[PDF] 42 Hafizh dari Para Tabi'in Senior - Adz-Dzahabi (748 H)
Muqoddimah Pentarjamah
﷽
Segala puji
bagi Alloh Robb semesta alam, sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah
kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, serta para
Shohabatnya.
Amma
ba’du:
Sungguh,
sejarah kehidupan para ulama terdahulu merupakan teladan nyata dalam menjaga
kemurnian ajaran Islam. Di antara generasi terbaik setelah para Shohabat adalah
generasi Tabi’in. Memahami riwayat hidup, kegigihan dalam menuntut ilmu,
serta kesungguhan ibadah mereka menjadi suatu urgensi yang sangat besar bagi
umat Islam saat ini, agar tidak kehilangan arah dalam beragama dan mampu
mencontoh serta mengambil keteladanan yang murni dari para Salafush Sholih.
Buku
ringkas ini menyajikan mutiara sejarah yang diambil secara amanah dari kitab
terkemuka, yaitu Tadzkirotul Huffazh karya Imam Adz-Dzahabi (748 H),
khususnya pada bagian yang mengulas tentang jajaran para Tabi’in Senior (al-thobaqoh
ats-tsaniyah). Di dalam bagian ini, terdapat 42 tokoh Imam pembawa petunjuk
yang memiliki kontribusi besar dalam periwayatan Hadits dan Fiqih Islam.
Berikut
adalah daftar nama panggilan terkenal dari 42 tokoh Tabi’in Senior tersebut
beserta tahun wafatnya secara ringkas:
1)
‘Alqomah (62 H)
2)
Al-Khoulani (62 H)
3)
Masruq (63 H)
4)
‘Ubaidah (72 H)
5)
‘Ubaid (74 H)
6)
Al-Aswad (75 H)
7)
Ghonm (78 H)
8)
Katsir (74 H)
9)
Jubair (80 H)
10) Ka’ab (34 H)
11) Aslam (80 H)
12) ‘Alqomah (80 H)
13) Suwaid (81 H)
14) Hajimah (81 H)
15) Sa’id (94 H)
16) ‘Aidzulloh (80
H)
17) Zirr (82 H)
18) Ar-Robi’ (61 H)
19) Abdurrohman (82
H)
20) As-Sulami (73
H)
21) Syuroih (78 H)
22) Syuroih (78 H)
23) Syaqiq (82 H)
24) Qobishoh (86 H)
25) Shofwan (74 H)
26) Qois (97 H)
27) Rufai’ (93 H)
28) ‘Urwah (94 H)
29) Salamah (94 H)
30) Abu Bakr (94 H)
31) Muthorrif (95
H)
32) ‘Amru (75 H)
33) An-Nahdi (100
H)
34) ‘Imron (107 H)
35) Zaid (84 H)
36) Al-Ma’rur (84
H)
37) Murroh (90 H)
38) Malik (92 H)
39) Sa’ad (98 H)
40) Ibnu Muhairiz
(99 H)
41) Nufa’i (93 H)
42) Rib’i (101 H)
Judul pada tiap subbab berasal dari
pentarjamah. Begitu pula tahun wafat.
Nor Kandir
Imam Adz-Dzahabi
(748 H) berkata: Berikut para Tabiin Senior:
1. ‘Alqomah (62 H)
[24] (1) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
‘Alqomah bin Qois bin Abdulloh, ahli Fiqih
negeri Irak, seorang Imam, Abu Syibl An-Nakho’i Al-Kufi. Beliau adalah paman
dari jalur ibu bagi Ibrohim An-Nakho’i, dan paman dari jalur ayah bagi Al-Aswad.
Beliau dilahirkan pada masa hidup Rosululloh ﷺ,
mendapati zaman Jahiliyyah, serta mendengar riwayat dari ‘Umar (23 H), ‘Utsman
(35 H), Ibnu Mas’ud (32 H), ‘Ali (40 H), dan Abu Ad-Darda (32 H).
Beliau
memperbagus bacaan Al-Qur’an di hadapan Ibnu Mas’ud (32 H) dan mendalami Fiqih
bersamanya, serta termasuk sahabat Ibnu Mas’ud yang paling mulia. Abdurrohman
bin Yazid (83 H) berkata bahwa Ibnu Mas’ud (32 H) pernah berkata:
«مَا
أَقْرَأُ شَيْئًا وَمَا أَعْلَمُ شَيْئًا إِلَّا وَعَلْقَمَةُ يَقْرَؤُهُ وَيَعْلَمُهُ»
“Tidaklah
aku membaca sesuatu dan tidaklah aku mengetahui sesuatu, melainkan ‘Alqomah
juga membaca dan mengetahuinya.”
Qobus bin
Abi Zhobyan (130 H) berkata, “Aku bertanya kepada ayahku: Mengapa Anda
meninggalkan para Shohabat (rodhiyallahu ‘anhu) dan justru mendatangi ‘Alqomah?”
Beliau
menjawab:
«أَدْرَكْتُ
نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ
وَهُمْ يَسْأَلُونَ عَلْقَمَةَ وَيَسْتَفْتُونَهُ»
“Aku
mendapati sejumlah orang dari kalangan Shohabat Rosululloh ﷺ, yang mereka itu justru bertanya dan meminta fatwa kepada ‘Alqomah.”
Aku
(penulis) berkata: Beliau adalah seorang ahli Fiqih, Imam yang mumpuni, memiliki
suara yang indah saat membaca Al-Qur’an, kokoh ingatan dan kepercayaannya dalam
apa yang ia nukilkan, serta seorang pelaku kebaikan dan memiliki sifat warok
(berhati-hati dari syubhat). Beliau menyerupai Ibnu Mas’ud (32 H) dalam hal
petunjuk, sikap, perangai, dan keutamaannya. Kondisi fisik beliau pincang.
Tokoh yang
mengambil ilmu dari beliau di antaranya adalah Ibrohim (96 H), Ibrohim bin
Suwaid An-Nakho’i, Abu Adh-Dhuha Muslim bin Shubaih (100 H), Asy-Sya’bi (103
H), Al-Qosim bin Mukhoimiroh (100 H), Yahya bin Watstsab (103 H), serta
sekelompok ulama lainnya.
Beliau
wafat pada tahun 62 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
Catatan
faedah: Sesungguhnya aku (Adz-Dzahabi) sengaja memperlambat diri (tidak
terburu-buru) dalam melakukan takhrij Hadits pada biografi ‘Alqomah serta
banyak tokoh generasi terdahulu lainnya, dikarenakan telah masyhurnya
riwayat-riwayat mereka di dalam Kitab yang Enam (Kutubus Sittah), dan aku
memendekkan biografi mereka agar kitab ini tidak menjadi terlalu panjang. Hanya
Alloh yang memberikan taufiq menuju kebenaran, dan kitab-kitab induk aslinya
tetap terjaga.
2. Abu Muslim Al-Khoulani (62 H)
[25] (2) 2
M (Diriwayatkan oleh Muslim)
Abu Muslim
Al-Khoulani, seorang ahli Fiqih, ahli ibadah, zahid, dan laksana bunga
wewangian negeri Syam. Beliau adalah orang yang pernah dilemparkan oleh
Al-Aswad Al-Ansi (11 H) ke dalam kobaran api, namun beliau selamat darinya.
Kisah tersebut dituturkan oleh Syurohbil bin Muslim (120 H).
Beliau berhijroh
pada masa kekhilafahan Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu, dan
meriwayatkan dari Umar (23 H), Mu’adz (18 H), Abu ‘Ubaidah (18 H), serta para
tokoh senior. Orang yang meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah
Abu Idris Al-Khoulani (80 H), Abu Al-‘Aliyah Ar-Riyahi (93 H), Jubair bin
Nufair (80 H), ‘Atho (114 H), Abu Qilabah (104 H), beserta sekelompok ulama
lainnya. Ibnu Ma’in (233 H) dan ulama lainnya telah menilai beliau tsiqoh
(terpercaya).
Beliau
memiliki banyak keutamaan dan karomah. Dahulu senantiasa dikatakan tentangnya:
Beliau adalah hakimnya (orang bijak) umat ini, semoga Alloh merohmatinya.
Beliau
wafat mendekati tahun 62 Hijriyyah. Ibnu Sa’ad (230 H) dan ulama lainnya
menyatakan bahwa beliau wafat pada masa pemerintahan Yazid (64 H).
3. Masruq (63)
[26] (3) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Masruq bin
Al-Ajda’ , seorang Imam, Abu ‘Aisyah Al-Hamdani Al-Kufi Al-Faqih. Beliau
merupakan salah satu tokoh terkemuka. Ayahnya dahulu adalah penunggang kuda
cekatan bagi penduduk Yaman pada zamannya. Masruq sendiri adalah anak laki-laki
dari saudara perempuan sang pahlawan yang menyerang dengan gagah berani, yaitu ‘Amru
bin Ma’di Karib (21 H). Beliau mengambil ilmu dari Umar (23 H), ‘Ali (40 H), Mu’adz
(18 H), Ibnu Mas’ud (32 H), dan Ubay (30 H). Adapun orang yang meriwayatkan
dari beliau adalah Ibrohim (96 H), Asy-Sya’bi (103 H), Abu Adh-Dhuha (100 H),
Abu Ishaq (127 H), serta orang banyak lainnya.
Diriwayatkan
dari Asy-Sya’bi (103 H) bahwasanya ‘Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha
telah mengangkat Masruq sebagai anaknya. Diriwayatkan pula dari Asy-Sya’bi (103
H), beliau berkata,
«مَا عَلِمْتُ أَحَدًا كَانَ أَطْلَبَ لِلْعِلْمِ مِنْهُ»
“Aku
tidak mengetahui seorang pun yang lebih gigih dalam mencari ilmu daripada
Masruq.”
Beliau juga
lebih mengetahui tentang fatwa daripada Syuroih (78 H), dan dahulu Syuroih
sering meminta saran kepadanya. Sementara itu, Masruq sendiri tidak membutuhkan
bantuan Syuroih.
Abu Ishaq
(127 H) berkata, “Masruq melaksanakan ibadah Haji, maka selama perjalanan
hingga kembali, beliau tidak tidur melainkan dalam keadaan bersujud.”
Diriwayatkan
dari istri Masruq bahwasanya Masruq dahulu senantiasa mengerjakan Sholat hingga
kedua telapak kakinya mengalami bengkak.
Ibnu
Al-Madini (234 H) berkata, “Aku tidak mendahulukan seorang pun di atas Masruq
di antara para sahabat Abdulloh (Ibnu Mas’ud).”
Beliau
benar-benar telah melaksanakan Sholat di belakang Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu
‘anhu.
Masruq
wafat pada tahun 63 Hijriyyah, semoga rohmat Alloh senantiasa tercurah
kepadanya.
4. ‘Ubaidah (72 H)
[27] (4) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
‘Ubaidah
bin ‘Amru As-Salmani Al-Murodi Al-Kufi, seorang ahli Fiqih dan tokoh terkemuka.
Beliau hampir saja menjadi seorang Shohabat Nabi. Beliau memeluk Islam pada
masa penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) di negeri Yaman, dan mengambil ilmu
dari ‘Ali (40 H) serta Ibnu Mas’ud (32 H).
Asy-Sya’bi
(103 H) berkata, “Beliau dahulu kedudukannya sepadan dengan Syuroih dalam
urusan peradilan.”
Al-‘Ijli
(261 H) berkata, “‘Ubaidah merupakan salah satu dari sahabat Abdulloh (Ibnu Mas’ud)
yang mengajarkan bacaan Al-Qur’an dan memberikan fatwa kepada manusia.”
Ibnu Sirin
(110 H) berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang lelaki yang lebih bersikap
hati-hati (dalam berfatwa dan menjaga diri) daripada ‘Ubaidah.” Dan Ibnu Sirin
adalah orang yang banyak meriwayatkan dari beliau.
Nisbat
As-Salmani yang disandangkan kepada ‘Ubaidah merujuk kepada Salman bin Najiyah
bin Murod.
Orang yang
meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah Ibnu Sirin (110 H), Asy-Sya’bi
(103 H), An-Nakho’i (96 H), As-Sabi’i (127 H), Abdulloh bin Salamah, Muslim bin
Hassan Al-A’roj, beserta ulama lainnya. Menurut pendapat yang shohih, beliau
wafat pada tahun 72 Hijriyyah.
5. ‘Ubaid (74 H)
[28] (5) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
‘Ubaid bin ‘Umair
bin Qotadah Al-Laitsi, Abu ‘Asim Al-Makki. Beliau meriwayatkan dari Umar (23
H), Abu Dzar (32 H), ‘Ali (40 H), ‘Aisyah (58 H), serta beberapa orang lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah ‘Atho (114 H), Ibnu Abi Mulaikah
(117 H), ‘Amru bin Dinar (126 H), Abu Az-Zubair (128 H), Abdul ‘Aziz bin Rufai’
(130 H), serta sekelompok ulama lainnya.
Beliau
adalah seorang yang berilmu, pemberi nasihat, dan memiliki kedudukan yang
agung. Beliau wafat bersamaan dengan tahun wafatnya Ibnu Umar (73 H), bahkan
sebelum beliau (nampaknya salah kata, seharusnya setelahnya), yaitu pada tahun
74 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
6. Al-Aswad (75 H)
[29] (6) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Al-Aswad
bin Yazid bin Qois, seorang Imam, Abu ‘Amru An-Nakho’i, ahli Fiqih, zahid, dan
ahli ibadah. Beliau adalah ulama negeri Kufah, keponakan dari ulama Kufah yaitu
‘Alqomah (62 H), paman dari jalur ibu bagi Ibrohim An-Nakho’i sang ahli Fiqih
(96 H), serta saudara kandung dari Abdurrohman bin Yazid (83 H).
Beliau
mengambil ilmu dari Mu’adz (18 H), Ibnu Mas’ud (32 H), Hudzaifah (36 H), Bilal
(20 H), serta para tokoh senior.
Anak beliau
yang bernama Abdurrohman (93 H), Ibrohim (96 H), Abu Ishaq As-Sabi’i (127 H),
serta beberapa orang lainnya meriwayatkan Hadits dari beliau. Beliau memiliki
kedudukan yang agung dalam hal ibadah dan pelaksanaan ibadah Haji.
Ibnu ‘Ulayyah
(193 H) meriwayatkan dari Maimun Abu Hamzah, beliau berkata bahwa Al-Aswad bin
Yazid telah melakukan perjalanan sebanyak 80 kali ibadah Haji dan Umroh tanpa
pernah menggabungkan keduanya (selalu melaksanakannya secara terpisah), dan hal
serupa juga dilakukan oleh anak beliau. An-Nadhr bin Isma’il (182 H)
meriwayatkan dari seseorang yang mengabarkannya, ia berkata bahwa dahulu
Abdurrohman bin Al-Aswad (93 H) senantiasa mengerjakan Sholat sebanyak 700
rokaat setiap harinya, dan mereka (keluarga beliau) mengatakan bahwa
Abdurrohman adalah orang yang paling sedikit tingkat kesungguhan ibadahnya di
antara anggota keluarga yang lain. Mereka dahulu senantiasa menjuluki Al-Aswad
sebagai bagian dari penduduk Jannah. Beliau wafat pada tahun 75 Hijriyyah atau
mendekati tahun tersebut, semoga rohmat Alloh senantiasa tercurah kepadanya.
7. Ibnu Ghonm (78 H)
[30] (7) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abdurrohman
bin Ghonm Al-Asy’ari, seorang ahli Fiqih. Beliau adalah guru besar bagi
penduduk Palestina sekaligus ahli Fiqih negeri Syam.
Beliau
meriwayatkan dari Umar (23 H), Mu’adz bin Jabal (18 H), dan sejumlah orang.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Abu Sallam Mamthur, Roja bin
Haiwah (112 H), Mak-hul (112 H), Isma’il bin Abdulloh, serta sekelompok ulama
lainnya.
Umar (23 H)
pernah mengutus beliau ke negeri Syam untuk mengajarkan Fiqih kepada manusia.
Beliau dilahirkan pada masa hidup Nabi ﷺ,
dan ayahnya yang bernama Ghonm berstatus sebagai Shohabat, serta ada yang
berpendapat bahwa Abdurrohman sendiri pernah melihat Nabi ﷺ.
Abu Mushir
Al-Ghossani (218 H) berkata: “Beliau adalah pemimpin para Tabi’in.” Dan ada
pula yang berpendapat: “Beliau adalah orang yang menjadi tempat bernaung para
Tabi’in di negeri Syam dalam mendalami Fiqih.”
Beliau
memiliki kedudukan yang agung, jujur, lagi utama.
Beliau
wafat bersamaan dengan tahun wafatnya Jabir bin Abdilloh (78 H) rodhiyallahu
‘anhuma pada tahun 78 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
8. Katsir bin Murroh (78 H)
[31] (8)
(Diriwayatkan oleh Muslim dan Jama’ah)
Katsir bin
Murroh Al-Hadhromi Al-Himshi, seorang ahli Fiqih dan ulama bagi penduduk Himsh.
Beliau adalah seorang Imam, orang yang berilmu, dan sangat gigih dalam mencari
ilmu. Beliau telah mendapati 70 orang Shohabat yang ikut serta dalam perang
Badar.
Beliau
meriwayatkan Hadits dari Mu’adz (18 H), Abu Ad-Darda (32 H), ‘Ubadah bin
Ash-Shomit (34 H), beserta generasi mereka. Orang yang meriwayatkan dari beliau
di antaranya adalah Abu Az-Zohiriyyah, Kholid bin Ma’dan (103 H), Mak-hul (112
H), Sulaim bin ‘Amir, Abdurrohman bin Jubair, serta beberapa orang lainnya.
An-Nasa’i (303 H) berkata: “Beliau tidak mengapa (Haditsnya terpercaya/bisa
diterima),” semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
9. Jubair bin Nufair (80 H)
[32] (9)
(Diriwayatkan oleh Muslim dan Jama’ah)
Jubair bin
Nufair Al-Hadhromi Al-Himshi. Beliau dilahirkan pada masa hidup Nabi ﷺ dan meriwayatkan Hadits dari Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), Abu
Dzar (32 H), Abu Ad-Darda (32 H), serta sejumlah orang lainnya. Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah anaknya sendiri yang bernama
Abdurrohman bin Jubair, Kholid bin Ma’dan (103 H), Mak-hul (112 H), Sulaim bin ‘Amir,
serta ulama-ulama lainnya. Beliau termasuk di antara ulama yang paling agung. Hadits
beliau diriwayatkan dalam seluruh kitab induk Hadits kecuali Shohih Al-Bukhori.
Hal tersebut bukan dikarenakan adanya kelemahan dalam diri beliau, melainkan
karena beliau terkadang melakukan mudalasan (menyembunyikan nama guru)
dari para Shohabat senior, sedangkan Imam Al-Bukhori (256 H) tidak merasa puas
kecuali jika sang guru menegaskan secara langsung tentang pertemuan dengan
orang yang ia riwayatkan. Beliau wafat pada tahun 80 Hijriyyah.
10. Ka’ab Al-Ahbar (34 H)
[33] (10) (Diriwayatkan
oleh Al-Bukhori dalam Juz-nya, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i)
Ka’ab
Al-Ahbar. Beliau adalah Ka’ab bin Mati’ Al-Himyari, termasuk wadah ilmu dan di
antara ulama besar dari kalangan ahli kitab. Beliau memeluk Islam pada masa
pemerintahan Abu Bakr (13 H) dan datang dari negeri Yaman pada masa kekuasaan
Amirul Mu’minin Umar (23 H), sehingga para Shohabat dan yang lainnya mengambil
ilmu dari beliau. Beliau sendiri mengambil ilmu dari Al-Kitab dan As-Sunnah
melalui para Shohabat. Beliau wafat pada masa kekhilafahan Utsman (35 H).
Sekelompok ulama dari kalangan Tabi’in meriwayatkan dari beliau secara mursal
(terputus sanadnya), dan beliau memiliki sedikit riwayat di dalam Shohih
Al-Bukhori serta kitab lainnya.
11. Aslam (80 H)
[34] (11) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Aslam Abu
Zaid Al-‘Adawi. Beliau menerima riwayat dari tuannya yaitu Umar bin
Al-Khoththob (23 H), Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H), Mu’adz (18 H), Abu ‘Ubaidah
(18 H), serta selain mereka dari kalangan ulama besar Tabi’in. Beliau adalah
seorang berkebangsaan Habsyi yang dibeli oleh Umar (23 H) pada tahun 11
Hijriyyah ketika beliau melaksanakan ibadah Haji, dan ada pula yang berpendapat
bahwa beliau termasuk tawanan perang dari daerah ‘Ainut Tamar.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah anaknya sendiri yang bernama Zaid
bin Aslam (136 H), Nafi’ (117 H), dan Salam bin Jundub. Beliau wafat pada tahun
80 Hijriyyah di kota Madinah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
12. Alqomah bin Waqqosh Al-Laitsi
(80 H)
[35] (12) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
‘Alqomah
bin Waqqosh Al-Laitsi Al-‘Atwari Al-Madani. Beliau adalah seorang yang tsiqoh
(terpercaya) lagi mulia. Beliau menyampaikan Hadits dari Umar (23 H), ‘Aisyah
(58 H), dan Ibnu ‘Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhum.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah kedua anak lakis-lakinya yang
bernama ‘Amru dan Abdulloh, Az-Zuhri (124 H), Muhammad bin Ibrohim At-Taimi
(120 H), serta Ibnu Abi Mulaikah At-Taimi (117 H).
Ibnu Sa’ad
(230 H) telah menilai beliau tsiqoh.
Beliau
wafat setelah tahun 80 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
13. Suwaid (81 H)
[36] (13) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Suwaid bin
Goflah An-Nakho’i Al-Kufi, seorang yang dikaruniai usia panjang. Beliau
dilahirkan pada tahun Gajah atau 2 tahun setelahnya. Beliau memeluk Islam
ketika sudah berusia lanjut, lalu beliau datang ke kota Madinah bertepatan saat
orang-orang baru saja selesai dari prosesi pemakaman Nabi Al-Musthofa ﷺ. Beliau ikut menyaksikan perang Yarmuk, serta meriwayatkan Hadits
dari Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), ‘Ali (40 H), Ubay (30 H) rodhiyallahu ‘anhum,
beserta sekelompok ulama lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Ibrohim An-Nakho’i (96 H), Salamah
bin Kuhail (121 H), ‘Abdah bin Abi Lubabah, serta ulama lainnya.
Beliau
adalah seorang yang tsiqoh, mulia, ahli ibadah, zahid, merasa cukup
dengan perkara yang sedikit, serta memiliki kedudukan yang agung, semoga Alloh
merohmatinya. Beliau diberi nama kunyah An-Niyyah, dan wafat pada tahun 81
Hijriyyah.
14. Ummu Ad-Darda (81 H)
[37] (14) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Ummu
Ad-Darda Hajimah Al-Wusyabiyyah Al-Himyariyyah, istri dari Abu Ad-Darda (32 H).
Beliau adalah seorang wanita yang ahli Fiqih, berilmu, ahli ibadah, berparas
elok, cantik, luas ilmunya, serta sempurna akalnya.
Beliau
banyak meriwayatkan dari Abu Ad-Darda (32 H), Salman (32 H), dan ‘Aisy (58 H) rodhiyallahu
‘anhum. Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Mak-hul
(112 H), Salim bin Abi Al-Ja’d (100 H), Zaid bin Aslam (136 H), Isma’il bin
Abdulloh, Abu Hazim Al-Madani (140 H), ‘Atho Al-Kaikhoroni, beserta beberapa
orang lainnya. Beliau melaksanakan ibadah Haji pada tahun 81 Hijriyyah. Mu’awiyah
(60 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah meminang beliau, namun beliau
menolaknya, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
15. Sa’id bin Al-Musayyib (94 H)
[38] (15) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Sa’id bin
Al-Musayyib, seorang Imam, Syaikhul Islam, ahli Fiqih kota Madinah, Abu
Muhammad Al-Makhzumi. Beliau merupakan Tabi’in yang paling agung. Beliau
dilahirkan setelah berjalannya 2 tahun dari masa kekhilafahan Umar (23 H).
Beliau sempat mendengar sesuatu dari Umar (23 H) secara langsung ketika Umar
sedang berkhutbah, serta mendengar riwayat dari Utsman (35 H), Zaid bin Tsabit
(45 H), ‘Aisyah (58 H), Sa’ad (55 H), Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhum,
dan orang banyak lainnya.
Beliau
memiliki keluasan ilmu, kehormatan yang melimpah, keteguhan dalam beragama,
senantiasa menyuarakan kebenaran, serta memiliki jiwa seorang ahli Fiqih yang
mendalam.
Usamah bin
Zaid (153 H) meriwayatkan dari Nafi’ (117 H) bahwasanya Ibnu Umar (73 H) pernah
berkata:
«سَعِيدُ
بْنُ الْمُسَيِّبِ هُوَ وَاللَّهِ أَحَدُ الْمُفْتِينَ»
“Sa’id bin
Al-Musayyib demi Alloh adalah salah seorang pemberi fatwa.”
Ahmad bin
Hanbal (241 H) dan ulama lainnya berkata: “Riwayat-riwayat mursal dari Sa’id
adalah shohih.” Qotadah (117 H) berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang pun
yang lebih berilmu daripada Sa’id bin Al-Musayyib.” Hal senada juga diucapkan
oleh Az-Zuhri (124 H), Mak-hul (112 H), serta tidak hanya satu orang saja, dan
mereka semua benar.
‘Ali bin
Al-Madini (234 H) berkata: “Aku tidak mengetahui di kalangan Tabi’in yang lebih
luas ilmunya daripada Sa’id, beliau menurutku adalah Tabi’in yang paling agung.”
Al-‘Ijli
(261 H) dan ulama lainnya berkata: “Beliau dahulu tidak mau menerima
hadiah-hadiah dari penguasa, dan beliau memiliki uang sebesar 400 Dinar yang
digunakan untuk berniaga minyak dan barang lainnya.”
Sa’ad bin
Ibrohim (127 H) berkata: “Aku mendengar Sa’id bin Al-Musayyib berkata:
«مَا
أَحَدٌ أَعْلَمُ بِقَضَاءٍ قَضَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ
وَسَلَّمَ وَلَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ مِنِّي»
“Tidak ada
seorang pun yang lebih mengetahui tentang suatu keputusan hukum yang diputuskan
oleh Rosululloh ﷺ, begitu pula oleh Abu Bakr
dan Umar, melebihi diriku.”
Al-Waqidi
(207 H) berkata bahwa Hisyam bin Sa’ad (160 H) menceritakan kepadaku, “Aku
mendengar Az-Zuhri (124 H) ditanya mengenai dari mana Sa’id bin Al-Musayyib
memperoleh ilmunya?” Beliau menjawab: “Dari Zaid bin Tsabit, Sa’ad bin Abi
Waqqosh, Ibnu ‘Abbas, dan Ibnu Umar. Beliau juga telah mendengar riwayat dari
Utsman, ‘Ali, dan Shuhaib. Adapun sebagian besar riwayat beliau yang bersambung
sanadnya (musnad) diperoleh dari Abu Huroiroh, yang mana Sa’id adalah menantu
dari Abu Huroiroh sendiri. Dahulu sering dikatakan bahwa tidak ada seorang pun
yang lebih mengetahui tentang keputusan hukum Umar dan Utsman daripada beliau.”
Ma’mar (153
H) meriwayatkan dari Az-Zuhri (124 H) bahwa dahulu Sa’id adalah manusia yang
paling mengetahui tentang keputusan hukum Umar dan Utsman.
Diriwayatkan
dari Qotadah (117 H), beliau berkata: “Dahulu Al-Hasan (Al-Bashri) apabila
mendapati suatu perkara yang musykil (sulit dipahami) baginya, maka
beliau akan menulis surat kepada Sa’id bin Al-Musayyib untuk bertanya.”
Hammad bin
Zaid (179 H) bertanya kepada Yazid bin Hazim (141 H), bahwasanya Ibnu
Al-Musayyib dahulu senantiasa melakukan Puasa secara terus-menerus.
Abdurrohman
bin Harmalah (146 H) berkata, “Aku mendengar Sa’id berkata:
«حَجَجْتُ
أَرْبَعِينَ حَجَّةً»
“Aku telah melaksanakan
ibadah Haji sebanyak 40 kali.”
Yusuf bin
Ya’qub Al-Majisyun (185 H) meriwayatkan dari Al-Muththolib bin As-Sa’ib, ia
berkata: “Dahulu aku pernah duduk bersama Sa’id bin Al-Musayyib di pasar,
tiba-tiba lewatlah seorang utusan milik bani Marwan. Maka Sa’id berkata
kepadanya: ‘Apakah kamu termasuk utusan Bani Marwan?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Sa’id
bertanya lagi: ‘Bagaimana kondisi bani Marwan yang kamu tinggalkan?’ Ia
menjawab: ‘Dalam keadaan baik.’ Sa’id pun berkata: ‘Kamu meninggalkan mereka dalam
keadaan membuat manusia kelaparan namun membuat kenyang anjing-anjing.’
Mendengar hal itu, sang utusan langsung menoleh dengan tajam (marah), maka aku
segera menghampirinya dan senantiasa menenangkannya hingga ia pergi berlalu.
Lalu aku berkata kepada Sa’id: ‘Semoga Alloh mengampuni Anda, mengapa Anda
mempertaruhkan darah Anda sendiri?’ Beliau menjawab: ‘Diamlah wahai orang yang
agak bodoh! Demi Alloh, tidaklah Alloh akan menyerahkan diriku (kepada
kebinasaan) selama aku berpegang teguh pada hak-hak-Nya.”
Diriwayatkan
dari Mak-hul (112 H) melalui jalur periwayatan yang dho’if, bahwasanya ketika
berita kematian Ibnu Al-Musayyib sampai kepadanya, ia berkata: “Sekarang
kedudukan manusia telah menjadi sama (karena telah hilangnya ulama besar
mereka).”
Imam Malik
(179 H) berkata bahwa telah sampai kepadaku informasi bahwasanya Sa’id bin
Al-Musayyib pernah berkata:
«إِنْ
كُنْتُ لَأَسِيرُ الْأَيَّامَ وَاللَّيَالِيَ فِي طَلَبِ الْحَدِيثِ الْوَاحِدِ»
“Sesungguhnya
aku benar-benar melakukan perjalanan selama berhari-hari dan bermalam-malam
hanya demi mencari satu Hadits saja.”
Mush’ab bin
Abdulloh (236 H) berkata bahwa Mush’ab bin ‘Utsman menceritakan kepadaku,
sesungguhnya orang yang memberikan kesaksian untuk membela Sa’id bin
Al-Musayyib ketika Muslim bin ‘Uqbah (64 H) hendak membunuhnya adalah ‘Amru bin
‘Utsman dan Marwan bin Al-Hakam (65 H). Keduanya memberikan kesaksian bahwa Sa’id
adalah orang gila, sehingga Muslim bin ‘Uqbah melepaskan jalannya. Abu Yunus
Al-Qowi berkata: “Aku masuk ke dalam Masjid, tiba-tiba aku mendapati Sa’id bin
Al-Musayyib sedang duduk sendirian. Aku bertanya: ‘Ada apa dengan beliau?’
Orang-orang menjawab: ‘Telah dilarang bagi siapa pun untuk duduk bersamanya.”
Aku
(penulis) berkata: Sungguh aku telah mengkhususkan pembahasan mengenai sejarah
perjalanan hidup Sa’id di dalam sebuah kitab tersendiri. Para ulama telah
berbeda pendapat mengenai tahun wafat beliau ke dalam beberapa pendapat.
Pendapat yang paling kuat adalah pada tahun 94 Hijriyyah, sebagaimana yang
ditarikhkan oleh Al-Haitsam bin ‘Adi (207 H), Sa’id bin ‘Ufair (226 H), Ibnu
Numair (234 H), beserta ulama lainnya. Qotadah (117 H) berpendapat beliau wafat
pada tahun 89 Hijriyyah. Yahya Al-Qoththan (198 H) berpendapat pada tahun 91
Hijriyyah. Dhomroh (202 H) berpendapat pada tahun 91 atau 92 Hijriyyah.
Sedangkan ‘Ali bin Al-Madini (234 H), Ibnu Ma’in (233 H), dan Al-Mada’ini (225
H) berpendapat beliau wafat pada tahun 105 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala
merohmatinya. Al-Hakim (405 H) berkata bahwa mayoritas para Imam Hadits
cenderung memilih pendapat yang terakhir ini.
16. Abu Idris Al-Khoulani (80 H)
[39] (16) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abu Idris
Al-Khoulani, ulama penduduk negeri Syam, ‘Aidzulloh bin Abdulloh Ad-Dimasqi
sang ahli Fiqih. Beliau termasuk salah seorang tokoh yang memadukan secara
sempurna antara ilmu dan amal. Sa’id bin Abdul ‘Aziz (167 H) menyebutkan bahwa
beliau dilahirkan pada tahun terjadinya perang Hunain (8 H).
Beliau
mengambil ilmu dari Mu’adz bin Jabal (18 H). Ibnu Abdil Barr (463 H) berkata
bahwa pendengaran Hadits beliau dari Mu’adz adalah shohih. Beliau juga
meriwayatkan dari Abu Ad-Darda (32 H), Abu Dzar (32 H), Hudzaifah (36 H), ‘Ubadah
bin Ash-Shomit (34 H), ‘Auf bin Malik (73 H), Abu Huroiroh (57 H), serta
sekelompok ulama lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Az-Zuhri (124 H), Mak-hul (112 H),
Robi’ah Al-Qoshir, Yahya bin Yahya Al-Ghossani (135 H), Yunus bin Maisaroh (132
H), serta ulama-ulama lainnya.
Beliau
adalah pemberi nasihat bagi penduduk kota Damaskus, pemisah perkara (penasihat
hukum), sekaligus Hakim (Qodhi) mereka. Abu Dawud (275 H) berkata bahwa Abu
Idris Al-Khoulani telah mendengar langsung dari Abu Ad-Darda (32 H) dan ‘Ubadah
(34 H). Mak-hul (112 H) berkata: “Aku tidak mengetahui ada orang yang lebih
berilmu daripada Abu Idris.” An-Nasa’i (303 H) dan ulama lainnya menilai beliau
tsiqoh (terpercaya). Dituturkan kepada Duhaim (245 H) mengenai diri
beliau dan Jubair bin Nufair (80 H), maka Duhaim berkata: “Abu Idris menurutku
adalah orang yang lebih didahulukan.” Beliau pun mengagungkan serta meninggikan
kedudukan Jubair dikarenakan kekuatan sanad dan Hadits-Hadits yang dimilikinya.
Az-Zuhri
(124 H) berkata: “Abu Idris merupakan bagian dari para ahli Fiqih negeri Syam.”
Sa’id bin
Abdul ‘Aziz (167 H) berkata: “Beliau adalah ulamanya penduduk negeri Syam
setelah wafatnya Abu Ad-Darda (32 H).”
Ibnu Jabir
(154 H) berkata bahwa kholifah Abdul Malik (86 H) pernah memberhentikan Abu
Idris dari tugasnya sebagai pemberi nasihat (kisah), namun tetap menetapkan
beliau dalam jabatan Hakim (Qodhi). Maka Abu Idris berkata: “Mereka telah
memberhentikan aku dari perkara yang aku sukai, dan mereka membiarkan aku tetap
berada dalam perkara yang aku takuti (karena beratnya tanggung jawab
peradilan).”
Sayyar (199
H) dan Ibnu Ma’in (233 H) berkata bahwa beliau wafat pada tahun 80 Hijriyyah,
semoga rohmat Alloh senantiasa tercurah kepadanya.
17. Zirr bin Hubais (82 H)
[40] (17) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Zirr bin
Hubais, seorang Imam yang menjadi teladan, Abu Maryam Al-Asadi Al-Kufi. Beliau
dikaruniai usia hingga mencapai 120 tahun. Beliau menyampaikan Hadits dari Umar
(23 H), Ubay (30 H), Abdulloh (Ibnu Mas’ud) (32 H), ‘Ali (40 H), dan Hudzaifah
(36 H). Orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah ‘Asim bin
Bahdalah (127 H), yang mana ‘Asim membaca Al-Qur’an di hadapan beliau. ‘Asim
memuji beliau seraya berkata: “Zirr termasuk manusia yang paling fasih bahasa Arobnya.”
Dahulu Ibnu Mas’ud (32 H) sering bertanya kepada beliau mengenai kaidah bahasa Arob.
Orang yang juga meriwayatkan dari beliau adalah ‘Abdah bin Abi Lubabah, Ibnu
Abi Kholid (159 H), ‘Adi bin Tsabit (116 H), Abu Ishaq Asy-Syaibani (138 H),
Al-A’masy (148 H), beserta sejumlah orang lainnya. Beliau wafat pada tahun 82
Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
18. Ar-Robi’ bin Khutsaim (61 H)
[41] (18)
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Ar-Robi’
bin Khutsaim, seorang Imam yang menjadi teladan, Abu Yazid Ats-Tsauri Al-Kufi.
Beliau
meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud (32 H), Abu Ayyub An-Anshori (52 H), beserta
sekelompok ulama lainnya, serta dari ‘Amru bin Maimun Al-Audi (74 H).
Adapun
orang yang meriwayatkan dari beliau adalah Asy-Sya’bi (103 H), An-Nakho’i (96
H), Hilal bin Yasaf, Bikr bin Ma’iz, serta ulama-ulama lainnya. Beliau termasuk
tokoh yang wafat pada masa generasi awal.
Ibnu Ma’in
(233 H) berkata: “Orang yang semisal beliau tidak perlu dipertanyakan lagi
kebaikannya.”
Asy-Sya’bi
(103 H) berkata: “Beliau termasuk dari sumber-sumber kejujuran.”
Abdulloh
bin Ar-Robi’ bin Khutsaim meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah bin Abdulloh (82 H),
ia berkata: “Dahulu Ar-Robi’ bin Khutsaim apabila datang mengunjungi Ibnu Mas’ud
(32 H), maka tidak diizinkan bagi seorang pun untuk masuk menemui Ibnu Mas’ud
sampai keduanya menyelesaikan urusan pembicaraan di antara sesama mereka.”
Abdulloh
(Ibnu Mas’ud) (32 H) pernah berkata kepada beliau: “Wahai Abu Yazid, sekiranya
Rosululloh ﷺ melihat dirimu, niscaya beliau benar-benar akan mencintaimu.
Dan tidaklah aku melihat dirimu melainkan aku langsung teringat kepada
orang-orang yang khusyuk lagi tunduk hatinya kepada Alloh.”
Asy-Sya’bi
(103 H) berkata: “Ar-Robi’ bin Khutsaim adalah orang yang paling kuat sifat
waro’-nya (kehati-hatiannya dari syubhat) di antara mereka.”
Ada yang
berpendapat bahwa beliau wafat pada masa kekhilafahan Yazid bin Mu’awiyah (64
H).
19. Abdurrohman bin Abi Laila (82
H)
[42] (19) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abdurrohman
bin Abi Laila, seorang Imam, Abu ‘Isa An-Anshori Al-Kufi sang ahli Fiqih, ayah
dari Hakim (Qodhi) yang bernama Muhammad. Beliau pernah melihat Umar (23 H)
mengusap kedua khuf-nya (sepatu kulit).
Beliau
meriwayatkan dari Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), Ibnu Mas’ud (32 H), Abu Dzar (32
H), beserta sekelompok ulama lainnya.
Beliau
dilahirkan di kota Madinah pada pertengahan masa kekhilafahan Umar (23 H).
Ibnu Sirin
(110 H) berkata:
«جَلَسْتُ إِلَيْهِ وَأَصْحَابُهُ يُعَظِّمُونَهُ كَأَنَّهُ أَمِيرٌ»
“Aku
pernah duduk bersama beliau, sedangkan para sahabatnya sangat mengagungkan
beliau seolah-olah beliau adalah seorang pemimpin.”
Diriwayatkan
dari Abu Hashin (127 H) bahwasanya Al-Hajjaj (95 H) pernah mengangkat Abdurrohman
bin Abi Laila sebagai Hakim (Qodhi), kemudian memberhentikannya, lalu
mencambuknya agar beliau mencela ‘Ali (40 H) rodhiyallahu ‘anhu. Namun
beliau melakukan tauriyah (menggunakan kata yang bermakna ganda untuk
menyembunyikan maksud asli) dan tidak menyatakannya secara terang-terangan.
Kemudian beliau ikut keluar bersama pasukan Ibnu Al-Asy’ats (85 H) dan wafat
tenggelam, semoga Alloh merohmatinya, pada malam peristiwa Dujail tahun 82
Hijriyyah atau 83 Hijriyyah.
20. Abu Abdirrohman As-Sulami (73
H)
[43] (20) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abu Abdirrohman
As-Sulami, ahli qiro’ah kota Kufah sekaligus ulamanya, yaitu Abdulloh bin Habib
bin Robi’ah Al-Kufi. Beliau membaca Al-Qur’an di hadapan Utsman (35 H), ‘Ali
(40 H), dan Ibnu Mas’ud (32 H) serta mendengar riwayat dari mereka semua dan
juga dari Umar (23 H). Beliau memposisikan dirinya untuk mengajarkan bacaan
Al-Qur’an sejak masa kekhilafahan Utsman (35 H) hingga beliau wafat pada tahun
73 Hijriyyah atau setelahnya, yaitu pada masa kepemimpinan Bisyr bin Marwan (75
H) atas wilayah Irak. ‘Asim (127 H) membaca Al-Qur’an di hadapan beliau.
Orang yang
meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah Ibrohim An-Nakho’i (96 H),
Sa’id bin Jubair (95 H), ‘Alqomah bin Martsad (120 H), ‘Atho bin As-Sa’ib (136
H), serta Isma’il bin Abdurrohman As-Suddi (127 H). Beliau adalah seorang yang tsiqoh
(terpercaya) lagi tinggi kedudukannya, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
21. Syuroih Al-Qodhi (78 H)
[44] (21) (Diriwayatkan
oleh Al-Bukhori dan An-Nasa’i)
Syuroih bin
Al-Harits bin Qois, seorang Hakim (Qodhi), Abu Umayyah Al-Kindi Al-Kufi sang
ahli Fiqih. Ada pula yang menyebut namanya Syuroih bin Syurohbil. Beliau
termasuk golongan Mukhodhrom (orang yang mendapati zaman Jahiliyyah dan
masa hidup Nabi ﷺ dalam keadaan memeluk Islam
namun belum pernah melihat Nabi ﷺ).
Umar (23 H) mengangkat beliau sebagai Hakim di wilayah Kufah, kemudian
kepemimpinan dilanjutkan oleh ‘Ali (40 H) dan orang-orang setelahnya. Beliau
menyampaikan Hadits dari Umar (23 H), ‘Ali (40 H), dan Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu
‘anhu.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Asy-Sya’bi (103 H), An-Nakho’i (96
H), Abdul ‘Aziz bin Rufai’ (130 H), Muhammad bin Sirin (110 H), serta
sekelompok ulama lainnya. Beliau meminta untuk diberhentikan dari jabatan
peradilan kepada Al-Hajjaj (95 H) setahun sebelum wafatnya. Beliau dikaruniai
usia hingga mencapai 120 tahun. Yahya bin Ma’in (233 H) telah menilai beliau tsiqoh.
Beliau
adalah seorang ahli Fiqih, penyair yang ulung, lagi cerdas, serta memiliki
selera humor. Beliau wafat pada tahun 78 Hijriyyah, dan ada pula yang
berpendapat pada tahun 80 Hijriyyah.
22. Syuroih bin Hani (78 H)
[45] (22) (Diriwayatkan
oleh Muslim dan empat Imam Sunan)
Syuroih bin
Hani, Abu Al-Miqdam Al-Madzhiji Al-Kufi. Beliau adalah seorang Mukhodhrom
yang memiliki riwayat dari ‘Ali (40 H), ‘Aisyah (58 H), Umar bin Al-Khoththob
(23 H) rodhiyallahu ‘anhum, serta beberapa orang lainnya. Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah kedua anak laki-lakinya yaitu
Muhammad dan Al-Miqdam, Asy-Sya’bi (103 H), Al-Qosim bin Mukhoimiroh (100 H),
Habib bin Abi Tsabit (119 H), serta Yunus bin Abi Ishaq (159 H).
Beliau
termasuk di antara jajaran pemimpin pasukan perang ‘Ali (40 H). Dikatakan bahwa
beliau hidup hingga mencapai usia 120 tahun, dan wafat terbunuh di wilayah
Sijistan pada tahun 78 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
Seluruh Jama’ah periwayat Hadits meriwayatkan tentangnya kecuali Imam
Al-Bukhori (256 H).
23. Abu Wa’il (82 H)
[46] (23) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abu Wa’il
Syaqiq bin Salamah Al-Asadi Al-Kufi, guru besar kota Kufah sekaligus ulamanya.
Beliau adalah seorang Mukhodhrom yang sangat agung, yang meriwayatkan
dari Umar (23 H), Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), Ibnu Mas’ud (32 H), ‘Aisyah (58
H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sejumlah orang lainnya. Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Al-A’masy (148 H), Manshur (132
H), Hushoin (136 H), dan orang banyak selain mereka.
Dikatakan
bahwa beliau telah memeluk Islam pada masa hidup Rosululloh ﷺ. Muhammad bin Fudhail (200 H) meriwayatkan dari ayahnya, dari
Syaqiq, bahwasanya beliau mempelajari Al-Qur’an secara keseluruhan hanya dalam
waktu 2 bulan saja, dan ini menunjukkan tingkat kecerdasan yang berada pada
puncaknya.
Ibrohim
An-Nakho’i (96 H) berkata: “Sesungguhnya aku benar-benar mengira bahwa Abu Wa’il
termasuk orang yang dengan sebab keberadaannya (melalui doa dan keberkahannya),
musibah dan keburukan ditolak dari diri-diri kami.”
‘Asim bin
Bahdalah (127 H) meriwayatkan dari Syaqiq, ia berkata bahwa Utsman lebih aku
cintai daripada ‘Ali.
Diriwayatkan
dari Abu Wa’il, ia berkata: “Telah datang kepadaku petugas penarik Zakat yang
diutus oleh Nabi ﷺ.”
Beliau
wafat pada tahun 82 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
24. Qobishoh bin Dzu’aib (86 H)
[47] (24) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Qobishoh
bin Dzu’aib sang ahli Fiqih, Abu Sa’id Al-Khuza’i Al-Madani, kemudian menetap
di Damaskus. Beliau bertugas memegang dan menjaga stempel resmi milik Kholifah
Abdul Malik (86 H).
Beliau
menyampaikan Hadits dari Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), Abu Ad-Darda (32 H) rodhiyallahu
‘anhum, beserta sekelompok ulama lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Mak-hul (112 H), Az-Zuhri (124 H),
Roja bin Haiwah (112 H), Abu Qilabah (104 H), beserta ulama-ulama lainnya.
Ibnu Lahiah
(174 H) meriwayatkan dari Az-Zuhri (124 H), beliau berkata: “Qobishoh bin Dzu’aib
termasuk bagian dari ulamanya umat ini.”
Mak-hul
(112 H) berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berilmu daripada
beliau.”
Diriwayatkan
dari Asy-Sya’bi (103 H), beliau berkata bahwa Qobishoh adalah manusia yang
paling mengetahui tentang keputusan hukum yang ditetapkan oleh Zaid bin Tsabit
(45 H) rodhiyallahu ‘anhu.
Dikatakan
bahwa beliau dilahirkan lalu dibawa menghadap Nabi ﷺ
agar didoakan kebaikan oleh beliau.
Beliau
wafat pada tahun 86 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
25. Shofwan bin Muhriz (74 H)
[48] (25) (Diriwayatkan
oleh Al-Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Shofwan bin
Muhriz Al-Mazini Al-Bashri. Beliau adalah salah seorang ulama yang mengamalkan
ilmunya.
Beliau
meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H), ‘Imron bin Hushain (52 H), dan
Hakim bin Hizam (54 H) rodhiyallahu ‘anhum.
Adapun
orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Tsabit Al-Bunani (127
H), Qotadah (117 H), Bikr Al-Muzani (108 H), ‘Asim Al-Ahwal (142 H), Jami’ bin
Syaddad, serta beberapa orang lainnya.
Ibnu Sa’ad
(230 H) berkata: “Beliau adalah seorang yang tsiqoh (terpercaya),
memiliki keutamaan, serta sifat waro’ (berhati-hati dari syubhat),” semoga
Alloh Ta’ala merohmatinya.
Beliau
wafat pada tahun 74 Hijriyyah.
26. Qois bin Abi Hazim (97 H)
[49] (26) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Qois bin
Abi Hazim, seorang Imam, Abu Abdillah Al-Ahmasi Al-Bajali Al-Kufi. Beliau
adalah ahli Hadits negeri Kufah. Beliau telah melakukan perjalanan untuk
menemui Nabi ﷺ guna membaiat beliau, namun
Nabi ﷺ wafat
ketika Qois masih berada di tengah perjalanan.
Beliau
mendengar riwayat dari Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), Utsman (35 H), ‘Ali (40
H), Abu ‘Ubaidah (18 H), Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhum, serta
sejumlah tokoh senior. Beliau termasuk orang yang cenderung mendukung Utsman
(Utsmaniyyah).
Orang yang
meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah Bayan bin Bisyr, Al-A’masy
(148 H), Isma’il bin Abi Kholid (146 H), Mujahid (104 H), serta ulama-ulama
lainnya. Yahya bin Ma’in (233 H) dan ulama lainnya telah menilai beliau tsiqoh.
Ibnu Al-Madini
(234 H) berkata bahwa Yahya bin Sa’id (198 H) pernah berkata kepadaku: “Qois
adalah seorang yang munkarul Hadits (memiliki riwayat yang menyelisihi
riwayat yang kuat).” Kemudian Yahya menyebutkan sebuah Hadits tentang “Anjing-anjing
Al-Hawab” milik beliau.
Aku
(penulis) berkata: Hadits beliau tetap dijadikan sebagai hujjah (argumen yang
sah) di seluruh kitab-kitab induk Islam. Beliau wafat pada tahun 97 Hijriyyah,
dan ada pula yang berpendapat pada tahun 98 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala
merohmatinya.
27. Abu Al-‘Aliyah (93 H)
[50] (27) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abu Al-‘Aliyah
Ar-Riyahi Rufai’ bin Mihron Al-Bashri, seorang ahli Fiqih sekaligus ahli qiro’ah.
Beliau adalah bekas budak (maula) dari seorang wanita Bani Riyah, yang
merupakan bagian dari klan suku Tamim. Beliau pernah melihat Abu Bakr (13 H)
dan membaca Al-Qur’an secara langsung di hadapan Ubay (30 H) serta ulama
lainnya. Beliau juga mendengar riwayat dari Umar (23 H), Ibnu Mas’ud (32 H), ‘Ali
(40 H), ‘Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sekelompok ulama
lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Qotadah (117 H), Kholid Al-Haddza
(141 H), Dawud bin Abi Hind (139 H), ‘Auf Al-A’robi (147 H), Ar-Robi’ bin Anas,
Abu ‘Amru bin Al-‘Ala (154 H), serta sekelompok ulama lainnya.
Qotadah
(117 H) meriwayatkan dari beliau, bahwasanya beliau berkata: “Aku membaca
Al-Qur’an (mempelajarinya secara mendalam) setelah berlalunya waktu 10 tahun
dari wafatnya Nabi kalian ﷺ.”
Abu Kholdah
meriwayatkan dari beliau, ia berkata: “Dahulu Ibnu ‘Abbas (68 H) pernah
mendudukkan aku di atas ranjang tempat duduknya, sementara orang-orang Quroisy
berada di posisi bawah darinya, lalu Ibnu ‘Abbas berkata: ‘Beginilah ilmu, ia
akan menambah kemuliaan bagi orang yang mulia, serta mampu mendudukkan para
bekas budak di atas ranjang-ranjang raja.”
Abu Bakr
bin Abi Dawud (316 H) berkata: “Tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui
tentang Al-Qur’an setelah generasi para Shohabat melebihi Abu Al-‘Aliyah,
kemudian barulah setelahnya Sa’id bin Jubair (95 H).”
Abu Zur’ah
(264 H), Abu Hatim (277 H), dan selain keduanya menilai beliau tsiqoh.
Beliau
wafat pada tahun 90 Hijriyyah, namun pendapat yang lebih shohih menyatakan
beliau wafat pada tahun 93 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
28. ‘Urwah bin Az-Zubair (94 H)
[51] (28) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
‘Urwah bin
Az-Zubair bin Al-‘Awwam, seorang Imam, ulamanya kota Madinah, Abu Abdillah
Al-Qurosyi Al-Asadi Al-Madani.
Beliau
meriwayatkan dari ayahnya dalam jumlah yang sedikit, serta meriwayatkan dari
Zaid bin Tsabit (45 H), Usamah bin Zaid (54 H), Sa’id bin Zaid (51 H), Hakim
bin Hizam (54 H), ‘Aisyah (58 H), Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhum,
dan orang banyak lainnya.
Beliau
mendalami Fiqih di bawah bimbingan bibinya sendiri yaitu ‘Aisyah (58 H). Beliau
adalah seorang yang berilmu dalam masalah sirah (sejarah), seorang hafizh
(penghafal yang kuat), lagi kokoh kepercayaannya.
Orang yang
meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah anak-anak laki-lakinya yang
bernama Hisyam, Muhammad, Utsman, Yahya, dan Abdulloh, serta cucunya yang
bernama Umar bin Abdulloh, Az-Zuhri (124 H), Abu Az-Zinad (130 H), Ibnu
Al-Munkadir (131 H), Sholih bin Kaisan (140 H), anak yatim asuhannya yaitu Abu
Al-Aswad, beserta orang banyak lainnya.
Az-Zuhri
(124 H) berkata: “Aku melihat dirinya laksana lautan ilmu yang airnya tidak
pernah surut.”
Beliau juga
menambahkan: “Beliau senantiasa mendekatkan manusia agar mau mengambil Hadits
dari dirinya.”
Hisyam bin ‘Urwah
(145 H) berkata: “Tidaklah aku menghafal dari ayahku melainkan hanya 1 bagian
dari 1000 bagian Hadits miliknya.”
Hisyam (145
H) juga berkata bahwa dahulu ayahku senantiasa melakukan Puasa sepanjang tahun
(kecuali hari yang dilarang) dan beliau wafat dalam keadaan sedang berpuasa.
Ibnu
Syaudzab (156 H) berkata bahwa ‘Urwah dahulu senantiasa membaca 1/4 bagian dari
Al-Qur’an setiap harinya melalui mushaf, lalu beliau menegakkannya (membacanya
kembali) dalam Sholat malam, dan beliau tidak pernah meninggalkannya kecuali
pada satu malam saja ketika kaki beliau diamputasi akibat terkena penyakit
kanker (pembusukan jaringan), yang mana dokter menggergaji kaki beliau
tersebut.
Beliau
dilahirkan pada masa kekhilafahan Utsman (35 H), sedangkan Syabab (240 H)
berpendapat beliau dilahirkan pada akhir masa kekhilafahan Umar (23 H).
Beliau
wafat pada tahun 94 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
29. Abu Salamah (94 H)
[52] (29) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abu Salamah
bin Abdurrohman bin ‘Auf Al-Zuhri Al-Madani, seorang Al-Hafizh. Nama aslinya
adalah nama kunyahnya sendiri, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Malik (179
H), dan ada pula yang berpendapat nama aslinya adalah Abdulloh. Beliau
meriwayatkan dari ayahnya dalam jumlah yang sedikit, serta meriwayatkan dari
Utsman (35 H), Abu Qotadah (54 H), Abu Usaid (60 H), ‘Aisyah (58 H), Abu
Huroiroh (57 H), Hassan bin Tsabit (54 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta
sejumlah orang lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Salim Abu An-Nadhr, Sa’ad bin
Ibrohim sang Hakim (Qodhi) (127 H), Abu Az-Zinad (130 H), Az-Zuhri (124 H),
Yahya bin Sa’id (143 H), Yahya bin Abi Katsir (132 H), Muhammad bin ‘Amru (145
H), serta orang banyak lainnya. Beliau termasuk di antara jajaran para Imam
besar dari kalangan Tabi’in, berilmu melimpah, tsiqoh, lagi mendalam
pengetahuannya.
Az-Zuhri
(124 H) berkata: “Ada 4 orang yang aku dapati mereka itu laksana lautan ilmu,
yaitu ‘Urwah bin Az-Zubair, Ibnu Al-Musayyib, Abu Salamah, dan ‘Ubaidulloh bin
Abdulloh.”
Aku
(penulis) berkata: Dahulu Abu Salamah senantiasa mendalami Fiqih dan sering
berdiskusi (berdebat secara ilmiah) dengan Ibnu ‘Abbas (68 H) serta menyanggah
pendapatnya.
Beliau
wafat pada tahun 94 Hijriyyah, dan ada pula yang berpendapat beliau wafat pada
tahun 104 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
30. Abu Bakr bin Abdurrohman bin
Al-Harits (94 H)
[53] (30) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abu Bakr
bin Abdurrohman bin Al-Harits bin Hisyam bin Al-Mughiroh Al-Qurosyi Al-Makhzumi
Al-Madani sang ahli Fiqih. Beliau adalah salah seorang dari tujuh ahli Fiqih
kota Madinah (Al-Fuqoha As-Sab’ah). Ada yang berpendapat nama asli beliau
adalah Muhammad, namun pendapat yang lebih shohih menyatakan bahwa nama asli
beliau adalah nama kunyahnya sendiri.
Beliau
memiliki beberapa orang saudara kandung.
Beliau
meriwayatkan dari ayahnya, serta dari ‘Ammar bin Yasir (37 H), Abu Mas’ud
Al-Badri (40 H), ‘Aisyah (58 H), Abu Huroiroh (57 H), Abdurrohman bin Muthi’,
beserta sekelompok ulama lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Al-Hakam bin ‘Utaibah (115 H),
Sumayya bekas budaknya, Az-Zuhri (124 H), ‘Amru bin Dinar (126 H), anak-anak
laki-lakinya yang bernama Abdulloh, Abdul Malik, Umar, dan Salamah, serta anak
dari saudaranya yaitu Al-Qosim bin Muhammad bin Abdurrohman, Abdul Wahid bin Aiman,
beserta ulama-ulama lainnya.
Beliau
dinilai masih terlalu kecil pada saat terjadinya perang Jamal (36 H), sehingga
beliau dipulangkan dari jajaran pasukan Tholhah (36 H) dan Az-Zubair (36 H),
yaitu beliau bersama dengan ‘Urwah (94 H). Beliau adalah seorang yang tsiqoh
(terpercaya), hujjah (argumen yang kuat), ahli Fiqih, Imam, banyak meriwayatkan
Hadits, lagi dermawan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Waqidi (207 H).
Beliau
dilahirkan pada masa kekhilafahan Umar (23 H) rodhiyallahu ‘anhu. Beliau
adalah seorang yang sholih, ahli ibadah, lagi sangat mendekatkan diri kepada
Alloh, hingga dahulu beliau senantiasa dijuluki sebagai Rohib (ahli ibadah yang
tekun) kaum Quroisy. Ibnu Sa’ad (230 H) berkata bahwa beliau mengalami kebutaan
pada matanya.
Beliau
wafat di kota Madinah pada “Tahun Para Ahli Fiqih” yaitu pada tahun 94
Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya. Hadits riwayat beliau
terdapat di seluruh kitab-kitab induk Islam.
31. Muthorrif bin Abdulloh (95 H)
[54] (31) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Muthorrif
bin Abdulloh bin Asy-Syikhkhir, seorang Imam, Abu Abdillah Al-‘Amiri Al-Harasyi
Al-Bashri. Beliau merupakan pemimpin terkemuka dalam hal ilmu dan amal,
memiliki keagungan di dalam Islam, serta kedudukan yang sangat dihormati di
dalam jiwa manusia.
Beliau
menyampaikan Hadits dari ayahnya, serta dari ‘Ali (40 H), ‘Ammar (37 H), ‘Imron
bin Hushoin (52 H), ‘Aisyah (58 H), ‘Iyadh bin Himar, dan Abdulloh bin
Mughoffal Al-Muzani (60 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sejumlah orang
lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah saudara kandungnya sendiri yang
bernama Yazid Abu Al-‘Ala (111 H), Humaid bin Hilal, Tsabit bin Aslam Al-Bunani
(127 H), Sa’id Al-Juroiri (144 H), Qotadah (117 H), Ghoilan bin Jarir (129 H),
Muhammad bin Wasi’ (123 H), serta sekelompok ulama lainnya.
Ibnu Sa’ad
(230 H) menyebutkan tentang diri beliau seraya berkata: “Beliau meriwayatkan
dari Ubay bin Ka’ab (30 H), dan beliau adalah seorang yang tsiqoh,
memiliki keutamaan, sifat warok (berhati-hati dari syubhat), akal yang
sempurna, serta adab yang mulia.”
Ahmad Al-‘Ijli
(261 H) berkata: “Tidak ada seorang pun yang selamat dari fitnah kekacauan Ibnu
Al-Asy’ats (85 H) di wilayah Basroh melainkan hanya Muthorrif bin Asy-Syikhkhir
dan Ibnu Sirin (110 H). Dan tidak ada yang selamat darinya di wilayah Kufah
melainkan hanya Khoitsamah bin Abdurrohman (82 H) dan Ibrohim An-Nakho’i (96
H).”
Ghoilan bin
Jarir (129 H) meriwayatkan dari Muthorrif, bahwasanya ada seorang lelaki yang
berdusta atas nama beliau, maka Muthorrif berdoa: “Ya Alloh, jika ia memang
berdusta maka wafatkanlah dia.” Seketika itu juga lelaki tersebut tersungkur
mati di tempatnya.
Dawud bin
Abi Hind (139 H) meriwayatkan dari Muthorrif, bahwasanya beliau berkata:
«لَيْسَ
لِأَحَدٍ أَنْ يَصْعَدَ فَيُلْقِيَ نَفْسَهُ وَيَقُولَ قَدَّرَ لِي رَبِّي وَلَكِنْ
يَحْذَرُ وَيَجْتَهِدُ فَإِنْ أَصَابَهُ شَيْءٌ عَلِمَ أَنْ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا
مَا كُتِبَ لَهُ»
“Tidak
boleh bagi seorang pun untuk naik ke tempat yang tinggi lalu menjatuhkan
dirinya sendiri seraya berkata: ‘Robb-ku telah mentakdirkannya untukku.’ Akan
tetapi, ia harus bersikap waspada dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Jika
kemudian ada sesuatu yang menimpanya, barulah ia mengetahui bahwa tidak ada
yang menimpanya melainkan apa yang telah ditetapkan untuknya.”
Abu Ja’far
Ar-Rozi (160 H) meriwayatkan dari Qotadah (117 H), dari Muthorrif, bahwasanya
beliau berkata:
«إِنَّ
هَذَا الْمَوْتَ قَدْ أَفْسَدَ عَلَى أَهْلِ النَّعِيمِ نَعِيمَهُمْ فَاطْلُبُوا نَعِيمًا
لَا مَوْتَ فِيهِ»
“Sesungguhnya
kematian ini benar-benar telah merusak kenikmatan bagi orang-orang yang
memiliki kenikmatan dunia, maka carilah oleh kalian suatu kenikmatan yang tidak
ada kematian di dalamnya (kenikmatan Jannah).”
Aku
(penulis) berkata: Muthorrif adalah seorang pemimpin yang memiliki kedudukan
yang agung. Beliau dahulu senantiasa mengenakan pakaian yang mewah, menunggangi
kuda, serta masuk menemui penguasa.
Beliau
wafat pada tahun 95 Hijriyyah, semoga rohmat Alloh senantiasa tercurah
kepadanya.
32. ‘Amru bin Maimun (75 H)
[55] (32) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
‘Amru bin
Maimun, seorang Imam, Abu Abdillah Al-Audi Al-Madzhiji Al-Yamani. Beliau
kemudian menetap di kota Kufah.
Beliau
datang pada masa pemerintahan Ash-Shiddiq (13 H) bersama dengan Mu’adz (18 H),
lalu beliau meriwayatkan Hadits dari Mu’adz, serta dari Umar (23 H), ‘Ali (40
H), dan Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhum.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Abu Ishaq (127 H), Hushoin (136
H), ‘Abdah bin Abi Lubabah, Muhammad bin Suqoh (128 H), beserta selain mereka.
Yahya bin Ma’in (233 H) telah menilai beliau tsiqoh.
Abu Ishaq
(127 H) berkata bahwa beliau telah melaksanakan ibadah Haji dan Umroh sebanyak
100 kali. Dan beliau itu apabila dilihat oleh orang lain, maka orang tersebut
akan langsung mengingat Alloh Ta’ala.
Ibrohim
An-Nakho’i (96 H) berkata bahwa dahulu ‘Amru bin Maimun ketika telah berusia
lanjut, beliau mendirikan tiang penyangga di dinding tempat sholatnya, yang
mana apabila beliau telah merasa letih dari berdiri tegak demi beribadah kepada
Alloh Ta’ala, beliau akan bersandar dengan bantuan tiang tersebut.
Dikatakan
bahwa beliau wafat pada tahun 75 Hijriyyah, atau ada yang berpendapat pada
tahun 74 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya. Hadits-Hadits
riwayat beliau terdapat di dalam kitab-kitab induk Hadits, dan jumlahnya tidak
terlalu banyak.
33. Abu ‘Utsman An-Nahdi (100 H)
[56] (33) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abu ‘Utsman
An-Nahdi Abdurrohmar bin Mall Al-Bashri. Beliau telah mendapati masa hidup Nabi
ﷺ (namun tidak sempat bertemu beliau), lalu beliau berhijroh ke
kota Madinah pada masa pemerintahan Umar (23 H) dan mendengar riwayat dari
Umar, serta dari Ibnu Mas’ud (32 H), Hudzaifah bin Al-Yaman (36 H), dan Usamah
bin Zaid (54 H) rodhiyallahu ‘anhum, beserta sekelompok ulama lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Qotadah (117 H), Kholid Al-Haddza
(141 H), Humaid (142 H), Dawud bin Abi Hind (139 H), Sulaiman At-Taimi (143 H),
serta orang banyak lainnya.
Beliau ikut
menyaksikan peristiwa perang Yarmuk. Beliau telah melaksanakan ibadah Haji pada
zaman Jahiliyyah sebanyak 2 kali, kemudian beliau memeluk Islam dan menyerahkan
Zakat hartanya kepada para petugas penarik Zakat yang diutus oleh Nabi ﷺ. Beliau mendampingi Salman Al-Farisi (32 H) selama 12 tahun.
Beliau adalah seorang yang berilmu, sangat rajin berpuasa, lagi rajin
menegakkan Sholat malam, yang mana beliau senantiasa mengerjakan Sholat hingga
jatuh pingsan karena saking letihnya.
Sulaiman
At-Taimi (143 H) berkata: “Sesungguhnya aku benar-benar mengira bahwa beliau
tidak pernah melakukan suatu perbuatan dosa pun.”
Beliau
wafat pada tahun 100 Hijriyyah atau setelahnya dalam waktu yang tidak lama,
semoga Alloh merohmatinya.
34. Abu Roja Al-‘Athoridi (107 H)
[57] (34) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abu Roja
Al-‘Athoridi ‘Imron bin Milhan Al-Bashri. Beliau adalah seorang Mukhodhrom
(hidup di zaman dua masa) yang termasuk di antara ulama besar dari kalangan
Tabi’in. Beliau memeluk Islam pada masa penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah)
namun belum pernah melihat Nabi ﷺ.
Kemudian beliau melakukan perjalanan dan mendengar riwayat dari Umar (23 H), ‘Ali
(40 H), ‘Imron bin Hushain (52 H), Abu Musa (44 H) rodhiyallahu ‘anhum,
beserta sekelompok ulama lainnya. Beliau mempelajari bacaan Al-Qur’an secara
langsung dari Abu Musa (44 H) dan menyetorkannya (talaqqi) di hadapan
Ibnu ‘Abbas (68 H). Abu Al-Asyhab Al-‘Athoridi (162 H) dan ulama lainnya
membaca Al-Qur’an di hadapan beliau.
Orang yang
meriwayatkan Hadits dari beliau di antaranya adalah Ayyub (131 H), Ibnu ‘Aun
(151 H), ‘Auf (147 H), Salam bin Zarir, Jarir bin Hazim (170 H), Sa’id bin Abi ‘Arubah
(156 H), Shokhr bin Juwairiyah (160 H), Mahdi bin Maimun (172 H), beserta
sekelompok ulama lainnya.
Jarir (170
H) berkata bahwa aku pernah bertanya kepada beliau mengenai rasa dari darah
(yang dahulu diminum orang Jahiliyyah), maka beliau menjawab: “Rasanya manis.”
Abu
Al-Harits Al-Kirmani yang merupakan seorang tsiqoh dari kalangan
guru-guru Abu Salamah Al-Minqori berkata, “Aku mendengar Abu Roja berkata:
«أَدْرَكْتُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَمْرَدُ وَمَا رَأَيْتُ
أَضَلَّ مِنَ الْعَرَبِ كَانُوا يَجِيئُونَ بِالشَّاةِ الْبَيْضَاءِ فَيَعْبُدُونَهَا»
“Aku
mendapati masa hidup Nabi ﷺ ketika aku masih berupa
seorang pemuda yang belum tumbuh jenggotnya. Dan tidaklah aku melihat kaum yang
lebih sesat daripada orang-orang Arob dahulu, yang mana mereka itu membawa
seekor kambing betina yang putih lalu mereka menyembahnya.”
Dikatakan
bahwa Abu Roja dahulu senantiasa mewarnai rambut kepalanya namun tidak mewarnai
jenggotnya. Ibnu Al-A’robi (231 H) berkata bahwa beliau adalah seorang yang
pemberani, ahli ibadah, banyak mengerjakan Sholat, serta banyak membaca Al-Qur’an.
Aku
(penulis) berkata: Beliau adalah seorang yang tsiqoh, mulia, berilmu,
lagi mengamalkan ilmunya, serta dikaruniai usia hingga mencapai 120 tahun. Abu
Al-Asyhab (162 H) berkata bahwa dahulu Abu Roja senantiasa mengkhatamkan Al-Qur’an
bersama kami di bulan Romadhon setiap 10 hari sekali.
Aku
(penulis) berkata bahwa beliau wafat pada tahun 107 Hijriyyah, dan ada pula
yang berpendapat pada tahun 108 Hijriyyah, serta pendapat lain menyatakan pada
tahun 105 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
35. Zaid bin Wahb (84 H)
[58] (35) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Zaid bin
Wahb Al-Juhani, Abu Sulaiman Al-Kufi. Beliau adalah seorang Imam Mukhodhrom
yang datang mengunjungi kota Madinah berselang beberapa hari setelah wafatnya
Nabi ﷺ. Beliau mendengar riwayat dari Umar (23 H), Utsman (35 H), ‘Ali
(40 H), Ibnu Mas’ud (32 H), Abu Dzar (32 H), Hudzaifah (36 H) rodhiyallahu ‘anhum,
beserta sekelompok ulama lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Hushoin (136 H), Abdul ‘Aziz bin
Rufai’ (130 H), Al-A’masy (148 H), Isma’il bin Abi Kholid (146 H), beserta
beberapa orang lainnya. Beliau adalah seorang yang tsiqoh dan memiliki
banyak ilmu. Tidak perlu menganggap penting perkataan Al-Fasawi (277 H) yang
mencela diri beliau, karena sesungguhnya para pemilik kitab-kitab shohih
(Arbabus Shohih) telah berhujjah dengan riwayat-riwayat beliau. Beliau wafat
mendekati tahun 84 Hijriyyah, semoga Alloh Ta’ala merohmatinya.
36. Al-Ma’rur bin Suwaid (84 H)
[59] (36) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Al-Ma’rur
bin Suwaid, Abu Umayyah Al-Asadi Al-Kufi. Beliau termasuk di antara jajaran rowi
yang tsiqoh yang dikaruniai usia yang panjang, yang mana beliau hidup
hingga mencapai usia 120 tahun.
Beliau
menyampaikan Hadits dari Umar (23 H), Abu Dzar (32 H), dan Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu
‘anhum.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah ‘Asim bin Bahdalah (127 H), Al-A’masy
(148 H), Washil Al-Ahdab (120 H), serta Al-Mughiroh Al-Yasykuri.
Yahya bin
Ma’in (233 H) telah menilai beliau tsiqoh, semoga Alloh merohmati mereka
semua.
37. Murroh At-Thoyyib (90 H)
[60] (37) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Murroh
At-Thoyyib, dan dikatakan pula tentangnya Murroh Al-Khoir. Beliau adalah Murroh
bin Syurohbil Al-Hamdani Al-Kufi, seorang ahli tafsir lagi ahli ibadah.
Beliau
meriwayatkan dari Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), Abu Dzar (32 H), Ibnu Mas’ud
(32 H), dan Abu Musa (44 H).
Adapun
orang yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Aslam Al-Kufi, Isma’il
As-Suddi (127 H), Zubaid Al-Yami (122 H), ‘Atho bin As-Sa’ib (136 H), Isma’il
bin Abi Kholid (146 H), Hushoin bin Abdurrohman (136 H), serta orang banyak
lainnya.
Yahya bin
Ma’in (233 H) telah menilai beliau tsiqoh (terpercaya). Dikatakan
tentang diri beliau bahwasanya beliau senantiasa bersujud hingga tanah mengikis
(membekas pada) jidat kepalanya. Beliau adalah seorang yang sangat memahami
ilmu tafsir Al-Qur’an, wafat di sekitar tahun 90 Hijriyyah, dan beliau termasuk
golongan Mukhodhrom (hidup di zaman dua masa).
38. Malik bin Aus (92 H)
[61] (38) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Malik bin
Aus bin Al-Hadatsan, Abu Sa’id An-Nashri Al-Madani. Beliau adalah seorang Mukhodhrom
yang pernah melihat Ash-Shiddiq (13 H), dan ada yang berpendapat bahwasanya
beliau memiliki status persahabatan dengan Nabi (Shohabat). Beliau meriwayatkan
Hadits dari Umar (23 H), Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), Tholhah (36 H), beserta
sejumlah orang lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Ibnu Al-Munkadir (131 H), ‘Ikrimah
bin Kholid, Az-Zuhri (124 H), serta sekelompok ulama lainnya. Beliau termasuk
di antara jajaran ulama yang sangat kokoh riwayatnya (itsbat), serta
termasuk orang Arob yang paling fasih yang dikenal dengan keahlian balaghoh
(sastra) dan bayan (retorika penjelasannya). Beliau ikut menyaksikan
peristiwa penaklukan kota Baitul Maqdis, dan wafat pada tahun 92 Hijriyyah.
39. Abu ‘Amru Asy-Syaibani (98 H)
[62] (39) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abu ‘Amru Asy-Syaibani,
dari bani Syaiban bin Tsa’labah bin ‘Ukabah, yang mana nama aslinya adalah Sa’ad
bin Iyas Al-Kufi. Beliau pernah berkata: “Nabi Rosululloh ﷺ diutus menjadi Nabi sedangkan aku pada saat itu sedang
menggembalakan unta di daerah Kazhimah.”
Dan beliau
juga berkata: “Aku pada saat terjadinya peristiwa perang Qodisiyyah (15 H)
merupakan seorang lelaki yang telah berusia 40 tahun.”
Beliau
menyampaikan Hadits dari ‘Ali (40 H), Ibnu Mas’ud (32 H), dan Hudzaifah (36 H).
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Manshur (132 H), Al-A’masy (148
H), Ibnu Abi Kholid (146 H), Sulaiman At-Taimi (143 H), Al-Walid bin Al-‘Aizar,
‘Amru bin Abdulloh Abu Mu’awiyah An-Nakho’i, beserta sejumlah orang lainnya.
Beliau dikaruniai usia yang panjang hingga mencapai 120 tahun.
‘Asim (127
H) berkata: “Dahulu Abu ‘Amru Asy-Syaibani senantiasa membacakan Al-Qur’an di
Masjid Al-A’zhom, lalu aku membaca Al-Qur’an di hadapannya, kemudian pada suatu
hari aku bertanya kepada beliau mengenai sebuah ayat, namun beliau justru
menuduhku telah condong pada pemikiran hawa nafsu (bid’ah).”
Aku
(penulis) berkata: Beliau wafat pada tahun 98 Hijriyyah.
40. Ibnu Muhairiz (99 H)
[63] (40) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abdulloh
bin Muhairiz bin Junadah bin Wahb Al-Qurosyi Al-Jumahi, Abu Muhairiz Al-Makki.
Beliau adalah salah seorang tokoh terkemuka yang kemudian tinggal menetap di
kota Baitul Maqdis.
Beliau
menyampaikan Hadits dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit (34 H), Abu Mahdzuroh sang
Muadzin (59 H), Mu’awiyah (60 H), dan Abu Sa’id (74 H) rodhiyallahu ‘anhum,
beserta sekelompok ulama lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Mak-hul (112 H), Az-Zuhri (124 H),
Roja bin Haiwah (112 H), serta Ibrohim bin Abi ‘Ablah (152 H).
Beliau
adalah seorang yang memiliki keutamaan serta keagungan yang sangat besar,
hingga sampai-sampai Roja bin Haiwah (112 H) pernah berkata: “Jika penduduk
kota Madinah membanggakan diri di hadapan kami dengan ahli ibadah mereka yaitu
Ibnu Umar (73 H), maka sesungguhnya kami juga membanggakan diri di hadapan
mereka dengan ahli ibadah kami yaitu Ibnu Muhairiz. Demi Alloh, sungguh aku
dahulu senantiasa menganggap bahwa keberadaan hidup beliau merupakan sebuah
jaminan keamanan bagi seluruh penduduk bumi.”
Diriwayatkan
dari Al-Auza’i (157 H), beliau berkata: “Barang siapa yang ingin mengambil
keteladanan, maka hendaklah ia mengambil keteladanan dari orang yang semisal
dengan Ibnu Muhairiz.”
Ibnu Muhairiz
terus hidup hingga mendapati masa kekuasaan Kholifah Sulaiman bin Abdul Malik
(99 H), dan kemungkinan besar beliau wafat pada tahun 99 Hijriyyah, semoga
Alloh Ta’ala merohmatinya.
41. Abu Rofi’ Ash-Sho’igh (93 H)
[64] (41) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Abu Rofi’
Ash-Sho’igh Nufa’i Al-Madani. Beliau adalah bekas budak (maula) dari keluarga
Umar (23 H) rodhiyallahu ‘anhu. Beliau telah mendapati zaman Jahiliyyah,
lalu menyampaikan Hadits dari Ubay bin Ka’ab (30 H), Umar bin Al-Khoththob (23
H), Abu Musa (44 H), Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhum, serta Ka’ab
Al-Ahbar (34 H), beserta beberapa orang lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Al-Hasan (Al-Bashri) (110 H),
Tsabit Al-Bunani (127 H), ‘Atho bin Maimunah, Qotadah (117 H), serta ‘Ali bin
Zaid bin Jud’an (131 H). Ahmad Al-’Ijli (261 H) dan ulama lainnya telah menilai
beliau tsiqoh.
Beliau
telah meriwayatkan sejumlah besar Hadits yang sholih (baik), dan waktu kematian
beliau berdekatan dengan waktu wafatnya Sahabat Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu
‘anhu.
42. Rib’i bin Hirosy (101 H)
[65] (42) (Diriwayatkan
oleh seluruh Jama’ah)
Rib’i bin
Hirosy Al-Ghothofani Al-‘Absi Al-Kufi, seorang yang berilmu lagi mengamalkan
ilmunya. Beliau pernah mendengar riwayat dari Umar (23 H) dan beliau sempat
bersama dengan Umar di daerah Al-Jabiyah, serta mendengar dari ‘Ali (40 H),
Hudzaifah (36 H), Abu Musa (44 H), beserta sekelompok ulama lainnya.
Orang yang
meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Manshur (132 H), Abdul Malik bin ‘Umair
(136 H), Abu Malik Al-Asyja’i, beserta selain mereka. Telah ada riwayat yang
menyebutkan bahwasanya beliau tidak pernah berbohong sama sekali di dalam
hidupnya. Beliau juga telah bersumpah atas dirinya sendiri bahwa beliau tidak
akan tertawa sampai beliau mengetahui secara pasti apakah dirinya berada di
dalam Jannah ataukah di dalam Naar. Para ulama telah sepakat bulat atas sifat tsiqoh,
amanah, serta keabsahan riwayat beliau untuk dijadikan sebagai hujjah. Beliau
wafat pada tahun 101 Hijriyyah.
Wibawa Generasi Tabiin Senior
Sungguh di
dalam kurun abad yang penuh dengan keutamaan ini, terdapat sangat banyak sekali
dari kalangan ahli ilmu, para Imam mujtahid, para pahlawan yang gagah berani
dalam melakukan Jihad di berbagai belahan negeri, serta para pemimpin ahli
ibadah yang bertindak sebagai wali abdal (wali pengganti) maupun wali
autad (wali pasak bumi). Dan barangkali di antara orang-orang yang sengaja
kami tinggalkan (tidak kami sebutkan namanya di sini) ada yang kedudukannya
justru jauh lebih agung dan jauh lebih berilmu.
Pada masa
itu, agama Islam tampak sangat dominan, tinggi, lagi jaya, serta telah meliputi
permukaan bumi. Wilayah-wilayah bangsa Turki serta wilayah negeri Andalusia
(Spanyol) berhasil ditaklukkan setelah berjalannya tahun 90 Hijriyyah, yaitu
tepatnya pada masa pemerintahan Kholifah Al-Walid (96 H), yang mana seluruh
umat tunduk di bawah perintah-perintah kekuasaannya. Bahkan, sebagian dari
gubernur wakilnya, yaitu Al-Hajjaj yang zholim (95 H), memiliki kedudukan
kekuasaan laksana kedudukan seorang sultan paling agung yang pernah ada.
Pada zaman
tersebut, Masjid Nabi ﷺ di kota Madinah dibangun
kembali dengan bentuk hiasan arsitektur yang paling sempurna, yang mana telah
diinfakkan untuk pembangunannya harta dalam jumlah yang sangat melimpah.
Demikian pula dibangun Masjid Jami’ Damaskus (Masjid Umawi) dengan menghabiskan
biaya materi yang jumlahnya melebihi dari 6.000.000 keping koin emas Dinar, dan
pembangunan megah itu terlaksana dengan memanfaatkan kekuatan para pekerja
secara maksimal. Harta hasil upeti dan pajak (khoroj) dunia pada masa itu
jumlahnya sangat melimpah hingga hampir-hampir tidak dapat terhitung saking
banyaknya. Sungguh, Kholifah Umar (23 H) dahulu telah menetapkan aturan wajib
Jizyah (upeti perlindungan) atas penduduk kaum Qibthi (Mesir) dalam setiap
tahunnya sebesar 12.000.000 keping Dinar. Maka, bagaimanakah kira-kira gambaran
besarnya jumlah Jizyah yang ditarik dari bangsa Romawi, dan bagaimanakah pula
besarnya jumlah Jizyah yang ditarik dari bangsa Persi?
Sungguh,
kala itu seorang Kholifah dari dinasti bani Umayyah jika ia berkehendak untuk
mengirimkan pasukan-pasukan militernya hingga mencapai ujung negeri Cina,
niscaya ia pasti akan mampu melakukannya dikarenakan saking melimpahnya jumlah
bala tentara militer serta banyaknya persediaan harta yang dimiliki.
Inilah
kholifah Sulaiman (99 H) ketika ia memegang tampuk kepemimpinan, beliau
benar-benar telah mengerahkan bala tentara pasukannya baik di jalur darat
maupun di jalur laut menuju ke kota Konstantinopel (Istanbul), lalu mereka
mengepung kota tersebut selama kurang lebih 20 bulan lamanya. Di tengah masa
pengepungan itu, kaum Muslimin sempat mengalami musibah berupa tingginya
lonjakan harga barang (inflasi) serta bencana kelaparan yang hebat disebabkan
karena saking jauhnya jarak tempat tinggal mereka dari pusat logistik. Akan
tetapi, telah sampai sebuah informasi kepada kami bahwasanya di tempat
peristirahatan markas pasukan beliau, terdapat tumpukan biji gandum dalam
jumlah yang sangat besar laksana sebuah gunung yang tinggi, yang sengaja
dijadikan sebagai barang simpanan cadangan bagi para prajurit sekaligus sebagai
sarana untuk membuat gentar (marah) bangsa Romawi. Maka ketika tampuk
kekhilafahan beralih dipegang oleh Umar bin Abdul ‘Aziz (101 H), beliau segera
memberikan izin bagi seluruh pasukan untuk menarik diri dan bergegas pulang
meninggalkan kota tersebut, serta beliau melakukan kesepakatan perdamaian
dengan penduduknya, hingga akhirnya mereka pun tunduk patuh kepada beliau,
semoga Alloh Ta’ala senantiasa meridhoinya.
.jpg)