Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Tarjamah Surat Al-Kahfi - Merujuk Tafsir Muyassar dan Mukhtashor fit Tafsir - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah menurunkan Al-Kitab kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh , keluarga, para Shohabat, dan para pengikutnya hingga Hari Akhiroh.

Amma ba’du:

Surat Al-Kahfi merupakan salah satu surat dalam Al-Qur’an yang memiliki kedudukan tinggi dan keutamaan yang agung. Rosululloh telah menganjurkan kita untuk membacanya, terutama pada hari Jum’at, sebagai cahaya yang menerangi antara dua Jum’at dan sebagai pelindung dari fitnah Dajjal yang dahsyat. Keagungan surat ini terletak pada kandungan kisahnya yang penuh hikmah, mulai dari Ashabul Kahfi, pemilik dua kebun, Nabi Musa dengan Khidhr, hingga perjalanan Dzulqornain.

Buku yang ada di hadapan pembaca sekalian merupakan upaya kecil untuk mendekatkan makna kalam Robb kepada kaum Muslimin melalui tarjamah yang merujuk pada dua kitab tafsir kontemporer yang ringkas namun terpercaya, yaitu Tafsir Muyassar dan Al-Mukhtashor fit Tafsir. Penulis berusaha menyajikan tarjamah yang mengalir dan mudah dipahami tanpa mengurangi integritas makna aslinya. Disamping itu ditambahkan bab dan subbab serta pengantar ayat yang mencoba mengkaitkan hubungan tiap ayat agar memperjelas ayat yang akan dibahas.

Harapan penulis, semoga buku ini menjadi amal jariyah yang bermanfaat dan menjadi wasilah bagi kita semua untuk semakin mencintai dan mentadabburi Al-Quran.

 

Bab 1: Kemuliaan Al-Qur’an dan Peringatan Terhadap Kesyirikan (Ayat 1-8)

1.1 Pujian bagi Alloh yang Menurunkan Al-Kitab (Ayat 1-3)

Alloh membuka surat yang agung ini dengan menetapkan segala bentuk pujian yang sempurna bagi diri-Nya sendiri. Pujian ini ditujukan atas ni’mat diturunkannya Al-Qur’an kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad . Kitab suci ini adalah bimbingan yang lurus, tidak mengandung pertentangan, dan tidak pula ada penyimpangan dari kebenaran di dalamnya.

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا﴾

“Segala puji bagi Alloh yang telah menurunkan kepada hamba-Nya (Muhammad ) Al-Kitab (Al-Qur’an), dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan sedikit pun dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi: 1)

Tujuan diturunkannya kitab yang lurus ini adalah untuk memberikan peringatan kepada orang-orang kafir tentang adanya siksaan yang sangat pedih yang datang langsung dari sisi Alloh . Di saat yang sama, kitab ini menjadi pembawa berita yang menggembirakan bagi kaum Mu’min yang senantiasa membuktikan keimanan mereka dengan melakukan perbuatan-perbuatan sholih, bahwa bagi mereka telah disediakan balasan pahala yang sangat baik.

﴿قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا﴾

“Al-Qur’an itu sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Alloh dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal sholih bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.” (QS. Al-Kahfi: 2)

Pahala yang agung tersebut adalah Jannah, sebuah tempat tinggal yang penuh dengan kenikmatan. Mereka akan menetap di dalamnya selamanya, tanpa ada rasa bosan dan tidak akan pernah berpindah darinya untuk selama-lamanya.

﴿مَّاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا﴾

“Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 3)

1.2 Peringatan Keras bagi Orang yang Mengatakan Alloh Punya Anak (Ayat 4-6)

Peringatan dalam Al-Qur’an juga secara khusus ditujukan kepada kaum musyrik yang telah melampaui batas dengan mengklaim bahwa Alloh memiliki anak. Perkataan tersebut adalah sebuah kesesatan besar yang mencoreng kesucian Robb semesta alam.

﴿وَيُنذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا﴾

“Dan untuk memperingatkan orang-orang yang berkata, ‘Alloh mempunyai anak.’” (QS. Al-Kahfi: 4)

Klaim yang sangat mungkar itu sama sekali tidak didasari oleh landasan ilmu yang benar, baik oleh mereka yang mengucapkannya saat ini maupun oleh nenek moyang mereka di masa lalu. Apa yang keluar dari mulut mereka hanyalah kedustaan yang sangat besar dan berbahaya, karena mereka berani mengatakan sesuatu tentang Alloh tanpa bukti dan pengetahuan.

﴿مَّا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا﴾

“Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah besarnya kata-kata bohong yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan kebohongan belaka.” (QS. Al-Kahfi: 5)

Melihat kerasnya penolakan dan kedustaan kaum musyrik tersebut, Nabi Muhammad merasa sangat sedih dan berduka karena rasa kasihan beliau agar mereka selamat dari adzab. Namun, Alloh menghibur dan mengingatkan beliau agar tidak sampai membinasakan diri sendiri hanya karena rasa sedih yang mendalam jika mereka tetap enggan beriman kepada Al-Qur’an.

﴿فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا﴾

“Maka barangkali engkau (Muhammad ) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).” (QS. Al-Kahfi: 6)

1.3 Hakikat Keindahan Dunia Sebagai Ujian (Ayat 7-8)

Penolakan manusia terhadap kebenaran sering kali disebabkan oleh keterpanaan mereka terhadap gemerlap dunia. Padahal, Alloh sengaja menjadikan segala sesuatu yang ada di atas bumi ini, mulai dari kekayaan hingga keindahan alam, hanya sebagai hiasan sementara. Keindahan ini berfungsi sebagai sarana ujian untuk melihat siapa di antara para hamba yang paling ikhlas dan paling benar amalannya demi mengharap ridho-Nya.

﴿إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا﴾

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

Ujian dunia ini tidaklah berlangsung lama, karena pada saatnya nanti, Alloh akan melenyapkan segala perhiasan tersebut. Apa yang tadinya tampak indah dan hijau akan diubah menjadi tanah yang tandus, kering, dan rata, seolah-olah tidak pernah ada kehidupan atau keindahan di atasnya sebelumnya.

﴿وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا﴾

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi rata.” (QS. Al-Kahfi: 8)

Bab 2: Ujian Aqidah dan Kisah Ashabul Kahfi (Ayat 9-26)

2.1 Ringkasan Kisah dan Doa Para Pemuda Gua (Ayat 9-12)

Alloh mengajak Nabi Muhammad untuk merenungkan kisah pemuda goa sebagai bukti kekuasaan-Nya. Wahai Nabi , janganlah engkau menyangka bahwa kisah penghuni goa dan batu tulis yang berisi nama-nama mereka itu adalah satu-satunya keajaiban besar di antara tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya masih banyak ciptaan Alloh lainnya yang jauh lebih menakjubkan daripada kisah mereka.

﴿أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا﴾

“Apakah engkau mengira bahwa orang-orang yang mendiami goa dan yang mempunyai Roqim (papan yang bertuliskan nama-nama mereka) itu termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (QS. Al-Kahfi: 9)

Kisah ini bermula saat beberapa pemuda yang beriman melarikan diri dari kekufuran kaumnya menuju sebuah goa sebagai tempat perlindungan. Di sana, mereka memohon kepada Robb mereka agar memberikan rohmat yang luas dari sisi-Nya dan memberikan kemudahan serta petunjuk dalam urusan yang mereka hadapi sehingga mereka tetap berada di atas jalan kebenaran.

﴿إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا﴾

“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam goa lalu mereka berdoa, ‘Wahai Robb kami, berikanlah rohmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.’” (QS. Al-Kahfi: 10)

Alloh mengabulkan doa mereka dengan cara yang tidak terduga. Alloh menutup pendengaran mereka sehingga mereka tertidur sangat lelap di dalam goa tersebut selama bertahun-tahun yang banyak jumlahnya.

﴿فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا﴾

“Maka Kami tutup telinga mereka (dengan tidur) di dalam goa itu selama bertahun-tahun yang banyak jumlahnya.” (QS. Al-Kahfi: 11)

Setelah masa tidur yang sangat panjang itu berlalu, Alloh membangunkan mereka kembali. Tujuannya adalah untuk menunjukkan secara nyata kepada manusia, kelompok mana di antara dua golongan yang berselisih tentang lamanya mereka tinggal di dalam goa yang lebih tepat hitungannya.

﴿ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا﴾

“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (di dalam goa itu).” (QS. Al-Kahfi: 12)

2.2 Keteguhan Hati Menghadapi Kezholiman Penguasa (Ayat 13-16)

Kisah yang Alloh ceritakan ini bukanlah dongeng tanpa makna, melainkan berita yang benar. Mereka adalah para pemuda yang benar-benar beriman kepada Robb mereka dengan tulus, sehingga Alloh pun menambahkan bagi mereka taufiq untuk tetap kokoh di atas hidayah dan bimbingan-Nya.

﴿نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى﴾

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad ) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Robb mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 13)

Keimanan mereka bukan sekadar di lisan, namun tertanam kuat di hati. Alloh menguatkan hati mereka saat mereka berdiri dengan berani di hadapan penguasa yang zholim untuk menyatakan bahwa Robb mereka hanyalah Robb yang menciptakan langit dan bumi. Mereka menegaskan tidak akan menyembah robb selain Dia, karena jika mereka melakukan itu, berarti mereka telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.

﴿وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَّقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا﴾

“Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, ‘Robb kami adalah Robb langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, jika kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.’” (QS. Al-Kahfi: 14)

Para pemuda ini merasa heran dengan kaum mereka yang menyembah berbagai berhala tanpa alasan yang logis maupun dalil yang nyata. Mereka menyadari bahwa tidak ada orang yang lebih zholim daripada orang yang berani mengada-adakan kedustaan terhadap Alloh dengan menyekutukan-Nya.

﴿هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا﴾

“Kaum kami ini telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)? Maka siapakah yang lebih zholim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh?” (QS. Al-Kahfi: 15)

Maka ketika para pemuda itu telah memisahkan diri dari kaumnya dan meninggalkan sesembahan selain Alloh , mereka saling mengajak untuk mencari tempat persembunyian di dalam goa. Mereka berharap Alloh akan melimpahkan rohmat-Nya dan memudahkan urusan mereka dengan memberikan perlindungan dari kejaran musuh agar mereka bisa beribadah dengan tenang.

﴿وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا﴾

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Alloh, maka carilah tempat berlindung ke dalam goa itu, niscaya Robbmu akan melimpahkan sebagian rohmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.” (QS. Al-Kahfi: 16)

2.3 Keajaiban Tidurnya Pemuda di Dalam Goa (Ayat 17-20)

Cara Alloh menjaga mereka di dalam goa sungguh di luar akal manusia. Jika engkau melihat mereka, engkau akan mendapati matahari saat terbit condong ke arah kanan goa mereka, dan saat terbenam menjauhi mereka ke arah kiri, sehingga panas matahari tidak menyakiti tubuh mereka sementara mereka berada di ruang yang luas di dalam goa itu. Ini adalah salah satu bukti kekuasaan Alloh . Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh , dialah yang mendapat hidayah, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat memberinya petunjuk.

﴿وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن kَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا﴾

“Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari goa mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam goa itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Alloh. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17)

Penjagaan itu semakin ajaib karena meskipun mereka tidur, mata mereka tetap terbuka sehingga orang yang melihat akan menyangka mereka terjaga. Alloh juga membalik-balikkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri agar tanah tidak merusak jasad mereka. Sementara itu, anjing mereka membentangkan kedua kakinya di depan pintu goa. Jika engkau melihat keadaan mereka secara langsung, niscaya engkau akan berpaling melarikan diri karena merasa ketakutan yang luar biasa.

﴿وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِم لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا﴾

“Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua kakinya di depan pintu goa. Sekiranya engkau melihat mereka, tentulah engkau berpaling melarikan diri dari mereka dan tentulah hatimu penuh dengan rasa takut terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18)

Setelah tidur yang sangat panjang, Alloh membangunkan mereka agar mereka saling bertanya satu sama lain. Salah seorang di antara mereka bertanya tentang berapa lama mereka telah tinggal di sana, dan ada yang menjawab satu hari atau setengah hari. Namun akhirnya mereka menyerahkan urusan itu kepada ilmu Alloh . Karena merasa lapar, mereka mengutus salah satu temannya ke kota dengan membawa uang perak untuk mencari makanan yang paling bersih dan paling baik (halal), serta berpesan agar berhati-hati agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh siapa pun.

﴿وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُم بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا﴾

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?’ Mereka menjawab, ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.’ Mereka berkata, ‘Robbmu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka utuslah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia melihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun.” (QS. Al-Kahfi: 19)

Kekhawatiran mereka sangat besar, karena jika penduduk kota yang musyrik itu sampai mengetahui keberadaan mereka, mereka akan disiksa dengan cara dirajam sampai mati atau dipaksa kembali memeluk agama kekafiran. Jika itu terjadi, mereka tidak akan pernah mendapatkan keberuntungan untuk selama-lamanya.

﴿إِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَن تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا﴾

“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan merajammu (dengan batu), atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 20)

2.4 Hikmah Dibangkitkannya Mereka dan Penentuan Waktu (Ayat 21-26)

Alloh akhirnya menyingkap keberadaan para pemuda tersebut kepada penduduk kota agar manusia menyadari bahwa janji Alloh tentang hari Kebangkitan adalah benar dan hari Qiyamat itu pasti datang tanpa ada keraguan. Namun, setelah para pemuda itu wafat, orang-orang di kota itu justru berselisih tentang urusan mereka. Ada yang mengusulkan membangun gedung di atas goa mereka, namun orang-orang yang berkuasa saat itu memutuskan untuk membangun Masjid di tempat tersebut, padahal itu dilarang agama.

﴿وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًا ۖ رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا﴾

“Dan demikianlah Kami perlihatkan (keberadaan) mereka, agar mereka (penduduk kota) tahu bahwa janji Alloh itu benar dan bahwa Qiyamat itu tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata, ‘Dirikanlah sebuah bangunan di atas (goa) mereka, Robb mereka lebih mengetahui tentang mereka.’ Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ‘Kami pasti akan mendirikan sebuah Masjid di atasnya.’” (QS. Al-Kahfi: 21)

Perselisihan juga terjadi mengenai jumlah pemuda tersebut. Ada yang mengatakan jumlah mereka 3 orang dan yang ke 4 adalah anjingnya, ada pula yang mengatakan 5 orang dan yang ke 6 adalah anjingnya sebagai terkaan semata. Ada pula yang mengatakan 7 orang dan yang ke 8 adalah anjingnya dan ini yang benar. Alloh memerintahkan Nabi untuk menegaskan bahwa hanya Robb mereka yang paling mengetahui jumlah mereka, dan hanya sedikit orang yang mengetahuinya secara pasti. Oleh karena itu, janganlah berdebat kecuali dengan cara yang lahiriyah (nyata) dan jangan bertanya kepada siapa pun mengenai jumlah mereka.

﴿سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُل رَّبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِم مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِم مِّنْهُمْ أَحَدًا﴾

“Nanti (ada orang yang) akan mengatakan, ‘(Jumlah mereka) tiga orang, yang ke empat adalah anjingnya,’ dan (yang lain) mengatakan, ‘(Jumlah mereka) lima orang, yang ke enam adalah anjingnya,’ sebagai terkaan terhadap hal yang ghoib; dan (yang lain lagi) mengatakan, ‘(Jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya.’ Katakanlah (Muhammad ), ‘Robbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit.’ Karena itu janganlah engkau (Muhammad ) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan yang lahir saja dan janganlah engkau menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada siapa pun di antara mereka.” (QS. Al-Kahfi: 22)

Dalam kaitan ini pula, Alloh memberikan pelajaran adab kepada Nabi agar tidak pernah memastikan akan melakukan sesuatu di hari esok tanpa menyandarkannya pada kehendak Alloh .

﴿وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا﴾

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” (QS. Al-Kahfi: 23)

Pengecualian tersebut adalah dengan menyebut In sya Alloh. Jika engkau lupa mengucapkannya, maka segeralah berdzikir kepada Robbmu saat teringat dan berharaplah semoga Robbmu memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih dekat kebenarannya.

﴿إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا﴾

“kecuali (dengan menyebut), “In sya Alloh.” Dan ingatlah kepada Robbmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Robbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS. Al-Kahfi: 24)

Mengenai lamanya mereka berada di dalam goa, Alloh memberikan jawaban yang pasti bagi mereka yang berselisih. Mereka tinggal di dalam goa tersebut selama 300 tahun menurut perhitungan syamsiyyah (matahari) dan ditambah 9 tahun lagi menurut perhitungan qomariyyah (bulan).

﴿وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا﴾

“Dan mereka tinggal dalam goa mereka 300 tahun dan ditambah 9 tahun lagi.” (QS. Al-Kahfi: 25)

Jika masih ada yang meragukan tentang hal itu, tegaskanlah bahwa Alloh yang paling mengetahui berapa lama mereka tinggal. Hanya milik-Nya segala rahasia yang ada di langit dan di bumi. Alangkah hebatnya penglihatan-Nya dan alangkah tajamnya pendengaran-Nya. Tidak ada seorang pelindung pun bagi makhluk selain Dia, dan Dia tidak membagi kekuasaan-Nya kepada seorang pun dalam menetapkan keputusan.

﴿قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا ۖ لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمَعُ ۚ مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا﴾

“Katakanlah, ‘Alloh lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal; milik-Nya segala yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al-Kahfi: 26)

 

Bab 3: Fitnah Harta dan Hakikat Kehidupan Dunia (Ayat 27-59)

3.1 Perintah Membaca Wahyu dan Bersabar Bersama Orang Sholih (Ayat 27-31)

Setelah menetapkan kebenaran kisah para pemuda goa, Alloh memerintahkan Rosul-Nya untuk senantiasa berpegang teguh pada wahyu. Kitab ini adalah bimbingan yang tidak mengandung keraguan sedikit pun, dan setiap Muslim diperintahkan untuk mengikuti petunjuknya tanpa mencari pelindung kepada selain-Nya.

﴿وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِن كِتَابِ رَبِّكَ ۖ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَن تَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَدًا﴾

“Bacalah (wahai Muhammad ) dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Robbmu. Tidak ada satu pun yang sanggup merubah kalimat-kalimat-Nya, dan engkau tidak akan pernah mendapati tempat berlindung selain kepada-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 27)

Keteguhan dalam memegang wahyu harus dibarengi dengan lingkungan yang baik. Alloh memerintahkan Nabi untuk tetap bersama kaum Muslim yang ikhlas dalam beribadah, meskipun mereka tampak lemah atau miskin di mata dunia. Beliau diperingatkan agar tidak memalingkan perhatian dari mereka demi mengejar gemerlap perhiasan dunia atau mengikuti orang-orang yang hatinya lalai karena memperturutkan hawa nafsu.

﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا﴾

“Dan sabarkanlah dirimu (wahai Muhammad ) bersama orang-orang yang senantiasa berdoa kepada Robb mereka di awal hari dan di akhir hari dengan tujuan mengharap wajah-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia, dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya benar-benar telah melampaui batas (sia-sia).” (QS. Al-Kahfi: 28)

Kebenaran telah datang dengan sangat jelas melalui lisan Nabi . Bagi siapa saja yang ingin selamat, maka pintu iman terbuka lebar, namun bagi yang memilih jalan kesengsaraan, ancaman siksa Naar telah menanti dengan gambaran yang sangat mengerikan.

﴿وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا﴾

“Dan katakanlah (wahai Muhammad ): ‘Kebenaran itu datangnya dari Robbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zholim itu Naar yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. Itulah seburuk-buruk minuman dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Sebaliknya, bagi mereka yang memilih jalan iman dan membuktikannya dengan amal nyata, Alloh menjamin bahwa setiap usaha mereka tidak akan pernah disia-siakan. Balasan yang adil dan sempurna telah disiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan.

﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا﴾

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan mengerjakan amal-amal Sholih, niscaya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang yang paling baik amalannya.” (QS. Al-Kahfi: 30)

Pahala tersebut berupa Jannah yang sangat indah, tempat mereka menikmati segala fasilitas kemewahan yang jauh melampaui keindahan dunia. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi ahli tauhid.

﴿أُولَٰئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۚ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا﴾

“Mereka itulah yang akan mendapatkan Jannah ‘Adn (tempat tinggal tetap), yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang dari emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang paling indah.” (QS. Al-Kahfi: 31)

3.2 Perumpamaan Pemilik Dua Kebun dan Sikap Kufur ni’mat (Ayat 32-44)

Guna memberikan gambaran tentang fitnah harta dan bahaya kesombongan, Alloh membuat sebuah perumpamaan tentang 2 orang lelaki. Yang satu diberikan kekayaan melimpah berupa kebun-kebun yang sangat produktif, sementara yang lain berada dalam kondisi yang sederhana namun memiliki kekokohan Iman.

﴿وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا﴾

“Dan berikanlah kepada mereka (wahai Muhammad ) sebuah perumpamaan tentang 2 orang lelaki, yang Kami jadikan bagi salah seorang di antara keduanya 2 buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang tanaman.” (QS. Al-Kahfi: 32)

Kedua kebun tersebut sangat subur dan terairi dengan baik, menunjukkan betapa sempurnanya pemberian Alloh kepada lelaki itu.

﴿كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِم مِّنْهُ شَيْئًا ۚ وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا﴾

“Kedua kebun itu menghasilkan buahnya dan tidak berkurang sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.” (QS. Al-Kahfi: 33)

Bukannya bersyukur, lelaki itu justru merasa bangga dan merendahkan temannya yang beriman. Dia merasa bahwa kesuksesannya adalah bukti kehebatannya dan kekuatan pengikutnya serta tanda Alloh mencintainya.

﴿وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا﴾

“Lelaki itu memiliki kekayaan yang melimpah, lalu dia berkata kepada temannya saat bercakap-cakap: ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.’” (QS. Al-Kahfi: 34)

Kesombongan itu membawanya pada keraguan terhadap hari Akhiroh. Saat memasuki kebunnya, dia merasa bahwa kejayaannya akan berlangsung selamanya dan tidak akan pernah musnah.

﴿وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا﴾

“Dia memasuki kebunnya dengan sikap zholim terhadap dirinya sendiri karena kufur dan sombong. Dia berkata: ‘Aku kira kebun ini tidak akan pernah binasa selama-lamanya.’” (QS. Al-Kahfi: 35)

Bahkan dia berkhayal, jika pun Qiyamat itu benar-benar terjadi, dia merasa tetap akan mendapatkan perlakuan istimewa di sisi Robbnya sebagaimana dia mendapatkannya di dunia.

﴿وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا﴾

“Dan aku tidak mengira Qiyamat itu akan datang, dan sekiranya aku dikembalikan kepada Robbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun ini.” (QS. Al-Kahfi: 36)

Temannya yang beriman segera memberikan teguran keras. Dia mengingatkan hakikat penciptaan manusia dari sesuatu yang hina agar temannya itu kembali sadar akan kebesaran Sang Pencipta.

﴿قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا﴾

“Temannya yang beriman berkata kepadanya saat bercakap-cakap: ‘Apakah engkau kafir kepada Robb yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang lelaki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)

Orang beriman itu menegaskan prinsip Tauhidnya yang kokoh, bahwa dia tidak akan pernah menyekutukan Alloh dengan apa pun, termasuk dengan harta bendanya.

﴿لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا﴾

“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Alloh, Robbku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Robbku.” (QS. Al-Kahfi: 38)

Dia juga memberikan nasihat agar setiap kali mendapatkan ni’mat, hendaknya dikembalikan kepada kehendak Alloh , karena tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya semata.

﴿وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا﴾

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu ‘Maa syaa Alloh, laa quwwata illa billah’ (Sungguh atas kehendak Alloh semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh). Sungguh kamu menganggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)

Keimanan membuatnya yakin bahwa balasan di sisi Alloh jauh lebih baik, dan dia pun memperingatkan bahwa kekayaan yang dibanggakan itu bisa lenyap seketika jika Alloh menghendaki.

﴿فَعَسَىٰ رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا﴾

“Maka mudah-mudahan Robbku akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (di Akhiroh) dan Dia mengirimkan kilat dari langit kepada kebunmu hingga kebun itu menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)

﴿أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا﴾

“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka kamu tidak akan dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahfi: 41)

Bencana yang diperingatkan itu pun benar-benar terjadi. Seluruh harta yang menjadi sandaran hidupnya dihancurkan tanpa sisa, meninggalkan penyesalan yang mendalam atas kesyirikan yang pernah dia lakukan.

﴿وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا﴾

“Dan seluruh buah-buahannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua telapak tangannya karena menyesali apa yang telah dia belanjakan untuk kebun itu, sedang pohon-pohonnya roboh bersama penyangganya dan dia berkata: ‘Aduhai, kiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Robbku.’” (QS. Al-Kahfi: 42)

Saat adzab itu datang, barulah dia menyadari bahwa semua pengikut dan kekuatan yang dia banggakan dahulu sama sekali tidak bisa memberikan perlindungan.

﴿وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا﴾

“Dan tidak ada bagi dia segolongan pun yang dapat menolongnya selain Alloh, dan dia tidak pula dapat membela dirinya sendiri.” (QS. Al-Kahfi: 43)

Melalui peristiwa ini, Alloh menegaskan bahwa kekuasaan mutlak hanya milik-Nya. Dialah satu-satunya tempat bergantung yang benar bagi seluruh makhluk.

﴿هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ ۚ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا﴾

“Di sana (pada hari Qiyamat atau saat bencana datang), pertolongan itu hanya milik Alloh Yang Maha Benar. Dialah sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi kesudahan.” (QS. Al-Kahfi: 44)

3.3 Gambaran Kehidupan Dunia dan Kejadian Hari Qiyamat (Ayat 45-49)

Setelah menjelaskan kisah pemilik dua kebun yang binasa hartanya karena kesombongan, Alloh memberikan perumpamaan tentang hakikat kehidupan dunia ini secara keseluruhan agar manusia tidak tertipu olehnya. Dunia ini hanyalah sementara dan akan berakhir dengan kefanaan.

﴿وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا﴾

“Berikanlah perumpamaan kepada mereka tentang hakikat kehidupan dunia yang cepat sirna, yaitu bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu air itu menyirami tumbuh-tumbuhan di bumi hingga menjadi subur dan rimbun. Namun tidak lama kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering dan hancur berserakan yang diterbangkan oleh angin ke segala arah. Dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 45)

Manusia sering kali tertipu dengan dua hal yang paling mereka cintai di dunia, yaitu kekayaan dan keturunan. Padahal keduanya hanyalah hiasan yang akan lenyap, sedangkan amalan yang kekal manfaatnya di Akhiroh jauh lebih berharga untuk diharapkan.

﴿الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا﴾

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia yang bersifat sementara, sedangkan amal-amal sholih yang pahalanya kekal di sisi Alloh, seperti Sholat 5 waktu, tasbih, tahmid, tahlil, dan amalan kebaikan lainnya, itu jauh lebih baik pahalanya di sisi Robbmu dan jauh lebih baik untuk diharapkan kesudahannya.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Alloh kemudian menggambarkan kedahsyatan hari Qiyamat saat dunia ini dihancurkan. Pada hari itu, gunung-gunung yang kokoh akan dilenyapkan dari tempatnya hingga bumi menjadi rata, dan seluruh manusia dari generasi awal hingga akhir akan dikumpulkan untuk diadili tanpa ada satu pun yang tertinggal.

﴿وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا﴾

“Ingatlah pada hari ketika Kami menjalankan gunung-gunung dari tempatnya semula dan engkau melihat bumi menjadi rata dan tampak jelas karena tidak ada lagi bangunan atau pohon di atasnya, dan Kami kumpulkan seluruh manusia tanpa meninggalkan satu orang pun di antara mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

Semua makhluk akan berdiri berjajar dengan penuh ketundukan di hadapan Alloh . Saat itulah Alloh menegaskan bahwa mereka kembali kepada-Nya dalam keadaan sebagaimana mereka diciptakan pertama kali, tanpa membawa harta atau pengikut yang dahulu mereka banggakan di dunia.

﴿وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا لَّقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّن نَّجْعَلَ لَكُم مَّوْعِدًا﴾

“Mereka semua akan dihadapkan kepada Robbmu dengan berbaris. Sungguh kamu datang kepada Kami dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan sebagaimana Kami menciptakan kamu pertama kali. Bahkan dahulu di dunia kamu menyangka bahwa Kami tidak akan menetapkan waktu bagi kamu untuk dibangkitkan dan dibalas.” (QS. Al-Kahfi: 48)

Suasana menjadi semakin mencekam saat buku catatan amal diberikan kepada setiap orang. Orang-orang yang berdosa merasa sangat ketakutan melihat rincian perbuatan mereka yang tercatat dengan sangat teliti, karena tidak ada satu pun dosa kecil maupun besar yang terlewatkan dari pengawasan Alloh .

﴿وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۖ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا﴾

“Dan diletakkanlah buku catatan amal masing-masing orang, lalu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan perbuatan kecil dan tidak pula perbuatan besar, melainkan semuanya tercatat dengan rapi?’ Mereka mendapati semua apa yang telah mereka kerjakan dahulu hadir di hadapan mereka. Dan Robbmu tidak menzholimi seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

3.4 Permusuhan Iblis dan Kesesatan Orang-Orang Musyrik (Ayat 50-53)

Akar dari kesombongan dan penolakan manusia terhadap peringatan Alloh sering kali berawal dari mengikuti bisikan syaithon. Alloh mengingatkan kembali tentang permusuhan lama antara Iblis dan manusia yang bermula sejak penciptaan Nabi Adam .

﴿وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا﴾

“Ingatlah ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam sebagai bentuk penghormatan,’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan Jin lalu dia mendurhakai perintah Robbnya. Mengapa kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin-pemimpin yang ditaati selain Aku, padahal mereka adalah musuh yang nyata bagimu? Alangkah buruknya syaithon itu sebagai pengganti Alloh bagi orang-orang zholim.” (QS. Al-Kahfi: 50)

Sungguh aneh manusia yang menyembah Iblis dan bala tentaranya, padahal mereka tidak memiliki peran sedikit pun dalam penciptaan alam semesta ini. Alloh adalah satu-satunya Pencipta yang tidak membutuhkan bantuan dari makhluk-makhluk yang menyesatkan tersebut.

﴿مَّا أَشْهَدتُّهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَا خَلْقَ أَنفُسِهِمْ وَمَا كُنتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا﴾

“Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan pengikutnya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak pula penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku menjadikan orang-orang yang menyesatkan itu sebagai pembantu.” (QS. Al-Kahfi: 51)

Pada hari Qiyamat, Alloh akan menantang orang-orang musyrik untuk memanggil berhala-berhala atau pemimpin-pemimpin yang mereka sembah di dunia. Namun, segala bentuk peribadatan selain kepada Alloh akan sia-sia dan tidak ada satu pun yang sanggup menolong mereka.

﴿وَيَوْمَ يَقُولُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُم مَّوْبِقًا﴾

“Ingatlah pada hari ketika Alloh berfirman: ‘Panggillah olehmu sekutu-sekutu-Ku yang kamu sangka itu.’ Lalu mereka memanggilnya, tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan tempat kebinasaan yang memisahkan antara mereka dengan sesembahan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 52)

Kenyataan pahit akan dihadapi oleh orang-orang yang berdosa saat mereka melihat Naar di depan mata. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa mereka akan dicampakkan ke dalamnya tanpa ada jalan keluar sedikit pun.

﴿وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا﴾

“Dan orang-orang yang berdosa melihat Naar, lalu mereka yakin bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak menemukan tempat untuk berpaling darinya.” (QS. Al-Kahfi: 53)

3.5 Penolakan Terhadap Hidayah dan Kehancuran Negeri (Ayat 54-59)

Alloh telah menjelaskan berbagai macam perumpamaan dan nasihat di dalam Al-Qur’an agar manusia mengambil pelajaran. Namun, banyak manusia yang justru menutup diri dan lebih mengutamakan perdebatan yang sia-sia daripada menerima kebenaran.

﴿وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا﴾

“Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang kali kepada manusia dalam Al-Qur’an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (QS. Al-Kahfi: 54)

Padahal tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman saat petunjuk telah datang, melainkan karena sikap keras kepala mereka yang menunggu datangnya adzab sebagaimana yang menimpa umat-umat terdahulu.

﴿وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَن يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلَّا أَن تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا﴾

“Dan tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka dan memohon ampun kepada Robb mereka, kecuali keinginan mereka untuk menunggu datangnya ketetapan yang telah menimpa umat-umat terdahulu (berupa kehancuran) atau datangnya adzab kepada mereka secara nyata di hadapan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 55)

Tugas para Rosul hanyalah sebagai pembawa berita gembira tentang Jannah dan pemberi peringatan tentang Naar. Namun, orang-orang kafir justru menggunakan kebatilan untuk mendebat kebenaran dan menjadikan ayat-ayat Alloh serta peringatan Nabi sebagai bahan ejekan.

﴿وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ ۚ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ ۖ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنذِرُوا هُزُوًا﴾

“Dan tidaklah Kami mengutus para Rosul melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan alasan yang batil untuk melenyapkan kebenaran, dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan apa yang diperingatkan kepada mereka sebagai olok-olokan.” (QS. Al-Kahfi: 56)

Tidak ada orang yang lebih zholim daripada orang yang telah diingatkan dengan ayat-ayat Robbnya, namun dia justru berpaling dan melupakan dosa-dosa yang telah dilakukannya. Akibat dari sikap ini, Alloh menutup hati dan pendengaran mereka sehingga hidayah tidak lagi dapat masuk.

﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكْنِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِن تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَن يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا﴾

“Dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang telah diberi peringatan dengan ayat-ayat Robbnya lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya, dan Kami letakkan sumbatan di telinga mereka. Dan meskipun engkau (Muhammad ) menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 57)

Meskipun manusia berbuat zholim, Alloh tetaplah Robb Yang Maha Pengampun dan memiliki rohmat yang luas. Jika Alloh langsung menghukum setiap kemaksiatan, niscaya manusia sudah binasa sejak lama. Namun, Alloh memberikan tangguh hingga waktu yang telah ditetapkan.

﴿وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ ۖ لَوْ يُؤَاخِذُهُم بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ ۚ بَل لَّهُم مَّوْعِدٌ لَّن يَجِدُوا مِن دُونِهِ مَوْئِلًا﴾

“Dan Robbmu Maha Pengampun lagi memiliki rohmat yang luas. Seandainya Dia menghukum mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan adzab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk datangnya adzab) yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 58)

Kehancuran negeri-negeri terdahulu adalah bukti nyata bahwa Alloh tidak akan membiarkan kezholiman merajalela selamanya. Setiap kehancuran itu terjadi pada waktu yang telah ditetapkan sebagai pelajaran bagi orang-orang setelahnya.

﴿وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِم مَّوْعِدًا﴾

“Dan penduduk negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zholim, dan Kami telah menetapkan waktu tertentu bagi kehancuran mereka.” (QS. Al-Kahfi: 59)

 

Bab 4: Fitnah Ilmu dan Kisah Musa Bersama Khidhir (Ayat 60-82)

4.1 Tekad Nabi Musa dalam Menuntut Ilmu (Ayat 60-65)

Kisah ini bermula saat Nabi Musa merasa perlu untuk mencari seorang hamba Alloh yang memiliki ilmu yang tidak beliau miliki. Dengan tekad yang kuat, beliau menyampaikan kepada pembantunya, Yusya’ bin Nun, bahwa perjalanan ini tidak akan dihentikan sampai tujuan tercapai, yaitu tempat bertemunya dua lautan, meskipun harus menghabiskan waktu bertahun-tahun.

﴿وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا﴾

“Ingatlah (wahai Nabi ) ketika Musa berkata kepada pembantunya: ‘Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan terus berjalan selama bertahun-tahun sampai aku menemukan hamba yang sholih itu.” (QS. Al-Kahfi: 60)

Perjalanan panjang pun dilakukan hingga akhirnya mereka berdua sampai di titik pertemuan dua laut tersebut. Namun, di tempat itulah terjadi sebuah peristiwa di luar nalar, di mana ikan yang mereka bawa sebagai bekal tiba-tiba hidup kembali dan melompat menuju laut.

﴿فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا﴾

“Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lupa akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.” (QS. Al-Kahfi: 61)

Tanpa menyadari bahwa ikan tersebut telah hilang, mereka terus melanjutkan perjalanan hingga rasa letih dan lapar mulai terasa. Nabi Musa kemudian meminta pembantunya untuk menyiapkan makanan agar mereka bisa beristirahat sejenak setelah menempuh perjalanan yang melelahkan ini.

﴿فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا﴾

“Maka tatkala mereka telah melewati tempat itu, Musa berkata kepada pembantunya: ‘Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.’” (QS. Al-Kahfi: 62)

Mendengar permintaan tersebut, sang pembantu baru teringat akan peristiwa aneh yang terjadi saat mereka beristirahat di sebuah batu besar sebelumnya. Dia menjelaskan bahwa syaithon telah membuatnya lupa untuk menceritakan bahwa ikan bekal mereka telah menghilang secara ajaib ke dalam laut.

﴿قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا﴾

“Pembantunya menjawab: ‘Tahukah engkau tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaithon dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang ajaib.’” (QS. Al-Kahfi: 63)

Nabi Musa tidak marah, justru beliau menyadari bahwa hilangnya ikan tersebut adalah tanda yang sedang mereka cari sebagai petunjuk lokasi keberadaan hamba Alloh yang berilmu. Maka, mereka berdua segera berbalik arah mengikuti jejak langkah mereka sebelumnya.

﴿قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَارْتَدَّا عَلَىٰ آثَارِهِمَا قَصَصًا﴾

“Musa berkata: ‘Itulah tempat yang kita cari.’ Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (QS. Al-Kahfi: 64)

Setelah kembali ke batu besar tersebut, mereka akhirnya bertemu dengan seorang hamba yang sangat istimewa. Alloh telah memberikan rohmat yang besar kepadanya serta mengajarkan ilmu-ilmu ghoib yang tidak diketahui oleh manusia biasa.

﴿فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا﴾

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rohmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)

4.2 Pertemuan Musa dengan Hamba Alloh yang Sholih (Ayat 66-70)

Nabi Musa menunjukkan adab yang sangat mulia dalam menuntut ilmu. Beliau meminta izin dengan penuh kelembutan untuk mengikuti hamba sholih tersebut agar bisa diajarkan sebagian dari ilmu yang telah diberikan Alloh kepadanya.

﴿قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا﴾

“Musa berkata kepada Khidhir: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’” (QS. Al-Kahfi: 66)

Hamba sholih tersebut, yang dikenal sebagai Khidhir, langsung memberikan peringatan awal. Dia memahami bahwa apa yang akan dilakukan nantinya akan sulit diterima oleh akal lahiriyah, sehingga Nabi Musa mungkin tidak akan sanggup menahan diri untuk tidak bertanya.

﴿قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا﴾

“Dia menjawab: ‘Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.’” (QS. Al-Kahfi: 67)

Khidhir menjelaskan alasan ketidaksabaran tersebut adalah karena Nabi Musa belum memiliki pengetahuan yang utuh mengenai hakikat dan tujuan dari perbuatan-perbuatan yang akan disaksikannya nanti.

﴿وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا﴾

“Dan bagaimana engkau akan sabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahfi: 68)

Mendengar hal itu, Nabi Musa tetap bertekad kuat. Beliau berjanji dengan menyebut nama Alloh bahwa beliau akan berusaha sabar dan tidak akan menentang perintah atau perbuatan Khidhir selama perjalanan tersebut.

﴿قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا﴾

“Musa berkata: ‘In syaa Alloh engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’” (QS. Al-Kahfi: 67)

Khidhir akhirnya menerima permohonan tersebut, namun dengan satu syarat yang sangat ketat. Nabi Musa dilarang keras untuk menanyakan alasan di balik setiap perbuatan yang dilakukan Khidhir, sampai Khidhir sendiri yang memberikan penjelasannya.

﴿قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَن شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا﴾

“Dia berkata: ‘Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’” (QS. Al-Kahfi: 70)

4.3 Ujian Kesabaran dalam Perjalanan Mencari Hikmah (Ayat 71-77)

Perjalanan pun dimulai dengan menaiki sebuah perahu. Namun, baru saja perjalanan berlangsung, Khidhir tiba-tiba melubangi perahu tersebut. Tindakan ini membuat Nabi Musa merasa heran dan spontan menegur karena perbuatan itu dianggap bisa membahayakan nyawa para penumpang perahu.

﴿فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا﴾

“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata: ‘Mengapa engkau melubangi perahu itu yang akibatnya engkau menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu kesalahan yang besar.’” (QS. Al-Kahfi: 71)

Khidhir segera mengingatkan Nabi Musa akan janji yang telah dibuat sebelumnya bahwa beliau tidak akan mampu bersikap sabar.

﴿قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا﴾

“Dia (Khidhir) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya engkau tidak akan sabar bersamaku?’’” (QS. Al-Kahfi: 72)

Menyadari kekhilafannya, Nabi Musa memohon maaf dan meminta agar Khidhir tidak menghukumnya karena lupa, serta tidak memberikan beban yang terlalu berat dalam proses belajarnya ini.

﴿قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا﴾

“Musa berkata: ‘Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’” (QS. Al-Kahfi: 73)

Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang bermain. Tanpa alasan yang tampak secara lahiriyah, Khidhir membunuh anak tersebut. Peristiwa ini sangat mengguncang Nabi Musa karena beliau melihat hal itu sebagai sebuah kemungkaran besar berupa pembunuhan terhadap jiwa yang suci.

﴿فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا﴾

“Maka berjalankah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, lalu Khidhir membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu perbuatan yang sangat mungkar.’” (QS. Al-Kahfi: 74)

Untuk kedua kalinya, Khidhir memberikan teguran yang lebih tegas atas ketidaksabaran Nabi Musa dalam mengikuti proses belajar yang luar biasa ini.

﴿قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا﴾

“Khidhir berkata: ‘Bukankah sudah aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sabar bersamaku?’” (QS. Al-Kahfi: 75)

Merasa sangat bersalah karena telah dua kali melanggar janji, Nabi Musa memberikan batasan terakhir bagi dirinya sendiri. Beliau menyatakan bahwa jika sekali lagi beliau bertanya, maka Khidhir berhak untuk memutuskan kebersamaan mereka.

﴿قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي عُذْرًا﴾

“Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup toleran dalam menerima alasan-alasan dariku.’” (QS. Al-Kahfi: 76)

Perjalanan berlanjut sampai mereka tiba di sebuah negeri. Meskipun mereka dalam keadaan sangat lapar dan meminta jamuan sebagai tamu, penduduk negeri itu justru menolak dengan kasar. Namun, Khidhir justru memperbaiki sebuah dinding rumah yang hampir roboh di negeri tersebut tanpa meminta imbalan apa pun. Hal ini kembali memancing Nabi Musa untuk bertanya karena beliau merasa penduduk yang pelit itu tidak layak dibantu secara cuma-cuma.

﴿فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا﴾

“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau engkau mau, niscaya engkau mengambil upah untuk itu.’” (QS. Al-Kahfi: 77)

4.4 Penyingkapan Rahasia di Balik Perbuatan Khidhir (Ayat 78-82)

Pertanyaan ketiga ini menjadi tanda berakhirnya perjalanan mereka berdua. Khidhir menyatakan bahwa inilah saatnya bagi mereka untuk berpisah, namun sebelum itu, Khidhir akan menjelaskan seluruh hikmah dari perbuatan-perbuatan yang telah membuat Nabi Musa tidak sanggup bersabar.

﴿قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا﴾

“Khidhir berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan dari perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.’” (QS. Al-Kahfi: 78)

Mengenai perahu yang dilubangi, ternyata itu adalah cara untuk menyelamatkan harta milik orang-orang miskin. Di depan mereka ada seorang raja zholim yang merampas setiap perahu yang kondisinya baik. Dengan adanya cacat pada perahu tersebut, sang raja tidak akan tertarik untuk mengambilnya.

﴿أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا﴾

“Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu.” (QS. Al-Kahfi: 79)

Adapun mengenai anak yang dibunuh, Khidhir menjelaskan bahwa anak tersebut memiliki watak kekafiran. Jika dia dibiarkan hidup, dia akan tumbuh menjadi beban bagi kedua orang tuanya yang beriman dan akan memaksa mereka menuju kesesatan dan kekufuran.

﴿وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا﴾

“Dan adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang Mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan membebani kedua orang tuanya itu dengan kedurhakaan dan kekafiran.” (QS. Al-Kahfi: 80)

Pembunuhan tersebut dilakukan agar Alloh menggantikan anak itu dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya, lebih taat, dan lebih berkasih sayang kepada orang tuanya.

﴿فَأَرَدْنَا أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا﴾

“Dan kami menghendaki, supaya Robb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 81)

Terakhir, mengenai dinding rumah yang diperbaiki, ternyata di bawahnya tersimpan harta karun milik dua anak yatim. Alloh ingin menjaga harta itu sampai mereka dewasa karena ayah mereka adalah seorang yang sholih. Perbuatan Khidhir ini adalah bentuk kasih sayang Alloh dan semua yang dilakukan Khidhir bukanlah atas kemauan sendiri, melainkan atas perintah-Nya.

﴿وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا﴾

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang sholih, maka Robbmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rohmat dari Robbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 82)

 

Bab 5: Fitnah Kekuasaan dan Kisah Dzulqornain (Ayat 83-101)

5.1 Kepemimpinan Dzulqornain dan Perjalanannya (Ayat 83-91)

Kisah berlanjut pada permintaan kaum musyrik dan Yahudi yang ingin menguji kenabian Muhammad dengan bertanya tentang seorang penguasa besar masa lalu. Alloh pun menurunkan wahyu untuk menjelaskan jati diri raja yang sholih tersebut agar menjadi pelajaran bagi umat manusia.

﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا﴾

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad ) tentang Dzulqornain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu sebagian kisahnya sebagai peringatan dan pelajaran.’” (QS. Al-Kahfi: 83)

Dzulqornain bukanlah penguasa biasa yang mengandalkan kekuatan fisik semata. Alloh telah memberikan kemantapan kedudukan baginya di bumi serta membekalinya dengan berbagai ilmu, sarana, dan jalan untuk mencapai segala sesuatu yang dia tuju guna menebarkan keadilan.

﴿إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا﴾

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkannya.” (QS. Al-Kahfi: 84)

Dengan segala fasilitas yang Alloh berikan, dia pun memulai ekspedisi besarnya menuju arah barat dengan mengikuti jalan yang telah tersedia.

﴿فَأَتْبَعَ سَبَبًا﴾

“Maka dia pun menempuh suatu jalan.” (QS. Al-Kahfi: 85)

Perjalanan itu membawanya hingga ke ujung daratan di sebelah barat. Di sana, dia menyaksikan pemandangan matahari yang tampak seolah-olah terbenam di dalam sumber air yang berlumpur hitam. Di wilayah tersebut, dia bertemu dengan suatu kaum yang kafir, lalu Alloh memberikan pilihan kepadanya untuk menghukum mereka atau membimbing mereka dengan kebaikan.

﴿حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِندَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَن تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا﴾

“Hingga ketika dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihatnya terbenam di dalam air yang berlumpur hitam, dan di sana dia menemukan suatu kaum. Kami berfirman: ‘Wahai Dzulqornain, engkau boleh menghukum mereka atau boleh berbuat kebaikan kepada mereka.’” (QS. Al-Kahfi: 86)

Sebagai pemimpin yang adil, Dzulqornain menetapkan prinsip hukum yang tegas. Dia tidak akan membiarkan kezholiman merajalela, namun dia juga menjanjikan perlindungan bagi mereka yang mau kembali pada kebenaran. Orang yang tetap dalam kesyirikan akan dihukum di dunia, dan kelak di Akhiroh akan menghadapi adzab yang lebih pedih dari Robbnya.

﴿قَالَ أَمَّا مَن ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُّكْرًا﴾

“Dzulqornain berkata: ‘Adapun orang yang berbuat zholim, maka kami akan menghukumnya, kemudian dia akan dikembalikan kepada Robbnya, lalu Alloh akan mengadzabnya dengan adzab yang sangat keras.’” (QS. Al-Kahfi: 87)

Sebaliknya, pintu kasih sayang selalu terbuka bagi siapa saja yang mau beriman dan beramal Sholih. Mereka tidak hanya akan selamat dari hukuman, tetapi juga akan mendapatkan balasan terbaik serta kemudahan dalam setiap urusan di bawah kepemimpinannya.

﴿وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا﴾

“Dan adapun orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, maka dia akan mendapat balasan yang terbaik (Jannah) sebagai pahala, dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah.” (QS. Al-Kahfi: 88)

Setelah menyelesaikan urusan di wilayah barat, Dzulqornain kembali melanjutkan perjalanannya dengan menempuh jalan lain menuju arah yang berbeda.

﴿ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا﴾

“Kemudian dia menempuh jalan yang lain lagi.” (QS. Al-Kahfi: 89)

Kali ini perjalanannya mencapai ujung daratan di sebelah timur, tempat matahari terbit. Di sana dia menemukan sebuah kaum yang hidup dalam kondisi sangat sederhana. Mereka tinggal di padang terbuka tanpa memiliki bangunan atau pepohonan yang bisa melindungi tubuh mereka dari sengatan panas matahari.

﴿حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَّمْ نَجْعَل لَّهُم مِّن دُونِهَا سِتْرًا﴾

“Hingga ketika dia sampai ke tempat terbitnya matahari, dia melihatnya menyinari suatu kaum yang tidak Kami jadikan bagi mereka pelindung darinya (panas matahari).” (QS. Al-Kahfi: 90)

Dzulqornain memperlakukan kaum di timur tersebut dengan kebijaksanaan yang sama sebagaimana kaum di barat. Alloh menegaskan bahwa segala kekuatan, jumlah pasukan, dan apa yang dilakukan oleh raja ini berada dalam pengawasan dan ilmu-Nya yang sangat luas.

﴿كَذَٰلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا﴾

“Demikianlah, dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala sesuatu yang ada padanya.” (QS. Al-Kahfi: 91)

5.2 Pembuatan Dinding Besi untuk Menahan Ya’juj dan Ma’juj (Ayat 92-98)

Perjalanan Dzulqornain terus berlanjut hingga dia menempuh jalur ketiga yang membawanya ke suatu wilayah yang terpencil dan sulit dijangkau.

﴿ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا﴾

“Kemudian dia menempuh suatu jalan lagi.” (QS. Al-Kahfi: 92)

Dia sampai di suatu daerah yang diapit oleh dua gunung yang sangat tinggi dan besar. Di sana dia bertemu dengan sekelompok penduduk yang memiliki bahasa yang sangat asing dan sulit dipahami oleh orang luar, menunjukkan betapa terisolasinya mereka dari dunia luar.

﴿حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوْمًا لَّا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا﴾

“Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.” (QS. Al-Kahfi: 93)

Setelah melalui komunikasi yang sulit, kaum tersebut mengadukan penderitaan mereka akibat ulah Ya’juj dan Ma’juj yang sering melakukan kerusakan dan pembunuhan. Mereka bahkan menawarkan harta sebagai imbalan agar Dzulqornain bersedia membangunkan sebuah tembok pembatas yang kokoh demi keamanan mereka.

﴿قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا﴾

“Mereka berkata: ‘Wahai Dzulqornain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami memberimu imbalan agar engkau membuatkan dinding pembatas antara kami dan mereka?’” (QS. Al-Kahfi: 94)

Dzulqornain menunjukkan sifat qona’ah (merasa cukup) dan kemuliaan hati. Dia menolak imbalan tersebut karena merasa pemberian dan kekuasaan dari Alloh sudah jauh lebih dari cukup. Dia hanya meminta bantuan fisik dan tenaga dari penduduk tersebut untuk merealisasikan pembangunan benteng pertahanan itu.

﴿قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا﴾

“Dia (Dzulqornain) berkata: ‘Apa yang telah dianugerahkan Robbku kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan (tenaga dan alat-alat), agar aku dapat membuatkan dinding pemisah antara kamu dan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 95)

Proses pembangunan pun dimulai dengan teknik yang sangat maju pada masanya. Dia memerintahkan pengumpulan potongan-potongan besi untuk menutupi celah di antara kedua gunung tersebut. Setelah besi tertumpuk tinggi, dia memerintahkan untuk meniupkan api hingga besi itu membara, lalu menyiramnya dengan tembaga cair sehingga menjadi dinding yang sangat solid dan tak tertembus.

﴿آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا﴾

“Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga ketika (potongan besi) itu telah sama rata dengan kedua puncak gunung itu, dia berkata: ‘Tiuplah (api).’ Hingga ketika (besi) itu sudah menjadi merah seperti api, dia berkata: ‘Berilah aku tembaga cair agar aku tuangkan ke atasnya.’” (QS. Al-Kahfi: 96)

Benteng itu terbukti sangat efektif. Ya’juj dan Ma’juj yang dikenal sangat beringas pun tidak mampu mendaki dinding yang licin itu, dan tidak pula sanggup melubanginya karena ketebalan dan kekuatannya yang luar biasa.

﴿فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا﴾

“Maka mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak sanggup mendakinya dan tidak sanggup (pula) melubanginya.” (QS. Al-Kahfi: 97)

Meskipun telah berhasil membangun karya yang sangat hebat, Dzulqornain tidak sedikit pun merasa sombong. Dia segera mengembalikan segala keberhasilan itu kepada rohmat Alloh semata. Dia juga mengingatkan bahwa dinding yang sangat kokoh itu pun suatu saat akan hancur dan rata dengan tanah apabila janji Alloh tentang datangnya hari Qiyamat telah tiba.

﴿قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا﴾

“Dia (Dzulqornain) berkata: ‘(Dinding) ini adalah rohmat dari Robbku, maka apabila janji Robbku sudah datang, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Robbku itu adalah benar.’” (QS. Al-Kahfi: 98)

5.3 Terbukanya Dinding di Akhir Zaman dan Siksaan Kafir (Ayat 99-101)

Alloh memberikan gambaran tentang peristiwa setelah jebolnya dinding tersebut di akhir zaman. Manusia akan keluar dalam jumlah yang sangat besar dan berdesak-desakan bagaikan gelombang laut yang saling bertabrakan satu sama lain. Puncaknya adalah ketika sangkakala ditiup sebagai pertanda dimulainya hari kebangkitan, di mana seluruh makhluk dikumpulkan tanpa terkecuali.

﴿وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ ۖ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا﴾

“Dan pada hari itu Kami biarkan mereka (manusia) berbaur satu sama lain bagaikan gelombang, dan (apabila) sangkakala ditiup, maka Kami kumpulkan mereka semuanya.” (QS. Al-Kahfi: 99)

Pada hari yang sangat berat itu, kenyataan yang selama ini diingkari oleh orang-orang kafir akan nampak dengan sangat jelas. Naar Jahanam akan diperlihatkan secara nyata di hadapan mereka sebagai tempat kembali yang telah disiapkan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya.

﴿وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِّلْكَافِرِينَ عَرْضًا﴾

“Dan Kami perlihatkan Naar Jahanam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas.” (QS. Al-Kahfi: 100)

Adzab tersebut adalah balasan yang adil bagi mereka yang selama hidup di dunia menutup mata dari tanda-tanda kebesaran Alloh . Hati mereka seolah tertutup oleh selaput yang menghalangi mereka untuk berdzikir dan merenungi wahyu, serta telinga mereka seolah tuli sehingga enggan mendengarkan seruan para Rosul.

﴿الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَن ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا﴾

“(Yaitu) orang-orang yang mata (hati) mereka dalam keadaan tertutup dari memperhatikan peringatan-Ku, dan mereka tidak sanggup mendengar (kebenaran).” (QS. Al-Kahfi: 101)

Bab 6: Balasan Amal dan Tauhid Sebagai Penutup (Ayat 102-110)

6.1 Kerugian Bagi Mereka yang Merasa Berbuat Baik (Ayat 102-106)

Alloh memberikan peringatan kepada orang-orang kafir yang menyangka bahwa mereka bisa menjadikan hamba-hamba-Nya, baik itu Malaikat, Nabi, maupun wali, sebagai pelindung yang bisa memberikan manfaat atau menolak mudhorot selain Dia. Persangkaan itu adalah sebuah kesalahan besar, karena sesungguhnya Alloh telah menyediakan Naar Jahanam bagi orang-orang kafir tersebut sebagai tempat tinggal yang penuh kehinaan.

﴿أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِن دُونِي أَوْلِيَاءَ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا﴾

“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan Naar Jahanam bagi orang-orang kafir sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 102)

Agar manusia tidak terjatuh dalam kesia-siaan, Alloh memerintahkan Nabi untuk bertanya kepada kaumnya tentang golongan yang paling merugi dalam urusan amal perbuatannya. Pertanyaan ini bertujuan untuk menarik perhatian agar mereka merenungi kondisi diri mereka sendiri.

﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad ): ‘Maukah kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’” (QS. Al-Kahfi: 103)

Golongan yang paling merugi adalah mereka yang selama hidup di dunia telah berusaha keras melakukan berbagai macam perbuatan, namun seluruh usaha mereka itu sia-sia dan tersesat dari jalan yang benar. Tragedi terbesarnya adalah mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan sudah sangat baik dan benar, padahal semua itu tidak didasari oleh Iman dan mengikuti tuntunan Rosul .

﴿الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾

“(Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 104)

Penyebab utama hancurnya amalan mereka adalah karena mereka mengingkari ayat-ayat Alloh serta tidak percaya akan adanya pertemuan dengan-Nya di hari Akhiroh. Akibat kekafiran tersebut, seluruh amal kebajikan yang pernah mereka lakukan di dunia menjadi hapus tak tersisa, sehingga pada hari Qiyamat kelak, amalan mereka tidak memiliki timbangan atau nilai sedikit pun di sisi Alloh .

﴿أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا﴾

“Mereka itulah orang-orang yang telah kafir terhadap ayat-ayat Robb mereka dan (kufur terhadap) pertemuan dengan-Nya, maka gugurlah amal-amal mereka, dan Kami tidak memberikan timbangan bagi (amal) mereka pada hari Qiyamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)

Balasan yang setimpal bagi mereka adalah Naar Jahanam. Siksaan ini mereka dapatkan bukan hanya karena kekafiran yang mereka pelihara, tetapi juga karena kelancangan mereka yang menjadikan ayat-ayat Alloh dan para utusan-Nya sebagai bahan ejekan dan olok-olokan.

﴿ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا﴾

“Demikianlah balasan mereka itu adalah Naar Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan Rosul-rosul-Ku sebagai olok-olokan.” (QS. Al-Kahfi: 106)

6.2 Kenikmatan Bagi Penghuni Jannah Firdaus (Ayat 107-108)

Berbeda jauh dengan nasib orang-orang kafir, Alloh menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang benar-benar beriman di dalam hatinya dan membuktikan keimanan tersebut dengan melakukan amal-amal sholih. Bagi mereka telah disiapkan Jannah Firdaus, yang merupakan tingkat Jannah yang paling tinggi dan paling utama, sebagai tempat tinggal untuk memuliakan mereka.

﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, bagi mereka disediakan Jannah Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)

Di dalam Jannah tersebut, mereka akan hidup kekal untuk selama-lamanya. Kenikmatan yang mereka rasakan begitu sempurna sehingga mereka tidak pernah merasa bosan dan tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk pindah ke tempat yang lain.

﴿خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا﴾

“Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya.” (QS. Al-Kahfi: 108)

6.3 Keluasan Kalimat Alloh dan Perintah Ikhlas (Ayat 109-110)

Untuk menggambarkan betapa luasnya ilmu dan keagungan firman-firman Alloh , Dia memberikan sebuah perumpamaan yang luar biasa. Seandainya air laut di seluruh dunia ini dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Alloh , maka seluruh air laut itu akan habis sebelum kalimat-kalimat-Nya selesai ditulis, meskipun didatangkan lagi lautan lain sebanyak itu sebagai tambahannya.

﴿قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad ): ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Robbku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Robbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).’” (QS. Al-Kahfi: 109)

Sebagai penutup surat yang mulia ini, Alloh memerintahkan Nabi untuk menegaskan jati diri beliau sebagai manusia biasa seperti manusia lainnya, namun yang membedakannya adalah beliau dipilih untuk menerima wahyu. Inti dari wahyu tersebut adalah bahwa sesembahan yang benar bagi seluruh manusia hanyalah Yang Maha Esa. Oleh karena itu, siapa pun yang mengharapkan pertemuan dengan Robbnya di Akhiroh dengan penuh rasa senang, maka dia wajib melakukan amal sholih yang sesuai syariat dan tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada-Nya, baik syirik besar maupun kecil.

﴿قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad ): ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Dzat Yang Esa’. Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Allohu a’lam.[NK]

 

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url