Cari Ebook

[PDF] 42 Hafizh dari Para Tabi'in Senior - Adz-Dzahabi (748 H)

 


Muqoddimah Pentarjamah

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam, sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarga, serta para Shohabatnya.

Amma ba’du:

Sungguh, sejarah kehidupan para ulama terdahulu merupakan teladan nyata dalam menjaga kemurnian ajaran Islam. Di antara generasi terbaik setelah para Shohabat adalah generasi Tabi’in. Memahami riwayat hidup, kegigihan dalam menuntut ilmu, serta kesungguhan ibadah mereka menjadi suatu urgensi yang sangat besar bagi umat Islam saat ini, agar tidak kehilangan arah dalam beragama dan mampu mencontoh serta mengambil keteladanan yang murni dari para Salafush Sholih.

Buku ringkas ini menyajikan mutiara sejarah yang diambil secara amanah dari kitab terkemuka, yaitu Tadzkirotul Huffazh karya Imam Adz-Dzahabi (748 H), khususnya pada bagian yang mengulas tentang jajaran para Tabi’in Senior (al-thobaqoh ats-tsaniyah). Di dalam bagian ini, terdapat 42 tokoh Imam pembawa petunjuk yang memiliki kontribusi besar dalam periwayatan Hadits dan Fiqih Islam.

Berikut adalah daftar nama panggilan terkenal dari 42 tokoh Tabi’in Senior tersebut beserta tahun wafatnya secara ringkas:

1)          ‘Alqomah (62 H)

2)          Al-Khoulani (62 H)

3)          Masruq (63 H)

4)          ‘Ubaidah (72 H)

5)          ‘Ubaid (74 H)

6)          Al-Aswad (75 H)

7)          Ghonm (78 H)

8)          Katsir (74 H)

9)          Jubair (80 H)

10)   Ka’ab (34 H)

11)   Aslam (80 H)

12)   ‘Alqomah (80 H)

13)   Suwaid (81 H)

14)   Hajimah (81 H)

15)   Sa’id (94 H)

16)   ‘Aidzulloh (80 H)

17)   Zirr (82 H)

18)   Ar-Robi’ (61 H)

19)   Abdurrohman (82 H)

20)   As-Sulami (73 H)

21)   Syuroih (78 H)

22)   Syuroih (78 H)

23)   Syaqiq (82 H)

24)   Qobishoh (86 H)

25)   Shofwan (74 H)

26)   Qois (97 H)

27)   Rufai’ (93 H)

28)   ‘Urwah (94 H)

29)   Salamah (94 H)

30)   Abu Bakr (94 H)

31)   Muthorrif (95 H)

32)   ‘Amru (75 H)

33)   An-Nahdi (100 H)

34)   ‘Imron (107 H)

35)   Zaid (84 H)

36)   Al-Ma’rur (84 H)

37)   Murroh (90 H)

38)   Malik (92 H)

39)   Sa’ad (98 H)

40)   Ibnu Muhairiz (99 H)

41)   Nufa’i (93 H)

42)   Rib’i (101 H)

Judul pada tiap subbab berasal dari pentarjamah. Begitu pula tahun wafat.

Nor Kandir

 

Imam Adz-Dzahabi (748 H) berkata: Berikut para Tabiin Senior:

1. ‘Alqomah (62 H)

[24] (1) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

‘Alqomah bin Qois bin Abdulloh, ahli Fiqih negeri Irak, seorang Imam, Abu Syibl An-Nakho’i Al-Kufi. Beliau adalah paman dari jalur ibu bagi Ibrohim An-Nakho’i, dan paman dari jalur ayah bagi Al-Aswad. Beliau dilahirkan pada masa hidup Rosululloh , mendapati zaman Jahiliyyah, serta mendengar riwayat dari ‘Umar (23 H), ‘Utsman (35 H), Ibnu Mas’ud (32 H), ‘Ali (40 H), dan Abu Ad-Darda (32 H).

Beliau memperbagus bacaan Al-Qur’an di hadapan Ibnu Mas’ud (32 H) dan mendalami Fiqih bersamanya, serta termasuk sahabat Ibnu Mas’ud yang paling mulia. Abdurrohman bin Yazid (83 H) berkata bahwa Ibnu Mas’ud (32 H) pernah berkata:

«مَا أَقْرَأُ شَيْئًا وَمَا أَعْلَمُ شَيْئًا إِلَّا وَعَلْقَمَةُ يَقْرَؤُهُ وَيَعْلَمُهُ»

“Tidaklah aku membaca sesuatu dan tidaklah aku mengetahui sesuatu, melainkan ‘Alqomah juga membaca dan mengetahuinya.”

Qobus bin Abi Zhobyan (130 H) berkata, “Aku bertanya kepada ayahku: Mengapa Anda meninggalkan para Shohabat (rodhiyallahu ‘anhu) dan justru mendatangi ‘Alqomah?”

Beliau menjawab:

«أَدْرَكْتُ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ يَسْأَلُونَ عَلْقَمَةَ وَيَسْتَفْتُونَهُ»

“Aku mendapati sejumlah orang dari kalangan Shohabat Rosululloh , yang mereka itu justru bertanya dan meminta fatwa kepada ‘Alqomah.”

Aku (penulis) berkata: Beliau adalah seorang ahli Fiqih, Imam yang mumpuni, memiliki suara yang indah saat membaca Al-Qur’an, kokoh ingatan dan kepercayaannya dalam apa yang ia nukilkan, serta seorang pelaku kebaikan dan memiliki sifat warok (berhati-hati dari syubhat). Beliau menyerupai Ibnu Mas’ud (32 H) dalam hal petunjuk, sikap, perangai, dan keutamaannya. Kondisi fisik beliau pincang.

Tokoh yang mengambil ilmu dari beliau di antaranya adalah Ibrohim (96 H), Ibrohim bin Suwaid An-Nakho’i, Abu Adh-Dhuha Muslim bin Shubaih (100 H), Asy-Sya’bi (103 H), Al-Qosim bin Mukhoimiroh (100 H), Yahya bin Watstsab (103 H), serta sekelompok ulama lainnya.

Beliau wafat pada tahun 62 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

Catatan faedah: Sesungguhnya aku (Adz-Dzahabi) sengaja memperlambat diri (tidak terburu-buru) dalam melakukan takhrij Hadits pada biografi ‘Alqomah serta banyak tokoh generasi terdahulu lainnya, dikarenakan telah masyhurnya riwayat-riwayat mereka di dalam Kitab yang Enam (Kutubus Sittah), dan aku memendekkan biografi mereka agar kitab ini tidak menjadi terlalu panjang. Hanya Alloh yang memberikan taufiq menuju kebenaran, dan kitab-kitab induk aslinya tetap terjaga.

 

2. Abu Muslim Al-Khoulani (62 H)

[25] (2) 2 M (Diriwayatkan oleh Muslim)

Abu Muslim Al-Khoulani, seorang ahli Fiqih, ahli ibadah, zahid, dan laksana bunga wewangian negeri Syam. Beliau adalah orang yang pernah dilemparkan oleh Al-Aswad Al-Ansi (11 H) ke dalam kobaran api, namun beliau selamat darinya. Kisah tersebut dituturkan oleh Syurohbil bin Muslim (120 H).

Beliau berhijroh pada masa kekhilafahan Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu, dan meriwayatkan dari Umar (23 H), Mu’adz (18 H), Abu ‘Ubaidah (18 H), serta para tokoh senior. Orang yang meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah Abu Idris Al-Khoulani (80 H), Abu Al-‘Aliyah Ar-Riyahi (93 H), Jubair bin Nufair (80 H), ‘Atho (114 H), Abu Qilabah (104 H), beserta sekelompok ulama lainnya. Ibnu Ma’in (233 H) dan ulama lainnya telah menilai beliau tsiqoh (terpercaya).

Beliau memiliki banyak keutamaan dan karomah. Dahulu senantiasa dikatakan tentangnya: Beliau adalah hakimnya (orang bijak) umat ini, semoga Alloh merohmatinya.

Beliau wafat mendekati tahun 62 Hijriyyah. Ibnu Sa’ad (230 H) dan ulama lainnya menyatakan bahwa beliau wafat pada masa pemerintahan Yazid (64 H).

 

3. Masruq (63)

[26] (3) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Masruq bin Al-Ajda’ , seorang Imam, Abu ‘Aisyah Al-Hamdani Al-Kufi Al-Faqih. Beliau merupakan salah satu tokoh terkemuka. Ayahnya dahulu adalah penunggang kuda cekatan bagi penduduk Yaman pada zamannya. Masruq sendiri adalah anak laki-laki dari saudara perempuan sang pahlawan yang menyerang dengan gagah berani, yaitu ‘Amru bin Ma’di Karib (21 H). Beliau mengambil ilmu dari Umar (23 H), ‘Ali (40 H), Mu’adz (18 H), Ibnu Mas’ud (32 H), dan Ubay (30 H). Adapun orang yang meriwayatkan dari beliau adalah Ibrohim (96 H), Asy-Sya’bi (103 H), Abu Adh-Dhuha (100 H), Abu Ishaq (127 H), serta orang banyak lainnya.

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi (103 H) bahwasanya ‘Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha telah mengangkat Masruq sebagai anaknya. Diriwayatkan pula dari Asy-Sya’bi (103 H), beliau berkata,

«مَا عَلِمْتُ أَحَدًا كَانَ أَطْلَبَ لِلْعِلْمِ مِنْهُ»

“Aku tidak mengetahui seorang pun yang lebih gigih dalam mencari ilmu daripada Masruq.”

Beliau juga lebih mengetahui tentang fatwa daripada Syuroih (78 H), dan dahulu Syuroih sering meminta saran kepadanya. Sementara itu, Masruq sendiri tidak membutuhkan bantuan Syuroih.

Abu Ishaq (127 H) berkata, “Masruq melaksanakan ibadah Haji, maka selama perjalanan hingga kembali, beliau tidak tidur melainkan dalam keadaan bersujud.”

Diriwayatkan dari istri Masruq bahwasanya Masruq dahulu senantiasa mengerjakan Sholat hingga kedua telapak kakinya mengalami bengkak.

Ibnu Al-Madini (234 H) berkata, “Aku tidak mendahulukan seorang pun di atas Masruq di antara para sahabat Abdulloh (Ibnu Mas’ud).”

Beliau benar-benar telah melaksanakan Sholat di belakang Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu.

Masruq wafat pada tahun 63 Hijriyyah, semoga rohmat Alloh senantiasa tercurah kepadanya.

 

4. ‘Ubaidah (72 H)

[27] (4) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

‘Ubaidah bin ‘Amru As-Salmani Al-Murodi Al-Kufi, seorang ahli Fiqih dan tokoh terkemuka. Beliau hampir saja menjadi seorang Shohabat Nabi. Beliau memeluk Islam pada masa penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) di negeri Yaman, dan mengambil ilmu dari ‘Ali (40 H) serta Ibnu Mas’ud (32 H).

Asy-Sya’bi (103 H) berkata, “Beliau dahulu kedudukannya sepadan dengan Syuroih dalam urusan peradilan.”

Al-‘Ijli (261 H) berkata, “‘Ubaidah merupakan salah satu dari sahabat Abdulloh (Ibnu Mas’ud) yang mengajarkan bacaan Al-Qur’an dan memberikan fatwa kepada manusia.”

Ibnu Sirin (110 H) berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang lelaki yang lebih bersikap hati-hati (dalam berfatwa dan menjaga diri) daripada ‘Ubaidah.” Dan Ibnu Sirin adalah orang yang banyak meriwayatkan dari beliau.

Nisbat As-Salmani yang disandangkan kepada ‘Ubaidah merujuk kepada Salman bin Najiyah bin Murod.

Orang yang meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah Ibnu Sirin (110 H), Asy-Sya’bi (103 H), An-Nakho’i (96 H), As-Sabi’i (127 H), Abdulloh bin Salamah, Muslim bin Hassan Al-A’roj, beserta ulama lainnya. Menurut pendapat yang shohih, beliau wafat pada tahun 72 Hijriyyah.

 

5. ‘Ubaid (74 H)

[28] (5) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

‘Ubaid bin ‘Umair bin Qotadah Al-Laitsi, Abu ‘Asim Al-Makki. Beliau meriwayatkan dari Umar (23 H), Abu Dzar (32 H), ‘Ali (40 H), ‘Aisyah (58 H), serta beberapa orang lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah ‘Atho (114 H), Ibnu Abi Mulaikah (117 H), ‘Amru bin Dinar (126 H), Abu Az-Zubair (128 H), Abdul ‘Aziz bin Rufai’ (130 H), serta sekelompok ulama lainnya.

Beliau adalah seorang yang berilmu, pemberi nasihat, dan memiliki kedudukan yang agung. Beliau wafat bersamaan dengan tahun wafatnya Ibnu Umar (73 H), bahkan sebelum beliau (nampaknya salah kata, seharusnya setelahnya), yaitu pada tahun 74 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

6. Al-Aswad (75 H)

[29] (6) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Al-Aswad bin Yazid bin Qois, seorang Imam, Abu ‘Amru An-Nakho’i, ahli Fiqih, zahid, dan ahli ibadah. Beliau adalah ulama negeri Kufah, keponakan dari ulama Kufah yaitu ‘Alqomah (62 H), paman dari jalur ibu bagi Ibrohim An-Nakho’i sang ahli Fiqih (96 H), serta saudara kandung dari Abdurrohman bin Yazid (83 H).

Beliau mengambil ilmu dari Mu’adz (18 H), Ibnu Mas’ud (32 H), Hudzaifah (36 H), Bilal (20 H), serta para tokoh senior.

Anak beliau yang bernama Abdurrohman (93 H), Ibrohim (96 H), Abu Ishaq As-Sabi’i (127 H), serta beberapa orang lainnya meriwayatkan Hadits dari beliau. Beliau memiliki kedudukan yang agung dalam hal ibadah dan pelaksanaan ibadah Haji.

Ibnu ‘Ulayyah (193 H) meriwayatkan dari Maimun Abu Hamzah, beliau berkata bahwa Al-Aswad bin Yazid telah melakukan perjalanan sebanyak 80 kali ibadah Haji dan Umroh tanpa pernah menggabungkan keduanya (selalu melaksanakannya secara terpisah), dan hal serupa juga dilakukan oleh anak beliau. An-Nadhr bin Isma’il (182 H) meriwayatkan dari seseorang yang mengabarkannya, ia berkata bahwa dahulu Abdurrohman bin Al-Aswad (93 H) senantiasa mengerjakan Sholat sebanyak 700 rokaat setiap harinya, dan mereka (keluarga beliau) mengatakan bahwa Abdurrohman adalah orang yang paling sedikit tingkat kesungguhan ibadahnya di antara anggota keluarga yang lain. Mereka dahulu senantiasa menjuluki Al-Aswad sebagai bagian dari penduduk Jannah. Beliau wafat pada tahun 75 Hijriyyah atau mendekati tahun tersebut, semoga rohmat Alloh senantiasa tercurah kepadanya.

 

7. Ibnu Ghonm (78 H)

[30] (7) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abdurrohman bin Ghonm Al-Asy’ari, seorang ahli Fiqih. Beliau adalah guru besar bagi penduduk Palestina sekaligus ahli Fiqih negeri Syam.

Beliau meriwayatkan dari Umar (23 H), Mu’adz bin Jabal (18 H), dan sejumlah orang.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Abu Sallam Mamthur, Roja bin Haiwah (112 H), Mak-hul (112 H), Isma’il bin Abdulloh, serta sekelompok ulama lainnya.

Umar (23 H) pernah mengutus beliau ke negeri Syam untuk mengajarkan Fiqih kepada manusia. Beliau dilahirkan pada masa hidup Nabi , dan ayahnya yang bernama Ghonm berstatus sebagai Shohabat, serta ada yang berpendapat bahwa Abdurrohman sendiri pernah melihat Nabi .

Abu Mushir Al-Ghossani (218 H) berkata: “Beliau adalah pemimpin para Tabi’in.” Dan ada pula yang berpendapat: “Beliau adalah orang yang menjadi tempat bernaung para Tabi’in di negeri Syam dalam mendalami Fiqih.”

Beliau memiliki kedudukan yang agung, jujur, lagi utama.

Beliau wafat bersamaan dengan tahun wafatnya Jabir bin Abdilloh (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma pada tahun 78 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

8. Katsir bin Murroh (78 H)

[31] (8) (Diriwayatkan oleh Muslim dan Jama’ah)

Katsir bin Murroh Al-Hadhromi Al-Himshi, seorang ahli Fiqih dan ulama bagi penduduk Himsh. Beliau adalah seorang Imam, orang yang berilmu, dan sangat gigih dalam mencari ilmu. Beliau telah mendapati 70 orang Shohabat yang ikut serta dalam perang Badar.

Beliau meriwayatkan Hadits dari Mu’adz (18 H), Abu Ad-Darda (32 H), ‘Ubadah bin Ash-Shomit (34 H), beserta generasi mereka. Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Abu Az-Zohiriyyah, Kholid bin Ma’dan (103 H), Mak-hul (112 H), Sulaim bin ‘Amir, Abdurrohman bin Jubair, serta beberapa orang lainnya. An-Nasa’i (303 H) berkata: “Beliau tidak mengapa (Haditsnya terpercaya/bisa diterima),” semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

9. Jubair bin Nufair (80 H)

[32] (9) (Diriwayatkan oleh Muslim dan Jama’ah)

Jubair bin Nufair Al-Hadhromi Al-Himshi. Beliau dilahirkan pada masa hidup Nabi dan meriwayatkan Hadits dari Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), Abu Dzar (32 H), Abu Ad-Darda (32 H), serta sejumlah orang lainnya. Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah anaknya sendiri yang bernama Abdurrohman bin Jubair, Kholid bin Ma’dan (103 H), Mak-hul (112 H), Sulaim bin ‘Amir, serta ulama-ulama lainnya. Beliau termasuk di antara ulama yang paling agung. Hadits beliau diriwayatkan dalam seluruh kitab induk Hadits kecuali Shohih Al-Bukhori. Hal tersebut bukan dikarenakan adanya kelemahan dalam diri beliau, melainkan karena beliau terkadang melakukan mudalasan (menyembunyikan nama guru) dari para Shohabat senior, sedangkan Imam Al-Bukhori (256 H) tidak merasa puas kecuali jika sang guru menegaskan secara langsung tentang pertemuan dengan orang yang ia riwayatkan. Beliau wafat pada tahun 80 Hijriyyah.

 

10. Ka’ab Al-Ahbar (34 H)

[33] (10) (Diriwayatkan oleh Al-Bukhori dalam Juz-nya, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Ka’ab Al-Ahbar. Beliau adalah Ka’ab bin Mati’ Al-Himyari, termasuk wadah ilmu dan di antara ulama besar dari kalangan ahli kitab. Beliau memeluk Islam pada masa pemerintahan Abu Bakr (13 H) dan datang dari negeri Yaman pada masa kekuasaan Amirul Mu’minin Umar (23 H), sehingga para Shohabat dan yang lainnya mengambil ilmu dari beliau. Beliau sendiri mengambil ilmu dari Al-Kitab dan As-Sunnah melalui para Shohabat. Beliau wafat pada masa kekhilafahan Utsman (35 H). Sekelompok ulama dari kalangan Tabi’in meriwayatkan dari beliau secara mursal (terputus sanadnya), dan beliau memiliki sedikit riwayat di dalam Shohih Al-Bukhori serta kitab lainnya.

 

11. Aslam (80 H)

[34] (11) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Aslam Abu Zaid Al-‘Adawi. Beliau menerima riwayat dari tuannya yaitu Umar bin Al-Khoththob (23 H), Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H), Mu’adz (18 H), Abu ‘Ubaidah (18 H), serta selain mereka dari kalangan ulama besar Tabi’in. Beliau adalah seorang berkebangsaan Habsyi yang dibeli oleh Umar (23 H) pada tahun 11 Hijriyyah ketika beliau melaksanakan ibadah Haji, dan ada pula yang berpendapat bahwa beliau termasuk tawanan perang dari daerah ‘Ainut Tamar.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah anaknya sendiri yang bernama Zaid bin Aslam (136 H), Nafi’ (117 H), dan Salam bin Jundub. Beliau wafat pada tahun 80 Hijriyyah di kota Madinah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

12. Alqomah bin Waqqosh Al-Laitsi (80 H)

[35] (12) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

‘Alqomah bin Waqqosh Al-Laitsi Al-‘Atwari Al-Madani. Beliau adalah seorang yang tsiqoh (terpercaya) lagi mulia. Beliau menyampaikan Hadits dari Umar (23 H), ‘Aisyah (58 H), dan Ibnu ‘Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhum.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah kedua anak lakis-lakinya yang bernama ‘Amru dan Abdulloh, Az-Zuhri (124 H), Muhammad bin Ibrohim At-Taimi (120 H), serta Ibnu Abi Mulaikah At-Taimi (117 H).

Ibnu Sa’ad (230 H) telah menilai beliau tsiqoh.

Beliau wafat setelah tahun 80 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

13. Suwaid (81 H)

[36] (13) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Suwaid bin Goflah An-Nakho’i Al-Kufi, seorang yang dikaruniai usia panjang. Beliau dilahirkan pada tahun Gajah atau 2 tahun setelahnya. Beliau memeluk Islam ketika sudah berusia lanjut, lalu beliau datang ke kota Madinah bertepatan saat orang-orang baru saja selesai dari prosesi pemakaman Nabi Al-Musthofa . Beliau ikut menyaksikan perang Yarmuk, serta meriwayatkan Hadits dari Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), ‘Ali (40 H), Ubay (30 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sekelompok ulama lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Ibrohim An-Nakho’i (96 H), Salamah bin Kuhail (121 H), ‘Abdah bin Abi Lubabah, serta ulama lainnya.

Beliau adalah seorang yang tsiqoh, mulia, ahli ibadah, zahid, merasa cukup dengan perkara yang sedikit, serta memiliki kedudukan yang agung, semoga Alloh merohmatinya. Beliau diberi nama kunyah An-Niyyah, dan wafat pada tahun 81 Hijriyyah.

 

14. Ummu Ad-Darda (81 H)

[37] (14) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Ummu Ad-Darda Hajimah Al-Wusyabiyyah Al-Himyariyyah, istri dari Abu Ad-Darda (32 H). Beliau adalah seorang wanita yang ahli Fiqih, berilmu, ahli ibadah, berparas elok, cantik, luas ilmunya, serta sempurna akalnya.

Beliau banyak meriwayatkan dari Abu Ad-Darda (32 H), Salman (32 H), dan ‘Aisy (58 H) rodhiyallahu ‘anhum. Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Mak-hul (112 H), Salim bin Abi Al-Ja’d (100 H), Zaid bin Aslam (136 H), Isma’il bin Abdulloh, Abu Hazim Al-Madani (140 H), ‘Atho Al-Kaikhoroni, beserta beberapa orang lainnya. Beliau melaksanakan ibadah Haji pada tahun 81 Hijriyyah. Mu’awiyah (60 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah meminang beliau, namun beliau menolaknya, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

15. Sa’id bin Al-Musayyib (94 H)

[38] (15) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Sa’id bin Al-Musayyib, seorang Imam, Syaikhul Islam, ahli Fiqih kota Madinah, Abu Muhammad Al-Makhzumi. Beliau merupakan Tabi’in yang paling agung. Beliau dilahirkan setelah berjalannya 2 tahun dari masa kekhilafahan Umar (23 H). Beliau sempat mendengar sesuatu dari Umar (23 H) secara langsung ketika Umar sedang berkhutbah, serta mendengar riwayat dari Utsman (35 H), Zaid bin Tsabit (45 H), ‘Aisyah (58 H), Sa’ad (55 H), Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhum, dan orang banyak lainnya.

Beliau memiliki keluasan ilmu, kehormatan yang melimpah, keteguhan dalam beragama, senantiasa menyuarakan kebenaran, serta memiliki jiwa seorang ahli Fiqih yang mendalam.

Usamah bin Zaid (153 H) meriwayatkan dari Nafi’ (117 H) bahwasanya Ibnu Umar (73 H) pernah berkata:

«سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ هُوَ وَاللَّهِ أَحَدُ الْمُفْتِينَ»

“Sa’id bin Al-Musayyib demi Alloh adalah salah seorang pemberi fatwa.”

Ahmad bin Hanbal (241 H) dan ulama lainnya berkata: “Riwayat-riwayat mursal dari Sa’id adalah shohih.” Qotadah (117 H) berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih berilmu daripada Sa’id bin Al-Musayyib.” Hal senada juga diucapkan oleh Az-Zuhri (124 H), Mak-hul (112 H), serta tidak hanya satu orang saja, dan mereka semua benar.

‘Ali bin Al-Madini (234 H) berkata: “Aku tidak mengetahui di kalangan Tabi’in yang lebih luas ilmunya daripada Sa’id, beliau menurutku adalah Tabi’in yang paling agung.”

Al-‘Ijli (261 H) dan ulama lainnya berkata: “Beliau dahulu tidak mau menerima hadiah-hadiah dari penguasa, dan beliau memiliki uang sebesar 400 Dinar yang digunakan untuk berniaga minyak dan barang lainnya.”

Sa’ad bin Ibrohim (127 H) berkata: “Aku mendengar Sa’id bin Al-Musayyib berkata:

«مَا أَحَدٌ أَعْلَمُ بِقَضَاءٍ قَضَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَلَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ مِنِّي»

“Tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang suatu keputusan hukum yang diputuskan oleh Rosululloh , begitu pula oleh Abu Bakr dan Umar, melebihi diriku.”

Al-Waqidi (207 H) berkata bahwa Hisyam bin Sa’ad (160 H) menceritakan kepadaku, “Aku mendengar Az-Zuhri (124 H) ditanya mengenai dari mana Sa’id bin Al-Musayyib memperoleh ilmunya?” Beliau menjawab: “Dari Zaid bin Tsabit, Sa’ad bin Abi Waqqosh, Ibnu ‘Abbas, dan Ibnu Umar. Beliau juga telah mendengar riwayat dari Utsman, ‘Ali, dan Shuhaib. Adapun sebagian besar riwayat beliau yang bersambung sanadnya (musnad) diperoleh dari Abu Huroiroh, yang mana Sa’id adalah menantu dari Abu Huroiroh sendiri. Dahulu sering dikatakan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang keputusan hukum Umar dan Utsman daripada beliau.”

Ma’mar (153 H) meriwayatkan dari Az-Zuhri (124 H) bahwa dahulu Sa’id adalah manusia yang paling mengetahui tentang keputusan hukum Umar dan Utsman.

Diriwayatkan dari Qotadah (117 H), beliau berkata: “Dahulu Al-Hasan (Al-Bashri) apabila mendapati suatu perkara yang musykil (sulit dipahami) baginya, maka beliau akan menulis surat kepada Sa’id bin Al-Musayyib untuk bertanya.”

Hammad bin Zaid (179 H) bertanya kepada Yazid bin Hazim (141 H), bahwasanya Ibnu Al-Musayyib dahulu senantiasa melakukan Puasa secara terus-menerus.

Abdurrohman bin Harmalah (146 H) berkata, “Aku mendengar Sa’id berkata:

«حَجَجْتُ أَرْبَعِينَ حَجَّةً»

“Aku telah melaksanakan ibadah Haji sebanyak 40 kali.”

Yusuf bin Ya’qub Al-Majisyun (185 H) meriwayatkan dari Al-Muththolib bin As-Sa’ib, ia berkata: “Dahulu aku pernah duduk bersama Sa’id bin Al-Musayyib di pasar, tiba-tiba lewatlah seorang utusan milik bani Marwan. Maka Sa’id berkata kepadanya: ‘Apakah kamu termasuk utusan Bani Marwan?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Sa’id bertanya lagi: ‘Bagaimana kondisi bani Marwan yang kamu tinggalkan?’ Ia menjawab: ‘Dalam keadaan baik.’ Sa’id pun berkata: ‘Kamu meninggalkan mereka dalam keadaan membuat manusia kelaparan namun membuat kenyang anjing-anjing.’ Mendengar hal itu, sang utusan langsung menoleh dengan tajam (marah), maka aku segera menghampirinya dan senantiasa menenangkannya hingga ia pergi berlalu. Lalu aku berkata kepada Sa’id: ‘Semoga Alloh mengampuni Anda, mengapa Anda mempertaruhkan darah Anda sendiri?’ Beliau menjawab: ‘Diamlah wahai orang yang agak bodoh! Demi Alloh, tidaklah Alloh akan menyerahkan diriku (kepada kebinasaan) selama aku berpegang teguh pada hak-hak-Nya.”

Diriwayatkan dari Mak-hul (112 H) melalui jalur periwayatan yang dho’if, bahwasanya ketika berita kematian Ibnu Al-Musayyib sampai kepadanya, ia berkata: “Sekarang kedudukan manusia telah menjadi sama (karena telah hilangnya ulama besar mereka).”

Imam Malik (179 H) berkata bahwa telah sampai kepadaku informasi bahwasanya Sa’id bin Al-Musayyib pernah berkata:

«إِنْ كُنْتُ لَأَسِيرُ الْأَيَّامَ وَاللَّيَالِيَ فِي طَلَبِ الْحَدِيثِ الْوَاحِدِ»

“Sesungguhnya aku benar-benar melakukan perjalanan selama berhari-hari dan bermalam-malam hanya demi mencari satu Hadits saja.”

Mush’ab bin Abdulloh (236 H) berkata bahwa Mush’ab bin ‘Utsman menceritakan kepadaku, sesungguhnya orang yang memberikan kesaksian untuk membela Sa’id bin Al-Musayyib ketika Muslim bin ‘Uqbah (64 H) hendak membunuhnya adalah ‘Amru bin ‘Utsman dan Marwan bin Al-Hakam (65 H). Keduanya memberikan kesaksian bahwa Sa’id adalah orang gila, sehingga Muslim bin ‘Uqbah melepaskan jalannya. Abu Yunus Al-Qowi berkata: “Aku masuk ke dalam Masjid, tiba-tiba aku mendapati Sa’id bin Al-Musayyib sedang duduk sendirian. Aku bertanya: ‘Ada apa dengan beliau?’ Orang-orang menjawab: ‘Telah dilarang bagi siapa pun untuk duduk bersamanya.”

Aku (penulis) berkata: Sungguh aku telah mengkhususkan pembahasan mengenai sejarah perjalanan hidup Sa’id di dalam sebuah kitab tersendiri. Para ulama telah berbeda pendapat mengenai tahun wafat beliau ke dalam beberapa pendapat. Pendapat yang paling kuat adalah pada tahun 94 Hijriyyah, sebagaimana yang ditarikhkan oleh Al-Haitsam bin ‘Adi (207 H), Sa’id bin ‘Ufair (226 H), Ibnu Numair (234 H), beserta ulama lainnya. Qotadah (117 H) berpendapat beliau wafat pada tahun 89 Hijriyyah. Yahya Al-Qoththan (198 H) berpendapat pada tahun 91 Hijriyyah. Dhomroh (202 H) berpendapat pada tahun 91 atau 92 Hijriyyah. Sedangkan ‘Ali bin Al-Madini (234 H), Ibnu Ma’in (233 H), dan Al-Mada’ini (225 H) berpendapat beliau wafat pada tahun 105 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya. Al-Hakim (405 H) berkata bahwa mayoritas para Imam Hadits cenderung memilih pendapat yang terakhir ini.

 

16. Abu Idris Al-Khoulani (80 H)

[39] (16) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abu Idris Al-Khoulani, ulama penduduk negeri Syam, ‘Aidzulloh bin Abdulloh Ad-Dimasqi sang ahli Fiqih. Beliau termasuk salah seorang tokoh yang memadukan secara sempurna antara ilmu dan amal. Sa’id bin Abdul ‘Aziz (167 H) menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada tahun terjadinya perang Hunain (8 H).

Beliau mengambil ilmu dari Mu’adz bin Jabal (18 H). Ibnu Abdil Barr (463 H) berkata bahwa pendengaran Hadits beliau dari Mu’adz adalah shohih. Beliau juga meriwayatkan dari Abu Ad-Darda (32 H), Abu Dzar (32 H), Hudzaifah (36 H), ‘Ubadah bin Ash-Shomit (34 H), ‘Auf bin Malik (73 H), Abu Huroiroh (57 H), serta sekelompok ulama lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Az-Zuhri (124 H), Mak-hul (112 H), Robi’ah Al-Qoshir, Yahya bin Yahya Al-Ghossani (135 H), Yunus bin Maisaroh (132 H), serta ulama-ulama lainnya.

Beliau adalah pemberi nasihat bagi penduduk kota Damaskus, pemisah perkara (penasihat hukum), sekaligus Hakim (Qodhi) mereka. Abu Dawud (275 H) berkata bahwa Abu Idris Al-Khoulani telah mendengar langsung dari Abu Ad-Darda (32 H) dan ‘Ubadah (34 H). Mak-hul (112 H) berkata: “Aku tidak mengetahui ada orang yang lebih berilmu daripada Abu Idris.” An-Nasa’i (303 H) dan ulama lainnya menilai beliau tsiqoh (terpercaya). Dituturkan kepada Duhaim (245 H) mengenai diri beliau dan Jubair bin Nufair (80 H), maka Duhaim berkata: “Abu Idris menurutku adalah orang yang lebih didahulukan.” Beliau pun mengagungkan serta meninggikan kedudukan Jubair dikarenakan kekuatan sanad dan Hadits-Hadits yang dimilikinya.

Az-Zuhri (124 H) berkata: “Abu Idris merupakan bagian dari para ahli Fiqih negeri Syam.”

Sa’id bin Abdul ‘Aziz (167 H) berkata: “Beliau adalah ulamanya penduduk negeri Syam setelah wafatnya Abu Ad-Darda (32 H).”

Ibnu Jabir (154 H) berkata bahwa kholifah Abdul Malik (86 H) pernah memberhentikan Abu Idris dari tugasnya sebagai pemberi nasihat (kisah), namun tetap menetapkan beliau dalam jabatan Hakim (Qodhi). Maka Abu Idris berkata: “Mereka telah memberhentikan aku dari perkara yang aku sukai, dan mereka membiarkan aku tetap berada dalam perkara yang aku takuti (karena beratnya tanggung jawab peradilan).”

Sayyar (199 H) dan Ibnu Ma’in (233 H) berkata bahwa beliau wafat pada tahun 80 Hijriyyah, semoga rohmat Alloh senantiasa tercurah kepadanya.

 

17. Zirr bin Hubais (82 H)

[40] (17) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Zirr bin Hubais, seorang Imam yang menjadi teladan, Abu Maryam Al-Asadi Al-Kufi. Beliau dikaruniai usia hingga mencapai 120 tahun. Beliau menyampaikan Hadits dari Umar (23 H), Ubay (30 H), Abdulloh (Ibnu Mas’ud) (32 H), ‘Ali (40 H), dan Hudzaifah (36 H). Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah ‘Asim bin Bahdalah (127 H), yang mana ‘Asim membaca Al-Qur’an di hadapan beliau. ‘Asim memuji beliau seraya berkata: “Zirr termasuk manusia yang paling fasih bahasa Arobnya.” Dahulu Ibnu Mas’ud (32 H) sering bertanya kepada beliau mengenai kaidah bahasa Arob. Orang yang juga meriwayatkan dari beliau adalah ‘Abdah bin Abi Lubabah, Ibnu Abi Kholid (159 H), ‘Adi bin Tsabit (116 H), Abu Ishaq Asy-Syaibani (138 H), Al-A’masy (148 H), beserta sejumlah orang lainnya. Beliau wafat pada tahun 82 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

18. Ar-Robi’ bin Khutsaim (61 H)

[41] (18) (Diriwayatkan oleh Al-Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Ar-Robi’ bin Khutsaim, seorang Imam yang menjadi teladan, Abu Yazid Ats-Tsauri Al-Kufi.

Beliau meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud (32 H), Abu Ayyub An-Anshori (52 H), beserta sekelompok ulama lainnya, serta dari ‘Amru bin Maimun Al-Audi (74 H).

Adapun orang yang meriwayatkan dari beliau adalah Asy-Sya’bi (103 H), An-Nakho’i (96 H), Hilal bin Yasaf, Bikr bin Ma’iz, serta ulama-ulama lainnya. Beliau termasuk tokoh yang wafat pada masa generasi awal.

Ibnu Ma’in (233 H) berkata: “Orang yang semisal beliau tidak perlu dipertanyakan lagi kebaikannya.”

Asy-Sya’bi (103 H) berkata: “Beliau termasuk dari sumber-sumber kejujuran.”

Abdulloh bin Ar-Robi’ bin Khutsaim meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah bin Abdulloh (82 H), ia berkata: “Dahulu Ar-Robi’ bin Khutsaim apabila datang mengunjungi Ibnu Mas’ud (32 H), maka tidak diizinkan bagi seorang pun untuk masuk menemui Ibnu Mas’ud sampai keduanya menyelesaikan urusan pembicaraan di antara sesama mereka.”

Abdulloh (Ibnu Mas’ud) (32 H) pernah berkata kepada beliau: “Wahai Abu Yazid, sekiranya Rosululloh melihat dirimu, niscaya beliau benar-benar akan mencintaimu. Dan tidaklah aku melihat dirimu melainkan aku langsung teringat kepada orang-orang yang khusyuk lagi tunduk hatinya kepada Alloh.”

Asy-Sya’bi (103 H) berkata: “Ar-Robi’ bin Khutsaim adalah orang yang paling kuat sifat waro’-nya (kehati-hatiannya dari syubhat) di antara mereka.”

Ada yang berpendapat bahwa beliau wafat pada masa kekhilafahan Yazid bin Mu’awiyah (64 H).

 

19. Abdurrohman bin Abi Laila (82 H)

[42] (19) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abdurrohman bin Abi Laila, seorang Imam, Abu ‘Isa An-Anshori Al-Kufi sang ahli Fiqih, ayah dari Hakim (Qodhi) yang bernama Muhammad. Beliau pernah melihat Umar (23 H) mengusap kedua khuf-nya (sepatu kulit).

Beliau meriwayatkan dari Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), Ibnu Mas’ud (32 H), Abu Dzar (32 H), beserta sekelompok ulama lainnya.

Beliau dilahirkan di kota Madinah pada pertengahan masa kekhilafahan Umar (23 H).

Ibnu Sirin (110 H) berkata:

«جَلَسْتُ إِلَيْهِ وَأَصْحَابُهُ يُعَظِّمُونَهُ كَأَنَّهُ أَمِيرٌ»

“Aku pernah duduk bersama beliau, sedangkan para sahabatnya sangat mengagungkan beliau seolah-olah beliau adalah seorang pemimpin.”

Diriwayatkan dari Abu Hashin (127 H) bahwasanya Al-Hajjaj (95 H) pernah mengangkat Abdurrohman bin Abi Laila sebagai Hakim (Qodhi), kemudian memberhentikannya, lalu mencambuknya agar beliau mencela ‘Ali (40 H) rodhiyallahu ‘anhu. Namun beliau melakukan tauriyah (menggunakan kata yang bermakna ganda untuk menyembunyikan maksud asli) dan tidak menyatakannya secara terang-terangan. Kemudian beliau ikut keluar bersama pasukan Ibnu Al-Asy’ats (85 H) dan wafat tenggelam, semoga Alloh merohmatinya, pada malam peristiwa Dujail tahun 82 Hijriyyah atau 83 Hijriyyah.

 

20. Abu Abdirrohman As-Sulami (73 H)

[43] (20) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abu Abdirrohman As-Sulami, ahli qiro’ah kota Kufah sekaligus ulamanya, yaitu Abdulloh bin Habib bin Robi’ah Al-Kufi. Beliau membaca Al-Qur’an di hadapan Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), dan Ibnu Mas’ud (32 H) serta mendengar riwayat dari mereka semua dan juga dari Umar (23 H). Beliau memposisikan dirinya untuk mengajarkan bacaan Al-Qur’an sejak masa kekhilafahan Utsman (35 H) hingga beliau wafat pada tahun 73 Hijriyyah atau setelahnya, yaitu pada masa kepemimpinan Bisyr bin Marwan (75 H) atas wilayah Irak. ‘Asim (127 H) membaca Al-Qur’an di hadapan beliau.

Orang yang meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah Ibrohim An-Nakho’i (96 H), Sa’id bin Jubair (95 H), ‘Alqomah bin Martsad (120 H), ‘Atho bin As-Sa’ib (136 H), serta Isma’il bin Abdurrohman As-Suddi (127 H). Beliau adalah seorang yang tsiqoh (terpercaya) lagi tinggi kedudukannya, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

21. Syuroih Al-Qodhi (78 H)

[44] (21) (Diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan An-Nasa’i)

Syuroih bin Al-Harits bin Qois, seorang Hakim (Qodhi), Abu Umayyah Al-Kindi Al-Kufi sang ahli Fiqih. Ada pula yang menyebut namanya Syuroih bin Syurohbil. Beliau termasuk golongan Mukhodhrom (orang yang mendapati zaman Jahiliyyah dan masa hidup Nabi dalam keadaan memeluk Islam namun belum pernah melihat Nabi ). Umar (23 H) mengangkat beliau sebagai Hakim di wilayah Kufah, kemudian kepemimpinan dilanjutkan oleh ‘Ali (40 H) dan orang-orang setelahnya. Beliau menyampaikan Hadits dari Umar (23 H), ‘Ali (40 H), dan Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Asy-Sya’bi (103 H), An-Nakho’i (96 H), Abdul ‘Aziz bin Rufai’ (130 H), Muhammad bin Sirin (110 H), serta sekelompok ulama lainnya. Beliau meminta untuk diberhentikan dari jabatan peradilan kepada Al-Hajjaj (95 H) setahun sebelum wafatnya. Beliau dikaruniai usia hingga mencapai 120 tahun. Yahya bin Ma’in (233 H) telah menilai beliau tsiqoh.

Beliau adalah seorang ahli Fiqih, penyair yang ulung, lagi cerdas, serta memiliki selera humor. Beliau wafat pada tahun 78 Hijriyyah, dan ada pula yang berpendapat pada tahun 80 Hijriyyah.

 

22. Syuroih bin Hani (78 H)

[45] (22) (Diriwayatkan oleh Muslim dan empat Imam Sunan)

Syuroih bin Hani, Abu Al-Miqdam Al-Madzhiji Al-Kufi. Beliau adalah seorang Mukhodhrom yang memiliki riwayat dari ‘Ali (40 H), ‘Aisyah (58 H), Umar bin Al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhum, serta beberapa orang lainnya. Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah kedua anak laki-lakinya yaitu Muhammad dan Al-Miqdam, Asy-Sya’bi (103 H), Al-Qosim bin Mukhoimiroh (100 H), Habib bin Abi Tsabit (119 H), serta Yunus bin Abi Ishaq (159 H).

Beliau termasuk di antara jajaran pemimpin pasukan perang ‘Ali (40 H). Dikatakan bahwa beliau hidup hingga mencapai usia 120 tahun, dan wafat terbunuh di wilayah Sijistan pada tahun 78 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya. Seluruh Jama’ah periwayat Hadits meriwayatkan tentangnya kecuali Imam Al-Bukhori (256 H).

 

23. Abu Wa’il (82 H)

[46] (23) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah Al-Asadi Al-Kufi, guru besar kota Kufah sekaligus ulamanya. Beliau adalah seorang Mukhodhrom yang sangat agung, yang meriwayatkan dari Umar (23 H), Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), Ibnu Mas’ud (32 H), ‘Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sejumlah orang lainnya. Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Al-A’masy (148 H), Manshur (132 H), Hushoin (136 H), dan orang banyak selain mereka.

Dikatakan bahwa beliau telah memeluk Islam pada masa hidup Rosululloh . Muhammad bin Fudhail (200 H) meriwayatkan dari ayahnya, dari Syaqiq, bahwasanya beliau mempelajari Al-Qur’an secara keseluruhan hanya dalam waktu 2 bulan saja, dan ini menunjukkan tingkat kecerdasan yang berada pada puncaknya.

Ibrohim An-Nakho’i (96 H) berkata: “Sesungguhnya aku benar-benar mengira bahwa Abu Wa’il termasuk orang yang dengan sebab keberadaannya (melalui doa dan keberkahannya), musibah dan keburukan ditolak dari diri-diri kami.”

‘Asim bin Bahdalah (127 H) meriwayatkan dari Syaqiq, ia berkata bahwa Utsman lebih aku cintai daripada ‘Ali.

Diriwayatkan dari Abu Wa’il, ia berkata: “Telah datang kepadaku petugas penarik Zakat yang diutus oleh Nabi .”

Beliau wafat pada tahun 82 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

24. Qobishoh bin Dzu’aib (86 H)

[47] (24) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Qobishoh bin Dzu’aib sang ahli Fiqih, Abu Sa’id Al-Khuza’i Al-Madani, kemudian menetap di Damaskus. Beliau bertugas memegang dan menjaga stempel resmi milik Kholifah Abdul Malik (86 H).

Beliau menyampaikan Hadits dari Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), Abu Ad-Darda (32 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sekelompok ulama lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Mak-hul (112 H), Az-Zuhri (124 H), Roja bin Haiwah (112 H), Abu Qilabah (104 H), beserta ulama-ulama lainnya.

Ibnu Lahiah (174 H) meriwayatkan dari Az-Zuhri (124 H), beliau berkata: “Qobishoh bin Dzu’aib termasuk bagian dari ulamanya umat ini.”

Mak-hul (112 H) berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berilmu daripada beliau.”

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi (103 H), beliau berkata bahwa Qobishoh adalah manusia yang paling mengetahui tentang keputusan hukum yang ditetapkan oleh Zaid bin Tsabit (45 H) rodhiyallahu ‘anhu.

Dikatakan bahwa beliau dilahirkan lalu dibawa menghadap Nabi agar didoakan kebaikan oleh beliau.

Beliau wafat pada tahun 86 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

25. Shofwan bin Muhriz (74 H)

[48] (25) (Diriwayatkan oleh Al-Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Shofwan bin Muhriz Al-Mazini Al-Bashri. Beliau adalah salah seorang ulama yang mengamalkan ilmunya.

Beliau meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H), ‘Imron bin Hushain (52 H), dan Hakim bin Hizam (54 H) rodhiyallahu ‘anhum.

Adapun orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Tsabit Al-Bunani (127 H), Qotadah (117 H), Bikr Al-Muzani (108 H), ‘Asim Al-Ahwal (142 H), Jami’ bin Syaddad, serta beberapa orang lainnya.

Ibnu Sa’ad (230 H) berkata: “Beliau adalah seorang yang tsiqoh (terpercaya), memiliki keutamaan, serta sifat waro’ (berhati-hati dari syubhat),” semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

Beliau wafat pada tahun 74 Hijriyyah.

 

26. Qois bin Abi Hazim (97 H)

[49] (26) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Qois bin Abi Hazim, seorang Imam, Abu Abdillah Al-Ahmasi Al-Bajali Al-Kufi. Beliau adalah ahli Hadits negeri Kufah. Beliau telah melakukan perjalanan untuk menemui Nabi guna membaiat beliau, namun Nabi wafat ketika Qois masih berada di tengah perjalanan.

Beliau mendengar riwayat dari Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), Abu ‘Ubaidah (18 H), Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhum, serta sejumlah tokoh senior. Beliau termasuk orang yang cenderung mendukung Utsman (Utsmaniyyah).

Orang yang meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah Bayan bin Bisyr, Al-A’masy (148 H), Isma’il bin Abi Kholid (146 H), Mujahid (104 H), serta ulama-ulama lainnya. Yahya bin Ma’in (233 H) dan ulama lainnya telah menilai beliau tsiqoh.

Ibnu Al-Madini (234 H) berkata bahwa Yahya bin Sa’id (198 H) pernah berkata kepadaku: “Qois adalah seorang yang munkarul Hadits (memiliki riwayat yang menyelisihi riwayat yang kuat).” Kemudian Yahya menyebutkan sebuah Hadits tentang “Anjing-anjing Al-Hawab” milik beliau.

Aku (penulis) berkata: Hadits beliau tetap dijadikan sebagai hujjah (argumen yang sah) di seluruh kitab-kitab induk Islam. Beliau wafat pada tahun 97 Hijriyyah, dan ada pula yang berpendapat pada tahun 98 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

27. Abu Al-‘Aliyah (93 H)

[50] (27) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abu Al-‘Aliyah Ar-Riyahi Rufai’ bin Mihron Al-Bashri, seorang ahli Fiqih sekaligus ahli qiro’ah. Beliau adalah bekas budak (maula) dari seorang wanita Bani Riyah, yang merupakan bagian dari klan suku Tamim. Beliau pernah melihat Abu Bakr (13 H) dan membaca Al-Qur’an secara langsung di hadapan Ubay (30 H) serta ulama lainnya. Beliau juga mendengar riwayat dari Umar (23 H), Ibnu Mas’ud (32 H), ‘Ali (40 H), ‘Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sekelompok ulama lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Qotadah (117 H), Kholid Al-Haddza (141 H), Dawud bin Abi Hind (139 H), ‘Auf Al-A’robi (147 H), Ar-Robi’ bin Anas, Abu ‘Amru bin Al-‘Ala (154 H), serta sekelompok ulama lainnya.

Qotadah (117 H) meriwayatkan dari beliau, bahwasanya beliau berkata: “Aku membaca Al-Qur’an (mempelajarinya secara mendalam) setelah berlalunya waktu 10 tahun dari wafatnya Nabi kalian .”

Abu Kholdah meriwayatkan dari beliau, ia berkata: “Dahulu Ibnu ‘Abbas (68 H) pernah mendudukkan aku di atas ranjang tempat duduknya, sementara orang-orang Quroisy berada di posisi bawah darinya, lalu Ibnu ‘Abbas berkata: ‘Beginilah ilmu, ia akan menambah kemuliaan bagi orang yang mulia, serta mampu mendudukkan para bekas budak di atas ranjang-ranjang raja.”

Abu Bakr bin Abi Dawud (316 H) berkata: “Tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Al-Qur’an setelah generasi para Shohabat melebihi Abu Al-‘Aliyah, kemudian barulah setelahnya Sa’id bin Jubair (95 H).”

Abu Zur’ah (264 H), Abu Hatim (277 H), dan selain keduanya menilai beliau tsiqoh.

Beliau wafat pada tahun 90 Hijriyyah, namun pendapat yang lebih shohih menyatakan beliau wafat pada tahun 93 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

28. ‘Urwah bin Az-Zubair (94 H)

[51] (28) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-‘Awwam, seorang Imam, ulamanya kota Madinah, Abu Abdillah Al-Qurosyi Al-Asadi Al-Madani.

Beliau meriwayatkan dari ayahnya dalam jumlah yang sedikit, serta meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit (45 H), Usamah bin Zaid (54 H), Sa’id bin Zaid (51 H), Hakim bin Hizam (54 H), ‘Aisyah (58 H), Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhum, dan orang banyak lainnya.

Beliau mendalami Fiqih di bawah bimbingan bibinya sendiri yaitu ‘Aisyah (58 H). Beliau adalah seorang yang berilmu dalam masalah sirah (sejarah), seorang hafizh (penghafal yang kuat), lagi kokoh kepercayaannya.

Orang yang meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah anak-anak laki-lakinya yang bernama Hisyam, Muhammad, Utsman, Yahya, dan Abdulloh, serta cucunya yang bernama Umar bin Abdulloh, Az-Zuhri (124 H), Abu Az-Zinad (130 H), Ibnu Al-Munkadir (131 H), Sholih bin Kaisan (140 H), anak yatim asuhannya yaitu Abu Al-Aswad, beserta orang banyak lainnya.

Az-Zuhri (124 H) berkata: “Aku melihat dirinya laksana lautan ilmu yang airnya tidak pernah surut.”

Beliau juga menambahkan: “Beliau senantiasa mendekatkan manusia agar mau mengambil Hadits dari dirinya.”

Hisyam bin ‘Urwah (145 H) berkata: “Tidaklah aku menghafal dari ayahku melainkan hanya 1 bagian dari 1000 bagian Hadits miliknya.”

Hisyam (145 H) juga berkata bahwa dahulu ayahku senantiasa melakukan Puasa sepanjang tahun (kecuali hari yang dilarang) dan beliau wafat dalam keadaan sedang berpuasa.

Ibnu Syaudzab (156 H) berkata bahwa ‘Urwah dahulu senantiasa membaca 1/4 bagian dari Al-Qur’an setiap harinya melalui mushaf, lalu beliau menegakkannya (membacanya kembali) dalam Sholat malam, dan beliau tidak pernah meninggalkannya kecuali pada satu malam saja ketika kaki beliau diamputasi akibat terkena penyakit kanker (pembusukan jaringan), yang mana dokter menggergaji kaki beliau tersebut.

Beliau dilahirkan pada masa kekhilafahan Utsman (35 H), sedangkan Syabab (240 H) berpendapat beliau dilahirkan pada akhir masa kekhilafahan Umar (23 H).

Beliau wafat pada tahun 94 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

29. Abu Salamah (94 H)

[52] (29) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abu Salamah bin Abdurrohman bin ‘Auf Al-Zuhri Al-Madani, seorang Al-Hafizh. Nama aslinya adalah nama kunyahnya sendiri, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Malik (179 H), dan ada pula yang berpendapat nama aslinya adalah Abdulloh. Beliau meriwayatkan dari ayahnya dalam jumlah yang sedikit, serta meriwayatkan dari Utsman (35 H), Abu Qotadah (54 H), Abu Usaid (60 H), ‘Aisyah (58 H), Abu Huroiroh (57 H), Hassan bin Tsabit (54 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sejumlah orang lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Salim Abu An-Nadhr, Sa’ad bin Ibrohim sang Hakim (Qodhi) (127 H), Abu Az-Zinad (130 H), Az-Zuhri (124 H), Yahya bin Sa’id (143 H), Yahya bin Abi Katsir (132 H), Muhammad bin ‘Amru (145 H), serta orang banyak lainnya. Beliau termasuk di antara jajaran para Imam besar dari kalangan Tabi’in, berilmu melimpah, tsiqoh, lagi mendalam pengetahuannya.

Az-Zuhri (124 H) berkata: “Ada 4 orang yang aku dapati mereka itu laksana lautan ilmu, yaitu ‘Urwah bin Az-Zubair, Ibnu Al-Musayyib, Abu Salamah, dan ‘Ubaidulloh bin Abdulloh.”

Aku (penulis) berkata: Dahulu Abu Salamah senantiasa mendalami Fiqih dan sering berdiskusi (berdebat secara ilmiah) dengan Ibnu ‘Abbas (68 H) serta menyanggah pendapatnya.

Beliau wafat pada tahun 94 Hijriyyah, dan ada pula yang berpendapat beliau wafat pada tahun 104 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

30. Abu Bakr bin Abdurrohman bin Al-Harits (94 H)

[53] (30) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abu Bakr bin Abdurrohman bin Al-Harits bin Hisyam bin Al-Mughiroh Al-Qurosyi Al-Makhzumi Al-Madani sang ahli Fiqih. Beliau adalah salah seorang dari tujuh ahli Fiqih kota Madinah (Al-Fuqoha As-Sab’ah). Ada yang berpendapat nama asli beliau adalah Muhammad, namun pendapat yang lebih shohih menyatakan bahwa nama asli beliau adalah nama kunyahnya sendiri.

Beliau memiliki beberapa orang saudara kandung.

Beliau meriwayatkan dari ayahnya, serta dari ‘Ammar bin Yasir (37 H), Abu Mas’ud Al-Badri (40 H), ‘Aisyah (58 H), Abu Huroiroh (57 H), Abdurrohman bin Muthi’, beserta sekelompok ulama lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Al-Hakam bin ‘Utaibah (115 H), Sumayya bekas budaknya, Az-Zuhri (124 H), ‘Amru bin Dinar (126 H), anak-anak laki-lakinya yang bernama Abdulloh, Abdul Malik, Umar, dan Salamah, serta anak dari saudaranya yaitu Al-Qosim bin Muhammad bin Abdurrohman, Abdul Wahid bin Aiman, beserta ulama-ulama lainnya.

Beliau dinilai masih terlalu kecil pada saat terjadinya perang Jamal (36 H), sehingga beliau dipulangkan dari jajaran pasukan Tholhah (36 H) dan Az-Zubair (36 H), yaitu beliau bersama dengan ‘Urwah (94 H). Beliau adalah seorang yang tsiqoh (terpercaya), hujjah (argumen yang kuat), ahli Fiqih, Imam, banyak meriwayatkan Hadits, lagi dermawan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Waqidi (207 H).

Beliau dilahirkan pada masa kekhilafahan Umar (23 H) rodhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah seorang yang sholih, ahli ibadah, lagi sangat mendekatkan diri kepada Alloh, hingga dahulu beliau senantiasa dijuluki sebagai Rohib (ahli ibadah yang tekun) kaum Quroisy. Ibnu Sa’ad (230 H) berkata bahwa beliau mengalami kebutaan pada matanya.

Beliau wafat di kota Madinah pada “Tahun Para Ahli Fiqih” yaitu pada tahun 94 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya. Hadits riwayat beliau terdapat di seluruh kitab-kitab induk Islam.

 

31. Muthorrif bin Abdulloh (95 H)

[54] (31) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Muthorrif bin Abdulloh bin Asy-Syikhkhir, seorang Imam, Abu Abdillah Al-‘Amiri Al-Harasyi Al-Bashri. Beliau merupakan pemimpin terkemuka dalam hal ilmu dan amal, memiliki keagungan di dalam Islam, serta kedudukan yang sangat dihormati di dalam jiwa manusia.

Beliau menyampaikan Hadits dari ayahnya, serta dari ‘Ali (40 H), ‘Ammar (37 H), ‘Imron bin Hushoin (52 H), ‘Aisyah (58 H), ‘Iyadh bin Himar, dan Abdulloh bin Mughoffal Al-Muzani (60 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sejumlah orang lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah saudara kandungnya sendiri yang bernama Yazid Abu Al-‘Ala (111 H), Humaid bin Hilal, Tsabit bin Aslam Al-Bunani (127 H), Sa’id Al-Juroiri (144 H), Qotadah (117 H), Ghoilan bin Jarir (129 H), Muhammad bin Wasi’ (123 H), serta sekelompok ulama lainnya.

Ibnu Sa’ad (230 H) menyebutkan tentang diri beliau seraya berkata: “Beliau meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab (30 H), dan beliau adalah seorang yang tsiqoh, memiliki keutamaan, sifat warok (berhati-hati dari syubhat), akal yang sempurna, serta adab yang mulia.”

Ahmad Al-‘Ijli (261 H) berkata: “Tidak ada seorang pun yang selamat dari fitnah kekacauan Ibnu Al-Asy’ats (85 H) di wilayah Basroh melainkan hanya Muthorrif bin Asy-Syikhkhir dan Ibnu Sirin (110 H). Dan tidak ada yang selamat darinya di wilayah Kufah melainkan hanya Khoitsamah bin Abdurrohman (82 H) dan Ibrohim An-Nakho’i (96 H).”

Ghoilan bin Jarir (129 H) meriwayatkan dari Muthorrif, bahwasanya ada seorang lelaki yang berdusta atas nama beliau, maka Muthorrif berdoa: “Ya Alloh, jika ia memang berdusta maka wafatkanlah dia.” Seketika itu juga lelaki tersebut tersungkur mati di tempatnya.

Dawud bin Abi Hind (139 H) meriwayatkan dari Muthorrif, bahwasanya beliau berkata:

«لَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَصْعَدَ فَيُلْقِيَ نَفْسَهُ وَيَقُولَ قَدَّرَ لِي رَبِّي وَلَكِنْ يَحْذَرُ وَيَجْتَهِدُ فَإِنْ أَصَابَهُ شَيْءٌ عَلِمَ أَنْ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ»

“Tidak boleh bagi seorang pun untuk naik ke tempat yang tinggi lalu menjatuhkan dirinya sendiri seraya berkata: ‘Robb-ku telah mentakdirkannya untukku.’ Akan tetapi, ia harus bersikap waspada dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Jika kemudian ada sesuatu yang menimpanya, barulah ia mengetahui bahwa tidak ada yang menimpanya melainkan apa yang telah ditetapkan untuknya.”

Abu Ja’far Ar-Rozi (160 H) meriwayatkan dari Qotadah (117 H), dari Muthorrif, bahwasanya beliau berkata:

«إِنَّ هَذَا الْمَوْتَ قَدْ أَفْسَدَ عَلَى أَهْلِ النَّعِيمِ نَعِيمَهُمْ فَاطْلُبُوا نَعِيمًا لَا مَوْتَ فِيهِ»

“Sesungguhnya kematian ini benar-benar telah merusak kenikmatan bagi orang-orang yang memiliki kenikmatan dunia, maka carilah oleh kalian suatu kenikmatan yang tidak ada kematian di dalamnya (kenikmatan Jannah).”

Aku (penulis) berkata: Muthorrif adalah seorang pemimpin yang memiliki kedudukan yang agung. Beliau dahulu senantiasa mengenakan pakaian yang mewah, menunggangi kuda, serta masuk menemui penguasa.

Beliau wafat pada tahun 95 Hijriyyah, semoga rohmat Alloh senantiasa tercurah kepadanya.

 

32. ‘Amru bin Maimun (75 H)

[55] (32) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

‘Amru bin Maimun, seorang Imam, Abu Abdillah Al-Audi Al-Madzhiji Al-Yamani. Beliau kemudian menetap di kota Kufah.

Beliau datang pada masa pemerintahan Ash-Shiddiq (13 H) bersama dengan Mu’adz (18 H), lalu beliau meriwayatkan Hadits dari Mu’adz, serta dari Umar (23 H), ‘Ali (40 H), dan Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhum.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Abu Ishaq (127 H), Hushoin (136 H), ‘Abdah bin Abi Lubabah, Muhammad bin Suqoh (128 H), beserta selain mereka. Yahya bin Ma’in (233 H) telah menilai beliau tsiqoh.

Abu Ishaq (127 H) berkata bahwa beliau telah melaksanakan ibadah Haji dan Umroh sebanyak 100 kali. Dan beliau itu apabila dilihat oleh orang lain, maka orang tersebut akan langsung mengingat Alloh Ta’ala.

Ibrohim An-Nakho’i (96 H) berkata bahwa dahulu ‘Amru bin Maimun ketika telah berusia lanjut, beliau mendirikan tiang penyangga di dinding tempat sholatnya, yang mana apabila beliau telah merasa letih dari berdiri tegak demi beribadah kepada Alloh Ta’ala, beliau akan bersandar dengan bantuan tiang tersebut.

Dikatakan bahwa beliau wafat pada tahun 75 Hijriyyah, atau ada yang berpendapat pada tahun 74 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya. Hadits-Hadits riwayat beliau terdapat di dalam kitab-kitab induk Hadits, dan jumlahnya tidak terlalu banyak.

 

 

33. Abu ‘Utsman An-Nahdi (100 H)

[56] (33) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abu ‘Utsman An-Nahdi Abdurrohmar bin Mall Al-Bashri. Beliau telah mendapati masa hidup Nabi (namun tidak sempat bertemu beliau), lalu beliau berhijroh ke kota Madinah pada masa pemerintahan Umar (23 H) dan mendengar riwayat dari Umar, serta dari Ibnu Mas’ud (32 H), Hudzaifah bin Al-Yaman (36 H), dan Usamah bin Zaid (54 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sekelompok ulama lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Qotadah (117 H), Kholid Al-Haddza (141 H), Humaid (142 H), Dawud bin Abi Hind (139 H), Sulaiman At-Taimi (143 H), serta orang banyak lainnya.

Beliau ikut menyaksikan peristiwa perang Yarmuk. Beliau telah melaksanakan ibadah Haji pada zaman Jahiliyyah sebanyak 2 kali, kemudian beliau memeluk Islam dan menyerahkan Zakat hartanya kepada para petugas penarik Zakat yang diutus oleh Nabi . Beliau mendampingi Salman Al-Farisi (32 H) selama 12 tahun. Beliau adalah seorang yang berilmu, sangat rajin berpuasa, lagi rajin menegakkan Sholat malam, yang mana beliau senantiasa mengerjakan Sholat hingga jatuh pingsan karena saking letihnya.

Sulaiman At-Taimi (143 H) berkata: “Sesungguhnya aku benar-benar mengira bahwa beliau tidak pernah melakukan suatu perbuatan dosa pun.”

Beliau wafat pada tahun 100 Hijriyyah atau setelahnya dalam waktu yang tidak lama, semoga Alloh merohmatinya.

 

34. Abu Roja Al-‘Athoridi (107 H)

[57] (34) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abu Roja Al-‘Athoridi ‘Imron bin Milhan Al-Bashri. Beliau adalah seorang Mukhodhrom (hidup di zaman dua masa) yang termasuk di antara ulama besar dari kalangan Tabi’in. Beliau memeluk Islam pada masa penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) namun belum pernah melihat Nabi . Kemudian beliau melakukan perjalanan dan mendengar riwayat dari Umar (23 H), ‘Ali (40 H), ‘Imron bin Hushain (52 H), Abu Musa (44 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sekelompok ulama lainnya. Beliau mempelajari bacaan Al-Qur’an secara langsung dari Abu Musa (44 H) dan menyetorkannya (talaqqi) di hadapan Ibnu ‘Abbas (68 H). Abu Al-Asyhab Al-‘Athoridi (162 H) dan ulama lainnya membaca Al-Qur’an di hadapan beliau.

Orang yang meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah Ayyub (131 H), Ibnu ‘Aun (151 H), ‘Auf (147 H), Salam bin Zarir, Jarir bin Hazim (170 H), Sa’id bin Abi ‘Arubah (156 H), Shokhr bin Juwairiyah (160 H), Mahdi bin Maimun (172 H), beserta sekelompok ulama lainnya.

Jarir (170 H) berkata bahwa aku pernah bertanya kepada beliau mengenai rasa dari darah (yang dahulu diminum orang Jahiliyyah), maka beliau menjawab: “Rasanya manis.”

Abu Al-Harits Al-Kirmani yang merupakan seorang tsiqoh dari kalangan guru-guru Abu Salamah Al-Minqori berkata, “Aku mendengar Abu Roja berkata:

«أَدْرَكْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَمْرَدُ وَمَا رَأَيْتُ أَضَلَّ مِنَ الْعَرَبِ كَانُوا يَجِيئُونَ بِالشَّاةِ الْبَيْضَاءِ فَيَعْبُدُونَهَا»

“Aku mendapati masa hidup Nabi ketika aku masih berupa seorang pemuda yang belum tumbuh jenggotnya. Dan tidaklah aku melihat kaum yang lebih sesat daripada orang-orang Arob dahulu, yang mana mereka itu membawa seekor kambing betina yang putih lalu mereka menyembahnya.”

Dikatakan bahwa Abu Roja dahulu senantiasa mewarnai rambut kepalanya namun tidak mewarnai jenggotnya. Ibnu Al-A’robi (231 H) berkata bahwa beliau adalah seorang yang pemberani, ahli ibadah, banyak mengerjakan Sholat, serta banyak membaca Al-Qur’an.

Aku (penulis) berkata: Beliau adalah seorang yang tsiqoh, mulia, berilmu, lagi mengamalkan ilmunya, serta dikaruniai usia hingga mencapai 120 tahun. Abu Al-Asyhab (162 H) berkata bahwa dahulu Abu Roja senantiasa mengkhatamkan Al-Qur’an bersama kami di bulan Romadhon setiap 10 hari sekali.

Aku (penulis) berkata bahwa beliau wafat pada tahun 107 Hijriyyah, dan ada pula yang berpendapat pada tahun 108 Hijriyyah, serta pendapat lain menyatakan pada tahun 105 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

35. Zaid bin Wahb (84 H)

[58] (35) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Zaid bin Wahb Al-Juhani, Abu Sulaiman Al-Kufi. Beliau adalah seorang Imam Mukhodhrom yang datang mengunjungi kota Madinah berselang beberapa hari setelah wafatnya Nabi . Beliau mendengar riwayat dari Umar (23 H), Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), Ibnu Mas’ud (32 H), Abu Dzar (32 H), Hudzaifah (36 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sekelompok ulama lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Hushoin (136 H), Abdul ‘Aziz bin Rufai’ (130 H), Al-A’masy (148 H), Isma’il bin Abi Kholid (146 H), beserta beberapa orang lainnya. Beliau adalah seorang yang tsiqoh dan memiliki banyak ilmu. Tidak perlu menganggap penting perkataan Al-Fasawi (277 H) yang mencela diri beliau, karena sesungguhnya para pemilik kitab-kitab shohih (Arbabus Shohih) telah berhujjah dengan riwayat-riwayat beliau. Beliau wafat mendekati tahun 84 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

36. Al-Ma’rur bin Suwaid (84 H)

[59] (36) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Al-Ma’rur bin Suwaid, Abu Umayyah Al-Asadi Al-Kufi. Beliau termasuk di antara jajaran rowi yang tsiqoh yang dikaruniai usia yang panjang, yang mana beliau hidup hingga mencapai usia 120 tahun.

 

Beliau menyampaikan Hadits dari Umar (23 H), Abu Dzar (32 H), dan Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhum.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah ‘Asim bin Bahdalah (127 H), Al-A’masy (148 H), Washil Al-Ahdab (120 H), serta Al-Mughiroh Al-Yasykuri.

Yahya bin Ma’in (233 H) telah menilai beliau tsiqoh, semoga Alloh merohmati mereka semua.

 

37. Murroh At-Thoyyib (90 H)

[60] (37) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Murroh At-Thoyyib, dan dikatakan pula tentangnya Murroh Al-Khoir. Beliau adalah Murroh bin Syurohbil Al-Hamdani Al-Kufi, seorang ahli tafsir lagi ahli ibadah.

Beliau meriwayatkan dari Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), Abu Dzar (32 H), Ibnu Mas’ud (32 H), dan Abu Musa (44 H).

Adapun orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Aslam Al-Kufi, Isma’il As-Suddi (127 H), Zubaid Al-Yami (122 H), ‘Atho bin As-Sa’ib (136 H), Isma’il bin Abi Kholid (146 H), Hushoin bin Abdurrohman (136 H), serta orang banyak lainnya.

Yahya bin Ma’in (233 H) telah menilai beliau tsiqoh (terpercaya). Dikatakan tentang diri beliau bahwasanya beliau senantiasa bersujud hingga tanah mengikis (membekas pada) jidat kepalanya. Beliau adalah seorang yang sangat memahami ilmu tafsir Al-Qur’an, wafat di sekitar tahun 90 Hijriyyah, dan beliau termasuk golongan Mukhodhrom (hidup di zaman dua masa).

 

38. Malik bin Aus (92 H)

[61] (38) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Malik bin Aus bin Al-Hadatsan, Abu Sa’id An-Nashri Al-Madani. Beliau adalah seorang Mukhodhrom yang pernah melihat Ash-Shiddiq (13 H), dan ada yang berpendapat bahwasanya beliau memiliki status persahabatan dengan Nabi (Shohabat). Beliau meriwayatkan Hadits dari Umar (23 H), Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), Tholhah (36 H), beserta sejumlah orang lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Ibnu Al-Munkadir (131 H), ‘Ikrimah bin Kholid, Az-Zuhri (124 H), serta sekelompok ulama lainnya. Beliau termasuk di antara jajaran ulama yang sangat kokoh riwayatnya (itsbat), serta termasuk orang Arob yang paling fasih yang dikenal dengan keahlian balaghoh (sastra) dan bayan (retorika penjelasannya). Beliau ikut menyaksikan peristiwa penaklukan kota Baitul Maqdis, dan wafat pada tahun 92 Hijriyyah.

 

39. Abu ‘Amru Asy-Syaibani (98 H)

[62] (39) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abu ‘Amru Asy-Syaibani, dari bani Syaiban bin Tsa’labah bin ‘Ukabah, yang mana nama aslinya adalah Sa’ad bin Iyas Al-Kufi. Beliau pernah berkata: “Nabi Rosululloh diutus menjadi Nabi sedangkan aku pada saat itu sedang menggembalakan unta di daerah Kazhimah.”

Dan beliau juga berkata: “Aku pada saat terjadinya peristiwa perang Qodisiyyah (15 H) merupakan seorang lelaki yang telah berusia 40 tahun.”

Beliau menyampaikan Hadits dari ‘Ali (40 H), Ibnu Mas’ud (32 H), dan Hudzaifah (36 H).

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Manshur (132 H), Al-A’masy (148 H), Ibnu Abi Kholid (146 H), Sulaiman At-Taimi (143 H), Al-Walid bin Al-‘Aizar, ‘Amru bin Abdulloh Abu Mu’awiyah An-Nakho’i, beserta sejumlah orang lainnya. Beliau dikaruniai usia yang panjang hingga mencapai 120 tahun.

‘Asim (127 H) berkata: “Dahulu Abu ‘Amru Asy-Syaibani senantiasa membacakan Al-Qur’an di Masjid Al-A’zhom, lalu aku membaca Al-Qur’an di hadapannya, kemudian pada suatu hari aku bertanya kepada beliau mengenai sebuah ayat, namun beliau justru menuduhku telah condong pada pemikiran hawa nafsu (bid’ah).”

Aku (penulis) berkata: Beliau wafat pada tahun 98 Hijriyyah.

 

40. Ibnu Muhairiz (99 H)

[63] (40) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abdulloh bin Muhairiz bin Junadah bin Wahb Al-Qurosyi Al-Jumahi, Abu Muhairiz Al-Makki. Beliau adalah salah seorang tokoh terkemuka yang kemudian tinggal menetap di kota Baitul Maqdis.

Beliau menyampaikan Hadits dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit (34 H), Abu Mahdzuroh sang Muadzin (59 H), Mu’awiyah (60 H), dan Abu Sa’id (74 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sekelompok ulama lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Mak-hul (112 H), Az-Zuhri (124 H), Roja bin Haiwah (112 H), serta Ibrohim bin Abi ‘Ablah (152 H).

Beliau adalah seorang yang memiliki keutamaan serta keagungan yang sangat besar, hingga sampai-sampai Roja bin Haiwah (112 H) pernah berkata: “Jika penduduk kota Madinah membanggakan diri di hadapan kami dengan ahli ibadah mereka yaitu Ibnu Umar (73 H), maka sesungguhnya kami juga membanggakan diri di hadapan mereka dengan ahli ibadah kami yaitu Ibnu Muhairiz. Demi Alloh, sungguh aku dahulu senantiasa menganggap bahwa keberadaan hidup beliau merupakan sebuah jaminan keamanan bagi seluruh penduduk bumi.”

Diriwayatkan dari Al-Auza’i (157 H), beliau berkata: “Barang siapa yang ingin mengambil keteladanan, maka hendaklah ia mengambil keteladanan dari orang yang semisal dengan Ibnu Muhairiz.”

Ibnu Muhairiz terus hidup hingga mendapati masa kekuasaan Kholifah Sulaiman bin Abdul Malik (99 H), dan kemungkinan besar beliau wafat pada tahun 99 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.

 

41. Abu Rofi’ Ash-Sho’igh (93 H)

[64] (41) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Abu Rofi’ Ash-Sho’igh Nufa’i Al-Madani. Beliau adalah bekas budak (maula) dari keluarga Umar (23 H) rodhiyallahu ‘anhu. Beliau telah mendapati zaman Jahiliyyah, lalu menyampaikan Hadits dari Ubay bin Ka’ab (30 H), Umar bin Al-Khoththob (23 H), Abu Musa (44 H), Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhum, serta Ka’ab Al-Ahbar (34 H), beserta beberapa orang lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Al-Hasan (Al-Bashri) (110 H), Tsabit Al-Bunani (127 H), ‘Atho bin Maimunah, Qotadah (117 H), serta ‘Ali bin Zaid bin Jud’an (131 H). Ahmad Al-’Ijli (261 H) dan ulama lainnya telah menilai beliau tsiqoh.

Beliau telah meriwayatkan sejumlah besar Hadits yang sholih (baik), dan waktu kematian beliau berdekatan dengan waktu wafatnya Sahabat Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu.

 

42. Rib’i bin Hirosy (101 H)

[65] (42) (Diriwayatkan oleh seluruh Jama’ah)

Rib’i bin Hirosy Al-Ghothofani Al-‘Absi Al-Kufi, seorang yang berilmu lagi mengamalkan ilmunya. Beliau pernah mendengar riwayat dari Umar (23 H) dan beliau sempat bersama dengan Umar di daerah Al-Jabiyah, serta mendengar dari ‘Ali (40 H), Hudzaifah (36 H), Abu Musa (44 H), beserta sekelompok ulama lainnya.

Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Manshur (132 H), Abdul Malik bin ‘Umair (136 H), Abu Malik Al-Asyja’i, beserta selain mereka. Telah ada riwayat yang menyebutkan bahwasanya beliau tidak pernah berbohong sama sekali di dalam hidupnya. Beliau juga telah bersumpah atas dirinya sendiri bahwa beliau tidak akan tertawa sampai beliau mengetahui secara pasti apakah dirinya berada di dalam Jannah ataukah di dalam Naar. Para ulama telah sepakat bulat atas sifat tsiqoh, amanah, serta keabsahan riwayat beliau untuk dijadikan sebagai hujjah. Beliau wafat pada tahun 101 Hijriyyah.

 

Wibawa Generasi Tabiin Senior

Sungguh di dalam kurun abad yang penuh dengan keutamaan ini, terdapat sangat banyak sekali dari kalangan ahli ilmu, para Imam mujtahid, para pahlawan yang gagah berani dalam melakukan Jihad di berbagai belahan negeri, serta para pemimpin ahli ibadah yang bertindak sebagai wali abdal (wali pengganti) maupun wali autad (wali pasak bumi). Dan barangkali di antara orang-orang yang sengaja kami tinggalkan (tidak kami sebutkan namanya di sini) ada yang kedudukannya justru jauh lebih agung dan jauh lebih berilmu.

Pada masa itu, agama Islam tampak sangat dominan, tinggi, lagi jaya, serta telah meliputi permukaan bumi. Wilayah-wilayah bangsa Turki serta wilayah negeri Andalusia (Spanyol) berhasil ditaklukkan setelah berjalannya tahun 90 Hijriyyah, yaitu tepatnya pada masa pemerintahan Kholifah Al-Walid (96 H), yang mana seluruh umat tunduk di bawah perintah-perintah kekuasaannya. Bahkan, sebagian dari gubernur wakilnya, yaitu Al-Hajjaj yang zholim (95 H), memiliki kedudukan kekuasaan laksana kedudukan seorang sultan paling agung yang pernah ada.

Pada zaman tersebut, Masjid Nabi di kota Madinah dibangun kembali dengan bentuk hiasan arsitektur yang paling sempurna, yang mana telah diinfakkan untuk pembangunannya harta dalam jumlah yang sangat melimpah. Demikian pula dibangun Masjid Jami’ Damaskus (Masjid Umawi) dengan menghabiskan biaya materi yang jumlahnya melebihi dari 6.000.000 keping koin emas Dinar, dan pembangunan megah itu terlaksana dengan memanfaatkan kekuatan para pekerja secara maksimal. Harta hasil upeti dan pajak (khoroj) dunia pada masa itu jumlahnya sangat melimpah hingga hampir-hampir tidak dapat terhitung saking banyaknya. Sungguh, Kholifah Umar (23 H) dahulu telah menetapkan aturan wajib Jizyah (upeti perlindungan) atas penduduk kaum Qibthi (Mesir) dalam setiap tahunnya sebesar 12.000.000 keping Dinar. Maka, bagaimanakah kira-kira gambaran besarnya jumlah Jizyah yang ditarik dari bangsa Romawi, dan bagaimanakah pula besarnya jumlah Jizyah yang ditarik dari bangsa Persi?

Sungguh, kala itu seorang Kholifah dari dinasti bani Umayyah jika ia berkehendak untuk mengirimkan pasukan-pasukan militernya hingga mencapai ujung negeri Cina, niscaya ia pasti akan mampu melakukannya dikarenakan saking melimpahnya jumlah bala tentara militer serta banyaknya persediaan harta yang dimiliki.

Inilah kholifah Sulaiman (99 H) ketika ia memegang tampuk kepemimpinan, beliau benar-benar telah mengerahkan bala tentara pasukannya baik di jalur darat maupun di jalur laut menuju ke kota Konstantinopel (Istanbul), lalu mereka mengepung kota tersebut selama kurang lebih 20 bulan lamanya. Di tengah masa pengepungan itu, kaum Muslimin sempat mengalami musibah berupa tingginya lonjakan harga barang (inflasi) serta bencana kelaparan yang hebat disebabkan karena saking jauhnya jarak tempat tinggal mereka dari pusat logistik. Akan tetapi, telah sampai sebuah informasi kepada kami bahwasanya di tempat peristirahatan markas pasukan beliau, terdapat tumpukan biji gandum dalam jumlah yang sangat besar laksana sebuah gunung yang tinggi, yang sengaja dijadikan sebagai barang simpanan cadangan bagi para prajurit sekaligus sebagai sarana untuk membuat gentar (marah) bangsa Romawi. Maka ketika tampuk kekhilafahan beralih dipegang oleh Umar bin Abdul ‘Aziz (101 H), beliau segera memberikan izin bagi seluruh pasukan untuk menarik diri dan bergegas pulang meninggalkan kota tersebut, serta beliau melakukan kesepakatan perdamaian dengan penduduknya, hingga akhirnya mereka pun tunduk patuh kepada beliau, semoga Alloh Ta’ala senantiasa meridhoinya.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini