[PDF] Membangkitkan Semangat Mengikuti Nabiyyul Ummat ﷺ - Kholid bin Sa’ud Al-‘Ajmi
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan
kepada-Nya. Kami berlindung kepada Alloh dari keburukan jiwa-jiwa kami dan dari
kejahatan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh,
maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan, maka
tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Robb yang
berhak disembah dengan benar selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya,
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya.
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai
orang Muslim.” (QS. Ali ‘Imron: 102)
﴿يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ
الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾
“Wahai
sekalian manusia, bertaqwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian
dari diri yang satu, dan darinya Dia menciptakan istrinya; dan dari keduanya
Dia mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan. Dan bertaqwalah kepada
Alloh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,
dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan
mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa: 1)
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا * يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبكُم وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Alloh dan katakanlah
perkataan yang benar, niscaya Alloh memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan
mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Alloh dan Rosul-Nya,
maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab:
70-71)
Amma ba’du:
Sesungguhnya
sebenar-benar perkataan adalah Kitabulloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Muhammad ﷺ.
Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan
setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan,
dan setiap kesesatan tempatnya di Naar.
Selanjutnya...
Sesungguhnya
dikarenakan banyaknya manusia yang meremehkan perintah-perintah Rosululloh ﷺ, berpaling dari ketaatan
kepadanya, dan terus-menerus menyelisihi Sunnahnya... hingga keadaan sebagian
mereka sampai pada titik di mana jika disampaikan kepadanya suatu perintah,
larangan, atau perbuatan dari beliau, ia berbicara dengan sombong seraya
berkata: “Ini hanyalah Sunnah, orang yang meninggalkannya tidak dihukum...” Ia
menjadikan ucapan dan alasan yang lemah ini sebagai kebiasaannya setiap kali
disebutkan kepadanya perintah atau larangan dari Rosululloh ﷺ. Padahal perintah tersebut
menuntut kewajiban, dan larangan tersebut menuntut keharoman.
Oleh karena
itu, aku ingin mengumpulkan ayat-ayat dari Al-Kitab yang mulia, Hadits-hadits
dari Sunnah yang suci, serta ucapan-ucapan para Salaf yang tulus dari kalangan
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dan para Tabi’in yang mengikuti mereka
dengan baik, yang diharapkan padanya terdapat penjelasan, penjernihan, dan
bantuan untuk taat kepada Alloh dan taat kepada Rosul-Nya bagi siapa saja yang
membacanya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk nasehat bagi umat.
Ketahuilah
bahwa barangsiapa yang menyelisihi Sunnah Al-Musthofa Rosul petunjuk, menempuh
jalan selain jalannya, manhaj selain manhajnya, tidak melaksanakan perintahnya,
dan tidak berhenti dari larangannya, maka ia dalam keadaan seperti ini telah
menyelisihi kandungan dari bagian kedua kalimat Tauhid yang merupakan rukun
pertama dari rukun-rukun Islam, yaitu ucapan: “Aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah Rosululloh.”
Maknanya
adalah: “Mentaatinya pada apa yang dia perintahkan, membenarkannya pada apa
yang dia kabarkan, menjauhi apa yang dia larang dan peringatkan, dan tidak
beribadah kepada Alloh kecuali dengan apa yang dia syariatkan.” (Al-Ushul
Ats-Tsalatsah, Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H), hal. 2)
Maka
barangsiapa yang menyelisihi perintahnya dan berjalan di atas selain manhajnya,
apakah ia telah mewujudkan syahadat “Tauhid”?
Sesungguhnya
Kitabulloh ‘Azza wa Jalla penuh dengan ayat-ayat yang memerintahkan
untuk mentaati beliau dan mengharomkan menyelisihinya. Alloh menggandengkan
ketaatan kepada beliau dengan ketaatan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, dan
menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak mentaati Rosululloh ﷺ, maka ia tidak mentaati
Alloh.
Imam Ahmad
bin Hanbal (241 H) rohimahullah berkata: “Aku melihat ke dalam Mushhaf,
lalu aku menemukan ketaatan kepada Rosululloh ﷺ disebutkan di 33 tempat...” (Al-Ibanah, Ibnu Baththoh
(387 H), 1/260 no. 97)
Al-Ajurri
(360 H) rohimahullah berkata: “Kemudian Alloh mewajibkan ketaatan kepada
beliau atas makhluk di 30-an tempat lebih dalam Kitab-Nya ‘Azza wa Jalla.”
(Asy-Syari’ah, Al-Ajurri (360 H), hal. 49)
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah (728 H) rohimahullah berkata: “Sungguh Alloh telah
mewajibkan ketaatan kepada Rosul atas seluruh manusia di hampir 40 tempat dalam
Al-Qur’an, dan mentaatinya adalah mentaati Alloh.” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu
Taimiyah (728 H), 19/83-261)
Sebagaimana
akan datang penyebutan sebagian darinya dengan pertolongan dari Alloh.
Sungguh
Pemilik karunia Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan karunia kepada kita
saat mengutus di tengah-tengah kita Rosul-Nya yang paling utama dan penutup
mereka, sholawat serta salam Alloh atas mereka semua. Tujuannya untuk
mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala:
﴿لَقَدْ
مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ
يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ﴾
“Sungguh
Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus di
tengah mereka seorang Rosul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan
kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka
benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imron: 164)
Maka apa
kewajiban orang-orang yang bersifat dengan Iman terhadap karunia yang diberikan
oleh Al-Karim Al-Mannan ini? Tidak lain adalah membenarkan, beriman, taat, dan
tunduk dalam setiap perkara kecil maupun besar dari perintah-perintah dan
larangan-larangan beliau ‘alaihish sholatu was salam.
Dan inilah
ayat-ayat yang mewajibkan atasmu ketaatan kepada Rosululloh ﷺ pengajar kebaikan dan pemberi
peringatan dari jalan-jalan kerugian, yang menunjukkan bahwa kebahagiaan serta
petunjuk ada pada mengikuti Rosul ﷺ dan bahwa kesesatan serta kesengsaraan ada pada menyelisihinya.
Seraya berharap kepada Alloh agar hal ini menjadi penyampai bagi siapa saja
yang mengumpulkannya, membacanya, dan mendengarnya untuk meneladani Sunnah
Al-Hadi Al-Basir dan As-Siroj Al-Munir ﷺ.
Ayat-ayat
dalam tema ini terbagi menjadi 3 bagian:
Pertama: Perintah dari Alloh untuk
mentaati-Nya dan mentaati Rosul-Nya serta bimbingan kepadanya.
Kedua: Janji dan pujian dari Alloh
bagi siapa saja yang mentaati-Nya dan mentaati Rosul-Nya serta penjelasan
tentang baiknya kesudahan urusannya, bahwa ia menuju keridhoan Alloh dan
Jannah.
Ketiga: Celaan dan ancaman dari
Alloh bagi siapa saja yang mendurhakai perintah-Nya dan perintah Rosul-Nya,
serta penjelasan tentang buruknya kesudahan urusannya, bahwa ia menuju
kemurkaan Alloh dan Naar.
Bab 1: Perintah dan Bimbingan
Ayat
Pertama [فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ
مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن
كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Muhammad),
serta Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian. Jika kalian berbeda
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Qur’an) dan
Rosul (Sunnahnya), jika kalian beriman kepada Alloh dan hari Akhir. Yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik kesudahannya.” (QS.
An-Nisa: 59)
Ibnu Jarir
(310 H) rohimahullah berkata: “Yaitu wahai orang-orang yang beriman,
taatilah Alloh Robb kalian pada apa yang Dia perintahkan kepada kalian dan pada
apa yang Dia larang bagi kalian.. Dan taatilah Rosul-Nya Muhammad. Karena
sesungguhnya dalam ketaatan kalian kepadanya merupakan ketaatan kepada Robb
kalian, hal itu karena kalian mentaatinya dikarenakan perintah Alloh kepada
kalian untuk mentaatinya..”
Dari ‘Atho
(114 H) rohimahullah tentang firman-Nya: “Taatilah Alloh dan taatilah
Rosul”, beliau berkata: “Mentaati Rosul adalah mengikuti Sunnahnya.” Dari
beliau juga berkata: “Mentaati Rosul adalah mengikuti Al-Kitab dan Sunnah.” (Sunan
Ad-Darimi, Ad-Darimi (255 H), no. 219)
Ibnu Katsir
(774 H) rohimahullah berkata: “‘Taatilah Alloh’ yaitu ikutilah
Kitab-Nya, ‘dan taatilah Rosul’ yaitu ambillah Sunnahnya, ‘dan Ulil
Amri di antara kalian’ yaitu pada apa yang mereka perintahkan kepada kalian
berupa ketaatan kepada Alloh bukan dalam kemaksiatan kepada Alloh..” Karena
sesungguhnya tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam kemaksiatan kepada Alloh.
Selesai..
Syaikhul
Islam (728 H) rohimahullah berkata: “Ulil Amri adalah para pemilik
urusan, yaitu mereka yang memerintah manusia..”
Hal itu
mencakup para pemegang kekuasaan (penguasa) serta ahli ilmu dan bicara (ulama),
oleh karena itu Ulil Amri ada 2 golongan: Ulama dan Umaro. Jika mereka baik,
maka baiklah manusia, dan jika mereka rusak, maka rusaklah manusia..
Sebagaimana perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu
kepada wanita Al-Ahmasiyyah ketika bertanya kepadanya: “Bagaimana kelestarian
kita di atas urusan ini?” Beliau menjawab: “Selama pemimpin-pemimpin kalian
istiqomah (di atas kebenaran) untuk kalian..” Termasuk di dalamnya adalah para
raja, para masyayikh, dan pejabat. Setiap orang yang diikuti maka ia termasuk
Ulil Amri, dan wajib bagi setiap orang yang harus mentaatinya untuk mentaatinya
dalam ketaatan kepada Alloh, dan tidak mentaatinya dalam kemaksiatan kepada
Alloh.. Sebagaimana perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu
ketika memegang urusan kaum Muslimin dan berkhutbah di hadapan mereka, beliau
berkata dalam khutbahnya: “Wahai manusia, taatilah aku selama aku mentaati
Alloh, namun jika aku bermaksiat kepada Alloh maka tidak ada kewajiban taat
bagimu atasku.” (HR. Al-Bukhori (256 H), no. 3834)
Dan firman-Nya:
﴿فَإِن
تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ﴾
Mujahid
(104 H) dan banyak dari kalangan Salaf berkata: “Yaitu kepada Kitab dan Sunnah
Rosul.” Ini adalah perintah dari Alloh ‘Azza wa Jalla bahwa segala
sesuatu yang diperselisihkan manusia, baik dalam pokok-pokok agama (ushul)
maupun cabang-cabangnya (furu’), agar perselisihan itu dikembalikan
kepada Al-Kitab dan Sunnah. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala:
﴿وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ
إِلَى اللَّهِ﴾
“Apa yang
kalian perselisihkan maka kembalikan hukumnya kepada Alloh.” (QS. Asy-Syuro:
10)
Maka apa
saja yang diputuskan oleh Al-Kitab dan Sunnah serta keduanya bersaksi atas
kebenarannya, maka itulah Al-Haq, dan tidak ada setelah kebenaran kecuali
kesesatan. Oleh karena itu Alloh Ta’ala berfirman:
﴿إِن
كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ﴾
Yaitu kembalikanlah persengketaan
dan kebodohan kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya, serta berhakimlah kepada
keduanya dalam apa yang terjadi di antara kalian. Hal ini menunjukkan bahwa
barangsiapa yang tidak berhakim dalam perkara yang diperselisihkan kepada
Al-Kitab dan Sunnah, serta tidak merujuk kepada keduanya, maka ia bukanlah
orang yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir.
Dan
firman-Nya: ﴿ذَلِكَ خَيْرٌ﴾ yaitu berhakim kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya. Serta merujuk
kepada keduanya dalam memutus perselisihan adalah lebih baik dan ﴿وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا﴾
yaitu lebih baik kesudahan dan tempat kembalinya, sebagaimana dikatakan
oleh As-Suddi (127 H) dan banyak ulama lainnya.
Mujahid
(104 H) berkata: “Dan lebih baik balasannya,” dan maknanya saling berdekatan.
Ayat
Kedua [يُحَكِّمُوكَ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا
يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
“Maka demi
Robbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim
terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa
keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka
menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)
Tatkala
Alloh meniadakan Iman hingga tercapainya tujuan ini, maka itu menunjukkan bahwa
tujuan ini adalah kewajiban bagi manusia. Barangsiapa meninggalkannya maka ia
termasuk orang yang terancam, dan ia belum mendatangkan Iman yang wajib yang
telah dijanjikan bagi pemiliknya untuk masuk Jannah tanpa adzab. Karena
sesungguhnya Alloh hanyalah menjanjikan hal itu bagi siapa yang mengerjakan apa
yang diperintahkan-Nya. Adapun orang yang melakukan sebagian kewajiban dan
meninggalkan sebagian lainnya, maka ia terancam dengan siksaan. Sudah maklum
berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin bahwa wajib menjadikan Rosul sebagai
hakim dalam setiap apa yang diperselisihkan di antara manusia dalam urusan
agama dan dunia mereka, baik dalam pokok agama maupun cabangnya. Wajib atas
mereka semua apabila beliau memutuskan sesuatu untuk tidak mendapati keberatan
dalam diri mereka terhadap apa yang beliau putuskan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
Ibnu Katsir
(774 H) rohimahullah berkata tentang firman-Nya:
﴿فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ﴾
“Alloh
bersumpah dengan Diri-Nya yang Mulia dan Suci bahwa tidaklah seseorang beriman
hingga ia menjadikan Rosul ﷺ
sebagai hakim dalam seluruh urusan. Maka apa saja yang beliau putuskan, itulah
Al-Haq yang wajib untuk tunduk kepadanya secara lahir dan batin.”
Oleh karena
itu Alloh berfirman:
﴿ثُمَّ
لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
Yaitu apabila mereka menjadikanmu
hakim, mereka mentaatimu dalam batin mereka sehingga mereka tidak mendapati
dalam diri mereka rasa keberatan terhadap apa yang kamu putuskan, dan mereka
tunduk kepadanya lahir dan batin, maka mereka menerima hal itu dengan
penyerahan diri secara total tanpa ada penolakan, pembelaan, maupun
penentangan.
At-Thobari
(310 H) mengeluarkan dengan sanadnya dari Adh-Dhohhak (105 H) tentang
firman-Nya:
﴿ثُمَّ
لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ﴾
Ia berkata:
“Yaitu perasaan berdosa.”
﴿وَيُسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا﴾
Ia berkata:
“Dan mereka berserah diri terhadap ketetapan dan hukummu karena ketundukan
mereka dengan ketaatan, serta pengakuan bagi kenabianmu dengan sebenar-benar
penyerahan.” Selesai.
Di antara
bentuk penyerahan diri kepada beliau adalah ridho dengan hukumnya, beramal
dengan Sunnahnya, menerimanya, tunduk kepadanya, dan mencintainya.
Oleh karena
itu Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) rohimahullah
berkata: “Ketahuilah bahwa pembatal keislaman itu ada 10,” dan beliau
menyebutkan di antaranya: “Kelima: Barangsiapa yang membenci sesuatu dari apa
yang dibawa oleh Rosul ﷺ
walaupun ia mengamalkannya, maka ia telah kafir. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿ذَٰلِكَ
بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ﴾
“Yang demikian itu adalah
karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang Alloh turunkan, maka Alloh
menghapuskan amalan-amalan mereka.” (QS. Muhammad: 9).
Dan Dia
berfirman:
﴿ذَٰلِكَ
بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ﴾
“Yang demikian itu adalah
karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Alloh dan
benci kepada keridhoan-Nya; sebab itu Alloh menghapuskan amalan-amalan mereka.”
(QS. Muhammad: 28)
Ayat
Ketiga [فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿مَّن
يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ
حَفِيظًا﴾
“Barangsiapa
mentaati Rosul (Muhammad), maka sesungguhnya ia telah mentaati Alloh. Dan
barangsiapa berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi
mereka.” (QS. An-Nisa: 80)
Ini
merupakan pemberian alasan dari Alloh kepada makhluk-Nya terkait Nabi-Nya
Muhammad ﷺ.
Alloh Ta’ala berfirman kepada mereka: Barangsiapa di antara kalian wahai
manusia yang mentaati Muhammad, maka sungguh ia telah mentaati-Ku dengan
ketaatannya kepada beliau. Maka dengarkanlah ucapannya dan taatilah
perintahnya, karena sesungguhnya apa pun yang ia perintahkan kepada kalian maka
itu berasal dari perintah-Ku, dan apa pun yang ia larang bagi kalian maka itu
berasal dari larangan-Ku. Maka janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian
berkata bahwa Muhammad hanyalah manusia biasa seperti kita yang ingin memiliki
keutamaan di atas kita.
Kemudian
Alloh berfirman kepada Nabi-Nya: Dan barangsiapa yang berpaling dari ketaatan
kepadamu wahai Muhammad, maka biarkanlah dia, karena Kami tidak mengutusmu
untuk menjadi penjaga atas apa yang mereka kerjakan lagi menghisabnya.
Melainkan Kami mengutusmu hanya untuk menjelaskan kepada mereka apa yang
diturunkan kepada mereka, dan cukuplah Kami yang menjaga amal perbuatan mereka
serta menghisab mereka atas hal itu.
Ibnu Katsir
(774 H) rohimahullah berkata: Alloh mengabarkan tentang hamba dan
Rosul-Nya Muhammad ﷺ
bahwa barangsiapa mentaatinya maka sungguh ia telah mentaati Alloh, dan
barangsiapa mendurhakainya maka sungguh ia telah mendurhakai Alloh. Hal itu
tidak lain karena beliau tidaklah berucap berdasarkan hawa nafsu, melainkan itu
adalah wahyu yang diwahyukan.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ
أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي»
“Barangsiapa
mentaatiku maka sungguh ia telah mentaati Alloh, dan barangsiapa mendurhakaku
maka sungguh ia telah mendurhakai Alloh...” (HR. Al-Bukhori no. 7137 dan
Muslim no. 1835)
Dan
firman-Nya:
﴿وَمَن
تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا﴾
Yaitu tidak ada kewajiban bagimu
atasnya, kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Maka barangsiapa mengikutimu ia
akan bahagia dan selamat, dan bagimu pahala yang semisal dengan apa yang ia
dapatkan. Namun barangsiapa berpaling darimu maka ia akan merugi dan celaka, dan
engkau tidak bertanggung jawab sedikit pun atas urusannya.
Ayat
Keempat [وَاحْذَرُوا]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَأَطِيعُوا
اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا
عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾
“Dan
taatilah Alloh dan taatilah Rosul serta berwaspadalah. Jika kamu
berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rosul Kami hanyalah menyampaikan
(amanat Alloh) dengan jelas.” (QS. Al-Maidah: 92)
At-Thobari
(310 H) berkata: Alloh Ta’ala berfirman: Sesungguhnya khomr, judi,
berhala, dan mengundi nasib adalah najis dari perbuatan syaithon, maka jauhilah
ia. Taatilah Alloh dan taatilah Rosul dalam menjauhi hal tersebut serta
ikutilah perintah-Nya pada apa yang diperintahkan kepada kalian berupa berhenti
dari apa yang dilarang bagi kalian. Selisihilah syaithon dalam perintahnya
kepada kalian untuk bermaksiat kepada Alloh, karena syaithon hanyalah ingin
menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian melalui khomr dan judi.
﴿وَاحْذَرُوا﴾
Maknanya: bertaqwalah kepada Alloh dan merasa diawasilah oleh-Nya agar Dia
tidak melihat kalian melakukan apa yang dilarang bagi kalian. Atau Dia
kehilangan kalian saat kalian diperintahkan melakukan sesuatu sehingga kalian
membinasakan diri kalian sendiri.
﴿فَإِن تَوَلَّيْتُمْ﴾yaitu jika kalian tidak mengamalkan
apa yang Kami perintahkan dan tidak berhenti dari apa yang Kami larang. Serta
kalian berbalik membelakangi Iman dan pembenaran kepada Alloh dan Rosul-Nya
serta tidak mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi kalian,
﴿فَاعْلَمُوا
أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾
Maknanya:
ketahuilah bahwa tidak ada kewajiban bagi orang yang Kami utus kepada kalian
sebagai pemberi peringatan selain menyampaikan risalah yang ia diutus dengannya
kepada kalian. Risalah tersebut menjelaskan kepada kalian jalan yang benar yang
diperintahkan untuk kalian tempuh. Adapun hukuman atas pembangkangan dan
pembalasan atas kemaksiatan maka itu adalah urusan Yang Mengutus. Ini adalah
ancaman dari Alloh Ta’ala bagi siapa yang berpaling dari perintah dan
larangan-Nya.
Dalam ayat
ini Alloh menggandengkan ketaatan kepada Rosul-Nya dengan ketaatan kepada-Nya.
Hal itu karena dalam mentaati beliau terdapat ketaatan kepada Alloh, dan karena
Muhammad berjalan di atas jalan dan manhaj yang telah dipilih serta ditetapkan
batas-batasnya oleh Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Katakanlah:
Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku, maka setiap
perbuatannya berada dalam keridhoan Alloh, dan setiap ucapan serta tindakannya
adalah syariat. Maka seseorang mendekatkan diri kepada Alloh dengan melakukan
perbuatannya dan mengucapkan ucapannya.
Al-Hafizh
Ibnu Katsir (774 H) berkata tentang firman-Nya ﴿وَاحْذَرُوا﴾: Yaitu janganlah kalian
menambah-nambah sehingga kalian menjadi pelaku bid’ah dalam apa yang
disyariatkan Alloh ‘Azza wa Jalla dan dibawa oleh Rosul yang terpercaya,
atau kalian mengurangi sehingga kalian menelantarkan sebagian syariat agama
yang telah Alloh wajibkan atas kalian.
Imam Ibnu
Qoyyim (751 H) rohimahullah berkata: Hakikat pengagungan terhadap
perintah dan larangan adalah dengan tidak menentangnya dengan keringanan yang
menjauh (meremehkan), dan tidak menentangnya dengan sikap keras yang berlebihan
(ekstrim). Karena yang dimaksud adalah Shirothol Mustaqim (jalan yang lurus)
yang menyampaikan pelakunya kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Tidaklah Alloh
memerintahkan suatu perintah melainkan syaithon memiliki dua godaan di
dalamnya: entah itu pengurangan dan kelalaian, atau kelebihan dan sikap
berlebihan (ghuluw). Syaithon tidak peduli mana dari dua kesalahan itu
yang ia dapatkan dari seorang hamba. Syaithon mendatangi hati hamba lalu
menciumnya, jika ia mendapati padanya sikap meremehkan dan kemalasan, maka ia
akan menghalanginya, mendudukkannya, dan memukulnya dengan kemalasan serta
membuka baginya pintu takwil-takwil dan angan-angan hingga mungkin hamba
tersebut meninggalkan perintah sama sekali. Namun jika ia mendapati padanya
sikap waspada, kesungguhan, dan semangat, serta ia putus asa untuk mengambilnya
dari pintu tersebut, maka ia memerintahkannya untuk berijtihad secara berlebih-lebihan.
Syaithon membisikkan bahwa ini tidak cukup bagimu, cita-citamu di atas ini,
engkau harus melebihi orang-orang yang beramal, jangan tidur saat mereka tidur,
dan jangan berbuka saat mereka berbuka. Jika salah seorang dari mereka membasuh
tangan dan wajahnya tiga kali, maka basuhlah olehmu tujuh kali, dan jika mereka
berwudhu untuk Sholat maka mandilah engkau untuknya, dan yang semisalnya dari
sikap melampaui batas. Ia membawanya kepada sikap ghuluw dan melampaui batas
serta keluar dari Shirothol Mustaqim. Tujuannya dari kedua orang itu adalah
mengeluarkan mereka dari Shirothol Mustaqim; yang satu dengan tidak
mendekatinya, dan yang satu lagi dengan melampauinya. Sungguh kebanyakan
makhluk telah terfitnah dengan hal ini. Tidak ada yang selamat dari hal
tersebut kecuali ilmu yang mendalam, Iman, kekuatan untuk memeranginya, dan
senantiasa berada di pertengahan (wasath), dan Alloh tempat memohon
pertolongan.
Ayat
Kelima [فَاتَّبِعُوهُ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَأَنَّ
هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ
وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
“Dan bahwa
(yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan
Alloh kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am: 153)
Ibnu Abbas
(68 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata tentang firman-Nya: “Dan janganlah
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya” serta yang semisal dengannya dalam
Al-Qur’an: “Alloh memerintahkan kaum Mu’min untuk berjamaah, melarang mereka
dari perselisihan dan perpecahan, serta mengabarkan bahwa orang-orang sebelum
mereka hanyalah binasa karena perdebatan dan pertengkaran dalam agama Alloh.” (Tafsir
Ibnu Katsir)
Dari
Abdullah bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rosululloh
ﷺ membuat satu garis dengan
tangannya kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan Alloh yang lurus’, lalu
beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya kemudian bersabda: ‘Ini
adalah jalan-jalan yang tidak ada satu pun darinya melainkan ada syaithon yang
menyeru kepadanya’, kemudian beliau membaca: ‘Dan bahwa (yang Kami
perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.’” (HR. Ahmad 1/435 dan Ad-Darimi no.
202)
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah (728 H) rohimahullah berkata: “Apabila orang yang
berakal—yang mengharap perjumpaan dengan Alloh—merenungkan permisalan ini, lalu
merenungkan seluruh kelompok mulai dari Khowarij, Mu’tazilah, Jahmiyah,
Rofidhoh, hingga yang paling dekat dengan Sunnah dari kalangan ahli kalam
seperti Karromiyah, Kullabiyah, Asy’ariyah, dan selain mereka, di mana setiap
dari mereka memiliki jalan yang keluar dari apa yang ditempuh para Shohabat dan
ahli Hadits, serta mengklaim bahwa jalannya lah yang benar—niscaya engkau
dapati bahwa mereka itulah yang dimaksud dengan permisalan yang dibuat oleh
Al-Ma’shum (Nabi yang terjaga dari kesalahan), yang tidak berbicara berdasarkan
hawa nafsu. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan.” (Majmu’ Al-Fatawa
4/57)
Beliau juga
berkata: “Secara umum kesesatan-kesesatan ini hanyalah masuk kepada orang yang
tidak berpegang teguh dengan Al-Kitab dan Sunnah, sebagaimana Az-Zuhri (124 H)
sering berkata: ‘Guru-guru kami dahulu berkata: Berpegang teguh dengan Sunnah
adalah keselamatan’, dan Malik (179 H) berkata: ‘Sunnah adalah perahu Nuh,
barangsiapa menaikinya ia selamat, dan barangsiapa tertinggal darinya ia
tenggelam.’.”
Hal itu
karena Sunnah, syariat, dan manhaj adalah Shirothol Mustaqim yang menyampaikan
hamba-hamba kepada Alloh, dan Rosul adalah penunjuk jalan yang mahir dalam
Shiroth ini.
Dari
An-Nawwas bin Sam’an (setelah 50 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Rosululloh ﷺ bersabda: “Alloh membuat
permisalan sebuah jalan yang lurus, di kedua sisi jalan itu terdapat dua tembok
yang padanya terdapat pintu-pintu yang terbuka, dan pada pintu-pintu tersebut
terdapat tirai yang terulur. Di depan pintu jalan tersebut ada penyeru yang
berkata: ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam jalan yang
lurus ini dan janganlah berpecah belah.’ Dan ada penyeru yang menyeru dari atas
jalan, maka apabila seseorang hendak membuka sesuatu dari pintu-pintu tersebut,
ia berkata: ‘Celaka engkau, jangan membukanya! Karena jika engkau membukanya,
niscaya engkau akan masuk ke dalamnya.’ Maka jalan itu adalah Islam, dua tembok
itu adalah batasan-batasan Alloh, pintu-pintu yang terbuka adalah keharoman-keharoman
Alloh, penyeru di pangkal jalan adalah Kitabulloh, dan penyeru dari atas jalan
adalah penasihat Alloh dalam hati setiap Muslim.” (HR. Ahmad 4/182)
Abu Ja’far
At-Thohawi (321 H) rohimahullah berkata: “Kami merenungkan Hadits ini
dan mendapati segala isinya jelas maknanya, kecuali tentang penasihat Alloh
dalam hati setiap Muslim... maka kami memahami bahwa permisalannya dalam hati
Muslim adalah hujjah Alloh Ta’ala yang melarangnya masuk ke dalam apa
yang Alloh cegah dan haromkan atasnya... itulah peringatan Alloh dalam hatinya
berupa bashiroh (pandangan mata hati) yang Alloh jadikan padanya.” (Musykilul
Atsar 3/36-37)
Firman
Alloh Ta’ala: “Maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan”, Alloh menyatukan (muwad-had) jalan-Nya karena
kebenaran itu satu, dan Dia menjamakkan jalan-jalan (subul) karena
perpecahan dan cabangnya yang banyak.
Mujahid
(104 H) berkata tentang “jalan-jalan”: “Yaitu bid’ah dan syubhat..”
Ayat
Keenam [اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا
يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ
يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul
apabila Rosul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu,
ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh membatasi antara manusia dan hatinya dan
sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)
Maknanya
adalah penuhilah seruan Alloh dan Rosul dengan ketaatan apabila Rosul menyeru
kalian kepada kebenaran yang menghidupkan kalian. Bersegeralah memenuhi seruan
sebelum kalian tidak mampu melakukannya karena Alloh membatasi antara kalian
dan hati kalian yang kalian bergantung padanya, baik dengan kematian yang telah
Alloh tetapkan, atau dengan apa yang masuk ke dalamnya berupa penyimpangan dan
kerusakan akibat terjerumus dalam fitnah, maksiat, dan berpaling dari Alloh dan
Rosul-Nya.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«تُعْرَضُ
الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا،
نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ
بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا
تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا
كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا
مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ»
“Fitnah-fitnah
ditampakkan ke dalam hati seperti anyaman tikar sebatang demi sebatang, maka
hati mana saja yang menyerapnya niscaya akan dititikkan padanya titik hitam...
hingga hati itu menjadi seperti cangkir yang terbalik (tertelungkup), ia tidak
lagi mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali apa yang
diserap oleh hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144)
Hati yang
seperti cangkir terbalik inilah yang telah dibatasi antara dirinya dan
pemenuhan seruan kepada Alloh serta taufiq untuk mentaati-Nya.
Ibnu Qoyyim
(751 H) rohimahullah berkata: “Ayat ini mengandung beberapa perkara:
Salah satunya bahwa kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapat dengan memenuhi
seruan Alloh dan Rosul-Nya. Maka barangsiapa tidak mendapatkan pemenuhan seruan
ini, maka ia tidak memiliki kehidupan, meskipun ia memiliki kehidupan hewani...
kehidupan yang hakiki lagi baik adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan
Alloh secara lahir dan batin.” (Al-Fawaid hal. 100)
Mengenai
firman-Nya:
﴿وَاعْلَمُوا
أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ﴾
Pendapat yang masyhur dalam ayat ini
adalah bahwa Alloh membatasi antara orang Mu’min dengan kekafiran, dan antara
orang kafir dengan Iman, serta membatasi antara ahli ketaatan dengan maksiat.
Ini adalah pendapat Ibnu Abbas (68 H) dan mayoritas mufassir.
Berdasarkan
pendapat ini, sisi kesesuaiannya adalah: Jika kalian merasa berat dan lambat
dalam memenuhi seruan, maka janganlah kalian merasa aman bahwa Alloh akan
membatasi antara kalian dan hati kalian, sehingga setelah itu kalian tidak
dimungkinkan lagi untuk memenuhi seruan sebagai hukuman atas ditinggalkannya
hal tersebut setelah jelasnya kebenaran. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
﴿وَنُقَلِّبُ
أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ﴾
“Dan
(begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka
belum pernah beriman kepadanya pada awal mulanya.”
Dalam ayat
ini terdapat peringatan agar jangan meninggalkan pemenuhan seruan dengan hati
meskipun anggota badan memenuhinya.
Dan
firman-Nya:
﴿وَأَنَّهُ
إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾
Maknanya: Ketahuilah wahai
orang-orang Mu’min, di samping mengetahui bahwa Alloh membatasi antara manusia
dan hatinya, ketahuilah bahwa Alloh yang berkuasa atas hati kalian adalah
tempat kembali kalian pada hari Qiyamah. Maka Dia akan menyempurnakan balasan
amal kalian; yang berbuat baik dengan kebaikannya dan yang berbuat buruk dengan
keburukannya. Maka bertaqwalah kepada-Nya dan merasa diawasilah oleh-Nya dalam
apa yang Dia dan Rosul-Nya perintahkan serta larang agar tidak kalian
sia-siakan, dan jangan sampai kalian tidak memenuhi seruan Rosul-Nya saat diajak
kepada sesuatu yang menghidupkan kalian, yang mana hal itu akan mendatangkan
kemurkaan-Nya.
Dari Abi Sa’id
bin Al-Mu’alla (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku sedang
Sholat lalu Rosululloh ﷺ
lewat dan memanggilku, namun aku tidak mendatangi beliau hingga aku selesai
Sholat. Kemudian aku mendatangi beliau, lalu beliau bersabda: ‘Apa yang
menghalangimu untuk mendatangiku?’, maka aku menjawab: ‘Sesungguhnya aku tadi
sedang Sholat.’ Beliau bersabda: ‘Bukankah Alloh Tabaroka wa Ta’ala
telah berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا
يُحْيِيكُمْ﴾
“Wahai
orang-orang beriman...” (HR.
Al-Bukhori no. 4474)
Abu Ja’far
At-Thohawi (321 H) rohimahullah berkata: “Dalam apa yang kami riwayatkan
dari Rosululloh ﷺ
terdapat kewajiban bagi orang yang dipanggil oleh beliau saat sedang Sholat
untuk memenuhi seruannya dan meninggalkan Sholatnya. Hal itu lebih utama
baginya daripada terus melanjutkan Sholatnya yang bisa menyebabkan ia dicela
berdasarkan apa yang Alloh turunkan. Karena orang yang sedang Sholat itu mampu
untuk keluar dari Sholatnya menuju keutamaan yang ia dapatkan dalam memenuhi
seruan Rosululloh ﷺ
saat memanggilnya..”
As-Suyuthi (911 H) dalam Al-Khoshois Al-Kubro menyebutkan: “Bab
kekhususan beliau bahwa orang yang sedang Sholat wajib memenuhi seruannya
apabila beliau memanggilnya dan Sholatnya tidak batal..”
Jika ada yang bertanya: “Rosululloh ﷺ
telah wafat dan tidak lagi termasuk penduduk dunia, beliau tidak akan memanggil
satu pun dari kita saat sedang Sholat, lalu mengapa nukilan-nukilan ini
disebutkan padahal tidak ada kebutuhan kepadanya?” Jawabannya: Jika Rosululloh ﷺ
telah mencela orang yang meninggalkan pemenuhan seruan kepadanya padahal orang
tersebut sedang Sholat, maka diketahui dari hal itu bahwa tidak ada udzur bagi
selainnya—secara lebih utama lagi—jika ia tidak memenuhi perintahnya dan berani
melakukan larangannya.
Ayat
Ketujuh [تَهْتَدُوا]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿قُلْ
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا
حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حَمَلْتُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ
الْمُبِينُ﴾
“Katakanlah:
‘Taatilah Alloh dan taatilah Rosul; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya kewajiban Rosul itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan
kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat
kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan kewajiban Rosul itu tidak lain
hanyalah menyampaikan (amanat Alloh) dengan jelas.’” (QS. An-Nur: 54)
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿قُلْ﴾
Katakanlah wahai
Muhammad kepada orang-orang yang bersumpah dengan nama Alloh secara
sungguh-sungguh bahwa jika engkau memerintah mereka niscaya mereka akan
berangkat,
﴿أَطِيعُوا اللَّهَ﴾ Taatilah
Alloh wahai kaum pada apa yang Dia perintahkan dan larang bagi kalian,
﴿وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ﴾ dan
taatilah Rosul karena ketaatan kepadanya adalah ketaatan kepada Alloh.
﴿فَإِن تَوَلَّوْا﴾jika kalian berpaling dari apa yang
diperintahkan atau dilarang oleh Rosululloh ﷺ
﴿فإِنَّمَا
عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ﴾
maka
kewajiban beliau hanyalah melakukan apa yang diperintahkan untuk dikerjakan
berupa menyampaikan risalah Alloh kepada kalian.
﴿وَعَلَيْكُم مَّا حَمَلْتُمْ﴾ dan wajib bagi kalian wahai manusia untuk
melakukan apa yang diwajibkan atas kalian berupa mengikuti Rosul-Nya dan
berhenti pada ketaatan kepadanya.
Dan
firman-Nya:
﴿وَإِن
تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا﴾
Maknanya: Jika kalian mentaati
Rosululloh pada apa yang beliau perintahkan dan larang, niscaya kalian akan
mendapat petunjuk dan tepat dalam urusan kalian.
﴿وَمَا
عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾
Maknanya:
Tidak ada kewajiban bagi orang yang Alloh utus kecuali menyampaikan risalah-Nya
dengan penyampaian yang jelas. Kewajiban kalian adalah taat, jika kalian taat
maka manfaatnya bagi diri kalian sendiri, dan jika kalian durhaka maka kalian
membinasakan diri kalian sendiri.
Abu ‘Utsman
An-Naisaburi (298 H) berkata: “Barangsiapa yang menjadikan Sunnah sebagai
pemimpin atas dirinya baik dalam ucapan maupun perbuatan, maka ia akan
berbicara dengan Hikmah. Dan barangsiapa menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin
atas dirinya, maka ia akan berbicara dengan bid’ah. Karena Alloh berfirman: ‘Dan
jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.’”
Az-Zuhri
(124 H) berkata: “Dari Alloh risalah itu datang, bagi Rosul kewajiban
menyampaikan, dan bagi kita kewajiban berserah diri (تسليم).”
Sebagai
penutup, ketahuilah bahwa kedudukan Islam tidaklah teguh melainkan di atas
jembatan penyerahan diri (تسليم).
Rosululloh ﷺ
telah memikul beban penyampaian risalah dan beliau telah menunaikannya dengan
sesempurna mungkin. Beliau telah menasihati umat dengan sebenar-benar nasihat,
dan beliau telah menunaikan apa yang dibebankan kepadanya dengan persaksian
Robb-nya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku
cukupkan kepadamu nikmat-Ku.” Serta dengan persaksian para Shohabatnya setelah
beliau meminta persaksian mereka: “Apakah aku telah menyampaikan?”, lalu mereka
menjawab: “Allohumma, benar.”
Maka wahai umat
Islam: Apakah kita telah menunaikan apa yang dibebankan kepada kita? Dan apakah
kita telah mewujudkan ketaatan kepada Rosul kita serta berjalan di atas manhaj
dan jalannya serta mengikuti jejak dan Sunnahnya?
Ayat
Kedelapan [أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿لَّقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴾
“Sungguh,
telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rohmat) Alloh dan (kedatangan) hari Qiyamah dan yang
banyak mengingat Alloh.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat yang
mulia ini adalah landasan besar dalam meneladani Rosululloh ﷺ dalam ucapan-ucapannya,
perbuatan-perbuatannya, dan keadaan-keadaannya.
Ayat
Kesembilan [الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَمَا
كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ
لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ
ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا﴾
“Dan
tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang
Mu’min, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada
bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa
mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang
nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Ibnu Katsir
(774 H) rohimahullah berkata: “Ayat ini bersifat umum dalam seluruh
perkara, yaitu apabila Alloh dan Rosul-Nya telah memutuskan sesuatu, maka tidak
bagi siapa pun untuk menyelisihinya, tidak ada pilihan bagi siapa pun di sini,
tidak ada pendapat, dan tidak ada ucapan..”
Ibnu Jarir
At-Thobari (310 H) rohimahullah berkata: “Alloh Ta’ala berfirman:
Tidaklah layak bagi orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, baik
laki-laki maupun perempuan, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu
keputusan pada diri mereka, mereka memilih pilihan lain selain yang telah
ditetapkan bagi mereka, lalu mereka menyelisihinya dan mendurhakai
keduanya. Barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya pada apa yang
keduanya perintahkan atau larang, maka sungguh ia telah menyimpang dari jalan
yang lurus dan menempuh selain jalan petunjuk.”
Ibnu Abbas rodhiyallahu
‘anhuma menyebutkan sebab turunnya ayat ini: Bahwa Rosululloh ﷺ berangkat untuk meminang
Zainab binti Jahsy (setelah 20 H) untuk pemuda beliau, Zaid bin Haritsah (8 H).
Zainab berkata: “Aku tidak mau menikah dengannya.” Rosululloh ﷺ bersabda: “Bahkan, nikahlah
dengannya.” Zainab bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah aku (boleh) memerintah
diriku sendiri?” Maka saat keduanya sedang berbincang, Alloh menurunkan ayat
ini, lalu Zainab berkata: “Engkau telah ridho hal itu bagiku wahai Rosululloh?
Jika demikian, aku tidak akan mendurhakai Rosululloh, sungguh aku telah
menikahkan diriku dengannya..”
Ayat
Kesepuluh [فَخُذُوهُ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَمَا
آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Apa yang
diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya
bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh
amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hashr: 7)
Maknanya:
apa pun yang beliau perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah, dan apa pun
yang beliau larang, maka jauhilah. Karena sesungguhnya beliau hanyalah
memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan. Meskipun ayat ini turun terkait
pembagian harta rampasan perang (ghonimah), namun ibroh (pelajaran)
diambil dari keumuman lafazhnya, bukan dari kekhususan sebabnya.
Ayat ini
mengandung perintah bagi setiap Muslim untuk mentaati hamba yang jujur lagi
terpercaya dan beramal dengan perintahnya, meskipun ia membenci perkara
tersebut atau tidak tahu kesudahannya. Serta berhenti dari apa yang dilarang
meskipun ia menganggapnya baik. Hal ini karena Rosululloh ﷺ lebih mengetahui keadaan
umatnya dan apa yang bermanfaat bagi mereka.
Abu Al-Fida
(Ibnu Katsir) berkata tentang firman-Nya
﴿وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Takutilah
Dia dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan
larangan-larangan-Nya, karena hukuman-Nya sangat keras bagi siapa yang mendurhakai-Nya
dan menyelisihi perintah-Nya..”
Bab 2: Janji dan Pujian bagi Orang
yang Taat
Ini adalah
ayat-ayat yang mengandung pujian Alloh bagi siapa saja yang mentaati-Nya dan
mentaati Rosul-Nya, serta janji berupa kesudahan yang baik di Jannah.
Ayat
Pertama [أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿بَلَىٰ
مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا
خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾
“(Tidak
demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Alloh, sedang ia
berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Robbnya dan tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS.
Al-Baqoroh: 112)
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah (728 H) rohimahullah berkata: “Dua sifat ini, yaitu
menyerahkan diri kepada Alloh dan berbuat ihsan (kebajikan), adalah dua
landasan utama: yaitu menjadikan amal tulus (ikhlas) karena Alloh dan amal yang
benar (showab) sesuai dengan Sunnah dan Syariat..”
Menyerahkan
wajah kepada Alloh mencakup maksud dan niat karena Alloh semata. Sedangkan
Ihsan adalah beramal sholih dengan tidak menyekutukan Robbnya dengan sesuatu
pun. Amal yang sholih adalah apa yang Alloh perintahkan dan syariatkan, yaitu
yang sesuai dengan Sunnah Alloh dan Sunnah Rosul-Nya.
Syaikh
Abdul Lathif bin Abdurrahman (1293 H) rohimahullah berkata: “Menyerahkan
wajah kepada Alloh adalah beribadah kepada-Nya dan kufur kepada ibadah
selain-Nya, inilah makna syahadat Laa ilaha illalloh. Adapun Ihsan
adalah engkau beribadah kepada Alloh dengan apa yang disyariatkan, bukan dengan
hawa nafsu dan bid’ah. Inilah hakikat syahadat Muhammad Rosululloh, yang
menuntut kewajiban mengikutinya dan haromnya mendurhakainya..”
Ayat
Kedua [يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿قُلْ
إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾
“Katakanlah:
‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu.’ Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Ali ‘Imron: 31)
Al-Hafizh
Ibnu Katsir (774 H) berkata: “Ayat ini adalah hakim (pemutus) bagi siapa saja
yang mengklaim mencintai Alloh namun tidak mengikuti Muhammad ﷺ dalam syariat, jalan, dan
Sunnahnya; maka ia adalah pembohong dalam klaimnya tersebut..” Agar klaimnya
benar, ia wajib mengikuti Syariat Muhammad dan Sunnah Nabawiyah dalam seluruh
ucapan dan perbuatannya.
Hasan
Al-Bashri (110 H) dan para Salaf berkata: “Suatu kaum mengaku mencintai Alloh,
maka Alloh menguji mereka dengan ayat ini..”
Firman-Nya ﴿يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾ maknanya kalian akan mendapatkan
cinta Alloh kepada kalian, dan itu lebih agung daripada cinta kalian
kepada-Nya. Sebab intinya bukan engkau mencintai, tapi bagaimana engkau
dicintai.
Syaikhul
Islam (728 H) berkata: “Setiap orang yang mengaku mencintai Alloh namun tidak
mengikuti Rosul, maka ia telah berdusta. Jika pun ia mencintai, maka itu adalah
cinta kesyirikan karena ia mengikuti hawa nafsunya. Demikian pula ahli bid’ah,
barangsiapa yang ingin menuju Alloh namun tidak bermaksud mengikuti Rosul, maka
cintanya bercampur dengan keserupaan terhadap kaum Musyrikin, Yahudi, dan Nasroni
sesuai kadar bid’ahnya..”
Asy-Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-Albani (1420 H) rohimahullah berkata: “Ketahuilah
wahai saudaraku Muslim, tidak mungkin seseorang naik ke derajat cinta kepada
Alloh dan Rosul-Nya kecuali dengan mentauhidkan Alloh dalam ibadah dan
mengesakan Nabi dalam ketaatan (ittiba’). Jika Nabi sekelas Musa (nabi
kaum Bani Isroil) saja tidak memiliki keluasan kecuali harus mengikuti Nabi ﷺ jika ia hidup, maka apakah
selainnya memiliki keluasan tersebut?” Beliau juga menasihati agar setiap
Muslim tidak hanya berhenti pada ilmu, namun mengamalkan buahnya yaitu tulus
dalam mengikuti Rosul yang agung ini.
Asy-Syaikh
Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi (1393 H) rohimahullah berkata: “Diambil
dari ayat ini bahwa tanda cinta yang jujur kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah
dengan mengikutinya. Siapa yang menyelisihinya namun mengaku mencintainya, maka
ia adalah pembohong..”
Sebagaimana
perkataan penyair:
“Seandainya
cintamu jujur niscaya engkau mentaatinya.”
“Sesungguhnya
pecinta itu taat kepada yang dicintainya.”
Ayat
Ketiga [يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿تِلْكَ
حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾
“Itulah
batasan-batasan (hukum) Alloh. Barangsiapa taat kepada Alloh dan Rosul-Nya,
niscaya Alloh memasukkannya ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang
besar.” (QS. An-Nisa: 13)
Abu Ja’far
At-Thobari (310 H) rohimahullah berkata: “Batasan setiap sesuatu adalah
apa yang memisahkan antara ia dengan selainnya. Batasan-batasan Alloh bermakna
pemisah antara ketaatan kepada Alloh dan kemaksiatan kepada-Nya. Itulah batasan
bagi kalian agar kalian berhenti di sana dan tidak melampauinya..”
Alloh dan
Rosul-Nya telah menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya, sebagaimana sabda
beliau ﷺ:
«الحَلاَلُ
بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ»
“Sesungguhnya
yang halal itu jelas dan yang harom itu jelas...” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan
Muslim no. 1599)
Maka
barangsiapa yang melampauinya, sungguh ia telah keluar dari batasan ketaatan
menuju kemaksiatan. Melalui batasan-batasan inilah diketahui siapa ahli
ketaatan dan siapa ahli kemaksiatan; maka ukurannya adalah sejauh mana pengaruh
perintah dan larangan Alloh dalam diri seorang hamba. Kemudian Alloh
menjelaskan apa yang Dia simpan bagi mereka yang berhenti pada larangan-Nya dan
melaksanakan perintah-Nya berupa Jannah yang kekal.
Ayat
Keempat [مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَمَن
يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم
مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا﴾
“Dan
barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul (Nya), mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Alloh, yaitu: Nabi-Nabi,
para Shiddiqin, orang-orang yang mati Syahid, dan orang-orang sholih. Dan
mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)
Maknanya
adalah barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul dengan berserah diri pada
perintah keduanya, ridho dengan hukum keduanya, serta berhenti dari
kemaksiatan, maka ia akan bersama orang-orang yang diberi taufiq untuk taat di
dunia dan di Akhiroh saat masuk Jannah.
Para
Shiddiqin: Orang yang membenarkan ucapannya dengan perbuatannya.
Para
Syuhada: Orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh.
Orang-orang
Sholih: Setiap orang yang baik lahir dan batinnya.
Ibnu Katsir
(774 H) rohimahullah berkata: “Barangsiapa beramal dengan apa yang Alloh
dan Rosul-Nya perintahkan serta meninggalkan apa yang dilarang, maka Alloh akan
menempatkannya di negeri kemuliaan-Nya dan menjadikannya pendamping para Nabi
dan tingkatan setelahnya.”
Diriwayatkan
dari Ummul Mu’minin Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha bahwa seorang
laki-laki datang kepada Nabi ﷺ
seraya mengadu bahwa ia sangat mencintai beliau dan merasa sedih jika
membayangkan kelak di Jannah beliau akan berada di tingkatan yang tinggi bersama
para Nabi sehingga ia khawatir tidak bisa melihat beliau lagi. Maka Nabi ﷺ tidak menjawab hingga Jibril
turun membawa ayat ini.
Ayat
Kelima [سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَالْمُؤْمِنُونَ
وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ
اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾
“Dan
orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf,
dan mencegah dari yang munkar, mendirikan Sholat, menunaikan Zakat, dan mereka
taat kepada Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itu akan diberi rohmat oleh
Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah:
71)
Sisi
pendalilan dari ayat ini adalah pada firman-Nya: “Dan mereka taat kepada
Alloh dan Rosul-Nya”, yaitu mereka melaksanakan perintah Alloh dan Rosul-Nya
serta menjauhi larangan Kami. Mereka yang memiliki sifat inilah yang akan dirohmati
Alloh, diselamatkan dari adzab, dan dimasukkan ke Jannah; bukan orang-orang munafiq
yang mendustakan Alloh, melarang yang ma’ruf, dan menyuruh yang munkar. Alloh Maha
Perkasa dalam membalas kemaksiatan dan Maha Bijaksana dalam setiap
tindakan-Nya.
Ayat
Keenam [هُمُ الْمُفْلِحُونَ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿إِنَّما
كانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ
أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنا وَأَطَعْنا وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Sesungguhnya
jawaban orang-orang Mu’min, apabila mereka dipanggil kepada Alloh dan Rosul-Nya
agar Rosul mengadili di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar, dan kami
patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur:
51)
Ibnu Katsir
(774 H) berkata: “Mereka mendengar dan patuh, sehingga Alloh menyifati mereka
dengan keberuntungan, yaitu tercapainya apa yang dicari dan selamat dari apa
yang ditakuti.” Ayat ini mengabarkan keadaan yang seharusnya dimiliki oleh
setiap orang Mu’min, yaitu memenuhi seruan perintah Alloh dan Rosul-Nya,
tunduk, serta patuh. Karena orang Mu’min sumber pengambilannya hanyalah
Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya, dan tidak ada ruang bagi hawa nafsu saat
berhadapan dengan perintah keduanya.
Ayat
Ketujuh [هُمُ الْفَائِزُونَ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَمَن
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ﴾
“Dan
barangsiapa yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya dan takut kepada Alloh dan bertaqwa
kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS.
An-Nur: 52)
Ibnu Jarir
(310 H) rohimahullah berkata: “Siapa yang mentaati Alloh dan Rosul pada
apa yang diperintahkan dan dilarang, berserah diri pada hukum keduanya, takut
akan balasan kemaksiatan, dan menjaga diri dari adzab Alloh dengan
mentaati-Nya, maka merekalah orang yang menang dengan keridhoan Alloh pada hari
Qiyamah.”
Qotadah
(117 H) berkata: “Yaitu mentaati Alloh dan Rosul-Nya pada apa yang
diperintahkan keduanya, meninggalkan apa yang dilarang keduanya, takut kepada
Alloh atas dosa yang telah lalu, dan bertaqwa kepada-Nya untuk masa yang akan
datang.”
Mereka
adalah orang-orang yang beruntung mendapatkan setiap kebaikan dan aman dari
setiap keburukan di dunia dan Akhiroh.
Ayat
Kedelapan [يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَمَن
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ﴾
“Dan
barangsiapa yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, niscaya Alloh akan memasukkannya
ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Al-Fath:
17)
Serta masih
banyak lagi ayat-ayat lainnya yang bermakna serupa.
Bab 3: Kesudahan bagi Para
Pendurhaka yang Menyelisihi
Ini adalah
ayat-ayat yang berisi celaan dan ancaman dari Alloh bagi siapa saja yang
mendurhakai perintah-Nya dan perintah Rosul-Nya. Di dalamnya terdapat
penjelasan tentang apa yang Alloh persiapkan bagi kesudahan mereka, yaitu
kemurkaan Alloh dan Naar. Kita berlindung kepada Alloh dari Naar.
Ayat
Pertama [لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿قُلْ
أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِن
تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ﴾
“Katakanlah:
‘Taatilah Alloh dan Rosul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Alloh
tidak menyukai orang-orang kafir.’” (QS. Ali ‘Imron: 32)
Ibnu Katsir
(774 H) berkata: “Jika kalian berpaling, maknanya menyelisihi perintah beliau,
maka sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang kafir. Ini menunjukkan bahwa
menyelisihi jalannya adalah kekufuran dan Alloh tidak menyukai orang yang
bersifat demikian.”
Meskipun ia
mengaku mencintai Alloh dan mendekatkan diri kepada-Nya, klaim itu tidak sah
hingga ia mengikuti Rosul Nabi yang Ummi, penutup para Rosul yang diutus kepada
Jin dan Manusia. Seandainya para Nabi bahkan para Rosul Ulul Azmi berada di
zamannya, tidak ada keluasan bagi mereka kecuali mengikutinya dan masuk ke
dalam ketaatan serta syariatnya.
Ayat
Kedua [يُدْخِلْهُ نَارًا]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَمَن
يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا
وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ﴾
“Dan
barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya dan melanggar
batasan-batasan-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam api Naar
sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya adzab yang menghinakan.” (QS.
An-Nisa: 14)
Abu Al-Fida
(Ibnu Katsir) berkata: “Hal itu dikarenakan ia mengubah apa yang Alloh putuskan
dan menentang Alloh dalam hukum-Nya. Perbuatan ini muncul dari ketidaksukaan
terhadap apa yang Alloh bagikan dan putuskan, maka Dia membalasnya dengan
kehinaan dalam adzab yang pedih lagi kekal.”
Ayat
Ketiga [لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿يَوْمَئِذٍ
يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ
وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا﴾
“Di hari
itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rosul, ingin supaya mereka
disama-ratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan suatu
kejadian pun dari Alloh.” (QS. An-Nisa: 42)
Ibnu Katsir
(774 H) berkata: “Yaitu seandainya tanah terbelah dan menelan mereka karena
dahsyatnya kengerian tempat penantian itu serta kehinaan, aib, dan celaan yang
menimpa mereka.”
Hal ini
sebagaimana firman-Nya:
﴿يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ
وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا﴾
“Pada
hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang
kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” (QS.
An-Naba: 40)
Mengenai
firman-Nya “dan mereka tidak dapat menyembunyikan suatu kejadian pun dari
Alloh”, ini mengabarkan bahwa mereka mengakui semua perbuatan mereka dan
tidak menyembunyikan apa pun.
Said bin
Jubair (95 H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma bahwa
ketika orang musyrik melihat tidak ada yang masuk Jannah kecuali ahli Islam,
mereka mencoba memungkiri kesyirikan mereka dengan berkata: “Demi Alloh, Robb
kami, tiadalah kami dahulu orang-orang yang mempersekutukan Alloh.” Maka Alloh
mengunci mulut mereka, lalu tangan dan kaki mereka berbicara sehingga mereka
tidak bisa menyembunyikan suatu kejadian pun dari Alloh. Saat itulah mereka
berharap seandainya disama-ratakan dengan tanah.
Ayat
Keempat [الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَإِذَا
قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ
يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا﴾
“Apabila
dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Alloh telah
turunkan dan kepada hukum Rosul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafiq
menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS.
An-Nisa: 61)
Ayat ini
menyebutkan sifat munafiq yang tercela, yaitu apabila diajak kepada Kitabulloh
dan Sunnah Rosul-Nya untuk menyelesaikan perselisihan, mereka berpaling dan
menghalang-halangi. Sikap berpaling ini muncul dari ketidaksukaan terhadap
hukum Alloh dan Rosul-Nya. Hal ini berbeda dengan ahli Iman yang berkata “Kami
mendengar dan kami patuh.” Alloh telah menjelaskan tempat kembali
orang-orang yang menghalangi manhaj-Nya:
﴿إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ
مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا﴾
“Sesungguhnya
orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari api
Naar...” (QS. An-Nisa: 145)
Ayat
Kelima [نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَمَن
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ
سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾
“Dan
barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti
jalan yang bukan jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa:
115)
Yaitu
barangsiapa yang menempuh jalan selain syariat yang dibawa Rosul ﷺ sehingga ia berada di satu
sisi dan syariat di sisi lain, sementara kebenaran telah jelas baginya.
Mengikuti jalan selain orang Mu’min ini mencakup pelanggaran terhadap teks
syariat maupun apa yang telah disepakati oleh umat (Ijma’), karena umat
Muhammad telah dijamin terjaga dari kesalahan saat bersepakat. Sebagaimana
sabda beliau ﷺ:
﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى
ضَلَالَةٍ»
“Sesungguhnya
Alloh tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan, dan tangan Alloh
bersama Al-Jamaah” (HR. At-Tirmidzi no. 2167)
Imam
Asy-Syafi’i (204 H) rohimahullah berhujjah dengan ayat ini bahwa Ijma’
adalah hujjah yang harom diselisihi.
Mengenai firman-Nya
“Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu”,
maknanya jika ia menempuh jalan itu Kami akan hiasi jalan itu di dadanya
sebagai bentuk istidroj (penangguhan hukuman).
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah (728 H) rohimahullah berkata: “Dua perkara ini
saling berkaitan; siapa yang menentang Rosul setelah jelas petunjuk, maka ia
telah mengikuti selain jalan kaum Mu’min.” Ayat ini menunjukkan bahwa Ijma’
kaum Mu’min adalah hujjah karena menyelisihinya berarti menyelisih Rosul.
Menyelisihi Ijma’ yang telah pasti menyebabkan kekafiran sebagaimana
menyelisihi teks yang jelas (nash). Namun jika Ijma’ tersebut hanya
bersifat persangkaan dan tidak pasti, maka menyelisihinya mungkin tidak sampai
mengkafirkan.
Ayat
Keenam [تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿فَلْيَحْذَرِ
الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ﴾
“Maka
hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul takut akan ditimpa
fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)
Ibnu Katsir
(774 H) berkata: “Yaitu menyalahi perintah, syariat, manhaj, dan Sunnah
Rosululloh ﷺ.
Segala ucapan dan perbuatan ditimbang dengan ucapan dan perbuatannya; apa yang
sesuai maka diterima, dan apa yang menyelisihi maka ditolak kepada pelakunya.”
Sebagaimana sabda beliau ﷺ:
«مَنْ
عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
“Barangsiapa
beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami padanya, maka amalan
itu tertolak” (HR. Muslim no. 1718)
Maka
hendaklah takut orang yang menyalahi syariat beliau baik batin maupun lahir
akan ditimpa fitnah dalam hati mereka berupa kekufuran, nifaq, atau bid’ah; atau ditimpa adzab pedih di
dunia berupa pembunuhan, hukum had, penjara, dan semisalnya.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا
مَثَلِي وَمَثَلُ النَّاسِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا، فَلَمَّا أَضَاءَتْ
مَا حَوْلَهُ جَعَلَ الفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي تَقَعُ فِي النَّارِ يَقَعْنَ
فِيهَا، فَجَعَلَ يَنْزِعُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَقْتَحِمْنَ فِيهَا، فَأَنَا آخُذُ
بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، وَهُمْ يَقْتَحِمُونَ فِيهَا»
“Perumpamaanku
dan perumpamaan kalian adalah seperti seorang laki-laki yang menyalakan api...
lalu laron-laron berjatuhan ke dalamnya sementara ia menghalanginya namun
mereka mengalahkannya dan masuk ke api. Itulah perumpamaanku; aku memegang
pinggang kalian agar tidak masuk ke Naar, namun kalian mengalahkanku dan menceburkan
diri ke dalamnya” (HR. Al-Bukhori no. 6483 dan Muslim no. 2284)
Ayat
Ketujuh [يَعَضُّ الظَّالِمُ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿وَيَوْمَ
يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ
سَبِيلاً﴾
“Dan
(ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zholim menggigit dua tangannya,
seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rosul.’”
(QS. Al-Furqon: 27)
Alloh
mengabarkan penyesalan orang zholim yang meninggalkan jalan Rosul ﷺ dan menempuh jalan lain. Di
hari Qiyamah ia menyesal saat penyesalan tidak lagi berguna, ia menggigit
tangannya karena duka dan pilu. Alloh juga mengabarkan penyesalan ahli Naar
karena meninggalkan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya saat mereka di dunia
memiliki kemudahan untuk taat.
Ayat
Kedelapan [تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ]
Firman-Nya Ta’ala:
﴿يَوْمَ
تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا
الرَّسُولَا﴾
“Pada hari
ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam api Naar, mereka berkata: ‘Alangkah
baiknya, andaikata kami taat kepada Alloh dan taat (pula) kepada Rosul.’” (QS.
Al-Ahzab: 66)
Abu Ja’far
At-Thobari (310 H) berkata: “Yaitu saat wajah mereka dibolak-balikkan dalam
Naar, mereka berharap seandainya dahulu di dunia mereka taat kepada Alloh dan
Rosul-Nya sehingga mereka bisa bersama ahli Jannah. Sungguh itu adalah
penyesalan yang sangat besar.”
Ibnu Katsir
(774 H) berkata: “Mereka diseret di atas wajah mereka dan wajah mereka diputar
di atas Jahannam sambil berangan-angan seandainya mereka termasuk orang yang
taat kepada Alloh dan Rosul-Nya ﷺ.”
Bersambung
ke edisi 2 (lengkap, in syaa Alloh)…
Catatan: 47
dari 192 halaman (kitab asli).
