Cari Ebook

[PDF] Kisah Ashabul Kahfi - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah menurunkan Al-Kitab kepada hamba-Nya sebagai petunjuk yang lurus dan cahaya yang menerangi kegelapan kebodohan.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , sang pembawa risalah tauhid yang membebaskan manusia dari peribadatan kepada sesama makhluk menuju peribadatan hanya kepada Robb semesta alam.

Amma ba’du:

Kisah-kisah dalam Al-Quran merupakan kumpulan ibroh (pelajaran) yang sangat berharga bagi orang-orang yang berakal. Di antara sekian banyak kisah yang penuh dengan keajaiban dan hikmah adalah kisah pemuda penghuni gua atau yang dikenal dengan Ashabul Kahfi. Alloh mengabadikan perjalanan hidup mereka dalam satu surat khusus yang dinamakan Al-Kahf, yang menjadi benteng bagi setiap Muslim dari fitnah-fitnah akhir zaman, terutama fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.

Penulisan buku ini bertujuan untuk menguraikan kembali lembaran sejarah para pemuda tersebut dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Quran, Hadits-Hadits Nabi yang shohih, serta penjelasan ulama.

 

Bab 1: Negeri Efesus dan Masa Kegelapan Syirik

1.1 Kondisi Geografis dan Sosial Negeri Efesus

Negeri yang menjadi latar tempat terjadinya peristiwa agung ini, menurut mayoritas pakar sejarah dan ahli tafsir seperti Ibnu Katsir (774 H) dan Ath-Thobari (310 H), adalah sebuah kota yang dikenal dengan nama Ufsus (أُفْسُس) atau Efesus (latin). Kota ini terletak di wilayah Asia Kecil, yang pada masa itu berada di bawah pengaruh kekaisaran Romawi yang sangat luas. Secara geografis, Ufsus merupakan kota pelabuhan yang sangat makmur dan menjadi pusat perdagangan serta kebudayaan. Kekayaan alam dan kemajuan infrastruktur menjadikan kota ini sebagai permata di wilayah timur Romawi. Namun, di balik kemegahan arsitektur dan kemakmuran ekonominya, masyarakat Usfus tenggelam dalam dekadensi moral dan kegelapan syirik yang sangat pekat. Kehidupan sosial mereka diatur oleh tradisi paganisme (penyembahan berhala) yang sangat kuat, di mana kuil-kuil megah dibangun untuk memuja dewa-dewi yang dianggap sebagai pengatur urusan dunia. Keadaan ini menciptakan jurang pemisah yang lebar antara kemajuan lahiriah dan kekosongan batiniah.

1.2 Kepemimpinan Zholim Raja Diqyanus

Pada masa tersebut, Usfus dipimpin oleh seorang raja yang sangat bengis dan fanatik terhadap kesyirikan bernama Diqyanus. (Thobari, 2/7)

Dalam literatur sejarah Barat, sosok ini sering dikaitkan dengan kaisar Decius yang memerintah Romawi pada pertengahan abad ke 3 Masehi. Diqyanus dikenal sebagai penguasa yang tidak menoleransi adanya keyakinan lain selain penyembahan berhala yang telah menjadi agama resmi kerajaan. Ia memerintahkan pembangunan patung-patung besar di setiap sudut kota dan mewajibkan setiap penduduk untuk mempersembahkan sembelihan dan sesajen sebagai bentuk loyalitas kepada negara dan dewa-dewa. Penindasan dilakukan secara sistematis; siapa pun yang menolak untuk tunduk pada aturan syirik ini akan menghadapi siksaan yang sangat pedih, penjara, atau bahkan eksekusi mati di hadapan publik. Kepemimpinan Diqyanus adalah representasi dari kekuatan thoghut (sesuatu yang disembah selain Alloh) yang berusaha memadamkan cahaya tauhid dengan tangan besi.

1.3 Praktik Peribadatan Berhala dan Penindasan Atas Tauhid

Praktik kesyirikan di Usfus mencapai puncaknya pada hari-hari besar keagamaan di mana seluruh rakyat dikumpulkan untuk melakukan ritual besar. Mereka bersujud di hadapan berhala, membakar kemenyan, dan menyembelih binatang atas nama selain Alloh . Siapa pun yang memiliki sisa-sisa ajaran Nabi Isa ‘alaihissalam atau memegang teguh prinsip monoteisme harus menyembunyikan keimanannya rapat-rapat.

Ibnu Katsir (774 H) menyebutkan dalam Al-Bidayah wan Nihayah bahwa suasana kota dipenuhi dengan ketakutan; para mata-mata disebar untuk mencari orang-orang yang enggan bersujud kepada patung sang raja. Penindasan ini bukan hanya menyasar fisik, tetapi juga berusaha merusak fithroh (suci) manusia dengan memaksa mereka mengakui adanya sekutu bagi Alloh . Dalam kondisi yang sangat mencekam inilah, fajar keimanan mulai menyingsing di hati beberapa pemuda yang terpilih.

 

Bab 2: Cahaya Tauhid di Hati Para Pemuda

2.1 Latar Belakang Para Pemuda dan Kedudukan Mereka di Kerajaan

Para pemuda yang kemudian dikenal sebagai Ashabul Kahfi bukanlah orang-orang sembarangan dari kalangan rakyat jelata yang tidak berdaya. Menurut riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abbas (68 H) dan dinukil oleh banyak mufassir, mereka adalah putra-putra dari para pembesar kerajaan dan kaum bangsawan di Usfus. Mereka memiliki kedudukan yang tinggi, akses terhadap kekayaan, dan masa depan yang cerah dalam struktur pemerintahan Diqyanus. Namun, kemuliaan duniawi tersebut tidak membuat mereka buta terhadap kebenaran. Alloh telah memberikan taufiq (petunjuk) ke dalam hati mereka sehingga mereka menyadari betapa batilnya penyembahan kepada benda-benda mati yang tidak bisa memberi manfaat maupun mudhorot (bahaya). Keberanian mereka untuk melepaskan segala kemewahan demi menjaga agama adalah salah satu poin penting yang menunjukkan kualitas keimanan mereka.

2.2 Pertemuan Takdir di Bawah Naungan Iman

Hidayah Alloh bekerja dengan cara yang sangat indah. Masing-masing dari pemuda ini awalnya menyembunyikan tauhid di dalam hatinya karena rasa takut terhadap kekejaman Diqyanus. Namun, pada suatu perayaan besar kaum musyrikin, mereka satu per satu mulai memisahkan diri dari kerumunan karena merasa jijik dengan ritual kesyirikan yang dilakukan. Satu orang pemuda pergi menjauh dan duduk di bawah naungan sebuah pohon, kemudian datang pemuda lain dan duduk di dekatnya, hingga akhirnya terkumpul 7 orang pemuda. Mereka saling diam dan waspada, hingga salah satu dari mereka memberanikan diri untuk berbicara bahwa ada suatu alasan yang membuatnya menjauh dari kaumnya. Setelah mereka saling jujur, ternyata mereka semua memiliki keyakinan yang sama: bahwa hanya Alloh semata Robb yang berhak disembah. Pertemuan ini bukanlah kebetulan, melainkan takdir Alloh yang menyatukan hati-hati yang beriman di atas kebenaran.

2.3 Deklarasi Tauhid di Hadapan Sang Penguasa Zholim

Kabar tentang sekelompok pemuda bangsawan yang tidak lagi mengikuti ritual kerajaan akhirnya sampai ke telinga Diqyanus. Mereka pun dipanggil dan dihadapkan langsung kepada raja yang zholim tersebut. Di sinilah momen krusial di mana keimanan mereka diuji secara nyata. Alih-alih merasa gentar atau berpura-pura tunduk, para pemuda ini dengan tegak berdiri dan mendeklarasikan ketauhidan mereka secara terang-terangan. Kejadian ini diabadikan oleh Alloh dalam Al-Quran:

﴿وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَّقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا﴾

“Dan Kami telah meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri di hadapan penguasa yang zholim, lalu mereka berkata: ‘Robb kami adalah Robb seluruh langit dan bumi; kami tidak akan menyeru sesembahan selain Dia. Sungguh, jika kami melakukannya, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” (QS. Al-Kahf: 14)

Alloh memberikan keteguhan pada hati mereka sehingga kata-kata yang keluar adalah kalimat kebenaran yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan. Raja Diqyanus yang terkejut melihat keberanian mereka tidak langsung mengeksekusi mereka, melainkan memberikan waktu beberapa hari (masa tangguh) agar mereka kembali kepada agama nenek moyang karena mempertimbangkan kedudukan orang tua mereka.

2.4 Musyawarah dan Keputusan Hijroh demi Menyelamatkan Agama

Masa tangguh yang diberikan oleh raja digunakan oleh para pemuda ini untuk bermusyawarah. Mereka menyadari bahwa jika mereka tetap tinggal di kota tersebut, mereka hanya akan dihadapkan pada dua pilihan: kembali kepada kesyirikan (murtad) atau dibunuh dengan cara yang kejam. Keimanan mereka yang telah meresap dalam jiwa tidak memungkinkan bagi mereka untuk kembali kepada berhala. Maka, dengan penuh tawakal, mereka memutuskan untuk melakukan hijroh (pindah) dan mengasingkan diri dari peradaban yang zholim. Mereka memilih untuk bersembunyi di sebuah gua di gunung yang jauh dari jangkauan pasukan raja. Keputusan ini diambil semata-mata untuk menyelamatkan agama dan fithroh mereka dari fitnah yang merajalela. Sebelum melangkah pergi, mereka berdoa dengan doa yang sangat masyhur yang menunjukkan kepasrahan total kepada Robb semesta alam:

﴿إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا﴾

“(Ingatlah) ketika para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: ‘Wahai Robb kami, berikanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.” (QS. Al-Kahf: 10)

Dengan tekad yang bulat, mereka pun meninggalkan segala kemewahan duniawi, kedudukan, dan keluarga mereka, menuju kegelapan gua yang justru di dalamnya terpancar cahaya perlindungan ilahi. Inilah awal dari mukjizat besar yang akan dikenang sepanjang sejarah manusia.

 

Bab 3: Perlindungan Ar-Rohman di Dalam Gua

3.1 Perjalanan Menuju Gua dan Peran Anjing Penjaga

Setelah mengambil keputusan bulat untuk melakukan hijroh (pindah) demi menyelamatkan agama, para pemuda itu melangkah keluar dari gerbang kota Usfus di bawah kegelapan malam. Mereka menuju sebuah gunung yang dikenal dalam riwayat sejarah sebagai Gunung Tasykhush atau Gunung Banchilus. Perjalanan ini bukan tanpa hambatan, karena mereka harus menghindari patroli pasukan Raja Diqyanus yang terus mengawasi gerak-gerik penduduk. Dalam perjalanan tersebut, seekor anjing mengikuti langkah mereka. Sebagian riwayat menyebutkan anjing tersebut adalah anjing penjaga ternak milik salah seorang pemuda, sementara riwayat lain menyatakan ia adalah anjing yang mereka temui di jalan lalu terus mengikuti.

Meskipun para pemuda sempat merasa khawatir gonggongan anjing tersebut akan mengundang perhatian musuh, Alloh memberikan ilham kepada mereka untuk membiarkannya. Anjing tersebut, yang dalam banyak riwayat disebut bernama Qitmir, menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Mengenai keberadaan anjing ini, Ibnu Katsir (774 H) memberikan penjelasan:

“Maksudnya adalah bahwa anjing mereka yang bersama mereka, yang menemani mereka saat mereka memisahkan diri dari kaumnya, ia selalu menyertai mereka dan tidak ikut masuk ke dalam gua, melainkan ia mendekam di pintu gua dan meletakkan kedua kaki depannya di atas ambang pintu. Hal ini termasuk bagian dari adabnya (si anjing) dan bagian dari bentuk kemuliaan yang diberikan kepada para pemuda tersebut; karena sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing. Dan tatkala penyertaan (kepada orang sholih) itu memberikan pengaruh, bahkan pada anjing para pemuda ini sekalipun, maka ia pun tetap ada bersama mereka selama keberadaan mereka; karena barangsiapa yang mencintai suatu kaum, niscaya ia akan bahagia bersama mereka. Jika hal ini berlaku bagi seekor anjing, maka bagaimana persangkaanmu terhadap orang yang mengikuti para pelaku kebaikan dan ia memang layak untuk mendapatkan kemuliaan.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir (774 H), 2/566)

Anjing tersebut menjaga pintu gua dengan posisi waspada, seolah-olah ia adalah penjaga yang sangat terlatih, sehingga siapa pun yang melihatnya akan merasa takut dan enggan untuk mendekat.

3.2 Doa Permohonan Rohmat dan Petunjuk yang Diabadikan Al-Quran

Sesampainya di dalam gua, para pemuda tersebut tidak lantas merasa aman secara mutlak dari kejaran pasukan raja. Mereka segera bersimpuh dan memohon perlindungan kepada Robb semesta alam. Gua yang sempit, gelap, dan lembap tersebut justru menjadi tempat yang paling damai bagi mereka karena di sanalah mereka bebas menghamba hanya kepada Alloh tanpa gangguan kaum musyrikin. Doa yang mereka panjatkan mencerminkan kepasrahan total dan kesadaran akan keterbatasan usaha manusia tanpa bantuan ilahi.

﴿إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا﴾

“(Ingatlah) ketika para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: ‘Wahai Robb kami, berikanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.” (QS. Al-Kahf: 10)

Doa ini mengandung permintaan akan dua hal utama: rohmat (kasih sayang) yang akan melindungi mereka dari musuh serta memberikan ketenangan batin, dan rosyad (petunjuk) agar setiap langkah yang mereka ambil selalu berada di atas kebenaran. Alloh segera mengabulkan doa mereka dengan cara yang tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia, yaitu dengan menutup pendengaran mereka dan menidurkan mereka dalam waktu yang sangat lama.

3.3 Mukjizat Peniduran Selama 300 Tahun Syamsiyyah atau 309 Tahun Qomariyyah

Keajaiban besar pun terjadi saat para pemuda itu merebahkan tubuh mereka untuk beristirahat. Alloh menidurkan mereka bukan hanya semalam atau dua malam, melainkan selama berabad-abad. Selama masa itu, mereka tidak membutuhkan makan, minum, maupun buang hajat. Tubuh mereka dijaga tetap utuh dan segar oleh kekuasaan Sang Kholiq (Pencipta). Jangka waktu tidur mereka dijelaskan secara mendetail dalam Al-Quran dengan dua standar penanggalan.

﴿وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا﴾

“Dan mereka tinggal dalam gua mereka selama 300 tahun dan ditambah 9 tahun lagi.” (QS. Al-Kahf: 25)

Perbedaan angka 300 dan 309 ini merupakan salah satu mukjizat ilmiyyah Al-Quran. Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa 300 tahun menurut penanggalan Syamsiyyah (Matahari) setara dengan 309 tahun menurut penanggalan Qomariyyah (Rembulan).

Hal ini menunjukkan ketelitian wahyu dalam menetapkan waktu yang melampaui pengetahuan manusia pada masa itu. Selama 3 abad lebih, dunia di luar gua mengalami perubahan besar, kekaisaran bangkit dan runtuh, sementara para pemuda itu tetap dalam penjagaan Robb mereka tanpa tersentuh oleh sang waktu.

3.4 Penjagaan Fisik Melalui Sinar Matahari dan Gerakan Tubuh

Alloh tidak hanya menidurkan mereka, tetapi juga mengatur kondisi alam di sekitar gua agar tubuh mereka tidak rusak. Letak mulut gua tersebut diatur sedemikian rupa sehingga sinar matahari tidak langsung mengenai tubuh mereka yang dapat menyebabkan kulit terbakar atau rusak, namun udara tetap bersirkulasi dengan baik.

﴿وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُ﴾

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam gua itu.” (QS. Al-Kahf: 17)

Selain itu, agar darah tetap mengalir dan organ tubuh tidak kaku karena posisi yang diam terlalu lama, Alloh membolak-balikkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri. Penjagaan ini begitu sempurna sehingga jika ada orang yang melihat mereka, ia akan menyangka mereka sedang bangun padahal mereka tidur, dan ia akan dipenuhi rasa ngeri sehingga melarikan diri dari mereka.

 

Bab 4: Terbitnya Matahari Kebenaran dan Akhir Perjalanan

4.1 Kebangkitan dari Tidur Panjang dan Rasa Lapar yang Menimpa

Setelah berlalu waktu yang sangat lama, sesuai dengan kehendak-Nya, Alloh membangunkan para pemuda tersebut. Mereka terbangun dalam kondisi fisik yang sehat sebagaimana saat mereka mulai tidur, tanpa merasa bahwa ratusan tahun telah terlewati. Terjadilah dialog di antara mereka mengenai berapa lama mereka telah tinggal di dalam gua tersebut.

﴿قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ﴾

“Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sudah berapa lamakah kamu tinggal (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.’ Berkata (yang lain lagi): ‘Robb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu tinggal (di sini).” (QS. Al-Kahf: 19)

Rasa lapar yang sangat hebat mulai menyerang mereka, mengingat secara fithroh tubuh mereka telah beristirahat sangat lama. Mereka tidak menyadari bahwa rasa lapar itu adalah tanda bahwa sistem metabolisme tubuh mereka telah aktif kembali setelah sekian lama berhenti atas perintah Alloh .

4.2 Penyamaran ke Kota dan Terungkapnya Rahasia Besar

Untuk mengatasi rasa lapar, para pemuda itu sepakat mengutus salah satu dari mereka untuk pergi ke kota guna membeli makanan. Mereka berpesan agar ia bersikap lemah lembut dan sangat berhati-hati dalam melakukan penyamaran agar tidak dikenali oleh orang-orang Raja Diqyanus yang mereka sangka masih berkuasa. Pemuda yang diutus membawa mata uang perak (wariq) yang mereka bawa dari masa 3 abad yang lalu.

﴿فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُم بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا﴾

“Maka utuslah salah seorang di antara kamu dengan membawa uang perakmu ini ke kota, dan hendaklah dia melihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa rizqi itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun.” (QS. Al-Kahf: 19)

Keajaiban mulai terungkap ketika pemuda tersebut sampai di pasar. Ia merasa asing dengan bentuk bangunan, gaya berpakaian penduduk, bahkan bahasa yang digunakan telah mengalami pergeseran. Puncaknya adalah ketika ia menyodorkan uang peraknya kepada penjual makanan. Sang penjual terkejut melihat koin kuno yang sudah tidak berlaku selama ratusan tahun dan mengira pemuda tersebut telah menemukan harta karun terpendam.

4.3 Kondisi Negeri yang Telah Berubah Menuju Cahaya Iman

Kabar tentang penemuan koin kuno dan sosok pemuda yang aneh tersebut segera menyebar luas hingga mencapai telinga sang penguasa negeri saat itu. Berbeda jauh dengan masa Diqyanus yang zholim, raja yang memerintah saat itu adalah seorang Mu’min yang sholih. Masyarakat negeri tersebut juga sebagian besar telah memeluk agama tauhid dan sedang berselisih pendapat mengenai hakikat hari kebangkitan jasmani setelah kematian.

Munculnya Ashabul Kahfi menjadi jawaban nyata bagi keraguan mereka. Alloh hendak memperlihatkan kepada penduduk negeri tersebut bahwa membangkitkan manusia dari liang kubur adalah hal yang sangat mudah bagi-Nya, sebagaimana Dia telah membangkitkan para pemuda ini dari tidur panjang mereka. Sang raja sangat gembira mendengar keberadaan para pemuda tersebut karena kisah mereka telah menjadi legenda turun-temurun di negeri itu sebagai teladan keteguhan iman.

4.4 Pertemuan Para Pemuda dengan Penduduk Negeri dan Wafatnya Mereka

Sang raja dan para penduduk kemudian berangkat menuju gua untuk menemui para pemuda lainnya. Pertemuan itu penuh dengan suasana haru dan kekaguman atas kebesaran Alloh . Para pemuda itu akhirnya menyadari bahwa mereka telah melintasi zaman dan bahwa Alloh telah memenangkan agama-Nya di negeri tersebut. Setelah misi pembuktian kekuasaan Alloh tentang hari Qiyamah tersampaikan kepada umat manusia saat itu, para pemuda tersebut kembali ke dalam gua.

Tak lama kemudian, Alloh mewafatkan mereka secara serentak di dalam gua tersebut. Roh mereka kembali ke haribaan Sang Kholiq dengan tenang. Penduduk negeri pun berduka dan berselisih tentang apa yang harus mereka lakukan terhadap tempat tersebut. Sebagian orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan ingin membangun tempat peribadatan (Masjid) di atas gua tersebut sebagai bentuk penghormatan, sebuah tindakan yang di kemudian hari dilarang dalam syariat Nabi Muhammad karena termasuk sikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang sholih.

﴿قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا﴾

“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya.” (QS. Al-Kahf: 21)

Jasad mereka pun tetap tersimpan di dalam gua tersebut, menjadi saksi bisu bagi sejarah tentang bagaimana keimanan yang murni akan selalu mendapatkan pembelaan dari Alloh , baik di dunia maupun di Akhiroh.

 

Bab 5: Faidah Ilmiyyah dan Hukum Syariat dari Kisah Kahfi

5.1 Hakikat Fitnah Agama dan Metode Penyelamatannya

Kisah Ashabul Kahfi memberikan pelajaran fundamental mengenai prioritas seorang Muslim dalam menjaga aset yang paling berharga, yaitu iman. Dalam narasi ini, kita melihat bagaimana para pemuda tersebut lebih memilih kehilangan status sosial, kekayaan, dan kenyamanan hidup daripada harus mengorbankan ketauhidan mereka. Fitnah agama adalah ujian yang menyasar keyakinan seseorang, baik melalui paksaan fisik maupun syubhat (keraguan yang dikemas secara menarik). Pelajaran utama yang dapat diambil adalah bahwa ketika seseorang berada di lingkungan yang tidak memungkinkan baginya untuk menjalankan syariat Alloh secara terang-terangan dan ia khawatir agamanya akan terfitnah, maka hijroh (pindah) menjadi solusi yang disyariatkan. Alloh memuji tindakan mereka dalam Al-Quran:

﴿إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى﴾

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Robb mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahf: 13)

Penambahan hidayah tersebut adalah buah dari kesungguhan mereka dalam mempertahankan iman. Hal ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Alloh , maka Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik, yaitu keteguhan hati dan perlindungan yang sempurna. Metode penyelamatan iman dalam kisah ini melibatkan 3 tahapan: penguatan internal (dzikir dan doa), pemisahan diri dari kemungkaran (uzlah), dan tawakal total terhadap hasil akhirnya.

5.2 Pembahasan Ilmiyyah Mengenai Jumlah Ashabul Kahfi

Mengenai jumlah pasti para pemuda tersebut, Al-Quran menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan manusia pada masa itu maupun setelahnya. Alloh menceritakan perdebatan mereka dalam firman-Nya:

﴿سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُل رَّبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِم مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ﴾

“Nanti (ada orang yang) akan mengatakan (jumlah mereka) adalah 3 orang yang ke-4 adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: (Jumlah mereka) adalah 5 orang yang ke-6 adalah anjingnya, sebagai terkaan terhadap hal yang ghoib; dan (yang lain lagi) mengatakan: (Jumlah mereka) 7 orang dan yang ke-8 adalah anjingnya. Katakanlah (Wahai Muhammad): ‘Robbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit.” (QS. Al-Kahf: 22)

Pakar tafsir seperti Ath-Thobari (310 H) dan Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa penyebutan angka 7 yang ke-8 adalah anjingnya tidak diikuti dengan kalimat rojman bil ghoib (terkaan terhadap hal ghoib), yang menunjukkan bahwa inilah pendapat yang paling mendekati kebenaran atau bahkan pendapat yang benar. Ibnu Abbas (68 H) pernah berkata:

«أَنَا مِنَ الْقَلِيْلِ الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَهُمْ، كَانُوْا سَبْعَةً»

“Aku termasuk dari yang sedikit orang yang mengetahui jumlah mereka, mereka berjumlah 7 orang.” (Silsilah Mahasin Ta’wil, Al-Maghomisi, 7/45)

Namun, pelajaran penting dari ayat ini adalah larangan bagi seorang Muslim untuk terlalu dalam memperdebatkan rincian sejarah yang tidak memberikan manfaat amal, melainkan lebih fokus pada ibroh (pelajaran) di baliknya.

5.3 Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Sikap Ghuluw

Salah satu poin hukum yang sangat krusial adalah tindakan penduduk negeri yang ingin membangun tempat peribadatan di atas gua tempat para pemuda tersebut wafat.

﴿قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا﴾

“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya.” (QS. Al-Kahf: 21)

Ayat ini menceritakan perbuatan orang-orang pada masa itu, namun hal tersebut bukan berarti menjadi legitimasi (pembenaran) dalam syariat Islam. Justru, Nabi Muhammad sangat keras melarang perbuatan membangun Masjid di atas kuburan karena hal itu merupakan pintu utama menuju kesyirikan dan sikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang-orang sholih. Rosululloh bersabda dalam kondisi menjelang wafatnya:

«لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»

“Alloh melaknat kaum Yahudi dan Nashroni, mereka menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Al-Bukhori no. 435 dan Muslim no. 529)

Maka, pembangunan Masjid di atas gua Ashabul Kahfi adalah praktik syariat sebelum Islam yang telah dihapus dan dilarang dalam syariat kita guna menjaga kemurnian tauhid.

5.4 Adab Berinteraksi dengan Janazah dan Penguburannya

Kisah ini juga memberikan isyarat tentang bagaimana memperlakukan orang yang telah wafat. Ketika para pemuda itu wafat, penduduk negeri tidak membiarkan jasad mereka terlantar, melainkan berusaha memberikan penghormatan terakhir. Dalam Islam, pengurusan janazah merupakan fardhu kifayah (kewajiban kolektif) yang meliputi memandikan, mengkafani, mensholati, dan menguburkan. Meskipun Ashabul Kahfi berada di dalam gua, prinsip penjagaan terhadap kehormatan tubuh manusia tetap terlihat. Ibroh lainnya adalah bahwa kuburan seseorang, baik itu di dalam gua maupun di dalam tanah lainnya, tidaklah memberikan pengaruh terhadap kedudukannya di sisi Alloh , melainkan keimanan dan amal sholih yang ia bawa selama hidupnya. Kita diajarkan untuk mendoakan rohmat bagi orang-orang Mu’min yang telah mendahului kita dan mengambil teladan dari keteguhan mereka.

 

Penutup

Sebagai penutup dari risalah ilmiyyah ini, kisah Ashabul Kahfi berdiri tegak sebagai monumen kebenaran yang melampaui batas waktu dan ruang. Perjalanan dari kemewahan istana menuju kegelapan gua yang diberkahi mengajarkan kita bahwa kenyamanan hakiki hanya ditemukan dalam ketaatan kepada Alloh . Para pemuda tersebut telah mengajarkan kepada umat manusia sepanjang zaman bahwa usia muda bukanlah halangan untuk memegang teguh prinsip tauhid di tengah gempuran kesyirikan yang masif.

Mukjizat peniduran selama 309 tahun adalah bukti nyata bahwa bagi Alloh , tidak ada yang mustahil dalam melindungi hamba-Nya dan membangkitkan kembali apa yang telah mati.

Segala puji bagi Alloh yang telah menyempurnakan kisah ini dengan penuh hikmah.

Semoga buku ini menjadi wasilah (perantara) bagi pembaca untuk memperkuat keyakinan akan adanya hari Qiyamah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap segala bentuk fitnah yang merusak agama.

Kita memohon kepada Robb yang membolak-balikkan hati agar menetapkan hati kita di atas agama-Nya hingga maut menjemput dalam keadaan Husnul Khotimah.

Subhanalloh, walhamdulillah, walaa ilaha illalloh, wallohu akbar.

Allohumma barik lana fi ‘ilmina wa ‘amalina.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url