Cari Ebook

[PDF] Rohmat Alloh Mendahului dan Mengalahkan Murka-Nya - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri sifat Rohmat yang luas. Robb yang kasih sayang-Nya mendahului kemurkaan-Nya, dan ampunan-Nya mengalahkan siksaan-Nya.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi , sang pembawa risalah Rohmat bagi semesta alam, juga kepada para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, para Tabi’in, dan seluruh pengikut mereka yang setia hingga hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Urgensi membahas tema tentang Rohmat Alloh yang mendahului dan mengalahkan murka-Nya adalah karena kebutuhan setiap jiwa manusia terhadap harapan. Di tengah gempuran fitnah, tumpukan dosa, dan rasa gundah, seorang hamba sangat mudah terjerumus ke dalam jurang keputusasaan. Syaithon senantiasa membisikkan bahwa pintu taubat telah tertutup dan Robb tidak akan lagi memaafkan kesalahan. Namun, dengan memahami hakikat Hadits yang menjadi poros buku ini, seorang Mu’min akan menyadari bahwa pintu kasih sayang Alloh jauh lebih lebar daripada luasnya langit dan bumi. Alloh berfirman:

﴿وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ﴾

“Dan Rohmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’rof: 156)

Ayat ini merupakan bukti nyata bahwa tidak ada satu pun makhluk yang lepas dari sentuhan kasih sayang-Nya.

Ayat ini mencakup seluruh alam, baik yang taat maupun yang bermaksiat di dunia ini. Keluasan Rohmat ini adalah pondasi utama dalam mengenal Robb (Ma’rifatullah), sehingga seorang hamba tidak akan merasa takut secara berlebihan yang menyebabkannya lari dari agama, dan tidak pula merasa aman secara berlebihan yang menyebabkannya meremehkan dosa.

Tema ini juga sangat mendesak untuk dikaji guna meluruskan persepsi tentang sifat-sifat Alloh . Sebagian orang mungkin hanya membayangkan Alloh sebagai Dzat yang Maha Pedih siksa-Nya, sehingga mereka kehilangan gairah dalam beribadah. Padahal, Alloh telah menegaskan dalam Kitab-Nya yang mulia:

﴿نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ * وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ﴾

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49-50)

Perhatikan bagaimana Alloh mendahului penyebutan sifat Pengampun dan Penyayang sebelum menyebutkan tentang adzab. Ini adalah isyarat halus bagi setiap Muslim bahwa harapan harus selalu ada.

Ayat ini memberikan pemahaman yang seimbang bagi manusia agar mereka senantiasa berada di antara rasa harap dan rasa takut.

Buku ini disusun untuk memberikan penjelasan (syarah) yang mendalam terhadap dua riwayat Hadits shohih yang sangat agung. Hadits pertama yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori (256 H) menyebutkan:

«لَمَّا قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي»

“Ketika Alloh menyelesaikan penciptaan, Dia menulis dalam Kitab-Nya – dan Kitab itu ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy – ‘Sesungguhnya Rohmat-Ku mengalahkan murka-Ku.’” (HR. Al-Bukhori no. 3194)

Adapun riwayat kedua menegaskan hal yang serupa dengan penekanan pada waktu penulisannya:

«إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الخَلْقَ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي، فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ»

“Sesungguhnya Alloh menulis sesuatu sebelum Dia menciptakan makhluk: ‘Sesungguhnya Rohmat-Ku mendahului murka-Ku.’ Maka Kitab itu tertulis di sisi-Nya di atas ‘Arsy.” (HR. Al-Bukhori no. 7554)

Isi global dari buku ini akan membedah setiap untaian kata dalam Hadits tersebut secara sistematis. Pembahasan akan dimulai dari Bab 1 yang mengupas tentang keagungan Kitab yang ada di sisi-Nya. Ini bukan sekadar tulisan biasa, melainkan ketetapan yang diletakkan di tempat yang paling mulia, yaitu di atas ‘Arsy. Penulis akan menjelaskan kedudukan ‘Arsy sebagai makhluk yang paling tinggi dan bagaimana Kitab tersebut menjadi bukti kemurahan Robb bagi seluruh alam.

Selanjutnya, pada Bab 2, akan dibahas mengenai penetapan sifat Rohmat dan Murka bagi Alloh . Penting bagi seorang Muslim untuk meyakini sifat-sifat ini sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk. Kita akan melihat bagaimana para Salaf memahami bahwa Rohmat adalah sifat Dzat sekaligus sifat perbuatan Alloh yang membawa manfaat bagi para hamba.

Bab 3 dan Bab 4 merupakan inti dari buku ini, yaitu penjelasan mengenai makna “mendahului” (sabaqot) dan “mengalahkan” (gholabat). Mengapa Rohmat dikatakan mendahului murka? Hal ini dikaitkan dengan tujuan utama penciptaan yang didasari oleh kasih sayang, bukan untuk menyiksa. Sifat Rohmat telah ada dan menyertai hamba sejak sebelum hamba tersebut melakukan kesalahan yang mengundang murka. Adapun makna “mengalahkan” menunjukkan dominasi kasih sayang-Nya dalam memperlakukan hamba, seperti pemberian pahala yang dilipatgandakan sedangkan dosa hanya dicatat satu kali.

Pada Bab 5, pembaca akan diajak menyelami pembagian Rohmat Alloh yang berjumlah 100 bagian. Kita akan merenungkan bagaimana 1 bagian Rohmat yang diturunkan ke dunia telah mampu membuat seekor binatang buas menyayangi anaknya, lalu bagaimana dahsyatnya 99 bagian sisanya yang dipersiapkan Alloh untuk para Mu’min di hari pembalasan nanti. Rosululloh bersabda:

«جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الخَلْقُ، حَتَّى تَرْفَعَ الفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا، خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ»

“Alloh menjadikan Rohmat itu 100 bagian. Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan menurunkan ke bumi 1 bagian. Dari 1 bagian itulah seluruh makhluk saling berkasih sayang, sampai-sampai seekor binatang mengangkat kakinya dari anaknya karena takut akan menginjaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 6000 dan Muslim no. 2752)

Bab 6 akan menjelaskan hubungan antara keadilan Robb dengan luasnya Rohmat-Nya. Kita akan memahami bahwa masuknya seseorang ke dalam Jannah bukanlah semata-mata karena amalannya, melainkan karena Rohmat Alloh yang meliputinya. Amal hanyalah sebab, namun penentu utamanya adalah karunia Robb semesta alam.

Terakhir, pada Bab 7, buku ini akan memaparkan dampak nyata dari keimanan terhadap tema ini dalam kehidupan seorang Muslim. Bagaimana seseorang membangun husnuzhon (prasangka baik) kepada Alloh , menjaga keseimbangan mental agar tidak sombong saat beramal dan tidak hancur saat jatuh dalam dosa, serta senantiasa memiliki optimisme dalam menatap masa depan di Akhiroh.

Alloh telah mewajibkan diri-Nya untuk bersikap kasih sayang, sebagaimana firman-Nya:

﴿كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ﴾

“Robb kalian telah menetapkan atas diri-Nya sendiri sifat Rohmat.” (QS. Al-An’am: 54)

 

Bab 1: Keagungan Kitab di Sisi Alloh di Atas ‘Arsy

1.1 Hakikat Penulisan Takdir Sebelum Penciptaan Seluruh Makhluk

Keimanan terhadap penulisan takdir merupakan salah satu rukun iman yang sangat fundamental. Sebelum Alloh menciptakan langit, bumi, dan segala isinya, Dia telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi dalam sebuah Kitab yang sangat agung. Penulisan ini berasal dari ilmu Alloh yang Maha Luas dan meliputi segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi. Alloh berfirman:

﴿أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾

“Tidakkah kamu tahu bahwa Alloh mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Alloh sangat mudah.” (QS. Al-Hajj: 70)

Ayat ini menegaskan bahwa segala peristiwa, sekecil apa pun, tidak luput dari ilmu-Nya dan telah terdokumentasi dengan rapi. Ibnu Abbas (68 H) menyebutkan:

«إِنَّ اللهَ خَلَقَ لَوْحًا مَحْفُوظًا مِنْ دُرَّةٍ بَيْضَاءَ صَفَحَاتُهَا مِنْ يَاقُوتَةٍ حَمْرَاءَ، قَلَمُهُ نُورٌ، لِلَّهِ فِيهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ سِتُّونَ وَثَلَاثُمِائَةِ لَحْظَةٍ، يَخْلُقُ وَيَرْزُقُ وَيُمِيتُ وَيُحْيِي وَيُعِزُّ وَيُذِلُّ وَيَفْعَلُ مَا يَشَاءُ»

“Sungguh Alloh menciptakan Lauh Mahfuzh dari mutiara putih, lembaran-lembarannya dari yaqut merah, penanya adalah cahaya. Alloh memiliki padanya setiap hari 360 perhatian: Dia menciptakan, memberi rezeki, mematikan, menghidupkan, memuliakan, menghinakan, dan melakukan apa saja yang Dia kehendaki.” (HR. Ath-Thobaroni fil Kabir, no. 12511, lemah, dihasankan Suyuthi)

Mengenai waktu penulisan takdir ini, Rosululloh memberikan penjelasan yang sangat rinci dalam sebuah hadits:

«كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»

“Alloh telah menulis takdir-takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Sementara ‘Arsy-Nya berada di atas air.” (HR. Muslim no. 2653)

Hadits ini menunjukkan betapa dahulunya rencana Alloh bagi makhluk-Nya. Penulisan ini mencakup rezeki, ajal, amal perbuatan, hingga kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang di Akhiroh. Penulisan takdir ini menunjukkan kesempurnaan hikmah dan kekuasaan Robb. Tidak ada satu pun atom yang bergerak di alam semesta ini melainkan telah tertulis dalam Kitab tersebut.

Keberadaan Kitab ini juga menjadi jaminan bagi seorang Muslim agar tidak merasa putus asa atas apa yang luput darinya dan tidak sombong atas apa yang didapatkannya. Alloh berfirman:

﴿مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ * لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ﴾

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput darimu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 22-23)

Dengan mengetahui bahwa segala sesuatu telah tertulis, hati seorang hamba akan menjadi tenang. Dia menyadari bahwa apa yang menimpanya tidak akan pernah meleset darinya, dan apa yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya. Inilah landasan utama bagi seorang hamba untuk senantiasa bersandar hanya kepada Alloh .

Ulama berselisih pendapat apakah Kitab tersebut Lauh Mahfuzh atau Kitab khusus? Kebanyakan ulama berpendapat Lauh Mahfuzh, seperti yang disampaikan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

1.2 Kedudukan ‘Arsy Sebagai Makhluk Terbesar dan Tertinggi

Dalam memahami letak Kitab yang berisi tentang dominasi Rohmat Alloh , kita perlu mengenal keagungan tempat di mana Kitab itu berada, yaitu di atas ‘Arsy. ‘Arsy adalah makhluk Alloh yang paling besar, paling tinggi, dan merupakan atap dari seluruh ciptaan. Keagungan ‘Arsy menunjukkan keagungan Penciptanya. Alloh berfirman:

﴿فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ﴾

“Maka Maha Tinggi Alloh, Raja yang sebenarnya; tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, Robb yang memiliki ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mu’minun: 116)

Sifat ‘Arsy dalam ayat ini disebut sebagai Al-Karim (yang mulia), yang menunjukkan keindahan dan kedudukannya yang sangat istimewa di sisi Alloh . Perbandingan antara ‘Arsy dengan makhluk lainnya sangatlah jauh. Rosululloh memberikan gambaran melalui sabdanya:

«مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ فِي أَرْضٍ فَلَاةٍ وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ، كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ»

“Tidaklah langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi melainkan seperti cincin yang dilemparkan ke atas padang pasir. Dan besarnya ‘Arsy dibandingkan dengan Kursi adalah seperti besarnya padang pasir yang luas dibandingkan dengan cincin tersebut.” (HR. Ibnu Hibban no. 361, Ash-Shohihah no. 109)

Bayangkan betapa kecilnya bumi dan langit jika dibandingkan dengan Kursi, dan betapa kecilnya Kursi jika dibandingkan dengan ‘Arsy. Hal ini memberikan gambaran kepada kita tentang betapa agungnya singgasana Alloh . ‘Arsy juga merupakan tempat Alloh beristiwa (berada di atas) setelah menciptakan langit dan bumi. Alloh berfirman:

﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾

“(Alloh) Yang Maha Pengasih, yang berada di atas ‘Arsy Dia beristiwa.” (QS. Thoha: 5)

Istiwanya Alloh di atas ‘Arsy adalah hakiki sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk (tasybih), tanpa meniadakan sifat (ta’thil), dan tanpa menanyakan bagaimananya (takyif). Imam Malik (179 H) ketika ditanya tentang istiwa berkata: “Istiwa itu maklum (diketahui maknanya), bagaimananya adalah majhul (tidak diketahui), mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (takyif) adalah bid’ah.”

‘Arsy juga dikelilingi oleh para Malaikat yang senantiasa bertasbih dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman. Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا﴾

“Malaikat-Malaikat yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Robbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Ghofir: 7)

Keterkaitan antara ‘Arsy dengan permohonan ampun Malaikat menunjukkan bahwa di tempat yang paling tinggi itu, sifat Rohmat dan ampunan Alloh sangatlah dominan. ‘Arsy menjadi saksi atas penulisan janji Alloh bahwa Rohmat-Nya akan selalu mengalahkan murka-Nya.

1.3 Keberadaan Kitab di Sisi Robb di Atas Singgasana-Nya

Hadits utama yang menjadi pokok bahasan buku ini menyebutkan bahwa Kitab yang berisi ketetapan Rohmat tersebut berada “di sisi-Nya di atas ‘Arsy”. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya ketetapan tersebut di mata Alloh . Mari kita perhatikan lafazh haditsnya:

«لَمَّا قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي»

“Ketika Alloh menyelesaikan penciptaan (atau ketika hendak menciptakan), Dia menulis dalam Kitab-Nya – dan Kitab itu ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy – ‘Sesungguhnya Rohmat-Ku mengalahkan murka-Ku.’” (HR. Al-Bukhori no. 3194)

Frasa “di sisi-Nya” (inda-Hu) menunjukkan kedekatan dan kemuliaan Kitab tersebut. Ini merupakan sebuah dokumen “Piagam Kasih Sayang” yang diletakkan di tempat paling sakral di seluruh alam semesta. Keberadaan Kitab ini di atas ‘Arsy adalah untuk menunjukkan bahwa Rohmat adalah pondasi dari segala urusan makhluk-Nya yang diatur dari singgasana tersebut.

Penyebutan “di atas ‘Arsy” juga mengisyaratkan bahwa Rohmat Alloh adalah sesuatu yang paling tinggi derajatnya. Jika murka Alloh adalah sebuah sifat yang adil bagi para penentang, maka Rohmat-Nya adalah karunia yang melampaui segalanya. Dalam riwayat lain disebutkan:

«إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الخَلْقَ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي، فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ»

“Sesungguhnya Alloh menulis sesuatu sebelum Dia menciptakan makhluk: ‘Sesungguhnya Rohmat-Ku mendahului murka-Ku.’ Maka Kitab itu tertulis di sisi-Nya di atas ‘Arsy.” (HR. Al-Bukhori no. 7554)

Penulisan ini dilakukan dengan sangat rahasia dan mulia. Kata “mendahului” (sabaqot) berarti bahwa tuntutan Rohmat lebih dahulu sampai kepada makhluk daripada tuntutan murka. Sebagai contoh, Alloh memberi manusia kehidupan, kesehatan, dan rezeki terlebih dahulu sebelum manusia itu diuji dengan perintah dan larangan yang jika dilanggar bisa mendatangkan murka.

Keberadaan Kitab ini di atas ‘Arsy juga memberikan rasa aman bagi hamba yang bertaubat. Seolah-olah Alloh ingin mengatakan kepada hamba-Nya: “Janganlah engkau berputus asa, karena keputusan tertinggi-Ku yang tertulis di tempat tertinggi adalah bahwa Rohmat-Ku selalu menang atas murka-Ku.”

Kebahagiaan seorang hamba tergantung pada sejauh mana dia mengenal sifat-sifat Robb-Nya. Ketika dia tahu bahwa di atas ‘Arsy sana tertulis janji kasih sayang, maka hatinya akan terbang menuju Robb-Nya dengan rasa cinta dan rindu.

Mari kita renungkan, jika seorang raja di dunia menuliskan sebuah dekrit pengampunan dan meletakkannya di tempat yang paling terhormat di istananya, tentu rakyatnya akan merasa sangat tenang. Maka bagaimana dengan Penguasa seluruh alam yang telah menuliskan dekrit Rohmat-Nya dan meletakkannya di atas ‘Arsy yang agung? Ini adalah berita gembira yang paling besar bagi setiap Muslim.

Penulisan Kitab ini merupakan bentuk janji Alloh yang tidak akan pernah berubah. Janji ini menjadi dasar bagi seluruh hukum alam dan hukum syari’at. Setiap tetes hujan, setiap tarikan nafas, dan setiap kesempatan taubat adalah cabang dari tulisan yang ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy tersebut. Oleh karena itu, Bab 1 ini menjadi pembuka yang sangat penting agar kita menyadari bahwa sejak awal penciptaan, arah dari segala takdir adalah menuju kasih sayang-Nya, selama hamba tersebut tidak menutup pintu itu sendiri dengan kekufuran.

 

Bab 2: Penetapan Sifat Rohmat dan Murka bagi Alloh

2.1 Keyakinan Ahlus Sunnah Terhadap Sifat-Sifat Robb yang Sempurna

Landasan utama dalam memahami hubungan antara Rohmat dan murka Alloh adalah dengan mengimani seluruh Nama dan Sifat-Nya sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan sifat-sifat tersebut tanpa melakukan tahrif (pengubahan makna), ta’thil (penolakan), takyif (menanyakan bagaimana hakikatnya), maupun tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Alloh berfirman:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Ash-Shuro: 11)

Ayat ini merupakan kaidah agung dalam menetapkan sifat bagi Robb. Sifat Rohmat dan Murka yang dimiliki-Nya adalah nyata dan sesuai dengan keagungan-Nya, bukan sebagaimana kasih sayang atau kemarahan yang dirasakan oleh makhluk yang penuh dengan kelemahan. Nu’aim bin Hammad (228 H) —guru Al-Bukhori (256 H)— berkata:

«مَنْ شَبَّهَ اللَّهَ بِشَيْءٍ مِنْ خَلْقِهِ فَقَدْ كَفَرَ، وَمَنْ أَنْكَرَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ فَقَدْ كَفَرَ، فَلَيْسَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ وَرَسُولُهُ تَشْبِيهٌ»

“Barang siapa menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Barang siapa mengingkari apa yang Alloh sifati untuk diri-Nya sendiri, maka dia telah kafir. Dan tidaklah apa yang Alloh sifati untuk diri-Nya maupun apa yang disifatkan oleh Rosul-Nya merupakan bentuk penyerupaan.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah, Al-Lalaka’i, 3/587, shohih)

Penetapan sifat ini penting karena Rohmat dan Murka adalah sifat perbuatan (Sifat Fi’liyyah) yang berkaitan dengan kehendak Alloh . Sejak azali Dzat Alloh disifati Rohmat dan ia senantiasa memberi Rohmat kepada makhluk-Nya, maka Rohmat adalah sifat Dzat sekaligus fi’liyyah. Berbeda dengan Murka, yang merupakan sifat fi’liyyah saja.

Setiap Mukmin wajib meyakini bahwa Alloh benar-benar menyayangi hamba yang Dia kehendaki dan benar-benar murka kepada hamba yang pantas mendapatkannya. Keyakinan ini akan melahirkan ketundukan yang sempurna. Alloh berfirman:

﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا﴾

“Hanya milik Alloh Nama-Nama yang terbaik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Nama-Nama itu.” (QS. Al-A’rof: 180)

Dengan mengenal sifat-sifat Robb, seorang hamba akan beribadah dengan kesadaran penuh. Dia mengetahui bahwa Robb yang dia sembah bukanlah Dzat yang kaku atau tidak memiliki perasaan (istilah Jahmiyyah), melainkan Robb yang aktif berbuat, memberi nikmat karena Rohmat-Nya, dan memberi sanksi karena keadilan serta kemurkaan-Nya.

2.2 Luasnya Rohmat Alloh yang Meliputi Segala Sesuatu

Rohmat Alloh adalah sifat yang paling luas cakupannya di alam semesta. Tidak ada satu pun sudut di langit maupun di bumi melainkan di sana terdapat jejak kasih sayang-Nya. Alloh telah menetapkan hal ini secara mutlak dalam firman-Nya:

﴿وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ﴾

“Dan Rohmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’rof: 156)

Keluasan ini mencakup pemberian rezeki, penjagaan, hidayah, hingga kesempatan bertaubat bagi para pendosa. Bahkan hewan melata di kedalaman lautan atau serangga di bawah bebatuan tetap mendapatkan bagian dari Rohmat-Nya. Para Malaikat pemikul ‘Arsy pun mengakui hal ini dalam doa mereka:

﴿رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ﴾

“Wahai Robb kami, Rohmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari adzab Naar yang menyala-nyala.” (QS. Ghofir: 7)

Betapa agungnya Rohmat ini tergambar dalam perlakuan Alloh kepada para hamba-Nya di dunia. Rosululloh pernah melihat seorang wanita tawanan perang yang mencari anaknya dengan cemas. Begitu menemukannya, wanita itu langsung memeluk dan menyusuinya. Rosululloh bertanya kepada para Shohabat:

«أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ» قُلْنَا: لاَ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»

“Apakah kalian mengira wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab: “Tidak, demi Alloh, selama dia mampu untuk tidak melemparkannya.” Maka Nabi bersabda: “Sungguh, Alloh lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang wanita ini kepada anaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 5999 dan Muslim no. 2754)

Contoh nyata dari luasnya Rohmat Alloh adalah penundaan hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat. Jika Alloh menghukum setiap dosa secara langsung, niscaya tidak ada makhluk yang tersisa di muka bumi. Namun, karena Rohmat-Nya, Dia memberikan tempo agar hamba tersebut kembali. Alloh berfirman:

﴿وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى﴾

“Jikalau Alloh menghukum manusia karena kezholimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Alloh menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan.” (QS. An-Nahl: 61)

Luasnya Rohmat ini juga terlihat pada pembagian pahala. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali lipat, bahkan lebih. Sementara satu kejelekan hanya dicatat satu kali, dan itu pun masih bisa dihapus dengan taubat atau amal sholih lainnya. Rohmat Alloh adalah nafas bagi kehidupan; tanpa Rohmat-Nya, seluruh alam akan hancur seketika karena beban dosa manusia.

2.3 Hakikat Murka Alloh dan Keadilan-Nya bagi Para Pendosa

Meskipun Rohmat-Nya meliputi segala sesuatu, Alloh juga memiliki sifat Murka (Ghodhob). Murka Alloh bukanlah emosi yang meledak-ledak tanpa alasan sebagaimana manusia, melainkan sifat yang didasari oleh keadilan yang sempurna. Alloh murka kepada mereka yang menyekutukan-Nya, menentang perintah-Nya, dan menzholimi sesama makhluk tanpa mau bertaubat. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى﴾

“Dan barang siapa ditimpa oleh murka-Ku, maka sungguh binasalah dia.” (QS. Thoha: 81)

Kebinasaan dalam ayat ini mencakup kerugian di dunia dan siksaan di Akhiroh. Murka Alloh adalah nyata bagi mereka yang secara sadar memilih jalan kesesatan setelah datangnya petunjuk. Rosululloh sering berdoa agar berlindung dari kemurkaan-Nya:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ»

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung dengan ridho-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu.” (HR. Muslim no. 486)

Keadilan Alloh mengharuskan adanya perbedaan perlakuan antara orang yang taat dan orang yang durhaka. Jika tidak ada murka dan adzab, maka tidak ada keadilan bagi mereka yang dizholimi. Alloh berfirman:

﴿أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ * مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ﴾

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Muslim itu sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qolam: 35-36)

Murka Alloh juga menjadi peringatan agar manusia tidak meremehkan batasan-batasan-Nya. Namun, di balik kemurkaan tersebut, pintu Rohmat tetap terbuka lebar bagi siapa saja yang mau menyesal. Inilah keunikan hubungan antara dua sifat ini. Murka Alloh adalah peringatan, sedangkan Rohmat-Nya adalah tujuan.

Ibnu Taimiyah (728 H) menyebutkan bahwa murka Alloh muncul karena adanya sebab dari hamba (yaitu dosa), sedangkan Rohmat Alloh muncul karena kemurahan Dzat-Nya sendiri tanpa harus ada sebab dari hamba.

Contoh dari murka Alloh yang berujung pada keadilan adalah apa yang menimpa kaum-kaum terdahulu seperti kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum Luth. Mereka mendapatkan peringatan berkali-kali melalui para Rosul, namun mereka memilih untuk sombong dan menantang. Alloh berfirman:

﴿فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ﴾

“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).” (QS. Az-Zukhruf: 55)

Imam Al-Baghowi (516 H) menafsirkan kata “aasafuuna” sebagai “membuat Kami murka”. Meskipun demikian, murka Alloh ini tetap berada di bawah kendali Rohmat-Nya dalam arti bahwa Alloh tidak menyiksa sebelum mengutus Rosul dan memberi penjelasan. Ini adalah bentuk Rohmat di tengah kemurkaan.

Dengan memahami Bab 2 ini, seorang Muslim akan memiliki landasan aqidah yang kokoh. Dia tidak akan lancang terhadap Alloh karena takut akan murka-Nya yang pedih, namun dia juga tidak akan pernah berputus asa karena tahu bahwa di balik awan kemurkaan itu, matahari Rohmat Alloh selalu siap menyinari siapa saja yang kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus. Rohmat adalah sifat asal yang senantiasa ada, sedangkan murka adalah sifat yang muncul karena sebab tertentu yang diletakkan pada tempatnya demi tegaknya keadilan di alam semesta.

 

Bab 3: Keagungan Kitab di Sisi Alloh di Atas ‘Arsy

3.1 Rohmat Sebelum Terciptanya Sebab-Sebab Kemurkaan

Sifat Rohmat merupakan sifat yang melekat pada Dzat Alloh secara azali, yang artinya telah ada tanpa ada permulaan. Sebelum adanya makhluk yang melakukan ketaatan atau kemaksiatan, Alloh telah menetapkan bahwa Dzat-Nya adalah Maha Penyayang. Hal ini menunjukkan bahwa Rohmat tidak bergantung pada amal perbuatan makhluk, melainkan murni kemurahan dari Robb. Alloh berfirman:

﴿كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ﴾

“Robb kalian telah menetapkan atas diri-Nya sendiri sifat Rohmat.” (QS. Al-An’am: 54)

Ayat ini bermakna Alloh mewajibkan diri-Nya sendiri untuk memiliki sifat Rohmat sebagai bentuk anugerah bagi para hamba. Penetapan ini dilakukan sebelum adanya sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan, seperti kemaksiatan manusia. Dalam hadits shohih disebutkan:

«إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الخَلْقَ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي»

“Sesungguhnya Alloh menulis sesuatu sebelum Dia menciptakan makhluk: ‘Sesungguhnya Rohmat-Ku mendahului murka-Ku.’” (HR. Al-Bukhori no. 7554)

Hadits ini menjadi bukti kuat bahwa Rohmat telah ada dan menjadi pondasi sebelum dunia diciptakan. Murka Alloh baru muncul ketika ada makhluk yang menyimpang dari jalan-Nya, sedangkan Rohmat sudah menyelimuti semesta sejak awal. Sebagai contoh, perhatikan bagaimana Alloh menyediakan bumi yang hampar, air yang jernih, dan udara yang segar sebelum manusia pertama diciptakan. Semua fasilitas kehidupan ini adalah bentuk Rohmat yang mendahului keberadaan manusia itu sendiri.

Rohmat adalah asal dari segala sesuatu, sedangkan murka adalah hal yang datang kemudian karena adanya sebab dari perbuatan hamba yang melampaui batas.

3.2 Hikmah di Balik Sifat Sabaqot (Mendahului) dalam Penciptaan

Sifat mendahuluinya Rohmat atas murka mengandung hikmah yang sangat besar bagi kelangsungan hidup makhluk. Jika murka Alloh mendahului Rohmat-Nya, niscaya tidak akan pernah ada kesempatan bagi seorang pun untuk hidup atau bertaubat. Alloh mendahulukan Rohmat agar setiap hamba memiliki kesempatan untuk mengenal Robb-Nya dan kembali kepada-Nya. Alloh berfirman:

﴿وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ﴾

“Dan Rohmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’rof: 156)

Keluasan Rohmat ini mendahului segala bentuk adzab. Hal ini terlihat pada bagaimana Alloh mengutus para Rosul untuk memberi peringatan sebelum memberikan hukuman. Peringatan itu sendiri adalah bentuk Rohmat. Alloh berfirman:

﴿وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا﴾

“Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang Rosul.” (QS. Al-Isro’: 15)

Hikmah dari didahulukannya Rohmat adalah agar hujjah (bukti) tegak atas manusia dan agar mereka menyadari bahwa tujuan penciptaan mereka adalah untuk mendapatkan kasih sayang-Nya, bukan untuk disiksa. Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat bagaimana seorang bayi yang baru lahir belum memiliki dosa sama sekali, namun dia langsung mendapatkan Rohmat Alloh berupa kasih sayang dari orang tuanya dan air susu yang melimpah. Hal ini membuktikan bahwa Rohmat Robb mendahului segala bentuk ujian atau cobaan yang mungkin datang kemudian hari.

3.3 Keunggulan Sifat Rohmat dalam Urutan Kehendak Robb

Dalam urutan kehendak-Nya, Rohmat menempati posisi yang paling utama. Segala sesuatu yang ditakdirkan oleh Alloh , meskipun nampaknya pahit, pada hakikatnya bersumber dari Rohmat-Nya yang sangat dalam. Keunggulan ini ditegaskan dalam sabda Nabi :

«جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا»

“Alloh menjadikan Rohmat itu 100 bagian. Maka Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan menurunkan ke bumi 1 bagian.” (HR. Al-Bukhori no. 6000)

Pembagian ini menunjukkan bahwa porsi Rohmat yang Alloh miliki jauh melampaui segalanya. Sifat Murka-Nya hanya ditujukan kepada orang yang keras kepala dalam kekufuran, sedangkan Rohmat-Nya tersedia bagi siapa saja.

Didahulukannya Rohmat menunjukkan bahwa sifat tersebut adalah sifat yang paling disenangi oleh Alloh untuk diberikan kepada para hamba-Nya.

Bukti keunggulan Rohmat dalam kehendak Robb juga terlihat pada bagaimana Alloh memperlakukan hamba yang bertaubat. Sebesar apa pun murka Alloh terhadap seorang pendosa, murka itu akan langsung padam seketika hamba tersebut bersujud dengan penyesalan. Nabi bersabda:

«لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ»

“Sungguh Alloh lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika hamba itu bertaubat kepada-Nya, daripada kegembiraan salah seorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir yang luas.” (HR. Muslim no. 2747)

Kegembiraan Alloh ini menunjukkan bahwa Rohmat adalah kehendak yang paling dominan. Ibnu Hajar (852 H) menjelaskan bahwa kata “mendahului” dalam hadits utama menunjukkan bahwa Rohmat lebih cepat sampai kepada hamba daripada hukuman. Alloh memberikan ribuan ni’mat tanpa diminta, namun Dia hanya memberikan satu adzab setelah adanya pelanggaran yang berkali-kali. Inilah bukti bahwa dalam tatanan kehendak Ilahi, Rohmat selalu berada di barisan terdepan, menyambut setiap jiwa yang ingin mendekat kepada Sang Kholiq. Kesadaran akan urutan kehendak ini seharusnya membuat setiap Muslim merasa optimis bahwa Robb yang mereka sembah adalah Robb yang lebih suka memaafkan daripada menghukum.

 

Bab 4: Penjelasan Makna Rohmat Alloh Mengalahkan Murka-Nya

4.1 Kuatnya Sifat Pengampun dan Pemaaf di Atas Siksa dan Hukuman

Sifat Alloh yang paling menonjol dalam memperlakukan hamba-Nya yang berdosa adalah pemberian maaf dan ampunan. Makna bahwa Rohmat mengalahkan murka adalah bahwa Alloh lebih suka memberikan maaf daripada menjatuhkan hukuman. Hal ini merupakan bentuk kemurahan yang tidak bertepi bagi setiap makhluk yang mau kembali kepada-Nya. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)

Ayat ini berkaitan dengan syirik yang belum ditaubati hingga mati. Adapun dosa besar yang dibawa mati tanpa taubat, ada potensi diampuni Alloh. Lantas bagaimana jika bertaubat sebelum mati?

Dominasi Rohmat terlihat ketika Alloh tetap memberikan rizqi dan kesehatan kepada hamba yang setiap hari bermaksiat kepada-Nya. Hukuman seringkali ditangguhkan agar hamba tersebut memiliki kesempatan untuk bertaubat. Ketetapan ini selaras dengan sifat Alloh yaitu Al-Ghofur (Maha Pengampun) dan Al-Affuw (Maha Pemaaf). Rosululloh bersabda dalam sebuah Hadits yang sangat agung:

«قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلَا أُبَالِي»

“Alloh Tabaroka wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai setinggi langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli.’” (HSR. At-Tirmidzi no. 3540)

Contoh nyata dari Rohmat yang mengalahkan murka adalah kisah seorang lelaki yang telah membunuh 100 nyawa. Meskipun dosanya sangat besar dan telah melampaui batas, namun ketika dia berniat bertaubat dan melangkahkan kaki menuju tanah yang sholih, Alloh menerima taubatnya. Bahkan dalam perselisihan antara Malaikat Rohmat dan Malaikat Adzab, Alloh memerintahkan bumi untuk mendekat ke arah tujuan taubat lelaki tersebut agar dia mendapatkan Rohmat-Nya. Nabi bersabda:

«فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَقَرَّبِي، وَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَبَاعَدِي، وَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَهُمَا، فَوُجِدَ إِلَى هَذِهِ أَقْرَبَ بِشِبْرٍ، فَغُفِرَ لَهُ»

“Maka Alloh mewahyukan kepada bumi ini (tempat maksiat) agar menjauh, dan kepada bumi ini (tempat ketaatan) agar mendekat. Lalu Alloh berfirman: ‘Ukurlah jarak antara keduanya.’ Ternyata dia ditemukan lebih dekat ke bumi ketaatan sejauh satu jengkal, maka dia pun diampuni.” (HR. Al-Bukhori no. 3470 dan Muslim no. 2766)

Kejadian ini menunjukkan bahwa murka Alloh atas pembunuhan 100 nyawa dikalahkan oleh Rohmat-Nya yang menyambut satu niat taubat yang tulus.

Jika bukan karena Rohmat yang mengalahkan murka, niscaya satu dosa saja sudah cukup untuk membinasakan manusia selamanya.

4.2 Bukti Keunggulan Rohmat dalam Catatan Amal dan Pembalasan

Salah satu bentuk Rohmat yang paling nyata adalah aturan dalam pencatatan amal manusia. Alloh memberlakukan sistem yang sangat menguntungkan hamba-Nya sebagai bukti bahwa kasih sayang-Nya lebih dominan daripada keadilan murni yang mengharuskan pembalasan yang setimpal. Alloh berfirman:

﴿مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾

“Barang siapa membawa amal kebaikan maka baginya 10 kali lipat amalnya, dan barang siapa membawa amal kejelekan maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejelekannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dizholimi.” (QS. Al-An’am: 160)

Lipat ganda pahala ini adalah tanda bahwa Alloh sangat ingin hamba-Nya masuk ke dalam Jannah. Sebaliknya, satu kejelekan hanya dihitung satu dan bahkan bisa dihapus hanya dengan satu niat penyesalan. Rosululloh menjelaskan hal ini secara mendalam dalam sebuah Hadits Qudsi:

«إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ»

“Sesungguhnya Alloh menulis kebaikan dan kejelekan lalu menjelaskannya. Barang siapa berniat melakukan kebaikan namun tidak mengamalkannya, Alloh mencatat di sisi-Nya sebagai satu kebaikan sempurna. Jika dia berniat lalu mengamalkannya, Alloh mencatat di sisi-Nya 10 kebaikan hingga 700 kali lipat bahkan hingga pelipatan yang sangat banyak.” (HR. Al-Bukhori no. 6491 dan Muslim no. 131)

Adapun mengenai dosa, Nabi melanjutkan:

«وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً»

“Dan barang siapa berniat melakukan kejelekan namun tidak jadi mengamalkannya (karena takut kepada Alloh), Alloh mencatat di sisi-Nya sebagai satu kebaikan sempurna. Jika dia berniat lalu mengamalkannya, Alloh mencatatnya sebagai satu kejelekan saja.” (HR. Al-Bukhori no. 6491)

Ketentuan ini adalah bukti bahwa Rohmat-Nya benar-benar mengalahkan murka-Nya dalam timbangan amal. Sistem ini menunjukkan bahwa maksud asli dari penciptaan adalah untuk pemberian ni’mat, sedangkan adzab hanyalah pengecualian bagi mereka yang benar-benar menolak Rohmat tersebut. Seseorang yang kejelekannya masih mampu mengalahkan kebaikannya yang telah dilipatgandakan 10 kali lipat, maka sungguh dia adalah orang yang benar-benar celaka.

Selain itu, Rohmat juga mengalahkan murka dalam hal penghapusan dosa melalui ujian. Setiap musibah yang menimpa seorang Muslim, sekecil apa pun itu, merupakan cara Alloh menghapus kesalahan agar hamba tersebut tidak ditimpa murka di Akhiroh. Nabi bersabda:

«مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dengan hal tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 5641 dan Muslim no. 2573)

4.3 Alasan Mengapa Rohmat Menjadi Sifat yang Lebih Dominan

Dominannya sifat Rohmat atas Murka memiliki landasan yang kuat dalam sifat kedzatian Alloh . Para ulama menjelaskan bahwa Rohmat adalah konsekuensi dari kemurahan Dzat Alloh yang tidak membutuhkan sebab dari makhluk untuk ada. Sedangkan Murka adalah sifat yang muncul karena adanya sebab dari perbuatan buruk makhluk. Ibnu Taimiyah (728 H) menyebutkan bahwa Rohmat adalah tuntutan dari Dzat-Nya, sedangkan Murka adalah tuntutan dari keadilan-Nya terhadap perbuatan hamba.

Sifat Rohmat melekat pada setiap ciptaan sejak awal, sebagaimana Alloh berfirman:

﴿وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ﴾

“Dan Rohmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’rof: 156)

Keluasan ini tidak dimiliki oleh sifat Murka. Murka Alloh tidak meliputi segala sesuatu, melainkan hanya terbatas pada mereka yang berhak menerimanya. Sebaliknya, Rohmat-Nya mencakup orang Mu’min, orang kafir, hewan, dan tumbuh-tumbuhan dalam hal pemberian rizqi dan penjagaan di dunia.

Kata “mengalahkan” (gholabat) dalam Hadits utama berarti bahwa pengaruh dan atsar dari Rohmat jauh lebih banyak dan lebih kuat di alam semesta ini daripada pengaruh Murka.

Bahkan di dalam Naar sekalipun, Rohmat Alloh tetap berlaku bagi para Ahli Tauhid yang masih memiliki iman sekecil biji sawi. Alloh akan mengeluarkan mereka dari siksaan karena Rohmat-Nya yang mengalahkan murka atas dosa-dosa mereka. Nabi bersabda tentang syafaat Alloh di hari Qiyamah:

«شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ، وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ، فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ قَدْ عَادُوا حُمَمًا»

“Para Malaikat telah memberi syafaat, para Nabi telah memberi syafaat, dan orang-orang beriman telah memberi syafaat. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali Dzat yang Paling Penyayang di antara para penyayang (Arhamur Rohimin). Maka Dia mengambil satu genggaman dari Naar dan mengeluarkan darinya kaum yang tidak pernah beramal kebaikan sedikit pun (namun masih memiliki iman), yang sudah menjadi arang.” (HR. Muslim no. 183)

Ini adalah puncak dari pembuktian bahwa Rohmat Alloh mengalahkan murka-Nya. Bahkan ketika keadilan mengharuskan seseorang berada di Naar, Rohmat-Nya yang luas masih mampu menjangkau mereka. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan akhir dari seluruh pengaturan alam semesta ini adalah kembalinya makhluk kepada kasih sayang Sang Pencipta.

Kesimpulannya, Rohmat menjadi dominan karena ia adalah sifat yang dicintai oleh Alloh untuk diberikan, sedangkan Murka adalah sifat yang Alloh tidak sukai untuk dilakukan kecuali jika terpaksa karena kezholiman hamba-Nya. Alloh lebih bergembira dengan taubat seorang hamba daripada menghukumnya. Dengan memahami dominasi Rohmat ini, seorang Muslim akan selalu memiliki harapan (Roja’) yang kuat bahwa selama dia masih bernafas, pintu kemurahan Robb-Nya tetap lebih besar daripada tumpukan kesalahannya.

 

Bab 5: Pembagian Rohmat Alloh Menjadi 100 Bagian

5.1 Satu Bagian Rohmat untuk Kehidupan Seluruh Makhluk di Dunia

Keluasan Rohmat Alloh yang kita saksikan di alam semesta ini, mulai dari kasih sayang antarmanusia hingga kelembutan hewan terhadap anaknya, pada hakikatnya hanyalah satu bagian kecil dari totalitas Rohmat yang Alloh miliki. Rosululloh telah memberikan gambaran yang sangat menakjubkan mengenai pembagian ini guna menunjukkan betapa melimpahnya kasih sayang Robb semesta alam. Beliau bersabda:

«إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya Alloh memiliki 100 Rohmat. Dia menurunkan satu Rohmat di antaranya ke tengah-tengah jin, manusia, binatang ternak, dan hewan-hewan melata. Dengan satu Rohmat itulah mereka saling berlemah lembut, dengan satu Rohmat itu mereka saling menyayangi, dan dengan satu Rohmat itu pula hewan buas menyayangi anaknya.” (HR. Muslim no. 2752)

Satu bagian Rohmat ini mencakup seluruh ni’mat duniawi yang dirasakan oleh seluruh makhluk tanpa terkecuali, baik yang beriman maupun yang kafir, baik manusia maupun binatang. Adanya rasa aman, kecukupan pangan, keindahan alam, serta keteraturan tata surya adalah tetesan dari satu bagian Rohmat tersebut. Alloh berfirman:

﴿فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا﴾

“Maka perhatikanlah atsar (bekas-bekas) Rohmat Alloh, bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS. Ar-Rum: 50)

Hujan yang turun dan tumbuhnya pepohonan adalah bukti nyata dari Rohmat-Nya yang menghidupkan apa yang sebelumnya mati. Bayangkan, jika satu bagian Rohmat saja sudah mampu menciptakan keharmonisan di seluruh penjuru bumi selama ribuan tahun, maka betapa tidak terbatasnya hakikat Rohmat Alloh secara keseluruhan.

Bahkan, pemberian rizqi kepada orang-orang yang mengingkari Alloh dan menyembah selain-Nya adalah bagian dari satu Rohmat ini. Alloh tetap memberikan mereka udara untuk bernafas dan makanan untuk bertahan hidup meskipun mereka mencela-Nya. Rosululloh bersabda:

«مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ، يَدَّعُونَ لَهُ الوَلَدَ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ»

“Tidak ada seorang pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengarnya melebihi Alloh. Sesungguhnya mereka menganggap Dia memiliki anak, namun Dia tetap memberikan mereka kesehatan dan rizqi.” (HR. Al-Bukhori no. 7378 dan Muslim no. 2804)

Pemberian rizqi kepada musuh-musuh-Nya ini adalah bentuk Rohmat duniawi yang mendahului murka-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa di dunia ini, Rohmat Alloh bersifat umum (rohmatul ‘ammah) yang meliputi seluruh makhluk agar mereka memiliki kesempatan untuk menyadari kebenaran.

5.2 Penyimpanan 99 Bagian Rohmat untuk Para Mu’min di Hari Qiyamah

Bagian yang paling menggembirakan bagi setiap Muslim adalah kabar bahwa Alloh menyimpan 99 bagian Rohmat lainnya untuk diberikan secara khusus pada hari Qiyamah. Di saat setiap jiwa merasa ketakutan, matahari didekatkan, dan keringat menenggelamkan manusia sesuai amalannya, di situlah 99 bagian Rohmat ini akan diturunkan. Nabi bersabda:

«وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Dan Alloh menunda 99 Rohmat yang dengannya Dia menyayangi hamba-hamba-Nya pada hari Qiyamah.” (HR. Muslim no. 2752)

Penyimpanan 99 bagian ini menunjukkan bahwa kasih sayang Alloh di Akhiroh jauh lebih dahsyat dan lebih luas daripada apa yang kita rasakan di dunia. Jika satu bagian saja sudah cukup untuk miliaran makhluk sejak awal zaman hingga akhir zaman, maka 99 bagian adalah jaminan keselamatan yang luar biasa bagi kaum Mu’minin. Alloh berfirman:

﴿وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا﴾

“Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)

Ayat ini menggunakan kata “Rohiman” yang menurut para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas (68 H) merujuk pada Rohmat khusus yang diberikan kepada orang beriman di Akhiroh. Rohmat inilah yang akan menutupi aib-aib hamba di hadapan seluruh makhluk saat hisab (perhitungan amal). Rosululloh menggambarkan bagaimana Rohmat ini bekerja menyelimuti hamba-Nya:

«إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي المُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ»

“Sesungguhnya Alloh akan mendekatkan seorang Mu’min, lalu meletakkan penutup-Nya kepadanya dan menutupinya dari pandangan orang lain. Alloh bertanya: ‘Apakah engkau tahu dosa ini? Apakah engkau tahu dosa itu?’ Hamba itu menjawab: ‘Iya, wahai Robbku.’ Sampai ketika Alloh telah membuatnya mengakui semua dosanya dan hamba itu merasa dirinya akan binasa, Alloh berfirman: ‘Aku telah menutupi dosa-dosa itu bagimu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya bagimu.’” (HR. Al-Bukhori no. 2441 dan Muslim no. 2768)

Inilah salah satu bentuk nyata dari 99 bagian Rohmat tersebut. Di saat keadilan menuntut hukuman, Rohmat Robb justru datang memberikan ampunan.

Hadits tentang 100 Rohmat ini memberikan harapan yang sangat besar agar manusia tidak berputus asa dari luasnya ampunan Alloh di hari pembalasan kelak. Jika seseorang bisa hidup tenang di dunia dengan satu bagian Rohmat di tengah banyak kesulitan, maka tentu dia akan jauh lebih aman di Akhiroh dengan 99 bagian Rohmat di bawah naungan Robb yang Maha Pengasih.

Keberadaan 99 bagian Rohmat ini juga menjadi alasan mengapa Jannah (Surga) disebut sebagai tempat tinggal bagi orang-orang yang dirohmati. Tidak ada seorang pun yang masuk Jannah semata-mata karena amalnya, melainkan karena Rohmat yang melimpah ini. Nabi bersabda:

«لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الجَنَّةَ» قَالُوا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لاَ، وَلاَ أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ»

“Amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam Jannah.” Para Shohabat bertanya: “Tidak juga engkau, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Tidak juga aku, hanya saja Alloh melimpahiku dengan karunia dan Rohmat-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 5673 dan Muslim no. 2816)

5.3 Kasih Sayang Induk Makhluk

Alloh memberikan contoh konkrit yang dapat disaksikan oleh mata manusia untuk menggambarkan hakikat Rohmat-Nya, yaitu melalui kasih sayang seorang induk kepada anaknya. Kelembutan seekor burung yang menyuapi anaknya, atau seekor singa yang sangat berhati-hati agar tidak menginjak anaknya, semuanya bersumber dari satu bagian Rohmat yang turun ke bumi. Nabi bersabda:

«حَتَّى تَرْفَعَ الفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا، خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ»

“Sampai-sampai seekor binatang mengangkat kakinya dari anaknya karena takut akan menginjaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 6000)

Rasa takut hewan tersebut untuk menyakiti anaknya bukanlah hasil dari pemikiran logis atau pendidikan, melainkan fitroh yang diletakkan oleh Alloh melalui satu bagian Rohmat tersebut. Jika hewan yang tidak memiliki akal saja bisa memiliki kasih sayang sedemikian rupa, maka bayangkanlah kasih sayang Dzat yang menciptakan rasa sayang tersebut.

Pernah suatu ketika para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum melihat seorang ibu di tengah tawanan perang yang sangat panik mencari anaknya. Begitu dia menemukannya, dia langsung mendekapnya ke dadanya dengan sangat erat. Melihat pemandangan yang mengharukan itu, Rosululloh bersabda:

«أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ» قُلْنَا: لاَ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»

“Apakah kalian mengira wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab: “Tidak, demi Alloh, selama dia mampu untuk tidak melemparkannya.” Maka Nabi bersabda: “Sungguh, Alloh lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang wanita ini kepada anaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 5999 dan Muslim no. 2754)

Hadits ini adalah puncak analogi dalam memahami Rohmat Robb. Kasih sayang ibu adalah kasih sayang yang paling murni di dunia manusia, namun itu hanyalah percikan kecil dari satu bagian Rohmat. Alloh memiliki 100 bagian utuh yang kemurnian dan kekuatannya tidak tertandingi. Ibnu Qoyyim (751 H) dalam kitab Madarijus Salikin menyebutkan bahwa jika seorang hamba benar-benar memahami hal ini, maka dia akan menyadari bahwa Alloh tidak menciptakan makhluk-Nya untuk disiksa, melainkan untuk dirohmati. Adzab hanyalah bagi mereka yang dengan sengaja melarikan diri dari luasnya Rohmat tersebut.

Contoh lain adalah kisah tentang burung yang rela mati demi melindungi anaknya dari pemangsa. Pengorbanan tersebut adalah jejak dari satu bagian Rohmat duniawi. Alloh ingin kita belajar dari fenomena alam ini agar kita tidak pernah ragu untuk kembali kepada-Nya. Setiap kali kita melihat kasih sayang di dunia ini, hendaknya hati kita langsung teringat bahwa ada Robb yang kasih sayang-Nya jauh lebih besar, yang selalu menunggu hamba-Nya yang bersalah untuk kembali pulang ke pelukan ampunan-Nya.

Dengan demikian, Bab 5 ini menegaskan bahwa struktur Rohmat Alloh telah dirancang sedemikian rupa: satu bagian untuk menjaga tatanan dunia dan kehidupan seluruh makhluk, sementara 99 bagian lainnya disiapkan sebagai kejutan agung dan perlindungan mutlak bagi kaum Mu’minin di Akhiroh kelak. Inilah bukti nyata bahwa Rohmat-Nya benar-benar mendahului dan mengalahkan segala bentuk kemurkaan.

 

Bab 6: Hubungan antara Keadilan Robb dengan Luasnya Rohmat-Nya

6.1 Keadilan Alloh dalam Menempatkan Murka pada Tempatnya

Keadilan Alloh adalah sebuah sifat yang sangat sempurna, di mana Dia tidak pernah menzholimi makhluk-Nya sedikit pun. Murka Alloh yang muncul dan mengakibatkan adzab bagi sebagian hamba bukanlah bentuk kezholiman, melainkan wujud keadilan yang diletakkan secara tepat pada tempatnya. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا﴾

“Sesungguhnya Alloh tidak menzholimi seseorang walaupun sebesar dzarroh (atom), dan jika ada kebajikan sebesar dzarroh, niscaya Alloh akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 40)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap hukuman yang menimpa hamba adalah murni karena perbuatan hamba itu sendiri.

Keadilan Robb mengharuskan adanya pembalasan bagi orang yang melanggar batasan, namun Rohmat-Nya selalu memberikan celah untuk menghindar dari hukuman tersebut sebelum ia benar-benar jatuh. Alloh tidak pernah menyiksa seorang hamba kecuali setelah tegaknya hujjah dan hamba tersebut secara sadar memilih jalan kekufuran. Alloh berfirman:

﴿وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ﴾

“Robb-mu sekali-kali tidak menzholimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fussilat: 46)

Keadilan ini terlihat saat hamba-hamba yang membangkang dimasukkan ke dalam Naar. Mereka mengakui bahwa hukuman tersebut adalah layak bagi mereka karena pengingkaran mereka terhadap para Rosul. Sebagaimana firman Alloh tentang penduduk Naar:

﴿فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ﴾

“Maka mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni Naar yang menyala-nyala itu.” (QS. Al-Mulk: 11)

Bahkan dalam kemurkaan-Nya yang paling dahsyat, Alloh tetap berlaku adil. Sebagai contoh, ketika kaum Luth ditimpa adzab karena perbuatan keji mereka, Alloh menyelamatkan Luth dan keluarganya yang beriman sebagai bentuk keadilan bagi orang yang taat. Murka hanya menimpa mereka yang bersikeras dalam kemaksiatan.

Murka Alloh adalah manifestasi (perwujudan) dari penempatan sesuatu pada porsinya. Jika orang yang durhaka disamakan dengan orang yang sholih, maka itulah letak ketidakadilan. Oleh karena itu, Alloh berfirman:

﴿أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ﴾

“Apakah Kami akan menjadikan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Ataukah Kami menjadikan orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang jahat?” (QS. Shod: 28)

Keadilan Robb juga tampak pada hari Qiyamah saat timbangan (Mizan) ditegakkan. Tidak ada satu pun amal yang terlewatkan. Namun, di tengah keadilan yang sangat ketat itu, Rohmat Alloh tetap mendominasi dengan cara menimbang niat baik yang belum sempat terlaksana. Inilah keindahan hubungan antara keadilan dan Rohmat-Nya.

6.2 Kemurahan Alloh dalam Melipatgandakan Pahala Kebaikan

Jika keadilan mengharuskan satu kebaikan dibalas dengan satu pahala, maka Rohmat Alloh melampaui aturan keadilan tersebut dengan melipatgandakannya berkali-kali lipat. Ini adalah salah satu bukti paling nyata bahwa Rohmat-Ku mengalahkan murka-Ku. Alloh berfirman:

﴿مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾

“Barang siapa membawa amal kebaikan maka baginya 10 kali lipat amalnya, dan barang siapa membawa amal kejelekan maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejelekannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dizholimi.” (QS. Al-An’am: 160)

Lipat ganda ini tidak hanya berhenti di angka 10, melainkan bisa mencapai 700 kali lipat bahkan lebih, tergantung pada keikhlasan dan kualitas amal tersebut. Alloh memberikan perumpamaan tentang infaq di jalan-Nya:

﴿مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan 7 tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada 100 biji. Alloh melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 261)

Pelipatgandaan ini merupakan karunia murni dari Alloh yang tidak bisa diukur dengan logika matematika manusia. Rosululloh juga menegaskan hal ini dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma:

«إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ»

“Sesungguhnya Alloh menulis kebaikan-kebaikan dan kejelekan-kejelekan kemudian menjelaskan hal itu. Barang siapa yang berniat melakukan satu kebaikan namun dia tidak mengamalkannya, maka Alloh menuliskan baginya 1 kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Dan jika dia berniat lalu mengamalkannya, maka Alloh menuliskan baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipat hingga pelipatan yang banyak.” (HR. Al-Bukhori no. 6491 dan Muslim no. 131)

Contoh nyata dari Rohmat ini adalah amalan di malam Lailatul Qodar. Satu malam yang digunakan untuk beribadah dinilai lebih baik daripada beribadah selama 1.000 bulan di waktu lain. Alloh berfirman:

﴿لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1.000 bulan.” (QS. Al-Qodar: 3)

Ini adalah bentuk “bonus” Rohmat yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad yang umurnya relatif pendek (antara 60 sampai 70 tahun). Tanpa adanya pelipatgandaan ini, sulit bagi manusia untuk mengejar ketertinggalan amal mereka dibandingkan dengan dosa-dosa yang mereka lakukan. Kemurahan ini adalah cara Alloh menarik hamba-Nya menuju Jannah dengan tali Rohmat-Nya.

6.3 Cara Alloh Menghapus Kejelekan dengan Kebaikan yang Sedikit

Hubungan antara keadilan dan Rohmat Robb juga terlihat pada mekanisme penghapusan dosa. Alloh menetapkan bahwa kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba dapat menggugurkan kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Ini adalah prinsip yang menunjukkan bahwa pengaruh Rohmat jauh lebih kuat dalam menghapus atsar (bekas) murka. Alloh berfirman:

﴿وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ﴾

“Dan dirikanlah Sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam (yakni Sholat 5 waktu). Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu (terutama Sholat) menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)

Ayat ini turun berkenaan dengan seorang Shohabat yang melakukan kesalahan lalu dia menyesal. Rosululloh memberitahunya bahwa Sholat yang dia lakukan telah menghapus dosanya tersebut. Beliau juga bersabda:

«اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»

“Bertaqwalah kepada Alloh di mana pun engkau berada, dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1987)

Hanya dengan kebaikan yang terkadang nampak kecil di mata manusia, namun dilakukan dengan tulus, Alloh mampu menghapus kemurkaan-Nya yang besar. Perhatikan kisah seorang wanita pezina dari kalangan Bani Isroil yang diampuni dosanya hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Nabi bersabda:

«بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ، كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ»

“Ketika ada seekor anjing yang berkeliling di sekitar sumur dan hampir mati karena haus, tiba-tiba seorang wanita pezina dari kalangan Bani Israil melihatnya. Maka wanita itu melepas sepatunya dan memberi anjing itu minum, maka Alloh mengampuninya karena perbuatannya itu.” (HR. Al-Bukhori no. 3467 dan Muslim no. 2245)

Contoh ini adalah bukti betapa dahsyatnya Rohmat Alloh . Perbuatan memberi minum seekor anjing (kebaikan yang dianggap kecil) mampu meruntuhkan gunung dosa perzinaan (kemaksiatan besar) karena adanya Rohmat yang luas.

Begitu pula dengan ucapan kalimat Tauhid “Laa ilaha illallah” di akhir hayat. Seseorang yang hidupnya penuh dengan kemaksiatan namun dia menutup usianya dengan kalimat tersebut, maka Rohmat Alloh akan mengalahkan murka-Nya atas dosa-dosanya selama ini. Nabi bersabda:

«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Barang siapa yang akhir ucapannya adalah Laa ilaha illallah, maka dia masuk Jannah.” (HSR. Abu Dawud no. 3116)

Pintu taubat juga senantiasa terbuka lebar selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Alloh memanggil hamba-Nya yang telah melampaui batas dengan panggilan yang penuh kelembutan:

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾

“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari Rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)

Ibnu Abbas (68 H) menyatakan bahwa ayat ini adalah ayat yang paling memberikan harapan di dalam Al-Qur’an. Bagaimana tidak, Alloh tetap memanggil para pendosa besar dengan sebutan “hamba-Ku”, yang menunjukkan bahwa ikatan antara Kholiq dan makhluk tidak putus hanya karena dosa, selama hamba tersebut mau kembali. Inilah puncak hubungan antara keadilan dan Rohmat; keadilan mencatat dosa tersebut, namun Rohmat menyediakan penghapus yang sangat mudah didapatkan.

Setiap langkah menuju Masjid, setiap tetes air wudhu yang menggugurkan dosa dari anggota badan, serta setiap kata Istighfar yang diucapkan dengan lisan adalah sarana yang disediakan Alloh agar Rohmat-Nya tetap menang atas kemurkaan-Nya.

Dari sini kita menyadari bahwa Alloh benar-benar menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan. Keadilan-Nya adalah timbangan yang jujur, namun Rohmat-Nya adalah pemberat di sisi kebaikan yang tak terhingga nilainya.

 

Bab 7: Pengaruh Keimanan Terhadap Luasnya Rohmat Alloh bagi Seorang Hamba

7.1 Membangun Persangkaan Baik kepada Robb dalam Segala Kondisi

Seorang hamba yang telah memahami bahwa Rohmat Alloh mendahului dan mengalahkan murka-Nya akan memiliki pondasi jiwa yang sangat kokoh dalam berhusnuzhon (berprasangka baik) kepada Robb. Persangkaan baik ini bentuk keyakinan bahwa setiap ketetapan Alloh di balik tabir takdir selalu mengandung kebaikan dan kasih sayang. Alloh berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي»

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku.” (HR. Al-Bukhori no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Hadits ini memberikan pelajaran agung bahwa perlakuan Alloh kepada hamba-Nya seringkali sejalan dengan apa yang ada di dalam hati hamba tersebut. Jika seorang hamba yakin bahwa Alloh akan merohmatinya, mengampuninya, dan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan, maka Alloh akan mewujudkan hal tersebut. Persangkaan baik ini sangat ditekankan terutama saat seorang hamba menghadapi sakarotul maut. Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhuma berkata, “Aku mendengar Nabi bersabda 3 hari sebelum wafatnya”:

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berprasangka baik kepada Alloh Azzawajalla.” (HR. Muslim no. 2877)

Ibnu Qoyyim (751 H) rohimahullah menjelaskan bahwa persangkaan baik yang paling jujur adalah yang disertai dengan amal sholih.

Seseorang yang mengharapkan Rohmat namun terus berkubang dalam dosa tanpa penyesalan, maka itu adalah ketertipuan. Sebaliknya, seorang Mu’min yang beramal dan berupaya menjauhi maksiat, hatinya akan dipenuhi harapan bahwa Rohmat Robb-nya akan menutupi segala kekurangan amalnya.

Contoh nyata dari husnuzhon adalah saat seorang hamba tertimpa musibah yang sangat berat. Meskipun secara lahiriah musibah tersebut nampak pahit, dia tetap yakin bahwa ada Rohmat tersembunyi yang sedang Alloh siapkan. Hal ini selaras dengan firman Alloh :

﴿وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُ﴾

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 216)

Keimanan terhadap dominasi Rohmat membuat seorang hamba tidak mudah menyalahkan keadaan atau berburuk sangka kepada taqdir. Dia menyadari bahwa Robb yang memiliki Kitab di atas ‘Arsy tidak mungkin menganiaya hamba-Nya. Kesadaran ini membuahkan ketenangan batin yang luar biasa dalam menjalani kehidupan di dunia yang penuh dengan ujian ini.

7.2 Keseimbangan antara Rasa Harap (Roja’) dan Rasa Takut (Khouf)

Memahami luasnya Rohmat Alloh bertujuan untuk menumbuhkan sifat Roja’ (harapan) yang benar di dalam hati, namun tetap harus diimbangi dengan Khouf (rasa takut) agar hamba tersebut tidak menjadi sombong atau meremehkan dosa. Para ulama Salaf menggambarkan hubungan antara Khouf dan Roja’ seperti dua sayap burung; jika salah satunya patah, maka burung tersebut tidak akan bisa terbang menuju tujuannya. Alloh memuji para Nabi-Nya yang memiliki keseimbangan ini:

﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90)

Kata “roghoban” menunjukkan harapan yang besar terhadap Rohmat-Nya, sedangkan “rohaban” menunjukkan rasa takut akan murka dan adzab-Nya. Sifat Roja’ yang muncul dari pemahaman bahwa Rohmat mengalahkan murka berfungsi sebagai pendorong semangat saat jiwa mulai lelah beribadah. Sedangkan Khouf berfungsi sebagai kendali saat nafsu mulai mengajak kepada kemaksiatan.

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) rohimahullah berkata: “Seandainya Roja’ lebih dominan pada saat seseorang sehat, maka itu baik. Namun pada saat sakit, Roja’ harus benar-benar menguasai hatinya agar dia kembali kepada Alloh dengan harapan yang besar.”

Alloh memerintahkan kita untuk tetap berada di jalan tengah, sebagaimana firman-Nya:

﴿تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا﴾

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Robbnya dengan penuh rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah: 16)

Seseorang yang hanya mengandalkan Roja’ tanpa Khouf akan terjatuh ke dalam paham Murji’ah yang menganggap dosa tidak membahayakan keimanan. Sebaliknya, seseorang yang hanya mengandalkan Khouf tanpa Roja’ akan terjatuh ke dalam paham Khowarij yang mudah mengkafirkan sesama Muslim dan berputus asa dari ampunan.

Ibnu Rojab (795 H) rohimahullah menyebutkan bahwa keajaiban dari Hadits “Rohmat-Ku mengalahkan murka-Ku” adalah memberikan suntikan Roja’ yang sangat kuat sehingga seorang hamba selalu memiliki alasan untuk memperbaiki diri setiap kali dia terjatuh dalam kesalahan.

Atsar dari keseimbangan ini terlihat pada diri para Shohabat. Umar bin Al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Seandainya dipanggil dari langit bahwa seluruh manusia masuk Jannah kecuali satu orang, niscaya aku takut jika satu orang itu adalah aku. Dan seandainya dipanggil bahwa seluruh manusia masuk Naar kecuali satu orang, niscaya aku berharap satu orang itu adalah aku.”

Kalimat ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman beliau terhadap keseimbangan antara dahsyatnya adzab dan luasnya Rohmat Alloh .

7.3 Dorongan untuk Terus Bertaubat dan Tidak Berputus Asa

Buah yang paling manis dari keimanan terhadap dominasi Rohmat adalah tertanamnya sikap pantang menyerah dalam bertaubat. Setan senantiasa berusaha membisikkan bahwa dosa hamba sudah terlalu banyak sehingga tidak mungkin lagi diampuni. Namun, dalil-dalil tentang Rohmat Alloh datang untuk menghancurkan tipu daya setan tersebut. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا﴾

“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Alloh, niscaya ia mendapati Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)

Perhatikan kalimat “mendapati Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Hal ini menunjukkan bahwa ampunan Alloh sudah menanti, tinggal hamba tersebut mau melangkah untuk mengambilnya atau tidak. Rosululloh juga mengabarkan tentang luasnya ampunan Robb melalui sebuah Hadits Qudsi:

«يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ»

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu malam dan siang, sedangkan Aku mengampuni seluruh dosa, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim no. 2577)

Keluasan Rohmat ini membuat seorang Muslim tidak akan pernah mengenal kata “terlambat” selama nyawa belum sampai di tenggorokan atau matahari belum terbit dari barat.

Sa’id bin Jubair (95 H) rohimahullah mengatakan bahwa putus asa dari Rohmat Alloh adalah salah satu dosa besar yang paling mematikan hati.

Alloh melarang keras sifat putus asa ini:

﴿قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ﴾

“Ibrohim berkata: ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari Rohmat Robb-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 56)

Dorongan bertaubat ini juga didukung dengan kenyataan bahwa Alloh membukakan pintu taubat setiap waktu. Nabi bersabda:

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا»

“Sesungguhnya Alloh Azzawajalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di waktu siang, dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim no. 2759)

Contoh nyata adalah bagaimana Alloh menerima taubatnya orang-orang yang dahulu sangat memusuhi Islam, membunuh para Shohabat, dan melakukan kesyirikan yang nyata. Namun saat mereka masuk Islam dengan tulus, seluruh masa lalu mereka yang kelam dihapus seolah-olah mereka baru lahir kembali.

Fudhoil bin Iyadh (187 H) rohimahullah menegaskan bahwa tangisan seorang pendosa yang menyesali kesalahannya lebih dicintai oleh Alloh daripada suara tasbih seorang ahli ibadah yang merasa bangga dengan amalannya.

Dengan memahami Bab 7 ini, selesailah rangkaian pemahaman kita mengenai hakikat Rohmat Alloh yang luar biasa. Keimanan ini bukan untuk membuat kita santai dalam berbuat dosa, melainkan untuk memberikan energi positif agar kita terus bergerak menuju Alloh , bertaubat dengan tulus, berbuat baik semaksimal mungkin, dan selalu memandang masa depan di Akhiroh dengan penuh optimisme di bawah naungan kasih sayang Robb semesta alam.

 

Penutup

Sebagai akhir dari pembahasan yang agung ini, hendaknya setiap jiwa menyadari bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah bukti nyata dari kasih sayang Robb yang mendahului segala bentuk kemurkaan. Ketetapan yang tertulis di atas ‘Arsy bukan sekadar kalimat hiasan, melainkan jaminan abadi bagi hamba yang mau tunduk dan kembali kepada-Nya. Alloh berfirman:

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾

“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari Rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini merupakan seruan paling lembut bagi setiap pendosa agar tidak terjerumus ke dalam tipu daya syaithon yang ingin menjauhkan manusia dari pintu ampunan.

Jika seorang hamba mengetahui betapa besar kegembiraan Alloh saat hamba tersebut bertaubat, niscaya hamba itu akan terbang menuju-Nya dengan penuh kerinduan. Kebahagiaan Robb atas kembalinya hamba-Nya melampaui kegembiraan seorang musafir yang menemukan kembali bekal dan kendaraannya di padang pasir yang mematikan.

Kita telah mempelajari bahwa 99 bagian Rohmat telah dipersiapkan Alloh khusus untuk hari pembalasan kelak. Ini adalah bekal harapan yang tidak boleh padam. Rosululloh bersabda:

«جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا»

“Alloh menjadikan Rohmat itu 100 bagian. Maka Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan menurunkan ke bumi 1 bagian.” (HR. Al-Bukhori no. 6000)

Harapan ini harus dibersamai dengan ketundukan total. Jangan sampai luasnya Rohmat membuat kita meremehkan maksiat, namun jangan pula besarnya dosa membuat kita merasa tidak mungkin mendapatkan Surga. Ingatlah selalu bahwa Alloh adalah Robb yang murka-Nya adalah keadilan, namun Rohmat-Nya adalah anugerah yang melampaui batas-batas logika manusia.

Sebagai penutup, marilah kita merenungkan doa yang sering diucapkan oleh Rosululloh untuk memohon perlindungan di bawah naungan Rohmat-Nya:

«اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ»

“Ya Alloh, hanya Rohmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau sandarkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Robb yang berhak disembah selain Engkau.” (HSR. Abu Dawud no. 5090)

Semoga buku ini menjadi pelita bagi mereka yang sedang berjalan dalam kegelapan dosa, menjadi penghibur bagi hati yang lara, dan menjadi penguat iman bagi setiap Muslim untuk terus berhusnuzhon kepada Alloh hingga hembusan nafas terakhir. Sesungguhnya tidak ada daya untuk melakukan ketaatan dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi kemaksiatan kecuali dengan pertolongan-Nya. Walhamdulillahi Robbil ‘Alamin.[NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url