Cari Ebook

[PDF] Membangkitkan Semangat Mengikuti Nabiyyul Ummat ﷺ - Kholid bin Sa’ud Al-‘Ajmi

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Alloh dari keburukan jiwa-jiwa kami dan dari kejahatan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Robb yang berhak disembah dengan benar selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai orang Muslim.” (QS. Ali ‘Imron: 102)

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾

“Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan darinya Dia menciptakan istrinya; dan dari keduanya Dia mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan. Dan bertaqwalah kepada Alloh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa: 1)

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبكُم وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Alloh memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Amma ba’du:

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabulloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di Naar.

Selanjutnya...

Sesungguhnya dikarenakan banyaknya manusia yang meremehkan perintah-perintah Rosululloh , berpaling dari ketaatan kepadanya, dan terus-menerus menyelisihi Sunnahnya... hingga keadaan sebagian mereka sampai pada titik di mana jika disampaikan kepadanya suatu perintah, larangan, atau perbuatan dari beliau, ia berbicara dengan sombong seraya berkata: “Ini hanyalah Sunnah, orang yang meninggalkannya tidak dihukum...” Ia menjadikan ucapan dan alasan yang lemah ini sebagai kebiasaannya setiap kali disebutkan kepadanya perintah atau larangan dari Rosululloh . Padahal perintah tersebut menuntut kewajiban, dan larangan tersebut menuntut keharoman.

Oleh karena itu, aku ingin mengumpulkan ayat-ayat dari Al-Kitab yang mulia, Hadits-hadits dari Sunnah yang suci, serta ucapan-ucapan para Salaf yang tulus dari kalangan Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dan para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, yang diharapkan padanya terdapat penjelasan, penjernihan, dan bantuan untuk taat kepada Alloh dan taat kepada Rosul-Nya bagi siapa saja yang membacanya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk nasehat bagi umat.

Ketahuilah bahwa barangsiapa yang menyelisihi Sunnah Al-Musthofa Rosul petunjuk, menempuh jalan selain jalannya, manhaj selain manhajnya, tidak melaksanakan perintahnya, dan tidak berhenti dari larangannya, maka ia dalam keadaan seperti ini telah menyelisihi kandungan dari bagian kedua kalimat Tauhid yang merupakan rukun pertama dari rukun-rukun Islam, yaitu ucapan: “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosululloh.”

Maknanya adalah: “Mentaatinya pada apa yang dia perintahkan, membenarkannya pada apa yang dia kabarkan, menjauhi apa yang dia larang dan peringatkan, dan tidak beribadah kepada Alloh kecuali dengan apa yang dia syariatkan.” (Al-Ushul Ats-Tsalatsah, Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H), hal. 2)

Maka barangsiapa yang menyelisihi perintahnya dan berjalan di atas selain manhajnya, apakah ia telah mewujudkan syahadat “Tauhid”?

Sesungguhnya Kitabulloh ‘Azza wa Jalla penuh dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk mentaati beliau dan mengharomkan menyelisihinya. Alloh menggandengkan ketaatan kepada beliau dengan ketaatan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, dan menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak mentaati Rosululloh , maka ia tidak mentaati Alloh.

Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) rohimahullah berkata: “Aku melihat ke dalam Mushhaf, lalu aku menemukan ketaatan kepada Rosululloh disebutkan di 33 tempat...(Al-Ibanah, Ibnu Baththoh (387 H), 1/260 no. 97)

Al-Ajurri (360 H) rohimahullah berkata: “Kemudian Alloh mewajibkan ketaatan kepada beliau atas makhluk di 30-an tempat lebih dalam Kitab-Nya ‘Azza wa Jalla.” (Asy-Syari’ah, Al-Ajurri (360 H), hal. 49)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) rohimahullah berkata: “Sungguh Alloh telah mewajibkan ketaatan kepada Rosul atas seluruh manusia di hampir 40 tempat dalam Al-Qur’an, dan mentaatinya adalah mentaati Alloh.” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah (728 H), 19/83-261)

Sebagaimana akan datang penyebutan sebagian darinya dengan pertolongan dari Alloh.

Sungguh Pemilik karunia Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan karunia kepada kita saat mengutus di tengah-tengah kita Rosul-Nya yang paling utama dan penutup mereka, sholawat serta salam Alloh atas mereka semua. Tujuannya untuk mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala:

﴿لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ﴾

“Sungguh Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus di tengah mereka seorang Rosul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imron: 164)

Maka apa kewajiban orang-orang yang bersifat dengan Iman terhadap karunia yang diberikan oleh Al-Karim Al-Mannan ini? Tidak lain adalah membenarkan, beriman, taat, dan tunduk dalam setiap perkara kecil maupun besar dari perintah-perintah dan larangan-larangan beliau ‘alaihish sholatu was salam.

Dan inilah ayat-ayat yang mewajibkan atasmu ketaatan kepada Rosululloh pengajar kebaikan dan pemberi peringatan dari jalan-jalan kerugian, yang menunjukkan bahwa kebahagiaan serta petunjuk ada pada mengikuti Rosul dan bahwa kesesatan serta kesengsaraan ada pada menyelisihinya. Seraya berharap kepada Alloh agar hal ini menjadi penyampai bagi siapa saja yang mengumpulkannya, membacanya, dan mendengarnya untuk meneladani Sunnah Al-Hadi Al-Basir dan As-Siroj Al-Munir .

Ayat-ayat dalam tema ini terbagi menjadi 3 bagian:

Pertama: Perintah dari Alloh untuk mentaati-Nya dan mentaati Rosul-Nya serta bimbingan kepadanya.

Kedua: Janji dan pujian dari Alloh bagi siapa saja yang mentaati-Nya dan mentaati Rosul-Nya serta penjelasan tentang baiknya kesudahan urusannya, bahwa ia menuju keridhoan Alloh dan Jannah.

Ketiga: Celaan dan ancaman dari Alloh bagi siapa saja yang mendurhakai perintah-Nya dan perintah Rosul-Nya, serta penjelasan tentang buruknya kesudahan urusannya, bahwa ia menuju kemurkaan Alloh dan Naar.

Bab 1: Perintah dan Bimbingan

Ayat Pertama [فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Muhammad), serta Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian. Jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Qur’an) dan Rosul (Sunnahnya), jika kalian beriman kepada Alloh dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik kesudahannya.” (QS. An-Nisa: 59)

Ibnu Jarir (310 H) rohimahullah berkata: “Yaitu wahai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh Robb kalian pada apa yang Dia perintahkan kepada kalian dan pada apa yang Dia larang bagi kalian.. Dan taatilah Rosul-Nya Muhammad. Karena sesungguhnya dalam ketaatan kalian kepadanya merupakan ketaatan kepada Robb kalian, hal itu karena kalian mentaatinya dikarenakan perintah Alloh kepada kalian untuk mentaatinya..”

Dari ‘Atho (114 H) rohimahullah tentang firman-Nya: “Taatilah Alloh dan taatilah Rosul”, beliau berkata: “Mentaati Rosul adalah mengikuti Sunnahnya.” Dari beliau juga berkata: “Mentaati Rosul adalah mengikuti Al-Kitab dan Sunnah.” (Sunan Ad-Darimi, Ad-Darimi (255 H), no. 219)

Ibnu Katsir (774 H) rohimahullah berkata: “‘Taatilah Alloh’ yaitu ikutilah Kitab-Nya, ‘dan taatilah Rosul’ yaitu ambillah Sunnahnya, ‘dan Ulil Amri di antara kalian’ yaitu pada apa yang mereka perintahkan kepada kalian berupa ketaatan kepada Alloh bukan dalam kemaksiatan kepada Alloh..” Karena sesungguhnya tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam kemaksiatan kepada Alloh. Selesai..

Syaikhul Islam (728 H) rohimahullah berkata: “Ulil Amri adalah para pemilik urusan, yaitu mereka yang memerintah manusia..”

Hal itu mencakup para pemegang kekuasaan (penguasa) serta ahli ilmu dan bicara (ulama), oleh karena itu Ulil Amri ada 2 golongan: Ulama dan Umaro. Jika mereka baik, maka baiklah manusia, dan jika mereka rusak, maka rusaklah manusia.. Sebagaimana perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu kepada wanita Al-Ahmasiyyah ketika bertanya kepadanya: “Bagaimana kelestarian kita di atas urusan ini?” Beliau menjawab: “Selama pemimpin-pemimpin kalian istiqomah (di atas kebenaran) untuk kalian..” Termasuk di dalamnya adalah para raja, para masyayikh, dan pejabat. Setiap orang yang diikuti maka ia termasuk Ulil Amri, dan wajib bagi setiap orang yang harus mentaatinya untuk mentaatinya dalam ketaatan kepada Alloh, dan tidak mentaatinya dalam kemaksiatan kepada Alloh.. Sebagaimana perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu ketika memegang urusan kaum Muslimin dan berkhutbah di hadapan mereka, beliau berkata dalam khutbahnya: “Wahai manusia, taatilah aku selama aku mentaati Alloh, namun jika aku bermaksiat kepada Alloh maka tidak ada kewajiban taat bagimu atasku.” (HR. Al-Bukhori (256 H), no. 3834)

Dan firman-Nya:

﴿فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ﴾

Mujahid (104 H) dan banyak dari kalangan Salaf berkata: “Yaitu kepada Kitab dan Sunnah Rosul.” Ini adalah perintah dari Alloh ‘Azza wa Jalla bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan manusia, baik dalam pokok-pokok agama (ushul) maupun cabang-cabangnya (furu’), agar perselisihan itu dikembalikan kepada Al-Kitab dan Sunnah. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala:

 ﴿وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ﴾

“Apa yang kalian perselisihkan maka kembalikan hukumnya kepada Alloh.” (QS. Asy-Syuro: 10)

Maka apa saja yang diputuskan oleh Al-Kitab dan Sunnah serta keduanya bersaksi atas kebenarannya, maka itulah Al-Haq, dan tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan. Oleh karena itu Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ﴾

 Yaitu kembalikanlah persengketaan dan kebodohan kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya, serta berhakimlah kepada keduanya dalam apa yang terjadi di antara kalian. Hal ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak berhakim dalam perkara yang diperselisihkan kepada Al-Kitab dan Sunnah, serta tidak merujuk kepada keduanya, maka ia bukanlah orang yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir.

Dan firman-Nya: ﴿ذَلِكَ خَيْرٌ﴾  yaitu berhakim kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya. Serta merujuk kepada keduanya dalam memutus perselisihan adalah lebih baik dan ﴿وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا﴾  yaitu lebih baik kesudahan dan tempat kembalinya, sebagaimana dikatakan oleh As-Suddi (127 H) dan banyak ulama lainnya.

Mujahid (104 H) berkata: “Dan lebih baik balasannya,” dan maknanya saling berdekatan.

Ayat Kedua [يُحَكِّمُوكَ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Maka demi Robbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)

Tatkala Alloh meniadakan Iman hingga tercapainya tujuan ini, maka itu menunjukkan bahwa tujuan ini adalah kewajiban bagi manusia. Barangsiapa meninggalkannya maka ia termasuk orang yang terancam, dan ia belum mendatangkan Iman yang wajib yang telah dijanjikan bagi pemiliknya untuk masuk Jannah tanpa adzab. Karena sesungguhnya Alloh hanyalah menjanjikan hal itu bagi siapa yang mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Adapun orang yang melakukan sebagian kewajiban dan meninggalkan sebagian lainnya, maka ia terancam dengan siksaan. Sudah maklum berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin bahwa wajib menjadikan Rosul sebagai hakim dalam setiap apa yang diperselisihkan di antara manusia dalam urusan agama dan dunia mereka, baik dalam pokok agama maupun cabangnya. Wajib atas mereka semua apabila beliau memutuskan sesuatu untuk tidak mendapati keberatan dalam diri mereka terhadap apa yang beliau putuskan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Ibnu Katsir (774 H) rohimahullah berkata tentang firman-Nya:

﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ﴾

“Alloh bersumpah dengan Diri-Nya yang Mulia dan Suci bahwa tidaklah seseorang beriman hingga ia menjadikan Rosul sebagai hakim dalam seluruh urusan. Maka apa saja yang beliau putuskan, itulah Al-Haq yang wajib untuk tunduk kepadanya secara lahir dan batin.”

Oleh karena itu Alloh berfirman:

﴿ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

 Yaitu apabila mereka menjadikanmu hakim, mereka mentaatimu dalam batin mereka sehingga mereka tidak mendapati dalam diri mereka rasa keberatan terhadap apa yang kamu putuskan, dan mereka tunduk kepadanya lahir dan batin, maka mereka menerima hal itu dengan penyerahan diri secara total tanpa ada penolakan, pembelaan, maupun penentangan.

At-Thobari (310 H) mengeluarkan dengan sanadnya dari Adh-Dhohhak (105 H) tentang firman-Nya:

﴿ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ﴾

Ia berkata: “Yaitu perasaan berdosa.”

﴿وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾  

Ia berkata: “Dan mereka berserah diri terhadap ketetapan dan hukummu karena ketundukan mereka dengan ketaatan, serta pengakuan bagi kenabianmu dengan sebenar-benar penyerahan.” Selesai.

Di antara bentuk penyerahan diri kepada beliau adalah ridho dengan hukumnya, beramal dengan Sunnahnya, menerimanya, tunduk kepadanya, dan mencintainya.

Oleh karena itu Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) rohimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa pembatal keislaman itu ada 10,” dan beliau menyebutkan di antaranya: “Kelima: Barangsiapa yang membenci sesuatu dari apa yang dibawa oleh Rosul walaupun ia mengamalkannya, maka ia telah kafir. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ﴾

 “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang Alloh turunkan, maka Alloh menghapuskan amalan-amalan mereka.” (QS. Muhammad: 9).

Dan Dia berfirman:

﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ﴾

 “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Alloh dan benci kepada keridhoan-Nya; sebab itu Alloh menghapuskan amalan-amalan mereka.” (QS. Muhammad: 28)

Ayat Ketiga [فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا﴾

“Barangsiapa mentaati Rosul (Muhammad), maka sesungguhnya ia telah mentaati Alloh. Dan barangsiapa berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 80)

Ini merupakan pemberian alasan dari Alloh kepada makhluk-Nya terkait Nabi-Nya Muhammad . Alloh Ta’ala berfirman kepada mereka: Barangsiapa di antara kalian wahai manusia yang mentaati Muhammad, maka sungguh ia telah mentaati-Ku dengan ketaatannya kepada beliau. Maka dengarkanlah ucapannya dan taatilah perintahnya, karena sesungguhnya apa pun yang ia perintahkan kepada kalian maka itu berasal dari perintah-Ku, dan apa pun yang ia larang bagi kalian maka itu berasal dari larangan-Ku. Maka janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian berkata bahwa Muhammad hanyalah manusia biasa seperti kita yang ingin memiliki keutamaan di atas kita.

Kemudian Alloh berfirman kepada Nabi-Nya: Dan barangsiapa yang berpaling dari ketaatan kepadamu wahai Muhammad, maka biarkanlah dia, karena Kami tidak mengutusmu untuk menjadi penjaga atas apa yang mereka kerjakan lagi menghisabnya. Melainkan Kami mengutusmu hanya untuk menjelaskan kepada mereka apa yang diturunkan kepada mereka, dan cukuplah Kami yang menjaga amal perbuatan mereka serta menghisab mereka atas hal itu.

Ibnu Katsir (774 H) rohimahullah berkata: Alloh mengabarkan tentang hamba dan Rosul-Nya Muhammad bahwa barangsiapa mentaatinya maka sungguh ia telah mentaati Alloh, dan barangsiapa mendurhakainya maka sungguh ia telah mendurhakai Alloh. Hal itu tidak lain karena beliau tidaklah berucap berdasarkan hawa nafsu, melainkan itu adalah wahyu yang diwahyukan.

Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي»

“Barangsiapa mentaatiku maka sungguh ia telah mentaati Alloh, dan barangsiapa mendurhakaku maka sungguh ia telah mendurhakai Alloh...” (HR. Al-Bukhori no. 7137 dan Muslim no. 1835)

Dan firman-Nya:

﴿وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا﴾

 Yaitu tidak ada kewajiban bagimu atasnya, kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Maka barangsiapa mengikutimu ia akan bahagia dan selamat, dan bagimu pahala yang semisal dengan apa yang ia dapatkan. Namun barangsiapa berpaling darimu maka ia akan merugi dan celaka, dan engkau tidak bertanggung jawab sedikit pun atas urusannya.

Ayat Keempat [وَاحْذَرُوا]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾

“Dan taatilah Alloh dan taatilah Rosul serta berwaspadalah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rosul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Alloh) dengan jelas.” (QS. Al-Maidah: 92)

At-Thobari (310 H) berkata: Alloh Ta’ala berfirman: Sesungguhnya khomr, judi, berhala, dan mengundi nasib adalah najis dari perbuatan syaithon, maka jauhilah ia. Taatilah Alloh dan taatilah Rosul dalam menjauhi hal tersebut serta ikutilah perintah-Nya pada apa yang diperintahkan kepada kalian berupa berhenti dari apa yang dilarang bagi kalian. Selisihilah syaithon dalam perintahnya kepada kalian untuk bermaksiat kepada Alloh, karena syaithon hanyalah ingin menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian melalui khomr dan judi.

﴿وَاحْذَرُوا﴾ Maknanya: bertaqwalah kepada Alloh dan merasa diawasilah oleh-Nya agar Dia tidak melihat kalian melakukan apa yang dilarang bagi kalian. Atau Dia kehilangan kalian saat kalian diperintahkan melakukan sesuatu sehingga kalian membinasakan diri kalian sendiri.

  ﴿فَإِن تَوَلَّيْتُمْ﴾yaitu jika kalian tidak mengamalkan apa yang Kami perintahkan dan tidak berhenti dari apa yang Kami larang. Serta kalian berbalik membelakangi Iman dan pembenaran kepada Alloh dan Rosul-Nya serta tidak mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi kalian,

﴿فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾

Maknanya: ketahuilah bahwa tidak ada kewajiban bagi orang yang Kami utus kepada kalian sebagai pemberi peringatan selain menyampaikan risalah yang ia diutus dengannya kepada kalian. Risalah tersebut menjelaskan kepada kalian jalan yang benar yang diperintahkan untuk kalian tempuh. Adapun hukuman atas pembangkangan dan pembalasan atas kemaksiatan maka itu adalah urusan Yang Mengutus. Ini adalah ancaman dari Alloh Ta’ala bagi siapa yang berpaling dari perintah dan larangan-Nya.

Dalam ayat ini Alloh menggandengkan ketaatan kepada Rosul-Nya dengan ketaatan kepada-Nya. Hal itu karena dalam mentaati beliau terdapat ketaatan kepada Alloh, dan karena Muhammad berjalan di atas jalan dan manhaj yang telah dipilih serta ditetapkan batas-batasnya oleh Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Katakanlah: Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku, maka setiap perbuatannya berada dalam keridhoan Alloh, dan setiap ucapan serta tindakannya adalah syariat. Maka seseorang mendekatkan diri kepada Alloh dengan melakukan perbuatannya dan mengucapkan ucapannya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H) berkata tentang firman-Nya ﴿وَاحْذَرُوا﴾: Yaitu janganlah kalian menambah-nambah sehingga kalian menjadi pelaku bid’ah dalam apa yang disyariatkan Alloh ‘Azza wa Jalla dan dibawa oleh Rosul yang terpercaya, atau kalian mengurangi sehingga kalian menelantarkan sebagian syariat agama yang telah Alloh wajibkan atas kalian.

Imam Ibnu Qoyyim (751 H) rohimahullah berkata: Hakikat pengagungan terhadap perintah dan larangan adalah dengan tidak menentangnya dengan keringanan yang menjauh (meremehkan), dan tidak menentangnya dengan sikap keras yang berlebihan (ekstrim). Karena yang dimaksud adalah Shirothol Mustaqim (jalan yang lurus) yang menyampaikan pelakunya kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Tidaklah Alloh memerintahkan suatu perintah melainkan syaithon memiliki dua godaan di dalamnya: entah itu pengurangan dan kelalaian, atau kelebihan dan sikap berlebihan (ghuluw). Syaithon tidak peduli mana dari dua kesalahan itu yang ia dapatkan dari seorang hamba. Syaithon mendatangi hati hamba lalu menciumnya, jika ia mendapati padanya sikap meremehkan dan kemalasan, maka ia akan menghalanginya, mendudukkannya, dan memukulnya dengan kemalasan serta membuka baginya pintu takwil-takwil dan angan-angan hingga mungkin hamba tersebut meninggalkan perintah sama sekali. Namun jika ia mendapati padanya sikap waspada, kesungguhan, dan semangat, serta ia putus asa untuk mengambilnya dari pintu tersebut, maka ia memerintahkannya untuk berijtihad secara berlebih-lebihan. Syaithon membisikkan bahwa ini tidak cukup bagimu, cita-citamu di atas ini, engkau harus melebihi orang-orang yang beramal, jangan tidur saat mereka tidur, dan jangan berbuka saat mereka berbuka. Jika salah seorang dari mereka membasuh tangan dan wajahnya tiga kali, maka basuhlah olehmu tujuh kali, dan jika mereka berwudhu untuk Sholat maka mandilah engkau untuknya, dan yang semisalnya dari sikap melampaui batas. Ia membawanya kepada sikap ghuluw dan melampaui batas serta keluar dari Shirothol Mustaqim. Tujuannya dari kedua orang itu adalah mengeluarkan mereka dari Shirothol Mustaqim; yang satu dengan tidak mendekatinya, dan yang satu lagi dengan melampauinya. Sungguh kebanyakan makhluk telah terfitnah dengan hal ini. Tidak ada yang selamat dari hal tersebut kecuali ilmu yang mendalam, Iman, kekuatan untuk memeranginya, dan senantiasa berada di pertengahan (wasath), dan Alloh tempat memohon pertolongan.

Ayat Kelima [فَاتَّبِعُوهُ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am: 153)

Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata tentang firman-Nya: “Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya” serta yang semisal dengannya dalam Al-Qur’an: “Alloh memerintahkan kaum Mu’min untuk berjamaah, melarang mereka dari perselisihan dan perpecahan, serta mengabarkan bahwa orang-orang sebelum mereka hanyalah binasa karena perdebatan dan pertengkaran dalam agama Alloh.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Dari Abdullah bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rosululloh membuat satu garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan Alloh yang lurus’, lalu beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang tidak ada satu pun darinya melainkan ada syaithon yang menyeru kepadanya’, kemudian beliau membaca: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.’” (HR. Ahmad 1/435 dan Ad-Darimi no. 202)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) rohimahullah berkata: “Apabila orang yang berakal—yang mengharap perjumpaan dengan Alloh—merenungkan permisalan ini, lalu merenungkan seluruh kelompok mulai dari Khowarij, Mu’tazilah, Jahmiyah, Rofidhoh, hingga yang paling dekat dengan Sunnah dari kalangan ahli kalam seperti Karromiyah, Kullabiyah, Asy’ariyah, dan selain mereka, di mana setiap dari mereka memiliki jalan yang keluar dari apa yang ditempuh para Shohabat dan ahli Hadits, serta mengklaim bahwa jalannya lah yang benar—niscaya engkau dapati bahwa mereka itulah yang dimaksud dengan permisalan yang dibuat oleh Al-Ma’shum (Nabi yang terjaga dari kesalahan), yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan.” (Majmu’ Al-Fatawa 4/57)

Beliau juga berkata: “Secara umum kesesatan-kesesatan ini hanyalah masuk kepada orang yang tidak berpegang teguh dengan Al-Kitab dan Sunnah, sebagaimana Az-Zuhri (124 H) sering berkata: ‘Guru-guru kami dahulu berkata: Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan’, dan Malik (179 H) berkata: ‘Sunnah adalah perahu Nuh, barangsiapa menaikinya ia selamat, dan barangsiapa tertinggal darinya ia tenggelam.’.”

Hal itu karena Sunnah, syariat, dan manhaj adalah Shirothol Mustaqim yang menyampaikan hamba-hamba kepada Alloh, dan Rosul adalah penunjuk jalan yang mahir dalam Shiroth ini.

Dari An-Nawwas bin Sam’an (setelah 50 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Rosululloh bersabda: “Alloh membuat permisalan sebuah jalan yang lurus, di kedua sisi jalan itu terdapat dua tembok yang padanya terdapat pintu-pintu yang terbuka, dan pada pintu-pintu tersebut terdapat tirai yang terulur. Di depan pintu jalan tersebut ada penyeru yang berkata: ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam jalan yang lurus ini dan janganlah berpecah belah.’ Dan ada penyeru yang menyeru dari atas jalan, maka apabila seseorang hendak membuka sesuatu dari pintu-pintu tersebut, ia berkata: ‘Celaka engkau, jangan membukanya! Karena jika engkau membukanya, niscaya engkau akan masuk ke dalamnya.’ Maka jalan itu adalah Islam, dua tembok itu adalah batasan-batasan Alloh, pintu-pintu yang terbuka adalah keharoman-keharoman Alloh, penyeru di pangkal jalan adalah Kitabulloh, dan penyeru dari atas jalan adalah penasihat Alloh dalam hati setiap Muslim.” (HR. Ahmad 4/182)

Abu Ja’far At-Thohawi (321 H) rohimahullah berkata: “Kami merenungkan Hadits ini dan mendapati segala isinya jelas maknanya, kecuali tentang penasihat Alloh dalam hati setiap Muslim... maka kami memahami bahwa permisalannya dalam hati Muslim adalah hujjah Alloh Ta’ala yang melarangnya masuk ke dalam apa yang Alloh cegah dan haromkan atasnya... itulah peringatan Alloh dalam hatinya berupa bashiroh (pandangan mata hati) yang Alloh jadikan padanya.” (Musykilul Atsar 3/36-37)

Firman Alloh Ta’ala: “Maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan”, Alloh menyatukan (muwad-had) jalan-Nya karena kebenaran itu satu, dan Dia menjamakkan jalan-jalan (subul) karena perpecahan dan cabangnya yang banyak.

Mujahid (104 H) berkata tentang “jalan-jalan”: “Yaitu bid’ah dan syubhat..”

Ayat Keenam [اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)

Maknanya adalah penuhilah seruan Alloh dan Rosul dengan ketaatan apabila Rosul menyeru kalian kepada kebenaran yang menghidupkan kalian. Bersegeralah memenuhi seruan sebelum kalian tidak mampu melakukannya karena Alloh membatasi antara kalian dan hati kalian yang kalian bergantung padanya, baik dengan kematian yang telah Alloh tetapkan, atau dengan apa yang masuk ke dalamnya berupa penyimpangan dan kerusakan akibat terjerumus dalam fitnah, maksiat, dan berpaling dari Alloh dan Rosul-Nya.

Rosululloh bersabda:

«تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ»

“Fitnah-fitnah ditampakkan ke dalam hati seperti anyaman tikar sebatang demi sebatang, maka hati mana saja yang menyerapnya niscaya akan dititikkan padanya titik hitam... hingga hati itu menjadi seperti cangkir yang terbalik (tertelungkup), ia tidak lagi mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali apa yang diserap oleh hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144)

Hati yang seperti cangkir terbalik inilah yang telah dibatasi antara dirinya dan pemenuhan seruan kepada Alloh serta taufiq untuk mentaati-Nya.

Ibnu Qoyyim (751 H) rohimahullah berkata: “Ayat ini mengandung beberapa perkara: Salah satunya bahwa kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapat dengan memenuhi seruan Alloh dan Rosul-Nya. Maka barangsiapa tidak mendapatkan pemenuhan seruan ini, maka ia tidak memiliki kehidupan, meskipun ia memiliki kehidupan hewani... kehidupan yang hakiki lagi baik adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan Alloh secara lahir dan batin.” (Al-Fawaid hal. 100)

Mengenai firman-Nya:

﴿وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ﴾

 Pendapat yang masyhur dalam ayat ini adalah bahwa Alloh membatasi antara orang Mu’min dengan kekafiran, dan antara orang kafir dengan Iman, serta membatasi antara ahli ketaatan dengan maksiat. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas (68 H) dan mayoritas mufassir.

Berdasarkan pendapat ini, sisi kesesuaiannya adalah: Jika kalian merasa berat dan lambat dalam memenuhi seruan, maka janganlah kalian merasa aman bahwa Alloh akan membatasi antara kalian dan hati kalian, sehingga setelah itu kalian tidak dimungkinkan lagi untuk memenuhi seruan sebagai hukuman atas ditinggalkannya hal tersebut setelah jelasnya kebenaran. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

﴿وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ﴾

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka belum pernah beriman kepadanya pada awal mulanya.”

Dalam ayat ini terdapat peringatan agar jangan meninggalkan pemenuhan seruan dengan hati meskipun anggota badan memenuhinya.

Dan firman-Nya:

﴿وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾

 Maknanya: Ketahuilah wahai orang-orang Mu’min, di samping mengetahui bahwa Alloh membatasi antara manusia dan hatinya, ketahuilah bahwa Alloh yang berkuasa atas hati kalian adalah tempat kembali kalian pada hari Qiyamah. Maka Dia akan menyempurnakan balasan amal kalian; yang berbuat baik dengan kebaikannya dan yang berbuat buruk dengan keburukannya. Maka bertaqwalah kepada-Nya dan merasa diawasilah oleh-Nya dalam apa yang Dia dan Rosul-Nya perintahkan serta larang agar tidak kalian sia-siakan, dan jangan sampai kalian tidak memenuhi seruan Rosul-Nya saat diajak kepada sesuatu yang menghidupkan kalian, yang mana hal itu akan mendatangkan kemurkaan-Nya.

Dari Abi Sa’id bin Al-Mu’alla (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku sedang Sholat lalu Rosululloh lewat dan memanggilku, namun aku tidak mendatangi beliau hingga aku selesai Sholat. Kemudian aku mendatangi beliau, lalu beliau bersabda: ‘Apa yang menghalangimu untuk mendatangiku?’, maka aku menjawab: ‘Sesungguhnya aku tadi sedang Sholat.’ Beliau bersabda: ‘Bukankah Alloh Tabaroka wa Ta’ala telah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ﴾

“Wahai orang-orang beriman...”  (HR. Al-Bukhori no. 4474)

Abu Ja’far At-Thohawi (321 H) rohimahullah berkata: “Dalam apa yang kami riwayatkan dari Rosululloh terdapat kewajiban bagi orang yang dipanggil oleh beliau saat sedang Sholat untuk memenuhi seruannya dan meninggalkan Sholatnya. Hal itu lebih utama baginya daripada terus melanjutkan Sholatnya yang bisa menyebabkan ia dicela berdasarkan apa yang Alloh turunkan. Karena orang yang sedang Sholat itu mampu untuk keluar dari Sholatnya menuju keutamaan yang ia dapatkan dalam memenuhi seruan Rosululloh saat memanggilnya..”

As-Suyuthi (911 H) dalam Al-Khoshois Al-Kubro menyebutkan: “Bab kekhususan beliau bahwa orang yang sedang Sholat wajib memenuhi seruannya apabila beliau memanggilnya dan Sholatnya tidak batal..”

Jika ada yang bertanya: “Rosululloh telah wafat dan tidak lagi termasuk penduduk dunia, beliau tidak akan memanggil satu pun dari kita saat sedang Sholat, lalu mengapa nukilan-nukilan ini disebutkan padahal tidak ada kebutuhan kepadanya?” Jawabannya: Jika Rosululloh telah mencela orang yang meninggalkan pemenuhan seruan kepadanya padahal orang tersebut sedang Sholat, maka diketahui dari hal itu bahwa tidak ada udzur bagi selainnya—secara lebih utama lagi—jika ia tidak memenuhi perintahnya dan berani melakukan larangannya.

Ayat Ketujuh [تَهْتَدُوا]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حَمَلْتُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾

“Katakanlah: ‘Taatilah Alloh dan taatilah Rosul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rosul itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan kewajiban Rosul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (amanat Alloh) dengan jelas.’” (QS. An-Nur: 54)

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ﴾ Katakanlah wahai Muhammad kepada orang-orang yang bersumpah dengan nama Alloh secara sungguh-sungguh bahwa jika engkau memerintah mereka niscaya mereka akan berangkat,  

﴿أَطِيعُوا اللَّهَ﴾ Taatilah Alloh wahai kaum pada apa yang Dia perintahkan dan larang bagi kalian,  

﴿وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ﴾ dan taatilah Rosul karena ketaatan kepadanya adalah ketaatan kepada Alloh.

 ﴿فَإِن تَوَلَّوْا﴾jika kalian berpaling dari apa yang diperintahkan atau dilarang oleh Rosululloh

﴿فإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ﴾

maka kewajiban beliau hanyalah melakukan apa yang diperintahkan untuk dikerjakan berupa menyampaikan risalah Alloh kepada kalian.

﴿وَعَلَيْكُم مَّا حَمَلْتُمْ﴾  dan wajib bagi kalian wahai manusia untuk melakukan apa yang diwajibkan atas kalian berupa mengikuti Rosul-Nya dan berhenti pada ketaatan kepadanya.

Dan firman-Nya:

﴿وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا﴾

 Maknanya: Jika kalian mentaati Rosululloh pada apa yang beliau perintahkan dan larang, niscaya kalian akan mendapat petunjuk dan tepat dalam urusan kalian.

﴿وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾

Maknanya: Tidak ada kewajiban bagi orang yang Alloh utus kecuali menyampaikan risalah-Nya dengan penyampaian yang jelas. Kewajiban kalian adalah taat, jika kalian taat maka manfaatnya bagi diri kalian sendiri, dan jika kalian durhaka maka kalian membinasakan diri kalian sendiri.

Abu ‘Utsman An-Naisaburi (298 H) berkata: “Barangsiapa yang menjadikan Sunnah sebagai pemimpin atas dirinya baik dalam ucapan maupun perbuatan, maka ia akan berbicara dengan Hikmah. Dan barangsiapa menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin atas dirinya, maka ia akan berbicara dengan bid’ah. Karena Alloh berfirman: ‘Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.’”

Az-Zuhri (124 H) berkata: “Dari Alloh risalah itu datang, bagi Rosul kewajiban menyampaikan, dan bagi kita kewajiban berserah diri (تسليم).”

Sebagai penutup, ketahuilah bahwa kedudukan Islam tidaklah teguh melainkan di atas jembatan penyerahan diri (تسليم). Rosululloh telah memikul beban penyampaian risalah dan beliau telah menunaikannya dengan sesempurna mungkin. Beliau telah menasihati umat dengan sebenar-benar nasihat, dan beliau telah menunaikan apa yang dibebankan kepadanya dengan persaksian Robb-nya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku.” Serta dengan persaksian para Shohabatnya setelah beliau meminta persaksian mereka: “Apakah aku telah menyampaikan?”, lalu mereka menjawab: “Allohumma, benar.”

Maka wahai umat Islam: Apakah kita telah menunaikan apa yang dibebankan kepada kita? Dan apakah kita telah mewujudkan ketaatan kepada Rosul kita serta berjalan di atas manhaj dan jalannya serta mengikuti jejak dan Sunnahnya?

Ayat Kedelapan [أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴾

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rohmat) Alloh dan (kedatangan) hari Qiyamah dan yang banyak mengingat Alloh.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat yang mulia ini adalah landasan besar dalam meneladani Rosululloh dalam ucapan-ucapannya, perbuatan-perbuatannya, dan keadaan-keadaannya.

Ayat Kesembilan [الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا﴾

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mu’min, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Ibnu Katsir (774 H) rohimahullah berkata: “Ayat ini bersifat umum dalam seluruh perkara, yaitu apabila Alloh dan Rosul-Nya telah memutuskan sesuatu, maka tidak bagi siapa pun untuk menyelisihinya, tidak ada pilihan bagi siapa pun di sini, tidak ada pendapat, dan tidak ada ucapan..”

Ibnu Jarir At-Thobari (310 H) rohimahullah berkata: “Alloh Ta’ala berfirman: Tidaklah layak bagi orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, baik laki-laki maupun perempuan, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu keputusan pada diri mereka, mereka memilih pilihan lain selain yang telah ditetapkan bagi mereka, lalu mereka menyelisihinya dan mendurhakai keduanya. Barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya pada apa yang keduanya perintahkan atau larang, maka sungguh ia telah menyimpang dari jalan yang lurus dan menempuh selain jalan petunjuk.”

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menyebutkan sebab turunnya ayat ini: Bahwa Rosululloh berangkat untuk meminang Zainab binti Jahsy (setelah 20 H) untuk pemuda beliau, Zaid bin Haritsah (8 H). Zainab berkata: “Aku tidak mau menikah dengannya.” Rosululloh bersabda: “Bahkan, nikahlah dengannya.” Zainab bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah aku (boleh) memerintah diriku sendiri?” Maka saat keduanya sedang berbincang, Alloh menurunkan ayat ini, lalu Zainab berkata: “Engkau telah ridho hal itu bagiku wahai Rosululloh? Jika demikian, aku tidak akan mendurhakai Rosululloh, sungguh aku telah menikahkan diriku dengannya..”

Ayat Kesepuluh [فَخُذُوهُ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Apa yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hashr: 7)

Maknanya: apa pun yang beliau perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah, dan apa pun yang beliau larang, maka jauhilah. Karena sesungguhnya beliau hanyalah memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan. Meskipun ayat ini turun terkait pembagian harta rampasan perang (ghonimah), namun ibroh (pelajaran) diambil dari keumuman lafazhnya, bukan dari kekhususan sebabnya.

Ayat ini mengandung perintah bagi setiap Muslim untuk mentaati hamba yang jujur lagi terpercaya dan beramal dengan perintahnya, meskipun ia membenci perkara tersebut atau tidak tahu kesudahannya. Serta berhenti dari apa yang dilarang meskipun ia menganggapnya baik. Hal ini karena Rosululloh lebih mengetahui keadaan umatnya dan apa yang bermanfaat bagi mereka.

Abu Al-Fida (Ibnu Katsir) berkata tentang firman-Nya

 ﴿وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Takutilah Dia dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, karena hukuman-Nya sangat keras bagi siapa yang mendurhakai-Nya dan menyelisihi perintah-Nya..”

 

Bab 2: Janji dan Pujian bagi Orang yang Taat

Ini adalah ayat-ayat yang mengandung pujian Alloh bagi siapa saja yang mentaati-Nya dan mentaati Rosul-Nya, serta janji berupa kesudahan yang baik di Jannah.

Ayat Pertama [أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Alloh, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Robbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 112)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) rohimahullah berkata: “Dua sifat ini, yaitu menyerahkan diri kepada Alloh dan berbuat ihsan (kebajikan), adalah dua landasan utama: yaitu menjadikan amal tulus (ikhlas) karena Alloh dan amal yang benar (showab) sesuai dengan Sunnah dan Syariat..”

Menyerahkan wajah kepada Alloh mencakup maksud dan niat karena Alloh semata. Sedangkan Ihsan adalah beramal sholih dengan tidak menyekutukan Robbnya dengan sesuatu pun. Amal yang sholih adalah apa yang Alloh perintahkan dan syariatkan, yaitu yang sesuai dengan Sunnah Alloh dan Sunnah Rosul-Nya.

Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman (1293 H) rohimahullah berkata: “Menyerahkan wajah kepada Alloh adalah beribadah kepada-Nya dan kufur kepada ibadah selain-Nya, inilah makna syahadat Laa ilaha illalloh. Adapun Ihsan adalah engkau beribadah kepada Alloh dengan apa yang disyariatkan, bukan dengan hawa nafsu dan bid’ah. Inilah hakikat syahadat Muhammad Rosululloh, yang menuntut kewajiban mengikutinya dan haromnya mendurhakainya..”

Ayat Kedua [يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imron: 31)

Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H) berkata: “Ayat ini adalah hakim (pemutus) bagi siapa saja yang mengklaim mencintai Alloh namun tidak mengikuti Muhammad dalam syariat, jalan, dan Sunnahnya; maka ia adalah pembohong dalam klaimnya tersebut..” Agar klaimnya benar, ia wajib mengikuti Syariat Muhammad dan Sunnah Nabawiyah dalam seluruh ucapan dan perbuatannya.

Hasan Al-Bashri (110 H) dan para Salaf berkata: “Suatu kaum mengaku mencintai Alloh, maka Alloh menguji mereka dengan ayat ini..”

Firman-Nya  ﴿يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾ maknanya kalian akan mendapatkan cinta Alloh kepada kalian, dan itu lebih agung daripada cinta kalian kepada-Nya. Sebab intinya bukan engkau mencintai, tapi bagaimana engkau dicintai.

Syaikhul Islam (728 H) berkata: “Setiap orang yang mengaku mencintai Alloh namun tidak mengikuti Rosul, maka ia telah berdusta. Jika pun ia mencintai, maka itu adalah cinta kesyirikan karena ia mengikuti hawa nafsunya. Demikian pula ahli bid’ah, barangsiapa yang ingin menuju Alloh namun tidak bermaksud mengikuti Rosul, maka cintanya bercampur dengan keserupaan terhadap kaum Musyrikin, Yahudi, dan Nasroni sesuai kadar bid’ahnya..”

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (1420 H) rohimahullah berkata: “Ketahuilah wahai saudaraku Muslim, tidak mungkin seseorang naik ke derajat cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya kecuali dengan mentauhidkan Alloh dalam ibadah dan mengesakan Nabi dalam ketaatan (ittiba’). Jika Nabi sekelas Musa (nabi kaum Bani Isroil) saja tidak memiliki keluasan kecuali harus mengikuti Nabi jika ia hidup, maka apakah selainnya memiliki keluasan tersebut?” Beliau juga menasihati agar setiap Muslim tidak hanya berhenti pada ilmu, namun mengamalkan buahnya yaitu tulus dalam mengikuti Rosul yang agung ini.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi (1393 H) rohimahullah berkata: “Diambil dari ayat ini bahwa tanda cinta yang jujur kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah dengan mengikutinya. Siapa yang menyelisihinya namun mengaku mencintainya, maka ia adalah pembohong..”

Sebagaimana perkataan penyair:

“Seandainya cintamu jujur niscaya engkau mentaatinya.”

“Sesungguhnya pecinta itu taat kepada yang dicintainya.”

Ayat Ketiga [يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾

“Itulah batasan-batasan (hukum) Alloh. Barangsiapa taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An-Nisa: 13)

Abu Ja’far At-Thobari (310 H) rohimahullah berkata: “Batasan setiap sesuatu adalah apa yang memisahkan antara ia dengan selainnya. Batasan-batasan Alloh bermakna pemisah antara ketaatan kepada Alloh dan kemaksiatan kepada-Nya. Itulah batasan bagi kalian agar kalian berhenti di sana dan tidak melampauinya..”

Alloh dan Rosul-Nya telah menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya, sebagaimana sabda beliau :

«الحَلاَلُ بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ»

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang harom itu jelas...” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)

Maka barangsiapa yang melampauinya, sungguh ia telah keluar dari batasan ketaatan menuju kemaksiatan. Melalui batasan-batasan inilah diketahui siapa ahli ketaatan dan siapa ahli kemaksiatan; maka ukurannya adalah sejauh mana pengaruh perintah dan larangan Alloh dalam diri seorang hamba. Kemudian Alloh menjelaskan apa yang Dia simpan bagi mereka yang berhenti pada larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya berupa Jannah yang kekal.

Ayat Keempat [مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا﴾

“Dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Alloh, yaitu: Nabi-Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati Syahid, dan orang-orang sholih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)

Maknanya adalah barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul dengan berserah diri pada perintah keduanya, ridho dengan hukum keduanya, serta berhenti dari kemaksiatan, maka ia akan bersama orang-orang yang diberi taufiq untuk taat di dunia dan di Akhiroh saat masuk Jannah.

Para Shiddiqin: Orang yang membenarkan ucapannya dengan perbuatannya.

Para Syuhada: Orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh.

Orang-orang Sholih: Setiap orang yang baik lahir dan batinnya.

Ibnu Katsir (774 H) rohimahullah berkata: “Barangsiapa beramal dengan apa yang Alloh dan Rosul-Nya perintahkan serta meninggalkan apa yang dilarang, maka Alloh akan menempatkannya di negeri kemuliaan-Nya dan menjadikannya pendamping para Nabi dan tingkatan setelahnya.”

Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya mengadu bahwa ia sangat mencintai beliau dan merasa sedih jika membayangkan kelak di Jannah beliau akan berada di tingkatan yang tinggi bersama para Nabi sehingga ia khawatir tidak bisa melihat beliau lagi. Maka Nabi tidak menjawab hingga Jibril turun membawa ayat ini.

Ayat Kelima [سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, mendirikan Sholat, menunaikan Zakat, dan mereka taat kepada Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itu akan diberi rohmat oleh Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

Sisi pendalilan dari ayat ini adalah pada firman-Nya: “Dan mereka taat kepada Alloh dan Rosul-Nya”, yaitu mereka melaksanakan perintah Alloh dan Rosul-Nya serta menjauhi larangan Kami. Mereka yang memiliki sifat inilah yang akan dirohmati Alloh, diselamatkan dari adzab, dan dimasukkan ke Jannah; bukan orang-orang munafiq yang mendustakan Alloh, melarang yang ma’ruf, dan menyuruh yang munkar. Alloh Maha Perkasa dalam membalas kemaksiatan dan Maha Bijaksana dalam setiap tindakan-Nya.

Ayat Keenam [هُمُ الْمُفْلِحُونَ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿إِنَّما كانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنا وَأَطَعْنا وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Sesungguhnya jawaban orang-orang Mu’min, apabila mereka dipanggil kepada Alloh dan Rosul-Nya agar Rosul mengadili di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar, dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

Ibnu Katsir (774 H) berkata: “Mereka mendengar dan patuh, sehingga Alloh menyifati mereka dengan keberuntungan, yaitu tercapainya apa yang dicari dan selamat dari apa yang ditakuti.” Ayat ini mengabarkan keadaan yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang Mu’min, yaitu memenuhi seruan perintah Alloh dan Rosul-Nya, tunduk, serta patuh. Karena orang Mu’min sumber pengambilannya hanyalah Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya, dan tidak ada ruang bagi hawa nafsu saat berhadapan dengan perintah keduanya.

Ayat Ketujuh [هُمُ الْفَائِزُونَ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ﴾

“Dan barangsiapa yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya dan takut kepada Alloh dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52)

Ibnu Jarir (310 H) rohimahullah berkata: “Siapa yang mentaati Alloh dan Rosul pada apa yang diperintahkan dan dilarang, berserah diri pada hukum keduanya, takut akan balasan kemaksiatan, dan menjaga diri dari adzab Alloh dengan mentaati-Nya, maka merekalah orang yang menang dengan keridhoan Alloh pada hari Qiyamah.”

Qotadah (117 H) berkata: “Yaitu mentaati Alloh dan Rosul-Nya pada apa yang diperintahkan keduanya, meninggalkan apa yang dilarang keduanya, takut kepada Alloh atas dosa yang telah lalu, dan bertaqwa kepada-Nya untuk masa yang akan datang.”

Mereka adalah orang-orang yang beruntung mendapatkan setiap kebaikan dan aman dari setiap keburukan di dunia dan Akhiroh.

Ayat Kedelapan [يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ﴾

“Dan barangsiapa yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, niscaya Alloh akan memasukkannya ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Al-Fath: 17)

Serta masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang bermakna serupa.

 

Bab 3: Kesudahan bagi Para Pendurhaka yang Menyelisihi

Ini adalah ayat-ayat yang berisi celaan dan ancaman dari Alloh bagi siapa saja yang mendurhakai perintah-Nya dan perintah Rosul-Nya. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang apa yang Alloh persiapkan bagi kesudahan mereka, yaitu kemurkaan Alloh dan Naar. Kita berlindung kepada Alloh dari Naar.

Ayat Pertama [لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ﴾

“Katakanlah: ‘Taatilah Alloh dan Rosul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang kafir.’” (QS. Ali ‘Imron: 32)

Ibnu Katsir (774 H) berkata: “Jika kalian berpaling, maknanya menyelisihi perintah beliau, maka sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang kafir. Ini menunjukkan bahwa menyelisihi jalannya adalah kekufuran dan Alloh tidak menyukai orang yang bersifat demikian.”

Meskipun ia mengaku mencintai Alloh dan mendekatkan diri kepada-Nya, klaim itu tidak sah hingga ia mengikuti Rosul Nabi yang Ummi, penutup para Rosul yang diutus kepada Jin dan Manusia. Seandainya para Nabi bahkan para Rosul Ulul Azmi berada di zamannya, tidak ada keluasan bagi mereka kecuali mengikutinya dan masuk ke dalam ketaatan serta syariatnya.

Ayat Kedua [يُدْخِلْهُ نَارًا]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ﴾

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya dan melanggar batasan-batasan-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam api Naar sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya adzab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa: 14)

Abu Al-Fida (Ibnu Katsir) berkata: “Hal itu dikarenakan ia mengubah apa yang Alloh putuskan dan menentang Alloh dalam hukum-Nya. Perbuatan ini muncul dari ketidaksukaan terhadap apa yang Alloh bagikan dan putuskan, maka Dia membalasnya dengan kehinaan dalam adzab yang pedih lagi kekal.”

Ayat Ketiga [لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا﴾

“Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rosul, ingin supaya mereka disama-ratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan suatu kejadian pun dari Alloh.” (QS. An-Nisa: 42)

Ibnu Katsir (774 H) berkata: “Yaitu seandainya tanah terbelah dan menelan mereka karena dahsyatnya kengerian tempat penantian itu serta kehinaan, aib, dan celaan yang menimpa mereka.”

Hal ini sebagaimana firman-Nya:

﴿يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

“Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” (QS. An-Naba: 40)

Mengenai firman-Nya “dan mereka tidak dapat menyembunyikan suatu kejadian pun dari Alloh”, ini mengabarkan bahwa mereka mengakui semua perbuatan mereka dan tidak menyembunyikan apa pun.

Said bin Jubair (95 H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma bahwa ketika orang musyrik melihat tidak ada yang masuk Jannah kecuali ahli Islam, mereka mencoba memungkiri kesyirikan mereka dengan berkata: “Demi Alloh, Robb kami, tiadalah kami dahulu orang-orang yang mempersekutukan Alloh.” Maka Alloh mengunci mulut mereka, lalu tangan dan kaki mereka berbicara sehingga mereka tidak bisa menyembunyikan suatu kejadian pun dari Alloh. Saat itulah mereka berharap seandainya disama-ratakan dengan tanah.

Ayat Keempat [الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا﴾

“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Alloh telah turunkan dan kepada hukum Rosul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafiq menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa: 61)

Ayat ini menyebutkan sifat munafiq yang tercela, yaitu apabila diajak kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya untuk menyelesaikan perselisihan, mereka berpaling dan menghalang-halangi. Sikap berpaling ini muncul dari ketidaksukaan terhadap hukum Alloh dan Rosul-Nya. Hal ini berbeda dengan ahli Iman yang berkata “Kami mendengar dan kami patuh.” Alloh telah menjelaskan tempat kembali orang-orang yang menghalangi manhaj-Nya:

﴿إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari api Naar...” (QS. An-Nisa: 145)

Ayat Kelima [نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Yaitu barangsiapa yang menempuh jalan selain syariat yang dibawa Rosul sehingga ia berada di satu sisi dan syariat di sisi lain, sementara kebenaran telah jelas baginya. Mengikuti jalan selain orang Mu’min ini mencakup pelanggaran terhadap teks syariat maupun apa yang telah disepakati oleh umat (Ijma’), karena umat Muhammad telah dijamin terjaga dari kesalahan saat bersepakat. Sebagaimana sabda beliau :

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ»

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan, dan tangan Alloh bersama Al-Jamaah” (HR. At-Tirmidzi no. 2167)

Imam Asy-Syafi’i (204 H) rohimahullah berhujjah dengan ayat ini bahwa Ijma’ adalah hujjah yang harom diselisihi.

Mengenai firman-Nya “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu”, maknanya jika ia menempuh jalan itu Kami akan hiasi jalan itu di dadanya sebagai bentuk istidroj (penangguhan hukuman).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) rohimahullah berkata: “Dua perkara ini saling berkaitan; siapa yang menentang Rosul setelah jelas petunjuk, maka ia telah mengikuti selain jalan kaum Mu’min.” Ayat ini menunjukkan bahwa Ijma’ kaum Mu’min adalah hujjah karena menyelisihinya berarti menyelisih Rosul. Menyelisihi Ijma’ yang telah pasti menyebabkan kekafiran sebagaimana menyelisihi teks yang jelas (nash). Namun jika Ijma’ tersebut hanya bersifat persangkaan dan tidak pasti, maka menyelisihinya mungkin tidak sampai mengkafirkan.

Ayat Keenam [تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

Ibnu Katsir (774 H) berkata: “Yaitu menyalahi perintah, syariat, manhaj, dan Sunnah Rosululloh . Segala ucapan dan perbuatan ditimbang dengan ucapan dan perbuatannya; apa yang sesuai maka diterima, dan apa yang menyelisihi maka ditolak kepada pelakunya.” Sebagaimana sabda beliau :

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami padanya, maka amalan itu tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Maka hendaklah takut orang yang menyalahi syariat beliau baik batin maupun lahir akan ditimpa fitnah dalam hati mereka berupa kekufuran, nifaq, atau bid’ah; atau ditimpa adzab pedih di dunia berupa pembunuhan, hukum had, penjara, dan semisalnya.

Rosululloh bersabda:

«إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ النَّاسِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا، فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ جَعَلَ الفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي تَقَعُ فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا، فَجَعَلَ يَنْزِعُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَقْتَحِمْنَ فِيهَا، فَأَنَا آخُذُ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، وَهُمْ يَقْتَحِمُونَ فِيهَا»

“Perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah seperti seorang laki-laki yang menyalakan api... lalu laron-laron berjatuhan ke dalamnya sementara ia menghalanginya namun mereka mengalahkannya dan masuk ke api. Itulah perumpamaanku; aku memegang pinggang kalian agar tidak masuk ke Naar, namun kalian mengalahkanku dan menceburkan diri ke dalamnya” (HR. Al-Bukhori no. 6483 dan Muslim no. 2284)

Ayat Ketujuh [يَعَضُّ الظَّالِمُ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً﴾

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zholim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rosul.’” (QS. Al-Furqon: 27)

Alloh mengabarkan penyesalan orang zholim yang meninggalkan jalan Rosul dan menempuh jalan lain. Di hari Qiyamah ia menyesal saat penyesalan tidak lagi berguna, ia menggigit tangannya karena duka dan pilu. Alloh juga mengabarkan penyesalan ahli Naar karena meninggalkan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya saat mereka di dunia memiliki kemudahan untuk taat.

Ayat Kedelapan [تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ]

Firman-Nya Ta’ala:

﴿يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا﴾

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam api Naar, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Alloh dan taat (pula) kepada Rosul.’” (QS. Al-Ahzab: 66)

Abu Ja’far At-Thobari (310 H) berkata: “Yaitu saat wajah mereka dibolak-balikkan dalam Naar, mereka berharap seandainya dahulu di dunia mereka taat kepada Alloh dan Rosul-Nya sehingga mereka bisa bersama ahli Jannah. Sungguh itu adalah penyesalan yang sangat besar.”

Ibnu Katsir (774 H) berkata: “Mereka diseret di atas wajah mereka dan wajah mereka diputar di atas Jahannam sambil berangan-angan seandainya mereka termasuk orang yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya .”

Bersambung ke edisi 2 (lengkap, in syaa Alloh)…

Catatan: 47 dari 192 halaman (kitab asli).

 

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url