Cari Ebook

[PDF] Ringkasan Hukum-Hukum Tajwid - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai pembeda antara yang haq dan yang bathil.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Rosululloh , yang telah menerima wahyu dengan perantaraan Jibril ‘alaihissalam dan menyampaikannya kepada umat manusia dengan lisan yang fasih serta tartil yang sempurna.

Amma ba’du:

Mempelajari Al-Qur’an adalah kemuliaan tertinggi, namun kemuliaan itu tidak akan sempurna tanpa dibarengi dengan usaha untuk memperbagus bacaan sesuai dengan hukum-hukum tajwid.

Kesalahan dalam membaca huruf atau panjang pendeknya sebuah mad dapat berimplikasi pada perubahan makna yang fatal. Tajwid merupakan pagar yang menjaga keaslian kalam Robbani agar tetap dibaca sebagaimana ia diturunkan 14 abad yang silam. Dengan memahami kaidah-kaidah tajwid, seorang hamba akan merasakan ketenangan jiwa saat melantunkan ayat-ayat suci dan terhindar dari sifat serampangan dalam membaca.

Buku ini disusun dengan sistematika yang memudahkan pembaca untuk meresapi setiap hukum bacaan tanpa terjebak dalam kerumitan teori yang terlampau panjang.

Pembahasan diawali dengan Bab 1 yang membedah hukum Nun Sukun dan Tanwin sebagai fondasi dasar yang paling sering ditemui dalam setiap ayat.

Kemudian dilanjutkan pada Bab 2 mengenai hukum Mim Sukun dan Bab 3 yang menjelaskan tentang hukum Ghunnah Mushoddadah, yang keduanya berkaitan erat dengan keindahan dengung dalam bacaan.

Penulis juga menyertakan Bab 4 yang mengulas hukum Al-Ta’rif untuk memperjelas perbedaan antara Al-Qomariyah dan Al-Syamsiyah.

Selanjutnya, pada Bab 5, pembaca akan diajak memahami interaksi antarhuruf melalui hukum Idghom Mutamatsilain, Mutajanisain, dan Mutaqoribain.

Inti dari keindahan irama tilawah dibahas secara mendalam pada Bab 6 yang mengupas tuntas berbagai macam jenis Mad. Tidak lupa, buku ini juga menyajikan Bab 7 tentang hukum Qolqolah untuk memberikan efek pantulan yang benar, serta Bab 8 yang merinci hukum Ro’ dan Lam Jalalah.

Sebagai penyempurna, Bab 9 akan menutup rangkaian materi dengan penjelasan mengenai kaidah Waqof dan Ibtida’ agar pembaca mengetahui kapan harus berhenti dan dari mana harus memulai kembali bacaannya secara tepat. In Syaa Alloh, melalui urutan yang teratur ini, setiap pembaca akan mendapatkan pemahaman yang utuh dan komprehensif dalam waktu yang relatif singkat.

Buku ini hanya fokus pada hukum-hukum tajwid, bukan makhorijul huruf maupun sifat-sifatnya.

 

Bab 1: Hukum Nun Sukun (نْ) dan Tanwin

1.1 Idzhar Halqi (إِظْهَارٌ حَلْقِيٌّ)

Idzhar secara bahasa bermakna jelas atau tampak. Secara istilah tajwid, Idzhar Halqi adalah mengeluarkan suara Nun Sukun atau Tanwin dari tempat keluarnya tanpa disertai dengan Ghunnah (suara dengung) yang dipanjangkan.

Hukum ini terjadi apabila Nun Sukun atau Tanwin bertemu dengan salah satu dari 6 huruf Halqi (huruf yang keluar dari tenggorokan). Adapun huruf-huruf tersebut adalah Hamzah (ء), Ha’ (هـ), ‘Ain (ع), Ha’ (ح), Ghoin (غ), dan Kho’ (خ). Cara membacanya adalah suara Nun atau Tanwin tersebut harus terdengar jelas, singkat, dan tegas.

Adapun 6 huruf tersebut beserta contohnya adalah sebagai berikut:

1. Hamzah (ء)

﴿وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا

﴿وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ

﴿كُـلٌّ ءَامَنَ بِاللَّهِ

2. Ha’ (هـ)

﴿مِنْ هَادٍ

﴿مِنْهُمْ مَنْ ءَامَنَ

﴿جَرُفٍ هَارٍ

3. ‘Ain (ع)

﴿خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

﴿أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

﴿سَمِيعٌ عَلِيمٌ

4. Ha’ (ح)

﴿تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

﴿عَلِيمٌ حَكِيمٌ

﴿فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ

5. Ghoin (غ)

﴿إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

﴿فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ

﴿مِنْ غَيْرِ سُوٓءٍ

6. Kho’ (خ)

﴿وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ

﴿مِنْ خَوْفٍ

﴿عَلِيمٌ خَبِيرٌ

1.2 Idghom Bighunnah (إِدْغَامٌ بِغُنَّةٍ)

Idghom secara bahasa adalah memasukkan sesuatu ke dalam sesuatu yang lain. Secara istilah, Idghom Bighunnah adalah memasukkan suara Nun Sukun atau Tanwin ke dalam huruf berikutnya yang berharokat sehingga menjadi satu huruf yang bertasydid dengan disertai Ghunnah (dengung). Huruf Idghom Bighunnah ada 4 yang terkumpul dalam lafazh (يَنْمُوْ).

Adapun huruf-huruf tersebut beserta contohnya adalah sebagai berikut:

1. Ya’ (ي)

﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ

﴿أَنْ يَقُولُوا

2. Nun (ن)

﴿مِنْ نِعْمَةٍ

﴿عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ

﴿أَمَنَةً نُعَاسًا

3. Mim (م)

﴿مِنْ مَالٍ

﴿عَذَابٌ مُقِيمٌ

﴿صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

4. Wau (و)

﴿مِنْ وَالٍ

﴿لَهَبٍ وَتَبَّ

﴿وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَاقٍ

1.3 Idghom Bila Ghunnah (إِدْغَامٌ بِلَا غُنَّةٍ)

Idghom Bila Ghunnah adalah memasukkan suara Nun Sukun atau Tanwin ke dalam huruf setelahnya tanpa disertai dengan suara dengung sama sekali. Suara Nun atau Tanwin tersebut hilang dan langsung masuk ke dalam huruf berikutnya dengan sempurna.

Adapun hurufnya ada 2 beserta contohnya sebagai berikut:

1. Lam (ل)

﴿وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

﴿هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

﴿فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا

2. Ro’ (ر)

﴿مِنْ رَبِّهِمْ

﴿غَفُوٌّ رَحِيمٌ

﴿أَنْ رَءَاهُ اسْتَغْنَىٰ

1.4 Iqlab (إِقْلَابٌ)

Iqlab secara bahasa berarti memalingkan sesuatu dari wajahnya (bentuk aslinya).

Secara istilah, Iqlab adalah mengubah suara Nun Sukun atau Tanwin menjadi suara Mim (م) yang disamarkan ketika bertemu dengan huruf Ba’ (ب), dengan tetap mempertahankan Ghunnah (dengung).

Adapun hurufnya hanya 1 beserta contohnya sebagai berikut:

1. Ba’ (ب)

﴿لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ

﴿عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

﴿مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ

1.5 Ikhfa Haqiqi (إِخْفَاءٌ حَقِيقِيٌّ)

Ikhfa secara bahasa bermakna menyembunyikan atau menyamarkan.

Secara istilah, Ikhfa Haqiqi adalah membunyikan Nun Sukun atau Tanwin dengan suara antara Idzhar dan Idghom, tanpa tasydid, namun tetap disertai dengan Ghunnah (dengung) yang ditahan. Huruf Ikhfa berjumlah 15 huruf.

Adapun huruf-huruf tersebut beserta contohnya adalah sebagai berikut:

1. Ta’ (ت)

﴿مِنْ تَحْتِهَا

﴿يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ

﴿وَإِنْ تَعُدُّوا

2. Tsa’ (ث)

﴿مِنْ ثَمَرَةٍ

﴿جَمِيعًا ثُمَّ

﴿مَآءً ثَجَّاجًا

3. Jim (ج)

﴿صَبْرٌ جَمِيلٌ

﴿مِنْ جُوعٍ

﴿فَإِنْ جَآءُوكَ

4. Dal (د)

﴿مِنْ دُونِ اللَّهِ

﴿قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ

﴿مِنْ دَابَّةٍ

5. Dzal (ذ)

﴿مَنْ ذَا الَّذِي

﴿وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ

﴿مِنْ ذِكْرِ رَبِّهِ

6. Zay (ز)

﴿مِنْ زَقُّومٍ

﴿يَوْمَئِذٍ زُرْقًا

﴿مَنْ زَكَّاهَا

7. Sin (س)

﴿مِنْ سِجِّيلٍ

﴿وَرَجُلًا سَلَمًا

﴿عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

8. Syin (ش)

﴿مِنْ شَرِّ

﴿غَفُورٌ شَكُورٌ

﴿بَأْسٌ شَدِيدٌ

9. Shod (ص)

﴿مَنْ صَبَرَ

﴿قَوْمًا صَالِحِينَ

﴿عَنْ صَلَاتِهِمْ

10. Dhod (ض)

﴿قَوْمًا ضَآلِّينَ

﴿مَنْ ضَلَّ

﴿وَكُلًّا ضَرَبْنَا

11. Tho’ (ط)

﴿مِنْ طَيِّبَاتِ

﴿قَوْمًا طَاغِينَ

﴿شَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ

12. Zho’ (ظ)

﴿مَنْ ظَلَمَ

﴿ظِلًّا ظَلِيلًا

﴿اُنْظُرُوا

13. Fa’ (ف)

﴿مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

﴿خَالِدًا فِيهَا

﴿فَإِنْ فَآءُوا

14. Qof (ق)

﴿مِنْ قَبْلِ

﴿شَيْءٍ قَدِيرٌ

﴿عَذَابٌ قَرِيبٌ

15. Kaf (ك)

﴿مِنْ كُـلِّ

﴿رِزْقًا كَرِيمًا

 

Bab 2: Hukum Mim Sukun (مْ)

2.1 Ikhfa Syafawi (إِخْفَاءٌ شَفَوِيٌّ)

Secara bahasa, Ikhfa berarti menyembunyikan atau menyamarkan, sedangkan Syafawi berarti bibir.

Secara istilah tajwid, Ikhfa Syafawi adalah menyuarakan Mim Sukun yang bertemu dengan huruf Ba’ (ب) dengan suara yang samar antara Mim dan Ba’, disertai dengan Ghunnah (dengung) yang ditahan. Cara membacanya adalah dengan merapatkan kedua bibir secara ringan tanpa tekanan yang kuat agar suara dengung dapat keluar dengan sempurna dari rongga hidung.

Adapun hurufnya hanya 1 beserta contohnya sebagai berikut:

1. Ba’ (ب)

﴿تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ

﴿وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

2.2 Idghom Mimi (إِدْغَامٌ مِيمِيٌّ)

Idghom Mimi atau sering disebut Idghom Mutamatsilain Shoghir adalah memasukkan Mim Sukun ke dalam Mim yang berharokat setelahnya, sehingga keduanya menjadi satu huruf Mim yang bertasydid. Dinamakan Mutamatsilain karena bertemunya dua huruf yang sama persis makhroj dan sifatnya. Hukum ini wajib dibaca dengan Ghunnah (dengung) yang jelas dan ditahan sepanjang 2 harokat.

Adapun hurufnya hanya 1 beserta contohnya sebagai berikut:

1. Mim (م)

﴿أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ

﴿إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ

﴿لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ

2.3 Idzhar Syafawi (إِظْهَارٌ شَفَوِيٌّ)

Idzhar Syafawi adalah menyuarakan Mim Sukun dengan jelas, tegas, dan singkat tanpa disertai Ghunnah yang dipanjangkan. Hukum ini terjadi apabila Mim Sukun bertemu dengan seluruh huruf hijaiyah selain huruf Ba’ (ب) dan Mim (م). Perhatian khusus harus diberikan ketika Mim Sukun bertemu dengan huruf Wau (و) dan Fa’ (ف) agar suara Mim tidak tersamar atau berubah menjadi Ikhfa karena kedekatan makhrojnya.

Berikut adalah contoh-contohnya:

1. Huruf Ta’ (ت)

﴿أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ

﴿لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

﴿أَنْتُمْ تُتْلَىٰ

2. Huruf Wau (و)

﴿عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّينَ

3. Huruf Fa’ (ف)

﴿لَهُمْ فِيهَا

﴿لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

Bab 3: Hukum Ghunnah Musyaddadah

Ghunnah Musyaddadah adalah hukum yang berlaku pada huruf Nun (ن) dan Mim (م) yang menyandang tanda tasydid (ـّ).

Secara bahasa, Ghunnah berarti suara yang keluar dari al-khoisyum (pangkal hidung). Hukum ini merupakan tingkatan Ghunnah yang paling sempurna (akmal). Cara membacanya adalah dengan menahan suara pada huruf tersebut sepanjang 2 harokat dengan dengungan yang jelas sebelum masuk ke harokat huruf itu sendiri.

Berikut adalah contoh-contohnya:

1. Huruf Nun Tasydid (نّ)

﴿مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

﴿ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ

﴿إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

2. Huruf Mim Tasydid (مّ)

﴿مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ

﴿وَمِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ

 

Bab 4: Hukum Al-Ta’rif (ال)

4.1 Al Qomariyah (Idzhar Qomari)

Al-Qomariyah terjadi apabila Alif Lam (ال) bertemu dengan salah satu dari 14 huruf yang terkumpul dalam kalimat:

اِبْغِ حَجَّكَ وَخَفْ عَقِيْمَهُ

Cara membacanya adalah suara Lam Sukun harus terdengar jelas (Idzhar) tanpa ada suara yang dimasukkan ke huruf berikutnya.

Berikut adalah contoh-contohnya:

1. Huruf Hamzah (أ)

﴿وَالْأَرْضِ

2. Huruf Ba’ (ب)

﴿إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

3. Huruf Ghoin (غ)

﴿وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

4. Huruf Ha’ (ح)

﴿تَنْزِيلُ الْحَكِيمِ الْحَمِيدِ

5. Huruf Jim (ج)

﴿يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ

6. Huruf Kaf (ك)

﴿ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ

7. Huruf Wau (و)

﴿إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ

8. Huruf Kho’ (خ)

﴿هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ

9. Huruf Fa’ (ف)

﴿إِذَا جَآءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

10. Huruf ‘Ain (ع)

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

11. Huruf Qof (ق)

﴿اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

12. Huruf Ya’ (ي)

﴿وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ

13. Huruf Mim (م)

﴿تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

14. Huruf Ha’ (هـ)

﴿إِنَّ هُدَىٰ اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ

4.2 Al Syamsiyah (Idghom Syamsi)

Al-Syamsiyah terjadi apabila Alif Lam (ال) bertemu dengan 14 huruf hijaiyah selain huruf Qomariyah. Cara membacanya adalah suara Lam Sukun tidak dibaca (lebur) dan langsung dimasukkan ke huruf berikutnya sehingga huruf tersebut menjadi bertasydid.

Berikut adalah contoh-contohnya:

1. Huruf Tho’ (ط)

﴿وَالسَّمَآءِ وَالطَّارِقِ

2. Huruf Tsa’ (ث)

﴿مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا

3. Huruf Shod (ص)

﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

4. Huruf Ro’ (ر)

﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

5. Huruf Ta’ (ت)

﴿وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

6. Huruf Dhod (ض)

﴿وَلَا الضَّآلِّينَ

7. Huruf Dzal (ذ)

﴿وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا

8. Huruf Nun (ن)

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

9. Huruf Dal (د)

﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

10. Huruf Sin (س)

﴿وَالسَّمَآءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ

11. Huruf Zho’ (ظ)

﴿وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

12. Huruf Zay (ز)

﴿وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخْلَ

13. Huruf Syin (ش)

﴿وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا

14. Huruf Lam (ل)

﴿وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى

 

Bab 5: Hukum Idghom Mutamatsilain, Mutajanisain, dan Mutaqoribain

5.1 Idghom Mutamatsilain (إِدْغَامٌ مُتَمَاثِلَيْنِ)

Idghom Mutamatsilain terjadi apabila bertemunya dua huruf yang sama, baik makhroj maupun sifatnya, di mana huruf pertama sukun dan huruf kedua berharokat. Cara membacanya adalah dengan memasukkan huruf pertama ke dalam huruf kedua sehingga menjadi satu huruf yang bertasydid. Dalam bab ini, pembahasan difokuskan pada selain huruf Nun dan Mim yang telah dibahas sebelumnya.

Berikut sebagian contoh-contohnya:

1. Huruf Dal (د) bertemu Dal (د)

﴿وَقَدْ دَخَلُوا بِالْكُفْرِ

2. Huruf Ba’ (ب) bertemu Ba’ (ب)

﴿اذْهَبْ بِكِتَابِي

3. Huruf Kaf (ك) bertemu Kaf (ك)

﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ

5.2 Idghom Mutajanisain (إِدْغَامٌ مُتَجَانِسَيْنِ)

Idghom Mutajanisain adalah bertemunya dua huruf yang sama makhrojnya (tempat keluarnya), namun berbeda sebagian sifatnya. Ketika huruf pertama sukun dan kedua berharokat, maka huruf pertama dileburkan ke dalam huruf kedua.

Berikut adalah rincian huruf-huruf Idghom Mutajanisain (pertemuan dua huruf yang sama makhroj namun beda sifat) disertai penjelasan dan 3 contoh untuk tiap kasusnya:

1. Kelompok Huruf Nith’iyyah (ت - د - ط)

Kelompok ini keluar dari ujung lidah yang bertemu dengan pangkal gigi seri bagian atas.

Kasus A: Dal (د) sukun bertemu Ta’ (ت)

Penjelasan: Suara huruf Dal melebur sepenuhnya ke dalam huruf Ta’, sehingga Dal tidak lagi dipantulkan (tidak ada Qolqolah) dan langsung masuk ke Ta’ yang bertasydid.

﴿قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

﴿لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَهُمْ

﴿وَلَآ أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

Kasus B: Ta’ (ت) sukun bertemu Dal (د)

Penjelasan: Suara huruf Ta’ melebur sepenuhnya ke dalam huruf Dal. Huruf Dal dibaca dengan jelas dan kuat karena menjadi tempat peleburan.

﴿فَلَمَّآ أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا

﴿قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا

Kasus C: Ta’ (ت) sukun bertemu Tho’ (ط)

Penjelasan: Suara huruf Ta’ yang tipis melebur ke dalam huruf Tho’ yang tebal. Cara membacanya adalah dengan langsung mengucapkan Tho’ yang bertasydid.

﴿وَدَّتْ طَآئِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

﴿إِذْ هَمَّتْ طَآئِفَتَانِ مِنْكُمْ

﴿فَآمَنَتْ طَآئِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Kasus D: Tho’ (ط) sukun bertemu Ta’ (ت)

Penjelasan: Kasus ini disebut Idghom Naqish (tidak sempurna). Sifat kuat dan tebal (Itbaq) dari huruf Tho’ tetap ditampakkan sedikit tanpa dipantulkan (Qolqolah), lalu kemudian lisan mengucapkan huruf Ta’.

﴿لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ

﴿فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ

﴿وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ

2. Kelompok Huruf Litsawiyyah (ث - ذ - ظ)

Kelompok ini keluar dari ujung lidah yang bertemu dengan ujung gigi seri bagian atas.

Kasus A: Tsa’ (ث) sukun bertemu Dzal (ذ)

Penjelasan: Huruf Tsa’ melebur ke dalam huruf Dzal. Dalam Al-Qur’an hal ini hanya terjadi pada satu tempat (QS. Al-A’rof: 176) ketika dibaca washol (sambung).

﴿يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ

Kasus B: Dzal (ذ) sukun bertemu Zho’ (ظ)

Penjelasan: Huruf Dzal yang tipis melebur ke dalam huruf Zho’ yang tebal, sehingga yang terdengar adalah suara Zho’ yang bertasydid.

﴿إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ

﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ

﴿إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ

3. Kelompok Huruf Syafawiyyah (ب - م)

Kelompok ini keluar dari pertemuan dua bibir.

Kasus A: Ba’ (ب) sukun bertemu Mim (م)

Penjelasan: Huruf Ba’ melebur sepenuhnya ke dalam huruf Mim. Karena Mim merupakan huruf Ghunnah, maka peleburan ini harus disertai dengan dengung yang ditahan (Ghunnah). Hal ini hanya terdapat di satu tempat dalam Al-Qur’an (QS. Hud: 42).

﴿يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا

5.3 Idghom Mutaqoribain (إِدْغَامٌ مُتَقَارِبَيْنِ)

Idghom Mutaqoribain adalah bertemunya dua huruf yang berdekatan makhroj dan sifatnya. Huruf pertama sukun dan huruf kedua berharokat, sehingga huruf pertama dileburkan ke huruf kedua.

Berikut adalah penyederhanaan huruf-huruf Idghom Mutaqoribain (pertemuan dua huruf yang berdekatan tempat keluar dan sifatnya) beserta penjelasannya:

1. Huruf Qof (ق) bertemu Kaf (ك)

Penjelasan:

Suara huruf Qof dileburkan sepenuhnya ke dalam huruf Kaf. Cara membacanya adalah langsung menuju huruf Kaf yang bertasydid tanpa memantulkan suara Qof (tanpa Qolqolah).

Contoh:

﴿أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَآءٍ مَهِينٍ

2. Huruf Lam (ل) bertemu Ro’ (ر)

Penjelasan:

Suara huruf Lam dileburkan sepenuhnya ke dalam huruf Ro’. Cara membacanya adalah dengan langsung mengucapkan huruf Ro’ yang bertasydid seolah-olah huruf Lam di depannya sudah tidak ada.

Contoh:

﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

﴿بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

﴿وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ

Dalam riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim (yang umum digunakan di Indonesia), Idghom Mutaqoribain hanya berfokus pada dua keadaan di atas.

 

Bab 6: Hukum Mad (Bacaan Panjang)

6.1 Mad Ashli (مَدٌّ طَبِيعِيٌّ)

Mad Ashli atau Mad Thobi’i adalah mad yang terjadi karena adanya huruf mad yang asli dan tidak bertemu dengan Hamzah atau Sukun setelahnya. Panjang bacaannya adalah 2 harokat. Huruf mad ada 3: Alif (setelah fathah), Wau sukun (setelah dhommah), dan Ya’ sukun (setelah kasroh).

Berikut adalah contoh-contohnya:

1. Alif (ا)

﴿قَالَ

﴿يَآ أَيُّهَا

﴿مَا لَكُمْ

2. Wau (و)

﴿يَقُولُ

﴿تَكُونُوا

﴿قُولُوا

3. Ya’ (ي)

﴿فِيهَا

﴿دِينِكُمْ

﴿الَّذِي

6.2 Mad Wajib Muttashil (مَدٌّ وَاجِبٌ مُتَّصِلٌ)

Mad Wajib Muttashil terjadi apabila Mad Thobi’i bertemu dengan Hamzah (ء) dalam satu kata. Cara membacanya wajib dipanjangkan 4 sampai 5 harokat.

Berikut adalah contoh-contohnya:

﴿مَنْ جَآءَ

﴿وَالسَّمَآءَ

﴿وَجِيٓءَ

﴿هَنِيٓئًا مَرِيٓئًا

﴿دُعَآءً وَنِدَآءً

6.3 Mad Jaiz Munfashil (مَدٌّ جَائِزٌ مُنْفَصِلٌ)

Mad Jaiz Munfashil terjadi apabila Mad Thobi’i bertemu dengan Hamzah (ء) namun berada di lain kata (terpisah). Panjang bacaannya boleh 2, 4, atau 5 harokat.

Berikut adalah contoh-contohnya:

﴿إِنَّآ أَنْزَلْنَاهُ

﴿قُولُوآ ءَامَنَّا

﴿تُوبُوآ إِلَى اللَّهِ

﴿بِمَآ أُنْزِلَ

﴿قُلْ يَآ أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

﴿وَمَآ أَدْرَاكَ

6.4 Mad Aridh Lissukun (مَدٌّ عَارِضٌ لِلسُّكُونِ)

Mad Aridh Lissukun terjadi apabila Mad Ashli bertemu dengan huruf hidup dalam satu kalimat, kemudian bacaan tersebut diwaqofkan (berhenti). Hukum ini disebut Aridh karena sukun yang terjadi adalah sukun mendatang (tidak asli) disebabkan oleh pemberhentian nafas. Jika dibaca sambung (washol), maka hukumnya kembali menjadi Mad Ashli. Panjang bacaannya boleh 2, 4, atau 6 harokat.

Berikut adalah contoh-contohnya:

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 2 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 3 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

6.5 Mad Badal (مَدٌّ بَدَلٌ)

Mad Badal terjadi apabila huruf Hamzah (ء) bertemu dengan huruf Mad dalam satu kata, di mana posisi Hamzah mendahului huruf Mad tersebut. Dinamakan Badal (pengganti) karena asalnya huruf Mad tersebut adalah Hamzah sukun yang diganti menjadi Mad agar mudah diucapkan. Panjang bacaannya adalah 2 harokat.

Berikut adalah contoh-contohnya:

ءَءْمَنُوا = ﴿ءَامَنُوا

إِءْمَانًا = ﴿إِيمَانًا

أُءْتُوا = ﴿أُوتُوا

6.6 Mad ‘Iwadh (مَدٌّ عِوَضٌ)

Mad ‘Iwadh adalah Mad yang terjadi karena penggantian suara Tanwin Fathah (Fathatain) ketika diwaqofkan di akhir kalimat, kecuali pada huruf Ta’ Marbuthoh. Suara Tanwin tersebut diganti menjadi bunyi Mad panjang sebagai pengganti (iwadh) dari suara Tanwin yang hilang. Panjang bacaannya adalah 2 harokat.

Berikut adalah contoh-contohnya:

﴿أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا 6 وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا 7 وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا 8 وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا 9 وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا

Terbaca:

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادَا 6 وَالْجِبَالَ أَوْتَادَا 7 وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجَا 8 وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتَا 9 وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسَا

6.7 Mad Layyin (مَدٌّ لِينٌ)

Mad Layyin terjadi apabila huruf Wau sukun (و) atau Ya’ sukun (ي) didahului oleh huruf berharokat Fathah dan setelahnya ada huruf hidup yang dibaca sukun karena waqof. Jika dibaca washol (sambung), maka tidak ada Mad (hanya dibaca lunak). Panjang bacaannya saat waqof adalah 2, 4, atau 6 harokat.

Berikut adalah contoh-contohnya:

﴿لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ 1 إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ 2 فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ 3 الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

6.8 Mad Lazim (Kalimi dan Harfi)

Mad Lazim adalah Mad yang bertemu dengan huruf bersukun asli (bukan karena waqof). Mad Lazim terbagi menjadi Kilmi (dalam kata) dan Harfi (dalam huruf pembuka surat). Masing-masing terbagi lagi menjadi Mutsaqqol (berat/tasydid) dan Mukhoffaf (ringan). Panjang bacaannya wajib 6 harokat.

Berikut adalah contoh-contohnya:

1. Mad Lazim Kalimi Mutsaqqol

Hukum ini (مَدٌّ لَازِمٌ كَلِمِيٌّ مُثَقَّلٌ) terjadi apabila Mad Thobi’i bertemu dengan huruf bertasydid dalam satu kata. Dibaca panjang 6 rokaat.

﴿وَلَا الضَّآلِّينَ

﴿الْحَآقَّةُ

﴿مِنْ دَآبَّةٍ

﴿جَآءَتِ الصَّآخَّةُ

﴿أَتُحَآجُّونِّي

2. Mad Lazim Kalimi Mukhoffaf

Hukum ini (مَدٌّ لَازِمٌ كَلِمِيٌّ مُخَفَّفٌ) terjadi apabila Mad Thobi’i bertemu dengan huruf sukun asli dalam satu kata. Hanya ada 2 tempat dalam Al-Qur’an (keduanya di surat Yunus). Dibaca panjang 6 rokaat.

﴿آلْاٰنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ

﴿آلْاٰنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ

Kata ﴿آلْاٰنَ﴾ (apakah sekarang?) sebenarnya terdiri dari dua bagian:

Hamzah Istifham (Pertanyaan):  ﴿أَ﴾ yang berarti “apakah”.

Kata Keterangan Waktu:  ﴿الْآنَ﴾ yang berarti “sekarang”.

Jika digabungkan secara bahasa, seharusnya menjadi «أَأَلْاٰنَ». Namun, karena bertemunya dua Hamzah di awal kata itu dirasa berat dalam lisan Arab, maka Hamzah yang kedua diganti menjadi huruf Mad (Alif) dan dileburkan, sehingga tertulis menjadi: آلْاٰنَ.

3. Mad Lazim Harfi Mutsaqqol

Hukum ini (مَدٌّ لَازِمٌ حَرْفِيٌّ مُثَقَّلٌ) terjadi pada huruf Fawatihussuwar (pembuka surat) yang jika dieja terdiri dari 3 huruf dan huruf tengahnya adalah Mad, serta huruf terakhirnya diidghomkan (diberatkan) ke huruf setelahnya. Dibaca panjang 6 rokaat.

﴿الٓمٓ﴾ — Pada huruf Lam (لاَمْ) yang masuk ke Mim.

﴿الٓمٓصٓ﴾ — Pada huruf Lam (لاَمْ) yang masuk ke Mim.

﴿طسٓمٓ﴾ — Pada huruf Sin (سِيْنْ) yang masuk ke Mim.

4. Mad Lazim Harfi Mukhoffaf

Hukum ini (مَدٌّ لَازِمٌ حَرْفِيٌّ مُخَفَّفٌ) terjadi pada huruf pembuka surat yang jika dieja terdiri dari 3 huruf dan huruf tengahnya adalah Mad, namun huruf terakhirnya sukun murni (tidak diidghomkan). Dibaca panjang 6 rokaat.

﴿قٓ﴾ — Dibaca (قَافْ).

﴿نٓ﴾ — Dibaca (نُوْنْ).

﴿صٓ﴾ — Dibaca (صَادْ).

﴿الٓر﴾ — Pada huruf Lam (لاَمْ) karena tidak bertemu Mim.

﴿حمٓ﴾ — Pada huruf Mim (مِيْمْ).

Catatan:

Tanda  ﴿  ٓ ﴾ di atas huruf menunjukkan panjang 6 rokaat (3 Alif) sebagai bentuk kehati-hatian dalam membaca Mad Lazim agar sempurna panjangnya.

Maksud dari 3 huruf dalam definisi tersebut adalah jumlah huruf saat dieja (diucapkan), bukan jumlah huruf yang tertulis di dalam Mushof.

Di dalam Al-Qur’an, ia tertulis sebagai 1 huruf saja, namun cara membacanya harus diuraikan menjadi 3 huruf.

Agar tidak bingung, mari kita lihat perbandingannya antara yang tertulis di Mushof dengan cara lisan mengucapkannya:

Huruf Shod ﴿صٓ﴾, ia tertulis: 1 huruf saja yaitu ﴿ص﴾.

Jika dieja, ia menjadi 3 huruf yaitu ﴿صَادْ﴾ (Sod - Alif - Dal).

Huruf tengahnya adalah Alif (huruf Mad), dan huruf terakhirnya adalah Dal sukun. Karena ia dieja dengan 3 huruf, maka ia disebut Mad Lazim Harfi Mukhoffaf.

6.9 Mad Shilah (Sughro dan Kubro)

Mad Shilah adalah Mad yang terjadi pada Ha’ Domir (kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki yaitu ـه) yang terletak di antara dua huruf hidup.

Mad Shilah Sughro (مَدٌّ صِلَةٌ صُغْرَى) dibaca 2 harokat, sedangkan Mad Shilah Kubro atau (مَدٌّ صِلَةٌ كُبْرَى) terjadi jika Ha’ Domir bertemu Hamzah, dibaca 4-5 harokat.

1. Mad Shilah Sughro

Terjadi apabila Haa’ Dhomir bertemu dengan huruf selain Hamzah. Panjangnya adalah 2 rokaat (1 Alif).

﴿لَهُۥ مَا فِي السَّمَاوَاتِ

﴿إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابًا

﴿فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٌ

﴿بِهِۦ كَثِيرًا

Catatan: Jika waqof, Mad ini hilang.

2. Mad Shilah Kubro

Terjadi apabila Haa’ Dhomir bertemu dengan huruf Hamzah ﴿أ﴾. Panjangnya adalah 4 sampai 5 rokaat. Dalam Mushof Madinah, ditandai dengan bendera (tanda Mad) di atas Wau kecil ﴿ۥٓ atau Ya’ kecil.

﴿مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُ

﴿عِنْدَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِ

﴿بِهِۦٓ أَنْ يُوصَلَ

﴿مِنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَاءَ

﴿وَأَنَّىٰ لَهُۥٓ أَنَّىٰ

Pengecualian Penting:

Pada kata ﴿يَرْضَهُ لَكُمْ﴾, tidak dibaca Mad Shilah (dibaca pendek) meskipun memenuhi syarat.

Pada kata ﴿فِيهِ مُهَانًا﴾, dibaca panjang 2 rokaat (Mad Shilah) meskipun huruf sebelumnya sukun (sebagai bentuk penghinaan/takhwif kepada penghuni Naar).

 

Bab 7: Hukum Qolqolah (قَلْقَلَةٌ)

Qolqolah ada 2: sughro dan kubro.

7.1 Qolqolah Sughro (قَلْقَلَةٌ صُغْرَى)

Qolqolah secara bahasa berarti getaran atau pantulan. Qolqolah Sughro (kecil) terjadi apabila salah satu dari huruf Qolqolah yang terkumpul dalam lafazh “Quthbu Jadin” (ق، ط، ب، ج، د) berharokat sukun asli dan terletak di tengah kata atau kalimat. Pantulannya tidak terlalu kuat.

Berikut adalah contoh-contohnya sesuai dengan masing-masing huruf:

1. Huruf Qof (ق)

﴿وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا

﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

2. Huruf Tho’ (ط)

﴿أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ

﴿لَيَطْغَىٰ

3. Huruf Ba’ (ب)

﴿وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا

﴿وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ

4. Huruf Jim (ج)

﴿فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ

﴿أَلَمْ يَـجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ

5. Huruf Dal (د)

﴿وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Catatan: Ciri utama Qolqolah Shughro adalah tanda sukunnya terlihat jelas di dalam Mushof dan berada di tengah-tengah kata, sehingga nafas tidak berhenti setelah pantulan tersebut.

7.2 Qolqolah Kubro (قَلْقَلَةٌ كُبْرَى)

Qolqolah Kubro (besar) terjadi apabila salah satu dari huruf Qolqolah berada di akhir kata dan dibaca sukun karena waqof (berhenti). Pantulan suaranya lebih kuat dan jelas dibandingkan Qolqolah Sughro.

Berikut adalah contoh-contohnya untuk setiap huruf:

1. Huruf Qof (ق)

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

﴿وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ

﴿وَالسَّمَآءِ ذَاتِ الْحُبُقِ

2. Huruf Tho’ (ط)

﴿وَاللَّهُ مِنْ وَرَآئِهِمْ مُحِيطٌ

3. Huruf Ba’ (ب)

﴿فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ

4. Huruf Jim (ج)

﴿وَالسَّمَآءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ

5. Huruf Dal (د)

﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

﴿اللَّهُ الصَّمَدُ

﴿لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Catatan Penting:

Jika huruf Qolqolah di akhir ayat tersebut bertasydid (seperti pada kata ﴿وَتَبَّ﴾), maka cara membacanya adalah dengan menahan sejenak (nabr) baru kemudian dipantulkan dengan sangat kuat. Sebagian ulama menyebut tingkat ini sebagai Qolqolah Akbar.

 

Bab 8: Hukum Ro’ dan Lam Jalalah

8.1 Ro’ Tafkhim (رَاءٌ تَفْخِيمٌ)

Ro’ Tafkhim adalah huruf Ro’ yang dibaca dengan suara tebal dengan cara mengangkat pangkal lidah ke langit-langit. Hal ini terjadi di antaranya jika Ro’ berharokat Fathah, Dhommah, atau Ro’ sukun yang didahului Fathah atau Dhommah.

Membunyikan huruf Ro’ (ر) dengan suara tebal sehingga memenuhi mulut. Hal ini terjadi dalam beberapa kondisi utama, di antaranya:

1. Ro’ berharokat Fathah atau Fathatain

﴿رَبِّ الْعَالَمِينَ

﴿سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

﴿طَيْرًا أَبَابِيلَ

2. Ro’ berharokat Dhommah atau Dhommatain

﴿رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ

﴿نَصْـرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ

﴿وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

3. Ro’ sukun didahului huruf berharokat Fathah atau Dhommah

﴿وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ

﴿تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ

﴿قُرْآنٌ مَجِيدٌ

4. Ro’ sukun didahului Hamzah Washol Meskipun Hamzah Washol tersebut berharokat kasroh (baik nampak maupun tidak), Ro’ tetap dibaca tebal.

﴿ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

﴿أَمِ ارْتَابُوا

﴿لِمَنِ ارْتَضَىٰ

5. Ro’ sukun didahului huruf berharokat Kasroh namun bertemu Huruf Isti’la’. Syaratnya, huruf Isti’la’ tersebut harus berada dalam satu kata dan tidak berharokat kasroh.

﴿إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

﴿قِرْطَاسٍ

﴿فِرْقَةٍ

Catatan: Huruf Isti’la’ yang dimaksud adalah ﴿خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ﴾. Jika Ro’ sukun bertemu salah satu huruf ini setelah kasroh asli dalam satu kata, maka sifat tipisnya Ro’ kalah oleh sifat tebalnya huruf Isti’la’.

8.2 Ro’ Tarqiq (رَاءٌ تَرْقِيقٌ)

Ro’ Tarqiq adalah huruf Ro’ yang dibaca dengan suara tipis. Hal ini terjadi jika Ro’ berharokat Kasroh atau Ro’ sukun yang didahului Kasroh asli dan tidak bertemu huruf Isti’la.

Saat mengucapkannya, posisi lidah berada di bawah (menurun) sehingga suara tidak memenuhi mulut. Hal ini terjadi dalam beberapa kondisi berikut:

1. Ro’ berharokat Kasroh atau Kasrotain

Suara Ro’ dibaca tipis baik di awal, tengah, maupun akhir kata selama ia hidup dengan harokat kasroh.

﴿رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ

﴿لَفِي خُسْـرٍ إِلَّا

2. Ro’ sukun didahului huruf berharokat Kasroh asli

Syaratnya adalah kasroh tersebut asli (bukan hamzah washol) dan setelah Ro’ sukun tidak terdapat huruf Isti’la’ dalam satu kata.

﴿فِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ

﴿وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

3. Ro’ sukun di akhir kata (karena waqof) didahului huruf Kasroh

﴿عَلَىٰ رَجْعِهِ لَقَادِرٌ

﴿هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ

﴿فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ

4. Ro’ sukun di akhir kata (karena waqof) didahului Ya’ sukun (Ya’ Mad atau Ya’ Lin)

Kondisi ini khusus untuk waqof, di mana Ro’ tetap dibaca tipis meskipun huruf sebelum Ya’ berharokat fathah atau dhommah.

﴿إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

﴿ذَٰلِكَ خَيْرٌ

﴿لَا ضَيْرَ

5. Ro’ sukun di akhir kata (karena waqof) didahului huruf mati selain Ya’, dan sebelumnya lagi ada huruf berharokat Kasroh

﴿لِذِي الذِّكْرِ

﴿بِالسِّحْرِ

Catatan:

Perbedaan utama antara Tafkhim dan Tarqiq pada huruf Ro’ terletak pada harokat yang menyertainya atau yang mendahuluinya. Kasroh adalah kunci utama suara tipis (Tarqiq) pada huruf Ro’.

8.3 Hukum Lam pada Lafzhul Jalalah (الله)

Huruf Lam pada nama “Alloh” memiliki dua cara baca. Pertama, Tafkhim (tebal) jika didahului Fathah atau Dhommah. Kedua, Tarqiq (tipis) jika didahului Kasroh.

Berikut adalah contoh-contohnya:

1. Lam Tafkhim didahului Fathah

﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ

﴿شَهِدَ اللَّهُ

﴿إِنَّ اللَّهَ

2. Lam Tafkhim didahului Dhommah

﴿نَصْرُ اللَّهِ

﴿رَسُولُ اللَّهِ

﴿يُرِيدُ اللَّهُ

3. Lam Tarqiq didahului Kasroh

﴿بِسْمِ اللَّهِ

﴿فِي دِينِ اللَّهِ

Bab 9: Hukum Waqof dan Ibtida’

9.1 Macam-macam Waqof (Tam, Kafi, Hasan, Qobih)

Waqof (وَقَفَ) secara bahasa artinya berhenti. Dalam ilmu tajwid, waqof adalah memutuskan suara di akhir kata sejenak untuk mengambil nafas dengan niat melanjutkan kembali bacaan.

Berikut adalah rincian jenis-jenis waqof ditinjau dari sisi maknanya:

1. Waqof Tam (Sempurna)

Waqof Tam (وَقْفٌ تَامٌّ) adalah berhenti pada suatu kata yang sudah sempurna maknanya dan tidak memiliki kaitan lagi dengan ayat setelahnya, baik dari segi lafazh (tata bahasa) maupun makna (isi pembahasan). Biasanya terdapat di akhir ayat yang pembahasannya sudah selesai.

﴿وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

— Berhenti di sini sempurna karena ayat berikutnya mulai membahas orang-orang kafir.

﴿لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

— Akhir surat, pembahasan selesai total.

﴿إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

— Selesai menjelaskan perumpamaan orang munafiq.

2. Waqof Kafi (Cukup)

Waqof Kafi (وَقْفٌ كَافٍ) adalah berhenti pada suatu kata yang sudah sempurna maknanya, namun secara isi (tema) masih berkaitan dengan ayat setelahnya, meskipun secara lafazh (tata bahasa) sudah terputus. Ini adalah jenis waqof yang paling banyak ditemui.

﴿أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

— Maknanya sudah jelas, tapi ayat ke-7 masih berkaitan menjelaskan alasan mereka tidak beriman (Alloh mengunci hati mereka).

﴿فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ

— Berhenti di sini cukup, namun kalimat selanjutnya masih menjelaskan tambahan adzab bagi mereka.

﴿الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

— Sudah dipahami, namun masih bersambung dengan sifat-sifat orang bertaqwa berikutnya.

3. Waqof Hasan (Baik)

Waqof Hasan (وَقْفٌ حَسَنٌ) adalah berhenti pada suatu kata yang sudah difahami maksudnya, namun secara lafazh dan makna masih berkaitan erat dengan kata setelahnya. Disukai berhenti di sini jika di akhir ayat, namun jika di tengah ayat, maka sebaiknya diulang (ibtida’) dari kata sebelumnya.

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ

— Maknanya sudah baik (Segala puji bagi Alloh), namun secara lafazh masih bergantung pada kata ﴿رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾.

﴿بِسْمِ اللَّهِ

— Maknanya sudah baik, namun berkaitan dengan kata setelahnya.

4. Waqof Qobih (Buruk)

Waqof Qobih (وَقْفٌ قَبِيحٌ) adalah berhenti pada kata yang belum sempurna maknanya karena berkaitan sangat erat secara lafazh dan makna dengan kata berikutnya, sehingga merusak arti atau memberikan pemahaman yang salah/sesat.

﴿لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ

— Berhenti di sini sangat buruk karena artinya menjadi “Janganlah kalian mendekati Sholat”, padahal lanjutannya adalah “saat kalian mabuk”.

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي

— Berhenti di sini salah karena artinya “Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk”, padahal ada kelanjutannya (misal: orang yang zholim).

﴿فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ

— Berhenti pada kata ﴿وَاللَّهُ﴾ seolah-olah Alloh yang bingung/terdiam, padahal lanjutannya ﴿لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾.

Catatan:

Waqof Tam, Kafi, dan Hasan adalah jenis waqof yang diperbolehkan (Ikhtiyari), sedangkan Waqof Qobih harus dihindari kecuali dalam keadaan terpaksa (seperti habis nafas, bersin, atau batuk), dan jika terjadi maka wajib mengulang dari kata sebelumnya agar maknanya benar.

9.2 Tanda-tanda Waqof dalam Mushof

Tanda waqof adalah simbol-simbol yang diletakkan oleh para ulama ahli qiroah untuk memudahkan pembaca dalam menentukan tempat berhenti yang tepat.

1. Waqof Lazim (م)

Tanda Mim kecil ini menunjukkan bahwa pembaca wajib berhenti. Jika dipaksakan lanjut (washol), maka dikhawatirkan akan merusak atau mengubah makna ayat.

﴿إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ ۘ

Berhenti di sini karena kalimat berikutnya membahas tentang orang mati yang akan dibangkitkan.

﴿فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘ

2. Waqof Laa Washol (لا)

Tanda ini berarti dilarang berhenti. Jika tanda ini berada di tengah ayat, maka jangan berhenti kecuali darurat (habis nafas). Jika terpaksa berhenti, maka harus diulang (ibtida’) dari kata sebelumnya. Namun, jika tanda ini berada di akhir ayat (di atas nomor ayat), maka boleh berhenti.

﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ

Jangan berhenti pada kata ﴿طَيِّبِينَ﴾.

3. Waqof Ja’iz (ج)

Tanda Jim kecil ini menunjukkan hukum: boleh berhenti dan boleh lanjut. Kedua pilihan ini memiliki derajat yang sama kuatnya.

﴿نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ

﴿مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ

﴿قُلْ رَ بِّىٓ أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ ۚ

4. Waqof Al-Washlu Aula (صلى)

Singkatan dari Al-Washlu Aula yang artinya melanjutkan bacaan lebih utama. Pembaca boleh berhenti, namun menyambungnya hingga kata berikutnya lebih baik dari sisi kesempurnaan makna.

﴿وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ

﴿قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ ۖ

﴿فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ ۖ

5. Waqof Al-Waqfu Aula (قلى)

Singkatan dari Al-Waqfu Aula yang artinya berhenti lebih utama. Pembaca boleh melanjutkan (washol), namun berhenti pada tanda ini lebih disukai untuk menjaga kejelasan makna.

﴿قَالَ يَا قَوْمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِى هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۗ

﴿وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا اللَّهُ ۗ

6. Waqof Mu’anaqoh (ۛۛ)

Berupa tiga titik kembar yang muncul dua kali. Hukumnya adalah berhenti di salah satu tanda saja. Jika sudah berhenti di tanda pertama, maka jangan berhenti di tanda kedua, dan sebaliknya.

﴿ذَالِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Boleh berhenti di ﴿لَا رَيْبَ﴾ atau berhenti di ﴿فِيهِ﴾.

Penting untuk diingat:

Mengenal tanda-tanda ini sangat membantu kita dalam menjaga makna Kalamulloh agar tidak terjadi kesalahpahaman saat didengar oleh orang lain. Jika nafas terasa pendek, pilihlah tanda ﴿قلى﴾ atau ﴿ج﴾ untuk berhenti.

 

Penutup

Segala puji hanya milik Alloh yang dengan rohmat-Nya penulisan ringkasan hukum tajwid ini dapat diselesaikan. Membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai kaidah tajwid adalah bentuk adab kita terhadap Kalamulloh.

Ringkasan ini diharapkan dapat membantu kaum Muslimin dalam memahami intisari hukum-hukum bacaan tanpa merasa terbebani dengan istilah yang rumit. Namun, perlu diingat bahwa ilmu tajwid tidak cukup hanya dipelajari secara teori melalui tulisan, melainkan harus disertai dengan praktik langsung di hadapan seorang guru yang mumpuni.

Semoga usaha kecil ini dicatat sebagai amal jariyah dan memberikan manfaat yang luas bagi siapa saja yang mempelajarinya. In Syaa Alloh, dengan niat yang ikhlas dan taqwa kepada-Nya, kita akan dimudahkan dalam mempelajari serta mengamalkan isi Al-Qur’an.

Subhanalloh, walhamdulillah, wala ilaha illalloh, Allohu Akbar.

Alloh yang lebih tahu.[NK]

 

Daftar Pustaka

Al-Jazari, Muhammad bin Muhammad (833 H). Al-Muqoddimah fima ‘ala Qori’ihi an Ya’lamahu (Matan Al-Jazariyyah).

Al-Jamzuri, Sulaiman bin Muhammad (setelah 1208 H). Tuhfatul Athfal wal Ghilman fi Tajwidil Qur’an.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini