[PDF] Tarjamah Surat Al-Kahfi - Merujuk Tafsir Muyassar dan Mukhtashor fit Tafsir - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji bagi Alloh ﷻ yang telah menurunkan
Al-Kitab kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
Rosululloh ﷺ,
keluarga, para Shohabat, dan para pengikutnya hingga Hari Akhiroh.
Amma ba’du:
Surat Al-Kahfi merupakan salah satu surat dalam Al-Qur’an
yang memiliki kedudukan tinggi dan keutamaan yang agung. Rosululloh ﷺ
telah menganjurkan kita untuk membacanya, terutama pada hari Jum’at, sebagai
cahaya yang menerangi antara dua Jum’at dan sebagai pelindung dari fitnah
Dajjal yang dahsyat. Keagungan surat ini terletak pada kandungan kisahnya yang penuh
hikmah, mulai dari Ashabul Kahfi, pemilik dua kebun, Nabi Musa dengan Khidhr,
hingga perjalanan Dzulqornain.
Buku yang ada di hadapan pembaca sekalian merupakan upaya
kecil untuk mendekatkan makna kalam Robb kepada kaum Muslimin melalui tarjamah
yang merujuk pada dua kitab tafsir kontemporer yang ringkas namun terpercaya,
yaitu Tafsir Muyassar dan Al-Mukhtashor fit Tafsir. Penulis
berusaha menyajikan tarjamah yang mengalir dan mudah dipahami tanpa mengurangi
integritas makna aslinya.
Disamping itu ditambahkan bab dan subbab serta pengantar ayat
yang mencoba mengkaitkan hubungan tiap ayat agar memperjelas ayat yang akan
dibahas.
Harapan penulis, semoga buku ini menjadi amal jariyah yang
bermanfaat dan menjadi wasilah bagi kita semua untuk semakin mencintai dan
mentadabburi Al-Qur’an.
Bab 1: Kemuliaan Al-Qur’an dan
Peringatan Terhadap Kesyirikan (Ayat 1-8)
1.1
Pujian bagi Alloh ﷻ yang
Menurunkan Al-Kitab (Ayat 1-3)
Alloh ﷻ membuka surat yang agung ini
dengan menetapkan segala bentuk pujian yang sempurna bagi diri-Nya sendiri.
Pujian ini ditujukan atas ni’mat diturunkannya Al-Qur’an kepada hamba dan
utusan-Nya, Nabi Muhammad ﷺ.
Kitab suci ini adalah bimbingan yang lurus, tidak mengandung pertentangan, dan
tidak pula ada penyimpangan dari kebenaran di dalamnya.
﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ
الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا﴾
“Segala
puji bagi Alloh yang telah menurunkan kepada hamba-Nya (Muhammad ﷺ) Al-Kitab (Al-Qur’an), dan
Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan sedikit pun dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi: 1)
Tujuan
diturunkannya kitab yang lurus ini adalah untuk memberikan peringatan kepada
orang-orang kafir tentang adanya siksaan yang sangat pedih yang datang langsung
dari sisi Alloh ﷻ. Di saat yang sama, kitab ini
menjadi pembawa berita yang menggembirakan bagi kaum Mu’min yang senantiasa
membuktikan keimanan mereka dengan melakukan perbuatan-perbuatan sholih, bahwa
bagi mereka telah disediakan balasan pahala yang sangat baik.
﴿قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ
وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا
حَسَنًا﴾
“Al-Qur’an
itu sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat
pedih dari sisi Alloh dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang Mu’min
yang mengerjakan amal sholih bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.” (QS. Al-Kahfi: 2)
Pahala yang
agung tersebut adalah Jannah, sebuah tempat tinggal yang penuh dengan
kenikmatan. Mereka akan menetap di dalamnya selamanya, tanpa ada rasa bosan dan
tidak akan pernah berpindah darinya untuk selama-lamanya.
﴿مَّاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا﴾
“Mereka
kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 3)
1.2
Peringatan Keras bagi Orang yang Mengatakan Alloh ﷻ
Punya Anak (Ayat 4-6)
Peringatan
dalam Al-Qur’an juga secara khusus ditujukan kepada kaum musyrik yang telah
melampaui batas dengan mengklaim bahwa Alloh ﷻ memiliki anak. Perkataan tersebut adalah sebuah kesesatan besar
yang mencoreng kesucian Robb semesta alam.
﴿وَيُنذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ
وَلَدًا﴾
“Dan
untuk memperingatkan orang-orang yang berkata, ‘Alloh mempunyai anak.’” (QS. Al-Kahfi: 4)
Klaim yang
sangat mungkar itu sama sekali tidak didasari oleh landasan ilmu yang benar,
baik oleh mereka yang mengucapkannya saat ini maupun oleh nenek moyang mereka
di masa lalu. Apa yang keluar dari mulut mereka hanyalah kedustaan yang sangat
besar dan berbahaya, karena mereka berani mengatakan sesuatu tentang Alloh ﷻ tanpa bukti dan pengetahuan.
﴿مَّا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ
ۚ
كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ
إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا﴾
“Mereka
sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek
moyang mereka. Alangkah besarnya kata-kata bohong yang keluar dari mulut
mereka; mereka hanya mengatakan kebohongan belaka.” (QS. Al-Kahfi: 5)
Melihat
kerasnya penolakan dan kedustaan kaum musyrik tersebut, Nabi Muhammad ﷺ merasa sangat sedih dan
berduka karena rasa kasihan beliau ﷺ agar mereka selamat dari adzab. Namun, Alloh ﷻ menghibur dan mengingatkan
beliau ﷺ
agar tidak sampai membinasakan diri sendiri hanya karena rasa sedih yang
mendalam jika mereka tetap enggan beriman kepada Al-Qur’an.
﴿فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ
إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا﴾
“Maka
barangkali engkau (Muhammad ﷺ) akan mencelakakan dirimu karena bersedih
hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan
ini (Al-Qur’an).” (QS.
Al-Kahfi: 6)
1.3
Hakikat Keindahan Dunia Sebagai Ujian (Ayat 7-8)
Penolakan
manusia terhadap kebenaran sering kali disebabkan oleh keterpanaan mereka
terhadap gemerlap dunia. Padahal, Alloh ﷻ sengaja menjadikan segala sesuatu yang ada di atas bumi ini,
mulai dari kekayaan hingga keindahan alam, hanya sebagai hiasan sementara.
Keindahan ini berfungsi sebagai sarana ujian untuk melihat siapa di antara para
hamba yang paling ikhlas dan paling benar amalannya demi mengharap ridho-Nya.
﴿إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً
لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا﴾
“Sesungguhnya
Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami
menguji mereka siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7)
Ujian dunia
ini tidaklah berlangsung lama, karena pada saatnya nanti, Alloh ﷻ akan melenyapkan segala
perhiasan tersebut. Apa yang tadinya tampak indah dan hijau akan diubah menjadi
tanah yang tandus, kering, dan rata, seolah-olah tidak pernah ada kehidupan
atau keindahan di atasnya sebelumnya.
﴿وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا
جُرُزًا﴾
“Dan
sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan apa yang di atasnya menjadi tanah
yang tandus lagi rata.” (QS. Al-Kahfi: 8)
Bab 2: Ujian Aqidah dan Kisah
Ashabul Kahfi (Ayat 9-26)
2.1
Ringkasan Kisah dan Doa Para Pemuda Gua (Ayat 9-12)
Alloh ﷻ mengajak Nabi Muhammad ﷺ untuk merenungkan kisah
pemuda goa sebagai bukti kekuasaan-Nya. Wahai Nabi ﷺ, janganlah engkau menyangka
bahwa kisah penghuni goa dan batu tulis yang berisi nama-nama mereka itu adalah
satu-satunya keajaiban besar di antara tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya
masih banyak ciptaan Alloh ﷻ
lainnya yang jauh lebih menakjubkan daripada kisah mereka.
﴿أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ
كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا﴾
“Apakah
engkau mengira bahwa orang-orang yang mendiami goa dan yang mempunyai Roqim
(papan yang bertuliskan nama-nama mereka) itu termasuk tanda-tanda kekuasaan
Kami yang mengherankan?” (QS. Al-Kahfi: 9)
Kisah ini
bermula saat beberapa pemuda yang beriman melarikan diri dari kekufuran kaumnya
menuju sebuah goa sebagai tempat perlindungan. Di sana, mereka memohon kepada
Robb mereka agar memberikan rohmat yang luas dari sisi-Nya dan memberikan
kemudahan serta petunjuk dalam urusan yang mereka hadapi sehingga mereka tetap
berada di atas jalan kebenaran.
﴿إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا
رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا﴾
“(Ingatlah)
ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam goa lalu mereka berdoa, ‘Wahai
Robb kami, berikanlah rohmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah
petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.’” (QS. Al-Kahfi: 10)
Alloh ﷻ mengabulkan doa mereka dengan
cara yang tidak terduga. Alloh ﷻ menutup pendengaran mereka sehingga mereka tertidur sangat
lelap di dalam goa tersebut selama bertahun-tahun yang banyak jumlahnya.
﴿فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ
سِنِينَ عَدَدًا﴾
“Maka
Kami tutup telinga mereka (dengan tidur) di dalam goa itu selama bertahun-tahun
yang banyak jumlahnya.” (QS. Al-Kahfi: 11)
Setelah
masa tidur yang sangat panjang itu berlalu, Alloh ﷻ membangunkan mereka kembali. Tujuannya adalah untuk menunjukkan
secara nyata kepada manusia, kelompok mana di antara dua golongan yang
berselisih tentang lamanya mereka tinggal di dalam goa yang lebih tepat
hitungannya.
﴿ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ
أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا﴾
“Kemudian
Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan
itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (di dalam
goa itu).” (QS. Al-Kahfi:
12)
2.2
Keteguhan Hati Menghadapi Kezholiman Penguasa (Ayat 13-16)
Kisah yang
Alloh ﷻ ceritakan ini bukanlah
dongeng tanpa makna, melainkan berita yang benar. Mereka adalah para pemuda
yang benar-benar beriman kepada Robb mereka dengan tulus, sehingga Alloh ﷻ pun menambahkan bagi mereka
taufiq untuk tetap kokoh di atas hidayah dan bimbingan-Nya.
﴿نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ
ۚ
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى﴾
“Kami
ceritakan kepadamu (Muhammad ﷺ) kisah mereka dengan sebenarnya.
Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Robb mereka, dan
Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 13)
Keimanan
mereka bukan sekadar di lisan, namun tertanam kuat di hati. Alloh ﷻ menguatkan hati mereka saat
mereka berdiri dengan berani di hadapan penguasa yang zholim untuk menyatakan
bahwa Robb mereka hanyalah Robb yang menciptakan langit dan bumi. Mereka
menegaskan tidak akan menyembah robb selain Dia, karena jika mereka melakukan
itu, berarti mereka telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari
kebenaran.
﴿وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا
فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَٰهًا
ۖ
لَّقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا﴾
“Dan
Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, ‘Robb kami
adalah Robb langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, jika
kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh
dari kebenaran.’” (QS.
Al-Kahfi: 14)
Para pemuda
ini merasa heran dengan kaum mereka yang menyembah berbagai berhala tanpa
alasan yang logis maupun dalil yang nyata. Mereka menyadari bahwa tidak ada
orang yang lebih zholim daripada orang yang berani mengada-adakan kedustaan
terhadap Alloh ﷻ dengan menyekutukan-Nya.
﴿هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ
آلِهَةً ۖ
لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا﴾
“Kaum
kami ini telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mengapa
mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)? Maka
siapakah yang lebih zholim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan
terhadap Alloh?” (QS.
Al-Kahfi: 15)
Maka ketika
para pemuda itu telah memisahkan diri dari kaumnya dan meninggalkan sesembahan
selain Alloh ﷻ, mereka saling mengajak untuk
mencari tempat persembunyian di dalam goa. Mereka berharap Alloh akan
melimpahkan rohmat-Nya dan memudahkan urusan mereka dengan memberikan
perlindungan dari kejaran musuh agar mereka bisa beribadah dengan tenang.
﴿وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ
إِلَّا اللَّهَ فَأْوُا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِ
وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا﴾
“Dan
apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Alloh, maka
carilah tempat berlindung ke dalam goa itu, niscaya Robbmu akan melimpahkan
sebagian rohmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam
urusanmu.” (QS. Al-Kahfi:
16)
2.3
Keajaiban Tidurnya Pemuda di Dalam Goa (Ayat 17-20)
Cara Alloh ﷻ menjaga mereka di dalam goa
sungguh di luar akal manusia. Jika engkau melihat mereka, engkau akan mendapati
matahari saat terbit condong ke arah kanan goa mereka, dan saat terbenam
menjauhi mereka ke arah kiri, sehingga panas matahari tidak menyakiti tubuh
mereka sementara mereka berada di ruang yang luas di dalam goa itu. Ini adalah
salah satu bukti kekuasaan Alloh ﷻ. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh ﷻ, dialah yang mendapat
hidayah, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan
seorang pelindung pun yang dapat memberinya petunjuk.
﴿وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ
عَن kَهْفِهِمْ
ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ
مِّنْهُ ۚ
ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ
مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ
وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا﴾
“Dan
engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari goa mereka ke sebelah
kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang
mereka berada dalam tempat yang luas di dalam goa itu. Itu adalah sebagian dari
tanda-tanda (kebesaran) Alloh. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh,
maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka
engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong pun yang dapat memberi petunjuk
kepadanya.” (QS.
Al-Kahfi: 17)
Penjagaan
itu semakin ajaib karena meskipun mereka tidur, mata mereka tetap terbuka
sehingga orang yang melihat akan menyangka mereka terjaga. Alloh ﷻ juga membalik-balikkan tubuh
mereka ke kanan dan ke kiri agar tanah tidak merusak jasad mereka. Sementara
itu, anjing mereka membentangkan kedua kakinya di depan pintu goa. Jika engkau
melihat keadaan mereka secara langsung, niscaya engkau akan berpaling melarikan
diri karena merasa ketakutan yang luar biasa.
﴿وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ
وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ
وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ
لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِم لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا﴾
“Dan
engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur; dan Kami
bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan
kedua kakinya di depan pintu goa. Sekiranya engkau melihat mereka, tentulah
engkau berpaling melarikan diri dari mereka dan tentulah hatimu penuh dengan
rasa takut terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18)
Setelah
tidur yang sangat panjang, Alloh ﷻ membangunkan mereka agar mereka saling bertanya satu sama lain.
Salah seorang di antara mereka bertanya tentang berapa lama mereka telah
tinggal di sana, dan ada yang menjawab satu hari atau setengah hari. Namun
akhirnya mereka menyerahkan urusan itu kepada ilmu Alloh ﷻ. Karena merasa lapar, mereka
mengutus salah satu temannya ke kota dengan membawa uang perak untuk mencari
makanan yang paling bersih dan paling baik (halal), serta berpesan agar
berhati-hati agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh siapa pun.
﴿وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ
ۚ
قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ
قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ
قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ
إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُم بِرِزْقٍ
مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا﴾
“Dan
demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah
seorang di antara mereka berkata, ‘Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?’ Mereka menjawab, ‘Kita
berada (di sini) sehari atau setengah hari.’ Mereka berkata, ‘Robbmu
lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka utuslah salah
seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan
hendaklah dia melihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia
membawa sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut
dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun.” (QS. Al-Kahfi:
19)
Kekhawatiran
mereka sangat besar, karena jika penduduk kota yang musyrik itu sampai
mengetahui keberadaan mereka, mereka akan disiksa dengan cara dirajam sampai
mati atau dipaksa kembali memeluk agama kekafiran. Jika itu terjadi, mereka
tidak akan pernah mendapatkan keberuntungan untuk selama-lamanya.
﴿إِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ
أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَن تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا﴾
“Sesungguhnya
jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan merajammu (dengan
batu), atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya
kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 20)
2.4
Hikmah Dibangkitkannya Mereka dan Penentuan Waktu (Ayat 21-26)
Alloh ﷻ akhirnya menyingkap
keberadaan para pemuda tersebut kepada penduduk kota agar manusia menyadari
bahwa janji Alloh ﷻ tentang hari Kebangkitan adalah
benar dan hari Qiyamat itu pasti datang tanpa ada keraguan. Namun, setelah para
pemuda itu wafat, orang-orang di kota itu justru berselisih tentang urusan
mereka. Ada yang mengusulkan membangun gedung di atas goa mereka, namun
orang-orang yang berkuasa saat itu memutuskan untuk membangun Masjid di tempat
tersebut, padahal itu dilarang agama.
﴿وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا
أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ
بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ
فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًا ۖ
رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ
قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا﴾
“Dan
demikianlah Kami perlihatkan (keberadaan) mereka, agar mereka (penduduk kota)
tahu bahwa janji Alloh itu benar dan bahwa Qiyamat itu tidak ada keraguan
padanya. Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata, ‘Dirikanlah
sebuah bangunan di atas (goa) mereka, Robb mereka lebih mengetahui tentang
mereka.’ Orang-orang
yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ‘Kami pasti akan mendirikan
sebuah Masjid di atasnya.’” (QS. Al-Kahfi: 21)
Perselisihan
juga terjadi mengenai jumlah pemuda tersebut. Ada yang mengatakan jumlah mereka
3 orang dan yang ke 4 adalah anjingnya, ada pula yang mengatakan 5 orang dan
yang ke 6 adalah anjingnya sebagai terkaan semata. Ada pula yang mengatakan 7
orang dan yang ke 8 adalah anjingnya dan ini yang benar. Alloh ﷻ memerintahkan Nabi ﷺ untuk menegaskan bahwa hanya
Robb mereka yang paling mengetahui jumlah mereka, dan hanya sedikit orang yang
mengetahuinya secara pasti. Oleh karena itu, janganlah berdebat kecuali dengan
cara yang lahiriyah (nyata) dan jangan bertanya kepada siapa pun mengenai
jumlah mereka.
﴿سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ
وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ
وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ
قُل رَّبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِم مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ
فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِم مِّنْهُمْ
أَحَدًا﴾
“Nanti
(ada orang yang) akan mengatakan, ‘(Jumlah mereka) tiga orang, yang ke empat
adalah anjingnya,’ dan (yang lain) mengatakan, ‘(Jumlah mereka) lima orang,
yang ke enam adalah anjingnya,’ sebagai terkaan terhadap hal yang ghoib; dan
(yang lain lagi) mengatakan, ‘(Jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan
adalah anjingnya.’ Katakanlah (Muhammad ﷺ), ‘Robbku lebih mengetahui jumlah mereka;
tidak ada yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit.’ Karena itu
janganlah engkau (Muhammad ﷺ) berbantah tentang hal mereka, kecuali
perbantahan yang lahir saja dan janganlah engkau menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda
itu) kepada siapa pun di antara mereka.” (QS. Al-Kahfi: 22)
Dalam
kaitan ini pula, Alloh ﷻ memberikan pelajaran adab
kepada Nabi ﷺ
agar tidak pernah memastikan akan melakukan sesuatu di hari esok tanpa
menyandarkannya pada kehendak Alloh ﷻ.
﴿وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ
غَدًا﴾
“Dan
jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu
besok pagi,” (QS.
Al-Kahfi: 23)
Pengecualian
tersebut adalah dengan menyebut In sya Alloh. Jika engkau lupa
mengucapkannya, maka segeralah berdzikir kepada Robbmu saat teringat dan
berharaplah semoga Robbmu memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih dekat
kebenarannya.
﴿إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ
وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ
هَٰذَا رَشَدًا﴾
“kecuali
(dengan menyebut), “In sya Alloh.” Dan ingatlah kepada Robbmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan
Robbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada
ini.” (QS. Al-Kahfi: 24)
Mengenai
lamanya mereka berada di dalam goa, Alloh ﷻ memberikan jawaban yang pasti bagi mereka yang berselisih.
Mereka tinggal di dalam goa tersebut selama 300 tahun menurut perhitungan
syamsiyyah (matahari) dan ditambah 9 tahun lagi menurut perhitungan qomariyyah
(bulan).
﴿وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ
وَازْدَادُوا تِسْعًا﴾
“Dan
mereka tinggal dalam goa mereka 300 tahun dan ditambah 9 tahun lagi.” (QS. Al-Kahfi: 25)
Jika masih
ada yang meragukan tentang hal itu, tegaskanlah bahwa Alloh ﷻ yang paling mengetahui berapa
lama mereka tinggal. Hanya milik-Nya segala rahasia yang ada di langit dan di
bumi. Alangkah hebatnya penglihatan-Nya dan alangkah tajamnya pendengaran-Nya.
Tidak ada seorang pelindung pun bagi makhluk selain Dia, dan Dia tidak membagi
kekuasaan-Nya kepada seorang pun dalam menetapkan keputusan.
﴿قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا ۖ
لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ
أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمَعُ ۚ
مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا﴾
“Katakanlah,
‘Alloh lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal; milik-Nya segala yang
tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah
tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia;
dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan
keputusan.” (QS.
Al-Kahfi: 26)
Bab 3: Fitnah Harta dan Hakikat
Kehidupan Dunia (Ayat 27-59)
3.1
Perintah Membaca Wahyu dan Bersabar Bersama Orang Sholih (Ayat 27-31)
Setelah
menetapkan kebenaran kisah para pemuda goa, Alloh ﷻ memerintahkan Rosul-Nya untuk senantiasa berpegang teguh pada
wahyu. Kitab ini adalah bimbingan yang tidak mengandung keraguan sedikit pun,
dan setiap Muslim diperintahkan untuk mengikuti petunjuknya tanpa mencari
pelindung kepada selain-Nya.
﴿وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِن كِتَابِ رَبِّكَ
ۖ
لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَن تَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَدًا﴾
“Bacalah
(wahai Muhammad ﷺ)
dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Robbmu. Tidak ada satu pun
yang sanggup merubah kalimat-kalimat-Nya, dan engkau tidak akan pernah
mendapati tempat berlindung selain kepada-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 27)
Keteguhan dalam
memegang wahyu harus dibarengi dengan lingkungan yang baik. Alloh ﷻ memerintahkan Nabi ﷺ untuk tetap bersama kaum
Muslim yang ikhlas dalam beribadah, meskipun mereka tampak lemah atau miskin di
mata dunia. Beliau ﷺ
diperingatkan agar tidak memalingkan perhatian dari mereka demi mengejar
gemerlap perhiasan dunia atau mengikuti orang-orang yang hatinya lalai karena
memperturutkan hawa nafsu.
﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ
رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ
وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ
أَمْرُهُ فُرُطًا﴾
“Dan
sabarkanlah dirimu (wahai Muhammad ﷺ) bersama orang-orang yang senantiasa
berdoa kepada Robb mereka di awal hari dan di akhir hari dengan tujuan
mengharap wajah-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena
menginginkan perhiasan kehidupan dunia, dan janganlah engkau mengikuti orang
yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa
nafsunya dan keadaannya benar-benar telah melampaui batas (sia-sia).” (QS. Al-Kahfi: 28)
Kebenaran
telah datang dengan sangat jelas melalui lisan Nabi ﷺ. Bagi siapa saja yang ingin
selamat, maka pintu iman terbuka lebar, namun bagi yang memilih jalan
kesengsaraan, ancaman siksa Naar telah menanti dengan gambaran yang sangat
mengerikan.
﴿وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ
فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ
إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ
وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ
بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا﴾
“Dan
katakanlah (wahai Muhammad ﷺ): ‘Kebenaran itu datangnya dari Robbmu; maka
barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang
ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zholim itu Naar
yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum),
mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah.
Itulah seburuk-buruk minuman dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS.
Al-Kahfi: 29)
Sebaliknya,
bagi mereka yang memilih jalan iman dan membuktikannya dengan amal nyata, Alloh
ﷻ menjamin bahwa setiap usaha
mereka tidak akan pernah disia-siakan. Balasan yang adil dan sempurna telah
disiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan.
﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا﴾
“Sesungguhnya
mereka yang beriman dan mengerjakan amal-amal Sholih, niscaya Kami tidak akan
menyia-nyiakan pahala bagi orang yang paling baik amalannya.” (QS. Al-Kahfi: 30)
Pahala
tersebut berupa Jannah yang sangat indah, tempat mereka menikmati segala
fasilitas kemewahan yang jauh melampaui keindahan dunia. Ini adalah bentuk
penghormatan tertinggi bagi ahli tauhid.
﴿أُولَٰئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن
تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ
ثِيَابًا خُضْرًا مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ
ۚ
نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا﴾
“Mereka
itulah yang akan mendapatkan Jannah ‘Adn (tempat tinggal tetap), yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai; di dalamnya mereka dihiasi dengan
gelang-gelang dari emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan
sutra tebal, sedang mereka duduk bersandar di atas dipan-dipan yang indah.
Itulah sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang paling indah.” (QS. Al-Kahfi: 31)
3.2
Perumpamaan Pemilik Dua Kebun dan Sikap Kufur ni’mat (Ayat 32-44)
Guna
memberikan gambaran tentang fitnah harta dan bahaya kesombongan, Alloh ﷻ membuat sebuah perumpamaan
tentang 2 orang lelaki. Yang satu diberikan kekayaan melimpah berupa
kebun-kebun yang sangat produktif, sementara yang lain berada dalam kondisi
yang sederhana namun memiliki kekokohan Iman.
﴿وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا
لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا
زَرْعًا﴾
“Dan
berikanlah kepada mereka (wahai Muhammad ﷺ) sebuah perumpamaan tentang 2
orang lelaki, yang Kami jadikan bagi salah seorang di antara keduanya 2 buah
kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di
antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang tanaman.” (QS. Al-Kahfi: 32)
Kedua kebun
tersebut sangat subur dan terairi dengan baik, menunjukkan betapa sempurnanya
pemberian Alloh ﷻ kepada lelaki itu.
﴿كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ
تَظْلِم مِّنْهُ شَيْئًا ۚ
وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا﴾
“Kedua
kebun itu menghasilkan buahnya dan tidak berkurang sedikit pun, dan Kami
alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.” (QS. Al-Kahfi: 33)
Bukannya
bersyukur, lelaki itu justru merasa bangga dan merendahkan temannya yang
beriman. Dia merasa bahwa kesuksesannya adalah bukti kehebatannya dan kekuatan
pengikutnya serta tanda Alloh mencintainya.
﴿وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ
يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا﴾
“Lelaki
itu memiliki kekayaan yang melimpah, lalu dia berkata kepada temannya saat
bercakap-cakap: ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih
kuat.’” (QS. Al-Kahfi:
34)
Kesombongan
itu membawanya pada keraguan terhadap hari Akhiroh. Saat memasuki kebunnya, dia
merasa bahwa kejayaannya akan berlangsung selamanya dan tidak akan pernah
musnah.
﴿وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ
قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا﴾
“Dia
memasuki kebunnya dengan sikap zholim terhadap dirinya sendiri karena kufur dan
sombong. Dia berkata: ‘Aku kira kebun ini tidak akan pernah binasa
selama-lamanya.’” (QS.
Al-Kahfi: 35)
Bahkan dia
berkhayal, jika pun Qiyamat itu benar-benar terjadi, dia merasa tetap akan
mendapatkan perlakuan istimewa di sisi Robbnya sebagaimana dia mendapatkannya
di dunia.
﴿وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن
رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا﴾
“Dan
aku tidak mengira Qiyamat itu akan datang, dan sekiranya aku dikembalikan
kepada Robbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada
kebun-kebun ini.” (QS.
Al-Kahfi: 36)
Temannya
yang beriman segera memberikan teguran keras. Dia mengingatkan hakikat
penciptaan manusia dari sesuatu yang hina agar temannya itu kembali sadar akan
kebesaran Sang Pencipta.
﴿قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ
بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا﴾
“Temannya
yang beriman berkata kepadanya saat bercakap-cakap: ‘Apakah engkau kafir kepada
Robb yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia
menjadikan engkau seorang lelaki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)
Orang
beriman itu menegaskan prinsip Tauhidnya yang kokoh, bahwa dia tidak akan
pernah menyekutukan Alloh ﷻ
dengan apa pun, termasuk dengan harta bendanya.
﴿لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ
بِرَبِّي أَحَدًا﴾
“Tetapi
aku (percaya bahwa): Dialah Alloh, Robbku, dan aku tidak mempersekutukan
seorang pun dengan Robbku.” (QS. Al-Kahfi: 38)
Dia juga
memberikan nasihat agar setiap kali mendapatkan ni’mat, hendaknya dikembalikan
kepada kehendak Alloh ﷻ, karena tidak ada daya dan
upaya kecuali dengan pertolongan-Nya semata.
﴿وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا
شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ
إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا﴾
“Dan
mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu ‘Maa syaa Alloh,
laa quwwata illa billah’ (Sungguh atas kehendak Alloh semua ini terwujud, tidak
ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh). Sungguh kamu menganggap aku
lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)
Keimanan
membuatnya yakin bahwa balasan di sisi Alloh ﷻ jauh lebih baik, dan dia pun memperingatkan bahwa kekayaan yang
dibanggakan itu bisa lenyap seketika jika Alloh ﷻ menghendaki.
﴿فَعَسَىٰ رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن
جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا﴾
“Maka
mudah-mudahan Robbku akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada
kebunmu (di Akhiroh) dan Dia mengirimkan kilat dari langit kepada kebunmu
hingga kebun itu menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)
﴿أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَن تَسْتَطِيعَ
لَهُ طَلَبًا﴾
“Atau
airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka kamu tidak akan dapat menemukannya
lagi.” (QS. Al-Kahfi:
41)
Bencana
yang diperingatkan itu pun benar-benar terjadi. Seluruh harta yang menjadi
sandaran hidupnya dihancurkan tanpa sisa, meninggalkan penyesalan yang mendalam
atas kesyirikan yang pernah dia lakukan.
﴿وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ
عَلَىٰ مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي
لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا﴾
“Dan
seluruh buah-buahannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua telapak
tangannya karena menyesali apa yang telah dia belanjakan untuk kebun itu,
sedang pohon-pohonnya roboh bersama penyangganya dan dia berkata: ‘Aduhai,
kiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Robbku.’” (QS. Al-Kahfi: 42)
Saat adzab
itu datang, barulah dia menyadari bahwa semua pengikut dan kekuatan yang dia
banggakan dahulu sama sekali tidak bisa memberikan perlindungan.
﴿وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن
دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا﴾
“Dan
tidak ada bagi dia segolongan pun yang dapat menolongnya selain Alloh, dan dia
tidak pula dapat membela dirinya sendiri.” (QS. Al-Kahfi: 43)
Melalui
peristiwa ini, Alloh ﷻ menegaskan bahwa kekuasaan
mutlak hanya milik-Nya. Dialah satu-satunya tempat bergantung yang benar bagi
seluruh makhluk.
﴿هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ ۚ
هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا﴾
“Di
sana (pada hari Qiyamat atau saat bencana datang), pertolongan itu hanya milik
Alloh Yang Maha Benar. Dialah sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik
pemberi kesudahan.”
(QS. Al-Kahfi: 44)
3.3
Gambaran Kehidupan Dunia dan Kejadian Hari Qiyamat (Ayat 45-49)
Setelah
menjelaskan kisah pemilik dua kebun yang binasa hartanya karena kesombongan,
Alloh ﷻ memberikan perumpamaan
tentang hakikat kehidupan dunia ini secara keseluruhan agar manusia tidak
tertipu olehnya. Dunia ini hanyalah sementara dan akan berakhir dengan
kefanaan.
﴿وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ
هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ
وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا﴾
“Berikanlah
perumpamaan kepada mereka tentang hakikat kehidupan dunia yang cepat sirna,
yaitu bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu air itu menyirami
tumbuh-tumbuhan di bumi hingga menjadi subur dan rimbun. Namun tidak lama
kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering dan hancur berserakan yang
diterbangkan oleh angin ke segala arah. Dan Alloh Maha Kuasa atas segala
sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 45)
Manusia
sering kali tertipu dengan dua hal yang paling mereka cintai di dunia, yaitu
kekayaan dan keturunan. Padahal keduanya hanyalah hiasan yang akan lenyap,
sedangkan amalan yang kekal manfaatnya di Akhiroh jauh lebih berharga untuk
diharapkan.
﴿الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
ۖ
وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا﴾
“Harta
dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia yang bersifat sementara,
sedangkan amal-amal sholih yang pahalanya kekal di sisi Alloh, seperti Sholat 5
waktu, tasbih, tahmid, tahlil, dan amalan kebaikan lainnya, itu jauh lebih baik
pahalanya di sisi Robbmu dan jauh lebih baik untuk diharapkan kesudahannya.” (QS. Al-Kahfi: 46)
Alloh ﷻ kemudian menggambarkan
kedahsyatan hari Qiyamat saat dunia ini dihancurkan. Pada hari itu,
gunung-gunung yang kokoh akan dilenyapkan dari tempatnya hingga bumi menjadi
rata, dan seluruh manusia dari generasi awal hingga akhir akan dikumpulkan
untuk diadili tanpa ada satu pun yang tertinggal.
﴿وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ
بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا﴾
“Ingatlah
pada hari ketika Kami menjalankan gunung-gunung dari tempatnya semula dan
engkau melihat bumi menjadi rata dan tampak jelas karena tidak ada lagi
bangunan atau pohon di atasnya, dan Kami kumpulkan seluruh manusia tanpa
meninggalkan satu orang pun di antara mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)
Semua
makhluk akan berdiri berjajar dengan penuh ketundukan di hadapan Alloh ﷻ. Saat itulah Alloh ﷻ menegaskan bahwa mereka
kembali kepada-Nya dalam keadaan sebagaimana mereka diciptakan pertama kali,
tanpa membawa harta atau pengikut yang dahulu mereka banggakan di dunia.
﴿وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا لَّقَدْ جِئْتُمُونَا
كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ
بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّن نَّجْعَلَ لَكُم مَّوْعِدًا﴾
“Mereka
semua akan dihadapkan kepada Robbmu dengan berbaris. Sungguh kamu datang kepada
Kami dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan
sebagaimana Kami menciptakan kamu pertama kali. Bahkan dahulu di dunia kamu
menyangka bahwa Kami tidak akan menetapkan waktu bagi kamu untuk dibangkitkan
dan dibalas.” (QS.
Al-Kahfi: 48)
Suasana
menjadi semakin mencekam saat buku catatan amal diberikan kepada setiap orang.
Orang-orang yang berdosa merasa sangat ketakutan melihat rincian perbuatan
mereka yang tercatat dengan sangat teliti, karena tidak ada satu pun dosa kecil
maupun besar yang terlewatkan dari pengawasan Alloh ﷻ.
﴿وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ
مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا
يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ
وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۖ
وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا﴾
“Dan
diletakkanlah buku catatan amal masing-masing orang, lalu engkau akan melihat
orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang tertulis di
dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak
meninggalkan perbuatan kecil dan tidak pula perbuatan besar, melainkan semuanya
tercatat dengan rapi?’ Mereka mendapati semua apa yang telah mereka kerjakan
dahulu hadir di hadapan mereka. Dan Robbmu tidak menzholimi seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)
3.4
Permusuhan Iblis dan Kesesatan Orang-Orang Musyrik (Ayat 50-53)
Akar dari
kesombongan dan penolakan manusia terhadap peringatan Alloh ﷻ sering kali berawal dari
mengikuti bisikan syaithon. Alloh ﷻ mengingatkan kembali tentang permusuhan lama antara Iblis dan
manusia yang bermula sejak penciptaan Nabi Adam ﷺ.
﴿وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ
فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ
أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ
بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا﴾
“Ingatlah
ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam sebagai
bentuk penghormatan,’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari
golongan Jin lalu dia mendurhakai perintah Robbnya. Mengapa kamu menjadikan dia
dan keturunannya sebagai pemimpin-pemimpin yang ditaati selain Aku, padahal
mereka adalah musuh yang nyata bagimu? Alangkah buruknya syaithon itu sebagai
pengganti Alloh bagi orang-orang zholim.” (QS. Al-Kahfi: 50)
Sungguh
aneh manusia yang menyembah Iblis dan bala tentaranya, padahal mereka tidak
memiliki peran sedikit pun dalam penciptaan alam semesta ini. Alloh ﷻ adalah satu-satunya Pencipta
yang tidak membutuhkan bantuan dari makhluk-makhluk yang menyesatkan tersebut.
﴿مَّا أَشْهَدتُّهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَلَا خَلْقَ أَنفُسِهِمْ وَمَا كُنتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا﴾
“Aku
tidak menghadirkan mereka (Iblis dan pengikutnya) untuk menyaksikan penciptaan
langit dan bumi dan tidak pula penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku
menjadikan orang-orang yang menyesatkan itu sebagai pembantu.” (QS. Al-Kahfi: 51)
Pada hari Qiyamat,
Alloh ﷻ akan menantang orang-orang
musyrik untuk memanggil berhala-berhala atau pemimpin-pemimpin yang mereka
sembah di dunia. Namun, segala bentuk peribadatan selain kepada Alloh ﷻ akan sia-sia dan tidak ada
satu pun yang sanggup menolong mereka.
﴿وَيَوْمَ يَقُولُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ
زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُم مَّوْبِقًا﴾
“Ingatlah
pada hari ketika Alloh berfirman: ‘Panggillah olehmu sekutu-sekutu-Ku yang kamu
sangka itu.’ Lalu mereka memanggilnya, tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas
seruan mereka dan Kami adakan tempat kebinasaan yang memisahkan antara mereka
dengan sesembahan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 52)
Kenyataan
pahit akan dihadapi oleh orang-orang yang berdosa saat mereka melihat Naar di
depan mata. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa mereka akan dicampakkan ke
dalamnya tanpa ada jalan keluar sedikit pun.
﴿وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُم
مُّوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا﴾
“Dan
orang-orang yang berdosa melihat Naar, lalu mereka yakin bahwa mereka akan
jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak menemukan tempat untuk berpaling darinya.” (QS. Al-Kahfi: 53)
3.5
Penolakan Terhadap Hidayah dan Kehancuran Negeri (Ayat 54-59)
Alloh ﷻ telah menjelaskan berbagai
macam perumpamaan dan nasihat di dalam Al-Qur’an agar manusia mengambil
pelajaran. Namun, banyak manusia yang justru menutup diri dan lebih
mengutamakan perdebatan yang sia-sia daripada menerima kebenaran.
﴿وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ
مِن كُلِّ مَثَلٍ ۚ
وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا﴾
“Dan
sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang kali kepada manusia dalam Al-Qur’an
ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling
banyak membantah.” (QS.
Al-Kahfi: 54)
Padahal
tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman saat petunjuk telah datang,
melainkan karena sikap keras kepala mereka yang menunggu datangnya adzab
sebagaimana yang menimpa umat-umat terdahulu.
﴿وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَن يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ
الْهُدَىٰ وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلَّا أَن تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ
أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا﴾
“Dan
tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang
kepada mereka dan memohon ampun kepada Robb mereka, kecuali keinginan mereka
untuk menunggu datangnya ketetapan yang telah menimpa umat-umat terdahulu
(berupa kehancuran) atau datangnya adzab kepada mereka secara nyata di hadapan
mereka.” (QS. Al-Kahfi:
55)
Tugas para
Rosul hanyalah sebagai pembawa berita gembira tentang Jannah dan pemberi peringatan
tentang Naar. Namun, orang-orang kafir justru menggunakan kebatilan untuk
mendebat kebenaran dan menjadikan ayat-ayat Alloh ﷻ serta peringatan Nabi ﷺ sebagai bahan ejekan.
﴿وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ
وَمُنذِرِينَ ۚ
وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ ۖ
وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنذِرُوا هُزُوًا﴾
“Dan
tidaklah Kami mengutus para Rosul melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan
pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan alasan yang
batil untuk melenyapkan kebenaran, dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan apa
yang diperingatkan kepada mereka sebagai olok-olokan.” (QS. Al-Kahfi: 56)
Tidak ada
orang yang lebih zholim daripada orang yang telah diingatkan dengan ayat-ayat
Robbnya, namun dia justru berpaling dan melupakan dosa-dosa yang telah
dilakukannya. Akibat dari sikap ini, Alloh ﷻ menutup hati dan pendengaran mereka sehingga hidayah tidak lagi
dapat masuk.
﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ
فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ
إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكْنِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ
وَقْرًا ۖ
وَإِن تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَن يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا﴾
“Dan
siapakah yang lebih zholim daripada orang yang telah diberi peringatan dengan
ayat-ayat Robbnya lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah
dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutup di
atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya, dan Kami letakkan sumbatan
di telinga mereka. Dan meskipun engkau (Muhammad ﷺ) menyeru mereka kepada
petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 57)
Meskipun
manusia berbuat zholim, Alloh ﷻ
tetaplah Robb Yang Maha Pengampun dan memiliki rohmat yang luas. Jika Alloh ﷻ langsung menghukum setiap
kemaksiatan, niscaya manusia sudah binasa sejak lama. Namun, Alloh ﷻ memberikan tangguh hingga
waktu yang telah ditetapkan.
﴿وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ ۖ
لَوْ يُؤَاخِذُهُم بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ ۚ
بَل لَّهُم مَّوْعِدٌ لَّن يَجِدُوا مِن دُونِهِ مَوْئِلًا﴾
“Dan
Robbmu Maha Pengampun lagi memiliki rohmat yang luas. Seandainya Dia menghukum
mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan adzab bagi mereka.
Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk datangnya adzab) yang mereka tidak
akan menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 58)
Kehancuran
negeri-negeri terdahulu adalah bukti nyata bahwa Alloh ﷻ tidak akan membiarkan kezholiman merajalela selamanya. Setiap
kehancuran itu terjadi pada waktu yang telah ditetapkan sebagai pelajaran bagi
orang-orang setelahnya.
﴿وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا
وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِم مَّوْعِدًا﴾
“Dan
penduduk negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zholim,
dan Kami telah menetapkan waktu tertentu bagi kehancuran mereka.” (QS. Al-Kahfi: 59)
Bab 4: Fitnah Ilmu dan Kisah Musa
Bersama Khidhir (Ayat 60-82)
4.1
Tekad Nabi Musa ﷺ dalam Menuntut Ilmu (Ayat
60-65)
Kisah ini
bermula saat Nabi Musa ﷺ
merasa perlu untuk mencari seorang hamba Alloh ﷻ yang memiliki ilmu yang tidak beliau miliki. Dengan tekad yang
kuat, beliau ﷺ
menyampaikan kepada pembantunya, Yusya’ bin Nun, bahwa perjalanan ini tidak
akan dihentikan sampai tujuan tercapai, yaitu tempat bertemunya dua lautan,
meskipun harus menghabiskan waktu bertahun-tahun.
﴿وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ
حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا﴾
“Ingatlah
(wahai Nabi ﷺ)
ketika Musa berkata kepada pembantunya: ‘Aku tidak akan berhenti berjalan
sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan terus berjalan selama
bertahun-tahun sampai aku menemukan hamba yang sholih itu.” (QS. Al-Kahfi: 60)
Perjalanan
panjang pun dilakukan hingga akhirnya mereka berdua sampai di titik pertemuan
dua laut tersebut. Namun, di tempat itulah terjadi sebuah peristiwa di luar
nalar, di mana ikan yang mereka bawa sebagai bekal tiba-tiba hidup kembali dan
melompat menuju laut.
﴿فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا
حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا﴾
“Maka
tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lupa akan ikannya,
lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.” (QS. Al-Kahfi: 61)
Tanpa
menyadari bahwa ikan tersebut telah hilang, mereka terus melanjutkan perjalanan
hingga rasa letih dan lapar mulai terasa. Nabi Musa ﷺ kemudian meminta pembantunya
untuk menyiapkan makanan agar mereka bisa beristirahat sejenak setelah menempuh
perjalanan yang melelahkan ini.
﴿فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا
لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا﴾
“Maka
tatkala mereka telah melewati tempat itu, Musa berkata kepada pembantunya: ‘Bawalah
ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan
kita ini.’” (QS.
Al-Kahfi: 62)
Mendengar
permintaan tersebut, sang pembantu baru teringat akan peristiwa aneh yang
terjadi saat mereka beristirahat di sebuah batu besar sebelumnya. Dia
menjelaskan bahwa syaithon telah membuatnya lupa untuk menceritakan bahwa ikan
bekal mereka telah menghilang secara ajaib ke dalam laut.
﴿قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ
فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ
ۚ
وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا﴾
“Pembantunya
menjawab: ‘Tahukah engkau tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi,
maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang
melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaithon dan ikan itu mengambil jalannya
ke laut dengan cara yang ajaib.’” (QS. Al-Kahfi: 63)
Nabi Musa ﷺ tidak marah, justru beliau ﷺ menyadari bahwa hilangnya
ikan tersebut adalah tanda yang sedang mereka cari sebagai petunjuk lokasi
keberadaan hamba Alloh ﷻ yang berilmu. Maka, mereka
berdua segera berbalik arah mengikuti jejak langkah mereka sebelumnya.
﴿قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ
فَارْتَدَّا عَلَىٰ آثَارِهِمَا قَصَصًا﴾
“Musa
berkata: ‘Itulah tempat yang kita cari.’ Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak
mereka semula.” (QS.
Al-Kahfi: 64)
Setelah
kembali ke batu besar tersebut, mereka akhirnya bertemu dengan seorang hamba yang
sangat istimewa. Alloh ﷻ telah memberikan rohmat yang
besar kepadanya serta mengajarkan ilmu-ilmu ghoib yang tidak diketahui oleh
manusia biasa.
﴿فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ
رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا﴾
“Lalu
mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami
berikan kepadanya rohmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya
ilmu dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahfi: 65)
4.2
Pertemuan Musa dengan Hamba Alloh ﷻ yang
Sholih (Ayat 66-70)
Nabi Musa ﷺ menunjukkan adab yang sangat
mulia dalam menuntut ilmu. Beliau ﷺ meminta izin dengan penuh kelembutan untuk mengikuti hamba sholih
tersebut agar bisa diajarkan sebagian dari ilmu yang telah diberikan Alloh ﷻ kepadanya.
﴿قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ
أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا﴾
“Musa
berkata kepada Khidhir: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan
kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’” (QS. Al-Kahfi: 66)
Hamba sholih
tersebut, yang dikenal sebagai Khidhir, langsung memberikan peringatan awal.
Dia memahami bahwa apa yang akan dilakukan nantinya akan sulit diterima oleh
akal lahiriyah, sehingga Nabi Musa ﷺ mungkin tidak akan sanggup menahan diri untuk tidak bertanya.
﴿قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا﴾
“Dia
menjawab: ‘Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.’” (QS. Al-Kahfi: 67)
Khidhir
menjelaskan alasan ketidaksabaran tersebut adalah karena Nabi Musa ﷺ belum memiliki pengetahuan
yang utuh mengenai hakikat dan tujuan dari perbuatan-perbuatan yang akan
disaksikannya nanti.
﴿وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ
خُبْرًا﴾
“Dan
bagaimana engkau akan sabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahfi: 68)
Mendengar
hal itu, Nabi Musa ﷺ
tetap bertekad kuat. Beliau ﷺ
berjanji dengan menyebut nama Alloh bahwa beliau ﷺ akan berusaha sabar dan tidak
akan menentang perintah atau perbuatan Khidhir selama perjalanan tersebut.
﴿قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا
وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا﴾
“Musa
berkata: ‘In syaa Alloh engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan
aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’” (QS. Al-Kahfi: 67)
Khidhir
akhirnya menerima permohonan tersebut, namun dengan satu syarat yang sangat
ketat. Nabi Musa ﷺ
dilarang keras untuk menanyakan alasan di balik setiap perbuatan yang dilakukan
Khidhir, sampai Khidhir sendiri yang memberikan penjelasannya.
﴿قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي
عَن شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا﴾
“Dia
berkata: ‘Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku
tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’” (QS. Al-Kahfi: 70)
4.3
Ujian Kesabaran dalam Perjalanan Mencari Hikmah (Ayat 71-77)
Perjalanan
pun dimulai dengan menaiki sebuah perahu. Namun, baru saja perjalanan
berlangsung, Khidhir tiba-tiba melubangi perahu tersebut. Tindakan ini membuat
Nabi Musa ﷺ
merasa heran dan spontan menegur karena perbuatan itu dianggap bisa
membahayakan nyawa para penumpang perahu.
﴿فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ
خَرَقَهَا ۖ
قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا﴾
“Maka
berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhir
melubanginya. Musa berkata: ‘Mengapa engkau melubangi perahu itu yang akibatnya
engkau menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu
kesalahan yang besar.’” (QS. Al-Kahfi: 71)
Khidhir
segera mengingatkan Nabi Musa ﷺ
akan janji yang telah dibuat sebelumnya bahwa beliau ﷺ tidak akan mampu bersikap
sabar.
﴿قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ
مَعِيَ صَبْرًا﴾
“Dia
(Khidhir) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya engkau tidak akan
sabar bersamaku?’’”
(QS. Al-Kahfi: 72)
Menyadari
kekhilafannya, Nabi Musa ﷺ
memohon maaf dan meminta agar Khidhir tidak menghukumnya karena lupa, serta
tidak memberikan beban yang terlalu berat dalam proses belajarnya ini.
﴿قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا
تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا﴾
“Musa
berkata: ‘Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau
membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’” (QS. Al-Kahfi: 73)
Mereka pun
melanjutkan perjalanan hingga bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang
bermain. Tanpa alasan yang tampak secara lahiriyah, Khidhir membunuh anak
tersebut. Peristiwa ini sangat mengguncang Nabi Musa ﷺ karena beliau ﷺ melihat hal itu sebagai sebuah
kemungkaran besar berupa pembunuhan terhadap jiwa yang suci.
﴿فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا
فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا
نُّكْرًا﴾
“Maka
berjalankah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak,
lalu Khidhir membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa engkau membunuh jiwa yang
bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya engkau telah
melakukan suatu perbuatan yang sangat mungkar.’” (QS. Al-Kahfi: 74)
Untuk kedua
kalinya, Khidhir memberikan teguran yang lebih tegas atas ketidaksabaran Nabi
Musa ﷺ
dalam mengikuti proses belajar yang luar biasa ini.
﴿قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ
مَعِيَ صَبْرًا﴾
“Khidhir
berkata: ‘Bukankah sudah aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya engkau tidak
akan sabar bersamaku?’” (QS. Al-Kahfi: 75)
Merasa
sangat bersalah karena telah dua kali melanggar janji, Nabi Musa ﷺ memberikan batasan terakhir
bagi dirinya sendiri. Beliau ﷺ
menyatakan bahwa jika sekali lagi beliau ﷺ bertanya, maka Khidhir berhak untuk memutuskan kebersamaan
mereka.
﴿قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا
تُصَاحِبْنِي ۖ
قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي عُذْرًا﴾
“Musa
berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka
janganlah engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah
cukup toleran dalam menerima alasan-alasan dariku.’” (QS. Al-Kahfi: 76)
Perjalanan
berlanjut sampai mereka tiba di sebuah negeri. Meskipun mereka dalam keadaan
sangat lapar dan meminta jamuan sebagai tamu, penduduk negeri itu justru
menolak dengan kasar. Namun, Khidhir justru memperbaiki sebuah dinding rumah
yang hampir roboh di negeri tersebut tanpa meminta imbalan apa pun. Hal ini
kembali memancing Nabi Musa ﷺ
untuk bertanya karena beliau ﷺ
merasa penduduk yang pelit itu tidak layak dibantu secara cuma-cuma.
﴿فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ
اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ
أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ ۖ
قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا﴾
“Maka
keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri,
mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu
tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu
dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa
berkata: ‘Jikalau engkau mau, niscaya engkau mengambil upah untuk itu.’” (QS. Al-Kahfi: 77)
4.4
Penyingkapan Rahasia di Balik Perbuatan Khidhir (Ayat 78-82)
Pertanyaan
ketiga ini menjadi tanda berakhirnya perjalanan mereka berdua. Khidhir
menyatakan bahwa inilah saatnya bagi mereka untuk berpisah, namun sebelum itu,
Khidhir akan menjelaskan seluruh hikmah dari perbuatan-perbuatan yang telah
membuat Nabi Musa ﷺ
tidak sanggup bersabar.
﴿قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ ۚ
سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا﴾
“Khidhir
berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberitahukan
kepadamu tujuan dari perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.’” (QS. Al-Kahfi: 78)
Mengenai
perahu yang dilubangi, ternyata itu adalah cara untuk menyelamatkan harta milik
orang-orang miskin. Di depan mereka ada seorang raja zholim yang merampas
setiap perahu yang kondisinya baik. Dengan adanya cacat pada perahu tersebut,
sang raja tidak akan tertarik untuk mengambilnya.
﴿أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ
يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ
يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا﴾
“Adapun
perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku
bertujuan merusakkan perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang
merampas tiap-tiap perahu.” (QS. Al-Kahfi: 79)
Adapun
mengenai anak yang dibunuh, Khidhir menjelaskan bahwa anak tersebut memiliki
watak kekafiran. Jika dia dibiarkan hidup, dia akan tumbuh menjadi beban bagi
kedua orang tuanya yang beriman dan akan memaksa mereka menuju kesesatan dan
kekufuran.
﴿وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ
فَخَشِينَا أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا﴾
“Dan
adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang Mu’min, dan kami
khawatir bahwa dia akan membebani kedua orang tuanya itu dengan kedurhakaan dan
kekafiran.” (QS.
Al-Kahfi: 80)
Pembunuhan
tersebut dilakukan agar Alloh ﷻ
menggantikan anak itu dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya, lebih taat,
dan lebih berkasih sayang kepada orang tuanya.
﴿فَأَرَدْنَا أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا
مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا﴾
“Dan
kami menghendaki, supaya Robb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain
yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya
(kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 81)
Terakhir,
mengenai dinding rumah yang diperbaiki, ternyata di bawahnya tersimpan harta
karun milik dua anak yatim. Alloh ﷻ ingin menjaga harta itu sampai mereka dewasa karena ayah mereka
adalah seorang yang sholih. Perbuatan Khidhir ini adalah bentuk kasih sayang
Alloh ﷻ dan semua yang dilakukan
Khidhir bukanlah atas kemauan sendiri, melainkan atas perintah-Nya.
﴿وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ
فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ
رَبُّكَ أَن يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ
ۚ
وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ
ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا﴾
“Adapun
dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di
bawahnya ada harta simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang
yang sholih, maka Robbmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya
dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rohmat dari Robbmu; dan bukanlah aku
melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan
perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 82)
Bab 5: Fitnah Kekuasaan dan Kisah
Dzulqornain (Ayat 83-101)
5.1
Kepemimpinan Dzulqornain dan Perjalanannya (Ayat 83-91)
Kisah
berlanjut pada permintaan kaum musyrik dan Yahudi yang ingin menguji kenabian
Muhammad ﷺ
dengan bertanya tentang seorang penguasa besar masa lalu. Alloh ﷻ pun menurunkan wahyu untuk
menjelaskan jati diri raja yang sholih tersebut agar menjadi pelajaran bagi
umat manusia.
﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ
قُلْ سأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا﴾
“Dan
mereka bertanya kepadamu (Muhammad ﷺ) tentang Dzulqornain. Katakanlah: ‘Aku
akan bacakan kepadamu sebagian kisahnya sebagai peringatan dan pelajaran.’” (QS. Al-Kahfi: 83)
Dzulqornain
bukanlah penguasa biasa yang mengandalkan kekuatan fisik semata. Alloh ﷻ telah memberikan kemantapan
kedudukan baginya di bumi serta membekalinya dengan berbagai ilmu, sarana, dan
jalan untuk mencapai segala sesuatu yang dia tuju guna menebarkan keadilan.
﴿إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ
مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا﴾
“Sesungguhnya
Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan
kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkannya.” (QS. Al-Kahfi: 84)
Dengan
segala fasilitas yang Alloh ﷻ
berikan, dia pun memulai ekspedisi besarnya menuju arah barat dengan mengikuti
jalan yang telah tersedia.
﴿فَأَتْبَعَ سَبَبًا﴾
“Maka
dia pun menempuh suatu jalan.” (QS. Al-Kahfi: 85)
Perjalanan
itu membawanya hingga ke ujung daratan di sebelah barat. Di sana, dia
menyaksikan pemandangan matahari yang tampak seolah-olah terbenam di dalam
sumber air yang berlumpur hitam. Di wilayah tersebut, dia bertemu dengan suatu
kaum yang kafir, lalu Alloh ﷻ
memberikan pilihan kepadanya untuk menghukum mereka atau membimbing mereka
dengan kebaikan.
﴿حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا
تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِندَهَا قَوْمًا ۗ
قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَن تَتَّخِذَ فِيهِمْ
حُسْنًا﴾
“Hingga
ketika dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihatnya terbenam
di dalam air yang berlumpur hitam, dan di sana dia menemukan suatu kaum. Kami
berfirman: ‘Wahai Dzulqornain, engkau boleh menghukum mereka atau boleh berbuat
kebaikan kepada mereka.’” (QS. Al-Kahfi: 86)
Sebagai
pemimpin yang adil, Dzulqornain menetapkan prinsip hukum yang tegas. Dia tidak
akan membiarkan kezholiman merajalela, namun dia juga menjanjikan perlindungan
bagi mereka yang mau kembali pada kebenaran. Orang yang tetap dalam kesyirikan
akan dihukum di dunia, dan kelak di Akhiroh akan menghadapi adzab yang lebih
pedih dari Robbnya.
﴿قَالَ أَمَّا مَن ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ
ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُّكْرًا﴾
“Dzulqornain
berkata: ‘Adapun orang yang berbuat zholim, maka kami akan menghukumnya,
kemudian dia akan dikembalikan kepada Robbnya, lalu Alloh akan mengadzabnya
dengan adzab yang sangat keras.’” (QS. Al-Kahfi: 87)
Sebaliknya,
pintu kasih sayang selalu terbuka bagi siapa saja yang mau beriman dan beramal
Sholih. Mereka tidak hanya akan selamat dari hukuman, tetapi juga akan
mendapatkan balasan terbaik serta kemudahan dalam setiap urusan di bawah
kepemimpinannya.
﴿وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ
جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ
وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا﴾
“Dan
adapun orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, maka dia akan mendapat
balasan yang terbaik (Jannah) sebagai pahala, dan akan kami sampaikan kepadanya
perintah kami yang mudah-mudah.” (QS. Al-Kahfi: 88)
Setelah
menyelesaikan urusan di wilayah barat, Dzulqornain kembali melanjutkan
perjalanannya dengan menempuh jalan lain menuju arah yang berbeda.
﴿ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا﴾
“Kemudian
dia menempuh jalan yang lain lagi.” (QS. Al-Kahfi: 89)
Kali ini
perjalanannya mencapai ujung daratan di sebelah timur, tempat matahari terbit.
Di sana dia menemukan sebuah kaum yang hidup dalam kondisi sangat sederhana.
Mereka tinggal di padang terbuka tanpa memiliki bangunan atau pepohonan yang
bisa melindungi tubuh mereka dari sengatan panas matahari.
﴿حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا
تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَّمْ نَجْعَل لَّهُم مِّن دُونِهَا سِتْرًا﴾
“Hingga
ketika dia sampai ke tempat terbitnya matahari, dia melihatnya menyinari suatu
kaum yang tidak Kami jadikan bagi mereka pelindung darinya (panas matahari).” (QS. Al-Kahfi: 90)
Dzulqornain
memperlakukan kaum di timur tersebut dengan kebijaksanaan yang sama sebagaimana
kaum di barat. Alloh ﷻ menegaskan bahwa segala
kekuatan, jumlah pasukan, dan apa yang dilakukan oleh raja ini berada dalam
pengawasan dan ilmu-Nya yang sangat luas.
﴿كَذَٰلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا﴾
“Demikianlah,
dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala sesuatu yang ada padanya.” (QS. Al-Kahfi: 91)
5.2
Pembuatan Dinding Besi untuk Menahan Ya’juj dan Ma’juj (Ayat 92-98)
Perjalanan
Dzulqornain terus berlanjut hingga dia menempuh jalur ketiga yang membawanya ke
suatu wilayah yang terpencil dan sulit dijangkau.
﴿ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا﴾
“Kemudian
dia menempuh suatu jalan lagi.” (QS. Al-Kahfi: 92)
Dia sampai
di suatu daerah yang diapit oleh dua gunung yang sangat tinggi dan besar. Di
sana dia bertemu dengan sekelompok penduduk yang memiliki bahasa yang sangat
asing dan sulit dipahami oleh orang luar, menunjukkan betapa terisolasinya
mereka dari dunia luar.
﴿حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ
مِن دُونِهِمَا قَوْمًا لَّا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا﴾
“Hingga
ketika dia sampai di antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua gunung
itu suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.” (QS. Al-Kahfi: 93)
Setelah
melalui komunikasi yang sulit, kaum tersebut mengadukan penderitaan mereka
akibat ulah Ya’juj dan Ma’juj yang sering melakukan kerusakan dan pembunuhan.
Mereka bahkan menawarkan harta sebagai imbalan agar Dzulqornain bersedia
membangunkan sebuah tembok pembatas yang kokoh demi keamanan mereka.
﴿قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ
وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَن تَجْعَلَ
بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا﴾
“Mereka
berkata: ‘Wahai Dzulqornain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang
yang berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami memberimu imbalan agar
engkau membuatkan dinding pembatas antara kami dan mereka?’” (QS. Al-Kahfi: 94)
Dzulqornain
menunjukkan sifat qona’ah (merasa cukup) dan kemuliaan hati. Dia menolak
imbalan tersebut karena merasa pemberian dan kekuasaan dari Alloh ﷻ sudah jauh lebih dari cukup.
Dia hanya meminta bantuan fisik dan tenaga dari penduduk tersebut untuk
merealisasikan pembangunan benteng pertahanan itu.
﴿قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي
بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا﴾
“Dia
(Dzulqornain) berkata: ‘Apa yang telah dianugerahkan Robbku kepadaku lebih baik
(daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan (tenaga dan alat-alat),
agar aku dapat membuatkan dinding pemisah antara kamu dan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 95)
Proses
pembangunan pun dimulai dengan teknik yang sangat maju pada masanya. Dia
memerintahkan pengumpulan potongan-potongan besi untuk menutupi celah di antara
kedua gunung tersebut. Setelah besi tertumpuk tinggi, dia memerintahkan untuk
meniupkan api hingga besi itu membara, lalu menyiramnya dengan tembaga cair
sehingga menjadi dinding yang sangat solid dan tak tertembus.
﴿آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ
حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا ۖ
حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا﴾
“Berilah
aku potongan-potongan besi. Hingga ketika (potongan besi) itu telah sama rata
dengan kedua puncak gunung itu, dia berkata: ‘Tiuplah (api).’ Hingga ketika
(besi) itu sudah menjadi merah seperti api, dia berkata: ‘Berilah aku tembaga
cair agar aku tuangkan ke atasnya.’” (QS. Al-Kahfi: 96)
Benteng itu
terbukti sangat efektif. Ya’juj dan Ma’juj yang dikenal sangat beringas pun
tidak mampu mendaki dinding yang licin itu, dan tidak pula sanggup melubanginya
karena ketebalan dan kekuatannya yang luar biasa.
﴿فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا
لَهُ نَقْبًا﴾
“Maka
mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak sanggup mendakinya dan tidak sanggup (pula)
melubanginya.” (QS.
Al-Kahfi: 97)
Meskipun
telah berhasil membangun karya yang sangat hebat, Dzulqornain tidak sedikit pun
merasa sombong. Dia segera mengembalikan segala keberhasilan itu kepada rohmat
Alloh ﷻ semata. Dia juga mengingatkan
bahwa dinding yang sangat kokoh itu pun suatu saat akan hancur dan rata dengan
tanah apabila janji Alloh ﷻ
tentang datangnya hari Qiyamat telah tiba.
﴿قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي ۖ
فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ
وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا﴾
“Dia
(Dzulqornain) berkata: ‘(Dinding) ini adalah rohmat dari Robbku, maka apabila
janji Robbku sudah datang, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji
Robbku itu adalah benar.’” (QS. Al-Kahfi: 98)
5.3
Terbukanya Dinding di Akhir Zaman dan Siksaan Kafir (Ayat 99-101)
Alloh ﷻ memberikan gambaran tentang
peristiwa setelah jebolnya dinding tersebut di akhir zaman. Manusia akan keluar
dalam jumlah yang sangat besar dan berdesak-desakan bagaikan gelombang laut
yang saling bertabrakan satu sama lain. Puncaknya adalah ketika sangkakala
ditiup sebagai pertanda dimulainya hari kebangkitan, di mana seluruh makhluk
dikumpulkan tanpa terkecuali.
﴿وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي
بَعْضٍ ۖ
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا﴾
“Dan
pada hari itu Kami biarkan mereka (manusia) berbaur satu sama lain bagaikan
gelombang, dan (apabila) sangkakala ditiup, maka Kami kumpulkan mereka
semuanya.” (QS. Al-Kahfi:
99)
Pada hari
yang sangat berat itu, kenyataan yang selama ini diingkari oleh orang-orang
kafir akan nampak dengan sangat jelas. Naar Jahanam akan diperlihatkan secara
nyata di hadapan mereka sebagai tempat kembali yang telah disiapkan bagi mereka
yang mendustakan ayat-ayat-Nya.
﴿وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِّلْكَافِرِينَ
عَرْضًا﴾
“Dan
Kami perlihatkan Naar Jahanam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan
jelas.” (QS. Al-Kahfi:
100)
Adzab
tersebut adalah balasan yang adil bagi mereka yang selama hidup di dunia
menutup mata dari tanda-tanda kebesaran Alloh ﷻ. Hati mereka seolah tertutup oleh selaput yang menghalangi
mereka untuk berdzikir dan merenungi wahyu, serta telinga mereka seolah tuli
sehingga enggan mendengarkan seruan para Rosul.
﴿الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ
عَن ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا﴾
“(Yaitu)
orang-orang yang mata (hati) mereka dalam keadaan tertutup dari memperhatikan
peringatan-Ku, dan mereka tidak sanggup mendengar (kebenaran).” (QS. Al-Kahfi: 101)
Bab 6: Balasan Amal dan Tauhid
Sebagai Penutup (Ayat 102-110)
6.1
Kerugian Bagi Mereka yang Merasa Berbuat Baik (Ayat 102-106)
Alloh ﷻ memberikan peringatan kepada
orang-orang kafir yang menyangka bahwa mereka bisa menjadikan hamba-hamba-Nya,
baik itu Malaikat, Nabi, maupun wali, sebagai pelindung yang bisa memberikan
manfaat atau menolak mudhorot selain Dia. Persangkaan itu adalah sebuah
kesalahan besar, karena sesungguhnya Alloh ﷻ telah menyediakan Naar Jahanam bagi orang-orang kafir tersebut
sebagai tempat tinggal yang penuh kehinaan.
﴿أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن يَتَّخِذُوا
عِبَادِي مِن دُونِي أَوْلِيَاءَ ۚ
إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا﴾
“Maka
apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil
hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan
Naar Jahanam bagi orang-orang kafir sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 102)
Agar
manusia tidak terjatuh dalam kesia-siaan, Alloh ﷻ memerintahkan Nabi ﷺ untuk bertanya kepada kaumnya tentang golongan yang paling
merugi dalam urusan amal perbuatannya. Pertanyaan ini bertujuan untuk menarik
perhatian agar mereka merenungi kondisi diri mereka sendiri.
﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا﴾
“Katakanlah
(wahai Muhammad ﷺ):
‘Maukah kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?’” (QS.
Al-Kahfi: 103)
Golongan
yang paling merugi adalah mereka yang selama hidup di dunia telah berusaha
keras melakukan berbagai macam perbuatan, namun seluruh usaha mereka itu
sia-sia dan tersesat dari jalan yang benar. Tragedi terbesarnya adalah mereka
merasa bahwa apa yang mereka lakukan sudah sangat baik dan benar, padahal semua
itu tidak didasari oleh Iman dan mengikuti tuntunan Rosul ﷺ.
﴿الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾
“(Yaitu)
orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan
mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 104)
Penyebab
utama hancurnya amalan mereka adalah karena mereka mengingkari ayat-ayat Alloh ﷻ serta tidak percaya akan
adanya pertemuan dengan-Nya di hari Akhiroh. Akibat kekafiran tersebut, seluruh
amal kebajikan yang pernah mereka lakukan di dunia menjadi hapus tak tersisa,
sehingga pada hari Qiyamat kelak, amalan mereka tidak memiliki timbangan atau
nilai sedikit pun di sisi Alloh ﷻ.
﴿أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ
وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا﴾
“Mereka
itulah orang-orang yang telah kafir terhadap ayat-ayat Robb mereka dan (kufur
terhadap) pertemuan dengan-Nya, maka gugurlah amal-amal mereka, dan Kami tidak
memberikan timbangan bagi (amal) mereka pada hari Qiyamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)
Balasan
yang setimpal bagi mereka adalah Naar Jahanam. Siksaan ini mereka dapatkan
bukan hanya karena kekafiran yang mereka pelihara, tetapi juga karena
kelancangan mereka yang menjadikan ayat-ayat Alloh ﷻ dan para utusan-Nya sebagai bahan ejekan dan olok-olokan.
﴿ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا
وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا﴾
“Demikianlah
balasan mereka itu adalah Naar Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan
disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan Rosul-rosul-Ku sebagai olok-olokan.” (QS. Al-Kahfi: 106)
6.2
Kenikmatan Bagi Penghuni Jannah Firdaus (Ayat 107-108)
Berbeda
jauh dengan nasib orang-orang kafir, Alloh ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang benar-benar beriman
di dalam hatinya dan membuktikan keimanan tersebut dengan melakukan amal-amal sholih.
Bagi mereka telah disiapkan Jannah Firdaus, yang merupakan tingkat Jannah yang
paling tinggi dan paling utama, sebagai tempat tinggal untuk memuliakan mereka.
﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, bagi mereka disediakan
Jannah Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)
Di dalam
Jannah tersebut, mereka akan hidup kekal untuk selama-lamanya. Kenikmatan yang
mereka rasakan begitu sempurna sehingga mereka tidak pernah merasa bosan dan
tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk pindah ke tempat yang lain.
﴿خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا﴾
“Mereka
kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya.” (QS. Al-Kahfi: 108)
6.3
Keluasan Kalimat Alloh ﷻ dan
Perintah Ikhlas (Ayat 109-110)
Untuk
menggambarkan betapa luasnya ilmu dan keagungan firman-firman Alloh ﷻ, Dia memberikan sebuah
perumpamaan yang luar biasa. Seandainya air laut di seluruh dunia ini dijadikan
tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Alloh ﷻ, maka seluruh air laut itu akan habis sebelum
kalimat-kalimat-Nya selesai ditulis, meskipun didatangkan lagi lautan lain
sebanyak itu sebagai tambahannya.
﴿قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ
رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ
مَدَدًا﴾
“Katakanlah
(wahai Muhammad ﷺ):
‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Robbku, sungguh
habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Robbku, meskipun
Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).’” (QS. Al-Kahfi: 109)
Sebagai
penutup surat yang mulia ini, Alloh ﷻ memerintahkan Nabi ﷺ untuk menegaskan jati diri beliau ﷺ sebagai manusia biasa seperti
manusia lainnya, namun yang membedakannya adalah beliau ﷺ dipilih untuk menerima wahyu.
Inti dari wahyu tersebut adalah bahwa sesembahan yang benar bagi seluruh
manusia hanyalah Yang Maha Esa. Oleh karena itu, siapa pun yang mengharapkan
pertemuan dengan Robbnya di Akhiroh dengan penuh rasa senang, maka dia wajib
melakukan amal sholih yang sesuai syariat dan tidak menyekutukan Alloh ﷻ dengan sesuatu pun dalam
beribadah kepada-Nya, baik syirik besar maupun kecil.
﴿قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ
إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ
بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾
“Katakanlah
(wahai Muhammad ﷺ):
‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Dzat Yang Esa’. Barangsiapa
mengharap pertemuan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih
dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Allohu
a’lam.[NK]
