[PDF] Penyimpangan Abul Hasan Asy-Syadzili (656 H) dalam Hizbnya - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Kitab Ar-Ro’du ala
Asy-Syadzili merupakan risalah ilmiah yang disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah (728 H) untuk membedah dan meluruskan berbagai penyimpangan yang
terdapat dalam Hizb (kumpulan doa dan dzikir) milik Abul Hasan Asy-Syadzili
(656 H). Beliau juga meninjau kritis kitab-kitab tentang adab perjalanan suluk
(thoriqoh) yang ditulis oleh tokoh tersebut. Fokus utama dari bantahan
ini adalah kewajiban syar’i untuk menjaga kemurnian Tauhid dan mengikuti
tuntunan Nabi ﷺ secara
utuh.
Ibnu Taimiyah (728 H)
menjelaskan bahwa banyak lafazh dalam Hizb tersebut yang tidak hanya
menyelisihi Sunnah, tetapi juga mengandung pemikiran filsafat yang bisa merusak
aqidah seorang Muslim jika tidak dipahami dengan timbangan syari’at yang benar.
Kitab Ibnu Taimiyyah
tersebut, kami meringkasnya dan menatanya dengan bahasa sendiri yang mudah
dipahami awam, disamping beberapa tambahkan.
Bab 1: Tinjauan
Kritis terhadap Lafazh-Lafazh dalam Hizb Asy-Syadzili
1.1: Koreksi
atas Ungkapan Ilmu-Mu adalah Cukup Bagiku (Ilmuka Hasbi)
Dalam Hizb tersebut
terdapat ungkapan yang berbunyi وعلمك حسبي (dan ilmu-Mu adalah cukup bagiku). Ibnu Taimiyah (728 H)
menegaskan bahwa ungkapan ini tidak sesuai dengan tuntunan syari’at yang
diajarkan oleh Alloh ﷻ dan
Rosul-Nya ﷺ. Sunnah
yang benar adalah menyandarkan kecukupan itu kepada Dzat Alloh ﷻ secara langsung, bukan hanya kepada sifat
ilmu-Nya saja. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿الَّذِينَ
قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ
إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾
Orang-orang yang ketika
ada orang-orang berkata kepada mereka: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,” maka perkataan
itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Alloh bagi
kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.” (QS. Ali Imron: 173)
Beliau menjelaskan bahwa
sifat ilmu saja tidak cukup bagi seorang hamba untuk mendapatkan ni’mat atau
menolak adzab jika tidak dibarengi dengan Kehendak (Irodah) dan Kuasa (Qodrat)
dari Alloh ﷻ. Alloh ﷻ mengetahui keadaan orang kafir dan orang
miskin, namun sekadar pengetahuan itu tidak mengubah kondisi mereka tanpa
adanya tindakan nyata dari Robb semesta alam.
1.2: Hakikat
Hasbunalloh dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
Makna Al-Hasbu adalah
Al-Kafi, yaitu Yang Maha Mencukupi. Hamba yang bertauhid sejati hanya akan
mencukupkan dirinya kepada Alloh ﷻ sebagai sandaran perlindungan. Hal ini
ditegaskan dalam firman-Nya:
﴿وَلَوْ
أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا
اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ﴾
Dan sekiranya mereka
ridho dengan apa yang diberikan Alloh dan Rosul-Nya kepada mereka, dan mereka
berkata: “Cukuplah Alloh bagi kami, Alloh akan memberikan sebagian karunia-Nya
kepada kami, demikian pula Rosul-Nya.” (QS. At-Taubah: 59)
Syaikhul Islam (728 H)
juga mengoreksi kekeliruan sebagian orang dalam memahami ayat:
﴿يَا
أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴾
Wahai Nabi, cukuplah
Alloh bagimu dan bagi orang-orang yang mengikutimu dari kalangan Mukminin. (QS.
Al-Anfal: 64)
Beliau meluruskan bahwa
makna ayat ini adalah Alloh ﷻ mencukupi Nabi ﷺ dan
juga mencukupi para pengikutnya. Keliru besar jika ada yang menganggap bahwa
Mukminin adalah pencukup bagi Nabi ﷺ bersama
Alloh ﷻ, karena
hanya Alloh ﷻ
satu-satunya Yang Maha Mencukupi hamba-Nya.
1.3: Meluruskan
Makna Tawakkal dan Kedudukan Doa bagi Para Nabi
Tawakkal yang sempurna
berarti tidak meminta dan tidak menggantungkan hati kepada selain Alloh ﷻ. Hal ini didasarkan pada pesan Nabi ﷺ kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhu:
«وإذا
سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله»
Jika kamu meminta maka
mintalah kepada Alloh, dan jika kamu memohon pertolongan maka mohonlah
pertolongan kepada Alloh. (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)
Ibnu Taimiyah (728 H)
membantah anggapan bahwa seorang hamba tidak perlu berdoa karena Alloh ﷻ sudah mengetahui keadaannya. Beliau
menegaskan bahwa seluruh Nabi, termasuk Ibrohim ﷺ, adalah orang-orang yang paling banyak
berdoa kepada Alloh ﷻ. Doa
bukanlah sekadar cara untuk memberitahu Robb yang Maha Tahu, melainkan wujud
nyata dari penghambaan, rasa butuh, dan ketundukan seorang hamba di hadapan
Kholiq-nya.
1.4: Bantahan
terhadap Atsar Isroiliyyat dalam Kisah Kholilulloh Ibrohim
Lafazh dalam Hizb Asy-Syadzili
tersebut sering disandarkan pada sebuah kisah populer namun tidak memiliki
sanad yang shohih. Kisah tersebut menceritakan bahwa ketika Nabi Ibrohim ﷺ hendak dilemparkan ke api, Malaikat Jibril
menawarkan bantuan, lalu Ibrohim ﷺ
menjawab:
«حسبي
من سؤالي علمه بحالي»
Cukuplah bagiku dari
permintaanku adalah pengetahuan-Nya tentang keadaanku..
Ibnu Taimiyah (728 H)
menegaskan bahwa ucapan ini menyelisihi Al-Qur’an dan hadits shohih. Dalam Shohih
Al-Bukhori, Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa saat
itu Ibrohim ﷺ
mengucapkan:
«حسبي
الله ونعم الوكيل»
Cukuplah Alloh bagi kami
dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. (HR. Al-Bukhori no. 4563)
Meninggalkan doa dengan
alasan Alloh ﷻ sudah
tahu adalah sebuah kekeliruan besar, karena Alloh ﷻ justru memerintahkan hamba-Nya untuk
meminta. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَقَالَ
رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾
Dan Robb kalian
berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.” (QS.
Ghofir: 60)
Bab 2:
Meluruskan Adab Berdoa dan Larangan Melampaui Batas
2.1: Larangan
Meminta Ishmah (Kema’shuman) bagi Selain Nabi
Dalam Hizb tersebut
terdapat doa:
نسألك العصمة في الحركات
والكلمات
“Kami
memohon kepada-Mu ishmah (perlindungan) dari dosa dalam setiap gerakan
dan ucapan.”
Ibnu Taimiyah (728 H)
menjelaskan bahwa meminta ishmah secara mutlak dalam setiap lintasan
hati dan perbuatan adalah bentuk melampaui batas (i’tida’) dalam berdoa.
Sifat ma’shum (terjaga dari dosa dan kesalahan) secara mutlak hanyalah
milik para Nabi ﷺ dalam
hal penyampaian risalah.
Manusia biasa, bahkan
para Wali sekalipun, tidak luput dari kesalahan, lupa, dan dosa. Nabi ﷺ sendiri bersabda:
«إنما
أنا بشر أنسى كما تنسون فإذا نسيت فذكروني»
Sesungguhnya aku hanyalah
manusia, aku lupa sebagaimana kalian lupa, maka jika aku lupa ingatkanlah aku. (HR.
Al-Bukhori no. 401 dan Muslim no. 572)
2.2: Kritik atas
Permohonan Penyingkapan Ghoib secara Mutlak
Doa dalam Hizb tersebut
juga meminta penghilangan segala hijab agar bisa مطالعة الغيوب (melihat hal-hal ghoib). Beliau menegaskan
bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui seluruh hal ghoib secara
mutlak kecuali Alloh ﷻ. Alloh ﷻ berfirman:
﴿عَالِمُ
الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ﴾
Dia adalah Robb yang
mengetahui yang ghoib, maka Dia tidak memperlihatkan yang ghoib itu kepada
seorang pun, kecuali kepada Rosul yang diridhoi-Nya. (QS. Al-Jin: 26-27)
Meminta untuk mengetahui
apa yang Alloh ﷻ ketahui
adalah bentuk kesombongan dan keinginan untuk menandingi sifat ketuhanan.
Bahkan Nabi Muhammad ﷺ sendiri
tidak mengetahui ghoib kecuali apa yang diwahyukan kepadanya.
2.3: Perbedaan
Ilmu Ghoib Robbani dengan Persangkaan Ahli Khoyal (Menghayal)
Syaikhul Islam (728 H)
mengkritik keras klaim sebagian pengikut thoriqoh yang menganggap bahwa
guru mereka mengetahui setiap Wali yang ada hingga hari Qiyamah. Beliau
menyatakan bahwa klaim semacam ini bahkan tidak berani diucapkan oleh para
Nabi. Alloh ﷻ
berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:
﴿وَمِمَّنْ
حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى
النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ﴾
Dan di antara orang-orang
Badui yang di sekeliling kalian ada orang-orang munafik, dan juga di antara
penduduk Madinah ada yang keterlaluan dalam kemunafikannya, kamu tidak
mengetahui mereka, Kamilah yang mengetahui mereka. (QS. At-Taubah: 101)
Jika Nabi ﷺ saja tidak mengetahui siapa saja orang
munafik yang tinggal di sekitarnya tanpa pemberitahuan dari Alloh ﷻ, bagaimana mungkin seorang Wali mengklaim mengetahui
seluruh Wali di dunia?
2.4: Kedudukan
Mukasyafah: Antara Karomah Sholih dan Tipu Daya Syaithon
Sekadar mengetahui hal
ghoib (mukasyafah) bukanlah standar kemuliaan seorang hamba di sisi
Alloh ﷻ.
Syaithon dan jin juga bisa mengetahui hal-hal yang tersembunyi dari pandangan
manusia, namun itu tidak menjadikan mereka mulia. Bahkan hewan pun bisa
mendengar suara siksa kubur yang tidak didengar manusia.
Kemuliaan sejati adalah
istiqomah dalam menjalankan kewajiban dan menjauhi harom. Banyak orang yang
mengejar mukasyafah justru terjatuh dalam kesombongan dan akhirnya
disesatkan oleh jin atau khoyalan mereka sendiri. Para Wali Alloh yang sejati
tidak menjadikan mukasyafah sebagai tujuan utama mereka, melainkan hanya
sebagai alat yang muncul secara alami untuk mendukung perjuangan agama jika
Alloh ﷻ
menghendaki.
Bab 3: Tinjauan
Syar’i terhadap Penggunaan Ayat dalam Hizb
3.1: Masalah
Penempatan Ayat pada Konteks yang Tidak Tepat
Syaikhul Islam (728 H)
memberikan kritik tajam terhadap cara penyusun Hizb ini mengambil ayat-ayat
Al-Qur’an dan menempatkannya bukan pada tempatnya. Sebagai contoh, ayat-ayat
yang sejatinya diturunkan untuk menggambarkan keadaan orang kafir yang tertutup
dari hidayah, justru digunakan sebagai doa untuk menolak musuh secara fisik.
Beliau memandang hal ini sebagai bentuk penggunaan ayat yang tidak sesuai
dengan maksud aslinya saat diturunkan.
3.2: Hukum
Menjadikan Potongan Ayat sebagai Wirid Khusus (Hizb)
Menjadikan
potongan-potongan ayat tertentu sebagai Hizb yang dibaca secara rutin layaknya
membaca Al-Qur’an adalah sebuah perkara yang perlu diperhatikan hukumnya.
Beliau menjelaskan bahwa:
Meskipun menggunakan ayat
Al-Qur’an, namun jika dicampur dengan perkataan manusia dan disusun menjadi
Hizb tetap (rutinitas), hal ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Para ulama terdahulu
bahkan berbeda pendapat tentang membaca “Ayat al-Haros” (ayat-ayat penjaga),
karena khawatir hal itu merubah fungsi tilawah yang disyari’atkan.
Menjadikan susunan doa
buatan manusia sebagai zikir pagi dan petang yang diserupakan dengan bacaan
firman Alloh ﷻ dapat
membuka pintu bagi orang-orang jahil untuk menyusun “syari’at” baru sesuai
kepentingan mereka.
Sunnah sudah mencukupi
untuk dzikir shohih yang bisa di pagi dan petang hari. Siapa yang jujur mencintai Nabi ﷺ, ia meninggalkan dzikir buatan
manusia menuju dzikir shohih Nabinya.
3.3: Kritik atas
Doa Memohon Maskh (Perubahan Wujud) bagi Musuh
Dalam Hizb tersebut terdapat
permohonan agar musuh diubah wujudnya (maskh). Ibnu Taimiyah (728 H)
menegaskan bahwa doa seperti ini tidak diperbolehkan dan tidak akan dikabulkan.
Beliau merujuk pada firman-Nya:
﴿وَلَوْ
نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ﴾
“Dan jika Kami
menghendaki, niscaya Kami ubah wujud mereka di tempat mereka berada.” (QS.
Yasin: 67)
Penjelasan beliau:
Maskh adalah hukuman berat yang Alloh ﷻ berikan kepada kaum terdahulu karena
kekufuran mereka.
Tidak boleh mendoakan
seorang Muslim yang bermaksiat agar diubah menjadi kera atau babi.
Seorang Muslim cukup
mendoakan agar keburukan musuh tersebut tertahan tanpa perlu melampaui batas
dengan meminta maskh.
3.4: Praktik
Membuat “Benteng” dengan Ayat: Antara Sunnah dan Bid’ah
Terdapat lafazh dalam
Hizb tersebut:
بسم الله بابنا تبارك
حيطاننا يس سقفنا
(Bismillah
adalah pintu kami, Tabaroka adalah tembok kami, Yasin adalah atap kami).
Ibnu Taimiyyah (728 H)
menilai ungkapan ini sangat mungkar karena:
Menjadikan Kalamulloh
seolah-olah bahan bangunan (pintu, tembok, atap) adalah bid’ah yang tidak
berdasar.
Secara batin, ungkapan
ini bisa dianggap merendahkan kehormatan Al-Qur’an.
Zikir dan doa harusnya
mengandung permohonan yang jelas kepada Alloh ﷻ, bukan perumpamaan-perumpamaan yang
dibuat-buat sendiri.
Bab 4: Bantahan
terhadap Paham Gugurnya Kewajiban Syari’at
4.1: Fitnah
Golongan yang Merasa Tidak Perlu Lagi Berdoa
Ibnu Taimiyah (728 H)
menyoroti perkataan dalam Hizb yang berbunyi:
السعيد حقا من أغنيته
عن السؤال منك
(Orang
yang berbahagia sejati adalah yang Engkau cukupkan sehingga tidak perlu lagi
meminta kepada-Mu).
Tidak ada makhluk yang
bisa lepas dari rasa butuh untuk meminta kepada Alloh ﷻ.
Setiap Muslim wajib
berdoa dalam Sholatnya dengan membaca:
﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ﴾
(Tunjukkanlah kami jalan yang lurus).
Meninggalkan doa justru
merupakan tanda kesombongan (istikbar) yang mengundang kemurkaan Alloh ﷻ.
4.2: Menyingkap
Syubhat “Beribadahlah Sampai Datang Al-Yaqin”
Sebagian ahli sesat
menyangka bahwa jika seseorang sudah mencapai tingkat “Yaqin” (Ma’rifah), maka
kewajiban ibadah seperti Sholat gugur darinya. Mereka menggunakan ayat:
﴿وَاعْبُدْ
رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾
“Dan beribadahlah kepada
Robb-mu sampai datang kepadamu Al-Yaqin.” (QS. Al-Hijr: 99)
Syaikhul Islam (728 H)
menjelaskan bahwa Al-Yaqin dalam ayat ini berarti Al-Maut (kematian),
sebagaimana kesepakatan para Salaf. Beliau menukil ucapan Hasan Al-Bashri (110
H):
«لم
يجعل الله لعبده المؤمن أجلا دون الموت»
“Alloh tidak menjadikan
bagi hamba-Nya yang Mukmin batas waktu (untuk beramal) selain kematian.”
4.3: Bantahan
terhadap Kaum Qoromithoh Bathiniyyah dan Tashowwuf Filosofis
Ibnu Taimiyyah (728 H)
menjelaskan bahwa paham gugurnya syari’at ini bersumber dari kaum Qoromithoh Bathiniyyah
dan para Filosof. Mereka menganggap ibadah hanyalah riyadhotun nafs (latihan
jiwa) untuk mencapai pengetahuan. Jika tujuan (pengetahuan) sudah tercapai,
maka alatnya (ibadah) boleh ditinggalkan. Ini adalah kekufuran yang nyata dalam
agama Islam. Al-Junaid (297 H) bahkan berkata tentang mereka:
«تكلم
قوم بإسقاط الأعمال وهذه عظيمة والذي يزني ويسرق أهون من هذا»
“Ada kaum yang berbicara
tentang pengguguran amal perbuatan, dan ini adalah perkara besar (kesesatan),
bahkan orang yang berzina dan mencuri itu lebih ringan (dosanya) daripada ini.”
4.4: Mengapa
Hamba yang Paling Bahagia Justru yang Paling Banyak Meminta kepada Robb-nya?
Kebahagiaan sejati justru
terletak pada ketundukan hamba saat memohon kepada Penciptanya. Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba yang paling bahagia dan
paling mulia, namun beliau ﷺ adalah
manusia yang paling banyak berdoa dan meminta kepada Alloh ﷻ.
Beliau ﷺ diperintahkan:
﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾
(Katakanlah: Robb-ku, tambahkanlah ilmu
kepadaku).
Sifat asli hamba adalah
meminta, dan sifat asli Robb adalah memberi.
Bahkan Malaikat pemikul
Arsy pun tidak berhenti berdoa dan memohon ampunan.
Bab 5: Hakikat
Kesempurnaan Jiwa: Antara Ilmu, Mahabbah, dan ‘Ibadah
5.1: Bantahan
terhadap Kaidah Filsafat: Kesempurnaan Hanyalah pada Ilmu
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah (728 H) menjelaskan bahwa para filosof penganut aliran Ilahiyyah
memiliki landasan yang rusak dalam memandang kesempurnaan jiwa. Mereka
menyangka bahwa puncak kebahagiaan manusia hanyalah dengan sekadar memiliki
ilmu atau pengetahuan tentang wujud muthlaq. Ilmu yang mereka agungkan sebagai
ilmu tertinggi hanyalah pengamatan tentang wujud dan pembagiannya menjadi wajib
dan mungkin, atau sebab dan akibat. Padahal, apa yang mereka sebut
sebagai wujud muthlaq hanyalah konsep kulli (umum) yang ada dalam
pikiran (dzihn) dan tidak memiliki kenyataan dalam benda-benda nyata (a’yan).
Ilmu yang benar-benar tinggi adalah ilmu tentang Alloh ﷻ, karena Dia adalah yang tertinggi atas
segala sesuatu sebagaimana firman-Nya:
﴿سَبِّحِ
اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى﴾
Sucikanlah nama Robb-mu
Yang Maha Tinggi. (QS. Al-A’la: 1)
Para filosof ini terjebak
dalam kebodohan yang besar karena mereka menyangka telah mengenal Robb, padahal
mereka sebenarnya tidak mengenal-Nya, tidak mengenal Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rosul-Nya,
maupun hari Akhiroh. Kesempurnaan sejati tidak akan tercapai hanya dengan ilmu
tanpa adanya amal dan penghambaan kepada Alloh ﷻ.
5.2: Kedudukan
Mahabbah kepada Alloh ﷻ sebagai
Inti Keimanan
Kebahagiaan jiwa dan
kesempurnaannya tidak mungkin terwujud kecuali dengan mencintai Alloh ﷻ dan beribadah kepada-Nya. Ini adalah inti
dari ajaran Ibrohim ﷺ, imam
kaum Hanif. Alloh ﷻ telah
menegaskan tujuan penciptaan manusia dalam firman-Nya:
﴿وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾
Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat:
56)
Ibadah mengandung
kesempurnaan rasa cinta (mahabbah) dan kesempurnaan rasa tunduk (dzull)
kepada Alloh ﷻ. Jika
ada seseorang yang mengetahui segala ilmu namun tidak mencintai dan tidak
beribadah kepada Alloh ﷻ, maka
ia adalah orang yang celaka dan akan diadzab. Kelompok Juhmiyyah, Mu’tazilah,
dan Kullabiyyah telah tersesat karena mereka mengingkari mahabbah
(cinta) hamba kepada Dzat Alloh ﷻ. Ja’ad bin Dirham (124 H) bahkan dibunuh
karena pemikiran ini, yaitu pengingkaran terhadap sifat cinta Alloh ﷻ kepada hamba-Nya dan sebaliknya.
5.3: Koreksi
atas Pemikiran Al-Ghozali (505 H) dan Ibnu Sina (428 H) dalam Masalah Jiwa
Ibnu Taimiyah (728 H)
mencermati bahwa sebagian tokoh yang menisbatkan diri pada ilmu dan ibadah
terpengaruh oleh cara pandang filosof. Abu Hamid Al-Ghozali (505 H) dalam
beberapa kitabnya terkadang memberikan isyarat yang dekat dengan pemahaman Jahm
bin Shofwan (128 H), yang menganggap iman hanyalah sekadar ilmu atau tashdiq
(pembenaran) di dalam hati saja. Begitu pula Ibnu Sina (428 H) yang
membicarakan maqomat (kedudukan) kaum ‘arifin namun dengan landasan
filsafat yang jauh dari hakikat keimanan yang diajarkan Rosululloh ﷺ.
Ibnu Sina (428 H) dan
para pengikutnya mengklaim bahwa kenabian hanyalah kekuatan khoyal
(imajinasi) dan pengaruh jiwa dalam materi alam, bukan wahyu yang turun dari
Alloh ﷻ melalui
Malaikat.
5.4: Mengapa
Ilmu Tanpa Amal dan Tunduknya Hati adalah Kesia-siaan?
Seseorang yang
membenarkan Rosul di hatinya namun membenci dan enggan beribadah kepada Alloh ﷻ adalah termasuk orang kafir yang paling
besar kekufurannya, seperti Iblis, Fir’aun, dan orang Yahudi. Ilmu haruslah
melahirkan ketundukan. Iblis tidak kufur karena mendustakan Alloh ﷻ, tetapi karena kesombongan dan menolak
untuk sujud (beribadah). Oleh karena itu, para ulama Salaf menyatakan bahwa
iman adalah ucapan dan perbuatan. Sebagaimana ucapan mereka:
«لا
ينفع قول إلا بعمل ولا ينفع قول وعمل إلا بمتابعة السنة»
Tidak bermanfaat ucapan
tanpa perbuatan, dan tidak bermanfaat ucapan serta perbuatan kecuali dengan
mengikuti As-Sunnah.
Bab 6: Membedah
Konsep Fana’ dalam Perjalanan Suluk
6.1: Tiga Macam
Fana’: yang Sesuai Syari’at, yang Kurang, dan yang Zindiq
Ibnu Taimiyah (728 H)
merinci istilah Fana’ yang sering digunakan kaum sufi menjadi 3 kategori utama:
1. Fana’ dalam Ibadah (Fana’
‘an ‘ibadati ma siwahu): Yaitu hamba yang hanya menyembah Alloh ﷻ, mencintai-Nya, menaati-Nya, berharap
hanya kepada-Nya, dan bertawakal hanya kepada-Nya. Ini adalah Tauhid sejati,
ajaran Ibrohim ﷺ, dan
perwujudan syahadat La ilaha illalloh. Tokoh seperti Syaikh Abdul Qodir
Al-Jailani (561 H) menekankan Fana’ jenis ini, yaitu lenyapnya hawa nafsu dan
ketergantungan pada makhluk demi ketaatan pada perintah Alloh ﷻ.
2. Fana’ dalam Penyaksian
(Fana’ ‘an syuhudi ma siwahu): Kondisi di mana seorang hamba begitu
tenggelam dalam dzikir dan rasa cinta hingga ia tidak merasakan keberadaan
dirinya atau makhluk lain. Ini sering disebut sebagai اصطلام (isthilam) atau المحو (al-mahwu). Kondisi ini adalah
kekurangan (naqsh), karena tidak dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ maupun para Shohabat yang memiliki
kesempurnaan akal dan ilmu saat beribadah.
3. Fana’ dalam Wujud (Fana’
‘an wujudi ma siwahu): Pemahaman sesat yang menganggap tidak ada perbedaan
antara Kholiq dan makhluk, atau menganggap segala sesuatu adalah Alloh ﷻ. Ini adalah jalan kaum zindiq penganut wihdatul
wujud.
6.2: Perbedaan Musyahadah
Para Shohabat dengan Kaum Mutashowwifin
Penyaksian (musyahadah)
yang sempurna adalah menyaksikan makhluk sebagai ciptaan Alloh ﷻ yang diatur oleh kehendak-Nya. Para
Shohabat adalah orang-orang yang paling dalam ilmunya dan paling sedikit beban
khayalannya. Mereka tidak pernah mengalami kegilaan atau hilangnya akal saat
beribadah. Berbeda dengan sebagian pengikut thoriqoh yang menganggap
puncak perjalanan adalah “heyam” (kebingungan/hilang akal) atau fana’
hingga tidak menyadari syari’at. Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa fana’
yang membuat akal hilang bukanlah sifat kesempurnaan, bahkan bisa menjadi
hukuman atau gangguan syaithon.
6.3: Masalah
Keadaan Ghoibah (Hilang Kesadaran) dan Hilangnya Akal dalam Berdzikir
Jika seseorang kehilangan
akalnya karena pengaruh dzikir yang sangat kuat tanpa ia sengaja, maka ia
dimaafkan (ma’dzur) namun tidak dipuji sebagai wali yang sempurna.
Namun, jika ia sengaja melakukan cara-cara yang menghilangkan akal (seperti
mendengar nyanyian atau tarian tertentu), maka ia tercela. Akal adalah syarat
untuk menjalankan beban syari’at (taklif).
Al-Junaid (297 H)
mengingatkan bahwa meskipun hamba merasa sedang dalam penyatuan dengan Robb (جمع/jam’), ia wajib kembali ke maqom الفرق الثاني (al-farqu ats-tsani), yaitu tetap
membedakan antara perintah dan larangan Alloh ﷻ.
6.4: Mengapa
Al-Junaid (297 H) Menjadi Imam yang Diikuti dalam Masalah ini?
Al-Junaid (297 H) diakui
sebagai imam karena ia tetap teguh memegang Al-Kitab dan As-Sunnah dalam setiap
perjalanannya. Beliau menegaskan bahwa Tauhid adalah memisahkan antara yang
baru (hadits) dengan yang terdahulu (qodim). Artinya, hamba
selamanya adalah makhluk yang butuh, dan Alloh ﷻ selamanya adalah Kholiq yang Maha Kaya.
Al-Junaid (297 H) membantah kaum yang menganggap syari’at gugur jika sudah
mencapai hakikat. Beliau berkata tentang mereka:
«تكلم
قوم بإسقاط الأعمال وهذه عظيمة والذي يزني ويسرق أهون من هذا»
Ada kaum yang berbicara
tentang pengguguran amal, dan ini adalah malapetaka besar. Orang yang berzina
atau mencuri dosanya lebih ringan daripada anggapan ini.
Bab 7: Bantahan
terhadap Paham Wihdatul Wujud dan Ittihad
7.1: Menyingkap
Kekufuran dalam Pemikiran Ibnu ‘Arobi (638 H) dan Ibnu Sab’in (669 H)
Ibnu Taimiyah (728 H)
membongkar penyimpangan tokoh-tokoh seperti Ibnu ‘Arobi (638 H) dan Ibnu Sab’in
(669 H) yang mengajarkan Wihdatul Wujud (kesatuan wujud). Mereka menganggap
bahwa keberadaan makhluk adalah keberadaan Kholiq itu sendiri. Ibnu ‘Arobi (638
H) bahkan mengklaim bahwa ia mengambil ilmu langsung dari “sumber” yang sama
dengan Malaikat yang membawakan wahyu kepada Rosul, sehingga ia merasa lebih
tinggi dari para Nabi. Ibnu Sab’in (669 H) juga menyatakan hal yang serupa,
bahwa Alloh ﷻ ada
pada air, api, manis, dan pahit. Ini adalah puncak kekufuran yang bahkan lebih
buruk dari kekafiran Fir’aun karena Fir’aun masih mengakui adanya perbedaan
(meski ia menentang), sedangkan mereka menganggap diri mereka adalah Tuhan.
7.2: Bedah
Istilah Wajib al-Wujud dan Mumkin al-Wujud versi Ahli Filsafat
Para filosof dan penganut
Wihdatul Wujud sering menggunakan istilah Wajib al-Wujud (Wujud yang Pasti Ada)
untuk Alloh ﷻ dan
Mumkin al-Wujud (Wujud yang Mungkin Ada) untuk makhluk. Namun, mereka terjatuh
dalam sisfathoh (kerancuan berpikir) dengan menganggap keduanya memiliki
hakikat wujud yang sama.
Ibnu Taimiyah (728 H)
menegaskan bahwa wujud Kholiq bersifat qodim dan kaya (tidak butuh
makhluk), sedangkan wujud makhluk bersifat hadits (baru) dan faqir
(butuh Alloh). Keduanya sepakat dalam nama “wujud” secara kulli di
pikiran, namun berbeda secara nyata dalam kenyataan di luar pikiran.
7.3: Masalah
Keserupaan dalam Nama dan Sifat: Antara Kholiq dan Makhluk
Meskipun Alloh ﷻ dan makhluk sama-sama disebut memiliki “Hayat”
(kehidupan), “Ilmu”, atau “Wujud”, hal itu tidak berarti keduanya serupa.
Nama-nama tersebut memiliki tiga pertimbangan:
1. Jika disandarkan pada
makhluk (seperti ilmu hamba), maka Alloh ﷻ suci dari sifat terbatas tersebut.
2. Jika disandarkan pada
Kholiq (seperti Ilmu Alloh), maka sifat itu khusus bagi-Nya dan tidak ada satu
pun makhluk yang menyamai-Nya.
3. Nama secara mutlak
yang belum disandarkan, itu hanyalah konsep di akal untuk memudahkan pemahaman.
Barangsiapa yang
mengingkari sifat Alloh ﷻ karena takut menyamakan dengan makhluk (tasybih), maka
ia telah terjatuh dalam ta’thil (pengosongan sifat).
7.4: Bantahan
terhadap Ide Tuhan adalah Alam dan Segala Bentuk Kesyirikan Batin
Kaum الاتحادية (Ittihadiyyah: alam menyatu dengan Alloh) menganggap bahwa Tuhan bersatu dengan makhluk.
Ibnu Al-Faridh (632 H) dalam sya’irnya bahkan menyatakan bahwa sholat yang ia
lakukan adalah sholat dirinya kepada dirinya sendiri:
«لها
صلواتي بالمقام أقيمها... وأشهد فيها أنها لي صلت»
Bagi-Nyalah sholatku di
maqom ini aku tegakkan, dan aku bersaksi di dalamnya bahwa Dia-lah yang sholat
kepadaku.
Ibnu Taimiyah (728 H)
menyatakan bahwa pemikiran ini menghancurkan syari’at dan perintah agama. Jika
Kholiq dan makhluk adalah satu, maka tidak ada lagi perbedaan antara yang menyembah
dan disembah, antara halal dan harom, serta antara Mukmin dan kafir. Ini adalah
pengkhianatan terhadap ajaran seluruh Rosul yang diutus untuk memerintahkan
hamba agar hanya menyembah Alloh ﷻ saja.
Bab 8: Tinjauan
Kritis atas Kitab Adab ath-Thoriq dalam Ilmu Hakikat
8.1: Kritik
terhadap Pembagian Jalan Khoshshoh (Khusus) dan ‘Ammah (Umum)
Syaikhul Islam (728 H)
meninjau pembagian yang dibuat oleh Asy-Syadzili dalam kitabnya mengenai dua
jenis jalan menuju Alloh ﷻ. Asy-Syadzili menyebut adanya jalan khusus bagi orang-orang
yang dicintai (Al-Mahbubin) yang ia sebut sebagai pengganti para Nabi, dan
jalan umum yang merupakan proses kenaikan tingkat (tarqi) dari satu
kedudukan ke kedudukan lain.
Ibnu Taimiyah (728 H)
meluruskan bahwa setiap Wali Alloh ﷻ pada hakikatnya adalah orang yang
mencintai Alloh ﷻ
sekaligus dicintai oleh-Nya. Pembagian yang benar menurut Al-Qur’an adalah
antara golongan orang-orang yang bersegera dalam kebaikan (As-Sabiqun
Al-Muqorrobun) dan golongan kanan yang berbuat baik (Al-Abroor Ashhabul Yamin).
Yaitu dalam surat Al-Waqiah.
Begitu pula Alloh ﷻ berfirman:
﴿ثُمَّ
أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ
لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ﴾
Kemudian Kitab itu Kami
wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di
antara mereka ada yang mendholimi diri mereka sendiri, di antara mereka ada
yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang bersegera berbuat kebaikan
dengan izin Alloh. (QS. Fathir: 32)
8.2: Bedah
Filosofis tentang Tingkatan Nafs, Qolbu, dan Ruh
Dalam kitabnya, Asy-Syadzili
menyebutkan bahwa kedudukan pertama yang dipijak oleh pencinta adalah Nafs
(jiwa), kemudian naik ke Qolbu (hati), lalu ke Ruh (ruh).
Ibnu Taimiyah (728 H)
menjelaskan bahwa istilah Nafs, Ruh, dan Qolbu sering kali merujuk pada hakikat
yang satu namun dengan sifat yang berbeda-beda.
Penyusunan tingkatan ini
(Nafs ke Qolbu lalu ke Ruh) merupakan istilah buatan yang tidak memiliki
landasan kuat dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah sebagai aturan baku bagi setiap
pejalan. Beliau menegaskan bahwa pada diri manusia terdapat sifat-sifat yang
dicintai Alloh ﷻ dan
sifat-sifat yang dibenci-Nya yang saling berkumpul, bukan berarti satu
tingkatan harus selesai secara total sebelum pindah ke tingkatan lainnya.
8.3: Bantahan
terhadap Konsep Akal Pertama sebagai Makhluk Awal
Asy-Syadzili menukil
sebuah hadits untuk mendukung pemikiran filsafatnya yang berbunyi: “Makhluk
pertama yang Alloh ciptakan adalah Akal”.
Ibnu Taimiyah (728 H)
menegaskan bahwa hadits tersebut adalah palsu (maudhu’) menurut
kesepakatan ahli hadits seperti Abu Hatim bin Hibban (354 H) dan Abul Faroj
Ibnu Al-Jauzi (597 H).
Konsep “Akal Pertama” ini
sebenarnya diambil dari pemikiran filosof Yunani yang kemudian diadopsi oleh
kaum kebatinan untuk menyatakan bahwa Akal adalah perantara antara Kholiq dan
makhluk. Dalam Islam, akal bukanlah benda yang berdiri sendiri (jauhar),
melainkan sifat atau kemampuan yang ada pada diri manusia (arodh).
8.4: Menyingkap
Mitos Lauh Mahfuzh dalam Persepsi Ahli Filsafat
Para filosof
mutashowwifin (sufi yang berfilsafat) sering kali menganggap bahwa Akal Pertama
adalah Qolam (pena) dan Jiwa Langit adalah Lauh (papan). Mereka mengklaim bahwa
seorang Wali bisa melihat langsung ke Lauh Mahfuzh dan mengambil ilmu darinya.
Ibnu Taimiyah (728 H)
menyatakan ini adalah khoyalan batil yang membuka pintu kesesatan sebagaimana
kaum Isma’iliyyah dan Qoromithoh.
Bab 9:
Meluruskan Kaidah Keimanan tentang Robb dan Makhluk
9.1: Alloh ﷻ Maha
Kaya dari Sekadar Balas Jasa Hamba
Alloh ﷻ adalah Robb yang Maha Kaya dan tidak
membutuhkan apa pun dari hamba-Nya. Segala ketaatan hamba tidak memberi manfaat
bagi Alloh ﷻ, dan
segala maksiyat hamba tidak memberi mudhorot bagi-Nya. Dalam hadits Qudsi
disebutkan:
«يَا
عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي
فَتَضُرُّونِي»
Wahai hamba-Ku,
sesungguhnya kalian tidak akan sampai bisa memberi manfaat kepada-Ku lalu
kalian memberi manfaat itu, dan tidak pula sampai bisa memberi mudhorot
kepada-Ku lalu kalian memberi mudhorot itu. (HR. Muslim no. 2577)
9.2: Keadilan
Robb dalam Membedakan antara Orang Sholih dan Pelaku Ma’shiyat
Ibnu Taimiyah (728 H)
membantah doa dalam Hizb Asy-Syadzili yang seolah meminta Alloh ﷻ untuk menyamakan antara orang yang
bermakshiyat dengan orang yang taat dalam hal rahmat. Alloh ﷻ telah menegaskan dalam firman-Nya:
﴿أَفَنَجْعَلُ
الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ﴾
Maka apakah Kami akan
menjadikan orang-orang Muslim itu sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa
kalian (berbuat demikian), bagaimanakah kalian mengambil keputusan? (QS.
Al-Qolam: 35-36)
9.3: Bantahan
atas Anggapan bahwa Ma’shiyat Tidak Membahayakan Jika Ada Cinta
Terdapat ungkapan dalam
Hizb tersebut bahwa kebaikan tidak bermanfaat jika ada kebencian dari Alloh ﷻ, dan keburukan tidak membahayakan jika ada
cinta dari-Nya.
Ibnu Taimiyah (728 H)
menjelaskan bahwa ungkapan ini menyesatkan karena cinta Alloh ﷻ justru mengharuskan hamba untuk berbuat
baik dan menjauhi makshiyat. Anggapan bahwa makshiyat tidak membahayakan jika
seseorang sudah merasa dicintai Alloh ﷻ adalah pintu menuju sikap menggugurkan
syari’at.
9.4: Kedudukan
Sifat-Sifat Alloh ﷻ: Itsbat
Tanpa Tamtsil, Tanzih Tanpa Ta’thil
Landasan utama dalam
mengenal Alloh ﷻ adalah
menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya tanpa menyerupakan-Nya dengan
makhluk, serta menyucikan-Nya dari segala kekurangan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
Tidak ada sesuatu pun
yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS.
Asy-Syuro: 11)
Barangsiapa yang
membedakan antara satu sifat dengan sifat lainnya (seperti menerima sifat
Irodah tapi menolak sifat Mahabbah), maka perkataannya adalah bertolak belakang
dan rusak secara logika.
Bab 10:
Kesimpulan
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah (728 H) menutup bantahannya dengan menegaskan bahwa kebahagiaan hamba
hanya dapat dicapai melalui ketaatan kepada apa yang dibawa oleh para Rosul ﷺ. Segala bentuk Hizb, wirid, maupun jalan
perjalanan (thoriqoh) yang mencampurkan antara ajaran Islam dengan
filsafat Yunani, Majusi, maupun konsep kesatuan wujud (Wihdatul Wujud) hanya
akan membawa hamba pada kebingungan dan kesesatan.
Inti dari agama ini
adalah beribadah kepada Alloh ﷻ semata, mencintai-Nya, dan mengikuti tuntunan Nabi-Nya ﷺ secara lahir dan batin tanpa mencoba untuk
menyaingi kedudukan ketuhanan-Nya atau menggugurkan kewajiban syari’at yang
telah ditetapkan hingga ajal menjemput.
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam.
Allohu a’lam.[NK]
%20dalam%20Hizbnya%20-%20Nor%20Kandir.jpg)