[PDF] Kisah Nabi Yusuf - Memetik kisah kesabaran, kehormatan, da'wah, amanah, pemaafan, dan kerinduan Akhiroh - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Kisah-kisah
dalam Al-Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang diturunkan oleh Robb
semesta alam untuk menjadi petunjuk, penawar, serta pelajaran bagi orang-orang
yang berakal. Di antara sekian banyak kisah yang diabadikan, ada satu kisah
yang disebut langsung oleh Alloh ﷻ sebagai sebaik-baik kisah (ahsanul
qoshosh). Kisah itu adalah perjalanan hidup seorang Nabi mulia, Yusuf putra
Ya’qub.
Keindahan
kisah ini terletak pada kesempurnaan alur jalannya yang mencakup berbagai
sisi kehidupan manusia. Di dalamnya terdapat pergulatan hati, cinta yang
menyimpang, kedengkian saudara, kesabaran menghadapi ujian, keteguhan menolak
kemaksiatan, hingga keadilan dalam memegang amanah kekuasaan, pemaafan, happy
ending.
Tokoh utama
kisah ini adalah seorang manusia yang mengumpulkan kemuliaan dari segala
penjuru nasabnya. Mengenai kemuliaan garis keturunan ini, Rosululloh ﷺ pernah bersabda saat ditanya
oleh para Shohabat mengenai siapa orang yang paling mulia.
«الكَرِيمُ،
ابْنُ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ: يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ
إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ»
“Orang yang
mulia, anak orang yang mulia, anak orang yang mulia, anak orang yang mulia
adalah Yusuf putra Ya’qub putra Ishaq putra Ibrohim alaihimus salam.” (HR.
Al-Bukhori no. 3390)
Buku ini
akan membawa kita menelusuri lembar demi lembar kehidupan Nabi Yusuf, mulai
dari masa kecilnya di dataran Kana’an (daerah Palestina kuno) yang penuh dengan
kehangatan kasih sayang seorang bapak, hingga badai hasad (dengki) dari para
saudara yang melemparkannya ke dalam kegelapan sumur. Seterusnya, kita akan
melihat bagaimana untaian takdir membimbingnya menjadi pelayan di istana Mesir,
menghadapi ujian syahwat yang dahsyat, mendekam di balik jeruji besi penjara
yang sempit, hingga akhirnya Alloh ﷻ mengangkat derajatnya menjadi
penguasa perbendaharaan negara yang berwibawa.
Setiap bab
dirajut berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan bimbingan Hadits shohih, disajikan
dengan gaya narasi yang mengalir agar setiap pembaca dapat memetik hikmah
taqwa, keikhlasan, dan keyakinan akan pertolongan Alloh ﷻ yang
selalu dekat bagi hamba yang bersabar.
Bab 1: Awal Mula Mimpi dan Hasad
Para Saudara
1.1
Mimpi Sebelas Bintang, Matahari, dan Bulan
Matahari
baru saja terbit di ufuk timur Kana’an, memancarkan sinar hangat yang menyeka
embun di dedaunan. Di dalam sebuah tenda besar yang menjadi kediaman keluarga
besar Nabi Ya’qub, seorang anak laki-laki berwajah sangat tampan terbangun dari
tidurnya. Anak itu adalah Yusuf. Wajahnya memancarkan cahaya keindahan
yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya, sebuah ketampanan luar biasa yang
digambarkan oleh Nabi ﷺ
dalam peristiwa Isro’ Mi’roj bahwa Yusuf dikaruniai setengah dari seluruh
keindahan ciptaan di dunia.
Pagi itu,
Yusuf tidak seperti biasanya. Ada gumpalan ketakjuban dan tanda tanya besar
yang menyelimuti dadanya setelah terbangun dari tidur lelap. Sebuah mimpi yang
sangat tidak biasa baru saja menghampirinya. Langkah kakinya yang kecil segera
bergegas mencari sang bapak, Ya’qub, sosok lelaki tua penyayang yang selalu
mendengarkan setiap keluh kesah anak-anaknya. Yusuf mendekat, lalu dengan suara
lembut penuh rasa hormat, ia menceritakan apa yang baru saja dilihat oleh
pandangan matanya dalam tidur.
Yusuf
berkata:
﴿يَا
أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ
لِي سَاجِدِينَ﴾
“Wahai
bapakku, sesungguhnya aku bermimpi melihat 11 bintang, matahari, dan bulan; aku
melihat semuanya bersujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)
Ya’qub
mendengarkan penuturan anak kesayangannya itu dengan seksama. Kerutan di
dahinya menandakan bahwa beliau memahami betul arti tersembunyi di balik
penglihatan menakjubkan tersebut. Sebagai seorang Nabi yang diberi ilmu oleh
Alloh ﷻ,
Ya’qub mengetahui bahwa mimpi ini bukanlah sekadar hiasan tidur biasa atau
permainan syaithon. 11 bintang itu adalah simbol dari 11 saudara laki-laki
Yusuf, sedangkan matahari dan bulan merupakan perlambang dari bapak dan ibunya.
Bersujudnya benda-benda langit itu menandakan bahwa kelak Yusuf akan
mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi, mulia, dan dihormati oleh seluruh
anggota keluarganya.
1.2
Nasihat Ya’qub dan Kebencian Saudara-Saudara Yusuf
Mendengar
penuturan Yusuf, sebersit rasa gembira sekaligus kekhawatiran yang mendalam
menyelimuti hati Ya’qub. Beliau sangat mengenal karakter anak-anaknya yang
lain. Di antara mereka ada percikan kecemburuan yang sewaktu-waktu bisa
berkobar menjadi api kebencian yang menghanguskan ikatan persaudaraan. Dengan
penuh kelembutan seorang bapak, Ya’qub segera membisikkan sebuah peringatan
keras agar rahasia besar ini tidak sampai bocor ke telinga saudara-saudaranya.
Sang Bapak
berkata:
﴿يَا
بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوٌّ
مُّبِينٌ﴾
“Wahai
anakku, janganlah kamu menceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, karena
mereka akan membuat makar untuk membinasakanmu. Sesungguhnya syaithon itu
adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5)
Ya’qub
memperingatkan bahwa syaithon selalu mengintai setiap celah di hati manusia
untuk menyulut api hasad. Beliau kemudian melanjutkan penjelasannya untuk
membesarkan hati Yusuf, mengabarkan berita gembira bahwa Alloh ﷻ
telah memilihnya untuk mengemban amanah besar di masa depan.
Alloh memilih
Yusuf, dan kelak mengajarkan kepadanya sebagian dari takwil mimpi-mimpi dan
menyempurnakan ni’mat-Nya kepadanya dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia
telah menyempurnakan ni’mat-Nya kepada kedua bapaknya sebelum itu, yaitu
Ibrohim dan Ishaq.
Meskipun
Yusuf mematuhi nasihat sang bapak untuk merahasiakan mimpinya, benih-benih
kebencian di dalam hati saudara-saudaranya ternyata sudah telanjur tumbuh
subur. Mereka menuduh Ya’qub memberikan perhatian dan limpahan kasih sayang
yang begitu besar kepada Yusuf dan adik kandungnya, Bunyamin, yang keduanya
beda ibu dengan mereka. Setiap kali Yusuf berada di dekat Ya’qub, pandangan
mata para abangnya menyiratkan ketidaksukaan. Hasad telah membutakan mata hati
mereka dari melihat kebenaran. Mereka melupakan fakta bahwa Yusuf masih kecil
dan sangat membutuhkan bimbingan ekstra, sementara mereka adalah kelompok
pemuda dewasa yang kuat yang seharusnya menjadi pelindung keluarga.
Bab 2: Konspirasi dan Sumur Tua
2.1
Rencana Penyingkiran dan Tipu Daya Terhadap Ya’qub
Di sebuah
padang rumput yang jauh dari pengawasan Ya’qub, ketika mereka sedang
menggembalakan kambing-kambing, berkumpullah para saudara Yusuf. Mereka duduk
melingkar, saling meluapkan kekesalan yang selama ini terpendam di dalam dada.
Suasana hangat padang rumput berubah menjadi dingin oleh kepulan asap
kedengkian. Salah seorang dari mereka mulai angkat bicara, memprovokasi yang
lain dengan kalimat-kalimat penuh kecemburuan.
Salah
seorang dari mereka berkata:
﴿لَيُوسُفُ
وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي
ضَلَالٍ مُّبِينٍ﴾
“Sesungguhnya
Yusuf dan saudaranya Bunyamin lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita
sendiri, padahal kita adalah satu golongan yang kuat. Sesungguhnya bapak kita
benar-benar dalam kekeliruan yang nyata.” (QS. Yusuf: 8)
Ucapan itu
bagaikan minyak yang menyiram bara api. Mereka menganggap keputusan Ya’qub
mencintai Yusuf sebagai sebuah kekeliruan nyata yang tidak bisa dibiarkan
begitu saja. Pikiran-pikiran zholim mulai menguasai benak mereka. Syaithon
membisikkan bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali cinta penuh dari
bapak mereka adalah dengan melenyapkan Yusuf dari muka bumi. Saudara yang lain
kemudian mengusulkan sebuah tindakan yang sangat keji:
﴿اقْتُلُوا
يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِن بَعْدِهِ
قَوْمًا صَالِحِينَ﴾
“Bunuhlah
Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat yang jauh agar perhatian bapakmu
tertumpah semata-mata kepadamu, dan sesudah itu kamu menjadi orang-orang yang
sholih.” (QS. Yusuf: 9)
Mereka
menipu diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa setelah melakukan dosa besar
membunuh atau membuang Yusuf, mereka bisa langsung bertaubat dan kembali
menjadi orang-orang sholih yang disayangi. Namun, di antara kerumunan
persaudaraan yang telah dirasuki amarah itu, ada salah seorang saudara yang
masih memiliki sedikit rasa kemanusiaan dan enggan menumpahkan darah adik
mereka sendiri. Ia menawarkan sebuah jalan tengah yang dianggap lebih ringan
tingkat kejahatannya:
﴿لَا
تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ
إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ﴾
“Janganlah
kamu membunuh Yusuf, tetapi jatuhkanlah dia ke dasar sumur yang dalam agar dia
dipungut oleh sebagian kafilah dagang yang lewat, jika kamu benar-benar hendak
berbuat.” (QS. Yusuf: 10)
Rencana itu
pun disepakati dengan suara bulat. Kini, tugas mereka adalah menyusun tipu daya
agar Ya’qub melepaskan Yusuf pergi bersama mereka ke padang rumput. Sore
harinya, mereka kembali ke rumah dan mendekati Ya’qub dengan wajah yang dibuat
seolah-olah penuh ketulusan dan kasih sayang kepada Yusuf. Mereka mulai
melancarkan bujuk rayu:
﴿يَا
أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ﴾
“Wahai
bapak kami, mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal
sesungguhnya kami benar-benar menginginkan kebaikan baginya?” (QS. Yusuf:
11)
Melihat Ya’qub
masih ragu dan menunjukkan gurat kecemasan di wajahnya, mereka terus mendesak
dengan alasan bahwa Yusuf membutuhkan hiburan dan permainan di luar rumah
seperti layaknya anak-anak lain.
﴿أَرْسِلْهُ
مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ﴾
“Biarkanlah
dia pergi bersama kami besok pagi agar dia bersenang-senang dan bermain-main,
dan sesungguhnya kami pasti akan menjaganya dengan baik.” (QS. Yusuf: 12)
Ya’qub,
dengan firasat seorang Nabi dan naluri bapak yang tajam, merasakan ada sesuatu
yang tidak beres. Beliau mengungkapkan kekhawatiran terbesarnya yang selama ini
menghantui pikirannya jika Yusuf jauh dari jangkauan pandangannya.
Ya’qub
berkata:
﴿إِنِّي
لَيَحْزُنُنِي أَن تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَن يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنتُمْ عَنْهُ
غَافِلُونَ﴾
“Sesungguhnya
keberangkatan kamu bersamanya benar-benar menyedihkanku dan aku khawatir dia
akan dimakan serigala, sedangkan kamu lengah darinya.” (QS. Yusuf: 13)
Para
saudara Yusuf menepis kekhawatiran itu dengan penuh kesombongan. Mereka menepuk
dada, menonjolkan kekuatan fisik mereka sebagai sebuah kelompok pemuda yang
kokoh yang mustahil bisa dikalahkan oleh seekor serigala.
Mereka
berkata:
﴿لَئِنْ
أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَّخَاسِرُونَ﴾
“Jika dia
dimakan serigala, padahal kami adalah satu golongan yang kuat, sesungguhnya
kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi.” (QS. Yusuf: 14)
Akhirnya,
setelah desakan yang bertubi-tubi dan janji-janji manis yang meyakinkan, Ya’qub
mengizinkan Yusuf pergi bersama mereka keesokan harinya. Beliau melepaskan anak
kesayangannya dengan hati yang berat, tanpa mengetahui bahwa itu adalah awal
dari sebuah perpisahan panjang yang penuh dengan air mata.
2.2
Terlempar Ke Dasar Sumur dan Dipungut Oleh Kafilah Dagang
Pagi yang
cerah mengiringi langkah Yusuf yang riang berjalan di samping para abangnya. Ia
merasa gembira karena akhirnya diizinkan melihat padang rumput yang luas.
Namun, kegembiraan itu sirna seketika begitu mereka berada jauh di pedalaman,
tersembunyi dari peradaban manusia. Wajah-wajah ramah para saudaranya mendadak
berubah menjadi dingin dan penuh amarah. Tanpa belas kasihan, mereka mulai
merenggut baju gamis Yusuf. Yusuf kecil menangis, namun jeritan pilu itu justru
dibalas dengan cemoohan dan dorongan kasar.
Mereka
menyeret Yusuf menuju sebuah sumur tua yang sangat dalam, kering, dan gelap di
dasar bagian dalamnya. Dengan tega, mereka mengikat tubuhnya atau langsung
melemparkannya ke dalam lubang gelap tersebut. Tubuh mungil Yusuf meluncur ke
bawah, terhempas di dasar sumur yang dingin. Di atas sana, lubang sumur
perlahan mengecil dan kegelapan total menyelimutinya. Yusuf berada dalam
ketakutan yang teramat sangat, sendirian di tempat yang sunyi tanpa ada manusia
yang mendengar keluh kesahnya. Namun, Alloh ﷻ tidak pernah meninggalkan
hamba-Nya yang terpilih. Di tengah kepekatan malam di dasar sumur, Alloh ﷻ
menurunkan ketenangan ke dalam hati Yusuf melalui wahyu yang menguatkan jiwanya:
﴿لَتُنَبِّئَنَّهُم
بِأَمْرِهِمْ هَٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ﴾
“Sesungguhnya
kamu pasti (suatu saat nanti) akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka
ini, sedang mereka tidak menyadarinya.” (QS. Yusuf: 15)
Wahyu itu
menjadi lentera penerang bagi Yusuf, memberikan keyakinan mutlak bahwa ia akan
selamat dari cobaan ini dan kelak akan berada di posisi yang jauh lebih tinggi
di mana ia akan mengingatkan saudara-saudaranya atas kezholiman yang mereka
lakukan hari ini. Sementara itu, di atas sumur, para saudara Yusuf mulai
menjalankan rencana tahap berikutnya. Mereka menyembelih seekor kambing, lalu
melumuri baju gamis Yusuf yang telah mereka lepas dengan darah kambing tersebut
untuk dijadikan bukti palsu.
Malam pun
tiba. Suasana di kediaman Ya’qub terasa sunyi dan mencekam. Tiba-tiba dari
kejauhan terdengar suara tangisan yang keras dan histeris. Para saudara Yusuf
berjalan beriringan sambil menangis tersedu-sedu, berpura-pura sangat sedih
atas hilangnya adik mereka.
Mereka
datang kepada bapak mereka di malam hari sambil menangis. Mereka masuk ke dalam
tenda Ya’qub dengan tubuh bergetar buatan, lalu menyodorkan baju yang
berlumuran darah sambil menyampaikan cerita bohong yang telah mereka susun
rapi.
Mereka
berkata:
﴿يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا
يُوسُفَ عِندَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ ۖ وَمَا أَنتَ بِمُؤْمِنٍ لَّنَا وَلَوْ كُنَّا
صَادِقِينَ﴾
“Wahai
bapak kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di
dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu tentu tidak akan
mempercayai kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf:
17)
Ya’qub mengambil
baju gamis tersebut dengan tangan yang gemetar. Beliau membolak-balikkan kain
yang penuh darah itu dengan teliti. Kejanggalan besar langsung terlihat oleh
mata tajam seorang Nabi. Baju itu penuh dengan darah, namun sama sekali tidak
ada robekan atau bekas cabikan taring serigala di atas kainnya. Bagaimana
mungkin seekor serigala memakan seorang anak manusia di dalam bajunya tanpa
merusak selembar benang pun dari baju tersebut? Jelaslah bagi Ya’qub bahwa ini
adalah sebuah konspirasi busuk. Dengan hati yang hancur namun penuh keteguhan
iman, Ya’qub menatap anak-anaknya dan berucap dengan kalimat yang kesedihan:
﴿بَلْ
سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ﴾
“Sebenarnya
dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan buruk ini, maka kesabaran yang
indah (kesabaran tanpa keluhan kepada makhluk) itulah sikapku. Dan Alloh dialah
tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf:
18)
Ya’qub
memilih sobrun jamil, yaitu kesabaran yang indah yang di dalamnya tidak
ada keluhan kepada makhluk, melainkan hanya mengadukan kesedihan semata-mata
kepada Alloh ﷻ.
Hari
berganti, Yusuf telah menghabiskan beberapa waktu di dalam sumur yang gelap.
Hingga pada suatu hari, sebuah kafilah dagang yang sedang melakukan perjalanan
dari negeri Syam (daerah Suriah kuno) menuju Mesir memutuskan untuk berhenti di
dekat sumur tersebut untuk mengambil pasokan air. Seseorang yang bertugas
mengambil air (al-warid) berjalan mendekati sumur dengan membawa ember
besarnya. Ia melemparkan ember tersebut ke dalam sumur. Di dasar sumur, Yusuf
melihat ember yang turun. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Yusuf
memegang erat tali ember tersebut dan ikut terangkat naik ke atas. Begitu ember
ditarik ke permukaan, sang pengambil air terkejut bukan main karena melihat
sesosok anak laki-laki yang luar biasa tampan muncul dari dalam sumur. Ia
spontan berteriak kegirangan memanggil teman-temannya:
﴿يَا
بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ﴾
“Wahai
kabar gembira, ini adalah seorang anak laki-laki!” (QS. Yusuf: 19)
Orang-orang
kafilah tersebut memutuskan untuk merahasiakan penemuan Yusuf agar tidak
diketahui oleh orang lain di sekitar tempat itu. Mereka memperlakukannya
sebagai barang temuan berharga yang bisa mendatangkan keuntungan besar jika
dijual di pasar budak negeri Mesir. Tanpa mereka sadari, rantai takdir Alloh ﷻ yang
maha halus sedang berjalan, menuntun Yusuf meninggalkan tanah kelahirannya
menuju tempat di mana janji kemuliaan dalam mimpinya akan diwujudkan.
Bab 3: Ujian Istana dan Fitnah
Wanita
3.1
Yusuf di Rumah Al-Aziz dan Godaan Sang Majikan Wanita
Perjalanan
panjang melintasi padang pasir yang gersang akhirnya membawa kafilah dagang itu
memasuki gerbang negeri Mesir. Sebuah peradaban besar yang berkilau dengan
kemegahan bangunan, sungai Nil yang mengalir tenang, serta hiruk-pikuk pasar
yang ramai. Yusuf, anak lelaki yang belum lama terenggut dari kehangatan
pelukan bapaknya, kini berdiri di tengah riuhnya pasar budak. Tubuhnya yang
mungil dan wajahnya yang memancarkan keindahan luar biasa segera menarik
perhatian khalayak.
Orang-orang
kafilah yang membawanya merasa cemas jika status Yusuf sebagai anak temuan
terbongkar. Mereka tidak ingin menahan Yusuf terlalu lama, sehingga mereka
memutuskan untuk menjualnya dengan tergesa-gesa dengan harga yang sangat murah,
hanya beberapa keping dirham saja.
Di antara
kerumunan pembeli, berdiri seorang pejabat tinggi kerajaan Mesir yang memegang
posisi penting sebagai bendahara negara, yang dikenal dengan gelar Al-Aziz.
Pandangan mata Al-Aziz tertuju pada Yusuf. Ada pancaran kewibawaan dan kesucian
pada diri anak itu yang membuat sang pejabat terpikat. Al-Aziz menebus Yusuf,
lalu membawanya pulang ke istananya yang megah. Setibanya di sana, Al-Aziz
menyerahkan Yusuf kepada istrinya, seorang wanita bangsawan cantik bernama Zulaikho,
dengan sebuah pesan penuh pengharapan. Ia berkata:
﴿أَكْرِمِي
مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا﴾
“Berikanlah
kepadanya tempat tinggal yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau
kita pungut dia sebagai anak.” (QS. Yusuf: 21)
Tahun-tahun
pun berlalu di dalam istana yang serba mewah itu. Yusuf tumbuh besar di bawah
pengawasan langsung dari Robb semesta alam. Di lingkungan yang penuh dengan
kemewahan material namun asing dari nilai keimanan, Yusuf tetap menjaga
kesucian jiwanya. Ketika fisik Yusuf tumbuh mencapai usia matang sebagai
seorang pemuda, Alloh memberikan kepadanya kesempurnaan hikmah ilmu serta
pemahaman yang mendalam.
Seiring
dengan kematangan usianya, ketampanan Yusuf kian merekah sempurna, hingga
ketampanan itu menjadi ujian yang sangat berat bagi penghuni istana tersebut. Zulaikho,
sang majikan wanita yang setiap hari melihat gerak-gerik Yusuf, mulai
kehilangan kendali atas hatinya. Benih-benih ketertarikan berubah menjadi
gejolak asmara yang membakar dadanya. Syaithon memanfaatkan celah tersebut
untuk mengikis rasa malu dari diri wanita bangsawan itu.
Hingga pada
suatu hari, ketika suasana istana sepi dan Al-Aziz sedang berada di luar untuk
urusan, Zulaikho membulatkan tekadnya. Ia mengunci seluruh pintu kamar istana
dengan rapat, memastikan tidak ada seorang pelayan pun yang bisa masuk atau
melihat perbuatannya. Dengan pakaian terbaiknya yang penuh dengan wewangian, ia
berdiri di hadapan Yusuf yang sedang terjebak di dalam ruangan yang terkunci
rapat itu. Dengan suara yang bergetar penuh hasrat, wanita itu memanggil Yusuf:
﴿وَقَالَتْ
هَيْتَ لَكَ﴾
“Kemarilah
kamu.” (QS. Yusuf: 23)
Panggilan
itu adalah sebuah ujian syahwat yang sangat dahsyat bagi seorang pemuda normal
seperti Yusuf. Pintu-pintu terkunci, sang wanita memiliki kedudukan dan
kecantikan yang luar biasa, dan Yusuf hanyalah seorang pelayan yang berada di
bawah kekuasaannya. Namun, benteng taqwa di dalam hati Yusuf terlalu kokoh
untuk diruntuhkan. Kesetiaannya kepada Alloh dan rasa hormatnya kepada sang
majikan pria yang telah memuliakannya membuatnya langsung berpaling. Yusuf
menolak dengan tegas, mencari perlindungan kepada Robbnya.
Yusuf
berkata:
﴿مَعَاذَ
اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ
ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ﴾
“Aku
berlindung kepada Alloh, sesungguhnya suamimu adalah tuanku yang telah
memperlakukanku dengan baik, sesungguhnya orang-orang yang zholim (zina) itu
tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)
Meskipun
Yusuf menolak, wanita itu tidak menyerah begitu saja. Keinginan wanita itu
sudah memuncak dan ia melangkah maju untuk memeluk Yusuf. Sebagai seorang
pemuda, sempat terbersit dalam diri Yusuf kecenderungan manusiawi, namun Alloh
segera menyelamatkannya dengan memperlihatkan tanda kebesaran-Nya yang
menguatkan hatinya untuk tetap teguh di atas kesucian. Yusuf membalikkan
badannya, mengambil langkah seribu menuju pintu keluar demi menyelamatkan diri
dari perbuatan harom tersebut.
Zulaikho yang
melihat mangsanya berlari segera mengejar dengan penuh amarah dan nafsu.
Gerakan tangannya yang cepat berhasil mencengkeram bagian belakang baju gamis
Yusuf saat pemuda itu berusaha membuka pintu. Tarikan yang sangat kuat dari
belakang membuat kain baju gamis Yusuf robek memanjang dari atas ke bawah.
Tepat pada saat pintu berhasil ditarik terbuka, Yusuf dan Zulaikho tertegun
seketika. Di ambang pintu, berdiri Al-Aziz bersama salah seorang kerabat dekat
istrinya.
Suasana
menjadi tegang dan hening seketika. Posisi Zulaikho sangat tersudut, dengan
nafas memburu dan baju Yusuf yang robek. Namun, dengan kelicikan seorang wanita
yang ingin menyelamatkan nama baiknya, Zulaikho langsung membalikkan fakta
sebelum Yusuf sempat berbicara. Ia menunjuk Yusuf dengan wajah penuh kepalsuan,
mengadukan pemuda itu kepada suaminya agar Yusuf dihukum berat.
Zulaikho
berkata:
﴿مَا
جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Apakah
balasan bagi orang yang bermaksud berbuat jahat terhadap istrimu, melainkan
dipenjarakan atau dihukum dengan azzab yang pedih?” (QS. Yusuf: 25)
3.2
Kesaksian Anggota Keluarga
Tuduhan
keji itu terlontar begitu cepat di hadapan Al-Aziz. Yusuf yang selama ini
dikenal sebagai pemuda yang jujur, amanah, dan tidak pernah berbuat cela, kini
berdiri sebagai tertuduh atas perbuatan nista yang sama sekali tidak
dilakukannya. Al-Aziz menatap Yusuf dengan pandangan penuh tanda tanya dan
kemarahan yang mulai membakar dadanya.
Demi
menjaga kehormatan diri serta menegakkan kebenaran yang sesungguhnya, Yusuf
tidak tinggal diam. Ia berbicara dengan tenang, lugas, tanpa ada keraguan
sedikit pun di wajahnya:
﴿هِيَ
رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي﴾
“Dia yang
menggoda diriku untuk menundukkan diriku.” (QS. Yusuf: 26)
Dua
pengakuan yang saling bertolak belakang kini berada di hadapan Al-Aziz. Di satu
sisi adalah istrinya yang merupakan wanita bangsawan Mesir, dan di sisi lain
adalah Yusuf yang berstatus sebagai pelayan di rumahnya. Di tengah kebingungan
Al-Aziz untuk menentukan siapa yang benar, kerabat dekat dari keluarga Zulaikho
yang ikut bersama Al-Aziz melangkah maju. Orang ini dikaruniai kecerdasan dan
logika yang tajam oleh Alloh. Ia menawarkan sebuah solusi pembuktian yang
sangat adil dan akurat secara fisik untuk menyingkap tabir kebohongan ini.
Ia berkata:
﴿إِنْ
كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ﴾
“Jika baju
gamisnya robek dari bagian depan, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk
orang-orang yang berdusta.” (QS. Yusuf: 26)
Saksi itu
memaparkan logikanya dengan sangat jelas. Jika robekan berada di depan, artinya
Yusuf yang melangkah maju untuk menyerang wanita itu, dan sang wanita
mendorongnya untuk mempertahankan diri.
Kemudian,
saksi itu melanjutkan argumennya untuk kemungkinan yang kedua.
﴿وَإِنْ
كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ﴾
“Dan jika
baju gamisnya robek dari bagian belakang, maka wanita itu telah berdusta dan
Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf: 27)
Sebaliknya,
jika robekan berada di belakang, itu adalah bukti fisik yang tidak bisa
dibantah bahwa Yusuf sedang berlari menjauh untuk menyelamatkan diri, sementara
sang wanita mengejarnya dari belakang dan menarik bajunya hingga koyak.
Al-Aziz
segera melangkah mendekati Yusuf. Ia memegang kain baju gamis yang dikenakan
oleh pemuda itu, lalu memeriksa letak robekannya dengan seksama. Matanya
terbelalak ketika melihat dengan sangat jelas bahwa seluruh robekan kain itu
berada di bagian punggung belakang Yusuf. Kebenaran telah tersingkap dengan
benderang. Istrinyalah yang menjadi pelaku utama dari perbuatan keji ini,
sedangkan Yusuf berada di pihak yang bersih dari segala noda.
Al-Aziz
menoleh kepada istrinya dengan wajah yang dipenuhi rasa kecewa yang mendalam
serta kejengkelan atas kelicikan yang baru saja dipertontonkan oleh istrinya.
Al-Aziz
berkata:
﴿إِنَّهُ
مِنْ كَيْدِكُنَّ ۖ إِنَّ كَيْدِكُنَّ عَظِيمٌ﴾
“Sesungguhnya
ini adalah dari tipu daya kamu (hai istriku). Sesungguhnya tipu daya kamu
adalah besar.” (QS. Yusuf: 28)
Sebagai
seorang pejabat tinggi yang sangat memikirkan reputasi politik dan posisi
sosialnya di kalangan bangsawan Mesir, Al-Aziz tidak ingin skandal memalukan
ini bocor ke luar dinding istana. Jika masyarakat mengetahui bahwa istrinya
mencoba menggoda seorang pelayan, hal itu akan menjadi aib besar yang
menghancurkan kehormatannya. Oleh karena itu, Al-Aziz mengambil keputusan untuk
menutup rapat-rapat kejadian ini. Ia berpaling kepada Yusuf dan meminta pemuda
itu untuk melupakan apa yang terjadi, kemudian menegur istrinya dengan keras
agar segera bertaubat dari dosa besarnya.
Al-Aziz
berekata:
﴿يُوسُفُ
أَعْرِضْ عَنْ هَٰذَا ۚ وَاسْتَغْفِرِي
لِذَنْبِكِ ۖ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ﴾
“Wahai
Yusuf, lupakanlah hal ini, dan kamu wahai istriku, mohonlah ampun atas dosamu,
karena sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang bersalah.” (QS. Yusuf:
29)
Yusuf
mematuhi perintah tuannya untuk bungkam. Ia kembali menjalankan tugas-tugasnya
di dalam istana dengan penuh dedikasi, berharap badai fitnah ini telah benar-benar
berlalu dari kehidupannya. Namun, rahasia di dalam istana para penguasa jarang
sekali bisa bertahan lama di balik dinding-dinding batu yang tebal.
Bab 4: Di Balik Jeruji Besi Mesir
4.1
Jamuan Para Wanita Kota dan Keputusan Memenjarakan Yusuf
Meskipun
Al-Aziz telah berusaha sekuat tenaga untuk meredam berita tentang skandal di
rumahnya, desas-desus perlahan-lahan mulai merembes keluar melalui bisikan para
pelayan istana. Dalam waktu singkat, kisah tentang ketertarikan Zulaikho kepada
pelayannya menjadi bahan gunjingan yang sangat hangat di kalangan wanita-wanita
elit dan para istri pejabat di ibu kota Mesir. Mereka berkumpul di ruang-ruang
pertemuan mereka, saling berbisik dan melontarkan kalimat-kalimat ejekan yang
menyudutkan Zulaikho. Bagi mereka, tindakan seorang wanita bangsawan yang
mengejar pelayannya sendiri adalah sebuah kegilaan dan penurunan martabat yang
tidak masuk akal.
Mereka
saling berkata:
﴿امْرَأَتُ
الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ ۖ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ﴾
“Istri
Al-Aziz menggoda pelayannya untuk menundukkan dirinya, sesungguhnya cintanya
kepada pelayannya itu benar-benar telah mendalam ke dalam hatinya. Sesungguhnya
kami benar-benar melihatnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yusuf: 30)
Gunjingan
dan hinaan yang bertubi-tubi itu akhirnya sampai juga ke telinga Zulaikho.
Hatinya panas mendengarkan ejekan dari teman-teman sesama sosialitanya. Ia
mengetahui betul bahwa wanita-wanita itu berbicara demikian hanya karena mereka
belum pernah melihat secara langsung bagaimana rupa dan ketampanan Yusuf yang
luar biasa. Zulaikho segera menyusun sebuah rencana yang cerdik sekaligus kejam
untuk membungkam mulut mereka sekaligus memberikan pembenaran atas tindakan
yang selama ini ia lakukan.
Zulaikho
mengirimkan undangan resmi kepada para wanita terpandang di kota itu untuk
menghadiri sebuah jamuan makan malam yang sangat mewah di istananya. Ruangan
jamuan ditata dengan begitu indah. Sofa-sofa empuk bersandaran nyaman
disediakan bagi setiap tamu yang hadir agar mereka bisa bersandar dengan
santai. Ketika para wanita itu telah duduk di tempatnya masing-masing, hidangan
buah-buahan segar disajikan di hadapan mereka. Bersamaan dengan itu,
masing-masing wanita diberikan sebuah pisau yang sangat tajam untuk mengupas
buah tersebut.
Di saat
para wanita itu sedang sibuk mengupas buah sambil mengobrol, Zulaikho
memberikan isyarat rahasia kepada Yusuf yang berada di balik tirai. Ia
memerintahkan Yusuf untuk berjalan melewati ruangan jamuan tersebut,
menampakkan dirinya di hadapan para tamu undangan wanita. Yusuf, yang tidak
mengetahui rencana tersembunyi ini, melangkah keluar dengan patuh memakai
pakaian pelayannya.
Begitu
Yusuf melangkah masuk ke tengah ruangan, pandangan mata seluruh wanita di ruangan
itu langsung tertuju kepadanya. Seketika itu juga, suasana ruangan menjadi
sunyi senyap. Pikiran para wanita itu mendadak kosong, terpaku oleh keindahan
paras Yusuf yang belum pernah mereka saksikan seumur hidup mereka. Ketakjuban
yang teramat sangat membuat kesadaran mereka hilang. Tangan mereka yang
memegang pisau terus bergerak naik dan turun, namun alih-alih mengupas buah di
piring, mereka justru mengiris jari-jari dan kulit tangan mereka sendiri tanpa
merasakan rasa sakit sedikit pun karena fokus mereka telah terhipnotis
sepenuhnya oleh ketampanan Yusuf. Darah mulai menetes, dan dengan mata yang
tidak berkedip, mereka serempak berseru meluapkan kekaguman mereka:
﴿حَاشَ
لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَمِيمٌ﴾
“Maha Suci
Alloh, ini bukanlah manusia. Ini tidak lain melainkan Malaikat yang mulia.” (QS.
Yusuf: 31)
Melihat
reaksi histeris dan pemandangan tangan-tangan yang berdarah itu, Zulaikho
tersenyum puas. Ia berdiri di tengah-tengah mereka dengan tatapan mata yang
penuh dengan kemenangan. Dengan bangga, ia menegaskan kepada tamu-tamunya bahwa
pemuda inilah yang selama ini membuat mereka mencelanya, sekaligus secara
terang-terangan ia mengakui perbuatannya dan melontarkan ancaman baru yang
sangat kejam di hadapan semua orang jika Yusuf tetap menolak keinginannya.
Zulaikho
berkata:
﴿فَذَٰلِكُنَّ
الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ ۖ وَلَقَدْ
رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ ۖ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ
وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ﴾
“Itulah
orangnya yang kalian cela aku karena tertarik kepadanya, dan sesungguhnya aku
telah menggoda dirinya untuk menundukkan dirinya namun dia menolak dengan
keras. Dan jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya
dia akan dipenjarakan dan benar-benar akan termasuk orang-orang yang hina.” (QS.
Yusuf: 32)
Kini
situasi bagi Yusuf menjadi jauh lebih berbahaya. Fitnah tidak lagi datang dari
satu wanita saja, melainkan dari seluruh wanita kota yang kini ikut mendesaknya
untuk tunduk pada kemauan Zulaikho. Yusuf merasa bumi yang luas ini menjadi
sempit baginya. Di tengah kepungan tipu daya para wanita tersebut, Yusuf
memalingkan seluruh harapannya hanya kepada Robbnya. Ia berdoa dengan ketulusan
yang mendalam, memilih untuk kehilangan kebebasan fisiknya di dalam penjara
yang gelap daripada harus kehilangan kesucian iman dan jiwanya dalam kubangan
dosa.
Yusuf
mengadu kepada Robbnya:
﴿رَبِّ
السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ
إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ﴾
“Wahai
Robbku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku. Dan
jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung
kepada mereka dan niscaya aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf:
33)
Alloh
mendengar doa hamba-Nya yang sholih ini. Perlindungan diberikan kepada Yusuf
sehingga ia tetap terjaga dari kemaksiatan. Namun, dari sisi keluarga Al-Aziz,
setelah mereka merenungkan situasi yang berkembang di mana nama baik mereka
terus dipertaruhkan selama Yusuf masih berada di dalam istana, mereka mengambil
sebuah keputusan politik yang zholim. Meskipun mereka telah melihat bukti-bukti
nyata yang membersihkan Yusuf dari kesalahan, mereka sepakat bahwa satu-satunya
cara untuk meredam skandal ini secara total adalah dengan menyingkirkan Yusuf
dari pandangan publik dengan cara memasukkannya ke dalam penjara untuk jangka
waktu tertentu.
4.2
Da’wah Tauhid di Dalam Penjara
Langkah
kaki Yusuf yang kokoh melangkah melewati pintu gerbang penjara bawah tanah
kerajaan Mesir yang tebal dan berjeruji besi. Pintu besi itu ditutup dengan
dentuman keras, mengurung sang pemuda sholih di dalam kegelapan yang pengap
bersama dengan para pelaku kriminal dan tahanan politik. Namun, jeruji besi
tidak mampu memenjarakan kebebasan jiwa Yusuf. Di dalam tempat yang dipenuhi
dengan keluh kesah, penderitaan, dan keputusasaan itu, Yusuf justru membawa
pancaran cahaya ketenangan.
Yusuf
menghabiskan hari-harinya dengan beribadah kepada Alloh, membantu sesama
tahanan yang kesulitan, serta mendengarkan keluh kesah mereka dengan penuh
empati. Sifatnya yang sangat santun, jujur, dan suka berbuat kebaikan (ihsan)
membuat seluruh penghuni penjara, termasuk para sipir, menaruh rasa hormat dan
cinta yang mendalam kepadanya. Bersamaan dengan masuknya Yusuf ke dalam penjara
tersebut, masuk pula dua orang pemuda pelayan istana yang memegang posisi
penting bagi raja Mesir; salah satunya adalah juru minuman raja, dan yang
lainnya adalah juru masak pembuat roti raja. Keduanya ditahan atas tuduhan
konspirasi meracuni makanan sang raja.
Setelah
beberapa lama mendekam di dalam penjara bersama Yusuf, pada suatu pagi, kedua
pemuda pelayan istana itu terbangun dengan wajah yang pucat dan dipenuhi rasa
cemas. Mereka berdua mendapatkan mimpi yang sangat tidak biasa dan terasa
begitu nyata di dalam tidur mereka. Karena mereka mengetahui bahwa Yusuf adalah
orang yang memiliki kedekatan dengan ilmu agama dan memiliki ketajaman mata
hati, mereka berdua datang mendekati Yusuf untuk menceritakan mimpi tersebut,
berharap mendapatkan jawaban atas kegelisahan mereka.
Salah
seorang dari mereka berkata:
﴿إِنِّي
أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا﴾ ۖ وَقَالَ الْآخَرُ
“Sesungguhnya
aku bermimpi melihat diriku memeras anggur untuk dijadikan khomr.”
Pemuda yang
lain berkata:
﴿إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا
تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا
بِتَأْوِيلِهِ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Sesungguhnya
aku bermimpi melihat diriku membawa roti di atas kepalaku yang sebagiannya
dimakan oleh burung. Berikanlah kepada kami takwilnya, sesungguhnya kami
melihatmu termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 36)
Yusuf
mendengarkan penuturan kedua pemuda itu dengan seksama. Sebagai seorang Nabi,
ia langsung memahami makna di balik mimpi tersebut melalui ilmu takwil yang
telah diajarkan oleh Alloh kepadanya. Namun, Yusuf tidak langsung memberikan
jawaban secara terburu-buru. Ia melihat momen ini sebagai sebuah kesempatan
emas (kesempatan berharga) yang sangat tepat untuk menunaikan tugas utamanya
sebagai utusan Alloh, yaitu menyeru manusia kepada da’wah Tauhid, menyembah
Alloh semata dan meninggalkan penyembahan berhala yang marak di negeri Mesir.
Sebelum
memulai da’wahnya, Yusuf terlebih dahulu meyakinkan kedua pemuda tersebut
mengenai keakuratan kemampuannya dalam menafsirkan mimpi, yang murni berasal
dari wahyu dan didikan Robbnya, bukan dari ilmu sihir atau ramalan bintang
palsu.
Yusuf
berkata:
﴿لَا
يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ
يَأْتِيَكُمَا ۚ ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي
رَبِّي ۚ إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ﴾
“Tidak
datang kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku
telah mengabarkan kepadamu takwilnya sebelum makanan itu datang kepadamu. Yang
demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan Robbku kepadaku.
Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada
Alloh, sedangkan mereka mendustakan kehidupan Akhiroh.” (QS. Yusuf: 37)
Yusuf
menegaskan posisi dirinya yang sangat bertolak belakang dengan kepercayaan
politeisme masyarakat Mesir kuno yang menyembah dewa-dewa matahari, sungai, dan
berhala-berhala lainnya. Ia kemudian dengan penuh rasa bangga menceritakan
garis keturunan mulianya yang selalu setia berjalan di atas manhaj Tauhid murni
milik bapak-bapaknya terdahulu.
﴿وَاتَّبَعْتُ
مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ
مِنْ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ﴾
“Dan aku
mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrohim, Ishaq, dan Ya’qub. Tidak patut
bagi kami mempersekutukan Alloh dengan sesuatu pun. Yang demikian itu adalah
karena karunia Alloh kepada kami dan kepada manusia, melainkan kebanyakan
manusia tidak bersyukur.” (QS. Yusuf: 38)
Setelah
membangun landasan kepercayaan dan menjelaskan identitas dirinya, Yusuf mulai
melontarkan pertanyaan logis yang menggugah akal sehat kedua pemuda tersebut.
Ia membandingkan antara konsep menyembah banyak tuhan yang lemah dan
tercerai-berai dengan konsep menyembah satu-satunya Robb yang menguasai segala
sesuatu dengan mutlak.
﴿يَا
صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ﴾
“Wahai
kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang
bermacam-macam itu ataukah Alloh Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan?” (QS.
Yusuf: 39)
Yusuf
kemudian membongkar kepalsuan dari dewa-dewa yang disembah oleh bangsa Mesir
saat itu. Ia menjelaskan bahwa tuhan-tuhan tersebut tidak memiliki kekuatan apa
pun dan keberadaan mereka hanyalah hasil dari rekayasa nama-nama buatan manusia
yang diwariskan secara turun-temurun tanpa adanya dalil atau otoritas kebenaran
dari langit.
﴿مَا
تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Apa yang
kamu sembah selain Dia tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan
bapak-bapakmu membuat-buatnya, Alloh tidak menurunkan suatu keterangan pun
tentang hal itu. Keputusan itu hanyalah milik Alloh. Dia telah memerintahkan
agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, melainkan
kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)
Suasana di
dalam sudut sel penjara itu menjadi begitu syahdu. Kata-kata Tauhid yang keluar
dari lisan Yusuf merasuk ke dalam relung hati kedua pemuda itu, memberikan
pemahaman baru yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya tentang makna
kehidupan dan penciptaan.
4.3
Tafsir Mimpi Dua Pemuda Pelayan Istana
Setelah
selesai menyampaikan pokok-pokok da’wah Tauhid dengan sangat gamblang dan
memastikan pesan keimanan telah tertanam di dalam pikiran kedua teman
sepenjaranya, Yusuf akhirnya beralih untuk menunaikan janji awalnya. Wajah
Yusuf berubah menjadi serius, karena ia mengetahui bahwa takdir yang tertulis
bagi kedua pemuda ini sangatlah kontras satu sama lain; sebuah berita gembira
yang luar biasa bagi yang satu, dan sebuah tragedi kematian yang mengerikan
bagi yang lain. Yusuf menyampaikan takwil mimpi tersebut secara lugas tanpa ada
yang disembunyikan, menegaskan bahwa keputusan takdir atas apa yang mereka
mimpikan telah dikunci oleh Alloh dan pasti terjadi.
Yusuf
berkata:
﴿يَا
صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا ۖ وَأَمَّا الْآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ
الطَّيْرُ مِنْ رَأْسِهِ ۚ قُضِيَ
الْأَمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ﴾
“Wahai
kedua penghuni penjara, adapun salah seorang di antara kamu berdua, maka dia
akan bertugas kembali memberi minum tuannya dengan khomr; sedangkan pemuda yang
lain, maka dia akan dihukum salib lalu burung akan memakan sebagian dari
kepalanya. Telah ditetapkan perkara yang kamu berdua tanyakan kepadaku.” (QS.
Yusuf: 41)
Pemuda yang
bermimpi memeras anggur mendapatkan kepastian bahwa dirinya bersih dari tuduhan
racun dan akan segera dibebaskan dari penjara untuk kembali bekerja di istana
sebagai pelayan dekat raja. Sementara itu, pemuda yang bermimpi membawa roti di
atas kepalanya harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya dinyatakan
bersalah, dijatuhi hukuman mati dengan cara disalib di bawah terik matahari,
dan jasadnya akan dibiarkan begitu saja hingga burung-burung datang mematuk dan
memakan daging kepalanya.
Beberapa
hari setelah penafsiran mimpi itu disampaikan, apa yang diucapkan oleh Yusuf
terbukti seratus persen akurat. Petugas istana datang membawa surat keputusan
dari raja. Pemuda kedua diseret keluar menuju tiang eksekusi salib, sedangkan
pemuda pertama dibersihkan namanya dan dilepaskan dari belenggu penjara.
Sesaat
sebelum pemuda yang selamat itu melangkah keluar melewati pintu gerbang penjara
untuk kembali ke lingkungan istana, Yusuf melihat sebuah peluang manusiawi yang
sah sebagai ikhtiar untuk mendapatkan keadilan bagi dirinya sendiri yang telah
dipenjara secara zholim tanpa kesalahan. Yusuf mendekat, lalu membisikkan
sebuah pesan singkat namun penting agar pemuda itu menyampaikan perihal
keberadaan seorang pemuda yang dizholimi di dalam penjara kepada sang raja
ketika ia menyajikan minuman nanti.
Yusuf
berkata kepadanya:
﴿اذْكُرْنِي
عِنْدَ رَبِّكَ﴾
“Sebutkanlah
keadaanku di hadapan tuanmu.” (QS. Yusuf: 42)
Begitu
pemuda itu menghirup udara bebas dan kembali sibuk dengan rutinitas kemewahan
istana yang melalaikan, syaithon segera bekerja mengunci ingatannya. Pemuda
pelayan minuman itu sama sekali lupa akan pesona wajah Yusuf, lupa akan takwil
mimpinya yang ajaib, dan lupa akan janjinya untuk berbicara kepada raja. Akibat
dari kelalaian manusiawi tersebut, Yusuf harus rela memperpanjang masa
penahanannya di dalam sel yang sempit. Yusuf menghabiskan waktu beberapa tahun
lagi di dalam penjara, sebuah rentang waktu yang diisi dengan kesabaran tingkat
tinggi, dzikir yang tidak pernah putus, serta kepasrahan total menanti saat
yang paling tepat bagi ketetapan Alloh untuk mengeluarkannya dengan cara yang
paling mulia.
Bab 5: Penguasa Mesir dan Impian
Sang Raja
5.1
Mimpi Raja Tentang Sapi Kurus dan Bulir Gandum
Waktu terus
bergulir di balik dinding penjara yang dingin, menguji keteguhan iman dan
kesabaran Yusuf. Hingga pada suatu malam, di atas ranjang istana yang megah,
penguasa tertinggi negeri Mesir, sang raja, terbangun dengan tubuh gemetar dan
keringat dingin yang membasahi keningnya. Penguasa itu baru saja mendapatkan
sebuah penglihatan ghoib dalam tidurnya yang teramat aneh sekaligus mencekam,
sebuah mimpi yang terasa begitu nyata hingga menyisakan rasa sesak di dadanya.
Pagi
harinya, suasana istana berubah menjadi tegang. Sang raja segera mengumpulkan seluruh
pembesar kerajaan, para penasihat spiritual istana, ahli nujum, dan para
peramal ulung yang ada di bawah kekuasaannya. Di atas singgasananya yang agung,
raja memandang mereka satu per satu dengan tatapan cemas, lalu menceritakan
detail mimpi misterius yang mengusik ketenangannya tersebut.
Raja
berkata:
﴿إِنِّي
أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ
خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ ۖ يَا
أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ﴾
“Sesungguhnya
aku bermimpi melihat 7 ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi
betina yang kurus, dan 7 bulir gandum yang hijau dan 7 bulir lainnya yang
kering. Wahai para pembesar, berikanlah fatwa kepadaku tentang mimpiku ini jika
kamu benar-benar dapat menakwilkan mimpi.” (QS. Yusuf: 43)
Mendengar
penuturan sang raja, ruangan pertemuan besar itu seketika menjadi sunyi. Para
ahli nujum dan penasihat istana saling berpandangan, dahi mereka berkerut
mencoba merangkai makna dari simbol-simbol aneh tersebut. Sapi gemuk yang
dimakan sapi kurus, serta bulir gandum subur yang bersandingan dengan bulir
kering, adalah teka-teki yang terlalu rumit bagi ilmu ramalan mereka. Karena
tidak ingin menanggung risiko memberikan ramalan yang salah kepada penguasa,
mereka sepakat untuk mengabaikan penglihatan tersebut dan menyebutnya sebagai
hiasan tidur yang kacau tanpa makna tersembunyi.
Mereka
berkata kepada Raja:
﴿أَضْغَاثُ
أَحْلَامٍ ۖ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الْأَحْلَامِ
بِعَالِمِينَ﴾
“Itu adalah
mimpi-mimpi yang kosong, dan kami tidak mengetahui takwil mimpi-mimpi seperti
itu.” (QS. Yusuf: 44)
Di sudut
ruangan jamuan, seorang pelayan yang bertugas menyajikan minuman bagi raja
mendengarkan seluruh percakapan tersebut dengan seksama. Kata mimpi mendadak
menyalakan kembali sebersit ingatan yang telah bertahun-tahun terkubur di dalam
benaknya. Ingatan pemuda itu melayang kembali ke masa lalu, ke sudut sel
penjara bawah tanah yang gelap, tempat di mana ia pernah mendengarkan seorang
pemuda bernama Yusuf menafsirkan mimpinya dengan keakuratan mutlak. Rasa
bersalah karena telah melupakan pesan Yusuf selama bertahun-tahun kini
berkecamuk di dalam dadanya. Tanpa membuang waktu, pelayan itu melangkah maju
mendekati takhta raja dan memohon izin untuk menguraikan jawaban atas mimpi
tersebut:
﴿أَنَا
أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ﴾
“Aku akan
mengabarkan kepadamu takwilnya, maka utuslah aku.” (QS. Yusuf: 45)
Raja segera
memberikan izin dan mengutus pelayan tersebut menuju penjara bawah tanah kota
Mesir. Setibanya di sana, pelayan itu bergegas mencari jeruji besi tempat Yusuf
mendekam. Begitu melihat wajah Yusuf yang masih memancarkan kesucian meskipun
terkurung lama, pelayan itu mendekat dengan perasaan campur aduk antara malu
dan penuh harap, lalu menyapa Yusuf dengan gelar kehormatan atas kejujurannya
dan langsung memaparkan mimpi sang penguasa:
﴿يُوسُفُ
أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ
عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى
النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ﴾
“Wahai
Yusuf, wahai orang yang sangat jujur, berikanlah fatwa kepada kami tentang 7
ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh 7 ekor sapi betina yang kurus,
dan 7 bulir gandum yang hijau serta 7 bulir lainnya yang kering, agar aku dapat
kembali kepada manusia itu agar mereka mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 46)
Yusuf
mendengarkan dengan saksama tanpa ada rasa dendam sedikit pun kepada pelayan
yang telah melupakannya selama bertahun-tahun itu. Sifat mulia yang ada pada
diri Yusuf membuatnya tidak menuntut syarat pembebasan terlebih dahulu untuk
menjawab teka-teki tersebut. Melalui wahyu yang diturunkan oleh Robbnya, Yusuf langsung
menguraikan takwil mimpi itu dengan sangat detail, bukan sekadar menebak makna,
melainkan sekaligus memberikan strategi ketahanan pangan nasional yang sangat
akurat untuk menyelamatkan seluruh penduduk negeri Mesir dari bencana kelaparan
besar yang sedang mengintai di masa depan.
Yusuf
menjelaskan tafsir mimpi:
﴿تَزْرَعُونَ
سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا
مِمَّا تَأْكُلُونَ﴾
“Kamu harus
bercocok tanam 7 tahun berturut-turut sebagaimana biasa, kemudian apa yang kamu
panen hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS.
Yusuf: 47)
Yusuf
menjelaskan bahwa 7 ekor sapi gemuk dan 7 bulir gandum hijau menandakan negeri
Mesir akan mengalami masa swasembada dan kesuburan tanah yang luar biasa selama
7 tahun berturut-turut. Kunci keselamatannya adalah dengan membiarkan gandum
tetap berada pada tangkai atau bulirnya setelah dipanen agar tidak mudah
membusuk, dan hanya mengambil sebagian kecil saja untuk konsumsi harian yang
mendesak. Seterusnya, Yusuf memperingatkan masa kelam yang akan datang setelah
periode kemakmuran tersebut berakhir.
﴿ثُمَّ
يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَا مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا
قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ﴾
“Kemudian
sesudah itu akan datang 7 tahun yang sangat sulit, yang akan menghabiskan apa
yang kamu simpan untuk menghadapinya kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan.”
(QS. Yusuf: 48)
Masa 7
tahun paceklik inilah yang dilambangkan dengan sapi-sapi kurus yang memakan
sapi gemuk serta bulir-bulir kering. Tanah Mesir akan menjadi gersang, sungai
Nil menyusut, dan seluruh cadangan makanan yang disimpan selama masa subur akan
terkuras habis demi mempertahankan kelangsungan hidup penduduk. Akhirnya, Yusuf
menutup penjelasannya dengan sebuah kabar gembira mengenai selesainya masa
sulit tersebut.
﴿ثُمَّ
يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ﴾
“Kemudian
setelah itu akan datang suatu tahun yang padanya manusia diberi hujan dengan cukup
dan pada masa itu mereka memeras anggur.” (QS. Yusuf: 49)
5.2
Pengakuan Zulaikho dan Pembebasan Yusuf dari Penjara
Pelayan
minuman istana itu kembali ke hadapan raja dengan langkah bergegas, membawa
jawaban lengkap yang keluar dari lisan Yusuf. Begitu takwil mimpi dan strategi
penyelamatan pangan itu dibacakan di hadapan sidang istana, sang raja tertegun
luar biasa. Logika yang dipaparkan oleh Yusuf sangat sempurna, masuk akal, dan
memancarkan kecerdasan tingkat tinggi yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang
tahanan biasa. Raja menyadari bahwa pemilik kecerdasan seperti ini adalah aset
berharga yang sangat dibutuhkan oleh negaranya. Dengan wibawanya, raja segera
mengeluarkan perintah mutlak untuk menjemput Yusuf keluar dari penjara:
﴿ائْتُونِي
بِهِ﴾
“Bawalah
dia kepadaku.” (QS. Yusuf: 50)
Seorang
utusan resmi istana datang mengetuk pintu sel Yusuf, mengabarkan bahwa gerbang
kebebasan telah terbuka lebar dan sang penguasa tertinggi menunggunya di
istana. Namun, di sinilah letak kemuliaan dan harga diri seorang Yusuf. Ia
menolak untuk melangkah keluar dari penjara dengan status sebagai orang yang
mendapatkan pengampunan atau belas kasihan politik belaka. Yusuf ingin keluar
dengan kepala tegak, bersih dari segala noda fitnah masa lalu yang membuat
namanya tercemar di kalangan masyarakat Mesir. Ia menuntut agar kasus hukumnya
dibuka kembali secara transparan di hadapan publik sebelum ia menginjakkan
kakinya di istana raja.
Yusuf
berkata:
﴿ارْجِعْ
إِلَىٰ رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ
ۚ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ﴾
“Kembalilah
kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya para wanita yang telah
melukai tangan mereka sendiri. Sesungguhnya Robbku Maha Mengetahui tipu daya
mereka.” (QS. Yusuf: 50)
Utusan itu
kembali kepada raja dan menyampaikan persyaratan yang diajukan oleh Yusuf. Sang
raja yang bijaksana menyetujui tuntutan hukum tersebut. Pertemuan peradilan
tingkat tinggi segera digelar di istana. Raja mengumpulkan para wanita
bangsawan yang dahulu pernah menghadiri jamuan makan di rumah Al-Aziz dan
mengiris tangan mereka sendiri, termasuk menghadirkan Zulaikho di tengah-tengah
mereka. Di hadapan seluruh pembesar kerajaan, raja melontarkan pertanyaan
interogasi yang sangat lugas untuk menyingkap apa yang sebenarnya terjadi
bertahun-tahun yang lalu.
Raja
berkata:
﴿مَا
خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ﴾
“Apakah alasan
kalian ketika kalian menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?” (QS. Yusuf:
51)
Tekanan
mental dan kewibawaan sidang raja membuat benteng kebohongan para wanita itu
runtuh seketika. Rasa bersalah dan kesaksian atas kesucian Yusuf yang selama
ini mereka sembunyikan akhirnya meledak keluar. Mereka serempak mengakui bahwa
selama interaksi mereka dengan Yusuf, tidak pernah sekali pun mereka mendapati
pemuda itu menunjukkan gelagat buruk atau niat maksiat.
Para wanita
itu berkata:
﴿قُلْنَا
حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ﴾
“Maha Suci
Alloh, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan pun darinya.” (QS. Yusuf: 51)
Di saat
para wanita kota memberikan kesaksian bersih tersebut, Zulaikho yang berdiri di
samping mereka merasakan guncangan yang luar biasa di dalam jiwanya. Waktu
bertahun-tahun telah menyadarkannya akan besarnya kezholiman yang telah ia
lakukan kepada pemuda yang tidak bersalah itu. Gejolak nafsu masa lalunya kini
telah berganti menjadi rasa hormat dan pengakuan mutlak akan kebenaran. Di
hadapan suaminya, raja, dan seluruh pemuka Mesir, dengan suara lantang tanpa
keraguan, Zulaikho mengumumkan pengakuan dosa yang membersihkan nama Yusuf
secara total dari segala tuduhan sejarah.
Istri
Al-Aziz berkata:
﴿الْآنَ
حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ﴾
“Sekarang
jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dirinya untuk menundukkan dirinya,
dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf: 51)
Ketika
berita tentang jalannya sidang pengakuan itu disampaikan kembali kepada Yusuf
di dalam penjara, Yusuf mengungkapkan alasannya mengapa ia begitu bersikeras
menuntut pembersihan nama baik ini. Langkah ini diambil bukan karena
kesombongan, melainkan sebagai bentuk amanah profesi dan pembuktian integritas
diri agar mantan majikannya, Al-Aziz, mengetahui bahwa Yusuf tidak pernah
berkhianat di balik punggungnya selama berada di dalam rumah tangga istananya.
Yusuf
berkata:
﴿ذَٰلِكَ
لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ﴾
“Yang
demikian itu agar dia (mantan majikanku) mengetahui bahwa sesungguhnya aku
tidak mengkhianatinya di belakangnya, dan bahwasanya Alloh tidak meridhoi tipu
daya orang-orang yang berkhianat.” (QS. Yusuf: 52)
Sebagai
seorang Nabi yang memiliki tingkat taqwa yang sangat tinggi, Yusuf segera
mengiringi kalimat pembelaan dirinya dengan sikap tawadhu yang mendalam. Ia
tidak ingin terkesan memuji kesucian dirinya sendiri, karena ia memahami betul
bahwa esensi dasar dari jiwa manusia selalu memiliki kecenderungan pada
keburukan kecuali jika mendapatkan perlindungan dan limpahan rohmat dari Robb
semesta alam.
﴿وَمَا
أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ
بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Dan aku
tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rohmat oleh Robbku.
Sesungguhnya Robbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)
5.3
Pengangkatan Yusuf Sebagai Pengelola Perbendaharaan Negara
Pembersihan
nama baik secara total di hadapan publik membuat reputasi Yusuf naik ke puncak
tertinggi. Pengakuan dari para wanita kota dan Zulaikho menjadi bukti otentik
bahwa Yusuf adalah manusia langka yang memadukan antara kesempurnaan
intelektual dengan keluhuran moral yang tanpa cela. Sang raja merasa bahwa
sekadar membebaskan Yusuf dari penjara tidaklah cukup. Tokoh seperti Yusuf
harus ditempatkan di episentrum kekuasaan untuk memimpin jalannya pemerintahan
Mesir melewati badai krisis ekonomi yang sangat besar di depan mata. Raja
kembali mengeluarkan titah dengan kalimat yang jauh lebih terhormat dari
sebelumnya:
﴿ائْتُونِي
بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي﴾
“Bawalah
dia kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat kepadaku.” (QS.
Yusuf: 54)
Yusuf
akhirnya melangkah keluar melintasi gerbang penjara yang telah mengurungnya
selama bertahun-tahun. Dengan pakaian barunya yang bersih dan rapi, ia berjalan
memasuki aula utama istana raja dengan penuh kewibawaan. Pertemuan empat mata
antara sang raja dengan Yusuf pun terjadi. Mereka berdua terlibat dalam diskusi
panjang mengenai urusan tata negara, manajemen logistik gandum, serta masa
depan politik Mesir. Setiap kalimat yang keluar dari lisan Yusuf dipenuhi
dengan hikmah, kedalaman ilmu, dan ketenangan jiwa. Raja terpesona sepenuhnya
oleh kapasitas kepemimpinan Yusuf, hingga sang penguasa memberikan jaminan
otoritas penuh dan kepercayaan mutlak kepadanya di dalam struktur kerajaan.
Raja
akhirnya berkata:
﴿إِنَّكَ
الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ﴾
“Sesungguhnya
kamu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai di
lingkungan kami.” (QS. Yusuf: 54)
Mendengar
tawaran strategis dari penguasa Mesir tersebut, Yusuf tidak menyikapinya dengan
kepasifan atau berpura-pura menolak jabatan karena merasa tidak enak hati.
Yusuf memahami betul situasi darurat pangan yang akan melanda dunia saat itu.
Jika posisi pengelolaan logistik dan keuangan negara jatuh ke tangan
orang-orang korup yang tidak kompeten, kehancuran massal akan menimpa jutaan
nyawa manusia. Oleh karena itu, demi kemaslahatan umum, Yusuf secara terbuka
mengajukan dirinya untuk mengemban amanah sebagai kepala kementerian
perbendaharaan negara, dengan menjabarkan dua kualifikasi utama yang ada pada
dirinya: kemampuan menjaga amanah aset negara (hafizh) dan penguasaan
ilmu manajemen ekonomi yang mumpuni (alim).
Yusuf
berkata:
﴿اجْعَلْنِي
عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنَّي
حَفِيظٌ عَلِيمٌ﴾
“Jadikanlah
aku pengelola perbendaharaan negara Mesir, sesungguhnya aku adalah orang yang
pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)
Raja Mesir
mengabulkan permintaan tersebut dengan penuh kegembiraan. Yusuf secara resmi
dilantik menjadi penguasa perbendaharaan negara, sebuah posisi yang setingkat
dengan perdana menteri atau wakil raja dalam urusan domestik. Seluruh kendali
atas lumbung-lumbung gandum, kebijakan pertanian, dan sirkulasi keuangan negara
berada di bawah tanda tangan Yusuf. Inilah perwujudan dari skenario agung Alloh
ﷻ
yang membalikkan keadaan dalam sekejap mata; seorang mantan budak dan tahanan
politik zholim, kini bertransformasi menjadi penguasa paling berpengaruh di
tanah Mesir kuno yang subur.
Alloh
memberi kedudukan yang kuat kepada Yusuf di negeri Mesir; dia tinggal di mana
saja yang dia kehendaki. Alloh melimpahkan rohmat-Nya kepada siapa yang Dia
kehendaki dan Dia tidak menyia-nyia-kan pahala orang-orang yang berbuat baik.
Bab 6: Pertemuan Kembali dan
Siasat Piala Raja
6.1
Masa Paceklik dan Kedatangan Para Saudara Ke Mesir
Tahun-tahun
swasembada pangan yang diprediksikan lewat mimpi berjalan tepat seperti yang
direncanakan. Di bawah komando Yusuf, seluruh daratan Mesir berubah menjadi
hamparan sawah gandum yang sangat produktif. Yusuf bergerak cepat mendirikan
bangunan lumbung-lumbung raksasa di setiap sudut kota, mengawasi pengumpulan
gandum-gandum yang sengaja dibiarkan pada bulirnya agar tahan lama. Penduduk
Mesir hidup makmur, namun mereka tetap dibatasi dalam konsumsi harian agar
cadangan pangan negara tetap aman.
Ketika
kalender waktu memasuki tahun ke-8, badai perubahan cuaca yang ekstrem melanda
bumi. Awan hitam kemarau panjang bergulung di atas langit timur tengah. Sungai
Nil berhenti mengalirkan airnya ke saluran-saluran irigasi, membuat tanah-tanah
pertanian Mesir retak memanjang dan mengeras seperti batu. Sesuai takwil mimpi,
masa 7 tahun paceklik yang mengerikan telah resmi dimulai. Bencana kekeringan
ini tidak hanya mengurung wilayah Mesir, melainkan meluas hingga ke
negeri-negeri tetangga, termasuk dataran Kana’an tempat tinggal keluarga besar
Nabi Ya’qub.
Di Kana’an,
persediaan makanan mulai menipis hingga mencapai titik kritis. Kelaparan mulai
mengancam kehidupan ternak dan manusia. Di tengah keputusasaan tersebut,
desas-desus mengenai keberadaan seorang penguasa Mesir yang sangat bijaksana
yang memiliki cadangan gandum melimpah sampai ke telinga Ya’qub.
Lelaki tua
yang matanya mulai kabur akibat terus menangisi hilangnya Yusuf itu
mengumpulkan 10 anak laki-lakinya. Ya’qub memerintahkan mereka untuk menempuh
perjalanan jauh ke Mesir demi membeli bahan makanan, namun beliau dengan tegas
melarang anak bungsunya, Bunyamin, ikut serta dalam kafilah tersebut karena
rasa trauma masa lalu yang mendalam masih membekas di hatinya.
10
bersaudara itu memacu unta-unta mereka melintasi padang pasir, hingga akhirnya
mereka tiba di pusat ibu kota Mesir. Mereka mengantre di barisan panjang
halaman istana bersama perwakilan-perwakilan dari berbagai kabilah asing.
Yusuf, yang turun langsung mengawasi pembagian jatah gandum di atas
singgasananya, mengamati barisan antrean tersebut. Pandangan mata Yusuf
mendadak terpaku pada sekelompok pria paruh baya yang berjalan beriringan.
Jantungnya berdegup kencang. Wajah-wajah itu sangat ia kenali; mereka adalah
para abangnya yang dahulu pernah menyiksanya dan melemparkannya ke dalam
kegelapan sumur tua. Namun, dari sisi para saudara tersebut, mereka sama sekali
tidak membayangkan bahwa anak kecil yang dahulu mereka buang kini menjelma
menjadi seorang penguasa agung Mesir yang mengenakan pakaian kebesaran
kerajaan.
Yusuf
memilih untuk tetap merahasiakan jati dirinya. Ia berbicara kepada mereka
melalui seorang penerjemah istana dengan nada bicara seorang pejabat tinggi
yang tegas namun penuh selidik. Yusuf menanyakan asal-usul kabilah mereka,
jumlah anggota keluarga mereka, serta kondisi bapak mereka di rumah. Para
saudara Yusuf menjawab dengan penuh rasa hormat, menjelaskan bahwa mereka
adalah 12 bersaudara, namun 1 orang telah hilang di padang rumput, dan 1 orang
lagi yang paling bungsu ditinggal di rumah untuk menemani bapak mereka yang
sudah tua renta.
Mendengar
penuturan tentang Bunyamin dan bapaknya, sebersit kerinduan yang mendalam
membuncah di dalam dada Yusuf. Namun, ia menyusun sebuah skenario cerdik untuk
memaksa para saudaranya membawa Bunyamin pada kunjungan berikutnya, demi
memastikan keselamatan adik kandungnya tersebut. Setelah karung-karung unta
mereka dipenuhi dengan gandum kualitas terbaik, Yusuf melontarkan sebuah
persyaratan mutlak.
Yusuf berkata
kepada mereka:
﴿ائْتُونِي
بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ ۚ أَلَا
تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ﴾
“Bawalah
kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu, tidakkah kamu melihat bahwa aku
menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang paling baik?” (QS.
Yusuf: 59)
Yusuf
kemudian mempertegas perintahnya dengan sebuah ancaman diplomatik yang sangat
berat jika mereka berani kembali ke Mesir tanpa membawa serta adik bungsu
mereka pada kunjungan yang akan datang.
﴿فَإِنْ
لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلَا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلَا تَقْرَبُونِ﴾
“Jika kamu
tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapatkan takaran gandum lagi
dariku dan janganlah kamu mendekati aku.” (QS. Yusuf: 60)
Para
saudara Yusuf menjadi panik mendengar ancaman tersebut. Mereka mengetahui betul
betapa sulitnya melunakkan hati bapak mereka, Ya’qub, untuk melepaskan Bunyamin
pergi jauh. Namun, demi kelangsungan hidup kabilah mereka, mereka berjanji akan
mengerahkan segala kemampuan retorika untuk membujuk sang bapak.
Mereka
berkata:
﴿سَنُرَاوِدُ
عَنْهُ أَبَاهُ وَإِنَّا لَفَاعِلُونَ﴾
“Kami akan
membujuk bapaknya untuk membawanya dan sesungguhnya kami benar-benar akan
melaksanakannya.” (QS. Yusuf: 61)
Sebelum
kafilah saudara-saudaranya melangkah keluar meninggalkan istana, Yusuf
memanggil para pelayan kepercayaannya secara sembunyi-sembunyi. Ia
memerintahkan agar seluruh barang berharga, kepingan perak, dan harta yang
digunakan oleh abang-abangnya untuk membayar gandum tadi dimasukkan kembali
secara diam-diam ke dalam lipatan karung mereka tanpa mereka sadari. Yusuf
melakukan ini sebagai bentuk kasih sayang rahasia kepada keluarganya, sekaligus
sebagai pancingan moral agar mereka merasa berutang budi dan pasti akan kembali
lagi ke Mesir karena kejujuran mereka tidak akan membiarkan mereka memakan
barang yang belum dibayar.
Dan Yusuf
berkata kepada pelayan-pelayannya:
﴿اجْعَلُوا
بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ
أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾
“Masukkanlah
barang-barang pembayar gandum mereka ke dalam karung-karung mereka, agar mereka
mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan
mereka kembali lagi.” (QS. Yusuf: 62)
6.2
Siasat Yusuf Menahan Bunyamin
Perjalanan
pulang ke Kana’an dilewati dengan kecemasan yang menggelayuti pikiran para
saudara Yusuf. Begitu unta-unta mereka bersimpuh di depan tenda kediaman Ya’qub,
mereka langsung menurunkan muatan gandum dan bergegas menemui bapak mereka
untuk melaporkan kondisi diplomasi pangan yang terjadi di Mesir. Mereka
menyampaikan bahwa jatah makanan mereka di masa depan terancam diblokir
sepenuhnya oleh bendahara Mesir jika mereka tidak membawa serta Bunyamin ke
istana.
Mereka
berkata:
﴿يَا
أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ
لَحَافِظُونَ﴾
“Wahai
bapak kami, kami tidak akan mendapat takaran gandum lagi jika tidak membawa
saudara kami, sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami
mendapat takaran, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS.
Yusuf: 63)
Mendengar
kata-kata janji menjaga yang keluar dari lisan anak-anaknya, hati Ya’qub bagai
diiris sembilu. Kalimat yang sama persis pernah mereka ucapkan puluhan tahun
yang lalu ketika mereka merayu untuk membawa Yusuf pergi bermain ke padang
rumput yang berakhir dengan tragedi darah palsu. Ya’qub menatap mereka dengan
pandangan penuh kepedihan, menolak mentah-mentah janji-janji lisan manusia yang
sering kali rapuh, dan memilih untuk menyandarkan perlindungan anak bungsunya
hanya kepada takdir perlindungan Alloh ﷻ yang mutlak.
Ya’qub
berkata:
﴿هَلْ
آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَىٰ أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ ۖ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهوُ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ﴾
“Bagaimanakah
aku akan mempercayakan dia kepada kalian, kecuali seperti aku telah
mempercayakan saudaranya Yusuf kepada kalian dahulu? Maka Alloh adalah penjaga
yang paling baik dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS.
Yusuf: 64)
Di tengah
ketegangan diskusi tersebut, para saudara Yusuf mulai membuka ikatan tali
karung-karung gandum mereka untuk dipindahkan ke tempat penyimpanan. Betapa
terkejutnya mereka ketika menemukan sebuah bungkusan kain di dasar karung yang
berisi seluruh harta perak pembayar gandum mereka utuh tanpa kurang sepeser
pun. Mereka bersorak kegirangan dan menggunakan temuan ini sebagai argumen
tambahan untuk meyakinkan Ya’qub bahwa penguasa Mesir itu adalah orang yang
sangat mulia dan dermawan yang tidak berniat jahat kepada mereka.
Mereka
berkata:
﴿يَا
أَبَانَا مَا نَبْغِي ۖ هَٰذَا
بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا ۖ وَنَمِيرُ
أَهْلَنَا وَنَحْفَظُ أَخَانَا وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍ ۖ ذَٰلِكَ كَيْلٌ يَسِيرٌ﴾
“Wahai
bapak kami, apa lagi yang kita inginkan? Ini barang-barang kita dikembalikan
kepada kita, dan kita akan dapat memberi makan keluarga kita, dan kami akan
menjaga saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan jatah muatan seekor unta
lagi. Itu adalah takaran yang mudah bagi raja Mesir.” (QS. Yusuf: 65)
Melihat
persediaan gandum yang terbatas serta desakan kebutuhan pangan keluarga besar
yang kian menjepit, Ya’qub akhirnya melunakkan keputusannya. Namun, beliau
mengajukan sebuah syarat hukum yang sangat berat yang mengikat jiwa
anak-anaknya. Beliau menuntut agar mereka mengucapkan sumpah sakral demi Alloh ﷻ di
hadapannya, berjanji untuk mempertaruhkan nyawa mereka demi membawa Bunyamin
kembali pulang ke Kana’an, kecuali jika mereka semua dikepung oleh kekuatan
musuh yang tidak bisa dilawan oleh kemampuan fisik manusia.
Ya’qub
berkata dengan penuh kekhawatiran:
﴿لَنْ
أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّىٰ تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ
إِلَّا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ﴾
“Aku tidak akan melepaskannya pergi bersama kalian, sebelum
kalian memberikan kepadaku janji yang teguh demi Alloh, bahwa kalian pasti akan
membawanya kembali kepadaku, kecuali jika kalian dikepung musuh.” (QS.
Yusuf: 66)
Maka tatkala mereka memberikan janji mereka, Ya’qub berkata:
﴿اللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ
وَكِيلٌ﴾
“Alloh
adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan.” (QS. Yusuf: 66)
Setelah
sumpah suci diucapkan, Ya’qub memberikan nasihat taktis terakhir kepada
anak-anaknya sebelum melepas keberangkatan mereka. Sebagai seorang yang sarat pengalaman
hidup, Ya’qub mengkhawatirkan jika 11 pemuda berfisik tegap dan berwajah tampan
masuk bersamaan melalui 1 pintu gerbang utama kota Mesir, hal itu akan
mengundang pandangan hasad (ain) dari penduduk setempat atau memicu kecurigaan
aparat keamanan istana atas tuduhan intelijen asing.
Ya’qub
berkata:
﴿يَا
بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ
ۖ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ
شَيْءٍ ۖ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ﴾
“Wahai
anak-anakku, janganlah kalian masuk dari 1 pintu gerbang, dan masuklah dari
pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda; namun aku tidak dapat mempertahankan kalian
sedikit pun dari takdir Alloh. Keputusan itu hanyalah milik Alloh; kepada-Nya
aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal
berserah diri.” (QS. Yusuf: 67)
Kafilah
besar dari Kana’an itu pun kembali bergerak menuju tanah Mesir, kali ini dengan
membawa Bunyamin di tengah-tengah mereka. Setibanya di gerbang ibu kota, mereka
mematuhi wasiat bapak mereka dengan memecah barisan masuk melalui pintu-pintu
gerbang kota yang berbeda secara terpisah, sebelum akhirnya berkumpul kembali
di aula utama istana bendahara negara Mesir.
Yusuf yang
telah menanti kedatangan mereka menyambut kafilah tersebut dengan jamuan
protokoler kerajaan yang sangat mewah. Ketika momen perjamuan berlangsung,
Yusuf mengatur posisi duduk secara berpasangan. Hingga pada akhirnya, Yusuf
membawa Bunyamin secara khusus ke dalam ruang privasinya secara terpisah dari
abang-abangnya yang lain. Di dalam ruangan tertutup yang sunyi itu, Yusuf tidak
mampu lagi membendung limpahan air mata kerinduannya. Ia mendekat, memeluk adik
kandungnya dengan erat, lalu membisikkan rahasia besar yang selama puluhan
tahun ini tersimpan rapat di dasar jiwanya.
Yusuf
berkata:
﴿إِنِّي
أَنَا أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Sesungguhnya
aku ini adalah saudaramu, maka janganlah kamu berduka cita terhadap apa yang
telah mereka kerjakan.” (QS. Yusuf: 69)
Pertemuan
rahasia itu menumpahkan seluruh beban kesedihan dari hati Bunyamin yang selama
ini hidup tertekan di bawah intimidasi para abangnya di Kana’an. Namun, Yusuf
menjelaskan bahwa waktu baginya untuk pulang ke Kana’an belum tiba, dan ia
harus menahan Bunyamin tetap tinggal bersamanya di istana Mesir demi
melindunginya serta menjalankan fase berikutnya dari skenario Alloh ﷻ.
Yusuf menyusun sebuah siasat hukum yang sangat halus tanpa melanggar prinsip
keadilan.
Keesokan
harinya, ketika karung-karung gandum milik 11 bersaudara itu sedang diisi oleh
para petugas kerajaan, Yusuf memerintahkan seorang pelayan kepercayaannya
secara rahasia untuk memasukkan piala takaran emas milik raja (as-siqoyah)
yang biasa digunakan untuk menakar gandum dan minum, ke dalam bagian paling
dalam dari karung unta kepunyaan Bunyamin. Kafilah itu pun dilepas pergi
meninggalkan istana dengan damai.
Namun, baru
saja kaki unta-unta mereka melangkah beberapa meter di luar gerbang kota,
tiba-tiba dari atas menara pengawas istana terdengar teriakan melengking dari
seorang penyeru keamanan kerajaan yang menghentikan langkah mereka secara paksa
dengan tuduhan yang mengejutkan jantung mereka:
﴿أَيَّتُهَا
الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ﴾
“Wahai
kafilah, sesungguhnya kamu benar-benar orang-orang yang mencuri!” (QS.
Yusuf: 70)
Para
saudara Yusuf membalikkan badan unta mereka dengan wajah yang memerah penuh
amarah dan rasa tidak terima atas tuduhan keji tersebut. Mereka yang memegang
teguh kehormatan sebagai keturunan para Nabi merasa dihina di depan publik.
Mereka melangkah maju mendekati barisan tentara dan penyeru tersebut dengan
nada bicara yang menuntut kejelasan.
Mereka
berkata sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu:
﴿مَاذَا
تَفْقِدُونَ﴾
“Barang
apakah yang kamu kehilangan?” (QS. Yusuf: 71)
Petugas
keamanan istana itu melangkah maju ke depan barisan, menjelaskan jenis barang
berharga milik negara yang hilang dari ruang penyimpanan istana setelah
kunjungan mereka, serta menjanjikan hadiah imbalan logistik yang besar bagi
siapa saja yang mau bekerja sama menyingkap keberadaan barang tersebut.
Penyeru-penyeru
itu berkata:
﴿نَفْقِدُ
صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ﴾
“Kami
kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh
bahan makanan seberat muatan unta, dan aku menjaminnya.” (QS. Yusuf: 72)
Mendengar
jenis barang yang hilang, para saudara Yusuf bersumpah dengan menyebut nama
Alloh ﷻ
secara lantang di hadapan publik Mesir. Mereka menegaskan rekam jejak mereka
yang bersih sejak kunjungan pertama, di mana mereka bahkan mengembalikan uang
pembayar gandum yang tidak sengaja terbawa pulang, sebagai bukti moral bahwa
mereka mustahil melakukan tindakan kriminal rendahan seperti mencuri.
Mereka
berkata:
﴿تَاللَّهِ
لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ﴾
“Demi
Alloh, sesungguhnya kalian mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat
kerusakan di negeri ini dan kami bukanlah orang-orang pencuri.” (QS. Yusuf:
73)
Komandan
pasukan keamanan istana yang bertindak di bawah instruksi siasat rahasia Yusuf
memanfaatkan momen argumen tersebut untuk mengunci posisi hukum mereka. Petugas
itu melontarkan sebuah pertanyaan kunci mengenai kesepakatan hukuman apa yang
berlaku menurut adat hukum kabilah mereka sendiri jika barang curian tersebut
nantinya benar-benar ditemukan di dalam salah satu karung mereka:
﴿فَمَا
جَزَاؤُهُ إِنْ كُنْتُمْ كَاذِبِينَ﴾
“Maka apakah
balasannya jika kamu berdusta?” (QS. Yusuf: 74)
Tanpa
menyadari jebakan hukum yang sedang mengintai, para saudara Yusuf langsung
menjawab dengan merujuk pada syariat hukum adat negeri Syam dan Kana’an kuno;
yaitu barang siapa yang terbukti mencuri, maka hukuman baginya bukanlah
dicambuk atau dipenjara di dalam sel, melainkan dirinya sendiri harus
diserahkan secara fisik menjadi budak tawanan bagi sang pemilik barang selama
jangka waktu tertentu sebagai bentuk ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkan.
Mereka
berkata:
﴿جَزَاؤُهُ
مَنْ وَجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزَاؤُهُ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ﴾
“Balasannya
ialah pada siapa yang ditemukan piala itu dalam karungnya, maka dia sendirilah
sebagai balasannya menjadi tawanan. Demikianlah kami memberi balasan kepada
orang-orang yang zholim.” (QS. Yusuf: 75)
Hukum
kesepakatan telah dikunci. Kafilah itu pun digiring kembali masuk ke dalam
halaman istana, tempat di mana Yusuf telah berdiri menunggu jalannya proses
pemeriksaan fisik. Siasat dijalankan dengan sangat rapi dan penuh perhitungan
psikologis. Yusuf tidak langsung memeriksa karung milik Bunyamin agar tidak
menimbulkan kecurigaan awal dari abang-abangnya. Ia memerintahkan petugas untuk
membongkar dan memeriksa karung gandum milik para abang tertua satu per satu
terlebih dahulu. Satu karung dibuka, bersih; karung kedua, bersih; hingga
karung kesepuluh pun tidak ditemukan apa-apa.
Suasana
halaman istana menjadi semakin menegangkan ketika karung terakhir yang tersisa
adalah milik Bunyamin. Begitu tali karung Bunyamin dilepas dan gandumnya
dituangkan ke atas kain penampung, tiba-tiba terdengar bunyi dentangan logam
mulia yang jatuh terhempas. Mata seluruh orang terbelalak ketika melihat piala
emas milik raja berkilau keluar dari dalam tumpukan gandum Bunyamin. Para
saudara Yusuf terkejut bukan main, wajah mereka pucat pasi menahan rasa malu
yang teramat sangat atas hancurnya harga diri mereka di hadapan penguasa Mesir.
Di tengah
situasi yang tersudut dan rasa panik yang memuncak karena ingatan mereka langsung
tertuju pada sumpah suci yang telah mereka berikan kepada Ya’qub untuk menjaga
Bunyamin, karakter buruk masa lalu mereka mendadak kambuh kembali. Demi
menyelamatkan muka dan nama baik mereka sendiri dari cap sebagai pencuri di
hadapan Yusuf, mereka tega melempar fitnah keji kepada Bunyamin dan
mengaitkannya dengan Yusuf, menyebut bahwa tabiat mencuri ini adalah penyakit
keturunan yang diwarisi Bunyamin dari saudara kandungnya yang telah hilang
dahulu.
Mereka
berkata:
﴿إِنْ
يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ﴾
“Jika dia
mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” (QS.
Yusuf: 77)
Yusuf
mendengarkan hinaan vertikal itu dengan menahan amarah di dalam dadanya. Ia
mengunci rapat lisannya agar tidak membalas makian tersebut secara langsung di
tempat itu, dan membiarkan keadilan Alloh ﷻ yang bekerja menyingkap
seluruh kebenaran sejarah pada saat yang paling tepat nanti.
Yusuf
membatin:
﴿أَنْتُمْ
شَرٌّ مَكَانًا ۖ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ﴾
“Kedudukan
kalian adalah lebih buruk dan Alloh lebih mengetahui apa yang kalian terangkan
itu.” (QS. Yusuf: 77)
6.3
Kesedihan Ya’qub dan Terbongkarnya Jati Diri Yusuf
Halaman
istana bendahara negara Mesir mendadak senyap. Piala emas milik raja berkilau
di antara butiran gandum di dalam karung Bunyamin. Kebohongan para saudara yang
melempar fitnah lama tidak membuat Yusuf goyah. Di hadapan tuduhan keji itu,
para saudara Yusuf menyadari bahwa mereka berada di ujung kehancuran. Sumpah
suci yang mereka ikrarkan di hadapan Ya’qub kini membayang bagaikan hantu yang
menakutkan. Jika mereka pulang tanpa Bunyamin, bapak mereka yang sudah tua
renta akan marah dan mati karena duka cita.
Dengan
tubuh gemetar dan rasa panik yang menjalar, mereka melangkah mendekati Yusuf.
Rasa sombong mereka sebagai sekelompok lelaki kuat runtuh sepenuhnya. Mereka
memelas, memohon belas kasihan sang penguasa agar sudi mengubah keputusan hukum
adat yang telah mereka sepakati sendiri
Mereka
berkata:
﴿يَا
أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ
ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Wahai
penguasa, sesungguhnya dia mempunyai bapak yang sudah tua renta, maka ambillah
salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihatmu
termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 78)
Yusuf
menatap wajah-wajah yang dahulu begitu perkasa saat menyiksanya. Kini,
wajah-wajah itu memelas meminta keadilan. Yusuf menjawab dengan ketegasan
seorang hakim yang adil, menolak usulan penukaran tahanan karena hal itu
merupakan sebuah kezholiman yang nyata dalam sistem hukum mana pun.
Yusuf
berkata:
﴿مَعَاذَ
اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلَّا مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهُ إِنَّا إِذًا لَظَّالِمُونَ﴾
“Aku
berlindung kepada Alloh dari menahan kecuali orang yang kami temukan harta kami
padanya, sesungguhnya kami kalau demikian pasti termasuk orang-orang yang
zholim.” (QS. Yusuf: 79)
Mendengar
penolakan mutlak dari sang menteri, runtuhlah seluruh harapan mereka. Mereka
berjalan menjauh dari singgasana, berhimpun di sebuah sudut halaman istana yang
sunyi untuk berunding secara rahasia. Saudara tertua di antara mereka, yang
merasa paling bertanggung jawab atas sumpah demi Alloh ﷻ serta bayang-bayang dosa masa
lalu terhadap Yusuf, angkat bicara dengan suara berat dipenuhi penyesalan yang
mendalam.
Maka
tatkala mereka berputus asa dari putusan Yusuf, mereka menyendiri sambil
berunding secara rahasia. Berkatalah saudara yang tertua di antara mereka:
﴿أَلَمْ
تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ
قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ ۖ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ
لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ﴾
“Tidakkah kalian
mengetahui bahwa bapak kalian telah mengambil janji yang teguh dari kalian demi
Alloh, dan sebelum itu kalian telah menyia-nyiakan Yusuf? Maka aku tidak akan
meninggalkan negeri Mesir ini sampai bapakku mengizinkanku untuk kembali atau
Alloh memberi keputusan kepadaku. Dia adalah Hakim yang paling baik.” (QS.
Yusuf: 80)
Saudara
tertua itu memerintahkan adik-adiknya yang lain untuk segera pulang ke Kana’an
dan menghadapi Ya’qub dengan membawa kejujuran fakta yang terjadi, tanpa ada
lagi rekayasa cerita seperti masa lalu.
﴿ارْجِعُوا
إِلَىٰ أَبِيكُمْ فَقُولُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا
بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ﴾
“Kembalilah
kepada bapakmu lalu katakanlah: ‘Wahai bapak kami, sesungguhnya anakmu telah
mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan kami tidak dapat
menjaga urusan yang gaib.” (QS. Yusuf: 81)
Ia
menambahkan agar mereka meminta bapak mereka memeriksa kebenaran berita ini
kepada penduduk kota Mesir serta para kafilah dagang yang menempuh perjalanan
bersama mereka.
﴿...وَاسْأَلِ
الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ﴾
“Dan
tanyalah kepada penduduk kota tempat kami berada, dan kafilah dagang yang kami
datang bersama mereka, dan sesungguhnya kami benar-benar orang-orang yang
jujur.” (QS. Yusuf: 82)
Sembilan
bersaudara itu kembali menempuh perjalanan pulang dengan hati yang hancur.
Setibanya di Kana’an, mereka melangkah masuk ke tenda Ya’qub dengan kepala
tertunduk. Begitu kalimat laporan itu selesai diucapkan, luka lama di hati Ya’qub
mendadak terbuka kembali dengan hantaman yang jauh lebih dahsyat. Kehilangan
Yusuf belum terobati, kini Bunyamin ditahan, dan anak tertuanya memilih tinggal
di Mesir. Ya’qub memandang mereka dengan tatapan kepedihan yang mendalam,
menolak mempercayai skenario takdir yang dibawa oleh anak-anaknya, lalu kembali
bersandar pada kesabaran yang indah.
Ya’qub
berkata:
﴿بَلْ
سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا
ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ﴾
“Sebenarnya
dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan buruk ini, maka kesabaran yang
indah itulah sikapku. Mudah-mudahan Alloh mendatangkan mereka semuanya
kepadaku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS.
Yusuf: 83)
Kesedihan
Ya’qub mencapai puncaknya. Beliau membalikkan badannya, menjauh dari anak-anaknya
agar mereka tidak melihat air mata yang menetes membasahi jenggot putihnya.
Kenangan akan Yusuf kecil yang hilang puluhan tahun lalu kembali berputar di
pelupuk matanya.
﴿يَا
أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ﴾
“Aduhai
duka citaku terhadap Yusuf.” (QS. Yusuf: 84)
Tangisan
yang tiada henti itu membuat kornea mata Ya’qub memutih hingga beliau mengalami
kebutaan total. Melihat kondisi bapak mereka yang kian memprihatinkan dan
terus-menerus menyebut nama Yusuf, anak-anaknya mulai merasa risih dan melontarkan
teguran yang bernada ketakutan akan keselamatan nyawa bapak mereka.
Mereka
berkata:
﴿تَاللَّهِ
تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ﴾
“Demi
Alloh, engkau senantiasa mengingat Yusuf, sampai engkau mengidap penyakit berat
atau termasuk orang-orang yang akan meninggal.” (QS. Yusuf: 85)
Ya’qub
menjawab teguran itu dengan sebuah prinsip Tauhid yang agung. Beliau menegaskan
bahwa seluruh keluh kesah, penderitaan, dan air mata ini tidak disandarkan
kepada manusia yang lemah, melainkan hanya diadukan secara vertikal kepada Robb
yang menguasai segala takdir.
﴿إِنَّمَا
أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Sesungguhnya
aku hanya mengadukan kesusahan dan duka citaku kepada Alloh, dan aku mengetahui
dari Alloh apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf: 86)
Firasat
kenabian dalam diri Ya’qub membisikkan bahwa Yusuf masih hidup di suatu tempat.
Keyakinan itu membuat beliau membangkitkan kembali semangat anak-anaknya yang
telah layu. Beliau memerintahkan mereka semua untuk kembali melakukan
perjalanan ke Mesir, mengesampingkan rasa malu, dan mencari informasi secara
mendalam mengenai keberadaan Yusuf dan Bunyamin tanpa boleh berputus asa dari
rohmat Alloh ﷻ.
Ya’qub berkata:
﴿يَا
بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ
اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ
رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾
“Wahai
anak-anakku, pergilah kalian, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya
dan jangan kalian berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya tidak ada yang
berputus asa dari rohmat Alloh, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Para
saudara Yusuf kembali mengencangkan tali unta mereka. Masa paceklik yang kian
mencekik membuat kondisi ekonomi keluarga mereka berada di titik terendah.
Mereka tiba di istana Mesir untuk ketiga kalinya, namun kali ini bukan sebagai
pembeli terhormat, melainkan sebagai peminta-minta yang membawa barang-barang
penukar berkualitas rendah yang tidak berharga. Di hadapan Yusuf, mereka
berbicara dengan suara yang lirih, memaparkan kesengsaraan hidup yang melanda
keluarga mereka, serta memohon belas kasihan sedekah dari sang penguasa.
Maka
tatkala mereka masuk ke tempat Yusuf, mereka berkata:
﴿يَا
أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ
فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ﴾
“Wahai
penguasa, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang
membawa barang-barang yang tidak berharga, maka sempurnakanlah takaran untuk
kami dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Alloh memberi balasan kepada
orang-orang yang bersedekah.” (QS. Yusuf: 88)
Melihat
pemandangan yang sangat memilukan di depan matanya, di mana abang-abangnya yang
dahulu begitu angkuh kini bersimpuh kelaparan memohon sedekah gandum, runtuhlah
seluruh pertahanan emosi Yusuf. Waktu bagi penyingkapan rahasia besar telah
tiba. Yusuf memandang mereka dengan tatapan mata yang mendalam, lalu
melontarkan sebuah pertanyaan dalam bahasa asli mereka yang langsung
menghentikan nafas mereka seketika.
Yusuf
berkata:
﴿هَلْ
عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ﴾
“Apakah kalian
masih ingat apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika
kalian masih bodoh?” (QS. Yusuf: 89)
Mendengar
pertanyaan tentang nama Yusuf dan Bunyamin keluar dari lisan sang penguasa
Mesir dalam bahasa Kana’an, ingatan mereka berputar cepat. Mereka menatap
lekat-lekat garis wajah, sepasang mata, dan senyuman sang menteri. Kesadaran
mendadak menghantam pikiran mereka. Tubuh mereka bergetar hebat saat menyadari
siapa sesungguhnya sosok agung yang berada di hadapan mereka.
Mereka
berkata:
﴿أَإِنَّكَ
لَأَنْتَ يُوسُفُ﴾
“Apakah
kamu ini benar-benar Yusuf?” (QS. Yusuf: 90)
Yusuf
menjawab:
﴿أَنَا
يُوسُفُ وَهَٰذَا أَخِي ۖ قَدْ
مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ
مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Akulah
Yusuf dan ini (Bun-yamin) saudaraku. Sesungguhnya Alloh telah melimpahkan
karunia kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang taqwa dan sabar, maka
sesungguhnya Alloh tidak menyia-nyia-kan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Yusuf: 90)
Penyesalan
menetes deras dari wajah para saudara Yusuf. Segala bentuk keangkuhan masa lalu
meleleh tak bersisa di bawah pancaran kemuliaan Yusuf. Mereka tertunduk malu,
mengakui sepenuhnya kezholiman sejarah yang telah mereka perbuat serta
keunggulan derajat Yusuf yang telah dipilih secara mutlak oleh Alloh ﷻ.
Mereka
berkata:
﴿تَاللَّهِ
لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ﴾
“Demi
Alloh, sesungguhnya Alloh telah memilihmu di atas kami, dan sesungguhnya kami
benar-benar orang-orang yang bersalah.” (QS. Yusuf: 91)
Sebagai
seorang Nabi yang berjiwa agung dan berhati bersih, Yusuf tidak memanfaatkan
momen kemenangan ini untuk melampiaskan dendam atau memenjarakan mereka. Dengan
penuh kelembutan dan rohmat seorang saudara, Yusuf langsung memberikan kalimat
pengampunan total hari itu juga, menghapus segala rasa bersalah dari jiwa
mereka, serta mendoakan agar Robb yang Maha Penyayang mengampuni kekhilafan
mereka.
Yusuf
berkata:
﴿لَا
تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ
اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ﴾
“Pada hari
ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Alloh mengampuni kamu, dan
Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 92)
Bab 7: Pertemuan Besar dan Akhir
Kisah yang Indah
7.1
Baju Gamis Yusuf dan Pulihnya Penglihatan Ya’qub
Suasana
haru di dalam ruang privasi istana Mesir itu perlahan berganti menjadi
kegembiraan yang luar biasa. Yusuf segera memikirkan kondisi bapaknya, Ya’qub,
yang mendekam dalam kebutaan di Kana’an akibat dirundung duka cita yang
panjang. Yusuf melepas baju gamis kebesaran yang dikenakannya, lalu
menyerahkannya kepada para saudaranya. Baju gamis inilah yang kelak menjadi
perantara fisik bagi mukjizat kesembuhan sang bapak, sekaligus menjadi simbol
penutup dari penderitaan yang bermula dari baju gamis berdarah palsu di masa
kecil dahulu.
Yusuf
berkata:
﴿اذْهَبُوا
بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ
أَجْمَعِينَ﴾
“Pergilah
kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah ke wajah bapakku, nanti
dia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.” (QS.
Yusuf: 93)
Kafilah
bersaudara itu segera memacu unta-unta mereka meninggalkan perbatasan Mesir
menuju tanah Kana’an dengan kecepatan penuh. Mereka membawa sebuah berita
gembira yang luar biasa yang akan mengubah seluruh jalannya sejarah keluarga
mereka. Di saat yang sama, di sebuah tenda sunyi di pedalaman Kana’an yang
berjarak ratusan mil dari Mesir, sebuah fenomena ghoib terjadi. Ya’qub mendadak
menegakkan tubuhnya yang lemah. Hidungnya menghirup udara malam, menangkap
aroma wangi tubuh anak kesayangannya yang dibawa oleh embusan angin gurun.
Dengan keyakinan mutlak, beliau berbicara kepada anggota keluarga di sekitarnya:
﴿إِنِّي
لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ۖ لَوْلَا
أَنْ تُفَنِّدُونِ﴾
“Sesungguhnya
aku benar-benar mencium bau Yusuf, sekiranya kalian tidak menuduhku lemah akal.”
(QS. Yusuf: 94)
Orang-orang
yang berada di sekitar Ya’qub, yang selama puluhan tahun menganggap pencarian
Yusuf sebagai sebuah kemustahilan, menyikapi ucapan tersebut dengan sikap ragu
yang dingin. Mereka menganggap ingatan tua Ya’qub telah terganggu oleh khayalan
masa lalu yang tidak kunjung sirna.
Mereka
berkata:
﴿تَاللَّهِ
إِنَّكَ لَفِي ضَلَالِكَ الْقَدِيمِ﴾
“Demi
Alloh, sesungguhnya engkau benar-benar berada dalam kekeliruanmu yang dahulu.” (QS.
Yusuf: 95)
Tidak lama
setelah perdebatan itu, derap kaki unta kafilah dari Mesir terdengar mendekati
tenda. Saudara yang bertugas membawa berita gembira melompat turun dari untanya,
berlari masuk ke dalam tenda, lalu membentangkan baju gamis Yusuf dan
meletakkannya di atas wajah Ya’qub yang buta. Seketika itu juga, mukjizat Alloh
ﷻ
bekerja. Kegelapan di mata Ya’qub sirna, lapisan putih di kornea matanya
lenyap, dan pandangan matanya kembali tajam dan jernih seperti sediakala. Ya’qub
berdiri dengan tegak, memandang anak-anaknya dengan senyuman kemenangan iman:
﴿أَلَمْ
أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Tidakkah
aku katakan kepadamu, sesungguhnya aku mengetahui dari Alloh apa yang tidak
kamu ketahui?” (QS. Yusuf: 96)
Melihat
mukjizat nyata serta terbongkarnya seluruh kebenaran bahwa Yusuf masih hidup
dan telah menjadi penguasa, sembilan bersaudara itu langsung bersimpuh di kaki
bapak mereka. Dengan air mata yang mengalir membasahi tanah, mereka memohon
agar sang bapak sudi menjadi perantara doa bagi pengampunan dosa-dosa besar
yang telah mereka lakukan di masa lalu.
Mereka
berkata:
﴿يَا
أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ﴾
“Wahai
bapak kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang bersalah.” (QS. Yusuf: 97)
Ya’qub yang
berhati mulia menerima permohonan maaf anak-anaknya. Beliau berjanji akan
memilih waktu yang paling mustajab untuk memohonkan ampunan bagi mereka secara
vertikal kepada Robb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ibnu Mas’ud
berpendapat, Ya’qub menundanya sampai sepertiga malam terakhir.
Ya’qub
berkata:
﴿سَوْفَ
أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Aku akan
memohonkan ampun bagimu kepada Robbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 98)
7.2
Hijroh Keluarga Isroil Ke Mesir dan Terwujudnya Mimpi Masa Kecil
Persiapan
besar segera dilakukan di tanah Kana’an. Seluruh anggota keluarga besar Nabi Ya’qub,
yang merupakan keturunan Isroil, mengemas seluruh barang bawaan mereka, melipat
tenda-tenda, dan menggembalakan hewan ternak yang tersisa. Mereka memulai
sebuah perjalanan hijroh massal meninggalkan tanah kelahiran menuju tanah
harapan kuno, negeri Mesir, memenuhi undangan mulia dari Yusuf.
Setibanya
di perbatasan Mesir, Yusuf bersama barisan pengawal berkuda istana telah
berdiri menyambut kedatangan rombongan besar tersebut. Begitu pandangan mata
Yusuf bertemu dengan sosok bapaknya yang kini telah bisa melihat kembali, Yusuf
berlari memeluk kedua orang tuanya dengan dekapan yang sangat erat, menumpahkan
seluruh kerinduan yang membeku selama puluhan tahun, lalu menuntun mereka
memasuki gerbang keamanan kota.
﴿ادْخُلُوا
مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ﴾
“Masuklah
kamu ke negeri Mesir, In Syaa Alloh dalam keadaan aman.” (QS. Yusuf: 99)
Rombongan
keluarga besar itu digiring masuk ke dalam istana utama kerajaan Mesir. Di
dalam ruang pertemuan agung, Yusuf menuntun bapak dan ibunya untuk naik dan
duduk di atas singgasana kehormatannya yang tinggi. Pada saat itulah, sebuah
pemandangan menakjubkan terjadi di hadapan seluruh pembesar Mesir. 11 saudara
laki-laki Yusuf beserta bapak dan ibunya serentak membungkukkan tubuh mereka,
bersujud sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan di hadapan Yusuf.
Yusuf
memandang pemandangan tersebut dengan hati berlinang. Pikirannya melayang
kembali ke masa puluhan tahun lalu, ke pagi hari di Kana’an saat ia masih
seorang anak kecil yang menceritakan sebuah penglihatan ghoib di dalam
tidurnya. Janji Alloh ﷻ
kini telah tunai sempurna. Yusuf menoleh ke arah Ya’qub dan berucap dengan
suara yang bergetar penuh rasa syukur:
﴿يَا
أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ
السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي
وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا
يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ﴾
“Wahai Ayahandaku,
inilah takwil mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Robbku telah menjadikannya
kenyataan. Dan sesungguhnya Dia telah berbuat baik kepadaku ketika Dia
mengeluarkan aku dari penjara dan membawa kalian dari dusun padang pasir,
setelah syaithon merusak hubungan antaraku dengan saudara-saudaraku.
Sesungguhnya Robbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya
Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100)
Di puncak
segala kemuliaan duniawi yang berhasil diraihnya—kekuasaan politik yang luas,
harta yang melimpah, serta bersatunya kembali keluarga yang dicintai—Yusuf
tidak sedikit pun terbuai oleh gemerlap fana tersebut. Ia memalingkan wajahnya
dari singgasana dunia, menengadahkan kedua tangannya ke langit, dan memanjatkan
sebuah doa pamungkas yang sarat akan nilai taqwa dan kepasrahan mutlak seorang
hamba, memohon agar akhir hayatnya tetap terjaga di atas poros Islam dan
digabungkan bersama barisan orang-orang sholih di Akhiroh kelak.
﴿رَبِّ
قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ
وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ﴾
“Wahai
Robbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan
dan mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. Pencipta langit dan bumi,
Engkaulah pelindungku di dunia dan di Akhiroh, wafatkanlah aku dalam keadaan
Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang sholih.” (QS. Yusuf:
101)
Penutup
Lembaran
demi lembaran perjalanan hidup Nabi Yusuf alaihis salam kini telah purna
kita telusuri. Sebuah kisah agung yang ditutup dengan keindahan rekonsiliasi
keluarga serta kejayaan iman di atas segala bentuk tipu daya manusia dan
syaithon. Melalui untaian kisah ini, Alloh ﷻ memberikan pelajaran berharga
bahwa skenario takdir-Nya selalu berjalan dengan kelembutan yang tidak terduga,
di mana sebuah penderitaan sering kali menjadi pintu gerbang utama menuju
kemuliaan yang besar.
Kita
belajar tentang arti kesabaran yang indah dari sosok Ya’qub yang tidak pernah
putus asa dari rohmat Alloh ﷻ meskipun air matanya harus terkuras habis dalam kebutaan.
Kita
memetik hikmah keteguhan iman dari sosok Yusuf yang lebih memilih pengapnya
dinding penjara daripada harus menggadaikan kesucian dirinya dalam kubangan
maksiat istana.
Kisah ini
menegaskan sebuah hukum ketetapan yang pasti: bahwa taqwa dan kesabaran
tidak akan pernah berujung pada kesia-siaan, dan pertolongan Alloh ﷻ
selalu dekat bagi hamba-hamba-Nya yang berbuat baik.
Semoga
setiap hikmah yang terpancar dari sebaik-baik kisah ini dapat merasuk ke dalam
dada kita, mengokohkan langkah kaki kita di atas manhaj Tauhid yang lurus,
serta menuntun jiwa kita menuju Jannah-Nya yang abadi dalam keadaan Muslim yang
diridhoi.
Allohu
a’lam.[NK]
