Cari Ebook

[PDF] Menjadi Hamba Alloh Saat Berkendara - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam yang telah menundukkan bagi kita kendaraan-kendaraan ini sebagai sarana untuk menempuh berbagai hajat kehidupan.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi , teladan terbaik yang lisan dan hatinya tidak pernah terputus dari mengingat Alloh , baik saat beliau sedang bermukim maupun saat berada di atas punggung tunggangan dalam perjalanan da’wah yang jauh.

Amma ba’du:

Wahai saudaraku para pengendara, ketahuilah bahwa waktu yang kita habiskan di balik kemudi atau di atas jok kendaraan adalah kepingan umur yang sangat berharga namun seringkali terbuang sia-sia dalam kelalaian. Di zaman yang serba cepat ini, mobilitas manusia telah menjadi rutinitas harian yang menyita banyak waktu. Seringkali kita merasa penat karena kemacetan, jenuh karena jarak yang membentang, atau bahkan terjebak dalam emosi dan caci maki saat menghadapi ketidakteraturan di jalan raya. Padahal, jika kita membuka mata hati, setiap detik di perjalanan adalah kesempatan emas yang bisa kita ubah menjadi timbangan amal sholih yang sangat berat di Akhiroh kelak.

Kita perlu menyelamatkan waktu-waktu yang terbuang tersebut agar tidak menjadi penyesalan di hari Qiyamah. Lisan yang menganggur adalah sasaran empuk bagi syaithon untuk membisikkan lamunan kosong atau ucapan yang zholim. Oleh karena itu, membiasakan dzikir saat berkendara adalah solusi agung untuk meraih ketenangan batin sekaligus menjaga keselamatan diri.

Buku ini akan menuntun antum semua mulai dari memahami hakikat kendaraan sebagai ni’mat yang akan ditanya, hingga cara membangun niat yang sholih sebelum mesin dinyalakan.

Pembahasan dalam buku ini disusun secara sistematis agar mencakup seluruh sisi pemanfaatan waktu di jalan raya. Kita akan menyelami berbagai ragam dzikir dan amalan yang bisa dilakukan tanpa mengganggu konsentrasi berkendara, mulai dari membaca Al-Qur’an, bersholawat, hingga istighfar yang menghapuskan dosa. Tidak hanya itu, buku ini juga menguraikan dzikir-dzikir khusus yang terikat dengan keadaan medan jalan seperti tanjakan dan turunan, serta bagaimana menjadikan kabin kendaraan sebagai madrosah untuk muroja’ah hafalan dan menuntut ilmu.

Di bagian akhir, kita akan mempelajari adab dan akhlaq pengendara yang berdzikir serta mengambil ibroh dari jejak para Salaf yang tetap istiqomah menjaga wirid mereka di tengah keletihan safar. Semoga risalah ini menjadi teman setia yang mengubah setiap kilometer perjalanan antum menjadi saksi ketaatan yang abadi.

Bab 1: Hakikat Waktu dan Kendaraan

Wahai hamba Alloh yang mengharap barokah dalam setiap safarnya, ketahuilah bahwa perjalananmu dimulai dari kesadaran bahwa kendaraan adalah ni’mat yang akan ditanya pertanggungjawabannya, sehingga setiap detik di atasnya merupakan modal waktu yang sangat berharga untuk menyelamatkan lisan dari bahaya kelalaian. Sebelum roda berputar, ikatlah hatimu dengan niat sholih agar setiap kilometer bernilai jihad dan tawakal dalam perlindungan-Nya, sembari menjauhkan diri dari kesombongan yang merusak perjalananmu. Penuhilah ruang kabinmu dengan ragam dzikir, lantunan Al-Qur’an, sholawat, dan istighfar yang disesuaikan dengan keadaan medan jalan, baik saat menanjak, menurun, maupun di tengah himpitan macet yang menguji kesabaran.

1.1 Kendaraan Sebagai Ni’mat yang Akan Ditanya

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa setiap fasilitas yang kita nikmati hari ini, termasuk kendaraan yang memudahkan mobilitas kita, adalah ni’mat murni dari Alloh . Dahulu, para Salaf harus menempuh perjalanan berbulan-bulan dengan berjalan kaki atau menggunakan hewan ternak di bawah terik matahari yang menyengat untuk satu urusan saja. Namun sekarang, Alloh memberikan kita kendaraan yang nyaman, cepat, dan terlindung dari cuaca. Ni’mat ini untuk disyukuri dan akan dimintai pertanggungjawabannya nanti.

Alloh berfirman:

﴿لِتَسْتَوُۥا عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا ٱسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَٰنَ ٱلَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقْرِنِين

“Supaya kalian duduk di atas punggungnya kemudian kalian mengingat ni’mat Robb kalian apabila kalian telah duduk di atasnya; dan supaya kalian mengucapkan: ‘Maha Suci Yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.’(QS. Az-Zukhruf: 13)

Ayat ini adalah perintah bahwa setiap kali kita menyalakan mesin kendaraan dan mulai melaju, kita menyadari kehadiran ni’mat tersebut. Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa maksud “mengingat ni’mat Robbmu” adalah dengan mengakui keutamaan-Nya atasmu yang telah menundukkan kendaraan ini. Jika ni’mat ini tidak digunakan untuk ketaatan, maka ia akan menjadi beban yang berat di hari Qiyamah.

Alloh mengingatkan dengan tegas:

﴿ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيم

“Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang ni’mat (yang kalian megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8)

Maka, tanyakanlah pada dirimu sendiri saat memegang kemudi: “Apakah kendaraan ini membawaku kepada keridhoan Alloh atau justru menjauhkanku?”

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) memberikan nasihat yang sangat berharga bagi siapa saja yang sedang menempuh perjalanan hidup:

«عَلَيْكَ بِطَرِيْقِ الْهُدَى وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِيْنَ»

“Hendaklah kamu menempuh jalan hidayah dan janganlah kamu merasa kesepian karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah olehmu jalan kesesatan dan janganlah kamu terpedaya oleh banyaknya orang yang binasa.” (Al-I’tishom, Asy-Syathibi, 1/135)

Ucapan ini tentang jalan Aqidah, tetapi juga relevan di jalan raya; jangan ikut-ikutan pengendara yang lalai meski jumlah mereka banyak. Jadilah yang sedikit namun selamat di dunia dan Akhiroh.

1.2 Memanfaatkan Waktu Kosong di Perjalanan

Waktu adalah modal utama bagi seorang Muslim. Di hari Akhiroh, manusia akan merasakan penyesalan yang mendalam atas setiap detik yang berlalu tanpa dzikir. Bayangkan jika dalam sehari antum menghabiskan waktu 2 jam di perjalanan, maka dalam setahun antum telah menghabiskan ratusan jam hanya di jalanan. Jika waktu ini kosong dari dzikrulloh, alangkah ruginya perniagaan umur kita.

Nabi bersabda:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»

“Dua ni’mat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhori no. 6412)

Saat berkendara, fisik kita mungkin sibuk mengarahkan kendaraan, namun lisan dan hati kita seringkali berada dalam kondisi luang. Inilah celah di mana syaithon masuk membawa lamunan kosong, khayalan yang tidak bermanfaat, atau emosi yang tidak perlu. Maka, penuhilah celah tersebut dengan dzikir yang membasahi lisan.

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh bersabda:

«مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ، إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً»

“Tidaklah suatu kaum berdiri dari suatu majelis (tempat duduk) yang mereka tidak berdzikir kepada Alloh di dalamnya, melainkan mereka berdiri seperti bangkai keledai dan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka.” (HSR. Abu Dawud no. 4855)

Kendaraanmu adalah majelismu selama di perjalanan. Jangan biarkan ia menjadi “bangkai keledai” yang hanya berisi obrolan sia-sia atau musik yang melalaikan. Ubahlah ia menjadi taman Jannah. Ad-Daroni (215 H) mengingatkan: “Segala ni’mat yang menjauhkanmu dari Alloh, maka itu adalah musibah.”

Jangan biarkan perjalananmu menjadi sumber kesialan hanya karena antum membiarkan hati kosong dari mengingat Robbmu.

1.3 Bahaya Lisan dan Hati yang Lalai

Mengapa kita harus sangat serius berdzikir saat berkendara? Karena hukum bagi lisan adalah: jika ia tidak disibukkan dengan kebenaran, ia pasti akan disibukkan dengan kebatilan. Di jalan raya, godaan untuk mencela pengendara lain yang ugal-ugalan, mengumpat kemacetan, atau berghibah (membicarakan aib orang) sangatlah besar. Lisan yang menganggur adalah sasaran empuk bagi makar syaithon.

Alloh berfirman mengenai bahaya orang yang lalai hatinya:

﴿وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Lalai dalam berkendara bukan hanya soal mata yang tidak fokus ke jalan, tapi hati yang terputus dari mengingat Alloh . Hati yang lalai akan mudah tersulut amarah. Saat seseorang memotong jalur kita, jika hati sedang berdzikir, lisan secara otomatis akan berucap “Subhanalloh” atau “Astaghfirulloh”, sehingga api kemarahan terpadamkan. Namun jika hati lalai, yang keluar adalah caci maki yang justru menambah catatan dosa.

Nabi mengingatkan karakter seorang Muslim sejati:

«لَيْسَ المُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيءِ»

“Seorang Mu’min itu bukanlah orang yang suka mencela, bukan orang yang suka melaknat, bukan orang yang suka berkata-kata kotor dan bukan orang yang suka berbicara jorok.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1977)

Contoh ketakutan akan lisan ditunjukkan oleh Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau pernah memegang lisannya sendiri dan berkata:

«إِنَّ هَذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ»

“Inilah yang menjerumuskanku ke berbagai tempat (masalah).” (Al-Muwattho, Malik bin Anas, 2/988)

Jika seorang shiddiq yang telah dijamin Jannah saja begitu waspada terhadap bahaya lisannya, bagaimana dengan kita yang seringkali melepas lisan tanpa kendali saat menghadapi kemacetan? Syaithon sangat senang saat pengendara Muslim kehilangan kontrol diri. Maka lawanlah dengan dzikir yang konsisten.

Ingatlah nasihat emas dari Ibnu Qudamah (620 H) tentang menghargai waktu: “Ketahuilah bahwa waktu itu mulia, maka janganlah engkau menyia-nyiakannya kecuali dalam hal yang paling utama.”

Tidak ada yang lebih utama saat tangan memegang kemudi selain lisan yang bertasbih, bertahmid, dan hati yang ridho atas taqdir Alloh di sepanjang jalan. Jadikanlah setiap kilometer yang antum tempuh sebagai saksi ketaatan yang akan membela antum di Akhiroh nanti.

 

Bab 2: Niat Sholih Sebelum Memacu Kendaraan

Kita akan memasuki pembahasan yang sangat fundamental. Sebelum mesin dinyalakan dan sebelum roda berputar, hati harus terlebih dahulu sampai kepada Alloh melalui niat yang sholih.

2.1 Perjalanan Sebagai Jihad dan Ibadah

Wahai saudaraku yang mengharap keridhoan Robbnya, ketahuilah bahwa rutinitas harianmu di jalan raya bisa berubah menjadi pahala yang berlimpah setara dengan amalan-amalan besar jika disertai dengan niat yang benar. Banyak orang berkendara hanya untuk sampai ke tujuan duniawi, namun seorang Mu’min berkendara untuk mengejar tujuan Akhiroh. Apapun alasanmu keluar rumah—baik itu mencari nafkah, mengantar anak sekolah, atau mengunjungi orang tua—pastikan hati telah mematri niat bahwa perjalanan ini adalah bentuk ketaatan kepada Alloh dan berharap pahala dari-Nya.

Nabi bersabda dalam sebuah Hadits yang menjadi pondasi setiap amal:

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»

“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no. 1907)

Jika antum keluar rumah untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarga dan menjaga diri dari meminta-minta, maka setiap putaran roda kendaraan antum dihitung sebagai jihad di jalan Alloh . Sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits:

«إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ»

“Jika ia keluar untuk bekerja demi anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Alloh. Jika ia keluar untuk bekerja demi kedua orang tuanya yang sudah tua renta, maka ia berada di jalan Alloh. Dan jika ia keluar untuk bekerja demi dirinya sendiri agar terjaga kehormatannya, maka ia pun berada di jalan Alloh. Tetapi jika dia keluar untuk pamer dan sombong maka ia di jalan syaithon.” (HR. Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 282, dishohihkan oleh Al-Albani)

Inilah rahasia para Sholihin dalam mengubah adat (kebiasaan) menjadi ibadah. Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah berkata mengenai bagaimana beliau memandang waktu istirahat dan perjalanannya:

«فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي»

“Sesungguhnya aku mengharap pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharap pahala dari Sholat malamku.” (HR. Al-Bukhori no. 4341)

Jika tidur saja bisa bernilai pahala dengan niat yang benar, maka betapa besarnya peluang pahala bagi antum yang berjihad menembus kemacetan dan panasnya jalanan demi menunaikan kewajiban, selama hati antum terus mengharap wajah Alloh .

2.2 Keluar Rumah dalam Penjagaan Alloh

Seorang pengendara yang cerdas tidak akan mengandalkan kemahirannya menyetir atau kecanggihan rem kendaraannya semata. Ia sadar bahwa keselamatan adalah milik Alloh . Oleh karena itu, ia memulai perjalanannya dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sang Kholiq. Dengan niat berlindung kepada-Nya, ia akan mendapatkan jaminan keamanan yang tidak bisa diberikan oleh asuransi manapun di dunia ini.

Rosululloh mengajarkan doa yang sangat agung ketika seseorang keluar dari rumahnya:

«بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ»

“Dengan nama Alloh, aku bertawakal kepada Alloh, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Alloh.” (HSR. Abu Dawud no. 5095)

Nabi menjelaskan fadhilah dari doa ini, bahwa saat itu juga akan dikatakan kepadanya: “Engkau telah diberi petunjuk, engkau telah dicukupi, dan engkau telah dilindungi,” sehingga syaithon pun menjauh darinya. Bayangkan betapa tenangnya berkendara jika sejak dari pintu rumah, Alloh sudah memberikan jaminan perlindungan.

Alloh berfirman tentang hakikat tawakal:

﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Tholaq: 3)

Mencukupkan di sini termasuk menjaga kendaraanmu dari kecelakaan, menjaga lisanmu dari dosa, dan menjaga hatimu dari keresahan. Abu Abdillah (164 H) yakni Imam Sufyan Ats-Tsauri pernah berwasiat:

«أَحْسِنْ سَرِيْرَتَكَ يُحْسِنِ اللهُ عَلَانِيَتَكَ، وَأَصْلِحْ فِيْمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ يُصْلِحِ اللهُ فِيْمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّاسِ»

“Perbaikilah batinmu (niatmu), niscaya Alloh akan memperbaiki lahiriyahmu (urusanmu), dan perbaikilah hubungan antara kamu dengan Alloh, niscaya Alloh akan memperbaiki hubungan antara kamu dengan manusia.” (Haqiqotus Sunnah wal Bid’ah = Al-Amru bil Ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’, Al-Jalal As-Suyuthi (911 H), 1/205)

Maka, perbaikilah niatmu saat hendak naik ke atas kendaraan. Jangan biarkan kakimu menginjak pedal gas sebelum hatimu menginjakkan keyakinan bahwa hanya Alloh yang mampu mengantarkanmu sampai ke tujuan dengan selamat.

2.3 Berlepas Diri dari Sifat Sombong dan Angkuh di Jalanan

Salah satu penyakit yang sering menjangkiti pengendara adalah rasa sombong. Baik itu sombong karena merek kendaraan yang mewah, kecepatan yang tinggi, atau merasa paling benar di jalan raya. Hal ini seringkali memicu pertikaian dan hilangnya keberkahan perjalanan. Niatkanlah sejak awal bahwa antum adalah hamba Alloh yang lemah, yang berkendara dengan penuh tawadhu’ (rendah hati).

Alloh melarang keras sifat angkuh di muka bumi, termasuk saat kita melintasi jalanan-Nya:

﴿وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ ٱلْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولًا

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isro: 37)

Dalam ayat lain, Alloh memuji hamba-hamba-Nya yang berjalan dengan rendah hati:

﴿وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا سَلَٰمًا

“Adapun hamba-hamba Robb Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqon: 63)

Subhanalloh! Ayat ini adalah panduan bagi kita saat menghadapi pengendara lain yang tidak beradab atau memancing emosi kita di jalan. Jika niat kita adalah menjadi “Ibadurrohman” (hamba Robb yang Maha Pengasih), maka kita tidak akan membalas kebodohan orang lain dengan kebodohan serupa.

Nabi memberikan ancaman yang sangat keras bagi orang yang memiliki kesombongan di hatinya:

«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim no. 91)

Contoh dari generasi Salaf adalah Abdulloh bin Mubarok (181 H) rohimahulloh. Beliau adalah orang yang sangat kaya dan memiliki tunggangan yang bagus, namun beliau menggunakan kekayaannya untuk membiayai perjalanan Haji orang lain dan tetap bersikap sangat rendah hati. Nashroni dan Yahudi pun kagum dengan akhlaqnya di perjalanan. Beliau pernah berkata:

«رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ»

“Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niatnya.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab, 1/69)

Maka, meskipun perjalanan antum hanya ke pasar atau ke kantor, niatkanlah untuk bersyukur dan tidak sombong. Jadikan kendaraan antum sebagai sarana untuk semakin merunduk di hadapan Alloh . Jangan biarkan bunyi klaksonmu atau kecepatan kendaraanmu menjadi saksi kesombonganmu di hari Qiyamah kelak.

 

Bab 3: Ragam Dzikir di Atas Kendaraan

Memasuki bagian inti dari amal ibadah di perjalanan, Bab ini akan membahas secara terperinci mengenai jenis-jenis dzikir yang bisa diamalkan. Fokus utama adalah bagaimana lisan tetap basah dengan pujian kepada Alloh di tengah kebisingan mesin dan padatnya arus lalu lintas.

3.1 Membaca Al-Qur’an Sembari Menyetir

Wahai saudaraku yang rindu akan ketenangan, tidak ada teman perjalanan yang lebih baik daripada Kalamulloh. Membaca Al-Qur’an saat berkendara—bagi yang sudah menghafalnya atau mengulang-ulang surat pendek yang diingat—adalah perdagangan yang tidak akan pernah merugi (QS. Farthir). Setiap hurufnya adalah sepuluh kebaikan yang akan menemani setiap kilometer perjalananmu.

Nabi bersabda mengenai keutamaan membaca satu huruf dari Al-Qur’an:

«مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ»

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabulloh maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2910)

Bayangkan jika sepanjang perjalanan antum membaca Surat Al-Ikhlash berulang kali (10x = 1 istana di Surga), berapa ribu kebaikan yang antum tabung di jok kendaraanmu? Membaca Al-Qur’an di atas kendaraan adalah sunnah yang dipraktikkan langsung oleh Rosululloh . Abdulloh bin Mughoffal (60 H) rodhiyallahu ‘anhu bercerita:

«رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَهُوَ يَقْرَأُ عَلَى رَاحِلَتِهِ سُورَةَ الفَتْحِ»

“Aku melihat Rosululloh pada hari pembebasan kota Makkah di atas untanya, dan beliau membaca Surat Al-Fath.” (HR. Al-Bukhori no. 5034)

Ulama besar Syafi’iyyah, An-Nawawi (676 H) memberikan nasihat dalam kitabnya:

«يُسْتَحَبُّ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الطَّرِيْقِ وَعَلَى الدَّابَّةِ»

“Adapun membaca Al-Qur’an di jalan, maka pendapat yang terpilih adalah hal itu boleh dan tidak makruh (dibenci) apabila pembacanya tidak menjadi lalai (terganggu konsentrasinya). Namun jika ia menjadi lalai darinya (Al-Qur’an), maka hukumnya makruh sebagaimana Nabi membenci membaca Al-Qur’an bagi orang yang mengantuk karena khawatir terjadi percampuran (salah ucap). Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Ad-Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau dahulu membaca Al-Qur’an di jalan. Diriwayatkan pula bahwa Umar bin Abdul Aziz (101 H) rohimahulloh memberikan izin dalam hal itu. Ibnu Abi Dawud berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Ar-Robi’, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Aku bertanya kepada Malik (179 H) tentang seorang lelaki yang Sholat di akhir malam kemudian ia keluar menuju Masjid sementara masih tersisa sedikit dari surat yang ia baca; maka Malik menjawab: ‘Aku tidak tahu bahwa membaca Al-Qur’an itu dilakukan di jalan,’ dan beliau membenci hal tersebut. Dan ini adalah sanad yang shohih dari Malik rohimahulloh.” (At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An-Nawawi (676 H), hlm. 79)

Gunakanlah waktu di balik kemudi untuk menjaga hafalanmu dan bacalah dengan khusyu dan jika tidak mampu maka beralihkan ke dzikir. Jangan biarkan radio atau musik mengambil alih ruang kabinmu, biarkanlah Malaikat turun menaungimu karena lantunan ayat suci yang keluar dari lisanmu.

3.2 Basmalah dan Hamdalah Sebagai Pembuka dan Penutup

Setiap perkara yang tidak dimulai dengan nama Alloh akan terputus keberkahannya. Maka, jangan menginjak pedal gas atau menarik tuas gas sebelum mengucap Basmalah. Begitu pula saat sampai, janganlah langsung melompat turun sebelum memuji-Nya dengan Hamdalah.

Nabi mengingatkan:

«كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ أَقْطَعُ»

“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan bismillah, maka amalan tersebut terputus (keberkahannya).” (HR. Al-Khothib dalam Al-Jami’ no. 1210)

Mengucap Basmalah saat berkendara merupakan pengakuan bahwa tanpa izin-Nya, kendaraan ini tidak akan bisa bergerak setitik pun. Begitu pula Hamdalah adalah bentuk syukur karena Dia-lah yang telah menjaga keselamatanmu.

Alloh berfirman:

﴿لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (ni’mat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrohim: 7)

Betapa indahnya jika perjalananmu dimulai dengan permohonan tolong kepada-Nya dan diakhiri dengan pujian kepada-Nya. Sebagaimana sabda Nabi :

«مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَى أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ»

“Tidaklah Alloh memberikan suatu ni’mat kepada seorang hamba lalu ia berucap: ‘Alhamdulillah’, melainkan apa yang Alloh berikan (berupa ilham untuk memuji-Nya) lebih utama daripada ni’mat yang ia terima itu sendiri.” (HHR. Ibnu Majah no. 3805)

3.3 Kalimat-Kalimat Thoyyibah yang Ringan di Lisan Berat di Timbangan

Inilah rahasia para pengendara yang hatinya tenang meski terjebak macet berjam-jam. Mereka menyibukkan diri dengan empat kalimat yang paling dicintai Alloh : Subhanalloh, Alhamdulillah, Laa ilaha illalloh, dan Allohu Akbar. Kalimat-kalimat ini sangat ringan diucapkan, tidak membutuhkan konsentrasi yang bisa mengganggu pandangan ke depan, namun pahalanya memenuhi langit dan bumi.

Rosululloh bersabda:

«أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ. لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ»

“Ucapan yang paling dicintai oleh Alloh ada 4: Subhanalloh, Alhamdulillah, Laa ilaha illalloh, dan Allohu Akbar. Tidak mengapa kamu mengawali dari mana.” (HR. Muslim no. 2137)

Dalam Hadits lain beliau menjelaskan betapa beratnya timbangan dzikir ini:

«كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ»

“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Robb yang Maha Pengasih: Subhanalloh wa bihamdih, Subhanallohil ‘Azhim.” (HR. Al-Bukhori no. 6682)

Jadikanlah kemacetan sebagai kebun Jannah. Setiap kali kendaraanmu berhenti di lampu merah, tanamlah satu pohon di Jannah dengan satu kalimat tasbih. Ibnu Qoyyim (751 H) menjelaskan tentang keajaiban dzikir ini:

«إِنَّ الذِّكْرَ يُعْطِي الذَّاكِرَ قُوَّةً حَتَّى إِنَّهُ لَيَفْعَلُ مَعَ الذِّكْرِ مَا لَمْ يَظُنَّ فِعْلَهُ بِدُونِهِ»

“Sesungguhnya dzikir memberikan kekuatan kepada orang yang berdzikir, sehingga ia mampu melakukan pekerjaan bersama dzikir tersebut yang tadinya ia sangka tidak akan mampu melakukannya tanpa dzikir.” (Al-Wabilush Shoyyib, Ibnu Qoyyim, hlm. 77)

Berdzikir saat menyetir tidak akan membuatmu lelah, justru ia akan memberikan energi dan ketenangan batin yang luar biasa sehingga perjalanan jauh pun terasa singkat dan menyenangkan.

3.4 Sholawat Kepada Nabi di Tengah Kepadatan Lalu Lintas

Salah satu amalan yang paling efektif untuk mengusir rasa jenuh dan stres di jalan adalah bersholawat kepada Nabi . Sholawat adalah kunci pembuka pintu rahmat dan penghapus kesedihan. Saat kendaraan lain saling membunyikan klakson dengan kasar, biarlah lisanmu justru melantunkan salam kepada kekasih Alloh .

Nabi bersabda:

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا»

“Barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Alloh akan bersholawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)

Bersholawat saat berkendara juga menjadi sebab terkabulnya doa-doa kita di sepanjang perjalanan. Sebagaimana kita tahu bahwa doa orang yang sedang safar (perjalanan) adalah mustajab, dan sholawat adalah pelengkap utamanya.

3.5 Istighfar Sebagai Penghapus Dosa Selama Perjalanan

Jalan raya seringkali menjadi tempat kita melakukan dosa-dosa kecil tanpa sadar; seperti memandang yang harom, merasa jengkel pada sesama pengendara, atau melanggar aturan lalu lintas yang merugikan orang lain. Maka, jadikanlah kabin kendaraanmu sebagai ruang taubat dengan memperbanyak Istighfar.

Nabi , manusia yang sudah diampuni dosanya yang lalu dan akan datang, tetap beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari. Beliau bersabda:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ»

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Alloh, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim no. 2702)

Istighfar adalah pembuka rizqi dan jalan keluar dari setiap kesulitan. Jika antum terjebak dalam kemacetan yang seolah tidak ada ujungnya, janganlah mengeluh, tapi beristighfarlah. Boleh jadi kemacetan itu adalah teguran atas dosa kita atau cara Alloh menggugurkan kesalahan kita melalui kesabaran dalam menanti atau cara menyelamatkan kita dari bahaya di depan.

Nabi bersabda:

«طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا»

“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam catatan amalnya terdapat istighfar yang banyak.” (HSR. Ibnu Majah no. 3818)

Jadikanlah aspal yang antum lewati menjadi saksi bahwa di atasnya ada seorang hamba yang terus-menerus memohon ampun kepada Robbnya. Ubahlah penatmu menjadi pengampunan, dan ubahlah lelahmu menjadi pahala yang terus mengalir.

 

Bab 4: Dzikir yang Terikat Keadaan

Bab ini akan membahas dzikir-dzikir yang bersifat situasional. Di jalan raya, keadaan medan sering berubah—ada tanjakan, turunan, hingga kemacetan yang menguji kesabaran. Seorang Mu’min akan menyesuaikan dzikirnya dengan apa yang ia lihat dan rasakan di sepanjang jalan.

4.1 Saat Melalui Jalan Menanjak dan Menurun

Wahai saudaraku yang menempuh perjalanan, perhatikanlah kontur jalan yang antum lalui. Islam adalah agama yang sempurna, bahkan saat kendaraan kita mendaki perbukitan atau menuruni lembah, ada adab dzikir yang telah dicontohkan oleh Rosululloh dan para Shohabat. Ini adalah cara agar hati kita selalu merasa kecil di hadapan keagungan Alloh saat kita berada di tempat yang tinggi, dan tetap memuji-Nya saat berada di tempat yang rendah.

Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhuma menceritakan kebiasaan para Shohabat saat safar bersama Nabi :

«كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا»

“Kami (para Shohabat) apabila melewati jalan yang menanjak, kami bertakbir (mengucap Allohu Akbar). Dan apabila kami melewati jalan yang menurun, kami bertasbih (mengucap Subhanalloh).” (HR. Al-Bukhori no. 2993)

Hikmah di balik takbir saat menanjak adalah agar manusia tidak merasa tinggi atau besar ketika ia berada di puncak, karena hanya Alloh yang Maha Besar. Sedangkan tasbih saat menurun adalah bentuk menyucikan Alloh dari segala kekurangan ketika kita berada di tempat yang rendah.

Ibnu Hajar Al-Asqolani (852 H) menjelaskan bahwa hikmah bertakbir ketika mendaki adalah untuk menghadirkan perasaan akan keagungan Alloh Ta’ala ketika melihat ketinggian.

Maka, saat kendaraanmu menderu mendaki tanjakan tajam, hiasi kabinmu dengan pekikan “Allohu Akbar”. Dan saat meluncur turun, basahilah lisanmu dengan “Subhanalloh”.

4.2 Ketika Melihat Pemandangan Alam atau Kota

Dalam perjalanan, mata kita seringkali dimanjakan dengan pemandangan yang indah; mulai dari pegunungan yang hijau, hamparan sawah, hingga gemerlap lampu kota di malam hari. Seorang pengendara yang sholih tidak hanya terpana pada keindahan mahluk, tetapi ia menjadikan pandangan matanya sebagai jembatan untuk memuji Sang Kholiq.

Alloh berfirman memuji orang-orang yang senantiasa berpikir tentang ciptaan-Nya:

﴿الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Yaitu orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Robb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Naar (neraka)’.” (QS. Ali ‘Imron: 191)

Gunakanlah lisanmu untuk mengucap “Maa Syaa Alloh” atau “Subhanalloh” saat melihat keindahan. Begitu pula jika melihat sesuatu yang menakjubkan dari kemajuan teknologi di jalan raya.

Dikatakan:

«مَا رَأَيْتُ شَيْئًا إِلَّا ذَكَرْتُ اللهَ فِيهِ»

“Tidaklah aku melihat sesuatu melainkan aku mengingat Alloh karenanya.”

4.3 Menghadapi Kemacetan dengan Kesabaran dan Tasbih

Kemacetan adalah ujian bagi akhlaq seorang Muslim di jalan raya. Saat waktu terbuang dan panas menyengat, syaithon akan membisikkan kekesalan dan caci maki. Di sinilah dzikir berfungsi sebagai penenang jiwa. Ubahlah “waktu macet” menjadi “waktu khusus” bersama Alloh .

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan Sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 153)

Meskipun antum tidak bisa Sholat di atas kendaraan (untuk Sholat fardhu), antum bisa melakukan “Sholat lisan” yaitu dzikir. Saat kendaraan terhenti total, bacalah:

«لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

“Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 6384)

Kalimat ini adalah simpanan harta di Jannah (Kanzun min Kunuzil Jannah) yang akan melapangkan kesempitan hatimu. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) berkata tentang pentingnya sabar dalam menghadapi taqdir:

«الرِّضَا أَفْضَلُ مِنَ الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا لِأَنَّ الرَّاضِيَ لَا يَتَمَنَّى فَوْقَ مَنْزِلَتِهِ»

“Ridho itu lebih utama daripada zuhud terhadap dunia, karena orang yang ridho tidak akan berangan-angan mendapatkan kedudukan di atas apa yang telah ditetapkan baginya.” (Majmu Fatwa, Ibnu Taimiyyah, 1/686)

Jika Alloh menaqdirkanmu terjebak macet, ridholah, dan penuhilah waktu itu dengan istighfar. Boleh jadi Alloh sedang menghindarkanmu dari bahaya di depan sana dengan cara menahanmu di kemacetan ini.

4.4 Doa Saat Memasuki Wilayah atau Desa Baru

Ketika perjalanan membawamu memasuki suatu wilayah, kota, atau desa yang baru, Rosululloh mengajarkan kita untuk memohon kebaikan tempat tersebut dan berlindung dari keburukannya. Ini menunjukkan bahwa seorang pengendara Muslim selalu peduli pada keselamatan lingkungan yang ia masuki.

Nabi jika melihat suatu desa yang ingin dimasukinya, beliau membaca:

«اللهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ الْأَرْضِينَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ،

فَإِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرِ أَهْلِهَا، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا»

“Ya Alloh, Robb langit yang tujuh dan apa yang dunaunginya, Robb bumi yang tujuh dan apa yang dipikulnya... aku memohon kepada-Mu kebaikan desa ini, kebaikan penduduknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan desa ini, keburukan penduduknya, dan keburukan apa yang ada di dalamnya.” (HSR. An-Nasa’i dalam Al-Kubro no. 8775)

Ini adalah doa yang sangat komprehensif agar kita mendapatkan rizqi yang berkah di tempat tujuan dan terhindar dari musibah atau orang-orang yang bermaksud jahat.

4.5 Perlindungan dari Kejahatan Makhluk di Perjalanan

Jalan raya bukan hanya dihuni oleh manusia, tapi juga merupakan tempat yang sering disukai oleh syaithon untuk menggoda manusia agar emosi dan melakukan kecelakaan. Terutama saat melewati tempat-tempat yang sepi atau dianggap angker oleh sebagian orang. Seorang Muslim tidak boleh takut kepada jin, melainkan hanya takut kepada Alloh dengan membaca dzikir perlindungan.

Nabi bersabda:

«مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ، حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ»

“Barangsiapa yang singgah di suatu tempat lalu ia mengucapkan: ‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari kejahatan mahluk yang Dia ciptakan’, maka tidak ada sesuatupun yang akan membahayakannya sampai ia pergi dari tempat tersebut.” (HR. Muslim no. 2708)

Jika antum merasa was-was atau takut saat berkendara di malam hari di jalan yang sepi, bacalah Ayat Kursi. Sebagaimana dalam Hadits Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa setan berkata kepadanya:

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: ﴿اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ [البقرة: 255]، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika engkau hendak tidur (atau dalam konteks perlindungan), bacalah Ayat Kursi... maka Alloh akan senantiasa menjagamu dan syaithon tidak akan mendekatimu sampai pagi.” (HR. Al-Bukhori no. 2311)

Dzikir adalah perisai. Pengendara yang membentengi dirinya dengan dzikir akan merasa tenang dan berani, karena ia tahu bahwa seluruh mahluk berada dalam kendali Robbnya.

Dzikir bagi hati laksana siraman air bagi tanaman. Maka siramilah hatimu di sepanjang perjalanan agar ia tetap hidup dan tidak kering oleh debu-debu kelalaian di jalanan.

 

Bab 5: Muroja’ah dan Menuntut Ilmu

Kita akan membahas bagaimana mengubah kabin kendaraan menjadi madrosah berjalan. Waktu yang lama di perjalanan adalah kesempatan emas yang sering disia-siakan oleh banyak orang, padahal ia bisa menjadi sarana untuk meningkatkan derajat keilmuan dan hafalan kita di sisi Alloh .

5.1 Mengulang Hafalan Al-Qur’an (Muroja’ah) di Balik Kemudi

Wahai penghafal Al-Qur’an dan pencari keberkahan, perjalananmu adalah waktu terbaik untuk melakukan muroja’ah (mengulang hafalan). Seringkali kita beralasan tidak memiliki waktu khusus untuk mengulang hafalan karena kesibukan kerja, padahal jarak antara rumah dan kantor adalah waktu yang sangat cukup untuk mengulang beberapa juz. Lisan yang terbiasa melantunkan ayat suci saat berkendara akan membuat hafalan tersebut melekat kuat di dalam dada.

Nabi mengingatkan agar kita senantiasa menjaga hafalan Al-Qur’an:

«تَعَاهَدُوا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا»

“Jagalah terus Al-Qur’an ini (dengan membacanya rutin), demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang terikat.” (HR. Al-Bukhori no. 5033 dan Muslim no. 791)

Berkendara memberikan suasana fokus yang unik. Saat mata tertuju pada jalan, lisan bisa bebas mengulang bait-bait wahyu. Inilah yang dilakukan oleh para Salaf yang selalu memanfaatkan waktu safar mereka. Utsman (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, yang dikenal sangat mencintai Al-Qur’an, pernah berkata:

«لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ رَبِّكُمْ»

“Sekiranya hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan pernah kenyang (bosan) dari kalam Robb kalian.” (Zawaid Az-Zuhd, Ahmad bin Hanbal, hlm. 128)

Jadikanlah kendaraanmu saksi bahwa di dalamnya ayat-ayat Alloh terus dikumandangkan, sehingga syaithon lari menjauh dan ketenangan turun menaungi setiap jengkal perjalananmu.

5.2 Mendengarkan Kajian Ilmu Sebagai Teman Perjalanan

Di zaman ini, Alloh memudahkan kita dengan teknologi rekaman suara. Jika antum merasa lelah untuk berdzikir lisan atau membaca hafalan, maka jadikanlah telinga antum sebagai pintu masuknya ilmu. Mendengarkan kajian para ulama dan asatidzah yang sholih saat berkendara akan membuat waktu perjalanan terasa singkat dan penuh faedah. Antum berangkat dalam keadaan kurang ilmu, dan sampai di tujuan dalam keadaan membawa tambahan pemahaman agama.

Alloh berfirman tentang keutamaan mendengarkan perkataan yang baik:

﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 18)

Mendengarkan ilmu di perjalanan juga merupakan bentuk meniti jalan menuju Jannah. Sebagaimana sabda Nabi :

«وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)

Jalan yang dimaksud dalam Hadits ini bersifat umum, termasuk jalan raya yang antum lewati sembari mendengarkan ilmu. Abu Abdillah yakni Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) sangat menekankan pentingnya ilmu dalam setiap waktu:

«النَّاسُ إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ»

“Manusia lebih butuh kepada ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makan dan minum.” (Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim, 2/440)

Maka, jangan biarkan telingamu menganggur atau hanya mendengarkan berita-berita dunia yang tidak ada ujungnya. Penuhilah dengan nasihat yang melembutkan hati dan hukum-hukum syariat yang menerangi akal.

5.3 Tafakkur Melihat Tanda-Tanda Kebesaran Alloh di Sepanjang Jalan

Berkendara melintasi berbagai tempat adalah kesempatan besar untuk melakukan ibadah tafakkur (merenung). Melihat awan yang berarak, gunung yang kokoh, atau bahkan keteraturan manusia di jalan raya adalah bukti nyata keberadaan Sang Pengatur semesta. Tafakkur adalah ibadah hati yang sangat agung yang sering dilupakan oleh manusia modern yang terburu-buru.

Alloh mengajak kita untuk memperhatikan apa yang ada di bumi:

﴿قُلِ انظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” (QS. Yunus: 101)

Saat antum melihat luasnya jalanan, renungkanlah luasnya rohmat Alloh . Saat antum melihat betapa kecilnya kendaraan antum di hadapan hamparan bumi, renungkanlah betapa kecilnya kita di hadapan Robbul ‘Alamin. Ad-Daroni (215 H) memberikan kalimat yang indah tentang tafakkur:

«إِنِّي لَأَخْرُجُ مِنْ مَنْزِلِي فَمَا يَقَعُ بَصَرِي عَلَى شَيْءٍ إِلَّا رَأَيْتُ لِلَّهِ عَلَيَّ فِيهِ نِعْمَةً وَلِي فِيهِ عِبْرَةً»

“Sesungguhnya aku keluar dari rumahku, maka tidaklah pandanganku jatuh pada sesuatu melainkan aku melihat di sana ada ni’mat Alloh atas diriku dan ada pelajaran berharga bagiku.” (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim, 8/109)

Gunakanlah waktu safarmu untuk mengambil ibroh (pelajaran). Jika antum melihat kecelakaan, jadikan itu pengingat akan dekatnya kematian dan pentingnya bekal taqwa. Jika antum melihat jalan yang mulus, syukuri ni’mat kemudahan. Inilah ciri hamba Alloh yang cerdas, yang menjadikan setiap pergerakan fisiknya sebagai sarana peningkatan derajat di Akhiroh.

 

Bab 6: Adab Pengendara

Kita akan membahas bagaimana sinkronisasi antara dzikir di lisan dengan amal perbuatan di jalan raya. Seorang Muslim yang lisannya basah dengan dzikrulloh haruslah menjadi pengendara yang paling beradab, paling sabar, dan paling memberikan rasa aman bagi orang lain. Dzikir bukan hanya hiasan bibir, melainkan kemudi bagi akhlaq di jalanan.

6.1 Berdzikir Tanpa Mengganggu Konsentrasi dan Keselamatan

Wahai saudaraku yang sholih, ketahuilah bahwa menjaga keselamatan diri dan orang lain di jalan raya adalah bagian dari amanah agama. Berdzikir saat berkendara tidak boleh dilakukan dengan cara yang melalaikan fokus mata terhadap jalan atau mengurangi kewaspadaan tangan pada kemudi. Islam melarang segala bentuk tindakan yang membahayakan nyawa (dhoror).

Nabi bersabda:

«لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ»

“Tidak boleh memberikan bahaya (bagi diri sendiri) dan tidak boleh membalas bahaya (bagi orang lain).” (HSR. Ibnu Majah no. 2341)

Oleh karena itu, pilihlah dzikir yang ringan dan sudah hafal di luar kepala agar pikiran tetap terjaga pada situasi lalu lintas. Jangan memaksakan membaca mushaf fisik atau layar gawai sembari menyetir karena hal itu termasuk perbuatan zholim terhadap hak pengguna jalan lain.

Jika fokusmu terpecah hingga membahayakan, maka hadirnya hati dalam dzikir tersebut telah hilang. Jadilah pengendara yang cerdas; lisan bertasbih, namun mata tetap waspada menatap aspal.

6.2 Menjaga Pandangan (Ghodhul Bashor)

Jalan raya adalah tempat yang penuh dengan fitnah pandangan. Syaithon seringkali menggoda pengendara untuk melihat hal-hal yang diharomkan, baik itu di papan iklan maupun pada sesama pengguna jalan. Dzikir yang sejati akan melahirkan rasa muroqobah (merasa diawasi Alloh ) sehingga seseorang mampu menundukkan pandangannya.

Alloh berfirman:

﴿قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُوضُّوا مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada para lelaki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (QS. An-Nur: 30)

6.3 Memberi Hak Jalan dan Membantu Sesama Pengendara

Pengendara yang berdzikir adalah mereka yang paling ringan memberikan jalan bagi orang lain, tidak menyerobot antrean, dan tidak egois. Memberi jalan kepada orang lain dengan niat memudahkan urusan sesama Muslim adalah ibadah yang sangat besar pahalanya.

Nabi bersabda:

«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mu’min, maka Alloh akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari Qiyamah.” (HR. Muslim no. 2699)

Bayangkan jika antum memberi jalan bagi ambulans atau orang yang sedang tergesa-gesa dengan niat membantu, maka itu adalah sedekah. Sebagaimana sabda beliau :

«وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ»

“Dan engkau menolong seseorang naik ke atas tunggangannya, atau engkau angkatkan barang-barangnya ke atas tunggangannya, itu adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 1009)

Abdulloh bin Mubarok (181 H) dikenal sebagai orang yang sangat dermawan dan suka menolong di perjalanan. Makhlad bin Al-Husain berkata kepadanya:

«نَحْنُ إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْحَدِيثِ»

“Kita lebih membutuhkan banyak adab daripada membutuhkan banyak Hadits (tanpa adab).” (Al-Jami, Al-Khotib, 1/80)

Jangan sampai lisanmu fasih berdzikir, namun klaksonmu berbunyi kasar karena tidak sabar mengantre.

6.4 Larangan Mencela Kendaraan dan Keadaan Jalan

Banyak pengendara yang secara spontan mencela cuaca panas, mengutuk lubang di jalan, atau mencaci kendaraannya sendiri saat mogok. Ini adalah tanda kurangnya ridho terhadap taqdir Alloh . Seorang ahli dzikir akan menerima setiap keadaan dengan jiwa yang tenang.

Nabi bersabda:

«لَا تَسُبُّوا الرِّيحَ»

“Janganlah kalian mencela angin (cuaca).” (HSR. At-Tirmidzi no. 2252)

Dalam Hadits Qudsi, Alloh berfirman:

«يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ»

“Anak Adam menyakiti-Ku, dia mencela waktu (zaman), padahal Aku-lah Pemilik waktu, di tangan-Ku segala urusan, Aku membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Al-Bukhori no. 4826)

Mencela jalanan atau kendaraan pada hakikatnya adalah mencela ketetapan-Nya. Sebaik-baik ucapan saat menghadapi kendala adalah Istighfar dan doa mohon kemudahan.

Nabi mengingatkan:

«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mu’min, sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali bagi seorang Mu’min. Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Jadilah pengendara yang menebar rohmat, bukan penebar serapah. Biarlah setiap orang yang berpapasan denganmu merasa tenang karena melihat kedisiplinan dan kesantunanmu yang lahir dari kekuatan dzikirmu.

 

Bab 7: Atsar Para Salaf dalam Memanfaatkan Waktu Perjalanan

Bab ini akan menyajikan potret nyata dari generasi terbaik umat ini. Mereka bukan hanya ahli ilmu, tetapi juga ahli ibadah yang tidak membiarkan sedetik pun waktu perjalanan mereka terbuang sia-sia. Kisah-kisah mereka adalah motivasi bagi kita agar tidak lagi merasa lelah atau bosan saat berada di atas kendaraan.

7.1 Kisah Para Ulama yang Mengkhatamkan Al-Qur’an di Atas Tunggangan

Wahai saudaraku, jika kita merasa berat untuk membaca satu surat saja saat berkendara, maka lihatlah bagaimana kesungguhan para pendahulu kita yang sholih. Bagi mereka, punggung unta atau kuda bukan sekadar tempat duduk, melainkan tempat untuk tilawah Kalamulloh. Banyak di antara mereka yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali hanya dalam satu kali perjalanan jauh.

Alloh memberikan keberkahan waktu bagi orang-orang yang jujur niatnya. Sebagaimana firman-Nya:

﴿وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Diriwayatkan dari Qotadah (117 H) rohimahulloh, beliau menceritakan tentang kebiasaan Al-Aswad bin Yazid (75 H) yang senantiasa mengkhatamkan Al-Qur’an di luar bulan Romadhon setiap 6 malam, termasuk saat beliau sedang dalam perjalanan. Jejak ini diikuti oleh banyak Ulama lainnya yang menjadikan safar sebagai kesempatan ketaatan.

7.2 Kesungguhan Generasi Terdahulu dalam Menjaga Wirid Perjalanan

Bagi para Salaf, dzikir adalah nafas. Mereka merasa sesak jika lisan mereka terhenti dari menyebut nama Alloh . Perjalanan yang jauh dan melelahkan justru menjadi ajang bagi mereka untuk memperbanyak istighfar dan tasbih. Mereka sadar bahwa setiap langkah tunggangan adalah langkah menuju Akhiroh.

Nabi memberikan motivasi tentang nilai dzikir:

«أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ»؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: «ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى» قَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ: «مَا شَيْءٌ أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sebaik-baik amal kalian, yang paling suci di sisi Penguasa kalian, yang paling tinggi dalam derajat kalian, lebih baik dari sodaqoh emas dan perak, bahkan lebih baik dari kamu bertemu musuh (di medan perang) hingga engkau tebas lehernya atau lehermu yang ditebas olehnya?” Para Shohabat menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Berdzikir kepada Alloh.”

Muadz berkata: “Tidak ada apapun yang lebih menyelamatkan dari siksa Alloh melebihi berdzikir.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3377)

Kisah yang sangat menyentuh datang dari Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H). Beliau adalah orang yang sangat takut kepada Alloh . Dalam setiap perjalanannya, beliau lebih banyak diam untuk bertafakkur atau berdzikir dengan suara yang lirih. Beliau pernah berkata:

«إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ فَرِحْتُ بِالظَّلَامِ لِخَلْوِي بِرَبِّي»

“Jika matahari telah terbenam, aku merasa gembira dengan kegelapan agar aku bisa berduaan dengan Robbku.” (Ihya, Al-Ghozali, 1/423)

Bayangkan jika antum berkendara di malam hari, jadikanlah kegelapan dan kesunyian jalan raya sebagai sarana untuk merasakan kedekatan dengan Alloh sebagaimana yang dirasakan oleh para kekasih-Nya ini.

7.3 Rahasia Ketenangan Hati di Tengah Keletihan Safar

Mengapa para Salaf tidak merasa jenuh atau mengeluh saat safar? Rahasianya terletak pada hati yang terpaut kepada Alloh . Dzikir berfungsi sebagai nutrisi bagi ruh mereka, sehingga rasa lelah fisik tertutupi oleh kelezatan iman. Mereka memandang bahwa setiap kesulitan di perjalanan adalah penggugur dosa.

Alloh berfirman:

﴿أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“Ketahuilah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ro’d: 28)

Seorang pengendara yang berdzikir tidak akan mudah stres menghadapi macet atau gangguan di jalan, karena hatinya berada di “frekuensi” yang berbeda dengan hiruk-pikuk dunia. Ibnu Qoyyim (751 H) menjelaskan hal ini dengan sangat indah:

«إِنَّ فِي الْقَلْبِ قَسْوَةً لَا يُذِيبُهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى»

“Sesungguhnya di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa dilelehkan kecuali dengan dzikrulloh Ta’ala.” (Al-Wabilush Shoyyib, Ibnu Qoyyim, hlm. 71)

Jika kita merasa lelah di balik kemudi, ingatlah bahwa para Salaf menempuh ribuan kilometer dengan debu dan terik demi satu Hadits atau satu ketaatan. Kendaraan kita hari ini jauh lebih mewah, maka malulah kita jika lisan ini masih saja berat untuk bertasbih.

 

Penutup

Wahai saudaraku para pengendara yang dimuliakan Alloh , sampailah kita pada penghujung risalah ini, namun bukan berarti sampai pada penghujung amalan kita. Setiap lembar yang telah antum baca adalah peta jalan agar perjalanan dunia kita benar-benar menjadi jembatan menuju Jannah-Nya yang abadi. Kini, saatnya antum memegang kembali kemudi atau menghidupkan mesin kendaraan dengan jiwa yang baru—jiwa yang sadar bahwa setiap meter aspal yang dilewati adalah saksi ketaatan di hadapan Robb semesta alam.

Bayangkanlah kelak di hari Qiyamah, ketika bumi menceritakan segala berita yang terjadi di atasnya. Kendaraanmu akan berbicara, jok yang antum duduki akan bersaksi, dan jalanan yang antum lalui akan memberikan laporan. Alangkah indahnya jika kesaksian mereka adalah tentang seorang hamba yang lisannya tidak berhenti beristighfar saat lampu merah menyala, yang hatinya terus bertasbih saat mendaki tanjakan, dan yang matanya terjaga dari kemaksiatan demi mengharap wajah Alloh .

Jangan biarkan syaithon membisikkan rasa bosan atau lelah dalam berdzikir. Ingatlah bahwa umur kita hanyalah kumpulan hari, dan hari hanyalah kumpulan jam, serta jam hanyalah kumpulan detik. Jika detik-detik di atas kendaraan itu hilang tanpa dzikir, maka ia adalah kerugian yang tidak akan pernah bisa kembali lagi. Mari kita ubah setiap desah nafas di tengah kemacetan menjadi pundi-pundi pahala. Ubahlah kegelisahan di jalan raya menjadi ketenangan melalui muroja’ah dan sholawat.

Alloh senantiasa menanti kepulangan hati para hamba-Nya yang bertaubat dan mengingat-Nya. Sebagaimana pesan para Salaf, dunia ini hanyalah persinggahan sementara, laksana seorang pengendara yang berteduh sejenak di bawah pohon kemudian berlalu meninggalkannya. Maka pastikan bekalmu cukup, niatmu tulus, dan lisanmu selalu basah dengan pujian kepada-Nya.

Semoga Alloh senantiasa menjaga langkah kita, melindungi kita dari segala mara bahaya di dunia dan di Akhiroh, serta mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya bersama Nabi dalam keadaan hati yang ridho dan dirdhoi.

Segala puji bagi Alloh di awal dan di akhir. Walhamdulillahi Robbil ‘Alamin. Allohu a’lam.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini