[PDF] Kondisi Fasilitas Hidup di Zaman Kenabian - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam yang telah memberikan ni’mat yang tidak terhitung jumlahnya.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh ﷺ, keluarga, serta para
Shohabat yang telah mencontohkan puncak kesabaran di tengah himpitan hidup yang
serba terbatas.
Amma ba’du:
Sungguh,
hari ini kita hidup di zaman yang dipenuhi dengan segala kemudahan. Air
mengalir hanya dengan memutar keran, cahaya benderang hanya dengan menekan
saklar, dan udara dingin hadir hanya dengan memencet tombol. Namun, di balik
semua kemewahan ini, seringkali hati kita menjadi keras dan sulit bersyukur. Kita
sering mengeluh hanya karena makanan yang kurang lezat atau sinyal yang
melambat, seolah-olah dunia telah Kiamat. Padahal, jika kita menoleh ke
belakang, ke masa di mana wahyu diturunkan, kita akan mendapati sebuah potret
kehidupan yang sangat kontras. Di sana, di padang pasir yang membakar, hidup
manusia terbaik yang pernah menginjakkan kaki di bumi. Beliau ﷺ dan para pengikutnya tidak
mengenal apa itu listrik, tidak pernah melihat kompor gas, dan tidak merasakan
empuknya kasur busa. Mereka menjalani hari-hari dengan perjuangan fisik yang
luar biasa hebatnya.
Tujuan dari
catatan ini, untuk membawa perasaan kita masuk ke dalam bilik-bilik rumah
mereka yang sempit, merasakan panasnya hembusan angin yang membakar kulit
mereka, dan melihat betapa sederhananya fasilitas yang mereka miliki. Dengan
mengenal betapa susahnya kehidupan mereka, diharapkan air mata syukur kita
akan menetes, menyadari bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah
kemewahan yang bahkan tidak pernah terbayangkan oleh mereka. Mari kita lepaskan
sejenak segala kenyamanan yang ada di hadapan kita, dan mulailah berjalan
menyusuri lorong waktu menuju Madinah di zaman kenabian, untuk belajar tentang
makna kecukupan di tengah kekurangan.
Bab 1: Atap
Langit dan Lantai Bumi
1.1
Sempitnya Kamar Sang Nabi ﷺ
Bayangkan
sebuah ruangan yang begitu mungil, bahkan untuk sekadar meluruskan kaki saat
orang lain sedang Sholat pun tidak bisa. Inilah gambaran kamar Ibunda Aisyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, tempat manusia paling dicintai Alloh ﷻ
beristirahat. Ruangan itu sangat sempit, tidak banyak sekat, hanya ada ruang
tamu, apalagi ruang kerja yang luas. Ketika malam tiba dan Nabi ﷺ hendak melaksanakan Sholat
Malam, beliau harus menyentuh kaki Aisyah rodhiyallahu ‘anha agar
istrinya itu melipat kakinya, karena ruang yang ada tidak cukup untuk sujud dan
berbaring secara bersamaan. Bayangkan betapa terbatasnya ruang gerak mereka.
Tidak ada lemari besar untuk menyimpan pakaian, tidak ada rak buku yang megah,
dan tidak ada hiasan dinding yang mahal. Rumah itu hanya berupa kotak kecil
yang terbuat dari bata tanah liat.
Kita yang
hari ini memiliki rumah dengan kamar-kamar yang terpisah, ruang keluarga yang
lega, dan teras yang luas, terkadang masih merasa sumpek. Padahal, di dalam
kesempitan rumah Rosululloh ﷺ
itulah, wahyu turun dan kedamaian sejati bersemayam. Beliau ﷺ tidak menuntut istana,
padahal jika beliau mau, Alloh ﷻ akan mengubah gunung menjadi
emas untuknya. Namun beliau memilih hidup dalam kesempitan rumah untuk
mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan tidak diukur dari luasnya bangunan,
melainkan dari luasnya hati yang menerima pembagian dari Robbnya.
1.2
Lantai Pelepah Kurma yang Membekas di Kulit
Jika kita
melangkah masuk ke dalam rumah tersebut, jangan harap akan menemukan ubin yang
dingin atau karpet yang lembut. Lantainya adalah bumi itu sendiri, tanah yang
kering dan terkadang berdebu. Alas tidur yang digunakan oleh Nabi ﷺ bukanlah kasur empuk dengan
seprai tebal. Beliau ﷺ
tidur di atas selembar tikar yang terbuat dari anyaman pelepah kurma yang
kasar. Begitu kasarnya tikar itu, hingga ketika beliau bangun, gurat-gurat
anyaman pelepah kurma itu membekas di kulit punggung dan lambung beliau yang
mulia. Pernah suatu ketika Umar bin Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu
masuk menemui beliau dan melihat bekas tersebut, lalu Umar menangis
tersedu-sedu. Umar merasa sedih melihat pemimpin umat Islam, utusan Alloh ﷻ,
tidur dalam kondisi sedemikian rupa sementara raja-raja Persia dan Romawi hidup
bermegah-megah di atas ranjang emas. Namun apa jawaban sang Nabi ﷺ? Beliau justru mengingatkan
bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara, layaknya seorang
musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.
Lantai
tanah itu menjadi saksi bisu betapa beliau sangat merendahkan diri di hadapan
Alloh ﷻ.
Tidak ada rasa sombong, tidak ada keinginan untuk bermewah-mewah. Setiap kali
kita merasa punggung kita pegal karena kasur yang kurang nyaman, ingatlah
guratan pelepah kurma di punggung Rosululloh ﷺ.
1.3
Masjid yang Becek Saat Hujan Turun
Pusat
kegiatan umat saat itu adalah Masjid Nabawi, namun kondisinya sangat jauh dari
Masjid yang kita lihat sekarang yang berlapis marmer dan ber-AC. Masjid Nabawi
di zaman itu tidak memiliki lantai keramik ataupun karpet. Lantainya hanyalah
pasir dan kerikil kecil. Atapnya pun hanya terbuat dari pelepah kurma yang
tidak rapat. Ketika hujan lebat turun di Madinah, air akan merembes masuk dari
celah-celah atap tersebut. Akibatnya, lantai Masjid menjadi basah dan becek
oleh lumpur. Para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum tetap menjalankan Sholat
dengan khusyuk meskipun dahi dan hidung mereka harus bersentuhan langsung
dengan tanah yang basah dan berlumpur, sebagaimana diceritakan Abu Sa’id
Al-Khudri di pagi I’tikaf. Tidak ada rasa risih, tidak ada keinginan untuk
menunda ibadah karena fasilitas yang kurang memadai. Mereka sujud di atas bumi
yang murni, merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Sang Pencipta di tengah
tetesan air hujan.
Kita hari
ini seringkali enggan ke Masjid hanya karena gerimis kecil, padahal Masjid kita
kering, bersih, dan harum. Perbedaan fasilitas ini seharusnya membuat kita
malu, betapa lemahnya semangat ibadah kita dibandingkan dengan mereka yang
sujud di atas genangan lumpur demi mengharap Ridho Alloh ﷻ.
1.4
Dinding dari Tanah Liat
Dinding-dinding
bangunan di masa itu tidak dilapisi dengan cat indah atau wallpaper yang
menawan. Material utamanya hanyalah tanah liat yang dicampur dengan jerami,
yang kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari menjadi batu bata sederhana.
Kayu-kayu yang digunakan sebagai penyangga pun hanyalah batang kurma yang
dipahat seadanya. Bangunan-bangunan ini sangat rentan terhadap cuaca. Jika
panas menyengat, suhu di dalam ruangan akan ikut meningkat tajam. Jika musim
dingin tiba, dinding tanah itu tidak cukup kuat menahan tusukan angin malam
yang membeku. Tidak ada sistem penghangat ruangan atau isolasi suhu yang
canggih. Kehidupan mereka benar-benar menyatu dengan alam secara apa adanya.
Rumah-rumah itu tegak bukan karena kemegahan arsitekturnya, melainkan karena
keberkahan penghuninya. Setiap retakan di dinding tanah liat itu bercerita
tentang perjuangan bertahan hidup dalam kesahajaan.
Ketika kita
melihat dinding rumah kita yang kokoh dan indah, ingatlah bahwa ada masa di
mana keimanan paling kuat diuji di dalam rumah-rumah yang dindingnya bisa
hancur hanya karena siraman air hujan yang terlalu deras. Semua itu dilakukan
demi menjaga kemurnian Tauhid dan menyebarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru
dunia.
Kita
lanjutkan perjalanan hati kita menuju bab-bab berikutnya, menyusuri
lorong-lorong Madinah yang panas dan sunyi, untuk melihat lebih dekat bagaimana
manusia-manusia mulia itu menjalani keseharian mereka.
Bab 2: Berteman
dengan Panas dan Gelap
2.1
Menembus Panas Ekstrim Tanpa Peneduh
Jazirah Arob
bukanlah wilayah yang ramah bagi fisik manusia. Di sana, matahari seolah berada
tepat di atas kepala, memancarkan panas yang bisa mencapai 40 hingga 50 derajat
celcius, melebihi suhu orang demam. Tanah yang diinjak bukanlah aspal yang halus,
melainkan pasir dan batu hitam yang memantulkan panas ke wajah. Bayangkan
Rosululloh ﷺ
dan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum harus berjalan kaki di bawah terik
seperti itu tanpa adanya peneduh jalan atau pepohonan rindang yang berjajar.
Tidak ada kacamata hitam untuk melindungi mata dari silau, tidak ada payung,
apalagi kendaraan dengan kaca film yang gelap. Panas itu menyengat hingga ke
tulang, membuat tenggorokan kering seketika. Namun, dalam kondisi yang membakar
itu, mereka tetap berjihad, tetap berdakwah, dan tetap mencari nafkah.
Seringkali mereka hanya menggunakan secarik kain untuk menutupi kepala dari
sengatan matahari yang ganas.
Kita yang
hari ini mengeluh panas hanya karena berjalan dari parkiran menuju lobi gedung
ber-AC, sungguh harus merasa malu. Mereka menghirup udara yang panasnya seperti
uap api, namun lisan mereka tetap basah dengan dzikir kepada Alloh ﷻ.
2.2
Malam-Malam Gelap Tanpa Cahaya Lampu
Ketika
matahari terbenam, kegelapan yang pekat menyelimuti Madinah. Di zaman itu,
tidak ada tiang lampu jalan, tidak ada lampu neon di dalam rumah, dan tidak ada
senter yang bisa dinyalakan dengan satu sentuhan. Rumah-rumah para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum tenggelam dalam kegelapan yang total. Untuk mendapatkan sedikit
cahaya, mereka harus menyalakan lampu minyak kecil yang terbuat dari sumbu dan
lemak hewan atau minyak zaitun. Cahayanya sangat redup, hanya cukup untuk
menerangi sudut kecil di dalam ruangan, dan asapnya seringkali menyesakkan
dada.
Bahkan, di
rumah Rosululloh ﷺ
sendiri, seringkali tidak ada minyak untuk menyalakan lampu. Ibunda Aisyah rodhiyallahu
‘anha menceritakan bahwa terkadang mereka menghabiskan malam demi malam
dalam kegelapan tanpa ada lampu yang menyala. Mereka beribadah dalam gelap,
berbicara dalam gelap, dan tidur dalam gelap. Malam mereka adalah malam yang
sunyi dan murni bersama Alloh ﷻ.
Kita yang
hari ini bisa mengubah malam menjadi siang hanya dengan menekan saklar,
seringkali justru menggunakan cahaya itu untuk bermaksiat atau menyia-nyiakan
waktu. Kegelapan bagi mereka adalah waktu untuk khusyuk, sementara bagi kita,
terang benderangnya malam seringkali membuat kita lupa akan hari Qiyamah.
2.3
Peluh yang Mengucur Tanpa Hembusan Angin
Di tengah
hawa yang sangat gerah, jangan pernah membayangkan adanya kipas angin yang
berputar, apalagi mesin pendingin ruangan (AC). Ruangan yang sempit dan dinding
tanah liat membuat udara di dalam rumah terasa sangat pengap. Peluh akan terus
mengucur membasahi pakaian yang hanya satu-satunya itu. Tidak ada cara untuk
mendinginkan suhu selain dengan mengibas-ngibaskan potongan pelepah kurma
secara manual, itu pun jika tenaga masih tersisa. Keringat yang menetes adalah
hal yang biasa dalam keseharian mereka. Tidur dalam kondisi gerah yang luar
biasa adalah ujian kesabaran yang datang setiap hari. Namun, Rosululloh ﷺ dan para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum tidak pernah mengeluh. Mereka menerima takdir dengan hati yang
lapang.
Kita hari
ini bisa merasa sangat menderita dan marah hanya karena listrik padam selama 1
jam dan kipas angin mati. Sungguh, manja sekali fisik kita ini dibandingkan
dengan raga-raga perkasa para pejuang Islam terdahulu yang kulitnya terpanggang
panas namun jiwanya tetap sedingin salju karena ridho kepada takdir Alloh ﷻ.
2.4
Perjuangan Menyalakan Api dari Kayu dan Batu
Urusan
dapur adalah perjuangan fisik yang melelahkan. Di zaman kenabian, tidak ada
pemantik api otomatis, tidak ada korek gas, apalagi kompor induksi. Untuk
memasak atau sekadar menghangatkan badan, mereka harus mengumpulkan kayu bakar
di padang pasir yang luas. Menyalakan api adalah seni yang membutuhkan
kesabaran dan waktu yang lama. Mereka harus menggosokkan dua batu atau kayu
hingga muncul percikan api kecil, lalu menjaganya dengan tiupan nafas agar
tidak mati sebelum kayu terbakar. Seringkali asap tebal memenuhi ruangan karena
kayu yang lembap atau angin yang kencang, membuat mata perih dan batuk-batuk.
Setiap kali mereka ingin makan sesuatu yang matang, ada keringat dan usaha
besar yang dikeluarkan. Kita yang hari ini hanya perlu memutar tombol kompor gas
dan api langsung menyala, seringkali tidak menghargai proses hadirnya makanan
di meja kita. Kita sering membuang-buang makanan, padahal untuk menyalakan api
saja, orang-orang terbaik di masa lalu harus berjuang dengan nafas yang
tersengal di tengah asap.
Bab 3: Air yang
Berharga dan Hajat yang Tertahan
3.1
Berjalan Jauh Demi Seteguk Air
Air adalah
kemewahan yang luar biasa di Madinah. Tidak ada pipa PDAM yang masuk ke
rumah-rumah. Tidak ada keran yang bisa diputar kapan saja. Untuk mendapatkan
air bersih untuk minum, memasak, dan berwudhu, para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum—termasuk
para wanita—harus berjalan kaki memikul geriba (wadah air dari kulit hewan)
menuju sumur-sumur yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman. Sumur-sumur seperti
Sumur Rumah adalah sumber kehidupan yang sangat dijaga. Air harus
ditimba secara manual dengan tali yang kasar, yang seringkali membuat telapak
tangan mereka melepuh dan kapalan. Bayangkan betapa beratnya memikul air
berkilo-kilo meter di bawah terik matahari. Karena sulitnya mendapatkan air,
setiap tetesnya menjadi sangat berharga. Mereka tidak akan membuang-buang air
sesuka hati sebagaimana kita yang sering membiarkan air keran meluap saat mandi
atau mencuci kendaraan. Bagi mereka, setetes air adalah penyambung nyawa, sementara
bagi kita, air seringkali dianggap sebagai hal yang murah dan remeh.
3.2
Menjaga Kesucian Tanpa PDAM
Dalam hal
ibadah, wudhu adalah kewajiban. Namun, berwudhu di zaman itu bukanlah dengan
mengalirkan air deras dari keran. Rosululloh ﷺ mencontohkan wudhu hanya dengan satu mud air (sekitar
cakupan dua telapak tangan orang dewasa). Mereka berwudhu dengan sangat hemat,
membasuh anggota tubuh dengan cermat agar air tidak terbuang sia-sia. Begitu
pula dengan mandi janazah atau mandi wajib, mereka hanya menggunakan sedikit
air dalam bejana. Tidak ada shower yang mengguyur badan, tidak ada bak mandi
yang penuh. Keadaan ini mengajarkan mereka untuk sangat menghargai ni’mat Alloh
ﷻ
yang satu ini. Kesucian tetap terjaga meski dalam keterbatasan.
Kita yang
hidup di tengah kelimpahan air seringkali justru lalai dalam menyempurnakan
wudhu, atau sebaliknya, bersikap boros yang dilarang oleh syari’at. Melihat
bagaimana para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum berhemat air seharusnya
membuat kita menangis saat menyadari betapa banyaknya air yang kita buang
secara percuma setiap harinya.
3.3
Ke Padang Luas Saat Buang Hajat
Satu hal
yang mungkin sulit dibayangkan oleh kita sekarang adalah ketiadaan kamar mandi
atau toilet di dalam rumah. Di zaman awal di Madinah, rumah-rumah tidak
memiliki tempat untuk buang hajat. Jika keinginan itu datang, terutama bagi
para wanita seperti Ibunda Aisyah rodhiyallahu ‘anha, mereka harus
menunggu hingga malam gelap tiba atau siang panas saat manusia tidur siang.
Mereka akan berjalan keluar menuju tempat yang jauh dan terbuka di pinggiran
kota, yang disebut Al-Manashi’, sebuah padang terbuka untuk membuang hajat.
Mereka harus bersembunyi karena rasa malu, menahan rasa tidak nyaman, dan
menghadapi risiko gangguan binatang buas atau serangga padang pasir di
kegelapan malam. Tidak ada air yang mengalir untuk membersihkan diri, mereka
seringkali menggunakan batu (istijmar) sebagai sarana bersuci. Bayangkan
betapa susahnya kondisi itu bagi seorang wanita yang mulia.
Kita yang
hari ini memiliki toilet bersih di dalam kamar dengan air yang melimpah dan
pengharum ruangan, seringkali lupa bahwa kemudahan ini adalah ni’mat besar yang
tidak dirasakan oleh generasi terbaik umat ini. Janganlah kita mengeluh hanya
karena toilet yang sedikit rusak, padahal kita tidak perlu berjalan jauh
menembus kegelapan malam hanya untuk buang hajat.
3.4
Mencuci Pakaian dengan Keterbatasan
Pakaian
adalah harta yang sangat dijaga karena jumlahnya yang sangat sedikit. Mencuci
pakaian bukanlah perkara memasukkannya ke dalam mesin cuci lalu menekan tombol.
Mereka harus membawa pakaian ke sumber air atau menggunakan sedikit air di
dalam bejana. Tanpa deterjen kimia yang wangi, mereka menggunakan daun bidara
atau bahan alami lainnya untuk menghilangkan noda. Mengucek dengan tangan di
atas batu, memeras dengan tenaga raga, dan menjemurnya di bawah terik matahari
yang menyengat hingga kain terasa kaku. Karena sulitnya mencuci dan terbatasnya
air, mereka sangat menjaga kebersihan pakaian agar tidak cepat kotor.
Seringkali mereka hanya memiliki satu helai pakaian, sehingga saat dicuci,
mereka harus menunggu pakaian itu kering sebelum bisa keluar rumah atau
menutupi tubuh dengan kain seadanya. Kesederhanaan ini menunjukkan bahwa
kemuliaan seseorang tidak terletak pada wanginya parfum deterjen atau halusnya
kain yang dipakai, melainkan pada bersihnya hati yang selalu merasa cukup
dengan apa yang ada.
Bab 4: Antara
Lapar dan Syukur
4.1
Dua Bulan Tanpa Nyala Api di Dapur Rosululloh ﷺ
Pernahkah
terbayang dalam benak kita, sebuah rumah tangga yang dapur atau tempat
memasaknya tidak pernah mengepulkan asap selama 60 hari lamanya? Inilah yang
dialami oleh manusia paling mulia di muka bumi, Rosululloh ﷺ. Ibunda Aisyah (58 H) rodhiyallahu
‘anha menceritakan kepada keponakannya, ‘Urwah bin az-Zubair, bahwa mereka
pernah melihat hilal, kemudian hilal berikutnya, hingga 3 kali hilal dalam 2
bulan, namun tidak ada api yang dinyalakan di rumah-rumah Rosululloh ﷺ. Tidak ada gandum yang
dimasak, tidak ada daging yang dipanggang, dan tidak ada sayur yang direbus.
Rumah itu sunyi dari aroma masakan.
Kita yang
hari ini merasa gelisah jika hanya sehari tidak makan nasi, atau mengeluh jika
lauk di meja tidak sesuai selera, sungguh harus tertunduk malu. Di rumah itu,
kekasih Alloh ﷻ
menahan lapar dengan penuh keridhoan. Beliau ﷺ tidak pernah mengeluh kepada Robb-nya, tidak pula menumpahkan
kekesalan kepada istrinya. Kelaparan bagi mereka bukanlah sebuah kemiskinan
jiwa, melainkan bentuk kezuhudan terhadap dunia yang fana.
4.2
Air dan Kurma Sebagai Penyambung Nyawa
Lantas,
dengan apa mereka bertahan hidup selama 2 bulan tanpa masakan itu? Aisyah rodhiyallahu
‘anha menjelaskan bahwa mereka hanya bertahan dengan al-aswadan,
yaitu dua jenis makanan: kurma dan air putih. Hanya itu. Tidak ada variasi
rasa, tidak ada minuman manis yang menyegarkan, tidak ada camilan di sela
waktu. Kurma yang dimakan pun terkadang adalah kurma yang sudah kering dan
keras. Air yang diminum diambil dari sumur yang terkadang terasa payau.
Bayangkan rasa hambar yang menyelimuti lidah selama berhari-hari. Namun, dari
lisan yang hanya mengecap kurma dan air itulah keluar kata-kata wahyu, doa-doa
yang menggetarkan Arsy, dan pengajaran yang mengubah dunia. Perut yang kosong
tidak menghalangi mereka untuk sujud paling lama di hadapan Alloh ﷻ.
Setiap butir kurma dinikmati dengan rasa syukur yang mendalam, seolah-olah itu
adalah hidangan Jannah yang paling lezat. Sementara kita, di tengah meja yang
penuh dengan aneka hidangan, seringkali lupa mengucapkan “Alhamdulillah” dengan
tulus dari hati.
4.3
Menyimpan Makanan Tanpa Pendingin
Di zaman
itu, tidak ada kotak ajaib bernama kulkas atau freezer. Jika mereka mendapatkan
sedikit daging dari hasil buruan atau pemberian orang, daging itu harus segera
dihabiskan atau diawetkan dengan cara yang sangat tradisional, seperti dijemur
di bawah terik matahari hingga menjadi dendeng yang sangat keras (qodid).
Jika tidak, dalam hitungan jam, makanan akan membusuk karena panasnya suhu
udara Madinah yang menyengat. Makanan yang tersisa seringkali dikerubuti lalat
atau semut, namun mereka tidak memiliki pilihan lain. Tidak ada plastik penutup
makanan (plastic wrap) atau wadah kedap udara yang canggih. Susu perahan
kambing harus segera diminum sebelum berubah menjadi asam karena panas.
Kehidupan mereka benar-benar bergantung pada apa yang ada saat itu juga. Tidak
ada budaya menimbun makanan di dalam lemari pendingin untuk satu minggu ke
depan. Hal ini melatih mereka untuk memiliki tawakkal yang sangat tinggi kepada
Alloh ﷻ,
bahwa rizqi esok hari adalah urusan Sang Maha Pemberi Rizqi.
Kita hari
ini seringkali merasa takut kekurangan padahal kulkas kita penuh, sebuah
kekhawatiran yang menunjukkan betapa lemahnya tawakkal kita.
4.4
Kasarnya Tepung Gandum dan Kelaparan
Jangan
bayangkan roti yang mereka makan selembut roti tawar yang kita beli di toko
saat ini. Gandum yang mereka miliki adalah gandum kasar yang masih bercampur
dengan kulitnya. Karena tidak memiliki mesin penggiling, para wanita harus
menumbuk gandum itu secara manual dengan batu penggiling yang sangat berat.
Hasilnya adalah tepung yang kasar dan berserat tinggi. Setelah dimasak pun,
roti itu terasa keras dan sulit dikunyah, seringkali harus dicelupkan ke dalam
air agar bisa ditelan. Bahkan, ada kalanya rasa lapar itu menjadi sangat hebat
hingga menusuk-nusuk lambung. Rosululloh ﷺ dan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum pernah mengikatkan
satu batu di perut mereka untuk menekan rasa perih akibat lambung yang kosong
agar mereka tetap bisa berdiri tegak. Pernah suatu hari, Rosululloh ﷺ memperlihatkan perutnya, dan
ternyata beliau mengikatkan 2 buah batu karena laparnya lebih hebat dari yang
lain. Wahai jiwa yang manja, lihatlah bagaimana pemimpinmu menderita demi
menyampaikan agama ini kepadamu. Batu yang mengganjal perut itu adalah saksi
betapa mahalnya harga sebuah iman yang kita nikmati dengan gratis hari ini.
Bab 5: Pakaian dan
Transportasi Sederhana
5.1
Satu Pakaian untuk Berbagai Keperluan
Pakaian
bagi para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum adalah barang yang sangat mewah.
Mayoritas dari mereka hanya memiliki satu helai pakaian (izar) yang
menutupi tubuh. Seringkali pakaian itu sudah penuh dengan tambalan di
sana-sini. Tidak ada lemari pakaian yang penuh dengan berbagai warna dan model
untuk acara yang berbeda-beda. Pakaian yang dipakai untuk bekerja di kebun
kurma, itulah yang dipakai untuk Sholat di Masjid, dan itu pula yang dipakai
untuk tidur.
Bahkan ada
shohabat yang pakaiannya begitu pendek sehingga jika ia ruku’ atau sujud, ia
harus menjaganya agar aurotnya tidak tersingkap. Namun, meskipun pakaian mereka
kumal dan kasar, hati mereka sangat bersih dan bercahaya. Mereka tidak merasa
rendah diri karena pakaian, sebab mereka tahu bahwa pakaian taqwa itulah yang
paling utama.
Kita yang
memiliki berlusin-lusin pakaian di lemari seringkali masih merasa “tidak punya
baju” saat hendak menghadiri sebuah acara. Sungguh, sebuah kufur ni’mat yang
nyata jika dibandingkan dengan kesederhanaan mereka.
5.2
Alas Kaki Tipis di Atas Jalan Kerikil
Berjalan di
padang pasir tanpa alas kaki yang memadai adalah sebuah siksaan fisik. Alas
kaki mereka hanyalah sandal yang terbuat dari kulit unta atau sapi yang keras,
dengan tali pengikat yang seringkali menyakiti sela-sela jari kaki. Sandal itu
tidak memiliki bantalan empuk atau teknologi penahan benturan. Setelah
digunakan berjalan jauh menembus padang batu yang tajam (harroh), sol
sandal itu akan menipis dan rusak. Banyak di antara mereka yang harus berjalan
bertelanjang kaki di atas pasir yang panasnya seperti bara api karena tidak mampu
membeli sandal. Kulit kaki mereka menjadi tebal, pecah-pecah, dan kapalan.
Namun, kaki-kaki itulah yang paling rajin melangkah menuju medan jihad dan
majelis ilmu. Setiap langkah kaki yang terasa perih itu dicatat sebagai pahala
yang besar di sisi Alloh ﷻ.
Kita yang
memiliki sepatu-sepatu mahal dan nyaman, seringkali merasa berat untuk
melangkahkan kaki menuju Masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah.
5.3
Berjalan Kaki Berhari-hari
Zaman
kenabian adalah zaman di mana perjalanan antar kota berarti perjalanan maut.
Jarak antara Makkah dan Madinah yang
sekitar 450 kilometer (lebih jauh dari jarak Surabaya ke Semarang) harus
ditempuh selama 8 sampai 10 hari dengan berjalan kaki atau naik unta. Tidak ada
bus ber-AC, tidak ada kereta api cepat, tidak ada pesawat terbang. Sepanjang
perjalanan, tidak ada rest area, tidak ada toko kelontong untuk membeli minuman
dingin. Mereka harus membawa perbekalan sendiri yang terbatas: sedikit kurma
dan air di dalam geriba kulit yang baunya menyengat. Mereka terpapar panas
matahari di siang hari dan kedinginan yang menusuk tulang di malam hari. Angin
badai pasir bisa datang sewaktu-waktu, membutakan mata dan menyesakkan nafas.
Perjalanan adalah potongan dari adzab (siksaan), begitu sabda Nabi ﷺ. Namun, dalam keletihan yang
luar biasa itu, mereka tetap menjaga Sholat, tetap bersabar, dan tetap kuat.
Kita hari
ini bisa berpindah kota dalam hitungan jam sambil duduk nyaman, namun
seringkali kita masih mengeluh karena keterlambatan yang hanya beberapa menit.
5.4
Tidur Beratap Langit di Tengah Perjalanan
Jika malam
tiba dalam perjalanan, jangan harap ada hotel atau penginapan yang nyaman.
Mereka tidur di mana saja mereka berhenti. Tanah yang keras menjadi kasur, dan
langit yang bertabur bintang menjadi atapnya. Seringkali mereka harus berjaga
bergantian karena takut akan serangan binatang buas seperti serigala atau
kalajengking, serta gangguan dari perampok padang pasir. Selimut mereka
hanyalah kain yang melekat di badan. Tidak ada bantal, kecuali mungkin tumpukan
pasir atau lengan mereka sendiri. Tidur mereka tidak pernah nyenyak secara
fisik, namun jiwa mereka sangat tenang karena selalu merasa dalam pengawasan
Alloh ﷻ.
Kehidupan yang keras ini membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang
tangguh, tidak cengeng, dan siap menghadapi segala ujian. Sementara kita,
sedikit saja AC mati di dalam kamar, kita sudah merasa dunia tidak adil.
Bab 6: Penyakit
dan Keteguhan Hati
6.1
Mengobati Luka dengan Sarana Seadanya
Di zaman
kenabian, tidak ada rumah sakit dengan peralatan bedah yang canggih, tidak ada
obat bius, dan tidak ada antibiotik cair. Ketika seorang Shohabat terluka dalam
peperangan atau mengalami kecelakaan kerja, rasa sakit itu harus ditanggung
dengan penuh kesabaran. Luka-luka yang menganga seringkali hanya dibersihkan
dengan air seadanya, lalu ditaburi dengan abu dari pelepah kurma yang dibakar
untuk menghentikan pendarahan. Bayangkan perihnya luka yang bersentuhan dengan
abu panas. Ibunda Fatimah rodhiyallahu ‘anha pernah membakar sepotong
tikar lalu mengambil abunya untuk ditempelkan pada luka di wajah ayahandanya,
Rosululloh ﷺ,
saat Perang Uhud. Tidak ada plester steril, tidak ada perban yang lembut. Jika
sakit demam menyerang, mereka hanya bisa mengompres dahi dengan air dingin
sambil terus berdzikir. Kematian adalah hal yang sangat dekat, namun mereka
tidak takut, karena bagi mereka, sakit adalah penggugur dosa.
Kita yang
hari ini mengeluh hanya karena antrean di puskesmas atau rasa pahit dari obat
sirup, sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ketabahan mereka
menahan sayatan pedang tanpa obat penawar rasa sakit.
6.2
Lelahnya Raga dalam Mencari Nafkah
Kehidupan
ekonomi di Madinah menuntut kerja fisik yang sangat berat. Para Shohabat dari
kalangan Muhajirin dan Anshor harus memeras keringat di bawah terik matahari.
Ada yang bekerja menimba air di kebun kurma milik orang Yahudi, di mana satu
timba air hanya dihargai dengan sebutir kurma. Bayangkan, berapa ratus kali
mereka harus menarik tali sumur yang kasar hingga tangan mereka melepuh hanya
untuk mendapatkan segenggam kurma bagi keluarga di rumah. Ali bin Abi Tholib
(40 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah bekerja seperti ini hingga tangannya
kapalan. Tidak ada mesin traktor, tidak ada sistem irigasi otomatis. Semua
dilakukan dengan kekuatan otot dan tulang. Setelah seharian bekerja keras,
mereka pulang ke rumah yang sempit tanpa adanya kasur empuk untuk melepas
lelah. Namun, meskipun raga mereka remuk redam, mereka tidak pernah
meminta-minta. Mereka menjaga kemuliaan diri dengan kerja keras yang jujur.
Kita yang hari ini bekerja di dalam ruangan sejuk dengan duduk di kursi empuk,
seringkali masih mengeluh tentang beban kerja, padahal fisik kita jauh lebih
dimanjakan.
6.3
Kesabaran Para Wanita dalam Mengurus Rumah
Para wanita
di zaman kenabian adalah wanita-wanita perkasa. Tugas rumah tangga saat itu
bukanlah hal yang ringan. Fatimah rodhiyallahu ‘anha, putri tercinta
Rosululloh ﷺ,
tangannya menjadi kasar dan menebal karena setiap hari harus menggiling gandum
dengan batu penggiling yang berat secara manual. Akhirnya meminta budak kepada
ayahandanya saat datang tawanan, namun Nabi ﷺ justru mengajarinya dzikir tasbih 33x, tahmid 33x, dan takbir
34x menjelang tidur karena ia akan menguatkan badan untuk kerja esok hari,
sementara tawanan untuk kepentingan ummat.
Beliau juga
harus memikul geriba air yang berat dari sumur menuju rumahnya hingga pundaknya
terasa sakit. Tidak ada mesin cuci, tidak ada vacuum cleaner, tidak ada
blender. Semua pekerjaan dapur dan rumah tangga dilakukan dengan tenaga tangan
sendiri.
Para wanita
Salaf dididik dalam madrosah kesabaran, sehingga mereka menjadi tiang rumah
tangga yang kokoh meski dalam serba kekurangan. Kita hari ini seringkali merasa
terbebani dengan urusan rumah tangga padahal sudah dibantu oleh berbagai alat
teknologi yang memudahkan.
Penutup
Wahai jiwa
yang sering mengeluh, setelah kita menyusuri bilik-bilik sempit di Madinah,
setelah kita merasakan panasnya pasir yang membakar kaki-kaki para Shohabat,
dan setelah kita melihat perut Rosululloh ﷺ yang terganjal batu karena lapar, masihkah ada alasan bagi kita
untuk tidak bersyukur? Sungguh, fasilitas yang kita miliki hari ini—kasur yang
empuk, air yang melimpah, cahaya yang terang, dan makanan yang beraneka
ragam—adalah ni’mat yang akan dimintai pertanggung-jawabannya di hadapan Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ
dan para Shohabat telah melewati kehidupan yang sangat berat demi sampainya
hidayah Islam ke tangan kita. Mereka mengorbankan kenyamanan fisik mereka agar
kita bisa merasakan manisnya iman. Maka, setiap kali setan membisikkan rasa
kurang di hati kita, ingatlah gurat-gurat pelepah kurma di punggung Nabi ﷺ. Setiap kali kita merasa
makanan kita kurang lezat, ingatlah dua bulan tanpa api di dapur beliau.
Jadikanlah
kisah kesederhanaan ini sebagai cambuk bagi hati kita untuk lebih giat
beribadah dan lebih tulus dalam bersyukur. Dunia ini hanyalah tempat mampir
sejenak, dan kenyamanan sejati hanyalah ada di Jannah-Nya kelak.
Semoga
Alloh ﷻ
mengumpulkan kita bersama mereka di dalam Jannah-Nya yang penuh dengan ni’mat
yang abadi, tempat di mana tidak ada lagi rasa lapar, haus, maupun lelah. Amin
ya Robbal ‘Alamin.
Allohu a’lam.[]
Daftar Pustaka
Al-Albani,
Syaikh Muhammad bin Nashiruddin (1420 H). Ash-Shohihah (Silsilah al-Ahadits
ash-Shohihah).
Al-Mubarokfuri,
Syaikh Shofiyyurohman (1427 H). Ar-Rohiqul Makhtum.
Al-Utsaimin,
Syaikh Muhammad bin Sholih (1421 H). Syarh Riyadhush Sholihin.
Al-Hilali,
Syaikh Salim bin ‘Ied. Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Sholihin.
Bin Baz, Syaikh Abdul ‘Aziz (1420 H). Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah.
Al-Kandahlawi,
Syaikh Muhammad Yusuf (1387 H). Hayatus Shohabah.
