Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Perjalanan Arwah Orang Kafir Setelah Mati - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah menetapkan kematian sebagai gerbang menuju alam Akhiroh.

Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rosul , para Shohabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Kematian adalah hakikat (kenyataan sebenarnya) yang tidak dapat dihindari oleh setiap mahluk. Mempelajari perjalanan ruh setelah terpisah dari jasad merupakan bagian dari upaya memperkuat iman kepada hari akhir dan mempersiapkan bekal terbaik.

Ibnu Taimiyyah (728 H) berkata:

بَلْ الْعَذَابُ وَالنَّعِيمُ عَلَى النَّفْسِ وَالْبَدَنِ جَمِيعًا بِاتِّفَاقِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ تَنْعَمُ النَّفْسُ وَتُعَذَّبُ مُنْفَرِدَةً عَنْ الْبَدَنِ وَتُعَذَّبُ مُتَّصِلَةً بِالْبَدَنِ وَالْبَدَنُ مُتَّصِلٌ بِهَا فَيَكُونُ النَّعِيمُ وَالْعَذَابُ عَلَيْهِمَا فِي هَذِهِ الْحَالِ مُجْتَمَعِينَ كَمَا يَكُونُ لِلرُّوحِ مُنْفَرِدَةً عَنْ الْبَدَنِ

“Bahkan adzab dan ni’mat itu menimpa jiwa dan badan secara bersamaan menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Jiwa merasakan ni’mat dan diadzab dalam keadaan terpisah dari badan, serta diadzab pula saat tersambung dengan badan sedangkan Badan pun tersambung dengan jiwa tersebut. Maka ni’mat dan adzab itu menimpa keduanya dalam keadaan ini secara bersama-sama, sebagaimana hal itu terjadi pada ruh saat terpisah dari badan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 4/282)

Buku ini menyajikan riwayat yang sangat detail mengenai fase-fase yang dilalui oleh hamba yang kafir atau fajir (jahat) saat menghadapi sakarotul maut (detik-detik kematian).

Buku ini disusun berdasarkan Hadits Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhuma yang semua jalur-jalurnya di kumpulkan Syaikh Al-Albani di Ahkamul Janaiz sehingga menjadi jalinan kisah yang komprehensif.

Buku ini menyajikan gambaran yang sangat mendalam mengenai peristiwa yang dialami oleh seorang hamba yang berpaling dari kebenaran di saat-saat terakhir hidupnya serta perjalanannya menuju alam Barzakh. Melalui riwayat yang terperinci ini, kita diajak untuk memahami proses pencabutan nyawa yang sangat berat, penolakan oleh para penduduk langit, serta pertemuan awal dengan siksaan di dalam kubur. Penjelasan ini berfungsi sebagai peringatan bagi setiap jiwa mengenai hakikat kehidupan setelah kematian dan balasan atas segala perbuatan yang dilakukan selama di dunia.

Beberapa istilah yang perlu diperhatikan dalam kisah ini antara lain kain musuh, yaitu kain kasar yang terbuat dari bulu yang melambangkan kehinaan bagi ruh tersebut. Selain itu, disebutkan pula tentang Sijjin, yaitu tempat di lapisan bumi paling bawah yang menjadi lokasi penyimpanan catatan amal orang-orang yang durhaka.

 

Bab 1: Kedatangan Malaikat Azab dan Pencabutan Nyawa

1.1 Turunnya Malaikat dengan Wajah Hitam

«وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ (وَفِي رِوَايَةٍ: الْفَاجِرَ) إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا، وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ (غِلَاظٌ شِدَادٌ)، سُودُ الْوُجُوهِ، مَعَهُمُ الْمُسُوحُ (مِنَ النَّارِ)، فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللهِ وَغَضَبٍ»

“Sesungguhnya hamba yang kafir (dan dalam satu riwayat: hamba yang jahat), apabila ia berada dalam keadaan terputus dari dunia dan menghadap ke Akhiroh, maka turunlah kepadanya dari langit para Malaikat (yang kasar lagi keras), yang berwajah hitam, mereka membawa kain masuh (kain kasar dari bulu) (dari Naar), lalu mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat Maut hingga ia duduk di sisi kepalanya, lalu ia berkata: Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dari Alloh dan kemarahan-Nya.”

Penjelasan:

Bagian ini menggambarkan suasana mencekam saat ajal menjemput orang yang banyak melakukan dosa. Kehadiran Malaikat dengan wajah hitam dan kain kasar menandakan bahwa tidak ada kemuliaan bagi jiwa tersebut. Malaikat Maut memanggil ruhnya dengan sebutan yang menghinakan, yaitu jiwa yang buruk, yang menunjukkan bahwa ia akan segera menghadapi konsekuensi dari ketidaktundukannya kepada Robb selama hidup di dunia.

1.2 Pencabutan Nyawa yang Keras dan Menyakitkan

قَالَ: «فَتَفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ (الْكَثِيرُ الشُّعَبِ) مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ، (فَتُقَطَّعُ مَعَهَا الْعُرُوقُ وَالْعَصَبُ)، (فَيَلْعَنُهُ كُلُّ مَلَكٍ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَكُلُّ مَلَكٍ فِي السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، لَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَابٍ إِلَّا وَهُمْ يَدْعُونَ اللهَ أَلَّا تَعْرُجَ رُوحُهُ مِنْ قِبَلِهِمْ)، فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا، لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ»

Nabi melanjutkan: “Maka ruh itu berpencar ke seluruh jasadnya, lalu ia mencabutnya sebagaimana dicabutnya besi pemanggang (yang memiliki banyak cabang) dari bulu domba yang basah, (maka terputuslah bersamanya urat-urat dan saraf), (lalu ia dilaknat oleh setiap Malaikat yang ada di antara langit dan bumi serta setiap Malaikat yang ada di langit, dan pintu-pintu langit pun ditutup, tidak ada seorang pun penghuni pintu melainkan mereka berdoa kepada Alloh agar ruhnya tidak naik melalui arah mereka). Lalu ia (Malaikat Maut) mengambil ruh itu, maka apabila ia telah mengambilnya, mereka (para Malaikat azab) tidak membiarkannya berada di tangannya walau sekejap mata pun hingga mereka meletakkannya di dalam kain musuh tersebut.”

Penjelasan:

Hadits ini memberikan perumpamaan yang sangat nyata tentang rasa sakit saat nyawa dicabut. Ruh orang kafir atau fajir enggan keluar dari jasadnya karena ketakutan, sehingga ia bersembunyi di dalam tubuh. Proses penarikannya yang dipaksakan menyebabkan kerusakan fisik pada tingkat saraf dan urat. Lebih dari itu, ruh ini dibenci oleh seluruh penghuni langit, sehingga mereka memohon agar ruh tersebut tidak melewati pintu langit yang mereka jaga.

 

Bab 2: Perjalanan Ruh ke Langit dan Penolakannya

2.1 Bau Busuk yang Menyengat

«وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ، فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟»

“Tercium darinya aroma yang sangat busuk seperti bau bangkai paling busuk yang pernah ada di muka bumi. Lalu mereka naik membawa ruh itu, maka tidaklah mereka melewati sekumpulan Malaikat melainkan para Malaikat itu bertanya: ‘Ruh buruk siapakah ini?’”

Penjelasan:

Kualitas batin seseorang akan menjelma menjadi bentuk nyata di alam ruh. Bagi orang yang hidupnya dipenuhi dengan keburukan, ruhnya akan mengeluarkan aroma yang sangat busuk. Bau ini menjadi identitas yang mempermalukannya di hadapan para Malaikat saat ia dibawa menuju langit. Hal ini menunjukkan bahwa segala kemaksiatan yang disembunyikan di dunia akan nampak jelas di hadapan mahluk-mahluk langit.

2.2 Tertutupnya Pintu-Pintu Langit

«فَيَقُولُونَ: فُلَانُ ابْنُ فُلَانٍ - بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يَنْتَهِيَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحُ لَهُ، فَلَا يُفْتَحُ لَهُ»، ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: ﴿لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ﴾

“Maka mereka menjawab: ‘Fulan bin Fulan’ —dengan menyebutkan nama-namanya yang paling buruk yang dahulu ia dipanggil dengannya saat di dunia, hingga ia sampai ke langit dunia lalu dimintakan pembukaan pintu baginya, namun pintu itu tidak dibukakan untuknya.” Kemudian Rosulullah membaca: “Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan bagi mereka untuk naiknya amal-amal mereka di dunia dan tidak pula bagi ruh-ruh mereka saat mati, dan mereka tidak akan masuk Jannah sampai unta masuk ke dalam lubang jarum.”  (QS. Al-A’rof: 40)

Penjelasan:

Penolakan di pintu langit adalah bentuk kehinaan yang mutlak. Ruh tersebut dipanggil dengan nama yang paling ia benci, menunjukkan betapa rendah kedudukannya di sisi Alloh. Ayat yang dibacakan oleh Nabi menekankan kemustahilan bagi mereka untuk masuk Jannah, sebagaimana mustahilnya seekor unta yang besar masuk ke lubang jarum yang sangat sempit. Langit tidak menerima ruh yang kotor oleh kekufuran dan dosa.

 

Bab 3: Catatan di Sijjin dan Terhempasnya Ruh ke Bumi

3.1 Perintah Penulisan Kitab di Sijjin

«فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِي سِجِّينٍ، فِي الْأَرْضِ السُّفْلَى، (ثُمَّ يُقَالُ: أَعِيدُوا عَبْدِي إِلَى الْأَرْضِ فَإِنِّي وَعَدْتُهُمْ أَنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ، وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ، وَمِنْهَا أُخْرُجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى)»

“Maka Alloh Azza wa Jalla berfirman: ‘Tulislah kitabnya di Sijjin, di bumi yang paling bawah, (kemudian dikatakan: ‘Kembalikanlah hamba-Ku ke bumi karena Aku telah menjanjikan kepada mereka bahwa sesungguhnya dari bumilah Aku menciptakan mereka, ke dalamnya Aku mengembalikan mereka, dan dari sana pula Aku mengeluarkan mereka pada kali yang lain).”

Penjelasan:

Sijjin adalah tempat yang sempit dan gelap di bagian bumi yang paling rendah, yang dikhususkan bagi catatan amal orang-orang jahat. Di sini, keputusan Robb telah tetap bahwa tidak ada kemuliaan bagi mereka di langit. Ruh tersebut harus kembali ke asalnya, yaitu tanah, bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menghadapi proses pengadilan di dalam kubur.

3.2 Ruh yang Dilemparkan Kembali ke Jasad

«فَتُطْرَحُ رُوحُهُ (مِنَ السَّمَاءِ) طَرْحًا (حَتَّى تَقَعَ فِي جَسَدِهِ) ثُمَّ قَرَأَ ﴿وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ﴾، فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، (قَالَ: فَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِ أَصْحَابِهِ إِذَا وَلَّوْا عَنْهُ)»

“Maka ruhnya dilemparkan (dari langit) dengan keras (hingga jatuh ke dalam jasadnya), kemudian beliau membaca: ‘Barangsiapa mempersekutukan Alloh dengan sesuatu, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung-burung, atau dihempaskan oleh angin ke tempat yang sangat jauh dari rohmat Alloh.” (QS. Al-Hajj: 31)

Lalu ruhnya dikembalikan ke dalam jasadnya, (sesungguhnya ia benar-benar mendengar suara langkah kaki para sahabatnya (yang mengantarkan jenazah) apabila mereka telah berpaling pergi darinya).”

Penjelasan:

Proses kembalinya ruh ke jasad dilakukan dengan cara dilempar secara kasar, bukan diletakkan dengan lembut. Hal ini sejalan dengan gambaran ayat dalam surat Al-Hajj mengenai orang yang berbuat syirik. Kesadaran ruh tersebut pulih kembali di dalam liang kubur hingga ia mampu mendengar langkah kaki orang-orang yang baru saja menguburkannya, yang menandakan bahwa ia kini benar-benar sendirian menghadapi apa yang telah ia persiapkan.

 

Bab 4: Fitnah Kubur dan Kegagalan Menjawab Pertanyaan

4.1 Kedatangan Dua Malaikat yang Sangat Keras

«وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ (شَدِيدَا الِانْتِهَارِ، فَيَنْتَهِرَانِهِ، وَ) يُجْلِسَانِهِ»

“Dan datanglah kepadanya dua Malaikat (yang sangat keras gertakannya, lalu keduanya menghardiknya dan) mendudukkannya,”

Penjelasan:

Dua Malaikat ini datang dengan suasana yang sangat mengancam. Gertakan dan hardikan mereka dimaksudkan untuk menguji keteguhan iman seseorang. Bagi orang yang tidak memiliki landasan tauhid dan amal sholih yang kuat, suasana ini akan melumpuhkan ingatan dan keberanian mereka, sehingga lisan mereka menjadi kelu untuk menjawab pertanyaan yang paling mendasar sekalipun.

4.2 Kebingungan dalam Menjawab Mengenai Robb, Agama, dan Nabi

«فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ (فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيَقُولُ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي)، فَيَقُولَانِ: فَمَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ) فَلَا يَهْتَدِي لِاسْمِهِ، فَيُقَالُ: مُحَمَّدٌ! فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ ذَاكَ! قَالَ: فَيُقَالُ: لَا دَرَيْتَ، (وَلَا تَلَوْتَ)»

“Kemudian keduanya bertanya kepadanya: ‘Siapakah Robbmu?’ Maka ia menjawab: Hah, hah, aku tidak tahu. Lalu keduanya bertanya kepadanya: ‘Apa agamamu?’ Maka ia menjawab: ‘Hah, hah, aku tidak tahu.’ Keduanya bertanya lagi: ‘Apa pendapatmu tentang laki-laki ini yang diutus di tengah-tengah kalian?’ Maka ia tidak mendapat petunjuk untuk menyebutkan namanya. Lalu dikatakan: ‘Muhammad!’ Maka ia menjawab: ‘Hah, hah, aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan demikian!’ Lalu dikatakan kepadanya: ‘Kamu tidak tahu dan tidak pula mengikuti (kebenaran).”

Penjelasan:

Jawaban “hah, hah” menunjukkan kegagapan dan hilangnya identitas diri. Di alam kubur, jawaban tidak lagi berdasarkan hafalan otak, melainkan berdasarkan apa yang telah terpatri di dalam hati dan dilakukan oleh anggota tubuh. Meskipun ia tahu nama Nabi Muhammad di dunia, namun karena ia hanya sekadar ikut-ikutan tanpa keyakinan yang benar (ittiba’), ia gagal mengenali beliau saat ujian yang sesungguhnya tiba.

 

Bab 5: Siksa Kubur dan Kedatangan Teman yang Buruk

5.1 Sempitnya Liang Lahad hingga Tulang Rusuk Berpindah

«فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ، فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ، فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا، وَيُضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ»

“Maka berserulah penyeru dari langit: ‘Ia telah berdusta! Maka hamparkanlah untuknya hamparan dari Naar, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu menuju Naar,’ lalu sampailah kepadanya panas dan hawa panasnya yang beracun, serta disempitkanlah kuburnya hingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan.”

Penjelasan:

Setelah kegagalan dalam ujian, hukuman fisik mulai diberikan. Kubur yang tadinya luas secara lahiriah, menjadi sangat sempit bagi orang tersebut. Tekanannya begitu kuat hingga tulang rusuknya saling bergeser dan masuk satu sama lain. Hawa panas dari neraka juga mulai dialirkan ke dalam kuburnya sebagai bentuk awal dari penderitaan yang lebih besar kelak.

5.2 Perwujudan Amal Buruk dalam Sosok yang Menakutkan

«وَيَأْتِيهِ (وَفِي رِوَايَةٍ: وَيُمَثَّلُ لَهُ) رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ، قَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوؤُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ (وَأَنْتَ فَبَشَّرَكَ اللهُ بِالشَّرِّ) مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ؟ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ؟ (فَوَ اللهِ مَا عَلِمْتُ إِلَّا كُنْتَ بَطِيئًا عَنْ طَاعَةِ اللهِ، سَرِيعًا إِلَى مَعْصِيَةِ اللهِ)، (فَجَزَاكَ اللهُ شَرًّا)»

“Dan datanglah kepadanya (dan dalam satu riwayat: digambarkan untuknya) seorang yang buruk wajahnya, buruk pakaiannya, dan busuk aromanya, ia berkata: ‘Bergembiralah dengan apa yang akan menyusahkanmu, inilah harimu yang dahulu telah dijanjikan kepadamu.’ Maka ia bertanya: ‘(Dan engkau pun semoga Alloh memberimu kabar buruk), siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan.’ Orang itu menjawab: ‘Aku adalah amalmu yang buruk. (Demi Alloh, tidaklah yang aku ketahui melainkan engkau dahulu adalah orang yang lambat dalam ketaatan kepada Alloh, namun sangat cepat menuju kemaksiatan kepada Alloh), (maka semoga Alloh membalasmu dengan keburukan).”

Penjelasan:

Amal perbuatan manusia tidak akan hilang begitu saja. Di alam kubur, segala kelalaian dan kemaksiatan akan berubah wujud menjadi sosok yang menjijikkan dan menakutkan. Sosok ini akan menemani si mayit sebagai teman yang terus mencelanya, mengingatkan kembali betapa ia dahulu malas dalam beribadah namun sangat bersemangat dalam berbuat dosa.

 

Bab 6: Pukulan Godam dan Penantian Hari Kiamat

6.1 Pukulan yang Menghancurkan Menjadi Debu

«ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَصَمُّ أَبْكَمُ فِي يَدِهِ مِرْزَبَّةٌ! لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ كَانَ تُرَابًا، فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً حَتَّى يَصِيرَ بِهَا تُرَابًا، ثُمَّ يُعِيدُهُ اللهُ كَمَا كَانَ، فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً أُخْرَى، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهُ كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ، ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنَ النَّارِ، يُمَهَّدُ مِنْ فُرُشِ النَّارِ»

“Kemudian dikirimkan kepadanya seorang (Malaikat) yang buta, tuli, lagi bisu, yang di tangannya terdapat sebuah palu godam! Seandainya palu itu dipukulkan pada sebuah gunung, niscaya gunung itu akan menjadi debu. Maka ia memukulnya dengan sekali pukulan hingga ia hancur menjadi debu, kemudian Alloh mengembalikannya seperti semula, lalu ia memukulnya kembali dengan pukulan yang lain. Ia pun berteriak dengan teriakan yang dapat didengar oleh segala sesuatu kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan baginya sebuah pintu dari Naar, dan dihamparkan untuknya hamparan-hamparan dari Naar.”

Penjelasan:

Malaikat yang ditugaskan menyiksanya memiliki sifat buta, tuli, dan bisu agar tidak memiliki rasa iba atau terpengaruh oleh teriakan permohonan ampun si mayit. Pukulan yang diberikan sangat dahsyat melampaui kekuatan apa pun yang ada di dunia. Siksaan ini berlangsung secara terus-menerus; dihancurkan lalu dikembalikan lagi untuk disiksa kembali, sebuah penderitaan tanpa jeda.

6.2 Permohonan agar Kiamat Tidak Ditegakkan

«فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ»

“Maka ia berkata: ‘Wahai Robbku, janganlah Engkau tegakkan hari Kiamat.’”

Penjelasan:

Pernyataan terakhir ini menunjukkan betapa putus asanya ruh tersebut. Meskipun ia sedang berada dalam siksaan kubur yang amat pedih, ia mengetahui bahwa apa yang menunggunya setelah hari Kiamat jauh lebih mengerikan lagi. Ia lebih memilih tetap berada dalam siksaan kubur daripada harus menghadapi kedahsyatan azab yang abadi di dalam Neraka setelah hari kebangkitan.

 

Bab 7: Takhrij dan Derajat Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (275 H) (2/281), Al-Hakim (405 H) (1/37-40), Ath-Thoyalisi (204 H) (nomor 753), dan Ahmad bin Hanbal (241 H) (4/287, 288, 295, dan 296) dengan susunan redaksi yang digunakan di atas, serta Al-Ajurri (360 H) dalam Asy-Syari’ah (367-370).

Riwayat ini juga terdapat dalam Abu Dawud (275 H) (2/70) dengan versi yang lebih ringkas, begitu pula dalam Ahmad bin Hanbal (241 H) (4/297). Al-Hakim (405 H) menyatakan bahwa hadits ini shohih sesuai syarat Al-Bukhori (256 H) dan Muslim (261 H).

Pendapat Al-Hakim (405 H) disepakati oleh Adz-Dzahabi (748 H). Hadits ini juga dishohihkan oleh Ibnu Qoyyim (751 H) dalam I’lamul Muwaqqi’in (1/214) dan Tahdzibus Sunan (4/337), serta menukil penshohihannya dari Abu Nu’aim (430 H) dan ulama lainnya.

Allohu a’lam.[NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url