilaturrohim atau melaksanakan
penyembelihan Qurban. Ringkasnya khutbah justru membuat pesan-pesan penting
lebih mudah diingat dan diresapi oleh hati para Mu’min.
Bab 4: Contoh
Khutbah Idul Fithri
4.1 Khutbah
Pertama: Meraih Hakikat Fithroh dan Istiqomah Pasca Romadhon
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam, yang telah
menyempurnakan ni’mat bagi hamba-hamba-Nya dengan kedatangan Idul Fithri
sebagai hari kemenangan. Kami memuji-Nya atas hidayah Islam, nikmat Iman, dan
kekuatan yang diberikan untuk menundukkan hawa nafsu selama bulan suci. Kami
bersaksi dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah
dengan benar melainkan Alloh ﷻ semata, Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kesaksian ini
adalah tali yang kokoh bagi setiap Mu’min. Dan kami bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba-Nya dan Rosul-Nya yang
amanah, penyampai risalah, dan pemberi peringatan yang benar.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, para Shohabat, dan seluruh
pengikutnya yang senantiasa menempuh jalan Salafush Sholih hingga hari Qiyamah.
Amma ba’du:
Alloh ﷻ memerintahkan kepada kita semua untuk
senantiasa bertaqwa dalam setiap keadaan, baik dalam kesendirian maupun di
tengah keramaian:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang
beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS.
Ali ‘Imron: 102)
Hari ini adalah hari
pengagungan terhadap syiar-syiar Alloh ﷻ. Setelah kita berjuang menahan lapar,
haus, dan syahwat selama sebulan penuh, kini tiba saatnya kita berbuka (Fithr)
dan kembali kepada kesucian (Fithroh). Fithroh yang dimaksud bukan sekadar kembali
makan di siang hari, melainkan kembalinya jiwa pada kemurnian tauhid dan
ketaatan kepada Robb. Alloh ﷻ berfirman mengenai fithroh manusia:
﴿فَأَقِمْ
وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا
تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ
لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Maka hadapkanlah wajahmu
dengan lurus kepada agama (Alloh); (tetaplah atas) fithroh Alloh yang telah
menciptakan manusia menurut fithroh itu. Tidak ada perubahan pada fithroh
Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS.
Ar-Rum: 30)
Kemuliaan yang kita raih
pada hari ini tidaklah berarti jika tidak dibarengi dengan keistiqomahan pasca
Romadhon. Banyak orang yang rajin beribadah hanya di bulan suci, namun kembali
berpaling setelahnya. Fenomena ini sering disebut oleh para ulama sebagai
(Romadhoniyyun). Al-Imam Bisyr Al-Hafi (227 H) pernah berkata: “Sangat buruk
kaum yang tidak mengenal hak Alloh kecuali hanya di bulan Romadhon.
Sesungguhnya orang sholih adalah yang rajin beribadah sepanjang tahun.”
Maka, perhatikanlah nilai
keistiqomahan kita. Istiqomah adalah berdiri teguh di atas ketaatan dan
menjauhi maksiat hingga maut menjemput. Alloh ﷻ menjanjikan perlindungan dan kegembiraan
bagi orang-orang yang istiqomah:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sesungguhnya orang-orang
yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka (istiqomah), maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah
kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah
yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS. Fushshilat: 30)
Dalam sebuah Hadits yang
diriwayatkan oleh Abu ‘Amroh Sufyan bin Abdulloh Ats-Tsaqofi (Shohabat Nabi ﷺ), ia meminta nasehat yang paling
mencakup segala kebaikan:
قُلْتُ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ
قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ. قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ، فَاسْتَقِمْ»
Aku berkata: “Wahai
Rosululloh, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang aku tidak akan
bertanya lagi kepada seorang pun setelahmu.” Beliau ﷺ bersabda: “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada
Alloh’, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim no. 38)
Salah satu bukti
istiqomah adalah tetap menjaga Sholat lima waktu di awal waktu secara berjamaah
bagi kaum laki-laki di Masjid. Jangan sampai setelah Romadhon usai, shof-shof
Masjid menjadi kosong dan ditinggalkan. Sholat adalah tiang agama dan pembeda
antara keimanan dan kekafiran. Alloh ﷻ berfirman:
﴿حَافِظُوا
عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ﴾
“Peliharalah semua Sholat(mu),
dan (peliharalah) Sholat wustho (Ashar). Berdirilah untuk Alloh (dalam Sholatmu)
dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqoroh: 238)
Rosululloh ﷺ juga memberikan peringatan keras bagi
mereka yang melalaikan Sholat dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Jabir
bin Abdulloh (74 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«بَيْنَ
الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ»
“Batas antara seseorang
dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan Sholat.” (HR. Muslim no.
82)
Selain itu,
pertahankanlah hubungan kita dengan Al-Qur’an. Jika selama Romadhon kita mampu
mengkhatamkan Al-Qur’an, maka jangan biarkan ia terasing setelahnya. Jadikanlah
Al-Qur’an sebagai wirid harian, cahaya di tengah kegelapan fitnah, dan obat
bagi hati yang gundah. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«اقْرَءُوا
الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ»
“Bacalah Al-Qur’an,
karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Qiyamah sebagai pemberi syafaat
bagi para pembacanya.” (HR. Muslim no. 804)
Ketahuilah bahwa
diterimanya suatu amal memiliki tanda-tanda syar’i. Al-Imam Ibnuul Qoyyim (751
H) menjelaskan bahwa tanda diterimanya kebaikan adalah kebaikan setelahnya.
Jika seseorang setelah
Romadhon menjadi lebih bertaqwa, lebih menjaga lisan dari ghibah, dan lebih
takut kepada Alloh ﷻ, maka
itu adalah kabar gembira bahwa ibadahnya diterima. Sebaliknya, kembali kepada
dosa dan maksiat adalah tanda kemunduran iman. Alloh ﷻ berfirman tentang orang-orang yang
beruntung:
﴿قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى﴾
“Sesungguhnya
beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan dia ingat nama
Robbnya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’la: 14-15)
Di hari Idul Fithri ini,
kita juga ditekankan untuk menjaga persaudaraan dan silaturrohim. Hilangkanlah
rasa dendam, dengki, dan permusuhan di antara sesama Muslim. Kesucian Hari Raya
janganlah dikotori dengan lisan yang tajam dan hati yang busuk. Kezholiman
terhadap sesama adalah kegelapan yang nyata. Nabi ﷺ bersabda melalui riwayat Abdulloh bin Umar
(73 H) rodhiyallahu ‘anhuma:
«الظُّلْمُ
ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Kezholiman itu adalah
kegelapan-kegelapan pada hari Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori no. 2447 dan Muslim
no. 2579)
Silaturrohim bukan
sekadar berkunjung pada Hari Raya, melainkan menyambung kembali apa yang telah
putus dan memaafkan apa yang telah lalu. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ
وَصَلَهَا»
“Orang yang menyambung
silaturrohim bukanlah orang yang membalas (kebaikan orang lain), akan tetapi
penyambung silaturrohim adalah orang yang apabila hubungan kekerabatannya
diputus, ia menyambungnya.” (HR. Al-Bukhori no. 5991)
Kepada kaum wanita yang
hadir, bertaqwalah kalian kepada Alloh ﷻ. Jadilah wanita sholihah yang menjaga
kehormatan diri dan ketaatan kepada suami. Hari Raya bukanlah alasan untuk bertabarruj
(pamer perhiasan) di hadapan laki-laki yang bukan mahrom. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَقَرْنَ
فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَا تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى﴾
“Dan hendaklah kamu tetap
di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang
Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Nasehat khusus bagi kaum
wanita juga menyangkut kewajiban bershodaqoh untuk menjauhkan diri dari ancaman
api Naar. Rosululloh ﷺ
bersabda dalam khutbah Id sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin Abdulloh (74
H):
«تَصَدَّقْنَ،
فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ»
“Bershodaqohlah kalian,
karena sesungguhnya mayoritas kalian (wanita) adalah bahan bakar Jahanam.” (HR.
Muslim no. 885)
Penyebabnya adalah karena
seringnya wanita melaknat (mengumpat) dan mengingkari kebaikan suami (kufur ‘asayir).
Maka, jadikanlah momen Idul Fithri ini untuk memperbaiki akhlaq dan
memperbanyak amal sholih.
Terakhir, marilah kita
senantiasa memohon ketetapan hati (Tsabat) kepada Alloh ﷻ. Hati manusia sangatlah lemah dan mudah
terbolak-balik. Sebaik-baik hamba adalah yang senantiasa merasa butuh kepada
petunjuk Robbnya. Nabi ﷺ sering
berdoa:
«يَا
مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai Dzat yang
membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2140)
Semoga Alloh ﷻ menerima puasa kita, Sholat kita, Zakat kita,
dan seluruh amal ibadah kita selama Romadhon. Semoga kita termasuk orang-orang
yang dibebaskan dari api Naar (Utaqo’ minan Naar) dan dikumpulkan
bersama para Nabi di Jannah Firdaus kelak.
﴿رَبَّنَا
تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ
الرَّحِيمُ﴾
“Ya Robb kami terimalah
dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqoroh: 127-128)
Maka demikianlah nasehat
ini disampaikan, semoga bermanfaat bagi khotib dan jamaah sekalian. Segala puji
bagi Alloh ﷻ di awal
dan di akhir. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ.
4.2 Khutbah
Kedua: Keutamaan Menyambung Silaturrohim dan Menjauhi Zholim
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang, yang telah menjadikan Hari Raya ini sebagai kesempatan untuk
membersihkan jiwa dari kotoran dendam dan permusuhan. Kami memuji-Nya atas ni’mat
Islam yang menyatukan hati-hati yang tercerai-berai.
Kami bersaksi bahwa tidak
ada Ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Alloh ﷻ semata, yang Maha Esa dan tidak memiliki
sekutu.
Kami juga bersaksi bahwa
Muhammad ﷺ adalah
hamba dan Rosul-Nya, suri tauladan dalam akhlaq dan kelembutan hati.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa terlimpah kepada beliau, keluarga, para Shohabat yang mulia,
serta para Tabi’in yang mengikuti jejak mereka dengan penuh ketaatan hingga
hari Qiyamah.
Amma ba’du:
Alloh ﷻ berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya
untuk senantiasa bertaqwa dan memperbaiki hubungan di antara sesama:
﴿فَاتَّقُوا
اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ
مُؤْمِنِينَ﴾
“Maka bertaqwalah kepada
Alloh dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Alloh dan
Rosul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal: 1)
Hari Idul Fithri adalah
hari untuk merajut kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat merenggang
akibat kesalahpahaman atau kekhilafan lisan. Silaturrohim bukanlah sekadar
tradisi tahunan, melainkan amal yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.
Alloh ﷻ
mengaitkan ketaqwaan kepada-Nya dengan perintah menjaga hubungan kekerabatan:
﴿وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا﴾
“Dan bertaqwalah kepada
Alloh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,
dan (peliharalah) hubungan silaturrohim. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasi
kamu.” (QS. An-Nisa: 1)
Keutamaan menyambung
silaturrohim sangatlah besar, di antaranya adalah dilapangkannya rizqi dan
dipanjangkannya umur dalam ketaatan. Rosululloh ﷺ bersabda melalui riwayat Anas bin Malik
(93 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«مَنْ
أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ
رَحِمَهُ»
“Siapa yang ingin
dilapangkan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung
tali silaturrohim.” (HR. Al-Bukhori no. 5986 dan Muslim no. 2557)
Namun, ketahuilah wahai
para Mu’min, bahwa hakikat penyambung silaturrohim yang sejati bukanlah orang
yang hanya berbuat baik kepada kerabat yang berbuat baik kepadanya. Sebaliknya,
pahlawan silaturrohim adalah mereka yang tetap berbuat baik dan menyambung hubungan
meskipun kerabatnya memutus dan berbuat jahat kepadanya.
Rosululloh ﷺ menegaskan dalam Hadits Abdulloh bin ‘Amr
(63 H) rodhiyallahu ‘anhuma:
«لَيْسَ
الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ
وَصَلَهَا»
“Bukanlah penyambung
silaturrohim itu orang yang membalas kebaikan, akan tetapi penyambung
silaturrohim adalah orang yang apabila hubungan rahimnya diputus, ia
menyambungnya.” (HR. Al-Bukhori no. 5991)
Di sisi lain, Islam
memberikan peringatan yang sangat keras bagi mereka yang memutus tali
silaturrohim. Perbuatan ini termasuk dosa besar yang dapat menghalangi
seseorang dari mencium bau Jannah. Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَهَلْ
عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ
وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ﴾
“Maka apakah kiranya jika
kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan
kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila’nat Alloh dan ditulikan-Nya
telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23)
Rosululloh ﷺ juga bersabda dengan nada ancaman yang
nyata:
«لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ»
“Tidak akan masuk Jannah
orang yang memutus (tali silaturrohim).” (HR. Al-Bukhori no. 5984 dan Muslim
no. 2556)
Selain menjaga
silaturrohim, pada Hari Raya ini kita wajib menjauhkan diri dari segala bentuk
kezholiman. Zholim adalah kegelapan yang akan menyiksa pelakunya di hari
pembalasan kelak. Kezholiman bisa terjadi dalam tiga hal: kezholiman kepada
Alloh ﷻ dengan
berbuat syirik, kezholiman kepada diri sendiri dengan berbuat maksiat, dan
kezholiman kepada sesama manusia dengan merusak kehormatan, merampas harta,
atau menyakiti fisik mereka. Alloh ﷻ berfirman dalam Hadits Qudsi yang
diriwayatkan oleh Abu Dzarr Al-Ghifari (32 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«يَا
عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا،
فَلَا تَظَالَمُوا»
“Wahai hamba-Ku,
sesungguhnya Aku mengharomkan kezholiman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya
harom di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi.” (HR.
Muslim no. 2577)
Waspadalah terhadap
kezholiman sekecil apa pun. Mungkin kita merasa aman di dunia, namun di Akhiroh
kelak, setiap hak akan dikembalikan kepada pemiliknya. Jangan sampai kita
menjadi orang yang bangkrut (muflis) di hari Qiyamah; yaitu orang yang
membawa pahala Sholat, Puasa, dan Zakat, namun ia juga membawa dosa karena
mencela si fulan, menuduh si fulan, dan menumpahkan darah si fulan. Rosululloh ﷺ bertanya kepada para Shohabat:
«أَتَدْرُونَ
مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ،
فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ،
وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ
هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا
مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ
مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»
“Tahukah kalian siapakah
orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di antara kami
adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta benda.” Beliau ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang yang
bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Qiyamah dengan membawa
pahala Sholat, Puasa, dan Zakat. Namun ia datang (dengan dosa) telah mencela
ini, menuduh ini, memakan harta ini, menumpahkan darah ini, dan memukul ini.
Maka diberikanlah kepada orang ini dari kebaikannya dan kepada orang itu dari
kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum hutangnya terlunasi, maka
diambilkan dari dosa-dosa mereka lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia
dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 2581)
Oleh karena itu, di hari
yang fitroh ini, marilah kita saling memaafkan dengan tulus. Jika ada harta
orang lain yang masih kita kuasai secara batil, kembalikanlah. Jika ada
kehormatan yang kita injak dengan ghibah, mintalah keridhoannya sebelum maut
menjemput.
Bagi kaum wanita, jagalah
hubungan baik dengan tetangga dan kerabat. Janganlah momen Hari Raya ini
dijadikan sarana untuk saling pamer harta atau membicarakan kekurangan orang
lain, apalagi lisan yang kasar kepada suaminya. Ingatlah bahwa lisan wanita
adalah ujian yang besar. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لَا
تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا، إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الحُورِ
العِينِ: لَا تُؤْذِيهِ، قَاتَلَكِ اللَّهُ»
“Tidaklah seorang wanita
menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan Hurul ‘In
(bidadari) akan berkata: “Janganlah engkau menyakitinya, semoga Alloh
membinasakanmu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1174)
Sebagai penutup, marilah
kita perbanyak doa agar Alloh ﷻ menyatukan hati kita di atas kebenaran. Jangan biarkan syaithon
memecah belah shof-shof kaum Muslimin. Kita adalah satu tubuh yang jika salah
satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
“Seorang Mu’min bagi Mu’min
lainnya bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan.” (HR.
Al-Bukhori no. 481 dan Muslim no. 2585)
Semoga Alloh ﷻ menjauhkan kita dari sifat zholim, dengki,
dan sombong. Semoga Alloh ﷻ memberkahi umur kita untuk senantiasa menyambung silaturrohim
dan menebar kedamaian di muka bumi.
﴿رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ
فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
“Ya Robb kami, beri
ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami,
dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
yang beriman; Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ
عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ
“Ya Alloh, muliakanlah
Islam dan kaum Muslimin, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, dan
tolonglah hamba-hamba-Mu yang mentauhidkan-Mu.”
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam. Sholawat dan salam
atas Nabi kita Muhammad ﷺ.
4.3 Khutbah
Ketiga: Memperkuat Aqidah di Tengah Terjangan Fitnah Zaman
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana, yang telah menjadikan cahaya Iman sebagai penunjuk jalan bagi
hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Kami memuji-Nya atas ni’mat Tauhid yang
merupakan sebesar-besar karunia yang diberikan kepada anak cucu Adam.
Kami bersaksi bahwa tidak
ada Ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Alloh ﷻ semata, Maha Esa, tidak ada sekutu
bagi-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
Kami juga bersaksi bahwa
Muhammad ﷺ adalah
hamba dan Rosul-Nya, yang telah menyampaikan risalah secara sempurna dan
memperingatkan umatnya dari segala bentuk penyimpangan.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa terlimpah kepada beliau, keluarga, para Shohabat yang teguh
dalam memegang bara api agama, serta para Tabi’in dan pengikut jalan Salafush
Sholih hingga akhir masa.
Amma ba’du:
Alloh ﷻ memerintahkan kita untuk tetap teguh di
atas agama yang lurus ini, terutama di masa penuh goncangan:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama
Islam.” (QS. Ali ‘Imron: 102)
Hari Raya Idul Fithri ini
merupakan kesempatan penguatan pondasi Aqidah. Kita hidup di zaman di mana
fitnah (ujian dan syubhat) datang silih berganti bagaikan potongan malam yang
gelap gulita. Maka, tidak ada benteng yang lebih kokoh bagi seorang Mu’min
melainkan pemahaman Aqidah yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Alloh ﷻ berfirman mengenai pentingnya berpegang
teguh pada tali agama-Nya:
﴿وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾
“Dan berpeganglah kamu
semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS.
Ali ‘Imron: 103)
Aqidah Tauhid adalah ruh
bagi setiap amal. Tanpa Tauhid, segala amal ibadah kita laksana debu yang
diterpa angin kencang. Di Hari Raya ini, marilah kita memurnikan peribadahan
hanya kepada-Nya dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, baik yang nampak maupun
yang tersembunyi. Alloh ﷻ memperingatkan bahaya kesyirikan:
﴿إِنَّ
اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾
“Sesungguhnya Alloh tidak
akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48)
Rosululloh ﷺ telah mengabarkan bahwa akan datang suatu
zaman di mana memegang teguh agama laksana memegang bara api. Beliau ﷺ bersabda dalam Hadits yang diriwayatkan
oleh Anas bin Malik (93 H):
«يَأْتِي
عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ»
“Akan datang kepada
manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya
laksana orang yang menggenggam bara api.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2260)
Fitnah zaman ini bisa
berupa syubhat (keragu-raguan dalam agama) yang disebarkan melalui berbagai
media, maupun syahwat (kesenangan duniawi) yang melalaikan hamba dari Akhiroh.
Kita melihat bagaimana batasan antara yang haq dan yang bathil kian kabur.
Banyak orang yang pada pagi hari beriman namun pada sore hari menjadi kafir,
atau sebaliknya, demi mengejar secuil kesenangan dunia. Rosululloh ﷺ bersabda:
«بَادِرُوا
بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا
وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ
بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»
“Bersegeralah kalian
beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah laksana potongan malam yang gelap
gulita. Seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman dan di sore hari menjadi
kafir, atau di sore hari beriman dan di pagi hari menjadi kafir; ia menjual
agamanya dengan harta benda dunia.” (HR. Muslim no. 118)
Oleh karena itu,
kewajiban kita adalah membekali diri dan keluarga dengan ilmu syar’i. Ilmu
adalah cahaya yang membedakan antara petunjuk dan kesesatan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿قُلْ
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Katakanlah: ‘Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (QS.
Az-Zumar: 9)
Al-Imam Ibnuul Mubarok
(181 H) menekankan bahwa ilmu sanad dan atsar adalah bagian dari agama. Jika
bukan karena ilmu yang bersandar pada para Salaf, niscaya setiap orang akan
berkata sekehendak hatinya dalam urusan agama.
Terutama bagi para orang
tua, jagalah aqidah anak-anak kalian dari paham-paham yang menyimpang seperti
liberalisme, sekularisme, dan segala bentuk bid’ah yang merusak kemurnian
Islam. Rosululloh ﷺ
bersabda dalam Hadits Abu Huroiroh (57 H):
«مَا
مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ
يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»
“Setiap anak dilahirkan
di atas fithroh. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau
Nashroni, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhori no. 1358 dan Muslim no. 2658)
Maka, jadikanlah
rumah-rumah kalian sebagai madrosah Tauhid. Ajarkan anak-anak kalian untuk
takut hanya kepada Alloh ﷻ, menggantungkan harapan hanya kepada-Nya, dan mencintai
Nabi-Nya melebihi cintanya kepada dunia. Di hari yang penuh ni’mat ini, marilah
kita bersyukur karena Alloh ﷻ masih menetapkan hati kita di atas Iman. Syukur yang hakiki
adalah dengan meningkatkan ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَكِنَّ
اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ
الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ﴾
“Tetapi Alloh menjadikan
kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah dalam hatimu serta
menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka
itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurot: 7)
Ingatlah pula wahai kaum
Muslimin, bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan yang sementara. Jangan
sampai kesibukan kita dalam merayakan Hari Raya membuat kita lupa akan hari
pengadilan kelak. Setiap langkah kita dicatat, dan setiap ucapan kita akan
dimintai pertanggungjawaban. Alloh ﷻ berfirman:
﴿مَا
يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tiada suatu ucapan pun
yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu
hadir.” (QS. Qof: 18)
Bagi kaum wanita, jagalah
rasa malu kalian. Rasa malu adalah bagian dari Iman yang paling agung. Di zaman
modern ini, banyak godaan yang mengajak wanita untuk menanggalkan kehormatannya
demi pengakuan manusia. Tetaplah istiqomah di atas hijab dan akhlaq yang mulia.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«الْحَيَاءُ
لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ»
“Rasa malu itu tidaklah
mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Al-Bukhori no. 6117 dan Muslim no. 37)
Khotib juga mengingatkan
agar kita senantiasa waspada terhadap fitnah harta dan kedudukan. Jangan sampai
kita menempuh cara-cara yang harom (seperti riba, suap, atau penipuan) demi
memenuhi gengsi di Hari Raya. Ingatlah bahwa daging yang tumbuh dari harta yang
harom, maka Naar adalah tempat yang paling pantas baginya. Al-Imam Ad-Daroni
(215 H) pernah berkata bahwa segala sesuatu yang menyibukkanmu dari Alloh ﷻ, maka itu adalah musibah bagimu.
Sebagai penutup khutbah
Idul Fithri ini, marilah kita perbanyak istighfar. Mungkin dalam puasa kita
masih banyak kekurangan, mungkin dalam Sholat kita masih banyak gangguan, dan
mungkin dalam lisan kita masih banyak kekhilafan. Mintalah kepada Alloh ﷻ agar Dia mengokohkan kaki kita di atas
Shirothol Mustaqim hingga maut menjemput. Doa yang senantiasa diajarkan oleh
Nabi ﷺ:
«اللَّهُمَّ
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Ya Alloh, wahai Dzat
yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 3522)
Semoga Alloh ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang
senantiasa berpegang teguh pada Aqidah Salaf, menjauhkan kita dari segala
fitnah yang menyesatkan, dan mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya yang
penuh ni’mat.
﴿رَبَّنَا
لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾
“Ya Robb kami, janganlah
Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk
kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu; karena
sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)
﴿اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ﴾
“Ya Alloh ampunilah kaum
Mu’min dan Mu’minat, Muslim dan Muslimat, baik yang masih hidup di antara
mereka maupun yang telah wafat.”
﴿رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
“Ya Robb kami, berilah
kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhiroh dan peliharalah kami dari siksa Naar.”
(QS. Al-Baqoroh: 201)
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam. Sholawat dan salam
atas Nabi kita Muhammad ﷺ,
keluarga, dan para Shohabatnya.
Bab 5: Contoh
Khutbah Idul Adha
5.1 Khutbah
Pertama: Meneladani Tauhid Kholilulloh Ibrohim ‘Alaihissalam
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb yang Maha Besar, yang telah
mensyariatkan penyembelihan Qurban sebagai bentuk pendekatan diri kepada-Nya.
Kami memuji-Nya atas ni’mat
Islam dan Sunnah yang tetap terjaga hingga hari ini.
Kami bersaksi bahwa tidak
ada Ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Alloh ﷻ semata, yang Maha Esa, tidak ada sekutu
bagi-Nya, dan tidak ada tandingan bagi-Nya.
Kami juga bersaksi bahwa
Muhammad ﷺ adalah
hamba dan Rosul-Nya, yang diutus sebagai penutup para Nabi dan imam bagi
orang-orang yang bertaqwa.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, para Shohabat yang mulia,
serta pengikutnya yang senantiasa meneladani jejak para Rosul hingga hari
pembalasan.
Amma ba’du:
Alloh ﷻ memerintahkan ketaqwaan kepada kita semua
dalam setiap tarikan nafas dan setiap langkah kaki:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang
beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS.
Ali ‘Imron: 102)
Hari ini adalah hari Idul
Adha, hari yang agung di mana kaum Muslimin memperingati sebuah peristiwa bersejarah
tentang pengorbanan dan ketauhidan yang murni. Kisah Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam
dan putranya Isma’il ‘Alaihissalam merupakan pondasi bagi Aqidah
Islamiyah. Keteladanan Ibrohim ‘Alaihissalam dalam menempatkan perintah
Alloh ﷻ di atas
segala-galanya adalah hakikat dari penyerahan diri yang total. Alloh ﷻ berfirman mengenai kedudukan beliau:
﴿إِنَّ
إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾
“Sesungguhnya Ibrohim
adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan
hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan
(Alloh).” (QS. An-Nahl: 120)
Khotib mengingatkan bahwa
inti dari ibadah Qurban adalah ketaqwaan hati, bukan sekadar mengalirkan darah
hewan. Ketika Ibrohim ‘Alaihissalam diperintahkan untuk menyembelih
putranya yang sangat beliau cintai, beliau tidak ragu sedikit pun karena beliau
tahu bahwa perintah Kholiq (Pencipta) harus didahulukan daripada kecintaan
kepada makhluk. Inilah puncak Tauhid. Alloh ﷻ berfirman:
﴿قَالَ
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾
Ibrohim berkata: “Wahai
anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; In Syaa Alloh kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shoffat: 102)
Peristiwa ini menunjukkan
bahwa ketaatan tanpa syarat adalah bukti keimanan. Sebagaimana dijelaskan oleh
Al-Imam Ibnuul Qoyyim (751 H), bahwa maksud dari penyembelihan ini bukanlah
untuk membunuh sang anak, melainkan untuk membunuh rasa kepemilikan dan kecintaan
yang berlebihan di dalam hati Ibrohim ‘Alaihissalam terhadap selain
Alloh ﷻ.
Setelah Ibrohim ‘Alaihissalam
lulus dalam ujian tersebut, Alloh ﷻ menggantinya dengan seekor sembelihan yang
besar. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَفَدَيْنَاهُ
بِذِبْحٍ عَظِيمٍ﴾
“Dan Kami tebus anak itu
dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shoffat: 107)
Oleh karena itu, bagi
kita yang melaksanakan ibadah Qurban pada hari ini, tanamkanlah niat yang
ikhlas semata-mata karena Alloh ﷻ. Janganlah ada secuil pun keinginan untuk
pamer (riya’) atau mencari pujian manusia atas besarnya hewan yang
disembelih. Alloh ﷻ
menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan kita:
﴿لَنْ
يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾
“Daging-daging unta dan
darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Alloh, tetapi
ketaqwaan darimulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Rosululloh ﷺ juga memberikan tuntunan yang sangat jelas
dalam pelaksanaan Qurban. Beliau ﷺ
bersabda dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu
‘anhu:
«ضَحَّى
النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى
وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا»
“Nabi ﷺ berqurban dengan dua ekor domba jantan
yang berwarna putih kehitaman dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan
tangan beliau sendiri, seraya membaca Basmallah dan bertakbir, dan beliau
meletakkan kaki beliau di atas lambung kedua domba tersebut.” (HR.
Al-Bukhori no. 5565 dan Muslim no. 1966)
Momen Idul Adha ini juga
merupakan ajakan untuk memurnikan ibadah dari segala bentuk bid’ah dan
kesyirikan. Ibrohim ‘Alaihissalam adalah sosok yang sangat gigih
memerangi kesyirikan di zamannya. Kita pun wajib menjaga Aqidah kita agar tidak
terjerumus pada kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang dari Sunnah Nabi ﷺ. Ketahuilah bahwa setiap perkara baru
dalam agama adalah sesat. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa yang
mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka
ia tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Kepada para jamaah
sekalian, jadikanlah hari ini sebagai hari untuk berbagi dengan kaum fakir dan
miskin. Berikanlah bagian dari hewan Qurban tersebut kepada mereka sebagai
bentuk kasih sayang dan ukhuwah Islamiyah. Rosululloh ﷺ bersabda:
«كُلُوا
وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا»
“Makanlah (daging Qurban
itu), berikanlah makan (kepada orang lain), dan simpanlah.” (HR. Al-Bukhori
no. 5569)
Khotib juga mengingatkan
kepada para istri dan kaum wanita untuk senantiasa bersabar dan mendukung suami
dalam ketaatan kepada Alloh ﷻ, sebagaimana Hajar bersabar ketika ditinggalkan Ibrohim ‘Alaihissalam
di lembah yang tandus demi menjalankan perintah Robbnya. Keimanan yang kokoh
akan melahirkan ketenangan jiwa (thuma’ninah) meski dalam kondisi yang
sulit sekalipun.
Marilah kita perbanyak
Takbir, Tahmid, dan Tasbih di hari-hari Tasyriq ini. Ini adalah hari-hari untuk
makan, minum, dan mengingat Alloh ﷻ. Rosululloh ﷺ bersabda dalam Hadits Nubaisyah
Al-Hudzali:
«أَيَّامُ
التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ»
“Hari-hari Tasyriq adalah
hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir kepada Alloh.” (HR. Muslim no.
1141)
Sebagai penutup, marilah
kita berdoa agar Alloh ﷻ
menerima ibadah Qurban kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa
teguh di atas Tauhid hingga maut menjemput.
﴿رَبَّنَا
تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
“Ya Robb kami terimalah
dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 127)
﴿اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ﴾
“Ya Alloh, berilah
sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah
memberi sholawat kepada Ibrohim dan keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha
Terpuji lagi Maha Mulia.”
﴿رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
“Ya Robb kami, berilah
kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhiroh dan peliharalah kami dari siksa
Naar.” (QS. Al-Baqoroh: 201)
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam. Sholawat dan salam
atas Nabi kita Muhammad ﷺ.
5.2 Khutbah
Kedua: Qurban dan Larangan Mengambil Hak Sesama Muslim
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji,
yang telah mensyariatkan penyembelihan hewan Qurban sebagai bentuk pengorbanan
yang agung bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Kami memuji-Nya atas
segala limpahan ni’mat, terutama ni’mat kecukupan harta bagi mereka yang mampu
melaksanakan syiar ini.
Kami bersaksi bahwa tidak
ada Ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Alloh ﷻ semata, Maha Esa, tidak ada sekutu
bagi-Nya. Dan kami bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah
hamba dan Rosul-Nya, yang telah mencontohkan tata cara berqurban dengan penuh
ihsan.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa terlimpah kepada beliau, keluarga, para Shohabat, dan
pengikutnya yang senantiasa menjaga batasan-batasan hukum Alloh ﷻ hingga hari pembalasan.
Amma ba’du:
Alloh ﷻ memerintahkan ketaqwaan kepada kita semua
dalam setiap urusan, baik yang berkaitan dengan ibadah lisan maupun harta:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang
beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS.
Ali ‘Imron: 102)
Hari ini, di samping kita
merayakan Hari Raya Idul Adha, kita juga diingatkan untuk mendalami fiqih
terkait penyembelihan hewan Qurban agar ibadah yang kita lakukan sah di sisi
Alloh ﷻ. Syarat
sahnya hewan Qurban meliputi usia yang cukup dan selamat dari cacat yang nyata.
Rosululloh ﷺ
memberikan tuntunan yang tegas dalam hal ini:
«أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ: الْعَوْرَاءُ
بَيِّنٌ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا،
وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى»
“Ada empat macam hewan
yang tidak sah dijadikan Qurban: yang buta sebelah dan jelas kebutaannya, yang
sakit dan jelas sakitnya, yang pincang dan jelas pincangnya, serta yang sangat
kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang.” (HSR. Abu Dawud no. 2802 dan
At-Tirmidzi no. 1497)
Selain itu, penyembelihan
harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan, yaitu setelah Sholat Idul
Adha hingga akhir hari Tasyriq. Siapa yang menyembelih sebelum Sholat Id, maka
sembelihannya hanyalah daging biasa untuk keluarganya dan bukan termasuk ibadah
Qurban. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ
فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ، وَأَصَابَ سُنَّةَ المُسْلِمِينَ»
“Siapa yang menyembelih
sebelum Sholat Id, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan siapa
yang menyembelih setelah Sholat, maka sungguh ibadahnya telah sempurna dan ia
telah menepati Sunnah kaum Muslimin.” (HR. Al-Bukhori no. 5546)
Penting pula bagi setiap
Muslim untuk memahami larangan mengambil hak sesama Muslim secara zholim,
terutama di tengah pembagian hewan Qurban. Jangan sampai terjadi keributan atau
perebutan yang mencederai kehormatan sesama. Darah, harta, dan kehormatan seorang
Muslim adalah harom bagi Muslim lainnya. Rosululloh ﷺ bersabda dalam khutbah beliau di hari Nahr
(Idul Adha) saat Haji Wada’:
«فَإِنَّ
دِمَاءَكُمْ، وَأَمْوَالَكُمْ، وَأَعْرَاضَكُمْ، بَيْنَكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ
هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا»
“Sesungguhnya darah
kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah harom atas sesama kalian,
sebagaimana haromnya hari kalian ini, dan di bulan kalian ini, serta di negeri
kalian ini.” (HR. Al-Bukhori no. 67 dan Muslim no. 1679)
Dalam konteks pembagian
Qurban, seorang pekurban (shohibul qurban) diperbolehkan memakan
sebagian dagingnya, namun sangat dianjurkan untuk menshodaqohkannya kepada
fakir miskin. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَكُلُوا
مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ﴾
“Maka makanlah sebagian
daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang
sengsara lagi fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)
Namun, terdapat larangan
keras dalam fiqih Qurban, yaitu memberikan bagian dari hewan Qurban (seperti
kulit atau daging) sebagai upah bagi tukang jagal (penyembelih). Upah tukang
jagal harus diambil dari harta pribadi, bukan dari bagian hewan Qurban. Ali bin
Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«أَمَرَنِي
رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا
وَأَجِلَّتِهَا، وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا»، قَالَ: «نَحْنُ نُعْطِيهِ
مِنْ عِنْدِنَا»
“Rosululloh ﷺ memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta
Qurbannya, menshodaqohkan dagingnya, kulitnya, dan pakaian punggungnya, serta
beliau melarangku memberikan bagian apa pun kepada tukang jagal sebagai upah.
Beliau bersabda: “Kami akan memberikan upah kepadanya dari harta kami sendiri.”
(HR. Al-Bukhori no. 1717 dan lafazh Muslim no. 1317)
Khotib juga mengingatkan
kepada panitia Qurban dan jamaah sekalian untuk menjauhi sifat tamak dan ghoshob
(mengambil milik orang lain tanpa izin). Mengambil hak orang miskin dengan
cara memanipulasi data atau menyembunyikan bagian daging yang seharusnya
dibagikan adalah perbuatan zholim yang akan dimintai pertanggungjawaban di
Akhiroh. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا
تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ﴾
“Dan janganlah sebahagian
kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang
bathil.” (QS. Al-Baqoroh: 188)
Momen Idul Adha ini juga
harus menjadi pembersih bagi hati kita dari sifat bakhil (pelit). Harta yang
kita miliki hanyalah titipan, dan apa yang kita korbankan di jalan Alloh ﷻ adalah tabungan yang sesungguhnya. Al-Imam
Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) menasehatkan bahwa ketaqwaan seseorang diuji dari
kerelaannya dalam membelanjakan harta yang ia cintai demi mencari ridho
Robbnya.
Di hari yang mulia ini,
perbanyaklah Takbir sebagai pengagungan kepada Alloh ﷻ. Takbir bukan sekadar hiasan lisan,
melainkan pengakuan bahwa Alloh ﷻ Maha Besar atas segala urusan duniawi
kita. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿كَذَلِكَ
سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Demikianlah Alloh telah
menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Alloh atas hidayah-Nya
kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS.
Al-Hajj: 37)
Bagi kaum wanita, nasehat
khotib adalah untuk tetap menutup aurat secara sempurna sesuai syariat, dan
hindarilah penggunaan wewangian yang menyengat ketika berada di tempat umum.
Ketaatan kalian dalam menjaga adab-adab Islam adalah bentuk pengorbanan
(qurban) perasaan di hadapan syahwat duniawi yang fana. Jagalah lisan kalian
dari menyakiti tetangga. Perbanyaklah lisan kalian dari bersyukur kepada Alloh
lalu bersyukur kepada suami.
Kepada seluruh jamaah,
marilah kita akhiri Hari Raya ini dengan penuh rasa syukur. Jangan biarkan sisa
hari-hari Tasyriq berlalu dalam kesia-siaan. Gunakanlah waktu tersebut untuk
berdzikir, menyambung silaturrohim, dan memastikan pembagian Qurban sampai
kepada yang berhak secara adil dan merata.
Al-Imam Ad-Daroni (215 H)
pernah berkata bahwa niat yang tulus adalah dasar dari setiap amal. Jika niat
kita benar dalam berqurban, maka Alloh ﷻ akan memudahkan jalan kita menuju Jannah.
Namun jika niat kita ternoda oleh riya’, maka kita hanya mendapatkan capek dan
lapar belaka.
Marilah kita berdoa
memohon kekuatan agar senantiasa istiqomah dalam menjalankan fiqih Islam dan
dijauhkan dari segala bentuk kezholiman.
﴿رَبَّنَا
لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ﴾
“Ya Robb kami, janganlah
Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zholim itu.” (QS. Al-A’rof:
47)
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا
ضَحَايَانَا
“Ya Alloh, berkahilah
kami dalam rizqi kami dan terimalah dari kami ibadah Qurban kami.”
﴿رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
“Ya Robb kami, berilah
kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhiroh dan peliharalah kami dari siksa
Naar.” (QS. Al-Baqoroh: 201)
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam. Sholawat dan salam
senantiasa tercurah kepada Rosululloh ﷺ.
5.3 Khutbah
Ketiga: Pengagungan Terhadap Syiar-Syiar Alloh dan Hari-Hari Tasyriq
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb yang Maha Tinggi lagi Maha Agung,
yang telah menetapkan hari-hari Nahr dan Tasyriq sebagai hari-hari penuh
keberkahan bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Kami memuji-Nya atas ni’mat
ibadah yang terus mengalir, dari Thowaf di Ka’bah hingga penyembelihan hewan di
tanah lapang.
Kami bersaksi dengan
penuh keyakinan bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan benar
melainkan Alloh ﷻ semata,
yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun
asma’ wa shifat. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan Rosul-Nya yang paling
sempurna pengagungannya terhadap syiar-syiar Robbnya.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa terlimpah kepada beliau, keluarga, para Shohabat yang
bertaqwa, serta para Tabi’in yang mengikuti jejak Salafush Sholih hingga hari
Qiyamah.
Amma ba’du:
Alloh ﷻ memerintahkan kepada kita semua untuk
mengagungkan segala apa yang telah Dia tetapkan sebagai tanda kebesaran-Nya:
﴿ذَلِكَ
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ﴾
“Demikianlah (perintah
Alloh). Dan siapa mengagungkan syiar-syiar Alloh, maka sesungguhnya itu timbul
dari ketaqwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Hari ini kita berada di
tengah-tengah syiar yang sangat agung, yaitu Hari Raya Idul Adha yang diikuti
dengan hari-hari Tasyriq. Hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari Nahr,
yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pengagungan terhadap hari-hari ini adalah
bagian dari kesempurnaan Iman. Alloh ﷻ menyebut hari-hari ini sebagai hari-hari
yang berbilang:
﴿وَاذْكُرُوا
اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ﴾
“Dan berdzikirlah (dengan
menyebut nama) Alloh dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqoroh:
203)
Rosululloh ﷺ menjelaskan kedudukan hari-hari Tasyriq
ini dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Nubaisyah Al-Hudzali:
«أَيَّامُ
التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ»
“Hari-hari Tasyriq adalah
hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir kepada Alloh.” (HR. Muslim no.
1141)
Hadits ini mengandung
pelajaran mendalam bahwa Islam bukanlah agama kekakuan, melainkan agama yang
memberikan ruang bagi kegembiraan manusiawi yang dibingkai dengan ketaatan.
Kita diperintahkan untuk menikmati rizki Alloh ﷻ berupa daging sembelihan, namun kenikmatan
tersebut harus diiringi dengan lisan yang basah oleh dzikir kepada-Nya. Khotib
mengingatkan bahwa pada hari-hari ini harom hukumnya bagi seorang Muslim untuk
berpuasa.
Salah satu bentuk dzikir
yang sangat ditekankan pada hari-hari ini adalah Takbir Muqoyyad, yaitu Takbir
yang dibaca setiap selesai melaksanakan Sholat fardhu. Ini adalah amalan para
Shohabat Nabi seperti Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), dan Ali bin Abi Tholib (40
H). Dengan bertakbir, kita membesarkan Alloh ﷻ atas hidayah-Nya dan merendahkan segala
bentuk kebesaran duniawi di hadapan kekuasaan-Nya yang mutlak. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَلِتُكَبِّرُوا
اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ﴾
“Dan supaya kamu
mengagungkan Alloh atas hidayah-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS.
Al-Baqoroh: 185)
Khotib juga menekankan
bahwa pengagungan terhadap syiar Alloh ﷻ mencakup menjaga kehormatan bulan-bulan
harom. Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan harom di mana kezholiman
di dalamnya dosanya jauh lebih besar daripada di bulan-bulan lainnya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّ
عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ﴾
“Sesungguhnya bilangan
bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu
Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan harom. Itulah
(ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzholimi dirimu dalam bulan
yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Al-Imam Qotadah (117 H)
menjelaskan bahwa kezholiman pada bulan-bulan harom lebih besar dosanya dan
lebih berat bebannya daripada kezholiman di waktu lainnya, meskipun kezholiman
dalam setiap keadaan adalah perkara yang besar.
Maka, di hari-hari
Tasyriq ini, jagalah lisan dari ghibah, jagalah mata dari yang harom, dan
jagalah hati dari kesombongan.
Bagi mereka yang mampu,
manfaatkanlah sisa waktu di hari Tasyriq untuk menyembelih Qurban jika belum
melaksanakannya di hari pertama. Ketahuilah bahwa setiap tetes darah hewan
Qurban yang mengalir adalah bukti ketundukan kita kepada syariat. Namun, jangan
sampai ibadah ini dirusak oleh niat yang menyimpang. Al-Imam Al-Fudhoil bin ‘Iyadh
(187 H) menasehatkan bahwa syarat diterimanya amal ada dua: Ikhlas karena Alloh
ﷻ dan showab
(benar) sesuai Sunnah Nabi ﷺ. Tanpa
keduanya, amal tersebut akan tertolak (mardud).
Kepada kaum wanita,
nasehat khotib adalah untuk memperbanyak syukur di hari-hari ni’mat ini.
Hindarilah sikap mengeluh terhadap pemberian suami atau keadaan rumah tangga.
Jadikanlah hidangan daging Qurban di rumah sebagai sarana untuk mempererat
kasih sayang dalam keluarga. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ»
“Sesungguhnya Alloh
senang melihat nampak-nya bekas ni’mat-Nya pada hamba-Nya.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2819)
Nasehat ini bermakna
bahwa kita boleh menikmati ni’mat duniawi seperti makanan enak dan pakaian
bagus di Hari Raya, selama tidak diiringi dengan sifat angkuh.
Di penghujung hari-hari
yang agung ini, marilah kita merenungi hakikat pengorbanan yang sesungguhnya.
Pengorbanan bukan hanya tentang hewan ternak, tetapi tentang menyembelih
sifat-sifat buruk dalam diri kita; menyembelih sifat kikir, menyembelih sifat
egois, dan menyembelih kecintaan pada dunia yang berlebihan. Al-Imam Ad-Daroni
(215 H) berkata: “Siapa yang disibukkan dengan dirinya sendiri, maka ia akan
terhalang dari kesibukan kepada Robbnya.”
Maka, jadikanlah
hari-hari Tasyriq ini sebagai titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih bertaqwa.
Perbanyaklah doa dan permohonan ampun kepada Alloh ﷻ. Sebaik-baik doa adalah yang dipanjatkan
dengan hati yang tunduk dan penuh harap. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾
“Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku.” (QS. Al-Baqoroh: 186)
Marilah kita berdoa agar
Alloh ﷻ
senantiasa mengaruniakan hidayah kepada kita untuk terus mencintai
syiar-syiar-Nya. Semoga setiap Takbir yang kita kumandangkan menjadi saksi
keimanan kita di hadapan-Nya kelak.
﴿رَبَّنَا
تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
“Ya Robb kami terimalah
dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 127)
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاخْذُلِ
الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِينَ
“Ya Alloh muliakanlah
Islam dan kaum Muslimin, dan hinakanlah kaum kafir, pelaku bid’ah, dan kaum
musyrikin.”
«اللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى»
“Ya Alloh, sesungguhnya
kami memohon kepada-Mu hidayah, ketaqwaan, sifat ‘afaf (terjaganya kehormatan),
dan kekayaan (hati).” (HR. Muslim no. 2721)
﴿رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
“Ya Robb kami, berilah
kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhiroh dan peliharalah kami dari siksa
Naar.” (QS. Al-Baqoroh: 201)
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam. Sholawat dan salam
atas Nabi kita Muhammad ﷺ,
keluarganya, dan para Shohabatnya.
Penutup
Demikianlah risalah
ringkas yang menghimpun berbagai faidah terkait ibadah khutbah dan
penyembelihan Qurban pada dua Hari Raya yang agung. Tulisan ini disusun dengan
harapan dapat menjadi panduan bagi para khotib dalam menyampaikan wasiat
ketaqwaan yang murni, serta menjadi lentera bagi kaum Muslimin dalam memahami
syiar-syiar Robb mereka. Sesungguhnya kekuatan sebuah umat terletak pada sejauh
mana mereka berpegang teguh pada Aqidah yang lurus dan Sunnah Rosululloh ﷺ yang shohih.
Segala materi yang telah
dipaparkan, mulai dari hukum-hukum fiqih hingga keteladanan para Rosul,
muaranya adalah satu, yaitu penghambaan diri secara total kepada Alloh ﷻ. Hendaknya setiap lisan yang bertakbir dan
setiap tangan yang menyembelih senantiasa menghadirkan niat yang ikhlas, karena
tanpa keikhlasan, amal hanyalah jasad yang tidak bernyawa. Sebagaimana nasehat
Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) bahwa amal yang paling baik adalah yang paling
murni dan paling benar.
Kami memohon kepada Alloh
ﷻ dengan
Asma’ul Husna dan Sifat-Nya yang Maha Tinggi, agar menjadikan buku ini sebagai
pemberat timbangan kebaikan bagi penulis dan pembacanya di hari ketika harta
dan anak tidak lagi berguna.
Semoga Alloh ﷻ senantiasa menjaga kaum Muslimin di atas
hidayah, menyatukan hati mereka dalam ukhuwah, dan menjauhkan mereka dari
segala fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi.
﴿رَبَّنَا
تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
“Ya Robb kami terimalah
dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 127)
﴿سُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
“Maha Suci Robbmu yang
mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan
dilimpahkan atas para Rosul. Dan segala puji bagi Alloh Robb seru sekalian
alam.” (QS. Ash-Shoffat: 180-182)
Sholawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para Shohabat, dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Qiyamah.
Allohu a’lam.[NK]
Daftar Pustaka
Abul Abbas Ahmad bin
Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah, 728 H). Majmu’ Al-Fatawa.
Abu Abdillah Ahmad bin
Muhammad bin Hanbal (Imam Ahmad, 241 H). Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal.
Abu Abdillah Muhammad bin
Idris Asy-Syafi’i (Imam Asy-Syafi’i, 204 H). Al-Umm.
Abu Abdillah Muhammad bin
Isma’il Al-Bukhori (Imam Al-Bukhori, 256 H). Al-Jami’ Ash-Shohih (Shohih
Al-Bukhori).
Abu Abdillah Muhammad bin
Yazid Al-Qozwini (Ibnu Majah, 273 H). Sunan Ibnu Majah.
Abu Abdurrohman Ahmad bin
Syu’aib An-Nasa’i (Imam An-Nasa’i, 303 H). Sunan An-Nasa’i.
Abu Dawud Sulaiman bin
Al-Asy’ats As-Sijistani (Imam Abu Dawud, 275 H). Sunan Abu Dawud.
Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa
At-Tirmidzi (Imam At-Tirmidzi, 279 H). Sunan At-Tirmidzi.
Abu Zakariya Yahya bin
Syarof An-Nawawi (Imam An-Nawawi, 676 H). Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim bin
Al-Hajjaj.
Abul Fida’ Isma’il bin
Katsir (Ibnu Katsir, 774 H). Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim.
Abul Husain Muslim bin
Al-Hajjaj Al-Qusyairi (Imam Muslim, 261 H). Al-Jami’ Ash-Shohih (Shohih
Muslim).
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
(620 H). Al-Mughni.
Ibnuul Qoyyim
Al-Jauziyyah (751 H). Zadul Ma’ad fi Hadi Khoiril ‘Ibad.
Malik bin Anas bin Malik
(Imam Malik, 179 H). Al-Muwattho’.
Muhammad bin Isma’il
Ash-Sno’ani (1182 H). Subulus Salam Syarh Bulughul Marom.
Tim Kementrian Urusan
Islam Saudi Arabia. Al-Tafsir Al-Muyassar.
