[PDF] Menjadi Hamba Alloh Saat Berkendara - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam yang telah menundukkan bagi kita kendaraan-kendaraan ini
sebagai sarana untuk menempuh berbagai hajat kehidupan.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi ﷺ, teladan terbaik yang lisan
dan hatinya tidak pernah terputus dari mengingat Alloh ﷻ, baik saat beliau sedang
bermukim maupun saat berada di atas punggung tunggangan dalam perjalanan da’wah
yang jauh.
Amma ba’du:
Wahai
saudaraku para pengendara, ketahuilah bahwa waktu yang kita habiskan di balik
kemudi atau di atas jok kendaraan adalah kepingan umur yang sangat berharga
namun seringkali terbuang sia-sia dalam kelalaian. Di zaman yang serba cepat
ini, mobilitas manusia telah menjadi rutinitas harian yang menyita banyak
waktu. Seringkali kita merasa penat karena kemacetan, jenuh karena jarak yang
membentang, atau bahkan terjebak dalam emosi dan caci maki saat menghadapi
ketidakteraturan di jalan raya. Padahal, jika kita membuka mata hati, setiap
detik di perjalanan adalah kesempatan emas yang bisa kita ubah menjadi
timbangan amal sholih yang sangat berat di Akhiroh kelak.
Kita perlu
menyelamatkan waktu-waktu yang terbuang tersebut agar tidak menjadi penyesalan
di hari Qiyamah. Lisan yang menganggur adalah sasaran empuk bagi syaithon untuk
membisikkan lamunan kosong atau ucapan yang zholim. Oleh karena itu,
membiasakan dzikir saat berkendara adalah solusi agung untuk meraih ketenangan
batin sekaligus menjaga keselamatan diri.
Buku ini
akan menuntun antum semua mulai dari memahami hakikat kendaraan sebagai ni’mat
yang akan ditanya, hingga cara membangun niat yang sholih sebelum mesin
dinyalakan.
Pembahasan
dalam buku ini disusun secara sistematis agar mencakup seluruh sisi pemanfaatan
waktu di jalan raya. Kita akan menyelami berbagai ragam dzikir dan amalan yang
bisa dilakukan tanpa mengganggu konsentrasi berkendara, mulai dari membaca
Al-Qur’an, bersholawat, hingga istighfar yang menghapuskan dosa. Tidak hanya
itu, buku ini juga menguraikan dzikir-dzikir khusus yang terikat dengan keadaan
medan jalan seperti tanjakan dan turunan, serta bagaimana menjadikan kabin
kendaraan sebagai madrosah untuk muroja’ah hafalan dan menuntut ilmu.
Di bagian
akhir, kita akan mempelajari adab dan akhlaq pengendara yang berdzikir serta
mengambil ibroh dari jejak para Salaf yang tetap istiqomah menjaga wirid mereka
di tengah keletihan safar. Semoga risalah ini menjadi teman setia yang mengubah
setiap kilometer perjalanan antum menjadi saksi ketaatan yang abadi.
Bab 1: Hakikat Waktu dan Kendaraan
Wahai hamba
Alloh yang mengharap barokah dalam setiap safarnya, ketahuilah bahwa
perjalananmu dimulai dari kesadaran bahwa kendaraan adalah ni’mat yang akan
ditanya pertanggungjawabannya, sehingga setiap detik di atasnya merupakan modal
waktu yang sangat berharga untuk menyelamatkan lisan dari bahaya kelalaian.
Sebelum roda berputar, ikatlah hatimu dengan niat sholih agar setiap kilometer
bernilai jihad dan tawakal dalam perlindungan-Nya, sembari menjauhkan diri dari
kesombongan yang merusak perjalananmu. Penuhilah ruang kabinmu dengan ragam
dzikir, lantunan Al-Qur’an, sholawat, dan istighfar yang disesuaikan dengan
keadaan medan jalan, baik saat menanjak, menurun, maupun di tengah himpitan
macet yang menguji kesabaran.
1.1
Kendaraan Sebagai Ni’mat yang Akan Ditanya
Ketahuilah
wahai saudaraku, bahwa setiap fasilitas yang kita nikmati hari ini, termasuk
kendaraan yang memudahkan mobilitas kita, adalah ni’mat murni dari Alloh ﷻ.
Dahulu, para Salaf harus menempuh perjalanan berbulan-bulan dengan berjalan
kaki atau menggunakan hewan ternak di bawah terik matahari yang menyengat untuk
satu urusan saja. Namun sekarang, Alloh ﷻ memberikan kita kendaraan
yang nyaman, cepat, dan terlindung dari cuaca. Ni’mat ini untuk disyukuri dan
akan dimintai pertanggungjawabannya nanti.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿لِتَسْتَوُۥا عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا
ٱسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَٰنَ
ٱلَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا
لَهُۥ مُقْرِنِين﴾
“Supaya
kalian duduk di atas punggungnya kemudian kalian mengingat ni’mat Robb kalian
apabila kalian telah duduk di atasnya; dan supaya kalian mengucapkan: ‘Maha
Suci Yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak
mampu menguasainya.’” (QS. Az-Zukhruf: 13)
Ayat ini
adalah perintah bahwa setiap kali kita menyalakan mesin kendaraan dan mulai
melaju, kita menyadari kehadiran ni’mat tersebut. Ibnu Katsir (774 H)
menjelaskan bahwa maksud “mengingat ni’mat Robbmu” adalah dengan mengakui
keutamaan-Nya atasmu yang telah menundukkan kendaraan ini. Jika ni’mat ini
tidak digunakan untuk ketaatan, maka ia akan menjadi beban yang berat di hari
Qiyamah.
Alloh ﷻ
mengingatkan dengan tegas:
﴿ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيم﴾
“Kemudian
kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang ni’mat (yang kalian
megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8)
Maka,
tanyakanlah pada dirimu sendiri saat memegang kemudi: “Apakah kendaraan ini
membawaku kepada keridhoan Alloh ﷻ atau justru menjauhkanku?”
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) memberikan nasihat yang sangat berharga bagi siapa saja yang
sedang menempuh perjalanan hidup:
«عَلَيْكَ
بِطَرِيْقِ الْهُدَى وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ
وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِيْنَ»
“Hendaklah
kamu menempuh jalan hidayah dan janganlah kamu merasa kesepian karena
sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah olehmu jalan kesesatan dan janganlah
kamu terpedaya oleh banyaknya orang yang binasa.” (Al-I’tishom,
Asy-Syathibi, 1/135)
Ucapan ini
tentang jalan Aqidah, tetapi juga relevan di jalan raya; jangan ikut-ikutan
pengendara yang lalai meski jumlah mereka banyak. Jadilah yang sedikit namun
selamat di dunia dan Akhiroh.
1.2
Memanfaatkan Waktu Kosong di Perjalanan
Waktu
adalah modal utama bagi seorang Muslim. Di hari Akhiroh, manusia akan merasakan
penyesalan yang mendalam atas setiap detik yang berlalu tanpa dzikir. Bayangkan
jika dalam sehari antum menghabiskan waktu 2 jam di perjalanan, maka dalam
setahun antum telah menghabiskan ratusan jam hanya di jalanan. Jika waktu ini
kosong dari dzikrulloh, alangkah ruginya perniagaan umur kita.
Nabi ﷺ bersabda:
«نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
“Dua ni’mat
yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR.
Al-Bukhori no. 6412)
Saat
berkendara, fisik kita mungkin sibuk mengarahkan kendaraan, namun lisan dan
hati kita seringkali berada dalam kondisi luang. Inilah celah di mana syaithon
masuk membawa lamunan kosong, khayalan yang tidak bermanfaat, atau emosi yang
tidak perlu. Maka, penuhilah celah tersebut dengan dzikir yang membasahi lisan.
Diriwayatkan
dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ، إِلَّا قَامُوا
عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً»
“Tidaklah
suatu kaum berdiri dari suatu majelis (tempat duduk) yang mereka tidak
berdzikir kepada Alloh di dalamnya, melainkan mereka berdiri seperti bangkai
keledai dan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka.” (HSR. Abu
Dawud no. 4855)
Kendaraanmu
adalah majelismu selama di perjalanan. Jangan biarkan ia menjadi “bangkai
keledai” yang hanya berisi obrolan sia-sia atau musik yang melalaikan. Ubahlah
ia menjadi taman Jannah. Ad-Daroni (215 H) mengingatkan: “Segala ni’mat yang menjauhkanmu
dari Alloh, maka itu adalah musibah.”
Jangan
biarkan perjalananmu menjadi sumber kesialan hanya karena antum membiarkan hati
kosong dari mengingat Robbmu.
1.3
Bahaya Lisan dan Hati yang Lalai
Mengapa
kita harus sangat serius berdzikir saat berkendara? Karena hukum bagi lisan
adalah: jika ia tidak disibukkan dengan kebenaran, ia pasti
akan disibukkan dengan kebatilan. Di jalan raya, godaan untuk mencela pengendara lain yang ugal-ugalan,
mengumpat kemacetan, atau berghibah (membicarakan aib orang) sangatlah besar.
Lisan yang menganggur adalah sasaran empuk bagi makar syaithon.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai bahaya orang yang lalai hatinya:
﴿وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati
Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS.
Al-Kahfi: 28)
Lalai dalam
berkendara bukan hanya soal mata yang tidak fokus ke jalan, tapi hati yang
terputus dari mengingat Alloh ﷻ. Hati yang lalai akan mudah tersulut amarah. Saat seseorang
memotong jalur kita, jika hati sedang berdzikir, lisan secara otomatis akan
berucap “Subhanalloh” atau “Astaghfirulloh”, sehingga api kemarahan
terpadamkan. Namun jika hati lalai, yang keluar adalah caci maki yang justru
menambah catatan dosa.
Nabi ﷺ mengingatkan karakter seorang
Muslim sejati:
«لَيْسَ
المُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيءِ»
“Seorang Mu’min
itu bukanlah orang yang suka mencela, bukan orang yang suka melaknat, bukan
orang yang suka berkata-kata kotor dan bukan orang yang suka berbicara jorok.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 1977)
Contoh
ketakutan akan lisan ditunjukkan oleh Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau pernah memegang lisannya sendiri dan berkata:
«إِنَّ
هَذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ»
“Inilah
yang menjerumuskanku ke berbagai tempat (masalah).” (Al-Muwattho, Malik bin
Anas, 2/988)
Jika
seorang shiddiq yang telah dijamin Jannah saja begitu waspada terhadap bahaya
lisannya, bagaimana dengan kita yang seringkali melepas lisan tanpa kendali
saat menghadapi kemacetan? Syaithon sangat senang saat pengendara Muslim
kehilangan kontrol diri. Maka lawanlah dengan dzikir yang konsisten.
Ingatlah
nasihat emas dari Ibnu Qudamah (620 H) tentang menghargai waktu: “Ketahuilah
bahwa waktu itu mulia, maka janganlah engkau menyia-nyiakannya kecuali dalam
hal yang paling utama.”
Tidak ada
yang lebih utama saat tangan memegang kemudi selain lisan yang bertasbih,
bertahmid, dan hati yang ridho atas taqdir Alloh ﷻ di sepanjang jalan.
Jadikanlah setiap kilometer yang antum tempuh sebagai saksi ketaatan yang akan
membela antum di Akhiroh nanti.
Bab 2: Niat
Sholih Sebelum Memacu Kendaraan
Kita akan
memasuki pembahasan yang sangat fundamental. Sebelum mesin dinyalakan dan
sebelum roda berputar, hati harus terlebih dahulu sampai kepada Alloh ﷻ
melalui niat yang sholih.
2.1
Perjalanan Sebagai Jihad dan Ibadah
Wahai
saudaraku yang mengharap keridhoan Robbnya, ketahuilah bahwa rutinitas harianmu
di jalan raya bisa berubah menjadi pahala yang berlimpah setara dengan
amalan-amalan besar jika disertai dengan niat yang benar. Banyak orang
berkendara hanya untuk sampai ke tujuan duniawi, namun seorang Mu’min
berkendara untuk mengejar tujuan Akhiroh. Apapun alasanmu keluar rumah—baik itu
mencari nafkah, mengantar anak sekolah, atau mengunjungi orang tua—pastikan
hati telah mematri niat bahwa perjalanan ini adalah bentuk ketaatan kepada
Alloh ﷻ
dan berharap pahala dari-Nya.
Nabi ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits
yang menjadi pondasi setiap amal:
«إِنَّمَا
الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Sesungguhnya
amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan
mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no.
1907)
Jika antum
keluar rumah untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarga dan menjaga diri
dari meminta-minta, maka setiap putaran roda kendaraan antum dihitung sebagai
jihad di jalan Alloh ﷻ.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits:
«إِنْ
كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ
خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ،
وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ
كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ»
“Jika ia
keluar untuk bekerja demi anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan
Alloh. Jika ia keluar untuk bekerja demi kedua orang tuanya yang sudah tua
renta, maka ia berada di jalan Alloh. Dan jika ia keluar untuk bekerja demi
dirinya sendiri agar terjaga kehormatannya, maka ia pun berada di jalan Alloh.
Tetapi jika dia keluar untuk pamer dan sombong maka ia di jalan syaithon.” (HR.
Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 282, dishohihkan oleh Al-Albani)
Inilah
rahasia para Sholihin dalam mengubah adat (kebiasaan) menjadi ibadah. Mu’adz
bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah berkata mengenai bagaimana
beliau memandang waktu istirahat dan perjalanannya:
«فَأَحْتَسِبُ
نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي»
“Sesungguhnya
aku mengharap pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharap pahala dari Sholat
malamku.” (HR. Al-Bukhori no. 4341)
Jika tidur
saja bisa bernilai pahala dengan niat yang benar, maka betapa besarnya peluang
pahala bagi antum yang berjihad menembus kemacetan dan panasnya jalanan demi
menunaikan kewajiban, selama hati antum terus mengharap wajah Alloh ﷻ.
2.2
Keluar Rumah dalam Penjagaan Alloh ﷻ
Seorang
pengendara yang cerdas tidak akan mengandalkan kemahirannya menyetir atau
kecanggihan rem kendaraannya semata. Ia sadar bahwa keselamatan adalah milik
Alloh ﷻ.
Oleh karena itu, ia memulai perjalanannya dengan menyerahkan diri sepenuhnya
kepada Sang Kholiq. Dengan niat berlindung kepada-Nya, ia akan mendapatkan
jaminan keamanan yang tidak bisa diberikan oleh asuransi manapun di dunia ini.
Rosululloh ﷺ mengajarkan doa yang sangat
agung ketika seseorang keluar dari rumahnya:
«بِسْمِ
اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ»
“Dengan
nama Alloh, aku bertawakal kepada Alloh, tidak ada daya dan upaya kecuali
dengan pertolongan Alloh.” (HSR. Abu Dawud no. 5095)
Nabi ﷺ menjelaskan fadhilah dari doa
ini, bahwa saat itu juga akan dikatakan kepadanya: “Engkau telah diberi
petunjuk, engkau telah dicukupi, dan engkau telah dilindungi,” sehingga
syaithon pun menjauh darinya. Bayangkan betapa tenangnya berkendara jika sejak
dari pintu rumah, Alloh ﷻ sudah memberikan jaminan perlindungan.
Alloh ﷻ
berfirman tentang hakikat tawakal:
﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ﴾
“Dan
barangsiapa yang bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan
(keperluan)nya.” (QS. Ath-Tholaq: 3)
Mencukupkan
di sini termasuk menjaga kendaraanmu dari kecelakaan, menjaga lisanmu dari
dosa, dan menjaga hatimu dari keresahan. Abu Abdillah (164 H) yakni Imam Sufyan
Ats-Tsauri pernah berwasiat:
«أَحْسِنْ
سَرِيْرَتَكَ يُحْسِنِ اللهُ عَلَانِيَتَكَ، وَأَصْلِحْ فِيْمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ
اللهِ يُصْلِحِ اللهُ فِيْمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّاسِ»
“Perbaikilah
batinmu (niatmu), niscaya Alloh akan memperbaiki lahiriyahmu (urusanmu), dan
perbaikilah hubungan antara kamu dengan Alloh, niscaya Alloh akan memperbaiki
hubungan antara kamu dengan manusia.” (Haqiqotus Sunnah wal Bid’ah = Al-Amru
bil Ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’, Al-Jalal As-Suyuthi (911 H), 1/205)
Maka,
perbaikilah niatmu saat hendak naik ke atas kendaraan. Jangan biarkan kakimu
menginjak pedal gas sebelum hatimu menginjakkan keyakinan bahwa hanya Alloh ﷻ yang
mampu mengantarkanmu sampai ke tujuan dengan selamat.
2.3
Berlepas Diri dari Sifat Sombong dan Angkuh di Jalanan
Salah satu
penyakit yang sering menjangkiti pengendara adalah rasa sombong. Baik itu sombong
karena merek kendaraan yang mewah, kecepatan yang tinggi, atau merasa paling
benar di jalan raya. Hal ini seringkali memicu pertikaian dan hilangnya
keberkahan perjalanan. Niatkanlah sejak awal bahwa antum adalah hamba Alloh ﷻ yang
lemah, yang berkendara dengan penuh tawadhu’ (rendah hati).
Alloh ﷻ
melarang keras sifat angkuh di muka bumi, termasuk saat kita melintasi
jalanan-Nya:
﴿وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ ٱلْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya
kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan
sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isro: 37)
Dalam ayat
lain, Alloh ﷻ
memuji hamba-hamba-Nya yang berjalan dengan rendah hati:
﴿وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا سَلَٰمًا﴾
“Adapun
hamba-hamba Robb Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di
bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan
kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung
keselamatan.” (QS. Al-Furqon: 63)
Subhanalloh!
Ayat ini adalah panduan bagi kita saat menghadapi pengendara lain yang tidak
beradab atau memancing emosi kita di jalan. Jika niat kita adalah menjadi “Ibadurrohman”
(hamba Robb yang Maha Pengasih), maka kita tidak akan membalas kebodohan orang
lain dengan kebodohan serupa.
Nabi ﷺ memberikan ancaman yang
sangat keras bagi orang yang memiliki kesombongan di hatinya:
«لاَ
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
“Tidak akan
masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.”
(HR. Muslim no. 91)
Contoh dari
generasi Salaf adalah Abdulloh bin Mubarok (181 H) rohimahulloh. Beliau
adalah orang yang sangat kaya dan memiliki tunggangan yang bagus, namun beliau
menggunakan kekayaannya untuk membiayai perjalanan Haji orang lain dan tetap
bersikap sangat rendah hati. Nashroni dan Yahudi pun kagum dengan akhlaqnya di
perjalanan. Beliau pernah berkata:
«رُبَّ
عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ»
“Betapa
banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan
besar menjadi kecil karena niatnya.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab,
1/69)
Maka,
meskipun perjalanan antum hanya ke pasar atau ke kantor, niatkanlah untuk
bersyukur dan tidak sombong. Jadikan kendaraan antum sebagai sarana untuk
semakin merunduk di hadapan Alloh ﷻ. Jangan biarkan bunyi
klaksonmu atau kecepatan kendaraanmu menjadi saksi kesombonganmu di hari
Qiyamah kelak.
Bab 3: Ragam
Dzikir di Atas Kendaraan
Memasuki
bagian inti dari amal ibadah di perjalanan, Bab ini akan membahas secara
terperinci mengenai jenis-jenis dzikir yang bisa diamalkan. Fokus utama adalah
bagaimana lisan tetap basah dengan pujian kepada Alloh ﷻ di tengah kebisingan mesin
dan padatnya arus lalu lintas.
3.1
Membaca Al-Qur’an Sembari Menyetir
Wahai
saudaraku yang rindu akan ketenangan, tidak ada teman perjalanan yang lebih
baik daripada Kalamulloh. Membaca Al-Qur’an saat berkendara—bagi yang sudah
menghafalnya atau mengulang-ulang surat pendek yang diingat—adalah perdagangan
yang tidak akan pernah merugi (QS. Farthir). Setiap hurufnya adalah sepuluh
kebaikan yang akan menemani setiap kilometer perjalananmu.
Nabi ﷺ bersabda mengenai keutamaan
membaca satu huruf dari Al-Qur’an:
«مَنْ
قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ
حَرْفٌ»
“Barangsiapa
yang membaca satu huruf dari Kitabulloh maka baginya satu kebaikan, dan satu
kebaikan itu dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam
Mim itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu
huruf.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2910)
Bayangkan
jika sepanjang perjalanan antum membaca Surat Al-Ikhlash berulang kali (10x = 1
istana di Surga), berapa ribu kebaikan yang antum
tabung di jok kendaraanmu? Membaca Al-Qur’an di atas kendaraan adalah sunnah
yang dipraktikkan langsung oleh Rosululloh ﷺ. Abdulloh bin Mughoffal (60 H) rodhiyallahu ‘anhu
bercerita:
«رَأَيْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَهُوَ يَقْرَأُ عَلَى
رَاحِلَتِهِ سُورَةَ الفَتْحِ»
“Aku
melihat Rosululloh ﷺ
pada hari pembebasan kota Makkah di atas untanya, dan beliau membaca Surat
Al-Fath.” (HR. Al-Bukhori no. 5034)
Ulama besar
Syafi’iyyah, An-Nawawi (676 H) memberikan nasihat dalam kitabnya:
«يُسْتَحَبُّ
قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الطَّرِيْقِ وَعَلَى الدَّابَّةِ»
“Adapun
membaca Al-Qur’an di jalan, maka pendapat yang terpilih adalah hal itu boleh
dan tidak makruh (dibenci) apabila pembacanya tidak menjadi lalai
(terganggu konsentrasinya). Namun jika ia menjadi lalai darinya (Al-Qur’an),
maka hukumnya makruh sebagaimana Nabi ﷺ membenci membaca Al-Qur’an bagi orang yang mengantuk karena
khawatir terjadi percampuran (salah ucap). Abu Dawud meriwayatkan dari Abu
Ad-Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau dahulu membaca
Al-Qur’an di jalan. Diriwayatkan pula bahwa Umar bin Abdul Aziz (101 H) rohimahulloh
memberikan izin dalam hal itu. Ibnu Abi Dawud berkata, telah menceritakan
kepadaku Abu Ar-Robi’, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia
berkata: Aku bertanya kepada Malik (179 H) tentang seorang lelaki yang Sholat di
akhir malam kemudian ia keluar menuju Masjid sementara masih tersisa sedikit
dari surat yang ia baca; maka Malik menjawab: ‘Aku tidak tahu bahwa membaca
Al-Qur’an itu dilakukan di jalan,’ dan beliau membenci hal tersebut. Dan ini
adalah sanad yang shohih dari Malik rohimahulloh.” (At-Tibyan fi
Adabi Hamalatil Qur’an, An-Nawawi (676 H), hlm. 79)
Gunakanlah
waktu di balik kemudi untuk menjaga hafalanmu dan bacalah dengan khusyu dan
jika tidak mampu maka beralihkan ke dzikir. Jangan biarkan radio atau musik
mengambil alih ruang kabinmu, biarkanlah Malaikat turun menaungimu karena
lantunan ayat suci yang keluar dari lisanmu.
3.2
Basmalah dan Hamdalah Sebagai Pembuka dan Penutup
Setiap
perkara yang tidak dimulai dengan nama Alloh ﷻ akan terputus keberkahannya.
Maka, jangan menginjak pedal gas atau menarik tuas gas sebelum mengucap Basmalah. Begitu pula saat sampai, janganlah
langsung melompat turun sebelum memuji-Nya dengan Hamdalah.
Nabi ﷺ mengingatkan:
«كُلُّ
أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ أَقْطَعُ»
“Setiap
perkara penting yang tidak dimulai dengan bismillah, maka amalan tersebut
terputus (keberkahannya).” (HR. Al-Khothib dalam Al-Jami’ no. 1210)
Mengucap
Basmalah saat berkendara merupakan pengakuan bahwa tanpa izin-Nya, kendaraan
ini tidak akan bisa bergerak setitik pun. Begitu pula Hamdalah adalah bentuk
syukur karena Dia-lah yang telah menjaga keselamatanmu.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ﴾
“Sesungguhnya
jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (ni’mat) kepada kalian, dan
jika kalian mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS.
Ibrohim: 7)
Betapa
indahnya jika perjalananmu dimulai dengan permohonan tolong kepada-Nya dan
diakhiri dengan pujian kepada-Nya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
«مَا
أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، إِلَّا كَانَ
الَّذِي أَعْطَى أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ»
“Tidaklah
Alloh memberikan suatu ni’mat kepada seorang hamba lalu ia berucap: ‘Alhamdulillah’,
melainkan apa yang Alloh berikan (berupa ilham untuk memuji-Nya) lebih utama
daripada ni’mat yang ia terima itu sendiri.” (HHR. Ibnu Majah no. 3805)
3.3
Kalimat-Kalimat Thoyyibah yang Ringan di Lisan Berat di Timbangan
Inilah
rahasia para pengendara yang hatinya tenang meski terjebak macet berjam-jam.
Mereka menyibukkan diri dengan empat kalimat yang paling dicintai Alloh ﷻ: Subhanalloh,
Alhamdulillah, Laa ilaha illalloh, dan Allohu Akbar. Kalimat-kalimat ini
sangat ringan diucapkan, tidak membutuhkan konsentrasi yang bisa mengganggu
pandangan ke depan, namun pahalanya memenuhi langit dan bumi.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَحَبُّ
الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ. لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ»
“Ucapan
yang paling dicintai oleh Alloh ada 4: Subhanalloh, Alhamdulillah, Laa ilaha
illalloh, dan Allohu Akbar. Tidak mengapa kamu mengawali dari mana.”
(HR. Muslim no. 2137)
Dalam Hadits
lain beliau ﷺ
menjelaskan betapa beratnya timbangan dzikir ini:
«كَلِمَتَانِ
خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى
الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ»
“Dua
kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Robb yang
Maha Pengasih: Subhanalloh wa bihamdih, Subhanallohil ‘Azhim.” (HR.
Al-Bukhori no. 6682)
Jadikanlah
kemacetan sebagai kebun Jannah. Setiap kali kendaraanmu berhenti di lampu merah,
tanamlah satu pohon di Jannah dengan satu kalimat tasbih. Ibnu Qoyyim (751 H)
menjelaskan tentang keajaiban dzikir ini:
«إِنَّ
الذِّكْرَ يُعْطِي الذَّاكِرَ قُوَّةً حَتَّى إِنَّهُ لَيَفْعَلُ مَعَ الذِّكْرِ مَا
لَمْ يَظُنَّ فِعْلَهُ بِدُونِهِ»
“Sesungguhnya
dzikir memberikan kekuatan kepada orang yang berdzikir, sehingga ia mampu
melakukan pekerjaan bersama dzikir tersebut yang tadinya ia sangka tidak akan
mampu melakukannya tanpa dzikir.” (Al-Wabilush Shoyyib, Ibnu Qoyyim, hlm. 77)
Berdzikir
saat menyetir tidak akan membuatmu lelah, justru ia akan memberikan energi dan
ketenangan batin yang luar biasa sehingga perjalanan jauh pun terasa singkat
dan menyenangkan.
3.4
Sholawat Kepada Nabi ﷺ di Tengah Kepadatan Lalu
Lintas
Salah satu
amalan yang paling efektif untuk mengusir rasa jenuh dan stres di jalan adalah
bersholawat kepada Nabi ﷺ.
Sholawat adalah kunci pembuka pintu rahmat dan penghapus kesedihan. Saat
kendaraan lain saling membunyikan klakson dengan kasar, biarlah lisanmu justru melantunkan
salam kepada kekasih Alloh ﷻ.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا»
“Barangsiapa
yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Alloh akan bersholawat kepadanya
sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)
Bersholawat
saat berkendara juga menjadi sebab terkabulnya doa-doa kita di sepanjang
perjalanan. Sebagaimana kita tahu bahwa doa orang yang sedang safar
(perjalanan) adalah mustajab, dan sholawat adalah pelengkap utamanya.
3.5
Istighfar Sebagai Penghapus Dosa Selama Perjalanan
Jalan raya
seringkali menjadi tempat kita melakukan dosa-dosa kecil tanpa sadar; seperti
memandang yang harom, merasa jengkel pada sesama pengendara, atau melanggar
aturan lalu lintas yang merugikan orang lain. Maka, jadikanlah kabin kendaraanmu
sebagai ruang taubat dengan memperbanyak Istighfar.
Nabi ﷺ, manusia yang sudah diampuni
dosanya yang lalu dan akan datang, tetap beristighfar lebih dari 70 kali dalam
sehari. Beliau bersabda:
«يَا
أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ
مِائَةَ مَرَّةٍ»
“Wahai
sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Alloh, karena sesungguhnya aku
bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim no. 2702)
Istighfar
adalah pembuka rizqi dan jalan keluar dari setiap kesulitan. Jika antum
terjebak dalam kemacetan yang seolah tidak ada ujungnya, janganlah mengeluh,
tapi beristighfarlah. Boleh jadi kemacetan itu adalah teguran atas dosa kita
atau cara Alloh ﷻ
menggugurkan kesalahan kita melalui kesabaran dalam menanti atau cara
menyelamatkan kita dari bahaya di depan.
Nabi ﷺ bersabda:
«طُوبَى
لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا»
“Beruntunglah
bagi orang yang mendapati di dalam catatan amalnya terdapat istighfar yang
banyak.” (HSR. Ibnu Majah no. 3818)
Jadikanlah
aspal yang antum lewati menjadi saksi bahwa di atasnya ada seorang hamba yang
terus-menerus memohon ampun kepada Robbnya. Ubahlah penatmu menjadi
pengampunan, dan ubahlah lelahmu menjadi pahala yang terus mengalir.
Bab 4: Dzikir yang
Terikat Keadaan
Bab ini
akan membahas dzikir-dzikir yang bersifat situasional. Di jalan raya, keadaan
medan sering berubah—ada tanjakan, turunan, hingga kemacetan yang menguji
kesabaran. Seorang Mu’min akan menyesuaikan dzikirnya dengan apa yang ia lihat
dan rasakan di sepanjang jalan.
4.1
Saat Melalui Jalan Menanjak dan Menurun
Wahai
saudaraku yang menempuh perjalanan, perhatikanlah kontur jalan yang antum
lalui. Islam adalah agama yang sempurna, bahkan saat kendaraan kita mendaki
perbukitan atau menuruni lembah, ada adab dzikir yang telah dicontohkan oleh
Rosululloh ﷺ
dan para Shohabat. Ini adalah cara agar hati kita selalu merasa kecil di
hadapan keagungan Alloh ﷻ saat kita berada di tempat yang tinggi, dan tetap memuji-Nya
saat berada di tempat yang rendah.
Jabir bin
Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhuma menceritakan kebiasaan para
Shohabat saat safar bersama Nabi ﷺ:
«كُنَّا
إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا»
“Kami (para
Shohabat) apabila melewati jalan yang menanjak, kami bertakbir (mengucap Allohu
Akbar). Dan apabila kami melewati jalan yang menurun, kami bertasbih (mengucap
Subhanalloh).” (HR. Al-Bukhori no. 2993)
Hikmah di
balik takbir saat menanjak adalah agar manusia tidak merasa tinggi atau besar
ketika ia berada di puncak, karena hanya Alloh ﷻ yang Maha Besar. Sedangkan
tasbih saat menurun adalah bentuk menyucikan Alloh ﷻ dari segala kekurangan ketika
kita berada di tempat yang rendah.
Ibnu Hajar
Al-Asqolani (852 H) menjelaskan bahwa hikmah bertakbir ketika mendaki adalah
untuk menghadirkan perasaan akan keagungan Alloh Ta’ala ketika melihat
ketinggian.
Maka, saat
kendaraanmu menderu mendaki tanjakan tajam, hiasi kabinmu dengan pekikan “Allohu
Akbar”. Dan saat meluncur turun, basahilah lisanmu dengan “Subhanalloh”.
4.2
Ketika Melihat Pemandangan Alam atau Kota
Dalam
perjalanan, mata kita seringkali dimanjakan dengan pemandangan yang indah;
mulai dari pegunungan yang hijau, hamparan sawah, hingga gemerlap lampu kota di
malam hari. Seorang pengendara yang sholih tidak hanya terpana pada keindahan
mahluk, tetapi ia menjadikan pandangan matanya sebagai jembatan untuk memuji
Sang Kholiq.
Alloh ﷻ
berfirman memuji orang-orang yang senantiasa berpikir tentang ciptaan-Nya:
﴿الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا
وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا
مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
“Yaitu
orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): ‘Ya Robb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Naar (neraka)’.” (QS.
Ali ‘Imron: 191)
Gunakanlah
lisanmu untuk mengucap “Maa Syaa Alloh” atau “Subhanalloh” saat melihat
keindahan. Begitu pula jika melihat sesuatu yang menakjubkan dari kemajuan
teknologi di jalan raya.
Dikatakan:
«مَا
رَأَيْتُ شَيْئًا إِلَّا ذَكَرْتُ اللهَ فِيهِ»
“Tidaklah
aku melihat sesuatu melainkan aku mengingat Alloh karenanya.”
4.3
Menghadapi Kemacetan dengan Kesabaran dan Tasbih
Kemacetan
adalah ujian bagi akhlaq seorang Muslim di jalan raya. Saat waktu terbuang dan
panas menyengat, syaithon akan membisikkan kekesalan dan caci maki. Di sinilah
dzikir berfungsi sebagai penenang jiwa. Ubahlah “waktu macet” menjadi “waktu
khusus” bersama Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا
بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan Sholat sebagai penolongmu,
sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 153)
Meskipun
antum tidak bisa Sholat di atas kendaraan (untuk Sholat fardhu), antum bisa
melakukan “Sholat lisan” yaitu dzikir. Saat kendaraan terhenti total, bacalah:
«لَا
حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
“Tidak ada
daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 6384)
Kalimat ini
adalah simpanan harta di Jannah (Kanzun min Kunuzil Jannah) yang akan
melapangkan kesempitan hatimu. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) berkata tentang
pentingnya sabar dalam menghadapi taqdir:
«الرِّضَا
أَفْضَلُ مِنَ الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا لِأَنَّ الرَّاضِيَ لَا يَتَمَنَّى فَوْقَ
مَنْزِلَتِهِ»
“Ridho itu
lebih utama daripada zuhud terhadap dunia, karena orang yang ridho tidak akan
berangan-angan mendapatkan kedudukan di atas apa yang telah ditetapkan baginya.”
(Majmu Fatwa, Ibnu Taimiyyah, 1/686)
Jika Alloh ﷻ
menaqdirkanmu terjebak macet, ridholah, dan penuhilah waktu itu dengan
istighfar. Boleh jadi Alloh ﷻ sedang menghindarkanmu dari bahaya di depan sana dengan cara
menahanmu di kemacetan ini.
4.4
Doa Saat Memasuki Wilayah atau Desa Baru
Ketika
perjalanan membawamu memasuki suatu wilayah, kota, atau desa yang baru,
Rosululloh ﷺ
mengajarkan kita untuk memohon kebaikan tempat tersebut dan berlindung dari
keburukannya. Ini menunjukkan bahwa seorang pengendara Muslim selalu peduli
pada keselamatan lingkungan yang ia masuki.
Nabi ﷺ jika melihat suatu desa yang
ingin dimasukinya, beliau membaca:
«اللهُمَّ
رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ الْأَرْضِينَ السَّبْعِ وَمَا
أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ،
فَإِنَّا
نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرِ أَهْلِهَا، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا
وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا»
“Ya Alloh,
Robb langit yang tujuh dan apa yang dunaunginya, Robb bumi yang tujuh dan apa
yang dipikulnya... aku memohon kepada-Mu kebaikan desa ini, kebaikan
penduduknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan desa ini, keburukan
penduduknya, dan keburukan apa yang ada di dalamnya.” (HSR. An-Nasa’i dalam
Al-Kubro no. 8775)
Ini adalah
doa yang sangat komprehensif agar kita mendapatkan rizqi yang berkah di tempat
tujuan dan terhindar dari musibah atau orang-orang yang bermaksud jahat.
4.5
Perlindungan dari Kejahatan Makhluk di Perjalanan
Jalan raya
bukan hanya dihuni oleh manusia, tapi juga merupakan tempat yang sering disukai
oleh syaithon untuk menggoda manusia agar emosi dan melakukan kecelakaan.
Terutama saat melewati tempat-tempat yang sepi atau dianggap angker oleh
sebagian orang. Seorang Muslim tidak boleh takut kepada jin, melainkan hanya
takut kepada Alloh ﷻ
dengan membaca dzikir perlindungan.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ
مَا خَلَقَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ، حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ»
“Barangsiapa
yang singgah di suatu tempat lalu ia mengucapkan: ‘Aku berlindung dengan
kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari kejahatan mahluk yang Dia ciptakan’,
maka tidak ada sesuatupun yang akan membahayakannya sampai ia pergi dari tempat
tersebut.” (HR. Muslim no. 2708)
Jika antum
merasa was-was atau takut saat berkendara di malam hari di jalan yang sepi,
bacalah Ayat Kursi. Sebagaimana dalam Hadits Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu
‘anhu, bahwa setan berkata kepadanya:
إِذَا
أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: ﴿اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ﴾ [البقرة: 255]، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ،
فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ
حَتَّى تُصْبِحَ
“Jika
engkau hendak tidur (atau dalam konteks perlindungan), bacalah Ayat Kursi...
maka Alloh akan senantiasa menjagamu dan syaithon tidak akan mendekatimu sampai
pagi.” (HR. Al-Bukhori no. 2311)
Dzikir
adalah perisai. Pengendara yang membentengi dirinya dengan dzikir akan merasa
tenang dan berani, karena ia tahu bahwa seluruh mahluk berada dalam kendali
Robbnya.
Dzikir bagi
hati laksana siraman air bagi tanaman. Maka siramilah hatimu di sepanjang
perjalanan agar ia tetap hidup dan tidak kering oleh debu-debu kelalaian di
jalanan.
Bab 5: Muroja’ah
dan Menuntut Ilmu
Kita akan
membahas bagaimana mengubah kabin kendaraan menjadi madrosah berjalan. Waktu
yang lama di perjalanan adalah kesempatan emas yang sering disia-siakan oleh
banyak orang, padahal ia bisa menjadi sarana untuk meningkatkan derajat
keilmuan dan hafalan kita di sisi Alloh ﷻ.
5.1
Mengulang Hafalan Al-Qur’an (Muroja’ah) di Balik Kemudi
Wahai
penghafal Al-Qur’an dan pencari keberkahan, perjalananmu adalah waktu terbaik
untuk melakukan muroja’ah (mengulang hafalan). Seringkali kita beralasan tidak
memiliki waktu khusus untuk mengulang hafalan karena kesibukan kerja, padahal
jarak antara rumah dan kantor adalah waktu yang sangat cukup untuk mengulang
beberapa juz. Lisan yang terbiasa melantunkan ayat suci saat berkendara akan
membuat hafalan tersebut melekat kuat di dalam dada.
Nabi ﷺ mengingatkan agar kita
senantiasa menjaga hafalan Al-Qur’an:
«تَعَاهَدُوا
القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ
فِي عُقُلِهَا»
“Jagalah
terus Al-Qur’an ini (dengan membacanya rutin), demi Dzat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang terikat.”
(HR. Al-Bukhori no. 5033 dan Muslim no. 791)
Berkendara
memberikan suasana fokus yang unik. Saat mata tertuju pada jalan, lisan bisa
bebas mengulang bait-bait wahyu. Inilah yang dilakukan oleh para Salaf yang
selalu memanfaatkan waktu safar mereka. Utsman (35 H) rodhiyallahu ‘anhu,
yang dikenal sangat mencintai Al-Qur’an, pernah berkata:
«لَوْ
طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ رَبِّكُمْ»
“Sekiranya
hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan pernah kenyang (bosan) dari kalam
Robb kalian.” (Zawaid Az-Zuhd, Ahmad bin Hanbal, hlm. 128)
Jadikanlah
kendaraanmu saksi bahwa di dalamnya ayat-ayat Alloh ﷻ terus dikumandangkan,
sehingga syaithon lari menjauh dan ketenangan turun menaungi setiap jengkal
perjalananmu.
5.2
Mendengarkan Kajian Ilmu Sebagai Teman Perjalanan
Di zaman
ini, Alloh ﷻ
memudahkan kita dengan teknologi rekaman suara. Jika antum merasa lelah untuk
berdzikir lisan atau membaca hafalan, maka jadikanlah telinga antum sebagai
pintu masuknya ilmu. Mendengarkan kajian para ulama dan asatidzah yang sholih
saat berkendara akan membuat waktu perjalanan terasa singkat dan penuh faedah.
Antum berangkat dalam keadaan kurang ilmu, dan sampai di tujuan dalam keadaan
membawa tambahan pemahaman agama.
Alloh ﷻ
berfirman tentang keutamaan mendengarkan perkataan yang baik:
﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ
أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
“Mereka
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.
Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh dan mereka
itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 18)
Mendengarkan
ilmu di perjalanan juga merupakan bentuk meniti jalan menuju Jannah.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
«وَمَنْ
سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى
الْجَنَّةِ»
“Barangsiapa
yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya
jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)
Jalan yang
dimaksud dalam Hadits ini bersifat umum, termasuk jalan raya yang antum lewati
sembari mendengarkan ilmu. Abu Abdillah yakni Imam Ahmad bin Hanbal (241 H)
sangat menekankan pentingnya ilmu dalam setiap waktu:
«النَّاسُ
إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ»
“Manusia
lebih butuh kepada ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makan dan minum.” (Madarijus
Salikin, Ibnu Qoyyim, 2/440)
Maka,
jangan biarkan telingamu menganggur atau hanya mendengarkan berita-berita dunia
yang tidak ada ujungnya. Penuhilah dengan nasihat yang melembutkan hati dan
hukum-hukum syariat yang menerangi akal.
5.3
Tafakkur Melihat Tanda-Tanda Kebesaran Alloh ﷻ
di Sepanjang Jalan
Berkendara
melintasi berbagai tempat adalah kesempatan besar untuk melakukan ibadah
tafakkur (merenung). Melihat awan yang berarak, gunung yang kokoh, atau bahkan
keteraturan manusia di jalan raya adalah bukti nyata keberadaan Sang Pengatur
semesta. Tafakkur adalah ibadah hati yang sangat agung yang sering dilupakan
oleh manusia modern yang terburu-buru.
Alloh ﷻ
mengajak kita untuk memperhatikan apa yang ada di bumi:
﴿قُلِ انظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾
“Katakanlah:
‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” (QS. Yunus: 101)
Saat antum
melihat luasnya jalanan, renungkanlah luasnya rohmat Alloh ﷻ.
Saat antum melihat betapa kecilnya kendaraan antum di hadapan hamparan bumi,
renungkanlah betapa kecilnya kita di hadapan Robbul ‘Alamin. Ad-Daroni (215 H)
memberikan kalimat yang indah tentang tafakkur:
«إِنِّي
لَأَخْرُجُ مِنْ مَنْزِلِي فَمَا يَقَعُ بَصَرِي عَلَى شَيْءٍ إِلَّا رَأَيْتُ لِلَّهِ
عَلَيَّ فِيهِ نِعْمَةً وَلِي فِيهِ عِبْرَةً»
“Sesungguhnya
aku keluar dari rumahku, maka tidaklah pandanganku jatuh pada sesuatu melainkan
aku melihat di sana ada ni’mat Alloh atas diriku dan ada pelajaran berharga
bagiku.” (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim, 8/109)
Gunakanlah
waktu safarmu untuk mengambil ibroh (pelajaran). Jika antum melihat kecelakaan,
jadikan itu pengingat akan dekatnya kematian dan pentingnya bekal taqwa. Jika
antum melihat jalan yang mulus, syukuri ni’mat kemudahan. Inilah ciri hamba
Alloh ﷻ
yang cerdas, yang menjadikan setiap pergerakan fisiknya sebagai sarana
peningkatan derajat di Akhiroh.
Bab 6: Adab
Pengendara
Kita akan
membahas bagaimana sinkronisasi antara dzikir di lisan dengan amal perbuatan di
jalan raya. Seorang Muslim yang lisannya basah dengan dzikrulloh haruslah
menjadi pengendara yang paling beradab, paling sabar, dan paling memberikan
rasa aman bagi orang lain. Dzikir bukan hanya hiasan bibir, melainkan kemudi bagi
akhlaq di jalanan.
6.1
Berdzikir Tanpa Mengganggu Konsentrasi dan Keselamatan
Wahai
saudaraku yang sholih, ketahuilah bahwa menjaga keselamatan diri dan orang lain
di jalan raya adalah bagian dari amanah agama. Berdzikir saat berkendara tidak
boleh dilakukan dengan cara yang melalaikan fokus mata terhadap jalan atau
mengurangi kewaspadaan tangan pada kemudi. Islam melarang segala bentuk
tindakan yang membahayakan nyawa (dhoror).
Nabi ﷺ bersabda:
«لَا
ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ»
“Tidak
boleh memberikan bahaya (bagi diri sendiri) dan tidak boleh membalas bahaya
(bagi orang lain).” (HSR. Ibnu Majah no. 2341)
Oleh karena
itu, pilihlah dzikir yang ringan dan sudah hafal di luar kepala agar pikiran
tetap terjaga pada situasi lalu lintas. Jangan memaksakan membaca mushaf fisik
atau layar gawai sembari menyetir karena hal itu termasuk perbuatan zholim
terhadap hak pengguna jalan lain.
Jika
fokusmu terpecah hingga membahayakan, maka hadirnya hati dalam dzikir tersebut
telah hilang. Jadilah pengendara yang cerdas; lisan bertasbih, namun mata tetap
waspada menatap aspal.
6.2
Menjaga Pandangan (Ghodhul Bashor)
Jalan raya
adalah tempat yang penuh dengan fitnah pandangan. Syaithon seringkali menggoda
pengendara untuk melihat hal-hal yang diharomkan, baik itu di papan iklan
maupun pada sesama pengguna jalan. Dzikir yang sejati akan melahirkan rasa muroqobah
(merasa diawasi Alloh ﷻ)
sehingga seseorang mampu menundukkan pandangannya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُوضُّوا مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ
وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾
“Katakanlah
kepada para lelaki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (QS. An-Nur:
30)
6.3
Memberi Hak Jalan dan Membantu Sesama Pengendara
Pengendara
yang berdzikir adalah mereka yang paling ringan memberikan jalan bagi orang
lain, tidak menyerobot antrean, dan tidak egois. Memberi jalan kepada orang
lain dengan niat memudahkan urusan sesama Muslim adalah ibadah yang sangat
besar pahalanya.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً
مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»
“Barangsiapa
yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mu’min, maka Alloh akan
melapangkan darinya satu kesusahan di hari Qiyamah.” (HR. Muslim no. 2699)
Bayangkan
jika antum memberi jalan bagi ambulans atau orang yang sedang tergesa-gesa
dengan niat membantu, maka itu adalah sedekah. Sebagaimana sabda beliau ﷺ:
«وَتُعِينُ
الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ
صَدَقَةٌ»
“Dan engkau
menolong seseorang naik ke atas tunggangannya, atau engkau angkatkan
barang-barangnya ke atas tunggangannya, itu adalah sedekah.” (HR. Muslim no.
1009)
Abdulloh
bin Mubarok (181 H) dikenal sebagai orang yang sangat dermawan dan suka
menolong di perjalanan. Makhlad bin Al-Husain berkata kepadanya:
«نَحْنُ
إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْحَدِيثِ»
“Kita lebih
membutuhkan banyak adab daripada membutuhkan banyak Hadits (tanpa adab).” (Al-Jami,
Al-Khotib, 1/80)
Jangan
sampai lisanmu fasih berdzikir, namun klaksonmu berbunyi kasar karena tidak
sabar mengantre.
6.4
Larangan Mencela Kendaraan dan Keadaan Jalan
Banyak
pengendara yang secara spontan mencela cuaca panas, mengutuk lubang di jalan,
atau mencaci kendaraannya sendiri saat mogok. Ini adalah tanda kurangnya ridho
terhadap taqdir Alloh ﷻ.
Seorang ahli dzikir akan menerima setiap keadaan dengan jiwa yang tenang.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَا
تَسُبُّوا الرِّيحَ»
“Janganlah
kalian mencela angin (cuaca).” (HSR. At-Tirmidzi no. 2252)
Dalam Hadits
Qudsi, Alloh ﷻ
berfirman:
«يُؤْذِينِي
ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ
وَالنَّهَارَ»
“Anak Adam
menyakiti-Ku, dia mencela waktu (zaman), padahal Aku-lah Pemilik waktu, di
tangan-Ku segala urusan, Aku membolak-balikkan malam dan siang.” (HR.
Al-Bukhori no. 4826)
Mencela
jalanan atau kendaraan pada hakikatnya adalah mencela ketetapan-Nya.
Sebaik-baik ucapan saat menghadapi kendala adalah Istighfar dan doa mohon
kemudahan.
Nabi ﷺ mengingatkan:
«عَجَبًا
لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ
إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ،
وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
“Sungguh
menakjubkan urusan seorang Mu’min, sesungguhnya semua urusannya adalah baik,
dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali bagi seorang Mu’min. Jika ia
mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika
ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR.
Muslim no. 2999)
Jadilah
pengendara yang menebar rohmat, bukan penebar serapah. Biarlah setiap orang
yang berpapasan denganmu merasa tenang karena melihat kedisiplinan dan
kesantunanmu yang lahir dari kekuatan dzikirmu.
Bab 7: Atsar Para
Salaf dalam Memanfaatkan Waktu Perjalanan
Bab ini
akan menyajikan potret nyata dari generasi terbaik umat ini. Mereka bukan hanya
ahli ilmu, tetapi juga ahli ibadah yang tidak membiarkan sedetik pun waktu
perjalanan mereka terbuang sia-sia. Kisah-kisah mereka adalah motivasi bagi
kita agar tidak lagi merasa lelah atau bosan saat berada di atas kendaraan.
7.1
Kisah Para Ulama yang Mengkhatamkan Al-Qur’an di Atas Tunggangan
Wahai
saudaraku, jika kita merasa berat untuk membaca satu surat saja saat
berkendara, maka lihatlah bagaimana kesungguhan para pendahulu kita yang
sholih. Bagi mereka, punggung unta atau kuda bukan sekadar tempat duduk,
melainkan tempat untuk tilawah Kalamulloh. Banyak di antara mereka yang mampu
mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali hanya dalam satu kali perjalanan jauh.
Alloh ﷻ
memberikan keberkahan waktu bagi orang-orang yang jujur niatnya. Sebagaimana
firman-Nya:
﴿وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ
سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Diriwayatkan
dari Qotadah (117 H) rohimahulloh, beliau menceritakan tentang kebiasaan
Al-Aswad bin Yazid (75 H) yang senantiasa mengkhatamkan Al-Qur’an di luar bulan
Romadhon setiap 6 malam, termasuk saat beliau sedang dalam perjalanan. Jejak
ini diikuti oleh banyak Ulama lainnya yang menjadikan safar sebagai kesempatan
ketaatan.
7.2
Kesungguhan Generasi Terdahulu dalam Menjaga Wirid Perjalanan
Bagi para
Salaf, dzikir adalah nafas. Mereka merasa sesak jika lisan mereka terhenti dari
menyebut nama Alloh ﷻ.
Perjalanan yang jauh dan melelahkan justru menjadi ajang bagi mereka untuk
memperbanyak istighfar dan tasbih. Mereka sadar bahwa setiap langkah tunggangan
adalah langkah menuju Akhiroh.
Nabi ﷺ memberikan motivasi tentang
nilai dzikir:
«أَلَا
أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا
فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ
لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ»؟
قَالُوا: بَلَى. قَالَ: «ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى» قَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ: «مَا
شَيْءٌ أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»
“Maukah aku
kabarkan kepada kalian tentang sebaik-baik amal kalian, yang paling suci di
sisi Penguasa kalian, yang paling tinggi dalam derajat kalian, lebih baik dari
sodaqoh emas dan perak, bahkan lebih baik dari kamu bertemu musuh (di medan
perang) hingga engkau tebas lehernya atau lehermu yang ditebas olehnya?” Para
Shohabat menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Berdzikir kepada Alloh.”
Muadz
berkata: “Tidak ada apapun yang lebih menyelamatkan dari siksa Alloh melebihi
berdzikir.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3377)
Kisah yang
sangat menyentuh datang dari Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H). Beliau adalah orang
yang sangat takut kepada Alloh ﷻ. Dalam setiap perjalanannya,
beliau lebih banyak diam untuk bertafakkur atau berdzikir dengan suara yang
lirih. Beliau pernah berkata:
«إِذَا
غَرَبَتِ الشَّمْسُ فَرِحْتُ بِالظَّلَامِ لِخَلْوِي بِرَبِّي»
“Jika
matahari telah terbenam, aku merasa gembira dengan kegelapan agar aku bisa
berduaan dengan Robbku.” (Ihya, Al-Ghozali, 1/423)
Bayangkan
jika antum berkendara di malam hari, jadikanlah kegelapan dan kesunyian jalan
raya sebagai sarana untuk merasakan kedekatan dengan Alloh ﷻ
sebagaimana yang dirasakan oleh para kekasih-Nya ini.
7.3
Rahasia Ketenangan Hati di Tengah Keletihan Safar
Mengapa
para Salaf tidak merasa jenuh atau mengeluh saat safar? Rahasianya terletak
pada hati yang terpaut kepada Alloh ﷻ. Dzikir berfungsi sebagai
nutrisi bagi ruh mereka, sehingga rasa lelah fisik tertutupi oleh kelezatan
iman. Mereka memandang bahwa setiap kesulitan di perjalanan adalah penggugur
dosa.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ﴾
“Ketahuilah,
hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ro’d: 28)
Seorang
pengendara yang berdzikir tidak akan mudah stres menghadapi macet atau gangguan
di jalan, karena hatinya berada di “frekuensi” yang berbeda dengan hiruk-pikuk
dunia. Ibnu Qoyyim (751 H) menjelaskan hal ini dengan sangat indah:
«إِنَّ
فِي الْقَلْبِ قَسْوَةً لَا يُذِيبُهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى»
“Sesungguhnya
di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa dilelehkan kecuali dengan
dzikrulloh Ta’ala.” (Al-Wabilush Shoyyib, Ibnu Qoyyim, hlm. 71)
Jika kita
merasa lelah di balik kemudi, ingatlah bahwa para Salaf menempuh ribuan
kilometer dengan debu dan terik demi satu Hadits atau satu ketaatan. Kendaraan
kita hari ini jauh lebih mewah, maka malulah kita jika lisan ini masih saja
berat untuk bertasbih.
Penutup
Wahai
saudaraku para pengendara yang dimuliakan Alloh ﷻ, sampailah kita pada
penghujung risalah ini, namun bukan berarti sampai pada penghujung amalan kita.
Setiap lembar yang telah antum baca adalah peta jalan agar perjalanan dunia
kita benar-benar menjadi jembatan menuju Jannah-Nya yang abadi. Kini, saatnya
antum memegang kembali kemudi atau menghidupkan mesin kendaraan dengan jiwa
yang baru—jiwa yang sadar bahwa setiap meter aspal yang dilewati adalah saksi
ketaatan di hadapan Robb semesta alam.
Bayangkanlah
kelak di hari Qiyamah, ketika bumi menceritakan segala berita yang terjadi di
atasnya. Kendaraanmu akan berbicara, jok yang antum duduki akan bersaksi, dan
jalanan yang antum lalui akan memberikan laporan. Alangkah indahnya jika
kesaksian mereka adalah tentang seorang hamba yang lisannya tidak berhenti
beristighfar saat lampu merah menyala, yang hatinya terus bertasbih saat
mendaki tanjakan, dan yang matanya terjaga dari kemaksiatan demi mengharap
wajah Alloh ﷻ.
Jangan
biarkan syaithon membisikkan rasa bosan atau lelah dalam berdzikir. Ingatlah
bahwa umur kita hanyalah kumpulan hari, dan hari hanyalah kumpulan jam, serta
jam hanyalah kumpulan detik. Jika detik-detik di atas kendaraan itu hilang
tanpa dzikir, maka ia adalah kerugian yang tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Mari kita ubah setiap desah nafas di tengah kemacetan menjadi pundi-pundi
pahala. Ubahlah kegelisahan di jalan raya menjadi ketenangan melalui muroja’ah
dan sholawat.
Alloh ﷻ
senantiasa menanti kepulangan hati para hamba-Nya yang bertaubat dan
mengingat-Nya. Sebagaimana pesan para Salaf, dunia ini hanyalah persinggahan
sementara, laksana seorang pengendara yang berteduh sejenak di bawah pohon
kemudian berlalu meninggalkannya. Maka pastikan bekalmu cukup, niatmu tulus,
dan lisanmu selalu basah dengan pujian kepada-Nya.
Semoga
Alloh ﷻ
senantiasa menjaga langkah kita, melindungi kita dari segala mara bahaya di
dunia dan di Akhiroh, serta mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya bersama
Nabi ﷺ
dalam keadaan hati yang ridho dan dirdhoi.
Segala puji
bagi Alloh ﷻ
di awal dan di akhir. Walhamdulillahi Robbil ‘Alamin. Allohu a’lam.[NK]
