[PDF] Malapetaka Tamak Validasi Orang Lain - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم
الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh ﷻ yang telah memberikan cahaya hidayah bagi
hati para hamba yang Dia kehendaki.
Sholawat dan salam semoga
senantiasa tercurah kepada Nabi ﷺ,
keluarganya, para Shohabat, dan para Tabi’in yang mengikuti jejak mereka dengan
baik.
Amma ba’du:
Sesungguhnya di antara
fitnah yang paling besar yang menimpa umat ini adalah fitnah lisan dan hati,
terutama berkaitan dengan keinginan untuk mendapatkan kedudukan di mata
manusia. Penyakit haus akan pengakuan dan sanjungan telah merusak banyak amal
sholih yang seharusnya ditujukan hanya untuk Robb semesta alam.
Banyak orang yang
terjebak dalam kegelisahan yang tidak berujung hanya karena mereka
menggantungkan kebahagiaan mereka pada lisan-lisan manusia yang lemah. Mereka
merasa senang jika dipuji dan merasa hancur jika dicela, seolah-olah manusia
adalah penentu keberuntungan dan kesengsaraan mereka.
Buku ini disusun untuk
mengupas akar permasalahan tersebut, menunjukkan bahayanya, serta memberikan
obat yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita akan melihat bagaimana
haus validasi ini dapat merusak kehidupan rumah tangga, karier, dan yang paling
parah adalah merusak urusan agama seseorang.
Kehidupan yang dibangun
di atas kepalsuan demi meraih keridhoan manusia adalah kehidupan yang semu dan
melelahkan. Seorang Muslim dituntut untuk memurnikan tujuannya hanya kepada
Alloh ﷻ semata,
karena hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak dalam memberikan kemuliaan dan
kehinaan. Tanpa adanya keikhlasan, seluruh jerih payah manusia dalam beramal
akan menjadi sia-sia dan tidak bernilai sedikit pun di timbangan Akhiroh.
Melalui lembaran-lembaran
buku ini, pembaca diajak untuk merenungi kembali niat-niat tersembunyi dalam
setiap aktivitas harian, sehingga kita bisa terbebas dari belenggu ekspektasi
makhluk dan meraih kemerdekaan sejati sebagai hamba Alloh ﷻ yang sesungguhnya.
Bab 1: Makna Tamak Validasi
1.1 Definisi
Gila Pujian dan Tanda-tandanya
Tamak validasi dalam
istilah syar’i sering kali merujuk pada penyakit hubbus tsana’ atau
cinta pada pujian. Ini adalah keadaan di mana seseorang melakukan suatu
perbuatan dengan tujuan agar orang lain melihat, mengakui, dan menyanjungnya.
Hal ini sangat berkaitan erat dengan niat dalam hati yang merupakan poros utama
diterimanya suatu amal.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَآ
أُمِرُوٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ﴾
“Padahal mereka tidak
disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
dalam menjalankan agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Dalam ayat ini, Alloh ﷻ menegaskan bahwa pondasi ibadah adalah
keikhlasan, yaitu membersihkan niat dari segala kotoran termasuk keinginan
untuk dilihat manusia. Adapun tanda-tanda haus pujian pada diri seorang Muslim
adalah berubah-ubahnya semangat beramal tergantung ada atau tidaknya orang yang
melihat. Jika berada di tengah keramaian, dia akan memperbagus ibadahnya, namun
jika dalam kesendirian, dia akan bermalas-malasan atau bahkan meninggalkan
ketaatan.
Fudhoil bin Iyadh (187 H)
berkata:
تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ ، وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ
النَّاسِ شِرْكٌ ، وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ عَنْهُمَا
“Meninggalkan amal karena
manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan
ikhlas adalah jika Alloh menyelamatkanmu dari keduanya.” (Siyar Alamin
Nubala, 8/427)
Tanda lainnya adalah
kegelisahan saat kebaikan yang dilakukan tidak diketahui orang lain. Hati yang
sakit akan merasa sesak jika sebuah prestasi atau amal sholih tidak mendapatkan
apresiasi dalam bentuk komentar, suka, atau pujian dari sesama makhluk.
Seseorang yang tamak validasi akan terus mencari cara agar kelebihannya nampak
di mata manusia, meski dia harus memaksakan diri atau bahkan berbohong.
Nabi ﷺ memberikan peringatan keras terhadap orang
yang menampakkan sesuatu yang tidak dimilikinya:
«الْمُتَشَبِّعُ
بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلابِسِ ثَوْبَىْ زُورٍ»
“Orang yang merasa
kenyang dengan apa yang tidak diberikan kepadanya adalah seperti orang yang
memakai dua pakaian palsu.” (HR. Al-Bukhori no. 5219 dan Muslim no. 2129)
Sifat ini menunjukkan
adanya ketidakjujuran antara lahiriah dan batiniah, di mana seseorang ingin
membangun citra diri yang mulia di hadapan manusia padahal hakikat dirinya
sangat jauh dari citra tersebut.
1.2 Bahaya Riya’
dan Sum’ah bagi Iman
Riya’ adalah melakukan ibadah agar dilihat orang,
sedangkan sum’ah adalah memperdengarkan atau menceritakan amal agar
didengar orang. Keduanya adalah bentuk kesyirikan yang sangat halus dan
berbahaya bagi keberlangsungan iman seorang hamba. Penyakit ini tidak hanya merusak
pahala, tetapi juga dapat menyeret pelakunya ke dalam jurang Naar jika tidak
segera bertaubat.
Nabi ﷺ bersabda:
«أَلَا
أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟»
قَالَ: قُلْنَا: بَلَى، فَقَالَ: «الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي،
فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ»
“Maukah aku kabarkan
kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada
Al-Masih Ad-Dajjal?” Kami menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Syirik yang
tersembunyi, yaitu seseorang berdiri melakukan Sholat lalu dia memperbagus
Sholatnya karena dia melihat ada orang lain yang memperhatikannya.” (HHR.
Ibnu Majah no. 4204)
Bahaya utama dari
penyakit ini adalah terhapusnya pahala amal secara keseluruhan. Seseorang yang
lelah beramal di dunia bisa jadi tidak mendapatkan apa pun di Akhiroh kecuali
kehampaan dan kerugian yang nyata. Hal ini dikarenakan Alloh ﷻ adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan
sekutu dalam ibadah.
Dalam sebuah Hadits
Qudsi, Nabi ﷺ
bersabda:
«قَالَ
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ
عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»
“Alloh Tabaroka wa Ta’ala
berfirman: ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu dalam
kesyirikan. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang dia menyekutukan selain-Ku
di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim no.
2985)
Alloh ﷻ juga menggambarkan nasib amal orang-orang
yang tidak ikhlas dalam firman-Nya:
﴿وَقَدِمْنَآ
إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا﴾
“Dan Kami hadapi segala
amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang
beterbangan.” (QS. Al-Furqon: 23)
Ketahuilah bahwa riya’
murni hampir tidak mungkin muncul dari seorang Mu’min dalam fardhu Sholat dan
Puasa, akan tetapi hal itu terkadang muncul dalam Zakat yang wajib, Haji, dan
amalan-amalan zhohir lainnya, atau amalan yang manfaatnya dirasakan orang lain.
1.3 Mengapa
Manusia Menjadi Budak Penilaian Makhluk?
Penyebab utama manusia
terjatuh dalam perbudakan penilaian makhluk adalah karena lemahnya pengenalan
atau Ma’rifat mereka kepada Alloh ﷻ. Ketika seseorang tidak menyadari bahwa
segala manfaat dan mudhorot berada di tangan Alloh ﷻ, dia akan mulai mencari perlindungan dan
kemuliaan dari sisi manusia. Dia mengira bahwa dengan mendapatkan validasi dari
sesama makhluk, hidupnya akan menjadi lebih aman dan terhormat. Padahal,
manusia adalah makhluk yang sangat terbatas dan tidak mampu memberikan jaminan
apa pun terhadap nasib seseorang.
Nabi ﷺ memberikan nasihat yang sangat mendalam
kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma:
«وَاعْلَمْ
أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ
إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ
بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ»
“Ketahuilah bahwa jika
umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan
mampu memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan
untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu
mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan atasmu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2516)
Ketidakmampuan manusia
dalam memberikan manfaat dan menolak mudhorot seharusnya menjadikan kita tidak
terlalu peduli dengan penilaian mereka. Namun, hawa nafsu sering kali
menghias-hiasi pujian manusia seolah-olah itu adalah sumber kebahagiaan yang
nyata. Hal ini menyebabkan seseorang rela mengorbankan prinsip agamanya demi
menyenangkan hati manusia.
Ibnu Qoyyim (751 H)
menjelaskan tentang rusaknya hati akibat bergantung pada selain Alloh ﷻ:
لَا يَجْتَمِعُ الْإِخْلَاصُ فِي الْقَلْبِ وَمَحَبَّةُ الْمَدْحِ
وَالثَّنَاءِ وَالطَّمَعُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ إِلَّا كَمَا يَجْتَمِعُ الْمَاءُ
وَالنَّارُ
“Tidak akan bersatu
keikhlasan di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian, sanjungan, dan
ketamakan terhadap apa yang ada di tangan manusia, kecuali sebagaimana
bersatunya air dengan api.” (Al-Fawaid, Ibnu Qoyyim, 1/149)
Seseorang yang menjadi
budak validasi akan selalu merasa haus. Sebab, pujian manusia adalah air garam
yang semakin diminum justru akan semakin membuat haus. Hati yang telah
terjangkit penyakit ini tidak akan pernah merasa cukup dan akan terus mencari
pengakuan baru demi menutupi kekosongan batin yang dirasakannya.
1.4 Perbedaan
antara Syukur atas Ni’mat dan Ketamakan pada Sanjungan
Penting untuk dibedakan
antara menerima pujian yang datang tanpa dicari dengan sengaja mencari-cari
pujian. Jika seseorang beramal ikhlas karena Alloh ﷻ lalu secara tidak sengaja orang-orang
melihatnya dan memberikan pujian, maka hal itu bukanlah riya’ selama hati tetap
terjaga dalam keikhlasan. Bahkan, hal tersebut bisa menjadi bentuk kabar
gembira bagi seorang Mu’min di dunia.
Nabi ﷺ ditanya tentang seseorang yang beramal
kebaikan lalu manusia memujinya, beliau menjawab:
«تِلْكَ
عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ»
“Itu adalah kabar gembira
yang disegerakan bagi seorang Mu’min.” (HR. Muslim no. 2642)
Adapun ketamakan pada
sanjungan adalah kondisi di mana hati merasa butuh dan terus mengejar agar
dipandang hebat. Syukur atas ni’mat berarti menggunakan pujian orang lain
sebagai sarana untuk semakin rendah hati di hadapan Alloh ﷻ, bukan justru merasa tinggi hati. Orang
yang bersyukur sadar bahwa segala kebaikan yang dia miliki adalah murni karena
pertolongan Alloh ﷻ, bukan
karena kecerdasannya atau kemampuannya semata.
Abu Bakar Ash-Shiddiq rodhiyallahu
‘anhu ketika dipuji, beliau tidak merasa sombong, melainkan berdoa dengan
doa yang sangat masyhur:
«اللَّهُمَّ
أَنْتَ أَعْلَمُ بِي مِنْ نَفْسِي، وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِي مِنْهُمْ، اللَّهُمَّ
اجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لا يَعْلَمُونَ، وَلا تُؤَاخِذْنِي
بِمَا يَقُولُونَ»
“Ya Alloh, Engkau lebih
mengetahui tentang diriku daripada aku sendiri, dan aku lebih mengetahui
tentang diriku daripada mereka. Ya Alloh, jadikanlah aku lebih baik dari apa
yang mereka duga, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan
janganlah Engkau menghukumku karena apa yang mereka ucapkan.” (Asadul
Ghobah, Ibnu Atsir, 3/324)
Seseorang yang memiliki
mentalitas bersyukur akan menyandarkan setiap pujian kepada Sang Pemberi Ni’mat,
sedangkan orang yang tamak validasi akan merasa bahwa pujian itu adalah hak
pribadinya yang harus terus dipenuhi. Jika seseorang sudah merasa butuh akan
validasi manusia, dia telah membuka pintu bagi syaithon untuk mengendalikan
suasana hatinya melalui lisan orang lain. Ketenangan hatinya menjadi sangat
rapuh, karena sangat bergantung pada hal yang di luar kendalinya, yaitu lisan
dan pikiran orang lain.
Ketamakan pada sanjungan
juga sering kali membuat seseorang sulit menerima kebenaran jika hal itu datang
dari orang yang tidak memberinya validasi. Dia akan lebih cenderung mengikuti
opini mayoritas demi keamanan posisi sosialnya daripada mengikuti dalil yang
jelas namun tidak populer. Inilah yang menyebabkan seseorang terjerumus ke
dalam sifat munafiq secara tidak sadar, di mana dia menampilkan wajah yang
berbeda-beda sesuai dengan siapa yang sedang dihadapinya.
Oleh karena itu, setiap
Muslim harus waspada terhadap bisikan halus dalam jiwanya yang selalu menuntut
pengakuan. Sejatinya, tidak ada pujian yang bermanfaat kecuali pujian dari
Alloh ﷻ, dan
tidak ada celaan yang memudhorotkan kecuali celaan dari Alloh ﷻ.
Siapa pun yang mencari
kemuliaan melalui pengakuan makhluk, Alloh ﷻ akan menghinakannya. Namun siapa pun yang
mencari kemuliaan melalui ketaatan kepada Alloh ﷻ, maka Alloh ﷻ akan mengangkat kedudukannya meski seluruh
dunia mencelanya.
Penyakit ini harus
diobati dengan pemahaman yang benar tentang hakekat kehidupan dunia yang
sementara. Segala sanjungan manusia akan terkubur bersama jasad di dalam tanah,
dan hanya amal yang murni karena Alloh ﷻ yang akan menemani hamba di alam kubur dan
hari Kiamat. Dengan memahami kedudukan yang rendah bagi penilaian makhluk,
seorang hamba akan lebih fokus memperbaiki apa yang ada di antara dirinya
dengan Alloh ﷻ,
daripada sibuk memoles apa yang nampak di mata manusia.
Bab 2: Validasi
dalam Relasi Suami Istri dan Keluarga
2.1 Fenomena
Pasutri yang Mengumbar Kebahagiaan Semu demi Decak Kagum Manusia
Kehidupan rumah tangga
seharusnya menjadi tempat yang paling privat bagi seorang Muslim, di mana ketenangan
dan rahasia antara suami dan istri terjaga dengan rapat. Namun, di zaman
sekarang, rumah tangga sering kali berubah menjadi panggung sandiwara demi
mendapatkan pengakuan dari orang luar. Banyak pasangan suami istri yang merasa
perlu menunjukkan kemesraan, pemberian hadiah, atau momen kebersamaan mereka di
hadapan khalayak ramai dengan niat tersembunyi agar dianggap sebagai pasangan
ideal. Fenomena ini merupakan bentuk nyata dari penyakit riya’ dan sum’ah yang
menyusup ke dalam ruang paling pribadi manusia.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿هُنَّ
لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ﴾
“Mereka adalah pakaian
bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 187)
Fungsi pakaian adalah
untuk menutupi dan melindungi. Namun, ketika suami atau istri justru membuka
tabir kehidupan mereka demi validasi makhluk, maka fungsi pakaian tersebut
telah hilang. Mereka tidak lagi saling melindungi, melainkan saling
memanfaatkan demi mendapatkan sanjungan.
Saat fokus beralih pada
penilaian manusia, maka keberkahan dalam hubungan tersebut akan dicabut.
Ketenangan hati yang seharusnya didapatkan dari pasangan justru dicari dari
komentar-komentar pujian orang yang bahkan tidak mengenal mereka secara
mendalam.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى
امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا»
“Sesungguhnya termasuk
manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh pada hari Kiamat adalah
seorang lelaki yang bercampur dengan istrinya dan istrinya bercampur dengannya,
kemudian dia menyebarkan rahasia istrinya tersebut.” (HR. Muslim no. 1437)
Meski hadits ini secara
khusus menyebutkan tentang hubungan intim, sebagian ulama menjelaskan bahwa
menyebarkan hal-hal yang seharusnya bersifat pribadi demi mencari popularitas
atau pujian juga masuk dalam kategori perbuatan yang tercela. Ketamakan pada validasi
membuat seseorang kehilangan rasa malu (muru’ah). Mereka rela
mengorbankan kehormatan keluarga hanya agar dunia tahu bahwa mereka bahagia.
Padahal, sering kali apa yang nampak di permukaan berbanding terbalik dengan
kenyataan di dalam rumah. Kegelisahan akan menyelimuti mereka jika suatu saat
mereka tidak bisa menampilkan sesuatu yang mengundang decak kagum, sehingga
hidup mereka dipenuhi dengan kepalsuan.
Kecintaan terhadap
popularitas, sanjungan, dan kedudukan di sisi manusia, maka itulah yang menghalangi
keikhlasan dan merusak amal.
2.2 Tekanan
Sosial dalam Hubungan Menantu dan Mertua yang Tidak Sehat
Dalam struktur keluarga
besar, keinginan untuk mendapatkan validasi sering kali muncul dalam interaksi
antara menantu dan mertua. Ada kecenderungan seorang menantu melakukan
pengabdian bukan karena mencari Ridho Alloh ﷻ, melainkan agar dipandang sebagai menantu
yang sholih atau hebat di mata mertua dan kerabat lainnya. Demikian pula
sebaliknya, mertua terkadang menuntut standar tertentu dari menantunya hanya
agar bisa dibanggakan di depan teman-temannya. Persaingan status sosial ini
menciptakan tekanan yang berat bagi semua pihak yang terlibat.
Pola hubungan yang
didasari oleh pencarian muka ini sangat rentan terhadap konflik. Jika pujian
yang diharapkan tidak kunjung datang, akan muncul rasa benci, kecewa, dan sakit
hati. Keikhlasan dalam berbakti hilang digantikan oleh pamrih. Hal ini
bertentangan dengan prinsip bahwa setiap kebaikan harus dilakukan dengan tulus.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّمَا
نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا﴾
“Sesungguhnya kami
memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridhoan Alloh, kami tidak
menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS.
Al-Insan: 9)
Jika dalam memberi
makanan saja kita dilarang mengharap ucapan terima kasih, maka dalam hubungan
keluarga pun demikian. Mencari validasi dari mertua atau menantu hanya akan
menjauhkan seseorang dari pahala yang besar. Banyak orang yang rela berhutang
atau melakukan perbuatan yang melampaui batas kemampuannya demi mengadakan
pesta atau memberikan hadiah mewah kepada mertua, hanya karena takut dicela
atau ingin dianggap mampu. Ini adalah bentuk perbudakan kepada opini manusia
yang sangat menyengsarakan.
Umar bin Khoththob (23 H)
rodhiyallahu ‘anhu pernah memberikan nasihat tentang pentingnya menjaga
kemurnian niat:
مَنْ خَلَصَتْ نِيَّتُهُ فِي الْحَقِّ وَلَوْ عَلَى نَفْسِهِ
كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ تَزَيَّنَ بِمَا لَيْسَ فِيهِ
شَانَهُ اللَّهُ
“Barangsiapa yang tulus
niatnya dalam kebenaran walaupun terhadap dirinya sendiri, niscaya Alloh akan
mencukupkan urusan antara dia dengan manusia. Dan barangsiapa yang berhias
dengan apa yang tidak ada pada dirinya, niscaya Alloh akan menghinakannya.” (I’lamul
Muwaqqi’in, Ibnu Qoyyim, 2/511)
2.3 Saat
Keberhasilan Anak Hanya Menjadi Bahan Kebanggaan Orang Tua
Salah satu bentuk
malapetaka tamak validasi yang paling menyedihkan adalah ketika anak-anak
dijadikan alat oleh orang tua untuk meraih status sosial. Orang tua yang haus
akan pujian sering kali menekan anak-anak mereka untuk mencapai prestasi
tertentu, bukan untuk maslahat anak tersebut di dunia dan Akhiroh, melainkan
agar orang tua bisa merasa bangga dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya.
Hal ini merusak kejiwaan anak dan menciptakan bibit-bibit riya’ sejak dini.
Anak yang dibesarkan
dalam lingkungan yang haus validasi akan tumbuh menjadi pribadi yang juga gila
pujian. Mereka belajar bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh nilai akademik,
hafalannya, atau prestasi fisiknya, bukan oleh ketaqwaannya kepada Alloh ﷻ. Orang tua yang seperti ini telah gagal
menjalankan amanah tarbiyah yang benar.
Nabi ﷺ bersabda:
«كُلُّكُمْ
رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah
pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang
dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)
Pertanggungjawaban ini
mencakup bagaimana orang tua menanamkan keikhlasan dalam hati anak. Jika orang
tua selalu membangga-banggakan prestasi anaknya di hadapan orang lain dengan
maksud untuk mengangkat derajat dirinya sendiri, maka dia telah menjerumuskan
anaknya ke dalam fitnah. Hal ini juga bisa mengundang penyakit Ain (pandangan
mata yang merusak) karena adanya rasa hasad dari orang lain yang melihat pamer
tersebut.
Alloh ﷻ memperingatkan tentang sifat
membangga-banggakan harta dan anak dalam firman-Nya:
﴿ٱعْلَمُوٓا أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ﴾
“Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang
banyaknya harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ibnu Katsir (774 H)
menjelaskan bahwa bermegah-megah dalam ayat ini mencakup keinginan untuk merasa
lebih unggul dari orang lain dalam hal anak dan keturunan.
Orang tua seharusnya
fokus agar anak-anak mereka menjadi hamba Alloh ﷻ yang sholih, meskipun anak tersebut tidak
memiliki prestasi yang nampak hebat di mata manusia. Mencari validasi melalui
anak adalah bentuk keegoisan orang tua yang akan berujung pada kekecewaan besar
jika anak tersebut tidak sesuai dengan harapan sosial mereka.
2.4 Hilangnya
Kedamaian Rumah Tangga Akibat Membandingkan Diri dengan Standar Orang Lain
Akar dari ketamakan pada
validasi adalah rasa tidak puas (kurangnya qona’ah) dan kebiasaan buruk
membandingkan diri dengan orang lain. Dalam kehidupan keluarga, hal ini sering
terjadi ketika suami atau istri melihat kehidupan rumah tangga orang lain yang
nampak lebih sempurna di mata mereka. Mereka kemudian menuntut pasangannya
untuk mengikuti standar tersebut agar mereka tidak merasa malu di hadapan orang
lain.
Kekecewaan muncul ketika
standar duniawi yang ditetapkan oleh lingkungan tidak terpenuhi. Suami merasa
rendah diri karena tidak bisa memberikan kemewahan yang bisa dipamerkan
istrinya, atau istri merasa tidak berharga karena tidak memiliki barang-barang yang
dimiliki oleh teman-temannya. Kedamaian rumah tangga hilang karena fokus utama
bukan lagi pada keridhoan Alloh ﷻ, melainkan pada bagaimana cara agar nampak
setara atau lebih unggul dari orang lain.
Nabi ﷺ memberikan obat bagi penyakit ini:
«انْظُرُوا
إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ
أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ»
“Lihatlah kepada orang
yang berada di bawah kalian dan janganlah kalian melihat kepada orang yang
berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan
ni’mat Alloh atas kalian.” (HR. Muslim no. 2963)
Orang yang tamak validasi
selalu melihat ke atas, kepada mereka yang mendapatkan lebih banyak sanjungan
dan pengakuan. Hal ini menyebabkan mereka selalu merasa kurang dan tidak pernah
bersyukur. Rasa iri hati (hasad) akan tumbuh subur dalam rumah tangga yang
seperti ini. Mereka tidak bisa meni’mati apa yang mereka miliki karena mata
mereka terlalu sibuk memperhatikan apa yang dimiliki orang lain demi
mendapatkan validasi yang sama.
Sufyan Ats-Tsauri (161 H)
berkata tentang bahaya cinta dunia dan kedudukan:
الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا هُوَ قِصَرُ الأَمَلِ، لَيْسَ بِأَكْلِ
الْغَلِيظِ، وَلا لُبْسِ الْعَبَاءِ
“Zuhud terhadap dunia
adalah dengan pendek angan-angan, bukan dengan memakan makanan yang kasar atau
memakai pakaian yang jelek.” (Al-Jarh wa Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 1/101)
Dalam konteks keluarga,
zuhud berarti tidak menggantungkan kebahagiaan rumah tangga pada standar materi
dan pengakuan manusia. Rumah tangga yang bahagia adalah yang di dalamnya
ditegakkan ketaatan kepada Alloh ﷻ, saling menasihati dalam kebenaran, dan
merasa cukup dengan apa yang telah dibagikan oleh Robb semesta alam.
Malapetaka haus validasi
dalam keluarga akan mengakibatkan hilangnya kejujuran. Pasangan suami istri
akan terbiasa berbohong dan menutupi kekurangan mereka dengan kepalsuan hanya
agar citra mereka tetap terjaga di mata publik. Hidup dalam kepalsuan adalah
beban yang sangat berat. Tidak ada ketenangan bagi hati yang selalu merasa
diawasi dan dinilai oleh manusia. Seorang Muslim harus menyadari bahwa
satu-satunya penilaian yang bermakna adalah penilaian Alloh ﷻ. Jika Alloh ﷻ ridho, maka tidak ada mudhorot dari celaan
seluruh penduduk bumi. Namun jika Alloh ﷻ murka, maka tidak ada manfaat sedikit pun
dari pujian setinggi langit yang diberikan oleh manusia.
Keluarga yang selamat
adalah keluarga yang menjadikan Akhiroh sebagai tujuan utama mereka. Mereka
tidak peduli apakah orang lain menganggap mereka sukses atau tidak, selama
mereka berada di atas jalan yang diridhoi-Nya. Dengan membuang ketamakan pada
validasi, suami istri akan lebih fokus pada perbaikan akhlak masing-masing,
pendidikan anak yang tulus, dan hubungan yang penuh dengan kasih sayang murni
karena Alloh ﷻ. Inilah
kunci meraih Jannah dalam kehidupan rumah tangga.
Bab 3: Bencana Mentalitas Pencari Muka di Dunia Kerja dan Profesi
3.1 Budaya
Menjilat dan Mengambil Hak Orang Lain demi Memperbaiki Citra Diri
Dunia kerja sering kali
menjadi medan tempur bagi ego manusia yang haus akan pengakuan. Banyak pekerja
yang terjebak dalam perilaku menjilat (mudahanah) kepada atasan atau
pemegang otoritas demi mendapatkan posisi yang lebih tinggi atau sekadar pujian
sesaat. Perilaku ini sangat berbahaya karena melibatkan kepalsuan dan sering
kali mengorbankan kejujuran serta keadilan. Seorang penjilat akan menampakkan
wajah yang penuh ketaatan dan kekaguman di depan atasan, namun di belakang
mereka bisa jadi menyimpan kebencian atau justru merendahkan rekan kerja
lainnya untuk mengangkat derajat diri sendiri.
Alloh ﷻ memberikan peringatan tentang sifat
orang-orang yang hanya mencari kemuliaan di mata manusia dengan cara-cara yang
tidak benar:
﴿أَيَبْتَغُونَ
عِندَهُمُ ٱلْعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا﴾
“Apakah mereka mencari
kemuliaan di sisi mereka (orang-orang kafir atau penguasa zolim)? Maka
sesungguhnya kemuliaan itu semuanya adalah milik Alloh.” (QS. An-Nisa: 139)
Dalam lingkungan profesi,
mencari kemuliaan melalui lisan atasan tanpa memperhatikan Ridho Alloh ﷻ adalah sebuah kehinaan yang nyata.
Seseorang yang tamak validasi akan merasa bahwa nasib dan rezekinya berada di
tangan manusia, sehingga dia rela melakukan tindakan-tindakan tercela. Salah
satu perbuatan yang paling buruk adalah mengambil atau mengklaim hasil kerja
keras orang lain sebagai miliknya sendiri demi mendapatkan citra sebagai
pegawai yang berprestasi. Ini adalah bentuk kezholiman yang berlipat ganda.
Nabi ﷺ bersabda tentang buruknya sifat bermuka
dua yang sering nampak pada para pencari muka:
«تَجِدُونَ
مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي
يَأْتِي هَؤُلاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاءِ بِوَجْهٍ»
“Kalian akan mendapati
manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh pada hari Kiamat adalah
orang yang bermuka dua, yang mendatangi sekelompok orang dengan satu wajah dan
mendatangi kelompok lainnya dengan wajah yang lain.” (HR. Al-Bukhori no.
6058 dan Muslim no. 2526)
Mentalitas seperti ini
merusak tatanan sosial di tempat kerja. Kepercayaan antar rekan kerja menjadi
sirna karena setiap orang merasa terancam oleh rekan yang gemar mencari muka.
Budaya menjilat juga membuat kompetisi menjadi tidak sehat, di mana kualitas
kerja bukan lagi menjadi tolok ukur utama, melainkan seberapa pandai seseorang
dalam memoles kata-kata dan membangun pencitraan yang palsu.
Sebagian ulama
menjelaskan tentang hakikat pujian dan bahayanya bagi jiwa bahwa pujian itu
mengandung 5 bahaya: 3 pada orang yang memuji, dan 2 pada orang yang dipuji.
Bahaya bagi orang yang
dipuji (dalam hal ini pegawai yang haus validasi) adalah dia akan merasa ujub
(bangga diri) dan merasa telah mencapai kesempurnaan, sehingga dia berhenti
untuk memperbaiki diri secara tulus. Dia lebih sibuk menjaga agar pujian itu
tetap mengalir daripada benar-benar bekerja secara amanah.
3.2 Tekanan Jiwa
Pekerja Akibat Terlalu Sensitif terhadap Kritik dan Opini Rekan Sejawat
Kekhawatiran yang
berlebihan terhadap pendapat orang lain menciptakan beban mental yang sangat
berat bagi seorang pegawai. Seseorang yang tamak validasi akan merasa sangat
tersiksa jika mendapatkan kritik, meskipun kritik tersebut bersifat membangun
demi kemajuan profesinya. Mereka memandang kritik sebagai ancaman terhadap
harga diri mereka, bukan sebagai sarana evaluasi. Akibatnya, mereka bekerja
dalam keadaan penuh ketakutan dan kegelisahan, selalu mencoba menebak-nebak apa
yang dipikirkan orang lain tentang mereka.
Alloh ﷻ memuji hamba-hamba-Nya yang memiliki
prinsip kuat dan tidak terpengaruh oleh celaan manusia selama mereka berada di
atas kebenaran:
﴿يُجَٰهِدُونَ
فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ﴾
“Mereka berjihad di jalan
Alloh, dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela.” (QS.
Al-Maidah: 54)
Seseorang yang memiliki
mentalitas penghamba validasi akan sangat mudah goyah. Jika rekan sejawat
memberikan komentar negatif, semangat kerjanya akan langsung anjlok.
Sebaliknya, jika diberikan pujian, dia akan merasa terbang tinggi hingga lupa
daratan. Kestabilan emosinya tidak lagi berpijak pada nilai-nilai agama,
melainkan pada naik-turunnya opini manusia di sekitarnya. Hal ini merupakan
bentuk perbudakan yang sangat melelahkan.
Ahli hikmah berkata:
إِنْ أَحْبَبْتَ أَنْ يَصِحَّ لَكَ عَمَلُكَ، فَلا تُحِبَّنَّ
أَنْ يُحْمَدَ عَلَيْهِ
“Jika engkau ingin amalmu
menjadi shohih, maka janganlah sekali-kali engkau ingin dipuji atas amal
tersebut.”
Kesehatan jiwa di tempat
kerja hanya bisa diraih jika seseorang melepaskan ketergantungannya pada
pengakuan manusia. Seorang pekerja yang beriman akan melakukan tugasnya sebaik
mungkin (ihsan) karena dia tahu bahwa Alloh ﷻ senantiasa mengawasinya. Baginya, ada atau
tidaknya apresiasi dari rekan kerja tidak akan mengubah dedikasinya dalam
menjalankan amanah. Kelelahan pikiran yang dialami oleh banyak pegawai saat ini
sebagian besar disebabkan oleh upaya yang sia-sia untuk memuaskan semua orang,
padahal hal itu adalah sesuatu yang mustahil digapai.
3.3 Bahaya
Menghalalkan Segala Cara dan Berbohong dalam Laporan demi Jabatan Sesaat
Ketamakan pada validasi
sering kali menggiring seseorang untuk melakukan kedustaan. Dalam dunia profesional,
hal ini nampak pada pemalsuan data, manipulasi laporan keuangan, atau
memberikan informasi yang menyesatkan demi mendapatkan nilai plus di mata
pimpinan. Mereka merasa bahwa kejujuran hanya akan menghambat karier mereka,
sementara kebohongan yang dikemas dengan rapi dianggap sebagai strategi untuk
meraih sukses.
Alloh ﷻ mengancam keras orang-orang yang suka
dipuji atas apa yang sebenarnya tidak mereka kerjakan:
﴿لَا
تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَآ أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن
يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ ٱلْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Janganlah sekali-kali
kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka
kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka
kerjakan; janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari adzab, dan bagi
mereka adzab yang pedih.” (QS. Ali Imron: 188)
Ayat ini merupakan
tamparan keras bagi para pencari validasi di kantor-kantor yang gemar
mencitrakan diri seolah-olah telah melakukan pekerjaan besar, padahal
kenyataannya mereka hanya menumpang nama atau melakukan kecurangan. Jabatan
yang diraih dengan cara berbohong tidak akan pernah membawa keberkahan. Rezeki
yang dihasilkan darinya pun akan menjadi harom dan merusak keberlangsungan
hidup keluarganya.
Nabi ﷺ mengingatkan tentang bahaya dusta yang
membawa pada kehancuran:
«إِيَّاكُمْ
وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي
إِلَى النَّارِ»
“Jauhilah oleh kalian
perbuatan dusta, karena sesungguhnya dusta itu akan mengantarkan kepada
kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan mengantarkan ke Naar.” (HR.
Muslim no. 2607)
Seorang pekerja yang
tamak akan sanjungan akan kehilangan rasa takut kepada Alloh ﷻ. Baginya, yang paling menakutkan adalah
jika kebohongannya terbongkar di hadapan manusia, bukan di hadapan Robb semesta
alam. Dia akan terus menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya demi
mempertahankan kedudukan yang dia banggakan. Pada akhirnya, dia akan terjatuh
dalam kehinaan yang lebih dalam ketika tabir kepalsuannya tersingkap, baik di
dunia maupun di Akhiroh kelak.
3.4 Kelelahan
Fisik dan Pikiran Pegawai yang Menggantungkan Harga Diri pada Komentar Atasan
Ketergantungan pada
validasi atasan menyebabkan seorang pegawai kehilangan kemerdekaannya. Dia
bekerja bukan lagi sebagai hamba Alloh ﷻ yang merdeka, melainkan sebagai budak
keinginan atasannya. Setiap langkahnya diatur oleh rasa takut akan kehilangan
muka atau keinginan untuk mendapatkan tepuk tangan. Hal ini menyebabkan
kelelahan fisik yang luar biasa karena dia dipaksa untuk terus melampaui batas
kemampuannya hanya demi pembuktian diri yang tiada habisnya.
Pikiran pegawai tersebut
akan selalu terbebani oleh pertanyaan: “Apakah atasan menyukai hasil kerjaku?”,
“Bagaimana jika dia lebih menyukai rekan kerjaku?”, “Apa yang harus kulakukan
agar aku menjadi nomor satu di matanya?”. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah
racun yang menghisap energi kehidupan.
Nabi ﷺ bersabda tentang orang yang menjadikan
dunia dan pengakuan sebagai tujuan utamanya:
«مَنِ
الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ
الْتَمَسَ رِضَى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ»
“Barangsiapa yang mencari
Ridho Alloh meski dengan risiko kemurkaan manusia, maka Alloh akan mencukupkan
baginya beban dari manusia. Dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan
risiko kemurkaan Alloh, maka Alloh akan membiarkan dia bergantung kepada manusia.”
(HSR. At-Tirmidzi no. 2414)
Ketika seseorang
dibiarkan oleh Alloh ﷻ
bergantung kepada manusia, maka dia akan merasakan penderitaan yang sangat
panjang. Manusia adalah makhluk yang berubah-ubah suasana hatinya. Hari ini
seorang atasan mungkin memuji, namun esok hari bisa jadi dia mencela karena
kesalahan kecil atau bahkan tanpa alasan yang jelas. Menggantungkan harga diri
pada hal yang tidak stabil seperti itu adalah sebuah kebodohan.
Ibnu Taimiyyah (728 H)
menjelaskan tentang hakikat kebebasan hati:
الْقَلْبُ لَا يَصْلُحُ وَلَا يُفْلِحُ وَلَا يَلْتَذُّ وَلَا
يُسَرُّ وَلَا يَطِيبُ وَلَا يَسْكُنُ وَلَا يَطْمَئِنُّ إِلَّا بِعِبَادَةِ رَبِّهِ
وَحُبِّهِ وَالْإِنَابَةِ إِلَيْهِ
“Hati tidak akan menjadi
baik, tidak akan beruntung, tidak akan merasakan kelezatan, tidak akan merasa
senang, tidak akan merasa tenteram, dan tidak akan tenang kecuali dengan
beribadah kepada Robb-nya, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya.” (Majmu’
Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 10/194)
Seorang pegawai yang
menyadari hal ini akan bekerja dengan penuh ketenangan. Dia tahu bahwa tugasnya
adalah bekerja secara profesional dan jujur sebagai bentuk ibadah kepada Alloh ﷻ. Masalah apakah atasan akan memuji atau
tidak, itu adalah urusan sekunder yang tidak boleh mengganggu stabilitas
hatinya. Dengan demikian, dia akan terhindar dari kelelahan jiwa yang sering
menimpa orang-orang yang terlalu mengejar pengakuan. Dia tidak akan mudah
stres, tidak akan mudah dengki kepada rekan kerjanya, dan hidupnya akan
dipenuhi dengan keberkahan karena dia hanya mengharap validasi dari Dzat yang
Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.
Kesimpulan dari bab ini
adalah bahwa dunia kerja merupakan ladang ujian yang besar bagi keikhlasan.
Barangsiapa yang mampu menjaga hatinya dari ketamakan pada pujian manusia, maka
dia akan meraih kesuksesan yang hakiki. Namun barangsiapa yang menjadikan
kantor dan profesinya sebagai sarana untuk pamer dan mencari muka, maka dia
telah mengundang malapetaka bagi dirinya sendiri, baik berupa kegelisahan di
dunia maupun kerugian yang nyata di Akhiroh. Pegawai yang sholih adalah mereka
yang bekerja dengan tangan yang terampil namun dengan hati yang tetap terikat
hanya kepada Alloh ﷻ semata.
Bab 4: Konsekuensi Buruk bagi Kehidupan Dunia dan Agama
4.1 Hidup dalam
Penjara Ekspektasi Orang Lain
Seseorang yang
menggantungkan kebahagiaannya pada validasi makhluk secara tidak sadar telah
memenjarakan dirinya sendiri dalam ekspektasi orang lain. Hidupnya tidak lagi
merdeka untuk melakukan apa yang benar menurut syariat, melainkan selalu
dibayangi oleh ketakutan akan penilaian negatif. Kegelisahan menjadi teman
setianya karena dia tidak akan pernah bisa memuaskan semua lisan manusia yang
jumlahnya sangat banyak.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَنْ
أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا﴾
“Dan barangsiapa
berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang
sempit.” (QS. Thoha: 124)
Kesenangan yang didapat
dari pujian manusia hanyalah fatamorgana yang sesaat. Begitu pujian itu hilang,
jiwanya akan merasa hancur dan tidak berharga. Hal ini dikarenakan dia telah
menjadikan makhluk sebagai poros hidupnya, bukan Al-Kholiq. Kegelisahan ini
muncul karena standar manusia selalu berubah-ubah dan tidak pernah ajeg.
Seseorang yang haus validasi akan terus merasa cemas jika citra yang dia bangun
tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh lingkungan sosialnya.
Seorang ulama berkata:
رَأَيْتُ جَمِيعَ أَهْلِ الدُّنْيَا لَا يَسْعَوْنَ إِلَّا فِي
طَرْدِ الْهَمِّ ، فَلَمْ أَجِدْ شَيْئًا يُطْرِدُ الْهَمَّ إِلَّا الْإِقْبَالُ عَلَى
اللَّهِ تَعَالَى بِالْعَمَلِ لِلْآخِرَةِ
“Aku melihat seluruh
penduduk dunia tidaklah berusaha kecuali untuk mengusir kegelisahan, maka aku
tidak mendapati sesuatu yang bisa mengusir kegelisahan tersebut kecuali dengan
menghadapkan diri kepada Alloh Ta’ala dengan beramal untuk Akhiroh.”
4.2 Munculnya
Sifat Munafiq dan Hilangnya Kejujuran dalam Perkataan serta Perbuatan
Ketamakan pada validasi
adalah pintu gerbang menuju kemunafiqan. Seseorang akan terbiasa menampilkan
sesuatu yang berbeda dari kenyataan di dalam hatinya demi menjaga citra. Dia
akan memuji orang yang dia benci di hadapannya, dan mencela orang yang dia
cintai demi mendapatkan simpati dari kelompok tertentu. Kejujuran yang
merupakan ciri utama seorang Muslim perlahan-lahan sirna digantikan oleh
kepura-puraan.
Nabi ﷺ bersabda:
«آيَةُ
الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ
خَانَ»
“Tanda orang munafiq itu
ada 3: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika
dipercaya dia berkhianat.” (HR. Al-Bukhori no. 33 dan Muslim no. 59)
Seorang pemburu validasi
akan sering berdusta dalam perkataannya untuk membuat orang terkesan. Dia juga
akan mengkhianati amanah jika hal itu dianggap bisa mengangkat kedudukannya di
mata manusia. Hilangnya kejujuran ini merusak kemuliaan diri dan menjauhkan
seseorang dari hidayah Alloh ﷻ. Perbuatan ini membuat pelakunya hidup dalam kepalsuan yang
sangat melelahkan jiwa dan raga.
Barangsiapa yang batinnya
lebih baik dari zhohirnya maka itulah keutamaan, barangsiapa yang batin dan zhohirnya
sama maka itulah keadilan, dan barangsiapa yang zhohirnya lebih baik dari
batinnya maka itulah kecurangan.
4.3 Kerugian
Besar di Hari Kiamat bagi Orang yang Beramal hanya demi Manusia
Malapetaka yang paling
dahsyat bagi pencari pengakuan adalah ketika dia berdiri di hadapan Alloh ﷻ pada hari Kiamat. Segala lelah dan
letihnya dalam beramal di dunia tidak diakui sedikit pun. Bahkan, orang-orang
yang paling pertama dijadikan bahan bakar Naar adalah mereka yang memiliki amal
besar namun niatnya hanya untuk mendapatkan gelar dari manusia. Mereka yang
berilmu ingin disebut alim, yang bersedekah ingin disebut dermawan, dan yang
berperang ingin disebut pahlawan.
Alloh ﷻ akan berfirman kepada mereka pada hari Kiamat:
«اذْهَبُوا
إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ
جَزَاءً»
“Pergilah kalian kepada
orang-orang yang dahulu kalian pamer kepadanya di dunia, maka lihatlah apakah
kalian mendapati balasan di sisi mereka?” (HSR. Ahmad no. 23630)
Betapa ruginya seseorang
yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan hartanya, namun pada akhirnya dia
tidak mendapatkan apa-apa kecuali penyesalan. Dia telah menjual Akhirohnya yang
kekal demi pujian manusia yang fana. Orang-orang yang dia harapkan pujiannya di
dunia tidak akan mampu memberikan pertolongan sedikit pun saat adzab Alloh ﷻ datang. Inilah kerugian yang nyata bagi
setiap orang yang menjadikan penilaian makhluk sebagai tujuan utama dalam
hidupnya.
4.4 Adzab bagi
Para Pendusta yang Memalsukan Keadaan demi Meraih Simpati
Memalsukan keadaan demi
mendapatkan simpati atau validasi adalah dosa yang serius. Alloh ﷻ memberikan ancaman bagi mereka yang suka
berdusta dan menipu manusia. Orang yang menampilkan dirinya seolah-olah
memiliki kelebihan atau kondisi tertentu hanya agar dikasihani dan dipuji akan
mendapatkan adzab yang pedih. Mereka membangun istana di atas pasir kebohongan
yang sewaktu-waktu akan runtuh menghancurkan diri mereka sendiri.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿فِي
قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا
كَانُوا يَكْذِبُونَ﴾
“Dalam hati mereka ada
penyakit, lalu ditambah Alloh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan
mereka berdusta.” (QS. Al-Baqoroh: 10)
Kedustaan demi citra diri
ini merupakan penyakit hati yang kronis. Semakin sering seseorang melakukannya,
semakin gelap hatinya dari cahaya kebenaran. Di dunia dia akan selalu merasa
cemas kalau rahasianya terbongkar, dan di Akhiroh dia harus
mempertanggungjawabkan setiap kepalsuan yang dia buat. Orang yang gila pujian
sesungguhnya sedang menghinakan dirinya sendiri di hadapan Robb semesta alam.
Orang yang riya’ ingin
mengalahkan takdir Alloh pada dirinya. Dia adalah orang yang buruk yang ingin
agar manusia berkata: “Dia orang sholih.” Bagaimana mungkin mereka berkata: “Dia
orang sholih,” padahal kemurkaan Robb-nya telah turun kepadanya?
Kematian hati adalah
konsekuensi terjauh dari ketamakan validasi. Seseorang tidak lagi bisa
membedakan mana yang benar dan mana yang salah karena seluruh timbangannya
adalah kesukaan manusia. Inilah malapetaka yang akan menghancurkan kehidupan
seseorang di dunia dan Akhiroh jika dia tidak segera bertaubat kepada Alloh ﷻ dengan taubat yang tulus. Dia harus
menyadari bahwa pujian manusia tidak akan menambah kemuliaannya di sisi Alloh ﷻ sedikit pun, dan celaan manusia tidak akan
mengurangi nilai dirinya jika dia benar-benar berada di atas ketaatan.
Bab 5: Manhaj Salaf dalam Mengobati Penyakit Gila Pujian
5.1 Hanya Alloh ﷻ yang
Berhak Memuji dan Mencela
Obat pertama dan yang
paling utama bagi penyakit tamak validasi adalah dengan menanamkan tauhid yang
murni ke dalam hati. Seseorang harus sampai pada tingkat keyakinan bahwa pujian
manusia tidak akan menambah kemuliaan sedikit pun jika di sisi Alloh ﷻ dia adalah orang yang terhina. Sebaliknya,
celaan seluruh penduduk bumi tidak akan membahayakan sedikit pun jika di sisi
Alloh ﷻ dia
adalah orang yang mulia. Penilaian manusia adalah sesuatu yang semu, sementara
penilaian Alloh ﷻ adalah
hakikat yang kekal.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَلَا
تُزَكُّوٓا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰ﴾
“Maka janganlah kamu
menganggap dirimu suci. Dia paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (QS.
An-Najm: 32)
Ayat ini mengingatkan
agar seorang hamba tidak sibuk mencari validasi atas kesucian dirinya di
hadapan makhluk. Cukuplah Alloh ﷻ sebagai saksi atas ketaqwaan seseorang.
Ketika hati telah terpaku pada pandangan Alloh ﷻ, maka pandangan manusia akan menjadi kecil
dan tidak berarti.
Nabi ﷺ bersabda kepada seorang lelaki yang
berkata bahwa pujiannya adalah hiasan dan celaannya adalah keburukan:
«ذَاكَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ»
“Yang memiliki sifat
demikian hanyalah Alloh Azza wa Jalla.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3267)
Hanya Alloh ﷻ yang pujian-Nya benar-benar mengangkat
derajat dan celaan-Nya benar-benar menjatuhkan. Manusia hanyalah makhluk lemah
yang tidak memiliki otoritas tersebut. Barangsiapa yang menyadari hal ini, dia
akan merasa malu untuk menghias diri di hadapan manusia sementara batinnya
kotor di hadapan Alloh ﷻ.
Jika jiwamu membisikkanmu
untuk mencari keikhlasan, maka datangilah ketamakan terlebih dahulu lalu
sembelihlah ia dengan pisau rasa putus asa terhadap apa yang ada di tangan
manusia. Dan datangilah sanjungan serta pujian, lalu zuhudlah (tidak butuh)
terhadap keduanya sebagaimana zuhudnya para pecinta dunia terhadap Akhiroh.
5.2 Menyembunyikan
Amal
Salafus Sholih sangat
gigih dalam menyembunyikan amal sholih mereka sebagaimana orang-orang di zaman
sekarang gigih dalam menyembunyikan dosa. Mereka memiliki amalan khobiah
(amalan rahasia) yang tidak diketahui kecuali oleh Alloh ﷻ semata. Amalan ini adalah benteng terkuat
untuk melawan ketamakan pada validasi karena pelakunya sengaja memutus mata
rantai penglihatan makhluk agar hanya Alloh ﷻ yang melihatnya.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِن
تُبْدُوا ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهو خَيْرٌ لَّكُمْ﴾
“Jika kamu menampakkan
sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan
kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik
bagimu.” (QS. Al-Baqoroh: 271)
Menyembunyikan amal
merupakan cara paling ampuh untuk melatih keikhlasan. Seseorang yang terbiasa
beramal tanpa diketahui orang lain akan merasakan kemanisan iman yang tidak
didapatkan oleh para pemburu pujian. Dia tidak lagi butuh validasi karena dia
telah mendapatkan kepuasan batin dari hubungan pribadinya dengan Robb-nya.
Nabi ﷺ menyebutkan salah satu golongan yang akan
mendapatkan perlindungan di hari Kiamat:
«وَرَجُلٌ
تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ»
“Seorang yang bersedekah
dengan suatu sedekah lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak
mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Al-Bukhori no.
660 dan Muslim no. 1031)
Sufyan Ats-Tsauri (161 H)
berkata:
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي، لِأَنَّهَا
تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ
“Tidaklah aku mengobati
sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku, karena niat itu sering
berubah-ubah terhadapku.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab, 1/70)
Dengan memperbanyak
amalan yang tersembunyi, seorang Muslim sedang membangun kekayaan Akhiroh yang
aman dari pencurian riya’. Semakin banyak amalan yang dirahasiakan, semakin
kecil peluang hati untuk mengharap pujian manusia. Kelezatan dalam bermunajat
saat manusia tidur atau bersedekah tanpa nama adalah obat mujarab bagi jiwa
yang sakit karena haus pengakuan.
5.3 Qona’ah dan Ridho
Qona’ah adalah merasa
cukup dengan pemberian Alloh ﷻ. Sifat ini sangat berseberangan dengan ketamakan pada validasi.
Orang yang qona’ah tidak akan merasa gelisah jika tidak mendapatkan perhatian
manusia karena dia sudah merasa cukup dengan perhatian dari Alloh ﷻ. Dia menyadari bahwa setiap bagian dari
dunia, termasuk kedudukan dan sanjungan, telah dibagikan oleh Alloh ﷻ dengan hikmah yang sempurna.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
“Kekayaan itu bukanlah
dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan
jiwa.” (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Kekayaan jiwa berarti
tidak butuh kepada apa yang ada di tangan manusia, termasuk tidak butuh pada
pujian mereka. Seseorang yang mengejar Ridho Alloh ﷻ akan mendapatkan ketenangan yang menetap.
Meskipun dia dicela atau diremehkan oleh rekan kerja atau keluarganya, hatinya
tetap tentram karena dia tahu bahwa dia sedang berjalan di atas keridhoan Sang
Pencipta. Ridho Alloh ﷻ adalah
tujuan yang bisa dicapai, sedangkan ridho manusia adalah tujuan yang mustahil
digapai.
Syafi’i (204 H) berkata:
رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ، فَعَلَيْكَ بِمَا يُصْلِحُكَ
فَالْزَمْهُ
“Ridho manusia adalah
tujuan yang tidak akan pernah bisa dicapai, maka hendaknya engkau melakukan apa
yang bermanfaat bagimu dan tetaplah konsisten padanya.” (Al-Itqon, Najmuddin
Al-Ghozi, 1/283)
Dengan memilih untuk
hanya peduli pada Ridho Alloh ﷻ, seseorang telah memerdekakan dirinya dari perbudakan opini
publik. Dia tidak lagi sibuk memoles lahiriahnya agar nampak hebat, tetapi dia
sibuk memoles batiniahnya agar dicintai oleh langit. Ketenangan hati adalah
buah dari keikhlasan, sedangkan kegelisahan adalah buah dari ketamakan pada
sanjungan makhluk.
5.4 Memperbanyak
Doa
Langkah terakhir dan
paling krusial dalam manhaj Salaf adalah senantiasa memohon perlindungan kepada
Alloh ﷻ.
Penyakit riya’ dan tamak validasi adalah penyakit yang sangat halus, bahkan
lebih halus dari langkah kaki semut hitam di atas batu hitam di kegelapan
malam. Tanpa taufiq dan pertolongan dari Alloh ﷻ, mustahil bagi seorang hamba untuk bisa
selamat darinya secara total.
Nabi ﷺ mengajarkan doa untuk berlindung dari
kesyirikan yang disadari maupun tidak disadari:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا
لا أَعْلَمُ»
“Ya Alloh, sesungguhnya
aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan
aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” (Shohihul Jami
no. 3731)
Doa ini harus menjadi
wirid harian bagi setiap Muslim yang ingin menjaga kemurnian imannya. Kesadaran
akan kelemahan diri di hadapan godaan pujian akan membuat seseorang selalu
bergantung kepada Alloh ﷻ. Dia tidak akan merasa aman dari kemunafiqan dan riya’ sampai
dia benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.
Umar bin Khoththob (23 H)
rodhiyallahu ‘anhu yang merupakan tokoh besar Islam saja masih merasa
takut akan kemunafiqan pada dirinya, sehingga beliau bertanya kepada Hudzaifah
bin Al-Yaman rodhiyallahu ‘anhu apakah namanya termasuk dalam daftar
orang munafiq yang diberitahukan oleh Nabi ﷺ.
Ketakutan para Shohabat ini menunjukkan bahwa penyakit hati ini tidak boleh
diremehkan.
Ibrohim At-Taimi (92 H)
berkata:
مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ
مُكَذِّبًا
“Tidaklah aku
membandingkan perkataanku dengan perbuatanku kecuali aku merasa takut bahwa aku
termasuk orang yang berdusta.” (Shohih Al-Bukhori, Al-Bukhori, 1/15)
Pengobatan terhadap gila
pujian adalah proses yang berkelanjutan. Seseorang harus terus bermujahadah
(bersungguh-sungguh) melawan bisikan nafsunya. Dengan memadukan tauhid yang
benar, amalan rahasia, sifat qona’ah, dan doa yang istiqomah, insya Alloh
seorang Muslim akan terbebas dari malapetaka tamak validasi. Hidupnya akan
menjadi jernih, jujur, dan dipenuhi cahaya keikhlasan yang akan menuntunnya
menuju keridhoan Alloh ﷻ di
dunia dan Jannah-Nya yang abadi di Akhiroh.
Fokuslah pada bagaimana
agar Alloh ﷻ
mengenalmu sebagai hamba yang sholih, meskipun seluruh penduduk bumi tidak
mengenal namamu sama sekali. Kemuliaan yang sesungguhnya adalah kemuliaan di
sisi Robb semesta alam, bukan pada barisan kata-kata sanjungan manusia yang
akan segera hilang ditelan waktu.
Penutup
Ketamakan terhadap
validasi atau pengakuan manusia adalah belenggu yang sangat berat bagi jiwa. Ia
merupakan penyakit yang merayap masuk ke dalam hati dengan sangat halus, namun
dampaknya mampu menghancurkan seluruh bangunan amal sholih yang telah kita susun
selama bertahun-tahun. Kita telah melihat bagaimana rasa haus akan pujian mampu
merusak keharmonisan rumah tangga, menciptakan kepalsuan di dunia kerja, hingga
menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kemunafiqan yang mengerikan. Seseorang
yang hidup demi penilaian makhluk akan senantiasa berada dalam keletihan yang
tiada akhir, karena lisan manusia tidak akan pernah berhenti berkomentar dan
mata manusia tidak akan pernah puas memandang.
Alloh ﷻ memberikan peringatan yang sangat mendalam
bagi siapa saja yang mengharapkan kemuliaan selain dari sisi-Nya:
﴿مَن
كَانَ يُرِيدُ ٱلْعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾
“Barangsiapa yang
menghendaki kemuliaan, maka bagi Alloh-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS.
Fathir: 10)
Ayat ini menegaskan bahwa
mencari validasi dari manusia untuk meraih kemuliaan adalah usaha yang sia-sia,
karena sumber kemuliaan yang sejati hanya milik Alloh ﷻ semata. Barangsiapa yang mencari kemuliaan
dengan cara merendahkan diri di hadapan manusia dan memamerkan kelebihannya,
maka Alloh ﷻ justru
akan menghinakannya. Sebaliknya, barangsiapa yang merendahkan diri di hadapan
Alloh ﷻ dengan
penuh keikhlasan, maka Alloh ﷻ akan mengangkat kedudukannya setinggi langit meskipun dia tidak
dikenal oleh penduduk bumi. Kita harus menyadari bahwa pujian manusia tidak
akan pernah bisa menyelamatkan kita dari siksa kubur, dan sanjungan orang lain
tidak akan bisa menambah berat timbangan kebaikan kita di hari Kiamat kelak.
Nabi ﷺ bersabda dengan nada peringatan bagi para
pencari muka:
«مَنْ
سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ»
“Barangsiapa yang
memperdengarkan amalannya (supaya didengar orang lain), maka Alloh akan
memperdengarkan aibnya di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang pamer (supaya
dilihat orang lain), maka Alloh akan membalas pamerannya itu.” (HR.
Al-Bukhori no. 6499 dan Muslim no. 2987)
Hadits ini menjadi
tamparan bagi siapa saja yang gemar menceritakan kebaikan-kebaikannya atau
menampakkan ibadahnya demi meraih simpati. Alloh ﷻ akan membongkar kepalsuan hati tersebut di
hadapan seluruh makhluk pada hari yang paling mencekam. Betapa malunya seorang
hamba saat itu, ketika apa yang selama ini dia bangga-banggakan di dunia
ternyata hanyalah sebuah kepalsuan yang tidak memiliki nilai sedikit pun di
sisi Robb semesta alam. Oleh karena itu, kejujuran batin adalah modal utama
bagi setiap Muslim. Kita harus lebih sibuk memperbaiki apa yang ada di dalam
hati daripada apa yang nampak di permukaan.
Keikhlasan adalah air
kehidupan yang jika disiramkan pada pohon amal, maka pohon tersebut akan
berdaun lebat dan berbuah.
Tanpa keikhlasan, amal
perbuatan kita bagaikan pohon yang kering dan mati. Ia mungkin nampak besar di
mata manusia, namun tidak memberikan manfaat apa pun dan mudah tumbang saat
badai ujian datang. Seseorang yang tamak validasi akan mudah berputus asa jika
pujian itu berhenti mengalir. Namun, bagi mereka yang telah merasakan manisnya
keikhlasan, ada atau tidak adanya manusia yang melihat bukanlah sebuah
persoalan. Bagi mereka, cukuplah Alloh ﷻ sebagai sebaik-baik penilai dan pemberi
balasan. Ketentraman hati hanya bisa diraih saat kita berhenti menjadi budak
opini publik dan mulai menjadi hamba Alloh ﷻ yang sejati.
Kita juga harus selalu
waspada terhadap penyakit ujub, yaitu merasa bangga dengan diri sendiri karena
merasa telah memiliki banyak prestasi atau amal sholih. Sifat ujub adalah
saudara kembar dari haus validasi. Keduanya bersumber dari hati yang lupa bahwa
segala ni’mat adalah pemberian dari Alloh ﷻ. Tidak ada satu pun kebaikan yang kita
lakukan melainkan karena taufiq dan pertolongan-Nya. Jika Alloh ﷻ tidak menutupi aib kita, niscaya tidak
akan ada satu pun manusia yang sudi mendekat apalagi memberikan pujian.
Seandainya bersamamu ada
orang yang akan melaporkan ucapanmu kepada penguasa, apakah engkau akan
berbicara dengan sesuatu yang membuatnya murka?
Jika kita merasa diawasi
oleh manusia yang memiliki sedikit kekuasaan saja kita sudah sangat berhati-hati,
maka bagaimana mungkin kita berani pamer dan mencari muka di hadapan Alloh ﷻ yang Maha Mengetahui segala rahasia hati?
Ketamakan pada validasi adalah bentuk kelalaian yang nyata akan kehadiran dan
pengawasan Alloh ﷻ.
Sebagai penutup, marilah kita
berkomitmen untuk senantiasa melatih diri dalam menyembunyikan amal sholih.
Jadikanlah diri kita memiliki simpanan kebaikan yang tidak diketahui oleh
istri, suami, anak, teman kantor, maupun pengikut di media sosial. Biarlah
amalan tersebut menjadi rahasia indah antara kita dengan Robb kita. Dengan
demikian, kita akan terlatih untuk tidak butuh pada pengakuan manusia. Ingatlah
bahwa dunia ini hanyalah panggung ujian yang sementara. Segala tepuk tangan dan
pujian akan segera sirna ditelan bumi, namun Ridho Alloh ﷻ akan membawa kita pada kebahagiaan yang
abadi di Jannah-Nya.
Alloh ﷻ berfirman dalam ayat yang menjadi
pengingat bagi setiap orang yang beramal:
﴿فَمَن
كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ
رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا﴾
“Barangsiapa mengharap
perjumpaan dengan Robb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan
janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Robb-nya.” (QS.
Al-Kahfi: 110)
Makna mempersekutukan
dalam ayat ini mencakup juga syirik kecil yaitu riya’ atau mencari validasi
dari selain Alloh ﷻ.
Semoga Alloh ﷻ senantiasa membersihkan hati kita dari
segala kotoran penyakit jiwa, menjadikan kita hamba yang mukhlish (ikhlas), dan
menyelamatkan kita dari fitnah pujian manusia.
Semoga buku ini menjadi
hujjah yang meringankan kita di hari Kiamat dan menjadi sebab bagi kita untuk
meraih ketenangan hati yang hakiki.
Akhirul kalam, segala
kesempurnaan hanya milik Alloh ﷻ dan segala kekurangan berasal dari diri
kami pribadi serta dari syaithon.
Washollallahu ‘ala
Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Walhamdulillahi
Robbil ‘alamin.
