[PDF] Rohmat Alloh Mendahului dan Mengalahkan Murka-Nya - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ
yang telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri sifat Rohmat yang luas. Robb yang
kasih sayang-Nya mendahului kemurkaan-Nya, dan ampunan-Nya mengalahkan
siksaan-Nya.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi ﷺ, sang pembawa risalah Rohmat
bagi semesta alam, juga kepada para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, para
Tabi’in, dan seluruh pengikut mereka yang setia hingga hari Qiyamah.
Amma
ba’du:
Urgensi
membahas tema tentang Rohmat Alloh ﷻ yang mendahului dan
mengalahkan murka-Nya adalah karena kebutuhan setiap jiwa manusia terhadap
harapan. Di tengah gempuran fitnah, tumpukan dosa, dan rasa gundah, seorang
hamba sangat mudah terjerumus ke dalam jurang keputusasaan. Syaithon senantiasa
membisikkan bahwa pintu taubat telah tertutup dan Robb tidak akan lagi
memaafkan kesalahan. Namun, dengan memahami hakikat Hadits yang menjadi poros
buku ini, seorang Mu’min akan menyadari bahwa pintu kasih sayang Alloh ﷻ jauh
lebih lebar daripada luasnya langit dan bumi. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَرَحْمَتِي
وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ﴾
“Dan
Rohmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’rof: 156)
Ayat ini
merupakan bukti nyata bahwa tidak ada satu pun makhluk yang lepas dari sentuhan
kasih sayang-Nya.
Ayat ini
mencakup seluruh alam, baik yang taat maupun yang bermaksiat di dunia ini.
Keluasan Rohmat ini adalah pondasi utama dalam mengenal Robb (Ma’rifatullah),
sehingga seorang hamba tidak akan merasa takut secara berlebihan yang
menyebabkannya lari dari agama, dan tidak pula merasa aman secara berlebihan
yang menyebabkannya meremehkan dosa.
Tema ini
juga sangat mendesak untuk dikaji guna meluruskan persepsi tentang sifat-sifat
Alloh ﷻ.
Sebagian orang mungkin hanya membayangkan Alloh ﷻ sebagai Dzat yang Maha Pedih
siksa-Nya, sehingga mereka kehilangan gairah dalam beribadah. Padahal, Alloh ﷻ
telah menegaskan dalam Kitab-Nya yang mulia:
﴿نَبِّئْ
عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ * وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ﴾
“Kabarkanlah
kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS.
Al-Hijr: 49-50)
Perhatikan
bagaimana Alloh ﷻ
mendahului penyebutan sifat Pengampun dan Penyayang sebelum menyebutkan tentang
adzab. Ini adalah isyarat halus bagi setiap Muslim bahwa harapan harus selalu
ada.
Ayat ini
memberikan pemahaman yang seimbang bagi manusia agar mereka senantiasa berada
di antara rasa harap dan rasa takut.
Buku ini
disusun untuk memberikan penjelasan (syarah) yang mendalam terhadap dua riwayat
Hadits shohih yang sangat agung. Hadits pertama yang diriwayatkan oleh
Al-Bukhori (256 H) menyebutkan:
«لَمَّا
قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إِنَّ
رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي»
“Ketika
Alloh menyelesaikan penciptaan, Dia menulis dalam Kitab-Nya – dan Kitab
itu ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy – ‘Sesungguhnya Rohmat-Ku mengalahkan
murka-Ku.’” (HR. Al-Bukhori no. 3194)
Adapun
riwayat kedua menegaskan hal yang serupa dengan penekanan pada waktu penulisannya:
«إِنَّ
اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الخَلْقَ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ
غَضَبِي، فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ»
“Sesungguhnya
Alloh menulis sesuatu sebelum Dia menciptakan makhluk: ‘Sesungguhnya
Rohmat-Ku mendahului murka-Ku.’ Maka Kitab itu tertulis di sisi-Nya di atas ‘Arsy.”
(HR. Al-Bukhori no. 7554)
Isi global dari buku ini akan membedah setiap untaian kata
dalam Hadits tersebut secara sistematis. Pembahasan akan dimulai dari Bab 1
yang mengupas tentang keagungan Kitab yang ada di sisi-Nya. Ini bukan sekadar
tulisan biasa, melainkan ketetapan yang diletakkan di tempat yang paling mulia,
yaitu di atas ‘Arsy. Penulis akan menjelaskan kedudukan ‘Arsy sebagai makhluk
yang paling tinggi dan bagaimana Kitab tersebut menjadi bukti kemurahan Robb
bagi seluruh alam.
Selanjutnya, pada Bab 2, akan dibahas mengenai penetapan
sifat Rohmat dan Murka bagi Alloh ﷻ. Penting bagi seorang Muslim untuk
meyakini sifat-sifat ini sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyamakan-Nya
dengan makhluk. Kita akan melihat bagaimana para Salaf memahami bahwa Rohmat
adalah sifat Dzat sekaligus sifat perbuatan Alloh ﷻ yang membawa manfaat
bagi para hamba.
Bab 3 dan Bab 4 merupakan inti dari buku ini, yaitu
penjelasan mengenai makna “mendahului” (sabaqot) dan “mengalahkan” (gholabat).
Mengapa Rohmat dikatakan mendahului murka? Hal ini dikaitkan dengan tujuan
utama penciptaan yang didasari oleh kasih sayang, bukan untuk menyiksa. Sifat
Rohmat telah ada dan menyertai hamba sejak sebelum hamba tersebut melakukan
kesalahan yang mengundang murka. Adapun makna “mengalahkan” menunjukkan
dominasi kasih sayang-Nya dalam memperlakukan hamba, seperti pemberian pahala
yang dilipatgandakan sedangkan dosa hanya dicatat satu kali.
Pada Bab 5, pembaca akan diajak menyelami pembagian Rohmat
Alloh ﷻ
yang berjumlah 100 bagian. Kita akan merenungkan bagaimana 1 bagian Rohmat yang
diturunkan ke dunia telah mampu membuat seekor binatang buas menyayangi
anaknya, lalu bagaimana dahsyatnya 99 bagian sisanya yang dipersiapkan Alloh ﷻ
untuk para Mu’min di hari pembalasan nanti. Rosululloh ﷺ bersabda:
«جَعَلَ
اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا،
وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الخَلْقُ،
حَتَّى تَرْفَعَ الفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا، خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ»
“Alloh
menjadikan Rohmat itu 100 bagian. Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan
menurunkan ke bumi 1 bagian. Dari 1 bagian itulah seluruh makhluk saling
berkasih sayang, sampai-sampai seekor binatang mengangkat kakinya dari anaknya
karena takut akan menginjaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 6000 dan Muslim no.
2752)
Bab 6 akan menjelaskan
hubungan antara keadilan Robb dengan luasnya Rohmat-Nya. Kita akan
memahami bahwa masuknya seseorang ke dalam Jannah bukanlah semata-mata karena
amalannya, melainkan karena Rohmat Alloh ﷻ yang meliputinya.
Amal hanyalah sebab, namun penentu utamanya adalah karunia Robb semesta alam.
Terakhir, pada Bab 7, buku ini akan memaparkan dampak nyata
dari keimanan terhadap tema ini dalam kehidupan seorang Muslim. Bagaimana
seseorang membangun husnuzhon (prasangka baik) kepada Alloh ﷻ,
menjaga keseimbangan mental agar tidak sombong saat beramal dan tidak hancur
saat jatuh dalam dosa, serta senantiasa memiliki optimisme dalam menatap masa
depan di Akhiroh.
Alloh ﷻ telah mewajibkan diri-Nya untuk bersikap
kasih sayang, sebagaimana firman-Nya:
﴿كَتَبَ
رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ﴾
“Robb kalian telah menetapkan atas diri-Nya sendiri sifat
Rohmat.” (QS. Al-An’am: 54)
Bab 1: Keagungan
Kitab di Sisi Alloh ﷻ di Atas
‘Arsy
1.1 Hakikat Penulisan Takdir Sebelum Penciptaan
Seluruh Makhluk
Keimanan terhadap penulisan takdir merupakan salah satu
rukun iman yang sangat fundamental. Sebelum Alloh ﷻ
menciptakan langit, bumi, dan segala isinya, Dia telah menetapkan segala
sesuatu yang akan terjadi dalam sebuah Kitab yang sangat agung. Penulisan ini berasal
dari ilmu Alloh ﷻ yang Maha Luas dan meliputi segala sesuatu
yang telah, sedang, dan akan terjadi. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَلَمْ
تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي
كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾
“Tidakkah
kamu tahu bahwa Alloh mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sesungguhnya
yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh).
Sesungguhnya yang demikian itu bagi Alloh sangat mudah.” (QS. Al-Hajj: 70)
Ayat ini
menegaskan bahwa segala peristiwa, sekecil apa pun, tidak luput dari ilmu-Nya
dan telah terdokumentasi dengan rapi. Ibnu Abbas (68 H) menyebutkan:
«إِنَّ اللهَ خَلَقَ لَوْحًا مَحْفُوظًا مِنْ دُرَّةٍ بَيْضَاءَ صَفَحَاتُهَا
مِنْ يَاقُوتَةٍ حَمْرَاءَ، قَلَمُهُ نُورٌ، لِلَّهِ فِيهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ سِتُّونَ
وَثَلَاثُمِائَةِ لَحْظَةٍ، يَخْلُقُ وَيَرْزُقُ وَيُمِيتُ وَيُحْيِي وَيُعِزُّ وَيُذِلُّ
وَيَفْعَلُ مَا يَشَاءُ»
“Sungguh
Alloh menciptakan Lauh Mahfuzh dari mutiara putih, lembaran-lembarannya dari
yaqut merah, penanya adalah cahaya. Alloh memiliki padanya setiap hari 360
perhatian: Dia menciptakan, memberi rezeki, mematikan, menghidupkan,
memuliakan, menghinakan, dan melakukan apa saja yang Dia kehendaki.” (HR.
Ath-Thobaroni fil Kabir, no. 12511, lemah, dihasankan Suyuthi)
Mengenai
waktu penulisan takdir ini, Rosululloh ﷺ memberikan penjelasan yang sangat rinci dalam sebuah hadits:
«كَتَبَ
اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ
أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»
“Alloh
telah menulis takdir-takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit
dan bumi. Sementara ‘Arsy-Nya berada di atas air.” (HR. Muslim no. 2653)
Hadits ini
menunjukkan betapa dahulunya rencana Alloh ﷻ bagi makhluk-Nya. Penulisan
ini mencakup rezeki, ajal, amal perbuatan, hingga kebahagiaan atau kesengsaraan
seseorang di Akhiroh. Penulisan takdir ini menunjukkan kesempurnaan hikmah dan
kekuasaan Robb. Tidak ada satu pun atom yang bergerak di alam semesta ini
melainkan telah tertulis dalam Kitab tersebut.
Keberadaan
Kitab ini juga menjadi jaminan bagi seorang Muslim agar tidak merasa putus asa
atas apa yang luput darinya dan tidak sombong atas apa yang didapatkannya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿مَا
أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ
قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ * لِكَيْلَا تَأْسَوْا
عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ﴾
“Setiap
bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah
tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. Agar kamu tidak bersedih hati
terhadap apa yang luput darimu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang
diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 22-23)
Dengan
mengetahui bahwa segala sesuatu telah tertulis, hati seorang hamba akan menjadi
tenang. Dia menyadari bahwa apa yang menimpanya tidak akan pernah meleset
darinya, dan apa yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya. Inilah
landasan utama bagi seorang hamba untuk senantiasa bersandar hanya kepada Alloh
ﷻ.
Ulama
berselisih pendapat apakah Kitab tersebut Lauh Mahfuzh atau Kitab khusus?
Kebanyakan ulama berpendapat Lauh Mahfuzh, seperti yang disampaikan Ibnu Hajar
dalam Fathul Bari.
1.2
Kedudukan ‘Arsy Sebagai Makhluk Terbesar dan Tertinggi
Dalam
memahami letak Kitab yang berisi tentang dominasi Rohmat Alloh ﷻ,
kita perlu mengenal keagungan tempat di mana Kitab itu berada, yaitu di atas ‘Arsy.
‘Arsy adalah makhluk Alloh ﷻ yang paling besar, paling tinggi, dan merupakan atap dari
seluruh ciptaan. Keagungan ‘Arsy menunjukkan keagungan Penciptanya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَتَعَالَى
اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ﴾
“Maka Maha
Tinggi Alloh, Raja yang sebenarnya; tidak ada ilah yang berhak disembah selain
Dia, Robb yang memiliki ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mu’minun: 116)
Sifat ‘Arsy
dalam ayat ini disebut sebagai Al-Karim (yang mulia), yang menunjukkan
keindahan dan kedudukannya yang sangat istimewa di sisi Alloh ﷻ.
Perbandingan antara ‘Arsy dengan makhluk lainnya sangatlah jauh. Rosululloh ﷺ memberikan gambaran melalui
sabdanya:
«مَا
السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ فِي أَرْضٍ فَلَاةٍ وَفَضْلُ
الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ، كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ»
“Tidaklah
langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi melainkan seperti cincin yang
dilemparkan ke atas padang pasir. Dan besarnya ‘Arsy dibandingkan dengan Kursi
adalah seperti besarnya padang pasir yang luas dibandingkan dengan cincin tersebut.”
(HR. Ibnu Hibban no. 361, Ash-Shohihah no. 109)
Bayangkan
betapa kecilnya bumi dan langit jika dibandingkan dengan Kursi, dan betapa
kecilnya Kursi jika dibandingkan dengan ‘Arsy. Hal ini memberikan gambaran
kepada kita tentang betapa agungnya singgasana Alloh ﷻ. ‘Arsy juga merupakan tempat
Alloh ﷻ
beristiwa (berada di atas) setelah menciptakan langit dan bumi. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿الرَّحْمَنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾
“(Alloh)
Yang Maha Pengasih, yang berada di atas ‘Arsy Dia beristiwa.” (QS. Thoha: 5)
Istiwanya
Alloh ﷻ
di atas ‘Arsy adalah hakiki sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupai
makhluk (tasybih), tanpa meniadakan sifat (ta’thil), dan tanpa
menanyakan bagaimananya (takyif). Imam Malik (179 H) ketika ditanya
tentang istiwa berkata: “Istiwa itu maklum (diketahui maknanya), bagaimananya
adalah majhul (tidak diketahui), mengimaninya adalah wajib, dan bertanya
tentangnya (takyif) adalah bid’ah.”
‘Arsy juga
dikelilingi oleh para Malaikat yang senantiasa bertasbih dan memohonkan ampunan
bagi orang-orang yang beriman. Alloh ﷻ berfirman:
﴿الَّذِينَ
يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ
بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا﴾
“Malaikat-Malaikat
yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji
Robbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang
yang beriman.” (QS. Ghofir: 7)
Keterkaitan
antara ‘Arsy dengan permohonan ampun Malaikat menunjukkan bahwa di tempat yang
paling tinggi itu, sifat Rohmat dan ampunan Alloh ﷻ sangatlah dominan. ‘Arsy
menjadi saksi atas penulisan janji Alloh ﷻ bahwa Rohmat-Nya akan selalu
mengalahkan murka-Nya.
1.3
Keberadaan Kitab di Sisi Robb di Atas Singgasana-Nya
Hadits
utama yang menjadi pokok bahasan buku ini menyebutkan bahwa Kitab yang berisi
ketetapan Rohmat tersebut berada “di sisi-Nya di atas ‘Arsy”. Hal ini
menunjukkan betapa istimewanya ketetapan tersebut di mata Alloh ﷻ.
Mari kita perhatikan lafazh haditsnya:
«لَمَّا
قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إِنَّ
رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي»
“Ketika
Alloh menyelesaikan penciptaan (atau ketika hendak menciptakan),
Dia menulis dalam Kitab-Nya – dan Kitab itu ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy – ‘Sesungguhnya
Rohmat-Ku mengalahkan murka-Ku.’” (HR. Al-Bukhori no. 3194)
Frasa “di
sisi-Nya” (inda-Hu) menunjukkan kedekatan dan kemuliaan Kitab tersebut.
Ini merupakan sebuah dokumen “Piagam Kasih Sayang” yang diletakkan di tempat
paling sakral di seluruh alam semesta. Keberadaan Kitab ini di atas ‘Arsy
adalah untuk menunjukkan bahwa Rohmat adalah pondasi dari segala urusan
makhluk-Nya yang diatur dari singgasana tersebut.
Penyebutan “di
atas ‘Arsy” juga mengisyaratkan bahwa Rohmat Alloh ﷻ adalah sesuatu yang paling
tinggi derajatnya. Jika murka Alloh ﷻ adalah sebuah sifat yang adil
bagi para penentang, maka Rohmat-Nya adalah karunia yang melampaui segalanya.
Dalam riwayat lain disebutkan:
«إِنَّ
اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الخَلْقَ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ
غَضَبِي، فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ»
“Sesungguhnya
Alloh menulis sesuatu sebelum Dia menciptakan makhluk: ‘Sesungguhnya Rohmat-Ku
mendahului murka-Ku.’ Maka Kitab itu tertulis di sisi-Nya di atas ‘Arsy.” (HR.
Al-Bukhori no. 7554)
Penulisan
ini dilakukan dengan sangat rahasia dan mulia. Kata “mendahului” (sabaqot)
berarti bahwa tuntutan Rohmat lebih dahulu sampai kepada makhluk daripada
tuntutan murka. Sebagai contoh, Alloh ﷻ memberi manusia kehidupan,
kesehatan, dan rezeki terlebih dahulu sebelum manusia itu diuji dengan perintah
dan larangan yang jika dilanggar bisa mendatangkan murka.
Keberadaan
Kitab ini di atas ‘Arsy juga memberikan rasa aman bagi hamba yang bertaubat.
Seolah-olah Alloh ﷻ
ingin mengatakan kepada hamba-Nya: “Janganlah engkau berputus asa, karena
keputusan tertinggi-Ku yang tertulis di tempat tertinggi adalah bahwa Rohmat-Ku
selalu menang atas murka-Ku.”
Kebahagiaan
seorang hamba tergantung pada sejauh mana dia mengenal sifat-sifat Robb-Nya.
Ketika dia tahu bahwa di atas ‘Arsy sana tertulis janji kasih sayang, maka
hatinya akan terbang menuju Robb-Nya dengan rasa cinta dan rindu.
Mari kita
renungkan, jika seorang raja di dunia menuliskan sebuah dekrit pengampunan dan
meletakkannya di tempat yang paling terhormat di istananya, tentu rakyatnya
akan merasa sangat tenang. Maka bagaimana dengan Penguasa seluruh alam yang
telah menuliskan dekrit Rohmat-Nya dan meletakkannya di atas ‘Arsy yang agung?
Ini adalah berita gembira yang paling besar bagi setiap Muslim.
Penulisan
Kitab ini merupakan bentuk janji Alloh ﷻ yang tidak akan
pernah berubah. Janji ini menjadi dasar bagi seluruh hukum alam dan hukum syari’at.
Setiap tetes hujan, setiap tarikan nafas, dan setiap kesempatan taubat adalah
cabang dari tulisan yang ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy tersebut. Oleh karena
itu, Bab 1 ini menjadi pembuka yang sangat penting agar kita menyadari bahwa
sejak awal penciptaan, arah dari segala takdir adalah menuju kasih sayang-Nya,
selama hamba tersebut tidak menutup pintu itu sendiri dengan kekufuran.
Bab 2: Penetapan
Sifat Rohmat dan Murka bagi Alloh ﷻ
2.1 Keyakinan Ahlus Sunnah Terhadap Sifat-Sifat
Robb yang Sempurna
Landasan utama dalam memahami hubungan antara Rohmat dan
murka Alloh ﷻ adalah dengan mengimani seluruh Nama dan
Sifat-Nya sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ahlus
Sunnah wal Jama’ah menetapkan sifat-sifat tersebut tanpa melakukan tahrif (pengubahan
makna), ta’thil (penolakan), takyif (menanyakan bagaimana
hakikatnya), maupun tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Alloh ﷻ berfirman:
﴿لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Ash-Shuro: 11)
Ayat ini
merupakan kaidah agung dalam menetapkan sifat bagi Robb. Sifat Rohmat dan Murka
yang dimiliki-Nya adalah nyata dan sesuai dengan keagungan-Nya, bukan
sebagaimana kasih sayang atau kemarahan yang dirasakan oleh makhluk yang penuh
dengan kelemahan. Nu’aim bin Hammad (228 H) —guru Al-Bukhori (256 H)— berkata:
«مَنْ
شَبَّهَ اللَّهَ بِشَيْءٍ مِنْ خَلْقِهِ فَقَدْ كَفَرَ، وَمَنْ أَنْكَرَ مَا وَصَفَ
اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ فَقَدْ كَفَرَ، فَلَيْسَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ وَرَسُولُهُ
تَشْبِيهٌ»
“Barang
siapa menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Barang siapa
mengingkari apa yang Alloh sifati untuk diri-Nya sendiri, maka dia telah kafir.
Dan tidaklah apa yang Alloh sifati untuk diri-Nya maupun apa yang disifatkan
oleh Rosul-Nya merupakan bentuk penyerupaan.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis
Sunnah, Al-Lalaka’i, 3/587, shohih)
Penetapan
sifat ini penting karena Rohmat dan Murka adalah sifat perbuatan (Sifat Fi’liyyah)
yang berkaitan dengan kehendak Alloh ﷻ. Sejak azali Dzat Alloh
disifati Rohmat dan ia senantiasa memberi Rohmat kepada makhluk-Nya, maka
Rohmat adalah sifat Dzat sekaligus fi’liyyah. Berbeda dengan Murka, yang
merupakan sifat fi’liyyah saja.
Setiap Mukmin
wajib meyakini bahwa Alloh ﷻ benar-benar menyayangi hamba yang Dia kehendaki dan benar-benar
murka kepada hamba yang pantas mendapatkannya. Keyakinan ini akan melahirkan
ketundukan yang sempurna. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا﴾
“Hanya
milik Alloh Nama-Nama yang terbaik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
Nama-Nama itu.” (QS. Al-A’rof: 180)
Dengan
mengenal sifat-sifat Robb, seorang hamba akan beribadah dengan kesadaran penuh.
Dia mengetahui bahwa Robb yang dia sembah bukanlah Dzat yang kaku atau tidak
memiliki perasaan (istilah Jahmiyyah), melainkan Robb yang aktif berbuat,
memberi nikmat karena Rohmat-Nya, dan memberi sanksi karena keadilan serta
kemurkaan-Nya.
2.2
Luasnya Rohmat Alloh ﷻ
yang Meliputi Segala Sesuatu
Rohmat
Alloh ﷻ
adalah sifat yang paling luas cakupannya di alam semesta. Tidak ada satu pun
sudut di langit maupun di bumi melainkan di sana terdapat jejak kasih
sayang-Nya. Alloh ﷻ
telah menetapkan hal ini secara mutlak dalam firman-Nya:
﴿وَرَحْمَتِي
وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ﴾
“Dan
Rohmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’rof: 156)
Keluasan
ini mencakup pemberian rezeki, penjagaan, hidayah, hingga kesempatan bertaubat
bagi para pendosa. Bahkan hewan melata di kedalaman lautan atau serangga di
bawah bebatuan tetap mendapatkan bagian dari Rohmat-Nya. Para Malaikat pemikul ‘Arsy
pun mengakui hal ini dalam doa mereka:
﴿رَبَّنَا
وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا
سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ﴾
“Wahai Robb
kami, Rohmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada
orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari
adzab Naar yang menyala-nyala.” (QS. Ghofir: 7)
Betapa
agungnya Rohmat ini tergambar dalam perlakuan Alloh ﷻ kepada para hamba-Nya di
dunia. Rosululloh ﷺ
pernah melihat seorang wanita tawanan perang yang mencari anaknya dengan cemas.
Begitu menemukannya, wanita itu langsung memeluk dan menyusuinya. Rosululloh ﷺ bertanya kepada para
Shohabat:
«أَتُرَوْنَ
هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ» قُلْنَا: لاَ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ
لاَ تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»
“Apakah
kalian mengira wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami
menjawab: “Tidak, demi Alloh, selama dia mampu untuk tidak melemparkannya.”
Maka Nabi bersabda: “Sungguh, Alloh lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya
melebihi kasih sayang wanita ini kepada anaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 5999
dan Muslim no. 2754)
Contoh
nyata dari luasnya Rohmat Alloh ﷻ adalah penundaan hukuman bagi
orang-orang yang bermaksiat. Jika Alloh ﷻ menghukum setiap dosa secara
langsung, niscaya tidak ada makhluk yang tersisa di muka bumi. Namun, karena
Rohmat-Nya, Dia memberikan tempo agar hamba tersebut kembali. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَوْ
يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ
يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى﴾
“Jikalau
Alloh menghukum manusia karena kezholimannya, niscaya tidak akan
ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Alloh
menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan.” (QS. An-Nahl: 61)
Luasnya
Rohmat ini juga terlihat pada pembagian pahala. Satu kebaikan dilipatgandakan
menjadi 10 hingga 700 kali lipat, bahkan lebih. Sementara satu kejelekan hanya
dicatat satu kali, dan itu pun masih bisa dihapus dengan taubat atau amal
sholih lainnya. Rohmat Alloh ﷻ adalah nafas bagi kehidupan; tanpa Rohmat-Nya, seluruh alam
akan hancur seketika karena beban dosa manusia.
2.3
Hakikat Murka Alloh ﷻ
dan Keadilan-Nya bagi Para Pendosa
Meskipun
Rohmat-Nya meliputi segala sesuatu, Alloh ﷻ juga memiliki sifat Murka (Ghodhob).
Murka Alloh ﷻ
bukanlah emosi yang meledak-ledak tanpa alasan sebagaimana manusia, melainkan
sifat yang didasari oleh keadilan yang sempurna. Alloh ﷻ murka kepada mereka yang
menyekutukan-Nya, menentang perintah-Nya, dan menzholimi sesama makhluk tanpa
mau bertaubat. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَنْ
يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى﴾
“Dan barang
siapa ditimpa oleh murka-Ku, maka sungguh binasalah dia.” (QS. Thoha: 81)
Kebinasaan
dalam ayat ini mencakup kerugian di dunia dan siksaan di Akhiroh. Murka Alloh ﷻ
adalah nyata bagi mereka yang secara sadar memilih jalan kesesatan setelah
datangnya petunjuk. Rosululloh ﷺ sering berdoa agar berlindung dari kemurkaan-Nya:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ»
“Ya Alloh,
sesungguhnya aku berlindung dengan ridho-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan
keselamatan-Mu dari hukuman-Mu.” (HR. Muslim no. 486)
Keadilan
Alloh ﷻ
mengharuskan adanya perbedaan perlakuan antara orang yang taat dan orang yang
durhaka. Jika tidak ada murka dan adzab, maka tidak ada keadilan bagi mereka
yang dizholimi. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَفَنَجْعَلُ
الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ * مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ﴾
“Maka
apakah patut Kami menjadikan orang-orang Muslim itu sama dengan orang-orang
yang berdosa? Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimanakah kamu mengambil
keputusan?” (QS. Al-Qolam: 35-36)
Murka Alloh
ﷻ
juga menjadi peringatan agar manusia tidak meremehkan batasan-batasan-Nya.
Namun, di balik kemurkaan tersebut, pintu Rohmat tetap terbuka lebar bagi siapa
saja yang mau menyesal. Inilah keunikan hubungan antara dua sifat ini. Murka
Alloh ﷻ
adalah peringatan, sedangkan Rohmat-Nya adalah tujuan.
Ibnu
Taimiyah (728 H) menyebutkan bahwa murka Alloh ﷻ muncul karena adanya sebab
dari hamba (yaitu dosa), sedangkan Rohmat Alloh ﷻ muncul karena kemurahan
Dzat-Nya sendiri tanpa harus ada sebab dari hamba.
Contoh dari
murka Alloh ﷻ
yang berujung pada keadilan adalah apa yang menimpa kaum-kaum terdahulu seperti
kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum Luth. Mereka mendapatkan peringatan berkali-kali
melalui para Rosul, namun mereka memilih untuk sombong dan menantang. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَلَمَّا
آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ﴾
“Maka
tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka, lalu Kami
tenggelamkan mereka semuanya (di laut).” (QS. Az-Zukhruf: 55)
Imam
Al-Baghowi (516 H) menafsirkan kata “aasafuuna” sebagai “membuat Kami
murka”. Meskipun demikian, murka Alloh ﷻ ini tetap berada di bawah
kendali Rohmat-Nya dalam arti bahwa Alloh ﷻ tidak menyiksa sebelum
mengutus Rosul dan memberi penjelasan. Ini adalah bentuk Rohmat di tengah
kemurkaan.
Dengan memahami Bab 2 ini, seorang Muslim akan memiliki
landasan aqidah yang kokoh. Dia tidak akan lancang terhadap Alloh ﷻ
karena takut akan murka-Nya yang pedih, namun dia juga tidak akan pernah
berputus asa karena tahu bahwa di balik awan kemurkaan itu, matahari Rohmat
Alloh ﷻ
selalu siap menyinari siapa saja yang kembali kepada-Nya dengan hati yang
tulus. Rohmat adalah sifat asal yang senantiasa ada, sedangkan murka adalah
sifat yang muncul karena sebab tertentu yang diletakkan pada tempatnya demi
tegaknya keadilan di alam semesta.
Bab 3: Keagungan
Kitab di Sisi Alloh ﷻ di Atas
‘Arsy
3.1 Rohmat Sebelum Terciptanya Sebab-Sebab
Kemurkaan
Sifat Rohmat merupakan sifat yang melekat pada Dzat Alloh ﷻ secara azali, yang artinya telah ada tanpa ada permulaan.
Sebelum adanya makhluk yang melakukan ketaatan atau kemaksiatan, Alloh ﷻ telah menetapkan bahwa Dzat-Nya adalah Maha Penyayang. Hal ini
menunjukkan bahwa Rohmat tidak bergantung pada amal perbuatan makhluk,
melainkan murni kemurahan dari Robb. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿كَتَبَ
رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ﴾
“Robb kalian telah menetapkan atas diri-Nya sendiri sifat
Rohmat.” (QS. Al-An’am: 54)
Ayat ini bermakna Alloh ﷻ
mewajibkan diri-Nya sendiri untuk memiliki sifat Rohmat sebagai bentuk anugerah
bagi para hamba. Penetapan ini dilakukan sebelum adanya sebab-sebab yang
mendatangkan kemurkaan, seperti kemaksiatan manusia. Dalam hadits shohih disebutkan:
«إِنَّ
اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الخَلْقَ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ
غَضَبِي»
“Sesungguhnya
Alloh menulis sesuatu sebelum Dia menciptakan makhluk: ‘Sesungguhnya Rohmat-Ku
mendahului murka-Ku.’” (HR. Al-Bukhori no. 7554)
Hadits ini
menjadi bukti kuat bahwa Rohmat telah ada dan menjadi pondasi sebelum dunia
diciptakan. Murka Alloh ﷻ baru muncul ketika ada makhluk yang menyimpang dari jalan-Nya,
sedangkan Rohmat sudah menyelimuti semesta sejak awal. Sebagai contoh,
perhatikan bagaimana Alloh ﷻ menyediakan bumi yang hampar, air yang jernih, dan udara yang
segar sebelum manusia pertama diciptakan. Semua fasilitas kehidupan ini adalah
bentuk Rohmat yang mendahului keberadaan manusia itu sendiri.
Rohmat
adalah asal dari segala sesuatu, sedangkan murka adalah hal yang datang
kemudian karena adanya sebab dari perbuatan hamba yang melampaui batas.
3.2
Hikmah di Balik Sifat Sabaqot (Mendahului) dalam Penciptaan
Sifat
mendahuluinya Rohmat atas murka mengandung hikmah yang sangat besar bagi
kelangsungan hidup makhluk. Jika murka Alloh ﷻ mendahului Rohmat-Nya,
niscaya tidak akan pernah ada kesempatan bagi seorang pun untuk hidup atau
bertaubat. Alloh ﷻ
mendahulukan Rohmat agar setiap hamba memiliki kesempatan untuk mengenal
Robb-Nya dan kembali kepada-Nya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَرَحْمَتِي
وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ﴾
“Dan
Rohmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’rof: 156)
Keluasan
Rohmat ini mendahului segala bentuk adzab. Hal ini terlihat pada bagaimana
Alloh ﷻ
mengutus para Rosul untuk memberi peringatan sebelum memberikan hukuman.
Peringatan itu sendiri adalah bentuk Rohmat. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَا
كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا﴾
“Dan Kami
tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang Rosul.” (QS. Al-Isro’: 15)
Hikmah dari
didahulukannya Rohmat adalah agar hujjah (bukti) tegak atas manusia dan agar
mereka menyadari bahwa tujuan penciptaan mereka adalah untuk mendapatkan kasih
sayang-Nya, bukan untuk disiksa. Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat
bagaimana seorang bayi yang baru lahir belum memiliki dosa sama sekali, namun
dia langsung mendapatkan Rohmat Alloh ﷻ berupa kasih sayang dari
orang tuanya dan air susu yang melimpah. Hal ini membuktikan bahwa Rohmat Robb
mendahului segala bentuk ujian atau cobaan yang mungkin datang kemudian hari.
3.3
Keunggulan Sifat Rohmat dalam Urutan Kehendak Robb
Dalam
urutan kehendak-Nya, Rohmat menempati posisi yang paling utama. Segala sesuatu
yang ditakdirkan oleh Alloh ﷻ, meskipun nampaknya pahit, pada hakikatnya bersumber dari
Rohmat-Nya yang sangat dalam. Keunggulan ini ditegaskan dalam sabda Nabi ﷺ:
«جَعَلَ
اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا،
وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا»
“Alloh
menjadikan Rohmat itu 100 bagian. Maka Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan
menurunkan ke bumi 1 bagian.” (HR. Al-Bukhori no. 6000)
Pembagian
ini menunjukkan bahwa porsi Rohmat yang Alloh ﷻ miliki jauh melampaui
segalanya. Sifat Murka-Nya hanya ditujukan kepada orang yang keras kepala dalam
kekufuran, sedangkan Rohmat-Nya tersedia bagi siapa saja.
Didahulukannya
Rohmat menunjukkan bahwa sifat tersebut adalah sifat yang paling disenangi oleh
Alloh ﷻ
untuk diberikan kepada para hamba-Nya.
Bukti
keunggulan Rohmat dalam kehendak Robb juga terlihat pada bagaimana Alloh ﷻ
memperlakukan hamba yang bertaubat. Sebesar apa pun murka Alloh ﷻ
terhadap seorang pendosa, murka itu akan langsung padam seketika hamba tersebut
bersujud dengan penyesalan. Nabi ﷺ bersabda:
«لَلَّهُ
أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ
عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ»
“Sungguh
Alloh lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika hamba itu bertaubat
kepada-Nya, daripada kegembiraan salah seorang di antara kalian yang menemukan
kembali untanya yang hilang di padang pasir yang luas.” (HR. Muslim no.
2747)
Kegembiraan
Alloh ﷻ
ini menunjukkan bahwa Rohmat adalah kehendak yang paling dominan. Ibnu Hajar
(852 H) menjelaskan bahwa kata “mendahului” dalam hadits utama menunjukkan
bahwa Rohmat lebih cepat sampai kepada hamba daripada hukuman. Alloh ﷻ
memberikan ribuan ni’mat tanpa diminta, namun Dia hanya memberikan satu adzab
setelah adanya pelanggaran yang berkali-kali. Inilah bukti bahwa dalam tatanan
kehendak Ilahi, Rohmat selalu berada di barisan terdepan, menyambut setiap jiwa
yang ingin mendekat kepada Sang Kholiq. Kesadaran akan urutan kehendak ini
seharusnya membuat setiap Muslim merasa optimis bahwa Robb yang mereka sembah
adalah Robb yang lebih suka memaafkan daripada menghukum.
Bab 4: Penjelasan Makna Rohmat
Alloh ﷻ Mengalahkan Murka-Nya
4.1
Kuatnya Sifat Pengampun dan Pemaaf di Atas Siksa dan Hukuman
Sifat Alloh
ﷻ
yang paling menonjol dalam memperlakukan hamba-Nya yang berdosa adalah
pemberian maaf dan ampunan. Makna bahwa Rohmat mengalahkan murka adalah bahwa
Alloh ﷻ
lebih suka memberikan maaf daripada menjatuhkan hukuman. Hal ini merupakan
bentuk kemurahan yang tidak bertepi bagi setiap makhluk yang mau kembali
kepada-Nya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ
اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾
“Sesungguhnya
Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di
bawah syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)
Ayat ini
berkaitan dengan syirik yang belum ditaubati hingga mati. Adapun dosa besar
yang dibawa mati tanpa taubat, ada potensi diampuni Alloh. Lantas bagaimana
jika bertaubat sebelum mati?
Dominasi Rohmat
terlihat ketika Alloh ﷻ
tetap memberikan rizqi dan kesehatan kepada hamba yang setiap hari bermaksiat
kepada-Nya. Hukuman seringkali ditangguhkan agar hamba tersebut memiliki
kesempatan untuk bertaubat. Ketetapan ini selaras dengan sifat Alloh ﷻ yaitu
Al-Ghofur (Maha Pengampun) dan Al-Affuw (Maha Pemaaf). Rosululloh ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits
yang sangat agung:
«قَالَ
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي
غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ
ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلَا أُبَالِي»
“Alloh Tabaroka
wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa
kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa yang ada padamu dan
Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai setinggi
langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku
tidak peduli.’” (HSR. At-Tirmidzi no. 3540)
Contoh
nyata dari Rohmat yang mengalahkan murka adalah kisah seorang lelaki yang telah
membunuh 100 nyawa. Meskipun dosanya sangat besar dan telah melampaui batas,
namun ketika dia berniat bertaubat dan melangkahkan kaki menuju tanah yang
sholih, Alloh ﷻ
menerima taubatnya. Bahkan dalam perselisihan antara Malaikat Rohmat dan
Malaikat Adzab, Alloh ﷻ
memerintahkan bumi untuk mendekat ke arah tujuan taubat lelaki tersebut agar
dia mendapatkan Rohmat-Nya. Nabi ﷺ bersabda:
«فَأَوْحَى
اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَقَرَّبِي، وَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَبَاعَدِي،
وَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَهُمَا، فَوُجِدَ إِلَى هَذِهِ أَقْرَبَ بِشِبْرٍ، فَغُفِرَ
لَهُ»
“Maka Alloh
mewahyukan kepada bumi ini (tempat maksiat) agar menjauh, dan kepada bumi ini
(tempat ketaatan) agar mendekat. Lalu Alloh berfirman: ‘Ukurlah jarak antara
keduanya.’ Ternyata dia ditemukan lebih dekat ke bumi ketaatan sejauh satu
jengkal, maka dia pun diampuni.” (HR. Al-Bukhori no. 3470 dan Muslim no.
2766)
Kejadian
ini menunjukkan bahwa murka Alloh ﷻ atas pembunuhan 100 nyawa
dikalahkan oleh Rohmat-Nya yang menyambut satu niat taubat yang tulus.
Jika bukan
karena Rohmat yang mengalahkan murka, niscaya satu dosa saja sudah cukup untuk
membinasakan manusia selamanya.
4.2
Bukti Keunggulan Rohmat dalam Catatan Amal dan Pembalasan
Salah satu
bentuk Rohmat yang paling nyata adalah aturan dalam pencatatan amal manusia.
Alloh ﷻ
memberlakukan sistem yang sangat menguntungkan hamba-Nya sebagai bukti bahwa
kasih sayang-Nya lebih dominan daripada keadilan murni yang mengharuskan
pembalasan yang setimpal. Alloh ﷻ berfirman:
﴿مَنْ
جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا
يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾
“Barang
siapa membawa amal kebaikan maka baginya 10 kali lipat amalnya, dan barang
siapa membawa amal kejelekan maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang
dengan kejelekannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dizholimi.” (QS.
Al-An’am: 160)
Lipat ganda
pahala ini adalah tanda bahwa Alloh ﷻ sangat ingin hamba-Nya masuk
ke dalam Jannah. Sebaliknya, satu kejelekan hanya dihitung satu dan bahkan bisa
dihapus hanya dengan satu niat penyesalan. Rosululloh ﷺ menjelaskan hal ini secara
mendalam dalam sebuah Hadits Qudsi:
«إِنَّ
اللَّهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ
فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ
هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ
مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ»
“Sesungguhnya
Alloh menulis kebaikan dan kejelekan lalu menjelaskannya. Barang siapa berniat
melakukan kebaikan namun tidak mengamalkannya, Alloh mencatat di sisi-Nya
sebagai satu kebaikan sempurna. Jika dia berniat lalu mengamalkannya, Alloh
mencatat di sisi-Nya 10 kebaikan hingga 700 kali lipat bahkan hingga pelipatan
yang sangat banyak.” (HR. Al-Bukhori no. 6491 dan Muslim no. 131)
Adapun
mengenai dosa, Nabi ﷺ
melanjutkan:
«وَمَنْ
هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً،
فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً»
“Dan barang
siapa berniat melakukan kejelekan namun tidak jadi mengamalkannya (karena takut
kepada Alloh), Alloh mencatat di sisi-Nya sebagai satu kebaikan sempurna. Jika
dia berniat lalu mengamalkannya, Alloh mencatatnya sebagai satu kejelekan saja.”
(HR. Al-Bukhori no. 6491)
Ketentuan
ini adalah bukti bahwa Rohmat-Nya benar-benar mengalahkan murka-Nya dalam
timbangan amal. Sistem ini menunjukkan bahwa maksud asli dari penciptaan adalah
untuk pemberian ni’mat, sedangkan adzab hanyalah pengecualian bagi mereka yang
benar-benar menolak Rohmat tersebut. Seseorang yang kejelekannya masih mampu
mengalahkan kebaikannya yang telah dilipatgandakan 10 kali lipat, maka sungguh
dia adalah orang yang benar-benar celaka.
Selain itu,
Rohmat juga mengalahkan murka dalam hal penghapusan dosa melalui ujian. Setiap
musibah yang menimpa seorang Muslim, sekecil apa pun itu, merupakan cara Alloh ﷻ
menghapus kesalahan agar hamba tersebut tidak ditimpa murka di Akhiroh. Nabi ﷺ bersabda:
«مَا
يُصِيبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى
وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»
“Tidaklah
seorang Muslim tertimpa keletihan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan,
maupun kesusahan, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan
menghapuskan kesalahan-kesalahannya dengan hal tersebut.” (HR. Al-Bukhori
no. 5641 dan Muslim no. 2573)
4.3
Alasan Mengapa Rohmat Menjadi Sifat yang Lebih Dominan
Dominannya
sifat Rohmat atas Murka memiliki landasan yang kuat dalam sifat kedzatian Alloh
ﷻ.
Para ulama menjelaskan bahwa Rohmat adalah konsekuensi dari kemurahan Dzat
Alloh ﷻ
yang tidak membutuhkan sebab dari makhluk untuk ada. Sedangkan Murka adalah
sifat yang muncul karena adanya sebab dari perbuatan buruk makhluk. Ibnu
Taimiyah (728 H) menyebutkan bahwa Rohmat adalah tuntutan dari Dzat-Nya,
sedangkan Murka adalah tuntutan dari keadilan-Nya terhadap perbuatan hamba.
Sifat
Rohmat melekat pada setiap ciptaan sejak awal, sebagaimana Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَرَحْمَتِي
وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ﴾
“Dan
Rohmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’rof: 156)
Keluasan
ini tidak dimiliki oleh sifat Murka. Murka Alloh ﷻ tidak meliputi segala
sesuatu, melainkan hanya terbatas pada mereka yang berhak menerimanya.
Sebaliknya, Rohmat-Nya mencakup orang Mu’min, orang kafir, hewan, dan
tumbuh-tumbuhan dalam hal pemberian rizqi dan penjagaan di dunia.
Kata “mengalahkan”
(gholabat) dalam Hadits utama berarti bahwa pengaruh dan atsar dari Rohmat jauh
lebih banyak dan lebih kuat di alam semesta ini daripada pengaruh Murka.
Bahkan di
dalam Naar sekalipun, Rohmat Alloh ﷻ tetap berlaku bagi para Ahli
Tauhid yang masih memiliki iman sekecil biji sawi. Alloh ﷻ akan
mengeluarkan mereka dari siksaan karena Rohmat-Nya yang mengalahkan murka atas
dosa-dosa mereka. Nabi ﷺ
bersabda tentang syafaat Alloh ﷻ di hari Qiyamah:
«شَفَعَتِ
الْمَلَائِكَةُ، وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا
أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ، فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا
لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ قَدْ عَادُوا حُمَمًا»
“Para
Malaikat telah memberi syafaat, para Nabi telah memberi syafaat, dan
orang-orang beriman telah memberi syafaat. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali
Dzat yang Paling Penyayang di antara para penyayang (Arhamur Rohimin). Maka Dia
mengambil satu genggaman dari Naar dan mengeluarkan darinya kaum yang tidak
pernah beramal kebaikan sedikit pun (namun masih memiliki iman), yang sudah
menjadi arang.” (HR. Muslim no. 183)
Ini adalah
puncak dari pembuktian bahwa Rohmat Alloh ﷻ mengalahkan murka-Nya. Bahkan
ketika keadilan mengharuskan seseorang berada di Naar, Rohmat-Nya yang luas
masih mampu menjangkau mereka. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan akhir dari
seluruh pengaturan alam semesta ini adalah kembalinya makhluk kepada kasih
sayang Sang Pencipta.
Kesimpulannya,
Rohmat menjadi dominan karena ia adalah sifat yang dicintai oleh Alloh ﷻ
untuk diberikan, sedangkan Murka adalah sifat yang Alloh ﷻ
tidak sukai untuk dilakukan kecuali jika terpaksa karena kezholiman hamba-Nya.
Alloh ﷻ
lebih bergembira dengan taubat seorang hamba daripada menghukumnya. Dengan
memahami dominasi Rohmat ini, seorang Muslim akan selalu memiliki harapan (Roja’)
yang kuat bahwa selama dia masih bernafas, pintu kemurahan Robb-Nya tetap lebih
besar daripada tumpukan kesalahannya.
Bab 5: Pembagian Rohmat Alloh ﷻ Menjadi 100 Bagian
5.1
Satu Bagian Rohmat untuk Kehidupan Seluruh Makhluk di Dunia
Keluasan
Rohmat Alloh ﷻ
yang kita saksikan di alam semesta ini, mulai dari kasih sayang antarmanusia
hingga kelembutan hewan terhadap anaknya, pada hakikatnya hanyalah satu bagian
kecil dari totalitas Rohmat yang Alloh ﷻ miliki. Rosululloh ﷺ telah memberikan gambaran
yang sangat menakjubkan mengenai pembagian ini guna menunjukkan betapa
melimpahnya kasih sayang Robb semesta alam. Beliau bersabda:
«إِنَّ
لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ
وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا
تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً،
يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Sesungguhnya
Alloh memiliki 100 Rohmat. Dia menurunkan satu Rohmat di antaranya ke
tengah-tengah jin, manusia, binatang ternak, dan hewan-hewan melata. Dengan
satu Rohmat itulah mereka saling berlemah lembut, dengan satu Rohmat itu mereka
saling menyayangi, dan dengan satu Rohmat itu pula hewan buas menyayangi
anaknya.” (HR. Muslim no. 2752)
Satu bagian
Rohmat ini mencakup seluruh ni’mat duniawi yang dirasakan oleh seluruh makhluk
tanpa terkecuali, baik yang beriman maupun yang kafir, baik manusia maupun
binatang. Adanya rasa aman, kecukupan pangan, keindahan alam, serta keteraturan
tata surya adalah tetesan dari satu bagian Rohmat tersebut. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَانْظُرْ
إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا﴾
“Maka
perhatikanlah atsar (bekas-bekas) Rohmat Alloh, bagaimana Dia menghidupkan bumi
setelah matinya.” (QS. Ar-Rum: 50)
Hujan yang
turun dan tumbuhnya pepohonan adalah bukti nyata dari Rohmat-Nya yang
menghidupkan apa yang sebelumnya mati. Bayangkan, jika satu bagian Rohmat saja
sudah mampu menciptakan keharmonisan di seluruh penjuru bumi selama ribuan
tahun, maka betapa tidak terbatasnya hakikat Rohmat Alloh ﷻ
secara keseluruhan.
Bahkan,
pemberian rizqi kepada orang-orang yang mengingkari Alloh ﷻ dan
menyembah selain-Nya adalah bagian dari satu Rohmat ini. Alloh ﷻ
tetap memberikan mereka udara untuk bernafas dan makanan untuk bertahan hidup
meskipun mereka mencela-Nya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ، يَدَّعُونَ لَهُ الوَلَدَ، ثُمَّ
يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ»
“Tidak ada
seorang pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengarnya melebihi Alloh.
Sesungguhnya mereka menganggap Dia memiliki anak, namun Dia tetap memberikan
mereka kesehatan dan rizqi.” (HR. Al-Bukhori no. 7378 dan Muslim no. 2804)
Pemberian rizqi
kepada musuh-musuh-Nya ini adalah bentuk Rohmat duniawi yang mendahului
murka-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa di dunia ini, Rohmat Alloh ﷻ
bersifat umum (rohmatul ‘ammah) yang meliputi seluruh makhluk agar
mereka memiliki kesempatan untuk menyadari kebenaran.
5.2
Penyimpanan 99 Bagian Rohmat untuk Para Mu’min di Hari Qiyamah
Bagian yang
paling menggembirakan bagi setiap Muslim adalah kabar bahwa Alloh ﷻ
menyimpan 99 bagian Rohmat lainnya untuk diberikan secara khusus pada hari
Qiyamah. Di saat setiap jiwa merasa ketakutan, matahari didekatkan, dan
keringat menenggelamkan manusia sesuai amalannya, di situlah 99 bagian Rohmat
ini akan diturunkan. Nabi ﷺ
bersabda:
«وَأَخَّرَ
اللَّهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Dan Alloh
menunda 99 Rohmat yang dengannya Dia menyayangi hamba-hamba-Nya pada hari
Qiyamah.” (HR. Muslim no. 2752)
Penyimpanan
99 bagian ini menunjukkan bahwa kasih sayang Alloh ﷻ di Akhiroh jauh lebih dahsyat
dan lebih luas daripada apa yang kita rasakan di dunia. Jika satu bagian saja
sudah cukup untuk miliaran makhluk sejak awal zaman hingga akhir zaman, maka 99
bagian adalah jaminan keselamatan yang luar biasa bagi kaum Mu’minin. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَكَانَ
بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا﴾
“Dia Maha
Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)
Ayat ini
menggunakan kata “Rohiman” yang menurut para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas
(68 H) merujuk pada Rohmat khusus yang diberikan kepada orang beriman di
Akhiroh. Rohmat inilah yang akan menutupi aib-aib hamba di hadapan seluruh
makhluk saat hisab (perhitungan amal). Rosululloh ﷺ menggambarkan bagaimana
Rohmat ini bekerja menyelimuti hamba-Nya:
«إِنَّ
اللَّهَ يُدْنِي المُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ:
أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ،
حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ:
سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ، فَيُعْطَى
كِتَابَ حَسَنَاتِهِ»
“Sesungguhnya
Alloh akan mendekatkan seorang Mu’min, lalu meletakkan penutup-Nya kepadanya
dan menutupinya dari pandangan orang lain. Alloh bertanya: ‘Apakah engkau tahu
dosa ini? Apakah engkau tahu dosa itu?’ Hamba itu menjawab: ‘Iya, wahai Robbku.’
Sampai ketika Alloh telah membuatnya mengakui semua dosanya dan hamba itu
merasa dirinya akan binasa, Alloh berfirman: ‘Aku telah menutupi dosa-dosa itu
bagimu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya bagimu.’” (HR.
Al-Bukhori no. 2441 dan Muslim no. 2768)
Inilah
salah satu bentuk nyata dari 99 bagian Rohmat tersebut. Di saat keadilan
menuntut hukuman, Rohmat Robb justru datang memberikan ampunan.
Hadits tentang
100 Rohmat ini memberikan harapan yang sangat besar agar manusia tidak berputus
asa dari luasnya ampunan Alloh ﷻ di hari pembalasan kelak.
Jika seseorang bisa hidup tenang di dunia dengan satu bagian Rohmat di tengah
banyak kesulitan, maka tentu dia akan jauh lebih aman di Akhiroh dengan 99
bagian Rohmat di bawah naungan Robb yang Maha Pengasih.
Keberadaan
99 bagian Rohmat ini juga menjadi alasan mengapa Jannah (Surga) disebut sebagai
tempat tinggal bagi orang-orang yang dirohmati. Tidak ada seorang pun yang
masuk Jannah semata-mata karena amalnya, melainkan karena Rohmat yang melimpah
ini. Nabi ﷺ
bersabda:
«لَنْ
يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الجَنَّةَ» قَالُوا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: «لاَ، وَلاَ أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ»
“Amal
seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam Jannah.” Para Shohabat bertanya: “Tidak
juga engkau, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Tidak juga aku, hanya saja
Alloh melimpahiku dengan karunia dan Rohmat-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 5673
dan Muslim no. 2816)
5.3
Kasih Sayang Induk Makhluk
Alloh ﷻ
memberikan contoh konkrit yang dapat disaksikan oleh mata manusia untuk
menggambarkan hakikat Rohmat-Nya, yaitu melalui kasih sayang seorang induk
kepada anaknya. Kelembutan seekor burung yang menyuapi anaknya, atau seekor
singa yang sangat berhati-hati agar tidak menginjak anaknya, semuanya bersumber
dari satu bagian Rohmat yang turun ke bumi. Nabi ﷺ bersabda:
«حَتَّى
تَرْفَعَ الفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا، خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ»
“Sampai-sampai
seekor binatang mengangkat kakinya dari anaknya karena takut akan menginjaknya.”
(HR. Al-Bukhori no. 6000)
Rasa takut
hewan tersebut untuk menyakiti anaknya bukanlah hasil dari pemikiran logis atau
pendidikan, melainkan fitroh yang diletakkan oleh Alloh ﷻ
melalui satu bagian Rohmat tersebut. Jika hewan yang tidak memiliki akal saja
bisa memiliki kasih sayang sedemikian rupa, maka bayangkanlah kasih sayang Dzat
yang menciptakan rasa sayang tersebut.
Pernah
suatu ketika para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum melihat seorang ibu di
tengah tawanan perang yang sangat panik mencari anaknya. Begitu dia
menemukannya, dia langsung mendekapnya ke dadanya dengan sangat erat. Melihat
pemandangan yang mengharukan itu, Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَتُرَوْنَ
هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ» قُلْنَا: لاَ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ
لاَ تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»
“Apakah
kalian mengira wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami
menjawab: “Tidak, demi Alloh, selama dia mampu untuk tidak melemparkannya.”
Maka Nabi bersabda: “Sungguh, Alloh lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya
melebihi kasih sayang wanita ini kepada anaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 5999
dan Muslim no. 2754)
Hadits ini
adalah puncak analogi dalam memahami Rohmat Robb. Kasih sayang ibu adalah kasih
sayang yang paling murni di dunia manusia, namun itu hanyalah percikan kecil
dari satu bagian Rohmat. Alloh ﷻ memiliki 100 bagian utuh yang
kemurnian dan kekuatannya tidak tertandingi. Ibnu Qoyyim (751 H) dalam kitab Madarijus
Salikin menyebutkan bahwa jika seorang hamba benar-benar memahami hal ini,
maka dia akan menyadari bahwa Alloh ﷻ tidak menciptakan makhluk-Nya
untuk disiksa, melainkan untuk dirohmati. Adzab hanyalah bagi mereka yang
dengan sengaja melarikan diri dari luasnya Rohmat tersebut.
Contoh lain
adalah kisah tentang burung yang rela mati demi melindungi anaknya dari
pemangsa. Pengorbanan tersebut adalah jejak dari satu bagian Rohmat duniawi.
Alloh ﷻ
ingin kita belajar dari fenomena alam ini agar kita tidak pernah ragu untuk
kembali kepada-Nya. Setiap kali kita melihat kasih sayang di dunia ini,
hendaknya hati kita langsung teringat bahwa ada Robb yang kasih sayang-Nya jauh
lebih besar, yang selalu menunggu hamba-Nya yang bersalah untuk kembali pulang
ke pelukan ampunan-Nya.
Dengan demikian, Bab 5 ini menegaskan bahwa struktur Rohmat
Alloh ﷻ
telah dirancang sedemikian rupa: satu bagian untuk menjaga tatanan dunia dan
kehidupan seluruh makhluk, sementara 99 bagian lainnya disiapkan sebagai kejutan
agung dan perlindungan mutlak bagi kaum Mu’minin di Akhiroh kelak. Inilah bukti
nyata bahwa Rohmat-Nya benar-benar mendahului dan mengalahkan segala bentuk
kemurkaan.
Bab 6: Hubungan antara Keadilan
Robb dengan Luasnya Rohmat-Nya
6.1
Keadilan Alloh ﷻ
dalam Menempatkan Murka pada Tempatnya
Keadilan
Alloh ﷻ
adalah sebuah sifat yang sangat sempurna, di mana Dia tidak pernah menzholimi
makhluk-Nya sedikit pun. Murka Alloh ﷻ yang muncul dan mengakibatkan
adzab bagi sebagian hamba bukanlah bentuk kezholiman, melainkan wujud keadilan
yang diletakkan secara tepat pada tempatnya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّ
اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ
مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا﴾
“Sesungguhnya
Alloh tidak menzholimi seseorang walaupun sebesar dzarroh (atom), dan
jika ada kebajikan sebesar dzarroh, niscaya Alloh akan
melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa:
40)
Ayat ini
menegaskan bahwa setiap hukuman yang menimpa hamba adalah murni karena
perbuatan hamba itu sendiri.
Keadilan
Robb mengharuskan adanya pembalasan bagi orang yang melanggar batasan, namun
Rohmat-Nya selalu memberikan celah untuk menghindar dari hukuman tersebut
sebelum ia benar-benar jatuh. Alloh ﷻ tidak pernah menyiksa seorang
hamba kecuali setelah tegaknya hujjah dan hamba tersebut secara sadar memilih
jalan kekufuran. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا
رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ﴾
“Robb-mu
sekali-kali tidak menzholimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fussilat: 46)
Keadilan
ini terlihat saat hamba-hamba yang membangkang dimasukkan ke dalam Naar. Mereka
mengakui bahwa hukuman tersebut adalah layak bagi mereka karena pengingkaran
mereka terhadap para Rosul. Sebagaimana firman Alloh ﷻ tentang penduduk Naar:
﴿فَاعْتَرَفُوا
بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ﴾
“Maka
mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni Naar yang
menyala-nyala itu.” (QS. Al-Mulk: 11)
Bahkan
dalam kemurkaan-Nya yang paling dahsyat, Alloh ﷻ tetap berlaku adil. Sebagai
contoh, ketika kaum Luth ditimpa adzab karena perbuatan keji mereka, Alloh ﷻ
menyelamatkan Luth dan keluarganya yang beriman sebagai bentuk keadilan bagi
orang yang taat. Murka hanya menimpa mereka yang bersikeras dalam kemaksiatan.
Murka Alloh
ﷻ
adalah manifestasi (perwujudan) dari penempatan sesuatu pada porsinya. Jika
orang yang durhaka disamakan dengan orang yang sholih, maka itulah letak
ketidakadilan. Oleh karena itu, Alloh ﷻ berfirman:
﴿أَمْ
نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ
أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ﴾
“Apakah
Kami akan menjadikan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih sama
dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Ataukah Kami menjadikan
orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang jahat?” (QS. Shod:
28)
Keadilan
Robb juga tampak pada hari Qiyamah saat timbangan (Mizan) ditegakkan. Tidak ada
satu pun amal yang terlewatkan. Namun, di tengah keadilan yang sangat ketat
itu, Rohmat Alloh ﷻ
tetap mendominasi dengan cara menimbang niat baik yang belum sempat terlaksana.
Inilah keindahan hubungan antara keadilan dan Rohmat-Nya.
6.2
Kemurahan Alloh ﷻ
dalam Melipatgandakan Pahala Kebaikan
Jika
keadilan mengharuskan satu kebaikan dibalas dengan satu pahala, maka Rohmat
Alloh ﷻ
melampaui aturan keadilan tersebut dengan melipatgandakannya berkali-kali
lipat. Ini adalah salah satu bukti paling nyata bahwa Rohmat-Ku mengalahkan
murka-Ku. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿مَنْ
جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا
يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾
“Barang
siapa membawa amal kebaikan maka baginya 10 kali lipat amalnya, dan barang
siapa membawa amal kejelekan maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang
dengan kejelekannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dizholimi.” (QS. Al-An’am:
160)
Lipat ganda
ini tidak hanya berhenti di angka 10, melainkan bisa mencapai 700 kali lipat
bahkan lebih, tergantung pada keikhlasan dan kualitas amal tersebut. Alloh ﷻ
memberikan perumpamaan tentang infaq di jalan-Nya:
﴿مَثَلُ
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ
سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ
يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾
“Perumpamaan
orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan 7 tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada 100 biji.
Alloh melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi
Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 261)
Pelipatgandaan
ini merupakan karunia murni dari Alloh ﷻ yang tidak bisa diukur dengan
logika matematika manusia. Rosululloh ﷺ juga menegaskan hal ini dalam hadits yang diriwayatkan dari
Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma:
«إِنَّ
اللَّهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ
فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ
هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ
مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ»
“Sesungguhnya
Alloh menulis kebaikan-kebaikan dan kejelekan-kejelekan kemudian menjelaskan
hal itu. Barang siapa yang berniat melakukan satu kebaikan namun dia tidak
mengamalkannya, maka Alloh menuliskan baginya 1 kebaikan yang sempurna di
sisi-Nya. Dan jika dia berniat lalu mengamalkannya, maka Alloh menuliskan
baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipat hingga pelipatan yang banyak.” (HR.
Al-Bukhori no. 6491 dan Muslim no. 131)
Contoh
nyata dari Rohmat ini adalah amalan di malam Lailatul Qodar. Satu malam yang
digunakan untuk beribadah dinilai lebih baik daripada beribadah selama 1.000
bulan di waktu lain. Alloh ﷻ berfirman:
﴿لَيْلَةُ
الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾
“Malam
kemuliaan itu lebih baik dari 1.000 bulan.” (QS. Al-Qodar: 3)
Ini adalah
bentuk “bonus” Rohmat yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ yang umurnya relatif pendek
(antara 60 sampai 70 tahun). Tanpa adanya pelipatgandaan ini, sulit bagi
manusia untuk mengejar ketertinggalan amal mereka dibandingkan dengan dosa-dosa
yang mereka lakukan. Kemurahan ini adalah cara Alloh ﷻ menarik hamba-Nya menuju
Jannah dengan tali Rohmat-Nya.
6.3
Cara Alloh ﷻ
Menghapus Kejelekan dengan Kebaikan yang Sedikit
Hubungan
antara keadilan dan Rohmat Robb juga terlihat pada mekanisme penghapusan dosa.
Alloh ﷻ
menetapkan bahwa kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba dapat menggugurkan
kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Ini adalah prinsip yang menunjukkan bahwa
pengaruh Rohmat jauh lebih kuat dalam menghapus atsar (bekas) murka. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَأَقِمِ
الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ
السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ﴾
“Dan
dirikanlah Sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian
permulaan malam (yakni Sholat 5 waktu). Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang
baik itu (terutama Sholat) menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah
peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)
Ayat ini
turun berkenaan dengan seorang Shohabat yang melakukan kesalahan lalu dia
menyesal. Rosululloh ﷺ
memberitahunya bahwa Sholat yang dia lakukan telah menghapus dosanya tersebut.
Beliau ﷺ
juga bersabda:
«اتَّقِ
اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ
النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»
“Bertaqwalah
kepada Alloh di mana pun engkau berada, dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan
niscaya ia akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang
baik.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1987)
Hanya
dengan kebaikan yang terkadang nampak kecil di mata manusia, namun dilakukan
dengan tulus, Alloh ﷻ
mampu menghapus kemurkaan-Nya yang besar. Perhatikan kisah seorang wanita
pezina dari kalangan Bani Isroil yang diampuni dosanya hanya karena memberi
minum seekor anjing yang kehausan. Nabi ﷺ bersabda:
«بَيْنَمَا
كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ، كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ
بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ»
“Ketika ada
seekor anjing yang berkeliling di sekitar sumur dan hampir mati karena haus,
tiba-tiba seorang wanita pezina dari kalangan Bani Israil melihatnya. Maka
wanita itu melepas sepatunya dan memberi anjing itu minum, maka Alloh mengampuninya
karena perbuatannya itu.” (HR. Al-Bukhori no. 3467 dan Muslim no. 2245)
Contoh ini
adalah bukti betapa dahsyatnya Rohmat Alloh ﷻ. Perbuatan memberi minum
seekor anjing (kebaikan yang dianggap kecil) mampu meruntuhkan gunung dosa
perzinaan (kemaksiatan besar) karena adanya Rohmat yang luas.
Begitu pula
dengan ucapan kalimat Tauhid “Laa ilaha illallah” di akhir hayat.
Seseorang yang hidupnya penuh dengan kemaksiatan namun dia menutup usianya
dengan kalimat tersebut, maka Rohmat Alloh ﷻ akan mengalahkan murka-Nya
atas dosa-dosanya selama ini. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Barang
siapa yang akhir ucapannya adalah Laa ilaha illallah, maka dia masuk Jannah.” (HSR.
Abu Dawud no. 3116)
Pintu
taubat juga senantiasa terbuka lebar selama nyawa belum sampai di kerongkongan.
Alloh ﷻ
memanggil hamba-Nya yang telah melampaui batas dengan panggilan yang penuh
kelembutan:
﴿قُلْ
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ
اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Katakanlah:
‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari Rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)
Ibnu Abbas
(68 H) menyatakan bahwa ayat ini adalah ayat yang paling memberikan harapan di
dalam Al-Qur’an. Bagaimana tidak, Alloh ﷻ tetap memanggil para pendosa
besar dengan sebutan “hamba-Ku”, yang menunjukkan bahwa ikatan antara Kholiq
dan makhluk tidak putus hanya karena dosa, selama hamba tersebut mau kembali.
Inilah puncak hubungan antara keadilan dan Rohmat; keadilan mencatat dosa
tersebut, namun Rohmat menyediakan penghapus yang sangat mudah didapatkan.
Setiap
langkah menuju Masjid, setiap tetes air wudhu yang menggugurkan dosa dari
anggota badan, serta setiap kata Istighfar yang diucapkan dengan lisan adalah
sarana yang disediakan Alloh ﷻ agar Rohmat-Nya tetap menang atas kemurkaan-Nya.
Dari sini
kita menyadari bahwa Alloh ﷻ benar-benar menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak
menghendaki kesulitan. Keadilan-Nya adalah timbangan yang jujur, namun
Rohmat-Nya adalah pemberat di sisi kebaikan yang tak terhingga nilainya.
Bab 7: Pengaruh Keimanan Terhadap
Luasnya Rohmat Alloh ﷻ bagi
Seorang Hamba
7.1
Membangun Persangkaan Baik kepada Robb dalam Segala Kondisi
Seorang
hamba yang telah memahami bahwa Rohmat Alloh ﷻ mendahului dan mengalahkan
murka-Nya akan memiliki pondasi jiwa yang sangat kokoh dalam berhusnuzhon
(berprasangka baik) kepada Robb. Persangkaan baik ini bentuk keyakinan bahwa
setiap ketetapan Alloh ﷻ
di balik tabir takdir selalu mengandung kebaikan dan kasih sayang. Alloh ﷻ
berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi:
«أَنَا
عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي»
“Aku sesuai
dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia
mengingat-Ku.” (HR. Al-Bukhori no. 7405 dan Muslim no. 2675)
Hadits ini
memberikan pelajaran agung bahwa perlakuan Alloh ﷻ kepada hamba-Nya seringkali
sejalan dengan apa yang ada di dalam hati hamba tersebut. Jika seorang hamba
yakin bahwa Alloh ﷻ
akan merohmatinya, mengampuninya, dan memberikan jalan keluar dari setiap
kesulitan, maka Alloh ﷻ
akan mewujudkan hal tersebut. Persangkaan baik ini sangat ditekankan terutama
saat seorang hamba menghadapi sakarotul maut. Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu
‘anhuma berkata, “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda 3 hari sebelum wafatnya”:
«لَا
يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ»
“Janganlah
salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berprasangka baik
kepada Alloh Azzawajalla.” (HR. Muslim no. 2877)
Ibnu Qoyyim
(751 H) rohimahullah menjelaskan bahwa persangkaan baik yang paling
jujur adalah yang disertai dengan amal sholih.
Seseorang
yang mengharapkan Rohmat namun terus berkubang dalam dosa tanpa penyesalan,
maka itu adalah ketertipuan. Sebaliknya, seorang Mu’min yang beramal dan
berupaya menjauhi maksiat, hatinya akan dipenuhi harapan bahwa Rohmat Robb-nya
akan menutupi segala kekurangan amalnya.
Contoh
nyata dari husnuzhon adalah saat seorang hamba tertimpa musibah yang
sangat berat. Meskipun secara lahiriah musibah tersebut nampak pahit, dia tetap
yakin bahwa ada Rohmat tersembunyi yang sedang Alloh ﷻ siapkan. Hal ini selaras
dengan firman Alloh ﷻ:
﴿وَعَسَى
أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ
شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُ﴾
“Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 216)
Keimanan
terhadap dominasi Rohmat membuat seorang hamba tidak mudah menyalahkan keadaan
atau berburuk sangka kepada taqdir. Dia menyadari bahwa Robb yang memiliki
Kitab di atas ‘Arsy tidak mungkin menganiaya hamba-Nya. Kesadaran ini
membuahkan ketenangan batin yang luar biasa dalam menjalani kehidupan di dunia
yang penuh dengan ujian ini.
7.2
Keseimbangan antara Rasa Harap (Roja’) dan Rasa Takut (Khouf)
Memahami
luasnya Rohmat Alloh ﷻ
bertujuan untuk menumbuhkan sifat Roja’ (harapan) yang benar di dalam hati,
namun tetap harus diimbangi dengan Khouf (rasa takut) agar hamba tersebut tidak
menjadi sombong atau meremehkan dosa. Para ulama Salaf menggambarkan hubungan
antara Khouf dan Roja’ seperti dua sayap burung; jika salah satunya patah, maka
burung tersebut tidak akan bisa terbang menuju tujuannya. Alloh ﷻ
memuji para Nabi-Nya yang memiliki keseimbangan ini:
﴿إِنَّهُمْ
كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا
لَنَا خَاشِعِينَ﴾
“Sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan
cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS.
Al-Anbiya: 90)
Kata “roghoban”
menunjukkan harapan yang besar terhadap Rohmat-Nya, sedangkan “rohaban”
menunjukkan rasa takut akan murka dan adzab-Nya. Sifat Roja’ yang muncul dari
pemahaman bahwa Rohmat mengalahkan murka berfungsi sebagai pendorong semangat
saat jiwa mulai lelah beribadah. Sedangkan Khouf berfungsi sebagai kendali saat
nafsu mulai mengajak kepada kemaksiatan.
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) rohimahullah berkata: “Seandainya Roja’ lebih dominan
pada saat seseorang sehat, maka itu baik. Namun pada saat sakit, Roja’ harus
benar-benar menguasai hatinya agar dia kembali kepada Alloh dengan harapan yang
besar.”
Alloh ﷻ
memerintahkan kita untuk tetap berada di jalan tengah, sebagaimana firman-Nya:
﴿تَتَجَافَى
جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا﴾
“Lambung
mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Robbnya dengan
penuh rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah: 16)
Seseorang
yang hanya mengandalkan Roja’ tanpa Khouf akan terjatuh ke dalam paham Murji’ah
yang menganggap dosa tidak membahayakan keimanan. Sebaliknya, seseorang yang
hanya mengandalkan Khouf tanpa Roja’ akan terjatuh ke dalam paham Khowarij yang
mudah mengkafirkan sesama Muslim dan berputus asa dari ampunan.
Ibnu Rojab
(795 H) rohimahullah menyebutkan bahwa keajaiban dari Hadits “Rohmat-Ku
mengalahkan murka-Ku” adalah memberikan suntikan Roja’ yang sangat kuat
sehingga seorang hamba selalu memiliki alasan untuk memperbaiki diri setiap
kali dia terjatuh dalam kesalahan.
Atsar dari
keseimbangan ini terlihat pada diri para Shohabat. Umar bin Al-Khoththob (23 H)
rodhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Seandainya dipanggil dari langit
bahwa seluruh manusia masuk Jannah kecuali satu orang, niscaya aku takut jika
satu orang itu adalah aku. Dan seandainya dipanggil bahwa seluruh manusia masuk
Naar kecuali satu orang, niscaya aku berharap satu orang itu adalah aku.”
Kalimat ini
menunjukkan betapa dalamnya pemahaman beliau terhadap keseimbangan antara
dahsyatnya adzab dan luasnya Rohmat Alloh ﷻ.
7.3
Dorongan untuk Terus Bertaubat dan Tidak Berputus Asa
Buah yang
paling manis dari keimanan terhadap dominasi Rohmat adalah tertanamnya sikap
pantang menyerah dalam bertaubat. Setan senantiasa berusaha membisikkan bahwa
dosa hamba sudah terlalu banyak sehingga tidak mungkin lagi diampuni. Namun,
dalil-dalil tentang Rohmat Alloh ﷻ datang untuk menghancurkan
tipu daya setan tersebut. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَنْ
يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ
غَفُورًا رَحِيمًا﴾
“Dan barang
siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon
ampun kepada Alloh, niscaya ia mendapati Alloh Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)
Perhatikan
kalimat “mendapati Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Hal ini
menunjukkan bahwa ampunan Alloh ﷻ sudah menanti, tinggal hamba
tersebut mau melangkah untuk mengambilnya atau tidak. Rosululloh ﷺ juga mengabarkan tentang
luasnya ampunan Robb melalui sebuah Hadits Qudsi:
«يَا
عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ
جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ»
“Wahai
hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu malam dan siang,
sedangkan Aku mengampuni seluruh dosa, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya
Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim no. 2577)
Keluasan
Rohmat ini membuat seorang Muslim tidak akan pernah mengenal kata “terlambat”
selama nyawa belum sampai di tenggorokan atau matahari belum terbit dari barat.
Sa’id bin
Jubair (95 H) rohimahullah mengatakan bahwa putus asa dari Rohmat Alloh ﷻ
adalah salah satu dosa besar yang paling mematikan hati.
Alloh ﷻ
melarang keras sifat putus asa ini:
﴿قَالَ
وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ﴾
“Ibrohim
berkata: ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari Rohmat Robb-nya, kecuali
orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 56)
Dorongan
bertaubat ini juga didukung dengan kenyataan bahwa Alloh ﷻ
membukakan pintu taubat setiap waktu. Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ
يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ
مَغْرِبِهَا»
“Sesungguhnya
Alloh Azzawajalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima
taubat orang yang berbuat dosa di waktu siang, dan membentangkan tangan-Nya di
waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di waktu malam,
sampai matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim no. 2759)
Contoh
nyata adalah bagaimana Alloh ﷻ menerima taubatnya orang-orang yang dahulu sangat memusuhi
Islam, membunuh para Shohabat, dan melakukan kesyirikan yang nyata. Namun saat
mereka masuk Islam dengan tulus, seluruh masa lalu mereka yang kelam dihapus
seolah-olah mereka baru lahir kembali.
Fudhoil bin
Iyadh (187 H) rohimahullah menegaskan bahwa tangisan seorang pendosa
yang menyesali kesalahannya lebih dicintai oleh Alloh ﷻ daripada suara tasbih seorang
ahli ibadah yang merasa bangga dengan amalannya.
Dengan memahami Bab 7 ini, selesailah rangkaian pemahaman
kita mengenai hakikat Rohmat Alloh ﷻ yang luar biasa. Keimanan ini bukan untuk
membuat kita santai dalam berbuat dosa, melainkan untuk memberikan energi
positif agar kita terus bergerak menuju Alloh ﷻ, bertaubat dengan
tulus, berbuat baik semaksimal mungkin, dan selalu memandang masa depan di
Akhiroh dengan penuh optimisme di bawah naungan kasih sayang Robb semesta alam.
Penutup
Sebagai akhir dari pembahasan yang agung ini, hendaknya setiap
jiwa menyadari bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah bukti nyata dari kasih
sayang Robb yang mendahului segala bentuk kemurkaan. Ketetapan yang tertulis di atas ‘Arsy bukan
sekadar kalimat hiasan, melainkan jaminan abadi bagi hamba yang mau tunduk dan
kembali kepada-Nya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿قُلْ
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ
اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ
يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Katakanlah:
‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari Rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini
merupakan seruan paling lembut bagi setiap pendosa agar tidak terjerumus ke
dalam tipu daya syaithon yang ingin menjauhkan manusia dari pintu ampunan.
Jika seorang
hamba mengetahui betapa besar kegembiraan Alloh ﷻ saat hamba tersebut
bertaubat, niscaya hamba itu akan terbang menuju-Nya dengan penuh kerinduan.
Kebahagiaan Robb atas kembalinya hamba-Nya melampaui kegembiraan seorang
musafir yang menemukan kembali bekal dan kendaraannya di padang pasir yang
mematikan.
Kita telah
mempelajari bahwa 99 bagian Rohmat telah dipersiapkan Alloh ﷻ
khusus untuk hari pembalasan kelak. Ini adalah bekal harapan yang tidak boleh
padam. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«جَعَلَ
اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا،
وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا»
“Alloh
menjadikan Rohmat itu 100 bagian. Maka Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan
menurunkan ke bumi 1 bagian.” (HR. Al-Bukhori no. 6000)
Harapan ini
harus dibersamai dengan ketundukan total. Jangan sampai luasnya Rohmat membuat
kita meremehkan maksiat, namun jangan pula besarnya dosa membuat kita merasa
tidak mungkin mendapatkan Surga. Ingatlah selalu bahwa Alloh ﷻ
adalah Robb yang murka-Nya adalah keadilan, namun Rohmat-Nya adalah anugerah
yang melampaui batas-batas logika manusia.
Sebagai
penutup, marilah kita merenungkan doa yang sering diucapkan oleh Rosululloh ﷺ untuk memohon perlindungan di
bawah naungan Rohmat-Nya:
«اللَّهُمَّ
رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي
شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ»
“Ya Alloh,
hanya Rohmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau sandarkan urusanku
kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah seluruh urusanku.
Tiada Robb yang berhak disembah selain Engkau.” (HSR. Abu Dawud no. 5090)
Semoga buku
ini menjadi pelita bagi mereka yang sedang berjalan dalam kegelapan dosa,
menjadi penghibur bagi hati yang lara, dan menjadi penguat iman bagi setiap
Muslim untuk terus berhusnuzhon kepada Alloh ﷻ hingga hembusan nafas
terakhir. Sesungguhnya tidak ada daya untuk melakukan ketaatan dan tidak ada
kekuatan untuk menjauhi kemaksiatan kecuali dengan pertolongan-Nya. Walhamdulillahi
Robbil ‘Alamin.[NK]
