Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Hisbulloh Lebanon - Permusuhannya dan Kebohongannya Terhadap Dunia Islam

 


Muqoddimah

Segala puji hanya milik Alloh , Robb semesta alam.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , juga kepada keluarga beliau, para Shohabat sekalian, dan para pengikut beliau yang setia hingga Akhiroh.

Amma ba’du:

Buku berjudul Hisbulloh Lebanon: Permusuhannya dan Kebohongannya Terhadap Dunia Islam ini disusun sebagai bentuk tanggung jawab ilmiah dan amanah profesi untuk mengungkap realitas yang sering kali tersembunyi di balik gemerlap propaganda media. Di tengah arus informasi yang sering kali menyesatkan kaum Muslimin awam, kehadiran buku ini menjadi sangat krusial untuk memberikan pemahaman yang jernih berdasarkan fakta sejarah dan kesaksian para tokoh yang terlibat langsung dalam pusaran konflik di Lebanon dan sekitarnya.

Buku ini merupakan tahdzib (penataan ulang) dan ikhtishor (ringkasan) dari sebuah bab di Mausuatul Firoq Islamiyyah bab Syiah subbab Hisbulloh karya Para Peneliti di Yayaasan Durror Saniyyah cetakan 1433 H.

Buku ini disusun secara sistematis agar pembaca dapat memahami fenomena Hisbulloh mulai dari akar sejarahnya hingga dampaknya terhadap peta kekuatan politik dan Agama saat ini. Berikut adalah garis besar dari setiap bagian utama buku:

Bagian Pertama: Akar Kelahiran dan Rekayasa Identitas

Bagian ini mengupas sejarah berdirinya Hisbulloh pada tahun 1982 yang berawal dari rahim Harokah Amal Syi’ah Lebanon. Pembaca akan diajak melihat bagaimana perubahan nama dari Amal Islamiyyah menjadi Hisbulloh merupakan strategi untuk memperluas jangkauan ke seluruh Dunia Islam serta menutupi rekam jejak kriminal masa lalu yang melekat pada Harokah Amal. Sosok Musa Ash-Sodr (1398 H) dan hubungannya yang sangat erat dengan Khomaini (1409 H) juga dijelaskan secara mendalam sebagai fondasi ideologis gerakan ini.

Bagian Kedua: Kepemimpinan dan Loyalitas Wilayatul Faqih

Pembahasan di bagian ini fokus pada struktur kepemimpinan Hisbulloh yang berada di bawah komando Hasan Nashrulloh dan tokoh-tokoh lainnya. Penulis membedah bagaimana Hisbulloh mendefinisikan dirinya bukan sekadar sebagai partai politik Lebanon, melainkan sebagai perpanjangan tangan militer dan ideologi Iran di tanah Lebanon melalui doktrin Wilayatul Faqih. Loyalitas mutlak kepada kepemimpinan di Teheran menjadi poin kunci yang membedakan mereka dari gerakan nasionalis lainnya.

Bagian Ketiga: Kedok Perlawanan dan Realita Hubungan dengan Israel

Di sini, buku ini membongkar kontradiksi antara slogan Jihad yang digaungkan dengan kenyataan di lapangan. Penulis mengungkap adanya aturan main atau kesepakatan-kesepakatan rahasia yang terjadi antara Hisbulloh dan Israel, terutama menjelang penarikan mundur tahun 2000. Peran Hisbulloh yang ternyata bertindak sebagai penjaga perbatasan Israel dari serangan faksi-faksi pejuang Sunni dijelaskan berdasarkan kesaksian mantan pemimpin mereka sendiri, Subhi Ath-Thufaili.

Bagian Keempat: Dampak Terhadap Ummat dan Ahlus Sunnah

Bagian ini sangat krusial karena mengungkap bagaimana Hisbulloh dan induknya, Iran, menggunakan isu Palestina untuk menutupi kejahatan mereka di tempat lain, khususnya di Iraq. Pembaca akan melihat fakta keterlibatan Hisbulloh dalam mendukung invasi Amerika di Iraq dan kerja sama mereka dengan milisi-milisi Syi’ah seperti Jaish Al-Mahdi untuk melakukan pembersihan etnis terhadap warga Sunni. Taqiyyah sebagai instrumen utama untuk memperdaya Ahlus Sunnah juga dikupas secara tuntas.

Bagian Kelima: Sholahuddin Al-Ayyubi dan Palestina

Penulis melakukan perbandingan historis antara perjuangan Sholahuddin Al-Ayyubi (589 H) yang berlandaskan Aqidah Sunni dengan klaim-klaim Hisbulloh. Bagian ini mengungkap kebencian mendalam Syi’ah terhadap Sholahuddin melalui upaya distorsi sejarah dan pembunuhan karakter yang dilakukan oleh para intelektual mereka. Pembaca akan disadarkan bahwa Palestina yang dahulu dibuka oleh Umar bin Al-Khoththob rodhiyallahu ‘anhu (23 H) tidak mungkin akan dibebaskan oleh mereka yang menjadikan aktivitas melaknat Umar sebagai bagian dari agama.

Buku ini bukan sekadar catatan politik, melainkan peringatan bagi setiap Muslim yang mencintai Aqidah Tauhid. Harapannya, melalui data-data yang tersaji, kaum Muslimin dapat lebih waspada dan tidak mudah terombang-ambing oleh retorika kosong yang tidak didasarkan pada kebenaran syar’i dan sejarah yang lurus.

Kami meminta uzur kepada pembaca jika hasil terjemah ini tidak mudah dipahami, karena berbeda antara terjemah sejarah dengan terjemah tema selainnya.

 

Bab 1: Kelahiran Hisbulloh

1.1 Sejarah Munculnya Hisbulloh di Lebanon

Hisbulloh Syi’ah di Lebanon didirikan pada tahun 1982, namun kelompok ini baru memasuki kancah politik secara resmi pada tahun 1985. Kelompok ini lahir dari rahim Harokah Amal Syi’ah Lebanon yang mendapatkan dukungan penuh dari Iran. Pada awal kemunculannya, gerakan ini berupaya memposisikan diri sebagai kekuatan baru di tengah gejolak perang saudara dan pendudukan yang melanda Lebanon, dengan membawa agenda yang sangat terikat pada ideologi revolusi Iran yang dipimpin oleh Khomaini (1409 H).

1.2 Rekayasa Nama dan Pencitraan di Balik Gerakan

Pada awalnya, kelompok ini menamakan dirinya sebagai harokah (gerakan) Amal Syi’ah, kemudian berganti nama menjadi Amal Islamiyyah dengan tujuan memperluas jangkauannya agar mencakup seluruh Ummat Islam. Hal ini dilakukan karena peran Harokah Amal hanya terbatas pada lingkup politik Syi’ah di Lebanon saja. Amal Islamiyyah inilah yang bertugas menyebarkan paham Syi’ah di Lebanon dan Dunia Islam, dengan menampilkan citra sebagai pejuang perlawanan yang memikul beban pembelaan terhadap Ummat serta perlindungan terhadap tempat-tempat sucinya.

Pembentukan partai baru yang sekarang dikenal sebagai Hisbulloh didasari oleh kekhawatiran akan rekam jejak Harokah Amal Syi’ah yang melekat dengan tindakan-tindakan brutal serta kejahatan keji, sehingga dianggap tidak layak untuk mengemban tugas membela Ummat. Setelah perubahan nama tersebut, dilakukanlah pembersihan citra terhadap tokoh-tokohnya. Media massa menciptakan sosok-sosok pahlawan palsu bagi para pembunuh masa lalu dan pelaku pembantaian di Shobra, Shatila, serta Burj Al-Barajneh. Mereka inilah yang sekarang dicitrakan sebagai para Mujahid penakluk.

Proses ini merupakan upaya untuk mempromosikan kelompok tersebut kepada Ummat dan orang-orang awam yang tidak memahami Agama, tidak mengetahui Aqidah yang shohih, serta tidak membaca sejarah. Mereka hanya menilai orang lain melalui media massa yang menyesatkan, yang tidak membangun kejayaan di atas landasan ilmiah yang benar maupun di atas peristiwa dan fakta yang nyata. Dari sinilah Hisbulloh hadir untuk memainkan peran yang sangat berbahaya bagi Ummat Islam, yang lebih luas dan menyeluruh dibandingkan peran induknya yaitu Amal Syi’ah yang hanya fokus pada kepentingan thoi’fah (kelompok) Syi’ah dari sisi politik dengan kemasan sekuler. Peristiwa-peristiwa terbaru membuktikan betapa kuatnya keterlibatan mereka dalam fanatisme kelompok yang penuh kebencian, yang menunjukkan bahwa Harokah Amal dan Hisbulloh adalah dua sisi dari mata uang yang sama, yaitu kebencian Rofidhoh yang terpendam terhadap Ahlus Sunnah. (Amal dan Kamp-kamp Palestina, hlm. 181)

1.3 Sosok Musa Ash-Sodr (1398 H) dan Pendirian Gerakan Amal

Pendiri Harokah Amal adalah Musa Ash-Sodr, seorang warga negara Iran yang lahir pada tahun 1928. Ia merupakan lulusan Universitas Teheran dan tiba di Lebanon pada tahun 1958. Ia berhasil mendapatkan kewarganegaraan Lebanon setelah diberikan oleh Fuad Syihab melalui dekrit presiden, meskipun ia adalah orang Iran putra dari orang Iran. (Amal dan Kamp-kamp Palestina, hlm. 31)

Musa Ash-Sodr adalah murid Khomaini (1409 H) dan memiliki hubungan yang sangat kuat dengannya. Putra Khomaini yang bernama Ahmad menikah dengan putri saudara perempuan Musa Ash-Sodr, sementara putra saudara perempuan Ash-Sodr yang bernama Murtadho Ath-Thobathoba’i menikah dengan cucu Khomaini. Musa Ash-Sodr mendirikan organisasi Amal yang bersenjata di wilayah Selatan, Beirut, dan Lembah Bekaa, di mana organisasi ini menjalin kerja sama dengan pasukan nasional.

 

Bab 2: Struktur Kepemimpinan dan Ideologi

2.1 Para Tokoh Pendiri dan Perebutan Pengaruh Wilayah

Iran berupaya mendirikan gerakan baru yang dinamakan Hisbulloh melalui tangan Muhammad Husain Fadhlulloh yang dijuluki sebagai Khomaini Lebanon, serta tokoh-tokoh lainnya seperti Subhi Ath-Thufaili, Hasan Nashrulloh, Ibrahim Al-Amin, Abbas Al-Musawi, Na’im Qosim, Zuhair Kanj, Muhammad Yazbak, dan Roghib Harb. (Hisbulloh: Dari Mimpi Ideologi ke Realitas Politik, Ghossan Al-Azzi, hlm. 32)

Tak lama kemudian, situasi di antara mereka memanas akibat upaya masing-masing pihak untuk menancapkan pengaruh di wilayah-wilayah Syi’ah di Lebanon. Terjadilah pertempuran sengit antara Harokah Amal dan Hisbulloh, hingga akhirnya Hisbulloh berhasil menguasai sebagian besar wilayah Selatan. Popularitas Hisbulloh meningkat di kalangan pengikut Syi’ah karena pelayanan sosial besar yang mereka berikan kepada warga Syi’ah di daerah tersebut dengan bantuan dana yang melimpah dari negara Iran. Hisbulloh di masa sekarang dianggap sebagai salah satu Fitnah yang paling berat bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah di dunia. Secara lahiriyah, mereka menampakkan Jihad melawan musuh-musuh Alloh dari kalangan Yahudi dan Nasroni, namun hakikatnya adalah dakwah menuju Syi’ah dan ekspor revolusi Khomaini Iran ke seluruh Dunia Islam.

2.2 Wilayatul Faqih Jembatan Revolusi Iran

Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Hisbulloh adalah partai Iran yang berada di Lebanon. Dalam deklarasi pendiriannya yang berjudul “Siapa Kami dan Apa Identitas Kami?”, Hisbulloh mendefinisikan dirinya dengan menyatakan: “... Kami adalah putra-putra Ummat Hisbulloh yang telah dimenangkan oleh Alloh garda terdepannya di Iran, dan telah mendirikan kembali inti negara Islam pusat di dunia ... Kami berkomitmen pada perintah kepemimpinan tunggal yang bijaksana dan adil yang direpresentasikan oleh Wali Faqih yang memenuhi syarat, dan saat ini diwujudkan dalam diri Imam yang dibimbing, Ayatulloh Al-Uzhma Ruhulloh Al-Musawi Al-Khomaini (1409 H) —semoga bayangannya tetap ada— pencetus revolusi Muslimin dan pembangkit kebangkitan agung mereka ....” (Lihat Piagam Partai dalam buku: Hisbulloh Visi yang Berbeda, hlm. 226 dan seterusnya)

Ibrahim Al-Amin, salah seorang petinggi partai, mengungkapkan orientasi ini pada tahun 1987 dengan menyatakan: “Kami tidak mengatakan bahwa kami adalah bagian dari Iran; kami adalah Iran di Lebanon, dan Lebanon di Iran.” (Surat Kabar An-Nahar, 5/3/1987)

2.3 Profil Hasan Nashrulloh Sebagai Pemimpin

Hasan Abdul Karim Nashrulloh lahir pada 21 Agustus 1960. Ia pergi ke Najaf di Iraq pada tahun 1976 untuk menuntut ilmu Agama Imami (Syiah). Ia pernah ditunjuk sebagai penanggung jawab Harokah Amal di desa Al-Bazuriyah, wilayah Shor, dan menjabat sebagai penanggung jawab politik Harokah Amal untuk wilayah Bekaa serta anggota biro politik pada tahun 1982. Namun, tak lama kemudian ia memisahkan diri dari gerakan tersebut dan bergabung dengan Hisbulloh.

Ia diangkat sebagai penanggung jawab wilayah Beirut pada tahun 1985, kemudian menjadi anggota kepemimpinan pusat dan komite eksekutif partai pada tahun 1987. Ia dipilih sebagai sekretaris jenderal setelah pembunuhan sekretaris jenderal sebelumnya, Abbas Al-Musawi, pada tahun 1992 untuk melanjutkan masa jabatan pendahulunya, dan terpilih kembali sebanyak 2 kali pada tahun 1993 dan 1995. Biografi Nashrulloh ini dimuat dalam mukadimah wawancaranya dengan majalah Asy-Syahid As-Siyasi (No. 147, 3/1/1999).

Terkait hubungan Nashrulloh dengan organisasi Amal, perlu diketahui bahwa Amal didirikan oleh Musa Ash-Sodr (1398 H) yang memiliki hubungan sangat erat dengan Khomaini. Pada 8 Oktober 1983, Mufti Ja’fari Abdul Amir Qoblan atas nama Dewan Tertinggi Syi’ah menyatakan bahwa Harokah Amal adalah tulang punggung thoi’fah Syi’ah. Harokah Amal pun telah membai’at pemimpin Syi’ah, Khomaini (1409 H), dan menyatakannya sebagai Imam bagi mereka dan bagi Muslimin di mana pun berada. (Majalah Al-Mustaqbal, No. 346, 8/10/1983, dikutip dari: Amal dan Kamp-kamp Palestina, hlm. 184)

Dukungan ini muncul setelah perpecahan yang melahirkan Amal Islamiyyah dan setelah kehadiran nyata Hisbulloh di medan konflik. Husain Al-Musawi, wakil ketua Harokah Amal, menyatakan pemisahan dirinya dan mendirikan Amal Islamiyyah yang kemudian berubah menjadi Hisbulloh. (Lihat tentang perpecahan dan sebab-sebabnya dalam buku Hisbulloh Visi yang Berbeda, hlm. 117-122)

Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada penyingkiran besar terhadap Harokah Amal, melainkan hanya pergeseran peran dari ranah militer dan konfrontasi ke ranah politik guna menyesuaikan dengan perubahan politik Iran dan agenda-agendanya di Lebanon. Adapun mengenai sosok Hasan Nashrulloh, ia adalah seorang Syi’ah Ja’fari yang menjadikan mencaci dan melaknat para Shohabat sebagai bagian dari Agama dan sarana mendekatkan diri kepada Alloh.

Yusuf Al-Qordhowi (1444 H) dalam sebuah pertemuan menyatakan bahwa Hasan Nashrulloh adalah seorang Syi’ah yang fanatik ekstrem. (Surat Kabar Al-Wathon, No. 2165, 3/9/2006)

 

Bab 3: Agenda Tersembunyi

3.1 Slogan Perlawanan Versus Misi Penyebaran Syi’ah

Tujuan yang diumumkan oleh Hisbulloh adalah sebagai gerakan perlawanan Islam terhadap penjajahan Israel di Lebanon. Mereka mengangkat slogan pembebasan tempat-tempat suci Islam di Palestina untuk memperdaya kaum Muslimin dan mengalihkan pandangan mereka dari rencana-rencana tersembunyi partai, serta untuk menarik simpati dan dukungan mereka. Popularitas partai ini meningkat di tengah masyarakat karena pelayanan sosial dan kemanusiaan yang diberikan dengan dukungan dari pemerintah Iran.

Namun, tujuan yang tidak diumumkan adalah menyebarkan paham Syi’ah di Lebanon, menjaga keberadaan Syi’ah yang permanen di negara tersebut, menguasai simpul-simpul kekuatan di dalamnya, serta menyiapkan pijakan bagi Iran untuk campur tangan di kawasan tersebut kapan pun mereka mau guna mewujudkan kepentingan nasional dan keagamaan mereka. Setelah berbagai tindakan keji Harokah Amal Syi’ah, yang membuat orang-orang tidak mungkin lagi percaya kepada mereka, lahirlah partai ini.

3.2 Peran Hisbulloh dalam Proyek Hilal Syi’ah dan Ekspor Revolusi

Agenda lainnya adalah menghancurkan infrastruktur Lebanon dan menyeretnya ke dalam peperangan agar partai ini dapat menguasai Lebanon. Ini merupakan bagian dari ekspor revolusi Iran ke Dunia Islam dan demi mendirikan negara Hilal Syi’ah sesuai dengan apa yang mereka rencanakan dan usahakan. Meskipun sempat terjadi peperangan sengit di antara kedua kelompok tersebut beberapa tahun silam, hal itu adalah tabiat para pengikut kebatilan sejak zaman dahulu.

 

Bab 4: Hubungan Hisbulloh dan Israel

4.1 Aturan Main dan Kesepakatan di Balik Penarikan Mundur Tahun 2000

Kesepakatan yang paling berbahaya dan mengungkap hakikat perang Hisbulloh adalah kesepakatan yang mendahului penarikan mundur Israel dari Lebanon Selatan pada tahun 2000. Kesepakatan inilah yang disebut oleh Hasan Nashrulloh dalam pidato-pidatonya sebagai “aturan main.” (Dikutip dari artikel: Hisbulloh Atas Dasar Apa Ia Berperang, Abdul Mun’im Syafiq, dalam Majalah Al-Bayan, Edisi Romadhon 1427 H)

Beberapa poin dalam kesepakatan tersebut meliputi:

Tentara Israel menarik seluruh pasukannya dalam waktu tidak lebih dari 3 bulan di bawah pengawasan PBB dan mengakhiri status perang.

Milisi Hisbulloh segera mengambil alih posisi militer dari tentara Israel guna mencegahnya jatuh ke tangan organisasi Palestina yang memusuhi Israel.

Tentara Israel berjanji tidak akan menargetkan anggota partai ini dan mengizinkan partai menggerakkan senjata beratnya untuk menjaga ketenangan.

Hisbulloh bertugas menjamin keamanan dengan mencegah organisasi lain melepaskan roket ke utara Israel, menghentikan penyusupan, serta menangkap elemen yang mengancam keamanan perbatasan Israel untuk diserahkan kepada otoritas Lebanon.

Iran sebagai pemberi pengaruh kuat bagi Hisbulloh menjamin pelaksanaan kesepakatan ini.

4.2 Analisis Upaya Pembebasan Palestina: Benarkah Ada dalam Peta?

Meskipun dalam piagam Hisbulloh disebutkan bahwa Israel harus dihapuskan, namun Hasan Nashrulloh dalam pidatonya di Bint Jbeil setelah penarikan Israel menyatakan bahwa Hisbulloh tidak akan ikut serta dalam aksi militer apa pun melawan Israel dengan tujuan membebaskan Palestina. (Surat Kabar Al-Anba, No. 8630, 27/5/2000)

Komitmen Hisbulloh ini bahkan dipuji oleh Israel. Surat kabar Haaretz pada 6 Juli 2006 memuji sekretaris jenderal Hisbulloh karena sikapnya yang rasional dalam menjaga ketenangan di Galilea Atas.

Subhi Ath-Thufaili mengeluhkan bagaimana Hisbulloh menghalangi operasi perlawanan terhadap Israel setelah penarikan mundur tersebut, dan menjuluki Hisbulloh sebagai penjaga perbatasan bagi Israel. Bahkan menteri penerangan Lebanon, Michel Samaha, menyatakan bahwa Hisbulloh telah membuat kehidupan stabil di Lebanon Selatan dengan mengendalikan aktivitas kekerasan dari ratusan ribu pengungsi Palestina. Nashrulloh sendiri menyatakan dalam wawancara dengan stasiun televisi New TV bahwa ia tidak akan melakukan peperangan lain dengan Israel, dan menganggap siapa pun yang memikirkan hal itu sebagai orang yang melayani Israel.

4.3 Mengapa Israel Membutuhkan Keberadaan Hisbulloh?

Hisbulloh tetap dianggap sebagai pilihan terbaik bagi kelangsungan Israel. Hilangnya sabuk pengaman yang dibentuk oleh partai ini akan menyebabkan kembalinya kontak geografis secara langsung dengan rakyat Lebanon dan Palestina yang memiliki visi berbeda dalam menghadapi Israel. Keberadaan Hisbulloh menghentikan operasi perlawanan nasional Lebanon dan Palestina yang sebelumnya sangat aktif sebelum kedatangan partai ini. Dari perspektif Israel, lenyapnya Hisbulloh sepenuhnya berarti Lebanon akan berubah menjadi wilayah keamanan yang rapuh dan menjadi tujuan bagi faksi-faksi perlawanan Islam dari seluruh dunia yang mencari titik kontak langsung dengan musuh. Israel tetap membutuhkan sabuk pengaman thoi’fah yang mengisolasinya dari lingkungan mayoritas yang memiliki landasan dan visi yang berbeda.

4.4 Kesaksian Tokoh Tentang Peran Hisbulloh Sebagai Penjaga Perbatasan Israel

Seorang perwira intelijen Israel menyatakan bahwa Israel telah membina elemen Syi’ah dan menciptakan pemahaman dengan mereka untuk melenyapkan keberadaan Palestina. (Surat Kabar Maariv, 8/9/1997)

Subhi Ath-Thufaili mengakui bahwa Hisbulloh adalah penjaga perbatasan bagi Israel. (Surat Kabar Asy-Syarqul Ausath, 25/9/2003, No. 9067)

Ia menyatakan bahwa sejak kesepahaman April 1996, perlawanan telah diakui keamanannya oleh musuh Yahudi di Palestina, dan sejak saat itu perlawanan berubah menjadi penjaga perbatasan. Ia menantang siapa pun untuk mengambil senjata dan pergi ke perbatasan guna melakukan operasi melawan musuh, maka mereka akan ditangkap oleh Hisbulloh dan disiksa di penjara. Banyak orang yang sekarang berada di penjara karena ditangkap oleh Hisbulloh saat mencoba menyerang Israel.

Hisbulloh justru memicu bangkitnya perlawanan Sunni sebagai alternatif, hal yang tidak dapat diterima oleh Israel. Proyek Syi’ah tetap merupakan proyek yang disiplin, tidak menolak kerja sama dan negosiasi, sebagaimana yang dilakukan Iran di Afghanistan dan Iraq. (Dikutip dari artikel Walid Nur di situs Mufakkiratul Islam, 17/8/2006)

 

Bab 5: Kedalaman Hubungan Hisbulloh dengan Iran

5.1 Integrasi Dimensi Politik dan Agama yang Tak Terpisahkan

Meskipun para pemimpin partai menegaskan bahwa kelompok ini adalah asli Lebanon, data menunjukkan bahwa Iran memainkan peran mendasar dalam kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangannya. Pernyataan para pemimpin dan piagam partai selalu menegaskan kepatuhan kepada Revolusi Iran dan pemimpinnya. Hubungan ini ditandai dengan percampuran dimensi politik dan Agama. Kader Hisbulloh memiliki ikatan ruhani yang sangat dalam dengan otoritas keagamaan Iran. Pemimpin Revolusi Iran, Ayatulloh Ali Khamenei, dianggap sebagai otoritas keagamaan tertinggi bagi mereka, dan Hasan Nashrulloh disebut sebagai wakil syar’i bagi Ali Khamenei. Nashrulloh sendiri menyatakan bahwa otoritas keagamaan di Iran merupakan payung keagamaan dan syar’i bagi perjuangan mereka. (Majalah Al-Muqowamah, No. 27, hlm. 15-16)

Petinggi partai lainnya, Hasan Surur, bahkan menyatakan kepada dunia bahwa Iran adalah ibu, Agama, Ka’bah, dan urat nadi mereka. Syaikh Hasan Throd menyatakan bahwa Iran dan Lebanon adalah satu rakyat dan satu negara, dan Iran akan mendukung Lebanon sebagaimana mendukung provinsi-provinsinya sendiri secara politik dan militer. (Surat Kabar An-Nahar, 11/12/1986, hlm. 5)

5.2 Dukungan Materi, Militer, dan Pengaruh Teheran

Dukungan materi, militer, politik, dan media dari Iran kepada Hisbulloh sangatlah jelas. Berbagai instansi Iran bekerja di dalam Hisbulloh, mulai dari Pengawal Revolusi, Kementerian Luar Negeri, Yayasan Syahid, hingga dinas intelijen. Hisbulloh didirikan di bawah pengaruh kepemimpinan Khomaini (1409 H) atas seluruh kaum Syi’ah. Na’im Qosim menyatakan bahwa sekelompok orang pergi ke Iran menemui Khomaini untuk menyampaikan pandangan mereka tentang pembentukan partai di Lebanon, dan Khomaini pun memberkati langkah tersebut. (Perlawanan Lebanon, Amin Mushthofa, hlm. 425)

Terdapat dua anggota berkebangsaan Iran dalam kepemimpinan Hisbulloh. Hasan Nashrulloh juga menjabat sebagai wakil syar’i bagi pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, dan telah tersebar foto-fotonya sedang mencium tangan Khamenei. Karena kepatuhan Hisbulloh kepada Wilayatul Faqih, mereka siap melaksanakan tugas apa pun yang diperintahkan oleh Wali Faqih. (Islamis dalam Masyarakat Majemuk, Dr. Mas’ud Asadulloh, hlm. 321)

Hasyimi Rafsanjani (1438 H) menyatakan bahwa bantuan Iran kepada Hisbulloh adalah kewajiban madzhab dan revolusioner.

5.3 Keuntungan Strategis Iran Melalui Eksistensi Hisbulloh

Meskipun Hisbulloh memakan banyak biaya dari Iran, namun Iran mendapatkan keuntungan besar. Melalui Hisbulloh, Iran mampu memperbaiki citranya di hadapan masyarakat Sunni setelah sebelumnya memburuk akibat perang dengan Iraq serta kejahatan yang dilakukan kelompok Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah di Iraq. Hisbulloh menjadi penyelamat yang menampilkan Iran seolah-olah sebagai negara yang menghadapi Israel dan Amerika Serikat.

Dukungan ini juga melayani proyek Syi’ah yang bermimpi memulihkan kekaisaran Persia. Ibrahim Al-Amin menyatakan bahwa mereka bekerja di Lebanon agar Lebanon menjadi bagian dari proyek Ummat Syi’ah di Timur Tengah. Selain itu, Hisbulloh merupakan kartu truf di tangan Iran yang dapat digunakan kapan pun untuk menekan Amerika dan Israel demi mencapai tujuan-tujuannya. (Perang Lebanon: Janji yang Benar atau Ilusi yang Dusta, Walid Nur, hlm. 51)

 

Bab 6: Fenomena Tertipunya Ahlus Sunnah

6.1 Faktor Penyebab Ahlus Sunnah Terperdaya oleh Slogan

Munculnya rasa tertipu pada sebagian Ahlus Sunnah terhadap Hisbulloh berakar pada beberapa alasan utama. Pertama, ketidaktahuan yang mendalam di kalangan Muslimin mengenai Aqidah Rofidhoh yang sebenarnya.  Kelompok ini bersikap melampaui batas terhadap para Imam mereka, meyakini bahwa Al-Qur’an telah mengalami perubahan, serta berani mengkafirkan para Shohabat senior dan Ummahatul Mu’minin.  Dalam pandangan mereka, hanya golongan Syi’ah Imamiyyah Itsna Asyariyyah yang merupakan kelompok yang selamat, sedangkan seluruh kelompok Islam lainnya dianggap berada di dalam Naar.  (Untuk lebih jelasnya, silakan merujuk pada kitab Hatta La Nankhodi’ karya Abdullah Al-Mushilli rohimahullah).

Kedua adalah penggunaan Taqiyyah yang dilakukan secara sangat sistematis oleh Hisbulloh.  Tokoh mereka, Al-Mufid (413 H), menjelaskan bahwa Taqiyyah adalah tindakan menyembunyikan kebenaran serta menutupi keyakinan di hadapan pihak yang menyelisihi demi menghindari bahaya dalam urusan dunia maupun agama.  Sementara itu, Muhammad Al-Amili (786 H), yang dikenal sebagai Syahid Awwal, menyebutkan bahwa Taqiyyah berarti bersikap manis di hadapan manusia dengan hal-hal yang mereka kenali dan menjauhi apa yang mereka ingkari demi menjaga diri.  (At-Taqiyyah Manhaj Islamiyun Wa’in, Mahdi Al-Aththor, hlm. 16)

Inilah yang membuat banyak orang dari Ahlus Sunnah mempercayai retorika Hasan Nashrulloh dalam pidatonya mengenai pembebasan Al-Aqsho dan perlawanan terhadap Yahudi.

Ketiga adalah kekuatan media massa.  Saluran televisi Al-Manar berperan besar dalam memoles citra kelompok ini dan pemimpinnya sepanjang waktu.  Akibatnya, masyarakat awam memandang Hisbulloh sebagai Mujahid yang murni berjuang demi mengusir penjajah, padahal kenyataannya adalah upaya mengekspor revolusi Khomaini (1409 H) ke Lebanon dan seluruh Dunia Islam.

6.2 Peran Hisbulloh dalam Guwzo (Invasi) Sholibi ke Iraq

Para pemimpin Hisbulloh memang menampakkan penentangan terhadap serangan Amerika dan rezim Saddam Husain, namun mereka lebih banyak memilih untuk diam.  Ketika muncul kabar dari Baghdad bahwa 6 orang pejuang Hisbulloh ditangkap di perbatasan Suriah-Iraq, organisasi ini langsung mengeluarkan bantahan resmi.  (Qowa’id Jadidah Lil Lu’bah: Israel wa Hisbulloh Ba’dal Insihab min Lubnan, Daniel Sobelman, hlm. terakhir)

Di saat yang sama, para rujukan Syi’ah di Najaf yang berkumpul di rumah Ali Sistani menyatakan penolakan untuk berperang melawan keberadaan Amerika di Iraq.  (Surat Kabar Al-Wathon Kuwait, 29/8/2004)

Kenyataannya, Hisbulloh justru membangun pangkalan di Iraq dan mengirimkan 90 pejuang melalui Suriah untuk memberikan bantuan logistik serta pelatihan militer bagi milisi Syi’ah seperti Korps Badr dan Jaish Al-Mahdi.  Hal ini bertujuan untuk memperkuat pengaruh Syi’ah dan menghancurkan keberadaan Sunni di sana.  Bahkan pada Oktober 2006, 35 pemimpin Jaish Al-Mahdi diundang secara resmi ke Lebanon oleh Hisbulloh untuk mengembangkan kemampuan tempur guna menghadapi kelompok-kelompok Sunni yang dianggap menghambat proyek Hilal Syi’ah.  (Mufakkiratul Islam, 25/10/2006)

Meskipun mereka sering melaknat Amerika dan Israel dalam lisan, kenyataannya terdapat hubungan yang sangat erat antara kekuatan pendudukan Amerika di Iraq dengan para ulama Syi’ah.

6.3 Dampak Operasi Penculikan Serdadu Israel Terhadap Kepentingan Sunni

Peristiwa penculikan 2 serdadu Israel membawa beberapa hasil yang sangat menguntungkan bagi kepentingan Syi’ah dan Iran.

Pertama, tekanan internasional terhadap program nuklir Iran menjadi berkurang karena fokus dunia beralih sepenuhnya pada krisis di Lebanon. 

Kedua, milisi Jaish Al-Mahdi dan Organisasi Badr di Iraq mendapatkan keleluasaan untuk membantai Ahlus Sunnah, melakukan pengusiran, merampas harta, serta mengambil alih Masjid-Masjid Sunni dengan perlindungan dari Amerika dan dukungan Ali Sistani.

Ketiga, peristiwa ini merupakan pesan kepada Amerika bahwa Iran mampu memindahkan medan peperangan dari wilayahnya ke wilayah Israel dan Lebanon. 

Keempat, setelah Suriah keluar dari Lebanon, Iran dan Suriah menggunakan kartu perlawanan Hisbulloh untuk menjaga pengaruh mereka dan memberikan alasan agar Hisbulloh tidak melucuti senjatanya meskipun ada tuntutan dari pemerintah Lebanon dan dunia. 

Kelima, tindakan ini bertujuan mencuri perhatian dari perjuangan Palestina dan menutupi pengkhianatan Syi’ah yang bekerja sama dengan Amerika dalam menjatuhkan pemerintah Thaliban di Afghanistan serta membantu pendudukan di Iraq.  

Penulis Palestina, Ghazi Taubah, menyatakan bahwa peperangan Hisbulloh melawan Israel hanyalah sarana propaganda bagi Iran dan Syi’ah sekaligus untuk menutupi kejahatan mereka di Iraq. (Surat Kabar Al-Hayat, No. 15848, 25/8/2006, hlm. 19)

 

Bab 7: Bedah Pidato Hasan Nashrulloh

7.1 Meninjau Klaim Kemenangan Ilahi dan Perlawanan Legendaris

Hasan Nashrulloh dalam perayaan kemenangan ilahi di pinggiran selatan Beirut mengklaim bahwa Lebanon telah menjadi kekuatan besar di Timur Tengah berkat kepemilikan lebih dari 20.000 roket.  Ia menyebut bahwa perlawanan tersebut telah memberikan contoh ketangguhan yang luar biasa.  Namun, klaim kemenangan ilahi ini terasa ganjil. Seolah-olah beliau berbicara mewakili penghuni langit, padahal saat peperangan berkecamuk, beliau bersembunyi di istana Emile Lahoud atau di kedutaan Iran.

Setelah debu peperangan mereda, terlihat jelas bahwa apa yang disebut sebagai kemenangan legendaris itu hanyalah retorika belaka.  Ia berbicara tentang pembebasan, namun pada kenyataannya Lebanon Selatan justru diisi oleh kehadiran pasukan asing seperti tentara Prancis, Jerman, dan UNIFIL.  Adalah sebuah hal yang tidak masuk akal bagi seorang pahlawan untuk mengangkat tanda kemenangan di saat ia berjalan di atas puing-puing negaranya dan potongan tubuh rakyatnya sendiri.

7.2 Perbedaan Hakiki Antara Perlawanan Sunni dan Perlawanan Syi’ah

Terdapat jurang pemisah yang lebar antara model perlawanan Sunni dan Syi’ah.  Perlawanan Palestina yang berakidah Sunni, meskipun dalam keadaan lemah, tetap konsisten menyerang Israel dengan roket-roket mereka demi pembebasan tanah air.  Sementara itu, Hisbulloh mengumpulkan puluhan ribu roket hanya untuk dijadikan komoditas politik dan tidak digunakan kecuali untuk kepentingan diplomasi.  Hasan Nashrulloh sendiri pernah menegaskan bahwa ia tidak akan memulai peperangan lain dengan Israel dan menganggap orang yang berpikiran demikian sebagai pihak yang menguntungkan Israel.  Ini membuktikan bahwa mereka bertempur bukan untuk pembebasan hakiki, melainkan demi transaksi politik.

 

Bab 8: Perbandingan Sikap Terhadap Palestina

8.1 Sejarah Permusuhan Syi’ah Terhadap Sholahuddin Al-Ayyubi (589 H)

Sholahuddin Al-Ayyubi (589 H) muncul di saat kekuatan Syi’ah, khususnya Daulah Fathimiyyah Ubaidiyyah di Mesir, sedang mendominasi.  Ketika menteri mereka yang bernama Syawir merasa terdesak, ia tidak segan meminta bantuan kepada pasukan Sholibi (tentara Salib) untuk mempertahankan kekuasaannya dan mencegah Nuruddin Mahmud menguasai Mesir.  Bahkan setelah Sholahuddin berhasil mengakhiri kekuasaan Syi’ah di Mesir, para pendukung fanatik Syi’ah berulang kali mencoba membunuhnya.

Beberapa upaya pembunuhan tersebut meliputi konspirasi pada tahun 564 H yang dipimpin oleh Mu’taman Al-Khilafah, serta rencana pada tahun 569 H yang melibatkan korespondensi dengan tentara Sholibi untuk menggulingkan Sholahuddin.   (As-Suluk Li Ma’rifati Duwalil Muluk, Al-Maqrizi (845 H), 1/50-51)

Selain itu, kelompok Syi’ah Isma’iliyyah juga melakukan serangan fisik terhadap Sholahuddin saat beliau sedang mengepung benteng Azaz pada tahun 571 H.  Bahkan setelah Baitul Maqdis berhasil dibebaskan, sisa-sisa Syi’ah masih mencoba memicu pemberontakan untuk mengembalikan Daulah Fathimiyyah pada tahun 584 H.

8.2 Upaya Syi’ah Kontemporer dalam Mendistorsi Sejarah Pahlawan Islam

Jika dahulu mereka gagal membunuh Sholahuddin (589 H) secara fisik, kini penganut Syi’ah berusaha membunuhnya secara maknawi dengan menodai sejarahnya.  Hasan Al-Amin (1423 H), salah satu intelektual Syi’ah dan pendukung Hisbulloh, menulis buku yang menuduh Sholahuddin sebagai pengkhianat, haus darah, pemabuk, dan lebih condong kepada Nasroni serta Yahudi.   Pandangan ini diamini oleh marja’ Syi’ah Iraq, Nashir Al-Asadi, yang menunjukkan bahwa kebencian ini adalah sikap kolektif kaum Syi’ah.   Penulis Syi’ah lainnya, Sholih Al-Wardani, juga menggambarkan Sholahuddin sebagai penjahat yang menumpas Muslimin namun lunak terhadap musuh.

 

Bab 9: Palestina di Antara Pengkhianatan Masa Lalu dan Harapan Masa Depan

9.1 Catatan Sejarah Pengkhianatan Syi’ah Fathimiyyah dalam Menghadapi Sholibi

Sejarah mencatat bahwa saat tentara Sholibi mulai bergerak menuju Baitul Maqdis pada tahun 491 H, para penguasa Fathimiyyah justru mengirim utusan kepada tentara Sholibi agar mereka masuk ke Syam dan menjadi penghalang antara mereka dengan Muslimin Sunni dari Daulah Saljuqiyyah.   (Al-Kamil Fit Tarikh, Ibnu Al-Atsir (630 H), 8/186)

Akibatnya, wilayah pesisir Syam hingga Baitul Maqdis jatuh ke tangan penjajah.  Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa masa kekuasaan Fathimiyyah adalah masa yang paling buruk, di mana bid’ah tersebar luas, para ulama sholih tersisihkan, dan wilayah-wilayah Islam yang dahulunya dibuka oleh para Shohabat justru hilang diambil alih oleh tentara Sholibi.  (Al-Bidayah wan Nihayah, 12/267)

9.2 Realita Kontribusi Syi’ah Untuk Palestina di Era Modern

Pada masa kini, apa yang diklaim sebagai pembelaan Syi’ah terhadap Palestina tidak lebih dari sekadar pidato dan pencitraan.  Fakta menunjukkan bahwa pada tahun 1982, Harokah Amal Syi’ah justru bekerja sama dengan Yahudi untuk menyingkirkan organisasi Fatah Palestina dari Lebanon Selatan.  Ariel Sharon (1435 H) pun dalam memoarnya menyatakan bahwa ia tidak melihat kaum Syi’ah sebagai musuh jangka panjang bagi Israel.  (Mudzakkirot Ariel Sharon, hlm. 583)

Setelah Hisbulloh berdiri, mereka justru sering menghalangi operasi pejuang Palestina di perbatasan Lebanon.  Sultan Abu Al-Ainain, sekretaris gerakan Fatah di Lebanon, mengungkapkan bahwa Hisbulloh pernah menggagalkan 4 operasi pejuang Palestina dalam waktu satu minggu dan menyerahkan mereka ke pengadilan.  Bahkan peperangan yang mereka lakukan seringkali hanya bertujuan sebagai pengalih perhatian dari krisis internal yang dihadapi oleh sekutu mereka, yaitu Iran dan Suriah.

 

Bab 10: Palestina Dibuka Oleh Umar dan Tidak Akan Dibebaskan Oleh Pencelanya

10.1 Kondisi Ummat di Tengah Penindasan Sholibi dan Rofidhoh

Saat ini Ummat Islam sedang menghadapi cobaan berat, di mana Palestina terus menderita di bawah penjajahan, sementara wilayah Iraq terkepit di antara dua kekuatan jahat: penjajah Sholibi dan golongan Rofidhoh yang penuh dendam.   Masjid-Masjid dihancurkan dan kehormatan Muslimin dinodai.  Dalam situasi yang penuh Fitnah ini, banyak orang yang tidak mampu lagi membedakan antara kawan dan lawan.  Padahal, memberikan peringatan terhadap bahaya Syi’ah adalah kewajiban bagi siapa saja yang memahami Aqidah Tauhid agar kaum Muslimin tidak tertipu oleh slogan-slogan palsu mereka.

10.2 Keteguhan Abu Bakar An-Nabulsi (363 H) Melawan Kesesatan Ubaidiyyah

Kita patut mengambil pelajaran dari ketegasan Abu Bakar An-Nabulsi (363 H) saat berhadapan dengan penguasa Ubaidiyyah, Al-Mu’izz.  Ketika ditanya mengenai pendapatnya, beliau dengan berani menyatakan:

«لَوْ أَنَّ مَعِي عَشَرَةَ أَسْهُمٍ لَرَمَيْتُكُمْ بِتِسْعَةٍ ثُمَّ رَمَيْتُهُمْ بِالْعَاشِرِ»

“Jika aku memiliki 10 anak panah, niscaya aku akan memanah kalian dengan 9 anak panah, kemudian aku memanah mereka (tentara Salib) dengan anak panah yang ke-10.”

Sebabnya adalah karena kaum Ubaidiyyah/Rofidhoh telah mengubah Agama Ummat dan membunuh orang-orang sholih.  Akibat keteguhan tersebut, beliau disiksa dengan sangat kejam dan akhirnya dikuliti hidup-hidup oleh seorang Yahudi atas perintah Al-Mu’izz.  Beliau wafat dalam keadaan tetap lisan beliau membaca Al-Qur’an hingga akhir hayatnya. (Al-Bidayah wan Nihayah, 11/322)

10.3 Hanya Pengikut Umar yang Akan Mengembalikan Palestina

Tanah Palestina dahulu dibuka oleh Umar bin Al-Khoththob rodhiyallahu ‘anhu (23 H).  Maka mustahil tanah tersebut akan dibebaskan kembali oleh tangan-tangan orang yang menjadikan aktivitas melaknat Umar sebagai bagian dari Aqidah dan Agama mereka.  Tanah suci tersebut hanya akan kembali ke pangkuan Islam melalui perjuangan para pengikut Umar yang mencintainya dan meniti jalan hidupnya.  Musuh-musuh para Shohabat tidak akan memberikan apa pun bagi Ummat kecuali kerugian dan pengkhianatan.  Oleh karena itu, setiap Muslim yang beriman kepada Alloh wajib berlepas diri dari Hisbulloh dan tidak terpedaya oleh segala bentuk pencitraan mereka. (Maadza Ta’rifu ‘an Hisbulloh li Ali Ash-Shodiq, hlm. 177)

Allohu a’lam.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url