Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Malapetaka Tamak Validasi Orang Lain - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan cahaya hidayah bagi hati para hamba yang Dia kehendaki.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi , keluarganya, para Shohabat, dan para Tabi’in yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

Amma ba’du:

Sesungguhnya di antara fitnah yang paling besar yang menimpa umat ini adalah fitnah lisan dan hati, terutama berkaitan dengan keinginan untuk mendapatkan kedudukan di mata manusia. Penyakit haus akan pengakuan dan sanjungan telah merusak banyak amal sholih yang seharusnya ditujukan hanya untuk Robb semesta alam.

Banyak orang yang terjebak dalam kegelisahan yang tidak berujung hanya karena mereka menggantungkan kebahagiaan mereka pada lisan-lisan manusia yang lemah. Mereka merasa senang jika dipuji dan merasa hancur jika dicela, seolah-olah manusia adalah penentu keberuntungan dan kesengsaraan mereka.

Buku ini disusun untuk mengupas akar permasalahan tersebut, menunjukkan bahayanya, serta memberikan obat yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita akan melihat bagaimana haus validasi ini dapat merusak kehidupan rumah tangga, karier, dan yang paling parah adalah merusak urusan agama seseorang.

Kehidupan yang dibangun di atas kepalsuan demi meraih keridhoan manusia adalah kehidupan yang semu dan melelahkan. Seorang Muslim dituntut untuk memurnikan tujuannya hanya kepada Alloh semata, karena hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak dalam memberikan kemuliaan dan kehinaan. Tanpa adanya keikhlasan, seluruh jerih payah manusia dalam beramal akan menjadi sia-sia dan tidak bernilai sedikit pun di timbangan Akhiroh.

Melalui lembaran-lembaran buku ini, pembaca diajak untuk merenungi kembali niat-niat tersembunyi dalam setiap aktivitas harian, sehingga kita bisa terbebas dari belenggu ekspektasi makhluk dan meraih kemerdekaan sejati sebagai hamba Alloh yang sesungguhnya.

 

Bab 1: Makna Tamak Validasi

1.1 Definisi Gila Pujian dan Tanda-tandanya

Tamak validasi dalam istilah syar’i sering kali merujuk pada penyakit hubbus tsana’ atau cinta pada pujian. Ini adalah keadaan di mana seseorang melakukan suatu perbuatan dengan tujuan agar orang lain melihat, mengakui, dan menyanjungnya. Hal ini sangat berkaitan erat dengan niat dalam hati yang merupakan poros utama diterimanya suatu amal.

Alloh berfirman:

﴿وَمَآ أُمِرُوٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ﴾

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dalam ayat ini, Alloh menegaskan bahwa pondasi ibadah adalah keikhlasan, yaitu membersihkan niat dari segala kotoran termasuk keinginan untuk dilihat manusia. Adapun tanda-tanda haus pujian pada diri seorang Muslim adalah berubah-ubahnya semangat beramal tergantung ada atau tidaknya orang yang melihat. Jika berada di tengah keramaian, dia akan memperbagus ibadahnya, namun jika dalam kesendirian, dia akan bermalas-malasan atau bahkan meninggalkan ketaatan.

Fudhoil bin Iyadh (187 H) berkata:

تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ ، وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ ، وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ عَنْهُمَا

“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah jika Alloh menyelamatkanmu dari keduanya.” (Siyar Alamin Nubala, 8/427)

Tanda lainnya adalah kegelisahan saat kebaikan yang dilakukan tidak diketahui orang lain. Hati yang sakit akan merasa sesak jika sebuah prestasi atau amal sholih tidak mendapatkan apresiasi dalam bentuk komentar, suka, atau pujian dari sesama makhluk. Seseorang yang tamak validasi akan terus mencari cara agar kelebihannya nampak di mata manusia, meski dia harus memaksakan diri atau bahkan berbohong.

Nabi memberikan peringatan keras terhadap orang yang menampakkan sesuatu yang tidak dimilikinya:

«الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلابِسِ ثَوْبَىْ زُورٍ»

“Orang yang merasa kenyang dengan apa yang tidak diberikan kepadanya adalah seperti orang yang memakai dua pakaian palsu.” (HR. Al-Bukhori no. 5219 dan Muslim no. 2129)

Sifat ini menunjukkan adanya ketidakjujuran antara lahiriah dan batiniah, di mana seseorang ingin membangun citra diri yang mulia di hadapan manusia padahal hakikat dirinya sangat jauh dari citra tersebut.

1.2 Bahaya Riya’ dan Sum’ah bagi Iman

Riya’ adalah melakukan ibadah agar dilihat orang, sedangkan sum’ah adalah memperdengarkan atau menceritakan amal agar didengar orang. Keduanya adalah bentuk kesyirikan yang sangat halus dan berbahaya bagi keberlangsungan iman seorang hamba. Penyakit ini tidak hanya merusak pahala, tetapi juga dapat menyeret pelakunya ke dalam jurang Naar jika tidak segera bertaubat.

Nabi bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟» قَالَ: قُلْنَا: بَلَى، فَقَالَ: «الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ»

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal?” Kami menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang berdiri melakukan Sholat lalu dia memperbagus Sholatnya karena dia melihat ada orang lain yang memperhatikannya.” (HHR. Ibnu Majah no. 4204)

Bahaya utama dari penyakit ini adalah terhapusnya pahala amal secara keseluruhan. Seseorang yang lelah beramal di dunia bisa jadi tidak mendapatkan apa pun di Akhiroh kecuali kehampaan dan kerugian yang nyata. Hal ini dikarenakan Alloh adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu dalam ibadah.

Dalam sebuah Hadits Qudsi, Nabi bersabda:

«قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»

“Alloh Tabaroka wa Ta’ala berfirman: ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu dalam kesyirikan. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang dia menyekutukan selain-Ku di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim no. 2985)

Alloh juga menggambarkan nasib amal orang-orang yang tidak ikhlas dalam firman-Nya:

﴿وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا﴾

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqon: 23)

Ketahuilah bahwa riya’ murni hampir tidak mungkin muncul dari seorang Mu’min dalam fardhu Sholat dan Puasa, akan tetapi hal itu terkadang muncul dalam Zakat yang wajib, Haji, dan amalan-amalan zhohir lainnya, atau amalan yang manfaatnya dirasakan orang lain.

1.3 Mengapa Manusia Menjadi Budak Penilaian Makhluk?

Penyebab utama manusia terjatuh dalam perbudakan penilaian makhluk adalah karena lemahnya pengenalan atau Ma’rifat mereka kepada Alloh . Ketika seseorang tidak menyadari bahwa segala manfaat dan mudhorot berada di tangan Alloh , dia akan mulai mencari perlindungan dan kemuliaan dari sisi manusia. Dia mengira bahwa dengan mendapatkan validasi dari sesama makhluk, hidupnya akan menjadi lebih aman dan terhormat. Padahal, manusia adalah makhluk yang sangat terbatas dan tidak mampu memberikan jaminan apa pun terhadap nasib seseorang.

Nabi memberikan nasihat yang sangat mendalam kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma:

«وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ»

“Ketahuilah bahwa jika umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan atasmu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Ketidakmampuan manusia dalam memberikan manfaat dan menolak mudhorot seharusnya menjadikan kita tidak terlalu peduli dengan penilaian mereka. Namun, hawa nafsu sering kali menghias-hiasi pujian manusia seolah-olah itu adalah sumber kebahagiaan yang nyata. Hal ini menyebabkan seseorang rela mengorbankan prinsip agamanya demi menyenangkan hati manusia.

Ibnu Qoyyim (751 H) menjelaskan tentang rusaknya hati akibat bergantung pada selain Alloh :

لَا يَجْتَمِعُ الْإِخْلَاصُ فِي الْقَلْبِ وَمَحَبَّةُ الْمَدْحِ وَالثَّنَاءِ وَالطَّمَعُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ إِلَّا كَمَا يَجْتَمِعُ الْمَاءُ وَالنَّارُ

“Tidak akan bersatu keikhlasan di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian, sanjungan, dan ketamakan terhadap apa yang ada di tangan manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api.” (Al-Fawaid, Ibnu Qoyyim, 1/149)

Seseorang yang menjadi budak validasi akan selalu merasa haus. Sebab, pujian manusia adalah air garam yang semakin diminum justru akan semakin membuat haus. Hati yang telah terjangkit penyakit ini tidak akan pernah merasa cukup dan akan terus mencari pengakuan baru demi menutupi kekosongan batin yang dirasakannya.

1.4 Perbedaan antara Syukur atas Ni’mat dan Ketamakan pada Sanjungan

Penting untuk dibedakan antara menerima pujian yang datang tanpa dicari dengan sengaja mencari-cari pujian. Jika seseorang beramal ikhlas karena Alloh lalu secara tidak sengaja orang-orang melihatnya dan memberikan pujian, maka hal itu bukanlah riya’ selama hati tetap terjaga dalam keikhlasan. Bahkan, hal tersebut bisa menjadi bentuk kabar gembira bagi seorang Mu’min di dunia.

Nabi ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan lalu manusia memujinya, beliau menjawab:

«تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ»

“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang Mu’min.” (HR. Muslim no. 2642)

Adapun ketamakan pada sanjungan adalah kondisi di mana hati merasa butuh dan terus mengejar agar dipandang hebat. Syukur atas ni’mat berarti menggunakan pujian orang lain sebagai sarana untuk semakin rendah hati di hadapan Alloh , bukan justru merasa tinggi hati. Orang yang bersyukur sadar bahwa segala kebaikan yang dia miliki adalah murni karena pertolongan Alloh , bukan karena kecerdasannya atau kemampuannya semata.

Abu Bakar Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu ketika dipuji, beliau tidak merasa sombong, melainkan berdoa dengan doa yang sangat masyhur:

«اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ بِي مِنْ نَفْسِي، وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِي مِنْهُمْ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لا يَعْلَمُونَ، وَلا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ»

“Ya Alloh, Engkau lebih mengetahui tentang diriku daripada aku sendiri, dan aku lebih mengetahui tentang diriku daripada mereka. Ya Alloh, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka duga, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau menghukumku karena apa yang mereka ucapkan.” (Asadul Ghobah, Ibnu Atsir, 3/324)

Seseorang yang memiliki mentalitas bersyukur akan menyandarkan setiap pujian kepada Sang Pemberi Ni’mat, sedangkan orang yang tamak validasi akan merasa bahwa pujian itu adalah hak pribadinya yang harus terus dipenuhi. Jika seseorang sudah merasa butuh akan validasi manusia, dia telah membuka pintu bagi syaithon untuk mengendalikan suasana hatinya melalui lisan orang lain. Ketenangan hatinya menjadi sangat rapuh, karena sangat bergantung pada hal yang di luar kendalinya, yaitu lisan dan pikiran orang lain.

Ketamakan pada sanjungan juga sering kali membuat seseorang sulit menerima kebenaran jika hal itu datang dari orang yang tidak memberinya validasi. Dia akan lebih cenderung mengikuti opini mayoritas demi keamanan posisi sosialnya daripada mengikuti dalil yang jelas namun tidak populer. Inilah yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam sifat munafiq secara tidak sadar, di mana dia menampilkan wajah yang berbeda-beda sesuai dengan siapa yang sedang dihadapinya.

Oleh karena itu, setiap Muslim harus waspada terhadap bisikan halus dalam jiwanya yang selalu menuntut pengakuan. Sejatinya, tidak ada pujian yang bermanfaat kecuali pujian dari Alloh , dan tidak ada celaan yang memudhorotkan kecuali celaan dari Alloh .

Siapa pun yang mencari kemuliaan melalui pengakuan makhluk, Alloh akan menghinakannya. Namun siapa pun yang mencari kemuliaan melalui ketaatan kepada Alloh , maka Alloh akan mengangkat kedudukannya meski seluruh dunia mencelanya.

Penyakit ini harus diobati dengan pemahaman yang benar tentang hakekat kehidupan dunia yang sementara. Segala sanjungan manusia akan terkubur bersama jasad di dalam tanah, dan hanya amal yang murni karena Alloh yang akan menemani hamba di alam kubur dan hari Kiamat. Dengan memahami kedudukan yang rendah bagi penilaian makhluk, seorang hamba akan lebih fokus memperbaiki apa yang ada di antara dirinya dengan Alloh , daripada sibuk memoles apa yang nampak di mata manusia.

Bab 2: Validasi dalam Relasi Suami Istri dan Keluarga

2.1 Fenomena Pasutri yang Mengumbar Kebahagiaan Semu demi Decak Kagum Manusia

Kehidupan rumah tangga seharusnya menjadi tempat yang paling privat bagi seorang Muslim, di mana ketenangan dan rahasia antara suami dan istri terjaga dengan rapat. Namun, di zaman sekarang, rumah tangga sering kali berubah menjadi panggung sandiwara demi mendapatkan pengakuan dari orang luar. Banyak pasangan suami istri yang merasa perlu menunjukkan kemesraan, pemberian hadiah, atau momen kebersamaan mereka di hadapan khalayak ramai dengan niat tersembunyi agar dianggap sebagai pasangan ideal. Fenomena ini merupakan bentuk nyata dari penyakit riya’ dan sum’ah yang menyusup ke dalam ruang paling pribadi manusia.

Alloh berfirman:

﴿هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ﴾

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 187)

Fungsi pakaian adalah untuk menutupi dan melindungi. Namun, ketika suami atau istri justru membuka tabir kehidupan mereka demi validasi makhluk, maka fungsi pakaian tersebut telah hilang. Mereka tidak lagi saling melindungi, melainkan saling memanfaatkan demi mendapatkan sanjungan.

Saat fokus beralih pada penilaian manusia, maka keberkahan dalam hubungan tersebut akan dicabut. Ketenangan hati yang seharusnya didapatkan dari pasangan justru dicari dari komentar-komentar pujian orang yang bahkan tidak mengenal mereka secara mendalam.

Nabi bersabda:

«إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا»

“Sesungguhnya termasuk manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh pada hari Kiamat adalah seorang lelaki yang bercampur dengan istrinya dan istrinya bercampur dengannya, kemudian dia menyebarkan rahasia istrinya tersebut.” (HR. Muslim no. 1437)

Meski hadits ini secara khusus menyebutkan tentang hubungan intim, sebagian ulama menjelaskan bahwa menyebarkan hal-hal yang seharusnya bersifat pribadi demi mencari popularitas atau pujian juga masuk dalam kategori perbuatan yang tercela. Ketamakan pada validasi membuat seseorang kehilangan rasa malu (muru’ah). Mereka rela mengorbankan kehormatan keluarga hanya agar dunia tahu bahwa mereka bahagia. Padahal, sering kali apa yang nampak di permukaan berbanding terbalik dengan kenyataan di dalam rumah. Kegelisahan akan menyelimuti mereka jika suatu saat mereka tidak bisa menampilkan sesuatu yang mengundang decak kagum, sehingga hidup mereka dipenuhi dengan kepalsuan.

Kecintaan terhadap popularitas, sanjungan, dan kedudukan di sisi manusia, maka itulah yang menghalangi keikhlasan dan merusak amal.

2.2 Tekanan Sosial dalam Hubungan Menantu dan Mertua yang Tidak Sehat

Dalam struktur keluarga besar, keinginan untuk mendapatkan validasi sering kali muncul dalam interaksi antara menantu dan mertua. Ada kecenderungan seorang menantu melakukan pengabdian bukan karena mencari Ridho Alloh , melainkan agar dipandang sebagai menantu yang sholih atau hebat di mata mertua dan kerabat lainnya. Demikian pula sebaliknya, mertua terkadang menuntut standar tertentu dari menantunya hanya agar bisa dibanggakan di depan teman-temannya. Persaingan status sosial ini menciptakan tekanan yang berat bagi semua pihak yang terlibat.

Pola hubungan yang didasari oleh pencarian muka ini sangat rentan terhadap konflik. Jika pujian yang diharapkan tidak kunjung datang, akan muncul rasa benci, kecewa, dan sakit hati. Keikhlasan dalam berbakti hilang digantikan oleh pamrih. Hal ini bertentangan dengan prinsip bahwa setiap kebaikan harus dilakukan dengan tulus.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا﴾

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridhoan Alloh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)

Jika dalam memberi makanan saja kita dilarang mengharap ucapan terima kasih, maka dalam hubungan keluarga pun demikian. Mencari validasi dari mertua atau menantu hanya akan menjauhkan seseorang dari pahala yang besar. Banyak orang yang rela berhutang atau melakukan perbuatan yang melampaui batas kemampuannya demi mengadakan pesta atau memberikan hadiah mewah kepada mertua, hanya karena takut dicela atau ingin dianggap mampu. Ini adalah bentuk perbudakan kepada opini manusia yang sangat menyengsarakan.

Umar bin Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah memberikan nasihat tentang pentingnya menjaga kemurnian niat:

مَنْ خَلَصَتْ نِيَّتُهُ فِي الْحَقِّ وَلَوْ عَلَى نَفْسِهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ تَزَيَّنَ بِمَا لَيْسَ فِيهِ شَانَهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang tulus niatnya dalam kebenaran walaupun terhadap dirinya sendiri, niscaya Alloh akan mencukupkan urusan antara dia dengan manusia. Dan barangsiapa yang berhias dengan apa yang tidak ada pada dirinya, niscaya Alloh akan menghinakannya.” (I’lamul Muwaqqi’in, Ibnu Qoyyim, 2/511)

2.3 Saat Keberhasilan Anak Hanya Menjadi Bahan Kebanggaan Orang Tua

Salah satu bentuk malapetaka tamak validasi yang paling menyedihkan adalah ketika anak-anak dijadikan alat oleh orang tua untuk meraih status sosial. Orang tua yang haus akan pujian sering kali menekan anak-anak mereka untuk mencapai prestasi tertentu, bukan untuk maslahat anak tersebut di dunia dan Akhiroh, melainkan agar orang tua bisa merasa bangga dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Hal ini merusak kejiwaan anak dan menciptakan bibit-bibit riya’ sejak dini.

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang haus validasi akan tumbuh menjadi pribadi yang juga gila pujian. Mereka belajar bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh nilai akademik, hafalannya, atau prestasi fisiknya, bukan oleh ketaqwaannya kepada Alloh . Orang tua yang seperti ini telah gagal menjalankan amanah tarbiyah yang benar.

Nabi bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)

Pertanggungjawaban ini mencakup bagaimana orang tua menanamkan keikhlasan dalam hati anak. Jika orang tua selalu membangga-banggakan prestasi anaknya di hadapan orang lain dengan maksud untuk mengangkat derajat dirinya sendiri, maka dia telah menjerumuskan anaknya ke dalam fitnah. Hal ini juga bisa mengundang penyakit Ain (pandangan mata yang merusak) karena adanya rasa hasad dari orang lain yang melihat pamer tersebut.

Alloh memperingatkan tentang sifat membangga-banggakan harta dan anak dalam firman-Nya:

﴿ٱعْلَمُوٓا أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa bermegah-megah dalam ayat ini mencakup keinginan untuk merasa lebih unggul dari orang lain dalam hal anak dan keturunan.

Orang tua seharusnya fokus agar anak-anak mereka menjadi hamba Alloh yang sholih, meskipun anak tersebut tidak memiliki prestasi yang nampak hebat di mata manusia. Mencari validasi melalui anak adalah bentuk keegoisan orang tua yang akan berujung pada kekecewaan besar jika anak tersebut tidak sesuai dengan harapan sosial mereka.

2.4 Hilangnya Kedamaian Rumah Tangga Akibat Membandingkan Diri dengan Standar Orang Lain

Akar dari ketamakan pada validasi adalah rasa tidak puas (kurangnya qona’ah) dan kebiasaan buruk membandingkan diri dengan orang lain. Dalam kehidupan keluarga, hal ini sering terjadi ketika suami atau istri melihat kehidupan rumah tangga orang lain yang nampak lebih sempurna di mata mereka. Mereka kemudian menuntut pasangannya untuk mengikuti standar tersebut agar mereka tidak merasa malu di hadapan orang lain.

Kekecewaan muncul ketika standar duniawi yang ditetapkan oleh lingkungan tidak terpenuhi. Suami merasa rendah diri karena tidak bisa memberikan kemewahan yang bisa dipamerkan istrinya, atau istri merasa tidak berharga karena tidak memiliki barang-barang yang dimiliki oleh teman-temannya. Kedamaian rumah tangga hilang karena fokus utama bukan lagi pada keridhoan Alloh , melainkan pada bagaimana cara agar nampak setara atau lebih unggul dari orang lain.

Nabi memberikan obat bagi penyakit ini:

«انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ»

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah kalian melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan ni’mat Alloh atas kalian.” (HR. Muslim no. 2963)

Orang yang tamak validasi selalu melihat ke atas, kepada mereka yang mendapatkan lebih banyak sanjungan dan pengakuan. Hal ini menyebabkan mereka selalu merasa kurang dan tidak pernah bersyukur. Rasa iri hati (hasad) akan tumbuh subur dalam rumah tangga yang seperti ini. Mereka tidak bisa meni’mati apa yang mereka miliki karena mata mereka terlalu sibuk memperhatikan apa yang dimiliki orang lain demi mendapatkan validasi yang sama.

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) berkata tentang bahaya cinta dunia dan kedudukan:

الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا هُوَ قِصَرُ الأَمَلِ، لَيْسَ بِأَكْلِ الْغَلِيظِ، وَلا لُبْسِ الْعَبَاءِ

“Zuhud terhadap dunia adalah dengan pendek angan-angan, bukan dengan memakan makanan yang kasar atau memakai pakaian yang jelek.” (Al-Jarh wa Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 1/101)

Dalam konteks keluarga, zuhud berarti tidak menggantungkan kebahagiaan rumah tangga pada standar materi dan pengakuan manusia. Rumah tangga yang bahagia adalah yang di dalamnya ditegakkan ketaatan kepada Alloh , saling menasihati dalam kebenaran, dan merasa cukup dengan apa yang telah dibagikan oleh Robb semesta alam.

Malapetaka haus validasi dalam keluarga akan mengakibatkan hilangnya kejujuran. Pasangan suami istri akan terbiasa berbohong dan menutupi kekurangan mereka dengan kepalsuan hanya agar citra mereka tetap terjaga di mata publik. Hidup dalam kepalsuan adalah beban yang sangat berat. Tidak ada ketenangan bagi hati yang selalu merasa diawasi dan dinilai oleh manusia. Seorang Muslim harus menyadari bahwa satu-satunya penilaian yang bermakna adalah penilaian Alloh . Jika Alloh ridho, maka tidak ada mudhorot dari celaan seluruh penduduk bumi. Namun jika Alloh murka, maka tidak ada manfaat sedikit pun dari pujian setinggi langit yang diberikan oleh manusia.

Keluarga yang selamat adalah keluarga yang menjadikan Akhiroh sebagai tujuan utama mereka. Mereka tidak peduli apakah orang lain menganggap mereka sukses atau tidak, selama mereka berada di atas jalan yang diridhoi-Nya. Dengan membuang ketamakan pada validasi, suami istri akan lebih fokus pada perbaikan akhlak masing-masing, pendidikan anak yang tulus, dan hubungan yang penuh dengan kasih sayang murni karena Alloh . Inilah kunci meraih Jannah dalam kehidupan rumah tangga.

 

Bab 3: Bencana Mentalitas Pencari Muka di Dunia Kerja dan Profesi

3.1 Budaya Menjilat dan Mengambil Hak Orang Lain demi Memperbaiki Citra Diri

Dunia kerja sering kali menjadi medan tempur bagi ego manusia yang haus akan pengakuan. Banyak pekerja yang terjebak dalam perilaku menjilat (mudahanah) kepada atasan atau pemegang otoritas demi mendapatkan posisi yang lebih tinggi atau sekadar pujian sesaat. Perilaku ini sangat berbahaya karena melibatkan kepalsuan dan sering kali mengorbankan kejujuran serta keadilan. Seorang penjilat akan menampakkan wajah yang penuh ketaatan dan kekaguman di depan atasan, namun di belakang mereka bisa jadi menyimpan kebencian atau justru merendahkan rekan kerja lainnya untuk mengangkat derajat diri sendiri.

Alloh memberikan peringatan tentang sifat orang-orang yang hanya mencari kemuliaan di mata manusia dengan cara-cara yang tidak benar:

﴿أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلْعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا﴾

“Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi mereka (orang-orang kafir atau penguasa zolim)? Maka sesungguhnya kemuliaan itu semuanya adalah milik Alloh.” (QS. An-Nisa: 139)

Dalam lingkungan profesi, mencari kemuliaan melalui lisan atasan tanpa memperhatikan Ridho Alloh adalah sebuah kehinaan yang nyata. Seseorang yang tamak validasi akan merasa bahwa nasib dan rezekinya berada di tangan manusia, sehingga dia rela melakukan tindakan-tindakan tercela. Salah satu perbuatan yang paling buruk adalah mengambil atau mengklaim hasil kerja keras orang lain sebagai miliknya sendiri demi mendapatkan citra sebagai pegawai yang berprestasi. Ini adalah bentuk kezholiman yang berlipat ganda.

Nabi bersabda tentang buruknya sifat bermuka dua yang sering nampak pada para pencari muka:

«تَجِدُونَ مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاءِ بِوَجْهٍ»

“Kalian akan mendapati manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh pada hari Kiamat adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi sekelompok orang dengan satu wajah dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah yang lain.” (HR. Al-Bukhori no. 6058 dan Muslim no. 2526)

Mentalitas seperti ini merusak tatanan sosial di tempat kerja. Kepercayaan antar rekan kerja menjadi sirna karena setiap orang merasa terancam oleh rekan yang gemar mencari muka. Budaya menjilat juga membuat kompetisi menjadi tidak sehat, di mana kualitas kerja bukan lagi menjadi tolok ukur utama, melainkan seberapa pandai seseorang dalam memoles kata-kata dan membangun pencitraan yang palsu.

Sebagian ulama menjelaskan tentang hakikat pujian dan bahayanya bagi jiwa bahwa pujian itu mengandung 5 bahaya: 3 pada orang yang memuji, dan 2 pada orang yang dipuji.

Bahaya bagi orang yang dipuji (dalam hal ini pegawai yang haus validasi) adalah dia akan merasa ujub (bangga diri) dan merasa telah mencapai kesempurnaan, sehingga dia berhenti untuk memperbaiki diri secara tulus. Dia lebih sibuk menjaga agar pujian itu tetap mengalir daripada benar-benar bekerja secara amanah.

3.2 Tekanan Jiwa Pekerja Akibat Terlalu Sensitif terhadap Kritik dan Opini Rekan Sejawat

Kekhawatiran yang berlebihan terhadap pendapat orang lain menciptakan beban mental yang sangat berat bagi seorang pegawai. Seseorang yang tamak validasi akan merasa sangat tersiksa jika mendapatkan kritik, meskipun kritik tersebut bersifat membangun demi kemajuan profesinya. Mereka memandang kritik sebagai ancaman terhadap harga diri mereka, bukan sebagai sarana evaluasi. Akibatnya, mereka bekerja dalam keadaan penuh ketakutan dan kegelisahan, selalu mencoba menebak-nebak apa yang dipikirkan orang lain tentang mereka.

Alloh memuji hamba-hamba-Nya yang memiliki prinsip kuat dan tidak terpengaruh oleh celaan manusia selama mereka berada di atas kebenaran:

﴿يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ﴾

“Mereka berjihad di jalan Alloh, dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela.” (QS. Al-Maidah: 54)

Seseorang yang memiliki mentalitas penghamba validasi akan sangat mudah goyah. Jika rekan sejawat memberikan komentar negatif, semangat kerjanya akan langsung anjlok. Sebaliknya, jika diberikan pujian, dia akan merasa terbang tinggi hingga lupa daratan. Kestabilan emosinya tidak lagi berpijak pada nilai-nilai agama, melainkan pada naik-turunnya opini manusia di sekitarnya. Hal ini merupakan bentuk perbudakan yang sangat melelahkan.

Ahli hikmah berkata:

إِنْ أَحْبَبْتَ أَنْ يَصِحَّ لَكَ عَمَلُكَ، فَلا تُحِبَّنَّ أَنْ يُحْمَدَ عَلَيْهِ

“Jika engkau ingin amalmu menjadi shohih, maka janganlah sekali-kali engkau ingin dipuji atas amal tersebut.”

Kesehatan jiwa di tempat kerja hanya bisa diraih jika seseorang melepaskan ketergantungannya pada pengakuan manusia. Seorang pekerja yang beriman akan melakukan tugasnya sebaik mungkin (ihsan) karena dia tahu bahwa Alloh senantiasa mengawasinya. Baginya, ada atau tidaknya apresiasi dari rekan kerja tidak akan mengubah dedikasinya dalam menjalankan amanah. Kelelahan pikiran yang dialami oleh banyak pegawai saat ini sebagian besar disebabkan oleh upaya yang sia-sia untuk memuaskan semua orang, padahal hal itu adalah sesuatu yang mustahil digapai.

3.3 Bahaya Menghalalkan Segala Cara dan Berbohong dalam Laporan demi Jabatan Sesaat

Ketamakan pada validasi sering kali menggiring seseorang untuk melakukan kedustaan. Dalam dunia profesional, hal ini nampak pada pemalsuan data, manipulasi laporan keuangan, atau memberikan informasi yang menyesatkan demi mendapatkan nilai plus di mata pimpinan. Mereka merasa bahwa kejujuran hanya akan menghambat karier mereka, sementara kebohongan yang dikemas dengan rapi dianggap sebagai strategi untuk meraih sukses.

Alloh mengancam keras orang-orang yang suka dipuji atas apa yang sebenarnya tidak mereka kerjakan:

﴿لَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَآ أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ ٱلْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan; janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari adzab, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (QS. Ali Imron: 188)

Ayat ini merupakan tamparan keras bagi para pencari validasi di kantor-kantor yang gemar mencitrakan diri seolah-olah telah melakukan pekerjaan besar, padahal kenyataannya mereka hanya menumpang nama atau melakukan kecurangan. Jabatan yang diraih dengan cara berbohong tidak akan pernah membawa keberkahan. Rezeki yang dihasilkan darinya pun akan menjadi harom dan merusak keberlangsungan hidup keluarganya.

Nabi mengingatkan tentang bahaya dusta yang membawa pada kehancuran:

«إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ»

“Jauhilah oleh kalian perbuatan dusta, karena sesungguhnya dusta itu akan mengantarkan kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan mengantarkan ke Naar.” (HR. Muslim no. 2607)

Seorang pekerja yang tamak akan sanjungan akan kehilangan rasa takut kepada Alloh . Baginya, yang paling menakutkan adalah jika kebohongannya terbongkar di hadapan manusia, bukan di hadapan Robb semesta alam. Dia akan terus menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya demi mempertahankan kedudukan yang dia banggakan. Pada akhirnya, dia akan terjatuh dalam kehinaan yang lebih dalam ketika tabir kepalsuannya tersingkap, baik di dunia maupun di Akhiroh kelak.

3.4 Kelelahan Fisik dan Pikiran Pegawai yang Menggantungkan Harga Diri pada Komentar Atasan

Ketergantungan pada validasi atasan menyebabkan seorang pegawai kehilangan kemerdekaannya. Dia bekerja bukan lagi sebagai hamba Alloh yang merdeka, melainkan sebagai budak keinginan atasannya. Setiap langkahnya diatur oleh rasa takut akan kehilangan muka atau keinginan untuk mendapatkan tepuk tangan. Hal ini menyebabkan kelelahan fisik yang luar biasa karena dia dipaksa untuk terus melampaui batas kemampuannya hanya demi pembuktian diri yang tiada habisnya.

Pikiran pegawai tersebut akan selalu terbebani oleh pertanyaan: “Apakah atasan menyukai hasil kerjaku?”, “Bagaimana jika dia lebih menyukai rekan kerjaku?”, “Apa yang harus kulakukan agar aku menjadi nomor satu di matanya?”. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah racun yang menghisap energi kehidupan.

Nabi bersabda tentang orang yang menjadikan dunia dan pengakuan sebagai tujuan utamanya:

«مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ»

“Barangsiapa yang mencari Ridho Alloh meski dengan risiko kemurkaan manusia, maka Alloh akan mencukupkan baginya beban dari manusia. Dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan risiko kemurkaan Alloh, maka Alloh akan membiarkan dia bergantung kepada manusia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2414)

Ketika seseorang dibiarkan oleh Alloh bergantung kepada manusia, maka dia akan merasakan penderitaan yang sangat panjang. Manusia adalah makhluk yang berubah-ubah suasana hatinya. Hari ini seorang atasan mungkin memuji, namun esok hari bisa jadi dia mencela karena kesalahan kecil atau bahkan tanpa alasan yang jelas. Menggantungkan harga diri pada hal yang tidak stabil seperti itu adalah sebuah kebodohan.

Ibnu Taimiyyah (728 H) menjelaskan tentang hakikat kebebasan hati:

الْقَلْبُ لَا يَصْلُحُ وَلَا يُفْلِحُ وَلَا يَلْتَذُّ وَلَا يُسَرُّ وَلَا يَطِيبُ وَلَا يَسْكُنُ وَلَا يَطْمَئِنُّ إِلَّا بِعِبَادَةِ رَبِّهِ وَحُبِّهِ وَالْإِنَابَةِ إِلَيْهِ

“Hati tidak akan menjadi baik, tidak akan beruntung, tidak akan merasakan kelezatan, tidak akan merasa senang, tidak akan merasa tenteram, dan tidak akan tenang kecuali dengan beribadah kepada Robb-nya, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya.” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 10/194)

Seorang pegawai yang menyadari hal ini akan bekerja dengan penuh ketenangan. Dia tahu bahwa tugasnya adalah bekerja secara profesional dan jujur sebagai bentuk ibadah kepada Alloh . Masalah apakah atasan akan memuji atau tidak, itu adalah urusan sekunder yang tidak boleh mengganggu stabilitas hatinya. Dengan demikian, dia akan terhindar dari kelelahan jiwa yang sering menimpa orang-orang yang terlalu mengejar pengakuan. Dia tidak akan mudah stres, tidak akan mudah dengki kepada rekan kerjanya, dan hidupnya akan dipenuhi dengan keberkahan karena dia hanya mengharap validasi dari Dzat yang Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.

Kesimpulan dari bab ini adalah bahwa dunia kerja merupakan ladang ujian yang besar bagi keikhlasan. Barangsiapa yang mampu menjaga hatinya dari ketamakan pada pujian manusia, maka dia akan meraih kesuksesan yang hakiki. Namun barangsiapa yang menjadikan kantor dan profesinya sebagai sarana untuk pamer dan mencari muka, maka dia telah mengundang malapetaka bagi dirinya sendiri, baik berupa kegelisahan di dunia maupun kerugian yang nyata di Akhiroh. Pegawai yang sholih adalah mereka yang bekerja dengan tangan yang terampil namun dengan hati yang tetap terikat hanya kepada Alloh semata.

 

Bab 4: Konsekuensi Buruk bagi Kehidupan Dunia dan Agama

4.1 Hidup dalam Penjara Ekspektasi Orang Lain

Seseorang yang menggantungkan kebahagiaannya pada validasi makhluk secara tidak sadar telah memenjarakan dirinya sendiri dalam ekspektasi orang lain. Hidupnya tidak lagi merdeka untuk melakukan apa yang benar menurut syariat, melainkan selalu dibayangi oleh ketakutan akan penilaian negatif. Kegelisahan menjadi teman setianya karena dia tidak akan pernah bisa memuaskan semua lisan manusia yang jumlahnya sangat banyak.

Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا﴾

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thoha: 124)

Kesenangan yang didapat dari pujian manusia hanyalah fatamorgana yang sesaat. Begitu pujian itu hilang, jiwanya akan merasa hancur dan tidak berharga. Hal ini dikarenakan dia telah menjadikan makhluk sebagai poros hidupnya, bukan Al-Kholiq. Kegelisahan ini muncul karena standar manusia selalu berubah-ubah dan tidak pernah ajeg. Seseorang yang haus validasi akan terus merasa cemas jika citra yang dia bangun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh lingkungan sosialnya.

Seorang ulama berkata:

رَأَيْتُ جَمِيعَ أَهْلِ الدُّنْيَا لَا يَسْعَوْنَ إِلَّا فِي طَرْدِ الْهَمِّ ، فَلَمْ أَجِدْ شَيْئًا يُطْرِدُ الْهَمَّ إِلَّا الْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى بِالْعَمَلِ لِلْآخِرَةِ

“Aku melihat seluruh penduduk dunia tidaklah berusaha kecuali untuk mengusir kegelisahan, maka aku tidak mendapati sesuatu yang bisa mengusir kegelisahan tersebut kecuali dengan menghadapkan diri kepada Alloh Ta’ala dengan beramal untuk Akhiroh.”

4.2 Munculnya Sifat Munafiq dan Hilangnya Kejujuran dalam Perkataan serta Perbuatan

Ketamakan pada validasi adalah pintu gerbang menuju kemunafiqan. Seseorang akan terbiasa menampilkan sesuatu yang berbeda dari kenyataan di dalam hatinya demi menjaga citra. Dia akan memuji orang yang dia benci di hadapannya, dan mencela orang yang dia cintai demi mendapatkan simpati dari kelompok tertentu. Kejujuran yang merupakan ciri utama seorang Muslim perlahan-lahan sirna digantikan oleh kepura-puraan.

Nabi bersabda:

«آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ»

“Tanda orang munafiq itu ada 3: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika dipercaya dia berkhianat.” (HR. Al-Bukhori no. 33 dan Muslim no. 59)

Seorang pemburu validasi akan sering berdusta dalam perkataannya untuk membuat orang terkesan. Dia juga akan mengkhianati amanah jika hal itu dianggap bisa mengangkat kedudukannya di mata manusia. Hilangnya kejujuran ini merusak kemuliaan diri dan menjauhkan seseorang dari hidayah Alloh . Perbuatan ini membuat pelakunya hidup dalam kepalsuan yang sangat melelahkan jiwa dan raga.

Barangsiapa yang batinnya lebih baik dari zhohirnya maka itulah keutamaan, barangsiapa yang batin dan zhohirnya sama maka itulah keadilan, dan barangsiapa yang zhohirnya lebih baik dari batinnya maka itulah kecurangan.

4.3 Kerugian Besar di Hari Kiamat bagi Orang yang Beramal hanya demi Manusia

Malapetaka yang paling dahsyat bagi pencari pengakuan adalah ketika dia berdiri di hadapan Alloh pada hari Kiamat. Segala lelah dan letihnya dalam beramal di dunia tidak diakui sedikit pun. Bahkan, orang-orang yang paling pertama dijadikan bahan bakar Naar adalah mereka yang memiliki amal besar namun niatnya hanya untuk mendapatkan gelar dari manusia. Mereka yang berilmu ingin disebut alim, yang bersedekah ingin disebut dermawan, dan yang berperang ingin disebut pahlawan.

Alloh akan berfirman kepada mereka pada hari Kiamat:

«اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً»

“Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian pamer kepadanya di dunia, maka lihatlah apakah kalian mendapati balasan di sisi mereka?” (HSR. Ahmad no. 23630)

Betapa ruginya seseorang yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan hartanya, namun pada akhirnya dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali penyesalan. Dia telah menjual Akhirohnya yang kekal demi pujian manusia yang fana. Orang-orang yang dia harapkan pujiannya di dunia tidak akan mampu memberikan pertolongan sedikit pun saat adzab Alloh datang. Inilah kerugian yang nyata bagi setiap orang yang menjadikan penilaian makhluk sebagai tujuan utama dalam hidupnya.

4.4 Adzab bagi Para Pendusta yang Memalsukan Keadaan demi Meraih Simpati

Memalsukan keadaan demi mendapatkan simpati atau validasi adalah dosa yang serius. Alloh memberikan ancaman bagi mereka yang suka berdusta dan menipu manusia. Orang yang menampilkan dirinya seolah-olah memiliki kelebihan atau kondisi tertentu hanya agar dikasihani dan dipuji akan mendapatkan adzab yang pedih. Mereka membangun istana di atas pasir kebohongan yang sewaktu-waktu akan runtuh menghancurkan diri mereka sendiri.

Alloh berfirman:

﴿فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ﴾

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Alloh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqoroh: 10)

Kedustaan demi citra diri ini merupakan penyakit hati yang kronis. Semakin sering seseorang melakukannya, semakin gelap hatinya dari cahaya kebenaran. Di dunia dia akan selalu merasa cemas kalau rahasianya terbongkar, dan di Akhiroh dia harus mempertanggungjawabkan setiap kepalsuan yang dia buat. Orang yang gila pujian sesungguhnya sedang menghinakan dirinya sendiri di hadapan Robb semesta alam.

Orang yang riya’ ingin mengalahkan takdir Alloh pada dirinya. Dia adalah orang yang buruk yang ingin agar manusia berkata: “Dia orang sholih.” Bagaimana mungkin mereka berkata: “Dia orang sholih,” padahal kemurkaan Robb-nya telah turun kepadanya?

Kematian hati adalah konsekuensi terjauh dari ketamakan validasi. Seseorang tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah karena seluruh timbangannya adalah kesukaan manusia. Inilah malapetaka yang akan menghancurkan kehidupan seseorang di dunia dan Akhiroh jika dia tidak segera bertaubat kepada Alloh dengan taubat yang tulus. Dia harus menyadari bahwa pujian manusia tidak akan menambah kemuliaannya di sisi Alloh sedikit pun, dan celaan manusia tidak akan mengurangi nilai dirinya jika dia benar-benar berada di atas ketaatan.

 

Bab 5: Manhaj Salaf dalam Mengobati Penyakit Gila Pujian

5.1 Hanya Alloh yang Berhak Memuji dan Mencela

Obat pertama dan yang paling utama bagi penyakit tamak validasi adalah dengan menanamkan tauhid yang murni ke dalam hati. Seseorang harus sampai pada tingkat keyakinan bahwa pujian manusia tidak akan menambah kemuliaan sedikit pun jika di sisi Alloh dia adalah orang yang terhina. Sebaliknya, celaan seluruh penduduk bumi tidak akan membahayakan sedikit pun jika di sisi Alloh dia adalah orang yang mulia. Penilaian manusia adalah sesuatu yang semu, sementara penilaian Alloh adalah hakikat yang kekal.

Alloh berfirman:

﴿فَلَا تُزَكُّوٓا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32)

Ayat ini mengingatkan agar seorang hamba tidak sibuk mencari validasi atas kesucian dirinya di hadapan makhluk. Cukuplah Alloh sebagai saksi atas ketaqwaan seseorang. Ketika hati telah terpaku pada pandangan Alloh , maka pandangan manusia akan menjadi kecil dan tidak berarti.

Nabi bersabda kepada seorang lelaki yang berkata bahwa pujiannya adalah hiasan dan celaannya adalah keburukan:

«ذَاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ»

“Yang memiliki sifat demikian hanyalah Alloh Azza wa Jalla.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3267)

Hanya Alloh yang pujian-Nya benar-benar mengangkat derajat dan celaan-Nya benar-benar menjatuhkan. Manusia hanyalah makhluk lemah yang tidak memiliki otoritas tersebut. Barangsiapa yang menyadari hal ini, dia akan merasa malu untuk menghias diri di hadapan manusia sementara batinnya kotor di hadapan Alloh .

Jika jiwamu membisikkanmu untuk mencari keikhlasan, maka datangilah ketamakan terlebih dahulu lalu sembelihlah ia dengan pisau rasa putus asa terhadap apa yang ada di tangan manusia. Dan datangilah sanjungan serta pujian, lalu zuhudlah (tidak butuh) terhadap keduanya sebagaimana zuhudnya para pecinta dunia terhadap Akhiroh.

5.2 Menyembunyikan Amal

Salafus Sholih sangat gigih dalam menyembunyikan amal sholih mereka sebagaimana orang-orang di zaman sekarang gigih dalam menyembunyikan dosa. Mereka memiliki amalan khobiah (amalan rahasia) yang tidak diketahui kecuali oleh Alloh semata. Amalan ini adalah benteng terkuat untuk melawan ketamakan pada validasi karena pelakunya sengaja memutus mata rantai penglihatan makhluk agar hanya Alloh yang melihatnya.

Alloh berfirman:

﴿إِن تُبْدُوا ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهو خَيْرٌ لَّكُمْ﴾

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqoroh: 271)

Menyembunyikan amal merupakan cara paling ampuh untuk melatih keikhlasan. Seseorang yang terbiasa beramal tanpa diketahui orang lain akan merasakan kemanisan iman yang tidak didapatkan oleh para pemburu pujian. Dia tidak lagi butuh validasi karena dia telah mendapatkan kepuasan batin dari hubungan pribadinya dengan Robb-nya.

Nabi menyebutkan salah satu golongan yang akan mendapatkan perlindungan di hari Kiamat:

«وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ»

“Seorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Al-Bukhori no. 660 dan Muslim no. 1031)

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) berkata:

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي، لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

“Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku, karena niat itu sering berubah-ubah terhadapku.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab, 1/70)

Dengan memperbanyak amalan yang tersembunyi, seorang Muslim sedang membangun kekayaan Akhiroh yang aman dari pencurian riya’. Semakin banyak amalan yang dirahasiakan, semakin kecil peluang hati untuk mengharap pujian manusia. Kelezatan dalam bermunajat saat manusia tidur atau bersedekah tanpa nama adalah obat mujarab bagi jiwa yang sakit karena haus pengakuan.

5.3 Qona’ah dan Ridho

Qona’ah adalah merasa cukup dengan pemberian Alloh . Sifat ini sangat berseberangan dengan ketamakan pada validasi. Orang yang qona’ah tidak akan merasa gelisah jika tidak mendapatkan perhatian manusia karena dia sudah merasa cukup dengan perhatian dari Alloh . Dia menyadari bahwa setiap bagian dari dunia, termasuk kedudukan dan sanjungan, telah dibagikan oleh Alloh dengan hikmah yang sempurna.

Nabi bersabda:

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Kekayaan jiwa berarti tidak butuh kepada apa yang ada di tangan manusia, termasuk tidak butuh pada pujian mereka. Seseorang yang mengejar Ridho Alloh akan mendapatkan ketenangan yang menetap. Meskipun dia dicela atau diremehkan oleh rekan kerja atau keluarganya, hatinya tetap tentram karena dia tahu bahwa dia sedang berjalan di atas keridhoan Sang Pencipta. Ridho Alloh adalah tujuan yang bisa dicapai, sedangkan ridho manusia adalah tujuan yang mustahil digapai.

Syafi’i (204 H) berkata:

رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ، فَعَلَيْكَ بِمَا يُصْلِحُكَ فَالْزَمْهُ

“Ridho manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah bisa dicapai, maka hendaknya engkau melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan tetaplah konsisten padanya.” (Al-Itqon, Najmuddin Al-Ghozi, 1/283)

Dengan memilih untuk hanya peduli pada Ridho Alloh , seseorang telah memerdekakan dirinya dari perbudakan opini publik. Dia tidak lagi sibuk memoles lahiriahnya agar nampak hebat, tetapi dia sibuk memoles batiniahnya agar dicintai oleh langit. Ketenangan hati adalah buah dari keikhlasan, sedangkan kegelisahan adalah buah dari ketamakan pada sanjungan makhluk.

5.4 Memperbanyak Doa

Langkah terakhir dan paling krusial dalam manhaj Salaf adalah senantiasa memohon perlindungan kepada Alloh . Penyakit riya’ dan tamak validasi adalah penyakit yang sangat halus, bahkan lebih halus dari langkah kaki semut hitam di atas batu hitam di kegelapan malam. Tanpa taufiq dan pertolongan dari Alloh , mustahil bagi seorang hamba untuk bisa selamat darinya secara total.

Nabi mengajarkan doa untuk berlindung dari kesyirikan yang disadari maupun tidak disadari:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ»

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” (Shohihul Jami no. 3731)

Doa ini harus menjadi wirid harian bagi setiap Muslim yang ingin menjaga kemurnian imannya. Kesadaran akan kelemahan diri di hadapan godaan pujian akan membuat seseorang selalu bergantung kepada Alloh . Dia tidak akan merasa aman dari kemunafiqan dan riya’ sampai dia benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.

Umar bin Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu yang merupakan tokoh besar Islam saja masih merasa takut akan kemunafiqan pada dirinya, sehingga beliau bertanya kepada Hudzaifah bin Al-Yaman rodhiyallahu ‘anhu apakah namanya termasuk dalam daftar orang munafiq yang diberitahukan oleh Nabi . Ketakutan para Shohabat ini menunjukkan bahwa penyakit hati ini tidak boleh diremehkan.

Ibrohim At-Taimi (92 H) berkata:

مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا

“Tidaklah aku membandingkan perkataanku dengan perbuatanku kecuali aku merasa takut bahwa aku termasuk orang yang berdusta.” (Shohih Al-Bukhori, Al-Bukhori, 1/15)

Pengobatan terhadap gila pujian adalah proses yang berkelanjutan. Seseorang harus terus bermujahadah (bersungguh-sungguh) melawan bisikan nafsunya. Dengan memadukan tauhid yang benar, amalan rahasia, sifat qona’ah, dan doa yang istiqomah, insya Alloh seorang Muslim akan terbebas dari malapetaka tamak validasi. Hidupnya akan menjadi jernih, jujur, dan dipenuhi cahaya keikhlasan yang akan menuntunnya menuju keridhoan Alloh di dunia dan Jannah-Nya yang abadi di Akhiroh.

Fokuslah pada bagaimana agar Alloh mengenalmu sebagai hamba yang sholih, meskipun seluruh penduduk bumi tidak mengenal namamu sama sekali. Kemuliaan yang sesungguhnya adalah kemuliaan di sisi Robb semesta alam, bukan pada barisan kata-kata sanjungan manusia yang akan segera hilang ditelan waktu.

 

Penutup

Ketamakan terhadap validasi atau pengakuan manusia adalah belenggu yang sangat berat bagi jiwa. Ia merupakan penyakit yang merayap masuk ke dalam hati dengan sangat halus, namun dampaknya mampu menghancurkan seluruh bangunan amal sholih yang telah kita susun selama bertahun-tahun. Kita telah melihat bagaimana rasa haus akan pujian mampu merusak keharmonisan rumah tangga, menciptakan kepalsuan di dunia kerja, hingga menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kemunafiqan yang mengerikan. Seseorang yang hidup demi penilaian makhluk akan senantiasa berada dalam keletihan yang tiada akhir, karena lisan manusia tidak akan pernah berhenti berkomentar dan mata manusia tidak akan pernah puas memandang.

Alloh memberikan peringatan yang sangat mendalam bagi siapa saja yang mengharapkan kemuliaan selain dari sisi-Nya:

﴿مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Alloh-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS. Fathir: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa mencari validasi dari manusia untuk meraih kemuliaan adalah usaha yang sia-sia, karena sumber kemuliaan yang sejati hanya milik Alloh semata. Barangsiapa yang mencari kemuliaan dengan cara merendahkan diri di hadapan manusia dan memamerkan kelebihannya, maka Alloh justru akan menghinakannya. Sebaliknya, barangsiapa yang merendahkan diri di hadapan Alloh dengan penuh keikhlasan, maka Alloh akan mengangkat kedudukannya setinggi langit meskipun dia tidak dikenal oleh penduduk bumi. Kita harus menyadari bahwa pujian manusia tidak akan pernah bisa menyelamatkan kita dari siksa kubur, dan sanjungan orang lain tidak akan bisa menambah berat timbangan kebaikan kita di hari Kiamat kelak.

Nabi bersabda dengan nada peringatan bagi para pencari muka:

«مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ»

“Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya (supaya didengar orang lain), maka Alloh akan memperdengarkan aibnya di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang pamer (supaya dilihat orang lain), maka Alloh akan membalas pamerannya itu.” (HR. Al-Bukhori no. 6499 dan Muslim no. 2987)

Hadits ini menjadi tamparan bagi siapa saja yang gemar menceritakan kebaikan-kebaikannya atau menampakkan ibadahnya demi meraih simpati. Alloh akan membongkar kepalsuan hati tersebut di hadapan seluruh makhluk pada hari yang paling mencekam. Betapa malunya seorang hamba saat itu, ketika apa yang selama ini dia bangga-banggakan di dunia ternyata hanyalah sebuah kepalsuan yang tidak memiliki nilai sedikit pun di sisi Robb semesta alam. Oleh karena itu, kejujuran batin adalah modal utama bagi setiap Muslim. Kita harus lebih sibuk memperbaiki apa yang ada di dalam hati daripada apa yang nampak di permukaan.

Keikhlasan adalah air kehidupan yang jika disiramkan pada pohon amal, maka pohon tersebut akan berdaun lebat dan berbuah.

Tanpa keikhlasan, amal perbuatan kita bagaikan pohon yang kering dan mati. Ia mungkin nampak besar di mata manusia, namun tidak memberikan manfaat apa pun dan mudah tumbang saat badai ujian datang. Seseorang yang tamak validasi akan mudah berputus asa jika pujian itu berhenti mengalir. Namun, bagi mereka yang telah merasakan manisnya keikhlasan, ada atau tidak adanya manusia yang melihat bukanlah sebuah persoalan. Bagi mereka, cukuplah Alloh sebagai sebaik-baik penilai dan pemberi balasan. Ketentraman hati hanya bisa diraih saat kita berhenti menjadi budak opini publik dan mulai menjadi hamba Alloh yang sejati.

Kita juga harus selalu waspada terhadap penyakit ujub, yaitu merasa bangga dengan diri sendiri karena merasa telah memiliki banyak prestasi atau amal sholih. Sifat ujub adalah saudara kembar dari haus validasi. Keduanya bersumber dari hati yang lupa bahwa segala ni’mat adalah pemberian dari Alloh . Tidak ada satu pun kebaikan yang kita lakukan melainkan karena taufiq dan pertolongan-Nya. Jika Alloh tidak menutupi aib kita, niscaya tidak akan ada satu pun manusia yang sudi mendekat apalagi memberikan pujian.

Seandainya bersamamu ada orang yang akan melaporkan ucapanmu kepada penguasa, apakah engkau akan berbicara dengan sesuatu yang membuatnya murka?

Jika kita merasa diawasi oleh manusia yang memiliki sedikit kekuasaan saja kita sudah sangat berhati-hati, maka bagaimana mungkin kita berani pamer dan mencari muka di hadapan Alloh yang Maha Mengetahui segala rahasia hati? Ketamakan pada validasi adalah bentuk kelalaian yang nyata akan kehadiran dan pengawasan Alloh .

Sebagai penutup, marilah kita berkomitmen untuk senantiasa melatih diri dalam menyembunyikan amal sholih. Jadikanlah diri kita memiliki simpanan kebaikan yang tidak diketahui oleh istri, suami, anak, teman kantor, maupun pengikut di media sosial. Biarlah amalan tersebut menjadi rahasia indah antara kita dengan Robb kita. Dengan demikian, kita akan terlatih untuk tidak butuh pada pengakuan manusia. Ingatlah bahwa dunia ini hanyalah panggung ujian yang sementara. Segala tepuk tangan dan pujian akan segera sirna ditelan bumi, namun Ridho Alloh akan membawa kita pada kebahagiaan yang abadi di Jannah-Nya.

Alloh berfirman dalam ayat yang menjadi pengingat bagi setiap orang yang beramal:

﴿فَمَن كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Robb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Makna mempersekutukan dalam ayat ini mencakup juga syirik kecil yaitu riya’ atau mencari validasi dari selain Alloh .

Semoga Alloh senantiasa membersihkan hati kita dari segala kotoran penyakit jiwa, menjadikan kita hamba yang mukhlish (ikhlas), dan menyelamatkan kita dari fitnah pujian manusia.

Semoga buku ini menjadi hujjah yang meringankan kita di hari Kiamat dan menjadi sebab bagi kita untuk meraih ketenangan hati yang hakiki.

Akhirul kalam, segala kesempurnaan hanya milik Alloh dan segala kekurangan berasal dari diri kami pribadi serta dari syaithon.

Washollallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Walhamdulillahi Robbil ‘alamin.

Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url