Cari Ebook

[PDF] Penyimpangan Abul Hasan Asy-Syadzili (656 H) dalam Hizbnya - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Kitab Ar-Ro’du ala Asy-Syadzili merupakan risalah ilmiah yang disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) untuk membedah dan meluruskan berbagai penyimpangan yang terdapat dalam Hizb (kumpulan doa dan dzikir) milik Abul Hasan Asy-Syadzili (656 H). Beliau juga meninjau kritis kitab-kitab tentang adab perjalanan suluk (thoriqoh) yang ditulis oleh tokoh tersebut. Fokus utama dari bantahan ini adalah kewajiban syar’i untuk menjaga kemurnian Tauhid dan mengikuti tuntunan Nabi secara utuh.

Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan bahwa banyak lafazh dalam Hizb tersebut yang tidak hanya menyelisihi Sunnah, tetapi juga mengandung pemikiran filsafat yang bisa merusak aqidah seorang Muslim jika tidak dipahami dengan timbangan syari’at yang benar.

Kitab Ibnu Taimiyyah tersebut, kami meringkasnya dan menatanya dengan bahasa sendiri yang mudah dipahami awam, disamping beberapa tambahkan.

 

Bab 1: Tinjauan Kritis terhadap Lafazh-Lafazh dalam Hizb Asy-Syadzili

1.1: Koreksi atas Ungkapan Ilmu-Mu adalah Cukup Bagiku (Ilmuka Hasbi)

Dalam Hizb tersebut terdapat ungkapan yang berbunyi وعلمك حسبي (dan ilmu-Mu adalah cukup bagiku). Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa ungkapan ini tidak sesuai dengan tuntunan syari’at yang diajarkan oleh Alloh dan Rosul-Nya . Sunnah yang benar adalah menyandarkan kecukupan itu kepada Dzat Alloh secara langsung, bukan hanya kepada sifat ilmu-Nya saja. Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾

Orang-orang yang ketika ada orang-orang berkata kepada mereka: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Alloh bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.” (QS. Ali Imron: 173)

Beliau menjelaskan bahwa sifat ilmu saja tidak cukup bagi seorang hamba untuk mendapatkan ni’mat atau menolak adzab jika tidak dibarengi dengan Kehendak (Irodah) dan Kuasa (Qodrat) dari Alloh . Alloh mengetahui keadaan orang kafir dan orang miskin, namun sekadar pengetahuan itu tidak mengubah kondisi mereka tanpa adanya tindakan nyata dari Robb semesta alam.

1.2: Hakikat Hasbunalloh dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

Makna Al-Hasbu adalah Al-Kafi, yaitu Yang Maha Mencukupi. Hamba yang bertauhid sejati hanya akan mencukupkan dirinya kepada Alloh sebagai sandaran perlindungan. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:

﴿وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ﴾

Dan sekiranya mereka ridho dengan apa yang diberikan Alloh dan Rosul-Nya kepada mereka, dan mereka berkata: “Cukuplah Alloh bagi kami, Alloh akan memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, demikian pula Rosul-Nya.” (QS. At-Taubah: 59)

Syaikhul Islam (728 H) juga mengoreksi kekeliruan sebagian orang dalam memahami ayat:

﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴾

Wahai Nabi, cukuplah Alloh bagimu dan bagi orang-orang yang mengikutimu dari kalangan Mukminin. (QS. Al-Anfal: 64)

Beliau meluruskan bahwa makna ayat ini adalah Alloh mencukupi Nabi dan juga mencukupi para pengikutnya. Keliru besar jika ada yang menganggap bahwa Mukminin adalah pencukup bagi Nabi bersama Alloh , karena hanya Alloh satu-satunya Yang Maha Mencukupi hamba-Nya.

1.3: Meluruskan Makna Tawakkal dan Kedudukan Doa bagi Para Nabi

Tawakkal yang sempurna berarti tidak meminta dan tidak menggantungkan hati kepada selain Alloh . Hal ini didasarkan pada pesan Nabi kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhu:

«وإذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله»

Jika kamu meminta maka mintalah kepada Alloh, dan jika kamu memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Alloh. (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Ibnu Taimiyah (728 H) membantah anggapan bahwa seorang hamba tidak perlu berdoa karena Alloh sudah mengetahui keadaannya. Beliau menegaskan bahwa seluruh Nabi, termasuk Ibrohim , adalah orang-orang yang paling banyak berdoa kepada Alloh . Doa bukanlah sekadar cara untuk memberitahu Robb yang Maha Tahu, melainkan wujud nyata dari penghambaan, rasa butuh, dan ketundukan seorang hamba di hadapan Kholiq-nya.

1.4: Bantahan terhadap Atsar Isroiliyyat dalam Kisah Kholilulloh Ibrohim

Lafazh dalam Hizb Asy-Syadzili tersebut sering disandarkan pada sebuah kisah populer namun tidak memiliki sanad yang shohih. Kisah tersebut menceritakan bahwa ketika Nabi Ibrohim hendak dilemparkan ke api, Malaikat Jibril menawarkan bantuan, lalu Ibrohim menjawab:

«حسبي من سؤالي علمه بحالي»

Cukuplah bagiku dari permintaanku adalah pengetahuan-Nya tentang keadaanku..

Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa ucapan ini menyelisihi Al-Qur’an dan hadits shohih. Dalam Shohih Al-Bukhori, Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa saat itu Ibrohim mengucapkan:

«حسبي الله ونعم الوكيل»

Cukuplah Alloh bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. (HR. Al-Bukhori no. 4563)

Meninggalkan doa dengan alasan Alloh sudah tahu adalah sebuah kekeliruan besar, karena Alloh justru memerintahkan hamba-Nya untuk meminta. Alloh berfirman:

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾

Dan Robb kalian berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.” (QS. Ghofir: 60)

 

Bab 2: Meluruskan Adab Berdoa dan Larangan Melampaui Batas

2.1: Larangan Meminta Ishmah (Kema’shuman) bagi Selain Nabi

Dalam Hizb tersebut terdapat doa:

 نسألك العصمة في الحركات والكلمات

 “Kami memohon kepada-Mu ishmah (perlindungan) dari dosa dalam setiap gerakan dan ucapan.”

Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan bahwa meminta ishmah secara mutlak dalam setiap lintasan hati dan perbuatan adalah bentuk melampaui batas (i’tida’) dalam berdoa. Sifat ma’shum (terjaga dari dosa dan kesalahan) secara mutlak hanyalah milik para Nabi dalam hal penyampaian risalah.

Manusia biasa, bahkan para Wali sekalipun, tidak luput dari kesalahan, lupa, dan dosa. Nabi sendiri bersabda:

«إنما أنا بشر أنسى كما تنسون فإذا نسيت فذكروني»

Sesungguhnya aku hanyalah manusia, aku lupa sebagaimana kalian lupa, maka jika aku lupa ingatkanlah aku. (HR. Al-Bukhori no. 401 dan Muslim no. 572)

2.2: Kritik atas Permohonan Penyingkapan Ghoib secara Mutlak

Doa dalam Hizb tersebut juga meminta penghilangan segala hijab agar bisa مطالعة الغيوب (melihat hal-hal ghoib). Beliau menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui seluruh hal ghoib secara mutlak kecuali Alloh . Alloh berfirman:

﴿عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا ۝ إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ﴾

Dia adalah Robb yang mengetahui yang ghoib, maka Dia tidak memperlihatkan yang ghoib itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rosul yang diridhoi-Nya. (QS. Al-Jin: 26-27)

Meminta untuk mengetahui apa yang Alloh ketahui adalah bentuk kesombongan dan keinginan untuk menandingi sifat ketuhanan. Bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak mengetahui ghoib kecuali apa yang diwahyukan kepadanya.

2.3: Perbedaan Ilmu Ghoib Robbani dengan Persangkaan Ahli Khoyal (Menghayal)

Syaikhul Islam (728 H) mengkritik keras klaim sebagian pengikut thoriqoh yang menganggap bahwa guru mereka mengetahui setiap Wali yang ada hingga hari Qiyamah. Beliau menyatakan bahwa klaim semacam ini bahkan tidak berani diucapkan oleh para Nabi. Alloh berfirman kepada Nabi-Nya :

﴿وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ﴾

Dan di antara orang-orang Badui yang di sekeliling kalian ada orang-orang munafik, dan juga di antara penduduk Madinah ada yang keterlaluan dalam kemunafikannya, kamu tidak mengetahui mereka, Kamilah yang mengetahui mereka. (QS. At-Taubah: 101)

Jika Nabi saja tidak mengetahui siapa saja orang munafik yang tinggal di sekitarnya tanpa pemberitahuan dari Alloh , bagaimana mungkin seorang Wali mengklaim mengetahui seluruh Wali di dunia?

2.4: Kedudukan Mukasyafah: Antara Karomah Sholih dan Tipu Daya Syaithon

Sekadar mengetahui hal ghoib (mukasyafah) bukanlah standar kemuliaan seorang hamba di sisi Alloh . Syaithon dan jin juga bisa mengetahui hal-hal yang tersembunyi dari pandangan manusia, namun itu tidak menjadikan mereka mulia. Bahkan hewan pun bisa mendengar suara siksa kubur yang tidak didengar manusia.

Kemuliaan sejati adalah istiqomah dalam menjalankan kewajiban dan menjauhi harom. Banyak orang yang mengejar mukasyafah justru terjatuh dalam kesombongan dan akhirnya disesatkan oleh jin atau khoyalan mereka sendiri. Para Wali Alloh yang sejati tidak menjadikan mukasyafah sebagai tujuan utama mereka, melainkan hanya sebagai alat yang muncul secara alami untuk mendukung perjuangan agama jika Alloh menghendaki.

 

Bab 3: Tinjauan Syar’i terhadap Penggunaan Ayat dalam Hizb

3.1: Masalah Penempatan Ayat pada Konteks yang Tidak Tepat

Syaikhul Islam (728 H) memberikan kritik tajam terhadap cara penyusun Hizb ini mengambil ayat-ayat Al-Qur’an dan menempatkannya bukan pada tempatnya. Sebagai contoh, ayat-ayat yang sejatinya diturunkan untuk menggambarkan keadaan orang kafir yang tertutup dari hidayah, justru digunakan sebagai doa untuk menolak musuh secara fisik. Beliau memandang hal ini sebagai bentuk penggunaan ayat yang tidak sesuai dengan maksud aslinya saat diturunkan.

3.2: Hukum Menjadikan Potongan Ayat sebagai Wirid Khusus (Hizb)

Menjadikan potongan-potongan ayat tertentu sebagai Hizb yang dibaca secara rutin layaknya membaca Al-Qur’an adalah sebuah perkara yang perlu diperhatikan hukumnya. Beliau menjelaskan bahwa:

Meskipun menggunakan ayat Al-Qur’an, namun jika dicampur dengan perkataan manusia dan disusun menjadi Hizb tetap (rutinitas), hal ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi .

Para ulama terdahulu bahkan berbeda pendapat tentang membaca “Ayat al-Haros” (ayat-ayat penjaga), karena khawatir hal itu merubah fungsi tilawah yang disyari’atkan.

Menjadikan susunan doa buatan manusia sebagai zikir pagi dan petang yang diserupakan dengan bacaan firman Alloh dapat membuka pintu bagi orang-orang jahil untuk menyusun “syari’at” baru sesuai kepentingan mereka.

Sunnah sudah mencukupi untuk dzikir shohih yang bisa di pagi dan petang hari. Siapa yang jujur mencintai Nabi , ia meninggalkan dzikir buatan manusia menuju dzikir shohih Nabinya.

3.3: Kritik atas Doa Memohon Maskh (Perubahan Wujud) bagi Musuh

Dalam Hizb tersebut terdapat permohonan agar musuh diubah wujudnya (maskh). Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa doa seperti ini tidak diperbolehkan dan tidak akan dikabulkan. Beliau merujuk pada firman-Nya:

﴿وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ﴾

“Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami ubah wujud mereka di tempat mereka berada.” (QS. Yasin: 67)

Penjelasan beliau:

Maskh adalah hukuman berat yang Alloh berikan kepada kaum terdahulu karena kekufuran mereka.

Tidak boleh mendoakan seorang Muslim yang bermaksiat agar diubah menjadi kera atau babi.

Seorang Muslim cukup mendoakan agar keburukan musuh tersebut tertahan tanpa perlu melampaui batas dengan meminta maskh.

3.4: Praktik Membuat “Benteng” dengan Ayat: Antara Sunnah dan Bid’ah

Terdapat lafazh dalam Hizb tersebut:

 بسم الله بابنا تبارك حيطاننا يس سقفنا

(Bismillah adalah pintu kami, Tabaroka adalah tembok kami, Yasin adalah atap kami).

Ibnu Taimiyyah (728 H) menilai ungkapan ini sangat mungkar karena:

Menjadikan Kalamulloh seolah-olah bahan bangunan (pintu, tembok, atap) adalah bid’ah yang tidak berdasar.

Secara batin, ungkapan ini bisa dianggap merendahkan kehormatan Al-Qur’an.

Zikir dan doa harusnya mengandung permohonan yang jelas kepada Alloh , bukan perumpamaan-perumpamaan yang dibuat-buat sendiri.

 

Bab 4: Bantahan terhadap Paham Gugurnya Kewajiban Syari’at

4.1: Fitnah Golongan yang Merasa Tidak Perlu Lagi Berdoa

Ibnu Taimiyah (728 H) menyoroti perkataan dalam Hizb yang berbunyi:

 السعيد حقا من أغنيته عن السؤال منك

(Orang yang berbahagia sejati adalah yang Engkau cukupkan sehingga tidak perlu lagi meminta kepada-Mu).

Tidak ada makhluk yang bisa lepas dari rasa butuh untuk meminta kepada Alloh .

Setiap Muslim wajib berdoa dalam Sholatnya dengan membaca:

 ﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴾

 (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus).

Meninggalkan doa justru merupakan tanda kesombongan (istikbar) yang mengundang kemurkaan Alloh .

4.2: Menyingkap Syubhat “Beribadahlah Sampai Datang Al-Yaqin”

Sebagian ahli sesat menyangka bahwa jika seseorang sudah mencapai tingkat “Yaqin” (Ma’rifah), maka kewajiban ibadah seperti Sholat gugur darinya. Mereka menggunakan ayat:

﴿وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾

“Dan beribadahlah kepada Robb-mu sampai datang kepadamu Al-Yaqin.” (QS. Al-Hijr: 99)

Syaikhul Islam (728 H) menjelaskan bahwa Al-Yaqin dalam ayat ini berarti Al-Maut (kematian), sebagaimana kesepakatan para Salaf. Beliau menukil ucapan Hasan Al-Bashri (110 H):

«لم يجعل الله لعبده المؤمن أجلا دون الموت»

“Alloh tidak menjadikan bagi hamba-Nya yang Mukmin batas waktu (untuk beramal) selain kematian.”

4.3: Bantahan terhadap Kaum Qoromithoh Bathiniyyah dan Tashowwuf Filosofis

Ibnu Taimiyyah (728 H) menjelaskan bahwa paham gugurnya syari’at ini bersumber dari kaum Qoromithoh Bathiniyyah dan para Filosof. Mereka menganggap ibadah hanyalah riyadhotun nafs (latihan jiwa) untuk mencapai pengetahuan. Jika tujuan (pengetahuan) sudah tercapai, maka alatnya (ibadah) boleh ditinggalkan. Ini adalah kekufuran yang nyata dalam agama Islam. Al-Junaid (297 H) bahkan berkata tentang mereka:

«تكلم قوم بإسقاط الأعمال وهذه عظيمة والذي يزني ويسرق أهون من هذا»

“Ada kaum yang berbicara tentang pengguguran amal perbuatan, dan ini adalah perkara besar (kesesatan), bahkan orang yang berzina dan mencuri itu lebih ringan (dosanya) daripada ini.”

4.4: Mengapa Hamba yang Paling Bahagia Justru yang Paling Banyak Meminta kepada Robb-nya?

Kebahagiaan sejati justru terletak pada ketundukan hamba saat memohon kepada Penciptanya. Nabi Muhammad adalah hamba yang paling bahagia dan paling mulia, namun beliau adalah manusia yang paling banyak berdoa dan meminta kepada Alloh .

Beliau diperintahkan:

﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾

 (Katakanlah: Robb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku).

Sifat asli hamba adalah meminta, dan sifat asli Robb adalah memberi.

Bahkan Malaikat pemikul Arsy pun tidak berhenti berdoa dan memohon ampunan.

 

Bab 5: Hakikat Kesempurnaan Jiwa: Antara Ilmu, Mahabbah, dan ‘Ibadah

5.1: Bantahan terhadap Kaidah Filsafat: Kesempurnaan Hanyalah pada Ilmu

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan bahwa para filosof penganut aliran Ilahiyyah memiliki landasan yang rusak dalam memandang kesempurnaan jiwa. Mereka menyangka bahwa puncak kebahagiaan manusia hanyalah dengan sekadar memiliki ilmu atau pengetahuan tentang wujud muthlaq. Ilmu yang mereka agungkan sebagai ilmu tertinggi hanyalah pengamatan tentang wujud dan pembagiannya menjadi wajib dan mungkin, atau sebab dan akibat. Padahal, apa yang mereka sebut sebagai wujud muthlaq hanyalah konsep kulli (umum) yang ada dalam pikiran (dzihn) dan tidak memiliki kenyataan dalam benda-benda nyata (a’yan). Ilmu yang benar-benar tinggi adalah ilmu tentang Alloh , karena Dia adalah yang tertinggi atas segala sesuatu sebagaimana firman-Nya:

﴿سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى﴾

Sucikanlah nama Robb-mu Yang Maha Tinggi. (QS. Al-A’la: 1)

Para filosof ini terjebak dalam kebodohan yang besar karena mereka menyangka telah mengenal Robb, padahal mereka sebenarnya tidak mengenal-Nya, tidak mengenal Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rosul-Nya, maupun hari Akhiroh. Kesempurnaan sejati tidak akan tercapai hanya dengan ilmu tanpa adanya amal dan penghambaan kepada Alloh .

5.2: Kedudukan Mahabbah kepada Alloh sebagai Inti Keimanan

Kebahagiaan jiwa dan kesempurnaannya tidak mungkin terwujud kecuali dengan mencintai Alloh dan beribadah kepada-Nya. Ini adalah inti dari ajaran Ibrohim , imam kaum Hanif. Alloh telah menegaskan tujuan penciptaan manusia dalam firman-Nya:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah mengandung kesempurnaan rasa cinta (mahabbah) dan kesempurnaan rasa tunduk (dzull) kepada Alloh . Jika ada seseorang yang mengetahui segala ilmu namun tidak mencintai dan tidak beribadah kepada Alloh , maka ia adalah orang yang celaka dan akan diadzab. Kelompok Juhmiyyah, Mu’tazilah, dan Kullabiyyah telah tersesat karena mereka mengingkari mahabbah (cinta) hamba kepada Dzat Alloh . Ja’ad bin Dirham (124 H) bahkan dibunuh karena pemikiran ini, yaitu pengingkaran terhadap sifat cinta Alloh kepada hamba-Nya dan sebaliknya.

5.3: Koreksi atas Pemikiran Al-Ghozali (505 H) dan Ibnu Sina (428 H) dalam Masalah Jiwa

Ibnu Taimiyah (728 H) mencermati bahwa sebagian tokoh yang menisbatkan diri pada ilmu dan ibadah terpengaruh oleh cara pandang filosof. Abu Hamid Al-Ghozali (505 H) dalam beberapa kitabnya terkadang memberikan isyarat yang dekat dengan pemahaman Jahm bin Shofwan (128 H), yang menganggap iman hanyalah sekadar ilmu atau tashdiq (pembenaran) di dalam hati saja. Begitu pula Ibnu Sina (428 H) yang membicarakan maqomat (kedudukan) kaum ‘arifin namun dengan landasan filsafat yang jauh dari hakikat keimanan yang diajarkan Rosululloh .

Ibnu Sina (428 H) dan para pengikutnya mengklaim bahwa kenabian hanyalah kekuatan khoyal (imajinasi) dan pengaruh jiwa dalam materi alam, bukan wahyu yang turun dari Alloh melalui Malaikat.

5.4: Mengapa Ilmu Tanpa Amal dan Tunduknya Hati adalah Kesia-siaan?

Seseorang yang membenarkan Rosul di hatinya namun membenci dan enggan beribadah kepada Alloh adalah termasuk orang kafir yang paling besar kekufurannya, seperti Iblis, Fir’aun, dan orang Yahudi. Ilmu haruslah melahirkan ketundukan. Iblis tidak kufur karena mendustakan Alloh , tetapi karena kesombongan dan menolak untuk sujud (beribadah). Oleh karena itu, para ulama Salaf menyatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan. Sebagaimana ucapan mereka:

«لا ينفع قول إلا بعمل ولا ينفع قول وعمل إلا بمتابعة السنة»

Tidak bermanfaat ucapan tanpa perbuatan, dan tidak bermanfaat ucapan serta perbuatan kecuali dengan mengikuti As-Sunnah.

 

Bab 6: Membedah Konsep Fana’ dalam Perjalanan Suluk

6.1: Tiga Macam Fana’: yang Sesuai Syari’at, yang Kurang, dan yang Zindiq

Ibnu Taimiyah (728 H) merinci istilah Fana’ yang sering digunakan kaum sufi menjadi 3 kategori utama:

1. Fana’ dalam Ibadah (Fana’ ‘an ‘ibadati ma siwahu): Yaitu hamba yang hanya menyembah Alloh , mencintai-Nya, menaati-Nya, berharap hanya kepada-Nya, dan bertawakal hanya kepada-Nya. Ini adalah Tauhid sejati, ajaran Ibrohim , dan perwujudan syahadat La ilaha illalloh. Tokoh seperti Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani (561 H) menekankan Fana’ jenis ini, yaitu lenyapnya hawa nafsu dan ketergantungan pada makhluk demi ketaatan pada perintah Alloh .

2. Fana’ dalam Penyaksian (Fana’ ‘an syuhudi ma siwahu): Kondisi di mana seorang hamba begitu tenggelam dalam dzikir dan rasa cinta hingga ia tidak merasakan keberadaan dirinya atau makhluk lain. Ini sering disebut sebagai اصطلام (isthilam) atau المحو (al-mahwu). Kondisi ini adalah kekurangan (naqsh), karena tidak dialami oleh Nabi Muhammad maupun para Shohabat yang memiliki kesempurnaan akal dan ilmu saat beribadah.

3. Fana’ dalam Wujud (Fana’ ‘an wujudi ma siwahu): Pemahaman sesat yang menganggap tidak ada perbedaan antara Kholiq dan makhluk, atau menganggap segala sesuatu adalah Alloh . Ini adalah jalan kaum zindiq penganut wihdatul wujud.

6.2: Perbedaan Musyahadah Para Shohabat dengan Kaum Mutashowwifin

Penyaksian (musyahadah) yang sempurna adalah menyaksikan makhluk sebagai ciptaan Alloh yang diatur oleh kehendak-Nya. Para Shohabat adalah orang-orang yang paling dalam ilmunya dan paling sedikit beban khayalannya. Mereka tidak pernah mengalami kegilaan atau hilangnya akal saat beribadah. Berbeda dengan sebagian pengikut thoriqoh yang menganggap puncak perjalanan adalah “heyam” (kebingungan/hilang akal) atau fana’ hingga tidak menyadari syari’at. Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa fana’ yang membuat akal hilang bukanlah sifat kesempurnaan, bahkan bisa menjadi hukuman atau gangguan syaithon.

6.3: Masalah Keadaan Ghoibah (Hilang Kesadaran) dan Hilangnya Akal dalam Berdzikir

Jika seseorang kehilangan akalnya karena pengaruh dzikir yang sangat kuat tanpa ia sengaja, maka ia dimaafkan (ma’dzur) namun tidak dipuji sebagai wali yang sempurna. Namun, jika ia sengaja melakukan cara-cara yang menghilangkan akal (seperti mendengar nyanyian atau tarian tertentu), maka ia tercela. Akal adalah syarat untuk menjalankan beban syari’at (taklif).

Al-Junaid (297 H) mengingatkan bahwa meskipun hamba merasa sedang dalam penyatuan dengan Robb (جمع/jam’), ia wajib kembali ke maqom الفرق الثاني (al-farqu ats-tsani), yaitu tetap membedakan antara perintah dan larangan Alloh .

6.4: Mengapa Al-Junaid (297 H) Menjadi Imam yang Diikuti dalam Masalah ini?

Al-Junaid (297 H) diakui sebagai imam karena ia tetap teguh memegang Al-Kitab dan As-Sunnah dalam setiap perjalanannya. Beliau menegaskan bahwa Tauhid adalah memisahkan antara yang baru (hadits) dengan yang terdahulu (qodim). Artinya, hamba selamanya adalah makhluk yang butuh, dan Alloh selamanya adalah Kholiq yang Maha Kaya. Al-Junaid (297 H) membantah kaum yang menganggap syari’at gugur jika sudah mencapai hakikat. Beliau berkata tentang mereka:

«تكلم قوم بإسقاط الأعمال وهذه عظيمة والذي يزني ويسرق أهون من هذا»

Ada kaum yang berbicara tentang pengguguran amal, dan ini adalah malapetaka besar. Orang yang berzina atau mencuri dosanya lebih ringan daripada anggapan ini.

 

Bab 7: Bantahan terhadap Paham Wihdatul Wujud dan Ittihad

7.1: Menyingkap Kekufuran dalam Pemikiran Ibnu ‘Arobi (638 H) dan Ibnu Sab’in (669 H)

Ibnu Taimiyah (728 H) membongkar penyimpangan tokoh-tokoh seperti Ibnu ‘Arobi (638 H) dan Ibnu Sab’in (669 H) yang mengajarkan Wihdatul Wujud (kesatuan wujud). Mereka menganggap bahwa keberadaan makhluk adalah keberadaan Kholiq itu sendiri. Ibnu ‘Arobi (638 H) bahkan mengklaim bahwa ia mengambil ilmu langsung dari “sumber” yang sama dengan Malaikat yang membawakan wahyu kepada Rosul, sehingga ia merasa lebih tinggi dari para Nabi. Ibnu Sab’in (669 H) juga menyatakan hal yang serupa, bahwa Alloh ada pada air, api, manis, dan pahit. Ini adalah puncak kekufuran yang bahkan lebih buruk dari kekafiran Fir’aun karena Fir’aun masih mengakui adanya perbedaan (meski ia menentang), sedangkan mereka menganggap diri mereka adalah Tuhan.

7.2: Bedah Istilah Wajib al-Wujud dan Mumkin al-Wujud versi Ahli Filsafat

Para filosof dan penganut Wihdatul Wujud sering menggunakan istilah Wajib al-Wujud (Wujud yang Pasti Ada) untuk Alloh dan Mumkin al-Wujud (Wujud yang Mungkin Ada) untuk makhluk. Namun, mereka terjatuh dalam sisfathoh (kerancuan berpikir) dengan menganggap keduanya memiliki hakikat wujud yang sama.

Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa wujud Kholiq bersifat qodim dan kaya (tidak butuh makhluk), sedangkan wujud makhluk bersifat hadits (baru) dan faqir (butuh Alloh). Keduanya sepakat dalam nama “wujud” secara kulli di pikiran, namun berbeda secara nyata dalam kenyataan di luar pikiran.

7.3: Masalah Keserupaan dalam Nama dan Sifat: Antara Kholiq dan Makhluk

Meskipun Alloh dan makhluk sama-sama disebut memiliki “Hayat” (kehidupan), “Ilmu”, atau “Wujud”, hal itu tidak berarti keduanya serupa. Nama-nama tersebut memiliki tiga pertimbangan:

1. Jika disandarkan pada makhluk (seperti ilmu hamba), maka Alloh suci dari sifat terbatas tersebut.

2. Jika disandarkan pada Kholiq (seperti Ilmu Alloh), maka sifat itu khusus bagi-Nya dan tidak ada satu pun makhluk yang menyamai-Nya.

3. Nama secara mutlak yang belum disandarkan, itu hanyalah konsep di akal untuk memudahkan pemahaman.

Barangsiapa yang mengingkari sifat Alloh karena takut menyamakan dengan makhluk (tasybih), maka ia telah terjatuh dalam ta’thil (pengosongan sifat).

7.4: Bantahan terhadap Ide Tuhan adalah Alam dan Segala Bentuk Kesyirikan Batin

Kaum الاتحادية (Ittihadiyyah: alam menyatu dengan Alloh) menganggap bahwa Tuhan bersatu dengan makhluk. Ibnu Al-Faridh (632 H) dalam sya’irnya bahkan menyatakan bahwa sholat yang ia lakukan adalah sholat dirinya kepada dirinya sendiri:

«لها صلواتي بالمقام أقيمها... وأشهد فيها أنها لي صلت»

Bagi-Nyalah sholatku di maqom ini aku tegakkan, dan aku bersaksi di dalamnya bahwa Dia-lah yang sholat kepadaku.

Ibnu Taimiyah (728 H) menyatakan bahwa pemikiran ini menghancurkan syari’at dan perintah agama. Jika Kholiq dan makhluk adalah satu, maka tidak ada lagi perbedaan antara yang menyembah dan disembah, antara halal dan harom, serta antara Mukmin dan kafir. Ini adalah pengkhianatan terhadap ajaran seluruh Rosul yang diutus untuk memerintahkan hamba agar hanya menyembah Alloh saja.

 

Bab 8: Tinjauan Kritis atas Kitab Adab ath-Thoriq dalam Ilmu Hakikat

8.1: Kritik terhadap Pembagian Jalan Khoshshoh (Khusus) dan ‘Ammah (Umum)

Syaikhul Islam (728 H) meninjau pembagian yang dibuat oleh Asy-Syadzili dalam kitabnya mengenai dua jenis jalan menuju Alloh . Asy-Syadzili menyebut adanya jalan khusus bagi orang-orang yang dicintai (Al-Mahbubin) yang ia sebut sebagai pengganti para Nabi, dan jalan umum yang merupakan proses kenaikan tingkat (tarqi) dari satu kedudukan ke kedudukan lain.

Ibnu Taimiyah (728 H) meluruskan bahwa setiap Wali Alloh pada hakikatnya adalah orang yang mencintai Alloh sekaligus dicintai oleh-Nya. Pembagian yang benar menurut Al-Qur’an adalah antara golongan orang-orang yang bersegera dalam kebaikan (As-Sabiqun Al-Muqorrobun) dan golongan kanan yang berbuat baik (Al-Abroor Ashhabul Yamin). Yaitu dalam surat Al-Waqiah.

Begitu pula Alloh berfirman:

﴿ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ﴾

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang mendholimi diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang bersegera berbuat kebaikan dengan izin Alloh. (QS. Fathir: 32)

8.2: Bedah Filosofis tentang Tingkatan Nafs, Qolbu, dan Ruh

Dalam kitabnya, Asy-Syadzili menyebutkan bahwa kedudukan pertama yang dipijak oleh pencinta adalah Nafs (jiwa), kemudian naik ke Qolbu (hati), lalu ke Ruh (ruh).

Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan bahwa istilah Nafs, Ruh, dan Qolbu sering kali merujuk pada hakikat yang satu namun dengan sifat yang berbeda-beda.

Penyusunan tingkatan ini (Nafs ke Qolbu lalu ke Ruh) merupakan istilah buatan yang tidak memiliki landasan kuat dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah sebagai aturan baku bagi setiap pejalan. Beliau menegaskan bahwa pada diri manusia terdapat sifat-sifat yang dicintai Alloh dan sifat-sifat yang dibenci-Nya yang saling berkumpul, bukan berarti satu tingkatan harus selesai secara total sebelum pindah ke tingkatan lainnya.

8.3: Bantahan terhadap Konsep Akal Pertama sebagai Makhluk Awal

Asy-Syadzili menukil sebuah hadits untuk mendukung pemikiran filsafatnya yang berbunyi: “Makhluk pertama yang Alloh ciptakan adalah Akal”.

Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa hadits tersebut adalah palsu (maudhu’) menurut kesepakatan ahli hadits seperti Abu Hatim bin Hibban (354 H) dan Abul Faroj Ibnu Al-Jauzi (597 H).

Konsep “Akal Pertama” ini sebenarnya diambil dari pemikiran filosof Yunani yang kemudian diadopsi oleh kaum kebatinan untuk menyatakan bahwa Akal adalah perantara antara Kholiq dan makhluk. Dalam Islam, akal bukanlah benda yang berdiri sendiri (jauhar), melainkan sifat atau kemampuan yang ada pada diri manusia (arodh).

8.4: Menyingkap Mitos Lauh Mahfuzh dalam Persepsi Ahli Filsafat

Para filosof mutashowwifin (sufi yang berfilsafat) sering kali menganggap bahwa Akal Pertama adalah Qolam (pena) dan Jiwa Langit adalah Lauh (papan). Mereka mengklaim bahwa seorang Wali bisa melihat langsung ke Lauh Mahfuzh dan mengambil ilmu darinya.

Ibnu Taimiyah (728 H) menyatakan ini adalah khoyalan batil yang membuka pintu kesesatan sebagaimana kaum Isma’iliyyah dan Qoromithoh.

 

Bab 9: Meluruskan Kaidah Keimanan tentang Robb dan Makhluk

9.1: Alloh Maha Kaya dari Sekadar Balas Jasa Hamba

Alloh adalah Robb yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun dari hamba-Nya. Segala ketaatan hamba tidak memberi manfaat bagi Alloh , dan segala maksiyat hamba tidak memberi mudhorot bagi-Nya. Dalam hadits Qudsi disebutkan:

«يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّونِي»

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan sampai bisa memberi manfaat kepada-Ku lalu kalian memberi manfaat itu, dan tidak pula sampai bisa memberi mudhorot kepada-Ku lalu kalian memberi mudhorot itu. (HR. Muslim no. 2577)

9.2: Keadilan Robb dalam Membedakan antara Orang Sholih dan Pelaku Ma’shiyat

Ibnu Taimiyah (728 H) membantah doa dalam Hizb Asy-Syadzili yang seolah meminta Alloh untuk menyamakan antara orang yang bermakshiyat dengan orang yang taat dalam hal rahmat. Alloh telah menegaskan dalam firman-Nya:

﴿أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ ۝ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ﴾

Maka apakah Kami akan menjadikan orang-orang Muslim itu sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa kalian (berbuat demikian), bagaimanakah kalian mengambil keputusan? (QS. Al-Qolam: 35-36)

9.3: Bantahan atas Anggapan bahwa Ma’shiyat Tidak Membahayakan Jika Ada Cinta

Terdapat ungkapan dalam Hizb tersebut bahwa kebaikan tidak bermanfaat jika ada kebencian dari Alloh , dan keburukan tidak membahayakan jika ada cinta dari-Nya.

Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan bahwa ungkapan ini menyesatkan karena cinta Alloh justru mengharuskan hamba untuk berbuat baik dan menjauhi makshiyat. Anggapan bahwa makshiyat tidak membahayakan jika seseorang sudah merasa dicintai Alloh adalah pintu menuju sikap menggugurkan syari’at.

9.4: Kedudukan Sifat-Sifat Alloh : Itsbat Tanpa Tamtsil, Tanzih Tanpa Ta’thil

Landasan utama dalam mengenal Alloh adalah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, serta menyucikan-Nya dari segala kekurangan. Alloh berfirman:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syuro: 11)

Barangsiapa yang membedakan antara satu sifat dengan sifat lainnya (seperti menerima sifat Irodah tapi menolak sifat Mahabbah), maka perkataannya adalah bertolak belakang dan rusak secara logika.

 

Bab 10: Kesimpulan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) menutup bantahannya dengan menegaskan bahwa kebahagiaan hamba hanya dapat dicapai melalui ketaatan kepada apa yang dibawa oleh para Rosul . Segala bentuk Hizb, wirid, maupun jalan perjalanan (thoriqoh) yang mencampurkan antara ajaran Islam dengan filsafat Yunani, Majusi, maupun konsep kesatuan wujud (Wihdatul Wujud) hanya akan membawa hamba pada kebingungan dan kesesatan.

Inti dari agama ini adalah beribadah kepada Alloh semata, mencintai-Nya, dan mengikuti tuntunan Nabi-Nya secara lahir dan batin tanpa mencoba untuk menyaingi kedudukan ketuhanan-Nya atau menggugurkan kewajiban syari’at yang telah ditetapkan hingga ajal menjemput.

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam.

Allohu a’lam.[NK]

 

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url