[PDF] Ringkasan Hukum-Hukum Tajwid - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai pembeda antara yang
haq dan yang bathil.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Rosululloh ﷺ, yang telah menerima wahyu
dengan perantaraan Jibril ‘alaihissalam dan menyampaikannya kepada umat
manusia dengan lisan yang fasih serta tartil yang sempurna.
Amma ba’du:
Mempelajari
Al-Qur’an adalah kemuliaan tertinggi, namun kemuliaan itu tidak akan sempurna
tanpa dibarengi dengan usaha untuk memperbagus bacaan sesuai dengan hukum-hukum
tajwid.
Kesalahan
dalam membaca huruf atau panjang pendeknya sebuah mad dapat berimplikasi pada
perubahan makna yang fatal. Tajwid merupakan pagar yang menjaga keaslian kalam
Robbani agar tetap dibaca sebagaimana ia diturunkan 14 abad yang silam. Dengan
memahami kaidah-kaidah tajwid, seorang hamba akan merasakan ketenangan jiwa
saat melantunkan ayat-ayat suci dan terhindar dari sifat serampangan dalam
membaca.
Buku ini disusun dengan sistematika yang memudahkan pembaca
untuk meresapi setiap hukum bacaan tanpa terjebak dalam kerumitan teori yang terlampau
panjang.
Pembahasan diawali dengan Bab 1 yang membedah hukum Nun
Sukun dan Tanwin sebagai fondasi dasar yang paling sering ditemui dalam
setiap ayat.
Kemudian dilanjutkan pada Bab 2 mengenai hukum Mim
Sukun dan Bab 3 yang menjelaskan tentang hukum Ghunnah
Mushoddadah, yang keduanya berkaitan erat dengan keindahan dengung dalam
bacaan.
Penulis juga menyertakan Bab 4 yang mengulas hukum Al-Ta’rif
untuk memperjelas perbedaan antara Al-Qomariyah dan Al-Syamsiyah.
Selanjutnya, pada Bab 5, pembaca akan diajak memahami
interaksi antarhuruf melalui hukum Idghom Mutamatsilain, Mutajanisain,
dan Mutaqoribain.
Inti dari keindahan irama tilawah dibahas secara mendalam
pada Bab 6 yang mengupas tuntas berbagai macam jenis Mad. Tidak
lupa, buku ini juga menyajikan Bab 7 tentang hukum Qolqolah untuk
memberikan efek pantulan yang benar, serta Bab 8 yang merinci hukum Ro’
dan Lam Jalalah.
Sebagai penyempurna, Bab 9 akan menutup rangkaian
materi dengan penjelasan mengenai kaidah Waqof dan Ibtida’ agar pembaca
mengetahui kapan harus berhenti dan dari mana harus memulai kembali bacaannya
secara tepat. In Syaa Alloh, melalui urutan yang teratur ini, setiap pembaca
akan mendapatkan pemahaman yang utuh dan komprehensif dalam waktu yang relatif
singkat.
Buku ini hanya fokus pada hukum-hukum tajwid, bukan
makhorijul huruf maupun sifat-sifatnya.
Bab 1: Hukum Nun
Sukun (نْ) dan Tanwin
1.1 Idzhar Halqi (إِظْهَارٌ حَلْقِيٌّ)
Idzhar
secara bahasa bermakna jelas atau tampak. Secara istilah tajwid, Idzhar
Halqi adalah mengeluarkan suara Nun Sukun atau Tanwin dari tempat keluarnya
tanpa disertai dengan Ghunnah (suara dengung) yang dipanjangkan.
Hukum ini
terjadi apabila Nun Sukun atau Tanwin bertemu dengan salah satu dari 6 huruf
Halqi (huruf yang keluar dari tenggorokan). Adapun huruf-huruf tersebut adalah
Hamzah (ء),
Ha’ (هـ),
‘Ain (ع),
Ha’ (ح),
Ghoin (غ),
dan Kho’ (خ).
Cara membacanya adalah suara Nun atau Tanwin tersebut harus terdengar jelas,
singkat, dan tegas.
Adapun 6
huruf tersebut beserta contohnya adalah sebagai berikut:
1. Hamzah (ء)
﴿وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا﴾
﴿وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ﴾
﴿كُـلٌّ ءَامَنَ بِاللَّهِ﴾
2. Ha’ (هـ)
﴿مِنْ هَادٍ﴾
﴿مِنْهُمْ مَنْ ءَامَنَ﴾
﴿جَرُفٍ هَارٍ﴾
3. ‘Ain (ع)
﴿خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ﴾
﴿أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ﴾
﴿سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾
4. Ha’
(ح)
﴿تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ﴾
﴿عَلِيمٌ حَكِيمٌ﴾
﴿فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ﴾
5. Ghoin (غ)
﴿إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ﴾
﴿فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ
رُءُوسَهُمْ﴾
﴿مِنْ غَيْرِ سُوٓءٍ﴾
6. Kho’ (خ)
﴿وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ﴾
﴿مِنْ خَوْفٍ﴾
﴿عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾
1.2
Idghom Bighunnah (إِدْغَامٌ بِغُنَّةٍ)
Idghom
secara bahasa adalah memasukkan sesuatu ke dalam sesuatu yang lain.
Secara istilah, Idghom Bighunnah adalah memasukkan suara Nun Sukun atau Tanwin
ke dalam huruf berikutnya yang berharokat sehingga menjadi satu huruf yang
bertasydid dengan disertai Ghunnah (dengung). Huruf Idghom Bighunnah ada 4 yang
terkumpul dalam lafazh (يَنْمُوْ).
Adapun
huruf-huruf tersebut beserta contohnya adalah sebagai berikut:
1. Ya’ (ي)
﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ﴾
﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ﴾
﴿أَنْ يَقُولُوا﴾
2. Nun (ن)
﴿مِنْ نِعْمَةٍ﴾
﴿عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ﴾
﴿أَمَنَةً نُعَاسًا﴾
3. Mim (م)
﴿مِنْ مَالٍ﴾
﴿عَذَابٌ مُقِيمٌ﴾
﴿صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾
4. Wau (و)
﴿مِنْ وَالٍ﴾
﴿لَهَبٍ وَتَبَّ﴾
﴿وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ
وَاقٍ﴾
1.3
Idghom Bila Ghunnah (إِدْغَامٌ بِلَا غُنَّةٍ)
Idghom Bila
Ghunnah adalah memasukkan suara Nun Sukun atau Tanwin ke dalam huruf setelahnya
tanpa disertai dengan suara dengung sama sekali. Suara Nun atau Tanwin tersebut
hilang dan langsung masuk ke dalam huruf berikutnya dengan sempurna.
Adapun
hurufnya ada 2 beserta contohnya sebagai berikut:
1. Lam (ل)
﴿وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا
أَحَدٌ﴾
﴿هُدًى لِلْمُتَّقِينَ﴾
﴿فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا﴾
2. Ro’ (ر)
﴿مِنْ رَبِّهِمْ﴾
﴿غَفُوٌّ رَحِيمٌ﴾
﴿أَنْ رَءَاهُ اسْتَغْنَىٰ﴾
1.4
Iqlab (إِقْلَابٌ)
Iqlab
secara bahasa berarti memalingkan sesuatu dari wajahnya (bentuk
aslinya).
Secara
istilah, Iqlab adalah mengubah suara Nun Sukun atau Tanwin menjadi suara Mim (م) yang disamarkan ketika
bertemu dengan huruf Ba’ (ب),
dengan tetap mempertahankan Ghunnah (dengung).
Adapun
hurufnya hanya 1 beserta contohnya sebagai berikut:
1. Ba’ (ب)
﴿لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ﴾
﴿عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ﴾
﴿مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ﴾
1.5
Ikhfa Haqiqi (إِخْفَاءٌ حَقِيقِيٌّ)
Ikhfa
secara bahasa bermakna menyembunyikan atau menyamarkan.
Secara
istilah, Ikhfa Haqiqi adalah membunyikan Nun Sukun atau Tanwin dengan suara
antara Idzhar dan Idghom, tanpa tasydid, namun tetap disertai dengan Ghunnah
(dengung) yang ditahan. Huruf Ikhfa berjumlah 15 huruf.
Adapun
huruf-huruf tersebut beserta contohnya adalah sebagai berikut:
1. Ta’ (ت)
﴿مِنْ تَحْتِهَا﴾
﴿يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ﴾
﴿وَإِنْ تَعُدُّوا﴾
2. Tsa’ (ث)
﴿مِنْ ثَمَرَةٍ﴾
﴿جَمِيعًا ثُمَّ﴾
﴿مَآءً ثَجَّاجًا﴾
3. Jim (ج)
﴿صَبْرٌ جَمِيلٌ﴾
﴿مِنْ جُوعٍ﴾
﴿فَإِنْ جَآءُوكَ﴾
4. Dal (د)
﴿مِنْ دُونِ اللَّهِ﴾
﴿قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ﴾
﴿مِنْ دَابَّةٍ﴾
5. Dzal (ذ)
﴿مَنْ ذَا الَّذِي﴾
﴿وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ﴾
﴿مِنْ ذِكْرِ رَبِّهِ﴾
6. Zay (ز)
﴿مِنْ زَقُّومٍ﴾
﴿يَوْمَئِذٍ زُرْقًا﴾
﴿مَنْ زَكَّاهَا﴾
7. Sin (س)
﴿مِنْ سِجِّيلٍ﴾
﴿وَرَجُلًا سَلَمًا﴾
﴿عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ﴾
8. Syin (ش)
﴿مِنْ شَرِّ﴾
﴿غَفُورٌ شَكُورٌ﴾
﴿بَأْسٌ شَدِيدٌ﴾
9. Shod (ص)
﴿مَنْ صَبَرَ﴾
﴿قَوْمًا صَالِحِينَ﴾
﴿عَنْ صَلَاتِهِمْ﴾
10. Dhod (ض)
﴿قَوْمًا ضَآلِّينَ﴾
﴿مَنْ ضَلَّ﴾
﴿وَكُلًّا ضَرَبْنَا﴾
11. Tho’ (ط)
﴿مِنْ طَيِّبَاتِ﴾
﴿قَوْمًا طَاغِينَ﴾
﴿شَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ﴾
12. Zho’ (ظ)
﴿مَنْ ظَلَمَ﴾
﴿ظِلًّا ظَلِيلًا﴾
﴿اُنْظُرُوا﴾
13. Fa’ (ف)
﴿مِنْ فَضْلِ اللَّهِ﴾
﴿خَالِدًا فِيهَا﴾
﴿فَإِنْ فَآءُوا﴾
14. Qof (ق)
﴿مِنْ قَبْلِ﴾
﴿شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾
﴿عَذَابٌ قَرِيبٌ﴾
15. Kaf (ك)
﴿مِنْ كُـلِّ﴾
﴿رِزْقًا كَرِيمًا﴾
Bab 2: Hukum Mim Sukun (مْ)
2.1
Ikhfa Syafawi (إِخْفَاءٌ شَفَوِيٌّ)
Secara
bahasa, Ikhfa berarti menyembunyikan atau menyamarkan, sedangkan Syafawi
berarti bibir.
Secara
istilah tajwid, Ikhfa Syafawi adalah menyuarakan Mim Sukun yang bertemu dengan
huruf Ba’ (ب)
dengan suara yang samar antara Mim dan Ba’, disertai dengan Ghunnah (dengung)
yang ditahan. Cara membacanya adalah dengan merapatkan kedua bibir secara
ringan tanpa tekanan yang kuat agar suara dengung dapat keluar dengan sempurna
dari rongga hidung.
Adapun
hurufnya hanya 1 beserta contohnya sebagai berikut:
1. Ba’ (ب)
﴿تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ﴾
﴿وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ﴾
2.2
Idghom Mimi (إِدْغَامٌ مِيمِيٌّ)
Idghom Mimi
atau sering disebut Idghom Mutamatsilain Shoghir adalah memasukkan Mim Sukun ke
dalam Mim yang berharokat setelahnya, sehingga keduanya menjadi satu huruf Mim
yang bertasydid. Dinamakan Mutamatsilain karena bertemunya dua huruf yang sama
persis makhroj dan sifatnya. Hukum ini wajib dibaca dengan Ghunnah (dengung)
yang jelas dan ditahan sepanjang 2 harokat.
Adapun
hurufnya hanya 1 beserta contohnya sebagai berikut:
1. Mim (م)
﴿أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ﴾
﴿إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ﴾
﴿لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ﴾
2.3
Idzhar Syafawi (إِظْهَارٌ شَفَوِيٌّ)
Idzhar
Syafawi adalah menyuarakan Mim Sukun dengan jelas, tegas, dan singkat tanpa
disertai Ghunnah yang dipanjangkan. Hukum ini terjadi apabila Mim Sukun bertemu
dengan seluruh huruf hijaiyah selain huruf Ba’ (ب) dan Mim (م). Perhatian khusus harus
diberikan ketika Mim Sukun bertemu dengan huruf Wau (و) dan Fa’ (ف) agar suara Mim tidak
tersamar atau berubah menjadi Ikhfa karena kedekatan makhrojnya.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
1. Huruf Ta’
(ت)
﴿أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ﴾
﴿لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
﴿أَنْتُمْ تُتْلَىٰ﴾
2. Huruf
Wau (و)
﴿عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّينَ﴾
3. Huruf Fa’
(ف)
﴿لَهُمْ فِيهَا﴾
﴿لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
Bab 3: Hukum Ghunnah Musyaddadah
Ghunnah Musyaddadah
adalah hukum yang berlaku pada huruf Nun (ن) dan Mim (م)
yang menyandang tanda tasydid (ـّ).
Secara
bahasa, Ghunnah berarti suara yang keluar dari al-khoisyum (pangkal
hidung). Hukum ini merupakan tingkatan Ghunnah yang paling sempurna (akmal).
Cara membacanya adalah dengan menahan suara pada huruf tersebut sepanjang 2 harokat
dengan dengungan yang jelas sebelum masuk ke harokat huruf itu sendiri.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
1. Huruf
Nun Tasydid (نّ)
﴿مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ﴾
﴿ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ﴾
﴿إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴾
2. Huruf
Mim Tasydid (مّ)
﴿مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ﴾
﴿وَمِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ﴾
Bab 4: Hukum Al-Ta’rif (ال)
4.1
Al Qomariyah (Idzhar Qomari)
Al-Qomariyah
terjadi apabila Alif Lam (ال)
bertemu dengan salah satu dari 14 huruf yang terkumpul dalam kalimat:
اِبْغِ حَجَّكَ وَخَفْ عَقِيْمَهُ
Cara
membacanya adalah suara Lam Sukun harus terdengar jelas (Idzhar) tanpa ada suara
yang dimasukkan ke huruf berikutnya.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
1. Huruf
Hamzah (أ)
﴿وَالْأَرْضِ﴾
2. Huruf Ba’
(ب)
﴿إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾
3.
Huruf Ghoin (غ)
﴿وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ﴾
4.
Huruf Ha’ (ح)
﴿تَنْزِيلُ الْحَكِيمِ الْحَمِيدِ﴾
5.
Huruf Jim (ج)
﴿يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ﴾
6.
Huruf Kaf (ك)
﴿ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ
فِيهِ﴾
7.
Huruf Wau (و)
﴿إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ﴾
8.
Huruf Kho’ (خ)
﴿هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ
الْبَارِئُ﴾
9.
Huruf Fa’ (ف)
﴿إِذَا جَآءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ﴾
10.
Huruf ‘Ain (ع)
﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
11.
Huruf Qof (ق)
﴿اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ﴾
12.
Huruf Ya’ (ي)
﴿وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ﴾
13.
Huruf Mim (م)
﴿تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ﴾
14. Huruf
Ha’ (هـ)
﴿إِنَّ هُدَىٰ اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ﴾
4.2
Al Syamsiyah (Idghom Syamsi)
Al-Syamsiyah
terjadi apabila Alif Lam (ال)
bertemu dengan 14 huruf hijaiyah selain huruf Qomariyah. Cara membacanya adalah
suara Lam Sukun tidak dibaca (lebur) dan langsung dimasukkan ke huruf
berikutnya sehingga huruf tersebut menjadi bertasydid.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
1. Huruf
Tho’ (ط)
﴿وَالسَّمَآءِ وَالطَّارِقِ﴾
2.
Huruf Tsa’ (ث)
﴿مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا﴾
3. Huruf
Shod (ص)
﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴾
4. Huruf Ro’
(ر)
﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ﴾
5.
Huruf Ta’ (ت)
﴿وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ﴾
6.
Huruf Dhod (ض)
﴿وَلَا الضَّآلِّينَ﴾
7.
Huruf Dzal (ذ)
﴿وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا﴾
8.
Huruf Nun (ن)
﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾
9. Huruf
Dal (د)
﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾
10.
Huruf Sin (س)
﴿وَالسَّمَآءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ﴾
11.
Huruf Zho’ (ظ)
﴿وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ
لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا﴾
12. Huruf
Zay (ز)
﴿وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخْلَ﴾
13. Huruf
Syin (ش)
﴿وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا﴾
14. Huruf
Lam (ل)
﴿وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى﴾
Bab 5: Hukum Idghom Mutamatsilain,
Mutajanisain, dan Mutaqoribain
5.1
Idghom Mutamatsilain (إِدْغَامٌ مُتَمَاثِلَيْنِ)
Idghom
Mutamatsilain terjadi apabila bertemunya dua huruf yang sama, baik makhroj
maupun sifatnya, di mana huruf pertama sukun dan huruf kedua berharokat. Cara
membacanya adalah dengan memasukkan huruf pertama ke dalam huruf kedua sehingga
menjadi satu huruf yang bertasydid. Dalam bab ini, pembahasan difokuskan pada
selain huruf Nun dan Mim yang telah dibahas sebelumnya.
Berikut sebagian
contoh-contohnya:
1. Huruf
Dal (د)
bertemu Dal (د)
﴿وَقَدْ دَخَلُوا بِالْكُفْرِ﴾
2. Huruf Ba’
(ب) bertemu Ba’ (ب)
﴿اذْهَبْ بِكِتَابِي﴾
3. Huruf
Kaf (ك)
bertemu Kaf (ك)
﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ
الْمَوْتُ﴾
5.2
Idghom Mutajanisain (إِدْغَامٌ مُتَجَانِسَيْنِ)
Idghom
Mutajanisain adalah bertemunya dua huruf yang sama makhrojnya (tempat
keluarnya), namun berbeda sebagian sifatnya. Ketika huruf pertama sukun dan
kedua berharokat, maka huruf pertama dileburkan ke dalam huruf kedua.
Berikut
adalah rincian huruf-huruf Idghom Mutajanisain (pertemuan dua huruf yang sama
makhroj namun beda sifat) disertai penjelasan dan 3 contoh untuk tiap kasusnya:
1. Kelompok Huruf Nith’iyyah
(ت - د - ط)
Kelompok
ini keluar dari ujung lidah yang bertemu dengan pangkal gigi seri bagian atas.
Kasus A:
Dal (د)
sukun bertemu Ta’ (ت)
Penjelasan:
Suara huruf Dal melebur sepenuhnya ke dalam huruf Ta’, sehingga Dal tidak lagi
dipantulkan (tidak ada Qolqolah) dan langsung masuk ke Ta’ yang bertasydid.
﴿قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ
مِنَ الْغَيِّ﴾
﴿لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَهُمْ﴾
﴿وَلَآ أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ﴾
Kasus B: Ta’
(ت) sukun bertemu Dal (د)
Penjelasan:
Suara huruf Ta’ melebur sepenuhnya ke dalam huruf Dal. Huruf Dal dibaca dengan
jelas dan kuat karena menjadi tempat peleburan.
﴿فَلَمَّآ أَثْقَلَتْ دَعَوَا
اللَّهَ رَبَّهُمَا﴾
﴿قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا﴾
Kasus C: Ta’
(ت) sukun bertemu Tho’ (ط)
Penjelasan:
Suara huruf Ta’ yang tipis melebur ke dalam huruf Tho’ yang tebal. Cara
membacanya adalah dengan langsung mengucapkan Tho’ yang bertasydid.
﴿وَدَّتْ طَآئِفَةٌ مِنْ أَهْلِ
الْكِتَابِ﴾
﴿إِذْ هَمَّتْ طَآئِفَتَانِ
مِنْكُمْ﴾
﴿فَآمَنَتْ طَآئِفَةٌ مِنْ
بَنِي إِسْرَائِيلَ﴾
Kasus D:
Tho’ (ط)
sukun bertemu Ta’ (ت)
Penjelasan:
Kasus ini disebut Idghom Naqish (tidak sempurna). Sifat kuat dan tebal (Itbaq)
dari huruf Tho’ tetap ditampakkan sedikit tanpa dipantulkan (Qolqolah), lalu
kemudian lisan mengucapkan huruf Ta’.
﴿لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ
يَدَكَ﴾
﴿فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ
تُحِطْ بِهِ﴾
﴿وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ
فِي يُوسُفَ﴾
2. Kelompok Huruf
Litsawiyyah (ث - ذ - ظ)
Kelompok
ini keluar dari ujung lidah yang bertemu dengan ujung gigi seri bagian atas.
Kasus A:
Tsa’ (ث)
sukun bertemu Dzal (ذ)
Penjelasan:
Huruf Tsa’ melebur ke dalam huruf Dzal. Dalam Al-Qur’an hal ini hanya terjadi
pada satu tempat (QS. Al-A’rof: 176) ketika dibaca washol (sambung).
﴿يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ﴾
Kasus B:
Dzal (ذ)
sukun bertemu Zho’ (ظ)
Penjelasan:
Huruf Dzal yang tipis melebur ke dalam huruf Zho’ yang tebal, sehingga yang
terdengar adalah suara Zho’ yang bertasydid.
﴿إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ﴾
﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ﴾
﴿إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ
فِي الْعَذَابِ﴾
3. Kelompok Huruf
Syafawiyyah (ب - م)
Kelompok
ini keluar dari pertemuan dua bibir.
Kasus A: Ba’
(ب) sukun bertemu Mim (م)
Penjelasan:
Huruf Ba’ melebur sepenuhnya ke dalam huruf Mim. Karena Mim merupakan huruf
Ghunnah, maka peleburan ini harus disertai dengan dengung yang ditahan
(Ghunnah). Hal ini hanya terdapat di satu tempat dalam Al-Qur’an (QS. Hud: 42).
﴿يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا﴾
5.3
Idghom Mutaqoribain (إِدْغَامٌ مُتَقَارِبَيْنِ)
Idghom
Mutaqoribain adalah bertemunya dua huruf yang berdekatan makhroj dan sifatnya.
Huruf pertama sukun dan huruf kedua berharokat, sehingga huruf pertama
dileburkan ke huruf kedua.
Berikut
adalah penyederhanaan huruf-huruf Idghom Mutaqoribain (pertemuan dua huruf yang
berdekatan tempat keluar dan sifatnya) beserta penjelasannya:
1. Huruf Qof (ق)
bertemu Kaf (ك)
Penjelasan:
Suara huruf
Qof dileburkan sepenuhnya ke dalam huruf Kaf. Cara membacanya adalah langsung
menuju huruf Kaf yang bertasydid tanpa memantulkan suara Qof (tanpa Qolqolah).
Contoh:
﴿أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ
مَآءٍ مَهِينٍ﴾
2. Huruf Lam (ل)
bertemu Ro’ (ر)
Penjelasan:
Suara huruf
Lam dileburkan sepenuhnya ke dalam huruf Ro’. Cara membacanya adalah dengan
langsung mengucapkan huruf Ro’ yang bertasydid seolah-olah huruf Lam di
depannya sudah tidak ada.
Contoh:
﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾
﴿بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ﴾
﴿وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ﴾
Dalam
riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim (yang umum digunakan di Indonesia), Idghom
Mutaqoribain hanya berfokus pada dua keadaan di atas.
Bab 6: Hukum Mad (Bacaan Panjang)
6.1
Mad Ashli (مَدٌّ طَبِيعِيٌّ)
Mad Ashli
atau Mad Thobi’i adalah mad yang terjadi karena adanya huruf mad yang asli dan
tidak bertemu dengan Hamzah atau Sukun setelahnya. Panjang bacaannya adalah 2 harokat.
Huruf mad ada 3: Alif (setelah fathah), Wau sukun (setelah dhommah), dan Ya’
sukun (setelah kasroh).
Berikut
adalah contoh-contohnya:
1. Alif (ا)
﴿قَالَ﴾
﴿يَآ أَيُّهَا﴾
﴿مَا لَكُمْ﴾
2. Wau (و)
﴿يَقُولُ﴾
﴿تَكُونُوا﴾
﴿قُولُوا﴾
3. Ya’ (ي)
﴿فِيهَا﴾
﴿دِينِكُمْ﴾
﴿الَّذِي﴾
6.2
Mad Wajib Muttashil (مَدٌّ وَاجِبٌ مُتَّصِلٌ)
Mad Wajib
Muttashil terjadi apabila Mad Thobi’i bertemu dengan Hamzah (ء) dalam satu kata. Cara
membacanya wajib dipanjangkan 4 sampai 5 harokat.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
﴿مَنْ جَآءَ﴾
﴿وَالسَّمَآءَ﴾
﴿وَجِيٓءَ﴾
﴿هَنِيٓئًا مَرِيٓئًا﴾
﴿دُعَآءً وَنِدَآءً﴾
6.3
Mad Jaiz Munfashil (مَدٌّ جَائِزٌ مُنْفَصِلٌ)
Mad Jaiz
Munfashil terjadi apabila Mad Thobi’i bertemu dengan Hamzah (ء) namun berada di lain kata
(terpisah). Panjang bacaannya boleh 2, 4, atau 5 harokat.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
﴿إِنَّآ أَنْزَلْنَاهُ﴾
﴿قُولُوآ ءَامَنَّا﴾
﴿تُوبُوآ إِلَى اللَّهِ﴾
﴿بِمَآ أُنْزِلَ﴾
﴿قُلْ يَآ أَيُّهَا الْكَافِرُونَ﴾
﴿وَمَآ أَدْرَاكَ﴾
6.4
Mad Aridh Lissukun (مَدٌّ عَارِضٌ لِلسُّكُونِ)
Mad
Aridh Lissukun
terjadi apabila Mad Ashli bertemu dengan huruf hidup dalam satu kalimat,
kemudian bacaan tersebut diwaqofkan (berhenti). Hukum ini disebut Aridh karena
sukun yang terjadi adalah sukun mendatang (tidak asli) disebabkan oleh
pemberhentian nafas. Jika dibaca sambung (washol), maka hukumnya kembali
menjadi Mad Ashli. Panjang bacaannya boleh 2, 4, atau 6 harokat.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 2 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
3 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾
6.5
Mad Badal (مَدٌّ بَدَلٌ)
Mad Badal
terjadi apabila huruf Hamzah (ء)
bertemu dengan huruf Mad dalam satu kata, di mana posisi Hamzah mendahului
huruf Mad tersebut. Dinamakan Badal (pengganti) karena asalnya huruf Mad
tersebut adalah Hamzah sukun yang diganti menjadi Mad agar mudah diucapkan.
Panjang bacaannya adalah 2 harokat.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
ءَءْمَنُوا = ﴿ءَامَنُوا﴾
إِءْمَانًا = ﴿إِيمَانًا﴾
أُءْتُوا = ﴿أُوتُوا﴾
6.6
Mad ‘Iwadh (مَدٌّ عِوَضٌ)
Mad ‘Iwadh
adalah Mad yang terjadi karena penggantian suara Tanwin Fathah (Fathatain)
ketika diwaqofkan di akhir kalimat, kecuali pada huruf Ta’ Marbuthoh. Suara
Tanwin tersebut diganti menjadi bunyi Mad panjang sebagai pengganti (iwadh)
dari suara Tanwin yang hilang. Panjang bacaannya adalah 2 harokat.
Berikut adalah
contoh-contohnya:
﴿أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا 6 وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا 7 وَخَلَقْنَاكُمْ
أَزْوَاجًا 8 وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا 9 وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا﴾
Terbaca:
أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادَا 6 وَالْجِبَالَ أَوْتَادَا
7 وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجَا 8 وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ
سُبَاتَا 9 وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسَا
6.7
Mad Layyin (مَدٌّ لِينٌ)
Mad Layyin
terjadi apabila huruf Wau sukun (و) atau Ya’ sukun (ي) didahului oleh huruf berharokat Fathah dan setelahnya ada
huruf hidup yang dibaca sukun karena waqof. Jika dibaca washol
(sambung), maka tidak ada Mad (hanya dibaca lunak). Panjang bacaannya saat
waqof adalah 2, 4, atau 6 harokat.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
﴿لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ 1 إِيلَافِهِمْ
رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ 2 فَلْيَعْبُدُوا
رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ 3 الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ
جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ﴾
6.8
Mad Lazim (Kalimi dan Harfi)
Mad Lazim
adalah Mad yang bertemu dengan huruf bersukun asli (bukan karena waqof). Mad
Lazim terbagi menjadi Kilmi (dalam kata) dan Harfi (dalam huruf pembuka surat).
Masing-masing terbagi lagi menjadi Mutsaqqol (berat/tasydid) dan Mukhoffaf
(ringan). Panjang bacaannya wajib 6 harokat.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
1. Mad Lazim Kalimi
Mutsaqqol
Hukum ini (مَدٌّ لَازِمٌ كَلِمِيٌّ
مُثَقَّلٌ) terjadi
apabila Mad Thobi’i bertemu dengan huruf bertasydid dalam satu kata. Dibaca
panjang 6 rokaat.
﴿وَلَا الضَّآلِّينَ﴾
﴿الْحَآقَّةُ﴾
﴿مِنْ دَآبَّةٍ﴾
﴿جَآءَتِ
الصَّآخَّةُ﴾
﴿أَتُحَآجُّونِّي﴾
2.
Mad Lazim Kalimi Mukhoffaf
Hukum ini (مَدٌّ لَازِمٌ كَلِمِيٌّ
مُخَفَّفٌ) terjadi
apabila Mad Thobi’i bertemu dengan huruf sukun asli dalam satu kata. Hanya ada
2 tempat dalam Al-Qur’an (keduanya di surat Yunus). Dibaca panjang 6 rokaat.
﴿آلْاٰنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ﴾
﴿آلْاٰنَ وَقَدْ
كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ﴾
Kata ﴿آلْاٰنَ﴾ (apakah sekarang?) sebenarnya
terdiri dari dua bagian:
Hamzah
Istifham (Pertanyaan): ﴿أَ﴾ yang berarti “apakah”.
Kata
Keterangan Waktu: ﴿الْآنَ﴾ yang berarti “sekarang”.
Jika
digabungkan secara bahasa, seharusnya menjadi «أَأَلْاٰنَ». Namun, karena bertemunya dua Hamzah di awal kata itu dirasa
berat dalam lisan Arab, maka Hamzah yang kedua diganti menjadi huruf Mad (Alif)
dan dileburkan, sehingga tertulis menjadi: آلْاٰنَ.
3. Mad Lazim Harfi
Mutsaqqol
Hukum ini (مَدٌّ لَازِمٌ حَرْفِيٌّ
مُثَقَّلٌ) terjadi
pada huruf Fawatihussuwar (pembuka surat) yang jika dieja terdiri dari 3 huruf
dan huruf tengahnya adalah Mad, serta huruf terakhirnya diidghomkan
(diberatkan) ke huruf setelahnya. Dibaca panjang 6 rokaat.
﴿الٓمٓ﴾ —
Pada huruf Lam (لاَمْ)
yang masuk ke Mim.
﴿الٓمٓصٓ﴾ —
Pada huruf Lam (لاَمْ)
yang masuk ke Mim.
﴿طسٓمٓ﴾ —
Pada huruf Sin (سِيْنْ)
yang masuk ke Mim.
4.
Mad Lazim Harfi Mukhoffaf
Hukum ini (مَدٌّ لَازِمٌ حَرْفِيٌّ
مُخَفَّفٌ) terjadi
pada huruf pembuka surat yang jika dieja terdiri dari 3 huruf dan huruf
tengahnya adalah Mad, namun huruf terakhirnya sukun murni (tidak
diidghomkan). Dibaca panjang 6 rokaat.
﴿قٓ﴾ —
Dibaca (قَافْ).
﴿نٓ﴾ —
Dibaca (نُوْنْ).
﴿صٓ﴾ —
Dibaca (صَادْ).
﴿الٓر﴾ —
Pada huruf Lam (لاَمْ)
karena tidak bertemu Mim.
﴿حمٓ﴾ —
Pada huruf Mim (مِيْمْ).
Catatan:
Tanda ﴿ ٓ ﴾ di atas huruf menunjukkan panjang 6 rokaat (3 Alif) sebagai bentuk
kehati-hatian dalam membaca Mad Lazim agar sempurna panjangnya.
Maksud dari
3 huruf dalam definisi tersebut adalah jumlah huruf saat dieja (diucapkan),
bukan jumlah huruf yang tertulis di dalam Mushof.
Di dalam
Al-Qur’an, ia tertulis sebagai 1 huruf saja, namun cara membacanya harus
diuraikan menjadi 3 huruf.
Agar tidak
bingung, mari kita lihat perbandingannya antara yang tertulis di Mushof dengan
cara lisan mengucapkannya:
Huruf Shod ﴿صٓ﴾, ia tertulis: 1 huruf saja
yaitu ﴿ص﴾.
Jika dieja,
ia menjadi 3 huruf yaitu ﴿صَادْ﴾ (Sod
- Alif - Dal).
Huruf
tengahnya adalah Alif (huruf Mad), dan huruf terakhirnya adalah Dal sukun.
Karena ia dieja dengan 3 huruf, maka ia disebut Mad Lazim Harfi Mukhoffaf.
6.9
Mad Shilah (Sughro dan Kubro)
Mad Shilah adalah
Mad yang terjadi pada Ha’ Domir (kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki
yaitu ـه) yang terletak di antara dua huruf hidup.
Mad Shilah
Sughro (مَدٌّ صِلَةٌ صُغْرَى) dibaca 2 harokat, sedangkan Mad Shilah Kubro atau (مَدٌّ صِلَةٌ كُبْرَى) terjadi jika Ha’ Domir
bertemu Hamzah, dibaca 4-5 harokat.
1. Mad Shilah Sughro
Terjadi
apabila Haa’ Dhomir bertemu dengan huruf selain Hamzah. Panjangnya adalah 2
rokaat (1 Alif).
﴿لَهُۥ مَا فِي السَّمَاوَاتِ﴾
﴿إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابًا﴾
﴿فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٌ﴾
﴿بِهِۦ كَثِيرًا﴾
Catatan:
Jika waqof, Mad ini hilang.
2. Mad Shilah Kubro
Terjadi apabila
Haa’ Dhomir bertemu dengan huruf Hamzah ﴿أ﴾. Panjangnya adalah 4 sampai 5
rokaat. Dalam Mushof Madinah, ditandai dengan bendera (tanda Mad) di atas Wau
kecil ﴿ۥٓ﴾ atau Ya’ kecil.
﴿مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُ﴾
﴿عِنْدَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾
﴿بِهِۦٓ أَنْ يُوصَلَ﴾
﴿مِنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَاءَ﴾
﴿وَأَنَّىٰ لَهُۥٓ أَنَّىٰ﴾
Pengecualian
Penting:
Pada kata ﴿يَرْضَهُ لَكُمْ﴾, tidak dibaca Mad Shilah
(dibaca pendek) meskipun memenuhi syarat.
Pada kata ﴿فِيهِ مُهَانًا﴾, dibaca panjang 2 rokaat (Mad
Shilah) meskipun huruf sebelumnya sukun (sebagai bentuk penghinaan/takhwif
kepada penghuni Naar).
Bab 7: Hukum Qolqolah (قَلْقَلَةٌ)
Qolqolah
ada 2: sughro dan kubro.
7.1
Qolqolah Sughro (قَلْقَلَةٌ صُغْرَى)
Qolqolah
secara bahasa berarti getaran atau pantulan. Qolqolah Sughro (kecil)
terjadi apabila salah satu dari huruf Qolqolah yang terkumpul dalam lafazh “Quthbu
Jadin” (ق، ط، ب، ج، د) berharokat sukun asli dan terletak di tengah kata atau
kalimat. Pantulannya tidak terlalu kuat.
Berikut adalah contoh-contohnya sesuai dengan masing-masing huruf:
1. Huruf Qof (ق)
﴿وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا
حَسَنًا﴾
﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ
الَّذِي خَلَقَ﴾
2. Huruf Tho’ (ط)
﴿أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ﴾
﴿لَيَطْغَىٰ﴾
3. Huruf Ba’ (ب)
﴿وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا﴾
﴿وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ
يُبْصِرُونَ﴾
4. Huruf Jim (ج)
﴿فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ
النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ﴾
﴿أَلَمْ يَـجْعَلْ كَيْدَهُمْ
فِي تَضْلِيلٍ﴾
5. Huruf Dal (د)
﴿وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ
الْقَدْرِ﴾
Catatan: Ciri utama Qolqolah Shughro adalah tanda sukunnya terlihat
jelas di dalam Mushof dan berada di tengah-tengah kata, sehingga nafas tidak
berhenti setelah pantulan tersebut.
7.2
Qolqolah Kubro (قَلْقَلَةٌ كُبْرَى)
Qolqolah
Kubro (besar) terjadi apabila salah satu dari huruf Qolqolah berada di akhir
kata dan dibaca sukun karena waqof (berhenti). Pantulan suaranya lebih kuat dan
jelas dibandingkan Qolqolah Sughro.
Berikut adalah contoh-contohnya untuk setiap huruf:
1. Huruf Qof (ق)
﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ﴾
﴿وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ﴾
﴿وَالسَّمَآءِ ذَاتِ الْحُبُقِ﴾
2. Huruf Tho’ (ط)
﴿وَاللَّهُ مِنْ وَرَآئِهِمْ مُحِيطٌ﴾
3. Huruf Ba’ (ب)
﴿فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ﴾
4. Huruf Jim (ج)
﴿وَالسَّمَآءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ﴾
5. Huruf Dal (د)
﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾
﴿اللَّهُ الصَّمَدُ﴾
﴿لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ﴾
Catatan Penting:
Jika huruf Qolqolah di akhir ayat tersebut bertasydid (seperti pada kata
﴿وَتَبَّ﴾), maka cara membacanya adalah dengan
menahan sejenak (nabr) baru kemudian dipantulkan dengan sangat kuat.
Sebagian ulama menyebut tingkat ini sebagai Qolqolah Akbar.
Bab 8: Hukum Ro’ dan Lam Jalalah
8.1
Ro’ Tafkhim (رَاءٌ تَفْخِيمٌ)
Ro’ Tafkhim
adalah huruf Ro’ yang dibaca dengan suara tebal dengan cara mengangkat pangkal
lidah ke langit-langit. Hal ini terjadi di antaranya jika Ro’ berharokat
Fathah, Dhommah, atau Ro’ sukun yang didahului Fathah atau Dhommah.
Membunyikan
huruf Ro’ (ر)
dengan suara tebal sehingga memenuhi mulut. Hal ini terjadi dalam beberapa
kondisi utama, di antaranya:
1. Ro’
berharokat Fathah atau Fathatain
﴿رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
﴿سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ
لَهَبٍ﴾
﴿طَيْرًا أَبَابِيلَ﴾
2. Ro’
berharokat Dhommah atau Dhommatain
﴿رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ﴾
﴿نَصْـرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ
قَرِيبٌ﴾
﴿وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ﴾
3. Ro’
sukun didahului huruf berharokat Fathah atau Dhommah
﴿وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا
أَبَابِيلَ﴾
﴿تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ﴾
﴿قُرْآنٌ مَجِيدٌ﴾
4. Ro’
sukun didahului Hamzah Washol Meskipun Hamzah Washol tersebut berharokat kasroh
(baik nampak maupun tidak), Ro’ tetap dibaca tebal.
﴿ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً﴾
﴿أَمِ ارْتَابُوا﴾
﴿لِمَنِ ارْتَضَىٰ﴾
5. Ro’
sukun didahului huruf berharokat Kasroh namun bertemu Huruf Isti’la’.
Syaratnya, huruf Isti’la’ tersebut harus berada dalam satu kata dan tidak
berharokat kasroh.
﴿إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ﴾
﴿قِرْطَاسٍ﴾
﴿فِرْقَةٍ﴾
Catatan:
Huruf Isti’la’ yang dimaksud adalah ﴿خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ﴾.
Jika Ro’ sukun bertemu salah satu huruf ini setelah kasroh asli dalam satu
kata, maka sifat tipisnya Ro’ kalah oleh sifat tebalnya huruf Isti’la’.
8.2
Ro’ Tarqiq (رَاءٌ تَرْقِيقٌ)
Ro’ Tarqiq
adalah huruf Ro’ yang dibaca dengan suara tipis. Hal ini terjadi jika Ro’
berharokat Kasroh atau Ro’ sukun yang didahului Kasroh asli dan tidak bertemu
huruf Isti’la.
Saat
mengucapkannya, posisi lidah berada di bawah (menurun) sehingga suara tidak
memenuhi mulut. Hal ini terjadi dalam beberapa kondisi berikut:
1. Ro’
berharokat Kasroh atau Kasrotain
Suara Ro’
dibaca tipis baik di awal, tengah, maupun akhir kata selama ia hidup dengan
harokat kasroh.
﴿رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ﴾
﴿لَفِي خُسْـرٍ إِلَّا﴾
2. Ro’
sukun didahului huruf berharokat Kasroh asli
Syaratnya
adalah kasroh tersebut asli (bukan hamzah washol) dan setelah Ro’ sukun tidak
terdapat huruf Isti’la’ dalam satu kata.
﴿فِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ﴾
﴿وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ﴾
3. Ro’
sukun di akhir kata (karena waqof) didahului huruf Kasroh
﴿عَلَىٰ رَجْعِهِ لَقَادِرٌ﴾
﴿هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ﴾
﴿فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ﴾
4. Ro’
sukun di akhir kata (karena waqof) didahului Ya’ sukun (Ya’ Mad atau Ya’ Lin)
Kondisi ini
khusus untuk waqof, di mana Ro’ tetap dibaca tipis meskipun huruf sebelum Ya’
berharokat fathah atau dhommah.
﴿إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾
﴿ذَٰلِكَ خَيْرٌ﴾
﴿لَا ضَيْرَ﴾
5. Ro’
sukun di akhir kata (karena waqof) didahului huruf mati selain Ya’, dan
sebelumnya lagi ada huruf berharokat Kasroh
﴿لِذِي الذِّكْرِ﴾
﴿بِالسِّحْرِ﴾
Catatan:
Perbedaan
utama antara Tafkhim dan Tarqiq pada huruf Ro’ terletak pada harokat yang
menyertainya atau yang mendahuluinya. Kasroh adalah kunci utama suara tipis
(Tarqiq) pada huruf Ro’.
8.3
Hukum Lam pada Lafzhul Jalalah (الله)
Huruf Lam
pada nama “Alloh” memiliki dua cara baca. Pertama, Tafkhim (tebal) jika
didahului Fathah atau Dhommah. Kedua, Tarqiq (tipis) jika didahului Kasroh.
Berikut
adalah contoh-contohnya:
1. Lam
Tafkhim didahului Fathah
﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ﴾
﴿شَهِدَ اللَّهُ﴾
﴿إِنَّ اللَّهَ﴾
2. Lam
Tafkhim didahului Dhommah
﴿نَصْرُ اللَّهِ﴾
﴿رَسُولُ اللَّهِ﴾
﴿يُرِيدُ اللَّهُ﴾
3. Lam
Tarqiq didahului Kasroh
﴿بِسْمِ اللَّهِ﴾
﴿فِي دِينِ اللَّهِ﴾
Bab 9: Hukum Waqof dan Ibtida’
9.1
Macam-macam Waqof (Tam, Kafi, Hasan, Qobih)
Waqof (وَقَفَ) secara bahasa artinya
berhenti. Dalam ilmu tajwid, waqof adalah memutuskan suara di akhir kata
sejenak untuk mengambil nafas dengan niat melanjutkan kembali bacaan.
Berikut
adalah rincian jenis-jenis waqof ditinjau dari sisi maknanya:
1. Waqof Tam (Sempurna)
Waqof
Tam (وَقْفٌ تَامٌّ) adalah berhenti pada suatu
kata yang sudah sempurna maknanya dan tidak memiliki kaitan lagi dengan ayat
setelahnya, baik dari segi lafazh (tata bahasa) maupun makna (isi pembahasan).
Biasanya terdapat di akhir ayat yang pembahasannya sudah selesai.
﴿وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
—
Berhenti di sini sempurna karena ayat berikutnya mulai membahas orang-orang
kafir.
﴿لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ﴾
— Akhir
surat, pembahasan selesai total.
﴿إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾
— Selesai
menjelaskan perumpamaan orang munafiq.
2. Waqof Kafi (Cukup)
Waqof
Kafi (وَقْفٌ كَافٍ) adalah berhenti pada suatu
kata yang sudah sempurna maknanya, namun secara isi (tema) masih berkaitan
dengan ayat setelahnya, meskipun secara lafazh (tata bahasa) sudah terputus.
Ini adalah jenis waqof yang paling banyak ditemui.
﴿أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ﴾
— Maknanya
sudah jelas, tapi ayat ke-7 masih berkaitan menjelaskan alasan mereka tidak
beriman (Alloh mengunci hati mereka).
﴿فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ﴾
—
Berhenti di sini cukup, namun kalimat selanjutnya masih menjelaskan tambahan
adzab bagi mereka.
﴿الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ﴾
— Sudah
dipahami, namun masih bersambung dengan sifat-sifat orang bertaqwa berikutnya.
3. Waqof Hasan (Baik)
Waqof
Hasan (وَقْفٌ حَسَنٌ) adalah berhenti pada suatu
kata yang sudah difahami maksudnya, namun secara lafazh dan makna masih
berkaitan erat dengan kata setelahnya. Disukai berhenti di sini jika di akhir
ayat, namun jika di tengah ayat, maka sebaiknya diulang (ibtida’) dari
kata sebelumnya.
﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ﴾
—
Maknanya sudah baik (Segala puji bagi Alloh), namun secara lafazh masih
bergantung pada kata ﴿رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾.
﴿بِسْمِ اللَّهِ﴾
—
Maknanya sudah baik, namun berkaitan dengan kata setelahnya.
4. Waqof Qobih (Buruk)
Waqof
Qobih (وَقْفٌ قَبِيحٌ) adalah berhenti pada kata
yang belum sempurna maknanya karena berkaitan sangat erat secara lafazh dan
makna dengan kata berikutnya, sehingga merusak arti atau memberikan pemahaman
yang salah/sesat.
﴿لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ﴾
—
Berhenti di sini sangat buruk karena artinya menjadi “Janganlah kalian
mendekati Sholat”, padahal lanjutannya adalah “saat kalian mabuk”.
﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي﴾
—
Berhenti di sini salah karena artinya “Sesungguhnya Alloh tidak memberi
petunjuk”, padahal ada kelanjutannya (misal: orang yang zholim).
﴿فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ﴾
—
Berhenti pada kata ﴿وَاللَّهُ﴾
seolah-olah Alloh yang bingung/terdiam, padahal lanjutannya ﴿لَا يَهْدِي
الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾.
Catatan:
Waqof Tam,
Kafi, dan Hasan adalah jenis waqof yang diperbolehkan (Ikhtiyari), sedangkan
Waqof Qobih harus dihindari kecuali dalam keadaan terpaksa (seperti habis
nafas, bersin, atau batuk), dan jika terjadi maka wajib mengulang dari kata
sebelumnya agar maknanya benar.
9.2
Tanda-tanda Waqof dalam Mushof
Tanda waqof
adalah simbol-simbol yang diletakkan oleh para ulama ahli qiroah untuk
memudahkan pembaca dalam menentukan tempat berhenti yang tepat.
1. Waqof Lazim (م)
Tanda Mim
kecil ini menunjukkan bahwa pembaca wajib berhenti. Jika dipaksakan lanjut (washol),
maka dikhawatirkan akan merusak atau mengubah makna ayat.
﴿إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ ۘ﴾
Berhenti di
sini karena kalimat berikutnya membahas tentang orang mati yang akan
dibangkitkan.
﴿فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘ﴾
2.
Waqof Laa Washol (لا)
Tanda ini
berarti dilarang berhenti. Jika tanda ini berada di tengah ayat, maka jangan
berhenti kecuali darurat (habis nafas). Jika terpaksa berhenti, maka harus
diulang (ibtida’) dari kata sebelumnya. Namun, jika tanda ini berada di
akhir ayat (di atas nomor ayat), maka boleh berhenti.
﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ
سَلَامٌ عَلَيْكُمُ﴾
Jangan
berhenti pada kata ﴿طَيِّبِينَ﴾.
3. Waqof Ja’iz (ج)
Tanda Jim
kecil ini menunjukkan hukum: boleh berhenti dan boleh lanjut. Kedua pilihan ini
memiliki derajat yang sama kuatnya.
﴿نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ﴾
﴿مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ﴾
﴿قُلْ رَ
بِّىٓ أَعْلَمُ
بِعِدَّتِهِمْ ۚ﴾
4. Waqof Al-Washlu Aula (صلى)
Singkatan
dari Al-Washlu Aula yang artinya melanjutkan bacaan lebih utama. Pembaca boleh
berhenti, namun menyambungnya hingga kata berikutnya lebih baik dari sisi
kesempurnaan makna.
﴿وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ
إِلَّا هُوَ ۖ﴾
﴿قُلْ أَتُعَلِّمُونَ
اللَّهَ بِدِينِكُمْ ۖ﴾
﴿فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ ۖ﴾
5.
Waqof Al-Waqfu Aula (قلى)
Singkatan
dari Al-Waqfu Aula yang artinya berhenti lebih utama. Pembaca boleh melanjutkan
(washol), namun berhenti pada tanda ini lebih disukai untuk menjaga
kejelasan makna.
﴿قَالَ يَا قَوْمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِى هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۗ﴾
﴿وَمَا
يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا اللَّهُ ۗ﴾
6.
Waqof Mu’anaqoh (ۛۛ)
Berupa tiga
titik kembar yang muncul dua kali. Hukumnya adalah berhenti di salah satu tanda
saja. Jika sudah berhenti di tanda pertama, maka jangan berhenti di tanda
kedua, dan sebaliknya.
﴿ذَالِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ﴾
Boleh
berhenti di ﴿لَا رَيْبَ﴾
atau berhenti di ﴿فِيهِ﴾.
Penting
untuk diingat:
Mengenal
tanda-tanda ini sangat membantu kita dalam menjaga makna Kalamulloh agar
tidak terjadi kesalahpahaman saat didengar oleh orang lain. Jika nafas terasa
pendek, pilihlah tanda ﴿قلى﴾
atau ﴿ج﴾ untuk berhenti.
Penutup
Segala puji
hanya milik Alloh ﷻ
yang dengan rohmat-Nya penulisan ringkasan hukum tajwid ini dapat diselesaikan.
Membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai kaidah tajwid adalah bentuk adab kita
terhadap Kalamulloh.
Ringkasan
ini diharapkan dapat membantu kaum Muslimin dalam memahami intisari hukum-hukum
bacaan tanpa merasa terbebani dengan istilah yang rumit. Namun, perlu diingat
bahwa ilmu tajwid tidak cukup hanya dipelajari secara teori melalui tulisan,
melainkan harus disertai dengan praktik langsung di hadapan seorang guru yang
mumpuni.
Semoga
usaha kecil ini dicatat sebagai amal jariyah dan memberikan manfaat yang luas
bagi siapa saja yang mempelajarinya. In Syaa Alloh, dengan niat yang ikhlas dan
taqwa kepada-Nya, kita akan dimudahkan dalam mempelajari serta mengamalkan isi
Al-Qur’an.
Subhanalloh,
walhamdulillah, wala ilaha illalloh, Allohu Akbar.
Alloh yang
lebih tahu.[NK]
Daftar Pustaka
Al-Jazari,
Muhammad bin Muhammad (833 H). Al-Muqoddimah fima ‘ala Qori’ihi an Ya’lamahu
(Matan Al-Jazariyyah).
Al-Jamzuri,
Sulaiman bin Muhammad (setelah 1208 H). Tuhfatul Athfal wal Ghilman fi
Tajwidil Qur’an.
